Senin, 13 Oktober 2025

Kewirausahaan 4


 



rhasil pindah ke tahap  pertumbuhan atau ekspansi, 

pemilik-manajer akan diperlukan untuk meningkatkan skala dan ruang 

lingkup operasinya. Bagian dari ekspansi ini akan melibatkan perekrutan 

karyawan tambahan, dan meningkatkan keseluruhan kompleksitas 

166 

 

kegiatan perusahaan. Sangat mungkin bahwa kebutuhan akan tingkat 

profesional yang lebih besar manajemen akan diperlukan untuk 

mengoperasikan perusahaan, bersama dengan kebutuhan untuk 

peningkatan perencanaan dan pengenalan sistem untuk mendukung 

tingkat baru kompleksitas. Transisi dari perusahaan kecil yang dikelola 

pemilik menjadi perusahaan besar yang dikelola system bisnis akan 

membutuhkan pengembangan manajemen berbasis pendekatan tim 

dengan spesialisasi yang lebih besar dalam tim manajemen. Tata kelola 

perusahaan juga cenderung berubah seiring dengan berlangsungnya 

siklus pertumbuhan. Saat tumbuh, bisnis akan menjadi lebih formal dalam 

akuntansi, manajemen, dan lainnya sistem. Kebutuhan akan jumlah modal 

yang lebih besar kemungkinan akan memimpin bisnis menuju 

pembiayaan ekuitas. Sebagai mitra ekuitas baru dibawa ke perusahaan 

yang asli pemilik-manajer mungkin menemukan tingkat kontrol mereka 

berkurang. Semakin besar perusahaan menjadi semakin besar 

kemungkinan struktur manajemennya akan terdesentralisasi dengan 

pemisahan yang lebih besar antara pemilik dan perusahaan dalam hal 

operasional dan keuangan (Mazzarol & Reboud, 2020). 

Transisi dari pengusaha ke manajer profesional yaitu  hal yang 

sulit, sebab  keterampilan atau karakteristik yang diperlukan untuk 

mendirikan dan menjalankan bisnis pada tahap  start-up, keterampilan yang 

dibutuhkan tidak selalu sama dengan mengelola bisnis yang lebih besar. 

Pergeseran dari berpikir seperti seorang karyawan untuk berpikir seperti 

seorang manajer, dari gaya wirausaha bisnis berjalan ke pendekatan 

manajerial, dapat lebih mudah dialihkan dengan melihat area Hatten 

(2012) ini : 

a) Memiliki visi dan misi yang jelas. 

b) Mengelola semua sumber daya secara efektif dan efisien, termasuk 

karyawan. 

c) Belajar mendelegasikan secara efektif. 

d) Menerapkan proses yang membuat individu bertanggung jawab. 

167 

 

Selain itu, Hatten (2012) juga menambahkan ada beberapa atribut yang 

dibutuhkan di dalama manajemen profesional bisnis kecil, yaitu a) 

kepemimpinan, b) manajemen waktu, dan c) manajemen stres. 

 Mazzarol & Reboud (2020) juga menjelaskan terkait dengan 

petumbuhan, ada dua faktor utama terkait dengan pemilik dan bisnis. 

1) Faktor terkait pemilik; kemampuan mereka untuk menetapkan 

tujuan bisnis dan keterampilan mereka dalam menangani masalah 

operasional, teknis dan manajerial yang terlibat dengan 

menjalankan sebuah bisnis. Keterampilan perencanaan strategis 

juga penting untuk pertumbuhan. 

2) Faktor terkait bisnis; sumber daya keuangan, personel, 

perencanaan, dan pengendalian sistem dan teknologi proses. 

Tjahjadi et al., (2020) membuktikan bahwa kesiapan sumber daya 

manusia berpengaruh terhadap bisnis. Oleh sebab  itu sangat penting bagi 

UMKM untuk memberikan perhatian khusus pada masalah Human Capital 

Readiness (HCR) yakni untuk berinvestasi dalam pengetahuan, 

keterampilan, dan nilai karyawan mereka. Keunggulan kompetitif tidak 

ditentukan oleh jumlah karyawan tetapi pada kesiapan karyawan untuk 

secara efektif menjalan setiap strategi yang diperlukan. saat  UMKM di 

didorong untuk bersaing di pasar global di era ekonomi pengetahuan, 

HCR akan memainkan peran yang lebih penting. Pengetahuan dapat 

digunakan untuk menciptakan keuntungan yang berbeda dan HCR 

sebagai sumber daya tidak berwujud yang harus dengan cepat diubah 

menjadi uang tunai atau hasil nyata lainnya. Pemilik/pengelola UMKM 

perlu membangun HCR-nya untuk memastikan kompetensinya telah 

memenuhi standar global, sehingga mampu bersaing dengan pemain 

global lainnya. Semakin tinggi tingkat kesiapan, semakin tinggi peluang 

untuk mencapai kinerja bisnis yang tinggi. 

 

2. Faktor Penghambat Pertumbuhan Bisnis Kecil 

Sementara kontribusi usaha kecil untuk pembangunan umumnya 

diakui, pengusaha dihadapkan dengan banyak kendala yang membatasi 

168 

 

pertumbuhan dan kelangsungan hidup mereka. Masalah pertumbuhan 

dan kelangsungan hiduo yang dihadapi UKM di Afrika secara umum 

dapat dikalsifikasikan ke dalam empat kategori Okpara (2011): 

1) Kendala administratif; akuntansi dan manajemen/personil 

2) Kendala Operasi; pemasaran/produksi dan kontrol 

inventaris 

3) Kendala Strategis; strategi perencanan/pilihan dan 

keuangan/kompetitif 

4) Kendala Eksogen; infratruktur/teknologi dan korupsi 

pemeritah 

Terdapat banyak faktor yang mempengaruhi pertumbuhan bisnis 

kecil, salah satunya yaitu  persepsi pemilik terhadap sumber daya yang 

dimiliki telah 

menjawab pertanyaan studinya tentang mengapa sebagian besar 

perusahaan kecil tidak tumbuh. Kondisi kecil yang dipersepsikan pemilik 

bisnis kecil dikonseptualisasikan sebagai persepsi sikular, sikap dan 

praktik konsekuen yang mencerminkan kurangnya pengetahuan waktu, 

dan kemampuan.  

Sebagai pengusaha memiliki pilihan, dan pilihan inilah yang 

menajadi kunci untuk memahami kemampuan perusahaan untuk tumbuh 

( Pengusaha memutuskan tuntuk tumbuh atau 

tidak sebab  beberapa alasan, yaitu menjadi bos sendiri, kebebasan dan 

kontrol, popularitas, rasa hormat, fleksibilitas, dan infomalitas 

 

C. Human Resource Management  

Setiap organisasi pasti membutuhkan sumber daya manusia untuk 

melaksanakan kegiatannya. Sumber daya manusia menjadi hal yang 

penting atau vital sebab  kesuksesan suatu organisasi tergantung pada 

sumber daya manusia hebat yang dimilikinya. Untuk memperoleh SDM 

yang hebat seringkali menjadi pekerjan yang sulit bagi manajemen.   Lalu 

apakah yang dimaksud dengan sumber daya manusia? Werther dan Davis 

169 

 

(1996) menggambarkan manajemen sumber daya manusia sebagai 

kegiatan yang mencoba untuk memberikan fasilitas orang-orang dalam 

organisasi untuk kontribusi pada pencapaian rencana strategis organisasi. 

Singkatnya, manajemen sumber daya manusia mengacu pada bagaimana 

sebuah organisasi membangun sistem formal yang memastikan 

penggunaan sumber daya manusia yang efisien dan efektif untuk 

mendukung pencapaian tujuan dan rencana strategis organisasi.  Kegiatan 

manajemen sumber daya manusia yang tercakup dalam bab ini yaitu  : 

1. Job analysis 

2. Rekrutmen 

3. Seleksi  

4. Penempatan dan pelatihan  

5. Kompensasi dan benefit 

6. Disiplin dan pemutusan hubungan kerja 

1. Job analysis 

Job analysis atau analisa jabatan yaitu  proses yang mengkaji pola 

aktivitas guna menentukan kewajiban, tugas dan tanggung jawab yang 

dibutuhkan untuk setiap posisi. Analisa jabatan dibutuhkan guna 

menentukan deskripsi pekerjaan (job description) dan spesifikasi 

pekerjaan (Job specification). Informasi yang diakumulasi dalam proses 

analisis jabatan digunakan untuk berbagai tujuan di dalam proses 

manajemen sumber daya manusia di dalam organisasi. Beberapa kegiatan 

manajemen sumber daya manusia yang menggunakan informasi dari 

analisis jabatan meliputi: 

a. Rekrutmen dan seleksi 

b. Kompensasi 

c. Pelatihan 

d. Penilaian kinerja 

Ada beberapa metode yang bisa digunakan untuk mengumpulkan 

informasi-informasi ini yaitu  sebagai berikut : 

a. Metode wawancara 

b. Metode diskusi panel para ahli 

170 

 

c. Metode kuisioner 

d. Metode buku harian karyawan (log book) 

e. Metode observasi 

Deskripsi pekerjaan (job description) yaitu pernyataan tertulis yang 

menggambarkan tugas, kegiatan, tanggung jawab, kondisi kerja dan aspek 

lain dari suatu jabatan tertentu. Deskripsi pekerjaan ditulis berlandaskan 

informasi yang sudah dikumpulkan dalam proses analisis jabatan. 

Deskripsi pekerjaan menggambarkan apa itu pekerjaan (what a job is). 

Dengan membaca deskripsi pekerjaan karyawan mengetahui aktivitas 

kerja apa yang harus dilakukan agar tidak bingung dalam melaksanakan 

pekerjaan. Deskripsi pekerjaan paling sedikit mencakup informasi 

mengenai : 

a. Identifikasi jabatan, ialah informasi yang mencakup kode jabatan, 

posisi dalam organisasi dan nama jabatan. 

b. Ikhtisar jabatan, berisikan informasi tentang ringkasan dari 

pekerjaan, misalnya apa pekerjaannya, bagaimana 

menjalankannya dan alasan mengapa pekerjaan ini perlu 

dijalankan. 

c. Tanggung jawab dan tugas, berisi informasi mengenai tugas apa 

saja yang perlu dilaksanakan, tanggung jawab apa yang harus 

diemban dan kegiatan apa yang harus dilakukan.  

Spesifikasi pekerjaan menjelaskan persyaratan minimum yang 

harus dipenuhi karyawan untuk dapat melakukan aktivitas di jabatan 

tertentu. Secara singkatnya, spesifikasi jabatan menggambarkan profil 

suatu jabatan. Spesifikasi jabatan memuat informasi tentang kecakapan, 

keterampilan, pengalaman, tingkat pendidikan, kemampuan fisik dan 

kemampuan yang harus dikuasai oleh seseorang untuk mengisi suatu 

jabatan tertentu. 

 

2. Rekrutmen 

Rekrutmen yaitu  proses mencari dan merekrut kandidat yang 

mempunyai pengalaman untuk mengisi posisi tertentu di sebuah 

171 

 

organisasi. Proses rekrutmen mempunyai tujuan guna mengumpulkan 

sebanyak mungkin kandidat terbaik untuk dipilih yang paling baik dari 

yang terbaik. Setiap proses rekrutmen memiliki keuntungan dan 

kelemahan sendiri-sendiri. 

a. Iklan tenaga kerja, mengundang banyak kandidat untuk melamar. 

Iklan ini harus berisi posisi yang diiklankan, persyaratan untuk 

mengisi posisi ini dan penawaran dari perusahaan. 

b. Agensi tenaga kerja. Cara lain untuk mendapatkan kandidat 

karyawan yaitu  menggunakan agensi. Perusahaan hanya perlu 

memberi tahu agen tenaga kerja tentang posisi dan persyaratan yang 

diinginkan. 

c. Internet job site seperti web perusahaan juga efektif untuk 

menginformasikan adanya kebutuhan tenaga kerja, spesifikasi yang 

diharapkan dan tawaran yang diberikan. 

d. Cara lain untuk melakukan rekrutmen yaitu  melalui headhunters 

yaitu istilah yang disematkan pada orang atau organisasi yang 

diwakilinya dalam merekrut karyawan yang memiliki skill atau 

keahlian tertentu.   Biasanya karyawan yang direkrut adlah 

karyawan yang tidak mempunyai ikatan tertentu dengan 

perusahaan tempatnya bekerja selama ini. 

e. Referral yaitu  proses seleksi yang dilaksanakan oleh perusahaan 

dengan cara mengumpulkan kandidat yang direkomendasikan oleh 

karyawan. Referral ini cocok untuk pekerjaan dimana pasokan 

tenaga kerja di pasar tidak terlalu besar atau jarang, langka, misal 

hacker. 

f. Keluarga dan teman merupakan salah satu pintu masuk rekrutmen. 

Keuntungan dari proses rekrutmen ini, kandidat dijamin oleh 

keluarga atau teman yang merekomendasikan pekerjaan ini, 

sehingga jika kandidat tidak sesuai dengan spesifikasi yang 

diinginkan perusahaan maka penjamin bisa mendapatkan 

imbasnya. 

172 

 

g. Sumber lain yang bisa digunakan untuk melakukan rekrutmen 

yaitu  melaui job fair ataupun rekrutmen fresh graduate dari 

kampus.  

 

3. Seleksi 

Proses seleksi yaitu  proses menyeleksi kandidat yang sudah 

berkumpul guna mengisi suatu jabatan/pekerjaan di dalam organisasi 

yang dianggap telah memenuhi kualifikasi dan kompetensi yang 

dipersyaratkan. Sebelum perusahaan memutuskan kandidat, terlebih 

dahulu harus dilaksanakan langkah-langkah sebagai berikut : 

a. Testing. Tes ketenagakerjaan merupakan cara bagi perusahaan 

untuk menilai sejauh mana kandidat memenuhi kriteria yang telah 

ditentukan untuk mengisi suatu posisi tertentu. Beberapa tes 

disajikan dalam bentuk tes tertulis dan yang lainnya dalam bentuk 

simulasi. 

b. Wawancara. Wawancara memiliki tujuan untuk memperoleh 

gambaran dan informasi tentang kandidat dalam pertemuan tatap 

muka. 

 

4. Penempatan dan Pelatihan Karyawan  

Orientasi yaitu  proses selanjutnya setelah seleksi selesai dilakukan. 

Orientasi sendiri berarti sosialisasi yang mengenalkan karyawan baru 

pada nilai, norma dan keyakinan yang ada dan dianut oleh organisasi atau 

perusahaan sehingga mereka memahami, menerima dan menerapkannya. 

Tujuannya agar ia mampu berkinerja dengan baik dan tidak mengalami 

hambatan akibat akibat ketidakpahaman dan ketidakselarasan antara 

pekerja baru dengan pekerja lama atau dengan organisasi atau 

perusahaan.  

a. Penempatan yaitu  proses penugasan karyawan untuk menempati 

posisi baru di perusahaan. Penempatan dimaksudkan untuk 

menempatkan karyawan pada suatu posisi atau jabatan tertentu 

173 

 

yang dianggap cocok untuknya. Secara umum, penempatan terbagi 

dalam tiga kategori, yaitu demosi, transfer dan promosi. 

b. Pelatihan dan pengembangan yaitu  dua hal yang berbeda namun 

seringkali dianggap hal yang sama. Pelatihan yaitu  salah satu yang 

membantu pekerja untuk bisa melakukan pekerjaannya saat ini. 

Sedangkan pengembangan yaitu  pendidikan yang melakukan 

pekerjaan yang nantinya akan dikerjakan. 

Ada berbagai metode pelatihan dan pengembangan yang biasa 

dilakukan oleh perusahaan, antara lain : 

a. On-the-job-training. Metode ini banyak digunakan untuk 

mengajarkan pekerja bagaimana melakukan pekerjaan mereka. 

Seorang instruktur trainer atau atasannya langsung bertindak 

sebagai instruktur yang memberikan instruksi selama proses 

pelatihan. 

b. Pengajaran. Dalam metode ini, pekerja yang mengikuti pelatihan 

berada di dalam kelas dan pelatih bertindak sebagai orang yang 

memberikan instruksi selama proses pelatihan. 

c. Konferensi. Disebut juga dengan grup diskusi, teknik ini hampir 

sama dengan pengajaran, hanya saja pesertanya lebih aktif 

mengeluarkan ide-ide atau pendapat. 

d. Pembelajaran terprogram. Metode ini menggunakan computer atau 

perintah tertulis. Pekerja menerima umpan balik dan segera belajar 

menurut kemampuannya. Metode ini berjalan baik pada hampir 

semua tipe pelatihan. Hanya saja pekerja harus mempunyai motivasi 

dan semangat untuk mempersiapkan diri agar hasilnya efektif. 

e. Role playing.  Metode ini mengharuskan pekerja untuk memenuhi 

peran yang berbeda. Tujuannya agar pekerja dapat merasakan 

kondisi nyata orang-orang yang akan mereka temui di tempat kerja. 

Metode ini biasanya digunakan untuk perusahaan yang bergerak di 

bidang jasa. 

f. Job rotation. Metode ini membutuhkan pekerja yang sedang 

melakukan pelatihan berpindah-pindah dari satu pekerjaan ke 

pekerjaan yang lainnya. Tujuannya agar pekerja bisa melakukan 

174 

 

banyak pekerjaan diluar pekerjaan intinya. Manfaat metode ini 

yaitu  mengurangi kekosongan posisi jika ada karyawan yang cuti, 

sakit atau bahkan keluar. 

g. Kursus koresponden, kelas internet dan webinar. Metode ini sangat 

berguna jika perusahaan ingin mengupdate pengetahuan 

karyawannya. Pada metode ini pekerja tidak perlu meninggalkan 

tempat kerjanya  

Cassel (2002) dalam penelitiannya menyatakan bahwa efektifitas 

praktik SDM sangat dipengaruhi oleh proses training dan 

development yang mereka terima. 

5. Kompensasi  

Balas jasa atau identik dengan gaji dan upah, padahal gaji dan upah 

merupakan salah satu jenis kompensasi. Kompensasi yaitu  segala bentuk 

yang diterima oleh karyawan sebagai balas jasa yang diberikan oleh 

organisasi atas pekerjaan yang telah dilakukan. Pemberian kompensasi 

bisa dalam bentuk upah per jam, gaji penuh, upah borongan. Perusahaan 

sering menggunakan insentif dan gainsharing sebagai salah satu strategi 

untuk memotivasi karyawan mereka guna melakukan yang terbaik. 

Gainsaharing bisa didefinisikan untuk menyelaraskan pertumbuhan 

bisnis kinerja perusahaan dengan distribusi benefit kepada pekerjanya. 

insentif dangan sharing merupakan tambahan untuk sistem kompensasi 

tradisional yaitu gaj dan upah. Jika gaji dan upah merupakan balas jasa 

atas pekerjaan yang telah dilakukan, maka insentif dan gainsharing 

merupakan balas jasa atas kinerja. Beberapa insentif yang sering 

digunakan oleh perusahaan ialah: 

a. Piecework. Jenis insentif ini diberikan berdasarkan kinerja pekerja. 

b. Bonus. Jenis insentif ini diberikan saat  pekerja berhasil melampaui 

tujuan yang ditetapkan. 

c. Komisi. Ini yaitu  jenis insentif yang sering digunakan untuk 

pekerjaan tenaga penjualan. Komisi diberikan berdasarkan dengan 

jumlah barang yang terjual. 

175 

 

saat  insentif diberikan kepada individu, maka gainsharing 

diberikan kepada kelompok atau tim. Kebijakan gainsharing diyakini 

dapat meningkatkan loyalitas dan rasa memiliki dari para pekerja kepada 

perusahaan. Kebijakan gainsharing dapat dikelompokkan ke dalam empat 

jenis, yaitu : 

a. Employee ownership, yaitu  kesempatan yang diberikan perusahaan 

kepada pekerja guna membeli saham perusahaan, sehingga pekerja 

otomatis menjadi salah satu pemilik perusahaan.  

b. Production sharing plan, yaitu  bonus yang diberikan sebab  tim 

pekerja yang terlibat dalam proses produksi sebab  telah berhasil 

melampaui target yang ditetapkan. 

c. Profit sharing plan. Dengan kebijakan ini perusahaan 

mendistribusikan keuntungan yang dihasilkan oleh karyawannya 

untuk mendorong mereka agar bekerja lebih baik lagi. Semakin 

tinggi keuntungan yang didapatkan perusahaan maka akan semakin 

tinggi bonus yang diterima karyawan. 

d. Cost reduction plan. Kebijakan ini bertujuan untuk mengurangi biaya 

produksi agar karyawan dapat bekerja lebih efektif dan lebih efisien, 

dengan membagikan sisa biaya produksi.  

Jika berbicara tentang kompensasi dan balas jasa, sampai sekarang 

orang akan berpikir balas jasa dalam bentuk uang. Faktanya, pekerja juga 

menerima balas jasa dalam bentuk lain dan inilah yang disebut dengan 

benefit. Benefit yaitu  salah satu komponen balas jasa yang harus 

dipenuhi oleh perusahaan kepada karyawannya. Jenis-jenis benefit yang 

bisa ditawarkan yaitu  : 

a. Asuransi, baik asuransi kecelakaan, asuransi kesehatan maupun 

asuransi jiwa. 

b. Income security yaitu  benefit dalam bentuk jaminan bahwa pekerja 

akan mendapat pesangon jika terjadi pemtusan hubungan kerja. 

c. Jaminan pensiun (retirement security) yaitu  benefit yang diterima 

pekerja jika mereka tidak lagi produktif dan memasuki masa 

pensiun. 

176 

 

d. Benefit dalam bentuk time-off seperti istirahat makan siang, cuti, 

liburan bahkan absen sebab  suatu keperluan. 

e. Benefit dalam bentuk pengaturan jam kerja, seperti shorter work time 

(memangkas jam kerja normal), flextime (mengatur waktu kerja) dan 

job sharing (pembagian pekerjaan yang sama untuk dikerjakan secara 

bergantian). 

Selain keuntungan di atas, perusahaan juga memberikan tawaran 

program-program lain, seperti:  

a. Bantuan biaya pendidikan pekerja yang ingin melanjutkan 

pendidikannya. 

b. Child care yaitu  program perawatan anak selama orang tua bekerja. 

c. Bantuan relokasi yaitu  keuntungan yang ditawarkan perusahaan 

jika pekerja mengalami mutasi kerja.  

 

6. Disiplin karyawan dan pemutusan hubungan kerja 

Terlepas dari upaya terbaik perusahaan menjaga keharmonisan di 

tempat kerja, terkadang masalah mungkin muncul, saat  itu terjadi maka 

diperlukan kebijakan yang ditetapkan untuk disiplin atau pemecatan 

karyawan. 

1) Ukuran kedisiplinan 

Disiplin melibatkan pengambilan tindakan yang tepat waktu dan 

tepat untuk mengubah kinerja seorang karyawan atau sekelompok 

karyawan. Tujuan disiplin yaitu  untuk memastikan bahwa aturan dan 

peraturan perusahaan dipatuhi secara konsisten untuk kesejahteraan 

perusahaan dan karyawannya. Prosedur disiplin yang adil dan adil harus 

didasarkan pada empat komponen: buku pegangan karyawan, penilaian 

kinerja, pendekatan progresif dan proses banding. 

a. Buku Pegangan Karyawan yaitu  manual kebijakan yang 

menyediakan seperangkat aturan dan peraturan yang komprehensif 

untuk memberi tahu karyawan tentang hak dan tanggung jawab 

mereka dalam hubungan kerja. Agar efektif, aturan dan regulasi harus 

up-to- date, mudah dipahami, dan yang terpenting, dikomunikasikan 

177 

 

kepada karyawan. Cara efektif untuk mencapai tujuan terakhir ini 

yaitu  dengan membaca buku pegangan karyawan selama orientasi 

karyawan dan meminta karyawan menandatangani pernyataan yang 

mengakui penerimaannya. 

b. Penilaian Kinerja yaitu  komponen penting kedua dari kebijakan 

disiplin yang adil. Proses penilaian kinerja yang baik tidak hanya 

mendokumentasikan kebutuhan akan kemungkinan disiplin, tetapi 

juga memberi manajemen kesempatan untuk mengatasi masalah. 

Evaluasi kinerja harus dilakukan setiap enam bulan, dan lebih sering 

selama masa percobaan. Salinan evaluasi harus dimasukkan dalam 

file personalia karyawan. Saat evaluasi kinerja terjadi, pastikan tolok 

ukur ditetapkan. Ini harus dikaitkan dengan deskripsi pekerjaan. 

c. Pendekatan Progresif yaitu  pendekatan yang bersifat langsung dan 

dengan intensitas yang konsisten. Pendekatan progresif juga bersifat 

inkremental dan semakin kuat. Di bawah sistem yang paling 

progresif, manajer pertama-tama mengeluarkan teguran lisan 

(informal), lalu  peringatan tertulis (pemberitahuan resmi), 

diikuti dengan penangguhan, dan akhirnya pemecatan. 

d. Proses Banding. Komponen terakhir dari program disiplin yang efektif 

yaitu  proses banding. Proses banding yang paling umum di 

perusahaan non-serikat bergantung pada kebijakan pintu terbuka, 

prosedur di mana karyawan meminta peninjauan kembali atas 

keputusan disipliner di tingkat manajemen berikutnya. Agar proses 

semacam itu efektif, harus melibatkan tinjauan yang menyeluruh dan 

benar-benar objektif terhadap fakta-fakta kasus oleh seorang eksekutif 

yang berpangkat lebih tinggi dibandingkan  supervisor yang menerapkan 

disiplin ini. 

2) Memberhentikan Karyawan 

sebab  memberhentikan seorang karyawan yaitu  langkah 

disiplin paling ekstrem yang bisa Anda lakukan, itu harus dilakukan 

dengan hati-hati. Alasan sah untuk memberhentikan seorang karyawan 

dapat mencakup kinerja pekerjaan yang tidak memuaskan atau 

perubahan persyaratan pekerjaan yang membuat karyawan ini tidak 

178 

 

memenuhi syarat. Dalam hal memecat seorang karyawan, apa yang dapat 

dan tidak dapat dilakukan akan sangat dipengaruhi oleh dua 

pertimbangan. Pertama, keputusan untuk memberhentikan seorang 

karyawan harus didasarkan pada alasan atau alasan terkait pekerjaan, 

bukan berdasarkan warna kulit, ras, agama, asal negara, jenis kelamin, 

usia, atau kecacatan. Kedua, kemampuan Anda untuk memberhentikan 

karyawan secara legal dan cara Anda melakukannya akan sangat 

bergantung pada status keinginan Anda. Di bawahdoktrin sesuka hati, 

kecuali suatu kontrak kerja ditandatangani, seorang majikan memiliki 

kelonggaran yang besar dalam memberhentikan seorang karyawan, 

dalam arti bahwa ia memiliki hak untuk memberhentikan karyawan 

ini dengan alasan yang buruk, alasan yang baik, atau tanpa alasan 

sama sekali. 

 

D. Operations Management  

Fungsi manajemen operasi telah berkembang selama beberapa 

dekade terakhir dari pandangan sempit produksi, persediaan, dan 

manajemen industri menjadi konsep yang lebih luas yang mencakup 

layanan. Memang, manajemen produksi dan operasi sangat penting untuk 

semua usaha kecil, bukan hanya mereka yang terlibat dalam manufaktur. 

Setiap bisnis menjalankan fungsi operasi—proses dan prosedur untuk 

mengubah tenaga kerja, bahan, uang, dan sumber daya lainnya menjadi 

produk atau layanan jadi yang tersedia untuk konsumsi konsumen.  

1. Elemen dalam manajemen operasi  

Adapun elemen dalam manajemen operasi yaitu  sebagai berikut: 

a. Input mencakup semua sumber daya fisik dan tidak berwujud yang 

masuk ke dalam bisnis. 

b. Transformation process yaitu  praktik aktif—termasuk konsep, 

prosedur, dan teknologi—yang diimplementasikan untuk 

menghasilkan keluaran. 

179 

 

c. Output hasil dari proses transformasi. Output dapat berwujud 

(tangible) atapun tidak berwujud (intangible). 

d. Sistem control sarana untuk memantau masalah atau 

penyimpangan saat  terjadi di sistem operasi. Kontrol 

diintegrasikan ke dalam tiga tahap produksi—input, transformasi, 

dan output.  Contoh sistem kontrol yaitu  penggunaan monitor 

elektronik dalam proses manufaktur untuk memberi tahu 

operator mesin bahwa produk tidak dibuat dalam toleransi 

ukuran yang diizinkan. Dalam perusahaan jasa, perilaku 

karyawan merupakan bagian dari proses transformasi yang harus 

dikendalikan. 

e. Umpan balik yaitu  komunikasi yang diperlukan yang 

menghubungkan sistem kontrol ke input, transformasi, dan output. 

Setelah umpan balik diterima, siklus dimulai lagi sebab  proses 

transformasi yaitu  proses yang berkelanjutan, dengan perubahan 

yang diperlukan terjadi di seluruh proses. 

 

2. Tipe Manajemen Operasi 

Produksi secara luas menggambarkan menciptakan barang dan jasa. 

Perusahaan perangkat keras dan perangkat lunak komputer, penyedia 

layanan kesehatan, dan petani semuanya terlibat dalam produksi. 

Manufaktur hanyalah salah satu jenis produksi, membuat barang sebagai 

lawan menyediakan layanan atau mengekstraksi sumber daya alam. Bisnis 

manufaktur dapat diklasifikasikan berdasarkan  cara mereka membuat 

barang dan waktu yang dihabiskan untuk membuatnya. Barang dapat 

dibuat dari sistem analitik atau sintetik, baik menggunakan proses kontinyu 

atau intermiten. Seperti yang ditunjukkan sebelumnya, penyedia layanan 

membutuhkan dan menggunakan manajemen operasi sama seperti yang 

dilakukan oleh produsen produk. Kedua jenis bisnis mengambil input dan 

menghasilkan output melalui beberapa jenis proses transformasi. Namun, 

proses operasi berbeda dari satu produk dan layanan ke yang lain, dan 

180 

 

beberapa tumpang tindih. Misalnya, produsen sering menawarkan 

layanan perbaikan. Restoran menawarkan produk makanan serta layanan. 

3. Mengukur Produktifitas  

Kesuksesan manajemen operasi yaitu  dari produktifitas yang 

dihasilkan. Tetapi bagaimana menilai produktifitas?  Ukuran yang biasa 

digunakan dalam bisnis manufaktur yaitu  output per jam kerja yang 

merupakan produktivitas tenaga kerja. Atau, dari perspektif lain, itu yaitu  

jumlah output yang didapatkan dibandingkan dengan jumlah input yang 

digunakan. Produktivitas dapat digambarkan secara numerik sebagai rasio 

input yang digunakan untuk output yang dihasilkan. Semakin tinggi 

rasionya, semakin efisien sistem operasi. 

Produktivitas dalam bisnis yang berhubungan dengan jasa tidak 

tumbuh secepat produktivitas dalam bisnis manufaktur sebab  bisnis jasa 

lebih padat karya dan lebih sedikit terjadi standarisasi. Memberikan layanan 

berkualitas memiliki tantangan tersendiri. Pelayanan dan penyampaian jasa 

sering terjadi secara bersamaan. Tidak ada kesempatan untuk "membuat 

ulang" produk jika ternyata tidak "benar". Tingkat keterampilan karyawan 

dan konsistensi tingkat keterampilan itu menjadi penting dalam 

menawarkan layanan berkualitas. Selain inovasi teknologi, kunci lain untuk 

meningkatkan produktivitas dalam bisnis jasa yaitu  memastikan karyawan 

merasa nyaman dan bebas dari masalah kesehatan terkait pekerjaan. 

Hal ini sesuai dengan jurnal penelitian Linder (2019) yang 

menyatakan bahwa produktifitas bisa ditingkatkan dari pengetahuan 

eksternal. Hasil menunjukkan bahwa arus masuk informasi dapat 

digunakan untuk meningkatkan fleksibilitas dalam produksi, dan 

mengurangi biaya produksi yang dimediasi/dimoderasi melalui operasi 

baru dan rutinitas manufaktur, serta meminimalkan kewajiban akibat 

ukuran UKM yang kecil. Hernita (2021) dalam penelitiannya juga 

mengemukakan bahwa penguatan kapasitas sumber daya manusia 

(SDM) pada usaha kecil dan menengah menjadi penentu peningkatan 

produktivitas dan diversifikasi usaha sebab  ada pengaruh teknologi. 

  

181 

 

 

4. Scheduling dalam manajemen operasi 

Penjadwalan (scheduling) yaitu  aktivitas manajemen operasi dasar 

untuk bisnis manufaktur dan jasa yang melibatkan waktu produksi. Tujuan 

penjadwalan yaitu  untuk mewujudkan rencana perusahaan dengan 

menjelaskan apa yang harus dilakukan setiap pekerja. Penjadwalan 

diperlukan untuk memaksimalkan tingkat efisiensi dan layanan pelanggan. 

Perusahaan yang menjadwalkan terlalu banyak pekerjaan pada 

karyawannya sehingga tidak dapat menyelesaikan pekerjaan tepat waktu 

akan mengakibatkan layanan pelanggan yang buruk dan mungkin 

kehilangan bisnis di masa depan. Metode penjadwalan dibagi dalam tiga 

kategori, yaitu forward scheduling, backward scheduling dan kombinasi 

kedua metode ini.  

a. Forward scheduling digunakan jika terdapat produksi pesanan atau 

jumlah permintaan akan suatu produk tidak diketahui. Bahan 

baku dan sumber daya akan dialokasikan jika perintah produksi 

masuk. 

b. Backward scheduling mengatur jadwal produksi mendekati waktu 

produk dibutuhkan. 

Termasuk dalam kegiatan penjadwalan (scheduling) yaitu  

routing, sequencing dan dispatching. 

a. Routing berisi informasi mendetail yang menjelaskan mengenai 

bagaimana produk atau jasa akan disajikan. 

b. Sequencing (Pengurutan) yaitu  langkah penting untuk menentukan 

urutan pekerjaan yang akan melalui sistem produksi Anda. Urutan 

paling penting saat  pekerjaan melibatkan lebih dari satu 

departemen bisnis Anda, sebab  penundaan di satu departemen 

dapat menyebabkan waktu menganggur untuk departemen lain. 

Menyusun bagan Gantt yaitu  cara yang baik untuk melacak aliran 

pekerjaan antar departemen. 

c. Dispatching (pengiriman) pengiriman yaitu  tindakan melepaskan 

pekerjaan kepada karyawan sesuai dengan prioritas yang telah 

182 

 

ditentukan dalam merencanakan urutan pekerjaan. Metode yang 

digunakan biasanya yaitu  First In First Out (FIFO).  

 

5. Manajemen Berpusat pada Kualitas 

Tidak ada yang lebih penting bagi bisnis saat ini selain kualitas. Untuk 

mengelola usaha kecil yang berfokus pada kualitas, terdapat dua hal yang 

harus diperhatikan. Pertama, kualitas dari perspektif pelanggan. Bagi 

pelanggan kualitas yaitu  seberapa baik produk atau layanan memenuhi 

kebutuhan mereka. Kedua, dari sudut pandang bisnis, kualitas berarti 

seberapa dekat produk perusahaan sesuai dengan standar yang telah 

ditetapkan.  

1) Six Sigma dalam Bisnis Kecil 

Six sigma yaitu  metodologi yang menekankan pada peningkatan 

proses bisnis agar dapat terus memenuhi dan melampaui harapan 

pelanggan. Seringkali, perusahaan mengukur kualitas produk dengan 

melacak tingkat cacat. Tingkat cacat yaitu  jumlah barang yang diproduksi 

yang keluar dari yang diterima perusahaankisaran toleransi—batas kualitas 

yang dapat diterima.  

Komponen dasar dari program six-sigma meliputi proses perbaikan aktual 

dan pengukuran kualitas. Proses perbaikan yang sebenarnya melibatkan 

langkah- langkah berikut: 

a. Definisikan produk dan layanan dengan menggambarkan produk 

atau layanan aktual yang diberikan kepada pelanggan. 

b. Mengidentifikasi kebutuhan pelanggan untuk produk atau jasa 

dengan menyatakannya dalam istilah yang terukur. 

c. Bandingkan produk dengan persyaratan dengan mengidentifikasi 

kesenjangan antara apa yang diharapkan pelanggan dan apa yang 

sebenarnya mereka dapatkan. 

d. Jelaskan proses dengan memberikan rincian eksplisit. 

e. Tingkatkan proses dengan penyederhanaan dan pemeriksaan 

kesalahan. 

183 

 

f. Ukur kualitas dan produktivitas dengan menetapkan nilai dasar 

dan lalu  melacak peningkatan. 

2) Lingkaran kualitas (Quality Circles) 

Tingkat kualitas yang dihasilkan suatu usaha tergantung pada 

lingkaran kualitas. Lingkaran kualitas melibatkan semua orang didalam 

organisasi. Setiap kelompok kerja atau departemen bertanggung jawab 

terhadap kualitas yang dihasilkannya, sehingga dalam organisasi akan 

terbentuk garis yang saling terhubung satu sama lain membentuk 

lingkaran kualitas. 

6. Kontrol Operasi   

Masalah kualitas mempengaruhi seluruh proses produksi, sehingga 

kontrol perlu dibangun di setiap tahap. Feedforward quality control berhubungan 

dengan control terhadap input perusahaan. Concurrent quality control 

melibatkan pemantauan proses transformasi. Feedback quality control 

berhubungan dengan pemeriksaan hasil akhir/output. 

a. Feedforward quality control yaitu  control terhadap input perusahaan. 

Feedforward QC   tergantung seberapa kuat prinsip TQM melekat 

pada setiap karyawan dalam perusahaan, sebab  mereka yaitu  

pemeriksa kualitas dan bertanggung jawab terhadap hubungan 

jangka panjang dengan supplier. Para karyawan ini bisa membantu 

perusahaan mencapai standar kualitas input yang diinginkan.  

Kunci dari feedforward QC ini yaitu  kerja sama antara 

perusahaan dan supplier. Linder (2019) dalam penelitiannya 

menyatakan bahwa hubungan perusahaan dengan pemasok sering 

dianggap sebagai cara yang relatif murah dalam proses 

manufaktur atau pengiriman sebab  dan sumber daya yang 

terbatas dan ukurannya yang kecil. 

b. Concurrent quality control melibatkan pemantauan kualitas pekerjaan 

yang sedang berjalan. Untuk memfasilitasi jenis pemantauan ini, 

banyak perusahaan yang menggunakan nilai standar kualitas 

internasional yang dikenal sebagai ISO 9000. Tujuan standar ISO 9000 

yaitu  untuk mendokumentasikan, menerapkan, dan 

mendemonstrasikan sistem jaminan kualitas yang digunakan oleh 

184 

 

perusahaan yang memasok barang dan jasa secara internasional. 

Standar ISO tidak membahas kualitas produk secara spesifik, tetapi 

membahas mengenai bagaimana produk diproses, bagaimana 

perusahaan melatih karyawannya, bagaimana perusahaan melakukan 

administrasi dan sebagainya. bagaimana Anda menyimpan catatan, 

dan bagaimana Anda memperbaiki cacat. Standar ISO lebih seperti 

prinsip akuntansi yang berlaku umum (GAAP) dibandingkan  merupakan 

spin-off dari TQM. 

c. Feedback quality control merupakan tindakan memeriksa dan menguji 

produk setelah diproduksi. Produk yang tidak memenuhi standar 

kualitas yang ditetapkan akan dibuang, dikerjakan ulang, atau didaur 

ulang. 

A. Review Jurnal 

Adapun review jurnal dalam bab ini yaitu  sebagai berikut: 

Tabel 1. Review Jurnal 

No Nama, Tahun, dan 

Judul 

Tujuan Penelitian Metode Penelitian Hasil Penelitian 

1 Anderson, V., 

Boocock, G., & 

Graham, S. (2001). 

An investigation 

into the learning 

needs of managers 

in internationalising 

small and medium-

sized enterprises. 

Journal of Small 

Business and 

Enterprise 

Development, 8(3), 

215–232. 

https://doi.org/10.11

08/EUM0000000006

822 

Studi ini berkaitan 

dengan 

kebutuhan 

pembelajaran para 

manajer di UKM 

yang berusaha 

menjadi semakin 

internasional. 

Fokus perhatian 

khusus yaitu  

praktik 

pembelajaran 

informal yang 

terjadi dalam 

jaringan ekonomi 

dan sosial yang 

digunakan oleh 

para manajer di 

sektor ini. 

Menggunakan 

pendekatan 

kualitatif dan 

kuantitatif untuk 

pengumpulan data, 

studi ini 

menyelidiki 

tantangan yang 

dirasakan oleh 

manajer di Inggris 

yang terlibat (atau 

berusaha untuk 

terlibat) dalam 

aktivitas 

internasional.  

Hasilnya menyarankan 

tiga bidang tantangan 

utama: pertama, tahap 

awal “pra-

internasionalisasi”, 

saat  keputusan tentang 

“apakah”, “di mana” 

atau “bagaimana” untuk 

menginternasionalisasi 

diambil; kedua, 

pengembangan proses 

perencanaan jangka 

panjang dan sistem bisnis 

untuk mengatasi 

konsekuensi dari 

keputusan 

internasionalisasi; ketiga, 

tantangan masalah 

regulasi dan kebutuhan 

untuk mengamankan 

pembayaran dan 

mengelola perantara 

asing.  

185 

 

2 Park, T., & Rhee, J. 

(2012). Antecedents 

of knowledge 

competency and 

performance in born 

globals: The 

moderating effects 

of absorptive 

capacity. 

Management 

Decision, 50(8), 

1361–1381. 

https://doi.org/10.11

08/002517412112619

71 

 

Untuk 

menyelidiki 

anteseden 

kompetensi 

pengetahuan dan 

kinerja 

internasional di 

Korea Selatan, 

dengan fokus 

khusus pada efek 

moderasi dari 

kapasitas serap 

Penelitian ini 

membangun dan 

menguji model 

penelitian 

menggunakan 

pemodelan 

persamaan 

struktural dan 

analisis regresi 

berganda untuk 

data yang 

dikumpulkan dari 

271 UKM yang 

melakukan 

internasionalisasi 

awal. 

Hasilnya menunjukkan 

bahwa, untuk awal 

internasionalisasi bagi 

perusahaan kecil, 

pengalaman bisnis 

internasional sebelumnya 

dari manajer dan 

jaringan mempengaruhi 

pembangunan 

kompetensi 

pengetahuan. Dalam 

hubungan antara 

penggunaan jaringan dan 

kompetensi 

pengetahuan, khususnya, 

kapasitas penyerapan 

ditemukan memainkan 

peran moderat. Ia juga 

menemukan bahwa 

kinerja bisnis 

internasional didorong 

oleh kompetensi 

pengetahuan yang 

dikumpulkan oleh 

perusahaan kecil. 

Temuan menyiratkan 

bahwa perusahaan 

setelah awal 

internasionalisasI harus 

meningkatkan 

kemampuan mereka 

untuk memperoleh dan 

memanfaatkan sumber 

daya dan pengetahuan 

eksternal untuk 

mengamankan kinerja 

internasional. 

3 Pinho, J. C. M., 

Martins, L., & 

Soares, A. M. (2018). 

Small businesses’ 

internationalization: 

International 

readiness in the 

context of Asian 

Untuk menguji 

apakah kesiapan 

internasional, 

termasuk inovasi, 

persaingan, 

orientasi 

teknologi dan 

persepsi peluang, 

Studi ini 

menggunakan data 

dari Survei 

Penduduk Dewasa - 

GEM yang 

dilakukan di 69 

negara 

menghasilkan total 

Hasil penelitian 

menunjukkan bahwa ada 

perbedaan untuk negara-

negara Asia 

dibandingkan dengan 

seluruh sampel 

mengenai driver terkait 

inovasi. Di negara-negara 

186 

 

countries. Asia-

Pacific Journal of 

Business 

Administration, 

10(1), 50–63. 

https://doi.org/10.11

08/APJBA-05-2017-

0043 

berdampak pada 

internasionalisasi 

usaha kecil secara 

berbeda di 

negara-negara 

Asia 

dibandingkan 

dengan sampel 

Global 

Entrepreneurship 

Monitor (GEM) 

yang lengkap 

wirausahawan 

lintas negara 

sebanyak 198.339 

orang. Model 

regresi logit 

binomial digunakan 

untuk menguji data. 

Asia, untuk usaha kecil, 

internasionalisasi kurang 

sensitif terhadap inovasi 

produk dan persepsi 

peluang dari pada 

negara-negara lain. 

4 Okpara, J. O. (2011). 

Factors constraining 

the growth and 

survival of SMEs in 

Nigeria: 

Implications for 

poverty alleviation. 

Management 

Research Review, 

34(2), 156–171. 

https://doi.org/10.11

08/014091711111027

86 

 

Untuk 

menyelidiki 

faktor-faktor 

penghambat 

pertumbuhan dan 

kelangsungan 

hidup bisnis kecil 

di Negeria 

Metode survey 

digunakan untuk 

mengumpulkan 

data dari 211 

pemilik dan 

manajer bisnis kecil 

yang berlokasi di 

kota-kota terpilih di 

Negeria. Beberapa 

analisis dilakukan 

untuk 

mengidentifikasi 

faktor penghambat 

pertumbuhan dan 

kelangsungan 

hidup UKM di 

Negeria 

Menemukan bahwa 

kendala umum yang 

menghambat 

pertumbuhan dan 

kelangsungan hidup 

bisnis kecil di Negeria 

yaitu  kurangnya 

dukungan keuangan, 

manajemen yang buruk, 

korupsi, kurangnya 

pelatihan dan 

pengalaman, 

infrastruktur yang  

buruk, keuntungan yang 

tidak memadai, dan 

permintaan yang rendah 

untuk produk dan jasa.  

5 Anderson, A. R., & 

Ullah, F. (2014). The 

condition of 

smallness: How 

what it means to be 

small deters firms 

from getting bigger. 

Management 

Decision, 52(2), 326–

349. 

https://doi.org/10.11

08/MD-10-2012-0734 

 

Untuk mengisi 

celah dalam teori 

pertumbuhan 

perusahaan kecil.  

Untuk mengkaji 

dan menjelaskan 

mengapa  

sebagian besar 

perusahaan kecil 

tidak tumbuh. 

Pemeriksaan kritis 

atas literatur 

tentang sifat 

menjadi perusahaan 

kecil pertama kali 

dilakukan. 

Menggunakan 

analisis induktif 

atas tanggapan dari 

survei terhadap 

2.521 pemilik usaha 

kecil tentang 

peraturan 

ketenagakerjaan, 

sifat dan efek dari 

bisnis kecil. 

Ditemukan bahwa 

pengambilan pilihan 

pemilik disertai dengan 

persepsi tentang sumber 

daya mereka yang 

menyebabkan kondisi 

bisnis tetap kecil. Kondisi 

kekecilan 

dikonseptualisasikan 

sebagai persepsi sirkular, 

sikap dan praktik 

konsekuen yang 

mencerminkan 

kurangnya pengetahuan, 

waktu dan kemampuan. 

Dan sebab inilah 

187 

 

mengapa sebagian besar 

perusahaan kecil tidak 

tumbuh. 

6 Tjahjadi, B., 

Soewarno, N., 

Nadyaningrum, V., 

& Aminy, A. (2020). 

Human capital 

readiness and 

global market 

orientation in 

Indonesian Micro-, 

Small- and-

Medium-sized 

Enterprises business 

performance. 

International Journal 

of Productivity and 

Performance 

Management. 

https://doi.org/10.11

08/IJPPM-04-2020-

0181 

 

Penelitian ini 

bertujuan untuk 

mengetahui 

apakah kesiapan 

sumber daya 

manusia 

mempengaruhi 

kinerja bisnis, dan 

jika demikian, 

apakah 

pengaruhnya 

dimediasi oleh 

orientasi pasar 

global. 

Penelitian ini 

merupakan 

penelitian 

kuantitatif dengan 

menggunakan 

struktur kuadrat 

terkecil parsial 

persamaan model 

(PLS-SEM) untuk 

menguji hipotesis. 

Dengan 

menggunakan 

metode survei, data 

dikumpulkan 

dengan 

menggunakan 

kuesioner baik 

online maupun 

offline. Sebanyak 

433 

pemilik/pengelola 

usaha mikro, kecil, 

dan menengah 

(UMKM) di 

Provinsi Jawa 

Timur Indonesia 

Hasil penelitian 

menunjukkan bahwa 

kesiapan modal manusia 

memiliki pengaruh 

langsung dan positif 

terhadap kinerja bisnis. 

Analisis lebih lanjut 

mengungkapkan bahwa 

orientasi pasar global 

memediasi pengaruh 

kesiapan modal manusia 

terhadap kinerja bisnis. 

188 

 

7 Panagiotakopoulos, 

A. (2020). Exploring 

the link between 

management 

training and 

organizational 

performance in the 

small business 

context. Journal of 

Workplace Learning, 

32(4), 245–257. 

https://doi.org/10.11

08/JWL-10-2019-

0121 

Untuk 

mengeksplorasi 

dampak pelatihan 

manajemen 

terhadap kinerja 

organisasi dalam 

konteks usaha 

kecil dan 

mengevaluasi 

apakah intervensi 

pembelajaran 

formal membawa 

manfaat 

organisasi. untuk 

usaha kecil. 

Pendekatan 

kualitatif diadopsi 

yang terdiri dari 100 

wawancara dengan 

pemilik/manajer rm 

dan karyawan yang 

bekerja di 50 

perusahaan kecil 

Yunani yang 

beroperasi di sektor 

manufaktur dan 

jasa. Pesertafirms 

terdiri dari 25 

perusahaan kecil (9 

manufaktur) firms 

dan 16 fiperusahaan 

di sektor jasa) yang 

pemilik/manajernya 

telah menyelesaikan 

berbagai intervensi 

pelatihan formal 

(yaitu seminar dan 

lokakarya 

terakreditasi, 

kursus bisnis dan 

manajemen, dll.,) 

dan 25 perusahaan 

kecil (16 

perusahaan 

manufaktur dan 9 

perusahaan di 

sektor jasa) yang 

pemilik/manajernya 

belum 

menyelesaikan 

pelatihan bisnis 

formal apa pun dan 

tidak pernah 

mengikuti kursus 

manajemen formal. 

Temuan 

mengungkapkan bahwa 

pelatihan manajemen 

dalam usaha kecil 

memiliki dampak positif 

pada kinerja organisasi. 

Secara khusus, 

responden yang 

menyelesaikan intervensi 

pelatihan formal 

berpendapat bahwa 

perusahaan mencapai 

peningkatan 

profitabilitas selama 

tahun 2017 dan 2018; 

peningkatan 

produktivitas staf; 

tingkat pergantian staf 

yang sangat rendah; dan 

meningkatkan kepuasan 

dan motivasi staf 

dibandingkan dengan 

pemilik usaha kecil yang 

kurang terlatih di sektor 

yang sama. Para peserta 

menunjukkan bahwa 

pendidikan formal 

mereka dalam 

manajemen bisnis telah 

memungkinkan mereka 

untuk menyadari 

pentingnya pembelajaran 

karyawan dan desain 

pekerjaan untuk motivasi 

staf, sedangkan itu telah 

membantu mereka untuk 

mengelola perubahan 

secara lebih efektif. 

189 

 

8. Linder, 

Christian.(2019). 

Customer 

orientation and 

operations: The role 

of manufacturing 

capabilities in small- 

and medium-sized 

enterprises. 

https://www.scienced

irect.com/science/arti

cle/abs/pii/S0925527

319301598?via%3Dih

ub 

 

Untuk 

mengetahui 

hubungan 

praktik-kinerja 

antara 

pemanfaatan 

pengetahuan 

eksternal dan 

penemuan dan 

pengembangan 

kemampuan 

manufaktur, yang 

mengarah pada 

kinerja operasi.  

Analisis kuadrat 

terkecil parsial, 

model mediasi yang 

dimoderasi diuji 

menggunakan data 

Community 

Innovation Survey 

(CIS) dari 1663 

UKM. 

Penemuan dan 

pengembangan operasi 

baru dan rutinitas 

manufaktur ditandai oleh 

beberapa kontroversi 

mengenai bagaimana 

usaha kecil dan 

menengah (UKM) 

mendapat manfaat dari 

arus masuk pengetahuan 

eksternal. Hasil 

menunjukkan bahwa 

arus masuk informasi 

dapat digunakan untuk 

meningkatkan 

fleksibilitas dalam 

produksi, dan 

mengurangi biaya 

produksi yang 

dimediasi/dimoderasi 

melalui operasi baru dan 

rutinitas manufaktur, 

serta meminimalkan 

kewajiban akibat ukuran 

UKM yang kecil. 

190 

 

9 Hernita, Hernita. 

2021. Economic 

Business 

Sustainability and 

Strengthening 

Human Resource 

Capacity Based on 

Increasing the 

Productivity of 

Small and Medium 

Enterprises (SMEs) 

in Makassar City, 

Indonesia. 

Sustainability. Vol 

13 Issue 6. 

https://www.mdpi.co

m/2071-

1050/13/6/3177 

 

Studi ini 

bertujuan 

menganalisis (1) 

penguatan 

kapasitas sumber 

daya manusia 

(SDM) usaha kecil 

dan menengah 

menjadi penentu 

peningkatan 

produktivitas 

usaha kecil dan 

menengah (UKM) 

dan penyerapan 

tenaga kerja; (2) 

pengaruh 

penguatan 

kapasitas sumber 

daya manusia 

(SDM), dunia 

usaha 

produktivitas, 

pemanfaatan 

teknologi, dan 

diversifikasi 

usaha terhadap 

keberlanjutan 

usaha kecil dan 

usaha menengah 

(UKM); dan (3) 

mengoptimalkan 

peran pemerintah 

dalam 

mendukung 

dunia usaha 

pembangunan, 

peningkatan 

produktivitas, 

stabilitas usaha 

dan keberlanjutan 

usaha kecil dan 

menengah 

perusahaan 

(UKM).  

 

Penelitian ini 

menggunakan 

pendekatan 

sekuensial 

explanatory design. 

Data diperoleh 

melalui observasi, 

wawancara 

mendalam, survei, 

dan dokumentasi. 

Analisis kualitatif 

dalam hal ini 

penelitian 

dilakukan melalui 

proses reduksi data, 

penyajian data, dan 

penarikan 

kesimpulan, 

sedangkan analisis 

kuantitatif dalam 

penelitian ini 

menggunakan 

analisis deskriptif 

kuantitatif, korelasi, 

dan regresi 

berganda. 

Hasil penelitian 

menunjukkan bahwa 

penguatan kapasitas 

sumber daya manusia, 

ditambah dengan 

pemanfaatan teknologi, 

dan diikuti dengan 

diversifikasi usaha, 

berdampak positif 

kontribusi terhadap 

peningkatan 

produktivitas usaha kecil 

dan menengah (UKM). 

Lebih-lebih lagi, 

penguatan kapasitas 

sumber daya manusia, 

produktivitas usaha, 

pemanfaatan teknologi, 

dan bisnis 

diversifikasi secara 

simultan memiliki 

korelasi positif dan 

signifikan terhadap 

keberlanjutan usaha kecil 

dan usaha menengah 

(UKM) dengan koefisien 

determinasi 72,3%. Studi 

ini merekomendasikan 

bahwa dukungan 

kebijakan pemerintah 

melalui penguatan 

kapasitas sumber daya 

manusia, peningkatan 

usaha 

produktivitas, 

pemanfaatan teknologi, 

dan diversifikasi usaha 

berdampak pada 

keberlanjutan 

usaha kecil dan 

menengah (UKM) di 

Kota Makassar, 

Indonesia. 

 

191 

 

10 Linder, Christian. 

2019. Learning from 

suppliers: a 

framework for 

operation 

innovation in small 

and medium sized 

enterprises. The 

Management of 

Operations 

Volume 30, 2019 

- Issue 10-12: 

Knowledge 

Management 

Practice for 

Effective Operations 

in SMEs Pages 827-

841.  

https://www.tandfonl

ine.com/doi/full/10.1

080/09537287.2019.1

582092 

 

Untuk 

mengetahui 

hubungan 

perusahaan 

dengan pemasok. 

Pembelajaran 

antar perusahaan 

meskipun 

bermitra dengan 

pemasok sering 

dianggap sebagai 

cara yang relatif 

murah dalam 

proses 

manufaktur atau 

pengiriman 

sebab  ukurannya 

yang kecil dan 

sumber daya yang 

terbatas. 

Analisis regresi 

logistik dan analisis 

konfigurasi  

Usaha kecil dan 

menengah (UKM) perlu 

mengintegrasikan 

sumber pengetahuan 

dalam konfigurasi 

pengetahuan yang 

berbeda. Secara khusus, 

ditunjukkan bahwa 

strategi inovasi proses 

operasi (OPI) untuk UKM 

tidak lengkap jika tidak 

menemukan cara untuk 

menggabungkan 

pengetahuan internal dan 

eksternal untuk 

berinovasi prosedur 

operasi. Kontribusi 

utama dari makalah ini 

yaitu  untuk 

mengungkap komposisi 

yang tepat dari 

konfigurasi pengetahuan 

yang efektif, yang 

mengarah pada inovasi. 

 

 

 

11 Cassel, Catherine.  

2002. Exploring 

human resource 

management 

practices in small 

and medium sized 

enterprises. 

Emerald. Vol 31 

Issue 6. 

https://www.emerald

.com/insight/content/

doi/10.1108/0048348

0210445962/full/html 

 

Untuk 

mengetahui 

penggunaan dan 

efektivitas praktik 

HRM di usaha 

kecil dan 

menengah (UKM).  

 

 

Metode survey 

terhadap 100 

manajer senior ukm 

Temuan menunjukkan 

bahwa ada keragaman 

yang cukup besar di 

antara UKM dalam 

kaitannya dengan 

penggunaan praktik 

SDM. Sebuah model 

disediakan yang 

mengidentifikasi kriteria 

kunci yang mendasari 

penerapan praktik HRM, 

dan implikasi dari model 

ini dibahas. 

 

Sumber: Data Diolah 

 

192 

 

Kesimpulan 

Adapun kesimpulan dari makalah ini yaitu  sebagai berikut: 

1. Internasionalisasi yaitu  salah satu langkah strategis bagi UMKM 

untuk pengembangan bisnis. Dengan pilihan strategi go 

internasional, bisnis kecil perlu mempersiapkan sumberdaya yang 

memadai, manajemen yang professional, kompetensi pengetahuan, 

pengalaman internasional, dan jaringan. 

2. Mengelola SDM bukanlah hal yang mudah. Seringkali pimpinan 

kesulitan mendapatkan SDM yang berkualitas yang sesuai dengan 

standar yang diinginkan oleh perusahaan. Untuk itu perlu langkah-

langkah yang tepat dimulai dari rekrutmen, seleksi, penempatan, 

pelatihan sampai pada pengembangan karyawan. Proses mengelola 

SDM tidak berhenti disitu sebab  setelah mereka menjadi karyawan, 

perusahaan me-maintenance dengan memberikan kompensasi, 

insentif sampai gainsharing agar SDM tetap termotivasi, produktif 

dan loyal terhadap perusahaan. 

3. Sistem manajemen operasi berbeda antara perusahaan manufaktur 

dan perusahaan jasa. Penilaian produktifitas perusahaan 

manufaktur relative lebih mudah sebab  ukuran yang digunakan 

jelas, yaitu rasio antara input dan output. Sedangkan penilaian 

produktifitas pada perusahaan jasa lebih sulit sebab  berhubungan 

langsung penerima jasa yakni konsumen, dimana setiap konsumen 

memiliki standar yang berbeda untuk jenis pelayanan yang sama. 

Scheduling pada perusahaan manufaktur terjadwaldengan jelas 

sedangkan pada perusahaan jasa tidak demikian, sebab  jasa akan 

diproses jika ada konsumen yang membutuhkan. Untuk itu 

diperlukan kontrol yang tepat baik itu untuk perusahaan 

manufaktur maupun perusahaan jasa. Control pada perusahaan 

manufaktur dimulai di tingkat pemasok sampai ke proses produksi 

dan akhirnya pada output yang dihasilkan. Control pada 

perusahaan jasa relative lebih sulit sebab  berhubungan dengan 

kualitas pelayanan itu sendiri.