Promosi kesehatan
Promosi kesehatan di Indonesia sebelumnya dikenal dengan
Penyuluhan Kesehatan. Perubahan penyebutan Penyuluhan
Kesehatan menjadi Promosi Kesehatan dipengaruhi oleh
perkembangan di dunia karena munculnya Konferensi
Internasional tentang Pencegahan (prevention) pada tahun 1986
di Kanada yang dikenal dengan nama Ottawa Charter (Syafei,
2010). Ottawa Charter merupakan konferensi internasioanl
pertama tentang Promosi Kesehatan yang diselenggarakan oleh
WHO (World Health Organization). Dalam Ottawa Charter
menghasilkan rumusan 3 strategi promosi kesehatan yaitu
advokasi, penerapan dan mediasi.
Logo ini dijadikan Logo Promosi Kesehatan oleh WHO.
Logo Promkes memiliki elemen grafis utama yaitu satu lingkaran
luar, satu tempat putaran dalam lingkaran dan tiga sayap. Satu
lingkaran luar memilki arti mewakili membangun kebijakan publik
2
yang sehat serta melambangkan perlunya kebijakan untuk
“menahan sesuatu bersama- sama”. Lingkaran ini mencakup 3
sayap yang menjadi lambang usaha penyelesaian kelima bidang
utama promosi kesehatan. Putaran didalam lingkaran
mencangkup 3 strategi dasar dalam promosi kesehatan yaitu: (1)
Enable (memungkinkan), (2) Mediate (mediasi), dan (3) Advocate
(advokasi). sedang ketiga sayap dalam lingkaran yaitu
mewakili lima bidang utama dalam tindakan promosi kesehatan.
Ketiga lingkaran sayap yang mencakup lima bidang utama
dalam bidang Promosi Kesehatan yaitu (1) Health Public Policy
(membangun kebijakan publik yang sehat) (2) Create Supportive
Environments (menciptakan lingkungan yang mendukung) (3)
Strengthen Community Action (memperkuat aksi warga ) (4)
Develop Personal Skills (meningkatkan keterampilan pribadi) (5)
Re-Orient Health Service (re- orientasi pelayanan kesehatan).
ada 1 sayap yang melanggar lingkaran, hal ini mewakili
bahwa Menciptakan Kebijakan Publik yang Sehat dalam
warga , individu maupun komunitas akan terus menerus
bersinergi dengan perubahan serta perkembangan yang terjadi.
Logo ini menggambarkan bahwa Promosi Kesehatan yaitu
menyeluruh dengan pendekatan yang memiliki banyak strategi.
Selain Ottawa Charter konferensi internasional yang
mendukung promosi kesehatan sebagai sektor pelayanan
kesehatan yaitu Deklarasi Alma-Ata pada tahun 1978 di
Kazakhstan (sekarang menjadi Republik Sosialis Soviet) yang
membahas tentang Pelayanan Kesehatan Dasar (Primary Health
Care). Pada Deklarasi Alma-ata menyebutkan bahwa pemerintah,
pekerja kesehatan dan komunitas didunia berperan untuk
melindungi dan meningkatkan kesehatan untuk semua orang.
Deklarasi Alma-ata menekankan bahwa (1) kerja sama secara
global dan perdamaian sangatlah penting (2) kebutuhan lokal dan
warga harus mendorong kegiatan promosi kesehatan (3)
ekonomi dan sosial dibutuhkan untuk membentuk kesehatan (4)
pencegahan harus menjadi bagian dari pelayanan kesehatan (5)
kebutuhan pemerataan status kesehatan dan (6) berbagai sektor
dan pelaku haru dilibatkan dalam usaha peningkatan kesehatan
(Awofeso, 2004). Deklarasi Almaata mengajukan banyak ide yang
kemudian muncul di Piagam Ottawa.
Konferensi internasioanl ketiga tentang Promosi Kesehatan
di Sundsvall, Swedia pada bulan Juni tahun 1991 dikenal dengan
nama Sundsvall Steatment on Supportive Environments fo Health.
Kesimpulan dari konferensi Sundsvall yaitu lingkungan yang
mendukung sangat penting dalam kesehatan. Lingkungan yang
mendukung dalam arti keduanya baik aspek fisik maupun sosial
pada suatu kehidupan, pekerjaan, pergaulan, pendidikan, dan
pencarian perawatan. Empat aspek utama dalam lingkungan yang
mendukung menekankan (1) dimensi sosial termasuk norma,
tujuan dan warisan (2) dimensi politik termasuk partisipasi,
pembuat keputusan, komitmen hak asasi pasien dan
perdamaian (3) dimensi ekonomi termasuk perkembangan yang
berkelanjutan dan (4) mengakui dan memberdayakan kemampuan
dan pengetahuan perempuan.
Konferensi menyoroti ketidak adilan perkembangan antara
negara yang kaya dan miskin dalam hubungan antara keadilan
sosial dan kesehatan. Membuat keadilan di identifikasi dari
prioritas membuat lingkungan yang mendukung. Fokus dari
deklarasi yaitu pada pembangunan yang berkelanjutan dan
memanggil serta melibatkan personal yang mengembangkan
kebijakan promosi kesehatan. Kebijakan dan hubungan spiritual
personal yang memeliharan lingkungan mereka akan dipakai
sebagai model di seluruh dunia. Konferensi Sundsvall juga
menetapkan empat kunci aksi strategis kesehatan warga (1)
penguatan advokasi pada aksi komunitas, (2) pemberdayaan dan
pendidikan warga untuk mengontrol kesehatan mereka
4
sendiri, (3) membangun hubungan antara lingkungan dan
kesehatan berorientasi kelompok dan, (4) memeditasi konflik untuk
memastikan pemerataan terhadap lingkungan yang sehat (WHO,
2010).
Konferensi Promosi Kesehatan ke empat diselenggarakan di
kota Jakarta, Indonesia pada bulan Juli tahun 1997 dan disebut
dengan Deklarasi Jakarta. Konferensi keempat ini merupakan
konferensi pertama yang diadakan di negara berkembang dan
pertama kali melibatkan sektor swasta. Yang diturunkan pada
Deklarasi Jakarta menekankan bahwa kemiskinan yaitu
ancaman tersbesar dari kesehatan, selagi meringkas perdamaian,
perlindunganm pendidikan, hubungan sosial, makanan,
pendapatan, pemberdayaan perempuan, ekosistem yang stabil,
sumber yang berkelanjutan, keadilan sosial, menghormati hak
asasi pasien , dan keadilan merupakan persyaratan dari
kesehatan (WHO, 2010a).
Konferensi menyoroti fakta transnasional sebagai ekonomi
global, pasar finansial, memudahkan mengakses teknologi
komunikasi, degradasi lingkungan, dan ketidak tanggung jawaban
penggunaan sumber daya juga akan berdampak secara signifikan
pada kesehatan. Memunculkan aksi untuk menstabilkan promosi
kesehatan global aliansinya telah dikeluarkan. Tujuan aliansi itu
yaitu untuk (1) meningkatkan kepedulian untuk menrubah
determinan kesehatan (2) berdesikasi untuk bekerja sama untuk
Promosi Kesehatan (3) mengerahkan sumber daya untuk promosi
kesehatan (4) mengakumulasikan praktek pengetahuan terbaik (5)
memungkinkan berbagi pelajaran (6) mempromsikan aksi
sloidaritas dan (7) membantu perkembangan transparansi dan
akuntabilitas publik promosi kesehatan (WHO, 2010b).
Konferensi Internasiona Promosi Kesehatan yang terkahir
pada tahun 2005 di Bangkok yang dikenal sebagai Bangkok
Charter (Piagam Bangkok) menyoroti kebjiakan publik dan
komitmen untuk bekerja sama antara pemerintah, organisasi
internasional, dan sektor swasta. Piagam Bangkok mendorong
orang-orang untuk “mengadvokasi kesehatan berbasis hak asasi
pasien , memginvestasikan kebijakan berkelanjutan, tindakan
atau aksi dan menempatkan determinan kesehatan dalam
infrastruktur, pemindahan atau transfer pengetahuan dan penelitian
sebagai target, dan menempatkan literatur kesehatan (Howard,
Nieuwenhuijsen and Saleeby, 2008). Advokasi untuk
mensetarakan kebutuhan dalam bidang kesehatan dan
kesejahteraan untuk semua orang. Kesehatan sekarang
merupakan bagian kritis untuk kebijakan penduduk, keamanan
nasional, perdagangan dan geopolitik.
1.2 Definisi Promosi Kesehatan
Berikut definisi promosi kesehatan dari berbagai sumber:
WHO 1984, “Promosi kesehatan tidak hanya untuk merubah
pergerakan namun juga perubahan lingkungan yan memfasilitasi
perubahan pergerakan ini .”
Green 1984, “Promosi Kesehatan yaitu segala bentuk
kombinasi pendidikan kesehatan dan intervensi yang terkait
dengan ekonomi, politik dan organisasi yang dirancang untuk
memudahkan perubahan pergerakan dan lingkungan yang
kondusif bagi lingkungan.”
Ottawa Charter 1986, “Proses memampukan warga untuk
memelihara dan meningkatkan kesehatan mereka.”
Bangkok Charter 2005, “Proses memampukan warga untuk
memelihara kesehatan mereka dan penentunya, dan dengan
demikian akan meningkatkan kesehatan mereka.”
Notoatmodjo 2014, “Promosi kesehatan merupakan suatu bentuk
pendidikan yang berusaha agar warga berpergerakan
kesehatan yang baik.”
Dinas Kesehatan 2008, “ Promosi Kesehatan yaitu proses
6
mengusaha kan individu-individu dan warga untuk
meningkatkan kemampuan mereka dalam mengendalikan
faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan, sehingga dapat
meningkatkan derajat kesehatannya.
Syarifudin 2009, “Promosi Kesehatan yaitu proses
pemberdayaan warga agar mampumemelihara dan
meningkatkan kesehatannya melalui pembelajaran.”
1.3 Visi dan Misi Promosi Kesehatan
a. Visi Promosi Kesehatan
Visi Promosi Kesehatan tidak dapat dipisahkan dari bagian
Visi Indonesia Sehat tahun 2010. Visi Promosi Kesehatan yaitu
“pergerakan Hidup Bersih dan Sehat.” Dimana setiap individu pada
rumah tangga di Indonesia telah melakukan pergerakan hidup bersih
dan sehat dalam rangka:
Mencegah terjadinya penyakit dan masalah kesehatan.
Menanggulangi penyakit dan masalah kesehatan dalam
rangka meningkatkan derajat kesehatan.
Memanfaatkan pelayanan kesehatan.
Mengembangkan dan melaksanakan usaha kegiatan
warga .
b. Misi Promosi Kesehatan
Misi Promosi Kesehatan yaitu :
1) Memberdayakan individu, keluarga dan kelompok
warga , baik melalui pendekatan personal, keluarga,
organisasi, dan gerakan warga .
2) Membina suasana atau lingkungan yang kondusif bagi
terciptanya pergerakan hidup bersih dan sehat di warga ,
mengadvokasi para pengambil keputusan dan penetu
kebijakan serta pihak lain yang berkepentingan, dalam
rangka:
Mendorong diberlakukannya kebijakan dan peraturan
7
undang-undang yang berwawasan kesehatan.
Mengintegrasikan promosi kesehatan, khususnya
pemberdayaan warga dalam program kesehatan.
Meningkatkan kemitraan yang sinergis antara pemerintah
pusat dan daerah serta antara pemerintah dengan
warga termasuk lembaga swadata warga (LSM).
Meningkatkan investasi dalam bidang promosi kesehatan
pada khususnya dan dalam bidang kesehatan pada
umumnya.
1.4 Ruang Lingkup Promosi Kesehatan
Berdasarkan Piagam Ottawa tahun 1986, ruang lingkup
promosi kesehatan dikelompokkan menjadi lima area yaitu:
a. Build Healthy Policy
Build Healthy Policy atau membangun kebijakan publik
yang berwawasan kesehatan memperhatiikan dampak kesehatan
dari setiap keputusan yang telah dibuat. Kebijakan publik
sebaiknya menguntungkan kesehatan. Bentuk kebijakan publik
antara lain berupa peraturan perundang-undangan, kebijakan
fiskal, kebijakan pajak dan pengembangan organisasi serta
kelembagaan. Berikut contoh-contoh bentuk kebijakan di
Indonesia:
Kebijakan kawasan tanpa rokok
Pembatasan iklan rokok
Pemakaian helm dan sabuk pengaman
b. Create Supportive Environment
Create Supportive Environment atau menciptakan
lingkungan yang mendukung merupakan peranan yang besar
untuk mendukung pasien atau mempengaruhi kesehatan dan
pergerakan pasien . Berikut merupakan contoh lingkungan yang
mendukung:
Penyediaan pojok laktasi di tempat-tempat umum
8
Penyediaan tempat sampah
Pengembangan tempat konseling remaja
c. Strengthen Community Action
Strengthen Community Action atau memperkuat gerakan
warga . Promosi kesehatan berperan untuk mendorong serta
memfasilitasi usaha warga dalam memelihara dan
meningkatkan kesehatan mereka. Berikut contoh-contoh
penguatan gerakan warga :
Terbentuknya yayasan atau lembaga konsumen kesehatan
Terbentuknya posyandu
Terbentuknya pembiayaan kesehatan bersumber daya
warga
d. Develop Personal Skill
Develop Personal Skill atau mengembangkan keterampilan
individu merupakan usaha agar warga mampu membuat
keputusan yang efektif tentang kesehatannya. warga
membutuhkan informasi, pendidikan, pelatihan dan berbagai
keterampilan. Promosi Kesehatan berperan untuk
memberdayakan warga agar dapat mengambil keputusan
dan mengalihkan tanggung jawab kesehatan berdasarkan
pengetahuan dan keterampilan setiap individu. Pemberdayaan
akan lebih efektif bila dilakukan dari tatanan rumah tangga,
tempat kerja, dan tatanan lain yang telah ada di warga .
e. Re-Orient Health Service
Re-Orient Health Service atau menata kembali arah utama
pelayanan kesehatan kepada usaha preventif dan promotif serta
mengesampingkan usaha kuratif dan rehabilitatif.
1.5 Sasaran Promosi Kesehatan
Promosi Kesehatan memiliki 3 jenis sasaran yaitu primer,
sekunder dan tersier. Penjelasannya sebagai berikut:
9
a. Sasaran Primer
Sasaran primer meliputi individu yang sehat dan keluarga
sebagai bagian dari warga .
b. Sasaran Sekunder
Sasaran sekunder meliputi para pemuka di warga ,
baik pemuka informal seperti pemuka adat, pemuka agama dan
lain-lain maupun pemuka formal seperti petugas kesehatan,
pejabat pemerintahan dan lain-lain. Organisasi kewarga an
dan media massa.
c. Sasaran Tersier
Sasaran tersier meliputi paara pembuat kebijakan publik
yang membuat peraturan perundang-undangan di bidang
kesehatan dan bidang di luar kesehatan yang berkaitan serta para
penyedia sumber daya
2.1 Health Promotion (Promosi Kesehatan)
Promosi kesehatan merupakan tahapan yang pertama dan
utama pada pencegahan penyakit. Pada promosi kesehatan
dibutuhkan penyamaan persepsi bahwa promosi kesehatan
merupakan proses yang memberikan informasi kesehatan pada
warga agar warga mau dan mampu memelihara dan
meningkatkan kesehatannya. Kegiatan atau usaha Promosi
Kesehatan diantaranya seperti pendidikan kesehatan meliputi
peningkatan gizi, kebiasaan hidup, seksual. Perbaikan sanitasi
lingkungan seperti penyediaan air rumah tangga, perbaikan
pembuangan sampah, pembuangan kotoran, pembuangan air
limbah, hygiene perorangan, rekreasi, perisapan memasuki
kehidupan pra nikah dan menopause. Contoh promosi kesehatan
antara lain:
Penyediaan makanan yang sehat dan berkecukupan baik
dari segi kualitas maupun kuantitas
Perbaikan hygiene dan sanitasi lingkungan
Pendidikan kesehatan pada warga
Olahraga secara teratur sesuai kemampuan individu
Kesempatan memperoleh hiburan untuk perkembangan
mental dan sosial
Nasihat perkawinan dan pendidikan seks yang bertanggung
jawab
2.2 Specific Protection (Perlindungan Khusus)
Specific Protection atau perlindungan khusus merupakan
tindakan pencegahan yang dilakukan oleh warga pada
ancaman penyakit tertentu. Kegiatan perlindungan khusus
meliputi melakukan imunisasi secara spesifik, pemberian
makanan khusus, perlindungan dari penyakit alat kerja,
perlindungan dari bahan karsinogenik, perlindungan dari zat
alergen. Contoh kegiatan perlindungan seperti berikut:
Melakukan imunisasi lanjutan seperti imunisasi HPV,
pendidikan kesehatan, konseling tentang berbagai tema
kesehatan
Melakukan kegiatan kumur dengan larutan flour mencegah
karies gigi
Mencucitangan dengan larutan aspetik mencegah infeksi
2.3 Early Diagnosis and Prompt Treatment (Diagnosis Dini
dan Pengobatan Segera)
Early Diagnosis and Prompt Treatment atau diagnosis dini
dan Pengobatan Segera merupakan tindakan menemukan
penyakit sedini mungkin serta melakukan penatalaksanaan
secara segera dengan ketepatan terapi. Contoh kegiatan
diagnosis dini dan pengobatan segera antara lain:
Pemberian tablet Fe dan penganjuran makan makanan
yang mengandung zat besi pada ibu hamil yang
menunjukkan tanda-tanda anemia
Melakukan screening di warga dengan pemeriksaan
dahak dan rontgen paru untuk penyakit Tuberculosis Paru-
paru.
Melakukan screening orang dengan kontak penyakit
menular agar dapat melakukan pengobatan segera
Melakukan screening untuk mendeteksi dini kanker
2.4 Dissability Limitation (Mengurangi Kecacatan)
Dissability Limitation atau Mengurangi Kecacatan
12
merupakan tindakan penatalaksanaan terapi yang maksimal
pada penyakit yang telah lanjut untuk mencegahnya menjadi
lebih berat, menjadikan sembuh serta mengurangi kemungkinan
kecacatan yang akan timbul.
2.5 Rahbilitation (Rehabilitasi)
Tingkat rehabilitasi merupakan terakhir
untuk warga yang sakit dan dapat disembuhkan menjadi
sehat pada saat kembali ke warga serta dapat menjalain
hidup seperti semula dengan fungsi yang positifbagi dirinya dan
bagi warga lainnya. Rehabilitasi juga bertyjuan untuk
mengembalikan fungsinya dimasyarakt dengan tidak menjadi
beban untuk individu lain. pasien dengan penyakit tertentu
dan melakukan tahap pengobatan, ada tiga opsi yang
pertama yaitu sembuh total, sembuh dengan cacat dan tidak
sembuh atau meninggal. Contoh tingkat rehabilitasi seperti ketika
pasien mengalami kecelakaan kemudia patah tulang pada
tangan, dapat direhabilitasi dengan menggunakan tangan palsu
pada tangan yang patah karena memiliki fungsi yang sama.
Contoh lainnya yaitu untuk mantan pengguna narkoba harus
menjalani rehabilitasi sebelum kembali ke warga .
Berdasarkan keputusan WHO tahun 1994, strategi
promosi kesehatan ada tiga bagian yaitu:
3.1 Advocacy (Advokasi)
Advocacy atau advokasi merupakan usaha untuk
menyakinkan orang lain atau orang yang dapat membantu atau
mendukung sesuatu yang diinginkan. Dalam promosi keehatan,
advokasi merupaka usaha pendekatan pada para pembuat
keputusan atau pembuat kebijakan di berbagai tingkatan dan
bagian. Adanya usaha pendekatan ini , para pembuat
kebijakan atau keputusan diharapkan dapat mendukung program
kesehatan yang akan dilaksanakan. Bentuk-bentuk dukungan
ini dapat berupa undang-undang, peraturan, surat
keputusan, instruksi formal, dan lain-lain. Proses advokasi dapat
melalui dua cara,yaitu formal dan informal.
usaha formal dapat berupa presentasi atau seminar yang
memaparkan tentang masalah-masalah yang terjadi di
warga , maupun pemaparan latar belakang program yang
telah kita rencanakan. Selain usaha formal, usaha informal juga
dapat dilakukan seperti mengadakan pertemuan maupun
kunjungan pada para tokoh yang berhubungan langsung dengan
program yang akan kita laksanakan. Selain memperoleh
dukungan administratif dalam arti kebijakan, dukungan dana dan
fasilitas pun dapat kita usulkan untuk medapatkan dukungan.
3.2 Social Support (Dukungan Sosial)
Strategi dukungan sosial merupakan usaha untuk mencari
dukungan sosial melalui beberapa tokoh yang sudah ada di
warga , baik tokoh warga formal maupun informal.
Tujuan dari dukungan sosial yaitu membuat tokoh warga
ini menjadi tali jembatan yang menghubungkan sektor
kesehatan dengan penerima program kesehatan dalam arti
warga . Melalui tokoh warga ini , diharapkan
warga mau dan mampun menerima pengenalan atau
sosialisasi segala program kesehatan yang akan diberikan.
Ukuran kesuksesan usaha dukungan sosial adala dengan
adanya partisipasi dari tokoh warga dan warga
khususnya. Dukungan sosial ini dapat dikatakan yaitu dalam
rangka membina suasana yang kondusif untuk dapat menerima
program kesehatan. Bentuk dukungan sosial diantaranya
pelatihan tokoh warga , seminar, lokakarya, maupun
bimbingan pada kader kesehatan. Sasaran dari dukungan sosial
yaitu seluruh tingkatan sosial yang ada di warga ini .
3.3 Empowerment (Pemberdayaan warga )
Pemberdayaan warga merupakan usaha promosi
kesehatan yang berfokus pada warga langsung. Tujuan
pemberdayaan warga yaitu menciptakan kemampuan
warga untuk memelihara serta meningkatkan kesehatan
mereka secara mandiri. Pemberdayaan warga juga sebagai
suatu proses membuat orang mampu meningkatkan control lebih
besar atas keputusan dan tindakan yang mempengaruhi
kesehatan mereka, dengan tujuan untuk memobilisasi individu
dan kelompok rentan dengan memperkuat keterampilan dasar
hidup mereka serta meningkatkan pengaruh mereka pada hal-hal
yang mendasari kondisi sosial dan ekonomi (WHO, 2008).
Pemberdayaan warga di bidang kesehatan merupakan
bentuk dan cara penyelanggaraan berbagai usaha kesehatan,
baik perorangan, kelompok maupun warga secara
15
terencana, terpadu dan berkesinambungan untuk mencapai
derajat keshatan warga yang setinggi-tingginya
(Departemen Kesehatan RI, 2009). Tujuan yang mendasar dari
pemberdayaan warga di bidang kesehatan menurut WHO
yaitu meningkatkan kualitas sumberdaya pasien dan
meningkatkan derajat kesehatan warga yang setinggi-
tingginya.
Berbagai bentuk pemberdayaan di warga dapat
diwujudkan melalui beberapa sektor. Salah satunya yaitu sektor
ekonomi seperti sistem koperasi, pelatihan untuk meningkatkan
pendapatan keluarga. Peningkatan sektor ekonomi akan
berdampak langsung pada kemampuan warga untuk
memelihara kesehatan mereka. Dampak ini dapat terwujud
dalam bentuk pos obat desa, Polindes, dan lain-lain.
4.1 Pengetahuan
Pengetahuan yaitu suatu istilah yang dipergunakan untuk
menuturkan jika pasien mengenal tentang sesuatu. Suatu
hal yang menjadi pengetahuannya yaitu selalu terdiri atas unsur
yang mengetahui dan yang diketahui serta kesadaran mengenai
hal yang ingin diketahui. Oleh karena itu pengetahuan selalu
menuntut adanya subjek yang mempunyai kesadaran untuk
mengetahui tentang sesuatu dan objek yang merupakan sesuatu
yang dihadapi. Jadi bisa dikatakan pengetahun yaitu hasil tahu
pasien terhadap sesuatu, atau segala perbuatan pasien untuk
memahami suatu objek tertentu
Pengetahuan yaitu merupakan hasil “tahu” dan ini terjadi
sesudah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek
tertentu. Penginderaan ini terjadi melalui panca indra pasien .
Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat
penting bagi terbentuknya tindakan pasien . pergerakan yang
didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada pergerakan
yang tidak didasari oleh pengetahuan
Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan yaitu
ingatan, kesaksian, minat, rasa ingin tahu, pikiran dan penalaran,
logika, bahasa dan kebutuhan pasien
sedang memaparkan bahwa faktor-
faktro yang mempengaruhi pengetahuan yaitu tingkat
pendidikan, informasi, budaya, dan pengalaman.
Pengetahuan juga dibedakan menjadi tiga kategori yaitu
baik, cukup dan kurang. Dinyatakan baik jika pasien
mampu menjawab dengan benar 75-100% dari jumlah
pertanyaan. Dinyatakan cukup jika pasien mampu
menjawab dengan benar 56-75% dari jumlah pertanyaan,
sedang dinyatakan kurang jika pasien mampu
menjawab dengan benar 40-50% dari jumlah pertanyaan
Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan melalu
pengisisan angket atau wawancara tentang materi yang akan
diukur pada subjek penelitian atau yang biasa disebut responden
(
4.2 Sikap
Sikap yaitu predisposisi untuk memberikan tanggapan
terhadap rangsang lingkungan yang dapat memulai atau
membimbing tingkah laku orang ini . Secara definitif sikap
berarti suatu keadaan jiwa dan keadaan berfikir yang disiapkan
untuk memberikan tanggapan terhadap suatu objek yang di
organisasikan melalui pengalaman serta mempengaruhi secara
langsung atau tidak langsung pada praktik atau tindakan. Sikap
sebagai suatu bentuk evaluasi atau reaksi perasaan
Sikap dikatakan sebagai respon yang hanya timbul bila
individu dihadapkan pada suatu stimulus. Sikap pasien
terhadap sesuatu objek yaitu perasaan mendukung atau
memihak (favorable) maupun perasaan tidak mendukung atau
tidak memihak (unfavorable) pada objek tertentu. Sikap
merupakan persiapan untuk bereaksi terhadap objek
dilingkungan tertentu sebagai suatu penghayatan terhadap objek
Faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan sikap
antara lain
Pengalaman pribadi
Sikap yang diperoleh lewat pengalaman akan menimbulkan
pengaruh langsung terhadap prilaku berikutnya. Pengaruh
langsung ini dapat berupa predisposisi pergerakan yang akan
direalisasikan hanya jika kondisi dan situasi memungkinkan.
Orang lain
pasien cenderung akan memiliki sikap yang
disesuaikan atau sejalan dengan sikap yang dimiliki orang yang
dianggap berpengaruh antara lain yaitu orang tua, teman
dekat, teman sebaya.
Kebudayaan
Kebudayaan dimana kita hidup akan mempengaruhi
pembentukan sikap pasien .
Media massa
Sebagai sarana komunikasi, berbagai media massa seperti
televisi, radio, surat kabar dan internet mempunyai pengaruh
dalam membawa pesan-pesan yang berisi sugesti yang dapat
mengarah pada opini yang kemudian dapat mengakibatkan
adanya landasan kognisi sehingga mampu membentuk sikap.
Lembaga pendidikan dan lembaga agama
Lembaga pendidikan serta lembaga agama suatu sistem
mempunyai pengaruh dalam pembentukan sikap, dikarenakan
keduanya meletakkan dasar, pengertian dan konsep moral dalam
diri individu. Pemahaman akan baik dan buruk antara sesuatu
yang boleh dan tidak boleh dilakukan diperoleh dari pendidikan
dan pusat keagamaan serta ajaranya.
Faktor emosional
Tidak semua bentuk sikap ditentukan oleh situasi
lingkungan dan pengalaman pribadi pasien . Kadang- kadang
suatu bentuk sikap merupakan pernyataan yang didasari oleh
emosi, yang berfungsi sebagai semacam penyaluran frustasi atau
pengalihan bentuk mekanisme pertahanan ego. Sikap demikian
dapat merupakan sikap yang sementara dan segera berlalu,
begitu frustasi telah hilang, akan namun dapat pula merupakan
sikap lebih persisten dan bertahan lama. Suatu sikap belum
otomatis terwujud dalam suatu tindakan untuk terwujudnya agar
sikap menjadi suatu kondisi yang memungkinkan, antara lain
harus didukung dengan fasilitas, sikap yang positif.
Sikap juga memiliki tingkatan, yaitu:
Menerima, diartikan bahwa pasien mau dan memiliki
keinginan untuk menerima stimulus yang diberikan.
Menanggapi, diartikan bahwa pasien mampu meberikan
jawaban atau tanggapan pada obyek yang sedang
dihadapkan.
Menghargai, diartikan bahwa pasien mampu
memberikan nilai yang positif pada objek dengan bentuk
tindakan atau pemikiran tentang suatu masalah.
Bertanggung jawab, diartikan bahwa pasien mampu
mengambil risiko dengan perbedaan tindakan maupun
pemikiran yang diambil.
4.3 pergerakan
pergerakan pasien yaitu semua kegiatan atau aktivitas
pasien , baik yang dapat diamati langsung maupun yang tidak
dapat diamati dari luar. Menurut Skinner, pergerakan yaitu respon
atau reaksi pasien terhadap suatu rangsangan dari luar.
Berdasarkan bentuk respons terhadap stimulus, pergerakan dapat
dibagi menjadi dua yakni:
20
pergerakan Tertutup
(Covert Behavior)
pergerakan
pergerakan Terbuka
(Overt Behavior)
pergerakan tertutup terjadi jika respon dari suatu stimulus
belum dapat diamati oleh orang lain secara jelas. Respon
pasien terhadap stimulus ini masih terbatas pada
perhatian, perasaan, persepsi, pengetahuan dan sikap
terhadap stimulus ini .
pergerakan terbuka jika respon terhadap suatu stimulus
dapat diamati oleh orang lain. Respon terhadap stimulus
ini sudah jelas dalam suatu tindakan atau praktik yang
dapat dengan mudah diamati oleh orang lain.
5.1 Precede-Proceed Model (Lawrance Green)
Model perencanaan promosi kesehatan yang sering
dipakai yaitu PRECEDE – PROCEED. Model ini
memungkinkan suatu struktur komprehensif untuk menilai tingkat
kesehatan dan kebutuhan kualitas kehidupan, merancang,
mengimplementasikan, dan mengevaluasi progran promosi
kesehatan dan program kesehatan publik lainnya. PRECEDE
yang merupakan akronim dari “Predisposing, Reinforcing, and
Enabling Causes in Educational Diagnosis and Evaluation”,
menggambarkan perencanaan proses diagnosis untuk
membantu perkembangan program kesehatan atau edukasi
kesehatan. PROCEED yang merupakan akronim dari “Policy,
Regulatory, Organizational Construct, in Educational and
Environmental Development”, mendampingi proses implementasi
dan evaluasi program atau intervensi tang telah dirancang dalam
PRECEDE. Model PRECEDE-PROCEED mengatur perhatian
pertama pendidik kesehatan pada outcome dan memulai proses
perencanaan pendidikan kesehatan dengan melihat outcome
yang diinginkan yaitu kualitas hidup yang baik.
PRECEDE terdiri atas 5 tahap antara lain tahap diagnosis
sosial, epidemiologi, pergerakan dan lingkungan, pendidikan dan
ekologi, dan administrasi dan kebijakan. sedang PROCEED
terdiri dari 4 tahap tambahan, tahap keenam merupakan
pengimplementasian intervensi pada tahap kelima. tahap ketujuh
dilakukan proses evaluasi dari intervensi ini . tahap
kedelapan mengevaluasi dampak dari intervensi pada berbbagai
faktor pendukung pergerakan dan pada pergerakan itu sendiri. tahap
terakhir terdiri atas evaluasi outcome yang menentukan efek
terbesar pada intervensi kesehatan dan kualitas kehidupan suatu
populasi. Pada praktek di lapangan, PRECEDE dan PROCEED
berjalan dalam lingkaran berkesinambungan. Informasi yang
didapatkan pada PRECEDE mengarahkan perkembangan tujuan
program dan intervensi pada tahap implementasi PRECEDE.
Informasi yang sama juga memberikan kriteria terhadap bentuk
kesuksesan pada program yang diukur pada tahap evaluasi
PROCEED. Sebagai feed back, data yang diperoleh pada tahap
implementasi dan evaluasi PROCEED membuat jelas hubungan
yang dinilai pada PRECEDE antara kesehatan atau outcome
kualias hidup dengan faktor pergerakan dan lingkungan yang
mempengaruhi, serta faktor predisposing, enabling, reinforcing
yang mengarahkan pada perubahan pergerakan lingkungan. Data ini
juga dapat menunjukkan bagaimana program dapat dimodifikasi
untuk mencapai tujuan dan target yang diinginkan.
Pada tahap PRECEDE sebelumnya telah dijelaskan
diagnosis sosial, diagnosis epidemiologi, dan diagnosis pergerakan .
Selanjutnya, pada tahap ini akan dijelaskan mengenai diagnosis
pendidikan dan ekologi. Sebagaimana dijelaskan pada tahap
diagnosis pergerakan bahwa pergerakan diidentifikasi sebagai
penyebab masalah kesehatan dalam populasi target. Diagnosis
pendidikan dan ekologi merupakan tahapan yang diperlukan
guna menentukan cara terbaik untuk memulai proses perubahan
pergerakan
Kerangka Precede-Procede:
Penilaian Kualitas Hidup dan tahap Diagnosis Sosial dan
Epidemiologi
Meninjau dari berbagai literatur, konsep kualitas hidup
yaitu konsep yang sulit untuk didefinisikan dan diukur seperti
konsep sehat dan konsep cinta. Hal ini karena konsep kualitas
hidup bersifat subyektif, artinya penilaian satu orang dengan orang
lain akan berbeda dalam mempersepsikan kualitas hidup mereka.
Meskipun demikian, pada kenyataannya ketiganya telah diterima
secara luas.
Hampir semua usaha untuk menilai kualitas hidup dimulai
dengan studi masalah sosial. An Environmental Protection Agency
(EPA) menerbitkan buku Quality of Life: a potential tool for
decission marker, mendefinisikan masalah sosial sebagai situasi
yangmemiliki pengaruhbesar pada warga dan menjadi
sumber kesulitan atau ketidak bahagiaan. Masalah sosial terdiri
dari dua interpretasi yaitu interpretsi objektif dan interpretasi
subjektif. Dua interpretasi ini menjadi komponen dasar
dalam melihat kualitas hidup warga . Penilaian objektif dapat
24
mengidentifikasi faktor spesifik dalam komunitas yang dapat
dinyatakan secara numerik. Faktor ini selanjutnya disebut
dengan indikator sosial, yaitu antara lain pekerjaan, pendapatan,
jumlah pengeluaran per bulan, angka tabungan rata-rata, angka
ketergantungan, pengangguran, absensi/ketidak hadiran, tingkat
pendidikan, angka putus sekolah, rata-rata usia kawin, kepadatan
penduduk, tingkat kriminalitas, praktik diskriminatif, kondisi
perumahan, akses terhadap pelayanan sosial, kepemilikan
barang, dan kesenjangan sosial, dan lain sebagainya.
Cara kedua yaitu penilai subjektif untuk menentukan
indikator sosial dengan menanyakan ke anggota warga
sasaran tentang apa yang mereka anggap sebagai hambatan
utama untuk meningkatkan kualitas hidup mereka. Respon mereka
merupakan kebutuhan yang mereka rasakan “felt need”
(dijelaskandalam EPA). Kedua pendekatan obyektif dan
pendekatan subjektif telah diformalkan dalam berbagai metode.
Mengidentifikasi dapat dilakukan atas dasar sensus ataupun
vital statistik yang ada, maupun dengan pengumpulan data secara
langsung dari warga . jika dimungkinkan, data dapat
diperoleh dari data sekunder yaitu dengan memanfaatkan data
yang sudah ada dari provider daripada harus membuat data baru.
Hal ini dimungkinkan karena adanya keterbatasan waktu dan
sumberdaya. Data ini dapat diambil dari kantor pemerintah
seperti BPS, kantor perumahan lokal, penegak hukum, lembaga
pelayanan sosial, dan data pelayanan publik atau provider lainnya
yang memiliki catatan terbaru yang relevan dengan kebutuhan.
Untuk diagnosis sosial yang dilakukan secara menyeluruh, tentu
saja memerlukan data tambahan yang dapat dikumpulkan melalui
berbagai cara. Bila data langsung dikumpulkan dari warga ,
maka pengumpulan datanya dapat dilakukan dengan cara
:wawancarakey informan, community forum, FGD (focus group
discussion), NGP (nominal group process), pendekatan kontinum.
tahap Diagnosis pergerakan dan Lingkungan
Program pendidikan kesehatan memiliki tujuan utama yakni
peningkatan kualitas hidup pasien . Kualitas hidup pasien
dipengaruhi secara langsung oleh faktor masalah kesehatan serta
faktor non-kesehatan. Kesepakatan tentang berbagai aspek
kehidupan sosial yang dirasakan memiliki efek negatif pada
kualitas hidup pasien merupakan langkah awal dalam
menyusun perencanaan program kesehatan, program pendidikan
dan terutama perencanaan program pendidikan kesehatan. Pada
tahap ini dilakukan identifikasi masalah kesehatan yang
berpengaruh terhadap kualitas hidup pasien .
Pada tahap ini selain diidentifikasi masalah pergerakan yang
mempengaruhi masalah kesehatan juga sekaligus diidentifikasi
masalah lingkungan (fisik dan sosial) yang mempengaruhi pergerakan
dan status kesehatan ataupun kualitas hidup pasien atau
warga . Untuk mengidentifikasi masalah pergerakan yang
mempengaruhi status kesehatan pasien , dipakai indikator
pergerakan seperti : pemanfaatan pelayanan kesehatan (utilization),
usaha pencegahan (preventive action), pola konsumsi makanan
(consumption pattern), kepatuhan (compliance), usaha
pemeliharaan kesehatan sendiri (self care). Dimensi pergerakan yang
dipakai yaitu : earliness, quality, persistence, frequency dan
range. Indikator lingkungan yang dipakai meliputi: keadaan
sosial, ekonomi, fisik dan pelayanan kesehatan dengan
dimensinya yang terdiri dari: keterjangkauan, kemampuan dan
pemerataan.
Langkah yang harus dilakukan dalam diagnosis pergerakan dan
lingkungan yaitu:
Membedakan faktor pergerakan dan non pergerakan penyebab
timbulnya masalah kesehatan.
Mengembangkan temuan atas pergerakan ini
26
Mengurutkan faktor pergerakan dan lingkungan berdasarkan
penting tidaknya atau urgensinya terhadap masalah
kesehatan
Mengurutkan faktor pergerakan dan lingkungan berdasarkan
kemudahan untuk diubah
Menetapkan pergerakan dan lingkungan yang menjadi sasaran
program
tahap Diagnosis Pendidikan dan Ekologi
Faktor yang saling bergantung (predisposing, enabling, dan
reinforcing factor) dan kondisi hidup merupakan determinan dari
perubahan pergerakan dan lingkungan sebagai proses pendidikan
dan ekologi. Istilah pendidikan (educational) yang dimaksud di sini,
merujuk pada proses pembelajaran sosial alami (the natural social
learning process) dalam kehidupan sehari – hari sehingga individu
dapat memahami dan melaksanakan pengendalian atau kontrol
terhadap lingkungannya. Proses pembelajaran yang dimaksud
disini berbeda denga proses pendidikan formal yang diperoleh di
sekolah atau program pelatihan. sedang istilah ekologi
(ecological) disini mengacu pada determinisme timbal
balik/determinis resiprokal antara pergerakan dan lingkungan, dimana
lingkungan meliputi pengaruh sosial dan fisik di beberapa level
(keluarga, teman sebaya, kebijakan bebas rokok). Dengan
demikian, Educational and Ecological Assessment (Penilaian
Pendidikan dan Ekologi) merupakan usaha untuk mengidentifikasi
faktor yang mempengaruhi pergerakan yang berhubungan dengan
kesehatan dan kondisi hidup (termasuk efek genetik) sebagai
faktor yang berperan penting dalam menentukan outcomes
kesehatan dan kualitas hidup. Educational and Ecological
Assessment (Penilaian Pendidikan dan Ekologi) mengidentifikasi
faktor yang membutuhkan perubahan untuk memulai dan
mempertahankan proses perubahan pergerakan dan lingkungan.
Pendekatan pendidikan dan ekologi dapat dipakai untuk
mengelola sebuah intervensi program guna menghilangkan atau
memperkuat aspek tertentu dari proses pendidikan dan ekologi
yang berpengaruh terhadap pergerakan dan lingkungan
Tiga jenis faktor berinteraksi dengan lingkungan untuk
mempengaruhi pergerakan melalui berbagai jalur (ditunjukkan oleh
tanda panah). Gambar ini berfokus pada beberapa asumsi
tentang hubungan kausal antar faktor yang harus dipertimbangkan
dalam melakukan diagnosis pendidikan dan ekologi.
Predisposing Factor (Faktor Predisposisi)
Faktor predisposisi merupakan faktor yang dapat
mempermudah dan mendasari terjadinya perubahan pergerakan atau
tindakan pada individu maupun warga
Faktor predisposisi meliputi pengetahuan, sikap, kepercayaan,
nilai-nilai, dan persepsi yang berhubungan dengan motivasi
individu maupun warga untuk bertindak atau berpergerakan .
Enabling Factor (Faktor Pemungkin)
Faktor pemungkin sebagai faktor yang memungkinkan atau
yang memfasilitasi terjadinya pergerakan atau tindakan. Faktor
pemungkin yaitu keterampilan dan sumber daya yang diperlukan
untuk melakukan pergerakan kesehatan. Sumber daya meliputi
fasilitas pelayanan kesehatan, tenaga kerja, sekolah, klinik
penjangkauan, dan sumber daya lainnya. Faktor pemungkin juga
mencakup aksesibilitas sumber daya meliputi biaya, jarak,
transportasi yang tersedia, jam buka pelayanan, dan sebagainya.
Keterampilan tenaga kesehatan juga termasuk ke dalam faktor
pemungkin
Reinforcing Factor (Faktor Penguat)
Faktor penguat merupakan faktor yang dapat memperkuat
atau terkadang justru memperlunak untuk terjadinya pergerakan
(menentukan apakah pergerakan kesehatan didukung). Faktor
penguat akan memperkuat pergerakan dengan memberikan
28
penghargaan secara terus menerus pada pergerakan dan berperan
pada terjadinya pengulangan. Pengetahuan, sikap, dan fasilitas
yang tersedia terkadang belum menjamin terjadinya pergerakan
pasien atau warga .
tahap Diagnosis Administrasi dan Kebijakan
Pada tahap ini, seorang perencana memilih dan
menyesuaikan komponen program dengan determinan perubahan
yang telah diidentifikasi. Penyesuaian ini dilakukan secara
mendetail, agar program berjalan efektif dan efisien. Penyesuaian
intervensi dilakukan untukmengidentifikasi sumberdaya, hambatan
dan fasilitas, dan kebijakan yang mungkin dibutuhkan untuk
implementasi program dan kelanjutanya. Ketika membuat sebuah
rencana program, penting untuk melihat 2 level penyesuaian
antara penilaian determinan dan pemilihan intervensi. Yang
pertama pada level makro, organisasi dan sistem lingkungan yang
dapat berpengaruh pada tujuan yang diinginkan harus
dipertimbangkan. ada beberapa intervensi yang
mempengaruhi faktor enabling untuk perubahan lingkungan, yang
akan mendukung tujuan perubahan prilaku sehat. Pada level
mikro, fokusnya yaitu pada individu, keluarga, atau lainya yang
dapat mempengaruhi prilaku kesehatan secara langsung.
Intervensi pada level mikro spesifik ditujukan pada perubahan
predisposing, reinforcing, dan enabling. Banyak strategi yang bisa
dipakai seperti small media, conseling, advocacy, dan strstegi
lain yang sesuai dengan apa yang dibutuhkan klien.
5.2 Theory of Reasoned Action and Planned Behavior
a. Theory of Reasoned Action (TRA) atau Tindakan
Beralasan
Theory of Reasoned Action (TRA) pertama kali
diperkenalkan oleh Martin Fishbein dan Ajzen tahun 1975 yang
berasal dari penelitian terdahulu yang dikenal sebagai theory of
29
attitude, dimana pada teori ini dipakai sebagai rujukan
untuk studi tentang sikap dan pergerakan . Teori ini menghubungkan
antara keyakinan (belief), sikap (attitude), kehendak atau
niat(intention) dan pergerakan (behavior). Kehendak atau niat
merupakan prediktor terbaik pergerakan , artinya jika ingin mengetahui
apa yang akan dilakukan pasien , cara terbaik yaitu
mengetahui kehendak orang ini . Namun, pasien dapat
membuat pertimbangan berdasarkan alasan-alasan yang sama
sekali berbeda (tidak selalu berdasarkan kehendak). Konsep
penting dalam teori ini yaitu fokus perhatian (salience), yaitu
mempertimbangkan sesuatuyang dianggap penting. Kehendak
(intetion) ditentukan oleh sikap dan norma subyektif.
Dalam arti lain dikatakan bahwa TRA yaitu sebuah teori
yang menyatakan bahwa keputusan untuk melakukan tingkah laku
tertentu yaitu hasil dari sebuah proses rasional dimana pilihan
tingkah laku dipertimbangkan, konsekuensi dan hasil dari setiap
tingkah laku dievaluasi dan sebuah keputusan sudah dibuat,
apakah bertingkah laku tertentu atau tidak. Kemudian keputusan
ini direfleksikan dalam tujuan tingkah laku yang sangat
berpengaruh terhadap tingkah laku yang tampil.
Kehendak (intenton) ditentukan oleh sikap dan norma
subyektif. Sikap merupakan hasil pertimbangan untung dan rugi
dari pergerakan ini (outcome of the behaviour). Disamping itu
juga dipertimbangkan pentingnya konsekuensi yang akan terjadi
bagi individu (evaluation regarding the outcome). sedang
norma subyektif atau sosial mengacu pada keyakinan pasien
terhadap bagaimana dan apa yang dipikirkan orang-orang yang
dianggap penting dan motivasi pasien untuk mengikuti pikiran
ini . Contoh: orang tua memiliki harapan keikutsertaan pada
program imunisasi bagi anaknya. Mereka percaya imunisasi dapat
melindungi serangan penyakit (keuntungan), namun juga
menyebabkan rasa sakit dan demam pada anaknya (kerugian).
Orang tua akan mempertimbangkan mana diantara keuntungan
dan kerugian ini yang paling penting.
Jika orang yang dianggap penting (kelompok reference)
setuju (atau sebatas menasehati) agar orang tua mengikuti
imunisasi, maka ada kecenderungan positif untuk berpergerakan .
Pertanyaannya, atas dasar apa pasien mempunyai keyakinan
dan mampu mengevaluasi atas pergerakan dan norma sosial? hal
ini mencakup peran variabel eksternal seperti variabel
demografi (jenis kelamin dan usia) dan yang lainnya yang tidak
muncul di teori ini. Menurut Fishbein dan Middlestadt (1989),
variabel ini bukannya tidak penting namun efeknya pada
kehendak (intention) dianggap diperantarai sikap, norma subyektif,
dan berat relatif dari komponen ini.
Theory of reasoned action (TRA) atau teori tindakan
beralasan mengatakan bahwa sikap mempengaruhi pergerakan
melalui suatu proses pengambilan keputusan yang teliti dan
beralasan, dan dampaknya terbatas pada tiga hal. Pertama
pergerakan tidak banyak ditentukan oleh sikap umum namun oleh sikap
yang spesifik terhadap sesuatu. Kedua, pergerakan tidak hanya
dipengaruhi oleh sikap, namun juga oleh norma subyektif, yaitu
keyakinan kita mengenai apa yang orang lain inginkan agar kita
lakukan. Ketiga, sikap terhadap suatu pergerakan bersama norma-
norma subjektif membentuk suatu intensi atau niat berpergerakan
tertentu. Intensi atau niat merupakan fungsi dari dua determinan
dasar yaitu sikap individu terhadap pergerakan (merupakan aspek
personal) dan persepsi individu terhadap tekanan sosial untuk
melakukan atau tidak melakukan pergerakan yang disebut dengan
norma subyektif.
TRA memiliki sub-komponen pada masing-masing
komponen yang mempengaruhi terbentuknya niat melakukan
pergerakan (intention to perform the behavior). Komponen sikap
memiliki sub-komponen behavioral belief dan evaluation of
behavioral outcomes. Komponen Norma Subjektif memiliki sub-
komponen Normative belief dan Motivation to comply. Untuk
memudahkan pemahaman dapat dilihat melalui skema berikut.
Attitude
Attitude atau sikap yaitu fungsi dari kepercayaan tentang
konsekuensi pergerakan dan penilaian terhadap pergerakan ini .
Sikap juga berarti perasaan umum yang menyatakan keberkenaan
pasien terhadap suatu objek yang mendorong tanggapannya.
Faktor sikap merupakan poin penentu perubahan pergerakan yang
ditunjukkan oleh perubahan sikap pasien dalam menghadapi
sesuatu. Perubahan sikap ini dapat berbentuk penerimaan
ataupun penolakan. Fishbein dan Ajzen menyarankan dalam TRA,
attitude mempunyai dua komponen. Pertama respon penilaian
32
tentang keyakinan dan sikap yaitu dengan mempertimbangkan
untung rugi dari pergerakan ini (outcome of the behavior atau
behavior belief). Kedua, respon penilaian tentang kemungkinan
yang diakibatkan jika pergerakan dilakukan, dengan kata lain
konsekuensi yang terjadi jika ia melakukan pergerakan ini
(evaluation regarding of the outcome/ evaluation of behavioral
outcomes).
Subjectives Norms
Subjectives Norms atau norma subyektif yaitu norma yang
dianut pasien (keluarga). Dorongan anggota keluarga
termasuk kawan terdekat juga mempengaruhi agar pasien
dapat menerima pergerakan tertentu, yang kemudian diikut dengan
saran, nasehat, dan motivasi dari keluarga atau kawan.
Kemampuan anggota keluarga atau kawan terdekat
mempengaruhi seorang individu untuk berpergerakan seperti yang
mereka harapkan diperoleh dari pengalaman, pengetahuan, dan
penilaian individu ini terhadap pergerakan tertentu dan
keyakinannya melihat keberhasilan orang lain bererilaku seperti
yang disarankan.
Norma subyektif juga diartikan persepsi apakah orang lain
menyetujui atau menolak pergerakan ini . Subjective norm terdiri
dari dua komponen, yaitu normative belief dan motivation comply
(Ajzen,1989). Normative belief yaitu persepsi tentang penilaian
orang lain terhadap pergerakan tertentuyang menjadi acuan untuk
menampilkan pergerakan atau tidak. Keyakinan yang berhubungan
dengan pendapat tokoh atau orang lain yang penting dan
berpengaruh bagi individu atau tokoh panutan ini apakah
subjek harus melakukan atau tidak suatu pergerakan tertentu.
Motivation to comply yaitu motivasi pasien untuk
mengikuti/menuruti persepsi penilaian orang lain ini atau
motivasi untuk mengikuti pandangan mereka dalam melakukan
atau tidak melakukan tingkah laku ini . Sebagai contoh,
seorang wanita merasa orang tuanya akan melarang dia
mendonorkan darahnya (normative belief). Akan namun dia merasa
tidak harus mengikuti persepsi penilaian orang tuanya mengingat
ia tinggal jauh dari orang tuanya (motivation comply)sehingga dia
tidak akan menuruti perasaan khawatirnya ini .
Di lain pihak dia percaya bahwa suaminya menyetujui
keinginannya untuk berdonor dan dia termotivasi untuk
mendapatkan persetujuannya, dia akan membangkitkan positif
norma subektif terhadap kegiatan donor darah. TRA menjelaskan
bahwa orang akan mempertimbangkan antara attitude dan
subjective norms sebagai alat untuk memutuskan apakah dia akan
melaksanakan suatu kehendak atau tidak. Dengan kata lain
attitude dan subjective norms dipertimbangkan untuk menentukan
dari niat akan suatu tindakan. Secara umum riset telah
menunjukkan bahwa attitude yaitu prediksi yang lebih baik untuk
membuat niatan suatu tindakan daripada subjective norms
Behavioral Intention
Behavioral intenttion atau niat atau kehendak dalam
berpergerakan ditentukan oleh sikap (attitude) dan norma subyektif
(subyektive norms). Jadi dianggap bahwa pergerakan orang konsisten
dengan penilaian dari attitude dan norma subyektif. Secara umum
semakin kuat attitude dan subjective norms terhadap pergerakan
tertentu maka semakin tinggi pasien mewujudkan keinginan
melakukan suatu tindakan ini . Keterbatasan dari TRA yaitu
bahwa teori ini tidak dapat mengukur behavior yang tidak
seluruhnya dalam keinginan yang terkendali.pasien mungkin
berharap untuk tidak bertindak namun tidak mempunyai sumber,
motivasi ataupun kesempatan untuk melakukan hal ini .
Sebagai contoh jika pasien ingin berdonor namun tidak
mempunai transportasi untuk menuju ke tempat donor maka hal ini
juga perlu untuk dipertimbangkan namun tidak dimasukkan dalam
34
TRA. Sehingga model TRA ini dikembangkan dengan
memasukkan konsep perceived behavioral control dan membuat
teori baru yaitu theory of planned behavior (TPB).
Behavior
Behavior atau pergerakan yaitu sebuah tindakan yang telah
dipilih pasien untuk ditampilkan berdasarkan atas niat yang
sudah terbentuk. pergerakan meupakan transisi niat atau kehendak
ke dalam action atau tindakan.
b. Theory of Planned Behavior (TPB) atau Teori pergerakan
Berencana
Teori ini diusulkan oleh Icek Ajzen di tahun 1985. Teori ini
merupakan perluasan dari TRA dengan menambahakan
komponen yang belum ada dalam TRA. TPB menjelaskan bahwa
selain sikap terhadap pergerakan dan norma subyektif, individu juga
mempertimbangkan kontrol tingkah laku yang dipersepsikannnya
yaitu kemampuan mereka untuk melakukan tindakan ini .
Komponen yang ditambahkan ini disebut dengan kontrol pergerakan
persepsian (perceived behavioral control). Konstruk ini
ditambahkan di TPB untuk mengontrol pergerakan individual yang
dibatasi oleh kekurangan-kekurangannya dan keterbatasan-
keterbatasan dari kekurangan sumber daya yang dipakai untuk
melekukan pergerakan nya. Dengan menambahkan sebuah konstruk
ini, yaitu kontrol pergerakan persepsian (Perceived behavioral
control).
TRA dan TPB keduanya menganggap bahwa prediktor
penting untuk berpergerakan yaitu niat untuk berpergerakan
(behavioural intention), dimana hal ini ditentukan oleh sikap
(attitude) terhadap pergerakan dan persepsi normatif sosial (social
normative perception) mengenai hal ini . TPB yaitu
perluasan dari TRA dengan kontruksi tambaha: kontrol yang
dirasakan atas kinerja pergerakan (perceived control over
performance of the behaviour) seperti yang ditunjukkan pada
gambar berikut ini:
Intensi untuk berpergerakan dapat menjadi pergerakan sebenarnya
hanya jika pergerakan ini ada di bawah kontrol individu yang
bersangkutan. Individu ini memiliki pilihan untuk
memutuskan menampilkan pergerakan tertentu atau tidak sama sekali
(Ajzen, 1991). Sampai seberapa jauh individu akan menampilkan
pergerakan , juga tergantung pada faktor non motivasional. Salah satu
contoh dari faktor non motivasional yaitu ketersediaan
kesempatan dan sumber daya yang dimiliki (misal: uang, waktu,
bantuan dari pihak lain dan sumberdaya lainnya). Secara kolektif,
faktor ini mencerminkan kontrol aktual terhadap pergerakan .Jika
tersedia kesempatan dan sumber daya dan ada intensi untuk
menampilkan pergerakan , maka kemungkinan pergerakan itu muncul
sangatlah besar.dengan kata lain suatu pergerakan akan muncul jika
ada motivasi (intensi) dan kemampuan (kontrol pergerakan ).
Kontrol pergerakan yang dirasakan dipengaruhi oleh
pengalaman masa lalu dan perkiraan pasien mengenai sulit
atau tidaknya untuk melakukan pergerakan tertentu (Azwar,
2003).TPB mengganggap bahwa teori sebelumnya mengenai
36
pergerakan yang tidak dapat dikendalikan sebelumnya oleh individu
melainkan, juga dipengaruhi oleh faktor mengenai faktor non
motivasional yang dianggap sebagai kesempatan atau sumber
daya yang dibutuhkan agar pergerakan dapat dilakukan. Sehingga
dalam teorinya, Ajzen menambahkan satu dertiminan lagi, yaitu
kontrol persepsi pergerakan mengenai mudah atau sulitnya pergerakan
yang dilakukan. Oleh karena itu menurut TPB, intensi dipengaruhi
oleh tiga hal yaitu: sikap, norma subjektif, kontrol pergerakan .
Perceived of Behavior Control
Perceived of Behavior Control atau kontrol persepsi yang
dirasakan (Perceived control) yaitu suatu kontrol untuk
bertingkah laku yang dipersepsikan.Perceived control dipakai
sebagai penilaian terhadap kemampuan sikap untuk menampilkan
tingkah laku. Terdiri dari control belief dan perceived power.
Control belief yaitu keyakinan tentang keberadaan hal-hal yang
mendukung atau menghambat pergerakan yang akan ditampilkan.
Perceived power yaitu persepsi tentang seberapa kuat hal-hal
yang mendukung dan menghambat pergerakan nya ini . Kontrol
pergerakan menurut Ajzen (2005) mengacu pada persepsi-persepsi
pasien akan kemampuannya untuk menampilkan pergerakan
tertentu. Dengan kata lain kontrol pergerakan menunjuk kepada
sejauh mana pasien merasa bahwa menampilkan atau tidak
menampilkan pergerakan tertentu berada di bawah kontrol individu
yang bersangkutan. Kontrol pergerakan ditentukan oleh sejumlah
keyakinan tentang hadirnya faktor-faktor yang dapat memudahkan
atau mempersulit terlaksananya pergerakan yang ditampilkan.
pergerakan yaitu semua kegiatan atau aktivitas pasien , baik yang
dapat.
5.3 Integrated Behavioral Model (IBM)
Integrated Behavioural Model (IBM) merupakan teori
pergerakan yang merupakan pengembangan dari dua teori
sebelumnya, yakni Theory Reason Action (TRA) dan Theory
Planned Behaviour (TPB). IBM menekankan bahwa penentu yang
paling penting dari perubahan pergerakan pasien yaitu
behavioral intention (niatan berpergerakan ). IBM menekankan
pentingnya niat sebagai motivasi untuk berpergerakan . Tanpa adanya
motivasi, pasien tidak mungkin melaksanakan pergerakan yang
direkomendasikan. Dalam berpergerakan , ada empat komponen
yang mempengaruhi pergerakan pasien secara langsung,
diantaranya:
a. Jika pasien memiliki niat berpergerakan yang kuat, maka dia
membutuhkan pengetahuan dan keterampilan untuk
melaksanakan pergerakan ini .
b. Tidak ada atau sedikitnya kendala lingkungan yang membuat
implementasi pergerakan sulit untuk dilakukan.
38
c. pergerakan harus dibuat menonjol, terlihat dan mudah dikenal
atau disadari.
d. Pengalaman mengimplementasikan pergerakan bisa
menjadikannya sebuah kebiasaan, sehingga niat menjadi
kurang penting dalam menentukan kinerja pergerakan individu.
Point pertama sampai ketiga merupakan point yang sangat
penting dalam menentukan apakah niat berpergerakan (behavioral
intention) menyebabkan pergerakan pasien itu dapat
terimplementasi (behavioral performance). Berdasarkan model
pergerakan terintegrasi ini , niat berpergerakan ditentukan oleh tiga
faktor, yaitu:
Attitude
Sikap (attitude) sebagai keseluruhan kesukaan
(favorableness) atau ketidaksukaan (unfavorableness) pasien
dalam mengimplementasikan pergerakan tertentu. Keberadaan sikap
ini sebagai gabungan dari dimensi afektif dan kognitif. Ada dua
macam sikap pasien , yaitu sikap experiential dan instrumental.
Sikap experiential merupakan respon emosional individu terhadap
ide dalam menanggapi sebuah rekomendasi pergerakan . Individu
dengan respon emosional negatif yang kuat terhadap pergerakan
yang direkomendasikan tidak mungkin akan melakukan pergerakan
ini , sedang mereka dengan reaksi emosional yang kuat
positifnya lebih mungkin untuk terlibat di dalamnya. sedang
sikap instrumental yaitu berdasarkan kognitif, ditentukan oleh
keyakinan tentang hasil kinerja pergerakan , seperti dalam TRA/TPB.
Perceived Norm
Keyakinan norma (Perceived Norm) ini merefleksikan suatu
tekanan atau pengaruh sosial yang membuat pasien merasa
perlu atau tidak melakukan pergerakan yang diharapkan atau
direkomendasikan. Faktor ini dibentuk oleh dua sub-faktor yaitu
injunctive norm dan descriptive norm. Injunctive norm (keyakinan
normatif) yaitu sejauh mana harapan yang dipikirkan orang lain
(jejaring sosial yang penting bagi orang ini ) terhadap pergerakan
yang diharapkan. Descriptive norm ialah norma yang mengacu
pada persepsi dalam sebuah kelompok warga atau jejaring
pribadinya dalam melakukan pergerakan yang dimaksud. Dan
perceived norm itu merupakan gabungan persepsi kedua norma
ini secara utuh dan menyeluruh.
Personal Agency
Personal Agency diartikan sebagai kemampuan individu
untuk memulai dan memberikan alasan melakukan sebuah
pergerakan . Personal agency ini terdiri dari sub-faktor yakni self
efficacy (keyakinan pasien mampu mengerjakan tugas atau
sebuah pergerakan ) dan perceived control (keyakinan pasien
bahwa pergerakan yang dimaksud itu mudah atau sulit dikerjakan).
Self efficacy ini tidak sama dengan kompetensi. Self efficacy
mengacu pada keyakinan kemampuan pasien , sedang
pada kompetensi yaitu keterampilan yang benar-benar dimiliki
pasien . Pada perceived control, ada sebuah kontrol dalam diri
pasien untuk mengendalikan pergerakan nya.
Selain ketiga variabel ini yang membentuk intention to
perform the behaviour, dalam IBM ditambahkan variabel
knowledge and skill (pengetahuan dan keterampilan), habit
(kebiasaan), environmental constraint (keterbatasan lingkungan)
dan salience of behaviour (pergerakan yang menonjol), yang secara
langsung atau tidak mempengaruhi pergerakan pasien . Faktor-
faktor ini muncul karena terkadang individu sudah memiliki niatan
untuk berpergerakan , namun karena ada keterbatasan atau hambatan
yang disebabkan kondisi lingkungan dan keterampilan yang
dimiliki, sehingga pergerakan yang diharapkan ini tidak terjadi.
Keunggulan dari kerangka IBM ini yaitu pada kerangka IBM
memasukkan faktor-faktor karakteristik demografi setempat
sebagai variabel jauh (distal) yang diduga berpengaruh secara
tidak langsung terhadap niat dan pergerakan tertentu. Integrated
40
Behavioral Model (IBM) merupakan teori pergerakan yang berada
pada level individu yang dapat dimanfaatkan untuk meramalkan,
memahami, dan mengubah pergerakan tertentu (Made, 2015). Agar
lebih memahami Teori Integrated Behavior Model dapat melalui
bagan berikut:
5.4 Health Belief Model Theory (HBM)
Health Belief Model (BHM) merupakan teori yang pertama
kali dikemukakan oleh Resenstock pada tahun 1966, yang
kemudian disempunakan oleh Becker, dkk pada tahun 1970 dan
1980. Teori BHM merupakan teori untuk mengetahui persepsi
individu menerima atau tidak kondisi kesehatan mereka. Menurut
Janz dan Becker, 1984 mengungkapkan bahwa Health Belief
Model merupakan suatu konsep yang mengungkapkan alasan dari
individu untuk mau atau tidak mau melakukan pergerakan sehat.
sedang menurut Hochbaum (dalam Hyden, 1958) HBM
merupakan pergerakan kesehatan yang dipengaruhi oleh persepsi
individu mengenai kepercayaan mereka terhadap penyakit dan
cara yang tersedia untuk mengurangi terjadinya gejala penyait
yang diderita.
Health Belief Model ada empat dimensi yang dapat
menggambarkan bagaimana keyakinan individu terhadap suatu
pergerakan sehat (Buglar, White & Robinson, 2009), dimensi-dimensi
ini antara lain:
Perceived Susceptibility
Perceived susceptibility merupakan keyakinan individu
mengenai kerentanan dirinya terhadap suatu risiko penyakit dalam
mendorong pasien untuk melakukan pergerakan yang lebih sehat.
Semakin besar risiko yang dirasakan maka, semakin besar
kemungkinan individu terlibat dalam pergerakan untuk mengurangi
risikonya. Pada dasarnya pasien akan lebih percaya jika
mereka berada dalam risiko penyakit, mereka akan lebih
cenderung untuk melakukan usaha pencegahan. Namun
sebaliknya jika pasien tidak berada dalam suatu keadaan
risiko penyakit mereka akan lebih cenderung untuk tidak
melakukan pencegahan atau memiliki anggapan mengenai
pergerakan sehat.
Perceived Severity
Perceived severity merupakan suatu keyakinan individu
terhadap keparahan penyakit. sedang persepsi keparahan
terhadap penyakit sering didasarkan pada informasi atau
pengetahuan pengobatan,
mungkin juga berasal dari kepercayaan terhadap orang yang
memiliki kesulitan tentang penyakit yang diderita atau dampak dari
penyakit terhadap kehidupannya .
Sebagai contoh, kebanyakan dari kita memandang flu sebagai
penyakit yang ringan. Kebanyakan dari warga beranggapan
bahwa hanya dengan tinggal di rumah beberapa hari dapat
membuat tubuh menjadi lebih baik. Namun, jika pasien
ini menderita penyakit asma, kemudian juga menderita
penyakit flu maka orang ini akan beranggapan bahwa flu
menjadi penyakit yang serius.
4
Perceived barriers
Perceived barriers merupakan aspek negatif pada individu
yang menghalangi individu ini untuk berpergerakan sehat,
karena untuk melakukan perubahan bukanlah sesuatu hal yang
mudah. Konstruk dari HBM menangani masalah ini yaitu
hambatan yang dirasakan untuk melakukan berubahan. Hal
ini dimiliki individu sendiri mengevaluasi hambatan dalam
cara individu untuk melakukan sebuah pergerakan baru dari semua
konstruksi, hambatan yang dirasakan yaitu hal yang paling
signifikan dalam menentukan perubahan pergerakan
pergerakan baru dilakukan, pasien membutuhkan
kepercayaan akan manfaat dari pergerakan baru lebih besar daripada
melanjutkan pergerakan lama (Centers for Disease Kontrol dan
Pencegahan, 2004). Hal ini memungkinkan adanya penghalang
untuk mengatasi hambatan dalam menentukan pergerakan baru yang
harus dilakukan.
Perceived Benefits
Perceived benefits merupakan keyakinan akan manfaat
yang dirasakan pada diri individu jika melakukan pergerakan
sehat (Janz& Becker, 1984). Konstruksi dari manfaat yang
dirasakan yaitu pendapat pasien tentang kegunaan suatu
pergerakan baru dalam menurunkan risiko terkena penyakit. Individu
cenderung lebih sehat saat mereka percaya pergerakan baru akan
menurun kemungkinan mereka terserang penyakit. Manfaat yang
dirasakan memainkan peran penting dalam menentukan pergerakan
untuk pencegahan sekunder.
Self-efficacy
Self-efficacy merupakan kepercayaan pada diri sendiri
terhadap kemampuan untuk melakukan sesuatu
Pada umumnya pasien tidak mencoba melakukan suatu hal
yang baru kecuali mereka berpikir dapat melakukannya. jika
pasien percaya suatu pergerakan baru ini bermanfaat
(dirasakan manfaatnya), tapi tidak berpikir bahwa dia mampu
melakukannya (Perceived barrier), kemungkinan itu tidak akan
dicoba.
Seiring berkembangnya teori Health Belief Model, Janz&
Becker (1984) menambahkan 2 konstruk yang salah satunya
yaitu cues to action. Cues toaction merupakan konstruk yang
menjelaskan mengenai faktor yang merangsang individu untuk
mau berpergerakan sehat (Janz& Becker, 1984). Cues to action
dilatar belakangi oleh faktor internal maupun faktor eksternal yang
dapat mempengaruhi pasien seperti demografi, psikososial,
persepsi individu, media massa, dan promosi kesehatan
Cues to Action
Cues to action merupakan pergerakan yang dipengaruhi oleh
suatu hal yang menjadi isyarat bagi pasien untuk melakukan
suatu tindakan atau pergerakan . (Becker dkk, 1997 dalam Conner &
Norman, 2003). Isyarat-isyarat yang berupa faktor-faktor eksternal
maupun internal, misalnya pesan-pesan pada media massa,
nasihat atau anjuran kawan atau anggota keluarga lain, aspek
sosiodemografis misalnya tingkat pendidikan, lingkungan tempat
tinggal, pengasuhan dan pengawasan orang tua, pergaulan
dengan teman, agama, suku, keadaan ekonomi, sosial, dan
budaya, self-efficacy yaitu keyakinan pasien bahwa dia
mempunyai kemampuan untuk melakukan atau menampilkan
suatu pergerakan tertentu. Cues to
action dilatarbelakangi oleh faktor internal atau faktor eksternal
yang dapat mempengaruhi pasien seperti demografi,
psikososial, persepsi individu, media massa, dan promosi
kesehatan.
Menurut Health belief model yaitu alat
yang dipakai ilmuwan untuk memprediksi dan mencoba
44
pergerakan kesehatan, sedang menurut (Rural Health Information
Hub, 2019) Health belief model yaitu sebuah teori yang dapat
dipakai untuk panduan promosi kesehatan dan program
preventif penyakit. Health belief model juga merupakan salah satu
model yang sering dipakai untuk memahami kebiasaan
kesehatan. Menurut Glanz dkk, (2002) health belief model
merupakan model kognitif yang dapat dipengaruhi oleh informasi
dari lingkungan sekitar. Health belief model ini bermanfaat untuk
menjelaskan dan memprediksi perubahan individu dalam pergerakan
kesehatan. Health belief model dapat menjelaskan kemungkinan
individu melakukan tindakan pencegahan tergantung pada
keyakinan yang dimiliki. Menurut Conner dan Norman, 2003
dengan health belief model yang memiliki sifat mudah dan
sederhana dalam menjelaskan pergerakan sehat, health belief model
ini memiliki manfaat mampu dalam mengidentifikasi sebab pergerakan
sehat dan tidak sehat antar individu, health belief model juga dapat
dijadikan dasar menyusun intervensi pergerakan sehat yang berlaku
untuk perorangan.
5.5 Antecedents, Behaviour dan Consequences (ABC)
pergerakan dapat dipelajari dan diubah dengan cara
mengidentifikasi dan memanipulasi keadaan suatu lingkungan
yang mendahului (anteseden) serta yang mengikuti suatu pergerakan
(konsekuen). Elemen inti dari teori ABC yaitu antecedent-
behavior-consequences, yaitu sebuah pergerakan dipicu oleh
beberapa rangkaian peristiwa anteseden (sesuatu yang
mendahului sebuah pergerakan dan secara kausal terhubung dengan
pergerakan ini ), kemudian sebuah pergerakan diikuti oleh
konsekuensi (hasil nyata dari pergerakan yang dapat meningkatkan
atau menurunkan kemungkinan pergerakan ini untuk berulang
kembali). Teori ini membantu mengidentifikasi cara mengubah
pergerakan dengan memastikan keberadaan anteseden yang tepat
dan konsekuensi yang mendukung pergerakan ini
Penggunaan model ABC merupakan cara yang efektif
memahami mengapa pergerakan bisa terjadi dan cara yang efektif
meningkatkan pergerakan yang diharapkan. Hal ini karena dalam
model pergerakan ini ada konsekuensi yang dipakai untuk
memotivasi agar frekuenssi pergerakan yang diharapkan dapat
meningkat dan berguna untuk mendesain intervensi yang dapat
meningkatkan pergerakan , individu, kelompok, dan organisasi
Anteseden
Anteseden yaitu peristiwa lingkungan yang membentuk
tahap atau pemicu pergerakan . Anteseden yang secara reliable
mengisyaratkan waktu untuk menjalankan sebuah pergerakan dapat
meningkatkan kecenderungan terjadinya suatu pergerakan pada saat
dan tempat yang tepat. Anteseden dapat bersifat alamian (dipicu
oleh peristiwa-peristiwa lingkungan) dan terencana (dipicu oleh
pesan/peringatan yang dibuat oleh komunikator) (Wati, 2015).
Anteseden atau activator ini dipengaruhi oleh tata nilai, sikap
maupun kesadaran diri pergerakan . Aktivator ini mengarahkan
dilakukannya suatu pergerakan /behavior. pergerakan ini dapat
berbentuk:
a. pergerakan aman atau tak aman
b. Melanggar atau patuh aturan/prosedur/standar
Contoh anteseden yaitu peraturan dan prosedur, peralatan
dan perlengkapan yang sesuai, informasi, rambu-rambu,
keterampilan dan pengetahuan, serta pelatihan. Meskipun
anteseden diperlukan untuk memicu pergerakan , namun
kehadirannya tidak menjamin kemunculan suatu pergerakan . Sebagai
contoh, adanya peraturan dan prosedur keselamatan belum tentu
memunculkan pergerakan aman. Bagaimanapun adanya anteseden
46
yang memiliki efek jangka panjang seperti pengetahuan sangat
penting untuk menciptakan pergerakan aman. Anteseden yaitu
penting untuk memunculkan pergerakan , namun pengaruhnya tidak
cukup untuk membuat pergerakan tersbut bertahan selamanya. Untuk
memelihara pergerakan dalam jangka panjang dibutuhkan
konsekuensi yang signifikan bagi individu (Wati, 2015).
Behavior
pergerakan (behavior) memiliki prinsip dasar dapat dipelajari
dan diubah dengan mengidentifikasi dan memanipulasi keadaan
lingkungan atau stimulus yang mendahului dan mengikuti suatu
pergerakan . Menurut model ABC, pergerakan dipicu oleh beberapa
rangkaian peristiwa activator (sesuatu yang mendahului pergerakan
dan secara kausal terhubung dengan pergerakan itu sendiri) dan
diikuti oleh consequence (hasil nyata dari pergerakan bagi individu)
yang dapat meningkatkan atau menurunkan kemungkinan pergerakan
ini akan terulang kembali. Analisis ABC membantu dalam
mengidentifikasi cara-cara untuk mengubah pergerakan dengan
memastikan keberadaan activator yang tepat dan consequence
yang mendukung pergerakan yang diharapkan.
Consequence
Consequence dapat berlaku sebagai activator baru (A’ atau
A2) untuk menjadi pemicu atau perangsang lahirnya pergerakan baru
(B’ atau B2). Misalnya, jika pasien memperoleh sesuatu
yang diinginkan misalnya hadiah sebagai consequence dari
pergerakan awal yang dilakukan dan ia merasa senang, maka hal
ini dapat menjadi activator baru bagi pasien untuk
melakukan pergerakan baru yang mungkin serupa. Contoh lain yaitu
ketika pasien mendapatkan hukuman sebagai consequence
akibat pergerakan tidak aman yang telah dilakukan, maka hal itu
dapat menjadi activator baru yang melahirkan perubahan pergerakan
menjadi pergerakan baru atau pergerakan lain yang lebih baik dari
pergerakan sebelumnya
Konsekuensi (Consequences) yaitu peristiwa lingkungan
yang mengikuti sebuah pergerakan , yang juga menguatkan,
melemahkan, atau menghentikan suatu pergerakan . Secara umum,
orang cenderung mengulangi pergerakan -pergerakan yang membawa
hasil-hasil positif dan menghindari pergerakan -pergerakan yang
memberikan hasil-hasil negatif. Konsekuensi didefinisikan sebagai
hasil nyata dari pergerakan individu yang mempengaruhi
kemungkinan pergerakan ini akan muncul kembali. Dengan
demikian, frekuensi suatu pergerakan dapat meningkat atau menurun
dengan menetapkan konsekuensi yang mengikuti pergerakan ini
Konsekuensi dapat berupa pembuktian diri, penerimaan,
atau penolakan dari rekan kerja, sanksi, umpan balik, cedera atau
cacat, penghargaan, kenyamanan, atau ketidaknyamanan, rasa
terima kasih, dan penghematan waktu. Ada tiga macam
konsekuensi yang mempengaruhi pergerakan , yaitu penguatan positif,
penguatan negatif, dan hukuman. Penguatan positif dan
penguatan negatif memperbesar kemungkinan suatu pergerakan
untuk muncul kembali sedang hukuman memperkecil
kemungkinan suatu pergerakan untuk muncul kembali (Wati, 2015).
Model pergerakan ABC dapat menjadi cara yang efektif untuk
memahami mengapa pergerakan bisa terjadi dan meningkatkan
pergerakan yang diharapkan karena dalam model pergerakan ini ada
konsekuensi yang dipakai untuk memotivasi agar frekuensi
pergerakan yang diharapkan dapat meningkat. Model pergerakan ABC ini
juga berguna untuk mendesain intervensi yang dapat
meningkatkan pergerakan , individu, kelompok, dan organisasi
((Geller, 2005) dalam Irianti, A., Dwiyanti, E. 2014). Sesuai
singkatannya Antecedents-Behavior-Consequenses, Antecedents
dipakai saat akan mempengaruhi pergerakan sebelum pergerakan itu
terbentuk, Behavior merupakan pergerakan itu sendiri, dan
Consequenses dipakai untuk mempengaruhi pergerakan
48
pasien sesudah pergerakan itu terbentuk agar pergerakan yang
sebelumnya tidak kembali di masa datang. Singkatnya, model
ABC ini dipakai untuk mempengaruhi pergerakan pasien .

