Tampilkan postingan dengan label Persaingan usaha 13. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Persaingan usaha 13. Tampilkan semua postingan

Jumat, 05 Juni 2026

Persaingan usaha 13


  




RUANG LINGKUP ETIKA BISNIS 


Perkembangan bisnis yang sangat cepat, mengikuti arus 

globalisasi. Hal ini semakin memudahkan pembeli dalam 

membeli apa pun, dengan begitu persaingan dalam bisnis 

menjadi suatu yang wajar terjadi, bahkan bisa 

menggunakan segala cara demi bisnis ini  bisa 

berjalan, tanpa melihat etika yang seharusnya ada dalam 

bisnis. Etika pada dasarnya yaitu  sesuatu moral yang 

menyangkut benar atau salah, baik atau buruk dalam 

berperilaku.  

Dalam hal etika, setiap perusahaan harus 

mengembangkan nilai inti yang menjadi panduan sehari-

hari untuk semua orang. Akan lebih baik, jika etika 

dijadikan sebagai pedoman dalam melaksanakan 

pekerjaan, sebab  dengan kita mengikuti dan 

menjalankan pekerjaan sesuai aturan, maka pekerjaan 

itu jugalah yang akan memberi  keuntungan kepada 

kita. Tidak hanya pihak perusahaan yang akan 

diuntungkan melainkan juga para karyawan, sebab  

pihak perusahaan akan mempertahankan karyawan yang 

bekerja sesuai dengan ketetapan perusahaan. 

Banyak perusahaan yang berlomba-lomba dalam 

memenuhi kepuasannya, lebih mengutamakan keinginan, 

daripada kebutuhan. Begitu pula dengan produsen yang 

memproduksi, faktor keinginan dibandingkan faktor 

kebutuhan. Ini disebab kan perusahaan tidak lagi 

 


melihat etika yang ada. Seakan-akan etika itu, dipisahkan 

dengan apa yang kita kerjakan dalam mencari rezeki. 

Pelaku bisnis harus memiliki kepekaan terhadap setiap 

perubahan yang terjadi. Di sisi lain, mampu memenuhi 

tuntutan pelanggan yang semakin bervariasi jenis serta 

kebutuhannya 

Pengertian Bisnis  

Bisnis dalam arti luas yaitu  suatu istilah umum yang 

menggambarkan suatu aktivitas dan institusi yang 

memproduksi barang dan jasa dalam kehidupan sehari-

hari (Amirullah, 2005), sedang  menurut Louis E. Boone 

(2007), bisnis (bussines) terdiri dari seluruh aktivitas dan 

usaha untuk mencari keuntungan, dengan menyediakan 

barang dan jasa yang dibutuhkan bagi sistem 

perekonomian. Beberapa bisnis memproduksi barang 

berwujud sedang  yang lain memberi  jasa.  

Sukirno (2010) mendefinisikan bisnis sebagai kegiatan 

untuk memperoleh keuntungan. Semua orang atau 

individu maupun kelompok, melakukan kegiatan bisnis 

pastinya untuk mencari keuntungan, agar kebutuhan 

hidupnya terpenuhi. Tidak ada orang yang melakukan 

bisnis untuk mencari kerugian. Dari pengertian ini , 

maka bisnis diartikan keseluruhan rangkaian kegiatan 

menjalankan investasi terhadap sumber daya yang ada, 

yang dapat dilakukan, baik secara individu maupun 

secara kelompok, untuk memenuhi kebutuhan sehari-

hari, serta meningkatkan taraf hidup dengan 

menciptakan barang atau jasa guna mendapat  laba. 

Bisnis dalam Ilmu Ekonomi merupakan suatu organisasi 

yang menjual barang atau jasa kepada konsumen, dengan 

tujuan mendapat  keuntungan. Etika bisnis dianggap 

mampu menjadi standar kerja dan pedoman, mulai dari 

pimpinan sampai karyawan untuk menjalankan 

pekerjaan sehari-hari. Dalam berbisnis, tidak cukup 

hanya mengandalkan kecerdasan, keterampilan atau 

kepiawaian teknis saja. Prioritas yang mendasar yaitu  

membangun moral terlebih dahulu. Prinsip bisnis yang 

baik yaitu  di mana mereka menjalankan bisnis yang 

 

beretika, yaitu bisnis yang dijalankan dengan menaati 

kaidah-kaidah etika, sejalan dengan hukum dan 

peraturan yang berlaku.  

Etika tak lepas dari asal kata ethos dalam bahasa Yunani 

yang berarti kebiasaan (costum) atau karakter (character). 

Sukirno (2010) menyatakan bahwa etika yaitu  suatu 

penyelidikan atau pengkajian secara sistematis, tentang 

perilaku, pernyataan utama dalam etika yaitu , tindakan 

dan sikap apa yang dianggap benar atau baik. Etika 

yaitu  ilmu atau pengetahuan tentang apa yang baik dan 

apa yang tidak baik, untuk dijunjung tinggi atau untuk 

diperbuat (Ethitcs is the science of good and bad).  

Etika yang Baik 

Penurunan nilai-nilai moral, etika dan budaya sedang 

mewabah dalam dunia. Akibatnya, banyak perbuatan 

yang melanggar norma hukum, susila, agama, dan 

budaya bangsa negara kita . Adapun etika yang baik itu 

mencakup  

1. kejujuran (honesty) mengatakan dan berbuat yang 

benar, menjunjung tinggi kebenaran; 

2. ketetapan (reliability) janjinya selalu tepat, tepat 

menurut isi janji (ikrar), waktu, tempat, dan syarat; 

3. kesetiaan (loyalitas), setia kepada janjinya sendiri, 

setia kepada siapa saja yang dijanjikan kesetiaannya, 

setia kepada organisasinya, berikut pimpinannya, 

rekan-rekan, bawahan, relasi, klien anggaran dasar 

dan anggaran rumah tangganya; dan 

4. kedisiplinan, tanpa disuruh atau dipaksa oleh 

siapapun taat kepada sistem, peraturan, prosedur, 

dan teknologi yang telah ditetapkan. Standar baik dan 

buruk menurut ajaran Islam berbeda dengan ukuran-

ukuran lainnya. Untuk menilai apakah sesuatu 

perbuatan itu baik atau buruk, juga harus 

diperhatikan kriteria (bagaimana cara melakukan 

perbuatan itu).  

 

 

Prinsip-Prinsip Etika Bisnis Islam  

Dalam hukum Islam disebutkan bagaimana pinsip-

prinsip dalam berbisnis. Etika bisnis Islami merupakan 

tata cara pengelolaan bisnis berdasarkan Al-Qur’an, 

hadist, dan hukum yang telah dibuat oleh para ahli fiqih. 

Prinsip-prinsip dasar etika bisnis Islami harus mencakup 

beberapa hal berikut ini.  

1. Prinsip Ketauhidan (Unity) 

Prinsip kesatuan merupakan landasan yang sangat 

filosofis, yang dijadikan sebagai pondasi utama setiap 

langkah seorang Muslim yang beriman dalam 

menjalankan fungsi kehidupannya. Landasan tauhid 

atau ilahiyah ini, bertitik tolak pada keridhoan Allah, 

tata cara yang dilakukan sesuai dengan syariah-Nya, 

Kegiatan bisnis dan distribusi diikatkan pada prinsip 

dan tujuan ilahiyah. 

2. Prinsip Keadilan (Equilibrium) 

Prinsip keadilan menuntut agar setiap orang 

diperlakukan secara sama sesuai dengan acuan yang 

adil dan sesuai dengan kriteria yang rasional objektif, 

serta dapat dipertanggungjawabkan. Keadilan 

menuntut agar tidak boleh ada pihak yang dirugikan 

hak dan kepentingannya. Dalam beraktivitas di dunia 

kerja dan bisnis, Islam mengharuskan untuk berbuat 

adil, tak terkecuali pada pihak yang tidak disukai.  

3. Prinsip Kehendak Bebas (Ikhtiar/Freewill) 

Kebebasan berarti bahwa manusia sebagai individu 

dan kolektif, memiliki  kebebasan penuh untuk 

melakukan aktivitas bisnis. Dalam ekonomi, manusia 

bebas mengimplementasikan kaidah-kaidah Islam, 

sebab  masalah ekonomi termasuk kepada aspek 

muamalah bukan ibadah, maka berlaku padanya 

kaidah umum “Semua boleh kecuali yang dilarang” 

yang tidak boleh dalam Islam yaitu  ketidakadilan 

dan riba.  

 

Oleh sebab itu, pasar seharusnya menjadi cerminan 

dari berlakunya hukum penawaran dan permintaan 

yang direpresentasikan oleh harga, pasar tidak 

terdistorsi oleh tangan-tangan yang sengaja 

mempermainkannya.  

4. Prinsip Tanggung Jawab (Responsibility) 

Dalam dunia bisnis, pertanggungjawaban dilakukan 

kepada dua sisi, yakni sisi vertikal (kepada Allah) dan 

sisi horizontalnya kepada warga  atau 

konsumen. Tanggung jawab dalam bisnis, harus 

ditampilkan secara transparan (keterbukaan), 

kejujuran, pelayanan yang optimal dan berbuat yang 

terbaik dalam segala urusan. Secara logis, prinsip ini 

berhubungan erat dengan kehendak bebas. Ia 

menetapkan batasan mengenai apa yang bebas 

dilakukan oleh manusia dengan bertanggung jawab 

atas semua yang dilakukannya.  

5. Prinsip Kebenaran Kebijakan (Ihsan) 

Dalam konteks bisnis kebenaran dimaksudkan 

sebagai niat, sikap, dan perilaku benar, yang meliputi 

proses mencari atau memperoleh komoditas 

pengembangan maupun dalam proses upaya meraih 

atau menetapkan keuntungan.  

Pengertian Etika Bisnis  

Etika berasal dari kata Yunani, yaitu ethos yang berarti 

tempat tinggal, padang rumput, kandang, kebiasaan, 

adat, watak, perasaan, sikap, cara berpikir. Bentuk 

jamaknya yaitu  ta etha, yang berarti adat istiadat. 

Dalam hal ini, kata etika sama pengertiannya dengan 

moral. Suhardana (2006) dalam Sukirno Agus dan I Cekik 

Ardana (2009) mengungkapkan bahwa istilah lain dari 

etika yaitu  susila, su artinya baik, sila artinya 

kebiasaan. Jadi, susila berarti kebiasaan atau tingkah 

laku perbuatan manusia yang baik.  

Lawrence, Weber, dan Post (2005) dalam Sukirno Agus 

dan I Cekik Ardana (2009) mendefinisikan etika yaitu  

suatu konsepsi tentang perilaku benar dan salah. Etika 

menjelaskan kepada kita apakah perilaku kita bermoral 

atau tidak, berkaitan dengan hubungan kemanusiaan 

yang fundamental. Bagaimana kita berpikir dan bertindak 

kepada orang lain, dan bagaimana kita inginkan meraka 

berpikir dan bertindak terhadap kita.  

David P. Baron (2005) dalam Sukirno Agus dan I Cekik 

Ardana (2009) menjelaskan bahwa etika yaitu  suatu 

pendekatan sistematis atas penilaian moral yang 

didasarkan atas penalaran, analisis, sintetis, dan reflektif.  

Muslich (2004) mengemukakan bahwa etika bisnis dapat 

diartikan sebagai pengetahuan tentang tata cara ideal 

pengaturan dan pengelolaan bisnis, yang memperhatikan 

norma dan moralitas yang berlaku secara universal dan 

secara ekonomi/sosial, dan penerapan norma dan 

moralitas ini menunjang maksud dan tujuan kegiatan 

bisnis.  

Prinsip-Prinsip Etika Bisnis  

Etika bisnis memiliki prinsip-prinsip yang bertujuan 

memberi  acuan cara yang harus ditempuh oleh 

perusahaan untuk mencapai tujuannya.  

Muslich (2004) menyatakan bahwa prinsip-prinsip etika 

bisnis berikut ini.  

1. Prinsip Ekonomi 

Perusahaan secara bebas, memiliki wewenang sesuai 

dengan bidang yang dilakukan dan pelaksanaannya 

dengan visi dan misi yang dimilikinya. Dalam 

menetapkan kebijakan, perusahaan harus diarahkan 

pada upaya pengembangan visi dan misi perusahaan 

yang berorientasi pada kemakmuran, kesejahteraan 

para pekerja, komunitas yang dihadapinya.  

2. Prinsip Kejujuran 

Kejujuran menjadi nilai yang paling mendasar dalam 

mendukung keberhasilan kinerja perusahaan. Dalam 

hubungannya dengan lingkungan bisnis, kejujuran 

diorientasikan kepada seluruh pihak yang terkait 

dengan aktivitas bisnis. Dengan kejujuran yang 

dimiliki oleh suatu perusahaan, maka warga  

yang ada di sekitar lingkungan perusahaan, akan 

menaruh kepercayaan yang tinggi bagi perusahaan 

ini .  

3. Prinsip Niat Baik  

Prinsip ini terkait erat dengan kejujuran. Tindakan 

jahat, tentu tidak membantu perusahaan dalam 

membangun kepercayaan warga , justru 

kejahatan dalam berbisnis akan menghancurkan 

perusahaan itu sendiri. Niatan dari suatu tujuan 

terlihat cukup transparan misi, visi dan tujuan yang 

ingin dicapai dari suatu perusahaan.  

4. Prinsip Adil 

Prinsip ini, menganjurkan perusahaan untuk 

bersikap dan berperilaku adil kepada pihak-pihak 

bisnis, yang terkait dengan sistem bisnis ini .  

5. Prinsip Hormat pada Diri Sendiri  

Prinsip hormat pada diri sendiri yaitu  cermin 

penghargaan yang positif pada diri sendiri. Hal ini 

dimulai dengan penghargaan terhadap orang lain. 

Menjaga nama baik merupakan pengakuan atas 

keberadaan perusahaan ini .  

Agus dan I Cekik Ardana (2009)  

mengatakan bahwa setidaknya ada lima prinsip yang 

dijadikan titik tolak pedoman perilaku dalam 

menjalankan praktik bisnis. 

a. Prinsip Otonomi  

Prinsip otonomi menunjukkan sikap kemandirian, 

kebebasan, dan tanggung jawab. Orang yang 

mandiri, berarti orang yang dapat mengambil 

suatu keputusan dan melaksanakan tindakan, 

berdasarkan kemampuan sendiri sesuai dengan 

apa yang diyakininya, bebas dari tekanan, 

hasutan, dan ketergantungan kepada pihak lain.  

b. Prinsip Kejujuran 

Prinsip kejujuran menanamkan sikap bahwa apa 

yang dipikirkan yaitu  apa yang dikatakan, dan 

apa yang dikatakan yaitu  yang dikerjakan. 

Prinsip ini juga menyiratkan kepatuhan dalam 

melaksanakan berbagai komitmen, kontrak, dan 

perjanjian yang telah disepakati.  

c. Prinsip Keadilan 

Prinsip keadilan menanamkan sikap untuk 

memperlakukan semua pihak secara adil, yaitu 

suatu sikap yang tidak membeda-bedakan dari 

berbagai aspek, baik dari aspek ekonomi, hukum, 

maupun aspek lainnya.  

d. Prinsip Saling Menguntungkan 

Prinsip saling menguntungkan menanamkan 

kesadaran bahwa dalam berbisnis perlu 

ditanamkan prinsip win-win solution, artinya 

dalam setiap keputusan dan tindakan bisnis, 

harus diusahakan agar semua pihak merasa 

diuntungkan.  

e. Prinsip Integritas Moral  

Prinsip integritas moral yaitu  prinsip untuk 

tidak merugikan orang lain dalam segala 

keputusan dan tindakan bisnis yang diambil.  

Hal-Hal yang Harus Diperhatikan dalam Etika Bisnis  

Dalam etika bisnis ada beberapa hal yang perlu 

diperhatikan sebagai berikut.  

1. Etika Bisnis Produksi 

Produksi merupakan kegiatan untuk meningkatkan 

nilai guna suatu barang atau jasa. Dalam etika, 

menentukan produk dalam rangka mempertemukan 

apa dan bagaimana keinginan dan kebutuhan 

konsumen, berkaitan erat dengan hal-hal sebagai 

berikut  

a. produk yang berguna dan dibutuhkan; 

b. produk yang berpotensi menghasilkan 

keuntungan; 

c. nilai tambah yang tinggi; 

 

d. jumlah yang dibutuhkan dan mendapat  

keuntungan; dan 

e. dapat memuaskan konsumen secara positif 

2. Etika Bisnis Promosi  

Muslich (2004) menyatakan bahwa hal yang penting 

dalam promosi menurut etikanya yaitu  kebenaran 

dan kejujuran objektivitas pesan faktual yang 

disampaikan, dengan tujuan untuk membangun 

kepercayaan dan loyalitas warga  terhadap 

perusahaan.  

3. Etika Bisnis Distribusi 

Prinsip distribusi produk dimaksudkan untuk 

mencapai ketepatan dan kecepatan waktu, datangnya 

barang ke tangan konsumen, keamanan yang terjaga 

dari kerusakan, sarana kompetisi dalam ketepatan 

memenuhi kebutuhan warga . Etika bisnis 

dalam kegiatan distribusi, yaitu kecepatan dan 

ketepatan produk ditangan konsumen dengan mudah 

pada saat dibutuhkan.  

Etika Bisnis dalam Kompetisi 

Sebuah kegiatan bisnis tidak bisa terlepas dari kompitisi 

antarpelaku bisnis. Muslich (2004) menyatakan bahwa 

prinsip etika yang dapat dikembangkan dalam kompetisi 

berdasarkan landasan-landasan antara lain  

1. memberi  yang terbaik untuk konsumen, dapat 

berupa memberi  kualitas produk yang terbaik, 

memberi  harga yang kompetitif dan memberi  

pelayanan yang terbaik untuk konsumen; 

2. tidak berlaku curang; dan 

3. kerja sama positif. 


Pentingnya Etika Bisnis  

Muhammad (2004) mengemukakan pentingnya etika 

bisnis dalam kelangsungan perusahaan yaitu  sebagai 

berikut. 

1. Tugas utama etika bisnis dipusatkan pada upaya 

mencari cara untuk menyelaraskan kepentingan 

strategis sustu bisnis dengan tuntunan moralitas.  

2. Etika bisnis bertugas melakukan perubahan 

kesadaran warga  tentang bisnis dengan 

memberi  suatu pemahaman yaitu bisnis tidak 

dapat dipisahkan dari etika.  

Pengertian Etika Bisnis Islami  

Etika bisnis dalam perspektif Islam yaitu  penerapan 

prinsip-prinsip ajaran Islam yang bersumber dari Al-

Qur’an dan Sunnah Nabi dalam dunia bisnis. Tuntunan 

AL-Qur’an dalam berbisnis, dapat ditemukan dalam 

prinsip umum yang memuat nilai – nilai dasar yang dalam 

aktualisasinya disesuaikan dengan perkembangan 

zaman, dengan mempertimbangkan ruang dan waktu.  

Al Ghazali dalam bukunya Ihya Ulumuddin menjelaskan 

pengertian etika yaitu  suatu sifat yang tetap dalam jiwa, 

yang dari padanya timbul perbuatan dengan mudah, 

dengan tidak membutuhkan pikiran. Dengan demikian, 

etika bisnis dalam syariat agama Islam yaitu  akhlak 

dalam menjalankan bisnis sesuai dengan nilai-nilai Islam, 

sehingga dalam melaksanakan bisnisnya tidak perlu ada 

kekhawatiran, sebab sudah diyakini sebagai suatu yang 

baik dan benar (Keraf, A. Sonny 1998). 

Tujuan Etika Bisnis  

Muslin (2017) mengemukakan tujuan etika dalam 

berbisnis yaitu  untuk meningkatkan kesadaran moral, 

serta membuat batasan-batasan bagi para pelaku bisnis 

selain itu juga untuk menjalankan good business. Para 

pelaku bisnis, harus memiliki pemahaman tentang 

praktik bisnis kotor yang merugikan banyak pihak. 


Memahami dan melaksanakan etika dalam berbisnis, 

dapat menjadikan perusahaan memiliki citra yang baik, di 

mata semua orang. Intinya, bisnis yang menerapkan etika 

berbisnis yang baik, umumnya tidak akan merugikan 

pihak lain, tidak melanggar hukum yang berlaku, dan 

menjaga kondisi bisnis tetap kondusif.  

Manfaat Etika Bisnis  

Hasoloan (2018) mengemukakan bahwa etika dalam 

melakukan bisnis, tentu memiliki manfaat yang dapat 

menguntungkan, baik bagi pemilik bisnis maupun bagi 

perusahaan.  

1. Perusahaan mendapat  kepercayaan dari 

konsumen. Dalam hal ini, perusahaan yang jujur 

mengenai produk yang dijual, akan mendapat  

konsumen yang loyal, sehingga konsumen akan dapat 

dengan sukarela, merekomendasikan kepada orang 

lain untuk menggunakan produk ini .  

2. Citra perusahaan di mata konsumen baik. Dengan 

memiliki citra yang baik, maka perusahaan akan lebih 

dikenal oleh warga , dan akan menambah daya 

beli pada produk, sehingga dapat perusahaan dapat 

mengalami peningkatan penjualan.  

3. Keuntungan perusahaan dapat di peroleh. Etika 

yaitu  berkenaan dengan bagaimana kita hidup pada 

saat ini dan mempersiapkan diri untuk masa depan. 

Bisnis yang tidak punya rencana untuk menghasilkan 

keuntungan bukanlah perusahaan yang beretik. 

Unsur Etika Bisnis 

Etika bisnis diartikan sebagai pengetahuan tentang tata 

cara ideal pengaturan dan pengelolaan bisnis, yang 

memperhatikan norma dan moralitas yang berlaku secara 

universal dan secara ekonomi/sosial. Penerapan norma 

dan moralitas ini, menunjang maksud dan tujuan 

kegiatan bisnis. Dalam penerapan etika bisnis, bisnis 

mesti mempertimbangkan unsur norma dan moralitas 

yang berlaku di warga . Di samping itu, etika bisnis 

dapat digerakan dan dimunculkan dalam perusahaan 


sendiri, sebab  memiliki relevansi yang kuat dengan 

profesionalisme bisnis. 

Orang yang melakukan kegiatan bisnis, harus memiliki 

perilaku yang profesional, untuk dapat dikatakan sebagai 

seorang bisnismen yang yang berperilaku profesional itu 

harus memiliki empat unsur sebagai berikut 

1. Manajerial skill, yaitu seorang bisnisman harus 

mampu mengatur hidup sendiri beserta dengan 

keluarganya dan teman-teman di sekelilingnya.  

2. Konseptual skill, yaitu mampu untuk membuat 

konsep di dalam menjalankan pekerjaan dan 

jabatannya, dan mampu untuk mendelegasikan 

kepada orang lain.  

3. Technical harus dimiliki oleh seorang bisnisman yang 

mampu memberi  teknik-teknik untuk 

melaksanakan apa yang menjadi pemikiran dan 

konsep-konsepnya, serta memberi  contoh kepada 

orang lain atau pihak ketiga. 

4. Integritas moral yang tinggi, yaitu harus mampu 

memilahmilahkan mana yang boleh dan tidak boleh 

dilakukan. 

Peran Etika Bisnis  

Etika bisnis yaitu  segmen etika terapan yang mencoba 

untuk mengontrol dan memeriksa pengaturan moral dan 

etika perusahaan. Ia juga mendalami seberapa baik atau 

buruk badan usaha membahas masalah-masalah moral 

dan etika, dan menunjukkan apa yang salah dalam proses 

alami mereka. Ini mencakup semua aspek bisnis dari 

produksi untuk administrasi, keuangan dan pemasaran. 

Hal ini juga berlaku untuk berbagai industri dan dapat 

deskriptif atau normatif dalam disiplin.  

Adapun etika bisnis perusahaan memiliki peran yang 

sangat penting, yaitu untuk membentuk suatu 

perusahaan yang kokoh, dan memiliki daya saing yang 

tinggi, serta memiliki  kemampuan menciptakan nilai 

(value-creation) yang tinggi, di mana diperlukan suatu 

landasan yang kokoh untuk mencapai itu semua. 

Biasanya dimulai dari perencanaan strategis, organisasi 

yang baik, sistem prosedur yang transparan didukung 

oleh budaya perusahaan yang handal, serta etika 

perusahaan yang dilaksanakan secara konsisten dan 

konsekuen. 

  

 

 

FUNGSI DAN PRINSIP ETIKA 

BISNIS DALAM DUNIA USAHA 


Etika bisnis yaitu  ide atau cerminan moralitas dalam 

ekonomi dan bisnis. Moralitas mengacu pada aspek 

perilaku manusia yang baik atau buruk, terpuji atau 

tercela dan sebab nya diperbolehkan atau tidak 

diperbolehkan. Moralitas selalu dikaitkan dengan apa 

yang dilakukan orang, dan aktivitas ekonomi merupakan 

bagian penting dari perilaku manusia, sedang  

perusahaan memiliki produk berkualitas yang bermanfaat 

bagi warga .  

Selain dikelola manajemen yang benar di bidang produksi, 

keuangan, sumber daya manusia, dan lain-lain, namun  

tidak memiliki etika, kekurangan ini cepat atau lambat 

akan menjadi batu sandungan. Menghormati aturan etika 

yaitu  elemen mutlak yang diperlukan dalam warga  

saat ini.  

Etika dalam praktik, berarti nilai dan standar moral 

sejauh dipraktikkan atau tidak dipratikkan sama sekali. 

Dapat juga dikatakan, bahwa etika sebagai praktik yaitu  

apa yang dilakukan atau tidak dilakukan menurut nilai 

dan standar moral, sedang  etika sebagai refleksi 

yaitu  pemikiran moral. Dalam etika sebagai refleksi 

selalu berpikir tentang apa yang harus dilakukan atau 

tidak dilakukan.  

 

Etika sebagai refleksi berbicara tentang etis atau 

mengambil praktik sebagai subjeknya. Namun, etika 

sebagai refleksi dapat mencapai tataran ilmiah. Ini dapat 

terjadi saat  refleksi bersifat kritis, metodis dan 

sistematis, sebab  ketiga kualitas ini memungkinkan 

pemikiran mencapai tingkat ilmiah.  

Lingkungan Bisnis 

warga  dan konsumen secara umum, memberi  

penilaian lebih terhadap produsen yang menjalankan 

bisnis secara beretika, dibandingkan yang hanya 

mengejar keuntungan semata. Dapat dilihat implikasinya 

bahwa kebutuhan perusahaan terhadap nilai etika, 

khususnya dalam menjalankan bisnis mengalami 

peningkatan. Munculnya pelatihan-pelatihan yang 

ditujukan bagi stakeholder internal dalam perusahaan 

yang membahas tentang etika bisnis, yang kemudian 

dikembangkan menjadi budaya perusahaan. 

Setiap peningkatan atas capaian terhadap prestasi 

perusahaan, secara spontan akan melakukan desiminasi 

informasi terhadap publik, dengan tujuan meningkatkan 

posisi perusahaan dalam image warga  sebagai 

perusahaan yang menjalankan bisnis secara beretika. 

Masing-masing perusahaan dapat menentukan posisi 

etika bisnisnya, sesuai dengan kemampuan yang dimiliki 

maupun target yang ditetapkan. 

Terdapat beberapa value yang dapat dianggap sebagai 

prinsip pokok penerapan etika bisnis, untuk mencapai 

tujuan bisnis yang beretika. Perusahaan semakin baik 

dapat diasumsikan bahwa semakin baik nilai posisi 

etiknya, dan dengan demikian semakin meningkat potensi 

profitabilitasnya.  

Upaya Pengembangan Bisnis 

Pengembangan bisnis perlu diupayakan dengan mencari 

informasi sebanyak mungkin mengenai pasar, produksi, 

konsumen, dan strategi pesaing. Hasil yang diperoleh dari 

informasi ini  dapat digunakan oleh CEO (top 

manajemen) dalam menyusun strategi perusahaan, 

sehingga dapat menembus pasar atau memperkuat posisi 

 

perusahaan terhadap pesaing. Dengan demikian, pihak 

perusahaan dapat memperoleh keuntungan bisnis, yaitu: 

1. keuntungan financial, perusahaan akan memperoleh 

laba; 

2. keuntungan non-financial, tercapainya tingkat 

kepuasan kerja para karyawan; dan 

3. keuntungan sosial, diperolehnya tingkat kepercayaan 

dari warga  khususnya stakeholder. 

Pemengang Kepentingan Utama dalam Bisnis 

Madura (2007) mengemukakan bahwa pemegang 

kepentingan (stakeholder) dalam bisnis, yaitu sebagai 

berikut. 

1. Pemilik 

a. Wiraswasta (entrepreneur) yaitu  orang yang 

mengorganisasi, mengelola dan mengasumsi 

risiko yang dihadapi untuk memulai bisnis. 

b. Pemegang saham (stakeholder/stockholder). 

Pemegang saham yaitu  seseorang atau lembaga 

yang memiliki sertifikat atas kepemilikan suatu 

perusahaan. 

2. Karyawan 

a. Karyawan perusahaan diangkat untuk 

menyalurkan operasi perusahaan. 

b. Manajer yaitu  karyawan yang memiliki  

tanggung jawab mengelola pekerjaan yang 

ditugaskan kepada karyawan lain, dan membuat 

keputusan penting perusahaan. 

3. Kreditur 

Institusi keuangan atau individu yang memberi  

pinjaman. 

4. Pemasok 

Penyedia bahan baku dan mengantarkannya tepat 

waktu. 


5. Pelanggan 

Pihak yang menerima produk atau jasa dengan nilai/ 

harga tertentu. 

 

Gambar 2.1 Interaksi Antarstakeholders 

Sumber: Madura (2007) 

Peran Etika Bisnis 

Peranan etika dalam kegiatan bisnis, yaitu  

1. etika harus menjadi pedoman dalam kegiatan 

warga  dan seharusnya menjadi pedoman bagi 

pebisnis, mana tindakan yang tepat dan boleh 

dilakukan dalam bisnis, yang diharapkan dapat 

menguntungkan semua pihak yang terlibat; 

2. etika sebagai control terhadap individu. Pelaku dalam 

bisnis melalui penerapan kebiasaan atau budaya 

moral atas pemahaman dan penghayatan nilai-nilai 

dalam prinsip moral sebagai inti kekuatan suatu 

perusahaan, dengan mengutamakan kejujuran, 

bertanggung jawab, disiplin, berperilaku dalam 

diskriminasi; 

3. etika bisnis hanya berperan dalam suatu komunitas 

moral dan tidak berkomitmen individual saja, namun  

tercantum dalam suatu kerangka sosial; 

4. etika berperan sebagai syarat utama untuk 

kelanggengan atau konsistensi perusahaan, di mana 

loyalitas konsumen akan sangat membantu 

perusahaan agar tetap bertahan; dan 

5. etika berperan sebagai penghubung pelaku bisnis, 

dalam hal pelayanan merupakan refleksi nilai atau 

etika bisnis yang diterapkan perusahaan untuk 

menjaga loyalitas konsumennya.  

Ciri-Ciri Etika Bisnis 

Terdapat delapan ciri utama etika bisnis yang meliputi 

kode etik, nilai moral dan sosial, perlindungan, kerangka 

dasar, sukarela, Pendidikan, dan bimbingan (Trevino dan 

Nelson, 2010). Itu merupakan konsep yang relatif baru 

untuk dijadikan pedoman dalam menjalankan bisnis. 

Penjelasan masing-masing ciri ini  diuraikan sebagai 

berikut. 

1. Kode Etik 

Etika bisnis umumnya dibuat dalam bentuk kode etik. 

Ini menjelaskan perbuatan atau tindakan apa saja 

yang boleh dan tidak boleh dilakukan anggota 

organisasi yang dibuat secara tertulis. saat  kode 

etik sudah dirumuskan, ditetapkan, dan 

disosialisasikan, maka menimbulkan konsekuensi 

bagi seluruh anggota organisasi untuk mematuhi. 

Pelanggaran terhadap kode etik akan dikenakan 

sanksi sebagaimana dijelaskan di dalam buku kode 

etik ini . 

2. Nilai Moral dan Sosial 

Etka merupakan aturan atau pedoman dalam 

berperilaku yang didasarkan pada nilai-nilai moral, 

dan pelanggarnya dikenakan sanksi sosial (tidak 

dipidanakan atau dimasukan ke dalam penjara). 

Sanksi sosial di dalam organisasi bisnis, bisa berupa 

penundaan kenaikan pangkat, penurunan jabatan, 

pemindahan lokasi kerja, dan pemberhentian 

pekerjaan (job termination). 

3. Bersifat Melindungi 

Etika bisnis dirumuskan dan diimplementasikan di 

dalam organisasi bisnis, untuk melindungi hak-hak 

karyawan, pelanggan atau konsumen, investor atau 

pemegang saham, rekanan atau pemasok, kreditor, 

dan pemangku kepentingan. 

4. Kerangka Dasar 

Etika bisnis merupakan kerangka dasar atau bingkai 

yang menjadi pedoman perilaku dan kebijakan dalam 

menjalankan bisnis secara benar. Oleh sebab  itu, 

etika bisnis memberi  batasan sosial, budaya, 

hukum, agama dan ekonomi di mana bisnis 

beroperasi. Dengan demikian, bisnis harus dijalankan 

dengan memperhatikan nilai-nilai sosial, budaya, 

hukum, agama, dan kondisi perekonomian di mana 

organisasi bisnis beroperasi.  

5. Bersifat Sukarela 

Etika bisnis dijalankan atas dasar kerelaan atau tidak 

dipaksakan, namun  bersifat mengikat. Artinya, tidak 

mengharuskan anggota organisasi secara eksklusif 

mematuhi sebagai kerangka hukum. Etika 

merupakan pedoman yang berguna untuk mencegah 

timbulnya masalah dalam menjalankan organisasi 

bisnis dan mengatasi konflik yang mungkin timbul 

antarkaryawan, karyawan dengan manajer, organisasi 

dengan pihak luar. 

6. Pendidikan dan Bimbingan 

Etka bisnis perlu dijelaskan melalui pembimbingan 

agar orang memahami dan menjadi sadar mengapa 

mereka harus berperilaku dengan cara tertentu di 

tempat kerja. Melalui cara ini , implementasi 

etika bisnis diharapkan dapat diterima, dipatuhi dan 

dilaksanakan secara sukarela. 

7. Bersifat Relatif 

Etika bisnis tidak dapat diseragamkan, sebab  nilai-

nilai sosial yang hidup di warga  berbeda 

antarsatu daerah dengan daerah yang lain, meskipun 

memiliki banyak kesamaan secara esensial. Pada 

warga  modern yang tinggal di perkotaan, 

umumnya memiliki nilai-nilai sosial yang berbeda 

dengan warga  yang bermukim di perdesaan. 

 

Dengan demikian, praktik etika bisnis memerlukan 

penyesuaian dengan nilai-nilai yang hidup, dan 

dilestarikan di mana bisnis beroperasi. 

8. Konsep Baru 

Etika bisnis merupakan konsep yang relatif baru dan 

di beberapa negara maju sudah menjadi kebutuhan. 

Itu disebabkan warga  yang tinggal di negara 

maju memiliki  perhatian yang tinggi terhadap isu 

(issue) kemanusiaan, seperti kesamaan hak dan 

kewajiban, keadilan, perlakuan yang manusiawi 

terhadap perempuan di tempat kerja dan kebebasan 

bagi perempuan dalam memilih pekerjaan.  

Di beberapa negara maju, perempuan memiliki  hak 

yang relatif sama dengan kaum pria, dalam 

memperoleh pekerjaan dan imbalan. Oleh sebab  itu, 

organisasi bisnis berkewajiban merekrut tenaga kerja 

perempuan, bahkan untuk pekerjaan yang dulu 

dianggap hanya sesuai untuk kaum laki-laki, seperti 

sopir, kurir, satuan pengaman, dan lain-lain.  

Sementara itu, di negara-negara berkembang seperti 

negara kita , kesetaraan gender belum banyak 

memperoleh perhatian, dan lebih didominasi oleh 

aturan agama, terutama bagi golongan perempuan 

yang mendapat  resistensi untuk bekerja di tempat 

tertentu, atau menduduki posisi atau jabatan publik 

seperti mejadi wali kota, bupati, gubernur, dan juga 

bagi orang yang menganut agama minoritas. 

Prinsip-Prinsip Etika Bisnis  

Sonny Keraf (1998) mengemukakan ada lima prinsip yang 

dapat dijadikan pedoman dalam menjalankan praktik 

bisnis. 

1. Prinsip Kejujuran 

Prinsip kejujuran yaitu menanamkan sika papa 

adanya berdasarkan fakta, situasi dan kondisi yang 

sebenarnya. Prinsip ini, memberi  kepatuhan 

dalam melaksanakan berbagai kontrak, komitmen, 

dan perjanjian yang telah dibuat. Dalam 

 


hubungannya dengan lingkungan bisnis, kejujuran 

diorientasikan kepada seluruh pihak yang terkait 

dengan aktivitas bisnis. Dengan kejujuran yang 

dimiliki perusahaan, maka warga  yang berada 

disekitar lingkungan perusahaan akan menaruh 

kepercayaan yang tinggi bagi perusahaan ini .  

2. Prinsip Otonomi 

Prinsip onotomi menunjukkan kemandirian, 

kebebasan, serta tanggung jawab. Orang yang mandiri 

berarti orang yang dapat mengambil keputusan lalu 

melaksanakannya berdasarkan kemampuan sendiri, 

dan sesuai dengan apa yang diyakini, bebas dari 

tekanan, hasutan, dan ketergantungan kepadan 

pihak lain. 

3. Prinsip Saling Menguntungkan 

Prinsip saling menguntungkan menanamkan 

kesadaran untuk saling memberi  keuntungan 

satu sama lain, yang artinya dalam setiap tindakan 

bisnis, harus diusahakan agar semua pihak merasa 

diuntungkan.  

4. Prinsip Keadilan 

Prinsip keadilan menanamkan sikap untuk bersikap 

adil terhadap semua pihak, yaitu suatu sikap yang 

tidak membeda-bedakan dari berbagai aspek, baik 

dari aspek ekonomi, hukum maupun aspek lainnya. 

5. Prinsip Integritas Moral 

Prinsip integritas moral merupakan prinsip yang tidak 

merugikan orang lain dalam mengambil keputusan 

dan tindakan bisnis. Prinsip ini, dilandasi dengan 

kesadaran bahwa setiap orang harus dihormati. 

Prinsip-prinsip dalam etika bisnis, tidak hanya digunakan 

pada perusahaan atau organisasi perdagangan, namun  

dapat juga digunakan pada usaha yang dikelola oleh 

orang pribadi/pedagang kaki lima. Hal ini sebab  setiap 

bisnis yang dijalankan harus didasarkan pada prinsip-

prinsip ini , agar tidak melanggar hak-hak 

konsumen. 

 

Pentingnya Etika Bisnis 

Bisnis dipahami sebagai suatu proses keseluruhan dari 

produksi yang dirumuskan sebagai usaha 

memaksimalkan keuntungan perusahaan, dan 

meminimumkan biaya produksi. Oleh sebab  itu, bisnis 

sering kali menetapkan pilihan strategis berdasarkan nilai 

di mana pilihan ini , didasarkan atas keuntungan 

dan kelangsungan hidup perusahaan.  

Etika bisnis dapat menciptakan suasana profesional, 

saling menghormati, dan meningkatkan komunikasi yang 

membantu kantor berfungsi sebagai tempat yang 

produktif. Pentingnya etika bisnis dalam kelangsungan 

perusahaan sebagai berikut. 

1. Tugas utama etika bisnis, dipusatkan pada upaya 

mencari cara untuk menyelaraskan kepentingan 

strategis suatu bisnis dengan tuntunan moralitas. 

2. Etika bisnis bertugas melakukan perubahan 

kesadaran warga  tentang bisnis dengan 

memberi  suatu pemahaman, yaitu bisnis tidak 

dapat dipisahkan dari etika. 

Aspek dalam Etika Bisnis 

Dalam etika bisnis ada beberapa aspek yang perlu 

diperhatikan, sebagai berikut. 

1. Etika Bisnis Produksi 

Produksi merupakan kegiatan untuk meningkatkan 

nilai guna suatu barang atau jasa. Dalam etika 

menentukan produk dalam rangka mempertemukan 

apa dan bagaimana keinginan dan kebutuhan 

konsumen, berkaitan erat dengan hal-hal sebagai 

berikut: 

a. produk yang berguna dan dibutuhkan; 

b. produk yang berpotensi menghasilkan 

keuntungan; 

c. nilai tambah yang tinggi; 

d. jumlah yang dibutuhkan dan mendapat  

keuntungan; dan 


e. dapat memuaskan konsumen secara positif. 

2. Etika Bisnis Promosi dan Pemasaran 

Kegiatan promosi dan pemasaran merupakan ujung 

tombak dari kegiatan bisnis, yang dijadikan 

pendukung utama dalam mengembangkan bisnis. 

Pemasaran yaitu  suatu sistem keseluruhan dari 

kegiatan bisnis yang ditujukan untuk merencanakan, 

menentukan harga, mempromosikan, dan 

mendistribusikan barang dan jasa yang memuaskan 

kebutuhan baik pembeli yang ada maupun pembeli 

yang potensial. Hal penting dalam promosi yang 

terkait etika yaitu  kebenaran dan kejujuran 

objektivitas pesan factual yang disampaikan dengan 

tujuan untuk membangun kepercayaan dan loyalitas 

warga  terhadap perusahaan.  

3. Etika Bisnis Distribusi 

Prinsip distribusi produk yang dimaksud yaitu dalam 

mencapai ketepatan dan kecepatan waktu datangnya 

barang ke tangan konsumen, keamanan yang terjaga 

dari kerusakan, sarana kompetisi dalam ketepatan 

memenuhi kebutuhan warga . 

Etika bisnis dalam kegiatan distribusi yaitu kecepatan 

dan ketepatan produk ditangan konsumen dengan 

mudah pada saat dibutuhkan. Jika melakukan 

penimbunan atas produk, akibatnya tidak terdapat 

ketersediaan produk yang cukup diwarga  yang 

dapat memicu  kelangkaan. Penimbunan barang 

dengan tujuan mendapat  keuntungan yang 

maksimal, hal ini tidak sesuai dengan etika bisnis. 

4. Etika Bisnis dalam Kompetisi 

Sebuah kegiatan bisnis tidak bisa terlepas dari 

kompetisi antarpelaku bisnis. Prinsip etika yang dapat 

dikembangkan dalam kompetisi antara lain  

a. memberi  yang terbaik untuk konsumen, dapat 

memberi  kualitas produk yang terbaik, 

dengan memberi  harga yang kompetitif dan 

 

memberi  pelayanan yang terbaik untuk 

konsumen; 

b. tidak berlaku curang; dan 

c. melakukan kerja sama dalam hal positif. 

Penerapan Etika Bisnis pada Owner 

Bertanggung jawab terhadap seluruh kepercayaan yang 

diberikan oleh pemberi modal, yaitu  

1. menerapkan manajemen yang profesional, misalnya 

tidak melakukan manipulasi terutama data dan 

keuangan; 

2. memberi  informasi yang relevan, misalnya 

progress pemasaran; 

3. melindungi, memelihara, dan meningkatkan aset 

milik pemodal; dan 

4. melaksanakan hasil yang telah dituangkan dalam 

rapat umum pemegang saham. 

Penerapan Etika Bisnis pada Supplier 

Harus didasari hubungan saling menghormati dan 

menghargai yang diwujudkan dalam bentuk tanggung 

jawab, yaitu  

1. menerapkan keadilan dan kejujuran, misalnya dalam 

hal penentuan harga jual, penentuan lisensi, 

penentuan hak penjualan dan penentuan besarnya 

keuntungan; 

2. memberi  informasi guna integrasi dalam proses 

perencanaan bersama; 

3. menjalin kerja sama untuk stabilitas hubungan 

jangka panjang, misalnya dilegalkan melalui dokumen 

kontrak; 

4. menjalin hubungan yang bebas dari paksaan, 

memiliki hak otonomi dalam menentukan partner 

dagang; dan 

5. membuat kesepakatan bersama. 


Penerapan Etika Bisnis pada Customer 

Perlunya pengembangan komitmen agar kepuasan 

pelanggan meningkat, sehingga tetap setia terhadap 

produk perusahaan, antara lain 

1. memberi  produk/jasa dengan kualitas terbaik 

yang sesuai dengan keinginan dan harapan 

pelanggan; 

2. membuat iklan dan promosi harus 

mencerminkan/menunjukkan sikap hormat pada 

martabat kemanusiaan; 

3. menciptakan lingkungan yang sehat terhadap 

produk/jasa yang dihasilkan; 

4. memberi  ganti rugi bila pelanggan merasakan 

dirugikan, bisa direalisasikan melalui program 

memberi  garansi; dan 

5. menghormati integritas kultur atau budaya yang 

berlaku pada perilaku pelanggan perusahaan. 

Penerapan Etika Bisnis pada Karyawan Perusahaan 

Karyawan merupakan sumber daya manusia perusahaan 

sebab  telah berpean aktif bagi keberhasilan perusahaan, 

maka perlu mendapat perlakuan yang manusiawi dari 

perusahaan, yaitu: 

1. memberi  lapangan kerja dan imbalan yang 

memadai, sehingga dapat meningkatkan kualitas 

hidup para kayawan; 

2. memberi  gaji yang sesuai dengan Upah Minimum 

Regional (UMR) yang berlaku sesuai dengan aturan 

pemerintah; 

3. melakukan komunikasi yang lancar dalam pekerjaan 

dan transparansi dalam penilaian prestasi kerja; 

4. memberi  respons yang aktif dan saran yang 

kontruktif dari karyawan, agar dijadikan acuan 

penting dalam pengambilan keputusan; 

 

 

5. melakukan negosiasi dengan pihak yang bertikai, 

sehingga pertikaian dapat disalurkan sesuai dengan 

proporsinya; 

6. memberi  jaminan keselatan kerja dan kesehatan, 

sehingga karyawan dapat memberi  kontribusi 

yang optimal dalam jangka panjang, misalnya 

karyawan perusahaan diikutsertakan mengikuti 

Program Jamsostek dan BPJS; 

7. melakukan kegiatan pengembangan sumber daya 

manusia yang optimal, sesuai dengan potensi yang 

tersedia pada karyawan; 

8. menekan angaka pengangguran sebagai akibat 

berakhirnya pekerjaan di lapangan; dan 

9. menciptakan kondisi kerja yang mencerminkan 

penghargaan perusahaan terhadap kesehatan dan 

martabat karyawan. 

Penerapan Etika Bisnis pada Pemerintah 

Pemerintah yang dimaksud disini yaitu  sebuah institus 

yang dibentuk atas dasar konstitusi negara, yang 

bertujuan untuk mensejahterakan warga  secara 

luas. Sebagai institusi yang membutuhkan sumber daya 

yang cukup untuk membiayai operasionalisasi peran dan 

tugas ini .  

Salah satu bentuk kegiatan atau dana yang diberikan 

atau disumbangkan oleh warga  bisnis kepada 

negara yang diawali oleh pemerintah yaitu  dalam bentuk 

ketaatan membayar pajak. Dana pajak yang diterima 

pemerintah dipergunakan untuk membiayai, antara lain  

1. pertahanan dan keamanan negara; 

2. pembangunan prasarana dan fasilitas umum; 

3. pemberian gaji pegawai negeri dan atau pejabat 

pemerintah; dan 

4. pengeluaran lainnya, yang berkaitan dengan 

kesejahteraan dan kemakmuran warga . 

  

 

KONSEP NILAI,  

NORMA, DAN MORAL 


Konsep Nilai, Norma, dan Moral dalam Etika Bisnis 

Nilai, norma, dan moral membentuk karakter dan 

perilaku manusia dalam berbisnis. Dalam etika bisnis, 

nilai, norma, dan moral memiliki peran yang sangat 

penting dalam membentuk karakter dan perilaku 

manusia dalam berbisnis (Bertens, 2022). Nilai, norma, 

dan moral saling terkait dan memengaruhi satu sama lain. 

Implementasi nilai, norma, dan moral dalam etika bisnis 

dapat dilakukan dengan cara mempraktikkan nilai-nilai, 

norma, dan moral yang dipegang, serta mengajarkan nilai-

nilai, norma, dan moral ini  kepada orang lain dalam 

berbisnis. 

Pentingnya etika bisnis yaitu  untuk menciptakan 

lingkungan bisnis yang berintegritas, bertanggung jawab, 

dan berkelanjutan. Etika bisnis yang baik, membantu 

perusahaan menghindari perilaku yang merugikan dan 

membangun kepercayaan dengan pelanggan, karyawan, 

pemegang saham, dan warga  secara umum. 

Nilai, norma, dan moral dalam konteks etika bisnis, dapat 

berbeda-beda antara perusahaan dan juga antara budaya 

dan negara. Namun, prinsip-prinsip etika bisnis yang kuat 

dan mendalam, akan membantu mendorong praktik 

bisnis yang bertanggung jawab dan berkelanjutan dalam 

berbagai konteks. 

 

 

Definisi Nilai, Norma, dan Moral dalam Etika Bisnis 

Nilai dalam etika bisnis yaitu  prinsip atau keyakinan 

yang dipegang oleh individu atau kelompok, sebagai 

pedoman dalam bertindak atau berperilaku dalam 

berbisnis. Nilai dalam etika bisnis meliputi nilai moral, 

nilai estetika, atau nilai instrumental. Nilai moral dalam 

etika bisnis yaitu  nilai yang berkaitan dengan etika dan 

moralitas dalam berbisnis. Nilai estetika yaitu  nilai yang 

berkaitan dengan keindahan dan kesenian dalam 

berbisnis. Nilai instrumental yaitu  nilai yang berkaitan 

dengan manfaat atau kegunaan dalam berbisnis.  

Nilai dalam etika bisnis mencakup prinsip-prinsip moral 

dan filosofis yang membimbing tindakan dan keputusan 

bisnis. Nilai-nilai ini, berfungsi sebagai pedoman untuk 

menilai apa yang dianggap benar atau salah dalam 

konteks bisnis. Beberapa nilai etika bisnis yang umum 

meliputi integritas, kejujuran, tanggung jawab sosial, 

keberlanjutan, transparansi, menghormati hak asasi 

manusia, dan menjunjung tinggi keadilan. 

Norma dalam etika bisnis yaitu  aturan atau tata cara 

yang dipegang oleh individu atau kelompok sebagai 

pedoman dalam bertindak atau berperilaku dalam 

berbisnis. Norma meliputi norma sosial, norma hukum, 

atau norma agama. Norma sosial yaitu  norma yang 

berkaitan dengan tata cara atau aturan yang dipegang 

oleh warga  dalam berbisnis. Norma hukum yaitu  

norma yang berkaitan dengan aturan hukum yang diatur 

oleh negara dalam berbisnis. Norma agama yaitu  norma 

yang berkaitan dengan aturan atau tata cara yang diatur 

oleh agama dalam berbisnis.  

Norma dalam etika bisnis yaitu  aturan-aturan dan 

standar perilaku yang diakui dan diikuti dalam 

lingkungan bisnis. Norma-norma ini mencakup pedoman 

etika, etika profesi, serta aturan hukum dan peraturan 

yang berlaku. Contoh norma etika bisnis meliputi 

melaksanakan praktik bisnis yang adil, tidak melakukan 

penipuan, menghormati hak karyawan, melindungi 

lingkungan, dan menghindari konflik kepentingan. 

 

Moral dalam etika bisnis yaitu  prinsip atau keyakinan 

yang dipegang oleh individu atau kelompok sebagai 

pedoman dalam bertindak atau berperilaku dalam 

berbisnis. Moral berkaitan dengan etika dan moralitas 

dalam berbisnis, dan meliputi nilai-nilai yang dianggap 

baik atau buruk dalam berbisnis. Moral melibatkan 

pertimbangan tentang tindakan dan keputusan bisnis 

berdasarkan nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku. 

Moralitas melibatkan pertimbangan tentang akibat 

tindakan bisnis terhadap berbagai pemangku kepentingan 

(stakeholders), seperti karyawan, pelanggan, warga , 

dan lingkungan. Selain itu, moralitas juga berkaitan 

dengan kejujuran dan integritas dalam menjalankan 

bisnis. 

Hubungan Nilai, Norma, dan Moral dalam Etika Bisnis 

Nilai, norma, dan moral saling terkait dan memengaruhi 

satu sama lain. Nilai menjadi dasar bagi pembentukan 

norma dan moral dalam etika bisnis. Norma menjadi 

dasar bagi pembentukan moral. Nilai, norma, dan moral 

saling memengaruhi dalam membentuk karakter dan 

perilaku manusia dalam berbisnis.  

Dalam etika bisnis, nilai, norma, dan moral saling terkait 

dan membentuk fondasi untuk tindakan dan perilaku 

yang dianggap etis dalam lingkungan bisnis. Berikut 

yaitu  hubungan antara ketiga konsep ini . 

1. Nilai sebagai Landasan Etika Bisnis 

Nilai-nilai dalam etika bisnis yaitu  prinsip-prinsip 

moral dan filosofis yang menjadi landasan bagi 

tindakan dan keputusan bisnis. Nilai-nilai ini 

mencakup prinsip-prinsip seperti integritas, 

kejujuran, tanggung jawab sosial, keadilan, dan 

penghargaan terhadap hak asasi manusia. Nilai-nilai 

ini membentuk pandangan etika perusahaan dan 

individu yang terlibat dalam bisnis, membantu 

menentukan tujuan-tujuan bisnis yang dianggap 

benar dan sesuai dengan keinginan sosial. 

 

2. Norma sebagai Panduan Etika Bisnis 

Norma-norma dalam etika bisnis yaitu  aturan-

aturan dan standar perilaku yang diakui dan diikuti 

dalam dunia bisnis. Norma-norma etika bisnis 

mencakup etika profesi, pedoman bisnis, dan 

peraturan hukum yang berlaku. Norma-norma ini, 

menetapkan batasan dan panduan tentang cara-cara 

yang diterima dan tidak diterima dalam melakukan 

bisnis. Menerapkan norma-norma etika bisnis, 

membantu perusahaan dan individu menghindari 

praktik-praktik yang merugikan, dan menjalankan 

bisnis dengan integritas dan tanggung jawab. 

3. Moral sebagai Pertimbangan Etika Bisnis 

Moral dalam etika bisnis melibatkan pertimbangan 

tentang tindakan dan keputusan bisnis berdasarkan 

nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku. Moralitas 

berkaitan dengan pertanyaan tentang apa yang 

dianggap benar atau salah dalam konteks bisnis. 

Pertimbangan moral mencakup memperhatikan 

dampak tindakan bisnis terhadap berbagai pemangku 

kepentingan (stakeholders), seperti karyawan, 

pelanggan, warga , dan lingkungan. 

Pertimbangan moral ini, membantu perusahaan dan 

individu untuk membuat keputusan bisnis yang etis 

dan bertanggung jawab. 

Secara keseluruhan, nilai, norma, dan moral, saling 

berinteraksi dan membentuk kerangka kerja untuk 

perilaku yang etis dalam lingkungan bisnis. Nilai-nilai 

etika bisnis menjadi dasar bagi norma-norma etika bisnis, 

sementara norma-norma etika bisnis membantu 

menerjemahkan nilai-nilai ini  ke dalam tindakan 

konkret dan keputusan bisnis.  

Selanjutnya, moralitas dalam etika bisnis 

mempertimbangkan konsekuensi dan dampak dari 

tindakan bisnis berdasarkan nilai-nilai dan norma-norma 

yang ada. Dengan memadukan nilai, norma, dan moral, 

perusahaan dan individu dapat mencapai etika bisnis 

yang lebih kokoh dan bertanggung jawab dalam 

menjalankan kegiatan bisnis mereka. 

Peran Nilai, Norma, dan Moral dalam Etika Bisnis 

Nilai, norma, dan moral berperan dalam membentuk 

kerangka etika bisnis yang kuat. Berikut ini yaitu  peran 

masing masing dari nilai, norma dan moral dalam etika 

bisnis perusahaan. 

1. Peran Nilai dalam Etika Bisnis 

Nilai memiliki peran yang sangat penting dalam 

membentuk karakter dan perilaku manusia dalam 

berbisnis. Nilai dapat membantu manusia dalam 

mengambil keputusan yang tepat, serta membantu 

dalam membedakan antara yang benar dan yang 

salah dalam berbisnis.  

Nilai-nilai dalam etika bisnis menyediakan fondasi 

moral dan prinsip-prinsip filosofis yang menjadi 

landasan bagi tindakan bisnis yang bertanggung 

jawab. Nilai-nilai ini mencakup prinsip-prinsip seperti 

integritas, kejujuran, tanggung jawab sosial, keadilan, 

dan menghargai hak asasi manusia. saat  nilai-nilai 

etika ini diterapkan dalam praktik bisnis, perusahaan 

dan individu diharapkan dapat beroperasi dengan 

integritas, transparansi, dan mengutamakan 

kepentingan yang lebih luas. 

2. Peran Norma dalam Etika Bisnis 

Norma memiliki peran yang sangat penting dalam 

membentuk perilaku manusia dalam berbisnis. 

Norma dapat membantu manusia dalam berinteraksi 

dengan warga  dalam berbisnis, serta membantu 

dalam menjaga keamanan dan ketertiban sosial dalam 

berbisnis.  

Norma-norma dalam etika bisnis berperan sebagai 

panduan perilaku yang diterima dan diakui dalam 

lingkungan bisnis. Norma etika bisnis mencakup etika 

profesi, pedoman bisnis, dan peraturan hukum yang 

berlaku. Norma-norma ini, membantu mengatur 

perilaku bisnis agar sesuai dengan nilai-nilai etika 

yang berlaku dan menghindari perilaku yang 

merugikan dan tidak etis. Norma etika bisnis juga 

membantu menciptakan keadilan dalam hubungan 

 

bisnis dan menjaga keseimbangan antara 

kepentingan perusahaan, karyawan, pelanggan, dan 

warga . 

3. Peran Moral dalam Etika Bisnis 

Moral memiliki peran yang sangat penting dalam 

membentuk karakter dan perilaku manusia dalam 

berbisnis. Moral dapat membantu manusia dalam 

mengambil keputusan yang tepat, serta membantu 

dalam membedakan antara yang benar dan yang 

salah dalam berbisnis.  

Moral dalam etika bisnis melibatkan pertimbangan 

etika tentang akibat dan dampak tindakan bisnis 

terhadap berbagai pemangku kepentingan 

(stakeholders). Pertimbangan moral ini, memastikan 

bahwa tindakan bisnis diambil dengan 

memperhatikan konsekuensi dan implikasi etisnya. 

Pertimbangan moral membantu perusahaan dan 

individu untuk menilai apakah tindakan atau 

keputusan bisnis yang diambil, sesuai dengan nilai-

nilai etika dan norma-norma etika yang berlaku. 

Dengan demikian, pertimbangan moral membantu 

mendorong tindakan yang bertanggung jawab dan 

berkelanjutan dalam bisnis. 

Nilai-nilai memberi  arah moral yang lebih abstrak, 

norma-norma memberi  pedoman perilaku yang lebih 

khusus, dan pertimbangan moral membantu menilai 

implikasi etis dari tindakan bisnis. Ketiganya saling 

terkait dan saling mendukung, membentuk fondasi etika 

bisnis yang konsisten dan berkelanjutan. Dengan 

menghormati dan menerapkan nilai-nilai, norma, dan 

moral dalam setiap aspek bisnis, perusahaan dapat 

menghadapi tantangan etika dengan bijaksana dan 

menciptakan dampak yang positif bagi warga  dan 

lingkungan sekitarnya. 

Penerapan Nilai, Norma, dan Moral dalam Etika Bisnis 

Implementasi nilai, norma, dan moral dalam etika bisnis 

dapat dilakukan dengan cara mempraktikkan nilai-nilai, 

norma, dan moral yang dipegang, serta mengajarkan nilai-

 

nilai, norma, dan moral ini  kepada orang lain dalam 

berbisnis. Berikut yaitu  beberapa cara konsep nilai, 

norma, dan moral diterapkan dalam etika bisnis. 

Nilai 

Implementasi nilai dapat dilakukan dengan cara 

mempraktikkan nilai-nilai yang dipegang, serta 

mengajarkan nilai-nilai ini  kepada orang lain dalam 

berbisnis. Contoh implementasi nilai dalam etika bisnis 

dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut 

1. menerapkan nilai-nilai moral dalam setiap keputusan 

bisnis yang diambil, seperti kejujuran, integritas, dan 

tanggung jawab;  

2. menghargai nilai-nilai estetika dalam berbisnis, 

seperti tampilan produk dan kemasan yang menarik; 

dan 

3. menggunakan nilai-nilai instrumental dalam 

mengambil keputusan bisnis, seperti 

mempertimbangkan manfaat dan keuntungan jangka 

panjang. 

Norma 

Implementasi norma dapat dilakukan dengan cara 

mengikuti aturan atau tata cara yang dipegang oleh 

warga  dalam berbisnis, serta menghormati norma 

yang berlaku dalam berbisnis. Contoh implementasi 

norma dalam etika bisnis dapat dilakukan dengan cara 

sebagai berikut 

1. mengikuti norma sosial dalam berbisnis, seperti 

menghormati hak-hak konsumen dan menjaga 

hubungan baik dengan mitra bisnis; 

2. mengikuti norma hukum dalam berbisnis, seperti 

mematuhi peraturan perundang-undangan yang 

berlaku; dan 

3. mengikuti norma agama dalam berbisnis, seperti 

menghormati nilai-nilai agama dalam setiap 

keputusan bisnis yang diambil. 


 

Moral 

Implementasi moral dapat dilakukan dengan cara 

mempraktikkan prinsip-prinsip moral yang dipegang, 

serta mengajarkan prinsip-prinsip moral ini  kepada 

orang lain dalam berbisnis. Contoh implementasi moral 

dalam etika bisnis dapat dilakukan dengan cara sebagai 

berikut 

1. menerapkan prinsip-prinsip moral dalam setiap 

keputusan bisnis yang diambil, seperti menghindari 

tindakan yang merugikan orang lain, dan 

mempertimbangkan dampak sosial dari keputusan 

bisnis yang diambil; 

2. menghargai nilai-nilai etika dalam berbisnis, seperti 

menghormati hak asasi manusia dan menjaga 

integritas dalam setiap tindakan bisnis yang diambil; 

dan  

3. menggunakan nilai-nilai spiritual dalam mengambil 

keputusan bisnis, seperti mempertimbangkan nilai-

nilai kebaikan dan keadilan dalam setiap tindakan 

bisnis yang diambil. 

Dengan menerapkan konsep nilai, norma, dan moral 

dalam etika bisnis, diharapkan dapat membentuk 

karakter dan perilaku manusia dalam berbisnis yang lebih 

baik dan bertanggung jawab. 

Pelanggaran Terhadap Nilai, Norma, dan Moral dalam 

Etika Bisnis di negara kita   

Pelanggaran terhadap nilai, norma, dan moral dalam etika 

bisnis di negara kita  masih sering terjadi. Berikut yaitu  

beberapa contoh pelanggaran ini . 

1. Korupsi merupakan pelanggaran terhadap nilai, 

norma, dan moral dalam etika bisnis. Korupsi 

merugikan negara dan warga , serta merusak 

citra bisnis di negara kita . Korupsi dapat terjadi dalam 

berbagai bentuk, seperti suap, nepotisme, dan kolusi. 

 

2. Pelanggaran hak asasi manusia dalam etika bisnis 

dapat terjadi dalam bentuk eksploitasi tenaga kerja, 

diskriminasi, dan pemakaian  bahan baku yang 

merusak lingkungan. Pelanggaran hak asasi manusia 

dapat merusak citra bisnis dan merugikan 

warga . 

3. Penipuan dalam etika bisnis dapat terjadi dalam 

bentuk penjualan produk palsu, penipuan investasi, 

dan penipuan dalam pengadaan barang dan jasa. 

Penipuan merugikan konsumen dan merusak citra 

bisnis. 

4. Pelanggaran hak kekayaan intelektual dalam etika 

bisnis dapat terjadi dalam bentuk pembajakan 

produk, pencurian hak cipta, dan pemakaian  merek 

tanpa izin. Pelanggaran hak kekayaan intelektual 

dapat merugikan pemilik hak cipta dan merusak citra 

bisnis. 

5. Pelanggaran norma sosial dalam etika bisnis dapat 

terjadi dalam bentuk penipuan, pemakaian  bahasa 

yang kasar, dan perilaku yang tidak sopan. 

Pelanggaran norma sosial dapat merusak citra bisnis 

dan merugikan warga . 

Untuk mencegah pelanggaran terhadap nilai, norma, dan 

moral dalam etika bisnis di negara kita , diperlukan 

kesadaran dan komitmen dari seluruh pihak terkait, 

seperti pemerintah, pelaku bisnis, dan warga . Selain 

itu, perlu juga adanya regulasi yang jelas dan tegas dalam 

mengatur etika bisnis di negara kita . Dengan menerapkan 

konsep nilai, norma, dan moral, diharapkan dapat 

membentuk karakter dan perilaku manusia dalam 

berbisnis yang lebih baik dan bertanggung jawab. 

Dalam praktik bisnis di negara kita , perusahaan yang 

melanggar nilai dapat menghadapi konsekuensi hukum 

yang serius. Oleh sebab  itu, diperlukan kesadaran dan 

komitmen dari seluruh pihak terkait, seperti pemerintah, 

pelaku bisnis, dan warga , untuk mencegah 

pelanggaran ini . Berikut yaitu  beberapa 

konsekuensi hukum yang dapat dihadapi perusahaan 

yang melanggar nilai dalam praktik bisnis di negara kita ;  


 

1. perusahaan yang melanggar nilai dalam praktik bisnis 

di negara kita  dapat dikenakan sanksi administratif, 

seperti denda, pencabutan izin usaha, atau 

pembekuan kegiatan usaha; 

2. perusahaan yang melanggar nilai dalam praktik bisnis 

di negara kita  dapat dikenakan tuntutan pidana, 

seperti penjara atau denda yang lebih berat, 

tergantung pada tingkat pelanggaran yang dilakukan; 

3. perusahaan yang melanggar nilai dalam praktik bisnis 

di negara kita  dapat dikenakan gugatan perdata oleh 

pihak yang dirugikan, seperti konsumen atau pesaing 

bisnis. Gugatan perdata dapat berupa tuntutan ganti 

rugi atau tuntutan penghentian kegiatan usaha; 

4. perusahaan yang melanggar nilai dalam praktik bisnis 

di negara kita  dapat mengalami kerugian finansial yang 

signifikan, seperti penurunan penjualan atau 

kehilangan kepercayaan dari konsumen dan investor; 

dan 

5. perusahaan yang melanggar nilai dalam praktik bisnis 

di negara kita  dapat mengalami kerugian reputasi yang 

signifikan, seperti penurunan citra bisnis atau 

kehilangan kepercayaan dari warga .  

Diperlukan adanya regulasi yang jelas dan tegas dalam 

mengatur etika bisnis di negara kita . Dengan menerapkan 

konsep nilai, norma, dan moral dalam etika bisnis, 

diharapkan dapat membentuk karakter dan perilaku 

manusia dalam berbisnis yang lebih baik dan bertanggung 

jawab. 

Teori Kebajikan (Theory of Virtue) 

Teori yang terkait dengan nilai, norma, dan moral dalam 

etika bisnis yaitu  Teori Kebajikan (Theory of Virtue). 

Aristotle, seorang filsuf Yunani mengemukakan satu teori 

yaitu Teori Kebajikan (virtue theory) yaitu  konsep yang 

menjelaskan bahwa kebajikan yaitu  suatu cara di mana 

orang memiliki tujuan atau alasan untuk hidup 

(Velasquez, 2018). Teori ini menjelaskan bahwa seseorang 

yang memiliki tujuan hidup cenderung memilih tindakan 


yang tidak terlalu ekstrim namun  cukup jauh untuk 

memuaskan perasaan dan tindakannya. Mereka memilih 

jalan tengah di antara aktivitas yang terlalu berbahaya, 

namun  cukup sulit untuk dilakukan sesuai kemampuan 

mereka.  

Dalam situasi yang menakutkan, individu yang memiliki 

tujuan hidup menghindari tindakan sembrono, namun  

mereka juga tidak tetap pengecut. Mereka memilih 

tindakan yang merupakan jalan tengah dan yang disebut 

"keberanian" di dalam diri mereka. Keberanian ini 

merupakan tindakan yang terletak di antara 

kepengecutan, yaitu perasaan takut yang berlebihan, dan 

kecerobohan yaitu kurangnya rasa takut untuk bertindak 

tanpa perhitungan (Velasquez, 2018). Jadi, menurut 

Aristoteles, kebajikan moral  yaitu  jalan tengah antara 

tindakan yang terlalu berani dan tindakan yang terlalu 

menakutkan (Velasquez, 2018). 

Dalam praktik bisnis di negara kita , Teori Kebajikan dapat 

dikatkan dengan pentingnya  menekankan karakter dan 

moralitas individu dalam menjalankan tindakan bisnis 

yang baik dan bertanggung jawab. Dengan 

mengembangkan karakter dan moralitas karyawan, bisnis 

dapat menciptakan lingkungan kerja yang sehat dan 

produktif, serta memberi  kontribusi positif bagi 

warga  dan lingkungan sekitar. Teori ini, berfokus 

pada pengembangan karakter dan kepribadian individu, 

sehingga mereka dapat menjadi pribadi yang baik dan 

bertanggung jawab dalam menjalankan tindakan. 

Teori Kebajikan berpandangan bahwa tujuan hidup 

manusia yaitu  untuk mencapai kebahagiaan dan 

kebaikan. Kebajikan dianggap sebagai kunci untuk 

mencapai tujuan ini . Kebajikan tidak hanya berarti 

melakukan tindakan yang baik, namun  juga memiliki 

karakter yang baik. Teori Kebajikan menekankan 

pentingnya karakter dan moralitas individu dalam 

menjalankan tindakan yang baik. Karakter dan moralitas 

individu harus dikembangkan melalui latihan dan 

pengalaman, sehingga mereka dapat menjadi pribadi yang 

baik dan bertanggung jawab dalam menjalankan 

tindakan. 

 

Teori Kebajikan juga dikenal dengan sebutan Virtue Ethics. 

Virtue Ethics menekankan pentingnya karakter dan 

moralitas individu dalam menjalankan tindakan yang 

baik. Virtue Ethics berbeda dengan teori etika lainnya yang 

lebih berfokus pada tindakan yang benar atau salah. 

Beberapa contoh kebajikan yang ditekankan dalam Teori 

Kebajikan yaitu  kejujuran, integritas, keberanian, 

kesabaran, dan kasih sayang. Kebajikan-kebajikan ini, 

harus dikembangkan dan diaplikasikan dalam kehidupan 

sehari-hari.  

Teori Kebajikan dapat diaplikasikan dalam bisnis dengan 

menekankan pentingnya karakter dan moralitas individu 

dalam menjalankan tindakan yang baik. Bisnis dapat 

mengembangkan karakter dan moralitas karyawan, 

melalui pelatihan dan pengalaman, sehingga mereka 

dapat menjadi pribadi yang baik dan bertanggung jawab 

dalam menjalankan tindakan bisnis. 

Dalam praktik bisnis di negara kita , Teori Kebajikan dapat 

diterapkan dengan menekankan pentingnya karakter dan 

moralitas individu dalam menjalankan tindakan bisnis 

yang baik dan bertanggung jawab. Dengan 

mengembangkan karakter dan moralitas karyawan, bisnis 

dapat menciptakan lingkungan kerja yang sehat dan 

produktif, serta memberi  kontribusi positif bagi 

warga  dan lingkungan sekitar. 

  

 

LINGKUNGAN, BUDAYA 

ORGANISASI DAN CORPORATE 

SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR) 



Lingkungan merupakan suatu kegiatan yang tidak 

dipisahkan dari kelangsungan hidup manusia. Hal ini 

sebab  seseorang hidup, maka akan tercipta suatu 

lingkungan yang berbeda dan sebaliknya. Akhir-akhir ini, 

sering kali ditemukan suatu pengrusakan lingkungan 

oleh manusia, dengan alasan pemanfaatan untuk 

menghasilkan materi yang lebih, secara tidak langsung 

tindakan ini, akan mengakibatkan terkikisnya lingkungan 

dan mengancam pada kelangsungan hidup manusia 

(Supratini, 2002).  

Keteledoran manusia dalam mendirikan bangunan untuk 

industri, tanpa memperhatikan dampak dari usaha atau 

industri yang akan berlangsung di bangunan ini , 

juga akan merusak lingkungan fisik dan biologis secara 

perlahan dan tidak langsung. Oleh sebab itu, perlu 

dilakukan suatu usaha untuk melestarikan kualitas 

lingkungan yang dapat dilakukan dengan berbagai cara, 

sejak mulai penyusunan rencana pembangunan daerah 

sampai sesudah  proyek-proyek pembangunan dijalankan, 

misalnya penyusunan rencana pemakaian  tata ruang, 

rencana pembangunan ekonomi suatu daerah, penetapan 

proyek-proyek yang akan dibangun, sampai pada waktu 

proyek-proyek telah berjalan.  

 

Dengan adanya perencanaan hal-hal yang mungkin bisa 

mengantisipasi timbulnya dampak buruk pada 

lingkungan sekitar, maka kerusakan lingkungan akan 

dapat dikurangi atau bahkan dicegah sama sekali. Dari 

alasan inilah, maka perlu dibuat sebuah rencana 

pengelolaan lingkungan demi terciptanya keseimbangan 

antara kepentingan manusia dan kelestarian lingkungan 

di sekitarnya.  

Salah satu upaya untuk pengelolaan lingkungan hidup, 

yaitu melalui sentuhan teknologi yang mampu mengontrol 

kelestarian lingkungan secara langsung. Pembangunan 

yang tidak mengorbankan lingkungan dan/atau merusak 

lingkungan hidup yaitu  pembangunan yang 

memperhatikan dampak yang dapat diakibatkan oleh 

beroperasinya pembangunan ini . Untuk menjamin 

bahwa suatu pembangunan dapat beroperasi atau layak 

dari segi lingkungan, perlu dilakukan analisis atau studi 

kelayakan pembangunan tentang dampak dan akibat 

yang akan muncul bila suatu rencana kegiatan/usaha 

akan dilakukan.  

Pendapat Nur Cahyonowati (2003), pada saat perusahaan 

mulai berinteraksi dan dekat dengan lingkungan luarnya 

(warga ), maka berkembang hubungan saling 

ketergantungan dan kesamaan minat serta tujuan antara 

perusahaan dengan lembaga sosial yang ada. Interaksi ini, 

memicu  perusahaan tidak bisa lagi membuat 

keputusan atau kebijakan yang hanya menguntungkan 

pihaknya saja. Akan namun , perusahaan juga harus 

memikirkan kebutuhan pihak-pihak yang berkepentingan 

terhadap perusahaan (stakeholder needs).  

Jika tekanan dari stakeholder berpengaruh kuat terhadap 

kontinuitas dan kinerja perusahaan, perusahaan harus 

bisa menyusun kebijakan sosial dan lingkungan yang 

terarah dan terlegitimasi. Pendapat Saputra  (Syailendra 

Eka Saputra, 2016) menyatakan bahwa permasalahan 

lingkungan hidup dalam beberapa tahun terakhir selalu 

menjadi perbincangan publik. Maraknya kasus kerugian 

yang terjadi akibat pengelolaan yang tidak bertanggung 

jawab, baik oleh perorangan maupun organisasi. 

 

Dengan pengelolaan lingkungan yang tidak bertanggung 

jawab, mengakibatkan sebuah malapetaka bagi 

kehidupan manusia, seperti adanya penyebaran wabah 

penyakit, erosi, hingga terjadinya perubahan iklim yang 

dapat memicu  kerugian panen. negara kita  

merupakan salah satu negara yang disoroti terkait 

masalah penanganan lingkungan hidup, dalam tempo tiga 

tahun terakhir negara kita  telah kehilangan 45% hutan 

lindung akibat adanya pembukaan lahan untuk 

kepentingan industri.  

Akibat pembukaan lahan hutan lindung oleh sejumlah 

oknum yang tidak bertanggung jawab, memicu  

kebakaran hutan, menurut Ford Horison (Ford Horison, 

2015). Akibat kejadian ini , mengakibatkan 

munculnya masalah kabut asap dalam beberapa waktu 

yang menciptakan kerugian materil maupun nonmaterial 

pendapat Saputra (Syailendra Eka Saputra, 2016), 

sedang  menurut pendapat Otto Soemarwoto (2001) 

bahwa manusia bersama hewan, tumbuhan dan jasad 

renik menempati suatu ruang tertentu, kecuali makhluk 

hidup, dalam ruang itu, terdapat juga benda tak hidup, 

seperti misalnya udara yang terdiri atas bermacam gas, 

air dalam bentuk uap, cair dan padat, tanah dan batu.  

Ruang yang ditempati suatu makhluk hidup bersama 

dengan benda tak hidup di dalamnya, disebut lingkungan 

hidup makhluk hidup ini . Mulyanto (2007) 

menyatakan bahwa lingkungan yaitu  seluruh faktor luar 

yang memengaruhi suatu organisme; faktor-faktor ini 

dapat berupa organisme hidup (biotic factor) atau variabel-

variabel yang tidak hidup (abiotic factor). Dari hal inilah, 

kemudian menurut Agoes Soegianto (2010), terdapat dua 

komponen utama lingkungan, yaitu: a) biotik: makhluk 

(organisme) hidup; dan b) abiotik: energi, bahan kimia, 

dan lain-lain,  

Pengertian Budaya Organisasi  

Edison (2016) mengatakan bahwa “Budaya organisasi 

merupakan hasil dari suatu proses mencairkan dan 

meleburkan gaya budaya dan atau perilaku tiap individu 

yang dibawa sebelumnya ke dalam sebuah norma-norma 

 

dan filosofi yang baru, yang memiliki energi serta 

kebanggaan kelompok dalam menghadapi sesuatu dan 

tujuan tertentu.” Budaya organisasi merupakan 

keyakinan, nilai-nilai, sikap maupun etika yang menjadi 

pedoman, sehingga budaya organisasi dapat dijadikan 

pengawas pegawai mulai dari cara bekerja sama maupun 

dasar seluruh anggota organisasi untuk menjalankan 

pekerjaannya.  

Marliani Rosleny (2015) mendefnisikan budaya organisasi 

suatu suatu persepsi bersama yang dianut oleh anggota-

anggota organisasi ini . Budaya organisasi dapat 

dimanfaatkan sebagai rantai pengikat dalam proses 

menyamakan persepsi karyawan terhadap suatu 

permasalahan, sehingga akan menjadi suatu kekuatan 

dalam pencapaian tujuan perusahaan. Selanjutnya, 

Sagita (2018) mengungkapkan bahwa budaya organisasi 

yang kuat akan memiliki  pengaruh yang besar pada 

perilaku anggota-anggotanya sebab  tingginya tingkat 

kebersamaan dan intensitas menciptakan suatu iklim 

internal dari kendali perilaku yang tinggi.  

Lebih lanjut, Robbins (2012) mengemukakan bahwa 

budaya organisasi yaitu  penyebaran pola nilai dan 

keyakinan Bersama, yang memberi  arti dan peraturan 

perilaku bagi anggota organisasional. Norma