Manajemen produksi 2
n dan standar mutu tertentu.
Pertimbangan yang lain yaitu efisiensi. Efisiensi tergantung pada
bagaimana fasilitas dipakai dan dikelola, namun kemungkinan besar sulit
dapat mencapai efisiensi sebesar 100%. Biasanya, efisiensi diwujudkan
sebagai persentase kapasitas efektif. Efisiensi yaitu ukuran output aktual
(yang sebenarnya dihasilkan) dengan kapasitas efektif. Efisiensi ini dapat
di hitung dengan memakai rumus :
Output aktual
Efisiensi =
Kapasitas efektif
Kapasitas yang dijadikan patokan (rated capacity) yaitu ukuran
kapasitas dimana fasilitas tertentu sudah dipakai secara maksimal.
Kapasitas yang dijadikan patokan ini akan selalu kurang atau sama
dengan kapasitas riilnya. Rumus yang dipakai untuk menghitung kapasitas
ini yaitu :
77
Rated capacity = (kapasitas) x (pemanfaatan) x (efisiensi)
Penentuan kebutuhan kapasitas di masa mendatang bisa merupakan
prosedur yang rumit, mengingat sebagian besar berdasarkan permintaan masa
mendatang. Bila permintaan barang atau jasa dapat diramalkan dengan
ketepatan yang masuk akal, penentuan kebutuhan kapasitas bisa langsung
dilakukan. Penentuan biasanya terdiri dari 2 (dua) tahap yaitu :
1. Tahap pertama permintaan masa mendatang diramalkan dengan metode
tradisional.
2. Tahap kedua, peramalan harus dipakai untuk menentuk kebutuhan
kapasitas.
Sekali rated capacity telah dapat diramalkan, tahap berikutnya ayaitu
menentukan ukuran tambahan untuk setiap penambahan kapasitas. Pada tahap
ini, dibuat asumsi bahwa manajemen mengetahui teknologi dan jenis fasilitas
yang akan dipakai untuk memenuhi kebutuhan permintaan masa
mendatang.
Seorang manajer bisa mempunyai kemampuan untuk merubah
permintaan. Pada kasus dimana permintaan melewati kapasitas, perusahaan
mungkin dapat membatasi permintaan cukup dengan menaikkan harga,
menjadwalkan waktu pasok (lead time) yang panjang (hal ini mungkin tidak
terhindarkan), dan menurunkan pendapatan perusahaan. Pada kasus dimana
kapasitas melebihi permintaan, perusahaan bisa merangsang permintaan
dengan cara menurunkan harga atau melakukan pemasaran yang agresif, atau
78
mengakomodasi pasar dengan cara yang lebih baik, dengan memperbanyak
variasi produk.
Fasilitas yang tidak terpakai (yaitu kapasitas berlebih) menyebabkan
biaya tetapnya meningkat; fasilitas yang tidak cukup mengurangi pendapatan
dibawaah tingkat pendapatan yang diharapkan bisa dicapai. Maka, berbagai
taktik harus dilakukan untuk menyesuaikan kapasitas dengan permintaan.
Perubahan internal harus dilakukan termasuk penyesuaian proses dengan
volume tertentu, melalui :
1. Perubahan staf yang ada.
2. Penyesuaian peralatan dan proses, yang mencakup pembelian mesin-
messin tambahan atau penjualan dan menyewakan peralatan yang ada.
3. Perbaikan metode untuk meningkatkan hasil produksi.
4. Mendesain ulang produk untuk memfasilitasi lebih banyak bahan yang
ditransformasi.
Isu kapasitas lainnya yang mungkin dihadapi manajemen yaitu jika
pola permintaan bersifat musiman atau mengikuti suatu siklus. Pada kasus
semacam ini, manajemen mungkin merasa terbantu bila mendapatkan produk-
produk dengan pola yang saling melengkapi, yaitu produk-produk yang
permintaannya berlawanan.
Menurut , manajemen operasi
menekankan pentingnya dimensi waktu kapasitas. Dari sudut pandangan ini,
kapasitas pada umumnya dibedakan sebagai berikut :
79
1. Perencanaan kapasitas jangka panjang (long-range) – lebih dari satu tahun.
Dimana sumber daya-sumber daya produktif memakan waktu lama untuk
memperoleh atau menyelesaikannya, seperti bangunan, peralatan atau
fasilitas. Perencanaan kapasitas jangka panjang memerlukan partisipasi
dan persetujuan manajemen puncak.
2. Perencanaan kapasitas jangka menengah (intermediate range) – rencana-
rencana bulanan atau kuartalan untuk 6 sampai 18 bulan yang akan datang.
Dalam hal ini, kapasitas dapat bervariasi sebab alternatif-alternatif seperti
penarikan tenaga kerja, pemutusan kerja, peralatan-peralatan baru,
subcontracting dan pembelian peralatan-peralatan bukan utama.
3. Perencanaan kapasitas jangka pendek – kurang dari satu bulan. Ini
dikaitkan pada proses penjadwalan harian atau mingguan dan menyangkut
pembuatan penyesuaian-penyesuaian untuk menghapuskan ”variance”
antara keluaran yang direncanakan dan keluaran nyata. Keputusan
perencanaan mencakup alternatif-alternatif seperti kerja lembur,
pemindahan personalia, penggantian routing produksi.
B. Metode Transportasi
, menyatakan bahwa
metode transportasi merupakan teknik penyelesaian masalah transportasi.
Sedangkan menurut , metode transportasi
yaitu suatu teknik riset operasi (operation research) yang dapat sangat
membantu dalam pembuatan-pembuatan keputusan-keputusan lokasi pabrik
80
atau gudang. Metode ini terutama dipakai bila perusahaan yang mempunyai
beberapa pabrik dan beberapa gudang bermaksud menambah kapasitas atau
pabriknya atau relokasi pelayanan dari setiap pabrik serta penambahan pabrik
dan gudang baru.
Secara teknis masalah-masalah metoda transportasi sebenarnya
merupakan masalah-masalah khusus dari programasi linear (linier
programming). Beberapa alternatif metode-metode untuk memecahkan
masalah-masalah transportasi telah tersedia, yaitu antara lain metode sudut kiri
atas (”northwest corner” atau ”stepping stone” method). MODI (Modified
distribution method) dan VAM (Vogel’s approximation method). Metode
transportasi memang suatu proses ”trial and error” tetapi dengan mengikuti
aturan-aturan yang pasti sampai menghasilkan penyelesaian dengan biaya
terendah.
Masalah-masalah metode transportasi sering hanya
mempertimbangkan biaya transportasi atau pengangkutan relatif, tetapi bila
pabrik-pabrik yang berbeda menghasilkan biaya-biaya yang berbeda pula,
maka dua biaya (biaya pabrik dan biaya transportasi) dapat dijumlahkan untuk
mendapatkan biaya pengirimana relatif yang dipakai dalam analisa.
Metode transportasi atau distribusi menurut Manahan P. Tampubolon
(2004 : h. 265) merupakan bentuk khusus dari pemecahan masalah
memakai program linier. Mengatasi permasalahan dengan program linier
dengan mengikuti karakteristik permasalahan dari :
81
1. Sumber bahan baku (raw material) yang terbatas sehingga diperlukan
alokasi dalam jumlah tertentu.
2. Tujuan (destination), keterbatasan sistem transportasi untuk mengangkut
bahan baku ke tempat tujuan (pabrik).
3. Kesamaan unit bahan baku, kesamaan bahan baku didalam unit dan
jumlah yang akan dipakai .
4. Biaya (cost), biaya untuk mengalokasikan bahan baku dari beberapa
tempat ke tempat tujuan relatif konstan.
, prosedur penyelesaian dengan
memakai metode transportasi dapat dilakukan melalui langkah-langkah
sebagai berikut :
1. Menyusun matriks transportasi atau distribusi awal. Matriks ini memuat
informasi data secara lengkap sesuai dengan permasalahan yang dihadapi,
apakah masalah minimisasi biaya atau maksimisasi keuntungan.
2. Menyusun matriks distribusi awal yang seimbang. Langkah ini dilakukan
apabila matriks awal pada langkah pertama menunjukkan
ketidakseimbangan antara jumlah kapasitas dari berbagai sumber dengan
permintaan berbagai tujuan. Apabila matriks awal sudah seimbang maka
langsung pada langkah ketiga.
3. Menentukan alokasi beban. Untuk masalah minimisasi biaya maka alokasi
beban dapat langsung dilakukan dengan memakai suatu metode yang
ditentukan. Sedangkan untuk permasalahan maksimisasi keuntungan,
maka sebelum menentukan alokasi beban ini harus dibuat terlebih
82
dahulu matriks penyesuaian (adjusted matrix) dengan cara tertentu yang
akan dijelaskan kemudian dalam penyelesaian kasus.
4. Menentukan uji optimal dengan metode tertentu. Uji optimal dilakukan
untuk mengetahui apakah soluasi optimal sudah tercapai atau belum
dengan alokasi beban yang sudah ditentukan. Jika belum optimal, maka
lakukan revisi dan hasil revisi kembali diuji. Demikian seterusnya hingga
diperoleh hasil yang menunjukkan solusi dengan alokasi optimal.
BAB VII
LOKASI DAN PERENCANAAN TATA LETAK
A. Pentingnya Lokasi yang Strategis
, menyatakan bahwa
lokasi sangat mempengaruhi biaya, baik biaya tetap maupun biaya variabel.
Lokasi mempunyai pengaruh besar pada laba keseluruhan perusahaan.
Misalnya biaya transportasi sendiri memakan biaya sampai dengan 25% dari
harga jual produk (tergantung juga dengan produknya dan jenis produksi
barang atau pelayanan jasa yang diberikan). Angka 25% ini berarti seperempat
pendapatan total perusahaan dibutuhkan untuk menutup biaya pengangkutan
bahan-bahan baku yang masuk dan barang jadi yang keluar. Biaya lain yang
bisa dipengaruhi oleh letak lokasi diantaranya yaitu pajak, upah, biaya bahan
baku dan sewa.
Sekali manajemen terikat untuk beroperasi di suatu lokasi tertentu,
banyak biaya yang timbul dan sulit untuk dikurangi. Misalnya, bila lokasi
pabrik baru berada di wilayah dengan biaya energi yang besar, maka
manajemen yang baik dengan strategi penekanan biaya energi yang luar
biasapun akan pasti beroperasi dengan merugi. Demikian pula dengan SDM,
bila biaya tenaga kerja di lokasi mahal, kurang terlatih, atau etos kerjanya
buruk, maka perusahaan tidak akan memperoleh keuntungan. Dengan
demikian, kerja keras yang dilakukan manajemen untuk mencari lokasi
fasilitas yang optimal merupakan investasi yang baik.
84
Keputusan strategi sering tergantung jenis bisnisnya. Untuk keputusan
lokasi industri, strategi yang ditempuh biasanya yaitu meminimisasi biaya,
sedangkan pada bisnis eceran dan pelayanan jasa profersional, strategi yang
dipakai terfokus pada maksimisasi pendapatan. Meskipun begitu, strategi
lokasi gudang, dapat dipertimbangkan sebagai kombinasi biaya dan kecepatan
pengiriman. Secara umum, tujuan strategi lokasi yaitu memaksimalisasi
keuntungan dari lokasi ini .
Keputusan lokasi relatif jarang dilakukan perusahaan, biasanya sebab
permintaan telah melebihi kapasitas pabrik atau sebab perubahan
produktivitas tenaga kerja, kurs valuta asing, biaya dan sikap warga
sekitar. Perusahaan mungkin juga merelokasi fasilitas manufaktur atau
fasilitas jasa mereka sebab adanya pergeseran permintaan konsumen.
Pilihan-pilihan lokasi mencakup : (1) tidak pindah, tetapi memperluas
fasilitas yang ada; (2) mempertahankan lokasi yang sekarang, tetapi
menambahkan fasilitas lain di lokasi yang berbeda; atau (3) menutup fasilitas
yang sekarang dan pindah ke lokasi lain.
B. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keputusan Lokasi
(2001 : h. 205), memilih lokasi
fasilitas menjadi semakin rumit dengan adanya globalisasi tempat kerja.
Globalisasi terjadi sebab perkembangan : (1) ekonomi pasar dan juga; (2)
komunikasi internasional yang baik; (3) perjalanan (udara, laut, darat) dan
pengangkutan barang yang lebih cepat serta lebih dapat diandalkan; (4)
85
semakin mudahnya arus kas antarnegara; dan (5) perbedaan biaya tenaga kerja
yang tinggi.
Banyak perusahaan yang kini mempertimbangkan akan membuka
kantor, pabrik, toko atau bank baru di luar negara mereka sendiri. Keputusan
lokasi sudah melewati batas negara. Sekali perusahaan memutuskan negara
mana yang dipilih menjadi lokasi terbaik, selanjutnya perusahaan ini
memfokuskan pada suatu wilayah dari negara itu beserta komunitasnya. Tahap
akhir dalam proses keputusan lokasi yaitu memilih lokasi spesifik dalam
suatu komunitas. Perusahaan harus memilih satu lokasi yang paling cocok
untuk pengangkutan dan penerimaan, penetapan zona, peralatan, ukuran dan
biaya.
Selain globalisasi, masih ada sejumlah faktor lain mempengaruhi
keputusan lokasi. Diantaranya yaitu :
1. Produktivitas tenaga kerja. Berkaitan dengan keputusan lokasi,
pertimbangan manajemen mungkin dirangsang oleh rendahnya tingkat
upah tenaga kerja di wilayah itu. Meskipun demikian, tidak hanya tingkat
upah yang perlu dipertimbangkan, produktivitas pun harus menjadi bahan
pertimbangan. Perbedaan produktivitas timbul di berbagai negara. Yang
benar-benar menarik manajemen yaitu perpaduan antara produktivitas
dan tingkat upah. Karyawan yang kurang terlatih, berpendidikan rendah,
atau dengan kebiasaan bekerja yang buruk bukan merupakan hal yang baik
bagi perusahaan, walaupun upah tenaga kerjanya rendah. Demikian pula,
karyawan yang tidak dapat atau sering mangkir di tempat kerjanya tidak
86
akan menjadi keputusan yang baik, walaupun upahnya rendah. Biaya
tenaga kerja per unit terkadang disebut kandungan tenaga kerja dari
produk.
2. Kurs valuta asing. Walaupun tingkat suku bunga dan produktivitas
mungkin membuat berbagai negara terlihat ekonomis, tingkat valuta asing
yang tidak diinginkan dapat menghapuskan penghematan yang telah
terjadi. Meskipun demikian, kadang kala perusahaan dapat mengambil
keuntungan dari tingkat kurs tertentu yang dianggap baik dengan
merelokasi atau mengekspor ke negara asing. Namun, nilai dari mata uang
asing di berbagai negara terus menerus berfluktuasi.
3. Biaya. Biaya lokasi yang dapat dibagi ke dalam 2 (dua) kategori yaitu
biaya yang terlihat dan biaya yang tidak terlihat. Biaya terlihat yaitu
biaya-biaya yang langsung dapat diidentifikasi dan secara tepat ditentukan
jumlahnya. Biaya-biaya ini mencakup biaya tenaga kerja, biaya utiliti,
bahan baku, pajak, penyusutan, dan biaya-biaya lain yang dapat
diidentifikasi oleh manajemen dan bagian akuntansi. Selain itu, biaya-
biaya seperti transportasi bahan baku, transportasi barang jadi, dan
membangun pabrik merupakan unsur-unsur biaya lokasi keseluruhan.
Biaya tidak terlihat yaitu biaya-biaya yang tidak mudah ditentukan
angkanya. Biaya-biaya ini mencakup kualitas pendidikan, fasilitas
angkutan umum, sikap warga terhadap industri dan terhadap
perusahaan itu sendiri, mutu dan sikap karyawan yang akan dipekerjakan.
Termasuk juga, mutu variabel hidup, seperti iklim dan kelompok-
87
kelompok olahraga, yang mungkin mempengaruhi proses rekrutmen yang
dilakukan oleh bagian personalia.
4. Sikap. Sikap dari pemerintah pusat, daerah dan lokal terhadap kepemilikan
oleh swasta, penetapan zona dan polusi serta stabilitas karyawan mungkin
akan terus berubah. Sikap pemerintah pada saat kepiutusan lokasi dibuat
mungkin tidak bertahan lama. Terlebih lagi, manajemen mungkin akan
menemukan bahwa sikap-sikap demikian ini terlihat dapat dipengaruhi
oleh kepemimpinan.
T. , menyatakan bahwa secara umum
faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan lokasi perusahaan
yaitu :
1. Lingkungan warga . Kesediaan warga suatu daerah menerima
segala konsekuensi, baik konsekuensi positif maupun negatif didirikannya
suatu pabrik di daerah ini merupakan suatu syarat penting.
Perusahaan perlu memperhatikan nilai-nilai lingkungan dan ekologi
dimana perusahaan akan berlokasi, sebab pabrik-pabrik sering
memproduksi limbah dalam berbagai bentuk air, udara, atau limbah zat
padat yang tercermar, dan sering menimbulkan suara bising. Dilain pihak,
warga membutuhkan industri atau perusahaan sebab menyediakan
berbagai lapangan pekerjaan dan uang yang dibawa industri ke
warga . Lingkungan warga yang menyenangkan bagi kehidupan
para karyawan dan eksekutif juga memungkinkan mereka melakukan
pekerjaan dengan lebih baik. Tersedianya fasilitas sekolah, rekreasi,
88
kegiatan-kegiatan budaya dan olahraga yaitu bagian penting dari
keputusan ini.
2. Kedekatan dengan pasar. Dekat dengan pasar akan membuat perusahaan
dapat memberikan pelayanan yang lebih baik kepada para langganan, dan
sering mengurangi biaya distribusi. Perlu dipertimbangkan juga apakah
pasar perusahaan ini luas ataukah hanya melayani sebagian kecil
warga , produk mudah rusak atau tidak, berat produk dan proporsi
biaya distribusi barang jadi pada total biaya. Prusahaan besasr dengan
jangkauan pasar yang luas, dapat mendirikan pabrik-pabriknya di banyak
tempat yang tersebar untuk mendekati pasar.
3. Tenaga kerja. Dimanapun lokasi perusahaan, harus mempunyai tenaga
kerja, sebab itu cukup tersedianya tenaga kerja merupakan hal yang
mendasar. Bagi banyak perusahaan sekarang kebiasaan dan sikap calon
pekerja suatu daerah lebih dari keterampilan dan pendidikan, sebab jarang
perusahaan yang dapat menemukan tenaga kerja baru yang telah siap pakai
untuk pekerjaan yang sangat bervariasi dan tingkat spesialisasi yang
sangat tinggi, sehingga perusahaan harus menyelenggarakan program
latihan khusus bagi tenaga kerja baru. Orang-orang dari suatu daerah dapat
menjadi tenaga kerja yang lebih baik dibanding dari daerah lain, seperti
tercermin pada tingkat absensi yang berbeda dan semangat kerja mereka.
Disamping itu, penarikan tenaga kerja, kuantitas dan jarak, tingkat upah
yang berlaku, serta persaingan antar perusahaan dalam memperebutkan
tenaga kerja yang berkualitas tinggi, perlu diperhatikan perusahaan.
89
4. Kedekatan dengan bahan mentah dan supplier. Apabila bahan mentah
berat dan susut cukup besar dalam proses produksi maka perusahaan lebih
baik berlokasi dekat bahan mentah. Tetapi bila produk jadi lebih berat,
besar dan bernilai rendah maka lokasi dipilih sebaliknya. Begitu juga bila
bahan mentah lekas rusak, lebih baik dekat bahan mentah. Lebih dekat
dengan bahan mentah dan para penyedia (supplier) memungkinkan suatu
perusahaan mendapatkan pelayanan supplier yang lebih baik dan
menghemat biaya pengadaan bahan.
5. Fasilitas dan biaya transportasi. Tersedianya fasilitas transportasi baik
lewat darat, udara dan air akan melancarkan pengadaan faktor-faktor
produksi dan penyaluran produk perusahaan. Pentingnya pertimbangan
biaya transportasi tergantung sumbangannya terhadap total biaya. Untuk
banyak perusahaan perbedaan biaya transportasi tidak sepenting perbedaan
upah tenaga kerja. Tetapi, bagaimanapun juga, biaya transportasi tidak
dapat dihilangkan dimanapun perusahaan berlokasi, sebab produk
perusahaan harus disalurkan dari produsen bahan mentah ke pemakai
akhir, jadi, fasilitas seharusnya berlokasi diantara sumber bahan mentah
dan pasar yang meminimumkan biaya transportasi. Dekat dengan bahan
mentah akan mengurangi biaya pengangkutan bahan mentah, tetapi biaya
pengangkutan pengiriman produk jadi meningkat. Sebaliknya, lokasi dekat
pasar akan menghemat biaya pengangkutan produk jadi tetapi menaikkan
biaya pengangkutan bahan mentah.
90
6. Sumber daya-sumber daya (alam) lainnya. Perusahaan-perusahaan seperti
pabrik kertas, baja, karet, kulit, gula, tenun, pemrosesan makanan,
alumunium dan sebagainya sangat memerlukan air dalam kuantitas yang
besar. Selain itu hampir setiap industri memerlukan baik tenaga yang
dibangkitkan dari aliran listrik, disel, air, angin dan lain-lain. Oleh sebab
itu perlu diperhatikan tersedianya sumber daya-sumber daya (alam)
dengan murah dan mencukupi.
Faktor-faktor lokasi menurut ,
sebagai berikut :
1. Jarak dari lokasi ke sumber bahan baku maupun ke pasar penjualan
produk. Dalam memperhatikan jarak ini, kaitannya tidak saja ditujukan
kepada jarak yang dekat atau yang tidak menimbulkan ongkos angkutnya,
tetapi harus memperhatikan juga jenis, sifat-sifat bahan baku maupun
produk yang diproduksi.
2. Sumber-sumber yang diperlukan untuk pelaksanaan sistem operasional
seperti :
a. Lahan untuk bangunan (kantor dan pabrik), bagaimana jenis dan
harganya.
b. Bahan penolong dan pembantu didalam melaksanakan sistem
operasional.
c. Tenaga kerja, bagaimana kualitas maupun kuantitasnya.
d. Fasilitas transportasi dan komunikasi yang ada dan tersedia.
91
3. Kondisi lingkungan yang dapat menunjang efektivitas dan efisiensi, serta
kelancaran sistem operasional, seperti :
a. Biaya konstruksi dan jasa.
b. Tanggapan budaya dan warga setempat dimana lokasi akan
ditentukan.
c. Bagaimana peraturan pemerintah, sistem pajak, master plan di lokasi
yang dipilih ini .
d. Aspek-aspek penunjang tingkat kehidupan, seperti iklim, perumahan,
tempat ibadah, tempat rekresi dan belanja, sekolah dan lain-lain.
C. Metode Evaluasi Alternatif Lokasi
Menurut , dalam pemilihan
lokasi tertentu (plant site), ada beberapa metode analisis yang dipergunakan,
antara lain :
1. Metode penilaian hasil (values)
Dalam penilaian ini, semua faktor yang dianggap penting dinilai untuk
masing-masing lokasi, kemudian yang mempunyai nilai (values) yang
tertinggi yang dipilih. Faktor yang dianggap penting untuk dinilai untuk
masing-masing lokasi misalnya ada 6 (enam) faktor yaitu market,
transportation, raw material, worker, energy dan season condition.
92
2. Metode perbandingan biaya (cost comparison)
Menurut metode ini, pemilihan suatu lokasi (plant site) yaitu dengan
membandingkan biaya-biaya dalam memilih lokasi, seperti biaya harga
bahan pembantu, biaya pengolahan dan biaya distribusi.
Biaya bahan pembantu yang dipakai untuk menyelesaikan satu unit
produksi seperti packing atau volume output untuk satu unit waktu (hari,
minggu, bulan). Biaya-biaya ini diperoleh untuk setiap lokasi yang telah
dipertimbangkan sebagai dasar membandingkan beberapa lokasi dan
menentukan keuntungan relatif (relative adventage) untuk masing-masing
lokasi.
Biaya pengolahan akan meliputi seluruh biaya operasional ditambah
biaya-biaya yang perlu dipertimbangkan, seperti biaya gedung, tanah dan
pajak.
Biaya distribusi mungkin agak sulit diestimasi, tetapi dengan pengalaman-
pengalaman sebelumnya dapat dipakai sebagai patokan pada suatu
market area, yang akan menentukan ketepatan yang dapat dipercaya.
3. Analisis ekonomis (economic analysis)
Analisis ekonomis (economic analysis) terdiri dari :
a. Metode faktor peringkat (factor rating method)
Metode faktor peringkat yang penting diperhatikan yaitu :
1) Biaya tenaga kerja (termasuk upah, organisasi tenaga kerja dan
produktivitas).
93
2) Kapasitas tenaga kerja (termasuk sikap, umur, sumber tenaga kerja
dan kemampuan).
3) Ketergantungan terhadap bahan baku dan pemasok (supplier).
4) Keterbatasan pemasaran.
5) Kebijakan perpajakan pemerintah.
6) Regulasi/peraturan tentang lingkungan.
7) pemakaian (bahan bakar, air dan biaya-biaya pengadaaannya).
8) Biaya tambahan (tanah, pengembangan, parkir, sistem
pengendalian limbah).
9) Kapasitas transportasi (kereta api, angkutan udara, laut dan jalan
raya).
10) Kualitas kehidupan dari warga (tingkat pendidikan, biaya
hidup, biaya kesehatan, olah raga, aktivitas budaya, transportasi,
perumahan, fasilitas rumah ibadah).
11) Nilai tukar mata uang (tingkat pertukaran, stabilitasnya).
12) Kualitas pemerintahan (termasuk stabilitas politik dan ekonomi
dan tanggapan terhadap perkembangan dunia usaha, termasuk
globalisasi).
Apabila faktor-faktor ini dapat diidentifikasi, maka pemilihan suatu
lokasi tertentu tergantung rating tertinggi yang menjadi pilihan.
b. Analisis pulang pokok
Metode ini dipakai untuk menentukan lokasi berdasarkan
pertimbangan atas biaya-biaya yang timbul sebab proses konversi dan
penerimaan (revenue). Lokasi yang dipilih yaitu lokasi yang
memberikan keuntungan yang lebih besar, walaupun biaya tetap
masing-masing lokasi akan berbeda, termasuk total seluruh biaya yang
dikeluarkan untuk melakukan investasi di lokasi tertentu.
Menghitungnya dapat dipakai rumus :
Fc
BEP =
R/u – Vc
Dimana :
BEP = Break Event Point
Fc = Fix Cost
R/u = Penerimaan per unit output
Vc = Biaya variabel
c. Metode median sederhana (centre of gravity method)
Metode ini dipakai untuk menentukan lokasi baru dengan
memperhitungkan jarak antara bahan baku maupun produk yang akan
dijual setiap tahunnya, dimana jarak angkut dipengaruhi biaya
transport. Dengan demikian, pemilihan lokasi baru akan lebih
dititikberatkan kepada jarak angkut yang memerlukan biaya transport
terkecil. Metode ini menggambarkan bahwa muatan diangkut pada
jalur persegi panjang tanpa mengenal arah diagonal, artinya gerakan
95
angkutan hanya dibuat ke barat, ke timur dan atau selatan, utara.
Metode ini dapat dipakai rumus, yaitu :
n
BT = Ci. Li. Di
i = 1
Dimana :
BT = Biaya transport
Ci = Biaya angkut per satuan jarak (i=1, i=2....n)
Li = Jumlah muatan per tahun dari lokasi yang ada ke lokasi baru
Di = X – Xi + Y - Yi
Variabel X dan Y dalam persamaan di atas (Di) menunjukkan
koordinat untuk menentukan lokasi baru. Oleh sebab itu, yang perlu
dicari yaitu nilai untuk X dan Y dalam rangka menentukan lokasi
baru. Nilai yang dipilih tentu saja nilai yang kecil (biaya transport yang
minim). Untuk mencari nilai-nilai ini diperlukan 3 (tiga) langkah
yaitu :
1) Menentukan nilai median seluruh jumlah muatan.
2) Mencari nilai koordinat X dari fasilitas yang sudah ada yang
mengirim/menerima muatan median.
3) Mencari nilai koordinat Y dari fasilitas yang sudah ada yang
mengirim/menerima muatan median.
d. Model transportasi (transportation model)
Tujuan dari model transportasi yaitu untuk membandingkan beberapa
aspek biaya transportasi dari sumber bahan baku (resources) ke pusat
96
produksi (manufacture) dan dari manufaktur ke pasar pelanggan
(customer’s market). Yang menjadi dasar pertimbangan yaitu lokasi
strategis yang menciptakan biaya transportasi yang paling minim
(efficient).
Untuk memecahkan permasalahan dapat dilakukan dengan teknik
linear programming (LP) untuk menentukan lokasi dengan biaya yang
paling minimum.
, menyatakan ada 4
(empat) metode penting yang dipakai untuk menyelesaikan masalah-
masalah lokasi yaitu :
1. Metode pemeringkatan faktor. Metode ini sangat sering dipakai sebab
mencakup variasi faktor yang sngat luas, mulai dari pendidikan, rekreasi
sampai keahlian tenaga kerja. Metode pemeringkatan faktor mempunyai 6
(enam) tahap yaitu :
a. Mengembangkan daftar faktor-faktor terkait.
b. Menetapkan bobot pada setiap faktor untuk mencerminkan seberapa
jauh faktor itu penting bagi pencapaian tujuan perusahaan.
c. Mengembangkan suatu skala untuk setiap faktor.
d. Meminta manajer menentukan skor setiap lokasi untuk setiap faktor,
dengan memakai skala yang telah dikembangkan pada tahap 3.
e. Mengalikan skor itu dengan bobot dari setiap faktor, dan menentukan
jumlah total untuk setiap lokasi.
97
f. Membuat rekomendasi yang didasarkan pada skor laba maksimal,
dengan juga mempertimbangkan hasil dari pendekatan kuantitatif.
2. Analisis titik-impas lokasi. Analisis titik-impas lokasi merupakan
pemakaian analisis biaya-volume produksi untuk membuat suatu
perbandingan ekonomis terhadap alternatif-alternatif lokasi. Dengan
mengidentifikasi biaya variabel dan biaya tetap serta membuat grafik
kedua biaya ini untuk setiap lokasi, kita dapat menentukan alternatif mana
yang biayanya paling rendah. Analisis titik-impas lokasi dapat dilakukan
secara matematik atau secara grafik. Pendekatan grafiknya mempunyai
keuntungan dengan memberikan kisaran jumlah yang membuat setiap
lokasi dapat dipilih. Tiga tahap dalam analisis titik-impas yaitu :
a. Tentukan biaya tetap dan biaya variabel untuk setiap lokasi.
b. Plot biaya untuk setiap lokasi, dengan biaya pada garis vertikal dan
volume produksi tahunan pada garis horizontal di grafik itu.
c. Pilih lokasi yang biaya totalnya paling rendah, untuk setiap volume
produksi yang diinginkan.
3. Metode pusat-gravitasi. Metode pusat-gravitasi merupakan teknik
matematika dalam menemukan lokasi pusat distribusi yang akan
meminimisasi biaya distribusi. Dalam menemukan lokasi yang terbaik
untuk menjadi pusat distribusi, metode ini memperhitungkan lokasi pasar,
volume barang yang dikirim ke pasar itu dan biaya pengangkutan. Metode
pusat gravitasi mengasumsikan bahwa biaya secara langsung bersifat
proporsional dengan jarak dan banyaknya barang yang diangkut. Lokasi
98
yang ideal yaitu lokasi yang membuat jarak tertimbang antara gudang
dan outlet pengecernya menjadi minimal, jarak ini diberi bobot sesuai
dengan banyaknya kontainer yang diangkut.
4. Model transportasi. Tujuan dari model transportasi yaitu untuk
menentukan pola pengangkutan yang terbaik dari beberapa titik penawaran
(pasokan/sumber) ke beberapa titik permintaan (tujuan) agar dapat
meminimalkan produksi total dan biaya transportasi. Setiap perusahaan
dengan jaringan titik penawaran-permintaan menghadapi masalah seperti
ini. Walaupun teknik pemrograman linear dapat dipakai untuk
menyelesaikan masalah sejenis ini, telah dikembangkan algoritma yang
lebih efisien, special-purpose, untuk mengembangkan aplikasi
transportasi. Model transportasi menemukan pemecahan awal yang layak
dan kemudian membuat peningkatan bertahap sampai tercapai pemecahan
yang optimal.
D. Pengertian Desain Tata Letak
Tata letak (layout) yaitu susunan letak fasilitas operasional
perusahaan, baik yang ada didalam bangunan maupun di luar. Layout yang
tepat menunjukkan ciri-ciri adanya penyesuaian tata letak fasilitas operasional
terhadap jenis produk dan proses konversi. Pengaruh layout yang tepat bagi
perusahaan yaitu peningkatan produktivitas perusahaan. Perihal ini
disebabkan arus barang yang akan diproses, dan selanjutnya masuk ke dalam
pemrosesan sampai menjadi produk akhir dapat berjalan dengan lancar. Aspek
99
lain, karyawan yang langsung terlibat didalam permrosesan dapat bergerak
leluasa tanpa takut akan kemungkinan terjadi kecelakaan, sehingga mereka
bekerja dengan tenang dan aman.
(2001 : h. 272), tata letak
(layout) merupakan salah satu keputusan yang menentukan efisiensi operasi
perusahaan dalam jangka panjang. Tata letak memiliki berbagai implikasi
strategis sebab tata letak menentukan daya saing perusahaan keluarga dalam
hal kapasitas, proses, fleksibilitas, dan biaya, serta mutu kehidupan kerja. Tata
letak yang efektif dapat membantu perusahaan mencapai hal-hal berikut ini :
1. Pemanfaatan yang lebih besar atas ruangan, peralatan dan manusia.
2. Arus informasi, bahan baku dan manusia yang lebih baik.
3. Lebih memudahkan konsumen.
4. Peningkatan moral karyawan dan kondisi kerja yang lebih aman.
Tujuan dari strategi tata letak yaitu untuk mengembangkan tata letak
yang ekonomis yang dapat membantu pencapaian keempat hal di atas
sementara tetap memenuhi kebutuhan perusahaan untuk bersaing.
Menurut Manahan P. Tampubolon (2004 : h. 150), untuk memutuskan
strategi layout perlu diperhatikan desain layout, yang diikuti usaha :
1. Pemanfaatan secara maksimal serta ruangan atau tempat, mesin-mesin dan
peralatan dan pekerja.
2. Pengembangan arus informasi, bahan baku dan sumber tenaga kerja.
3. Menjaga perubahan moral pekerja, menjaga kondisi kerja yang kondusif.
100
4. Mengantisipasi perubahan interaksi dari pelanggan.
5. Fleksibel (bagaimana layout yang ada sekarang harus siap untuk berubah).
E. Jenis Tata Letak Posisi Tetap
Tipe dasar layout yaitu tempat atau bentuk dari mekanisme suatu
perusahaan apakah service center, apakah manufakture maupun usaha
perbankan (banking). Semuanya tergantung dari mesin dan peralatan yang
dipakai untuk proses konversi dan merupakan susunan suatu ruang dari
sumber-sumber fisik untuk menghasilkan suatu produk. (Manahan P.
Tampubolon, 2004 : h. 151).
(2001 : h. 273), tata letak yang
efektif mendukung arus bahan baku, manusia dan informasi, dalam dan
diantara wilayah. Tujuan manajemen yaitu untuk mengatur sistem ini
(tata letak) sedemikian rupa supaya sistem mampu berorientasi dengan
efektivitas dan efisiensi yang tinggi. Untuk mencapai tujuan tata letak ini, ada
berbagai pendekatan yang telah dikembangkan yaitu sebagai berikut :
1. Tata letak dengan posisi-tetap : memenuhi kebutuhan tata letak untuk
proyek-proyek yang besr dan sangat memakan tempat.
2. Tata letak yang berorientasi pada proses : menyangkut produksi yang
jumlah produknya kecil, namun banyak variasinya (disebut juga produksi
terputus atau job shop).
3. Tata letak kantor : menempatkan pekerja, perlengkapan mereka, dan ruang
(kantor) bagi mereka agar informasi dapat berjalan dengan lancar.
101
4. Tata letak retail/sektor jasa : mengalokasikan tempat untuk rak-rak dan
memberikan tanggapan pada perilaku konsumen.
5. Tata letak gudang : merupakan paduan antara ruang dan penanganan bahan
baku.
6. Tata letak yang berorientasi pada produk : mengusahakan pemanfaatan
maksimal atas karyawan dan mesin-mesin pada produksi yang berulang
atau berkelanjutan.
F. Tata Letak yang Berorientasi pada Proses
(2001 : h. 275), tata letak yang
berorientasi proses dapat secara bersamaan menangani berbagai barang atau
jasa. Bahkan, tata letak ini paling efisien bila memproduksi produk yang
pembuatannya berbeda-beda atau bila menangani konsumen dengan
kebutuhan yang berbeda-beda. Tata letak yang berorientasi proses biasanya
merupakan strategi jumlah produksi kecil, dengan variasi yang besar.
Keuntungan terbesar dari tata letak yang berorientasi proses adala
fleksibilitasnya dalam menetapkan peralatan dan tenaga kerja. Kerusakan satu
mesin, misalnya, tidak perlu menghambat seluruh proses; pekerjaan dapat
ditransfer ke mesin-mesin lain yang ada di departemen. Tata letak yang
berorientasi pada proses juga terutama bagus untuk menangani produksi suku
cadang dalam kumpulan atau job lot kecil, dan produksi berbagai suku cadang
dengan berbagai ukuran dan berbagai bentuk.
102
Kerugian dari tata letak yang berorientasi proses yaitu pemakaian
peralatan yang general-purpose (peralatan dapat dipakai untuk bermacam-
macam tujuan). Pemesanan memerlukan waktu yang lebih lama dan uang
yang lebih banyak untuk bergerak didalam sistem sebab penjadwalan,
pemasangan dan penanganan bahan baku yang sulit. Tambahan pula,
diperlukan lebih banyak keahlian tenaga kerja dan persediaan barang-dalam-
proses sebab ketidakseimbangan yang lebih besar dalam proses produksi.
Keahlian tenaga kerja yang tinggi menuntut peningkatan tingkat pelatihan dan
pengalaman yang dibutuhkan; bertambahnya barang-dalam-proses
memperbesar investasi.
Dalam perencanaan tata letak proses, taktik yang paling umum dipakai
yaitu mengatur departemen atau pusat kerja dalam lokasi-lokasi yang paling
ekonomis. Pada banyak fasilitas, penempatan optimal dengan lokasi yang
paling ekonomis ini berarti minimisasi biaya penanganan bahan baku.
Perencanaan tata letak proses mencakup penempatan departemen-departemen
yang arus unit produk atau manusia antar-departemennya deras. Biaya
penanganan bahan baku dengan pendekatan ini tergantung pada :
1. Jumlah muatan (atau manusia) yang akan dipindahkan selama periode
waktu tertentu diantara dua departemen.
2. Biaya antar-departemen yang berkaitan dengan jarak.
ada kasus khusus tata letak yang berorientasi proses yaitu sel
kerja. Sebuah sel kerja memerlukan mesin yang biasanya akan disebar ke
berbagai departemen proses dan kemudian diatur menjadi kelompok-
103
kelompok kecil sehingga keuntungan sistem yang berorientasi pada produk
dapat diciptakan pada kumpulan unit produk atau sekelompok kumpulan
produk tertentu. Sel kerja ini dibangun mendekati/mengelilingi produknya.
Keuntungan sel kerja yaitu :
1. Mengurangi persediaan barang-dalam-proses sebab sel kerja dibuat untuk
memberikan arus yang seimbang dari satu mesin ke mesin lainnya.
2. Ruang lantai yang dibutuhkan berkurang sebab lebih sedikit ruang gerak
yang diperlukan antara mesin-mesin ini untuk menempatkan
persediaan barang-dalam-proses di atas.
3. Menurunkan persediaan bahan baku dan barang jadi sebab berkurangnya
barang-dalam-proses memungkinkan pergerakan bahan baku yang lebih
pesat melalui sel-sel kerjanya.
4. Menurunkan biaya tenaga kerja langsung sebab arus bahan baku yang
lebih baik dan penjadwalan yang lebih tepat. Dihasilkan cukup besar
penurunan waktu yang diperlukan untuk bergerak dari satu tempat ke
tempat lain dan dari satu kumpulan unit produk dalam satu kelompok ke
yang lainnya.
5. Rasa partisipasi karyawan yang meningkat dalam organisasi itu dan
terhadap produk yang dihasilkan sebab karyawan menerima lebih banyak
tanggung jawab mengenai kualitas, sebab masalah-masalah kualitas dapat
secara langsung diidentifikasikan dengan sel kerja dan karyawan itu
sendiri.
104
6. Meningkatkan pemanfaatan peralatan dan mesin-mesin sebab
penjadwalan yang lebih baik dan arus bahan baku yang lebih cepat.
7. Mengurangi investasi untuk mesin dan peralatan sebab pemanfaatan
fasilitas yang baik menurunkan jumlah mesin, peralatan dan alat-alat kerja.
Persyaratan diadakannya produksi seluler mencakup :
1. Kode teknologi kelompok atau yang sejenisnya.
2. Tingkat pelatihan dan fleksibilitas karyawan yang tinggi.
3. Karyawan-karyawan yang mendukung atau fleksibel dan imajinatif untuk
membangun awal sel kerja.
Bila suatu perusahaan telah mengidentifikasi sekumpulan besar produk
yang serupa dan permintaannya stabil dan dalam jumlah yang cukup, maka
mungkin dapat dibentuk pusat kerja terfokus. Sebuah pusat kerja terfokus
memindahkan produksi dari fasilitas yang bertujuan umum, dan berorientasi
pada proses ke sebuah sel kerja yang besar. Sel kerja yang besar ini mungkin
merupakan bagian dari pabrik yang ada, dalam hal ini sel kerja ini
disebut pusat kerja terpusat. Atau sel kerja itu bisa dipisah dan dinamakan
pabrik terpusat. Istilah pabrik terpusat dapat juga merujuk kepada fasilitas
yang memfokuskan pada cara-cara tertentu selain dengan lini produk atau tata
letak.
G. Tata Letak Kantor
(2001 : h. 283), kriteria
pendekatan yang rasional terhadap tata letak kantor dalam konteks arus kantor
105
itu sama dengan kriteria untuk memproduksi barang-barang berwujud.
Artinya, dapat diatur di sekitar proses atau produknya. Meskipun demikian, di
kebanyakan organisasi ada kriteria tengah dimana sebagai contoh, departemen
piutangnya menangani piutang, departemen pemesanannya menangani
pesanan yang masuk, dan departemen utangnya menangani akibat pembelian
dan tagihan lainnya. Kriteria tengah ini dapat dianggap sebagai organisasi
seluler yang diatur dan diatur ulang selagi prosedur dan jumlah produksi
berubah. Pengaturan ulang kantor yang dilakukan secara berkala menunjukkan
fleksibilitas hubungan seluler ini.
Ada pertimbangan-pertimbangan tata letak tambahan (beberapa dapat
diterapkan di pabrik maupun kantor). Pertimbangan-pertimbangan tambahan
ini berkaitan dengan kerja kelompok, wewenang dan status. Keputusan
mengenai tata letak merupakan perpaduan seni dan ilmu. Sisi ilmiah dari
keputusan ini, arus kertas di sebuah kantor, dapat dianalisis dengan cara yang
sama seperti arus komponen di tata letak proses.
Dua trend besar yaitu pertama, teknologi seperti telepon seluler, pager,
faksimili, internet, kantor di rumah, komputer laptop dan PDA (personal
digital assistant), saat informasi dipindahkan secara elektronik
memungkinkan fleksibilitas tata letak yang semakin meningkat. Kedua, virtual
companies (perusahaan maya) menciptakan kebutuhan dinamis atas ruang
gerak dan pelayanan. Kedua perubahan ini menuntut lebih sedikit karyawan
kantor di lokasi.
106
H. Tata Letak Toko Retail (Eceran)
(2001 : h. 284), tata letak toko
eceran didasarkan pada pemikiran bahwa penjualan yang terjadi bervariasi
tergantung sejauh mana produk dapat menarik perhatian konsumen. Oleh
sebab itu, kebanyakan manajer operasi toko eceran mencoba memamerkan
produknya sebanyak mungkin kepada konsumen. Ada 5 (lima) ide yang
berguna dalam menentukan pengaturan yang menyeluruh dari banyak toko :
1. Tempatkan produk-produk yang paling banyak dibeli di sekitar batas luar
toko.
2. Gunakan lokasi-lokasi yang strategis untuk produk-produk yang dibeli
cenderung sebab keinginan hati dan marginnya besar.
3. Tempatkan barang yang dikenal di dunia jual beli sebagai “produk kuat”-
produk yang dapat menjadi alasan utama konsumen berbelanja- di kedua
sisi lorong toko, dan sebarkan ke berbagai tempat agar produk-produk lain
dapat terlihat.
4. Gunakan lokasi buntut lorong sebab tingkat pertontonannya tinggi sekali.
5. Pertahankan citra toko dengan memilih secara hati-hati penempatan posisi
departemen yang akan menjadi awal perbelanjaan konsumen.
Sekalipun tata letak keseluruhan toko eceran telah ditentukan, produk-
produk yang ada harus diatur untuk dijual. Untuk pengaturan ini, banyak hal
yang harus dipertimbangkan. Meskipun demikian, tujuan utama dari tata letak
toko eceran yaitu untuk memaksimisasi profitabilitas per meter persegi dari
ruang untuk rak-rak yang ada. Produk-produk yang mahal dapat memberikan
107
hasil penjualan yang lebih besar, tetapi keuntungan per meter perseginya
mungkin lebih kecil. Tersedianya sejumlah program komputer yang ada
membantu manajer dalam mengevaluasi profitabilitas dari berbagai produk.
I. Tata Letak Pergudangan dan Penyimpanan
(2001 : h. 285), tujuan dari tata
letak pergudangan yaitu menemukan paduan yang optimal antara biaya
penanganan barang dan ruangan gudang. Konsekuensinya, tugas manajemen
yaitu memaksimisasi pemanfaaatan “kotak” total dari gudang yang ada –
dalam arti, memanfaatkan dengan volume penuh sementara mempertahankan
biaya penanganan bahan baku yang rendah. Biaya penanganan bahan baku
sebagai semua biaya yang berhubungan dengan transportasi pengangkutan ke
gudang, penyimpanan dan transportasi pengangkutan ke luar gudang. Biaya-
biaya ini mencakup peralatan, manusia, bahan baku, pengawasan, asuransi dan
penyusutan. Tata letak pergudangan yang efektif harus, meminimisasi jumlah
dari seluruh daya yang dihabiskan usaha mencari dan memindahkan bahan
baku serta kerusakan bahan baku itu sendiri. Keragaman produk yang
disimpan serta jumlah produk yang “diambil” mempunyai pengaruh langsung
paa tata letak yang optimal. Sebuah gudang yang menyimpan jenis produk
sedikit lebih dapat dipadati daripada gudang yang menyimpan berbagai
produk. Manajemen pergudangan yang modern dalam beberapa kasus
merupakan, prosedur otomatis yang memanfaatkan tongkat-tongkat penumpuk
108
otomatis, ban berjalan, dan alat kendali canggih yang mengatur arus bahan
baku.
Komponen tata letak pergudangan yang penting yaitu hubungan
antara wilayah penerimaan (dimana muatan dikeluarkan) dan wilayah
pemuatan (dimana muatan dimasukkan). Desain fasilitasnya tergantung jenis
dari barang-barang muatan yang dikeluarkan, dari mana barang-barang
muatan itu dikeluarkan, dan dimana barang-barang muatan itu dikeluarkan. Di
beberapa perusahaan, fasilitas penerimaan dan pemuatan, atau dermaga,
sebagaimana fasilitas ini biasa disebut, berada di satu wilayah-kadangkala
perusahaan ini menerima muatan di pagi hari, dan memasukkan muatan di
sore hari.
J. Tata Letak yang Berorientasi Pada Produk
(2001 : h. 286), tata letak yang
berorientasi pada produk diatur disekitar sebuah produk atau sekelompok
produk yang jumlah produksinya besar, namun variasinya sedikit. Asumsi
yang diambil yaitu :
1. Jumlah produksi cukup untuk pemanfaatan yang tinggi atas peralatan yang
ada.
2. Permintaan produk cukup stabil untuk membenarkan investasi yang besar
pada peralatan-peralatan khusus.
3. Produknya standar atau mendekati satu tahap dari siklus hidupnya
sehingga membenarkan investasi pada peralatan khusus.
109
4. Pasokan bahan mentah dan komponennya cukup dan mutunya seragam
(cukup standar) untuk memastikan bahwa pasokan ini dapat cocok dengan
peralatan-peralatan khusus yang ada.
Satu versi dari tata letak yang berorientasi pada produk yaitu lini
fabrikase; versi lainnya yaitu lini perakitan. Lini fabrikasi membuat
komponen, seperti ban mobi atau suku cadang dari logam untuk kulkas, pada
serangkaian mesin. Lini perakitan menempatkan suku cadang yang
terfabrikase bersama-sama di serangkaian status kerja.
Masalah utama dalam perencanaan tata letak yang berorientasi pada
produk yaitu bagaimana menyeimbangkan output di setiap stasiun kerja di
lini produksi sedemikian rupa sehingga tata letaknya itu sama, selagi
menghasilkan jumlah output yang diinginkan. Tujuan manajemen yaitu
untuk menciptakan arus yang lancar dan berkelanjutan sepanjang lini
perakitan dengan waktu kosong yang minimal di stasiun kerja setiap
karyawan. Lini perakitan yang keseimbangannya baik memberikan
keuntungan yakni pemanfaatan manusia dan peralatan yang tinggi dan ekuitas
yang tinggi diantara beban kerja karyawannya. Beberapa kontrak serikat kerja
memasukkan keharusan bahwa beban kerja harus hampir sama dengan beban
kerja yang ada di lini perakitan. istilah yang paling sering dipakai untuk
menjelaskan proses ini yaitu penyeimbangan lini perakitan. Tentu saja,
tujuan tata letak yang berorientasi pada produk yaitu untuk meminimisasi
ketidakseimbangan dalam lini fabrikase maupun perakitan.
110
Keuntungan utama dari tata letak yang berorientasi pada produk ini
yaitu bahwa variabel per unit yang rendah dan biasanya berkaitan dengan
produk yang jumlahnya besar dan terstandarisasi. Tata letak yang berorientasi
pada produk ini juga mempertahankan biaya penanganan bahan baku rendah,
mengurangi persediaan barang-dalam-proses dan memudahkan pelatihan dan
pengawasan. Keuntungan-keuntungan ini sering lebih besar dari kerugian
yang menimbulkan tata letak yang berorientasi pada produk yaitu :
1. Dibutuhkan jumlah produksi yang besar sebab investasi besar dalam
prosesnya.
2. Penhentian pekerjaan pada titik manapun di seluruh operasi.
3. Fleksibilitas yang rendah bila dilakukan manufaktur atas berbagai produk
atau tingkat produksi.
Penyeimbangan lini biasanya dilakukan dengan meminimisasi
ketidakseimbangan antara mesin-mesin atau manusia yang ada selagi
menghasilkan output yang dibutuhkan dari lini itu. Agar dapat berproduksi
pada tingkat yang diinginkan, manajemen harus mengetahui alat, peralatan,
dan metode kerja yang dipakai . Kemudian ia harus menentukan waktu
yang diperlukan untuk melakukan setiap tugas perakitan. Manajemen juga
perlu mengetahui hubungan antar-kegiatan preseden yaitu urutan tugs-tugas
yang perlu dilakukan.
Pekerjaan mengelompokkan tugas menjadi stasiun pekerjaan untuk
memenuhi tingkat produksi tertentu mencakup 3 (tiga) tahapan proses yaitu :
111
1. Ambil permintaan per hari dan bagi menjadi waktu produktif yang tersedia
per hari. Operasi ini memberikan yang disebut waktu siklus, yaitu waktu
dimana produk tersedia di setiap stasiun kerja :
Waktu produksi yang tersedia setiap hari
Waktu siklus =
Permintaan per hari atau tingkat produksi per hari
2. Hitung jumlah stasiun kerja minimal teoritis. Angka ini merupakan total
lamanya pengerjaan tugas dibagi dengan waktu siklus. Angka pecahan
dibuang.
3. Seimbangkan lini dengan memberikan tugas perakitan khusus pada setiap
stasiun kerja. Keseimbangan yang efisien yaitu keseimbangan yang
menyelesaikan perakitan yang dibutuhkan, mengikuti urutan yang telah
dispesifikasi, dan menjaga agar waktu kosong di setiap stasiun kerja pada
pada tingkat minimal. Prosedur formal yang dipakai untuk melakukan
ini :
a. Mengidentifikasi daftar utama dari elemen pekerjaan.
b. Menghapuskan elemen-elemen pekerjaan yang telah diberikan untuk
dikerjakan.
c. Menghapuskan elemen-elemen pekerjaan yang hubungan presedennya
belum terpenuhi.
d. Menghapuskan elemen-elemen pekerjaan yang di stasiun kerja tersedia
waktu yang tidak cukup untuk mengerjakannya.
112
e. Mengidentifikasikan unit kerja yang dapat diberikan untuk dijalankan,
seperti unit kerja pertama pada daftar, unit kerja terakhir pada daftar,
unit kerja yang waktu pengerjaannya paling pendek, unit kerja yang
waktu pengerjaannya paling panjang, unit kerja yang dipilih secara
acak, atau kriteria lainnya.
f. Ulang (dalam arti, kembali ke tahap 1) sampai semua elemen teleh
diberikan untuk dijalankan.
Efisiensi keseimbangan lini dapat dihitung dengan membagi waktu
tugas total dengan jumlah stasiun kerja dikalikan waktu siklus yang
diberikan :
Waktu tugas
Efisiensi =
(Jumlah stasiun kerja) x (Waktu siklus yang diberikan)
Manajemen sering membandingkan tingkat efisiensi yang berbeda-
beda untuk berbagai stasiun kerja. Dengan cara ini, perusahaan ini dapat
menentukan sensitivitas lini itu terhadap perubahan tingkat produksi dan
penugasan stasiun kerja.
Masalah-masalah penyeimbangan lini sering dipecahkan dengan
komputer. Tersedian berbagai program komputer yang berbeda-beda untuk
menangani penugasan stasiun kerja di lini perakitan dengan kegiatan kerja per
orang (atau lebih). Kedua program yang sering dipakai yang disebut
COMSOAL (Computer for Sequencing Operations fos Assembly Lines) dan
ASYBL (program konfigurasi lini perakitan General Electric), dipakai
secara luas untuk masalah-masalah yang lebih besar agar dapat dilakukan
113
evaluasi atas beribu atau berjuta kombinasi stasiun kerja yang mungkin secara
lebih efisien dibandingkan bila dilakukan secara manual.
114
BAB VIII
DESAIN KERJA, STANDAR PRODUKSI DAN OPERASI SERTA
PENGUKURAN KERJA
A. Desain Kerja
(2001 : h. 230), manajer
operasi harus membentuk strategi Sumber Daya Manusia (SDM) yang tepat
untuk menempatkan bakat-bakat yang tersedia untuk mendukung operasi
perusahaan. Bila perhatian difokuskan pada manusia dan sistem kerja, maka
yang harus diperhatikan yaitu bahwa manusia :
1. Dimanfaatkan secara efisien dalam lingkup kendala operasional yang ada.
2. Memiliki mutu kehidupan kerja yang baik dalam suasana yang saling
terkait dan saling percaya. Yang dimaksud mutu kehidupan kerja yang
baik yaitu suatu pekerjaan yang tidak hanya aman dan kompensasinya
sebanding, tetapi juga pekerjaan yang memenuhi kebutuhan fisik dan
psikologis yang cukup. Saling terkait yaitu keadaan dimana manajemen
dan karyawan berjuang untuk mencapai tujuan bersama. Saling percaya
yaitu keadaan dimana kebijakan yang masuk akal dan tertulis yang
diterapkan secara jujur dan adil untuk menjaga agar manajemen dan
karyawan saling merasa puas.
Keputusan yang diambil tentang manusia banyak yang dihambat
keputusan-keputusan yang lain. Pertama, bauran produk dapat menentukan
apakah karyawan akan dipekerjakan secara musiman atau tetap. Kedua,
115
teknologi, peralatan dan proses bisa menimbulkan dampak pada keamanan dan
kandungan pekerjaan. Ketiga, keputusan lokasi dapat menimbulkan dampak
pada lingkungan tempat para karyawan bekerja. Terakhir, keputusan yang
menyangkut tata letak (layout) dapat mempengaruhi sebagian besar
kandungan pekerjaan.
Sumber : Barry Render dan Jay Heizer (2001 : h. 231).
Gambar 8.1.
Hambatan Manusia dan Desain Pekerjaan
Banyak organisasi yang klasifikasi pekerjaan dan aturan kerjanya
ketat dengan penempatan spesifikasi siapa akan mengerjakan apa, kapan
pekerjaan itu dapat mereka lakukan, dan dalam kondisi apa mereka dapat
melakukannya. Klasifikasi pekerjaan dan aturan kerja ini membatasi
fleksibilitas karyawan dalam melaksanakan pekerjaannya, sehingga pada
akhirnya akan menurunkan fleksibilitas fungsi operasi/produksi. Akan tetapi,
Penjadwalan
• Waktu hari
• Waktu tahun (musiman)
• Stabilitas
Strategi lokasi
• Iklim
• Suhu
• Cahaya
• Kualitas suara
Strategi proses
• Teknologi
• Peralatan dan mesin yang
dipakai
• Keamanan
Perbedaan perorangan
• Kekuatan dan kelelahan
• Pemrosesan dan
penanganan informasi
Strategi tata letak
• Posisi tetap
• Proses
• Sel kerja
• Produk
Manuasia dan
Desain
Pekerjaan
Strategi produk
• Keahlian yang dibutuhkan
• Bakat yang dibutuhkan
• Bahan baku yang dipakai
• Keamanan
Apa
Kapan
Dimana
Prosedur
Siapa
Bagaimana
116
sebagian dari tugas manajer operasi yaitu menangani situasi yang tidak
terduga. Oleh sebab itu, semakin perusahaan fleksibel dalam menetapkan
jadwal kerja dan menentukan staf yang akan mengerjakannya, maka semakin
efisien pula perusahaan itu. Usaha membangun moral dan memenuhi
persyaratan penetapan staf yang menghasilkan fungsi produksi yang efisien
akan lebih mudah bila manajer menerapkan klasifikasi pekerjaan dan aturan
kerja yang lebih sedikit.
T. Hani Handoko (1997 : h. 178), menyatakan bahwa desain pekerjaan
dapat didefinisikan sebagai fungsi penetapan kegiatan-kegiatan kerja seorang
individu atau kelompok secara organisasional. Tujuannya yaitu untuk
mengatur penugasan-penugasan kerja yang memenuhi kebutuhan-kebutuhan
organisasi dan teknologi dan memuaskan kebutuhan-kebutuhan pribadi dan
individual para pemegang jabatan. Pengertian istilah pekerjaan dan bagian-
bagian kegiatan lainnya dapat dirumuskan sebagai berikut :
1. Gerak-mikro (micro-motion) : kegiatan-kegiatan kerja terkecil, mencakup
gerakan-gerakan elementer seperti meraih, menggenggam atau meletakkan
suatu obyek.
2. Elemen : suatu agregasi dua atau lebih gerak-mikro, biasanya dianggap
lebih kurang sebagai kesatuan gerak yang lengkap, seperti mengambil,
mengangkut dan mengatur barang.
3. Tugas (task) : suatu agregasi dua atau lebih elemen menjadi kegiatan yang
lengkap, seperti menyapu lantai, memotong pohon atau memasang kabel
telepon.
117
4. Pekerjaan (job) : serangkaian tugas-tugas yang harus dilakukan oleh
seorang pekerja tertentu. Suatu pekerjaan dapat terdiri dari beberapa tugas,
seperti pengetikan, pengarsipan dan pembuatan konsep surat, dalam
pekerjaan sekretariat, atau hanya terdiri atas tugas tunggal seperti
pemasangan roda mobil, dalam perakitan mobil.
Desain pekerjaan yaitu suatu fungsi kompleks sebab hal ini
memerlukan pemahaman baik terhadap variabel-variabel teknikal maupun
variabel-variabel sosial. Bila variabel-variabel ini diabaikan maka desain
pekerjaan akan menyebabkan kegiatan-kegiatan dilakuakn secara tidak efektif
dan efisien. Disamping itu, desain pekerjaan harus menetapkan berbagai
faktor yang mempengaruhi struktur pekerjaan akhir. Keputusan-keputusan
yang harus dibuat yang bersangkutan dengan tugas-tugas apa yang akan
dilakukan, siapa yang akan melakukan, dimana, kapan, mengapa dan
bagaimana tugas-tugas dilakukan.
Sasaran-sasaran pokok desain pekerjaan biasanya yaitu untuk
menghemat tenaga manusia, menentukan campuran atau kombinasi antara
karyawan dan mesin yang paling ekonomik dan merancang pekerjaan
sehingga dapat diperoleh jumlah kepuasan yang memadai. Selanjutnya, dalam
usaha untuk memperbaiki pekerjaan-pekerjaan dan membuatkan lebih mudah
bagi para karyawan, analis mencoba untuk melakukan 3 (tiga) hal : (1)
menghapuskan gerakan-gerakan manusia sebanyak mungkin; (2) mengurangi
gerakan-gerakan yang tidak dapat dihilangkan; dan (3) membuat gerakan-
gerakan yang diperlukan berkurang efek kelelahannya.
118
(2001 : h. 232), desain
pekerjaan menentukan spesifikasi tugas-tugas yang terkandung dalam
pekerjaan untuk seseorang atau suatu kelompok. Ada 6 (enam) komponen dari
suatu desain pekerjaan yang harus diperhatikan yaitu :
1. Spesialisasi tenaga kerja
Smith dalam Barry Render dan Jay Heizer (2001 : h. 232), menyatakan
bahwa pembagian tenaga kerja atau spesialisasi tenaga krja dan
spesialisasi pekerjaan, akan membantu menekan biaya tenaga kerja dengan
beberapa cara :
a. Karyawan mengalami pengembangan keterampilan dan proses belajar
yang lebih cepat sebab adanya pengulangan pekerjaan.
b. Berkurangnya waktu yang terbuang sebab karyawannya tidak
berganti-ganti pekerjaan atau peralatan.
c. Peralatan yang terspesialisasi akan berkembang dan investasi akan
berkurang sebab setiap karyawan memiliki hanya sedikit peralatan
yang dibutuhkan untuk tugas-tugas tertentu.
Babbage dalam Barry Render dan Jay Heizer (2001 : h. 232),
menyarankan agar perusahaan membayar upah yang disesuaikan dengan
keahlian tertentu yang dibutuhkan dalam pelaksanaan pekerjaan.
2. Perluasan pekerjaan
Telah bermunculan berbagai upaya untuk meningkatkan mutu kerja
dengan berpindah dari sistem spesialisasi pekerjaan ke arah desain
pekerjaan yang lebih bervariasi. Teori yang melatarbelakangi hal ini
119
yaitu bahwa variasi membuat pekerjaan menjadi lebih baik sehingga
mutu kerja para karyawn meningkat. Akhirnya hal ini
menguntungkan karyawan dan perusahaan. Modifikasi pekerjaan
dilakukan dengan berbagai cara. Pendekatannya yaitu :
a. Job enlargement (pembesaran pekerjaan) dimana pada pekerjaan yang
bersangkutan ditambahkan tugas-tugas yang membutuhkan keahlian
yang sama.
b. Job rotation (rotasi pekerjaan) merupakan versi job enlargement yang
terjadi bila tidak dilakukan penambahan tugas, tetapi dilakukan dengan
cara memberikan karyawan pengalaman dengan pekerjaan lain, dimana
karyawan dapat berpindah dari satu pekerjaan terspesialisasi ke
pekerjaan terspesialisasi lainnya.
c. Job enrichment (pengayaan pekerjaan) dimana kepada pekerjaan
ditambah unsur perencanaan dan pengendalian. Job enrichment dapat
dianggap perluasan vertikal, sedangkan job enlargement yaitu
perluasan horisontal. Pemberdayaan karyawan yaitu praktik job
enrichment dimana karyawan memperoleh tanggung jawab yang lebih
besar terhadap berbagai keputusan yang biasanya berkaitan dengan
pekerjaan, diberikan kepada staf yang spesialis.
120
Sumber : Barry Render dan Jay Heizer (2001 : h. 233).
Gambar 8.2.
Garis Kontinum Desain Pekerjaan
Keterbatasan dari perluasan pekerjaan yaitu :
a. Biaya modal yang lebih tinggi. Perluasan pekerjaan menentukan
adanya fasilitas yang memakan biaya lebih banyak daripada tata letak
yang konvensional.
b. Banyak yang lebih menginginkan pekerjaan yang lebih sederhana.
Banyak karyawan yang lebih memilih pekerjaan yang kurang rumit.
Dalam membahas peningkatan mutu kehidupan kerja, tidak dapat
melupakan betapa pentingnya perbedaan individu. Perbedaan individu
dapat memberikan keleluasaan bagi manajer operasi dalam mendesain
pekerjaan.
c. Dibutuhkan tingkat upah yang lebih tinggi. Manusia sering menerima
upah untuk keahlian yang tertinggi, bukan keahlian yang terendah.
Perluasan Pekerjaan
Spesialisasi
Enlargement
Enrichment
Pemberdayaan
Kelompok kerja
yang mandiri
Lebih mengandalkan
kontribusi karyawan
dan memberikan lebih
banyak tanggung
jawab karyawan
121
Maka pekerjaan yang diperluas mungkin mengharuskan upah rata-rata
yang lebih tinggi dibandingkan pekerjaan yang tidak diperluas.
d. Ketersediaan tenaga kerja menurun. sebab pekerjaan yang diperluas
memerlukan keahlian dan tanggung jawab yang lebih besar, maka
persyaratan kerjanya pun meningkat. Hal ini dapat menjadi hambatan,
tergantung ketersediaan tenaga kerjanya.
e. Mungkin akan timbul peningkatan tingkat kecelakaan. Pekerjaan-
pekerjaan yang diperluas dapat menyebabkan tingkat kecelakaan yang
lebih tinggi. Hal ini secara langsung menaikkan tingkat upah, biaya
asuransi, dan kompensasi para pekerjaan kasar.
f. Teknologi yang ada sekarang mungkin tidak memungkinkan perluasan
pekerjaan.
3. Unsur kejiwaan
Unsur kejiwaan dari desain pekerjaan memfokuskan pada bagaimana
mendesain pekerjaan yang memenuhi beberapa kebutuhan minimal
kejiwaan. Mendesain pekerjaan hendaknya dapat mencakup :
a. Variasi keahlian. Pekerjaan itu harus menuntut pekerja untuk
memakai berbagai keahlian dan bakat.
b. Identifikasi pekerjaan. Pekerjaan itu harus memungkinkan pekerja
untuk memandang pekerjaan ini secara menyeluruh dan
mengetahui yang mana awal dan yang mana akhir dari suatu
pekerjaan.
122
c. Pentingnya pekerjaan. Pekerjaan harus memberikan suatu perasaan
bahwa pekerjaan ini mempengaruhi kehidupan organisasi dan
warga nya.
d. Otonomi. Pekerjaan itu harus memungkinkan seseorang dalam
melaksanakan pekerjaan mempunyai kebebasan ketidaktergantungan
dan keleluasaan.
e. Umpan balik. Pekerjaan itu harus memberika informasi yang jelas dan
tepat waktu atas kinerja yang diharapkan.
4. Kelompok kerja yang mandiri
Kelompok kerja yang mandiri merupakan suatu kelompok-kelompok kerja
yang terdiri dari orang-orang yang berdayaguna yang bekerja sama untuk
mencapai tujuan yang sama.
5. Motivasi dan sistem insentif
Unsur kejiwaan memberikan pengetahuan mengenai faktor-faktor yang
mungkin memberikan kontribusi terhadap kepuasan kerja dan motivasi.
Selain faktor-faktor kejiwaan, ada juga faktor-faktor keuangan. Uang
sering berfungsi sebagai pemberi motivasi jiwa maupun keuangan.
penghargaan dalam bentuk uang bisa berbentuk :
a. Bonus, biasanya dalam bentuk uang tunai atau opsi saham, sering
dipakai pada tingkat eksekutif dalam rangka memberi penghargaan
kepada manajemen.
b. Pembagian laba, memberikan sebagian dari laba untuk dibagikan pada
karyawan. Variasi dari pembagian laba yaitu pembagian keuntungan.
123
c. Sistem insentif, yang berdasarkan produktivitas individu ataupun
kelompok. Sistem ini sering mendasarkan pada pencapaian produksi di
atas standar yang ditentukan. Standar ini dapat dibuat berdasarkan
waktu standar per tugas atau jumlah unit yang dibuat.
6. Ergonomi dan metode kerja
Manajer operasi tertarik untuk membangun hubungan yang baik antara
manusia dengan mesin. Studi mengenai hubungan ini dikenal deengan
istilah ergonomi. Ergonomi berarti studi tentang kerja
Analisis metode kerja memfokuskan pada bagaimana suatu tugas
dilaksanakan. Teknik-teknik metode kerja dipakai untuk menganalisis :
a. Perpindahan manusia atau bahan baku. Analisisnya dilakukan dengan
memakai :
- Diagram arus yaitu skema (gambar) yang dipakai untuk
meneliti perpindahan manusia dan bahan baku.
- Diagram proses yaitu memakai simbol untuk membantu
memahami perpindahan manusia atau bahan baku. Dengan cara ini
keterlambatan dapat dikurangi dan operasi dapat dibuat lebih
efisien.
b. Kegiatan manusia serta mesin dan kegiatan awak mesin. Analisis ini
dilakukan dengan memakai diagram kegiatan untuk mempelajari
dan meningkatkan kinerja seorang operator dan sebuah mesin atau
gabungan operator-operator (awak) dan mesin-mesin.
124
c. Gerak tubuh. Analisis ini dilakukan dengan memakai diagram
operasi yang didesain untuk menganalisis segi ekonomi dari gerakan
dengan menghilangkan gerakan yang sia-sia dan waktu yang tidak
produktif.
B. Standar Produksi dan Operasi
Elwood S. Buffa dan Rakesh K. Sarin (1999 : h. 200), menyatakan
bahwa standar kinerja menyediakan data yang mendasar bagi masalah
pengambilan keputusan dalam manajemen produksi atau operasi. Standar
kinerja sangat penting sebab biaya tenaga kerja merupakan faktor yang
sangat penting, mempengaruhi banyak keputusan. Sebagai contoh, keputusan
untuk membuat atau membeli komponen, mengganti peralatan, atau memilih
proses manufaktur tertentu membutuhkan perkiraan biaya tenaga kerja.
Standar kinerja juga memberikan data mendasar yang dipakai
dalam operasi sehari-hari. Misalnya, penjadwalan dan pembebanan mesin
menuntut pengetahuan tentang proyeksi kebutuhan waktu. Untuk pembuatan
barang pesanan, kita harus dapat memberikan harga penawaran dan tanggal
pengiriman kepada calon pelanggan. Harga yang ditawarkan biasanya
didasarkan pada perkiraan biaya tenaga kerja, material dan biaya tetap
ditambah keuntungan yang diharapkan. Biaya tenaga kerja sering kali
merupakan komponen tunggal terbesar dalam situasi seperti itu. Untuk
memperkirakan biaya tenaga kerja dibutuhkan penaksiran tentang berapa lama
akan dibutuhkan untuk mengerjakan berbagai operasi. Penaksiran ini juga
125
dipakai untuk menghitung kapasitas proses produksi, dan memberikan
masukan untuk memperkirakan waktu pengiriman kepada pelanggan.
(2001 : h. 243), standar tenaga
kerja yaitu jumlah waktu yang diperlukan untuk melakukan suatu pekerjaan
atau bagian dari pekerjaan. Standar tenaga kerja diperlukan untuk menentukan
hal-hal dibawah ini :
1. Kandungan tenaga kerja untuk satu unit produk yang diproduksi (biaya
tenaga kerjanya).
2. Kebutuhan penugasan staf organisasi (berapa banyak orang yang
diperlukan untuk memproduksi sejumlah volume tertentu dari suatu
produk).
3. Estimasi biaya dan waktu sebelum produksi dilakukan (untuk membantu
berbagai pengambilan keputusan, mulai dari mengembangkan estimasi
biaya untuk konsumen sampai ke keputusan beli-atau-buat sendiri).
4. Banyaknya operator dan keseimbangan kerja (siapa yang melakukan apa
dalam kegiatan kelompok atau lini perakitan).
5. Produksi yang diinginkan (manajer dan juga pekerja harus mengetahui
bagaimana hari kerja bisa dianggap adil).
6. Dasar dari rencana insentif-upah (bagaimana insentif yang baik itu).
7. Efisiensi karyawan dan penyeliaan (standar itu perlu untuk kepentingan
pengukuran efisiensi).
Standar tenaga kerja dapat ditetapkan dengan 4 (empat) cara yaitu :
126
1. Pengalaman masa lalu yaitu banyaknya jam kerja yang diperlukan untuk
melaksanakan satu tugas pada waktu terakhir kali tugas itu dikerjakan.
2. Studi waktu mencakup penetapan waktu bagi sampel dari kinerja para
pekerja dan memakai nya untuk menetapkan standar
3. Standar waktu yang telah ditetapkan sebelum pekerjaan dilakukan dengan
membagi pekerjaan manual menjadi elemen-elemen dasar yang lebih kecil
yang waktunya telah solid (berdasarkan sampel pekerja dengan jumlah
yang sangat besar). Seseorang yang terlatih dan berpengalaman dapat
menetapkan standar dengan mengikuti 8 (delapan) tahap-tahap berikut :
a. Mendefinisikan tugas yang akan dijadikan objek studi.
b. Memilah tugas itu menjadi elemen-elemen dasar.
c. Menentukan berapa kali tugas akan diukur.
d. Menentukan waktu dan mencatat waktu pelaksanaan elemen dasar
tugas itu dan menetapkan peringkat bagi kinerja pelaksanaan itu.
e. Menghitung waktu siklus aktual rata-rata.
Jumlah waktu tercatat yang diperlukan
untuk melaksanakan elemen dasar tugas
Waktu siklus rata-rata =
Jumlah siklus yang diamati
f. Menghitung waktu normal untuk setiap elemen.
Waktu normal = (waktu siklus aktual rata-rata) x (faktor peringkat)
g. Menjumlahkan waktu normal untuk setiap elemen, agar dapat peroleh
waktu normal total untuk suatu pelaksanaan tugas.
h. Menghitung waktu standar.
127
Waktu normal total
Waktu standar =
1 – faktor kelonggaran
4. Penetapan sampel kerja yaitu memperkirakan persentase waktu yang
dihabiskan pekerja untuk mengerjakan berbagai tugas. Sampel kerja
dipakai dalam :
a. Studi pemborosan waktu. Studi ini memperkirakan persentase waktu
yang dihabiskan pekerja unuk pemborosan waktu yang tidak dapat
dihindari.
b. Penetapan standar tenaga kerja. Untuk menetapkan waktu tugas
standar, pengamat harus cukup berpengalaman memberi peringkat
pada kinerja pekerja.
c. Pengukuran kinerja kerja. Sampel kerja dapat mengembangkan indeks
kinerja untuk pekerja, dalam evaluasi periodik.
Prosedur pengujian sampel dapat diringkas kedalam 7 (tujuh) tahapan
yaitu :
a. Ambil sampel awal untuk memperoleh estimasi dari nilai parameternya
(seperti persentase waktu dimana pekerja itu produktif).
b. Hitung ukuran sampel yang dibutuhkan.
c. Siapkan jadwal pengamatan pekerja pada waktu-waktu yang tetap.
d. Amati dan catat kegiatan pekerja; beri peringkat pada kinerjanya.
e. Catat jumlah unit yang diproduksi selama studi dilangsungkan.
f. Hitung waktu normal per bagian.
g. Hitung waktu standar per bagian.
128
C. Pengukuran Kerja
Pengukuran kerja menurut Daryanto (2012 : h. 106), yaitu suatu
aktivitas untuk menentukan lamanya sebuah pekerjaan bisa diselesaikan.
Pengukuran kerja berkaitan dengan penentuan waktu standar. Waktu standar
yaitu waktu yang diperlukan oleh seorang pekerja terlatih untuk
menyelesaikan suatu tugas tertentu, bekerja pada tingkat kecepatan yang
berlanjut serta memakai metode, mesin dan peralatan, material dan
pengaturan tempat kerja tertentu.
Menurut Manahan P. Tampubolon (2004 : h. 173), pengukuran kerja
merupakan penentuan tingkat dan kuantitas karyawan yang langsung terlibat
didalam sistem konversi. Pertama-tama ditentukan standar waktu kerja
karyawan berdasarkan data kemampuan rata-rata kerja karyawan yang pada
umumnya dilakukan dengan cara mengadakan sampel pengamatan. Sampel
ini terdiri dari sejumlah karyawan dengan tingkat keterampilan yang
berbeda, kemudian tingkat output yang diperoleh masing-masing diukur. Dari
hasil pengukuran itu diperoleh rata-rata kemampuan kerja mereka.
Setiap organisasi menurut Elwood S. Buffa dan Rakesh K. Sarin (1999
: h. 200), memiliki standar kinerja sendiri. Bahkan bilamana standar ini secara
formal tidak ada, penyelia memiliki standar dalam benak mereka untuk
berbagai pekerjaan yang didasarkan pada pengetahuan mereka tentang
pekerjaan dan kinerja masa lalu. Standar semacam ini yaitu informal.
Standar yang didasarkan pada estimasi penyelia dan data kinerja masa lalu
memiliki kelemahan. Pertama, dalam hampir semua situasi seperti itu, metode
129
kinerja kerja belum distandarisasi. Oleh sebab nya, sulit untuk menyatakan
berapa tingkat keluaran, berdasarkan catatan masa lalu, yang sesuai sebab
data kinerja masa lalu mungkin didasarkan pada berbagai macam metode.
Kelemahan besar kedua dari standar yang didasarkan pada penilaian dan
catatan kinerja masa lalu yaitu bahwa mereka mungkin sangat dipengaruhi
oleh kecepatan kerja individu yang mengerjakan pekerjaan.
Dalam distribusi waktu-kerja, kinerja standar yaitu disekitar rata-rata
distribusi, dan diharapkan bahwa semua pekerja akan berproduksi di sekitar
standar, beberapa orang akan berada dibawahnya, dan beberapa orang akan
melampaui standar ini. Sistem penetapan standar ini dipakai , walaupun
praktik penyebutan nilai minimum yang dapat diterima (minimum acceptable
values) lebih umum daripada penyebutan nilai rata-rata.
Dengan memakai tingkat minimum yang dapat diterima sebagai
standar kinerja dengan waktu normal maka standar total yaitu :
Waktu standar total = Waktu normal + Alowansi standar untuk waktu
pribadi + Alowansi untuk tundaan terukur
normal bagi pekerjaan + Alowansi untuk
kelelahan.
Untuk menentukan waktu normal dalam situasi yang biasa bila hanya
satu atau sedikit pekerja yang bekerja dapat memakai pendekatan yang
dinamakan pemeringkatan kinerja (performace rating). Pemeringkatan kinerja
yaitu bagian sangat penting dari sebarang cara formal untuk pengukuran
kerja. Untuk mampu melakukan pemeringkatan secara akurat dibutuhkan
130
pengalaman yang banyak. Suatu kecepatan atau tingkat kinerja tertentu dipilih
sebagai standar. Pengukuran waktu aktual yang dibutuhkan untuk
menyelesaikan pekerjaan dan pemeringkatan kinerja harus dilakukan secara
simultan. Selanjutnya waktu normal dihitung sebagai :
Waktu aktual terobservasi x Peringkat kinerja
Waktu normal =
100
Semua sistem pengukuran kerja formal melibatkan pemeringkatan atau
penilaian kecepatan kerja ini atau prosedur lain yang serupa. Dalam situasi
pengukuran kerja aktual, penting untuk membandingkan citra mental ”kinerja
normal” dengan prestasi yang diobservasi. Peringkat ini ikut dimasukkan
dalam penghitungan standar kinerja sebagai satu faktor, dan standar akhirnya
tidak mungkin lebih akurat daripada pemeringkatannya.
Kriteria yang dapat dipakai untuk mengukur performasi suatu
sistem kerja diantaranya sebagai berikut (Daryanto, 2012 : . 76) :
1. Waktu kerja.
2. Fisiologi kerja.
3. Psikologi kerja.
4. Sosiologi kerja.
Elwood S. Buffa dan Rakesh K. Sarin (1999 : h. 204), menyatakan
bahwa semua sistem pengukuran kerja praktis mencakup : (1) pengukuran
waktu aktual yang diobservasi dan (2) penyesuaian waktu yang diobservasi
untuk memperoleh ”waktu normal” melalui pemeringkatan kinerja. Sistem
pengukuran kinerja sebagai berikut :
131
1. Metode stopwatch
Pendekatan yang paling umum untuk pengukuran kerja yang dipakai
meliputi penelitian waktu stopwatch dan pengukuran kinerja operasi
secara simultan untuk menentukan waktu normal. Piransi pengukur waktu
elektronik yang sekarang sering dipakai yaitu stopwatch
konvensional. Prosedur umumnya yaitu sebagai berikut :
a. Standarisasikan metode untuk operasi : yaitu tentukan metode standar
yang menspesifikasikan tata-letak tempat kerja, peralatan, urutan
elemen, dan lainnya. Catatlah praktik standar yang dihasilkan.
b. Pilih operator berpengalaman dan terlatih untuk diteliti dalam metode
standar.
c. Tentukan struktur elemental operasi untuk maksud penetapan waktu.
Ini mungkin meliputi penguraian operasi ke dalam elemen dan
pemisahan elemen yang muncul dalam tiap siklus untuk mereka yang
hanya muncul secara periodik atau secara acak.
d. Amati dan catatlah waktu aktual yang dibutuhkan untuk elemen-
elemen ini, secara simultan lakukanlah pemeringkatan kinerja.
e. Tentukan jumlah observasi yang dibutuhkan untuk menghasilkan
presisi hasil yang diharapkan yang didasarkan pada data percontoh
yang diperoleh dalam langkah 4. Carilah data yang lebih banyak
seperlunya.
132
f. Hitunglah waktu normal.
Waktu aktual yang diobservasi x Faktor peringkat rata-rata
Waktu normal =
100
g. Tentukan alowansi untuk waktu pribadi, tundaan dan kelelahan.
h. Tentukan waktu standar.
Waktu standar = Waktu standar untuk elemen + Waktu untuk alowansi
2. Pemercontohan kerja
Hal yang unik tentang pemercontohan kerja yaitu bahwa ini memberikan
hasil penelitian stopwatch tanpa membutuhkan piranti pengukur waktu
yang akurat.
Jika kita ingin menilai proporsi waktu yang dihabiskan seorang pekerja
atau kelompok pekerja untuk bekerja dan proporsi waktu yang dihabiskan
untuk tidak bekerja, kita dapat melakukan telaah waktu (time study) jangka
panjang untuk mengukur waktu bekerja, waktu menganggur (idle time)
atau keduanya. Ini mungkin akan membutuhkan waktu satu hari atau lebih,
dan setelah menghitung kita tidak akan yakin bahwa jangka penelitian
mencakup periode bekerja dan tidak bekerja yang representatif.
Tetapi, andaikan kita melakukan sejumlah besar pengamatan (observasi)
acak dimana kita hanya menentukan apakah operator sedang bekerja atau
tidak dan mencatat hasilnya secara tally. Persentase lidi (tally) yang dicatat
dalam klasifikasi “kerja” atau “tidak kerja” merupakan estimasi persentase
aktual waktu yang dipakai pekerja untuk bekerja atau tidak bekerja.
Disini terletak prinsip fundamental pemercontohan kerja : jumlah
133
observasi (pengamatan) yaitu proporsional dengan jumlah waktu yang
dihabiskan dalam keadaan bekerja atau tidak bekerja. Akurasi penilaian
tergantung pada jumlah observasi, dan dapat ditentukan lebih dulu batas
dan tingkat kepercayaan.
3. Sistem pengukuran kerja data standar
Dua jenis data standar yang dipakai :
a. Data standar berdasarkan elemen menit gerakan (sering disebut data
universal atau mikrodata).
Data standar universal memberikan nilai waktu bagi tipe fundamental
dari gerakan, sehingga waktu siklus yang lengkap dapat disintesiskan
dengan menganalisis gerakan yang diperlukan untuk menyelesaikan
pekerjaan. Nilai waktu fundamental seperti ini dapat dipakai
sebagai landasan pembangun (building block) untuk meramalkan
waktu standar, asalkan nilai waktu ini terkumpul dengan baik dan
berbagai elemen gerak menit yang diperlukan oleh pekerja dianalisis
dengan sempurna.
b. Data standar untuk keluarga pekerja (sering disebut data mikrostandar
atau data standar elemen).
Data standar untuk keluarga pekerjaan memberikan nilai waktu normal
bagi elemen-elemen utama pekerjaan (data makrostandar). Juga, nilai
waktu untuk penyetelan mesin (machine set-up) dan untuk berbagai
macam elemen manual diberikan, sehingga waktu normal bagi
pekerjaan yang sepenuhnya baru dapat dikonstruksikan melalui
134
analisis cetak biru untuk melihat spesifikasi material (bahan), potongan
seperti apa yang harus dibuat, bagaimana suatu komponen dapat
dikerjakan oleh mesin, dan lain sebagainya. Tetapi, tidak seperti data
standar universal, nilai waktu bagi elemen-elemen ini telah didasarkan
pada penelitian stopwatch aktual sebelumnya atau pengukuran kerja
lainnya dalam keluarga pekerjaan.
Menurut T. Hani Handoko (1997 : h. 194), teknik-teknik pengukuran
kerja dapat dipakai untuk maksud-maksud sebagai berikut :
1. Mengevaluasi pelaksanaan kerja karyawan. Ini dilakukan melalui
pembandingan keluaran nyata selama periode waktu tertentu dengan
keluaran standar yang ditentukan dari pengukuran kerja.
2. Merencanakan kebutuhan tenaga kerja. Untuk setiap tingkat keluaran
tertentu di waktu yang akan datang, pengukuran kerja dapat dipakai
untuk menentukan berapa banyak masukan tenaga kerja diperlukan.
3. Menentukan tingkat kapasitas. Untuk suatu tingkat tertentu tenaga kerja
dan peralatan yang tersedia, standar-standar pengukuran kerja dapat
dipakai untuk menentukan tingkat kapasitas yang harus tersedia.
4. Menentukan harga atau biaya suatu produk. Berbagai standar tenaga kerja,
yang didapatkan melalui pengukuran kerja, yaitu salah satu unsur sistem
penentuan harga atau biaya. Dalam banyak organisasi, keberhasilan
penetapan harga produk yaitu krusial bagi kelangsungan bisnisnya.
Kegiatan ini sangat tergantung pada pengukuran kerja bila biaya
merupakan basis untuk penetapan harga.
5. Memperbandingkan metode-metode kerja. Bila berbagai metode yang
berbeda untuk suatu pekerjaan sedang dipertimbangkan, pengukuran kerja
dapat memberikan dasar pembandingan ekonomik metode-metode. Ini
merupakan esensi manajemen ilmiah – menemukan metode terbaik atas
dasar studi waktu dan gerak yang teliti.
6. Memudahkan scheduling operasi-operasi. Salah satu masukan data untuk
semua sistem scheduling yaitu estimasi waktu kegiatan-kegiatan kerja.
Estimasi-estimasi ini diperoleh dari pengukuran kerja.
7. Menetapkan upah insentif. Dengan upah insentif, para karyawan menerima
pembayaran lebih untuk keluaran yang lebih besar. Standar waktu melatar
belakangi rencana-rencana insentif ini dengan menentukan keluaran 100
persen.
Pengukuran waktu kerja merupakan kriteria yang paling banyak
dipakai untuk mendapatkan ukuran performasi kerja. Beberapa kegunaan
pengukuran waktu kerja diantaranya sebagai berikut (Daryanto, 2012 : h. 76) :
1. Dasar untuk menetapkan waktu standar dan kecepatan produksi.
2. Dasar menetapkan hari/jam kerja yang wajar untuk dasar menetapkan
upah kerja serta target produksi.
3. Dasar untuk melakukan perbaikan kerja lebih lanjut.
4. Dasar untuk menyusun perencanaan dan pengendalian produksi yang
wajar.
5. Dasar penyusunan anggaran serta pengendaliannya.
136
Teknik pengukuran waktu kerja dapat dibedakan atas :
1. Cara langsung yaitu jika pengukuran dilakukan di tempat pekerjaan
ini dilakukan.
2. Cara tidak langsung yaitu perhitungan waktu didasarkan pada tabel-tabel
yang sudah tersedia, dengan terlebih dahulu membakukan metode kerja
yang dipakai .
BAB IX
PERSEDIAAN DAN MODEL DASAR ECONOMIC ORDER QUANTITY
(EOQ)
A. Pengertian Persediaan
T. Hani Handoko (1997 : h. 333), menyatakan bahwa istilah
persediaan (inventory) yaitu suatu istilah umum yang menunjukkan segala
sesuatu atau sumber daya-sumber daya organisasi yang disimpan dalam
antisipasinya terhadap pemenuhan permintaan. Permintaan akan sumber daya
mungkin internal ataupun eksternal. Ini meliputi persediaan bahan mentah,
barang dalam proses, barang jadi atau produk akhir, bahan-bahan pembantu
atau pelengkap, dan komponen-komponen lain yang menjadi bagian keluaran
produk perusahaan. Jenis persediaan ini sering disebut dengan istilah
persediaan keluaran produk (product output), dimana hampir semua orang
mengidentifikasikan secara cepat sebagai persediaan. Tetapi seharusnya tidak
membatasi pengertian persediaan hanya itu. Banyak organisasi juga
menyimpan jenis-jenis persediaan lain, seperti uang, ruangan phisik
(bangunan pabrik), peralatan dan tenaga kerja untuk memenuhi permintaan
akan produk dan jasa. Sumber daya-sumber daya ini sering dapat dikendalikan
lebih efektif melalui pemakaian berbagai sistem dan model manajemen
persediaan.
Sistem pengendalian yaitu serangkaian kebijaksanaan dan
pengendalian yang memonitor tingkat persediaan dan menentukan tingkat
138
persediaan yang harus dijaga, kapan persediaan harus diisi, dan berapa besar
pesanan yang harus dilakukan. Sistem ini bertujuan menetapkan dan
menjamin tersedianya sumber daya yang tepat, dalam kuantitas yang tepat dan
pada waktu yang tepat. Atau dengan kata lain, sistem dan model persediaan
bertujuan untuk meminimumkan biaya total melalui penentuan apa, berapa
dan kapan pesanan dilakukan secara optimal.
B. Fungsi Persediaan
(2001 : h. 314), persediaan
(invetory) dapat memiliki berbagai fungsi penting yang menambah
fleksibilitas dari operasi suatu perusahaan. Ada 6 (enam) pemakaian
persediaan, yaitu :
1. Untuk memberikan suatu stok barang-barang agar dapat memiliki
permintaan yang diantisipasi akan timbul dari konsumen.
2. Untuk memasangkan produksi dengan distribusi.
3. Untuk mengambil keuntungan dari potongan jumlah, sebab pembelian
dalam jumlah besar dapat secara substansial menurunkan biaya produk.
4. Untuk melakukan hedging terhadap inflasi dan perubahan harga.
5. Untuk menghindari dari kekurangan stok yang dapat terjadi sebab cuaca,
kekurangan pasokan, masalah mutu, atau pengiriman yang tidak tepat.
6. Untuk menjaga agar operasi dapat berlangsung dengan baik dengan
memakai barang-dalam-proses dalam persediaannya.
139
Fungsi-fungsi persediaan menurut
yaitu :
1. Fungsi decoupling. Fungsi penting persediaan yaitu memungkinkan
operasi-operasi perusahaan internal dan eksternal mempunyai kebebasan
(independence). Persediaan decouples ini memungkinkan perusahaan
dapat memenuhi permintaan langganan tanpa ketergantungan pada
supplier.
Persediaan bahan mentah diadakan agar perusahaan tidak akan
sepenuhnya tergantung pada pengadaannya dalam hal kuantitas dan waktu
pengiriman. Persediaan barang dalam proses diadakan agar departemen-
departemen dan proses-proses individual perusahaan terjaga
kebebasannya. Persediaan barang jadi diperlukan untuk memenuhi
permintaan produk yang tidak pasti dari para langganan. Persediaan yang
diadakan untuk menghadapi fluktuasi permintaan konsumen yang tidak
dapat diperkirakan atau diramalkan disebut fluctuation stock.
2. Fungsi economic lot sizing
Melalui penyimpanan persediaan, perusahaan dapat memproduksi dan
membeli sumber daya-sumber daya dalam kuantitas yang dapat
mengurangi biaya-biaya per unit. Persediaan “lot size” ini perlu
mempertimbangkan penghematan-penghematan (potongan pembelian,
biaya pengangkutan per unit lebih murah dan sebagainya) sebab
perusahaan melakukan pembelian dalam kuantitas yang lebih besar,
140
dibandingkan dengan biaya-biaya yang timbul sebab besarnya persediaan
(biaya sewa gudang, investasi, risiko dan sebagainya).
3. Fungsi antisipasi
Sering perusahaan menghadapi fluktuasi permintaan yang dapat
diperkirakan dan diramalkan berdasarkan pengalaman atau data-data masa
lalu, yaitu permintaan musiman. Dalam hal ini perusahaan dapat
mengadakan persediaan musiman (seasonal inventories). Disamping itu,
perusahaan juga sering menghadapi ketidakpastian jangka waktu
pengiriman dan permintaan akan barang-barang selama periode persamaan
kembali, sehingga memerlukan persediaan ekstra yang sering disebut
persediaan pengaman (safety inventories). Pada kenyataannya, persediaan
pengaman merupakan pelengkap fungsi decoupling. Persediaan antisipasi
ini penting agar kelancaran proses produksi tidak terganggu.
Perusahaan mempertahankan 4 (empat) jenis persediaan yaitu :
1. Persediaan bahan mentah : telah dibeli, namun belum diproses. Bahan
mentahnya dapat dipakai dari proses produksi untuk pemasok yang
berbeda-beda. Meskipun demikian, pendekatan yang lebih disukai yaitu
dengan menghapus variabilitas pemisahan.
2. Persediaan barang-dalam-proses (work-in-process/WIP) : telah mengalami
beberapa perubahan, tetapi belum selesai. WIP ini ada sebab untuk
membuat produk diperlukan waktu (disebut waktu siklus). Pengurangan
waktu siklus menyebabkan persediaan WIP pun berkurang.
141
3. Persediaan MRO (perlengkapan pemeliharaan/perbaikan/operasi) :
persediaan yang dikhususkan untuk perlengkapan
pemelihaaan/perbaikan/operasi. MRO ini ada sebab waktu dan kebutuhan
untuk pemeliharaan dan perbaikan dari beberapa peralatan tidak dapat
diketahui. Walaupun permintaan untuk persediaan MRO ini sering kali
merupakan fungsi jadwal-jadwal pemeliharaan, permintan MRO lainnya
perlu diantisipsi.
4. Persediaan barang jadi : selesai dan menunggu untuk dikirimkan barang
jadi dimasukkan ke dalam persediaan sebab permintaan konsumen untuk
jangka waktu tertentu mungkin tidak diketahui.
C. Manajemen Persediaan
Menurut Manahan P. Tampubolon (2004 : h. 189), manajemen
persediaan sangat berkaitan dengan sistem persediaan didalam suatu
perusahaan, yang bertujuan untuk menciptakan efisiensi dalam proses
konversi Secara konservatif, efisiensi yang dapat dihasilkan manajemen
persediaan akan dapat menekan biaya produksi, biaya produksi yang efisien
akan dapat mendorong harga jual yang lebih bersaing dibandingkan
kompetitor lain yang tidak dapat menciptakan efisiensi. Disisi lain, efisiensi
manajemen persediaan akan dapat menghasilkan laba yang lebih maksimal,
sebagai akibat rasio harga dibandingkan biaya produksi akan lebih fleksibel
untuk menentukan rasio laba terhadap harga jual. Dengan demikian, peran
manajemen persediaan sangat penting untuk dapat menciptakan efisiensi biaya
142
produksi, yang menyangkut penentuan jumlah persediaan, penentuan harga
persediaan, sistem pencatatan persediaan dan kebijakan tentang kualitas
persediaan. Apabila keputusan tentang kebijakan persediaan dapat dilakukan
secara efisien dan efektif, maka peran manajemen persediaan akan dapat
membuat suatu keunggulan untuk bersaing bagi perusahaan. Manajemen
persediaan merupakan fungsi dari manajer operasional dan harus membentuk
suatu sistem yang permanen melalui pengujian-pengujian, antara lain
bagaimana persediaan diklasifikasi dan bagaimana mencatat persediaan dan
dipelihara secara akurat.
Manajer operasi dapat menetapkan suatu sistem untuk mengelola
persediaan. Elemen-elemen sistem manajemen persediaan yaitu (
1. Analisis ABC
Analisis ABC membagi persediaan ditangan ke dalam 3 (tiga) kelompok
berdasarkan volume tahunan daam jumlah uang. Analisis ABC merupakan
penerapan persediaan dari Prinsip Pareto. Prinsip Pareto menyarankan
bahwa ada beberapa yang penting dan banyak yang sepele. Pemikiran
yang mendasari prinsip ini yaitu bagaimana memfokuskan sumber daya
pada bagian persediaan penting yang sedikit itu dan bukan pada bagian
persediaan yang banyak namun sepele.
Untuk menentukan nilai uang tahunan dari volume dalam analisis ABC,
diukur permintaan tahunan dari setiap butir persediaan dikalikan dengan
biaya per unit. Butir persediaan kelas A yaitu persediaan-persediaan yang
143
jumlah nilai uang per tahunnya tinggi. Butir-butir persediaan semacam ini
mungkin hanya mewakili sekitar 15% dari butir-butir persediaan total,
tetapi mewakili 70%-80% dari total biaya persediaan. Butir persediaan
kelas B yaitu butir-butir persediaan yang volume tahunannya (dalam nilai
uang) sedang. Butir-butir persediaan ini mungkin hanya mewakili 30%
dari keseluruhan persediaan dan 15%-25% dari nilainya. Butir-butir
persediaan yang volume tahunannya kecil, dinamakan kelas C, yang
mewakili hanya 5% dari keseluruhan volume tahunan tetapi sekitar 55%
dari keseluruhan persediaan.
Kriteria selain volume tahunan dalam nilai uang dapat menentukan
klasifikasi butir persediaan. Misalnya, perubahan teknis yang diantisipasi,
masalah-masalah pengiriman, masalah-masalah mutu, atau biaya per unit
yang tinggi dapat membawa butir persediaan yang menaik ke dalam
klasifikasi yang lebih tinggi. Keuntungn pembagian butir-butir persediaan
ke dalam kelas-kelas memungkinkan ditetapkannya kebijakan dan
pngendalian untuk setiap kelas yang ada.
Kebijakan yang dapat didasarkan pada analisis ABC mencakup hal-hal
berikut :
a. Perkembangan sumber daya pembelian yang dibayarkan kepada
pemasok harus lebih tinggi untuk butir persediaan A dibandingkan
butir persediaan C.
b. Butir persediaan A, berlainan dengan butir persediaan B dan C, harus
dikendalikan secara lebih ketat; mungkin sebab butir persediaan A ini
144
ditetapkan di wilayah yang lebih tertutup dan mungkin sebab
keakuratan catatan persediaannya harus lebih sering diverifikasi.
c. Meramalkan butir persediaan A mungkin harus lebih berhati-hati
daripada meramalkan butir (kelas) persediaan yang lain.
2. Keakuratan catatan persediaan.
Keakuratan catatan mengenai persediaan penting dalam sistem produksi
dan persediaan. Keakuratan ini memungkinkan organisasi untuk tidak
merasa yakin bahwa “beberapa dari seluruh produk” berada di persediaan
dan memungkinkan organisasi untuk tidak hanya memfokuskan pada
butir-butir persediaan yang dibutuhkan. Bila hanya suatu organisasi dapat
secara akurat menentukan apa yang ada ditanganyalah organisasi itu dapat
membuat keputusan yang tepat mengenai pemesanan, penjadwalan dan
pengangkutan.
Walaupun suatu organisasi mungkin telah melakukan berbagai usaha
untuk mencatat persediaan secara akurat, catatan atau arsip ini harus
diverifikasi melalui pemeriksaan/audit yang berkelanjutan. Audit semacam
ini disebut penghitungan siklus (cycle counting). Dahulu, banyak
perusahaan mengambil persediaan fisik tahunan. Hal ini sering berarti
penghentian fasilitas produksi dan menyuruh orang-orang yang tidak
berpengalaman untuk menghitung komponen dan bahan baku. Arsip
persediaan harus diverifikasi melalui penghitungan siklus, bukannya
dengan cara di atas. Penghitungan siklus memakai klasifikasi
persediaan yang dikembangkan melalui analisis ABC. Dengan prosedur
145
penghitungan sik
.jpeg)
