Jumat, 05 Juni 2026

Persaingan usaha 21


 





– 100.000 per hari di seluruh wilayah ini . 

Dari hasil penelitian  juga dapat diketahui 

bahwa secara umum pendapatan order sesudah  

pandemi meningkat sebanyak Rp286.462 per 

hari di wilayah Jabodetabek dan meningkat 

sebanyak Rp282.609 per hari di wilayah Jakarta. 

Dengan ini, dapat disimpulkan bahwa adanya 

kerja sama antara Gojek dan Blue Bird melalui 

layanan GoBlue Bird pada aplikasi Gojek dapat 

meningkatkan frekuensi order dan pendapatan 

driver Blue Bird per hari.

Terkait dengan alasan kenaikan pendapatan 

yang dirasakan responden pada masa sesudah  

pandemi Covid-19 dibandingkan saat pandemi 

Covid-19. Sebagian besar responden 72,31% 

menyatakan bahwa alasan kenaikan pendapatan 

terjadi sebab  jumlah permintaan terhadap 

kendaraan layanan transportasi online semakin 

banyak.

Perbedaan dan Perubahan Pendapatan Mitra 

Blue Bird Saat dan sesudah  Pandemi Covid-19 

Melalui Street hailing

bahwa jika  

pendapatan hanya dilihat dari order melalui street 

hailing, sebagian besar responden menyatakan 

bahwa ada  perbedaan pendapatan antara 

saat dan sesudah  Covid-19 di wilayah Jabodetabek, 

wilayah Jakarta, dan di Wilayah Bogor, Depok, 

Tangerang, dan Bekasi. Bagi responden yang 

menyatakan ada  perbedaan pendapatan, 

diketahui bahwa sebagian besar menyatakan 

bahwa mereka mengalami peningkatan 

pendapatan sesudah  Covid-19, yaitu dengan 

persentase 81,54, 86,96, dan 78,57 persen 

di Wilayah Jabodetabek, wilayah Jakarta, dan 

di Wilayah Bogor, Depok, Tangerang, dan 

Bekasi, secara berurutan. Meski demikian, 

masih  ada   responden  yang  menyatakan 

bahwa  masih ada  kesulitan mencari 

penumpang melalui street hailing pada masa 

sesudah  Covid-19, terutama di Wilayah Bogor, 

Depok, Tangerang, dan Bekasi, di mana ada  

52,38 persen responden menyatakan kesulitan 

dalam mencari Penumpang melalui Street hailing. 

i bahwa 

jika  pendapatan hanya dilihat dari order 

melalui Go Blue Bird di wilayah Jabodetabek, 

Wilayah Jakarta, dan Wilayah Bogor, Depok, 

Tangerang, Bekasi, maka sebagian besar 

responden menyatakan bahwa ada  

perbedaan pendapatan antara saat dan sesudah  

Covid-19 melalui GoBlue Bird.  Bagi responden 

yang menyatakan ada  perbedaan 

pendapatan, diketahui bahwa sebagian 

besar responden menyatakan bahwa terjadi 

peningkatan pendapatan yang terjadi sesudah  

Covid-19 melalui GoBlue Bird diseluruh wilayah 

ini , yaitu dengan persentase 73,85 untuk 

wilayah Jabodetabek, 69,57 untuk Wilayah 

Jakarta, dan 69,57 untuk wilayah Bogor, Depok, 

Tangerang, dan Bekasi. sedang  sebagian kecil 

mengalami penurunan pendapatan di seluruh 

wilayah ini .

Perbedaan dan Perubahan Pendapatan Mitra 

Blue Bird Saat dan sesudah  Pandemi Melalui 

Street hailing dan GoBlue Bird (Total Order)



jika  pendapatan dilihat dari order 

melalui Street hailing dan GoBlue Bird (Total 

Order) di wilayah Jabodetabek, Wilayah Jakarta, 

dan Wilayah Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, 

maka sebagian besar responden menyatakan 

bahwa ada  perbedaan pendapatan 

antara saat dan sesudah  Covid-19 melalui street 

hailing dan GoBlue Bird.  Bagi responden yang 

menyatakan ada  perbedaan pendapatan, 

diketahui bahwa sebagian besar responden yaitu 

dengan persentase 86,15%, 86,96%, dan 86,96% 

responden di Wilayah Jabodetabek, Wilayah 

Jakarta, dan Wilayah Bogor, Depok, Tangerang, 

dan Bekasi menyatakan bahwa terjadi 

peningkatan pendapatan yang terjadi sesudah  

Covid-19 melalui street hailing dan GoBlue Bird.

Alasan Adanya Kenaikan Pendapatan

Alasan Mitra Gocar

Kenaikan pendapatan mitra GoCar sesudah  

pandemi Covid-19 dapat disebabkan oleh 

beberapa faktor. Menurut responden, faktor 

utamanya yaitu jumlah permintaan terhadap 

kendaraan layanan transportasi online semakin 

banyak seiring dengan meningkatnya warga  

yang berpergian atau beraktivitas diluar, 

misalnya berkantor, bersekolah atau berlibur, 

yaitu dengan persentase 66,08% responden. 

lalu  faktor berikutnya yaitu penilaian yang 

baik dari pengguna (customer) terhadap layanan 

yang sudah diberikan, dengan persentase 

sebanyak 17,70% responden, lalu faktor lainnya 

yaitu melakukan inovasi layanan, contohnya 

yaitu memberi  kualitas mengemudi yang 

lebih nyaman, yaitu dengan persentase 12,68% 

responden. sedang  sebagian kecil responden 

yaitu dengan persentase 10,62% responden 

menyatakan bahwa pengguna/konsumen yang 

dilayani tidak terpengaruh saat dan sesudah  

pandemi Covid-19. 

Adanya kenaikan pendapatan sesudah  

Covid-19 yang utamanya disebabkan oleh 

jumlah permintaan terhadap kendaraan 

layanan transportasi online semakin banyak 

seiring dengan meningkatnya warga  

yang berpergian atau beraktivitas di luar untuk 

misalnya berkantor, bersekolah atau berlibur. Hal 

ini tentu sangat wajar sebab  pada saat Covid-19 

mayoritas pengguna layanan GoCar cukup 

berkurang sebab  adanya pembatasan aktivitas 

diluar, seperti work from home, pembelajaran 

secara daring dan ditutupnya lokasi-lokasi 

rekreasi.

Alasan Mitra Blue Bird

Tabel 10 menunjukkan alasan kenaikan 

pendapatan yang dirasakan responden pada 

masa sesudah  pandemi Covid-19 dibandingkan 

saat pandemi Covid-19. Sebagian besar 

responden (72,31%) menyatakan bahwa alasan 

kenaikan pendapatan terjadi sebab  jumlah 

permintaan terhadap kendaraan layanan 

transportasi online semakin banyak. sedang  

sebagian kecil (10,77%) responden menyatakan 

bahwa pengguna/konsumen yang dilayani tidak 

terpengaruh saat dan sesudah  pandemi Covid-19.


Pemahaman Terhadap Sistem Pembagian/ 

Distribusi Order Pemahaman Mitra GoCar 

Terhadap Sistem Pembagian Order

Terkait dengan pemahaman sistem 

pembagian order, sebagian besar responden 

(72.57%) menyatakan memahami sistem 

pembagiannya. Hasil ini mengalami peningkatan 

dari penelitian yang telah dilakukan sebelumnya 

pada saat pandemi Covid-19 di mana responden 

yang memahami sistem pembagian order hanya 

sekitar 65,82%. Hasil ini juga memberi  

informasi bahwa sesudah  pandemi Covid-19 mitra 

GoCar semakin memahami sistem pembagian 

order. 

Lebih lanjut, sebanyak 78,47% responden 

yang memahami sistem pembagian order menilai 

bahwa distribusi layanan yang didapatkan sudah 

sesuai dengan kriteria yang ditetapkan, sebagian 

besar responden menilai bahwa distribusi order 

ditentukan berdasar  performa mitra. 

Oleh sebab  itu, mitra perlu menjaga 

performanya seperti menjaga layanan baik, 

kesopanan, kebersihan dan lebih aktif mencari 

order.

Pemahaman Distribusi Order Mitra Blue Bird

Sebagian besar responden (76,92%) mitra 

Blue Bird menyatakan bahwa mereka memahami 

sistem distribusi order. Bagi responden yang 

memahami sistem distribusi order, menyatakan 

bahwa sebesar (61,54%) responden menyatakan 

bahwa kriteria jarak antara mitra dan pengguna 

merupakan kriteria distribusi order yang mereka 

ketahui, sedang  sebanyak 41,54 %  dan 

52,31% responden menyatakan bahwa riwayat 

penyelesaian order dan  kriteria performa mitra 

merupakan kriteria distribusi order yang mereka 

ketahui, secara berurutan. lalu , 72,31% 

responden menyatakan bahwa distribusi order 

layanan sudah sesuai dengan kriteria yang 

ditentukan.

Penilaian Jumlah Armada, Peningkatan 

Pendapatan dan Manfaat Ekosistem Gojek 

Responden mitra GoCar

Sebagian besar responden mitra GoCar 

(68,14%) menyatakan bahwa jumlah armada 

transportasi online GoCar dan GoBlueBird 

terkategori sangat banyak dengan memberi  

penilaian di angka  7 (tujuh)4. Hasil ini memberi  

4 Pengelompokan ini berdasar  pada 

pengelompokan Kajian Indeks Persaingan Usaha 

KPPU Tahun 2023 dengan pengelompokan sebagai 

berikut:

1= sangat sedikit, 2= cukup sedikit, 3= sedikit rendah, 

4= moderat, 5= sedikit banyak, 6= cukup banyak dan 

7= sangat banyak

arti bahwa ketersediaan armada dari mitra GoCar 

dan GoBlueBird sangat mudah didapatkan.

lalu , sebanyak 18,58%, 27,43%, 

20,35% dan 14,16% atau total sebanyak 80,52% 

responden menyatakan bahwa pendapatan mitra 

GoCar terkategori moderat, sedikit meningkat, 

cukup meningkat dan sangat meningkat dengan 

memberi  penilaian diangka 4 (empat) hingga 

7 (tujuh)5.

Lebih jauh, terkait dengan persepsi 

responden mitra gocar terkait manfaat semakin 

baiknya ekosistem gojek, sebanyak 21,53%, 

11,5%, 16,22% dan 23,01% atau total 72,26% 

responden menyatakan masing-masing sedikit 

bermafaat (skor 4), cukup bermanfaat (skor 5), 

bermanfaat (skor 6) dan sangat bermanfaat (skor 

7) dengan semakin baiknya ekosistem GoCar. 

Ekosistem GoCar yang dimaksud di antaranya 

semakin banyaknya mitra GoCar yang ikut dalam 

transportasi daring. Kebermanfaatan ini akan 

terkait dengan proyeksi semakin banyaknya 

pengguna transportasi daring jika ekosistem 

GoCar semakin berkembang sebab  adanya 

indikasi berpindahnya transportasi konvensional 

ke transportasi daring.

Responden Mitra BlueBird

Dapat diketahui bahwa sebagian responden 

mitra BlueBird (66,15%) menyatakan bahwa 

jumlah armada transportasi online GoCar dan 

GoBlue Bird terkategori sangat banyak dengan 

memberi  penilaian diangka 7 (tujuh)6. Hasil 

ini memberi  arti bahwa ketersediaan armada 

dari mitra GoCar dan GoBlueBird sangat mudah 

didapatkan.

lalu , mengenai persepsi responden 

mitra Blue Bird terkait pendapatan memakai  

aplikasi GoCar, dapat diketahui bahwa 24,62%, 

20%, 26,15% dan 20% atau total 90,77% responden 

menyatakan bahwa pendapatan mitra GoCar 

terkategori cukup meningkat, sedikit meningkat, 

meningkat dan sangat meningkat dengan 

memberi  penilaian di angka 4 (empat) hingga 

7 (tujuh). 

5 Pengelompokan ini berdasar  pada 

pengelompokan Kajian Indeks Persaingan Usaha 

KPPU Tahun 2023 dengan pengelompokan sebagai 

berikut:

1= sangat menurun, 2= cukup menurun, 3= sedikit 

menurun, 4= moderat, 5= sedikit meningkat, 6= cukup 

meningkat dan 7= sangat meningat

6 Pengelompokan ini berdasar  pada 

pengelompokan Kajian Indeks Persaingan Usaha 

KPPU Tahun 2023 dengan pengelompokan sebagai 

berikut:

1= sangat sedikit, 2= cukup sedikit, 3= sedikit rendah, 

4= moderat, 5= sedikit banyak, 6= cukup banyak dan 

7= sangat banyak.


Lebih jauh, mengenai persepsi responden 

mitra Blue Bird terkait manfaat semakin baiknya 

ekosistem Gojek, sebesar 15,38%, 13,85%, 30,77% 

dan 27,69% atau total 87,69% responden Mitra 

BlueBird menyatakan bahwa semakin baiknya 

ekosistem GoCar secara umum (termasuk 

bisa masuknya Blue Bird menjadi Mitra GoCar) 

memberi  manfaat masing-masing moderat 

(skor 4), sedikit manfaat (skor 5), cukup manfaat 

(skor 6) dan sangat manfaat (skor 7)7.  Semakin 

baiknya ekosistem GoCar terkait juga dengan 

semakin banyaknya mitra GoCar yang diproyeksi 

akan memberi  manfaat dalam konteks 

semakin berpindahnya transportasi konvensional 

kepada transportasi daring.

Persaingan Antar Mitra Driver dengan Adanya 

Kerja sama GoCar dengan Mitra Blue Bird 

Sebanyak 53,39% responden Mitra Gocar 

menyatakan bahwa kerja sama Gojek dengan 

Mitra Blue Bird tidak menciptakan persaingan 

usaha. Hasil ini menunjukkan bahwa menurut 

responden ini  keberadaan mitra Blue 

Bird dianggap bukan menjadi pesaing dalam 

menjalankan aktivitas pemberian layanan 

transportasi online. Meski demikian, ada  

46,61% yang menyatakan bahwa keberadaan 

kerjasama Gojek dengan mitra Blur Bird 

menciptakan persaingan usaha, artinya sebagian 

responden memandang bahwa keberadaan 

mitra Blue Bird ini  menambah persaingan. 

Bagi responden yang menyatakan bahwa 

kerja sama dengan mitra menambah tingkat 

7  Pengelompokan ini berdasar  pada 

pengelompokan Kajian Indeks Persaingan Usaha 

KPPU Tahun 2023 dengan pengelompokan sebagai 

berikut:

1= sangat tidak bermanfaat, 2= cukup tidak 

bermanfaat, 3= sedikit tidak bermanfaat, 4= moderat, 

5= sedikit bermanfaat, 6= cukup bermanfaat dan 7= 

sangat bermanfaat.

persaingan,  dapat diketahui bahwa dalam 

menghadapi peningkatan persaingan usaha 

ini , mereka berusaha untuk meningkatkan 

rating performa (menjaga layanan baik, 

kesopanan dan kebersihan) (27,14%); lebih aktif 

mencari penumpang (26,55%); tidak menolak 

order (23,30%); dan alasan lainnya (3,54%). 

Dampak Kerja sama Gojek dengan Mitra Blue 

Bird

Tengan dampak kerja sama gojek dengan 

mitra Blue Bird, bagi 66,67% mitra GoCar, 

adanya kerja sama yang dilakukan ini  tidak 

mempermudah driver GoCar dalam memperoleh 

pengguna layanan. Bahkan ada  sebagian 

responden (27,73%) yang menyatakan bahwa 

kerja sama ini  justru mempersulit driver 

Gocar dalam mendapatkan order. Sementara 

itu, hanya sebagian kecil responden (5,6%) 

yang menyatakan bahwa kerja sama ini  

mempermudah dalam mendapatkan order.

Tabel 11 menunjukkan bahwa bagi responden 

yang menyatakan kerja sama justru mempersulit, 

sebagian besar dari mereka menyatakan 

bahwa ada  penurunan persentase jumlah 

penumpang pada kisaran 0-10%. Penurunan 

penumpang yang terjadi sebagian besar 

dialami oleh responden saat pandemi Covid-19 

terjadi. Kondisi ini disebabkan dengan adanya 

semakin banyak opsi transportasi yang dapat 

dipilih penumpang, serta adanya Covid-19 yang 

sedang  beberapa penumpang berdiam 

diri dirumah sebab  sistem kerja work from home.



Lebih jauh, terkait dengan persentase 

perbedaan distribusi order Gojek dengan 

mitra Blue Bird, sebanyak 53,69% responden 

menyatakan bahwa tidak ada  perbedaan 

distribusi order antara Gojek dengan Mitra Blue 

Bird, seperti Blue Bird. Temuan menariknya 

yaitu , ada  46,31% responden yang 

menyatakan ada  perbedaan distribusi di 

mana angka ini  juga relatif sama dengan 

mereka yang menyatakan bahwa keberadaan 

mitra menambah/meningkatkan persaingan.


Penelitian ini mengkaji kondisi atau 

perkembangan kinerja transportasi daring 

roda empat dan perilaku/persaingan usaha 

didalamnya sesudah  pandemi Covid-19. Kajian ini 

juga membandingkan dengan kinerja pada saat 

pandemi Covid-19. Kajian difokuskan kepada 

layanan transportasi daring roda empat GoCar 

dan mitranya di wilayah Jabodetabek. Kajian 

ini juga merupakan lanjutan dari kajian yang 

sebelumnya pernah dilakukan pada tahun 2020, 

di mana pada saat itu kajian dilakukan untuk 

melihat bagaimana kinerja transportasi daring 

roda empat dan perilaku mitra driver pada 

masa pandemi Covid-19 dibandingkan dengan 

kondisi sebelum pandemi Covid-19. Penelitian 

ini memakai  uji ANOVA untuk melakukan 

verifikasi apakah secara statistik kenaikan atau 

penurunan kinerja pada periode saat-sesudah  

pandemi signifikan atau tidak.

Penelitian ini menemukan bahwa ada  

peningkatan secara signifikan frekuensi order 

dan pendapatan harian mitra GoCar pada 

periode sesudah  pandemi Covid-19 dibandingkan 

saat periode pandemi. Hal ini  terlihat dari 

penurunan yang signifikan pada persentase 

responden yang mendapatkan frekuensi order 

dan pendapatan pada rentang terendah. 

Terkait dengan mitra Blue Bird, penelitian 

ini menemukan bahwa ada  peningkatan 

kembali penumpang yang diterima Blue 

Bird di masa sesudah  pandemi, baik melalui 

street hailing maupun GoBlue Bird. Walaupun 

demikian, mitra Blue Bird mengalami kenaikan 

pendapatan melalui GoBlue Bird yang lebih 

besar dibandingkan melalui street hailing hanya 

di Wilayah Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. 

Peningkatan ini  juga dikonfirmasi oleh 

persepsi mitra Blue Bird yang menyatakan bahwa 

peningkatan terjadi sebab  jumlah permintaan 

terhadap kendaraan layanan transportasi daring 

semakin banyak pada masa sesudah  pandemi 

Covid-19. Hal ini juga terjadi sebab  adanya 

perubahan perilaku, seperti warga  yang 

hanya beraktivitas di rumah sebab  pandemi 

Covid-19, saat ini sudah bisa beraktivitas kembali 

diluar rumah sehingga meningkatkan jumlah 

permintaan terhadap kendaraan transportasi 

online. Terkait dengan mitra Blue Bird, penelitian 

ini juga menghasilkan temuan di mana rata-rata 

peningkatan order street hailing di masa sesudah  

pandemi Covid-19 lebih tinggi (rata-rata 4 orderan 

per-hari) dibandingkan dengan peningkatan 

order melalui GoBlueBird di masa pandemi 

Covid-19 (rata-rata 3 orderan per-hari).


Tujuan utama dari esai ini yaitu  untuk mengungkap dinamika yang kompleks dari kebijakan 

persaingan usaha dan memberi  wawasan tentang faktor-faktor yang mendorong variasi kebijakan 

di seluruh dunia. Tujuannya yaitu  untuk berkontribusi dalam diskursus yang berkelanjutan tentang 

kebijakan persaingan dengan menjembatani kesenjangan antara teori dan praktik, menawarkan 

dukungan empiris untuk tren yang diamati, dan memberi  implikasi praktis bagi pembuat kebijakan 

dan praktisi. Penelitian ini memakai  studi literatur. Analisisnya mengungkapkan bahwa, sementara 

ada  konvergensi global yang dapat dikenali menuju kebijakan persaingan usaha berbasis ekonomi 

dan otoritas persaingan independen, faktor-faktor khusus dalam negeri seperti tingkat privatisasi, 

demokrasi, ideologi politik, asal hukum, dan jenis kapitalisme terus mempengaruhi secara signifikan, 

membentuk kebijakan persaingan usaha dengan cara yang khas. Pemahaman yang lebih mendalam 

ini menantang gagasan tentang konvergensi global yang lengkap dan menekankan pentingnya desain 

kebijakan yang sensitif terhadap konteks. Temuan ini memiliki implikasi praktis bagi pembuat kebijakan 

dan praktisi, dengan menekankan perlunya menyesuaikan kerangka kebijakan persaingan usaha dengan 

keadaan unik masing-masing negara. Di tengah perubahan cepat dalam lanskap global, mengenali 

dan mengakomodasi faktor-faktor ini sangat penting untuk menjaga relevansi dan adaptabilitas yang 

berkelanjutan dari kebijakan persaingan usaha. 


Penggelapan pengadaan barang dan jasa merupakan kategori kasus korupsi terbesar yang ditangani 

KPK. Secara umum bentuk penipuan dalam pengadaan barang dan/atau jasa yaitu  praktik penunjukan 

langsung dan manipulasi harga perkiraan sendiri (HPS). Tujuan dari artikel penelitian ini yaitu  untuk 

menganalisis potensi kerentanan korupsi dalam tender pengadaan barang dan jasa Pemerintah 

yang tidak sesuai dengan prinsip persaingan usaha yang sehat, dan upaya untuk mencegah potensi 

kerentanan korupsi dalam tender pengadaan barang dan jasa Pemerintah. pengadaan barang dan 

jasa Pemerintah yang sesuai dengan prinsip persaingan usaha yang sehat. Metode yang digunakan 

yaitu  penelitian hukum normatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kolusi antara pelaku usaha 

dan pejabat publik dalam proses tender dimulai pada saat perencanaan anggaran dan proses tender. 

Upaya Pemerintah untuk mengurangi potensi korupsi pengadaan barang dan jasa publik dengan 

mengubah struktur organisasi pengadaan dan tender dilakukan melalui e-purchasing dan memperluas 

objek sanggahan lelang dan tender yang dilakukan dengan memperhatikan prinsip persaingan usaha 

yang sehat, yaitu transparan, tidak diskriminatif, dan tanpa hambatan masuk (barriers to entry).


Artikel ini membahas terkait solusi dan ancaman yang ditimbulkan oleh kecerdasan buatan dalam 

konteks hukum persaingan usaha. Temuan menarik dari artikel ini menunjukkan bahwa kecerdasan 

buatan menghadirkan tantangan dan peluang dalam persaingan usaha. Meskipun kecerdasan buatan 

dapat meningkatkan persaingan dengan meningkatkan efisiensi dan mendorong inovasi. Di sisi lain 

kecerdasan buatan juga dapat menimbulkan kekhawatiran akan dominasi pasar dan kolusi. Oleh sebab  

itu, KPPU harus dapat beradaptasi dengan kompleksitas ini untuk memastikan persaingan usaha yang 

sehat dan melindungi konsumen. Menyeimbangkan inovasi dengan penegakan hukum yang kompetitif 

sangat penting untuk meningkatkan manfaat dari kecerdasan buatan sambil mengurangi potensi 

ancaman sebab  kecerdasan buatan. berdasar  temuan-temuan ini, penulis merekomendasikan 

agar KPPU meningkatkan pengawasannya terhadap kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan 

kecerdasan buatan untuk memastikan kepatuhan terhadap Undang-Undang persaingan usaha. 

KPPU harus mencari bukti perilaku anti-persaingan usaha yang didorong oleh kecerdasan buatan, 

seperti kolusi harga melalui pemantauan harga dan perangkat lunak pencocokan algoritmik, dengan 

mengamandemen Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 dengan memberi  kewenangan ini  

kepada KPPU. KPPU harus menegakkan hukum dan peraturan untuk mengatasi dampak kecerdasan 

buatan terhadap hukum persaingan usaha. Sebagai contoh, Undang-Undang Pasar Digital Uni Eropa 

memberi  wewenang kepada Komisi Eropa untuk meminta algoritma dan data mengenai pengujian 

algoritma ini , dan penjelasan mengenai penggunaannya dari perusahaan-perusahaan yang 

ditunjuk sebagai penjaga gerbang persaingan usaha.


CAKUPAN UMUM JURNAL PERSAINGAN USAHA

1. Analisis empiris atas kebijakan persaingan

2. Studi kasus atau bedah putusan KPPU (yang telah inkracht) 

baik dalam konteks kegiatan yang dilarang, perjanjian yang 

dilarang, dan penyalahgunaan posisi dominan

3. Analisis atas transaksi merger dan akuisisi, serta  studi kasus 

penanganan perkara merger dan akuisisi

4. Pengembangan regulasi dan hukum beracara di KPPU

5. Studi komparatif implementasi hukum persaingan usaha 

antarnegara (antara KPPU dengan negara lain)

6. Isu-isu yang berkaitan dengan kelembagaan KPPU (struktur 

dan kinerja)

7. Diskursus dan kritik teori tentang persaingan usaha

8. Pengembangan metodologi riset terkait persaingan usaha

9. Isu-isu yang berkaitan dengan pengawasan kemitraan UMKM 

(termasuk implementasi konsep ekonomi pasar Pancasila, 

atau perdebatan antara competition dan cooperation)