Senin, 13 Oktober 2025

Kemiskinan 4


 


an kemiskinan menurut indikator MPI maka dia 

mendapatkan poin 1. Penilaian akan terus dilakukan pada setiap 

indikator. Setelah mendapatkan penilaian terhadap sepuluh indikator 

maka akan dihitung berdasar  rumus seperti berikut: 39 

Ci =w1l1 + w2l2 + …. + wdld 

Dimana : 

Ii =1 jika seseorang memenuhi indikator i dan Ii = 0 jika 

tidak memenuhi.  

Wi : bobot dari indikatori dengan ∑  =1  

Semua indikator dan dimensi dijumlahkan, lalu dicari rata-

rata nilainya. Seseorang dikatakan miskin saat   total rata-rata 

penilaian kecil dari 1/3 (0,333). MPI yaitu   perkalian antara 

multidimensional headcount ratio (H) dengan intensity of poverty 

(A). Sehingga MPI = H x A. 25 =  

Dimana: 39 

q : jumlah individu yang dikategorikan miskin secara 

 

membaca dan menulis anggota keluarga (usia 15-64 tahun). 

Memenuhi penilaian kemiskinan jika terdapat anggota 

keluarga usia 15-64 tahun yang tidak mampu membaca huruf 

Latin, Arab, atau lainnya. 

7. Akses pada Layanan Pendidkan Prasekolah (dimensi 

pendidikan): menilai akses terhadap layanan pendidikan 

prasekolah, seperti PAUD, pos setara PAUD lainnya, taman 

kanak-kanak (TK) atau setara, kelompok bermain, dan jenis 

pendidikan prasekolah lainnya untuk anggota keluarga 

berusia 3-6 tahun. Memenuhi penilaian kemiskinan jika 

terdapat anggota keluarga berusia 3-6 tahun yang tidak 

mendapatkan akses  layanan prasekolah seperti diatas. 

8. Sumber penerangan (dimensi standar hidup): Menilai sumber 

penerangan yang digunakan rumah tangga. Memenuhi 

penilaian kemiskinan jika rumah tangga yang memiliki 

sumber penerangan non-PLN seperti petromaks/ aladin, 

pelita/sentir/obor, lainnya dan tidak memiliki listrik PLN di 

atas 900 watt. 

9. Bahan bakar untuk memasak (dimensi standar hidup): 

Menilai sumber Bahan bakar untuk memasak yang 

digunakan rumah tangga. Memenuhi penilaian kemiskinan 

jika rumah tangga masih memakai   minyak tanah, arang, 

briket, kayu bakar, dan lainnya serta tidak memakai   

listrik dan gas sebagai bahan bakar/utama untuk memasak. 

10. Atap Lantai Dinding  (dimensi standar hidup): menilai bahan 

yang dipakai sebagai Atap Lantai Dinding rumah tangga. 

Memenuhi penilaian kemiskinan jika rumah tangga yang 

mengalami setidaknya dua dari tiga kondisi (atap, lantai, dan 

dinding) berikut a) atap terluas rumah selain dari beton, 

genteng, sirap, seng dan asbes; b) lantai terluas rumah selain 

dari marmer, keramik, granit, tegel, teraso, semen dan kayu; 

c) dinding terluas rumah selain dari tembok dan kayu. 

11. Rumah tinggal (dimensi standar hidup): menilai status 

tempat tinggal rumah tangga. Memenuhi penilaian 


 

 Index Kemiskinan Multidimensi merupakan 

kombinasi angka dan derajat keparahan kemiskinan 

dalam berbagai dimensi yang memengaruhi 

kapabilitas manusia. Index ini menunjukkan tipologi 

kemiskinan dari sisi banyaknya orang miskin dan 

keparahan kemiskinan yang dialami.  

 Karakteristik kemiskinan multidimensi yang 

merupakan gambaran kemiskinan yang lebih spesifik 

yang menyangkut 11 indikator diatas. 

Tabel. 4.5. Contoh perhitungan MPI negara kita   dengan 11 Indikator 38 

Dimensi dan indikator Individu dalam rumah tangga 

sampel 

Bobot 

1 2 3 4  

Ukuran dalam rumah 

tangga sampel  

4 7 5 4  

Dimensi Kesehatan : 

Sanitasi 0 1 0 1 1/12 = 

0,083 

Air bersih 0 1 0 0 1/12 = 

0,083 

Akses pada layanan 

kesehatan maternal 

(persalinan)  

1 1 0 0 1/12 = 

0,083 

Asupan gizi seimbang 

pada anak balita  

1 1 1 1 1/12 = 

0,083 

Dimensi Pendidikan: 

Akses kepada layanan 

pendidikan dasar dan 

menengah  

0 0 1 1 1/9 = 

0,111 

Melek huruf 0 1 1 1 1/9 = 

0,111 

Akses kepada layanan 

pendidikan prasekolah  

0 1 0 1 1/9 = 

0,111 

Dimensi Standar Kualitas Hidup : 

Sumber penerangan 0 0 0 0 1/12 = 

0,083 

 

multidimensional  

n  : total populasi.  =  ∑  ( ) 

Dimana: 39 

ci(k) :skor dari individu i   

q    :jumlah individu yang mengalami kemiskinan 

multidimensional.  

Dengan pendekatan multidimensi dapat pula diukur: 38 

 warga   miskin multidimensi di negara kita   yaitu   

jumlah warga   yang berada dibawah standar 

kemiskinan yang telah ditetapkan melalui pendekatan 

multi dimensi sesuai kriteria diatas. 

 Angka kemiskinan multidimensi menunjukkan 

persentase rumah tangga yang mengalami 

kemiskinan multidimensi dibandingkan dengan 

jumlah populasi daerah bersangkutan. Misalnya, 

jika  ada 300 rumah tangga yang mengalami 

kemiskinan multidimensi di daerah dengan populasi 

1.000 rumah tangga, maka angka kemiskinan 

multidimensi di daerah ini   yaitu   30 persen.  

 Keparahan kemiskinan multidimensi menunjukkan 

seberapa banyak persentase indikator seseorang 

mengalami deprivasi dari indikator kemiskinan yang 

terpilih. Misalnya, seseorang miskin di tujuh dari 

sebelas indikator, maka nilai persentase keparahan 

kemiskinan orang ini   yaitu   63,6 persen.  


 

1. Headcount Index (HCI-P0) 

Pengertian dari head count index yaitu   menghitung 

persentase orang yang berada di bawah garis kemiskinan.  =  

Keterangan:  

P0 : Headcount Index 

Np : Jumlah warga   miskin 

N : Total populasi atau sampel 

Penghitungan akan memperlihatkan jumlah 

warga   yang mengalami kemiskinan, yaitu warga   yang 

berada di bawah batas pengeluaran tertentu, dan bisa ditulis 

pula sebagai berikut ini. 

= 1 ( < ) 

Keterangan:  

P0 : Headcount Index 

yi : Pengeluaran 

z : Garis kemiskinan 

N : Total populasi atau sampel 

Jika pengeluaran berada di bawah garis kemiskinan, 

maka I akan sama dengan 1 dan rumah tangga ini   akan 

dianggap miskin.  

2. Index Kedalaman Kemiskinan (Poverty Gap Index-P1) 

Merupakan besaran distribusi pendapatan orang 

miskin terhadap garis kemiskinan. P1 merupakan ukuran 

rata-rata kesenjangan pengeluaran masing-masing warga   

miskin terhadap garis kemiskinan. Semakin tinggi nilai 

index, semakin jauh rata-rata pengeluaran warga   dari 

garis kemiskinan. 

Metode pengukuran ini cukup populer digunakan 

dalam menghitung individu mana yang jatuh dalam 

 

Bahan bakar/energi 

untuk memasak  

0 1 0 1 1/12 = 

0,083 

Kondisi atap, lantai, 

dan dinding rumah  

0 1 0 1 1/12 = 

0,083 

Kepemilikan aset 0 1 0 1 1/12 = 

0,083 

Skor 0,166 0,803 0,305 0,748  

Apakah masuk kategori 

miskin MPI 

(c1=1/3=0,333)  

No Ya No Ya  

Sensor skor (c1) 0 0,803 0 0,748  

 

Pada Tabel 4.5 terlihat bahwa individu 2 dan 4 terkena 

kemiskinan multidimensi, sementara individu 1 dan 4 tidak terkena 

kemiskinan multidimensi. Hal ini ditunjukkan dengan nilai 

kemiskinan multidimensi. 38 

 Skor setiap orang dalam rumah tangga, contoh Rumah 

Tangga 1 yaitu  : (2 x 0.083) = 0.166  

 Angka kemiskinan multidimensi (H) = (7+4) : (4+7+5+4) = 

0.550  

 Intensitas kemiskinan multidimensi (A) = (0 x 4) + (0.803 x 

7) + (0 x 5) + (0.748 x 4) : (7+4) = 0.783  

 MPI = H x A = 0.550 x 0.783 = 0.4037  

Metodologi MPI juga dapat dimodifikasi untuk 

menghasilkan ukuran kemiskinan multidimensi nasional yang 

merefleksikan kebudayaan, ekonomi, iklim, dan faktor lokal lainnya. 

MPI internasional dirancang sebagai alat analisis untuk 

membandingkan kemiskinan akut antar negara.35  

 

Rumus Perhitungan Tingkat kemiskinan.25,38 

Terdapat beberapa rumus yang digunakan baik secara 

internasional dan nasional untuk menghitung tingkat kemiskinan 

dengan berbagai tujuan, diantaranya. Rumus-rumus ini   antara 

lain : 


kemiskinan dari orang termiskin melalui parameter a. Index 

ini cukup baik sebab  dapat mengukur kedalaman 

kemiskinan dan keparahan kemiskinan seperti halnya dua 

rumus diatas, persamaannya dapat dilihat dalam rumus 

berikut.  = ( ); = 1 ; 0 

Keterangan:  

Pa : Index kemiskinan menurut FGT dan a 

yaitu   derajat kemiskinan yang bersifat 

arbitrer  

Jika  a=1 (Index kedalaman kemiskinan),  

         a=2 (Index keparahan kemiskinan) 

gi : Kedalaman kemiskinan rumah tangga ke-i 

z : Garis kemiskinan 

q : jumlah warga   miskin 

n : Total populasi atau sampel 

 

5. Index Kemiskinan Sen (Sen Poverty Index)  

Penghitungan Sen Poverty Index dilakukan dengan 

memasukkan faktor koefisien gini dan rasio H. Ukuran ini 

dikemukakan oleh Sen pada tahun 1976 untuk 

menggambarkan dalamnya kemiskinan dan distribusi 

pendapatan di antara warga   miskin. Sen Poverty Index 

dapat diukur melalui berikut ini.  = (1 (1 )  

Keterangan:  

PS : Sen Poverty Index
 

P0 : index individu
 

μP : rata-rata pendapatan (atau pengeluaran)
 

GP : koefisien gini dengan jangkauan 0 (equality 

 

kemiskinan rata-rata dalam garis kemiskinan, dan 

menunjukkan persentase garis kemiskinan.    = 1 ( ) 

Keterangan:  

H atau P1 : Index kedalaman kemiskinan 

yi  : Pengeluaran 

z  : Garis kemiskinan 

q  : jumlah warga   miskin 

 

3. Index Keparahan Kemiskinan (Poverty Severity Index / 

Squared Poverty Gap Index-P2) 

Merupakan besaran distribusi pendapatan orang 

miskin terhadap garis kemiskinan. P2 memberikan gambaran 

mengenai penyebaran pengeluaran diantara warga   

miskin. Semakin tinggi nilai index, semakin tinggi 

ketimpangan pengeluaran diantara warga   miskin 

Pengukuran kemiskinan ini dibangun untuk 

menghitung inequality antar orang miskin. Hal ini 

menunjukkan jumlah kesenjangan  kemiskinan yang telah di-

weighted.   = 1 ( )  

Keterangan:  

H atau P2 : Index keparahan kemiskinan 

yi  : Pengeluaran 

z  : Garis kemiskinan 

q  : jumlah warga   miskin 

 

4. Formula Foster-Greer-Thorbecke  

Pendekatan yang digagas oleh Foster, Greer, dan 

Thorbecke (1984) ini mencoba memasukkan unsur derajat 


 

7. Index Watts (The Watts Index) 

Pengukuran sensivitas kemiskinan ini dilakukan oleh 

Watts pada tahun 1986, dan memiliki   rumus sebagai 

berikut. = 1 [ln( ) ln( )] = 1 ln ( ) 

N yaitu   individu dalam populasi yang dibuat index 

secara inkremental berdasar  pendapatan, dan jumlahnya 

akan terlihat dari individu q, di mana pendapatan atau 

pengeluaran di bawah garis kemiskinan. 

Index Watts dihitung dengan membagi garis kemiskinan 

berdasar  pendapatan, dibuat dalam logaritma, dan 

menemukan rata-rata kemiskinan.  

Watts Poverty Index memiliki   profil yang cukup 

istimewa sebab  index ketimpangan dan memberikan 

akumulasi terjadinya kemiskinan.  

Asumsi distribusi yang dibawa oleh pendekatan ini 

memberikan seberapa besar ketimpangan yang terjadi pada 

orang miskin.  

 

Rumus Menghitung Distribusi dan Ketimpangan Pendapatan.25 

Distribusi pendapatan merupakan salah satu aspek 

kemiskinan yang perlu dilihat sebab  pada dasarnya merupakan 

ukuran kemiskinan relatif.  Oleh sebab  data pendapatan sulit 

diperoleh, pengukuran distribusi pendapatan selama ini didekati 

dengan memakai   data pengeluaran. Dalam hal ini analisis 

distribusi pendapatan dilakukan dengan memakai   data total 

pengeluaran rumah tangga sebagai proksi pendapatan yang 

bersumber dari Susenas. Dalam analisis ini akan digunakan empat 

ukuran untuk merefleksikan ketimpangan pendapatan yaitu 

koefisien Gini (Gini Ratio), Ukuran Bank Dunia, Index Theil dan 

Index-L yang dijelaskan sebagai berikut : 

 

sempurna) hingga 1 (inequality sempurna)
 

z : garis kemiskinan  

 

6. Index Sen-Shorrocks-Thon (Sen-Shorrocks-Thon Index) 

Index Sen telah dimodifikasi untuk membuat versi 

yang lebih baik dan dapat menangkap lebih banyak faktor 

kemiskinan. Index Sen-Shorrocks-Thon (SST) dapat 

didefinisikan sebagai berikut.  = (1 + ) 

Rumus ini merupakan komponen dari index 

headcount, index kesenjangan kemiskinan dan koefisien gini 

dan rasio gap kemiskinan.  

Kekuatan dari Index SST yaitu   dapat membantu 

melihat sumber perubahan kemiskinan sepanjang waktu 

sebab  index ini dapat didekomposisi menjadi berikut ini.  = + + ln (1 + ) 

Keterangan:  

% perubahan SST index = % perubahan index 

headcount + % perubahan. Index kedalaman 

kemiskinan (diantara warga   miskin) + % 

perubahan (1 + koefisien Gini dari kedalaman 

kemiskinan). 

Rumus ini dapat diinterpretasikan sebagai persentase 

perubahan dari index headcount ditambah persentase 

perubahan dalam index kedalaman kemiskinan (di antara 

orang miskin) ditambah persentase perubahan koefisien gini. 

Dalam deskripsi sederhana, hal ini dapat menunjukkan 

komposisi kemiskinan dalam tiga aspek, yaitu apakah ada 

orang miskin? apakah orang miskin menjadi lebih miskin? 

apakah ada ketimpangan yang lebih tinggi di antara orang 

miskin?  

 

Terdapat Beberapa kriteria bagi sebuah ukuran ketimpangan 

yang baik yaitu: 
 

 Tidak tergantung pada nilai rata-rata (mean 

independence). Ini berarti bahwa jika semua 

pendapatan bertambah dua kali lipat, ukuran 

ketimpangan tidak akan berubah. Koefisien Gini 

memenuhi syarat ini.  

 Tidak tergantung pada jumlah warga   (population 

size independence). Jika warga   berubah, ukuran 

ketimpangan seharusnya tidak berubah, jika kondisi 

lain tetap (ceteris paribus). Koefisien Gini juga 

memenuhi syarat ini.  

 Simetris. Jika antar warga   bertukar tempat tingkat 

 

1) Rasio Gini (Gini ratio) 

Koefisien Gini (Gini Ratio) yaitu   salah satu ukuran 

yang paling sering digunakan untuk mengukur tingkat 

ketimpangan pendapatan secara menyeluruh. Rumus 

Koefisien Gini yaitu   sebagai berikut:  

= 1  ( + ) 

Keterangan:  

GR : Koefisien Gini (Gini ratio)
 

Fpi : frekuensi warga   dalam kelas 

pengeluaran  ke-i
 

Fci : frekuensi kumulatif dari total pengeluaran 

dalam  kelas pengeluaran ke-i
 

Fci-1 : frekuensi kumulatif dari total pengeluaran 

dalam  kelas pengeluaran ke (i-1)
 

Koefisien Gini didasarkan pada kurva Lorenz, yaitu 

sebuah kurva pengeluaran kumulatif yang membandingkan 

distribusi dari suatu variabel tertentu (misalnya pendapatan) 

dengan distribusi uniform (seragam) yang mewakili 

persentase kumulatif warga  . Untuk membentuk koefisien 

Gini, grafik persentase kumulatif warga   (dari termiskin 

hingga terkaya) digambar pada sumbu horizontal dan 

persentase kumulatif pengeluaran (pendapatan) digambar 

pada sumbu vertikal. Ini menghasilkan kurva Lorenz seperti 

yang ditunjukkan pada Gambar 4.3. Garis diagonal mewakili 

pemerataan sempurna. Koefisien Gini didefinisikan sebagai 

A/(A+B), dimana A dan B seperti yang ditunjukkan pada 

grafik. Jika A=0 koefisien Gini bernilai 0 yang berarti 

pemerataan sempurna, sedang   jika B=0 koefisien Gini 

akan bernilai 1 yang berarti ketimpangan sempurna.  


 

dalam kelompok ukuran GE mewakili penimbang yang 

diberikan pada jarak antara pendapatan pada bagian yang 

rendah, GE lebih sensitif terhadap perubahan pada ekor 

yang lebih tinggi GE lebih sensitif terhadap perubahan yang 

berakibat pada ekor atas dari distribusi (warga   kaya).  

Nilai a yang paling umum digunakan yaitu   0 dan 1. 

 GE (1) disebut index Theil, yang dapat ditulis 

sebagai : (1) = 1 ( )ln ( ) 

 GE (0) disebut index-L, disebut ukuran deviasi log 

rata-rata (mean log deviation) sebab  ukuran ini   

memberi standar deviasi dari log (y) yang dapat 

ditulis sebagai : (0) = 1 ln ( ) 

3) Bank Dunia. 

Bank Dunia mengelompokkan warga   ke dalam 

tiga kelompok sesuai dengan besarnya pendapatan: 40% 

warga   dengan pendapatan rendah, 40% warga   

dengan pendapatan menengah dan 20% warga   dengan 

pendapatan tinggi. Ketimpangan pendapatan diukur dengan 

menghitung persentase jumlah pendapatan warga   dari 

kelompok yang berpendapatan 40% terendah dibandingkan 

total pendapatan seluruh warga  .  

Kategori ketimpangan ditentukan dengan 

memakai   kriteria seperti berikut: 

 Jika proporsi jumlah pendapatan dari warga   yang 

masuk kategori 40 persen terendah terhadap total 

pendapatan seluruh warga   kurang dari 12 persen 

 

pendapatannya, seharusnya tidak akan ada perubahan 

dalam ukuran ketimpangan. Koefisien Gini juga 

memenuhi hal ini. 
 

 Sensitivitas Transfer Pigou-Dalton. Dalam kriteria 

ini, transfer pandapatan dari si kaya ke si miskin akan 

menurunkan ketimpangan. Koefisien Gini juga 

memenuhi kriteria ini.  

 Dapat didekomposisi. Hal ini berarti bahwa 

ketimpangan mungkin dapat didekomposisi (dipecah) 

menurut kelompok warga   atau sumber 

pendapatan atau dalam dimensi lain. Index Gini tidak 

dapat didekomposisi atau tidak bersifat aditif antar 

kelompok. Yakni nilai total koefisien Gini dari suatu 

warga   tidak sama dengan jumlah nilai index 

Gini dari sub-kelompok warga   (sub-group). 

 Dapat diuji secara statistik. Seseorang harus dapat 

menguji signifikansi perubahan index antar waktu. 

Hal ini sebelumnya menjadi masalah, namun  dengan 

teknik bootstrap interval (selang) kepercayaan 

umumnya dapat dibentuk. 

Index Theil dan Index-L (ukuran deviasi log rata-

rata) yaitu   salah satu pengukuran ketimpangan yang dapat 

memenuhi semua kriteria diatas. Kedua pengukuran ini   

masuk dalam famili ukuran ketimpangan “generalized 

enthropy”. Rumus “generalized enthropy” secara umum 

dapat ditulis sebagai berikut:  ( ) =  1 ( 1) [1 ( ) 1] 

Keterangan:  

y : rata-rata pendapatan  (pengeluaran) 


 

mewakili distribusi yang merata dan nilai yang lebih tinggi 


 

tidak berdaya. 4). Kemiskinan juga berarti menghabiskan sebagian 

besar penghasilannya untuk konsumsi pangan dalam kualitas dan 

kuantitas terbatas. 5). Tingginya rasio ketergantungan, sebab  

jumlah keluarga yang besar. 6). Adanya kemiskinan yang 

diwariskan secara terus menerus. 

Selanjutnya Supriatna (1997) mengemukakan lima 

karakteristik warga   miskin, antara lain: 1). Tidak memiliki faktor 

produksi sendiri.
2). Tidak memiliki   kemungkinan untuk 

memperoleh aset produksi dengan kekuatan sendiri.
3). Tingkat 

pendidikan pada umumnya rendah.
4). Banyak diantara mereka 

tidak memiliki   fasilitas 5). Banyak diantara mereka berusia relatif 

muda dan tidak memiliki   keterampilan atau pendidikan yang 

memadai. 

Sejalan dengan Supriatna (1997), Bagong (2015) 

menjabarkan  ciri kemiskinan sebagai berikut :

1. Mereka yang hidup dibawah garis kemiskinan umumnya  

tidak memiliki faktor produksi (tanah, modal atau 

keterampilan) sendiri atau memilikinya dalam jumlah 

yang sedikit, sehingga kemampuan untuk memperoleh 

pendapatan menjadi sangat terbatas. 

2. Tidak memiliki   kemungkinan untuk memperoleh aset 

produksi dengan kekuatan sendiri. Pendapatan yang 

mereka peroleh tidak cukup untuk memperoleh tanah 

garapan ataupun modal usaha. Sementara itu juga, 

mereka tidak memenuhi persyaratan untuk memperoleh 

kredit perbankan, sehingga untuk mendapatkan sejumlah 

dana, mereka berpaling ke lintah darat yang memiliki 

persyaratan pelunasan yang berat serta bunga yang 

tinggi. 

3. Tingkat pendidikan golongan miskin umumnya rendah, 

tidak sampai tamat Sekolah dasar. Waktu mereka 

umumnya habis tersita untuk mencari nafkah sehingga 

tidak ada waktu lagi untuk belajar. Demikian juga 

 

dikategorikan ketimpangan / ketidakmerataan 

pendapatan tinggi (Highly inequality); 

 Jika proporsi jumlah pendapatan warga   yang 

masuk kategori 40 persen terendah terhadap total 

pendapatan seluruh warga   antara 12-17 persen 

dikategorikan ketimpangan / ketidakmerataan 

pendapatan sedang/ menengah (Moderate inequality) 

 Jika proporsi jumlah pendapatan warga   yang 

masuk kategori 40 persen terendah terhadap total 

pendapatan seluruh warga   lebih dari 17 persen 

dikategorikan ketimpangan / ketidakmerataan 

pendapatan rendah (low inequality) 

 

Karakteristik Kemiskinan 

Untuk mengenali sesuatu hal dengan tepat, setiap manusia 

akan mencari tahu ciri atau karakteristiknya, baik orang, benda , 

penyakit, maupun masalah. Kemiskinan yang merupakan salah satu 

masalah kronis umat manusia juga perlu dikenali dengan seksama 

agar dapat di tanggulangi secara lebih tepat dan terpusat. Saat ini  

telah dikemukakan beberapa karakteristik atau ciri kemiskinan yang 

dilihat dari berbagai sudut pandang, dan dengan demikian masalah 

ini, dapat lebih dibedakan dengan masalah lainnya. 

Moeljarto (1995) mengemukakan tentang Poverty Profile 

sebagaimana berikut: Masalah kemiskinan bukan saja masalah 

Kesejahteraan (welfare) akan namun  mengandung enam buah alasan 

antara lain : 1). Masalah kemiskinan yaitu   masalah kerentanan, 2). 

Kemiskinan berarti tertutupnya akses kepada berbagai peluang kerja 

sebab  hubungan produksi dalam warga   tidak memberi peluang 

kepada mereka untuk berpartisipasi dalam proses produksi, 3). 

Masalah ketidakpercayaan, perasaan impotensi, emosional dan 

sosial dalam menghadapi elit desa dan para birokrat yang 

menentukan keputusan menyangkut dirinya tanpa memberi 

kesempatan untuk mengaktualisasikan diri, sehingga membuatnya 


 

4. Rendahnya kualitas sumberdaya manusia (buta huruf, 

rendahnya pendidikan dan keterampilan, sakit-sakitan) dan 

keterbatasan sumberdaya alam (tanah tidak subur, lokasi 

terpencil, ketiadaan infrastruktur jalan, listrik, air); 

5. Kerentanan terhadap goncangan yang bersifat individual 

(rendahnya pendapatan dan asset), maupun missal 

(rendahnya modal sosial, ketiadaan fasilitas umum); 

6. Ketiadaan akses terhadap lapangan kerja dan mata 

pencaharian yang memadai dan berkesinambungan; 

7. Ketiadaan akses terhadap kebutuhan hidup dasar lainnya 

(kesehatan, pendidikan, sanitasi air bersih dan transportasi); 

8. Ketiadaan jaminan masa depan (sebab  tiadanya investasi 

untuk pendidikan dan keluarga atau tidak adanya 

perlindungan sosial dari Negara dan warga  ); 

9. Ketidakterlibatan dalam kegiatan sosial warga  . 

SMERU Juga menemukan beberapa kriteria kemiskinan di 

negara kita  . Dengan memakai   "Kajian Kemiskinan 

Partisipatoris" (KKP), SMERU melakukan penelitian sejak 1999-

2003 pada  79 desa/kelurahan di 39 kabupaten/kota di 13 propinsi 

(tersebar di lima pulau/kawasan: Jawa, Nusa Tenggara, Sumatera, 

Sulawesi dan Kalimantan) dimana, 58 dari desa/kelurahan tergolong 

sebagai daerah perdesaan, sementara 21 desa/kelurahan yaitu   di 

daerah perkotaan. Penelitian ini mendapati bahwa karakteristik 

kemiskinan berdasar  pemicu  nya yang paling banyak 

dikemukakan yaitu   kurang modal, kurang pendidikan dan 

keterampilan, kurang kesempatan kerja, dan rendahnya pendapatan. 

sedang   persoalan yang paling banyak dikemukakan yaitu   

kurangnya sarana transportasi dan kondisi jalan yang buruk, serta 

biaya pendidikan yang tinggi. Melalui pengelompokan faktor 

pemicu   dan persoalan kemiskinan ke dalam enam kategori 

(ketidakberdayaan, keterisolasian, kemiskinan materi, kelemahan 

fisik, kerentanan dan sikap/perilaku) terlihat bahwa faktor 

ketidakberdayaan merupakan faktor yang paling menonjol. Analisis 

ini   juga menunjukkan perbedaan persepsi warga   miskin 

 

dengan anak-anak mereka, tidak dapat menyelesaikan 

sekolah oleh sebab  harus membantu orang tua mencari 

nafkah tambahan. 

4. Banyak diantara mereka yang tinggal di daerah pedesaan 

dan tidak memiliki tanah garapan atau kalaupun ada 

relatif kecil. Pada umumnya mereka menjadi buruh tani 

atau pekerja kasar di luar pertanian. namun  sebab  

pekerjaan di bidang pertanian berdasar  musiman, 

maka kesinambungan pekerjaan mereka menjadi kurang 

terjamin. Banyak diantar mereka kemudian menjadi 

pekerja bebas yang berusaha apa saja. Akibat berada 

didalam situasi penawaran tenaga kerja yang besar, 

tingkat upah menjadi rendah sehingga mereka selalu 

hidup terkurung dibawah garis kemiskinan. Di dorong 

oleh kesulitan hidup di desa, maka banyak diantara 

mereka mencoba berusaha di perkotaan (urbanisasi) 

untuk mengadu nasib. 

5. Banyak dari mereka yang hidup di kota masih berusia 

muda serta tidak memiliki keterampilan dan pendidikan 

yang memadai. Keadaan perkembangan industri dikota-

kota Negara berkembang tidak disertai dengan proses 

penyerapan tenaga kerja, sehingga warga   miskin 

yang berpindah dari desa ke kota dengan keterampilan 

dan pendidikan yang tidak memadai akan terdampar 

dalam kantong-kantong kemiskinan. 

berdasar  penelitian SMERU, Suharto (2006) 

menunjukkan Sembilan kriteria yang menandai kemiskinan : 

1. Ketidakmampuan memenuhi kebutuhan konsumsi dasar 

(pangan, sandang, papan; 

2. Ketidakmampuan untuk berusaha sebab  cacat fisik maupun 

mental; 

3. Ketidakmampuan dan ketidakberuntungan sosial (anak 

terlantar, wanita korban tindak kekerasan rumah tangga, 

janda miskin, kelompok marjinal dan terpencil); 


warga   sekitar hutan dan perkebunan. warga   nelayan lebih 

banyak mengemukakan faktor kurangnya modal, termasuk alat 

tangkap, dan warga   buruh dan sektor informal lebih banyak 

mengemukakan kurangnya lapangan kerja. Dari analisis jerat 

kemiskinan terlihat bahwa faktor ketidakberdayaan pada warga   

nelayan relatif paling besar. sedang   faktor keterkucilan pada 

warga   buruh dan sektor informal relatif rendah. 

Pengalaman kemiskinan yang diungkapkan responden 

berusia muda dan tua berbeda. Mengenai pemicu   kemiskinan, 

responden muda lebih banyak mengemukakan pemutusan hubungan 

kerja, rendahnya tingkat pendidikan, dan tingginya biaya hidup. 

sedang   responden tua lebih banyak mengemukakan kesulitan 

dalam mengelola usaha pertanian, tidak dimilikinya lahan, dan tidak 

adanya lapangan kerja. Di samping itu, dibandingkan kelompok tua, 

kelompok muda lebih banyak mengungkapkan persoalan kesehatan, 

keamanan, dan berbagai persoalan dalam bantuan pemerintah. 

Perempuan dan laki-laki juga berbeda dalam mengungkapkan 

pengalaman kemiskinannya masing-masing. Perempuan cenderung 

mengungkapkan kesulitan mengelola kehidupan sehari-hari, 

sedang   laki-laki lebih banyak mengungkapkan kesulitan mencari 

nafkah. Perbedaan ini tampaknya berkaitan dengan pola pembagian 

peran yang masih menempatkan perempuan sebagai pengelola 

rumah tangga sementara lakilaki sebagai pencari nafkah. Berbagai 

KKP mengungkapkan hanya ada sedikit perubahan peran laki-laki 

dan perempuan, baik dalam lingkup rumah tangga maupun dalam 

warga  . 

Karakteristik warga   miskin juga tampak di daerah 

mereka bermukim. Terdapat pemahaman umum yang menyatakan 

bahwa semakin jauh suatu daerah dengan pusat pertumbuhan akan 

semakin tinggi tingkat kemiskinannya. An-Naf (2011) 

mengidentifikasi 4 daerah yang menjadi kantong kemiskinan dua 

diantaranya berada di perkotaan sedang   dua lainnya berada 

diluar perkotaan. Daerah-daerah ini   yaitu   : 

 

terhadap pemicu   kemiskinan dan persoalan yang dihadapi. 

Analisis terhadap pemicu   kemiskinan memperlihatkan bahwa 

faktor kemiskinan materi cukup menonjol, sementara dari analisis 

persoalan yang dihadapi, terlihat bahwa faktor keterkucilan 

cenderung lebih menonjol. 

Ada beberapa perbedaan antara kemiskinan di perkotaan dan 

di perdesaan. Faktor ketidakberdayaan lebih besar di perkotaan, 

sementara keterkucilan dan kemiskinan materi lebih besar di 

perdesaan. Faktor ketidakberdayaan di perkotaan misalnya tingginya 

harga barang konsumsi dan pengangguran, sedang   faktor 

ketidakberdayaan di perdesaan yaitu   "takdir" yang mencerminkan 

ketidakberdayaan dalam memutus jerat kemiskinan yang sudah 

turun-temurun, kurangnya lapangan kerja di luar pertanian, 

rendahnya harga hasil produksi, tingginya biaya pendidikan, dan 

kurangnya bantuan pemerintah, khususnya penyuluhan.  

 


Ada pula variasi faktor pemicu   dan persoalan kemiskinan 

yang diungkapkan oleh warga   berdasar  lingkungan 

penghidupan yang berbeda. Faktor kepemilikan tanah dan kesulitan 

transportasi paling banyak dikemukakan oleh warga   petani 

sawah. sedang   faktor rendahnya harga hasil produksi relatif 

lebih banyak dikemukakan oleh warga   petani lahan kering dan 


 

perkotaan ini bisa di jumpai pekerja kasar (kuli), pedagang 

kaki lima (vendor), tukang becak, peminta-minta, dan lain 

sebagainya.  

Badan Pusat Statistik (BPS) juga melakukan sensus berkala 

yang berfokus dalam menilai karakteristik warga   miskin di 

negara kita  . Dalam sensus ini karakteristik kemiskinan dilihat dari 

segi sosial demografi, pendidikan dan ketenagakerjaan. BPS merilis 

data karakteristik sosial demografi rumah tangga miskin dan tidak 

miskin tahun 2010-2014 meliputi rata-rata jumlah anggota rumah 

tangga, persentase wanita sebagai kepala rumah tangga, rata-rata 

usia kepala rumah tangga dan tingkat pendidikan kepala rumah 

tangga (dilihat dari indikator rata- rata lamanya bersekolah) yang 

selanjutnya 

  

Pada tabel diatas terlihat adanya hubungan antara 

karakteristik sosial demografi dengan tingkat kemiskinan. Jumlah 

anggota keluarga miskin secara rata-rata lebih banyak (4,84) 

 

 Daerah Terpencil (Remote Area). Daerah yang jauh dari 

Titik Pertumbuhan yang hampir tidak/belum tersentuh oleh 

pembangunan. Sebab- sebab mengapa belum tersentuh oleh 

pembangunan bisa sebab  letak geografis yang menyulitkan, 

atau sebab  belum ditemui potensi ekonomi yang bisa 

dikembangkan sehingga kurang menarik bagi investasi. 

Contohnya yang akstrim misalnya Lembah Baliem di Irian 

Jaya atau Kepulauan Mentawai di Sumatera.  

 Daerah Pedesaan (Rural Area). Secara relatif daerah 

pedesaan lebih miskin dari daerah perkotaan. Lebih spesifik 

lagi, yang dimaksud dengan daerah perkotaan di sini yaitu   

daerah yang basis perekonomiannya dari Sektor Pertanian. 

Hampir pasti kemiskinan dapat dijumpai pada kalangan 

Petani Berlahan Sempit (Small Farmer), Pekerja Tani atau 

Petani Tak Berlahan (Landless Farmer), dan sejumlah 

Pedagang-pedagang Kecil di pedesaan. Dalam klasifikasi ini 

termasuk daerah pantai (coastal area) dengan Nelayan Kecil 

dan Pekerja Nelayan-nya.  

 Daerah Pinggiran Kota (Sub-urban Area). Daerah pinggiran 

kota memiliki   posisi yang unik. Biasanya basis 

perekonomiannya merupakan campuran antara pertanian 

berskala kecil, industri berskala kecil atau industri rumah 

tangga, perdagangan berskala kecil, pekerja atau buruh 

industri, serta mereka yang terproletarianisasi dan 

termarjinalisasi, . warga  nya dapat dikategorikan 

berpenghasilan menengah ke bawah yang rentan 

perekonomiannya dan potesial untuk menjadi miskin.  

 Daerah Kumuh Perkotaan (Urban Slum). Daerah kumuh 

perkotaan ini bahkan masih dijumpai pada kota-kota besar 

seperti Jakarta. Kerapkali tingkat kemiskinannya tidak kalah 

parah dibandingkan dengan daerah terpencil, daerah 

pedesaan, ataupun daerah pinggiran kota. Penghuni daerah 

kumuh perkotaan ini biasanya kaum migrant, mereka yang 

terproletarianisasi dan termarjinalisasi. Di daerah kumuh 

0

kepala rumah tangga yang belum kawin, dia harus mengurus rumah 

tangga dan bekerja untuk memenuhi kebutuhan secara bersamaan, 

sehingga masalah utama wanita kepala rumah tangga terutama 

orangtua tunggal wanita yaitu   tugas yang berlebihan.  

Pada Tabel 4.6 terlihat pula bahwa rata-rata persentasi 

Wanita sebagai kepala rumah tangga miskin (13,69) tidak berbeda 

jauh dengan rumah tangga tidak miskin (14,49), sehingga jika hal ini 

ditinjau dari prespektif gender maka dapat dikatakan bahwa tingkat 

kemiskinan tidak dapat lagi dihubungkan dengan gender, namun 

demikian Todaro dan Smith (2006) mencoba berkata kata  mengapa 

rumah tangga yang dikepalai oleh wanita lebih miskin dari pada 

rumah tangga yang dikepalai pria yaitu   sebab  potensi wanita 

dalam membuat pendapatan sendiri jauh lebih rendah dari yang 

dimiliki kaum pria, maka mereka dan keluarga yang diasuhnya 

merupakan anggota tetap kelompok warga   yang paling miskin. 

Disamping beban yang harus ditanggung wanita ini   sebab  

menjadi orang tua tunggal, ukuran keluarga yang semakin besar 

akan menyebabkan semakin rendahnya tingkat pembelanjaan 

pangan per kapita. 47 

Sebagian dari kesenjangan pendapatan antara keluarga yang 

dikepalai oleh pria dan wanita ini bersumber dari adanya perbedaan 

pendapatan yang sangat besar antara pria dan wanita. Selain dari 

upah buruh wanita biasanya lebih rendah (meskipun porsi atau 

beban kerjanya sama), mereka juga sulit untuk mendapatkan 

pekerjaan formal di perusahaan-perusahaan swasta maupun di 

lembaga-lembaga pemerintahan. Akibatnya, mereka terpaksa 

terkungkung dalam bidang-bidang kerja yang berpenghasilan atau 

berproduktivitas rendah, atau bahkan illegal. Artinya mereka 

terpaksa bekerja di sektor-sektor tertentu yang belum menerapkan 

regulasi dan ketentuan upah minimum atau berbagai peraturan 

perburuhan yang mengharuskan pihak majikan untuk menyediakan 

tunjangan sosial serta fasilitas kesehatan yang memadai. Di 

pedesaan situasi sama sekali tidak lebih baik, kaum wanita juga sulit 

mendapatkan pekerjaan yang akan memberikan sejumlah 

 

dibandingkan jumlah anggota keluarga tidak miskin (3,78) 

Rumah tangga miskin cenderung memiliki   jumlah 

anggota rumah tangga yang lebih banyak. sebab  rumah tangga 

miskin cenderung memiliki   tingkat kelahiran yang tinggi. Tingkat 

kematian anak pada rumah tangga miskin juga relatif tinggi akibat 

kurangnya pendapatan dan akses kesehatan serta pemenuhan gizi 

anak mereka. Jumlah anggota rumah tangga yang besar dapat 

menghambat peningkatan sumber daya manusia masa depan, yang 

dalam hal ini yaitu   anak-anak. 31 Jumlah anggota yang lebih 

banyak berhubungan pula dengan jumlah tanggungan yang 

meningkat dan dengan demikian semakin besarnya porsi 

penghasilan yang harus dikeluarkan untuk konsumsi pangan 

keluarga. Hal ini sesuai dengan ciri kemiskinan yang disampaikan 

Moeljarto (1995) diatas. 

Ada beberapa faktor demografis yang menyebabkan wanita 

menjadi orang tua tunggal sekaligus kepala rumah tangga. Pertama, 

sebab  ada wanita yang tidak pernah menikah dan mendirikan 

rumah tangganya sendiri, atau mengambil alih tanggung jawab 

kepala rumah tangga dimana ia menjadi anggota. Kedua, sebab  

perceraian, baik cerai hidup maupun cerai mati, wanita ini   

tidak meleburkan dirinya kembali menjadi anggota rumah tangga 

dimana ia dilahirkan atau rumah tangga bekas suaminya dan ia juga 

belum menikah lagi. Wanita berstatus cerai mati atau cerai hidup 

yang menjadi kepala rumah tangga harus menjalankan semua tugas 

yang dulu ia lakukan bersama suaminya, seperti mengurus rumah 

dan memenuhi seluruh kebutuhan rumah tangga. Keadaan seperti ini 

menyebabkan perubahan peran wanita dalam rumahtangga.  Ketiga, 

sebab  perantauan, baik oleh suami maupun oleh wanita itu sendiri 

sehingga wanita ini   secara de facto yaitu   kepala rumah 

tangga. Keempat, sebab  satu dan lain hal suami tidak dapat mencari 

nafkah lagi sehingga wanita secara de facto menjadi pencari nafkah 

utama. Wanita yang memiliki status kawin namun sebab  suaminya 

tidak dapat bekerja (sakit) kemudian dia menjadi kepala rumah 

tangga memiliki tugas yang berlebihan. Begitu juga dengan wanita 


 

Tabel diatas memperlihatkan bahwa tingkat pendidikan 

kepala rumah tangga miskin jauh lebih rendah dibandingkan dengan 

tingkat pendidikan rumah tangga tidak miskin. Seiring dengan 

makin tingginya tingkat pendidikan, kesenjangan jumlah 

(persentasi) antara kepala rumah tangga miskin dan tidak miskin 

menjadi semakin besar. Ada banyak penelitian yang menemukan 

bahwa memang pendidikan berpengaruh terhadap kemiskinan, 

dengan hubungan (korelasi) yang bersifat negative atau dengan kata 

lain makin tinggi pendidikan maka kemiskinan akan semakin 

berkurang, seperti yang ditemukan oleh Nurdyana dkk (2012) di 

provinsi Maluku utara, bahwa setiap peningkatan satu tahun 

pendidikan dapat menurunkan angka kemiskinan sebesar 0,9 %.37 

Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, maka 

pengetahuan dan keahlian serta kreatifitas juga akan meningkat dan 

mendorong peningkatan produktivitas kerjanya. Di sektor informal 

seperti pertanian, peningkatan keterampilan dan keahlian tenaga 

kerja akan mampu meningkatkan hasil pertanian, sebab  tenaga 

kerja yang terampil mampu bekerja lebih efisien. Pada akhirnya 

seseorang yang memiliki produktivitas yang tinggi akan 

memperoleh kesejahteraan yang lebih baik, yang diperlihatkan 

melalui peningkatan pendapatan maupun konsumsinya. Menurut  

Rasidin K dan Bonar M (2004), Rendahnya produktivitas kaum 

miskin dapat disebabkan oleh rendahnya akses mereka untuk 

memperoleh pendidikan. Pada konteks taraf pendidikan kepala 

 

penghasilan secara tetap. Peraturan pemerintahan acap kali justru 

menghalangi kaum wanita untuk memiliki faktor produksi atau 

terlibat dalam suatu kontrak finansial bila tidak disertai tanda tangan 

suami. 

Umur kepala rumah tangga juga diyakini berhubungkan 

dengan kemikinan, mengingat usia produktif mempengaruhi cara 

berpikir dan keadaan fisik dalam bekerja yang pada akhirnya 

bermuara pada tingkat pendapatan yang diperoleh. Pada tabel 4.6 

terlihat bahwa rata-rata umur kepala rumah tangga miskin (48.12) 

lebih tua dibandingkan dengan umur rata-rata kepala rumah tangga 

tidak miskin (46.61). Hal ini menunjukkan bahwa umur juga 

berpengaruh sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi 

kemiskinan. 

Tabel 4.6  juga menunjukkan bahwa pendidikan kepala 

rumah tangga berhubungan dengan tingkat kemiskinan. Dengan 

pendidikan yang baik diharapkan pengetahuan dan keterampilan 

akan bertambah sehingga memiliki   pilihan untuk mendapatkan 

pekerjaan dan menjadi lebih produktif, yang berimplikasi pada 

peningkatan pendapatan, dan pada akhirnya dapat memutuskan 

rantai kemiskinan, meningkatkan kualitas hidup, serta mewujudkan 

kesejahteraan warga  . Dari Tabel 4.6  terlihat lama sekolah 

kepala rumah tangga miskin secara rata-rata yaitu   4,83 tahun, jauh 

lebih pendek dibandingkan dengan rata-rata lama sekolah kepala 

rumah tangga tidak miskin yaitu 7,61 , Hal ini sejalan dengan data 

yang dirilis BPS tahun 2010-2014 mengenai tingkat pendidikan 

kepala rumah tangga miskin dan tidak miskin yang dapat dilihat 


 

 Pada tabel diatas, terlihat bahwa rumah tangga miskin pada 

umumnya berada pada sektor pertanian yang secara rata-rata 

mencapai 55,2% dan sisanya yaitu   mereka yang bekerja disektor 

industri sebesar 7,1%, sektor lainnya sebesar 28,2% serta mereka 

yang memang tidak memiliki pekerjaan sebesar 9,53%. Hal ini 

sesuai dengan temuan bank dunia dalam bukunya yang berjudul Era 

baru dalam pengentasan kemiskinan di negara kita   (2007) bahwa 

bekerja di sektor pertanian memiliki korelasi yang kuat dengan 

kemiskinan. Kepala rumah tangga yang bekerja di sektor pertanian 

memiliki tingkat konsumsi yang jauh lebih rendah (dan sebab  itu 

memiliki kemungkinan lebih besar untuk menjadi miskin) 

dibandingkan mereka yang bekerja di sektor lain. Dengan 

memakai   kepala rumah tangga yang bekerja di sektor pertanian 

informal sebagai dasar (base), faktor-faktor yang berkorelasi dengan 

kemiskinan menunjukkan bahwa kepala rumah tangga di daerah 

pedesaan yang bekerja di sektor pertanian formal memiliki korelasi 

dengan kenaikan tingkat konsumsi dengan nilai koefisien korelasi 

sebesar 3,1 persen, sedang   mereka yang bekerja di sektor 

industri informal dengan nilai koefisien sebesar 5,4 persen. 

Koefisien korelasi yang lebih tinggi terdapat pada kepala rumah 

tangga yang bekerja di sektor industri formal (11,7 persen). 

Koefisien korelasi yang tertinggi terdapat di sektor jasa: sektor jasa 

informal sebesar 14 persen, sedang   sektor jasa formal sebesar 22 

persen, yang berlaku untuk daerah perkotaan maupun daerah 

 

rumah tangga, rendahnya tingkat pendidikan akab berhubungan 

dengan rendahnya produktivitas akan menyebabkan rendahnya 

penghasilan yang dapat digunakan untuk pemenuhan kebutuhan 

dasar anggota keluarganya. 

Bank Dunia dalam bukunya yang berjudul Era baru dalam 

pengentasan kemiskinan di negara kita   (2007) mengemukakan bahwa 

kemiskinan memiliki kaitan yang sangat erat dengan pendidikan 

yang tidak memadai. Sama halnya dengan temuan di negara-negara 

lain, capaian jenjang pendidikan yang lebih tinggi berkaitan dengan 

konsumsi rumah tangga yang lebih tinggi pula. Selain itu, koefisien 

korelasi parsial pada umumnya lebih tinggi di daerah perkotaan 

dibandingkan dengan di daerah pedesaan, baik bagi kepala rumah 

tangga maupun anggota keluarga lainnya. Hal ini menunjukkan 

bahwa rumah tangga di daerah perkotaan memperoleh manfaat yang 

jauh lebih besar dibandingkan dengan rumah tangga di daerah 

pedesaan untuk setiap tambahan tahun pendidikan, lebih lanjut 

dikatakan pula bahwa melampaui jenjang pendidikan sekolah dasar 

meningkatkan kesejahteraan secara berarti. Faktor-faktor yang 

berkorelasi dengan kemiskinan memperlihatkan hubungan 

berbentuk kurva cembung (convex relationship) dengan jenjang 

pendidikan, yakni koefisien korelasinya lebih tinggi dengan semakin 

tingginya tingkat pendidikan. Di daerah perkotaan, kepala rumah 

tangga dengan tingkat pendidikan sekolah menengah atas (SMA) 

memiliki korelasi dengan tingkat konsumsi yang 33 persen lebih 

tinggi dibandingkan dengan kepala rumah tangga yang tidak 

berpendidikan. Peningkatan konsumsi yang berkorelasi dengan 

pendidikan khususnya terlihat mencolok pada lulusan universitas, 

baik di daerah perkotaan maupun daerah pedesaan (masing-masing 

72 persen dan 45 persen). Hasil yang sama pun berlaku bagi anggota 

rumah tangga yang lain, meskipun pada tingkat yang lebih rendah, 

khususnya rumah tangga di daerah perkotaan.8 

berdasar  sumber penghasilan utama kepala rumah 

tangga, BPS tahun 2010-2014 seperti yang tersaji pada tabel 4.8. 


 

dilihat dari tempat tinggal / perumahannya, dengan indikatornya 

yaitu   luas serta jenis lantai rumah, jenis atap dan dinding, jenis 

penerangan, sumber air , jenis jamban serta kepemilikan rumah 

tempat tinggal ini  . 

Salah satu indikator pada karateristik tempat tinggal yaitu    

luas dan jenis lantai rumah. Indikator ini dipilih sebab  dapat 

menunjukkan tingkat kesejahteraan penghuni rumah dalam bentuk 

keleluasaan pribadi (privacy) tempat tinggalnya. keleluasaan 

pribadiini tercermin dari luas lantai rumah perkapita (m2). 

Pada tabel diatas, terlihat  secara rata-rata (2011-2013)  

rumah tangga miskin pada umumnya memiliki luas lantai rumah 

perkapita 8-15 m2  sebanyak 37,14%, dan hanya sedikit yang 

memiliki luas lantai 15m (25,85 %). Keadaan ini berbanding 

terbalik dengan mereka yang tidak miskin dimana, umumnya rata-

rata luas lantai rumah perkapita yang dimiliki yaitu   15m (53,46 

%). berdasar  jenis lantainya (tabel 4.11), Rata-rata warga   

miskin memiliki lantai rumah bukan tanah sebesar 79,62%, 

walaupun persentasi ini cukup tinggi namun persentasi rata-rata 

jenis lantai bukan tanah pada rumah tangga tidak miskin lebih tinggi 

lagi yaitu  92,21%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa 

seiring dengan meningkatnya kesejahteraan, anggota rumah tangga 

juga akan lebih memikirkan keleluasaan pribadinya. 

 

 

pedesaan. Mengingat sedikitnya porsi warga   miskin yang 

bekerja di sektor formal dan sektor nonpertanian, di samping 

kenyataan bahwa bekerja di sektor-sektor yang lebih 

menguntungkan ini   memiliki korelasi dengan pengurangan 

kemiskinan, maka perpindahan tenaga kerja ke sektor pertanian 

formal, atau ke sektor nonpertanian formal maupun informal, akan 

membuka jalan keluar dari kemiskinan. 8 

Distribusi rumahtangga miskin menurut status pekerjaan 

utama kepala rumah tangganya  sejak tahun 2011 hingga 2013 

disajikan pada 

 

Status pekerjaan juga dapat menjadi salah satu indikator 

yang kuat dalam mencerminkan tingkat kesejahteraan suatu rumah 

tangga. Ada indikasi kuat bahwa mereka yang berstatus pengusaha 

akan memiliki tingkat kesejahteraan yang lebih tinggi dibandingkan 

mereka yang berstatus sebagai buruh/kariawan/pegawai.48 Seperti 

yang terlihat pada tabel ini   diatas 

Selain tiga karakteristik ini   diatas yaitu demografi 

sosial, pendidikan dan ketenagakerjaan, BPS juga melakukan 

pendataan karakteristik rumah tangga miskin dan tidak miskin 


 


 

Ketersediaan fasilitas air bersih sebagai sumber air minum 

untuk kebutuhan sehari-hari merupakan indikator berikutnya. 

Indikator ini dapat mencirikan sehat tidaknya suatu rumah tangga. 

Air bersih dalam urutan berikut didefinisikan sebagai air bersih yang 

bersumber dari air kemasan,/ ledeng/PAM/sumur terlindungi/ mata 

 


Tanah Miskin 21,27 20,70 19,17 Tidak Miskin 8,05 8,27 7,04 

Bukan Tanah Miskin 78,73 79,30 80,83 Tidak Miskin 91,95 91,73 92,96 

Pada tabel 4.12, disajikan karakteristik rumah tangga 

berdasar  jenis atap rumah terluas. Tampak bahwa rumah tangga 

miskin rata-rata (2011-2013) memiliki jenis atap rumah terluas 

berupa beton/genteng/sirap (63,4 %) yang hampir sebanding dengan 

rumah tangga tidak miskin (63,8 %). Hanya 28,3 % dari rumah 

tangga miskin ini   yang rumahnya beratapkan seng/asbes, 

sedang   yang terbuat dari ijuk/rumbia sebesar 5,2% dan jenis 

lainnya sebesar 3,1 %. 

 

bahwa secara rata-rata (2011-2013) umumnya rumah tangga miskin 

memiliki jenis dinding berupa tembok (46,6%) yang tampaknya 

lebih kecil dibandingkan persentase rumah tangga tidak miskin (70,2 

%).  Selain dinding tembok, rumah tangga miskin juga 

memakai    kayu  (31,96%) Bambu (18,7%) dan jenis lainnya 

(2,78 %) sebagai dinding rumah. 

 


Indikator terakhir pada karateristik tempat tinggal yaitu   

status kepemilikan rumah tempat tinggal. Indikator ini dibedakan 

atas tiga kelompok seperti yang tampak 

 


 

Rumah tangga miskin rata-rata (2011-2013) memiliki rumah 

tempat tinggal sendiri sebesar 86,1%, sedang   yang berstatus 

kontrak sebesar 2,9% dan yang tinggal dirumah lainnya sebsesar 

10,8%. 

 

 

air terlindungi, serta air dari sumber lainnya yaitu sumur / mata air 

tidak terlindungi, air sungai, air hujan dan lain-lain. 

Ketidaktersediaan air bersih yaitu   salah satu indikasi kemiskinan. 

Persentase rumah tangga menurut sumber air minumnya 

Secara rata-rata (2011-2013) sumber air minum utama rumah 

tangga miskin yaitu   air bersih (50,8 %) dan  ainnya (50,0%) 

sedang   rumah tangga tidak miskin yaitu   air bersih (70,1 %) dan  

lainnya (29,9%) 

 

Selain sumber air minum, fasilitas rumah sehat lainnya yang 

mendukung pola hidup sehat yaitu   ketersediaan jamban. Pada 

indikator ini, selain ada tidaknya jamban, penggunaan fasilitas 

jamban ini   juga dibedakan menjadi jamban sendiri, jamban 

bersama dan jamban umum (tabel 4,16). 48 

Dari indikator jenis jamban, rata-rata (2011-2013) rumah 

tangga miskin  memiliki jamban sendiri sebesar 45,7% yang sedikit 

lebih tinggi dibandingkan dengan tidak memiliki jamban atau 

memakai   jamban umum (40,0%). sedang   rata-rata 

penggunaan jamban bersama oleh rumah tangga miskin yaitu   

14,2%. 

 

 

 

 

Pada awal kebudayaan umat manusia, kemiskinan 

diidentikkan dengan ketidakmampuan mendapatkan makanan yang 

menyebabkan kelaparan dan berujung pada kematian. Perhitungan 

angka kemiskinan pada waktu itu belum tersedia maka salah satu 

refleksi kemiskinan dapat dilihat dari angka kelaparan dan kematian. 

Berikut akan di sajikan beberapa kejadian bencana kelaparan di 

dunia yang dapat memberikan gambaran kondisi kemiskinan 

warga   dunia beberapa abad yang lalu. 

Catatan pertama mengenai bencana kelaparan berasal dari 

romawi kuno pada tahun 441 sebelum masehi namun jumlah korban 

jiwa pada saat itu tidak diketahui. Tahun 800-1000 masehi  lebih 

dari 1 juta warga   suku Maya  terbunuh akibat kelaparan dan 

kekeringan. Kondisi ini menyebabkan dimulainnya keruntuhan 

pemerintahan Maya. Tahun 1064 bencana di Mesir membunuh 

40.000 jiwa. Tahun 1235 Bencana kelaparan di Inggris  menelan 

korban jiwa sebanyak 20.000 (jumlah hanya dihitung dari korban di 

kota London). Bencana kelaparan di Rusia yang terjadi selama 2 

tahun (1601-1603) membunuh dua juta orang dan di anggap sebagai 

salah satu bencana paling buruk dalam sejarah rusia. Kelaparan di 

Sardinia (Itali saat ini) tahun 1680 membunuh 80.000. Bencana 

besar kelaparan  di Estonia dan livionia (wilayah kerajaan Swedia) 

tahun 1695-1697 menewaskan 150.000-175.000. Tahun 1769-1770 

Bencana kelaparan di Begal (saat ini dikenal dengan Banglades) 

membunuh sepuluh juta jiwa. Satu dekade kemudian tepatnya tahun 

1789-1792 kembali terjadi bencana kelaparan di India yang 

membunuh 11 juta orang dan dikenal dengan bencana Doji bara. 

Empat bencana kelaparan yang terjadi di Cina yaitu pada tahun 


1810, 1811, 1846, dan 1849, membunuh 45 juta jiwa. Kegagalan 

panen kentang di Irlandia membunuh 1,5 juta jiwa pada tahun 1846-

1847.15,49 

Kelaparan bukan satu-satunya cerminan kemiskinan pada 

masa yang lampau. Kondisi kemiskinan yang lebih kompleks dapat 

dilihat dari bidang kesehatan. Memang selain belum majunya ilmu 

kedokteran dan teknologi pada masa ini  , sistem sanitasi 

menjadi masalah kemiskinan yang patut di perhitungkan. 

Kematian yang bersumber dari buruknya sistem sanitasi dan 

belum majunya ilmu kedokteran tercermin pada bencana wabah pes 

yang dikenal dengan nama "Black Death" tahun 1346–1350. Wabah 

ini diketahui membunuh 30% - 70%  populasi Eropa, atau sekitar 

75-200 juta jiwa. 50 

Selanjutnya, Informasi mengenai jumlah kemiskinan di 

dunia yang paling banyak menjadi rujukan yaitu   berasal dari 

Bourguignon dan Morrison (2002). Para peneliti ini merekonstruksi 

data kemiskinan sejak tahun 1820-1992.40 Dasar analisis 

rekonstruksi ini   memakai   definisi kemiskinan ekstrim 

bank dunia yaitu berpenghasilan sedolar sehari menurut harga 

internasional tahun 1985 Purchasing Power Parity (PPP).51 Data ini 

mengungkapkan hal yang mecengangkan dimana 94.4 % dari 

populasi dunia yang saat itu berjumlah sedikit diatas 1 milliar berada 

dalam kategori kemiskinan ekstrim, artinya terdapat sekitar 887 juta 

orang miskin ekstrim diseluruh dunia.

tahun 2015. Program ini dikenal dengan nama Millennium 

Development Goals (MDGs) dan dideklarasikan oleh 189 negara di 

Konfrensi Tingkat Tinggi Millenium pada bulan September tahun 

2000. 

 


MDGs ini mencakup delapan komponen besar. Tujuh dari 

delapan tujuan itu, khusus negara berkembang, antara lain 

mengurangi setengah dari total jumlah orang miskin dan kelaparan, 

mencukupi kebutuhan pendidikan dasar, menghapuskan 

ketidaksetaraan gender, mengurangi 2/3 angka kematian balita, 

mengurangi 3/4 rasio kematian ibu akibat melahirkan, menghentikan 

penularan HIV/AIDS dan penyakit menular lainnya, dan 

menghentikan perusakan lingkungan dan mendorong pembangunan 

berkelanjutan. Tujuan kedelapan ialah mengenai peran negara maju 

untuk membantu negara-negara berkembang melaksanakan ketujuh 

target MDGs.

 

 

 

 

 

Kecendrungan penurunan jumlah warga   miskin dunia 

dimulai tahun 1980. Periode tahun-tahun setelah 1980 an dianggap 

sebagai periode globalisasi.40 Sesuai dengan konsep globalisasi yang 

diajukan oleh Scholte (1997), dimana terjadi peningkatan hubungan 

batas wilayah, (cross Border relations), peningkatan hubungan 

keterbukaan wilayah (open border relations), dan peningkatan dalam 

hubungan perubahan wilayah (trans border relations) yang terwujud 

dalam kemajuan teknologi komunikasi, organisasi jaringan lintas 

wilayah, produksi pabrik global dan juga perubahan-perubahan 

dalam norma serta pemikiran warga   sehari-hari menyebabkan 

perpindahan cepat barang, modal, orang ,pengetahuan dan lain 

sebagainya melintasi batas wilayah.53 Hal ini disatu sisi dapat 

menyebabkan perbaikan dari segi perekonomian dan pada akhirnya, 

membantu mengurangi kemiskinan. 

Seiring dengan pemahaman yang semakin mendalam 

mengenai kemiskinan, maka usaha penanggulangan kemiskinan 

yang lebih komperhensif dan meluaspun dimulai oleh Perserikatan 

bangsa-bangsa (PBB) pada tahun 2000 dan akan berlangsung hingga 


 

berkelanjutan dengan kebijakan dan program nasional serta 

mengembalikan sumber daya lingkungan yang hilang.  

 Target 10: Menurunkan proporsi warga   tanpa akses 

terhadap sumber air minum yang aman dan berkelanjutan 

serta fasilitas sanitasi dasar sebesar separuhnya pada tahun 

2015. 

 Target 11: Mencapai perbaikan yang berarti dalam 

kehidupan warga   miskin di pemukiman kumuh pada 

tahun 2020. 

Tujuan 8: Membangun Kemitraan Global untuk Pembangunan
 

 Target 12: Mengembangkan sistem keuangan dan 

perdagangan yang terbuka, berbasis peraturan, dapat 

diprediksi, dan tidak diskriminatif. 

 Target 13: Memenuhi kebutuhan-kebutuhan khusus dari 

negara-negara kurang berkembang (NKB).
 

 Target 14: Memenuhi kebutuhan-kebutuhan khusus dari 

negara-negara tanpa perairan dan negara-negara kepulauan. 

(melalui Programme of Action for the Sustainable 

Development of Small Island Developing States dan hasil 

dari Special Session of the General Assembly ke 22) 

 Target 15: Menangani hutang negara berkembang melalui 

upaya nasional maupun internasional agar pengelolaan 

hutang berkesinambungan dalam jangka panjang.  

 Target 16: Bekerjasama dengan negara lain untuk 

mengembangkan dan menerapkan strategi untuk 

menciptakan lapangan kerja yang baik dan produktif bagi 

usia muda.  

 Target 17: Bekerjasama dengan perusahaan farmasi, 

menyediakan akses terhadap obat-obat utama yang 

terjangkau bagi negara-negara berkembang. 

 Target 18: Bekerjasama dengan swasta dalam memanfaatkan 

teknologi baru, terutama teknologi informasi dan 

komunikasi. 

 

 

 

 

Sebaliknya, tingkat kemiskinan sub-Sahara Afrika tidak 

berkurang di bawah tahun 1990 sampai setelah tahun 2002. 

Meskipun penurunan kemiskinan telah dipercepat dalam dekade 

terakhir, wilayah ini terus tertinggal. Lebih dari 40 persen dari 

populasi di Afrika sub-Sahara masih hidup dalam kemiskinan 

ekstrim pada tahun 2015. Di Asia Barat, tingkat kemiskinan ekstrim 

diperkirakan malah akan meningkat antara tahun 2011 dan 2015. 54 

Didistribusikan warga   yang sangat miskin di dunia 

sangat tidak merata di seluruh daerah dan negara. Mayoritas orang 

yang hidup dengan kurang dari $ 1,25 per hari berada di dua daerah- 

Asia selatan dan Afrika sub-Sahara dan mereka mencapai sekitar 80 

persen dari total warga   global yang sangat miskin. Hampir 60 

persen dari 1 miliar orang yang sangat miskin di dunia hidup hanya 

dalam lima negara pada tahun 2011: India, Nigeria, China, 

Bangladesh dan Republik Demokratik Kongo (diurutkan dari tinggi 

ke rendah). 54 

Proporsi warga   yang hidup dengan kurang dari $ 1,25 per 

hari dan pencapaian target penurunan kemiskinan MDGs –nya, 

dilihat dari sudut pandang regional ditunjukan oleh Gambar 5.4. 

 

Semangat penanggulangan kemiskinan yang digalakkan PBB 

secara global membawakan hasil yang cukup memuaskan dilihat 

dari segi angka kemiskinan yang terus menurun. Jumlah mutlak 

orang yang hidup dalam kemiskinan ekstrim global turun dari 1,9 

miliar pada tahun 1990 menjadi 1,7 miliar 9 tahun kemudian dan 

menjadi 1 milliar pada tahun 2011. Diperkirakan bahwa lain 175 

juta orang telah terangkat dari kemiskinan ekstrim pada 2015. 

Dengan demikian, jumlah orang di seluruh dunia hidup dengan 

kurang dari $ 1,25 per hari  juga telah berkurang setengahnya dari 

tahun 1990-nya. 

Kemiskinan global telah menurun secara signifikan selama 

dua dekade terakhir. Target MDGs yaitu mengurangi setengah 

proporsi warga   yang hidup dalam kemiskinan ekstrim telah 

dicapai lima tahun lalu, menjelang batas waktu tahun 2015. 

Perkiraan terbaru menunjukkan bahwa proporsi orang yang hidup 

dengan kurang dari $ 1,25 per hari secara global turun dari 36 

persen.54 Pencapaian MDGs secara global dapat dilihat pada 

Lampiran 2. 

Pada tahun 2011, semua daerah berkembang kecuali Afrika 

Sub-Sahara telah mencapai target mengurangi separuh proporsi 

warga   yang hidup dalam kemiskinan ekstrim (Oceania memiliki 

data yang cukup). Negara yang paling padat warga  nya di dunia, 

China dan India, memainkan peran sentral dalam pengurangan 

kemiskinan global. Sebagai hasil dari kemajuan di Cina, angka 

kemiskinan yang ekstrim di Asia Timur telah menurun dari 61 

persen pada tahun 1990 menjadi hanya 4 persen di 2015. Asia 

Selatan hampir sama mengesankannya  dimana terjadi penurunan 

dari 52 persen menjadi 17 persen untuk periode yang sama dan laju 

pengurangannya telah dipercepat sejak 2008. 


 

Penilaian terhadap angka kemiskinan terus dilakukan, sama 

halnya dengan perbaharuan standar penilaiannya. Pada tahun 2014 

Program perbandingan internasional memunculkan standar PPP baru 

yaitu PPP 2011 untuk menggantikan PPP 2005 yang lama dan garis 

kemiskinan inter nasional juga diubah dari $ 1,25 per hari menjadi $ 

1,90 per hari, Hasil perhitungan kemiskinan memakai   standar 

baru ini tampak pada tabel 5.3. 

 

seperangkat tujuan transformatif yang disepakati dan berlaku bagi 

seluruh bangsa tanpa terkecuali. SDGs berisi 17 Tujuan dan 169 

sasaran pembangunan yang diharapkan dapat menjawab 

ketertinggalan pembangunan negara–negara di seluruh dunia, baik 

di negara maju (konsumsi dan produksi yang berlebihan, serta 

ketimpangan) dan negara–negara berkembang (kemiskinan, 

kesehatan, pendidikan, perlindungan ekosistem laut dan hutan, 

perkotaan, sanitasi dan ketersediaan air minum). Perincian target 

dapat dilihat pada lampiran  

* Meskipun lima negara di Timur Tengah dan Afrika Utara dihilangkan 

dari data estimasi kemiskinan tingkat negara, perkiraan kemiskinan 

negara-negara ini    dihitung untuk mengestimasi kemiskinan global. 

perkiraan kemiskinan untuk wilayah ini pada 2011 dan 2012 yaitu   

masing-masing 2,5% dan 2,3 % dari estimasi global. 

** Semua angka untuk tahun 2015 dan tahun-tahun kedepannya yaitu   

proyeksi secara statistik yang didasarkan pada scenario pertumbuhan dan 

asumsi distribusi. 

Tidak dapat di pungkiri, kerjasama Negara-negara dunia 

telah berhasil membawa angka kemiskinan jauh berkurang jika 

dibandingkan dengan sebelum MDGs di canangkan. Program ini 

telah mencapai batas akhirnya di tahun 2015 Namun demikian 

pencapaian angka kemiskinan tetap masih tinggi dan sebab  mimpi 

tiap Negara didunia ini yaitu   meniadakan kemiskinan maka  pada 

25 September 2015 lalu di New York, Amerika Serikat sidang 

umum Perserikatan Bangsa–Bangsa (PBB), secara resmi telah 

mengesahkan Agenda Pembangunan Berkelanjutan atau SDGs 

sebagai kesepakatan pembangunan global. Sekurangnya 193 kepala 

negara hadir, termasuk Wakil Presiden Jusuf Kalla, turut 

mengesahkan Agenda Pembangunan Berkelanjutan 2030 untuk 

negara kita  . 

Dimulai tahun 2016, tujuan Pembangunan Berkelanjutan 

(SDGs) 2015–2030 secara resmi menggantikan Tujuan 

Pembangunan Millennium (MDGs) 2000–2015. SDGs berisi 


 

 

sulam  

8 Tujuan MDGs sebagian 

besar hanya mengatasi gejala–

gejala kemiskinan saja 

Masalah ekologi dan 

lingkungan hidup tidak diakui 

Ketimpangan tidak 

mendapatkan perhatian. 

Demikian halnya dengan soal 

pajak dan pembiayaan 

pembangunan 

Berisi 17 tujuan yang berupaya 

merombak struktur dan sistem  

 Kesetaraan gender  

 Tata pemerintahan  

 Perubahan model konsumsi 

dan produksi 

 Perubahan sistem 

perpajakan 

 Diakuinya masalah 

ketimpangan 

 Diakuinya masalah 

perkotaan 

 

 

 

 

Memperkuat perangkat-perangkat implementasi 

(means of implementation) dan merevitalisasi 

kemitraan global untuk pembangunan 

berkelanjutan [19 target] 

 

 

Tabel 5.5. Perbedaan antara MDGs dan SDGs.55 

MDGs–2000–2015 SDGs–2015–2030 

50 persen  

Target dan sasarannya yaitu   

separuh: mengurangi separuh 

kemiskinan. Target yang 

terlalu minimal. Banyak 

negara telah terlebih dahulu 

mencapainya  

 

100 persen  

Target dan sasarannya yaitu   

semua, sepenuhnya dan tuntas 

 Mengakhiri kemiskinan  

 100 persen warga   

memiliki akta kelahiran  

 Memerlukan fokus, untuk 

merangkul mereka yang 

terpinggir dan terjauh.  

Dari negara maju, untuk 

negara berkembang  

MDGs mengandaikan bahwa 

negara miskin dan 

berkembang yang memiliki   

pekerjaan rumah. Sementara 

itu negara maju mendukung 

dengan penyediaan dana.  

 

Berlaku universal  

SDGs memandang semua negara 

memiliki pekerjaan rumah. 

Tiap–tiap negara wajib 

mengatasinya. Tiap–tiap negara 

harus bekerja sama untuk 

menemukan sumber pembiayaan 

dan perubahan kebijakan yang 

diperlukan.  

Dari Atas (top down) 

Dokumen MDGs dirumuskan 

oleh para elite PBB dan 

OECD, di New York, tanpa 

melalui proses konsultasi atau 

pertemuan dan survei warga.  

Dari Bawah (bottom up) dan 

partisipatif Dokumen SDGs 

dirumuskan oleh tim bersama, 

dengan pertemuan tatap muka di 

lebih dari 100 negara dan survei 

warga.  

Solusi parsial atau tambal Solusi yang menyeluruh  


”.... The Poor remains poor with no perspective. Our society today 

reflects great contradiction between the rich and the poor, between 

a group of people who live in luxury and those who live in poverty.”  

-Mohammad Hatta-  

 

VI 

KEMISKINAN : POTRET DI negara kita   

 

Kemiskinan bukanlah sesuatu yang baru di negara kita  . 

Sejarah menunjukkan  bahwa kemiskinan di negara kita   sudah ada 

sejak zaman penjajahan dulu. Keunggulan sumber daya alam yang 

dimiliki wilayah Nusantara menjadi sangat menarik minat bangsa – 

bangsa Eropa dan memang memiliki arti yang sangat besar dalam 

upaya pembangunan negara penjajah. Selama 350 tahun masa 

penjajahan Belanda, sistem perdagangan dan pajak memberi 

keuntungan bagi penjajah dan membawa dampak yang mengerikan 

bagi warga   negara kita  . Analisis yang disajikan oleh Van der Eng 

dan ditafsirkan oleh Timmer dapat digunakan untuk menilai 

pertumbuhan, tingkat keparahan kemiskinanan (melalui 

perbandingan jumlah asupan kalori per tahun yang diukur dalam 

satuan kkal) dan elastisitas pendapatan terhadap konsumsi sepanjang 

abad yang lampau. Walaupun catatan mengenai jumlah warga   

miskin itu sendiri belum tersedia, namun terdapat catatan yang 

menunjukkan adanya perbedaan yang mencolok dalam hal tingkat 

pertumbuhan ekonomi maupun seberapa jauh pertumbuhan itu dapat 

dirasakan oleh warga   miskin dalam beberapa periode politik dan 

ekonomi. Selama abad ke-19, tingkat konsumsi mengalami 

pertumbuhan negatif, yang diperkirakan sekitar -0,34 kkal, nomor 

dua terendah dalam catatan sejarah negara kita  . Sementara itu, index 

pertumbuhan yang berpihak pada warga   miskin dalam periode 

jangka panjang sangat kecil, dan ini menunjukkan bahwa warga   

miskin tidak memperoleh manfaat dari pertumbuhan ekonomi yang 

cukup baik selama periode ini  . Selama masa pertengahan 


ekonomi yang masih rendah dan sistem pemerintahan yang lemah, 

namun semi-demokratis. Program penanggulangan kemiskinanpun 

diberlakukan oleh Presiden Sukarno pada saat itu ,melalui strategi 

pemenuhan kebutuhan pokok rakyat yang tertuang dalam 

Pembangunan Nasional Berencana Delapan Tahun (Penasbede). 

berdasar  TAP MPRS No. II/MPRS/1960 tentang Garis-garis 

Besar Pola Pembangunan Nasional Semesta Berencana Tahapan 

Pertama 1961-1969, pola pembangunan pada masa itu lebih 

ditujukan untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat yang merata. 8 

Pembangunan pada saat itu berorientasi pada peningkatan 

pendapatan nasional yang mem- bentuk kemakmuran rakyat 

negara kita   (Biro Perancangan Negara, 1956). Kemakmuran di 

wujudkan melalui berbagai kebijakan yang akan meningkatkan 

pendapatan secara mandiri. Bidang pendidikan, perumahan, dan 

kesehatan, mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah. 

Kemudian dilanjutkan kebijakan untuk peningkatan pendapatan 

nasional dan keluarga. Program peningkatan kualitas warga   

secara lengkap tertuang dalam dokumen Pembangunan Nasional 

Berencana Delapan Tahun.

Dari gambaran kebijakan pemerintah pada masa itu terlihat 

jelas bahwa peningkatan kua- litas warga   dalam 

menanggulangi kemiskinan merupakan tujuan utama pembangunan. 

Namun penenerapkan kebijakan pembangunan yang berorientasi ke 

dalam dan sangat mengabaikan sektor pertanian, menyebabkan 

pendapatan menurun secara drastis dan krisis politik pada masa 

tahun 1965 menyebabkan hiperinflasi yang sangat tinggi yang 

mencapai 650 %. pada tahun 1965–1966 membawa dampak yang 

merugikan bagi seluruh rakyat akibat angka kemiskinan yang 

meningkat pesat dan ambruknya perekonomian. Bahkan menurut 

Timmer, (2003)  tahun 1966 mungkin sekitar 70 persen warga   

berada dalam kondisi miskin absolut dan kelaparan terjadi di mana-

mana pada masa itu. Kondisi negara kita   saat itu di paparkan 

MacIntyre ( 2003) sebagai “contoh utama dari bahaya pemerintahan 

yang lemah dan perekonomian yang sakit”. 

 

hingga akhir abad ke-19, sama halnya dengan sebagian besar 

wilayah Asia Tenggara lainnya, catatan sejarah negara kita   yaitu   

catatan tentang kemiskinan yang luar biasa.8 

Pada awal abad ke-20, saat   untuk pertama kalinya opini 

publik Belanda mulai mempengaruhi manajemen pemerintahan di 

wilayah koloni, pendekatan yang lebih bersifat pembangunan, yang 

dikenal dengan ’kebijakan etis’ (ethical policy), diimplementasikan 

selama beberapa waktu. Kebijakan ini membawa keuntungan yang 

besar bagi perekonomian (pertumbuhan mencapai 1,63 persen) dan 

bagi warga   miskin (rata-rata laju pertumbuhan konsumsi tahunan 

mencapai 1,39 persen per tahun). Akan namun , investasi internal 

ini   hanya berlangsung untuk waktu yang tidak lama. Jatuhnya 

harga ekspor komoditas dunia di tahun 1920-an, dan buruknya 

manajemen perekonomian negara kita   selama periode Malaise (Great 

Depression), mengakibatkan pertumbuhan ekonomi dan 

pertumbuhan yang berpihak pada warga   miskin di negara kita   

pada periode ini   berada pada tingkat terendah dibandingkan 

periode mana pun pada masa sebelum kemerdekaan. Pemerintah 

kolonial memang telah membangun jaringan fasilitas irigasi dan 

transportasi secara besar-besaran, namun hanya sedikit investasi 

yang dialokasikan dalam rangka pendidikan warga  . Hanya 3,5 

persen warga   yang menerima pendidikan pada tahun 1939. 

Kemiskinan meningkat secara tajam selama masa Perang Dunia ke-

2 dan pada masa perjuangan kemerdekaan, yang baru berakhir 

dengan pengakuan final Belanda pada tahun 1949. Kekacauan 

global sejak masa Malaise, Perang Pasifik, dan perjuangan 

kemerdekaan (1925–50), menyebabkan anjloknya tingkat 

pertumbuhan pendapatan per kapita (-2,42 persen) dan minusnya 

tingkat pertumbuhan yang berpihak pada warga   miskin (-2,57 

persen). 8 

Keadaan ini sedikit membaik pada awal 1960-an, seperti 

halnya negara-negara yang baru merdeka lainnya, angka kemiskinan 

negara kita   dapat ditekan pada masa pemulihan pasca-revolusi, 

namun negara kita   masih dihadapkan dengan persoalan pertumbuhan 


kehidupan termasuk sektor ekonomi. Selama periode tahun 1966–

1973, saat pemerintahan Soeharto mengonsolidasikan kekuatan 

politiknya, perubahan menyeluruh dalam kebijakan ekonomi 

menandai tahap awal liberalisasi ekonomi: pemulihan kemungkinan 

kerja sama dengan pihak luar, pemberlakuan pembatasan fiskal, 

pemulihan sistem perbankan dan liberalisasi rezim investasi). 

Investasi besar juga dilakukan dalam rangka memperbaiki sektor 

pertanian melalui upaya perbaikan irigasi, pengenalan bibit unggul 

padi, impor dan distribusi pupuk, serta program Bimas  berupa 

perluasan Lahan pertanian dan kredit usaha tani. sebab  ukuran 

lahan rata-rata kurang dari setengah hektar, program intensifikasi 

padi menghasilkan keuntungan yang tinggi dan produksi pangan 

serta pasokan pangan secara umum meningkat dengan tajam. 

Perbaikan itu lebih ditujukan untuk dua tujuan besar yaitu 

membersihkan sisa- sisa faham dan sistem perekonomian yang lama 

(liberal dan etatisme), dan menurunkan laju inflasi yang sangat 

tinggi. Akibatnya angka pertumbuhan ekonomi melejit hingga 

mencapai 12 persen pada tahun 1968 dan angka kemiskinan 

menurun drastis sebesar 10 poin persentase menjadi 60 persen 

selama periode tujuh tahun pada saat perekonomian berada dalam 

kondisi stabil. Angka pertumbuhan tahunan berada pada kisaran 7 

dan 9 persen selama era 1970-an. Keadaan lain yang menandakan 

perbaikan ekonomi yaitu   menurunnya inflasi yang pada tahun 

1966 yaitu   sebesar 650 %, menjadi 120 % tahun 1967, 85 % 

tercatat 1968 dan hanya mencapai 9,9 pada tahun 1969 tercatat. 

Setelah perekonomian mulai stabil pemerintah baru mengeluarkan 

program-program pembangunan terutama untuk menanggulangi 

kemiskinan.

Mulai tahun 1970-an pemerintah memulai kembali program 

penanggulangan kemiskinan melalui Rencana Pembangunan Lima 

Tahun (Repelita) dan Pembangunan Jangka Panjang (PJP) 25 

tahunan. Pelita yaitu   upaya untuk meningkatkan taraf hidup rakyat 

dan sekaligus meletakkan dasar-dasar bagi pembangunan dalam 

tahap berikutnya. 2 Program ini berganti sesuai dengan bergantinya 

 

Kegagalan dalam penanggulangan kemiskinan pada saat itu 

bukan semata-mata kesalahan dari pemerintah. Akan namun  

disebab kan kondisi pada saat itu yang tidak menguntungkan untuk 

pembangunan. Kecenderungan dunia pada saat itu yaitu   pada 

politik, dan politik jarang bermakna membangun sebab  intinya 

yaitu   power strunggle. Kegagalan pembangunan pada saat itu lebih 

disebabkan beberapa faktor yaitu: 1). kurangnya pemahaman akan 

pembangunan yang memberdayakan warga   (pembangunan 

tidak berbasis rakyat), 2). rakyat dijadikan basis ideologi politik, dan 

3). kurangnya kecakapan.

Selain itu program dan rencana yang disusun lebih di 

dominasi oleh kepentingan individu atau pribadi, dan partai lebih 

dominan daripada pemerintah. Sistem pemerintahan pada saat itu 

juga cenderung terpengaruh sistem perekonomian yang tidak sesuai 

dengan kondisi warga   yaitu liberalis (1950-1957) dan etatisme 

(1958-1965).

Sistem etatisme ini   mengakibatkan: 1). rusaknya sarana 

produksi dan komunikasi, 2). hutang luar negeri untuk membiayai 

politik mercusuar, 3). defisit anggaran negara dibiayai dengan 

mencetak uang baru sehingga inflasi sangat tinggi. Kepentingan-

kepentingan politik itulah yang menyebabkan tidak 

terlaksanakannya program pembangunan untuk menanggulangi 

kemiskinan, namun  malah sebaliknya semakin menambah jumlah 

warga   miskin.

Pergolakan politik terus berlanjut dan kondisi kemiskinan di 

negara kita   tidak membaik. Dengan berakhirnya masa pemerintahan 

orde lama Presiden Sukarno dan beralihnya tampuh pemerintahan ke 

masa pemerintahan orde baru Presiden Suharto yang dimulai dengan 

Ketetapannya No. XXXIIIIMPRS/1967, maka berubah pula sikap 

politik dan arah kebijakan perekonomian bangsa negara kita  . 

Orde Baru mulai menjalankan roda pemerintahannya dengan 

warisan kemiskinan yang tinggi. Namun demikian masa ini dapat 

digambarkan sebagai awal masa perbaikan seluruh sektor kehidupan 


 

perumahan, sarana dan prasarana termasuk didalamnya 

industri-industri pengolahan bahan mentah menjadi bahan 

baku, mensejahterakan rakyat, dan memperluas lapangan 

kerja . Program ini  berhasil meningkatkan pertumbuhan 

ekonomi rata-rata warga   7% setahun. Perbaikan dalam 

hal irigasi. Di bidang industri juga terjadi kenaiknan 

produksi. sedang   dibidang pembangunan terdapat 

banyak jalan dan jembatan yang dibangun dan diperbaiki. 

Kondisi ekonomi negara kita   terus membaik dan angka 

kemiskinan pun terus menurun. 

Pelita III (1 April 1979 – 31 Maret 1984) lebih 

menekankan pada Trilogi Pembangunan, dengan dasar  

pemerataan yang di tuangkan dalam berbagai langkah 

kegiatan pemerataan, seperti pemerataan pembagian kerja, 

kesempatan kerja, memperoleh keadilan, pemenuhan 

kebutuhan sandang, pangan, dan perumahan. Pada masa ini 

bidang industri difokuskan untuk  dapat mengolah bahan 

baku menjadi bahan jadi. sedang   dibidang pertanian 

sendiri difokuskan dalam upaya mencapai swasembada 

pangan. 

Perbaikan ekonomi pada masa Pelita II dan III tidak 

terlepas dari periode “Oil Boom” dimana pendapatan migas 

memicu pertumbuhan ekonomi yang pesat. Sejak tahun 1973 

sampai 1983, kenaikan harga minyak secara 

pesatmemberikan keuntungan yang tak terduga bagi para 

eksportir minyak di seluruh dunia. Di negara kita  , pendapatan 

minyak meningkat tujuh kali lipat, dari 0,4 miliar dolar AS 

di tahun 1973 menjadi 2,8 miliar dolar AS pada tahun 1975, 

dan melonjak menjadi 4,4 miliar dolar AS pada 1979 akibat 

gejolak yang dipicu oleh terjadinya revolusi Iran. 

Keuntungan tak terduga dari minyak ini menimbulkan 

surplus pada aktiva lancar dan meningkatkan anggaran 

pendapatan, yang memungkinkan perluasan ekonomi dan 

investasi publik yang luar biasa di bidang infrastruktur, 

 

kabinet Presiden Soeharto. Kabinet Pembangunan II atau Pelita II, 

Kabinet Pembangunan III atau Pelita III, Kabinet Pembangunan IV 

atau Pelita IV, Kabinet Pembangunan V atau Pelita V, Kabinet 

Pembangunan VI atau Pelita VI serta kabinet Pembangunan VII atau 

Pelita VII Tujuan tiap Pelita tidak semuanya sama. seperti Repelita 

I – IV yaitu   peningkatan kesejahteraan melalui program Sektoral & 

Regional. sedang   Repelita IV – V yaitu   peningkatan 

kesejahteraan melalui program Inpres Desa Tertinggal.  

Mulai saat ini tujuan pokok perangkat kebijakan ekonomi 

berada didalam suatu sistem ekonomi campuran, yaitu untuk 

mencapai tingkat pertumbuhan ekonomi yang setinggi- tingginya. 

Semua perangkat kebijakan ekonomi yaitu kebijakan fiskal, 

kebijakan moneter, dan kebijakan luar negeri diformulasikan agar 

mampu mendorong tingkat pertumbuhan melalui pertambahan 

investasi baik di sektor swasta maupun pemerintah.

 

Pada era orde baru ini berdasar  sasarannya pembangunan 

pemerintah dibagi menjadi dua periode:

1. Periode tahun 1974-1988  

Pelita I (1 April 1969 – 31 Maret 1974) dilaksanakan 

dengan tujuan untuk meningkatkan produksi pangan, 

sandang, perbaikan prasarana, perumahan rakyat, perluasan 

lapangan kerja, dan kesejahteraan rohani. Pelita I lebih 

berfokus pada sektor pertanian. Keberhasilan program ini 

tampak dari produksi beras mengalami kenaikan rata-rata 4% 

setahun, banyak berdiri industri pupuk, semen, dan tekstil, 

perbaikan jalan raya, banyak dibangun pusat-pusat tenaga 

listrik, semakin majunya sektor pendidikan.
Pada saat ini 

telah terjadi perbaikan ekonomi dan kesejahteran rakyat 

walaupun belum signifikan dan masih berjalan lambat. 

Pelita II yang mulai dilaksankan 1 April 1974 hingga 

31 Maret 1979
bertujuan untuk melanjutkan pencapaian 

pelita I yaitu meningkatkan produksi pangan, sandang, 


program ini dilaksanakan oleh instansi sektor terkait dari 

tingkat kantor wilayah, direktorat jenderal, hingga tingkat 

menteri. Sebelum program sektoral dilaksanakan dilakukan 

perencanaan untuk memproyeksi sasaran pembangunan 

sektor. Perencanaan sektoral disusun oleh Bappenas dan 

digunakan sebagai pedoman menyusun rencanca program 

lembaga. Agar masing-masing program terjadi sinkronisasi 

maka dilakukan koordinasi melalui Bappeda.
Program 

sektoral diarahkan untuk peningkatan peran serta dan 

pendapatan warga   berpenghasilan rendah dengan 

penyediaan kebutuhan dasar. Hal ini memberikan 

kesempatan kepada warga   miskin untuk melakukan 

kegiatan sosial ekonomi yang memberikan penghasilan. 

Kegiatan ini diprioritaskan untuk warga   desa yang 

miskin untuk meningkatakan sumber daya manusianya dan 

menguatkan permodalan. Program ini didukung dengan 

pelatihan- pelatihan mulai dari penghimpunan permodalan, 

penguasaan teknik produksi, pemasaran dan pengelolaan 

surplus. Namun hal ini hanya berlangsung sampai repelita ke 

IV. Untuk selanjutnya program sektoral lebih diarahkan pada 

industri, pariwisata, dan perhubungan.

Meskipun sudah dianggap baik dalam prakteknya 

program sektoral ini masih didominasi oleh instansi vertikal. 

Sehingga keadaan yang sebenarnya dari desa tidak dapat 

digambarkan. Kelemahan program ini yaitu tidak jarang 

pelaksanaannya tidak berbedoman pada prioritas kebutuhan 

desa dan efisiensi program ini. Program ini secara makro 

juga menimbulkan ketimpangan antar sektor, sehingga 

ditempuh kebijakan regional

Kedua, program regional merupakan program yang 

berorientasi pada kepentingan daerah untuk menyerasikan 

dan mempercepat pembangunan daerah. Program ini 

disesuaikan dengan kebutuhan daerah dan kemampuan dari 

daerah ini  . Hal ini ditujukan untuk meningkatkan 

 

kesehatan dan pendidikan. Perkiraan resmi pertama kali 

mengenai angka kemiskinan, yang dilakukan berdasar  

Susenas (1976), menunjukkan bahwa tingkat kemiskinan 

nasional sebesar 40 persen. 8 

Selanjutnya, Program pembangunan Presiden Suharto 

kemudian berlanjut dan memasuki masa pembangunan lima 

tahun ke empat (Pelita IV) yan