Rabu, 12 Februari 2025

ternak kambing 9






Kambing Senduro merupakan 

keturunan yang diduga berasal dari hasil 

persilangan antara kambing Etawa, Kacang, 

dan Jawarandu yang sudah berlangsung 

sejak 100 tahun lamanya. Kambing ini telah 

diresmikan sebagai kambing breed lokal 

negara kita  berdasarkan Keputusan Menteri 

Pertanian RI Nomor: 

1055/Kpts/SR.120/10/2014. Kambing 

Peranakan Etawa merupakan kambing hasil 

persilangan antara kambing Etawa dan 

Kacang. Kambing ini telah diresmikan 

sebagai kambing breed lokal negara kita  

berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian 

RI Nomor: 695/Kpts/PD.410/2/2013.  

Umumnya, karakteristik fisik pada 

kambing Senduro mirip dengan kambing 

Peranakan Etawa, sebab  indukan kambing 

Senduro diseleksi dari kambing PE oleh 

peternak dan breeder selama bertahun-tahun 

Kedua breed ini 

termasuk kedalam kekayaan sumber daya 

genetik ternak lokal negara kita . Penting 

untuk dilakukan upaya pelestarian sumber 

daya genetik untuk mempertahankan hingga 

meningkatkan kualitas fenotipik dan genotip 

secara terus menerus agar kedua breed ini 

dapat terus bertahan hidup  Kambing Senduro dan PE 

merupakan kambing dwiguna, dimana hasil 

karkas dan susu-nya memiliki nilai yang 

tinggi jika dibandingkan dengan kambing 

breed lain. Persen karkas untuk kambing 

bernilai 47,15% ,Bobot 

kambing Senduro dapat mencapai 120 kg 

dan produksi susu per-hari berkisar antara 

0,8–1,8 liter/ekor/hari. sedang  bobot 

kambing Peranakan Etawa dapat mencapai 

90 kg dengan produksi susu per-hari 

berkisar antara 1-3 liter/ekor/hari. Kedua 

kambing ini memiliki sifat kelahiran profilik 

dan dalam waktu 2 tahun dapat beranak 

hingga tiga kali sehingga memungkinkan 

populasi ternak kambing Senduro dan PE 

dapat tumbuh cepat, dan dapat memenuhi 

kebutuhan pangan masyarakat, baik susu 

maupun dagingnya 

Kambing Senduro dan PE yang berada 

di Balai Besar Inseminasi Buatan, Singosari, 

Jawa Timur digunakan untuk program 

breeding terutama untuk pembuatan semen 

beku yang digunakan untuk inseminasi 

buatan. Identifikasi di bidang biologi 

Variasi Genetik Kambing Senduro dan 

Peranakan Etawa (PE) 

molekuler dapat digunakan untuk 

menseleksi pejantan unggul yang kemudian 

semennya digunakan untuk pembuatan 

semen beku. Kualitas dari semen beku 

sangat berperan penting pada program 

breeding ternak ,

Mitokondrial DNA (mtDNA) dapat 

digunakan untuk identifikasi molekuler. 

mtDNA memiliki laju mutasi yang lebih 

tinggi dari DNA nukleus, memiliki daerah 

conserved dan less conserved serta mtDNA 

diturunkan secara maternal tanpa 

rekombinan ,

Area mtDNA yang sering digunakan 

untuk penelitian filogenetik untuk 

mengetahui variasi genetik yaitu 

Displacement-loop dan Cytochrome-b. Pada 

penelitian ini digunakan Cytochrome-b 

sebab  gen ini mampu mendeteksi haplotip 

yang berbeda pada mitokondria dan 

memiliki laju mutasi yang sedang, sehingga 

gen Cytochrome-b lebih conserved jika 

dibandingkan dengan Displacement loop 

(Pakpahan, et al., 2016). Berdasarkan latar 

belakang yang telah dijelaskan diatas, 

penelitian ini dilakukan untuk mengetahui 

apakah ada  variasi genetik antara 

kambing Senduro dan Perananakan Etawa 

berdasarkan sekuens nukleutida gen 

Cytochrome-b menggunakan penyejajaran 

pairwise distance. 

 

 

Tabel 1. Informasi Sampel Kambing Senduro dan Peranakan Etawa 

No Spesies Nama Jenis Kelamin Umur Asal Kode 

1 PE Fikra Jantan 8 tahun Jawa Timur PE1 

2 PE Gumitir Jantan 3 tahun Jawa Timur PE2 

3 PE Avanto Jantan 8 tahun Jawa Timur PE3 

4 Senduro Zendo Jantan 6 tahun Lumajang SE1 

5 Senduro Luzen Jantan 4 tahun Lumajang SE2 

6 Senduro Elpedepe Jantan 4 tahun Lumajang SE3 

7 Senduro Gameto Jantan 5 tahun Lumajang SE4 

8 Senduro Bagaz Jantan 5 tahun Lumajang SE5 

9 Senduro Rispro Jantan 5 tahun Lumajang SE6 

Alat dan Bahan 

Peralatan yang digunakan dalam 

penelitian yaitu, vacum needle, needle 

holder, glove, masker, dry ice, gunting, ice 

box, kertas label, vacutainer EDTA, 

microsentrifuge tube 1,5 ml, mikropipet, 

yellow tip, white tip, micro PCR tube 200 µl, 

sentrifuge, mesin vortex, incubator, freezer, 

timbangan analitik digital, erlenmeyer, 

mesin sequencing, thermocycler, komputer, 

microwave, AE-Nano200 Nucleic Acid 

Analyzer®, Bio Step UV-Transilluminator 

DH-40, Mupid-Exu Electrophoresis, tisu, 

dan kamera.Bahan yang digunakan dalam 

penelitian yaitu sampel darah kambing PE 

dan kambing Senduro, Blood DNA 

Preparation Kit by Jena Bioscience, 

Nuclease Free Water (NFW), Pecgreen, 

TBE (Tris-Borac Acid-EDTA), primer 

Forward (Cytb_F) 5’GCAATTGCCAT 

AGTCCACCT’3 dan Reverse (Cytb_R) 

5’GGATTTGCCGGGGTATAGTT’3, 

marker DNA 100 bp dan 1 kb, 2x Taq 

MasterMix 14 µl, agarosa 1% dan 2%, 

etanol absolut, etanol 70% dan alumunium 

foil. 

Metode Pengambilan sampel whole blood 

Pengambilan darah melalui vena 

jugularis dengan menggunakan vacum 

needle dan needle holder. Pengambilan 

Variasi Genetik Kambing Senduro dan 

Peranakan Etawa (PE) 

darah pada vena jugularis dapat pula 

menggunakan spuit ,

Hewan terlebih dahulu di restraint agar 

memudahkan proses pengambilan darah. 

Vena jugularis dibendung dan terlebih 

dahulu diberikan desinfeksi, lalu darah 

diambil. Setelah pengambilan darah selesai, 

pada situs pengambilan darah diberikan 

desinfektan kembali sambil di tekan untuk 

menghentikan darah. Darah hasil koleksi 

disimpan di tabung vacutainer EDTA.  

Isolasi DNA 

Proses isolasi DNA pada sampel darah 

kambing PE dan kambing Senduro 

menggunakan Blood DNA Preparation Kit 

by Jena Bioscience. Dilakukan uji kuantitas 

dengan mesin AE-Nano200 Nucleic Acid 

Analyzer® untuk mengetahui konsentrasi 

dan kemurnian isolat DNA. DdH2O 

diteteskan diatas pedestal submicroliter cell 

sebanyak 1 µl. Panjang gelombang yang 

digunakan adalah 260 nm dan 280 nm. 

Sebanyak 1 µl sampel ditetekan diatas 

pedestal submicroliter yang telah 

dibersihkan. Penutup ditutup diatas sampel 

yang telah diteteskan dan ditekan tombol 

sample, setelah itu ditunggu hingga hasil uji 

keluar di layar monitor ,

Dilakukan uji kualitas DNA untuk 

mengetahui ukuran whole genom dari 

sampel yang digunakan menggunakan 

elektroforesis. Marker yang digunakan yaitu 

DNA marker berukuran 1 kb. Diatur nilai 

tegangan 400 volt, arus listrik 100mA dan 

waktu 35 menit. Kemudian dilakukan proses 

running elektroforesis. Setelah proses 

running selesai, dibaca hasil elektroforesis 

dengan UV-transiluminator gel doc 

(Fatchiyah, 2008). Primer yang digunakan 

disesuaikan dengan Conserved Domain dari 

Cytochrome-b Capra hircus. Primer 

diperoleh dari database  NCBI Genebank 

Capra hircus dengan accession number 

D84201.1. (Cytb_F) 5’GCAATTGCCA 

TAGTCCACCT’3 (length: 20 bp; Tm : 

59,96 ℃;GC : 55,0%) dan Reverse 

(Cytb_R) 5’GGATTTGCCGGGGTATAG 

TT’3 (length: 20 bp; Tm : 59,96 ℃; GC : 

55,00%). Panjang produk dari primer ini 

yaitu 434 bp.  

Proses Polymerase Chain Reaction 

Komposisi Cocktail PCR yang 

digunakan yaitu primer forward 1 µl, primer 

reverse 1 µl, 2x Taq MasterMix 14 µl, 

sampel DNA 2 µl, dan nuclease free water 

14 µl. Amplifikasi PCR terdiri dari lima 

tahap, yaitu pra-denaturasi waktu 4 menit 

dengan suhu 94 ℃, denaturasi waktu 30 

detik dengan suhu 94 ℃, annealing waktu 

30 detik dengan suhu 57,5 ℃, ekstensi 

waktu 1 menit dengan suhu 72℃, dan post 

ekstensi waktu 7 menit dengan suhu 72℃. 

Siklus akan berulang sebanyak 35 

 Hasil amplifikasi 

dilakukan elektroforesis untuk mengetahui 

apakah ukuran sampel sudah sesuai target. 

Konsentrasi dari gel agarosa yang 

digunakan yaitu 2%. Proses sekuensing 

DNA dilakukan dengan metode Sanger 

sequencing. Sekuensing dilakukan untuk 

melihat susunan basa nukleutida dari 

sampel. Analisa data dilakukan dengan 

menggunakan software MEGA. 

 

Hasil Isolasi DNA Kambing Senduro dan 

Peranakan Etawa 

Hasil isolasi DNA yang diperoleh 

merupakan DNA total. Isolat DNA yang 

akan digunakan untuk amplifikasi DNA 

menggunakan PCR terlebih dahulu dilakuan 

uji kualitatif dan kuantitatif dan DNA. 

Hasil uji kualitatif DNA elektroforesis 

yang baik ditunjukkan dengan pita DNA 

yang tebal dan tampak sedikit atau tidak ada 

smear jika divisualisasikan di atas sinar UV 

Pada hasil uji kualitatif 

(Gambar 1) terlihat bahwa band DNA 

hanya keluar pada sumuran kedua (sampel 

SE1), sumuran kedelapan (sampel PE1), dan 

sumuran kesepuluh (PE3).  

Isolat DNA yang tetap berada di 

dalam sumuran dapat disebabkan sebab  

sumuran tidak terbentuk dengan sempurna, 

pemberian kuantitas isolat DNA yang 

berlebih, kontaminasi isolat DNA, dan 

ada nya DNA binding proteins yang 

Variasi Genetik Kambing Senduro dan 

Peranakan Etawa (PE) 

dapat mempegaruhi migrasi DNA 

(Fermentas, 2015). Sumuran kedua, 

kedelapan, dan kesepuluh memiliki panjang 

base pairs 12,0 kb sehingga isolat DNA 

perlu dilakukan uji kuantitatif untuk 

mengetahui konsentrasi dan kemurnian 

isolat DNA. Pengukuran kuantitas DNA 

dilakukan dengan metode spektrofotometri 

menggunakan spektrofotometer pada 

panjang gelombang (λ) 260 dan 280 nm. 

Kemurnian DNA ditentukan dengan 

menghitung rasio absorbansi pada A260 

dengan A280 (Ratio A260:A280). Molekul 

DNA dikatakan murni jika rasio 

absorbansinya berkisar antara 1,8 – 2,0. 

Nilai kemurnian dibawah 1,8 dapat 

disebabkan sebab  kontaminasi protein, 

fenol, dan senyawa lain. Nilai kemurnian 

diatas 2,0 dapat disebabkan sebab  

kontaminasi RNA ,

Amplifikasi Gen Cyt-b Dengan Metode 

PCR 

Penentuan primer yang digunakan 

disesuaikan dengan Conserved Domain dari 

Cytochrome-b Capra hircus. Conserved 

domain gen ini terletak di basa ke-1 hingga 

basa ke-379. Primer forward dan reverse 

yang digunakan dalam proses PCR didesain 

melalui NCBI dengan database NCBI 

Genebank Capra hircus : D84201.1. 

(Cytb_F) 5’GCAATTGCCAT 

AGTCCACCT’3 (length: 20 bp; Tm : 59,96 

℃; GC : 55,0%) dan Reverse (Cytb_R) 

5’GGATTTGCCGGGGTATAGTT’3 

(length: 20 bp; Tm : 59,96 ℃; GC : 55,00%) 

dan panjang target produk PCR yaitu 434 

bp. Produk PCR hasil amplifikasi DNA 

dilakukan uji kualitatif kembali dengan 

menggunakan gel agarosa konsentrasi 2% 

Panjang produk PCR hasil amplifikasi pada 

Gambar 3. Pada pengamatan langsung, 

didapatkan adanya pita DNA dengan ukuran 

sesuai target amplifikasi dari primer forward 

dan reverse yaitu sepanjang ±434 bp. 

Variasi Genetik 

Pada hasil penyejajaran sampel 

dengan referensi gen Cyt-b Capra hircus 

dapat didapati pula adanya mutasi. Mutasi 

merupakan peristiwa perubahan struktur 

materi genetis pada suatu organisme atau 

makhluk hidup yang mengakibatkan 

terjadinya perubahan sifat atau karakter 

suatu organisme ,

ada  adanya mutasi pada sampel 

berupa delesi, transisi dan tranversi. Delesi 

adalah jenis mutasi gen yang terjadi sebab  

hilangnya satu atau beberapa basa nitrogen. 

Transisi terjadi ketika ada  pertukaran 

antar pasangan basa nitrogen sesama purin 

atau sesama purimidin, sedang  transversi 

terjadi ketika ada  pertukaran antara 

pasangan basa nitrogen purin dengan 

purimidin atau sebaliknya

Gambar 2. Origin Olio Nukleutida Gen Cytochrome-b (Accesion number: D84201.1), 

keterangan: Kuning: Primer forward, Hijau: Primer reverse, Abu-abu: Region of 

interest (National Center for Biotechnology Information, 2018)

 

 

Gambar 3. Hasil elektroforesis produk PCR. Keterangan: M: Marker, SE1, SE2, SE3, SE4, 

SE5, SE6, PE1, PE2, PE3: sampel Kambing. Sembilan sampel produk PCR 

menunjukkan adanya pita marker ±434 bp. 

Variasi Genetik Kambing Senduro dan 

Peranakan Etawa (PE) 

 

Jenis mutasi pada sampel SE1 

merupakan missense mutation. Mutasi salah 

arti (missense mutation), yaitu perubahan 

suatu kode genetik (umumnya pada posisi 1 

dan 2 pada kodon) sehingga menyebabkan 

asam amino yang terikat pada rantai 

polipeptida berubah 

sedang  jenis mutasi mutasi pada sampel 

SE2, SE3, SE4, SE5, SE6, PE1, PE2, PE3 

berdasarkan perubahan kode genetik yang 

terjadi termasuk kedalam frameshift 

mutation. Mutasi ini merupakan akibat 

penambahan atau kehilangan satu atau lebih 

nukleutida di dalam suatu gen .Penelitian ini menunjukkan bahwa 

kambing Senduro dan Peranakan Etawa 

yang ada  di BBIB Singosari memiliki 

variasi genetik yang tinggi jika 

dibandingkan dengan database NCBI 

Capra hircus: D84201.1. 

 


Keragaman genetik yang tinggi dapat 

disebabkan sebab  kondisi geografis yang 

berbeda antara Kambing Senduro dan PE 

dengan sampel pembanding yang 

digunakan. 

 

Pada hasil penyejajaran ada  

variasi basa nukleutida pada seluruh sampel 

terhadap database NCBI Capra hircus: 

D84201.1. Sampel SE1 mengalami 

missense mutation, dan sampel SE2, SE3, 

SE4, SE5, SE6, PE1, PE2, PE3 mengalami 

frameshift mutation. Penyejajaran 

menggunakan pairwise distance 

menunjukkan bahwa kambing Senduro dan 

PE yang dibandingkan dengan database 

NCBI Capra hircus: D84201.1 memiliki 

susunan basa nukleutida dengan variasi 

yang tinggi. 






Susu kambing segar bersifat mudah rusak dan memerlukan penanganan pasca panen dan pengolahan yang 

cepat dan memadai. Pasteurisasi yaitu  perlakuan yang diberikan terhadap susu segar supaya tidak cepat rusak. 

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan memberikan informasi kepada masyarakat tentang kadar lemak susu  

kambing peranakan Etawa di peternakan Lamnyong Kota Banda Aceh sebelum dan sesudah dipasterusisasi. 

Penelitian ini dilakukan dengan metode Gerber dengan pasteurisasi suhu rendah waktu lama (low temperature long 

time /LTLT = 62 0C – 65 0C ). Penelitian ini dilakukan dengan analisis deskriptif dengan masing-masing 6 kali 

ulangan sehingga mendapatkan hasil yang akurat. berdasar  hasil penelitian memperlihatkan kadar lemak susu 

segar sebelum dan sesudah dipasteurisasi ada  perbedaan. Susu yang diberi perlakuan pasteurisasi memiliki 

kadar lemak 5% dan susu tidak diberi perlakuan atau tidak dipasteurisasi memiliki kadar lemak 4,5%. Hal ini terjadi 

karena setelah dilakukan pasteurisasi susu terjadi penguapan komponen-komponenya sehingga kadar lemak susu 

cenderung meningkat.  


Pertumbuhan populasi kambing peranakan Etawa (PE) sebagai penghasil susu semakin 

meningkat. Keadaan ini disebabkan oleh pemenuhan kebutuhan susu yang berasal dari sapi perah 

masih kurang karena masyarakat mulai mengenal susu kambing sebagai sumber nutrien yang 

baik. Kondisi ini menyebabkan meningkatnya minat masyarakat untuk beternak kambing perah. 

Kambing yang dipilih yaitu  kambing peranakan Etawa, karena merupakan ternak dwiguna, 

yaitu menghasilkan susu dan daging, sehingga dapat meningkatkan nilai ekonomi pemeliharaan 

kambing. Alasan lain yang mendasari pemilihan kambing PE untukdikembangkan yaitu  sifat 

pertumbuhannya yang cepat dan litter size mencapai 2 ekor. Pemeliharaan kambing tersebut juga 

mudah dan tidak membutuhkan lahan yang luas. Kualitas susu kambing dipengaruhi oleh tiga 

faktor di antaranya yaitu  pakan, bangsa kambing, dan ketinggian tempat pemeliharaan 

Perkembangan ternak kambing Etawa menyebar kesebagian besar wilayah Indonesia, 

sekarang yang lebih dikenal dengan kambing peranakan Etawa (PE). Jenis kambing PE 

dipelihara sebagai produksi susu dan juga daging karena mempunyai bentuk badan yang lebih 

besar dibandingkan dengan kambing kacang ,

Susu kambing memiliki kandungan gizi yang lebih unggul, selain itu lemak dan protein 

pada susu kambing lebih mudah dicerna dan kandungan vitamin B1 nya lebih tinggi dibanding 

susu sapi. Permasalahan yang dihadapi yaitu  konsumen mengkhawatirkan adanya bau yang 

khas seperti pada daging kambing dapat juga dijumpai pada susu kambing ,

Susu merupakan salah satu pangan sebagai sumber protein hewani, yang mengandung 

protein, lemak, mineral, kalsium, vitamin dan mengandung asam amino esensial yang lengkap. 

Faktor yang mempengaruhi kualitas susu antara lain faktor keturunan, pakan, kondisi 

lingkungan, waktu laktasi dan prosedur pemerahan. Ada berbagai pilihan yang dapat ditempuh 

untuk meningkatkan produktivitas ternak kambing, salah satunya yaitu  melalui pendekatan 

pemuliabiakan yaitu penggabungan gen–gen yang baru atau peningkatan frekuensi gen yang 

mempengaruhi produksi. Susu kambing memiliki partikel lemak yang lebih kecil dan homogen 

sehingga mudah dicerna dan diserap. Susu merupakan bahan pangan yang sangat dibutuhkan 

manusia karena kandungan gizinya tinggi. Susu yang umum dikonsumsi yaitu  susu sapi namun 

susu kambing mempunyai kandungan gizi relatif tinggi dibandingkan dengan susu sapi ,

Faktor penghambat produksi susu pada usaha peternak kambing perah yaitu  timbulnya 

penyakit pada ternak. Penyakit yang paling sering mucul yaitu  mastitis. Mastitis sangat 

merugikan peternak karena kambing perah yang terkena mastitis akan mengalami penurunan 

produksi susu dan kualitas susu yang dihasilkan juga rendah. Selain itu, adanya penyakit mastitis 

juga menambah biaya perawatan dan pengobatan untuk kelangsungan produksinya.Tingginya 

kasus mastitis yaitu  karena manajemen pemeliharaan yang kurang baikz

Lemak susu merupakan salah satu komponen yang paling dipertimbangkan dalam menilai 

susu ruminansia. Kadar lemak susu sangat tergantung pada kadar serat kasar (SK) pakan dan 

produksi asam asetat. Selain itu ada  kecenderungan pada kambing perah laktasi untuk tetap 

mempertahankan kualitas susu dari pada kuantitas susu, walaupun harus mengorbankan tubuh 

induknya ,

Besar kecilnya globula lemak ditentukan oleh kadar air yang ada di dalamnya. Kadar lemak 

susu kambing dipengaruhi oleh pakan hijauan, semakin tinggi pakan hijauan yang diberikan 

maka semakin tinggi pula kadar lemak susu. Ternak yang diberi pakan tambahan konsentrat akan 

menurunkan kadar lemak susu dan pakan yang hanya terdiri dari hijauan memiliki kadar lemak 

yang lebih tinggi dibanding pakan yang ditambah dengan konsentrat ,

Susu kambing segar bersifat mudah rusak dan memerlukan penanganan pasca panen dan 

pengolahan yang cepat dan memadai. Selain dikonsumsi dalam bentuk segar, susu kambing juga 

dapat diolah menjadi berbagai macam produk yang bernilai gizi tinggi dan bermanfaat bagi 

kesehatan, misalnya keju dan yoghurt ,

Pasteurisasi yaitu  perlakuan yang diberikan terhadap susu segar supaya tidak cepat rusak. 

Pemanasan pada suhu pasteurisasi dimaksudkan untuk membunuh sebagian kuman patogenik 

yang ada dalam susu, dengan seminimum mungkin kehilangan gizinya dan mempertahankan 

semaksimal mungkin sifat fisik dan cita rasa susu segar (Abubakar, 2000). Susu pasteurisasi atas 

dasar suhu dibagi 3, yakni: (a) suhu rendah waktu lama, (b) suhu tinggi waktu singkat dan (c) 

Suhu sterilisasi/UHT. Sedangkan berdasar sistem pengolahannya memakai : (a) 

penyemprotan air panas melalui dinding tangki, (b) mengalirkan air panas melalui pipa dalam 

tabung, (c) Perendaman dengan air panas , 

Pemerahan yang dilakukan lebih dari 16 jam pada pertengahan hingga masa akhir laktasi 

dapat mengubah komposisi susu. Kadar lemak susu sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor yang 

mempengaruhi produksi asam asetat dalam rumen, dalam hal ini yaitu  kinerja mikrobia rumen 

dalam memfermentasi serat kasar menjadi asam asetat  bahwa ruminansia lebih tergantung pada asam asetat untuk sintesa lemak susu 

di dalam kelenjar ambing.  

Konsumsi serat kasar dan kandungan asam asetat dalam rumen tidak ada  adanya 

perbedaan, sehingga menyebabkan kadar lemak susu tidak berbeda pula.Selain itu, perlakuan 

pasteurisasi terhadap susu segar juga berpengaruh terhadap penurunan kadar lemak pada susu 

segar tersebut sehingga jelas berbeda dengan kadar lemak susu segar sebelumnya ,

Tempat dilakukan penelitian ini yaitu  di Laboratorium Kesmavet Fakultas Kedokteran 

Hewan Unsyiah. Waktu penelitian dilakukan yaitu  pada bulan Maret 2017 dan dilakukan diatas 

3 jam setelah pemerahan, sebab dalam waktu 3 jam setelah pemerahan tersebut akan terjadi 

perubahan–perubahan keadaan air susu, seperti:  (a) pengeluaran gas–gas, (b) pembekuan lemak–

lemak susu, (c) zat–zat protein air susu yang belum stabil, (d)  temperatur air susu yang masih 

tinggi. Alat-alat yang dipakai  pada penelitian ini yaitu  botol Gerber, waterbath, sentrifus 

lemak dan pasteurizer sedangkan bahan yang dipakai  dalam penelitian ini yaitu  susu 

kambing peranakan Etawa segar, amil alkohol dan asam sulfat ( H2SO4 ). Susu kambing 

peranakan Etawa diambil langsung dari peternakan Lamnyong Kota Banda Aceh dan langsung 

di bawa ketempat pemeriksaan memakai  wadah susu. Penelitian ini memakai  

pasteurizer untuk alat pasteurisasi dan memakai  metode Gerber untuk menghitung kadar 

lemak susu. Selanjutnya kedalam butirometer dimasukkan 10 ml H2S04 pekat, melalui dinding 

tabung dimasukkan 10 ml sampel susu dengan memakai  pipet dan tambahkan 1 ml alkohol. 

Kemudian tabung disumbat dengan sumbat karet dan dihomogenkan sekitar 3-5 menit, tabung 

direndam dalam  waterbath 57-65 0C selama 3-5 menit dan selanjutnya dilakukan sentrifus 

selama 3-5 menit dengan 1200 kali putaran per menit. Setelah itu dimasukkan lagi ke waterbath  

3-5 menit kemudian dikeringkan dan baca dikadar lemak. Data yang diperoleh dari penelitian ini 

dianalisis secara deskriptif. 


Dari hasil penelitian ini ada  perbedaan kadar lemak susu kambing peranakan Etawa 

sebelum dan sesudah dipasteurisasi. Hasil berikut ini menunjukkan kadar lemak susu yang tidak 

dilakukan pasteurisasi, dapat dilihat pada Gambar 1. 

Gambar 1. Hasil uji kadar lemak susu yang tidak dipasteurisasi 

 

berdasar  Gambar 1. Susu kambing peranakan Etawa yang tidak diberi perlakuan 

pasteurisasi setelah dilakukan uji menghasilkan kadar lemak 4.5%. Selanjutnya susu yang diberi 

perlakuan pasteurisasi kadar lemaknya terlihat lebih tinggi seperti pada Gambar 2. 

 

 

berdasar  Gambar 2. Susu kambing peranakan Etawa yang diberi perlakuan 

pasteurisasi setelah dilakukan uji menghasilkan kadar lemak 5%. Kadar lemak ini jelas lebih 

tinggi dibandingkan dengan yang tidak dipasteurisasi. Ini disebabkan oleh beberapa faktor akibat 

dari penguapan komponen susu ketika dilakukan pemanasan. 

 

Tabel hasil uji kadar lemak susu sebelum dan sesudah dipasteurisasi 

Sampel      Perlakuan               Kadar                 Keterangan    

                       lemak (%) 

Susu  segar          Pasteurisasi             5%               Kadar lemak susu yang  

                   dipasteurisasi memiliki  

                 kadar lemak 5% 

Susu segar              Tidak  

   dipasteurisasi              4,5%                            Kadar lemak susu  

                                tidak dipasteurisasi  

                          memiliki kadar lemak 4,5%  

berdasar  hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa susu yang dipasteurisasi lebih 

tinggi kadar lemaknya dibandingkan yang tidak dipasteurisasi. Hasil penelitian pada gambar dan 

tabel memperlihatkan kadar lemak susu kambing peranakan Etawa segar sebelum dan sesudah 

dipasteurisasi ada  perbedaan. Susu yang dipasteurisasi memiliki kadar lemak lebih tinggi 

dibandingkan yang tidak dipasteurisasi, tetapi perbedaannya tidak jauh berbeda. Penelitian ini 

dilakukan dengan analisis deskriptif dengan masing-masing 6 kali ulangan sehingga 

mendapatkan hasil yang akurat. 

Dari hasil peneletian ini juga menunjukkan bahwa kadar lemak susu kambing peranakan Etawa 

dipeternakan Lamnyong Kota Banda Aceh juga relatif standar. bila  dikonsumsi juga akan 

relatif aman bagi para konsumen dan tidak menyebabkan penyakit seperti penyakit digeneratif  

(tekanan darah tinggi, stroke dan jantung coroner). Peternak harus bisa memanipulasi pakan 

ternak seperti pemberian pakan suplemen. Pakan suplemen merupakan pakan pelengkap untuk 

melengkapi beberapa jenis bahan yang belum tersedia dari hijauan dan konsentrat sehingga 

pemberiannya tidak berdasarkan bobot badan dan produksi tetapi disediakan setiap saat sesuai 

dengan kebutuhan ternak ,pakan suplemen dapat berupa 

Urea Mineral Molasses Block  (UMMB) atau konsentrat yang kaya akan protein dan disarankan 

berupa bahan pakan yang kaya sumber energi mudah terfermentrasi dan merupakan sumber 

nitrogen yang layak. bahwa dengan penambahan pakan 

suplemen dapat memacu pertumbuhan dan 

meningkatkan populasi mikroba di dalam rumen sehingga dapat merangsang 

penambahan jumlah konsumsi serat kasar (SK) yang akan meningkatkan produksi. 

Secara organoleptik susu akan mengalami perubahan jika ada  perbedaan warna, rasa, 

dan aroma dari susu yang normal. Umumnya perubahan ini disebabkan oleh adanya aktifitas 

mikroorganisme. Kompenen penyusun susu juga dapat terjadi perubahan yang disebabkan oleh 

pengaruh suhu pasteurisasi susu ,

Rasa dan aroma susu pasteurisasi dalam penelitian ini masih normal dan mempunyai rasa 

sedikit manis yang menunjukkan sampel susu masih segar tetapi setelah dilakukan penelitian 

terjadi perubahan kadar lemak, susu pasteurisasi lebih tinggi dibandingkan dengan sebelum 

dipasteurisasi. Dalam hal ini penelitian yang dilakukan memakai  pasteurisasi dengan suhu 

rendah waktu lama (low temperature long time /LTLT = 62 0C – 65 0C ) (Alva, 1992). Hal ini 

sesuai dengan pendapat Bearkley (1986), bahwa kadar lemak susu cenderung meningkat setelah 

dipasteurisasi disebabkan oleh pengaruh suhu yang menyebabkan penguapan komponen dalam 

susu seperti air dan komponen lainya.  

Kadar lemak susu kambing peranakan Etawa di peternakan lamnyong kota Banda Aceh 

lebih tinggi setelah di pasteurisasi dibandingkan dengan sebelum dipasteurisasi. Kadar lemak 

susu sebelum dipasteurisasi yaitu  4,5% dan sesudah dipasteurisasi yaitu  5%.