Tampilkan postingan dengan label Promosi kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Promosi kesehatan. Tampilkan semua postingan

Senin, 13 Oktober 2025

Promosi kesehatan


 


Promosi kesehatan di Indonesia sebelumnya dikenal dengan 

Penyuluhan Kesehatan. Perubahan penyebutan Penyuluhan 

Kesehatan menjadi Promosi Kesehatan dipengaruhi oleh 

perkembangan di dunia karena munculnya Konferensi 

Internasional tentang Pencegahan (prevention) pada tahun 1986 

di Kanada yang dikenal dengan nama Ottawa Charter (Syafei, 

2010). Ottawa Charter merupakan konferensi internasioanl 

pertama tentang Promosi Kesehatan yang diselenggarakan oleh 

WHO (World Health Organization). Dalam Ottawa Charter 

menghasilkan rumusan 3 strategi promosi kesehatan yaitu 

advokasi, penerapan dan mediasi. 



 

Logo ini   dijadikan Logo Promosi Kesehatan oleh WHO. 

Logo Promkes memiliki elemen grafis utama yaitu satu lingkaran 

luar, satu tempat putaran dalam lingkaran dan tiga sayap. Satu 

lingkaran luar memilki arti mewakili membangun kebijakan publik 



2    

 

yang sehat serta melambangkan perlunya kebijakan untuk 

“menahan sesuatu bersama- sama”. Lingkaran ini mencakup 3 

sayap yang menjadi lambang usaha   penyelesaian kelima bidang 

utama promosi kesehatan. Putaran didalam lingkaran 

mencangkup 3 strategi dasar dalam promosi kesehatan yaitu: (1) 

Enable (memungkinkan), (2) Mediate (mediasi), dan (3) Advocate 

(advokasi). sedang  ketiga sayap dalam lingkaran yaitu   

mewakili lima bidang utama dalam tindakan promosi kesehatan. 

Ketiga lingkaran sayap yang mencakup lima bidang utama 

dalam bidang Promosi Kesehatan yaitu (1) Health Public Policy 

(membangun kebijakan publik yang sehat) (2) Create Supportive 

Environments (menciptakan lingkungan yang mendukung) (3) 

Strengthen Community Action (memperkuat aksi warga  ) (4) 

Develop Personal Skills (meningkatkan keterampilan pribadi) (5) 

Re-Orient Health Service (re- orientasi pelayanan kesehatan). 

ada   1 sayap yang melanggar lingkaran, hal ini mewakili 

bahwa Menciptakan Kebijakan Publik yang Sehat dalam 

warga  , individu maupun komunitas akan terus menerus 

bersinergi dengan perubahan serta perkembangan yang terjadi. 

Logo ini menggambarkan bahwa Promosi Kesehatan yaitu   

menyeluruh dengan pendekatan yang memiliki banyak strategi. 

Selain Ottawa Charter konferensi internasional yang 

mendukung promosi kesehatan sebagai sektor pelayanan 

kesehatan yaitu   Deklarasi Alma-Ata pada tahun 1978 di 

Kazakhstan (sekarang menjadi Republik Sosialis Soviet) yang 

membahas tentang Pelayanan Kesehatan Dasar (Primary Health 

Care). Pada Deklarasi Alma-ata menyebutkan bahwa pemerintah, 

pekerja kesehatan dan komunitas didunia berperan untuk 

melindungi dan meningkatkan kesehatan untuk semua orang. 

Deklarasi Alma-ata menekankan bahwa (1) kerja sama secara 

global dan perdamaian sangatlah penting (2) kebutuhan lokal dan 

warga   harus mendorong kegiatan promosi kesehatan (3) 

  

 

ekonomi dan sosial dibutuhkan untuk membentuk kesehatan (4) 

pencegahan harus menjadi bagian dari pelayanan kesehatan (5) 

kebutuhan pemerataan status kesehatan dan (6) berbagai sektor 

dan pelaku haru dilibatkan dalam usaha   peningkatan kesehatan 

(Awofeso, 2004). Deklarasi Almaata mengajukan banyak ide yang 

kemudian muncul di Piagam Ottawa. 

Konferensi internasioanl ketiga tentang Promosi Kesehatan 

di Sundsvall, Swedia pada bulan Juni tahun 1991 dikenal dengan 

nama Sundsvall Steatment on Supportive Environments fo Health. 

Kesimpulan dari konferensi Sundsvall yaitu   lingkungan yang 

mendukung sangat penting dalam kesehatan. Lingkungan yang 

mendukung dalam arti keduanya baik aspek fisik maupun sosial 

pada suatu kehidupan, pekerjaan, pergaulan, pendidikan, dan 

pencarian perawatan. Empat aspek utama dalam lingkungan yang 

mendukung menekankan (1) dimensi sosial termasuk norma, 

tujuan dan warisan (2) dimensi politik termasuk partisipasi, 

pembuat keputusan, komitmen hak asasi pasien  dan 

perdamaian (3) dimensi ekonomi termasuk perkembangan yang 

berkelanjutan dan (4) mengakui dan memberdayakan kemampuan 

dan pengetahuan perempuan. 

Konferensi menyoroti ketidak adilan perkembangan antara 

negara yang kaya dan miskin dalam hubungan antara keadilan 

sosial dan kesehatan. Membuat keadilan di identifikasi dari 

prioritas membuat lingkungan yang mendukung. Fokus dari 

deklarasi yaitu   pada pembangunan yang berkelanjutan dan 

memanggil serta melibatkan personal yang mengembangkan 

kebijakan promosi kesehatan. Kebijakan dan hubungan spiritual 

personal yang memeliharan lingkungan mereka akan dipakai   

sebagai model di seluruh dunia. Konferensi Sundsvall juga 

menetapkan empat kunci aksi strategis kesehatan warga   (1) 

penguatan advokasi pada aksi komunitas, (2) pemberdayaan dan 

pendidikan warga   untuk mengontrol kesehatan mereka 

4    

 

sendiri, (3) membangun hubungan antara lingkungan dan 

kesehatan berorientasi kelompok dan, (4) memeditasi konflik untuk 

memastikan pemerataan terhadap lingkungan yang sehat (WHO, 

2010). 

Konferensi Promosi Kesehatan ke empat diselenggarakan di 

kota Jakarta, Indonesia pada bulan Juli tahun 1997 dan disebut 

dengan Deklarasi Jakarta. Konferensi keempat ini merupakan 

konferensi pertama yang diadakan di negara berkembang dan 

pertama kali melibatkan sektor swasta. Yang diturunkan pada 

Deklarasi Jakarta menekankan bahwa kemiskinan yaitu   

ancaman tersbesar dari kesehatan, selagi meringkas perdamaian, 

perlindunganm pendidikan, hubungan sosial, makanan, 

pendapatan, pemberdayaan perempuan, ekosistem yang stabil, 

sumber yang berkelanjutan, keadilan sosial, menghormati hak 

asasi pasien , dan keadilan merupakan persyaratan dari 

kesehatan (WHO, 2010a). 

Konferensi menyoroti fakta transnasional sebagai ekonomi 

global, pasar finansial, memudahkan mengakses teknologi 

komunikasi, degradasi lingkungan, dan ketidak tanggung jawaban 

penggunaan sumber daya juga akan berdampak secara signifikan 

pada kesehatan. Memunculkan aksi untuk menstabilkan promosi 

kesehatan global aliansinya telah dikeluarkan. Tujuan aliansi itu 

yaitu   untuk (1) meningkatkan kepedulian untuk menrubah 

determinan kesehatan (2) berdesikasi untuk bekerja sama untuk 

Promosi Kesehatan (3) mengerahkan sumber daya untuk promosi 

kesehatan (4) mengakumulasikan praktek pengetahuan terbaik (5) 

memungkinkan berbagi pelajaran (6) mempromsikan aksi 

sloidaritas dan (7) membantu perkembangan transparansi dan 

akuntabilitas publik promosi kesehatan (WHO, 2010b). 

Konferensi Internasiona Promosi Kesehatan yang terkahir 

pada tahun 2005 di Bangkok yang dikenal sebagai Bangkok 

Charter (Piagam Bangkok) menyoroti kebjiakan publik dan 

  

 

komitmen untuk bekerja sama antara pemerintah, organisasi 

internasional, dan sektor swasta. Piagam Bangkok mendorong 

orang-orang untuk “mengadvokasi kesehatan berbasis hak asasi 

pasien , memginvestasikan kebijakan berkelanjutan, tindakan 

atau aksi dan menempatkan determinan kesehatan dalam 

infrastruktur, pemindahan atau transfer pengetahuan dan penelitian 

sebagai target, dan menempatkan literatur kesehatan (Howard, 

Nieuwenhuijsen and Saleeby, 2008). Advokasi untuk 

mensetarakan kebutuhan dalam bidang kesehatan dan 

kesejahteraan untuk semua orang. Kesehatan sekarang 

merupakan bagian kritis untuk kebijakan penduduk, keamanan 

nasional, perdagangan dan geopolitik. 

 

1.2 Definisi Promosi Kesehatan 

Berikut definisi promosi kesehatan dari berbagai sumber: 

WHO 1984, “Promosi kesehatan tidak hanya untuk merubah 

pergerakan  namun  juga perubahan lingkungan yan memfasilitasi 

perubahan pergerakan  ini  .” 

Green 1984, “Promosi Kesehatan yaitu   segala bentuk 

kombinasi pendidikan kesehatan dan intervensi yang terkait 

dengan ekonomi, politik dan organisasi yang dirancang untuk 

memudahkan perubahan pergerakan  dan lingkungan yang 

kondusif bagi lingkungan.” 

Ottawa Charter 1986, “Proses memampukan warga   untuk 

memelihara dan meningkatkan kesehatan mereka.” 

Bangkok Charter 2005, “Proses memampukan warga   untuk 

memelihara kesehatan mereka dan penentunya, dan dengan 

demikian akan meningkatkan kesehatan mereka.” 

Notoatmodjo 2014, “Promosi kesehatan merupakan suatu bentuk 

pendidikan yang berusaha   agar warga   berpergerakan  

kesehatan yang baik.” 

Dinas Kesehatan 2008, “ Promosi Kesehatan yaitu   proses 

6    

 

mengusaha  kan individu-individu dan warga   untuk 

meningkatkan kemampuan mereka dalam mengendalikan 

faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan, sehingga dapat 

meningkatkan derajat kesehatannya. 

Syarifudin 2009, “Promosi Kesehatan yaitu   proses 

pemberdayaan warga   agar mampumemelihara dan 

meningkatkan kesehatannya melalui pembelajaran.” 

 

1.3 Visi dan Misi Promosi Kesehatan 

a. Visi Promosi Kesehatan 

Visi Promosi Kesehatan tidak dapat dipisahkan dari bagian 

Visi Indonesia Sehat tahun 2010. Visi Promosi Kesehatan yaitu   

“pergerakan  Hidup Bersih dan Sehat.” Dimana setiap individu pada 

rumah tangga di Indonesia telah melakukan pergerakan  hidup bersih 

dan sehat dalam rangka: 

 Mencegah terjadinya penyakit dan masalah kesehatan. 

 Menanggulangi penyakit dan masalah kesehatan dalam 

rangka meningkatkan derajat kesehatan. 

 Memanfaatkan pelayanan kesehatan. 

 Mengembangkan dan melaksanakan usaha   kegiatan 

warga  . 

b. Misi Promosi Kesehatan 

Misi Promosi Kesehatan yaitu  : 

1) Memberdayakan individu, keluarga dan kelompok 

warga  , baik melalui pendekatan personal, keluarga, 

organisasi, dan gerakan warga  . 

2) Membina suasana atau lingkungan yang kondusif bagi 

terciptanya pergerakan  hidup bersih dan sehat di warga  , 

mengadvokasi para pengambil keputusan dan penetu 

kebijakan serta pihak lain yang berkepentingan, dalam 

rangka: 

 Mendorong diberlakukannya kebijakan dan peraturan 

   7 

 

undang-undang yang berwawasan kesehatan. 

 Mengintegrasikan promosi kesehatan, khususnya 

pemberdayaan warga   dalam program kesehatan. 

 Meningkatkan kemitraan yang sinergis antara pemerintah 

pusat dan daerah serta antara pemerintah dengan 

warga   termasuk lembaga swadata warga   (LSM). 

 Meningkatkan investasi dalam bidang promosi kesehatan 

pada khususnya dan dalam bidang kesehatan pada 

umumnya. 

 

1.4 Ruang Lingkup Promosi Kesehatan 

Berdasarkan Piagam Ottawa tahun 1986, ruang lingkup 

promosi kesehatan dikelompokkan menjadi lima area yaitu: 

a. Build Healthy Policy 

Build Healthy Policy atau membangun kebijakan publik 

yang berwawasan kesehatan memperhatiikan dampak kesehatan 

dari setiap keputusan yang telah dibuat. Kebijakan publik 

sebaiknya menguntungkan kesehatan. Bentuk kebijakan publik 

antara lain berupa peraturan perundang-undangan, kebijakan 

fiskal, kebijakan pajak dan pengembangan organisasi serta 

kelembagaan. Berikut contoh-contoh bentuk kebijakan di 

Indonesia: 

 Kebijakan kawasan tanpa rokok 

 Pembatasan iklan rokok 

 Pemakaian helm dan sabuk pengaman 

b. Create Supportive Environment 

Create Supportive Environment atau menciptakan 

lingkungan yang mendukung merupakan peranan yang besar 

untuk mendukung pasien  atau mempengaruhi kesehatan dan 

pergerakan  pasien . Berikut merupakan contoh lingkungan yang 

mendukung: 

 Penyediaan pojok laktasi di tempat-tempat umum 

8    

 

 Penyediaan tempat sampah 

 Pengembangan tempat konseling remaja 

c. Strengthen Community Action 

Strengthen Community Action atau memperkuat gerakan 

warga  . Promosi kesehatan berperan untuk mendorong serta 

memfasilitasi usaha   warga   dalam memelihara dan 

meningkatkan kesehatan mereka. Berikut contoh-contoh 

penguatan gerakan warga   : 

 Terbentuknya yayasan atau lembaga konsumen kesehatan 

 Terbentuknya posyandu 

 Terbentuknya pembiayaan kesehatan bersumber daya 

warga   

d. Develop Personal Skill 

Develop Personal Skill atau mengembangkan keterampilan 

individu merupakan usaha   agar warga   mampu membuat 

keputusan yang efektif tentang kesehatannya. warga   

membutuhkan informasi, pendidikan, pelatihan dan berbagai 

keterampilan. Promosi Kesehatan berperan untuk 

memberdayakan warga   agar dapat mengambil keputusan 

dan mengalihkan tanggung jawab kesehatan berdasarkan 

pengetahuan dan keterampilan setiap individu. Pemberdayaan 

akan lebih efektif bila dilakukan dari tatanan rumah tangga, 

tempat kerja, dan tatanan lain yang telah ada di warga  . 

e. Re-Orient Health Service 

Re-Orient Health Service atau menata kembali arah utama 

pelayanan kesehatan kepada usaha   preventif dan promotif serta 

mengesampingkan usaha   kuratif dan rehabilitatif. 

 

1.5 Sasaran Promosi Kesehatan 

Promosi Kesehatan memiliki 3 jenis sasaran yaitu primer, 

sekunder dan tersier. Penjelasannya sebagai berikut: 

   9 

 

 

a. Sasaran Primer 

Sasaran primer meliputi individu yang sehat dan keluarga 

sebagai bagian dari warga  . 

b. Sasaran Sekunder 

Sasaran sekunder meliputi para pemuka di warga  , 

baik pemuka informal seperti pemuka adat, pemuka agama dan 

lain-lain maupun pemuka formal seperti petugas kesehatan, 

pejabat pemerintahan dan lain-lain. Organisasi kewarga  an 

dan media massa. 

c. Sasaran Tersier 

Sasaran tersier meliputi paara pembuat kebijakan publik 

yang membuat peraturan perundang-undangan di bidang 

kesehatan dan bidang di luar kesehatan yang berkaitan serta para 

penyedia sumber daya 

  

2.1 Health Promotion (Promosi Kesehatan) 

Promosi kesehatan merupakan tahapan yang pertama dan 

utama pada pencegahan penyakit. Pada promosi kesehatan 

dibutuhkan penyamaan persepsi bahwa promosi kesehatan 

merupakan proses yang memberikan informasi kesehatan pada 

warga   agar warga   mau dan mampu memelihara dan 

meningkatkan kesehatannya. Kegiatan atau usaha Promosi 

Kesehatan diantaranya seperti pendidikan kesehatan meliputi 

peningkatan gizi, kebiasaan hidup, seksual. Perbaikan sanitasi 

lingkungan seperti penyediaan air rumah tangga, perbaikan 

pembuangan sampah, pembuangan kotoran, pembuangan air 

limbah, hygiene perorangan, rekreasi, perisapan memasuki 

kehidupan pra nikah dan menopause. Contoh promosi kesehatan 

antara lain: 

 Penyediaan makanan yang sehat dan berkecukupan baik 

dari segi kualitas maupun kuantitas 

 Perbaikan hygiene dan sanitasi lingkungan 

 Pendidikan kesehatan pada warga   

 Olahraga secara teratur sesuai kemampuan individu 

 Kesempatan memperoleh hiburan untuk perkembangan 

mental dan sosial 

 Nasihat perkawinan dan pendidikan seks yang bertanggung 

jawab 

 

2.2 Specific Protection (Perlindungan Khusus) 

Specific Protection atau perlindungan khusus merupakan 

 

tindakan pencegahan yang dilakukan oleh warga   pada 

ancaman penyakit tertentu. Kegiatan perlindungan khusus 

meliputi melakukan imunisasi secara spesifik, pemberian 

makanan khusus, perlindungan dari penyakit alat kerja, 

perlindungan dari bahan karsinogenik, perlindungan dari zat 

alergen. Contoh kegiatan perlindungan seperti berikut: 

 Melakukan imunisasi lanjutan seperti imunisasi HPV, 

pendidikan kesehatan, konseling tentang berbagai tema 

kesehatan 

 Melakukan kegiatan kumur dengan larutan flour mencegah 

karies gigi 

 Mencucitangan dengan larutan aspetik mencegah infeksi 

 

2.3 Early Diagnosis and Prompt Treatment (Diagnosis Dini 

dan Pengobatan Segera) 

Early Diagnosis and Prompt Treatment atau diagnosis dini 

dan Pengobatan Segera merupakan tindakan menemukan 

penyakit sedini mungkin serta melakukan penatalaksanaan 

secara segera dengan ketepatan terapi. Contoh kegiatan 

diagnosis dini dan pengobatan segera antara lain: 

 Pemberian tablet Fe dan penganjuran makan makanan 

yang mengandung zat besi pada ibu hamil yang 

menunjukkan tanda-tanda anemia 

 Melakukan screening di warga   dengan pemeriksaan 

dahak dan rontgen paru untuk penyakit Tuberculosis Paru- 

paru. 

 Melakukan screening orang dengan kontak penyakit 

menular agar dapat melakukan pengobatan segera 

 Melakukan screening untuk mendeteksi dini kanker 

 

2.4 Dissability Limitation (Mengurangi Kecacatan)  

Dissability Limitation atau Mengurangi Kecacatan 

12    

 

merupakan tindakan penatalaksanaan terapi yang maksimal 

pada penyakit yang telah lanjut untuk mencegahnya menjadi 

lebih berat, menjadikan sembuh serta mengurangi kemungkinan 

kecacatan yang akan timbul. 

 

2.5 Rahbilitation (Rehabilitasi) 

Tingkat rehabilitasi merupakan  terakhir 

untuk warga   yang sakit dan dapat disembuhkan menjadi 

sehat pada saat kembali ke warga   serta dapat menjalain 

hidup seperti semula dengan fungsi yang positifbagi dirinya dan 

bagi warga   lainnya. Rehabilitasi juga bertyjuan untuk 

mengembalikan fungsinya dimasyarakt dengan tidak menjadi 

beban untuk individu lain. pasien  dengan penyakit tertentu 

dan melakukan tahap pengobatan, ada   tiga opsi yang 

pertama yaitu   sembuh total, sembuh dengan cacat dan tidak 

sembuh atau meninggal. Contoh tingkat rehabilitasi seperti ketika 

pasien  mengalami kecelakaan kemudia patah tulang pada 

tangan, dapat direhabilitasi dengan menggunakan tangan palsu 

pada tangan yang patah karena memiliki fungsi yang sama. 

Contoh lainnya yaitu untuk mantan pengguna narkoba harus 

menjalani rehabilitasi sebelum kembali ke warga  . 

Berdasarkan keputusan WHO tahun 1994, strategi 

promosi kesehatan ada   tiga bagian yaitu: 

 

3.1 Advocacy (Advokasi) 

Advocacy atau advokasi merupakan usaha   untuk 

menyakinkan orang lain atau orang yang dapat membantu atau 

mendukung sesuatu yang diinginkan. Dalam promosi keehatan, 

advokasi merupaka usaha   pendekatan pada para pembuat 

keputusan atau pembuat kebijakan di berbagai tingkatan dan 

bagian. Adanya usaha   pendekatan ini  , para pembuat 

kebijakan atau keputusan diharapkan dapat mendukung program 

kesehatan yang akan dilaksanakan. Bentuk-bentuk dukungan 

ini   dapat berupa undang-undang, peraturan, surat 

keputusan, instruksi formal, dan lain-lain. Proses advokasi dapat 

melalui dua cara,yaitu formal dan informal. 

usaha   formal dapat berupa presentasi atau seminar yang 

memaparkan tentang masalah-masalah yang terjadi di 

warga  , maupun pemaparan latar belakang program yang 

telah kita rencanakan. Selain usaha   formal, usaha   informal juga 

dapat dilakukan seperti mengadakan pertemuan maupun 

kunjungan pada para tokoh yang berhubungan langsung dengan 

program yang akan kita laksanakan. Selain memperoleh 

dukungan administratif dalam arti kebijakan, dukungan dana dan 

fasilitas pun dapat kita usulkan untuk medapatkan dukungan. 

 

3.2 Social Support (Dukungan Sosial) 

Strategi dukungan sosial merupakan usaha   untuk mencari 

 

dukungan sosial melalui beberapa tokoh yang sudah ada di 

warga  , baik tokoh warga   formal maupun informal. 

Tujuan dari dukungan sosial yaitu   membuat tokoh warga   

ini   menjadi tali jembatan yang menghubungkan sektor 

kesehatan dengan penerima program kesehatan dalam arti 

warga  . Melalui tokoh warga   ini  , diharapkan 

warga   mau dan mampun menerima pengenalan atau 

sosialisasi segala program kesehatan yang akan diberikan. 

Ukuran kesuksesan usaha   dukungan sosial adala dengan 

adanya partisipasi dari tokoh warga   dan warga   

khususnya. Dukungan sosial ini dapat dikatakan yaitu   dalam 

rangka membina suasana yang kondusif untuk dapat menerima 

program kesehatan. Bentuk dukungan sosial diantaranya 

pelatihan tokoh warga  , seminar, lokakarya, maupun 

bimbingan pada kader kesehatan. Sasaran dari dukungan sosial 

yaitu   seluruh tingkatan sosial yang ada di warga   ini  . 

 

3.3 Empowerment (Pemberdayaan warga  ) 

Pemberdayaan warga   merupakan usaha   promosi 

kesehatan yang berfokus pada warga   langsung. Tujuan 

pemberdayaan warga   yaitu   menciptakan kemampuan 

warga   untuk memelihara serta meningkatkan kesehatan 

mereka secara mandiri. Pemberdayaan warga   juga sebagai 

suatu proses membuat orang mampu meningkatkan control lebih 

besar atas keputusan dan tindakan yang mempengaruhi 

kesehatan mereka, dengan tujuan untuk memobilisasi individu 

dan kelompok rentan dengan memperkuat keterampilan dasar 

hidup mereka serta meningkatkan pengaruh mereka pada hal-hal 

yang mendasari kondisi sosial dan ekonomi (WHO, 2008). 

Pemberdayaan warga   di bidang kesehatan merupakan 

bentuk dan cara penyelanggaraan berbagai usaha   kesehatan, 

baik perorangan, kelompok maupun warga   secara 

   15 

 

terencana, terpadu dan berkesinambungan untuk mencapai 

derajat keshatan warga   yang setinggi-tingginya 

(Departemen Kesehatan RI, 2009). Tujuan yang mendasar dari 

pemberdayaan warga   di bidang kesehatan menurut WHO 

yaitu   meningkatkan kualitas sumberdaya pasien  dan 

meningkatkan derajat kesehatan warga   yang setinggi-

tingginya. 

Berbagai bentuk pemberdayaan di warga   dapat 

diwujudkan melalui beberapa sektor. Salah satunya yaitu   sektor 

ekonomi seperti sistem koperasi, pelatihan untuk meningkatkan 

pendapatan keluarga. Peningkatan sektor ekonomi akan 

berdampak langsung pada kemampuan warga   untuk 

memelihara kesehatan mereka. Dampak ini   dapat terwujud 

dalam bentuk pos obat desa, Polindes, dan lain-lain. 

 

4.1 Pengetahuan 

Pengetahuan yaitu   suatu istilah yang dipergunakan untuk 

menuturkan jika  pasien  mengenal tentang sesuatu. Suatu 

hal yang menjadi pengetahuannya yaitu   selalu terdiri atas unsur 

yang mengetahui dan yang diketahui serta kesadaran mengenai 

hal yang ingin diketahui. Oleh karena itu pengetahuan selalu 

menuntut adanya subjek yang mempunyai kesadaran untuk 

mengetahui tentang sesuatu dan objek yang merupakan sesuatu 

yang dihadapi. Jadi bisa dikatakan pengetahun yaitu   hasil tahu 

pasien  terhadap sesuatu, atau segala perbuatan pasien  untuk 

memahami suatu objek tertentu 

Pengetahuan yaitu   merupakan hasil “tahu” dan ini terjadi 

sesudah  orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek 

tertentu. Penginderaan ini terjadi melalui panca indra pasien . 

Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat 

penting bagi terbentuknya tindakan pasien . pergerakan  yang 

didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada pergerakan  

yang tidak didasari oleh pengetahuan 

Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan yaitu   

ingatan, kesaksian, minat, rasa ingin tahu, pikiran dan penalaran, 

logika, bahasa dan kebutuhan pasien  

sedang   memaparkan bahwa faktor- 

faktro yang mempengaruhi pengetahuan yaitu   tingkat 

pendidikan, informasi, budaya, dan pengalaman. 

Pengetahuan juga dibedakan menjadi tiga kategori yaitu 

baik, cukup dan kurang. Dinyatakan baik jika  pasien  


 

mampu menjawab dengan benar 75-100% dari jumlah 

pertanyaan. Dinyatakan cukup jika  pasien  mampu 

menjawab dengan benar 56-75% dari jumlah pertanyaan, 

sedang  dinyatakan kurang jika  pasien  mampu 

menjawab dengan benar 40-50% dari jumlah pertanyaan 


Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan melalu 

pengisisan angket atau wawancara tentang materi yang akan 

diukur pada subjek penelitian atau yang biasa disebut responden 

(

 

4.2 Sikap 

Sikap yaitu   predisposisi untuk memberikan tanggapan 

terhadap rangsang lingkungan yang dapat memulai atau 

membimbing tingkah laku orang ini  . Secara definitif sikap 

berarti suatu keadaan jiwa dan keadaan berfikir yang disiapkan 

untuk memberikan tanggapan terhadap suatu objek yang di 

organisasikan melalui pengalaman serta mempengaruhi secara 

langsung atau tidak langsung pada praktik atau tindakan. Sikap 

sebagai suatu bentuk evaluasi atau reaksi perasaan

Sikap dikatakan sebagai respon yang hanya timbul bila 

individu dihadapkan pada suatu stimulus. Sikap pasien  

terhadap sesuatu objek yaitu   perasaan mendukung atau 

memihak (favorable) maupun perasaan tidak mendukung atau 

tidak memihak (unfavorable) pada objek tertentu. Sikap 

merupakan persiapan untuk bereaksi terhadap objek 

dilingkungan tertentu sebagai suatu penghayatan terhadap objek 


Faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan sikap 

antara lain 

 Pengalaman pribadi 


 

Sikap yang diperoleh lewat pengalaman akan menimbulkan 

pengaruh langsung terhadap prilaku berikutnya. Pengaruh 

langsung ini   dapat berupa predisposisi pergerakan  yang akan 

direalisasikan hanya jika  kondisi dan situasi memungkinkan. 

 Orang lain 

pasien  cenderung akan memiliki sikap yang 

disesuaikan atau sejalan dengan sikap yang dimiliki orang yang 

dianggap berpengaruh antara lain yaitu   orang tua, teman 

dekat, teman sebaya. 

 Kebudayaan 

Kebudayaan dimana kita hidup akan mempengaruhi 

pembentukan sikap pasien . 

 Media massa 

Sebagai sarana komunikasi, berbagai media massa seperti 

televisi, radio, surat kabar dan internet mempunyai pengaruh 

dalam membawa pesan-pesan yang berisi sugesti yang dapat 

mengarah pada opini yang kemudian dapat mengakibatkan 

adanya landasan kognisi sehingga mampu membentuk sikap. 

 Lembaga pendidikan dan lembaga agama 

Lembaga pendidikan serta lembaga agama suatu sistem 

mempunyai pengaruh dalam pembentukan sikap, dikarenakan 

keduanya meletakkan dasar, pengertian dan konsep moral dalam 

diri individu. Pemahaman akan baik dan buruk antara sesuatu 

yang boleh dan tidak boleh dilakukan diperoleh dari pendidikan 

dan pusat keagamaan serta ajaranya. 

 Faktor emosional 

Tidak semua bentuk sikap ditentukan oleh situasi 

lingkungan dan pengalaman pribadi pasien . Kadang- kadang 

suatu bentuk sikap merupakan pernyataan yang didasari oleh 

emosi, yang berfungsi sebagai semacam penyaluran frustasi atau 

pengalihan bentuk mekanisme pertahanan ego. Sikap demikian 

dapat merupakan sikap yang sementara dan segera berlalu, 

  

 

begitu frustasi telah hilang, akan namun  dapat pula merupakan 

sikap lebih persisten dan bertahan lama. Suatu sikap belum 

otomatis terwujud dalam suatu tindakan untuk terwujudnya agar 

sikap menjadi suatu kondisi yang memungkinkan, antara lain 

harus didukung dengan fasilitas, sikap yang positif. 

Sikap juga memiliki tingkatan, yaitu:  

 

 

 

 

 

 

 Menerima, diartikan bahwa pasien  mau dan memiliki 

keinginan untuk menerima stimulus yang diberikan. 

 Menanggapi, diartikan bahwa pasien  mampu meberikan 

jawaban atau tanggapan pada obyek yang sedang 

dihadapkan. 

 Menghargai, diartikan bahwa pasien  mampu 

memberikan nilai yang positif pada objek dengan bentuk 

tindakan atau pemikiran tentang suatu masalah. 

 Bertanggung jawab, diartikan bahwa pasien  mampu 

mengambil risiko dengan perbedaan tindakan maupun 

pemikiran yang diambil. 

 

4.3 pergerakan  

pergerakan  pasien  yaitu   semua kegiatan atau aktivitas 

pasien , baik yang dapat diamati langsung maupun yang tidak 

dapat diamati dari luar. Menurut Skinner, pergerakan  yaitu   respon 

atau reaksi pasien  terhadap suatu rangsangan dari luar. 

Berdasarkan bentuk respons terhadap stimulus, pergerakan  dapat 

dibagi menjadi dua yakni: 

 

20    

 

pergerakan  Tertutup 

(Covert Behavior) 

pergerakan  

pergerakan  Terbuka 

(Overt Behavior) 

 

 

 pergerakan  tertutup terjadi jika  respon dari suatu  stimulus 

belum dapat diamati oleh orang lain secara jelas. Respon 

pasien  terhadap stimulus ini masih terbatas pada 

perhatian, perasaan, persepsi, pengetahuan dan sikap 

terhadap stimulus ini  . 

 pergerakan  terbuka jika  respon terhadap suatu stimulus 

dapat diamati oleh orang lain. Respon terhadap stimulus 

ini   sudah jelas dalam suatu tindakan atau praktik yang 

dapat dengan mudah diamati oleh orang lain. 

 

 

5.1 Precede-Proceed Model (Lawrance Green) 

Model perencanaan promosi kesehatan yang sering 

dipakai   yaitu   PRECEDE – PROCEED. Model ini 

memungkinkan suatu struktur komprehensif untuk menilai tingkat 

kesehatan dan kebutuhan kualitas kehidupan, merancang, 

mengimplementasikan, dan mengevaluasi progran promosi 

kesehatan dan program kesehatan publik lainnya. PRECEDE 

yang merupakan akronim dari “Predisposing, Reinforcing, and 

Enabling Causes in Educational Diagnosis and Evaluation”, 

menggambarkan perencanaan proses diagnosis untuk 

membantu perkembangan program kesehatan atau edukasi 

kesehatan. PROCEED yang merupakan akronim dari “Policy, 

Regulatory, Organizational Construct, in Educational and 

Environmental Development”, mendampingi proses implementasi 

dan evaluasi program atau intervensi tang telah dirancang dalam 

PRECEDE. Model PRECEDE-PROCEED mengatur perhatian 

pertama pendidik kesehatan pada outcome dan memulai proses 

perencanaan pendidikan kesehatan dengan melihat outcome 

yang diinginkan yaitu kualitas hidup yang baik. 

PRECEDE terdiri atas 5 tahap   antara lain tahap   diagnosis 

sosial, epidemiologi, pergerakan  dan lingkungan, pendidikan dan 

ekologi, dan administrasi dan kebijakan. sedang  PROCEED 

terdiri dari 4 tahap   tambahan, tahap   keenam merupakan 

pengimplementasian intervensi pada tahap   kelima. tahap   ketujuh 

dilakukan proses evaluasi dari intervensi ini  . tahap   

kedelapan mengevaluasi dampak dari intervensi pada berbbagai 


faktor pendukung pergerakan  dan pada pergerakan  itu sendiri. tahap   

terakhir terdiri atas evaluasi outcome yang menentukan efek 

terbesar pada intervensi kesehatan dan kualitas kehidupan suatu 

populasi. Pada praktek di lapangan, PRECEDE dan PROCEED 

berjalan dalam lingkaran berkesinambungan. Informasi yang 

didapatkan pada PRECEDE mengarahkan perkembangan tujuan 

program dan intervensi pada tahap   implementasi PRECEDE. 

Informasi yang sama juga memberikan kriteria terhadap bentuk 

kesuksesan pada program yang diukur pada tahap   evaluasi 

PROCEED. Sebagai feed back, data yang diperoleh pada tahap   

implementasi dan evaluasi PROCEED membuat jelas hubungan 

yang dinilai pada PRECEDE antara kesehatan atau outcome 

kualias hidup dengan faktor pergerakan  dan lingkungan yang 

mempengaruhi, serta faktor predisposing, enabling, reinforcing 

yang mengarahkan pada perubahan pergerakan  lingkungan. Data ini 

juga dapat menunjukkan bagaimana program dapat dimodifikasi 

untuk mencapai tujuan dan target yang diinginkan. 

Pada tahap PRECEDE sebelumnya telah dijelaskan 

diagnosis sosial, diagnosis epidemiologi, dan diagnosis pergerakan . 

Selanjutnya, pada tahap ini akan dijelaskan mengenai diagnosis 

pendidikan dan ekologi. Sebagaimana dijelaskan pada tahap 

diagnosis pergerakan  bahwa pergerakan  diidentifikasi sebagai 

penyebab masalah kesehatan dalam populasi target. Diagnosis 

pendidikan dan ekologi merupakan tahapan yang diperlukan 

guna menentukan cara terbaik untuk memulai proses perubahan 

pergerakan 

Kerangka Precede-Procede: 

 Penilaian Kualitas Hidup dan tahap   Diagnosis Sosial dan 

Epidemiologi 

Meninjau dari berbagai literatur, konsep kualitas hidup 

yaitu   konsep yang sulit untuk didefinisikan dan diukur seperti 

konsep sehat dan konsep cinta. Hal ini karena konsep kualitas 

hidup bersifat subyektif, artinya penilaian satu orang dengan orang 

lain akan berbeda dalam mempersepsikan kualitas hidup mereka. 

Meskipun demikian, pada kenyataannya ketiganya telah diterima 

secara luas. 

Hampir semua usaha   untuk menilai kualitas hidup dimulai 

dengan studi masalah sosial. An Environmental Protection Agency 

(EPA) menerbitkan buku Quality of Life: a potential tool for 

decission marker, mendefinisikan masalah sosial sebagai situasi 

yangmemiliki pengaruhbesar pada warga   dan menjadi 

sumber kesulitan atau ketidak bahagiaan. Masalah sosial terdiri 

dari dua interpretasi yaitu interpretsi objektif dan interpretasi 

subjektif. Dua interpretasi ini   menjadi komponen dasar 

dalam melihat kualitas hidup warga  . Penilaian objektif dapat 

24    

 

mengidentifikasi faktor spesifik dalam komunitas yang dapat 

dinyatakan secara numerik. Faktor ini   selanjutnya disebut 

dengan indikator sosial, yaitu antara lain pekerjaan, pendapatan, 

jumlah pengeluaran per bulan, angka tabungan rata-rata, angka 

ketergantungan, pengangguran, absensi/ketidak hadiran, tingkat 

pendidikan, angka putus sekolah, rata-rata usia kawin, kepadatan 

penduduk, tingkat kriminalitas, praktik diskriminatif, kondisi 

perumahan, akses terhadap pelayanan sosial, kepemilikan 

barang, dan kesenjangan sosial, dan lain sebagainya. 

Cara kedua yaitu penilai subjektif untuk menentukan 

indikator sosial dengan menanyakan ke anggota warga   

sasaran tentang apa yang mereka anggap sebagai hambatan 

utama untuk meningkatkan kualitas hidup mereka. Respon mereka 

merupakan kebutuhan yang mereka rasakan “felt need” 

(dijelaskandalam EPA). Kedua pendekatan obyektif dan 

pendekatan subjektif telah diformalkan dalam berbagai metode. 

Mengidentifikasi dapat dilakukan atas dasar sensus ataupun 

vital statistik yang ada, maupun dengan pengumpulan data secara 

langsung dari warga  . jika  dimungkinkan, data dapat 

diperoleh dari data sekunder yaitu dengan memanfaatkan data 

yang sudah ada dari provider daripada harus membuat data baru. 

Hal ini dimungkinkan karena adanya keterbatasan waktu dan 

sumberdaya. Data ini   dapat diambil dari kantor pemerintah 

seperti BPS, kantor perumahan lokal, penegak hukum, lembaga 

pelayanan sosial, dan data pelayanan publik atau provider lainnya 

yang memiliki catatan terbaru yang relevan dengan kebutuhan. 

Untuk diagnosis sosial yang dilakukan secara menyeluruh, tentu 

saja memerlukan data tambahan yang dapat dikumpulkan melalui 

berbagai cara. Bila data langsung dikumpulkan dari warga  , 

maka pengumpulan datanya dapat dilakukan dengan cara 

:wawancarakey informan, community forum, FGD (focus group 

discussion), NGP (nominal group process), pendekatan kontinum. 

   

 tahap   Diagnosis pergerakan  dan Lingkungan 

Program pendidikan kesehatan memiliki tujuan utama yakni 

peningkatan kualitas hidup pasien . Kualitas hidup pasien  

dipengaruhi secara langsung oleh faktor masalah kesehatan serta 

faktor non-kesehatan. Kesepakatan tentang berbagai aspek 

kehidupan sosial yang dirasakan memiliki efek negatif pada 

kualitas hidup pasien  merupakan langkah awal dalam 

menyusun perencanaan program kesehatan, program pendidikan 

dan terutama perencanaan program pendidikan kesehatan. Pada 

tahap   ini dilakukan identifikasi masalah kesehatan yang 

berpengaruh terhadap kualitas hidup pasien . 

Pada tahap   ini selain diidentifikasi masalah pergerakan  yang 

mempengaruhi masalah kesehatan juga sekaligus diidentifikasi 

masalah lingkungan (fisik dan sosial) yang mempengaruhi pergerakan  

dan status kesehatan ataupun kualitas hidup pasien  atau 

warga  . Untuk mengidentifikasi masalah pergerakan  yang 

mempengaruhi status kesehatan pasien , dipakai   indikator 

pergerakan  seperti : pemanfaatan pelayanan kesehatan (utilization), 

usaha   pencegahan (preventive action), pola konsumsi makanan 

(consumption pattern), kepatuhan (compliance), usaha   

pemeliharaan kesehatan sendiri (self care). Dimensi pergerakan  yang 

dipakai   yaitu   : earliness, quality, persistence, frequency dan 

range. Indikator lingkungan yang dipakai   meliputi: keadaan 

sosial, ekonomi, fisik dan pelayanan kesehatan dengan 

dimensinya yang terdiri dari: keterjangkauan, kemampuan dan 

pemerataan. 

Langkah yang harus dilakukan dalam diagnosis pergerakan  dan 

lingkungan yaitu: 

 Membedakan faktor pergerakan  dan non pergerakan  penyebab 

timbulnya masalah kesehatan. 

 Mengembangkan temuan atas pergerakan  ini   

26    

 

 Mengurutkan faktor pergerakan  dan lingkungan berdasarkan 

penting tidaknya atau urgensinya terhadap masalah 

kesehatan 

 Mengurutkan faktor pergerakan  dan lingkungan berdasarkan 

kemudahan untuk diubah 

 Menetapkan pergerakan  dan lingkungan yang menjadi sasaran 

program 

 tahap   Diagnosis Pendidikan dan Ekologi 

Faktor yang saling bergantung (predisposing, enabling, dan 

reinforcing factor) dan kondisi hidup merupakan determinan dari 

perubahan pergerakan  dan lingkungan sebagai proses pendidikan 

dan ekologi. Istilah pendidikan (educational) yang dimaksud di sini, 

merujuk pada proses pembelajaran sosial alami (the natural social 

learning process) dalam kehidupan sehari – hari sehingga individu 

dapat memahami dan melaksanakan pengendalian atau kontrol 

terhadap lingkungannya. Proses pembelajaran yang dimaksud 

disini berbeda denga proses pendidikan formal yang diperoleh di 

sekolah atau program pelatihan. sedang  istilah ekologi 

(ecological) disini mengacu pada determinisme timbal 

balik/determinis resiprokal antara pergerakan  dan lingkungan, dimana 

lingkungan meliputi pengaruh sosial dan fisik di beberapa level 

(keluarga, teman sebaya, kebijakan bebas rokok). Dengan 

demikian, Educational and Ecological Assessment (Penilaian 

Pendidikan dan Ekologi) merupakan usaha   untuk mengidentifikasi 

faktor yang mempengaruhi pergerakan  yang berhubungan dengan 

kesehatan dan kondisi hidup (termasuk efek genetik) sebagai 

faktor yang berperan penting dalam menentukan outcomes 

kesehatan dan kualitas hidup. Educational and Ecological 

Assessment (Penilaian Pendidikan dan Ekologi) mengidentifikasi 

faktor yang membutuhkan perubahan untuk memulai dan 

mempertahankan proses perubahan pergerakan  dan lingkungan. 

Pendekatan pendidikan dan ekologi dapat dipakai   untuk 

  

 

mengelola sebuah intervensi program guna menghilangkan atau 

memperkuat aspek tertentu dari proses pendidikan dan ekologi 

yang berpengaruh terhadap pergerakan  dan lingkungan 

Tiga jenis faktor berinteraksi dengan lingkungan untuk 

mempengaruhi pergerakan  melalui berbagai jalur (ditunjukkan oleh 

tanda panah). Gambar ini   berfokus pada beberapa asumsi 

tentang hubungan kausal antar faktor yang harus dipertimbangkan 

dalam melakukan diagnosis pendidikan dan ekologi. 

 Predisposing Factor (Faktor Predisposisi) 

Faktor predisposisi merupakan faktor yang dapat 

mempermudah dan mendasari terjadinya perubahan pergerakan  atau 

tindakan pada individu maupun warga   

Faktor predisposisi meliputi pengetahuan, sikap, kepercayaan, 

nilai-nilai, dan persepsi yang berhubungan dengan motivasi 

individu maupun warga   untuk bertindak atau berpergerakan . 

 Enabling Factor (Faktor Pemungkin) 

Faktor pemungkin sebagai faktor yang memungkinkan atau 

yang memfasilitasi terjadinya pergerakan  atau tindakan. Faktor 

pemungkin yaitu   keterampilan dan sumber daya yang diperlukan 

untuk melakukan pergerakan  kesehatan. Sumber daya meliputi 

fasilitas pelayanan kesehatan, tenaga kerja, sekolah, klinik 

penjangkauan, dan sumber daya lainnya. Faktor pemungkin juga 

mencakup aksesibilitas sumber daya meliputi biaya, jarak, 

transportasi yang tersedia, jam buka pelayanan, dan sebagainya. 

Keterampilan tenaga kesehatan juga termasuk ke dalam faktor 

pemungkin 

 Reinforcing Factor (Faktor Penguat) 

Faktor penguat merupakan faktor yang dapat memperkuat 

atau terkadang justru memperlunak untuk terjadinya pergerakan  

(menentukan apakah pergerakan  kesehatan didukung). Faktor 

penguat akan memperkuat pergerakan  dengan memberikan 

28    

 

penghargaan secara terus menerus pada pergerakan  dan berperan 

pada terjadinya pengulangan. Pengetahuan, sikap, dan fasilitas 

yang tersedia terkadang belum menjamin terjadinya pergerakan  

pasien  atau warga  . 

 tahap   Diagnosis Administrasi dan Kebijakan 

Pada tahap   ini, seorang perencana memilih dan 

menyesuaikan komponen program dengan determinan perubahan 

yang telah diidentifikasi. Penyesuaian ini dilakukan secara 

mendetail, agar program berjalan efektif dan efisien. Penyesuaian 

intervensi dilakukan untukmengidentifikasi sumberdaya, hambatan 

dan fasilitas, dan kebijakan yang mungkin dibutuhkan untuk 

implementasi program dan kelanjutanya. Ketika membuat sebuah 

rencana program, penting untuk melihat 2 level penyesuaian 

antara penilaian determinan dan pemilihan intervensi. Yang 

pertama pada level makro, organisasi dan sistem lingkungan yang 

dapat berpengaruh pada tujuan yang diinginkan harus 

dipertimbangkan. ada   beberapa intervensi yang 

mempengaruhi faktor enabling untuk perubahan lingkungan, yang 

akan mendukung tujuan perubahan prilaku sehat. Pada level 

mikro, fokusnya yaitu   pada individu, keluarga, atau lainya yang 

dapat mempengaruhi prilaku kesehatan secara langsung. 

Intervensi pada level mikro spesifik ditujukan pada perubahan 

predisposing, reinforcing, dan enabling. Banyak strategi yang bisa 

dipakai   seperti small media, conseling, advocacy, dan strstegi 

lain yang sesuai dengan apa yang dibutuhkan klien. 

  

5.2 Theory of Reasoned Action and Planned Behavior 

a. Theory of Reasoned Action (TRA) atau Tindakan 

Beralasan 

Theory of Reasoned Action (TRA) pertama kali 

diperkenalkan oleh Martin Fishbein dan Ajzen tahun 1975 yang 

berasal dari penelitian terdahulu yang dikenal sebagai theory of 

   29 

 

attitude, dimana pada teori ini   dipakai   sebagai rujukan 

untuk studi tentang sikap dan pergerakan . Teori ini menghubungkan 

antara keyakinan (belief), sikap (attitude), kehendak atau 

niat(intention) dan pergerakan  (behavior). Kehendak atau niat 

merupakan prediktor terbaik pergerakan , artinya jika ingin mengetahui 

apa yang akan dilakukan pasien , cara terbaik yaitu   

mengetahui kehendak orang ini  . Namun, pasien  dapat 

membuat pertimbangan berdasarkan alasan-alasan yang sama 

sekali berbeda (tidak selalu berdasarkan kehendak). Konsep 

penting dalam teori ini yaitu   fokus perhatian (salience), yaitu 

mempertimbangkan sesuatuyang dianggap penting. Kehendak 

(intetion) ditentukan oleh sikap dan norma subyektif. 

Dalam arti lain dikatakan bahwa TRA yaitu   sebuah teori 

yang menyatakan bahwa keputusan untuk melakukan tingkah laku 

tertentu yaitu   hasil dari sebuah proses rasional dimana pilihan 

tingkah laku dipertimbangkan, konsekuensi dan hasil dari setiap 

tingkah laku dievaluasi dan sebuah keputusan sudah dibuat, 

apakah bertingkah laku tertentu atau tidak. Kemudian keputusan 

ini direfleksikan dalam tujuan tingkah laku yang sangat 

berpengaruh terhadap tingkah laku yang tampil. 

 

 

Kehendak (intenton) ditentukan oleh sikap dan norma 

subyektif. Sikap merupakan hasil pertimbangan untung dan rugi 

dari pergerakan  ini   (outcome of the behaviour). Disamping itu 

juga dipertimbangkan pentingnya konsekuensi yang akan terjadi 


 

bagi individu (evaluation regarding the outcome). sedang  

norma subyektif atau sosial mengacu pada keyakinan pasien  

terhadap bagaimana dan apa yang dipikirkan orang-orang yang 

dianggap penting dan motivasi pasien  untuk mengikuti pikiran 

ini  . Contoh: orang tua memiliki harapan keikutsertaan pada 

program imunisasi bagi anaknya. Mereka percaya imunisasi dapat 

melindungi serangan penyakit (keuntungan), namun  juga 

menyebabkan rasa sakit dan demam pada anaknya (kerugian). 

Orang tua akan mempertimbangkan mana diantara keuntungan 

dan kerugian ini   yang paling penting. 

Jika orang yang dianggap penting (kelompok reference) 

setuju (atau sebatas menasehati) agar orang tua mengikuti 

imunisasi, maka ada   kecenderungan positif untuk berpergerakan . 

Pertanyaannya, atas dasar apa pasien  mempunyai keyakinan 

dan mampu mengevaluasi atas pergerakan  dan norma sosial? hal 

ini   mencakup peran variabel eksternal seperti variabel 

demografi (jenis kelamin dan usia) dan yang lainnya yang tidak 

muncul di teori ini. Menurut Fishbein dan Middlestadt (1989), 

variabel ini   bukannya tidak penting namun  efeknya pada 

kehendak (intention) dianggap diperantarai sikap, norma subyektif, 

dan berat relatif dari komponen ini. 

Theory of reasoned action (TRA) atau teori tindakan 

beralasan mengatakan bahwa sikap mempengaruhi pergerakan  

melalui suatu proses pengambilan keputusan yang teliti dan 

beralasan, dan dampaknya terbatas pada tiga hal. Pertama 

pergerakan  tidak banyak ditentukan oleh sikap umum namun  oleh sikap 

yang spesifik terhadap sesuatu. Kedua, pergerakan  tidak hanya 

dipengaruhi oleh sikap, namun  juga oleh norma subyektif, yaitu 

keyakinan kita mengenai apa yang orang lain inginkan agar kita 

lakukan. Ketiga, sikap terhadap suatu pergerakan  bersama norma-

norma subjektif membentuk suatu intensi atau niat berpergerakan  

tertentu. Intensi atau niat merupakan fungsi dari dua determinan 

  

 

dasar yaitu sikap individu terhadap pergerakan  (merupakan aspek 

personal) dan persepsi individu terhadap tekanan sosial untuk 

melakukan atau tidak melakukan pergerakan  yang disebut dengan 

norma subyektif. 

TRA memiliki sub-komponen pada masing-masing 

komponen yang mempengaruhi terbentuknya niat melakukan 

pergerakan  (intention to perform the behavior). Komponen sikap 

memiliki sub-komponen behavioral belief dan evaluation of 

behavioral outcomes. Komponen Norma Subjektif memiliki sub-

komponen Normative belief dan Motivation to comply. Untuk 

memudahkan pemahaman dapat dilihat melalui skema berikut. 

Attitude 

Attitude atau sikap yaitu   fungsi dari kepercayaan tentang 

konsekuensi pergerakan  dan penilaian terhadap pergerakan  ini  . 

Sikap juga berarti perasaan umum yang menyatakan keberkenaan 

pasien  terhadap suatu objek yang mendorong tanggapannya. 

Faktor sikap merupakan poin penentu perubahan pergerakan  yang 

ditunjukkan oleh perubahan sikap pasien  dalam menghadapi 

sesuatu. Perubahan sikap ini   dapat berbentuk penerimaan 

ataupun penolakan. Fishbein dan Ajzen menyarankan dalam TRA, 

attitude mempunyai dua komponen. Pertama respon penilaian 

32    

 

tentang keyakinan dan sikap yaitu dengan mempertimbangkan 

untung rugi dari pergerakan  ini   (outcome of the behavior atau 

behavior belief). Kedua, respon penilaian tentang kemungkinan 

yang diakibatkan jika pergerakan  dilakukan, dengan kata lain 

konsekuensi yang terjadi jika  ia melakukan pergerakan  ini   

(evaluation regarding of the outcome/ evaluation of behavioral 

outcomes). 

Subjectives Norms 

Subjectives Norms atau norma subyektif yaitu   norma yang 

dianut pasien  (keluarga). Dorongan anggota keluarga 

termasuk kawan terdekat juga mempengaruhi agar pasien  

dapat menerima pergerakan  tertentu, yang kemudian diikut dengan 

saran, nasehat, dan motivasi dari keluarga atau kawan. 

Kemampuan anggota keluarga atau kawan terdekat 

mempengaruhi seorang individu untuk berpergerakan  seperti yang 

mereka harapkan diperoleh dari pengalaman, pengetahuan, dan 

penilaian individu ini   terhadap pergerakan  tertentu dan 

keyakinannya melihat keberhasilan orang lain bererilaku seperti 

yang disarankan. 

Norma subyektif juga diartikan persepsi apakah orang lain 

menyetujui atau menolak pergerakan  ini  . Subjective norm terdiri 

dari dua komponen, yaitu normative belief dan motivation comply 

(Ajzen,1989). Normative belief yaitu   persepsi tentang penilaian 

orang lain terhadap pergerakan  tertentuyang menjadi acuan untuk 

menampilkan pergerakan  atau tidak. Keyakinan yang berhubungan 

dengan pendapat tokoh atau orang lain yang penting dan 

berpengaruh bagi individu atau tokoh panutan ini   apakah 

subjek harus melakukan atau tidak suatu pergerakan  tertentu. 

Motivation to comply yaitu   motivasi pasien  untuk 

mengikuti/menuruti persepsi penilaian orang lain ini   atau 

motivasi untuk mengikuti pandangan mereka dalam melakukan 

atau tidak melakukan tingkah laku ini  . Sebagai contoh, 

 

 

seorang wanita merasa orang tuanya akan melarang dia 

mendonorkan darahnya (normative belief). Akan namun  dia merasa 

tidak harus mengikuti persepsi penilaian orang tuanya mengingat 

ia tinggal jauh dari orang tuanya (motivation comply)sehingga dia 

tidak akan menuruti perasaan khawatirnya ini  . 

Di lain pihak dia percaya bahwa suaminya menyetujui 

keinginannya untuk berdonor dan dia termotivasi untuk 

mendapatkan persetujuannya, dia akan membangkitkan positif 

norma subektif terhadap kegiatan donor darah. TRA menjelaskan 

bahwa orang akan mempertimbangkan antara attitude dan 

subjective norms sebagai alat untuk memutuskan apakah dia akan 

melaksanakan suatu kehendak atau tidak. Dengan kata lain 

attitude dan subjective norms dipertimbangkan untuk menentukan 

dari niat akan suatu tindakan. Secara umum riset telah 

menunjukkan bahwa attitude yaitu   prediksi yang lebih baik untuk 

membuat niatan suatu tindakan daripada subjective norms 

Behavioral Intention 

Behavioral intenttion atau niat atau kehendak dalam 

berpergerakan  ditentukan oleh sikap (attitude) dan norma subyektif 

(subyektive norms). Jadi dianggap bahwa pergerakan  orang konsisten 

dengan penilaian dari attitude dan norma subyektif. Secara umum 

semakin kuat attitude dan subjective norms terhadap pergerakan  

tertentu maka semakin tinggi pasien  mewujudkan keinginan 

melakukan suatu tindakan ini  . Keterbatasan dari TRA yaitu   

bahwa teori ini tidak dapat mengukur behavior yang tidak 

seluruhnya dalam keinginan yang terkendali.pasien  mungkin 

berharap untuk tidak bertindak namun  tidak mempunyai sumber, 

motivasi ataupun kesempatan untuk melakukan hal ini  . 

Sebagai contoh jika pasien  ingin berdonor namun  tidak 

mempunai transportasi untuk menuju ke tempat donor maka hal ini 

juga perlu untuk dipertimbangkan namun tidak dimasukkan dalam 

34    

 

TRA. Sehingga model TRA ini dikembangkan dengan 

memasukkan konsep perceived behavioral control dan membuat 

teori baru yaitu theory of planned behavior (TPB). 

Behavior 

Behavior atau pergerakan  yaitu   sebuah tindakan yang telah 

dipilih pasien  untuk ditampilkan berdasarkan atas niat yang 

sudah terbentuk. pergerakan  meupakan transisi niat atau kehendak 

ke dalam action atau tindakan. 

  

b. Theory of Planned Behavior (TPB) atau Teori pergerakan  

Berencana 

Teori ini diusulkan oleh Icek Ajzen di tahun 1985. Teori ini 

merupakan perluasan dari TRA dengan menambahakan 

komponen yang belum ada dalam TRA. TPB menjelaskan bahwa 

selain sikap terhadap pergerakan  dan norma subyektif, individu juga 

mempertimbangkan kontrol tingkah laku yang dipersepsikannnya 

yaitu kemampuan mereka untuk melakukan tindakan ini  . 

Komponen yang ditambahkan ini disebut dengan kontrol pergerakan  

persepsian (perceived behavioral control). Konstruk ini 

ditambahkan di TPB untuk mengontrol pergerakan  individual yang 

dibatasi oleh kekurangan-kekurangannya dan keterbatasan-

keterbatasan dari kekurangan sumber daya yang dipakai   untuk 

melekukan pergerakan nya. Dengan menambahkan sebuah konstruk 

ini, yaitu kontrol pergerakan  persepsian (Perceived behavioral 

control). 

TRA dan TPB keduanya menganggap bahwa prediktor 

penting untuk berpergerakan  yaitu   niat untuk berpergerakan  

(behavioural intention), dimana hal ini   ditentukan oleh sikap 

(attitude) terhadap pergerakan  dan persepsi normatif sosial (social 

normative perception) mengenai hal ini  . TPB yaitu   

perluasan dari TRA dengan kontruksi tambaha: kontrol yang 

dirasakan atas kinerja pergerakan  (perceived control over 

  

 

performance of the behaviour) seperti yang ditunjukkan pada 

gambar berikut ini: 

 

 

Intensi untuk berpergerakan  dapat menjadi pergerakan  sebenarnya 

hanya jika pergerakan  ini   ada di bawah kontrol individu yang 

bersangkutan. Individu ini   memiliki pilihan untuk 

memutuskan menampilkan pergerakan  tertentu atau tidak sama sekali 

(Ajzen, 1991). Sampai seberapa jauh individu akan menampilkan 

pergerakan , juga tergantung pada faktor non motivasional. Salah satu 

contoh dari faktor non motivasional yaitu   ketersediaan 

kesempatan dan sumber daya yang dimiliki (misal: uang, waktu, 

bantuan dari pihak lain dan sumberdaya lainnya). Secara kolektif, 

faktor ini mencerminkan kontrol aktual terhadap pergerakan .Jika 

tersedia kesempatan dan sumber daya dan ada   intensi untuk 

menampilkan pergerakan , maka kemungkinan pergerakan  itu muncul 

sangatlah besar.dengan kata lain suatu pergerakan  akan muncul jika 

ada   motivasi (intensi) dan kemampuan (kontrol pergerakan ). 

Kontrol pergerakan  yang dirasakan dipengaruhi oleh 

pengalaman masa lalu dan perkiraan pasien  mengenai sulit 

atau tidaknya untuk melakukan pergerakan  tertentu (Azwar, 

2003).TPB mengganggap bahwa teori sebelumnya mengenai 

36    

 

pergerakan  yang tidak dapat dikendalikan sebelumnya oleh individu 

melainkan, juga dipengaruhi oleh faktor mengenai faktor non 

motivasional yang dianggap sebagai kesempatan atau sumber 

daya yang dibutuhkan agar pergerakan  dapat dilakukan. Sehingga 

dalam teorinya, Ajzen menambahkan satu dertiminan lagi, yaitu 

kontrol persepsi pergerakan  mengenai mudah atau sulitnya pergerakan  

yang dilakukan. Oleh karena itu menurut TPB, intensi dipengaruhi 

oleh tiga hal yaitu: sikap, norma subjektif, kontrol pergerakan . 

Perceived of Behavior Control 

Perceived of Behavior Control atau kontrol persepsi yang 

dirasakan (Perceived control) yaitu   suatu kontrol untuk 

bertingkah laku yang dipersepsikan.Perceived control dipakai   

sebagai penilaian terhadap kemampuan sikap untuk menampilkan 

tingkah laku. Terdiri dari control belief dan perceived power. 

Control belief yaitu   keyakinan tentang keberadaan hal-hal yang 

mendukung atau menghambat pergerakan  yang akan ditampilkan. 

Perceived power yaitu   persepsi tentang seberapa kuat hal-hal 

yang mendukung dan menghambat pergerakan nya ini  . Kontrol 

pergerakan  menurut Ajzen (2005) mengacu pada persepsi-persepsi 

pasien  akan kemampuannya untuk menampilkan pergerakan  

tertentu. Dengan kata lain kontrol pergerakan  menunjuk kepada 

sejauh mana pasien  merasa bahwa menampilkan atau tidak 

menampilkan pergerakan  tertentu berada di bawah kontrol individu 

yang bersangkutan. Kontrol pergerakan  ditentukan oleh sejumlah 

keyakinan tentang hadirnya faktor-faktor yang dapat memudahkan 

atau mempersulit terlaksananya pergerakan  yang ditampilkan. 

pergerakan  yaitu   semua kegiatan atau aktivitas pasien , baik yang 

dapat. 

 

 

5.3 Integrated Behavioral Model (IBM) 

Integrated Behavioural Model (IBM) merupakan teori 

pergerakan  yang merupakan pengembangan dari dua teori 

sebelumnya, yakni Theory Reason Action (TRA) dan Theory 

Planned Behaviour (TPB). IBM menekankan bahwa penentu yang 

paling penting dari perubahan pergerakan  pasien  yaitu   

behavioral intention (niatan berpergerakan ). IBM menekankan 

pentingnya niat sebagai motivasi untuk berpergerakan . Tanpa adanya 

motivasi, pasien  tidak mungkin melaksanakan pergerakan  yang 

direkomendasikan. Dalam berpergerakan , ada   empat komponen 

yang mempengaruhi pergerakan  pasien  secara langsung, 

diantaranya: 

a. Jika pasien  memiliki niat berpergerakan  yang kuat, maka dia 

membutuhkan pengetahuan dan keterampilan untuk 

melaksanakan pergerakan  ini  . 

b. Tidak ada atau sedikitnya kendala lingkungan yang membuat 

implementasi pergerakan  sulit untuk dilakukan. 

38    

 

c. pergerakan  harus dibuat menonjol, terlihat dan mudah dikenal 

atau disadari. 

d. Pengalaman mengimplementasikan pergerakan  bisa 

menjadikannya sebuah kebiasaan, sehingga niat menjadi 

kurang penting dalam menentukan kinerja pergerakan  individu. 

Point pertama sampai ketiga merupakan point yang sangat 

penting dalam menentukan apakah niat berpergerakan  (behavioral 

intention) menyebabkan pergerakan  pasien  itu dapat 

terimplementasi (behavioral performance). Berdasarkan model 

pergerakan  terintegrasi ini  , niat berpergerakan  ditentukan oleh tiga 

faktor, yaitu: 

Attitude 

Sikap (attitude) sebagai keseluruhan kesukaan 

(favorableness) atau ketidaksukaan (unfavorableness) pasien  

dalam mengimplementasikan pergerakan  tertentu. Keberadaan sikap 

ini sebagai gabungan dari dimensi afektif dan kognitif. Ada dua 

macam sikap pasien , yaitu sikap experiential dan instrumental. 

Sikap experiential merupakan respon emosional individu terhadap 

ide dalam menanggapi sebuah rekomendasi pergerakan . Individu 

dengan respon emosional negatif yang kuat terhadap pergerakan  

yang direkomendasikan tidak mungkin akan melakukan pergerakan  

ini  , sedang  mereka dengan reaksi emosional yang kuat 

positifnya lebih mungkin untuk terlibat di dalamnya. sedang  

sikap instrumental yaitu   berdasarkan kognitif, ditentukan oleh 

keyakinan tentang hasil kinerja pergerakan , seperti dalam TRA/TPB. 

Perceived Norm 

Keyakinan norma (Perceived Norm) ini merefleksikan suatu 

tekanan atau pengaruh sosial yang membuat pasien  merasa 

perlu atau tidak melakukan pergerakan  yang diharapkan atau 

direkomendasikan. Faktor ini dibentuk oleh dua sub-faktor yaitu 

injunctive norm dan descriptive norm. Injunctive norm (keyakinan 

normatif) yaitu   sejauh mana harapan yang dipikirkan orang lain 

   

 

(jejaring sosial yang penting bagi orang ini  ) terhadap pergerakan  

yang diharapkan. Descriptive norm ialah norma yang mengacu 

pada persepsi dalam sebuah kelompok warga   atau jejaring 

pribadinya dalam melakukan pergerakan  yang dimaksud. Dan 

perceived norm itu merupakan gabungan persepsi kedua norma 

ini   secara utuh dan menyeluruh. 

Personal Agency 

Personal Agency diartikan sebagai kemampuan individu 

untuk memulai dan memberikan alasan melakukan sebuah 

pergerakan . Personal agency ini terdiri dari sub-faktor yakni self 

efficacy (keyakinan pasien  mampu mengerjakan tugas atau 

sebuah pergerakan ) dan perceived control (keyakinan pasien  

bahwa pergerakan  yang dimaksud itu mudah atau sulit dikerjakan). 

Self efficacy ini tidak sama dengan kompetensi. Self efficacy 

mengacu pada keyakinan kemampuan pasien , sedang  

pada kompetensi yaitu   keterampilan yang benar-benar dimiliki 

pasien . Pada perceived control, ada sebuah kontrol dalam diri 

pasien  untuk mengendalikan pergerakan nya. 

Selain ketiga variabel ini   yang membentuk intention to 

perform the behaviour, dalam IBM ditambahkan variabel 

knowledge and skill (pengetahuan dan keterampilan), habit 

(kebiasaan), environmental constraint (keterbatasan lingkungan) 

dan salience of behaviour (pergerakan  yang menonjol), yang secara 

langsung atau tidak mempengaruhi pergerakan  pasien . Faktor-

faktor ini muncul karena terkadang individu sudah memiliki niatan 

untuk berpergerakan , namun karena ada keterbatasan atau hambatan 

yang disebabkan kondisi lingkungan dan keterampilan yang 

dimiliki, sehingga pergerakan  yang diharapkan ini   tidak terjadi. 

Keunggulan dari kerangka IBM ini yaitu   pada kerangka IBM 

memasukkan faktor-faktor karakteristik demografi setempat 

sebagai variabel jauh (distal) yang diduga berpengaruh secara 

tidak langsung terhadap niat dan pergerakan  tertentu. Integrated 

40    

 

Behavioral Model (IBM) merupakan teori pergerakan  yang berada 

pada level individu yang dapat dimanfaatkan untuk meramalkan, 

memahami, dan mengubah pergerakan  tertentu (Made, 2015). Agar 

lebih memahami Teori Integrated Behavior Model dapat melalui 

bagan berikut: 

 

 

 

5.4 Health Belief Model Theory (HBM) 

Health Belief Model (BHM) merupakan teori yang pertama 

kali dikemukakan oleh Resenstock pada tahun 1966, yang 

kemudian disempunakan oleh Becker, dkk pada tahun 1970 dan 

1980. Teori BHM merupakan teori untuk mengetahui persepsi 

individu menerima atau tidak kondisi kesehatan mereka. Menurut 

Janz dan Becker, 1984 mengungkapkan bahwa Health Belief 

Model merupakan suatu konsep yang mengungkapkan alasan dari 

individu untuk mau atau tidak mau melakukan pergerakan  sehat. 

sedang  menurut Hochbaum (dalam Hyden, 1958) HBM 

merupakan pergerakan  kesehatan yang dipengaruhi oleh persepsi 

individu mengenai kepercayaan mereka terhadap penyakit dan 

cara yang tersedia untuk mengurangi terjadinya gejala penyait 

yang diderita. 

Health Belief Model ada   empat dimensi yang dapat 

   

 

menggambarkan bagaimana keyakinan individu terhadap suatu 

pergerakan  sehat (Buglar, White & Robinson, 2009), dimensi-dimensi 

ini   antara lain: 

Perceived Susceptibility 

Perceived susceptibility merupakan keyakinan individu 

mengenai kerentanan dirinya terhadap suatu risiko penyakit dalam 

mendorong pasien  untuk melakukan pergerakan  yang lebih sehat. 

Semakin besar risiko yang dirasakan maka, semakin besar 

kemungkinan individu terlibat dalam pergerakan  untuk mengurangi 

risikonya. Pada dasarnya pasien  akan lebih percaya jika  

mereka berada dalam risiko penyakit, mereka akan lebih 

cenderung untuk melakukan usaha   pencegahan. Namun 

sebaliknya jika  pasien  tidak berada dalam suatu keadaan 

risiko penyakit mereka akan lebih cenderung untuk tidak 

melakukan pencegahan atau memiliki anggapan mengenai 

pergerakan  sehat. 

Perceived Severity 

Perceived severity merupakan suatu keyakinan individu 

terhadap keparahan penyakit. sedang  persepsi keparahan 

terhadap penyakit sering didasarkan pada informasi atau 

pengetahuan pengobatan, 

mungkin juga berasal dari kepercayaan terhadap orang yang 

memiliki kesulitan tentang penyakit yang diderita atau dampak dari 

penyakit terhadap kehidupannya . 

Sebagai contoh, kebanyakan dari kita memandang flu sebagai 

penyakit yang ringan. Kebanyakan dari warga   beranggapan 

bahwa hanya dengan tinggal di rumah beberapa hari dapat 

membuat tubuh menjadi lebih baik. Namun, jika  pasien  

ini   menderita penyakit asma, kemudian juga menderita 

penyakit flu maka orang ini   akan beranggapan bahwa flu 

menjadi penyakit yang serius. 

 

4

 

Perceived barriers 

Perceived barriers merupakan aspek negatif pada individu 

yang menghalangi individu ini   untuk berpergerakan  sehat, 

karena untuk melakukan perubahan bukanlah sesuatu hal yang 

mudah. Konstruk dari HBM menangani masalah ini   yaitu   

hambatan yang dirasakan untuk melakukan berubahan. Hal 

ini   dimiliki individu sendiri mengevaluasi hambatan dalam 

cara individu untuk melakukan sebuah pergerakan  baru dari semua 

konstruksi, hambatan yang dirasakan yaitu   hal yang paling 

signifikan dalam menentukan perubahan pergerakan 

pergerakan  baru dilakukan, pasien  membutuhkan 

kepercayaan akan manfaat dari pergerakan  baru lebih besar daripada 

melanjutkan pergerakan  lama (Centers for Disease Kontrol dan 

Pencegahan, 2004). Hal ini memungkinkan adanya penghalang 

untuk mengatasi hambatan dalam menentukan pergerakan  baru yang 

harus dilakukan. 

Perceived Benefits 

Perceived benefits merupakan keyakinan akan manfaat 

yang dirasakan pada diri individu jika  melakukan pergerakan  

sehat (Janz& Becker, 1984). Konstruksi dari manfaat yang 

dirasakan yaitu   pendapat pasien  tentang kegunaan suatu 

pergerakan  baru dalam menurunkan risiko terkena penyakit. Individu 

cenderung lebih sehat saat mereka percaya pergerakan  baru akan 

menurun kemungkinan mereka terserang penyakit. Manfaat yang 

dirasakan memainkan peran penting dalam menentukan pergerakan  

untuk pencegahan sekunder. 

Self-efficacy 

Self-efficacy merupakan kepercayaan pada diri sendiri 

terhadap kemampuan untuk melakukan sesuatu 

Pada umumnya pasien  tidak mencoba melakukan suatu hal 

yang baru kecuali mereka berpikir dapat melakukannya. jika  

  

 

pasien  percaya suatu pergerakan  baru ini   bermanfaat 

(dirasakan manfaatnya), tapi tidak berpikir bahwa dia mampu 

melakukannya (Perceived barrier), kemungkinan itu tidak akan 

dicoba. 

Seiring berkembangnya teori Health Belief Model, Janz& 

Becker (1984) menambahkan 2 konstruk yang salah satunya 

yaitu   cues to action. Cues toaction merupakan konstruk yang 

menjelaskan mengenai faktor yang merangsang individu untuk 

mau berpergerakan  sehat (Janz& Becker, 1984). Cues to action 

dilatar belakangi oleh faktor internal maupun faktor eksternal yang 

dapat mempengaruhi pasien  seperti demografi, psikososial, 

persepsi individu, media massa, dan promosi kesehatan 

Cues to Action 

Cues to action merupakan pergerakan  yang dipengaruhi oleh 

suatu hal yang menjadi isyarat bagi pasien  untuk melakukan 

suatu tindakan atau pergerakan . (Becker dkk, 1997 dalam Conner & 

Norman, 2003). Isyarat-isyarat yang berupa faktor-faktor eksternal 

maupun internal, misalnya pesan-pesan pada media massa, 

nasihat atau anjuran kawan atau anggota keluarga lain, aspek 

sosiodemografis misalnya tingkat pendidikan, lingkungan tempat 

tinggal, pengasuhan dan pengawasan orang tua, pergaulan 

dengan teman, agama, suku, keadaan ekonomi, sosial, dan 

budaya, self-efficacy yaitu keyakinan pasien  bahwa dia 

mempunyai kemampuan untuk melakukan atau menampilkan 

suatu pergerakan  tertentu. Cues to 

action dilatarbelakangi oleh faktor internal atau faktor eksternal 

yang dapat mempengaruhi pasien  seperti demografi, 

psikososial, persepsi individu, media massa, dan promosi 

kesehatan. 

Menurut  Health belief model yaitu   alat 

yang dipakai   ilmuwan untuk memprediksi dan mencoba 

44    

 

pergerakan  kesehatan, sedang  menurut (Rural Health Information 

Hub, 2019) Health belief model yaitu   sebuah teori yang dapat 

dipakai   untuk panduan promosi kesehatan dan program 

preventif penyakit. Health belief model juga merupakan salah satu 

model yang sering dipakai   untuk memahami kebiasaan 

kesehatan. Menurut Glanz dkk, (2002) health belief model 

merupakan model kognitif yang dapat dipengaruhi oleh informasi 

dari lingkungan sekitar. Health belief model ini bermanfaat untuk 

menjelaskan dan memprediksi perubahan individu dalam pergerakan  

kesehatan. Health belief model dapat menjelaskan kemungkinan 

individu melakukan tindakan pencegahan tergantung pada 

keyakinan yang dimiliki. Menurut Conner dan Norman, 2003 

dengan health belief model yang memiliki sifat mudah dan 

sederhana dalam menjelaskan pergerakan  sehat, health belief model 

ini memiliki manfaat mampu dalam mengidentifikasi sebab pergerakan  

sehat dan tidak sehat antar individu, health belief model juga dapat 

dijadikan dasar menyusun intervensi pergerakan  sehat yang berlaku 

untuk perorangan. 

 

5.5 Antecedents, Behaviour dan Consequences (ABC) 

pergerakan  dapat dipelajari dan diubah dengan cara 

mengidentifikasi dan memanipulasi keadaan suatu lingkungan 

yang mendahului (anteseden) serta yang mengikuti suatu pergerakan  

(konsekuen). Elemen inti dari teori ABC yaitu   antecedent- 

behavior-consequences, yaitu sebuah pergerakan  dipicu oleh 

beberapa rangkaian peristiwa anteseden (sesuatu yang 

mendahului sebuah pergerakan  dan secara kausal terhubung dengan 

pergerakan  ini  ), kemudian sebuah pergerakan  diikuti oleh 

konsekuensi (hasil nyata dari pergerakan  yang dapat meningkatkan 

atau menurunkan kemungkinan pergerakan  ini   untuk berulang 

kembali). Teori ini membantu mengidentifikasi cara mengubah 

pergerakan  dengan memastikan keberadaan anteseden yang tepat 

  

 

dan konsekuensi yang mendukung pergerakan  ini   

Penggunaan model ABC merupakan cara yang efektif 

memahami mengapa pergerakan  bisa terjadi dan cara yang efektif 

meningkatkan pergerakan  yang diharapkan. Hal ini karena dalam 

model pergerakan  ini ada   konsekuensi yang dipakai   untuk 

memotivasi agar frekuenssi pergerakan  yang diharapkan dapat 

meningkat dan berguna untuk mendesain intervensi yang dapat 

meningkatkan pergerakan , individu, kelompok, dan organisasi 

Anteseden 

Anteseden yaitu   peristiwa lingkungan yang membentuk 

tahap atau pemicu pergerakan . Anteseden yang secara reliable 

mengisyaratkan waktu untuk menjalankan sebuah pergerakan  dapat 

meningkatkan kecenderungan terjadinya suatu pergerakan  pada saat 

dan tempat yang tepat. Anteseden dapat bersifat alamian (dipicu 

oleh peristiwa-peristiwa lingkungan) dan terencana (dipicu oleh 

pesan/peringatan yang dibuat oleh komunikator) (Wati, 2015). 

Anteseden atau activator ini dipengaruhi oleh tata nilai, sikap 

maupun kesadaran diri pergerakan . Aktivator ini mengarahkan 

dilakukannya suatu pergerakan /behavior. pergerakan  ini dapat 

berbentuk: 

a. pergerakan  aman atau tak aman 

b. Melanggar atau patuh aturan/prosedur/standar 

Contoh anteseden yaitu peraturan dan prosedur, peralatan 

dan perlengkapan yang sesuai, informasi, rambu-rambu, 

keterampilan dan pengetahuan, serta pelatihan. Meskipun 

anteseden diperlukan untuk memicu pergerakan , namun 

kehadirannya tidak menjamin kemunculan suatu pergerakan . Sebagai 

contoh, adanya peraturan dan prosedur keselamatan belum tentu 

memunculkan pergerakan  aman. Bagaimanapun adanya anteseden 

46    

 

yang memiliki efek jangka panjang seperti pengetahuan sangat 

penting untuk menciptakan pergerakan  aman. Anteseden yaitu   

penting untuk memunculkan pergerakan , namun  pengaruhnya tidak 

cukup untuk membuat pergerakan  tersbut bertahan selamanya. Untuk 

memelihara pergerakan  dalam jangka panjang dibutuhkan 

konsekuensi yang signifikan bagi individu (Wati, 2015). 

Behavior 

pergerakan  (behavior) memiliki prinsip dasar dapat dipelajari 

dan diubah dengan mengidentifikasi dan memanipulasi keadaan 

lingkungan atau stimulus yang mendahului dan mengikuti suatu 

pergerakan . Menurut model ABC, pergerakan  dipicu oleh beberapa 

rangkaian peristiwa activator (sesuatu yang mendahului pergerakan  

dan secara kausal terhubung dengan pergerakan  itu sendiri) dan 

diikuti oleh consequence (hasil nyata dari pergerakan  bagi individu) 

yang dapat meningkatkan atau menurunkan kemungkinan pergerakan  

ini   akan terulang kembali. Analisis ABC membantu dalam 

mengidentifikasi cara-cara untuk mengubah pergerakan  dengan 

memastikan keberadaan activator yang tepat dan consequence 

yang mendukung pergerakan  yang diharapkan. 

Consequence 

Consequence dapat berlaku sebagai activator baru (A’ atau 

A2) untuk menjadi pemicu atau perangsang lahirnya pergerakan  baru 

(B’ atau B2). Misalnya, jika  pasien  memperoleh sesuatu 

yang diinginkan misalnya hadiah sebagai consequence dari 

pergerakan  awal yang dilakukan dan ia merasa senang, maka hal 

ini   dapat menjadi activator baru bagi pasien  untuk 

melakukan pergerakan  baru yang mungkin serupa. Contoh lain yaitu   

ketika pasien  mendapatkan hukuman sebagai consequence 

akibat pergerakan  tidak aman yang telah dilakukan, maka hal itu 

dapat menjadi activator baru yang melahirkan perubahan pergerakan  

menjadi pergerakan  baru atau pergerakan  lain yang lebih baik dari 

pergerakan  sebelumnya 

Konsekuensi (Consequences) yaitu   peristiwa lingkungan 

yang mengikuti sebuah pergerakan , yang juga menguatkan, 

melemahkan, atau menghentikan suatu pergerakan . Secara umum, 

orang cenderung mengulangi pergerakan -pergerakan  yang membawa 

hasil-hasil positif dan menghindari pergerakan -pergerakan  yang 

memberikan hasil-hasil negatif. Konsekuensi didefinisikan sebagai 

hasil nyata dari pergerakan  individu yang mempengaruhi 

kemungkinan pergerakan  ini   akan muncul kembali. Dengan 

demikian, frekuensi suatu pergerakan  dapat meningkat atau menurun 

dengan menetapkan konsekuensi yang mengikuti pergerakan  ini   

Konsekuensi dapat berupa pembuktian diri, penerimaan, 

atau penolakan dari rekan kerja, sanksi, umpan balik, cedera atau 

cacat, penghargaan, kenyamanan, atau ketidaknyamanan, rasa 

terima kasih, dan penghematan waktu. Ada tiga macam 

konsekuensi yang mempengaruhi pergerakan , yaitu penguatan positif, 

penguatan negatif, dan hukuman. Penguatan positif dan 

penguatan negatif memperbesar kemungkinan suatu pergerakan  

untuk muncul kembali sedang  hukuman memperkecil 

kemungkinan suatu pergerakan  untuk muncul kembali (Wati, 2015). 

Model pergerakan  ABC dapat menjadi cara yang efektif untuk 

memahami mengapa pergerakan  bisa terjadi dan meningkatkan 

pergerakan  yang diharapkan karena dalam model pergerakan  ini ada   

konsekuensi yang dipakai   untuk memotivasi agar frekuensi 

pergerakan  yang diharapkan dapat meningkat. Model pergerakan  ABC ini 

juga berguna untuk mendesain intervensi yang dapat 

meningkatkan pergerakan , individu, kelompok, dan organisasi 

((Geller, 2005) dalam Irianti, A., Dwiyanti, E. 2014). Sesuai 

singkatannya Antecedents-Behavior-Consequenses, Antecedents 

dipakai   saat akan mempengaruhi pergerakan  sebelum pergerakan  itu 

terbentuk, Behavior merupakan pergerakan  itu sendiri, dan 

Consequenses dipakai   untuk mempengaruhi pergerakan  

48    

 

pasien  sesudah  pergerakan  itu terbentuk agar pergerakan  yang 

sebelumnya tidak kembali di masa datang. Singkatnya, model 

ABC ini dipakai   untuk mempengaruhi pergerakan  pasien .