Jumat, 05 Juni 2026

Persaingan usaha 17


 




mencapai 

bentuk keunggulan kompetitif yang baru dan inovatif, 

berkaitan dengan hubungan antara perusahaan dengan 

stakeholders. Teori kapabilitas dinamis terutama berfokus 

pada konotasi dan definisi, komponen-komponen, 

mengonstruksi insentif, dan memengaruhi faktor-faktor 

yang menjelaskan mekanisme operatif dari kapabilitas 

dinamis perusahaan (Zott, 2003; Ambrosini and Bowman, 

2009). Teori mengenai kapabilitas dinamis pada tahun 

2006 dikembangkan lagi oleh Zahra et al., (2006) dengan 

memberi  tambahan komponen kapabilitas 

perusahaan dan budaya organisasional. 

Daya Saing Strategis 

Konsep daya saing ialah kemampuan menerapkan strategi 

yang bisa menciptakan nilai yang mudah ditiru atau 

dimiliki oleh pesaing, sedang  daya saing yang tahan 

lama yaitu  nilai yang sulit ditiru atau dimiliki pesaing, 

sehingga manfaat dari strategi ini  tidak bisa 

diduplikasi (Barney, 1991). Fahy (2000) mengatakan 

bahwa kontribusi terbesar dari RBV yaitu  sebagai teori 

daya saing yang sederhana dan sangat mendasar. RBV 

diawali dengan asumsi bahwa hasil yang ingin dihasilkan 

dari upaya manajerial dalam perusahaan yaitu  memiliki 

daya saing (SCA- Sustainable Competitive Advantage).  

Pencapaian SCA membuat perusahaan memperoleh 

tingkat pengembalian di atas rata-rata. RBV berpendapat 

bahwa kunci untuk mencapai daya saing ini  yaitu  

dengan memiliki sumber daya utama. Pada dasarnya, 

RBV menekankan pada pilihan strategis, yaitu mendorong 

perusahaan untuk mengidentifikasi, mengembangkan, 

dan menggunakan sumber daya kunci untuk 

memaksimalkan tingkat pengembalian (Fahy,2000). 

Sumber daya atau resources ialah variabilitas input yang 

dimasukkan dalam proses operasi perusahaan. Resources 

mencakup modal, fasilitas fisik, manusia, teknologi, dan 

berbagai pendukung organisasi perusahaan lainnya, yang 

memungkinkan sebuah perusahaan menciptakan nilai (to 

create value) bagi para pelanggannya.  

Sumber daya organisasi selanjutnya dapat dibagi dalam 

dua kategori. Pertama, sumber daya berwujud (tangible 

resources) yang mencakup segala jenis sumber daya yang 

dapat dilihat bentuk fisiknya seperti tanah, bangunan, 

pabrik, peralatan, mesin, uang, dan persediaan. Kedua, 

sumber daya tidak berwujud (intangible resources), yaitu 

berbagai sumber daya nonfisik yang diciptakan 

 

perusahaan dan para karyawannya, seperti nama merek 

(brand name), reputasi perusahaan, pengetahuan dan 

pengalaman sumber daya manusia, kekayaan intelektual 

perusahaan yang diwujudkan dalam bentuk paten, hak 

cipta, dan merek dagang (trademark). 

Kapabilitas atau Capabilities menunjukkan kemampuan 

yang dimiliki perusahaan untuk mengoordinasikan 

sumber daya yang dimiliki dan memberdayakan sumber 

daya ini  secara produktif. Secara umum, kapabilitas 

perusahaan menurut Barney (1991) berasal dari tiga hal, 

yaitu: struktur organisasi, proses organisasi, dan sistem 

pengendalian organisasi. Ketiga hal ini , secara 

bersama-sama akan menentukan bagaimana dan 

keputusan dibuat dalam suatu organisasi perusahaan, 

perilaku apa saja dari karyawan yang akan mendapat  

imbalan (rewards) dari perusahaan, serta apa yang 

menjadi nilai dan norma di dalam perusahaan.  

Kendati perusahaan memiliki sumber daya organisasi 

yang spesifik (bersifat khusus dan berbeda dengan 

sumber daya yang dimiliki pesaing) serta berharga 

(valuable), namun  perusahaan tidak serta merta akan 

memperoleh distinctive competencies, jika  perusahaan 

tidak mampu menggunakan resources ini  secara 

efektif. 

Konsep Strategi Bisnis 

Konsep strategi didefinisikan oleh Miller (1988) 

merupakan keputusan penting yang dilakukan oleh 

manajer untuk mengondisikan perusahaannya dalam 

lingkungan, menentukan tujuan, menetapkan bentuk 

pengembangan, dan mengalokasikan sumber daya, 

sedang  Ragab (1983)  mendefenisikan strategi industri 

sebagai penciptaan suatu posisi kemampulabaan di 

dalam suatu segmen pasar/produk tertentu, yang dapat 

dipertahankan  terhadap pesaing.   

Strategi untuk industri merupakan kombinasi dari empat 

variabel,  yaitu:  konsep bisnis, niche market, kapabilitas, 

dan manuver. Strategi ini, dimulai dengan menciptakan 

konsep bisnis yang berbeda dari para  pesaing, memilih 

 

 

suatu niche market atau suatu segmen pasar yang 

spesifik, dan mendesain kapabilitas unik yang dapat 

memberi  konsep diferensiasi dari perusahaan 

terhadap keinginan segmen pasar pada suatu harga, yang 

diaktualisasikan melalui tindakan manuver atau 

mengantisipasi pesaing utama dengan berpindah, 

membuka, menyebarkan kapabilitas perusahaan pada 

poin di mana para pesaing lemah. 

Idrus (1997) menyatakan bahwa strategi yang mungkin 

dilakukan  ditingkat corporate  dapat digolongkan menjadi 

`generic grand strategy` sebagai berikut. 

1. Kelompok strategi  pertumbuhan (growth or 

expansion).  

Strategi ini dipilih  sebab  berdaya saing yang kuat 

serta daya tarik industri  atau pasar yang kuat bagi 

Strategic Business Unit (SBU)  yang dimiliki 

organisasi/perusahaan. Sasaran utama yang ingin 

dicapai dari strategi ekspansi ini  yaitu  peningkatan 

penjualan dan pertambahan keuntungan (earning).  

Bentuk strategi ekspansi  dapat berupa (a) 

concentrated growth, (b) concentric diversification,  (c) 

conglomeration diversification, (d) innovation, (e) 

produk development, (f) vertical integration,  (g) 

horizontal integration, (h) acquisition, dan (i ) mergers. 

2. Kelompok strategi status quo.   

Strategi ini dipilih  pada saat daya saing yang kuat  

atau cukup kuat  dari SBU, namun  pertumbuhan pasar 

lemah atau telah jenuh dan lingkungan eksternal 

berada  pada kondisi yang kurang dinamis/stabil. 

Sasaran yang ingin dicapai dengan strategi ini yaitu  

meningkatkan kemampulabaan. Strategi yang 

mungkin dipilih pada keadaan ini  yaitu  

dengan melakukan: (a) produk improvement, (b)  join 

venture, (c) licensing, (d) franchising, dan (e) sub-

contracting. 

3. Kelompok strategi retrenchment atau penciutan.  

Strategi ini dipilih pada saat posisi bersaing  dan 

pertumbuhan pasar yang lambat dan rendah dari SBU 

 

(Strategic Business Unit) yang dimiliki perusahaan, 

dan bahkan beberapa SBU yang dimiliki  mungkin 

dalam keadaan  yang kritis dan merugi. Sasaran yang 

ingin dicapai yaitu  bertahan hidup, menekan biaya, 

dan menghindari kerugian  pada periode yang akan 

datang.  

Strategi yang  mungkin dapat dipilih yaitu : (a) 

divesture, menjual atau menutup SBU, atau (b) 

turnaround, melakukan efisiensi internal, atau (c) 

likuidasi, menutup dan membubarkan SBU. 

Kelompok strategi kombinasi  dari ketiga kelompok 

strategi di atas. Sasaran utama dengan strategi 

kombinasi ini yaitu  meningkatkan keuntungan dan 

menekan biaya. 

  

 

 

 

PELANGGARAN ETIKA BISNIS 

DAN SOLUSINYA 


Di dalam persaingan dunia usaha yang sangat ketat ini, 

etika bisnis merupakan sebuah harga mati, yang tidak 

dapat ditawar lagi. Dengan pertumbuhan bisnis di 

warga  yang diiringi dengan globalisasi ekonomi, 

diperlukan etika dalam kegiatan bisnis. Era yang sangat 

terbuka saat ini, dapat memicu  keburukan bisnis 

perusahan dapat cepat tersebar luas. Satu- satunya cara 

untuk bertahan dalam dunia bisnis yaitu  dengan 

bertindak secara jujur dan etis terhadap pemasok, 

pemodal, konsumen, pemasok, dan warga  umum. 

Pelaku bisnis yang ingin eksis dan mampu bersaing pada 

era globalisasi, harus mematuhi etika maupun norma 

serta aturan dan hukum yang berlaku.  

Saat ini, kita melihat banyak pelanggaran etika bisnis 

dalam bisnis negara kita  secara tidak sadar. Di negara kita , 

ada banyak hal yang berkaitan dengan pelanggaran etika 

bisnis yang sering dilakukan oleh pebisnis yang tidak 

bertanggung jawab. Di sisi lain, bisnis telah memberi  

kontribusi yang besar dalam kemajuan, ekonomi, sosial 

dan budaya. Namun, juga menimbulkan konsekuensi 

yang disebabkan oleh kegiatan perusahaan ini . 

Kecenderungan individu untuk merasa benar dalam 

berbagai situasi, menimbulkan munculnya perilaku 

pelanggaran etika dalam berbagai kegiatan perusahaan.

Kasus pelanggaran etika bisnis sering terjadi tanpa 

disadari. Hal ini mudah saja terjadi sebab  setiap pelaku 

bisnis tidak menyadari pentingnya membangun pondasi 

etika dan kepatuhan terhadap hukum. Bisnis yang 

beretika akan menguntungkan perusahaan dan 

warga . Kegagalan untuk mematuhi hukum dan 

etika bisnis dalam menangani persaingan bisnis, 

memicu  persaingan yang tidak sehat.  

Pelanggaran Etika Bisnis  

Meningkatnya jumlah pelanggaran etika bisnis yang 

terjadi, menjadi masalah dalam dunia bisnis. Pelanggaran 

etika bisnis muncul sebab  pelaku bisnis hanya 

memikirkan cara untuk meningkatkan penjualan dan 

melakukan hal-hal yang tidak etis seperti suap, korupsi, 

kolusi, dan nepotisme. Ketidaktahuan tentang etika bisnis 

mendorong pelanggaran terhadap bisnis. Jika suatu 

perusahaan tidak mengikuti standar etika bisnis yang 

tepat, hal itu dapat memicu  konsumen tidak 

percaya pada produknya, yang dapat memicu  

penjualan menurun dan bahkan kebangkrutan 

perusahaan.   

Perusahaan yang ingin berkembang dan ingin 

mendapat  keunggulan bersaing, harus dapat 

menyediakan produk atau jasa yang berkualitas, harga 

yang murah dibandingkan pesaing, waktu penyerahan 

lebih cepat, dan pelayanan yang lebih baik dibandingkan 

pesaingnya (Margaretha, 2004). Dalam hal ini, bisnis 

menjadi suatu usaha yang dijalankan dengan tujuan 

utamanya yaitu  untuk memperoleh keuntungan 

(Rendtorff, J. D. 2019). Oleh sebab  itu, kesadaran moral 

diperlukan dalam situasi apa pun, agar keputusan yang 

dibuat tetap bernilai secara moral.  

Dunia bisnis yang berkembang pesat menimbulkan 

tantangan dan ancaman bagi para pebisnis, untuk 

bersaing dan mempertahankan eksistensi. Praktik bisnis 

harus dilakukan dengan etika, bukan secara bebas. 

Secara umum, etika bisnis yaitu  cara mengelola bisnis 

dengan mempertimbangkan moral dan standar. Akan 

 

namun , para ahli di bidang ini, berbeda dalam 

mendefinisikan etika bisnis. 

Etika bisnis merupakan aspek moral dalam menjalankan 

bisnis. Etika bisa diartikan sebagai tata cara hidup yang 

baik, aturan hidup yang baik, nilai-nilai maupun segala 

kebiasaan yang dianut maupun diwariskan dari satu 

individu kepada individu yang lainnya, ataupun dari satu 

generasi ke generasi yang lainnya (Aviatri & Nilasari, 

2021). sebab  itu, individu yang terlibat bisnis harus 

mengerti dan memahami etika dalam berbisnis  

Masih banyak fenomena-fenomena di mana beberapa 

bisnis masih mengabaikan aspek moral. LeClair dan 

Ferrell dalam Haurisa dan Praptiningsih (2014) 

mengemukakan bahwa perkembangan zaman secara 

drastis memengaruhi perilaku etis, ditambah 

perkembangan teknologi telah membuat perubahan high 

impact teradap keputusan bisnis. Banyak bisnis 

menganggap keuntungan, menghindari kerugian, dan 

persaingan sebagai satu-satunya tujuan operasi, sehingga 

pertimbangan moral atau etika tidak lagi diperlukan. 

Bertens (2000) mengemukakan bahwa etika bisnis itu, 

lebih luas dari pada ketentuan yang diatur oleh undang-

undang, bahkan etika bisnis merupakan standar yang 

lebih tinggi, jika dibandingkan dengan standar minimum 

ketentuan hukum. sebab  itu, dalam kegiatan atau 

kegiatan bisnis kita sering kali menemukan grey area 

yang tidak diatur oleh ketentuan hukum. Perusahaan 

yang memiliki produk bermutu, berguna untuk 

warga , dikelola dengan manajemen yang tepat, 

namun  tidak memiliki  etika, maka kekurangan ini akan 

menjadi batu sandungan bagi perusahaan ini  

(Bertens, 2013) “Ethics without a good product and without 

a good management will not make a company succeed. But 

without ethics a good product and smart management 

cannot guarantee a company’s success.” 

Ronald J. Ebert dan Ricky M. Griffin (2000) 

mengemukakan etika bisnis yaitu  istilah yang sering 

digunakan untuk menunjukkan perilaku dari etika 

seseorang manajer atau karyawan suatu organisasi 

Velasquez, (2005) juga menekankan bahwa etika bisnis 

merupakan studi yang dikhususkan mengenai moral yang 

benar dan salah. Studi ini berkonsentrasi pada standar 

moral sebagaimana diterapkan dalam kebijakan, institusi, 

dan perilaku bisnis. Di sisi lain, Zimmerer memandang 

etika bisnis sebagai suatu kode etik perilaku pengusaha, 

berdasarkan nilai-nilai moral dan norma yang dijadikan 

tuntunan dalam membuat keputusan dan memecahkan 

persoalan.  

Tujuan etika bisnis yang umum diterapkan dalam 

organisasi atau perusahaan yaitu  untuk menghindari 

pelanggaran hukum pidana dalam pekerjaan, 

menghindari tindakan yang dapat mengakibatkan 

gugatan hukum perdata pada perusahaan dan 

menghindari tindakan yang berakibat buruk bagi citra 

perusahaan, bisnis sangat berkaitan dengan tiga hal 

ini , sebab  dapat mengakibatkan hilangnya uang 

dan reputasi perusahaan (Subagio et al., 2013). 

Fahmi (2013) mengungkapkan bahwa pelanggaran etika 

bisnis dilakukan oleh pihak-pihak yang mengerti etika 

bisnis. Dilakukan dengan sengaja sebab  faktor ingin 

mengejar keuntungan dan menghindari kewajiban-

kewajiban yang selayaknya harus dipatuhi. Selain itu, 

Fahmi juga mengatakan bahwa Keputusan bisnis sering 

diambil dengan mengesampingkan norma norma atau 

aturan-aturan yang berlaku, misalnya Undang-Undang 

Perlindungan Konsumen.  

Keputusan bisnis sering mengedepankan materi atau 

mengejar target perolehan keuntungan jangka pendek 

semata. Keputusan bisnis sering dibuat secara sepihak, 

tanpa memperhatikan atau bahkan tanpa mengerti 

ketentuan etik yang disahkan oleh lembaga yang 

berkompeten, seperti Kode Etik Perhimpunan Auditor 

Internal negara kita  (PAAI), Peraturan Menteri Keuangan 

Nomor 17/PMK.01/2008/ tentang Jasa Akuntan Publik, 

Peraturan Badan Pemeriksa Keuangan Nomor 2 Tahun 

2007 tentang Kode Etik BPK-RI, Kode Etik Psikologi 

negara kita , Kode Etik Advokat negara kita , dan lain 

sebagainya.  

 

Selanjutnya, kontrol dari pihak berwenang dalam 

menegakkan etika bisnis masih dianggap lemah, sehingga 

kondisi ini dimanfaatkan untuk mencapai keuntungan 

pribadi atau kelompok. 

Faktor Penyebab Pelanggaran Etika Bisnis  

Beberapa faktor yang dapat memicu  terjadinya 

pelanggaran etika bisnis antara lain sebagai berikut. 

1. Tekanan untuk Memaksimalkan Keuntungan 

Perusahaan sering menghadapi tekanan untuk 

mencapai tujuan keuangan dan menghasilkan 

keuntungan yang tinggi. Tekanan ini, dapat 

mendorong manajemen atau karyawan untuk 

mengambil jalan pintas atau melakukan tindakan 

yang tidak etis, untuk mencapai tujuan ini . 

2. Ketidakpatuhan terhadap Hukum dan Peraturan 

Pemicu pelanggaran etika dapat berupa 

ketidakpatuhan terhadap peraturan dan hukum 

bisnis. Bisnis tertentu mungkin merasa lebih mudah 

mengabaikan atau melanggar aturan untuk 

mendapat  keuntungan jangka pendek. 

3. Kebijakan dan Budaya Perusahaan yang Buruk 

Kebijakan dan budaya perusahaan yang tidak jelas 

atau tidak ditegakkan, dapat menciptakan celah 

untuk pelanggaran etika. Selain itu, budaya 

perusahaan yang tidak peduli dengan etika atau 

bahkan mendorong perilaku yang tidak etis dapat 

memicu  pelanggaran etika menjadi lebih umum. 

4. Kurangnya Pengawasan dan Transparansi 

Kurangnya pengawasan internal yang efektif dan 

rendahnya transparansi dalam keputusan bisnis, 

dapat memfasilitasi pelanggaran etika sebab  pelaku 

dapat merasa tidak akan ditangkap atau terungkap. 

5. Persaingan yang Ketat 

Dalam lingkungan bisnis yang sangat kompetitif, 

beberapa perusahaan mungkin merasa terdorong 

untuk melakukan tindakan tidak etis, untuk 

mendapat  keunggulan atas pesaing mereka. 

6. Konflik Kepentingan 

Tindakan yang tidak etis dapat dilakukan oleh 

individu atau kelompok dalam suatu organisasi, jika 

mereka memiliki kepentingan pribadi atau finansial 

yang bertentangan dengan kepentingan perusahaan.  

7. Kurangnya Kesadaran Etika 

Ada kemungkinan beberapa individu tidak memahami 

etika bisnis atau tidak menyadari akibat negatif dari 

tindakan mereka, yang dapat memicu  

pelanggaran etika yang tidak disengaja 

8. Teknologi dan Perubahan Sosial 

Kemajuan dalam teknologi dan perubahan sosial 

dapat menghasilkan kondisi baru yang dapat 

menimbulkan masalah etika, dan beberapa bisnis 

mungkin menghadapi kesulitan untuk mengikuti 

perubahan ini . 

Pelanggaran etika bisnis muncul juga akibat pelaku bisnis 

hanya memikirkan bagaimana bisa menaikkan omset 

penjualan menjadi semakin besar, tidak hanya 

menaikkan omzet saja melainkan juga melakukan hal-hal 

yang tidak etis, seperti suap, korupsi, kolusi dan 

nepotisme hal ini  membuat warga  resah. 

Penting bagi perusahaan untuk mengidentifikasi dan 

mengatasi faktor-faktor ini, dengan menerapkan 

kebijakan etika yang jelas, melibatkan seluruh organisasi 

dalam pelatihan etika, dan memastikan adanya 

pengawasan yang efektif, untuk mencegah dan mengatasi 

pelanggaran etika bisnis. 

  

Contoh Kasus Pelanggaran Etika Bisnis  

Pelanggaran etika bisnis mencakup berbagai perilaku 

yang tidak etis dalam konteks bisnis dan ekonomi. 

Beberapa contoh pelanggaran etika bisnis yang umum 

meliputi 

1. penipuan, menyediakan informasi yang salah atau 

menyesatkan kepada konsumen, investor, atau pihak 

lain untuk memperoleh keuntungan yang tidak adil; 

2. penghindaran pajak, menggunakan celah atau 

strategi yang meragukan untuk menghindari 

membayar pajak yang seharusnya dibayarkan; 

3. pemakaian  buruk sumber daya, menggunakan 

sumber daya perusahaan secara tidak etis, seperti 

menggunakan waktu kerja untuk kepentingan pribadi 

atau mencuri aset perusahaan; 

4. perlakuan diskriminasi, memperlakukan karyawan, 

konsumen, atau pihak lain dengan tidak adil 

berdasarkan faktor seperti ras, gender, agama, atau 

orientasi seksual; 

5. pelanggaran hak tenaga kerja, melanggar hak-hak 

pekerja, seperti mengabaikan standar keselamatan 

dan kesehatan, upah yang tidak adil, atau jam kerja 

yang berlebihan; 

6. korupsi, memberi  suap atau hadiah kepada 

pejabat pemerintah atau pihak lain untuk 

memperoleh keuntungan bisnis yang tidak sah; 

7. pelanggaran privasi, melanggar privasi pelanggan 

atau karyawan dengan cara, seperti mencuri data 

pribadi atau menjual informasi tanpa izin; dan 

8. praktik monopoli atau kartel, mengekang persaingan 

dengan melakukan kesepakatan ilegal untuk 

mengendalikan pasar. 

Jika suatu perusahaan tidak mengikuti standar etika 

bisnis yang tepat, itu dapat membuat pelanggan tidak 

percaya pada produknya, yang dapat memicu  

penjualan menurun dan bahkan kebangkrutan. 


Berikut yaitu  beberapa beberapa kasus pelanggaran 

etika bisnis  

1. kasus pelanggaran etika bisnis oleh Volkswagen, di 

mana perusahaan ini  memanipulasi hasil uji 

emisi kendaraan mereka; 

2. kasus pelanggaran etika bisnis oleh perusahaan Uber, 

di mana perusahaan ini , dihadapkan dengan 

tuduhan pelecehan seksual, kepemimpinan yang 

dipertanyakan, dan penyelidikan kasus-kasus 

kriminal lainnya; 

3. kasus pelanggaran etika bisnis oleh perusahaan 

Facebook, di mana perusahaan ini , dihadapkan 

dengan tuduhan pelanggaran privasi dan pemakaian  

data pribadi pengguna tanpa izin; 

4. kasus pelanggaran etika bisnis oleh PT Garuda 

negara kita , di mana perusahaan ini , dihadapkan 

dengan tuduhan pelanggaran Pasal 5 UU Nomor 5 

Tahun 1999 yang mana terjadi persekongkolan antara 

para pelaku usaha (meeting of minds) untuk 

meniadakan diskon atau membuat keseragaman 

diskon, dan kesepakatan meniadakan produk yang 

ditawarkan dengan harga murah di pasar; 

5. kasus pelanggaran etika bisnis oleh Indomie, di mana 

perusahaan ini , dihadapkan dengan tuduhan 

merugikan konsumen dengan tidak memberi  

diskon dan meniadakan produk yang ditawarkan 

dengan harga murah di pasar 

6. kasus pelanggaran etika bisnis oleh FIFA, di mana 

organisasi ini , dihadapkan dengan tuduhan 

korupsi dan penyuapan; dan 

7. kasus pelanggaran etika bisnis oleh perusahaan 

Djarum, di mana perusahaan ini , dihadapkan 

dengan tuduhan pelanggaran iklan rokok dan 

pemakaian  bahan berbahaya dalam produk mereka. 

Meskipun telah banyak yang memahami konsekuensi atas 

pelanggaran etika bisnis, kesadaran akan pentingnya 

etika bisnis perlu terus digalakkan, sebab  masih sering 

ditemukan pelanggaran terhadap etika bisnis oleh para 

pebisnis yang tidak bertanggung jawab di negara kita .  

 

 

Pelanggaran etika bisnis memiliki potensi untuk 

melemahkan daya saing produk industri di pasar global. 

Bagaimana para pengusaha kita bersikap? Pengusaha 

negara kita  membuat situasi menjadi lebih buruk, sebab  

mereka mengabaikan standar etika bisnis yang umum 

dan tidak terikat. Banyak orang khawatir tentang 

peningkatan pelanggaran etika bisnis. Ada keyakinan 

bahwa mengabaikan etika bisnis akan berdampak negatif 

pada warga  dan ekonomi nasional. Selain itu, hal ini 

dapat mengganggu hubungan antar individu, kelompok, 

dan warga  secara keseluruhan. Pelanggaran etika 

juga dapat mengarah pada perilaku yang lebih berbahaya 

dan merugikan orang lain. Mengatasi pelanggaran etika 

bisnis membutuhkan pendekatan yang luas dan 

kompleks.  

Pentingnya menyadari bahwa dalam berbisnis etika 

bisnis, tidak hanya diterapkan oleh satu pihak, namun  juga 

oleh pemerintah, warga , pengusaha, dan negara 

lain, diperlukan diskusi yang terbuka tentang masalah 

ini. Ini berarti bahwa apa yang disepakati oleh bisnis 

ini  tidak akan pernah terwujud jika ada pihak 

terkait yang tidak tahu dan setuju tentang etika dan 

moralitas.  

Berikut yaitu  beberapa solusi yang dapat diambil untuk 

menghadapi pelanggaran etika bisnis, antara lain 

1. menetapkan kebijakan etika yang jelas, perusahaan 

harus memiliki kebijakan etika yang tertulis dan jelas 

yang menetapkan standar perilaku yang diterima dan 

tidak diterima, kebijakan ini harus didistribusikan 

kepada semua karyawan dan disosialisasikan dengan 

baik; 

2. meningkatkan kesadaran etika, melakukan pelatihan 

dan program kesadaran etika secara rutin untuk 

semua karyawan, agar mereka memahami pentingnya 

etika bisnis dan dampak dari tindakan yang tidak etis; 

  

3. membentuk komite etika, mendirikan komite etika 

independen di perusahaan untuk menangani dan 

meninjau pelanggaran etika serta memberi  saran 

tentang masalah etika; 

4. memperkuat pengawasan internal, meningkatkan 

sistem pengawasan internal, untuk memastikan 

bahwa aturan dan kebijakan perusahaan diikuti 

dengan benar dan mengidentifikasi potensi 

pelanggaran etika; 

5. membuat saluran pelaporan yang aman, 

menyediakan saluran pelaporan yang aman dan 

rahasia bagi karyawan untuk melaporkan 

pelanggaran etika tanpa takut represalias; 

6. tanggap terhadap pelanggaran, perusahaan harus 

menanggapi pelaporan pelanggaran etika dengan 

serius dan menyelidiki setiap laporan dengan cermat; 

7. menegakkan sanksi yang tegas, menetapkan sanksi 

yang jelas dan tegas bagi mereka yang terlibat dalam 

pelanggaran etika, termasuk pemecatan atau 

tindakan hukum jika diperlukan; 

8. memperbaiki budaya perusahaan, membangun 

budaya perusahaan yang berorientasi pada etika dan 

integritas, di mana karyawan merasa didukung untuk 

bertindak dengan benar dan menghindari perilaku 

yang tidak etis; 

9. mengedepankan tanggung jawab sosial perusahaan, 

berkomitmen untuk bertindak secara etis dalam 

segala aspek bisnis, termasuk dalam hubungannya 

dengan karyawan, pelanggan, pemasok, dan 

warga ; dan 

10. melibatkan pihak eksternal, bekerja sama dengan 

pihak eksternal, seperti asosiasi industri, organisasi 

nirlaba, dan pemerintah, untuk mempromosikan 

praktik bisnis yang etis dan meningkatkan kesadaran 

tentang etika bisnis. 

 

Untuk mencegah pelanggaran etika pada masa depan dan 

menciptakan lingkungan bisnis yang etis, solusi ini harus 

diterapkan secara konsisten dan terus-menerus. Untuk 

mengubah budaya etika perusahaan, penting untuk 

melibatkan semua tingkatan organisasi dan semua 

pemangku kepentingan. Membangun lingkungan bisnis 

yang adil dan bertanggung jawab juga merupakan solusi, 

di mana bisnis mematuhi nilai-nilai moral dan 

mempertimbangkan dampak sosial dari apa yang mereka 

lakukan. Selain itu, perusahaan harus berkomunikasi 

dengan warga  umum dan pelanggan dengan cara 

yang mudah dipahami, sehingga mereka dapat 

membangun hubungan bisnis yang menyenangkan untuk 

semua pihak yang terlibat. 

  

 

 

PELUANG DAN TANTANGAN 

USAHA DALAM  

DIGITALISASI BISNIS 


Konsep digitalisasi bisnis berkembang pesat 

pascapandemi sebagai keberlanjutan dari strategi bisnis 

pada masa pandemi. Digitalisasi bisnis bertumbuh 

menjadi scale up strategy terutama untuk pelaku bisnis di 

negara kita , sedang  secara global digitalisasi bisnis 

merupakan dampak dari Revolusi Industri 4.0 dan Society 

5.0. Society  5.0 secara khusus melakukan integrasi, yang 

bertujuan meningkatkan kenyamanan warga , 

sebab  teknologi dan sistem informasi sebagai bagian dari 

kehidupan manusia yang mampu mendegradasi 

kesenjangan antar manusia dan mengatasi permasalahan 

ekonomi yang dihadapi (Suherman, Musnaini and 

Indrawan, 2020).  

Digitalisasi  bisnis yang dilakukan oleh para pelaku usaha 

yaitu  berpindah dari bisnis konvensional ke bisnis 

digital, dengan memanfaatkan aplikasi keuangan 

digital/e-fincancing, pemasaran digital/e-commerce dan 

pembayaran digital/e-payment 

Switch off ini, bertujuan agar bisnis mereka dapat terus 

bertahan dan berkembang di tengah persaingan yang 

semakin ketat 

 

Transformasi bisnis dapat menjadi peluang maupun 

tantangan bagi masing-masing pelaku usaha terutama 

pelaku usaha mikro kecil. Proses digitalisasi yang telah 

dilakukan dan menunjukkan arah perubahan adaptif, 

dikenal dengan konsep transformasi digital. Transformasi 

digital merupakan serangkaian aktivitas bisnis dan 

pelaksanaannya yang melibatkan pemakaian  teknologi, 

namun  juga sumber daya manusia, keuangan dan unsur 

lainnya, yang kemudian dapat berperan sebagai strategi 

bisnis  

Digitalisasi Bisnis 

Digitalisasi yaitu  “Proses alih media dari bentuk 

tercetak, audio, maupun video menjadi bentuk digital. 

Digitalisasi dilakukan untuk membuat arsip dokumen 

bentuk digital, untuk fungsi fotokopi, dan untuk membuat 

koleksi perpustakaan digital.”  

Tujuan digitalisasi yaitu  

1. pembuatan arsip dokumen bentuk digital;  

2. pembuatan salinan dokumen (Fungsi fotokopi); dan  

3. pembuatan koleksi digital untuk keperluan 

perpustakaan digital (Sukmana, 2016) 

Dalam bisnis perubahan yang dilakukan untuk 

menggunakan informasi dan data untuk pengembangan 

bisnis atau usaha, melalui serangkaian aktivitas yang 

mampu disederhanakan, namun  juga aktivitas ini  

mampu untuk mendatangkan keuntungan yang 

maksimal bagi perusahaan disebut dengan proses 

digitalisasi. Proses digitalisasi akan memberi  dampak 

perubahan adaptif, yang dikenal dengan transformasi 

digital dengan menggunakan semua sumber daya yang 

ada dalam perusahaan  

Transformasi Digitalisasi Bisnis  

Transformasi digitalisasi bisnis yaitu  perubahan yang 

disebabkan oleh teknologi dalam perusahaan, yang 

meliputi pemanfaatan teknologi digital untuk 

meningkatkan semua tahapan atau proses yang 

dilakukan oleh perusahaan, namun  juga disertai dengan 

dan eksplorasi inovasi digital yang berpeluang mengubah 

model bisnis dengan melibatkan banyak unsur penentu 

kebijakan dalam organisasi, yang harus mampu 

memaksimalkan informasi digital sebagai salah satu 

strategi bisnis, namun  dengan tetap menjamin keamanan 

data perusahaan 

Kondisi ini menunjukkan adanya pergeseran yang besar 

menuju suatu kondisi yang baru dengan berbagai macam 

risiko, tantangan dan permasalahannya, dan harus 

mampu untuk ditindaklanjuti 

Berikut ini diberikan gambaran mengenai komponen-

komponen transformasi digital. 

 

Pentingnya Strategi Digitalisasi Bisnis bagi 

Perusahaan 

1. meningkatkan semangat, motivasi dan produktivitas 

karyawan; 

2. meningkatkan kemudahan aksesibilitas berbagai 

pihak, baik yang ada dalam perusahaan (internal) 

maupun pihak-pihak eksternal yang terkait dengan 

Perusahaan;  

3. mempermudah dan mempercepat proses pengambilan 

keputusan secara lebih efektif;  

4. penangkapan data, pengolahannya juga akan 

dilakukan secara lebih akurat dan efisien;  

5. memperkecil terjadinya kesalahan baik yang bersifat 

human error maupun kesalahan oleh sistem; 

6. memungkinkan perusahaan melakukan inovasi 

digital untuk mengantisipasi perubahan lingkungan 

dan tuntutan pemenuhan kebutuhan konsumen serta 

persaingan; dan  

7. meningkatkan peluang memperoleh return/profit 

lebih besar (Endang Wahyuningsih, 2021). 

Unsur-Unsur Strategi Digitalisasi Bisnis 

Eksistensi di dunia maya yaitu  bentuk eksistensi 

perusahaan, yang dengan mudah ditemukan oleh 

pelanggan tanpa dibatasi oleh waktu dan ruang tertentu. 

Untuk itu, strategi pemilihan media online dan 

kemampuan untuk menjelaskan eksistensi perusahaan 

sangat perperan penting dalam strategi ini 

1. pemasaran sebagai strategi bisnis digital harus 

mampu memperluas sasaran pengguna produk yang 

dihasilkan melalui optimalisasi teknologi digital yang 

mampu menekan biaya pemasaran; 

2. penjualan sebagai dampak dari pemasaran dalam 

strategi bisnis digital harus dilakukan secara efektif 

dan efisien, serta mampu menjangkau konsumen 

lebih luas dengan pelayanan yang lebih cepat; dan  

 

 

3. pelanggan sebagai strategi bisnis digital dapat 

dilakukan dengan berbagai metode yang mampu 

mengombinasikan antara proses pemasaran itu 

sendiri, dengan sumber daya manusia serta teknologi 

yang ada dalam perusahaan 

Langkah-Langkah Digitalisasi Bisnis 

Teknologi digital dapat diimplementasikan oleh berbagai 

usaha namun  juga diiringi dengan berbagai tantangan dan 

peluang. Perusahaan harus mencari sistem terbaik agar 

bisnis mereka dapat berjalan dengan lancar. Tiga langkah 

digitalisasi bisnis yaitu  sebagai berikut: 

1. analisis perusahaan, menentukan target, dan 

pengembangan strategi analisis seluruh proses bisnis 

dan strategi kekayaan perusahaan bertujuan untuk 

menentukan efisiensi semua bagian, dan membuat 

bagaimana rencana tentang cara meningkatkannya 

dengan bantuan teknologi digital. Meminimalkan 

risiko, dilakukan dengan menganalisis dengan tingkat 

ketelitian yang tinggi. Teknologi dapat 

mengembangkan bisnis namun  langkah strategis 

penyederhanaan dapat membantu untuk 

keberlanjutan usaha; 

2. pengenalan teknologi digital, memilih alat yang tepat 

dan menyesuaikan rencana namun  juga butuh waktu 

bagi perusahaan untuk mengimplementasikan 

teknologi baru ini  dilanjutkan dengan 

pengujian, memperbaiki kesalahan teknis yang 

terjadi, melatih staf untuk dapat menggunakan 

teknologi dengan tepat sampai pada pencapaian hasil 

juga membutuhkan waktu; dan 

3. analisis hasil, langkah selanjutnya yaitu  analisis 

terhadap keefektifan sistem yang digunakan dan 

memastikan bahwa pendapatan atau penerimaan 

perusahaan meningkat atau mendapat  manfaat 

lainnya. pemakaian  teknologi digital seharusnya 

tidak menambah beban kerja perusahaan. jika  


pemakaian  teknologi bisnis gagal mencapai target, 

maka perlu diperbaiki kemudian dicoba kembali. 

Dampak digitalisasi bagi suatu organisasi, yaitu 

1. efisiensi internal; yaitu, cara kerja yang lebih baik 

melalui sarana digital dan perencanaan ulang proses 

internal; 

2. peluang eksternal yaitu peluang bisnis baru dalam 

domain bisnis yang sudah ada; dan  

3. perubahan yang mengganggu; digitalisasi 

memicu  perubahan peran bisnis secara 

menyeluruh 

Berikut gambar tiga viewpoint dampak digitalisasi. 

 

Gambar 15.2 Tiga viewpoint dampak digitalisasi.  

(Parviainen et al., 2017) 

Potensi manfaat dari digitalisasi yaitu   

1. biaya dapat dipotong hingga 90 persen dan waktu 

penyelesaian ditingkatkan beberapa kali lipat;  

2. perangkat lunak memungkinkan bisnis secara 

otomatis mengumpulkan data yang dapat ditambang 

untuk pemahaman yang lebih baik kinerja proses, 

pemicu biaya, dan penyebab risiko; dan 

3. laporan nyata tentang kinerja proses digital untuk 

mengatasi masalah sebelum mereka menjadi kritis 

(Sabbagh et al, 2012). 

Peluang dan Tantangan Usaha dalam Digitalisasi Bisnis 

Untuk dapat memahami peluang dalam digitalisasi bisnis, 

maka perlu terlebih dahulu dipahami mengenai 

transformasi atau perubahan dalam digitalisasi bisnis 

sebagai berikut. 

 

Berdasarkan transformasi peluang bisnis digital yang 

telah digambarkan di atas, maka peluang digitalisasi 

bisnis yaitu  untuk efisiensi internal meliputi 

1. digitalisasi meningkatkan efisiensi proses bisnis, 

kualitas, dan konsistensi dengan menghilangkan 

tahapan manual dan mendapat  hasil yang lebih 

baik;  

2. digitalisasi juga dapat memungkinkan waktu nyata 

yang lebih baik; 

 


3. digitalisasi meningkatkan kepuasan kerja yang lebih 

baik untuk karyawan melalui otomatisasi pekerjaan 

rutin; dan 

4. digitalisasi meningkatkan kepatuhan melalui 

standarisasi dan pencadangan dan distribusi 

penyimpanan yang lebih mudah (Parviainen et al., 

2017). 

Peluang digitalisasi bisnis yaitu  untuk efisiensi eksternal 

meliputi 

1. meningkatkan waktu respons dan layanan klien;  

2. memungkinkan cara baru dalam melakukan bisnis; 

dan 

3. menciptakan peluang untuk layanan baru atau 

penawaran lanjutan kepada pelanggan (Parviainen et 

al., 2017). 

Disruptive changes: 

1. perubahan dalam lingkungan operasi perusahaan; 

dan  

2. digitalisasi bisa menciptakan bisnis yang benar-benar 

baru (Parviainen et al., 2017). 

Berdasarkan pemaparan di atas, maka dapat disimpulkan 

peluang dalam digitalisasi bisnis yaitu  

1. proses modernisasi, 

2. mengoptimalkan alur kerja, 

3. memperkuat keamanan, dan 

4. meningkatkan produktivitas. 

Transformasi digital bukan sekedar permasalahan 

penggunan teknologi digital namun  juga pada kemampuan 

menerima dan mengunakan model bisnis yang baru. Hal 

ini berarti perusahaan dituntut untuk mampu memahami 

dengan baik, transformasi digital yang sedang terjadi 

dengan mempertimbangkan semua kemungkinan yang 

akan terjadi. Terutama pada penerimaan yang akan 

dilakukan oleh para pegawai yang akan berdampak 

terhadap loyalitas pelanggan.  

Salah satu kesulitan yang dihadapi dalam pemanfaatan 

teknologi yaitu  pada biaya investasi yang dibutuhkan 

untuk mendukung transformasi digital 

Beberapa tantangan yang dihadapi dalam digitalisasi 

bisnis nampak dalam gambar berikut. 

 

Gambar 15.4 Tantangan dalam digitalisasi bisnis. 

Sumber: www.pecb.com  

Berdasarkan gambar 15.4, maka dapat dijelaskan 

tantangan dalam digitalisasi bisnis yaitu  sebabagi 

berikut. 

1. Kurangnya perubahan strategi manajemen organisasi. 

Perubahan strategi manajemen organisasi mengacu 

pada pendekatan terorganisir untuk mengelola 

perubahan dalam suatu organisasi dalam pengelolaan 

transformasi digital. Perubahan yang tidak tepat, 

dapat berdampak negatif pada transformasi digital 

organisasi sebagai penyebab kegagalan. Faktor 

lainnya yaitu  perubahan yang dilakukan pada 

berbagai elemen, sekaligus dan tidak fokus 

meyelesaiakan permasalahan utama. Memiliki 

strategi manajemen perubahan yang kuat dan efektif 

sangat penting untuk kesuksesan sebab  

meningkatkan kemungkinan organisasi untuk 

mencapai tujuan transformasinya. 

2. Kurangnya keahlian. 

Kurangnya keahlian dapat mengganggu proses 

transformasi. Mempertimbangkan betapa rumitnya 

strategi transformasi digital, keterampilan, dan 

pengetahuan yang tepat, diperlukan untuk 

mengimplementasikan perubahan yang diperlukan. 

Permasalahan kesenjangan bakat dapat 

memperlambat transformasi digital. Perusahaan 

kekurangan karyawan dengan keterampilan yang 

memadai dalam prosedur transformasi digital. 

3. Evolusi berkelanjutan dari kebutuhan pelanggan.  

Harapan dan tuntutan pelanggan telah meningkat 

sebagai hasil dari pengembangan dan perbaikan yang 

terus berkembang  dan dapat menimbulkan 

tantangan bagi perusahaan. Usaha dalam 

transformasi digital dihadapkan pada kebutuhan 

pelanggan dapat berubah sepanjang waktu, sebab  

mereka terus mencari layanan yang lebih 

transformatif.   

4. Resistensi internal untuk berubah. 

Kecenderung menikmati kenyamanan dan rutinitas 

membuat orang merasa nyaman. Oleh sebab  itu, 

perubahan menimbulkan ketidaknyamananyang 

dapat berdampak pada kesejahteraan mereka. 

Kondisi ini dapat menjelaskan tingkat penerimaan 

dan penolakan karyawan terhadap transformasi 

digital. Untuk itu, diperlukan tindakan penanganan 

melalui keterlibatan karyawan dalam proses 

transformasi, sebab  dapat memengaruhi kinerja dan 

efisiensi mereka.  

5. Perhatian pada keamanan. 

Organisasi yang mengadopsi proses digital dan 

teknologi berbasis cloud, dihadapkan pada tingkat 

risiko yang lebih tinggi. Perusahaan dituntut untuk 

menerapkan keamanan yang lebih tinggi, untuk 

mempertahankan diri dari ancaman. Tidakan untuk 

tidak melindungi data dan aset berharga lainnya milik 

perusahaan dapat memicu  risiko yang sangat 

besar. 

 

 

6. Kendala anggaran. 

Tantangan lain dari transformasi digital yaitu  

tingginya biaya investasi. Kendala anggaran bukan 

sekedar menjadi tantangan, melainkan menjadi 

kendala dan permasalahan pada banyak perusahaan, 

sebab  merupakan investasi yang sangat besar. 

Organisasi diharuskan merencanakan anggaran 

dengan sangat hati-hati untuk mendapat  strategi 

yang mampu memenuhi kebutuhan pelanggan dan 

organisasi (Vlerë Hyseni; www.pecb.com).  

Tiga faktor penting tranformasi digital: 

1. strategi, 

2. kerangka berpikir, dan 

3. keterampilan dan teknologi.  

Strategi dan integrasi dalam transformasi bisnis, yaitu 

1. perubahan strategi manajemen; 

2. peningkatan keterampilan dan rekruitmen; 

3. pemenuhan ekspektasi dan kebutuhan pelanggan; 

4. transformasi budaya kerja; 

5. transformasi keamanan digital; dan 

6. transformasi perencanaan anggaran digital (Dennis 

Akkerman;  www.pecb.com).  

  

 

 

  

 


STRATEGI BISNIS UMKM DALAM 

MENGHADAPI PERSAINGAN 


Strategi bisnis yaitu  tindakan yang dilakukan atas dasar 

pengambilan keputusan oleh perusahaan, untuk 

mencapai target dan tujuan bisnisnya. Jadi, strategi 

bisnis yaitu  aksi dan proses yang dilakukan perusahaan 

dalam mendukung aktivitas bisnisnya, sehingga 

mendapat keuntungan. Tujuan utama dari strategi bisnis 

yaitu  perusahaan dapat mengontrol jalannya bisnis 

melalui identifikasi pasar, competitor, konsumen, dan 

lainnya. Strategi bisnis di dalam suatu perusahaan, juga 

mampu menyatukan antardepartemen untuk dapat 

bekerja sama di dalam pengambilan keputusan. 

Komponen Strategi Bisnis 

Di dalam Strategi bisnis terdapat beberapa komponen 

strategi bisnis, yaitu sebagai berikut. 

1. Visi dan Misi Perusahaan 

Untuk mencapai target perusahaan membutuhkan 

visi dan misi sebagai dasar kebijakan dalam memuat 

tugas dan tanggung jawab, dan individu-individu yang 

akan menjalankan tugas maupun tanggung jawab 

yang telah dibuat untuk mencapai tujuan dari 

perusahaan. 

  

 

2. Nilai Dasar/Core Value 

Di dalam perusahaan perlu adanya nilai dasar yang 

dimiliki oleh Perusahaan, sebab  nilai dasar 

merupakan suatu indentitas untuk dapat 

berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan 

dan departemen yang ada di dalam perusahaan 

ini . sebab  itu, nilai dasar merupakan apa saja 

yang perlu dilakukan maupun yang tidak boleh 

dilakukan di dalam perusahaan. 

3. Analisis SWOT 

SWOT yaitu  singkatan dari strength, weakness, 

opportunity, dan threat, yang biasa kita kenal dengan 

analisis SWOT yang merupakan komponen yang 

harus dilakukan oleh suatu perusahaan melalui 

analisis SWOT, perusahaan dapat mengetahui apa 

yang menjadi kekuatan atau kelebihan perusahaan, 

sehingga dapat dimanfaatkan sebagai peluang untuk 

memperoleh keuntungan, begitu juga dengan adanya 

analisis SWOT perusahaan dapat mengetahui apa saja 

kelemahan perusahaan, sehingga dapat menemukan 

solusi untuk mengatasi kelemahan perusahaan.  

4. Metode Strategi 

Metode yaitu  cara atau taktik yang biasanya menjadi 

strategi untuk memaparkan aktivitas-aktivitas 

perusahaan dengan detail dalam melakukan 

pekerjaan secara maksimal, oleh sebab  pekerja 

harus bertanggung jawab dalam menjalankan 

pekerjaannya serta mampu memahami apa yang 

menjadi kewajibannya, sehingga dapat memanfaatkan 

waktu yang ada dengan efisien. 

5. Rencana Pembagian Sumber Daya 

Di dalam strategi bisnis, perusahaan harus 

menemukan sumber daya untuk dapat mendukung 

pencapaian target maupun tujuan perusahaan atau 

bisnis ini , dan dapat bertanggung jawab atas 

sumber daya yang dimiliki oleh perusahaan. 

  

6. Pengukuran 

Di dalam menjalankan aktivitas, perusahaan wajib 

mengukur kuantitas dan kualitas output yang 

dihasilkan, sehingga dapat dilakukan evaluasi kinerja 

terkait target yang dicapai apakah sudah sesuai 

dengan rencana atau tidak. 

Fungsi Strategi Bisnis 

Di dalam bisnis, strategi bisnis sangat perlu dilakukan, 

sebab  strategi bisnis sendiri memiliki  fungsi yang 

sangat penting di dalam bisnis. Adapun fungsi dari 

strategi bisnis yaitu sebagai berikut. 

1. Perencanaan 

Perusahaan sangat membutuhkan perencanaan, 

sebab  strategi bisnis merupakan salah satu alat 

untuk membantu perusahaan dalam merancang apa 

yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan 

perusahaan. 

2. Kelebihan dan Kekurangan 

saat  merancang sebuah strategi bisnis, perusahaan 

harus memperhatikan apa yang menjadi kelebihan 

dan kekurangan perusahaan, sehingga perusahaan 

dapat menemukan cara yang terbaik untuk 

memperbaiki kelemahan yang dimiliki, sehingga 

perusahaan menjadi lebih baik pada masa yang akan 

datang. 

3. Efektif dan Efisiensi 

Di dalam menjalankan aktivitas Perusahaan, maka 

perusahaan harus bisa mengalokasikan dan 

memanfaatkan semua sumber daya yang dimiliki 

secara efektif dan efisien, dalam melancarkan 

aktivitas bisnisnya. 

4. Monitoring dan Kontrol 

Strategi bisnis di dalam perusahaan, sangat 

membutuhkan monitoring dan control untuk dapat 

membantu perusahaan, sehingga dapat mengetahui 

 

 

aktivitas bisnis berjalan secara lancar, atau tidak dan 

dapat mengukur sejauh mana progress yang telah 

dijalani untuk dapat mencapai target yang telah 

direncanakan.  

5. Keunggulan Bersaing 

Dunia bisnis sangat identik dengan persaingan. 

Perusahaan harus mampu unggul dalam bersaing 

bersama para competitor. Oleh sebab  itu, strategi 

bisnis harus direncanakan dengan baik dan jelas, 

sebab  strategi yang baik dan jelas, akan dapat 

dimanfaatkan dengan baik, sehingga dapat menjadi 

unggul di dalam bersaing. Keunggulan usaha yang 

dimiliki akan dilihat jika inovasi produk ini  lebih 

kreatif, pemikiran kreatif dalam dunia bisnis sangat 

diperlukan, agar usaha ini  mampu bersaing 

dengan usaha lainnya (Inda Lestati, 2019). 

Tujuan Strategi Bisnis 

Adapun tujuan di dalam strategi bisnis yaitu sebagai 

berikut: 

1. untuk kelangsungan usaha, jika  perusahaan 

melakukan strategi bisnis yang baik, dengan cara 

melakukan aktivitas dan melakukan pemasaran 

dengan cara yang berbeda dari biasanya atau unik, 

maka bisnis akan tetap bertahan di dalam dunia 

pesaingan; 

2. untuk meningkatkan penjualan dan keuntungan, 

sebab  tidak dapat diikuti oleh para pesaing; dan 

3. untuk menciptakan produk, pelayanan, dan desain 

yang baru sebab  memiliki  ide yang sudah 

direncanakan terlebih dahulu. Jadi, perusahaan 

harus selalu memiliki  inovasi yang tinggi dalam 

menjalankan usahanya. 


 

Manfaat Strategi Bisnis 

Adapun manfaat yang dapat dirasakan oleh perusahaan 

dalam membuat strategi bisnis, yaitu dapat meningkatkan 

kemampuan perusahaan di dalam menghadapi tantangan 

di dalam berbisnis, dapat memperluas usaha, dan 

meningkatkan keberhasilan perusahaan. 

Cara Menyusun Strategi Bisnis yang Efektif 

1. Berpikir Kritis/Critical Thinking 

Di dalam mengidentifikasi masalah-masalah yang 

terjadi di dalam perusahaan atau bisnis, sangat 

dibutuhkan cara berpikir yang kritis, sebab  dengan 

berpikir kritis maka seseorang dapat mencari solusi, 

dan dapat meminimalisir setiap risiko yang akan 

terjadi. 

2. Berpikir Kreatif/Creative Thinking 

Berpikir kreatif sangat penting untuk dimiliki oleh 

seorang yang memiliki  usaha, atau karyawan yang 

ada di dalam sebuah Perusahaan, sebab  di dalam 

menciptakan sebuah produk pengusaha harus kreatif 

dalam mendesain produk yang akan diproduksi. 

Keunggulan dari suatu produk dapat disesuaikan 

dengan kebutuhan yang ada di pasaran, sehingga 

dapat menarik minta pembeli atau konsumen untuk 

dapat dikonsumsi. 

3. Berani Mengambil Risiko/Dare to Take Risks 

Di dalam melakukan aktivitas bisnis, tentunya tidak 

terlepas dari keadaan yang tidak mengenakan, sebab  

di dalam berbisnis perusahaan bisa saja mengalami 

keadaan yang tidak diinginkan seperti kurangnya 

minat pembeli, produk yang tidak laris di pasaran, 

bahkan terjadinya kerugian. Oleh sebab  itu, 

perusahaan atau orang yang memiliki usaha harus 

berani dalam mengambil risiko, dapat mengatasi 

masalah atau kendala yang dialaminya, sehingga 

masalah atau kendala ini  dapat diatasi dengan 

baik. 


4. Berpikir Terbuka/Open Minded 

Seorang pengusaha harus berpikir secara terbuka, 

khususnya di dalam menjalankan usahanya, 

memiliki  sudut pandang yang berbeda agar 

mendapat  ide-ide kreatif yang baru, sebab  orang 

yang memiliki pikiran yang terbuka akan bisa 

menerima kritikan dan masukan dari orang lain, 

sehingga bisa memanfaatkan peluang yang ada 

menjadi sesuatu hal yang bernilai. 

Ada sembilan strategi pemasaran yang dijalankan dalam 

menghadapi persaingan melalui diferensial harga dan 

mutu menurut Sofyan Assuari (2017) yaitu sebagai 

berikut: 

1. strategi premium, yaitu kualitas tinggi dan harga 

tinggi;  

2. strategi penetrasi, yaitu kualitas tinggi dan harga 

sedang atau menengah;  

3. strategi over-pricing, yaitu kualitas menengah dan 

harga tinggi;  

4. strategi kualitas atau mutu rata-rata, yaitu kualitas 

menengah harga sedang;  

5. strategi bargain, yaitu kualitas menengah harga 

murah;  

6. strategi pukul dan lari (hit and run), yaitu kualitas 

rendah harga tinggi;  

7. strategi barang-barang tiruan (shoddy goods), yaitu 

kualitas rendah harga sedang; dan  

8. strategi barang-barang murah (cheap goods), yaitu 

kualitas rendah harga murah. 

Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) 

Defenisi UMKM diatur dalam Undang-Undang Republik 

negara kita  Nomor 20 Tahun 2008 tentang UMKM. Di dalam 

pasal 1 ini , dinyatakan bahwa usaha mikro yaitu  

usaha produktif milik perorangan dan atau badan usaha 


perorangan yang memiliki kriteria usaha mikro, 

sebagaimana diatur dalam undang-undang ini . 

Usaha kecil yaitu  usaha ekonomi produktif yang berdiri 

sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan 

usaha, yang bukan merupakan anak perusahaan atau 

bukan anak cabang yang dimiliki, dikuasai atau menjadi 

bagian, baik langsung maupun tidak langsung, dari usaha 

menengah atau usaha besar yang memenuhi kriteria 

usaha kecil sebagaimana dimaksud dalam undang-

undang ini . 

Usaha mikro yaitu  usaha ekonomi produktif yang berdiri 

sendiri yang dilakukan oleh perorangan atau badan usaha 

yang bukan merupakan anak perusahaan atau bukan 

cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi 

bagian baik langsung maupun tidak langsung dari usaha 

mikro, usaha kecil, atau usaha besar yang memenuhi 

kriteria usaha mikro sebagaimana dimaksud dalam 

undang-undang ini  (Tambunan 2009, 16). 

UMKM yaitu  usaha perdagangan yang dikelola oleh 

perorangan ataupun badan usaha, dan sesuai dengan 

kriteria usaha dalam lingkup kecil atau juga dalam 

lingkup mikro.  

Sejalan dengan perkembangan UMKM yang semakin pesat 

saat ini, berbagai usaha yang menyediakan berbagai 

produk, baik berupa barang maupun jasa semakin 

meningkat. Para pelaku usaha ikut serta dalam 

memberi  kontribusi bagi perkembangan ekonomi di 

negara kita . Salah satu yang cukup kuat dalam 

menghadapi persaingan bisnis saat ini, yaitu pelaku 

Usaha Mikto, Kecil, dan Menengah (UMKM). 

Di dalam pengertian dari usaha menengah merupakan 

ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan 

oleh orang perorangan atau badan usaha, yang bukan 

merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan 

yang dimiliki, dikuasai atau menjadi bagian langsung 

maupun tidak langsung dengan usaha kecil atau Usaha 

besar dengan jumlah kekayaan bersih atau hasil 

penjualan 

 

Setiap pelaku UMKM tentu punya cara masing-masing 

sesuai produk yang dipasarkannya. Namun, di dalam 

buku ini akan digambarkan secara garis besar strategi 

yang bisa dilakukan. 

1. Tentukan segmentasi pasar secara spesifik dengan 

menentukan siapa target konsumen, sebab  hal ini 

sangat penting bagi pelaku usaha untuk melakukan 

penjualan. Dengan melaksanakan segmenasi pasar, 

maka kegiatan pemasaran akan lebih terarah 

sehingga sumber daya yang akan digunakan akan 

lebih efektif dan efisien. 

2. Kita harus bisa meyakinkan konsumen bahwa barang 

atau jasa yang kita hasilkan sangatlah aman, jadi 

sesudah  kita menentukan konsumen yang akan kita 

temui, maka selanjutnya yaitu  kita harus bisa 

meyakinkan konsumen bahwa produk kita aman, 

sebab  keamanan dari sebuah produk yaitu  hal 

yang sangat penting. Jika produk kita aman, 

konsumen akan selalu percaya dengan setiap produk 

yang kita hasilkan sehingga penjualan kita tetap 

berjalan dan menjadi meningkat.  

3. Inovasi produk harus berdasarkan kebutuhan agar 

dapat mengimbangi setiap perubahan yang terjadi di 

dalam lingkungan pasar. Oleh sebab  itu, penjual 

atau pelaku usaha harus memahami konsep yang 

paling dasar, yaitu melihat apa yang menjadi tren 

pasar, sehingga pemilihan produk sesuai kebutuhan 

konsumen saat ini memang sangat penting untuk 

pemilihan produk yang tepat, serta produk yang 

dihasilkan tetap diminati konsumen. 

4. Memperhatikan dan mempertahankan kualitas 

produk yang dihasilkan, sehingga tetap akses dalam 

pasaran sebab  kualitas produk yaitu  kondisi fisik, 

fungsi maupun sifat dari suatu produk berdasarkan 

tingkat mutu yang diharapkan. Jadi, dapat 

disimpulkan bahwa kualitas produk merupakan salah 

satu kunci persaingan di antara para kompetitor yang 

dihadapi, sebab  konsumen selalu ingin 


mendapat  produk yang berkualitas sesuai dengan 

harga yang dibayar. 

5. Menjaga hubungan baik dengan pelanggan 

merupakan salah satu cara yang baik. Dengan adanya 

hubungan baik dengan pelanggan, maka pelanggan 

akan merasa senang sebab  pelaku usaha dapat 

merencanakan bagaimana untuk mengelola 

hubungan yang baik dengan pelanggan, agar bisnis 

tetap berkembang dan eksis sehingga pelanggan tidak 

pergi dari produk yang sudah dihasilkan.  

6. saat  pelaku usaha menjaga hubungan baik dengan 

pelanggan, maka akan mendapat  keuntungan-

keuntungan, seperti pelanggan itu bisa menjadi media 

promosi dengan metode word of mouth atau mulut ke 

mulut, dapat meningkatkan nilai bisnis, 

mendapat  ide-ide terbaru dari para pelanggan 

untuk dapat melakukan inovasi produk, dan bisa 

mendapat  gambaran usaha untuk masa yang 

akan datang.  

7. Sernovitz dalam Tanadi Santoso menyebutkan 

beberapa elemen dalam menyebarkan word of mouth 

marketing, antara lain  

a. pembicaraan atau talkers, yaitu warga  

umum yang senang sebagai informasi kepada 

orang lain. Mereka akan berbicara tentang suatu 

produk tertentu dan menceritakannya kepada 

orang lain;  

b. topik (topic) merupakan semua hal yang menarik 

perhatian kemudian menjadi bahan pembicaraan. 

Semua pembicaraan dari mulut ke mulut dimulai 

dengan sebuah topik. warga  tidak akan 

membicarakan mengenai suatu hal jika mereka 

tidak diberikan sesuatu untuk dibicarakan;  

c. alat (tool) word of mouth yaitu  sarana pemasaran 

yang kuat, efektif, dan efisien. saat  seseorang 

berbicara satu sama lain, percakapan ini  

hanya berlangsung dalam jangka waktu yang 

sementara. Word of Mouth akan jauh lebih efektif 


jika dibantu dengan media atau alat yang akan 

membuat pesan ini  dapat diteruskan kepada 

orang lain dan dapat bertahan dalam jangka 

waktu yang lebih lama; dan 

d. pelacakan (tracking), pada era modern ini, banyak 

orang mulai menuliskan segala sesuatu yang 

mereka pikirkan melalui blog ataupun media 

sosial, seperti yang kita ketahui hal yang banyak 

dibicarakan yaitu  mengenai kualitas suatu 

produk atau jasa. 

8. Mencoba target pasar baru yang sesuai dengan nilai 

dan tujuan perusahaan. 

9. Melakukan strategi bisnis secara online dan 

memanfaatkan teknologi yang ada secara efektif. 

10. Melakukan promosi penjualan secara efektif untuk 

meningkatkan minat beli ulang konsumen. 

11. Menjual produk dengan berbagai platform agar 

konsumen semakin mudah membelinya. 

12. memberi  harga kompetitif namun memiliki 

keunggulan yang lebih. 

13. Melakukan diferensiasi produk yang dapat 

menimbulkan kesan positif terhadap konsumen. 

14. Mengelola segala sumber daya yang dimiliki secara 

tepat dan efisien. 

Tips- tips menjaga hubungan baik dengan pelanggan, 

yaitu:  

1. melakukan komunikasi dua arah dengan pelanggan. 

Selalu mengutamakan pelayanan yang baik kepada 

pelanggan. saat  kita memberi  pelayanan kepada 

pelanggan dengan baik, maka pelanggan akan merasa 

nyaman untuk membeli produk yang ditawarkan; 

2. merespons dengan cepat keluhan yang diberikan 

pelanggan. Pelanggan akan merasa senang dan 

dihargai, jika  pelaku usaha selalu mendengar 

keluhan pelanggan dan memberi  respons untuk 

menanggapi apa yang menjadi permasalahan, yang 

 

 

berkaitan dengan produk yang dihasilkan, dan 

respons yang baik inilah yang akan membuat 

pelanggan tidak akan berpindah ke lain tempat; 

3. memberi  promo atau diskon yang menarik. Promo 

sering kali dikaitkan dengan kegiatan jual beli, 

promosi penjualan merupakan proses memberi  

informasi, dan memberi pengaruh kepada konsumen 

untuk menerima atau membeli produk yang 

ditawarkan; 

4. memberi  doorprise kepada pelanggan. Pelanggan 

akan merasa senang saat  berbelanja sebab  pada 

saat berbelanja pelanggan bisa mendapat  

doorprise; 

5. memberi  give away sebagai hadiah secara cuma-

cuma dalam bentuk acak; dan 

6. memberi  program beli satu gratis satu (buy one 

free one), hal demikian merupakan cara promo yang 

efektif sekaligus mengenalkan produk baru kepada 

pelanggan. 

  

 

 

  

 


PENGELOLAAN SUMBER DAYA 

MANUSIA YANG BERETIKA 


Sumber Daya Manusia (SDM) merupakan individu atau 

tenaga kerja yang bekerja dalam sebuah organisasi, yang 

bertanggung jawab atas proses produksi, serta 

merupakan kunci yang menentukan perkembangan dan 

keberhasilan perusahaan/organisasi. SDM bagi 

organisasi yaitu  asset atau unsur yang paling penting di 

antara unsur-unsur lainnya. Etika merupakan nilai moral 

dan norma yang menjadi sebuah pedoman dan mengatur 

perilaku seorang individu ataupun kelompok.  

Dalam proses bisnis dan konsep penerapan etika, di 

dalam bisnis juga harus ditetapkan aturan-aturan yang 

memuat moralitas, supaya dapat dipatuhi serta 

dilaksanakan oleh seluruh karyawan yang ada di dalam 

perusahaan, sehingga perusahaan akan dapat berjalan 

sebagaimana mestinya, sesuai dengan aturan yang telah 

ditetapkan oleh perusahaan/organisasi.  

Dalam manajemen sumber daya manusia, etika memiliki 

tujuan utama pada konsep implementasi nilai-nilai. 

Proses pengelolaan sumber daya manusia, seperti 

Perencanaan SDM (Human Resource Planning), 

Penyediaan SDM (Personal Procurement), Pengembangan 

(Personnnel Development), Pemeliharaan (Personnel 

Maintanance), dan Pemanfaatan (Personal Utilization). 


Perkembangan dan persaingan yang semakin tinggi pada 

era sekarang ini, menuntut serta mengharuskan 

perusahaan sadar akan penting mengatur 

pendayagunaan sumber daya manusia dan etika yang 

diterapkan, baik secara individu maupun kelompok dalam 

perusahaan, atau bahkan di luar perusahaan. Sebuah 

perusahaan/organisasi memiliki ikatan yang tidak akan 

terlepat dari Sumber Daya Manusia (SDM).  

Sumber Daya Manusia (SDM) merupakan individu atau 

tenaga kerja yang bekerja dalam sebuah organisasi yang 

bertanggung jawab atas proses produksi serta merupakan 

kunci yang menentukan perkembangan dan keberhasilan 

perusahaan/organisasi. 

A.F. Stoner mendefinisikan manajemen SDM merupakan 

suatu prosedur yang berkelanjutan, yang bertujuan 

untuk memasok suatu organisasi atau perusahaan 

dengan orang-orang yang tepat untuk ditempatkan pada 

posisi dan jabatan yang tepat pada saat organisasi 

memerlukannya. 

SDM bagi organisasi yaitu  asset atau unsur yang paling 

penting di antara unsur-unsur lainnya. Bagian atau unit 

yang biasanya mengurusi SDM yaitu  departemen 

sumber daya manusia atau HRD (Human Resource 

Department). SDM sangat berpengaruh signifikan 

terhadap keberhasilan pencapaian tujuan organisasi.  

Dalam manajemen sumber daya manusia juga melahirkan 

etika bisnis. Etika dalam MSDM dapat diartikan sebagai 

ilmu yang menerapkan prinsip-prinsip etika terhadap 

hubungannya dengan sumber daya manusia dan 

kegiatannya, baik di dalam organisasi ataupun di luar 

organisasi. Etika di sini, bukan untuk kedisiplinan, 

melainkan usaha-usaha yang dilakukan untuk 

meningkatkan keperdulian karyawan terhadap nilai-nilai 

yang ada dalam perusahaan atau yang sedang 

berkembang. 

 

Fungsi Manajemen Sumber Daya Manusia  

1. Fungsi Manajerial 

a. Perencanaan 

Fungsi perencanaan, meliputi penentuan program 

sumber daya manusia, yang akan membantu 

pencapaian tujuan perusahaan yang telah 

ditetapkan.  

b. Pengorganisasian 

Fungsi pengorganisasian yaitu  membentuk 

organisasi dengan merancang susunan dari 

berbagai hubungan antara jabatan, personalia dan 

faktor-faktor fisik. 

c. Pengarahan 

Fungsi pengarahan yaitu  mengusahakan agar 

karyawan mau bekerja secara efektif melalui 

perintah motivasi. 

d. Pengendalian 

Fungsi pengendalian yaitu  mengadakan 

pengamatan atas pelaksanaan dan 

membandingkan dengan rencana dan 

mengoreksinya jika terjadi penyimpangan, atau 

jika perlu menyesuaikan kembali rencana yang 

telah dibuat. 

2. Fungsi Operasional  

a. Fungsi Pengadaan 

Proses penarikan seleksi, penempatan, orientasi, 

dan induksi untuk mendapat  karyawan yang 

sesuai kebutuhan perusahaan. 

b. Fungsi Pengembangan 

Proses peningkatan keterampilan teknis, teoretis, 

konseptual, dan moral karyawan, melalui 

pendidikan dan pelatihan. Pendidikan dan latihan 

yang diberikan harus sesuai dengan kebutuhan 

pekerjaan masa kini maupun masa depan. 

 


 

c. Fungsi Kompensasi  

Pemberian balas jasa langsung dan tidak 

langsung berbentuk uang atau barang kepada 

karyawan, sebagai imbal jasa (output) yang 

diberikannya kepada perusahaan. Prinsip 

kompensasi yaitu  adil dan layak, sesuai prestasi 

dan tanggung jawab karyawan ini . 

d. Fungsi Pengintegrasian 

Kegiatan untuk mempersatukan kepentingan 

perusahaan dan kebutuhan karyawan, sehingga 

tercipta kerja sama yang serasi dan saling 

menguntungkan Pengintegrasian yaitu  hal yang 

penting dan sulit dalam Manajemen SDM, sebab  

mempersatukan dua aspirasi/kepentingan yang 

bertolak belakang antara karyawan dan 

perusahaan. 

e. Fungsi Pemeliharaan 

Kegiatan untuk memelihara atau meningkatkan 

kondisi fisik, mental dan loyalitas karyawan agar 

tercipta hubungan jangka panjang. Pemeliharaan 

yang baik dilakukan dengan program K3 

(Keselamatan dan Kesehatan Kerja). 

Prinsip-Prinsip Pengelolaan Manajemen Sumber Daya 

Manusia  

Meilan Sugiarto (2007) mengemukakan beberapa prinsip 

dalam pengelolaan manjemen sumber daya manusia 

berikut ini. 

1. Orientasi pada pelayanan, dengan berupaya 

memenuhi kebutuhan dan keinginan sumber daya 

manusia, di mana kecenderungannya sumber daya 

manusia yang puas, akan selalu berusaha memenuhi 

kebutuhan dan keinginan para konsumennya. 

2. Membangun kesempatan terhadap sumber daya 

manusia untuk berperan aktif dalam perusahaan, 

dengan tujuan untuk menciptakan semangat kerja 

 

dan memotivasi sumber daya manusia, agar mampu 

menyelesaikan pekerjaan dengan baik. 

3. Mampu menemukan jiwa interpreneur (pengusaha) 

sumber daya manusia perusahaan yang mencakup 

a. menginginkan adanya akses ke seluruh sumber 

daya manusia perusahaan, 

b. berorientasi pencapaian tujuan perusahaan, 

c. motivasi kerja yang tinggi, 

d. responsif terhadap penghargaan dari perusahaan, 

e. dapat meneripi saran dan kritikan, 

f. berpandangan jauh ke depan, 

g. bekerja secara terencana, terstruktur dan 

sistematis, 

h. bersedia bekerja keras, 

i. tidak mudah berpuas diri, 

j. memiliki pemikiran-pemikiran yang kreatif, 

k. mudah bersosialisasi, 

l. mampu menyelesaikan pekerjaan, 

m. percaya diri yang tinggi, 

n. berani mengambil risiko, 

o. mampu menjual idenya di luar atau di dalam 

perusahaan, 

p. memiliki intuisi bisnis yang tinggi, dan 

q. sensitif terhadap situasi dan kondisi, baik di 

dalam maupun di luar perusahaan. 

Proses Pengelolaan Sumber Daya Manusia 

Proses pengelolaan SDM setiap organisasi atau 

perusahaan, akan berbeda-beda sesuai dengan 

kebutuhan. Namun, pada umumnya, proses yang 

dilakukan dari perencanaan SDM seperti (perekrutan, 

penandatanganan kontrak kerja, penempatan, 

pembinaan tenaga kerja) dengan persyaratan tertentu.  

1. Perencanaan SDM (Human Resource Planning) 

Perencanaan SDM merupakan proses manajemen 

dalam menentukan pergerakan sumber daya manusia 

perusahaan, dari posisi yang diinginkan pada masa 

depan, dengan proses-proses dan aktivitas yang 

dilakukan bersama oleh manajer sumber daya 

manusia dan manajer lini, untuk menyelesaikan 

masalah organisasi yang terkait dengan manusia.  

2. Penyediaan SDM (Personal Procurement) 

Penyediaan SDM merupakan segala sesuatu yang 

dilakukan dalam penyediaan sumber daya manusia 

perusahaan, dengan kriteria tertentu, guna 

memenuhi kebutuhan tenaga kerja organisasi 

perusahaan. Penyediaan tenaga kerja, biasanya 

melalui beberapa seleksi di antaranya seleksi 

administrasi, seleksi kualifikasi, seleksi sikap 

perilaku, dan penempatan tenaga kerja. 

3. Pengembangan (Personnel Development) 

Pengembangan tenaga kerja baru diakomodasi 

melalui program orientasi organisasi atau 

perusahaan. Untuk tenaga kerja lama, pembinaan 

dilakukan dengan metode seminar, baik dilakukan di 

dalam maupun di luar organisasi perusahaan. 

4. Pemeliharaan (Personnel Maintenance) 

Tenaga kerja yang dipilih dari dari sumber terbaik, 

kemudian memberi  program terbaik, maka 

perusahaan dapat berharap tenaga kerja memberi  

kinerja terbaik untuk organisasi perusahaan. Proses 

selanjutnya yaitu  pemeliharaan tenaga kerja. Setiap 

tenaga kerja memiliki  motif yang berbeda-beda, 

biasanya perusahaan dalam melakukan pemeliharaan 

dengan cara pemberian kompensasi dan benefit.  

Kompensasi bisa berbentuk uang atau insentif tingkat 

yang berbeda, sesuai pekerjaanya, sedang  benefit 

berbentuk perhatian perusahaan, seperti cuti bergaji 

dan asuransi kesehatan keselamatan kerja bagi 

tenaga kerja dan keluarganya. 

5. Pemanfaatan (Personal Utilization)  

Langkah ini merupakan kegiatan perusahaan untuk 

memelihara tenaga kerja, agar selalu loyal dan 

mengikuti strategis perusahaan. Program yang 

diberikan, di antaranya promosi jabatan ke lebih 

tinggi, demosi penurunan tenaga kerja pada bagian 

yang lebih rendah, sebab  adanya penurunan kualitas 

dalam bekerja. Transfer pemindahan tenaga kerja 

dengan harapan akan meningkatkan 

produktivitasnya sesudah  mengalami proses transfer. 

Pengembangan Sumber Daya Manusia  

Pengembangan sumber daya manusia bukan hanya 

terdiri dari pelatihan dan pengembangan, melainkan juga 

aktivitas-aktivitas perencanaan dan pengembangan karier 

tenaga kerja, pengembangan organisasi/perusahaan, 

serta manajemen dan penilaian kinerja.  

Pengembangan Sumber Daya Manusia menurut (Prasadja 

Ricardianto, 2018) seperti berikut ini. 

1. Kegunaan Pengembangan SDM bagi Organisasi 

a. meningkatkan produktivitas kerja organisasi; 

b. mewujudkan hubungan yang serasi antara atasan 

dan bawahan; 

c. mewujudkan proses pengembalian keputusan 

yang lebih cepat dan tepat; 

d. meningkatkan semangat kerja dan komitmen 

organisasi; 

e. mendorong sikap keterbukaan manajemen 

(manajemen partisipatif); 

f. memperlancar atau mengefektifkan jalannya 

komunikasi operasional; dan 

g. menyelesaikan konflik secara fungsional. 

 

2. Kegunaan Pengembangan SDM bagi Pegawai 

a. mewujudkan keputusan lebih baik; 

b. memiliki kemampuan menyelesaikan masalah; 

c. internalisasi dan operasional faktor motivasional; 

d. meningkatkan kemampuan kerja; 

e. memperbesar rasa percaya diri; 

f. menjamin tersedianya informasi tentang program 

pengembangan kemampuan; 

g. meningkatkan kepuasan kerja; 

h. meningkatkan pengakuan atas kemampuan 

individu; dan 

i. memperbesar tekad untuk mandiri. 

Etika Sumber Daya Manusia 

Etika SDM yaitu  penerapan prinsip-prinsip etika 

terhadap hubungan SDM dan kegiatannya. Kode etik 

menetapkan aturan kehidupan organisasi, termasuk 

tanggung-jawab profesional, pengembangan professional, 

kepemimpinan yang etis, kejujuran dan keadilan, konflik 

kepentingan, dan pemakaian  informasi. 

Ada beberapa hal yang dapat dilakukan sebagai langkah-

langkah dalam perencanaan strategi konsep etika, yaitu:  

1. membuat standar etika perusahaan yang ingin 

ditanamkan kepada sumber daya manusia; 

2. mengindentifikasi faktor-faktor etis kritikal yang 

dapat digunakan dalam mendorongnya konsep etika 

perusahaan; 

3. mengindentifikasi kemampuan, prosedur, kompetensi 

yang diperlukan oleh perusahaan; 

4. mengintegrasikan konsep etika dalam strategi bisnis 

yang dilakukan; dan 

 

5. mengembangkan langkah-langkah yang tepat dan 

pasti, yang dapat digunakan dalam 

mengimplementasikan, mengawasi, dan mengevaluasi 

konsep etika yang dijalankan. 

Tujuan utama dalam konsep penanaman nilai-nilai etika 

ini, bukan hanya untuk kedisiplinan, melainkan lebih 

pada usaha-usaha untuk meningkatkan kepeduli