Rabu, 12 Februari 2025

ternak sapi 10





Dinas Peternakan Kabupaten Tanah 

Laut yang merupakan Lembaga 

Pemerintahan Provinsi Kalimantan Selatan 

memiliki tugas di bidang Pembinaan hewan 

ternak khususnya dalam  penyiapan pakan 

ternak dan melayani kesehatan hewan dalam 

rangka mendukung dan mewujudkan 

swasembada pangan nasional. Kepala Dinas 

Peternakan dan Kesehatan Hewan 

Kabupaten Tanah Laut, Suharyo 

mengatakan bahwa populasi ternak sapi di 

Tanah Laut hingga Maret 2018 berjumlah 

kurang lebih 80 ribu ekor, sedangkan jumlah  

sapi Bali yang lebih dominan di ternak oleh 

masyarakat Tanah Laut yakni kurang lebih 

50 ribu. Dari jumlah ternak sapi yang cukup 

banyak tersebut maka dibutuhkan suatu 

pengelolaan sistem pembinaan sapi yang 

tepat dan akurat.   

Saat ini Dinas Peternakan Kabupaten 

Tanah Laut  belum memilki sistem  tentang 

data masyarakat veternier atau peternak 

hewan, Jika di amati secara langsung, 

pendataan yang dilakukan di dinas tersebut 

masih dilakukan secara manual dan tidak 

akurat  hasil yang diperoleh. Kondisi 

tersebut akhirnya menghambat proses 

pengelolaan data yang akan dibuat, dengan 

demikian diperlukan  suatu program untuk  

memudahkan dalam sistem pengelolaan 

pembinaan sapi. Sistem yang  dibuat 

diharapkan dapat digunakan untuk 

menangani pengolahan tentang data 

pembinaan peternak sapi seperti data 

pelayanan kesehatan sapi , data masuk dan 

keluar sapi, data inseminasi buatan(kawin 

silang), data kebuntingan sapi, data 

perkembangan sapi serta data kematian sapi 

ternak. Dari sistem yang dibuat maka 

diharapkan dapat memudahkan pihak dinas 

peternakan  dalam meinput data pembinaan  

sapi serta proses  pencarian sebuah data 

dapat dilakukan  lebih cepat dan  akurat. 

Metodologi yang digunakan dalam 

pembuatan sistem ini adalah metode 

waterfall, bahasa pemrogramannya adalah  

Delphi 7 dan MySQL sebagai databasenya. 

Dengan adanya Implementasi Sistem 

Informasi Data Pembinaan Sapi Pada Dinas 

Peternakan Kabupaten Tanah Laut maka 

diharapkan dapat lebih mudah dalam 

pendataan pembinaan sapi serta informasi 

yang diperlukan dapat diperoleh secara cepat 

dan akurat.  

Rumusan Masalah 

Berdasarkan latar belakang tersebut, 

maka rumusan masalah yang dapat dibuat 

pada penelitian ini yaitu “Bagaimana 

membuat Implementasi Sistem Informasi 

Data Pembinaan Sapi Pada Dinas 

Peternakan Kabupaten Tanah Laut”. 

Tujuan Penelitian 

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk 

membuat Implementasi Sistem Informasi 

Data Pembinaan Sapi Pada Dinas 

Peternakan Kabupaten Tanah Laut, sehingga 

menghasilkan sistem yang dapat mengetahui 

pendataan secara otomatis serta penyajian 

data dan informasi yang diperlukan 

perusahaan secara cepat dan akurat. 

Target Luaran yang diharapkan  

dengan adanya Implementasi Sistem 

Informasi Data Pembinaan Sapi Pada Dinas 

Peternakan Kabupaten Tanah Laut adalah  : 

Publikasi ilmiah dalam jurnal Technologia 

Fakultas Teknologi Informasi (UNISKA) 

MAB Banjarmasin (JITFTI). 

    Arsitektur Model Sistem 

Untuk mengatasi permasalahan yang 

terjadi pada sistem yang dijalankan saat ini, 

maka dibentuk sebuah sistem yang tentunya 

memiliki keunggulan, sistem tersebut 

digambarkan dengan diagram. Dengan 

diagram ini diharapkan akan mempermudah 

pemahaman terhadap hasil analisa, sehingga 

apabila terjadi kesalahan dapat diketahui 

sedini mungkin.  

Diagram konteks merupakan 

tingkatan tertinggi di dalam diagram aliran 

data dan hanya memuat satu proses, 

menunjukkan sistem secara keseluruhan. 

Proses tersebut diberi nomor nol. Semua 

entitas eksternal yang ditunjukkan oleh 

diagram konteks berikut aliran-aliran data 

utama menuju dan dari sistem. Diagram 

tersebut tidak memuat penyimpangan data 

dan tampak sederhana untuk diciptakan, 

begitu entitas-entitas eksternal, serta aliran 

data-aliran data menuju dan dari sistem 

diketahui menganalisis dari wawancara 

dengan user dan sebagai hasil analisis 

dokumen. 

Data Flow Diagram adalah suatu 

model logika data atau proses yang dibuat 

untuk menggambarkan dari mana asal data 

dan ke mana tujuan data yang keluar dari 

sistem, di mana data tersimpan, proses apa 

yang menghasilkan data tersebut dan 

interaksi antara data tersimpan dan proses 

yang dikenakan pada data tersebut. 

Implementasi Sistem 

Pada implementasi sistem ini 

dilatampilkan semua tampilan interface 

seluruh halaman pada aplikasi, 

Dengan adanya Implementasi 

Sistem Informasi Data Pembinaan Sapi 

Pada Dinas Peternakan Kabupaten 

Tanah Laut ini maka pihak dinas 

peternakan (Disnak) lebih mudah dalam 

pengolahan data sapi serta pencarian 

sebuah data lebih cepat dan akurat 

dalam pembinaan peternak sapi, 

pelayanan hewan dalam program 

inseminasi buatan, data kebuntingan 

sapi, data perkembangan sapi serta data 

kematian sapi ternak maupun kesehatan 

hewan. 

 


Pertambahan jumlah penduduk 

Indonesia yang disertai dengan perkembangan 

pengetahuan dan tingkat kesadaran 

masyarakat tentang kebutuhan gizi 

menyebabkan terjadinya peningkatan 

konsumsi daging.  Daging merupakan salah 

satu bahan pangan sumber protein hewani 

yang memiliki gizi yang lengkap. 

Daging adalah bahan pangan yang 

bernilai gizi tinggi karena kaya akan protein, 

lemak, mineral serta zat lainnya yang sangat 

dibutuhkan tubuh.  Daging juga merupakan 

bahan pangan yang sangat baik bagi 

pertumbuhan dan perkembangbiakan 

mikroorganisme sehingga dapat menurunkan 

kualitas daging.  Daging mudah sekali 

mengalami kerusakan mikrobiologi karena 

kandungan gizi dan kadar airnya yang tinggi.   

Pada tiap TPH terdapat manajemen 

pemotongan hewan sesuai dengan standarisasi 

masing-masing TPH, sehingga diduga 

berpengaruh pada kualitas fisik daging sapi 

pada tiap TPH. 

Daging sapi diharapkan memiliki  

kualitas yang layak untuk dikonsumsi. 

Kualitas daging dapat ditentukan secara kimia, 

mikrobiologi, organoleptik, dan fisik.  

Kualitas fisik daging mempengaruhi kualitas 

pengolahan daging.  Daging yang memiliki 

kualitas sifat fisik yang bagus tentunya akan 

memberikan produk pengolahan yang bagus 

dan akan mempermudah selama proses 

pengolahannya.  Sifat fisik daging meliputi 

pH, daya ikat air (DIA), dan susut masak. 

Sampai saat ini belum ada informasi 

mengenai sifat kualitas fisik daging sapi yang 

ada di Bandar Lampung.  Sehingga 

masyarakat belum mengetahui kualitas fisik 

daging sapi yang berasal dari TPH di Bandar 

Lampung. 

berdasar  uraian itu  maka perlu 

dilakukan penelitian terhadap kualitas daging 

sapi dari tempat pemotongan hewan di Bandar 

Lampung.  

Pelaksanaan penelitian dimulai dari 

survei TPH yang ada di Bandar Lampung, 

kemudian mengambil sample tiap TPH yaitu 

0,5 kg daging paha belakang sapi.  

Daging kemudian di analisis di 

Laboratorium Hasil Pertanian di Politeknik 

Negeri Lampung untuk mengukur nilai pH, 

daya ikat air, dan susut masak.  

Pengukuran pH dilakukan dengan pH 

meter sesuai petunjuk Wooton (1975). Prinsip 

pengukuran pH yaitu mengetahui kondisi 

asam dan basa. Pengujian pH memakai  

pH meter elektronik. Metode yang digunakan 

yaitu menghidupkan ON/OFF, sebelumnya 

membersihkan katoda indikator dengan 

aquades sehingga netral (pada pH tertera 7). 

Kemudian membersihkan dengan tisu. 

Menyiapkan daging yang telah dicampur 

dengan aquades sampai 50 ml pada gelas 

beker.  Mengulang pengukuran sebanyak 3 

kali kemudian hasil dirata-rata.  


Nilai DIA dapat ditentukan dengan 

metode Hamm (1972). Pertama-tama 

meletakkan sampel sebanyak 0,3 g di atas 

kertas saring Whatman 42 dan kemudian 

meletakkan diantara 2 plat kaca yang diberi 

beban 35 kg selama 5 menit. Menandai dan 

menggambar luasan area yang tertutup sampel 

daging yang telah menjadi pipih dan basah 

disekeliling kertas saring pada kertas grafik 

dengan bantuan alat candling dan dari gambar 

itu  diperoleh area basah sesudah  dikurangi 

area yang tertutup sampel (dari total area). 

Kandungan air sampel (pada area basah) dapat 

di ukur dengan memakai  rumus:  

 

area basah = luas area basah – luas area daging 

 

     mgH2O = area basah (cm2) – 8,0 

  0,0948 

 

          DIA = %kadar air – mgH2O   x 100 % 

              300 

 

Pengujian susut masak 

 

Pengujian susut masak dilakukan 

dengan memotong daging dengan potongan 

steak kemudian daging ditimbang.  Daging 

kemudian dimasukkan kedalam oven 

Penelitian ini dilakukan pada bulan 

April 2014 secara bertahap di TPH yang ada 

di Bandar Lampung. 

Alat dan bahan yang digunakan dalam 

penelitian ini adalah : Wadah, plastik, pH 

meter, timbangan digital, blender, kaca 2 lapis, 

oven, panci, kompor gas, pemberat kamera, 

alat tulis, dan daging paha belakang sapi dari 

TPH di Bandar Lampung. bersuhu 1700C 

selama 5 menit.  Daging kemudian ditimbang 

lagi dan diukur susut masak dengan rumus 

 

Susut masak = Berat awal - Berat akhir x 100 % 

   Berat awal 

 


 

Nilai pH daging 

 

Nilai pH daging dari TPH di 

Bandarlampung dapat dilihat pada Tabel 1 

 


 

Hasil dari penelitian ini menunjukkan 

bahwa nilai rata – rata pH daging sapi di 

Bandar Lampung adalah 6,0.  Dengan kisaran 

nilai 5,3, -- 6,0.  Hasil ini menunjukkan bahwa 

nilai pH daging dari TPH di Bandar Lampung 

adalah normal karena masih berada di kisaran 

pH post mortem.  bahwa pada 

beberapa ternak, penurunan pH terjadi satu 

jam sesudah  ternak dipotong dan pada saat 

tercapainya rigormortis.  Nilai pH daging sapi 

sesudah  perubahan glikolisis menjadi asam 

laktat berhenti berkisar antara     5,1 -- 6,2.  

Hal itu  disebabkan karena glikogen 

sebagai sumber energi otot akan mengalami 

proses glikolisis sesudah  hewan dipotong dan 

secara enzimatis akan menghasilkan asam 

laktat sehingga pH daging menurun. 

Nilai pH merupakan salah satu kriteria 

dalam penentuan kualitas daging.  Proses 

penurunan pH pada daging dimulai dari 

pemotongan hewan (hewan telah mati), maka 

terjadilah proses biokimiawi yang sangat 

kompleks di dalam jaringan otot dan jaringan 

lainnya sebagai konsekuen tidak adanya aliran 

darah ke jaringan itu , karena terhentinya 

pompa jantung.  Salah satu proses yang terjadi 

dan merupakan proses yang dominan dalam 

jaringan otot sesudah  kematian (36 jam 

pertama sesudah  kematian atau postmortem) 

adalah proses glikolisis anaerob atau glikolisis 

postmortem.  Dalam glikolisis anaerob ini, 

selain dihasilkan energi maka dihasilkan juga 

asam laktat.  Asam laktat itu  akan 

terakumulasi di dalam jaringan dan 

mengakibatkan penurunan nilai pH jaringan 

otot ,

Hasil penelitian ini menunjukkan 

bahwa nilai pH daging ada yang tetap tinggi 

yaitu sekitar 6,3 -- 6,4, namun ada juga yang 

mengalami penurunan dengan sangat cepat 

yaitu mencapai 5,3 -- 5,9.  Nilai pH terendah 

adalah 5,3 sedang  nilai pH tertinggi adalah 

6,4.  Perbedaan ini dapat diakibatkan oleh 

perbedaan umur, jenis sapi, teknik 

pemotongan, lama pengistirahatan, dan bobot 

karkas.  bahwa faktor yang 

mempengaruhi laju dan besarnya penurunan 

pH di bagi menjadi dua yaitu faktor intrinsik 

yang terdiri atas spesies, jenis otot, glikogen 

otot, dan variabilitas diantara ternak.  

sedang  faktor ekstrinsik antara lain 

temperatur lingkungan, perlakuan 

pemotongan, proses pemotongan dan stres 

sebelum pemotongan.   

Pada penelitian ini, pH dengan nilai 

tertinggi adalah 6,4 (dari TPH H. Udin) dan 

nilai terendah adalah 5,3 (dari TPH Ibu Mul).  

Pada TPH milik Ibu Mul jenis sapi yang 

dipotong adalah PO (pH 5,3), sedang  pada 

TPH H. Udin jenis sapi yang dipotong adalah 

BX (pH 6,4).  Perbedaan nilai pH itu  

dapat terjadi karena perbedaan jenis sapi.  

yang menyatakan bahwa jarak penurunan pH 

itu  tidak sama untuk semua urat dari 

seekor hewan dan antara hewan juga berbeda.  

 tinggi atau 

rendahnya nilai pH daging berkaitan dengan 

jenis dan spesies ternak.   

Selain itu hal yang dapat menyebabkan 

perbedaan nilai pH adalah stres, teknik 

pemotongan, dan lama istirahat.  Pada TPH 

milik Ibu Mul sapi tidak di pingsankan 

terlebih dahulu sehingga tingkat stresnya lebih 

tinggi.  Pada saat pemotongan, terjadi 

perubahan glikogen yang cepat menjadi asam 

laktat sehingga pH daging menjadi rendah.  

Hal ini juga mengacu pada pendapat Lawrie 

(1995), bahwa pada hewan dengan tingkat 

stres yang tinggi, kondisi stres akan memicu 

penurunan pH yang cepat pada kondisi 

kandungan glikogen yang cukup 

menyebabkan pH akhir menjadi sangat rendah 

sehingga protein terdenaturasi dan dihasilkan 

daging PSE (Pale  Soft  and  Exudative).  

Daging PSE akan menurunkan rendemen 

proses (cooking loss besar), daya ikat dan daya 

iris rendah.   

Sebaliknya pada TPH milik H. Udin, 

sebelum sapi disembelih sapi dipingsankan 

dahulu memakai  Stunning Gun.  Namun, 

karena sapi yang berasal dari TPH H. Udin 

sudah menempuh jarak yang cukup jauh 

dengan lama istirahat yang singkat (hanya 6 

jam) diduga sapi yang dipotong di TPH H. 

Udin mengalami stres akibat kelelahan.  

Sehingga cadangan glikogen hampir habis.  

Akibatnya pada saat pemotongan hanya 

sedikit glikogen yang dirubah menjadi asam 

laktat sehingga pH daging tetap tinggi.  yaitu stres 

sebelum pemotongan, iklim, tingkah laku 

agresif diantara ternak sapi atau gerakan yang 

berlebihan memiliki  pengaruh yang besar 

terhadap penurunan atau habisnya glikogen 

otot dan akan menghasilkan daging yang gelap 

dengan pH yang tinggi (lebih besar dari 5,3).   

Kualitas daging dipengaruhi oleh nilai 

pH daging.  lbahwa daging dengan pH 

akhir yang tinggi (penurunan pH yang lambat) 

akan menghasilkan daging Dark  Firm  and  

Dry (DFD).  sedang  daging dengan pH 

akhir rendah (penurunan pH yang cepat) akan 

menghasilkan daging PSE.  Pada penelitian ini 

daging yang dihasilkan dari TPH Ibu Mul 

merupakan daging PSE, sedang  daging 

dari TPH H. Udin menghasilkan daging 

dengan jenis DFD. 

 

 

Daya ikat air 

 

Daya ikat air daging dari TPH di 

Bandar Lampung dapat dilihat pada Tabel 2. 

 

DIA dari penelitian ini berada pada 

kisaran 23,78 -- 33,98 % dengan nilai rata -

rata 30,14 %.  Dilihat dari kisarannya nilai 

daya ikat air daging dari TPH di Bandar 

Lampung termasuk tinggi.  Hasil ini  berbeda 

dengan pendapat dari Triatmojo (1992) yang 

menyatakan bahwa kisaran daya ikat air 

daging sapi adalah 13 -- 26 %.  Hal ini dapat 

terjadi akibat perbedaan jenis, umur, bobot 

sapi, tingkat strees, teknik pemotongan, suhu, 

jenis pakan, dan waktu pemotongan sehingga 

dapat mempengaruhi nilai pH, dimana nilai 

pH sangat mempengaruhi nilai DIA.  Hal ini 

sesuai dengan pendapat Jamhari (2000) bahwa 

ada beberapa faktor yang bisa menyebabkan 

terjadinya variasi pada daya ikat air oleh 

daging diantaranya: faktor pH, faktor 

perlakuan maturasi, pemasakan atau 

pemanasan, faktor biologik seperti jenis otot, 

jenis ternak, jenis kelamin dan umur ternak.  

Demikian pula pada pendapat Soeparno 

(2005), bahwa beberapa faktor dapat 

mempengaruhi daya ikat air protein daging 

termasuk pH, stres, bangsa. 

Tingginya DIA pada penelitian ini 

dipengaruhi oleh nilai pH daging.  Hal ini 

sesuai dengan pendapat Jamhari (2000) bahwa 

ada beberapa faktor yang bisa menyebabkan 

terjadinya variasi pada daya ikat air oleh 

daging diantaranya: faktor pH.  Pada 

penelitian ini nilai rata – rata pH daging sapi 

adalah 5,9 dan pH ini lebih tinggi dari pH 

isoelektrik daging sapi.  Hal ini berbanding 

sejajar karena semakin pH mendekati nilai 

isoelektrik daging maka DIA akan kecil 

sebaliknya jika nilai pH daging diatas nilai 

isoelektrik maka semakin tinggi nilai DIA.  

Hal ini sesuai dengan pendapat Suparno 

(2005) bahwa pada pH lebih rendah dari titik 

isoelektrik protein-protein daging, terdapat 

ekses muatan positif yang mengakibatkan 

penolakan myofilamen dan memberi lebih 

banyak ruang untuk molekul-molekul air. Jadi 

pada pH lebih tinggi atau lebih rendah dari 

titik isoelektrik protein-protein daging, DIA 

juga meningkat.  Pengaruh nilai pH terhadap 

nilai DIA yang dinyatakan oleh Lawrie 

(2003), yang menyatakan bahwa penurunan 

pH menyebabkan denaturasi protein.  Akibat 

denaturasi protein, maka terjadi penurunan 

kelarutan protein yang menyebabkan daya ikat 

air berkurang.  

Nilai DIA pada setiap TPH di Bandar 

Lampung sangat bervariasi yaitu dari    23,78 -

- 33,98 %.  Hal ini dapat terjadi karena 

perbedaan jenis, umur, bobot sapi, jenis pakan, 

lama istirahat, stress, dan teknik pemotongan.  

Hal ini mengacu pada pendapat  Jamhari 

(2000) bahwa beberapa faktor dapat 

mempengaruhi daya ikat air protein daging 

termasuk pH, stress, bangsa, pembentukan 

akto-myosin (rigormortis), temperatur dan 

kelembapan, pelayuan karkas dan aging, tipe 

otot dan lokasi otot, spesies, umur, fungsi otot, 

pakan, dan lemak intramuskuler. 

 

Pada penelitian ini DIA terendah adalah 

23,78 % ( TPH Ibu Mul) dan yang tertinggi 

adalah 33,98 % (TPH H. Udin).  Hal ini 

disebabkan oleh pH daging sapi yang dipotong 

di TPH Ibu Mul pH rendah, sedang  pH 

daging sapi yang dipotong di TPH H. Udin pH 

tinggi.  Hal ini sesuai dengan pendapat 

Soeparno (2005), yang menyatakan bahwa 

DIA sangat dipengaruhi oleh tinggi atau 

rendahnya pH isoelektrik daging.  

 

 

Susut masak 

 

Rata-rata susut masak daging dari TPH 

di Bandar Lampung dapat dilihat pada Tabel 

3. 

 

Tabel 3. Nilai susut masak daging 

 

Dari penelitian menunjukan nilai susut 

masak daging sapi dari TPH di Bandar 

Lampung adalah rata – rata 42,53%.  Hasil 

dari susut masak ini termasuk normal sesuai 

dengan pendapat Soeparno (2005), pada 

umumnya nilai susut masak daging sapi 

bervariasi antara 1,5 -- 54,5% dengan kisaran 

15 -- 40%. 

Seperti halnya pH dan DIA, susut 

masak daging sapi yang berasal dari TPH di 

Bandar Lampung juga sangat bervariasi.  

Susut masak tertinggi (51,27%) terdapat pada 

daging sapi yang berasal dari TPH Ibu Mul.  

sedang  yang terendah (38,32%) berasal 

dari daging sapi asal TPH H. Udin.  Faktor 

faktor penyebab perbedaan nilai susut masak 

diantaranya adalah jenis sapi, metode 

pemotongan, berat sampel, jenis garis lintang 

dan kandungan lemak 

Hal ini sesuai dengan pendapat 

Nurwanto et al., (2003) yaitu faktor yang 

mempengaruhi susut masak antara lain nilai 

pH, panjang sarkomer serabut otot, panjang 

potongan serabut otot, status kontraksi 

myofibril, ukuran dan berat sampel, 

penampang melintang daging, pemanasan, 

bangsa terkait dengan lemak daging, umur, 

dan konsumsi energi dalam pakan.   

Nilai susut masak dipengaruhi oleh 

DIA yang, dimana DIA mempengaruhi nilai 

susut masak daging.  Hal ini sesuai dengan 

 bahwa nilai susut 

masak ini erat kaitannya dengan daya 

mengikat air.  Semakin tinggi daya mengikat 

air maka ketika proses pemanasan air dan, 

cairan nutrisi akan sedikit yang keluar atau 

yang terbuang sehingga massa daging yang 

berkurangpun sedikit.  Pada penelitin ini DIA 

daging sapi yang dipotong di TPH Ibu Mul 

adalah 23,78.  sedang  DIA daging sapi 

yang dipotong di TPH H. Udin adalah 38,18. 

Besarnya nilai susut masak daging juga 

dipengaruhi oleh pH daging.  

yang menyatakan DIA sangat dipengaruhi 

oleh nilai pH daging.  Apabila nilai pH lebih 

tinggi atau lebih rendah dari titik isoelektrik 

daging (5,0 -- 5,3) maka nilai susut masak 

daging itu  akan rendah.  Pada penelitian 

ini nilai susut masak tertinggi berasal dari 

TPH Ibu Mul dengan pH 5,3,  sedang  nilai 

susut masak terendah berasal dari TPH H. 

Udin dengan nilai pH 6,4. 

Walaupun nilai susut masak daging di 

Bandarlampung termasuk normal tetapi masih 

dalam kisaran tinggi yaitu ≥ 35%.   daging yang memiliki  angka 

susut masak rendah, ≤35%  memiliki kualitas 

yang baik karena kemungkinan keluarnya 

nutrisi daging selama pemasakan juga rendah.  

Selain itu dari segi ekonomi kerugian akibat 

kehilangan bobot daging akan kecil, jika susut 

masak daging rendah.   


berdasar  hasil penelitian ini dapat 

disimpulkan bahwa Kualiatas fisik daging sapi 

dari TPH di Bandar Lampung berada dalam 

kondisi baik dan masih berada dalam kisaran 

normal. 






Parameter untuk mengetahui kesempurnaan kematian pada sapi sesudah  disembelih yaitu dengan 

melihat refleks kelopak mata dan atau waktu henti darah memancar. Menurut EFSA (2004) kematian 

merupakan suatu keadaan yang ditandai dengan respirasi fisiologis dan sirkulasi darah telah berhenti 

sebagai akibat dari pusat sistem ini  di batang otak secara permanen kehilangan fungsi karena 

kekurangan oksigen dan energi. Waktu henti darah memancar merupakan indikasi bahwa jantung 

sudah tidak dapat memompa darah keluar dari tubuh karena tidak ada lagi asupan oksigen darah dalam 

jantung, sehingga hewan ini  dapat dikatakan mati. Tujuan dari penelitian ini untuk menghitung 

waktu henti darah memancar pada penyembelihan sapi dengan metode pemingsanan dan tanpa 

pemingsanan yang dipotong di rumah potong hewan ruminansia besar (RPHRB), sehingga diperoleh 

data rataan waktu hewan mati sempurna. Tiga puluh ekor sapi Brahman Cross dibagi menjadi 2 kelompok 

perlakuan yaitu, sebanyak 15 ekor yang disembelih dengan pemingsanan (kelompok 1) dan sebanyak 15 

ekor yang disembelih tanpa pemingsanan (kelompok 2). Waktu henti darah memancar dihitung sesaat 

sesudah  hewan disembelih sampai darah berhenti memancar. Hasil dari penelitian diperoleh rataan waktu 

henti darah memancar pada sapi yang dipingsankan sebelum disembelih adalah sebesar 3,02 menit dan 

rataan waktu henti darah memancar pada sapi yang disembelih tanpa pemingsanan adalah sebesar 

2,13 menit. Selang waktu henti darah memancar antara sapi yang dipingsankan dengan sapi yang tidak 

dipingsankan sebelum disembelih adalah 53,4 detik. Waktu henti darah memancar dipengaruhi oleh 

perlakuan hewan sebelum pemotongan, yaitu dengan atau tanpa pemingsanan.

Kata kunci: Pemingsanan, sapi, tanpa pemingsanan, waktu henti darah

Kebutuhan daging sapi dan kerbau untuk kon-

sumsi dan industri di negara kita  pada tahun 2012 

mencapai 484 ribu ton ,

Setiap tahun permintaan ini  akan terus me-

ningkat seiring dengan bertambahnya populasi pen-

duduk dan tingginya minat masyarakat terhadap 

konsumsi daging. Tingginya permintaan menye-

babkan intensitas pemotongan juga meningkat, 

sehingga keberadaan rumah potong hewan (RPH) 

sebagai tempat untuk pemotongan hewan sangat 

diperlukan. Dalam pelaksanaannya RPH harus dapat 

menjaga kualitas daging, baik dari tingkat kebersih-

an, kesehatan, ataupun kehalalan dagingnya. 

Di negara kita  ada 2 metode sebelum pemotong-

an, yaitu dengan pemingsanan dan tanpa peming-

sanan. Praktik pemotongan sapi tanpa dipingsan-

kan telah dilakukan sejak lama di negara kita , sedang-

kan pemotongan dengan pemingsanan bertujuan 

agar sapi mendapatkan perlakuan sesuai dengan 

kesejahteraan hewan, sehingga meminimalkan ke-

jadian stres pada sapi. Hampir sebagian besar RPH 

masih memakai  metode konvensional dalam 

proses penyembelihan, yaitu dengan cara sapi di-

ikat dan ditarik dengan kuat sehingga sapi roboh ke 

lantai baru kemudian disembelih. Perlakuan yang 

kasar dalam penanganan pemotongan hewan akan 

menyebabkan stres pada hewan dan menghasilkan 

kualitas daging yang rendah. Penanganan hewan 

saat pemotongan harus diatur dengan baik untuk 

mempertahankan standar karena kesejahteraan 

hewan merupakan bagian dari kualitas daging 

. Untuk meminimalkan stres dan rasa 

sakit pada hewan potong, khususnya pada sapi, 

di beberapa RPH dilakukan pemingsanan sebelum 

hewan disembelih.

Daging yang dihasilkan oleh RPH harus memenuhi 

persyaratan aman, sehat, utuh, dan halal (ASUH). 

Halal merupakan syarat penting yang harus di-

penuhi oleh daging yang dihasilkan oleh RPH karena 

sebagian besar masyarakat negara kita  memeluk 

agama Islam. Titik kritis dari makanan halal ter-

utama daging, terletak pada sumber bahan baku, 

proses penyembelihan, dan proses produksinya. 

Pemingsanan pada sapi harus dilakukan dengan 

benar agar memenuhi aspek kesejahteran hewan 

dan kehalalan pada daging yang dihasilkan. Untuk itu 

diperlukan pengetahuan untuk memastikan agar 

metode pemingsanan tidak menyebabkan kerusak-

an berat/permanen pada otak dan pengetahuan 

tentang indikator kematian hewan sehingga hewan 

benar-benar telah mati sebelum dilakukan pe-

nanganan lebih lanjut.

Parameter yang dapat dipakai  untuk melihat 

hewan mati sempurna adalah dengan melihat re-

fleks kornea dan atau waktu henti darah memancar. 

Waktu henti darah memancar merupakan indikasi 

bahwa jantung sudah tidak dapat memompa darah 

keluar dari tubuh akibat tidak ada lagi asupan 

oksigen darah dalam jantung, sehingga hewan ter-

sebut dapat dikatakan mati. Menurut EFSA (2004) 

kematian merupakan suatu keadaan yang ditandai 

dengan respirasi fisiologis dan sirkulasi darah telah 

berhenti sebagai akibat dari pusat sistem ini  

di batang otak secara permanen kehilangan fungsi 

karena kekurangan oksigen dan energi. Selama ini 

parameter yang dipakai  untuk menentukan 

hewan mati sempurna adalah dengan melihat re-

fleks kelopak mata. Tujuan dari penelitian ini, yaitu 

mendapatkan data rataan waktu henti darah me-

mancar pada penyembelihan sapi dengan peming-

sanan dan tanpa pemingsanan. 

Sampel berupa 30 ekor sapi Brahman Cross yang 

dipilih memakai  metode purposive sampling. 

Penelitian ini dilakukan di RPHR wilayah Depok, 

Tangerang, dan Tasikmalaya dari bulan September 

2013 sampai dengan Maret 2014.  Sapi yang diamati 

pada penelitian ini dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu 

sebanyak 15 ekor disembelih dengan dilakukan pe-

mingsanan terlebih dahulu dan 15 ekor disembelih 

tanpa melalui proses pemingsanan. Penyembelih-

an dilakukan pada malam hari sesuai dengan waktu 

penyembelihan dari masing-masing RPH-R 

Waktu henti darah memancar pada sapi yang 

disembelih dengan dan tanpa pemingsanan di-

hitung memakai  stopwatch. Tombol start pada 

stopwatch ditekan sesaat sesudah  sapi disembelih 

dan terlihat darah pertama kali memancar. Ditunggu 

selang beberapa waktu sampai terlihat darah 

sudah tidak lagi memancar lalu tombol stop pada 

stopwatch ditekan dan dilihat waktu (detik) yang 

tertera pada layar stopwatch.

Analisis Data

Data yang diperoleh dianalisis secara kuantitatif. 

Data dianalisis dengan uji t untuk mengetahui per-

bedaan waktu henti darah memancar pada pe-

nyembelihan sapi dengan pemingsanan dan tanpa 

pemingsanan dengan memakai  SPSS 16.


Tabel 1 Waktu henti darah memancar pada sapi yang disembelih dengan dan tanpa pemingsangan 

Perlakuan sebelum penyembelihan

Waktu henti darah memancar (menit)

Rataan Minimun Maksimum

Pemingsanan 3,02a 1,53 4,33

Tanpa pemingsanan 2,13b 1,04 3,14

Huruf superskrip yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan uji berbeda nyata (p<0,05)

Hasil dari penelitian ini menunjukkan adanya per-

bedaan waktu henti darah yang signifikan (p<0,05) 

pada sapi yang disembelih dengan pemingsanan dan 

sapi yang disembelih tanpa pemingsanan terlebih 

dahulu. Rataan waktu henti darah memancar pada 

sapi yang dipingsankan terlebih dahulu sebelum 

disembelih adalah sebesar 3,02 menit dengan waktu 

henti darah maksimum sebesar 4,33 menit dan 

minimum sebesar 1,53 menit. Sedangkan waktu 

yang dibutuhkan untuk darah berhenti memancar 

pada sapi yang disembelih tanpa dipingsankan ter-

lebih dahulu mempunyai nilai rataan sebesar 2,13 

menit dengan waktu henti darah minimum sebesar 

1,04 menit dan maksimum sebesar 3,14 menit. Per-

bedaan waktu henti darah berhenti memancar 

antara sapi yang dipingsankan dengan sapi yang 

tidak dipingsankan sebelum disembelih adalah 53,4 

detik. 


Sapi yang dipingsankan sebelum disembelih 

membutuhkan waktu henti darah lebih lama di-

bandingkan sapi yang tidak dipingsankan. Waktu 

henti darah memancar dipengaruhi oleh perlakuan 

hewan sebelum penyembelihan. Sapi yang diamati 

dengan perlakuan pemingsanan sebelum penyem-

belihan, dipingsankan mengunakan captive bolt stun 

gun non-penetrating. Non-penetrating captive bolt 

stun gun yang dipakai  di RPH di negara kita  

adalah tipe Cash Magnum Knocker caliber 0,25 yang 

menghilangkan rasa sakit pada hewan dan me-

mudahkan manusia dalam melaksanakan penyem-

belihan. Jantung pada sapi dapat memompa darah 

lebih stabil tanpa adanya peningkatan frekuensi 

jantung. Penurunan tekanan jantung terutama ven-

trikel selama pengeluaran darah terjadi karena pe-

nurunan oksigen darah pada miokardium. Respirasi 

pada hewan yang dipingsankan akan menurun 

sehingga distribusi oksigen ke jantung juga me-

nurun. Hal ini memicu  kekuatan frekuensi 

jantung dan tekanan darah menurun (Vemini et al., 

1983). Kondisi ini  membuat waktu henti darah 

memancar pada sapi yang dipingsankan lebih lama 

dibandingkan dengan sapi yang tidak dipingsankan.

Sapi yang disembelih tanpa melalui proses pe-

mingsanan terlebih dahulu, difiksasi memakai  

restraining box mark IV. Menurut Grandin (1991), 

restraining box adalah alat yang dipakai  untuk 

mengendalikan sapi sebelum disembelih agar ting-

kat stres pada sapi berkurang. Pada prinsipnya, 

tingkat stres dapat diturunkan karena (1) saat sapi 

masuk ke dalam restraining box sapi tidak merasa 

takut karena terhindar dari pengaruh lingkungan 

area penyembelihan, hal ini  penting terutama 

bagi sapi yang cukup agresif; (2) untuk mengatasi 

terjangan kepala sapi karena pandangan di sekeli-

ling sapi tertutup penuh; (3) memudahkan dalam 

merobohkan sapi tanpa perlakuan kasar; (4) stabili-

tas alat ini membuat sapi menjadi lebih tenang dan 

mengatasi gerakan berontak yang tiba-tiba; dan (5) 

tekanan alat pada sapi tidak menimbulkan kesakitan 

HASIL

Obyek penelitian yang dipakai  dalam peneli-

tian ini adalah sapi Brahman Cross jantan. Jumlah 

total sapi yang diamati pada penghitungan waktu 

henti darah memancar adalah sebanyak 30 ekor 

yang dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu sebanyak 15 

ekor disembelih dengan dilakukan pemingsanan ter-

lebih dahulu dan 15 ekor disembelih tanpa melalui 

proses pemingsanan. Hasil penghitungan waktu 

henti darah memancar pada sapi Brahman Cross yang 

dipingsankan dan tanpa pemingsanan sebelum di-

sembelih disajikan dalam Tabel 1.

diproduksi oleh Accles dan Shelvoke. Cash Magnum 

Knocker menembakkan baut (bolt) berukuran 

panjang 121 mm dan diameter 11,91 yang berbentuk 

kepala jamur (mushroom-headed). Cartridge merupa-

kan tenaga pendorong untuk menyebabkan trauma 

ke korteks otak tanpa penetrasi ke dalam tengkorak 

(Accles & Shelvoke, 2014). Tipe non-penetrating 

menyebabkan ketidaksadaran melalui pelemahan 

sistem syaraf  yang memicu  hilangnya ke-

sadaran tanpa perubahan anatomis di otak. Pe-

mingsanan merupakan salah satu teknik sebelum 

pemotongan pada hewan dengan tujuan untuk 

Penyembelihan Sapi dengan dan tanpa Pemingsanan | 61 

http://www.journal.ipb.ac.id/indeks.php/actavetindones

dan berlangsung cepat. Pada prinsipnya, tingkat 

stres dapat diturunkan karena pergerakan alat 

halus, memiliki tingkat kebisingan yang rendah, 

tekanan alat pada sapi tidak menimbulkan kesakit-

an, dan sapi tidak merasa takut karena terhindar 

dari pengaruh lingkungan area penyembelihan. 

Upaya penurunan stres memakai  mark IV masih 

menyisakan sapi dalam keadaan sadar, sehingga 

stres masih berpengaruh pada sapi dibanding-

kan dengan metode pemingsanan. Implikasi dari 

pemakaian  metode mark IV tetap memicu  

terjadinya peningkatan tekanan darah dan frekuensi 

jantung. Peningkatan frekuensi jantung menyebab-

kan darah yang dipompa keluar pada saat disembelih 

menjadi lebih cepat, sehingga darah yang memancar 

pada sapi akan lebih cepat berhenti. Peningkatan 

tekanan darah terjadi akibat adanya penyempitan 

pembuluh darah kapiler pada jaringan. Darah di-

pompakan melalui pembuluh darah oleh jantung. 

Pembuluh-pembuluh darah merupakan sistem yang 

tertutup, yang membawa darah dari jantung ke 

seluruh jaringan tubuh dan kembali ke jantung. Aliran 

darah ke tiap-tiap jaringan diatur oleh mekanisme 

kimia lokal dan mekanisme saraf umum yang 

melebarkan atau menyempitkan pembuluh darah 

jaringan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi dan 

oksigen pada jaringan melalui sistem kemoreseptor 

(Guyton & Hall, 2006). Mekanisme kimia lokal me-

rupakan mekanisme pengaturan saraf otonom, 

yaitu oleh zat-zat kimia seperti asetilkolin dan 

katekolamin, yang utama adalah norepinefrin dan 

epinefrin. Katekolamin menyebabkan penyempitan 

buluh-buluh darah sehingga terjadi peningkatan 

tekanan darah. Stres sehubungan dengan peming-

sanan dan pengeluaran darah secara normal menye-

babkan pelepasan katekolamin sehingga terjadi 

penyempitan pembuluh darah jaringan 

Stunning menjadi sangat penting karena stres 

sebelum penyembelihan memiliki dampak buruk 

terhadap kualitas daging yang dihasilkan. Stres 

sebelum penyembelihan menyebabkan peningkat-

an kadar katekolamin dan kreatinin kinase dalam 

tubuh. Peningkatan kadar katekolamin dan kre-

atinin kinase menyebabkan glikolisis secara cepat 

sehingga terjadi penumpukan asam laktat pada 

daging. Stres sebelum penyembelihan juga menye-

babkan penurunan kadar glikogen yang menyebab-

kan tingginya pH daging dan daya ikat air. Selain itu, 

daging yang dihasilkan lebih keras dengan warna 

yang lebih gelap ,

Penyembelihan sapi dengan pemingsanan mau-

pun tanpa pemingsanan harus memenuhi kaidah 

halal diantaranya harus memotong tiga saluran 

pada leher, yaitu esofagus, trakhea, dan pembuluh 

darah (vena jugularis dan arteri karotis). Proses 

penyembelihan memicu  pengeluaran darah 

dari pembuluh darah dalam jumlah yang besar. 

Respon fisiologis dari hewan yang kehilangan darah 

dalam jumlah yang besar secara tiba-tiba disebut 

syok hemoragik. Syok hemoragik merupakan gejala 

klinis akibat berkurangnya curah jantung dan perfusi 

darah ke organ karena penurunan volume darah 

(hipovolemia) yang  dipicu  oleh hilangnya 

darah. Hal ini  dipicu  ketidakmampuan sistem 

homestasis tubuh dalam mengembalikan jumlah 

normal darah akibat banyaknya darah yang keluar. 

Penurunan volume darah selama perdarahan akut 

menyebabkan penurunan tekanan vena cava dan 

pengisian darah ke jantung. Hal ini menyebabkan 

penurunan curah jantung dan tekanan arteri. Tubuh 

memiliki sejumlah mekanisme yang menjadi aktif 

dalam upaya untuk mengembalikan tekanan arteri 

kembali normal melalui refleks baroreseptor dan 

refleks kemoreseptor. Namun, karena terhentinya 

asupan oksigen dan nutrisi ke jantung akibat per-

darahan yang sangat parah (hypovolemia) menye-

babkan jantung gagal berkontraksi. Kegagalan 

jantung berkontraksi memicu  tidak ada lagi 

aliran darah dalam tubuh, sehingga perfusi darah 

ke organ tidak terjadi , Proses ini 

dapat berujung pada kematian.

Pengeluaran darah selama penyembelihan he-

wan sangat dipengaruhi oleh curah jantung, walau-

pun jantung bukan merupakan faktor utama dalam 

pengaturan curah jantung. ada  berbagai faktor 

sirkulasi perifer yang mempengaruhi aliran darah ke 

dalam jantung yang berasal dari vena, yang disebut 

aliran balik vena, yang merupakan pengatur utama. 

Alasan utama mengapa faktor-faktor perifer biasa-

nya lebih penting daripada jantung itu sendiri dalam 

mengatur curah jantung adalah karena jantung me-

miliki mekanisme di dalam jantung itu sendiri yang 

biasanya memungkinkan jantung untuk memompa 

secara otomatis berapapun darah yang mengalir ke 

dalam atrium kanan yang berasal dari vena. Tujuan 

dari pengeluaran darah adalah untuk mengeluarkan 

darah dan memastikan hewan mati dengan meng-

hentikan suplai oksigen ke otak proses kehilangan darah 

(blood loss) membutuhkan waktu tertentu untuk 

mencapai tingkat kritis. Pemotongan yang efektif 

akan menyebabkan 40%-60% volume darah hilang 

dalam pola dan tingkat yang sama pada spesies 

yang berbeda. lbahwa 

33% darah akan hilang sesudah  30 detik pemotong-

an, sedangkan  , setiap individu hewan membutuhkan waktu 

yang berbeda untuk mengalami perdarahan hingga 

kematian. Waktu kematian tertunda jika hanya 

arteri pada satu sisi leher yang terputus atau ujung 

arteri mengalami penyumbatan sebelum pendarah-

an sempurna. Perdarahan akan menyebabkan ke-

tidaksadaran yang berlanjut dengan kematian. Ke-

matian terjadi karena kurangnya suplai oksigen ke 

otak yang telah disuplai oleh aliran arteri.

Pengeluaran darah yang baik dapat terjadi pada 

hewan dalam keadaan sehat namun dapat diper-

lambat jika hewan mengalami kondisi demam, 

infeksi pada bagian jantung, paru-paru, dan otot 

Kerusakan otot dapat 

 dipicu  oleh beberapa hal diantaranya karena 

terbanting atau karena penyakit infeksius yang 

menyebabkan rusaknya pembuluh darah kapiler 

pada jaringan sehingga darah masuk ke otot yang 

menyebabkan kualitas daging menurun. Kesempur-

naan pengeluaran darah merupakan syarat agar 

kualitas daging yang dihasilkan baik. Kontraksi, 

gravitasi, dan aktifitas jantung merupakan faktor 

yang mempengaruhi pengeluaran darah otot-otot 

hewan oleh sebab itu, selama 

penyembelihan hewan harus dibiarkan berkontraksi 

hingga mati sempurna, sesudah  itu baru dilakukan 

penggantungan dan pelepasan kulit.

Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan 

bahwa sapi mati sempurna berdasarkan waktu 

henti darah memancar pada sapi yang disembelih 

dengan metode pemingsanan adalah 3,02 menit 

sedangkan pada sapi yang disembelih dengan me-

tode tanpa pemingsanan adalah 2,13 menit.