Persaingan usaha 21
– 100.000 per hari di seluruh wilayah ini .
Dari hasil penelitian juga dapat diketahui
bahwa secara umum pendapatan order sesudah
pandemi meningkat sebanyak Rp286.462 per
hari di wilayah Jabodetabek dan meningkat
sebanyak Rp282.609 per hari di wilayah Jakarta.
Dengan ini, dapat disimpulkan bahwa adanya
kerja sama antara Gojek dan Blue Bird melalui
layanan GoBlue Bird pada aplikasi Gojek dapat
meningkatkan frekuensi order dan pendapatan
driver Blue Bird per hari.
Terkait dengan alasan kenaikan pendapatan
yang dirasakan responden pada masa sesudah
pandemi Covid-19 dibandingkan saat pandemi
Covid-19. Sebagian besar responden 72,31%
menyatakan bahwa alasan kenaikan pendapatan
terjadi sebab jumlah permintaan terhadap
kendaraan layanan transportasi online semakin
banyak.
Perbedaan dan Perubahan Pendapatan Mitra
Blue Bird Saat dan sesudah Pandemi Covid-19
Melalui Street hailing
bahwa jika
pendapatan hanya dilihat dari order melalui street
hailing, sebagian besar responden menyatakan
bahwa ada perbedaan pendapatan antara
saat dan sesudah Covid-19 di wilayah Jabodetabek,
wilayah Jakarta, dan di Wilayah Bogor, Depok,
Tangerang, dan Bekasi. Bagi responden yang
menyatakan ada perbedaan pendapatan,
diketahui bahwa sebagian besar menyatakan
bahwa mereka mengalami peningkatan
pendapatan sesudah Covid-19, yaitu dengan
persentase 81,54, 86,96, dan 78,57 persen
di Wilayah Jabodetabek, wilayah Jakarta, dan
di Wilayah Bogor, Depok, Tangerang, dan
Bekasi, secara berurutan. Meski demikian,
masih ada responden yang menyatakan
bahwa masih ada kesulitan mencari
penumpang melalui street hailing pada masa
sesudah Covid-19, terutama di Wilayah Bogor,
Depok, Tangerang, dan Bekasi, di mana ada
52,38 persen responden menyatakan kesulitan
dalam mencari Penumpang melalui Street hailing.
i bahwa
jika pendapatan hanya dilihat dari order
melalui Go Blue Bird di wilayah Jabodetabek,
Wilayah Jakarta, dan Wilayah Bogor, Depok,
Tangerang, Bekasi, maka sebagian besar
responden menyatakan bahwa ada
perbedaan pendapatan antara saat dan sesudah
Covid-19 melalui GoBlue Bird. Bagi responden
yang menyatakan ada perbedaan
pendapatan, diketahui bahwa sebagian
besar responden menyatakan bahwa terjadi
peningkatan pendapatan yang terjadi sesudah
Covid-19 melalui GoBlue Bird diseluruh wilayah
ini , yaitu dengan persentase 73,85 untuk
wilayah Jabodetabek, 69,57 untuk Wilayah
Jakarta, dan 69,57 untuk wilayah Bogor, Depok,
Tangerang, dan Bekasi. sedang sebagian kecil
mengalami penurunan pendapatan di seluruh
wilayah ini .
Perbedaan dan Perubahan Pendapatan Mitra
Blue Bird Saat dan sesudah Pandemi Melalui
Street hailing dan GoBlue Bird (Total Order)
jika pendapatan dilihat dari order
melalui Street hailing dan GoBlue Bird (Total
Order) di wilayah Jabodetabek, Wilayah Jakarta,
dan Wilayah Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi,
maka sebagian besar responden menyatakan
bahwa ada perbedaan pendapatan
antara saat dan sesudah Covid-19 melalui street
hailing dan GoBlue Bird. Bagi responden yang
menyatakan ada perbedaan pendapatan,
diketahui bahwa sebagian besar responden yaitu
dengan persentase 86,15%, 86,96%, dan 86,96%
responden di Wilayah Jabodetabek, Wilayah
Jakarta, dan Wilayah Bogor, Depok, Tangerang,
dan Bekasi menyatakan bahwa terjadi
peningkatan pendapatan yang terjadi sesudah
Covid-19 melalui street hailing dan GoBlue Bird.
Alasan Adanya Kenaikan Pendapatan
Alasan Mitra Gocar
Kenaikan pendapatan mitra GoCar sesudah
pandemi Covid-19 dapat disebabkan oleh
beberapa faktor. Menurut responden, faktor
utamanya yaitu jumlah permintaan terhadap
kendaraan layanan transportasi online semakin
banyak seiring dengan meningkatnya warga
yang berpergian atau beraktivitas diluar,
misalnya berkantor, bersekolah atau berlibur,
yaitu dengan persentase 66,08% responden.
lalu faktor berikutnya yaitu penilaian yang
baik dari pengguna (customer) terhadap layanan
yang sudah diberikan, dengan persentase
sebanyak 17,70% responden, lalu faktor lainnya
yaitu melakukan inovasi layanan, contohnya
yaitu memberi kualitas mengemudi yang
lebih nyaman, yaitu dengan persentase 12,68%
responden. sedang sebagian kecil responden
yaitu dengan persentase 10,62% responden
menyatakan bahwa pengguna/konsumen yang
dilayani tidak terpengaruh saat dan sesudah
pandemi Covid-19.
Adanya kenaikan pendapatan sesudah
Covid-19 yang utamanya disebabkan oleh
jumlah permintaan terhadap kendaraan
layanan transportasi online semakin banyak
seiring dengan meningkatnya warga
yang berpergian atau beraktivitas di luar untuk
misalnya berkantor, bersekolah atau berlibur. Hal
ini tentu sangat wajar sebab pada saat Covid-19
mayoritas pengguna layanan GoCar cukup
berkurang sebab adanya pembatasan aktivitas
diluar, seperti work from home, pembelajaran
secara daring dan ditutupnya lokasi-lokasi
rekreasi.
Alasan Mitra Blue Bird
Tabel 10 menunjukkan alasan kenaikan
pendapatan yang dirasakan responden pada
masa sesudah pandemi Covid-19 dibandingkan
saat pandemi Covid-19. Sebagian besar
responden (72,31%) menyatakan bahwa alasan
kenaikan pendapatan terjadi sebab jumlah
permintaan terhadap kendaraan layanan
transportasi online semakin banyak. sedang
sebagian kecil (10,77%) responden menyatakan
bahwa pengguna/konsumen yang dilayani tidak
terpengaruh saat dan sesudah pandemi Covid-19.
Pemahaman Terhadap Sistem Pembagian/
Distribusi Order Pemahaman Mitra GoCar
Terhadap Sistem Pembagian Order
Terkait dengan pemahaman sistem
pembagian order, sebagian besar responden
(72.57%) menyatakan memahami sistem
pembagiannya. Hasil ini mengalami peningkatan
dari penelitian yang telah dilakukan sebelumnya
pada saat pandemi Covid-19 di mana responden
yang memahami sistem pembagian order hanya
sekitar 65,82%. Hasil ini juga memberi
informasi bahwa sesudah pandemi Covid-19 mitra
GoCar semakin memahami sistem pembagian
order.
Lebih lanjut, sebanyak 78,47% responden
yang memahami sistem pembagian order menilai
bahwa distribusi layanan yang didapatkan sudah
sesuai dengan kriteria yang ditetapkan, sebagian
besar responden menilai bahwa distribusi order
ditentukan berdasar performa mitra.
Oleh sebab itu, mitra perlu menjaga
performanya seperti menjaga layanan baik,
kesopanan, kebersihan dan lebih aktif mencari
order.
Pemahaman Distribusi Order Mitra Blue Bird
Sebagian besar responden (76,92%) mitra
Blue Bird menyatakan bahwa mereka memahami
sistem distribusi order. Bagi responden yang
memahami sistem distribusi order, menyatakan
bahwa sebesar (61,54%) responden menyatakan
bahwa kriteria jarak antara mitra dan pengguna
merupakan kriteria distribusi order yang mereka
ketahui, sedang sebanyak 41,54 % dan
52,31% responden menyatakan bahwa riwayat
penyelesaian order dan kriteria performa mitra
merupakan kriteria distribusi order yang mereka
ketahui, secara berurutan. lalu , 72,31%
responden menyatakan bahwa distribusi order
layanan sudah sesuai dengan kriteria yang
ditentukan.
Penilaian Jumlah Armada, Peningkatan
Pendapatan dan Manfaat Ekosistem Gojek
Responden mitra GoCar
Sebagian besar responden mitra GoCar
(68,14%) menyatakan bahwa jumlah armada
transportasi online GoCar dan GoBlueBird
terkategori sangat banyak dengan memberi
penilaian di angka 7 (tujuh)4. Hasil ini memberi
4 Pengelompokan ini berdasar pada
pengelompokan Kajian Indeks Persaingan Usaha
KPPU Tahun 2023 dengan pengelompokan sebagai
berikut:
1= sangat sedikit, 2= cukup sedikit, 3= sedikit rendah,
4= moderat, 5= sedikit banyak, 6= cukup banyak dan
7= sangat banyak
arti bahwa ketersediaan armada dari mitra GoCar
dan GoBlueBird sangat mudah didapatkan.
lalu , sebanyak 18,58%, 27,43%,
20,35% dan 14,16% atau total sebanyak 80,52%
responden menyatakan bahwa pendapatan mitra
GoCar terkategori moderat, sedikit meningkat,
cukup meningkat dan sangat meningkat dengan
memberi penilaian diangka 4 (empat) hingga
7 (tujuh)5.
Lebih jauh, terkait dengan persepsi
responden mitra gocar terkait manfaat semakin
baiknya ekosistem gojek, sebanyak 21,53%,
11,5%, 16,22% dan 23,01% atau total 72,26%
responden menyatakan masing-masing sedikit
bermafaat (skor 4), cukup bermanfaat (skor 5),
bermanfaat (skor 6) dan sangat bermanfaat (skor
7) dengan semakin baiknya ekosistem GoCar.
Ekosistem GoCar yang dimaksud di antaranya
semakin banyaknya mitra GoCar yang ikut dalam
transportasi daring. Kebermanfaatan ini akan
terkait dengan proyeksi semakin banyaknya
pengguna transportasi daring jika ekosistem
GoCar semakin berkembang sebab adanya
indikasi berpindahnya transportasi konvensional
ke transportasi daring.
Responden Mitra BlueBird
Dapat diketahui bahwa sebagian responden
mitra BlueBird (66,15%) menyatakan bahwa
jumlah armada transportasi online GoCar dan
GoBlue Bird terkategori sangat banyak dengan
memberi penilaian diangka 7 (tujuh)6. Hasil
ini memberi arti bahwa ketersediaan armada
dari mitra GoCar dan GoBlueBird sangat mudah
didapatkan.
lalu , mengenai persepsi responden
mitra Blue Bird terkait pendapatan memakai
aplikasi GoCar, dapat diketahui bahwa 24,62%,
20%, 26,15% dan 20% atau total 90,77% responden
menyatakan bahwa pendapatan mitra GoCar
terkategori cukup meningkat, sedikit meningkat,
meningkat dan sangat meningkat dengan
memberi penilaian di angka 4 (empat) hingga
7 (tujuh).
5 Pengelompokan ini berdasar pada
pengelompokan Kajian Indeks Persaingan Usaha
KPPU Tahun 2023 dengan pengelompokan sebagai
berikut:
1= sangat menurun, 2= cukup menurun, 3= sedikit
menurun, 4= moderat, 5= sedikit meningkat, 6= cukup
meningkat dan 7= sangat meningat
6 Pengelompokan ini berdasar pada
pengelompokan Kajian Indeks Persaingan Usaha
KPPU Tahun 2023 dengan pengelompokan sebagai
berikut:
1= sangat sedikit, 2= cukup sedikit, 3= sedikit rendah,
4= moderat, 5= sedikit banyak, 6= cukup banyak dan
7= sangat banyak.
Lebih jauh, mengenai persepsi responden
mitra Blue Bird terkait manfaat semakin baiknya
ekosistem Gojek, sebesar 15,38%, 13,85%, 30,77%
dan 27,69% atau total 87,69% responden Mitra
BlueBird menyatakan bahwa semakin baiknya
ekosistem GoCar secara umum (termasuk
bisa masuknya Blue Bird menjadi Mitra GoCar)
memberi manfaat masing-masing moderat
(skor 4), sedikit manfaat (skor 5), cukup manfaat
(skor 6) dan sangat manfaat (skor 7)7. Semakin
baiknya ekosistem GoCar terkait juga dengan
semakin banyaknya mitra GoCar yang diproyeksi
akan memberi manfaat dalam konteks
semakin berpindahnya transportasi konvensional
kepada transportasi daring.
Persaingan Antar Mitra Driver dengan Adanya
Kerja sama GoCar dengan Mitra Blue Bird
Sebanyak 53,39% responden Mitra Gocar
menyatakan bahwa kerja sama Gojek dengan
Mitra Blue Bird tidak menciptakan persaingan
usaha. Hasil ini menunjukkan bahwa menurut
responden ini keberadaan mitra Blue
Bird dianggap bukan menjadi pesaing dalam
menjalankan aktivitas pemberian layanan
transportasi online. Meski demikian, ada
46,61% yang menyatakan bahwa keberadaan
kerjasama Gojek dengan mitra Blur Bird
menciptakan persaingan usaha, artinya sebagian
responden memandang bahwa keberadaan
mitra Blue Bird ini menambah persaingan.
Bagi responden yang menyatakan bahwa
kerja sama dengan mitra menambah tingkat
7 Pengelompokan ini berdasar pada
pengelompokan Kajian Indeks Persaingan Usaha
KPPU Tahun 2023 dengan pengelompokan sebagai
berikut:
1= sangat tidak bermanfaat, 2= cukup tidak
bermanfaat, 3= sedikit tidak bermanfaat, 4= moderat,
5= sedikit bermanfaat, 6= cukup bermanfaat dan 7=
sangat bermanfaat.
persaingan, dapat diketahui bahwa dalam
menghadapi peningkatan persaingan usaha
ini , mereka berusaha untuk meningkatkan
rating performa (menjaga layanan baik,
kesopanan dan kebersihan) (27,14%); lebih aktif
mencari penumpang (26,55%); tidak menolak
order (23,30%); dan alasan lainnya (3,54%).
Dampak Kerja sama Gojek dengan Mitra Blue
Bird
Tengan dampak kerja sama gojek dengan
mitra Blue Bird, bagi 66,67% mitra GoCar,
adanya kerja sama yang dilakukan ini tidak
mempermudah driver GoCar dalam memperoleh
pengguna layanan. Bahkan ada sebagian
responden (27,73%) yang menyatakan bahwa
kerja sama ini justru mempersulit driver
Gocar dalam mendapatkan order. Sementara
itu, hanya sebagian kecil responden (5,6%)
yang menyatakan bahwa kerja sama ini
mempermudah dalam mendapatkan order.
Tabel 11 menunjukkan bahwa bagi responden
yang menyatakan kerja sama justru mempersulit,
sebagian besar dari mereka menyatakan
bahwa ada penurunan persentase jumlah
penumpang pada kisaran 0-10%. Penurunan
penumpang yang terjadi sebagian besar
dialami oleh responden saat pandemi Covid-19
terjadi. Kondisi ini disebabkan dengan adanya
semakin banyak opsi transportasi yang dapat
dipilih penumpang, serta adanya Covid-19 yang
sedang beberapa penumpang berdiam
diri dirumah sebab sistem kerja work from home.
Lebih jauh, terkait dengan persentase
perbedaan distribusi order Gojek dengan
mitra Blue Bird, sebanyak 53,69% responden
menyatakan bahwa tidak ada perbedaan
distribusi order antara Gojek dengan Mitra Blue
Bird, seperti Blue Bird. Temuan menariknya
yaitu , ada 46,31% responden yang
menyatakan ada perbedaan distribusi di
mana angka ini juga relatif sama dengan
mereka yang menyatakan bahwa keberadaan
mitra menambah/meningkatkan persaingan.
Penelitian ini mengkaji kondisi atau
perkembangan kinerja transportasi daring
roda empat dan perilaku/persaingan usaha
didalamnya sesudah pandemi Covid-19. Kajian ini
juga membandingkan dengan kinerja pada saat
pandemi Covid-19. Kajian difokuskan kepada
layanan transportasi daring roda empat GoCar
dan mitranya di wilayah Jabodetabek. Kajian
ini juga merupakan lanjutan dari kajian yang
sebelumnya pernah dilakukan pada tahun 2020,
di mana pada saat itu kajian dilakukan untuk
melihat bagaimana kinerja transportasi daring
roda empat dan perilaku mitra driver pada
masa pandemi Covid-19 dibandingkan dengan
kondisi sebelum pandemi Covid-19. Penelitian
ini memakai uji ANOVA untuk melakukan
verifikasi apakah secara statistik kenaikan atau
penurunan kinerja pada periode saat-sesudah
pandemi signifikan atau tidak.
Penelitian ini menemukan bahwa ada
peningkatan secara signifikan frekuensi order
dan pendapatan harian mitra GoCar pada
periode sesudah pandemi Covid-19 dibandingkan
saat periode pandemi. Hal ini terlihat dari
penurunan yang signifikan pada persentase
responden yang mendapatkan frekuensi order
dan pendapatan pada rentang terendah.
Terkait dengan mitra Blue Bird, penelitian
ini menemukan bahwa ada peningkatan
kembali penumpang yang diterima Blue
Bird di masa sesudah pandemi, baik melalui
street hailing maupun GoBlue Bird. Walaupun
demikian, mitra Blue Bird mengalami kenaikan
pendapatan melalui GoBlue Bird yang lebih
besar dibandingkan melalui street hailing hanya
di Wilayah Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi.
Peningkatan ini juga dikonfirmasi oleh
persepsi mitra Blue Bird yang menyatakan bahwa
peningkatan terjadi sebab jumlah permintaan
terhadap kendaraan layanan transportasi daring
semakin banyak pada masa sesudah pandemi
Covid-19. Hal ini juga terjadi sebab adanya
perubahan perilaku, seperti warga yang
hanya beraktivitas di rumah sebab pandemi
Covid-19, saat ini sudah bisa beraktivitas kembali
diluar rumah sehingga meningkatkan jumlah
permintaan terhadap kendaraan transportasi
online. Terkait dengan mitra Blue Bird, penelitian
ini juga menghasilkan temuan di mana rata-rata
peningkatan order street hailing di masa sesudah
pandemi Covid-19 lebih tinggi (rata-rata 4 orderan
per-hari) dibandingkan dengan peningkatan
order melalui GoBlueBird di masa pandemi
Covid-19 (rata-rata 3 orderan per-hari).
Tujuan utama dari esai ini yaitu untuk mengungkap dinamika yang kompleks dari kebijakan
persaingan usaha dan memberi wawasan tentang faktor-faktor yang mendorong variasi kebijakan
di seluruh dunia. Tujuannya yaitu untuk berkontribusi dalam diskursus yang berkelanjutan tentang
kebijakan persaingan dengan menjembatani kesenjangan antara teori dan praktik, menawarkan
dukungan empiris untuk tren yang diamati, dan memberi implikasi praktis bagi pembuat kebijakan
dan praktisi. Penelitian ini memakai studi literatur. Analisisnya mengungkapkan bahwa, sementara
ada konvergensi global yang dapat dikenali menuju kebijakan persaingan usaha berbasis ekonomi
dan otoritas persaingan independen, faktor-faktor khusus dalam negeri seperti tingkat privatisasi,
demokrasi, ideologi politik, asal hukum, dan jenis kapitalisme terus mempengaruhi secara signifikan,
membentuk kebijakan persaingan usaha dengan cara yang khas. Pemahaman yang lebih mendalam
ini menantang gagasan tentang konvergensi global yang lengkap dan menekankan pentingnya desain
kebijakan yang sensitif terhadap konteks. Temuan ini memiliki implikasi praktis bagi pembuat kebijakan
dan praktisi, dengan menekankan perlunya menyesuaikan kerangka kebijakan persaingan usaha dengan
keadaan unik masing-masing negara. Di tengah perubahan cepat dalam lanskap global, mengenali
dan mengakomodasi faktor-faktor ini sangat penting untuk menjaga relevansi dan adaptabilitas yang
berkelanjutan dari kebijakan persaingan usaha.
Penggelapan pengadaan barang dan jasa merupakan kategori kasus korupsi terbesar yang ditangani
KPK. Secara umum bentuk penipuan dalam pengadaan barang dan/atau jasa yaitu praktik penunjukan
langsung dan manipulasi harga perkiraan sendiri (HPS). Tujuan dari artikel penelitian ini yaitu untuk
menganalisis potensi kerentanan korupsi dalam tender pengadaan barang dan jasa Pemerintah
yang tidak sesuai dengan prinsip persaingan usaha yang sehat, dan upaya untuk mencegah potensi
kerentanan korupsi dalam tender pengadaan barang dan jasa Pemerintah. pengadaan barang dan
jasa Pemerintah yang sesuai dengan prinsip persaingan usaha yang sehat. Metode yang digunakan
yaitu penelitian hukum normatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kolusi antara pelaku usaha
dan pejabat publik dalam proses tender dimulai pada saat perencanaan anggaran dan proses tender.
Upaya Pemerintah untuk mengurangi potensi korupsi pengadaan barang dan jasa publik dengan
mengubah struktur organisasi pengadaan dan tender dilakukan melalui e-purchasing dan memperluas
objek sanggahan lelang dan tender yang dilakukan dengan memperhatikan prinsip persaingan usaha
yang sehat, yaitu transparan, tidak diskriminatif, dan tanpa hambatan masuk (barriers to entry).
Artikel ini membahas terkait solusi dan ancaman yang ditimbulkan oleh kecerdasan buatan dalam
konteks hukum persaingan usaha. Temuan menarik dari artikel ini menunjukkan bahwa kecerdasan
buatan menghadirkan tantangan dan peluang dalam persaingan usaha. Meskipun kecerdasan buatan
dapat meningkatkan persaingan dengan meningkatkan efisiensi dan mendorong inovasi. Di sisi lain
kecerdasan buatan juga dapat menimbulkan kekhawatiran akan dominasi pasar dan kolusi. Oleh sebab
itu, KPPU harus dapat beradaptasi dengan kompleksitas ini untuk memastikan persaingan usaha yang
sehat dan melindungi konsumen. Menyeimbangkan inovasi dengan penegakan hukum yang kompetitif
sangat penting untuk meningkatkan manfaat dari kecerdasan buatan sambil mengurangi potensi
ancaman sebab kecerdasan buatan. berdasar temuan-temuan ini, penulis merekomendasikan
agar KPPU meningkatkan pengawasannya terhadap kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan
kecerdasan buatan untuk memastikan kepatuhan terhadap Undang-Undang persaingan usaha.
KPPU harus mencari bukti perilaku anti-persaingan usaha yang didorong oleh kecerdasan buatan,
seperti kolusi harga melalui pemantauan harga dan perangkat lunak pencocokan algoritmik, dengan
mengamandemen Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 dengan memberi kewenangan ini
kepada KPPU. KPPU harus menegakkan hukum dan peraturan untuk mengatasi dampak kecerdasan
buatan terhadap hukum persaingan usaha. Sebagai contoh, Undang-Undang Pasar Digital Uni Eropa
memberi wewenang kepada Komisi Eropa untuk meminta algoritma dan data mengenai pengujian
algoritma ini , dan penjelasan mengenai penggunaannya dari perusahaan-perusahaan yang
ditunjuk sebagai penjaga gerbang persaingan usaha.
CAKUPAN UMUM JURNAL PERSAINGAN USAHA
1. Analisis empiris atas kebijakan persaingan
2. Studi kasus atau bedah putusan KPPU (yang telah inkracht)
baik dalam konteks kegiatan yang dilarang, perjanjian yang
dilarang, dan penyalahgunaan posisi dominan
3. Analisis atas transaksi merger dan akuisisi, serta studi kasus
penanganan perkara merger dan akuisisi
4. Pengembangan regulasi dan hukum beracara di KPPU
5. Studi komparatif implementasi hukum persaingan usaha
antarnegara (antara KPPU dengan negara lain)
6. Isu-isu yang berkaitan dengan kelembagaan KPPU (struktur
dan kinerja)
7. Diskursus dan kritik teori tentang persaingan usaha
8. Pengembangan metodologi riset terkait persaingan usaha
9. Isu-isu yang berkaitan dengan pengawasan kemitraan UMKM
(termasuk implementasi konsep ekonomi pasar Pancasila,
atau perdebatan antara competition dan cooperation)



