Bersaing dalam bisnis
Bisnis (business) tidak terlepas dari aktivitas produksi, pembelian,
penjualan, maupun pertukaran barang dan jasa yang melibatkan orang atau
perusahaan. Aktivitas bisnis pada umumnya mempunyai tujuan menghasilkan
laba, serta mengumpulkan cukup dana bagi kegiatan bisnis itu sendiri. Bisnis
tidak akan berjalan dengan baik jika tidak didukung dengan strategi bersaing yang
tepat.
Keunggulan bersaing penting untuk diketahui dalam penyusunan
perencanaan bisnis karena tidak lepas dari prinsip-prinsip ekonomi, yaitu
bagaimana operasional perusahaan dapat berjalan lancar dengan meminimalkan
seluruh biaya yang ditimbulkan dan memaksimalkan Keuntungan.
Banyak
strategi bersaing yang dapat digunakan untuk mendapatkan keunggulan bersaing
diantaranya; strategi bersaing Michael Porter, Mintzberg, dan juga strategi
bersaing yang diajarkan oleh Rasulullah saw.
Strategi bersaing Michael Porter yaitu cost leadership, diferensiasi, dan
fokus. Cost leadership yaitu perusahaan yang unggul dalam produksi berbiaya
rendah mampu menggunakan keunggulan biayanya untuk menawarkan harga
yang lebih rendah atau untuk menikmati margin yang lebih tinggi.
Diferensiasi
yaitu perusahaan mampu menciptakan persepsi terhadap nilai tertentu pada
konsumennya misalnya, persepsi terhadap keunggulan kinerja produk, inovasi
produk, pelayanan yang lebih baik dan lain sebagainya.
3
Fokus yaitu strategi yang
digunakan perusahaan yang bersedia melayani wilayah-wilayah goegrafis yang
terisolasi.
4
Mintzberg mengemukakan dua strategi yaitu; strategi bersaing diferensiasi
dan strategi tidak terdiferensiasi. Ada enam strategi bersaing yang dapat
mendukung keunggulan kompetitif diferensiasi yaitu; (harga, citra pasar, desain
produk, kualitas produk, pendukung produk). Strategi tidak diferensiasi yaitu
dimana perusahaan tidak mempuyai dasar untuk diferensiasi atau strategi yang
digunakan hanya meniru strategi perusahaan lain.
5
Strategi bersaing dalam Islam, Rasulullah saw. memberikan contoh
bagaimana bersaing dengan baik. Ketika berdagang, Rasul tidak pernah
melakukan usaha untuk menghancurkan pesaing dagangnya. Itu bukan berarti
Rasulullah berdagang seadanya tanpa memperhatikan daya saingnya. Yang beliau
lakukan yaitu dengan memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya dan
menyebut spesifikasi barang yang dijual dengan jujur termasuk jika ada cacat
pada barang tersebut.
6
B. PEMBAHASAN
1. Pengertian Strategi
Pada awalnya konsep strategi (strategy) didefinisikan sebagai cara untuk
mencapai tujan (ways to achieve ends). Porter berpendapat bahwa tujuan utama
pembuatan strategi oleh perusahaan yaitu agar perusahaan mampu menghadapi
perubahan lingkungan dalam jangka panjang.
7
Strategi yaitu cara terbaik untuk mencapai suatu sasaran atau untuk
melaksanakan suatu pekerjaan. Selain itu strategi berarti penentuan tujuan dan
sasaran jangka panjang organisasi atau perusahaan. Pada saat perusahaan ingin
memenangkan persaingan pada suatu industri satu hal yang harus diputuskan yaitu
strategi yang harus diberlakukan. Kaberhasilan suatu strategi tidak lepas dari
sumber daya dan kecakapan pendayagunaannya.
Melihat strategi hanya sebagai salah satu bagian dari rencana (plan),
akhirnya Mintzberg memperluas konsep strategi dan mendifinisikan strategi
dengan memperhatikan berbagai konsep strategi. Mintzberg menamakannya “5
p’s of strategy”, yaitu;
1. Strategy as a plan
Strategi sebagai sebuah “plan” seperti rumusan strategi yang disampaikan
oleh Gluek, dimana strategi merupakan suatu rencana yang terpadu,
komprehensif, dan terintegrasi yang dirancang untuk memastikan bahwa
tujuan-tujuan pokok perusahaan dapat dicapai.
2. Strategy as a ploy
Dalam hal ini strategi merupakan suatu manuver yang spesifik untuk
memberi isyarat mengancam kepada pesaing perusahaan karena
perusahaan memiliki kekuatan ekonomi yang lebih baik dari pada pesaing.
3. Strategy as a pattern
Strategi sebagai sebuah pola atau serangkaian tindakan yang dilakukan
oleh manajemen dalam mengejar sebuah tujuan.
4. Strategy as a position
Dalam hal ini strategi ini digunakan untuk memposisikan organisasi
perusahaan di dalam lingkungan perusahaan.
5. Strategy as a perspective
Dalam hal ini strategi merupakan perspektif dari para strategist (pembuat
keputusan strategis). Strategi merupakan pemikiran yang hidup di dalam
benak para pembuat keputusan strategis dan seperti halnya ideologi atau
budaya di dalam organisasi.
9
2. Strategi Bersaing
Menurut Porter ada dua alasan mendasar dalam menentukan strategi
bersaing perusahaan. Pertama, yaitu daya tarik industri yang ditunjukan oleh
profitabilitas industri dalam jangka panjang. Kedua, analisis terhadap berbagai
faktor yang akan menentukan posisi persaingan perusahaan di dalam industri.
Porter menyebutkan adanya lima kekuatan persaingan yang akan
berpengaruh terhadap profitabilitas suatu industri, yaitu: potential entrants,
suppliers, industry competitors, substitutes, buyers.
1. Pesaing potensial (potential entrants), yaitu perusahaan yang saat ini
tidak bersaing dalam satu industri tetapi memiliki kemampuan sumber
daya untuk memasuki suatu industri apabila perusahaan tersebut
berkehendak.
2. Pemasok (supplier), merupakan organisasi yang menyediakan input bagi
perusahaan seperti bahan baku, jasa, dan tenaga kerja. Pemasok yang
memiliki posisi tawar yang kuat akan berusaha untuk memaksimalkan laba
bagi dirinya sendiri dan mengakibatkan peningkatan biaya kepada industri
yang bergantung pada pasokan input dari pemasok tersebut.
3. Persaingan antarperusahaan dalam satu industri (Industry competitors),
menunjukkan perjuangan perusahaan dalam satu industri untuk
memperebutkan pangsa pasar (maket share) maupun pangsa pelanggan
(customer share) melalui: penetapan harga produk, pengeluaran iklan dan
promosi, penggunaan tenaga penjualan, penerapan penjualan langsung,
maupun dukungan layanan purnajual.
4. Ancaman dari produk substitusi (substitute products), persaingan terhadap
produk tidak hanya berasal dari perusahaan yang memproduksi produk
yang sama, melainkan juga berasal dari perusahaan yang memproduksi
produk yang memiliki kesamaan fungsi dengan produk yang dihasilkan
perusahaan.
5. Daya tawar pembeli (buyer), pembeli memiliki posisi penting terhadap
kelangsungan hidup perusahaan karena pendapatan penjualan (sales
revenue) yang diperoleh perusahaan berasal dari penjualan produk
perusahaan kepada pembeli. Posisi daya tawar pembeli terhadap
perusahaan yang menjual barang dan jasa ditentukan oleh dua hal utama
yaitu bargaining leverage (pengaruh tawar-menawar) dan price sensitivity
(sensitivitas harga).
Porter’s Competitive Strategies, inilah yang lazim dianut para manajer
dalam menentukan strategi bersaing. Strategi bersaing ala Porter ini
dikembangkan atas dua pertanyaan mendasar, yaitu;
1. Apakah kita akan bersaing dengan basis biaya rendah, atau kita mencoba
membuat diferensiasi pada produk/layanan? Pada yang kedua ini,
diferensiasinya tidak dengan dasar biaya, tapi dengan hal seperti mutu atau
layanan.
2. Apakah kita akan bersaing secara langsung (head to head) dengan pesaing
utama atas pangsa pasar yang paling diminati dari pasar, atau kita fokus
pada ceruk pasar (niche market) yang relatif kurang diminati tapi
merupakan segmen pasar yang menguntungkan?
11
Tiga strategi yang dapat dilakukan perusahaan untuk memperoleh
keunggulan bersaing yaitu:
1. Cost Leadership
Cost leadership, Sebuah perusahaan yang unggul dalam produksi
berbiaya rendah mampu menggunakan keunggulan biayanya untuk
menawarkan harga yang lebih rendah atau untuk menikmati margin yang
lebih tinggi. Dengan hal tersebut, perusahaan dapat secara efektif
mempertahankan diri dalam perang harga, menyerang pesaing dengan
harga rendah untuk merebut pangsa pasar.
12
Perusahaan akan memperoleh manfaat yang sangat besar dengan
adanya keunggulan biaya. Pertama, perusahaan dapat menentukan harga
jual yang rendah tetapi masih memperoleh margin yang memadai
dibanding pesaing yang menetapkan haraga sama tetapi memiliki biaya
yang lebih tinggi. Kedua, biaya yang rendah dapat menjadi hambatan bagi
pesaing potensial yang ingin memasuki industri yang sama.
13
Dalam pelaksanaannya strategi keunggulan harga/biaya
mempunyai risiko, yang menyebabkan strategi tidak berhasil dan tidak
dapat digunakan secara terus menerus yaitu;
a. Adanya perubahan teknologi, yang menyebabkan investasi atau
pengalaman masa lalu menjadi tidak bermanfaat atau hilang.
b. Pendatang baru atau pesaing meniru/menjiplak pengalaman biaya
rendah.
c. Produk tidak terlalu berkembang, karena perhatian terlalu tertuju
kepada biaya, sehingga (cenderung) kurang mampu/menyadari
perlunya perubahan produk.
d. Inflasi, sehingga kurang bersaing dengan perusahaan lain yang
menerapkan strategi diferensiasi.
e. Minat pembeli berubah ke hal-hal pembeda (diferensiasi).
14
2. Diferensiasi
Strategi diferensiasi dirancang untuk menarik pelanggan yang
memiliki sensitifitas khusus untuk satu atribut produk. Atribut produk juga
dapat menjadi saluran pemasaran dimana perusahaan menyampaikan
citranya akan keunggulan, fitur yang dimiliki serta jaringan yang
mendukungnya. Oleh karena itu, iklan memainkan peran penting dalam
pembangunaan dan penentuan elemen yang berbeda dari merek suatu
perusahaan.
15
Diferensiasi juga ditujukan untuk pasar yang luas dan melibatkan
penciptaan produk atau jasa yang dianggap memiliki keunikan disuatu
industri. Perusahaan dapat membebankan harga ekstra (premium) bagi
produknya dari keunikan tersebut. Tetapi di sisi lain, loyalitas merek bagi
sekelompok konsumen akan membuat konsumen tidak mau beralih ke
produk atau perusahaan lain.
16
Perusahaan juga dapat melakukan strategi
diferensiasi dengan menciptakan persepsi terhadap nilai tertentu pada
konsumennya misalnya; persepsi terhadap keunggulan kinerja produk,
inovasi produk, dan pelayanan yang lebih baik.
17
Diferensiasi yang dilakukan oleh perusahaan dapat berasal dari
produk itu sendiri, sistem pengantaran pesanan, pendekatan pemasaran
yang dilakukan oleh perusahaan, dan lain-lain. Dari manapun sumber
diferensiasi yang dilakukan perusahaan, apabila pelanggan menganggap
diferensiasi yang dilakukan perusahaan merupakan sesuatu yang berharga
maka pelanggan akan bersedia membayar produk perusahaan dengan
harga yang lebih tinggi dibanding produk pesaing.
Saat mengembangkan posisi “positioning” dan pembedaan
“differentiation” untuk mendukungnya, perusahaan harus waspada satu
hal, yaitu “janganlah ingin berbeda, hanya karena perbedaan itu sendiri”.
Perusahaan berbeda, karena itu memenag bermanfaat untuk konsumen dan
menguntungkan perusahaan. Untuk itu, perbedaan yang kita harapkan bisa
dirasakan konsumen tetap harus:
a. Menguntungkan Perusahaan
Posisi “Positioning” yang perusahaan jalankan, haruslah pada akhirnya
menguntungkan perusahaan itu sendiri. Ia mampu membedakan
perusahaan dengan pesaing.
b. Penting bagi konsumen
Ketika perbedaan yang perusahaan tonjolkan dianggap penting oleh
konsumen, dengan sendirinya ia akan membeli produk perusahaan
(karena seharusnya menguntungkan)
c. Dapat dikomunikasikan
Kekhasan yang istimewa, tidak ada atrinya ketika ia sulit untuk
dikomunikasikan. Untuk menyampaikan perbedaan pada konsumen
dapat melalui; iklan, promosi penjualan, sampai dengan desain,
kemasan produk, logo, karakter huruf, serta jinggel iklan.
d. Tidak mudah untuk ditiru
Sedapat mungkin, buatlah perbedaan yang memang sulit ditiru
pesaing. Biasanya sebuah konsep yang berhasil termasuk positioning
akan ditiru oleh pesaing. Meskipun ini cukup sulit, tapi paling tidak
kita telah mengarah kesana.
19
3. Fokus
Strategi yang fokus, baik yang didasarkan pada biaya rendah
maupun diferensiasi berupaya untuk memenuhi kebutuhan dari segmen
pasar tertentu. Perusahaan yang menerapkan strategi fokus akan bersedia
melayani wilayah-wilayah goegrafis yang terisolasi. Perusahaan yang
menggunakan strategi fokus memperoleh laba dari ketersediaannya untuk
melayani segmen pelanggan yang biasanya diabaikan atau dipandang
sebelah mata.
Startegi fokus disini ada dua macam yaitu; fokus pada biaya dan
fokus pada diferensiasi. Fokus pada biaya ini yaitu strategi dimana
perusahaan membuat efisien biayanya, tapi sekaligus juga mencari ceruk
pasar tertentu yang tidak menunggu pemimpin pasar (market leader).
Fokus pada diferensiasi, strategi ini menyoroti sekelompok pasar tertentu,
segmen lini produk tertentu, atau geografis tertentu.
21
Bila perusahaan memilih strategi ini, maka perusahaan akan
memilih satu atau beberapa kelompok segmen dalam suatu industri
kemudian mereka akan mengembangkan strategi yang sesuai untuk
segmen tersebut yang tidak bisa dilayani dengan baik oleh pesaing lain
yang memiliki cakupan pasar lebih luas. Melalui optimalisasi strategi ini,
perusahaan yang memilih cakupan strategi fokus akan memperoleh
keunggulan kompetitif pada segmen pasar tertentu meskipun mereka tidak
memiliki keunggulan kompetitif dalam industri secara keseluruhan.
22
Keunggulan bersaing sebuah perusahaan salah satunya dengan perbedaan
(differentition) tawaran perusahaan yang memberikan nilai lebih kepada
konsumen dibandingkan dengan pesaing. Penawaran perusahaan kepada pasar
dapat didiferensiasikan, diantaranya: diferensiasi produk, diferensiasi kualitas
pelayanan, diferensiasia personalia, diferensiasi Citra dan diferensiasi saluran
distribusi.
23
Henry Mintzberg telah mengembangkan alternatif tipe strategi persaingan
yang dirasakan lebih bagus dalam menggambarkan naiknya kompleksitas
lingkungan persaingan. Perspektif baru dalam strategi bersaing, Mintzberg
mengemukakan dua strategi yaitu; strategi bersaing diferensiasi dan strategi tidak
terdiferensiasi. Ada enam strategi bersaing yang dapat mendukung keunggulan
kompetitif diferensiasi yaitu; (harga, citra pasar, desain produk, kualitas produk,
pendukung produk).
Diferensiasi melalui citra (image) pasar yaitu organisasi untuk
menciptakan citra tertentu pada benak konsumen. Diferensiasi melalui desain
produk bisa diartikan sebagai usaha organisasi untuk berkompetisi dengan
menciptakan fitur produk dan desain yang diinginkan pasar. Diferensiasi melalui
kualitas merupakan strategi di mana organisasi berkompetisi dengan memberikan
kualitas dan kinerja produk yang lebih pada harga yang bersaing. Diferensiasi
pendukung produk menekankan pada jasa pelayanan pelanggan yang disesuaikan
oleh organisasi. Sedangkan strategi tidak terdeferensiasi menjelaskan situasi di
mana organisasi tidak mempunyai dasar untuk diferensiasi atau ketika organisasi
dengan sengaja menerapkan strategi yang ditirunya dari strategi organisasi lain.
24
Risiko dalam menjalankan strategi generik yaitu apakah perusahaan
punya jaminan sukses bila menjalankan salah satu strategi generik dari Porter ini.
Jawabanya tentu saja tidak. Pertama, belum tentu strategi yang dipilih tepat.
Kedua, masing-masing strategi memang memiliki kelemahan tersendiri. Di
samping itu, yang jelas pesaing akan mencoba menirunya bila strategi tertentu
berhasil bahkan bila itu sebuah upaya pembedaan. Keberhasilan sebuah strategi
bersaing akan menjadi daya tarik bagi pelaku bisnis lainnya, terutama bila
kebehasilannya menyolok.
25
3. Strategi Bersaing Dalam Islam
Islam sebagai sebuah aturan hidup yang khas, telah memberikan aturan-
aturannya yang rinci untuk menghindarkan munculnya permasalahan akibat
praktik persaingan yang tidak sehat. Minimal ada tiga unsur yang perlu dicermati
dalam membahas persaingan bisnis menurut Islam yaitu: pihak-pihak yang
bersaing, cara persaingan, dan produk yang dipersaingkan.
26
1. Pihak-pihak yang bersaing
Manusia merupakan pusat pengendali persaingan bisnis. Ia akan
menjalankan bisnisnya terkait dengan pandangannya tentang bisnis yang
digelutinya termasuk persaingan yang terjadi di dalamnya. Bagi seorang
muslim, bisnis yang dilakukan yaitu dalam rangka memperoleh dan
mengembangkan kepemilikan harta. Harta yang diperoleh yaitu rezeki
yang merupakan karunia yang telah ditetapkan Allah.
Tugas manusia yaitu melakukan usaha untuk mendapatkan rezeki
dengan cara yang sebaik-baiknya. Salah satunya dengan jalan berbisnis, ia
tidak akan takut akan kekurangan rezeki atau kehilangan rezeki hanya
karena anggapan rezeki itu di ambil pesaing. Hal ini dijelaskan dalam ayat
Al-quran Al-Mulk ayat 15.
Strategi Bersaing… Utari Evy 65
“Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, Maka berjalanlah
di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezki- Nya. dan
hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.”
27
Keyakinan bahwa rezeki semata-mata datang dari Allah SWT akan
menjadi kekuatan ruhiyah bagi seorang pembisnis muslim. Keyakinan ini
menjadi landasan sikap tawakal yang kokoh dalam berbisnis. Selama
berbisnis, ia senantiasa sandarkan segala sesuatunya kepada Allah.
Manakala bisnisnya memenangkan persaingan, ia bersyukur. Sebaliknya,
ketika terpuruk dalam bersaing, ia bersabar. Intinya, segala keadaan ia
hadapi dengan sikap positif tanpa meninggalkan hal-hal prinsip yang telah
Allah perintahkan kepadanya.
Seorang muslim akan memandang bahwa bisnis hanyalah sebagai
pelaksanaan perintah Allah untuk mencari karunianya yang tersebar di
seluruh penjuru bumi. Karena itu, tidak terpikir olehnya untuk
menghalalkan segala cara untuk sekedar memenangkan “persaingan”. Bagi
seorang muslim persaingan yaitu berebut menjadi yang terbaik, terbaik
dalam produk yang bermutu, harga bersaing “tidak membanting harga,
maupun merugikan komsumen”, dan dengan pelayanan total.
“Dan Kami jadikan malam sebagai pakaian. Dan Kami jadikan
siang untuk mencari penghidupan.”
28
Dalam Qur‟an Surat an-Naba‟ 10-11 dijelaskan bahwa dalam hal
kerja, Islam memerintahkan setiap muslim untuk memiliki etos kerja yang
tinggi, sebagaimana Allah telah memerintahkan umatnya untuk berlomba-
lomba dalam kebaikan. Dengan landasan ini, persaingan tidak lagi
diartikan sebagai usaha mematikan pesaing lainnya, tetapi dilakukan untuk
memberikan sesuatu yang terbaik dari usaha bisnisnya.
2. Cara bersaing
Berbisnis yaitu bagian dari muamalah. Karenanya, bisnis juga
tidak terlepas dari hukum-hukum yang mengatur masalah muamalah.
Karenanya persaingan bebas yang menghalalkan segala cara merupakan
66 At-Tijaroh Volume 2, No. 1, Januari-Juni 2016
praktik yang harus dihilangkan karena bertentangan dengan prinsipprinsip
muamalah Islam.
Dalam berbisnis, setiap orang akan berhubungan dengan pihakpihak lain
seperti rekan bisnis dan pesaing bisnis. Sebagai hubungan interpersonal,
seorang pembisnis muslim tetap harus berupaya memberikan pelayanan
terbaik kepada mitra bisnisnya. Hanya saja, tidak mungkin bagi pebisnis
muslim bahwa pelayanan terbaik itu diartikan juga memberikan “servis”
dengan hal yang dilarang syariah.
Pemberian suap untuk memuluskan negosiasi, misalnya, jelas
dilarang syariat. Atau dengan cara memberikan umpan perempuan,
sebagaimana telah menjadi hal lumrah dalam praktik bisnis sekarang.
Dalam berhubungan dengan rekan bisnis, setiap pebisnis muslim harus
memperhatikan hukum-hukum Islam yang berkaitan dengan akad-akad
bisnis. Dalam berakad, haruslah sesuai dengan kenyataan tanpa
manipulasi. Misalnya, memberikan sampel produk dengan kualitas yang
sangat baik, padahal yang dikirimkan itu memiliki kualitas jelek.
Rasulullah saw. memberikan contoh bagaimana bersaing dengan
baik. Ketika berdagang, Rasul tidak pernah melakukan usaha untuk
menghancurkan pesaing dagangnya. Itu bukan berarti Rasulullah
berdagang seadanya tanpa memperhatikan daya saingnya. Yang beliau
lakukan yaitu dengan memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya dan
menyebut spesifikasi barang yang dijual dengan jujur termasuk jika ada
cacat pada barang tersebut. Secara alami, hal seperti itu ternyata justru
mampu meningkatkan kualitas penjualan dan menarik para pembeli tanpa
menghancurkan pedagang lainnya.
Sementara itu, Negara harus mampu menjamin terciptanya sistem
yang kondusif dalam persaingan. Pemerintah tidak diperkenankan fasilitas
khusus pada seorang atau sekelompok pebisnis tentang teknologi,
informasi pasar, pasokan bahan baku, hak monopoli, atau penghapusan
pajak.
3. Produk (barang dan jasa) yang dipersaingkan
Strategi Bersaing… Utari Evy 67
Beberapa keunggulan produk yang dapat digunakan untuk
meningkatkan daya saing yaitu sebagai berikut:
a. Produk
Produk usaha bisnis yang dipersaingkan baik barang maupun jasa
harus halal. Spesifikasinya harus sesuai dengan apa yang diharapkan
konsumen untuk menghindari penipuan, kualitas terjamin dan berdaya
saing.
b. Harga
Bila ingin memenangkan persaingan, maka harga harus kompetitif.
Dalam hal ini tidak diperkenankan membanting harga dengan tujuan
menjatuhkan pesaing.
c. Tempat
Tempat harus baik, bersih, sehat dan nyaman agar dapat menarik
pelanggan.
d. Pelayanan
Pelayanan harus diberikan dengan ramah, tapi tidak boleh dengan
mendekati maksiat.
e. Layanan purna jual
Layanan purna jual ini merupakan servis yang diberikan kepada
konsumen untuk sesuai akad yang telah disepakati.
29
Banyak faktor yang dapat memengaruhi apakah suatu perusahaan menjadi
pesaing kita atau tidak. Pesaing dapat dilihat dari sisi industri, harga, bahkan
segmen pasar. Penentuan pesaing sangatlah penting karena hal tersebut sangat
berpengaruh terhadap keberhasilan perusahaan. Penelitian menunjukkan bahwa
“hanya 20%, pemasar yang dapat mengidentifikasi pesaingnya dengan tepat,
sementara 80% lebihnya salah sasaran”.
30
“Jangan membunuh pesaingmu, agar kamu tidak kehilangan rasa
bersaing”, hal ini perlu diperhatikan. Persaingan itu jangan kita lihat sebagai
ancaman, dimana kita harus memenangkan bahkan mematikan pesaing, justru
sebaliknya dengan adanya persaingan, maka perusahaan kita selalu mempunyai
„rasa bersaing‟ yang membawa kita pada perbaikan perusahaan, baik proses di
dalam, manajemen, kualitas produk yang bisa memberikan nilai tambah serta
68 At-Tijaroh Volume 2, No. 1, Januari-Juni 2016
kepuasan kepada seluruh pihak yang berkepentingan, terutama pihak pelanggan,
pemilik dan karyawan.
31
C. Penutup
Strategi yaitu cara untuk mencapai suatu tujuan dalam melaksanakan
suatu pekerjaan. Tujuan bisnis pada umumnya yaitu menghasilkan laba, serta
mengumpulkan cukup dana bagi kegiatan bisnis itu sendiri. Karena itu diperlukan
strategi bersaing agar bisnis yang dijalani memiliki keunggulan bersaing
dibandingkan dengan pesaing lainnya.
Menurut Porter terdapat tiga strategi bersaing yaitu cost leadership,
diferensiasi, dan fokus. Sedangkan Mintzberg mengemukakan dua strategi
bersaing yaitu diferensiasi dan strategi tidak terdiferensiasi. Selain strategi
bersaing yang diungkapkan oleh kedua pakar tersebut, Islam juga mengajarkan
strategi bersaing dalam bisnis. Terdapat tiga hal yang perlu diperhatikan ketika
membahas persaingan bisnis secara Islami yaitu pihak-pihak yang bersaing, cara
persaingan, dan produk yang dipersaingkan.
Endnotes:
1
M. Fuad dan Christine H., Pengantar Bisnis (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama,
2003), hlm. 4.
2
Pearce II, John A, Richard B. Robinson Jr, Manajemen Strategik: Formulasi,
Implementasi, dan Pengendalian, buku 1 (Jakarta: Salemba Empat, 2014), hlm.
205.
3
Freddy Rangkuti, Analisis SWOT Teknik Membedah Kasus Bisnis Reorientasi
Konsep perencanaan strategic untuk menghadapi abad 21 (Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama, 2006), hlm. 6.
4
Pearce II, Op. Cit., hlm. 206.
5
Mudrajad Kuncoro, Strategi Bagaimana Meraih Keunggulan Bersaing (Jakarta:
PT. Gelora Aksara, 2005), hlm. 102.
6
Muhammad Ismail Yusanto, Muhammad Karebet Widjajakusuma, Menggagas
Bisnis Islami (Jakarta: Gema Insani Press, 2002), hlm. 93.
7
Ismail Solihin, Manajemen Strategik (Jakarta: PT. Gelora Aksara Pratama,
2012), hlm. 24-25.
8
Pontas M. Pardede, Manajemen Strategik Dan Kebijakan Perusahaan (Jakarta:
Mitra Wacana Media, 2011), hlm. 28.
Strategi Bersaing… Utari Evy 69
9
Ismail Solihin, Op. Cit., hlm. 25-28.
10
Ibid. hlm. 41-43.
11
Taufiq Amir, Manajemen Strategik konsep dan Aplikasi (Jakarta: Raja Wali
Pers, 2011), hlm. 155.
12
Ibid., hlm. 157.
13
Ismail Sholihin, Op. Cit., hlm. 197.
14
Jemsly Hutabarat, Matini Huseini, Proses, Formasi & Implementasi
Manajemen Strategik Kontemporer Operasionalisasi Strategi (Jakarta: PT.
Elex Media Komputindo, 2006), hlm. 215.
15
Pearce II, Op. Cit., hlm. 206.
16
Taufiq Amir, Op. Cit., hlm. 157-158.
17
Rangkuti, Freddy, Op. Cit., hlm. 6.
18
Ismail Sholihin, Op. Cit., hlm. 198.
19
Taufiq Amir, Op. Cit., hlm. 160.
20
Pearce II, Op. Cit., hlm. 206.
21
Taufiq Amir, Op. Cit., hlm. 158-159.
22
Ismail Sholihin, Op. Cit., hlm. 198.
23
Kasmiruddin, Analisis Strategi Bersaing Bisnis Eceran Besar/Modern (Kasus
Persaingan Bisnis Ritel Di Pekanbaru), Jurnal Aplikasi Bisnis, Vol. 3 No. 1,
Oktober 2012 hlm. 10.
24
Mudrajad Kuncoro, Op. Cit., hlm. 101.
25
Taufiq Amir, Op. Cit., hlm. 159.
26
Muhammad Ismail Yusanto, Op. Cit. hlm. 92-93.
27
Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahanya, Bandung: Diponegoro,
2008, Surat Al-Mulk ayat 15.
28
Ibid., Surat an-Naba‟ 10-11.
29
Muhammad Ismail Yusanto, Op. Cit., hlm. 96.
30
Jemsly Hutabarat, Op. Cit., hlm. 71
31
Ibid, hlm.73.
70 At-Tijaroh Volume 2, No. 1, Januari-Juni 2016
Daftar Pustaka
Amir, Taufiq, Manajemen Strategik konsep dan Aplikasi, Jakarta: Raja Wakli
Pers, 2011.
Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahanya, Bandung: Diponegoro,
2008.
Fuad, M, Christine H.. (et. al), Pengantar Bisnis, Jakarta: Gramedia Pustaka
Utama, 2003, Cet ketiga.
Freddy, Rangkuti, Analisis SWOT Teknik Membedah Kasus Bisnis Reorientasi
Konsep perencanaan strategic untuk menghadapi abad 21, Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama, 2006. Cetakan kedua belas.
Hutabarat, Jemsly, Matini Huseini, Peoses, Formasi & Implementasi Manajemen
Strategik Kontenporer Operasionalisasi Strategi, Jakarta: PT. Elex Media
Komputindo, 2006.
Ismail, Muhammad Yusanto, Muhammad Karebet Widjajakusuma, Menggagas
Bisnis Islami, Jakarta: Gema Insani Press, 2002. Cet 1.
Kasmiruddin, “Analisis Strategi Bersaing Bisnis Eceran Besar/ Modern (Kasus
Persaingan Bisnis Ritel Di Pekanbaru)”, Jurnal Aplikasi Bisnis, (Vol. 3
No. 1, Oktober 2012).
Kuncoro, Mudrajad, Strategi Bagaimana Meraih Keunggulan Bersaing, Jakarta:
PT. Gelora Aksara, 2005.
Pardede, Pontas M., Manajemen Strategik Dan Kebijakan Perusahaan, Jakarta:
Mitra Wacana Media, 2011.
Pearce II, John A, Richard B. Robinson Jr, Manajemen Strategik: Formulasi,
Implementasi, dan Pengendalian, buku 1, Jakarta: Salemba Empat, edisi
12, 2014.
Solihin, Ismail, Manajemen Strategik, Jakarta: PT. Gelora Aksara Pratama, 2012.




