pengaruh laba
Di era globalisasi saat ini persaingan
dunia usaha sangat kuat. Hal ini dapat
berpengaruh dalam perkembangan
perekonomian secara nasional maupun
internasional. Adanya persaingan yang
semakin kuat ini , perusahaan juga
dituntut untuk selalu memperkuat
fundamental manajemen sehingga nantinya
akan mampu bersaing dengan perusahaan
lain. Ketidakmampuan perusahaan dalam
mengantisipasi perkembangan global dengan
memperkuat fundamental manajemen akan
mengakibatkan pengecilan volume usaha
yang pada akhirnya mengakibatkan
kebangkrutan perusahaan.
Kebangkrutan perusahaan dapat
terjadi karena perusahaan mengalami masalah
keuangan yang dibiarkan berlarut-larut.
Beberapa perusahaan yang mengalami
masalah keuangan mencoba mengatasi
masalah ini dengan melakukan pinjaman
dan penggabungan usaha. Ada juga yang
mengambil alternatif singkat dengan menutup
usahanya.
Salah satu alasan perusahaan menutup
usahanya karena pendapatan yang diperoleh
perusahaan lebih kecil dari biaya yang
dikeluarkan perusahaan selama jangka waktu
tertentu. Disamping itu perusahaan juga
belum dapat membayar kewajiban-
kewajibannya kepada pihak lain pada saat
jatuh tempo karena perusahaan tidak
memperoleh laba tiap periode operasinya.
Financial distress adalah suatu konsep
luas yang terdiri dari beberapa situasi dimana
suatu perusahaan menghadapi masalah
kesulitan keuangan. Istilah umum untuk
menggambarkan situasi ini adalah
kebangkrutan, kegagalan, ketidakmampuan
melunasi hutang dan default (Atmini,
2005:36). Menurutnya ketidakmampuan
melunasi hutang menunjukan adanya masalah
likuiditas, sedangkan default berarti sesuatu
perusahaan melanggar perjanjian dengan
kreditur dan dapat menyebabkan tindakan
hukum.
menjelaskan bahwa suatu
perusahaan dikatakan mengalami kondisi
financial distress apabila perusahaan ini
tidak dapat memenuhi kewajiban
financialnya. Menurut mereka sinyal pertama
dari kesulitan ini adalah dilanggarnya
persyaratan-persyaratan hutang (debt
covenants) yang disertai dengan penghapusan
atau pengurangan pembayaran deviden.
Kondisi financial distress tentu akan
mempengaruhi tujuan utama suatu perusahaan
yaitu untuk mendapatkan laba. Laporan laba
rugi disusun dengan maksud untuk
menggambarkan hasil operasi perusahaan
dalam suatu waktu periode tertentu. Dengan
kata lain laporan laba rugi menggambarkan
keberhasilan atau kegagalan operasi
perusahaan dalam upaya mencapai tujuannya.
Hasil operasi perusahaan diukur dengan
membandingkan antara pedapatan perusahaan
dengan biaya. Apabila pendapatan lebih besar
daripada biaya maka dikatakan bahwa
perusahaan memperoleh laba dan bila terjadi
sebaliknya maka perusahaan mengalami rugi.
Salah satu kegunaan dari informasi
laba (Harahap, 2011:57) yaitu untuk
mengetahui kemampuan perusahaan dalam
pembagian deviden kepada para investornya.
Jika laba bersih yang diperoleh perusahaan
sedikit atau bahkan mengalami rugi maka
pihak investor tidak akan medapatkan
deviden. Hal ini jika terjadi berturut-turut
akan mengakibatkan para investor menarik
investasinya karena mereka menganggap
perusahaan ini mengalami kondisi
permasalahan keuangan atau financial
distress. Atas dasar ini peneliti ingin
membuktikan secara empiris mengenai
kemampuan informasi laba dalam
memprediksi kondisi financial distress suatu
perusahaan.
Disamping itu, arus kas juga
merupakan laporan yang memberikan
informasi yang relevan mengenai penerimaan
dan pengeluaran kas dalam periode waktu
tertentu. Setiap perusahaan dalam
menjalankan operasi usahanya akan
mengalami arus masuk kas (cash inflows) dan
arus keluar (cash outflows). Apabila arus kas
yang masuk lebih besar dari arus kas yang
keluar maka hal ini akan menunjukkan
positive cash flowsh, sebaliknya apabila arus
kas masuk lebih sedikit daripada arus kas
keluar maka akan terjadi negative cash flowsh
(Hendriksen, 2008:86).
Penelitian tentang prediksi
kebangkrutan suatu perusahaan sudah sangat
banyak di Indonesia. Akan tetapi penelitian
mengenai prediksi kondisi financial distress
suatu perusahaan yang dibandingkan antara
kondisi financial distress dari sudut pandang
laba dan arus kas masih sangat terbatas. Oleh
karena itu, penulis tertarik untuk mengangkat
masalah ini dalam suatu penelitian yang
bertujuan untuk memperoleh bukti empiris
mengenai apakah laba atau arus kas dapat
dipakai untuk memprediksi kondisi
financial distress serta mencari model
prediksi untuk memprediksi kondisi financial
distress seluruh perusahaan non bank yang
terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
Penelitian ini memakai
perusahaan kecuali industri perbankan karena
industri perbankan dinilai memiliki regulasi
yang sudah tinggi dan banyak aturan yang
harus ditaati sehingga praktik penyimpangan
dapat dihindari. Selain itu Bank Indonesia
sudah merumuskan Arsitektur Perbankan
Indonesia (API) untuk menciptakan
infrastuktur yang kuat bagi perbankan
nasional (Hidayat, 2005). Hal ini
mengindikasikan bahwa pada perusahaan
selain industri perbankan memiliki resiko
yang lebih tinggi karena belum adanya
regulasi yang kuat seperti pada perbankan.
Salah satu perusahaan yang pernah
mengalami financial distress ialah perusahaan
Bakrie and Brothers Tbk.
Dengan adanya penelitian ini
diharapkan dapat menjadi pertimbangan bagi
investor dan kreditor serta pihak internal
perusahaan dalam mendeteksi kondisi
keuangan perusahaan. Selain itu, perusahaan
juga dapat mengetahui kondisi keuangannya
sehingga dapat melakukan tindakan antisipasi
jika diketahui perusahaannya mengalami
kondisi kesulitan keuangan.
Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu
untuk mengetahui apakah laba dan arus kas
berpengaruh terhadap financial distress pada
perusahaan non bank yang terdaftar di Bursa
Efek Indonesia.
Pengertian Financial Distress
Financial distress merupakan kondisi
dimana keuangan perusahaan dalam keadaan
tidak sehat atau krisis. Kondisi financial
distress terjadi sebelum perusahaan
mengalami kebangkrutan. Kebangkrutan
dapat diartikan sebagai suatu keadaan atau
situasi dimana perusahaan gagal atau tidak
mampu lagi memenuhi kewajiban-kewajiban
debitur karena perusahaan mengalami
kekurangan dan ketidakcukupan dana untuk
menjalankan atau melanjutkan usahanya lagi.
Model financial distress perlu dikembangkan,
karena dengan mengetahui kondisi financial
distress perusahaan sejak dini diharapkan
dapat dilakukan tindakan-tindakan untuk
mengantisipasi yang mengarah kepada
kebangkrutan (Purwanti. 2005:9).
Menurut Atmini (2005), financial
distress adalah suatu konsep luas yang terdiri
dari beberapa situasi dimana suatu perusahaan
menghadapi masalah kesulitan keuangan.
McCue (2002:157) mendefinisikan financial
distress sebagai arus kas negatif, sedangkan
Elloumie dan Gueyie (2001:113) dalam
Parulian (2007) mengkategorikan perusahaan
dengan financial distress apabila selama dua
tahun berturut-turut mengalami laba bersih
negatif. Namun, Claseens et al. (2003:148)
dalam Wardhani (2006) mendefinisikan
perusahaan yang berada dalam kesulitan
keuangan yaitu perusahaan yang memiliki
interest coverage ratio (rasio laba usaha
terhadap biaya bunga) kurang dari satu.
Menurut Noor (2009:48) kesulitan
keuangan atau financial distress adalah
kondisi yang bermula dari tidak tertib atau
kacau nya pengelolaan keuangan perusahaan.
Bila hal ini terjadi, maka manajemen tidak
dapat memantau kondisi keuangan
perusahaan, yang akan berakibat pada
meningkatnya resiko usaha. Financial distress
ini dimulai dari tekanan likuiditas yang
semakin lama semakin berat, kemudian
berlanjut pada kondisi menurunnya assets,
sehingga tidak mampu membayar berbagai
kewajiban keuangannya sehingga membawa
perusahaan kearah kebangkrutan.
Suatu perusahaan bisa dikatakan
mengalami kesulitan keuangan (financial
distress) bila terdapat indikasi seperti berikut
a. Menurunnya deviden, bukan karena
membesarkan laba ditahan. Tetapi
karena penjualan yang menurun.
b. Penutupan usaha, karena meningkatnya
biaya operasi dan menurunnya
penjualan.
c. Rugi yang terus menerus untuk
beberapa periode yang berurutan.
d. Pemutusan Hubungan Kerja (PHK)
besar-besaran.
e. Mundurnya para eksekutif perusahaan.
f. Merosotnya harga saham di pasar
modal.
g. Modal perusahaan (equity) mendekati
nol atau bahkan negatif.
Bila indikasi seperti diatas mulai
muncul, maka manajemen perlu cepat
tanggap, dan mencari solusinya. Jika prospek
usaha masih ada maka kondisi kesulitan
keuangan atau financial distress ini dapat
diatasi dengan melakukan restrukturisasi
assets dan kembali konsentrasi pada bisnis
utamanya, sehingga selamat dari
kebangkrutan. Oleh karena itu, maka untuk
perusahaan yang cerdas begitu ada gejala dan
kondisi financial distress ini dengan cepat
melakukan restrukturisasi usaha, sehingga
selamat dari kebangkrutan
Faktor-faktor Penyebab financial distress
Menurut Damodaran (2001), kesulitan
keuangan dapat disebabkan oleh faktor
internal dan eksternal perusahaan. Faktor-
faktor penyebab kesulitan keuangan
perusahaan, yaitu:
1. Faktor internal kesulitan keuangan
Merupakan faktor dan kondisi yang
timbul dari dalam perusahaan yang
bersifat mikro ekonomi. Faktor internal
dapat berupa:
a. Kesulitan Arus Kas
Disebabkan oleh tidak imbangnya
antara aliran penerimaan uang yang
bersumber dari penjualan dengan
pengeluaran uang untuk
pembelanjaan dan terjadinya
kesalahan pengelolaan arus kas
(cash flow) oleh manajemen dalam
pembiayaan operasional perusahaan
sehingga arus kas perusahaan berada
pada kondisi defisit.
b. Besarnya Jumlah Utang
Perusahaan yang mampu mengatasi
kesulitan keuangan melalui
pinjaman bank, sementara waktu
kondisi defisit arus kas dapat
teratasi. Pada masa depan akan
menimbulkan masalah baru yang
berkaitan dengan pembayaran
pokok dan bunga pinjaman,
sekiranya sumber arus kas dari
operasional perusahaan tidak dapat
menutupi kewajiban pada pihak
bank. Ketidakmampuan manajemen
perusahaan dalam mengatur
pemakaian dana pinjaman akan
berakibat terjadinya gagal
pembayaran (default) yang pada
akhirnya timbul penyitaan harta
perusahaan yang dijadikan sebagai
jaminan pada ba
c. Kerugian Opersional
Kerugian opersional perusahaan
selama beberapa tahun merupakan
salah satu faktor utama yang
menyebabkan perusahaan
mengalami kesulitan keuangan
(financial distress). Situasi ini perlu
mendapat perhatian manajemen
dengan seksama dan terarah.
Sedangkan menurut Kamaluddin dan
Pribadi (2011) faktor-faktor yang
mempengaruhi financial distress antara
lain: sensivitas pendapatan perusahaan
terhadap aktifitas ekonomi secara
keseluruhan, proposi biaya terhadap biaya
variabel, likuiditas dan kondisi pasar dari
asset perusahaan, kemampuan kas terhadap
perusahaan. Financial distress dapat
ditinjau dari komposisi neraca-jumlah asset
dan kewajiban, dari laporan laba rugi – jika
perusahaan terus menerus rugi, dan dari
laporan arus kas – jika arus kas masuk
lebih kecil dari arus kas keluar. Semua
laporan ini merupakan hasil akhir dari
pembukuan perusahaan.
2. Faktor Eksternal Kesulitan Keuangan
Faktor eksternal kesulitan keuangan
merupakan faktor-faktor diluar
perusahaan yang bersifat makro
ekonomi yang mempengaruhi baik
secara langsung maupun tidak
langsung terhadap kesulitan keuangan
perusahaan. Faktor eksternal kesulitan
keuangan dapat berupa kenaikan
tingkat bunga pinjaman.
Sumber pendanaan yang
berasal dari pinjaman lembaga
keuangan bank atau non-bank,
merupakan solusi yang harus ditempuh
oleh manajemen agar proses produksi
dan investasi dapat berjalan lancar.
Konsekuensi dari pinjaman, jika terjadi
kenaikan tingkat bunga pinjaman bagi
para pelaku bisnis merupakan suatu
resiko dan ancaman bagi kelangsungan
usaha.
Pengertian Laba
Makna laba secara umum adalah
kenaikan kemakmuran dalam suatu periode
yang dapat dinikmati (didistribusi atau
ditarik) asalkan kemakmuran awal masih
tetap dipertahankan. Laba atau keuntungan
dapat didefenisikan dengan dua cara. Laba
dan ilmu ekonomi murni didefinisikan
sebagai peningkat kekayaan seorang investor
sebagai hasil penanaman modal ini
(termasuk didalamnya, biaya kesempatan).
Sementara itu, laba juga dapat didefinisikan
sebagai selisih antara harga penjualan dengan
biaya produksi. Perbedaan diantara keduanya
adalah dalam hal pendefenisian biaya
(Rahmat, 2009).
Laba merupakan indikator utama
keberhasilan perusahaan, karena itu wajar
apabila perusahaan sangat memerhatikan laba.
Laporan laba rugi adalah wadah dimana laba
rugi perusahaan dilaporkan. Variasi dalam
pelaporan laba rugi menuntut pembaca
laporan keuangan untuk selalu siap terhadap
perbedaan klasifikasi, jenis usaha, dan
perhatian terhadap kegiatan utama (
Tujuan Informasi Laba
Laba merupakan informasi penting
dalam suatu laporan keuangan Angka ini penting untuk:
1. Perhitungan pajak, berfungsi sebagai
dasar dasar pengenaan pajak yang akan
diterima negara.
2. Menghitung deviden yang akan
dibagikan kepada pemilik dan akan
ditahan dalam perusahaan.
3. Menjadi pedoman dalam menentukan
kebijakan investasi dan pengambilan
keputusan.
4. Menjadi dasar dalam peramalan laba
maupun kejadian ekonomi perusaan
lainnya dimasa yang akan datang.
5. Menjadi dasar dalam perhitungan dan
penilaian efesiensi.
6. Menilai prestasi atau kinerja
perusahaan/segmen perusahaan/divisi.
7. Perhitungan zakat sebagai kewajiban
manusia sebagai hamba kepada
Tuhannya melalui pembayaran zakat
kepada masyarakat.
Konsep Perilaku Laba
Konsep perilaku laba berkaitan
dengan proses keputusan para investor dan
kreditor, reaksi harga surat berharga dipasar
yang terorganisasi terhadap pelaporan laba,
keputusan pengeluaran modal dari
manajemen, dan reaksi umpan balik
manajemen dan para akuntan. Harus diingat
bahwa semua teori dalam jangka panjang
harus berdasarkan konsep yang memiliki
makna interpretif. Teori perilaku laba tidak
akan sahih dalam jangka panjang jika tidak
ada konsep dunia nyata dari laba ini dan
pembuktian implikasi perilaku. Jika laba yang
dilaporkan didasarkan dalam fiksi, maka teori
perilaku tidak dapat membuktikan maknanya
dalam jangka panjang ,
Pengertian Arus Kas
Laporan arus kas adalah semua arus
kas masuk dan arus kas keluar, atau sumber
dan pemakaian kas selama satu periode ,
Arus kas adalah ringkasan
aliran kas untuk suatu periode tertentu,
laporan ini kadang disebut laporan sumber
pemakaian operasi perusahaan, investasi,
dan aliran kas pembiayaan serta menunjukkan
perubahan kas dan surat berharga selama
periode ini .
Tujuan Informasi Arus Kas
Salah satu tujuan utama penyajian data
mengenai arus kas ialah menyediakan
informasi yang diasumsikan akan
1. Membantu para investor atau kreditor
jumlah arus kas yang mungkin
didistribusikan pada waktu yang akan
datang dalam bentuk deviden maupun
bunga dan dalambentuk distribusi
likuidasi atau pembayaran kembali
pokok.
2. Membantu dalam mengevaluasi resiko.
Resiko dalam konteks ini meliputi baik
variabilitas yang diharapkan dari hasil
pengembalian mendatang maupun
kemungkinan insolvabilitas atau pailit.
Penyajian Laporan Arus Kas
Hendriksen (2008:88) penyajian arus
kas historis tidak boleh dianggap sebagai
bagian penyajian atau perhitungan laba bersih.
Artinya, pendapatan dan beban tidak boleh
dihitung menurut prosedur khusus dengan
alasan bahwa prosedur ini menghasilkan
jumlah yang lebih erat kaitannya dengan arus
kas yang sebenarnya. Perhitungan laba-rugi
dan laporan arus kas berkaitan dengan
informasi yang sama sepanjang waktu, namun
laporan ini menyajikan informasi yang
berbeda.
Karena adanya perbedaan antara
penerima dan pembayaran kas pada satu sisi
dan kegiatan operasional yang menimbulkan
arus kas ini pada sisi lain, maka laporan arus
kas untuk satu periode sangat kecil.
Perbandingan arus kas selama beberapa
periode diperlukan untuk mulai mengamati
perilaku arus yang beulang dan untuk
meramalkan kemungkinan serta frekuensi
arus yang takberulang. Salah satu kesulitan
utama dalam mengandalkan informasi arus
kas adalah, karena kadang transaksi yang
penting terjadi tanpa diikuti transfer kas.
Dalam penyajian laporan arus kas ini
memisahkan antara transaksi arus kas dalam
tiga kategori yaitu
1. Kas yang berasal dari atau dipakai
untuk kegiatan operasional.
2. Kas yang berasal dari atau dipakai
untuk kegiatan investasi.
3. Kas yang berasal dari atau dipakai
untuk kegiatan pendanaan.
Untuk menentukan arus kas apa saja
yang masuk dalam golongan operasional,
investasi, dan pendanaan dapat dijelaskan
sebagai berikut :
1. Kegiatan operasional
Kegiatan operasional untuk perusahaan
dagang terdiri dari membeli barang
dagangan, menjual barang dagangan
ini serta kegiatan lain yang terkait
dengan pembelian dan penjualan
barang. Untuk perusahaan jasa, kegiatan
operasional antara lain adalah menjual
jasa kepada pelanggannya. Semua
transaksi yang berkaitan dengan laba
yang dilaporkan dalam laporan laba rugi
dikelompokkan dengan dalam golongan
ini. Demikian juga arus kas masuk
lainnya yang berasal dari kegiatan
operasional, misalnya:
a. Penerimaan dari langganan.
b. Penerimaan deviden.
c. Penerimaan dari piutang bunga.
d. Penerimaan refund dari supplier.
Arus kas keluar misalnya berasal dari:
a. Kas yang dibayarkan untuk
pembelian barang dan jasa yang akan
dijual.
b. Bunga yang dibayar atas hutang
perusahaan.
c. Pembayaran pajak penghasilan.
d. Pembayaran gaji.
2. Kegiatan investasi
Kegiatan investasi merupakan
kegiatan membeli atau menjual
kembali investasi pada surat berharga
jangka panjang dan aktiva tetap. Jika
perusahaan membeli investasi/aktiva
tetap akan mengakibatkan arus keluar
dan jika menjual investasi/aktiva tetap
akan mengakibatkan adanya arus kas
masuk ke perusahaan. Transaksi ini
berhubungan dengan perolehan
fasilitas investasi atau non kas lainnya
yang dipakai oleh perusahaan. Arus
kas masuk terjadi jika kas diterima
dari hasil atau pengembalian investasi
yang dilakukan sebelumnya, misalnya
dari hasil penjualan.
Arus kas yang diterima misalnya
berasal dari:
a. Penjualan aktiva tetap.
b. Penjualan surat berharga yang berupa
investasi.
c. Penagihan pinjaman jangka panjang.
d. Penjualan aktiva lainnya yang
dipakai dalam kegiatan produksi.
Arus kas keluar dari kegiatan
ini misalnya berasal dari:
a. Pembayaran untuk mendapatkan
aktiva tetap.
b. Pembelian investasi jangka panjang.
c. Pemberian pinjaman kepada pihak
lain.
d. Pembayaran untuk aktiva yang
dipakai dalam kegiatan produktif,
seperti hak paten.
3. Kegiatan pendanaan
Kegiatan pendanaan adalah kegiatan
yang menarik uang dari jangka panjang
dan dari pemilik seta pengembalian
uang kepada mereka. Arus kas dalam
kelompok ini terkait dengan bagaimana
kegiatan kas diperoleh untuk membiayai
perusahaan termasuk operasinya. Dalam
kategori ini, arus kas masuk merupakan
perolehan dari kegiatan mendapatkan
dana untuk kepentingan perusahaan.
Sedangkan arus kas keluar adalah
pembayaran kembali kepada pemilik
dan kreditor atas dana yang diberikan
sebelumnya.
Perusahaan harus menyusun laporan
arus kas sebagai bagian dari laporan keuangan
tahunannya. Untuk menentukan dan
menyajikan arus kas yang berasal dari
aktivitas operasi dapat dipakai salah satu
dari dua metode, yaitu :
a. Metode langsung
Metode langsung adalah metode
yang sederhana, yang hanya terdiri
atas arus kas koperasi yang
dikelompokkan menjadi dua
kategori, yaitu penerimaan kas dan
pengeluaran kas. Pada metode
langsung, rekening penghasilan dan
biaya yang dilaporkan dengan basis
akrual dikonversikan menjadi
penghasilan dan biaya dengan basis
kas. Arus kas operasi ini dihitung
dari jumlah pendapatan
(penghasilan) dan beban (biaya),
disesuaikan dengan perubahan
rekening aktiva atau utang lancar
yang berkaitan.
b. Metode tidak langsung
Metode ini untuk menentukan dan
menyajikan jumlah arus kas bersih
yang sama dari aktivitas operasi
dapat dilakukan dengan
menyesuaikan laba bersih berbasis
akrual dengan perubahan aktiva atau
utang lancar yang berkaitan.
Metode ini tidak menentukan
kategori utama dari arus kas operasi
seperti halnya pada metode langsung.
Penyesuaian yang dilakukan pada
metode ini dimaksudkan untuk
mengeluarkan:
1. Pengaruh transaksi bukan kas
2. Pengaruh diferel arus kas masa
lalu
3. Pengaruh semua unsur pendapatan
dan biaya yang berkaitan dengan
arus kas investasi pendanaan.
Perusahaan dianjurkan untuk
melaporkan arus kas dari aktivitas
opreasi dengan memakai metode
langsung. Alasannya, metode langsung
ini menghasilkan informasi yang
berguna dalam mengestimasi arus kas
dimasa depan yang tidak dapat
dihasilkan dengan metode tidak
langsung.
Konsep-konsep Arus Kas
Suatu Alternatif penyajian penerimaan
dan pengeluaran kas adalah pemakaian
konsep dana yang dapat diinterpretasikan
secara sempit atau luas. Menurut arti sempit,
istilah dana (fund) dapat dipakai untuk
menggambarkan aktiva moneter jangka
pendek. Konsep yang jauh lebih luas adalah
memperlakukan dana sebagai seluruh sember
ekonomi perusahaan ,
Pengaruh Laba, Arus Kas, Terhadap
Financial Distress
Laba merupakan selisih lebih antara
pendapatan dan beban. Jika pendapatan lebih
besar daripada beban, maka perusahaan akan
mendapatkan laba. Demikian juga sebaliknya
jika pendapatan lebih kecil daripada biaya
maka perusahaan akan mengalami kerugian.
Perusahaan mengalami keadaan financial
distress jika perusahaan mengalami kerugian
atau dalam penelitian ini memperoleh laba
operasi negatif. Menurut Whitaker (2000),
jika perusahaan memperoleh laba operasi
bersih negatif maka perusahaan mengalami
kesulitan keuangan atau kondisi financial
distress.
laporan
arus kas dapat membantu para pemakainya
untuk melihat bagaimana saldo kas dan setara
kas dalam neraca perusahaan berubah dari
awal hingga akhir periode akuntansi dan apa
artinya perubahan ini bagi perusahaan,
apakah menunjukan prestasi positif atau
negatif. Laporan laba rugi perusahaan
memakai dasar akrual yang
memungkinkan pelaporan pendapatan dan
beban sebelum ada arus kas masuk atau
keluar, maka laporan arus kas dalam hal ini
dapat dipakai sebagai laporan pengimbang
laporan laba rugi. Fungsi dari laporan laba
rugi adalah untuk mengukur profitabilitas dari
perusahaan pada suatu periode tertentu
dengan cara menghubungkan seluruh biaya
dan pendapatan yang terkait.
Oleh karena itu, penilaian yang tepat
atas prestasi suatu perusahaan tidak hanya
memperhatikan kemampuan perusahaan
dalam menghasilkan laba tetapi juga
memperhatikan kemampuan perusahaan
dalam menghasilkan arus kas positif dari
kegiatan operasinya. Jika perusahaan
profitable namun mengalami defisit arus kas,
dapat merupakan indikasi bahwa perusahaan
mengalami masalah keuangan dan
dikhawatirkan tidak mampu mengerbalikan
pinjaman kepada kreditor maupun membayar
deviden kepada investor. Kondisi financial
distress juga dapat terjadi jika perusahaan
memiliki arus kas positif namun laba yang
diperoleh negatif. Kondisi ini
menjadikan investor tidak mempercayakan
investasinya kembali kepada perusahaan
karena dari kondisi laba negatif menjadikan
tidak adanya pembagian deviden.
Definisi dan Operasional Variabel
Sesuai dengan kerangka pemikiran
dan hipotesis variabel-variabel ini dapat
diidentifikasikan menjadi variabel independen
(bebas) dan variabel dependen (terikat).
Variabel independen (bebas) adalah variabel
yang membantu menjelaskan varians dalam
penelitian terikat sedangkan Variabel
dependen (terikat) adalah variabel yang
dijelaskan atau dipengaruhi oleh variabel
independen ,Variabel-
variabel dalam penelitian ini adalah:
1. Variabel Independen (X)
a. Laba
Laba adalah selisih lebih antara
pendapatan dengan beban
. Laba yang
dipakai dalam penelitian ini
adalah laba sebelum pajak /earning
before tax (EBT) pada seluruh
perusahaan non bank yang terdaftar
di Bursa Efek Indonesia. Dalam
perhitungannya memakai rasio
laba terhadap total asset yaitu laba
sebelum pajak dibagi dengan total
asset. Tahun yang dipakai yaitu
tahun 2008-2011 untuk dilihat
prediksi financial distress pada tahun
selanjutnya.
b. Arus Kas
Laporan arus kas adalah semua arus
kas masuk dan arus kas keluar, atau
sumber dan pemakaian kas selama
satu periode (Kieso,2008). Arus kas
diambil dari angka arus kas yang
disajikan dalam laporan keuangan
pada seluruh perusahaan non bank
yang terdaftar di Bursa Efek
Indonesia. Dalam perhitungannya
memakai rasio arus kas terhadap
total aset yaitu arus kas dibagi
dengan total aset. Tahun yang
dipakai yaitu tahun 2010-2013
untuk dilihat prediksi financial
distress ditahun selanjutnya.
2. Variabel Dependen (Y)
a. Financial distress merupakan
kondisi dimana perusahaan
mengalami kesulitan keuangan.
Penelitian ini memakai definisi
dari Classens et. al (2002) dalam
Wardhani (2006) yang menyatakan
bahwa perusahaan yang berada
dalam kesulitan keuangan yaitu
perusahaan yang memiliki interest
coverage ratio (rasio laba terhadap
biaya bunga) kurang dari 1 (satu).
Nilai 1 (satu) untuk perusahaan yang
mengalami kondisi financial distress
dan nilai 0 (nol) untuk perusahaan
yang tidak mengalami financial
distress. Dalam perhitungannya
memakai kondisi financial
distress pada tahun 2011-2014.
Metode Analisis Data
Pengujian hipotesis dilakukan dengan
memakai regresi logistik (logistic
regression) yaitu peneliti ingin menguji
apakah probabilitas terjadinya variabel terikat
dapat diprediksi dengan variabel bebasnya.
Pada pengujian ini dilakukan dengan
mengkategorikan variabel terikatnya ke dalam
kelompok-kelompok tertentu, yaitu financial
distress dan non financial distress. Selain itu,
alat analisis lain yang dipakai adalah
statistik deskriptif.
Dalam menguji hipotesis dengan
memakai logistic regression dapat
dilakukan dengan langkah-langkah sebagai
berikut (Ghozali, 2005):
a. Menilai Model Regresi
Regresi logistik merupakan salah satu
bagian dari analisis regresi, yang
dipakai untuk memprediksi
probabilitas kejadian. Dengan
mencocokkan data pada fungsi logit
logistik. Dalam model regresi
kesesuaian model (Goodness of fit)
dapat dilihat dari R² ataupun F-Test.
Untuk menilai Model Fit ditunjukan
dengan Log Likelihood Value (nilai –
2LL), yaitu dengan cara
membandingkan antara nilai –2LL pada
awal (block number = 0), dimana model
hanya memasukkan konstanta dengan
nilai –2LL. Sedangkan, pada saat block
number = 1, dimana model
memasukkan konstanta dan variabel
bebas. Apabila nilai –2LL block number
= 0 lebih besar dari nilai –2LL block
number = 1, maka menunjukkan model
regresi yang baik sehingga penurunan
Log Likelihood menunjukkan model
regresi semakin baik.
b. Menguji Koefisien Regresi
Pengujian koefisien regresi dilakukan
untuk menguji seberapa jauh semua
variabel bebas yang dimasukkan dalam
model mempunyai pengaruh terhadap
variabel terikat. Koefisien regresi dapat
ditentukan dengan memakai Wald
Statistik dan nilai probabilitas (Sig)
dengan cara nilai Wald Statistik
dibandingkan dengan Chi-Square tabel,
sedangkan nilai probabilitas (Sig)
dibandingkan dengan tingkat
signifikansi (α). Untuk menentukan
penerimaan atau penolakan Ho
didasarkan pada tingkat signifikansi (α)
5%, dengan kriteria:
1. Ho diterima apabila Wald hitung < Chi-
Square Tabel, dan nilai Asymptotic
Signifinance > tingkat signifikansinya
(α). Hal ini berarti laba dan aruskas
berpengaruh terhadap financial distress.
2. Ho ditolak apabila Wald hitung > Chi-
Square Tabel dan nilai Asymptotic
Signifinance < tingkat signifikansi (α).
Hal ini berarti laba dan arus kas tidak
berpengaruh terhadap financial distress.
3. Estimasi parameter dan Interpretasinya
Estimasi maksimum likehood
parameter dari model dapat dilihat
pada tampilan output variable in the
equation. Sedangkan untuk
perhitungan logistic regression dapat
memakai persamaan sebagai
berikut:
Ln =
𝑝
1−𝑝
= 𝑏0 + 𝑏1𝐸𝐵𝑇₁ + 𝑏2𝐶𝐹₂ + 𝑏𝑘𝑋𝑘
Keterangan:
EBT : Laba sebelum pajak
CF : Arus Kas
Hasil Analisis Data
Penelitian ini memakai waktu
pelaporan keuangan selama 5 tahun untuk
mengidentifikasikan keberadaan kondisi
financial distresss yang terjadi pada
perusahaan sampel. Dengan ketentuan
sebagaimana yang ditetapkan sebelumnya,
Dalam penelitian ini, dari 105
perusahaan sampel diperoleh 54 sampel atau
dalam kondisi yang sehat dengan tidak
mengalami financial distress. Sedangkan, 51
sampel lain nya mengalami financial
distress.
Pengujian Hipotesis
Untuk menguji hipotesis adanya
pengaruh rasio laba sebelum pajak dan arus
kas terhadap terjadinya financial distress
akan dipakai analisis regresi logistik.
pemakaian analisis regresi logistik ini
adalah karena variabel terikat yaitu financial
distress adalah merupakan data yang
berbentuk dummy, dimana variabel ini
merupakan variabel yang dinyatakan dalam
nilai 0 untuk menunjukkan perusahaan dalam
kondisi sehat (non financial distress) dan
nilai 1 yang menunjukkan bahwa perusahaan
dalam kondisi financial distress.
Kelebihan analisis ini adalah tidak
diperlukannya pengujian terhadap normalitas
data yang ada, maupun sedikitnya asumsi
yang diperlukan untuk menjustifikasi hasil
penelitian. Perhitungan statistik dan
pengujian hipotesis dengan analisis regresi
logistik dalam penelitian ini dilakukan
dengan bantuan program komputer SPSS.
Hasil yang diperoleh dari penghitungan
selanjutnya akan dibahas.
Uji Kelayakan Model (Goodness of Fit)
Pengujian regresi logistik juga akan
diuji terhadap ketepatan antara prediksi
model regresi logistik dengan data hasil
pengamatan yang di nyatakan dalam uji
kelayakan model (goodness of fit). Pengujian
ini diperlukan untuk memastikan tidak
adanya kelemahanatas kesimpulan dari
model yangdiperoleh. Pengujian overall
model fit ini dilakukan dengan
memakai pengujian terhadap nilai –2
log likelihood. Nilai –2 log likelihood yang
rendah menunjukkan bahwa model akan
semakin fit.
Dalam hal ini ada dua ukuran R square
yaitu Nagelkerke R Square sebesar 0,155. Hal
ini berarti bahwa 15,5% variasi financial
distress dapat diprediksikan dari rasio laba
sebelum pajak dan arus kas.
Pembahasan
Pengujian kemampuan prediksi model
regresi logistik ini dalam
memprediksikan kejadian financial distress
pada tahun 2010-2014 telah menunjukkan
nilai yang cukup tinggi yaitu mencapai
61.0%.
Pengaruh Laba Terhadap Kondisi
Financial Distress
Hasil penelitian mendapatkan bahwa
laba negatif yang diperoleh pada periode
penelitian dapat berpengaruh terhadap
kondisi financial distress. Dengan demikian,
berdasarkan hasil penelitian ini diperoleh
bahwa model financial distress dengan
pertimbangan terjadinya penurunan laba
dapat dijelaskan oleh laporan rasio laba rugi
yang dimiliki oleh perusahaan.
Alasan yang cukup mendasar atas
diperolehnya hasil yang signifikan adalah
bahwa nampaknya kondisi keuangan yang
agak memprihatinkan dari suatu perusahaan,
akan menjadikan sinyal atau early warning
(peringatan dini) bagi perusahaan bahwa
mereka dapat mengalami tekanan keuangan
atau financial distress pada tahun berikutnya.
Pengujian kemaknaan pengaruh
variabel rasio laba terhadap financial distress
didasarkan pada nilai Wald diperoleh sebesar
0,270 dengan signifikansi sebesar 0,604.
Nilai signifikansi yang berada di atas 0,05
menunjukkan tidak adanya pengaruh yang
signifikan dari variabel rasio laba terhadap
financial distress. Arah positif menunjukkan
bahwa semakin tinggi rasio laba perusahaan
maka akan menurunkan kemungkinan
terjadinya financial distress. Hal ini
menunjukkan bahwa pada model regresi
logistik H alternatif ditolak atau hipotesis
yang menyatakan variabel bebas terpengaruh
terhadap variabel terikat ditolak.
Pengaruh Arus Kas Terhadap Kondisi
Financial Distress
Hasil penelitian mendapatkan bahwa
nilai arus kas yang diperoleh pada periode
penelitian tidak berpengaruh terhadap
kondisi financial distress pada tahun
berikutnya. Faktor arus kas dalam penelitian
ini belum memberikan efek pemicu financial
distressyang signifikan. Hal ini
mengimplikasikan bahwa arus kas hanya
sebagai informasi tambahan.
Pengujian pengaruh variabel rasio
arus kas terhadap financial distress
didasarkan pada nilai Wald. Dalam hal ini
diperoleh nilai Wald sebesar 7.976 dengan
signifikan sisebesar 0,005. Nilai signifikansi
yang berada dibawah 0,05 menunjukkan
tidak ada nya pengaruh yang signifikan dari
variabel rasio arus kas terhadap financial
distress. Hal ini menunjukkan bahwa pada
model regresi logistik berarti H alternative
ditolak atau hipotesis yang menyatakan
variabel bebas terpengaruh terhadap variabel
terikat ditolak.
Alasan diperoleh nya hasil yang tidak
signifikan yaitu arus kas di nilai memiliki
informasi laporan keuangan yang cukup
kompleks karena laporan arus kas terdiri dari
arus kas yang berasal dari kegiatan operasi,
investasi, dan pendanaan. Laporan arus kas
dari kegiatan operasi sifatnya hamper sama
dengan laporan laba rugi. Laporan arus kas
yang berasal dari kegiatan operasi berisi
semua transaksi yang berkaitan dengan laba
yang dilaporkan dalam laporan laba rugi.
Jadi, keduanya memberikan rincian
mengenai kegiatan operasional yang
dijalankan perusahaan.
Berbeda dengan arus kas yang berasal
dari kegiatan operasi, arus kas yang berasal
dari kegiatan investasi memberikan informasi
mengenai perolehan fasilitas investasi untuk
perusahaan. Dalam laporan ini terdapat
informasi mengenai penjualan dan
pembelian aset tetap. Jika nilai arus kas dari
kegiatan investasi menunjukkan nilai yang
tinggi, maka dapat dikatakan bahwa hasil
perolehan dari penjualan aset tetap lebih
tinggi dari nilai pembelian aset tetap. Hal ini
mengindikasikan perusahaan mempunyai
arus kas yang tinggi pula. Namun, kondisi
ini belum memberikan gambaran yang
pasti mengenai kemampuan perusahaan
dalam membayar hutangnya kepada kreditor.
Hal ini dapat terjadi karena
nilaiyang tinggi ini dapat dimungkinkan
kegunaannya untuk melakukan pembayaran
hutang yang jauh lebih besar pada periode
selanjutnya. Sedangkan jika nilai arus kas
yang diperoleh kecil, dapat pula disimpulkan
bahwa perusahaan tidak akan mampu
memenuhi kewajibannya. Namun,
sebenarnya dari pembelian aset tetap yang
membutuhkan dana yang besar, dapat
menghasilkan output yang jauh lebih besar
dari dana yang dikeluarkan sehingga pada
periode selanjutnya arus kas dari kegiatan
operasi menunjukkan hasil yang jauh lebih
tinggi.
Selanjutnya, arus kas yang berasal
dari kegiatan pendanaan memberikan
informasi mengenai penerimaan pinjaman
yang diperoleh perusahaan dan pembayaran
hutang oleh perusahaan kepada kreditor. Jika
nilai arus kas dari kegiatan pendanaan
menunjukkan nilai yang tinggi, maka dapat
dikatakan bahwa hasil perolehan dari nilai
pinjaman yang diperoleh perusahaan lebih
besar dari pada pembayaran hutang yang
dilakukan perusahaan pada periode ini .
Hal ini mengindikasikan perusahaan
mempunyai arus kas yang tinggi pula.
Namun, kondisi ini belum memberikan
gambaran yang pasti mengenai kemampuan
perusahaan dalam membayar hutangnya
kepada kreditor.
Hal ini dapat terjadi karena nilai
yang tinggi ini sebenarnya akan
dipakai untuk membiayai kegiatan operasi
perusahaan yang dimungkinkan terjadinya
kerugian sehingga nilai arus kas yang berasal
dari kegiatan operasinya rendah. Sedangkan,
jika nilai arus kas yang diperoleh kecil, dapat
pula disimpulkan bahwa perusahaan tidak
akan mampu memenuhi kewajibannya.
Namun, sebenarnya pada periode selanjut
nyaa kan mengalami peningkatan laba yang
besar sehingga perusahaan juga tidak akan
mengambil kredit yang besar pula. Jadi, pada
periode selanjutnya akan diperoleh nilai arus
kas yang jauh lebih tinggi dari pada periode
sebelumnya.
Atas uraian ini , dapat dikatakan
bahwa nilai arus kas, khususnya arus kas
yang berasal dari kegiatan investasi dan
pendanaan, jika nilai nya rendah, tidak dapat
dipastikan bahwa perusahaan mengalami
kondisi keuangan yang buruk. Sedangkan,
jika nilai arus kas menunjuk kan nilai yang
tinggi, hal ini juga belum tentu
menggambarkan bahwa perusahaan dapat
memenuhi kewajibannya kepada pihak
kreditor. Dengan demikian, berdasar kan
hasil penelitian ini diperoleh bahwa model
financial distress tidak dapat dijelaskan oleh
laporan arus kas yang dimiliki oleh
perusahaan.
1. Hasil pengujian omnibus test diperoleh
nilai chi square (penurunan nilai -2 log
likelihood) sebesar 12.975 dengan
signifikansi sebesar 0.002. Dengan nilai
signifikansi yang lebih kecil dari 0,05
ini maka dapat disimpulkan bahwa
secara bersama-sama financial distress
dapat diprediksi oleh ke 2 prediktor dalam
model. Hal ini berarti bahwa
pemakaian prediktor rasio laba dan
rasio arus kas secara bersama- sama
dapat menjelaskan terjadinya financial
distress pada perusahaan.
2. Pengujian pengaruh variabel rasio laba
terhadap Financial Distress didasarkan
pada nilai wald diperoleh sebesar 0,270
dengan signifikansi sebesar 0,604 dan
nilai chi square sebesar 41.401 . Ho
diterima apabila Wald hitung < Chi-
Square Tabel, dan nilai Asymptotic
Signifinance > tingkat signifikansinya (α).
Hal ini berarti rasio laba berpengaruh
terhadap financial distress.
3. Pengujian pengaruh variabel rasio arus
kas terhadap financial distress didasarkan
pada nilai Wald. Dalam hal ini diperoleh
nilai Wald sebesar 7.976 dengan
signifikansi sebesar 0,005. dan nilai chi
square sebesar 41.401. Ho diterima
apabila Wald hitung < Chi-Square Tabel,
dan nilai Asymptotic Signifinance >
tingkat signifikansinya (α). Hal ini berarti
rasio arus kas berpengaruh terhadap
financial distress.
4. Ada dua ukuran R square yaitu
Nagelkerke R Square sebesar 0,155. Hal
ini berarti bahwa 15,5% variasi financial
distress dapat diprediksikan dari rasio
laba sebelum pajak dan arus kas.
1. pemakaian data tahun pengamatan
untuk memprediksi kondisi financial
distress suatu perusahaan dinilai dapat
mempengaruhi validitas hasil pengujian.
Oleh karena itu, dalam penelitian
selanjutnya disarankan untuk
memakai data tahun prediksi selama
jangka waktu 2-3 tahun kedepan agar
hasil pengujian penelitian lebih
mencerminkan keadaan perusahaan
secara cepat.
2. Bagi manajemen, dalam kaitannya
dengan pelaporan arus kas perusahaan
agar lebih berhati-hati dengan nilai
hutang yang dimiliki. Nilai hutang
ini dapat dijadikan sebagai pemacu
kinerja keuangan. Sebaiknya perlu
ditetapkan nilai rasional bagi setiap
perusahaan untuk melakukan hutang
kepada kreditor.
3. Dalam kaitannya dengan laporan laba
rugi, penekanan terhadap biaya
operasional diperlukan untuk
memaksimalkan laba bersih yang
diperoleh. Dengan nilai laba bersih yang
besar, diharapkan investor semakin
mempercayakan investasinya ke
perusahaan ini .