Rabu, 12 Februari 2025

susu


  





Susu yaitu  sekresi ambing hewan yang diproduksi dengan tujuan 

penyediaan makanan bagi anaknya yang baru dilahirkan. Karena berfungsi 

sebagai makanan tunggal bagi mahluk yang baru dilahirkan dan mulai tumbuh, 

susu mempunyai nilai gizi yang sempurna. Dalam susu ada  semuia zat gizi 

yang diperlukan bagi kebutuhan pertumbuhan anak.  

Pada umumnya yang disebut susu yaitu  susu sapi, yang berasal dari jenis 

sapi perah FH (Friesian Holstein), yang berwarna putih totol hita,, atau hitam totol 

putih. Secara alami sisi merupakan suatu emulsi lemak dalam air. Kadar air susu 

sangat tinggi yaitu rata-rata 87.5 %, dan di dalamnya teremulsi ber bagai zat gizi 

penting seperti protein, lemak, gula, vitamin dan mineral.  

Susu merupakan sumber protein dengan mutu yang sangat tinggi, dengan 

kadar protein dalam susu segar 3.5 %, dan mengandung lemak yang kira-kira 

sama banyaknya dengan protein. Karena itu, kadar lemak sering dijadikan sebagai 

tolak ukur mutu susu, karena secara tidak langsung menggambarkan juga kadar 

proteinnya. Beberapa jenis sapi perah, khususnya dari Bos Taurus misalnya Jersey 

dan Guernsey mampu memproduksi susu dengan kadar lemak mendekati 5 %.  

Gula dalam susu disebut laktosa atau gula susu, kadarnya sekitar 5 - 8 %. 

Laktosa memiliki daya kemanisan sangat rendah, yaitu hanya 16 % daya 

kemanisan sukrosa. Laktosa merupakan senyawa yang banyak dipakai  dalam 

pembentukan sel otak, khusunya bagi anak-anak usia di bawah 7 tahun, agar 

jumlah maupun perkembangan sel otaknya berlangsung dengan normal dan 

lancar. 

Mineral yang banyak ada  dalam susu yaitu  kalsium dan posfor. 

Kedua mineral ini  penting bagi pertumbuhan tulang. Sehingga bagi bayi dan 

anak-anak yang sedang tumbuh dan berkembang, susu merupakan sumber mineral 

yang penting.  

Mineral lain seperti klorida, kalsium, magnesium dan natrium terlarut 

dalam air. sedang  sebagian kalsium posfat dan protein tidak berada dalam 

larutan murni, tetapi dalam bentuk dispersi koloid (kalsium posfat kaseinat) yang 

menyebabkan susu terkesan berwarna putih opaque. 

Vitamin yang tinggi ada  dalam susu yaitu  niasin dan riboflavin. 

Karena tingginya kandungan riboflavin, susu tanpak berwarna kehijau-hijauan.  

Jika terkena sinar matahari langsung, riboflavin dalam susu cepat rusak. 

 

1. PASTEURISASI SUSU   

Susu sangat sedikit (bila tidak boleh dikatakan tidak ada) yang dijual 

benar-benar segar, yaitu langsung dari ambing sapi perah. Hal ini karena adanya 

kemungkinan pencemaran atau kontaminasi oleh berbagai bakteri patogen, seperti 

bakteri penyebab typus, diphteri, radang tenggorokan dan tbc. Karena alasan 

ini  maka susu yang akan dijual sebelumnya dipanaskan secukupnya sehingga 

seluruh bakteri patogen yang mungkin ada  di dalamnya dapat dimusnahkan. 

Proses pemenasan ini  disebut pasteurisasi. Pada umumnya proses 

pasteurisasi dilakukan dengan mamanaskan susu pada suhu 62 oC selama 30 

menit. Bila ingin lebih cepat dapat dipakai  suhu 72  oC selama 15 detik. 

Meskipun bakteri patogen sudah dimusnahkan, tetapi bakteri non patogen, 

terutama bakteri pembusuk masih hidup. Jadi susu pasteurisasi, buka merupakan 

susu awet. Dalam penyimpanannya, biasanya susu pasteurisasi digabungkan 

dengan metode pendinginan.  

Untuk memperpanjang daya simpannya, susu pasteurisasi disimpan pada 

suhu maksimal 10 oC, lebih dingin lebih baik. Pada suhu ini  mikroba 

pembusuk meskipun tidak mati, tetapi tidak dapat tumbuh dan berkembang.  

Pada saat pasteurisasi, bukan hanya bakteri patogen yang mati, tetapi 

beberapa jenis enzim juga dimatikan. Enzim yang terpenting yaitu  posfatase. 

Enzim ini  memiliki daya tahan panas yang sedikit lebih tinggi daripada 

bakteri patogen penyebab tbc. Karena itu, untuk mendeteksi apakah proses  

pasteurisasi sudah cukup atau belum, dilakukan tes atau uji posfatase. Bila uji 

posfatase negatif, proses pasteurisasi sudah baik atau cukup.  

Pada umumnya di Industri pengolahan susu, proses pasteurisasi terdiri atas 

tahap-tahap sebagai berikut : penerimaan susu segar, pencampuran dan 

pemanasan, penyaringan, homogenisasi, pasterurisasi, pendinginan dan 

pengemasan. 

 

Penerimaan Susu 

 Biasanya susu segar diperoleh dari pemerahan yang dilakukan selama 2 

kali yaitu pada pagi dan sore hari. Susu segar yang diterima dari pemerahan sore 

dimasukkan ke dalam tangki pendingin dan digabungkan dengan susu segar yang 

diterima hasil pemerahan pagi hari berikutnya. Sebelum diolah, susu segar diuji 

lebih dahulu, yang meliputi uji alkohol, berat jenis, pH dan kadar lemak. Hasil uji 

alkohol harus menunjukkan negatif (tidak pecah, jika dicampur alkohol 70% 1 : 

1), berat jenis minimal 1.028, pH 6.5 – 6.8 dan kadar lemak minimal 2.8 %.  

 

Pemanasan dan Pencampuran 

 Tahap ini diperlukan untuk menyeragamkan susu dan dapat dicampur 

bahan lain seperti gula atau perasa/pewarna makanan, dengan cara dimasukkan ke 

dalam tangki yang berpengaduk (agotator) dan dapat diatur suhunya. Susu dalam 

tangki mula-mula dipanaskan selama 15 menit dengan suhu 50 – 60 oC dengan 

tujuan untuk menginaktifkan enzim lipase yang menyebabkan susu menjadi 

tengik. Selanjutnya susu dialirkan ke tangki penyaring (filter tank), untuk 

menisahkan padatan dan kotoran yang mungkin masih ada  dalam susu.  

 

Homogenisasi 

 Tujuan utama proses homogenisasi pada pengolahan susu yaitu  untuk 

memecahkan butiran-butiran lemak yang sebelumnya berukuran 5 mikron menjadi 

2 mikron atau kurang. Dengan cara ini susu dapat disimpan selama 48 jam tanpa  

terjadi pemisahan krim pada susu. Proses homogenisasi terjadi karena adanya 

tekanan yang tinggi dari pompa pada alat homogenizer. 

 Susu yang telah dihomogenisasi selanjutnya ditampung dalam  tangki 

penampungan, selanjutnya dialirkan menuju tangki pemanas (pasteurizer) 

melewati plate heat exchanger. Suhu keluaran produk dari alat ini dapat mencapai 

suhu 80 – 85 oC dan mengalir menuju tangki pasteurisasi.  

 

Pasteuriasi 

 Proses pasteuriasi dilakukan umumnya memakai  metode HTST (High 

Temperature Short Time) yaitu dengan pemanasan 80 – 90 oC selama 15 detik. 

Selanjutnya susu akan melewati plate cooler sebelum ditampung ke TANGKI 

penampungan akhir (surge tank). 

 

Pendinginan 

 Proses pendinginan dilakukan untuk menurunkan suhu secara cepat dari 

suhu 80 – 90 oC menjadi 5 – 10 oC sehingga dapat menghambat pertumbuhan 

bakteri pembusuk. Pendinginan biasanya dilakukan dengan melewatkan susu ke 

serangkaian plate cooler. 

 

Pengemasan  

 Dari plate cooler susu dialirkan ke tangki penampungan akhir yang 

biasanya diletakkan pada tempat yang tinggi (sekitar 3 m dari lantai). Susu yang 

akan dikemas dialirkan melalui keran dengan bantuan gaya gravitasi. Susu 

pasteuriasi dapat dikemas dalam kantong plastik, polycap atau dikemas dalam 

tetrapack. Setelah dikemas, susu pasteuriasi disimpan pada suhu 0 – 15 oC. 

 

  

2. SUSU KENTAL MANIS 

 Susu kental manis atau biasa disebut sweetened condensed milk yaitu  

susu segar atau susu evaporasi yang telah dipekatkan dengan menguapkan 

sebagian airnya dan kemudian ditambahkan gula sebagai pengawet. Susu kental 

manis dapat ditambah lemak nabati dan vitamin. Susu kental manis dapat juga 

tidak dari susu segar atau susu evaporasi, yang disebut susu kental manis 

rekonstitusi. Susu kental manis rekonstitusi terbuat dari bahan-bahan seperti susu 

bubuk skim, air, gula, lemak, vitamin dan lain-lain, sehingga diperoleh susu 

dengan kekentalan tertentu. 

 Pada pembuatan susu kental manis yang asli, pertama-tama susu 

dipanaskan pada suhu 65 – 95 oC selama 10 – 15 menit dengan tujuan membantu 

menstabilkan susu selama penyimpanan dan membunih mikroba patogen dan 

enzim. Selanjutnya ditambah gula sampai konsentrasinya mencapai 62.5 %. 

Selanjutnya susu diuapkan dengan evaporator vakum pada tekanan 47 mmHg dan 

suhu 51 oC,  sampai diperoleh kekentalan yang dikehendaki atau total padatan 

telah mencapai 70 – 80 persen bahan kering, dengan kadar air 20 – 30 persen. 

Selanjutnya diisikan ke kaleng dan dilakukan penutupan. 

 Pengolahan SKM di negara kita  banyak dilakukan dengan cara rekonstitusi, 

yaitu mencampurkan kembali bahan-bahan baku SKM hingga membentuk emulsi 

susu yang manis dan cukup kental. Untuk memperoleh susu yang lebih kental, 

dilakukan penguapan sebagian air dari campuran ini . Dengan cara 

rekonstitusi, jumlah air yang harus diuapkan pada pembuatan SKM jauh lebih 

sedikit, karena total padatan yang diperoleh dari hasil penggabungan kembali 

(rekonstitusi) telah mencapai 70.7 – 70.9 persen. 

 Tahap-tahap pembuatan SKM dengan cara rekonstitusi meliputi : 

pancampuran bahan-bahan, penyaringan, homogenisasi, pasteuriasi, pengentalan 

dan pengalengan. sedang  bahan baku yang dipakai  yaitu  air, susu bubuk 

skim, lemak susu atau lemak nabati, gula pasir dan vitamin-vitamin. 

  

3. LEMAK SUSU  

 Sebelum susu sapi dibuat menjadi mentega perlu lebih dahulu lemaknya 

dipisahkan dari komponen utama susu yang lain. Tergantung jenis ternaknya, 

kadar lemak susunya sangat bervariasi yaitu dari 2.5 sampai 5 persen berdasar  

berat basah. Di samping lemak, susu sapi segar merupakan sumber protein sekitar 

3 persen, dan karbohidrat (laktosa) seitar 5 – 6 persen. Susu juga merupakan 

sumber phospor dan kalsium tetapi rendah besinya, di samping vitamin A (dalam 

lemak), serta vitamin-vitamin lainnya.   

 Susu merupakan emulsi lemak dalam air, lemaknya berbentuk droplet, 

atau globula atau butir-butir dengan diameter antara 3 – 6 mikron, bahkan ada 

yang sampai berukuran 10 mikron, tergantung jenis ternaknya. Suatu contoh jenis 

sapi Jersey dan Guernsey menghasilkan globula lebih besar dari sapi Holstein. 

Butir-butir lemak dilapisi oleh emulsifiere, sehingga dapat larut dalam air.  

 Lemak dalam bentuk butir-butir ini , karena bersifat lebih ringan, 

cenderung naik ke permukaan, kejadian ini  disebut “creaming”.  

 Sedang “cream” yang sering disajikan bersama minuman kopi panas, 

yaitu  susu yang tinggi kadar butiran-butiran lemak yang mengapung ke atas. 

Semakin tinggi lemaknya semakin kental susu atau cream ini .  

 Sedang pada susu domba/kambing, butiran-butiran lemak begitu kecil 

sehingga tidak mudah menuju ke permukaan, karena itu susu domba tidak pernah 

mengalami “creaming”.  

 Buttermilk, merupakan cairan yang tertinggal bila cream atau susu dikocok 

(churned) dan telah diambil lemaknya, rasanya dapat manis dan asam. Buttermilk 

sangat mirip dengan susu skim tetapi masih mengandung phospolipida dan protein 

yang berasal dari membran globula lemak.  

 

 

4. MENTEGA  

 Kata mentega selalu berkaitan dengan susu sapi, jadi mentega itu yaitu  

produk minyak hewani, bukan produk nabati. Inilah bedanya mentega dengan 

margarine. Margarine yaitu  produk tiruan mentega yang dibuat dari minyak 

nabati, jadi dapat berasal dari minyak kelapa, kelapa sawit, minyak kedelai, 

jagung dan sebagainya.  

Mentega diperoleh dan dibuat dari cream melalui proses yang disebut 

“churning”. Cream ini  diaduk dan dikocok, sehingga menghancurkan lapisan 

membran yang menyelubungi butir-butir lemak. Terjadilah pemisahan dua phase; 

yaitu fase lemak terdiri dari lemak mentega, dan phase air yang melarutkan 

berbagai zat yang ada  dalam susu. Gumpalan-gumpalan lemak susu 

dipisahkan bagian lain dan dicuci dengan air dingin yang beberapa kali diganti 

dengan air baru untuk menghilangkan susunya. Mentega biasanya diberi garam, 

dan hal ini untuk mengeluarkan air yang tersissa dalam lemak susu (Butter fat).  

 Mentega biasanya mengandung air 15 persen, sebagian dari jumlah tersbut 

dalam bentuk teremulsifikasi.mentega harus memiliki kadar lemak minimal 80 

persen. Tingginya kadar air dalam mentega menyebabkan mentega mudah 

menjadi tengik bila disimpan pada tempat yang hangat. Salah satu asam lemak 

yang dilepaskan yaitu  asam butyrat, berantai pendek, mudah menguap dan 

berbau tidak enak.  

 

Jenis Mentega  

 Berbagai jenis mentega dapat ditemukan di berbagai toko makanan dan 

supermarket. Jenis menteganya sendiri banyak dipengaruhi oleh asam creamnya 

serta variasi pengolahan selama pembuatan mentega ini , sehingga 

menghasilkan jenis mentega yang beraneka ragam dan dapat dikelompokkan 

menjadi sebagai berikut :  

  

1. Mentega dibuat dari Pasteurized Cream atau unpasteurized Cream.  

2. Mentega yang dibuat dari cream yang diperam (ripened cream) atau yang 

tidak diperam.  

3. Mentega yang digarami atau yang tidak digarami. 

4. Mentega yang dibuat dari sweet cream, atau sour-cream.  

5. Mentega yang dibuat yang tidak mengalami penyimpanan (segar) dan yang 

telah mengalami penyimpanan.  

6. Mentega yang dibuat di peternakan (dairy butter) atau di pabrik (creamery-

butter).  

Dari berbagai golongan ini  dapat menghasilkan berbagai butter atau 

mentega yang beranekaragam, misalnya Pasteurized cream dapat berasal dari 

sweet atau sour-cream, demikian juga halnya dengan unpasteurized cream. 

Biasanya mentega dari upasteurized cream memiliki flavor yang tajam, sampai 

berbau tengik.  

Mentega yang digarami biasanya memiliki flavor yang lebih jelas,  lebih 

tajam daripada yang tidak digarami. Penambahan garam yang diberikan biasanya 

sekitar 2 ½ persen. Mentega yang tidak bergaram berasa manis, karena itu sering 

disebut sweet-butter, sweet-butter tidak selalu dibuat dari sweet cream.  

Sweet-cream butter, dibuat dari cream yang mengalami “churning”, 

dengan derajat keasaman tidak melampaui 0.20 persen, dihitung sebagai asam 

laktat. Seang cream yang memiliki derajat keasaman lebih dari 0.20 persen 

disebut cream asam (sour cream).  

Fresh-butter, yaitu  mentega yang tidak mengalami perlakuan 

penyimpanan pada suhu beku, dan umurnya tidak lebih dari 3 minggu. Sedang 

cold-storage butter, yaitu  mentega yang telah mengalami penyimpanan dingin  

pada suhu sekitar 00F (-17.70C). Sebaiknya disimpan antara satu sampai enam 

bulan.  

 

Pengolahan  Mentega   

 Sebagian besar mentega dipasarkan secara luas termasuk yang diekspor 

atau diimpor yaitu  mentega pabrik (creamary butter).  

 Para petani sering bertindak sebagai pengumpul cream yang dijual ke 

pabrik dengan harga berdasar  mutunya yang dicek dari keasaman, flavor, 

aroma, serta adanya benda asing dalam cream.  

 Pada prinsipnya mentega yang bermutu tinggi tidak dapat dibuat dari 

cream yang telah rusak,  busuk dan kotor.  

 Hanya sebagian kecil saja dari mentega dibuat dari sweet cream,  sedang 

sebagian besar mentega dibuat dari cream yang telah diperam. Garam biasanya 

ditambahkan sampai mencapai kadar 2.5 – 3.0 persen. berdasar  standar 

mentega yang ada di pasaran internasional yaitu  kadar lemak minimal 80 persen. 

Sedang sisanya terdiri dari butter milk, air, bahan kering susu. Pemeraman cream 

sering dilakukan untuk menghasilkan flavor yang kuat dengan penambahan   

starter : Streptococcus lactis dan Streptococcus citrivorus serta Streptococcus 

parasiticus. Meskipun flavor mentega terdiri dari banyak komponen tetapi yang 

terpenting yaitu  diacetyl. Diacetyl diproduksi oleh Streptococcus sp. ini  

dari asam sitrat demikian halnya dengan asam laktat dan propionic acid dan asetic 

acid dari laktosa.  

 Mentega merupakan komoditi yang diperlukan untuk meningkatkan 

ketengikan dan kenikmatan makanan, banyak sekali kaitannya dengan konsumsi 

roti, produk yang digoreng atau International cuisin. Dari segi gizi mentega dapat 

dpandang sebagai salah satu sumber vitamin A dan D. Dari data yang dilaporkan 

Buss (1984) seper sepuluh kebutuhan Vit A masyarakat Inggris berasal dari  

mentega. Kandungan vit A dalam bentuk all trns retinal ± 70 μg/100 gr dan             

β-carotens 429 μg/100 gr. Karena beberapa mentega bergaram, kadar garam 

dalam mentega sekitar 1.9 persen atau kadar Na 750 mg/100 gr dengan kadar 

lemak antara 81 – 82 persen, dan dengan kadar air 15.2 – 15.3 persen. Pembuatan 

mentega dapat dilakukan secara “batch” maupun “continue proses”.  

 

Pembuatan secara Batch  

 Lemak susu diperoleh secara konvensional dengan dua cara, yaitu 

pemisahan sentrifugal dari susu segara, sehinga menghasilkan cream dengan kadar 

lemak 25 – 40 persen dan cara yang kedua dengan cara “churning”.  

 

Netralisasi  

 Lemak susu yang dipisahkan di peternakan susu biasaya sudah beberapa 

lama umurnya. Karena itu besar kemungkinannya telah terjadi pembentukan asam 

hasil kerja bakteri yang tumbuh di cairan ini . Untuk itu agar dapat diproses 

cream ini  harus diturunkan keasamannya dengan cara penambahan senyawa 

alkali yang lebih dikenal sebagai bahan “neutralizer”. Bahan ini  yang 

biasanya dipakai  yaitu , natrium bikarbonat, caustic soda, kalsium karbonat, 

kalsium hydrolisida, magnesium oksida.  

 Cream yang belum timbul asam, disebut “sweet cream” karena itu tidak 

perlu dinetralkan, dan mentega yang dibuat dari bahan ini  disebut “sweet 

cream butter”.  

 

Pasteurisasi  

 Tahap beikutnya yaitu  proses pasteurisasi cream, yaitu pemberian panas 

untuk menghancurkan sebagian besar mikroba dan enzim yang ada  dalam  

cream. Tujuannya yaitu  agar aman dikonsumsi manusia, lebih lezat dan tahan 

lama atau awet.  

 Suhu pasteurisasi yang dipakai  biasanya sekitar 160 – 1700F selama   

25 – 30 menit. Dapat pula dilakukan dengan HTST (High Temperature Short 

Time) yaitu memakai  suhu 190 – 2100F selama beberapa sekon saja                

(1 – 15 detik).  

 Setelah dipasteurisasi, cream diinokulasi dengan starter untuk 

mendapatkan flavor dari diacetyl,  seperti ini  sebelumnya.  

 

Pendinginan  

 Setelah dipasteurisasi,  cream didinginkan sampai mencapai suhu 40 – 

500F. dengan pendinginan akan dapat membuat sebagian lemak susu memadat 

sebelum diproses churning dimulai. Di beberapa pabrik pendinginan dilakukan 

semalam lamanya pendinginan dapat mempengaruhi “body & textur” mentega.  

 

Churning  

 Proses churning secara konvensional dilakukan dengan cara pengaduk, 

mengocok, memukul, sampai timbul buih yang berat terjadi, dan dengan 

pengocokan yang lama buih akan kolaps dan akhirnya terbentuk butir-butir 

mentega dan butter milk. Bila churning dapat berlangsung dengan sempurna, 

sebagian besar (99%) lemak susu akan berhasil menjadi mentega, sisanya 1 persen 

lemak masuk ke dalam susu.  

 Alat yang dipakai  untuk proses ini  disebut churn, yaitu sebuah 

panci besar berbentuk drum silinder, atau kerucut,  yang dapat berputar pada 

kecepatan tertentu sehingga terjadinya pengocokan cream yang berada di 

dalamnya.   

 Pada mulanya suatu churn dibuat dari kayu, tetapi kini banyak dijumpai 

terbuat dari aluminium atau stainless-steel. Hanya sekitar 35 – 40 persen dari 

volume churn ditempati cream. Sebelum proses churning dimulai, suhu diatur 

lebih dahulu agar proses selesai dalam waktu 40 – 60 menit, yaitu dengan kadar 

lemak 33 – 38 persen. Bila warna mentega akan diberikan secara artifisial maka 

pemberian zat warna dilakukan sebelum proses churning dimulai.  

 Bila butir-butir lemak telah mencapai ukuran biji kapri atau chesnut, 

proses churning diberhentikan, butter milk ditiriskan dengan mengeluarkan dari 

bagian bawah.  

 

Pencucian, Penggaraman dan Finishing  

 Granula mentega, dicuci dengan sedikit air, untuk buang padatan-padatan 

susu. Baru diikuti dengan pencucian air dalam jumlah yang banyak. Kadang juga 

dilakukan dengan memutar churn dengan kecepatan jauh lebih rendah dari proses 

churning. Baru penambahan garam dilakukan yaitu dengan kadar 1 – 2.5 persen. 

Penambahan air dilakukan untuk mencapai kadar air yang diperlukan,  pemutaran 

churn dilakukan agar garam dan air dapat secara sempurna tersebar ke seluruh 

bagian-bagian mentega dan mentega nampak kering (tak berair).  

 Mentega diambil dari churn, dan dikemas dalam kotak-kotak yang berlapis 

dengan parchment fiber, kapasitas 50 – 65 lb dan disimpan pada suhu 32 – 400F. 

dikirim ke wholesaler untuk retail packing (0.25, 0.50 dan 1 lb).  

   

Pembuatan Mentega Cara Kontinyu  

 Teknik pembuatan secara continue dimulai setelah Perang Dunia II 

terutama setelah ditemukan separator sentrifugal. Pada industri mentega secara 

continuous, proses berlangsung dalam 6 tahap, yaitu :   

1. Konsentrasi cream sampai kadar lemak 80 persen.  

2. Penggantian phase lemak yang lemak dalam serum menjadi serum dalam 

lemak.  

3. Pemekatan kadar lemak dari 80 menjadi 98 persen.  

4. Pasteurisasi dan pendinginan kadar lemak 98 persen.  

5. Pengendalian komposisi  

6. Pengendalian solidifikasi dan kristalisasi mentega.  

Penerimaan berjalan secara konvensional. Tahap pertama, cream dipompa 

melalui berbagai penyaring masuk ke dalam unit yang disebut destabilisasi unit. 

Suhu cream harus berada pada 65 – 750F selama proses destabilisasi. 

Setelah proses destabilisasi, cream dialirkan langsung ke pemanas 

centrifugal sampai suhunya mencapai 125 – 1500F. Cream kemudian dialirkan ke 

dalam separator sentrifugal. Bagian skim yang pekat dan encer dipisahkan untuk 

dikeringkan, sedang creamnya masuk ke proses pasteurisasi dan seterusnya.  

 

Penyimpanan Mentega  

 Lemak yang ada  dalam mentega sangat mudah menyerap rasa dan 

baru serta citarasa dari makanan yang disimpan di dalam lemari es. Karena itu 

mentega harus dikemas dengan baik agar penyerapan bau ini  tidak terjadi, 

yaitu dengan bahan kemas yang kedap udara serta kedap air dan rapat.  

 Pada umumnya, kondisi yang ada  dalam mentega tidak banyak 

memberi peluang bagi pertumbuhan bakteri, meskipun jamur (kapang) masih 

mungkin tumbuh pada mentega. Kadar air mentega sangat rendah dan terbatas 

dalam bentuk droplet.   

 Meskipun demikian beberapa bakteri dapat juga tumbuh bila waktu 

penyimpanan lama dari beberapa minggu sampai beberapa bulan. Bila itu terjadi 

sebagai sumber kontaminasi biasanya berasal ari cream. Namun demikian sangat 

jarang terjadinya keracunan staphloccus pada butter yang telah dilaporkan.  

 Prapenyimpanan mentega banyak pengaruhnya terhadap daya simpan 

mentega akhir. Mentega yang telah disimpan dalam freezer selama 2 – 3 jam akan 

lebih baik dibanding bila lebih dulu disimpan dalam suhu 400F selama beberapa 

hari sebelum disimpan beku.  

 Pada penyimpanan kemasan aluminium foil serta laminasinya ternyata 

memiliki mutu terbaik. Karena aluminium dapat menahan pengaruh sinar serta 

kedap udara dan air. Berbagai ukuran kemasan yaitu ¼ lb, 1 lb print dan 64 lb 

(cubes) serta ready-cut.  

 Berbagai institusi, hotel, restoran dan asrama lebih suka membeli mentega 

dalam bentuk “ready-cut table butter”, yang tersedia dalam bentuk kemasan kecil 

yaitu 40, 60, 72. dan 90 buah per pound.  

 Suhu penyimpanan sebaiknya serendah mungkin, yang pasti harus tidak 

boleh lebih tinggi dari –40F bila waktu simpan yang diperlukan beberapa bulan. 

Pada penyimpanan jangka yang lama dianjurkan untuk menyimpan pada suhu –

200F (satu tahun atau lebih). Bila waktu penyimpanan yang diperlukan hanya 

sekitar 2 – 3 minggu suhu penyimpanan cukup 400F. 

 

  

5. KARAMEL SUSU 

Karamel susu atau hoppies yaitu  sejenis permen yang dibuat dengan 

memakai  bahan dasar susu. Susu yang dipakai  untuk pembuatan hoppies 

atau karamel tidak memerlukan persyaratan mutu yang tinggi. Oleh karena itu, 

pembuatan karamel merupakan suatu alternatif pengolahan untuk memanfaatkan 

susu yang bermutu rendah yang sudah tidak dapat dipakai  lagi untuk 

pembuatan berbagai jenis produk olahan susu lainnya. 

Pada prinsipnya, pembuatan karamel susu berdasar  reaksi karamelisasi, 

yaitu reaksi kompleks yang menyebabkan terjadinya perubahan bentuk dari gula 

menjadi bentuk amorf yang berwarna coklat gelap. Larutan guladalam susu 

dipanaskan sampai seluruh air menguap sehingga cairan yang ada pada akhirnya 

yaitu  cairan gula yang lebur. Apabila keadaan ini telah tercapai dan terus 

dipanaskan sampai suhunya melampaui titik leburnya, maka mulailah terjadi 

bentuk amorf yang berwarna coklat tua. 

Gula susu yang berbeda dalam reaksi karamelisasi pada pembuatan 

karamel susu yaitu  laktosa yang terdiri dari satu molekul glukosa dan satu 

molekul galaktosa. Gula pasir atau sukrosa yang ditambahkan ke dalam susu pada 

pembuatan karamel susu juga mengalami reaksi karamelisasi. 

Preses Pembuatan Karamel 

1. Panaskan 5 liter susu segar dalam panci di atas kompor secara perlahan-lahan 

sampai volumenya tinggal setengah dari volume awalnya. 

2. Dinginkan susu ini  sampai mencapai suhu kamar, lalu ditambahkan ke 

dalamnya 1 kg gula pasir, 10 gr margarin atau mentega dan 1 sendok teh cuka 

makan dan aduk sampai homogen. 

3. Tuangkan adonan susu ini  ke dalam wajan dan panaskan kembali ke atas 

kompor  sampai matang.  

4. Lakukan pengujian kematangan sebagai berikut : (a). Ambil sedikit adonan 

yang sedang dimasak pada dengan sendok makan, lalu tuangkan ke dalam 

gelas berisi air dingin, dan (2). Apabila adonan membentuk bulatan atau 

gumpalan utuh dalam air dingin dan tetap utuh setelah dikeluarkan dari air 

dingin, maka adonan ini  dianggap sudah matang, yaitu tahap firm ball 

stage sudah tercapai. 

5. Setelah adonan dianggap matang, tambahkan setengah sendok teh vanila atau 

asen lainnya dan diaduk sampai homogen. 

6. Tuangkan adonan ini  ke dalam cetakan dan diamkan sampai dingin dan 

mengeras. 

7. Setelah mengeras potong dengan pisau sesuai dengan bentuk dan ukuran  

yang didinginkan, lalu kemas dengan kertas minyak. 

 

 

6. YOGHURT 

 

Yogurt merupakan produk hasil fermentasi susu. Starter atau bibit yang 

dipakai  yaitu  bakteri asam laktat Lactobacillus bulgarius dan Strepto-coccus 

thermophillus dengan perbandingan yang sama. Karena dipakai  bakteri laktat 

yang mampu memproduksi asam laktat, maka produk yang terbentuk berupa susu 

yang mengumpal dengan rasa asam dengan mempunyai cita-rasa yang khas. 

berdasar  komposisinya, yoghurt dibedakan menjadi yoghurt berkadar 

lemak penuh dengan kandungan lemak di atas 3.0 persen, yoghurt berkadar lemak 

medium kandungan lemaknya 0.5 sampai 3.0 persen, dan yoghurt berkadar lemak 

rendah bila kandungan lemaknya kurang dari 0.5 persen. 

berdasar  metode pembuatannya, jenis yogurt dibagi menjadi dua, yaitu 

set yoghurt dan stirred yoghurt. Bila fermentasi atau inkubasi susu dilakukan 

dalam kemasan kecil sehingga gumpalan susu yang terbentuk tetap utuh dan tidak 

berubah sewaktu akan didinginkan atau sampai siap konsumsi, maka produk  

ini  disebut set yoghurt. sedang  stirred yoghurt fermentasinya dalam 

wadah yang benar setelah fermentasi selesai, produk dikemas dalam kemasan 

kecil, sehingga gumpalan susu dapat berubah atau pecah sebelum pengemasan dan 

pendinginan selesai. 

berdasar  cita rasanya yoghurt dibedakan menjadi yoghurt alami atau 

sederhana dan yoghurt buah. Yoghurt alami yaitu yoghurt yang tidak ditambah 

cita-rasa/flavor yang lain sehingga asamnya tajam. sedang  yoghurt buah 

yaitu  yoghurt yang ditambah dengan komponen cita-rasa yang lain seperti buah-

buahan, sari buah, flavor dintetik dan zat pewarna. Jenis-jenis yoghurt yang telah 

dimodifikasi atau diolah lebih lanjut setelah fermentasi diantaranya : Yoghurt 

pasteurisasi untuk memperpanjang masa simpannya. Yoghurt beku yaitu yoghurt 

yang dibekukan dan simpan pada suhu beku, biasanya pada suhu –88,2 oC. 

Yoghurt konsentrat (pekat) yaitu yoghurt yang dipekatkan sampai kandungan 

bahan keringnya 24 persen. sedang  yoghurt kering (powder) yaitu  yoghurt 

pekat yang dikeringkan sampai kandungan bahan keringnya mencapai 90 – 94 

persen. 

 

Bahan yang diperlukan 

 Bahan-bahan yang dipakai  dalam pembuatan yoghurt terdiri dari bahan 

baku bahan tambahan dan bibit atau starter. Bahan baku berupa susu murni, susu 

skim, susu bubuk tanpa lemak, susu yang sebagian lemaknya telah dihilangkan 

atau campuran dari beberapa jenis susu ini . Sebelum dipakai  biasanya 

susu ini dipekatkan dulu dengan cara pemanasan atau ditambahkan susu skim 

bubuk. 

 Bahan tambahan yang umum dipakai  dalam pembuatan yoghurt yaitu  

: pemanis, penstabil dan buah-buahan atau sari buah sebagai sumber cita rasa. 

Sebagai pemanis biasa dipakai  sukrosa atau gula pasir, madu ataupun sirup. 

Jumlah gula dalam yoghurt akan menentukan  jumlah asam cita-rasa yang 

diproduksi oleh bibit yoghurt. Gula yang ditambahkan bisa dalam bentuk kristal 

bubuk ataupun sirup. Umumnya gula yang ditambahkan ke dalam yoghurt pada 

awal fermentasi sekitar 5 – 7 persen. 

  Bahan penstabil dipakai  dalam yoghurt untuk memperlembut tekstur, 

membuat struktur gel yang mengurangi atau mencegah pemisahan cairan dari 

yoghurt. Bahan penstabil yang sesuai untuk yoghurt yaitu  gelatin, karboksi metil 

selulosa (CMC) alginat dan karagenan. sedang  jumlah pemakaian nya 0.5 -  

0.7 persen. 

 Buah-buahan yang dipakai  untuk menambah cita-rasa yoghurt 

tergantung kesukaan konsumen. Jumlah penam-bahan buah biasanya sebanyak 20 

– 25 persen dari total produk. Buah-buahan yang sering dipakai  yaitu  buah 

yang telah diawetkan, buah yang telah dibekukan dan sari buah. 

 

Persiapan bibit atau starter yoghurt 

 Bibit atau starter yoghurt terdiri dari biakan bakteri Lactobacillus 

bulgaricus dan biakan Streptococcus thermophillus. Pembuatan bibit untuk 

yoghurt dilakukan secara bertahap. Pertama Lactobacillus bulgaricus maupun 

Streptococcus thermophillus masing-masing dibiakkan dalam susu secara terpisah. 

Kemudian biakkan dicampur bila telah siap dipakai . Bila inokulum 

dicampurkan langsung, salah satu bibit sering dominan dan menekan pertumbuhan 

bibit lainnya. Untuk mempertahankan atau persediaan bibit masing-masing biakan 

atau kultur ini  harus dipindahkan ke dalam medium (susu) yang baru secara 

berkala atau kultur ini  dicampur susu dan dikeringbekukan. Perbandingan 

yang sesuai antara jumlah Lactobacillus bulgaricus dan Streptococcus thermo-

phillus yang sesuai yaitu  1 : 1. 

 

Cara Pembuatan Yoghurt 

 Pembuatan yoghurt terdiri dari persiapan bahan, persiapan bibit, inokulasi 

susu dengan bibit, fermentasi (inkubasi) dan pendinginan. Persiapan bahan 

meliputi pengaturan kandungan bahan padatan atau bahan kering, kandungan  

lemak susu dan pasteurisasi. Kandungan bahan kering, yaitu bahan kering susu 

maupun, pemanis tidak lebih dari 22 persen karena konsentrasi lebih tinggi akan 

menghambat aktivitas bibit. 

 Pemanas susu sebelum ditambahkan bibit  merupakan suatu tahap yang 

penting. Pemanasan biasanya dilakukan pada suhu 850C selama 30 menit. Tujuan 

pemanasan ini  diantaranya : agar tidak banyak bakteri yang hidup dalam 

susu yang dapat mengalahkan bibit dan untuk menguapan sebagian air agar 

kekentalan media (susu) sesuai untuk pertumbuhan bibit laktat. Dalam persiapan 

pembuatan kultur bibit, mikroorganisme Lactobacillus bulgarius dan 

Streptococcus thermophilus masing-masing dibiakan dalam susu atau whey secara 

terpisah. Agar aktivitas mikroorganisme ini  tidak menurun sebaliknya 

kultur/bibit dipindahkan secara berkala ke dalam medium (susu) yang baru. Pada 

umumnya kultur cair seperti ini mengandung 109 mikroba ml kultur starter. 

 Untuk menghindari kehilangan sifat-sifat khusus kultur akibat transfer 

berulang-ulang, kultur dikeringbekukan atau diliofilisasi. Kultur kering ini perlu 

diaktifkan dan pencairan kembali sebelum dipakai . Jumlah pemberian bibit 

campuran (yaitu L. bulgaricus dan Streptococcus thermophilus dalam jumlah yang 

sama)  biasanya 2 – 5 persen dari susu yang dipakai . 

 Inkubasi atau fermentasi yoghurt bisa dilakukan pada suhu kamar ataupun 

suhu 45 oC. Pada suhu lebih tinggi aktivitas mikroba akan semakin tinggi juga. 

Inkubasi pada suhu ruang memerlukan waktu 14 sampai 16 jam, pada suhu 32 0C 

waktu sekitar 11 jam, sedang  inkubasi pada suhu 450C hanya memerlukan 

waktu sekitar 4 – 6 jam. Selama inkubasi, susu mengalami penggumpalan yang 

disebabkan menurunnya pH akibat aktivitas kultur/bibit. Pada mulanya 

Steptococus menyebabkan penurunan pH hingga 5.0 sampai 5.5 selanjutnya pH 

menurun hingga 3.8 sampai 4.5 karena aktivitas Lactobacillus. Selain itu selama 

inkubasi akan terbentuk flavor karena terbentuknya asam laktat, asetaldehid, asam 

asetat dan diasetil. 

 

  

 Selama penyimpanan setelah inkubasi, yoghurt mengalami penurunan pH 

secara terus menerus. Penyimpanan pada suhu yang lebih tinggi akan 

mempercepat penurunan pH yoghurt. Yoghurt yang disimpan pada suhu 40C 

selama 6 hari akan mengalami penurunan pH dari 4.68 menjadi 4.15. Oleh karena 

itu untuk mempertahankan cita rasa dan aroma, yoghurt hasil fermentasi harus 

disimpan ditempat dingin atau dapat juga dipasteurisasi untuk menghambat 

aktivitas mikroba dalam yoghurt. 

 

Proses pembuatan yoghurt dapat diuraikan sebagai berikut : 

1. Siapkan wadah gelas, kemudian diisi dengan ½ liter susu segar gula 40 gram, 

sirup jagung 10 gram dan gelatin 1 gram. Masing-masing bahan diaduk 

sampai larutan merata (homogen). 

2. Susu dipanaskan di atas api kecil sambil diaduk sampai volumenya kira-kira 

tinggal 2/3 dari volumenya dari volume sebelum pemanasan. Kemudian 

dinginkan hingga suhu 450C.  

3. Siapkan bibit/starter Lactobacillus bulgaricus dan Streptococcus 

thermophilus. 

4. Setelah susu mencapai suhu 450, pipet dan inokulasikan 10 ml starter 

Lactobacillus dan 10 m1 Streptococcus ke dalam susu yang telah disiapkan. 

5. Inkubasikan dalam inkubator dengan suhu 450C selama 4 sampai 5 jam, atau 

pada suhu kamar selama 12 - 16 jam. 

6. Yogurt hasil inkubasi didinginkan hingga mencapai suhu ruang. 

7. Penilaian mutu yoghurt dapat meliputi pH, tekstur, rasa dan bau dengan cara 

dicicip dan dibau. 

 

  

7. KEJU 

 

         Keju merupakan suatu produk pangan yang berasal dari hasil penggumpulan 

(koagulasi) dari protein susu. Susu yang dipakai  untuk pembuatan keju yaitu  

susu sapi walaupun susu dari hewan lainnya juga dapat dipakai . Selain dari kasein 

(protein susu), komponen susu lainnya seperti lemak, mineral-mineral dan vitamin-

vitamin yang larut dalam lemak juga terbawa dalam gumpalan partikel-partikel 

kasein. sedang  komponen-komponen susu yang larut dalam air tertinggal dalam 

larutan sisa dari hasil penggumpalan kasein yang disebut whey. 

 Dewasa ini, ada  berbagai macam dan jenis keju, tergantung dimana 

keju ini  dibuat, jenis susu yang dipakai , metode pembuatannya dan 

perlakuan yang dipakai  untuk proses pemeraman atau pematangannya.  Cara 

yang umum dipakai  untuk mengklasifikasi keju yaitu  berdasar  tekstur dan 

proses pemeraman atau pematangan. berdasar  teksturnya keju diklasifikasi 

menjadi : 

1. Keju sangat keras 

2. Keju keras 

3. Keju semi keras dan 

4. Keju lunak 

berdasar  pemaramannya, keju diklasifikasi menjadi : 

(a) Keju peram dan  

(b) Keju tanpa peram 

Dan keju peram masih dapat diklasifikasikan menjadi : 

(a) Diperam dengan bakteri dan  

(b) Diperam dengan kapang 

Berikut ini yaitu  contoh sifat-sifat keju berdasar  klasifikasi ini  : 

1. Keju sangat keras 

Keju jenis ini mempunyai kadar air 30 – 35%, dan diperam dengan bakteri. 

Contohnya : “Romano cheese”, “Parmesan cheese” dan “Asiago cheese”.  

2. Keju keras 

Keju jenis ini mempunyai kadar air lebih dari 35% sampai dengan 40% dan 

diperam dengan bakteri. Keju jenis ini diklasifikasi menjadi : 

1) Tekstur tertutup, contohnya : “Cheddar cheese”, “Edam cheese”, “Gouda 

cheese”, “Colby cheese” dan Provolone cheese” dan  

2) Tekstur terbuka (mempunyai lobang-lobang pada permukaan-nya), contohnya 

: “Swiss cheese”, Ementalerc-cheese” dan “Gruyere cheese”. 

3. Keju semi keras 

Keju jenis ini mempunyai kadar air lebih dari 40% sampai dengan 45% dan 

diklasifikasi menjadi : 

1) Diperam dengan bakteri, contohnya : “Brick cheese” dan 

2) Diperam dengan kapang, contohnya : “Roquefort cheese”. 

4. Keju lunak 

      Keju jenis ini diklasifikasi menjadi : Keju peram dan keju tanpa peram. 

Keju lunak peram mempunyai kadar air lebih dari 45% sampai 52% terdiri 

dari yang diperam dengan kapang : “Camembert cheese” dan yang diperam 

dengan bakteri : “Limburger cheese”. Keju lunak tanpa peram dengan kadar 

air lebih dari 52% sampai dengan 80% terdiri dari yang berkadar lemak 

rendah : “Cottage cheese” (0.5 – 1.5%) dan berkadar lemak tinggi : “Cream 

cheese’ (30% lemak) dan “Neufchalel cheese” (29% lemak). 

  Oleh karena ada  berbagai jenis keju, tahap-tahap terperinci dalam 

proses pembuatannya juga sangat bervariasi. Tahap-tahap yang terpenting dalam 

proses pembuatan keju yaitu  : pasteurisasi, pengumpalan kasein (protein susu), 

pemisahan “whey”, pencetakan dan pengepresan serta pemeraman. 

  Pemeraman keju dilakukan dengan cara menyimpan keju yang telah 

dilapisi dengan parafin pada suhu 2 – 150C dengan kelembaban  sekitar 70 – 80% 

selama 3 – 7 bulan. Semakin lama pemeraman dilakukan, semakin kuat cita rasa 

keju yang terbentuk.  

  Selama pemeraman, keju, mengalami berbagai perubahan yang 

membentuk cita rasa, aroma dan teksturnya yang spesifik. Perubahan-perubahan 

yang terjadi yaitu  sebagai berikut : 

• Pemecahan protein menjadi peptida dan asam amino yang lebih sederhana. 

• Pemecahan lemak menjadi berbagai asam lemak yang mudah menguap seperti 

asam asetat dan propionat. 

• Pemecahan laktosa, sitrat dan senyawa-senyawa organik lainnya menjadi 

bermacam-macam asam, ester, alkohol dan senyawa-senyawa  pembentuk 

flavor dan aroma yang mudah menguap. 

 Perubahan-perubahan ini  disebabkan oleh bermacam-macam enzim 

yang ada dalam renin, dan oleh bakteri, jamur dan ragi yang tumbuh di dalam atau 

pada keju. Perlakuan yang diberikan pada tahu susu sebelum pematangan dan 

lingkungan di mana keju itu disimpan, mempengaruhi atau menentukan 

perubahan-perubahan yang terjadi. Beberapa jenis keju diinokulasikan dengan 

jasad renik penghasil cita-rasa dan sifat-sifat lain yang khas. Misalnya keju 

“roquefort” ditambahkan spora jamur Penicillium roquefortii dan waktu untuk 

150C. Dalam pemeraman keju “camembert” dipakai  Penicillium camembertii 

dan dalam pemeraman keju “Swiss” diperlukan bakteri Propionibacterium 

shermanii.  

 

 Tahap-tahap pembuatan keju dapat diuraikan sebagai berikut : 

1. Pembuatan Starter Keju 

a. Masukkan 500 ml susu segar ke dalam gelas erlenmeyer, lalu tutup rapat 

dengan kapas. 

b. Panaskan susu segar ini  pada butir a dalam autoklav pada suhu 250F 

(1210C) selama 15 menit. 

c. Setelah dingin, tambahkan bubuk kultur starter keju sebanyak 0.1% berat per 

volume, lalu aduk dengan pengaduk steril sampai homogen. 

d. Peram di dalam inkubator pada suhu 300C selama 24 sampai dengan 48 jam. 

e. Starter yang dihasilkan pada butir disebut starter induk yang harus disimpan 

dalam lemari pendingin pada suhu 300C. 

f. Apabila akan dipakai  untuk pembuatan keju, starter induk pada butir e 

harus diperbaharui kembali dengan cara yang sama seperti cara pembuatan 

starter induk. 

 

2. Penentuan Dossis Rennet 

a. Apabila rennet berbentuk tepung atau tablet, larutkan dalam sejumlah tertentu 

air destilata sesuai petunjuk. 

b. Apabila rennet berbentuk cairan, lakukan pengenceran seperlunya. 

c. Masukkan 100 ml susu segar ke dalam gelas piala. 

d. Panaskan dengan api kecil sampai mencapai suhu 350C. 

e. Tambahkan 1 ml larutan rennet yang telah dipersiapkan ke dalamnya dan 

segera aduk sampai homogen. Catat waktunya pada waktu menambahkan 

larutan rennet. 

f. Gerakkan sepotong lidi halus secara perlahan-lahan dalam susu ini  pada 

butir e. 

g. Rasakan adanya kesukaran untuk menggerakan lidi dalam susu ini  pada 

butir e. Catat waktunya pertama sekali terasa kesukaran menggerakan lidi 

dalam susu ini  pada butir e. 

h. Hitung lamanya antara waktu penambahan larutan rennet ke dalam susu 

dengan waktu pertama sekali terasa kesukaran menggerakan lidi dalam susu. 

i. Hitung dosis penambahan larutan rennet sebagai berikut : 

 

       100 x 10 

X = -----------,  yang mana : 

           1 x t 

 100  :  yaitu  100 ml volume susu yang dipakai  untuk pengujian 

 26 

       10  :  yaitu  10 menit lamanya waktu yang diharapkan terjadinya koagulasi 

atau pengumpalan protein kasein susu 

 1  :  yaitu  1 ml  larutan rennet yang ditambahkan ke dalam 100 ml susu 

untuk pengujian 

 t  :  yaitu  lamanya antara waktu penambahan rennet ke dalam susu 

dengan waktu pertama kali terasa kesukaran menggerakan lidi dalam 

susu. 

 X  :  volume susu (ml) yang dapat dikoagulasikan atau digumpalkan oleh 1 

ml larutan rennet dalam waktu 10 menit. 

 

3. Cara Pembuatan Keju 

a. Pasteurisasi susu yang akan diolah pada butir 2 pada suhu 650C selama 15 

menit. 

b. Setelah pasteurisasi, dinginkan susu sampai suhu 400C. 

c. Tambahkan kalsium khlorida 25% sebanyak 2 ml per liter susu yang diolah 

dan larutan rennet sebanyak sesuai dengan hasil pengujian aktivitas rennet, 

aduk dan diamkan sampai terjadi koagulasi atau pengumpalan tahu susu 

dengan sempurna dalam waktu 10 – 15 menit. 

d. Potong-potong gumpalan tahu susu yang terbentuk dengan ukuran 3 x 3 cm 

dengan memakai  pisau tangkai panjang. 

e. Panaskan kembali tahu susu yang telah dipotong-potong pada butir 5 sampai 

temperatur 400C agar cairan “whey” keluar sempurna. 

f. Persiapkan alat cetakan keju, lapisi dasarnya dengan kain penyaring, lalu 

tuangkan tahu susu ke dalam cetakan keju ini  dan kemudian tekan selama 

2 – 3 jam sampai sisa “whey”nya keluar seperti cetakan keju yang dipakai . 

g. Rendam keju yang terbentuk dalam larutan garam jenuh selama 12 – 24 jam. 

h. Setelah perendaman dalam larutan garam, angin-anginkan pada suhu kamar 

selama 1 hari sampai terbentuk kulit pada permukaannya.  

i. Setelah kulit terbentuk, lapisi permukaannya dengan parafin dengan cara 

mencelupkan ke dalam parafin cair. 

j. Setelah dilapisi parafin, peram keju ini  pada suhu 3 – 40C, kelembaban 

relatif 70% - 75% selama 6 – cita rasa keju yang spesifik.