Manajemen operasi 3
dengan cara, misalnya, mendukung pemasok secara finansial
melalui kepemilikan atau pinjaman. Pemasok kemudian menjadi
bagian dari koalisi perusahaan yang lebih dikenal dengan kairetsu.
Keanggotaannya dalam hubungan jangka panjang sehingga
diharapkan dapat berfungsi sebagai mitra, menularkan keahlian
teknis dan kualitas produksi yang stabil kepada perusahaan
manufaktur. Para anggota kairetsu dapat beroperasi sebagai
subkontraktor rantai dari pemasok yang lebih kecil.
5. Perusahaan maya (virtual company)
Perusahan maya mengandalkan berbagai hubungan pemasok
untuk memberikan pelayanan pada saat diperlukan. Perusahaan
maya mempunyai batasan organisasi yang tidak tetap dan bergerak
sehingga memungkinkan terciptanya perusahaan yang unik yang
dapat memenuhi permintaan pasar yang cenderung berubah.
Hubungan yang terbentuk dapat memberikan pelayanan jasa, di
antaranya meliputi pembayaran gaji, pengangkatan karyawan,
desain produk, atau distribusinya.
Hubungan bisa bersifat jangka pendek maupun jangka panjang,
mitra sejati atau kolaborasi, pemasok atau subkontraktor. Apapun
bentuk hubungannya diharapkan akan menghasilkan kinerja kelas
dunia yang ramping. Keuntungan yang bisa diperoleh, di antaranya,
adalah keahlian manajemen yang terspesialisasi, investasi modal yang rendah, fleksibilitas, dan kecepatan. Hasil yang diharapkan
adalah efisiensi.
MEMBUAT ATAU MEMBELI
Pedagang besar maupun eceran membeli semua yang dijual sedangkan
operasi munufaktur jarang yang demikian. Perusahaan manufaktur,
restoran, dan perakit produk membeli komponen dan subperakitan
yang dapat dijadikan produk akhir. Pemilihan barang dan jasa yang
dapat diperoleh lewat sumber eksternal lebih menguntungkan dibanding
perolehan lewat sumber internal, dikenal dengan sebutan keputusan
membuat atau membeli. Peranan departemen pembelian di sini adalah
mengevaluasi pemasok-pemasok alternatif dan memberikan data-data
yang aktual, akurat, dan lengkap yang releven untuk alternatif pembelian.
Tabel 10-1 berikut menunjukkan pertimbangan-pertimbangan dalam
keputusan membuat atau membeli:
TEKNIK-TEKNIK PEMBELIAN
Berikut ini adalah teknik-teknik pembelian yang dapat dilakukan.52
1. Blanket orders
Blanket orders adalah pesanan yang tidak dapat dipenuhi penjual.
Blanket orders adalah suatu kontrak untuk membeli item tertentu
dari penjual, bukan merupakan pengesahan agar sesuatu dikirim.
Pengiriman dilakukan hanya berdasarkan diterimanya dokumen
persetujuan, mungkin rekuisisi pengiriman, atau perintah
pengiriman.
2. Pembelian tanpa faktur
Pembelian tanpa faktur merupakan bagian dari hubungan
pemasok-pembeli yang baik. Di lingkungan pembelian tanpa faktur,
biasanya ada satu pemasok untuk semua unit dari produk tertentu. Bila pemasoknya memberikan semua roda (4 buah) untuk setiap
mesin pemotong rumput yang diproduksi, maka manajemen tahu
berapa roda yang dipesan. Manajer cukup mengalikan jumlah
mesin yang diproduksi dengan 4 dan menulis cek untuk pemasok
sebesar nilainya.
3. Pemesanan elektronik dan transfer dana
Pemesanan elektronik dan transfer dana mengurangi transaksi
dengan kertas. Transaksi dengan kertas mencakup pesanan
pembelian, perintah pembelian, tanda terima, kuasa pembayaran
faktur (yang dicocokan dengan laporan penerimaan yang telah
disetujui), dan terakhir pembuatan cek. Departemen pembelian
dapat mengurangi tumpukan perkerjaan ini dengan pemesanan
elektronik, penerimaan semua komponen dalam keadaan 100%
baik dan transfer dana elektronik untuk pembayaran sejumlah yang
diterima. Pemesanan elektronik tidak hanya mengurangi pekerjaan
laporan, tetapi juga mempercepat siklus pemerolehan bahan baku
yang dulunya sangatlah panjang.
4. Pembelian tanpa stok
Istilah pembelian tanpa stok telah berkembang sedemikian rupa
sehingga istilah ini berarti bahwa pemasok menjaga persedian
untuk pembeli. Bila pemasok ini dapat menjaga stok persedian
untuk berbagai konsumen yang menggunakan produk yang sama
atau yang perbedaan antara masing-masing tidak terlalu banyak,
misalnya, mungkin tahapan kemasannya, maka mungkin dapat
tercipta penghematan bersih.
Terlepas dari keputusan-keputusan itu, pertimbangan-pertimbangan
harus diulas secara berkala. Kemampuan penjual dan perubahan biaya,
demikian pula kemampuan produksi biaya dalam perusahaan bisa
berubah-ubah sehingga setiap keputusan harus mempertimbangkan
lagi kondisi terkini hal-hal tersebut.
MANAJEMEN BAHAN BAKU
Pembelian dapat dikombinasi dengan berbagai kegiatan pergudangan
dan persedian untuk membentuk suatu sistem manajemen bahan
baku. Tujuan dari manajmen bahan baku adalah mendapatkan efisiensi
operasi melalui integrasi semua perolehan, pergerakan, dan kegiatan
penyimpanan bahan baku di perusahaan. Jika biaya transportasi
dan persediaannya substansial menyangkut input dan output proses
produksi, penekanan terhadap manajemen bahan baku mungkin tepat
untuk diterapkan. Potensi adanya keunggulan kompetitif adalah karena
terjadi pengurangan biaya dan peningkatan pelayanan konsumen.
Banyak perusahaan manufaktur yang telah bergerak ke suatu bentuk
struktur manajemen bahan baku.53
MANFAAT MANAJEMEN RANTAI PASOKAN
Manfaat utama dari rantai pasokan dengan sistem terintegrasi, yaitu:54
1. Tangible benefit
Manfaat yang tangible (berwujud) berupa pengurangan persediaan,
pengurangan personel, perbaikan produktivitas, perbaikan
manajemen pemasaran, perbaikan financial close cycle, pengurangan
biaya IT, peningkatan pendapatan, dan lain sebagainya.
2. Intangibel benefit
Manfaat yang intangible (tidak berwujud) berupa information
visibility, proses perbaikan terus-menerus, tanggapan konsumen
yang responsif, standardisasi, fleksibilitas, globalisasi, dan
peningkatan kinerja bisnis.TANTANGAN MANAJEMEN RANTAI PASOKAN
Tantangan dalam mengelola manajemen rantai pasokan menurut I
Nyoman Pujawan (2005), yaitu:55
1. Kompleksitas struktur rantai pasokan
Manajemen rantai pasokan melibatkan banyak pihak dengan
kepentingan yang berbeda-beda, seperti perbedaan bahasa, zona
waktu, dan budaya antarperusahaan.
2. Ketidakpastiaan
Ketidakpastian ini meliputi ketidakpastian permintaan,
ketidakpastian pasokan (lead time pengiriman, harga dan kualitas
bahan baku, dan lain-lain), dan ketidakpastian internal (kerusakan
mesin, kinerja mesin yang tidak sempurna, ketidakpastian kualitas
produksi, dan lain-lain).
Untuk menghadapi masalah ketidakpastian pemesanan dalam rantai
pasokan atau bullwhip effect, diperlukan sharing informasi di sepanjang
rantai pasokan, optimalisasi tingkat persediaan, penciptaan tim rantai
pasokan, pengukuran kinerja rantai pasokan, maupun pembangunan
koordinasi dan kolaborasi di antara mitra bisnis sehingga proses
pengiriman produk dari pemasok ke perusahaan dan ke konsumen
dapat berjalan lancar dan memungkinkan perusahaan untuk mencapai
biaya persediaan yang rendah. Sedangkan, menurut James A. dan Mona
J. Fitzsimmons (2006),56 tantangan dalam manajemen rantai pasokan
adalah untuk menyeimbangkan kebutuhan pengiriman pelanggan
secara tepat dengan mendorong biaya produksi dan biaya persediaan.
Pemodelan manajemen rantai pasokan memungkinkan manajer untuk
mengevaluasi pilihan yang akan memberikan peningkatan terbesar
dalam kepuasan pelanggan dengan biaya yang terjangkau.
PENUTUP
Dengan adanya konsep manajemen rantai pasokan, para pelaku bisnis
lebih mudah untuk menciptakan produk-produk andal, berkualitas,
dan cepat. Proses pengolahan produk dari awal perencanaan, produksi,
sampai pendistribusian menjadi semakin terstruktur dan terkoordinasi
dengan baik. Manajemen rantai pasokan menjadikan lebih efesien dan
efektif dalam mengelola produk di sebuah instansi perusahaan.
Penerapan konsep manajemen rantai pasokan dalam perusahaan
akan memberikan manfaat, yaitu kepuasan pelanggan, meningkatnya
pendapatan, menurunnya biaya, pemanfaatan aset yang semakin tinggi,
peningkatan laba, dan perusahaan yang semakin besar. Syarat utama
dari penerapan manajemen rantai pasokan tentunya memberikan
dukungan mulai dari proses perencanaan, pengorganisasian, koordinasi,
pelaksanaan, sampai pengendalian. Selain itu, manajemen rantai
pasokan meningkatkan nilai tambah bagi produk dan layanan dalam
menghadapi persaingan usaha.
E-commerce didefinisikan sebagai penggunaan Internet dan Web
untuk transaksi bisnis. E-commerce berbeda dari e-business. E-business
mengacu pada transaksi dan proses dalam suatu organisasi. Sebagai
contoh, suatu sistem pengendalian persediaan perusahaan online adalah
komponen e-business bukan bagian dari e-commerce. Sistem pengendalian
persediaan tidak secara langsung menghasilkan pendapatan untuk
perusahaan. Keberadaan e-commerce merupakan alternatif bisnis yang
cukup menjanjikan untuk diterapkan pada saat ini karena e-commerce
memberikan banyak kemudahan bagi kedua belah pihak, baik dari
pihak penjual (merchant) maupun dari pihak pembeli (buyer) di dalam
melakukan transaksi perdagangan, meskipun para pihak berada di dua benua yang berbeda sekalipun. Dengan e-commerce, setiap transaksi
tidak memerlukan pertemuan dalam tahap negoisasi. Oleh karena itu,
jaringan Internet ini dapat menembus batas geografis dan teritorial,
termasuk yurisdiksi hukumnya. E-commerce adalah dimana dalam satu
situs Web menyediakan atau dapat melakukan transaksi secara online,
atau bisa juga merupakan suatu cara berbelanja atau berdagang secara
online atau direct selling yang memanfaatkan fasilitas Internet dimana
terdapat situs Web yang dapat menyediakan layanan “get and deliver“.
E-commerce akan mengubah semua kegiatan pemasaran dan juga
sekaligus memangkas biaya-biaya operasional untuk kegiatan trading
(perdagangan).
Ada pula pendapat mengenai pengertian e-commerce bahwa
e-commerce mengacu pada Internet untuk belanja online dan mencakup
jangkauan yang lebih sempit, dimana e-commerce adalah subperangkat
dari e-business. Cara pembayara e-commerce melalui transfer uang
secara digital, seperti melalui akun Paypal atau kartu kredit, sedangkan
e-business mengacu pada Internet tapi dengan jangkauan lebih luas.
Area e-business terjadi ketika perusahaan atau individu berkomunikasi
dengan klien atau nasabah melalui surel (email), tapi pemasaran atau
penjualan dilakukan dengan Internet, dengan begitu dapat memberikan
keuntungan berupa keamanan, fleksibililtas, dan efisiensi.
JENIS E-COMMERCE
Ada lima jenis utama e-commerce, yaitu:
1. Business-to-business (B2B).
Business-to-businesse-commerce meliputi semua transaksi elektronik
barang atau jasa yang dilakukan antarperusahaan. Produsen dan
pedagang tradisional biasanya menggunakan jenis e-commerce ini.
Umumnya, e-commerce dengan jenis ini dilakukan dengan
menggunakan EDI (electronic data interchange) dan surel dalam proses pembelian barang dan jasa, informasi dan konsultasi, atau
pengiriman dan permintaan proposal bisnis.
2. Business-to-consumer (B2C).
Business-to-consumer adalah jenis e-commerce antara perusahaan
dan konsumen akhir. Hal ini sesuai dengan bagian ritel dari
e-commerce yang biasa dioperasikan oleh perdagangan ritel
tradisional. Jenis e-commerce ini berkembang dengan sangat cepat
karena dukungan munculnya situs Web serta banyaknya toko
virtual, bahkan mal, di Internet yang menjual beragam kebutuhan
masyarakat.
3. Consumer-to-consumer (C2C).
Consumer-to-consumer merupakan jenis e-commerce yang meliputi
semua transaksi elektronik barang atau jasa antarkonsumen.
Umumnya, transaksi ini dilakukan melalui pihak ketiga yang
menyediakan platform online untuk melakukan transaksi tersebut.
4. Peer-to-peer (P2P).
Istilah peer-to-peer berasal dari bahasa Inggris yang berarti teknologi
dari “ujung” ke “ujung”. Pertama kali diluncurkan dan dipopulerkan
oleh aplikasi-aplikasi “berbagi-berkas” (file sharing). Aplikasi P2P
yang sebenarnya memerlukan satuan tim-tim kecil dengan ide
cemerlang untuk mengembangkan perangkat lunak dan bisnisbisnis yang mungkin dilakukan oleh perangkat tersebut.
5. Mobile commerce (m-commerce).
M-commerce adalah sistem perdagangan elektronik (e-commerce)
dengan menggunakan peralatan portabel/mobile, seperti telepon
genggam, telepon pintar, PDA, notebook, dan lain lain. Pada saat
pengguna komputer berpindah dari satu tempat ke tempat lain
(sewaktu berada dalam mobil, misalnya), pengguna komputer tersebut
dapat melakukan transaksi jual beli produk di Internet dengan
menggunakan sistem m-commerce ini. Selain m-commerce, istilah
lain yang sering dipakai adalah m-business (mobile business).Tujuan dan manfaat implementasi e-business adalah untuk
mendukung efisiensi dan integritas pengelolaan data sumber daya
manusia, keuangan, dan manajemen rantai pasokan/manajemen
logistik. Selain itu, e-business juga berfungsi sebagai sarana komunikasi
dan informasi bagi publik dan stakeholder lainnya. Dengan berbasiskan
Internet, sistem ini dapat diakses di semua tempat sesuai dengan hak
akses yang telah ditentukan. Adapun manfaat implementasi e-business
adalah:
1. Meningkatkan kinerja operasional perusahaan.
2. Meningkatkan peluang akses ke pasar, pemasok, dan pendanaan
yang sangat luas.
3. Meningkatkan efisiensi perusahaan.
4. Mempermudah pengelolaan aset perusahaan.
5. Meningkatkan kualitas layanan terhadap pelanggan.
6. Meningkatkan komunikasi seluruh stakeholder.
7. Mengatasi kesenjangan digital.
8. Media mempromosikan kompetensi perusahaan.
9. Memperlancar kegiatan ekonomi.
10. Memperlancar transaksi bisnis.
11. Sarana penyebaran informasi secara luas.
Kendala perdagangan melalui jaringan elektronik:
1. Biaya tinggi.
2. Masalah keamanan.
3. Perangkat lunak yang belum mapan atau tidak tersedia.
Adapun proses yang terdapat dalam e-commerce adalah sebagai
berikut.
1. Presentasi elektronis (pembuatan situs web) untuk produk dan
layanan.
2. Pemesanan secara langsung dan tersedianya tagihan.3. Secara otomatis, akun pelanggan dapat secara aman mengonfirmasi
pembelian (akun terverifikasi baik melalui nomor rekening maupun
nomor kartu kredit).
4. Pembayaran yang dilakukan secara langsung (online) dan
penanganan transaksi.
Ruang lingkup e-commerce adalah sebagai berikut.
1. Teknologi.
2. Pemasaran dan “new consumer processes”.
3. Ekonomi.
4. Electronic linkage.
5. Information value adding.
6. Market making.
7. Service infrastructure.
8. Legalitas, privasi, dan kebijakan publik.
Standar teknologi e-commerce, antara lain:
1. Electronic Data Interchange (EDI).
EDI adalah sebuah standar struktur dokumen yang dirancang untuk
memungkinkan organisasi besar untuk mengirimkan informasi
melalui jaringan prÃvat.
2. Open Buying on the Internet (OBI).
OBI adalah sebuah standar yang dibuat oleh Internet Purchasing
Roundtable yang akan menjamin bahwa berbagai sistem e-commerce
dapat berbicara satu dengan lainnya.
3. Open Trading Protocol (OTP).
OTP sebetulnya merupakan standar kompetitor OBI yang
dibangun oleh beberapa perusahaan, seperti AT&T, IBM, dan Sun
Microsystems.4. Open Profiling Standard (OPS).
OPS digunakan untuk menolong memproteksi privasi pengguna
tanpa menutup kemungkinan untuk transaksi informasi untuk
proses marketing dan sebagainya.
5. Secure Socket Layer (SSL).
Protokol ini didesain untuk membangun sebuah saluran yang
aman ke server.
6. Secure Electronic Transaction (SET).
SET akan mengodekan nomor kartu kredit yang disimpan di server
merchant.
7. TRUSTe.
TRUSTe adalah sebuah partnership dari berbagai perusahaan yang
mencoba membangun kepercayaan publik dalam e-commerce
dengan cara memberikan cap Good Housekeeping yang
memberikan approve pada situs yang tidak melanggar kerahasiaan
konsumen.
ISTILAH-ISTILAH DALAM E-COMMERCE
Terdapat beberapa istilah yang perlu diketahui dalam bidang
e-commerce, antara lain:
1. Digital cash atau electronic cash, metode yang memungkinkan
seseorang untuk membeli barang atau jasa dengan cara mengirimkan
nomor dari satu komputer ke komputer yang lain.
2. Digital money, yaitu terminologi global untuk berbagai e-cash dan
mekanisme pembayaran elektronik di Internet.
3. Disintermediation, yaitu proses untuk memotong jalur perantara.
4. Electronic checks, yaitu sistem cek elektronik, seperti PayNow, yang
akan mengambil uang dari akun cek di bank yang saat ini sedang
diuji coba oleh CyberCash.5. Electronic wallet, yaitu pola pembayaran, seperti CyberCash Internet
Wallet, yang akan menyimpan nomor kartu kredit Anda di harddisk
Anda dalam bentuk terenkripsi yang aman. Anda akan dapat
melakukan pembelian-pembelian pada situs web yang mendukung
electronic wallet tersebut.
6. Extranet, yaitu sebuah kelanjutan dari intranet perusahaan yang
mengaitkan jaringan internal satu perusahaan dengan jaringan
internal supplier mereka maupun pelanggan mereka.
7. Micropaymet, yaitu transaksi dalam jumlah kecil antara beberapa
ratus rupiah hingga puluhan ribu rupiah, misalnya untuk
mengambil/mengakses grafik, game, maupun informasi.
CONTOH E-COMMERCE
Banyak sekali yang dapat kita lakukan melalui e-commerce, yaitu:
1. Jual-beli buku melalui online.
2. Jual-beli elektronik melalui online.
3. Jual-beli kendaraan melalui online.
4. Jual-beli pakaian melalui online.
5. Lain-lain.
DAMPAK POSITIF DAN NEGATIF E-COMMERCE
Dampak positif e-commerce, di antaranya:
1. Revenue stream (aliran pendapatan) baru yang mungkin lebih
menjanjikan yang tidak bisa ditemui di sistem transaksi tradisional.
2. Dapat meningkatkan market exposure (pangsa pasar).
3. Menurunkan biaya operasional (operating cost).
4. Melebarkan jangkauan (global reach).
5. Meningkatkan loyalitas konsumen.
6. Meningkatkan supplier management.7. Memperpendek waktu produksi.
8. Meningkatkan value chain (mata rantai pendapatan).
9. Menjadi bagian dari kegiatan promosi.
Selain dampak positif, e-commerce juga memiliki beberapa risiko
sebagai berikut.
1. Kehilangan dari segi finansial secara langsung karena kecurangan.
Misalnya, seorang penipu mentransfer uang dari rekening satu ke
rekening lainnya atau mengganti semua data finansial yang ada.
2. Pencurian informasi rahasia yang berharga. Gangguan yang timbul
bisa menyingkap semua informasi rahasia tersebut kepada pihakpihak yang tidak berhak dan dapat mengakibatkan kerugian yang
besar bagi si korban.
3. Kehilangan kesempatan bisnis karena gangguan pelayanan.
Kesalahan ini bersifat kesalahan non-teknis, seperti aliran listrik
tiba-tiba padam.
4. Penggunaan akses ke sumber oleh pihak yang tidak berhak.
Misalnya, seorang peretas yang berhasil membobol sebuah sistem
perbankan, kemudian memindahkan sejumlah uang dari rekening
orang lain ke rekeningnya sendiri.
5. Kehilangan kepercayaan dari para konsumen. Ini karena berbagai
macam faktor, seperti usaha yang dilakukan dengan sengaja
oleh pihak lain yang berusaha menjatuhkan reputasi perusahaan
tersebut.
6. Kerugian yang tidak terduga. Ini bisa disebabkan oleh gangguan
yang dilakukan dengan sengaja, ketidakjujuran, praktik bisnis yang
tidak benar, kesalahan faktor manusia, atau kesalahan sistem
7. Menciptakan penganguran baru akibat berkurangnya kebutuhan
tenaga kerja karena terpangkasnya rantai pemasaran.KELEMAHAN DAN KENDALA E-COMMERCE
Menurut survey yang dilakukan oleh CommerceNet pada 2016, para
pembeli/pembelanja belum menaruh kepercayaan kepada e-commerce.
atau Lebih tepatnya, mereka tidak dapat menemukan apa yang mereka
cari di e-commerce, atau belum ada cara yang mudah dan sederhana
untuk membayar. Di samping itu, surfing di e-commerce belum lancar
betul. Pelanggan e-commerce masih takut ada pencuri kartu kredit,
rahasia informasi personal mereka menjadi terbuka, dan kinerja
jaringan yang kurang baik. Umumnya, pembeli masih belum yakin
bahwa berbelanja secara online lebih menguntungkan karena mereka
harus mencari situs belanja, menunggu unduhan gambar, mencoba
mengerti bagaimana cara memesan sesuatu, dan kemudian harus
waswas nomor kartu kredit mereka akan pediretas.
Tampaknya untuk meyakinkan pelanggan ini, e-merchant (pedagang
e-commerce) harus melakukan banyak proses pemandaian pelanggan.
Walaupun demikian, Gail Grant, kepala lembaga penelitian di
CommerceNet, meramalkan sebagian besar pembeli akan berhasil
mengatasi penghalang tersebut setelah beberapa tahun mendatang.
Grant mengatakan jika saja pada halaman Web dapat dibuat label
yang memberikan informasi tentang produk dan harganya, akan sangat
memudahkan bagi search engine menemukan sebuah produk secara
online. Hal tersebut telah terjadi sekarang, pembeli dapat menemukan
produk yang dicari dari beberapa penjual dan dapat membandingkan
harganya. Hal ini sangat menguntungkan pembeli tetapi juga menjadi
tantangan bagi para merchant.
Untuk sistem business-to-business, isu yang ada memang tidak sepelik
di atas, namun tetap ada isu-isu serius, seperti para pengusaha belum
punya model yang baik bagaimana cara men-setup situs e-commerce
mereka. Mereka mengalami kesulitan untuk melakukan sharing antara
informasi yang diperoleh online dengan aplikasi bisnis lainnya. Masalah yang mungkin menjadi kendala utama adalah ide untuk sharing
informasi bisnis kepada pelanggan dan supplier—hal ini merupakan
strategi utama dalam sistem e-commerce bisnis ke bisnis.
Kunci utama untuk memecahkan masalah adalah merchant harus
menghentikan pemikiran bahwa dengan cara menopangkan diri
pada Java applets maka semua masalah akan terselesaikan, padahal
kenyataannya adalah sebetulnya merchant harus merestrukturisasi
operasi mereka untuk mengambil keuntungan maksimal dari
e-commerce. Grant berkata, “E-commerceis just like any automation—it
amplifies problems with their operation they already had.”
HUBUNGAN HUKUM ANTARPELAKU E-COMMERCE
Hingga saat ini, Indonesia belum memiliki perangkat hukum yang
mengakomodasi perkembangan e-commerce. Padahal, pranata hukum
merupakan salah satu ornamen utama dalam bisnis. Tanpa regulasi
khusus yang mengatur perjanjian virtual, secara otomatis perjanjianperjanjian di Internet tersebut akan diatur oleh hukum perjanjian nonelektronik yang berlaku. Berdasarkan pasal 1338 KUHPerd, hukum
perjanjian Indonesia menganut asas kebebasan berkontrak. Asas ini
memberi kebebasan untuk menentukan sendiri bentuk serta isi suatu
perjanjian kepada para pihak yang membentuk suatu kesepakatan.
Dengan demikian, para pihak yang membuat perjanjian dapat mengatur
sendiri hubungan hukum di antara mereka.
Seperti halnya perdagangan konvensional, e-commerce menimbulkan
perikatan antara para pihak untuk memberikan suatu prestasi. Implikasi
dari perikatan itu adalah timbulnya hak dan kewajiban yang harus
dipenuhi oleh para pihak yang terlibat. Di dalam hukum perikatan
Indonesia dikenal apa yang disebut ketentuan hukum pelengkap.
Ketentuan tersebut tersedia untuk dipergunakan oleh para pihak yang
membuat perjanjian apabila ternyata perjanjian yang dibuat mengenai sesuatu hal ternyata kurang lengkap atau belum mengatur sesuatu hal.
Ketentuan hukum pelengkap itu terdiri atas ketentuan umum dan
ketentuan khusus untuk jenis perjanjian tertentu. Jual-beli merupakan
salah satu jenis perjanjian yang diatur dalam KUHPerd, sedangkan
e-commerce pada dasarnya merupakan model transaksi jual-beli modern
yang mengimplikasikan inovasi teknologi, seperti Internet, sebagai
media transaksi.
Dengan demikian, selama tidak diperjanjikan lain, maka ketentuan
umum tentang perikatan dan perjanjian jual-beli yang diatur dalam
Buku III KUHPerd berlaku sebagai dasar hukum aktivitas e-commerce di
Indonesia. Jika timbul sengketa dalam pelaksanaan transaksi e-commerce
tersebut, para pihak dapat mencari penyelesaiannya dalam ketentuan
tersebut. Namun, kenyataannya tidak sesederhana itu. E-commerce
merupakan model perjanjian jual-beli dengan karakteristik dan
aksentuasi yang berbeda dengan model transaksi jual-beli konvensional,
apalagi dengan daya jangkau yang tidak hanya lokal tapi juga bersifat
global. Adaptasi secara langsung ketentuan jual-beli konvensional akan
kurang tepat dan tidak sesuai dengan konteks e-commerce. Oleh karena
itu, perlu dilakukan analisis apakah ketentuan hukum yang ada dalam
KUHPerd dan KUHD sudah cukup relevan dan akomodatif dengan
hakikat e-commerce atau perlu regulasi khusus yang mengatur tentang
e-commerce.
PENUTUP
E-commerce adalah aktivitas penyebaran, pembelian, penjualan, atau
pemasaran barang dan jasa melalui sistem elektronik, seperti Internet
atau televisi, www, atau jaringan komputer lainnya. E-commerce dapat
melibatkan transfer dana elektronik, pertukaran data elektronik, sistem
manajemen inventori otomatis, dan sistem pengumpulan data otomatis.Meskipun pada mulanya banyak konsumen yang enggan dengan
e-commerce, berdagang menggunakan e-commerce mempunyai banyak
manfaat. E-commerce bermanfaat untuk memperluas jangkauan
pemasaran, dapat meningkatkan daya saing perusahaan, dan menekan
biaya barang dan jasa. E-commerce juga dapat meningkatkan kepuasan
konsumen, terkait kecepatan untuk mendapatkan barang yang
dibutuhkan dengan kualitas yang terbaik sesuai dengan harganya.
E-commerce. Meskipun demikian, e-commerce juga memiliki
kekurangan, di antaranya adalah tidak amannya transaksi karena
menggunakan kartu kredit atau nomer rekening yang berisiko dapat
diretas, serta meningkatkan jumlah pengangguran
Sejalan dengan laju perkembangan di Indonesia, banyak bermunculan
perusahaan, baik perusahaan kecil maupun perusahaan besar. Tujuan
utama suatu perusahaan yaitu memperoleh laba seoptimal mungkin. Untuk
mengawasi berjalannya serta berkembangnya perusahaan, salah satu hal
yang perlu dilakukan adalah menilai persediaan dan pengaruhnya terhadap
laba perusahaan. Hal ini penting karena bagi sebagian besar perusahaan,
persediaan merupakan salah satu modal kerja yang utama.
Pelaporan mengenai persediaan sangat penting bagi perusahaan
untuk pengambilan keputusan dan persediaan merupakan salah satu dari
beberapa unsur yang paling aktif dalam operasi perusahaan yang secara
terus-menerus diperoleh, diproduksi, dan dijual. Pelaporan persediaan yang teliti dan relevan dianggap vital untuk memberikan informasi
yang berguna bagi perusahaan. Apabila terjadi kesalahan dalam
pencatatan persediaan, maka akan mengakibatkan kesalahan dalam
menentukan besarnya laba perusahaan yang diperoleh. Jika persediaan
akhir dinilai terlalu rendah dan mengakibatkan harga pokok barang
yang dijual terlalu rendah, maka pendapatan bersih akan mengalami
peningkatan. Begitu juga dengan lamanya persediaan yang tersimpan
di gudang akan memengaruhi biaya penyimpanan dan adanya risiko
terjadinya kerusakan atau kedaluwarsa akan mengakibatkan kerugian
bagi perusahaan.
PENGERTIAN PERSEDIAAN
Menurut Handoko (1999: 333), persediaan adalah suatu istilah umum
yang menunjukkan segala sesuatu atau sumber daya organisasi yang
disimpan sebagai antisipasinya terhadap pemenuhan permintaan.
Permintaan tersebut meliputi bahan mentah, barang dalam proses,
barang jadi, ataupun produk final (produk jadi). Istilah persediaan
memberikan pengertian yang berbeda-beda, tetapi pada dasarrya
maksud dan tujuannya adalah sama. Menurut C. Roll Niswonger,
Philip E. Fess, dan Carl S. Wareen, “Istilah persediaan (persediaanes)
merupakan barang dagangan yang disimpan untuk dijual dalam operasi
perusahaan dan merupakan barang yang terdapat dalam proses produksi
atau yang disimpan untuk tujuan itu.”
Sistem persediaan adalah serangkaian kebijaksanaan dan
pengendalian yang memonitor tingkat persediaan dan menentukan
tingkat persediaan yang harus dijaga, kapan persediaan harus diisi,
dan berapa besar pesanan yang harus dilakukan. Sistem ini bertujuan
menetapkan dan menjamin tersedianya sumber daya yang tepat, dalam
kuantitas yang tepat, dan pada waktu yang tepat. Atau dengan kata
lain, sistem dan model persediaan bertujuan untuk meminimumkan biaya total melalui penentuan apa, berapa, dan kapan pesanan
dilakukan secara optimal. Bab ini terutama akan membahas sistem
dan model-model manajemen persediaan yang dapat digunakan untuk
mengendalikan persediaan dan membuat berbagai keputusan investasi
persediaan.
Menurut Ikatan Akuntansi Indonesia dalam buku Standar Akuntansi
Keuangan, pengertian persediaan adalah:
1. Tersedia untuk dijual (dalam kegiatan operasi normal).
2. Dalam proses produksi (dalam kegiatan usaha normal).
3. Dalam bentuk bahan atau perlengkapan (supplies) untuk digunakan
proses produksi atau pemberian jasa.
Tujuan utama dari adanya persediaan sendiri adalah untuk
menghilangkan pengaruh ketidakpastian (safety stock), memberi waktu
luang untuk pengelolaan produksi dan pembelian, dan mengantisipasi
perubahan permintaan dan penawaran.
JENIS-JENIS PERSEDIAAN
Persediaan terdiri atas beberapa jenis. Setiap jenis memiliki karakteristik
dan ciri-ciri khusus tersendiri. Pengelolaan dan pemeliharaannya
pun berbeda-beda. Menurut Heizer dan Render (2004: 61), untuk
mengakomodasi fungsi persediaan, perusahaan memiliki empat jenis
persediaan, yaitu:
1. Persediaan bahan baku (raw material inventory), yaitu bahan baku
yang belum memasuki proses produksi yang kegunaannya untuk
memisahkan para pemasok dari proses produksi.
2. Persediaan barang setengah jadi (working in proses—WIP—
inventory), yaitu bahan baku atau komponen yang sudah mengalami
proses produksi, tetapi masih belum sempurna atau masih belum
menjadi produk jadi.3. MRO (maintenance/repair/operating). Pemeliharaan atau perbaikan
juga diperlukan untuk berjaga-jaga jika ada kerusakan mesin dalam
salah satu proses produksi dan MRO ini harus dijadwalkan atau
diantisipasi.
4. Persediaan barang jadi (finished goods inventory), yaitu produk
akhir yang sudah siap jadi dan siap untuk dijual.
Selain dari keempat jenis persediaan tersebut, Handoko (1999:
334) menambahkan yaitu satu jenis lagi, yaitu persediaan komponenkomponen rakitan (purchased parts/component). Ini adalah persediaan
yang terdiri atas komponen-komponen yang diperoleh dari perusahaanperusahaan lain, dimana komponen tersebut dapat dirakit kembali
menjadi suatu produk jadi.
FUNGSI-FUNGSI PERSEDIAAN
Pesediaan merupakan hal yang sangat penting dalam sebuah
perusahaan. JKekurangan barang persediaan akan mengakibatkan
tertundanya penjualan atau bahkan pembatalan penjualan sehingga
akan menghambat proses pendapatan laba. Kehilangan penjualan
berarti kehilangan pelanggan. Dengan demikian, persediaan memiliki
peranan penting dalam perusahaan. Adapun fungsi-fungsi dari
persediaan, seperti yang telah disebutkan Handoko (1999: 335–336)
dalam bukunya yang berjudul Dasar-Dasar Manajemen Produksi dan
Operasii, ada tiga, yaitu:
1. Fungsi decoupling
Perusahaan memiliki persediaan agar perusahan tidak sepenuhnya
bergantung pada pihak lain untuk memenuhi pesanan, terutama
yang sifatnya spontan. Persediaan bahan mentah diadakan agar
perusahaan tidak sepenuhnya bergantung pada pengadaannya
dalam hal kuantitas dan waktu pengiriman. Persediaan barang dalam proses diadakan agar departemen-departemen dan prosesproses individual perusahaan terjaga kebebasannya. Persediaan
barang jadi diperlukan untuk memenuhi permintaan produk yang
tidak pasti dari para pelanggan. Persediaan dapat digunakan untuk
menghadapi fluktuasi permintaan konsumen yang tidak dapat
diperkirakan atau diramalkan.
2. Fungsi economic lot sizing
Melalui penyimpanan persediaan, perusahaan dapat memproduksi
dan membeli sumber daya dalam kuantitas yang dapat
mengurangi biaya-biaya per unit. Penentuan “lot size” ini perlu
mempertimbangkan biaya-biaya agar perusahaan bisa melakukan
penghematan ndengan membeli dalam jumlah yang besar tetapi
dengan biaya penyimpanan yang tidak besar dibandingkan biaya
pembelian.
3. Fungsi antisipasi
Persediaan memiliki fungsi antisipasi terhadap fluktuasi pelanggan
atau konsumen yang tidak dapat diramalkan berdasarkan
pengalaman-pengalaman masa lalu. Persediaan juga berfungsi
untuk mengantisipasi permintaan musiman sehingga perusahaan
dapat mengadakan persediaan musiman (seasional persediaanes).
Ketidakpastian jangka waktu pengiriman dan permintaan akan
barang-barang selama satu periode merupakan masalah yang sering
dihadapi perusahaan sehingga dibutuhkan persediaan ekstra atau
disebut dengan persediaan pengaman. Selain itu, persediaan (inventory)
dapat memiliki berbagai fungsi penting yang menambah fleksibilitas
dari proses produksi atau operasi suatu perusahaan, yaitu :
1. Untuk memberikan suatu stok barang agar dapat memenuhi
permintaan yang diantisipasi dari konsumen yang bersifat fluktuatif.
2. Untuk memenuhi produksi melalui distribusi. Misalnya, bila
permintaan produksinya tinggi hanya pada awal tahun, perusahaan dapat memenuhi stok selama akhir tahun sehingga biaya
kekurangan stok dan kehilangan pelanggan dapat dihindari.
3. Untuk mengambil keuntungan dari potongan jumlah karena
pembelian dalam jumlah yang besar. Potongan tersebut secara
substansial dapat menurunkan biaya produk.
4. Untuk hmengantisipasi risiko inflasi dan perubahan harga,
menghindari kekurangan stok yang dapat terjadi karena perubahan
cuaca, kekurangan pasokan, masalah mutu, atau pengiriman yang
tidak tepat.
5. Untuk menjaga agar operasi dapat berjalan dengan baik dengan
menggunakan barang dalam proses yang telah disediakan. Hal
seperti ini diperlukan karena kebutuhan waktu yang digunakan
untuk memproduksi barang dan sepanjang berlangsungnya proses
terkumpulnya persediaan (Heizer dan Render, 2001: 314).
KLASIFIKASI PERSEDIAAN
Persediaan diklasifikasikan dalam berbagai macam. Menurut Dobler,
dkk., beberapa klasifikasi persediaan yang digunakan oleh perusahaan
antara lain adalah sebagai berikut.
1. Persediaan produksi.
Persediaan produksi di antaranya adalah meliputi bahan baku
dan bahan-bahan lain yang digunakan dalam proses produksi dan
merupakan bagian dari produk. Persediaan produksi bisa terdiri
atas dua tipe, yaitu item spesial yang dibuat khusus untuk spesifikasi
perusahaan dan item standar produksi yang dibeli secara off-the-self.
2. Persediaan MRO (maintenance, repair, and operating supplies).
Persediaan MRO meliputi barang-barang yang digunakan dalam
proses produksi, tetapi bukan merupakan bagian dari produk.
Contohnya, pelumas dan pembersih.3. Persediaan in-process.
Persediaan in-process, sesuai namanya, meliputi produk-produk
setengah jadi. Produk yang termasuk dalam kategori persediaan
ini bisa ditemukan dalam berbagai proses produksi.
4. Persediaan finished-goods.
Persediaan finished goods meliputi semua produk jadi yang siap
untuk dipasarkan. Misalkan sebuah swalayan yang menjual produkproduk yang siap untuk dipakai dan tidak ada proses pengolahan,
semua persediaan yang dimilikinya termasuk dalam kategori ini.
Setelah diperhatikan definisi persediaan di atas, dapat disimpulkan
bahwa yang dimaksud dengan persediaan bahan baku adalah barangbarang berwujud yang dimiliki dengan tujuan untuk diproses menjadi
barang jadi. Barang ini dihasilkan sendiri dan dibeli dari perusahaan
lain yang merupakan produk akhir dari perusahaan itu. Barang ini
merupakan bahan utama dalam menghasilkan produk akhir. Persediaan
barang penolong atau pembantu adalah bahan-bahan yang diperlukan
untuk menghasilkan produk akhir, tapi tidak secara langsung ikut serta
dalam hasil produk akhir. Dalam perusahaan dagang, barang-barang
yang dibeli dan dimiliki oleh perusahaan untuk dijual kembali disebut
persediaan barang dagangan.
Manajemen persediaan perlu dilaksanakan dengan baik adalah guna
mengetahui secara pasti harga pokok dari barang-barang dagangan
yang terjual. Di samping itu, untuk menjamin lancarnya arus barang
maka perlu diadakan pencatatan terhadap segala penerimaan barang
yang berasal dari supplier, barang yang dipesan oleh langganan, reduksi
bahan baku pada saat proses produksi, barang yang terjual, barang
yang dikembalikan oleh pelanggan, dan penyesuaian-penyesuaian
(adjusment) terhadap barang. Berdasarkan pencatatan tersebut, dapat
diketahui barang mana yang banyak tertimbun (over stock) dan barang
mana yang harus dipesan kembali karena persediaannya sudah menipis. Apabila terjadi pemesanan barang kepada supplier, pemesanan ini juga
perlu dicatat untuk mendapatkan informasi tentang persediaan yang
lengkap. Dengan demikian, segala transaksi tersebut harus dicatat
dengan baik ditemui agar mudah untuk mengetahui keadaan persediaan
secara pasti pada suatu saat. Manajer akan mudah mengetahui berapa
jumlah persediaan barang yang ada dan yang sudah dipasarkan serta
jumlah barang yang sudah dipesan oleh pelanggan (quantity committed)
dan berapa jumlah barang yang dipesan kepada supplier (quantity sold)
dan informasi penting lainnya.
ALASAN MEMILIKI PERSEDIAAN
Salah satu cara mencapai laba yang maksimal adalah dengan
meminimalkan biaya yang berkaitan dengan persediaan. ,Minimalisasi
biaya persiapan dapat dicapai dengan memesan atau memproduksi
dalam jumlah yang kecil, sedangkan untuk meminimalkan biaya
pemesanan dapat dicapai dengan melakukan pesanan yang besar dan
jarang. Jadi, meminimalkan biaya penyimpanan mendorong jumlah
persediaan yang sedikit atau tidak ada, sedangkan meminimalkan
biaya pemesanan harus dilakukan dengan melakukan pemesanan
persediaan dalam jumlah yang relatif besar sehingga mendorong jumlah
persediaan yang besar. Perusahaan harus memilih strategi apa yang akan
memberikan biaya yang paling minimal atau apakah diperlukan untuk
mengombinasikan keduanya.
Alasan kedua yang mendorong perusahaan menyimpan persediaan
dalam jumlah yang relatif besar adalah masalah ketidakpastian
permintaan. Dengan adanya persediaan, perusahaan tetap mampu
memenuhi permintaan jika permintaan akan bahan atau produk lebih
besar dari yang diperkirakan. Dengan demikian, perusahaan dapat
menjaga kepuasan pelanggan.Secara umum, alasan untuk memiliki persediaan adalah untuk
menyeimbangkan biaya pemesanan atau persiapan dengan biaya
penyimpanan, untuk memenuhi permintaan pelanggan, untuk
menyangga proses produksi, untuk memanfaatkan diskon, dan untuk
menghadapi kenaikan harga di masa yang akan datang.
BIAYA-BIAYA PERSEDIAAN
Pengelolaan persediaan merupakan salah satu yang menjadi perhatian
dari manajemen. Manajemen persediaan yang baik akan memperlancar
proses produksi dan menghemat biaya sehingga akan meningkatkan
laba perusahaan yang merupakan tujuan setiap perusahaan.
Menurut Mulyana (2007), unsur biaya yang terdapat dalam
persediaan diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu biaya pemesanan, biaya
penyimpanan, dan biaya kekurangan persediaan. Handoko (1999: 336–
338) menyebutkan bahwa dalam pembuatan sebuah keputusan yang
akan memengaruhi besarnya (jumlah) persediaan, manajer oprasional
harus mempertimbangkan biaya-biaya variabel yang terkait dengan
pengadaan persediaan. Dengan mengetahui biaya-biaya yang terdapat
atau terkait dengan persediaan, manajer diharapkan mampu mengambil
keputusan yang bijak mengenai kadar persediaan yang paling ekonomis
dalam perusahaannya.
1. Biaya Penyiapan
Biaya penyiapan adalah biaya yang dikeluarkan sejak perusahaan
memproduksi bahan-bahan dasar dalam pabrik sendiri. Dengan
demikian, perusahaan menghadapi biaya penyiapan (setup cost)
untuk memproduksi komponen tertentu. Biaya-biaya tersebut
meliputi biaya mesin-mesin menganggur, biaya persiapan tenaga
kerja langsung, biaya scheduling, dan biaya ekspedisi.2. Biaya Pemesanan (Pembelian)
Setiap kali bahan dipesan, perusahaan akan menanggung biaya
pemesanan. Biaya pemesanan meliputi pemrosesan pesanan
dan biaya ekspedisi, upah pegawai, biaya telepon dan Internet,
pengeluaran surat-menyurat, biaya pengepakan dan penimbangan,
biaya pemeriksaan (inspeksi) penerimaan, biaya pengiriman ke
gudang, dan biaya utang lacar.
3. Biaya Penyimpanan
Biaya penyimpanan (holding cost atau carrying cost) tergantung
pada kuantitas persediaan. Semakin besar kuantitas bahan yang
disimpan maka biaya penyimpanan per periode akan semakin
tinggi. Biaya-biaya penyimpanan meliputi:
a. Biaya fasilitas penyimpanan, seperti penerangan, pemanas,
pendingin, atau yang lainnya.
b. Biaya modal, yaitu alternatif pendapatan atas dana yang
diinvestasikan dalam persediaan.
c. Biaya keusangan akibat sisa hasil produksi (limbah) atau barang
yang rusak.
d. Biaya perhitungan fisik dan konsiliasi laporan.
e. Biaya asuransi persediaan.
f. Biaya pajak persediaan.
4. Biaya Kekurangan atau Kehabisan Bahan
Biaya kekurangan atau kehabisan bahan (shortage cost) merupakan
biaya yang paling sulit diperkirakan. Biaya ini timbul apabila
persediaan tidak memenuhi atau mencukupi permintaan.
Termasuk dalam biaya ini meliputi biaya yang disebabkan oleh
kehilangan penjualan, kehilangan pelanggan, tambahan biaya
pemesanan khusus, biaya ekspedisi, selisih harga, terganggunya
operasi, dan tambahan pengeluaran untuk kegiatan manajerial.
MODEL ECONOMIC ORDER QUANTITY (EOQ)
Economic order quantity (EOQ) adalah kuantitas persediaan yang
optimal atau yang menyebabkan biaya persediaan mencapai titik
terendah. Model EOQ ini merupakan suatu rumusan untuk menentukan
kuantitas pesanan yang akan meminimumkan biaya persediaan
(Kusuma, 2002: 132). Konsep EOQ kadang-kadang juga disebut
model fixed order quantity. Model EOQ digunakan untuk menentukan
kuantitas pesanan persediaan untuk meminimumkan biaya langsung
biaya penyimpanan persediaan dan biaya kebalikannya (inverse
cost) pesanan persediaan. Untuk menghitung EOQ sederhana, dapat
mengunakan rumus sebagai berikut:57
2DS Q * H =
Keterangan:
Q* = Jumlah optimal unit per pesanan
D = Penggunaan atau permintaan yang diperkirakan per
periode waktu.
S = Biaya pemesanan (persiapan pesanan dan penyiapan
mesin) per pesanan
H = Biaya penyimpanan per unit per tahun
Model EOQ di atas dapat diterapkan dengan asumsi:
1. Permintaan akan produk adalah konstan seragam dan diketahui.
2. Harga per unit produk adalah konstan.
3. Biaya penyimpanan unit per tahun (H) adalah konstan.
4. Biaya pemesanan per pesanan (S) adalah konstan.5. Waktu antara pesanan yang dilakukan dan barang-barang yang
diterima (lead time, L) adalah konstan.
6. Tidak terjadi kekurangan barang atau backorder.
Di samping model EOQ sederhana tersebut, ada model EOQ
lainnya, yaitu:
1. EOQ dengan backorder.
Dalam EOQ dengan backorder, diasumsikan perusahaan tidak
akan kehilangan penjualan ketika persediaan habis. Jika pelanggan
bersedia menunggu barang yang dipesan dan tidak membeli di
tempat lain, perusahaan tetap bisa melayani pembelian meski
tidak ada persediaan. Pesanan barang yang kemudian diambil
oleh pelanggan disebut backorder. Dengan demikian, model EOQ
dengan backorder dibuat agar memungkinkan adanya backorder.
Output yang dihasilkan pada aplikasi adalah berupa angka-angka
yang menunjukkan kuantitas pemesanan barang yang optimal dan
biaya persediaan yang minimum.
Anggapan-anggapan dan istilah-istilah model backorder identik
dengan EOQ dasar, tetapi ada beberapa pengecualian, yaitu:
a. Ada waktu (t1) dimana ada surplus persediaan (I).
b. Waktu (t2) dimana ada kekurangan persediaan (Q – I).
c. Setiap siklus memerlukan waktu yang sama.
d. Biaya back ordering per unit per tahun adalah konstan (B, Rp
/unit/ tahun).
e. Backorder dan persediaan dipenuhi secara bersamaan.
2. EOQ dengan tingkat produksi terbatas (finite production rate).
Model EOQ dasar mengasumsikan bahwa kuantitas yang dipesan
diterima seluruhnya pada saat yang sama. Namun, beberapa
produk yang dibeli dan diproduksi sendiri perusahaan tidak
selalu memenuhi asumsi tersebut. Jadi, persediaan dipenuhi secara bertahap, tidak secara bersamaan. Kuantitas pesanan tidak
diterima dalam jumlah besar, tetapi diterima dalam jumlah atau
kuantitas yang lebih kecil sejalan dengan kemajuan produksi.
Asumsi lain adalah produk-produk yang dibeli atau diproduksi
sendiri mempunyai tingkat produksi (P) yang relatif lebih besar
dari tingkat permintaan (D).
Perbedaan model ini dengan model dasar adalah sebagai berikut:
a. Kuantitas pesanan tidak dipenuhi semuanya pada saat yang
sama, tetapi dalam kuantitas-kuantitas yang lebih kecil pada
tingkat produksi atau pemenuhan yang konstan (P).
b. Tingkat permintaan (D) besarnya relatif terhadap tingkat
produksi.
c. Selama produksi dilakukan (tp), tingkat pemenuhan persediaan
adalah sama dengan tingkat produksi dikurangi tingkat
permintaan (P – D).
d. Selama Q unit diproduksi, besarnya tingkat persediaan maksimum
kurang dari Q karena penggunaan selama pemenuhan.
3. EOQ dengan model potongan kuantitas.
EOQ dengan model potongan kuantitas mengasumsikan bahwa
perusahaan akan mendapat potongan kuantitas atau harga per unit
yang lebih rendah apabila membeli dalam kuantitas persediaan
yang besar. Pada umumnya, tidak ada rumus sederhana untuk
memecahkan masalah EOQ bila potongan diberikan. Semakin
besar kuantitas pesanan, diskon yang diberikan juga semakin
banyak. Namun, pada saat yang sama, kuantitas yang besar
akan meningkatkan biaya penyimpanan. Jadi, dua hal yang
harus diperhatikan, yaitu biaya produk yang menurun dan biaya
pemesanan yang meningkat. Manajer harus memilih kuantitas
pemesanan yang memberikan biaya total persediaan terendah. Biaya total terdiri atas biaya pemesanan, biaya penyimpanan dan
biaya produk.58
D Q TC S H PD
Q 2
=+ +
Keterangan:
TC = Total biaya
Q = Kuantitas yang dipesan
D = Permintaan tahunan dalam unit
S = Biaya pemesanaan atau pemasangan per pesanan
P = Harga per unit
H = Biaya penyimpanan per unit per tahun
DAMPAK INFLASI TERHADAP EOQ
Inflasi merupakan hal yang harus diperhatikan dalam perhitungan
EOQ. Kenaikan biaya pada salah satu komponen, misalnya biaya
angkutan, akan menyebabkan biaya pemesanan menanjak dengan
cepat. Harga-harga beli juga bisa melonjak secara tiba-tiba dan
berulang-ulang. Selain itu, biaya modal juga berubah dengan cepat.
Dengan demikian, nilai-nilai yang digunakan dalam persamaan EOQ
tidak bisa digunakan dalam jangka waktu yang agak lama sehingga
kuatitas pesanan yang optimum tidak akan tetap. Beberapa perusahaan
memerlukan fleksibilitas yang longgar dalam pengaturan waktu pesanan
mereka daripada yang ditentukan oleh titik pesan secara otomatis. Ini
diperlukan agar mereka mampu membeli produk tambahan dengan
harga yang lebih murah. Alternatif lainnya, perusahaan bisa menumpuk
persediaan dalam rangka memanfaatkan dan berjaga-jaga menghadapi
kekurangan persediaan. Jadi, ketika terjadi inflasi atau adanya kebijakan
moneter yang ketat, diperlukan manajemen persediaan yang lebih luwes agar tetap bisa menikmati harga yang lebih rendah dan berjaga-jaga
menghadapi keadaan yang tak terduga di masa depan. Dasar pemikiran
model persediaan tetap saja tidak berubah, yaitu bahwa beberapa jenis
biaya akan meningkat karena persediaan yang lebih besar, dan biayabiaya lainnya akan turun. Angka optimum persediaan harus disesuaikan
secara berkesinambungan seiring perubahan kondisi internal maupun
eksternal.
JUST IN TIME
Just in time dikembangkan pertama kali di negara Jepang oleh
perusahaan Toyota, dan kemudian diadopsi oleh banyak perusahaan
manufaktur di Jepang dan Amerika Serikat, seperti: Hewlet Packard,
IBM, dan Harley Davidson. Salah satu pendekatan untuk mengeliminasi
pemborosan dalam perusahaan manufaktur telah muncul, yaitu suatu
filosofi operasi yang disebut just in time. Just in time merupakan suatu
filosofi operasi manajemen, yaitu bagaimana setiap sumber daya,
termasuk material personel, dan fasilitas, digunakan dalam keadaan
tepat waktu.
Just in time menggunakan struktur sel manufaktur. Dengan
struktur ini, mesin yang diperlukan untuk membuat sebuah produk
dikelompokkan ke dalam sebuah sel manufaktur. Jika perusahaan
menghasilkan dua jenis produk, akan terdapat dua sel, sel A khusus
untuk membuat produk A, dan sel B khusus untuk membuat produk
B. Setiap sel terdiri atas beberapa mesin yang digunakan khusus untuk
membuat produk masing-masing sel tersebut. Misalkan pada sel A akan
terdapat tiga buah mesin, yaitu mesin nomor 1, mesin nomor 2, dan
mesin nomor 3. Sedangkan, sel B juga akan berisi 3 buah mesin yang
khusus digunakan untuk membuat produk B. Sel-sel ini pada dasarnya
merupakan pabrik mini sehingga dengan menggunakan konsep sel
seolah-olah ada pabrik dalam pabrik.Just in time memiliki dua tujuan strategis, yaitu untuk meningkatkan
keuntungan dan memperbaiki daya saing perusahaan. Kedua tujuan
ini dicapai dengan mengontrol biaya-biaya serta memperbaiki kerja
pengiriman dan kualitas. Tujuan just in time adalah menghasilkan
sebuah produk hanya ketika dibutuhkan dan hanya dalam kuantitas yang
diminta oleh para pelanggan. Manfaat utama sistem just in time adalah
akan mengubah daya telusur biaya, meningkatkan akurasi penentuan
biaya produk, menurunkan kebutuhan alokasi biaya tidak langsung,
mengubah perilaku dan kepentingan relatif biaya tenaga kerja langsung,
dan memengaruhi sistem penentuan biaya pesanan dan biaya proses.
Menurut Hansen dan Mowen (2001), dan Kartika Hendra (2009),
terdapat beberapa keunggulan dan kelemahan dari metode JIT. Berikut
ini beberapa keunggulan dari metode JIT.
1. Menghilangkan pemborosan dengan cara memproduksi suatu
produk hanya dalam kuantitas yang diminta pelanggan.
2. Persediaan kecil, mungkin nol.
3. Tata letak pabrik, dikelompokkan satu macam produk, atau sistem
sel.
4. Pengelompokan karyawan dalam satu jenis produk.
5. Pemberdayaan karyawan, karyawan dilatih dan dididik terusmenerus menyesuaikan dengan perubahan alat kerja dan metode
kerja.
6. Pengendalian mutu terpadu, semua orang bertanggung jawab
terhadap mutu produk.
Beberapa kelemahan JIT adalah bagi perusahaan yang memproduksi
secara massal akan kesulitan untuk melayani pesanan pelanggan
saja dan hanya memproduksi satu jenis produk. Selain itu, dengan
jumlah persediaan yang ditetapkan pada tingkat seminimal mungkin,
perusahaan perlu mengusahakan agar persediaan segera tiba saat
dibutuhkan untuk aktivitas produksi. Hal-hal yang dibutuhkan dalam sistem JIT adalah dan koordinasi yang baik antara perusahaan, pemasok,
dan perusahaan ekspedisi agar persediaan datang tepat waktu.
JIT tidak membenarkan biaya pemesanan yang bersifat tetap.
Langkah-langkah yang dapat diambil untuk mengurangi biaya
pemesanan, antara lain:
1. Penggunaan truk pengiriman berukuran kecil dengan jadwal
pemuatan yang ditentukan agar hemat waktu dan biaya.
2. Menegaskan kepada pemasok untuk memberikan barang yang
berkualitas agar mengurangi biaya pemeriksaan.
3. Produk, peralatan, dan prosedur dimodifikasi sedemikian rupa
sehingga dapat mengurangi waktu dan biaya.
METODE ABC SYSTEM
Metode ABC system adalah metode dimana perusahaan membagi
persediaannya menjadi tiga kelompok, yaitu A, B, dan C. Kelompok
A mencakup 20 persen persediaan, tetapi membutuhkan 80 persen
total investasi. Kelompok A adalah persediaan yang paling bernilai
bagi perusahaan. Kelompok C adalah persediaan yang memerlukan
investasi yang paling kecil (paling kurang bernilai). Kelompok B adalah
persediaan yang berada di antara A dan C. Yang dimaksud dengan nNilai
yang dimaksud dalam klasifikasi ABC bukanlah harga persediaan per
unit, melainkan volume persediaan yang dibutuhkan dalam satu periode
(biasanya satu tahun) dikalikan dengan harga per unit.
Masing-masing kelompok meiliki cara penanganan yang berbeda.
Untuk kelompok A dan B, perusahaan dapat menggunakan model
EOQ. Untuk kelompok C, karena nilainya sedikit, perusahaan dapat
menerapkan metode yang sederhana, yaitu metode garis merah.
Sesuai namanya, perusahaan cukup menandai dinding gudang (pada
ketinggian tertentu) dengan garis merah. Jika persediaan sudah berada
di bawah garis merah, maka pemesanan kembali harus segera dilakukan. Pengendalian persediaan dapat dilakukan dalam berbagai cara, antara
lain dengan menggunakan analisis nilai persediaan. Dalam analisis ini,
persediaan dibedakan berdasarkan nilai investasi yang terpakai dalam
satu periode.
Kriteria klasifikasi kelompok persediaan yang lebih lengkap adalah
sebagai berikut.
1. Kelas A. Persediaan kelas A meliputi persediaan yang memiliki
volume tahunan rupiah yang tinggi. Nilai persediaan kelas ini
mewakili sekitar 70 persen dari total persediaan, meskipun
jumlahnya hanya sedikit, biasanya hanya 20 persen dari seluruh
item. Persediaan yang termasuk dalam kelas ini memerlukan
perhatian yang tinggi dalam pengadaannya karena berdampak
pada signifikan pada biaya sehingga pengawasannya harus intensif.
2. Kelas B. Persediaan kelas B meliputi persediaan dengan nilai rupiah
tahunan yang menengah. Kelompok ini mewakili sekitar 20 persen
dari total nilai persediaan tahunan, dan sekitar 30 persen dari
jumlah item. Pengendalian dan pengawasan bisa dilakukan secara
moderat.
3. Kelas C. Persediaan kelas C meliputi barang dengan nilai rupiah
tahunannya rendah yang mewakili hanya sekitar 10 persen dari total
nilai persediaan, tetapi meliputri sekitar 50 persen dari jumlah item
persediaan. Di sini, diperlukan teknik pengendalian yang sederhana
dan pengendalian hanya dilakukan sesekali saja.
Nilai persentase di atas tidak mutlak, namun tergantung dari
kebijakan perusahaan. Demikian pula jumlah kelas, tidak terbatas pada
tiga kelas. Perusahaan dapat melakukan klasifikasi untuk lebih atau
kurang dari tiga kelas.MATERIAL REQUIREMENT PLANNING SYSTEM
Salah satu sistem yang dapat digunakan untuk melakukan pengendalian
terhadap persediaan dalam konteks permintaan yang dependen adalah
material requirement planning (MRP) system atau sering disebut “Little”
MRP. Material requirement planning merupakan sistem yang dirancang
untuk kepentingan perusahaan manufaktur, termasuk perusahaan
kecil. Sistem MRP merupakan pendekatan yang logis dan mudah
dipahami untuk memecahkan masalah-masalah yang terkait dengan
penentuan jumlah bagian, komponen, dan material yang diperlukan
untuk menghasilkan produk akhir. Sistem MRP juga memberikan
skedul waktu yang terperinci kapan setiap komponen, material,
dan bagian harus dipesan atau diproduksi. Sistem MRP didasarkan
pada permintaan dependen, yaitu permintaan yang disebabkan
oleh permintaan terhadap item level yang lebih tinggi. Misalnya,
permintaan akan kain dalam perusahaan garmen, kain merupakan
permintaan dependen yang tergantung pada permintaan baju. Material
requirement planning digunakan pada berbagai industri terutama yang
berkarakteristik job-shop, yakni industri yang memproduksi sejumlah
produk dengan menggunakan peralatan produksi yang relatif sama.
Sistem MRP tidak akan cocok bila diterapkan pada perusahaan yang
menghasilkan produk dalam jumlah yang relatif sedikit.
PENUTUP
Sistem persediaan adalah serangkaian kebijaksanaan dan pengendalian
yang memonitor tingkat persediaan dan menentukan tingkat persediaan
yang harus dijaga, kapan persediaan harus diisi, dan berapa besar
pesanan yang harus dilakukan. Sistem ini bertujuan menetapkan dan menjamin tersedianya sumber daya yang tepat, dalam kuantitas
yang tepat, dan pada waktu yang tepat. Biaya persediaan terdiri atas
biaya penyiapan, biaya pemesanan, biaya penyimpanan, dan biaya
akibat kekurangan persediaan. Economic order quantity (EOQ) adalah
kuantitas persediaan yang optimal atau yang menyebabkan biaya
persediaan mencapai titik terendah. Ada tiga macam model EOQ selain
model EOQ dasar, yaitu EOQ dengan backorder, EOQ dengan tingkat
produksi terbatas, dan EOQ dengan model potongan kuantitas.
Tiga metode guna mengelola persediaan dapat digunakan oleh
perusahaan, yaitu metode just in time, metode ABC system, dan
material requirement planning. Dengan berbagai alat dan metode
tersebut, perusahaan bisa melakukan manajemen persediaan dengan
mempertimbangkan faktor-faktor lain, seperti perubahan kondisi
ekonomi, seperti inflasi, atau perubahan biaya bahan baku dan lain-lain.
Perusahaan mempunyai kegiatan yang beragam, mulai perencanaan,
produksi, personalia, pembelajaran, hingga pemasaran dan pendistribusian.
Kegiatan-kegiatan tersebut pada dasarnya guna mencapai tujuan
perusahaan. Apapun bentuk jenis usaha yang dilakukan, tujuan perusahaan
adalah keuntungan berupa uang. Untuk dapat mencapai tujuan tersebut,
perusahaan harus melaksanakan aktivitasnya dengan lancar, cepat, dan
hemat biaya sehingga dapat memenuhi selera konsumen dan mendapat
kepercayaan yang tinggi. Kepercayaan konsumen adalah modal yang
sangat vital. Dengan adanya kepercayaan dari konsumen, dapat dipastikan
bahwa produk yang dibuat akan dimanfaatkan oleh mereka. Untuk
menjamin produk dapat memenuhi kebutuhan konsumen, perusahaan perlu mengontrol persediaan yang ada agar siap menjawab kebutuhan
konsumen setiap saat, tepat pada waktunya.
Salah satu cara untuk mengendalikan persediaan adalah dengan
metode material requirement planning (MRP), yaitu teknik pendekatan
yang bertujuan meningkatkan produktivitas perusahaan dengan
cara menjadwalkan kebutuhan akan material dan komponen untuk
membantu perusahaan dalam mengatasi kebutuhan minimum dari
komponen-komponen yang kebutuhannya dependen dan menjamin
tercapainya produksi akhir. Material requirement planning (MRP)
diperkenalkan oleh Olive Weight yang berasosiasi dengan Joseph
Oirlicky pada tahun 60-an, diperkenalkan. Toyota Company Jepang
adalah yang pertama kali menerapkan teknik ini.
Terdapat banyaknya metode dalam manajemen material. Para
pengambil keputusan harus untuk menguasai setiap metode pengadaan
material dalam manajemen material, mengetahui kelebihan dan
kekurangan setiap metode, serta dapat menggunakan metode yang
tepat sesuai dengan keadaan yang dihadapi. Salah satu metode dalam
manajemen material adalah material requirement planning (MRP).
Pada mulanya, MRP adalah suatu metode pemesanan material.
Saat ini, metode tersebut telah digunakan sebagai alat perencanaan
dan pengawasan terhadap fungsi manajemen. Material requirement
planning (MRP) juga merupakan konsep dari suatu mekanisme untuk
menghitung material yang dibutuhkan, kapan diperlukan, dan berapa
banyak.
PENGERTIAN MRP
Demi terjaminnya kelancaran produksi, ketepatan waktu penerimaan
bahan baku dan bahan pendukung lainnya oleh pihak produksi
merupakan faktor yang sangat penting. Tanpa perencanaan yang
matang serta pengendalian yang ketat, semakin tinggi risiko terjadinya ketidaktepatan waktu dalam pemasokan dan penerimaan material yang
akan mengakibatkan produksi tidak mampu untuk menghasilkan jumlah
unit produk yang dibutuhkan oleh pelanggan/konsumen. Dengan
demikian, diperlukan suatu teknik ataupun sistem yang berfungsi
untuk merencanakan jadwal keperluan material yang dibutuhkan.
Teknik ataupun sistem tersebut biasanya disebut material requirement
planning atau disingkat dengan MRP. Dalam bahasa Indonesia, MRP
atau material requirement planning ini sering diterjemahkan menjadi
perencanaan kebutuhan material.
Menurut Stevenson (2005), MRP adalah suatu sistem informasi
berbasis komputer yang menerjemahkan jadwal produksi induk (master
production schedule) untuk barang jadi (produk akhir) menjadi beberapa
tahapan kebutuhan sub-assy, komponen, dan bahan baku. Dengan
demikian, dapat kita katakan bahwa MRP adalah rencana produksi
untuk sejumlah produk jadi dengan menggunakan tenggang waktu
sehingga dapat ditentukan kapan dan berapa banyak dipesan untuk
masing-masing komponen suatu produk yang akan dibuat.
TUJUAN PENERAPAN MRP
Penerapan MRP pada suatu perusahaan manufaktur memiliki
beberapa tujuan. Pertama, MRP digunakan mengendalikan tingkat
persediaan. MRP dapat menentukan jumlah komponen/bahan
baku yang dibutuhkan dan kapan komponen/bahan baku tersebut
dibutuhkan untuk suatu jadwal produksi induk (master production
schedule). Sistem MRP juga dapat menentukan prioritas item dan
merencanakan kapasitas yang akan dibebankan pada sistem produksi.
Dengan demikian, perusahaan manufaktur yang bersangkutan hanya
perlu membeli material (komponen/bahan baku) tersebut pada saat
dibutuhkan saja sehingga dapat menghindari kelebihan persediaan
material. Kedua, MRP digunakan untuk mengurangi waktu tenggang (lead
time) produksi dan pengiriman ke pelanggan. MRP mengidentifikasikan
jumlah dan waktu material yang dibutuhkan sehingga pihak pembelian
dapat melakukan tindakan yang tepat untuk memenuhi batas waktu
yang ditetapkan. Oleh karena itu, MRP dapat membantu untuk
menghindari keterlambatan produksi yang disebabkan oleh material.
Tujuan MRP yang lain adalah membuat komitmen pengiriman yang
realistis kepada pelanggan. Dengan menggunakan MRP, pihak produksi
dapat memberikan informasi yang cepat terhadap kemungkinan waktu
pengirimannya. Terakhir, eodengan adanya MRP, setiap unit kerja
dapat terkoordinasi dengan baik sehingga dapat meningkatkan efisiensi
operasional setiap unit kerja pada perusahaan yang menerapkan MRP
tersebut.
Secara umum, tujuan pengelolaan persediaan dengan menggunakan
sistem MRP tidak berbeda dengan sistem lain, yaitu memperbaiki layanan
kepada pelanggan, meminimalkan investasi pada persediaan, dan
memaksimalkan efisiensi operasi. Filosofi MRP adalah “menyediakan”
komponen dan material yang diperlukan pada jumlah, waktu, dan
tempat yang tepat.
MANFAAT MRP
Pada perusahaan yang bergerak di bidang perdagangan yang
menghasilkan barang jadi, proses produksi merupakan kegiatan inti
dari perusahaan tersebut. Agar produksi berjalan lancar, bahan baku
yang merupakan input dari proses produksi harus selalu tersedia sesuai
dengan kebutuhan. Dengan demikian, dibutuhkan perencanaan bahan
baku untuk menjaga kelangsungan proses produksi yang berdampak
pada kelangsungan hidup perusahaan. Perencanaan juga harus
mengantisipasi setiap permintaan konsumen yang tidak terduga dengan
adanya persediaan bahan baku.Material requirement planning (MRP) digunakan untuk pengadaan
bahan baku. Sistem MRP bermanfaat untuk mengetahui jumlah bahan
baku yang akan dipesan sesuai dengan kebutuhan produksi dengan
memperhitungkan juga biaya-biaya yang akan timbul akibat dari
persediaan, seperti biaya pemesanan dan biaya penyimpanan.
Beberapa perusahaan jasa juga menerapkan MRP, tetapi jarang
sekali. Bukan karena teknik ini tidak dapat diterapkan, tetapi karena
pertumbuhan MRP dibatasi oleh item persediaan. Namun, sistem
MRP sangat berpotensi untuk dikembangkan karena MRP dapat
digunakan untuk mengendalikan sumber daya berupa bahan baku,
fasilitas, peralatan, dan tenaga kerja dengan baik. Sistem ini juga dapat
mengendalikan item yang tidak dapat diperbarui, seperti tenaga kerja.
Material requirement planning merupakan metode yang sangat tepat
apabila persediaan dalam industri jasa berupa peralatan, ruangan, dan
personalia. Sebagai contoh, rencana ruang operasi, hotel, MPS berupa
jadwal konsultasi, BOM berupa kebutuhan peralatan dan personalia,
dokter, perawat, ahli ruang operasi, dan lain-lain. Catatan persediaan
berupa kemampuan sumber daya dan komitmen mereka terhadap
proyek tersebut. Berdasarkan hal tersebut, jadwal yang dihasilkan
berisi waktu dimulainya operasi, keseluruhan waktu yang diharapkan,
kebutuhan bahan, dan lain-lain. Dengan demikian, MRP bisa menjadi
aset yang sangat penting dalam bidang jasa ke depannya.
Jika dirangkum, manfaat MRP, di antaranya, adalah meningkatkan
pelayanan dan kepuasan konsumen, meningkatkan pemanfaatan
fasilitas dan tenaga kerja, perencanaan dan penjadwalan persediaan
yang lebih baik, tanggapan yang lebih cepat terhadap perubahan dan
pergeseran pasar, dan tingkat persediaan menurun tanpa mengurangi
pelayanan kepada konsumen.SISTEM MRP
Sebagai suatu sistem, MRP memiliki input dan output. Input sistem MRP
adalah master production schedule (MPS) atau jadwal produksi induk,
inventory status file (berkas status persediaan), dan bill of materials
(BOM) atau daftar material, sedangkan output-nya adalah order release
requirement (kebutuhan material yang akan dipesan), order scheduling
(jadwal pemesanan material), dan planned order (rencana pemesanan di
masa yang akan datang). Ketiga input penting MRP, atau perencanaan
kebutuhan material, dan output-output MRP akan dibahas lebih lanjut
pada bagian berikutnya
Master Production Schedule (MPS)
Master production schedule atau jadwal produksi induk adalah suatu
perencanaan yang yang menggambarkan hubungan antara kuantitas
setiap jenis produk akhir yang diinginkan dan waktu penyediaan.
Rencana ini terdiri atas tahapan waktu dan jumlah produk jadi yang
akan diproduksi oleh sebuah perusahaan manufaktur. Master production
schedule digunakan untuk mengetahui jadwal masing-masing barang
yang akan diproduksi, yaitu kapan barang tersebut akan dibutuhkan
sehingga dapat kita gunakan sebagai landasan penyusunan MRP.
Master production schedule ini pada umumnya berdasarkan order
(pesanan) pelanggan dan perkiraan order (forecast) yang dibuat oleh
perusahaan sebelum dimulainya sistem MRP. Pada dasarnya, MRP
adalah terjemahaan dari MPS (jadwal produksi induk) untuk material.
Inventory Status File (Berkas Status Persediaan)
Inventory status file, atau berkas status persediaan, adalah hasil
perhitungan persediaan dan kebutuhan bersih untuk setiap periode
perencanaan. Setiap persediaan harus memberikan informasi status
yang jelas dan terbaru mengenai jumlah persediaan yang ada saat ini,
jadwal penerimaan material, rencana pembelian yang akan diserahkan
ke pemasok, serta berbagai perubahan persediaan sehubungan dengan
adanya kerugian akibat sisa bahan, pesanan yang dibatalkan, dan lainlain. Informasi ini juga harus meliputi jumlah lot (lot sizes), teknik lot
size, lead time (tenggang waktu), safety stock level, jumlah material yang
rusak/cacat, dan catatan penting lainnya.
Data ini menjadi landasan untuk pembuatan MRP karena
memberikan informasi tentang jumlah persediaan bahan baku dan
barang jadi yang aman (minimum) serta keterangan lainnya, seperti
kapan kita mendapat kiriman barang, berapa jangka waktu pengiriman
barang (lead time), dan berapa besar kelipatan jumlah pemesanan barang
(lot size). Semua keterangan tersebut akan mendukung penyusunan
MRP yang tepat sehingga sesuai dengan tujuan awalnya untuk
merencanakan jumlah dan waktu pesanan bahan baku yang tepat agar
proses produksi tidak terlambat.
Bill of Materials (BOM)
Bill of material (BOM) adalah daftar yang berisi informasi mengenai
jumlah masing-masing bahan baku, bahan pendukung, dan sub-assy
(semi produk) yang dibutuhkan untuk membuat suatu produk jadi.
Informasi tersebut dapat disusun dalam bentuk pohon produk (product
structure tree). Bill of material tidak hanya menspesifikasikan produksi,
tetapi juga berguna untuk pembebanan biaya dan dapat dipakai sebagai
daftar bahan yang harus dikeluarkan untuk karyawan produksi atau
perakitan. Bill of material yang digunakan dengan cara ini biasanya
dinamakan daftar pilih.
Informasi tersebut sangat rinci sehingga BOM dapat digunakan untuk
mengetahui susunan barang yang akan diproduksi, menggunakan bahan
apa saja, apakah bahan tersebut langsung dibeli atau dibuat dengan
bahan dasar yang lain sehingga jelas dalam menentukan pemesanan
bahan-bahan baku agar produksi tetap berjalan lancar. Pohon struktur
produk (product structure tree) adalah salah satu item informasi yang
ada dalam bill of material. Pohon struktur produk merupakan bagan
informasi tentang hubungan antara produk akhir dengan komponenkomponen penyusunnya. Tidak hanya memberikan informasi tentang
hubungan antara komponen dalam suatu perakitan, struktur produk
juga memberikan informasi tentang semua item, seperti nomor
komponen dan jumlah yang dibutuhkan pada setiap pembelian.
Struktur produk dibagi lagi menjadi dua jenis, yaitu:
1. Struktur produk level tunggal yang menggambarkan hubungan
antara produk akhir komponen-komponen penyusunnya dimana
komponen-komponen tersebut langsung membentuk produk akhir
atau berada satu level di bawah produk akhir.
2. Struktur produk multilevel yang menggambarkan hubungan antara
produk akhir dengan komponen penyusunnya dimana komponenkomponen tersebut memerlukan komponen-komponen lain untuk
membuatnya dan begitu seterusnya. Misalnya, untuk membuat satu unit produk akhir X diperlukan dua unit komponen A dan satu
unit komponen B, sementara untuk membuat satu unit komponen
B diperlukan tiga unit komponen C dan satu unit komponen D.
Dengan demikian, informasi dalam bill of materials sangat rinci
sehingga BOM dapat digunakan untuk mengetahui susunan barang
yang akan diproduksi, menggunakan bahan apa saja, apakah bahan
tersebut langsung dibeli atau dibuat dengan bahan dasar yang lain
sehingga jelas dalam menentukan pemesanan bahan-bahan baku agar
produksi tetap berjalan lancar.
Ketiga sumber tersebut, skedul master, bill of material, dan inventory
status menjadi sumber data bagi MRP yang akan menjabarkan skedul
produksi menjadi rencana skedul pemesanan secara detail untuk
keseluruhan urutan produksi. Selain ketiga input di atas, ada juga
masukan tambahan, seperti pesanan komponen dari perusahaan lain
yang membutuhkan, peramalan atas item yang bersifat tidak bergantung,
dan status persediaan.
PROSES MPR
Proses MRP meliputi aktivitas-aktivitas yang dilakukan berdasarkan
MPS, inventory status file, dan BOM. Hal yang harus dilakukan oleh
perusahaan dalam menghasilkan produknya adalah menentukan
kapan barang tersebut dibutuhkan. Apabila waktunya sudah diketahui,
perusahaan harus pula merancang lead time. Lead time adalah waktu
mulai dari persiapan sampai penyelesaian dimana dalam penyelesaian
ini akan berhadapan dengan waktu menunggu, pemindahan, pembelian,
dan mempersiapkan komponen yang akan dibeli.
Setelah mengetahui lead time setiap komponen, manajer dapat
menentukan kebutuhan bruto, kebutuhan neto, persediaan on
hand, rencana pemesanan, rencana penerimaan, dan rencana realisasi penerimaan. Kebutuhan bruto merupakan jumlah total setiap item
yang dibutuhkan untuk memproduksi sejumlah barang tertentu,
sedangkan kebutuhan neto menyesuaikan persediaan yang dimiliki,
yaitu kebutuhan bruto dikurangi persediaan yang ada.
Selanjutnya, manajer dapat membuat jadwal penerimaan
merupakan jadwal yang berkaitan dengan penyelesaian dan pengiriman
pesanan barang ke konsumen dan jadwal penerimaan pesanan item
untuk menghasilkan produk tersebut. Hal yang berikutnya dilakukan
adalah menentukan persediaan yang tersedia di perusahaan (on hand),
yaitu jumlah persediaan yang masih tersisa di setiap akhir periode
yang didasarkan pada keseimbangan, proyeksi kebutuhan, dan jadwal
penerimaan.
OUTPUT MRP
Output (keluaran) MRP adalah informasi yang dapat digunakan
untuk melakukan pengendalian produksi. Keluaran pertama berupa
rencana pemesanan yang disusun berdasarkan waktu ancang dari setiap
komponen atau item. Dengan adanya rencana pemesanan, kebutuhan
bahan pada tingkat yang lebih rendah dapat diketahui. Selain itu,
proyeksi kebutuhan kapasitas juga akan diketahui, yang selanjutnya
akan memberikan revisi atas perencanaan kapasitas yang dilakukan
pada tahap sebelumnya.
Kegunaan output dari MRP adalah memberikan catatan pesanan
penjadwalan yang harus dilakukan/direncanakan, baik dari pabrik
maupun dari pemasok, memberikan indikasi penjadwalan ulang,
memberikan indikasi pembatalan pesanan, dan memberikan indikasi
keadaan persediaan. Dengan demikian, secara garis besar, MRP bukan
hanya menyangkut manajemen material dan persediaan saja, tetapi
juga memengaruhi aktivitas perencanaan dan pengendalian produksi
sehari-hari di perusahaan.
PRASYARAT DAN ASUMSI DARI MRP
Tujuan utama MRP adalah menghasilkan informasi persediaan yang dapat
digunakan untuk mendukung ketepatan dalam melakukan produksi.
Agar MRP dapat berfungsi dan dioperasikan secara efektif, beberapa
persyaratan dan asumsi harus dipenuhi. Berikut persyaratannya.
1. Tersedianya jadwal induk produksi (MPS), yaitu rencana
produksi yang menetapkan jumlah serta waktu suatu produk
akhir harus tersedia agar sesuai jadwal produksi dapat terpenuhi.
Jadwal induk produksi ini biasanya diperoleh dari hasil peramalan
kebutuhan melalui tahapan perhitungan perencanaan produksi
yang baik
2. Setiap item persediaan harus mempunyai identifikasi yang khusus.
Biasanya MRP terkomputerisasi karena begitu banyaknya jumlah
komponen yang harus ditangani. Oleh karena itu, setiap item harus
memiliki klasifikasi yang jelas, meliputi bahan, bagian komponen,
perakitan setengah jadi, dan produk akhir.
3. Tersedianya struktur produk pada saat perencanaan. Struktur
produk yang diperlukan tidak harus struktur produk yang memuat
semua item yang terlibat dalam pembuatan suatu produk jika itemnya sangat banyak dan proses pembuatannya sangat komplek. Hal
terpenting adalah struktur produk harus mampu menggambarkan
secara gamblang langkah-langkah bagaimana suatu produk dibuat
hingga menjadi barang jadi.
4. Tersedianya catatan tentang persediaan untuk semua item yang
menyatakan status persediaan.
Ciri utama MRP ada empat, yaitu:
1. Mampu menentukan kebutuhan pada saat yang tepat ketika suatu
pekerjaan akan selesai (material harus tersedia) untuk memenuhi
permintaan produk yang dijadwalkan berdasarkan MPS.
2. Menentukan kebutuhan minimal setiap item dengan menentukan
secara tepat sistem penjadwalan.
3. Menentukan pelaksanaan rencana pemesanan dengan memberikan
indikasi kapan pemesanan atau pembatalan suatu pesanan harus
dilakukan.
4. Menentukan penjadwalan ulang atau pembatalan atas suatu
jadwal yang sudah direncanakan. Jika kapasitas yang ada tidak
mampu memenuhi pesanan yang dijadwalkan pada waktu yang
dikehendaki, MRP dapat memberikan indikasi untuk melaksanakan
rencana penjadwalan ulang (jika mungkin) dengan menentukan
prioritas pesanan yang realistis. Seandainya penjadwalan ulang
ini masih tidak memungkinkan untuk memenuhi pesanan, harus
dilakukan pembatalan terhadap pesanan tersebut.
STRATEGI IMPLEMENTASI MRP
Material requirement planning merupakan terobosan besar bagi dunia
industri dalam mengatur bahan-bahan material yang dibutuhkan untuk
proses produksi. Dengan MRP, perusahaan dapat emeningkatkan
efisiensi gudang sekaligus mencegah kemungkinan kekurangan
persediaan. Semua proses pengaturan untuk bahan material yang
dibutuhkan dilakukan hanya dengan memasukkan data yang
dibutuhkan dan software MRP yang akan memproses semuanya.
Fasilitas yang disediakan MRP adalah:
1. Proses pengisian dan pemesanan data dealer penjualan dan supplier
material.
2. Proses pemesanan yang mudah, baik dari dealer penjualan ataupun
untuk supplier material.
3. Data material yang mudah diperbaharui, jadwal produksi,
pencarian data, dan proses MRP.
Konsep MRP adalah mempermudah pengaturan bahan material.
Oleh karena itu, software dibuat dengan konsep user friendly dan fasilitas
yang benar-benar mempermudah dan mampu meningkatkan efisiensi
para pengguna.
PENGENDALIAN PERSEDIAAN MENGGUNAKAN MRP
Pengendalian persediaan merupakan langkah penting dalam manajemen
persediaan. Pengendalian untuk melakukan perhitungan berupa jumlah
optimal tingkat persediaan yang harus ada serta waktu pemesanan
kembali. Pengaturan dan pengawasan terhadap barang material penting
dalam sistem produksi. Perencanaan kebutuhan MRP adalah suatu
sistem informasi yang terkomputerisasi untuk mengatur persediaan
permintaan yang dependen dan mengatur jadwal produksi. Sistem ini
bertujuan untuk mengurangi tingkat persediaan dan meningkatkan
produktivitas.
Untuk mempermudah pengendalian, terdapat dua hal penting
dalam MRP, yaitu lead time dan berapa banyaknya jumlah material
yang siap dipesan. Metode MRP dapat memesan sejumlah barang
atau persediaan sesuai dengan jadwal produksi sehingga tidak akan
ada pembelian barang walaupun persediaan telah berada pada tingkat
terendah. MRP dapat mengatasi masalah-masalah kompleks dalam
persediaan yang memproduksi banyak produk, seperti kebingungan,
inefisiensi, pelayanan yang tidak memuaskan konsumen, dan lain-lain.
Penentuan kebutuhan material yang pasti dalam proses produksi
akan meminimalkan kerugian yang timbul dalam terkaitannya dengan
persediaan. Dengan menggunakan metode MRP untuk melakukan
penjadwalan produksi, perusahaan akan menentukan secara tepat
perencanaan tanggal perencanaan pekerjaan yang realistis, pekerjaan
dapat selesai tepat pada waktunya, janji kepada konsumen dapat ditepati,
dan waktu tenggang pemesanan dapat dikurangi.
KEUNTUNGAN DAN KERUGIAN MRP
Material requirement planning banyak digunakan di berbagai jenis
industri yang menggunakan aliran proses intermiten dan tidak termasuk
proses selanjutnya, seperti perusahaan minyak dan baja. MRP sangat
bermanfaat pada perusahaan yang beroperasi dalam perakitan dan
kurang bermanfaat bagi perusahaan pabrikasi. Di sisi lain, MRP kurang
menguntungkan digunakan untuk perusahaan yang memiliki jumlah
produksi per tahun yang rendah, terutama pada perusahaan yang
menghasilkan produk yang mahal dan kompleks serta membutuhkan
riset dan desain. Berdasarkan pengalaman yang ada, lead time
menyebabkan terlalu lama dan terjadi ketidakpastian.
Keuntungan sistem MRP dapat dirangkum sebagai berikut.
1. Di bidang persediaan, MRP memberikan informasi koordinasi
pesanan yang lebih baik untuk komponen-komponen dengan
rencana item sehingga jumlah rata-rata persediaan item permintaan
independen dapat dikurangi. Perusahaan hanya memesan apa yang
dibutuhkan.
2. Di bidang produksi, sumber daya manusia dan modal (kapasitas)
digunakan lebih baik karena informasi MRP menunjukkan adanya
penundaan komponen yang disebabkan oleh penting lainnya
tidak tersedia. Pengiriman yang lebih memungkinkan dilakukan
karena informasinya sangat akurat. MRP juga digunakan untuk
memperbaiki arus kerja dengan mengurangi waktu menganggur
dan hasilnya dapat mengurangi waktu proses produksi.
3. Di bidang penjualan, karena pengiriman dilakukan tepat seperti
yang diinginkan oleh konsumen, maka akan terjadi perbaikan
kemampuan perusahaan dalam melayani pelanggan dengan
melakukan perakitan tepat waktu dan menghilangkan lead time.
Penjualan MRP juga menyebabkan penjadwalan lebih baik karena
prioritas pengetahuan.4. Di bidang perencanaan, MRP dapat mengubah jadwal induk
berdasarkan evaluasi yang dilakukan dan memberikan fasilitas
sistem yang berupa gambar perlengkapan dan kebutuhan fasilitas,
rencana tenaga kerja, dan pengeluaran pembelian persediaan
berdasarkan MPS.
5. Di bidang pembelian, MRP memberikan saran perubahan jatuh
tempo pesanan sehingga dapat memperbaiki hubungan dengan
penjual karena terdapat prioritas riil.
6. Di bidang keuangan, MRP memfasilitasi rencana kebutuhan arus
kas yang lebih baik dengan identifikasi karena adanya batasan
kapasitas dan menghasilkan keputusan modal yang lebih baik.
Selain keuntungan MRP dalam berbagai bidang yang sudah
disebutkan di atas, penerapan MRP juga akan meningkatkan
kemampuan perusahaan untuk memberikan harga yang lebih kompetitif
dan mengurangi harga penjualan karena MRP dapat mengurangi
persediaan dan mengurangi biaya set-up. Pelayanan pelanggan
dan respons terhadap permintaan pasar dapat ditingkatkan karena
perusahaan selalu dapat memenuhi permintaan pelanggan.
Sedangkan, kelemahan yang pokok sistem ini adalah menyangkut
kegagalan MRP mencapai tujuan yang disebabkan oleh 1) kurangnya
komitmen dari manajemen puncak dalam pengimplementasian MRP,
2) mencoba menggabungkan MRP dengan JIT tanpa memahami betul
karakteristik kedua pendekatan tersebut, 3) membutuhkan akurasi
operasi, dan 4) kesulitan dalam membuat skedul terperinci.
Di sisi lain, kelemahan utama penggunaan sistem MRP adalah
integritas data. Jika terdapat data yang salah pada data persediaan, bill
material data juga akan menghasilkan data yang salah. Permasalahan
lainnya adalah sistem MRP membutuhkan data yang spesifik, seperti berapa lama perusahaan menggunakan berbagai komponen dalam
memproduksi produk tertentu (asumsi semua variabel). 60
Desain sistem ini juga mengasumsikan bahwa lead time dalam proses
in manufacturing sama untuk setiap item produk yang dibuat. Proses
manufaktur yang dimiliki perusahaan mungkin berbeda di berbagai
tempat. Hal ini mengakibatkan terjadinya daftar pesanan yang berbeda
karena adanya perbedaan jarak. Dengan demikian, sistem enterprise
perlu diterapkan sebelum menerapkan sistem MRP. Sistem MRP tidak
menghitung jumlah kapasitas produksi. Meskipun demikian, dalam
jumlah yang besar perlu diterapkan suatu sistem yang mengintegrasikan
aspek keuangan.
Sistem yang canggih tidak akan berhasil tanpa penguasaan yang baik.
Hal ini terutama membutuhkan komitmen manajemen tingkat atas.
Sistem MRP membutuhkan pengoperasian yang akurat dan tidak terlalu
kaku dan semakin rumit struktur produk akan membuat perhitungan
MRP semakin rumit pula. Perbedaan dalam tenggang waktu akan
menambah kerumitan dalam proses MRP. Adanya komponen yang
bersifat umum akan menimbulkan kesulitan apabila komponen
umum tersebut berada pada level yang berbeda. Jika perusahaan tidak
dapat memperhitungkan dengan tepat, penerapan MRP tidak akan
mendukung kemajuan perusahaan.
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah integrasi MRP yang tidak
tepat. Selain itu, pandangan bahwa MRP dipandang sebagai sesuatu yang
terpisah dari sistem lain, lebih dipandang sebagai sistem yang berdiri
sendiri dalam menjalankan operasi perusahaan daripada sebagai suatu
sistem yang terkait dengan sistem lain dalam perusahaan atau suatu
bagian dari keseluruhan sistem perusahaanakan dapat menyebabkan
kegagalan dalam pengaplikasian sistem MRP.
Material requirement planning merupakan suatu sistem yang mengatur
bahan-bahan material yang dibutuhkan untuk proses produksi karena
dengan MRP perusahaan dapat mengefisiensikan gudang dan sekaligus
mencegah kemungkinan kehabisan bahan material atau suatu sistem
penjadwalan kebutuhan bahan baku berdasarkan tahap waktu untuk
operasi produksi. Secara umum, sistem MRP dimaksudkan untuk
meminimalkan persediaan, mengurangi risiko karena keterlambatan
produksi atau pengiriman, membuat komitmen yang realistis, dan
meningkatkan efisiensi
Kemajuan teknologi yang sangat pesat pada perusahaan manufaktur
mengakibatkan berkurangnya pemakaian tenaga kerja langsung sehingga
berdampak pada berkurangnya biaya tenaga kerja langsung. Namun
di sisi lain, penggunaan peralatan modern memerlukan pengeluaran
investasi yang relatif besar. Keterbatasan dana menyebabkan masih banyak
perusahaan masih menggunakan prosedur tradisional untuk menghadapi
kemajuan teknologi. Namun, masyarakat di negara maju, seperti Jepang
khususnya, mulai mengembangkan suatu sistem yang disebut just in time,
dimana sistem ini dilatarbelakangi oleh pemborosan-pemborosan tenaga
kerja, ruangan, dan waktu industri yang terjadi dikarenakan adanya
persediaan (inventory) sehingga biaya produksi menjadi lebih tinggi.Keunggulan kompetitif suatu perusahaan terhadap para pesaingnya
bisa ditentukan oleh beberapa faktor, seperti waktu, mutu, biaya, dan
sumber daya manusia. Jika suatu perusahaan ingin unggul dalam
faktor waktu maka perusahaan harus dapat melayani permintaan
konsumen tepat waktu, mengeliminasi atau mengurangi waktu untuk
aktivitas yang tidak bernilai tambah, dan mengefisiensikan waktu untuk
aktivitas bernilai tambah. Konsep-konsep JIT adalah alat yang tepat agar
perusahaan mempunyai keunggulan dari segi faktor waktu.
Metode JIT merupakan suatu pendekatan untuk mengidentifikasi
dan mengeliminasi segala macam sumber pemborosan dalam aktivitas
produksi dengan memberikan komponen produksi yang tepat serta pada
waktu dan tempat yang tepat. Metode ini berkebalikan dari metode
tradisional yang memproduksi komponen produksi dalam jumlah besar
guna mengantisipasi keadaan yang tidak terduga.
MENGENAL SISTEM PRODUKSI JUST IN TIME
Sistem Produksi Barat
Sistem produksi yang paling banyak dipakai saat ini adalah sistem
yang berasal dari Eropa dan Amerika. Sistem produksi tersebut dikenal
sebagai sistem produksi barat. Ciri-ciri dari sistem produksi barat
adalah kuantitas produksi ditentukan melalui peramalan, melakukan
optimalisasi dalam penjadwalan produksi, penentuan kebutuhan
bahan, penentuan kebutuhan mesin, pekerja, dan lain-lain, terdapat
departemen pengendalian kualitas, dan terdapat gudang receiver
dan gudang warehouse sebagai penyimpan persediaan, dan lain-lain.
Unsur-unsur probabilistik dalam melakukan keputusan untuk masalahmasalah sistem produksi sangat dominan dalam sistem ini. Optimasilasi
unsur-unsur sistem produksi yang tersedia merupakan filosofi dasar dari
sistem produksi barat. Hal ini dimungkinkan karena saat itu negaranegara barat masih memiliki sumber daya yang cukup banyak.Krisis minyak bumi yang terjadi pada tahun 1970-an sangat
berdampak terhadap industri-industri barat sebagai konsumen terbesar.
Namun, hal tersebut tidak berlaku bagi Jepang karena Jepang sudah
terbiasa berhemat dalam menggunakan sumber daya, khususnya
minyak bumi. Akibatnya, saat industri-industri barat mengalami
kemerosotan, industri Jepang justru mulai tumbuh. Sistem produksi
Jepang mulai menunjukkan keunggulan-keunggulannya pada tahun
1980-an. Di sisi lain, industri barat justru baru mulai merekonstruksi
dan merestrukturisasi sistem produksinya, baik melalui teknik-teknik
produksi maupun manajemen. Pada tahun 1990-an, Jepang telah
berkembang pesat dan jauh meninggalkan Eropa ataupun Amerika.
Sistem Produksi Jepang
Jepang tidak mempunyai sumber daya yang cukup banyak sehingga
mereka harus mengurangi pemborosan atau eliminate of waste. Untuk
dapat melaksanakan eliminate of waste, beberapa strategi berikut
dilakukan oleh industri Jepang.
• Hanya memproduksi jenis produk yang diperlukan.
• Hanya memproduksi produk sejumlah yang dibutuhkan.
• Hanya memproduksi produk pada saat diperlukan.
Jadi, dalam setiap pengambilan keputusan, terutama untuk masalah
produksi, mereka selalu menganut kepada prinsip efisiensi, efektivitas,
dan produktivitas. Sistem produksi Jepang dikenal dengan nama sistem
produksi just in time (tepat waktu). Sistem JIT mempunyai empat aspek
pokok sebagai berikut:
1. Semua aktivitas yang tidak bernilai tambah terhadap produk atau
jasa harus dieliminasi. Aktivitas yang tidak bernilai tambah akan
meningkatkan biaya yang tidak perlu. Misalnya, persediaan dan
produk yang rusak atau cacat sedapat mungkin nol sehingga tidak memerlukan biaya penyimpanan dan biaya untuk pengerjaan
kembali produk cacat
2. Adanya komitmen untuk selalu meningkatkan kualitas produk
dengan tidak meloloskan produk cacat ke tahap produksi selanjutnya.
Kualitas produk yang baik dapat meningkatkan kepuasan pembeli.
3. Selalu diupayakan penyempurnaan yang berkesinambungan
(continuous improvement) atau perbaikan terus-menerus dalam
meningkatkan efisiensi kegiatan.
4. Menekankan pada penyederhanaan aktivitas dan meningkatkan
pemahaman terhadap aktivitas yang bernilai tambah.
Konsep arus produksi yang berkelanjutan adalah dasar dari
filosofi just in time. Kerja sama setiap bagian proses produksi dengan
komponen-komponen lainnya merupakan persyaratan berjalannya
sistem JIT. Tenaga kerja langsung dalam lingkungan just in time
dipertangguh dengan perluasan tanggung jawab akan berkontribusi
pada pemangkasan pemborosan biaya tenaga kerja, ruang, dan waktu
produksi.
FILOSOFI DAN DEFINISI JUST IN TIME (JIT)
Just in time (JIT) pada dasarnya merupakan integrasi dari serangkaian
aktivitas dalam produksi dengan volume tinggi tetapi menggunakan
persediaan seminimal mungkin untuk bahan baku, barang setengah
jadi, dan produk jadi. Konsep sistem produksi JIT adalah memproduksi
produk yang diperlukan, pada waktu dibutuhkan oleh pelanggan, dalam
jumlah sesuai kebutuhan pelanggan, pada setiap tahap proses dalam
sistem produksi dengan cara yang paling ekonomis atau paling efisien
melalui eliminasi pemborosan dan perbaikan terus-menerus.
Sistem produksi JIT sering juga disebut sebagai sistem tarik (pull
system) karena aliran kerja dikendalikan oleh operasi berikutnya, yaitu
setiap stasiun kerja (work station) menarik output dari stasiun kerja
sebelumnya sesuai dengan kebutuhan. Jadwal produksi hanya diberikan
kepada lini perakitan terakhir (final assembly line). Semua stasiun kerja
yang lain dan pemasok (supplier) tidak memperoleh jadwal produksi
tetapi hanya pesanan produksi dari subskuen operasi berikutnya.
Misalnya, stasiun kerja sebelumnya (stasiun kerja 1) menerima pesanan
produksi dari stasiun kerja berikutnya (stasiun kerja 2), kemudian
memasok produk itu sesuai kuantitas yang dibutuhkan pada waktu
yang tepat dengan spesifikasi yang tepat pula. Dalam kasus seperti ini,
stasiun kerja 2 sering disebut sebagai
.jpeg)
.jpeg)
