Manajemen operasi 2
tu, quality of design,
quality of conformance, availability, dan quality of field services.
Kualitas rancangan (quality of design) ditentukan sebelum produk
tersebut dihasilkan. Kualitas pengelolaan (quality of conformance)
berarti menghasilkan produk yang sesuai dengan kualitas rancangannya.
Kualitas siaga (availability) diartikan sebagai kemampuan suatu produk
selama digunakan oleh konsumen. Kualitas pelayanan (quality of field
service) adalah bentuk pelayanan yang diberikan oleh perusahaan
kepada konsumen yang sering disebut sebagai costumer service atau
sales services.
15
STANDAR INTERNASIONAL
Standar internasional, disebut juga ISO (internasional standard
organization) adalah salah satu pendekatan yang digunakan oleh
organisasi internasional untuk melindungi konsumen. ISO berasal dari
bahasa Yunani yang berarti seragam. Ada dua jenis ISO yang terkenal,
yaitu ISO 9000 dan ISO 14000. Phillip Crosby terkenal dengan ide
zero defect-nya. Menurutnya, setiap organisasi harus berupaya untuk
menghasilkan produk yang memiliki kecacatan nol (zero defect) atau
to make it right the first time dalam kaitannya untuk memuaskan
konsumen.
ISO 9000
ISO 9000 menyatakan bahwa perusahaan memiliki system quality
assurances, seperti pengawasan kualitas, cara pengetesan dan inspeksi,
kebijakan, pelatihan, flowchart, instruksi kerja, job description, struktur
organisasi, dan sebagainya. ISO 14000
ISO 14000 merupakan perluasan ISO 9000 yang berkaitan produk
perusahaan dengan lingkungannya. ISO 14000 merupakan standar
manajemen lingkungan yang berisi lima elemen inti. Elemen-elemen
tersebut adalah manajemen lingkungan, pengauditan, evaluasi kinerja,
pelabelan, dan life cycle assessment. ISO 1400 ini memiliki manfaat yang
positif bagi kehidupan dalam hal menciptakan image yang baik terhadap
perusahaan karena perusahaan dianggap tidak merusak lingkungan.
JUST IN TIME
Pada hakikatnya, just in time lebih merupakan suatu filosofi daripada
sebagai suatu metode. Diterapkan di Jepang awal tahun 1960-an
dalam industri perkapalan, just in time kemudian dikembangkan dan
dipopulerkan perusahaan Toyota pada tahun 1970-an. Konsep di balik
just in time adalah bahwa dalam setiap penciptaan produk selalu terdapat
dua jenis kegiatan, yaitu kegiatan yang menciptakan nilai tambah (value
added) dan kegiatan yang tidak menciptakan nilai tambah (nonvalue
added).
KONSEP TAGUCHI
Geniichi Taguchi memberikan tiga cara untuk meningkatkan kualitas
suatu produk dan proses, yaitu keandalan kualitas (quality robustness),
fungsi kehilangan kualitas (quality loss function), dan sasaran kualitas
(target oeriented quality).
Quality robust adalah produk-produk yang dihasilkan secara
konsisten dan seragam dalam kondisi lingkungan dan pabrik yang tidak
cocok. Gagasan Taguchi adalah untuk memindahkan akibat-akibat dari
kondisi yang tidak cocok tersebut untuk mencari sebabnya.Quality loss function mengidentifikasi semua biaya yang berkaitan
dengan kualitas yang buruk dan menunjukkan bagaimana biaya itu
timbul karena tidak memenuhi kebutuhan konsumen. Biaya ini tidak
hanya akibat kekecewaan konsumen saja, tapi juga termasuk biaya
pelayanan dan jaminan. Misalnya, biaya perbaikan, perbaikan produksi
cacat, dan bahkan biaya yang timbul di masyarakat.
Target oriented quality diartikan sebagai filosofi dari continuous
improvement untuk mengarahkan semua kegiatan pada target yang
telah ditetapkan. Menurutnya, memisahkan akibat sering kali menjadi
lebih mudah dan lebih efektif dari pada memisahkan sebab-sebabnya
dalam menghasilkan suatu produk.
MENEJEMEN KUALITAS TERPADU
Total quality management (TQM) atau manajemen kualitas terpadu
merupakan manajemen kualitas secara menyeluruh, bahwa produk
merupakan hasil kegiatan dari seluruh komponen yang terlibat.
Keterlibatan komponen itu tidak terbatas hanya di dalam perusahaan
saja, tetapi juga meliputi pemasok dan konsumen. Oleh karena itu,
komitmen manajemen sangat dibutuhkan di berbagai aspek. Menurut
W. Edwards Deming (1994), ada empat belas poin yang harus dilakukan
untuk meningkatkan kualitas suatu produk:
1. Konsisten dalam upaya mencapai tujuan perusahaan.
2. Selalu melakukan perubahan ke arah perbaikan.
3. Menciptakan kualitas pada saat rancangan, bukan saat inspeksi.
4. Bangun hubungan jangka panjang berdasarkan hasil kinerja.
5. Meningkatkan kualitas produk secara terus-menerus.
6. Memberikan pelatihan kepada karyawan.
7. Kembangkan kepemimpinan.
8. Hilangkan kekhawatiran.
9. Dobrak hambatan antardepartemen.
10. Stop perintah yang berbau pemaksaan kepada pekerja.
11. Tingkatkan dukungan, pertolongan, dan perbaikan.
12. Pupuk kebanggaan dalam bekerja.
13. Kembangkan perbaikan setiap pribadi.
14. Dorong agar setiap orang bekerja terus untuk perubahan.
Dari konsep yang dikembangkan Deming, Heizer dan Render
(2001) memiliki lima cara agar program TQM bisa dilaksanakan secara
efektif. Kelima program itu adalah (1) perbaikan berkelanjutan, (2)
pemberdayaan karyawan, (3) benchmarking, (4) just in time, dan (5)
pengkajian alat TQM.
Perbaikan kualitas merupakan upaya yang tak pernah berakhir.
Upaya-upaya peningkatan tersebut meliputi orang-orang, peralatan
(teknologi), pemasok, bahan-bahan, dan prosedur-prosedur
pelaksanaannya. Filosofi yang mendasarinya adalah segala asppek
kehidupan ini dapat diperbaiki. Sasarannya adalah kesempurnaan hasil.
Untuk menuju ke arah kesempurnaan ini, menurut Walter Shewhart,
harus dilakukan dengan menerapkan konsep PDCA (plan, do, check,
action).
Pemberdayaan karyawan (employee empowerment) berarti
melibatkan seluruh karyawan dalam setiap langkah kegiatan produksi.
Ada suatu pendapat bahwa 85% dari masalah kualitas berhubungan
dengan proses pengolahan bahan-bahan yang digunakan, bukan
kinerja karyawan (Heizer, 2000). Oleh karena itu, merupakan tugas
bagian perencanaan untuk mendesain peralatan dan langkah-langkah
pengolahan yang cocok untuk menghasilkan kualitas produk. Sebuah
kajian menunjukkan bahwa program TQM akan lebih berhasil apabila
karyawan tingkat bawah diberi wewenang dan tanggung jawab untuk
memperbaiki kualitas produk karena karyawan secara langsung
terlibat dalam proses pembuatan produk. Ada beberapa teknik untuk
mengembangkan keterlibatan karyawan, antara lain membangun
jaringan komunikasi yang melibatkan karyawan, mengembangkan
keterbukaan dan sportivitas, dan memberikan tanggung jawab kepada
karyawan.
Benchmarking adalah cara lain dalam meningkatkan kualitas.
Di Indonesia, cara ini terkenal dengan istilah AJP (amati, jiplak,
perbaiki). Cara ini melibatkan kegiatan pemilihan suatu standar
produk, biaya-biaya, atau praktik-praktik yang melibatkan kinerja
terbaik. Standar ini harus dalam aktivitas yang sama dengan aktivitas
yang akan di-benchmark. Objek yang menjadi target disorot, kemudian
dikembangkan untuk dijadikan patokan atas kinerjanya. Langkahlangkah benchmarking:
1. Tentukan apa yang akan di-brenchmark.
2. Bentuk suatu tim.
3. Identifikasi siapa yang akan menjadi partner untuk benchmarking.
4. Kumpulkan dan analisis informasi.
5. Ambil tindakan dari hasil benchmarking.
Program TQM akan berhasil apabila setiap orang dalam organisasi
dilatih terus-menerus dan dibiasakan untuk menggunakan tujuh alat
(seven tools) TQM. Latih dan biasakan diri dalam melakukan perbaikan
terus-menerus sehingga menjadi budaya organisasi. Ketujuh alat TQM
tersebut adalah (1) check sheet, (2) scatter diagrams, (3) diagram sebabakibat, (4) diagram Pareto, (5) flow process chart, (6) histogram, dan (7)
statistical process control chart.
Check sheet adalah jenis apapun yang dirancang untuk digunakan
dalam pencatatan data. Diagram tebar (scatter diagram) merupakan
alat untuk menentukan hubungan antara dua pengukuran. Contohnya,
pengukuran kualitas dan jumlah keluhan konsumen. Hasil pengukuran
tersebut diplot pada suatu diagram yang masing-masing mewakili
variabel yang diukurnya. Bila kedua variabel itu berhubungan erat,
titik-titik itu akan berdekatan dan akan membentuk suatu garis.
Disebut juga sebagai fish-bond chart, diagram ini digunakan untuk
mendeteksi kemungkinan-kemungkinan sumber terjadinya masalah sehingga dinamakan diagram sebab-akibat. Pemetaan dengan diagram
Pareto adalah suatu cara untuk menyusun sumber dan jenis kesalahan
atau defect untuk memfokuskan diri pada upaya pemecahan masalah.
Metode ini diilhami oleh konsep “Vilfredo Pareto”, yaitu seorang ahli
ekonomi pada abad ke-19.
Flow chart, atau disebut juga peta aliran, menyajikan suatu
gambaran tentang proses atau tahapan-tahapan pengelolaan suatu
produk. Histogram memperlihatkan perbedaan dari nilai-nilai suatu
pengukuran dengan seringnya (tingkat) kejadian pada masing-masing
nilai. Diagram ini memperlihatkan frekuensi yang paling sering terjadi
dan juga variasi-variasi di dalam pengukuran.
Statistical process control (SPC) biasa disebut juga statistical quality
control atau pengendalian kualitas yang distandarkan. Peta pengendalian
(contol chart) menyajikan suatu grafik yang menggambarkan kondisi
kualitas suatu produk yang dihasilkan.16
INSPEKSI DAN PERANNYA
Inspeksi adalah suatu cara untuk meyakinkan bahwa pengelolaan yang
sedang berlangsung sesuai dengan spesifikasi produk yang ditetapkan.
Kalaupun ada penyimpangan maka penyimpangan itu kecil sekali
sehingga kualitas yang diharapkan akan memuaskan konsumen dapat
terwujud. Dengan kata lain, inspeksi merupakan audit yang dilakukan
terhadap pengelolaan yang sedang berlangsung yang waktu dan
tempatnya tertentu.
Pemeriksaan terbaik sebenarnya adalah kalau tidak ada pemeriksaan
sehingga harus dipikirkan bagaimana hal tersebut bisa dilakukan. Ada
suatu pendapat bahwa sumber kekeliruan adalah manusia sehingga
inspeksi yang paling baik adalah pada sumbernya, sebelum barang digunakan, dan melibatkan karyawan. Karena sumber produk adalah
pemasok, produk harus diperiksa secara ketat sebelum diguankan. Di
pihak lain, produk diolah oleh tenaga kerja. Dengan demikian, karyawan
harus diberi pelatihan agar mereka mampu memeriksa pekerjaannya
sebelum produk dikirim ke tahap berikutnya. Cara ini di Jepang disebut
dengan “poka-yoke”.17
PENUTUP
Manajemen kualitas adalah sekumpulan kegiatan manajerial, seperti
merencanakan kualitas, mengorganisasi kualitas, mengoordinasi
kualitas, mengendalikan, dan mengevaluasi kualitas yang dilakukan oleh
setiap fungsi manajemen yang ada dalam organisasi untuk meningkatkan
kinerja atau kualitas kerja. Kualitas harus dikembangkan dalam kegiatan
perencanaan (designing), kegiatan pengolahan (processing), dan
kegiatran pelayanan (services). Schroeder membaginya menjadi empat
dimensi, yaitu, quality of design, quality of conformance, availability, dan
quality of field services. Heizer dan Render (2001) memiliki lima cara
agar program TQM bisa dilaksanakan secara efektif. Kelima program
itu adalah (1) perbaikan berkelanjutan, (2) pemberdayaan karyawan,
(3) benchmarking, (4) just in time, dan (5) pengkajian alat TQM.Setelah produk atau jasa didesain, spesifikasi-spesifikasinya harus
diterjemahkan ke berbagai sistem pemrosesan yang menciptakan produk
atau menyediakan jasa. Desain proses fisik untuk produksi barang dan jasa
ini menyangkut serangkaian keputusan tentang seleksi proses, pemilihan
teknologi, dan perencanaan proses. Keputusan-keputusan tentang tipe
proses, derajat otomatisasi, macam mesin yang akan digunakan, dan
sebagainya harus dibuat. Tidak semata-mata hanya merupakan masalah
teknik, desain proses juga menyangkut pertimbangan-pertimbangan sosial,
ekonomi, dan lingkungan.
Dalam mendesain proses yang akan digunakan, manajemen dihadapkan
pada pemilihan teknologi. Pemilihan teknologi sendiri sering dipandang sebagai suatu masalah dalam penganggaran modal karena semakin
canggih teknologi yang digunakan, biaya yang dibutuhkan juga semakin
tinggi dan perlu dipertimbangkan juga seberapa besar manfaat teknologi
tersebut guna meningkatkan keuntungan perusahaan. Akhirnya,
pemilihan teknologi bukan merupakan suatu kegiatan tunggal, tetapi
lebih sebagai suatu proses yang diorganisasikan dengan baik yang
mencakup penjajakan teknologi secara terus-menerus. Strategi proses
(process strategy) adalah sebuah pendekatan dari organisasi untuk
mengubah sumber daya menjadi barang dan jasa.
PENGERTIAN STRATEGI PROSES
Strategi proses (process strategy) adalah sebuah pendekatan dari
organisasi untuk mengubah sumber daya menjadi barang dan jasa.14
Tujuannya adalah untuk menciptakan sebuah proses yang bisa
menghasilkan produk yang memenuhi keinginan pelanggan yang sesuai
dengan biaya dan batasan manajerial lainnya.
Tujuan strategi proses adalah menemukan suatu cara memproduksi
barang dan jasa yang memenuhi persyaratan dari pelanggan dan
spesifikasi produk yang ada dalam batasan biaya dan batasan manajerial
lainnya. Proses yang dipilih akan memiliki efek jangka panjang pada
efisiensi dan fleksibilitas dari produksi di samping biaya dan mutu dari
barang yang dihasilkan.
EMPAT STRATEGI PROSES
Fokus Proses
Fokus proses adalah suatu strategi proses dimana fasilitas diorganisasi
di sekitar aktivitas-aktivitas atau proses-proses tertentu untuk membuat produk dengan volume kecil, tetapi tinggi keragamannya. Fasilitas
berfokus pada proses yang memiliki biaya variabel yang tinggi dengan
penggunaan fasilitas yang rendah sebesar 5%. Kasus ini merupakan
kasus yang terjadi di banyak restoran, rumah sakit, dan toko mesin.
Namun, beberapa fasilitas yang menggunakan kendali elektronik
ternyata jauh lebih baik.
Fokus yang Repetitif
Fokus yang repetitive merupakan strategi dengan lini perakitan klasik.
Proses ini memiliki lebih banyak struktur sehingga kurang memiliki
fleksibilitas dibandingkan dengan fasilitas yang berfokus pada proses.
Proses produksi ini menggunakan modul. Modul merupakan bagian
atau komponen yang dipersiapkan sebelumnya, sering kali dalam sebuah
proses berfokus pada produk (berkelanjutan).
Fokus Produk
Proses dengan volume yang tinggi, variasi yang rendah adalah proses
fokus produk (product focused). Fasilitas diatur di sekitar produk.
Fasilitas ini disebut juga dengan proses yang berkelanjutan karena
memiliki pengerjaan produksi yang sangat panjang dan berkelanjutan.
Sebuah fasilitas berfokus pada produk menghasilkan volume yang tinggi
dan variasi yang rendah. Sifat khusus dari fasilitas memerlukan biaya
tetap yang tinggi, tetapi biaya variabel yang rendah, yang menyebabkan
tingginya penggunaan fasilitas.
Fokus Kustomisasi Massal
Kustomisasi massal (mass customization) adalah produk barang dan jasa
yang cepat dan berbiaya rendah (low-cost) yang memenuhi keinginan
pelanggan yang semakin berbeda. Akan tetapi, kustomisasi massal
bukan hanya tentang keragaman, tetapi juga mengenai membuat secara tepat apa yang diinginkan pelanggan. Agar berhasil, kustomisasi massal
memerlukan sebuah sistem dengan volume yang tinggi dimana produk
dibuat berdasarkan pesanan (built-to-order).
Dibuat berdasarkan pesanan (build-to-order) berarti memproduksi
sesuai dengan permintaan pelanggan, bukan berdasarkan ramalan. Akan
tetapi, build to order dengan volume yang tinggi merupakan hal yang
sulit. Beberapa tantangan besarnya:15
1. Desain produk yang imajinatif.
2. Desain proses harus fleksibel dan mampu untuk mengakomodasi
perubahan dalam desain dan teknologi.
3. Manajemen persediaan memerlukan kendali yang ketat.
4. Jadwal yang ketat yang melacak pesanan dan bahan material dari
desain hingga pengiriman merupakan persyaratan lainnya dari
kustomisasi massal.
5. Rekan yang responsif dalam rantai pasokan bisa menghasilkan
kolaborasi yang efektif.
PEMILIHAN PERLENGKAPAN16
Pemilihan dari strategi proses tertentu memerlukan keputusan mengenai
pemilihan perlengkapan dan teknologi. Memilih perlengkapan yang
terbaik memerlukan pemahaman industri khusus dan ketersediaan
proses dan teknologi.
Dalam era di mana teknologi berubah dengan cepat dan siklus hidup
produk yang pendek, menambah suatu fleksibilitas pada proses produksi
bisa menjadi sebuah keuntungan kompetitif. Fleksibilitas merupakan
kemampuan untuk merespons dengan penalti yang kecil dalam
waktu, biaya, atau nilai pelanggan. Hal ini berarti perusahaan perlu
menggunakan perlengkapan yang dikendalikan secara digital, modular,
atau dapat dipindahkan. Mengubah proses atau perlengkapan bisa
menjadi sangat rumit dan mahal. Penting untuk membuat keputusan
penting ini pada saat pertama kali memulai membuat produk.
ANALISIS DAN DESAIN PROSES
Ketika menganalisis dan mendesain proses, terdapat pertanyaanpertanyaan berikut:
1. Apakah proses didesain untuk mencapai keuntungan dalam hal
diferensiasi, respons, atau biaya yang murah?
2. Apakah proses mengeleminasi langkah-langkah yang tidak
menambah nilai?
3. Apakah proses memaksimalisasi nilai pelanggan seperti yang
dianggap oleh pelanggan?
4. Apakah proses akan mendatangkan pesanan?
Sejumlah peralatan dapat membantu memahami kerumitan dari
proses desain dan pendesainan ulang. Ada lima cara untuk membuat
masuk akal mengenai apa yang terjadi dalam sebuah proses, yaitu1. Diagram Alur
Alat pertama adalah diagram alur (flowchart) yang merupakan
sebuah skema atau gambar dari pemindahan bahan materi, produk,
atau orang. Diagram ini memudahkan pembacanya dalam melihat
sebuah proses.
2. Pemetaan Fungsi Waktu
Alat kedua untuk analisis dan desain proses adalah sebuah diagram
alur, tetapi dengan penambahan waktu pada sumbu horizontalnya.
Grafik seperti itu kadang disebut dengan pemetaan fungsi waktu
(time-function-mapping) atau pemetaan proses (process mapping).
Pemetaan fungsi waktu mengindikasikan aktivitas dimana tanda
panah mengindikasikan arah, dengan waktu pada sumbu horizontal.
Jenis analisis ini memungkinkan pengguna untuk mengidentifikasi
dan mengeleminasi hal-hal yang tidak diperlukan, seperti langkah
tambahan, duplikat, dan penundaan.
3. Pemetaan Arus Nilai
Sebuah variasi dari pemetaan fungsi waktu adalah pemetaan arus
nilai (value stream mapping—VSM); namun, pemetaan arus nilai
perlu untuk melihat secara luas dimana nilai ditambahkan (dan tidak
ditambahkan) dalam keseluruhan proses produksi, termasuk rantai
pasokan. Pemetaan fungsi waktu, idenya adalah untuk memulai
dengan pelanggan dan memahami proses produksi, tetapi pemetaan
arus nilai memperluas analisis kembali ke pemasok.
4. Grafik Proses
Alat keempat merupakan grafik proses. Grafik proses (process
chart) menggunakan simbol, waktu, dan jarak untuk memberikan
sebuah cara yang objektif dan terstruktur untuk menganalisis dan
mencatat aktivitas yang membentuk sebuah proses. Diagram ini
mengidentifikasi semua operasi penambahan nilai (kebalikan dari
inspeksi, penyimpanan, penundaan, dan transportasi yang tidak
menambahkan nilai), memungkinkan untuk menentukan persentase
dari nilai yang ditambahkan pada keseluruhan aktivitas.
5. Perencanaan Layanan
Produk dengan sebuah konten jasa yang tinggi mungkin
memerlukan penggunaan teknik proses yang kelima. Perencanaan
layanan (blueprinting service) merupakan sebuah teknik analisis
proses yang menitikberatkan pada pelanggan dan hubungan yang
terjadi dengan pelanggan.
Masing-masing dari alat bantu proses analisis ini memiliki kekuatan
dan variasi. Diagram alur memberikan suatu cara yang cepat untuk
melihat gambar dan memahami sistem secara keseluruhan. Pemetaan
fungsi waktu menambahkan beberapa ketelitian dan elemen waktu
terhadap analisis makro. Pemetaan aliran nilai memperluas di luar
organisasi langsung kepada para konsumen dan pemasok. Diagram
proses dirancang untuk memberikan sudut pandang yang lebih
terperinci mengenai proses, menambahkan item, misal waktu nilai
tambah, jarak, penyimpanan, dan lainnya. Perencanaan layanan, di
sisi lain, dirancang untuk membantu kita fokus pada bagian interaksi
konsumen dalam proses tersebut karena interaksi konsumen sering kali
merupakan variabel yang penting dalam desain proses.
PERTIMBANGAN KHUSUS UNTUK DESAIN PROSES
LAYANAN
Interaksi dengan konsumen sering kali memengaruhi kinerja proses
yang merugikan. Akan tetapi, suatu layanan dengan keadaan yang
sangat alamiah menekankan bahwa beberapa interaksi dan kustomisasi
diperlukan. Mengakui bahwa keinginan unik dari konsumen cenderung
berperan mengacaukan proses ini, semakin manajer merancang proses
untuk mengakomodasi persyaratan yang khusus ini, semakin efektif dan
efisien proses tersebut. Triknya adalah untuk menemukan kombinasi
yang tepat.
Manajer operasional dapat memodifikasi proses layanan
untuk menentukan level spesialisasi dan fokus terbaik sementara
mempertahankan interaksi konsumen dan kustomisasi yang diperlukan.
Sebagai contoh:18
• Dalam layanan massal dan layanan profesional, dimana konten
tenaga kerja tinggi, kita mengharapkan manajer untuk fokus secara
ekstensif dalam sumber daya manusia.
• Dalam layanan dengan kustomisasi yang rendah cenderung untuk
(1) standardisasi atau membatasi penawaran, (2) otomisasi, (3)
menghapus beberapa layanan. Pelepasan beberapa aspek layanan
melalui otomatisasi akan memerlukan inovsi dalam desain proses.
• Karena umpan balik konsumen lebih rendah dalam layanan dengan
kustomisasi yang rendah, pengendalian yang ketat diperlukan untuk
mempertahankan standar kualitas.
• Operasional dengan padat karya yang rendah meminjamkan
dirinya sendiri dengan baik terhadap inovasi dalam proses teknologi
dan penjadwalan.PEMILIHAN PERALATAN DAN TEKNOLOGI
Teknologi Produksi
Kemajuan dalam teknologi yang mendorong produksi dan produktivitas
memiliki penerapan yang telah menyebar secara luas, baik dalam bidang
manufaktur maupun jasa. Dalam bahasan ini, akan diperkenalkan
sembilan area teknologi, yaitu:
1. Teknologi Mesin
Sebagian besar mesin di dunia yang melaksanakan kegiatan
operasional, misalnya pengeboran dan penggilingan,
mengalami perkembangan yang luar biasa baik dalam presisi
ataupun pengendalian. Inteligensia sekarang yang tersedia
untuk mengendalikan mesin-mesin baru melalui komputer
memungkinkan barang-barang yang lebih kompleks dan persis
tetap dapat dibuat dengan lebih cepat. Pengendalian secara
elektronik meningkatkan kecepatan dengan mengurangi waktu
peralihan, mengurangi limbah (karena kesalahan menjadi lebih
sedikit), dan mendorong fleksibilitas. Mesin-mesin yang memiliki
komputer dan memorinya sendiri disebut dengan mesin kendali
numerik komputer (computer numerical control—CNC).
2. Sistem Identifikasi Otomatis dan RFID
Perlengkapan baru, dari CNC hingga ATM (authomatic teller
machine), dikendalikan oleh sinyal elektronik digital. Pembuatan
data digital dilakukan dengan menggunakan papan ketik
(keyboard) komputer, barcode, frekuensi radio, karakter optikal,
dan lain sebagainya. Sistem identifikasi otomatis (automatic
identification systems—AISs) membantu memindahkan data ke
dalam bentuk elektronik, dimana data ini dapat lebih mudah
dimanipulasi.
Karena dapat menurunkan biaya dan meningkatkan
kegunaannya, identifikasi frekuensi radio (radio frequency
indentification—RFID) sebaiknya dipertimbangkan. RFID adalah sirkuit yang terintegrasi dengan antena kecil yang menggunakan
gelombang radio untuk mengirimkan sinyal dalam suatu
kisaran yang terbatas, biasanya beberapa yard. Penanda RFID
ini memberikan identifikasi yang unik yang memungkinkan
penelusuran dan pengawasan suku cadang, palet, orang-orang,
dan binatang peliharaan, atau segala sesuatu yang bergerak. RFID
tidak memerlukan pembaca berhadapan langsung dengan tag
RFID untuk mengetahui informasi produk.
3. Kendali Proses
Kendali proses (process control) adalah penggunaan dari teknologi
informasi untuk memonitor dan mengendalikan proses fisik.
Sistem kendali proses beroperasional dalam sejumlah cara, tetapi
biasanya seperti berikut.19
a. Sensor untuk mengumpulkan data, yang membaca dalam
beberapa basis secara berkala, mungkin setiap satu menit
atau detik.
b. Pengukuran diterjemahkan dalam ukuran digital, yang
ditransmisikan kepada komputer.
c. Program komputer yang membaca berkas data dan
menganalisis data.
d. Output yang dihasilkan dapat mengambil berbagai bentuk.
Meliputi pesan-pesan pada konsol komputer atau mesin
cetak, sinyal motor untuk mengubah pengaturan katup,
lampu peringatan atau klakson, atau diagram kendali proses
secara statistik.
4. Sistem Penglihatan
Sistem penglihatan (vision system) adalah sistem yang
menggunakan video kamera dan teknologi komputer dan sering
kali digunakan dalam peranan inspeksi. Sebagai contoh, sistem
penglihatan digunakan untuk menginspeksi keripik kentang sehingga bila terdapat barang yang cacat dapat diidentifikasi saat
kripik diproses di bawah lini produksi.
5. Robot
Robot (robots) adalah perangkat mekanik yang menggunakan
impuls eletronik untuk mengaktifkan motor dan saklar. Robot
dapat digunakan secara efektif untuk melaksanakan tugas,
terutama yang monoton atau yang berbahaya atau yang dapat
ditingkatkan dengan mengganti tenaga manusia menjadi tenaga
mesin.
6. Sistem Penyimpanan dan Perbaikan Otomatis (ASRS)
Sistem penyimpanan dan perbaikan otomatis (automatic storage
and retrieval system—ASRSs) adalah komputer yang dikendalikan
oleh gudang-gudang yang memberikan penggatian suku cadang
secara otomatis ke dalam dan dari tempat yang ditunjuk di
dalam gudang. Sistem seperti ini umumnya digunakan dalam
fasilitas distribusi dari peritel, misalnya Walmart, Tuppeware,
dan Benetton.
7. Kendaraan yang Dipandu secara Otomatis (AGV)
Kendaraan yang dipandu secara otomatis (automatic guded
vehicle—AGVs) adalah kendaraan yang secara elektronik
memandu dan mengendalikan troli untuk memindahkan
perlengkapan, juga digunakan dalam kantor untuk memindahkan
surat dan dalam rumah sakit serta penjara untuk mengantar
pasokan dan sarapan.
8. Sistem Manufaktur yang Fleksibel (FMSs)
Sistem manufaktur yang fleksibel (flexible manufacturing
systems—FMSs) adalah sistem yang menggunakan sinyal
elektronik dari komputer untuk mengotomatisasi produksi dan
penanganan bahan baku. Hasilnya adalah suatu sistem yang
dapat secara ekonomis menghasilkan volume yang rendah,
tetapi memiliki variasi yang tinggi. FMS menjembatani jurang perbedaan di antara fasilitas yang memfokuskan pada produk
dengan fasilitas yang memfokuskan pada proses.
9. Manufaktur Terintegrasi Komputer (CIM)
Manufaktur terintegrasi komputer (computer integrated
manufacturing—CIM) adalah sistem yang terintegrasi dengan
bantuan CAD, FMS, serta kontrol persediaan, gudang, dan
pengiriman. Sistem manufaktur yang fleksibel dan terintegrasi
komputer mengurangi perbedaan di antara volume produksi
yang rendah/varietas yang tinggi dengan volume produksi yang
tinggi/varietas yang rendah.
Teknologi Jasa
Kemajuan teknologi dalam sektor jasa berkisar dari perlengkapan
diagnostik secara elektronik pada bengkel perbaikan mobil,
perlengkapan pengujian urine di rumah sakit, hingga alat pemindaian
pengamanan retinal di bandara.Tujuan strategi proses adalah menemukan suatu cara memproduksi
barang dan jasa yang memenuhi persyaratan dari pelanggan dan
spesifikasi produk yang ada dalam batasan biaya dan batasan manajerial
lainnya. Para manajer operasional yang efektif memahami bagaimana
menggunakan strategi proses sebagai senjata yang kompetitif. Mereka
memilih proses produksi dengan kualitas yang diperlukan, fleksibilitas,
dan struktur biaya untuk memenuhi persyaratan produk dan volume.
Mereka juga mencari cara yang kreatif untuk menggabungkan
keunggulan dari fasilitas yang memiliki unit biaya rendah dan volume
tinggi dengan manufaktur varietas yang rendah dengan kustomisasi
guna memenuhi keinginan dan kebutuhan konsumen yang beragam.
Tujuan utama perusahaan adalah memperoleh keuntungan. Dalam
persaingan yang ketat, semua perusahaan dituntut untuk selalu dapat
memenuhi semua kebutuhan konsumen dengan maksimal sesuai bidang
usahanya masing-masing, terutama dalam hal kualitas barang yang baik
serta waktu penyelesaian produksi yang cepat.
Dalam usaha untuk memenuhi kebutuhan konsumennya tersebut, sering
kali perusahaan dihadapkan oleh berbagai masalah, seperti terbatasnya
faktor-faktor produksi. Oleh karena itu, faktor-faktor produksi harus
dikelola melalui manajemen perusahaan yang baik, yaitu perencanaan,
pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan. Pengelolaan faktor-faktor
produksi harus memperhatikan ketersediaan kapasitas yang ada. Dengan demikian, perencanaan kapasitas merupakan hal yang penting dalam
suatu perusahaan.
PENGERTIAN PERENCANAAN KAPASITAS20
Rancangan proses berkenaan dengan penetapan tahapan-tahapan
pengolahan dan alat-alat (teknologi) yang akan digunakannya.
Rancangan kapasitas berkenaan dengan seberapa besar jumlah produk
yang akan dihasilkan. Kalau membuat kue bolu hanya 2 kg, alat-alat
yang digunakan cukup sederhana dan bisa disimpan dalam lemari,
tetapi untuk membuat kue 200 kg per hari, diperlukan alat yang lebih
canggih. Alat-alatnya besar dan harus disimpan di tempat berbeda
sehinngga pengolahanya harus di ruangan terpisah. Demikian pula
penyimpanan bahan dan produk yang dihasilkan harus terpisah.
Bahan baku disimpan di gudang bahan baku, barang jadi disimpan di
gudang barang jadi. Kalau kapastasnya lebih besar lagi, mesin harus
terus-menerus beroperasi siang malam, prosesnya harus kontinu. Jadi,
rancangan kapasitas akan menentukan rancangan proses produksi.
Kapasitas merupakan kemampuan suatu alat atau fasilitas dalam
menjalankan fungsinya dalam periode waktu tertentu. Misalnya,
kemampuan pesawat terbang membawa penumpang, kemampuan
sebuah tangki penampung minyak 1000 barel, atau sebuah pabrik yang
mampu menghasilkan produk 20 ton per hari. Kapasitas memiliki
macam-macam istilah, seperti jumlah seat (tempat duduk) untuk
pesawat, ruang kelas, dan bioskop, jumlah kamar untuk hotel dan
rumah sakit, atau kemampuan produksi sebuah pabrik. Seorang manajer
bahkan juga memiliki kapasitas dalam mengatur organisasinya.JENIS-JENIS KAPASITAS21
Kapasitas Output
Kapasitas rancangan (design capaty) adalah kemampuan maksimun
yang bisa dicapai dari suatu alat secara teoretis. Sebuah mesin, dalam
mengolah bahan, tergantung pada rancangan kondisi idealnya. Sebuah
pesawat terbang memiliki kapasitas 400 atau 300 penumpang tergantung
kepada rancangan kondisi idealnya. Demikian juga kapasitas sebuah
pabrik dalam menghasilkan produk tergantung dari rancangan kondisi
ideal sistem itu sendiri.Kapasitas output berbeda dengan kapasitas rancangan. Kapasitas
output selalu lebih kecil dari kapasitas rancangan. Perbedaan ini timbul
karena kapasitas output merupakan kapasitas nyata yang dipengaruhi
oleh kondisi lingkungan yang selalu berubah. Perubahan itu meliputi
pengaruh rencana jangka panjang dan jangka pendek, seperti kondisi
ekonomi atau penjadwalan.
Kapasitas Efektif
Ada beberapa istilah yang biasa muncul berkenaan dengan kapasitas
produksi, antara lain:
1. Kapasitas berlebih (over capacity).
2. Kapasitas penuh (full capacity).
3. Kapasitas normal (normal capacity).
4. Kapasitas kurang (under capacity).
5. Kapasitas efektif (effectivity ca1pacity).
Kapasitas berlebih, normal, atau kapasitas kurang biasa digunakan
dalam ekonomi makro. Kapasitas berlebih sering disebut juga over
produksi, mencerminkan hasil produksi yang secara keseluruhan
lebih besar dari kebutuhan (demand) sehingga ada produksi yang
tidak terserap oleh pasar. Kapasitas kurang mencerminkan permintaan
yang lebih besar dari produksi yang dihasikan sehingga terbuka
investasi untuk produk yang dibutuhkan, sedangkan kapasitas normal
menggambarkan kondisi keseimbangan.
Kapasitas penuh adalah kapasitas yang mendekati kapasitas
rancangan (design capacity). Kapasitas efektif lebih sering disebut
kapasitas sistem, yaitu kapasitas yang dapat dicapai oleh sebuah sistem
atau kapasitas dalam kondisi keterbatasan yang dimilikinya. Kapasitas
efektif selalu berada di bawah kapasitas rancangan.
Dalam pertumbuhan ekonomi pada masa sekarang ini, persaingan
antarperusahaan semakin meningkat. Untuk menghadapi dan
memenangkan persaingan tersebut, perusahaan-perusahaan dituntut
untuk menciptakan pemikiran yang kreatif dan inovatif di dalam tujuan
perusahaan.
Salah satu keputusan yang merupakan keputusan strategi adalah layout,
dimana layout bisa menentukan efisiensi sebuah operasi dalam jangka
panjang. Layout juga memiliki banyak dampak strategis karena layout
menentukan daya saing perusahaan dalam hal kapasitas, proses, fleksibilitas,
biaya, kualitas lingkungan kerja, kontrak pelanggan, dan citra perusahaan.
Di dalam menjalankan kegiatannya, sering kali suatu perusahaan
dihadapkan dengan berbagai permasalahan. Permasalahan yang timbul
ini menghalangi perusahaan untuk mencapai tujuannya dengan lancar.
Oleh karena itu, perusahaan perlu mencari solusi yang tepat untuk
mengatasi masalah yang timbul. Solusi yang dipakai tentunya telah
dianggap tepat bagi perusahaan, setidaknya pada saat solusi itu dipakai.
Permasalahan yang dihadapi perusahaan dapat dirumuskan, “strategi
layout perusahaan yang kurang tepat”.
Sehubungan pernyataan tersebut, maksud dan tujuan dari
pembahasan bab ini adalah untuk mengetahui bahwa strategi layout
dalam suatu perusahaan dapat memberikan keunggulan dalam bersaing,
mengetahui bagaimana penerapan strategi layout perusahaan yang
tepat bagi suatu perusahaan, mengetahui bahwa strategi layout dapat
meningkatkan profitabilitas perusahaan, dan mengetahui pentingnya
peningkatan produktivitas dan kinerja suatu perusahaan yang ditinjau
dari berbagai pertimbangan.
DEFINISI LAYOUT24
Secara definisi, dapat dikatakan bahwa tata letak (layout) adalah
pengaturan dan penempatan alat-alat, tenaga kerja, dan tahapan
kegiatan di dalam proses produksi, baik barang maupun jasa. Bukan
hanya peralatan, tetapi juga keseluruhan yang berkaitan dengan
penciptaan produk walaupun tidak langsung berhubungan. Misalnya,
bagaimana sirkulasi udara di dalam ruangan diatur, bagaimana tamantaman atau sarana olah raga ditempatkan, dan bagaimana posisi kantor
ditempatkan. Dengan demikian, layout mengarahkan setiap faktor
produksi kepada setiap keleluasaan gerak manusia dan bahan untuk
menciptakan efisiensi.Filosofi yang ada di belakang konsep layout adalah bahwa letak
mesin dan peralatan, aliran bahan, sirkulasi udara, pengaturan cahaya,
tingkat kebisingan, keindahan dan kenyamanan, serta penyusunan
tempat-tempat kerja lainnya yang teratur akan mendorong moral kerja
yang tinggi. Dengan penyusunan layout yang baik, bahan akan bergerak
tanpa hambatan sehingga tidak akan terjadi kerusakan bahan pada
saat pemindahannya. Ruang gerak yang teratur akan menghidarkan
terjadinya kecelakaan kerja. Sirkulasi udara, kebisingan, cahaya,
keindahan tanam-tanaman, sarana olah raga, sarana kesehatan, dan lain
sebagainya akan memengaruhi semangat kerja. Oleh karena itu, bukan
hanya tata letak peralatan dan mesin saja yang harus diatur, tapi juga
keseluruhan sarana perusahaan. Mesin-mesin, gudang, kantor, bengkel,
bentuk gedung, tanam-tanaman, dan sarana olah raga lainnya harus
diatur dengan sentuhan seni untuk meningkatkan efisiensi perusahaan.
Dalam layout yang buruk, kerusakan bahan biasa terjadi pada
saat pemindahan bahan. Pemindahan bahan ini akan berlangsung
dari tempat kerja ke tempat kerja yang lainnya, atau dari tempat
penyimpanan ke tempat kerja atau sebaliknya. Dalam layout yang buruk,
tubrukan saat pemindahan bahan bisa terjadi sehingga kemungkinan
timbulnya kecelakaan kerja sangat besar. Kerusakan mesin bisa terjadi
saat kegiatan operasi sedang berlangsung dan layout yang buruk akan
menyulitkan perbaikan sehingga memungkinkan timbulnya kecelakaan.
Keadaaan kerja yang terlalu bising, sumpek, sirkulasi udara tidak
lancar akan menimbulkan ketidaknyamanan. Dalam kondisi seperti
ini, moral kerja akan turun, karyawan akan sering sakit, cepat lelah,
sering mangkir, dan tingkat emosionalnya akan menigkat dengan
cepat. Semuanya timbul karena kenyamanan dan keselamatan kerja,
termasuk di dalamnya sarana olah raga dan sarana kesehatan lainnya,
tidak diperhatikan. Akibat dari layout yang buruk akan berujung pada
tingkat efisiensi kerja yang rendah, kualitas produk yang rendah, biaya
produksi yang tinggi, waste yang tinggi, dan banyaknya keluhan dari konsumen karena mereka tidak puas oleh pelayanan dan produk yang
dihasilkan. Secara singkat konsep layout memperhatikan:
1. Memanfaatkan sebaik mungkin ruangan, peralatan, dan tenaga kerja.
2. Memperlancar aliran informasi, bahan, dan gerak manusia.
3. Meminimumkan biaya pengangkutan dan penanganan.
4. Mempercepat dan memperlancar arus bahan-bahan.
5. Menciptakan kondisi kerja yang aman dan menyenangkan.
6. Meningkatkan moral pekerja.
7. Memuaskan pelayanan kepada pelanggan dalam bentuk penataan
ruangan.
8. Mengantisipasi perubahan di masa yang akan datang (flexibility).
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI LAYOUT25
Tidak ada formula yang khusus dalam menentukan layout, semua
tergantung kepada pandangan dan harapan manajemen tentang
perusahaannya saat ini dan perkembangannya di masa mendatang.
Pertimbangan-pertimbangan ini tentunya lebih bersifat subjektif
sehingga penyusunan layout termasuk dalam kegiatan seni (art). Akan
tetapi, menurut Monks (1982, dalam Sobarsa Kosasih, 2009), secara
garis besar layout perusahaan akan sangat dipengaruhi oleh faktorfaktor sebagai berikut.
1. Tipe dari produk yang akan dihasilkan, apakah berupa barang atau
berupa jasa, atau kedua-duanya.
2. Tipe dari proses produksi. Ini berhubungan dengan teknologi yang
akan digunakan, cara penananganan bahan, atau yang berkaitan
dengan jasa lainnya yang diperlukan dalam penanganan bahan,
apakah bersifat mekanik, otomatis, atau manual.
3. Volume produksi. Ini berkaitan dengan penggunaan mesin-mesin
dan energi, yang selanjutnya akan memengaruhi besar kecilnya biayaoperasi. Mesin dan peralatan yang canggih belum tentu menghasilkan
efisiensi yang tinggi apabila volume produksinya rendah.
Secara lebih rinci, Heizer (2007, dalam Sobarsa Kosasih, 2009),
menguraikan bahwa untuk membuat rancangan layout yang baik,
faktor-faktor berikut harus diperhatikan.
1. Peralatan material handling yang akan digunakan. Misalnya, apakan
perusahaan akan menggunakan conveyor, crane, forklift, aoutomated
storage, atau automatic cart untuk menangani bahan-bahan yang
digunakan.
2. Space dan kapasitas ruangan yang diperlukan untuk bahan-bahan,
peralatan, dan orang-orang.
3. Aliran informasi yang dibutuhkan, apakah hanya untuk internal,
eksternal, atau untuk kedua-duanya.
4. Estetika dan lingkungan yang diperlukan. Ini berkaitan dengan
penyediaan tanam-tanaman, fasilitas olah raga, tingkat kebisingan,
dan lain sebagainya.
5. Biaya pergerakan dari tempat kerja ke tempat kerja yang lainnya.
MACAM-MACAM LAYOUT26
Menurut Monks,27 layout suatu perusahaan pada dasarnya
dikelompokkan dalam tiga kategori, yaitu (1) layout by process, (2)
layout by product, dan (3) layout by fixed position. Namun dengan
adanya perkembangan dalam bidang teknologi, Heizer28 membagi
layout menjadi tujuh kategori, yaitu:
1. Fixed position layout.
2. Process oriented layout.
3. Work-cell.
4. Office layout.
5. Retail layout.
6. Warehouse layout.
7. Product oriented layout.
Tata Letak Posisi Tetap
Fixed position layout, atau disebut juga dengan layout posisi tetap, adalah
penyusunan layout dimana bahan-bahan, tenaga kerja, dan peralatan
dibawa ke tempat produk yang akan dibuat. Produknya sendiri, yang
sedang dibuat, tidak bergerak. Misalnya, pembuatan gedung, galangan
kapal, jembatan, dan lain sebagainya. Selain pembuatan produk yang
berbentuk barang, fixed position layout akan tercermin juga dalam
kegiatan upacara kenegaraan, seperti peringatan hari kemerdekaan,
pagelaran konser, kegiatan pameran produksi, dan lain sebagainya.
Karena sifat produksinya yang spesifik, layout seperti ini sering disebut
sebagai kegiatan proyek.
Layout Berdasarkan Proses
Layout by process adalah tata letak yang berdasarkan proses, disebut
juga sebagai job-shop layout, atau funcional layout, atau process
oriented layout. Layout ini mengelompokkan orang-orang yang
memiliki keahlian sama dalam suatu kegiatan tertentu yang sesuai
dengan keahliannya. Pengelompokan ini disertai dengan penempatan
peralatan yang menunjangnya untuk melakukan fungsinya. Misalnya,
ahli bubut dikelompokkan dengan mesin-mesin bubut dalam bagian
pembubutan. Dalam bagian-bagian tersebut, orang-orang dan alatalatnya diperuntukan untuk melakukan fungsi yang sama.
Dalam layout seperti ini, mesin-mesin yang digunakan bersifat
umum (general purpose machine), yaitu mesin yang bisa digunakan untuk membuat beberapa macam barang karena orang-orang yang
menanganinya juga memiliki keahlian macam-macam. Misalkan dalam
bagian pembubutan, para ahli memiliki kemampuan dalam membuat
barang-barang dengan menggunakan mesin bubut. Demikian juga pada
sinar-x, orang-orangnya memiliki kemampuan dalam mengerjakan
foto dalam berbagai bentuk. Layout seperti ini tidak hanya bisa ditemui
pada kegiatan manufaktur saja, tapi juga bisa ditemui pada kegiatan
pendidikan, perbankan, penerbangan, dan sebagainya.
Keuntungan dari layout berdasarkan proses adalah:
1. Fleksibel dalam melakukan berbagai kegiatan.
2. Meningkatkan kepuasan kerja karena pekerjaan tidak monoton.
3. Tidak membosankan karena adanya variasi dalam pekerjaan.
4. Membatasi investasi karena tidak perlu mesin-mesin khusus.
5. Menjaga tingkat kesehatan dan keselamatan kerja.
6. Optimalisasi pembiayaan proses produksi.
Namun, selain memiliki keuntungan, layout seperti ini juga memiliki
kelemahannya, yaitu:
1. Bila produk yang dihasilkan bermacam-macam, biaya penanganan
bahan (material handling) menjadi relatif mahal.
2. Karena tenaga kerja bersifat tenaga kerja ahli, biaya upah dan gaji
relatif lebih mahal.
3. Kreativitasnya relatif rendah karena pengerjaan terkadang monoton,
peralatan yang digunakan sering kali bersifat otomatis sehingga
kurang menciptakan inovasi baru dari karyawan.
4. Bila produk yang dihasilkannya bermacam-macam, pengendaliannya
menjadi relatif sulit.
5. Bila produk yang dihasilkannya bermacam-macam, persediaan
relatif lebih banyak.
Work-Cell
Work-cell merupakan suatu kasus yang spesial dalam proses oriented
layout. Kondisi layout ini dapat dibayangkan pada susunan mesin-mesin
dan orang-orang yang bersifat temporer. Ide work-cell timbul untuk
menyusun kembali (reorganize) orang-orang dan mesin-mesin yang
tersebar di berbagai dapartemen untuk membuat produk dalam jenis
tunggal atau sekelompok produk yang saling berkaitan dalam proses
dan komponen-komponennya.
Keuntungan sistem kerja work-cell, antara lain:
1. Menekan work in process (WIP) karena dirancang untuk
keseimbangan antara mesin.
2. Menghemat space (ruangan) karena tidak diperlukan WIP yang
banyak.
3. Menghemat biaya tenaga kerja langsung (direct labor cost) dengan
dikembangkannya penjadwalan dan komunikasi antarkaryawan
serta aliran bahan yang tetap
4. Meningkatkan tanggung jawab bagi karyawan dalam organisasi
karena partisipasi mereka dalam meningkatkan kualitas terus
dikembangkan.
5. Memaksimalkan penggunaan fasilitas karena setiap kegiatan
dirancang berdasarkan jadwal (schedule) yang pasti.
6. Mengurangi investasi dalam mesin dan peralatan karena
pemanfaatan dari alat-alat tersebut maksimal.
Layout Perkantoran
Yang membedakan antara layout perkantoran dan layout pabrik adalah
aliran informasi. Kalau pada layout pabrik yang dominan kelihatan
adalah aliran barang, dalam layout perkantoran hal ini tidak kelihatan
karena bersifat nonfisik. Perkembangan teknologi informasi yang
sangat cepat memungkinkan penyampaian informasi dengan jangkauan
yang sangat jauh. Seirama dengan cepatnya perkembangan teknologi
informasi, kondisi lingkungan pun berubah dengan cepat. Perubahan
ini mendorong setiap manajer untuk mengambil keputusan dengan
cepat pula yang harus disertai dengan ketersediaan informasi yang
akurat. Semua itu memaksa perubahan atas kondisi layout kantor yang
harus mampu mengakses setiap informasi yang diperlukan, baik oleh
manajer maupun oleh pelanggan. Salah satu cara untuk mempermudah
mendapatkan informasi adalah dengan mempermudah komunikasi
antarbagian di dalam kantor.
Tata Letak Pertokoan
Gagasan retail layout timbul dari suatu pendapat bahwa penjualan
dan keuntungan secara langsung berkaitan dengan pandangan
konsumer terhadap penampakan atau penampilan produk. Konsumen
pada umumnya tidak akan mengetahui tentang manfaat suatu
produk sehingga merupakan kewajiban setiap manajer penjualan untuk memperkenalkan produknya pada konsumen dengan cara
menampilkannya (display) sebaik mungkin. Penampilan ini harus
memperhitungkan susunan rak jenis produk, keindahan ruangan, lokasi,
kemudahan, bahkan susunannya sehingga konsumen akan tertarik
untuk mengenal dan menggunakan produk itu.
Menurut Heizer (2007, dalam Sobarsa Kosasih, 2009), ada beberapa
cara yang dapat menolong untuk menyusun layout sebuah retail, yaitu:
1. Tempatkan produk utama dengan produk komplemennya
berdekatan.
2. Gunakan tempat-tempat yang cepat dikenali untuk produk-produk
kecantikan.
3. Tempatkan produk-produk yang dikenal dan memiliki daya tarik
untuk berbelanja tersebar di antara jalur-jalur jalan (aisle).
4. Tampilkan misi perusahaan pada awal konsumen memasuki ruangan
retail tersebut.
Banyak sekali pertimbangan yang harus dipikirkan dalam
menyusun retail layout ini, akan tetapi sasaran utamanya adalah untuk
memaksimumkan pendapatan dari setiap penggunaan lantai ruangan
toko. Tidak setiap lantai yang digunakan untuk menyajikan produk
memberikan keuntungan yang sama. Ada produk yang memberikan
margin sedikit, tapi memerlukan lantai yang luas untuk menampilkannya,
tetapi ada juga yang membutuhkan lantai yang kecil tetapi memberikan
margin yang besar terhadap keuntungan perusahaan. Bagaimanapun,
retail layout harus dirancang untuk memudahkan aliran barang dan
memudahkan konsumen dalam mengenali produk. Ada beberapa
program komputer yang bisa digunakan untuk membantu menganalisis
layout ini, misalnya “Store Labor and Inventory Management (SLIM),
Computerized Optimization and Simulation Modeling for Operating
Supermarket (COSMOS)”.Untuk memaksimumkan kepuasan konsumen, ada beberapa hal
yang harus diperhitungkan pula dalam merancang retail layout. Sebagai
service layout yang harus berhubungan langsung dengan konsumen,
perancangan layout tidak hanya berkaitan dengan faktor-faktor yang
sifatnya fisik, tapi juga non-fisik. Seorang konsumen yang membeli
suatu barang, bukan hanya produknya yang ia beli, tapi juga senyum
para pelayannya, suasana yang menyenangkan, dan sebagainya yang
memengaruhi aspek psikologi konsumen tersebut. Oleh karena itu,
faktor lain selain produk utama yang ditawarkan, seperti bentuk gedung,
penerangan, dan alunan musik, keramahan dan kecepatan pelayanan
akan memengaruhi konsumen. Di negara maju, layout dan faktor
yang lain sangat diperhatikan sehingga hampir setiap tahun layoutperusahaan tersebut berubah untuk menampilkan suasana baru bagi
konsumen dan bagi pekerjanya.
Tata Letak Pergudangan
Layout gudang dirancang untuk mendapatkan manfaat maksimum
antara ruangan yang tersedia dengan biaya penanganan yang
ditimbulkannya. Dengan demikian, material handling cost menjadi
alasan utama dalam rancangan storage layout. Biaya material handling
tersebut meliputi semua biaya yang berkaitan dengan:
1. Biaya penerimaan barang (incoming transportation).
2. Biaya penyimpanan (storage).
3. Biaya pengiriman (outgoing transportation).
Biaya-biaya tersebut meliputi biaya peralatan, biaya tenaga kerja
langsung, biaya pengawasan, biaya asuransi, biaya penyusutan, dan
biaya lainnya, seperti kerusakan dan pencurian.
Dalam perusahaan yang besar, jumlah produk yang disimpan sering
kali mencapai ribuan jenis. Bayangkan kalau perusahaan otomotif
yang harus menyimpan bahannya yang berbentuk sparepart hingga
mencapai 12.000 barang atau sebuah perusahaan supermarket yang
barangnya mencapai 8.000 barang. Bagaimana cara menyusun barangbarang tersebut dalam gudang menjadi persoalan tersendiri. Bagian
gudang dalam perusahaan modern sering kali menggunakan automated
storage and retrieval system (ASRS) sebagai alat bantu dalam menyusun
layout-nya.
Satu hal penting dalam menyusun layout gudang adalah keterkaitan
antara tempat penerimaan atau bongkar (unloading) dan tempat
pengiriman atau muat (loading). Keterkaitan ini berhubungan dengan
penggunaan fasilitas material handling, apakah menggunakan truk,
forklift, crane, atau alat bongkar muat lainnya. Dalam perusahaan besar,
sering kali bongkar muat dilakukan di tempat yang sama, tetapi ada juga yang dilakukan di tempat berbeda, tergantung pada rancangan
layout-nya. Perusahaan seperti Wallmart melakukan pelabelan pada
saat penerimaan, penyimpanan, atau pada saat memenuhi order untuk
mengurangi biaya. Kegiataan ini disebut crossdock king. Namun, untuk
melakukan kegiatan itu, dibutuhkan schedule yang ketat dan spesifikasi
produk yang akurat. Penggunaan barcode dengan menggunakan
automatic identification system (AIS) untuk mengidentifikasi keakuratan
produk sangat diperlukan. Kegiatan ini sebaiknya dipadukan dengan
penyusunan sistem informasi sehingga setiap manajemen akan sangat
mudah mengetahui letak dan jumlah produk setiap item-nya.
Tata Letak Orientasi Produk
Layout by produk, atau disebut juga sebagai layout berdasarkan produk,
atau line layout, atau assembly layout, disusun berdasarkan produk
yang dihasilkan atau konsumen yang akan dilayani. Dalam layout ini,
digunakan mesin-mesin yang khusus (special purpose machine) dan
otomatis disertai peralatan role conveyor. Layout seperti ini bisa dilihat
di perakitan mobil, perusahaan tekstil, elektronik, makanan cepat
saji, petrokimia, dan sebagainya. Layout dengan tipe ini akan lebih
menguntungkan apabila:
1. Produk yang dihasilkan bersifat massal (mass production).
2. Jenis produk yang dihasilkan sedikit.
3. Produk yang dihasilkan bersifat standar.
Karena bersifat otomatis dengan peralatan conveyor, layout seperti
ini memiliki keuntungan karena:
1. Biaya material handling relatif rendah.
2. Tenaga kerjanya tidak perlu orang-orang ahli.
3. Produk yang dihasilkan sedikit bervariasi sehingga persediaan bahan
setengah jadi (work in procces) bisa ditekan.
4. Pengendalian relatif sederhana karena bersifat terkomputerisasi.Namun, selain manfaat di atas, ada beberapa hal yang tidak
menguntungkan, antara lain:
1. Memerlukan investasi yang besar karena mesinnya bersifat khusus.
2. Prosesnya panjang.
3. Ketergantungan satu sama lain antarkegiatan, bila kegiatan
sebelumnya atau sesudahnya macet, maka seluruh kegiatan akan
macet pula.
4. Kurang fleksibel dalam perubahan produk sehingga bila produk yang
dihasilkan tidak laku, peralatannya tidak bisa membuat produk yang
lain.
Ada dua ciri dari produk oriented layout, yaitu yang bersifat pabrikasi
dan yang bersifat assembly line. Pabrikasi membuat komponenkomponen yang telah dibuat oleh perusahaan lainnya sehingga disebut
juga perakitan. Yang menjadi masalah dalam produk oriented layout
adalah bagaimana menyeimbangkan kapasitas-kapasitas kerja sehingga
ketidakseimbangan menjadi minimal.
TEKNIK MERANCANG LAYOUT29
Dalam menyusun layout untuk dapartemen yang banyak, misalnya
100 departemen atau lebih, tidak bisa dilakukan secara manual seperti
contoh di atas, tetapi harus dengan bantuan Komputer. Komputer
yang mampu menyusun layout seperti ini dikenal dengan sebutan
“Computerized Relative Allocation of Facilities Techniques (CRAFT)”.
CRAFT adalah suatu program komputer yang secara otomatis
menyusun layout alternatif untuk menekan biaya penanganan bahan.
Program ini tidak hanya mampu untuk menyusun beban kerja dan jarak
dari tempat kerja ke tempat kerja lainnya, tapi juga mampu menyusun
tingkat kesulitannya. Selain CRAFT, program komputer lainnya yangjuga sering digunakan oleh perancang layout adalah CORELAP, ALDEF,
COPAD, dan sebagainya.
PENUTUP
Dari pembahasan bab di atas, dapat disimpulkan bahwa strategi layout
yang tepat dan baik akan memberikan dampak positif bagi perusahaan
karena strategi layout yang tepat menentukan daya saing perusahaan
dalam hal kapasitas, proses, fleksibilitas, biaya, kualitas lingkungan
kerja, kontak pelanggan, dan citra perusahaan. Penempatan strategi
layout yang tepat akan mendukung daya saing sebuah perusahaan dalam
pencapaian tujuan yang mengarah pada peningkatan profitabilitas
perusahaan yang didasari dengan adanya efisiensi dan produktifitas
kerja yang baik.Organisasi pada dasarnya merupakan kerja sama antara dua orang atau
lebih dalam rangka mencapai suatu tujuan. Organisasi adalah kumpulan
orang, proses pembagian kerja antara orang-orang tersebut, dan adanya
sistem kerja sama atau sistem sosial di antara orang-orang tersebut.
Dalam mencapai tujuan, organisasi memerlukan berbagai macam
sumber daya. Mulai dari sumber daya manusia, peralatan, mesin, keuangan,
dan sumber daya informasi. Setiap sumber daya memiliki tugas dan
fungsinya masing-masing. Sebagai suatu sistem, sumber daya-sumber daya
tersebut akan berinteraksi dan saling bekerja sama sehingga tujuan dapat
tercapai secara efektif dan efesien.
Dengan berpijak pada pendekatan sistem, manajemen sumber
daya manusia merupakan bagian dari sebuah sistem yang lebih besar,
yaitu organisasi. Oleh karena itu, upaya-upaya sumber daya manusia
hendaknya dievaluasi berdasarkan kontribusinya terhadap produktivitas
organisasi. Dalam praktiknya, model manajemen sumber daya manusia
merupakan sebuah sistem terbuka yang terbentuk dari bagian-bagian
yang saling terikat.
Setiap organisasi, baik organisasi perusahaan, sosial, maupun
pemerintahan, mempunyai tujuan yang dapat dicapai melalui
pelaksanaan pekerjaan tertentu dengan mampergunakan sumber daya
yang ada pada organisasi. Dan, yang paling penting dalam mencapai
organisasi adalah sumber daya manusia.
Sumber daya manusia sebagai salah satu sumber daya yang ada
dalam organisasi memegang peranan penting dalam keberhasilan
pencapaian tujuan organisasi. Berhasil atau tidaknya tergantung pada
kemampuan sumber daya manusia dalam menjalankan tugas dan
fungsinya. Manusia selalu berperan aktif dan selalu dominan dalam
setiap aktivitas organisasi karena manusia menjadi perencana, pelaku,
sekaligus penentu terwujudnya tujuan organisasi.
Manajemen sumber daya manusia kedudukannya sangat penting
bagi organisasi. ,Sumber daya manusia berperan dalam menjalankan
segala aktivitas organisasi sehingga perusahaan akan berjalan sesuai
apa yang diharapkan. Dengan demikian, sumber daya manusia perlu
dikelola dan dimanfaatkan sehingga Dengan demikian, sumber daya
manusia dapat berfungsi secara produktif untuk tercapainya tujuan
organisasi.
Guna menjaga dan meningkatkan produktivitas sumber daya
manusia pada manajemen operasional suatu organisasi, perlu dibuatkan
sebuah sistem operasional prosedur sebagai justifikasi masing-masing
tahap pelaksanaan dan bahan evaluasi pencapaian kinerja pada masingmasing unit kerja
PENGERTIAN SUMBER DAYA MANUSIA
Sumber daya manusia adalah faktor sentral dalam organisasi perusahaan
ataupun produksi. Kebutuhan sumber daya manusia disesuaikan
dengan bentuk serta tujuan perusahaan yang dibuat berdasarkan visi
untuk kepentingan manusia dan dalam pelaksanaan misinya dikelola
dan diurus oleh manusia. Manajemen sumber daya manusia berfungsi
mengatur dan mengurus sumber daya manusia berdasarkan visi
perusahaan agar tujuan organisasi dapat dicapai secara optimum.
Sumber daya manusia (SDM), dalam konteks bisnis, adalah orang
yang bekerja dalam suatu organisasi yang sering pula disebut karyawan.
Sumber daya manusia merupakan aset yang paling berharga dalam
perusahaan. Tanpa manusia, sumber daya perusahaan tidak akan dapat
menghasilkan laba atau menambah nilainya sendiri.
Manajemen sumber daya manusia adalah suatu cara bagaimana
mengatur hubungan dan peran sumber daya yang dimiliki oleh individu
secara maksimal sehingga tercapai suatu tujuan. Manajemen sumber
daya manusia didasarkan pada konsep bahwa setiap karyawan adalah
manusia, bukan mesin, dan bukan semata menjadi sumber daya bisnis.
Manajemen sumber daya manusia berkaitan dengan kebijakan dan
praktik-praktik yang perlu dilaksanakan oleh manajer mengenai aspekaspek sumber daya manusia dari manajemen kerja.
Menurut Sastrohadiwiryo, manajemen sumber daya manusia diganti
dengan manajemen tenaga kerja, yaitu pendayagunaan, pembinaan,
pengetahuan, pengaturan, dan pengembangan unsur tenaga kerja. Baik
dan buruk karyawan ataupun pegawai untuk mencapai hasil guna dan
daya guna yang sebesar-besarnya sesuai organisasi.30
Menurut Flippo, manajemen sumber daya manusia disebut
manajemen personalia, yaitu perencanaan, pengorganisasian,
pengarahaan, pengembangan kompensasi, pengintegritasian, pemeliharaan, dan pemutusan hubungan kerja dengan sumber
daya manusia untuk mencapai sasaran perorangan, organisasi dan
masyarakat.31
KUNCI KEGIATAN MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA
Pada dasarnya, yang menjadi kunci kegiatan manajemen sumber daya
manusia adalah sebagai berikut:32
1. Kinerja Pegawai atau Karyawan
Kinerja karyawan adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas
yang dicapai oleh seseorang karyawan dalam melaksanakan tugas
sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Di sini,
terjadi sebuah ikatan atau kontrak mengenai hak dan kewajiban
masing-masing. Peranan karyawan bagi sebuah perusahaan
berupa keterlibatan mereka dalam sebuah perencanaan, sistem,
proses, dan tujuan yang ingin dicapai oleh perusahaan. Sedangkan,
peranan manajemen sumber daya manusia adalah mengatur dan
menetapkan program kepegawaian yang mencakup:
a. Jumlah, kualitas dan penetapan tenaga kerja yang efektif sesuai
dengan kebutuhan perusahaan.
b. Menetapkan penarikan, seleksi, dan penempatan karyawan.
c. Menetapkan program kesejahteraan, pengembangan, promosi,
dan pemberhentian.
d. Mengetahui undang-undang perburuhan.
Menurut Cut Zurnali, sebuah organisasi harus dapat mencari
dan menarik calon karyawan yang memiliki kemampuan bekerja dengan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi yang
disebut pekerja pengetahuan (knowledge worker).33
Pendapat Drucker, konstribusi manajemen yang paling penting
adalah meningkatkan produktivitas kerja pengetahuan dan pekerja
pengetahuaan.34
Untuk meningkatkan kinerja karyawan yang lebih baik, harus
ada sistem yang benar-benar strategis agar antara kepentingan
perusahaan dan kebutuhan karyawan mampu terealisasi dengan
mudah, yaitu:
a. Imbalan
1) Imbalan harus adil dan sesuai serta harus mampu
meningkatkan motivasi kerja dan loyalitas.
2) Melakukan penyesuaian, yakni misalnya soal waktu
pemberian gaji.
b. Komunikasi
1) Meningkatkan hubungan antarkaryawan atau antarkaryawan
dengan atasan, sehingga tercipta hubungan yang harmonis.
2) Mengantipasi terjadinya konflik ketenagakerjaan.
3) Melakukan kegiatan yang kaitannya dengan integrasi
sehingga tercapai kerja sama yang harmonis.
c. Informasi
1) Mengetahui kepuasan karyawan.
2) Mengetahui problematika karyawan.
3) Menentukan langkah yang tepat untuk menentukan
kebijakan perusahaan.
4) Mengetahui perubahan, baik di internal maupun kondisi
eksternal perusahaan.
5) Melakukan analisis SWOT.
2. Produktivitas Karyawan
Produktivitas adalah keluaran (output) produk ataupun jasa per
satuan masukan (input) sumber daya yang digunakan dalam suatu
proses produksi. Produktivitas dapat dinyatakan dalam ukuran fisik
(physical productivity) dan ukuran finansial (financial productivity).
Produktivitas merupakan aspek yang penting bagi perusahaan
karena apabila perusahaan memiliki kerja yang tinggi maka akan
memperoleh keuntungan dan hidup perusahaan akan terjamin.
Langkah-langkah berikut ini adalah tahapan yang harus
dipertimbangkan dalam suatu rencana peningkatan produktivitas
yang kompresif dan terintegrasi, yaitu:
a. Analisis situasi.
b. Merancang program peningkatan produktivitas.
c. Menciptakan kesadaran akan produktivitas.
d. Menerapkan program.
e. Mengevaluasi program dan memberikan umpan balik.35
3. Semangat Kerja Karyawan
Menurut Sculler dan Jakson (2001: 77), semangat kerja merupakan
kondisi bagaimana seorang pegawai melakukan pekerjaan setiap
hari. Semakin tinggi semangat kerja maka akan meningkatkan
produktivitas kerja pegawai. Tingkat semangat kerja pegawai
dapat dilihat dari tingkat kehadiran, kegelisahan kerja, tingkat
perpindahan, dan banyak tuntutan kerja pegawai.36
Untuk menjaga kinerja, produktivitas, dan semangat karyawan
tersebut maka diperlukan manajemen operasional dalam bentuk
sebuah sistem operasional yang terstandardisasi sehingga mampu
memberikan hasil yang optimal baik, bagi perusahaan, karyawan
maupun pelanggannya.
FUNGSI MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA
Manajemen sumber daya manusia terdiri atas dua fungsi, yaitu fungsi
manajemen dan fungsi operasional. Dari kedua fungsi tersebut,
kita dapat membuat sebuah sistem yang saling berkaitan satu sama
lain dalam menjalankan fungsinya masing-masing. Namun, untuk
mendapatkan hasil yang optimal dari fungsi tersebut, diperlukan juga
standardisasi pada masing-masing tahap kegiatan agar mempermudah
fungsi manajerial dalam melakukan pengendalian dan penilaian kinerja
karyawannya.
PERAN SUMBER DAYA MANUSIA DALAM ORGANISASI
DAN PRODUKSI
Adapun peran SDM dalam organisasi dan produksi, yaitu:37
1. Sumber daya manusia merupakan aset organisasi perusahaan.
Seperti disebutkan sebelumnya, sumber daya manusia adalah aset
vital perusahaan karena keberadaannya tidak bisa digantikan oleh
sumber daya lainnya. Betapa pun modern teknologi yang digunakan
atau seberapa banyak dana yang disiapkan, tanpa dukungan sumber
daya manusia yang memiliki kemampuan profesional, teknologi
tersebut tidak bisa dijalankan. Suatu organisasi memerlukan sumber
daya manusia sebagai pengelola sistem. Agar sistem ini berjalan,
tentu dalam pengelolaannya harus memperhatikan beberapa aspek
penting, seperti pelatihan, pengembangan, motivasi, dan aspekaspek lainnya. Hal ini akan menjadikan manajemen sumber daya
manusia sebagai salah satu indikator penting pencapaian tujuan
organisasi secara efektif dan efisien.
Masalah yang muncul adalah bagaimana cara mendapatkan
sumber daya manusia profesional yang sesuai dengan kualifikasi
yang dibutuhkan, dan bagaimana cara memosisikan peran
sumber daya manusia dalam menghadapi tantangan globalisasi.
Dinamika kehidupan manusia senantiasa berkembang seiring
dengan perubahan lingkungannya, baik internal maupun
eksternal. Lingkungan internal manusia berkaitan dengan tingkat
penguasaan pengetahuan dan keterampilan, keluasan wawasan,
kebiasaan, perasaan, harapan, kebutuhan, filosofi, dan keyakinan
diri. Lingkungan eksternal menyangkut berbagai unsur yang ada
di luar diri manusia, baik fisik maupun sosial, seperti alam sekitar,
teknologi, sarana/prasarana, ekonomi, aktivitas perusahaan,
pemerintah, politik, hukum, sosial kemasyarakatan, budaya, dan
hubungan internasional.
2. Eksistensi sumber daya manusia dalam kondisi lingkungan yang
terus berubah.
Eksistensi sumber daya manusia dalam kondisi lingkungan yang
terus berubah tidak dapat dipungkiri. Oleh karena itu, dituntut
kemampuan beradaptasi yang tinggi agar mereka tidak tergilas
oleh perubahan itu. Sumber daya manusia dalam organisasi
harus senantiasa berorientasi terhadap visi, misi, tujuan, dan
sasaran organisasi ketika berada di dalamnya (Tjutju, 2008, dalam
Ramdhani, 2014). Untuk mencapai visi, misi, dan tujuan, manusia
harus mempunyai nilai kompetensi. Karakteristik kompentensi menurut Spencer dan Spencer (1993: 9–11, dalam Ramdhani
2014), yaitu:
a. Motif (motive), yaitu hal-hal yang secara konsisten dipikirkan
atau keinginan yang menyebabkan melakukan tindakan.
b. Sifat/ciri bawaan (trait), yaitu ciri fisik dan reaksi-reaksi yang
bersifat konsisten terhadap situasi atau informasi.
c. Konsep diri (self concept), yaitu sikap, nilai dari orang-orang.
d. Pengetahuan (knowledge), yaitu suatu informasi yang dimiliki
seseorang mengenai bidang yang spesifik.
e. Keterampilan (skill), kemampuan untuk melaksanakan tugastugas fisik dan mental tertentu.
Agar peran sumber daya manusia dapat sesuai dengan visi,
misi, tujuan, dan harapan organisasi maka manusia harus dapat
melakukan penyesuaian terhadap perkembangan organisasi yang
semakin kompetitif. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk
mengantisipasi dan merespons perubahan tersebut. Menurut Tjutju
(2008, dalam Ramdahni, 2014), ada empat strategi utama untuk
melakukan perubahan, yaitu:
a. Pengendalian diri secara lebih baik dengan disertai kearifan.
b. Beradaptasi dengan perubahan yang terjadi disertai mengubah
paradigma berpikir dan bertindak.
c. Komunikasi yang efektif untuk membangun kepercayaan dan
mengembangkan networking.
d. Penyelarasan dan/atau menyeimbangkan antara kematangan
IQ, EQ, dan ESQ.
Dengan strategi tersebut, sumber daya manusia dalam organisasi
akan melakukan upaya untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan
global yang cenderung bersifat tanpa batas. Pengimplementasian
strategi membutuhkan berbagai kebijakan (policy) yang mengatur mekanisme kerja dalam struktur organisasi perusahaan sehingga
bisa menciptakan budaya kerja yang profesional dalam upaya
mencapai visi perusahaan tersebut. Perusahaan dengan visi
yang benar akan memiliki daya tarik bagi berbagai pihak untuk
memberikan komitmennya pada perusahaan. Setelah itu, perlu
dibentuk lingkungan eksternal yang menunjang kinerja sumber
daya manusia, seperti kondisi ergonomis dalam hubungannya
dengan lingkungan fisik dan sosial, lingkungan fisik organisasi
dalam perusahaan menyangkut sarana dan prasarana kerja, serta
kondisi alam sekitar.
TOTAL QUALITY MANAGEMENT
Manajemen mutu terpadu atau total quality management (TQM)
bermula di Amerika Serikat selama Perang Dunia II, ketika W. Edward
Deming menolong para insinyur dan teknisi dengan menggunakan teori
statistik untuk memperbaiki mutu produksi. Setelah perang, teorinya
banyak diremehkan oleh perusahaan Amerika. Kemudian, Deming
pergi ke Jepang, dimana dia mengajarkan pemimpin bisnis top mengenai
stastistical quality control agar mereka dapat membangun negaranya.
Manajemen mutu terpadu muncul sebagai respons atas kesulitan
membaurkan pendekatan mutu teknis dengan tenaga kerja tak terlatih
atau semi terlatih yang berkembang pesat saat dan setelah PDII.
Tobin (1990) mendefinisikan TQM sebagai usaha terintegrasi total
untuk mendapatkan manfaaat kompetitif dengan secara terus-menerus
memperbaiki setiap fase. Witcher (1990) menekankan pada pentingnya
aspek-aspek TQM menggunakan penjelasan berikut.38
1. Total menandakan bahwa setiap orang dalam perusahaan harus
dilibatkan (dan mungkin para pelanggan dan pemasok)
2. Quality mengindikasikan bahwa keperluan-keperluan pelanggan
sepenuhnya dipenuhi.
3. Management menjelaskan bahwa eksekutif senior pun harus komit
secara penuh.
Feigenbaum (1983, dalam Taufiqurokhman, 2009) mendefinisikan
TQM sebagai dampak kontrol mutu total dan tahun 1991 mendefinisikan
ulang lebih lengkap, yaitu sistem mutu total dijelaskan sebagai salah
satu yang merangkum keseluruhan siklus kepuasan pelanggan dari
interpretasi keperluannya, terutama pada tahap pemesanan, melalui
pasokan produk atau jasa dari harga ekonominya, dan pada persepsinya
dari produk setelah dia menggunakannya pada sepanjang periode waktu.
MANFAAT ANALISIS KEBUTUHAN SUMBER DAYA
MANUSIA
Menurut Hastho dan Meilan (2007) dalam Danang Sunyoto (2012:
37–40), manfaat analisis kebutuhan SDM bagi perusahaan meliputi
beberapa hal berikut.
1. Optimalisasi sistem manajemen informasi, terutama tentang data
karyawan.
Agar tujuan organisasi dapat tercapai dengan baik, dibutuhkan
sumber daya manusia yang memenuhi syarat-syarat dan kriteria
organisasi. Dari semua kriteria tersebut, diharapkan akan terbentuk
sumber daya manusia yang produktif dan berguna terhadap
pencapaian tujuan organisasi.
2. Memanfaatkan SDM seoptimal mungkin.
Organisasi harus dapat memberikan added value karena kuantitas
SDM yang besar tanpa didukung kualitas yang baik akan menjadi
beban pembangunan suatu bangsa. Oleh karena itu, untuk
mewujudkannya, diperlukan SDM yang terampil dan andal.3. Mengembangkan sistem perencanaan SDM dengan efisien dan
efektif.
Hal ini diperlukan untuk memastikan bahwa suatu organisasi
mempunyai karyawan yang benar untuk melaksanakan rencana
organisasi.
4. Mengoordinasi fungsi-fungsi manajemen secara optimal.
Hal ini dapat dilakukan dengan menyelaraskan secara teratur
maupun menyusun berbagai aktivitas yang saling berkaitan dari
tiap personal dalam rangka pencapaian tujuan bersama.
5. Mampu membuat perkiraan kebutuhan SDM dengan lebih akurat
dan cermat.
Hal ini untuk memungkinkan para pengambil keputusan
menggunakan sumber daya manusia yang terbatas secara efektif
dan efisien.
PERAMALAN KEBUTUHAN SUMBER DAYA MANUSIA
Menurut Werther dan Davis (1989), peramalan (forecast) kebutuhan
sumber daya manusia secara logis dapat dibagi menjadi tiga:39
1. Ramalan permintaan sumber daya manusia.
Ramalan akan kebutuhan permintaan ini sebaiknya dibagi ke
dalam permintaan jangka panjang dan permintaan jangka pendek.
Pembuatan ramalan permintaan ini perlu mempertimbangkan atau
memperhitungkan rencana strategis organisasi, perkembangan
penduduk, perkembangan ekonomi, perkembangan teknologi,
serta kecenderungan perubahan-perubahan sosial di dalam
masyarakat.
2. Ramalan persediaan sumber daya manusia.
Dalam membuat ramalan persediaan sumber daya manusia ini
perlu memperhitungkan, antara lain, persediaan sumber daya
manusia yang sudah ada sekarang ini, baik jumlah maupun
kualifikasinya, tingkat produksi atau efektivitas kerja sumber daya,
tingkat pergantian tenaga kerja, angka absensi karyawan atau tenaga
kerja, dan tingkat rotasi atau perpindahan kerja.
3. Perlakuan atas sumber daya manusia.
Berdasarkan perhitungan atau ramalan kebutuhan di suatu pihak,
dan ramalan persediaan sumber daya manusia yang ada saat ini,
maka perlu tindak lanjut, yaitu perlakuan (tindakan) yang akan
diambil. Ramalan perlakuan ini, misalnya pengangkatan pegawai
baru, penambahan kemampuan terhadap pegawai yang sudah ada
melalui pelatihan, pengurangan pegawai, dan sebagainya.FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI RAMALAN
KEBUTUHAN SUMBER DAYA MANUSIA
Faktor Eksternal
Faktor eksternal adalah kondisi lingkungan bisnis yang berada di luar
kendali perusahaan yang berpengaruh pada rencana strategis dan
rencana operasional sehingga langsung atau tidak langsung berpengaruh
pada perencanaan SDM (H. Suwatno, 2011).40 Faktor-faktor eksternal
tersebut di antaranya sebagai berikut:
1. Ekonomi nasional dan internasional (global). Faktor ini pada
dasarnya berupa kondisi dan kecendrungan pertumbuhan ekonomi
dan moneter nasional dan/atau internasional yang berpengaruh
pada kegiatan bisnis setiap dan semua organisasi atau perusahaan.
2. Sosial, politik, dan budaya. Faktor ini tercermin dalam kondisi
kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara di wilayah
negara tempat operasional sebuah organisasi atau perusahaan
menjalankan operasional bisnisnya.
3. Perkembangan ilmu dan teknologi. Perkembangan dan kemajuan
ilmu dan teknologi berpengaruh pada kecepatan dan kualitas proses
produksi dalam bentuk teknologi untuk mendesain produk serta
meningkatkan efisiensi kerja, produktivitas, dan kualitas produk,
termasuk juga teknologi pemberian pelayanan yang sesuai dengan
keinginan dan kebutuhan konsumen.
4. Pasar tenaga kerja dan perusahaan pesaing. Pasar tenaga kerja
adalah areal geografi yang memiliki persediaan tenaga kerja yang
dibutuhkan (demand) sebuah perusahaan. Perusahaan pesaing
adalah hal yang harus dipertimbangkan dalam memprediksi
kebutuhan SDM. Agar dapat bersaing, perusahaan membutuhkan
sumber daya manusia yang kompeten dan dapat mengungguli
kinerja perusahaan pesaing
Faktor Internal
Faktor internal adalah kondisi persiapan dan kesiapan SDM sebuah
organisasi/perusahaan dalam melakukan operasional bisnis pada
masa sekarang dan untuk mengantisipasi perkembangannya di masa
depan (Suwatno, 2011).41 Dengan kata lain, faktor internal adalah
alasan permintaan SDM, yang bersumber dari kekurangan SDM di
dalam organisasi/perusahaan yang melaksanakan bisnisnya, yang
menyebabkan diperlukan penambahan jumlah SDM. Alasan ini terdiri
atas:
1. Faktor rencana strategis dan rencana operasional. Faktor ini
merupakan penyebab utama yang terpenting dalam memprediksi
kebutuhan SDM.
2. Faktor prediksi produk dan penjualan. Sebuah organisasi
atau perusahaan harus melakukan prediksi produk yang akan
dihasilkannya dan memprediksi pula produk yang bisa dipasarkan.
Prediksi ini pada dasarnya merupakan prediksi laba yang dapat
diraih dengan mempergunakan jumlah dan kualitas SDM yang sudah
dimiliki oleh organisasi/perusahaan. Kemungkinan meningkat dan
menurunnya produk dan pemasaran atau laba perusahaan, sangat
besar pengaruhnya pada prediksi kebutuhan SDM.
3. Faktor pembiayaan SDM. Dalam memprediksi kebutuhan SDM
sekurang-kurangnya harus sesuai dengan kemampuan organisasi/
perusahaan membayar upah/gaji tetap sebagai bagian pembiayaan
SDM dari persentase laba yang dapat diraih organisasi/perusahaan
secara berkelanjutan.
4. Faktor pembukaan bisnis baru. Pengembangan produk baru akan
berdampak diperlukannya penambahan SDM karena terjadi
penambahan pekerjaan dan bahkan mungkin bertambahnya
jabatan baru. Oleh karena itu, perlu dilakukan prediksi kebutuhan
SDM dalam perencanaan SDM, baik jumlah maupun kualitasnya, yang disebabkan oleh pengembangan bisnis baru di lingkungan
sebuah organisasi/perusahaan.
5. Faktor desain organisasi dan desain pekerjaan. Semakin banyak
unit kerja dalam struktur organisasi, semakin banyak dan semakin
bervariasi kualifikasi permintaan dalam perencanaan SDM sebuah
organisasi atau perusahaan.
6. Faktor keterbukaan dan keikutsertaan para manajer. Pada dasarnya,
faktor ini berkenaan dengan keterbukaan dan kebijaksanaan
manajer puncak. Kebijaksanaan tanpa diskriminasi dengan nilainilai demokratis memungkinkan perencanaan SDM memprediksi
jumlah dan kualifikasi permintaan SDM secara akurat dan objektif.
PENUTUP
Setiap organisasi, baik organisasi perusahaan, sosial, maupun
pemerintahan mempunyai tujuan yang dapat dicapai melalui
pelaksanaan pekerjaan tertentu, dengan mampergunakan sumber daya
yang ada pada organisasi. Dan yang paling penting dalam mencapai
organisasi adalah sumber daya manusia.
Sumber daya manusia sebagai salah satu sumber daya yang ada
dalam organisasi memegang peranan penting dalam keberhasilan
pencapaian tujuan organisasi. Berhasil atau tidaknya tergantung pada
kemampuan sumber daya manusia dalam menjalankan tugas dan
fungsinya. Manusia selalu berperan aktif dan selalu dominan dalam
setiap aktivitas organisasi, karena manusia menjadi perencana, pelaku,
sekaligus penentu terwujudnya tujuan organisasi.
Selain pengertian dari sumber daya manusia (SDM), kita pun
harus mengetahui tentang fungsi manajemen SDM, peran SDM dalam
organisasi, peramalan (forecasting), standar operasional prosedur yang
ditetapkan, sistem informasi yang digunakan, dan hal lainnya, guna
membantu dalam mewujudkan tujuan perusahaan
Di kehidupan yang modern seperti sekarang ini, tentunya masalah seputar
dunia bisnis menjadi semakin maju. Di mana saja, siapa pun berbondongbondong untuk membangun dunia usaha (bisnis). Ada saja cara-cara yang
dipergunakan oleh para pelaku bisnis untuk memajukan serta menjalankan
bisnisnya seefektif dan seefisien mungkin. Banyak cara dilakukan, namun
terkadang belum mencapai target yang diinginkan. Salah satu contoh
yang bisa kita uraikan adalah masalah penyediaan produk yang murah,
berkualitas, dan cepat belum dapat terkoordinir dengan baik, serta
transportasi dan jaringan belum memadai. Oleh karena itu, para pelaku
bisnis harus menyadari bahwa proses yang terstruktur dan perhitungan
yang cermat dalam mengambil keputusan adalah penting untuk kemajuan
bisnis tersebut.
Manajemen rantai pasokan (supply chain manegement) merupakan
metode atau pendekatan integratif untuk mengelola aliran produk,
informasi, dan uang secara terintegrasi yang melibatkan pihak-pihak
mulai dari hulu ke hilir yang terdiri atas supplier, pabrik, distributor,
toko atau retail, hingga jasa-jasa logistik. Hal penting yang menjadi
dasar pemikiran pada metode ini adalah fokus pada pengurangan
kesia-siaan dan mengoptimalkan nilai pada rantai pasokan yang
berkaitan. Tidak ada perusahaan yang beroperasi tanpa menggunakan
konsep supply chain manegement. Tidak dapat dipungkiri pula bahwa
efektif tidaknya supply chain manegement (SCM) suatu perusahaan
akan menjadi kunci apakah suatu perusahaan akan kompetitif di pasar.
Oleh karena itu, tidak ada perusahaan yang bisa lepas dari kebutuhan
untuk memahami dan menerapkan konsep ini. Sering kali, di pabrik
terjadi kelangkaan pasokan atau penumpukan pasokan. Hal ini akan
menyebabkan tambahan biaya bagi perusahaan tersebut, seperti penjual
yang ingin membeli barang di retail tetapi stok barang habis di gudang
(lost opportunity cost) atau membutuhkan biaya pengadaan gudang
untuk penyimpanan stok barang yang menumpuk (warehousing cost).
PENTINGNYA MANAJEMEN RANTAI PASOKAN
Manajemen rantai pasokan berkaitan dengan siklus lengkap bahan
baku dari pemasok, ke produksi, kemudian ke gudang, lalu ke
distribusi, sampai ke konsumen. Sementara perusahaan meningkatkan
kemampuan bersaing mereka melalui penyesuaian produk, kualitas yang
tinggi, pengurangan biaya, dan kecepatan mencapai pasar, penekanan
tambahan diberikan pula terhadap rantai pasokan.
Banyak peluang yang tersedia dalam manajemen rantai pasokan
untuk meningkatkan nilai produksi dengan biaya yang rendah. Di
pihak pemasok, teknik-teknik JIT (just in time) dan kerja sama dengan
pemasok yang dapat membantu distribusi merupakan bagian dari manajemen rantai pasokan. Dengan bantuan rancangan dan bantuan
pemasok, perusahaan manufaktur dapat mempertahankan karakteristik
generik dari produksinya selama mungkin. Teknik ini kita kenal dengan
nama postphonement, yaitu menunda modifikasi atau penyesuaian
terhadap produksi selama mungkin.
Kita sering mendengar istilah drop ship. Ini merupakan teknik
yang sering kali digunakan dalam bidang distribusi. Drop ship berarti
pemasok akan langsung mengirim ke konsumen pemakai, dan bukan
kepada penjual, agar menghemat waktu dan biaya pengangkutan ulang.
Hal-hal lain yang biasa dilakukan untuk menghemat biaya mencakup
penggunaan kemasan khusus, lebel khusus, dan lokasi tertentu dari
label dan kode barang. Bentuk lain yang ditambahkan adalah ukuran
dan jumlah unit yang dimasukkan ke dalam kontainer pengangkutan.
Penghematan yang substansial dapat diperoleh melalui teknik-teknik
manajemen semacam ini. Beberapa dari teknik-teknik ini dapat
menguntungkan untuk pedagang besar maupun eceran karena dapat
membantu mengurangi kehilangan barang dagang akibat hilang, rusak,
atau dicuri dan juga mengurangi biaya penyimpanan.42
Dengan demikian, semakin pendek rantai pasokan yang digunakan
maka akan mempercepat penyampaian barang dari supplier ke produsen
dan dari produsen ke konsumen akhir sehingga risiko kerusakan barang
dan biaya logistik bisa dikurangi. Dengan demikian daya saing produk
tersebut akan meningkat.
PENGERTIAN MANAJEMEN RANTAI PASOKAN
Manajemen rantai pasokan (supply chain management ) adalah sebuah
proses payung dimana produk diciptakan dan disampaikan kepada
konsumen dari sudut struktural. Manajemen rantai pasokan merujuk
pada jaringan yang rumit dari hubungan yang mempertahankan
organisasi dengan rekan bisnisnya untuk mendapatkan sumber produksi
yang kemudian disampaikan kepada konsumen (Kalakota, 2000: 197).43
Manajemen rantai pasokan adalah koordinasi antara arus bahan
atau material, arus informasi, dan arus keuangan di antara perusahaan
yang berpartisipasi. Manajemen rantai pasokan bisa juga berarti seluruh
kegiatan dari komoditas dasar hingga penjualan produk akhir ke
konsumen untuk mendaur produk yang sudah dipakai. Arus bahan atau
material melibatkan arus produk fisik dari pemasok sampai konsumen
melalui rantai. Arus bahan juga meliputi arus balik bahan dari retur
produk, layanan, daur ulang, dan pembuangan. Arus informasi meliputi
ramalan permintaan, transmisi pesanan, dan laporan status pesanan.
Arus ini berjalan dua arah antara konsumen akhir dan penyelia material
mentah. Kemudian, arus keuangan meliputi informasi kartu kredit,
syarat-syarat kredit, jadwal pembayaran, dan penetapan kepemilikan
pengiriman (Kalakota, 2000: 198).44
KOMPONEN MANAJEMEN RANTAI PASOKAN
Menurut Turban, Rainer, dan Porter (2004: 321),45 terdapat tiga macam
komponen rantai pasokan, yaitu:
1. Rantai pasokan hulu (upstream supply chain)
Bagian rantai pasokan hulu meliputi aktivitas dari suatu perusahaan
menufaktur dengan para andistributor (bisa manufaktur atau
assembler, atau keduanya) dan koneksi mereka kepada para
penyalur mereka (para penyalur second-trier). Dalam rantai pasokan
hulu, aktivitas yang utama adalah pengadaan.
2. Manajemen rantai pasokan internal (internal supply chain
management)
Manajemen rantai pasokan internal meliputi semua proses pemasukan
barang ke gudang yang digunakan dalam mentransformasikan
masukan dari para penyalur menjadi keluaran organisasi. Hal ini
meluas dari waktu masukan masuk ke dalam organisasi. Dalam rantai
pasokan internal, perhatian yang utama adalah manajemen produksi,
pabrikasi, dan pengendalian persediaan.
3. Segmen rantai pasokan hilir (downstream supply chain segment)
Rantai pasokan hilir meliputi semua aktivitas yang melibatkan
pengiriman produk kepada pelanggan akhir. Di dalam rantai
pasokan hilir, perhatian diarahkan pada distribusi, pergudangan,
transportasi, dan layanan pascapenjualan (after-sales-service).
Menurut Indrajit dan Djokopranoto,46 ada beberapa pemain di
dalam rantai pasokan, di antaranya adalah supplier, manufacturer,
distributor/wholesaler, retail outlets, dan konsumen.
TUJUAN MANAJEMEN RANTAI PASOKAN
Menurut Stevenson,47 tujuan dari manajemen rantai pasokan adalah
menyelaraskan antara permintaan dan penawaran secara efektif dan
efisien. Beberapa masalah utama yang ada di dalam rantai pasokan
berhubungan dengan:
1. Penentuan tingkat outsourcing yang tepat.
2. Manajemen pengadaan barang.
3. Manajemen pemasok.
4. Mengelola hubungan dengan pelanggan.
5. Identifikasi masalah dan merespons masalah tersebut.
6. Manajemen risiko.
Menurut I Nyoman Pujawan,48 tujuan strategis dari rantai pasokan
adalah untuk memenangkan persaingan pasar, atau setidaknya bertahan.
Oleh karena itu, menurut I Nyoman Pujawan, untuk menjadi pemenang
dalam persaingan pasar maka rantai pasokan harus bisa menyediakan
produk yang:
1. Murah.
2. Berkualitas.
3. Tepat waktu.
4. Bervariasi.
PROSES MANAJEMEN RANTAI PASOKAN
Proses manajemen rantai pasokan terbagi menjadi tiga macam tanggung
jawab, antara lain:
1. Arus material
Arus material ini melibatkan pergerakan produk mentah dari
pemasok ke konsumen dan juga dari konsumen yang dikembalikan,
atau retur produk, layanan, daur ulang, dan pembuangan.
2. Arus informasi
Arus informasi ini berisi tentang prediksi permintaan, informasi
perpindahan barang, dan juga pembaruan status barang apakah
sudah terkirim atau belum.
3. Arus finansial
Arus finansial berisi pembayaran, alur perkreditan, penjadwalan
pembayaran, hingga persetujuan kepemilikan. Alur informasi yang
akurat dan bergerak dengan mudah di antara mata rantai serta
pergerakan barang yang efektif dan efisien menjadi faktor kunci
keberhasilan dalam manajemen rantai pasokan.
PEMBELIAN DALAM MANAJEMEN RANTAI PASOKAN
Rantai pasokan menerima perhatian yang besar karena di sebagian
besar perusahaan pembelian merupakan kegiatan yang paling memakan
biaya. Biaya pembelian sebagai persentase dari penjualan, untuk barang
maupun jasa, sering kali substansial sifatnya. Karena porsi pendapatan
yang besar dilimpahkan untuk melakukan pembelian, maka strategi
pembelian yang efektif merupakan sesuatu yang vital. Pembelian
memberikan peluang besar pengurangan biaya dan peningkatan
margin kontribusi. Tambahan pula, mutu barang dan jasa yang dijual
secara langsung berhubugan dengan kualitas barang dan jasa yang
dibeli. Organisasi mampunyai sejumlah strategi untuk pembelian
yang efektif, tetapi pertama-tama, perusahaan harus menentukan
apa yang ingin dibuat dan apa yang ingin dibeli. Setelah menetapkan
keputusan membuat atau membeli (yang akan kita bahas secara singkat),
perusahaan harus memutuskan strategi pembelian untuk item-item
yang akan dibeli.49
Kebutuhan akan strategi pembelian dan penerapan strategi itu
mengarah kepada dibentuknya fungsi pembelian. Pembelian berarti
perolehan barang dan jasa. Tujuan dari kegiatan pembelian adalah:
1. Membantu identifikasi produk dan jasa yang dapat diperoleh secara
eksternal.
2. Mengembangkan, mengevaluasi, dan menentukan pemasok, harga,
dan pengiriman yang terbaik bagi barang dan jasa tersebut.
Pembelian terjadi di lingkungan operasi maupun jasa.Di lingkungan
operasi, fungsi pembelian biasanya dikelola oleh agen pembelian yang
secara formal memegang wewenang untuk melaksanakan kontrak atas
nama perusahaan. Di perusahaan-perusahaan besar, agen pembelian
ini dapat merupakan staf yang juga pembeli dan ekspeditor. Pembelian mewakili perusahaan yang bersangkutan menjalankan semua kegiatan
departemen pembelian kecuali penandatanganan kontrak, ekspeditor
membantu membeli dan menindaklanjuti pembelian agar dapat
dipastikan bahwa pengiriman barangnya tepat waktu. Di perusahaanperusahaan manufaktur, fungsi pembelian didukung oleh engineering
drawing dan spesifikasi dari produk-produk yang dibuat, dokumendokumen pengendalian mutu, dan kegiatan-kegiatan pengujian yang
mengevaluasi item-item yang dibeli.
Di banyak lingkungan jasa, peranan pembelian terputus karena
produk primernya merupakan produk intelektual. Di oganisasi umum
maupun pengobatan, misalnya, item utama yang diperoleh adalah
fasilitas kantor, perabotan dan peralatan, mobil, serta perlengkapan.
STRATEGI PEMBELIAN DALAM MANAJEMEN RANTAI
PASOKAN
Untuk item-item yang akan dibeli, perusahaan harus memutuskan
strategi pembelian. Salah satu strategi adalah pendekatan masyarakat
Amerika tradisional, yaitu negosiasi dengan banyak pemasok dan
mempermainkan satu pemasok dengan yang lainnya. Strategi yang
kedua adalah mengembangkan hubungan jangka panjang, bersekutu
dengan beberapa pemasok yang akan bekerja sama dengan pembeli
untuk memuaskan konsumen akhir. Strategi yang ketiga adalah integrasi
vertikal, dimana perusahaan dapat memutuskan untuk menggunakan
integrasi vertikal ke belakang dengan membeli pemasoknya. Variasi
keempat adalah kombinasi beberapa pemasok dan integrasi vertikal
yang dikenal dengan sebutan “keiretsu“. Pada metode keiretsu, pemasok
menjadi bagian koalisi perusahaan. Terakhir, strategi kelima adalah
mengembangkan perusahaan-perusahaan maya yang menggunakan
pemasok dengan dasar “pada saat dibutuhkan”. Terdapat lima strategi manajemen ratai pasokan yang dapat dipilih
perusahaan untuk melakukan pembelian kepada supplier, yaitu:50
1. Banyak pemasok (many supplier)
Strategi ini memainkan antara pemasok yang satu dengan pemasok
yang lainnya dan membebankan pemasok untuk memenuhi
permintaan pembeli. Para pemasok saling bersaing secara agresif.
Meskipun banyak pendekatan negosiasi yang digunakan dalam
strategi ini, tetapi hubungan jangka panjang bukan menjadi tujuan.
Dalam pendekatan ini, tanggung jawab dibebankan pada pemasok
untuk mempertahankan teknologi, keahlian, kemampuan ramalan,
biaya, kualitas, dan pengiriman.
2. Sedikit pemasok (few supplier)
Dalam strategi ini, perusahaan mengadakan hubungan jangka
panjang dengan para pemasok yang dipercaya. Dengan cara ini,
pemasok cenderung lebih memahami sasaran-sasaran luas dari
perusahaan dan konsumen akhir. Penggunaan hanya beberapa
pemasok dapat menciptakan nilai dengan memungkinkan pemasok
mempunyai skala ekonomis dan kurva belajar yang menghasilkan
biaya transaksi dan biaya produksi yang lebih rendah.
Dengan sedikit pemasok maka biaya mengganti partner besar
sehingga pemasok dan pembeli menghadapi risiko akan menjadi
tawanan yang lainnya. Kinerja pemasok yang buruk merupakan
salah satu risiko yang dihadapi pembeli sehingga pembeli harus
memperhatikan rahasia-rahasia dagang pemasok yang berbisnis
di luar bisnis bersama.
3. Integrasi vertikal (vertical integration)
Integrasi vertikal artinya pengembangan kemampuan memproduksi
barang atau jasa yang sebelumnya dibeli, atau dengan benar-benar
membeli pemasok atau distributor. Integrasi vertikal dapat berupa: a. Integrasi ke belakang (backward integration) berarti penguasaan
kepada sumber daya, misalnya perusahaan mobil mengakuisisi
pabrik baja.
b. Integrasi ke depan (forward integration) berarti penguasaan
kepada konsumennya, misalnya perusahaan mobil mengakuisisi
dealer yang semula sebagai distributornya.
4. Kairetsu network
Kebanyakan perusahaan manufaktur mengambil jalan tengah
antara membeli dari sedikit pemasok dan integrasi vertikal
.jpeg)
.jpeg)
