Tampilkan postingan dengan label Tidak mampu 5. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tidak mampu 5. Tampilkan semua postingan

Senin, 13 Oktober 2025

Tidak mampu 5


 


berdasar  analisis data dan pembahasan, maka dirumuskan beberapa kesimpulan 

yaitu: 

1. Strategi pemberdayaan warga  di Kecamatan Mariso Kota Makassar, dapat dilakukan 

dengan beberapa langkah sebagai berikut: (i) Penetapan dan pengenalan wilayah kerja; (ii) 

Sosialisasi kegiatan; (iii) Penyadaran warga ; (iv) Pengorganisasian warga ; (v) 

Pelaksanaan kegiatan dan (vi) Advokasi kebijakan. 

2. Sebagian warga  yang bermukim di lorong-lorong Kota Makassar tetap miskin 

walaupun sudah ada beberapa program pemberdayaan yang diberikan sebab   warga  

lorong ini  memiliki sifat malas dalam bekerja, serta cenderung pasrah kepada nasib. 

Selain itu, mereka juga memiliki tingkat keterampilan yang rendah sehingga sulit untuk 

mendapatkan pekerjaan yang dapat menopang kehidupan mereka. 

3. Hasil penelitian ini menghasilkan beberapa saran sebagai yaitu pemerintah setempat   perlu 

melakukan pendataan terhadap jumlah rumah tangga miskin khususnya di Kecamatan 

Mariso Kota Makassar, untuk kemudian mencari solusi pemberdayaan yang dapat 

memandirikan keluarga miskin ini . pemerintah setempat   Kecamatan Mariso perlu melakukan 

pendataan terhadap jumlah perusahaan yang berlokasi di Kecamatan Mariso untuk 

kemudian mendorong perusahaan ini  untuk melaksanakan tanggungjawab sosial 

mereka terharap warga  miskin yang ada di Kecamatan Mariso ini . 


Kemiskinan digambarkan sebagai ketidakmampuan untuk memenuhi 

kebutuhan 

pokok sebab   kurangnya pendapatan, sehingga semakin sulit untuk menjamin kelangsungan 

hidup .saat    tingkat kemiskinan suatu negara tinggi, daya beli warganya 

menurun yang berdampak negatif pada pertumbuhan ekonomi .Penelitian 

ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pertumbuhan ekonomi terhadap tingkat kemiskinan 

di Kota Makassar,dan untuk mengetahui pengaruh pengangguran terhadap tingkat kemiskinan 

di Kota Makassar dengan memakai   data primer dan data sekunder teknik pengumpulan 

data studi kepustakaan dan wawancara kemudian di analisis secara kualitatif .Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ketidakmampuan akses pendidikan dan kesehatan 

dan lapangan kerja secara layak selanjutnya berdampak pada naiknya jumlah pengangguran 

pada angkatan kerja. Dengan kata lain, kemiskinan bisa berdampak pada pengangguran serta 

kurangnya pendapatan, dan selanjutnya pengangguran itu sendiri menjadikan terbentuknya 

warga  miskin 

Istilah kemiskinan muncul pada saat seseorang atau sekelompok orang tidak mampu 

mencukupi tingkat kemakmuran ekonomi yang dianggap sebagai kebutuhan minimal dari 

standar hidup tertentu. Kemiskinan dapat dilihat sebagai keadaan kekurangan sumber daya 

uang dan barang untuk dapat menjamin kebutuhan dasar dalam kehidupan.Pengertian 

kemiskinan menurut BPS (2008) yaitu  “Suatu kondisi miskin sebab   pengaruh kebijakan 

pembangunan yang belum mampu menjangkau seluruh lapisan warga  sehingga 

menyebabkan ketimpangan distribusi pendapatan”..Kehidupan yang 

sejahtera merupakan kehidupan yang diinginkan oleh semua manusia. Akan namun  , tidak semua 

orang dapat merasakan hidup secara sejahtera. Salah satu cara yang dapat dilakukan suatu 

negara untuk meningkatkan kesejahteraan rakyatnya yaitu  dengan melakukan pembangunan, 

salah satunya pada bidang ekonomi, dimana pertumbuhan ekonomi menjadi indikatornya. 

sumber daya manusia merupakan input yang 

berperan penting dalam pembangunan ekonomi, dimana pembangunan ini merupakan 

penyebab kesejahteraan suatu negara, yaitu pentingnya skala ekonomi dan juga kualitas 

manusia itu sendiri 

Kemiskinan merupakan fenomena sosial yang sifatnya multi- dimensi, tidak hanya 

dikaitkan dengan masalah ekonomi saja, namun   juga berkaitan dengan masalah-masalah sosial, 

budaya dan politik  Pemahaman terkait dimensi ekonomi berarti kemiskinan 

diartikan sebagai keterbatasan sumber-sumber ekonomi untuk mempertahankan kelangsungan 

hidup yang layak dalam istilah sosiologi disebut dengan kemiskinan absolut (. Fenomena kemiskinan ekonomi umumnya dikaitkan dengan kekurangan 

pendapatan untuk memenuhi kehidupan yang layak  dan bergantung pada apa 

yang terjadi pada distribusi pendapatan dan konsumsi  .Masalah kemiskinan ini terjadi hampir di setiap provinsi di Indonesia begitu juga yang 

terjadi di Sulawesi Selatan termasuk di Kota Makassar yang menjadi ibu Kota Provinsi dan 

salah satu kota metropolitan terbesar ke-lima di Indonesia. Dimana Makassar Menjadi sebagai 

pusat perekonomian, pendidikan, pariwisata dan industri kondisi demikian membuat 

warga  luar tertarik untuk datang dan tinggal di Makassar dengan harapan mendapatkan 

pekerjaan yang layak sehingga tidak heran jika pertumbuhan warga  kota makassar sangat 

pesat setiap tahunnya, warga  Kota Makassar saat ini sekitar 1.508.154 juta jiwa (BPS, 

2018) dengan begitu besarnya jumlah warga  akan dapat menimbulkan dampak-dampak 

negatif di warga  . Faktor lain yang menyebabkan kemiskinan yaitu  rendahnya Sumber Daya Manusia 

(SDM) yang disebabkan oleh rendahnya kualitas pendidikan yang dimilikinya. Penelitian yang 

dilakukan Chang dan Shi (2016) menunjukkan bahwa investasi pada SDM dapat meningkatkan 

pertumbuhan ekonomi melalui inovasi dan teknologi. Dengan adanya peningkatan modal SDM 

maka akan meningkatkan produktivitas yang pada akhirnya akan mengarah pada peningkatan 

pertumbuhan ekonomi. Dan hasil penelitian yang dilakukan Suliswanto (2010) menemukan 

hasil bahwa peningkatan kualitas SDM akan mampu memberikan pengaruh terhadap 

pengurangan angka kemiskinan. Pembentukan modal manusia yaitu  proses memperoleh dan 

meningkatkan jumlah orang yang memiliki keahlian, pendidikan dan pengalaman yang 

menentukan bagi pembangunan ekonomi dan politik suatu negara. Pembentukan modal 

manusia sebab  nya dikaitkan dengan investasi pada manusia dan pengembangannya sebagai 

suatu sumber yang kreatif dan produktif 

Kemiskinan sampai hari ini masih menjadi persoalan sosial klasik yang selalu muncul 

dan dialami oleh setiap wilayah . Oleh sebab   itulah dalam kondisi 

yang urgen maka setiap wilayah yang di dalamnya diselenggarakan oleh satuan pemerintahan 

dituntut untuk mengatasi permasalahan ini . Kemiskinan bukan merupakan persoalan 

sosial yang mudah untuk diselesaikan, namun menuntut berbagai pihak untuk melakukan 

berbagai inovasi kebijakan yang dapat menanggulangi kemiskinan 

dalam penelitiannya mengungkapkan bahwa indeks pembangunan 

manusia (IPM) sangat berpengaruh terhadap kemiskinan, jika IPM suatu daerah tinggi maka 

kemiskinan di daerah ini  rendah. Kemiskinan yaitu  persoalan yang sangat kompleks dan 

kronis yang membutuhkan analisis serta variabel yang tepat dalam rangka penanggulangan 

kemiskinan 

Pengangguran yaitu  masalah makroekonomi yang mempengaruhi manusia secara 

langsung dan merupakan yang paling berat. Bagi kebanyakan orang, kehilangan pekerjaan 

berarti penurunan standar kehidupan dan tekanan psikologis , pengangguran yaitu  seseorang yang sudah digolongkan 

dalam angkatan kerja, yang secara aktif sedang mencari pekerjaan pada suatu tingkat upah 

tertentu, tetepi belum meperoleh pekerjaan yang diinginkannya 

Pengangguran terbuka merupakan bagian dari angkatan kerja yang tidak bekerja atau 

sedang mencari pekerjaan (baik bagi mereka yang belum pernah bekerja maupun yang sudah 

pernah bekerja), atau sedang mempersiapkan suatu usaha, mereka yang tidak mencari 

pekerjaan sebab   merasa tidak mungkin untuk mendapatkan pekerjaan dan mereka yang sudah memiliki pekerjaan dan mereka yang sudah memiliki pekerjaan namun   belum mulai bekerja 

Angka pengangguran masih menjadi persoalan bangsa, hal ini kelihatan dari data 

statistik warga  usia kerja yang belum terserap lapangan kerja 

Kemiskinan dan pengangguran merupakan sebuah permasalahan besar di setiap bangsa sampai 

di daerah, disebab  kan dua hal ini  mempunyai pengaruh nyata bagi warga  dan bangsa 

ini . Dalam hal menanggulangi tingkatan kemiskinan juga pengangguran, yang dijadikan 

sebagai fokus tujuan yaitu  cara wujud penanggulangan dalam menambah tingkat penghasilan 

secara rata dan jalan yang mudah dalam mendapatkan pendidikan, air, dan kesehatan, serta 

lain-lain . 

Ketimpangan pendapatan di tengah warga  berdampak kepada terbentuknya jurang 

kemiskinan . Kemiskinan itu sendiri merupakan persoalan pada setiap negara, 

dan seringkali menjadi permasalahan yang nyaris tidak ada ujungnya. Kemiskinan akan 

berakibat pada turunnya taraf hidup warga  sehingga berdampak pada terbatasnya 

pemenuhan kebutuhan setiap hari 

Kemiskinan sebagai perma-salahan yang terjadi di berbagai belahan dunia sering dikaitkan 

dengan isu ketimpangan pendapatan . Menurut

hubungan antara ketimpangan dan kemiskinan merupakan hubungan yang pragmatis, yaitu 

bahwa ketimpangan menyebabkan kemiskinan semakin parah atau ketimpangan yaitu  bentuk 

dari kemiskinan. Pada tulisan  menyatakan bahwa ada 

hubungan positif antara kemiskinan dengan ketimpangan. Hal ini  juga searah dengan 

statistik yang menunjukkan bahwa memburuknya ketimpangan sejalan dengan statistik yang 

menunjukkan kecenderungan peningkatan kemiskinan 

Upaya menurunkan tingkat pengangguran dan menurunkan tingkat kemiskinan sama 

pentingnya. Secara teori jika warga  tidak menganggur berarti mempunyai pekerjaan dan 

penghasilan, dan dengan penghasilan yang dimiliki dari bekerja diharapkan dapat memenuhi 

kebutuhan hidup. Jika kebutuhan hidup terpenuhi, maka tidak akan miskin. Sehingga dikatakan 

dengan tingkat pengangguran rendah (kesempatan kerja tinggi) maka tingkat kemiskinan juga 

rendah 

Faktor yang mempengaruhi perluasan kesempatan kerja antara lain: perkembangan jumlah 

warga  dan angkatan kerja, pertumbuhan ekonomi dan kebijakan mengenai perluasan 

kesempatan kerja itu sendiri. Tenaga kerja merupakan salah satu faktor produksi yang sangat penting disamping sumber alam, modal dan teknologi 

Dalam mencapai suatu kesejahteraan, dibutuhkan keseimbangan antara angkatan kerja 

dan kesempatan kerja, namun yang terjadi di Indonesia jumlah angkatan kerja lebih banyak 

dari pada kesempatan kerja, hal ini berdampak pada terjadinya kenaikan 

pengangguran

Pertumbuhan ekonomi merupakan keharusan bagi pengurangan kemiskinan, namun di lain sisi 

pertumbuhan yang berkualitas harus efektif mengurangi kemiskinan. Artinya, pertumbuhan 

ekonomi seharusnya menyebar di setiap golongan pendapatan, termasuk golongan warga  

miskin. Oleh sebab   itu, pertumbuhan seharusnya dipastikan terjadi di sektor-sektor dimana 

warga  miskin bekerja 

Keberhasilan pembangunan ekonomi di suatu negara dapat diukur melalui tinggi 

rendahnya pertumbuhan ekonomi. Pelaksanaan pembangunan ekonomi nasional tidak bisa 

dipisahkan dengan pelaksanaan pembangunan daerah. Pembangunan daerah menjadi upaya 

pencapaian target pembangunan nasional. Pertumbuhan ekonomi yaitu  indikator yang sangat 

penting untuk melangkah ke tahapan kemajuan selanjutnya, yaitu kesempatan kerja dan 

produktivitas serta distribusi pendapatan 

Pertumbuhan ekonomi tidaklah cukup untuk mengentaskan kemiskinan, namun 

pertumbuhan ekonomi juga sangat dibutuhkan untuk menekan kemiskinan, meskipun begitu 

pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak serta merta menurunkan jumlah warga  miskin jika 

tidak diiringi dengan pemerataan pendapatan 

Pertumbuhan dalam perekonomian yaitu peningkatan kualitas beserta kuantitas produk 

maupun jasa yang diproduksi oleh negara dari suatu tahun ke tahun. Hal ini dapat diukur 

dengan indikator seperti pendapatan nasional suatu negara, pendapatan per kapita, angkatan 

kerja yang lebih tinggi daripada jumlah pengangguran dan kemiskinan yang menurun 

Berbagai kebijakan dan program penanggulangan kemiskinan oleh pemerintah setempat   ini  

akan bergantung pada ketersediaan dan mekanisme penggunaan anggaran yang dimiliki oleh 

daerah  menyatakan bahwa upaya penanggulangan 

kemiskinan tidak akan berjalan dengan baik jika tidak didukung oleh kebijakan anggaran yang 

menunjukkan keberpihakan pada warga  miskin (pro- poor budget)  menjelaskan alasan adanya pengangguran yaitu  dibutuhkan waktu 

untuk mencocokkan antara para pekerja dengan pekerjaan. Dalam kenyataannya para pekerja 

memiliki preferensi dan kemampuan yang berbeda, dan pekerjaan memiliki karakteristik yang 

berbeda. Sementara arus informasi tentang calon karyawan dan lowongan kerja tidak 

sempurna, serta mobilitas geografis pekerja tidak instan. Atas dasar alasan ini, mencari 

pekerjaan yang tepat membutuhkan waktu serta usaha disebabkan pekerjaan yang berbeda 

membutuhkan keahlian yang berbeda serta upah yang juga berbeda  menyatakan bahwa : “Kesejahteraan yaitu  sebuah kondisi 

dimana seorang dapat memenuhi kebutuhan pokok, baik itu kebutuhan akan makanan, pakaian, 

tempat tinggal, air minum yang bersih serta kesemapatan untuk melanjutkan pendidikan dan 

memiliki pekerjaan yang memadai yang dapat menunjang kualitas hidupnya sehingga 

hidupnya bebas kemiskinan, kebodohan, ketakutan, atau kekhawatiran sehingga hidupnya 

aman, tentram, baik lahir maupun batin”.Kesejahteraan warga  menengah kebawah dapat 

dipresentasikan dari tingkat hidup warga , tingkat hidup warga  ditandai dengan 

terentasnya dari kemiskinan, tingkat kesehatan yang lebih baik, perolehan tingkat pendidikan 

yang lebih tinggi, dan tingkat produktifitas warga . Badan Pusat Statistik (2010), warga  

miskin yaitu  warga  yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan dibawah 

garis kemiskinan. Garis kemiskinan didasarkan pada pendapatan mempertimbangkan pada 

dimensi kesejahteraan. 

Namun,ukuran ini justru tidak menggambarkan batas kemiskinan yang sebenarnya. 

Perbedaan antar daerah juga merupakan ciri kemiskinan, diantaranya tercermin dengan adanya 

perbedaan antara daerah perdesaan dan perkotaan  

Teori-teori kemiskinan pada umumnya bermuara pada dua paradigma besar yang juga 

berpengaruh pada pemahaman mengenai kemiskinan dan penanggulangan kemiskinan. Dua 

paradigma yang dimaksud yaitu  Neo-Liberal dan Demokrasi-sosial. Dua paradigma ini 

memiliki perbedaan yang sangat jelas terutama dalam melihat kemiskinan maupun dalam 

memberikan solusi penyelesaian masalah kemiskinan. Paradigma yang dimaksud yaitu  

sebagai berikut:

1. Paradigma Neo-Liberal 

Pada paradigma ini individu dan mekanisme pasar bebas menjadi fokus utama dalam 

melihat kemiskinan  Pendekatan ini menempatkan kebebasan individu 

sebagai komponen penting dalam suatu warga . Oleh sebab   itu dalam melihat kemiskinan, 

pendekatan ini memberikan penjelasan bahwa kemiskinan merupakan persoalan individu yang 

merupakan akibat dari pilihan-pilihan individu. 

Bagi pendekatan ini strategi penanggulangan kemiskinan bersifat sementara dan peran negara 

sangat minimum. Peran negara baru dilakukan bila institusi-institusi di warga , seperti 

keluarga, kelompok-kelompok swadaya, maupun lembaga-lembaga lainnya tidak mempu lagi 

menangani kemiskinan. Paradima neo-liberal ini digerakan oleh Bank Dunia dan telah menjadi 

pendekatan yang digunakan oleh hampir semua kajian mengenai kemiskinan. Teori-teori 

modernisasi yang menekankan pada pertumbuhan ekonomi dan produksi merupakan dasar 

teori-teori dari paradigm ini . Kelemahan paradigma ini yaitu  terlalu 

memandang kemiskinan hanya melalui pendapatan dan kurang melibatkan orang miskin 

sebagai subyek dalam permasalahan kemiskinan  Hal ini mengakibatkan 

bentuk- bentuk kemiskinan yang muncul dalam warga  kurang mendapatkan perhatian. 

2. Paradigma Demokrasi-Sosial 

Paradigma ini tidak melihat kemiskinan sebagai persoalan individu,melainkan lebih 

melihatnya sebagai persoalan structural 

Ketidakadilan dan ketimpangan dalam warga lah yang mengakibatkan kemiskinan ada 

dalam warga . Bagi pendekatan ini tertutupnya akses-akses bagi kelompok tertentu 

menjadi penyebab terjadinya kemiskinan. Pendekatan ini juga menekankan pada kesetaraan 

sebagai prasyarat penting dalam memperoleh kemandirian dan kebebasan 

Kemandirian dan kebebasan ini akan tercapai jika setiap orang memiliki atau mampu 

menjangkau sumber-sumber bagi potensi dirinya, seperti pendidikan, kesehatan yang baik dan 

pendapatan yang cukup. Peran negara dalam pendekatan ini cukup penting terutama dalam 

merumuskan strategi untuk menanggulangi kemiskinan. Bagi pendekatan ini kemiskinan harus 

ditangani secara institusional (melembaga), misalnya melalui program jaminan sosial. 

Kelemahan teori ini yaitu  adanya ketergantungan yang tinggi pada negara dalam membentuk 

struktur dan institusi untuk menanggulangi kemiskinan. Padahal pencapaian pembentukan 

struktur dan institusi yang tepat dalam menangani kemiskinan itu sendiri tergantung pada 

kapabilitas kelompok miskin. Penggunaan kemiskinan relatif dalam pendekatan ini juga lebih 

menyulitkan dalam membentuk kebutuhan standar yang diperlukan oleh kelompok miskin. Hal

ini disebab  kan kemiskinan tidak dilihat dari kebutuhan minimal yang harus dicapai tapi lebih 

pada rata-rata kemampuan warga  dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.

 mengemukakan bahwa pengangguran akan menimbulkan 

efek mengurangi pendapatan warga  dan itu akan mengurangi tingkat kemakmuran yang 

telah dicapai. Dimana, semakin turunnya tingkat kemakmuran akan menimbulkan masalah 

yaitu kemiskinan 

Pertumbuhan ekonomi Kota Makassar dalam lima tahun terakhir mengalami fluktuasi 

yang tidak terlepas dari pengaruh perkembangan ekonomi secara nasional dan global. Batas 

garis kemiskinan warga  Kota Makassar mengalami kenaikan seiring dengan meningkatnya 

harga kebutuhan makanan dan non makanan warga . 

Pertumbuhan ekonomi menunjukkan sejauh mana aktivitas perekonomian yang dapat 

menghasilkan tambahan pendapatan atau kesejahteraan warga  pada periode tertentu. 

Pertumbuhan ekonomi suatu negara atau suatu wilayah yang terus menunukkan suatu 

peningkatan menggambarkan bahwa perkonomian negara atau wilayah ini  berkembang 

dengan baik. Sebaliknya apabila perekonomian ini  tidak dapat berkembang dengan baik 

hal terburuk yang akan muncul yaitu  masalah pengangguran. Hasil penelitian ini sejalan 

dengan hasil dari penelitian

menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi berpengaruh negative dan signifikan terhadap 

pengangguran 

Pendidikan memiliki peran penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegaradalam 

upaya menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas. Pendidikan merupakan merupakan 

faktor kebutuhan dasar untuk setiap manusia sehingga upaya mencerdaskan kehidupan bangsa, 

sebab   melalui Pendidikan upaya meningkatan kesejahteraan rakyat dapat diwujudkan. Pedidikan mempengaruhi secara penuh pertumbuhan ekonomi suatu negara atau daerah hal ini 

bukan saja sebab   pendidikan akan berpengaruh terhaap produktivitas, namun   juga akan 

berpengaruh vertilitas warga . Pendidikan dapat menjadikan sumberdaya manusia lebih 

cepat mengerti dan siap mengahdapi perubahan dan pembangunan suatu negara. Kegiatan 

ekonomi di warga  membutuhkan tenaga kerja. Kebutuhan akan tenaga kerja ini dapat juga 

disebut sebagai kesempatan kerja. Kesempatan kerja itu sendiri yaitu  suatu keadaan yang 

menggambarkan terjadinya lapangan kerja (pekerjaan) untuk diisi pencari kerja. Hasil dari 

penelitian ini sejalan dengan penelitian menurut  bahwa pendidikan 

berpengaruh signifikan terhadap pengangguran 

Hasil Wawancara 

Hasil wawancara diperoleh dari warga  lorong kategori miskin di Kecamatan 

Mariso Kota Makassar didapatkan bahwa mereka pasrah dari keadaan akibat ketidak mampuan 

dari sesi pendidikan dan pengetahuan menyebabkan pesimis dan berdampak kepada sifat 

malas, warga  lorong juga memiliki tingkat keterampilan yang sangat rendah. Bahkan 

dapat dikatakan bahwa mereka itu sama sekali tidak memiliki keterampilan yang dapat 

menopang usahanya. Pekerjaan sebagai tukang becak sudah menjadi tradisi yang secara turun￾temurun diwariskan kepada anak-anaknya dan tampaknya tidak ada pilihan lain kecuali bekerja 

sebagai tukang becak atau sebagai pembantu rumah tangga bagi istri-istri mereka. Dengan 

begitu maka tingkat penghasilan mereka sangat rendah dan tingkat ketergantungan kepada 

orang lain sangat tinggi 

Hasil wawancara dari para informan baik toko warga  ibu Ketua RT setempat 

maupun aparat menyatakan kemiskinan warga  ini  diakibatkan sebab   memiliki Sifat 

malas untuk mengembangkan diri menjadi maju serta tingkat keterampilan yang sangat rendah 

yang mereka miliki. Hal ini memerlukan perhatian yang serius dari pemerintah setempat   Kota Makassar. 

Kekurang-berhasilan dari praktek-praktek pemberdayaan warga  yang dilakukan oleh 

pemerintah setempat   kota terhadap mereka, menuntut untuk ditemukannya strategi atau model 

pemberdayaan yang sesuai dengan keadaan mereka itu. Perlu ada strategi pemberdayaan baru 

yang sesuai dengan kondisi mereka itu, untuk keluar dari lingkaran kemiskinan. 

Memperhatikan karakteristik warga  lorong sebagaimana diuraikan diatas, maka strategi 

pemberdayaan yang perlu dilaksanakan yaitu  pembangunan yang berpusat pada rakyat miskin 

ini . 

Strategi Pemberdayaan warga  yang bermukim di lorong-lorong Kecamatan 

Mariso Kota Makassar yang masih berada dalam kategori miskin mempunyai sifat malas. 

Mereka tidak memiliki apa yang disebut oleh Mclelland sebagai dorongan untuk berhasil. 

Bantuan-bantuan yang pernah diberikan kepada mereka baik yang berasal dari pemerintah setempat   kota maupun dari perusahaan sebagai tanggung jawab sosial dari perusahaan-perusahaan tidak dapat 

dimanfaatkan dengan baik. Sudah banyak jenis bantuan yang diberikan oleh pemerintah setempat   baik 

berupa uang seperti yang dikenal dengan Bantuan langsung Tunai (BLT) atau dalam bentuk 

modal usaha tanpa angunan dengan bungan ringan. 

Salah satu faktor determinan yang dimaksudkan dalam tulisan ini yaitu  perubahan 

struktur sosial warga  dalam sistem sosial. Sistem sosial disini yaitu  sistem ekonomi dan 

politik. Dikatakan demikian sebab   diketahui bahwa dalam komunitas, hubungan antara 

individu dan warga  yaitu  transaksional, refleksif atau interaktif, sehingga komunitas 

dapat mempengaruhi individu. sebab   itu, menjadi sangat penting untuk memahami posisi 

warga  yang opresif dalam konteks struktur sosial dan ekonomi di mana mereka hidup. 

Banyaknya sentra- sentra ekonomi di kawasan Kecamatan Mariso Kota Makassar merupakan 

bagian dari struktur ekonomi yang sudah memberikan dampak yang luas terhadap 

perekonomian di Kota Makassar. Sayangnya tidak semua warga  di Kecamatan Mariso 

Kota Makassar mampu memanfaatkan peluang untuk berkiprah dibalik usaha-usaha ekonomi 

dalam skala yang besar. Dengan keterampilan yang rendah yang mereka miliki itu, tidak dapat 

mengambil bagian di dalamnya sebagai aktor-aktor ekonomi apalagi mau bersaing dengan para 

pengusaha atau pemilik modal. Hasil pengamatan peneliti memperhatikan hubungan antara 

pedagang atau pengusaha sebagai pemilik modal dengan warga  miskin di Kecamatan 

Mariso Kota Makassar yang sangat jauh dari konsep simbiosis mutualisme ini  diharapkan 

perlu adanya peran pemerintah setempat   kota untuk menjembatani pola hubungan-hubungan mereka. 

Misalnya saja bagaimana supaya pihak pemodal ingin untuk memanfaatkan tenaga dari 

warga  miskin ini  untuk dipekerjakan sesuai dengan tingkat keterampilan yang 

mereka miliki. Mungkin saja mereka itu hanya diposisikan sebagai buruh atau sejenisnya, 

sehingga keberadaan komunitas pedagang atau pengusaha itu dapat memberikan manfaat 

ekonomi kepada warga  miskin. Dengan begitu, maka ada upaya dan merupakan salah satu 

strategi untuk memberdayakan warga  miskin ini . 

Melihat keadaan warga  yang sulit untuk keluar dari lilitan kemiskinan ini  

diperlukan keseriusan pemerintah setempat   kota untuk mencarikan solusi dari permasalahan sosial yang 

dihadapi ini . Sebagaimana diketahui bahwa telah banyak program-program 

pemberdayaan yang telah dilakukan oleh pemerintah setempat   namun   tetap saja posisi mereka dalam 

kategori miskin. Bantuan-bantuan dari pemerintah setempat  , Pada program pemberian beras miskin 

(Raskin), Bantuan Langsung Tunai (BLT), atau melalui Program Pemberdayaan warga  

Mandiri Perkotaan, bantuan lain yang dapat dilakukan yaitu  dengan membuat program bantuan modal yang bergulir dan berkelanjutan. Tujuan akhir dari program ini  yaitu  

untuk memandirikan warga  miskin, sehingga sekalipun program itu tidak lagi bergulir 

atau sudah selesai, warga  sasaran tetap dapat melanjutkan usahanya. 

Untuk mencapai tujuan ini  maka program pemberdayaan warga  miskin di 

Kelurahan Lette Kecamatan Mariso Kota Makassar dapat dilakukan dengan langkah-langkah 

sebagai berikut: (i) Penetapan dan pengenalan wilayah kerja; (ii) Sosialisasi kegiatan; (iii) 

Penyadaran warga ; (iv) Pengorganisasian warga ; (v) Pelaksanaan kegiatan; (vi) 

Advokasi kebijakan; (vii) Politisasi. 

Penyadaran warga ; dilakukan untuk menyadarkan masyarkat tentang” 

keberadaannya”, baik sebagai individu dan anggota warga , maupun kondisi 

lingkungannya yang menyangkut lingkungan fisik/teknis, sosial-budaya, ekonomi, dan politik. 

Penyadaran warga  yaitu  bersama-sama warga  melakukan analisis keadaan yang 

menyangkut potensi dan masalah, serta analisis faktor-faktor penyebab terjadinya masalah 

yang menyangkut kelemahan internal dan ancaman eksternalnya. Melakukan analisis akar￾masalah, analisis alternatif pemecahan masalah, serta pilihan alternatif pemecahan terbaik yang 

dapat dilakukan. Menunjukkan pentingnya perubahan untuk meperbaiki keadaannya, termasuk 

merumuskan prioritas perubahan, tahapan perubahan, cara melakukan dan mencapai 

perubahan, sumberdaya, yang diperlukan, maupun peran bantuan (modal, teknologi, 

manajemen, kelembagaan, dan lain- lain yang diperlukan. Determinan kemiskinan warga  

lorong atau faktor-faktor yang mempengaruhi kemiskinan warga  lorong selain sebab   

faktor struktural juga lebih disebabkan oleh faktor kultural. Sifat malas dan cepat pasrah kepada 

nasib yaitu  determinan utama kemiskinan mereka. Dikatakan demikian sebab   secara 

struktural, pemerintah setempat   kota telah berbagai upaya yang diberikan kepada mereka supaya berdaya 

dalam arti ekonomi namun   sebab   kultur yang dianutnya itu sehingga sulit untuk keluar dari 

jeratan kemiskinan. Sifat malas yang sudah menjadi kebiasaan dan secara turun-temurun itu 

juga diturunkan kepada anak-anaknya. Pada setiap hari, mereka yang bekerja sebagai tukang 

becak keluar rumah untuk mencari nafkah nanti pada pukul 09.00 Wita, dan saat    peneliti 

menanyakan berapa penghasilannya yang didapat setiap hari. Tukang becak itu, hanya 

menjawab bahwa penghasilan itu tergantung kepada nasib. Kalau lagi nasib baik maka 

penghasilan lancar, namun   kalau nasib buruk kadang-kadang untuk pembeli rokok pun sulit 

didapat. 

Uraian informan di atas menjelaskan bahwa nilai-nilai yang mereka anut sangat sulit 

untuk diubah. Upaya penyadaran tentang nilai-nilai instrumental yang memandang kerja untuk 

kerja dan mencari nafkah yang halal sebanyak mungkin, sangat sulit untuk mereka terima. Perlu waktu yang lama dalam memberikan edukasi kepada mereka tentang nilai-nilai kerja. 

Pendidikan yaitu  salah satu alternatif untuk mengubah pandangan mereka. 

Pemecahan Masalah melalui Proses Pemberdayaan (empowerment) mengesankan arti 

adanya sikap mental yang tangguh atau kuat. Menurut Rappaport (1985), praktek dan kegiatan 

yang berbasiskan pemberdayaan yaitu  bahasa pertolongan yang diungkapkan dalam bentuk 

simbol-simbol. Simbol-simbol ini  kemudian mengomunikasikan kekuatan yang tangguh 

untuk mengubah hal-hal yang terkandung dalam diri kita (inner space), orang-orang lain yang 

kita anggap penting, serta warga  di sekitar kita. Elaborasi dari pemikiran ini , secara 

keseluruhan, akan dapat memperkaya dan menjiwai pemahaman global mengenai 

pemberdayaan sehingga akan membawa dampak yang sangat luas, baik terhadap 

kecenderungan primer maupun sekunder dari makna pemberdayaan.



Sebagaimana diketahui, salah satu tujuan kebijakan pembangunan nasional yaitu  meningkatkan 

produksi yang disertai dengan penciptaan lapangan kerja baru yang seluas-luasnya dan pemerataan 

pendapatan (Wulandari & Arif, 2022). berdasar  uraian di atas, sudah sewajarnya lulusan 

perguruan tinggi/sekolah diajak untuk memahami secara realistis situasi terkini terkait masalah 

kesempatan kerja. Perlu juga disadari bahwa tanggung jawab mereka sepenuhnya bergantung pada 

mereka. Pembangunan pendidikan nasional ditujukan untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan 

bangsa Indonesia, khususnya dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa agar menjadi bangsa 

yang beradab dan mampu bersaing di dunia internasional . Salah satu upaya untuk mewujudkan tujuan 

pendidikan khususnya di perguruan tinggi dan sekolah yaitu  dengan mengembangkan dan mengimplementasikan mata pelajaran kewirausahaan sebagai mata pelajaran. Hal ini sejalan dengan 

pendapat Ciputra yang menyatakan bahwa pendidikan kewirausahaan akan mampu memberikan 

dampak nasional yang besar jika kita berhasil mendidik seluruh sekolah kita dan mampu 

menghasilkan empat juta wirausahawan baru dari lulusan lembaga pendidikan Indonesia selama 25 

tahun mendatang.

Perguruan tinggi pada dasarnya yaitu  wadah untuk mencetak sarjana-sarjana yang siap 

menyumbangkan pemikirannya untuk kemajuan Indonesia, namun pada kenyataannya mereka hanya 

mampu mencetak “pengangguran” yang jumlahnya semakin meningkat. Jumlah “pengangguran” dari 

tahun ke tahun mengalami peningkatan, sedangkan jumlah lapangan pekerjaan yang tersedia tidak 

mampu menyerap jumlah lulusan yang selalu meningkat setiap tahunnya. Minimnya partisipasi 

perguruan tinggi untuk mengembangkan jiwa kewirausahaan inilah yang mematikan jiwa 

kewirausahaan calon sarjana. Pendidikan kewirausahaan sebenarnya sudah ada sejak lama. Sejak 

beberapa tahun lalu, sejumlah perguruan tinggi telah mendirikan dan menyelenggarakan kursus 

kewirausahaan. Sejumlah sekolah menengah juga melakukan hal yang sama. Namun, kelahiran 

kewirausahaan di Indonesia masih jauh dari harapan.

Menurut Depdiknas (2010), pendidikan kewirausahaan di Indonesia masih kurang mendapat perhatian 

yang memadai, baik dari dunia pendidikan maupun warga  itu sendiri. Menurut Sanjaya (2009),

Strategi pembelajaran kewirausahaan di Indonesia belum mampu melahirkan wirausaha baru seperti 

yang diharapkan. Pasalnya, strategi pembelajaran di Indonesia masih sangat condong ke arah 

pembelajaran yang berpusat pada guru. Pembelajaran yang berpusat pada guru yaitu  sistem 

pembelajaran yang menjadikan guru sebagai pusat dan sumber utama gagasan. Seperti yang kita 

pahami bersama, pengertian kewirausahaan itu sendiri menurut para ahli pendidik kewirausahaan 

yaitu  jiwa yang memiliki motivasi tinggi, toleran terhadap resiko tinggi, selalu ingin berprestasi, 

pantang menyerah, mampu menciptakan peluang, kreatif, dan percaya diri dan memiliki jiwa 

kepemimpinan yang tinggi. Karakter wirausaha sangat cocok sebagai modal untuk sukses di era 

global saat ini. Mengembangkan karakter wirausaha tidak berarti menciptakan pedagang atau 

wirausahawan, namun   lebih dari itu, jiwa wirausaha ini dipandang sebagai sifat karakter yang memiliki 

kekuatan pribadi dalam menghadapi tantangan dunia (Prasetyo, Aeny, & Amelia, 2021). Seseorang 

dengan karakter wirausaha ini diharapkan dapat menjadi motor penggerak kemajuan bangsa.

Merujuk pada Schumpeter, kewirausahaan didefinisikan sebagai “creative destruction” (Drucker, 

1985). Definisi ini menekankan bahwa konsep kewirausahaan bersifat kreatif. Kreativitas mendorong 

pada inovasi dan menjadi alat utama dalam memanfaatkan peluang yang ada. Wirausaha akan selalu 

mencari perubahan dan meresponnya, serta memanfaatkannya sebagai peluang untuk menciptakan 

nilai dan menyelesaikan masalah. Keuntungan yang diperoleh dari aktivitas wirausaha dikembangkan 

dan disitribusikan kembali kepada warga , khususnya kelompok warga  berisiko (warga  

miskin) melalui kegiatan yang berdampak sosial atau positif (Haryadi & Waluyo, 2006).

Di sini penulis telah merangkum berbagai literatur. Secara umum, tujuan pendidikan kewirausahaan 

yaitu : a. Membangkitkan Jiwa Kemandirian Menurut Hendro dalam karyanya The Basics of 

Entrepreneurship, “Pendidikan kewirausahaan atau entrepreneurship dalam dunia pendidikan, salah 

satu tujuan dan manfaatnya yaitu  menumbuhkan sikap unggul dan perilaku positif dan kreatif. Juga 

sebagai bekal ilmu untuk mencari nafkah, bertahan dan berkembang.” 17 Belajar dan berlatih 

berwirausaha atau berwirausaha yaitu  solusi terbaik untuk menghadapi masa depan, mengingat 

persaingan bisnis semakin ketat sementara lahan pertanian dan perkebunan juga semakin sempit, jadi 

alangkah bijaknya. untuk berada disana.

Jika sejak dini para pelajar dan pemuda telah mempersiapkan diri dan belajar tentang berbagai hal 

yang berkaitan dengan berwirausaha atau berwirausaha, maka kemandirian dan kesuksesan hanya 

milik orang-orang yang memiliki niat yang kuat dan keberanian untuk mencoba, mengambil resiko, 

tidak mudah menyerah, dan menyerah. Orang yang mandiri secara mental tidak akan melihat 

kesulitan sebagai hambatan namun   sebagai tantangan dan peluang. Jika Anda tidak berani mencoba, meskipun ada kesempatan, berarti Anda telah gagal. Tidak ada kegagalan dalam berwirausaha atau 

dalam berwirausaha. Saat mengalami kegagalan, anggap itu sebagai pengalaman, pelajaran, dan 

informasi berharga untuk sukses.

a. Mengurangi tingkat pengangguran

Pendidikan kewirausahaan bertujuan untuk mengurangi pengangguran. Ilmu dalam pendidikan 

kewirausahaan bukanlah ilmu ajaib yang mendatangkan uang dalam sekejap, melainkan ilmu, seni, 

dan keterampilan untuk mengelola semua sumber daya, informasi, dan dana yang terbatas untuk 

menopang hidup, mencari nafkah, atau mencapai posisi puncak dalam berkarir. Setiap tahun, lulusan 

perguruan tinggi dan yang sederajat jumlahnya jutaan. Kebanyakan dari mereka berorientasi pada 

mencari pekerjaan. Itupun belum ditambah dengan lulusan tahun sebelumnya yang belum 

mendapatkan pekerjaan. bergabung dengannya bisa 20% (satu mitra dan satu karyawan). Jumlah 

pencari kerja untuk angkatan tahun itu otomatis berkurang 30%. Jika hanya segelintir lulusan yang 

setuju, berwirausaha bisa menjadi pilihan yang layak untuk mengurangi pengangguran, yang saat ini 

cukup tinggi.

Pendidikan kewirausahaan akan memberikan dampak strategis bagi kemajuan bangsa Indonesia di 

masa depan. "Masa depan yaitu  saat saat    orang berpikir di luar kotak." Artinya orang tidak hanya 

terdorong menuju suatu cara atau suatu tempat namun   juga berani mencoba mencari alternatif baru 

dengan menggabungkan berbagai macam pengetahuan. Dengan kata lain, manusia harus lebih kreatif 

dalam menghadapi berbagai masalah sehingga dapat mengurangi pengangguran.

b. Menumbuhkan Jiwa Wirausaha di warga 

Wirausahawan dapat dikategorikan sebagai orang yang berjiwa tangguh, berdaya saing, dan pandai 

mencari peluang. Semangat kewirausahaan yang tidak pernah padam ini sangat baik jika dapat 

ditularkan kepada warga  sebagai tujuan kewirausahaan selanjutnya. Tujuan berwirausaha yaitu  

untuk menumbuhkan jiwa wirausaha di warga  dan dapat diwujudkan dengan cara yang sangat 

sederhana yaitu dengan menjadi seperti seorang wirausahawan. Sikap ini tentunya akan menginspirasi 

dan memotivasi warga  untuk mencoba berwirausaha. Sikap tegar dan tidak mudah menyerah 

juga harus ditunjukkan agar cita-cita wirausaha ini dapat membangun semangat generasi muda di 

warga  untuk mau bekerja keras meraih kesuksesan. Upaya Perguruan Tinggi Dorong 

Wirausahawan Upaya meningkatkan gaung kewirausahaan di perguruan tinggi erat kaitannya dengan 

unsur-unsur yang berperan di dalamnya, misalnya tenaga pendidik yang paling concern menangani 

kewirausahaan di perguruan tinggi.

Bukti nyata dari kebijakan pemerintah setempat   ini yaitu  memasukkan mata kuliah kewirausahaan dalam 

kurikulum pembelajaran khususnya pada jenjang perguruan tinggi, dimana jenjang ini merupakan 

tahapan akhir sebelum mahasiswa memasuki dunia kerja yang sebenarnya. Banyaknya pengangguran 

dan kurangnya minat berwirausaha merupakan indikator otokritik terhadap peran perguruan tinggi. 

Perguruan tinggi memiliki peran yang besar dan berpeluang untuk menanamkan sikap mental 

wirausaha sehingga lulusannya tidak hanya ahli dalam bidang akademik namun   juga mampu 

melahirkan wirausahawan baru yang siap menjadi pahlawan ekonomi. Menurut  ada 

beberapa langkah yang dapat dilakukan dalam menciptakan wirausaha di perguruan tinggi, antara 

lain:

a. Memasukkan kurikulum kewirausahaan ke dalam kurikulum pendidikan. Dengan memasukkan 

kurikulum kewirausahaan, diharapkan perguruan tinggi sebagai lembaga pendidikan berorientasi 

pada menghasilkan sumber daya manusia (wirausahawan).

b. Membangun laboratorium kewirausahaan. Dengan adanya laboratorium kewirausahaan, 

mahasiswa dapat langsung mempraktekkan ilmu yang telah diterimanya. Jadi ada penggabungan 

teori dan praktek. Kurikulum saat ini pada dasarnya hanya menekankan salah satunya. 

Laboratorium kewirausahaan tentunya akan mampu memberikan gambaran yang jelas tentang 

praktik kewirausahaan. Pengetahuan mahasiswa tentang ekonomi, kewirausahaan, dan bisnis 

hanya sebatas teori. Sikap pesimis mahasiswa terhadap ketiga hal ini , yang tidak dapat 

dipraktikkan secara holistik, dapat terhapus dengan adanya laboratorium ini.c. Memberikan pendidikan kewirausahaan dengan mengadakan pelatihan kewirausahaan di 

perguruan tinggi yang tidak hanya ditujukan kepada mahasiswa namun   juga dosen. 

d. Memberikan bantuan kepada pengusaha muda dalam bentuk dana lunak. Saat ini perhatian 

pemerintah setempat   dan perguruan tinggi terhadap mahasiswa yang akan membuka usaha atau yang 

sedang membuka usaha masih sangat minim. Padahal, dengan memberikan perhatian yang besar 

kepada para pengusaha muda ini, seperti bantuan dana seperti pinjaman lunak, mereka akan 

mampu memotivasi mahasiswa untuk membuka dan mengembangkan usahanya.

e. KKN Kewirausahaan Asli yang bertujuan mendekatkan mahasiswa dengan warga  dengan 

melakukan pengabdian langsung kepada warga  ternyata tidak sesuai dengan yang 

diharapkan. Hanya sebagian kecil siswa yang mampu secara aktif terlibat langsung di warga  

dan menerapkan ilmunya secara optimal, sedangkan sebagian lainnya pasif. Oleh sebab   itu, 

mengubah KKN menjadi “Kewirausahaan Sejati” nampaknya menjadi solusi yang tepat, dimana 

mahasiswa sudah memiliki program yang jelas sebelum terjun ke lapangan dan tanpa perlu 

“tinggal” di warga . Di sini mahasiswa berperan sebagai pembimbing dan juga terlibat dalam 

kegiatan wirausaha di warga ; kedudukan dosen sebagai pembimbing bagi mahasiswa

c. Menumbuhkan Jiwa Wirausaha Mahasiswa 

Perguruan tinggi sebagai lembaga pendidikan harus memiliki peran utama dalam menumbuhkan jiwa 

wirausaha pada mahasiswanya dengan memberikan dorongan nyata bagi terciptanya lulusan yang 

berjiwa wirausaha. Langkah awal yang bisa dilakukan jika Anda tertarik untuk terjun ke dunia bisnis 

yaitu  dengan menumbuhkan jiwa wirausaha pada diri mahasiswa. Menurut Nuriasari (2013), ada 

banyak cara untuk melakukannya, misalnya melalui:

a. Sekolah formal Berbagai lembaga pendidikan, baik menengah maupun tinggi, menawarkan 

berbagai program atau setidaknya kursus kewirausahaan.

b. Workshop kewirausahaan Berbagai seminar kewirausahaan sering diadakan dengan mengundang 

para pakar dan praktisi kewirausahaan, sehingga melalui media ini dapat membangun jiwa 

kewirausahaan di kalangan mahasiswa.

c. Pelatihan. Berbagai simulasi bisnis biasanya diberikan melalui pelatihan, baik indoor maupun 

outdoor. Melalui pelatihan ini, keberanian dan daya tanggap mahasiswa terhadap dinamika 

perubahan lingkungan akan diuji dan selalu ditingkatkan dan dikembangkan.

d. otodidak. Melalui berbagai media, mahasiswa dapat menumbuhkan jiwa wirausaha. Misalnya 

melalui biografi pengusaha sukses (success story), televisi, radio, majalah, surat kabar, dan 

berbagai media yang dapat diakses untuk mengembangkan jiwa dan semangat kewirausahaan. 

Melalui berbagai media ini , ternyata setiap orang dapat belajar dan menumbuhkan jiwa 

wirausaha.

Pertanyaannya, aspek psikologis apa yang menjadi ciri seseorang yang dikatakan memiliki jiwa 

wirausaha? Untuk membahas lebih jauh pertanyaan ini , Menurut (Suryana & Si, 2006). bahwa 

orang-orang yang memiliki jiwa dan sikap wirausaha yaitu:

a. percaya diri. Percaya diri berarti yakin, optimis, dan berkomitmen pada suatu keputusan. 

Keyakinan bahwa kita dapat mengatasi berbagai risiko yang kita hadapi merupakan faktor 

fundamental yang harus dimiliki oleh wirausahawan. Seseorang yang memiliki jiwa wirausaha 

merasa yakin bahwa apapun yang dilakukannya akan berhasil, meskipun akan menghadapi 

berbagai kendala. Ia tidak selalu dihantui oleh rasa takut akan kegagalan, yang membuatnya 

optimis untuk terus maju.

b. Inisiatif Menunggu sesuatu yang tidak pasti yaitu  hal yang paling dibenci oleh seseorang yang 

memiliki jiwa wirausaha. Seorang wirausahawan akan selalu berusaha mencari jalan keluar 

saat    menghadapi dinamika kehidupan yang penuh dengan perubahan dan permasalahan. 

Mereka tidak ingin hidupnya bergantung pada lingkungan, sehingga mereka akan terus berusaha 

mencari jalan keluar. 

c. Disiplin berarti menepati janji mengenai waktu, pekerjaan, atau norma. Disiplin pada dasarnya 

yaitu  suatu paksaan sebab   dapat ditegakkan dengan cara kesenangan, atau dipaksakan oleh diri 

sendiri. Memaksa diri sendiri bukan berarti sembrono atau sembrono, namun   berarti melakukan 

pekerjaan atau tugas sesuai dengan jangka waktu yang telah ditentukan.d. Kreatif. Pondasi kuat jiwa wirausaha yang memiliki cara pandang wirausaha selain percaya diri, 

inisiatif, dan disiplin yaitu  kreativitas. Kreativitas yaitu  kreativitas yang kuat dan dapat 

diwujudkan jika seseorang memiliki daya pikir, gagasan yang kuat, dan pemikiran yang positif 

sehingga diperoleh karya baru. Karya baru yang dimaksud dapat berupa dampak, modifikasi, atau 

kombinasi dari karya lama; yang penting ada yang baru dan menambah nilai.

desa seberang  merupakan daerah yang terkenal dengan kekayaan sumber daya alamnya terutama 

di bidang pertanian dan perkebunan. Salah satu hasil perkebunan yang melimpah yaitu  produksi 

buah salak yang dibudidayakan di Kabupaten Tanggamus. Menurut  sebagai sentra produksi salak, Kabupaten Tanggamus diharapkan mampu mengelola usahatani 

salak dengan baik agar menjadi daerah penghasil salak yang berkualitas dan sumber pendapatan. 

untuk desa seberang . Kabupaten Tanggamus memiliki 20 kecamatan, dengan perkebunan buah 

salak tumbuh hingga 60% di antaranya. Diantaranya yaitu  Kecamatan Sumberejo yang memiliki 

produksi buah salak tertinggi. berdasar  data yang dipublikasikan Badan Pusat Statistik (2017), 

produksi buah salak di Kecamatan Sumberejo mencapai 715.400,00 kg (Wiji, 2017).

Salah satu desa di Kecamatan Sumberejo yang berkontribusi cukup besar dalam menghasilkan buah 

salak yaitu  Desa hutan larangan  . Namun, banyaknya perkebunan buah salak belum mampu 

meningkatkan kesejahteraan warga  dan mengurangi tingkat kemiskinan di Desa hutan larangan  . Hal 

ini disebab  kan produksi buah salak hanya dijual langsung dengan harga yang sangat murah di tingkat 

petani, yaitu sekitar Rp. 5.000 per kilogram. Rendahnya tingkat pendidikan dan kurangnya kreativitas 

petani di Desa hutan larangan   menyebabkan mereka tidak dapat membuat produk olahan dari buah salak. 

Padahal, jika petani di Desa hutan larangan   mampu berinovasi dan menghasilkan produk olahan dari 

buah salak maka akan meningkatkan nilai jual buah salak dan meningkatkan perekonomian 

warga . Masalah kemiskinan merupakan masalah yang kompleks dan memerlukan upaya untuk 

mengatasinya.

Kemiskinan juga menjadi poin utama yang dibahas dalam Sustainable Development Goals (SGDs) 

yang harus diselesaikan pada tahun 2030 (Habib & Wahyudi, 2022). Sementara itu, berdasar  data 

Badan Pusat Statistik (2019), masih terdapat disparitas angka kemiskinan yang tinggi antara perkotaan 

dan perdesaan dimana persentase kemiskinan di perdesaan mencapai 12,85%, atau kurang lebih dua 

kali lipat persentase di kota, yaitu 6,69%. Maka, diperlukan pembangunan berkelanjutan di pedesaan, 

terutama melalui pemberdayaan di sektor pertanian (Kementan RI, 2018). Sementara itu, sebagian 

besar warga  desa juga bermata pencaharian sebagai petani dan sangat bergantung pada sektor 

pertanian. Begitu juga bagi warga  di Desa hutan larangan   yang sangat bergantung pada sektor 

pertanian yaitu subsektor perkebunan buah salak. Terdapat permasalahan antara kemiskinan di 

pedesaan, dalam hal ini Desa hutan larangan  , dengan potensi buah salak.

Mengingat ada sektor pertanian yang belum termanfaatkan secara optimal dan adanya peluang untuk 

mengatasi masalah kemiskinan melalui pemberdayaan sektor pertanian, maka diperlukan peran semua 

pihak khususnya mahasiswa (Wahyudi & Khotimah, 2022). Yang bisa dilakukan yaitu  dengan 

mendirikan usaha tani dan menciptakan wirausaha bagi petani di Desa hutan larangan  . sebab   jiwa 

wirausaha (entrepreneurship) sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi

warga  (Margahana & Triyanto, 2019). Dari penjelasan diatas penulis memberikan ide solusi 

berupa program sekolah wirausaha yaitu pendidikan kewirausahaan bagi petani di Desa hutan larangan   

dengan memberdayakan sektor pertanian buah salak. Dengan adanya program ini akan meningkatkan 

kreativitas petani untuk mengolah buah salak menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi lebih 

tinggi. sebab   pendidikan kewirausahaan merupakan program pemberdayaan warga  yang dapat 

menumbuhkan rasa percaya diri, kemandirian, kerja keras, kreatif, mampu melihat peluang, berani 

mengambil resiko, dan berorientasi pada masa depan (Sukidjo, 2012) . Selain itu, program ini akan 

menciptakan usaha pertanian yang berperan dalam penyerapan tenaga kerja dan meningkatkan 

perekonomian rumah tangga petani. Hal ini juga berkontribusi untuk mengurangi tingkat kemiskinan, 

yang merupakan tujuan utama dari Sustainable Development Goals (SGDs).Dengan demikian, ada urgensi untuk mengimplementasikan gagasan sekolah wirausaha untuk 

mengurangi kemiskinan di Desa hutan larangan  . Kemiskinan merupakan masalah global yang menjadi 

perhatian dan perlu penanganan khusus. Menurut Zahra, Afuwu, and Auliyah (2019), kemiskinan 

merupakan salah satu indikator yang digunakan untuk melihat keberhasilan pembangunan suatu 

negara. Masalah kemiskinan ini banyak dihadapi oleh negara berkembang, seperti Indonesia. 

berdasar  data BPS Maret 2020, garis kemiskinan Indonesia sebesar Rp454.652, atau meningkat 

3,20 persen jika dibandingkan dengan September 2019. Sementara itu, tingkat keparahan kemiskinan 

dari September 2019 hingga Maret 2020 juga meningkat dari 0,36 menjadi 0,38, dengan peningkatan 

yang lebih tinggi. Nilai untuk daerah perdesaan yaitu 0,55 pada Maret 2020, jika dibandingkan 

dengan daerah perkotaan sebesar 0,25 (Badan Pusat Staistik, 2020). 

Kemiskinan dalam SGDs menempati kerangka multidimensi yaitu melihat kemiskinan dan melihat 

penyebabnya dari berbagai sisi. Kemiskinan tidak hanya didefinisikan dalam istilah ekonomi, namun   

juga dalam istilah sosial, kesehatan, pendidikan, dan politik (Apriliani, 2018). Dalam karya tulis 

ilmiah ini, penulis membatasi kemiskinan dari segi ekonomi yaitu tingkat pendapatan dan kemampuan 

warga  di Desa hutan larangan   dalam memenuhi kebutuhan rumah tangganya. Sebagian besar 

warga  di Desa hutan larangan   bermata pencaharian sebagai petani. Produk pertanian penyumbang 

terpenting yaitu  produksi buah salak. Namun pendapatan dari penjualan buah salak secara langsung 

belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan warga . Sehingga perlu diciptakan inovasi di 

kalangan petani melalui peningkatan jiwa wirausaha.

Menurut (DARWANTO, 2012) jiwa wirausaha dapat ditumbuhkan melalui pendidikan atau 

pelatihan. Menurut (Rahmadani, 2018). juga menjelaskan bahwa niat berwirausaha akan muncul jika 

seseorang memiliki pengetahuan, harapan untuk berhasil (desirability), dan yakin bahwa ia mampu 

(feasibility). Jika warga  di Desa hutan larangan   sudah memiliki kemampuan berwirausaha, maka 

akan muncul ide-ide inovatif untuk mengolah buah salak menjadi produk dengan nilai jual yang lebih 

tinggi. Salah satu strategi yang dapat diterapkan di warga  yang bertujuan untuk menumbuhkan 

jiwa wirausaha yaitu  program sekolah wirausaha. Program ini berupa pelatihan dan pendidikan 

kewirausahaan bagi warga . Menurut (Rahmah, 2017). kewirausahaan dapat diajarkan dan 

didorong dengan pendidikan kewirausahaan. Jadi, dengan adanya program sekolah kewirausahaan ini, 

warga  di desa akan memiliki skill dalam berwirausha.

hutan larangan   dapat memiliki pola pikir yang inovatif untuk memanfaatkan potensi buah salak. 

Sedangkan menurut (Arisena, 2016). kewirausahaan sektor pertanian membuat petani mampu 

membuat rencana strategis, mengimplementasikan rencana ini  dalam kegiatan usaha tani, serta 

memantau dan mengevaluasi jalannya kegiatan usahatani. saat    warga  di Desa hutan larangan   

sudah memiliki jiwa wirausaha dan kemampuan mengelola usaha tani, maka mereka akan memiliki 

perilaku kreatif untuk membuat produk olahan dari buah salak. Dalam hal ini buah salak diolah 

menjadi keripik salak. Buah salak yang dijual langsung memiliki harga yang relatif lebih murah. Saat 

buah salakov diolah menjadi keripik, nilai jualnya akan meningkat. Peningkatan nilai jual akan 

meningkatkan pendapatan petani salak. Selain itu, bertani dengan membuat produk olahan keripik 

salak juga akan menciptakan lapangan kerja yang lebih luas dan menyerap tenaga kerja. Tingkat 

pengangguran akan berkurang dengan penciptaan lapangan kerja baru. Mengurangi tingkat 

pengangguran akan meningkatkan pendapatan warga . Maka sekolah wirausaha ini merupakan 

strategi yang tepat untuk diterapkan di Desa hutan larangan   sebab   akan berkontribusi dalam 

meningkatkan perekonomian dan mengurangi kemiskinan di Desa hutan larangan  . Hal ini didukung oleh 

pendapat (Tohani, 2021). yang menyatakan bahwa pendidikan kewirausahaan merupakan sarana yang 

dapat menciptakan sumber daya manusia untuk mengembangkan sistem ekonomi dan kesejahteraan 

warga .

Kemiskinan merupakan masalah global yang menjadi perhatian dan perlu penanganan khusus. 

Menurut (Zahra et al., 2019) kemiskinan merupakan salah satu indikator yang digunakan untuk 

mengukur keberhasilan pembangunan suatu negara. Masalah kemiskinan banyak dihadapi oleh negara 

berkembang, seperti Indonesia. berdasar  data BPS Maret 2020, garis kemiskinan Indonesia yaitu Rp. 454.652, atau meningkat 3,20 persen dibandingkan September 2019. Sementara itu, keparahan 

kemiskinan September 2019 hingga Maret 2020 juga meningkat dari 0,36 menjadi 0,38, dengan 

peningkatan yang lebih tinggi. Nilai untuk daerah pedesaan yaitu  0,55 pada Maret 2020, 

dibandingkan dengan 0,25 untuk daerah perkotaan (Badan Pusat Staistik, 2020).

Kemiskinan dalam SGDs menempati kerangka multidimensi, yaitu melihat kemiskinan dan melihat 

penyebabnya dari berbagai sisi. Kemiskinan tidak hanya didefinisikan dalam istilah ekonomi namun   

juga dalam istilah sosial, kesehatan, pendidikan, dan politik (Apriani & Situngkir, 2021). Dalam karya 

tulis ilmiah ini, penulis membatasi kemiskinan dari segi ekonomi yaitu tingkat pendapatan dan 

kemampuan warga  di Desa hutan larangan   dalam memenuhi kebutuhan rumah tangganya. Sebagian 

besar warga  di Desa hutan larangan   bermata pencaharian sebagai petani. Produk pertanian 

penyumbang terpenting yaitu  produksi buah salak. Namun pendapatan dari penjualan langsung buah

salak belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan warga . Sehingga perlu diciptakan inovasi di 

kalangan petani melalui peningkatan jiwa wirausaha.

Peningkatan nilai jual akan meningkatkan pendapatan petani salak. Selain itu, bertani dengan 

membuat produk olahan keripik salak juga akan menciptakan lapangan kerja yang lebih luas dan 

menyerap tenaga kerja. Tingkat pengangguran akan berkurang dengan penciptaan lapangan kerja 

baru. Mengurangi tingkat pengangguran akan meningkatkan pendapatan warga . Maka sekolah 

kewirausahaan ini merupakan strategi yang tepat untuk diterapkan di Desa hutan larangan   sebab   akan 

berkontribusi dalam meningkatkan perekonomian dan mengurangi kemiskinan di Desa hutan larangan  . 

Hal ini didukung oleh pendapat Tohani (2021), yang menyatakan bahwa pendidikan kewirausahaan 

merupakan sarana yang dapat menciptakan sumber daya manusia untuk mengembangkan sistem 

ekonomi dan kesejahteraan warga .

Desa hutan larangan   berada di Kecamatan Sumberejo Kabupaten Tanggamus desa seberang . Desa 

hutan larangan   terbagi menjadi tiga (tiga) dusun/desa, yaitu Sriwidodo, Sridadi, dan Murtirejo. Jumlah 

warga  di Desa hutan larangan   pada tahun 2018 sebanyak 1.827 jiwa (Badan Pusat Statistik, 2019).

Desa ini memiliki luas 189,65 km2, yang digunakan sebagai pemukiman, areal perkebunan, dan 

persawahan. berdasar  penggunaan lahan dijelaskan pada tabel di bawah ini.berdasar  kondisi topografinya, Desa hutan larangan   merupakan kawasan di lereng Gunung 

Tanggamus dan daratan pada ketinggian 800 meter di atas permukaan laut (hutan larangan  , 2010).

Akibatnya, kawasan ini sangat ideal untuk dijadikan lahan perkebunan untuk tanaman seperti kopi, 

lada, dan buah salak. warga  di Desa hutan larangan   juga sangat bergantung pada sektor pertanian. 

Sebanyak 72,96% atau 1.355 warga  di Desa hutan larangan   bekerja sebagai petani.

Tingkat pendidikan di Desa hutan larangan   masih tergolong rendah. Rata-rata petani di Desa hutan larangan   

hanya tamatan SD atau SMP. Sektor pertanian di Desa hutan larangan   belum dimanfaatkan dengan baik 

sehingga tingkat pendapatan dari bertani masih sangat rendah.Sebagai daerah yang kaya akan hasil 

alam, desa ini berkeinginan untuk mengembangkan sektor pertaniannya, khususnya melalui produksi 

buah salak.

3.2 Strategi Pengembangan dan Alur Implementasi Sekolah Wirausaha dalam Penanggulangan 

Kemiskinan di Desa hutan larangan   

Sekolah wirausaha merupakan program pengembangan wirausaha dan pemberdayaan warga  

yang bertujuan untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas wirausaha. Dalam mengembangkan 

kewirausahaan diperlukan inovasi dan pelatihan atau pendidikan untuk meningkatkan pengetahuan 

warga . Dengan demikian, program sekolah wirausaha merupakan pelatihan kewirausahaan yang 

menjadi salah satu alternatif solusi untuk menciptakan wirausaha di kalangan warga  Desa 

hutan larangan  . Program sekolah wirausaha yang akan dilaksanakan pada warga  di Desa hutan larangan   

digambarkan dalam alur di bawah ini:

1. Sosialisasi Program

Kegiatan sosialisasi ini bertujuan untuk memberitahukan program entrepreneur school yang akan 

dilaksanakan di Desa hutan larangan  . Sosialisasi ini dilakukan di kalangan petani buah salak di Desa

hutan larangan  . Dengan adanya sosialisasi ini diharapkan warga , khususnya petani buah salak di

Desa hutan larangan   bersedia untuk mengikuti kegiatan entrepreneur school.

2. Pemberian Motivasi

Pemberian motivasi merupakan langkah awal yang harus dilakukan dalam program entrepreneur

school. Kegiatan ini berupa seminar motivasi kewirausahaan untuk warga  di Desa hutan larangan  . 

Tujuan dari kegiatan iniyaitu memberikan pengetahuan kepada warga  mengenai kewirausahaan

dan meningkatkan minat mereka untuk berwirausaha. Sehingga motivasi sangat dibutuhkan agar

warga  mau, tertarik dan berminat untuk berwirausaha. Selain itu, dalam entrepreneur school 

perlu menanamkan nilai inovatif dan kreatif dalam menanggapi peluang serta dapat memanfaatkan

perkembangan teknologi dalam memanfaatkan sumber daya lokal secara optimal.

3. Pelatihan Pengolahan Produk

Pada kegiatan pelatihan pengolahan produk ini, petani buah salak di Desa hutan larangan   akan dibimbing 

untuk membuat keripik dari buah salak dengan memanfaatkan vacuum frying sebagai teknologi 

pendukung. sebab   Vacuum frying dapat menghasilkan keripik yang kering tanpa mengubah aroma 

dan kandungan gizinya sehingga menghasilkan kualitas yang lebih tinggi. Denganmelakukan praktik

penggunaan vacuum frying pada warga  di Desa hutan larangan  , maka warga  akan mengetahui 

proses pengolahan buah salakdengan baik. Praktik penggunaan teknologi vacuum frying ini dilakukan

dengan tiga tahapan yaitu tahap persiapan, tahap penggorengan dengan vacuum frying, dan tahap

penirisan.

a) Tahap Persiapan

Tahap persiapan ini meliputi penyortiran buah salak dengan tingkat kematangan yang sama.

Kemudian mengupas kulit buah salak dan pembuangan kulit ari. sesudah  itu, biji salak dibuang dan 

buahnya diiris. Terakhir mencuci buah salak hingga bersih.

b) Tahap Penggorengan dengan Vacuum Frying

Pertama mesin dan kompor dihidupkan. sesudah  itu, buah salak yang sudahdiiris dimasukan ke dalam 

keranjang mesin vakum sambil membuka kran dan tabung kondensor kemudian ditutup untuk

menggoreng. Dalam proses penggorengan dilakukan pengadukan setiap 15 menit. sesudah  keripikmatang keranjang dinaikan dan kompor dimatikan.

c) Tahap Penirisan

Pada tahap penirisan keripik dimasukan ke dalam silindir peniris, sesudah  itu mesin dihidupkan selama

5 menit

4. Pelatihan Pengemasan

Pada pelatihan ini warga  akan diajarkan untuk membuat desain packaging dan praktik 

mengemas produk. Pelatihan pengemasan ini bertujuan untuk meningkatkan nilai jual produk dengan

pengemasan yang menarik.

5. Pelatihan Mendapatkan Perizinan

Kegiatan dari pelatihan ini yaitu memberikan edukasi kepada warga  di Desa hutan larangan   terkait 

dengan tata cara perizinan usaha.

6. Sosialisasi Mendapatkan Bantuan Modal

Kegiatan ini berupa edukasi kepada warga  di Desa hutan larangan   mengenai tata cara mendapatkan 

bantuan kredit dari lembaga perbankan. Selain itu, padakegiatan ini warga  akan dibimbing dan

didampingi dalam proses peminjaman dana.

7. Pelatihan Pemasaran

Pelatihan pemasaran yang akan diberikan kepada warga  di Desa hutan larangan   yaitu pemasaran

digital (digital marketing). Pelatihan digital marketing ini bertujuan agar petani dapat memasarkan

produk hasil olahan dari buah salak melalui media sosial. Menurut . media media merupakan sarana digital marketing yang paling mudah untuk dimanfaatkan. 

Sehingga pada pelatihan digital marketing ini akan dimulai dengan pengenalan media sosial kepada 

petani salak dan dilanjutkan dengan pembuatan akun media sosial untuk memasarkan produk.

8. Pendampingan

Pada tahap ini petani di Desa hutan larangan   sudah mampu menjalankan usaha dari pengolahan buah

salak secara mandiri. Sehingga mahasiswa berperan sebagai pendamping dan juga mengevaluasi serta 

memonitoring dari kegiatan yang dilakukan oleh petani. Kegiatan ini bertujuan agar program ini akan 

terusberkembang dan mengalami perbaikan kedepannya.

3.3 Peran Mahasiswa dalam Penerapan Entrepreneur School di Desa hutan larangan  

Dalam penerapan program entrepreneur school ini dibutuhkan peran berbagai pihak, khususnya peran 

mahasiswa. sebab   mahasiswa sebagai agent of change memiliki kontribusi yang penting untuk

mengatasai dan memberikan solusi terhadap permasalahan di warga , dalam hal ini warga  

di Desa hutan larangan  . Dengan perannya dalam mengimplementasikan program entrepreneur school,

maka mahasiswa turut ikut andil dalam menyukseskan tujuan pertama dari Sustainable Development

Goals (SGDs) yaitu kemiskinan.Desa hutan larangan   merupakan salah satu desa di Kabupaten Tanggamus yang memiliki potensi besar

terhadap bidang pertanian terutama buah salak. Untuk mengoptimalkan buah salak ini  

diperlukan peran entrepreneur school dalam warga . Dengan adanya entrepreneur school dapat

menumbuhkan minat berwirausaha serta menciptakan entrepreneur baru pada warga  di Desa

hutan larangan  .

Entreprenur menciptakan inovasi serta berani mengambil risiko dalam melakukan usaha.

Entrepreneur juga memiliki peran penting dalam kegiatan produktif yang akan memberikan dampak 

positif terutama untuk masalah ekonomi seperti mengurangi kemiskinan. Semakin tinggi jumlah

entrepreneur maka semakin tinggi pula pertumbuhan ekonomi. Davidsson (2003), berpendapat bahwa 

wirausaha merupakan perilaku kompetitif yang mendorong pasar, bukan hanya menciptakan pasar 

baru, namun   menciptakan inovasi baru ke dalam pasar, sekaligus sebagai kontribusi nyata dari 

wirausaha sebagai penentu pertumbuhan ekonomi. Lebih tegas  menyatakan bahwa pada dasarnya, wirausaha memberikan kontribusi pada kinerja ekonomi 

dengan memperkenalkan inovasi, menciptakan perubahan, menciptakan persaingan dan meningkatkan 

persaingan. Dengan demikian, dalam jangka panjang eksistensi wirausaha sangat penting 

bagi pertumbuhan ekonomi , dan produktivitas tinggi akan meningkatkan efisiensi 

(Bahkan, pemikiran yang menghubungkan wirausaha dengan pertumbuhan ekonomi 

membuat evolusi industri atau evolusi ekonomi . Dari sudut pandang 

ini, wirausaha bertindak sebagai agen perubahan, membawa ide-ide baru untuk pasar dan merangsang 

pertumbuhan melalui proses persaingan perusahaan. berdasar  penjelasan dalam hasil dan 

pembahasan diharapkan program yang diusulkan yaitu dengan adanya entrepreneur school di Desa 

hutan larangan   dapat menumbuhkan dan mengembangkan jiwa entrepreneur dalam warga 

khususnya petani dalam mengolah potensi desa dengan lebih inovatif sehingga dapat meningkatkan 

nilai jual produk yang pada akhirnya dapat menciptakan lapangan kerja yang juga meningkatkan

pendapatan warga . Artinya, dalam jangka panjang dapat mengurangi tingkat kemiskinan dalam 

lingkup yang lebih luas.berdasar  pembahasan diatas, perlu adanya kerja sama yang baik antara praktisi, akademisi, dan 

pembuat kebijakan dalam memaksimalkan gagasan ini agar mencapai hasil yang optimal. Dalam hal 

menerapkan entrepreneur school di Desa hutan larangan  , diperlukan koordinasi dari berbagai pihak yang 

terkait sebab   dengan adanya entrepreneur school ini diharapkan menjadi alternatif solusi untuk 

menciptakan entrepreneur di kalangan warga  guna mengurangi tingkat kemiskinan di desa 

ini . Pada tingkat lokal, diperlukan kontribusi berupa dukungan di semua kalangan yang terlibat 

dalam memanfaatkan potensi desasehingga dapat bernilai jual tinggi melalui program entrepreneur 

school ini.