Senin, 13 Oktober 2025

Tidak mampu 9


 


Kemiskinan merupakan salah satu masalah yang menjadi prioritas untuk diselesaikan 

oleh pada setiap periode pemerintahan di Indonesia. Berbagai program pengentasan 

kemiskinan telah dilakukan baik oleh pemerintahan yang lalu maupun yang sekarang, mulai 

dari program Bantuan Langsung Tunai (BLT) sekolah gratis, dan berobat gratis di beberapa 

provinsi di Indonesia hingga pada pemberian berbagai skim subsidi bagi warga , namun 

program-program ini  belum sepenuhnya mampu mensejahterakan warga  miskin 

diIndonesia.

Kemiskinan yaitu  masalah bagi negara di dunia terutama pada negara yang sedang 

berkembang. Kemiskinan memang persoalan yang kompleks, sebab  tidak hanya berkaitan 

dengan masalah rendahnya tingkat pendapatan dan konsumsi. Tetapi, berkaitan pula dengan rendahnya tingkat pendidikan, kesehatan serta ketidakberdayaannya untuk berpartisipasi 

dalam pembangunan serta berbagai masalah yang berkenaan dengan pembangunan manusia. 

Dimensi-dimensi kemiskinan ini  termanifestasikan dalam bentuk kekurangan gizi, air, 

perumahan yang sehat, perawatan kesehatan yang kurang baik, dan tingkat pendidikan yang 

rendah.

Perkuat monitoring dan kajian terhadap program kemiskinan. Banyak pihak meyakini 

lembaga keuangan mikro sebagai suatu alat pembangunan yang efektif untuk mengentaskan 

kemiskinan sebab  layanan keuangan memungkinkan orang kecil dan rumah tangga 

berpenghasilan rendah untuk memanfaatkan peluang ekonomi, membangun asset dan 

mengurangi kerentanan terhadap goncangan eksternal. Lembaga keuangan mikro menjadi 

alat yang cukup penting untuk mewujudkan pembangunan dalam tiga hal sekaligus, yaitu 

menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan warga , dan mengentaskan 

kemiskinan.


Kemiskinan merupakan salah satu masalah yang menjadi prioritas untuk 

diselesaikan oleh pada setiap periode pemerintahan di Indonesia. Berbagai program 

pengentasan kemiskinan telah dilakukan baik oleh pemerintahan yang lalu maupun yang 

sekarang, mulai dari program Bantuan Langsung Tunai (BLT) sekolah gratis, dan berobat 

gratis di beberapa provinsi di Indonesia hingga pada pemberian berbagai skim subsidi bagi 

warga , namun program-program ini  belum sepenuhnya mampu mensejahterakan 

warga  miskin di Indonesia. Berikut ini data tingkat kemiskinan di Indonesia Kemiskinan yaitu  masalah bagi negara di dunia terutama pada negara yang sedang 

berkembang. Bagi Indonesia yang merupakan salah satu negara berkembang yang ada di 

ASEAN masalah kemiskinan bukan merupakan hal yang baru hampir instrument 

pembangunan.

Kemiskinan yaitu  terbatasnya kecukupan dan mutu pangan, terbatasnya akses dan 

rendahnya mutu layanan kesehatan, terbatasnya akses dan rendahnya mutu layanan 

pendidikan, terbatasnya kesempatan kerja dan berusaha, terbatasnya akses layanan 

perumahan dan sanitasi, terbatasnya akses terhadap air bersih, lemahnya kepastian 

kepemilikan dan penguasaan tanah, memburuknya kondisi lingkungan hidup dan sumber 

daya alam lemahnya jaminan rasa aman, lemahnya partisipasi dan besarnya beban 

kewarga an yang disebabkan oleh besarnya tanggungan keluarga.

Kemiskinan memang persoalan yang kompleks, sebab  tidak hanya berkaitan dengan 

masalah rendahnya tingkat pendapatan dan konsumsi. Tetapi, berkaitan pula dengan 

rendahnya tingkat pendidikan, kesehatan serta ketidakberdayaannya untuk berpartisipasi 

dalam pembangunan serta berbagai masalah yang berkenaan dengan pembangunan manusia. 

Dimensi-dimensi kemiskinan ini  termanifestasikan dalam bentuk kekurangan gizi, air, 

perumahan yang sehat, perawatan kesehatan yang kurang baik, dan tingkat pendidikan yang 

rendah 

Sesuai dengan cita-cita pembangunan nasional yaitu menciptakan kesejahteraan bagi 

seluruh rakyat Indonesia, maka kemiskinan yaitu  masalah yang harus dientaskan. Kebijakan 

pemerintah daerah yang berorientasi pada pengentasan kemiskinan sudah seharusnya 

didasarkan pada faktor-faktor yang mempengaruhi kondisi kemiskinan ini . Faktor-faktor 

pemicu  kemiskinan (determinan’’ kemiskinan) setiap daerah memiliki karakteristik yang 

berbeda. Studi Bank Dunia memberi  sebuah pemahaman baru dalam melihat persoalan 

kemiskinan, pendekatan langsung kewarga  miskin dan mendengar sendiri dari mereka 

persoalan-persoalan yang dihadapi memberi  pelajaran tersendiri dalam mengambil 

kebijakan untuk mengentaskan kemiskinan 

Pertumbuhan ekonomi yang cepat oleh negara-negara di dunia menjadi salah satu 

syarat utama untuk mengentaskan kemiskinan. Pertumbuhan ekonomi sendiri tidak akan 

cukup untuk mengentaskan kemiskinan, namun pertumbuhan ekonomi yaitu  merupakan 

syarat yang dibutuhkan. Meski dibutuhkan, seringkali pertumbuhan ekonomi yang tinggi 

tidak akan bermanfaat bagi warga  miskin jika tidak diiringi dengan adannya pemerataan 

pada kesejahteraan warga .

Banyak hal yang sudah dilakukan oleh pemerintah dalam mengentaskan kemiskinan 

baik kebijakan dalam skala mikro yaitu dengan membuat program-program yang bersentuhan 

langsung kepada masyarkat maupun program yang bersifat tidak langsung yang sudah 

dilakukan oleh pemerintah pusat, provinsi maupun kabupaten/Kota. Semua kebijakan 

ini  akan memberi  dampak makro terhadap pembangunan yang bertujuan 

mensejahterakan warga  atau sebaliknya kebijkan secara makro akan memberi  

dampak kepada skala mikro .Berdasarkan uraian permasalahan diatas, Penulis ingin menggali lebih lanjut 

bagaimana strategi pemerintah untuk mengentaskan kemiskinan di Kota Palembang. Untuk 

itu dapat dirumuskan permasalahan dalam penelitian yaitu  apa saja strategi pemerintah 

dalam pengentasan kemiskinan di kota Palembang. Tujuan penelitian ini yaitu  untuk 

mengetahuui strategi pemerintah dalam mngentaskan kemiskinan di kota Palembang.


Landasan Teori

Kemiskinan merupakan persolaan klasik yang telah ada sejak sejak umat manusia ada. 

Sampai saat ini belum ditemukan suatu rumusan maupun formula penanganan kemiskinan 

yang dianggap jitu dan sempurna sehingga harus terus menerus dikembangkan. Ada banyak 

definisi dan konsep tentang kemiskinan. World Bank (2002) membagi dimensi kemiskinan 

kedalam empat hal pokok, yaitu lack of opportunity, low capabilities, low level security, dan 

low capacity. Kemiskinan dikaitkan juga dengan keterbatasan hak-hak sosial, ekonomi, dan 

politik sehingga menyebabkan kerentanan, keterpurukan, dan ketidakberdayaan.

terdapat enam modal 

utama yang tidak dimiliki oleh warga  miskin. Pertama, modal manusia yang mencakup 

kesehatan, nutrisi, keahlianyang dibutuhkan untuk menjadi produktif dalam ekonomi. Kedua, 

modal usaha yang meliputi mesin, fasilitas motor elektronik yang dipergunakan dalam bidang 

pertanian, industri termasuk industri jasa. Ketiga, infrastruktur seperti jalan, listrik, air, 

sanitasidan sistem telekomunikasi. Keempat, modal yang berkaitan dengan alam yaitu tanah 

yang subur, keanekaragaman hayati, ekosistem yang berfungsi dengan baik yang dapat 

menyediakan pelayanan lingkungan yang dibutuhkan oleh manusia. Kelima, modal institusi 

publik, seperti peraturan-peraturanperdagangan komersial, sistem hukum, pelayanan dan 

kebijakan pemerintah yang mengatur pembagian tenaga kerja yang damai dan adil. Keenam, 

modal pengetahuan yang terdiri atas ilmu pengetahuan dan teknologi yang dapat 

meningkatkan produktifitas dalam menghasilkan produk serta meningkatkan modal fisik dan 

alam.

Terdapat banyak sekali teori dalam memahami kemiskinan. Bila dipetakan ada dua 

paradigma atau grand theory mengenai kemiskinan yaitu paradigmane liberal dan demokrasi 

sosial kemiskinan merupakan persoalan yang kompleks dan kronis. maka, faktor-faktor yang 

dapat mempengaruhi kemiskinan baik langsung maupun tidak langsung cukup banyak mulai 

dari pertumbuhan ekonomi, produktifitas tenaga kerja, tingkat upah, jenis pekerjaan dan 

jumlah jam kerja, kesempatan kerja (termasuk jenis pekerjaan yang tersedia), inflasi, jumlah 

anggota rumah tangga, fasilitas kesehatan, konsumsi rumah tangga, sumber air bersih, 

transportasi, kepemilikan aset lahan pertanian, pendidikan dan jumlah tahun bersekolah 

seluruh anggota keluarga, akses permodalan, dan lokasi wilayah tempat tinggal warga  

dengan pusat pertumbuhan ekonomi yang kalau diamati, sebagian besar dari faktor-faktor 

ini  juga mempengaruhi satu sama lain sebab  sangat kompleks dan kronis, maka cara 

pengentasan kemiskinan pun membutuhkan analisis yang tepat, melibatkan semua komponen 

permasalahan dan diperlukan strategi penanganan yang tepat, berkelanjutan dan tidak bersifat temporer. Sejumlah variabel dapat dipakai untuk melacak persoalan kemiskinan dan dari 

variabel ini dihasilkan serangkaian strategi dan kebijakan pengentasan kemiskinan yang tepat 

sasaran dan berkesinambungan. Dari dimensi pendidikan, pendidikan yang rendah dipandang 

sebagai pemicu  kemiskinan. Dari dimensi kesehatan, rendahnya mutu kesehatan 

warga  menyebabkan terjadinya kemiskinan. Dari dimensi ekonomi, kepemilikan alat￾alat produktif yang terbatas, penguasaan teknologi dan kurangnya keterampilan dilihat 

sebagai alasan mendasar mengapa terjadi kemiskinan 

Kemiskinan secara konseptual dibedakan menurut kemiskinan relatif dan kemiskinan 

absolut, dimana perbedaannya terletak pada standar penilaiannya. Standar penilaian 

kemiskinan relatif merupakan standar kehidupan yang ditentukan dan ditetapkan secara 

subyektif oleh warga  setempat dan bersifat lokal serta mereka yang berada dibawah 

standar penilaian ini  dikategorikan sebagai miskin secara relatif. Sedangkan standar 

penilaian kemiskinan secara absolut merupakan standar kehidupan minimum yang 

dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhaan dasar yang diperlukan, baik makanan maupun non 

makanan. Standar kehidupan minimum untuk memenuhi kebutuhan dasar ini disebut sebagai 

garis kemiskinan 

Kemiskinan merupakan sebuah kondisi yang berada di bawah garis nilai standart 

kebutuhan minimum, baik untuk makan dan non makanan, yang disebut garis kemiskinan 

(poverty line) atau batas kemiskinan (poverty threshold). Garis kemiskinan yaitu  sejumlah 

rupiah yang diperlukan oleh setiap individu untuk dapat membayar kebutuhan makanan 

setara 2100 kilo kalori per orang per hari dan kebutuhan non makanan yang terdiri dari 

perumahan, pakaian, kesehatan, pendidikan, transportasi, serta aneka barang dan jasa lainnya. 

Dari segi ekonomi, kemiskinan yaitu  kondisi yang ditandai oleh serba kekurangan: 

kekurangan pendidikan, keadaan kesehatan yang buruk, dan kekurangan transportasi yang 

dibutuhkan oleh warga . Dari segi politik, kemiskinan dapat dilihat dari tingkat akses 

terhadap kekuasaan. Dalam buku Suharto (2005) konteks politik Friedman mendefinisikan 

kemiskinan dalam kaitannya dengan ketidaksamaan kesempatan dalam mengakumulasikan 

basis kekuasaan sosial yang meliputi: 

a) Modal produktif atau aset (tanah, perumahan, alat produksi, kesehatan)

b) Sumber keuangan (pekerjaan dan kredit)

c) Organisasi sosial dan politikyang dapat digunakan untuk mencapai kepentingan 

bersama (koperasi, parpol, organisasi sosial), 

d) Jaringan social untuk memperoleh pekerjaan, barang, dan jasa,

e) Pengetahuan dan ketrampilan, dan;

f) Informasi yang berguna untuk kemajuan hidup 

Dari segi sosial psikologis, kemiskinan yaitu  kekurangan jaringan dan struktur sosial 

yang mendukung dalam mendapatkan kesempatan-kesempatan peningkatan produktivitas.

Kesenjangan ekonomi atau ketimpangan antara kelompok warga  berpendapatan tinggi 

dan kelompok warga  berpenghasilan rendah serta tingkat kemiskinan atau jumlah orang yang berada di bawah garis kemiskinan merupakan dua masalah besar di banyak negara 

berkembang, tidak terkecuali Indonesia. 

Kemiskinan yaitu  keadaan dimana terjadi ketidak mampuan untuk memenuhi 

kebutuhan dasar seperti makanan, pakaian, tempat berlindung, pendidikan, dan kesehatan. 

Kemiskinan dapat disebabkan oleh kelangkaan alat pemenuh kebutuhan dasar, ataupun 

sulitnya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan. 

Kemiskinan merupakan masalah global. Sebagian orang memahami istilah ini secara 

subyektif dan komparatif, sementara yang lainnya melihatnya dari segi moral dan evaluatif, 

dan yang lainnya lagi memahaminya dari sudut ilmiah yang telah mapan. Kemiskinan 

dipahami dalam berbagai cara. Pemahaman utamanya meliputi: Pertama, gambaran 

kekurangan materi, yang biasanya mencakup kebutuhan pangan sehari-hari, sandang, 

perumahan, dan pelayanan kesehatan. Kemiskinan dalam arti ini dipahami sebagai situasi 

kelangkaan barang-barang dan pelayanan dasar. Kedua, gambaran tentang kebutuhan sosial, 

termasuk keterkucilan sosial, ketergantungan, dan ketidakmampuan untuk berpartisipasi 

dalam warga . Hal ini termasuk pendidikan dan informasi. Keterkucilan sosial biasanya 

dibedakan dari kemiskinan, sebab  hal ini mencakup masalah-masalah politik dan moral, dan 

tidak dibatasi pada bidang ekonomi. Ketiga, gambaran tentang kurangnya penghasilan dan 

kekayaan yang memadai. Makna "memadai" di sini sangat berbeda-beda melintasi bagian￾bagian politik dan ekonomi di seluruh dunia 

1. Teori Lingkaran Kemiskinan

Data Survei Sosial Ekonomi (Susenas) Modul Konsumsi dan Pengeluaran 

mengambarkan Lingkaran kemiskinan dapat direpresentasikan sebagai pembentukan modal 

rendah yaitu investasi diakibatkan oleh banyak faktor-faktor yang saling berkaitan satu 

dengan yang lainnya. Ketika tingkat pembentukan modal rendahatau di notasikan sebagai 

investasi secara teori akan berdampak kepada penurunan tingkat produktivitas. Dalam 

kondisi perekonomian domestik yang tingkat produktivitas rendah akan berpengaruh secara 

signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional dan juga ada korelasi yang sangat kuat 

ketika produktivitas rendah secara teorinya akan berdampak kepada pendapatan warga  

atau warga  yang hubungannya secara negatif sebab  adanya penurunan pendapatan 

warga  yang disebabkan oleh rendahnya tingkat produktivitas warga  yang memiliki 

rata-rata pengeluaran perkapita perbulan dibawah garis kemiskinan.

2. Garis Kemiskinan 

Garis Kemiskinan (GK) merupakan penjumlahan dari Garis Kemiskinan Makanan 

(GKM) dan Garis Kemiskinan Non Makanan (GKNM). warga  yang memiliki rata-rata 

pengeluaran perkapita per bulan dibawah Garis Kemiskinan dikategorikan sebagai warga  

miskin.1. Garis Kemiskinan Makanan (GKM) merupakan nilai pengeluaran kebutuhan 

minimum makanan yang disetarakan dengan 2100 kilokalori perkapita perhari. Paket 

komoditi kebutuhan dasar makanan diwakili oleh 52 jenis komoditi (padi-padian, 

umbi-umbian, ikan, daging, telur dan susu, sayuran, kacang-kacangan, buah-buahan, 

minyak dan lemak, dll)

2. Garis Kemiskinan Non Makanan (GKNM) yaitu  kebutuhan minimum untuk 

perumahan, sandang, pendidikan dan kesehatan. Paket komoditi kebutuhan dasar non 

makanan diwakili oleh 51 jenis komoditi di perkotaan dan 47 jenis komoditi di 

pedesaan.

Rumus Penghitungan:

GK = GKM + GKNM

Diketahui:

GK = Garis Kemiskinan

GKM = Garis Kemiskinan Makanan

GKNM = Garis Kemiskinan Non Makan

Teknik Penghitungan GKM

a) Tahap pertama yaitu  menentukan kelompok referensi (reference populaion) yaitu 20 

persen warga  yang berada diatas Garis Kemiskinan Sementara (GKS). Kelompok 

referensi ini didefinisikan sebagai warga  kelas marginal. GKS dihitung berdasar 

GK periode sebelumnya yang di-inflate dengan inflasi umum (IHK). Dari warga  

referensi ini kemudian dihitung Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis 

Kemiskinan Non-Makanan (GKNM).

b) Garis Kemiskinan Makanan (GKM) yaitu  jumlah nilai pengeluaran dari 52 komoditi 

dasar makanan yang riil dikonsumsi warga  referensi yang kemudian disetarakan 

dengan 2100 kilo kalori perkapita perhari. Patokan ini mengacu pada hasil 

Widyakarya Pangan dan Gizi 1978. Penyetaraan nilai pengeluaran kebutuhan 

minimum makanan dilakukan dengan menghitung harga rata-rata kalori dari ke-52 

komoditi ini . Formula dasar dalam menghitung Garis Kemiskinan Makanan 

(GKM) yaitu :

c) Garis Kemiskinan Non Makanan (GKNM) merupakan penjumlahan nilai kebutuhan 

minimum dari komoditi-komoditi non-makanan terpilih yang meliputi perumahan, 

sandang, pendidikan dsan kesehatan. Pemilihan jenis barang dan jasa non makanan 

mengalami perkembangan dan penyempurnaan dari tahun ke tahun disesuaikan 

dengan perubahan pola konsumsi warga . Pada periode sebelum tahun 1993 terdiri 

dari 14 komoditi di perKotaan dan 12 komoditi di pedesaan. Sejak tahun 1998 terdiri 

dari 27 sub kelompok (51 jenis komoditi) di perKotaan dan 25 sub kelompok (47 jenis 

komoditi) di pedesaan. Nilai kebutuhan minimum perkomoditi /sub-kelompok non￾makanan dihitung dengan memakai  suatu rasio pengeluaran komoditi/sub￾kelompok ini  terhadap total pengeluaran komoditi/sub-kelompok yang tercatat 

dalam data Susenas modul konsumsi. Rasio ini  dihitung dari hasil Survei Paket 

Komoditi Kebutuhan Dasar 2004 (SPKKP 2004), yang dilakukan untuk 

mengumpulkan data pengeluaran konsumsi rumah tangga per komoditi non-makanan 

yang lebih rinci dibanding data Susenas Modul Konsumsi. Nilai kebutuhan minimum 

non makanan secara matematis dapat diformulasikan sebagai berikut:



4. Faktor- Faktor yang Menyebabkan Kemiskinan

Nasikun menyoroti beberapa sumberdan pemicu  terjadinya kemiskinan, yaitu:

1. Policy Induces Processes. Proses kemiskinan yang dilestarikan, direproduksi 

melalui pelaksanaan suatu kebijakan (induced of policy) diantaranya yaitu  

kebijakan anti kemiskinan, tetapi realitasnya justru melestarikan.

2. Sosio Economic Dualism. Yakni Negara eks koloni mengalami kemiskinan sebab  

pola produksi kolonial, yaitu petani menjadi marjinal sebab  tanah yang subur 

dikuasai para petani skala besar dan berorientasi ekspor.

3. Population Growth. Perspektif yang didasari oleh teori Malthus bahwa 

pertambahan warga  seperti deret ukur, sedang pertambahan pangan seperti deret 

hitung.

4. Resources Management and The Environment. Adanya unsur miss management

sumber daya alam dan lingkungan, seperti manajemen pertanian yang asal tebang 

dan dapat menurunkan produktivitas.

5. Natural Cycles and Processes. Yakni kemiskinan terjadi sebab  siklus alam.

Misalkan yang tinggal di lahan kritis, dimana lahan ini jika turun hujan akan terjadi 

banjir, namun jika musim kemarau akan kekurangan air, sehingga tidak 

memungkinkan produktivitas yang maksimal dan terus menerus.

6. The Marginalitation of Woman. yaitu  peminggiran kaum perempuan sebab  

masih dianggap sebagai golongan kelas dua sehingga akses dan penghargaan lebih 

rendah ketimbang laki-laki.

7. Culture and Etnik Factor. Bekerjanya faktor budaya dan etnik yang eksis 

memelihara kemiskinan. Misalnya pola hidup yang konsumtif pada petani dan 

nelayan ketika panen, serta adat istiadat saat upacara adat yang dapat menyedot 

biaya mahal.

8. Exploitative Intermediation. Keberadaan penolong yang menjadi penodong, seperti 

rentenir.

9. Internal Political Fragmentation and Civil Stratfe. Yakni suatu kebijakan yang 

diterapkan pada suatu daerah yang fragmentasi politiknya kuat, dan dapat menjadi 

pemicu  kemiskinan. Dan yang terakhir yaitu :

10. International Processes. Yakni bekerjanya sistem-sistem internasional seperti 

kolonialisme dan kapitalisme yang membuat banyak negara menjadi miskin. 

Menurut pandangan secara umum, kemiskinan jika dilihat dari faktor pemicu nya, 

maka dibedakan atas: kemiskinan kultural, natural dan struktural. Kemiskinan kultural yaitu  

kemiskinan yang disebabkan oleh faktor budaya, seperti: malas, tidak disiplin, boros dan lain 

sebagainya. Kemiskinan natural yaitu  kemiskinan yang disebabkan oleh faktor-faktor 

alamiah seperti: sebab  cacat, sakit, lanjut usia, dan sebab  bencana alam. Sedangkan 

kemiskinan struktural yaitu  kemiskinan yang disebabkan oleh faktor-faktor buatan manusia, 

seperti: distribusi aset produktif yang tidak merata, kebijakan ekonomi yang tidak adil, 

korupsi dan kolusi, serta tatanan perekonomian yang cenderung menguntungkan kelompok 

tertentu.

 Teori yang berbasis pada sosioantropologis melihat kemiskinan sebagai akibat faktor 

kultural yang menekankan adanya pengaruh budaya yang cenderung melanggengkan

kemiskinan. Sedangkan yang berbasis ekonomi melihat kemiskinan sebagai akibat faktor 

natural seperti rendahnya kualitas sumberdaya manusia dan sumber daya alam, dan faktor 

struktural seperti kesenjangan kepemilikan faktor produksi, rendahnya pembentukan modal 

warga  dan rendahnya perangsang untuk penanaman modal

pemicu  individual, atau patologis, yang melihat kemiskinan sebagai akibat dari 

perilaku, pilihan, atau kemampuan dari si miskin. Namun lebih tepatnya terletak pada 

perbedaan kualitas sumber daya manusia dan perbedaan akses modal.

pemicu  keluarga, yang menghubungkan kemiskinan dengan pendidikan keluarga. 

pemicu  sub-budaya (subcultural), yang menghubungkan kemiskinan dengan kehidupan 

sehari-hari, dipelajari atau dijalankan dalam lingkungan sekitar

pemicu  agensi, yang melihat kemiskinan sebagai akibat dari aksi orang lain, 

termasuk perang, pemerintah, dan ekonomi. sebab  ciri dan keadaan warga  dalam suatu 

daerah sangat beragam (berbeda) ditambah dengan kemajuan ekonomi dan pertumbuhan 

ekonomi yang masih rendah.

pemicu  struktural, yang memberi  alasan bahwa kemiskinan merupakan hasil 

dari struktur social dan kebijakan pemerintah. Kebijakan dalam negeri seringkali dipengaruhi 

oleh kebijakan luar negeri atau internasional antara lain dari segi pendanaan dan yang paling 

penting yaitu  Ketidakmerataannya Distribusi Pendapatan yang dilaksanakan oleh 

pemerintah. Dengan memakai  perspektif yang lebih luas, David Cox membagi 

kemiskinan ke dalam beberapa dimensi:

1) Kemiskinan yang diakibatkan globalisasi.

2) Kemiskinan yang berkaitan dengan pembangunan.

3) Kemiskinan sosila

4) Kemiskinan konsekuensial

Kebijakan Dasar Pengentasan Kemiskinan

Pemerintah mempunyai peranan besardalam usaha menanggulangi kemiskinan 

ditanah air. Untuk itu diperlukan suatu strategi dan bentuk intervensi yang tepat, dalam 

articost effectiveness-nya tinggi. Ada tiga pilar utama strategi pengurangan kemiskinan, yakni

(1) Pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan yang pro kemiskinan, (2) Pemerintahan 

yang baik, (3) Pembangunan sosial. 

Tambunan, dkk. (2006) Untuk mendukung strategi ini  diperlukan intervensi￾intervensi pemerintah yang sesuai dengan sasaranatau tujuan, langkah–langkah 

penanggulangan kemiskinan senantiasa perlu mempertimbangkan beberapa hal, antara lain:

Program penanggulangan kemiskinan hanya berjalan baik dan efektif apabila ada 

suasana tentram dan stabil. Kestabilan mutlak diperlukan untuk menjamin kelangsungan 

pelaksanaan program penanggulangan kemiskinan sebab  pada dasarnya upaya 

penanggulangan kemiskinan yaitu  upaya untuk menciptakan ketentramandan kestabilan 

politik, ekonomi, sosial dan politik.

Program penganggulangan kemiskinan dapat berjalan efektif apabila pertumbuhan 

warga  dapat dikendalikan. Keluarga kecil yang sejahtera yaitu  salah satu dari faktor 

yang kondusif untuk mencapai sasaran menganggulangi kemiskinan.1. Program penanggulangan kemiskinan harus dikaitkan dengan lingkungan hidup. 

Lingkungan hidup yang tetap lestari dan terjaga dengan baik memungkinkan 

distribusi kesejahteraan antar warga warga  secara merata.

2. Program penanggulangan kemiskinan harus merupakan program yang 

berkelanjutan, yaitu program yang dapat terus–menerus berjalan dan dapat mandiri. 

Hal ini berarti program penanggulangan kemiskinan harus dilandaskan pada 

peningkatan kemampuan warga  miskin untuk melakukan kegiatan produktif 

sehingga mampu menghasilkan nilai tambah yang lebih tinggi dan pendapatan 

yang lebih besar dari suatu kegiatan. Upaya meningkatkan kemampuan untuk 

menghasilkan nilai tambah paling tidak harus ada perbaikan akses terhadat pempat 

hal, yaitu:

a. Akses terhadap sumber daya.

b. Akses terhadap teknologi, yaitu suatu kegiatan dengan cara dan alat yang lebih 

baik dan lebih efisien.

c. Akses terhadap pasar. Produk yang dihasilkan harus dapat dijual untuk 

mendapatkan nilai tambah. Ini berarti bahwa penyediaan sarana produksi dan 

peningkatan keterampilan harus diimbangi dengan tersedianya pasar secara 

terus- menerus.

d. Akses terhadap sumber pembiayaan

3. Pendelegasian wewenang atau desentralisasi dalam perencanaan, pelaksanaan, dan 

pemantauan terhadap program penanggulangan kemiskinan yang diupayakan pada 

tingkatan pemerintahan serendah mungkin. Pendelegasian wewenang dilakukan 

dengan meningkatkan kemampuan aparat dan warga  di daerah itu sendiri. 

Dalam hubungan ini, pemerintah daerah harus mengambil peranan yang lebih besar 

lagi sebab  mereka yang paling mengetahui mengenai kondisi dan kebutuhan 

warga  di kantong-kantong kemiskinan didaerahnya. Semakin dekat pelaksana 

proyek dan kegiatan dengan kelompok sasaran, maka akan semakin efektif.

4. Tekanan yang paling utama seyogyanya diberikan pada perbaikan pelakunya, 

terutama manusianya (invest in people) menyangkut aspek pendidikan dan 

kesehatan. Keduanya berkaitan dengan peningkatan akses secara merata dan 

sekaligus mutu yang lebih baik.

5. Pelayanan bagi orang jompo, penderita cacat, yatim piatu, dan kelompok 

warga  lain yang memerlukan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari 

upaya menanggulangi kemiskinan.

Program ini bersifat khusus dan dilaksanakan secara selektif. Langkah yang 

diperlukan yaitu  meningkatkan efektifitas, efisiensi, dan jangkauan program 

ini . Searah dengan itu, pengembangan sistem jaminan sosial secara bertahap 

perlu terus ditingkatkan  Model Solusi Pengentasan Kemiskinan

 Pengalaman di negara-negara Asia menunjukkan bahwa model mobilisasi 

perekonomian pedesaan untuk memerangi kemiskinan, yaitu: Pertama, mendasarkan pada 

mobilitas tenaga kerja agar terjadi pembentukan modal di pedesaan. Tenaga kerja yang masih 

belum didayagunakan pada rumahtangga petani kecil dan gurem merupakan sumber daya 

yang tersembunyi dan potensi tabungan. Alternatif cara untuk memobilisasi tenaga kerja dan 

tabungan pedesaaan diantaranya yaitu : Pertama, memakai  pajak langsung atas tanah, 

seperti yang dilakukan di Jepang. Kedua, dilakukan dengan menyusun kerangka kelembagaan 

di pedesaan yang memungkinkan tenaga kerja yang belum didayagunakan untuk pemupukan 

modal tanpa perlu menambah upah. Ini persis yang dilakukan Cina yang menerapkan sistem 

kerjasama kelompok dan brigades ditingkat daerah yang paling rendah (communes).

Dengan metode ini ternyata memungkinkan adanya kenaikan yang substansial dalam 

itensitas tenaga kerja dan produktivitas tenaga kerja. Model kedua, menitikberatkan pada 

transfer daya dari pertanian ke industri melalui mekanisme pasar. Ide bahwa penawaran 

tenaga kerja yang tidak terbatas dari rumah tangga petani kecil dapat meningkatkan tabungan 

dan formasi modal lewat prosespasar. Model ketiga, menyoroti pesatnya pertumbuhan dalam 

sektor pertanian yang dibuka dengan kemajuan teknologi dan kemungkinan sektor yang 

memimpin . Model ini dikenal dengan nama Model Pertumbuhan 

Berbasis Teknologi, atau RuralLed Development. Model keempat, menyoroti dimensi spasial 

dalam menanggulangi kemiskinan. Kemiskinan bisa diatasi dengan cara kemudahan dalam 

mengakses dua bidang, yaitu: 1). Bidang ekonomi dan 2). Bidang sosial. 

5. Evaluasi Program Pengentasan Kemiskinan Berbasis Pemberdayaan 

warga 

Masalah kemiskinan menyangkut dengan kesejahteraan sosial. Maka, berdasarkan 

analisis dan kajian kesejahteraan sosial, perlu adanya usaha-usaha kesejahteraan sosial dalam 

mengentaskan kemiskinan ini . Namun dalam ranah bahasan ini, kebijakan pengentasan 

kemiskinan selama ini masih didesain dengan corak sentralistis oleh pemerintah pusat, 

khususnya yang diwakili oleh Bappenas. Mekanismenya, Bappenas merancang program 

penanggulangan kemiskinan dengan memakai  dukungan alokasi dan distribusi anggaran 

APBN. Pada masa otonomi sekarang, pemerintah daerah mengalami disfungsi dalam 

penyusunan program penanggulangan kemiskinan. 

Program yang dikenal oleh daerah hampir semuanya dari pusat dan disertai dengan 

kriteria dari pusat. Sedangkan dalam Rencana Strategis Pembangunan Kesejahteraan Sosial, 

yang dijadikan landasan dalam perencanaan pembangunan kesejahteraan sosial, secara nyata 

telah mencantumkan istilah pemberdayaan warga  sebagai strategi dalam pembangunan, 

seperti yang tercantum sebagai berikut: Strategi dalam upaya mencapai tujuan dan sasaran 

serta kebijakanyang telah ditetapkan yaitu:

a. Pemberdayaan: peningkatan profesionalisme dan kinerja aparaturdan pelaku 

pembangunan kesejahteraansosial untuk memberi  kepercayaandan peluang kepada warga , Organisasi Sosial, LSM, dunia usaha dan penyandang masalah 

sosial dalam mencegah dan mengatasi masalah yang ada di lingkungannya serta 

merealisasikan aspirasi dan harapan mereka dalam mewujudkan kualitas hidup dan 

kesejahteraan sosialnya

b. Kemitraan: kerjasama, kepedulian, kesetaraan, kebersamaan, kolaborasi dan 

pelaksanaan jaringan kerja yang menumbuh kembangkan kemanfaatan timbal balik

antara pihak-pihak yang bermitra dan mengoptimalkan pelayanan-pelayanan yang 

bersifat terpadu.

3. Prakarsa, peranan dan keterlibatan semua pihak pelaku pembangunan dan penerima 

pelayanan, lingkungan sosial dan penyedia pelayanan dalam pengambilan 

keputusan, perumusan rencana, pelaksanaan kegiatan dan pemantauan pelaksanaan 

serta melakukan pilihan terbaik untuk peningkatan kesejahteraan sosial. Namun 

demikian, makna pemberdayaan dan implikasinya terhadap proses pelaksanaan 

program yang memakai  strategi pemberdayaan belum sepenuhnya dipahami. 

Gambaran tentang program pemberdayaan warga , khususnya menyangkut 

pengelolaan.

Pada era sentralisasi sendiri, pemberdayaan biasanya didistorsikan pemaknaannya 

menjadi lebih sempit, yakni sebagai upaya mendorong warga  untuk memakai  

sumber-sumber yang disediakan oleh pemerintah dalam konteks usaha ekonomi, dan juga 

bertendensi sebagai suatu usaha untuk menarik simpati warga  bagi kepentingan politik. 

Dengan demikian, pemberdayaan juga dapat dikatakan masih di monopoli dan 

direduksi pemaknaannya serta orientasinya sebagai perspektif politik dan ekonomi daripada 

perspektif sosial dan budaya. Gambarannya dapat dilihat dari adanya usaha untuk 

memobilisasi warga  dalam memanfaatkan sumber daya yang datang dari atas untuk 

kepentingan politik tertentu dan mempertahankan keberhasilan pertumbuhan ekonomi dengan 

kurang memberi  peluang agar inisiatif tumbuh dari warga , khususnya aksesbilitas 

warga  terhadap sumber kehidupan dan pengambilan keputusan. Maka, sebenarnya 

keberhasilan program pengentasan kemiskinan yaitu  terletak pada pengidentifikasian secara 

akurat terhadap kelompok dan wilayah yang ditargetkan. (Remi, 2002

Sedangkan kritik yang dilontarkan terhadap program pengentasan kemiskinan antara 

lain mengenai penetapan sasaran, yakni dalam penentuan warga  yang benar-benar miskin 

dan membutuhkan bantuan dan pendekatan yang hendak dilakukan yaitu  hendaknya 

berdasarkan profil kemiskinan dan people driven. Makna dari pernyataan ini bahwa rakyat 

yaitu  aktor utama dalam setiap formulasi kebijakan dan pengambilan keputusan politis 

(bottom up). 

 Upaya penanggulangan kemiskinan yang lalu perlu dikoreksi secara 

mendasa diantaranya: 

1. Kebijakan yang terpusat dan seragam

2. Memposisikan warga  sebagai obyek dalam keseluruhan proses penanggulangan 

kemiskinan

3. Asumsi permasalahan dan penanggulangan kemiskinanyang sering dipandang sama 

(one-fit-forall)

4. Kurang memperhatikan keragaman budaya

5. Kelompok sasaran antara program yang satu dan program lainnya seringkali tumpang 

tindih

6. Kebijakan yang bersifat sektoral dan daerah kurang diberdayakan dalam keseluruhan 

proses penanggulangan kemiskinan.

Salah satu dari pemicu  kemiskinan yaitu  terbatasnya akses untuk memperoleh 

modal, baik itu modal usaha, maupun modal sosial dan politik. warga  miskin kota yang 

mayoritas merupakan warga  miskin memiliki keterbatasan dalam memperoleh 

pemodalan ini . Pinjaman modal dari perbankan sulit didapat oleh para warga  

miskin, hal itu disebab kan tidak adanya harta benda lain (selain uang) yang bisa mereka 

jadikan anggunan di bank sehingga warga  miskin tidak mendapatkan pinjaman modal 

dari perbankan menjadikan mereka lebih memilih meminjam kepada renternir untuk 

mendapatkan modal. Dari 107 Kelurahan di kota Palembang belum ada lembaga simpan pinjam yang mendapatkan dana tambahan simpan pinjam bagi warga miskin yang di kelola 

Unit Pengelola Keuangan Program Pemberdayaan warga . 

Lingkaran setan yang melahirkan jebakan ketidakberdayaan inilah yang menjadikan 

alasan penting mengapa lembaga keuangan mikro yang menyediakan pembiayaan bagi usaha 

mikro dan warga  miskin menempati tempat yang sangat strategis. Pada awalnya, konsep 

pembiayaan mikro (microfinance) lahir sebagai suatu terobosan bagi penyediaan jasa 

keuangan kepada warga  berpendapatan rendah yang tidak memiliki akses ke sistem 

keuangan modern. Keberadaan lembaga keuangan mikro untuk mengatasi hal itu sangat 

berarti bagi warga  miskin khususnya kemiskinan. Sejak jaman dahulu, keberadaan 

lembaga keuangan mikro menjadi alternatif bagi kelompok berpenghasilan rendah dalam 

memenuhi kebutuhan dana mereka. Lembaga Keuangan Mikro terdiri dari berbagai macam 

jenis yang merupakan lembaga perkereditan rakyak. Tujuan dari pembangunan lembaga 

perkreditan rakyat ini  yaitu  untuk menyediakan kemudahan permodalan bagi 

warga  berpenghasilan rendah guna mengembangkan usaha dan kemampuannya.

Sebagai bagian dari permasalahan pembangunan, sudah sewajarnya jika strategi 

penanggulangan kemiskinan dilandasi atas pemahaman terhadap konsep pembangunan. 

Pembangunan pada dasarnya merupakan suatu perubahan struktur yang dimulai dari upaya 

memperbaiki kapabilitas manusia, sehingga memiliki peluang memasuki kesempatan kerja 

dan berusaha, memperoleh peningkatan pendapatan, hingga akhirnya mampu secara mandiri 

melakukan perlindungan sosial yang merupakan wujud nyata keberhasilan pembangunan 

kesejahteraan sosial.

Dengan perubahan struktur sebagai langkah operasional dan manusia sebagai sasaran, 

maka strategi penanggulangan kemiskinan yang paling tepat yaitu  pemberdayaan 

warga . Makna pemberdayaan warga  yaitu  suatu proses untuk meningkatkan 

kemampuan warga  untuk memanfaatkan sumber daya yang di miliki dan yang tersedia 

di lingkungan sekitarnya untuk meningkatkan kesejahteraan. 

Penanggulangan kemiskinan melalui strategi pemberdayaan secara terfokus sekaligus 

dapat menghindari penggunaan dana pemerintah untuk kegiatan yang tidak produktif. 

Sasaran yang menjadi focus penanggulangan kemiskinan melalui strategi pemberdayaan 

yaitu  warga  miskin yang berusia produktif, yaitu berkisar antara 15 tahun hingga 55 

tahun. warga  miskin pada kisaran ini yang sehat secara jasmani maupun rohani 

merupakan sumber daya manusia yang memiliki potensi besar untuk menjadi pelaku aktif 

dalam pembangunan. Disamping itu, warga  berusia produktif juga merupakan individu 

yang berada pada tahap   berumah tangga, sehingga apabila tidak ditangani dengan baik, dapat 

menciptakan warga  miskin baru 

Pemerintah menjalankan fungsi sebagai fasilitator, sedangkan warga  miskin 

ditempatkan sebagai pelaku usaha berskala mikro. Adapun perbankan dan dunia usaha 

diharapkan dapat menyediakan pembiayaan serta akses pemasaran. Berikut ada 16 cara yang dapat dilakukan untuk mengentasakan kemiskinan ini  

yaitu:

1. Hapuskan larangan impor beras.

2. Lakukan investasi di bidang pendidikan dengan fokus pada perbaikan akses dan 

keterjangkauan sekolah menengah serta pelatihan keterampilan bagi warga  

miskin, sambil terus meningkatkan mutu dan efisiensi sekolah dasar.

3. Lakukan investasi di bidang kesehatan dengan fokus pada perbaikan mutu 

layanan kesehatan dasar (oleh pemerintah dan swasta) dan akses yang lebih baik 

ke layanan kesehatan.

4. Suatu upaya khusus diperlukan untuk menangani angka kematian ibu yang 

sangat tinggi di Indonesia.

5. Perbaiki mutu air bagi warga  miskin dengan memakai  strategi 

berbeda antara daerah pedesaan dengan perkotaan.

6. Tangani krisis sanitasi yang dihadapi Indonesia dan warga  miskinnya.

7. Luncurkan program berskala besar untuk melakukan investasi pembangunan 

jalan desa.

8. Perluas (sampai tingkat nasional) pendekatan pembangunan berbasis 

warga  (CDD) Indonesia yang sukses.

9. Pengembangan secara utuh sistem jaminan sosial komprehensif yang mampu 

menangani risiko dan kerentanan yang dihadapi oleh warga  miskin dan 

hampir miskin.

10. Revitalisasi pertanian melalui investasi di bidang infrastruktur dan membangun 

kembali riset dan penyuluhan.

11. Memperlancar sertifikasi tanah dan memanfaatkan kembali tanah gundul dan 

tidak subur untuk penggunaan yang produktif.

12. Membuat peraturan ketenagakerjaan yang lebih fleksibel.

13. Perluas jangkauan layanan keuangan bagi warga  miskin dan tingkatkan 

akses usaha mikro dan kecil ke pinjaman komersial.

14. Perbaiki fokus kepada kemiskinan dalam perencanaan dan penganggaran di 

tingkat nasional untuk penyediaan layanan.

15. Jalankan program pengembangan kapasitas untuk meningkatkan kapasitas 

pemerintah daerah dalam merencanakan.

16. Menganggarkan dan melaksanakan program pengentasan kemiskinan.

Perkuat monitoring dan kajian terhadap program kemiskinan. Banyak pihak meyakini 

lembaga keuangan mikro sebagai suatu alat pembangunan yang efektif untuk mengentaskan 

kemiskinan sebab  layanan keuangan memungkinkan orang kecil dan rumah tangga 

berpenghasilan rendah untuk memanfaatkan peluang ekonomi, membangun aset dan 

mengurangi kerentanan terhadap goncangan eksternal. Lembaga keuangan mikro menjadi 

alat yang cukup penting untuk mewujudkan pembangunan dalam tiga hal sekaligus, yaitu 

menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan warga , dan mengentaskan 

kemiskinan  Untuk itu di kelurahan kelurahan di kota Palembang di bentuklah Unit Pengelola 

Keuangan (UPK). Dalam program pemberdayaan warga  di Palembang usaha simpan 

pinjam dapat memenuhi kebutuhan warga yang membutuhkan, pinjaman yang dapat 

diberikan oleh UPK kepada warga berkisar dari Rp. 500.000,- sampai Rp. 3.000.000,-

pinjaman ini  sangat membantu selain dapat diangsur tiap bulannya dengan jasa/bunga 

sebesar 1,5 %, apabila telah lewat 1 tahun, jika mengalami keterlambatan dikenakan sangsi 

wilayah, berbeda dengan peminjaman di renternir, dengan bunga sebesar 30%-50% dalam 

setahun, apabila tidak dapat melunasi dalam jangka waktu setahun, maka dikenakan bunga 

sebesar 30%-50% lagi. Sementara warga yang belum mendapatkan pinjaman dari Unit 

Pengelola Keuangan mengandalkan pekerjaan yang mereka miliki, warga lainnya 

mengandalkan pinjaman dari renternir dengan bunga cukup tinggi. Kelompok yang lancar 

dapat mengajukan kembali sementara kelompok yang menunggak tidak dapat mengajukan 

sebelum melunasi tunggakannya

Untuk mencapai tujuan itulah, agenda utama pemerintah kota Palembang dalam 

pembangunan nasional lebih menitikberatkan pada pembangunan kawasan terpencil, 

melalui Program Pemberdayaan Daerah Mengatasi Krisis Ekonomi (PDM-DKE), Program 

Nasional Pemberdayaan warga  Mandiri (PNPM), dan Program Gerakan Terpadu 

Pengentasan Kemiskinan (Gerdu- Taskin). Harapannya mampu memberdayakan dan 

meningkatkan kemandirian warga  setempat dalam berwirausaha sehingga mampu 

menciptakan lapangan kerja sendiri demi mengurangi jumlah kemiskinan dan 

pengangguran di kecamatan kota Palembang.

Hal ini sesuai dengan teori kepribadian yang mengarah kepada prestasi yang 

dikembangkan oleh David Mc Clelland, yang mengatakan bahwa pendorong perkembangan 

ekonomi yaitu  semangat kewiraswastaan dari warga . Semangat ini lebih didorong 

oleh hasrat yang kuat untuk berprestasi. warga  yang tinggi tingkat kebutuhan 

berprestasinya, pada umumnya akan menghasilkan perkembang dan ekonomi yang lebih 

cepat. Urgensinya, memberdayakan ekonomi lokal melalui pemberdayaan industri lokal 

dengan memanfaatkan dana bantuan.

kemiskinan19


Kemiskinan merupakan permasalahan sulit yang melanda bangsa ini. Ketika masyarakat 

miskin, perekonomian dan kualitas hidup negara akan menderita. Penting untuk mengkaji 

penyebab kemiskinan agar dapat memeranginya secara efektif. Indeks Pembangunan Manusia, 

Inflasi, dan Pengangguran dikaji kaitannya dengan kemiskinan di Indonesia. Model regresi 

linier berganda Ordinary Least Squares (OLS) digunakan dalam penelitian kuantitatif. Korelasi 

antara kemiskinan, indeks pembangunan manusia, inflasi, dan pengangguran di Indonesia akan 

dihitung. Tingkat kemiskinan di Indonesia terbukti dipengaruhi oleh Indeks Pembangunan 

Manusia (IPM), inflasi, dan pengangguran sekaligus. Indeks Pembangunan Manusia terbukti 

memiliki hubungan negatif dan signifikan secara statistik dengan kemiskinan. Sementara itu, 

inflasi dan pengangguran tidak mempunyai dampak yang besar. Penelitian ini akan memberikan 

landasan bagi penerapan kebijakan yang dapat membantu mengentaskan kemiskinan di 

Indonesia.Pembangunan adalah tujuan dari 

sutau negara, dimana negara tersebut 

semakin maju ketika ada peningkatan pada

pembangunannya (Zuhdiyaty & Kaluge, 

2019). Menurut Fahrudin (2014), 

kesejahteraan sosial merupakan kondisi 

dimana seseorang mampu melengkapi 

segala keperluan dan mampu melakukan 

relasi positif dengan lingkungan sekitar. 

Kesejahteraan sosial dapat ditinjau dari

aspek-aspek yang relevan seperti 

pendapatan yang cukup, pendididikan, dan 

kesehatan. Kesejahteraan merupakan 

keadaan dimana seseorang merasa aman, 

makmur, dan bebas dari berbagai ancaman 

masalah ataupun kesulitan (Adi, 2015). 

Ancaman masalah ini mencakup dari 

berbagai aspek yaitu masalah pekerjaan, 

masalah pendidikan, masalah kesehatan, 

dan masalah makanan. Kesejahteraan sosial 

sangat beririsan dengan kondisi

perekonomian masyarakat. Salah satu 

faktor yang mempengaruhi kesejahteraan 

sosial adalah kemiskinan.

Kemiskinan merupakan topik inti 

yang selalu menjadi bahan pembicaraan 

negara dunia. Penanggulangan kemiskinan 

yang selanjutnya akan menciptakan

kesejahteraan sosial merupan tujuan akhir 

sebuah negara. Menjadi miskin berarti 

pendapatan seseorang tidak cukup untuk 

menutupi pengeluaran pokok, sehingga 

membuat hidup menjadi sebuah perjuangan 

yang tiada henti (Suryawati, 2004). 

Menurut Christianto (2013), tingkat 

kemiskinan suatu negara atau daerah 

merupakan indikator yang baik mengenai 

taraf hidup warganya. Kemiskinan 

merupakan permasalahan serius di 

Indonesia yang masih berada pada jalur 

pembangunan ekonomi. Masih terdapat 

24% dari 240 juta penduduk Indonesia yang 

hidup dalam kemiskinan, menurut tingkat 

kemiskinan yang didefinisikan sebagai 

mereka yang memiliki pendapatan tahunan 

kurang dari $1 (Pratama, 2014).

Seseorang atau keluarga dianggap 

hidup dalam kemiskinan jika tidak mampu 

memenuhi kebutuhan gizi dan kebutuhan 

dasar lainnya. Mereka yang berpenghasilan 

kurang dari jumlah tertentu, yang disebut 

garis kemiskinan, dianggap miskin (BPS, 

2022). Di Indonesia dan negara-negara 

berkembang lainnya, kemiskinan 

merupakan masalah besar karena hal ini 

memicu kemiskinan, yang pada gilirannya 

memicu sejumlah tantangan lainnya (Fadila 

& Marwan, 2020). Kemiskinan absolut dan 

kemiskinan relatif adalah dua cara untuk 

mengklasifikasikan tingkat kesulitan

ekonomi yang berbeda. Menurut definisi 

apapun, kemiskinan absolut terjadi ketika 

sebagian besar penduduk tidak memiliki 

akses terhadap kebutuhan paling mendasar seperti makanan, pakaian, dan tempat 

tinggal, sedangkan kemiskinan relatif 

disebabkan oleh ketidakseimbangan 

ekonomi yang berkontribusi terhadap 

kesenjangan (Todaro, 2011).

Selama periode sembilan tahun yang 

berlangsung dari tahun 2012 hingga 2021, 

teramati adanya penurunan signifikan 

dalam angka kemiskinan multidimensi di 

Indonesia. Angka kemiskinan multidimensi 

turun dari 49 persen pada tahun 2012 

menjadi 14,3 persen pada tahun 2021, 

dengan penurunan jumlah penduduk miskin 

multidimensi mencapai sekitar 80 juta jiwa. 

Jumlah penduduk miskin multidimensi 

yang awalnya berjumlah 120,1 juta jiwa 

pada tahun 2012, berkurang menjadi 38,95 

juta jiwa pada tahun 2021. Penelitian yang 

dilakukan oleh Lembaga Riset dan 

Advokasi Kebijakan Publik The Prakarsa 

dalam mengukur Indeks Kemiskinan 

Multidimensi (IKM) Indonesia 2012-2021 

menunjukkan bahwa persentase jumlah 

penduduk miskin (JPM) di perdesaan lebih 

tinggi daripada di perkotaan. Pada tahun 

2021, tingkat JPM di wilayah perkotaan 

telah berkurang menjadi seperempat dari 

angka pada tahun 2012, sementara tingkat 

JPM di wilayah desa berkurang menjadi 

sepertiga dari angka pada tahun 2012 

(Kompas.id, 2023).

Pendekatan Kebutuhan Dasar (BPS, 

2010) menggunakan gagasan mampu 

memenuhi kebutuhan esensial sebagai 

proksi kemiskinan. Head Count Index

(HCI) mencerminkan jumlah dan 

persentase penduduk yang hidup di bawah 

garis kemiskinan (Poverty Line); Indeks 

Kesenjangan Kemiskinan (Poverty Gap 

Index/PGI) atau Poverty Depth Index (PDI) 

mengukur rata-rata tingkat kesenjangan 

antara pengeluaran individu miskin dengan 

ambang batas kemiskinan; dan Indeks 

Keparahan Kemiskinan (PSI) atau PSI 

memberikan gambaran distribusi 

pengeluaran di kalangan masyarakat miskin

(Fadila & Marwan, 2020). Kemiskinan 

biasanya diukur dengan menggunakan 

sejumlah indikator yang berbeda, termasuk 

namun tidak terbatas pada: tingkat 

pendapatan atau upah, pola konsumsi, 

angka kematian anak, angka vaksinasi, 

angka malnutrisi anak, angka kesuburan, 

angka kematian ibu, angka harapan hidup 

saat lahir, dan tenaga kerja. memaksa 

partisipasi. Pendaftaran sekolah dasar, porsi

anggaran yang dialokasikan untuk 

memenuhi kebutuhan dasar, ketersediaan 

pangan (dalam hal kalori/protein), akses 

terhadap air bersih, laju pertumbuhan 

penduduk, kondisi pendidikan di suatu 

negara secara keseluruhan, urbanisasi tarif, 

pendapatan tahunan rata-rata, dan distribusi 

pendapatan semuanya merupakan faktor

(Adisasmita, 2005).Pendapatan, pendidikan, kesehatan, 

akses terhadap layanan, geografi, dan 

lingkungan merupakan aspek-aspek yang 

saling berhubungan dan berkontribusi 

terhadap tingkat kemiskinan secara 

keseluruhan di suatu wilayah. Misalnya, 

individu dengan tingkat pendidikan rendah 

mungkin tidak memiliki keterampilan atau 

kompetensi yang memadai, sehingga sulit 

bersaing di pasar tenaga kerja. Pendapatan 

individu ini akan sangat tergantung pada 

jenis pekerjaan yang dapat mereka akses. 

Kesejahteraan seseorang dan 

kemampuannya untuk memenuhi 

kebutuhan dasar berhubungan langsung 

dengan pendapatannya, dan gaji yang lebih 

rendah sering dikaitkan dengan kualitas 

pekerjaan yang lebih buruk. Melibatkan 

masyarakat secara keseluruhan sangat 

penting untuk menurunkan angka 

kemiskinan. Pendidikan dan pelatihan yang 

lebih baik merupakan contoh 

pengembangan sumber daya manusia yang 

dapat meningkatkan standar hidup dengan 

menjadikan masyarakat lebih siap kerja

(Fadila & Marwan, 2020).

Beragam penelitian terdahulu telah 

dilakukan untuk menganalisis faktor-faktor 

ataupun indikator-indikator penyebab 

kemiskinan. Penelitian yang dilakukan 

Refika Atalay (2014), menyelidiki peran 

pendidikan dan IPM dalam membentuk 

ketimpangan pendapatan. Penelitian 

Suripto dan Subayil (2020) mengamati 

bagaimana faktor-faktor seperti pendidikan, 

pertumbuhan PDB, pengangguran, dan 

indeks pembangunan manusia (IPM) 

mempengaruhi kemampuan masyarakat 

untuk keluar dari kemiskinan. Penelitian 

yang dilakukan oleh Ahmad Syaifullah & 

Nazaruddin Malik (2017), meneliti tentang 

pengaruh IPM dan produk domestik bruto 

(PDB) terhadap kemiskinan di ASEAN.

Penulis mampu mengkaji penyebab 

kemiskinan karena penelitian yang telah 

dilakukan sebelumnya. Studi ini 

melanjutkan studi sebelumnya dengan 

mengkaji bagaimana IPM, inflasi, dan 

pengangguran berhubungan dengan 

kemiskinan. Analisis terhadap unsur-unsur 

yang berkontribusi terhadap kemiskinan 

dilatarbelakangi oleh keinginan untuk 

memperbaiki strategi pengentasan 

kemiskinan. Dalam studi ini, kita akan 

mengkaji bagaimana Indeks Pembangunan 

Manusia (IPM), inflasi, dan tingkat 

pengangguran di Indonesia mempengaruhi 

tingkat kemiskinan. Selanjutnya, melalui 

analisis ini diharapkan strategi 

penanggulangan kemiskinan di Indonesia 

akan maksimal dan efisien dilakukan

TINJAUAN TEORITIS

Kemiskinan 

Menurut BPS (2016), kemiskinan 

adalah keadaan tidak mampu, secara 

finansial atau lainnya, untuk memenuhi kebutuhan dasar fisik dan nutrisi seseorang.

Kemiskinan merupakan masalah inti dari 

sebuah perekonomian negara. Penelitian 

yang dilakukan oleh Yusnuri & Abubakar 

(2023) mengklaim bahwa pengentasan 

kemiskinan di Indonesia akan mempunyai 

dampak yang besar dan menguntungkan 

terhadap PDB negara tersebut.

Indeks Pembangunan Manusia (IPM)

Indeks Pembangunan Manusia adalah 

metrik menyeluruh yang tidak hanya 

mempertimbangkan PDB namun juga 

tingkat pendidikan, kesehatan, dan umur 

panjang (Yakunina RP, Bychkov GA, 

2015). Badan Pusat Statistik (BPS) 

menyatakan bahwa IPM terdiri dari tiga 

komponen, yaitu angka harapan hidup yang 

panjang dan sehat, tingkat pendidikan yang 

tinggi, dan kualitas hidup yang nyaman.

Umur panjang dalam kesehatan yang 

baik adalah kriteria pertama. Hal ini dapat 

dicapai dengan menerapkan praktik yang 

lebih sehat. Menurut Soekidjo Notoadmojo 

(1993: 62), gaya hidup sehat adalah reaksi 

seseorang (atau suatu organisme) terhadap 

berbagai rangsangan yang berkaitan dengan 

pola makannya, kebersihan pribadinya, 

keadaan tempat tinggalnya, sikapnya 

terhadap sakit dan penyakit, serta 

perilakunya. kemampuan untuk mencapai 

keseimbangan kehidupan kerja yang baik. 

Pengetahuan atau pendidikan menjadi 

faktor kedua. Pendidikan adalah 

penanaman lingkungan belajar yang 

kondusif dan suatu proses yang membekali 

siswa dengan pengetahuan, keterampilan, 

dan karakter yang penting untuk 

keberhasilan individu dan kolektif dalam 

hidup (UU SISDIKNAS No.20 tahun 

2003). Dimensi ketiga yaitu standaar hidup 

layak. Standar hidup layak merupakan 

keadaan dimana seseorang dapat 

memperoleh kebutuhan dasar dari dirinya 

sendiri.

Dimensi dari IPM ini berkaitan 

tentang kualitas sumber daya manusia 

(SDM). Di Inggris, layanan kesehatan telah 

menjadi komponen utama sumber daya 

manusia di negara tersebut selama lebih dari 

dua abad (Hafiner & Mayer-Foulkes). 

Inflasi

Inflasi merupakan keadaan yang 

berkaitan langsung dengan keadaan 

perekonomian suatu regional bahkan dunia. 

Keadaan perekonomian ini memberikan 

pengaruh ataupun dampak bagi tingkat 

perekonomian suatu negara. Menurut 

Boediono (1995), The widespread and 

persistent rise in prices over time is what 

economists call inflation. Adanya 

kenaikkan harga ini akan menghambat 

konsumsi masyarakat dan tentu akan 

mempengaruhi tingkat perekonomian. 

Pernyataan Boediono ini kembali diperbaharui oleh dirinya. Boediono 

(2001:161) mengartikan inflasi sebagai 

kenaikan harga yang luas dan terus￾menerus. Peningkatan pada harga suatu 

komoditas tidak dapat langsung disebut 

sebagai inflasi. Peningkatan harga 

komoditas akan disebut sebagai inflasi 

apabila peningkatan harga tersebut melebar 

dan memengaruhi komoditas ataupun aspek 

lain. Adanya kenaikkan harga ini akan 

menghambat konsumsi masyarakat dan 

tentu akan mempengaruhi tingkat 

perekonomian.

Pengangguran

Tingkat pengangguran merupakan 

indikator ekonomi utama dalam situasi 

yang berbeda. Permasalahan pengangguran 

merupakan salah satu permasalahan 

makroekonomi yang menghambat 

kemajuan daerah dan menimbulkan 

permasalahan sosial lainnya (Yehosua, dkk, 

2019). Yanuar (2009) mendefinisikan 

pengangguran sebagai keadaan aktif 

mencari tetapi tidak menerima pekerjaan. 

Inefisiensi ekonomi yang pada gilirannya 

mengakibatkan berkurangnya pendapatan 

pribadi merupakan dampak langsung dari 

perilaku sumber daya manusia yang kurang 

produktif.


Strategi Penanggulangan Kemiskinan

Berdasarkan hasil analisis faktor￾faktor penyebab kemiskinan, maka fokus 

penanggulangan kemiskinan adalah IPM. 

Dimensi dari IPM meliputi umur panjang 

dan sehat, pendidikan, standar hidup layak. 

Peningkatan IPM hanya akan berhasil 

apabila setiap aspek dimensi IPM secara 

simultan meningkat secara berkelanjutan. 

Ini disebabkan karena setiap elemen pada 

IPM memiliki hubungan secara timbal 

balik.Pertama, aspek umur panjang dan 

sehat (kesehatan). Berinvestasi pada 

kesehatan masyarakat adalah penggunaan 

sumber daya yang bijaksana. Produktivitas, 

khususnya di tempat kerja, dapat 

ditingkatkan dengan sumber daya manusia 

yang sehat. Strategi yang dapat diterapkan 

dalam hal meningkatkan kesehatan di 

Indonesia antara lain pertama, improvisasi 

infrastruktur kesehatan. Salah satu 

contohnya adalah pengandaan pos-pos 

kesehatan di daerah tertinggal ataupun 3T. 

Ini akan membuat tingkat harapan hidup 

anak-anak terutama bayi akan meningkat. 

Kedua, subsidi suplemen kesehatan bagi 

masyarakat kurang mampu. Subsidi ini 

merupakan subsidi barang dan bukan 

berupa uang tunai. Dengan adanya subsidi 

ini, maka diharapkan masyarakat 

khususnya yang menengah ke bawah akan 

meningkat kesehatannya. Ketiga, 

digitalisasi dan sosialisasi kepada 

masyarakat. 

Di era yang modern ini diperlukan 

digitalisasi dalam mengontrol kesehatan di 

masyarakat agar lebih efisien untuk 

mengambil tindakan cepat. Namun, 

digitalisasi harus sejalan dengan sosialisasi 

kepada masyarakat karena tidak semua 

golongan masyarakat paham menggunakan 

kecanggihan IPTEK sekarang ini. Dengan 

strategi ini, diharapkan tingkat kesehatan masyarakat akan meningkat yang 

berkelanjutan.

Kedua, aspek pendidikan pada 

masyarakat. Pendidikan dan pelatihan 

berkelanjutan sangat penting untuk 

membangun sumber daya manusia (Atalay, 

2014). Berpedoman pada penelitian Muslim 

(2002) dengan penerapan SDGs untuk 

optimalisasi pendidikan di Indonesia, maka 

ada beberapa poin yang harus dilaksanakan 

antara lain pertama, penguatan akses yang 

terjamin untuk masuk pendidikan terutama 

pendidikan dasar. Kedua, perluasan serta 

improvisasi sarana-sarana pendidikan yang 

berkualitas serta aman bagi pelajar. Ketiga, 

improvisasi kualitas tenaga pendidik untuk 

mendukung proses pembelajaran. Keempat,

minimalisasi diskriminasi dalam

pendidikan terutama dalam hal gender , ini 

bertujuan agar setiap anak memperoleh hak 

yang sama. Kelima, penambahan 

pendidikan karakter untuk moral dan jalan 

pikiran. Salah satu strategi untuk 

meningkatkan pendidikan dengan pedoman 

poin ini adalah reformasi pendidikan. 

Reformasi pendidikan merupakan kegiatan 

transformasi model pendidikan agar lebih 

efektif dan efisien sesuai zaman. Reformasi 

ini meliputi, pertama pembangunan 

infrastruktur yang lebih merata untuk setiap 

daerah. Dengan adanya infrastruktur merata 

maka setiap anak tidak memiliki 

kesenjangan dalam belajar. Kedua, adanya 

subsidi tepat sasaran bagi para siswa yang 

tidak mampu. Masalah utama dari 

pendidikan adalah biaya. Dengan adanya 

subsidi tepat sasaran diharapkan banyak 

individu-individu bisa memperoleh 

pendidikan yang lebih baik lagi. Ketiga, 

digitalisasi pendidikan. Digitalisasi 

pendidikan dimaksudkan agar anak-anak 

tidak hanya berfokus belajar di sekolah saja 

tetapi di seluruh tempat. Pelaksanaan 

digitalisasi ini harus sejalan dengan 

pembangunan infrastruktur pendidikan 

khususnya sambungan internet.

Ketiga, aspek standar hidup layak. 

Standar hidup layak akan beririsan dengan 

kesehatan karena ini merupakan pondasi 

kuat untuk memiliki kesehatan yang baik. 

Penelitian yang dilakukan oleh Woyanti 

(2018) menyatakan bahwa kesehatan yang 

dipresentasikan dalam standar hidup layak 

memiliki pengaruh dalam pengurangan 

kemiskinan. Peningkatan standar hidup 

layak pada masyarakat perlu dilakukan 

apabila ingin mengentaskan kemiskinan. 

Peningkatan standar hidup layak pada 

masyakarat dapat dimulai dari 

pembangunan infrastruktur sanitasi yang 

baik bagi masyarakat. Dengan adanya 

pembangunan sanitasi yang baik maka 

kebersihan pada lingkungan masyarakat 

akan terjaga. Kemudian adalah tempat 

hunian, diperlukan adanya pembangunan 

tempat hunian layak bagi masyarakat. Dengan adanya tempat hunian yang layak 

maka masyarakat dapat mengembangkan 

potensi dirinya dengan lebih optimal.