Senin, 13 Oktober 2025

Manajemen operasi 3


 




dengan cara, misalnya, mendukung pemasok secara finansial 

melalui kepemilikan atau pinjaman. Pemasok kemudian menjadi 

bagian dari koalisi perusahaan yang lebih dikenal dengan kairetsu. 

Keanggotaannya dalam hubungan jangka panjang sehingga 

diharapkan dapat berfungsi sebagai mitra, menularkan keahlian 

teknis dan kualitas produksi yang stabil kepada perusahaan 

manufaktur. Para anggota kairetsu dapat beroperasi sebagai 

subkontraktor rantai dari pemasok yang lebih kecil. 

5. Perusahaan maya (virtual company)

Perusahan maya mengandalkan berbagai hubungan pemasok 

untuk memberikan pelayanan pada saat diperlukan. Perusahaan 

maya mempunyai batasan organisasi yang tidak tetap dan bergerak 

sehingga memungkinkan terciptanya perusahaan yang unik yang 

dapat memenuhi permintaan pasar yang cenderung berubah. 

Hubungan yang terbentuk dapat memberikan pelayanan jasa, di 

antaranya meliputi pembayaran gaji, pengangkatan karyawan, 

desain produk, atau distribusinya. 

Hubungan bisa bersifat jangka pendek maupun jangka panjang, 

mitra sejati atau kolaborasi, pemasok atau subkontraktor. Apapun 

bentuk hubungannya diharapkan akan menghasilkan kinerja kelas 

dunia yang ramping. Keuntungan yang bisa diperoleh, di antaranya, 

adalah keahlian manajemen yang terspesialisasi, investasi modal yang rendah, fleksibilitas, dan kecepatan. Hasil yang diharapkan 

adalah efisiensi. 

MEMBUAT ATAU MEMBELI

Pedagang besar maupun eceran membeli semua yang dijual sedangkan 

operasi munufaktur jarang yang demikian. Perusahaan manufaktur, 

restoran, dan perakit produk membeli komponen dan subperakitan 

yang dapat dijadikan produk akhir. Pemilihan barang dan jasa yang 

dapat diperoleh lewat sumber eksternal lebih menguntungkan dibanding 

perolehan lewat sumber internal, dikenal dengan sebutan keputusan 

membuat atau membeli. Peranan departemen pembelian di sini adalah 

mengevaluasi pemasok-pemasok alternatif dan memberikan data-data 

yang aktual, akurat, dan lengkap yang releven untuk alternatif pembelian. 

Tabel 10-1 berikut menunjukkan pertimbangan-pertimbangan dalam 

keputusan membuat atau membeli:

TEKNIK-TEKNIK PEMBELIAN 

Berikut ini adalah teknik-teknik pembelian yang dapat dilakukan.52

1. Blanket orders

Blanket orders adalah pesanan yang tidak dapat dipenuhi penjual. 

Blanket orders adalah suatu kontrak untuk membeli item tertentu 

dari penjual, bukan merupakan pengesahan agar sesuatu dikirim. 

Pengiriman dilakukan hanya berdasarkan diterimanya dokumen 

persetujuan, mungkin rekuisisi pengiriman, atau perintah 

pengiriman.

2. Pembelian tanpa faktur

Pembelian tanpa faktur merupakan bagian dari hubungan 

pemasok-pembeli yang baik. Di lingkungan pembelian tanpa faktur, 

biasanya ada satu pemasok untuk semua unit dari produk tertentu. Bila pemasoknya memberikan semua roda (4 buah) untuk setiap 

mesin pemotong rumput yang diproduksi, maka manajemen tahu 

berapa roda yang dipesan. Manajer cukup mengalikan jumlah 

mesin yang diproduksi dengan 4 dan menulis cek untuk pemasok 

sebesar nilainya. 

3. Pemesanan elektronik dan transfer dana

Pemesanan elektronik dan transfer dana mengurangi transaksi 

dengan kertas. Transaksi dengan kertas mencakup pesanan 

pembelian, perintah pembelian, tanda terima, kuasa pembayaran 

faktur (yang dicocokan dengan laporan penerimaan yang telah 

disetujui), dan terakhir pembuatan cek. Departemen pembelian 

dapat mengurangi tumpukan perkerjaan ini dengan pemesanan 

elektronik, penerimaan semua komponen dalam keadaan 100% 

baik dan transfer dana elektronik untuk pembayaran sejumlah yang 

diterima. Pemesanan elektronik tidak hanya mengurangi pekerjaan 

laporan, tetapi juga mempercepat siklus pemerolehan bahan baku 

yang dulunya sangatlah panjang. 

4. Pembelian tanpa stok

Istilah pembelian tanpa stok telah berkembang sedemikian rupa 

sehingga istilah ini berarti bahwa pemasok menjaga persedian 

untuk pembeli. Bila pemasok ini dapat menjaga stok persedian 

untuk berbagai konsumen yang menggunakan produk yang sama 

atau yang perbedaan antara masing-masing tidak terlalu banyak, 

misalnya, mungkin tahapan kemasannya, maka mungkin dapat 

tercipta penghematan bersih. 

Terlepas dari keputusan-keputusan itu, pertimbangan-pertimbangan 

harus diulas secara berkala. Kemampuan penjual dan perubahan biaya, 

demikian pula kemampuan produksi biaya dalam perusahaan bisa 

berubah-ubah sehingga setiap keputusan harus mempertimbangkan 

lagi kondisi terkini hal-hal tersebut.

MANAJEMEN BAHAN BAKU 

Pembelian dapat dikombinasi dengan berbagai kegiatan pergudangan 

dan persedian untuk membentuk suatu sistem manajemen bahan 

baku. Tujuan dari manajmen bahan baku adalah mendapatkan efisiensi 

operasi melalui integrasi semua perolehan, pergerakan, dan kegiatan 

penyimpanan bahan baku di perusahaan. Jika biaya transportasi 

dan persediaannya substansial menyangkut input dan output proses 

produksi, penekanan terhadap manajemen bahan baku mungkin tepat 

untuk diterapkan. Potensi adanya keunggulan kompetitif adalah karena 

terjadi pengurangan biaya dan peningkatan pelayanan konsumen. 

Banyak perusahaan manufaktur yang telah bergerak ke suatu bentuk 

struktur manajemen bahan baku.53

MANFAAT MANAJEMEN RANTAI PASOKAN 

Manfaat utama dari rantai pasokan dengan sistem terintegrasi, yaitu:54

1. Tangible benefit

Manfaat yang tangible (berwujud) berupa pengurangan persediaan, 

pengurangan personel, perbaikan produktivitas, perbaikan 

manajemen pemasaran, perbaikan financial close cycle, pengurangan 

biaya IT, peningkatan pendapatan, dan lain sebagainya.

2. Intangibel benefit

Manfaat yang intangible (tidak berwujud) berupa information 

visibility, proses perbaikan terus-menerus, tanggapan konsumen 

yang responsif, standardisasi, fleksibilitas, globalisasi, dan 

peningkatan kinerja bisnis.TANTANGAN MANAJEMEN RANTAI PASOKAN 

Tantangan dalam mengelola manajemen rantai pasokan menurut I 

Nyoman Pujawan (2005), yaitu:55

1. Kompleksitas struktur rantai pasokan

Manajemen rantai pasokan melibatkan banyak pihak dengan 

kepentingan yang berbeda-beda, seperti perbedaan bahasa, zona 

waktu, dan budaya antarperusahaan.

2. Ketidakpastiaan

Ketidakpastian ini meliputi ketidakpastian permintaan, 

ketidakpastian pasokan (lead time pengiriman, harga dan kualitas 

bahan baku, dan lain-lain), dan ketidakpastian internal (kerusakan 

mesin, kinerja mesin yang tidak sempurna, ketidakpastian kualitas 

produksi, dan lain-lain).

Untuk menghadapi masalah ketidakpastian pemesanan dalam rantai 

pasokan atau bullwhip effect, diperlukan sharing informasi di sepanjang 

rantai pasokan, optimalisasi tingkat persediaan, penciptaan tim rantai 

pasokan, pengukuran kinerja rantai pasokan, maupun pembangunan 

koordinasi dan kolaborasi di antara mitra bisnis sehingga proses 

pengiriman produk dari pemasok ke perusahaan dan ke konsumen 

dapat berjalan lancar dan memungkinkan perusahaan untuk mencapai 

biaya persediaan yang rendah. Sedangkan, menurut James A. dan Mona 

J. Fitzsimmons (2006),56 tantangan dalam manajemen rantai pasokan 

adalah untuk menyeimbangkan kebutuhan pengiriman pelanggan 

secara tepat dengan mendorong biaya produksi dan biaya persediaan. 

Pemodelan manajemen rantai pasokan memungkinkan manajer untuk 

mengevaluasi pilihan yang akan memberikan peningkatan terbesar 

dalam kepuasan pelanggan dengan biaya yang terjangkau.

PENUTUP

Dengan adanya konsep manajemen rantai pasokan, para pelaku bisnis 

lebih mudah untuk menciptakan produk-produk andal, berkualitas, 

dan cepat. Proses pengolahan produk dari awal perencanaan, produksi, 

sampai pendistribusian menjadi semakin terstruktur dan terkoordinasi 

dengan baik. Manajemen rantai pasokan menjadikan lebih efesien dan 

efektif dalam mengelola produk di sebuah instansi perusahaan.

Penerapan konsep manajemen rantai pasokan dalam perusahaan 

akan memberikan manfaat, yaitu kepuasan pelanggan, meningkatnya 

pendapatan, menurunnya biaya, pemanfaatan aset yang semakin tinggi, 

peningkatan laba, dan perusahaan yang semakin besar. Syarat utama 

dari penerapan manajemen rantai pasokan tentunya memberikan 

dukungan mulai dari proses perencanaan, pengorganisasian, koordinasi, 

pelaksanaan, sampai pengendalian. Selain itu, manajemen rantai 

pasokan meningkatkan nilai tambah bagi produk dan layanan dalam 

menghadapi persaingan usaha. 


E-commerce didefinisikan sebagai penggunaan Internet dan Web 

untuk transaksi bisnis. E-commerce berbeda dari e-business. E-business

mengacu pada transaksi dan proses dalam suatu organisasi. Sebagai 

contoh, suatu sistem pengendalian persediaan perusahaan online adalah 

komponen e-business bukan bagian dari e-commerce. Sistem pengendalian 

persediaan tidak secara langsung menghasilkan pendapatan untuk 

perusahaan. Keberadaan e-commerce merupakan alternatif bisnis yang 

cukup menjanjikan untuk diterapkan pada saat ini karena e-commerce

memberikan banyak kemudahan bagi kedua belah pihak, baik dari 

pihak penjual (merchant) maupun dari pihak pembeli (buyer) di dalam 

melakukan transaksi perdagangan, meskipun para pihak berada di dua benua yang berbeda sekalipun. Dengan e-commerce, setiap transaksi 

tidak memerlukan pertemuan dalam tahap negoisasi. Oleh karena itu, 

jaringan Internet ini dapat menembus batas geografis dan teritorial, 

termasuk yurisdiksi hukumnya. E-commerce adalah dimana dalam satu 

situs Web menyediakan atau dapat melakukan transaksi secara online,

atau bisa juga merupakan suatu cara berbelanja atau berdagang secara 

online atau direct selling yang memanfaatkan fasilitas Internet dimana 

terdapat situs Web yang dapat menyediakan layanan “get and deliver“. 

E-commerce akan mengubah semua kegiatan pemasaran dan juga 

sekaligus memangkas biaya-biaya operasional untuk kegiatan trading

(perdagangan). 

Ada pula pendapat mengenai pengertian e-commerce bahwa 

e-commerce mengacu pada Internet untuk belanja online dan mencakup 

jangkauan yang lebih sempit, dimana e-commerce adalah subperangkat 

dari e-business. Cara pembayara e-commerce melalui transfer uang 

secara digital, seperti melalui akun Paypal atau kartu kredit, sedangkan 

e-business mengacu pada Internet tapi dengan jangkauan lebih luas. 

Area e-business terjadi ketika perusahaan atau individu berkomunikasi 

dengan klien atau nasabah melalui surel (email), tapi pemasaran atau 

penjualan dilakukan dengan Internet, dengan begitu dapat memberikan 

keuntungan berupa keamanan, fleksibililtas, dan efisiensi.

JENIS E-COMMERCE

Ada lima jenis utama e-commerce, yaitu: 

1. Business-to-business (B2B).

Business-to-businesse-commerce meliputi semua transaksi elektronik 

barang atau jasa yang dilakukan antarperusahaan. Produsen dan 

pedagang tradisional biasanya menggunakan jenis e-commerce ini. 

Umumnya, e-commerce dengan jenis ini dilakukan dengan 

menggunakan EDI (electronic data interchange) dan surel dalam proses pembelian barang dan jasa, informasi dan konsultasi, atau 

pengiriman dan permintaan proposal bisnis.

2. Business-to-consumer (B2C). 

Business-to-consumer adalah jenis e-commerce antara perusahaan 

dan konsumen akhir. Hal ini sesuai dengan bagian ritel dari 

e-commerce yang biasa dioperasikan oleh perdagangan ritel 

tradisional. Jenis e-commerce ini berkembang dengan sangat cepat 

karena dukungan munculnya situs Web serta banyaknya toko 

virtual, bahkan mal, di Internet yang menjual beragam kebutuhan 

masyarakat.

3. Consumer-to-consumer (C2C).

Consumer-to-consumer merupakan jenis e-commerce yang meliputi 

semua transaksi elektronik barang atau jasa antarkonsumen.

Umumnya, transaksi ini dilakukan melalui pihak ketiga yang 

menyediakan platform online untuk melakukan transaksi tersebut.

4. Peer-to-peer (P2P).

Istilah peer-to-peer berasal dari bahasa Inggris yang berarti teknologi 

dari “ujung” ke “ujung”. Pertama kali diluncurkan dan dipopulerkan 

oleh aplikasi-aplikasi “berbagi-berkas” (file sharing). Aplikasi P2P 

yang sebenarnya memerlukan satuan tim-tim kecil dengan ide 

cemerlang untuk mengembangkan perangkat lunak dan bisnis￾bisnis yang mungkin dilakukan oleh perangkat tersebut.

5. Mobile commerce (m-commerce).

M-commerce adalah sistem perdagangan elektronik (e-commerce) 

dengan menggunakan peralatan portabel/mobile, seperti telepon 

genggam, telepon pintar, PDA, notebook, dan lain lain. Pada saat 

pengguna komputer berpindah dari satu tempat ke tempat lain 

(sewaktu berada dalam mobil, misalnya), pengguna komputer tersebut 

dapat melakukan transaksi jual beli produk di Internet  dengan 

menggunakan sistem m-commerce ini. Selain m-commerce, istilah 

lain yang sering dipakai adalah m-business (mobile business).Tujuan dan manfaat implementasi e-business adalah untuk 

mendukung efisiensi dan integritas pengelolaan data sumber daya 

manusia, keuangan, dan manajemen rantai pasokan/manajemen 

logistik. Selain itu, e-business juga berfungsi sebagai sarana komunikasi 

dan informasi bagi publik dan stakeholder lainnya. Dengan berbasiskan 

Internet, sistem ini dapat diakses di semua tempat sesuai dengan hak 

akses yang telah ditentukan. Adapun manfaat implementasi e-business 

adalah:

1. Meningkatkan kinerja operasional perusahaan.

2. Meningkatkan peluang akses ke pasar, pemasok, dan pendanaan 

yang sangat luas.

3. Meningkatkan efisiensi perusahaan.

4. Mempermudah pengelolaan aset perusahaan. 

5. Meningkatkan kualitas layanan terhadap pelanggan. 

6. Meningkatkan komunikasi seluruh stakeholder.

7. Mengatasi kesenjangan digital. 

8. Media mempromosikan kompetensi perusahaan. 

9. Memperlancar kegiatan ekonomi. 

10. Memperlancar transaksi bisnis.

11. Sarana penyebaran informasi secara luas.

Kendala perdagangan melalui jaringan elektronik:

1. Biaya tinggi.

2. Masalah keamanan.

3. Perangkat lunak yang belum mapan atau tidak tersedia. 

Adapun proses yang terdapat dalam e-commerce adalah sebagai 

berikut.

1. Presentasi elektronis (pembuatan situs web) untuk produk dan 

layanan.

2. Pemesanan secara langsung dan tersedianya tagihan.3. Secara otomatis, akun pelanggan dapat secara aman mengonfirmasi 

pembelian (akun terverifikasi baik melalui nomor rekening maupun 

nomor kartu kredit).

4. Pembayaran yang dilakukan secara langsung (online) dan 

penanganan transaksi.

Ruang lingkup e-commerce adalah sebagai berikut.

1. Teknologi.

2. Pemasaran dan “new consumer processes”.

3. Ekonomi.

4. Electronic linkage.

5. Information value adding.

6. Market making.

7. Service infrastructure.

8. Legalitas, privasi, dan kebijakan publik.

Standar teknologi e-commerce, antara lain: 

1. Electronic Data Interchange (EDI).

EDI adalah sebuah standar struktur dokumen yang dirancang untuk 

memungkinkan organisasi besar untuk mengirimkan informasi 

melalui jaringan prívat.

2. Open Buying on the Internet (OBI).

OBI adalah sebuah standar yang dibuat oleh Internet Purchasing 

Roundtable yang akan menjamin bahwa berbagai sistem e-commerce

dapat berbicara satu dengan lainnya.

3. Open Trading Protocol (OTP).

OTP sebetulnya merupakan standar kompetitor OBI yang 

dibangun oleh beberapa perusahaan, seperti AT&T, IBM, dan Sun 

Microsystems.4. Open Profiling Standard (OPS).

OPS digunakan untuk menolong memproteksi privasi pengguna 

tanpa menutup kemungkinan untuk transaksi informasi untuk 

proses marketing dan sebagainya.

5. Secure Socket Layer (SSL).

Protokol ini didesain untuk membangun sebuah saluran yang 

aman ke server.

6. Secure Electronic Transaction (SET).

SET akan mengodekan nomor kartu kredit yang disimpan di server 

merchant.

7. TRUSTe.

TRUSTe adalah sebuah partnership dari berbagai perusahaan yang 

mencoba membangun kepercayaan publik dalam e-commerce

dengan cara memberikan cap Good Housekeeping yang 

memberikan approve pada situs yang tidak melanggar kerahasiaan 

konsumen.

ISTILAH-ISTILAH DALAM E-COMMERCE

Terdapat beberapa istilah yang perlu diketahui dalam bidang 

e-commerce, antara lain:

1. Digital cash atau electronic cash, metode yang memungkinkan 

seseorang untuk membeli barang atau jasa dengan cara mengirimkan 

nomor dari satu komputer ke komputer yang lain.

2. Digital money, yaitu terminologi global untuk berbagai e-cash dan 

mekanisme pembayaran elektronik di Internet.

3. Disintermediation, yaitu proses untuk memotong jalur perantara.

4. Electronic checks, yaitu sistem cek elektronik, seperti PayNow, yang 

akan mengambil uang dari akun cek di bank yang saat ini sedang 

diuji coba oleh CyberCash.5. Electronic wallet, yaitu pola pembayaran, seperti CyberCash Internet 

Wallet, yang akan menyimpan nomor kartu kredit Anda di harddisk

Anda dalam bentuk terenkripsi yang aman. Anda akan dapat 

melakukan pembelian-pembelian pada situs web yang mendukung 

electronic wallet tersebut.

6. Extranet, yaitu sebuah kelanjutan dari intranet perusahaan yang 

mengaitkan jaringan internal satu perusahaan dengan jaringan 

internal supplier mereka maupun pelanggan mereka.

7. Micropaymet, yaitu transaksi dalam jumlah kecil antara beberapa 

ratus rupiah hingga puluhan ribu rupiah, misalnya untuk 

mengambil/mengakses grafik, game, maupun informasi.

CONTOH E-COMMERCE

Banyak sekali yang dapat kita lakukan melalui e-commerce, yaitu:

1. Jual-beli buku melalui online.

2. Jual-beli elektronik melalui online.

3. Jual-beli kendaraan melalui online.

4. Jual-beli pakaian melalui online.

5. Lain-lain.

DAMPAK POSITIF DAN NEGATIF E-COMMERCE

Dampak positif e-commerce, di antaranya:

1. Revenue stream (aliran pendapatan) baru yang mungkin lebih 

menjanjikan yang tidak bisa ditemui di sistem transaksi tradisional.

2. Dapat meningkatkan market exposure (pangsa pasar).

3. Menurunkan biaya operasional (operating cost).

4. Melebarkan jangkauan (global reach).

5. Meningkatkan loyalitas konsumen.

6. Meningkatkan supplier management.7. Memperpendek waktu produksi.

8. Meningkatkan value chain (mata rantai pendapatan).

9. Menjadi bagian dari kegiatan promosi.

Selain dampak positif, e-commerce juga memiliki beberapa risiko 

sebagai berikut.

1. Kehilangan dari segi finansial secara langsung karena kecurangan. 

Misalnya, seorang penipu mentransfer uang dari rekening satu ke 

rekening lainnya atau mengganti semua data finansial yang ada.

2. Pencurian informasi rahasia yang berharga. Gangguan yang timbul 

bisa menyingkap semua informasi rahasia tersebut kepada pihak￾pihak yang tidak berhak dan dapat mengakibatkan kerugian yang 

besar bagi si korban.

3. Kehilangan kesempatan bisnis karena gangguan pelayanan. 

Kesalahan ini bersifat kesalahan non-teknis, seperti aliran listrik 

tiba-tiba padam.

4. Penggunaan akses ke sumber oleh pihak yang tidak berhak. 

Misalnya, seorang peretas yang berhasil membobol sebuah sistem 

perbankan, kemudian memindahkan sejumlah uang dari rekening 

orang lain ke rekeningnya sendiri.

5. Kehilangan kepercayaan dari para konsumen. Ini karena berbagai 

macam faktor, seperti usaha yang dilakukan dengan sengaja 

oleh pihak lain yang berusaha menjatuhkan reputasi perusahaan 

tersebut.

6. Kerugian yang tidak terduga. Ini bisa disebabkan oleh gangguan 

yang dilakukan dengan sengaja, ketidakjujuran, praktik bisnis yang 

tidak benar, kesalahan faktor manusia, atau kesalahan sistem

7. Menciptakan penganguran baru akibat berkurangnya kebutuhan 

tenaga kerja karena terpangkasnya rantai pemasaran.KELEMAHAN DAN KENDALA E-COMMERCE

Menurut survey yang dilakukan oleh CommerceNet pada 2016, para 

pembeli/pembelanja belum menaruh kepercayaan kepada e-commerce. 

atau Lebih tepatnya, mereka tidak dapat menemukan apa yang mereka 

cari di e-commerce, atau belum ada cara yang mudah dan sederhana 

untuk membayar. Di samping itu, surfing di e-commerce belum lancar 

betul. Pelanggan e-commerce masih takut ada pencuri kartu kredit, 

rahasia informasi personal mereka menjadi terbuka, dan kinerja 

jaringan yang kurang baik. Umumnya, pembeli masih belum yakin 

bahwa berbelanja secara online lebih menguntungkan karena mereka 

harus mencari situs belanja, menunggu unduhan gambar, mencoba 

mengerti bagaimana cara memesan sesuatu, dan kemudian harus 

waswas nomor kartu kredit mereka akan pediretas.

Tampaknya untuk meyakinkan pelanggan ini, e-merchant (pedagang 

e-commerce) harus melakukan banyak proses pemandaian pelanggan. 

Walaupun demikian, Gail Grant, kepala lembaga penelitian di 

CommerceNet, meramalkan sebagian besar pembeli akan berhasil 

mengatasi penghalang tersebut setelah beberapa tahun mendatang.

Grant mengatakan jika saja pada halaman Web dapat dibuat label 

yang memberikan informasi tentang produk dan harganya, akan sangat 

memudahkan bagi search engine menemukan sebuah produk secara 

online. Hal tersebut telah terjadi sekarang, pembeli dapat menemukan 

produk yang dicari dari beberapa penjual dan dapat membandingkan 

harganya. Hal ini sangat menguntungkan pembeli tetapi juga menjadi 

tantangan bagi para merchant.

Untuk sistem business-to-business, isu yang ada memang tidak sepelik 

di atas, namun tetap ada isu-isu serius, seperti para pengusaha belum 

punya model yang baik bagaimana cara men-setup situs e-commerce

mereka. Mereka mengalami kesulitan untuk melakukan sharing antara 

informasi yang diperoleh online dengan aplikasi bisnis lainnya. Masalah yang mungkin menjadi kendala utama adalah ide untuk sharing

informasi bisnis kepada pelanggan dan supplier—hal ini merupakan 

strategi utama dalam sistem e-commerce bisnis ke bisnis.

Kunci utama untuk memecahkan masalah adalah merchant harus 

menghentikan pemikiran bahwa dengan cara menopangkan diri 

pada Java applets maka semua masalah akan terselesaikan, padahal 

kenyataannya adalah sebetulnya merchant harus merestrukturisasi 

operasi mereka untuk mengambil keuntungan maksimal dari 

e-commerce. Grant berkata, “E-commerceis just like any automation—it 

amplifies problems with their operation they already had.”

HUBUNGAN HUKUM ANTARPELAKU E-COMMERCE

Hingga saat ini, Indonesia belum memiliki perangkat hukum yang 

mengakomodasi perkembangan e-commerce. Padahal, pranata hukum 

merupakan salah satu ornamen utama dalam bisnis. Tanpa regulasi 

khusus yang mengatur perjanjian virtual, secara otomatis perjanjian￾perjanjian di Internet tersebut akan diatur oleh hukum perjanjian non￾elektronik yang berlaku. Berdasarkan pasal 1338 KUHPerd, hukum 

perjanjian Indonesia menganut asas kebebasan berkontrak. Asas ini 

memberi kebebasan untuk menentukan sendiri bentuk serta isi suatu 

perjanjian kepada para pihak yang membentuk suatu kesepakatan. 

Dengan demikian, para pihak yang membuat perjanjian dapat mengatur 

sendiri hubungan hukum di antara mereka.

Seperti halnya perdagangan konvensional, e-commerce menimbulkan 

perikatan antara para pihak untuk memberikan suatu prestasi. Implikasi 

dari perikatan itu adalah timbulnya hak dan kewajiban yang harus 

dipenuhi oleh para pihak yang terlibat. Di dalam hukum perikatan 

Indonesia dikenal apa yang disebut ketentuan hukum pelengkap. 

Ketentuan tersebut tersedia untuk dipergunakan oleh para pihak yang 

membuat perjanjian apabila ternyata perjanjian yang dibuat mengenai sesuatu hal ternyata kurang lengkap atau belum mengatur sesuatu hal. 

Ketentuan hukum pelengkap itu terdiri atas ketentuan umum dan 

ketentuan khusus untuk jenis perjanjian tertentu. Jual-beli merupakan 

salah satu jenis perjanjian yang diatur dalam KUHPerd, sedangkan 

e-commerce pada dasarnya merupakan model transaksi jual-beli modern 

yang mengimplikasikan inovasi teknologi, seperti Internet, sebagai 

media transaksi.

Dengan demikian, selama tidak diperjanjikan lain, maka ketentuan 

umum tentang perikatan dan perjanjian jual-beli yang diatur dalam 

Buku III KUHPerd berlaku sebagai dasar hukum aktivitas e-commerce di 

Indonesia. Jika timbul sengketa dalam pelaksanaan transaksi e-commerce

tersebut, para pihak dapat mencari penyelesaiannya dalam ketentuan 

tersebut. Namun, kenyataannya tidak sesederhana itu. E-commerce

merupakan model perjanjian jual-beli dengan karakteristik dan 

aksentuasi yang berbeda dengan model transaksi jual-beli konvensional, 

apalagi dengan daya jangkau yang tidak hanya lokal tapi juga bersifat 

global. Adaptasi secara langsung ketentuan jual-beli konvensional akan 

kurang tepat dan tidak sesuai dengan konteks e-commerce. Oleh karena 

itu, perlu dilakukan analisis apakah ketentuan hukum yang ada dalam 

KUHPerd dan KUHD sudah cukup relevan dan akomodatif dengan 

hakikat e-commerce atau perlu regulasi khusus yang mengatur tentang 

e-commerce.

PENUTUP

E-commerce adalah aktivitas penyebaran, pembelian, penjualan, atau 

pemasaran barang dan jasa melalui sistem elektronik, seperti Internet 

atau televisi, www, atau jaringan komputer lainnya. E-commerce dapat 

melibatkan transfer dana elektronik, pertukaran data elektronik, sistem 

manajemen inventori otomatis, dan sistem pengumpulan data otomatis.Meskipun pada mulanya banyak konsumen yang enggan dengan 

e-commerce, berdagang menggunakan e-commerce mempunyai banyak 

manfaat. E-commerce bermanfaat untuk memperluas jangkauan 

pemasaran, dapat meningkatkan daya saing perusahaan, dan menekan 

biaya barang dan jasa. E-commerce juga dapat meningkatkan kepuasan 

konsumen, terkait kecepatan untuk mendapatkan barang yang 

dibutuhkan dengan kualitas yang terbaik sesuai dengan harganya. 

E-commerce. Meskipun demikian, e-commerce juga memiliki 

kekurangan, di antaranya adalah tidak amannya transaksi karena 

menggunakan kartu kredit atau nomer rekening yang berisiko dapat 

diretas, serta meningkatkan jumlah pengangguran


Sejalan dengan laju perkembangan di Indonesia, banyak bermunculan 

perusahaan, baik perusahaan kecil maupun perusahaan besar. Tujuan 

utama suatu perusahaan yaitu memperoleh laba seoptimal mungkin. Untuk 

mengawasi berjalannya serta berkembangnya perusahaan, salah satu hal 

yang perlu dilakukan adalah menilai persediaan dan pengaruhnya terhadap 

laba perusahaan. Hal ini penting karena bagi sebagian besar perusahaan, 

persediaan merupakan salah satu modal kerja yang utama. 

Pelaporan mengenai persediaan sangat penting bagi perusahaan 

untuk pengambilan keputusan dan persediaan merupakan salah satu dari 

beberapa unsur yang paling aktif dalam operasi perusahaan yang secara 

terus-menerus diperoleh, diproduksi, dan dijual. Pelaporan persediaan yang teliti dan relevan dianggap vital untuk memberikan informasi 

yang berguna bagi perusahaan. Apabila terjadi kesalahan dalam 

pencatatan persediaan, maka akan mengakibatkan kesalahan dalam 

menentukan besarnya laba perusahaan yang diperoleh. Jika persediaan 

akhir dinilai terlalu rendah dan mengakibatkan harga pokok barang 

yang dijual terlalu rendah, maka pendapatan bersih akan mengalami 

peningkatan. Begitu juga dengan lamanya persediaan yang tersimpan 

di gudang akan memengaruhi biaya penyimpanan dan adanya risiko 

terjadinya kerusakan atau kedaluwarsa akan mengakibatkan kerugian 

bagi perusahaan.

PENGERTIAN PERSEDIAAN

Menurut Handoko (1999: 333), persediaan adalah suatu istilah umum 

yang menunjukkan segala sesuatu atau sumber daya organisasi yang 

disimpan sebagai antisipasinya terhadap pemenuhan permintaan. 

Permintaan tersebut meliputi bahan mentah, barang dalam proses, 

barang jadi, ataupun produk final (produk jadi). Istilah persediaan 

memberikan pengertian yang berbeda-beda, tetapi pada dasarrya 

maksud dan tujuannya adalah sama. Menurut C. Roll Niswonger, 

Philip E. Fess, dan Carl S. Wareen, “Istilah persediaan (persediaanes) 

merupakan barang dagangan yang disimpan untuk dijual dalam operasi 

perusahaan dan merupakan barang yang terdapat dalam proses produksi 

atau yang disimpan untuk tujuan itu.”

Sistem persediaan adalah serangkaian kebijaksanaan dan 

pengendalian yang memonitor tingkat persediaan dan menentukan 

tingkat persediaan yang harus dijaga, kapan persediaan harus diisi, 

dan berapa besar pesanan yang harus dilakukan. Sistem ini bertujuan 

menetapkan dan menjamin tersedianya sumber daya yang tepat, dalam 

kuantitas yang tepat, dan pada waktu yang tepat. Atau dengan kata 

lain, sistem dan model persediaan bertujuan untuk meminimumkan biaya total melalui penentuan apa, berapa, dan kapan pesanan 

dilakukan secara optimal. Bab ini terutama akan membahas sistem 

dan model-model manajemen persediaan yang dapat digunakan untuk 

mengendalikan persediaan dan membuat berbagai keputusan investasi 

persediaan. 

Menurut Ikatan Akuntansi Indonesia dalam buku Standar Akuntansi 

Keuangan, pengertian persediaan adalah: 

1. Tersedia untuk dijual (dalam kegiatan operasi normal).

2. Dalam proses produksi (dalam kegiatan usaha normal).

3. Dalam bentuk bahan atau perlengkapan (supplies) untuk digunakan 

proses produksi atau pemberian jasa. 

Tujuan utama dari adanya persediaan sendiri adalah untuk 

menghilangkan pengaruh ketidakpastian (safety stock), memberi waktu 

luang untuk pengelolaan produksi dan pembelian, dan mengantisipasi 

perubahan permintaan dan penawaran.

JENIS-JENIS PERSEDIAAN

Persediaan terdiri atas beberapa jenis. Setiap jenis memiliki karakteristik 

dan ciri-ciri khusus tersendiri. Pengelolaan dan pemeliharaannya 

pun berbeda-beda. Menurut Heizer dan Render (2004: 61), untuk 

mengakomodasi fungsi persediaan, perusahaan memiliki empat jenis 

persediaan, yaitu:

1. Persediaan bahan baku (raw material inventory), yaitu bahan baku 

yang belum memasuki proses produksi yang kegunaannya untuk 

memisahkan para pemasok dari proses produksi.

2. Persediaan barang setengah jadi (working in proses—WIP—

inventory), yaitu bahan baku atau komponen yang sudah mengalami 

proses produksi, tetapi masih belum sempurna atau masih belum 

menjadi produk jadi.3. MRO (maintenance/repair/operating). Pemeliharaan atau perbaikan 

juga diperlukan untuk berjaga-jaga jika ada kerusakan mesin dalam 

salah satu proses produksi dan MRO ini harus dijadwalkan atau 

diantisipasi.

4. Persediaan barang jadi (finished goods inventory), yaitu produk 

akhir yang sudah siap jadi dan siap untuk dijual. 

Selain dari keempat jenis persediaan tersebut, Handoko (1999: 

334) menambahkan yaitu satu jenis lagi, yaitu persediaan komponen￾komponen rakitan (purchased parts/component). Ini adalah persediaan 

yang terdiri atas komponen-komponen yang diperoleh dari perusahaan￾perusahaan lain, dimana komponen tersebut dapat dirakit kembali 

menjadi suatu produk jadi.

FUNGSI-FUNGSI PERSEDIAAN

Pesediaan merupakan hal yang sangat penting dalam sebuah 

perusahaan. JKekurangan barang persediaan akan mengakibatkan 

tertundanya penjualan atau bahkan pembatalan penjualan sehingga 

akan menghambat proses pendapatan laba. Kehilangan penjualan 

berarti kehilangan pelanggan. Dengan demikian, persediaan memiliki 

peranan penting dalam perusahaan. Adapun fungsi-fungsi dari 

persediaan, seperti yang telah disebutkan Handoko (1999: 335–336) 

dalam bukunya yang berjudul Dasar-Dasar Manajemen Produksi dan 

Operasii, ada tiga, yaitu:

1. Fungsi decoupling

Perusahaan memiliki persediaan agar perusahan tidak sepenuhnya 

bergantung pada pihak lain untuk memenuhi pesanan, terutama 

yang sifatnya spontan. Persediaan bahan mentah diadakan agar 

perusahaan tidak sepenuhnya bergantung pada pengadaannya 

dalam hal kuantitas dan waktu pengiriman. Persediaan barang dalam proses diadakan agar departemen-departemen dan proses￾proses individual perusahaan terjaga kebebasannya. Persediaan 

barang jadi diperlukan untuk memenuhi permintaan produk yang 

tidak pasti dari para pelanggan. Persediaan dapat digunakan untuk 

menghadapi fluktuasi permintaan konsumen yang tidak dapat 

diperkirakan atau diramalkan.

2. Fungsi economic lot sizing

Melalui penyimpanan persediaan, perusahaan dapat memproduksi 

dan membeli sumber daya dalam kuantitas yang dapat 

mengurangi biaya-biaya per unit. Penentuan “lot size” ini perlu 

mempertimbangkan biaya-biaya agar perusahaan bisa melakukan 

penghematan ndengan membeli dalam jumlah yang besar tetapi 

dengan biaya penyimpanan yang tidak besar dibandingkan biaya 

pembelian. 

3. Fungsi antisipasi

Persediaan memiliki fungsi antisipasi terhadap fluktuasi pelanggan 

atau konsumen yang tidak dapat diramalkan berdasarkan 

pengalaman-pengalaman masa lalu. Persediaan juga berfungsi 

untuk mengantisipasi permintaan musiman sehingga perusahaan 

dapat mengadakan persediaan musiman (seasional persediaanes).

Ketidakpastian jangka waktu pengiriman dan permintaan akan 

barang-barang selama satu periode merupakan masalah yang sering 

dihadapi perusahaan sehingga dibutuhkan persediaan ekstra atau 

disebut dengan persediaan pengaman. Selain itu, persediaan (inventory) 

dapat memiliki berbagai fungsi penting yang menambah fleksibilitas 

dari proses produksi atau operasi suatu perusahaan, yaitu :

1. Untuk memberikan suatu stok barang agar dapat memenuhi 

permintaan yang diantisipasi dari konsumen yang bersifat fluktuatif.

2. Untuk memenuhi produksi melalui distribusi. Misalnya, bila 

permintaan produksinya tinggi hanya pada awal tahun, perusahaan dapat memenuhi stok selama akhir tahun sehingga biaya 

kekurangan stok dan kehilangan pelanggan dapat dihindari.

3. Untuk mengambil keuntungan dari potongan jumlah karena 

pembelian dalam jumlah yang besar. Potongan tersebut secara 

substansial dapat menurunkan biaya produk.

4. Untuk hmengantisipasi risiko inflasi dan perubahan harga, 

menghindari kekurangan stok yang dapat terjadi karena perubahan 

cuaca, kekurangan pasokan, masalah mutu, atau pengiriman yang 

tidak tepat.

5. Untuk menjaga agar operasi dapat berjalan dengan baik dengan 

menggunakan barang dalam proses yang telah disediakan. Hal 

seperti ini diperlukan karena kebutuhan waktu yang digunakan 

untuk memproduksi barang dan sepanjang berlangsungnya proses 

terkumpulnya persediaan (Heizer dan Render, 2001: 314).

KLASIFIKASI PERSEDIAAN 

Persediaan diklasifikasikan dalam berbagai macam. Menurut Dobler, 

dkk., beberapa klasifikasi persediaan yang digunakan oleh perusahaan 

antara lain adalah sebagai berikut.

1. Persediaan produksi.

Persediaan produksi di antaranya adalah meliputi bahan baku 

dan bahan-bahan lain yang digunakan dalam proses produksi dan 

merupakan bagian dari produk. Persediaan produksi bisa terdiri 

atas dua tipe, yaitu item spesial yang dibuat khusus untuk spesifikasi 

perusahaan dan item standar produksi yang dibeli secara off-the-self.

2. Persediaan MRO (maintenance, repair, and operating supplies).

Persediaan MRO meliputi barang-barang yang digunakan dalam 

proses produksi, tetapi bukan merupakan bagian dari produk. 

Contohnya, pelumas dan pembersih.3. Persediaan in-process.

Persediaan in-process, sesuai namanya, meliputi produk-produk 

setengah jadi. Produk yang termasuk dalam kategori persediaan 

ini bisa ditemukan dalam berbagai proses produksi.

4. Persediaan finished-goods.

Persediaan finished goods meliputi semua produk jadi yang siap 

untuk dipasarkan. Misalkan sebuah swalayan yang menjual produk￾produk yang siap untuk dipakai dan tidak ada proses pengolahan, 

semua persediaan yang dimilikinya termasuk dalam kategori ini. 

Setelah diperhatikan definisi persediaan di atas, dapat disimpulkan 

bahwa yang dimaksud dengan persediaan bahan baku adalah barang￾barang berwujud yang dimiliki dengan tujuan untuk diproses menjadi 

barang jadi. Barang ini dihasilkan sendiri dan dibeli dari perusahaan 

lain yang merupakan produk akhir dari perusahaan itu. Barang ini 

merupakan bahan utama dalam menghasilkan produk akhir. Persediaan 

barang penolong atau pembantu adalah bahan-bahan yang diperlukan 

untuk menghasilkan produk akhir, tapi tidak secara langsung ikut serta 

dalam hasil produk akhir. Dalam perusahaan dagang, barang-barang 

yang dibeli dan dimiliki oleh perusahaan untuk dijual kembali disebut 

persediaan barang dagangan. 

Manajemen persediaan perlu dilaksanakan dengan baik adalah guna 

mengetahui secara pasti harga pokok dari barang-barang dagangan 

yang terjual. Di samping itu, untuk menjamin lancarnya arus barang 

maka perlu diadakan pencatatan terhadap segala penerimaan barang 

yang berasal dari supplier, barang yang dipesan oleh langganan, reduksi 

bahan baku pada saat proses produksi, barang yang terjual, barang 

yang dikembalikan oleh pelanggan, dan penyesuaian-penyesuaian 

(adjusment) terhadap barang. Berdasarkan pencatatan tersebut, dapat 

diketahui barang mana yang banyak tertimbun (over stock) dan barang 

mana yang harus dipesan kembali karena persediaannya sudah menipis. Apabila terjadi pemesanan barang kepada supplier, pemesanan ini juga 

perlu dicatat untuk mendapatkan informasi tentang persediaan yang 

lengkap. Dengan demikian, segala transaksi tersebut harus dicatat 

dengan baik ditemui agar mudah untuk mengetahui keadaan persediaan 

secara pasti pada suatu saat. Manajer akan mudah mengetahui berapa 

jumlah persediaan barang yang ada dan yang sudah dipasarkan serta 

jumlah barang yang sudah dipesan oleh pelanggan (quantity committed) 

dan berapa jumlah barang yang dipesan kepada supplier (quantity sold) 

dan informasi penting lainnya. 

ALASAN MEMILIKI PERSEDIAAN

Salah satu cara mencapai laba yang maksimal adalah dengan 

meminimalkan biaya yang berkaitan dengan persediaan. ,Minimalisasi 

biaya persiapan dapat dicapai dengan memesan atau memproduksi 

dalam jumlah yang kecil, sedangkan untuk meminimalkan biaya 

pemesanan dapat dicapai dengan melakukan pesanan yang besar dan 

jarang. Jadi, meminimalkan biaya penyimpanan mendorong jumlah 

persediaan yang sedikit atau tidak ada, sedangkan meminimalkan 

biaya pemesanan harus dilakukan dengan melakukan pemesanan 

persediaan dalam jumlah yang relatif besar sehingga mendorong jumlah 

persediaan yang besar. Perusahaan harus memilih strategi apa yang akan 

memberikan biaya yang paling minimal atau apakah diperlukan untuk 

mengombinasikan keduanya.

Alasan kedua yang mendorong perusahaan menyimpan persediaan 

dalam jumlah yang relatif besar adalah masalah ketidakpastian 

permintaan. Dengan adanya persediaan, perusahaan tetap mampu 

memenuhi permintaan jika permintaan akan bahan atau produk lebih 

besar dari yang diperkirakan. Dengan demikian, perusahaan dapat 

menjaga kepuasan pelanggan.Secara umum, alasan untuk memiliki persediaan adalah untuk 

menyeimbangkan biaya pemesanan atau persiapan dengan biaya 

penyimpanan, untuk memenuhi permintaan pelanggan, untuk 

menyangga proses produksi, untuk memanfaatkan diskon, dan untuk 

menghadapi kenaikan harga di masa yang akan datang.

BIAYA-BIAYA PERSEDIAAN

Pengelolaan persediaan merupakan salah satu yang menjadi perhatian 

dari manajemen. Manajemen persediaan yang baik akan memperlancar 

proses produksi dan menghemat biaya sehingga akan meningkatkan 

laba perusahaan yang merupakan tujuan setiap perusahaan. 

Menurut Mulyana (2007), unsur biaya yang terdapat dalam 

persediaan diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu biaya pemesanan, biaya 

penyimpanan, dan biaya kekurangan persediaan. Handoko (1999: 336–

338) menyebutkan bahwa dalam pembuatan sebuah keputusan yang 

akan memengaruhi besarnya (jumlah) persediaan, manajer oprasional 

harus mempertimbangkan biaya-biaya variabel yang terkait dengan 

pengadaan persediaan. Dengan mengetahui biaya-biaya yang terdapat 

atau terkait dengan persediaan, manajer diharapkan mampu mengambil 

keputusan yang bijak mengenai kadar persediaan yang paling ekonomis 

dalam perusahaannya. 

1. Biaya Penyiapan

Biaya penyiapan adalah biaya yang dikeluarkan sejak perusahaan 

memproduksi bahan-bahan dasar dalam pabrik sendiri. Dengan 

demikian, perusahaan menghadapi biaya penyiapan (setup cost) 

untuk memproduksi komponen tertentu. Biaya-biaya tersebut 

meliputi biaya mesin-mesin menganggur, biaya persiapan tenaga 

kerja langsung, biaya scheduling, dan biaya ekspedisi.2. Biaya Pemesanan (Pembelian)

Setiap kali bahan dipesan, perusahaan akan menanggung biaya 

pemesanan. Biaya pemesanan meliputi pemrosesan pesanan 

dan biaya ekspedisi, upah pegawai, biaya telepon dan Internet, 

pengeluaran surat-menyurat, biaya pengepakan dan penimbangan, 

biaya pemeriksaan (inspeksi) penerimaan, biaya pengiriman ke 

gudang, dan biaya utang lacar.

3. Biaya Penyimpanan

Biaya penyimpanan (holding cost atau carrying cost) tergantung 

pada kuantitas persediaan. Semakin besar kuantitas bahan yang 

disimpan maka biaya penyimpanan per periode akan semakin 

tinggi. Biaya-biaya penyimpanan meliputi:

a. Biaya fasilitas penyimpanan, seperti penerangan, pemanas, 

pendingin, atau yang lainnya.

b. Biaya modal, yaitu alternatif pendapatan atas dana yang 

diinvestasikan dalam persediaan.

c. Biaya keusangan akibat sisa hasil produksi (limbah) atau barang 

yang rusak.

d. Biaya perhitungan fisik dan konsiliasi laporan.

e. Biaya asuransi persediaan.

f. Biaya pajak persediaan.

4. Biaya Kekurangan atau Kehabisan Bahan 

Biaya kekurangan atau kehabisan bahan (shortage cost) merupakan 

biaya yang paling sulit diperkirakan. Biaya ini timbul apabila 

persediaan tidak memenuhi atau mencukupi permintaan. 

Termasuk dalam biaya ini meliputi biaya yang disebabkan oleh 

kehilangan penjualan, kehilangan pelanggan, tambahan biaya 

pemesanan khusus, biaya ekspedisi, selisih harga, terganggunya 

operasi, dan tambahan pengeluaran untuk kegiatan manajerial.

MODEL ECONOMIC ORDER QUANTITY (EOQ)

Economic order quantity (EOQ) adalah kuantitas persediaan yang 

optimal atau yang menyebabkan biaya persediaan mencapai titik 

terendah. Model EOQ ini merupakan suatu rumusan untuk menentukan 

kuantitas pesanan yang akan meminimumkan biaya persediaan 

(Kusuma, 2002: 132). Konsep EOQ kadang-kadang juga disebut 

model fixed order quantity. Model EOQ digunakan untuk menentukan 

kuantitas pesanan persediaan untuk meminimumkan biaya langsung 

biaya penyimpanan persediaan dan biaya kebalikannya (inverse 

cost) pesanan persediaan. Untuk menghitung EOQ sederhana, dapat 

mengunakan rumus sebagai berikut:57

2DS Q * H =

Keterangan:

Q* = Jumlah optimal unit per pesanan

D = Penggunaan atau permintaan yang diperkirakan per 

periode waktu.

S = Biaya pemesanan (persiapan pesanan dan penyiapan 

mesin) per pesanan

H = Biaya penyimpanan per unit per tahun

Model EOQ di atas dapat diterapkan dengan asumsi:

1. Permintaan akan produk adalah konstan seragam dan diketahui.

2. Harga per unit produk adalah konstan.

3. Biaya penyimpanan unit per tahun (H) adalah konstan.

4. Biaya pemesanan per pesanan (S) adalah konstan.5. Waktu antara pesanan yang dilakukan dan barang-barang yang 

diterima (lead time, L) adalah konstan.

6. Tidak terjadi kekurangan barang atau backorder.

Di samping model EOQ sederhana tersebut, ada model EOQ 

lainnya, yaitu:

1. EOQ dengan backorder.

Dalam EOQ dengan backorder, diasumsikan perusahaan tidak 

akan kehilangan penjualan ketika persediaan habis. Jika pelanggan 

bersedia menunggu barang yang dipesan dan tidak membeli di 

tempat lain, perusahaan tetap bisa melayani pembelian meski 

tidak ada persediaan. Pesanan barang yang kemudian diambil 

oleh pelanggan disebut backorder. Dengan demikian, model EOQ 

dengan backorder dibuat agar memungkinkan adanya backorder. 

Output yang dihasilkan pada aplikasi adalah berupa angka-angka 

yang menunjukkan kuantitas pemesanan barang yang optimal dan 

biaya persediaan yang minimum.

 Anggapan-anggapan dan istilah-istilah model backorder identik 

dengan EOQ dasar, tetapi ada beberapa pengecualian, yaitu:

a. Ada waktu (t1) dimana ada surplus persediaan (I).

b. Waktu (t2) dimana ada kekurangan persediaan (Q – I).

c. Setiap siklus memerlukan waktu yang sama.

d. Biaya back ordering per unit per tahun adalah konstan (B, Rp 

/unit/ tahun).

e. Backorder dan persediaan dipenuhi secara bersamaan.

2. EOQ dengan tingkat produksi terbatas (finite production rate).

Model EOQ dasar mengasumsikan bahwa kuantitas yang dipesan 

diterima seluruhnya pada saat yang sama. Namun, beberapa 

produk yang dibeli dan diproduksi sendiri perusahaan tidak 

selalu memenuhi asumsi tersebut. Jadi, persediaan dipenuhi secara bertahap, tidak secara bersamaan. Kuantitas pesanan tidak 

diterima dalam jumlah besar, tetapi diterima dalam jumlah atau 

kuantitas yang lebih kecil sejalan dengan kemajuan produksi. 

Asumsi lain adalah produk-produk yang dibeli atau diproduksi 

sendiri mempunyai tingkat produksi (P) yang relatif lebih besar 

dari tingkat permintaan (D).

Perbedaan model ini dengan model dasar adalah sebagai berikut:

a. Kuantitas pesanan tidak dipenuhi semuanya pada saat yang 

sama, tetapi dalam kuantitas-kuantitas yang lebih kecil pada 

tingkat produksi atau pemenuhan yang konstan (P).

b. Tingkat permintaan (D) besarnya relatif terhadap tingkat 

produksi.

c. Selama produksi dilakukan (tp), tingkat pemenuhan persediaan 

adalah sama dengan tingkat produksi dikurangi tingkat 

permintaan (P – D).

d. Selama Q unit diproduksi, besarnya tingkat persediaan maksimum 

kurang dari Q karena penggunaan selama pemenuhan.

3. EOQ dengan model potongan kuantitas.

EOQ dengan model potongan kuantitas mengasumsikan bahwa 

perusahaan akan mendapat potongan kuantitas atau harga per unit 

yang lebih rendah apabila membeli dalam kuantitas persediaan 

yang besar. Pada umumnya, tidak ada rumus sederhana untuk 

memecahkan masalah EOQ bila potongan diberikan. Semakin 

besar kuantitas pesanan, diskon yang diberikan juga semakin 

banyak. Namun, pada saat yang sama, kuantitas yang besar 

akan meningkatkan biaya penyimpanan. Jadi, dua hal yang 

harus diperhatikan, yaitu biaya produk yang menurun dan biaya 

pemesanan yang meningkat. Manajer harus memilih kuantitas 

pemesanan yang memberikan biaya total persediaan terendah. Biaya total terdiri atas biaya pemesanan, biaya penyimpanan dan 

biaya produk.58

D Q TC S H PD

Q 2

=+ +

Keterangan:

TC = Total biaya

Q = Kuantitas yang dipesan

D = Permintaan tahunan dalam unit

S = Biaya pemesanaan atau pemasangan per pesanan

P = Harga per unit

H = Biaya penyimpanan per unit per tahun

DAMPAK INFLASI TERHADAP EOQ

Inflasi merupakan hal yang harus diperhatikan dalam perhitungan 

EOQ. Kenaikan biaya pada salah satu komponen, misalnya biaya 

angkutan, akan menyebabkan biaya pemesanan menanjak dengan 

cepat. Harga-harga beli juga bisa melonjak secara tiba-tiba dan 

berulang-ulang. Selain itu, biaya modal juga berubah dengan cepat. 

Dengan demikian, nilai-nilai yang digunakan dalam persamaan EOQ 

tidak bisa digunakan dalam jangka waktu yang agak lama sehingga 

kuatitas pesanan yang optimum tidak akan tetap. Beberapa perusahaan 

memerlukan fleksibilitas yang longgar dalam pengaturan waktu pesanan 

mereka daripada yang ditentukan oleh titik pesan secara otomatis. Ini 

diperlukan agar mereka mampu membeli produk tambahan dengan 

harga yang lebih murah. Alternatif lainnya, perusahaan bisa menumpuk 

persediaan dalam rangka memanfaatkan dan berjaga-jaga menghadapi 

kekurangan persediaan. Jadi, ketika terjadi inflasi atau adanya kebijakan 

moneter yang ketat, diperlukan manajemen persediaan yang lebih luwes agar tetap bisa menikmati harga yang lebih rendah dan berjaga-jaga 

menghadapi keadaan yang tak terduga di masa depan. Dasar pemikiran 

model persediaan tetap saja tidak berubah, yaitu bahwa beberapa jenis 

biaya akan meningkat karena persediaan yang lebih besar, dan biaya￾biaya lainnya akan turun. Angka optimum persediaan harus disesuaikan 

secara berkesinambungan seiring perubahan kondisi internal maupun 

eksternal.

JUST IN TIME

Just in time dikembangkan pertama kali di negara Jepang oleh 

perusahaan Toyota, dan kemudian diadopsi oleh banyak perusahaan 

manufaktur di Jepang dan Amerika Serikat, seperti: Hewlet Packard, 

IBM, dan Harley Davidson. Salah satu pendekatan untuk mengeliminasi 

pemborosan dalam perusahaan manufaktur telah muncul, yaitu suatu 

filosofi operasi yang disebut just in time. Just in time merupakan suatu 

filosofi operasi manajemen, yaitu bagaimana setiap sumber daya, 

termasuk material personel, dan fasilitas, digunakan dalam keadaan 

tepat waktu.

Just in time menggunakan struktur sel manufaktur. Dengan 

struktur ini, mesin yang diperlukan untuk membuat sebuah produk 

dikelompokkan ke dalam sebuah sel manufaktur. Jika perusahaan 

menghasilkan dua jenis produk, akan terdapat dua sel, sel A khusus 

untuk membuat produk A, dan sel B khusus untuk membuat produk 

B. Setiap sel terdiri atas beberapa mesin yang digunakan khusus untuk 

membuat produk masing-masing sel tersebut. Misalkan pada sel A akan 

terdapat tiga buah mesin, yaitu mesin nomor 1, mesin nomor 2, dan 

mesin nomor 3. Sedangkan, sel B juga akan berisi 3 buah mesin yang 

khusus digunakan untuk membuat produk B. Sel-sel ini pada dasarnya 

merupakan pabrik mini sehingga dengan menggunakan konsep sel 

seolah-olah ada pabrik dalam pabrik.Just in time memiliki dua tujuan strategis, yaitu untuk meningkatkan 

keuntungan dan memperbaiki daya saing perusahaan. Kedua tujuan 

ini dicapai dengan mengontrol biaya-biaya serta memperbaiki kerja 

pengiriman dan kualitas. Tujuan just in time adalah menghasilkan 

sebuah produk hanya ketika dibutuhkan dan hanya dalam kuantitas yang 

diminta oleh para pelanggan. Manfaat utama sistem just in time adalah 

akan mengubah daya telusur biaya, meningkatkan akurasi penentuan 

biaya produk, menurunkan kebutuhan alokasi biaya tidak langsung, 

mengubah perilaku dan kepentingan relatif biaya tenaga kerja langsung, 

dan memengaruhi sistem penentuan biaya pesanan dan biaya proses.

Menurut Hansen dan Mowen (2001), dan Kartika Hendra (2009), 

terdapat beberapa keunggulan dan kelemahan dari metode JIT. Berikut 

ini beberapa keunggulan dari metode JIT.

1. Menghilangkan pemborosan dengan cara memproduksi suatu 

produk hanya dalam kuantitas yang diminta pelanggan.

2. Persediaan kecil, mungkin nol.

3. Tata letak pabrik, dikelompokkan satu macam produk, atau sistem 

sel.

4. Pengelompokan karyawan dalam satu jenis produk.

5. Pemberdayaan karyawan, karyawan dilatih dan dididik terus￾menerus menyesuaikan dengan perubahan alat kerja dan metode 

kerja.

6. Pengendalian mutu terpadu, semua orang bertanggung jawab 

terhadap mutu produk.

Beberapa kelemahan JIT adalah bagi perusahaan yang memproduksi 

secara massal akan kesulitan untuk melayani pesanan pelanggan 

saja dan hanya memproduksi satu jenis produk. Selain itu, dengan 

jumlah persediaan yang ditetapkan pada tingkat seminimal mungkin, 

perusahaan perlu mengusahakan agar persediaan segera tiba saat 

dibutuhkan untuk aktivitas produksi. Hal-hal yang dibutuhkan dalam sistem JIT adalah dan koordinasi yang baik antara perusahaan, pemasok, 

dan perusahaan ekspedisi agar persediaan datang tepat waktu. 

JIT tidak membenarkan biaya pemesanan yang bersifat tetap. 

Langkah-langkah yang dapat diambil untuk mengurangi biaya 

pemesanan, antara lain:

1. Penggunaan truk pengiriman berukuran kecil dengan jadwal 

pemuatan yang ditentukan agar hemat waktu dan biaya.

2. Menegaskan kepada pemasok untuk memberikan barang yang 

berkualitas agar mengurangi biaya pemeriksaan.

3. Produk, peralatan, dan prosedur dimodifikasi sedemikian rupa 

sehingga dapat mengurangi waktu dan biaya.

METODE ABC SYSTEM

Metode ABC system adalah metode dimana perusahaan membagi 

persediaannya menjadi tiga kelompok, yaitu A, B, dan C. Kelompok 

A mencakup 20 persen persediaan, tetapi membutuhkan 80 persen 

total investasi. Kelompok A adalah persediaan yang paling bernilai 

bagi perusahaan. Kelompok C adalah persediaan yang memerlukan 

investasi yang paling kecil (paling kurang bernilai). Kelompok B adalah 

persediaan yang berada di antara A dan C. Yang dimaksud dengan nNilai 

yang dimaksud dalam klasifikasi ABC bukanlah harga persediaan per 

unit, melainkan volume persediaan yang dibutuhkan dalam satu periode 

(biasanya satu tahun) dikalikan dengan harga per unit. 

Masing-masing kelompok meiliki cara penanganan yang berbeda. 

Untuk kelompok A dan B, perusahaan dapat menggunakan model 

EOQ. Untuk kelompok C, karena nilainya sedikit, perusahaan dapat 

menerapkan metode yang sederhana, yaitu metode garis merah. 

Sesuai namanya, perusahaan cukup menandai dinding gudang (pada 

ketinggian tertentu) dengan garis merah. Jika persediaan sudah berada 

di bawah garis merah, maka pemesanan kembali harus segera dilakukan. Pengendalian persediaan dapat dilakukan dalam berbagai cara, antara 

lain dengan menggunakan analisis nilai persediaan. Dalam analisis ini, 

persediaan dibedakan berdasarkan nilai investasi yang terpakai dalam 

satu periode. 

Kriteria klasifikasi kelompok persediaan yang lebih lengkap adalah 

sebagai berikut.

1. Kelas A. Persediaan kelas A meliputi persediaan yang memiliki 

volume tahunan rupiah yang tinggi. Nilai persediaan kelas ini 

mewakili sekitar 70 persen dari total persediaan, meskipun 

jumlahnya hanya sedikit, biasanya hanya 20 persen dari seluruh 

item. Persediaan yang termasuk dalam kelas ini memerlukan 

perhatian yang tinggi dalam pengadaannya karena berdampak 

pada signifikan pada biaya sehingga pengawasannya harus intensif.

2. Kelas B. Persediaan kelas B meliputi persediaan dengan nilai rupiah 

tahunan yang menengah. Kelompok ini mewakili sekitar 20 persen 

dari total nilai persediaan tahunan, dan sekitar 30 persen dari 

jumlah item. Pengendalian dan pengawasan bisa dilakukan secara 

moderat.

3. Kelas C. Persediaan kelas C meliputi barang dengan nilai rupiah 

tahunannya rendah yang mewakili hanya sekitar 10 persen dari total 

nilai persediaan, tetapi meliputri sekitar 50 persen dari jumlah item

persediaan. Di sini, diperlukan teknik pengendalian yang sederhana 

dan pengendalian hanya dilakukan sesekali saja.

 

Nilai persentase di atas tidak mutlak, namun tergantung dari 

kebijakan perusahaan. Demikian pula jumlah kelas, tidak terbatas pada 

tiga kelas. Perusahaan dapat melakukan klasifikasi untuk lebih atau 

kurang dari tiga kelas.MATERIAL REQUIREMENT PLANNING SYSTEM

Salah satu sistem yang dapat digunakan untuk melakukan pengendalian 

terhadap persediaan dalam konteks permintaan yang dependen adalah 

material requirement planning (MRP) system atau sering disebut “Little” 

MRP. Material requirement planning merupakan sistem yang dirancang 

untuk kepentingan perusahaan manufaktur, termasuk perusahaan 

kecil. Sistem MRP merupakan pendekatan yang logis dan mudah 

dipahami untuk memecahkan masalah-masalah yang terkait dengan 

penentuan jumlah bagian, komponen, dan material yang diperlukan 

untuk menghasilkan produk akhir. Sistem MRP juga memberikan 

skedul waktu yang terperinci kapan setiap komponen, material, 

dan bagian harus dipesan atau diproduksi. Sistem MRP didasarkan 

pada permintaan dependen, yaitu permintaan yang disebabkan 

oleh permintaan terhadap item level yang lebih tinggi. Misalnya, 

permintaan akan kain dalam perusahaan garmen, kain merupakan 

permintaan dependen yang tergantung pada permintaan baju. Material 

requirement planning digunakan pada berbagai industri terutama yang 

berkarakteristik job-shop, yakni industri yang memproduksi sejumlah 

produk dengan menggunakan peralatan produksi yang relatif sama. 

Sistem MRP tidak akan cocok bila diterapkan pada perusahaan yang 

menghasilkan produk dalam jumlah yang relatif sedikit.

PENUTUP

Sistem persediaan adalah serangkaian kebijaksanaan dan pengendalian 

yang memonitor tingkat persediaan dan menentukan tingkat persediaan 

yang harus dijaga, kapan persediaan harus diisi, dan berapa besar 

pesanan yang harus dilakukan. Sistem ini bertujuan menetapkan dan menjamin tersedianya sumber daya yang tepat, dalam kuantitas 

yang tepat, dan pada waktu yang tepat. Biaya persediaan terdiri atas 

biaya penyiapan, biaya pemesanan, biaya penyimpanan, dan biaya 

akibat kekurangan persediaan. Economic order quantity (EOQ) adalah 

kuantitas persediaan yang optimal atau yang menyebabkan biaya 

persediaan mencapai titik terendah. Ada tiga macam model EOQ selain 

model EOQ dasar, yaitu EOQ dengan backorder, EOQ dengan tingkat 

produksi terbatas, dan EOQ dengan model potongan kuantitas. 

Tiga metode guna mengelola persediaan dapat digunakan oleh 

perusahaan, yaitu metode just in time, metode ABC system, dan 

material requirement planning. Dengan berbagai alat dan metode 

tersebut, perusahaan bisa melakukan manajemen persediaan dengan 

mempertimbangkan faktor-faktor lain, seperti perubahan kondisi 

ekonomi, seperti inflasi, atau perubahan biaya bahan baku dan lain-lain.


Perusahaan mempunyai kegiatan yang beragam, mulai perencanaan, 

produksi, personalia, pembelajaran, hingga pemasaran dan pendistribusian. 

Kegiatan-kegiatan tersebut pada dasarnya guna mencapai tujuan 

perusahaan. Apapun bentuk jenis usaha yang dilakukan, tujuan perusahaan 

adalah keuntungan berupa uang. Untuk dapat mencapai tujuan tersebut, 

perusahaan harus melaksanakan aktivitasnya dengan lancar, cepat, dan 

hemat biaya sehingga dapat memenuhi selera konsumen dan mendapat 

kepercayaan yang tinggi. Kepercayaan konsumen adalah modal yang 

sangat vital. Dengan adanya kepercayaan dari konsumen, dapat dipastikan 

bahwa produk yang dibuat akan dimanfaatkan oleh mereka. Untuk 

menjamin produk dapat memenuhi kebutuhan konsumen, perusahaan perlu mengontrol persediaan yang ada agar siap menjawab kebutuhan 

konsumen setiap saat, tepat pada waktunya. 

Salah satu cara untuk mengendalikan persediaan adalah dengan 

metode material requirement planning (MRP), yaitu teknik pendekatan 

yang bertujuan meningkatkan produktivitas perusahaan dengan 

cara menjadwalkan kebutuhan akan material dan komponen untuk 

membantu perusahaan dalam mengatasi kebutuhan minimum dari 

komponen-komponen yang kebutuhannya dependen dan menjamin 

tercapainya produksi akhir. Material requirement planning (MRP) 

diperkenalkan oleh Olive Weight yang berasosiasi dengan Joseph 

Oirlicky pada tahun 60-an, diperkenalkan. Toyota Company Jepang 

adalah yang pertama kali menerapkan teknik ini.

Terdapat banyaknya metode dalam manajemen material. Para 

pengambil keputusan harus untuk menguasai setiap metode pengadaan 

material dalam manajemen material, mengetahui kelebihan dan 

kekurangan setiap metode, serta dapat menggunakan metode yang 

tepat sesuai dengan keadaan yang dihadapi. Salah satu metode dalam 

manajemen material adalah material requirement planning (MRP). 

Pada mulanya, MRP adalah suatu metode pemesanan material. 

Saat ini, metode tersebut telah digunakan sebagai alat perencanaan 

dan pengawasan terhadap fungsi manajemen. Material requirement 

planning (MRP) juga merupakan konsep dari suatu mekanisme untuk 

menghitung material yang dibutuhkan, kapan diperlukan, dan berapa 

banyak.

PENGERTIAN MRP 

Demi terjaminnya kelancaran produksi, ketepatan waktu penerimaan 

bahan baku dan bahan pendukung lainnya oleh pihak produksi 

merupakan faktor yang sangat penting. Tanpa perencanaan yang 

matang serta pengendalian yang ketat, semakin tinggi risiko terjadinya ketidaktepatan waktu dalam pemasokan dan penerimaan material yang 

akan mengakibatkan produksi tidak mampu untuk menghasilkan jumlah 

unit produk yang dibutuhkan oleh pelanggan/konsumen. Dengan 

demikian, diperlukan suatu teknik ataupun sistem yang berfungsi 

untuk merencanakan jadwal keperluan material yang dibutuhkan. 

Teknik ataupun sistem tersebut biasanya disebut material requirement 

planning atau disingkat dengan MRP. Dalam bahasa Indonesia, MRP 

atau material requirement planning ini sering diterjemahkan menjadi 

perencanaan kebutuhan material.

Menurut Stevenson (2005), MRP adalah suatu sistem informasi 

berbasis komputer yang menerjemahkan jadwal produksi induk (master 

production schedule) untuk barang jadi (produk akhir) menjadi beberapa 

tahapan kebutuhan sub-assy, komponen, dan bahan baku. Dengan 

demikian, dapat kita katakan bahwa MRP adalah rencana produksi 

untuk sejumlah produk jadi dengan menggunakan tenggang waktu 

sehingga dapat ditentukan kapan dan berapa banyak dipesan untuk 

masing-masing komponen suatu produk yang akan dibuat.

TUJUAN PENERAPAN MRP 

Penerapan MRP pada suatu perusahaan manufaktur memiliki 

beberapa tujuan. Pertama, MRP digunakan mengendalikan tingkat 

persediaan. MRP dapat menentukan jumlah komponen/bahan 

baku yang dibutuhkan dan kapan komponen/bahan baku tersebut 

dibutuhkan untuk suatu jadwal produksi induk (master production 

schedule). Sistem MRP juga dapat menentukan prioritas item dan 

merencanakan kapasitas yang akan dibebankan pada sistem produksi. 

Dengan demikian, perusahaan manufaktur yang bersangkutan hanya 

perlu membeli material (komponen/bahan baku) tersebut pada saat 

dibutuhkan saja sehingga dapat menghindari kelebihan persediaan 

material. Kedua, MRP digunakan untuk mengurangi waktu tenggang (lead 

time) produksi dan pengiriman ke pelanggan. MRP mengidentifikasikan 

jumlah dan waktu material yang dibutuhkan sehingga pihak pembelian 

dapat melakukan tindakan yang tepat untuk memenuhi batas waktu 

yang ditetapkan. Oleh karena itu, MRP dapat membantu untuk 

menghindari keterlambatan produksi yang disebabkan oleh material. 

Tujuan MRP yang lain adalah membuat komitmen pengiriman yang 

realistis kepada pelanggan. Dengan menggunakan MRP, pihak produksi 

dapat memberikan informasi yang cepat terhadap kemungkinan waktu 

pengirimannya. Terakhir, eodengan adanya MRP, setiap unit kerja 

dapat terkoordinasi dengan baik sehingga dapat meningkatkan efisiensi 

operasional setiap unit kerja pada perusahaan yang menerapkan MRP 

tersebut.

Secara umum, tujuan pengelolaan persediaan dengan menggunakan 

sistem MRP tidak berbeda dengan sistem lain, yaitu memperbaiki layanan 

kepada pelanggan, meminimalkan investasi pada persediaan, dan 

memaksimalkan efisiensi operasi. Filosofi MRP adalah “menyediakan” 

komponen dan material yang diperlukan pada jumlah, waktu, dan 

tempat yang tepat.

MANFAAT MRP

Pada perusahaan yang bergerak di bidang perdagangan yang 

menghasilkan barang jadi, proses produksi merupakan kegiatan inti 

dari perusahaan tersebut. Agar produksi berjalan lancar, bahan baku 

yang merupakan input dari proses produksi harus selalu tersedia sesuai 

dengan kebutuhan. Dengan demikian, dibutuhkan perencanaan bahan 

baku untuk menjaga kelangsungan proses produksi yang berdampak 

pada kelangsungan hidup perusahaan. Perencanaan juga harus 

mengantisipasi setiap permintaan konsumen yang tidak terduga dengan 

adanya persediaan bahan baku.Material requirement planning (MRP) digunakan untuk pengadaan 

bahan baku. Sistem MRP bermanfaat untuk mengetahui jumlah bahan 

baku yang akan dipesan sesuai dengan kebutuhan produksi dengan 

memperhitungkan juga biaya-biaya yang akan timbul akibat dari 

persediaan, seperti biaya pemesanan dan biaya penyimpanan. 

Beberapa perusahaan jasa juga menerapkan MRP, tetapi jarang 

sekali. Bukan karena teknik ini tidak dapat diterapkan, tetapi karena 

pertumbuhan MRP dibatasi oleh item persediaan. Namun, sistem 

MRP sangat berpotensi untuk dikembangkan karena MRP dapat 

digunakan untuk mengendalikan sumber daya berupa bahan baku, 

fasilitas, peralatan, dan tenaga kerja dengan baik. Sistem ini juga dapat 

mengendalikan item yang tidak dapat diperbarui, seperti tenaga kerja. 

Material requirement planning merupakan metode yang sangat tepat 

apabila persediaan dalam industri jasa berupa peralatan, ruangan, dan 

personalia. Sebagai contoh, rencana ruang operasi, hotel, MPS berupa 

jadwal konsultasi, BOM berupa kebutuhan peralatan dan personalia, 

dokter, perawat, ahli ruang operasi, dan lain-lain. Catatan persediaan 

berupa kemampuan sumber daya dan komitmen mereka terhadap 

proyek tersebut. Berdasarkan hal tersebut, jadwal yang dihasilkan 

berisi waktu dimulainya operasi, keseluruhan waktu yang diharapkan, 

kebutuhan bahan, dan lain-lain. Dengan demikian, MRP bisa menjadi 

aset yang sangat penting dalam bidang jasa ke depannya.

Jika dirangkum, manfaat MRP, di antaranya, adalah meningkatkan 

pelayanan dan kepuasan konsumen, meningkatkan pemanfaatan 

fasilitas dan tenaga kerja, perencanaan dan penjadwalan persediaan 

yang lebih baik, tanggapan yang lebih cepat terhadap perubahan dan 

pergeseran pasar, dan tingkat persediaan menurun tanpa mengurangi 

pelayanan kepada konsumen.SISTEM MRP 

Sebagai suatu sistem, MRP memiliki input dan output. Input sistem MRP 

adalah master production schedule (MPS) atau jadwal produksi induk, 

inventory status file (berkas status persediaan), dan bill of materials

(BOM) atau daftar material, sedangkan output-nya adalah order release 

requirement (kebutuhan material yang akan dipesan), order scheduling

(jadwal pemesanan material), dan planned order (rencana pemesanan di 

masa yang akan datang). Ketiga input penting MRP, atau perencanaan 

kebutuhan material, dan output-output MRP akan dibahas lebih lanjut 

pada bagian berikutnya

Master Production Schedule (MPS)

Master production schedule atau jadwal produksi induk adalah suatu 

perencanaan yang yang menggambarkan hubungan antara kuantitas

setiap jenis produk akhir yang diinginkan dan waktu penyediaan. 

Rencana ini terdiri atas tahapan waktu dan jumlah produk jadi yang 

akan diproduksi oleh sebuah perusahaan manufaktur. Master production 

schedule digunakan untuk mengetahui jadwal masing-masing barang 

yang akan diproduksi, yaitu kapan barang tersebut akan dibutuhkan 

sehingga dapat kita gunakan sebagai landasan penyusunan MRP. 

Master production schedule ini pada umumnya berdasarkan order 

(pesanan) pelanggan dan perkiraan order (forecast) yang dibuat oleh 

perusahaan sebelum dimulainya sistem MRP. Pada dasarnya, MRP 

adalah terjemahaan dari MPS (jadwal produksi induk) untuk material.

Inventory Status File (Berkas Status Persediaan) 

Inventory status file, atau berkas status persediaan, adalah hasil 

perhitungan persediaan dan kebutuhan bersih untuk setiap periode 

perencanaan. Setiap persediaan harus memberikan informasi status 

yang jelas dan terbaru mengenai jumlah persediaan yang ada saat ini, 

jadwal penerimaan material, rencana pembelian yang akan diserahkan 

ke pemasok, serta berbagai perubahan persediaan sehubungan dengan 

adanya kerugian akibat sisa bahan, pesanan yang dibatalkan, dan lain￾lain. Informasi ini juga harus meliputi jumlah lot (lot sizes), teknik lot 

size, lead time (tenggang waktu), safety stock level, jumlah material yang 

rusak/cacat, dan catatan penting lainnya.

 Data ini menjadi landasan untuk pembuatan MRP karena 

memberikan informasi tentang jumlah persediaan bahan baku dan 

barang jadi yang aman (minimum) serta keterangan lainnya, seperti 

kapan kita mendapat kiriman barang, berapa jangka waktu pengiriman 

barang (lead time), dan berapa besar kelipatan jumlah pemesanan barang 

(lot size).  Semua keterangan tersebut akan mendukung penyusunan 

MRP yang tepat sehingga sesuai dengan tujuan awalnya untuk 

merencanakan jumlah dan waktu pesanan bahan baku yang tepat agar 

proses produksi tidak terlambat.

Bill of Materials (BOM) 

Bill of material (BOM) adalah daftar yang berisi informasi mengenai 

jumlah masing-masing bahan baku, bahan pendukung, dan sub-assy

(semi produk) yang dibutuhkan untuk membuat suatu produk jadi. 

Informasi tersebut dapat disusun dalam bentuk pohon produk (product 

structure tree). Bill of material tidak hanya menspesifikasikan produksi, 

tetapi juga berguna untuk pembebanan biaya dan dapat dipakai sebagai 

daftar bahan yang harus dikeluarkan untuk karyawan produksi atau 

perakitan. Bill of material yang digunakan dengan cara ini biasanya 

dinamakan daftar pilih.

Informasi tersebut sangat rinci sehingga BOM dapat digunakan untuk 

mengetahui susunan barang yang akan diproduksi, menggunakan bahan 

apa saja, apakah bahan tersebut langsung dibeli atau dibuat dengan 

bahan dasar yang lain sehingga jelas dalam menentukan pemesanan 

bahan-bahan baku agar produksi tetap berjalan lancar. Pohon struktur 

produk (product structure tree) adalah salah satu item informasi yang 

ada dalam bill of material. Pohon struktur produk merupakan bagan 

informasi tentang hubungan antara produk akhir dengan komponen￾komponen penyusunnya. Tidak hanya memberikan informasi tentang 

hubungan antara komponen dalam suatu perakitan, struktur produk 

juga memberikan informasi tentang semua item, seperti nomor 

komponen dan jumlah yang dibutuhkan pada setiap pembelian. 

Struktur produk dibagi lagi menjadi dua jenis, yaitu:

1. Struktur produk level tunggal yang menggambarkan hubungan 

antara produk akhir komponen-komponen penyusunnya dimana 

komponen-komponen tersebut langsung membentuk produk akhir 

atau berada satu level di bawah produk akhir. 

2. Struktur produk multilevel yang menggambarkan hubungan antara 

produk akhir dengan komponen penyusunnya dimana komponen￾komponen tersebut memerlukan komponen-komponen lain untuk 

membuatnya dan begitu seterusnya. Misalnya, untuk membuat satu unit produk akhir X diperlukan dua unit komponen A dan satu 

unit komponen B, sementara untuk membuat satu unit komponen 

B diperlukan tiga unit komponen C dan satu unit komponen D.

Dengan demikian, informasi dalam bill of materials sangat rinci 

sehingga BOM dapat digunakan  untuk mengetahui susunan barang 

yang akan diproduksi, menggunakan bahan apa saja, apakah bahan 

tersebut langsung dibeli atau dibuat dengan bahan dasar yang lain 

sehingga jelas dalam menentukan pemesanan bahan-bahan baku agar 

produksi tetap berjalan lancar.

Ketiga sumber tersebut, skedul master, bill of material, dan inventory 

status menjadi sumber data bagi MRP yang akan menjabarkan skedul 

produksi menjadi rencana skedul pemesanan secara detail untuk 

keseluruhan urutan produksi. Selain ketiga input di atas, ada juga 

masukan tambahan, seperti pesanan komponen dari perusahaan lain 

yang membutuhkan, peramalan atas item yang bersifat tidak bergantung, 

dan status persediaan. 

PROSES MPR

Proses MRP meliputi aktivitas-aktivitas yang dilakukan berdasarkan 

MPS, inventory status file, dan BOM. Hal yang harus dilakukan oleh 

perusahaan dalam menghasilkan produknya adalah menentukan 

kapan barang tersebut dibutuhkan. Apabila waktunya sudah diketahui, 

perusahaan harus pula merancang lead time. Lead time adalah waktu 

mulai dari persiapan sampai penyelesaian dimana dalam penyelesaian 

ini akan berhadapan dengan waktu menunggu, pemindahan, pembelian, 

dan mempersiapkan komponen yang akan dibeli.

 Setelah mengetahui lead time  setiap komponen, manajer dapat 

menentukan kebutuhan bruto, kebutuhan neto, persediaan  on 

hand, rencana pemesanan, rencana penerimaan, dan rencana realisasi penerimaan. Kebutuhan bruto merupakan jumlah total setiap item

yang dibutuhkan untuk memproduksi sejumlah barang tertentu, 

sedangkan kebutuhan neto menyesuaikan persediaan yang dimiliki, 

yaitu kebutuhan bruto dikurangi persediaan yang ada.

 Selanjutnya, manajer dapat membuat jadwal penerimaan 

merupakan jadwal yang berkaitan dengan penyelesaian dan pengiriman 

pesanan barang ke konsumen dan jadwal penerimaan pesanan item

untuk menghasilkan produk tersebut. Hal yang berikutnya dilakukan 

adalah menentukan persediaan yang tersedia di perusahaan (on hand), 

yaitu jumlah persediaan yang masih tersisa di setiap akhir periode 

yang didasarkan pada keseimbangan, proyeksi kebutuhan, dan jadwal 

penerimaan.

OUTPUT MRP

Output (keluaran) MRP adalah informasi yang dapat digunakan 

untuk melakukan pengendalian produksi. Keluaran pertama berupa 

rencana pemesanan yang disusun berdasarkan waktu ancang dari setiap 

komponen atau item. Dengan adanya rencana pemesanan, kebutuhan 

bahan pada tingkat yang lebih rendah dapat diketahui. Selain itu, 

proyeksi kebutuhan kapasitas juga akan diketahui, yang selanjutnya 

akan memberikan revisi atas perencanaan kapasitas yang dilakukan 

pada tahap sebelumnya.

Kegunaan output dari MRP adalah memberikan catatan pesanan 

penjadwalan yang harus dilakukan/direncanakan, baik dari pabrik 

maupun dari pemasok, memberikan indikasi penjadwalan ulang, 

memberikan indikasi pembatalan pesanan, dan memberikan indikasi 

keadaan persediaan. Dengan demikian, secara garis besar, MRP bukan 

hanya menyangkut manajemen material dan persediaan saja, tetapi 

juga memengaruhi aktivitas perencanaan dan pengendalian produksi 

sehari-hari di perusahaan.

PRASYARAT DAN ASUMSI DARI MRP

Tujuan utama MRP adalah menghasilkan informasi persediaan yang dapat 

digunakan untuk mendukung ketepatan dalam melakukan produksi. 

Agar MRP dapat berfungsi dan dioperasikan secara efektif, beberapa 

persyaratan dan asumsi harus dipenuhi. Berikut persyaratannya.

1. Tersedianya jadwal induk produksi (MPS), yaitu rencana 

produksi yang menetapkan jumlah serta waktu suatu produk 

akhir harus tersedia agar sesuai jadwal produksi dapat terpenuhi. 

Jadwal induk produksi ini biasanya diperoleh dari hasil peramalan 

kebutuhan melalui tahapan perhitungan perencanaan produksi 

yang baik

2. Setiap item persediaan harus mempunyai identifikasi yang khusus. 

Biasanya MRP terkomputerisasi karena begitu banyaknya jumlah 

komponen yang harus ditangani. Oleh karena itu, setiap item harus 

memiliki klasifikasi yang jelas, meliputi bahan, bagian komponen, 

perakitan setengah jadi, dan produk akhir.

3. Tersedianya struktur produk pada saat perencanaan. Struktur 

produk yang diperlukan tidak harus struktur produk yang memuat 

semua item yang terlibat dalam pembuatan suatu produk jika item￾nya sangat banyak dan proses pembuatannya sangat komplek. Hal 

terpenting adalah struktur produk harus mampu menggambarkan 

secara gamblang langkah-langkah bagaimana suatu produk dibuat 

hingga menjadi barang jadi.

4. Tersedianya catatan tentang persediaan untuk semua item yang 

menyatakan status persediaan.

Ciri utama MRP ada empat, yaitu: 

1. Mampu menentukan kebutuhan pada saat yang tepat ketika suatu 

pekerjaan akan selesai (material harus tersedia) untuk memenuhi 

permintaan produk yang dijadwalkan berdasarkan MPS.

2. Menentukan kebutuhan minimal setiap item dengan menentukan 

secara tepat sistem penjadwalan.

3. Menentukan pelaksanaan rencana pemesanan dengan memberikan 

indikasi kapan pemesanan atau pembatalan suatu pesanan harus 

dilakukan.

4. Menentukan penjadwalan ulang atau pembatalan atas suatu 

jadwal yang sudah direncanakan. Jika kapasitas yang ada tidak 

mampu memenuhi pesanan yang dijadwalkan pada waktu yang 

dikehendaki, MRP dapat memberikan indikasi untuk melaksanakan 

rencana penjadwalan ulang (jika mungkin) dengan menentukan 

prioritas pesanan yang realistis. Seandainya penjadwalan ulang 

ini masih tidak memungkinkan untuk memenuhi pesanan, harus 

dilakukan pembatalan terhadap pesanan tersebut.

STRATEGI IMPLEMENTASI MRP

Material requirement planning merupakan terobosan besar bagi dunia 

industri dalam mengatur bahan-bahan material yang dibutuhkan untuk 

proses produksi. Dengan MRP, perusahaan dapat emeningkatkan 

efisiensi gudang sekaligus mencegah kemungkinan kekurangan 

persediaan. Semua proses pengaturan untuk bahan material yang 

dibutuhkan dilakukan hanya dengan memasukkan data yang 

dibutuhkan dan software MRP yang akan memproses semuanya. 

Fasilitas yang disediakan MRP adalah:

1. Proses pengisian dan pemesanan data dealer penjualan dan supplier

material.

2. Proses pemesanan yang mudah, baik dari dealer penjualan ataupun 

untuk supplier material.

3. Data material yang mudah diperbaharui, jadwal produksi, 

pencarian data, dan proses MRP.


Konsep MRP adalah mempermudah pengaturan bahan material. 

Oleh karena itu, software dibuat dengan konsep user friendly dan fasilitas 

yang benar-benar mempermudah dan mampu meningkatkan efisiensi 

para pengguna.

PENGENDALIAN PERSEDIAAN MENGGUNAKAN MRP 

Pengendalian persediaan merupakan langkah penting dalam manajemen 

persediaan. Pengendalian untuk melakukan perhitungan berupa jumlah 

optimal tingkat persediaan yang harus ada serta waktu pemesanan 

kembali. Pengaturan dan pengawasan terhadap barang material penting 

dalam sistem produksi. Perencanaan kebutuhan MRP adalah suatu 

sistem informasi yang terkomputerisasi untuk mengatur persediaan 

permintaan yang dependen dan mengatur jadwal produksi. Sistem ini 

bertujuan untuk mengurangi tingkat persediaan dan meningkatkan 

produktivitas.

Untuk mempermudah pengendalian, terdapat dua hal penting 

dalam MRP, yaitu lead time dan berapa banyaknya jumlah material 

yang siap dipesan. Metode MRP dapat memesan sejumlah barang 

atau persediaan sesuai dengan jadwal produksi sehingga tidak akan 

ada pembelian barang walaupun persediaan telah berada pada tingkat 

terendah. MRP dapat mengatasi masalah-masalah kompleks dalam 

persediaan yang memproduksi banyak produk, seperti kebingungan, 

inefisiensi, pelayanan yang tidak memuaskan konsumen, dan lain-lain.

Penentuan kebutuhan material yang pasti dalam proses produksi 

akan meminimalkan kerugian yang timbul dalam terkaitannya dengan 

persediaan. Dengan menggunakan metode MRP untuk melakukan 

penjadwalan produksi, perusahaan akan menentukan secara tepat 

perencanaan tanggal perencanaan pekerjaan yang realistis, pekerjaan 

dapat selesai tepat pada waktunya, janji kepada konsumen dapat ditepati, 

dan waktu tenggang pemesanan dapat dikurangi.

KEUNTUNGAN DAN KERUGIAN MRP

Material requirement planning banyak digunakan di berbagai jenis 

industri yang menggunakan aliran proses intermiten dan tidak termasuk 

proses selanjutnya, seperti perusahaan minyak dan baja. MRP sangat 

bermanfaat pada perusahaan yang beroperasi dalam perakitan dan 

kurang bermanfaat bagi perusahaan pabrikasi. Di sisi lain, MRP kurang 

menguntungkan digunakan untuk perusahaan yang memiliki jumlah 

produksi per tahun yang rendah, terutama pada perusahaan yang 

menghasilkan produk yang mahal dan kompleks serta membutuhkan 

riset dan desain. Berdasarkan pengalaman yang ada, lead time

menyebabkan terlalu lama dan terjadi ketidakpastian.

Keuntungan sistem MRP dapat dirangkum sebagai berikut.

1. Di bidang persediaan, MRP memberikan informasi koordinasi 

pesanan yang lebih baik untuk komponen-komponen dengan 

rencana item sehingga jumlah rata-rata persediaan item permintaan 

independen dapat dikurangi. Perusahaan hanya memesan apa yang 

dibutuhkan.

2. Di bidang produksi, sumber daya manusia dan modal (kapasitas) 

digunakan lebih baik karena informasi MRP menunjukkan adanya 

penundaan komponen yang disebabkan oleh penting lainnya 

tidak tersedia. Pengiriman yang lebih memungkinkan dilakukan 

karena informasinya sangat akurat. MRP juga digunakan untuk 

memperbaiki arus kerja dengan mengurangi waktu menganggur 

dan hasilnya dapat mengurangi waktu proses produksi.

3. Di bidang penjualan, karena pengiriman dilakukan tepat seperti 

yang diinginkan oleh konsumen, maka akan terjadi perbaikan 

kemampuan perusahaan dalam melayani pelanggan dengan 

melakukan perakitan tepat waktu dan menghilangkan lead time. 

Penjualan MRP juga menyebabkan penjadwalan lebih baik karena 

prioritas pengetahuan.4. Di bidang perencanaan, MRP dapat mengubah jadwal induk 

berdasarkan evaluasi yang dilakukan dan memberikan fasilitas 

sistem yang berupa gambar perlengkapan dan kebutuhan fasilitas, 

rencana tenaga kerja, dan pengeluaran pembelian persediaan 

berdasarkan MPS.

5. Di bidang pembelian, MRP memberikan saran perubahan jatuh 

tempo pesanan sehingga dapat memperbaiki hubungan dengan 

penjual karena terdapat prioritas riil.

6. Di bidang keuangan, MRP memfasilitasi rencana kebutuhan arus 

kas yang lebih baik dengan identifikasi karena adanya batasan 

kapasitas dan menghasilkan keputusan modal yang lebih baik.

Selain keuntungan MRP dalam berbagai bidang yang sudah 

disebutkan di atas, penerapan MRP juga akan meningkatkan 

kemampuan perusahaan untuk memberikan harga yang lebih kompetitif 

dan mengurangi harga penjualan karena MRP dapat mengurangi 

persediaan dan mengurangi biaya set-up. Pelayanan pelanggan 

dan respons terhadap permintaan pasar dapat ditingkatkan karena 

perusahaan selalu dapat memenuhi permintaan pelanggan.

Sedangkan, kelemahan yang pokok sistem ini adalah menyangkut 

kegagalan MRP mencapai tujuan yang disebabkan oleh 1) kurangnya 

komitmen dari manajemen puncak dalam pengimplementasian MRP, 

2) mencoba menggabungkan MRP dengan JIT tanpa memahami betul 

karakteristik kedua pendekatan tersebut, 3) membutuhkan akurasi 

operasi, dan 4) kesulitan dalam membuat skedul terperinci.

 Di sisi lain, kelemahan utama penggunaan sistem MRP adalah 

integritas data. Jika terdapat data yang salah pada data persediaan, bill 

material data juga akan menghasilkan data yang salah. Permasalahan 

lainnya adalah sistem MRP membutuhkan data yang spesifik, seperti berapa lama perusahaan menggunakan berbagai komponen dalam 

memproduksi produk tertentu (asumsi semua variabel). 60

Desain sistem ini juga mengasumsikan bahwa lead time dalam proses 

in manufacturing sama untuk setiap item produk yang dibuat. Proses 

manufaktur yang dimiliki perusahaan mungkin berbeda di berbagai 

tempat. Hal ini mengakibatkan terjadinya daftar pesanan yang berbeda 

karena adanya perbedaan jarak. Dengan demikian, sistem enterprise

perlu diterapkan sebelum menerapkan sistem MRP. Sistem MRP tidak 

menghitung jumlah kapasitas produksi. Meskipun demikian, dalam 

jumlah yang besar perlu diterapkan suatu sistem yang mengintegrasikan 

aspek keuangan. 

Sistem yang canggih tidak akan berhasil tanpa penguasaan yang baik. 

Hal ini terutama membutuhkan komitmen manajemen tingkat atas. 

Sistem MRP membutuhkan pengoperasian yang akurat dan tidak terlalu 

kaku dan semakin rumit struktur produk akan membuat perhitungan 

MRP semakin rumit pula. Perbedaan dalam tenggang waktu akan 

menambah kerumitan dalam proses MRP. Adanya komponen yang 

bersifat umum akan menimbulkan kesulitan apabila komponen 

umum tersebut berada pada level yang berbeda. Jika perusahaan tidak 

dapat memperhitungkan dengan tepat, penerapan MRP tidak akan 

mendukung kemajuan perusahaan. 

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah integrasi MRP yang tidak 

tepat. Selain itu, pandangan bahwa MRP dipandang sebagai sesuatu yang 

terpisah dari sistem lain, lebih dipandang sebagai sistem yang berdiri 

sendiri dalam menjalankan operasi perusahaan daripada sebagai suatu 

sistem yang terkait dengan sistem lain dalam perusahaan atau suatu 

bagian dari keseluruhan sistem perusahaanakan dapat menyebabkan 

kegagalan dalam pengaplikasian sistem MRP.

Material requirement planning merupakan suatu sistem yang mengatur 

bahan-bahan material yang dibutuhkan untuk proses produksi karena 

dengan MRP perusahaan dapat mengefisiensikan gudang dan sekaligus 

mencegah kemungkinan kehabisan bahan material atau suatu sistem 

penjadwalan kebutuhan bahan baku berdasarkan tahap waktu untuk 

operasi produksi. Secara umum, sistem MRP dimaksudkan untuk 

meminimalkan persediaan, mengurangi risiko karena keterlambatan 

produksi atau pengiriman, membuat komitmen yang realistis, dan 

meningkatkan efisiensi


Kemajuan teknologi yang sangat pesat pada perusahaan manufaktur 

mengakibatkan berkurangnya pemakaian tenaga kerja langsung sehingga 

berdampak pada berkurangnya biaya tenaga kerja langsung. Namun 

di sisi lain, penggunaan peralatan modern memerlukan pengeluaran 

investasi yang relatif besar. Keterbatasan dana menyebabkan masih banyak 

perusahaan masih menggunakan prosedur tradisional untuk menghadapi 

kemajuan teknologi. Namun, masyarakat di negara maju, seperti Jepang 

khususnya, mulai mengembangkan suatu sistem yang disebut just in time, 

dimana sistem ini dilatarbelakangi oleh pemborosan-pemborosan tenaga 

kerja, ruangan, dan waktu industri yang terjadi dikarenakan adanya 

persediaan (inventory) sehingga biaya produksi menjadi lebih tinggi.Keunggulan kompetitif suatu perusahaan terhadap para pesaingnya 

bisa ditentukan oleh beberapa faktor, seperti waktu, mutu, biaya, dan 

sumber daya manusia. Jika suatu perusahaan ingin unggul dalam 

faktor waktu maka perusahaan harus dapat melayani permintaan 

konsumen tepat waktu, mengeliminasi atau mengurangi waktu untuk 

aktivitas yang tidak bernilai tambah, dan mengefisiensikan waktu untuk 

aktivitas bernilai tambah. Konsep-konsep JIT adalah alat yang tepat agar 

perusahaan mempunyai keunggulan dari segi faktor waktu.

Metode JIT merupakan suatu pendekatan untuk mengidentifikasi 

dan mengeliminasi segala macam sumber pemborosan dalam aktivitas 

produksi dengan memberikan komponen produksi yang tepat serta pada 

waktu dan tempat yang tepat. Metode ini berkebalikan dari metode 

tradisional yang memproduksi komponen produksi dalam jumlah besar 

guna mengantisipasi keadaan yang tidak terduga.

MENGENAL SISTEM PRODUKSI JUST IN TIME 

Sistem Produksi Barat

Sistem produksi yang paling banyak dipakai saat ini adalah sistem 

yang berasal dari Eropa dan Amerika. Sistem produksi tersebut dikenal 

sebagai sistem produksi barat. Ciri-ciri dari sistem produksi barat 

adalah kuantitas produksi ditentukan melalui peramalan, melakukan 

optimalisasi dalam penjadwalan produksi, penentuan kebutuhan 

bahan, penentuan kebutuhan mesin, pekerja, dan lain-lain, terdapat 

departemen pengendalian kualitas, dan terdapat gudang receiver

dan gudang warehouse sebagai penyimpan persediaan, dan lain-lain. 

Unsur-unsur probabilistik dalam melakukan keputusan untuk masalah￾masalah sistem produksi sangat dominan dalam sistem ini. Optimasilasi 

unsur-unsur sistem produksi yang tersedia merupakan filosofi dasar dari 

sistem produksi barat. Hal ini dimungkinkan karena saat itu negara￾negara barat masih memiliki sumber daya yang cukup banyak.Krisis minyak bumi yang terjadi pada tahun 1970-an sangat 

berdampak terhadap industri-industri barat sebagai konsumen terbesar. 

Namun, hal tersebut tidak berlaku bagi Jepang karena Jepang sudah 

terbiasa berhemat dalam menggunakan sumber daya, khususnya 

minyak bumi. Akibatnya, saat industri-industri barat mengalami 

kemerosotan, industri Jepang justru mulai tumbuh. Sistem produksi 

Jepang mulai menunjukkan keunggulan-keunggulannya pada tahun 

1980-an. Di sisi lain, industri barat justru baru mulai merekonstruksi 

dan merestrukturisasi sistem produksinya, baik melalui teknik-teknik 

produksi maupun manajemen. Pada tahun 1990-an, Jepang telah 

berkembang pesat dan jauh meninggalkan Eropa ataupun Amerika.

Sistem Produksi Jepang

Jepang tidak mempunyai sumber daya yang cukup banyak sehingga 

mereka harus mengurangi pemborosan atau eliminate of waste. Untuk 

dapat melaksanakan eliminate of waste, beberapa strategi berikut 

dilakukan oleh industri Jepang.

Hanya memproduksi jenis produk yang diperlukan.

Hanya memproduksi produk sejumlah yang dibutuhkan.

Hanya memproduksi produk pada saat diperlukan.

Jadi, dalam setiap pengambilan keputusan, terutama untuk masalah 

produksi, mereka selalu menganut kepada prinsip efisiensi, efektivitas, 

dan produktivitas. Sistem produksi Jepang dikenal dengan nama sistem 

produksi just in time (tepat waktu). Sistem JIT mempunyai empat aspek 

pokok sebagai berikut:

1. Semua aktivitas yang tidak bernilai tambah terhadap produk atau 

jasa harus dieliminasi. Aktivitas yang tidak bernilai tambah akan 

meningkatkan biaya yang tidak perlu. Misalnya, persediaan dan 

produk yang rusak atau cacat sedapat mungkin nol sehingga tidak memerlukan biaya penyimpanan dan biaya untuk pengerjaan 

kembali produk cacat

2. Adanya komitmen untuk selalu meningkatkan kualitas produk 

dengan tidak meloloskan produk cacat ke tahap produksi selanjutnya. 

Kualitas produk yang baik dapat meningkatkan kepuasan pembeli.

3. Selalu diupayakan penyempurnaan yang berkesinambungan 

(continuous improvement) atau perbaikan terus-menerus dalam 

meningkatkan efisiensi kegiatan.

4. Menekankan pada penyederhanaan aktivitas dan meningkatkan 

pemahaman terhadap aktivitas yang bernilai tambah.

Konsep arus produksi yang berkelanjutan adalah dasar dari 

filosofi just in time. Kerja sama setiap bagian proses produksi dengan 

komponen-komponen lainnya merupakan persyaratan berjalannya 

sistem JIT. Tenaga kerja langsung dalam lingkungan just in time

dipertangguh dengan perluasan tanggung jawab akan berkontribusi 

pada pemangkasan pemborosan biaya tenaga kerja, ruang, dan waktu 

produksi.

FILOSOFI DAN DEFINISI JUST IN TIME (JIT)

Just in time (JIT) pada dasarnya merupakan integrasi dari serangkaian 

aktivitas dalam produksi dengan volume tinggi tetapi menggunakan 

persediaan seminimal mungkin untuk bahan baku, barang setengah 

jadi, dan produk jadi. Konsep sistem produksi JIT adalah memproduksi 

produk yang diperlukan, pada waktu dibutuhkan oleh pelanggan, dalam 

jumlah sesuai kebutuhan pelanggan, pada setiap tahap proses dalam 

sistem produksi dengan cara yang paling ekonomis atau paling efisien 

melalui eliminasi pemborosan dan perbaikan terus-menerus.

Sistem produksi JIT sering juga disebut sebagai sistem tarik (pull 

system) karena aliran kerja dikendalikan oleh operasi berikutnya, yaitu 

setiap stasiun kerja (work station) menarik output dari stasiun kerja


sebelumnya sesuai dengan kebutuhan. Jadwal produksi hanya diberikan 

kepada lini perakitan terakhir (final assembly line). Semua stasiun kerja 

yang lain dan pemasok (supplier) tidak memperoleh jadwal produksi 

tetapi hanya pesanan produksi dari subskuen operasi berikutnya. 

Misalnya, stasiun kerja sebelumnya (stasiun kerja 1) menerima pesanan 

produksi dari stasiun kerja berikutnya (stasiun kerja 2), kemudian 

memasok produk itu sesuai kuantitas yang dibutuhkan pada waktu 

yang tepat dengan spesifikasi yang tepat pula. Dalam kasus seperti ini, 

stasiun kerja 2 sering disebut sebagai