Persaingan usaha 17
mencapai
bentuk keunggulan kompetitif yang baru dan inovatif,
berkaitan dengan hubungan antara perusahaan dengan
stakeholders. Teori kapabilitas dinamis terutama berfokus
pada konotasi dan definisi, komponen-komponen,
mengonstruksi insentif, dan memengaruhi faktor-faktor
yang menjelaskan mekanisme operatif dari kapabilitas
dinamis perusahaan (Zott, 2003; Ambrosini and Bowman,
2009). Teori mengenai kapabilitas dinamis pada tahun
2006 dikembangkan lagi oleh Zahra et al., (2006) dengan
memberi tambahan komponen kapabilitas
perusahaan dan budaya organisasional.
Daya Saing Strategis
Konsep daya saing ialah kemampuan menerapkan strategi
yang bisa menciptakan nilai yang mudah ditiru atau
dimiliki oleh pesaing, sedang daya saing yang tahan
lama yaitu nilai yang sulit ditiru atau dimiliki pesaing,
sehingga manfaat dari strategi ini tidak bisa
diduplikasi (Barney, 1991). Fahy (2000) mengatakan
bahwa kontribusi terbesar dari RBV yaitu sebagai teori
daya saing yang sederhana dan sangat mendasar. RBV
diawali dengan asumsi bahwa hasil yang ingin dihasilkan
dari upaya manajerial dalam perusahaan yaitu memiliki
daya saing (SCA- Sustainable Competitive Advantage).
Pencapaian SCA membuat perusahaan memperoleh
tingkat pengembalian di atas rata-rata. RBV berpendapat
bahwa kunci untuk mencapai daya saing ini yaitu
dengan memiliki sumber daya utama. Pada dasarnya,
RBV menekankan pada pilihan strategis, yaitu mendorong
perusahaan untuk mengidentifikasi, mengembangkan,
dan menggunakan sumber daya kunci untuk
memaksimalkan tingkat pengembalian (Fahy,2000).
Sumber daya atau resources ialah variabilitas input yang
dimasukkan dalam proses operasi perusahaan. Resources
mencakup modal, fasilitas fisik, manusia, teknologi, dan
berbagai pendukung organisasi perusahaan lainnya, yang
memungkinkan sebuah perusahaan menciptakan nilai (to
create value) bagi para pelanggannya.
Sumber daya organisasi selanjutnya dapat dibagi dalam
dua kategori. Pertama, sumber daya berwujud (tangible
resources) yang mencakup segala jenis sumber daya yang
dapat dilihat bentuk fisiknya seperti tanah, bangunan,
pabrik, peralatan, mesin, uang, dan persediaan. Kedua,
sumber daya tidak berwujud (intangible resources), yaitu
berbagai sumber daya nonfisik yang diciptakan
perusahaan dan para karyawannya, seperti nama merek
(brand name), reputasi perusahaan, pengetahuan dan
pengalaman sumber daya manusia, kekayaan intelektual
perusahaan yang diwujudkan dalam bentuk paten, hak
cipta, dan merek dagang (trademark).
Kapabilitas atau Capabilities menunjukkan kemampuan
yang dimiliki perusahaan untuk mengoordinasikan
sumber daya yang dimiliki dan memberdayakan sumber
daya ini secara produktif. Secara umum, kapabilitas
perusahaan menurut Barney (1991) berasal dari tiga hal,
yaitu: struktur organisasi, proses organisasi, dan sistem
pengendalian organisasi. Ketiga hal ini , secara
bersama-sama akan menentukan bagaimana dan
keputusan dibuat dalam suatu organisasi perusahaan,
perilaku apa saja dari karyawan yang akan mendapat
imbalan (rewards) dari perusahaan, serta apa yang
menjadi nilai dan norma di dalam perusahaan.
Kendati perusahaan memiliki sumber daya organisasi
yang spesifik (bersifat khusus dan berbeda dengan
sumber daya yang dimiliki pesaing) serta berharga
(valuable), namun perusahaan tidak serta merta akan
memperoleh distinctive competencies, jika perusahaan
tidak mampu menggunakan resources ini secara
efektif.
Konsep Strategi Bisnis
Konsep strategi didefinisikan oleh Miller (1988)
merupakan keputusan penting yang dilakukan oleh
manajer untuk mengondisikan perusahaannya dalam
lingkungan, menentukan tujuan, menetapkan bentuk
pengembangan, dan mengalokasikan sumber daya,
sedang Ragab (1983) mendefenisikan strategi industri
sebagai penciptaan suatu posisi kemampulabaan di
dalam suatu segmen pasar/produk tertentu, yang dapat
dipertahankan terhadap pesaing.
Strategi untuk industri merupakan kombinasi dari empat
variabel, yaitu: konsep bisnis, niche market, kapabilitas,
dan manuver. Strategi ini, dimulai dengan menciptakan
konsep bisnis yang berbeda dari para pesaing, memilih
suatu niche market atau suatu segmen pasar yang
spesifik, dan mendesain kapabilitas unik yang dapat
memberi konsep diferensiasi dari perusahaan
terhadap keinginan segmen pasar pada suatu harga, yang
diaktualisasikan melalui tindakan manuver atau
mengantisipasi pesaing utama dengan berpindah,
membuka, menyebarkan kapabilitas perusahaan pada
poin di mana para pesaing lemah.
Idrus (1997) menyatakan bahwa strategi yang mungkin
dilakukan ditingkat corporate dapat digolongkan menjadi
`generic grand strategy` sebagai berikut.
1. Kelompok strategi pertumbuhan (growth or
expansion).
Strategi ini dipilih sebab berdaya saing yang kuat
serta daya tarik industri atau pasar yang kuat bagi
Strategic Business Unit (SBU) yang dimiliki
organisasi/perusahaan. Sasaran utama yang ingin
dicapai dari strategi ekspansi ini yaitu peningkatan
penjualan dan pertambahan keuntungan (earning).
Bentuk strategi ekspansi dapat berupa (a)
concentrated growth, (b) concentric diversification, (c)
conglomeration diversification, (d) innovation, (e)
produk development, (f) vertical integration, (g)
horizontal integration, (h) acquisition, dan (i ) mergers.
2. Kelompok strategi status quo.
Strategi ini dipilih pada saat daya saing yang kuat
atau cukup kuat dari SBU, namun pertumbuhan pasar
lemah atau telah jenuh dan lingkungan eksternal
berada pada kondisi yang kurang dinamis/stabil.
Sasaran yang ingin dicapai dengan strategi ini yaitu
meningkatkan kemampulabaan. Strategi yang
mungkin dipilih pada keadaan ini yaitu
dengan melakukan: (a) produk improvement, (b) join
venture, (c) licensing, (d) franchising, dan (e) sub-
contracting.
3. Kelompok strategi retrenchment atau penciutan.
Strategi ini dipilih pada saat posisi bersaing dan
pertumbuhan pasar yang lambat dan rendah dari SBU
(Strategic Business Unit) yang dimiliki perusahaan,
dan bahkan beberapa SBU yang dimiliki mungkin
dalam keadaan yang kritis dan merugi. Sasaran yang
ingin dicapai yaitu bertahan hidup, menekan biaya,
dan menghindari kerugian pada periode yang akan
datang.
Strategi yang mungkin dapat dipilih yaitu : (a)
divesture, menjual atau menutup SBU, atau (b)
turnaround, melakukan efisiensi internal, atau (c)
likuidasi, menutup dan membubarkan SBU.
Kelompok strategi kombinasi dari ketiga kelompok
strategi di atas. Sasaran utama dengan strategi
kombinasi ini yaitu meningkatkan keuntungan dan
menekan biaya.
PELANGGARAN ETIKA BISNIS
DAN SOLUSINYA
Di dalam persaingan dunia usaha yang sangat ketat ini,
etika bisnis merupakan sebuah harga mati, yang tidak
dapat ditawar lagi. Dengan pertumbuhan bisnis di
warga yang diiringi dengan globalisasi ekonomi,
diperlukan etika dalam kegiatan bisnis. Era yang sangat
terbuka saat ini, dapat memicu keburukan bisnis
perusahan dapat cepat tersebar luas. Satu- satunya cara
untuk bertahan dalam dunia bisnis yaitu dengan
bertindak secara jujur dan etis terhadap pemasok,
pemodal, konsumen, pemasok, dan warga umum.
Pelaku bisnis yang ingin eksis dan mampu bersaing pada
era globalisasi, harus mematuhi etika maupun norma
serta aturan dan hukum yang berlaku.
Saat ini, kita melihat banyak pelanggaran etika bisnis
dalam bisnis negara kita secara tidak sadar. Di negara kita ,
ada banyak hal yang berkaitan dengan pelanggaran etika
bisnis yang sering dilakukan oleh pebisnis yang tidak
bertanggung jawab. Di sisi lain, bisnis telah memberi
kontribusi yang besar dalam kemajuan, ekonomi, sosial
dan budaya. Namun, juga menimbulkan konsekuensi
yang disebabkan oleh kegiatan perusahaan ini .
Kecenderungan individu untuk merasa benar dalam
berbagai situasi, menimbulkan munculnya perilaku
pelanggaran etika dalam berbagai kegiatan perusahaan.
Kasus pelanggaran etika bisnis sering terjadi tanpa
disadari. Hal ini mudah saja terjadi sebab setiap pelaku
bisnis tidak menyadari pentingnya membangun pondasi
etika dan kepatuhan terhadap hukum. Bisnis yang
beretika akan menguntungkan perusahaan dan
warga . Kegagalan untuk mematuhi hukum dan
etika bisnis dalam menangani persaingan bisnis,
memicu persaingan yang tidak sehat.
Pelanggaran Etika Bisnis
Meningkatnya jumlah pelanggaran etika bisnis yang
terjadi, menjadi masalah dalam dunia bisnis. Pelanggaran
etika bisnis muncul sebab pelaku bisnis hanya
memikirkan cara untuk meningkatkan penjualan dan
melakukan hal-hal yang tidak etis seperti suap, korupsi,
kolusi, dan nepotisme. Ketidaktahuan tentang etika bisnis
mendorong pelanggaran terhadap bisnis. Jika suatu
perusahaan tidak mengikuti standar etika bisnis yang
tepat, hal itu dapat memicu konsumen tidak
percaya pada produknya, yang dapat memicu
penjualan menurun dan bahkan kebangkrutan
perusahaan.
Perusahaan yang ingin berkembang dan ingin
mendapat keunggulan bersaing, harus dapat
menyediakan produk atau jasa yang berkualitas, harga
yang murah dibandingkan pesaing, waktu penyerahan
lebih cepat, dan pelayanan yang lebih baik dibandingkan
pesaingnya (Margaretha, 2004). Dalam hal ini, bisnis
menjadi suatu usaha yang dijalankan dengan tujuan
utamanya yaitu untuk memperoleh keuntungan
(Rendtorff, J. D. 2019). Oleh sebab itu, kesadaran moral
diperlukan dalam situasi apa pun, agar keputusan yang
dibuat tetap bernilai secara moral.
Dunia bisnis yang berkembang pesat menimbulkan
tantangan dan ancaman bagi para pebisnis, untuk
bersaing dan mempertahankan eksistensi. Praktik bisnis
harus dilakukan dengan etika, bukan secara bebas.
Secara umum, etika bisnis yaitu cara mengelola bisnis
dengan mempertimbangkan moral dan standar. Akan
namun , para ahli di bidang ini, berbeda dalam
mendefinisikan etika bisnis.
Etika bisnis merupakan aspek moral dalam menjalankan
bisnis. Etika bisa diartikan sebagai tata cara hidup yang
baik, aturan hidup yang baik, nilai-nilai maupun segala
kebiasaan yang dianut maupun diwariskan dari satu
individu kepada individu yang lainnya, ataupun dari satu
generasi ke generasi yang lainnya (Aviatri & Nilasari,
2021). sebab itu, individu yang terlibat bisnis harus
mengerti dan memahami etika dalam berbisnis
Masih banyak fenomena-fenomena di mana beberapa
bisnis masih mengabaikan aspek moral. LeClair dan
Ferrell dalam Haurisa dan Praptiningsih (2014)
mengemukakan bahwa perkembangan zaman secara
drastis memengaruhi perilaku etis, ditambah
perkembangan teknologi telah membuat perubahan high
impact teradap keputusan bisnis. Banyak bisnis
menganggap keuntungan, menghindari kerugian, dan
persaingan sebagai satu-satunya tujuan operasi, sehingga
pertimbangan moral atau etika tidak lagi diperlukan.
Bertens (2000) mengemukakan bahwa etika bisnis itu,
lebih luas dari pada ketentuan yang diatur oleh undang-
undang, bahkan etika bisnis merupakan standar yang
lebih tinggi, jika dibandingkan dengan standar minimum
ketentuan hukum. sebab itu, dalam kegiatan atau
kegiatan bisnis kita sering kali menemukan grey area
yang tidak diatur oleh ketentuan hukum. Perusahaan
yang memiliki produk bermutu, berguna untuk
warga , dikelola dengan manajemen yang tepat,
namun tidak memiliki etika, maka kekurangan ini akan
menjadi batu sandungan bagi perusahaan ini
(Bertens, 2013) “Ethics without a good product and without
a good management will not make a company succeed. But
without ethics a good product and smart management
cannot guarantee a company’s success.”
Ronald J. Ebert dan Ricky M. Griffin (2000)
mengemukakan etika bisnis yaitu istilah yang sering
digunakan untuk menunjukkan perilaku dari etika
seseorang manajer atau karyawan suatu organisasi
Velasquez, (2005) juga menekankan bahwa etika bisnis
merupakan studi yang dikhususkan mengenai moral yang
benar dan salah. Studi ini berkonsentrasi pada standar
moral sebagaimana diterapkan dalam kebijakan, institusi,
dan perilaku bisnis. Di sisi lain, Zimmerer memandang
etika bisnis sebagai suatu kode etik perilaku pengusaha,
berdasarkan nilai-nilai moral dan norma yang dijadikan
tuntunan dalam membuat keputusan dan memecahkan
persoalan.
Tujuan etika bisnis yang umum diterapkan dalam
organisasi atau perusahaan yaitu untuk menghindari
pelanggaran hukum pidana dalam pekerjaan,
menghindari tindakan yang dapat mengakibatkan
gugatan hukum perdata pada perusahaan dan
menghindari tindakan yang berakibat buruk bagi citra
perusahaan, bisnis sangat berkaitan dengan tiga hal
ini , sebab dapat mengakibatkan hilangnya uang
dan reputasi perusahaan (Subagio et al., 2013).
Fahmi (2013) mengungkapkan bahwa pelanggaran etika
bisnis dilakukan oleh pihak-pihak yang mengerti etika
bisnis. Dilakukan dengan sengaja sebab faktor ingin
mengejar keuntungan dan menghindari kewajiban-
kewajiban yang selayaknya harus dipatuhi. Selain itu,
Fahmi juga mengatakan bahwa Keputusan bisnis sering
diambil dengan mengesampingkan norma norma atau
aturan-aturan yang berlaku, misalnya Undang-Undang
Perlindungan Konsumen.
Keputusan bisnis sering mengedepankan materi atau
mengejar target perolehan keuntungan jangka pendek
semata. Keputusan bisnis sering dibuat secara sepihak,
tanpa memperhatikan atau bahkan tanpa mengerti
ketentuan etik yang disahkan oleh lembaga yang
berkompeten, seperti Kode Etik Perhimpunan Auditor
Internal negara kita (PAAI), Peraturan Menteri Keuangan
Nomor 17/PMK.01/2008/ tentang Jasa Akuntan Publik,
Peraturan Badan Pemeriksa Keuangan Nomor 2 Tahun
2007 tentang Kode Etik BPK-RI, Kode Etik Psikologi
negara kita , Kode Etik Advokat negara kita , dan lain
sebagainya.
Selanjutnya, kontrol dari pihak berwenang dalam
menegakkan etika bisnis masih dianggap lemah, sehingga
kondisi ini dimanfaatkan untuk mencapai keuntungan
pribadi atau kelompok.
Faktor Penyebab Pelanggaran Etika Bisnis
Beberapa faktor yang dapat memicu terjadinya
pelanggaran etika bisnis antara lain sebagai berikut.
1. Tekanan untuk Memaksimalkan Keuntungan
Perusahaan sering menghadapi tekanan untuk
mencapai tujuan keuangan dan menghasilkan
keuntungan yang tinggi. Tekanan ini, dapat
mendorong manajemen atau karyawan untuk
mengambil jalan pintas atau melakukan tindakan
yang tidak etis, untuk mencapai tujuan ini .
2. Ketidakpatuhan terhadap Hukum dan Peraturan
Pemicu pelanggaran etika dapat berupa
ketidakpatuhan terhadap peraturan dan hukum
bisnis. Bisnis tertentu mungkin merasa lebih mudah
mengabaikan atau melanggar aturan untuk
mendapat keuntungan jangka pendek.
3. Kebijakan dan Budaya Perusahaan yang Buruk
Kebijakan dan budaya perusahaan yang tidak jelas
atau tidak ditegakkan, dapat menciptakan celah
untuk pelanggaran etika. Selain itu, budaya
perusahaan yang tidak peduli dengan etika atau
bahkan mendorong perilaku yang tidak etis dapat
memicu pelanggaran etika menjadi lebih umum.
4. Kurangnya Pengawasan dan Transparansi
Kurangnya pengawasan internal yang efektif dan
rendahnya transparansi dalam keputusan bisnis,
dapat memfasilitasi pelanggaran etika sebab pelaku
dapat merasa tidak akan ditangkap atau terungkap.
5. Persaingan yang Ketat
Dalam lingkungan bisnis yang sangat kompetitif,
beberapa perusahaan mungkin merasa terdorong
untuk melakukan tindakan tidak etis, untuk
mendapat keunggulan atas pesaing mereka.
6. Konflik Kepentingan
Tindakan yang tidak etis dapat dilakukan oleh
individu atau kelompok dalam suatu organisasi, jika
mereka memiliki kepentingan pribadi atau finansial
yang bertentangan dengan kepentingan perusahaan.
7. Kurangnya Kesadaran Etika
Ada kemungkinan beberapa individu tidak memahami
etika bisnis atau tidak menyadari akibat negatif dari
tindakan mereka, yang dapat memicu
pelanggaran etika yang tidak disengaja
8. Teknologi dan Perubahan Sosial
Kemajuan dalam teknologi dan perubahan sosial
dapat menghasilkan kondisi baru yang dapat
menimbulkan masalah etika, dan beberapa bisnis
mungkin menghadapi kesulitan untuk mengikuti
perubahan ini .
Pelanggaran etika bisnis muncul juga akibat pelaku bisnis
hanya memikirkan bagaimana bisa menaikkan omset
penjualan menjadi semakin besar, tidak hanya
menaikkan omzet saja melainkan juga melakukan hal-hal
yang tidak etis, seperti suap, korupsi, kolusi dan
nepotisme hal ini membuat warga resah.
Penting bagi perusahaan untuk mengidentifikasi dan
mengatasi faktor-faktor ini, dengan menerapkan
kebijakan etika yang jelas, melibatkan seluruh organisasi
dalam pelatihan etika, dan memastikan adanya
pengawasan yang efektif, untuk mencegah dan mengatasi
pelanggaran etika bisnis.
Contoh Kasus Pelanggaran Etika Bisnis
Pelanggaran etika bisnis mencakup berbagai perilaku
yang tidak etis dalam konteks bisnis dan ekonomi.
Beberapa contoh pelanggaran etika bisnis yang umum
meliputi
1. penipuan, menyediakan informasi yang salah atau
menyesatkan kepada konsumen, investor, atau pihak
lain untuk memperoleh keuntungan yang tidak adil;
2. penghindaran pajak, menggunakan celah atau
strategi yang meragukan untuk menghindari
membayar pajak yang seharusnya dibayarkan;
3. pemakaian buruk sumber daya, menggunakan
sumber daya perusahaan secara tidak etis, seperti
menggunakan waktu kerja untuk kepentingan pribadi
atau mencuri aset perusahaan;
4. perlakuan diskriminasi, memperlakukan karyawan,
konsumen, atau pihak lain dengan tidak adil
berdasarkan faktor seperti ras, gender, agama, atau
orientasi seksual;
5. pelanggaran hak tenaga kerja, melanggar hak-hak
pekerja, seperti mengabaikan standar keselamatan
dan kesehatan, upah yang tidak adil, atau jam kerja
yang berlebihan;
6. korupsi, memberi suap atau hadiah kepada
pejabat pemerintah atau pihak lain untuk
memperoleh keuntungan bisnis yang tidak sah;
7. pelanggaran privasi, melanggar privasi pelanggan
atau karyawan dengan cara, seperti mencuri data
pribadi atau menjual informasi tanpa izin; dan
8. praktik monopoli atau kartel, mengekang persaingan
dengan melakukan kesepakatan ilegal untuk
mengendalikan pasar.
Jika suatu perusahaan tidak mengikuti standar etika
bisnis yang tepat, itu dapat membuat pelanggan tidak
percaya pada produknya, yang dapat memicu
penjualan menurun dan bahkan kebangkrutan.
Berikut yaitu beberapa beberapa kasus pelanggaran
etika bisnis
1. kasus pelanggaran etika bisnis oleh Volkswagen, di
mana perusahaan ini memanipulasi hasil uji
emisi kendaraan mereka;
2. kasus pelanggaran etika bisnis oleh perusahaan Uber,
di mana perusahaan ini , dihadapkan dengan
tuduhan pelecehan seksual, kepemimpinan yang
dipertanyakan, dan penyelidikan kasus-kasus
kriminal lainnya;
3. kasus pelanggaran etika bisnis oleh perusahaan
Facebook, di mana perusahaan ini , dihadapkan
dengan tuduhan pelanggaran privasi dan pemakaian
data pribadi pengguna tanpa izin;
4. kasus pelanggaran etika bisnis oleh PT Garuda
negara kita , di mana perusahaan ini , dihadapkan
dengan tuduhan pelanggaran Pasal 5 UU Nomor 5
Tahun 1999 yang mana terjadi persekongkolan antara
para pelaku usaha (meeting of minds) untuk
meniadakan diskon atau membuat keseragaman
diskon, dan kesepakatan meniadakan produk yang
ditawarkan dengan harga murah di pasar;
5. kasus pelanggaran etika bisnis oleh Indomie, di mana
perusahaan ini , dihadapkan dengan tuduhan
merugikan konsumen dengan tidak memberi
diskon dan meniadakan produk yang ditawarkan
dengan harga murah di pasar
6. kasus pelanggaran etika bisnis oleh FIFA, di mana
organisasi ini , dihadapkan dengan tuduhan
korupsi dan penyuapan; dan
7. kasus pelanggaran etika bisnis oleh perusahaan
Djarum, di mana perusahaan ini , dihadapkan
dengan tuduhan pelanggaran iklan rokok dan
pemakaian bahan berbahaya dalam produk mereka.
Meskipun telah banyak yang memahami konsekuensi atas
pelanggaran etika bisnis, kesadaran akan pentingnya
etika bisnis perlu terus digalakkan, sebab masih sering
ditemukan pelanggaran terhadap etika bisnis oleh para
pebisnis yang tidak bertanggung jawab di negara kita .
Pelanggaran etika bisnis memiliki potensi untuk
melemahkan daya saing produk industri di pasar global.
Bagaimana para pengusaha kita bersikap? Pengusaha
negara kita membuat situasi menjadi lebih buruk, sebab
mereka mengabaikan standar etika bisnis yang umum
dan tidak terikat. Banyak orang khawatir tentang
peningkatan pelanggaran etika bisnis. Ada keyakinan
bahwa mengabaikan etika bisnis akan berdampak negatif
pada warga dan ekonomi nasional. Selain itu, hal ini
dapat mengganggu hubungan antar individu, kelompok,
dan warga secara keseluruhan. Pelanggaran etika
juga dapat mengarah pada perilaku yang lebih berbahaya
dan merugikan orang lain. Mengatasi pelanggaran etika
bisnis membutuhkan pendekatan yang luas dan
kompleks.
Pentingnya menyadari bahwa dalam berbisnis etika
bisnis, tidak hanya diterapkan oleh satu pihak, namun juga
oleh pemerintah, warga , pengusaha, dan negara
lain, diperlukan diskusi yang terbuka tentang masalah
ini. Ini berarti bahwa apa yang disepakati oleh bisnis
ini tidak akan pernah terwujud jika ada pihak
terkait yang tidak tahu dan setuju tentang etika dan
moralitas.
Berikut yaitu beberapa solusi yang dapat diambil untuk
menghadapi pelanggaran etika bisnis, antara lain
1. menetapkan kebijakan etika yang jelas, perusahaan
harus memiliki kebijakan etika yang tertulis dan jelas
yang menetapkan standar perilaku yang diterima dan
tidak diterima, kebijakan ini harus didistribusikan
kepada semua karyawan dan disosialisasikan dengan
baik;
2. meningkatkan kesadaran etika, melakukan pelatihan
dan program kesadaran etika secara rutin untuk
semua karyawan, agar mereka memahami pentingnya
etika bisnis dan dampak dari tindakan yang tidak etis;
3. membentuk komite etika, mendirikan komite etika
independen di perusahaan untuk menangani dan
meninjau pelanggaran etika serta memberi saran
tentang masalah etika;
4. memperkuat pengawasan internal, meningkatkan
sistem pengawasan internal, untuk memastikan
bahwa aturan dan kebijakan perusahaan diikuti
dengan benar dan mengidentifikasi potensi
pelanggaran etika;
5. membuat saluran pelaporan yang aman,
menyediakan saluran pelaporan yang aman dan
rahasia bagi karyawan untuk melaporkan
pelanggaran etika tanpa takut represalias;
6. tanggap terhadap pelanggaran, perusahaan harus
menanggapi pelaporan pelanggaran etika dengan
serius dan menyelidiki setiap laporan dengan cermat;
7. menegakkan sanksi yang tegas, menetapkan sanksi
yang jelas dan tegas bagi mereka yang terlibat dalam
pelanggaran etika, termasuk pemecatan atau
tindakan hukum jika diperlukan;
8. memperbaiki budaya perusahaan, membangun
budaya perusahaan yang berorientasi pada etika dan
integritas, di mana karyawan merasa didukung untuk
bertindak dengan benar dan menghindari perilaku
yang tidak etis;
9. mengedepankan tanggung jawab sosial perusahaan,
berkomitmen untuk bertindak secara etis dalam
segala aspek bisnis, termasuk dalam hubungannya
dengan karyawan, pelanggan, pemasok, dan
warga ; dan
10. melibatkan pihak eksternal, bekerja sama dengan
pihak eksternal, seperti asosiasi industri, organisasi
nirlaba, dan pemerintah, untuk mempromosikan
praktik bisnis yang etis dan meningkatkan kesadaran
tentang etika bisnis.
Untuk mencegah pelanggaran etika pada masa depan dan
menciptakan lingkungan bisnis yang etis, solusi ini harus
diterapkan secara konsisten dan terus-menerus. Untuk
mengubah budaya etika perusahaan, penting untuk
melibatkan semua tingkatan organisasi dan semua
pemangku kepentingan. Membangun lingkungan bisnis
yang adil dan bertanggung jawab juga merupakan solusi,
di mana bisnis mematuhi nilai-nilai moral dan
mempertimbangkan dampak sosial dari apa yang mereka
lakukan. Selain itu, perusahaan harus berkomunikasi
dengan warga umum dan pelanggan dengan cara
yang mudah dipahami, sehingga mereka dapat
membangun hubungan bisnis yang menyenangkan untuk
semua pihak yang terlibat.
PELUANG DAN TANTANGAN
USAHA DALAM
DIGITALISASI BISNIS
Konsep digitalisasi bisnis berkembang pesat
pascapandemi sebagai keberlanjutan dari strategi bisnis
pada masa pandemi. Digitalisasi bisnis bertumbuh
menjadi scale up strategy terutama untuk pelaku bisnis di
negara kita , sedang secara global digitalisasi bisnis
merupakan dampak dari Revolusi Industri 4.0 dan Society
5.0. Society 5.0 secara khusus melakukan integrasi, yang
bertujuan meningkatkan kenyamanan warga ,
sebab teknologi dan sistem informasi sebagai bagian dari
kehidupan manusia yang mampu mendegradasi
kesenjangan antar manusia dan mengatasi permasalahan
ekonomi yang dihadapi (Suherman, Musnaini and
Indrawan, 2020).
Digitalisasi bisnis yang dilakukan oleh para pelaku usaha
yaitu berpindah dari bisnis konvensional ke bisnis
digital, dengan memanfaatkan aplikasi keuangan
digital/e-fincancing, pemasaran digital/e-commerce dan
pembayaran digital/e-payment
Switch off ini, bertujuan agar bisnis mereka dapat terus
bertahan dan berkembang di tengah persaingan yang
semakin ketat
Transformasi bisnis dapat menjadi peluang maupun
tantangan bagi masing-masing pelaku usaha terutama
pelaku usaha mikro kecil. Proses digitalisasi yang telah
dilakukan dan menunjukkan arah perubahan adaptif,
dikenal dengan konsep transformasi digital. Transformasi
digital merupakan serangkaian aktivitas bisnis dan
pelaksanaannya yang melibatkan pemakaian teknologi,
namun juga sumber daya manusia, keuangan dan unsur
lainnya, yang kemudian dapat berperan sebagai strategi
bisnis
Digitalisasi Bisnis
Digitalisasi yaitu “Proses alih media dari bentuk
tercetak, audio, maupun video menjadi bentuk digital.
Digitalisasi dilakukan untuk membuat arsip dokumen
bentuk digital, untuk fungsi fotokopi, dan untuk membuat
koleksi perpustakaan digital.”
Tujuan digitalisasi yaitu
1. pembuatan arsip dokumen bentuk digital;
2. pembuatan salinan dokumen (Fungsi fotokopi); dan
3. pembuatan koleksi digital untuk keperluan
perpustakaan digital (Sukmana, 2016)
Dalam bisnis perubahan yang dilakukan untuk
menggunakan informasi dan data untuk pengembangan
bisnis atau usaha, melalui serangkaian aktivitas yang
mampu disederhanakan, namun juga aktivitas ini
mampu untuk mendatangkan keuntungan yang
maksimal bagi perusahaan disebut dengan proses
digitalisasi. Proses digitalisasi akan memberi dampak
perubahan adaptif, yang dikenal dengan transformasi
digital dengan menggunakan semua sumber daya yang
ada dalam perusahaan
Transformasi Digitalisasi Bisnis
Transformasi digitalisasi bisnis yaitu perubahan yang
disebabkan oleh teknologi dalam perusahaan, yang
meliputi pemanfaatan teknologi digital untuk
meningkatkan semua tahapan atau proses yang
dilakukan oleh perusahaan, namun juga disertai dengan
dan eksplorasi inovasi digital yang berpeluang mengubah
model bisnis dengan melibatkan banyak unsur penentu
kebijakan dalam organisasi, yang harus mampu
memaksimalkan informasi digital sebagai salah satu
strategi bisnis, namun dengan tetap menjamin keamanan
data perusahaan
Kondisi ini menunjukkan adanya pergeseran yang besar
menuju suatu kondisi yang baru dengan berbagai macam
risiko, tantangan dan permasalahannya, dan harus
mampu untuk ditindaklanjuti
Berikut ini diberikan gambaran mengenai komponen-
komponen transformasi digital.
Pentingnya Strategi Digitalisasi Bisnis bagi
Perusahaan
1. meningkatkan semangat, motivasi dan produktivitas
karyawan;
2. meningkatkan kemudahan aksesibilitas berbagai
pihak, baik yang ada dalam perusahaan (internal)
maupun pihak-pihak eksternal yang terkait dengan
Perusahaan;
3. mempermudah dan mempercepat proses pengambilan
keputusan secara lebih efektif;
4. penangkapan data, pengolahannya juga akan
dilakukan secara lebih akurat dan efisien;
5. memperkecil terjadinya kesalahan baik yang bersifat
human error maupun kesalahan oleh sistem;
6. memungkinkan perusahaan melakukan inovasi
digital untuk mengantisipasi perubahan lingkungan
dan tuntutan pemenuhan kebutuhan konsumen serta
persaingan; dan
7. meningkatkan peluang memperoleh return/profit
lebih besar (Endang Wahyuningsih, 2021).
Unsur-Unsur Strategi Digitalisasi Bisnis
Eksistensi di dunia maya yaitu bentuk eksistensi
perusahaan, yang dengan mudah ditemukan oleh
pelanggan tanpa dibatasi oleh waktu dan ruang tertentu.
Untuk itu, strategi pemilihan media online dan
kemampuan untuk menjelaskan eksistensi perusahaan
sangat perperan penting dalam strategi ini
1. pemasaran sebagai strategi bisnis digital harus
mampu memperluas sasaran pengguna produk yang
dihasilkan melalui optimalisasi teknologi digital yang
mampu menekan biaya pemasaran;
2. penjualan sebagai dampak dari pemasaran dalam
strategi bisnis digital harus dilakukan secara efektif
dan efisien, serta mampu menjangkau konsumen
lebih luas dengan pelayanan yang lebih cepat; dan
3. pelanggan sebagai strategi bisnis digital dapat
dilakukan dengan berbagai metode yang mampu
mengombinasikan antara proses pemasaran itu
sendiri, dengan sumber daya manusia serta teknologi
yang ada dalam perusahaan
Langkah-Langkah Digitalisasi Bisnis
Teknologi digital dapat diimplementasikan oleh berbagai
usaha namun juga diiringi dengan berbagai tantangan dan
peluang. Perusahaan harus mencari sistem terbaik agar
bisnis mereka dapat berjalan dengan lancar. Tiga langkah
digitalisasi bisnis yaitu sebagai berikut:
1. analisis perusahaan, menentukan target, dan
pengembangan strategi analisis seluruh proses bisnis
dan strategi kekayaan perusahaan bertujuan untuk
menentukan efisiensi semua bagian, dan membuat
bagaimana rencana tentang cara meningkatkannya
dengan bantuan teknologi digital. Meminimalkan
risiko, dilakukan dengan menganalisis dengan tingkat
ketelitian yang tinggi. Teknologi dapat
mengembangkan bisnis namun langkah strategis
penyederhanaan dapat membantu untuk
keberlanjutan usaha;
2. pengenalan teknologi digital, memilih alat yang tepat
dan menyesuaikan rencana namun juga butuh waktu
bagi perusahaan untuk mengimplementasikan
teknologi baru ini dilanjutkan dengan
pengujian, memperbaiki kesalahan teknis yang
terjadi, melatih staf untuk dapat menggunakan
teknologi dengan tepat sampai pada pencapaian hasil
juga membutuhkan waktu; dan
3. analisis hasil, langkah selanjutnya yaitu analisis
terhadap keefektifan sistem yang digunakan dan
memastikan bahwa pendapatan atau penerimaan
perusahaan meningkat atau mendapat manfaat
lainnya. pemakaian teknologi digital seharusnya
tidak menambah beban kerja perusahaan. jika
pemakaian teknologi bisnis gagal mencapai target,
maka perlu diperbaiki kemudian dicoba kembali.
Dampak digitalisasi bagi suatu organisasi, yaitu
1. efisiensi internal; yaitu, cara kerja yang lebih baik
melalui sarana digital dan perencanaan ulang proses
internal;
2. peluang eksternal yaitu peluang bisnis baru dalam
domain bisnis yang sudah ada; dan
3. perubahan yang mengganggu; digitalisasi
memicu perubahan peran bisnis secara
menyeluruh
Berikut gambar tiga viewpoint dampak digitalisasi.
Gambar 15.2 Tiga viewpoint dampak digitalisasi.
(Parviainen et al., 2017)
Potensi manfaat dari digitalisasi yaitu
1. biaya dapat dipotong hingga 90 persen dan waktu
penyelesaian ditingkatkan beberapa kali lipat;
2. perangkat lunak memungkinkan bisnis secara
otomatis mengumpulkan data yang dapat ditambang
untuk pemahaman yang lebih baik kinerja proses,
pemicu biaya, dan penyebab risiko; dan
3. laporan nyata tentang kinerja proses digital untuk
mengatasi masalah sebelum mereka menjadi kritis
(Sabbagh et al, 2012).
Peluang dan Tantangan Usaha dalam Digitalisasi Bisnis
Untuk dapat memahami peluang dalam digitalisasi bisnis,
maka perlu terlebih dahulu dipahami mengenai
transformasi atau perubahan dalam digitalisasi bisnis
sebagai berikut.
Berdasarkan transformasi peluang bisnis digital yang
telah digambarkan di atas, maka peluang digitalisasi
bisnis yaitu untuk efisiensi internal meliputi
1. digitalisasi meningkatkan efisiensi proses bisnis,
kualitas, dan konsistensi dengan menghilangkan
tahapan manual dan mendapat hasil yang lebih
baik;
2. digitalisasi juga dapat memungkinkan waktu nyata
yang lebih baik;
3. digitalisasi meningkatkan kepuasan kerja yang lebih
baik untuk karyawan melalui otomatisasi pekerjaan
rutin; dan
4. digitalisasi meningkatkan kepatuhan melalui
standarisasi dan pencadangan dan distribusi
penyimpanan yang lebih mudah (Parviainen et al.,
2017).
Peluang digitalisasi bisnis yaitu untuk efisiensi eksternal
meliputi
1. meningkatkan waktu respons dan layanan klien;
2. memungkinkan cara baru dalam melakukan bisnis;
dan
3. menciptakan peluang untuk layanan baru atau
penawaran lanjutan kepada pelanggan (Parviainen et
al., 2017).
Disruptive changes:
1. perubahan dalam lingkungan operasi perusahaan;
dan
2. digitalisasi bisa menciptakan bisnis yang benar-benar
baru (Parviainen et al., 2017).
Berdasarkan pemaparan di atas, maka dapat disimpulkan
peluang dalam digitalisasi bisnis yaitu
1. proses modernisasi,
2. mengoptimalkan alur kerja,
3. memperkuat keamanan, dan
4. meningkatkan produktivitas.
Transformasi digital bukan sekedar permasalahan
penggunan teknologi digital namun juga pada kemampuan
menerima dan mengunakan model bisnis yang baru. Hal
ini berarti perusahaan dituntut untuk mampu memahami
dengan baik, transformasi digital yang sedang terjadi
dengan mempertimbangkan semua kemungkinan yang
akan terjadi. Terutama pada penerimaan yang akan
dilakukan oleh para pegawai yang akan berdampak
terhadap loyalitas pelanggan.
Salah satu kesulitan yang dihadapi dalam pemanfaatan
teknologi yaitu pada biaya investasi yang dibutuhkan
untuk mendukung transformasi digital
Beberapa tantangan yang dihadapi dalam digitalisasi
bisnis nampak dalam gambar berikut.
Gambar 15.4 Tantangan dalam digitalisasi bisnis.
Sumber: www.pecb.com
Berdasarkan gambar 15.4, maka dapat dijelaskan
tantangan dalam digitalisasi bisnis yaitu sebabagi
berikut.
1. Kurangnya perubahan strategi manajemen organisasi.
Perubahan strategi manajemen organisasi mengacu
pada pendekatan terorganisir untuk mengelola
perubahan dalam suatu organisasi dalam pengelolaan
transformasi digital. Perubahan yang tidak tepat,
dapat berdampak negatif pada transformasi digital
organisasi sebagai penyebab kegagalan. Faktor
lainnya yaitu perubahan yang dilakukan pada
berbagai elemen, sekaligus dan tidak fokus
meyelesaiakan permasalahan utama. Memiliki
strategi manajemen perubahan yang kuat dan efektif
sangat penting untuk kesuksesan sebab
meningkatkan kemungkinan organisasi untuk
mencapai tujuan transformasinya.
2. Kurangnya keahlian.
Kurangnya keahlian dapat mengganggu proses
transformasi. Mempertimbangkan betapa rumitnya
strategi transformasi digital, keterampilan, dan
pengetahuan yang tepat, diperlukan untuk
mengimplementasikan perubahan yang diperlukan.
Permasalahan kesenjangan bakat dapat
memperlambat transformasi digital. Perusahaan
kekurangan karyawan dengan keterampilan yang
memadai dalam prosedur transformasi digital.
3. Evolusi berkelanjutan dari kebutuhan pelanggan.
Harapan dan tuntutan pelanggan telah meningkat
sebagai hasil dari pengembangan dan perbaikan yang
terus berkembang dan dapat menimbulkan
tantangan bagi perusahaan. Usaha dalam
transformasi digital dihadapkan pada kebutuhan
pelanggan dapat berubah sepanjang waktu, sebab
mereka terus mencari layanan yang lebih
transformatif.
4. Resistensi internal untuk berubah.
Kecenderung menikmati kenyamanan dan rutinitas
membuat orang merasa nyaman. Oleh sebab itu,
perubahan menimbulkan ketidaknyamananyang
dapat berdampak pada kesejahteraan mereka.
Kondisi ini dapat menjelaskan tingkat penerimaan
dan penolakan karyawan terhadap transformasi
digital. Untuk itu, diperlukan tindakan penanganan
melalui keterlibatan karyawan dalam proses
transformasi, sebab dapat memengaruhi kinerja dan
efisiensi mereka.
5. Perhatian pada keamanan.
Organisasi yang mengadopsi proses digital dan
teknologi berbasis cloud, dihadapkan pada tingkat
risiko yang lebih tinggi. Perusahaan dituntut untuk
menerapkan keamanan yang lebih tinggi, untuk
mempertahankan diri dari ancaman. Tidakan untuk
tidak melindungi data dan aset berharga lainnya milik
perusahaan dapat memicu risiko yang sangat
besar.
6. Kendala anggaran.
Tantangan lain dari transformasi digital yaitu
tingginya biaya investasi. Kendala anggaran bukan
sekedar menjadi tantangan, melainkan menjadi
kendala dan permasalahan pada banyak perusahaan,
sebab merupakan investasi yang sangat besar.
Organisasi diharuskan merencanakan anggaran
dengan sangat hati-hati untuk mendapat strategi
yang mampu memenuhi kebutuhan pelanggan dan
organisasi (Vlerë Hyseni; www.pecb.com).
Tiga faktor penting tranformasi digital:
1. strategi,
2. kerangka berpikir, dan
3. keterampilan dan teknologi.
Strategi dan integrasi dalam transformasi bisnis, yaitu
1. perubahan strategi manajemen;
2. peningkatan keterampilan dan rekruitmen;
3. pemenuhan ekspektasi dan kebutuhan pelanggan;
4. transformasi budaya kerja;
5. transformasi keamanan digital; dan
6. transformasi perencanaan anggaran digital (Dennis
Akkerman; www.pecb.com).
STRATEGI BISNIS UMKM DALAM
MENGHADAPI PERSAINGAN
Strategi bisnis yaitu tindakan yang dilakukan atas dasar
pengambilan keputusan oleh perusahaan, untuk
mencapai target dan tujuan bisnisnya. Jadi, strategi
bisnis yaitu aksi dan proses yang dilakukan perusahaan
dalam mendukung aktivitas bisnisnya, sehingga
mendapat keuntungan. Tujuan utama dari strategi bisnis
yaitu perusahaan dapat mengontrol jalannya bisnis
melalui identifikasi pasar, competitor, konsumen, dan
lainnya. Strategi bisnis di dalam suatu perusahaan, juga
mampu menyatukan antardepartemen untuk dapat
bekerja sama di dalam pengambilan keputusan.
Komponen Strategi Bisnis
Di dalam Strategi bisnis terdapat beberapa komponen
strategi bisnis, yaitu sebagai berikut.
1. Visi dan Misi Perusahaan
Untuk mencapai target perusahaan membutuhkan
visi dan misi sebagai dasar kebijakan dalam memuat
tugas dan tanggung jawab, dan individu-individu yang
akan menjalankan tugas maupun tanggung jawab
yang telah dibuat untuk mencapai tujuan dari
perusahaan.
2. Nilai Dasar/Core Value
Di dalam perusahaan perlu adanya nilai dasar yang
dimiliki oleh Perusahaan, sebab nilai dasar
merupakan suatu indentitas untuk dapat
berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan
dan departemen yang ada di dalam perusahaan
ini . sebab itu, nilai dasar merupakan apa saja
yang perlu dilakukan maupun yang tidak boleh
dilakukan di dalam perusahaan.
3. Analisis SWOT
SWOT yaitu singkatan dari strength, weakness,
opportunity, dan threat, yang biasa kita kenal dengan
analisis SWOT yang merupakan komponen yang
harus dilakukan oleh suatu perusahaan melalui
analisis SWOT, perusahaan dapat mengetahui apa
yang menjadi kekuatan atau kelebihan perusahaan,
sehingga dapat dimanfaatkan sebagai peluang untuk
memperoleh keuntungan, begitu juga dengan adanya
analisis SWOT perusahaan dapat mengetahui apa saja
kelemahan perusahaan, sehingga dapat menemukan
solusi untuk mengatasi kelemahan perusahaan.
4. Metode Strategi
Metode yaitu cara atau taktik yang biasanya menjadi
strategi untuk memaparkan aktivitas-aktivitas
perusahaan dengan detail dalam melakukan
pekerjaan secara maksimal, oleh sebab pekerja
harus bertanggung jawab dalam menjalankan
pekerjaannya serta mampu memahami apa yang
menjadi kewajibannya, sehingga dapat memanfaatkan
waktu yang ada dengan efisien.
5. Rencana Pembagian Sumber Daya
Di dalam strategi bisnis, perusahaan harus
menemukan sumber daya untuk dapat mendukung
pencapaian target maupun tujuan perusahaan atau
bisnis ini , dan dapat bertanggung jawab atas
sumber daya yang dimiliki oleh perusahaan.
6. Pengukuran
Di dalam menjalankan aktivitas, perusahaan wajib
mengukur kuantitas dan kualitas output yang
dihasilkan, sehingga dapat dilakukan evaluasi kinerja
terkait target yang dicapai apakah sudah sesuai
dengan rencana atau tidak.
Fungsi Strategi Bisnis
Di dalam bisnis, strategi bisnis sangat perlu dilakukan,
sebab strategi bisnis sendiri memiliki fungsi yang
sangat penting di dalam bisnis. Adapun fungsi dari
strategi bisnis yaitu sebagai berikut.
1. Perencanaan
Perusahaan sangat membutuhkan perencanaan,
sebab strategi bisnis merupakan salah satu alat
untuk membantu perusahaan dalam merancang apa
yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan
perusahaan.
2. Kelebihan dan Kekurangan
saat merancang sebuah strategi bisnis, perusahaan
harus memperhatikan apa yang menjadi kelebihan
dan kekurangan perusahaan, sehingga perusahaan
dapat menemukan cara yang terbaik untuk
memperbaiki kelemahan yang dimiliki, sehingga
perusahaan menjadi lebih baik pada masa yang akan
datang.
3. Efektif dan Efisiensi
Di dalam menjalankan aktivitas Perusahaan, maka
perusahaan harus bisa mengalokasikan dan
memanfaatkan semua sumber daya yang dimiliki
secara efektif dan efisien, dalam melancarkan
aktivitas bisnisnya.
4. Monitoring dan Kontrol
Strategi bisnis di dalam perusahaan, sangat
membutuhkan monitoring dan control untuk dapat
membantu perusahaan, sehingga dapat mengetahui
aktivitas bisnis berjalan secara lancar, atau tidak dan
dapat mengukur sejauh mana progress yang telah
dijalani untuk dapat mencapai target yang telah
direncanakan.
5. Keunggulan Bersaing
Dunia bisnis sangat identik dengan persaingan.
Perusahaan harus mampu unggul dalam bersaing
bersama para competitor. Oleh sebab itu, strategi
bisnis harus direncanakan dengan baik dan jelas,
sebab strategi yang baik dan jelas, akan dapat
dimanfaatkan dengan baik, sehingga dapat menjadi
unggul di dalam bersaing. Keunggulan usaha yang
dimiliki akan dilihat jika inovasi produk ini lebih
kreatif, pemikiran kreatif dalam dunia bisnis sangat
diperlukan, agar usaha ini mampu bersaing
dengan usaha lainnya (Inda Lestati, 2019).
Tujuan Strategi Bisnis
Adapun tujuan di dalam strategi bisnis yaitu sebagai
berikut:
1. untuk kelangsungan usaha, jika perusahaan
melakukan strategi bisnis yang baik, dengan cara
melakukan aktivitas dan melakukan pemasaran
dengan cara yang berbeda dari biasanya atau unik,
maka bisnis akan tetap bertahan di dalam dunia
pesaingan;
2. untuk meningkatkan penjualan dan keuntungan,
sebab tidak dapat diikuti oleh para pesaing; dan
3. untuk menciptakan produk, pelayanan, dan desain
yang baru sebab memiliki ide yang sudah
direncanakan terlebih dahulu. Jadi, perusahaan
harus selalu memiliki inovasi yang tinggi dalam
menjalankan usahanya.
Manfaat Strategi Bisnis
Adapun manfaat yang dapat dirasakan oleh perusahaan
dalam membuat strategi bisnis, yaitu dapat meningkatkan
kemampuan perusahaan di dalam menghadapi tantangan
di dalam berbisnis, dapat memperluas usaha, dan
meningkatkan keberhasilan perusahaan.
Cara Menyusun Strategi Bisnis yang Efektif
1. Berpikir Kritis/Critical Thinking
Di dalam mengidentifikasi masalah-masalah yang
terjadi di dalam perusahaan atau bisnis, sangat
dibutuhkan cara berpikir yang kritis, sebab dengan
berpikir kritis maka seseorang dapat mencari solusi,
dan dapat meminimalisir setiap risiko yang akan
terjadi.
2. Berpikir Kreatif/Creative Thinking
Berpikir kreatif sangat penting untuk dimiliki oleh
seorang yang memiliki usaha, atau karyawan yang
ada di dalam sebuah Perusahaan, sebab di dalam
menciptakan sebuah produk pengusaha harus kreatif
dalam mendesain produk yang akan diproduksi.
Keunggulan dari suatu produk dapat disesuaikan
dengan kebutuhan yang ada di pasaran, sehingga
dapat menarik minta pembeli atau konsumen untuk
dapat dikonsumsi.
3. Berani Mengambil Risiko/Dare to Take Risks
Di dalam melakukan aktivitas bisnis, tentunya tidak
terlepas dari keadaan yang tidak mengenakan, sebab
di dalam berbisnis perusahaan bisa saja mengalami
keadaan yang tidak diinginkan seperti kurangnya
minat pembeli, produk yang tidak laris di pasaran,
bahkan terjadinya kerugian. Oleh sebab itu,
perusahaan atau orang yang memiliki usaha harus
berani dalam mengambil risiko, dapat mengatasi
masalah atau kendala yang dialaminya, sehingga
masalah atau kendala ini dapat diatasi dengan
baik.
4. Berpikir Terbuka/Open Minded
Seorang pengusaha harus berpikir secara terbuka,
khususnya di dalam menjalankan usahanya,
memiliki sudut pandang yang berbeda agar
mendapat ide-ide kreatif yang baru, sebab orang
yang memiliki pikiran yang terbuka akan bisa
menerima kritikan dan masukan dari orang lain,
sehingga bisa memanfaatkan peluang yang ada
menjadi sesuatu hal yang bernilai.
Ada sembilan strategi pemasaran yang dijalankan dalam
menghadapi persaingan melalui diferensial harga dan
mutu menurut Sofyan Assuari (2017) yaitu sebagai
berikut:
1. strategi premium, yaitu kualitas tinggi dan harga
tinggi;
2. strategi penetrasi, yaitu kualitas tinggi dan harga
sedang atau menengah;
3. strategi over-pricing, yaitu kualitas menengah dan
harga tinggi;
4. strategi kualitas atau mutu rata-rata, yaitu kualitas
menengah harga sedang;
5. strategi bargain, yaitu kualitas menengah harga
murah;
6. strategi pukul dan lari (hit and run), yaitu kualitas
rendah harga tinggi;
7. strategi barang-barang tiruan (shoddy goods), yaitu
kualitas rendah harga sedang; dan
8. strategi barang-barang murah (cheap goods), yaitu
kualitas rendah harga murah.
Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM)
Defenisi UMKM diatur dalam Undang-Undang Republik
negara kita Nomor 20 Tahun 2008 tentang UMKM. Di dalam
pasal 1 ini , dinyatakan bahwa usaha mikro yaitu
usaha produktif milik perorangan dan atau badan usaha
perorangan yang memiliki kriteria usaha mikro,
sebagaimana diatur dalam undang-undang ini .
Usaha kecil yaitu usaha ekonomi produktif yang berdiri
sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan
usaha, yang bukan merupakan anak perusahaan atau
bukan anak cabang yang dimiliki, dikuasai atau menjadi
bagian, baik langsung maupun tidak langsung, dari usaha
menengah atau usaha besar yang memenuhi kriteria
usaha kecil sebagaimana dimaksud dalam undang-
undang ini .
Usaha mikro yaitu usaha ekonomi produktif yang berdiri
sendiri yang dilakukan oleh perorangan atau badan usaha
yang bukan merupakan anak perusahaan atau bukan
cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi
bagian baik langsung maupun tidak langsung dari usaha
mikro, usaha kecil, atau usaha besar yang memenuhi
kriteria usaha mikro sebagaimana dimaksud dalam
undang-undang ini (Tambunan 2009, 16).
UMKM yaitu usaha perdagangan yang dikelola oleh
perorangan ataupun badan usaha, dan sesuai dengan
kriteria usaha dalam lingkup kecil atau juga dalam
lingkup mikro.
Sejalan dengan perkembangan UMKM yang semakin pesat
saat ini, berbagai usaha yang menyediakan berbagai
produk, baik berupa barang maupun jasa semakin
meningkat. Para pelaku usaha ikut serta dalam
memberi kontribusi bagi perkembangan ekonomi di
negara kita . Salah satu yang cukup kuat dalam
menghadapi persaingan bisnis saat ini, yaitu pelaku
Usaha Mikto, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Di dalam pengertian dari usaha menengah merupakan
ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan
oleh orang perorangan atau badan usaha, yang bukan
merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan
yang dimiliki, dikuasai atau menjadi bagian langsung
maupun tidak langsung dengan usaha kecil atau Usaha
besar dengan jumlah kekayaan bersih atau hasil
penjualan
Setiap pelaku UMKM tentu punya cara masing-masing
sesuai produk yang dipasarkannya. Namun, di dalam
buku ini akan digambarkan secara garis besar strategi
yang bisa dilakukan.
1. Tentukan segmentasi pasar secara spesifik dengan
menentukan siapa target konsumen, sebab hal ini
sangat penting bagi pelaku usaha untuk melakukan
penjualan. Dengan melaksanakan segmenasi pasar,
maka kegiatan pemasaran akan lebih terarah
sehingga sumber daya yang akan digunakan akan
lebih efektif dan efisien.
2. Kita harus bisa meyakinkan konsumen bahwa barang
atau jasa yang kita hasilkan sangatlah aman, jadi
sesudah kita menentukan konsumen yang akan kita
temui, maka selanjutnya yaitu kita harus bisa
meyakinkan konsumen bahwa produk kita aman,
sebab keamanan dari sebuah produk yaitu hal
yang sangat penting. Jika produk kita aman,
konsumen akan selalu percaya dengan setiap produk
yang kita hasilkan sehingga penjualan kita tetap
berjalan dan menjadi meningkat.
3. Inovasi produk harus berdasarkan kebutuhan agar
dapat mengimbangi setiap perubahan yang terjadi di
dalam lingkungan pasar. Oleh sebab itu, penjual
atau pelaku usaha harus memahami konsep yang
paling dasar, yaitu melihat apa yang menjadi tren
pasar, sehingga pemilihan produk sesuai kebutuhan
konsumen saat ini memang sangat penting untuk
pemilihan produk yang tepat, serta produk yang
dihasilkan tetap diminati konsumen.
4. Memperhatikan dan mempertahankan kualitas
produk yang dihasilkan, sehingga tetap akses dalam
pasaran sebab kualitas produk yaitu kondisi fisik,
fungsi maupun sifat dari suatu produk berdasarkan
tingkat mutu yang diharapkan. Jadi, dapat
disimpulkan bahwa kualitas produk merupakan salah
satu kunci persaingan di antara para kompetitor yang
dihadapi, sebab konsumen selalu ingin
mendapat produk yang berkualitas sesuai dengan
harga yang dibayar.
5. Menjaga hubungan baik dengan pelanggan
merupakan salah satu cara yang baik. Dengan adanya
hubungan baik dengan pelanggan, maka pelanggan
akan merasa senang sebab pelaku usaha dapat
merencanakan bagaimana untuk mengelola
hubungan yang baik dengan pelanggan, agar bisnis
tetap berkembang dan eksis sehingga pelanggan tidak
pergi dari produk yang sudah dihasilkan.
6. saat pelaku usaha menjaga hubungan baik dengan
pelanggan, maka akan mendapat keuntungan-
keuntungan, seperti pelanggan itu bisa menjadi media
promosi dengan metode word of mouth atau mulut ke
mulut, dapat meningkatkan nilai bisnis,
mendapat ide-ide terbaru dari para pelanggan
untuk dapat melakukan inovasi produk, dan bisa
mendapat gambaran usaha untuk masa yang
akan datang.
7. Sernovitz dalam Tanadi Santoso menyebutkan
beberapa elemen dalam menyebarkan word of mouth
marketing, antara lain
a. pembicaraan atau talkers, yaitu warga
umum yang senang sebagai informasi kepada
orang lain. Mereka akan berbicara tentang suatu
produk tertentu dan menceritakannya kepada
orang lain;
b. topik (topic) merupakan semua hal yang menarik
perhatian kemudian menjadi bahan pembicaraan.
Semua pembicaraan dari mulut ke mulut dimulai
dengan sebuah topik. warga tidak akan
membicarakan mengenai suatu hal jika mereka
tidak diberikan sesuatu untuk dibicarakan;
c. alat (tool) word of mouth yaitu sarana pemasaran
yang kuat, efektif, dan efisien. saat seseorang
berbicara satu sama lain, percakapan ini
hanya berlangsung dalam jangka waktu yang
sementara. Word of Mouth akan jauh lebih efektif
jika dibantu dengan media atau alat yang akan
membuat pesan ini dapat diteruskan kepada
orang lain dan dapat bertahan dalam jangka
waktu yang lebih lama; dan
d. pelacakan (tracking), pada era modern ini, banyak
orang mulai menuliskan segala sesuatu yang
mereka pikirkan melalui blog ataupun media
sosial, seperti yang kita ketahui hal yang banyak
dibicarakan yaitu mengenai kualitas suatu
produk atau jasa.
8. Mencoba target pasar baru yang sesuai dengan nilai
dan tujuan perusahaan.
9. Melakukan strategi bisnis secara online dan
memanfaatkan teknologi yang ada secara efektif.
10. Melakukan promosi penjualan secara efektif untuk
meningkatkan minat beli ulang konsumen.
11. Menjual produk dengan berbagai platform agar
konsumen semakin mudah membelinya.
12. memberi harga kompetitif namun memiliki
keunggulan yang lebih.
13. Melakukan diferensiasi produk yang dapat
menimbulkan kesan positif terhadap konsumen.
14. Mengelola segala sumber daya yang dimiliki secara
tepat dan efisien.
Tips- tips menjaga hubungan baik dengan pelanggan,
yaitu:
1. melakukan komunikasi dua arah dengan pelanggan.
Selalu mengutamakan pelayanan yang baik kepada
pelanggan. saat kita memberi pelayanan kepada
pelanggan dengan baik, maka pelanggan akan merasa
nyaman untuk membeli produk yang ditawarkan;
2. merespons dengan cepat keluhan yang diberikan
pelanggan. Pelanggan akan merasa senang dan
dihargai, jika pelaku usaha selalu mendengar
keluhan pelanggan dan memberi respons untuk
menanggapi apa yang menjadi permasalahan, yang
berkaitan dengan produk yang dihasilkan, dan
respons yang baik inilah yang akan membuat
pelanggan tidak akan berpindah ke lain tempat;
3. memberi promo atau diskon yang menarik. Promo
sering kali dikaitkan dengan kegiatan jual beli,
promosi penjualan merupakan proses memberi
informasi, dan memberi pengaruh kepada konsumen
untuk menerima atau membeli produk yang
ditawarkan;
4. memberi doorprise kepada pelanggan. Pelanggan
akan merasa senang saat berbelanja sebab pada
saat berbelanja pelanggan bisa mendapat
doorprise;
5. memberi give away sebagai hadiah secara cuma-
cuma dalam bentuk acak; dan
6. memberi program beli satu gratis satu (buy one
free one), hal demikian merupakan cara promo yang
efektif sekaligus mengenalkan produk baru kepada
pelanggan.
PENGELOLAAN SUMBER DAYA
MANUSIA YANG BERETIKA
Sumber Daya Manusia (SDM) merupakan individu atau
tenaga kerja yang bekerja dalam sebuah organisasi, yang
bertanggung jawab atas proses produksi, serta
merupakan kunci yang menentukan perkembangan dan
keberhasilan perusahaan/organisasi. SDM bagi
organisasi yaitu asset atau unsur yang paling penting di
antara unsur-unsur lainnya. Etika merupakan nilai moral
dan norma yang menjadi sebuah pedoman dan mengatur
perilaku seorang individu ataupun kelompok.
Dalam proses bisnis dan konsep penerapan etika, di
dalam bisnis juga harus ditetapkan aturan-aturan yang
memuat moralitas, supaya dapat dipatuhi serta
dilaksanakan oleh seluruh karyawan yang ada di dalam
perusahaan, sehingga perusahaan akan dapat berjalan
sebagaimana mestinya, sesuai dengan aturan yang telah
ditetapkan oleh perusahaan/organisasi.
Dalam manajemen sumber daya manusia, etika memiliki
tujuan utama pada konsep implementasi nilai-nilai.
Proses pengelolaan sumber daya manusia, seperti
Perencanaan SDM (Human Resource Planning),
Penyediaan SDM (Personal Procurement), Pengembangan
(Personnnel Development), Pemeliharaan (Personnel
Maintanance), dan Pemanfaatan (Personal Utilization).
Perkembangan dan persaingan yang semakin tinggi pada
era sekarang ini, menuntut serta mengharuskan
perusahaan sadar akan penting mengatur
pendayagunaan sumber daya manusia dan etika yang
diterapkan, baik secara individu maupun kelompok dalam
perusahaan, atau bahkan di luar perusahaan. Sebuah
perusahaan/organisasi memiliki ikatan yang tidak akan
terlepat dari Sumber Daya Manusia (SDM).
Sumber Daya Manusia (SDM) merupakan individu atau
tenaga kerja yang bekerja dalam sebuah organisasi yang
bertanggung jawab atas proses produksi serta merupakan
kunci yang menentukan perkembangan dan keberhasilan
perusahaan/organisasi.
A.F. Stoner mendefinisikan manajemen SDM merupakan
suatu prosedur yang berkelanjutan, yang bertujuan
untuk memasok suatu organisasi atau perusahaan
dengan orang-orang yang tepat untuk ditempatkan pada
posisi dan jabatan yang tepat pada saat organisasi
memerlukannya.
SDM bagi organisasi yaitu asset atau unsur yang paling
penting di antara unsur-unsur lainnya. Bagian atau unit
yang biasanya mengurusi SDM yaitu departemen
sumber daya manusia atau HRD (Human Resource
Department). SDM sangat berpengaruh signifikan
terhadap keberhasilan pencapaian tujuan organisasi.
Dalam manajemen sumber daya manusia juga melahirkan
etika bisnis. Etika dalam MSDM dapat diartikan sebagai
ilmu yang menerapkan prinsip-prinsip etika terhadap
hubungannya dengan sumber daya manusia dan
kegiatannya, baik di dalam organisasi ataupun di luar
organisasi. Etika di sini, bukan untuk kedisiplinan,
melainkan usaha-usaha yang dilakukan untuk
meningkatkan keperdulian karyawan terhadap nilai-nilai
yang ada dalam perusahaan atau yang sedang
berkembang.
Fungsi Manajemen Sumber Daya Manusia
1. Fungsi Manajerial
a. Perencanaan
Fungsi perencanaan, meliputi penentuan program
sumber daya manusia, yang akan membantu
pencapaian tujuan perusahaan yang telah
ditetapkan.
b. Pengorganisasian
Fungsi pengorganisasian yaitu membentuk
organisasi dengan merancang susunan dari
berbagai hubungan antara jabatan, personalia dan
faktor-faktor fisik.
c. Pengarahan
Fungsi pengarahan yaitu mengusahakan agar
karyawan mau bekerja secara efektif melalui
perintah motivasi.
d. Pengendalian
Fungsi pengendalian yaitu mengadakan
pengamatan atas pelaksanaan dan
membandingkan dengan rencana dan
mengoreksinya jika terjadi penyimpangan, atau
jika perlu menyesuaikan kembali rencana yang
telah dibuat.
2. Fungsi Operasional
a. Fungsi Pengadaan
Proses penarikan seleksi, penempatan, orientasi,
dan induksi untuk mendapat karyawan yang
sesuai kebutuhan perusahaan.
b. Fungsi Pengembangan
Proses peningkatan keterampilan teknis, teoretis,
konseptual, dan moral karyawan, melalui
pendidikan dan pelatihan. Pendidikan dan latihan
yang diberikan harus sesuai dengan kebutuhan
pekerjaan masa kini maupun masa depan.
c. Fungsi Kompensasi
Pemberian balas jasa langsung dan tidak
langsung berbentuk uang atau barang kepada
karyawan, sebagai imbal jasa (output) yang
diberikannya kepada perusahaan. Prinsip
kompensasi yaitu adil dan layak, sesuai prestasi
dan tanggung jawab karyawan ini .
d. Fungsi Pengintegrasian
Kegiatan untuk mempersatukan kepentingan
perusahaan dan kebutuhan karyawan, sehingga
tercipta kerja sama yang serasi dan saling
menguntungkan Pengintegrasian yaitu hal yang
penting dan sulit dalam Manajemen SDM, sebab
mempersatukan dua aspirasi/kepentingan yang
bertolak belakang antara karyawan dan
perusahaan.
e. Fungsi Pemeliharaan
Kegiatan untuk memelihara atau meningkatkan
kondisi fisik, mental dan loyalitas karyawan agar
tercipta hubungan jangka panjang. Pemeliharaan
yang baik dilakukan dengan program K3
(Keselamatan dan Kesehatan Kerja).
Prinsip-Prinsip Pengelolaan Manajemen Sumber Daya
Manusia
Meilan Sugiarto (2007) mengemukakan beberapa prinsip
dalam pengelolaan manjemen sumber daya manusia
berikut ini.
1. Orientasi pada pelayanan, dengan berupaya
memenuhi kebutuhan dan keinginan sumber daya
manusia, di mana kecenderungannya sumber daya
manusia yang puas, akan selalu berusaha memenuhi
kebutuhan dan keinginan para konsumennya.
2. Membangun kesempatan terhadap sumber daya
manusia untuk berperan aktif dalam perusahaan,
dengan tujuan untuk menciptakan semangat kerja
dan memotivasi sumber daya manusia, agar mampu
menyelesaikan pekerjaan dengan baik.
3. Mampu menemukan jiwa interpreneur (pengusaha)
sumber daya manusia perusahaan yang mencakup
a. menginginkan adanya akses ke seluruh sumber
daya manusia perusahaan,
b. berorientasi pencapaian tujuan perusahaan,
c. motivasi kerja yang tinggi,
d. responsif terhadap penghargaan dari perusahaan,
e. dapat meneripi saran dan kritikan,
f. berpandangan jauh ke depan,
g. bekerja secara terencana, terstruktur dan
sistematis,
h. bersedia bekerja keras,
i. tidak mudah berpuas diri,
j. memiliki pemikiran-pemikiran yang kreatif,
k. mudah bersosialisasi,
l. mampu menyelesaikan pekerjaan,
m. percaya diri yang tinggi,
n. berani mengambil risiko,
o. mampu menjual idenya di luar atau di dalam
perusahaan,
p. memiliki intuisi bisnis yang tinggi, dan
q. sensitif terhadap situasi dan kondisi, baik di
dalam maupun di luar perusahaan.
Proses Pengelolaan Sumber Daya Manusia
Proses pengelolaan SDM setiap organisasi atau
perusahaan, akan berbeda-beda sesuai dengan
kebutuhan. Namun, pada umumnya, proses yang
dilakukan dari perencanaan SDM seperti (perekrutan,
penandatanganan kontrak kerja, penempatan,
pembinaan tenaga kerja) dengan persyaratan tertentu.
1. Perencanaan SDM (Human Resource Planning)
Perencanaan SDM merupakan proses manajemen
dalam menentukan pergerakan sumber daya manusia
perusahaan, dari posisi yang diinginkan pada masa
depan, dengan proses-proses dan aktivitas yang
dilakukan bersama oleh manajer sumber daya
manusia dan manajer lini, untuk menyelesaikan
masalah organisasi yang terkait dengan manusia.
2. Penyediaan SDM (Personal Procurement)
Penyediaan SDM merupakan segala sesuatu yang
dilakukan dalam penyediaan sumber daya manusia
perusahaan, dengan kriteria tertentu, guna
memenuhi kebutuhan tenaga kerja organisasi
perusahaan. Penyediaan tenaga kerja, biasanya
melalui beberapa seleksi di antaranya seleksi
administrasi, seleksi kualifikasi, seleksi sikap
perilaku, dan penempatan tenaga kerja.
3. Pengembangan (Personnel Development)
Pengembangan tenaga kerja baru diakomodasi
melalui program orientasi organisasi atau
perusahaan. Untuk tenaga kerja lama, pembinaan
dilakukan dengan metode seminar, baik dilakukan di
dalam maupun di luar organisasi perusahaan.
4. Pemeliharaan (Personnel Maintenance)
Tenaga kerja yang dipilih dari dari sumber terbaik,
kemudian memberi program terbaik, maka
perusahaan dapat berharap tenaga kerja memberi
kinerja terbaik untuk organisasi perusahaan. Proses
selanjutnya yaitu pemeliharaan tenaga kerja. Setiap
tenaga kerja memiliki motif yang berbeda-beda,
biasanya perusahaan dalam melakukan pemeliharaan
dengan cara pemberian kompensasi dan benefit.
Kompensasi bisa berbentuk uang atau insentif tingkat
yang berbeda, sesuai pekerjaanya, sedang benefit
berbentuk perhatian perusahaan, seperti cuti bergaji
dan asuransi kesehatan keselamatan kerja bagi
tenaga kerja dan keluarganya.
5. Pemanfaatan (Personal Utilization)
Langkah ini merupakan kegiatan perusahaan untuk
memelihara tenaga kerja, agar selalu loyal dan
mengikuti strategis perusahaan. Program yang
diberikan, di antaranya promosi jabatan ke lebih
tinggi, demosi penurunan tenaga kerja pada bagian
yang lebih rendah, sebab adanya penurunan kualitas
dalam bekerja. Transfer pemindahan tenaga kerja
dengan harapan akan meningkatkan
produktivitasnya sesudah mengalami proses transfer.
Pengembangan Sumber Daya Manusia
Pengembangan sumber daya manusia bukan hanya
terdiri dari pelatihan dan pengembangan, melainkan juga
aktivitas-aktivitas perencanaan dan pengembangan karier
tenaga kerja, pengembangan organisasi/perusahaan,
serta manajemen dan penilaian kinerja.
Pengembangan Sumber Daya Manusia menurut (Prasadja
Ricardianto, 2018) seperti berikut ini.
1. Kegunaan Pengembangan SDM bagi Organisasi
a. meningkatkan produktivitas kerja organisasi;
b. mewujudkan hubungan yang serasi antara atasan
dan bawahan;
c. mewujudkan proses pengembalian keputusan
yang lebih cepat dan tepat;
d. meningkatkan semangat kerja dan komitmen
organisasi;
e. mendorong sikap keterbukaan manajemen
(manajemen partisipatif);
f. memperlancar atau mengefektifkan jalannya
komunikasi operasional; dan
g. menyelesaikan konflik secara fungsional.
2. Kegunaan Pengembangan SDM bagi Pegawai
a. mewujudkan keputusan lebih baik;
b. memiliki kemampuan menyelesaikan masalah;
c. internalisasi dan operasional faktor motivasional;
d. meningkatkan kemampuan kerja;
e. memperbesar rasa percaya diri;
f. menjamin tersedianya informasi tentang program
pengembangan kemampuan;
g. meningkatkan kepuasan kerja;
h. meningkatkan pengakuan atas kemampuan
individu; dan
i. memperbesar tekad untuk mandiri.
Etika Sumber Daya Manusia
Etika SDM yaitu penerapan prinsip-prinsip etika
terhadap hubungan SDM dan kegiatannya. Kode etik
menetapkan aturan kehidupan organisasi, termasuk
tanggung-jawab profesional, pengembangan professional,
kepemimpinan yang etis, kejujuran dan keadilan, konflik
kepentingan, dan pemakaian informasi.
Ada beberapa hal yang dapat dilakukan sebagai langkah-
langkah dalam perencanaan strategi konsep etika, yaitu:
1. membuat standar etika perusahaan yang ingin
ditanamkan kepada sumber daya manusia;
2. mengindentifikasi faktor-faktor etis kritikal yang
dapat digunakan dalam mendorongnya konsep etika
perusahaan;
3. mengindentifikasi kemampuan, prosedur, kompetensi
yang diperlukan oleh perusahaan;
4. mengintegrasikan konsep etika dalam strategi bisnis
yang dilakukan; dan
5. mengembangkan langkah-langkah yang tepat dan
pasti, yang dapat digunakan dalam
mengimplementasikan, mengawasi, dan mengevaluasi
konsep etika yang dijalankan.
Tujuan utama dalam konsep penanaman nilai-nilai etika
ini, bukan hanya untuk kedisiplinan, melainkan lebih
pada usaha-usaha untuk meningkatkan kepeduli



