Tidak mampu 7
Kemiskinan
Kemiskinan yaitu suatu keadaan yang menyangkut ketidakmampuan dalam memenuhi
tuntutan kehidupan yang paling minimum, khususnya dari aspek konsumsi dan pendapatan.
Kemiskinan juga merupakan cross sectors problem, cross areas dan cross generation, sehingga
untuk menanganinya dibutuhkan pendekatan yang terpadu, komprehensif dan berkelanjutan.
Untuk mensukseskan program-program percepatan penanggulangan kemiskinan dibutuhkan
political will
Masalah kemiskinan ini sangatlah kompleks dan bersifat multidimensional, dimana
berkaitan dengan aspek sosial, ekonomi, budaya, dan aspek lainnya. Kemiskinan terus menjadi
masalah fenomenal di belahan dunia, sebab sifatnya yang multidimensional maka kemiskinan
juga memerlukan solusi yang multidimensional pula. Berbagai program baik dari pemerintah
pusat maupun daerah sudah diusahakan untuk mengurangi tingkat kemiskinan. Bahkan
kemiskinan menjadi salah satu agenda penting SDGs (Sustainable Development Goals) yang
menggantikan MDGs (Millenium Development Goals) di akhir 2015.
Di beberapa negara berkembang kemiskinan menjadi isu penting dalam perekonomian.
Di Nigeria jumlah warga miskin banyak terdapat di daerah perdesaan dan terutama
disebabkan oleh rendahnya akses untuk pelayanan sosial ekonomi menemukan adanya pengaruh geografis yang membuat warga miskin tetap miskin
di Kenya. menyatakan bahwa warga miskin cenderung tidak
memiliki skill yang siap bersaing dengan tenaga kerja lainnya, sehingga meningkatkan persistent
poverty di Ukraina.
Sulawesi Utara merupakan salah satu provinsi di negara kita yang tidak luput dari masalah
kemiskinan. Indikator kemiskinan provinsi Sulawesi utara mengalami penurunan dibadingkan
tahun 2015, dimana jumlah warga miskin dari 217,15 jiwa di tahun 2015 menjadi 200,35
jiwa pada tahun 2016, dengan presentase kemiskinan 8,2%. Garis Kemiskinan provinsi Sulawesi
utara meningkat menjadi Rp. 318.984, dari tahun 2015 sebesar Rp. 307,104, yang disertai
dengan penurunan Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) sebesar 1,38 dan Indeks Kedalaman
Kemiskinan (P2) sebesar 0,34.
Jumlah warga miskin di Provinsi Sulawesi Utara pada September 2016 mencapai
200,35 ribu jiwa yang berkurang sekitar 2,47 ribu jiwa dibandingkan dengan warga miskin
pada Maret 2016 yang berjumlah 202,82 ribu. Persentase warga miskin di Provinsi Sulawesi
Utara pada bulan September 2016 sebesar 8,20 persen, turun 0,14 persen dibandingkan kondisi
Maret 2016 yang sebesar 8,34 persen.
Kondisi kemiskinan di Sulut relatif rendah dibandingkan tingkat kemiskinan nasional.
Pada tahun 2011 tingkat kemiskinan Sulawesi Utara sebesar 8.46% dan tingkat kemiskinan
negara kita sebesar 12.36. Pada Thun 2012 tingkat kemiskinan Sulawesi Utara turun menjadi
7.64% begitu juga tingkat kemiskinan negara kita turun menjadi 11.47%. Pada tahun 2013 tingkat
kemiskinan Sulawesi Utara naik menjadi 8.5% sedangkat tingkat kemiskinan negara kita turun
menjadi 11.47%, tahun 2014 tingkat kemiskinan Sulawesi Utara kembali turun menjadi 8,26 dan
tingkat kemiskinan negara kita turun menjadi 10.96%. Pada tahun 2015 tingkat kemiskinan
Sulawesi Utara dan negara kita naik menjadi 8.98% dan11.33%. Pada tahun 2016 tingkat
kemiskinan Sulawesi Utara turun menjadi 8.2% dan tingkat kemiskinan negara kita turun menjadi
10,7%.Pada Grafik diatas perkembangan presentasi kemiskinan di Kabupaten/Kota di Sulawesi
Utara dapat dilihat bahwa terdapat tiga wilayah dengan presentasi kemiskinan tertinggi yaitu
Bolaang Mongondow Selatan sebesar 14,85, kemudian Minahasa Tenggara sebesar 14.71% dan
Kepulauan Sangihe sebesar 12,28%.
Kemiskinan dinamis dan persisten juga merupakan kemiskinan multidimensi yang
disebabkan oleh berbagai faktor. Studi empiris menunjukkan bahwa faktor-faktor yang
mempengaruhi kemiskinan diantaranya karakteristik rumah tangga, karakteristik kepala rumah
tangga, pendidikan, kesehatan, kondisi rumah tempat tinggal dan pekerjaan.
juga dipengaruhi oleh kondisi geografi dan regional
Sifat dinamis kemiskinan, menambahkan sebuah aspek penting dalam analisis
kemiskinan seperti beberapa rumah tangga mengalami kemiskinan dalam jangka waktu yang
lama, sementara yang lain hanya mengalaminya secara sementara guncangan negatif yang
berakibat pada hilang mendadaknya kesejahteraan. Ini menunjukkan bahwa orang miskin saat
ini tidak besok miskin dan telah memicu meningkat pengakuan dalam beberapa tahun
terakhir yang ada cukup mengalir masuk dan keluar dari kolam kemiskinan mengamati bahwa persentase yang
tinggi dari rumah tangga di Pakistan mengalami kemiskinan akibat guncangan sementara
(seperti penyakit atau kehilangan pekerjaan) yang dibalik hanya satu atau dua tahun kemudian.
Selain itu, banyak orang yang lolos dari kemiskinan hanya berhasil melakukannya selama satu
atau dua tahun sebelumnya kebalikan dalam keadaan memaksa mereka kembali ke bawah garis
kemiskinan Hal ini membawa kedepan pentingnya analisis transisi kemiskinan dalam resep
kebijakan kemiskinan yang kuat serta dalam desain dan penargetan program anti-kemiskinan
Dalam realitanya penanggulangan kemiskinan yang selama ini dilakukan oleh
pemerintah ternyata belum dapat mencapai hasil yang optimal. Jumlah warga miskin
memang telah dapat dikurangi secara berarti akan namun dari jumlahnya masih cukup besar.
Secara kualitas, kehidupan rumah tangga miskin nyaris tidak mengalami perubahan sebab
masih saja bersifat subsisten dan inevolutif. Hal ini disebabkan oleh penyeragaman kebijakan
dalam memecahkan permasalahan kemiskinan yang dihadapi pada setiap daerah. Padahal setiap
daerah mempunyai karakteristik yang berbeda, baik sumber daya alam, sumber daya manusia
maupun budaya. Dengan demikian upaya penanggulangan kemiskinan pada setiap daerah tentu
membutuhkan pendekatan yang berbeda pula.
Pemerintah Sulawesi Utara telah mencanangkan program penanggulangan kemiskinan
yang dikenal sebagai Operasi Daerah Selesaikan Kemiskinan yang telah diintegrasikan dalam
Dokumen Strategi Penanggulangan Kemiskinan Daerah Operasi Daerah Selesaikan Kemiskinan
(SPKD-ODSK) Provinsi Sulawesi Utara Tahun 2016-2021 dan telah ditetapkan dalam Peraturan
Gubernur Sulawesi Utara Nomor 22a Tahun 2016 yang menetapkan target penurunan angka
kemiskinan sampai dengan tahun 2021 yaitu sebesar 40% dari angka kemiskinan awal tahun
2016 sebesar 8,98%. Melalui dokumen SPKD-ODSK terdapat 3(tiga) pendekatan
penanggulangan kemiskinan di Provinsi Sulawesi Utara, yaitu : Pendekatan Pengeluaran Per
Kapita (Garis Kemiskinan-BPS), Pendekatan Basis Data Terpadu (18 Indikator Sosial Ekonomi
- TNP2K) dan Pendekatan Desil RT Miskin.
Masalah kemiskinan pada rumah tangga miskin kronis bisa memicu rumah tangga
ini terjerat ”Poverty Traps”. Artinya terdapat kondisi-kondisi buruk yang saling beraksi
dan bereaksi sedemikian rupa sehingga menempatkan rumah tangga miskin tetap miskin selama
bertahun-tahun (Naschold, 2009). Eksistensi adanya trap perangkap ditunjukkan oleh multiple
equilibria yaitu terdapat stable dan unstable equlibrium. Keseimbangan juga menunjukkan
tingkat produktivitas yaitu high productivity atau low productivity. Low equilibrium atau low
productivity merupakan sumber trap artinya produktivitas rendah memicu pendapatan
rendah, tabungan rendah, juga investasi rendah, akhirnya produktivitas tetap rendah dan
seterusnya (Nurske,1953). Rumah tangga miskin akan semakin sulit keluar dari poverty traps
jika terdapat masalah struktural pada rumah tangga ini . Naschold (2009) dalam
penelitiannya menunjukkan bahwa kemiskinan struktural yang memicu rumah tangga
miskin tetap miskin pada tiga desa di India. Hasil lainnya menunjukkan bahwa kepemilikan aset,
sistem kasta, perbedaan luas lahan, dan pendidikan rendah secara signifikan menjerat rumah
tangga ke perangkap kemiskinan.
Tinjauan Pustaka
Konsep Dasar Kemiskinan
Secara Umum Definisi mengenai kemiskinan dibentuk iberdasar identifikasi dan
pengukuran terhadap sekelompok warga /golongan yang selanjutnya disebut miskin
(. Pada umumnya, setiap negara termasuk negara kita memiliki sendiri definisi
seseorang atau suatu warga dikategorikan miskin. Hal ini disebab kan kondisi yang disebut
miskin bersifat relatif untuk setiap negara misalnya kondisi perekonomian, standar
kesejahteraan, dan kondisi sosial. Setiap definisi ditentukan menurut kriteria atau ukuran-ukuran
iberdasar kondisi tertentu, yaitu pendapatan rata-rata, daya beli atau kemampuan konsumsi
rata-rata, status kependidikan, dan kondisi kesehatan.
Secara umum, kemiskinan diartikan sebagai kondisi ketidakmampuan pendapatan dalam
mencukupi kebutuhan pokok sehingga kurang mampu untuk menjamin kelangsungan hidup
(. Kemampuan pendapatan untuk mencukupi kebutuhan pokok
iberdasar standar harga tertentu yaitu rendah sehingga kurang menjamin terpenuhinya
standar kualitas hidup pada umumnya. iberdasar pengertian ini, maka kemiskinan secara
umum didefinisikan sebagai suatu kondisi ketidakmampuan pendapatan dalam memenuhi
kebutuhan pokok dan kebutuhan lainnya yang dapat menjamin terpenuhinya standar kualitas
hidup.
Bentuk dan Jenis Kemiskinan
Dimensi kemiskinan yang dikemukakan oleh Chambers memberikan penjelasan
mengenai bentuk persoalan dalam kemiskinan dan faktor-faktor yang memicu terjadinya
kondisi yang disebut memiskinkan. Konsep kemiskinan ini memperluas pandangan ilmu
sosial terhadap kemiskinan yang tidak hanya sekedar kondisi ketidakmampuan pendapatan
dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan pokok, akan namun juga kondisi ketidakberdayaan
sebagai akibat rendahnya kualitas kesehatan dan pendidikan, rendahnya perlakuan hukum,
kerentanan terhadap tindak kejahatan (kriminal), resiko mendapatkan perlakuan negatif secara
politik, dan terutama ketidakberdayaan dalam meningkatkan kualitas kesejahteraannya sendiri.
iberdasar kondisi kemiskinan yang dipandang sebagai bentuk permasalahan
multidimensional, kemiskinan memiliki 4 bentuk. Adapun keempat bentuk kemiskinan ini
yaitu :
1) Kemiskinan Absolut
Kemiskinan absolut yaitu suatu kondisi di mana pendapatan seseorang atau
sekelompok orang berada di bawah garis kemiskinan sehingga kurang mencukupi untuk
memenuhi kebutuhan standar untuk pangan, sandang, kesehatan, perumahan, dan
pendidikan yang diperlukan untuk meningkatkan kualitas hidup. Garis kemiskinan
diartikan sebagai pengeluaran rata-rata atau konsumsi rata-rata untuk kebutuhan pokok
berkaitan dengan pemenuhan standar kesejahteraan. Bentuk kemiskinan absolut ini
paling banyak dipakai sebagai konsep untuk menentukan atau mendefinisikan kriteria
seseorang atau sekelompok orang yang disebut miskin.
2) Kemiskinan Relatif
Kemiskinan relatif diartikan sebagai bentuk kemiskinan yang terjadi sebab adanya
pengaruh kebijakan pembangunan yang belum menjangkau ke seluruh lapisan
warga sehingga memicu adanya ketimpangan pendapatan atau ketimpangan
standar kesejahteraan. Daerah-daerah yang belum terjangkau oleh program-program
pembangunan seperti ini umumnya dikenal dengan istilah daerah tertinggal.
3) Kemiskinan Kultural
Kemiskinan kultural yaitu bentuk kemiskinan yang terjadi sebagai akibat adanya sikap
dan kebiasaan seseorang atau warga yang umumnya berasal dari budaya atau adat
istiadat yang relatif tidak mau untuk memperbaiki taraf hidup dengan tata cara moderen.
Kebiasaan seperti ini dapat berupa sikap malas, pemboros atau tidak pernah hemat,
kurang kreatif, dan relatif pula bergantung pada pihak lain.
4) Kemiskinan Struktural
Kemiskinan struktural yaitu bentuk kemiskinan yang disebabkan sebab rendahnya
akses terhadap sumber daya yang pada umumnya terjadi pada suatu tatanan sosial
budaya ataupun sosial politik yang kurang mendukung adanya pembebasan kemiskinan.
Bentuk kemiskinan seperti ini juga terka dang memiliki unsur diskriminatif.
Bentuk kemiskinan struktural yaitu bentuk kemiskinan yang paling banyak
mendapatkan perhatian di bidang ilmu sosial terutama di kalangan negara-negara pemberi
bantuan/pinjaman seperti Bank Dunia, IMF, dan Bank Pembangunan Asia. Bentuk kemiskinan
struktural juga dianggap paling banyak memicu adanya ketiga bentuk kemiskinan yang
telah disebutkan sebelumnya . sesudah dikenal bentuk kemiskinan, dikenal
pula dengan jenis kemiskinan iberdasar sifatnya. Adapun jenis kemiskinan iberdasar
sifatnya yaitu : Kemiskinan Alamiah dan kemiskinan buatan
1. Kemiskinan Alamiah
Kemiskinan alamiah yaitu kemiskinan yang terbentuk sebagai akibat adanya
kelangkaan sumber daya alam dan minimnya atau ketiadaan pra sarana umum (jalan
raya, listrik, dan air bersih), dan keadaan tanah yang kurang subur. Daerah-daerah
dengan karakteristik ini pada umumny yaitu daerah yang belum terjangkau oleh
kebijakan pembangunan sehingga menjadi daerah tertinggal.
2. Kemiskinan Buatan
Kemiskinan buatan yaitu kemiskinan yang diakibatkan oleh sistem moderenisasi atau
pembangunan yang memicu warga tidak memiliki banyak kesempatan untuk
menguasai sumber daya, sarana, dan fasilitas ekonomi secara merata. Kemiskinan seperti
ini yaitu dampak negatif dari pelaksanaan konsep pembangunan (developmentalism)
yang umumnya dijalankan di negara-negara sedang berkembang. Sasaran untuk
mengejar target pertumbuhan ekonomi tinggi mengakibatkan tidak meratanya pembagian
hasil-hasil pembangunan di mana sektor industri misalnya lebih menikmati tingkat
keuntungan dibandingkan mereka yang bekerja di sektor pertanian.
Kedua jenis kemiskinan di atas seringkali masih dikaitkan dengan konsep pembangunan
yang sejak lama telah dijalankan di negara-negara sedang berkembang pada dekade 1970an dan
1980an . Persoalan kemiskinan dan pembahasan mengenai penyebab
kemiskinan hingga saat ini masih menjadi perdebatan baik di lingkungan akademik maupun
pada tingkat penyusun kebijakan pembangunan . Salah satu perdebatan
ini yaitu menetapkan definisi terhadap seseorang atau sekelompok orang yang disebut
miskin. Pada umumnya, identifikasi kemiskinan hanya dilakukan pada indikator-indikator yang
relatif terukur seperti pendapatan per kapita dan pengeluaran konsumsi rata-rata. Ciri-ciri
kemiskinan yang hingga saat ini masih dipakai untuk menentukan kondisi miskin yaitu :
1. Tidak memiliki faktor produksi sendiri seperti tanah, modal, peralatan kerja, dan
ketrampilan yang memadai.
2. Tingkat pendidikan yang relatif rendah
3. Bekerja dalam lingkup kecil dan modal kecil atau disebut juga bekerja dilingkungan
sektor informal sehingga mereka ini terkadang disebut juga setengah menganggur
4. Berada di kawasan pedesaan atau di kawasan yang jauh dari pusat-pusat pertumbuhan
regional atau berada pada kawasan tertentu di perkotaan (slum area).
5. Memiliki kesempatan yang relatif rendah dalam memperoleh bahan kebutuhan pokok
yang mencukupi termasuk dalam mendapatka pelayanan kesehatan dan pendidikan
sesuai dengan standar kesejahteraan pada umumnya.
Seperti yang telah disampaikan sebelumnya bahwa ciri-ciri kemiskinan di atas tidak
memiliki sifat mutlak (absolut) untuk dijadikan kebenaran universal terutama dalam
menerangkan faktor-faktor yang memicu terjadinya kemiskinan ataupun terbentuknya
kemiskinan. Sifat-sifat kemiskinan di atas hanya merupakan temuan lapangan yang paling
banyak diidentifikasikan atau diukur.
Rumah Tangga Miskin
Istilah rumah tangga dan keluarga sering dicampur adukkan dalam kehidupan seharihari. Pengertian rumah tangga lebih mengacu pada sisi ekonomi, sedangkan keluarga lebih
mengacu pada hubungan kekerabatan, fungsi sosial dan lain sebagainya. Keluarga didefinisikan
sebagai sekumpulan orang yang tinggal dalam satu rumah yang masih mempunyai hubungan
kekerabatan/hubungan darah sebab perkawinan, kelahiran, adopsi dan lain sebagainya. BPS
(2000) membagi rumah tangga menjadi dua yaitu rumah tangga biasa dan rumah tangga khusus.
Rumah tangga biasa yaitu seseorang atau sekelompok orang yang mendiami sebagian
atau seluruh bangunan fisik atau sensus dan umumnya tinggal bersama serta makan dari satu
dapur. Yang dimaksud dengan satu dapur yaitu bahwa pembiayaan keperluan jika pengurusan
kebutuhan sehari-hari dikelola bersama-sama.
Rumah tangga khusus yaitu sekelompok orang yang tinggal di asrama atau tempat
tinggal yang pengurusan sehari-harinya diatur oleh yayasan atau badan, misalnya asrama
mahasiswa, lembaga pewarga an, orang-orang yang berjumlah lebih dari 10 orang yang kos
dengan makan, asrama ABRI dan lain sebagainya. Konsep kemiskinan terkait dengan
kemampuan seseorang/rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan dasar baik untuk makanan
maupun non makanan. Seseorang/rumah tangga dikatakan miskin bila kehidupannya dalam
kondisi serba kekurangan, sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan dasarnya. Batas
kebutuhan dasar minimal dinyatakan melalui ukuran garis kemiskinan yang disetarakan dengan
jumlah rupiah yang dibutuhkan. Dalam penelitian ini rumah tangga miskin yang dianalisis
yaitu warga bukan individu. Pertama, kemiskinan pada hakikatnya merupakan cermin
keadaan rumah tangga. Kedua, jika ditemukan data-data rmah tangga miskin maka intervensi
terhadap rumah tangga akan lebih efektif dibanding intervensi kemiskinan terhadap individu
yang cenderung mengarah pada pandangan bahwa orang miskin memiliki karakteristik sebagai
penyebab kemiskinannya. Ketiga, data-data tentang rumah tangga miskin lebih mudah untuk
dikembangkan daripada data-data individu miskin.
Faktor yang Memengaruhi Kemiskinan
Faktor-faktor yang mempengaruhi kemiskinan rumah tangga yaitu : tingkat pendidikan,
tingkat kesehatan dan kepemilikan asset.
Tingkat pendidikan
Pengertian pendidikan menurut Instruksi Presiden No. 15 Tahun 1974 yaitu segala
sesuatu usaha untuk membina kepribadian dan mengembangkan kemampuan manusia
negara kita , jasmani dan rohani yang berlangsung seumur hidup, baik didalam maupun diluar
sekolah dalam rangka pembangunan persatuan negara kita dan warga yang adil, makmur
iberdasar pancasila.
pendidikan yaitu upaya persuasi atau pembelajaran
kepada warga , agar warga mau melakukan tindakan-tindakan (praktik) untuk
memelihara (mengatasi masalah-masalah), dan meningkatkan kesehatannya. Perubahan atau
tindakan pemeliharaan dan peningkatan kesehatan yang dihasilkan oleh pendidikan kesehatan
ini didasarkan kepada pengetahuan dan kesadarannya melalui proses pembelajaran, sehingga
perilaku ini diharapkan akan berlangsung lama (long lasting) dan menetap (langgeng),
sebab didasari oleh kesadaran.
Dari beberapa definisi tentang pendidikan diatas dapat disimpulkan bahwa pendidikan
yaitu upaya persuasif yang dilakukan untuk menyiapkan peserta didik agar mampu
mengembangkan potensi yang dimiliki secara menyeluruh dalam memasuki kehidupan dimasa
yang akan datang.
Tingkat atau jenjang pendidikan yaitu tahap pendidikan yang berkelanjutan, yang
ditetapkan iberdasar tingkat perkembangan peserta didik, tingkat kerumitan bahan pengajaran
dan cara menyajikan bahan pengajaran
Manusia memerlukan pengetahuan, ketrampilan, penguasaan teknologi, dan dapat
mandiri memalui pendidikan. Produktivitas kerja memerlukan pengetahuan, ketrampilan dan
penguasaan teknologi. Sehingga dengan adanya tingkat pendidikan karyawan maka kinerja karyawan akan menjadi lebih baik dan tujuan dari perusahaan akan tercapai dengan sempurna
Faktor yang Memperngaruhi Tingkat Pendidikan
Faktor yang mempengaruhi tingkat pendidikan menurut Hasbullah (2003) yaitu sebagai
berikut: Ideologi, sosial ekonomi, sosial budaya, perkembangan IPTEK dan Psikologi.
1. Deologi, Semua manusia dilahirkan kedunia mempunyai hak yang sama khususnya hak
untuk mendapatkan pendidikan dan peningkatan pengetahuan dan pendidikan.
2. Sosial Ekonomi, Semakin tinggi tingkat sosial ekonomi memungkinkan seseorang mencapai
tingkat pendidikan yang lebih tinggi.
3. Sosial Budaya, Masih banyak orang tua yang kurang menyadari akan pentingnya
pendidikan formal bagi anak-anaknya.
4. Perkembangan IPTEK, Perkembangan IPTEK menuntut untuk selalu memperbaharui
pengetahuan dan keterampilan agar tidak kalah dengan negara maju.
5. Psikologi, Konseptual pendidikan merupakan alat untuk mengembangkan kepribadian
individu agar lebih bernilai.
Menurut Green (1980) bahwa tingkat pendidikan seseorang akan berpengaruh dalam
memberikan respon terhadap sesuatu yang datang dari luar, mereka yang mempunyai
pendidikan lebih tinggi akan memberi respon yang rasional daripada mereka yang berpendidikan
rendah. Orang yang mempunyai pendidikan tinggi diharapkan lebih peka terhadap kondisi
keselamatannya, sehingga lebih baik dalam memanfaatkan fasilitas keselamatan
Tingkat Kesehatan
Kesehatan yaitu salah satu kebutuhan utama seluruh warga , oleh sebab itu
kesehatan yaitu hak bagi setiap warga yang dilindungi oleh Undang-Undang Dasar.
Menurut kesehatan yaitu salah satu modal utama dalam pelaksanaan
pembangunan ekonomi dimana kondisi kesehatan sekelompok warga ini harus baik.
Dalam pembangunan ekonomi, pembangunan kesehatan juga harus diperhatikan. Untuk
mencapai kemakmuran dan kesejahteraan bagi seluruh warga negara kita maka keduanya
harus berjalan seimbang. Pembangunan kesehatan merupakan sebuah proses perubahan terhadap
tingkat kesehatan sekelompok warga dari tingkat yang kurang baik menjadi tingkat yang
lebih baik sesuai dengan standar kesehatan. Oleh sebab itu, pembangunan kesehatan merupakan
pembangunan yang dilakukan sebagai investasi untuk membangun kualitas sumber daya
manusia
Kepemilikan Asset
Rendahnya tingkat kepemilikan aset merupakan salah satu faktor yang memicu
kemiskinan . Kepemikan aset oleh rumah tangga akan mempengaruhi akses
pasar yang dapat dilakukan oleh rumah tangga. kepemilikan aset
mencerminkan kekayaan suatu rumah tangga yang akan mempengaruhi tingkat konsumsi rumah
tangga ini . kepemilikan aset
diartikan sebagai kepemilikan alat-alat produktif oleh suatu rumah tangga yang pada akhirnya
dapat mempengaruhi pendapatan yang akan diterima oleh rumah tangga dari kepemilikan asset
ini . Sehingga dapat disimpulkan bahwa kepemilikan asset oleh rumah tangga dapat
mempengaruhi tingkat kemiskinan rumah tangga.
Faktor lain yang dapat mempengaruhi kemiskinan rumah tangga yaitu tingkat
pendidikan. Tingkat pendidikan memiliki dampak yang kuat terhadap kemiskinan. Pada rumah tangga, tingkat pendidikan tertinggi yang dicapai oleh kepala rumah tangga merupakan hal
sangat vital. Hal ini disebab kan pendidikan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi
pengahasilan dan kepala rumah tangga merupakan sumber pengahasilan
utama dalam rumah tangga. Sehingga pendidikan yang telah ditempuh oleh kepala rumah tangga
menjadi faktor yang penting dalam menentukan kesejahteraan rumah tangga. Menurut
pencapaian tingkat pendidikan kepala rumah tangga yang lebih tinggi akan
meningkatkan kesejahteraan rumah tangga, sehingga pendidikan merupakan cara yang efektif
untuk mengurangi kemiskinan. Jenis pekerjaan utama dalam rumah tangga merupakan faktor
yang dapat mempengaruhi kemiskinan rumah tangga. Jenis pekerjaan utama dalam rumah
tangga merupakan faktor penentu besarnya pendapatan (dan pengeluaran) yang diterima oleh
rumah tangga pekerjaan utama kepala rumah tangga
sangat berpengaruh terhadap tingkat kemiskinan suatu rumah tangga, hal ini disebab kan tiap
jenis pekerjaan memiliki tingkat upah yang berbeda-beda. Pada sektor pertanian tingkat upah
minimum yang akan diterima oleh pekerjanya akan lebih rendah dibandingkan pada sektor lain
(seperti : industri) dan di negara kita mayoritas kepala rumah tangga miskin cenderung bekerja
pada sektor pertanian baik dalam sub sektor pertanian tanaman pangan, perkebunan maupun
perikanan. Jumlah tanggungan dalam rumah tangga juga merupakan salah satu faktor yang dapat
mempengaruhi tingkat kemiskinan rumah tangga. Jumlah tanggungan dalam rumah tangga
ditunjukan dengan besarnya jumlah anggota rumah tangga yang tidak bekerja berkorelasi negatif
dengan konsumsi dan pendapatan perkapita tiap anggota keluarga jumlah tanggungan dalam rumah tangga (baik anak-anak,
anggota usia produktif yang tidak bekerja dan lansia) kemungkinan akan menurunkan
kesejahteraan dalam rumah tangga dan pada akhirnya terjadi kemiskinan rumah tangga.
Penarikan atau pembuatan sampel dari populasi untuk mewakili populasi disebabkan
untuk mengangkat kesimpulan penelitian sebagai suatu yang berlaku bagi populasi. Arikunto
(2010:174) mengatakan bahwa “sampel yaitu sebagian atau wakil populasi yang diteliti.”
Selanjutnya menurut sampel yaitu “bagian dari jumlah dan karakteristik
yang dimiliki oleh populasi ini .” Dalam penelitian ini penulis mengambil sampel dengan
menggunakan teknik purposive sampling. Mengenai hal ini, menjelaskan
bahwa “purposive sampling dilakukan dengan cara mengambil subjek bukan didasarkan atas
strata, random atau daerah namun didasarkan atas adanya tujuan tertentu.” Begitu pula sampling purposive yaitu “teknik penentuan sampel dengan pertimbangan
tertentu.” Artinya setiap subjek yang diambil dari populasi dipilih dengan sengaja iberdasar
tujuan dan pertimbangan tertentu.
Jumlah sampel yang diambil dari tiga Kabupaten Kepulauan di Sangihe, Minahasa
Tenggara dan Bolaang Mongondow Selatan masing-masing yaitu sebagai berikut:
1. Kabupaten Kepulauan Sangihe jumlah sampel yang diambil yaitu N=34
2. Kabupaten Minahasa Selatan jumlah sampel yang diambil yaitu N=38
3. Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan Jumlah sampel yang diambil yaitu N=156
Syarat-syarat penentuan sampel dalam penelitian ini yaitu sebagai berikut:
1. Status kesejahteraan Desil 1 (10%)
2. Anggota Rumah Tangga (ART) > 3
3. Bekerja sebagai pekerja bebas dan bekerja hanya di keluarga.
4. Kepala keluarga memiliki usia produktif (21-59 tahun)
5. Aset lahan milik sendiri.
Analisis Regresi Berganda
Dalam hal untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan sebelumnya, maka peneliti
menggunakan analisis linear berganda. Analisis regresi berganda merupakan studi
ketergantungan dari satu variabel yang disebut variabel tidak bebas (dependent variable), pada
satu atau lebih variabel, yaitu variabel yang menerangkan, dengan tujuan untuk memperkirakan
dan atau meramalkan nilai rata-rata dari variabel tidak bebas jika nilai variabel yang
menerangkan sudah diketahui. Variabel yang menerangkan sering disebut variabel bebas
(independent variable).
Metode kuadrat terkecil/Ordinary least square merupakan estimasi titik sampel, sebab
itu masalah verifikasi estimasi titik ini melalui interal estimasi maupun uji hipotesis melalui
uji t. dengan menggunakan table distribusi t kita mendapatkan nilai t kritis (tc) dengan
signifikansi tα/2 dan df (degree of freedom) n-k dimana n yaitu jumlah observasi dan k yaitu
jumlah parameter estimasi termasuk konstanta.
Hasil Estimasi dan Pembahasan
Berikut hasil regresi untuk mengetahui Pengaruh Pendidikan, Kesehatan dan
Kepemilikan Aset terhadap Kemiskinan Rumah Tangga di Bolaang Mongodow, Minahasa Tenggara dan Sangihe. Data diestimasikan dengan metode OLS (Ordinary Least Suare) analisis
regresi berganda sudah dijelaskan pada bab sebelumnya, dan diolah menggunakan program
Eviews 8.0.
Estimasi Model Penelitian 1
Berikut yaitu hasil estimasi variabel tingkat pendidikan, tingkat kesehatan dan
kepemilikan aset secara bersama-sama terhadap kemiskinan di tiga Kabupaten kepulauan di
Provinsi Sulawesi Utara yaitu: Kabupaten Kepulauan Sangihe, Kabupaten Minahasa Tenggara
dan Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan. Berikut hasil regresi untuk mengetahui pengaruh
pendidikan, kesehatan dan kepemilikan aset terhadap kemiskinan rumah tangga menggunakan
model OLS (Ordinary Least Suares). Hasil regresi bisa dilihat pada tabel 1 berikut:
Dari hasil estimasi regresi pada tabel 4.1 maka diperjelas dengan menggunakan
persamaan sebagai berikut:
Y = 14.47687– 0.040261X1 -0.080514X2 + 2.26E-05X3
Persamaan regresi di atas dapat dijelaskan sebagai berikut:
- Konstanta sebesar 14.47687; artinya jika pendidikan (X1), kesehatan (X2) dan kepemilikan aset
(X3) nilainya yaitu 0, maka kemiskinan (Y) nilainya yaitu 14.76%.
- Koefisien regresi variabel pendidikan (X1) sebesar -0.040261; artinya jika variabel independen
lain nilainya tetap dan pendidikan mengalami kenaikan 1%, maka kemiskinan (Y) akan mengalami penurunan sebesar 4.02%. Koefisien memiliki tanda negatif artinya ada pengaruh
negatif antara pendidikan dengan kesehatan, semakin naik pendidikan maka semakin turun
kemiskikan.
- Koefisien regresi variabel kesehatan (X2) sebesar -0.080514; artinya jika variabel independen
lain nilainya tetap dan kesehatan mengalami kenaikan 1%, maka kemiskinan (Y) akan
mengalami penurunan sebesar 8.05%. Koefisien bernilai negatif artinya ada pengaruh negatif
antara kesehatan dengan kemiskinan, semakin naik kesehatan maka semakin turun kemiskinan.
- Koefisien regresi variabel kepemilikan aset (X3) sebesar 2.26E-05 ; artinya jika variabel
independen lain nilainya tetap dan kepemilikan aset mengalami kenaikan 1%, maka kemiskinan
(Y) akan mengalami peningkatan sebesar 2.26%%. Koefisien bernilai positif artinya ada
pengaruh positif antara kepemilikan aset dengan kemiskinan, semakin naik kepemilikan aset
maka semakin naik kemiskinan.
Uji t-statistik
iberdasar hasil estimasi pada tabel 1 dapat dijelaskan bahwa variabel pendidikan,
kesehatan dan kepemilikan aset secara sendiri-sendiri berpengaruh terhadap kemiskinan rumah
tangga yang ada di Kabupaten kepulauan Sangihe, Kabupaten Minahasa Tenggara dan
Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan.
Hasil estimasi variabel pendidikan (X1) pada tabel 1 menunjukan bahwa variabel
pendidikan (X1) berpengaruh negatif signifikan secara statistik sebesar 0.0082. Nilai signifikan
lebih besar dari α=1%, maka Ha diterima Ho di tolak. Variabel pendidikan (X1) mempunyai
nilai t hitung yakni 2.669133 dan t tabel 2,34311 dengan df 224 (n-k =228-4). Jadi, t hitung 2.669133
> t tabel 2,34311 Artinya pendidikan berpengaruh negatif signifikan terhadap kemiskinan rumah
tangga (Y).
Hasil estimasi variabel kesehatan (X2) pada tabel 1 menunjukan bahwa variabel
kesehatan (X2) berpengaruh negatif signifikan secara statistik sebesar 0.0005. Nilai signifikan
lebih besar dari α=1%, maka Ha diterima Ho di tolak. Variabel kesehatan (X2) mempunyai nilai
t hitung yakni 3.551530 dan t tabel 2,34311 dengan df 224 (n-k =228-4). Jadi, t hitung 3.551530 > t
tabel 2,34311 Artinya kesehatan berpengaruh negatif signifikan terhadap kemiskinan rumah
tangga (Y).
Hasil estimasi variabel kepemilikan Asset (X3) pada tabel 1 menunjukan bahwa variabel
kepemilikan asset (X3) berpengaruh positif signifikan secara statistik sebesar 0.0006. Nilai
signifikan lebih besar dari α=1%, maka Ha diterima Ho di tolak. Variabel kepemilikan asset
(X3) mempunyai nilai t hitung yakni 3.476346 dan t tabel 2,34311 dengan df 224 (n-k =228-4).
Jadi, t hitung 3.476346 > t tabel 2,34311 Artinya kepemilikan asset berpengaruh positif signifikan
terhadap kemiskinan rumah tangga (Y).
Uji Simultan (Uji f)
iberdasar hasil estimasi pada tabel 1 dapat dijelaskan pengaruh variabel pendidikan,
kesehatan dan kepemilikan aset secara simultan berpengaruh terhadap kemiskinan rumah
tangga.
Nilai F-statistik yang diperoleh 11.53624 sedangkan F-tabel 2.60. Nilai F table
iberdasar besarnya α= 5% dan df dimana besarnya ditentukan oleh numerator (k-1/4-1)= 3
dan df untuk denominator (n-k/228-4)= 224. Dengan demikian F-statistik lebih besar dari Ftabel yang artinya bahwa pendidikan, kesehatan dan kepemilikan aset secara simultan
berpengaruh positif signifikan terhadap kemiskinan rumah tangga.Koefisien Determinan (R2
)
Dari nilai Adjusted R Square menunjukan nilai sebesar 0.133827 = 13.382%. Artinya,
bahwa variable kemiskinan rumah tangga (Y) 13.382% variasinya dijelaskan oleh variasi
variabel pendidikan (X1), kesehatan (X2) dan kepemilikan asset (X3), sisanya 86.618% di
jelaskan oleh faktor-faktor lain di luar model.
Estimasi Model Penelitian 2
Berikut yaitu hasil estimasi model penelitian 2 dengan menghilangkan variabel
kepemilikan aset. Variabel yang digunakan yaitu tingkat pendidikan dan tingkat kesehatan
secara bersama-sama terhadap kemiskinan di Kabupaten Kepulauan Sangihe, Kabupaten
Minahasa Tenggara dan Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan. Berikut hasil regresi untuk
mengetahui pengaruh pendidikan, kesehatan dan kepemilikan aset terhadap kemiskinan rumah
tangga menggunakan model OLS (Ordinary Least Suares). Hasil regresi bisa dilihat pada tabel 2
berikut:
Dari hasil estimasi regresi pada tabel 2 maka diperjelas dengan menggunakan persamaan
sebagai berikut:
Y = 14.60809 – 0.043333X1 -0.083910X2
Persamaan regresi di atas dapat dijelaskan sebagai berikut:
- Konstanta sebesar 14.60809; artinya jika pendidikan (X1), kesehatan (X2) dan kepemilikan aset
(X3) nilainya yaitu 0, maka kemiskinan (Y) nilainya yaitu 14.60%.
- Koefisien regresi variabel pendidikan (X1) sebesar – 0.043333; artinya jika variabel independen
lain nilainya tetap dan pendidikan mengalami kenaikan 1%, maka kemiskinan (Y) akan
mengalami penurunan sebesar 4.33%. Koefisien memiliki tanda negatif artinya ada pengaruh
negatif antara pendidikan dengan kesehatan, semakin naik pendidikan maka semakin turun
kemiskikan.
- Koefisien regresi variabel kesehatan (X2) sebesar -0.083910; artinya jika variabel independen
lain nilainya tetap dan kesehatan mengalami kenaikan 1%, maka kemiskinan (Y) akan
mengalami penurunan sebesar 8.3%. Koefisien bernilai negatif artinya ada pengaruh negatif
antara kesehatan dengan kemiskinan, semakin naik kesehatan maka semakin turun kemiskinan.
Uji t-statistik
iberdasar hasil estimasi pada tabel 2 dapat dijelaskan pengaruh variabel pendidikan
dan kesehatan secara sendiri-sendiri terhadap kemiskinan rumah tangga yang ada di tiga
Kabupaten Kepulauan Sangihe, Kabupaten Minahasa Tenggara dan Kabupaten Bolaang
Mongondow Selatan.
Hasil estimasi variabel pendidikan (X1) pada tabel 2 menunjukan bahwa variabel
pendidikan (X1) berpengaruh negatif signifikan secara statistik sebesar 0.0054. Nilai signifikan
lebih besar dari α=1%, maka Ha diterima Ho di tolak. Variabel pendidikan (X1) mempunyai
nilai t hitung yakni 2.809410 dan t tabel 2,34304 dengan df 225 (n-k =228-3). Jadi, t hitung 2.809410
> t tabel 2,34304 Artinya pendidikan berpengaruh negatif signifikan terhadap kemiskinan rumah
tangga (Y).
Hasil estimasi variabel kesehatan (X2) pada tabel 2 menunjukan bahwa variabel
kesehatan (X2) berpengaruh negatif signifikan secara statistik sebesar 0.0004. Nilai signifikan
lebih besar dari α=1%, maka Ha diterima Ho di tolak. Variabel kesehatan (X2) mempunyai nilai
t hitung yakni 3.616755 dan t tabel 2,34304 dengan df 225 (n-k =228-3). Jadi, t hitung 3.551530 > t
tabel 2,34304 Artinya kesehatan berpengaruh negatif signifikan terhadap kemiskinan rumah
tangga (Y).
Uji Simultan (Uji f)
iberdasar hasil estimasi pada tabel 2 dapat dijelaskan pengaruh variabel pendidikan dan
kesehatan secara simultan berpengaruh terhadap kemiskinan rumah tangga.
Nilai F-statistik yang diperoleh 10.73308 sedangkan F-tabel 3.00. Nilai F table
iberdasar besarnya α=5% dan df dimana besarnya ditentukan oleh numerator (k-1/3-1)= 2
dan df untuk denominator (n-k/228-3)= 225. Dengan demikian F-statistik lebih besar dari Ftabel yang artinya bahwa pendidikan dan kesehatan secara simultan berpengaruh positif
signifikan terhadap kemiskinan rumah tangga.
Koefisien Determinan (R2
)
Dari nilai Adjusted R Square menunjukan nilai sebesar 0.087096 = 8.709%. Artinya,
bahwa variable kemiskinan rumah tangga (Y) 8.7% variasinya dijelaskan oleh variasi variable
pendidikan (X1) dan kesehatan (X2), sisanya 91.291% di jelaskan oleh faktor-faktor lain di luar
model.
Pembahasan
Hasil penelitian yang menunjukan bahwa pendidikan berpengaruh negatif signifikan
terhadap kemiskinan rumah tangga. Artinya jika pendidikan naik maka kemiskinan rumah
tangga akan turun cetiris paribus. Kemiskinan diartikan sebagai kondisi ketidakmampuan
pendapatan dalam mencukupi kebutuhan pokok sehingga kurang mampu untuk menjamin
kelangsungan hidup , Secara teoritis, semakin tinggi pengetahuan atau
semakin tinggi pendidikan maka semakin tinggi kemampuan orang untuk berpikir, semakin baik
kemampuan untuk melakukan sesuatu, semakin tinggi kemampuan untuk memecahkan masalah. Semakin lama seseorang belajar, semakin banyak pengetahuan yang diperoleh sehingga orang
akan lebih rasional dalam melihat dan memahami masalah serta mencari solusi atau melakukan
sesuatu untuk memecahkan masalah. Pendidikan memungkinkan orang untuk mencapai kinerja
yang lebih baik dalam berbagai kegiatan termasuk produksi dan, sebab nya, mencapai
pendapatan yang lebih tinggi , Rendahnya kemampuan pendapatan
diartikan pula sebagai rendahnya daya beli atau kemampuan untuk mengkonsumsi Kemampuan
pendapatan yang relatif terbatas atau rendah memicu daya beli seseorang atau sekelompok
orang terutama untuk memenuhi kebutuhan pokok menjadi rendah (Nugroho, 1995: 17). Taraf
pendidikan yang rendah. Kondisi ini disebabkan sebab keterbatasan pendapatan untuk
mendapatkan pendidikan yang diinginkan atau sesuai dengan standar pendidikan.
Pada rumah tangga, tingkat pendidikan tertinggi yang dicapai oleh kepala rumah tangga
merupakan hal sangat vital. Hal ini disebab kan pendidikan merupakan salah satu faktor yang
mempengaruhi pengahasilan(Simanjuntak, 1985)dan kepala rumah tangga merupakan sumber
pengahasilan utama dalam rumah tangga. Sehingga pendidikan yang telah ditempuh oleh kepala
rumah tangga menjadi faktor yang penting dalam menentukan kesejahteraan rumah tangga.
Menurut pencapaian tingkat pendidikan kepala rumah tangga yang lebih
tinggi akan meningkatkan kesejahteraan rumah tangga, sehingga pendidikan merupakan cara
yang efektif untuk mengurangi kemiskinan. Jenis pekerjaan utama dalam rumah tangga
merupakan faktor yang dapat mempengaruhi kemiskinan rumah tangga. Jenis pekerjaan utama
dalam rumah tangga merupakan faktor penentu besarnya pendapatan (dan pengeluaran) yang
diterima oleh rumah tangga pekerjaan utama kepala
rumah tangga sangat berpengaruh terhadap tingkat kemiskinan suatu rumah tangga, hal ini
disebab kan tiap jenis pekerjaan memiliki tingkat upah yang berbeda-beda. Kemiskinan juga
dianggap sebagai bentuk permasalahan pembangunan yang diakibatkan adanya dampak negatif
dari pertumbuhan ekonomi yang tidak seimbang sehingga memperlebar kesenjangan pendapatan
antar warga maupun kesenjangan pendapatan antar daerah (inter region income gap)
Permasalahan kemiskinan seperti halnya pada pandangan semula yaitu kondisi
ketidakmampuan pendapatan untuk mencukupi kebutuhan-kebutuhan pokok. Konsep atau
pandangan ini berlaku tidak hanya pada kelompok yang tidak memiliki pendapatan, akan namun
dapat berlaku pula pada kelompok yang telah memiliki pendapatan. Pada umumnya, rendahnya
kemampuan pendapatan akan berdampak pada kekuatan sosial (social power) dari seseorang
atau sekelompok orang terutama dalam memperoleh keadilan ataupun persamaan hak untuk
mendapatkan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan.
Keterbatasan kemampuan pendapatan ataupun kekuatan sosial dari seseorang atau
sekelompok orang yang disebut miskin tadi memicu tingkat ketergantungan terhadap
pihak lain yaitu sangat tinggi. Mereka tidak memiliki kemampuan atau kekuatan untuk
menciptakan solusi atau penyelesaian masalah terutama yang berkaitan dengan penciptaan
pendapatan baru. Bantuan pihak lain sangat diperlukan untuk mengatasi persoalan-persoalan
terutama yang berkaitan dengan kebutuhan akan sumber pendapatan.
Pada sektor pertanian tingkat upah minimum yang akan diterima oleh pekerjanya akan
lebih rendah dibandingkan pada sektor lain (seperti : industri) dan di negara kita mayoritas kepala
rumah tangga miskin cenderung bekerja pada sektor pertanian baik dalam sub sektor pertanian
tanaman pangan, perkebunan maupun perikanan. Jumlah tanggungan dalam rumah tangga juga
merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi tingkat kemiskinan rumah tangga.
Jumlah tanggungan dalam rumah tangga ditunjukan dengan besarnya jumlah anggota rumah
tangga yang tidak bekerja berkorelasi negatif dengan konsumsi dan pendapatan perkapita tiap
anggota keluarga
Menurut Mok T.Y (2010) jumlah tanggungan dalam rumah tangga (baik anak-anak,
anggota usia produktif yang tidak bekerja dan lansia) kemungkinan akan menurunkan
kesejahteraan dalam rumah tangga dan pada akhirnya terjadi kemiskinan rumah tangga. Hasil
ini sama dengan penelitian yang dilakukan yang menyatakan bahwa
pendidikan berpengaruh negatif terhadap kemiskinan di Kota Medan.
Hasil penelitian menunjukan bahwa kesehatan berpengaruh negatif dan signifikan
terhadap kemiskinan rumah tangga. Artinya jika tingkat kesehatan naik makan kemiskinan
akan turun cetiris paribus. Kondisi warga yang disebut miskin dapat diketahui iberdasar
kemampuan pendapatan dalam memenuhi standar hidup ,. Pada prinsipnya,
standar hidup di suatu warga tidak sekedar tercukupinya kebutuhan akan pangan, akan
namun juga tercukupinya kebutuhan akan kesehatan maupun pendidikan. Tempat tinggal ataupun
pemukiman yang layak merupakan salah satu dari standar hidup atau standar kesejahteraan
warga di suatu daerah. iberdasar kondisi ini, suatu warga disebut miskin jika
memiliki pendapatan jauh lebih rendah dari rata-rata pendapatan sehingga tidak banyak
memiliki kesempatan untuk mensejahterakan dirinya
iberdasar Undang-Undang No. 24 Tahun 2004, kemiskinan yaitu kondisi sosial
ekonomi seseorang atau sekelompok orang yang tidak terpenuhinya hak –hak dasarnya untuk
mempertahankan dan mengembangkan kehidupan yang bermartabat. Kebutuhan dasar yang
menjadi hak seseorang atau sekelompok orang meliputi kebutuhan pangan, kesehatan,
pendidikan, pekerjaan, perumahan, air bersih, pertanahan, sumber daya alam, lingkungan hidup,
rasa aman dari perlakuan atau ancaman tindak kekerasan, dan hak untuk berpartisipasi dalam
penyelenggaraan kehidupan sosial dan politik.
Laporan Bidang Kesejahteraan Rakyat yang dikeluarkan oleh Kementrian Bidang
Kesejahteraan (Kesra) tahun 2004 menerangkan pula bahwa kondisi yang disebut miskin ini
juga berlaku pada mereka yang bekerja akan namun pendapatannya tidak mencukupi untuk
memenuhi kebutuhan pokok/dasar.
Kesehatan yaitu salah satu kebutuhan utama seluruh warga , oleh sebab itu
kesehatan yaitu hak bagi setiap warga yang dilindungi oleh Undang-Undang Dasar.
Menurut Juanita (2002) kesehatan yaitu salah satu modal utama dalam pelaksanaan
pembangunan ekonomi dimana kondisi kesehatan sekelompok warga ini harus baik.
Dalam pembangunan ekonomi, pembangunan kesehatan juga harus diperhatikan. Untuk
mencapai kemakmuran dan kesejahteraan bagi seluruh warga negara kita maka keduanya
harus berjalan seimbang. Pembangunan kesehatan merupakan sebuah proses perubahan terhadap
tingkat kesehatan sekelompok warga dari tingkat yang kurang baik menjadi tingkat yang
lebih baik sesuai dengan standar kesehatan.
Hasil penelitian menunjukan bahwa kepemilikan asset berpengaruh positif dan signifikan
terhadap kemiskinan. Artinya, jika kepemilikan aset naik maka kemiskinan rumah tangga
akan naik, cetiris paribus. Hasil ini tidak sesuai dengan teori yang menyatakan adanya
pengaruh negatif variabel kepemilikan asset terhadap kemiskinan rumah tangga. Rendahnya
tingkat kepemilikan aset merupakan salah satu faktor yang memicu kemiskinan
Kepemikan aset oleh rumah tangga akan mempengaruhi akses pasar yang dapat
dilakukan oleh rumah tangga. kepemilikan aset mencerminkan kekayaan
suatu rumah tangga yang akan mempengaruhi tingkat konsumsi rumah tangga ini .
Sedangkan menurut Sahdan , kepemilikan aset diartikan sebagai
kepemilikan alat-alat produktif oleh suatu rumah tangga yang pada akhirnya dapat
mempengaruhi pendapatan yang akan diterima oleh rumah tangga dari kepemilikan asset
ini . Sehingga dapat disimpulkan bahwa kepemilikan asset oleh rumah tangga dapat
mempengaruhi tingkat kemiskinan rumah tangga.
Hasil ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan yang
menyatakan bahwa kepemilikan aset berpengaruh positif terhadap kemiskinan rumah tangga di
Kecamatan Tugu Kota Semarang. Begitu juga dengan penelitian yang dilakukan yang menyatakan bahwa kepemilikan aset memiliki pengaruh positif terhadap
peningkatan kemiskinan rumah tangga di Kecamatan Suruh Kabupaten Semarang.
Kemiskinan yaitu suatu keadaan yang menyangkut ketidakmampuan
dalam memenuhi tuntutan
kehidupan yang paling minimum, khususnya dari aspek konsumsi dan pendapatan. Masalah kemiskinan
ini sangatlah kompleks dan bersifat multidimensional, dimana berkaitan dengan aspek sosial, ekonomi,
budaya, dan aspek lainnya. Masalah kemiskinan pada rumah tangga miskin kronis bisa memicu
rumah tangga ini terjerat ”Poverty Traps”. Rumah tangga miskin akan semakin sulit keluar dari
poverty traps jika terdapat masalah struktural pada rumah tangga ini . Sulawesi Utara merupakan
salah satu provinsi di negara kita yang tidak luput dari masalah kemiskinan rumah tangga, yaitu
kemiskinan yang dialami oleh rumah tangga desil 1 atau kondisi rumah tangga yang benar-benar sangat
miskin. Tujuan Penelitian untuk mengetahui pengaruh tingkat pendidikan, kesehatan dan kepemilikan
aset terhadap kemiskinan rumah tangga di Sulawesi Utara. Teknik analisis yang digunakan yaitu
analisis regresi berganda. Hasil penelitian yang didapat pendidikan berpengaruh negatif signifikan
terhadap kemiskinan rumah tangga. Kesehatan berpengaruh negatif signifikan terhadap kemiskinan
rumah tangga. Kepemilikan aset berpengaruh positif signifikan terhadap kemiskinan.
.jpeg)
