Tampilkan postingan dengan label Tidak mampu 7. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tidak mampu 7. Tampilkan semua postingan

Senin, 13 Oktober 2025

Tidak mampu 7


 


Kemiskinan


Kemiskinan yaitu  suatu keadaan yang menyangkut ketidakmampuan dalam memenuhi 

tuntutan kehidupan yang paling minimum, khususnya dari aspek konsumsi dan pendapatan. 

Kemiskinan juga merupakan cross sectors problem, cross areas dan cross generation, sehingga 

untuk menanganinya dibutuhkan pendekatan yang terpadu, komprehensif dan berkelanjutan. 

Untuk mensukseskan program-program percepatan penanggulangan kemiskinan dibutuhkan 

political will 

Masalah kemiskinan ini sangatlah kompleks dan bersifat multidimensional, dimana 

berkaitan dengan aspek sosial, ekonomi, budaya, dan aspek lainnya. Kemiskinan terus menjadi 

masalah fenomenal di belahan dunia, sebab  sifatnya yang multidimensional maka kemiskinan 

juga memerlukan solusi yang multidimensional pula. Berbagai program baik dari pemerintah 

pusat maupun daerah sudah diusahakan untuk mengurangi tingkat kemiskinan. Bahkan 

kemiskinan menjadi salah satu agenda penting SDGs (Sustainable Development Goals) yang 

menggantikan MDGs (Millenium Development Goals) di akhir 2015.

Di beberapa negara berkembang kemiskinan menjadi isu penting dalam perekonomian. 

Di Nigeria jumlah warga   miskin banyak terdapat di daerah perdesaan dan terutama 

disebabkan oleh rendahnya akses untuk pelayanan sosial ekonomi menemukan adanya pengaruh geografis yang membuat warga   miskin tetap miskin 

di Kenya.  menyatakan bahwa warga   miskin cenderung tidak 

memiliki skill yang siap bersaing dengan tenaga kerja lainnya, sehingga meningkatkan persistent 

poverty di Ukraina.

Sulawesi Utara merupakan salah satu provinsi di negara kita  yang tidak luput dari masalah 

kemiskinan. Indikator kemiskinan provinsi Sulawesi utara mengalami penurunan dibadingkan 

tahun 2015, dimana jumlah warga   miskin dari 217,15 jiwa di tahun 2015 menjadi 200,35 

jiwa pada tahun 2016, dengan presentase kemiskinan 8,2%. Garis Kemiskinan provinsi Sulawesi 

utara meningkat menjadi Rp. 318.984, dari tahun 2015 sebesar Rp. 307,104, yang disertai 

dengan penurunan Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) sebesar 1,38 dan Indeks Kedalaman 

Kemiskinan (P2) sebesar 0,34.

Jumlah warga   miskin di Provinsi Sulawesi Utara pada September 2016 mencapai 

200,35 ribu jiwa yang berkurang sekitar 2,47 ribu jiwa dibandingkan dengan warga   miskin 

pada Maret 2016 yang berjumlah 202,82 ribu. Persentase warga   miskin di Provinsi Sulawesi 

Utara pada bulan September 2016 sebesar 8,20 persen, turun 0,14 persen dibandingkan kondisi 

Maret 2016 yang sebesar 8,34 persen.

Kondisi kemiskinan di Sulut relatif rendah dibandingkan tingkat kemiskinan nasional. 

Pada tahun 2011 tingkat kemiskinan Sulawesi Utara sebesar 8.46% dan tingkat kemiskinan 

negara kita  sebesar 12.36. Pada Thun 2012 tingkat kemiskinan Sulawesi Utara turun menjadi 

7.64% begitu juga tingkat kemiskinan negara kita  turun menjadi 11.47%. Pada tahun 2013 tingkat 

kemiskinan Sulawesi Utara naik menjadi 8.5% sedangkat tingkat kemiskinan negara kita  turun 

menjadi 11.47%, tahun 2014 tingkat kemiskinan Sulawesi Utara kembali turun menjadi 8,26 dan 

tingkat kemiskinan negara kita  turun menjadi 10.96%. Pada tahun 2015 tingkat kemiskinan 

Sulawesi Utara dan negara kita  naik menjadi 8.98% dan11.33%. Pada tahun 2016 tingkat 

kemiskinan Sulawesi Utara turun menjadi 8.2% dan tingkat kemiskinan negara kita  turun menjadi 

10,7%.Pada Grafik diatas perkembangan presentasi kemiskinan di Kabupaten/Kota di Sulawesi 

Utara dapat dilihat bahwa terdapat tiga wilayah dengan presentasi kemiskinan tertinggi yaitu 

Bolaang Mongondow Selatan sebesar 14,85, kemudian Minahasa Tenggara sebesar 14.71% dan 

Kepulauan Sangihe sebesar 12,28%.

Kemiskinan dinamis dan persisten juga merupakan kemiskinan multidimensi yang 

disebabkan oleh berbagai faktor. Studi empiris menunjukkan bahwa faktor-faktor yang 

mempengaruhi kemiskinan diantaranya karakteristik rumah tangga, karakteristik kepala rumah 

tangga, pendidikan, kesehatan, kondisi rumah tempat tinggal dan pekerjaan. 

juga dipengaruhi oleh kondisi geografi dan regional 

Sifat dinamis kemiskinan, menambahkan sebuah aspek penting dalam analisis 

kemiskinan seperti beberapa rumah tangga mengalami kemiskinan dalam jangka waktu yang 

lama, sementara yang lain hanya mengalaminya secara sementara guncangan negatif yang 

berakibat pada hilang mendadaknya kesejahteraan. Ini menunjukkan bahwa orang miskin saat 

ini tidak besok miskin dan telah memicu  meningkat pengakuan dalam beberapa tahun 

terakhir yang ada cukup mengalir masuk dan keluar dari kolam kemiskinan  mengamati bahwa persentase yang 

tinggi dari rumah tangga di Pakistan mengalami kemiskinan akibat guncangan sementara 

(seperti penyakit atau kehilangan pekerjaan) yang dibalik hanya satu atau dua tahun kemudian. 

Selain itu, banyak orang yang lolos dari kemiskinan hanya berhasil melakukannya selama satu 

atau dua tahun sebelumnya kebalikan dalam keadaan memaksa mereka kembali ke bawah garis 

kemiskinan Hal ini membawa kedepan pentingnya analisis transisi kemiskinan dalam resep 

kebijakan kemiskinan yang kuat serta dalam desain dan penargetan program anti-kemiskinan 

Dalam realitanya penanggulangan kemiskinan yang selama ini dilakukan oleh 

pemerintah ternyata belum dapat mencapai hasil yang optimal. Jumlah warga   miskin 

memang telah dapat dikurangi secara berarti akan namun  dari jumlahnya masih cukup besar. 

Secara kualitas, kehidupan rumah tangga miskin nyaris tidak mengalami perubahan sebab 

masih saja bersifat subsisten dan inevolutif. Hal ini disebabkan oleh penyeragaman kebijakan 

dalam memecahkan permasalahan kemiskinan yang dihadapi pada setiap daerah. Padahal setiap

daerah mempunyai karakteristik yang berbeda, baik sumber daya alam, sumber daya manusia 

maupun budaya. Dengan demikian upaya penanggulangan kemiskinan pada setiap daerah tentu 

membutuhkan pendekatan yang berbeda pula.

Pemerintah Sulawesi Utara telah mencanangkan program penanggulangan kemiskinan 

yang dikenal sebagai Operasi Daerah Selesaikan Kemiskinan yang telah diintegrasikan dalam 

Dokumen Strategi Penanggulangan Kemiskinan Daerah Operasi Daerah Selesaikan Kemiskinan 

(SPKD-ODSK) Provinsi Sulawesi Utara Tahun 2016-2021 dan telah ditetapkan dalam Peraturan 

Gubernur Sulawesi Utara Nomor 22a Tahun 2016 yang menetapkan target penurunan angka 

kemiskinan sampai dengan tahun 2021 yaitu  sebesar 40% dari angka kemiskinan awal tahun 

2016 sebesar 8,98%. Melalui dokumen SPKD-ODSK terdapat 3(tiga) pendekatan

penanggulangan kemiskinan di Provinsi Sulawesi Utara, yaitu : Pendekatan Pengeluaran Per 

Kapita (Garis Kemiskinan-BPS), Pendekatan Basis Data Terpadu (18 Indikator Sosial Ekonomi 

- TNP2K) dan Pendekatan Desil RT Miskin.

Masalah kemiskinan pada rumah tangga miskin kronis bisa memicu  rumah tangga 

ini  terjerat ”Poverty Traps”. Artinya terdapat kondisi-kondisi buruk yang saling beraksi 

dan bereaksi sedemikian rupa sehingga menempatkan rumah tangga miskin tetap miskin selama 

bertahun-tahun (Naschold, 2009). Eksistensi adanya trap perangkap ditunjukkan oleh multiple 

equilibria yaitu terdapat stable dan unstable equlibrium. Keseimbangan juga menunjukkan 

tingkat produktivitas yaitu high productivity atau low productivity. Low equilibrium atau low

productivity merupakan sumber trap artinya produktivitas rendah memicu  pendapatan 

rendah, tabungan rendah, juga investasi rendah, akhirnya produktivitas tetap rendah dan 

seterusnya (Nurske,1953). Rumah tangga miskin akan semakin sulit keluar dari poverty traps

jika terdapat masalah struktural pada rumah tangga ini . Naschold (2009) dalam 

penelitiannya menunjukkan bahwa kemiskinan struktural yang memicu  rumah tangga 

miskin tetap miskin pada tiga desa di India. Hasil lainnya menunjukkan bahwa kepemilikan aset, 

sistem kasta, perbedaan luas lahan, dan pendidikan rendah secara signifikan menjerat rumah 

tangga ke perangkap kemiskinan.

Tinjauan Pustaka

Konsep Dasar Kemiskinan

Secara Umum Definisi mengenai kemiskinan dibentuk iberdasar  identifikasi dan 

pengukuran terhadap sekelompok warga  /golongan yang selanjutnya disebut miskin 

(. Pada umumnya, setiap negara termasuk negara kita  memiliki sendiri definisi 

seseorang atau suatu warga   dikategorikan miskin. Hal ini disebab kan kondisi yang disebut 

miskin bersifat relatif untuk setiap negara misalnya kondisi perekonomian, standar 

kesejahteraan, dan kondisi sosial. Setiap definisi ditentukan menurut kriteria atau ukuran-ukuran 

iberdasar  kondisi tertentu, yaitu pendapatan rata-rata, daya beli atau kemampuan konsumsi 

rata-rata, status kependidikan, dan kondisi kesehatan.

Secara umum, kemiskinan diartikan sebagai kondisi ketidakmampuan pendapatan dalam 

mencukupi kebutuhan pokok sehingga kurang mampu untuk menjamin kelangsungan hidup 

(. Kemampuan pendapatan untuk mencukupi kebutuhan pokok 

iberdasar  standar harga tertentu yaitu  rendah sehingga kurang menjamin terpenuhinya 

standar kualitas hidup pada umumnya. iberdasar  pengertian ini, maka kemiskinan secara 

umum didefinisikan sebagai suatu kondisi ketidakmampuan pendapatan dalam memenuhi 

kebutuhan pokok dan kebutuhan lainnya yang dapat menjamin terpenuhinya standar kualitas 

hidup.


Bentuk dan Jenis Kemiskinan

Dimensi kemiskinan yang dikemukakan oleh Chambers memberikan penjelasan 

mengenai bentuk persoalan dalam kemiskinan dan faktor-faktor yang memicu  terjadinya 

kondisi yang disebut memiskinkan. Konsep kemiskinan ini  memperluas pandangan ilmu 

sosial terhadap kemiskinan yang tidak hanya sekedar kondisi ketidakmampuan pendapatan 

dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan pokok, akan namun  juga kondisi ketidakberdayaan 

sebagai akibat rendahnya kualitas kesehatan dan pendidikan, rendahnya perlakuan hukum, 

kerentanan terhadap tindak kejahatan (kriminal), resiko mendapatkan perlakuan negatif secara 

politik, dan terutama ketidakberdayaan dalam meningkatkan kualitas kesejahteraannya sendiri.

iberdasar  kondisi kemiskinan yang dipandang sebagai bentuk permasalahan 

multidimensional, kemiskinan memiliki 4 bentuk. Adapun keempat bentuk kemiskinan ini  

yaitu  :

1) Kemiskinan Absolut

Kemiskinan absolut yaitu  suatu kondisi di mana pendapatan seseorang atau 

sekelompok orang berada di bawah garis kemiskinan sehingga kurang mencukupi untuk 

memenuhi kebutuhan standar untuk pangan, sandang, kesehatan, perumahan, dan 

pendidikan yang diperlukan untuk meningkatkan kualitas hidup. Garis kemiskinan 

diartikan sebagai pengeluaran rata-rata atau konsumsi rata-rata untuk kebutuhan pokok 

berkaitan dengan pemenuhan standar kesejahteraan. Bentuk kemiskinan absolut ini 

paling banyak dipakai sebagai konsep untuk menentukan atau mendefinisikan kriteria 

seseorang atau sekelompok orang yang disebut miskin.

2) Kemiskinan Relatif 

Kemiskinan relatif diartikan sebagai bentuk kemiskinan yang terjadi sebab  adanya 

pengaruh kebijakan pembangunan yang belum menjangkau ke seluruh lapisan 

warga   sehingga memicu  adanya ketimpangan pendapatan atau ketimpangan 

standar kesejahteraan. Daerah-daerah yang belum terjangkau oleh program-program 

pembangunan seperti ini umumnya dikenal dengan istilah daerah tertinggal.

3) Kemiskinan Kultural 

Kemiskinan kultural yaitu  bentuk kemiskinan yang terjadi sebagai akibat adanya sikap 

dan kebiasaan seseorang atau warga   yang umumnya berasal dari budaya atau adat 

istiadat yang relatif tidak mau untuk memperbaiki taraf hidup dengan tata cara moderen. 

Kebiasaan seperti ini dapat berupa sikap malas, pemboros atau tidak pernah hemat, 

kurang kreatif, dan relatif pula bergantung pada pihak lain.

4) Kemiskinan Struktural

Kemiskinan struktural yaitu  bentuk kemiskinan yang disebabkan sebab  rendahnya 

akses terhadap sumber daya yang pada umumnya terjadi pada suatu tatanan sosial 

budaya ataupun sosial politik yang kurang mendukung adanya pembebasan kemiskinan. 

Bentuk kemiskinan seperti ini juga terka dang memiliki unsur diskriminatif.

Bentuk kemiskinan struktural yaitu  bentuk kemiskinan yang paling banyak 

mendapatkan perhatian di bidang ilmu sosial terutama di kalangan negara-negara pemberi 

bantuan/pinjaman seperti Bank Dunia, IMF, dan Bank Pembangunan Asia. Bentuk kemiskinan 

struktural juga dianggap paling banyak memicu  adanya ketiga bentuk kemiskinan yang 

telah disebutkan sebelumnya . sesudah  dikenal bentuk kemiskinan, dikenal 

pula dengan jenis kemiskinan iberdasar  sifatnya. Adapun jenis kemiskinan iberdasar  

sifatnya yaitu : Kemiskinan Alamiah dan kemiskinan buatan

1. Kemiskinan Alamiah

Kemiskinan alamiah yaitu  kemiskinan yang terbentuk sebagai akibat adanya 

kelangkaan sumber daya alam dan minimnya atau ketiadaan pra sarana umum (jalan 

raya, listrik, dan air bersih), dan keadaan tanah yang kurang subur. Daerah-daerah 

dengan karakteristik ini  pada umumny yaitu  daerah yang belum terjangkau oleh 

kebijakan pembangunan sehingga menjadi daerah tertinggal.

2. Kemiskinan Buatan

Kemiskinan buatan yaitu  kemiskinan yang diakibatkan oleh sistem moderenisasi atau 

pembangunan yang memicu  warga   tidak memiliki banyak kesempatan untuk 

menguasai sumber daya, sarana, dan fasilitas ekonomi secara merata. Kemiskinan seperti 

ini yaitu  dampak negatif dari pelaksanaan konsep pembangunan (developmentalism)

yang umumnya dijalankan di negara-negara sedang berkembang. Sasaran untuk 

mengejar target pertumbuhan ekonomi tinggi mengakibatkan tidak meratanya pembagian 

hasil-hasil pembangunan di mana sektor industri misalnya lebih menikmati tingkat 

keuntungan dibandingkan mereka yang bekerja di sektor pertanian.

Kedua jenis kemiskinan di atas seringkali masih dikaitkan dengan konsep pembangunan 

yang sejak lama telah dijalankan di negara-negara sedang berkembang pada dekade 1970an dan 

1980an . Persoalan kemiskinan dan pembahasan mengenai penyebab 

kemiskinan hingga saat ini masih menjadi perdebatan baik di lingkungan akademik maupun 

pada tingkat penyusun kebijakan pembangunan . Salah satu perdebatan 

ini  yaitu  menetapkan definisi terhadap seseorang atau sekelompok orang yang disebut 

miskin. Pada umumnya, identifikasi kemiskinan hanya dilakukan pada indikator-indikator yang 

relatif terukur seperti pendapatan per kapita dan pengeluaran konsumsi rata-rata. Ciri-ciri 

kemiskinan yang hingga saat ini masih dipakai untuk menentukan kondisi miskin yaitu :

1. Tidak memiliki faktor produksi sendiri seperti tanah, modal, peralatan kerja, dan 

ketrampilan yang memadai.

2. Tingkat pendidikan yang relatif rendah

3. Bekerja dalam lingkup kecil dan modal kecil atau disebut juga bekerja dilingkungan 

sektor informal sehingga mereka ini terkadang disebut juga setengah menganggur

4. Berada di kawasan pedesaan atau di kawasan yang jauh dari pusat-pusat pertumbuhan 

regional atau berada pada kawasan tertentu di perkotaan (slum area).

5. Memiliki kesempatan yang relatif rendah dalam memperoleh bahan kebutuhan pokok 

yang mencukupi termasuk dalam mendapatka pelayanan kesehatan dan pendidikan 

sesuai dengan standar kesejahteraan pada umumnya.

Seperti yang telah disampaikan sebelumnya bahwa ciri-ciri kemiskinan di atas tidak 

memiliki sifat mutlak (absolut) untuk dijadikan kebenaran universal terutama dalam 

menerangkan faktor-faktor yang memicu  terjadinya kemiskinan ataupun terbentuknya 

kemiskinan. Sifat-sifat kemiskinan di atas hanya merupakan temuan lapangan yang paling 

banyak diidentifikasikan atau diukur.

Rumah Tangga Miskin

Istilah rumah tangga dan keluarga sering dicampur adukkan dalam kehidupan sehari￾hari. Pengertian rumah tangga lebih mengacu pada sisi ekonomi, sedangkan keluarga lebih 

mengacu pada hubungan kekerabatan, fungsi sosial dan lain sebagainya. Keluarga didefinisikan 

sebagai sekumpulan orang yang tinggal dalam satu rumah yang masih mempunyai hubungan 

kekerabatan/hubungan darah sebab  perkawinan, kelahiran, adopsi dan lain sebagainya. BPS 

(2000) membagi rumah tangga menjadi dua yaitu rumah tangga biasa dan rumah tangga khusus. 

Rumah tangga biasa yaitu  seseorang atau sekelompok orang yang mendiami sebagian 

atau seluruh bangunan fisik atau sensus dan umumnya tinggal bersama serta makan dari satu 

dapur. Yang dimaksud dengan satu dapur yaitu  bahwa pembiayaan keperluan jika pengurusan 

kebutuhan sehari-hari dikelola bersama-sama. 

Rumah tangga khusus yaitu  sekelompok orang yang tinggal di asrama atau tempat 

tinggal yang pengurusan sehari-harinya diatur oleh yayasan atau badan, misalnya asrama 

mahasiswa, lembaga pewarga  an, orang-orang yang berjumlah lebih dari 10 orang yang kos 

dengan makan, asrama ABRI dan lain sebagainya. Konsep kemiskinan terkait dengan 

kemampuan seseorang/rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan dasar baik untuk makanan 

maupun non makanan. Seseorang/rumah tangga dikatakan miskin bila kehidupannya dalam 

kondisi serba kekurangan, sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan dasarnya. Batas 

kebutuhan dasar minimal dinyatakan melalui ukuran garis kemiskinan yang disetarakan dengan 

jumlah rupiah yang dibutuhkan. Dalam penelitian ini rumah tangga miskin yang dianalisis 

yaitu  warga   bukan individu. Pertama, kemiskinan pada hakikatnya merupakan cermin 

keadaan rumah tangga. Kedua, jika  ditemukan data-data rmah tangga miskin maka intervensi 

terhadap rumah tangga akan lebih efektif dibanding intervensi kemiskinan terhadap individu 

yang cenderung mengarah pada pandangan bahwa orang miskin memiliki karakteristik sebagai 

penyebab kemiskinannya. Ketiga, data-data tentang rumah tangga miskin lebih mudah untuk 

dikembangkan daripada data-data individu miskin. 

Faktor yang Memengaruhi Kemiskinan

Faktor-faktor yang mempengaruhi kemiskinan rumah tangga yaitu : tingkat pendidikan, 

tingkat kesehatan dan kepemilikan asset.

Tingkat pendidikan

Pengertian pendidikan menurut Instruksi Presiden No. 15 Tahun 1974 yaitu  segala 

sesuatu usaha untuk membina kepribadian dan mengembangkan kemampuan manusia 

negara kita , jasmani dan rohani yang berlangsung seumur hidup, baik didalam maupun diluar 

sekolah dalam rangka pembangunan persatuan negara kita  dan warga   yang adil, makmur 

iberdasar  pancasila. 

pendidikan yaitu  upaya persuasi atau pembelajaran 

kepada warga  , agar warga   mau melakukan tindakan-tindakan (praktik) untuk 

memelihara (mengatasi masalah-masalah), dan meningkatkan kesehatannya. Perubahan atau 

tindakan pemeliharaan dan peningkatan kesehatan yang dihasilkan oleh pendidikan kesehatan 

ini didasarkan kepada pengetahuan dan kesadarannya melalui proses pembelajaran, sehingga 

perilaku ini  diharapkan akan berlangsung lama (long lasting) dan menetap (langgeng), 

sebab  didasari oleh kesadaran.

Dari beberapa definisi tentang pendidikan diatas dapat disimpulkan bahwa pendidikan 

yaitu  upaya persuasif yang dilakukan untuk menyiapkan peserta didik agar mampu 

mengembangkan potensi yang dimiliki secara menyeluruh dalam memasuki kehidupan dimasa 

yang akan datang.

Tingkat atau jenjang pendidikan yaitu  tahap pendidikan yang berkelanjutan, yang 

ditetapkan iberdasar  tingkat perkembangan peserta didik, tingkat kerumitan bahan pengajaran 

dan cara menyajikan bahan pengajaran 

Manusia memerlukan pengetahuan, ketrampilan, penguasaan teknologi, dan dapat 

mandiri memalui pendidikan. Produktivitas kerja memerlukan pengetahuan, ketrampilan dan 

penguasaan teknologi. Sehingga dengan adanya tingkat pendidikan karyawan maka kinerja karyawan akan menjadi lebih baik dan tujuan dari perusahaan akan tercapai dengan sempurna 

Faktor yang Memperngaruhi Tingkat Pendidikan 

Faktor yang mempengaruhi tingkat pendidikan menurut Hasbullah (2003) yaitu  sebagai 

berikut: Ideologi, sosial ekonomi, sosial budaya, perkembangan IPTEK dan Psikologi.

1. Deologi, Semua manusia dilahirkan kedunia mempunyai hak yang sama khususnya hak 

untuk mendapatkan pendidikan dan peningkatan pengetahuan dan pendidikan. 

2. Sosial Ekonomi, Semakin tinggi tingkat sosial ekonomi memungkinkan seseorang mencapai 

tingkat pendidikan yang lebih tinggi.

3. Sosial Budaya, Masih banyak orang tua yang kurang menyadari akan pentingnya 

pendidikan formal bagi anak-anaknya.

4. Perkembangan IPTEK, Perkembangan IPTEK menuntut untuk selalu memperbaharui 

pengetahuan dan keterampilan agar tidak kalah dengan negara maju.

5. Psikologi, Konseptual pendidikan merupakan alat untuk mengembangkan kepribadian 

individu agar lebih bernilai.

Menurut Green (1980) bahwa tingkat pendidikan seseorang akan berpengaruh dalam 

memberikan respon terhadap sesuatu yang datang dari luar, mereka yang mempunyai 

pendidikan lebih tinggi akan memberi respon yang rasional daripada mereka yang berpendidikan 

rendah. Orang yang mempunyai pendidikan tinggi diharapkan lebih peka terhadap kondisi 

keselamatannya, sehingga lebih baik dalam memanfaatkan fasilitas keselamatan 

Tingkat Kesehatan

Kesehatan yaitu  salah satu kebutuhan utama seluruh warga  , oleh sebab itu 

kesehatan yaitu  hak bagi setiap warga   yang dilindungi oleh Undang-Undang Dasar. 

Menurut kesehatan yaitu  salah satu modal utama dalam pelaksanaan 

pembangunan ekonomi dimana kondisi kesehatan sekelompok warga   ini  harus baik. 

Dalam pembangunan ekonomi, pembangunan kesehatan juga harus diperhatikan. Untuk 

mencapai kemakmuran dan kesejahteraan bagi seluruh warga   negara kita  maka keduanya 

harus berjalan seimbang. Pembangunan kesehatan merupakan sebuah proses perubahan terhadap 

tingkat kesehatan sekelompok warga   dari tingkat yang kurang baik menjadi tingkat yang 

lebih baik sesuai dengan standar kesehatan. Oleh sebab itu, pembangunan kesehatan merupakan 

pembangunan yang dilakukan sebagai investasi untuk membangun kualitas sumber daya 

manusia

Kepemilikan Asset

Rendahnya tingkat kepemilikan aset merupakan salah satu faktor yang memicu  

kemiskinan . Kepemikan aset oleh rumah tangga akan mempengaruhi akses 

pasar yang dapat dilakukan oleh rumah tangga.  kepemilikan aset 

mencerminkan kekayaan suatu rumah tangga yang akan mempengaruhi tingkat konsumsi rumah 

tangga ini .  kepemilikan aset 

diartikan sebagai kepemilikan alat-alat produktif oleh suatu rumah tangga yang pada akhirnya 

dapat mempengaruhi pendapatan yang akan diterima oleh rumah tangga dari kepemilikan asset 

ini . Sehingga dapat disimpulkan bahwa kepemilikan asset oleh rumah tangga dapat 

mempengaruhi tingkat kemiskinan rumah tangga.

Faktor lain yang dapat mempengaruhi kemiskinan rumah tangga yaitu  tingkat 

pendidikan. Tingkat pendidikan memiliki dampak yang kuat terhadap kemiskinan. Pada rumah tangga, tingkat pendidikan tertinggi yang dicapai oleh kepala rumah tangga merupakan hal 

sangat vital. Hal ini disebab kan pendidikan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi 

pengahasilan dan kepala rumah tangga merupakan sumber pengahasilan 

utama dalam rumah tangga. Sehingga pendidikan yang telah ditempuh oleh kepala rumah tangga 

menjadi faktor yang penting dalam menentukan kesejahteraan rumah tangga. Menurut 

pencapaian tingkat pendidikan kepala rumah tangga yang lebih tinggi akan 

meningkatkan kesejahteraan rumah tangga, sehingga pendidikan merupakan cara yang efektif 

untuk mengurangi kemiskinan. Jenis pekerjaan utama dalam rumah tangga merupakan faktor 

yang dapat mempengaruhi kemiskinan rumah tangga. Jenis pekerjaan utama dalam rumah 

tangga merupakan faktor penentu besarnya pendapatan (dan pengeluaran) yang diterima oleh 

rumah tangga  pekerjaan utama kepala rumah tangga 

sangat berpengaruh terhadap tingkat kemiskinan suatu rumah tangga, hal ini disebab kan tiap 

jenis pekerjaan memiliki tingkat upah yang berbeda-beda. Pada sektor pertanian tingkat upah 

minimum yang akan diterima oleh pekerjanya akan lebih rendah dibandingkan pada sektor lain 

(seperti : industri) dan di negara kita  mayoritas kepala rumah tangga miskin cenderung bekerja 

pada sektor pertanian baik dalam sub sektor pertanian tanaman pangan, perkebunan maupun 

perikanan. Jumlah tanggungan dalam rumah tangga juga merupakan salah satu faktor yang dapat 

mempengaruhi tingkat kemiskinan rumah tangga. Jumlah tanggungan dalam rumah tangga 

ditunjukan dengan besarnya jumlah anggota rumah tangga yang tidak bekerja berkorelasi negatif 

dengan konsumsi dan pendapatan perkapita tiap anggota keluarga  jumlah tanggungan dalam rumah tangga (baik anak-anak, 

anggota usia produktif yang tidak bekerja dan lansia) kemungkinan akan menurunkan 

kesejahteraan dalam rumah tangga dan pada akhirnya terjadi kemiskinan rumah tangga.


Penarikan atau pembuatan sampel dari populasi untuk mewakili populasi disebabkan 

untuk mengangkat kesimpulan penelitian sebagai suatu yang berlaku bagi populasi. Arikunto 

(2010:174) mengatakan bahwa “sampel yaitu  sebagian atau wakil populasi yang diteliti.” 

Selanjutnya menurut sampel yaitu  “bagian dari jumlah dan karakteristik 

yang dimiliki oleh populasi ini .” Dalam penelitian ini penulis mengambil sampel dengan 

menggunakan teknik purposive sampling. Mengenai hal ini, menjelaskan 

bahwa “purposive sampling dilakukan dengan cara mengambil subjek bukan didasarkan atas

strata, random atau daerah namun  didasarkan atas adanya tujuan tertentu.” Begitu pula  sampling purposive yaitu  “teknik penentuan sampel dengan pertimbangan 

tertentu.” Artinya setiap subjek yang diambil dari populasi dipilih dengan sengaja iberdasar  

tujuan dan pertimbangan tertentu.

Jumlah sampel yang diambil dari tiga Kabupaten Kepulauan di Sangihe, Minahasa 

Tenggara dan Bolaang Mongondow Selatan masing-masing yaitu  sebagai berikut:

1. Kabupaten Kepulauan Sangihe jumlah sampel yang diambil yaitu  N=34 

2. Kabupaten Minahasa Selatan jumlah sampel yang diambil yaitu  N=38

3. Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan Jumlah sampel yang diambil yaitu  N=156

Syarat-syarat penentuan sampel dalam penelitian ini yaitu  sebagai berikut:

1. Status kesejahteraan Desil 1 (10%)

2. Anggota Rumah Tangga (ART) > 3

3. Bekerja sebagai pekerja bebas dan bekerja hanya di keluarga.

4. Kepala keluarga memiliki usia produktif (21-59 tahun)

5. Aset lahan milik sendiri.

Analisis Regresi Berganda

Dalam hal untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan sebelumnya, maka peneliti 

menggunakan analisis linear berganda. Analisis regresi berganda merupakan studi 

ketergantungan dari satu variabel yang disebut variabel tidak bebas (dependent variable), pada 

satu atau lebih variabel, yaitu variabel yang menerangkan, dengan tujuan untuk memperkirakan 

dan atau meramalkan nilai rata-rata dari variabel tidak bebas jika  nilai variabel yang 

menerangkan sudah diketahui. Variabel yang menerangkan sering disebut variabel bebas 

(independent variable).

Metode kuadrat terkecil/Ordinary least square merupakan estimasi titik sampel, sebab  

itu masalah verifikasi estimasi titik ini  melalui interal estimasi maupun uji hipotesis melalui 

uji t. dengan menggunakan table distribusi t kita mendapatkan nilai t kritis (tc) dengan 

signifikansi tα/2 dan df (degree of freedom) n-k dimana n yaitu  jumlah observasi dan k yaitu  

jumlah parameter estimasi termasuk konstanta. 


Hasil Estimasi dan Pembahasan

Berikut hasil regresi untuk mengetahui Pengaruh Pendidikan, Kesehatan dan 

Kepemilikan Aset terhadap Kemiskinan Rumah Tangga di Bolaang Mongodow, Minahasa Tenggara dan Sangihe. Data diestimasikan dengan metode OLS (Ordinary Least Suare) analisis 

regresi berganda sudah dijelaskan pada bab sebelumnya, dan diolah menggunakan program 

Eviews 8.0.

Estimasi Model Penelitian 1

Berikut yaitu  hasil estimasi variabel tingkat pendidikan, tingkat kesehatan dan 

kepemilikan aset secara bersama-sama terhadap kemiskinan di tiga Kabupaten kepulauan di 

Provinsi Sulawesi Utara yaitu: Kabupaten Kepulauan Sangihe, Kabupaten Minahasa Tenggara 

dan Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan. Berikut hasil regresi untuk mengetahui pengaruh 

pendidikan, kesehatan dan kepemilikan aset terhadap kemiskinan rumah tangga menggunakan 

model OLS (Ordinary Least Suares). Hasil regresi bisa dilihat pada tabel 1 berikut:

Dari hasil estimasi regresi pada tabel 4.1 maka diperjelas dengan menggunakan 

persamaan sebagai berikut:

Y = 14.47687– 0.040261X1 -0.080514X2 + 2.26E-05X3

Persamaan regresi di atas dapat dijelaskan sebagai berikut: 

- Konstanta sebesar 14.47687; artinya jika pendidikan (X1), kesehatan (X2) dan kepemilikan aset 

(X3) nilainya yaitu  0, maka kemiskinan (Y) nilainya yaitu  14.76%.

- Koefisien regresi variabel pendidikan (X1) sebesar -0.040261; artinya jika variabel independen 

lain nilainya tetap dan pendidikan mengalami kenaikan 1%, maka kemiskinan (Y) akan mengalami penurunan sebesar 4.02%. Koefisien memiliki tanda negatif artinya ada pengaruh 

negatif antara pendidikan dengan kesehatan, semakin naik pendidikan maka semakin turun 

kemiskikan. 

- Koefisien regresi variabel kesehatan (X2) sebesar -0.080514; artinya jika variabel independen 

lain nilainya tetap dan kesehatan mengalami kenaikan 1%, maka kemiskinan (Y) akan 

mengalami penurunan sebesar 8.05%. Koefisien bernilai negatif artinya ada pengaruh negatif 

antara kesehatan dengan kemiskinan, semakin naik kesehatan maka semakin turun kemiskinan.

- Koefisien regresi variabel kepemilikan aset (X3) sebesar 2.26E-05 ; artinya jika variabel 

independen lain nilainya tetap dan kepemilikan aset mengalami kenaikan 1%, maka kemiskinan 

(Y) akan mengalami peningkatan sebesar 2.26%%. Koefisien bernilai positif artinya ada 

pengaruh positif antara kepemilikan aset dengan kemiskinan, semakin naik kepemilikan aset 

maka semakin naik kemiskinan.

Uji t-statistik

iberdasar  hasil estimasi pada tabel 1 dapat dijelaskan bahwa variabel pendidikan, 

kesehatan dan kepemilikan aset secara sendiri-sendiri berpengaruh terhadap kemiskinan rumah 

tangga yang ada di Kabupaten kepulauan Sangihe, Kabupaten Minahasa Tenggara dan 

Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan.

Hasil estimasi variabel pendidikan (X1) pada tabel 1 menunjukan bahwa variabel 

pendidikan (X1) berpengaruh negatif signifikan secara statistik sebesar 0.0082. Nilai signifikan 

lebih besar dari α=1%, maka Ha diterima Ho di tolak. Variabel pendidikan (X1) mempunyai 

nilai t hitung yakni 2.669133 dan t tabel 2,34311 dengan df 224 (n-k =228-4). Jadi, t hitung 2.669133 

> t tabel 2,34311 Artinya pendidikan berpengaruh negatif signifikan terhadap kemiskinan rumah 

tangga (Y).

Hasil estimasi variabel kesehatan (X2) pada tabel 1 menunjukan bahwa variabel 

kesehatan (X2) berpengaruh negatif signifikan secara statistik sebesar 0.0005. Nilai signifikan 

lebih besar dari α=1%, maka Ha diterima Ho di tolak. Variabel kesehatan (X2) mempunyai nilai 

t hitung yakni 3.551530 dan t tabel 2,34311 dengan df 224 (n-k =228-4). Jadi, t hitung 3.551530 > t 

tabel 2,34311 Artinya kesehatan berpengaruh negatif signifikan terhadap kemiskinan rumah 

tangga (Y).

Hasil estimasi variabel kepemilikan Asset (X3) pada tabel 1 menunjukan bahwa variabel 

kepemilikan asset (X3) berpengaruh positif signifikan secara statistik sebesar 0.0006. Nilai 

signifikan lebih besar dari α=1%, maka Ha diterima Ho di tolak. Variabel kepemilikan asset 

(X3) mempunyai nilai t hitung yakni 3.476346 dan t tabel 2,34311 dengan df 224 (n-k =228-4). 

Jadi, t hitung 3.476346 > t tabel 2,34311 Artinya kepemilikan asset berpengaruh positif signifikan 

terhadap kemiskinan rumah tangga (Y).

Uji Simultan (Uji f)

iberdasar  hasil estimasi pada tabel 1 dapat dijelaskan pengaruh variabel pendidikan, 

kesehatan dan kepemilikan aset secara simultan berpengaruh terhadap kemiskinan rumah 

tangga.

Nilai F-statistik yang diperoleh 11.53624 sedangkan F-tabel 2.60. Nilai F table 

iberdasar  besarnya α= 5% dan df dimana besarnya ditentukan oleh numerator (k-1/4-1)= 3 

dan df untuk denominator (n-k/228-4)= 224. Dengan demikian F-statistik lebih besar dari F￾tabel yang artinya bahwa pendidikan, kesehatan dan kepemilikan aset secara simultan 

berpengaruh positif signifikan terhadap kemiskinan rumah tangga.Koefisien Determinan (R2

)

Dari nilai Adjusted R Square menunjukan nilai sebesar 0.133827 = 13.382%. Artinya, 

bahwa variable kemiskinan rumah tangga (Y) 13.382% variasinya dijelaskan oleh variasi 

variabel pendidikan (X1), kesehatan (X2) dan kepemilikan asset (X3), sisanya 86.618% di 

jelaskan oleh faktor-faktor lain di luar model.

Estimasi Model Penelitian 2

Berikut yaitu  hasil estimasi model penelitian 2 dengan menghilangkan variabel 

kepemilikan aset. Variabel yang digunakan yaitu  tingkat pendidikan dan tingkat kesehatan 

secara bersama-sama terhadap kemiskinan di Kabupaten Kepulauan Sangihe, Kabupaten 

Minahasa Tenggara dan Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan. Berikut hasil regresi untuk 

mengetahui pengaruh pendidikan, kesehatan dan kepemilikan aset terhadap kemiskinan rumah 

tangga menggunakan model OLS (Ordinary Least Suares). Hasil regresi bisa dilihat pada tabel 2 

berikut:

Dari hasil estimasi regresi pada tabel 2 maka diperjelas dengan menggunakan persamaan 

sebagai berikut:

Y = 14.60809 – 0.043333X1 -0.083910X2

Persamaan regresi di atas dapat dijelaskan sebagai berikut: 

- Konstanta sebesar 14.60809; artinya jika pendidikan (X1), kesehatan (X2) dan kepemilikan aset 

(X3) nilainya yaitu  0, maka kemiskinan (Y) nilainya yaitu  14.60%.

- Koefisien regresi variabel pendidikan (X1) sebesar – 0.043333; artinya jika variabel independen 

lain nilainya tetap dan pendidikan mengalami kenaikan 1%, maka kemiskinan (Y) akan 

mengalami penurunan sebesar 4.33%. Koefisien memiliki tanda negatif artinya ada pengaruh

negatif antara pendidikan dengan kesehatan, semakin naik pendidikan maka semakin turun 

kemiskikan. 

- Koefisien regresi variabel kesehatan (X2) sebesar -0.083910; artinya jika variabel independen 

lain nilainya tetap dan kesehatan mengalami kenaikan 1%, maka kemiskinan (Y) akan 

mengalami penurunan sebesar 8.3%. Koefisien bernilai negatif artinya ada pengaruh negatif 

antara kesehatan dengan kemiskinan, semakin naik kesehatan maka semakin turun kemiskinan.

Uji t-statistik

iberdasar  hasil estimasi pada tabel 2 dapat dijelaskan pengaruh variabel pendidikan 

dan kesehatan secara sendiri-sendiri terhadap kemiskinan rumah tangga yang ada di tiga 

Kabupaten Kepulauan Sangihe, Kabupaten Minahasa Tenggara dan Kabupaten Bolaang 

Mongondow Selatan.

Hasil estimasi variabel pendidikan (X1) pada tabel 2 menunjukan bahwa variabel 

pendidikan (X1) berpengaruh negatif signifikan secara statistik sebesar 0.0054. Nilai signifikan 

lebih besar dari α=1%, maka Ha diterima Ho di tolak. Variabel pendidikan (X1) mempunyai 

nilai t hitung yakni 2.809410 dan t tabel 2,34304 dengan df 225 (n-k =228-3). Jadi, t hitung 2.809410 

> t tabel 2,34304 Artinya pendidikan berpengaruh negatif signifikan terhadap kemiskinan rumah 

tangga (Y).

Hasil estimasi variabel kesehatan (X2) pada tabel 2 menunjukan bahwa variabel 

kesehatan (X2) berpengaruh negatif signifikan secara statistik sebesar 0.0004. Nilai signifikan 

lebih besar dari α=1%, maka Ha diterima Ho di tolak. Variabel kesehatan (X2) mempunyai nilai 

t hitung yakni 3.616755 dan t tabel 2,34304 dengan df 225 (n-k =228-3). Jadi, t hitung 3.551530 > t 

tabel 2,34304 Artinya kesehatan berpengaruh negatif signifikan terhadap kemiskinan rumah 

tangga (Y).

Uji Simultan (Uji f)

iberdasar  hasil estimasi pada tabel 2 dapat dijelaskan pengaruh variabel pendidikan dan 

kesehatan secara simultan berpengaruh terhadap kemiskinan rumah tangga.

Nilai F-statistik yang diperoleh 10.73308 sedangkan F-tabel 3.00. Nilai F table 

iberdasar  besarnya α=5% dan df dimana besarnya ditentukan oleh numerator (k-1/3-1)= 2 

dan df untuk denominator (n-k/228-3)= 225. Dengan demikian F-statistik lebih besar dari F￾tabel yang artinya bahwa pendidikan dan kesehatan secara simultan berpengaruh positif 

signifikan terhadap kemiskinan rumah tangga.

Koefisien Determinan (R2

)

Dari nilai Adjusted R Square menunjukan nilai sebesar 0.087096 = 8.709%. Artinya, 

bahwa variable kemiskinan rumah tangga (Y) 8.7% variasinya dijelaskan oleh variasi variable 

pendidikan (X1) dan kesehatan (X2), sisanya 91.291% di jelaskan oleh faktor-faktor lain di luar 

model.

Pembahasan

Hasil penelitian yang menunjukan bahwa pendidikan berpengaruh negatif signifikan 

terhadap kemiskinan rumah tangga. Artinya jika  pendidikan naik maka kemiskinan rumah 

tangga akan turun cetiris paribus. Kemiskinan diartikan sebagai kondisi ketidakmampuan 

pendapatan dalam mencukupi kebutuhan pokok sehingga kurang mampu untuk menjamin 

kelangsungan hidup , Secara teoritis, semakin tinggi pengetahuan atau 

semakin tinggi pendidikan maka semakin tinggi kemampuan orang untuk berpikir, semakin baik 

kemampuan untuk melakukan sesuatu, semakin tinggi kemampuan untuk memecahkan masalah. Semakin lama seseorang belajar, semakin banyak pengetahuan yang diperoleh sehingga orang 

akan lebih rasional dalam melihat dan memahami masalah serta mencari solusi atau melakukan 

sesuatu untuk memecahkan masalah. Pendidikan memungkinkan orang untuk mencapai kinerja 

yang lebih baik dalam berbagai kegiatan termasuk produksi dan, sebab nya, mencapai 

pendapatan yang lebih tinggi , Rendahnya kemampuan pendapatan 

diartikan pula sebagai rendahnya daya beli atau kemampuan untuk mengkonsumsi Kemampuan 

pendapatan yang relatif terbatas atau rendah memicu  daya beli seseorang atau sekelompok 

orang terutama untuk memenuhi kebutuhan pokok menjadi rendah (Nugroho, 1995: 17). Taraf 

pendidikan yang rendah. Kondisi ini disebabkan sebab  keterbatasan pendapatan untuk 

mendapatkan pendidikan yang diinginkan atau sesuai dengan standar pendidikan. 

Pada rumah tangga, tingkat pendidikan tertinggi yang dicapai oleh kepala rumah tangga 

merupakan hal sangat vital. Hal ini disebab kan pendidikan merupakan salah satu faktor yang 

mempengaruhi pengahasilan(Simanjuntak, 1985)dan kepala rumah tangga merupakan sumber 

pengahasilan utama dalam rumah tangga. Sehingga pendidikan yang telah ditempuh oleh kepala 

rumah tangga menjadi faktor yang penting dalam menentukan kesejahteraan rumah tangga.

Menurut pencapaian tingkat pendidikan kepala rumah tangga yang lebih 

tinggi akan meningkatkan kesejahteraan rumah tangga, sehingga pendidikan merupakan cara 

yang efektif untuk mengurangi kemiskinan. Jenis pekerjaan utama dalam rumah tangga 

merupakan faktor yang dapat mempengaruhi kemiskinan rumah tangga. Jenis pekerjaan utama 

dalam rumah tangga merupakan faktor penentu besarnya pendapatan (dan pengeluaran) yang 

diterima oleh rumah tangga  pekerjaan utama kepala 

rumah tangga sangat berpengaruh terhadap tingkat kemiskinan suatu rumah tangga, hal ini 

disebab kan tiap jenis pekerjaan memiliki tingkat upah yang berbeda-beda. Kemiskinan juga 

dianggap sebagai bentuk permasalahan pembangunan yang diakibatkan adanya dampak negatif 

dari pertumbuhan ekonomi yang tidak seimbang sehingga memperlebar kesenjangan pendapatan 

antar warga   maupun kesenjangan pendapatan antar daerah (inter region income gap) 

Permasalahan kemiskinan seperti halnya pada pandangan semula yaitu  kondisi 

ketidakmampuan pendapatan untuk mencukupi kebutuhan-kebutuhan pokok. Konsep atau 

pandangan ini berlaku tidak hanya pada kelompok yang tidak memiliki pendapatan, akan namun  

dapat berlaku pula pada kelompok yang telah memiliki pendapatan. Pada umumnya, rendahnya 

kemampuan pendapatan akan berdampak pada kekuatan sosial (social power) dari seseorang 

atau sekelompok orang terutama dalam memperoleh keadilan ataupun persamaan hak untuk 

mendapatkan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. 

Keterbatasan kemampuan pendapatan ataupun kekuatan sosial dari seseorang atau 

sekelompok orang yang disebut miskin tadi memicu  tingkat ketergantungan terhadap 

pihak lain yaitu  sangat tinggi. Mereka tidak memiliki kemampuan atau kekuatan untuk 

menciptakan solusi atau penyelesaian masalah terutama yang berkaitan dengan penciptaan 

pendapatan baru. Bantuan pihak lain sangat diperlukan untuk mengatasi persoalan-persoalan 

terutama yang berkaitan dengan kebutuhan akan sumber pendapatan.

Pada sektor pertanian tingkat upah minimum yang akan diterima oleh pekerjanya akan 

lebih rendah dibandingkan pada sektor lain (seperti : industri) dan di negara kita  mayoritas kepala 

rumah tangga miskin cenderung bekerja pada sektor pertanian baik dalam sub sektor pertanian 

tanaman pangan, perkebunan maupun perikanan. Jumlah tanggungan dalam rumah tangga juga 

merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi tingkat kemiskinan rumah tangga. 

Jumlah tanggungan dalam rumah tangga ditunjukan dengan besarnya jumlah anggota rumah 

tangga yang tidak bekerja berkorelasi negatif dengan konsumsi dan pendapatan perkapita tiap 

anggota keluarga

Menurut Mok T.Y (2010) jumlah tanggungan dalam rumah tangga (baik anak-anak, 

anggota usia produktif yang tidak bekerja dan lansia) kemungkinan akan menurunkan 

kesejahteraan dalam rumah tangga dan pada akhirnya terjadi kemiskinan rumah tangga. Hasil 

ini sama dengan penelitian yang dilakukan  yang menyatakan bahwa 

pendidikan berpengaruh negatif terhadap kemiskinan di Kota Medan. 

Hasil penelitian menunjukan bahwa kesehatan berpengaruh negatif dan signifikan 

terhadap kemiskinan rumah tangga. Artinya jika  tingkat kesehatan naik makan kemiskinan 

akan turun cetiris paribus. Kondisi warga   yang disebut miskin dapat diketahui iberdasar  

kemampuan pendapatan dalam memenuhi standar hidup ,. Pada prinsipnya, 

standar hidup di suatu warga   tidak sekedar tercukupinya kebutuhan akan pangan, akan 

namun  juga tercukupinya kebutuhan akan kesehatan maupun pendidikan. Tempat tinggal ataupun 

pemukiman yang layak merupakan salah satu dari standar hidup atau standar kesejahteraan 

warga   di suatu daerah. iberdasar  kondisi ini, suatu warga   disebut miskin jika 

memiliki pendapatan jauh lebih rendah dari rata-rata pendapatan sehingga tidak banyak 

memiliki kesempatan untuk mensejahterakan dirinya 

iberdasar  Undang-Undang No. 24 Tahun 2004, kemiskinan yaitu  kondisi sosial 

ekonomi seseorang atau sekelompok orang yang tidak terpenuhinya hak –hak dasarnya untuk 

mempertahankan dan mengembangkan kehidupan yang bermartabat. Kebutuhan dasar yang 

menjadi hak seseorang atau sekelompok orang meliputi kebutuhan pangan, kesehatan, 

pendidikan, pekerjaan, perumahan, air bersih, pertanahan, sumber daya alam, lingkungan hidup, 

rasa aman dari perlakuan atau ancaman tindak kekerasan, dan hak untuk berpartisipasi dalam 

penyelenggaraan kehidupan sosial dan politik.

Laporan Bidang Kesejahteraan Rakyat yang dikeluarkan oleh Kementrian Bidang 

Kesejahteraan (Kesra) tahun 2004 menerangkan pula bahwa kondisi yang disebut miskin ini 

juga berlaku pada mereka yang bekerja akan namun  pendapatannya tidak mencukupi untuk 

memenuhi kebutuhan pokok/dasar.

Kesehatan yaitu  salah satu kebutuhan utama seluruh warga  , oleh sebab itu 

kesehatan yaitu  hak bagi setiap warga   yang dilindungi oleh Undang-Undang Dasar. 

Menurut Juanita (2002) kesehatan yaitu  salah satu modal utama dalam pelaksanaan 

pembangunan ekonomi dimana kondisi kesehatan sekelompok warga   ini  harus baik. 

Dalam pembangunan ekonomi, pembangunan kesehatan juga harus diperhatikan. Untuk 

mencapai kemakmuran dan kesejahteraan bagi seluruh warga   negara kita  maka keduanya 

harus berjalan seimbang. Pembangunan kesehatan merupakan sebuah proses perubahan terhadap 

tingkat kesehatan sekelompok warga   dari tingkat yang kurang baik menjadi tingkat yang 

lebih baik sesuai dengan standar kesehatan.

Hasil penelitian menunjukan bahwa kepemilikan asset berpengaruh positif dan signifikan 

terhadap kemiskinan. Artinya, jika  kepemilikan aset naik maka kemiskinan rumah tangga 

akan naik, cetiris paribus. Hasil ini tidak sesuai dengan teori yang menyatakan adanya 

pengaruh negatif variabel kepemilikan asset terhadap kemiskinan rumah tangga. Rendahnya 

tingkat kepemilikan aset merupakan salah satu faktor yang memicu  kemiskinan 

Kepemikan aset oleh rumah tangga akan mempengaruhi akses pasar yang dapat 

dilakukan oleh rumah tangga. kepemilikan aset mencerminkan kekayaan 

suatu rumah tangga yang akan mempengaruhi tingkat konsumsi rumah tangga ini . 

Sedangkan menurut Sahdan , kepemilikan aset diartikan sebagai 

kepemilikan alat-alat produktif oleh suatu rumah tangga yang pada akhirnya dapat 

mempengaruhi pendapatan yang akan diterima oleh rumah tangga dari kepemilikan asset

ini . Sehingga dapat disimpulkan bahwa kepemilikan asset oleh rumah tangga dapat 

mempengaruhi tingkat kemiskinan rumah tangga.

Hasil ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan  yang 

menyatakan bahwa kepemilikan aset berpengaruh positif terhadap kemiskinan rumah tangga di 

Kecamatan Tugu Kota Semarang. Begitu juga dengan penelitian yang dilakukan yang menyatakan bahwa kepemilikan aset memiliki pengaruh positif terhadap 

peningkatan kemiskinan rumah tangga di Kecamatan Suruh Kabupaten Semarang.


Kemiskinan yaitu  suatu keadaan yang menyangkut ketidakmampuan 

dalam memenuhi tuntutan 

kehidupan yang paling minimum, khususnya dari aspek konsumsi dan pendapatan. Masalah kemiskinan 

ini sangatlah kompleks dan bersifat multidimensional, dimana berkaitan dengan aspek sosial, ekonomi, 

budaya, dan aspek lainnya. Masalah kemiskinan pada rumah tangga miskin kronis bisa memicu  

rumah tangga ini  terjerat ”Poverty Traps”. Rumah tangga miskin akan semakin sulit keluar dari 

poverty traps jika terdapat masalah struktural pada rumah tangga ini . Sulawesi Utara merupakan 

salah satu provinsi di negara kita  yang tidak luput dari masalah kemiskinan rumah tangga, yaitu 

kemiskinan yang dialami oleh rumah tangga desil 1 atau kondisi rumah tangga yang benar-benar sangat 

miskin. Tujuan Penelitian untuk mengetahui pengaruh tingkat pendidikan, kesehatan dan kepemilikan 

aset terhadap kemiskinan rumah tangga di Sulawesi Utara. Teknik analisis yang digunakan yaitu  

analisis regresi berganda. Hasil penelitian yang didapat pendidikan berpengaruh negatif signifikan 

terhadap kemiskinan rumah tangga. Kesehatan berpengaruh negatif signifikan terhadap kemiskinan 

rumah tangga. Kepemilikan aset berpengaruh positif signifikan terhadap kemiskinan.