Tidak mampu 5
berdasar analisis data dan pembahasan, maka dirumuskan beberapa kesimpulan
yaitu:
1. Strategi pemberdayaan warga di Kecamatan Mariso Kota Makassar, dapat dilakukan
dengan beberapa langkah sebagai berikut: (i) Penetapan dan pengenalan wilayah kerja; (ii)
Sosialisasi kegiatan; (iii) Penyadaran warga ; (iv) Pengorganisasian warga ; (v)
Pelaksanaan kegiatan dan (vi) Advokasi kebijakan.
2. Sebagian warga yang bermukim di lorong-lorong Kota Makassar tetap miskin
walaupun sudah ada beberapa program pemberdayaan yang diberikan sebab warga
lorong ini memiliki sifat malas dalam bekerja, serta cenderung pasrah kepada nasib.
Selain itu, mereka juga memiliki tingkat keterampilan yang rendah sehingga sulit untuk
mendapatkan pekerjaan yang dapat menopang kehidupan mereka.
3. Hasil penelitian ini menghasilkan beberapa saran sebagai yaitu pemerintah setempat perlu
melakukan pendataan terhadap jumlah rumah tangga miskin khususnya di Kecamatan
Mariso Kota Makassar, untuk kemudian mencari solusi pemberdayaan yang dapat
memandirikan keluarga miskin ini . pemerintah setempat Kecamatan Mariso perlu melakukan
pendataan terhadap jumlah perusahaan yang berlokasi di Kecamatan Mariso untuk
kemudian mendorong perusahaan ini untuk melaksanakan tanggungjawab sosial
mereka terharap warga miskin yang ada di Kecamatan Mariso ini .
Kemiskinan digambarkan sebagai ketidakmampuan untuk memenuhi
kebutuhan
pokok sebab kurangnya pendapatan, sehingga semakin sulit untuk menjamin kelangsungan
hidup .saat tingkat kemiskinan suatu negara tinggi, daya beli warganya
menurun yang berdampak negatif pada pertumbuhan ekonomi .Penelitian
ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pertumbuhan ekonomi terhadap tingkat kemiskinan
di Kota Makassar,dan untuk mengetahui pengaruh pengangguran terhadap tingkat kemiskinan
di Kota Makassar dengan memakai data primer dan data sekunder teknik pengumpulan
data studi kepustakaan dan wawancara kemudian di analisis secara kualitatif .Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ketidakmampuan akses pendidikan dan kesehatan
dan lapangan kerja secara layak selanjutnya berdampak pada naiknya jumlah pengangguran
pada angkatan kerja. Dengan kata lain, kemiskinan bisa berdampak pada pengangguran serta
kurangnya pendapatan, dan selanjutnya pengangguran itu sendiri menjadikan terbentuknya
warga miskin
Istilah kemiskinan muncul pada saat seseorang atau sekelompok orang tidak mampu
mencukupi tingkat kemakmuran ekonomi yang dianggap sebagai kebutuhan minimal dari
standar hidup tertentu. Kemiskinan dapat dilihat sebagai keadaan kekurangan sumber daya
uang dan barang untuk dapat menjamin kebutuhan dasar dalam kehidupan.Pengertian
kemiskinan menurut BPS (2008) yaitu “Suatu kondisi miskin sebab pengaruh kebijakan
pembangunan yang belum mampu menjangkau seluruh lapisan warga sehingga
menyebabkan ketimpangan distribusi pendapatan”..Kehidupan yang
sejahtera merupakan kehidupan yang diinginkan oleh semua manusia. Akan namun , tidak semua
orang dapat merasakan hidup secara sejahtera. Salah satu cara yang dapat dilakukan suatu
negara untuk meningkatkan kesejahteraan rakyatnya yaitu dengan melakukan pembangunan,
salah satunya pada bidang ekonomi, dimana pertumbuhan ekonomi menjadi indikatornya.
sumber daya manusia merupakan input yang
berperan penting dalam pembangunan ekonomi, dimana pembangunan ini merupakan
penyebab kesejahteraan suatu negara, yaitu pentingnya skala ekonomi dan juga kualitas
manusia itu sendiri
Kemiskinan merupakan fenomena sosial yang sifatnya multi- dimensi, tidak hanya
dikaitkan dengan masalah ekonomi saja, namun juga berkaitan dengan masalah-masalah sosial,
budaya dan politik Pemahaman terkait dimensi ekonomi berarti kemiskinan
diartikan sebagai keterbatasan sumber-sumber ekonomi untuk mempertahankan kelangsungan
hidup yang layak dalam istilah sosiologi disebut dengan kemiskinan absolut (. Fenomena kemiskinan ekonomi umumnya dikaitkan dengan kekurangan
pendapatan untuk memenuhi kehidupan yang layak dan bergantung pada apa
yang terjadi pada distribusi pendapatan dan konsumsi .Masalah kemiskinan ini terjadi hampir di setiap provinsi di Indonesia begitu juga yang
terjadi di Sulawesi Selatan termasuk di Kota Makassar yang menjadi ibu Kota Provinsi dan
salah satu kota metropolitan terbesar ke-lima di Indonesia. Dimana Makassar Menjadi sebagai
pusat perekonomian, pendidikan, pariwisata dan industri kondisi demikian membuat
warga luar tertarik untuk datang dan tinggal di Makassar dengan harapan mendapatkan
pekerjaan yang layak sehingga tidak heran jika pertumbuhan warga kota makassar sangat
pesat setiap tahunnya, warga Kota Makassar saat ini sekitar 1.508.154 juta jiwa (BPS,
2018) dengan begitu besarnya jumlah warga akan dapat menimbulkan dampak-dampak
negatif di warga . Faktor lain yang menyebabkan kemiskinan yaitu rendahnya Sumber Daya Manusia
(SDM) yang disebabkan oleh rendahnya kualitas pendidikan yang dimilikinya. Penelitian yang
dilakukan Chang dan Shi (2016) menunjukkan bahwa investasi pada SDM dapat meningkatkan
pertumbuhan ekonomi melalui inovasi dan teknologi. Dengan adanya peningkatan modal SDM
maka akan meningkatkan produktivitas yang pada akhirnya akan mengarah pada peningkatan
pertumbuhan ekonomi. Dan hasil penelitian yang dilakukan Suliswanto (2010) menemukan
hasil bahwa peningkatan kualitas SDM akan mampu memberikan pengaruh terhadap
pengurangan angka kemiskinan. Pembentukan modal manusia yaitu proses memperoleh dan
meningkatkan jumlah orang yang memiliki keahlian, pendidikan dan pengalaman yang
menentukan bagi pembangunan ekonomi dan politik suatu negara. Pembentukan modal
manusia sebab nya dikaitkan dengan investasi pada manusia dan pengembangannya sebagai
suatu sumber yang kreatif dan produktif
Kemiskinan sampai hari ini masih menjadi persoalan sosial klasik yang selalu muncul
dan dialami oleh setiap wilayah . Oleh sebab itulah dalam kondisi
yang urgen maka setiap wilayah yang di dalamnya diselenggarakan oleh satuan pemerintahan
dituntut untuk mengatasi permasalahan ini . Kemiskinan bukan merupakan persoalan
sosial yang mudah untuk diselesaikan, namun menuntut berbagai pihak untuk melakukan
berbagai inovasi kebijakan yang dapat menanggulangi kemiskinan
dalam penelitiannya mengungkapkan bahwa indeks pembangunan
manusia (IPM) sangat berpengaruh terhadap kemiskinan, jika IPM suatu daerah tinggi maka
kemiskinan di daerah ini rendah. Kemiskinan yaitu persoalan yang sangat kompleks dan
kronis yang membutuhkan analisis serta variabel yang tepat dalam rangka penanggulangan
kemiskinan
Pengangguran yaitu masalah makroekonomi yang mempengaruhi manusia secara
langsung dan merupakan yang paling berat. Bagi kebanyakan orang, kehilangan pekerjaan
berarti penurunan standar kehidupan dan tekanan psikologis , pengangguran yaitu seseorang yang sudah digolongkan
dalam angkatan kerja, yang secara aktif sedang mencari pekerjaan pada suatu tingkat upah
tertentu, tetepi belum meperoleh pekerjaan yang diinginkannya
Pengangguran terbuka merupakan bagian dari angkatan kerja yang tidak bekerja atau
sedang mencari pekerjaan (baik bagi mereka yang belum pernah bekerja maupun yang sudah
pernah bekerja), atau sedang mempersiapkan suatu usaha, mereka yang tidak mencari
pekerjaan sebab merasa tidak mungkin untuk mendapatkan pekerjaan dan mereka yang sudah memiliki pekerjaan dan mereka yang sudah memiliki pekerjaan namun belum mulai bekerja
Angka pengangguran masih menjadi persoalan bangsa, hal ini kelihatan dari data
statistik warga usia kerja yang belum terserap lapangan kerja
Kemiskinan dan pengangguran merupakan sebuah permasalahan besar di setiap bangsa sampai
di daerah, disebab kan dua hal ini mempunyai pengaruh nyata bagi warga dan bangsa
ini . Dalam hal menanggulangi tingkatan kemiskinan juga pengangguran, yang dijadikan
sebagai fokus tujuan yaitu cara wujud penanggulangan dalam menambah tingkat penghasilan
secara rata dan jalan yang mudah dalam mendapatkan pendidikan, air, dan kesehatan, serta
lain-lain .
Ketimpangan pendapatan di tengah warga berdampak kepada terbentuknya jurang
kemiskinan . Kemiskinan itu sendiri merupakan persoalan pada setiap negara,
dan seringkali menjadi permasalahan yang nyaris tidak ada ujungnya. Kemiskinan akan
berakibat pada turunnya taraf hidup warga sehingga berdampak pada terbatasnya
pemenuhan kebutuhan setiap hari
Kemiskinan sebagai perma-salahan yang terjadi di berbagai belahan dunia sering dikaitkan
dengan isu ketimpangan pendapatan . Menurut
hubungan antara ketimpangan dan kemiskinan merupakan hubungan yang pragmatis, yaitu
bahwa ketimpangan menyebabkan kemiskinan semakin parah atau ketimpangan yaitu bentuk
dari kemiskinan. Pada tulisan menyatakan bahwa ada
hubungan positif antara kemiskinan dengan ketimpangan. Hal ini juga searah dengan
statistik yang menunjukkan bahwa memburuknya ketimpangan sejalan dengan statistik yang
menunjukkan kecenderungan peningkatan kemiskinan
Upaya menurunkan tingkat pengangguran dan menurunkan tingkat kemiskinan sama
pentingnya. Secara teori jika warga tidak menganggur berarti mempunyai pekerjaan dan
penghasilan, dan dengan penghasilan yang dimiliki dari bekerja diharapkan dapat memenuhi
kebutuhan hidup. Jika kebutuhan hidup terpenuhi, maka tidak akan miskin. Sehingga dikatakan
dengan tingkat pengangguran rendah (kesempatan kerja tinggi) maka tingkat kemiskinan juga
rendah
Faktor yang mempengaruhi perluasan kesempatan kerja antara lain: perkembangan jumlah
warga dan angkatan kerja, pertumbuhan ekonomi dan kebijakan mengenai perluasan
kesempatan kerja itu sendiri. Tenaga kerja merupakan salah satu faktor produksi yang sangat penting disamping sumber alam, modal dan teknologi
Dalam mencapai suatu kesejahteraan, dibutuhkan keseimbangan antara angkatan kerja
dan kesempatan kerja, namun yang terjadi di Indonesia jumlah angkatan kerja lebih banyak
dari pada kesempatan kerja, hal ini berdampak pada terjadinya kenaikan
pengangguran
Pertumbuhan ekonomi merupakan keharusan bagi pengurangan kemiskinan, namun di lain sisi
pertumbuhan yang berkualitas harus efektif mengurangi kemiskinan. Artinya, pertumbuhan
ekonomi seharusnya menyebar di setiap golongan pendapatan, termasuk golongan warga
miskin. Oleh sebab itu, pertumbuhan seharusnya dipastikan terjadi di sektor-sektor dimana
warga miskin bekerja
Keberhasilan pembangunan ekonomi di suatu negara dapat diukur melalui tinggi
rendahnya pertumbuhan ekonomi. Pelaksanaan pembangunan ekonomi nasional tidak bisa
dipisahkan dengan pelaksanaan pembangunan daerah. Pembangunan daerah menjadi upaya
pencapaian target pembangunan nasional. Pertumbuhan ekonomi yaitu indikator yang sangat
penting untuk melangkah ke tahapan kemajuan selanjutnya, yaitu kesempatan kerja dan
produktivitas serta distribusi pendapatan
Pertumbuhan ekonomi tidaklah cukup untuk mengentaskan kemiskinan, namun
pertumbuhan ekonomi juga sangat dibutuhkan untuk menekan kemiskinan, meskipun begitu
pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak serta merta menurunkan jumlah warga miskin jika
tidak diiringi dengan pemerataan pendapatan
Pertumbuhan dalam perekonomian yaitu peningkatan kualitas beserta kuantitas produk
maupun jasa yang diproduksi oleh negara dari suatu tahun ke tahun. Hal ini dapat diukur
dengan indikator seperti pendapatan nasional suatu negara, pendapatan per kapita, angkatan
kerja yang lebih tinggi daripada jumlah pengangguran dan kemiskinan yang menurun
Berbagai kebijakan dan program penanggulangan kemiskinan oleh pemerintah setempat ini
akan bergantung pada ketersediaan dan mekanisme penggunaan anggaran yang dimiliki oleh
daerah menyatakan bahwa upaya penanggulangan
kemiskinan tidak akan berjalan dengan baik jika tidak didukung oleh kebijakan anggaran yang
menunjukkan keberpihakan pada warga miskin (pro- poor budget) menjelaskan alasan adanya pengangguran yaitu dibutuhkan waktu
untuk mencocokkan antara para pekerja dengan pekerjaan. Dalam kenyataannya para pekerja
memiliki preferensi dan kemampuan yang berbeda, dan pekerjaan memiliki karakteristik yang
berbeda. Sementara arus informasi tentang calon karyawan dan lowongan kerja tidak
sempurna, serta mobilitas geografis pekerja tidak instan. Atas dasar alasan ini, mencari
pekerjaan yang tepat membutuhkan waktu serta usaha disebabkan pekerjaan yang berbeda
membutuhkan keahlian yang berbeda serta upah yang juga berbeda menyatakan bahwa : “Kesejahteraan yaitu sebuah kondisi
dimana seorang dapat memenuhi kebutuhan pokok, baik itu kebutuhan akan makanan, pakaian,
tempat tinggal, air minum yang bersih serta kesemapatan untuk melanjutkan pendidikan dan
memiliki pekerjaan yang memadai yang dapat menunjang kualitas hidupnya sehingga
hidupnya bebas kemiskinan, kebodohan, ketakutan, atau kekhawatiran sehingga hidupnya
aman, tentram, baik lahir maupun batin”.Kesejahteraan warga menengah kebawah dapat
dipresentasikan dari tingkat hidup warga , tingkat hidup warga ditandai dengan
terentasnya dari kemiskinan, tingkat kesehatan yang lebih baik, perolehan tingkat pendidikan
yang lebih tinggi, dan tingkat produktifitas warga . Badan Pusat Statistik (2010), warga
miskin yaitu warga yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan dibawah
garis kemiskinan. Garis kemiskinan didasarkan pada pendapatan mempertimbangkan pada
dimensi kesejahteraan.
Namun,ukuran ini justru tidak menggambarkan batas kemiskinan yang sebenarnya.
Perbedaan antar daerah juga merupakan ciri kemiskinan, diantaranya tercermin dengan adanya
perbedaan antara daerah perdesaan dan perkotaan
Teori-teori kemiskinan pada umumnya bermuara pada dua paradigma besar yang juga
berpengaruh pada pemahaman mengenai kemiskinan dan penanggulangan kemiskinan. Dua
paradigma yang dimaksud yaitu Neo-Liberal dan Demokrasi-sosial. Dua paradigma ini
memiliki perbedaan yang sangat jelas terutama dalam melihat kemiskinan maupun dalam
memberikan solusi penyelesaian masalah kemiskinan. Paradigma yang dimaksud yaitu
sebagai berikut:
1. Paradigma Neo-Liberal
Pada paradigma ini individu dan mekanisme pasar bebas menjadi fokus utama dalam
melihat kemiskinan Pendekatan ini menempatkan kebebasan individu
sebagai komponen penting dalam suatu warga . Oleh sebab itu dalam melihat kemiskinan,
pendekatan ini memberikan penjelasan bahwa kemiskinan merupakan persoalan individu yang
merupakan akibat dari pilihan-pilihan individu.
Bagi pendekatan ini strategi penanggulangan kemiskinan bersifat sementara dan peran negara
sangat minimum. Peran negara baru dilakukan bila institusi-institusi di warga , seperti
keluarga, kelompok-kelompok swadaya, maupun lembaga-lembaga lainnya tidak mempu lagi
menangani kemiskinan. Paradima neo-liberal ini digerakan oleh Bank Dunia dan telah menjadi
pendekatan yang digunakan oleh hampir semua kajian mengenai kemiskinan. Teori-teori
modernisasi yang menekankan pada pertumbuhan ekonomi dan produksi merupakan dasar
teori-teori dari paradigm ini . Kelemahan paradigma ini yaitu terlalu
memandang kemiskinan hanya melalui pendapatan dan kurang melibatkan orang miskin
sebagai subyek dalam permasalahan kemiskinan Hal ini mengakibatkan
bentuk- bentuk kemiskinan yang muncul dalam warga kurang mendapatkan perhatian.
2. Paradigma Demokrasi-Sosial
Paradigma ini tidak melihat kemiskinan sebagai persoalan individu,melainkan lebih
melihatnya sebagai persoalan structural
Ketidakadilan dan ketimpangan dalam warga lah yang mengakibatkan kemiskinan ada
dalam warga . Bagi pendekatan ini tertutupnya akses-akses bagi kelompok tertentu
menjadi penyebab terjadinya kemiskinan. Pendekatan ini juga menekankan pada kesetaraan
sebagai prasyarat penting dalam memperoleh kemandirian dan kebebasan
Kemandirian dan kebebasan ini akan tercapai jika setiap orang memiliki atau mampu
menjangkau sumber-sumber bagi potensi dirinya, seperti pendidikan, kesehatan yang baik dan
pendapatan yang cukup. Peran negara dalam pendekatan ini cukup penting terutama dalam
merumuskan strategi untuk menanggulangi kemiskinan. Bagi pendekatan ini kemiskinan harus
ditangani secara institusional (melembaga), misalnya melalui program jaminan sosial.
Kelemahan teori ini yaitu adanya ketergantungan yang tinggi pada negara dalam membentuk
struktur dan institusi untuk menanggulangi kemiskinan. Padahal pencapaian pembentukan
struktur dan institusi yang tepat dalam menangani kemiskinan itu sendiri tergantung pada
kapabilitas kelompok miskin. Penggunaan kemiskinan relatif dalam pendekatan ini juga lebih
menyulitkan dalam membentuk kebutuhan standar yang diperlukan oleh kelompok miskin. Hal
ini disebab kan kemiskinan tidak dilihat dari kebutuhan minimal yang harus dicapai tapi lebih
pada rata-rata kemampuan warga dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.
mengemukakan bahwa pengangguran akan menimbulkan
efek mengurangi pendapatan warga dan itu akan mengurangi tingkat kemakmuran yang
telah dicapai. Dimana, semakin turunnya tingkat kemakmuran akan menimbulkan masalah
yaitu kemiskinan
Pertumbuhan ekonomi Kota Makassar dalam lima tahun terakhir mengalami fluktuasi
yang tidak terlepas dari pengaruh perkembangan ekonomi secara nasional dan global. Batas
garis kemiskinan warga Kota Makassar mengalami kenaikan seiring dengan meningkatnya
harga kebutuhan makanan dan non makanan warga .
Pertumbuhan ekonomi menunjukkan sejauh mana aktivitas perekonomian yang dapat
menghasilkan tambahan pendapatan atau kesejahteraan warga pada periode tertentu.
Pertumbuhan ekonomi suatu negara atau suatu wilayah yang terus menunukkan suatu
peningkatan menggambarkan bahwa perkonomian negara atau wilayah ini berkembang
dengan baik. Sebaliknya apabila perekonomian ini tidak dapat berkembang dengan baik
hal terburuk yang akan muncul yaitu masalah pengangguran. Hasil penelitian ini sejalan
dengan hasil dari penelitian
menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi berpengaruh negative dan signifikan terhadap
pengangguran
Pendidikan memiliki peran penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegaradalam
upaya menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas. Pendidikan merupakan merupakan
faktor kebutuhan dasar untuk setiap manusia sehingga upaya mencerdaskan kehidupan bangsa,
sebab melalui Pendidikan upaya meningkatan kesejahteraan rakyat dapat diwujudkan. Pedidikan mempengaruhi secara penuh pertumbuhan ekonomi suatu negara atau daerah hal ini
bukan saja sebab pendidikan akan berpengaruh terhaap produktivitas, namun juga akan
berpengaruh vertilitas warga . Pendidikan dapat menjadikan sumberdaya manusia lebih
cepat mengerti dan siap mengahdapi perubahan dan pembangunan suatu negara. Kegiatan
ekonomi di warga membutuhkan tenaga kerja. Kebutuhan akan tenaga kerja ini dapat juga
disebut sebagai kesempatan kerja. Kesempatan kerja itu sendiri yaitu suatu keadaan yang
menggambarkan terjadinya lapangan kerja (pekerjaan) untuk diisi pencari kerja. Hasil dari
penelitian ini sejalan dengan penelitian menurut bahwa pendidikan
berpengaruh signifikan terhadap pengangguran
Hasil Wawancara
Hasil wawancara diperoleh dari warga lorong kategori miskin di Kecamatan
Mariso Kota Makassar didapatkan bahwa mereka pasrah dari keadaan akibat ketidak mampuan
dari sesi pendidikan dan pengetahuan menyebabkan pesimis dan berdampak kepada sifat
malas, warga lorong juga memiliki tingkat keterampilan yang sangat rendah. Bahkan
dapat dikatakan bahwa mereka itu sama sekali tidak memiliki keterampilan yang dapat
menopang usahanya. Pekerjaan sebagai tukang becak sudah menjadi tradisi yang secara turuntemurun diwariskan kepada anak-anaknya dan tampaknya tidak ada pilihan lain kecuali bekerja
sebagai tukang becak atau sebagai pembantu rumah tangga bagi istri-istri mereka. Dengan
begitu maka tingkat penghasilan mereka sangat rendah dan tingkat ketergantungan kepada
orang lain sangat tinggi
Hasil wawancara dari para informan baik toko warga ibu Ketua RT setempat
maupun aparat menyatakan kemiskinan warga ini diakibatkan sebab memiliki Sifat
malas untuk mengembangkan diri menjadi maju serta tingkat keterampilan yang sangat rendah
yang mereka miliki. Hal ini memerlukan perhatian yang serius dari pemerintah setempat Kota Makassar.
Kekurang-berhasilan dari praktek-praktek pemberdayaan warga yang dilakukan oleh
pemerintah setempat kota terhadap mereka, menuntut untuk ditemukannya strategi atau model
pemberdayaan yang sesuai dengan keadaan mereka itu. Perlu ada strategi pemberdayaan baru
yang sesuai dengan kondisi mereka itu, untuk keluar dari lingkaran kemiskinan.
Memperhatikan karakteristik warga lorong sebagaimana diuraikan diatas, maka strategi
pemberdayaan yang perlu dilaksanakan yaitu pembangunan yang berpusat pada rakyat miskin
ini .
Strategi Pemberdayaan warga yang bermukim di lorong-lorong Kecamatan
Mariso Kota Makassar yang masih berada dalam kategori miskin mempunyai sifat malas.
Mereka tidak memiliki apa yang disebut oleh Mclelland sebagai dorongan untuk berhasil.
Bantuan-bantuan yang pernah diberikan kepada mereka baik yang berasal dari pemerintah setempat kota maupun dari perusahaan sebagai tanggung jawab sosial dari perusahaan-perusahaan tidak dapat
dimanfaatkan dengan baik. Sudah banyak jenis bantuan yang diberikan oleh pemerintah setempat baik
berupa uang seperti yang dikenal dengan Bantuan langsung Tunai (BLT) atau dalam bentuk
modal usaha tanpa angunan dengan bungan ringan.
Salah satu faktor determinan yang dimaksudkan dalam tulisan ini yaitu perubahan
struktur sosial warga dalam sistem sosial. Sistem sosial disini yaitu sistem ekonomi dan
politik. Dikatakan demikian sebab diketahui bahwa dalam komunitas, hubungan antara
individu dan warga yaitu transaksional, refleksif atau interaktif, sehingga komunitas
dapat mempengaruhi individu. sebab itu, menjadi sangat penting untuk memahami posisi
warga yang opresif dalam konteks struktur sosial dan ekonomi di mana mereka hidup.
Banyaknya sentra- sentra ekonomi di kawasan Kecamatan Mariso Kota Makassar merupakan
bagian dari struktur ekonomi yang sudah memberikan dampak yang luas terhadap
perekonomian di Kota Makassar. Sayangnya tidak semua warga di Kecamatan Mariso
Kota Makassar mampu memanfaatkan peluang untuk berkiprah dibalik usaha-usaha ekonomi
dalam skala yang besar. Dengan keterampilan yang rendah yang mereka miliki itu, tidak dapat
mengambil bagian di dalamnya sebagai aktor-aktor ekonomi apalagi mau bersaing dengan para
pengusaha atau pemilik modal. Hasil pengamatan peneliti memperhatikan hubungan antara
pedagang atau pengusaha sebagai pemilik modal dengan warga miskin di Kecamatan
Mariso Kota Makassar yang sangat jauh dari konsep simbiosis mutualisme ini diharapkan
perlu adanya peran pemerintah setempat kota untuk menjembatani pola hubungan-hubungan mereka.
Misalnya saja bagaimana supaya pihak pemodal ingin untuk memanfaatkan tenaga dari
warga miskin ini untuk dipekerjakan sesuai dengan tingkat keterampilan yang
mereka miliki. Mungkin saja mereka itu hanya diposisikan sebagai buruh atau sejenisnya,
sehingga keberadaan komunitas pedagang atau pengusaha itu dapat memberikan manfaat
ekonomi kepada warga miskin. Dengan begitu, maka ada upaya dan merupakan salah satu
strategi untuk memberdayakan warga miskin ini .
Melihat keadaan warga yang sulit untuk keluar dari lilitan kemiskinan ini
diperlukan keseriusan pemerintah setempat kota untuk mencarikan solusi dari permasalahan sosial yang
dihadapi ini . Sebagaimana diketahui bahwa telah banyak program-program
pemberdayaan yang telah dilakukan oleh pemerintah setempat namun tetap saja posisi mereka dalam
kategori miskin. Bantuan-bantuan dari pemerintah setempat , Pada program pemberian beras miskin
(Raskin), Bantuan Langsung Tunai (BLT), atau melalui Program Pemberdayaan warga
Mandiri Perkotaan, bantuan lain yang dapat dilakukan yaitu dengan membuat program bantuan modal yang bergulir dan berkelanjutan. Tujuan akhir dari program ini yaitu
untuk memandirikan warga miskin, sehingga sekalipun program itu tidak lagi bergulir
atau sudah selesai, warga sasaran tetap dapat melanjutkan usahanya.
Untuk mencapai tujuan ini maka program pemberdayaan warga miskin di
Kelurahan Lette Kecamatan Mariso Kota Makassar dapat dilakukan dengan langkah-langkah
sebagai berikut: (i) Penetapan dan pengenalan wilayah kerja; (ii) Sosialisasi kegiatan; (iii)
Penyadaran warga ; (iv) Pengorganisasian warga ; (v) Pelaksanaan kegiatan; (vi)
Advokasi kebijakan; (vii) Politisasi.
Penyadaran warga ; dilakukan untuk menyadarkan masyarkat tentang”
keberadaannya”, baik sebagai individu dan anggota warga , maupun kondisi
lingkungannya yang menyangkut lingkungan fisik/teknis, sosial-budaya, ekonomi, dan politik.
Penyadaran warga yaitu bersama-sama warga melakukan analisis keadaan yang
menyangkut potensi dan masalah, serta analisis faktor-faktor penyebab terjadinya masalah
yang menyangkut kelemahan internal dan ancaman eksternalnya. Melakukan analisis akarmasalah, analisis alternatif pemecahan masalah, serta pilihan alternatif pemecahan terbaik yang
dapat dilakukan. Menunjukkan pentingnya perubahan untuk meperbaiki keadaannya, termasuk
merumuskan prioritas perubahan, tahapan perubahan, cara melakukan dan mencapai
perubahan, sumberdaya, yang diperlukan, maupun peran bantuan (modal, teknologi,
manajemen, kelembagaan, dan lain- lain yang diperlukan. Determinan kemiskinan warga
lorong atau faktor-faktor yang mempengaruhi kemiskinan warga lorong selain sebab
faktor struktural juga lebih disebabkan oleh faktor kultural. Sifat malas dan cepat pasrah kepada
nasib yaitu determinan utama kemiskinan mereka. Dikatakan demikian sebab secara
struktural, pemerintah setempat kota telah berbagai upaya yang diberikan kepada mereka supaya berdaya
dalam arti ekonomi namun sebab kultur yang dianutnya itu sehingga sulit untuk keluar dari
jeratan kemiskinan. Sifat malas yang sudah menjadi kebiasaan dan secara turun-temurun itu
juga diturunkan kepada anak-anaknya. Pada setiap hari, mereka yang bekerja sebagai tukang
becak keluar rumah untuk mencari nafkah nanti pada pukul 09.00 Wita, dan saat peneliti
menanyakan berapa penghasilannya yang didapat setiap hari. Tukang becak itu, hanya
menjawab bahwa penghasilan itu tergantung kepada nasib. Kalau lagi nasib baik maka
penghasilan lancar, namun kalau nasib buruk kadang-kadang untuk pembeli rokok pun sulit
didapat.
Uraian informan di atas menjelaskan bahwa nilai-nilai yang mereka anut sangat sulit
untuk diubah. Upaya penyadaran tentang nilai-nilai instrumental yang memandang kerja untuk
kerja dan mencari nafkah yang halal sebanyak mungkin, sangat sulit untuk mereka terima. Perlu waktu yang lama dalam memberikan edukasi kepada mereka tentang nilai-nilai kerja.
Pendidikan yaitu salah satu alternatif untuk mengubah pandangan mereka.
Pemecahan Masalah melalui Proses Pemberdayaan (empowerment) mengesankan arti
adanya sikap mental yang tangguh atau kuat. Menurut Rappaport (1985), praktek dan kegiatan
yang berbasiskan pemberdayaan yaitu bahasa pertolongan yang diungkapkan dalam bentuk
simbol-simbol. Simbol-simbol ini kemudian mengomunikasikan kekuatan yang tangguh
untuk mengubah hal-hal yang terkandung dalam diri kita (inner space), orang-orang lain yang
kita anggap penting, serta warga di sekitar kita. Elaborasi dari pemikiran ini , secara
keseluruhan, akan dapat memperkaya dan menjiwai pemahaman global mengenai
pemberdayaan sehingga akan membawa dampak yang sangat luas, baik terhadap
kecenderungan primer maupun sekunder dari makna pemberdayaan.
Sebagaimana diketahui, salah satu tujuan kebijakan pembangunan nasional yaitu meningkatkan
produksi yang disertai dengan penciptaan lapangan kerja baru yang seluas-luasnya dan pemerataan
pendapatan (Wulandari & Arif, 2022). berdasar uraian di atas, sudah sewajarnya lulusan
perguruan tinggi/sekolah diajak untuk memahami secara realistis situasi terkini terkait masalah
kesempatan kerja. Perlu juga disadari bahwa tanggung jawab mereka sepenuhnya bergantung pada
mereka. Pembangunan pendidikan nasional ditujukan untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan
bangsa Indonesia, khususnya dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa agar menjadi bangsa
yang beradab dan mampu bersaing di dunia internasional . Salah satu upaya untuk mewujudkan tujuan
pendidikan khususnya di perguruan tinggi dan sekolah yaitu dengan mengembangkan dan mengimplementasikan mata pelajaran kewirausahaan sebagai mata pelajaran. Hal ini sejalan dengan
pendapat Ciputra yang menyatakan bahwa pendidikan kewirausahaan akan mampu memberikan
dampak nasional yang besar jika kita berhasil mendidik seluruh sekolah kita dan mampu
menghasilkan empat juta wirausahawan baru dari lulusan lembaga pendidikan Indonesia selama 25
tahun mendatang.
Perguruan tinggi pada dasarnya yaitu wadah untuk mencetak sarjana-sarjana yang siap
menyumbangkan pemikirannya untuk kemajuan Indonesia, namun pada kenyataannya mereka hanya
mampu mencetak “pengangguran” yang jumlahnya semakin meningkat. Jumlah “pengangguran” dari
tahun ke tahun mengalami peningkatan, sedangkan jumlah lapangan pekerjaan yang tersedia tidak
mampu menyerap jumlah lulusan yang selalu meningkat setiap tahunnya. Minimnya partisipasi
perguruan tinggi untuk mengembangkan jiwa kewirausahaan inilah yang mematikan jiwa
kewirausahaan calon sarjana. Pendidikan kewirausahaan sebenarnya sudah ada sejak lama. Sejak
beberapa tahun lalu, sejumlah perguruan tinggi telah mendirikan dan menyelenggarakan kursus
kewirausahaan. Sejumlah sekolah menengah juga melakukan hal yang sama. Namun, kelahiran
kewirausahaan di Indonesia masih jauh dari harapan.
Menurut Depdiknas (2010), pendidikan kewirausahaan di Indonesia masih kurang mendapat perhatian
yang memadai, baik dari dunia pendidikan maupun warga itu sendiri. Menurut Sanjaya (2009),
Strategi pembelajaran kewirausahaan di Indonesia belum mampu melahirkan wirausaha baru seperti
yang diharapkan. Pasalnya, strategi pembelajaran di Indonesia masih sangat condong ke arah
pembelajaran yang berpusat pada guru. Pembelajaran yang berpusat pada guru yaitu sistem
pembelajaran yang menjadikan guru sebagai pusat dan sumber utama gagasan. Seperti yang kita
pahami bersama, pengertian kewirausahaan itu sendiri menurut para ahli pendidik kewirausahaan
yaitu jiwa yang memiliki motivasi tinggi, toleran terhadap resiko tinggi, selalu ingin berprestasi,
pantang menyerah, mampu menciptakan peluang, kreatif, dan percaya diri dan memiliki jiwa
kepemimpinan yang tinggi. Karakter wirausaha sangat cocok sebagai modal untuk sukses di era
global saat ini. Mengembangkan karakter wirausaha tidak berarti menciptakan pedagang atau
wirausahawan, namun lebih dari itu, jiwa wirausaha ini dipandang sebagai sifat karakter yang memiliki
kekuatan pribadi dalam menghadapi tantangan dunia (Prasetyo, Aeny, & Amelia, 2021). Seseorang
dengan karakter wirausaha ini diharapkan dapat menjadi motor penggerak kemajuan bangsa.
Merujuk pada Schumpeter, kewirausahaan didefinisikan sebagai “creative destruction” (Drucker,
1985). Definisi ini menekankan bahwa konsep kewirausahaan bersifat kreatif. Kreativitas mendorong
pada inovasi dan menjadi alat utama dalam memanfaatkan peluang yang ada. Wirausaha akan selalu
mencari perubahan dan meresponnya, serta memanfaatkannya sebagai peluang untuk menciptakan
nilai dan menyelesaikan masalah. Keuntungan yang diperoleh dari aktivitas wirausaha dikembangkan
dan disitribusikan kembali kepada warga , khususnya kelompok warga berisiko (warga
miskin) melalui kegiatan yang berdampak sosial atau positif (Haryadi & Waluyo, 2006).
Di sini penulis telah merangkum berbagai literatur. Secara umum, tujuan pendidikan kewirausahaan
yaitu : a. Membangkitkan Jiwa Kemandirian Menurut Hendro dalam karyanya The Basics of
Entrepreneurship, “Pendidikan kewirausahaan atau entrepreneurship dalam dunia pendidikan, salah
satu tujuan dan manfaatnya yaitu menumbuhkan sikap unggul dan perilaku positif dan kreatif. Juga
sebagai bekal ilmu untuk mencari nafkah, bertahan dan berkembang.” 17 Belajar dan berlatih
berwirausaha atau berwirausaha yaitu solusi terbaik untuk menghadapi masa depan, mengingat
persaingan bisnis semakin ketat sementara lahan pertanian dan perkebunan juga semakin sempit, jadi
alangkah bijaknya. untuk berada disana.
Jika sejak dini para pelajar dan pemuda telah mempersiapkan diri dan belajar tentang berbagai hal
yang berkaitan dengan berwirausaha atau berwirausaha, maka kemandirian dan kesuksesan hanya
milik orang-orang yang memiliki niat yang kuat dan keberanian untuk mencoba, mengambil resiko,
tidak mudah menyerah, dan menyerah. Orang yang mandiri secara mental tidak akan melihat
kesulitan sebagai hambatan namun sebagai tantangan dan peluang. Jika Anda tidak berani mencoba, meskipun ada kesempatan, berarti Anda telah gagal. Tidak ada kegagalan dalam berwirausaha atau
dalam berwirausaha. Saat mengalami kegagalan, anggap itu sebagai pengalaman, pelajaran, dan
informasi berharga untuk sukses.
a. Mengurangi tingkat pengangguran
Pendidikan kewirausahaan bertujuan untuk mengurangi pengangguran. Ilmu dalam pendidikan
kewirausahaan bukanlah ilmu ajaib yang mendatangkan uang dalam sekejap, melainkan ilmu, seni,
dan keterampilan untuk mengelola semua sumber daya, informasi, dan dana yang terbatas untuk
menopang hidup, mencari nafkah, atau mencapai posisi puncak dalam berkarir. Setiap tahun, lulusan
perguruan tinggi dan yang sederajat jumlahnya jutaan. Kebanyakan dari mereka berorientasi pada
mencari pekerjaan. Itupun belum ditambah dengan lulusan tahun sebelumnya yang belum
mendapatkan pekerjaan. bergabung dengannya bisa 20% (satu mitra dan satu karyawan). Jumlah
pencari kerja untuk angkatan tahun itu otomatis berkurang 30%. Jika hanya segelintir lulusan yang
setuju, berwirausaha bisa menjadi pilihan yang layak untuk mengurangi pengangguran, yang saat ini
cukup tinggi.
Pendidikan kewirausahaan akan memberikan dampak strategis bagi kemajuan bangsa Indonesia di
masa depan. "Masa depan yaitu saat saat orang berpikir di luar kotak." Artinya orang tidak hanya
terdorong menuju suatu cara atau suatu tempat namun juga berani mencoba mencari alternatif baru
dengan menggabungkan berbagai macam pengetahuan. Dengan kata lain, manusia harus lebih kreatif
dalam menghadapi berbagai masalah sehingga dapat mengurangi pengangguran.
b. Menumbuhkan Jiwa Wirausaha di warga
Wirausahawan dapat dikategorikan sebagai orang yang berjiwa tangguh, berdaya saing, dan pandai
mencari peluang. Semangat kewirausahaan yang tidak pernah padam ini sangat baik jika dapat
ditularkan kepada warga sebagai tujuan kewirausahaan selanjutnya. Tujuan berwirausaha yaitu
untuk menumbuhkan jiwa wirausaha di warga dan dapat diwujudkan dengan cara yang sangat
sederhana yaitu dengan menjadi seperti seorang wirausahawan. Sikap ini tentunya akan menginspirasi
dan memotivasi warga untuk mencoba berwirausaha. Sikap tegar dan tidak mudah menyerah
juga harus ditunjukkan agar cita-cita wirausaha ini dapat membangun semangat generasi muda di
warga untuk mau bekerja keras meraih kesuksesan. Upaya Perguruan Tinggi Dorong
Wirausahawan Upaya meningkatkan gaung kewirausahaan di perguruan tinggi erat kaitannya dengan
unsur-unsur yang berperan di dalamnya, misalnya tenaga pendidik yang paling concern menangani
kewirausahaan di perguruan tinggi.
Bukti nyata dari kebijakan pemerintah setempat ini yaitu memasukkan mata kuliah kewirausahaan dalam
kurikulum pembelajaran khususnya pada jenjang perguruan tinggi, dimana jenjang ini merupakan
tahapan akhir sebelum mahasiswa memasuki dunia kerja yang sebenarnya. Banyaknya pengangguran
dan kurangnya minat berwirausaha merupakan indikator otokritik terhadap peran perguruan tinggi.
Perguruan tinggi memiliki peran yang besar dan berpeluang untuk menanamkan sikap mental
wirausaha sehingga lulusannya tidak hanya ahli dalam bidang akademik namun juga mampu
melahirkan wirausahawan baru yang siap menjadi pahlawan ekonomi. Menurut ada
beberapa langkah yang dapat dilakukan dalam menciptakan wirausaha di perguruan tinggi, antara
lain:
a. Memasukkan kurikulum kewirausahaan ke dalam kurikulum pendidikan. Dengan memasukkan
kurikulum kewirausahaan, diharapkan perguruan tinggi sebagai lembaga pendidikan berorientasi
pada menghasilkan sumber daya manusia (wirausahawan).
b. Membangun laboratorium kewirausahaan. Dengan adanya laboratorium kewirausahaan,
mahasiswa dapat langsung mempraktekkan ilmu yang telah diterimanya. Jadi ada penggabungan
teori dan praktek. Kurikulum saat ini pada dasarnya hanya menekankan salah satunya.
Laboratorium kewirausahaan tentunya akan mampu memberikan gambaran yang jelas tentang
praktik kewirausahaan. Pengetahuan mahasiswa tentang ekonomi, kewirausahaan, dan bisnis
hanya sebatas teori. Sikap pesimis mahasiswa terhadap ketiga hal ini , yang tidak dapat
dipraktikkan secara holistik, dapat terhapus dengan adanya laboratorium ini.c. Memberikan pendidikan kewirausahaan dengan mengadakan pelatihan kewirausahaan di
perguruan tinggi yang tidak hanya ditujukan kepada mahasiswa namun juga dosen.
d. Memberikan bantuan kepada pengusaha muda dalam bentuk dana lunak. Saat ini perhatian
pemerintah setempat dan perguruan tinggi terhadap mahasiswa yang akan membuka usaha atau yang
sedang membuka usaha masih sangat minim. Padahal, dengan memberikan perhatian yang besar
kepada para pengusaha muda ini, seperti bantuan dana seperti pinjaman lunak, mereka akan
mampu memotivasi mahasiswa untuk membuka dan mengembangkan usahanya.
e. KKN Kewirausahaan Asli yang bertujuan mendekatkan mahasiswa dengan warga dengan
melakukan pengabdian langsung kepada warga ternyata tidak sesuai dengan yang
diharapkan. Hanya sebagian kecil siswa yang mampu secara aktif terlibat langsung di warga
dan menerapkan ilmunya secara optimal, sedangkan sebagian lainnya pasif. Oleh sebab itu,
mengubah KKN menjadi “Kewirausahaan Sejati” nampaknya menjadi solusi yang tepat, dimana
mahasiswa sudah memiliki program yang jelas sebelum terjun ke lapangan dan tanpa perlu
“tinggal” di warga . Di sini mahasiswa berperan sebagai pembimbing dan juga terlibat dalam
kegiatan wirausaha di warga ; kedudukan dosen sebagai pembimbing bagi mahasiswa
c. Menumbuhkan Jiwa Wirausaha Mahasiswa
Perguruan tinggi sebagai lembaga pendidikan harus memiliki peran utama dalam menumbuhkan jiwa
wirausaha pada mahasiswanya dengan memberikan dorongan nyata bagi terciptanya lulusan yang
berjiwa wirausaha. Langkah awal yang bisa dilakukan jika Anda tertarik untuk terjun ke dunia bisnis
yaitu dengan menumbuhkan jiwa wirausaha pada diri mahasiswa. Menurut Nuriasari (2013), ada
banyak cara untuk melakukannya, misalnya melalui:
a. Sekolah formal Berbagai lembaga pendidikan, baik menengah maupun tinggi, menawarkan
berbagai program atau setidaknya kursus kewirausahaan.
b. Workshop kewirausahaan Berbagai seminar kewirausahaan sering diadakan dengan mengundang
para pakar dan praktisi kewirausahaan, sehingga melalui media ini dapat membangun jiwa
kewirausahaan di kalangan mahasiswa.
c. Pelatihan. Berbagai simulasi bisnis biasanya diberikan melalui pelatihan, baik indoor maupun
outdoor. Melalui pelatihan ini, keberanian dan daya tanggap mahasiswa terhadap dinamika
perubahan lingkungan akan diuji dan selalu ditingkatkan dan dikembangkan.
d. otodidak. Melalui berbagai media, mahasiswa dapat menumbuhkan jiwa wirausaha. Misalnya
melalui biografi pengusaha sukses (success story), televisi, radio, majalah, surat kabar, dan
berbagai media yang dapat diakses untuk mengembangkan jiwa dan semangat kewirausahaan.
Melalui berbagai media ini , ternyata setiap orang dapat belajar dan menumbuhkan jiwa
wirausaha.
Pertanyaannya, aspek psikologis apa yang menjadi ciri seseorang yang dikatakan memiliki jiwa
wirausaha? Untuk membahas lebih jauh pertanyaan ini , Menurut (Suryana & Si, 2006). bahwa
orang-orang yang memiliki jiwa dan sikap wirausaha yaitu:
a. percaya diri. Percaya diri berarti yakin, optimis, dan berkomitmen pada suatu keputusan.
Keyakinan bahwa kita dapat mengatasi berbagai risiko yang kita hadapi merupakan faktor
fundamental yang harus dimiliki oleh wirausahawan. Seseorang yang memiliki jiwa wirausaha
merasa yakin bahwa apapun yang dilakukannya akan berhasil, meskipun akan menghadapi
berbagai kendala. Ia tidak selalu dihantui oleh rasa takut akan kegagalan, yang membuatnya
optimis untuk terus maju.
b. Inisiatif Menunggu sesuatu yang tidak pasti yaitu hal yang paling dibenci oleh seseorang yang
memiliki jiwa wirausaha. Seorang wirausahawan akan selalu berusaha mencari jalan keluar
saat menghadapi dinamika kehidupan yang penuh dengan perubahan dan permasalahan.
Mereka tidak ingin hidupnya bergantung pada lingkungan, sehingga mereka akan terus berusaha
mencari jalan keluar.
c. Disiplin berarti menepati janji mengenai waktu, pekerjaan, atau norma. Disiplin pada dasarnya
yaitu suatu paksaan sebab dapat ditegakkan dengan cara kesenangan, atau dipaksakan oleh diri
sendiri. Memaksa diri sendiri bukan berarti sembrono atau sembrono, namun berarti melakukan
pekerjaan atau tugas sesuai dengan jangka waktu yang telah ditentukan.d. Kreatif. Pondasi kuat jiwa wirausaha yang memiliki cara pandang wirausaha selain percaya diri,
inisiatif, dan disiplin yaitu kreativitas. Kreativitas yaitu kreativitas yang kuat dan dapat
diwujudkan jika seseorang memiliki daya pikir, gagasan yang kuat, dan pemikiran yang positif
sehingga diperoleh karya baru. Karya baru yang dimaksud dapat berupa dampak, modifikasi, atau
kombinasi dari karya lama; yang penting ada yang baru dan menambah nilai.
desa seberang merupakan daerah yang terkenal dengan kekayaan sumber daya alamnya terutama
di bidang pertanian dan perkebunan. Salah satu hasil perkebunan yang melimpah yaitu produksi
buah salak yang dibudidayakan di Kabupaten Tanggamus. Menurut sebagai sentra produksi salak, Kabupaten Tanggamus diharapkan mampu mengelola usahatani
salak dengan baik agar menjadi daerah penghasil salak yang berkualitas dan sumber pendapatan.
untuk desa seberang . Kabupaten Tanggamus memiliki 20 kecamatan, dengan perkebunan buah
salak tumbuh hingga 60% di antaranya. Diantaranya yaitu Kecamatan Sumberejo yang memiliki
produksi buah salak tertinggi. berdasar data yang dipublikasikan Badan Pusat Statistik (2017),
produksi buah salak di Kecamatan Sumberejo mencapai 715.400,00 kg (Wiji, 2017).
Salah satu desa di Kecamatan Sumberejo yang berkontribusi cukup besar dalam menghasilkan buah
salak yaitu Desa hutan larangan . Namun, banyaknya perkebunan buah salak belum mampu
meningkatkan kesejahteraan warga dan mengurangi tingkat kemiskinan di Desa hutan larangan . Hal
ini disebab kan produksi buah salak hanya dijual langsung dengan harga yang sangat murah di tingkat
petani, yaitu sekitar Rp. 5.000 per kilogram. Rendahnya tingkat pendidikan dan kurangnya kreativitas
petani di Desa hutan larangan menyebabkan mereka tidak dapat membuat produk olahan dari buah salak.
Padahal, jika petani di Desa hutan larangan mampu berinovasi dan menghasilkan produk olahan dari
buah salak maka akan meningkatkan nilai jual buah salak dan meningkatkan perekonomian
warga . Masalah kemiskinan merupakan masalah yang kompleks dan memerlukan upaya untuk
mengatasinya.
Kemiskinan juga menjadi poin utama yang dibahas dalam Sustainable Development Goals (SGDs)
yang harus diselesaikan pada tahun 2030 (Habib & Wahyudi, 2022). Sementara itu, berdasar data
Badan Pusat Statistik (2019), masih terdapat disparitas angka kemiskinan yang tinggi antara perkotaan
dan perdesaan dimana persentase kemiskinan di perdesaan mencapai 12,85%, atau kurang lebih dua
kali lipat persentase di kota, yaitu 6,69%. Maka, diperlukan pembangunan berkelanjutan di pedesaan,
terutama melalui pemberdayaan di sektor pertanian (Kementan RI, 2018). Sementara itu, sebagian
besar warga desa juga bermata pencaharian sebagai petani dan sangat bergantung pada sektor
pertanian. Begitu juga bagi warga di Desa hutan larangan yang sangat bergantung pada sektor
pertanian yaitu subsektor perkebunan buah salak. Terdapat permasalahan antara kemiskinan di
pedesaan, dalam hal ini Desa hutan larangan , dengan potensi buah salak.
Mengingat ada sektor pertanian yang belum termanfaatkan secara optimal dan adanya peluang untuk
mengatasi masalah kemiskinan melalui pemberdayaan sektor pertanian, maka diperlukan peran semua
pihak khususnya mahasiswa (Wahyudi & Khotimah, 2022). Yang bisa dilakukan yaitu dengan
mendirikan usaha tani dan menciptakan wirausaha bagi petani di Desa hutan larangan . sebab jiwa
wirausaha (entrepreneurship) sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi
warga (Margahana & Triyanto, 2019). Dari penjelasan diatas penulis memberikan ide solusi
berupa program sekolah wirausaha yaitu pendidikan kewirausahaan bagi petani di Desa hutan larangan
dengan memberdayakan sektor pertanian buah salak. Dengan adanya program ini akan meningkatkan
kreativitas petani untuk mengolah buah salak menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi lebih
tinggi. sebab pendidikan kewirausahaan merupakan program pemberdayaan warga yang dapat
menumbuhkan rasa percaya diri, kemandirian, kerja keras, kreatif, mampu melihat peluang, berani
mengambil resiko, dan berorientasi pada masa depan (Sukidjo, 2012) . Selain itu, program ini akan
menciptakan usaha pertanian yang berperan dalam penyerapan tenaga kerja dan meningkatkan
perekonomian rumah tangga petani. Hal ini juga berkontribusi untuk mengurangi tingkat kemiskinan,
yang merupakan tujuan utama dari Sustainable Development Goals (SGDs).Dengan demikian, ada urgensi untuk mengimplementasikan gagasan sekolah wirausaha untuk
mengurangi kemiskinan di Desa hutan larangan . Kemiskinan merupakan masalah global yang menjadi
perhatian dan perlu penanganan khusus. Menurut Zahra, Afuwu, and Auliyah (2019), kemiskinan
merupakan salah satu indikator yang digunakan untuk melihat keberhasilan pembangunan suatu
negara. Masalah kemiskinan ini banyak dihadapi oleh negara berkembang, seperti Indonesia.
berdasar data BPS Maret 2020, garis kemiskinan Indonesia sebesar Rp454.652, atau meningkat
3,20 persen jika dibandingkan dengan September 2019. Sementara itu, tingkat keparahan kemiskinan
dari September 2019 hingga Maret 2020 juga meningkat dari 0,36 menjadi 0,38, dengan peningkatan
yang lebih tinggi. Nilai untuk daerah perdesaan yaitu 0,55 pada Maret 2020, jika dibandingkan
dengan daerah perkotaan sebesar 0,25 (Badan Pusat Staistik, 2020).
Kemiskinan dalam SGDs menempati kerangka multidimensi yaitu melihat kemiskinan dan melihat
penyebabnya dari berbagai sisi. Kemiskinan tidak hanya didefinisikan dalam istilah ekonomi, namun
juga dalam istilah sosial, kesehatan, pendidikan, dan politik (Apriliani, 2018). Dalam karya tulis
ilmiah ini, penulis membatasi kemiskinan dari segi ekonomi yaitu tingkat pendapatan dan kemampuan
warga di Desa hutan larangan dalam memenuhi kebutuhan rumah tangganya. Sebagian besar
warga di Desa hutan larangan bermata pencaharian sebagai petani. Produk pertanian penyumbang
terpenting yaitu produksi buah salak. Namun pendapatan dari penjualan buah salak secara langsung
belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan warga . Sehingga perlu diciptakan inovasi di
kalangan petani melalui peningkatan jiwa wirausaha.
Menurut (DARWANTO, 2012) jiwa wirausaha dapat ditumbuhkan melalui pendidikan atau
pelatihan. Menurut (Rahmadani, 2018). juga menjelaskan bahwa niat berwirausaha akan muncul jika
seseorang memiliki pengetahuan, harapan untuk berhasil (desirability), dan yakin bahwa ia mampu
(feasibility). Jika warga di Desa hutan larangan sudah memiliki kemampuan berwirausaha, maka
akan muncul ide-ide inovatif untuk mengolah buah salak menjadi produk dengan nilai jual yang lebih
tinggi. Salah satu strategi yang dapat diterapkan di warga yang bertujuan untuk menumbuhkan
jiwa wirausaha yaitu program sekolah wirausaha. Program ini berupa pelatihan dan pendidikan
kewirausahaan bagi warga . Menurut (Rahmah, 2017). kewirausahaan dapat diajarkan dan
didorong dengan pendidikan kewirausahaan. Jadi, dengan adanya program sekolah kewirausahaan ini,
warga di desa akan memiliki skill dalam berwirausha.
hutan larangan dapat memiliki pola pikir yang inovatif untuk memanfaatkan potensi buah salak.
Sedangkan menurut (Arisena, 2016). kewirausahaan sektor pertanian membuat petani mampu
membuat rencana strategis, mengimplementasikan rencana ini dalam kegiatan usaha tani, serta
memantau dan mengevaluasi jalannya kegiatan usahatani. saat warga di Desa hutan larangan
sudah memiliki jiwa wirausaha dan kemampuan mengelola usaha tani, maka mereka akan memiliki
perilaku kreatif untuk membuat produk olahan dari buah salak. Dalam hal ini buah salak diolah
menjadi keripik salak. Buah salak yang dijual langsung memiliki harga yang relatif lebih murah. Saat
buah salakov diolah menjadi keripik, nilai jualnya akan meningkat. Peningkatan nilai jual akan
meningkatkan pendapatan petani salak. Selain itu, bertani dengan membuat produk olahan keripik
salak juga akan menciptakan lapangan kerja yang lebih luas dan menyerap tenaga kerja. Tingkat
pengangguran akan berkurang dengan penciptaan lapangan kerja baru. Mengurangi tingkat
pengangguran akan meningkatkan pendapatan warga . Maka sekolah wirausaha ini merupakan
strategi yang tepat untuk diterapkan di Desa hutan larangan sebab akan berkontribusi dalam
meningkatkan perekonomian dan mengurangi kemiskinan di Desa hutan larangan . Hal ini didukung oleh
pendapat (Tohani, 2021). yang menyatakan bahwa pendidikan kewirausahaan merupakan sarana yang
dapat menciptakan sumber daya manusia untuk mengembangkan sistem ekonomi dan kesejahteraan
warga .
Kemiskinan merupakan masalah global yang menjadi perhatian dan perlu penanganan khusus.
Menurut (Zahra et al., 2019) kemiskinan merupakan salah satu indikator yang digunakan untuk
mengukur keberhasilan pembangunan suatu negara. Masalah kemiskinan banyak dihadapi oleh negara
berkembang, seperti Indonesia. berdasar data BPS Maret 2020, garis kemiskinan Indonesia yaitu Rp. 454.652, atau meningkat 3,20 persen dibandingkan September 2019. Sementara itu, keparahan
kemiskinan September 2019 hingga Maret 2020 juga meningkat dari 0,36 menjadi 0,38, dengan
peningkatan yang lebih tinggi. Nilai untuk daerah pedesaan yaitu 0,55 pada Maret 2020,
dibandingkan dengan 0,25 untuk daerah perkotaan (Badan Pusat Staistik, 2020).
Kemiskinan dalam SGDs menempati kerangka multidimensi, yaitu melihat kemiskinan dan melihat
penyebabnya dari berbagai sisi. Kemiskinan tidak hanya didefinisikan dalam istilah ekonomi namun
juga dalam istilah sosial, kesehatan, pendidikan, dan politik (Apriani & Situngkir, 2021). Dalam karya
tulis ilmiah ini, penulis membatasi kemiskinan dari segi ekonomi yaitu tingkat pendapatan dan
kemampuan warga di Desa hutan larangan dalam memenuhi kebutuhan rumah tangganya. Sebagian
besar warga di Desa hutan larangan bermata pencaharian sebagai petani. Produk pertanian
penyumbang terpenting yaitu produksi buah salak. Namun pendapatan dari penjualan langsung buah
salak belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan warga . Sehingga perlu diciptakan inovasi di
kalangan petani melalui peningkatan jiwa wirausaha.
Peningkatan nilai jual akan meningkatkan pendapatan petani salak. Selain itu, bertani dengan
membuat produk olahan keripik salak juga akan menciptakan lapangan kerja yang lebih luas dan
menyerap tenaga kerja. Tingkat pengangguran akan berkurang dengan penciptaan lapangan kerja
baru. Mengurangi tingkat pengangguran akan meningkatkan pendapatan warga . Maka sekolah
kewirausahaan ini merupakan strategi yang tepat untuk diterapkan di Desa hutan larangan sebab akan
berkontribusi dalam meningkatkan perekonomian dan mengurangi kemiskinan di Desa hutan larangan .
Hal ini didukung oleh pendapat Tohani (2021), yang menyatakan bahwa pendidikan kewirausahaan
merupakan sarana yang dapat menciptakan sumber daya manusia untuk mengembangkan sistem
ekonomi dan kesejahteraan warga .
Desa hutan larangan berada di Kecamatan Sumberejo Kabupaten Tanggamus desa seberang . Desa
hutan larangan terbagi menjadi tiga (tiga) dusun/desa, yaitu Sriwidodo, Sridadi, dan Murtirejo. Jumlah
warga di Desa hutan larangan pada tahun 2018 sebanyak 1.827 jiwa (Badan Pusat Statistik, 2019).
Desa ini memiliki luas 189,65 km2, yang digunakan sebagai pemukiman, areal perkebunan, dan
persawahan. berdasar penggunaan lahan dijelaskan pada tabel di bawah ini.berdasar kondisi topografinya, Desa hutan larangan merupakan kawasan di lereng Gunung
Tanggamus dan daratan pada ketinggian 800 meter di atas permukaan laut (hutan larangan , 2010).
Akibatnya, kawasan ini sangat ideal untuk dijadikan lahan perkebunan untuk tanaman seperti kopi,
lada, dan buah salak. warga di Desa hutan larangan juga sangat bergantung pada sektor pertanian.
Sebanyak 72,96% atau 1.355 warga di Desa hutan larangan bekerja sebagai petani.
Tingkat pendidikan di Desa hutan larangan masih tergolong rendah. Rata-rata petani di Desa hutan larangan
hanya tamatan SD atau SMP. Sektor pertanian di Desa hutan larangan belum dimanfaatkan dengan baik
sehingga tingkat pendapatan dari bertani masih sangat rendah.Sebagai daerah yang kaya akan hasil
alam, desa ini berkeinginan untuk mengembangkan sektor pertaniannya, khususnya melalui produksi
buah salak.
3.2 Strategi Pengembangan dan Alur Implementasi Sekolah Wirausaha dalam Penanggulangan
Kemiskinan di Desa hutan larangan
Sekolah wirausaha merupakan program pengembangan wirausaha dan pemberdayaan warga
yang bertujuan untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas wirausaha. Dalam mengembangkan
kewirausahaan diperlukan inovasi dan pelatihan atau pendidikan untuk meningkatkan pengetahuan
warga . Dengan demikian, program sekolah wirausaha merupakan pelatihan kewirausahaan yang
menjadi salah satu alternatif solusi untuk menciptakan wirausaha di kalangan warga Desa
hutan larangan . Program sekolah wirausaha yang akan dilaksanakan pada warga di Desa hutan larangan
digambarkan dalam alur di bawah ini:
1. Sosialisasi Program
Kegiatan sosialisasi ini bertujuan untuk memberitahukan program entrepreneur school yang akan
dilaksanakan di Desa hutan larangan . Sosialisasi ini dilakukan di kalangan petani buah salak di Desa
hutan larangan . Dengan adanya sosialisasi ini diharapkan warga , khususnya petani buah salak di
Desa hutan larangan bersedia untuk mengikuti kegiatan entrepreneur school.
2. Pemberian Motivasi
Pemberian motivasi merupakan langkah awal yang harus dilakukan dalam program entrepreneur
school. Kegiatan ini berupa seminar motivasi kewirausahaan untuk warga di Desa hutan larangan .
Tujuan dari kegiatan iniyaitu memberikan pengetahuan kepada warga mengenai kewirausahaan
dan meningkatkan minat mereka untuk berwirausaha. Sehingga motivasi sangat dibutuhkan agar
warga mau, tertarik dan berminat untuk berwirausaha. Selain itu, dalam entrepreneur school
perlu menanamkan nilai inovatif dan kreatif dalam menanggapi peluang serta dapat memanfaatkan
perkembangan teknologi dalam memanfaatkan sumber daya lokal secara optimal.
3. Pelatihan Pengolahan Produk
Pada kegiatan pelatihan pengolahan produk ini, petani buah salak di Desa hutan larangan akan dibimbing
untuk membuat keripik dari buah salak dengan memanfaatkan vacuum frying sebagai teknologi
pendukung. sebab Vacuum frying dapat menghasilkan keripik yang kering tanpa mengubah aroma
dan kandungan gizinya sehingga menghasilkan kualitas yang lebih tinggi. Denganmelakukan praktik
penggunaan vacuum frying pada warga di Desa hutan larangan , maka warga akan mengetahui
proses pengolahan buah salakdengan baik. Praktik penggunaan teknologi vacuum frying ini dilakukan
dengan tiga tahapan yaitu tahap persiapan, tahap penggorengan dengan vacuum frying, dan tahap
penirisan.
a) Tahap Persiapan
Tahap persiapan ini meliputi penyortiran buah salak dengan tingkat kematangan yang sama.
Kemudian mengupas kulit buah salak dan pembuangan kulit ari. sesudah itu, biji salak dibuang dan
buahnya diiris. Terakhir mencuci buah salak hingga bersih.
b) Tahap Penggorengan dengan Vacuum Frying
Pertama mesin dan kompor dihidupkan. sesudah itu, buah salak yang sudahdiiris dimasukan ke dalam
keranjang mesin vakum sambil membuka kran dan tabung kondensor kemudian ditutup untuk
menggoreng. Dalam proses penggorengan dilakukan pengadukan setiap 15 menit. sesudah keripikmatang keranjang dinaikan dan kompor dimatikan.
c) Tahap Penirisan
Pada tahap penirisan keripik dimasukan ke dalam silindir peniris, sesudah itu mesin dihidupkan selama
5 menit
4. Pelatihan Pengemasan
Pada pelatihan ini warga akan diajarkan untuk membuat desain packaging dan praktik
mengemas produk. Pelatihan pengemasan ini bertujuan untuk meningkatkan nilai jual produk dengan
pengemasan yang menarik.
5. Pelatihan Mendapatkan Perizinan
Kegiatan dari pelatihan ini yaitu memberikan edukasi kepada warga di Desa hutan larangan terkait
dengan tata cara perizinan usaha.
6. Sosialisasi Mendapatkan Bantuan Modal
Kegiatan ini berupa edukasi kepada warga di Desa hutan larangan mengenai tata cara mendapatkan
bantuan kredit dari lembaga perbankan. Selain itu, padakegiatan ini warga akan dibimbing dan
didampingi dalam proses peminjaman dana.
7. Pelatihan Pemasaran
Pelatihan pemasaran yang akan diberikan kepada warga di Desa hutan larangan yaitu pemasaran
digital (digital marketing). Pelatihan digital marketing ini bertujuan agar petani dapat memasarkan
produk hasil olahan dari buah salak melalui media sosial. Menurut . media media merupakan sarana digital marketing yang paling mudah untuk dimanfaatkan.
Sehingga pada pelatihan digital marketing ini akan dimulai dengan pengenalan media sosial kepada
petani salak dan dilanjutkan dengan pembuatan akun media sosial untuk memasarkan produk.
8. Pendampingan
Pada tahap ini petani di Desa hutan larangan sudah mampu menjalankan usaha dari pengolahan buah
salak secara mandiri. Sehingga mahasiswa berperan sebagai pendamping dan juga mengevaluasi serta
memonitoring dari kegiatan yang dilakukan oleh petani. Kegiatan ini bertujuan agar program ini akan
terusberkembang dan mengalami perbaikan kedepannya.
3.3 Peran Mahasiswa dalam Penerapan Entrepreneur School di Desa hutan larangan
Dalam penerapan program entrepreneur school ini dibutuhkan peran berbagai pihak, khususnya peran
mahasiswa. sebab mahasiswa sebagai agent of change memiliki kontribusi yang penting untuk
mengatasai dan memberikan solusi terhadap permasalahan di warga , dalam hal ini warga
di Desa hutan larangan . Dengan perannya dalam mengimplementasikan program entrepreneur school,
maka mahasiswa turut ikut andil dalam menyukseskan tujuan pertama dari Sustainable Development
Goals (SGDs) yaitu kemiskinan.Desa hutan larangan merupakan salah satu desa di Kabupaten Tanggamus yang memiliki potensi besar
terhadap bidang pertanian terutama buah salak. Untuk mengoptimalkan buah salak ini
diperlukan peran entrepreneur school dalam warga . Dengan adanya entrepreneur school dapat
menumbuhkan minat berwirausaha serta menciptakan entrepreneur baru pada warga di Desa
hutan larangan .
Entreprenur menciptakan inovasi serta berani mengambil risiko dalam melakukan usaha.
Entrepreneur juga memiliki peran penting dalam kegiatan produktif yang akan memberikan dampak
positif terutama untuk masalah ekonomi seperti mengurangi kemiskinan. Semakin tinggi jumlah
entrepreneur maka semakin tinggi pula pertumbuhan ekonomi. Davidsson (2003), berpendapat bahwa
wirausaha merupakan perilaku kompetitif yang mendorong pasar, bukan hanya menciptakan pasar
baru, namun menciptakan inovasi baru ke dalam pasar, sekaligus sebagai kontribusi nyata dari
wirausaha sebagai penentu pertumbuhan ekonomi. Lebih tegas menyatakan bahwa pada dasarnya, wirausaha memberikan kontribusi pada kinerja ekonomi
dengan memperkenalkan inovasi, menciptakan perubahan, menciptakan persaingan dan meningkatkan
persaingan. Dengan demikian, dalam jangka panjang eksistensi wirausaha sangat penting
bagi pertumbuhan ekonomi , dan produktivitas tinggi akan meningkatkan efisiensi
(Bahkan, pemikiran yang menghubungkan wirausaha dengan pertumbuhan ekonomi
membuat evolusi industri atau evolusi ekonomi . Dari sudut pandang
ini, wirausaha bertindak sebagai agen perubahan, membawa ide-ide baru untuk pasar dan merangsang
pertumbuhan melalui proses persaingan perusahaan. berdasar penjelasan dalam hasil dan
pembahasan diharapkan program yang diusulkan yaitu dengan adanya entrepreneur school di Desa
hutan larangan dapat menumbuhkan dan mengembangkan jiwa entrepreneur dalam warga
khususnya petani dalam mengolah potensi desa dengan lebih inovatif sehingga dapat meningkatkan
nilai jual produk yang pada akhirnya dapat menciptakan lapangan kerja yang juga meningkatkan
pendapatan warga . Artinya, dalam jangka panjang dapat mengurangi tingkat kemiskinan dalam
lingkup yang lebih luas.berdasar pembahasan diatas, perlu adanya kerja sama yang baik antara praktisi, akademisi, dan
pembuat kebijakan dalam memaksimalkan gagasan ini agar mencapai hasil yang optimal. Dalam hal
menerapkan entrepreneur school di Desa hutan larangan , diperlukan koordinasi dari berbagai pihak yang
terkait sebab dengan adanya entrepreneur school ini diharapkan menjadi alternatif solusi untuk
menciptakan entrepreneur di kalangan warga guna mengurangi tingkat kemiskinan di desa
ini . Pada tingkat lokal, diperlukan kontribusi berupa dukungan di semua kalangan yang terlibat
dalam memanfaatkan potensi desasehingga dapat bernilai jual tinggi melalui program entrepreneur
school ini.

