UMKM 2
terhadap mitra binaan,
tergantung kepada tingkat kemampuan pengusaha besar. Jenis bantuan
pembinaan yang dapat diberikan oleh pengusaha besar terhadap mitra
binaan, antara lain 48 :
(1) Bantuan Informasi
(2) Bantuan teknik spesifikasi produk/komponen
(3) Bantuan keuangan (pinjaman lunak atau pembayaran uang muka)
(4) Bantuan pengadaan bahan baku/mesin/peralatan
(5) Latihan teknis, manajemen, organisasi
(6) Bantuan untuk mencari pembeli-pembeli lain
Bagi mitra binaan sebagai pengusaha mikro, kecil atau menengah,
berkewajiban :
(1) Menyelesaikan order sesuai dengan mutu, harga, dan waktu
penyerahan yang disepakati dengan perusahaan mitra
46
Keputusan Menteri Badan Usaha Milik Negara, Nomor KEP-236/MBU/2003 tentang
Program Kemitraan BUMN dengan Usaha Kecil dan Program Bina Lingkungan, dalam
Afnar Meilyna, Analisis Pengaruh Pelaksanaan Program Kemitraan terhadap
Perkembangan UKM Mitra Binaan PTPN III Kebun Bangun, (FE-USU, Medan, 2008)
47
Mudrajad Kuncoro, Ekonomika Pembangunan : Teori, Masalah, dan Kebijakan,
(UPP STIM YKPN, Yogyakarta, 2006)
48
Slamet P. Santoso, Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kemitraan Usaha PMA
dengan UKM dalam rangka mengembangkan UKM, (Jakarta : FISIP UI, 2001)
- 54 -
(2) Mengembangkan usaha dengan memanfaatkan berbagai kemudahan
yang diberikan perusahaan besar dan iklim usaha yang diberikan
pemerintah
5. Model-model Kemitraan UMKM
1) Model Kemitraan Partisipatif
Dalam pembentukan model kemitraan partisipatif menurut
Eriyanto49 terdapat 4 (empat) aspek penting yang digunakan dalam
pendekatannya, yaitu : (a) Aspek bisnis untuk menjamin kelayakan usaha;
(b) Aspek kesejahteraan sosial untuk menjamin manfaat usaha; (c) Aspek
partisipasi (para pelaku kemitraan) untuk menjamin keberlanjutan usaha;
dan (d) Aspek sosiologi untuk menjamin teknik dan mutu produksi
(kualitas produksi). Bentuk kemitraan ini dapat dilihat dari gambar
II.2
Mudrajat Kuncoro50 melakukan penelitian tentang Usaha Kecil di
Indonesia : Profil, Masalah, dan Strategi Pemberdayaan, dimana
disimpulkan bahwa pola kemitraan di Indonesia dapat dikategorikan
menjadi dua, yaitu : pola keterkaitan langsung dan keterkaitan tidak
langsung.
1. Pola Keterkaitan Langsung
a) Pola PIR (Perkebunan Inti Rakyat), dimana bapak angkat (usaha
besar) sebagai inti, sedangkan petani kecil sebagai plasma.
b) Pola Dagang, dimana bapak angkat bertindak sebagai pemasar
produk yang dihasilkan oleh mitra usahanya.
c) Pola Vendor, dimana produk yang dihasilkan oleh anak angkat
tidak memiliki hubungan kaitan ke depan maupun ke belakang
dengan produk yang dihasilkan oleh bapak angkatnya.
d) Pola Subkontrak, dimana produk yang dihasilkan oleh anak angkat
merupakan bagian proses produksi usaha yang dilakukan oleh
50
bapak angkat, lalu terdapat interaksi antara anak dan bapak angkat
dalam bentuk keterkaitan teknis, keuangan, atau informasi
2. Pola Keterkaitan Tidak Langsung, merupakan pola pembinaan murni.
Dalam pola ini tidak ada hubungan bisnis langsung antara usaha
besar dengan mitra usaha. Hal ini yang dilakukan oleh Perguruan
Tinggi sebagai bagian salah satu Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu :
pengabdian kepada masyarakat. Pola pembinaan melalui program ini
meliputi : pelatihan pengusaha kecil, pelatihan calon konsultan
pengusaha kecil, bimbingan usaha, konsultasi bisnis, monitoring
usaha, temu usaha, dan lokakarya atau seminar usaha kecil.
Disamping itu juga dikemukakan bahwa agar jalinan kemitraan dapat
berhasil, perlu adanya prinsip sinergi, yaitu saling membutuhkan dan
saling membantu. Prinsip saling membutuhkan akan menjamin kemitraan
berjalan lebih langgeng karena bersifat "alami" dan tidak atas dasar "belas
kasihan". Berlandaskan prinsip ini, usaha besar akan selalu mengajak
usaha kecil sebagai partner in progress.
Martani Huseini51 mengemukakan model kemitraan yang banyak
diterapkan di Indonesia, yaitu sebagai berikut :
1. Model Kemitraan Inti Plasma
Model Kemitraan Inti Plasma, merupakan model kemitraan antara
kelompok mitra usaha sebagai plasma dengan perusahaan inti yang
bermitra. Dalam hal ini, usaha menengah atau usaha besar yang
menjadi sebagai inti, sedangkan usaha kecil sebagai plasma.
Perusahaan menengah atau perusahaan besar sebagai inti
menyediakan sarana produksi, bimbingan teknis, manajemen,
menampung, mengolah, dan memasarkan hasil produksi. Disamping
itu, perusahaan inti tetap memproduksi kebutuhan perusahaannya.
Sedangkan kelompok usaha kecil sebagai mitra usaha memenuhi
kebutuhan perusahaan menengah atau perusahaan besar sesuai
dengan persyaratan yang telah disepakati bersama, sehingga hasil
51
Martani Huseini, Keterkaitan antara Industri Kecil dengan Industri Menengah/Besar
Melalui Pola Kerjasama Bapak-Anak Angkat di Daerah Perkotaan, (Jakarta : PAU UI,
1991)
- 61 -
yang diciptakan harus mempunyai daya kompetitif dan nilai jual yang
tinggi.
2. Model Kemitraan Sub-Kontrak
Model Kemitraan Sub Kontrak, merupakan model kemitraan antara
perusahaan menengah atau perusahaan besar, dengan perusahaan
kecil, sebagai mitra usaha yang memproduksi kebutuhan yang
diperlukan oleh perusahaan menengah atau perusahaan besar,
sebagai bagian dari komponen produksi perusahaan menengah atau
perusahaan besar ini . Ciri khas dari model ini yaitu membuat
kontrak bersama yang mencantumkan volume, harga, dan waktu.
Sedangkan pengertian sub-kontrak mengandung pengertian adanya
main-contractor dan sub-contractor. Main-contractor yaitu
perusahaan menengah atau perusahaan besar, dan sub-contractor
yaitu perusahaan kecil sebagai mitra.
Model Kemitraan Sub-Kontrak ini dibedakan menjadi 3 (tiga) kategori,
yaitu :
• Sub-contracting up-stream
Bilamana bahan baku atau produk dalam bentuk setengah jadi
dibuat oleh usaha kecil, dan finishing-nya dilaksanakan oleh
usaha menengah atau usaha besar.
• Sub-contracting down-stream
Bilamana bahan baku atau barang setengah jadi dibuat oleh
usaha menengah dan usaha besar, sedangkan finishing-nya
dilaksanakan oleh usaha kecil. Jadi pada dasarnya merupakan
kebalikan dari sub-contracting up-stream
• Sub-contracting partial
Bilamana hanya sebagian dari mata rantai proses produksi yang
dikerjakan oleh usaha menengah atau usaha besar dikerjakan
oleh usaha kecil
- 62 -
Secara umum ada beberapa alasan bagi usaha menengah atau usaha
besar, tertarik melakukan kegiatan kemitraan sub-kontrak dengan
usaha kecil, antara lain :
• Dalam rangka efisiensi produksi. Karena dengan tingkat efisiensi
yang tinggi kapasitas produksi menjadi meningkat, harga bias
bersaing, volume penjualan meningkat, dan keuntungan
perusahaan akan meningkat juga
• Karena order produk yang diterima kebetulan di luar kapasitas
produksinya atau di luar kemampuan teknis pengerjaannya,
sehingga sebagian pekerjaan di sub-kontrakkan kepada usaha
kecil
• Karena order produk yang diterima memerlukan processing
dengan cara atau peralatan khusus, dimana cara atau peralatan
ini hanya dapat dilakukan atau dimiliki oleh para
pengusaha kecil. Misalnya pada produk-produk yang
mengandung nilai seni, motif tradisional, atau dengan kata lain
terlalu “rumit” untuk dikerjakan
3. Model Kemitraan Keterkaitan Dagang
Model Kemitraan Keterkaitan Dagang pada prinsipnya yaitu apabila
perusahaan menengah atau perusahaan besar membeli atau
mengadakan dari perusahaan kecil, untuk dijual kembali, baik disertai
proses pengolahan atau penyempurnaan maupun tidak. Dalam model
ini tidak perduli apapun kegiatan utama perusahaan menengah atau
perusahaan besar sebagai bapak angkat dalam kemitraan, karena misi
utamanya yaitu membantu usaha kecil.
Dalam kaitan ini, arti membantu pemasaran produk usaha kecil
mempunyai pengertian yang bersifat relatif. Karena pada umumnya
usaha kecil tidak memiliki fasilitas lokasi/tempat jualan (toko). Pada
akhirnya banyak diantara mereka yang sengaja menitipkan produk-
produk pada usaha menengah atau usaha besar yang memiliki fasilitas
pertokoan ini . Namun demikian juga tidak sedikit perusahaan
- 63 -
menengah atau perusahaan besar menjual produk-produk yang
sengaja menggandeng usaha kecil ini guna memasarkan
produk-produknya, guna memperoleh tingkat efisiensi yang relatif
tinggi, sehingga tingkat keuntungan yang diperoleh relative tinggi juga.
Secara umum dapat dikatakan ada beberapa alasan model kemitraan
keterkaitan dagang ini disukai oleh para pengusaha menengah atau
pengusaha besar, yaitu :
• Dapat memanfaatkan fasilitas tokonya dan dapat menghadirkan
beraneka produk yang dipasarkan kepada konsumen.
• Dalam rangka efisiensi produksi dan pemasaran. Dengan tingkat
efisiensi yang tinggi kapasitas produksi menjadi meningkat, harga
bisa bersaing, volume penjualan meningkat, dan keuntungan
prusahaan akan meningkat juga.
• Tidak ada resiko kerugian jika produk yang dipasarkan tidak laku.
Karena semuanya dipasok dari berbagai usaha kecil yang bermitra
dengannya dan tanpa ada ikatan kontrak apapun, sementara
keuntungan yang didapatkan berdasarkan imbalan penjualan yang
diberikan oleh usaha kecil yang menjadi mitra usaha.
Sementara dari sudut pandang pengusaha kecil, terdapat beberapa
alasan model kemitraan keterkaitan dagang ini disukai pengusaha kecil,
yaitu :
• Usaha kecil dapat menitipkan produk-produknya untuk dipasarkan
• Jika pengusaha menengah atau pengusaha besar ini memiliki
kapasitas penguasaan pasar terhadap produk-produk relatif bagus,
maka akan dapat memperluas volume produksi dan penjualan
produk-produk usaha kecil yang menjalin kerjasama dagang
ini .
4. Model Kemitraan Keterkaitan Operasional
Model Kemitraan Keterkaitan Operasional ini pada dasarnya yaitu
keterkaitan kerjasama usaha antara usaha kecil dengan usaha
menengah atau usaha besar, dimana usaha menengah atau usaha
- 64 -
besar berperan memenuhi kebutuhan operasional usaha kecil yang
menjadi mitra usaha ini . Kebutuhan operasional yang dimaksud,
antara lain : kebutuhan peralatan kerja, jasa-jasa layanan tertentu,
peralatan tertentu, bahan baku habis pakai, bahan penolong dan
sebagainya, dan tergantung pada kesepakatan yang telah disetujui
oleh kedua belah pihak.
Secara umum terdapat beberapa alasan bagi perusahaan menengah
atau perusahaan besar yang tertarik untuk melakukan model
kemitraan keterkaitan operasional ini, yaitu :
• Dalam rangka efisiensi produksi.
Karena dengan tingkat efisiensi yang tinggi kapasitas produksi
menjadi meningkat, harga bias bersaing, volume penjualan
meningkat, dan keuntungan perusahaan akan meningkat juga.
• Karena order produk yang diterima kebetulan di luar kapasitas
produksinya atau di luar kemampuan teknis pengerjaannya,
sehingga sebagian pekerjaan disub-kontrakkan kepada usaha
kecil.
• Karena order produk yang diterima memerlukan processing dengan
cara atau peralatan khusus, dimana cara atau peralatan ini
hanya dapat dilakukan atau dimiliki oleh para pengusaha kecil.
5. Model Kemitraan Keagenan
Model Kemitraan Keagenan pada dasarnya merupakan pola hubungan
kemitraan dimana usaha kecil diberi hak khusus untuk memasarkan
barang dan jasa dari usaha menengah atau usaha besar sebagai
mitranya. Model kemitraan ini sebenarnya hampir mirip dengan model
waralaba.
Perbedaannya yaitu , pada model keagenan ini tidak disertai dengan
bantuan bimbingan manajemen dari usaha menengah atau usaha
besar besar, serta usaha menengah atau usaha besar tidak
bertanggung jawab terhadap system operasi, pelatihan, program
- 65 -
pemasaran, dan hal-hal lainnya. Jika dalam model waralaba, hal-hal
ini dilakukan.
6. Model Kemitraan Waralaba
Model Kemitraan Waralaba merupakan pola hubungan kemitraan
antara usaha kecil dengan usaha menengah atau usaha besar sebagai
mitra usaha yang memberikan hak lisensi, merk dagang, saluran
distribusi perusahaan kepada usaha kecil yang bersangkutan.
Dalam hal ini, usaha kecil yang bersangkutan menerima jasa
waralaba, dan juga mendapat bantuan bimbingan manajemen.
Demikian pula usaha menengah atau usaha besar sebagai pemilik
waralaba bertanggung jawab terhadap sistem operasi, pelatihan,
program pemasaran, merk dagang, dan hal-hal lainnya, kepada mitra
usahanya yaitu usaha kecil sebagai pemegang usaha yang
diwaralabakan ini .
Sementara itu, Ina Primiana52 mengemukakan bahwa proses
hubungan keterkaitan yang berkembang selanjutnya membentuk empat
macam pola kemitraan, yaitu : pola dagang, pola vendor, pola sub
kontrak, dan pola pembinaan. Dari pengalaman-pengalaman dapat terlihat
keberhasilan kemitraan apabila kedua belah pihak dalam hal ini industri
besar dan UMKM didasarkan pada saling membutuhkan, saling
memperkuat, dan saling menguntungkan. Jika salah satu tidak terpenuhi
maka program kemitraan tidak akan berjalan lancar, oleh karena itu
hubungan kemitraan hendaknya dilaksanakan dalam beberapa tahap,
yaitu :
a) Mengidentifikasi UMKM yang memang punya potensi untuk tumbuh
pesat
52
Ina Primiana, op.cit., h. 22. Dalam sumbangan pemikiran yang ditulis pada tahun
2003-2009, dijelaskan bahwa masalah kemitraan telah menjadi perhatian Pemerintah RI
sejak tahun 1984, melalui UU Pokok Perindustrian, No. 5 Tahun 1984, pasal 10
menyatakan “pemerintah melakukan pembinaan dan pengembangan bagi keterkaitan
antara bidang-bidang usaha industri untuk meningkatkan nilai tambah serta sumbangan
yang lebih besar bagi pertumbuhan produksi nasional.
- 66 -
b) Membina UMKM sampai menjadi mandiri
c) Menjalin kemitraan usaha dengan mengembangkan UMKM yang
mandiri sebagai subkontraktor dari industri besar. Kemitraan dapat
terhambat jika perusahaan besar melakukan integrasi dari hulu
sampai ke hilir. Sehingga dalam kondisi ini perlu keterlibatan
pemerintah sebagai regulator.
Sementara William C. McDowell, Michael L. Harris, dan Lixuan
Zhang53 berdasarkan hasil penelitiannya mengidentifikasi bahwa indikator
Kemitraan dalam UMKM terdiri dari : a) Trust; b) Dependence;
c) Information Quality; d) Continuous Quality Improvement. Ke 4 (empat)
faktor ini masing-masing berkorelasi dengan Performance UMKM.
Dalam penelitian ini dengan melihat berbagai aspek kemitraan
maka sebagai acuan untuk menentukan perspektif dalam menganalisa
UMKM Mitra, yaitu :
a) Informasi Usaha
Salah satu jenis bantuan pembinaan oleh pengusaha besar terhadap
mitra binaan berupa bantuan informasi (Slamet P. Santoso, 200154),
dimana informasi ini diberikan karena adanya trust untuk saling
bermitra melalui komunikasi yang efektif (Phil Harkins, 200255;
Lambart, 2007), dan informasi ini merupakan suatu komoditas
(Mehran, 199556). Informasi usaha yang diberikan harus secara
seimbang, terbuka (Stephen M. Dent, 200657), serta berkualitas (Mc
Dowell, et.all., 2009), sehingga tidak terjadi information asymmetry
(Richardson, 1998 dan Ali, 2002), yang pada akhirnya menghindari
terjadinya conflict of interest (Zimmerer dan Scarborough, 200558;
Lambart, 2007) antara Usaha Besar dengan UMKM Mitra.
53
b) Kompetensi Usaha
Dalam kemitraan yang berhasil, kompetensi usaha akan meningkat
karena adanya ketrampilan dan kemampuan masing-masing anggota
kemitraan yang saling melengkapi satu sama lain (Zimmerer dan
Scarborough, 200559), serta adanya perpaduan kecakapan dan
keahlian untuk membantu keberhasilan usaha (Machfoedz, 200460).
c) Akses Usaha.
Akses usaha merupakan hal yang penting dan mutlak harus dikuasai
oleh pelaku kemitraan untuk mendapatkan nilai tambah dari produk
yang dihasilkan (Hafsah, 200061). Akses usaha dapat berkembang bila
kemitraan yang dilakukan mengandung aspek : keluwesan
(Machfoedz, 2004; Zimmerer dan Scarborough, 2005; Stephen M.
Dent, 2006), kreativitas, dan kecepatan (Stephen M. Dent, 2006),
dalam bereaksi terhadap situasi pasar yang berubah. Disamping itu
juga diperlukan adanya aspek partisipasi para pelaku kemitraan yang
dapat menjamin keberlanjutan usaha (Eriyanto, 199762).
NO PERSPEKTIF STRUKTUR DASAR
2 Kompetensi Usaha - Keberlangsungan Produksi
- Monitoring dan Evaluasi
- Peningkatan Omset Usaha
- Pemberian Insentif
3 Akses Usaha - Pengembangan Pasar
- Mempertahankan Hubungan
- Hubungan Emosional
Sumber : Diolah dari berbagai sumber
Perspektif dalam kemitraan ini diharapkan dapat menjadikan
UMKM yang Mandiri (UMKM++). Sedangkan pendekatan yang digunakan
dalam meneliti UMKM Mitra yaitu pendekatan system dynamics, karena
pendekatan ini dapat menyentuh segala aktivitas organisasi dalam
meningkatkan kemampuannya dalam lingkungan yang kompleks dan
dinamis (Phillips, 1969; Lilienfeld, 1978).63 Konsep dan teori system
dynamics diuraikan sebagai berikut :
D. System Dynamics
Perubahan-perubahan yang terjadi dalam lingkungan sangat dinamis
(Lawrence dan Lorsch, 1967).64 Pengaruh perubahan ini sangat
besar terhadap aktivitas-aktivitas organisasi dalam mencapai tujuan dan
sasaran organisasi yang telah ditetapkan (Scott, 1995).65 Sehingga
kemampuan organisasi yang tanggap terhadap peluang dan ancaman
yang dihadapi organisasi sangat diperlukan untuk mempertahankan
keberadaan dan mengembangkan organisasi (Lee, 2008).66
1. Pengertian Sistem
Sistem yaitu keseluruhan interaksi antar unsur dari sebuah obyek
dalam batas lingkungan tertentu yang bekerja mencapai tujuan67. Sistem
bekerja bukan dari sekedar penjumlahan unsur-unsur, namun karena
adanya pengikat atau penghubung antar unsur yang memberi bentuk
kepada obyek yang membedakannya dengan obyek lain dan menyusun
obyek sistem.
Anderson dan Johnson68 mengungkapkan adanya tujuh prinsip
sistem, yaitu :
1. Gambaran besar : setiap masalah dapat dipahami dari adanya
hubungan-hubungan yang lebih luas/besar
2. Jangka pendek dan panjang : penyelesaian jangka pendek bisa
menghambat penyelesaian dan hasil jangka panjang
3. Indikator lunak : masalah dapat bermuara dari indikator yang tidak
dapat dilihat seperti moral, komitmen, kepuasan, dan lain-lain.
4. Sistem sebagai suatu penyebab : masalah bukan hanya sebagai
konsekuensi tindakan, namun juga karena mental model seperti
asumsi, kepercayaan, value
5. Waktu dan ruang : sebab dan akibat terjadi dalam waktu dan ruang
yang tidak sama
6. Sistem vs gejala : masalah tidak bisa dipecahkan tanpa memahami
sistem yang membuat masalah ini muncul
7. Dan vs atau : masalah yaitu hasil dari berbagai sebab akibat
2. Systems Thinking dan System Dynamics
Perkembangan systems thinking dilatarbelakangi oleh General
Systems Theory dari Ludwig van Bertalanaffy69 yang berpendapat bahwa
pendekatan-pendekatan klasik tidak cukup untuk menjelaskan
kompleksitas, terutama di dalam organisasi dan sistem hidup. Selanjutnya
Norbert Wiener dan John von Neumann (1947)70 mengembangkan ilmu
cybernetics dan konsep tentang feedback system dan self regulation. Jay
W. Forrester (1950-an)71 memperkenalkan dan mendemonstrasikan
penerapan feedback control theory dalam bentuk simulasi model
organisasi, dan mengembangkan system dynamics. Ciri khas system
dynamics terletak pada feedback system. Paling tidak terdapat empat ciri
pokok, yaitu :72
1. Closed loop : sistem yang dijadikan model harus sistem tertutup,
meskipun mungkin sistem ini tidak sungguh tertutup, karena
feedback loop tidak dapat melintasi batasan sistem, maka sistem dapat
dipertimbangkan sebagai sistem tertutup.
2. Feedback loops : terdapat feedback loop dalam sistem, posistif (+) dan
negatif (-). Umpan balik positif artinya naiknya/turunnya penyebab
mengakibatkan naiknya/turunnya akibat. Umpan balik negatif artinya
naiknya/turunnya penyebab mengakibatkan pengaruh sebaliknya yaitu
menurunkan atau menaikkan akibat.
3. Variabel state dan rate : state yaitu akumulasi dari sistem pada waktu
tertentu, sedangkan rate yaitu aliran yang mengatur besaran dalam
state.
4. Rate mengontrol melalui kebijakan : perilaku sistem hanya dapat
dikontrol oleh rate.
Ada dua loop dasar dalam system dynamics, yaitu Reinforcing dan
Balancing. Reinforcing yaitu salah satu ciri dinamika sistem (system
building block) yang menggambarkan sifat pertumbuhan atau peluruhan,
yaitu tumbuh membaik atau tumbuh memburuk. Sifat ini disebabkan oleh
hubungan sebab akibat dengan pengaruh searah atau sama, atau
hubungan kausal yang saling memperbesar nilai-nilai variabelnya.
Hasilnya yaitu pertumbuhan atau penurunan eksponensial.
Balancing yaitu salah satu ciri dinamika sistem yang
menggambarkan sifat goal seeking atau menuju keseimbangan, yang
digambarkan dalam bentuk pola peningkatan mencapai maksimum atau
penurunan sampai mendekati nol. Untuk kerja balancing ini bercirikan
penyesuaian (adapting) atau keseimbangan (equilibrium).
Dalam pandangan system dynamics, tujuan model dibuat untuk
serangkaian pertanyaan yang ada dalam permasalahan. Model yang
dibuat yaitu masalah sistem dan bukan sistem secara total. Tujuan
permodelan untuk membantu dalam melakukan formulasi model,
penentuan batasan model, validasi model, analisis kebijakan, dan
penerapan model.
Tujuan model system dynamics yaitu untuk mempelajari,
mengenal, dan memahami struktur, kebijakan, dan delay suatu keputusan
yang mempengaruhi perilaku sistem itu sendiri. Walaupun melalui model
system dynamics dapat diketahui dan disimulasikan tentang suatu
kebijakan yang diberlakukan, namun model ini tidak ditujukan untuk
memberikan prediksi atau peramalan atau perkiraan ke masa depan.
Model yang dibangun lebih ditujukan dalam usaha untuk memahami
karakteristik maupun mekanisme internal yang terjadi di dalam sistem itu
sendiri.
3. Systems Archetype
Systems Archetype merupakan model-model generik atau template
yang mempresentasikan struktur-struktur sistem yang berulang-ulang dan
dapat muncul dalam banyak situasi yang berbeda73. Systems Archetype
dapat diterapkan dengan 2 (dua) cara, yaitu diagnosa dan prospektif74.
• Diagnosa : Archetypes membantu para manajer untuk mengenali
pola-pola perilaku yang sudah ada dalam organisasi. Archetypes
yaitu alat yang efektif untuk menjawab pertanyaan : Mengapa kita
terus melihat masalah yang sama berulang dari waktu ke waktu ?
• Prospektif : Archetypes juga berguna untuk membuat perencanaan.
Sebagai manager, dituntut untuk merumuskan kebijakan atau
pengambilan keputusan yang sesuai dalam rangka mencapai
tujuan organisasi. Dalam hal ini Archetypes dapat diterapkan untuk
menguji apakah kebijakan dan struktur pengambilan keputusan
yang dipertimbangkan dapat mengubah struktur organisasi dengan
cara menghasilkan perilaku model. Jika manager menemukan hal
ini sebagai kasus, mereka dapat mengambil tindakan perbaikan
sebelum perubahan diadopsi dan diberlakukan dalam struktur
organisasi.
Systems Archetype terdiri dari 2 (dua) kombinasi causal loop, yaitu
adanya Reinforcing dan Balancing. Dimana masing-masing Archetypes
memiliki karakteristik tema, alur cerita, pola perilaku dari waktu ke waktu,
struktur, model mental dan intervensi yang efektif.
Terdapat beberapa kelebihan memakai Systems Archetype,
yaitu :
a. Mempermudah pemahaman systems thinking
b. Lebih mudah dipahami karena frekuensi yang berulang
c. Mudah dialihkan
d. Pergeseran fokus dari menemukan kesalahan menjadi mencari
penyebab kesalahan
e. Secara natural mempromosikan systems thinking yang digunakan
dalam organisasi
Systems Archetype cepat membangun kesadaran sistemik dan
memberikan cara yang sederhana dan menarik untuk berkomunikasi
tentang sistem kepada orang lain yang mungkin tidak mempunyai latar
belakang pemahaman systems thinking.
Systems Archetype dapat digunakan sebagai solusi untuk masalah-
masalah yang kompleks dan sebagai bantuan untuk pemodelan
kuantitatif75. Archetypes dapat membantu konseptualisasi model,
berdasarkan sifat isomorphic mereka untuk mentransfer pemikiran dari
satu domain ke domain yang lain. Archetypes juga berguna untuk
mengkomunikasikan model yang collaps ke basic loops. Archetypes dapat
menangkap esensi dari systems thinking dan hal ini menjadi penting
dalam pemodelan system dynamics.
Maani dan Cavana76 mengungkapkan adanya 8 (delapan) model
Archetypes, yaitu :
a. Fixes That Fail
Mengapa tindakan-tindakan quick-fix sangat mendominasi dan popular
dalam kehidupan kita? Paling tidak ada 2 (dua) alasan yang
menyebabkannya. Pertama, cara ini umumnya akan lebih cepat
memperlihatkan hasil, dan kedua biaya awal yang dikeluarkan lebih
murah. Tentu saja, solusi-solusi yang ditawarkan ini seringkali
mempunyai konsekuensi-konsekuensi yang tidak diharapkan dalam
jangka panjang.
Struktur Fixes That Fail terdiri dari satu simpal Balancing
(penyeimbangan) dan satu simpal Reinforcing (penguatan), seperti
terlihat pada gambar II.4. Kedua simpal ini berinteraksi dalam
suatu cara bahwa pada mulanya akan diperoleh hasil yang diinginkan
oleh simpal Balancing, akan tetapi setelah beberapa saat hasil ini
akan ditutupi (dilawan kembali) oleh tindakan simpal Reinforcing.
Model Archetypes Fixes That Fail memperlihatkan situasi dimana
konsekuensi-konsekuensi yang tidak diharapkan dan seringkali
berbahaya mengikuti tindaan-tindakan yang baik dan diinginkan.
Seringkali, efek-efek samping ini merusak pengaruh intervensi
yang dilakukan dan sistem kembali ke kondisi asalnya setelah
beberapa saat (Gambar II.5).
• Tindakan-tindakan Yang Menentukan
1) Carilah konsekuensi-konsekuensi dari tindakan-tindakan yang
tidak dikehendaki untuk menghilangkan symptom
2) Carilah akar-akar penyebab yang bertanggung jawab pada
gejala permasalahan
Problem Symptom Fix
Konsekuensi yang
Tidak Diinginkan
+
-
+
+
B
R
0
1
2
3
4
5
6
7
Waktu
Konsekuensi yang Tidak Diinginkan Problem Symptom
- 75 -
3) Ketika symptom sudah diketahui, carilah cara untuk mengurangi
pengaruh-pengaruh negatif
4) Lakukan tindakan-tindakan baik untuk menghilangkan gejala
dengan segera dan bekerja untuk menghilangkan akar
penyebabnya
b. Shifting The Burden
Kadang-kadang penyelesaian jangka pendek tidak hanya gagal
menyelesaikan permasalahan, akan tetapi juga membuat
permasalahan ini menjadi lebih buruk dan membuatnya lebih sulit
untuk menyelesaikannya secara mendasar. Inilah yang menjadi dasar
pemikiran Archetypes Shifting The Burden.
Struktur Shifting The Burden terdiri dari dua simpal Balancing dan satu
simpal Reinforcing, seperti dapat dilihat dalam gambar II.6. Struktur ini
merupakan struktur yang menjengkelkan karena kedua simpal
Balancing betindak seperti sebuah simpal Reinforcing memboyong
situasi dalam arah yang sama dengan simpal Reinforcing. Kedua
struktur ini mengakhiri sistem dalam suatu arah lain daripada arah
yang diinginkan.
Tindakan-tindakan yang diambil untuk mengurangi gejala (symptom)
masalah dapat mengurangi kemampuan untuk mengambil tindakan-
tindakan jangka panjang yang lebih mendasar. Kadang-kadang
penyelesaian jangka pendek tidak hanya gagal untuk memecahkan
persoalan, akan tetapi dapat juga membuat persoalan ini menjadi
lebih buruk dan membuat persoalan ini lebih sulit untuk
dipecahkan (Gambar II.7).
• Tindakan-tindakan Yang Menentukan
1) Pusatkan perhatian pada solusi-solusi mendasar. Jika perlu,
gunakan solusi simptomatik hanya untuk mengulur waktu
sementara solusi mendasar terus dilakukan
2) Gunakan berbagai sudut pandang untuk membedakan antara
solusi-solusi mendasar dan simptomatik dan untuk mendapatkan
konsensus suatu rencana tindakan.
c. Limit to Growth
Situasi dimana pada mulanya mendapatkan hasil yang memuaskan,
akan tetapi setelah selang beberapa waktu hasil yang diperoleh
ini mengalami penurunan atau bahkan memburuk. Mungkin kita
akan berusaha untuk tetap mendorong agar situasi yang berhasil
ini akan terus berlanjut, namun kelihatannya hasil yang kita
dapatkan semakin lama akan semakin berkurang untuk setiap usaha
keras yang terus menerus kita lakukan. Hal ini dapat menyebabkan kita
menjadi sangat frustasi, dan pada akhirnya kita mungkin akan
menyerah dengan serta merta. Kinerja kita terus menurun walaupun
usaha yang dilakukan terus mengalami peningkatan.
Struktur Limit to Growth terdiri dari satu simpal Reinforcing dan satu
simpal Balancing, seperti terlihat dalam gambar II.8. Simpal Reinforcing
merupakan simpal yang mendorong pertumbuhan, sedangkan simpal
Balancing merupakan simpal yang membatasi proses pertumbuhan
ini .
Pada awalnya kinerja yang dihasilkan mengalami pertumbuhan yang
cepat sebagai akibat dari usaha keras yang dilakukan. Bagaimana pun,
karena adanya faktor-faktor pembatas, kinerja ini
pertumbuhannya akan mengalami perlambatan, stagnasi, bahkan
mengalami penurunan dan bisa berakhir dengan kehancuran (Gambar
II.9).
• Tindakan-tindakan Yang Menentukan
Terdapat tiga titik pengungkit pola Limit to Growth, yaitu :
1) Pertama kali kenalilah atau carilah sumber-sumber yang
membatasi. Tidak ada yang dapat tumbuh selamanya, sehingga
Usaha Kinerja TindakanPembatas
+
+
-
kita dapat mempersiapkan diri menghadapi pembatas
sementara usaha-usaha peningkatan masih terus dilakukan.
2) Kedua, pusatkan perhatian pada simpal pembatas untuk
mengetahui apa yang membatasi pertumbuhan. Hilangkan atau
perlemah yang menjadi pembatas, bukan dengan mendorong
lebih keras pada simpal Reinforcing.
3) Ketiga, titik pengungkit pola Limit to Growth terletak pada
model-model mental yang mendasari tindakan-tindakan yang
kita lakukan.
d. Drifting Goals
Struktur Drifting Goals terdiri dari dua simpal Balancing yang
berinteraksi dalam suatu cara bahwa aktivitas dari satu simpal secara
nyata mengurangi keseimbangan simpal lain dalam upaya mencapai
tujuan (Gambar II.10).
Struktur Drifting Goals memperlihatkan perilaku dimana terdapat
kesenjangan antara sasaran yang diinginkan dengan sasaran yang
dilakukan (Gambar II.11). Untuk menghilangkan kesenjangan yang
terjadi dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu : meningkatkan sasaran
atau memperbarui sasaran.
• Tindakan-tindakan Yang Menentukan
1) Ketika kinerja yang terjadi menurun, maka periksa apakah hal itu
terjadi karena sasaran-sasaran yang telah dibuat diturunkan
targetnya.
2) Periksa bagaimana sasaran-sasaran ini dibuat dan siapa
yang menentukannya.
- 80 -
Gambar II.10 : Struktur Drifting Goals
Gambar II.11 : Grafik Perilaku Drifting Goals
e. Growth and Underinvestment
Struktur Growth and Underinvestment merupakan suatu elaborasi
sederhana struktur Limit to Growth, dimana tindakan yang lambat
menjadi bagian dari simpal balikan yang lain dengan suatu standar
eksternal dan beberapa ketertundaan (
Suatu tindakan yang tumbuh menghadapi Limit to Growth yang
beruntun. Dan dengan melakukan tindakan pada satu pembatas akan
menyebabkan tekanan yang lebih pada pembatas-pembatas yang lain
(Gambar II.13).
f. Success to The Successful
Struktur Success to the Successful terdiri dari dua simpal Reinforcing
yang bertindak bersama-sama seperti sebuah simpal Reinforcing
(Gambar II.14 dan II.15). Fenomena Success to the Successful dikenal
juga dengan pola Monopoli.
Grafik perilaku Success to the Successful memperlihatkan bahwa
apabila suatu entitas (orang, organisasi, perusahaan, atau Negara)
berhasil memimpin dalam sesuatu hal, maka entitas ini akan lebih
mudah untuk terus memimpin dan meningkatkan kinerjanya yang lebih
baik (Gambar II. 16).
g. Escalation
Struktur Escalation terdiri dari dua simpal Balancing yang berinteraksi
dalam suatu cara sehingga dapat menciptakan satu simpal Reinforcing
(Gambar II.17 dan II.18).
Tindakan individual yang mencoba untuk meningkatkan keamanan atau
kinerjanya dibandingkan pesaingnya akan menghasilkan penurunan
keamanan atau kinerja dalam jangka waktu panjang (Gambar II.19).
• Tindakan-tindakan Yang Menentukan
1) Pahami bahwa untuk mengatasi struktur ini membutuhkan
kooperasi terhadap sasaran yang lebih besar dalam memenangi
persaingan
2) Periksa bagaimana struktur ini mengurangi hasil dalam jangka
panjang
3) Periksa apakah persepsi dari lawan akurat (barangkali mereka
dalam melihat dirinya sederhana dalam merespon tindakan yang
anda lakukan)
4) Periksa apakah persepsi kemampuan lawan akurat
h. Tragedy of The Commons
Struktur Tragedy of The Commons merepresentasikan suatu situasi
dimana dua atau lebih struktur Reinforcing bergantung pada sumber
daya yang terbatas yang sama. Pada simpal Reinforcing 1 (R1),
aktivitas yang dilakukan A akan memberikan Net Gain untuk A,
sehingga A terus melakukan aktivitasnya. Begitu juga dengan B (R2)
yang melakukan aktivitas untuk mendapatkan Net Gain. Jumlah
aktivitas total (Aktivitas A dan Aktivitas B) dan Gain untuk tiap individu
(A dan B) membentuk suatu simpal Balancing untuk A dan B. Setelah
beberapa waktu, baik A maupun B tidak ada yang mendapatkan Gain
lagi karena keterbatasan sumber daya yang tersedia. Keterbatasan
(limit) sumber daya ini ditetapkan di luar dan tidak bergantung dari
sistem (Gambar II.20).
Tindakan-tindakan rasional yang dilakukan oleh individu-individu untuk
meningkatkan kinerja masing-masing bisa menghasilkan kehancuran
kinerja sistem secara keseluruhan dan juga menghancurkan
kemampuan individu-individu ini dalam menghasilkan kinerja
karena sistem telah rusak.
- 87 -
• Tindakan-tindakan Yang Menentukan
1) Pahami bahwa untuk mengatasi struktur ini membutuhkan
kooperasi terhadap sasaran yang lebih besar yang mengelola
sumber daya dan keuntungan berbagai pihak yang
berkepentingan
2) Buatkan aturan yang mengatur pembagian sumber daya secara
adil
Gambar II.20 : Struktur Generik Tragedy of The Common
Pembuatan model system dynamics dalam penelitian yang dilakukan
terhadap UMKM Mitra melalui tahapan-tahapan, yaitu :
1. Membuat konsep model causal loop diagram (CLD).
2. Membuat model secara verbal dengan memakai narasi secara
kualitatif.
3. memakai teknik pemodelan dengan teknik archetypes dalam
menganalisa masalah.
Aktivitas A Net Gain untuk A
Gain untuk tiap
Aktivitas Individu
Aktivitas Total
Net Gain untuk B
Aktivitas B
+
+
+
A. Paradigma Penelitian
Paradigma1 penelitian yang digunakan yaitu postpositivism,
karena memakai pendekatan kualitatif2. Terdapat kata kunci dalam
pemikiran postpositivism, yaitu logika praktek3. Postpositivism menyajikan
epistemologi pemecahan masalah,4 yaitu suatu pengetahuan akan
diawali dengan suatu masalah. Untuk memecahkan masalah ini
diajukanlah sebuah teori yang tentatif sifatnya. Kalau teori ini sesuai
dan berdaya guna, maka dapat menyingkirkan kekeliruan dan kesalahan
(error elimination) yang menimbulkan masalah tadi. Dengan selesainya
masalah pertama, serentak lahirlah masalah baru, dan berulanglah proses
yang sama, begitulah seterusnya.
Sedangkan pertimbangan memakai pendekatan kualitatif
karena merupakan suatu proses memahami masalah sosial atau manusia,
mendasarkan pada suatu gambaran holistik, kompleks, diolah dengan
kata-kata, menyampaikan pandangan detail para informan, dan dilakukan
dalam kondisi yang alami. 5 Secara lebih rinci pemilihan pendekatan
kualitatif didasarkan atas pertimbangan bahwa penelitian ini memerlukan
informasi yang mendalam (explorative) dari beberapa sumber. Sesuai
dengan pendekatan kualitatif dalam penelitian ini berusaha menjelaskan
apa yang telah terjadi di lapangan dan memperoleh suatu gambaran,
1
dimana data yang diperoleh dapat dijadikan tulisan ilmiah untuk
membangun suatu model.6
Adapun jenis penelitian ini yaitu penelitian deskriptif, yang
dilakukan untuk menjelaskan karakteristik variabel yang diteliti dalam
suatu situasi.7 Sedangkan tujuan penelitian deskriptif yaitu untuk
menggambarkan aspek-aspek yang relevan dengan fenomena perhatian
dari perspektif seseorang, organisasi, orientasi industri, atau yang lainnya.
Jadi penelitian ini tidak hanya sekedar untuk menemukan hubungan dari
dua atau lebih aspek ini tetapi juga menjelaskannya.8
Berdasarkan berbagai teori dan fenomena yang terjadi dalam
UMKM Mitra, penelitian ini merupakan studi kasus, yang memusatkan diri
secara intensif terhadap obyek tertentu dengan cara mempelajari sebagai
suatu kasus. Alasan pemilihan studi kasus yaitu dimana peneliti
mengeksplorasi suatu entitas atau fenomena (kasus) dalam kurun waktu
dan aktivitas (program, kejadian, proses, institusi, atau kelompok
masyarakat) dan mengumpulkan secara detail berbagai informasi yang
dipakai sesuai dengan prosedur pengumpulan data selama periode waktu
tertentu9. Studi kasus umumnya digunakan untuk mempelajari suatu
fenomena yang terjadi dalam masyarakat. Studi kasus mempelajari
berbagai bentuk kejadian dan program serta cocok dengan penelitian ini.
Studi kasus melibatkan catatan deskriptif secara mendalam dari individu
atau sekelompok individu yang dijaga oleh observer luar. Studi kasus
seringkali melibatkan pengumpulan dan pengujian berbagai observasi dan
catatan dari pengalaman dan/atau perilaku individual.10 Dengan penelitian
berupa studi kasus, maka hasil yang diperoleh pada suatu lokus hanya
berlaku untuk lokus yang diteliti saja dan tidak dapat dipresentasikan pada
lokus yang lain. Stake11 berpendapat bahwa permasalahan yang spesifik,
lebih tepat digunakan dengan memakai studi kasus. Hal ini senada
dengan pendapat Lincoln dan Guba12 bahwa suatu studi kasus dapat
diartikan sebagai proses mempelajari kasus dan sekaligus produk dari
suatu proses belajar. Studi kasus dalam penelitian ini yaitu studi kasus
pada UMKM Mitra PT. ISM Tbk, Divisi Bogasari Flour Mills.
B. Metode yang Digunakan
Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu system
dynamics. System dynamics dikembangkan dari systems thinking. Metode
system dynamics dipilih untuk membangun model yang akan digunakan
berdasarkan latar belakang, perumusan masalah, dan kerangka
pemikiran, karena persoalan kemitraan dalam UMKM yang diobservasi
mempunyai sifat yang dinamis dan di dalam struktur fenomenanya
mengandung lebih dari satu struktur umpan balik.
Model simulasi dengan system dynamics mengacu pada
pendekatan kualitatif-kuantitatif. Penggunaan pendekatan berpikir sistem
kualitatif dalam proses operasionalnya difasilitasi dengan penggunaan
program komputer (software vensim), sebagai alat bantu pengungkapan
gagasan atau memformulasikan model sebagai pendekatan berpikir
sistem kuantitatif.
Pendekatan berfikir sistem kualitatif digunakan untuk membangun
struktur, sedangkan pendekatan berfikir sistem kuantitatif digunakan untuk
mensimulasikan struktur menjadi perilaku. Penggunaan pendekatan
berfikir sistem kualitatif digunakan untuk memahami kompleksitas sistem
dan untuk mendukung proses berfikir intuitif-dialogis, sedangkan
pendekatan berfikir sistem kuantitatif digunakan untuk mendukung proses
berfikir rasional. Dalam proses pemanfaatan pendekatan berfikir sistem
kuantitatif-kualitatif, dua pendekatan ini digunakan secara terpadu sesuai
kebutuhan, substansi, dan konteks analisis.
Pendekatan kuantitatif juga digunakan untuk menganalisis data
yang dikumpulkan pada satu saat dengan memakai data time series.
Data time series dimaksudkan untuk mengetahui trend dari suatu kondisi
dan juga untuk mengetahui sebab akibat pada simulasi pola dinamis.
Pendekatan kualitatif digunakan untuk mengambil suatu kesimpulan dari
analisis sistem yang akan dilakukan. Dari jenis data dan analisis yang
diperoleh, penggunaan pendekatan kualitatif juga dimaksudkan untuk
mendiagnosis UMKM Mitra dan untuk mengetahui sebab-sebab
kelamahan kinerja operasional UMKM Mitra serta mencari jalan keluarnya.
Teknik pemodelan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu
sistem archetypes, yang mendasarkan pada struktur baku yang
dikembangkan oleh para peneliti di pusat pembelajaran organisasional di
MIT. Visualisasi model CLD (Causal Loop Diagram) yang digunakan
mudah dibaca dan dicerna. Sistem archetypes yaitu kombinasi umpan
balik Reinforcing dan Balancing yang umum terjadi. Mereka terdiri dari
dua atau lebih umpan balik. Setiap archetypes mempunyai karakteristik
tema, pengalaman khusus, pola perilaku kinerja antar waktu, struktur,
mental model, dan intervensi-intervensi.
Sebagaimana dijelaskan pada Bab II, terdapat 8 (delapan) model
archetypes, namun dalam penelitian ini hanya memilih beberapa model
archetypes. Hal ini dengan pertimbangan, yaitu : berdasarkan kondisi
temuan penelitian di lapangan, bahwa perilaku yang ditunjukkan oleh
UMKM Mitra PT ISM, Tbk, Divisi Bogasari Flour Mills dianalisis yang
sesuai dengan perilaku beberapa model archetypes.
C. Pengumpulan Data
1. Sumber Data dan Informasi
Data yang diperlukan dalam penelitian ini meliputi data primer dan
data sekunder. Data primer diperoleh dari hasil pengamatan atau
observasi secara langsung terhadap obyek yang diteliti, serta melalui
- 92 -
wawancara dengan informan. Adapun data sekunder diperoleh dari
instansi terkait dan studi literatur terutama yang berkaitan dengan
masalah penelitian.
Key informan yang menjadi sumber informasi dalam penelitian ini
yaitu para pengambil keputusan di PT ISM Tbk Divisi Bogasari Flour
Mills, khususnya yang menangani masalah UMKM Mitra. Informan lain
yang diperlukan yaitu nara sumber yang turut memberikan sumbangan
informatif terhadap setiap keputusan yang diambil (Tabel III.1).
Tabel III.1 : Key Informan UMKM Mitra
NO INFORMAN JUMLAH
1. Kepala Divisi SME dan CSR PT ISM Tbk, Divisi
Bogasari Flour Mills
1
2. Manager Systems Development PT ISM Tbk 1
3. Staf SME dan CSR Departmen PT ISM Tbk, Divisi
Bogasari Flour Mills
2
4. UMKM Mitra PT ISM Tbk, Divisi Bogasari Flour Mills 14
2. Teknik Pengumpulan Data
Data untuk keperluan pemodelan dalam system dynamics berupa
data kualitatif. Data yang diperoleh dikumpulkan melalui teknik wawancara
mendalam dan analisis dokumen. Teknik wawancara digunakan untuk
mengidentifikasi masalah sistem dan membangun konseptualisasi sistem.
Jangkauan yang luas dari data hasil wawancara ini dibutuhkan
untuk memperoleh asumsi yang berguna untuk mengestimasi, menaksir,
dan menentukan parameter atau keterkaitan antar unsur kualitatif dalam
sistem dinamik13.
Pada penelitian ini, wawancara dengan informan yang menjadi
subyek penelitian, dilakukan dengan cara tatap muka. Wawancara dengan
tatap muka memiliki keuntungan utama, yaitu peneliti dapat menyesuaikan
pertanyaan bila informan terlihat ragu-ragu14. Penyesuaian pertanyaan
dengan cara : mengklarifikasi pertanyaan, mengulang pertanyaan, atau
menyatakan pertanyaan dengan cara lain sehingga diperoleh kepastian
bahwa informan memahami pertanyaan dengan semestinya. Keuntungan
lain wawancara dengan tatap muka, juga dapat ditangkap isyarat non
verbal dari informan, seperti perasaan senang atau tidak senang informan
terhadap pertanyaan yang secara tidak sadar dipamerkan oleh bahasa
tubuh yang tidak dapat dideteksi melalui wawancara via telepon.
Wawancara mendalam ini dapat menjawab pertanyaan Why dan How.
3. Pengolahan Data
Data yang telah terkumpul diolah dengan pemodelan system
dynamics teknik archetype. Dalam hal ini digunakan program Vensim
untuk memodelkan CLD (Causal Loop Diagram). Melalui replikasi model
kemitraan secara teoritis dibangun hubungan sebab akibat antar
unsurnya. Hubungan sebab akibat ini mempunyai dua bentuk, yaitu :
1. Hubungan positif, jika unsur sebab naik maka unsur akibat naik, atau
jika unsur sebab turun maka unsur akibat juga turun (hubungan sebab
akibat searah)
2. Hubungan negatif, jika unsur sebab naik maka unsur akibat turun,
atau jika unsur sebab turun maka unsur akibat naik (hubungan sebab
akibat tidak searah)
Hubungan sebab akibat positif dan negatif digambarkan dalam
bentuk CLD (Causal Loop Diagram). Causal Loop dikembangkan dalam
suatu diagram dari proses feedback15. Dengan kata lain suatu causal loop
merupakan visualisasi yang direpresentasikan dari feedback loop sebuah
sistem. Jadi karakteristik system dynamics terletak pada feedback.
Menurut Sterman, causal loop diagram dapat dipakai dalam berbagai
situasi dan kondisi, karena causal loop dapat mempresentasikan
keterkaitan antar unsur-unsur pembentuk dan proses feedback. Dalam
analisis system dynamics terdapat 4 (empat) pola keterkaitan, yaitu : close
loop, feedback loops, variable stock (state), dan flows (rate).
Pengertian close loop yaitu dimana sistem yang dijadikan model
haruslah sistem tertutup, walaupun sistem tidak sungguh-sungguh tertutup
karena feedback loop tidak dapat melintasi batasan sistem. Namun dalam
hal ini sistem dipertimbangkan sebagai sistem tertutup, sedangkan
pengertian feedback loops yaitu terdapat 2 (dua) umpan balik dalam
sistem, yaitu positif dan negatif. Umpan balik positif diartikan sebagai naik
atau turunnya penyebab yang mengakibatkan naik turunnya akibat yang
ditimbulkan.
Tabel di bawah yaitu simbol-simbol yang digunakan dalam suatu
Causal Loop Diagram (Tabel III.2).
Tabel III.2 : Simbol dalam Causal Loop Diagram
Simbol Keterangan
+ / - + : terjadi hubungan positif antara sebab dan akibat
- : terjadi hubungan negatif antara sebab dan akibat
Menyatakan aliran hubungan sebab akibat
ǁ Menunjukkan adanya delay dalam aliran fisik/informasi
B B (Balancing) jika terjadi feedback loop negatif
R R (Reinforcing) jika terjadi feedback loop positif
Indikasi B atau R dilihat dari jumlah – (tanda negatif), jika
jumlah ganjil maka loop ini yaitu Balancing,
demikian sebaliknya
4. Behaviour Over Time (BOT)
Menurut Maani dan Cavana, 16 behavior over time atau tingkah
laku pada periode perpanjangan waktu yaitu alat dari berpikir sistem.
Dalam grafik BOT, sumbu horizontal menunjukkan waktu dan sumbu
vertikal menunjukkan ukuran prestasi dari komponen yang diamati. BOT
memperlihatkan pola dari komponen melalui suatu periode perpanjangan
waktu. Pola atau tingkah laku komponen di dalam pemodelan sistem
dapat menunjukkan variasi dan gejala komponen yang diamati. BOT
dapat memberikan pemahaman yang signifikan tentang sifat dinamis
mendasar yang ada dalam suatu pemodelan sistem.
Unsur penting dari BOT yaitu petunjuk dari variasi keseluruhan
dari grafiknya, bukan nilai berdasarkan angka dari komponen yang
diamati. Karena itu, biasanya grafik BOT digambarkan secara kasar,
tanpa mencantumkan nilai angka yang pasti.
D. Kerangka Penelitian untuk System Dynamics
Langkah-langkah dari metode system dynamics seperti telah
diuraikan sebelumnya, secara garis besar dapat dirangkum dalam gambar
di bawah ini mengenai kerangka penelitian system dynamics.
GAMBARAN UMUM
PT INDOFOOD SUKSES MAKMUR Tbk, DIVISI
BOGASARI FLOUR MILLS DAN UMKM MITRA
Penyajian pada Bab IV ini yaitu tentang karakteristik UMKM Mitra
PT. ISM Tbk Divisi Bogasari Flour Mills, pada saat ini. Data yang
diperoleh berdasarkan data sekunder yang diperoleh dari PT ISM Tbk
Divisi Bogasari Flour Mills, dan hasil wawancara mendalam baik dengan
pihak PT ISM Tbk Divisi Bogasari Flour Mills maupun dengan beberapa
pengusaha UMKM Mitra PT ISM Tbk Divisi Bogasari Flour Mills.
A. Gambaran Umum PT Indofood Sukses Makmur Tbk
1. Perkembangan PT Indofood Sukses Makmur (ISM) Tbk
TAHUN KETERANGAN
1990 Didirikan dengan nama PT Panganjaya Intikusuma
1994 • Berganti nama menjadi PT Indofood Sukses Makmur.
• Penawaran Saham Perdana sebanyak 763 juta saham
dengan harga nominal Rp1.000 per saham, tercatat di
Bursa Efek Indonesia
1995 Mengakuisisi pabrik penggilingan gandum Bogasari
1996 Melaksanakan pemecahan saham dengan perbandingan 1:2
1997 • Mengakuisisi 80% saham perusahaan yang bergerak di
bidang perkebunan, agribisnis serta distribusi.
• Melakukan penawaran umum terbatas dengan
perbandingan 1:5, total penambahan saham sebanyak
305,2 juta.
2000 • Melaksanakan pemecahan saham dengan perbandingan
1 : 5.
• Menerbitkan Obligasi Seri I sebesar Rp1 triliun
2001 Menerima persetujuan atas rencana pembelian kembali saham
dan pelaksanaan Employee Stock Ownership Plan (ESOP)
TAHUN KETERANGAN
2002 • Melaksanakan ESOP tahap I sebanyak 228,9 juta saham.
• Melakukan pembelian kembali saham sebanyak 915,6 juta
saham.
• Menerbitkan Eurobonds sebesar US$280 juta.
2003 • Melaksanakan ESOP tahap II sebanyak 58,4 juta saham.
• Menerbitkan Obligasi Seri II sebesar Rp1,5 triliun.
2004 • Melaksanakan ESOP tahap III sebanyak 919,5 ribu saham.
• Menerbitkan Obligasi Seri III sebesar Rp1 triliun.
• Mengakuisisi 60% saham perusahaan kemasan karton.
2005 • Membentuk perusahaan patungan dengan Nestlé.
• Mengakuisisi perusahaan perkebunan di Kalimantan Barat.
• Mengakuisisi Convertible Bonds yang diterbitkan oleh
perusahaan perkapalan, setara dengan 90,9% kepemilikan
saham.
2006 • Melakukan pelunasan Eurobonds sebesar US$143,7 juta.
• Mengakuisisi 55,0% saham perusahaan perkapalan
Pacsari Pte. Ltd.
• Mengakuisisi beberapa perusahaan perkebunan di
Kalimantan Barat.
2007 • Mencatatkan saham Grup Agribisnis di Bursa Efek
Singapura dan menempatkan saham baru.
• Menerbitkan Obligasi Seri IV sebesar Rp2 triliun.
• Mengakuisisi 60% kepemilikan saham di perusahaan
perkebunan Rascal Holding Limited.
• Partisipasi dalam pengeluaran saham baru PT Mitra Inti
Sejati Plantation dan memiliki sebesar 70% kepemilikan.
• Mengakuisisi 64,41% kepemilikan saham PT PP London
Sumatra Indonesia Tbk.
2008 • Partisipasi dalam pengeluaran saham baru PT Lajuperdana
Indah dan memiliki sebesar 60% kepemilikan.
• Menjual kembali 251.837.500 lembar treasury stock dan
menarik kembali 663.762.500 lembar treasury stock.
• Mengakuisisi 100% saham Drayton Pte. Ltd. yang memiliki
secara efektif 68,57% saham di PT Indolakto, sebuah
perusahaan dairy terkemuka.
• Mengakuisisi 100% saham di beberapa perusahaan
perkebunan yang memiliki fasilitas bulking.
- 99 -
TAHUN KETERANGAN
2009 • Menerbitkan Obligasi seri V sebesar Rp 1,6 triliun.
• Pemekaran kegiatan usaha mie instant dan bumbu menjadi
ICBP.
• Grup Agribisnis menerbitkan Obligasi Rupiah Seri I sebesar
Rp 452 miliar dan Sukuk Ijarah I sebesar Rp 278 miliar.
• Melakukan penggabungan usaha seluruh anak perusahaan
di Grup CBP yaitu PT Gizindo Prima Nusantara (Nutrisi &
Makanan Khusus), PT Indosentra Pelangi (Penyedap
Makanan), PT Cipta Kemas Abadi (Kemasan Fleksibel),
dan PT Indobiskuit Mandiri Makmur (Biskuit) ke dalam
ICBP.
2010 • Mencatatkan saham Grup Produk Konsumen Bermerek
(CBP) di Bursa Efek Indonesia pada tanggal 7 Oktober
2010.
• Menyelesaikan restrukturisasi internal Grup CBP melalui
pengalihan kepemilikan saham anak perusahaan di Grup
CBP, dengan jumlah kepemilikan kurang dari 100% yaitu
PT Surya Rengo Containers (Kemasan Karton), PT Nestlé
Indofood Citarasa Indonesia (Memasarkan Produk Kuliner),
Indofood (M) Food Industries Sdn Bhd (Kegiatan Usaha Mi
Instan di Malaysia), PT Indofood Fritolay Makmur
(Makanan Ringan) dan Drayton Pte. Ltd. (Dairy), ke dalam
PT. Indofood CBP Sukses Makmur (ICBP).
Sumber : PT Indofood Sukses Makmur, Tbk, 2008
2. Profil PT Indofood Sukses Makmur (ISM) Tbk
PT Indofood Sukses Makmur (ISM) Tbk yaitu perusahaan Total
Food Solutions yang terkemuka dengan kegiatan operasi yang mencakup
seluruh tahapan proses produksi makanan, mulai dari produksi dan
pengolahan bahan baku hingga menjadi produk akhir yang tersedia di rak
para pedagang eceran.
ISM mengoperasikan empat Kelompok Usaha Strategis (Grup) yang
saling melengkapi :
a Produk Konsumen Bermerek (CBP), kegiatan usaha grup ini
dilaksanakan oleh PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP),
tercatat di Bursa Efek Indonesia sejak tanggal 7 Oktober 2010. ICBP
merupakan salah satu produsen makanan dalam kemasan yang
- 100 -
terkemuka di Indonesia yang memiliki berbagai jenis produk makanan
dalam kemasan. Berbagai merek ICBP merupakan merek-merek yang
terkemuka dan dikenal di Indonesia untuk makanan dalam kemasan.
b Bogasari, memiliki kegiatan usaha utama memproduksi tepung terigu
dan pasta.
c Agribisnis, kegiatan usaha grup ini terkonsentrasi di dua anak
perusahaan terbuka, yaitu Indofood Agri Resources Ltd., tercatat di
Bursa Efek Singapura, dan PT PP London Sumatra Indonesia Tbk,
tercatat di Bursa Efek Indonesia. Kegiatan usaha utama grup ini
meliputi penelitian dan pengembangan, pembibitan kelapa sawit,
pemuliaan, termasuk juga penyulingan, branding, serta pemasaran
minyak goreng, margarin dan shortening. Di samping itu, kegiatan
usaha grup ini juga mencakup pemuliaan dan pengolahan karet, tebu,
kakao dan teh.
d Distribusi, memiliki jaringan distribusi yang paling luas di Indonesia.
Grup ini mendistribusikan hampir seluruh produk konsumen ISM dan
anak-anak perusahaannya serta berbagai produk pihak ketiga.
Tabel IV.1 : Struktur Pemegang Saham (per Desember 2009)
NAMA PEMEGANG 2009
SAHAM Jumlah Saham
ditempatkan dan
disetor penuh
Presentase
Kepemilikan
CAB Holdings Limited 4.394.603.450 50,05%
Direksi dan Komisaris 3.898.300 0,05%
Publik (dengan kepemilikan
dibawah 5 %)
4.381.924.750 49,90%
JUMLAH 8.780.426.500 100%
Sumber : PT Indofood Sukses Makmur, Tbk, 2008
- 101 -
3. Visi dan Misi
a Visi : menjadi perusahaan Total Food Solution
b Misi :
• Senantiasa meningkatkan kompetensi karyawan kami, proses
produksi kami, dan teknologi kami
• Menyediakan produk yang berkualitas tinggi, inovatif dengan harga
terjangkau, yang merupakan pilihan pelanggan
• Memastikan ketersediaan produk bagi pelanggan domestik maupun
internasional
• Memberikan kontribusi dalam peningkatan kualitas hidup bangsa
Indonesia, khususnya dalam bidang nutrisi
• Meningkatkan stakeholders’ value secara berkesinambungan
B. Gambaran Umum PT Indofood Sukses Makmur Tbk,
Divisi Bogasari Flour Mills
Dalam penelitian ini, sebagai studi kasus yaitu UMKM Mitra PT
ISM Tbk, Divisi Bogasari Flour Mills, sebagai salah satu Kelompok Usaha
Strategis (Grup) dari PT Indofood Sukses Makmur, Tbk. Pengumpulan
data dilakukan melalui teknik wawancara mendalam, observasi, survey,
dan data sekunder. Untuk mengetahui lebih jauh tentang PT ISM Tbk,
Divisi Bogasari Flour Mills, berikut yaitu gambaran umumnya.
Pada tahun 2007, Indofood mengembangkan dan melaksanakan
berbagai program yang didasarkan pada lima pilar utama dari filosofi
Corporate Social Responsibility (CSR) jangka panjang, yaitu :
1. Building Human Capital, program-programnya :
Indofood Riset Nugraha
Pustaka Anak Nusantara
Baktimu Guru, Masa Depan Pertiwi
Establishment of quality schools in plantations
2. Maintaining Social Cohesion, program-programnya :
Indofood Peduli
- 102 -
Posyandu Revitalization
3. Strenghtening Economic Value, program-programnya :
Adopt Principles and Criteria for Sustainable Palm Oil Production
Tree Planting Initiatives
Waste Management
4. Encouraging Good Governance, program-programnya :
Bogasari Mitra Partnership
Development of SMEs in Aceh in conjunction with Swiss Contact
Partnerships with farmers
5. Protecting The Environment, program-programnya :
Compliance with 3 countries rules
Best practice certifications : HACCP, GMP, ISO, Halal, SNI
1. Profil PT ISM Tbk, Divisi Bogasari Flour Mills
Bogasari merupakan salah satu divisi PT Indofood Sukses Makmur
Tbk. yang memproduksi tepung terigu. Selama lebih dari tiga dekade,
keberadaan Bogasari dalam industri makanan Indonesia cukup
diperhitungkan. Bogasari tidak hanya merupakan perusahaan
penggilingan tepung terigu terintegrasi dan terbesar di Indonesia, namun
juga merupakan penggilingan tepung terigu terbesar di dunia yang terletak
di satu lokasi. Dua pabrik tepung terigu Bogasari berlokasi di Jakarta dan
Surabaya.
Kegiatan usaha grup ini didukung oleh bisnis perkapalan dengan
6 (enam) unit kapal – 2 tipe panamax dan 4 tipe handymax. Armada
perkapalan ini sebagian digunakan untuk mengangkut gandum dari
belahan bumi selatan dan utara. Selain itu, grup ini juga memiliki fasilitas
sendiri untuk memproduksi kantong tepung terigu polyprophelene.
Bogasari memproduksi berbagai macam tepung terigu untuk
berbagai keperluan dibawah naungan merek-merek terkemuka, antara
lain Segitiga Biru, Kunci Biru dan Cakra Kembar. Merek-merek Bogasari
melambangkan kualitas dan merupakan merek-merek pilihan pelanggan
industri dan konsumen.
- 103 -
Bogasari juga merupakan produsen pasta terbesar bukan hanya di
Indonesia, tetapi juga di Asia Tenggara. Di Indonesia, produk pasta
Bogasari dipasarkan dengan merek La Fonte, yang merupakan pimpinan
pasar, dikenal karena kualitas dan rasanya yang lezat. Bogasari juga
mengekspor produk pasta ke beberapa negara, antara lain Filipina, Korea
dan Jepang.
2. Visi dan Misi
• Visi 2020
Menjadi perusahaan global penyedia makanan berkualitas
(berbasis pertanian) dan produk serta jasa terkait.
• Misi
Berkomitmen untuk menyediakan produk dan jasa makanan
(berbasis pertanian) bermerek yang berorientasi pasar dan
pelanggan yang inovatif dan berkualitas tinggi.
Berusaha untuk memberikan kepuasan, memenuhi kebutuhan
kesehatan dan gizi masyarakat; memberikan nilai (manfaat)
optimal bagi pelanggan kami, pemilik modal, pekerja dan
masyarakat pada umumnya.
• 5 (lima) Falsafah Bogasari
1) Integritas
Setiap insan Bogasari menjalankan pekerjaannya dengan itikad
baik, tulus, jujur, bertanggung jawab, dan penuh pengabdian
kepada pelanggan, mitra usaha, masyarakat, sesama
karyawan, dan para pemegang saham.
2) Keunggulan
Setiap insan Bogasari selalu memberikan yang terbaik kepada
pelanggan, mitra usaha, masyarakat, sesama karyawan, dan
para pemegang saham.
- 104 -
3) Kepedulian
Bogasari merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari
kehidupan masyarakat banyak. Oleh karena itu, setiap insan
Bogasari senantiasa memperhatikan kepentingan pelanggan,
mitra usaha, masyarakat, sesama karyawan, serta para
pemegang saham dan lingkungan hidup.
4) Kebersamaan
Manusia saling membutuhkan untuk dapat hidup dan tumbuh
bersama. Dalam berinteraksi terhadap sesama, setiap insan
Bogasari menjunjung tinggi harkat martabat, kesetiakawanan,
dan gotong-royong.
5) Keterbukaan
Setiap insan Bogasari senantiasa membangun komunikasi dua
arah dan selalu berpikiran positif dalam memberi dan menerima
setiap informasi, saran, kritik, demi kebaikan dan dan kemajuan
bersama.
3. Kemitraan Bogasari : Tumbuh bersama Usaha Mikro Kecil dan
Menengah
Sejak 1981 Bogasari telah merintis program kemitraan usaha
dengan usaha kecil dan menengah. Kemitraan dijalin dengan para
pengusaha kecil tekstil di Majalaya, Bandung, Jawa Barat dalam
pembuatan kain blacu untuk bahan kantong terigu. Kemitraan bidang ini
dikembangkan lebih lanjut pada tahun 1992 dengan merangkul para
pengusaha kecil konveksi di Kabupaten Bogor, Jawa Barat untuk
penjahitan kantong terigu.
Mulai tahun 1996 sayap kemitraan usaha Bogasari terus diperluas
ke bidang lain yang masih memiliki keterkaitan usaha dengan Bogasari
seperti usaha roti, mie dan sapi perah. Jumlah pengusaha kecil dan
menengah serta koperasi yang menjalin kemitraan usaha dengan
Bogasari mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.
- 105 -
Berbagai program kemitraan telah dilaksanakan untuk
memberdayakan sektor usaha ini seperti dapat terlihat dari data-data
berikut ini :
1) Program Kemitraan
Program utama dalam pengembangan kemitraan meliputi :
Pelatihan teknis pembuatan roti dan mie, manajemen usaha, dan
pemagangan ke pabrik-pabrik
Pemberian kredit alat-alat roti dan mobil roti bagi pengusaha yang
telah bergabung dalam paguyuban atau koperasi roti
Bantuan berupa dana talangan untuk pembelian sapi perah bagi
anggota koperasi peternak
Pembentukan jaringan pasokan bahan baku untuk kontinuitas
usaha, seperti : terigu bagi pengusaha kecil roti dan mie serta
penyaluran pakan ternak bagi peternak sapi perah binaan
Pemberian konsultasi usaha di bidang pemasaran, teknik produksi,
analisis peluang usaha baru, perkuatan permodalan dan bantuan
teknis serta peningkatan kualitas sumber daya manusia
2) Pelaksanaan Program
Alur pelaksanaan program ini dapat dilihat pada Gambar IV.1. Detil
terinci sebagai berikut :
Program kemitraan dipromosikan melalui media televisi dan media
cetak Wacana Mitra, serta melalui internet
Anggota masyarakat yang berminat mengikuti program pelatihan
bisa mendaftarkan diri ke baking center. Pendaftar selanjutnya
mengikuti program yang diinginkannya selama dua sampai lima
hari atau 16 jam hingga 40 jam di baking center. Lamanya
pelatihan tergantung pada program yang dipilih peserta. Program
Roti 1, misalnya, berlangsung selama lima hari. Perbandingan
antara teori dan praktek 40 : 60.
Peserta yang telah lulus disarankan membentuk paguyuban
dan/atau koperasi agar pembinaan anggota lebih mudah dilakukan
Peserta yang telah membuka usaha dapat mengajukan permintaan
bantuan peralatan dan/atau mobil roti melalui paguyuban dan/atau
koperasi. Sebagai tambahan, mereka juga mendapatkan bantuan
dalam bentuk keringanan atau pengurangan harga pembelian
terigu bila unit usaha ini berkembang baik.
Peserta program dapat meminta bantuan teknis ke baking center
bila yang bersangkutan menghadapi kesulitan dalam pengolahan
produk, spesifikasi alat, atau manajemen usaha.
PT ISM Tbk Divisi Bogasari Flour Mills memonitor dan
mengevaluasi kinerja mitra binaan termasuk dalam hal sanitasi dan
higienis unit pengolahan. Kegiatan ini dilakukan oleh staf baking
center dan depo terigu setempat. Unit usaha yang melaksanakan
praktek sanitasi dan higienis (memenuhi syarat kesehatan) dengan
baik dan konsisten, oleh PT ISM Tbk Divisi Bogasari Flour Mills
akan memberikan penghargaan berupa keringanan dalam
pembelian bahan baku.
- 108 -
Kinerja masing-masing anggota binaan selanjutnya diberitakan
melalui Wacana Mitra untuk mendorong anggota lain
mengembangkan usahanya.
3) Kinerja Program
Total Peserta Pelatihan
Peserta yang telah mengikuti pelatihan di baking center PT ISM
Tbk, Divisi Bogasari Flour Mills mencapai 20.000 orang1, sekitar
setengahnya berkecimpung di bidang usaha kecil roti dan mie.
Usaha kecil ini cukup banyak menyerap tenaga kerja. Usaha kecil
donat milik Pak Isnan (Cilendek, Bogor), misalnya, mampu
menyerap tenaga kerja (remaja dan pemuda) sebanyak 40 orang,
padahal baru membuka usaha selama enam bulan. Jumlah tenaga
yang terlibat di bidang usaha kecil donat ini tentu semakin banyak
bila tenaga penyalur dan pengecer dihitung. Total tenaga pengecer
Paguyuban Pengrajin Mie Surabaya, misalnya, mencapai 800
orang.
Biaya
Biaya pelatihan berkisar Rp. 200 ribu – Rp. 500 ribu bergantung
pada program yang dipilih. Biaya ini digunakan untuk konsumsi
peserta selama pelatihan dan untuk pembelian bahan-bahan
praktek. Biaya ini tentu cukup murah, apalagi para peserta
mendapatkan layanan bantuan teknis pasca pelatihan tanpa
dipungut bayaran. Dan, produk yang dibuat selama pelatihan
diberikan kepada peserta, dimakan sendiri, atau langsung dijual.
Baking Center
PT ISM Tbk, Divisi Bogasari Flour Mills telah mendirikan 20 baking
center di seluruh Indonesia terutama di kota-kota besar, yang
melibatkan tenaga sarjana dan SLTA sekitar 80 orang.
1
C. Gambaran Potensi Usaha Bagi UMKM Mitra PT Indofood
Sukses Makmur, Tbk, Divisi Bogasari Flour Mills
Sebagai gambaran potensi usaha bagi pelaku UMKM untuk masuk
ke sektor pangan yang memakai bahan baku tepung terigu yaitu
sebagai berikut :
1. Potensi Usaha Roti
Tabel IV.3 : Peta dan Peluang Pasar
PETA DAN PELUANG PASAR
BAHAN BAKU UTAMA Tepung terigu Cakra Kembar, 1 zak
menghasilkan 700 buah roti manis atau 85
buah roti tawar.
HARGA Roti manis Rp. 1.000
Roti tawar Rp. 5.500
LOKASI PENJUALAN Pemukiman, Toko, Swalayan
SASARAN KONSUMEN Masyarakat kalangan bawah, menengah, dan
atas, tergantung kualitas roti dan tempat
penjualan
TEKNIK PENJUALAN Konsinyasi atau beli putus
Roti kualitas sedang, sebaiknya dijajakan
langsung
KEUNTUNGAN ± 12,5 % dari harga jual
Tabel IV.5 : Bahan resep Standar Roti Manis
BAHAN RESEP STANDAR ROTI MANIS
Tepung terigu Cakra Kembar/Kereta Kencana 1.000 gr
Telur 2 butir
Yeast Instant 20 gr
Bread Improver 5 gr
Garam 15 gr
Susu Bubuk 50 gr
Gula Pasir 250 gr
Margarine 150 gr
Air Dingin 450 gr / cc
Sumber : Data sekunder, PT ISM Tbk, Divisi Bogasari Flour Mills, 2008
- 112 -
2. Potensi Usaha Mie Ayam
Tabel IV.6 : Peta dan Peluang Pasar
PETA DAN PELUANG PASAR
BAHAN BAKU UTAMA Tepung terigu Cakra Kembar, 1 kg mie
menghasilkan 10 – 13 porsi
HARGA Rp. 5.000 - Rp.7.500 per porsi tergantung
topping
LOKASI PENJUALAN Kedai di pinggir jalan (butuh waktu agak lama
untuk sosialisasi), keliling pemukiman
WAKTU PENJUALAN Pukul 07.00 – 21.00
TEKNIK PENJUALAN Gunakan nama daerah (Mie Bangka, Mie
Aceh, Mie Bandung, dll untuk penegasan ciri
khas
KEUNTUNGAN ± 15 % dari harga jual
Sumber : Data sekunder, PT ISM Tbk, Divisi Bogasari Flour Mills, 2008
Tabel IV.7 : Gambaran Usaha Mie Ayam
GAMBARAN USAHA MIE AYAM (5 KG / 60 MANGKOK)
1. PENDAPATAN PER HARI
- Harga jual Rp. 5.000 per porsi
- Penjualan minimum 5 kg, 60 porsi
Rp. 300.000
2. PENGELUARAN PER HARI
- Pembelian Mie Rp. 9.500/kg @ 5 kg
- Bahan Pendukung
- Tenaga Kerja 2 orang
Rp. 47.500
Rp. 177.500
Rp. 30.000
Rp. 228.000
3. TINGKAT KEUNTUNGAN (15%-20%)
- Keuntungan 1 bulan sekitar
Rp. 1.350.000
Rp. 72.000
Catatan :
- Harga jual mie bervariasi tergantung toping
- Pendapatan belum termasuk penjualan minimum
- Investasi peralatan ± Rp. 5 juta
- Sewa tempat ± Rp. 4 juta
Sumber : Data sekunder, PT ISM Tbk, Divisi Bogasari Flour Mills, 2008
- 113 -
D. Wacana Mitra
Keberadaan media komunikasi khusus untuk para pengusaha kecil
dan menengah merupakan suatu sarana yang tepat untuk melakukan
edukasi sekaligus memacu pertumbuhan. Disamping itu juga karena
adanya kebutuhan praktis para mitra UMKM, yaitu perlunya informasi
tentang peluang usaha, masalah harga, kiat-kiat usaha dan informasi lain
yang sering mengemuka dalam setiap pertemuan mitra UMKM dengan PT
ISM Tbk Divisi Bogasari Flour Mills, ditambah lagi bahwa sektor usaha
kecil dan menengah bidang makanan berbasis tepung merupakan
pengguna terigu terbesar, maka sudah sepantasnya jika PT ISM Tbk
Divisi Bogasari Flour Mills mempunyai kepedulian yang intens untuk
mengembangkan sektor ini. Berangkat dari alasan ini , PT ISM Tbk
Divisi Bogasari Flour Mills mempunyai komitmen untuk dapat menjawab
kebutuhan mitra UMKM dengan menerbitkan suatu media, yaitu : Wacana
Mitra.
Wacana Mitra diterbitkan dengan tujuan bukan sekedar untuk
mendekatkan hubungan Bogasari dengan mitra UMKM, yang selama ini
sudah erat terjalin, tetapi media ini diharapkan dapat menjadi media
pembelajaran ( Mail Education ) bagi pelaku UMKM khususnya UMKM
mitra bogasari. Terbit perdana pada tanggal 15 Februari 2001, dengan
periode terbit dwi mingguan.
Filosofi "Mitra Tumbuh Bersama" mengilhami visi dan misi
penerbitan Wacana Mitra yaitu usaha pemberdayaan mitra UMKM, dalam
arti upaya menumbuhkembangkan potensi dan kapasitas yang dimiliki
sesuai dengan fungsi dan peranan UMKM sehingga para mitra UMKM
bisa memperoleh nilai tambah, mampu mengelola usaha secara mandiri,
maju dan berkembang secara profesional, tidak sekedar bisa hidup dan
bertahan tetapi bisa mengembangkan usahanya, yang pada gilirannya
akan mampu menjadi satu usaha yang tangguh.
Melalui misi yang diemban media Wacana Mitra berusaha untuk
menciptakan suasana usaha yang guyub, bisnis yang tumbuh dan
berkembang, modal serta investasi yang mantap.
- 114 -
Aspek pemberdayaan yang dikembangkan Wacana Mitra meliputi :
Aspek Sumber Daya Manusia, yaitu dengan cara mengupas persoalan-
persoalan yang berkaitan dengan Sumber Daya Manusia; Aspek Pasar,
mengulas seluk-beluk dan potensi pasar; Aspek Produksi, berkaitan
dengan sumber bahan baku, teknologi tepat guna yang mudah dan
murah.
Dengan demikian mitra UMKM akan mendapatkan wawasan dalam
usaha memperluas jaringan usaha, akses yang luas dan strategis, dapat
dan mau memanfaatkan teknologi yang tepat guna sehingga produktivitas
meningkat dalam rangka efisiensi usaha. Selain itu pengetahuan
mengenai persoalan manajemen dan perbankan sangat membantu para
mitra UMKM, sedangkan yang tidak kalah pentingnya yaitu memberikan
motivasi.
Oleh sebab itu agar penerbitan ini tepat sasaran maka isinya
disesuaikan dengan kebutuhan praktis para mitra UMKM. Tentu saja
disajikan dengan gaya populer, bahasa sederhana dan ilustratif berupa
rubrik-rubrik yang diharapkan akan dapat menjadi forum / ajang diskusi,
tukar-menukar informasi/pengalaman praktis selain menimba
pengetahuan seputar usaha kecil menengah antar mitra UMKM. Dalam
forum ini juga nantinya akan merupakan suatu jaringan mitra UMKM.
Dimana antarmitra UMKM dapat dengan mudah saling berinteraksi satu
sama lain.
Rubrikasi dibagi dalam beberapa pokok bahasan yaitu :Info yang
membahas mengenai info produk, info harga, info jasa, dan teknologi.
Manajemen, di dalamnya mengupas masalah manajemen keuangan,
manajemen produksi, pengetahuan tentang produk, teknologi,
Pengembangan Sumber daya Manusia, Masalah Pemasaran, Strategi
bisnis dan lain-lain. Profil UMKM dan Kiat Usaha, berisi tentang
pengalaman dan pengetahuan antarmitra UMKM, juga kiat-kiat sukses
mereka.
BAB V
ANALISIS SISTEM PADA UMKM MITRA PT INDOFOOD
SUKSES MAKMUR Tbk, DIVISI BOGASARI FLOUR MILLS
Penyajian pada bab V ini yaitu untuk menjawab perumusan
masalah, sebagai berikut :
1. Menganalisis struktur hubungan antar unsur yang saling mempengaruhi
pada UMKM Mitra PT. ISM Tbk, Divisi Bogasari Flour Mills, dengan
pemodelan Systems Archetype.
2. Menganalisis leverage dari masing-masing model Systems Archetype
dalam UMKM Mitra PT. ISM Tbk, Divisi Bogasari Flour Mills.
A. Struktur Hubungan antar Unsur pada UMKM Mitra
1. Teknik Pemodelan Systems Archetype
Gambaran struktur hubungan sebab akibat dari elemen kemitraan
diuraikan sesuai masing-masing elemen. Teknik pemodelannya merujuk
pada metode system dynamics, dengan model CLD (Causal Loop
Diagram). Selanjutnya konsepsi yang terkandung dalam CLD dimodelkan
melalui teknik pemodelan dengan sistem Archetypes, untuk tujuan
simulasi.
Untuk menentukan sistem Archetypes mana yang sesuai dengan
kondisi fakta di lapangan tentang UMKM Mitra PT ISM Tbk, Divisi
Bogasari Flour Mills, dilakukan penelitian lapangan dengan pengumpulan
data primer maupun data sekunder. Data primer diperoleh melalui
wawancara baik dengan pihak PT ISM Tbk, Divisi Bogasari Flour Mills,
maupun dengan UMKM Mitra.
Tahapan yang dilakukan dalam menentukan antara temuan
lapangan kondisi fakta UMKM Mitra PT ISM Tbk, Divisi Bogasari Flour
Mills dengan sistem Archetype yang sesuai yaitu sebagai berikut :
1. a. Pengalaman (Story Line)
Para pelaku UMKM sebagian besar yaitu kaum marginal yang
tidak terserap di sektor formal karena latar belakang pendidikan (80
- 117 -
persen tenaga kerja Indonesia hanya tamat SD). Peluang usaha
kecil - menengah di Indonesia yang mudah dimasuki yaitu di
sektor pangan dan industri kreatif. Khususnya sektor pangan,
pelaku UMKM yang memakai bahan baku tepung terigu
mendapat ruang untuk pengembangan usahanya dari PT ISM Tbk,
Divisi Bogasari Flour Mills, dengan kata lain para pelaku UMKM
dengan produksi mie, roti, atau martabak, dapat bermitra dengan
PT ISM Tbk, Divisi Bogasari Flour Mills.
Kutipan berikut yaitu pengalaman para pedagang kue dan
kerupuk yang merasa lebih menguntungkan bila berjualan
makanan :
“ Saya membuat kue nastar dan membawanya ke pasar. Sedikit,
cuma menghabiskan setengah kilo tepung terigu. Tapi, ternyata,
nastar itu langsung habis terjual. Hari berikutnya, habis lagi,
walaupun jumlahnya ditambah. “
“ Saya begitu yakin, usaha ini menjanjikan. Karena itu, kami
bertekad menggarapnya dengan serius. Tidak akan ada lagi
istilah gonta-ganti dagangan. ”
” Melalui tepung gandum Bogasari-lah, awal sebuah ide saya ter-
inspirasi. Resep donat kampung buatan saya. Tepung itu benar-
benar menginspirasi saya. Memacu saya untuk terus melakukan
riset-riset kecil seputar adonan donat selama bertahun-tahun.
Hanya dari dalam dapur mikro ukuran 1 x 2 meter. Hanya satu
fokus saya, sekedar untuk menemukan komposisi racikan adonan
donat yang tepat. ”
“ Dulu usaha pokoknya jualan cabe, namun setelah melihat potensi
pasar mie, masih sangat luas, dan belum ada pabrik mie, maka
saya mulai tertarik untuk membuat sendiri.”
“ Saya mengawali usaha kerupuk ini dengan modal pas-pasan plus
peralatan sederhana pemberian orang tua. Untuk tempat produksi
yang sekaligus berfungsi sebagai tempat tinggal, mengontrak.
Produksi awal, menghabiskan setengah kwintal tepung tapioka,
yang dicampur sedikit dengan terigu. Penjualannya, melalui para
pedagang, ternyata berjalan lancar. Setiap keuntungan yang
diperoleh, dikumpulkan. Dari situ saya membeli berbagai barang
seperti peralatan pabrik, sampai tanah dan bangunan.”
- 118 -
Sebagai mitra, UMKM Mitra PT ISM Tbk, Divisi Bogasari
Flour Mills memperoleh bantuan permodalan dan pelatihan
ketrampilan. Bantuan permodalan bukan berasal dari PT ISM Tbk,
Divisi Bogasari Flour Mills, namun karena adanya sinergi antara PT
Indofood Sukses Makmur Tbk. Divisi Bogasari Flour Mills dengan
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk untuk melakukan pengembangan
dan pemberdayaan di bidang UMKM secara komprehensif. Lebih
dari 30.000 mitra usaha Bogasari yang telah mendapatkan
rekomendasi dari Bogasari berpeluang mendapatkan kredit mikro
dari Bank Mandiri, dengan jumlah maksimal yang dapat diajukan
sebesar Rp100 juta untuk setiap pengusaha dengan jangka waktu
pengembalian maksimal 3 (tiga) tahun1. Adapun syarat pengajuan
antara lain tercatat sebagai anggota Bogasari Mitra Card (BMC)
minimal 2 (dua) tahun dengan status keanggotaannya aktif dan
memiliki tempat usaha di lokasi dengan bidang yang sama.
Program BMC merupakan program kemitraan antara
Bogasari dengan UMKM pengrajin panganan berbahan baku
tepung terigu, yang terutama bertujuan untuk memastikan jalinan
relationship yang berkesinambungan dengan segmen pelanggan
Bogasari yang terbesar ini (65%). Melalui program ini, Mitra
UMKM Bogasari mendapatkan benefit-benefit seperti edukasi
tentang resep makanan, proses produksi, pengenalan teknologi,
pelatihan-pelatihan di bidang manajemen usaha maupun teknis
produksi yang diselenggarakan Bogasari secara regular. Kegiatan
pelatihan dan bimbingan usaha dilakukan secara berkala, baik
secara khusus maupun disertakan pada pertemuan paguyuban
usaha kecil dan menengah.
Berbagai program edukasi ini tidak hanya berupa teori,
tapi juga praktek. Hal inilah yang dijalankan Bogasari Baking
Center (BBC) yang tersebar di puluhan kota. Lewat tenaga baker
profesionalnya, Bogasari terus melakukan edukasi berkelanjutan
dengan para UMKM dalam upaya menumbuhkembangkan
usahanya. Pusat training pembuatan kue (BBC) menyediakan
kegiatan pelatihan secara terprogram dengan peserta usaha kecil
dan masyarakat umum, dan dikenakan biaya yang relatif
terjangkau.
Tabel berikut yaitu jenis-jenis permodalan dalam UMKM
Mitra Bogasari.
Tabel V.1 : Hibah dan Pinjaman
Sumber
Pendanaan
- Peserta training yang mendaftar untuk kegiatan
training
- PT ISM Tbk Divisi Bogasari Flour Mills, untuk
kegiatan lainnya
Sifat Dana - Hibah untuk kegiatan yang bersifat pelatihan,
penyediaan informasi, pemasaran, promosi,
sampai penyediaan konsultasi dan networking
- Pinjaman untuk bantuan modal usaha
Sumber : Diolah dari beberapa sumber
Beberapa kutipan mengungkapkan keuntungan mengikuti
pelatihan yang diadakan PT ISM Tbk Divisi Bogasari Flour Mills :
“ Ketika itu, terus terang saja, pengetahuan saya tentang roti, nol.
Tetapi setelah mengikuti pelatihan pembuatan roti di baking
school bogasari selama 2 minggu, saya bisa meningkatkan
pengetahuan dan keterampilan membuat roti yang baik ”
“ Setelah menjadi anggota paguyuban keuntungan saya yaitu
melalui pelatihan tentang higienis, dan kiat pengembangan
usaha “
“ …. selalu diedukasi, dalam temu 3 bulanan antara Bogasari-
UMKM. Di identifikasi lokasi yang layak jual : mall, rumah sakit,
sekolah, mesjid, kantor, terminal, pangkalan ojek “
Kondisi temuan lapangan ini , secara ringkas dapat
dikatakan bahwa UMKM khususnya sektor pangan, yang
memakai bahan baku tepung terigu, yang menjadi Mitra PT
ISM Tbk, Divisi Bogasari Flour Mills dapat memperoleh sukses
usaha karena mendapatkan fasilitas pelatihan ketrampilan,
- 120 -
permodalan, dan promosi usaha, dibandingkan UMKM Non Mitra
usaha sejenis, yang tidak memperoleh fasilitas-fasilitas ini .
Kesuksesan di tahap awal yang diperoleh UMKM Mitra PT ISM
Tbk, Divisi Bogasari Flour Mills, memberi alasan bagi UMKM Mitra
untuk cenderung mengumpulkan sumber daya yang lebih banyak
untuk lebih mendapatkan fasilitas pelatihan ketrampilan,
permodalan, dan promosi usaha, dari PT ISM Tbk, Divisi Bogasari
Flour Mills. Hal ini akan meningkatkan kemungkinan sukses yang
berkelanjutan.
b. Identifikasi variabel-variabel kunci dalam temuan lapangan ini
yaitu sebagai berikut :
• Variabel alokasi sumber daya yaitu :
1) Ketrampilan,
2) Permodalan, dan
3) Promosi Usaha
• Rasionalisasi alokasi ini menyebabkan peningkatan dalam
sumber daya untuk UMKM Mitra, yang kemudian mendorong
peningkatan dalam keberhasilan UMKM Mitra.
• Rasionalisasi alokasi juga menyebabkan penurunan dalam
sumber daya untuk UMKM Non Mitra, yang menyebabkan
rendahnya keberhasilan UMKM Non Mitra.
c. Grafik Behaviour Over Time berdasarkan temuan lapangan
ini yaitu sebagai berikut :
d. Struktur Causal Loop Diagram (CLD) dalam temuan lapangan
ini yaitu sebagai berikut :
Kondisi ini bila dikaitkan dengan pemodelan archetype
maka sesuai dengan sistem Archetypes, yaitu : Success to the
Successful. Model sistem Archetypes Success to the Successful
yaitu suatu keadaan yang bersaing dalam meraih sukses. Model
ini menggambarkan dua atau lebih individu, kelompok, proyek,
Keberhasilan
UMKM Mitra
Alokasi Sumber Daya untuk
UMKM Mitra tidak untuk
UMKM Non Mitra
Keberhasilan
UMKM Non Mitra
Sumber Daya untuk
UMKM Non MitraSumber Daya
untuk UMKM Mitra
+
inisiatif, dan sebagainya, yang saling bersaing untuk mencapai
sukses. Jika salah satu dari mereka lebih berhasil dibanding yang
lain karena sesuatu hal, ia cenderung mengumpulkan sumber daya
yang lebih banyak daripada pihak yang lain. Hal ini akan
meningkatkan kemungkinan sukses yang berkelanjutan.
Kesuksesan di tahap awal yang diperoleh memberi alasan untuk
mengabdikan sumber daya yang lebih besar. Model sistem
Archetypes Success to the Successful ini mendorong dua atau
lebih banyak alternatif untuk berkompetisi dalam satu sumber daya
yang sama.
2. a. Pengalaman (Story Line)
Dalam upaya meningkatkan pertumbuhan usaha para UMKM,
Bogasari Mitra Card (BMC) memiliki berbagai benefit program.
Mulai dari edukasi tentang resep makanan, proses produksi,
pengenalan teknologi, hingga manajemen usaha dan marketing.
Setiap bulannya mitra usaha yang telah bergabung sebagai
anggota BMC mengkonsumsi tepung terigu sebanyak 73.603
ton/bulan.2 Jumlah ini masih merupakan 57% dari total penjualan
tepung terigu Bogasari yang diserap oleh segmen UMKM yang
mencapai 130 ribu ton/bulan. Hingga September 2010, jumlah
UMKM makanan berbasis tepung terigu yang sudah menjadi
anggota BMC mencapai hampir 36.313 anggota3. Para UMKM
anggota BMC ini berusaha di berbagai daerah, dari Sabang hingga
Merauke. Cukup banyak dari mereka yang sudah menjalankan
usahanya lebih dari 30 tahun. Mereka terus bertahan melewati
berbagai krisis yang terjadi. Tak hanya itu. para UMKM Mitra
Bogasari ini juga telah membantu penciptaan lapangan kerja di
sektor informal di berbagai daerah.
2
Khusus bagi Anggota BMC yang bergerak di bidang usaha
mie misalnya, berkesempatan mendapatkan Paket Konversi Gas
yang merupakan program kerjasama antara Bogasari dengan
Pertamina, dimana total Paket Konversi Gas yang disediakan
Pertamina bagi Penjaja Mie Ayam Mitra Binaan Bogasari mencapai
29.150 paket yang didistribusikan melalui Bogasari. Data tahun
2008, jumlah Paket Konversi Gas yang sudah didistribusikan
mencapai 6.969 paket yang meliputi area Jabodetabek dan Serang.
Disamping itu, UMKM Mitra Bogasari memperoleh gratis
kiriman majalah edukasi Wacana Mitra, mendapatkan fasilitas
asuransi kesehatan maupun kecelakaan diri, mendapatkan hadiah
langsung berupa uang tunai yang dikirim setiap 3 (tiga) bulan sekali
dan diikutsertakan dalam program undian berhadiah, program
pembentukan paguyuban-paguyuban UMKM dan berbagai benefit
lainnya.
Program pemberdayaan UMKM Mitra PT ISM Tbk, Divisi
Bogasari Flour Mills yang dijalankan yaitu sebagai berikut :
a. Pemberian pelatihan, yaitu dengan melatih UMKM sehingga
skill mereka bertambah (melalui baking school: roti, mie, kue
kering; manajemen usaha kecil, lokakarya)
b. Penyediaan informasi dan edukasi, yaitu dengan memanfaatkan
media sebagai alat informasi dan edukasi (melalui media dwi
mingguan Wacana Mitra berupa informasi pasar, produk, kuis,
kiat/tips dan safari pers)
c. Pemberian dukungan keuangan (kredit investasi, kredit modal
kerja)
d. Pemberian motivasi usaha kepada UKM melalui lomba, studi
banding, plant tour, pameran dan MASKUM show di TVRI untuk
merangsang minat berwiraswasta (entrepreneurship) dan
inspirasi usaha makanan berbasis tepung skala kecil dan
menengah
- 124 -
e. Pemberian dukungan pemasaran melalui :
- pemberian nama produk, sertifikat halal, hak paten dan
memperbaiki kemasan
- pembentukan hubungan melalui program kunjungan, arisan,
membuat BMC (Bogasari Mitra Card)
f. Promosi, publikasi melalui radio, koran, TV
g. Pengembangan hubungan mitra melalui program kunjungan,
dan arisan antara UMKM
h. Penyediaan konsultasi kegiatan pemasaran, teknik produksi,
dan peluang usaha
i. Pembentukan jaringan pasokan bahan baku
j. Pembentukan koperasi dan paguyuban usaha kecil dan
menengah sesuai bidang usaha
k. Penyediaan alat
Program pemberdayaan UMKM Mitra Bogasari ini bertujuan
agar UMKM yang berbahan dasar tepung, seperti roti, mie,
martabak, kue kering, cakwe, pastry, mampu meningkatkan omset.
Beberapa kutipan mengungkapkan keuntungan para
pedagang mie rebus, mie goreng, martabak, di warung-warung kaki
lima, yang memakai produk-produk PT ISM Tbk, Divisi
Bogasari Flour Mills, sebagai berikut :
“ Saya memakai merek-merek ini karena disukai pembeli, mudah
didapat dan harganya terjangkau”
“ Saya memilih Indomie (produk Indofood), terutama rasa soto
ayam, ayam bawang dan mie goreng karena amat disukai
pelanggan ”
“ Saya memakai produk Bogasari (Segitiga Biru) sebagai bahan
baku membuat martabak. Setiap hari (Senin-Jumat)
menghabiskan 7-8 kg terigu dan hari libur (Sabtu-Minggu) 12-13
kg. Bahkan, saat Idul Fitri, Natal dan Tahun Baru bisa
menghabiskan 20 kg terigu “
Disamping itu terdapat beberapa masalah yang dihadapi
UMKM Mitra dimana penyelesaiannya diatasi bersama dengan PT
- 125 -
ISM Tbk Divisi Bogasari Flour Mills. Beberapa kutipan
mengungkapkan kondisi ini , yaitu :
“ Masalah bagi pengusaha UMKM Mitra Bogasari yaitu
kelangkaan supply tepung terigu. Bogasari mendirikan depo
untuk mendekatkan ke konsumen “
“ ….pengusaha UMKM membutuhkan endorsement “
“ Konsep pengembangan UMKM Mitra bukan pada usahanya, tapi
pada pengusahanya. “
“ UMKM Mitra Bogasari harus bertumbuh menjadi UMKM ++ ,
dengan indikator : diukur konsumsi terigu tumbuh/tidak; jumlah
gerobak; jumlah penjaja; pangkalan “
“ … dialog Bogasari dengan pengusaha, asumsi awal pengusaha
butuh modal. Oleh Bogasari ditingkatkan harga dirinya sebagai
pengusaha. Mindsetnya UMKM bergeser : pengusaha butuh
akses/network. Dicarikan pasar. Dan diedukasi. Dibukakan
akses. UMKM punya dignity, pengusaha UMKM membuat
kelompok bisnis di daerah/area mana saja. “
“ Program BMC sebagai akses. UMKM merasa marjinal, maka
menjadi suatu kebanggaan bila punya BMC. Supaya getol
menaikkan asset, BMC nya menjadi tambahan poin. Poin di
uangkan, yang menambah fasilitas produksi UMKM. “
“ …bagi Bogasari, pedagang kecil merupakan jaringan usaha yang
penting yang selama ini telah berperan menjadikan Bogasari
besar seperti saat ini. Oleh karena itu tanpa diimbau oleh siapa
pun Bogasari akan membina mereka. Kalau pengusaha kecil
yang merupakan jaringan bisnis Bogasari ini tidak berfungsi,
maka yang celaka justru Bogasari sendiri. Pasar tidak akan
berkembang dan akhirnya Bogasari tidak bisa menjual produknya
seperti sekarang ini. “
“ … paguyuban dan arisan. UMKM berasal dari Wonogiri, Sragen,
dll. Uang arisan 10 juta dari Bogasari untuk paguyuban, lomba
mie, lomba martabak, dan lomba-lomba yang lain. Peningkatan
paguyuban yaitu melalui pelatihan tentang higienis, dan kiat
pengembangan usaha. Network : mudik lebaran, pembangunan
sekolah, jalan, di desa. Bangun desa dari Bogasari hanya aspal,
tapi tenaga kerja dari masyarakat setempat, sehingga tumbuh
kohesi sosial. Memadukan bisnis dengan sosial. “
- 126 -
Kondisi temuan lapangan ini , secara ringkas dapat
dikatakan bahwa UMKM Mitra PT ISM Tbk, Divisi Bogasari Flour
Mills, pada awalnya dapat memperoleh sukses usaha yaitu
memperoleh peningkatan kualitas produk dan peningkatan omset
usaha, karena adanya peningkatan kompetensi usaha. Namun
dengan berjalannya waktu keberhasilan itu sendiri menyebabkan
sistem mencapai batas sehingga tingkat pertumbuhannya mulai
menurun. Hal ini karena ada faktor pembatas yaitu keterbatasan
stock terigu dan keterbatasan modal usaha.
b. Identifikasi variabel-variabel kunci dalam temuan lapangan ini
yaitu sebagai berikut :
• Pada mulanya pertumbuhan usaha terjadi ketika kinerja UMKM
Mitra meningkat. Akibatnya, dengan meningkatnya Kinerja
UMKM Mitra maka Usaha UMKM Mitra yang dilakukan akan
terus bertambah mantap. Namun, karena Kinerja UMKM Mitra
berhubungan dengan faktor Tindakan Pembatas, maka
penguatan yang dilakukan oleh Kinerja UMKM Mitra akan
memperlambat keberhasilan usaha. Kemudian faktor pembatas
kembali akan mengurangi kinerja UMKM Mitra, maka laju
peningkatannya tertahan dan menjadi konstan. Hal ini diikuti laju
Usaha UMKM Mitra yang semula meningkat, namun setelah itu
mengalami collapse selanjutnya konstan.
Kondisi ini , bila dikaitkan dengan pemodelan archetype
maka sesuai dengan sistem Archetypes, yaitu : Limit to Success.
Sistem Archetypes Limit to Success ini menggambarkan situasi
batas keberhasilan, kegiatan pertumbuhan pada awalnya
membawa keberhasilan yang semakin meningkat. Namun dengan
berjalannya waktu keberhasilan itu sendiri menyebabkan sistem
mencapai batas sehingga tingkat pertumbuhannya mulai
diperlambat. Dalam model ini keberhasilan memicu munculnya
mekanisme pembatas, kemudian menyebabkan keberhasilan itu
menurun. Kecenderungan yang ditunjukkan akan ditentukan oleh
kegiatan pertumbuhan awal.
3. a. Pengalaman (Story Line)
Perkembangan UMKM Mitra PT ISM Tbk Divisi Bogasari Flour Mills
semakin meningkat, karena para pelaku UMKM mitra Bogasari
percaya bahwa program-program kemitraan yang dijalankan cukup
berpotensi untuk berkembang dan untuk mengembangkan usaha.
Karena pemberdayaannya dilakukan untuk seluruh aspek usaha,
mulai dari pengembangan sumber daya manusia, teknik produksi,
manajemen, dan aspek pemasaran, bantuan permodalan hingga
memberikan kepastian pasokan bahan baku.
Di sisi lain, untuk memudahkan hubungan kemitraan, PT
ISM Tbk, Divisi Bogasari Flour Mills mendorong para mitranya ini
membentuk berbagai paguyuban di berbagai kota, antara lain
paguyuban pedagang mie, martabak, roti, mie ayam, dan
paguyuban pedagang bakpao. Pembentukan paguyuban usaha
dilakukan sesuai bidang usaha dan lokasi, misalnya paguyuban
mie ayam atau roti di kota tertentu. Proses pembentukan
paguyuban ini berawal dari inisiatif pengusaha lokal yang
kemudian diresmikan oleh PT ISM Tbk Divisi Bogasari Flour Mills.
Beberapa kutipan menggambarkan keuntungan menjadi
anggota paguyuban :
“ Setelah sering berinteraksi dengan Bogasari, t
.jpeg)
