Persaingan usaha 13
RUANG LINGKUP ETIKA BISNIS
Perkembangan bisnis yang sangat cepat, mengikuti arus
globalisasi. Hal ini semakin memudahkan pembeli dalam
membeli apa pun, dengan begitu persaingan dalam bisnis
menjadi suatu yang wajar terjadi, bahkan bisa
menggunakan segala cara demi bisnis ini bisa
berjalan, tanpa melihat etika yang seharusnya ada dalam
bisnis. Etika pada dasarnya yaitu sesuatu moral yang
menyangkut benar atau salah, baik atau buruk dalam
berperilaku.
Dalam hal etika, setiap perusahaan harus
mengembangkan nilai inti yang menjadi panduan sehari-
hari untuk semua orang. Akan lebih baik, jika etika
dijadikan sebagai pedoman dalam melaksanakan
pekerjaan, sebab dengan kita mengikuti dan
menjalankan pekerjaan sesuai aturan, maka pekerjaan
itu jugalah yang akan memberi keuntungan kepada
kita. Tidak hanya pihak perusahaan yang akan
diuntungkan melainkan juga para karyawan, sebab
pihak perusahaan akan mempertahankan karyawan yang
bekerja sesuai dengan ketetapan perusahaan.
Banyak perusahaan yang berlomba-lomba dalam
memenuhi kepuasannya, lebih mengutamakan keinginan,
daripada kebutuhan. Begitu pula dengan produsen yang
memproduksi, faktor keinginan dibandingkan faktor
kebutuhan. Ini disebab kan perusahaan tidak lagi
melihat etika yang ada. Seakan-akan etika itu, dipisahkan
dengan apa yang kita kerjakan dalam mencari rezeki.
Pelaku bisnis harus memiliki kepekaan terhadap setiap
perubahan yang terjadi. Di sisi lain, mampu memenuhi
tuntutan pelanggan yang semakin bervariasi jenis serta
kebutuhannya
Pengertian Bisnis
Bisnis dalam arti luas yaitu suatu istilah umum yang
menggambarkan suatu aktivitas dan institusi yang
memproduksi barang dan jasa dalam kehidupan sehari-
hari (Amirullah, 2005), sedang menurut Louis E. Boone
(2007), bisnis (bussines) terdiri dari seluruh aktivitas dan
usaha untuk mencari keuntungan, dengan menyediakan
barang dan jasa yang dibutuhkan bagi sistem
perekonomian. Beberapa bisnis memproduksi barang
berwujud sedang yang lain memberi jasa.
Sukirno (2010) mendefinisikan bisnis sebagai kegiatan
untuk memperoleh keuntungan. Semua orang atau
individu maupun kelompok, melakukan kegiatan bisnis
pastinya untuk mencari keuntungan, agar kebutuhan
hidupnya terpenuhi. Tidak ada orang yang melakukan
bisnis untuk mencari kerugian. Dari pengertian ini ,
maka bisnis diartikan keseluruhan rangkaian kegiatan
menjalankan investasi terhadap sumber daya yang ada,
yang dapat dilakukan, baik secara individu maupun
secara kelompok, untuk memenuhi kebutuhan sehari-
hari, serta meningkatkan taraf hidup dengan
menciptakan barang atau jasa guna mendapat laba.
Bisnis dalam Ilmu Ekonomi merupakan suatu organisasi
yang menjual barang atau jasa kepada konsumen, dengan
tujuan mendapat keuntungan. Etika bisnis dianggap
mampu menjadi standar kerja dan pedoman, mulai dari
pimpinan sampai karyawan untuk menjalankan
pekerjaan sehari-hari. Dalam berbisnis, tidak cukup
hanya mengandalkan kecerdasan, keterampilan atau
kepiawaian teknis saja. Prioritas yang mendasar yaitu
membangun moral terlebih dahulu. Prinsip bisnis yang
baik yaitu di mana mereka menjalankan bisnis yang
beretika, yaitu bisnis yang dijalankan dengan menaati
kaidah-kaidah etika, sejalan dengan hukum dan
peraturan yang berlaku.
Etika tak lepas dari asal kata ethos dalam bahasa Yunani
yang berarti kebiasaan (costum) atau karakter (character).
Sukirno (2010) menyatakan bahwa etika yaitu suatu
penyelidikan atau pengkajian secara sistematis, tentang
perilaku, pernyataan utama dalam etika yaitu , tindakan
dan sikap apa yang dianggap benar atau baik. Etika
yaitu ilmu atau pengetahuan tentang apa yang baik dan
apa yang tidak baik, untuk dijunjung tinggi atau untuk
diperbuat (Ethitcs is the science of good and bad).
Etika yang Baik
Penurunan nilai-nilai moral, etika dan budaya sedang
mewabah dalam dunia. Akibatnya, banyak perbuatan
yang melanggar norma hukum, susila, agama, dan
budaya bangsa negara kita . Adapun etika yang baik itu
mencakup
1. kejujuran (honesty) mengatakan dan berbuat yang
benar, menjunjung tinggi kebenaran;
2. ketetapan (reliability) janjinya selalu tepat, tepat
menurut isi janji (ikrar), waktu, tempat, dan syarat;
3. kesetiaan (loyalitas), setia kepada janjinya sendiri,
setia kepada siapa saja yang dijanjikan kesetiaannya,
setia kepada organisasinya, berikut pimpinannya,
rekan-rekan, bawahan, relasi, klien anggaran dasar
dan anggaran rumah tangganya; dan
4. kedisiplinan, tanpa disuruh atau dipaksa oleh
siapapun taat kepada sistem, peraturan, prosedur,
dan teknologi yang telah ditetapkan. Standar baik dan
buruk menurut ajaran Islam berbeda dengan ukuran-
ukuran lainnya. Untuk menilai apakah sesuatu
perbuatan itu baik atau buruk, juga harus
diperhatikan kriteria (bagaimana cara melakukan
perbuatan itu).
Prinsip-Prinsip Etika Bisnis Islam
Dalam hukum Islam disebutkan bagaimana pinsip-
prinsip dalam berbisnis. Etika bisnis Islami merupakan
tata cara pengelolaan bisnis berdasarkan Al-Qur’an,
hadist, dan hukum yang telah dibuat oleh para ahli fiqih.
Prinsip-prinsip dasar etika bisnis Islami harus mencakup
beberapa hal berikut ini.
1. Prinsip Ketauhidan (Unity)
Prinsip kesatuan merupakan landasan yang sangat
filosofis, yang dijadikan sebagai pondasi utama setiap
langkah seorang Muslim yang beriman dalam
menjalankan fungsi kehidupannya. Landasan tauhid
atau ilahiyah ini, bertitik tolak pada keridhoan Allah,
tata cara yang dilakukan sesuai dengan syariah-Nya,
Kegiatan bisnis dan distribusi diikatkan pada prinsip
dan tujuan ilahiyah.
2. Prinsip Keadilan (Equilibrium)
Prinsip keadilan menuntut agar setiap orang
diperlakukan secara sama sesuai dengan acuan yang
adil dan sesuai dengan kriteria yang rasional objektif,
serta dapat dipertanggungjawabkan. Keadilan
menuntut agar tidak boleh ada pihak yang dirugikan
hak dan kepentingannya. Dalam beraktivitas di dunia
kerja dan bisnis, Islam mengharuskan untuk berbuat
adil, tak terkecuali pada pihak yang tidak disukai.
3. Prinsip Kehendak Bebas (Ikhtiar/Freewill)
Kebebasan berarti bahwa manusia sebagai individu
dan kolektif, memiliki kebebasan penuh untuk
melakukan aktivitas bisnis. Dalam ekonomi, manusia
bebas mengimplementasikan kaidah-kaidah Islam,
sebab masalah ekonomi termasuk kepada aspek
muamalah bukan ibadah, maka berlaku padanya
kaidah umum “Semua boleh kecuali yang dilarang”
yang tidak boleh dalam Islam yaitu ketidakadilan
dan riba.
Oleh sebab itu, pasar seharusnya menjadi cerminan
dari berlakunya hukum penawaran dan permintaan
yang direpresentasikan oleh harga, pasar tidak
terdistorsi oleh tangan-tangan yang sengaja
mempermainkannya.
4. Prinsip Tanggung Jawab (Responsibility)
Dalam dunia bisnis, pertanggungjawaban dilakukan
kepada dua sisi, yakni sisi vertikal (kepada Allah) dan
sisi horizontalnya kepada warga atau
konsumen. Tanggung jawab dalam bisnis, harus
ditampilkan secara transparan (keterbukaan),
kejujuran, pelayanan yang optimal dan berbuat yang
terbaik dalam segala urusan. Secara logis, prinsip ini
berhubungan erat dengan kehendak bebas. Ia
menetapkan batasan mengenai apa yang bebas
dilakukan oleh manusia dengan bertanggung jawab
atas semua yang dilakukannya.
5. Prinsip Kebenaran Kebijakan (Ihsan)
Dalam konteks bisnis kebenaran dimaksudkan
sebagai niat, sikap, dan perilaku benar, yang meliputi
proses mencari atau memperoleh komoditas
pengembangan maupun dalam proses upaya meraih
atau menetapkan keuntungan.
Pengertian Etika Bisnis
Etika berasal dari kata Yunani, yaitu ethos yang berarti
tempat tinggal, padang rumput, kandang, kebiasaan,
adat, watak, perasaan, sikap, cara berpikir. Bentuk
jamaknya yaitu ta etha, yang berarti adat istiadat.
Dalam hal ini, kata etika sama pengertiannya dengan
moral. Suhardana (2006) dalam Sukirno Agus dan I Cekik
Ardana (2009) mengungkapkan bahwa istilah lain dari
etika yaitu susila, su artinya baik, sila artinya
kebiasaan. Jadi, susila berarti kebiasaan atau tingkah
laku perbuatan manusia yang baik.
Lawrence, Weber, dan Post (2005) dalam Sukirno Agus
dan I Cekik Ardana (2009) mendefinisikan etika yaitu
suatu konsepsi tentang perilaku benar dan salah. Etika
menjelaskan kepada kita apakah perilaku kita bermoral
atau tidak, berkaitan dengan hubungan kemanusiaan
yang fundamental. Bagaimana kita berpikir dan bertindak
kepada orang lain, dan bagaimana kita inginkan meraka
berpikir dan bertindak terhadap kita.
David P. Baron (2005) dalam Sukirno Agus dan I Cekik
Ardana (2009) menjelaskan bahwa etika yaitu suatu
pendekatan sistematis atas penilaian moral yang
didasarkan atas penalaran, analisis, sintetis, dan reflektif.
Muslich (2004) mengemukakan bahwa etika bisnis dapat
diartikan sebagai pengetahuan tentang tata cara ideal
pengaturan dan pengelolaan bisnis, yang memperhatikan
norma dan moralitas yang berlaku secara universal dan
secara ekonomi/sosial, dan penerapan norma dan
moralitas ini menunjang maksud dan tujuan kegiatan
bisnis.
Prinsip-Prinsip Etika Bisnis
Etika bisnis memiliki prinsip-prinsip yang bertujuan
memberi acuan cara yang harus ditempuh oleh
perusahaan untuk mencapai tujuannya.
Muslich (2004) menyatakan bahwa prinsip-prinsip etika
bisnis berikut ini.
1. Prinsip Ekonomi
Perusahaan secara bebas, memiliki wewenang sesuai
dengan bidang yang dilakukan dan pelaksanaannya
dengan visi dan misi yang dimilikinya. Dalam
menetapkan kebijakan, perusahaan harus diarahkan
pada upaya pengembangan visi dan misi perusahaan
yang berorientasi pada kemakmuran, kesejahteraan
para pekerja, komunitas yang dihadapinya.
2. Prinsip Kejujuran
Kejujuran menjadi nilai yang paling mendasar dalam
mendukung keberhasilan kinerja perusahaan. Dalam
hubungannya dengan lingkungan bisnis, kejujuran
diorientasikan kepada seluruh pihak yang terkait
dengan aktivitas bisnis. Dengan kejujuran yang
dimiliki oleh suatu perusahaan, maka warga
yang ada di sekitar lingkungan perusahaan, akan
menaruh kepercayaan yang tinggi bagi perusahaan
ini .
3. Prinsip Niat Baik
Prinsip ini terkait erat dengan kejujuran. Tindakan
jahat, tentu tidak membantu perusahaan dalam
membangun kepercayaan warga , justru
kejahatan dalam berbisnis akan menghancurkan
perusahaan itu sendiri. Niatan dari suatu tujuan
terlihat cukup transparan misi, visi dan tujuan yang
ingin dicapai dari suatu perusahaan.
4. Prinsip Adil
Prinsip ini, menganjurkan perusahaan untuk
bersikap dan berperilaku adil kepada pihak-pihak
bisnis, yang terkait dengan sistem bisnis ini .
5. Prinsip Hormat pada Diri Sendiri
Prinsip hormat pada diri sendiri yaitu cermin
penghargaan yang positif pada diri sendiri. Hal ini
dimulai dengan penghargaan terhadap orang lain.
Menjaga nama baik merupakan pengakuan atas
keberadaan perusahaan ini .
Agus dan I Cekik Ardana (2009)
mengatakan bahwa setidaknya ada lima prinsip yang
dijadikan titik tolak pedoman perilaku dalam
menjalankan praktik bisnis.
a. Prinsip Otonomi
Prinsip otonomi menunjukkan sikap kemandirian,
kebebasan, dan tanggung jawab. Orang yang
mandiri, berarti orang yang dapat mengambil
suatu keputusan dan melaksanakan tindakan,
berdasarkan kemampuan sendiri sesuai dengan
apa yang diyakininya, bebas dari tekanan,
hasutan, dan ketergantungan kepada pihak lain.
b. Prinsip Kejujuran
Prinsip kejujuran menanamkan sikap bahwa apa
yang dipikirkan yaitu apa yang dikatakan, dan
apa yang dikatakan yaitu yang dikerjakan.
Prinsip ini juga menyiratkan kepatuhan dalam
melaksanakan berbagai komitmen, kontrak, dan
perjanjian yang telah disepakati.
c. Prinsip Keadilan
Prinsip keadilan menanamkan sikap untuk
memperlakukan semua pihak secara adil, yaitu
suatu sikap yang tidak membeda-bedakan dari
berbagai aspek, baik dari aspek ekonomi, hukum,
maupun aspek lainnya.
d. Prinsip Saling Menguntungkan
Prinsip saling menguntungkan menanamkan
kesadaran bahwa dalam berbisnis perlu
ditanamkan prinsip win-win solution, artinya
dalam setiap keputusan dan tindakan bisnis,
harus diusahakan agar semua pihak merasa
diuntungkan.
e. Prinsip Integritas Moral
Prinsip integritas moral yaitu prinsip untuk
tidak merugikan orang lain dalam segala
keputusan dan tindakan bisnis yang diambil.
Hal-Hal yang Harus Diperhatikan dalam Etika Bisnis
Dalam etika bisnis ada beberapa hal yang perlu
diperhatikan sebagai berikut.
1. Etika Bisnis Produksi
Produksi merupakan kegiatan untuk meningkatkan
nilai guna suatu barang atau jasa. Dalam etika,
menentukan produk dalam rangka mempertemukan
apa dan bagaimana keinginan dan kebutuhan
konsumen, berkaitan erat dengan hal-hal sebagai
berikut
a. produk yang berguna dan dibutuhkan;
b. produk yang berpotensi menghasilkan
keuntungan;
c. nilai tambah yang tinggi;
d. jumlah yang dibutuhkan dan mendapat
keuntungan; dan
e. dapat memuaskan konsumen secara positif
2. Etika Bisnis Promosi
Muslich (2004) menyatakan bahwa hal yang penting
dalam promosi menurut etikanya yaitu kebenaran
dan kejujuran objektivitas pesan faktual yang
disampaikan, dengan tujuan untuk membangun
kepercayaan dan loyalitas warga terhadap
perusahaan.
3. Etika Bisnis Distribusi
Prinsip distribusi produk dimaksudkan untuk
mencapai ketepatan dan kecepatan waktu, datangnya
barang ke tangan konsumen, keamanan yang terjaga
dari kerusakan, sarana kompetisi dalam ketepatan
memenuhi kebutuhan warga . Etika bisnis
dalam kegiatan distribusi, yaitu kecepatan dan
ketepatan produk ditangan konsumen dengan mudah
pada saat dibutuhkan.
Etika Bisnis dalam Kompetisi
Sebuah kegiatan bisnis tidak bisa terlepas dari kompitisi
antarpelaku bisnis. Muslich (2004) menyatakan bahwa
prinsip etika yang dapat dikembangkan dalam kompetisi
berdasarkan landasan-landasan antara lain
1. memberi yang terbaik untuk konsumen, dapat
berupa memberi kualitas produk yang terbaik,
memberi harga yang kompetitif dan memberi
pelayanan yang terbaik untuk konsumen;
2. tidak berlaku curang; dan
3. kerja sama positif.
Pentingnya Etika Bisnis
Muhammad (2004) mengemukakan pentingnya etika
bisnis dalam kelangsungan perusahaan yaitu sebagai
berikut.
1. Tugas utama etika bisnis dipusatkan pada upaya
mencari cara untuk menyelaraskan kepentingan
strategis sustu bisnis dengan tuntunan moralitas.
2. Etika bisnis bertugas melakukan perubahan
kesadaran warga tentang bisnis dengan
memberi suatu pemahaman yaitu bisnis tidak
dapat dipisahkan dari etika.
Pengertian Etika Bisnis Islami
Etika bisnis dalam perspektif Islam yaitu penerapan
prinsip-prinsip ajaran Islam yang bersumber dari Al-
Qur’an dan Sunnah Nabi dalam dunia bisnis. Tuntunan
AL-Qur’an dalam berbisnis, dapat ditemukan dalam
prinsip umum yang memuat nilai – nilai dasar yang dalam
aktualisasinya disesuaikan dengan perkembangan
zaman, dengan mempertimbangkan ruang dan waktu.
Al Ghazali dalam bukunya Ihya Ulumuddin menjelaskan
pengertian etika yaitu suatu sifat yang tetap dalam jiwa,
yang dari padanya timbul perbuatan dengan mudah,
dengan tidak membutuhkan pikiran. Dengan demikian,
etika bisnis dalam syariat agama Islam yaitu akhlak
dalam menjalankan bisnis sesuai dengan nilai-nilai Islam,
sehingga dalam melaksanakan bisnisnya tidak perlu ada
kekhawatiran, sebab sudah diyakini sebagai suatu yang
baik dan benar (Keraf, A. Sonny 1998).
Tujuan Etika Bisnis
Muslin (2017) mengemukakan tujuan etika dalam
berbisnis yaitu untuk meningkatkan kesadaran moral,
serta membuat batasan-batasan bagi para pelaku bisnis
selain itu juga untuk menjalankan good business. Para
pelaku bisnis, harus memiliki pemahaman tentang
praktik bisnis kotor yang merugikan banyak pihak.
Memahami dan melaksanakan etika dalam berbisnis,
dapat menjadikan perusahaan memiliki citra yang baik, di
mata semua orang. Intinya, bisnis yang menerapkan etika
berbisnis yang baik, umumnya tidak akan merugikan
pihak lain, tidak melanggar hukum yang berlaku, dan
menjaga kondisi bisnis tetap kondusif.
Manfaat Etika Bisnis
Hasoloan (2018) mengemukakan bahwa etika dalam
melakukan bisnis, tentu memiliki manfaat yang dapat
menguntungkan, baik bagi pemilik bisnis maupun bagi
perusahaan.
1. Perusahaan mendapat kepercayaan dari
konsumen. Dalam hal ini, perusahaan yang jujur
mengenai produk yang dijual, akan mendapat
konsumen yang loyal, sehingga konsumen akan dapat
dengan sukarela, merekomendasikan kepada orang
lain untuk menggunakan produk ini .
2. Citra perusahaan di mata konsumen baik. Dengan
memiliki citra yang baik, maka perusahaan akan lebih
dikenal oleh warga , dan akan menambah daya
beli pada produk, sehingga dapat perusahaan dapat
mengalami peningkatan penjualan.
3. Keuntungan perusahaan dapat di peroleh. Etika
yaitu berkenaan dengan bagaimana kita hidup pada
saat ini dan mempersiapkan diri untuk masa depan.
Bisnis yang tidak punya rencana untuk menghasilkan
keuntungan bukanlah perusahaan yang beretik.
Unsur Etika Bisnis
Etika bisnis diartikan sebagai pengetahuan tentang tata
cara ideal pengaturan dan pengelolaan bisnis, yang
memperhatikan norma dan moralitas yang berlaku secara
universal dan secara ekonomi/sosial. Penerapan norma
dan moralitas ini, menunjang maksud dan tujuan
kegiatan bisnis. Dalam penerapan etika bisnis, bisnis
mesti mempertimbangkan unsur norma dan moralitas
yang berlaku di warga . Di samping itu, etika bisnis
dapat digerakan dan dimunculkan dalam perusahaan
sendiri, sebab memiliki relevansi yang kuat dengan
profesionalisme bisnis.
Orang yang melakukan kegiatan bisnis, harus memiliki
perilaku yang profesional, untuk dapat dikatakan sebagai
seorang bisnismen yang yang berperilaku profesional itu
harus memiliki empat unsur sebagai berikut
1. Manajerial skill, yaitu seorang bisnisman harus
mampu mengatur hidup sendiri beserta dengan
keluarganya dan teman-teman di sekelilingnya.
2. Konseptual skill, yaitu mampu untuk membuat
konsep di dalam menjalankan pekerjaan dan
jabatannya, dan mampu untuk mendelegasikan
kepada orang lain.
3. Technical harus dimiliki oleh seorang bisnisman yang
mampu memberi teknik-teknik untuk
melaksanakan apa yang menjadi pemikiran dan
konsep-konsepnya, serta memberi contoh kepada
orang lain atau pihak ketiga.
4. Integritas moral yang tinggi, yaitu harus mampu
memilahmilahkan mana yang boleh dan tidak boleh
dilakukan.
Peran Etika Bisnis
Etika bisnis yaitu segmen etika terapan yang mencoba
untuk mengontrol dan memeriksa pengaturan moral dan
etika perusahaan. Ia juga mendalami seberapa baik atau
buruk badan usaha membahas masalah-masalah moral
dan etika, dan menunjukkan apa yang salah dalam proses
alami mereka. Ini mencakup semua aspek bisnis dari
produksi untuk administrasi, keuangan dan pemasaran.
Hal ini juga berlaku untuk berbagai industri dan dapat
deskriptif atau normatif dalam disiplin.
Adapun etika bisnis perusahaan memiliki peran yang
sangat penting, yaitu untuk membentuk suatu
perusahaan yang kokoh, dan memiliki daya saing yang
tinggi, serta memiliki kemampuan menciptakan nilai
(value-creation) yang tinggi, di mana diperlukan suatu
landasan yang kokoh untuk mencapai itu semua.
Biasanya dimulai dari perencanaan strategis, organisasi
yang baik, sistem prosedur yang transparan didukung
oleh budaya perusahaan yang handal, serta etika
perusahaan yang dilaksanakan secara konsisten dan
konsekuen.
FUNGSI DAN PRINSIP ETIKA
BISNIS DALAM DUNIA USAHA
Etika bisnis yaitu ide atau cerminan moralitas dalam
ekonomi dan bisnis. Moralitas mengacu pada aspek
perilaku manusia yang baik atau buruk, terpuji atau
tercela dan sebab nya diperbolehkan atau tidak
diperbolehkan. Moralitas selalu dikaitkan dengan apa
yang dilakukan orang, dan aktivitas ekonomi merupakan
bagian penting dari perilaku manusia, sedang
perusahaan memiliki produk berkualitas yang bermanfaat
bagi warga .
Selain dikelola manajemen yang benar di bidang produksi,
keuangan, sumber daya manusia, dan lain-lain, namun
tidak memiliki etika, kekurangan ini cepat atau lambat
akan menjadi batu sandungan. Menghormati aturan etika
yaitu elemen mutlak yang diperlukan dalam warga
saat ini.
Etika dalam praktik, berarti nilai dan standar moral
sejauh dipraktikkan atau tidak dipratikkan sama sekali.
Dapat juga dikatakan, bahwa etika sebagai praktik yaitu
apa yang dilakukan atau tidak dilakukan menurut nilai
dan standar moral, sedang etika sebagai refleksi
yaitu pemikiran moral. Dalam etika sebagai refleksi
selalu berpikir tentang apa yang harus dilakukan atau
tidak dilakukan.
Etika sebagai refleksi berbicara tentang etis atau
mengambil praktik sebagai subjeknya. Namun, etika
sebagai refleksi dapat mencapai tataran ilmiah. Ini dapat
terjadi saat refleksi bersifat kritis, metodis dan
sistematis, sebab ketiga kualitas ini memungkinkan
pemikiran mencapai tingkat ilmiah.
Lingkungan Bisnis
warga dan konsumen secara umum, memberi
penilaian lebih terhadap produsen yang menjalankan
bisnis secara beretika, dibandingkan yang hanya
mengejar keuntungan semata. Dapat dilihat implikasinya
bahwa kebutuhan perusahaan terhadap nilai etika,
khususnya dalam menjalankan bisnis mengalami
peningkatan. Munculnya pelatihan-pelatihan yang
ditujukan bagi stakeholder internal dalam perusahaan
yang membahas tentang etika bisnis, yang kemudian
dikembangkan menjadi budaya perusahaan.
Setiap peningkatan atas capaian terhadap prestasi
perusahaan, secara spontan akan melakukan desiminasi
informasi terhadap publik, dengan tujuan meningkatkan
posisi perusahaan dalam image warga sebagai
perusahaan yang menjalankan bisnis secara beretika.
Masing-masing perusahaan dapat menentukan posisi
etika bisnisnya, sesuai dengan kemampuan yang dimiliki
maupun target yang ditetapkan.
Terdapat beberapa value yang dapat dianggap sebagai
prinsip pokok penerapan etika bisnis, untuk mencapai
tujuan bisnis yang beretika. Perusahaan semakin baik
dapat diasumsikan bahwa semakin baik nilai posisi
etiknya, dan dengan demikian semakin meningkat potensi
profitabilitasnya.
Upaya Pengembangan Bisnis
Pengembangan bisnis perlu diupayakan dengan mencari
informasi sebanyak mungkin mengenai pasar, produksi,
konsumen, dan strategi pesaing. Hasil yang diperoleh dari
informasi ini dapat digunakan oleh CEO (top
manajemen) dalam menyusun strategi perusahaan,
sehingga dapat menembus pasar atau memperkuat posisi
perusahaan terhadap pesaing. Dengan demikian, pihak
perusahaan dapat memperoleh keuntungan bisnis, yaitu:
1. keuntungan financial, perusahaan akan memperoleh
laba;
2. keuntungan non-financial, tercapainya tingkat
kepuasan kerja para karyawan; dan
3. keuntungan sosial, diperolehnya tingkat kepercayaan
dari warga khususnya stakeholder.
Pemengang Kepentingan Utama dalam Bisnis
Madura (2007) mengemukakan bahwa pemegang
kepentingan (stakeholder) dalam bisnis, yaitu sebagai
berikut.
1. Pemilik
a. Wiraswasta (entrepreneur) yaitu orang yang
mengorganisasi, mengelola dan mengasumsi
risiko yang dihadapi untuk memulai bisnis.
b. Pemegang saham (stakeholder/stockholder).
Pemegang saham yaitu seseorang atau lembaga
yang memiliki sertifikat atas kepemilikan suatu
perusahaan.
2. Karyawan
a. Karyawan perusahaan diangkat untuk
menyalurkan operasi perusahaan.
b. Manajer yaitu karyawan yang memiliki
tanggung jawab mengelola pekerjaan yang
ditugaskan kepada karyawan lain, dan membuat
keputusan penting perusahaan.
3. Kreditur
Institusi keuangan atau individu yang memberi
pinjaman.
4. Pemasok
Penyedia bahan baku dan mengantarkannya tepat
waktu.
5. Pelanggan
Pihak yang menerima produk atau jasa dengan nilai/
harga tertentu.
Gambar 2.1 Interaksi Antarstakeholders
Sumber: Madura (2007)
Peran Etika Bisnis
Peranan etika dalam kegiatan bisnis, yaitu
1. etika harus menjadi pedoman dalam kegiatan
warga dan seharusnya menjadi pedoman bagi
pebisnis, mana tindakan yang tepat dan boleh
dilakukan dalam bisnis, yang diharapkan dapat
menguntungkan semua pihak yang terlibat;
2. etika sebagai control terhadap individu. Pelaku dalam
bisnis melalui penerapan kebiasaan atau budaya
moral atas pemahaman dan penghayatan nilai-nilai
dalam prinsip moral sebagai inti kekuatan suatu
perusahaan, dengan mengutamakan kejujuran,
bertanggung jawab, disiplin, berperilaku dalam
diskriminasi;
3. etika bisnis hanya berperan dalam suatu komunitas
moral dan tidak berkomitmen individual saja, namun
tercantum dalam suatu kerangka sosial;
4. etika berperan sebagai syarat utama untuk
kelanggengan atau konsistensi perusahaan, di mana
loyalitas konsumen akan sangat membantu
perusahaan agar tetap bertahan; dan
5. etika berperan sebagai penghubung pelaku bisnis,
dalam hal pelayanan merupakan refleksi nilai atau
etika bisnis yang diterapkan perusahaan untuk
menjaga loyalitas konsumennya.
Ciri-Ciri Etika Bisnis
Terdapat delapan ciri utama etika bisnis yang meliputi
kode etik, nilai moral dan sosial, perlindungan, kerangka
dasar, sukarela, Pendidikan, dan bimbingan (Trevino dan
Nelson, 2010). Itu merupakan konsep yang relatif baru
untuk dijadikan pedoman dalam menjalankan bisnis.
Penjelasan masing-masing ciri ini diuraikan sebagai
berikut.
1. Kode Etik
Etika bisnis umumnya dibuat dalam bentuk kode etik.
Ini menjelaskan perbuatan atau tindakan apa saja
yang boleh dan tidak boleh dilakukan anggota
organisasi yang dibuat secara tertulis. saat kode
etik sudah dirumuskan, ditetapkan, dan
disosialisasikan, maka menimbulkan konsekuensi
bagi seluruh anggota organisasi untuk mematuhi.
Pelanggaran terhadap kode etik akan dikenakan
sanksi sebagaimana dijelaskan di dalam buku kode
etik ini .
2. Nilai Moral dan Sosial
Etka merupakan aturan atau pedoman dalam
berperilaku yang didasarkan pada nilai-nilai moral,
dan pelanggarnya dikenakan sanksi sosial (tidak
dipidanakan atau dimasukan ke dalam penjara).
Sanksi sosial di dalam organisasi bisnis, bisa berupa
penundaan kenaikan pangkat, penurunan jabatan,
pemindahan lokasi kerja, dan pemberhentian
pekerjaan (job termination).
3. Bersifat Melindungi
Etika bisnis dirumuskan dan diimplementasikan di
dalam organisasi bisnis, untuk melindungi hak-hak
karyawan, pelanggan atau konsumen, investor atau
pemegang saham, rekanan atau pemasok, kreditor,
dan pemangku kepentingan.
4. Kerangka Dasar
Etika bisnis merupakan kerangka dasar atau bingkai
yang menjadi pedoman perilaku dan kebijakan dalam
menjalankan bisnis secara benar. Oleh sebab itu,
etika bisnis memberi batasan sosial, budaya,
hukum, agama dan ekonomi di mana bisnis
beroperasi. Dengan demikian, bisnis harus dijalankan
dengan memperhatikan nilai-nilai sosial, budaya,
hukum, agama, dan kondisi perekonomian di mana
organisasi bisnis beroperasi.
5. Bersifat Sukarela
Etika bisnis dijalankan atas dasar kerelaan atau tidak
dipaksakan, namun bersifat mengikat. Artinya, tidak
mengharuskan anggota organisasi secara eksklusif
mematuhi sebagai kerangka hukum. Etika
merupakan pedoman yang berguna untuk mencegah
timbulnya masalah dalam menjalankan organisasi
bisnis dan mengatasi konflik yang mungkin timbul
antarkaryawan, karyawan dengan manajer, organisasi
dengan pihak luar.
6. Pendidikan dan Bimbingan
Etka bisnis perlu dijelaskan melalui pembimbingan
agar orang memahami dan menjadi sadar mengapa
mereka harus berperilaku dengan cara tertentu di
tempat kerja. Melalui cara ini , implementasi
etika bisnis diharapkan dapat diterima, dipatuhi dan
dilaksanakan secara sukarela.
7. Bersifat Relatif
Etika bisnis tidak dapat diseragamkan, sebab nilai-
nilai sosial yang hidup di warga berbeda
antarsatu daerah dengan daerah yang lain, meskipun
memiliki banyak kesamaan secara esensial. Pada
warga modern yang tinggal di perkotaan,
umumnya memiliki nilai-nilai sosial yang berbeda
dengan warga yang bermukim di perdesaan.
Dengan demikian, praktik etika bisnis memerlukan
penyesuaian dengan nilai-nilai yang hidup, dan
dilestarikan di mana bisnis beroperasi.
8. Konsep Baru
Etika bisnis merupakan konsep yang relatif baru dan
di beberapa negara maju sudah menjadi kebutuhan.
Itu disebabkan warga yang tinggal di negara
maju memiliki perhatian yang tinggi terhadap isu
(issue) kemanusiaan, seperti kesamaan hak dan
kewajiban, keadilan, perlakuan yang manusiawi
terhadap perempuan di tempat kerja dan kebebasan
bagi perempuan dalam memilih pekerjaan.
Di beberapa negara maju, perempuan memiliki hak
yang relatif sama dengan kaum pria, dalam
memperoleh pekerjaan dan imbalan. Oleh sebab itu,
organisasi bisnis berkewajiban merekrut tenaga kerja
perempuan, bahkan untuk pekerjaan yang dulu
dianggap hanya sesuai untuk kaum laki-laki, seperti
sopir, kurir, satuan pengaman, dan lain-lain.
Sementara itu, di negara-negara berkembang seperti
negara kita , kesetaraan gender belum banyak
memperoleh perhatian, dan lebih didominasi oleh
aturan agama, terutama bagi golongan perempuan
yang mendapat resistensi untuk bekerja di tempat
tertentu, atau menduduki posisi atau jabatan publik
seperti mejadi wali kota, bupati, gubernur, dan juga
bagi orang yang menganut agama minoritas.
Prinsip-Prinsip Etika Bisnis
Sonny Keraf (1998) mengemukakan ada lima prinsip yang
dapat dijadikan pedoman dalam menjalankan praktik
bisnis.
1. Prinsip Kejujuran
Prinsip kejujuran yaitu menanamkan sika papa
adanya berdasarkan fakta, situasi dan kondisi yang
sebenarnya. Prinsip ini, memberi kepatuhan
dalam melaksanakan berbagai kontrak, komitmen,
dan perjanjian yang telah dibuat. Dalam
hubungannya dengan lingkungan bisnis, kejujuran
diorientasikan kepada seluruh pihak yang terkait
dengan aktivitas bisnis. Dengan kejujuran yang
dimiliki perusahaan, maka warga yang berada
disekitar lingkungan perusahaan akan menaruh
kepercayaan yang tinggi bagi perusahaan ini .
2. Prinsip Otonomi
Prinsip onotomi menunjukkan kemandirian,
kebebasan, serta tanggung jawab. Orang yang mandiri
berarti orang yang dapat mengambil keputusan lalu
melaksanakannya berdasarkan kemampuan sendiri,
dan sesuai dengan apa yang diyakini, bebas dari
tekanan, hasutan, dan ketergantungan kepadan
pihak lain.
3. Prinsip Saling Menguntungkan
Prinsip saling menguntungkan menanamkan
kesadaran untuk saling memberi keuntungan
satu sama lain, yang artinya dalam setiap tindakan
bisnis, harus diusahakan agar semua pihak merasa
diuntungkan.
4. Prinsip Keadilan
Prinsip keadilan menanamkan sikap untuk bersikap
adil terhadap semua pihak, yaitu suatu sikap yang
tidak membeda-bedakan dari berbagai aspek, baik
dari aspek ekonomi, hukum maupun aspek lainnya.
5. Prinsip Integritas Moral
Prinsip integritas moral merupakan prinsip yang tidak
merugikan orang lain dalam mengambil keputusan
dan tindakan bisnis. Prinsip ini, dilandasi dengan
kesadaran bahwa setiap orang harus dihormati.
Prinsip-prinsip dalam etika bisnis, tidak hanya digunakan
pada perusahaan atau organisasi perdagangan, namun
dapat juga digunakan pada usaha yang dikelola oleh
orang pribadi/pedagang kaki lima. Hal ini sebab setiap
bisnis yang dijalankan harus didasarkan pada prinsip-
prinsip ini , agar tidak melanggar hak-hak
konsumen.
Pentingnya Etika Bisnis
Bisnis dipahami sebagai suatu proses keseluruhan dari
produksi yang dirumuskan sebagai usaha
memaksimalkan keuntungan perusahaan, dan
meminimumkan biaya produksi. Oleh sebab itu, bisnis
sering kali menetapkan pilihan strategis berdasarkan nilai
di mana pilihan ini , didasarkan atas keuntungan
dan kelangsungan hidup perusahaan.
Etika bisnis dapat menciptakan suasana profesional,
saling menghormati, dan meningkatkan komunikasi yang
membantu kantor berfungsi sebagai tempat yang
produktif. Pentingnya etika bisnis dalam kelangsungan
perusahaan sebagai berikut.
1. Tugas utama etika bisnis, dipusatkan pada upaya
mencari cara untuk menyelaraskan kepentingan
strategis suatu bisnis dengan tuntunan moralitas.
2. Etika bisnis bertugas melakukan perubahan
kesadaran warga tentang bisnis dengan
memberi suatu pemahaman, yaitu bisnis tidak
dapat dipisahkan dari etika.
Aspek dalam Etika Bisnis
Dalam etika bisnis ada beberapa aspek yang perlu
diperhatikan, sebagai berikut.
1. Etika Bisnis Produksi
Produksi merupakan kegiatan untuk meningkatkan
nilai guna suatu barang atau jasa. Dalam etika
menentukan produk dalam rangka mempertemukan
apa dan bagaimana keinginan dan kebutuhan
konsumen, berkaitan erat dengan hal-hal sebagai
berikut:
a. produk yang berguna dan dibutuhkan;
b. produk yang berpotensi menghasilkan
keuntungan;
c. nilai tambah yang tinggi;
d. jumlah yang dibutuhkan dan mendapat
keuntungan; dan
e. dapat memuaskan konsumen secara positif.
2. Etika Bisnis Promosi dan Pemasaran
Kegiatan promosi dan pemasaran merupakan ujung
tombak dari kegiatan bisnis, yang dijadikan
pendukung utama dalam mengembangkan bisnis.
Pemasaran yaitu suatu sistem keseluruhan dari
kegiatan bisnis yang ditujukan untuk merencanakan,
menentukan harga, mempromosikan, dan
mendistribusikan barang dan jasa yang memuaskan
kebutuhan baik pembeli yang ada maupun pembeli
yang potensial. Hal penting dalam promosi yang
terkait etika yaitu kebenaran dan kejujuran
objektivitas pesan factual yang disampaikan dengan
tujuan untuk membangun kepercayaan dan loyalitas
warga terhadap perusahaan.
3. Etika Bisnis Distribusi
Prinsip distribusi produk yang dimaksud yaitu dalam
mencapai ketepatan dan kecepatan waktu datangnya
barang ke tangan konsumen, keamanan yang terjaga
dari kerusakan, sarana kompetisi dalam ketepatan
memenuhi kebutuhan warga .
Etika bisnis dalam kegiatan distribusi yaitu kecepatan
dan ketepatan produk ditangan konsumen dengan
mudah pada saat dibutuhkan. Jika melakukan
penimbunan atas produk, akibatnya tidak terdapat
ketersediaan produk yang cukup diwarga yang
dapat memicu kelangkaan. Penimbunan barang
dengan tujuan mendapat keuntungan yang
maksimal, hal ini tidak sesuai dengan etika bisnis.
4. Etika Bisnis dalam Kompetisi
Sebuah kegiatan bisnis tidak bisa terlepas dari
kompetisi antarpelaku bisnis. Prinsip etika yang dapat
dikembangkan dalam kompetisi antara lain
a. memberi yang terbaik untuk konsumen, dapat
memberi kualitas produk yang terbaik,
dengan memberi harga yang kompetitif dan
memberi pelayanan yang terbaik untuk
konsumen;
b. tidak berlaku curang; dan
c. melakukan kerja sama dalam hal positif.
Penerapan Etika Bisnis pada Owner
Bertanggung jawab terhadap seluruh kepercayaan yang
diberikan oleh pemberi modal, yaitu
1. menerapkan manajemen yang profesional, misalnya
tidak melakukan manipulasi terutama data dan
keuangan;
2. memberi informasi yang relevan, misalnya
progress pemasaran;
3. melindungi, memelihara, dan meningkatkan aset
milik pemodal; dan
4. melaksanakan hasil yang telah dituangkan dalam
rapat umum pemegang saham.
Penerapan Etika Bisnis pada Supplier
Harus didasari hubungan saling menghormati dan
menghargai yang diwujudkan dalam bentuk tanggung
jawab, yaitu
1. menerapkan keadilan dan kejujuran, misalnya dalam
hal penentuan harga jual, penentuan lisensi,
penentuan hak penjualan dan penentuan besarnya
keuntungan;
2. memberi informasi guna integrasi dalam proses
perencanaan bersama;
3. menjalin kerja sama untuk stabilitas hubungan
jangka panjang, misalnya dilegalkan melalui dokumen
kontrak;
4. menjalin hubungan yang bebas dari paksaan,
memiliki hak otonomi dalam menentukan partner
dagang; dan
5. membuat kesepakatan bersama.
Penerapan Etika Bisnis pada Customer
Perlunya pengembangan komitmen agar kepuasan
pelanggan meningkat, sehingga tetap setia terhadap
produk perusahaan, antara lain
1. memberi produk/jasa dengan kualitas terbaik
yang sesuai dengan keinginan dan harapan
pelanggan;
2. membuat iklan dan promosi harus
mencerminkan/menunjukkan sikap hormat pada
martabat kemanusiaan;
3. menciptakan lingkungan yang sehat terhadap
produk/jasa yang dihasilkan;
4. memberi ganti rugi bila pelanggan merasakan
dirugikan, bisa direalisasikan melalui program
memberi garansi; dan
5. menghormati integritas kultur atau budaya yang
berlaku pada perilaku pelanggan perusahaan.
Penerapan Etika Bisnis pada Karyawan Perusahaan
Karyawan merupakan sumber daya manusia perusahaan
sebab telah berpean aktif bagi keberhasilan perusahaan,
maka perlu mendapat perlakuan yang manusiawi dari
perusahaan, yaitu:
1. memberi lapangan kerja dan imbalan yang
memadai, sehingga dapat meningkatkan kualitas
hidup para kayawan;
2. memberi gaji yang sesuai dengan Upah Minimum
Regional (UMR) yang berlaku sesuai dengan aturan
pemerintah;
3. melakukan komunikasi yang lancar dalam pekerjaan
dan transparansi dalam penilaian prestasi kerja;
4. memberi respons yang aktif dan saran yang
kontruktif dari karyawan, agar dijadikan acuan
penting dalam pengambilan keputusan;
5. melakukan negosiasi dengan pihak yang bertikai,
sehingga pertikaian dapat disalurkan sesuai dengan
proporsinya;
6. memberi jaminan keselatan kerja dan kesehatan,
sehingga karyawan dapat memberi kontribusi
yang optimal dalam jangka panjang, misalnya
karyawan perusahaan diikutsertakan mengikuti
Program Jamsostek dan BPJS;
7. melakukan kegiatan pengembangan sumber daya
manusia yang optimal, sesuai dengan potensi yang
tersedia pada karyawan;
8. menekan angaka pengangguran sebagai akibat
berakhirnya pekerjaan di lapangan; dan
9. menciptakan kondisi kerja yang mencerminkan
penghargaan perusahaan terhadap kesehatan dan
martabat karyawan.
Penerapan Etika Bisnis pada Pemerintah
Pemerintah yang dimaksud disini yaitu sebuah institus
yang dibentuk atas dasar konstitusi negara, yang
bertujuan untuk mensejahterakan warga secara
luas. Sebagai institusi yang membutuhkan sumber daya
yang cukup untuk membiayai operasionalisasi peran dan
tugas ini .
Salah satu bentuk kegiatan atau dana yang diberikan
atau disumbangkan oleh warga bisnis kepada
negara yang diawali oleh pemerintah yaitu dalam bentuk
ketaatan membayar pajak. Dana pajak yang diterima
pemerintah dipergunakan untuk membiayai, antara lain
1. pertahanan dan keamanan negara;
2. pembangunan prasarana dan fasilitas umum;
3. pemberian gaji pegawai negeri dan atau pejabat
pemerintah; dan
4. pengeluaran lainnya, yang berkaitan dengan
kesejahteraan dan kemakmuran warga .
KONSEP NILAI,
NORMA, DAN MORAL
Konsep Nilai, Norma, dan Moral dalam Etika Bisnis
Nilai, norma, dan moral membentuk karakter dan
perilaku manusia dalam berbisnis. Dalam etika bisnis,
nilai, norma, dan moral memiliki peran yang sangat
penting dalam membentuk karakter dan perilaku
manusia dalam berbisnis (Bertens, 2022). Nilai, norma,
dan moral saling terkait dan memengaruhi satu sama lain.
Implementasi nilai, norma, dan moral dalam etika bisnis
dapat dilakukan dengan cara mempraktikkan nilai-nilai,
norma, dan moral yang dipegang, serta mengajarkan nilai-
nilai, norma, dan moral ini kepada orang lain dalam
berbisnis.
Pentingnya etika bisnis yaitu untuk menciptakan
lingkungan bisnis yang berintegritas, bertanggung jawab,
dan berkelanjutan. Etika bisnis yang baik, membantu
perusahaan menghindari perilaku yang merugikan dan
membangun kepercayaan dengan pelanggan, karyawan,
pemegang saham, dan warga secara umum.
Nilai, norma, dan moral dalam konteks etika bisnis, dapat
berbeda-beda antara perusahaan dan juga antara budaya
dan negara. Namun, prinsip-prinsip etika bisnis yang kuat
dan mendalam, akan membantu mendorong praktik
bisnis yang bertanggung jawab dan berkelanjutan dalam
berbagai konteks.
Definisi Nilai, Norma, dan Moral dalam Etika Bisnis
Nilai dalam etika bisnis yaitu prinsip atau keyakinan
yang dipegang oleh individu atau kelompok, sebagai
pedoman dalam bertindak atau berperilaku dalam
berbisnis. Nilai dalam etika bisnis meliputi nilai moral,
nilai estetika, atau nilai instrumental. Nilai moral dalam
etika bisnis yaitu nilai yang berkaitan dengan etika dan
moralitas dalam berbisnis. Nilai estetika yaitu nilai yang
berkaitan dengan keindahan dan kesenian dalam
berbisnis. Nilai instrumental yaitu nilai yang berkaitan
dengan manfaat atau kegunaan dalam berbisnis.
Nilai dalam etika bisnis mencakup prinsip-prinsip moral
dan filosofis yang membimbing tindakan dan keputusan
bisnis. Nilai-nilai ini, berfungsi sebagai pedoman untuk
menilai apa yang dianggap benar atau salah dalam
konteks bisnis. Beberapa nilai etika bisnis yang umum
meliputi integritas, kejujuran, tanggung jawab sosial,
keberlanjutan, transparansi, menghormati hak asasi
manusia, dan menjunjung tinggi keadilan.
Norma dalam etika bisnis yaitu aturan atau tata cara
yang dipegang oleh individu atau kelompok sebagai
pedoman dalam bertindak atau berperilaku dalam
berbisnis. Norma meliputi norma sosial, norma hukum,
atau norma agama. Norma sosial yaitu norma yang
berkaitan dengan tata cara atau aturan yang dipegang
oleh warga dalam berbisnis. Norma hukum yaitu
norma yang berkaitan dengan aturan hukum yang diatur
oleh negara dalam berbisnis. Norma agama yaitu norma
yang berkaitan dengan aturan atau tata cara yang diatur
oleh agama dalam berbisnis.
Norma dalam etika bisnis yaitu aturan-aturan dan
standar perilaku yang diakui dan diikuti dalam
lingkungan bisnis. Norma-norma ini mencakup pedoman
etika, etika profesi, serta aturan hukum dan peraturan
yang berlaku. Contoh norma etika bisnis meliputi
melaksanakan praktik bisnis yang adil, tidak melakukan
penipuan, menghormati hak karyawan, melindungi
lingkungan, dan menghindari konflik kepentingan.
Moral dalam etika bisnis yaitu prinsip atau keyakinan
yang dipegang oleh individu atau kelompok sebagai
pedoman dalam bertindak atau berperilaku dalam
berbisnis. Moral berkaitan dengan etika dan moralitas
dalam berbisnis, dan meliputi nilai-nilai yang dianggap
baik atau buruk dalam berbisnis. Moral melibatkan
pertimbangan tentang tindakan dan keputusan bisnis
berdasarkan nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku.
Moralitas melibatkan pertimbangan tentang akibat
tindakan bisnis terhadap berbagai pemangku kepentingan
(stakeholders), seperti karyawan, pelanggan, warga ,
dan lingkungan. Selain itu, moralitas juga berkaitan
dengan kejujuran dan integritas dalam menjalankan
bisnis.
Hubungan Nilai, Norma, dan Moral dalam Etika Bisnis
Nilai, norma, dan moral saling terkait dan memengaruhi
satu sama lain. Nilai menjadi dasar bagi pembentukan
norma dan moral dalam etika bisnis. Norma menjadi
dasar bagi pembentukan moral. Nilai, norma, dan moral
saling memengaruhi dalam membentuk karakter dan
perilaku manusia dalam berbisnis.
Dalam etika bisnis, nilai, norma, dan moral saling terkait
dan membentuk fondasi untuk tindakan dan perilaku
yang dianggap etis dalam lingkungan bisnis. Berikut
yaitu hubungan antara ketiga konsep ini .
1. Nilai sebagai Landasan Etika Bisnis
Nilai-nilai dalam etika bisnis yaitu prinsip-prinsip
moral dan filosofis yang menjadi landasan bagi
tindakan dan keputusan bisnis. Nilai-nilai ini
mencakup prinsip-prinsip seperti integritas,
kejujuran, tanggung jawab sosial, keadilan, dan
penghargaan terhadap hak asasi manusia. Nilai-nilai
ini membentuk pandangan etika perusahaan dan
individu yang terlibat dalam bisnis, membantu
menentukan tujuan-tujuan bisnis yang dianggap
benar dan sesuai dengan keinginan sosial.
2. Norma sebagai Panduan Etika Bisnis
Norma-norma dalam etika bisnis yaitu aturan-
aturan dan standar perilaku yang diakui dan diikuti
dalam dunia bisnis. Norma-norma etika bisnis
mencakup etika profesi, pedoman bisnis, dan
peraturan hukum yang berlaku. Norma-norma ini,
menetapkan batasan dan panduan tentang cara-cara
yang diterima dan tidak diterima dalam melakukan
bisnis. Menerapkan norma-norma etika bisnis,
membantu perusahaan dan individu menghindari
praktik-praktik yang merugikan, dan menjalankan
bisnis dengan integritas dan tanggung jawab.
3. Moral sebagai Pertimbangan Etika Bisnis
Moral dalam etika bisnis melibatkan pertimbangan
tentang tindakan dan keputusan bisnis berdasarkan
nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku. Moralitas
berkaitan dengan pertanyaan tentang apa yang
dianggap benar atau salah dalam konteks bisnis.
Pertimbangan moral mencakup memperhatikan
dampak tindakan bisnis terhadap berbagai pemangku
kepentingan (stakeholders), seperti karyawan,
pelanggan, warga , dan lingkungan.
Pertimbangan moral ini, membantu perusahaan dan
individu untuk membuat keputusan bisnis yang etis
dan bertanggung jawab.
Secara keseluruhan, nilai, norma, dan moral, saling
berinteraksi dan membentuk kerangka kerja untuk
perilaku yang etis dalam lingkungan bisnis. Nilai-nilai
etika bisnis menjadi dasar bagi norma-norma etika bisnis,
sementara norma-norma etika bisnis membantu
menerjemahkan nilai-nilai ini ke dalam tindakan
konkret dan keputusan bisnis.
Selanjutnya, moralitas dalam etika bisnis
mempertimbangkan konsekuensi dan dampak dari
tindakan bisnis berdasarkan nilai-nilai dan norma-norma
yang ada. Dengan memadukan nilai, norma, dan moral,
perusahaan dan individu dapat mencapai etika bisnis
yang lebih kokoh dan bertanggung jawab dalam
menjalankan kegiatan bisnis mereka.
Peran Nilai, Norma, dan Moral dalam Etika Bisnis
Nilai, norma, dan moral berperan dalam membentuk
kerangka etika bisnis yang kuat. Berikut ini yaitu peran
masing masing dari nilai, norma dan moral dalam etika
bisnis perusahaan.
1. Peran Nilai dalam Etika Bisnis
Nilai memiliki peran yang sangat penting dalam
membentuk karakter dan perilaku manusia dalam
berbisnis. Nilai dapat membantu manusia dalam
mengambil keputusan yang tepat, serta membantu
dalam membedakan antara yang benar dan yang
salah dalam berbisnis.
Nilai-nilai dalam etika bisnis menyediakan fondasi
moral dan prinsip-prinsip filosofis yang menjadi
landasan bagi tindakan bisnis yang bertanggung
jawab. Nilai-nilai ini mencakup prinsip-prinsip seperti
integritas, kejujuran, tanggung jawab sosial, keadilan,
dan menghargai hak asasi manusia. saat nilai-nilai
etika ini diterapkan dalam praktik bisnis, perusahaan
dan individu diharapkan dapat beroperasi dengan
integritas, transparansi, dan mengutamakan
kepentingan yang lebih luas.
2. Peran Norma dalam Etika Bisnis
Norma memiliki peran yang sangat penting dalam
membentuk perilaku manusia dalam berbisnis.
Norma dapat membantu manusia dalam berinteraksi
dengan warga dalam berbisnis, serta membantu
dalam menjaga keamanan dan ketertiban sosial dalam
berbisnis.
Norma-norma dalam etika bisnis berperan sebagai
panduan perilaku yang diterima dan diakui dalam
lingkungan bisnis. Norma etika bisnis mencakup etika
profesi, pedoman bisnis, dan peraturan hukum yang
berlaku. Norma-norma ini, membantu mengatur
perilaku bisnis agar sesuai dengan nilai-nilai etika
yang berlaku dan menghindari perilaku yang
merugikan dan tidak etis. Norma etika bisnis juga
membantu menciptakan keadilan dalam hubungan
bisnis dan menjaga keseimbangan antara
kepentingan perusahaan, karyawan, pelanggan, dan
warga .
3. Peran Moral dalam Etika Bisnis
Moral memiliki peran yang sangat penting dalam
membentuk karakter dan perilaku manusia dalam
berbisnis. Moral dapat membantu manusia dalam
mengambil keputusan yang tepat, serta membantu
dalam membedakan antara yang benar dan yang
salah dalam berbisnis.
Moral dalam etika bisnis melibatkan pertimbangan
etika tentang akibat dan dampak tindakan bisnis
terhadap berbagai pemangku kepentingan
(stakeholders). Pertimbangan moral ini, memastikan
bahwa tindakan bisnis diambil dengan
memperhatikan konsekuensi dan implikasi etisnya.
Pertimbangan moral membantu perusahaan dan
individu untuk menilai apakah tindakan atau
keputusan bisnis yang diambil, sesuai dengan nilai-
nilai etika dan norma-norma etika yang berlaku.
Dengan demikian, pertimbangan moral membantu
mendorong tindakan yang bertanggung jawab dan
berkelanjutan dalam bisnis.
Nilai-nilai memberi arah moral yang lebih abstrak,
norma-norma memberi pedoman perilaku yang lebih
khusus, dan pertimbangan moral membantu menilai
implikasi etis dari tindakan bisnis. Ketiganya saling
terkait dan saling mendukung, membentuk fondasi etika
bisnis yang konsisten dan berkelanjutan. Dengan
menghormati dan menerapkan nilai-nilai, norma, dan
moral dalam setiap aspek bisnis, perusahaan dapat
menghadapi tantangan etika dengan bijaksana dan
menciptakan dampak yang positif bagi warga dan
lingkungan sekitarnya.
Penerapan Nilai, Norma, dan Moral dalam Etika Bisnis
Implementasi nilai, norma, dan moral dalam etika bisnis
dapat dilakukan dengan cara mempraktikkan nilai-nilai,
norma, dan moral yang dipegang, serta mengajarkan nilai-
nilai, norma, dan moral ini kepada orang lain dalam
berbisnis. Berikut yaitu beberapa cara konsep nilai,
norma, dan moral diterapkan dalam etika bisnis.
Nilai
Implementasi nilai dapat dilakukan dengan cara
mempraktikkan nilai-nilai yang dipegang, serta
mengajarkan nilai-nilai ini kepada orang lain dalam
berbisnis. Contoh implementasi nilai dalam etika bisnis
dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut
1. menerapkan nilai-nilai moral dalam setiap keputusan
bisnis yang diambil, seperti kejujuran, integritas, dan
tanggung jawab;
2. menghargai nilai-nilai estetika dalam berbisnis,
seperti tampilan produk dan kemasan yang menarik;
dan
3. menggunakan nilai-nilai instrumental dalam
mengambil keputusan bisnis, seperti
mempertimbangkan manfaat dan keuntungan jangka
panjang.
Norma
Implementasi norma dapat dilakukan dengan cara
mengikuti aturan atau tata cara yang dipegang oleh
warga dalam berbisnis, serta menghormati norma
yang berlaku dalam berbisnis. Contoh implementasi
norma dalam etika bisnis dapat dilakukan dengan cara
sebagai berikut
1. mengikuti norma sosial dalam berbisnis, seperti
menghormati hak-hak konsumen dan menjaga
hubungan baik dengan mitra bisnis;
2. mengikuti norma hukum dalam berbisnis, seperti
mematuhi peraturan perundang-undangan yang
berlaku; dan
3. mengikuti norma agama dalam berbisnis, seperti
menghormati nilai-nilai agama dalam setiap
keputusan bisnis yang diambil.
Moral
Implementasi moral dapat dilakukan dengan cara
mempraktikkan prinsip-prinsip moral yang dipegang,
serta mengajarkan prinsip-prinsip moral ini kepada
orang lain dalam berbisnis. Contoh implementasi moral
dalam etika bisnis dapat dilakukan dengan cara sebagai
berikut
1. menerapkan prinsip-prinsip moral dalam setiap
keputusan bisnis yang diambil, seperti menghindari
tindakan yang merugikan orang lain, dan
mempertimbangkan dampak sosial dari keputusan
bisnis yang diambil;
2. menghargai nilai-nilai etika dalam berbisnis, seperti
menghormati hak asasi manusia dan menjaga
integritas dalam setiap tindakan bisnis yang diambil;
dan
3. menggunakan nilai-nilai spiritual dalam mengambil
keputusan bisnis, seperti mempertimbangkan nilai-
nilai kebaikan dan keadilan dalam setiap tindakan
bisnis yang diambil.
Dengan menerapkan konsep nilai, norma, dan moral
dalam etika bisnis, diharapkan dapat membentuk
karakter dan perilaku manusia dalam berbisnis yang lebih
baik dan bertanggung jawab.
Pelanggaran Terhadap Nilai, Norma, dan Moral dalam
Etika Bisnis di negara kita
Pelanggaran terhadap nilai, norma, dan moral dalam etika
bisnis di negara kita masih sering terjadi. Berikut yaitu
beberapa contoh pelanggaran ini .
1. Korupsi merupakan pelanggaran terhadap nilai,
norma, dan moral dalam etika bisnis. Korupsi
merugikan negara dan warga , serta merusak
citra bisnis di negara kita . Korupsi dapat terjadi dalam
berbagai bentuk, seperti suap, nepotisme, dan kolusi.
2. Pelanggaran hak asasi manusia dalam etika bisnis
dapat terjadi dalam bentuk eksploitasi tenaga kerja,
diskriminasi, dan pemakaian bahan baku yang
merusak lingkungan. Pelanggaran hak asasi manusia
dapat merusak citra bisnis dan merugikan
warga .
3. Penipuan dalam etika bisnis dapat terjadi dalam
bentuk penjualan produk palsu, penipuan investasi,
dan penipuan dalam pengadaan barang dan jasa.
Penipuan merugikan konsumen dan merusak citra
bisnis.
4. Pelanggaran hak kekayaan intelektual dalam etika
bisnis dapat terjadi dalam bentuk pembajakan
produk, pencurian hak cipta, dan pemakaian merek
tanpa izin. Pelanggaran hak kekayaan intelektual
dapat merugikan pemilik hak cipta dan merusak citra
bisnis.
5. Pelanggaran norma sosial dalam etika bisnis dapat
terjadi dalam bentuk penipuan, pemakaian bahasa
yang kasar, dan perilaku yang tidak sopan.
Pelanggaran norma sosial dapat merusak citra bisnis
dan merugikan warga .
Untuk mencegah pelanggaran terhadap nilai, norma, dan
moral dalam etika bisnis di negara kita , diperlukan
kesadaran dan komitmen dari seluruh pihak terkait,
seperti pemerintah, pelaku bisnis, dan warga . Selain
itu, perlu juga adanya regulasi yang jelas dan tegas dalam
mengatur etika bisnis di negara kita . Dengan menerapkan
konsep nilai, norma, dan moral, diharapkan dapat
membentuk karakter dan perilaku manusia dalam
berbisnis yang lebih baik dan bertanggung jawab.
Dalam praktik bisnis di negara kita , perusahaan yang
melanggar nilai dapat menghadapi konsekuensi hukum
yang serius. Oleh sebab itu, diperlukan kesadaran dan
komitmen dari seluruh pihak terkait, seperti pemerintah,
pelaku bisnis, dan warga , untuk mencegah
pelanggaran ini . Berikut yaitu beberapa
konsekuensi hukum yang dapat dihadapi perusahaan
yang melanggar nilai dalam praktik bisnis di negara kita ;
1. perusahaan yang melanggar nilai dalam praktik bisnis
di negara kita dapat dikenakan sanksi administratif,
seperti denda, pencabutan izin usaha, atau
pembekuan kegiatan usaha;
2. perusahaan yang melanggar nilai dalam praktik bisnis
di negara kita dapat dikenakan tuntutan pidana,
seperti penjara atau denda yang lebih berat,
tergantung pada tingkat pelanggaran yang dilakukan;
3. perusahaan yang melanggar nilai dalam praktik bisnis
di negara kita dapat dikenakan gugatan perdata oleh
pihak yang dirugikan, seperti konsumen atau pesaing
bisnis. Gugatan perdata dapat berupa tuntutan ganti
rugi atau tuntutan penghentian kegiatan usaha;
4. perusahaan yang melanggar nilai dalam praktik bisnis
di negara kita dapat mengalami kerugian finansial yang
signifikan, seperti penurunan penjualan atau
kehilangan kepercayaan dari konsumen dan investor;
dan
5. perusahaan yang melanggar nilai dalam praktik bisnis
di negara kita dapat mengalami kerugian reputasi yang
signifikan, seperti penurunan citra bisnis atau
kehilangan kepercayaan dari warga .
Diperlukan adanya regulasi yang jelas dan tegas dalam
mengatur etika bisnis di negara kita . Dengan menerapkan
konsep nilai, norma, dan moral dalam etika bisnis,
diharapkan dapat membentuk karakter dan perilaku
manusia dalam berbisnis yang lebih baik dan bertanggung
jawab.
Teori Kebajikan (Theory of Virtue)
Teori yang terkait dengan nilai, norma, dan moral dalam
etika bisnis yaitu Teori Kebajikan (Theory of Virtue).
Aristotle, seorang filsuf Yunani mengemukakan satu teori
yaitu Teori Kebajikan (virtue theory) yaitu konsep yang
menjelaskan bahwa kebajikan yaitu suatu cara di mana
orang memiliki tujuan atau alasan untuk hidup
(Velasquez, 2018). Teori ini menjelaskan bahwa seseorang
yang memiliki tujuan hidup cenderung memilih tindakan
yang tidak terlalu ekstrim namun cukup jauh untuk
memuaskan perasaan dan tindakannya. Mereka memilih
jalan tengah di antara aktivitas yang terlalu berbahaya,
namun cukup sulit untuk dilakukan sesuai kemampuan
mereka.
Dalam situasi yang menakutkan, individu yang memiliki
tujuan hidup menghindari tindakan sembrono, namun
mereka juga tidak tetap pengecut. Mereka memilih
tindakan yang merupakan jalan tengah dan yang disebut
"keberanian" di dalam diri mereka. Keberanian ini
merupakan tindakan yang terletak di antara
kepengecutan, yaitu perasaan takut yang berlebihan, dan
kecerobohan yaitu kurangnya rasa takut untuk bertindak
tanpa perhitungan (Velasquez, 2018). Jadi, menurut
Aristoteles, kebajikan moral yaitu jalan tengah antara
tindakan yang terlalu berani dan tindakan yang terlalu
menakutkan (Velasquez, 2018).
Dalam praktik bisnis di negara kita , Teori Kebajikan dapat
dikatkan dengan pentingnya menekankan karakter dan
moralitas individu dalam menjalankan tindakan bisnis
yang baik dan bertanggung jawab. Dengan
mengembangkan karakter dan moralitas karyawan, bisnis
dapat menciptakan lingkungan kerja yang sehat dan
produktif, serta memberi kontribusi positif bagi
warga dan lingkungan sekitar. Teori ini, berfokus
pada pengembangan karakter dan kepribadian individu,
sehingga mereka dapat menjadi pribadi yang baik dan
bertanggung jawab dalam menjalankan tindakan.
Teori Kebajikan berpandangan bahwa tujuan hidup
manusia yaitu untuk mencapai kebahagiaan dan
kebaikan. Kebajikan dianggap sebagai kunci untuk
mencapai tujuan ini . Kebajikan tidak hanya berarti
melakukan tindakan yang baik, namun juga memiliki
karakter yang baik. Teori Kebajikan menekankan
pentingnya karakter dan moralitas individu dalam
menjalankan tindakan yang baik. Karakter dan moralitas
individu harus dikembangkan melalui latihan dan
pengalaman, sehingga mereka dapat menjadi pribadi yang
baik dan bertanggung jawab dalam menjalankan
tindakan.
Teori Kebajikan juga dikenal dengan sebutan Virtue Ethics.
Virtue Ethics menekankan pentingnya karakter dan
moralitas individu dalam menjalankan tindakan yang
baik. Virtue Ethics berbeda dengan teori etika lainnya yang
lebih berfokus pada tindakan yang benar atau salah.
Beberapa contoh kebajikan yang ditekankan dalam Teori
Kebajikan yaitu kejujuran, integritas, keberanian,
kesabaran, dan kasih sayang. Kebajikan-kebajikan ini,
harus dikembangkan dan diaplikasikan dalam kehidupan
sehari-hari.
Teori Kebajikan dapat diaplikasikan dalam bisnis dengan
menekankan pentingnya karakter dan moralitas individu
dalam menjalankan tindakan yang baik. Bisnis dapat
mengembangkan karakter dan moralitas karyawan,
melalui pelatihan dan pengalaman, sehingga mereka
dapat menjadi pribadi yang baik dan bertanggung jawab
dalam menjalankan tindakan bisnis.
Dalam praktik bisnis di negara kita , Teori Kebajikan dapat
diterapkan dengan menekankan pentingnya karakter dan
moralitas individu dalam menjalankan tindakan bisnis
yang baik dan bertanggung jawab. Dengan
mengembangkan karakter dan moralitas karyawan, bisnis
dapat menciptakan lingkungan kerja yang sehat dan
produktif, serta memberi kontribusi positif bagi
warga dan lingkungan sekitar.
LINGKUNGAN, BUDAYA
ORGANISASI DAN CORPORATE
SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR)
Lingkungan merupakan suatu kegiatan yang tidak
dipisahkan dari kelangsungan hidup manusia. Hal ini
sebab seseorang hidup, maka akan tercipta suatu
lingkungan yang berbeda dan sebaliknya. Akhir-akhir ini,
sering kali ditemukan suatu pengrusakan lingkungan
oleh manusia, dengan alasan pemanfaatan untuk
menghasilkan materi yang lebih, secara tidak langsung
tindakan ini, akan mengakibatkan terkikisnya lingkungan
dan mengancam pada kelangsungan hidup manusia
(Supratini, 2002).
Keteledoran manusia dalam mendirikan bangunan untuk
industri, tanpa memperhatikan dampak dari usaha atau
industri yang akan berlangsung di bangunan ini ,
juga akan merusak lingkungan fisik dan biologis secara
perlahan dan tidak langsung. Oleh sebab itu, perlu
dilakukan suatu usaha untuk melestarikan kualitas
lingkungan yang dapat dilakukan dengan berbagai cara,
sejak mulai penyusunan rencana pembangunan daerah
sampai sesudah proyek-proyek pembangunan dijalankan,
misalnya penyusunan rencana pemakaian tata ruang,
rencana pembangunan ekonomi suatu daerah, penetapan
proyek-proyek yang akan dibangun, sampai pada waktu
proyek-proyek telah berjalan.
Dengan adanya perencanaan hal-hal yang mungkin bisa
mengantisipasi timbulnya dampak buruk pada
lingkungan sekitar, maka kerusakan lingkungan akan
dapat dikurangi atau bahkan dicegah sama sekali. Dari
alasan inilah, maka perlu dibuat sebuah rencana
pengelolaan lingkungan demi terciptanya keseimbangan
antara kepentingan manusia dan kelestarian lingkungan
di sekitarnya.
Salah satu upaya untuk pengelolaan lingkungan hidup,
yaitu melalui sentuhan teknologi yang mampu mengontrol
kelestarian lingkungan secara langsung. Pembangunan
yang tidak mengorbankan lingkungan dan/atau merusak
lingkungan hidup yaitu pembangunan yang
memperhatikan dampak yang dapat diakibatkan oleh
beroperasinya pembangunan ini . Untuk menjamin
bahwa suatu pembangunan dapat beroperasi atau layak
dari segi lingkungan, perlu dilakukan analisis atau studi
kelayakan pembangunan tentang dampak dan akibat
yang akan muncul bila suatu rencana kegiatan/usaha
akan dilakukan.
Pendapat Nur Cahyonowati (2003), pada saat perusahaan
mulai berinteraksi dan dekat dengan lingkungan luarnya
(warga ), maka berkembang hubungan saling
ketergantungan dan kesamaan minat serta tujuan antara
perusahaan dengan lembaga sosial yang ada. Interaksi ini,
memicu perusahaan tidak bisa lagi membuat
keputusan atau kebijakan yang hanya menguntungkan
pihaknya saja. Akan namun , perusahaan juga harus
memikirkan kebutuhan pihak-pihak yang berkepentingan
terhadap perusahaan (stakeholder needs).
Jika tekanan dari stakeholder berpengaruh kuat terhadap
kontinuitas dan kinerja perusahaan, perusahaan harus
bisa menyusun kebijakan sosial dan lingkungan yang
terarah dan terlegitimasi. Pendapat Saputra (Syailendra
Eka Saputra, 2016) menyatakan bahwa permasalahan
lingkungan hidup dalam beberapa tahun terakhir selalu
menjadi perbincangan publik. Maraknya kasus kerugian
yang terjadi akibat pengelolaan yang tidak bertanggung
jawab, baik oleh perorangan maupun organisasi.
Dengan pengelolaan lingkungan yang tidak bertanggung
jawab, mengakibatkan sebuah malapetaka bagi
kehidupan manusia, seperti adanya penyebaran wabah
penyakit, erosi, hingga terjadinya perubahan iklim yang
dapat memicu kerugian panen. negara kita
merupakan salah satu negara yang disoroti terkait
masalah penanganan lingkungan hidup, dalam tempo tiga
tahun terakhir negara kita telah kehilangan 45% hutan
lindung akibat adanya pembukaan lahan untuk
kepentingan industri.
Akibat pembukaan lahan hutan lindung oleh sejumlah
oknum yang tidak bertanggung jawab, memicu
kebakaran hutan, menurut Ford Horison (Ford Horison,
2015). Akibat kejadian ini , mengakibatkan
munculnya masalah kabut asap dalam beberapa waktu
yang menciptakan kerugian materil maupun nonmaterial
pendapat Saputra (Syailendra Eka Saputra, 2016),
sedang menurut pendapat Otto Soemarwoto (2001)
bahwa manusia bersama hewan, tumbuhan dan jasad
renik menempati suatu ruang tertentu, kecuali makhluk
hidup, dalam ruang itu, terdapat juga benda tak hidup,
seperti misalnya udara yang terdiri atas bermacam gas,
air dalam bentuk uap, cair dan padat, tanah dan batu.
Ruang yang ditempati suatu makhluk hidup bersama
dengan benda tak hidup di dalamnya, disebut lingkungan
hidup makhluk hidup ini . Mulyanto (2007)
menyatakan bahwa lingkungan yaitu seluruh faktor luar
yang memengaruhi suatu organisme; faktor-faktor ini
dapat berupa organisme hidup (biotic factor) atau variabel-
variabel yang tidak hidup (abiotic factor). Dari hal inilah,
kemudian menurut Agoes Soegianto (2010), terdapat dua
komponen utama lingkungan, yaitu: a) biotik: makhluk
(organisme) hidup; dan b) abiotik: energi, bahan kimia,
dan lain-lain,
Pengertian Budaya Organisasi
Edison (2016) mengatakan bahwa “Budaya organisasi
merupakan hasil dari suatu proses mencairkan dan
meleburkan gaya budaya dan atau perilaku tiap individu
yang dibawa sebelumnya ke dalam sebuah norma-norma
dan filosofi yang baru, yang memiliki energi serta
kebanggaan kelompok dalam menghadapi sesuatu dan
tujuan tertentu.” Budaya organisasi merupakan
keyakinan, nilai-nilai, sikap maupun etika yang menjadi
pedoman, sehingga budaya organisasi dapat dijadikan
pengawas pegawai mulai dari cara bekerja sama maupun
dasar seluruh anggota organisasi untuk menjalankan
pekerjaannya.
Marliani Rosleny (2015) mendefnisikan budaya organisasi
suatu suatu persepsi bersama yang dianut oleh anggota-
anggota organisasi ini . Budaya organisasi dapat
dimanfaatkan sebagai rantai pengikat dalam proses
menyamakan persepsi karyawan terhadap suatu
permasalahan, sehingga akan menjadi suatu kekuatan
dalam pencapaian tujuan perusahaan. Selanjutnya,
Sagita (2018) mengungkapkan bahwa budaya organisasi
yang kuat akan memiliki pengaruh yang besar pada
perilaku anggota-anggotanya sebab tingginya tingkat
kebersamaan dan intensitas menciptakan suatu iklim
internal dari kendali perilaku yang tinggi.
Lebih lanjut, Robbins (2012) mengemukakan bahwa
budaya organisasi yaitu penyebaran pola nilai dan
keyakinan Bersama, yang memberi arti dan peraturan
perilaku bagi anggota organisasional. Norma



