Tampilkan postingan dengan label Kemiskinan 3. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kemiskinan 3. Tampilkan semua postingan

Senin, 13 Oktober 2025

Kemiskinan 3


 


















SINGKATAN


APBD  : Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah

APK  : Angka Partisipasi Kasar

Bappenas : Badan Perencanaan Pembangunan Nasional

BBM  : Bahan Bakar Minyak

BKKBN : Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional

BMI  : Body Mass Index

BPS  : Badan Pusat Statistik

GDI  : Gender Development Index

GEM  : Gender Empowerment Index

GK  : Garis kemiskinan

GKM  : Garis kemiskinan Makanan

GKNM  : Garis kemiskinan  Non Makanan

HDI  : Human Development Index

HDR  : Human Development Report

HM  : Hampir Miskin

HPI  : Human Poverty Index

IDT  : Inpres desa Tertinggal

Inpres  : Instruksi Presiden

IRM  : Index Rumah Tangga Miskin 

Jamkesmas : Jaminan Kesehatan warga  

JKN  : Jaminan Kesehatan Nasional

KB  : Keluarga Berencana

MPI  : Multidimensional Poverty Index

OPHI  : Oxford Proverty and Human Development Initative

PBB  : Perserikatan Bangsa-bangsa

PDB  : Produk Domestik Bruto

Pelita  : Pembangunan Lima Tahun

PPLS  : Pendataan Program Perlindungan Sosial

PPP  : Purcasing Power Parity

PSE  : Pendataan Sosial Ekonomi

Repelita : Rencana Pembangunan Lima Tahun

RPJNM : Rencana Pembangunan Jangka Menengah

RTHM  : Rumah Tangga Hampir Miskin

RTM  : Rumah Tangga Miskin

RTRM  : Rumah Tangga Rentan Miskin

RTSM  : Rumah Tangga Sangat Miskin

SM  : Sangat Miskin

SPKKD : Survey Paket Komoditi Kebutuhan Dasar

Susenas : Survey Sosial Ekonomi Nasional

Susenda : Survey Sosial Ekonomi Daerah

UNDP  : United Nations Development Programme


  

Dari masa ke masa, dalam setiap pemerintahan baik 

pemerintahan feodal hingga pemerintahan moderen saat ini, 

kemiskinan selalu ada. Sejak beberapa dekade yang lalu, 

warga   dunia memahami bahwa kemiskinan bukan hanya 

menjadi masalah negara tertentu, melainkan telah menjadi masalah 

global, yang perlu mendapatkan perhatian dan tindak lanjut yang 

tepat 

Pengertian kemiskinan sangatlah beragam bergantung dari 

sudut pandang masing-masing ahli atau lembaga. Dalam arti sempit 

kemiskinan dipahami sebagai keadaan kurang uang dan barang 

untuk menjamin kelangsungan hidup. Dalam arti yang lebih luas, 

kemiskinan dianggap sebagai masalah multidimensional dengan 

banyak rupa serta tampilan.1 

pemicu   kemiskinan juga beragam. Menurut Sutyastie 

Remi dan P. Tjiptoherijanto tahun 2002 pemicu   kemiskinan 

yaitu   pendapatan yang rendah2, sedang   Sumodiningrat dalam 

bukunya Membangun perekonomian rakyat tahun 1998 

membedakan pemicu   kemiskinan menjadi tiga yaitu: 1). 

Kemiskinan natural merupakan keadaan miskin, sebab  dari asalnya 

memang miskin. 2). Kemiskinan kultural mengacu pada sikap hidup 

seseorang atau warga   yang disebabkan oleh gaya hidup, 

kebiasaan hidup dan budayanya, dimana mereka sudah merasa 

kecukupan dan tidak merasa kekurangan. 3). Kemiskinan struktural  

yaitu   kemiskinan yang disebabkan hasil pembangunan yang belum 

seimbang. 

 

Di negara kita   , Badan Pusat Statistik (BPS), melaporkan 

jumlah warga   miskin pada semester 2 (bulan september) tahun 

2015 yaitu   sebanyak 28,5 juta jiwa,6  jika jumlah warga   

negara kita   sesuai dengan proyeksi BPS dan Bappenas sebesar 255,5 

juta jiwa,7 maka persentasi warga   miskin di negara kita   yaitu    

sebesar 11,15 %. 

 

 

Provinsi dengan jumlah warga   miskin terbanyak yaitu   

Jawa barat dengan jumlah 4,7 juta jiwa, sedang   Bangka Belitung 

merupakan provinsi dengan jumlah warga   miskin yang paling 

sedikit yaitu 66.620 jiwa.6 

Keadaan diatas menunjukan bahwa kemiskinan masih 

merupakan masalah dan harus diatasi dengan seksama, sebab  

kegagalan dalam mengatasi persoalan ini akan memunculkan 

berbagai masalah di bidang lainnya seperti sosial, ekonomi dan 

politik. 

Program pengentasan kemiskinan juga telah dicanangkan 

dalam berbagai bidang, tidak hanya melihat sisi pendapatan 

 

Kemiskinan dapat diukur melalui beberapa pendekatan 

antara lain Sayogyo memakai   tingkat konsumsi ekuivalen beras 

per kapita,4 Badan Pusat Statistik (BPS) menghitung angka 

kemiskinan lewat tingkat konsumsi warga   atas kebutuhan dasar , 

Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) lebih 

melihat dari sisi kesejahteraan sedang   Badan Perencanaan 

Pembangunan Nasional (Bappenas) memakai   beberapa 

pendekatan utama antara lain; pendekatan kebutuhan dasar (basic 

needs approach), pendekatan pendapatan (income approach), 

pendekatan kemampuan dasar (human capability approach) dan 

pendekatan objective and subjective.2 Bank dunia sendiri 

menetapkan perhitungan kemiskinan memakai   pengeluaran 

Perhari dengan memakai   metode Purchasing power parity 

(PPP).1 

Bank Dunia dalam Global Monitoring Report 2015/2016  : 

Development Goals in an Era of Demographic Change menyatakan 

jumlah warga   miskin dunia tahun 2012 yaitu   sebanyak 876 juta 

jiwa, dengan 43% di antranya hidup di daerah sub sahara – Afrika. 

Angka persentasi kemiskinan tertinggi ditunjukkan oleh Negara 

Madagaskar. Gambar 1 menunjukkan Peta sebaran Pendapatan 

warga   dunia dan kategorinya berdasar  Garis kemiskinan $ 

1,25 dan harga PPP tahun 2005.


Penanggulangan kemiskinan di negara kita   telah dimulai sejak 

lama, melewati masa pasca revolusi hingga era pemerintahan saat 

ini. Program-program yang di laksanakan dalam tiap masa 

pemerintahan juga berbeda-beda diantaranya masa Orde lama 

dengan Pembangunan Nasional Berencana Delapan Tahun 

(Penasbede), masa orde Baru dengan program  Repelita II-VI 

periode 1976-1996,  masa reformasi dengan program pengentasan 

kemiskinan di daerah perkotaan dan pembentukan Komite 

Penanggulangan Kemiskinan, masa demokrasi (Presiden Susilo 

Bambang Yudhoyono (SBY)) dengan pembentukan Tim Nasional 

Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) serta masa 

pemerintahan Presiden Joko widodo (Jokowi) dengan program 

perlindungan sosial.

Untuk mencegah permasalahan dalam bentuk apapun yang 

berakar dari kemiskinan, diperlukan pemahaman yang baik bukan 

hanya  oleh pemerintah- pemerintah di dunia namun  juga oleh 

warga  nya. Dalam bab-bab selanjutnya akan dibahas beberapa 

hal tentang kemiskinan secara lebih mendalam dan menyeluruh. 

  

 

perkapita saja. Salah satu usaha warga   global memerangi 

kemiskinan yaitu   dicanangkannya “Millenium Development Goals 

(MDGs)” sejak tahun 2000 hingga 2015 oleh Persatuan Bangsa- 

Bangsa (PBB) yang diikuti 189 negara dunia. MDGs ini mencakup 

delapan komponen besar yaitu 1) menanggulangi kemiskinan dan 

kelaparan, 2) memenuhi pendidikan dasar untuk semua, 3) 

mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan, 4) 

menurunkan angka kematian balita, 5) meningkatkan kualitas 

kesehatan ibu melahirkan, 6) memerangi HIV/AIDS, malaria dan 

penyakit menular lain, 7) menjamin kelestarian fungsi lingkungan 

hidup dan 8) mengembangkan kemitraan global untuk 

pembangunan. Tujuh target pertama dikhususkan untuk Negara 

berkembang, sedang   target kedelapan ditujukan juga untuk 

Negara-negara maju dalam rangka membantu Negara berkembang 

mencapai  7 target yang lain.

Saat Ini, program pengentasan kemiskinan dunia akan 

beralih ke “Sustainable Development Goals” (SDGs) yang memiliki 

17 rangkaian target global baru yaitu 1) Tanpa Kemiskinan, 2) 

Tanpa Kelaparan, 3) Kesehatan yang Baik dan Kesejahteraan, 4) 

Pendidikan Berkualitas, 5) Kesetaraan Gender, 6) Air Bersih dan 

Sanitasi, 7) Energi Bersih dan Terjangkau, 8) Pertumbuhan 

Ekonomi dan Pekerjaan yang Layak, 9) Industri, Inovasi dan 

Infrastruktur, 10) Mengurangi Kesenjangan, 11) Keberlanjutan Kota 

dan Komunitas, 12) Konsumsi dan Produksi Bertanggung Jawab, 

13) Aksi Terhadap Iklim, 14) Kehidupan Bawah Laut, 15) 

Kehidupan di Darat, 16) Institusi Peradilan yang Kuat dan 

Kedamaian, 17) Kemitraan untuk Mencapai Tujuan dalam tiga 

dimensi yaitu sosial, ekonomi dan lingkungan hingga 2030. 

 

Adam Smith yang dikenal sebagai bapak ekonomi modern 

pada tahun 1776 mendefinisikan kemiskinan sebagai bentuk 

ketidakmampuan untuk membeli kebutuhan dasar (nature) dan 

kebutuhan khusus (Custom).  Dalam definisi ini, aspek status 

psikologis / sosial (custom) secara tersirat dianggap seimbang 

dengan kondisi yang murni bersifat ekonomi (nature). sebab nnya 

hal ini mencampur antara ukuran absolut (Kebutuhan dasar) dengan 

aspek ukuran relatif ( Kebutuhan khusus)15 

Pada awal abad kedua puluh , Joseph Rowntree (1901) 

mengusulkan definisi kemiskinan dalam dua bentuk yaitu 

kemiskinan primer dan sekunder. Dia menyatakan kemiskinan 

primer sebagai "Kurangnya pendapatan untuk mendapatkan 

keperluan minimum demi hanya sekedar memelihara efisiensi 

jasmani ". sedang   Konsep kemiskinan sekunder didasarkan pada 

penilaian yang lebih subjektif dimana orang-orang yang 

diwawancarai "Tampak jelas membutuhkan atau melarat", meskipun 

mereka berada diatas garis kemiskinan yang di gambarkan 

sebelumnya. Selanjutnya Roentree memperpanjang definisi 

kemiskinan primernya dengan menambahkan syarat “tidak miskin” 

yang termasuk didalamnya yaitu   “ memiliki kamar mandi dan 

kebun”. 

Seiring berjalannya waktu, muncul pula definisi-definisi 

mengenai kemiskinan yang lebih kompleks. Levitan (1980) 

mendefinisikan kemiskinan tidak hanya bentuk kekurangan barang-

barang melainkan juga kurangnya pelayanan-pelayanan yang 

dbutuhkan seseorang untuk mencapai suatu standar hidup yang 


layak. Sejalan dengan Levitan, Schiller (1979) menyatakan 

kemiskinan sebagai ketidaksanggupan untuk mendapatkan barang-

barang dan pelayanan-pelayanan yang memadai untuk memenuhi 

kebutuhan sosial yang terbatas.16 

Peter Townsend (1979) mendefinisikan kemiskinan sebagai 

"kurangnya sumber daya yang diperlukan untuk ikut berpartisipasi 

dalam kegiatan, kebiasaan/ adat istiadat dan pola makan yang secara 

umum disetujui oleh warga  ".  Sumber daya yang dimaksud 

bersifat beragam, tidak hanya dalam hal pendapatan (misalnya 

dalam hal harta warisan maupuan akumuasi kekayaan). 15 

Definisi yang lebih lengkap mengenai kemiskinan kemudian 

dikemukakan oleh John Friedman tahun 1979, dimana ia 

menyatakan kemiskinan yaitu   ketidaksamaan dalam 

mengakumulasi basis kekuasaan sosial. Yang dimaksud dengan 

basis kekuasaan sosial diatas yaitu   1). Modal produktif atas asset 

misalnya tanah perumahan, peralatan dan kesehatan, 2) sumber 

keuangan seperti pemasukan dan kredit yang memadai, 3) organisasi 

sosial dan politik yang dapat digunakan  untuk mencapai 

kepentingan bersama seperti koperasi, 4) jaringan sosial untuk 

memperoleh pekerjaan, barang-barang, pengetahuan dan 

keterampilan yang memadai, 5) akses terhadap informasi- informasi 

yang berguna untuk kehidupan.16 

Seiring waktu pada era millennium ini, dengan perubahan 

keadaan sosial, ekonomi, budaya, politik, pola pikir dan pemahaman 

mengenai kemiskinan di dunia, maka berkembang pula pengertian 

mengenai kemiskinan. Narayan dan Petesch (2007) memaknai 

kemiskinan sebagai ketiadaan asset/kekayaan dan kemampuan: 

kekayaan harta, kesehatan, integritas, emosi, penghormatan, rasa 

memiliki sosial, identitas budaya, imajinasi, informasi, dan 

pendidikan; kemampuan: berorganisasi, dalam ranah politik dan 

akuntabilitas). berdasar  definisi ini, dapat disimpulkan bahwa 

orang disebut miskin jika  tidak memiliki beberapa atau seluruh 

aset dan kapasitas untuk menopang kehidupan, seperti materi, 

 

kesehatan, integritas, menghormati dan menghargai orang lain, 

keterikatan sosial dan budaya, imaginasi, informasi, pendidikan, 

organisasional, dan diperhitungkan dalam aspek politik.

berkata kata  tentang 

kemiskinan sebagai istilah yang terkait dengan kesejahteraan. 

Pandangan konvensional menyatakan bahwa sejahtera pada 

dasarnya jika  semua kebutuhan hidup terpenuhi; maka orang 

miskin yaitu   mereka yang tidak memiliki pendapatan yang cukup 

untuk bisa memenuhi kebutuhan minimum secara layak. Pandangan 

ini melihat kemiskinan dalam koridor keuangan. Kemiskinan juga 

bisa dilihat pada jenis yang lebih khusus, misalnya konsumsi, 

misalnya orang yang berhak mendapatkan rumah sederhana, raskin, 

atau jamkesmas. Dimensi-dimensi ini   seringkali bisa kita ukur 

secara langsung dengan mengukur mal-nutrisi (gizi buruk) ataupun 

buta huruf. Pendekatan lain untuk melihat kesejahteraan (dan 

kemiskinan) difokuskan pada kemampuan individu dalam fungsi 

sosialnya. Orang miskin, dalam pendekatan ini, yaitu   mereka yang 

seringkali SDM-nya rendah, sehingga pendapatan/pendidikan 

mereka pun tidak memadai, atau kesehatannya yang buruk dan 

merasa tidak berdaya ataupun tidak memiliki kebebasan politik). 

Dari pendapat Houghton dan Kandker ini, kemiskinan tampak dari 

tiga sudut pandang, yaitu: sudut pandang konvensional, sudut 

pandang garis kemiskinan/Poverty line, dan sudut pandang sosial.18 

Bank dunia yang merupakan lembaga internasional 

pemerhati kemiskinan, menyatakan menyatakan bahwa "metode 

yang umum digunakan untuk mengukur kemiskinan yaitu   

berdasar  tingkat pendapatan atau konsumsi. Seseorang dianggap 

miskin jika konsumsinya atau tingkat pendapatan berada beberapa  

tingkat di bawah tingkat minimum yang diperlukan untuk memenuhi 

kebutuhan dasar. Tingkat minimum ini biasanya disebut "garis 

kemiskinan" ". saat   memperkirakan kemiskinan di seluruh dunia, 

garis kemiskinan memiliki patokan yang sama, dan dinyatakan 

dalam satuan umum di seluruh negara-negara. Selain definisi diatas,  

Bank Dunia  juga menawarkan definisi kemiskinan yang lebih rinci 


 

yang sesuai dengan kondisi negara yang berbeda-beda, dimana 

kemiskinan didefinisikan sebagai "kehilangan kesejahteraan secara 

nyata, yang terdiri dari banyak dimensi. Keadaan Ini termasuk 

pendapatan rendah dan ketidakmampuan memperoleh kebutuhan 

barang dan jasa dasar yang diperlukan untuk bertahan hidup dengan 

bermartabat. Kemiskinan juga mencakup rendahnya tingkat 

kesehatan dan pendidikan, akses terhadap air bersih dan sanitasi, 

keamanan fisik yang tidak memadai, kurangnya suara (politik), dan 

kapasitas yang tidak memadai dan kesempatan untuk kehidupan 

yang lebih baik".

Di negara kita  , beberapa peneliti dan ahli di bidang ekonomi 

juga berusaha mengemukakan pendapatnya mengenai definisi 

kemiskinan. Diantaranya yaitu   Sayogyo  yang mengatakan 

kemiskinan yaitu   suatu tingkat kehidupan yang berada dibawah 

standar kebutuhan hidup minimum yang ditetapkan berdasar  atas 

kebutuhan pokok pangan yang membuat orang cukup bekerja dan 

hidup sehat berdasar  atas kebutuhan beras.16 sedang   menurut 

Suparlan Kemiskinan didefinisikan sebagai standar tingkat hidup 

yang rendah,yaitu adanya suatu tingkat kekurangan materi pada 

sejumlah atau golongan orang dibandingkan dengan standar hidup 

yang berlaku dalam warga   bersangkutan. terhadap tingkat 

kesehatan, kehidupan moral dan rasa harga diri dari mereka yang 

tergolong orang miskin. 

Untuk memberi pemahaman konseptual, secara unik 

Mardimin dalam bukunya yang berjudul “Kritis Proses 

Pembangunan di negara kita   “ tahun 1996,  mengemukakan  dua 

pengertian kemiskinan, yaitu: Secara kualitatif, definisi kemiskinan 

yaitu   suatu kondisi yang didalamnya hidup manusia tidak layak 

sebagai manusia, dan Secara kuantitatif, kemiskinan yaitu   suatu 

keadaan dimana hidup manusia serba kekurangan, atau dengan 

bahasa yang tidak lazim “tidak berharta benda” . 

Selain itu, bila dilihat dari pola waktu, kemiskinan dapat 

dibedakan menjadi persistent poverty, cyclical poverty, seasonal 

poverty, dan accidental poverty. Pola pertama, persistent poverty 

 

yaitu   kemiskinan yang telah kronis atau turun temurun. Daerah 

yang warga  nya tergolong miskin umumnya merupakan daerah-

daerah yang kritis sumber daya alamnya, atau daerahnya terisolasi, 

sehingga tidak memiliki akses jalan dan transportasi dengan daerah 

lainnya. Pola kedua, yakni cyclical poverty, yaitu kemiskinan yang 

mengikuti pola siklus ekonomi secara keseluruhan. Pola ketiga, 

seasonal poverty, yaitu kemiskinan musiman seperti sering 

ditemukan pada warga   yang memiliki   mata pencaharian 

sebagai nelayan dan buruh pada pertanian tanaman pangan. Pola 

keempat, accidental poverty, yakni kemiskinan disebab kan adanya 

bencana alam atau dampak dari adanya suatu kebijakan tertentu 

yang menyebabkan menurunnya tingkat kesejahteraan suatu 

warga  . 

Dalam Buku Pedoman Komite Penanggulangan Kemiskinan 

(lembaga yang dibentuk pada masa Reformasi , pemerintahan 

Presiden Megawati Soekarno Putri) Tahun 2003 disebutkan, bahwa 

yang dimaksud warga   miskin umumnya ditandai 

ketidakberdayaan atau ketidakmampuan dalam beberapa hal, yaitu: 

1). ketidakmampuan memenuhi kebutuhan dasar seperti pangan dan 

gizi, sandang, papan, pendidikan dan kesehatan, 2). 

ketidakberdayaan melakukan kegiatan usaha produktif, 3). 

ketidakberdayaan menjangkau akses sumber daya sosial dan 

ekonomi, 4). ketidakmampuan menentukan nasibnya sendiri serta 

senantiasa mendapat perlakuan diskriminatif, memiliki   perasaan 

ketakutan dan kecurigaan serta sikap apatif dan fatalistik, 5). 

ketidakmampuan membebaskan diri dari mental dan budaya miskin 

serta senantiasa merasa memiliki   martabat dan harga diri yang 

rendah. Ketidakberdayaan dan ketidakmampuan ini   

menumbuhkan perilaku miskin yang bermuara pada hilangnya 

kemerdekaan berusaha dan menikmati kesejahteraan secara 

bermartabat.

Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (2004) 

mendefinisikan kemiskinan sebagai kondisi dimana seseorang atau 

sekelompok orang, laki-laki dan perempuan, tidak mampu 


 

memenuhi hak-hak dasarnya untuk mempertahankan dan 

mengembangkan kehidupan yang bermartabat. Hak-hak dasar 

ini   antara lain, terpenuhinya kebutuhan pangan, kesehatan, 

pendidikan, pekerjaan, perumahan, air bersih, pertanahan, 

sumberdaya alam dan lingkungan hidup, rasa aman dari perlakukan 

atau ancaman tindak kekerasan dan hak untuk berpartisipasi dalam 

kehidupan sosial-politik. Untuk mewujudkan hak-hak dasar 

seseorang atau sekelompok orang miskin Bappenas memakai   

beberapa pendekatan utama antara lain : 

 Pendekatan kebutuhan dasar, melihat kemiskinan sebagai 

suatu ketidakmampuan (lack of capabilities) seseorang, 

keluarga dan warga   dalam memenuhi kebutuhan 

minimum, antara lain pangan, sandang, papan, pelayanan 

kesehatan, pendidikan, penyediaan air bersih dan sanitasi.  

 Menurut pendekatan pendapatan, kemiskinan disebabkan 

oleh rendahnya penguasaan asset, dan alat- alat produktif 

seperti tanah dan lahan pertanian atau perkebunan, sehingga 

secara langsung mempengaruhi pendapatan seseorang dalam 

warga  . Pendekatan ini, menentukan secara rigid standar 

pendapatan seseorang di dalam warga   untuk 

membedakan kelas sosialnya.  

 Pendekatan kemampuan dasar menilai kemiskinan sebagai 

keterbatasan kemampuan dasar seperti kemampuan 

membaca dan menulis untuk menjalankan fungsi minimal 

dalam warga  . Keterbatasan kemampuan ini 

menyebabkan tertutupnya kemungkinan bagi orang miskin 

terlibat dalam pengambilan keputusan.  

 Pendekatan obyektif atau sering juga disebut sebagai 

pendekatan kesejahteraan (the welfare approach) 

menekankan pada penilaian normatif dan syarat yang harus 

dipenuhi agar keluar dari kemiskinan.  

 Pendekatan subyektif menilai kemiskinan berdasar  

pendapat atau pandangan orang miskin sendiri. Kenyataan 

menunjukkan bahwa kemiskinan tidak bisa didefinisikan 

 

dengan sangat sederhana, sebab  tidak hanya berhubungan 

dengan kemampuan memenuhi kebutuhan material, namun  

juga sangat berkaitan dengan dimensi kehidupan manusia 

yang lain. sebab nya, kemiskinan hanya dapat ditanggulangi 

jika  dimensi- dimensi lain itu diperhitungkan.  

Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) 

tampaknya sejalan dengan Houghton dan Kandker (2009), Dimana 

lembaga ini lebih melihat dari sisi kesejahteraan keluarga yang 

ditetapkan dalam lima tahapan : Keluarga Pra Sejahtera (sangat 

miskin), Keluarga Sejahtera I (miskin), Keluarga Sejahtera II, 

Keluarga Sejahtera III, Keluarga Sejahtera III plus. Pra Sejahtera 

(sangat miskin) diartikan sebagai 
ketidakmampuan memenuhi 

kebutuhan dasarnya secara minimal, seperti kebutuhan akan 

pengajaran agama, pangan, sandang, papan dan kesehatan. Sejahtera 

tahap I (miskin) diartikan sebagai keluarga yang mampu memenuhi 

kebutuhan dasarnya namun  belum mampu memenuhi kebutuhan 

sosial psikologisnya. Yang dimaksud kebutuhan sosial psikologis 

yaitu   kebutuhan akan pendidikan, keluarga berencana, interaksi 

dalam keluarga, interaksi dalam lingkungan tempat tinggal dan 

transportasi. Penetapan ini disesuaikan dengan pemenuhan 

indikator kesejahteraan. 

Badan Pusat Statistik (BPS) mendefinisikan kemiskinan 

dalam dua istilah yaitu secara absolut ditentukan berdasar  

ketidakmampuan untuk mencukupi kebutuhan pokok minimum 

seperti pangan, sandang, kesehatan, perumahan dan pendidikan yang 

diperlukan untuk bisa hidup dan bekerja. Kebutuhan pokok 

minimum diterjemahkan sebagai ukuran finansial dalam bentuk 

uang. Nilai kebutuhan minimum kebutuhan dasar,  baik untuk 

makanan maupun non makanan ini   dikenal dengan istilah garis 

kemiskinan (poverty line) atau batas kemiskinan (poverty 

Threshold). warga   yang pendapatannya di bawah garis 

kemiskinan digolongkan sebagai warga   miskin. sedang   

Kemiskinan relatif merupakan kondisi miskin sebab  pengaruh 

kebijakan pembangunan yang belum mampu menjangkau seluruh 


 

lapisan warga   sehingga menyebabkan ketimpangan distribusi 

pendapatan. Standar minimum disusun berdasar  kondisi hidup 

suatu negara pada waktu tertentu dan perhatian terfokus pada 

golongan warga   “termiskin”, misalnya 20 persen atau 40 persen 

lapisan terendah dari total warga   yang telah diurutkan menurut 

pendapatan/pengeluaran. Kelompok ini merupakan warga   relatif 

miskin. Dengan demikian, ukuran kemiskinan relatif sangat 

tergantung pada distribusi pendapatan/ pengeluaran warga   

sehingga dengan memakai   definisi ini berarti “orang miskin 

selalu hadir bersama kita”.

Definisi kemiskinan BPS ini termasuk dalam konsep 

kemiskinan makro yang memandang kemiskinan sebagai 

ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan 

dasar makanan dan bukan makanan (diukur dari sisi pengeluaran). 

Hasil kajian Kemiskinan makro, dapat berguna dalam perencanaan 

dan evalusai program kemiskinan dengan target geografis. 

sedang   untuk targer sasaran rumah tangga secara langsung pada 

program bantuan dan perlindungan sosial, digunakan konsep 

kemiskinan mikro yang didasarkan pada didasarkan 14 kriteria 

kemiskinan yang berbasis pada rumah tangga. Ke-14 variabel yang 

digunakan yaitu   luas lantai perkapita, jenis lantai, jenis dinding, 

fasilitas tempat buang air besar, sumber air minum, sumber 

penerangan, bahan bakar, membeli daging/ayam/susu, frekuensi 

makan, membeli pakaian baru, kemampuan berobat, lapangan usaha 

kepala rumah tangga, pendidikan kepala rumah tangga, dan aset 

yang dimiliki rumah tangga. 

Perundang-undangan Negara juga berkata kata  mengenai 

kemiskinan yang tercantum dalam Undang-Undang (UU) RI Nomor 

13 Tahun 2011 tentang Penanganan Fakir miskin, pada Pasal 1 (1) 

menyebutkan bahwa fakir miskin yaitu   orang yang sama sekali 

tidak memiliki   sumber mata pencaharian dan atau memiliki   

sumber mata pencaharian namun  tidak memiliki   kemampuan 

memenuhi kebutuhan dasar yang layak bagi kehidupan dirinya dan 

atau keluarganya. Kebutuhan dasar yang yaitu   (i) kebutuhan 

 

pangan, (ii) sandang, (iii) perumahan, (iv) kesehatan, (v) pendidikan, 

(vi) pekerjaan, dan/atau (vii) pelayanan sosial. 

Definisi di atas mengakomodir dua sudut pandang sekaligus, 

yaitu sudut pandang ekonomi yang berupa tidak memiliki   sumber 

mata pencaharian untuk pemenuhan kebutuhan dasar dan sudut 

pandang sosial yang berupa tidak punya kemampuan.

Pada akhirnya, dari semua definisi yang telah dipaparkan 

diatas, definisi kemiskinan tampak sangat beragam dan sebab nya 

dapat disimpulkan bahwa dalam arti sempit kemiskinan dipahami 

sebagai keadaan kurang uang dan barang untuk menjamin 

kelangsungan hidup sedang   dalam arti yang lebih luas, 

kemiskinan dianggap sebagai masalah multidimensional dengan 

banyak rupa serta tampilan. 

  

 

Kemiskinan memiliki banyak pemicu  , bergantung dari 

sudut pandang serta pemahamannya. Sebagian orang melihat dari 

sudut pandang subjektif dan komparatif, sementara yang lain 

melihatnya dari segi moral dan evaluatif. Meskipun sebagian besar 

dari mereka sering mengkaitkan kemiskinan dengan aspek ekonomi, 

namun sejatinya pemicu   kemiskinan menyangkut banyak segi atau 

dimensi. Berikut akan disajikan pemicu   kemiskinan dari berbagai 

sudut pandang. 

Secara umum kemiskinan dapat disebabkan oleh dua 

kondisi, yaitu kemiskinan alamiah (nature) dan buatan. Kemiskinan 

alamiah terjadi sebab  seseorang atau kelompok warga   ini   

tidak memiliki sumber daya yang memadai baik sumberdaya alam, 

sumberdaya manusia maupun sumberdaya pembangunan, atau 

kalaupun mereka ikut serta dalam pembangunan, mereka hanya 

mendapat imbalan pendapatan yang rendah, selain itu faktor-faktor 

alamiah seperti sebab  cacat, sakit, usia lanjut atau sebab  bencana 

alam juga termasuk dalam pemicu   kemiskinan ini. Menurut 

Kartasasmita (1996) keadaan ini disebut sebagai “Persisten Poverty” 

yaitu kemiskinan yang telah kronis atau turun temurun dan kondisi 

warga   seperti ini pada umumnya berada di daerah yang 

sumberdaya alamnya kritis atau daerah yang terisolir. 

Kemiskinan buatan terjadi sebab  faktor- faktor buatan 

manusia. Bentuk kemiskinan ini dapat dibagi menjadi dua yaitu 

kemiskinan kultural dan kemiskinan struktural.  

0

Menurut Nugroho dan Dahuri (2004) Kemiskinan kultural 

yaitu   kemiskinan yang lebih banyak disebabkan sikap individu 

dalam warga   yang mencerminkan gaya hidup, perilaku, atau 

budaya yang menjebak dirinya dalam kemiskinan. Dengan kata lain, 

seseorang dikatakan miskin jika dan hanya jika tingkat 

pendapatannya tidak memungkinkan orang ini   untuk mentaati 

tata nilai dan norma dalam warga  nya.28 Gunawan 

Sumodiningrat (1998) menekankan bahwa Kelompok warga   

seperti ini tidak mudah untuk diajak berpartisipasi dalam 

pembangunan, tidak mau berusaha untuk memperbaiki dan merubah 

tingkat kehidupannya. Akibatnya tingkat pendapatan mereka rendah 

menurut ukuran yang dipakai secara umum. pemicu   kemiskinan 

ini sebab  faktor budaya yang disebut dengan budaya miskin.29 

Teori tentang budaya miskin (the culture of poverty) dikemukakan 

pertama kali oleh Oscar Lewis. Oscar Lewis (1966) yang 

berkata kata  bahwa Budaya miskin yaitu   budaya yang menjadikan 

kehidupan terus- menerus dalam kemiskinan, seperti kebiasaan 

buruk, konsumtif, tindak kejahatan, malas, tidak menghargai waktu 

dan kesempatan, tidak disiplin, boros  dan lain-lain.27 

Telaah lain dari Zastrow dan Ashman (2007) melihat 

menyatakan kemiskinan kultural atau budaya miskin sebagai 

kemiskinan yang terjadi akibat dari berlakunya sistem kapitalisme. 

Menurut mereka, Munculnya budaya miskin disebabkan oleh dua 

sifat buruk kapitalisme yaitu pertama, banyaknya pengangguran 

akibat penggunaan teknologi tinggi dalam proses produksi sebab  

prinsip kapitalisme yaitu   cost-benefit analysis, yaitu dengan biaya 

sekecil-kecilnya untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya. 

Kedua, Upah buruh yang rendah sebab  prinsip cost-benefit analysis 

yang mengedepankan material dan meremehkan analisis pada aspek 

sosial. Lebih lanjut mereka berkata kata  secara filosofis terdapat 

delapan hal yang menyebabkan seseorang menjadi miskin yaitu 1). 

Menganggur , 2).Tidak Sehat, 3). Masalah emosi, 4). Terlibat 

narkoba ,5). Pendidikan rendah, 6). Retardasi mental, 7). Salah urus 

negara, 8). Diskriminasi ras dan gender 

 

Budaya kemiskinan menurut Astika (2010), merupakan suatu 

adaptasi atau penyesuaian dan reaksi kaum miskin terhadap 

kedudukan marginal mereka dalam massyarakat yang berstrata 

kelas, sangat individualistis berciri kapitalisme. Sehingga yang 

memiliki   kemungkinan besar untuk memiliki kebudayaan 

kemiskinan yaitu   kelompok warga   yang berstrata rendah, 

mengalami perubahan sosial yang drastis yang ditunjukkan oleh ciri-

ciri : 

 Kurang efektifnya partisipasi dan integrasi kaum 

miskin kedalam lembaga-lembaga utama masarakat, 

yang berakibat munculnya rasa ketakutan, kecurigan 

tinggi, apatis dan perpecahan; 

 Pada tingkat komunitas local secara fisik ditemui 

rumah-rumah dan pemukiman kumuh, penuh sesak, 

bergerombol, dan rendahnya tingkat organisasi diluar 

keluarga inti dan keluarga luas; 

 Pada tingkat keluarga ditandai oleh masa kanak-kanak 

yang singkat dan kurang pengasuhan oleh orang tua, 

cepat dewasa, atau perkawinan usia dini, tingginya 

angka perpisahan keluarga, dan kecenderungan 

terbentuknya keluarga matrilineal dan dominannya 

peran sanak keluarga ibu pada anak-anaaknya;  

 Pada tingkat individu dengan ciri yang menonjol 

yaitu   kuatnya perasaan tidak berharga, tidak berdaya, 

ketergantungan yang tinggi dan rasa rendah diri;  

 Tingginya (rasa) tingkat kesengsaraan, sebab  beratnya 

penderitaan ibu, lemahnya struktur pribadi, kurangnya 

kendali diri dan dorongan nafsu, kuatnya orientasi 

masa kini, dan kekurang sabaran dalam hal menunda 

keinginan dan rencana masa depan, perasaan 

pasrah/tidak berguna, tingginya anggapan terhadap 

keunggulan lelaki, dan berbagai jenis penyakit 

kejiwaan lainnya;  


 Kebudayaan kemiskinan juga membentuk orientasi 

yang sempit dari kelompoknya, mereka hanya 

mengetahui kesulitan-kesulitan, kondisi setempat, 

lingkungan tetangga dan cara hidup mereka sendiri 

saja, tidak adanya kesadaran kelas walau mereka 

sangat sensitif terhadap perbedaan-perbedaan status; 

Bentuk kemiskinan yang disebabkan oleh faktor-faktor 

buatan manusia seperti kebijakan ekonomi yang tidak adil, distribusi 

aset produksi yang tidak merata, korupsi dan kolusi serta tatanan 

ekonomi dunia yang cenderung menguntungkan kelompok 

warga   tertentu dinyatakan oleh Sumodiningrat (1998) sebagai 

Kemiskinan struktural. Kemiskinan ini muncul sebab  adanya upaya 

penanggulangan kemiskinan alamiah, yaitu dengan direncanakan 

bermacam-macam program dan kebijakan. Namun sebab  

pelaksanaannya tidak seimbang, pemilikan sumber daya tidak 

merata, kesempatan yang tidak sama menyebabkan keikutsertaan 

warga   menjadi tidak merata pula, sehingga menimbulkan 

struktur warga   yang timpang.

An-naf (2011) berkata kata  fenomena kemiskinan struktural 

akibat moderenisasi pembangunan sebagai berikut 

 Bias Kota (Urban Bias).
Pada banyak negara sedang 

berkembang (developing countries) dianut faham 

modernisasi dalam pembangunannya. Salah satu kelemahan 

dalam faham modernisasi yaitu   tidak dapat dihindarkannya 

perencanaan pembangunan yang terpusat (centralized 

planning). Kerapkali para perencana pembangunan berfikir 

sebagai “orang kota” yang merencanakan keharusan- 

keharusan bagi warga   pedesaan secara top down 

approach yang tidak sesuai dengan hajat hidupnya. 

Akibatnya struktur sosial warga   di pedesaan mengalami 

desintegration dan differensiation ibarat tercabut dari 

akarnya. Dalam kondisi yang demikian, bila diamati secara 

cermat, banyak unit-unit keluarga ataupun individu yang 

 

secara sosial dan ekonomi tidak dapat survive dan jatuh ke 

jurang kemelaratan.  

 Dualisme Desa-Kota (Rural-Urban Dualism). Juga dalam 

paradigma modernisasi, sadar atau tidak sadar diciptakan 

pembagian peran (division of role) antara desa dan kota. 

Desa diposisikan sebagai daerah pertanian, tempat 

memproduksi bahan baku, dan pemasok tenaga kerja kasar 

(murah). Sementara kota memiliki   posisi sebagai daerah 

industri, perdagangan, pusat pemerintahan, dan sumber 

tenaga kerja terampil. Dengan pembagian posisi yang 

demikian, secara struktural tercipta kondisi di mana 

warga   pedesaan secara relatif lebih miskin dari pada 

warga   perkotaan. Dalam kemiskinan relatifnya, warga 

pedesaan seringkali terjerumus ke jurang kemiskinan 

absolut.  

 Proletarianisasi (Proletarianization). Proletarianisasi yaitu   

suatu proses di mana Petani Pemilik yang mandiri (self-

reliant) secara berangsur- angsur mengalami degradasi 

menjadi Petani Kecil (Small Farmer), Petani Tak 

Berlahan/Buruh Tani (Landless Farmer/Farm Labourer), 

dan mungkin selanjutnya atau generasi berikutnya menjadi 

Buruh Industri yang sangat tidak mandiri. Manakala industri 

tidak mampu memberikan pekerjaan, tiba saatnya para 

Buuruh Industri ini   terjebak dalam jurang kemiskinan. 

Proses ini terjadi sebab  perubahan struktur sosial dan 

ekonomi di pedesaan sebagai dampak negatif dari 

modernisasi. Persaingan yang tidak sehat antara Petani 

Besar/Kaya (Landlord) di satu pihak dengan Petani Kecil 

dan Buruh Tani (Peasant) dilain pihal, di mana program-

program pemerintah dan proses modernisasi itu sendiri lebih 

memfasilitasi Petani Kaya, menyebabkan pertanian skala 

kecil menjadi tidak ekonomis dan mengalami kebangkrutan. 

Sebaliknya Petani Besar/Kaya justru tumbuh semakin besar 

dan kaya pertanian kapitalis (Capitalist Farming). Proses 


 

transformasi ini dalam prakteknya tidak lepas dari ekspansi 

ekonomi pemilik-pemilik modal (kaum Bourgeaucy) dari 

kota ke desa.  

 Marjinalisasi (Marginalization). Proletarianisasi itu sendiri 

sesungguhnya suatu bentuk proses marjinalisasi di pedesaan. 

Di perkotaan, marjinalisasi terjadi antara Sektor Formal yang 

memarjinalkan Sektor Informal, konglomerasi yang 

memarjinalkan perdagangan-perdagangan kecil/eceran, 

termasuk aktivitas-aktivitas yang berfaham modernisasi 

memarjinalkan aktivitas- aktivitas tradisional. Ujungnya 

yaitu   kebangkrutan dari mereka yang termarjinalkan. 

Pedagang Kaki Lima yang setiap saat bisa “ditertibkan”, 

tukang becak yang setiap saat becaknya bisa “diamankan”, 

dan banyak lagi contohnya yaitu   produk dari proses 

marjinalisasi.  

 Perusakan Lingkungan (Environmental Destruction). 

Perusakan lingkungan disebab kan penyelenggaraan pem 

bangunan yang tidak berkelanjutan (unsustainable 

development) dan tidak ramah lingkungan (environmentally 

unfriendly) juga berakhir pada proses pemiskinan 

(povertization). Dalam kasus ini antara lain erosi lahan (soil 

erosion) sebab  penggunaannya yang melewati daya 

dukungnya. Erosi ini   bisa sampai pada tingkat 

desertization (menjadi padang pasir) sehingga lahan tidak 

dapat lagi ditanami dan hilang produktivitasnya, sampai pada 

keadaan di mana penghuninya mengalami kelaparan 

(famine). Kasus lain yaitu   penggundulan hutan 

(deforestration) yang berakibat pada rusaknya ekosistem 

(ecosystem) yang berarti juga hilangnya sumber penghidupan 

dari warga   yang hidupnya bergantung pada keberadaan 

ekosistem ini  . Penggundulan hutan juga berakibat pada 

erosi, desertization, dan bajir yang memperberat beban 

kehidupan warga   miskin. Di perkotaan dan pusat-pusat 

industri terjadi pen- cemaran (polution) lingkungan, air, 

 

udara dan lagi-lagi yang menjadi korban yaitu   warga   

miskin perkotaan yang mendiami daerah- daerah kumuh 

berupa gangguan kesehatan dan tingginya tingkat kematian 

(mortality rate). Perusakan lingkungan ini pada akhirnya 

bermuara pada pemiskinan.  

 

Dalam bukunya yang berjudul “Anatomi Kemiskinan dan 

strategi penangnananya” Bagong (2015) berkata kata  bahwa 

kemiskinan struktural  biasanya terjadi di daerah dengan perbedaan 

tajam antara mereka yang hidup melarat dengan mereka yang hidup 

dalam kemewahan dan kaya raya. Ciri utama kemiskinan ini yaitu   

mobilisasi sosial vertical yang tidak terjadi atau terjadi secara 

lambat. Mereka yang miskin akan tetap hidup dalam kemiskinan 

sedang   yang kaya akan tetap menikmati kekayaannya. Ciri lain 

kemiskinan struktural yaitu   ketergantungan yang kuat antara pihak 

miskin dengan kelas sosial-ekonomi di atasnya.16 

Sedikit berbeda dengan tiga pemicu   kemiskinan diatas,  

David cox (2004) menjabarkan kemiskinan dalam beberapa dimensi 

yaitu Kemiskinan akibat globalisasi dimana keadaan ini 

menyebabkan munculnya negara pemenang dan negara kalah. 

Pemenang umumnya yaitu   negara-negara maju, sedang   mereka 

yang tersingkir akibat persaingan dan pasar bebas yaitu   negara-

negara berkembang yang kemudian menjadi negara kalah. Dimensi 

berikutnya yaitu   kemiskinan akibat pembangunan yang dapat pula 

dibedakan menjadi kemiskinan subsisten (kemiskinan sebagai akibat 

dari rendahnya pembangunan), kemiskinan pedesaan (kemiskinan 

sebagai akibat peminggiran pedesaan dalam proses pembangunan), 

kemiskinan perkotaan (kemiskinan yang disebabkan oleh hakekat 

dan percepatan pertumbuhan perkotaan). Dimensi lainnya yaitu   

kemiskinan sosial (kemiskinan yang dialami oleh para perempuan, 

anak-anak, dan kelompok minoritas, serta kemiskinan 

konsekuensial, yaitu kemiskinan yang terjadi akibat kejadian-

kejadian lain atau faktor-faktor eksternal di luar si miskin, seperti 


konflik, bencana alam, kerusakan lingkungan dan tingginya laju 

jumlah warga   melebihi laju jumlah pendapatan nasional. 32 

Dilain pihak Sharp, dkk (1996) mencoba 

mengidentifikasikan pemicu   kemiskinan dipandang dari sisi 

ekonomi. Pertama, secara mikro kemiskinan muncul sebab  adanya 

ketidaksamaan pada kepemilikan sumberdaya yang menyebabkan 

distribusi pendapatan yang timpang. warga   miskin hanya 

memiliki sumberdaya dalam jumlah terbatas dan kualitasnya rendah. 

Kedua, kemiskinan muncul akibat perbedaan dalam kualitas 

sumberdaya manusia. Kualitas sumberdaya manusia rendah berarti 

produktivitasnya rendah, yang pada gilirannya menyebabkan upah 

yang diterima rendah. Rendahnya kualitas sumberdaya manusia ini 

sebab  rendahnya pendidikan, nasib kurang beruntung, adanya 

diskriminasi atau sebab  keturunan. Ketiga, kemiskinan muncul 

akibat perbedaan akses dalam modal. 33  

Ketiga pemicu   kemiskinan ini bermuara pada teori 

lingkaran setan kemiskinan (Vicious circle of poverty) yang pertama 

kali dikemukakan Ragnar Nurkse (1953). Adanya keterbelakangan, 

ketidak sempurnaan pasar, dan kurangnya modal menyebabkan 

rendahnya produktivitas. Rendahnya produktivitas mengakibatkan 

rendahnya pendapatan yang mereka terima. Rendahnya pendapatan 

akan berimplikasi pada rendahnya tabungan dan investasi. 

Rendahnya investasi berakibat pada keterbelakangan. Oleh sebab  

itu, setiap usaha untuk mengurangi kemiskinan seharusnya 

diarahkan untuk memotong lingkaran dan perangkap kemiskinan 

i

Robert Chambers (1987) memaparkan pengertian 

kemiskinan yang lebih lengkap, dalam arti sesuai dengan kenyataan 

dan jelas secara konseptual. Menurut Chambers, inti dari masalah 

kemiskinan terletak pada apa yang disebut deprivation trap atau 

perangkap kemiskinan. Secara rinci, deprivation trap terdiri dari 

lima unsur, yaitu: 1).kemiskinan (Poverty), 2).Ketergantungan 

(dependence), 3).keterasingan (Isolation) baik secara sosial maupun 

geografis, 4).kerentanan menghadapi situasi darurat (State of 

emergency), dan 5).ketidakberdayaan (Powerless). Kelima unsur ini 

seringkali saling berkait satu dengan yang lain sehingga merupakan 

perangkap kemiskinan yang berbahaya dan mematikan peluang 

hidup orang atau keluarga miskin. Dari kelima dimensi di atas, 

kerentanan dan ketidakberdayaan perlu mendapat perhatian yang 

utama. Kerentanan, menurut Chambers dapat dilihat dari 

ketidakmampuan keluarga miskin untuk menyediakan sesuatu guna 

menghadapi situasi darurat  yang muncul secara tiba-tiba seperti 

datangnya bencana alam, kegagalan panen, atau penyakit. 

Kerentanan ini sering menimbulkan poverty rackets atau roda 

penggerak kemiskinan, yang menyebabkan keluarga miskin harus 

menjual harta benda dan aset produksi dan menyebabkan mereka 

menjadi semakin rentan dan tidak berdaya.


 

Indikator Dan Tolak Ukur Kemiskinan 

Menurut World Bank Institute (2005), ada 4 alasan mengapa 

kemiskinan diukur. Pertama yaitu   untuk membuat orang miskin 

terus berada dalam agenda; jika kemiskinan tidak diukur, maka 

orang miskin akan mudah terlupakan. Kedua, orang harus mampu 

mengidentifikasi orang miskin jika salah satu tujuannya yaitu   

untuk keperluan intervensi dalam rangka mengentaskan kemiskinan. 

Ketiga yaitu   untuk memantau dan mengevaluasi proyek-proyek 

atau kebijakan intervensi yang diarahkan kepada orang miskin. Dan 

terakhir yaitu   untuk mengevaluasi efektivitas lembaga-lembaga 

pemerintah dalam mengentaskan kemiskinan.43 

Terdapat beragam indikator dan tolak ukur dalam 

menghitung kemiskinan. Secara umum pengukuran ini dapat di bagi 

menjadi dua yaitu pengukuran kemiskinan moniter dan kemiskinan 

non-moniter. Yang termasuk dalam pengukuran moniter diantaranya 

melalui  pendekatan tingkat konsumsi, dan pendekatan paritas daya 

beli, sedang   yang termasuk pengukuran non-moniter diantaranya 

melalui pendekatan tingkat kesejahteraan keluarga, pendekatan 

pembangunan manusia serta pendekatan multi dimensional. Ragam 

pendekatan ini   akan menghasilkan suatu refleksi kemiskinan 

berupa standar kemiskinan yang kemudian dapat diukur 

tingkatannya (untuk berbagai tujuan) dengan beberapa rumus 

statistik seperti Head Count Index , Sen Poverty Index, Poverty Gap 

Index, Squared Poverty Gap Index, Foster-Greer-Thobecke, Sen-

 

berdasar  beberapa penelitian, Bank Dunia tahun 2003 

menyimpulkan pemicu   dasar kemiskinan dalam 9 poin yaitu : 1) 

kegagalan kepemilikan terutama tanah dan modal, 2) terbatasnya 

ketersediaan bahan kebutuhan dasar, sarana dan prasarana, 3) 

kebijakan pembangunan yang bias perkotaan dan bias sektor, 4) 

adanya perbedaan kesempatan di antara anggota warga   dan 

sistem yang kurang mendukung, 5) adanya perbedaan sumber daya 

manusia dan perbedaan antara sektor ekonomi (ekonomi tradisional 

versus ekonomi modern), 6) rendahnya produktivitas dan tingkat 

pembentukan modal dalam warga  , 7) budaya hidup yang 

dikaitkan dengan kemampuan seseorang mengelola sumber daya 

alam dan lingkunganya, 8) tidak adanya tata pemerintahan yang 

bersih dan baik (good governance), 9) pengelolaan sumber daya 

alam yang berlebihan dan tidak berwawasan lingkungan.2 

Dari pemaparan pemicu  -pemicu    kemiskinan ini   

diatas dapat disimpulkan bahwa faktor pemicu   kemiskinan yaitu   

faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal yaitu   pemicu   

kemiskinan yang potensinya berasal dari diri seseorang dan atau 

keluarga serta lingkungan sekitarnya. sedang   faktor eksternal 

yaitu   faktor yang berkaitan dengan kebijakan pemerintah dan 

situasi lain yang berpotensi membuat seseorang jatuh miskin antara 

lain penyakit , usia  tua dan bencana alam. 

Di negara maju, kemiskinan umumnya bersifat individual 

dan terjadi sebab  faktor internal seperti kondisi cacat (fisik atau 

mental), usia lanjut, sakit parah atau berkepanjangan, kecanduan 

narkotik atau alkohol dan lainnya. sedang   di negara - negara 

berkembang yang kemiskinannya bersifat massal dan parah, 

pemicu   kemiskinan lebih di dominasi oleh faktor eksternal seperti 

system ekonomi yang tidak adil, adanya diskriminasi sosial, 

merajalelanya korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) atau tidak 

adanya jaminan sosial. 

 


 

sisi kebutuhan non-makanan tidak hanya terbatas pada 

sandang dan papan melainkan termasuk pendidikan dan 

kesehatan. 

Standar kemiskinan BPS untuk menentukan jumlah 

warga   miskin disebut dengan garis kemiskinan (GK). 

Garis kemiskinan dihitung berdasar  rata-rata pengeluaran 

makanan dan non makanan per kapita pada kelompok 

referensi yang telah ditetapkan. Kelompok referensi ini 

didefinisikan sebagai warga   kelas marjinal yaitu 20 

persen warga   yang berada diatas Garis Kemiskinan.  

Data untuk membuat pengukuran ini merupakan data makro 

yang berasal dari Survey Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 

yang merupakan survey konsumsi dan belanja tingkat rumah 

tangga. sebab  Susenas hanya dapat menyediakan data 

sampai tingkat provinsi, maka untuk data kabupaten yang 

lebih rinci dan lebih tepat dapat diperoleh dari Survey Sosial 

Ekonomi Daerah (Suseda) yang dibuat oleh masing-masing 

daerah.1 

Formula garis kemiskinan yaitu   sebagai berikut: 35,36 

GK=GKM+GKNM 

Keterangan : 

GK : Garis kemiskinan 

GKM  : Garis kemiskinan makanan 

GKNM : Garis kemiskinan Non- makanan 

Garis Kemiskinan Makanan (GKM) merupakan nilai 

pengeluaran kebutuhan minimum makanan yang disetarakan 

dengan 2100 kilokalori perkapita perhari. Paket komoditi 

kebutuhan dasar makanan diwakili oleh 52 jenis komoditi 

(tabel 4.2)4 

  

 

Shorrocks-Thon Index, dan Index Watts. Berbagai pendekatan dan 

rumus statistik ini   akan dirincikan sehingga dapat memberikan 

pemahaman secara lebih mendalam dan menyeluruh. 

 

Pendekatan Tingkat Konsumsi  

1. Ekuivalensi konsumsi beras Sayogyo (1971) 

Mengingat beras merupakan kebutuhan primer rakyat 

Asia, maka perkiraan garis kemiskinan tidak jarang pula 

dilakukan dengan mempergunakan ukuran kebutuhan beras 

atau beras ekuivalen. Seperti yang dikemukakan oleh 

Sayogyo (1971) pada awal tahun 1970-an. Ia memakai   

tingkat konsumsi ekuivalen beras per kapita sebagai 

indikator kemiskinan dan membedakan tingkat ekuivalen 

konsumsi beras untuk pedesaan dan perkotaan. Dengan 

demikian didapatkan kategori kemiskinan berdasar  

tingkat ekuivalen ini   seperti yang tampak pada tabel 

4.1. 24 

Tabel 4.1. Ekuivalensi konsumsi beras Sayogyo (1971) 

Kategori 

Pedesaan 

(kg/per orang/tahun) 

Perkotaan   

(kg/per orang/tahun) 

Melarat 180 270 

Sangat Miskin 240 360 

Miskin 320 480 

 

2. Pemenuhan Kebutuhan Dasar BPS 

Hampir sejalan dengan model konsumsi beras dari 

Sayogyo, Badan Pusat Statistik (BPS) menghitung angka 

kemiskinan lewat tingkat konsumsi warga   atas kebutuhan 

dasar. Perbedaannya yaitu   bahwa BPS tidak menyetarakan 

kebutuhan-kebutuhan dasar dengan jumlah beras. Dari sisi 

makanan, BPS memakai   indikator yang 

direkomendasikan oleh Widyakarya Pangan dan Gizi tahun 

1998 yaitu 2.100 kalori per orang per hari, sedang   dari 

30    |   Mengenal dan Memahami Kemiskinan BAB IV - Indikator, Tolak Ukur dan Karakteristik    |    31

 

Selanjutnya GKMj ini   disetarakan dengan 2100 

kilokalori dengan mengalikan 2100 terhadap harga implisit 

rata-rata kalori menurut daerah j dari warga   referensi, 

sehingga : 37 

Fj= 

∑ 𝑉�𝑘52𝑘−1∑ ��𝑘52𝑘=1  𝑥 2100 

Keterangan: 

Fj : kebutuhan makanan minimal di daerah j 

yaitu 

yang menghasilkan energy setara dengan  

2100 kilokalori/kapita/hari). 

Kjk : Kalori dari komoditi k di daerah j 

Vjk : Nilai pengeluaran untuk konsumsi komoditi 

k di daerah j 

 

Garis Kemiskinan Non Makanan (GKNM) yaitu   

kebutuhan minimum untuk perumahan, sandang, pendidikan 

dan kesehatan. Pemilihan jenis barang dan jasa non makanan 

mengalami perkembangan dan penyempurnaan dari tahun ke 

tahun disesuaikan dengan perubahan pola konsumsi 

warga  . Paket komoditi kebutuhan dasar non makanan 

diwakili oleh 51 jenis komoditi di perkotaan dan 47 jenis 

komoditi di perdesaan. Contoh jenis komoditi untuk GKNM 

ditampilkan pada tabel 4.3.37 

  

 

Tabel 4.2. 52  Jenis komoditi pada Garis Kemiskinan Makanan 

                (GKM) 

Beras Daging babi Nangka Gula pasir 

Beras Ketan Daging ayam 

ras 

Bawang 

putih 

Gula merah 

Jagung Pipilan Daging ayam 

kampung 

Bawang 

merah 

Teh 

Tepung terigu Tetelan Cabe merah kopi 

Ketela pohon Telur ayam 

ras 

Cabe rawit Garam 

Ketela rambat Telur 

itik/manila 

Kacang 

tanah 

Kemiri 

Gaplek Susu kental 

manis 

Yahu Terasi/petis 

Tongkol/tuna Susu bubuk Tempe Kerupuk 

Kembung Bayam Manga Mie instan 

Teri Buncis Salak Roti manis 

Bandeng Kacang 

panjang 

Pisang 

mabon 

Kue kering 

Mujair Tomat sayur Minyak 

kelapa 

Kue basah 

Daging sapi Daun ketela 

pohon 

Kelapa Rokok kretek 

filter 

 

Formula dasar dalam menghitung Garis Kemiskinan 

Makanan (GKM) yaitu   : 37 

GKMj = ∑ =∑  

Keterangan: 

GKMj : Garis kemiskinan makanan daerah j 

(sebelum  disetarakan menjadi 2100 

kilokalori). 

Pjk : Harga komoditi k di daerah j 

Qjk : Rata-rata kuantitas komoditi k yang 

konsumsi di daerah j 

Vjk : Nilai pengeluaran untuk konsumsi komoditi 

k di  daerah j 

j : Daerah (perkotaan atau pedesaan) 


 

NFp = ∑  

Keterangan: 

NFp : Pengeluaran minimum non makanan atau 

Garis   kemiskinan  non makanan di daerah p 

(GKNMp). 

ri : Rasio pengeluaran komoditas per sub- 

kelompok non-makanan menurut daerah 

(hasil SPPKD 2004)
 

Vi : Nilai pengeluaran per komoditas per 

subkelompok non-makanan daerah p (dari 

Susenas Modul Konsumsi)  

p : Daerah (perkotaan atau pedesaan) 

Dengan memakai   nilai Garis Kemiskinan (GK), 

dapat ditentukan kategorisasi warga   berdasar  

kemiskinannya, yaitu: 35 

-  Sangat Miskin (SM)  : kurang dari 0,8 x GK 


 

-  Miskin    : di bawah GK 
 

-  Hampir Miskin (HM)  : GK – 1,2 x GK 
 

Penggunaan angka kemiskinan mengacu pada 

warga   yang berada di bawah GK dan telah mengikuti 

standar yang berlaku secara internasional. Penentuan adanya 

warga   dengan kategori HM yaitu   lebih untuk 

penajaman perencanaan makro, yaitu untuk melihat seberapa 

besar warga   yang mudah untuk jatuh miskin jika terjadi 

shock, misalnya sebab  krisis ekonomi, kenaikan Bahan 

Bakar Minyak, bencana alam, dan sebagainya. jika  

terlihat adanya peningkatan warga   dengan kategori HM, 

berarti pemerintah perlu menyusun kebijakan yang dapat 

mencegah warga   pada kategori ini   jatuh ke bawah 

GK. 


. Contoh Jenis komoditi pada Garis Kemiskinan  

                 Non-Makanan (GKNM) 

Perumahan kesehatan Handuk, ikat 

pinggang dan 

sebagainya 

Listrik Bahan pemeliharaan 

pakaian 

Perlengkapan prabot 

rumah tangga 

Air Pemeliharaan 

kesehatan 

Perkakas rumah 

tangga 

Minyak tanah bensin Alat dapur / makan 

Kayu bakar Angkutan Arloji, jam , kamera 

dan lainnya 

Obat nyamuk, korek 

api, batrai, aki dan 

sebagainya 

KTP, SIM, akte 

kelahiran, fotokopi, 

foto dan sebagainya 

Tas, koper  dan 

sebagainya 

Pos dan benda-

benda pos 

Pakaian jadi laki-

laki dewasa 

Mainan anak-anak 

dan perbaikannya 

Perlengkapan mandi Pakaian jadi 

perempuan dewasa 

Pajak bumi dan 

bangunan 

Barang kecantikan Pakaian jadi anak-

anak 

Pajak kendaraan 

bermotor 

Perawatan kulit, 

muka,  kuku dan 

rambut 

Keperluan menjahit Pungutan retribusi 

Sabun cuci Alas kaki Perayaan hari raya 

keagamaan 

Pendidikan Tutup kepala Upacara agama atau 

adat lainnya. 

Nilai kebutuhan minimum perkomoditi /sub-

kelompok non-makanan dihitung dengan memakai   

suatu rasio pengeluaran komoditi/sub-kelompok ini   

terhadap total pengeluaran komoditi/sub-kelompok yang 

tercatat dalam data Susenas modul konsumsi. Rasio ini   

dihitung dari hasil Survei Paket Komoditi Kebutuhan Dasar 

2004 (SPKKD 2004), yang dilakukan untuk mengumpulkan 

data pengeluaran konsumsi rumah tangga per komoditi non-

makanan yang lebih rinci dibanding data Susenas Modul 

Konsumsi. Nilai kebutuhan minimum non makanan secara 

matematis dapat diformulasikan sebagai berikut : 

 

Data mikro kemiskinan pada awalnya diperoleh melalui 

survey PSE-05 dan diperbaharui melalui PPLS-08, yang dilakukan 

dengan memakai   kriteria akses terhadap kebutuhan dasar yang 

tercermin dalam 16 Kriteria Rumah Tangga Miskin. Pada tahun 

2011 dilakukan perubahan metode pendataan melalui PPLS 2011, 

yaitu dengan mendata 40% warga   dengan penghasilan terendah. 

Dari hasil nilai Index skor rumah tangga sasaran (IRM), yang 

dihitung dari bobot variabel terpilih dan nilai skor variabel terpilih, 

intensitas kemiskinan rumah tangga sasaran dapat dikelompokkan 

menjadi 4 kategori yaitu :  

• Rumah Tangga Sangat Miskin (RTSM)  = 0,80 < IRM < 1  

• Rumah Tangga Miskin (RTM)  = 0,60 < IRM < 0,80  

• Rumah Tangga Hampir Miskin (RTHM) = 0,20 < IRM < 0,60  

• Rumah Tangga Tidak Miskin (RTTM)  = 0,00< IRM < 0,20  

Untuk memenuhi kebutuhan target program penanggulangan 

kemiskinan, data PSE-05 dimutakhirkan melalui PPLS-08 kemudian 

dilakukan lagi pemutakhiran melalui PPLS-11 dengan menambah 

satu kategori RTS, yaitu Rumah Tangga Rentan Miskin (RTRM). 

Dasar pengelompokkan kategori RTS pada PPLS 2011 yaitu   

sebagai berikut:  

• Kelompok 1-5 persen terbawah yaitu   RTSM 
 

• Kelompok 6-10 persen terbawah yaitu   RTM 
 

• Kelompok 11-25 persen terbawah yaitu   RTHM 
 

• Kelompok 21-30 persen terbawah yaitu   RTRM 
 

 

  

 

 

Pendekatan pemenuhan akses pelayanan dasar (kemiskinan non 

pendapatan). 

sebab  data makro yang menjadi sumber data pengukuran 

kemiskinan BPS memiliki kelemahan yaitu tidak dapat 

menunjukkan identitas individu dan keberadaan/alamat mereka, 

sehingga tidak dapat digunakan sebagai dasar untuk melaksanakan 

program-program pembangunan yang bersifat langsung ditujukan 

kepada warga   miskin (targeting), terutama untuk program-

program yang ditujukan untuk memenuhi akses terhadap pelayanan 

dasar (kemiskinan non pendapatan). Untuk tujuan ini  , dan 

dalam rangka meningkatkan efektivitas penanggulangan 

kemiskinan, pada tahun 2005 Pemerintah melengkapi data 

kemiskinan dengan data mikro kemiskinan.  


 

Pendekatan Paritas Daya Beli/ Purchasing Power Parity 

(PPP).35,36 

Ini yaitu   pendekatan yang dipilih bank dunia dalam 

menghitung kemiskinan. Bank Dunia mendefinisikan garis 

kemiskinan absolut internasional sebagai US$ 1 dan US$ 2 per hari 

pada tahun 1993 yang diukur dengan pendekatan purchasing power 

parity (PPP) (bukan nilai tukar US$ resmi). Purchasing power 

parity atau paritas daya beli didefinisikan sebagai sebuah metode 

yang dipergunakan untuk mengukur berapa banyak sebuah mata 

uang dapat membeli sejumlah barang atau jasa yang sama dalam 

pengukuran internasional, sebab  harga barang dan jasa di beberapa 

negara berbeda, maka PPP dihitung dengan menyesuaikan 

perbedaan harga barang dan jasa antar negara. Dengan kata lain 

angka konversi PPP yaitu   banyaknya rupiah yang dikeluarkan 

untuk membeli sejumlah kebutuhan barang dan jasa di mana jumlah 

yang sama ini   dapat dibeli sebesar US$ 1 di Amerika Serikat. 

Angka konversi ini dihitung berdasar  harga dan kuantitas di 

masing-masing negara yang dikumpulkan dalam suatu survei yang 

biasanya dilakukan setiap lima tahun. Sebagai contoh nilai tukar 

dollar ke rupiah saat ini yaitu   1 US$ = Rp. 13.500. Pada saat ini 

seseorang di negara kita   membeli beras seharga Rp. 8000 per liter, 

sementara di Amerika satu liter beras dengan kualitas yang sama 

harganya yaitu   1 (satu) US$. Dengan pengertian nilai tukar PPP, 

maka orang di negara kita   yang membeli beras tadi dianggap telah 

membelanjakan 1 (satu) US$, walaupun pada kenyataannya dia 

hanya mengeluarkan Rp. 8000.  

Pengukuran kemiskinan berdasar  US$ 1, secara umum 

diperuntukkan bagi negara-negara dunia ketiga, seperti Afrika. 

sedang   pengukuran kemiskinan US$2 ditujukan bagi negara-

negara yang berada dalam kategori memiliki pendapatan menengah 

(middle income), seperti Asia Timur dan Amerika Latin. Pendekatan 

PPP diterapkan dengan tujuan untuk membandingkan angka 

kemiskinan antarnegara/wilayah dan perkembangannya menurut 

waktu untuk menilai kemajuan yang dicapai dalam memerangi 

 


sarana kesehatan  

5) Pasangan usia subur ingin ber-KB ke sarana 

pelayanan kontrasepsi  

6) Semua anak umur 7-15 tahun dalam keluarga 

bersekolah  

3. Keluarga Sejahtera II yaitu   keluarga yang sudah dapat 

memenuhi indikator keluarga sejahtera I (Indikator 1- 6) 

dan 7 indikator kebutuhan Psikologis (Psychological 

Needs) sebagai berikut :  

7) Pada umumnya anggota keluarga melaksanakan 

ibadah agama dan kepercayaan masing-masing  

8) Paling kurang sekali seminggu makan daging/ 

ikan/ telur  

9) Seluruh anggota keluarga memperoleh paling 

kurang satu stel pakaian baru dalam setahun  

10) Luas lantai rumah paling kurang 8m2 untuk setiap 

penghuni rumah  

11) Tiga bulan terakhir keluarga dalam keadaan sehat 

sehingga dapat menjalankan tugas atau fungsinya 

masing-masing 

12) Ada seorang atau lebih anggota keluarga yang 

bekerja untuk memperoleh penghasilan 

13) Seluruh anggota keluarga umur 10-60 tahun bisa 

baca tulisan latin  

14) Pasangan usia subur dengan anak 2 atau lebih 

memakai   alat/obat kontrasepsi  

4. Keluarga Sejahtera III, yaitu   keluarga yang sudah dapat 

memenuhi indikator keluarga sejahtera I dan sejahtera II 

(Indikator 1- 14) dan 5 indikator kebutuhan 

Pengembangan (Developmental Needs) sebagai berikut :  

15) Keluarga berupaya meningkatkan pengetahuan 

agama  

16) Sebagian penghasilan keluarga ditabung dalam 

bentuk uang maupun barang  

 

kemiskinan di tingkat global/internasional. 

Pendekatan Tingkat Kesejahteraan Keluarga  

Berbeda dengan BPS, Badan Koordinasi Keluarga 

Berencana Nasional (BKKBN) lebih melihat dari sisi kesejahteraan 

dibandingkan dari sisi kemiskinan. Unit survey juga berbeda di 

mana pada BPS digunakan rumah tangga  sedang   BKKBN 

memakai   keluarga. Hal ini sejalan dengan visi dari program 

Keluarga Berencana (KB) yaitu "Keluarga yang Berkualitas". Untuk 

menghitung tingkat kesejahteraan, BKKBN melakukan program 

yang disebut sebagai Pendataan Keluarga. 

Aspek keluarga sejahtera dikumpulkan dengan memakai   

21 indikator sesuai dengan pemikiran para pakar sosiologi dalam 

membangun keluarga sejahtera dengan mengetahui faktor-faktor 

dominan yang menjadi kebutuhan setiap keluarga. Faktor-faktor 

dominan ini   terdiri dari (1) pemenuhan kebutuhan dasar; (2) 

pemenuhan kebutuhan psikologi; (3) kebutuhan pengembangan; dan 

(4) kebutuhan aktualisasi diri dalam berkontribusi bagi warga   

di lingkungannya. Indikator dan tahapan keluarga sejahtera yaitu   

sebagai berikut : 

1. Keluarga Pra-sejahtera (sangat miskin), yaitu   keluarga 

yang belum dapat memenuhi salah satu indikator dari 

tahapan keluarga sejahtera I. 

2. Keluarga Sejahtera I (Miskin), yaitu   keluarga yang 

baru dapat memenuhi 6 indikator-kebutuhan dasar (basic 

Needs) sebagai berikut : 

1) Pada umumnya anggota keluarga makan dua kali 

sehari atau lebih 

2) Memiliki pakaian yang berbeda untuk aktivitas 

(misalnya di rumah, bekerja/ sekolah dan 

bepergian) 

3) Rumah yang ditempati memiliki   atap, lantai 

dan dinding yang baik  

4) Bila ada anggota keluarga yang sakit dibawa ke 


 

Pemerintah negara kita   lewat Badan Pusat Statistik (BPS) dan 

Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) turut 

mengembangkan model ini. HDR yang pertama dibuat pada tahun 

1996 untuk situasi tahun 1990 dan 1993. 24 

Human Development Report (HDR) yaitu   satu konsep yang 

melihat pembangunan secara lebih komprehensif, di mana 

pembangunan harus menjadikan kesejahteraan manusia sebagai 

tujuan akhir, bukan menjadikan manusia sebagai alat pembangunan. 

Di dalam konsep ini, juga dijelaskan bahwa pembangunan manusia 

pada dasarnya yaitu   memperluas pilihan-pilihan bagi warga  . 

Hal yang paling penting di antara pilihan-pilihan yang luas ini   

yaitu   hidup yang panjang dan sehat, untuk mendapatkan 

pendidikan dan memiliki akses kepada sumber daya untuk 

mendapatkan standar hidup yang layak. Pilihan penting lainnya 

yaitu   kebebasan berpolitik, jaminan hak asasi manusia dan 

penghormatan secara pribadi.

HDR berisikan penjelasan tentang empat index yaitu Index 

Pembangunan Manusia atau Human Development Index (HDI), 

Index Kemiskinan Manusia atau Human Poverty Index (HPI), Index 

Pembangunan gender atau Gender Development Index (GDI), dan 

Langkah Pemberdayaan gender atau Gender Empowerment Measure 

(GEM). Tiap Index pembangunan manusia ini memiliki Indikator-

indikator dan perhitungannya masing-masing seperti yang 

dijabarkan dibawah ini.

1. Index Pembangunan Manusia atau Human Development 

Index (HDI)  

Merupakan ringkasan ukuran pembangunan manusia 

dengan tiga indikator mendasar, yaitu: Dimensi Hidup yang 

panjang dan sehat dengan proksi angka harapan hidup dan 

dibentuk menjadi Index Harapan Hidup. Dimensi 

Pengetahuan dengan indikator tingkat melek huruf dewasa 

dan angka partisipasi kasar (APK) sekolah dan dibentuk 

menjadi Index Pendidikan.Dimensi Standar Layak Hidup 

 

17) Kebiasaan keluarga makan bersama paling 

kurang sekali seminggu untuk berkomunikasi  

18) Keluarga ikut dalam kegiatan warga   di 

lingkungan tempat tinggalnya 

19) Keluarga memperoleh informasi dari surat kabar, 

radio, TV, majalah  

5. Keluarga Sejahtera III Plus yaitu   keluarga yang sudah 

dapat memenuhi indikator keluarga sejahtera I dan 

sejahtera II dan sejahtera III (Indikator 1- 19) dan 2 

indikator kebutuhan aktualisasi diri (self esteem) sebagai 

berikut : 

20) Keluarga secara teratur memberikan sumbangan 

materil untuk kegiatan sosial 

21) Ada anggota keluarga yang aktif sebagai 

pengurus Organisasi kewarga  an/ sosial/ 

yayasan 

Ukuran lain kemiskinan yang dikembangkan BKKBN, yang 

memakai   data mikro hasil pendaftaran keluarga pra-sejahtera 

dan sejahtera I. Dalam ukuran ini, sebuah keluarga dikatakan miskin 

jika : 1 1). Tidak bisa melaksanakan kewajiban-kewajiban rutin 

dalam agamanya, 2). Tidak bisa makan dua kali sehari, 3). Tidak 

punya pakaian lain untuk bekerja/ sekolah dan melakukan  aktivitas 

lainnya, 4). Tinggal dirumah yang sebagian besar ruangannya 

berlantai tanah, 5). Tidak bisa membayar biaya fasilitas kesehatan. 

 

Pendekatan Pembangunan Manusia / Human Development 

Report (HDR) 

Pendekatan Pembangunan Manusia dipromosikan oleh 

lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk program 

pembangunan yaitu United Nation Development Program (UNDP). 

Laporan tentang Pembangunan Manusia atau yang sering disebut 

Human Development Report (HDR) dibuat pertama kali pada tahun 

1990 dan kemudian dikembangkan oleh lebih dari 120 negara. 24 


 

 

 

Index PDB yang menggambarkan standar hidup layak 

memakai   persamaan Idim, namun  memakai   log untuk 

rumusnya : 38 = ( ) ( )( ) ( ) 

Keterangan : 

HDI : Index pembangunan manusia  

Iedu  : Index pendidikan  

Ilife   : Index harapan hidup  

IPDB : Index hidup layak 

Nact  : nilai aktual   

Nmax : nilai maksimum 

Nmin  : nilai minimum 

Setelah didapatkan ketiga Index ini, jumlah Index 

dibagi tiga untuk mendapatkan HDI yang merupakan 

gabungan dari perjumlahan persamaan (2), (3) dan (4) dibagi 

3 sehingga penghitungan HDI menjadi sebagai berikut: 38 HDI =  + +3  

Keterangan : 

HDI : Index pembangunan manusia  

Iedu  : Index pendidikan    

Ilife   : Index harapan hidup    

IPDB : Index hidup layak 

Selanjutnya nilai ini dikategorikan menurut UNDP : 

sangat tinggi ( 81,00 – 100 ), tinggi ( 71,00 – 80,00 ), 

menengah ( 60,00 – 70,00 ) dan rendah ( < 60,00 ). 

 

 

2. Index Kemiskinan Manusia atau Human Poverty Index (HPI) 

38  

Index ini digunakan untuk mengukur kekurangan 

yang ada dalam HDI, dan dimensi yang ada di HDI diukur 

 

dengan indikator produk domestik bruto (PDB) per kapita 

dan dibentuk menjadi Index PDB. 38 = 𝑥  

 

Keterangan : 

Idim  : Index dimensi (life atau lit atau APK) 

Nact : nilai aktual 

Nmax : nilai maksimum 

Nmin  : nilai minimum  

 

Nilai aktual yaitu   nilai yang diperoleh setiap negara 

untuk setiap dimensi dengan nilai maksimum atau minimum 

yang telah ditetapkan. Index ini dapat dipakai untuk 

menghitung Index Melek Huruf orang dewasa dan Index 

APK. Rumus penghitungan Index Harapan Hidup yaitu   

sebagai berikut. 38  = 𝑥  

Keterangan : 

Ilife  : Index harapan hidup 

Nact : nilai aktual 

Nma x: nilai maksimum 

Nmin  : nilai minimum  

 

 

Untuk menghitung Index Pendidikan akan digunakan 

persamaan sebagai berikut.  = 23 [ ] + 13 [ �] 

Keterangan : 

Iedu : Index pendidikan 

Ilit    : Index literasi/melek huruf 

RAPK : Rasio Angka Partisipasi Kasar (APK) 

gabungan 


 

HPI-2 diukur memakai   empat dimensi yaitu : i) 

Dimensi harapan hidup panjang dan sehat yang diukur 

melalui kerentanan angka harapan hidup hingga usia 60 

tahun, ii) Dimensi pengetahuan diukur melalui persentase 

jumlah orang dewasa (usia 16- 65 tahun) yang kurang 

memiliki keterampilan literasi secara fungsional, iii) Dimensi 

standar hidup layak diukur memakai   persentase 

warga   yang hidup di bawah garis kemiskinan (50 

persen dari median pendapatan yang siap dipakai/disposable 

income), iv) Dimensi keterasingan yaitu   dimensi yang 

dipakai melihat tingkat pengangguran jangka panjang (12 

bulan atau lebih). Dengan rumus sebagai berikut :  HPI 2 =  [14 ( + + + )]  

Keterangan: 

HPI-2 : Index Kemiskinan Manusia untuk Negara 

OECD (Human Poverty Index for OECD 

Countries) 

P1 : peluang seseorang tidak bertahan hidup 

hingga mencapai usia 60 tahun  

P2 : jumlah orang dewasa (usia 16-65 tahun) 

yang kurang memiliki keterampilan literasi 

secara fungsional
 

P3 : persentase warga   hidup di bawah garis 

kemiskinan (50 persen dari median 

pendapatan siap pakai atau disposable 

income)  

P4 : Tingkat pengangguran jangka panjang (12 

bulan atau lebih)  

a : 4  

 

3. Index Pembangunan Gender atau Gender Development Index 

(GDI).38 

 

pada HPI, namun  diukur dengan cara yang berbeda dan lebih 

khusus. Indikator yang digunakan dalam HPI 

dinormalisasikan dengan ukuran 0 sampai 100 sebab  HPI 

memakai   persentase sehingga tidak perlu membuat 

dimensi seperti pada HDI. HPI dibagi dua jenis, yaitu HPI-1 

untuk negara berkembang dan HPI-2 untuk Negara 

Organisation for Economic Cooperation and Development 

OECD.  

HPI-1 diukur memakai   tiga dimensi yaitu : i) 

Dimensi harapan hidup panjang dan sehat yang diukur 

melalui kerentanan angka harapan hidup hingga usia 40 

tahun, ii) Dimensi pengetahuan diukur melalui persentase 

jumlah orang dewasa (usia 16- 65 tahun) yang kurang 

memiliki keterampilan literasi secara fungsional, iii) Dimensi 

standar hidup layak diukur memakai   persentase rata-rata 

tak tertimbang dari orang tanpa akses terhadap air bersih dan 

anak balita dengan berat badan kurang menurut umur. 

Dengan rumus sebagai berikut :  

 HPI 1 = [13 ( + + )]   

 

Keterangan: 

HPI-1 : index kemiskinan manusia untuk negara 

berkembang (Human Poverty Index for 

Developing Countries)
 

P1 : peluang seseorang tidak akan bertahan 

hidup hingga mencapai usia 40 tahun  

P2 : tingkat literasi (melek huruf) orang dewasa
 

P3 : rata-rata tak tertimbang dari populasi yang 

tidak memakai   atau memiliki akses air 

bersih, dan anak yang kekurangan berat 

badan  

a : 3  


 

 

 

GDI nantinya akan dihitung memakai   tiga 

persamaan yang telah dibuat menjadi rata-rata tertimbang 

dengan persamaan:  GDI = + +3  

Keterangan : 

GDI :Gender Related Development Index   

Ieedu  : Index kesamaan pendidikan   

Ielife    : Index kesamaan harapan hidup    

Ieincome : Index kesamaan pendapatan 

 

4. Langkah Pemberdayaan Gender  atau Gender Empowerment 

Measure (GEM). 38 

Index ini mengukur tingkat upaya pemberdayaan 

gender, fokus pada kesempatan yang diperoleh atau 

diberikan kepada kaum perempuan. Dalam penghitungan 

GEM terdapat beberapa formula umum berikut ini:  

EDEP=[ ( ) + ( )]  

Keterangan:  

EDEP  : Equally Distributed Equivalent Percent-age  

SW : persentase populasi wanita 

SL : persentase populasi pria 

IW : Index Wanita 

IL : Index Pria 

 

Formula umum untuk menghitung index EDEP diperlihatkan 

persamaan : = 50  

 

Angka 50 yaitu   rasionalitas dari pemerataan, artinya 

pemerataan sempurna terjadi saat   persentase pria dan 

 

Index ini dipakai untuk mengukur ketimpangan atau 

ketidakadilan antara laki-laki dan perempuan dalam tiga 

dimensi HDI. Dimensi yang dipakai antara lain: 1) Dimensi 

hidup panjang dan sehat diukur dengan tingkat harapan 

hidup laki-laki dan perempuan, 2) Dimensi pengetahuan 

diukur dengan tingkat literasi orang dewasa dan gabungan 

APK pendidikan dasar, menengah, dan atas, 3) Dimensi 

hidup layak, diukur dengan mengestimasi pendapatan yang 

diperoleh. GDI diukur dengan tiga langkah antara lain: 

Menghitung index wanita dan pria untuk setiap dimensi 

memakai   formula persamaan (1), yaitu:  = 𝑥  

Keterangan : 

Idim  : Index dimensi  

Nact  : nilai aktual 

Nmax : nilai maksimum 

Nmin  : nilai minimum  

 

Selanjutnya Index wanita dan pria pada setiap 

dimensi akan digabungkan dengan cara memberikan penalti 

pada perbedaan prestasi antara pria dan wanita. Index yang 

dihasilkan disebut dengan index pemerataan sehingga rumus 

penghitungan ini akan menjadi seperti berikut: 

  

Ip={[ ( )] + [ ( )]}  

Keterangan : 

IP : Index Distribusi Pemerataan  

PW : Pangsa Populasi Wanita
 

PL : Pangsa Populasi Pria
 

IW : Index Wanita  

IL : Index Pria
 

 

 

 

maka rumah tangga ini   masuk mendapatkan  satu poin 

penilaian.

 Dimensi Pendidikan. Ada dua indikator dalam mengukur 

dimensi pendidikan yaitu lama sekolah (years of schooling) 

dan akses terhadap pendidikan (attadence of school). Kedua 

indikator ini lebih mencerminkan kemampuan warga   

terhadap akses dasar kesehatan dan bukan mencerminkan 

kualitas dari pendidikan yang mereka dapatkan. Lama 

pendidikan dalam MPI dihitung dengan minimal ada satu 

orang dalam rumah tangga yang telah menyelesaikan 

pendidikan minimal lima tahun. sedang   kehadiran anak 

di sekolah dihitung dengan melihat keberadaan anak usia 

sekolah yaitu kelas satu sampai delapan yang masuk sekolah. 

39 

 Dimensi Standar Hidup. Standar hidup mencerminkan pola 

kehidupan keseharian dari warga  . Kemiskinan akan 

menjadikan warga   tidak dapat memenuhi kualitas 

standard dari kehidupan sesuai dengan MDGs. Terdapat 

enam indikator untuk dimensi ini yaitu Pertama, air. 

Seseorang memiliki akses terhadap air minum bersih jika 

sumber air salah satu jenis berikut: pipa air, keran umum, 

sumur bor atau pompa, sumur terlindung, dilindungi semi 

atau air hujan, dan itu dalam jarak 30 menit berjalan kaki 

(pulang pergi). Jika gagal untuk memenuhi kondisi ini  , 

maka rumah tangga dianggap kekurangan dalam akses 

terhadap air. Kedua, sanitasi. Seseorang dianggap memiliki 

akses ke sanitasi, jika rumah tangga memiliki beberapa jenis 

toilet atau jamban, atau berventilasi baik atau toilet kompos, 

asalkan tidak dibagi. Jika rumah tangga tidak memenuhi 

kondisi ini  , maka dianggap kekurangan dalam sanitasi. 

Ketiga, listrik. Seseorang dianggap miskin jika tidak 

memiliki akses listrik. Keempat, lantai rumah. Bahan Lantai 

terbuat dari tanah, pasir atau kotoran dianggap miskin. 

Kelima, bahan bakar untuk memasak. Seseorang dianggap 

 

wanita yang dinyatakan dalam dimensi dan indikator GEM 

di atas yaitu   sama-sama 50 persen.  

 

Pendekatan Multidimensi / Multidimensional Poverty Index 

(MPI)
 

Kemiskinan merupakan masalah multidimensional dan tidak 

dapat hanya dinilai dari sisi ekonomi oleh sebab itu  United Nation 

Development Program (UNDP) mengembangkan Index kemiskinan 

multidimensi. Index kemiskinan multidimensi mengidentifikasikan 

ketidakmampuan seseorang dalam memenuhi kebutuhan dasarnya 

berdasar  tiga dimensi yaitu kesehatan, pendidikan, dan standar 

kehidupan. 

 Dimensi Kesehatan. Untuk dimensi ini, MPI diukur dengan 

memakai   dua indikator yaitu gizi dan kematian anak. 

Dua indiaktor dalam kesehatan ini merupakan bagian dari 

kesehatan dasar yang mutlak diakses oleh rumah tangga. 

Pada Indikator gizi, pengukuran dilakukan pada setiap 

anggota rumah tangga baik anak maupun orang dewasa. 

Pengukuran gizi anak mengacu pada standard MDGs yaitu 

melalui pendekatan berat badan berbanding usia. Anak 

dikatakan memiliki gizi kurang saat   berat badan berada 

pada dua atau lebih di bawah standard deviasi rata-rata 

populasi yang menjadi acuan. sedang   untuk orang 

dewasa, pendekatan Body Mass Index (BMI) yang 

digunakan, dimana seorang dewasa dianggap kurang gizi 

saat   BMI lebih rendah dari 18.5. Indikator lain dari 

dimensi kesehatan yaitu   kematian anak. Secara filosofi 

kesehatan, adanya anak yang meninggal merupakan 

cerminan dari ketidakmampuan rumah tangga dibidang 

kesehatan. Kematian ini   dapat diakibat oleh penyakit 

atau kekurangan gizi. Penilaian dilakukan terhadap semua 

anak dari berbagai tingkatan umur. saat   ada rumah tangga 

yang memiliki kematian anak baik satu, dua dan seterusnya 


1. Sanitasi (dimensi kesehatan): menilai kepemilikan tempat 

pembuangan air besar, baik umum, bersama, maupun 

pribadi. Jika memiliki tempat pembuangan kloset pribadi, 

dilihat pula jenis klosetnya. Memenuhi penilaian kemiskinan 

jika rumah tangga yang tidak memiliki fasilitas buang air 

besar sendiri dan tidak berjenis leher angsa. 

2. Air bersih (dimensi kesehatan): menilai sumber air minum 

dan jarak penampungan airnya dari septic tank . Memenuhi 

penilaian kemiskinan jika sumber air rumah tangga berasal 

dari sumur tak terlindung, mata air tak terlindung, air sungai, 

air hujan, dan lainnya dengan jarak septic tank terhadap 

sumber air utama kurang dari 10 meter.  

3. Akses pelayanan kesehatan maternal (dimensi kesehatan): 

menilai penolong persalinan. Memenuhi penilaian 

kemiskinan jika persalinan ditolong ditolong oleh dukun 

anak bersalin, famili/keluarga, dan tenaga penolong 

kelahiran nonmedis (bukan oleh tenaga medis seperti dokter, 

bidan atau paramedis lainnya) 

4. Asupan gizi (dimensi kesehatan) : menilai pemenuhan 

kebutuhan gizi anak balita sesuai dengan Peraturan Menteri 

Kesehatan Republik negara kita   Nomor 75 Tahun 2013 

tantang Angka Kecukupan Gizi yang dianjurkan bagi bangsa 

negara kita  . Memenuhi penilaian kemiskinan jika Anak balita 

yang tidak memenuhi asupan karbohidrat 70-220 gr, pro- 

tein 15-35 gr, lemak 35-62 gr dan energi 637.5-1600 kkal 

yang dise- suaikan dengan kelompok usia 0-5 tahun. 

5. Keberlanjutan pendidikan (dimensi pendidikan): Menilai 

kemampuan anggota keluarga (usia sekolah dasar dan 

menengah) dalam menjaga keberlangsungan pendidikan 

pada tingkat yang sesuai dengan standar usia sekolahnya. 

Memenuhi penilaian kemiskinan jika Anak usia sekolah 

yang tidak menyelesaikan pendidikan hingga SMA/SMK 

atau yang sederajat. 

6. Melek huruf (dimensi pendidikan): Menilai kemampuan 

 

miskin bila dalam bahan bakar memasak, rumah tangga 

ini   memakai   arang atau kayu. Keenam, 

kepemilikan aset. Jika sebuah rumah tangga tidak memiliki 

lebih dari satu radio, TV, telepon, sepeda, sepeda motor atau 

kulkas, dan tidak memiliki mobil maka dianggap miskin.

 

Gambar 4.2. 10 indikator dalam 3 dimensi yang diukur pada MPI 

versi United Nation Development Program (UNDP) 

UNDP dan Oxford Poverty and Human Development 

Initiative (OPHI) tahun 2011, Dalam laporannya memberi 

kesempatan pada masing-masing Negara untuk mengembangkan 

indikator MPI sesuai karakteristik kemiskinan yang terjadi di 

masing-masing Negara.39 Di negara kita  , data yang digunakan untuk 

menghitung MPI yaitu   data Survei Sosial Ekonomi Nasional 

(Susenas). Susenas terdiri dari Susenas Kor dan Susenas Modul. 

Susenas Kor yaitu   Susenas yang rutin dilakukan setiap tahun. 

Dalam Susenas Kor, informasi yang digali yaitu   yang terkait 

dengan informasi individu dan rumah tangga, seperti pendidikan, 

kesehatan, ketenagakerjaan, dan perumahan. Sementara Susenas 

Modul terkait dengan informasi mengenai konsumsi. berdasar  

data ini dikembangkan MPI negara kita   yang memiliki 3 dimensi dan 

11 indikator. Kesebelas indikator ini dijabarkan sebagai berikut: 


 

kemiskinan jika tempat tinggal bukan milik sendiri (kontrak, 

sewa, bebas sewa milik orang lain, bebas sewa milik orang 

tua/ sanak/saudara, dan lainnya)  

Hasil survei ini akan memberikan informasi mengenai 

indikator yang terpenuhi dan dengan demikian MPI dapat dihitung 

dari bobot dimensi dan indikator ini  . Bobot dari masing-masing 

dimensi dihitung sama yaitu 1/3 demikian pula dengan 11 

indikatornya. Sehingga didapatkan bobot indikator sebagai berikut: 

bobot indikator kesehatan yang terdiri dari dua indikator bernilai 

sebesar 1/6, bobot pendidikan yang terdiri dari dua indikator bernilai 

1/6 dan bobot kualitas hidup yang terdiri dari enam indikator 

bernilai 1/18. 39 

Penilaiannya terdiri dari rentang 0-1. saat   seseorang 

memenuhi penilai