Senin, 13 Oktober 2025

Manajemen produksi 3


 


lus, butir-butir persediaan dihitung, arsip diverifikasi dan 

ketidakakuratan didokumentasi secara berkala. pemicu   ketidakakuratan 

ini kemudian dilacak dan tindakan perbaikan yang tepat mungkin diambil 

sesuai klasifikasi butir persediannya. Butir persediaan A akan dihitung 

secara rutin, mungkin sekali sebulan; butir persediaan B kurang rutin, 

mungkin sekali dalam 4 bulan; dan butir persediaan c akan dihitung 

mungkin sekali dalam setahun. 

3. Pengendalian persediaan dalam industri jasa. 

Kita cenderung menganggap bahwa di sektor jasa tidak ada persediaan, 

sebenarnya tidak demikian. Dalam jasa makanan, misalnya pengendalian 

manajemen persediaan menjadi amat penting. Pengendalian persediaan 

dapat menentukan keberhasilan atau kegagalan. Lebih jauh lagi, 

persediaan yang singgah atau tidak terpakai di gudang merupakan sesuatu 

yang nilainya telah hilang. Demikian pula, persediaan yang rusak atau 

dicuri sebelum berhasil dijual merupakan kerugian. Dalam bisnis eceran, 

persediaan yang tidak dicatat diantara penerimaan dan waktu penjualan 

dinamakan penyusutan. Penyusutan ini terjadi sebab  pencurian, ataupun 

administrasi yang berantakan. Dalam bisnis eceran, pencurian ini  

disebut juga penyerobotan. Pengaruh kerugian pada profitabilitas sangat 

substansial, konsekuensinya, keakuratan dan pengendalian persediaan 

sangatlah penting. Teknik-teknik yang dapat diterapkan mencakup yaitu : 

 

 

 

 

146 

 

a. Pemilihan karyawan, pelatihan dan disiplin yang baik. 

b. Pengendalian yang ketat atas kiriman barang yang datang. 

c. Pengendalian yang efektif atas semua barang yang keluar dari fasilitas. 

 

D. Model Persediaan 

(2001 : h. 318), berbagai model 

persediaan dan biaya yang terkait dengan berbagai model persediaan yaitu : 

1. Permintaan dependen vs permintaan independen 

Model pengendalian persediaan mengasumsikan bahwa permintaan untuk 

suatu barang bersifat independen atau dependen terhadap permintaan 

barang lainnya.   

Permintaan dependen mengasumsikan bahwa permintaan untuk satu 

produk tidak berkaitan dengan permintaan untuk produk lainnya. 

Sedangkan permintaan independen berarti permintaan satu produk 

berkaitan dengan permintaan untuk produk lainnya. 

2. Biaya penyimpanan, pemesanan dan pemasangan 

a. Biaya penyimpanan (holding cost) yaitu  biaya-biaya yang berkaitan 

dengan penyimpanan atau penahanan (carrying) persediaan sepanjang 

waktu tertentu. Oleh sebab  itu, biaya penyimpanan juga mencakup 

biaya yang berkaitan dengan gudang seperti biaya asuransi, staffing 

tambahan dan pembayaran bunga. 

b. Biaya pemesanan (ordering cost) menckup biaya-biaya pasokan, 

formulir, pemrosesan pesanan, tenaga para pekerja dan sebagainya.  

 

 

147 

 

c. Biaya pemasangan yaitu  biaya-biaya untuk mempersiapkan mesin 

atau proses untuk memproduksi pesanan. Biaya pemasangan secara 

erat berhubungan dengan waktu pemasangan (setup time). Pemasangan 

biasanya menuntut adanya sejumlah kerja tertentu sebelum suatu 

operasi betul-betul dijalankan di pusat kerja. Kebanyakan persiapan 

yang diperlukan oleh pemasangan dapat dilakukan sebelum 

penghentian mesin atau proses yang ada.  , dalam pembuatan setiap 

keputusan yang akan mempengaruhi besarnya (jumlah) persediaan, biaya-

biaya persediaaan sebagai berikut : 

1. Biaya penyimpanan (holding costs atau carrying costs) terdiri atas biaya-

biaya yang bervariasi secara langsung dengan kuantitas persediaan. Biaya 

penyimpanan per periode akan semakin besar apabila kuantitas bahan yang 

dipesan semakin banyak, atau rata-rata persediaan semakin tinggi. Biaya-

biaya yang termasuk sebagai biaya penyimpanan yaitu  : 

a. Biaya fasilitas-fasilitaas penyimpanan termasuk penerangan, pemanas 

atau pendingin). 

b. Biaya modal (opportunity cost of capital) yaitu alternatif pendapatan 

atas dana yang diinvestasikan dalam persediaan. 

c. Biaya keusangan. 

d. Biaya penghitungan fisik dan konsiliasi laporan. 

e. Biaya asuransi persediaan. 

f. Biaya pajak persediaan. 

 

 

148 

 

g. Biaya pencurian, pengrusakan atau perampokan. 

h. Biaya penanganan persediaan dan sebagainya. 

Biaya-biaya ini yaitu  variabel bila bervariasi dengan tingkat persediaan. 

Bila biaya fasilitas penyimpanan (gudang) tidak variabel, tetapi tetap, 

maka tidak dimasukkan dalam biaya penyimpanan per unit. 

Biaya penyimpanan persediaan biasanya berkisar antara 12-40 persen dari 

biaya atau harga barang. Untuk perusahaan-perusahaan manufacturing 

biasanya biaya penyimpanan rata-rata secara konsisten sekitar 25 persen. 

2. Biaya pemesanan (pembelian). Setiap kali suatu bahan dipesaan, 

perusahaan menanggung biaya pemesanan (order costs atau procurement 

costs). Biaya-biaya pemesanan secara terperinci meliputi : 

a. Pemrosesan pesanan dan biaya ekspedisi. 

b. Upah. 

c. Biaya telepon. 

d. Pengeluaran surat-menyurat. 

e. Biaya pengepakan dan penimbangan. 

f. Biaya pemeriksaan (inspeksi) penerimaan. 

g. Biaya pengiriman ke gudang. 

h. Biaya hutang lancar ; dan sebagainya. 

Secara normal, biaya per pesanan (di luar biaya bahan dan potongan 

kuantitas) tidak naik bila kuantitas pesanan bertambah besar. Tetapi, bila 

semakin banyak komponen yang dipesan setiap kali pesan, jumlah pesanan 

per periode turun, maka biaya pemesanan total akan turun. Ini berarti, 

 

 

149 

 

biaya pemesanan total per periode (tahunan) yaitu  sama dengan jumlah 

pesanan yang dilakukan setiap periode dikalikan biaya yang harus 

dikeluarkan setiap kali pesan. 

3. Biaya penyiapan (manufacturing). Bila bahan-bahan tidak dibeli, tetapi 

diproduksi sendiri “dalam pabrik” perusahaan, perusahaan menghadapi 

biaya penyiapan (setup costs) untuk memproduksi komponen tertentu. 

Biaya-biaya ini terdiri dari : 

a. Biaya mesin-mesin menganggur. 

b. Biaya persiapan tenaga kerja langsung. 

c. Biaya scheduling. 

d. Biaya ekspedisi, dan sebagainya. 

Seperti biaya pemesanan, biaya penyiapan total per periode yaitu  sama 

dengan biaya penyiapan dikalikan jumlah penyiapan per periode. sebab  

konsep biaya ini analog dengan biaya pemesanan, maka untuk biaya 

penyiapan berarti pula biaya pemesanan. 

4. Biaya kehabisan atau kekurangan bahan. Dari semua biaya-biaya yang 

berhubungan dengan tingkat persediaan, biaya kekurangan bahan 

(shortage costs) yaitu  yang paling sulit diperkirakan. Biaya ini timbul 

bilamana persediaan tidak mencukupi adanya permintaan bahan. Biaya-

biaya yang termasuk biaya kekurangaan bahan yaitu  sebagai berikut : 

a. Kehilangan penjualan. 

b. Kehilangan langganan. 

c. Biaya pemesanan khusus. 

 

 

150 

 

d. Biaya ekspedisi. 

e. Selisih harga. 

f. Terganggunya operasi. 

g. Tambahan pengeluaran kegiatan manajerial dan sebagainya. 

Biaya kekurangan bahan sulit diukur dalam praktek, terutama sebab  

kenyataan bahwa biaya ini sering merupakan opportunity costs, yang sulit 

diperkirakan secara obyektif. 

 

E. Model Dasar Economic Order Quantity (EOQ) 

Salah satu model manajemen persediaan yang dikenal sebagai model 

klasik dan paling sederhana yaitu  model kuantitas pesanan ekonomi 

(Economic Order Quantity/EOQ). Rumus EOQ dikembangkan oleh FW. 

Harris tahun 1915. Kemudian rumus ini diperluas di dalam industri oleh 

Wilson, sehingga rumus ini sering disebut EOQ Wilson, walaupun 

dikembangkan oleh Harris. EOQ dan variasinya masih dipakai   secara luas 

pada industri dalam manajemen persediaan untuk permintaan bebas. 

(Schroeder dalam Muhardi, 2011 : h. 175). 

T. Hani Handoko (1997 : h. 339), menyatakan bahwa metode 

manajemen persediaan yang paling terkenal yaitu  model Economic Order 

Quantity (EOQ). Konsep EOQ (kadang-kadang disebut model fixed-order-

quantity) yaitu  sederhana. Model EOQ dipakai   untuk menentukan 

kuantitas pesanan persediaan yang meminimumkan biaya langsung 

penyimpanan persediaan dan biaya kebalikannya (inverse cost) pemesanan 

 

 

151 

 

persediaan. Model EOQ dasar menganggap bahwa kuantitas yang dipesan 

diterima seluruhnya pada saat yang sama (sesaat ), dalam jumlah tunggal Q. 

Taylor III, Emery dan Finnerty dalam Muhardi (2011 : h. 175), 

menyatakan bahwa model EOQ mengasumsikan permintaan diketahui secara 

pasti, konstan sepanjang waktu, dan pemesanan dibuat dan diterima sesaat  

itu juga sehingga tidak ada kekurangan yang terjadi. 

Model EOQ dapat diterapkan bila anggapan-anggapan berikut 

dipenuhi  : 

1. Permintaan akan produk yaitu  konstan, seragam dan diketahui 

(deterministik). 

2. Harga per unit produk yaitu  konstan. 

3. Biaya penyimpanan per unit per tahun yaitu  konstan. 

4. Biaya pemesanan per pesanan yaitu  konstan. 

5. Waktu antara pesanan dilakukan dan barang-barang diterima (lead time) 

yaitu  konstan. 

6. Tidak terjadi kekurangan barang atau back orders. 

(2001 : h. 320), EOQ 

merupakan salah satu teknik pengendalian persediaan tertua dan paling 

terkenal. Teknik ini relatif mudah dipakai  , tetapi didasarkan pada beberapa 

asumsi yaitu : 

1. Tingkat permintaan diketahui dan bersifat konstan. 

2. Lead time, yaitu waktu antara pemesanan dan penerimaan pesanan, 

diketahui dan bersifat konstan. 

 

 

152 

 

3. Persediaan diterima dengan segera. Dengan kata lain, persediaan yang 

dipesan tiba dalam bentuk kumpulan produk pada satu waktu. 

4. Tidak mungkin diberikan diskon. 

5. Biaya variabel yang muncul hanya biaya pemasangan atau pemesanan dan 

biaya penahanan atau penyimpanan persediaan sepanjang waktu. 

6. Keadaan kehabisan stok (kekurangan) dapat dihindari sama sekali bila 

pemesanan dilakukan pada waktu yang tepat. 

Sedangkan Schroeder dalam Muhardi (2011 : h. 175) menguraikan asal 

mula model EOQ yaitu  didasarkan pada beberapa asumsi berikut : 

1. Tingkat permintaan yaitu  konstan, berulang-ulang dan diketahui. 

2. Tenggang waktu pesanan konstan dan diketahui. Oleh sebab itu, tenggang 

waktu pesanan, sejak pesanan ditempatkan sampai pengiriman pesanan 

selalu merupakan jumlah hari yang tetap. 

3. Tidak diperbolehkan adanya kehabisan persediaan (stock). sebab  

permintaan dan tenggang waktu pesanan yaitu  konstan, seseorang dapat 

menentukan secara tepat kapan untuk memesan bahan dan menghindari 

kekurangan stock. 

4. Bahan dipesan atau diproduksi dalam suatu partai atau tumpukan, dan 

seluruh partai ditempatkan ke dalam persediaan dalam satu waktu. 

5. Suatu struktur biaya spesifik dipakai   sebagai berikut : biaya satuan unit 

yaitu  konstan, dan tidak ada potongan yang diberikan untuk pembelian 

yang banyak. Biaya pengadaan bergantung secara linier pada tingkat 

persediaan rata-rata. Ada biaya pemesanan atau persiapan yang tetap untuk 

 

 

153 

 

setiap partai, yaitu  tidak tergantung dari jumlah satuan didalam partai 

ini . 

6. Satuan barang merupakan produk tunggal, tidak ada interaksi dengan 

produk lain. 

Prosedur penyelesaian model EOQ secara sederhana dapat 

memakai  langkah-langkah sebagai berikut  

1. Mengidentifikasi berbagai data dan biaya relevan yang diperlukan dalam 

menentukan EOQ. 

2. Menentukan kuantitas pesanan ekonomis dengan formulasi EOQ. 

3. Menentukan total biaya persediaan tahunan yang minimal dengan 

memakai  nilai Q = EOQ. 

Grafik pemakaian  persediaan sepanjang waktu dapat dilihat pada 

Gambar 9.1. sebagai berikut : 

 

 

 

 

Berdasarkan Gambar 9.1. di atas, grafik pemakaian  persediaan 

sepanjang waktu bentuknya seperti gigi ikan hiu. Seperti terlihat di gambar di 

atas mewakili jumlah yang dipesan. Bila jumlahnya Q unit, keseluruhan Q 

unit itu tiba pada satu waktu (pada saat pesanan diterima). Maka, tingkat 

persediaan meningkat dari 0 ke Q unit. Secara umum, tingkat persediaan 

meningkat dari 0 ke Q unit pada saat pesanan tiba. sebab  tingkat 

permintaannnya konstan sepanjang waktu, persediaan menurun dengan tingkat 

yang sama sepanjang waktu. saat  tingkat persediaan mencapai 0, pesanan 

baru dibuat dan diterima, dan tingkat persediaan meningkat lagi ke Q unit. 

Proses ini terus terjadi sepanjang waktu. 

  Tujuan dari kebanyakan model persediaan yaitu  untuk 

meminimisasi biaya total (keseluruhan). Dengan asumsi-asumsi di atas, biaya 

yang signifikan yaitu  biaya pemasangan (pemesanan) dan biaya penahanan 

(penyimpanan). Biaya-biaya yang lainnya, seperti biaya persediaan itu sendiri, 

sifatnya konstan. Maka, dengan meminimisasi jumlah biaya pemasangan dan 

penahanan, juga meminimisasi biaya total. Sebagai alat bantu visualisasi hal 

ini, pada gambar dibawah ini diberikan grafik biaya total sebagai fungsi dari 

Order Quantity (jumlah yang dipesan), Q. Ukuran pesanan optimalnya yaitu  

Q*, yang merupakan jumlah pesanan yang meminimisasi biaya total. Seiring 

dengan kenaikan jumlah yang dipesan, biaya pemasangan dan pemesanan 

tahunannya akan menurun. Akan tetapi, seiring dengan kenaikan jumlah yang 

dipesan, biaya penahanan akan naik sebab  rata-rata persediaan yang dijaga 

lebih besar.  

 

 

155 

 

Pada Gambar 9.2. dibawah ini jumlah pesanan optimalnya muncul di 

titik dimana kurva biaya pemesananan dan kurva penyimpanannya 

berpotongan. Hal ini bukannya tidak sengaja. Dengan model EOQ, jumlah 

pesanan optimal akan muncul di titik dimana biaya pemasangan totalnya sama 

dengan biaya penahanan total. Dengan memakai  kenyataan ini, 

dikembangkanlah persamaan yang langsung mencari nilai Q*. Tahapan yang 

harus dilakukan yaitu  : 

1. Mengembangkan persamaan untuk biaya pemasangan atau pemesanan. 

2. Mengembangkan persamaan untuk biaya penahanan atau penyimpanan. 

3. Menetapkan biaya pemasangan sama dengan biaya penahanan. 

4. Menyelesaikan persamaan dengan hasil angka jumlah pesanan yang 

optimal. 

 

 

 

BAB X 

MATERIAL REQUIREMENT PLANNING (MRP) DAN  

BILLING OF MATERIAL (BOM) 

  

A. Material Requirement Planning (MRP) 

Menurut T. Hani Handoko (1997 : h. 370), bila perusahaan merakit 

produk-produk yang relatif kompleks, pengendalian persediaan komponen-

komponen itu harus melalui pemakaian  sistem yang disebut perencanaan 

kebutuhan bahan atau Material Requirement Planning (MRP). 

Perencanaan kebutuhan bahan atau Material Requirement Planning 

(MRP) menurut Manahan P. Tampubolon (2004 : h. 213), merupakan 

komputerisasi sistem persediaan seluruh bahan yang dibutuhkan dalam proses 

konversi suatu perusahaan, baik usaha manufaktur maupun usaha jasa. Yang 

dimaksud dengan bahan disini yaitu  semua jenis bahan, termasuk komponen 

(parts) didalam membuat suatu produk. 

Johny et al dalam Daryanto (2012 : h. 27), menyatakan bahwa 

perencanaan kebutuhan material atau yang sering dikenal dengan Material 

Requirement Planning (MRP) yaitu  suatu sistem informasi yang 

terkomputerisasi untuk mengatur persediaan permintaan yang dependent dan 

mengatur jadwal produksi. Sistem ini bertujuan untuk mengurangi tingkat 

persediaan dan meningkatkan produktivitas. 

 Material Requirement Planning (MRP) menurut Barry Render dan 

Jay Heizer (2001 : h. 583), yaitu  suatu cara untuk menentukan/memenuhi 

 


 

keperluan akan material dengan dibantu/memakai  daftar informasi 

inventory, tagihan, pendapatan yang diharapkan dan jadwal produksi. 

Elwood S. Buffa dan Rakesh K. Sarin (1996 : h. 168), metode 

perencanaan kebutuhan bahan atau Material Requirement Planning (MRP), 

memanfaatkan informasi tentang kebergantungan pada permintaan untuk 

memanajemeni persediaan dan pengendalian ukuran lot produksi dari berbagai 

komponen yang diperlukan  untuk membuat suatu produk akhir.  

Jensen dalam Daryanto (2012 : h. 28), manyatakan bahwa MRP yaitu  

prosedur penjadwalan untuk proses produksi yang terdiri atas beberapa level. 

Informasi yang diberikan menggambarkan kebutuhan produksi barang jadi 

dalam sistem, struktur sistem produksi, inventory dan prosedur lot sizing untuk 

masing-masing operasi. MRP menentukan jadwal operasi dan pembelian 

bahan baku. 

Salah satu masukan penting bagi sistem perencanaan kebutuhan bahan 

Material Requirement Planning (MRP) yaitu  catatan bahan (bill of 

materials) yang disusun sedemikian hingga menunjukkan kebergantungan dari 

komponen-komponen tertentu pada subrakitan, yang selanjutnya bergantung  

pada produk akhir. Pada produk yang lebih kompleks, mungkin ada   

beberapa tingkat kebergantungan sebab  subrakitan dapat mengandung  

subrakitan, dan seterusnya. (Elwood S. Buffa dan Rakesh K. Sarin, 1996 : h. 

170). 

 

 

 

 

161 

 

B. Manfaat MRP 

Sistem MRP sangat efektif dipakai   apabila dalam proses konversi di 

suatu perusahaan memakai  banyak ragam bahan atau komponen. MRP 

dirancang dan dikembangkan sekaligus sebagai sistem pengendalian bahan 

dan komponen yang mempunyai sifat ketergantungan (dependent) kepada 

permintaan. (Manahan P. Tampubolon, 2004 : h. 213). 

Yamit dalam Daryanto (2012 : h. 27), menyatakan bahwa tujuan dari 

perencanaan kebutuhan bahan baku atau Material Requirement Planning 

(MRP) yaitu  : 

1. Menjamin tersedianya material, item atau komponen pada saat dibutuhkan 

untuk memenuhi jadwal induk produksi dan menjamin tersedianya produk 

jadi bagi konsumen. 

2. Menjaga tingkat persediaan pada kondisi minimum. 

3. Merencanakan aktivitas pengiriman dan aktivitas pembelian. 

Sistem MRP memainkan peranan penting dalam menjawab 

pertanyaan-pertanyaan tentang bahan-bahan dan komponen-komponen apa 

yang harus dibuat atau dibeli, berapa jumlah yang dibutuhkan, dan kapan 

dibutuhkan. Ini bukan merupakan tugas kecil, tetapi memerlukan tenaga 

manusia dan/atau tenaga komputer dalam jumlah yang cukup besar untuk 

melakukannya secara efektif. (T. Hani Handoko, 1997 : h. 370). 

(2001 : h. 362), beberapa 

keuntungan dari MRP yaitu  sebagai berikut : 

 

 

 

162 

 

1. Peningkatan pelayanan dan kepuasan konsumen. 

2. Peningkatan pemanfaatan fasilitas dan tenaga kerja. 

3. Perencanaan dan penjadwalan persediaan yang lebih baik. 

4. Tanggapan yang lebih cepat terhadap perubahan dan pergeseran pasar. 

5. Tingkat persediaan menurun tanpa mengurangi pelayanan kepada 

konsumen. 

 

C. Struktur MRP 

Struktur sistem MRP dapat disajikan pada Gambar 10.1 sebagai 

berikut : 

D. Manajemen MRP 

(2001 : h. 366), perubahan 

terjadi dalam sistem MRP pada saat dibuat perubahan terhadap jadwal 

produksi utama. Tanpa memperhatikan pemicu   perubahan, model MRP 

dapat dimanipulasi untuk merefleksikan perubahan-perubahan yang terjadi. 

Dengan cara ini, jadwal dapat diperbarui. 

Walaupun penghitungan ulang berkala MRP kelihatannya enak, 

banyak perusahaan yang merasa tidak ingin menanggapi perubahan kecil 

meskipun mereka sadar akan perubahan itu. Perubahan yang berkala ini 

dikenal dengan system nervousness. Perubahan yang berkala dapat 

menimbulkan bencana di departemen pembelian dan produksi bila diterapkan. 

Konsekuensinya, karyawan departemen operasi diharapkan dapat mengurangi 

nervousness itu dengan mengevaluasi kebutuhan da pengaruh perubahan 

sebelum membatalkan permintaan ke departemen lainnya. 

Karyawan departemen operasi memiliki 2 (dua) alat yang tersedia 

untuk membatasi system nervousness yaitu : 

1. Pembentukan pagar waktu. Pagar waktu memungkinkan satu segmen 

jadwal utama diarakan menjadi yang tidak akan dijadwal ulang. Segmen 

jadwal utama ini oleh sebab  itu tidak dirubah selama pembaharuan 

berkala atas jadwal. 

2. Pegging. Pegging berarti melacak ke atas bill-of-material mulai produk 

komponen sampai ke produk induknya. Dengan melakukan pegging ke 

 

 

164 

 

atas, perencana produksi dapat menentukan pemicu   terjadinya 

kebutuhan dan memberi penilaian mengenai perlunya pengubahan jadwal. 

MRP dapat dianggap sebagai teknik perencanaan dan penjadwalan, 

dan just-in-time dapat dianggap sebagai cara menggerakkan bahan baku secara 

cepat. Keduanya dapat diintegrasian secara efektif melalui tahapan : 

1. Mengurangi paket MRP dari mingguan menjadi harian atau bahkan jam-

jaman. 

2. Rencana penerimaan yang menjadi bagian dari rencana pemesanan 

perusahaan dalam suatu sistem MRP dikomunikasikan melalui area 

perakitan untuk tujuan produksi dan dipakai   pada produksi berurut. 

3. Persediaan bergerak didalam pabrik dengan dasar JIT. 

4. Pada saat produk selesai diproduksi, produk dipindahkan ke persediaan 

seperti biasa. Penerimaan produk ini menurunkan jumlah yang diperlukan 

untuk rencana pemesanan perusahaan selanjutnya pada sistem MRP. 

5. Back flush dipakai   untuk mengurangi saldo perusahaan. Back flush 

berarti memakai  bill-of-material untuk mengurangi persediaan, 

berdasarkan pada penyelesaian produksi suatu produk. 

Dalam banyak hal penggabungan MRP dengan JIT di dalam pabrik 

memberikan manfaat yang terbaik dari keduanya. Penggabungan ini 

meghasilkan jadwal utama yang baik dan gambaran kebutuhan yang akurat 

dari sistem MRP plus penurunan persediaan barang dalam proses sebab  

pemakaian  JIT. Meskipun demikian, pemakaian  sistem MRP dengan paket 

kecil saja sudah bisa sangat efektif dalam mengurangi persediaan. 

 

 

165 

 

E. Billing of Material (BOM) 

(2001 : h. 356), bill-of-material 

yaitu  sebuah daftar jumlah komponen, campuran bahan dan bahan baku yang 

diperlukan untuk membuat suatu produk. Bill-of-material tidak hanya 

menspesifikasi kebutuhan produksi, tapi juga berguna untuk pembebanan 

biaya, dan dapat dipakai sebagai daftar bahan yang harus dikeluarkan untuk 

karyawan produksi atau perakitan. Bill-of-material dipakai   dengan cara ini, 

biasanya dinamakan daftar pilih.  

menyatakan 

bahwa bill of materials atau catatan bahan bukan sekedar catatan bahan 

(materials list) melainkan sedemikian rupa untuk mencerminkan proses 

manufaktur.  

Bill of material atau struktur produk 

merupakan susunan dari komponen-komponen untuk membentuk produksi 

akhir atau yang disebut produk. Struktur produk berisikan informasi tentang 

hubungan antara komponen-komponen dalam suatu perakitan. Informasi ini 

sangat penting dalam penentuan kebutuhan kotor dan kebutuhan bersih. 

Struktur produk juga memberikan informasi tentang item seperti nomor item, 

jumlah yang dibutuhkan dalam setiap pembuatan produk dan berapa jumlah 

akhir yang harus dibuat. 

T. Hani Handoko (1997 : h. 244), menyatakan bahwa selain 

dipakai   untuk perencanaan, bill of materials juga dipakai   dalam 

produksi. Bill of materials untuk setiap jenis produk rakitan diperlukan untuk 

 

 

166 

 

memberikan kepada pabrik kebutuhan-kebutuhan material tertentu. Bill of 

material terutama merupakan suatu daftar komponen-komponen dan/atau 

bagian-bagian rakitan yang dibutuhkan untuk membuat atau merakit satu unit 

produk jadi. Master bill ini juga menunjukkan berapa banyak setiap 

komponen dan bagian produk akan diperlukan dan, biasanya urutan perakitan 

bila struktur produk dimasukkan. Master bill of materials memerinci semua 

nama komponen, nomor identifikasi, nomor gambar, dan sumber bahan baik 

yang dibuat didalam perusahaan ataupun yang dibeli dari pihak luar. 

Suatu bill of material untuk produk akhir dapat memerinci bagian-

bagian rakitan seperti juga bila bagian-bagian itu merupakan komponen-

komponen individual. Setiap bagian rakitan, sebaliknya, mungkin mempunyai 

master bill of materials tersendiri, atau sering disebut ”mini” bill. Daftar 

komponen-kompenen ini menunjukkan order untuk mana komponen-

komponen akan dirakit, sehingga master bill of materials juga merupakan 

suatu bentuk instruksi pemrosesan. 

Bill-of-material dapat diatur di seputar modul produk. Modul bukan 

merupakan produk akhir yang akan dijual, tapi merupakan komponen yang 

dapat diproduksi dan dirakit menjadi satu unit produk. Modul-modul ini 

mungkin merupakan komponen inti dari suatu produk akhir atau pilihan 

produk. Bill-of-material untuk modul-modul ini  disebut modular bill. 

Bill-of-material kadangkala diatur sebagai modul (bukannya bagian dari satu 

produk akhir) sebab  penjadwalan produksi dan produksi sering didukung 

oleh pengaturan seputar modul-modul yang berjumlah relatif sedikit dan 

 

 

167 

 

bukannya bertumpuk produk hasil perakitan akhir. 

Ada lagi jenis bill-of-material yang lain. Yaitu meliputi bill untuk 

perencanaan dan phantom bills. Bill untuk perencanaan diciptakan agar dapat 

menugaskan induk buatan kepada bill-of-materialnya. Hal ini menguntungkan 

asal telah menetapkan : (1) dimana akan mengelompokkan sub-sub perakitan 

agar jumlah bahan yang akan dijadwalkan dapat berkurang, dan (2) dimana 

ingin mengeluarkan peralatan kepada departemen produksi. Misalnya, 

mungkin tidaklah efisien bagi perusahaan untuk mengeluarkan pasak bagi 

setiap sub perakitan, sehingga menyebutnya “peralatan” dan membuat suatu 

bill untuk perencanaan. Bill ini juga menspesifikasikan peralatan yang akan 

dipakai  . Bill untuk perencanaan mungkin juga dikenal dengan sebutan 

pseudo bill atau angka peralatan. Phantom bill-of-materials yaitu  bill-of-

material untuk komponen, biasanya sub-sub perakitan yang hanya ada untuk 

sementara waktu. Bill ini langsung bergerak ke perakitan lainnya. Sehingga, 

bill ini diberi kode agar diperlakukan secara khusus; lead time-nya nol, dan 

ditangani sebagai bagian integral dari bahan induknya. Phantom bill tidak 

pernah dimasukkan ke dalam persediaan. 

Pemberian kode tingkat rendah atas suatu bahan dalam bill-of-

material diperlukan bila ada produk-produk yang serupa satu sama lainnya di 

bill-of-material. Pemberian kode tingkat rendah berarti suatu produk diberikan 

kode pada tingkat terendah dimana produk itu ada. Pemberian kode tingkat 

rendah memungkinkan menghitung dengan mudah kebutuhan akan suatu 

 

 

168 

 

bahan. Bila pada bill-of-material tercantum beribu-ribu bahan dan kebutuhan 

bahan dihitung secara teratur, maka diperlukan cara penghitungan yang mudah 

dan cepat. 

 

BAB XI 

PENJADWALAN AGREGAT 

 

A. Penjadwalan 

Penjadwalan produksi merupakan kegiatan yang bersifat dinamis 

dalam artian bahwa kegiatan penjadwalan bukan merupakan kegiatan yang 

sekali jadi, tetapi akan mengalami perubahan bergantung pada pelaksanaan 

dan kemampuan yang dimiliki. Dengan demikian, penjadwalan merupakan 

suatu siklus yang dapat disajikan pada Gambar 11.1. sebagai berikut : 

 

Gambar 11.1. 

Bagan Siklus Penjadwalan Produksi 

Permintaan Barang/Jasa 

Jadwal Induk Produksi 

Rencana Pengaturan 

Material/Bahan 

Jadwal Operasional 

Pelaksanaan 

Pelaksanaan = Rencana ? 

Rencana 

Pengaturan/ 

Mesin 

Peralatan 

Rencana 

Pengaturan 

Tenaga Kerja 

Tidak Ya 

 

 

170 

 

Berdasarkan Gambar 11.1. di atas jelas terlihat bahwa penyusunan 

penjadwalan operasi dimulai dari penentuan besarnya volume permintaan 

barang/jasa yang diminta oleh konsumen yang kemudian dilanjutkan dengan : 

1. Rencana pengaturan tenaga kerja. 

2. Rencana pengaturan mesin/peralatan. 

3. Rencana pengaturan material. 

Selanjutnya begitu disusun maka akan dioperasionalisasikan dalam 

bentuk pelaksanaan. Dalam kenyataannya tidak selalu pelaksanaan sesuai 

dengan rencana. Apabila timbul perbedaan antara pelaksanaan dan rencana 

maka perlu dilakukan tindakan koreksi terhadap jadwal yang telah dibuat, ada 

kemungkinan rencana yang dibuat terlalu optimis sehingga sulit untuk 

dilaksanakan atau kemungkinan lain terjadi perubahan volume permintaan 

yang cukup berarti. Apabila hal ini terjadi maka perlu adanya perubahan 

rencana yang lebih realistis. 

(2001 : h. 398), bila jadwal 

yang efektif, dikomunikasikan didalam organisasi dan kepada pemasok, maka 

akan sangat mendukung penerapan JIT. Penjadwalan yang lebih baik juga 

meningkatkan kemampuan untuk memenuhi pesanan konsumen, menurunkan 

persediaan dengan memproduksi dalam ukuran lot yang lebih kecil, dan 

mengurangi barang-dalam-proses. 

Selain mengkomunikasikan jadwal, ada  2 (dua) teknik yang 

penting yaitu : 

 

 

 

171 

 

1. Jadwal pemakaian  bahan baku moderat 

Jadwal pemakaian  bahan baku moderat memproses batch-batch kecil 

secara rutin, bukannya batch-batch besar. sebab  teknik ini menjadwalkan 

banyak lot berukuran kecil yang selalu berubah-ubah, teknik ini terkadang 

dinamakan penjadwalan ”jelly bean”. Tugas manajer operasi yaitu  

membuat dan menggerakkan lot-lot kecil sehingga jadwal pemakaian  

bahan baku moderatnya ekonomi. Pembuat jadwal mungkin menemukan 

bahwa pembekuan satu bagian dari jadwal yang paling dekat dengan batas 

waktu memungkinkan sistem produksi untuk berfungsi dan 

memungkinkan jadwal untuk dipenuhi. Pembekuan berarti tidak 

dibolehkannya perubahan terhadap bagian dari jadwal. Manajer operasi 

menginginkan agar jadwal dipenuhi tanpa adanya penyimpangan. 

2. Kanban  

Satu cara untuk mencapai ukuran lot yang kecil yaitu  dengan 

menggerakkan persediaan melalui pusat kerja hanya pada saat diperlukan 

dan bukan mendorongnya ke pusat kerja berikutnya, tanpa melihat apakah 

para pekerja di pusat kerja itu telah siap atau belum. Apabila persediaan 

digerakkan hanya saat  diperlukan, maka istilah yang dipakai   untuk 

menggambarkannya yaitu  sistem tarik dan ukura lot kecilnya yaitu  satu. 

Sistem ini disebut kanban. 

Kanban yaitu  kata Jepang untuk ”kartu”. Dalam usaha mengurangi 

persediaan bangsa Jepang memakai  sistem yuang ”menarik” 

persediaan melalui pusat kerja. Seringkali mereka memakai  ”kartu” 

 

 

172 

 

untuk mengisyaratkan kebutuhan bahan baku lebih, kartu ini bernama 

kanban. Kartu ini merupakan pengesahan agar batch bahan baku 

berikutnya diproduksi. Kanban ”menari” bahan baku melalui pabrik.  

Dibanyak fasilitas produksi, sistem ini telah dimodifikasi, walaupun 

disebut kanban, kartu itu tidak ada. Dibeberapa kasus, ruang kosong lantai 

merupakan tanda bahwa diperlukan lot bahan baku berikutnya. 

Ukuran batch biasanya kecil, proses produksinya biasa memakan waktu 

hanya beberapa jam saja. Sistem ini mengharuskan jadwal yang ketat. 

Jumlah kecil harus diproduksi beberapa kali per harinya. Proses ini harus 

berjalan dengan mulus sebab  kekurangan yang terjadi akan 

mempengaruhi langsung kepada keseluruhan sistem. Kanban memberi 

penekanan tambahan pada pemenuhan jadwal, pengurangan waktu dan 

biaya yang diperlukan untuk pemasangan mesin, dan penanganan bahan 

baku yang ekonomis. 

Disebut kanban atau tidak, persediaan yang kecil dan penarikan bahan 

baku melalui pabrik hanya pada saat dibutuhkan merupakan keuntungan 

yang signifikan. Sistem kanban di pabrik memakai  kontainer yang 

standar, dan dapat dipergunakan berulang-ulang sehingga jumlah tertentu 

yang akan dipindahkan menjadi terlindungi. Kontainer semacam ini juga 

sesuai untuk pengangkutan. Kontainer standar mengurangi biaya berat dan 

pembuangan, ruangan yang terbuang di trailer menjadi berkurang dan 

tenaga kerja yang diperlukan untuk mengemas, membongkar dan 

menyiapkan item. 

 

 

173 

 

B. Penjadwalan Agregat 

(2001 : h. 243), penjadwalan 

agregat atau perencanaan agregat menyangkut penentuan jumlah dan kapan 

produksi akan dilangsungkan dalam waktu dekat, sering kali 3 sampai 18 

bulan ke depan. Manajer operasi berupaya untuk menentukan cara terbaik 

untuk meemnuhi ramalan permintaan dengan menyesuaikan tingkat produksi, 

tingkat kebutuhan tenaga kerja, tingkat persediaan, waktu lembur, tingkat nilai 

subkontrak dan semua variabel lain yang dapat dikendalikan. Tujuan proses 

produksi biasanya yaitu  meminimisasi biaya sepanjang periode perencanaan. 

Meskipun begitu, isu-isu strategis lainnya mungkin lebih penting daripada 

biaya yang rendah. Strategi-strategi ini mungkin mencakup usaha 

memuluskan tingkat kebutuhan tenaga kerja, menurunkan tingkat persediaan  

atau mencapai tingkat pemenuhan kebutuhan konsumen yang tertinggi tanpa 

memandang berapa biaya yang dikeluarkan. 

Peramalan permintaan dapat mengedepankan masalah-masalah jangka 

pendek, menengah dan panjang. Peramalan jangka panjang membantu para 

manajer dalam mengatasi isu-isu kapasitas dan strategis dan merupakan 

tanggung jawab dari manajemen puncak. Manajemen puncak merumuskan 

pertanyaan-pertannyaan yang terkait dengan kebijakan, seperti lolasi fasilitas 

dan ekspansi fasilitas, pengembangan produk baru, pendanaan riset dan 

investasi sepanjang periode yang bertahun-tahun. 

Perencanaan jangka menengah dimulai saat keputusan mengenai 

kapasitas jangka panjang telah dibuat. Ini merupakan pekerjaan dari manajer 

 

 

174 

 

operasi. Keputusan penjadwalan mencakup perumusan rencana-rencana 

bulanan dan kuartalan, yang mengedepankan masalah mencocokkan 

produktivitas dengan permintaan yang berfluktuasi. Semua rencana ini perlu 

konsisten dengan strategi dan kerja jangka panjang manajemen puncak dalam 

lingkup sumberdaya-sumberdaya yang dialokasikan menurut keputusan-

keputusan strategis yang telah ditetapkan lebih awal. Inti dari rencana jangka 

menengah (atau antara) yaitu  rencana produksi agregat. 

Perencanaan jangka pendek meluas sampai waktu satu tahun tetapi 

biasanya kurang dari 3 (tiga) bulan. Rencana ini juga merupakan tanggung 

jawab dari karyawan-karyawan departemen operasi, yang bekerja dengan 

penyelia dan juga mandor, untuk melakukan ”disagregasi” terhadap rencana 

jangka menengah menjadi jadwal mingguan, harian dan jam-jaman. 

Jangkauan waktu dan bentuk khas dari perencanaan jangka pendek, 

jangka menengah dan jangka panjang dapat disajikan pada Gambar 11.2. 

sebagai berikut : 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

175 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sumber : Barry Render dan Jay Heizer (2001 : h. 433) 

 

Gambar 11.2. 

Tugas dan Tanggung Jawab dalam Kegiatan Perencanaan 

 

 

C. Karakteristik Penjadwalan Agregat 

(2001 : h. 433), rencana agregat 

berarti menggabungkan sumberdaya-sumberdaya yang sesuai ke dalam istilah-

istilah yang lebih umum dan menyeluruh. Dengan adanya ramalan 

permintaan, serta kapasitas fasilitas, tingkat persediaan, jumlah tenaga kerja 

Rencana jangka panjang (lebih dari satu tahun) 

Penelitian dan pengembangan (litbang) 

Rencana produk baru 

Pengetahuan besar 

Lokasi atau ekspansi fasilitas 

Rencana jangka menengah (3-18 

bulan) 

Perencanaan penjualan 

Perencanaan dan penganggaran produksi 

Penetapan tingkat tenaga kerja, 

persediaan, dan nilai sub kontrak 

Analisis rencana-rencana operasi 

Rencana jangka pendek (sampai 

dengan 3 bulan) 

Penugasan pekerjaan 

Pemesanan 

Penjadwalan pekerjaan 

Penyelesaian produksi 

Eksekutif 

puncak 

Manajer 

Operasi 

Manajer operasi, penyelia 

dan mandor 

Tanggung Jawab Jangkauan dan Tugas Perencanaan 

 

 

176 

 

dan input produksi yang berkaitan, perencana harus memilih tingkat output 

untuk fasilitas sepanjang 3 sampai 18 bulan mendatang.  

Perencanaan agregat merupakan bagian dari sistem perencanaan 

produksi yang lebih besar, sehingga pemahaman mengenai keterkaitan antara 

rencana dan beberapa faktor internal dan eksternal merupakan sesuatu yang 

berguna. Manajer operasi tidak hanya menerima input dari ramalan 

permintaan yang dilakuakn departemen pemasaran, tetapi manajer operasi 

juga berurusan dengan data keuangan, karyawan, kapasitas dan ketersediaan 

bahan mentah.  

 

D. Strategi-Strategi Penjadwalan Agregat 

(2001 : h. 435), strategi 

perencanaan yang dapat dijalankan bagi manajemen mencakup manipulasi 

tingkat persediaan, produksi, tingkat tenaga kerja, kapasitas dan variabel-

variabel lain yang dapat dikendalikan. Kita akan mengamati delapan pilihan 

secara lebih mendetail. Lima pilihan pertama disebut pilihan kapasitas sebab  

pilihan ini tidak mencoba untuk mengubah permintaan, tetapi berupaya untuk 

menyerap fluktuasi permintaan. Tiga pilihan yang terakhir merupakan pilihan 

permintaan. Perusahaan berupaya mempengaruhi pola permintaan melalui 

ketiga pilihan permintaan ini agar dapat dimuluskan perubahan-perubahannya 

sepanjang periode perencanaannya.  

1. Pilihan kapasitas 

Pilihan kapasitas (pasokan) mendasar yang dapat dipilih perusahaan yaitu : 

 

 

177 

 

a. Tingkat persediaan yang berubah-ubah. Manajer dapat menambah 

persediaan sepanjang suatu periode dimana tingkat permintaan rendah, 

untuk memenuhi tingkat permintaan yang tinggi, pada periode-periode 

di masa mendatang. Jika memilih strategi murni ini, maka biaya-biaya 

yang berkaitan dengan penyimpanan, asuransi, penanganan, kelalaian, 

pencurian dan modal yang diinvestasikan akan meningkat. Dipihak 

lain, saat  perusahaan memasuki periode dimana permintaan 

meningkat, dapat terjadi kekurangan stok sehingga tidak terjadi 

penjualan yang mestinya dapat dihasilkan, sebab  waktu antara yang 

kemungkinan lebih lama dan pelayanan konsumen yang lebih buruk. 

b. Mengubah jumlah tenaga kerja dengan cara mempekerjakan pekerja 

atau memberhentikan pekerja. Satu cara untuk memenuhi permintaan 

yaitu  mempekerjakan atau memberhentikan para pekerja produksi 

untuk menyesuaikan dengan tingkat produksi. Namuan, seringkali 

pekerja baru perlu dilatih dan produktivitas rata-rata akan menurun 

sementara selagi mereka terserap ke dalam perusahaan. Pemberhentian 

atau pemecatan, tentunya menurunkan moral pekerja dan dapat 

mengarah ke produktivitas yang lebih rendah lagi. 

c. Mengubah tingkat produksi melalui waktu lembur atau waktu kosong. 

Kadangkala mungkin bagi kita untuk mempertahankan jumlah tenaga 

kerja yang konstan, tetapi jam kerjanya yang diubah. Meskipun 

demikian, saat  permintaan konsumen dalam kondisi meningkat, 

waktu lembur yang realistis tentu ada batasannya. Upah lembur 

 

 

178 

 

jumlahnya lebih besar, dan waktu lembur yang terlalu banyak dapat 

membuat pekerja letih, sehingga produktivitas akan turun drastis. 

Waktu lembur juga mengindikasikan biaya pabrikase yang bertambah 

sebab  fasilitas produksinya berjalan. Dipihak lain, saat  permintaan 

konsumen dalam kondisi menurun, perusahaan harus dengan cara apa 

pun menyerap waktu kosong pekerja – hal ini biasanya merupakan 

proses yang sulit. 

d. Subkontrak. Perusahaan dapat juga memperoleh kapasitas sementara 

dengan melakukan subkontrak terhadap beberapa pekerjaan selama 

periode dimana permintaan konsumen berada di tingkat puncak. 

Meskipun demikian, tindakan melakukan subkontrak dapat merugikan. 

Pertama, subkontrak memakan biaya; kedua, subkontrak membuka 

kemungkinan bahwa klien akan lari ke pesaing; ketiga, sering kali sulit 

untuk menemukan pemasok subkontrak yang sangat tepat, yaitu 

pemasok yang selalu memasok produk yang bermutu baik, tepat pada 

waktunya. 

e. Mempekerjakan tenaga-tenaga paruh waktu. Khususnya di sektor jasa, 

pekerja paruh waktu dapat mengisi kebutuhan akan pekerja-pekerja tak 

terlatih.  

2. Pilihan permintaan 

Pilihan-pilihan permintaan yang mendasar yaitu  sebagai berikut : 

a. Mempengaruhi konsumen. Pada saat permintaannya rendah, sebuah 

perusahaan dapat mencoba untuk meningkatkan permintaan melalui 

 

 

179 

 

pengiklanan, promosi, peningkatan penjualan dengan sistem personal 

selling dan potongan-potongan harga. Pengiklanan yang khusus, 

promosi, penjualan dan memberikan harga tidak selalu dapat 

menyeimbangkan permintaan dengan kapasitas produksi. 

b. Pesanan cadangan dalam memenuhi permintaan pada periode 

permintaan tinggi. Pesanan cadangan yaitu  pesanan barang atau jasa 

yang diterima perusahaan namun tidak dapat dilayani pada saat itu. 

Bila konsumen bersedia menunggu tanpa menarik pesanan mereka, 

pesanan cadangan ini merupakan strategi yang dapat diterapkan. 

c. Product mix antarmusim. Teknik pemulusan aktif yang dipakai   

secara luas diantara perusahaan-perusahaan manufaktur yaitu  

pengembangan product mix untuk barang-barang yang berlawanan 

musim ramainya. Perusahaan-perusahaan jasa (dan juga manufaktur) 

yang menerapkan pendekatan ini mungkin akan menemukan bahwa 

mereka terlibat dalam pelayanan jasa atau produk yang di luar 

jangkauan keahlian mereka atau di luar pasar target mereka. 

Meskipun masing-masing dari 5 (lima) pilihan kapasitas dan 3 (tiga) 

pilihan permintaan dapat memproduksi jadwal agregat yang efektif dari segi 

biaya, kombinasi dari pilihan-pilihan ini  disebut strategi campuran sering 

kali lebih berhasil. Strategi campuran mencakup penggabungan dua atau lebih 

variabel-variabel yang dapat dikendalikan untuk menetapkan rencana produksi 

yang layak.  

 

 

180 

 

Penjadwalan merata atau perencanaan kapasitas merata mencakup 

rencana-rencana agregat dimana kapasitas harian dari bulanan ke bulannya 

seragam. Penjadwalan merata berhasil bila permintaan atas produk relatif 

stabil. Penjadwalan merata biasanya menghasilkan biaya produksi yang lebih 

sedikit dibandingkan strategi-strategi yang lain. Karyawan-karyawannya 

cenderung lebih berpengalaman, sehingga penyeliaan lebih mudah, biaya 

mempekerjakan, memberhentikan dan lembur menurun serta operasi menjadi 

lebih mulus sebab  lebih sedikit kegiatan penyiapan mesin-mesin untuk 

operasi serta penghentian mesin-mesin setelah operasi berakhir.  

 

E. Metode-Metode untuk Penjadwalan Agregat 

(2001 : h. 437), metode atau 

teknik yang dipakai   para manajer operasi dalam mengembangkan rencana-

rencana agregat yang lebih bermanfaat dan lebih tepat antara lain : 

1. Metode pembuatan grafik dan diagram. 

Teknik pembuatan grafik dan diagram sangat sering dipakai sebab  mudah 

dipahami dan dipakai  . Pada dasarnya, rencana-rencana dengan grafik 

dan diagram ini menangani variabel sedikit demi sedikit agar perencana 

dapat membandingkan proyeksi permintaan dengan kapasitas yang ada. 

Rencana-rencana ini merupakan pendekatan trial-and-error yang tidak 

menjamin terciptanya rencana produksi yang optimal, tetapi penghitungan 

yang dibutuhkan hanya sedikit dan dapat dilakukan oleh staf-staf yang 

 

 

181 

 

paling dasar pekerjaannya. Lima tahapan dalam metode pembuatan grafik 

yaitu : 

a. Tentukan permintaan pada setiap periode. 

b. Tentukan berapa kapasitas pada waktu-waktu biasa, waktu lembur dan 

tindakan subkontrak untuk setiap periode. 

c. Tentukan biaya tenaga kerja, biaya pengangkatan dan pemberhentian 

pekerja serta biaya penahanan persediaan. 

d. Pertimbangkan kebijakan perusahaan yang dapat diterapkan pada para 

pekerja dan tingkatan persediaan. 

e. Kembangkan rencana-rencana alternatif dan amatilah biaya totalnya. 

2. Pendekatan matematika untuk perencanaan 

Beberapa pendekatan matematis terhadap perencanaan agregat yaitu : 

a. Metode transportasi dalam program linier 

Metode transportasi dalam program linier bukanlah suatu pendekatan 

trial-and-error seperti metode pembuatan diagram tetapi menghasilkan 

rencana yang optimal untuk meminimisasi biaya. Metode ini juga 

fleksibel sebab  dapat menspesifikasi produksi biaya dan lembur 

dalam setiap periode waktu, jumlah unit yang akan disubkontrakkan, 

giliran kerja tambahan dan persediaan dari satu periode ke periode 

berikutnya.  

b. Linier Decision Rule 

Linier Decision Rule (LDR) merupakan model perencanaan agregat 

yang berupaya untuk mengoptimalkan tingkat produksi dan tingkat 

 

 

182 

 

jumlah tenaga kerja sepanjang periode tertentu. LDR meminimisasi 

biaya total dan biaya gaji, pengangkatan, PHK, lembur dan persediaan 

melalui serangkaian kurva biaya kuadrat. 

c. Management Coefficients Model 

Management Coefficients Model (MCM) merupakan suatu model 

keputusan formal diseputar pengalaman dan kinerja manajer. Teori 

yang mendasari yaitu  bahwa pengalaman masa lalu manajer cukup 

baik, sehingga dapat dipakai   sebagai dasar dalam menetapkan 

keputusan di masa depan. Teknik ini memakai  analisis regresi 

terhadap keputusan-keputusan produksi yang diambil manajer dimasa 

lalu. Garis regresinya memberikan penggambaran hubungan antar 

variabel untuk pengambilan keputusan di masa datang. 

d. Simulasi 

Pendekatan simulasi ini memakai  prosedur pencarian dalam 

mencari kombinasi nilai yang biayanya minimal untuk ukuran jumlah 

tenaga kerja dan tingkat produksi. 

 

F. Penjadwalan Jangka Pendek 

(2001 : h. 466), dengan 

implikasi stretegis, yaitu  sangat jelas bagi perusahaan akan pentingnya 

penjadwalan yaitu : 

 

 

183 

 

1. Dengan penjadwalan secara efektif, perusahaan memakai  asetnya 

dengan efektif dan menghasilkan kapasitas dolar yang diinvestasikan 

menjadi lebih besar, yang sebaliknya akan mengurangi biaya. 

2. Penjadwalan menambah kapasitas dan fleksibilitas yang terkait 

memberikan waktu pengiriman yang lebih cepat dan dengan demikian 

pelayanan kepada pelanggan menjadi lebih baik. 

3. Keunggulan kompetitif dengan pengiriman yang bisa diandalkan. 

Penjadwalan jangka pendek menterjemahkan keputusan kapasitas, 

rencana jangka menengah ke dalam urut-urutan pekerjaan, penugasan khusus 

terhadap personel, bahan baku dan mesin-mesin. 

Isu-isu sempit penjadwalan barang dan jasa didalam jangka pendek 

(mingguan, harian atau dasar jam) sebagai berikut : 

1. Penjadwalan ke depan dan ke belakang 

Penjadwalan melibatkan pembebanan tanggal jatuh tempo atas pekerjaan-

pekerjaan khusus, tapi banyak pekerjaan yang bersaing secara simultan 

untuk sumber daya yang sama.  

a. Penjadwalan ke depan 

Penjadwalan ke depan memulai skedul/jadwal segera setelah 

persyaratan-persyaratan diketahui, penjadwalan ke depan dipakai   di 

beragam organisasi. Penjadwalan ke depan biasanya dirancang untuk 

menghasilkan jadwal yang bisa diselesaikan meskipun tidak berarti 

memenuhi tanggal jatuh temponya. Didalam beberapa keadaan, 

 

 

184 

 

penjadwalan ke depan menyebabkan menumpukkan barang dalam 

proses.  

b. Penjadwalan ke belakang  

Penjadwalan ke belakang dimulai dengan tanggal jatuh tempo, 

penjadwalan operasi final dahulu. Tahap-tahap dalam pekerjaan 

kemudian dijadwal, pada suatu waktu dibalik. Dengan mengurangi 

lead time untuk masing-masing item, akan didapatkan waktu awal. 

Namun demikian, sumber daya yang perlu untuk menyelesaikan 

jadwal bisa jadi tidak ada. Penjadwalan ke belakang dipakai   di 

lingkungan perusahaan manufaktur dan jasa. Dalam praktik, seringkali 

dipakai   penjadwalan ke depan dan ke belakang untuk mengetahui 

titik temu yang beralasan antara apa yang bisa dicapai dengan tanggal 

jatuh tempo pelanggan. 

2. Penjadwalan kriteria proses 

Teknik penjadwalan yang benar tergantung pada volume pesanan, ciri 

operasi dan keseluruhan kompleksitas pekerjaan, sekaligus pentingnya 

tempat pada masing-masing dari 4 (empat) kriteria. Empat kriteria itu 

yaitu  : 

a. Meminimalkan waktu penyelesaian. Ini dinilai dengan menentukan 

rata-rata waktu penyelesaian. 

b. Memaksimalkan utilisasi. Ini dinilai dengan menentukan persentase 

waktu fasilitas itu dipakai  . 

 

 

185 

 

c. Meminimalkan persediaan barang dalam proses. Ini dinilai dengan 

menentukan rata-rata jumlah pekerjaan dengan sistem. Hubungan 

antara jumlah pekerjaan dalam sistem dan persediaan barang dalam 

proses yaitu  tinggi. Dengan demikian semakin kecil jumlah pekerjaan 

yang ada didalam sistem, maka akan semakin kecil persediaannya. 

d. Meminimalkan waktu tunggu pelanggan. Ini dinilai dengan 

menentukan rata-rata jumlah keterlambatan. 

Empat kriteria ini  dipakai   untuk mengevaluasi kinerja 

penjadwalan. Sebagai tambahan, pendekatan penjadwalan yang baik 

haruslah sederhana, jelas, mudah dimengerti, mudah dilaksanakan, 

fleksibel dan realistik. Sasaran dari penjadwalan yaitu  untuk 

mengoptimalkan pemakaian  sumber daya sehingga tujuan produksi bisa 

tercapai. 

 

G. Proses Penjadwalan Difokuskan pada Pusat Kerja 

(2001 : h. 468), fasilitas 

berfokus proses (juga dikenal sebagai terputus-putus atau fasilitas job shop) 

yaitu  tingginya variasi, sistem volume rendah yang biasanya dijumpai di 

organisasi manufaktur maupun jasa. Ini merupakan sistem dimana produk 

dibuat berdasarkan pesanan. Barang-barang yang dibuat dibawah sistem ini 

biasanya berbeda dalam hal bahan baku yang dipakai  , urutan pemrosesan, 

persyaratan pemrosesan, waktu pemrosesan dan persyaratan setup. sebab  

perbedaan-perbedaan ini, penjadwalan bisa menjadi kompleks. Untuk 

 

 

186 

 

mengolah fasilitas dengan cara yang seimbang dan efisien, manajer 

membutuhkan perencanaan produksi dan sistem pengendalian. Sistem ini 

harus : 

1. Penjadwalan pesanan yang akan datang tanpa mengganggu kendala 

kapasitas pusat kerja individual. 

2. Mengecek ketersediaan alat-alat dan bahan baku sebelum memberikan 

pesanan ke suatu departemen. 

3. Membuat tanggal jatuh tempo untuk masing-masing pekerjaan dan 

mengecek kemajuan terhadap tanggal keperluan dan waktu tempuh 

pesanan. 

4. Mengecek barang dalam proses pada saat pekerjaan bergerak menuju 

perusahaan. 

5. Memberikan feedback pada pabrik dan aktivitas produksi. 

6. Menyediakan statistik efisiensi pekerjaan dan memonitor waktu operator 

untuk analisis distribusi tenaga kerja dan gaji dan upah. 

Apakah sistem penjadwalan itu manual atau otomatis, penjadwalan itu 

harus akurat dan relevan. Ini berarti membutuhkan data base produksi dengan 

file perencanaan dan pengendalian. ada  3 (tiga) jenis file perencanaan 

yaitu : 

1. File master barang yang didalamnya ada  informasi mengenai masing-

masing komponen yang dibeli atau diproses perusahaan. 

2. File routing yang menunjukkan aliran masing-masing komponen melalui 

perusahaan. 

 

 

187 

 

3. File master/file induk pusat pekerjaan yang berisikan informasi mengenai 

pusat pekerjaan seperti kapasitas dan efisiensi. 

Adapun file pengendali mencatat kemajuan sebenarnya yang telah 

dibuat terhadap rencana untuk masing-masing urutan pekerjaan. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

188 

 

BAB XII 

MANAJEMEN PROYEK : CPM DAN PERT 

 

A. Strategi Manajemen Proyek 

(2001 : h. 504), sering kali 

proyek satu waktu yaitu  tantangan yang berat untuk manajer operasi. Orang-

orang yang berkepentingan yaitu  sangat tinggi. Jutaan dolar dalam biaya 

telah dihabiskan sebab  perencanaan proyek yang sangat buruk. Penundaan 

yang tidak perlu telah terjadi sebab  buruknya penjadwalan. Perusahaan 

banyak yang bangkrut sebab  buruknya pengawasan/pengendalian. 

Proyek khusus yang memerlukan waktu bulanan, atau tahunan 

biasanya dibuat di luar sistem produksi normal. Organisasi proyek dalam 

perusahaan yaitu  menetapkan guna menangani banyak pekerjaan dan sering 

kali dibubarkan pada saat proyek telah selesai. Manajemen proyek besar 

mencakup 3 (tiga) fase yaitu : 

1. Perencanaan : ini meliputi penetapan tujuan, pendefinisian proyek dan 

organisasi tim. 

2. Penjadwalan : ini menghubungkan orang, uang dan supplies ke aktivitas 

khusus dan menghubungkan aktivitas dengan yang lainnya. 

3. Pengendalian : disini perusahaan mengawasi sumber dayanya, biayanya, 

kualitas dan anggaran. Ini juga merevisi atau mengubah rencana dan 

mengganti sumber daya untuk menepati waktu dan permintaan biaya.  

 

 

 

189 

 

B. Perencanaan Proyek 

, proyek biasanya 

didefinisikan sebagai rangkaian tugas-tugas yang berkaitan yang diarahkan 

menuju output yang besar. Suatu bentuk organisasi yang baru, dibuat untuk 

meyakinkan program yang telah ada terus berjalan mulus/lancar atas dasar 

hari ke hari sementara proyek yang baru diselesaikan secara lengkap. Ini sebut 

dengan organisasi proyek.  

Proyek menurut Manahan P. Tampubolon (2004 : h. 233), dapat 

didefinisikan sebagai suatu rangkaian kegiatan yang hanya terjadi sekali, 

dimana pelaksanaannya sejak awal sampai akhir dibatasi oleh kurun waktu 

tertentu.  

Organiasasi proyek yaitu  cara yang efektif untuk mengumpulkan 

orang dan sumber daya fisik yang diperlukan untuk waktu yang terbatas untuk 

menyelesaikan proyek tertentu atau tujuan. Biasanya yaitu  struktur 

organisasi temporer yang dirancang untuk mencapai hasil dengan 

memakai  ahli dari luar perusahaan.  

Organisasi proyek berfungsi dengan baik pada saat : 

1. Pekerjaan bisa didefinisikan dengan tujuan tertentu dan tanggal batas 

waktunya. 

2. Pekerjaan itu unik, atau sesuai yang tidak lazim atas organisasi yang sudah 

ada. 

3. Pekerjaan itu memuat tugas saling berkaitan yang kompleks yang 

membutuhkan keahlian tertentu. 

 

 

190 

 

4. Proyek bersifat temporer tapi sangat penting/kritis terhadap perusahaan. 

Anggota tim proyek secara temporer ke suatu proyek dan 

melaporkannya ke manajer proyek. Manajer mengkoordinir aktivitas-aktivitas 

dengan departemen yang lain dan melaporkan langsung kepada top 

manajemen, sering kali kepada pimpinan organisasi. Manajer proyek 

menerima visibilitas yang tinggi dalam perusahaan dan merupakan unsur 

kunci dalam perencanaan dan pengendalian aktivitas proyek. 

Tim manajemen proyek mulai tugasnya sebelum proyek sehingga bisa 

dibuat suatu rencana. Satu tahap pertama yaitu  menetapkan sasaran proyek 

secara hati-hati, kemudian mendefinisikan proyek dan memecahkannya ke 

dalam bagian-bagian yang bisa dikelola. Struktur pecahan pekerjaan ini 

mendefinisikan proyek dengan membagi ke dalam sub komponen besar 

(disebut dengan modul), yang kemudian dibagi menjadi komponen yang lebih 

detail dan akhirnya menjadi seperangkat aktivitas dan biaya-biaya yang 

berkaitan. Pembagian ke dalam proyek menjadi tugas yang lebih kecil dan 

lebih kecil bisa menjadi sulit namun sangat penting/kritis terhadap 

pengelolaan proyek dan keberhasilan penjadwalan. Kebutuhan kotor untuk 

orang, supplies dan peralatan juga diperkirakan di dalam fase/tahap 

perencanaan. 

Menurut Manahan P. Tampubolon (2004 : h. 233), perencanaan proyek 

harus mempunyai pedoman yang secara terperinci menjelaskan tentang uraian 

dan tujuan proyek, seperti kebutuhan sumber masukan (inputs) untuk dapat 

menciptakan keluaran (outputs) yang diinginkan disertai jadwal 

 

 

191 

 

pelaksanaanya dan sebagainya. Demikian juga tentang batasan 

pertanggungjawaban atas setiap kegiatan harus diidentifikasi dan ditentukan 

secara jelas. 

 

C. Penjadwalan Proyek 

Penjadwalan proyek merupakan sesuatu yang lebih spesifik dan 

menjadi bagian dari perencanaan proyek. Penjadwalan proyek dicantumkan 

tentang penetapan waktu, tahapan pelaksanaan kegiatan-kegiatan seperti yang 

telah direncanakan semula. (Manahan P. Tampubolon, 2004 : h. 233). 

, penjadwalan 

proyek menetapkan jangka waktu kegiatan proyek yang harus diselesaikan. 

Bahan baku dan tenaga kerja yang diperlukan dalam setiap tahapan produksi 

dihitung dalam fase ini, juga ditentukan waktu yang diperlukan oleh setiap 

aktivitas. Penjadwalan yang terpisah untuk kebutuhan personalia berdasarkan 

jenis kemampuan dibuat dalam diagram. Diagram juga dapat dikembangkan 

untuk menjadwalkan bahan baku. 

Salah satu pendekatan penjadwalan proyek yang populer yaitu  

diagram Gantt yaitu biaya yang rendah yang berarti membantu manajer 

memastikan beberapa hal yaitu : 

1. Merencanakan semua kegiatan. 

2. Perhitungan penyelesaian pesanan. 

3. Pencatatan perkiraaan waktu kegiatan. 

4. Pengembangan keseluruhan jangka waktu proyek. 

 

 

192 

 

Diagram penjadwalan dapat dipergunakan untuk proyek sederhana. 

Mereka memungkinkan manajer untuk mengawasi kemajuan dari setiap 

aktivitas dan secara langsung menangani masalah setempat. Namun demikian, 

diagram Gantt tidak mudah untuk diperbaharui dan lebih penting lagi tidak 

memberikan ilustrasi yang nyata tentang hubungan antara kegiatan dan 

sumber dayanya. 

Simbol-simbol yang dipergunakan model Gantt Chart dapat disajikan 

pada Tabel  12.1. berikut : 

Tabel 12.1. 

Simbol-Simbol Model Gantt Chart 

 

Simbol (Tanda) Pengertian dari Simbol 

[ Kegiatan di mulai 

] Kegiatan di akhir 

[                  ] Kemajuan kegiatan 

V Menunjukkan waktu sampai dimana kegiatan 

itu sekarang 

 

Sumber : Manahan P. Tampubolon (2004 : h. 234) 

Sebagai contoh : sebuah kegiatan penelitian tentang kualitas suatu 

proyek, dengan mencoba memakai  sesuatu peralatan ke dalam suatu 

proyek yang sudah lama berjalan, dimana lama waktu proyek itu yaitu  7 

bulan. 

Langkah-langkah penjadwalan : 

1. Menetapkan terlebih dahulu apa saja kegiatan proyek ini . 

 

 

193 

 

2. Membuat rincian waktu untuk setiap kegiatan dengan menyesuaikannya 

dengan setiap jenis dan bobot kegiatan, serta jumlah tenaga kerja yang 

melaksanakannya. 

3. Rincian no. 1 dan no. 2 dimasukkan ke dalam chart, seperti diuraikan pada 

Tabel 12.2. dibawah ini : 

Tabel 12.2. 

Langkah-Langkah Model Gantt Chart 

 

No. Jenis Kegiatan Waktu Dalam Minggu 

1 2 3 4 5 6 7 

1. Menyiapkan peralatan baru 

untuk dipergunakan dalam 

proyek 

[ ]       

2. Pengujian peralatan di work 

shop I 

[ ]       

3. Proses uji coba di work shop II  [ ]      

4. Proses percobaan sampel di 

proyek I 

  [ ]     

5. Uji coba di proyek II    [ ]    

6. Respons hasil      [ ]  

7. Laporan       [ ] 

Sumber : Manahan P. Tampubolon (2004 : h. 234) 

Model Gantt Chart merupakan model yang sangat sederhana. Dari 

contoh di atas dapat diketahui bahwa sampai dengan minggu ke-3, kegiatan 

yang sudah selesai yaitu  kegiatan nomor 1 – 4. 

PERT dan CPM merupakan dua teknik jaringan yang banyak 

dipergunakan dan memiliki kemampuan untuk memperkirakan hubungan 

utama dan kegiatan yang saling terkaitan dalam proyek yang rumit. 

Penjadwalan yang selalu dikomputerisasi, PERT dan CPM memiliki batasan 

dalam diagram Gantt yang lebih mudah. Bahkan dalam proyek besar, diagram 

 

 

194 

 

Gantt dapat dipergunakan sebagai ringkasan status proyek dan dapat 

melengkapi pendekatan jaringan lain. 

Apapun pendekatan yang dipergunakan oleh manajer proyek, 

penjadwalan menyediakan beberapa kegunaan : 

1. Menunjukkan hubungan tiap aktivitas kepada yang lainnya dan kepada 

seluruh proyek. 

2. Menunjukkan hubungan utama diantara kegiatan-kegiatan. 

3. Mendorong penentuan waktu yang diperlukan dan perkiraan biaya untuk 

setiap kegiatan. 

4. Membantu meningkatkan kegunaan sumber daya manusia, uang, dan 

material dengan identifikasi hambatan kritis dalam proyek. 

 

D. Pengendalian Proyek 

(2001 : h. 507), pengendalian 

terhadap proyek besar, seperti pengendalian segala jenis sistem manajemen, 

melibatkan pengawasan seksama terhadap sumber daya, biaya, kualitas dan 

anggaran. Pengendalian juga berarti memakai  lup umpan balik untuk 

merevisi rencana proyek dan memiliki kemampuan untuk menggeser/ 

mengganti sumber daya kemana saja mereka diperlukan. Laporan dan diagram 

PERT/CPM sekarang ini banyak tersedia untuk komputer mini dan komputer 

mikro. Beberapa program yang popular yaitu  Manajer Proyek Total 

Harvard., Primavera, Proyek, Macproject, Pertmaster, Visischedule dan Time 

Line. 

 

 

195 

 

Program ini menghasilkan variasi laporan yang luas termasuk : 

perincian biaya secara detail untuk masing-masing pekerjaan, kurva karyawan 

program total, tabel distribusi biaya dan biaya fungsional dan ringkasan jam 

kerja, bahan baku dan peramalan biaya, laporan selisih, laporan analisis waktu 

dan laporan status pekerjaan. 

 

E. Teknik Manajemen Proyek : PERT dan CPM 

(2001 : h. 507), teknik telaah 

dan evaluasi program (PERT) dan metode jalur kritis (CPM) dibuat di tahun 

1950 untuk membantu para manajer melakukan penjadwalan, melakukan 

pengawasan dan mengendalikan proyek yang besar dan kompleks.  

Ada 6 (enam) langkah yang ada  di PERT dan CPM. Prosedurnya 

yaitu  sebagai berikut : 

1. Mendefinisikan proyek dan semua aktivitas atau tugas yang signifikan. 

2. Membuat keterkaitan antara aktivitas-aktivitasnya. Putuskan aktivitas 

mana yang harus mendahului dan mana yang harus mengikuti yang lain. 

3. Menggambar jaringan yang menghubungkan semua aktivitas. 

4. Membebankan estimasi waktu dan atau biaya ke masing-masing aktivitas. 

5. Hitunglah jalur waktu yang paling panjang melalui jaringan itu; ini disebut 

dengan jalur kritis. 

6. Gunakan jaringan untuk membantu perencanaan, penjadwalan dan 

pengendalian proyek. 

 

 

196 

 

Walaupun PERT dan CPM berbeda dalam pengembangan terminologi 

dan didalam konstruksi jaringannya, sasarannya ternyata sama. Dengan 

demikian, analisis yang dipakai   dikedua teknik itu yaitu  sangat mirip. 

Perbedaan utama yaitu  bahwa PERT memakai  3 (tiga) perkiraan untuk 

masing-masing aktivitas. Masing-masing estimasi memiliki probabilitas 

keterjadian yang terkait, yang mana, sebaliknya dipakai   dalam menghitung 

nilai yang diharapkan dan deviasi/penyimpangan standar untuk waktu 

aktivitas. CPM membuat asumsi bahwa waktu aktivitas diketahui dengan 

kepastian dan oleh sebab itu hanya satu faktor waktu diberikan untuk masing-

masing aktivitas. 

PERT dan CPM yaitu  sangat penting sebab  dua metode itu bisa 

membantu menjawab pertanyaan seperti berikut mengenai proyek dengan 

ratusan aktivitas : 

1. Kapan keseluruhan proyek akan diselesaikan. 

2. Apa aktivitas kritis atau tugas-tugas dalam proyek yakni satu pekerjaan 

yang akan menunda keseluruhan proyek jika pekerjaan itu terlambat. 

3. Apakah aktivitas non-kritis yakni pekerjaan-pekerjaan yang bisa berjalan 

terlambat tanpa menunda penyelesaian keseluruhan proyek. 

4. Probabilitas apa yang akan membuat proyek itu diselesaikan pada tanggal 

tertentu. 

5. Pada suatu tanggal tertentu, apakah proyek sesuai jadwal, dibelakang 

jadwal atau mendahului jadwal. 

 

 

197 

 

6. Pada suatu tanggal yang telah ditentukan, apakah jumlah uang yang 

dibelanjakan itu sama, kurang dari atau lebih besar dari jumlah yang telah 

dianggarkan. 

7. Apakah ada sumber daya yang tersedia untuk menyelesaikan proyek tepat 

pada waktunya. 

8. Jika proyek harus diselesaikan dalam jangka waktu yang lebih singkat, apa 

cara paling baik untuk menyelesaikan proyek ini dengan biaya yang 

sekecil mungkin. 

 PERT membagi keseluruhan proyek ke dalam kejadian dan aktivitas. 

Suatu kejadian menandai mulainya atau selesainya tugas atau aktivitas 

tertentu. Suatu aktivatas, disisi lain, yaitu  suatu tugas atau subproyek yang 

terjadi antara dua kejadian. Gambar 12.1. menyatakan kembali definisi ini dan 

menunjukkan simbol yang dipakai   untuk mewakili kejadian dan aktivitas. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sumber : Barry Render dan Jay Heizer (2001 : h. 509) 

Gambar 12.1. 

Kejadian, Aktivitas dan Bagaimana Kaitan Diantara Mereka 

 

Kejadian 

(Panah) 

Aktivitas A Aktivitas B 

Aktivitas 

Kejadian 

Kejadian 

Menunjuk ke waktu, biasanya 

tanggal penyelesaian atau 

tangga dimulainya 

Suatu tugas atau jumlah kerja 

tertentu yang diperlukan 

didalam proyek 

Urutan aktivitas dengan 

kejadian awal dan akhir Kejadian 

 

 

198 

 

Pendekatan ini merupakan satu yang paling umum untuk 

menggambarkan jaringan dan juga diacukan sebagai suatu aturan/konvensi 

aktivitas pada panah (AOA), disebut dengan aktivitas pada node, 

menempatkan aktivitas pada node.  Segala proyek yang dibisa digambarkan 

dengan aktivitas dan kejadian bisa dianalisis dengan jaringan PERT.  

Diberikan informasi berikut ini : 

Aktivitas  Segera Sebelumnya 

    A   -  

    B   - 

    C    A  

    D   B 

Maka gambar jaringannya yaitu  pada Gambar 12.2. sebagai berikut : 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sumber : Barry Render dan Jay Heizer (2001 : h. 510) 

 

Gambar 12.2. 

Contoh 1 Jaringan 

 

 

Kita mengetahui bahwa masing-masing kejadian dengan angka., ini 

yaitu  mungkin untuk mengindentifikasi masing-masing aktivitas dengan 

A C 

B D 

 

 

199 

 

suatu kejadian awal dan kejadian akhir atau suatu node. Sebagai contoh, 

aktivitas A di contoh 1 yaitu  aktivitas yang dimulai dengan kejadian 1 dan 

berakhir pada node atau kejadian 2. Secara umum, kita memberi nomor node 

dari kiri ke kanan. Node awal atau kejadian, keseluruhan proyek yaitu  nomor 

1, sementara node terakhir, atau kejadian, didalam keseluruhan proyek 

menghasilkan angka yang paling besar. Di dalam contoh, node terakhir 

menunjukkan nomor 4. 

Kita juga bisa melakukan spesifikasi jaringan dengan kejadian dan 

aktivitas yang terjadi antara kejadian-kejadian itu. Contoh berikut 

menunjukkan bagaimana membuat suatu jaringan berdasarkan jenis pola 

spesifikasi : 

Awal Kejadian  Akhir Kejadian  Aktivitas 

         1             2                1-2 

         1             3        1-3 

         2              4         2-4 

         3             4        3-4 

         3             5        3-5 

         4             6        4-6 

         5             6        5-6 

Sebagai pengganti pemakaian  suatu huruf untuk menandai aktivitas 

dan aktivitas sebelumnya, kita bisa menentukan aktivitas dengan kejadian 

awal mereka dan kejadian akhirnya. Mulailah dengan aktivitas yang dimulai 

 

 

200 

 

pada kejadian 1 dan berakhir pada kejadian 2, kita bisa membuat jaringan 

berikut ini : 

Maka gambar jaringannya yaitu  pada Gambar 12.3. sebagai berikut : 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

Gambar 12.3. 

Contoh 2 Jaringan 

 

Satu perbedaan PERT dan CPM yaitu  pemakaian  3 (tiga) perkiraan 

waktu aktivitas untuk masing-masing aktivitas didalam teknik PERT. Hanya 

satu faktor waktu yang diberikan untuk masing-masing aktivitas jalur kritis 

(CPM). 

Untuk masing-masing aktivitas di PERT, harus ditentukan waktu 

optimistis, waktu probabilitas yang paling besar, dan suatu perkiraan waktu 

pesimistis. Kemudian dipakai   tiga perkiraan waktu aktivitas untuk 

menghitung waktu penyelesaian yang diharapkan dan selisih untuk masing-

masing aktivitas. Jika diasumsikan seperti yang banyak dilakukan oleh para 

peneliti, bahwa waktu aktivitas mengikuti distribusi kemungkinan beta, 

dipakai   rumus sebagai berikut : 

 

 

201 

 

      a + 4m + b                b – a  

t =      dan    v = 

          6                   6 

Dimana : 

a  = waktu optimistis penyelesaian aktivitas 

b  = waktu pesimistis penyelesaian aktivitas 

m  = waktu yang paling tepat untuk penyelesaian aktivitas 

t  = waktu yang diharapkan untuk menyelesaikan aktivitas 

v  = selisih waktu penyelesaian aktivitas 

Sasaran dari analisis jalur kritis yaitu  untuk menentukan kuantitas 

masing-masing aktivitas berikut ini : 

1. ES yaitu  waktu mulai aktivitas paling awal. Semua aktivitas yang 

mendahuluinya harus diselesaikan sebelum suatu aktivitas bisa dimulai. 

Ini yaitu  waktu paling awal suatu aktivitas untuk bisa dimulai. 

2. LS yaitu  waktu mulai aktiviitas paling akhir. Semua aktivitas berikut 

harus diselesaikan tanpa menunda keseluruhan proyek. Ini yaitu  waktu 

yang paling akhir bagi aktivitas untuk bisa dimulai tanpa menunda 

keseluruhan proyek. 

3. EF yaitu  waktu penyelesaian aktivitas paling awal. 

4. LF yaitu  waktu penyelesaian aktivitas paling akhir. 

5. S yaitu  waktu slak/waktu mundur aktivitas, yang sama dengan (LS – ES) 

atau (LF – EF). 

Untuk semua aktivitas, jika bisa dihitung ES dan LS, maka bisa dihitung tiga 

jumlah yang lain sebagai berikut : 

 

 

202 

 

EF = ES + t 

LF = LS + t 

S = LS – ES 

Atau 

S = LF – EF 

Sekali diketahui kuantitas untuk setiap aktivitas, bisa dianalisis 

keseluruhan proyek. Analisis ini meliputi : 

1. Jalur kritis yaiu kelompok aktivitas didalam proyek yang memiliki waktu 

slak/kelambatan 0. Jalur ini kritis sebab  penundaan disemua aktivitas 

sepanjang jalur ini akan menyebabkan penundaan keseluruhan proyek. 

2. T yaitu total waktu penyelesaian proyek, yang dihitung dengan 

menambahkan nilai waktu yang diharapkan (t) dari aktivitas-aktivitas pada 

jalur kritis. 

3. V yaitu selisih pada jalur kritis, yang dihitung dengan menambahkan 

selisih (v) dari aktivitas individu pada jalur kritis. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

203 

 

BAB XIII 

PENGENDALIAN MUTU TERPADU 

(TOTAL QUALITY MANAGEMENT) 

 

A. Pengertian Mutu 

Mutu yaitu  kemampuan suatu produk, baik itu barang maupun 

jasa/layanan untuk memenuhi keinginan pelanggan. Sehingga setiap barang 

atau jasa selalu diacu untuk memenuhi mutu yang diminta pelanggan melalui 

pasar. 

American Society for Quality Control dalam Barry Render dan Jay 

Heizer (2001 : h. 92), menyatakan bahwa mutu yaitu  totalitas bentuk dan 

karakteristik barang atau jasa yang menunjukkan kemampuannya untuk 

memuaskan kebutuhan-kebutuhan yang tampak jelas maupun yang 

tersembunyi. 

Meskipun demikian, pendapat lain mengatakan bahwa definisi mutu 

menyangkut berbagai kategori. Beberapa dari definisi ini  berorientasi 

pada pengguna/pemakai. Pendapat ini mengatakan bahwa mutu ”tergantung 

pemakai menganggapnya”. Orang-orang yang berkecimpung dibidang 

pemasaran menyukai pendekatan ini, demikian pula para konsumen. Bagi 

mereka, mutu yang lebih tinggi berarti kemampuan pemuasan kebutuhan yang 

lebih baik, bentuk produk yang lebih menarik, dan kelebihan lainnya. Bagi 

manajer produksi, mutu tergantung pada pengerjaan. Mereka percaya bahwa 

mutu berarti keharusan menyesuaikan dengan lebih baik pada standar yang 

 

 

204 

 

berlaku dan ”membuatnya dengan benar pada waktu pertama”. Namun, 

pendekatan ketiga bersifat berorientasi pada produk, yang menganggap mutu 

sebagai variabel tertentu dan dapat diukur. 

Karakteristik yang menandakan mutu mula-mula harus diidentifikasi 

lewat penelitian. Karakteristik-karakteristik ini kemudian diterjemahkan ke 

dalam atribut produk yang spesifik. Lalu proses manufaktur diatur untuk 

memastikan bahwa produk dibuat persis dengan spesifikasi yang telah 

ditetapkan. Proses yang mengabaikan salah satu tahapan di atas tidak akan 

menghasilkan produk yang bermutu. 

Mutu bermanfaat bagi perusahaan dalam penentuan hal berikut ini 

1. Reputasi perusahaan (company reputation), apabila posisi perusahaan 

dapat sebagai pemimpin pasar (market leader), keadaan ini menunjukkan 

bahwa mutu perusahaan lebih baik dibandingkan pesaing lainnya. 

Sebaliknya, apabila perusahaan hanya pengikut pasar (market follower), 

maka perusahaan harus berusaha mengendalikan mutu produknya untuk 

lebih baik lagi (market reposition). Dengan demikian, mutu sangat 

bermanfaat didalam membentuk reputasi perusahaan, melalui mutu hasil 

produksinya. 

2. Pertanggungjawaban produk (product liability) merupakan suatu tantangan 

bagi perusahaan didalam memasarkan suatu produk, apabila produk 

menimbulkan permasalahan bagi pelanggan atau pasar, yaitu  merupakan 

tanggung jawab dari perusahaan secara material maupun secara moral. 

 

 

205 

 

3. Aspek global (global implication), dalam era globalisasi yang diartikan 

bahwa setiap barang atau jasa yang dipasarkan secara internasional harus 

mampul bersaing didalam mutu dan dari segi harga yang lebih murah, 

serta desain yang sesuai dengan permintaan pasar internasional, akibatnya 

yaitu  bahwa aspek global akan berpengaruh secara langsung terhadap 

mutu suatu hasil dari proses operasional. 

 

B. Standar Mutu Internasional 

Implikasi internasional dengan adanya standar mutu internasional juga 

mendorong beberapa standar internasional yaitu 

1. Standar Industri Jepang 

warga  Jepang bahkan telah mengembangkan suatu spesifikasi bagi 

manajemen mutu terpadu, yang di Jepang dipublikasikan dalam Industrial 

Standard Z8101 – 1981. Standar ini  menyatakan ”Penerapan 

pengendalian kualitas secara efektif mengharuskan kerja sama semua 

pihak dalam perusahaan, melibatkan manajemen puncak, manajer, 

penyelia dan pekerja diberbagai tingkatan kegiatan perusahaan misalnya 

penelitian pasar, penelitian dan pengembangan, perencanaan rancangan 

produk, persiapan produksi, pembelian, manajemen penjualan pada 

industri, produksi, pemeriksaan, penjualan, layanan purna jual, demikian 

juga pengendalian keuangan, administrasi personalia, serta pendidikan dan 

pelatihan”. 

 

 

206 

 

2. Standar ISO 9000 Eropa 

warga  Eropa (ME) telah mengembangkan standar mutu yang disebut 

ISO 9000, 9001, 9002, 9003 dan 9004. Fokus dari standar ME ini yaitu  

untuk mendorong pembentukan prosedur manajemen yang baku bagi 

perusahaan yang berbisnis di wilayah ME. 

Ada beberapa faktor yang menyebabkan seri ISO 9000 ini menjadi 

perhatian : (a) standar ini mulai diterima dunia; (b) standar ini kini 

diterapkan pada beberapa produk yang diproduksi atau diimpor oleh ME; 

dan (c) penyesuaian pada standar diperlukan untuk mendapatkan 

sertifikasi produk. 

3. Standar Amerika 

Amerika telah lama memiliki spesifikasi militer untuk kontrak-kontrak 

pertahanan nasionalnya dan bahkan dalam tahun-tahun terakhir American 

Quality Control Society telah mengembangkan spesifikasi yang sesuai 

dengan standar ME. Spesifikasi ini  yaitu  Q90, Q91, Q92, Q93 dan 

Q94. 

4. ISO 14000 

Proses internasionalisasi mutu yang berlangsung terus-menerus hingga 

saat ini tercermin jelas dengan pengembangan ISO 14000 oleh ME. ISO 

14000 merupakan standar manajemen lingkungan yang mengandung 5 

(lima) elemen inti yaitu : (a) manajemen lingkungan; (b) auditing; (c) 

evaluasi kinerja; (d) pemberian label; dan (e) penentuan siklus hidup. 

Standar baru ini dapat memberikan beberapa keuntungan yaitu : 

 

 

207 

 

a. Terbentuknya citra perusahaan yang positif pada warga  dan 

menurunnya kemungkinan terjadinya pertanggungjawaban atas produk 

yang dihasilkan. 

b. Pendekatan sistematis yang baik dalam rangka pencegahan polusi 

melalui minimisasi dampak ekologis produk dan kegiatan produksi. 

c. Kesesuaian dengan syarat-syarat peraturan dan kesempatan untuk 

memperoleh keunggulan bersaing. 

d. Berkurangnya kebutuhan audit berganda. 

 

C. Manajemen Mutu Terpadu (Total Quality Management) 

(2001 : h. 98) manajemen mutu 

terpadu/MMT (total quality management) menggambarkan penekanan mutu 

yang memacu seluruh organisasi, mulai dari pemasok sampai konsumen. 

MMT menekankan pada komitmen manajemen untuk memiliki keinginan 

yang berkesinambungan bagi perusahaan untuk mencapai kesempurnaan di 

segala aspek barang dan jasa yang penting bagi konsumen. 

Total Quality Management atau manajemen total kualitas merupakan 

komitmen perusahaan untuk memberi yang terbaik bagi pelanggan-

pelanggannya. Penekanannya yaitu  untuk secara kontinu melakukan 

perubahan secara berkelanjutan (continously improvement), yang merupakan 

tuntutan mutu yang tidak pernah secara seratus persen dapat dipenuhi 

organisasi, sehingga menjadi target berikutnya bagi manajemen operasional 

 

 

208 

 

untuk mencapai ke tingkat bebas/nol kesalahan (zero defect). 

Ahli mutu W. Edwards Deming dalam Barry Render dan Jay Heizer 

(2001 : h. 98), menerapkan perbaikan mutu. Langkah-langkah ini  

dikembangkan menjadi 5 konsep yaitu : 

1. Perbaikan yang terus menerus. MMT membutuhkan proses tanpa akhir 

yang disebut perbaikan yang terus-menerus dimana kesempurnaan tidak 

pernah diperoleh tetapi selalu dicari. 

2. Pemberdayaan karyawan berarti manajemen perusahaan melibatkan 

karyawan dalam setiap tahap proses produksi. 

3. Perbaikan kinerja (benchmarking) merupakan elemen lain dari program 

MMT suatu perusahaan. Perbandingan kinerja ini mencakup seleksi 

standar kinerja yang ada, yang mewakili kinerja proses atau kegiatan 

terbaik lain yang sangat serupa dengan proses atau kegiatan pihak lain.  

4. Penyediaan kebutuhan yang cukup pada waktunya (just-in-time). Filsafat 

yang mendasari hal ini  yaitu  pemikiran mengenai perbaikan yang 

terus-menerus dan pemecahan masalah yang cepat. Dengan cara ini  

memaksa terciptanya mutu, baik pada pemasok maupun pada setiap tahap 

proses manufaktur dan jasa, sebab  tidak ada persediaan yang dapat 

menyerap variasinya. Sebagai konsekuensinya, sistem ini  harus 

memproduksi mutu yang tinggi. sebab  teknik ini  menghilangkan 

kemungkinan adanya variasi, tidak ada lagi sisa material, pengerjaan 

 

 

209 

 

ulang, investasi persediaan, dan kegiatan yang tidak perlu dalam proses 

produksi/jasa. 

5. Pengetahuan mengenai perangkat MMT. sebab  ingin memberdayakan 

karyawan dalam implementasi MMT, dan mengingat MMT merupakan 

usaha yang tidak ada putus-putusnya, maka setiap orang dalam organisasi 

harus dilatih memakai  teknik-teknik MMT. Peralatan MMT 

bermacam-macam dan semakin hari semakin bertambah.  

Konsep mutu dari Edward Deming ada 14 (empat belas), yang menjadi 

indikator bagaimana TQM diimplementasikan untuk dapat melakukan 

perubahan secara berkelanjutan yaitu (Manahan P. Tampubolon, 2004 : h.   

85) : 

1. memakai  kreativitas secara konsisten. 

2. Mengacu pada kepentingan perubahan. 

3. Menciptakan mutu produk dengan mengatasi persoalan melalui inspeksi. 

4. Menciptakan hubungan jangka panjang yang paling mendasar dengan 

membentuk performa didalam menghadapi usaha yang berlandaskan 

harga. 

5. Mengubah produk, mutu dan pelayanan secara berkelanjutan. 

6. Melakukan pelatihan karyawan. 

7. Lebih memperhatikan faktor kepemimpinan. 

8. Atasi rasa ketakutan. 

9. Uraian hambatan diantara bagian organisasi. 

10. Hentikan isu-isu karyawan. 

 

 

210 

 

11. Dukung, memberi bantuan dan perubahan. 

12. Mengubah hambatan menjadi suatu kebanggaan bagi karyawan. 

13. Melembagakan program kegiatan belajar dalam pendidikan, serta memberi 

bantuan untuk perubahan. 

14. Mengajak setiap orang didalam organisasi untuk bekerja dan melakukan 

pertukaran pengetahuan dan pengalaman. 

 

D. Alat-Alat untuk Manajemen Mutu Terpadu 

, menyatakan ada 6 

(enam) alat/teknik yang membantu usaha MMT yaitu : 

1. Penyebaran fungsi mutu merupakan istilah yang dipakai untu : (a) 

menentukan rancangan fungsional yang dapat memuaskan konsumen; dan 

(b) mewujudkan keinginan konsumen ke dalam suatu target rancangan. 

2. Teknik Taguchi merupakan suatu teknik peningkatan mutu yang khusus 

ditujukan untuk peningkatan rancangan produk dan proses. 

3. Diagram Pareto merupakan metode untuk mencari sumber kesalahan, 

masalah-masalah, atau kerusakan produk, untuk membantu memfokuskan 

diri pada usaha-usaha pemecahannya. 

4. Diagram proses dirancang untuk membantu memahami serangkaian 

kejadian (yaitu dengan membuat diagram alir atas prosesnya) yang dilalui 

produk. Diagram proses membuat grafik atas tahap-tahap proses dan 

memperlihatkan hubungan antara tahap-tahap ini . 

 

 

211 

 

5. Diagram sebab akibat (diagram tulang ikan) merupakan salah satu dari 

banyak alat yang dapat membantu mengidentifikasi lokasi yang mungkin 

dari terjadinya masalah-masalah mutu dan lokasi pemeriksaan, yang juga 

disebut Diagram Ishikawa atau Diagram Tulang Ikan.  

6. Pengendalian proses statistik berkaitan dengan usaha memonitor standar, 

penentuan cara mengukur kinerja, dan usaha mengambil tindakan pada 

saat barang/jasa sedang diproduksi. 

Sedangkan Manahan P. Tampubolon (2004 : h. 89), menyatakan 

bahwa untuk melengkapi usaha pencapaian Total Quality Management (TQM) 

dapat dipergunakan peralatan sebagai berikut : 

1. Rekaman data (check sheet) merupakan pencatatan keadaan mesin dan 

peralatan didalam operasi yang dituangkan didalam rekaman data 

(tally/check sheet) sehingga aspek-aspek yang menyangkut mutu 

berdasarkan informasi dari pelanggan dapat diantisipasi. 

2. Grafik antarvariabel (scatter diagram) yaitu membuat grafik antar variabel 

terikat dengan yang bebas mempengaruhi, misalnya hubungan 

produktivitas karyawan dengan semangat kerja karyawan yang 

menyimpulkan bahwa semangat kerja pekerja yang rendah akan 

menurunkan produktivitas kerja karyawan. 

3. Untuk mengetahui pemicu   dan efek terhadap hasil (cause and effect 

diagram) yaitu sebagai alat untuk menguji kombinasi antar elemen 

didalam sistem operasional, misalnya untuk mengetahui efek dari 

pemakaian bahan baku dengan jumlah pekerja atau efek dari sistem dan 

 

 

212 

 

metode dengan pemanfaatan mesin dan peralatan. Sehingga dapat diatur 

keseimbangan yang menimbulkan efek-efek didalam proses produksi atau 

usaha menjaga keseimbangan dalam sistem operasional. 

4. Alur proses (flow chart or process diagrams) yaitu membuat gambar alur 

kerja dengan menguraikan setiap langkah-langkah yang dilakukan didalam 

proses kerja, sebagai contoh : setelah bahan baku diterima dan diseleksi, 

kemudian dimasukkan dalam proses produksi, proses produksi dilakukan 

inspeksi untuk mengetahui tingkat level proses produksi, selanjutnya 

barang jadi telah diseleksi. 

5. Grafik Pareto (Pareto chart) yaitu gambaran grafik yang mengidentifikasi 

besaran frekuensi permasalahan atau tingkat kesalahan didalam proses 

produksi suatu produk, sebagai contoh untuk memproduksi sejumlah 

barang seorang pekerja berapa kali melakukan kesalahan. 

6. Histogram yaitu gambaran distribusi frekuensi dari akurasi dari variabel 

dalam susunan balok, misalnya untuk melihat frekuensi dari waktu untuk 

melakukan perbaikan. Frekuensi untuk menyelesaikan suatu atau sejumlah 

produk yang dihasilkan seorang karyawan. 

7. Proses kendali statistik (statistik process control chart) yaitu 

memakai  kendali statistik untuk mengetahui persentase jumlah 

kerusakan didalam proses produksi yang dilakukan kelompok kerja. 

 

 

 

 

 

213 

 

E. Peranan Pemeriksaan 

Menurut  untuk 

memastikan bahwa suatu operasi mampu memproduksi barang/jasa dengan 

tingkat mutu yang diharapkan, dibutuhkan pemeriksaan atas beberapa atau 

semua unsur. Pemeriksaan ini dapat melibatkan kegiatan mengukur, mencoba 

rasa, menyentuh, menimbang atau menguji produk (kadangkala untuk 

pemeriksaan, produk dihancurkan). Tujuan pemeriksaan yaitu  untuk 

mendeteksi secara cepat produk yang jelek. Pemeriksaan tidak mengoreksi 

defisiensi sistem atau kerusakan produk; tidak pula mengubah produk atau 

meningkatkan nilainya. Ada 2 (dua) hal mendasar yang berhubungan dengan 

pemeriksaan : 

1. Kapan pemeriksaan akan dilakukan. 

2. Dimana pemeriksaan akan dilakukan. 

Penentuan kapan dan dimana pemeriksaan dilakukan tergantung jenis 

proses dan nilai tambah pada setiap tahap proses. Pemeriksaan dalam 

perusahaan manufaktur dapat terjadi di 6 (enam) tempat yaitu : 

1. Pabrik pemasok pada saat kegiatan produksi ini  sedang berlangsung. 

2. Di pabrik sendiri, saat menerima barang dari pemasok. 

3. Di tempat sebelum proses-proses yang memakan biaya dan tidak dapat 

ditarik kembali. 

4. Di tempat proses produksi berlangsung secara bertahap. 

5. Di tempat produk selesai diproses. 

6. Di tempat sebelum pengiriman produk dilakukan. 

 

 

214 

 

Menurut Manahan P. Tampubolon (2004 : h. 90), didalam operasional 

pengawasan mutu ada  kegiatan inspeksi, yang merupakan pengawasan 

langsung terhadap suatu objek untuk menguji mutu. Inspeksi dapat dilakukan 

secara menyeluruh (full inspection), dalam artian satu objek yang tiap 

komponennya diperiksa, untuk inspeksi yang demikian akan diperlukan banyak 

waktu, tenaga dan pembiayaan. Full inspection juga akan menimbulkan 

kejenuhan bagi pada pemeriksanya, yang dapat mengakibatkan hasil inspeksi 

kurang seksama. 

Pada umumnya pedoman pelaksanaan inspeksi dilakukan berdasarkan hal 

berikut : 

1. Penentuan sasaran yang diinspeksi. 

Setiap rancangan produk memuat spesifikasi karakteristik yang harus dipenuhi 

oleh suatu produk. Mengingat banyaknya spesifikasi karakteristik yang harus 

dipenuhi suatu produk, sasaran inspeksi dapat dipilih pada salah satu atau 

beberapa karakteristik saja, tetapi yang dipilih yaitu  “titik-titik kritis (critical 

point)”. 

Pilihan sasaran ini selain ditujukan kepada spesifikasi karakteristik produk 

juga dapat ditujukan kepada titik-titik letak didalam kerangka operasionl 

konversi, misalnya : (a) setiap dihasilkan sepuluh unit produk; (b) setiap siklus 

produksi selesai; dan (c) setelah proses produksi selesai, dan lain-lainnya. 

2. Kriteria mutu yang diinspeksi 

Inspeksi terhadap kriteria mutu ditujukan untuk pengukuran mutu yang jenis 

pengukurannya terdiri dari berikut ini : 

 

 

215 

 

a. Control by variable 

Cara mengukur kesesuaian produk terhadap standar dalam skala kontinu, 

seperti panjang, lebar, berat, tingkatan dan sebagainya. Dalam hal ini 

pemeriksa (inspektor) melakukan perbandingan pada setiap bagian produk 

(product’s item) terhadap variabel standar. 

b. Control by attribute 

Mengukur kesesuaian produk terhadap standarnya dalam dua alternatif, 

seperti rusak atau bagus, misalnya control by attribute terhadap dinamo 

berputar atau tidak, bola lampu menyala atau tidak. Walaupun control by 

attribute ini biayanya lebih murah daripada control by variable, tetapi 

tidak dapat dilakukan pada semua produk dengan control by attribute. 

Sudah jelas hal ini  tidak dapat dilakukan sebab  sifat produk selalu 

berbeda dan perbedaan akan menimbulkan perbedaan pada karakteristik 

produk, umpamanya produk dinamo tidak sama dengan produk baju, 

sebab  karakteristik mutunya sudah sangat berbeda. 

3. Jenis-jenis inspeksi 

Terdiri dari : 

a. Inspeksi penerimaan barang (receiving inspection) 

Pengaruh bahan baku (raw material) sangat dekat dengan produk, maka 

untuk dapat memperoleh kesesuaian produk terhadap standar mutu perlu 

diadakan pemeriksaan terhadap mutu bahan baku. Pemeriksaan suatu mutu 

bahan baku akan lebih efektif jika dilakukan pada saat bahan baku 

diterima perusahaan dari pemasok, pemeriksaan yang demikian itulah 

 

 

216 

 

yang dimaksudkan dengan inspeksi penerimaan. Perlunya inspeksi 

penerimaan dilakukan sebab  kemungkinan terjadi kerusakan bahan baku 

selama waktu pengiriman. Inspeksi ini bertujuan untuk memperkecil risiko 

yang ditimbulkan oleh pihak pemasok, seperti mengirim bahan baku yang 

tidak sama dengan sampel penawarannya. 

b. Inspeksi barang dalam proses atau inspeksi proses 

Inspeksi seperti ini diadakan selama proses produksi berlangsung, dengan 

memilih pada tahapan proses dimana inspeksi perlu diadakan. Untuk 

menentukan tahapan proses konversi yang diinspeksi perlu adanya 

pertimbangan aspek teknis dan aspek ekonomis. Pertimbangan ini  

antara lain ditujukan kepada : (1) apakah dengan adanya inspeksi ini  

tidak akan merusak bagian produk yang diperiksa ? ; (2) apakah proses 

konversi yang dihentikan sementara untuk pemeriksaan yang kemudian 

diteruskan lagi tanpa mengganggu kelancaran proses serta efisiensi biaya ? 

Untuk mengatasi hal-hal ini  dapat diadakan pemilihan tahapan proses 

konversi yang akan diinspeksi sebagai berikut : 

1) Mengidentifikasi seluruh tahapan proses konversi dan memperkirakan 

biaya inspeksi untuk tiap tahapan, serta mencatat data historis tentang 

tingkat kerusakan bahan didalam tiap tahapan proses konversi. 

2) Mengadakan penaksiran “critical ratio” pada tiap tahapan proses 

konversi dengan formula : 

Biaya Inspeksi 

Critical Ratio = 

    % Kerusakan 

 

 

217 

 

3) Menyusun ranking critical ratio, mulai dari nilai terendah sampai 

dengan nilai tertinggi. Susunan ranking critical ratio ini  akan 

menentukan urutan pelaksanaan inspeksi proses termaksud. 

4. Inspeksi produk akhir 

Inspeksi ini dilakukan terhadap produk akhir dengan tujuan untuk mengetahui 

apakah telah ada  kesesuaian antara produk akhir terhadap standar mutu. 

Sedangkan pertimbangan yang harus dilakukan yaitu  penentuan besaran 

sampel yang akan diinspeksi, agar hasilnya benar-benar bisa mewakili 

parameterna. 

Model pengawasan mutu pada dasarnya memakai  pendekatan metode 

statistik, sedang pelaksanaan jenis inspeksi akan berkaitan dengan sasaran dan 

pengukuran mutu yaitu (Manahan P. Tampubolon, 2004 : h. 93) : 

1. Sampling plans 

Model ini sering dipakai   untuk inspeksi penerimaan dan inspeksi produk 

akhir (acceptence sampling). Penekanan model ini terletak pada pengambilan 

sampel bahan baku atau part of component untuk inspeksi penerimaan atau 

pengambilan sampel untu acceptence sampling. Pengambilan sampel untuk 

kedua jenis inspeksi ini  akan membawa konsekuensi yang berupa 

kemungkinan timbulnya kesalahan sampling (sampling error) yang disebut 

kesalahan jenis pertama dan kesalahan jenis kedua, yang disebut jenis pertama 

dengan notasi a, yaitu  kesalahan yang terjadi jika barang yang sebenarnya 

baik dan harus diterima, produsen (seller) kehilangan manfaat dari penjualan 

barangnya. Kesalahan jenis pertama pada umumnya disebut resiko produsen 

 

 

218 

 

(producer’s risk). Kesalahan jenis kedua dengan notasi b akan terjadi jika 

barang yang sebenarnya jelek dan seharusnya ditolak, tetapi dinyatakan baik 

sehingga diterima. Akibatnya konsumen harus menanggung kerugian sebab  

memperoleh barang yang mutunya dibawah standar. Kesalahan jenis kedua ini 

disebut risiko konsumen (consumer’s risk). 

Untuk memakai  model sampling plans ini, langkah-langkahnya yaitu  

sebagai berikut : 

a. Menentukan besaran sampel (n) dan menentukan jumlah barang yang 

dinyatakan dapat diterima (C) sebagai hasil inspeksi terhadap jumlah 

sampel (n). 

b. Untuk menentukan besaran (n) maupun (C), terlebih dahulu harus ada 

penentuan tingkat mutu yang dapat diterima, yang umumnya disingkat 

dengan AQL (Acceptence Quality Level) dan tingkat mutu yang jelek yaitu 

LTPD (Lot Tolerance Percent Defective), besaran  dan  dinyatakan 

dalam persen.  

2. Bagan kendali mutu 

Bagan kendali mutu dikembangkan berdasarkan konsep statistik, yang 

diperkenalkan W.R. Steward. Bagan kendali merupakan diagram pemantauan 

sistem operasional yang didasarkan atas pengambilan sampel terhadap barang 

yang diinspeksi mutunya. Jajaran rata sampel inilah yang merupakan kunci 

untuk membuat bagan kendali yang bisa mengungkapkan kondisi proses 

konversi. Apakah kondisi proses tetap stabil, dengan pengertian bahwa hanya 

faktor pemicu   kebetulan saja yang timbul, maka proses itu yang diharapkan 

 

 

219 

 

bisa memberi keluaran yang baik. Faktor pemicu   kebetulan yaitu  variasi 

proses yang tidak mungkin dihindari.  

Bagan kendali mempunyai batas kendali yang berdasarkan rules of thumb 

yang ditetapkan melalui simpangan baku sebesar 2 sampai 3, yang 

mempunyai keterkaitan dengan besaran sampel didalam subgroup. Batas 

kendali ini merupakan batas terima atau ditolaknya setiap bagian yang 

diinspeksi. Besaran simpangan baku menunjukkan keketatan pengawasan 

mutu yang ditetapkan perusahaan. 

Jenis bagan kendali dikelompokkan menjadi 2 (dua) yaitu :  

a. Ukuran kontinu dimana inspeksi disebut control by variable. 

b. Ukuran diskrit yang inspeksinya dinamakan control by attribute. 

  

F. Pengendalian Proses Secara Statistik (Statistical Process Control-SPC) 

 proses 

pengendalian secara statistik merupakan teknik statistik yang secara luas 

dipakai   untuk memastikan bahwa proses yang sedang berjalan telah 

memenuhi standar. Semua proses-proses yang ada bisa tidak luput dari 

terjadinya variasi hasilnya. Pada tahun 1920 Walter Shewhart telah 

mempelajari data hasil berbagai proses dan membedakan mana pemicu   

terjadinya variasi yang khusus dan yang umum. Kini banyak orang merujuk 

pengetahuan mengenai variasi-variasi itu sebagai sebab-sebab yang alami dan 

sebab-sebab yang dilakukan manusia (operator). Walter mengembangan alat 

 

 

220 

 

yang sederhana tetapi ampuh untuk memisahkan kedua jenis variasi ini , 

berupa peta kendali proses.  

Peta ini  dipakai   untuk mengukur kinerja proses. Suatu proses 

dikatakan terkendali secara statistik, bila sumber variasi satu-satunya yaitu  

sebab-sebab yang alami (umum). Proses ini  harus digambarkan ke dalam 

peta kendali proses lewat pendeteksian dan penghapusan sebab-sebab variasi 

yang khusus. Setelah itu, barulah dapat diprediksi kinerjanya dan dapat 

ditentukan kemampuannya untuk memenuhi apa yang diharapkan konsumen. 

Tujuan sistem pengendalian proses yaitu  untuk memberikan informasi awal 

secara statistik di tempat timbulnya sebab-sebab yang khusus (variasi yang 

ditimbulkan oleh gangguan pada proses) yang mempengaruhi variasi. Tanda 

awal seperti itu dapat mempercepat pengambil keputusan yang tepat untuk 

menghapus sebab-sebab khusus ini . 

Variasi yang alami mempengaruhi hampir setiap proses produksi dan 

pasti selalu ada. Variasi alami yaitu  sumber-sumber variasi dalam proses 

yang secara statistik berada dalam batas-batas kendali. Variasi alami 

merupakan sistem yang menimbulkan sebab-sebab yang tetap. Walaupun 

nilai-nilai produk berbeda, namun sebagai suatu kelompok individual produk 

akan membentuk pola yang bisa disebut sebagai distribusi. Bilamamana 

kelompok ini  berdistribusi normal, maka dapat ditentukan karakter 

mereka dengan melihat 2 (dua) parameter, yaitu : 

1. Mean µ (ukuran kecenderungan terpusat-dalam hal ini yaitu  nilai rata-

ratanya). 

 

 

221 

 

2. Deviasi standar  (variasi, ada  nilai yang kecil dan nilai yang lebih 

besar). 

Selama distribusi (presisi output) tetap berada dalam batas-batas yang 

ditoleransi, maka proses disebut “terkendali”, dan variasi yang terendah 

diabaikan. 

Variasi yang timbul akibat gangguan pada sebuah proses dapat diacak 

pemicu  nya. Faktor-faktor seperti peralatan mesin, peralatan yang distel 

salah, karyawan yang lelah atau tidak terlatih, atau sekelompok bahan baku 

yang baru, dapat menjadi sumber-sumber terjadinya variasi yang dapat 

dihilangkan (assignable variations). 

Variasi alami dan variasi yang dapat dihilangkan membedakan 2 (dua) 

pekerjaan yang harus dilakukan manajer operasi. Yang pertama yaitu  untuk 

memastikan bahwa proses yang ada hanya akan mempunyai variasi alami 

yang dapat beroperasi dibawah kendali. Yang kedua yaitu  keharusan, 

mengindentifikasi dan menghapuskan variasi yang mengganggu kewajaran 

proses supaya proses ini  dapat terkendali. 

sebab  variasi alami dan variasi yang dapat dihilangkan, maka 

pengendalian proses secara statistik memakai  rata-rata sampel kecil 

(sering kali lima buah produk atau komponen) bukannya data satu per satu. 

Proses pembuatan diagram pengendalian (peta kendali) proses 

didasarkan pada 3 (tiga) distribusi yang merupakan hasil dari output 3 (tiga) 

jenis proses. Dengan membuat 3 (tiga) sampel dan kemudian menguji 

karakteristik data yang dihasilkan untuk melihat apakah prosesnya dalam 

 

 

222 

 

batas kendali atau tidak. Tujuan membuat peta kendali yaitu  untuk 

membantu membedakan mana variasi yang alami dan variasi yang 

dipengaruhi oleh sistem pemicu   tertentu. Suatu proses itu : (1) terkendali 

dan proses itu dapat diproduksi dalam batas pengendalian; (2) terkendali, 

tetapi proses itu tidak dapat berproduksi dalam batas pengendalian, atau ; (3) 

tidak terkendali.