Senin, 13 Oktober 2025

Manajemen operasi 2


 



tu, quality of design, 

quality of conformance, availability, dan quality of field services.

 Kualitas rancangan (quality of design) ditentukan sebelum produk 

tersebut dihasilkan. Kualitas pengelolaan (quality of conformance)

berarti menghasilkan produk yang sesuai dengan kualitas rancangannya. 

Kualitas siaga (availability) diartikan sebagai kemampuan suatu produk 

selama digunakan oleh konsumen. Kualitas pelayanan (quality of field 

service) adalah bentuk pelayanan yang diberikan oleh perusahaan 

kepada konsumen yang sering disebut sebagai costumer service atau 

sales services.

15

STANDAR INTERNASIONAL

Standar internasional, disebut juga ISO (internasional standard 

organization) adalah salah satu pendekatan yang digunakan oleh 

organisasi internasional untuk melindungi konsumen. ISO berasal dari 

bahasa Yunani yang berarti seragam. Ada dua jenis ISO yang terkenal, 

yaitu ISO 9000 dan ISO 14000. Phillip Crosby terkenal dengan ide 

zero defect-nya. Menurutnya, setiap organisasi harus berupaya untuk 

menghasilkan produk yang memiliki kecacatan nol (zero defect) atau 

to make it right the first time dalam kaitannya untuk memuaskan 

konsumen.

ISO 9000

ISO 9000 menyatakan bahwa perusahaan memiliki system quality 

assurances, seperti pengawasan kualitas, cara pengetesan dan inspeksi, 

kebijakan, pelatihan, flowchart, instruksi kerja, job description, struktur 

organisasi, dan sebagainya. ISO 14000

ISO 14000 merupakan perluasan ISO 9000 yang berkaitan produk 

perusahaan dengan lingkungannya. ISO 14000 merupakan standar 

manajemen lingkungan yang berisi lima elemen inti. Elemen-elemen 

tersebut adalah manajemen lingkungan, pengauditan, evaluasi kinerja, 

pelabelan, dan life cycle assessment. ISO 1400 ini memiliki manfaat yang 

positif bagi kehidupan dalam hal menciptakan image yang baik terhadap 

perusahaan karena perusahaan dianggap tidak merusak lingkungan.

JUST IN TIME 

Pada hakikatnya, just in time lebih merupakan suatu filosofi daripada 

sebagai suatu metode. Diterapkan di Jepang awal tahun 1960-an 

dalam industri perkapalan, just in time kemudian dikembangkan dan 

dipopulerkan perusahaan Toyota pada tahun 1970-an. Konsep di balik 

just in time adalah bahwa dalam setiap penciptaan produk selalu terdapat 

dua jenis kegiatan, yaitu kegiatan yang menciptakan nilai tambah (value 

added) dan kegiatan yang tidak menciptakan nilai tambah (nonvalue 

added).

KONSEP TAGUCHI 

Geniichi Taguchi memberikan tiga cara untuk meningkatkan kualitas 

suatu produk dan proses, yaitu keandalan kualitas (quality robustness), 

fungsi kehilangan kualitas (quality loss function), dan sasaran kualitas 

(target oeriented quality).

Quality robust adalah produk-produk yang dihasilkan secara 

konsisten dan seragam dalam kondisi lingkungan dan pabrik yang tidak 

cocok. Gagasan Taguchi adalah untuk memindahkan akibat-akibat dari 

kondisi yang tidak cocok tersebut untuk mencari sebabnya.Quality loss function mengidentifikasi semua biaya yang berkaitan 

dengan kualitas yang buruk dan menunjukkan bagaimana biaya itu 

timbul karena tidak memenuhi kebutuhan konsumen. Biaya ini tidak 

hanya akibat kekecewaan konsumen saja, tapi juga termasuk biaya 

pelayanan dan jaminan. Misalnya, biaya perbaikan, perbaikan produksi 

cacat, dan bahkan biaya yang timbul di masyarakat.

Target oriented quality diartikan sebagai filosofi dari continuous 

improvement untuk mengarahkan semua kegiatan pada target yang 

telah ditetapkan. Menurutnya, memisahkan akibat sering kali menjadi 

lebih mudah dan lebih efektif dari pada memisahkan sebab-sebabnya 

dalam menghasilkan suatu produk.

MENEJEMEN KUALITAS TERPADU

Total quality management (TQM) atau manajemen kualitas terpadu 

merupakan manajemen kualitas secara menyeluruh, bahwa produk 

merupakan hasil kegiatan dari seluruh komponen yang terlibat. 

Keterlibatan komponen itu tidak terbatas hanya di dalam perusahaan 

saja, tetapi juga meliputi pemasok dan konsumen. Oleh karena itu, 

komitmen manajemen sangat dibutuhkan di berbagai aspek. Menurut 

W. Edwards Deming (1994), ada empat belas poin yang harus dilakukan 

untuk meningkatkan kualitas suatu produk: 

1. Konsisten dalam upaya mencapai tujuan perusahaan. 

2. Selalu melakukan perubahan ke arah perbaikan.

3. Menciptakan kualitas pada saat rancangan, bukan saat inspeksi.

4. Bangun hubungan jangka panjang berdasarkan hasil kinerja.

5. Meningkatkan kualitas produk secara terus-menerus.

6. Memberikan pelatihan kepada karyawan.

7. Kembangkan kepemimpinan.

8. Hilangkan kekhawatiran.

9. Dobrak hambatan antardepartemen.

10. Stop perintah yang berbau pemaksaan kepada pekerja.

11. Tingkatkan dukungan, pertolongan, dan perbaikan.

12. Pupuk kebanggaan dalam bekerja.

13. Kembangkan perbaikan setiap pribadi.

14. Dorong agar setiap orang bekerja terus untuk perubahan.

Dari konsep yang dikembangkan Deming, Heizer dan Render 

(2001) memiliki lima cara agar program TQM bisa dilaksanakan secara 

efektif. Kelima program itu adalah (1) perbaikan berkelanjutan, (2) 

pemberdayaan karyawan, (3) benchmarking, (4) just in time, dan (5) 

pengkajian alat TQM. 

Perbaikan kualitas merupakan upaya yang tak pernah berakhir. 

Upaya-upaya peningkatan tersebut meliputi orang-orang, peralatan 

(teknologi), pemasok, bahan-bahan, dan prosedur-prosedur 

pelaksanaannya. Filosofi yang mendasarinya adalah segala asppek 

kehidupan ini dapat diperbaiki. Sasarannya adalah kesempurnaan hasil. 

Untuk menuju ke arah kesempurnaan ini, menurut Walter Shewhart, 

harus dilakukan dengan menerapkan konsep PDCA (plan, do, check, 

action). 

Pemberdayaan karyawan (employee empowerment) berarti 

melibatkan seluruh karyawan dalam setiap langkah kegiatan produksi. 

Ada suatu pendapat bahwa 85% dari masalah kualitas berhubungan 

dengan proses pengolahan bahan-bahan yang digunakan, bukan 

kinerja karyawan (Heizer, 2000). Oleh karena itu, merupakan tugas 

bagian perencanaan untuk mendesain peralatan dan langkah-langkah 

pengolahan yang cocok untuk menghasilkan kualitas produk. Sebuah 

kajian menunjukkan bahwa program TQM akan lebih berhasil apabila 

karyawan tingkat bawah diberi wewenang dan tanggung jawab untuk 

memperbaiki kualitas produk karena karyawan secara langsung 

terlibat dalam proses pembuatan produk. Ada beberapa teknik untuk 

mengembangkan keterlibatan karyawan, antara lain membangun 

jaringan komunikasi yang melibatkan karyawan, mengembangkan 

keterbukaan dan sportivitas, dan memberikan tanggung jawab kepada 

karyawan.

Benchmarking adalah cara lain dalam meningkatkan kualitas. 

Di Indonesia, cara ini terkenal dengan istilah AJP (amati, jiplak, 

perbaiki). Cara ini melibatkan kegiatan pemilihan suatu standar 

produk, biaya-biaya, atau praktik-praktik yang melibatkan kinerja 

terbaik. Standar ini harus dalam aktivitas yang sama dengan aktivitas 

yang akan di-benchmark. Objek yang menjadi target disorot, kemudian 

dikembangkan untuk dijadikan patokan atas kinerjanya. Langkah￾langkah benchmarking: 

1. Tentukan apa yang akan di-brenchmark.

2. Bentuk suatu tim.

3. Identifikasi siapa yang akan menjadi partner untuk benchmarking.

4. Kumpulkan dan analisis informasi.

5. Ambil tindakan dari hasil benchmarking.

Program TQM akan berhasil apabila setiap orang dalam organisasi 

dilatih terus-menerus dan dibiasakan untuk menggunakan tujuh alat 

(seven tools) TQM. Latih dan biasakan diri dalam melakukan perbaikan 

terus-menerus sehingga menjadi budaya organisasi. Ketujuh alat TQM 

tersebut adalah (1) check sheet, (2) scatter diagrams, (3) diagram sebab￾akibat, (4) diagram Pareto, (5) flow process chart, (6) histogram, dan (7) 

statistical process control chart. 

Check sheet adalah jenis apapun yang dirancang untuk digunakan 

dalam pencatatan data. Diagram tebar (scatter diagram) merupakan 

alat untuk menentukan hubungan antara dua pengukuran. Contohnya, 

pengukuran kualitas dan jumlah keluhan konsumen. Hasil pengukuran 

tersebut diplot pada suatu diagram yang masing-masing mewakili 

variabel yang diukurnya. Bila kedua variabel itu berhubungan erat, 

titik-titik itu akan berdekatan dan akan membentuk suatu garis. 

Disebut juga sebagai fish-bond chart, diagram ini digunakan untuk 

mendeteksi kemungkinan-kemungkinan sumber terjadinya masalah sehingga dinamakan diagram sebab-akibat. Pemetaan dengan diagram 

Pareto adalah suatu cara untuk menyusun sumber dan jenis kesalahan 

atau defect untuk memfokuskan diri pada upaya pemecahan masalah. 

Metode ini diilhami oleh konsep “Vilfredo Pareto”, yaitu seorang ahli 

ekonomi pada abad ke-19. 

Flow chart, atau disebut juga peta aliran, menyajikan suatu 

gambaran tentang proses atau tahapan-tahapan pengelolaan suatu 

produk. Histogram memperlihatkan perbedaan dari nilai-nilai suatu 

pengukuran dengan seringnya (tingkat) kejadian pada masing-masing 

nilai. Diagram ini memperlihatkan frekuensi yang paling sering terjadi 

dan juga variasi-variasi di dalam pengukuran.

Statistical process control (SPC) biasa disebut juga statistical quality 

control atau pengendalian kualitas yang distandarkan. Peta pengendalian 

(contol chart) menyajikan suatu grafik yang menggambarkan kondisi 

kualitas suatu produk yang dihasilkan.16

INSPEKSI DAN PERANNYA

Inspeksi adalah suatu cara untuk meyakinkan bahwa pengelolaan yang 

sedang berlangsung sesuai dengan spesifikasi produk yang ditetapkan. 

Kalaupun ada penyimpangan maka penyimpangan itu kecil sekali 

sehingga kualitas yang diharapkan akan memuaskan konsumen dapat 

terwujud. Dengan kata lain, inspeksi merupakan audit yang dilakukan 

terhadap pengelolaan yang sedang berlangsung yang waktu dan 

tempatnya tertentu. 

Pemeriksaan terbaik sebenarnya adalah kalau tidak ada pemeriksaan 

sehingga harus dipikirkan bagaimana hal tersebut bisa dilakukan. Ada 

suatu pendapat bahwa sumber kekeliruan adalah manusia sehingga 

inspeksi yang paling baik adalah pada sumbernya, sebelum barang digunakan, dan melibatkan karyawan. Karena sumber produk adalah 

pemasok, produk harus diperiksa secara ketat sebelum diguankan. Di 

pihak lain, produk diolah oleh tenaga kerja. Dengan demikian, karyawan 

harus diberi pelatihan agar mereka mampu memeriksa pekerjaannya 

sebelum produk dikirim ke tahap berikutnya. Cara ini di Jepang disebut 

dengan “poka-yoke”.17

PENUTUP

Manajemen kualitas adalah sekumpulan kegiatan manajerial, seperti 

merencanakan kualitas, mengorganisasi kualitas, mengoordinasi 

kualitas, mengendalikan, dan mengevaluasi kualitas yang dilakukan oleh 

setiap fungsi manajemen yang ada dalam organisasi untuk meningkatkan 

kinerja atau kualitas kerja. Kualitas harus dikembangkan dalam kegiatan 

perencanaan (designing), kegiatan pengolahan (processing), dan 

kegiatran pelayanan (services). Schroeder membaginya menjadi empat 

dimensi, yaitu, quality of design, quality of conformance, availability, dan 

quality of field services. Heizer dan Render (2001) memiliki lima cara 

agar program TQM bisa dilaksanakan secara efektif. Kelima program 

itu adalah (1) perbaikan berkelanjutan, (2) pemberdayaan karyawan, 

(3) benchmarking, (4) just in time, dan (5) pengkajian alat TQM.Setelah produk atau jasa didesain, spesifikasi-spesifikasinya harus 

diterjemahkan ke berbagai sistem pemrosesan yang menciptakan produk 

atau menyediakan jasa. Desain proses fisik untuk produksi barang dan jasa 

ini menyangkut serangkaian keputusan tentang seleksi proses, pemilihan 

teknologi, dan perencanaan proses. Keputusan-keputusan tentang tipe 

proses, derajat otomatisasi, macam mesin yang akan digunakan, dan 

sebagainya harus dibuat. Tidak semata-mata hanya merupakan masalah 

teknik, desain proses juga menyangkut pertimbangan-pertimbangan sosial, 

ekonomi, dan lingkungan. 

Dalam mendesain proses yang akan digunakan, manajemen dihadapkan 

pada pemilihan teknologi. Pemilihan teknologi sendiri sering dipandang sebagai suatu masalah dalam penganggaran modal karena semakin 

canggih teknologi yang digunakan, biaya yang dibutuhkan juga semakin 

tinggi dan perlu dipertimbangkan juga seberapa besar manfaat teknologi 

tersebut guna meningkatkan keuntungan perusahaan. Akhirnya, 

pemilihan teknologi bukan merupakan suatu kegiatan tunggal, tetapi 

lebih sebagai suatu proses yang diorganisasikan dengan baik yang 

mencakup penjajakan teknologi secara terus-menerus. Strategi proses 

(process strategy) adalah sebuah pendekatan dari organisasi untuk 

mengubah sumber daya menjadi barang dan jasa.

PENGERTIAN STRATEGI PROSES

Strategi proses (process strategy) adalah sebuah pendekatan dari 

organisasi untuk mengubah sumber daya menjadi barang dan jasa.14

Tujuannya adalah untuk menciptakan sebuah proses yang bisa 

menghasilkan produk yang memenuhi keinginan pelanggan yang sesuai 

dengan biaya dan batasan manajerial lainnya.

Tujuan strategi proses adalah menemukan suatu cara memproduksi 

barang dan jasa yang memenuhi persyaratan dari pelanggan dan 

spesifikasi produk yang ada dalam batasan biaya dan batasan manajerial 

lainnya. Proses yang dipilih akan memiliki efek jangka panjang pada 

efisiensi dan fleksibilitas dari produksi di samping biaya dan mutu dari 

barang yang dihasilkan.

EMPAT STRATEGI PROSES

Fokus Proses

Fokus proses adalah suatu strategi proses dimana fasilitas diorganisasi 

di sekitar aktivitas-aktivitas atau proses-proses tertentu untuk membuat produk dengan volume kecil, tetapi tinggi keragamannya. Fasilitas 

berfokus pada proses yang memiliki biaya variabel yang tinggi dengan 

penggunaan fasilitas yang rendah sebesar 5%. Kasus ini merupakan 

kasus yang terjadi di banyak restoran, rumah sakit, dan toko mesin. 

Namun, beberapa fasilitas yang menggunakan kendali elektronik 

ternyata jauh lebih baik.

Fokus yang Repetitif

Fokus yang repetitive merupakan strategi dengan lini perakitan klasik. 

Proses ini memiliki lebih banyak struktur sehingga kurang memiliki 

fleksibilitas dibandingkan dengan fasilitas yang berfokus pada proses. 

Proses produksi ini menggunakan modul. Modul merupakan bagian 

atau komponen yang dipersiapkan sebelumnya, sering kali dalam sebuah 

proses berfokus pada produk (berkelanjutan).

Fokus Produk

Proses dengan volume yang tinggi, variasi yang rendah adalah proses 

fokus produk (product focused). Fasilitas diatur di sekitar produk. 

Fasilitas ini disebut juga dengan proses yang berkelanjutan karena 

memiliki pengerjaan produksi yang sangat panjang dan berkelanjutan. 

Sebuah fasilitas berfokus pada produk menghasilkan volume yang tinggi 

dan variasi yang rendah. Sifat khusus dari fasilitas memerlukan biaya 

tetap yang tinggi, tetapi biaya variabel yang rendah, yang menyebabkan 

tingginya penggunaan fasilitas.

Fokus Kustomisasi Massal

Kustomisasi massal (mass customization) adalah produk barang dan jasa 

yang cepat dan berbiaya rendah (low-cost) yang memenuhi keinginan 

pelanggan yang semakin berbeda. Akan tetapi, kustomisasi massal 

bukan hanya tentang keragaman, tetapi juga mengenai membuat secara tepat apa yang diinginkan pelanggan. Agar berhasil, kustomisasi massal 

memerlukan sebuah sistem dengan volume yang tinggi dimana produk 

dibuat berdasarkan pesanan (built-to-order). 

 Dibuat berdasarkan pesanan (build-to-order) berarti memproduksi 

sesuai dengan permintaan pelanggan, bukan berdasarkan ramalan. Akan 

tetapi, build to order dengan volume yang tinggi merupakan hal yang 

sulit. Beberapa tantangan besarnya:15

1. Desain produk yang imajinatif.

2. Desain proses harus fleksibel dan mampu untuk mengakomodasi 

perubahan dalam desain dan teknologi.

3. Manajemen persediaan memerlukan kendali yang ketat.

4. Jadwal yang ketat yang melacak pesanan dan bahan material dari 

desain hingga pengiriman merupakan persyaratan lainnya dari 

kustomisasi massal.

5. Rekan yang responsif dalam rantai pasokan bisa menghasilkan 

kolaborasi yang efektif.

PEMILIHAN PERLENGKAPAN16

Pemilihan dari strategi proses tertentu memerlukan keputusan mengenai 

pemilihan perlengkapan dan teknologi. Memilih perlengkapan yang 

terbaik memerlukan pemahaman industri khusus dan ketersediaan 

proses dan teknologi. 

Dalam era di mana teknologi berubah dengan cepat dan siklus hidup 

produk yang pendek, menambah suatu fleksibilitas pada proses produksi 

bisa menjadi sebuah keuntungan kompetitif. Fleksibilitas merupakan 

kemampuan untuk merespons dengan penalti yang kecil dalam 

waktu, biaya, atau nilai pelanggan. Hal ini berarti perusahaan perlu 

menggunakan perlengkapan yang dikendalikan secara digital, modular, 

atau dapat dipindahkan. Mengubah proses atau perlengkapan bisa 

menjadi sangat rumit dan mahal. Penting untuk membuat keputusan 

penting ini pada saat pertama kali memulai membuat produk.

ANALISIS DAN DESAIN PROSES

Ketika menganalisis dan mendesain proses, terdapat pertanyaan￾pertanyaan berikut:

1. Apakah proses didesain untuk mencapai keuntungan dalam hal 

diferensiasi, respons, atau biaya yang murah?

2. Apakah proses mengeleminasi langkah-langkah yang tidak 

menambah nilai?

3. Apakah proses memaksimalisasi nilai pelanggan seperti yang 

dianggap oleh pelanggan?

4. Apakah proses akan mendatangkan pesanan?

Sejumlah peralatan dapat membantu memahami kerumitan dari 

proses desain dan pendesainan ulang. Ada lima cara untuk membuat 

masuk akal mengenai apa yang terjadi dalam sebuah proses, yaitu1. Diagram Alur

Alat pertama adalah diagram alur (flowchart) yang merupakan 

sebuah skema atau gambar dari pemindahan bahan materi, produk, 

atau orang. Diagram ini memudahkan pembacanya dalam melihat 

sebuah proses.

2. Pemetaan Fungsi Waktu

Alat kedua untuk analisis dan desain proses adalah sebuah diagram 

alur, tetapi dengan penambahan waktu pada sumbu horizontalnya. 

Grafik seperti itu kadang disebut dengan pemetaan fungsi waktu 

(time-function-mapping) atau pemetaan proses (process mapping). 

Pemetaan fungsi waktu mengindikasikan aktivitas dimana tanda 

panah mengindikasikan arah, dengan waktu pada sumbu horizontal. 

Jenis analisis ini memungkinkan pengguna untuk mengidentifikasi 

dan mengeleminasi hal-hal yang tidak diperlukan, seperti langkah 

tambahan, duplikat, dan penundaan.

3. Pemetaan Arus Nilai

Sebuah variasi dari pemetaan fungsi waktu adalah pemetaan arus 

nilai (value stream mapping—VSM); namun, pemetaan arus nilai 

perlu untuk melihat secara luas dimana nilai ditambahkan (dan tidak 

ditambahkan) dalam keseluruhan proses produksi, termasuk rantai 

pasokan. Pemetaan fungsi waktu, idenya adalah untuk memulai 

dengan pelanggan dan memahami proses produksi, tetapi pemetaan 

arus nilai memperluas analisis kembali ke pemasok.

4. Grafik Proses

Alat keempat merupakan grafik proses. Grafik proses (process 

chart) menggunakan simbol, waktu, dan jarak untuk memberikan 

sebuah cara yang objektif dan terstruktur untuk menganalisis dan 

mencatat aktivitas yang membentuk sebuah proses. Diagram ini 

mengidentifikasi semua operasi penambahan nilai (kebalikan dari 

inspeksi, penyimpanan, penundaan, dan transportasi yang tidak 

menambahkan nilai), memungkinkan untuk menentukan persentase 

dari nilai yang ditambahkan pada keseluruhan aktivitas.

5. Perencanaan Layanan

Produk dengan sebuah konten jasa yang tinggi mungkin 

memerlukan penggunaan teknik proses yang kelima. Perencanaan 

layanan (blueprinting service) merupakan sebuah teknik analisis 

proses yang menitikberatkan pada pelanggan dan hubungan yang 

terjadi dengan pelanggan.

Masing-masing dari alat bantu proses analisis ini memiliki kekuatan 

dan variasi. Diagram alur memberikan suatu cara yang cepat untuk 

melihat gambar dan memahami sistem secara keseluruhan. Pemetaan 

fungsi waktu menambahkan beberapa ketelitian dan elemen waktu 

terhadap analisis makro. Pemetaan aliran nilai memperluas di luar 

organisasi langsung kepada para konsumen dan pemasok. Diagram 

proses dirancang untuk memberikan sudut pandang yang lebih 

terperinci mengenai proses, menambahkan item, misal waktu nilai 

tambah, jarak, penyimpanan, dan lainnya. Perencanaan layanan, di 

sisi lain, dirancang untuk membantu kita fokus pada bagian interaksi 

konsumen dalam proses tersebut karena interaksi konsumen sering kali 

merupakan variabel yang penting dalam desain proses.

PERTIMBANGAN KHUSUS UNTUK DESAIN PROSES 

LAYANAN

Interaksi dengan konsumen sering kali memengaruhi kinerja proses 

yang merugikan. Akan tetapi, suatu layanan dengan keadaan yang 

sangat alamiah menekankan bahwa beberapa interaksi dan kustomisasi 

diperlukan. Mengakui bahwa keinginan unik dari konsumen cenderung 

berperan mengacaukan proses ini, semakin manajer merancang proses 

untuk mengakomodasi persyaratan yang khusus ini, semakin efektif dan 

efisien proses tersebut. Triknya adalah untuk menemukan kombinasi 

yang tepat.

Manajer operasional dapat memodifikasi proses layanan 

untuk menentukan level spesialisasi dan fokus terbaik sementara 

mempertahankan interaksi konsumen dan kustomisasi yang diperlukan. 

Sebagai contoh:18

Dalam layanan massal dan layanan profesional, dimana konten 

tenaga kerja tinggi, kita mengharapkan manajer untuk fokus secara 

ekstensif dalam sumber daya manusia.

Dalam layanan dengan kustomisasi yang rendah cenderung untuk 

(1) standardisasi atau membatasi penawaran, (2) otomisasi, (3) 

menghapus beberapa layanan. Pelepasan beberapa aspek layanan 

melalui otomatisasi akan memerlukan inovsi dalam desain proses.

Karena umpan balik konsumen lebih rendah dalam layanan dengan 

kustomisasi yang rendah, pengendalian yang ketat diperlukan untuk 

mempertahankan standar kualitas.

Operasional dengan padat karya yang rendah meminjamkan 

dirinya sendiri dengan baik terhadap inovasi dalam proses teknologi 

dan penjadwalan.PEMILIHAN PERALATAN DAN TEKNOLOGI

Teknologi Produksi

Kemajuan dalam teknologi yang mendorong produksi dan produktivitas 

memiliki penerapan yang telah menyebar secara luas, baik dalam bidang 

manufaktur maupun jasa. Dalam bahasan ini, akan diperkenalkan 

sembilan area teknologi, yaitu:

1. Teknologi Mesin

Sebagian besar mesin di dunia yang melaksanakan kegiatan 

operasional, misalnya pengeboran dan penggilingan, 

mengalami perkembangan yang luar biasa baik dalam presisi 

ataupun pengendalian. Inteligensia sekarang yang tersedia 

untuk mengendalikan mesin-mesin baru melalui komputer 

memungkinkan barang-barang yang lebih kompleks dan persis 

tetap dapat dibuat dengan lebih cepat. Pengendalian secara 

elektronik meningkatkan kecepatan dengan mengurangi waktu 

peralihan, mengurangi limbah (karena kesalahan menjadi lebih 

sedikit), dan mendorong fleksibilitas. Mesin-mesin yang memiliki 

komputer dan memorinya sendiri disebut dengan mesin kendali 

numerik komputer (computer numerical control—CNC).

2. Sistem Identifikasi Otomatis dan RFID

Perlengkapan baru, dari CNC hingga ATM (authomatic teller 

machine), dikendalikan oleh sinyal elektronik digital. Pembuatan 

data digital dilakukan dengan menggunakan papan ketik 

(keyboard) komputer, barcode, frekuensi radio, karakter optikal, 

dan lain sebagainya. Sistem identifikasi otomatis (automatic 

identification systems—AISs) membantu memindahkan data ke 

dalam bentuk elektronik, dimana data ini dapat lebih mudah 

dimanipulasi.

 Karena dapat menurunkan biaya dan meningkatkan 

kegunaannya, identifikasi frekuensi radio (radio frequency 

indentification—RFID) sebaiknya dipertimbangkan. RFID adalah sirkuit yang terintegrasi dengan antena kecil yang menggunakan 

gelombang radio untuk mengirimkan sinyal dalam suatu 

kisaran yang terbatas, biasanya beberapa yard. Penanda RFID 

ini memberikan identifikasi yang unik yang memungkinkan 

penelusuran dan pengawasan suku cadang, palet, orang-orang, 

dan binatang peliharaan, atau segala sesuatu yang bergerak. RFID 

tidak memerlukan pembaca berhadapan langsung dengan tag 

RFID untuk mengetahui informasi produk.

3. Kendali Proses

Kendali proses (process control) adalah penggunaan dari teknologi 

informasi untuk memonitor dan mengendalikan proses fisik. 

Sistem kendali proses beroperasional dalam sejumlah cara, tetapi 

biasanya seperti berikut.19

a. Sensor untuk mengumpulkan data, yang membaca dalam 

beberapa basis secara berkala, mungkin setiap satu menit 

atau detik.

b. Pengukuran diterjemahkan dalam ukuran digital, yang 

ditransmisikan kepada komputer.

c. Program komputer yang membaca berkas data dan 

menganalisis data.

d. Output yang dihasilkan dapat mengambil berbagai bentuk. 

Meliputi pesan-pesan pada konsol komputer atau mesin 

cetak, sinyal motor untuk mengubah pengaturan katup, 

lampu peringatan atau klakson, atau diagram kendali proses 

secara statistik.

4. Sistem Penglihatan

Sistem penglihatan (vision system) adalah sistem yang 

menggunakan video kamera dan teknologi komputer dan sering 

kali digunakan dalam peranan inspeksi. Sebagai contoh, sistem 

penglihatan digunakan untuk menginspeksi keripik kentang sehingga bila terdapat barang yang cacat dapat diidentifikasi saat 

kripik diproses di bawah lini produksi.

5. Robot

Robot (robots) adalah perangkat mekanik yang menggunakan 

impuls eletronik untuk mengaktifkan motor dan saklar. Robot 

dapat digunakan secara efektif untuk melaksanakan tugas, 

terutama yang monoton atau yang berbahaya atau yang dapat 

ditingkatkan dengan mengganti tenaga manusia menjadi tenaga 

mesin.

6. Sistem Penyimpanan dan Perbaikan Otomatis (ASRS)

Sistem penyimpanan dan perbaikan otomatis (automatic storage 

and retrieval system—ASRSs) adalah komputer yang dikendalikan 

oleh gudang-gudang yang memberikan penggatian suku cadang 

secara otomatis ke dalam dan dari tempat yang ditunjuk di 

dalam gudang. Sistem seperti ini umumnya digunakan dalam 

fasilitas distribusi dari peritel, misalnya Walmart, Tuppeware, 

dan Benetton.

7. Kendaraan yang Dipandu secara Otomatis (AGV)

Kendaraan yang dipandu secara otomatis (automatic guded 

vehicle—AGVs) adalah kendaraan yang secara elektronik 

memandu dan mengendalikan troli untuk memindahkan 

perlengkapan, juga digunakan dalam kantor untuk memindahkan 

surat dan dalam rumah sakit serta penjara untuk mengantar 

pasokan dan sarapan.

8. Sistem Manufaktur yang Fleksibel (FMSs)

Sistem manufaktur yang fleksibel (flexible manufacturing 

systems—FMSs) adalah sistem yang menggunakan sinyal 

elektronik dari komputer untuk mengotomatisasi produksi dan 

penanganan bahan baku. Hasilnya adalah suatu sistem yang 

dapat secara ekonomis menghasilkan volume yang rendah, 

tetapi memiliki variasi yang tinggi. FMS menjembatani jurang perbedaan di antara fasilitas yang memfokuskan pada produk 

dengan fasilitas yang memfokuskan pada proses.

9. Manufaktur Terintegrasi Komputer (CIM)

Manufaktur terintegrasi komputer (computer integrated 

manufacturing—CIM) adalah sistem yang terintegrasi dengan 

bantuan CAD, FMS, serta kontrol persediaan, gudang, dan 

pengiriman. Sistem manufaktur yang fleksibel dan terintegrasi 

komputer mengurangi perbedaan di antara volume produksi 

yang rendah/varietas yang tinggi dengan volume produksi yang 

tinggi/varietas yang rendah. 

Teknologi Jasa

Kemajuan teknologi dalam sektor jasa berkisar dari perlengkapan 

diagnostik secara elektronik pada bengkel perbaikan mobil, 

perlengkapan pengujian urine di rumah sakit, hingga alat pemindaian 

pengamanan retinal di bandara.Tujuan strategi proses adalah menemukan suatu cara memproduksi 

barang dan jasa yang memenuhi persyaratan dari pelanggan dan 

spesifikasi produk yang ada dalam batasan biaya dan batasan manajerial 

lainnya. Para manajer operasional yang efektif memahami bagaimana 

menggunakan strategi proses sebagai senjata yang kompetitif. Mereka 

memilih proses produksi dengan kualitas yang diperlukan, fleksibilitas, 

dan struktur biaya untuk memenuhi persyaratan produk dan volume. 

Mereka juga mencari cara yang kreatif untuk menggabungkan 

keunggulan dari fasilitas yang memiliki unit biaya rendah dan volume 

tinggi dengan manufaktur varietas yang rendah dengan kustomisasi 

guna memenuhi keinginan dan kebutuhan konsumen yang beragam.

Tujuan utama perusahaan adalah memperoleh keuntungan. Dalam 

persaingan yang ketat, semua perusahaan dituntut untuk selalu dapat 

memenuhi semua kebutuhan konsumen dengan maksimal sesuai bidang 

usahanya masing-masing, terutama dalam hal kualitas barang yang baik 

serta waktu penyelesaian produksi yang cepat.

Dalam usaha untuk memenuhi kebutuhan konsumennya tersebut, sering 

kali perusahaan dihadapkan oleh berbagai masalah, seperti terbatasnya 

faktor-faktor produksi. Oleh karena itu, faktor-faktor produksi harus 

dikelola melalui manajemen perusahaan yang baik, yaitu perencanaan, 

pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan. Pengelolaan faktor-faktor 

produksi harus memperhatikan ketersediaan kapasitas yang ada. Dengan demikian, perencanaan kapasitas merupakan hal yang penting dalam 

suatu perusahaan.

PENGERTIAN PERENCANAAN KAPASITAS20

Rancangan proses berkenaan dengan penetapan tahapan-tahapan 

pengolahan dan alat-alat (teknologi) yang akan digunakannya. 

Rancangan kapasitas berkenaan dengan seberapa besar jumlah produk 

yang akan dihasilkan. Kalau membuat kue bolu hanya 2 kg, alat-alat 

yang digunakan cukup sederhana dan bisa disimpan dalam lemari, 

tetapi untuk membuat kue 200 kg per hari, diperlukan alat yang lebih 

canggih. Alat-alatnya besar dan harus disimpan di tempat berbeda 

sehinngga pengolahanya harus di ruangan terpisah. Demikian pula 

penyimpanan bahan dan produk yang dihasilkan harus terpisah. 

Bahan baku disimpan di gudang bahan baku, barang jadi disimpan di 

gudang barang jadi. Kalau kapastasnya lebih besar lagi, mesin harus 

terus-menerus beroperasi siang malam, prosesnya harus kontinu. Jadi, 

rancangan kapasitas akan menentukan rancangan proses produksi.

Kapasitas merupakan kemampuan suatu alat atau fasilitas dalam 

menjalankan fungsinya dalam periode waktu tertentu. Misalnya, 

kemampuan pesawat terbang membawa penumpang, kemampuan 

sebuah tangki penampung minyak 1000 barel, atau sebuah pabrik yang 

mampu menghasilkan produk 20 ton per hari. Kapasitas memiliki 

macam-macam istilah, seperti jumlah seat (tempat duduk) untuk 

pesawat, ruang kelas, dan bioskop, jumlah kamar untuk hotel dan 

rumah sakit, atau kemampuan produksi sebuah pabrik. Seorang manajer 

bahkan juga memiliki kapasitas dalam mengatur organisasinya.JENIS-JENIS KAPASITAS21

Kapasitas Output

Kapasitas rancangan (design capaty) adalah kemampuan maksimun 

yang bisa dicapai dari suatu alat secara teoretis. Sebuah mesin, dalam 

mengolah bahan, tergantung pada rancangan kondisi idealnya. Sebuah 

pesawat terbang memiliki kapasitas 400 atau 300 penumpang tergantung 

kepada rancangan kondisi idealnya. Demikian juga kapasitas sebuah 

pabrik dalam menghasilkan produk tergantung dari rancangan kondisi 

ideal sistem itu sendiri.Kapasitas output berbeda dengan kapasitas rancangan. Kapasitas 

output selalu lebih kecil dari kapasitas rancangan. Perbedaan ini timbul 

karena kapasitas output merupakan kapasitas nyata yang dipengaruhi 

oleh kondisi lingkungan yang selalu berubah. Perubahan itu meliputi 

pengaruh rencana jangka panjang dan jangka pendek, seperti kondisi 

ekonomi atau penjadwalan.

Kapasitas Efektif

Ada beberapa istilah yang biasa muncul berkenaan dengan kapasitas 

produksi, antara lain:

1. Kapasitas berlebih (over capacity).

2. Kapasitas penuh (full capacity).

3. Kapasitas normal (normal capacity).

4. Kapasitas kurang (under capacity).

5. Kapasitas efektif (effectivity ca1pacity).

Kapasitas berlebih, normal, atau kapasitas kurang biasa digunakan 

dalam ekonomi makro. Kapasitas berlebih sering disebut juga over 

produksi, mencerminkan hasil produksi yang secara keseluruhan 

lebih besar dari kebutuhan (demand) sehingga ada produksi yang 

tidak terserap oleh pasar. Kapasitas kurang mencerminkan permintaan 

yang lebih besar dari produksi yang dihasikan sehingga terbuka 

investasi untuk produk yang dibutuhkan, sedangkan kapasitas normal 

menggambarkan kondisi keseimbangan.

Kapasitas penuh adalah kapasitas yang mendekati kapasitas 

rancangan (design capacity). Kapasitas efektif lebih sering disebut 

kapasitas sistem, yaitu kapasitas yang dapat dicapai oleh sebuah sistem 

atau kapasitas dalam kondisi keterbatasan yang dimilikinya. Kapasitas 

efektif selalu berada di bawah kapasitas rancangan.


Dalam pertumbuhan ekonomi pada masa sekarang ini, persaingan 

antarperusahaan semakin meningkat. Untuk menghadapi dan 

memenangkan persaingan tersebut, perusahaan-perusahaan dituntut 

untuk menciptakan pemikiran yang kreatif dan inovatif di dalam tujuan 

perusahaan.

Salah satu keputusan yang merupakan keputusan strategi adalah layout, 

dimana layout bisa menentukan efisiensi sebuah operasi dalam jangka 

panjang. Layout juga memiliki banyak dampak strategis karena layout

menentukan daya saing perusahaan dalam hal kapasitas, proses, fleksibilitas, 

biaya, kualitas lingkungan kerja, kontrak pelanggan, dan citra perusahaan.

Di dalam menjalankan kegiatannya, sering kali suatu perusahaan 

dihadapkan dengan berbagai permasalahan. Permasalahan yang timbul 

ini menghalangi perusahaan untuk mencapai tujuannya dengan lancar. 

Oleh karena itu, perusahaan perlu mencari solusi yang tepat untuk 

mengatasi masalah yang timbul. Solusi yang dipakai tentunya telah 

dianggap tepat bagi perusahaan, setidaknya pada saat solusi itu dipakai. 

Permasalahan yang dihadapi perusahaan dapat dirumuskan, “strategi 

layout perusahaan yang kurang tepat”.

Sehubungan pernyataan tersebut, maksud dan tujuan dari 

pembahasan bab ini adalah untuk mengetahui bahwa strategi layout

dalam suatu perusahaan dapat memberikan keunggulan dalam bersaing, 

mengetahui bagaimana penerapan strategi layout perusahaan yang 

tepat bagi suatu perusahaan, mengetahui bahwa strategi layout dapat 

meningkatkan profitabilitas perusahaan, dan mengetahui pentingnya 

peningkatan produktivitas dan kinerja suatu perusahaan yang ditinjau 

dari berbagai pertimbangan. 

DEFINISI LAYOUT24

Secara definisi, dapat dikatakan bahwa tata letak (layout) adalah 

pengaturan dan penempatan alat-alat, tenaga kerja, dan tahapan 

kegiatan di dalam proses produksi, baik barang maupun jasa. Bukan 

hanya peralatan, tetapi juga keseluruhan yang berkaitan dengan 

penciptaan produk walaupun tidak langsung berhubungan. Misalnya, 

bagaimana sirkulasi udara di dalam ruangan diatur, bagaimana taman￾taman atau sarana olah raga ditempatkan, dan bagaimana posisi kantor 

ditempatkan. Dengan demikian, layout mengarahkan setiap faktor 

produksi kepada setiap keleluasaan gerak manusia dan bahan untuk 

menciptakan efisiensi.Filosofi yang ada di belakang konsep layout adalah bahwa letak 

mesin dan peralatan, aliran bahan, sirkulasi udara, pengaturan cahaya, 

tingkat kebisingan, keindahan dan kenyamanan, serta penyusunan 

tempat-tempat kerja lainnya yang teratur akan mendorong moral kerja 

yang tinggi. Dengan penyusunan layout yang baik, bahan akan bergerak 

tanpa hambatan sehingga tidak akan terjadi kerusakan bahan pada 

saat pemindahannya. Ruang gerak yang teratur akan menghidarkan 

terjadinya kecelakaan kerja. Sirkulasi udara, kebisingan, cahaya, 

keindahan tanam-tanaman, sarana olah raga, sarana kesehatan, dan lain 

sebagainya akan memengaruhi semangat kerja. Oleh karena itu, bukan 

hanya tata letak peralatan dan mesin saja yang harus diatur, tapi juga 

keseluruhan sarana perusahaan. Mesin-mesin, gudang, kantor, bengkel, 

bentuk gedung, tanam-tanaman, dan sarana olah raga lainnya harus 

diatur dengan sentuhan seni untuk meningkatkan efisiensi perusahaan.

Dalam layout yang buruk, kerusakan bahan biasa terjadi pada 

saat pemindahan bahan. Pemindahan bahan ini akan berlangsung 

dari tempat kerja ke tempat kerja yang lainnya, atau dari tempat 

penyimpanan ke tempat kerja atau sebaliknya. Dalam layout yang buruk, 

tubrukan saat pemindahan bahan bisa terjadi sehingga kemungkinan 

timbulnya kecelakaan kerja sangat besar. Kerusakan mesin bisa terjadi 

saat kegiatan operasi sedang berlangsung dan layout yang buruk akan 

menyulitkan perbaikan sehingga memungkinkan timbulnya kecelakaan. 

Keadaaan kerja yang terlalu bising, sumpek, sirkulasi udara tidak 

lancar akan menimbulkan ketidaknyamanan. Dalam kondisi seperti 

ini, moral kerja akan turun, karyawan akan sering sakit, cepat lelah, 

sering mangkir, dan tingkat emosionalnya akan menigkat dengan 

cepat. Semuanya timbul karena kenyamanan dan keselamatan kerja, 

termasuk di dalamnya sarana olah raga dan sarana kesehatan lainnya, 

tidak diperhatikan. Akibat dari layout yang buruk akan berujung pada 

tingkat efisiensi kerja yang rendah, kualitas produk yang rendah, biaya 

produksi yang tinggi, waste yang tinggi, dan banyaknya keluhan dari konsumen karena mereka tidak puas oleh pelayanan dan produk yang 

dihasilkan. Secara singkat konsep layout memperhatikan:

1. Memanfaatkan sebaik mungkin ruangan, peralatan, dan tenaga kerja.

2. Memperlancar aliran informasi, bahan, dan gerak manusia.

3. Meminimumkan biaya pengangkutan dan penanganan.

4. Mempercepat dan memperlancar arus bahan-bahan.

5. Menciptakan kondisi kerja yang aman dan menyenangkan.

6. Meningkatkan moral pekerja.

7. Memuaskan pelayanan kepada pelanggan dalam bentuk penataan 

ruangan.

8. Mengantisipasi perubahan di masa yang akan datang (flexibility).

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI LAYOUT25

Tidak ada formula yang khusus dalam menentukan layout, semua 

tergantung kepada pandangan dan harapan manajemen tentang 

perusahaannya saat ini dan perkembangannya di masa mendatang. 

Pertimbangan-pertimbangan ini tentunya lebih bersifat subjektif 

sehingga penyusunan layout termasuk dalam kegiatan seni (art). Akan 

tetapi, menurut Monks (1982, dalam Sobarsa Kosasih, 2009), secara 

garis besar layout perusahaan akan sangat dipengaruhi oleh faktor￾faktor sebagai berikut.

1. Tipe dari produk yang akan dihasilkan, apakah berupa barang atau 

berupa jasa, atau kedua-duanya.

2. Tipe dari proses produksi. Ini berhubungan dengan teknologi yang 

akan digunakan, cara penananganan bahan, atau yang berkaitan 

dengan jasa lainnya yang diperlukan dalam penanganan bahan, 

apakah bersifat mekanik, otomatis, atau manual.

3. Volume produksi. Ini berkaitan dengan penggunaan mesin-mesin 

dan energi, yang selanjutnya akan memengaruhi besar kecilnya biayaoperasi. Mesin dan peralatan yang canggih belum tentu menghasilkan 

efisiensi yang tinggi apabila volume produksinya rendah.

Secara lebih rinci, Heizer (2007, dalam Sobarsa Kosasih, 2009), 

menguraikan bahwa untuk membuat rancangan layout yang baik, 

faktor-faktor berikut harus diperhatikan.

1. Peralatan material handling yang akan digunakan. Misalnya, apakan 

perusahaan akan menggunakan conveyor, crane, forklift, aoutomated 

storage, atau automatic cart untuk menangani bahan-bahan yang 

digunakan.

2. Space dan kapasitas ruangan yang diperlukan untuk bahan-bahan, 

peralatan, dan orang-orang.

3. Aliran informasi yang dibutuhkan, apakah hanya untuk internal, 

eksternal, atau untuk kedua-duanya.

4. Estetika dan lingkungan yang diperlukan. Ini berkaitan dengan 

penyediaan tanam-tanaman, fasilitas olah raga, tingkat kebisingan, 

dan lain sebagainya.

5. Biaya pergerakan dari tempat kerja ke tempat kerja yang lainnya.

 MACAM-MACAM LAYOUT26

Menurut Monks,27 layout suatu perusahaan pada dasarnya 

dikelompokkan dalam tiga kategori, yaitu (1) layout by process, (2) 

layout by product, dan (3) layout by fixed position. Namun dengan 

adanya perkembangan dalam bidang teknologi, Heizer28 membagi 

layout menjadi tujuh kategori, yaitu:

1. Fixed position layout.

2. Process oriented layout.

3. Work-cell.

4. Office layout.

5. Retail layout.

6. Warehouse layout.

7. Product oriented layout.

Tata Letak Posisi Tetap

Fixed position layout, atau disebut juga dengan layout posisi tetap, adalah 

penyusunan layout dimana bahan-bahan, tenaga kerja, dan peralatan 

dibawa ke tempat produk yang akan dibuat. Produknya sendiri, yang 

sedang dibuat, tidak bergerak. Misalnya, pembuatan gedung, galangan 

kapal, jembatan, dan lain sebagainya. Selain pembuatan produk yang 

berbentuk barang, fixed position layout akan tercermin juga dalam 

kegiatan upacara kenegaraan, seperti peringatan hari kemerdekaan, 

pagelaran konser, kegiatan pameran produksi, dan lain sebagainya. 

Karena sifat produksinya yang spesifik, layout seperti ini sering disebut 

sebagai kegiatan proyek.

Layout Berdasarkan Proses

Layout by process adalah tata letak yang berdasarkan proses, disebut 

juga sebagai job-shop layout, atau funcional layout, atau process 

oriented layout. Layout ini mengelompokkan orang-orang yang 

memiliki keahlian sama dalam suatu kegiatan tertentu yang sesuai 

dengan keahliannya. Pengelompokan ini disertai dengan penempatan 

peralatan yang menunjangnya untuk melakukan fungsinya. Misalnya, 

ahli bubut dikelompokkan dengan mesin-mesin bubut dalam bagian 

pembubutan. Dalam bagian-bagian tersebut, orang-orang dan alat￾alatnya diperuntukan untuk melakukan fungsi yang sama.

Dalam layout seperti ini, mesin-mesin yang digunakan bersifat 

umum (general purpose machine), yaitu mesin yang bisa digunakan untuk membuat beberapa macam barang karena orang-orang yang 

menanganinya juga memiliki keahlian macam-macam. Misalkan dalam 

bagian pembubutan, para ahli memiliki kemampuan dalam membuat 

barang-barang dengan menggunakan mesin bubut. Demikian juga pada 

sinar-x, orang-orangnya memiliki kemampuan dalam mengerjakan 

foto dalam berbagai bentuk. Layout seperti ini tidak hanya bisa ditemui 

pada kegiatan manufaktur saja, tapi juga bisa ditemui pada kegiatan 

pendidikan, perbankan, penerbangan, dan sebagainya.

Keuntungan dari layout berdasarkan proses adalah:

1. Fleksibel dalam melakukan berbagai kegiatan.

2. Meningkatkan kepuasan kerja karena pekerjaan tidak monoton.

3. Tidak membosankan karena adanya variasi dalam pekerjaan.

4. Membatasi investasi karena tidak perlu mesin-mesin khusus.

5. Menjaga tingkat kesehatan dan keselamatan kerja.

6. Optimalisasi pembiayaan proses produksi.

Namun, selain memiliki keuntungan, layout seperti ini juga memiliki 

kelemahannya, yaitu:

1. Bila produk yang dihasilkan bermacam-macam, biaya penanganan 

bahan (material handling) menjadi relatif mahal.

2. Karena tenaga kerja bersifat tenaga kerja ahli, biaya upah dan gaji 

relatif lebih mahal.

3. Kreativitasnya relatif rendah karena pengerjaan terkadang monoton, 

peralatan yang digunakan sering kali bersifat otomatis sehingga 

kurang menciptakan inovasi baru dari karyawan.

4. Bila produk yang dihasilkannya bermacam-macam, pengendaliannya 

menjadi relatif sulit.

5. Bila produk yang dihasilkannya bermacam-macam, persediaan 

relatif lebih banyak.

Work-Cell

Work-cell merupakan suatu kasus yang spesial dalam proses oriented 

layout. Kondisi layout ini dapat dibayangkan pada susunan mesin-mesin 

dan orang-orang yang bersifat temporer. Ide work-cell timbul untuk 

menyusun kembali (reorganize) orang-orang dan mesin-mesin yang 

tersebar di berbagai dapartemen untuk membuat produk dalam jenis 

tunggal atau sekelompok produk yang saling berkaitan dalam proses 

dan komponen-komponennya.

Keuntungan sistem kerja work-cell, antara lain:

1. Menekan work in process (WIP) karena dirancang untuk 

keseimbangan antara mesin.

2. Menghemat space (ruangan) karena tidak diperlukan WIP yang 

banyak.

3. Menghemat biaya tenaga kerja langsung (direct labor cost) dengan 

dikembangkannya penjadwalan dan komunikasi antarkaryawan 

serta aliran bahan yang tetap

4. Meningkatkan tanggung jawab bagi karyawan dalam organisasi 

karena partisipasi mereka dalam meningkatkan kualitas terus 

dikembangkan.

5. Memaksimalkan penggunaan fasilitas karena setiap kegiatan 

dirancang berdasarkan jadwal (schedule) yang pasti.

6. Mengurangi investasi dalam mesin dan peralatan karena 

pemanfaatan dari alat-alat tersebut maksimal.

Layout Perkantoran

Yang membedakan antara layout perkantoran dan layout pabrik adalah 

aliran informasi. Kalau pada layout pabrik yang dominan kelihatan 

adalah aliran barang, dalam layout perkantoran hal ini tidak kelihatan 

karena bersifat nonfisik. Perkembangan teknologi informasi yang 

sangat cepat memungkinkan penyampaian informasi dengan jangkauan 

yang sangat jauh. Seirama dengan cepatnya perkembangan teknologi 

informasi, kondisi lingkungan pun berubah dengan cepat. Perubahan 

ini mendorong setiap manajer untuk mengambil keputusan dengan 

cepat pula yang harus disertai dengan ketersediaan informasi yang 

akurat. Semua itu memaksa perubahan atas kondisi layout kantor yang 

harus mampu mengakses setiap informasi yang diperlukan, baik oleh 

manajer maupun oleh pelanggan. Salah satu cara untuk mempermudah 

mendapatkan informasi adalah dengan mempermudah komunikasi 

antarbagian di dalam kantor. 

Tata Letak Pertokoan

Gagasan retail layout timbul dari suatu pendapat bahwa penjualan 

dan keuntungan secara langsung berkaitan dengan pandangan 

konsumer terhadap penampakan atau penampilan produk. Konsumen 

pada umumnya tidak akan mengetahui tentang manfaat suatu 

produk sehingga merupakan kewajiban setiap manajer penjualan untuk memperkenalkan produknya pada konsumen dengan cara 

menampilkannya (display) sebaik mungkin. Penampilan ini harus 

memperhitungkan susunan rak jenis produk, keindahan ruangan, lokasi, 

kemudahan, bahkan susunannya sehingga konsumen akan tertarik 

untuk mengenal dan menggunakan produk itu.

Menurut Heizer (2007, dalam Sobarsa Kosasih, 2009), ada beberapa 

cara yang dapat menolong untuk menyusun layout sebuah retail, yaitu:

1. Tempatkan produk utama dengan produk komplemennya 

berdekatan.

2. Gunakan tempat-tempat yang cepat dikenali untuk produk-produk 

kecantikan.

3. Tempatkan produk-produk yang dikenal dan memiliki daya tarik 

untuk berbelanja tersebar di antara jalur-jalur jalan (aisle).

4. Tampilkan misi perusahaan pada awal konsumen memasuki ruangan 

retail tersebut.

Banyak sekali pertimbangan yang harus dipikirkan dalam 

menyusun retail layout ini, akan tetapi sasaran utamanya adalah untuk 

memaksimumkan pendapatan dari setiap penggunaan lantai ruangan 

toko. Tidak setiap lantai yang digunakan untuk menyajikan produk 

memberikan keuntungan yang sama. Ada produk yang memberikan 

margin sedikit, tapi memerlukan lantai yang luas untuk menampilkannya, 

tetapi ada juga yang membutuhkan lantai yang kecil tetapi memberikan 

margin yang besar terhadap keuntungan perusahaan. Bagaimanapun,

retail layout harus dirancang untuk memudahkan aliran barang dan 

memudahkan konsumen dalam mengenali produk. Ada beberapa 

program komputer yang bisa digunakan untuk membantu menganalisis 

layout ini, misalnya “Store Labor and Inventory Management (SLIM), 

Computerized Optimization and Simulation Modeling for Operating 

Supermarket (COSMOS)”.Untuk memaksimumkan kepuasan konsumen, ada beberapa hal 

yang harus diperhitungkan pula dalam merancang retail layout. Sebagai 

service layout yang harus berhubungan langsung dengan konsumen, 

perancangan layout tidak hanya berkaitan dengan faktor-faktor yang 

sifatnya fisik, tapi juga non-fisik. Seorang konsumen yang membeli 

suatu barang, bukan hanya produknya yang ia beli, tapi juga senyum 

para pelayannya, suasana yang menyenangkan, dan sebagainya yang 

memengaruhi aspek psikologi konsumen tersebut. Oleh karena itu, 

faktor lain selain produk utama yang ditawarkan, seperti bentuk gedung, 

penerangan, dan alunan musik, keramahan dan kecepatan pelayanan 

akan memengaruhi konsumen. Di negara maju, layout dan faktor 

yang lain sangat diperhatikan sehingga hampir setiap tahun layoutperusahaan tersebut berubah untuk menampilkan suasana baru bagi 

konsumen dan bagi pekerjanya.

Tata Letak Pergudangan

Layout gudang dirancang untuk mendapatkan manfaat maksimum 

antara ruangan yang tersedia dengan biaya penanganan yang 

ditimbulkannya. Dengan demikian, material handling cost menjadi 

alasan utama dalam rancangan storage layout. Biaya material handling

tersebut meliputi semua biaya yang berkaitan dengan:

1. Biaya penerimaan barang (incoming transportation).

2. Biaya penyimpanan (storage).

3. Biaya pengiriman (outgoing transportation).

Biaya-biaya tersebut meliputi biaya peralatan, biaya tenaga kerja 

langsung, biaya pengawasan, biaya asuransi, biaya penyusutan, dan 

biaya lainnya, seperti kerusakan dan pencurian. 

Dalam perusahaan yang besar, jumlah produk yang disimpan sering

kali mencapai ribuan jenis. Bayangkan kalau perusahaan otomotif 

yang harus menyimpan bahannya yang berbentuk sparepart hingga 

mencapai 12.000 barang atau sebuah perusahaan supermarket yang 

barangnya mencapai 8.000 barang. Bagaimana cara menyusun barang￾barang tersebut dalam gudang menjadi persoalan tersendiri. Bagian 

gudang dalam perusahaan modern sering kali menggunakan automated 

storage and retrieval system (ASRS) sebagai alat bantu dalam menyusun 

layout-nya. 

Satu hal penting dalam menyusun layout gudang adalah keterkaitan 

antara tempat penerimaan atau bongkar (unloading) dan tempat 

pengiriman atau muat (loading). Keterkaitan ini berhubungan dengan 

penggunaan fasilitas material handling, apakah menggunakan truk, 

forklift, crane, atau alat bongkar muat lainnya. Dalam perusahaan besar,

sering kali bongkar muat dilakukan di tempat yang sama, tetapi ada juga yang dilakukan di tempat berbeda, tergantung pada rancangan 

layout-nya. Perusahaan seperti Wallmart melakukan pelabelan pada 

saat penerimaan, penyimpanan, atau pada saat memenuhi order untuk 

mengurangi biaya. Kegiataan ini disebut crossdock king. Namun, untuk 

melakukan kegiatan itu, dibutuhkan schedule yang ketat dan spesifikasi 

produk yang akurat. Penggunaan barcode dengan menggunakan 

automatic identification system (AIS) untuk mengidentifikasi keakuratan 

produk sangat diperlukan. Kegiatan ini sebaiknya dipadukan dengan 

penyusunan sistem informasi sehingga setiap manajemen akan sangat 

mudah mengetahui letak dan jumlah produk setiap item-nya.

Tata Letak Orientasi Produk

Layout by produk, atau disebut juga sebagai layout berdasarkan produk, 

atau line layout, atau assembly layout, disusun berdasarkan produk 

yang dihasilkan atau konsumen yang akan dilayani. Dalam layout ini,

digunakan mesin-mesin yang khusus (special purpose machine) dan 

otomatis disertai peralatan role conveyor. Layout seperti ini bisa dilihat 

di perakitan mobil, perusahaan tekstil, elektronik, makanan cepat 

saji, petrokimia, dan sebagainya. Layout dengan tipe ini akan lebih 

menguntungkan apabila:

1. Produk yang dihasilkan bersifat massal (mass production).

2. Jenis produk yang dihasilkan sedikit.

3. Produk yang dihasilkan bersifat standar.

Karena bersifat otomatis dengan peralatan conveyor, layout seperti 

ini memiliki keuntungan karena:

1. Biaya material handling relatif rendah.

2. Tenaga kerjanya tidak perlu orang-orang ahli.

3. Produk yang dihasilkan sedikit bervariasi sehingga persediaan bahan 

setengah jadi (work in procces) bisa ditekan.

4. Pengendalian relatif sederhana karena bersifat terkomputerisasi.Namun, selain manfaat di atas, ada beberapa hal yang tidak 

menguntungkan, antara lain:

1. Memerlukan investasi yang besar karena mesinnya bersifat khusus.

2. Prosesnya panjang.

3. Ketergantungan satu sama lain antarkegiatan, bila kegiatan 

sebelumnya atau sesudahnya macet, maka seluruh kegiatan akan 

macet pula.

4. Kurang fleksibel dalam perubahan produk sehingga bila produk yang 

dihasilkan tidak laku, peralatannya tidak bisa membuat produk yang 

lain.

Ada dua ciri dari produk oriented layout, yaitu yang bersifat pabrikasi

dan yang bersifat assembly line. Pabrikasi membuat komponen￾komponen yang telah dibuat oleh perusahaan lainnya sehingga disebut 

juga perakitan. Yang menjadi masalah dalam produk oriented layout

adalah bagaimana menyeimbangkan kapasitas-kapasitas kerja sehingga 

ketidakseimbangan menjadi minimal.

 TEKNIK MERANCANG LAYOUT29

Dalam menyusun layout untuk dapartemen yang banyak, misalnya 

100 departemen atau lebih, tidak bisa dilakukan secara manual seperti 

contoh di atas, tetapi harus dengan bantuan Komputer. Komputer 

yang mampu menyusun layout seperti ini dikenal dengan sebutan 

“Computerized Relative Allocation of Facilities Techniques (CRAFT)”. 

CRAFT adalah suatu program komputer yang secara otomatis 

menyusun layout alternatif untuk menekan biaya penanganan bahan. 

Program ini tidak hanya mampu untuk menyusun beban kerja dan jarak 

dari tempat kerja ke tempat kerja lainnya, tapi juga mampu menyusun 

tingkat kesulitannya. Selain CRAFT, program komputer lainnya yangjuga sering digunakan oleh perancang layout adalah CORELAP, ALDEF, 

COPAD, dan sebagainya.

PENUTUP

Dari pembahasan bab di atas, dapat disimpulkan bahwa strategi layout

yang tepat dan baik akan memberikan dampak positif bagi perusahaan 

karena strategi layout yang tepat menentukan daya saing perusahaan 

dalam hal kapasitas, proses, fleksibilitas, biaya, kualitas lingkungan 

kerja, kontak pelanggan, dan citra perusahaan. Penempatan strategi 

layout yang tepat akan mendukung daya saing sebuah perusahaan dalam 

pencapaian tujuan yang mengarah pada peningkatan profitabilitas 

perusahaan yang didasari dengan adanya efisiensi dan produktifitas 

kerja yang baik.Organisasi pada dasarnya merupakan kerja sama antara dua orang atau 

lebih dalam rangka mencapai suatu tujuan. Organisasi adalah kumpulan 

orang, proses pembagian kerja antara orang-orang tersebut, dan adanya 

sistem kerja sama atau sistem sosial di antara orang-orang tersebut.

Dalam mencapai tujuan, organisasi memerlukan berbagai macam 

sumber daya. Mulai dari sumber daya manusia, peralatan, mesin, keuangan, 

dan sumber daya informasi. Setiap sumber daya memiliki tugas dan 

fungsinya masing-masing. Sebagai suatu sistem, sumber daya-sumber daya 

tersebut akan berinteraksi dan saling bekerja sama sehingga tujuan dapat 

tercapai secara efektif dan efesien.


Dengan berpijak pada pendekatan sistem, manajemen sumber 

daya manusia merupakan bagian dari sebuah sistem yang lebih besar, 

yaitu organisasi. Oleh karena itu, upaya-upaya sumber daya manusia 

hendaknya dievaluasi berdasarkan kontribusinya terhadap produktivitas 

organisasi. Dalam praktiknya, model manajemen sumber daya manusia 

merupakan sebuah sistem terbuka yang terbentuk dari bagian-bagian 

yang saling terikat.

Setiap organisasi, baik organisasi perusahaan, sosial, maupun 

pemerintahan, mempunyai tujuan yang dapat dicapai melalui 

pelaksanaan pekerjaan tertentu dengan mampergunakan sumber daya 

yang ada pada organisasi. Dan, yang paling penting dalam mencapai 

organisasi adalah sumber daya manusia.

Sumber daya manusia sebagai salah satu sumber daya yang ada 

dalam organisasi memegang peranan penting dalam keberhasilan 

pencapaian tujuan organisasi. Berhasil atau tidaknya tergantung pada 

kemampuan sumber daya manusia dalam menjalankan tugas dan 

fungsinya. Manusia selalu berperan aktif dan selalu dominan dalam 

setiap aktivitas organisasi karena manusia menjadi perencana, pelaku, 

sekaligus penentu terwujudnya tujuan organisasi.

Manajemen sumber daya manusia kedudukannya sangat penting 

bagi organisasi. ,Sumber daya manusia berperan dalam menjalankan 

segala aktivitas organisasi sehingga perusahaan akan berjalan sesuai 

apa yang diharapkan. Dengan demikian, sumber daya manusia perlu 

dikelola dan dimanfaatkan sehingga Dengan demikian, sumber daya 

manusia dapat berfungsi secara produktif untuk tercapainya tujuan 

organisasi.

Guna menjaga dan meningkatkan produktivitas sumber daya 

manusia pada manajemen operasional suatu organisasi, perlu dibuatkan 

sebuah sistem operasional prosedur sebagai justifikasi masing-masing 

tahap pelaksanaan dan bahan evaluasi pencapaian kinerja pada masing￾masing unit kerja


PENGERTIAN SUMBER DAYA MANUSIA

Sumber daya manusia adalah faktor sentral dalam organisasi perusahaan 

ataupun produksi. Kebutuhan sumber daya manusia disesuaikan 

dengan bentuk serta tujuan perusahaan yang dibuat berdasarkan visi 

untuk kepentingan manusia dan dalam pelaksanaan misinya dikelola 

dan diurus oleh manusia. Manajemen sumber daya manusia berfungsi 

mengatur dan mengurus sumber daya manusia berdasarkan visi 

perusahaan agar tujuan organisasi dapat dicapai secara optimum. 

Sumber daya manusia (SDM), dalam konteks bisnis, adalah orang 

yang bekerja dalam suatu organisasi yang sering pula disebut karyawan. 

Sumber daya manusia merupakan aset yang paling berharga dalam 

perusahaan. Tanpa manusia, sumber daya perusahaan tidak akan dapat 

menghasilkan laba atau menambah nilainya sendiri.

Manajemen sumber daya manusia adalah suatu cara bagaimana 

mengatur hubungan dan peran sumber daya yang dimiliki oleh individu 

secara maksimal sehingga tercapai suatu tujuan. Manajemen sumber 

daya manusia didasarkan pada konsep bahwa setiap karyawan adalah 

manusia, bukan mesin, dan bukan semata menjadi sumber daya bisnis. 

Manajemen sumber daya manusia berkaitan dengan kebijakan dan 

praktik-praktik yang perlu dilaksanakan oleh manajer mengenai aspek￾aspek sumber daya manusia dari manajemen kerja.

Menurut Sastrohadiwiryo, manajemen sumber daya manusia diganti 

dengan manajemen tenaga kerja, yaitu pendayagunaan, pembinaan, 

pengetahuan, pengaturan, dan pengembangan unsur tenaga kerja. Baik 

dan buruk karyawan ataupun pegawai untuk mencapai hasil guna dan 

daya guna yang sebesar-besarnya sesuai organisasi.30

Menurut Flippo, manajemen sumber daya manusia disebut 

manajemen personalia, yaitu perencanaan, pengorganisasian, 

pengarahaan, pengembangan kompensasi, pengintegritasian, pemeliharaan, dan pemutusan hubungan kerja dengan sumber 

daya manusia untuk mencapai sasaran perorangan, organisasi dan 

masyarakat.31

KUNCI KEGIATAN MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA

Pada dasarnya, yang menjadi kunci kegiatan manajemen sumber daya 

manusia adalah sebagai berikut:32

1. Kinerja Pegawai atau Karyawan

Kinerja karyawan adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas 

yang dicapai oleh seseorang karyawan dalam melaksanakan tugas 

sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Di sini, 

terjadi sebuah ikatan atau kontrak mengenai hak dan kewajiban 

masing-masing. Peranan karyawan bagi sebuah perusahaan 

berupa keterlibatan mereka dalam sebuah perencanaan, sistem, 

proses, dan tujuan yang ingin dicapai oleh perusahaan. Sedangkan, 

peranan manajemen sumber daya manusia adalah mengatur dan 

menetapkan program kepegawaian yang mencakup:

a. Jumlah, kualitas dan penetapan tenaga kerja yang efektif sesuai 

dengan kebutuhan perusahaan.

b. Menetapkan penarikan, seleksi, dan penempatan karyawan.

c. Menetapkan program kesejahteraan, pengembangan, promosi, 

dan pemberhentian.

d. Mengetahui undang-undang perburuhan.

Menurut Cut Zurnali, sebuah organisasi harus dapat mencari 

dan menarik calon karyawan yang memiliki kemampuan bekerja dengan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi yang 

disebut pekerja pengetahuan (knowledge worker).33

Pendapat Drucker, konstribusi manajemen yang paling penting 

adalah meningkatkan produktivitas kerja pengetahuan dan pekerja 

pengetahuaan.34

Untuk meningkatkan kinerja karyawan yang lebih baik, harus 

ada sistem yang benar-benar strategis agar antara kepentingan 

perusahaan dan kebutuhan karyawan mampu terealisasi dengan 

mudah, yaitu:

a. Imbalan

1) Imbalan harus adil dan sesuai serta harus mampu 

meningkatkan motivasi kerja dan loyalitas.

2) Melakukan penyesuaian, yakni misalnya soal waktu 

pemberian gaji.

b. Komunikasi

1) Meningkatkan hubungan antarkaryawan atau antarkaryawan 

dengan atasan, sehingga tercipta hubungan yang harmonis.

2) Mengantipasi terjadinya konflik ketenagakerjaan.

3) Melakukan kegiatan yang kaitannya dengan integrasi 

sehingga tercapai kerja sama yang harmonis.

c. Informasi

1) Mengetahui kepuasan karyawan.

2) Mengetahui problematika karyawan.

3) Menentukan langkah yang tepat untuk menentukan 

kebijakan perusahaan.

4) Mengetahui perubahan, baik di internal maupun kondisi 

eksternal perusahaan.

5) Melakukan analisis SWOT.

2. Produktivitas Karyawan

Produktivitas adalah keluaran (output) produk ataupun jasa per 

satuan masukan (input) sumber daya yang digunakan dalam suatu 

proses produksi. Produktivitas dapat dinyatakan dalam ukuran fisik 

(physical productivity) dan ukuran finansial (financial productivity). 

Produktivitas merupakan aspek yang penting bagi perusahaan 

karena apabila perusahaan memiliki kerja yang tinggi maka akan 

memperoleh keuntungan dan hidup perusahaan akan terjamin.

Langkah-langkah berikut ini adalah tahapan yang harus 

dipertimbangkan dalam suatu rencana peningkatan produktivitas 

yang kompresif dan terintegrasi, yaitu:

a. Analisis situasi.

b. Merancang program peningkatan produktivitas.

c. Menciptakan kesadaran akan produktivitas.

d. Menerapkan program.

e. Mengevaluasi program dan memberikan umpan balik.35

3. Semangat Kerja Karyawan

Menurut Sculler dan Jakson (2001: 77), semangat kerja merupakan 

kondisi bagaimana seorang pegawai melakukan pekerjaan setiap 

hari. Semakin tinggi semangat kerja maka akan meningkatkan 

produktivitas kerja pegawai. Tingkat semangat kerja pegawai 

dapat dilihat dari tingkat kehadiran, kegelisahan kerja, tingkat 

perpindahan, dan banyak tuntutan kerja pegawai.36

Untuk menjaga kinerja, produktivitas, dan semangat karyawan 

tersebut maka diperlukan manajemen operasional dalam bentuk 

sebuah sistem operasional yang terstandardisasi sehingga mampu 

memberikan hasil yang optimal baik, bagi perusahaan, karyawan 

maupun pelanggannya.


FUNGSI MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA 

Manajemen sumber daya manusia terdiri atas dua fungsi, yaitu fungsi 

manajemen dan fungsi operasional. Dari kedua fungsi tersebut, 

kita dapat membuat sebuah sistem yang saling berkaitan satu sama 

lain dalam menjalankan fungsinya masing-masing. Namun, untuk 

mendapatkan hasil yang optimal dari fungsi tersebut, diperlukan juga 

standardisasi pada masing-masing tahap kegiatan agar mempermudah 

fungsi manajerial dalam melakukan pengendalian dan penilaian kinerja 

karyawannya.

PERAN SUMBER DAYA MANUSIA DALAM ORGANISASI 

DAN PRODUKSI

Adapun peran SDM dalam organisasi dan produksi, yaitu:37

1. Sumber daya manusia merupakan aset organisasi perusahaan.

Seperti disebutkan sebelumnya, sumber daya manusia adalah aset 

vital perusahaan karena keberadaannya tidak bisa digantikan oleh 

sumber daya lainnya. Betapa pun modern teknologi yang digunakan 

atau seberapa banyak dana yang disiapkan, tanpa dukungan sumber 

daya manusia yang memiliki kemampuan profesional, teknologi 

tersebut tidak bisa dijalankan. Suatu organisasi memerlukan sumber 

daya manusia sebagai pengelola sistem. Agar sistem ini berjalan, 

tentu dalam pengelolaannya harus memperhatikan beberapa aspek 

penting, seperti pelatihan, pengembangan, motivasi, dan aspek￾aspek lainnya. Hal ini akan menjadikan manajemen sumber daya 

manusia sebagai salah satu indikator penting pencapaian tujuan 

organisasi secara efektif dan efisien.

Masalah yang muncul adalah bagaimana cara mendapatkan 

sumber daya manusia profesional yang sesuai dengan kualifikasi 

yang dibutuhkan, dan bagaimana cara memosisikan peran 

sumber daya manusia dalam menghadapi tantangan globalisasi. 

Dinamika kehidupan manusia senantiasa berkembang seiring 

dengan perubahan lingkungannya, baik internal maupun 

eksternal. Lingkungan internal manusia berkaitan dengan tingkat 

penguasaan pengetahuan dan keterampilan, keluasan wawasan, 

kebiasaan, perasaan, harapan, kebutuhan, filosofi, dan keyakinan 

diri. Lingkungan eksternal menyangkut berbagai unsur yang ada 

di luar diri manusia, baik fisik maupun sosial, seperti alam sekitar, 

teknologi, sarana/prasarana, ekonomi, aktivitas perusahaan, 

pemerintah, politik, hukum, sosial kemasyarakatan, budaya, dan 

hubungan internasional.

2. Eksistensi sumber daya manusia dalam kondisi lingkungan yang 

terus berubah.

Eksistensi sumber daya manusia dalam kondisi lingkungan yang 

terus berubah tidak dapat dipungkiri. Oleh karena itu, dituntut 

kemampuan beradaptasi yang tinggi agar mereka tidak tergilas 

oleh perubahan itu. Sumber daya manusia dalam organisasi 

harus senantiasa berorientasi terhadap visi, misi, tujuan, dan 

sasaran organisasi ketika berada di dalamnya (Tjutju, 2008, dalam 

Ramdhani, 2014). Untuk mencapai visi, misi, dan tujuan, manusia 

harus mempunyai nilai kompetensi. Karakteristik kompentensi menurut Spencer dan Spencer (1993: 9–11, dalam Ramdhani 

2014), yaitu: 

a. Motif (motive), yaitu hal-hal yang secara konsisten dipikirkan 

atau keinginan yang menyebabkan melakukan tindakan.

b. Sifat/ciri bawaan (trait), yaitu ciri fisik dan reaksi-reaksi yang 

bersifat konsisten terhadap situasi atau informasi.

c. Konsep diri (self concept), yaitu sikap, nilai dari orang-orang.

d. Pengetahuan (knowledge), yaitu suatu informasi yang dimiliki 

seseorang mengenai bidang yang spesifik.

e. Keterampilan (skill), kemampuan untuk melaksanakan tugas￾tugas fisik dan mental tertentu.

Agar peran sumber daya manusia dapat sesuai dengan visi, 

misi, tujuan, dan harapan organisasi maka manusia harus dapat 

melakukan penyesuaian terhadap perkembangan organisasi yang 

semakin kompetitif. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk 

mengantisipasi dan merespons perubahan tersebut. Menurut Tjutju 

(2008, dalam Ramdahni, 2014), ada empat strategi utama untuk 

melakukan perubahan, yaitu: 

a. Pengendalian diri secara lebih baik dengan disertai kearifan.

b. Beradaptasi dengan perubahan yang terjadi disertai mengubah 

paradigma berpikir dan bertindak.

c. Komunikasi yang efektif untuk membangun kepercayaan dan 

mengembangkan networking. 

d. Penyelarasan dan/atau menyeimbangkan antara kematangan 

IQ, EQ, dan ESQ.

Dengan strategi tersebut, sumber daya manusia dalam organisasi 

akan melakukan upaya untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan 

global yang cenderung bersifat tanpa batas. Pengimplementasian 

strategi membutuhkan berbagai kebijakan (policy) yang mengatur mekanisme kerja dalam struktur organisasi perusahaan sehingga 

bisa menciptakan budaya kerja yang profesional dalam upaya 

mencapai visi perusahaan tersebut. Perusahaan dengan visi 

yang benar akan memiliki daya tarik bagi berbagai pihak untuk 

memberikan komitmennya pada perusahaan. Setelah itu, perlu 

dibentuk lingkungan eksternal yang menunjang kinerja sumber 

daya manusia, seperti kondisi ergonomis dalam hubungannya 

dengan lingkungan fisik dan sosial, lingkungan fisik organisasi 

dalam perusahaan menyangkut sarana dan prasarana kerja, serta 

kondisi alam sekitar. 

TOTAL QUALITY MANAGEMENT

Manajemen mutu terpadu atau total quality management (TQM) 

bermula di Amerika Serikat selama Perang Dunia II, ketika W. Edward 

Deming menolong para insinyur dan teknisi dengan menggunakan teori 

statistik untuk memperbaiki mutu produksi. Setelah perang, teorinya 

banyak diremehkan oleh perusahaan Amerika. Kemudian, Deming 

pergi ke Jepang, dimana dia mengajarkan pemimpin bisnis top mengenai 

stastistical quality control agar mereka dapat membangun negaranya. 

Manajemen mutu terpadu muncul sebagai respons atas kesulitan 

membaurkan pendekatan mutu teknis dengan tenaga kerja tak terlatih 

atau semi terlatih yang berkembang pesat saat dan setelah PDII.

Tobin (1990) mendefinisikan TQM sebagai usaha terintegrasi total 

untuk mendapatkan manfaaat kompetitif dengan secara terus-menerus 

memperbaiki setiap fase. Witcher (1990) menekankan pada pentingnya 

aspek-aspek TQM menggunakan penjelasan berikut.38

1. Total menandakan bahwa setiap orang dalam perusahaan harus 

dilibatkan (dan mungkin para pelanggan dan pemasok)

2. Quality mengindikasikan bahwa keperluan-keperluan pelanggan 

sepenuhnya dipenuhi.

3. Management menjelaskan bahwa eksekutif senior pun harus komit 

secara penuh.

Feigenbaum (1983, dalam Taufiqurokhman, 2009) mendefinisikan 

TQM sebagai dampak kontrol mutu total dan tahun 1991 mendefinisikan 

ulang lebih lengkap, yaitu sistem mutu total dijelaskan sebagai salah 

satu yang merangkum keseluruhan siklus kepuasan pelanggan dari 

interpretasi keperluannya, terutama pada tahap pemesanan, melalui 

pasokan produk atau jasa dari harga ekonominya, dan pada persepsinya 

dari produk setelah dia menggunakannya pada sepanjang periode waktu.

MANFAAT ANALISIS KEBUTUHAN SUMBER DAYA 

MANUSIA

Menurut Hastho dan Meilan (2007) dalam Danang Sunyoto (2012: 

37–40), manfaat analisis kebutuhan SDM bagi perusahaan meliputi 

beberapa hal berikut. 

1. Optimalisasi sistem manajemen informasi, terutama tentang data 

karyawan.

Agar tujuan organisasi dapat tercapai dengan baik, dibutuhkan 

sumber daya manusia yang memenuhi syarat-syarat dan kriteria 

organisasi. Dari semua kriteria tersebut, diharapkan akan terbentuk 

sumber daya manusia yang produktif dan berguna terhadap 

pencapaian tujuan organisasi.

2. Memanfaatkan SDM seoptimal mungkin.

Organisasi harus dapat memberikan added value karena kuantitas 

SDM yang besar tanpa didukung kualitas yang baik akan menjadi 

beban pembangunan suatu bangsa. Oleh karena itu, untuk 

mewujudkannya, diperlukan SDM yang terampil dan andal.3. Mengembangkan sistem perencanaan SDM dengan efisien dan 

efektif.

Hal ini diperlukan untuk memastikan bahwa suatu organisasi 

mempunyai karyawan yang benar untuk melaksanakan rencana 

organisasi.

4. Mengoordinasi fungsi-fungsi manajemen secara optimal.

Hal ini dapat dilakukan dengan menyelaraskan secara teratur 

maupun menyusun berbagai aktivitas yang saling berkaitan dari 

tiap personal dalam rangka pencapaian tujuan bersama.

5. Mampu membuat perkiraan kebutuhan SDM dengan lebih akurat 

dan cermat.

Hal ini untuk memungkinkan para pengambil keputusan 

menggunakan sumber daya manusia yang terbatas secara efektif 

dan efisien.

PERAMALAN KEBUTUHAN SUMBER DAYA MANUSIA

Menurut Werther dan Davis (1989), peramalan (forecast) kebutuhan 

sumber daya manusia secara logis dapat dibagi menjadi tiga:39

1. Ramalan permintaan sumber daya manusia.

Ramalan akan kebutuhan permintaan ini sebaiknya dibagi ke 

dalam permintaan jangka panjang dan permintaan jangka pendek. 

Pembuatan ramalan permintaan ini perlu mempertimbangkan atau 

memperhitungkan rencana strategis organisasi, perkembangan 

penduduk, perkembangan ekonomi, perkembangan teknologi, 

serta kecenderungan perubahan-perubahan sosial di dalam 

masyarakat.

2. Ramalan persediaan sumber daya manusia.

Dalam membuat ramalan persediaan sumber daya manusia ini 

perlu memperhitungkan, antara lain, persediaan sumber daya 

manusia yang sudah ada sekarang ini, baik jumlah maupun 

kualifikasinya, tingkat produksi atau efektivitas kerja sumber daya, 

tingkat pergantian tenaga kerja, angka absensi karyawan atau tenaga 

kerja, dan tingkat rotasi atau perpindahan kerja.

3. Perlakuan atas sumber daya manusia.

Berdasarkan perhitungan atau ramalan kebutuhan di suatu pihak, 

dan ramalan persediaan sumber daya manusia yang ada saat ini, 

maka perlu tindak lanjut, yaitu perlakuan (tindakan) yang akan 

diambil. Ramalan perlakuan ini, misalnya pengangkatan pegawai 

baru, penambahan kemampuan terhadap pegawai yang sudah ada 

melalui pelatihan, pengurangan pegawai, dan sebagainya.FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI RAMALAN 

KEBUTUHAN SUMBER DAYA MANUSIA

Faktor Eksternal

Faktor eksternal adalah kondisi lingkungan bisnis yang berada di luar 

kendali perusahaan yang berpengaruh pada rencana strategis dan 

rencana operasional sehingga langsung atau tidak langsung berpengaruh 

pada perencanaan SDM (H. Suwatno, 2011).40 Faktor-faktor eksternal 

tersebut di antaranya sebagai berikut:

1. Ekonomi nasional dan internasional (global). Faktor ini pada 

dasarnya berupa kondisi dan kecendrungan pertumbuhan ekonomi 

dan moneter nasional dan/atau internasional yang berpengaruh 

pada kegiatan bisnis setiap dan semua organisasi atau perusahaan.

2. Sosial, politik, dan budaya. Faktor ini tercermin dalam kondisi 

kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara di wilayah 

negara tempat operasional sebuah organisasi atau perusahaan 

menjalankan operasional bisnisnya.

3. Perkembangan ilmu dan teknologi. Perkembangan dan kemajuan 

ilmu dan teknologi berpengaruh pada kecepatan dan kualitas proses 

produksi dalam bentuk teknologi untuk mendesain produk serta 

meningkatkan efisiensi kerja, produktivitas, dan kualitas produk, 

termasuk juga teknologi pemberian pelayanan yang sesuai dengan 

keinginan dan kebutuhan konsumen. 

4. Pasar tenaga kerja dan perusahaan pesaing. Pasar tenaga kerja 

adalah areal geografi yang memiliki persediaan tenaga kerja yang 

dibutuhkan (demand) sebuah perusahaan. Perusahaan pesaing 

adalah hal yang harus dipertimbangkan dalam memprediksi 

kebutuhan SDM. Agar dapat bersaing, perusahaan membutuhkan 

sumber daya manusia yang kompeten dan dapat mengungguli 

kinerja perusahaan pesaing

Faktor Internal

Faktor internal adalah kondisi persiapan dan kesiapan SDM sebuah 

organisasi/perusahaan dalam melakukan operasional bisnis pada 

masa sekarang dan untuk mengantisipasi perkembangannya di masa 

depan (Suwatno, 2011).41 Dengan kata lain, faktor internal adalah 

alasan permintaan SDM, yang bersumber dari kekurangan SDM di 

dalam organisasi/perusahaan yang melaksanakan bisnisnya, yang 

menyebabkan diperlukan penambahan jumlah SDM. Alasan ini terdiri 

atas:

1. Faktor rencana strategis dan rencana operasional. Faktor ini 

merupakan penyebab utama yang terpenting dalam memprediksi 

kebutuhan SDM.

2. Faktor prediksi produk dan penjualan. Sebuah organisasi 

atau perusahaan harus melakukan prediksi produk yang akan 

dihasilkannya dan memprediksi pula produk yang bisa dipasarkan. 

Prediksi ini pada dasarnya merupakan prediksi laba yang dapat 

diraih dengan mempergunakan jumlah dan kualitas SDM yang sudah 

dimiliki oleh organisasi/perusahaan. Kemungkinan meningkat dan 

menurunnya produk dan pemasaran atau laba perusahaan, sangat 

besar pengaruhnya pada prediksi kebutuhan SDM.

3. Faktor pembiayaan SDM. Dalam memprediksi kebutuhan SDM 

sekurang-kurangnya harus sesuai dengan kemampuan organisasi/

perusahaan membayar upah/gaji tetap sebagai bagian pembiayaan 

SDM dari persentase laba yang dapat diraih organisasi/perusahaan 

secara berkelanjutan.

4. Faktor pembukaan bisnis baru. Pengembangan produk baru akan 

berdampak diperlukannya penambahan SDM karena terjadi 

penambahan pekerjaan dan bahkan mungkin bertambahnya 

jabatan baru. Oleh karena itu, perlu dilakukan prediksi kebutuhan 

SDM dalam perencanaan SDM, baik jumlah maupun kualitasnya, yang disebabkan oleh pengembangan bisnis baru di lingkungan 

sebuah organisasi/perusahaan.

5. Faktor desain organisasi dan desain pekerjaan. Semakin banyak 

unit kerja dalam struktur organisasi, semakin banyak dan semakin 

bervariasi kualifikasi permintaan dalam perencanaan SDM sebuah 

organisasi atau perusahaan.

6. Faktor keterbukaan dan keikutsertaan para manajer. Pada dasarnya, 

faktor ini berkenaan dengan keterbukaan dan kebijaksanaan 

manajer puncak. Kebijaksanaan tanpa diskriminasi dengan nilai￾nilai demokratis memungkinkan perencanaan SDM memprediksi 

jumlah dan kualifikasi permintaan SDM secara akurat dan objektif.

PENUTUP

Setiap organisasi, baik organisasi perusahaan, sosial, maupun 

pemerintahan mempunyai tujuan yang dapat dicapai melalui 

pelaksanaan pekerjaan tertentu, dengan mampergunakan sumber daya 

yang ada pada organisasi. Dan yang paling penting dalam mencapai 

organisasi adalah sumber daya manusia.

Sumber daya manusia sebagai salah satu sumber daya yang ada 

dalam organisasi memegang peranan penting dalam keberhasilan 

pencapaian tujuan organisasi. Berhasil atau tidaknya tergantung pada 

kemampuan sumber daya manusia dalam menjalankan tugas dan 

fungsinya. Manusia selalu berperan aktif dan selalu dominan dalam 

setiap aktivitas organisasi, karena manusia menjadi perencana, pelaku, 

sekaligus penentu terwujudnya tujuan organisasi.

Selain pengertian dari sumber daya manusia (SDM), kita pun 

harus mengetahui tentang fungsi manajemen SDM, peran SDM dalam 

organisasi, peramalan (forecasting), standar operasional prosedur yang 

ditetapkan, sistem informasi yang digunakan, dan hal lainnya, guna 

membantu dalam mewujudkan tujuan perusahaan



Di kehidupan yang modern seperti sekarang ini, tentunya masalah seputar 

dunia bisnis menjadi semakin maju. Di mana saja, siapa pun berbondong￾bondong untuk membangun dunia usaha (bisnis). Ada saja cara-cara yang 

dipergunakan oleh para pelaku bisnis untuk memajukan serta menjalankan 

bisnisnya seefektif dan seefisien mungkin. Banyak cara dilakukan, namun 

terkadang belum mencapai target yang diinginkan. Salah satu contoh 

yang bisa kita uraikan adalah masalah penyediaan produk yang murah, 

berkualitas, dan cepat belum dapat terkoordinir dengan baik, serta 

transportasi dan jaringan belum memadai. Oleh karena itu, para pelaku 

bisnis harus menyadari bahwa proses yang terstruktur dan perhitungan 

yang cermat dalam mengambil keputusan adalah penting untuk kemajuan 

bisnis tersebut.


Manajemen rantai pasokan (supply chain manegement) merupakan 

metode atau pendekatan integratif untuk mengelola aliran produk, 

informasi, dan uang secara terintegrasi yang melibatkan pihak-pihak 

mulai dari hulu ke hilir yang terdiri atas supplier, pabrik, distributor, 

toko atau retail, hingga jasa-jasa logistik. Hal penting yang menjadi 

dasar pemikiran pada metode ini adalah fokus pada pengurangan 

kesia-siaan dan mengoptimalkan nilai pada rantai pasokan yang 

berkaitan. Tidak ada perusahaan yang beroperasi tanpa menggunakan 

konsep supply chain manegement. Tidak dapat dipungkiri pula bahwa 

efektif tidaknya supply chain manegement (SCM) suatu perusahaan 

akan menjadi kunci apakah suatu perusahaan akan kompetitif di pasar. 

Oleh karena itu, tidak ada perusahaan yang bisa lepas dari kebutuhan 

untuk memahami dan menerapkan konsep ini. Sering kali, di pabrik 

terjadi kelangkaan pasokan atau penumpukan pasokan. Hal ini akan 

menyebabkan tambahan biaya bagi perusahaan tersebut, seperti penjual 

yang ingin membeli barang di retail tetapi stok barang habis di gudang 

(lost opportunity cost) atau membutuhkan biaya pengadaan gudang 

untuk penyimpanan stok barang yang menumpuk (warehousing cost). 

 PENTINGNYA MANAJEMEN RANTAI PASOKAN 

Manajemen rantai pasokan berkaitan dengan siklus lengkap bahan 

baku dari pemasok, ke produksi, kemudian ke gudang, lalu ke 

distribusi, sampai ke konsumen. Sementara perusahaan meningkatkan 

kemampuan bersaing mereka melalui penyesuaian produk, kualitas yang 

tinggi, pengurangan biaya, dan kecepatan mencapai pasar, penekanan 

tambahan diberikan pula terhadap rantai pasokan. 

Banyak peluang yang tersedia dalam manajemen rantai pasokan 

untuk meningkatkan nilai produksi dengan biaya yang rendah. Di 

pihak pemasok, teknik-teknik JIT (just in time) dan kerja sama dengan 

pemasok yang dapat membantu distribusi merupakan bagian dari manajemen rantai pasokan. Dengan bantuan rancangan dan bantuan 

pemasok, perusahaan manufaktur dapat mempertahankan karakteristik 

generik dari produksinya selama mungkin. Teknik ini kita kenal dengan 

nama postphonement, yaitu menunda modifikasi atau penyesuaian 

terhadap produksi selama mungkin.

Kita sering mendengar istilah drop ship. Ini merupakan teknik 

yang sering kali digunakan dalam bidang distribusi. Drop ship berarti 

pemasok akan langsung mengirim ke konsumen pemakai, dan bukan 

kepada penjual, agar menghemat waktu dan biaya pengangkutan ulang. 

Hal-hal lain yang biasa dilakukan untuk menghemat biaya mencakup 

penggunaan kemasan khusus, lebel khusus, dan lokasi tertentu dari 

label dan kode barang. Bentuk lain yang ditambahkan adalah ukuran 

dan jumlah unit yang dimasukkan ke dalam kontainer pengangkutan. 

Penghematan yang substansial dapat diperoleh melalui teknik-teknik 

manajemen semacam ini. Beberapa dari teknik-teknik ini dapat 

menguntungkan untuk pedagang besar maupun eceran karena dapat 

membantu mengurangi kehilangan barang dagang akibat hilang, rusak, 

atau dicuri dan juga mengurangi biaya penyimpanan.42

Dengan demikian, semakin pendek rantai pasokan yang digunakan 

maka akan mempercepat penyampaian barang dari supplier ke produsen 

dan dari produsen ke konsumen akhir sehingga risiko kerusakan barang 

dan biaya logistik bisa dikurangi. Dengan demikian daya saing produk 

tersebut akan meningkat.

PENGERTIAN MANAJEMEN RANTAI PASOKAN

Manajemen rantai pasokan (supply chain management ) adalah sebuah 

proses payung dimana produk diciptakan dan disampaikan kepada 

konsumen dari sudut struktural. Manajemen rantai pasokan merujuk 

pada jaringan yang rumit dari hubungan yang mempertahankan

organisasi dengan rekan bisnisnya untuk mendapatkan sumber produksi 

yang kemudian disampaikan kepada konsumen (Kalakota, 2000: 197).43

Manajemen rantai pasokan adalah koordinasi antara arus bahan 

atau material, arus informasi, dan arus keuangan di antara perusahaan 

yang berpartisipasi. Manajemen rantai pasokan bisa juga berarti seluruh 

kegiatan dari komoditas dasar hingga penjualan produk akhir ke 

konsumen untuk mendaur produk yang sudah dipakai. Arus bahan atau 

material melibatkan arus produk fisik dari pemasok sampai konsumen 

melalui rantai. Arus bahan juga meliputi arus balik bahan dari retur 

produk, layanan, daur ulang, dan pembuangan. Arus informasi meliputi 

ramalan permintaan, transmisi pesanan, dan laporan status pesanan. 

Arus ini berjalan dua arah antara konsumen akhir dan penyelia material 

mentah. Kemudian, arus keuangan meliputi informasi kartu kredit, 

syarat-syarat kredit, jadwal pembayaran, dan penetapan kepemilikan 

pengiriman (Kalakota, 2000: 198).44

KOMPONEN MANAJEMEN RANTAI PASOKAN

Menurut Turban, Rainer, dan Porter (2004: 321),45 terdapat tiga macam 

komponen rantai pasokan, yaitu: 

1. Rantai pasokan hulu (upstream supply chain)

Bagian rantai pasokan hulu meliputi aktivitas dari suatu perusahaan 

menufaktur dengan para andistributor (bisa manufaktur atau 

assembler, atau keduanya) dan koneksi mereka kepada para 

penyalur mereka (para penyalur second-trier). Dalam rantai pasokan 

hulu, aktivitas yang utama adalah pengadaan.

2. Manajemen rantai pasokan internal (internal supply chain 

management)


Manajemen rantai pasokan internal meliputi semua proses pemasukan 

barang ke gudang yang digunakan dalam mentransformasikan 

masukan dari para penyalur menjadi keluaran organisasi. Hal ini 

meluas dari waktu masukan masuk ke dalam organisasi. Dalam rantai 

pasokan internal, perhatian yang utama adalah manajemen produksi, 

pabrikasi, dan pengendalian persediaan.

3. Segmen rantai pasokan hilir (downstream supply chain segment)

Rantai pasokan hilir meliputi semua aktivitas yang melibatkan 

pengiriman produk kepada pelanggan akhir. Di dalam rantai 

pasokan hilir, perhatian diarahkan pada distribusi, pergudangan, 

transportasi, dan layanan pascapenjualan (after-sales-service).

Menurut Indrajit dan Djokopranoto,46 ada beberapa pemain di 

dalam rantai pasokan, di antaranya adalah supplier, manufacturer,

distributor/wholesaler, retail outlets, dan konsumen.

TUJUAN MANAJEMEN RANTAI PASOKAN

Menurut Stevenson,47 tujuan dari manajemen rantai pasokan adalah 

menyelaraskan antara permintaan dan penawaran secara efektif dan 

efisien.  Beberapa masalah utama yang ada di dalam rantai pasokan 

berhubungan dengan:

1. Penentuan tingkat outsourcing yang tepat.

2. Manajemen pengadaan barang.

3. Manajemen pemasok.

4. Mengelola hubungan dengan pelanggan.

5. Identifikasi masalah dan merespons masalah tersebut.

6. Manajemen risiko.

Menurut I Nyoman Pujawan,48 tujuan strategis dari rantai pasokan 

adalah untuk memenangkan persaingan pasar, atau setidaknya bertahan. 

Oleh karena itu, menurut I Nyoman Pujawan, untuk menjadi pemenang 

dalam persaingan pasar maka rantai pasokan harus bisa menyediakan 

produk yang:

1. Murah.

2. Berkualitas.

3. Tepat waktu.

4. Bervariasi.

PROSES MANAJEMEN RANTAI PASOKAN 

Proses manajemen rantai pasokan terbagi menjadi tiga macam tanggung 

jawab, antara lain:

1. Arus material

Arus material ini melibatkan pergerakan produk mentah dari 

pemasok ke konsumen dan juga dari konsumen yang dikembalikan, 

atau retur produk, layanan, daur ulang, dan pembuangan.

2. Arus informasi

Arus informasi ini berisi tentang prediksi permintaan, informasi 

perpindahan barang, dan juga pembaruan status barang apakah 

sudah terkirim atau belum.

3. Arus finansial

Arus finansial berisi pembayaran, alur perkreditan, penjadwalan 

pembayaran, hingga persetujuan kepemilikan. Alur informasi yang 

akurat dan bergerak dengan mudah di antara mata rantai serta 

pergerakan barang yang efektif dan efisien menjadi faktor kunci 

keberhasilan dalam manajemen rantai pasokan.

PEMBELIAN DALAM MANAJEMEN RANTAI PASOKAN

Rantai pasokan menerima perhatian yang besar karena di sebagian 

besar perusahaan pembelian merupakan kegiatan yang paling memakan 

biaya. Biaya pembelian sebagai persentase dari penjualan, untuk barang 

maupun jasa, sering kali substansial sifatnya. Karena porsi pendapatan 

yang besar dilimpahkan untuk melakukan pembelian, maka strategi 

pembelian yang efektif merupakan sesuatu yang vital. Pembelian 

memberikan peluang besar pengurangan biaya dan peningkatan 

margin kontribusi. Tambahan pula, mutu barang dan jasa yang dijual 

secara langsung berhubugan dengan kualitas barang dan jasa yang 

dibeli. Organisasi mampunyai sejumlah strategi untuk pembelian 

yang efektif, tetapi pertama-tama, perusahaan harus menentukan 

apa yang ingin dibuat dan apa yang ingin dibeli. Setelah menetapkan 

keputusan membuat atau membeli (yang akan kita bahas secara singkat), 

perusahaan harus memutuskan strategi pembelian untuk item-item

yang akan dibeli.49

Kebutuhan akan strategi pembelian dan penerapan strategi itu 

mengarah kepada dibentuknya fungsi pembelian. Pembelian berarti 

perolehan barang dan jasa. Tujuan dari kegiatan pembelian adalah:

1. Membantu identifikasi produk dan jasa yang dapat diperoleh secara 

eksternal.

2. Mengembangkan, mengevaluasi, dan menentukan pemasok, harga, 

dan pengiriman yang terbaik bagi barang dan jasa tersebut. 

Pembelian terjadi di lingkungan operasi maupun jasa.Di lingkungan 

operasi, fungsi pembelian biasanya dikelola oleh agen pembelian yang 

secara formal memegang wewenang untuk melaksanakan kontrak atas 

nama perusahaan. Di perusahaan-perusahaan besar, agen pembelian 

ini dapat merupakan staf yang juga pembeli dan ekspeditor. Pembelian mewakili perusahaan yang bersangkutan menjalankan semua kegiatan 

departemen pembelian kecuali penandatanganan kontrak, ekspeditor 

membantu membeli dan menindaklanjuti pembelian agar dapat 

dipastikan bahwa pengiriman barangnya tepat waktu. Di perusahaan￾perusahaan manufaktur, fungsi pembelian didukung oleh engineering 

drawing dan spesifikasi dari produk-produk yang dibuat, dokumen￾dokumen pengendalian mutu, dan kegiatan-kegiatan pengujian yang 

mengevaluasi item-item yang dibeli.

Di banyak lingkungan jasa, peranan pembelian terputus karena 

produk primernya merupakan produk intelektual. Di oganisasi umum 

maupun pengobatan, misalnya, item utama yang diperoleh adalah 

fasilitas kantor, perabotan dan peralatan, mobil, serta perlengkapan. 

STRATEGI PEMBELIAN DALAM MANAJEMEN RANTAI 

PASOKAN 

Untuk item-item yang akan dibeli, perusahaan harus memutuskan 

strategi pembelian. Salah satu strategi adalah pendekatan masyarakat 

Amerika tradisional, yaitu negosiasi dengan banyak pemasok dan 

mempermainkan satu pemasok dengan yang lainnya. Strategi yang 

kedua adalah mengembangkan hubungan jangka panjang, bersekutu 

dengan beberapa pemasok yang akan bekerja sama dengan pembeli 

untuk memuaskan konsumen akhir. Strategi yang ketiga adalah integrasi 

vertikal, dimana perusahaan dapat memutuskan untuk menggunakan 

integrasi vertikal ke belakang dengan membeli pemasoknya. Variasi 

keempat adalah kombinasi beberapa pemasok dan integrasi vertikal 

yang dikenal dengan sebutan “keiretsu“. Pada metode keiretsu, pemasok 

menjadi bagian koalisi perusahaan. Terakhir, strategi kelima adalah 

mengembangkan perusahaan-perusahaan maya yang menggunakan 

pemasok dengan dasar “pada saat dibutuhkan”. Terdapat lima strategi manajemen ratai pasokan yang dapat dipilih 

perusahaan untuk melakukan pembelian kepada supplier, yaitu:50

1. Banyak pemasok (many supplier)

Strategi ini memainkan antara pemasok yang satu dengan pemasok 

yang lainnya dan membebankan pemasok untuk memenuhi 

permintaan pembeli. Para pemasok saling bersaing secara agresif. 

Meskipun banyak pendekatan negosiasi yang digunakan dalam 

strategi ini, tetapi hubungan jangka panjang bukan menjadi tujuan. 

Dalam pendekatan ini, tanggung jawab dibebankan pada pemasok 

untuk mempertahankan teknologi, keahlian, kemampuan ramalan, 

biaya, kualitas, dan pengiriman. 

2. Sedikit pemasok (few supplier) 

Dalam strategi ini, perusahaan mengadakan hubungan jangka 

panjang dengan para pemasok yang dipercaya. Dengan cara ini, 

pemasok cenderung lebih memahami sasaran-sasaran luas dari 

perusahaan dan konsumen akhir. Penggunaan hanya beberapa 

pemasok dapat menciptakan nilai dengan memungkinkan pemasok 

mempunyai skala ekonomis dan kurva belajar yang menghasilkan 

biaya transaksi dan biaya produksi yang lebih rendah. 

Dengan sedikit pemasok maka biaya mengganti partner besar 

sehingga pemasok dan pembeli menghadapi risiko akan menjadi 

tawanan yang lainnya. Kinerja pemasok yang buruk merupakan 

salah satu risiko yang dihadapi pembeli sehingga pembeli harus 

memperhatikan rahasia-rahasia dagang pemasok yang berbisnis 

di luar bisnis bersama. 

3. Integrasi vertikal (vertical integration)

Integrasi vertikal artinya pengembangan kemampuan memproduksi 

barang atau jasa yang sebelumnya dibeli, atau dengan benar-benar 

membeli pemasok atau distributor. Integrasi vertikal dapat berupa: a. Integrasi ke belakang (backward integration) berarti penguasaan 

kepada sumber daya, misalnya perusahaan mobil mengakuisisi 

pabrik baja. 

b. Integrasi ke depan (forward integration) berarti penguasaan 

kepada konsumennya, misalnya perusahaan mobil mengakuisisi 

dealer yang semula sebagai distributornya. 

4. Kairetsu network

Kebanyakan perusahaan manufaktur mengambil jalan tengah 

antara membeli dari sedikit pemasok dan integrasi vertikal