ternak sapi 7
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh bangsa, umur, jenis kelaminpada sapi potong
Peranakan Ongole (PO), Simmental PO (SimPO) dan Limousin PO (LimPO) terhadap kualitas fisik, kimia
dan profil asam lemak daging.Sebanyak 180 ekor sapi dibagi menjadi 60 ekor PO, 60 ekor SimPO, 60
ekor LimPO, setiap bangsa dibagi menurut jenis kelamin masing-masing 30 ekor, dan setiap jenis kelamin
dikelompok lagi sesuai tingkatan umur (1,5-2,0 tahun); (2,5-3,0 tahun); (>4,0 tahun) yang masing-masing
10 ekor. Variabel yang diambil meliputi bobot potong, bobot karkas, persentase karkas, kualitas fisik dan
kimia otot Longissimus dorsi (LD). Data dianalisa menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) pola
faktorial 3x3x2 pada bangsa, umur dan jenis kelamin dan apabila terdapat data yang berbeda nyata diuji
lanjut menggunakan Duncan’s new multiple range test. Hasil menunjukkan bahwa bangsa dan umur
berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap bobot potong, bobot karkas dan persentase karkas. Jenis
kelamin berpengaruh nyata (P<0,05) pada bobot potong dan bobot karkas. Umur dan jenis kelamin
berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap kadar air dan lemak. Interaksi terjadi antara umur dan jenis kelamin
terhadap bobot potong, bobot karkas dan kadar air. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa bangsa
sapi LimPO menghasilkan bobot hidup dan bobot karkas lebih tinggi dibanding PO dan SimPO,
sedangkan sapi PO mempunyai kualitas kimia daging lebih baik dibanding sapi SimPO dan LimPO.
Indonesia memiliki keanekaragaman
bangsa sapi, antara lain sapi PO, SimPO,
dan LimPO. Daerah Istimewa Yogyakarta
(DIY) merupakan daerah terdekat dari pusat
populasi sapi PO yaitu wilayah Kabupaten
Kebumen, Provinsi Jawa Tengah. Kedekatan
antara wilayah ini menyebabkan sapi-sapi
silangan PO banyak dijumpai di DIY. Daging
sapi masih menjadi pilihan masyarakat
karena nilai gizi yang lengkap. Daging sapi
memiliki kandungan protein 18,8%, air 66%,
dan lemak 14% , Konsumen saat ini lebih selektif
memilih daging yang dikonsumsinya.
Kandungan nutrien daging yaitu protein,
lemak, asam lemak tak jenuh dan kolesterol
akan menentukan pilihan konsumen.
Kandungan nutrient yang bagus diharapkan
mampu mencegah timbulnya penyakit
degeneratif seperti penyakit jantung koroner
dan tekanan darah tinggi (hipertensi).
Perbedaan bangsa ternak akan
berpengaruh terhadap produksi daging sapi.
Bangsa dengan tipe besar akan lebih
berdaging (lean) dan mempunyai banyak
protein, proporsi tulang lebih tinggi dan
lemak lebih rendah dari pada ternak tipe kecil
,Proporsi komponen karkas
dapat dipengaruhi oleh umur ternak.
Pertumbuhan ternak paling cepat adalah
pada waktu pedet sampai umur dua tahun,
kemudian pada umur empat tahun mulai
berkurang dan setelahnya pertumbuhan
mulai konstan ,
bahwa kelompok umur ternak yang lebih tua
mempunyai bobot lemak yang lebih tinggi
dibandingkan dengan ternak muda.
Komponen lain yang dapat mempengaruhi
proporsi karkas adalah jenis kelamin.
Klasifikasi jenis kelamin (sex-class)
berpengaruh nyata terhadap terhadap bobot
karkas, luas urat daging mata rusuk, tebal
lemak punggung rusuk ke-12 dan persentase
lemak ginjal, pelvis dan jantung (Harapin,
2006). Sapi jantan akan mempunyai
pertumbuhan yang lebih cepat dari pada sapi
betina karena adanya hormon androgen
Komposisi kimia daging secara umum
dapat diestimasi, antara lain kadar: air,
protein, lemak, karbohidrat, substansisubstansi non-protein yang larut, termasuk
substansi nitrogenous dan substansi
anorganik berbeda antara bangsa, umur dan
jenis kelamin, kadar air semakin tua ternak
relatif menurun sebaliknya kadar lemaknya
naik semakin bertambah umurnya. Air dalam
daging segar sebagai komponen kimia
terbesar mempengaruhi kualitas daging
terutama jus daging (juiceness), keempukan
(tenderness), warna dan citarasa ,
Tujuan penelitian ini adalah untuk
mengetahui pengaruh bangsa, umur, serta
jenis kelamin terhadap kualitas daging sapi
potong dan mengetahui interaksi bangsa,
umur, serta jenis kelamin pada sapi potong.
Manfaat hasil penelitian ini diharapkan dapat
digunakan untuk menentukan pemilihan
bangsa, jenis kelamin dan umur yang
memiliki kualitas daging sapi terutama
mengenai komposisi kimia daging, asam
lemak, dan kolesterol yang baik pada sapi
PO, SimPO dan LimPO.
Materi dan Metode
Materi yang digunakan dalam
penelitian ini adalah 180 ekor jantan dan
betina dari sapi PO, SimPO, LimPO, yang
dikelompokan menjadi 3 kategori yaitu umur
0,0 – 2,0 tahun; 2,5 – 3,0 tahun; dan lebih
dari 4,0 tahun. Alat yang digunakan adalah
timbangan sapi hidup merk FKH berbobot
maksimal 1.000 kg dengan ketelitian 1 kg.
Data yang amati meliputi Bangsa, Jenis
kelamin, Umur, Bobot badan dan Bobot
karkas. Sapi yang memenuhi kriteria diambil
sampel daging pada bagian Longissimus
Dorsi (LD) sebanyak 300 g, diikumpulkan
sampai semua materi variabel perlakuan
terpenuhi dan disimpan pada suhu –18°
C
baru digunakan untuk uji fisik dan Kimia.
analisa data menggunakan rancangan acak
lengkap pola faktorial 3x3x2 untuk performan
sapi yaitu bangsa sapi, umur, jenis dan
kelamin apabila terdapat data yang berbeda
nyata diuji lanjut menggunakan duncan’s
new multiple range test.
Hasil dan Pembahasan
Bobot potong, bobot karkas dan
persentase karkas
Pada Tabel 1 diketahui bahwa rerata
bobot potong paling besar dimiliki oleh
bangsa sapi LimPO dengan: 471,32±65,55
kg, SIMPO: 458,68±63,12 kg dan PO:
428,67±61,76 kg. Berdasarkan analisa
statistik diketahui bahwa variabel bobot
potong pada faktor bangsa sapi berbeda
sangat nyata yaitu (P<0,01). rerata bobot potong sapi
SIMPO dan LimPO adalah 540,71 - 541,63
kg. Hasil penelitian ini sesuai dengan Ilham
(2012) yang menyatakan bahwa bobot
potong bangsa sapi PO lebih rendah
dibanding bangsa sapi silangan SimPO
maupun Brahman cross ,
rerata bobot potong sapi PO 395,66 - 442,83
kg sedangkan Soeparno (2005) menyatakan
bahwa faktor genetik dan lingkungan
mempengaruhi laju petumbuhan dan
komposisi tubuh yang meliputi distribusi
berat, dan komposisi kimia komponen
karkas. Variasi fenotip yaitu penampilan
performan suatu individu ternak pedaging
disebabkan oleh hereditas, lingkungan atau
interaksi keduanya.
Faktor jenis kelamin pada analisa
statistik menunjukkan perbedaan yang
sangat nyata (P<0,01). Perbedaan jenis
kelamin bangsa sapi potong turut
memberikan andil pada perbedaan bobot
potongnya, bobot potong sapi jantan
487,18±52,93 kg sapi betina 418,60±59,04
kg. Hal ini disebabkan oleh hormon kelamin
jantan yang memicu pertumbuhan
lebih cepat pada ternak jantan dibandingkan
dengan ternak betina. Perbedaan bobot
potong antara sapi jantan dan sapi betina
dikarenakan akumulasi proses pembentukan
otot yang dipengaruhi oleh kerja hormon
Faktor umur pada analisa statistik
menunjukkan hasil yang nyata (P<0,05).
Umur 0,0-2,0 tahun bobot potong
458,68±63,12 kg; 2,5 – 3,0 tahun bobot
potong 457,17±75,60 kg dan umur >4,0
tahun bobot potong 463,13±42,12 kg. Hasil
ini sesuai dengan penelitian Hafid dan
Priyanto (2006) menunjukkan bahwa rerata
bobot potong sapi BX heifer dan steer
cenderung meningkat seiring dengan
bertambahnya umur ternak. Perbedaan
bobot potong ini dikarenakan semakin
bertambahnya umur, sapi akan mengalami
pertumbuhan pada organ, depot lemak,
persentase otot dan tulang.
Berdasarkan uji analisa statistik
antara umur dan jenis kelamin terdapat
interaksi yang nyata (P<0,05).
rerata bobot potong sapi BX heifer dan steer
cenderung meningkat seiring bertambahnya
umur ternak. Hasil ini menunjukkan faktor
umur akan berpengaruh pada peningkatan
depot lemak serta peningkatan persentase
lainya misalnya otot dan tulang. Jenis
kelamin akan berpengaruh pada peranan
dari steroid hormon dari perbedaan jenis
kelamin. Hasil ini sesuai dengan penelitian
bahwa interaksi keduanya
terjadi akibat adanya testoteron atau
androgen yang dihasilkan oleh testis dan
menyebabkan pertumbuhan ternak jantan
lebih cepat dibandingkan ternak betina.
bahwa kastrasi mengubah sistem hormonal
ternak jantan sehingga memicu
perubahan komposisi tubuh dan karkas.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada
interaksi yang terjadi pada umur dan jenis
kelamin, pada proses pertumbuhan
kandungan hormone testoteron maupun
androgen mampu mempengaruhi bobot
potong.
Bobot karkas
Tabel 2 menunjukkan bobot karkas
terbesar dimiliki oleh bangsa. Hasil analisa
statistik menunjukkan bahwa faktor bangsa
dan jenis kelamin sapi berbeda sangat nyata
(P<0,01) terhadap bobot karkas,. Sedangkan
faktor umur pada analisa statistik
menunjukkan hasil yang nyata (P<0,05).
Umur 0,0 -2,0 tahun, bobot karkas
219,08±43,55 kg, umur 2,5 – 3,0 tahun,
bobot karkas 228,90±46,90 kg,dan umur
>4,0 tahun, bobot karkas 235,27±29,12 kg.
Budiarto (2010) menyatakan bahwa rerata
bobot karkas sapi PO 186,15 kg dan sapi
SimPO 219,10 kg, hasil tersebut tidak jauh
berbeda dengan data penelitian. Besarnya
bobot karkas sangat dipengaruhi kondisi
ternak sebelum dipotong, dan bobot kosong
tubuh ternak. Bobot karkas sapi PO:
209,60±34,78 kg, bobot karkas sapi SimPO
235,10±41,09 kg dan bobot karkas sapi
LimPO: 238,50 ± 40,92 kg. Aberle et al.
(1975) menyatakan bahwa bangsa sapi
SimPO maupun LimPO merupakan jenis sapi
silangan dari Bos Taurus yang termasuk tipe
besar dan memiliki bobot potong yang lebih
besar dibanding sapi PO.
Faktor jenis kelamin juga menunjukkan
pengaruh terhadap bobot karkas sapi jantan:
250,86±33,68 kg dan sapi betina
204,64±33,96 kg, bobot karkas sapi jantan
lebih berat dari pada sapi betina. Harapin
(2006) menyebutkan bahwa klasifikasi jenis
kelamin berpengaruh terhadap rerata bobot
karkas cow, heifer dan steer pada sapi (BX)
yaitu 128 kg, 129 kg, dan 119 kg. Soeparno
(2005) menyatakan bahwa faktor lain yang
mempengaruhi pertumbuhan adalah jenis
kelamin, hormon, dan genotip. Hafid (2002)
menyatakan bahwa testosteron atau
androgen merupakan suatu hormon steroid
yang dihasilkan oleh testis yang
menyebabkan pertumbuhan ternak jantan
lebih cepat dibandingkan betina terutama
setelah timbulnya pubertas.
Faktor umur menunjukkan semakin tua
umur sapi semakin berat bobot karkasnya.
bahwa umur
sebagai salah satu faktor yang
mempengaruhi bobot karkas termasuk di
dalamnya adalah rasio daging dan tulang,
kadar dan distribusi lemak serta kualitas
dagingnya, berkaitan erat dengan
pertumbuhan. Pertumbuhan dalam bobot
persatuan waktu dan perubahan dalam
bentuk dan komposisi tubuh disebabkan laju
pertumbuhan yang berbeda.
Berdasarkan uji analisa statistik antara
umur dan jenis kelamin terdapat interaksi
yang nyata (P<0,05).
menyatakan, pertambahan bobot ternak
muda akan meningkat terus dengan laju
pertambahan yang tinggi sampai dicapai
pubertas dan akhirnya tidak terjadi
peningkatan bobot badan setelah mencapai
kedewasaan. Jika berat badan masih
meningkat, itu hanya disebabkan
penimbunan lemak di bawah kulit (subcutan)
dan lemak pada perut (abdomen) bukan
pertumbuhan tulang dan daging. Interaksi
keduanya diduga dikarenakan peningkatan
depot lemak serta peningkatan persentase
pertumbuhan otot pada pertambahan umur
dan peranan dari steroid hormon dari
perbedaan jenis kelamin yang menyebabkan
pertumbuhan sapi jantan lebih cepat
dibandingkan sapi betina. Usmiati dan
komponen utama karkas terdiri atas jaringan
otot (daging) dan tulang di mana kecepatan
pertumbuhan tulang dan daging sapi akan
terjadi pada umur 1 – 3 tahun dan berhenti
pada umur 3 tahun. Kecepatan pertumbuhan
inilah yang akan mempengaruhi berat badan
sapi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa
ada interaksi yang terjadi pada umur dan
jenis kelamin, semakin bertambah umur sapi
maka bobot hidup dan bobot karkasnya akan
semakin tinggi. Jenis kelamin akan
berpengaruh pada produksi lemak di karkas
setelah terjadi pubertas, daging ternak betina
akan lebih mengandung lemak dibanding
dengan jantan.
Persentase karkas
Tabel 3. menunjukkan persentase
karkas terbesar dimiliki oleh bangsa sapi
SimPO. Sedangkan hasil statistik
menunjukkan bahwa faktor bangsa dan jenis
kelamin menghasilkan perbedaan yang
sangat nyata (P<0,01). Hasil penelitian
persentase karkas sapi PO : 48,81±2,68%,
SIMPO 51,06±3,50% dan LimPO
50,42±2,88% lebih tinggi dibanding hasil
bahwa persentase karkas sapi PO 48,4%
dan sapi SimPO 49,06%. Data penelitian ini
menunjukkan bahwa faktor bangsa
mempunyai pengaruh terhadap persentase
karkas. Soeparno (2005) menyatakan
perbedaan komposisi tubuh dan karkas di
antara bangsa ternak, terutama disebabkan
oleh perbedaan ukuran tubuh atau
perbedaan berat badan saat dewasa. Sapi
SimPO, LimPO termasuk tipe sapi potong
memiliki kemampuan dalam menghasilkan
karkas sedangkan sapi PO merupakan sapi
tipe kerja sehingga kurang bagus untuk
menghasilkan karkas. Bangsa ternak dapat
menghasilkan karkas dengan
karakteristiknya sendiri atau komposisi
karkas yang berbeda-beda.
Faktor jenis kelamin berpengaruh
sangat nyata terhadap persentase karkas
(P<0,01). Persentase karkas sapi jantan
51,40±3,50%, persentase karkas sapi betina:
48,79±3,07% Sapi jantan mempunyai
persentase karkas yang lebih besar
dibanding persentase karkas sapi betina.
menunjukkan bahwa rerata persentase
karkas sapi dara 54,65% dan jantan 55,01%
hasil ini tidak bebeda dengan penelitian yang
dilakukan yaitu rerata persentase karkas sapi
jantan adalah 51,40% pada sapi betina
48,79%.
bahwa bobot potong yang lebih tinggi dapat
mempengaruhi komposisi karkas. Karkas
juga dipengaruhi oleh faktor lain nonkarkas
berupa saluran reproduksi yang berbeda
antara sapi jantan dan betina. Sapi betina
memiliki saluran reproduksi sedangkan sapi
jantan tidak.
Komposisis kimia daging
Tabel 4 menunjukkan kadar air daging
sapi tertinggi dimiliki oleh bangsa sapi PO
dengan 72,28%, sedangkan kadar air pada
faktor umur menunjukkan semakin tua sapi
akan menurunkan nilai kadar air daging dan
pada perbedaan jenis kelamin sapi jantan
lebih tinggi dibanding sapi betina.
Berdasarkan perhitungan statistik
menunjukkan bahwa terdapat perbedaan
kadar air yang nyata (P<0,05) pada
perbedaan jenis kelamin, sedangkan
perbedaan bangsa dan umur tidak memberi
perbedaan yang signifikan pada kadar air di
dalam daging.
menyatakan rerata kadar air sapi PO adalah
76,80% sedangkan untuk persilangan 76,85
hasil ini hampir sama dengan penelitian yang
dilakukan Suwignyo (2003) bahwa kadar air
daging ternak relatif sama walaupun
diberikan perlakukan pakan yang berbeda.
bahwa kadar
air dalam daging dipengaruhi oleh jenis
ternak, umur, kelamin, pakan serta lokasi
dan fungsi bagian-bagian otot dalam tubuh.
Pada hasil penelitian ini kadar air daging sapi
jantan menunjukkan lebih tinggi daripada
sapi betina. Hal ini disebabkan oleh
kandungan lemak intramuskular pada sapi
jantan lebih sedikit dibandingkan sapi
betina,rendahnya lemak intramuskuler
tersebut menyebabkan kadar air di dalam
daging menjadi lebih tinggi.
() menyebutkan bahwa adanya
perbedaan kadar air daging dapat
dipengaruhi oleh lemak intramuscular, bila
kadar air daging meningkat maka kadar
lemak akan menurun.
Tabel 5 menunjukkan bangsa sapi
paling tinggi kadar proteinnya adalah bangsa
sapi SimPO walaupun selisih perbedaannya
sangat kecil dengan bagsa sapi lain, kadar
protein sapi SimPO: 21,46±0,85%, sapi
LIMPO: 21,37±0,83% dan sapi PO:
21,33±0,88% sedangkan menurut jenis
kelamin sapi betina: 21,45±0,95% lebih tinggi
dibanding sapi jantan: 21,32±0,73% dan
semakin bertambahnya umur sapi kadar
proteinnya tidak bertambah umur 0,0-2,0
tahun 21,52±0,59%, umur 2,5-3,0 tahun
21,37±1,02% dan umur >4,0 tahun
21,26±0,88%. Hasil analisa statistik
menunjukkan hasil bahwa tidak terdapat
perbedaan yang nyata, pada faktor bangsa,
jenis kelamin, dan umur ternak.
bahwa sapi-sapi tropis
cenderung mempunyai kadar protein yang
sama. Kadar protein daging tidak
dipengaruhi oleh umur dan jenis kelamin
ternak, sedangkan kadar lemak daging
dipengaruhi oleh umur. Protein daging
berperan dalam pengikatan air sehingga
pada daging dengan kadar protein yang
tinggi memiliki daya ikat air yang tinggi juga
(Lawrie, 2003). Beberapa faktor yang
mempengaruhi kadar protein dalam daging
adalah temperatur dan pakan yang diberikan
pada ternak. Hasil penelitian yang dilakukan
menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan
pada bangsa sapi, umur sapi maupun jenis
kelamin sapi.
Tabel 6 menunjukkan bahwa bangsa
sapi LimPO memiliki kadar lemak:
4,41±1,67% yang paling tinggi dibandingkan
dengan bangsa sapi SimPO: 4,18±1,25%
maupun PO: 3,95±1,35%. Sapi yang memiliki
kadar lemak yang tinggi adalah sapi yang
berjenis kelamin betina: 4,21±1,54% sapi
jantan: 3,44±0,74%. Lemak sapi tidak
mengalami banyak perubahan pada
pertambahan umur. Hasil analisa
menunjukkan bahwa faktor jenis kelamin dan
umur memberikan perbedaan yang sangat
nyata (P<0,01) terhadap kadar lemak daging
sapi. Penelitian ini menunjukkan, kadar air
pada daging lebih banyak pada kelompok
sapi jantan dibandingkan sapi betina.
semakin tinggi kandungan lemak, maka
semakin rendah kadar airnya. Faktor yang
dapat memperngaruhi kadar lemak daging
adalah bangsa, umur, spesies, lokasi otot,
dan pangan.
bahwa perlemakan sapi di daerah tropis
biasanya hanya pada lemak subkutan,
omental dan mesenterik sehingga variasi
lemak di dalam daging relatif sama. Jenis
kelamin dapat menyebabkan perbedaan laju
pertumbuhan, ternak jantan biasanya tumbuh
lebih cepat dibandingkan betina pada umur
yang sama. Steroid kelamin terlibat dalam
pengaturan pertumbuhan terutama
bertanggungjawab atas perbedaan
komposisi tubuh antar jenis kelamin
Berdasarkan Tabel 7 dan 8 diperoleh
perbandingan asam lemak tidak jenuh dan
asam lemak jenuh pada bangsa sapi PO
63,19 : 19,45; sapi SimPO 66,43 : 25,66;
dan sapi LimPO 62,33 : 18,38. Nilai asam
lemak jenuh lebih kecil dibanding asam
lemak tidak jenuh dengan sapi PO
menempati perbandingan terbaik antara sapi
SimPO dan LimPO.
menyatakan bahwa tiap
bangsa mempunyai kadar asam lemak yang
berbeda antara lain karena faktor genetik.
menyatakan bahwa asam
lemak tidak jenuh seperti asam oleat
mempunyai pengaruh hipokolesterolemik
(merendahkan kolesterol), sehingga dalam
jumlah sedang tidak dianggap sebagai asam
lemak yang tidak diinginkan.
Asam lemak esensial pada tubuh
digunakan untuk menjaga bagian struktural
dari membran sel dan untuk membuat
bahan-bahan seperti hormon yang disebut
eikosanoid. Eikosanoid membantu mengatur
tekanan darah, proses pembekuan darah,
lemak dalam darah dan respon imun
terhadap luka dan infeksi, dan risiko kanker
Uji kadar kolesterol daging, terhadap
bangsa sapi potong adalah PO 19,152
mg/100g, SimPO 37,289 mg/100g dan
LimPO 32,724 mg/100g. Hasil ini
menunjukkan bahwa kadar kolesterol pada
sapi PO lebih baik dari pada sapi SimPO dan
sapi LimPO. Sapi yang dilakukan pengujian
adalah sapi yang berumur 2,5 tahun pada
jenis kelamin jantan.
menyatakan bahwa kandungan kolesterol
daging di antara daging sapi dapat berbeda
yang dipengaruhi oleh bangsa ternak, umur
ternak serta kandungan marbling.
() menyataan bahwa otot yang memiliki
marbling lebih banyak mempunyai
kandungan kolesterol yang lebih tinggi pula.
Kesimpulan
Hasil penelitian ini dapat disimpulkan
bahwa bangsa dan umur sapi berpengaruh
terhadap bobot potong, bobot karkas dan
persentase karkas tetapi tidak berpengaruh
terhadap komposisi kimia daging. Jenis
kelamin berpengaruh terhadap bobot potong,
bobot karkas dan komposisi kimia daging.
Interaksi hanya terjadi antara jenis kelamin
dan umur pada bobot potong, bobot karkas.
Berdasarkan komposisi kimia daging, bangsa
Peranakan Ongole (PO) lebih baik dibanding
bangsa silangannya (SimPO dan LimPO)
karena memiliki kadar kolesterol yang lebih
rendah. Bangsa sapi PO memiliki
perbandingan asam lemak tidak jenuh :
asam lemak jenuh tinggi dibanding pada sapi
SimPO dan LimPO.
Parameter untuk mengetahui kesempurnaan kematian pada sapi sesudah disembelih yaitu dengan
melihat refleks kelopak mata dan atau waktu henti darah memancar. kematian
merupakan suatu keadaan yang ditandai dengan respirasi fisiologis dan sirkulasi darah telah berhenti
sebagai akibat dari pusat sistem itu di batang otak secara permanen kehilangan fungsi karena
kekurangan oksigen dan energi. Waktu henti darah memancar merupakan indikasi bahwa jantung
sudah tidak dapat memompa darah keluar dari tubuh karena tidak ada lagi asupan oksigen darah dalam
jantung, sehingga hewan itu dapat dikatakan mati. Tujuan dari penelitian ini untuk menghitung
waktu henti darah memancar pada penyembelihan sapi dengan metode pemingsanan dan tanpa
pemingsanan yang dipotong di rumah potong hewan ruminansia besar (RPHRB), sehingga diperoleh
data rataan waktu hewan mati sempurna. Tiga puluh ekor sapi Brahman Cross dibagi menjadi 2 kelompok
perlakuan yaitu, sebanyak 15 ekor yang disembelih dengan pemingsanan (kelompok 1) dan sebanyak 15
ekor yang disembelih tanpa pemingsanan (kelompok 2). Waktu henti darah memancar dihitung sesaat
sesudah hewan disembelih sampai darah berhenti memancar. Hasil dari penelitian diperoleh rataan waktu
henti darah memancar pada sapi yang dipingsankan sebelum disembelih adalah sebesar 3,02 menit dan
rataan waktu henti darah memancar pada sapi yang disembelih tanpa pemingsanan adalah sebesar
2,13 menit. Selang waktu henti darah memancar antara sapi yang dipingsankan dengan sapi yang tidak
dipingsankan sebelum disembelih adalah 53,4 detik. Waktu henti darah memancar dipengaruhi oleh
perlakuan hewan sebelum pemotongan, yaitu dengan atau tanpa pemingsanan.
Kebutuhan daging sapi dan kerbau untuk kon-
sumsi dan industri di Indonesia pada tahun 2012
mencapai 484 ribu ton ,
Setiap tahun permintaan itu akan terus me-
ningkat seiring dengan bertambahnya populasi pen-
duduk dan tingginya minat warga terhadap
konsumsi daging. Tingginya permintaan menye-
babkan intensitas pemotongan juga meningkat,
sehingga keberadaan rumah potong hewan (RPH)
sebagai tempat untuk pemotongan hewan sangat
diperlukan. Dalam pelaksanaannya RPH harus dapat
menjaga kualitas daging, baik dari tingkat kebersih-
an, kesehatan, ataupun kehalalan dagingnya.
Di Indonesia ada 2 metode sebelum pemotong-
an, yaitu dengan pemingsanan dan tanpa peming-
sanan. Praktik pemotongan sapi tanpa dipingsan-
kan telah dilakukan sejak lama di Indonesia, sedang-
kan pemotongan dengan pemingsanan bertujuan
agar sapi mendapatkan perlakuan sesuai dengan
kesejahteraan hewan, sehingga meminimalkan ke-
jadian stres pada sapi. Hampir sebagian besar RPH
masih memakai metode konvensional dalam
proses penyembelihan, yaitu dengan cara sapi di-
ikat dan ditarik dengan kuat sehingga sapi roboh ke
lantai baru kemudian disembelih. Perlakuan yang
kasar dalam penanganan pemotongan hewan akan
memicu stres pada hewan dan menghasilkan
kualitas daging yang rendah. Penanganan hewan
saat pemotongan harus diatur dengan baik untuk
mempertahankan standar karena kesejahteraan
hewan merupakan bagian dari kualitas daging
(Grandin, 2001). Untuk meminimalkan stres dan rasa
sakit pada hewan potong, khususnya pada sapi,
di beberapa RPH dilakukan pemingsanan sebelum
hewan disembelih.
Daging yang dihasilkan oleh RPH harus memenuhi
persyaratan aman, sehat, utuh, dan halal (ASUH).
Halal merupakan syarat penting yang harus di-
penuhi oleh daging yang dihasilkan oleh RPH karena
sebagian besar warga Indonesia memeluk
agama Islam. Titik kritis dari makanan halal ter-
utama daging, terletak pada sumber bahan baku,
proses penyembelihan, dan proses produksinya.
Pemingsanan pada sapi harus dilakukan dengan
benar agar memenuhi aspek kesejahteran hewan
dan kehalalan pada daging yang dihasilkan. Untuk itu
diperlukan pengetahuan untuk memastikan agar
metode pemingsanan tidak memicu kerusak-
an berat/permanen pada otak dan pengetahuan
tentang indikator kematian hewan sehingga hewan
benar-benar telah mati sebelum dilakukan pe-
nanganan lebih lanjut.
Parameter yang dapat digunakan untuk melihat
hewan mati sempurna adalah dengan melihat re-
fleks kornea dan atau waktu henti darah memancar.
Waktu henti darah memancar merupakan indikasi
bahwa jantung sudah tidak dapat memompa darah
keluar dari tubuh akibat tidak ada lagi asupan
oksigen darah dalam jantung, sehingga hewan ter-
sebut dapat dikatakan mati. Menurut EFSA (2004)
kematian merupakan suatu keadaan yang ditandai
dengan respirasi fisiologis dan sirkulasi darah telah
berhenti sebagai akibat dari pusat sistem itu
di batang otak secara permanen kehilangan fungsi
karena kekurangan oksigen dan energi. Selama ini
parameter yang digunakan untuk menentukan
hewan mati sempurna adalah dengan melihat re-
fleks kelopak mata. Tujuan dari penelitian ini, yaitu
mendapatkan data rataan waktu henti darah me-
mancar pada penyembelihan sapi dengan peming-
sanan dan tanpa pemingsanan.
Sampel berupa 30 ekor sapi Brahman Cross yang
dipilih memakai metode purposive sampling.
Penelitian ini dilakukan di RPHR wilayah Depok,
Tangerang, dan Tasikmalaya dari bulan September
2013 sampai dengan Maret 2014. Sapi yang diamati
pada penelitian ini dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu
sebanyak 15 ekor disembelih dengan dilakukan pe-
mingsanan terlebih dahulu dan 15 ekor disembelih
tanpa melalui proses pemingsanan. Penyembelih-
an dilakukan pada malam hari sesuai dengan waktu
penyembelihan dari masing-masing RPH-R
Waktu henti darah memancar pada sapi yang
disembelih dengan dan tanpa pemingsanan di-
hitung memakai stopwatch. Tombol start pada
stopwatch ditekan sesaat sesudah sapi disembelih
dan terlihat darah pertama kali memancar. Ditunggu
selang beberapa waktu sampai terlihat darah
sudah tidak lagi memancar lalu tombol stop pada
stopwatch ditekan dan dilihat waktu (detik) yang
tertera pada layar stopwatch.
Analisis Data
Data yang diperoleh dianalisis secara kuantitatif.
Data dianalisis dengan uji t untuk mengetahui per-
bedaan waktu henti darah memancar pada pe-
nyembelihan sapi dengan pemingsanan dan tanpa
pemingsanan dengan memakai SPSS 16.
Tabel 1 Waktu henti darah memancar pada sapi yang disembelih dengan dan tanpa pemingsangan
Perlakuan sebelum penyembelihan
Waktu henti darah memancar (menit)
Rataan Minimun Maksimum
Pemingsanan 3,02a 1,53 4,33
Tanpa pemingsanan 2,13b 1,04 3,14
Huruf superskrip yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan uji berbeda nyata (p<0,05)
Hasil dari penelitian ini menunjukkan adanya per-
bedaan waktu henti darah yang signifikan (p<0,05)
pada sapi yang disembelih dengan pemingsanan dan
sapi yang disembelih tanpa pemingsanan terlebih
dahulu. Rataan waktu henti darah memancar pada
sapi yang dipingsankan terlebih dahulu sebelum
disembelih adalah sebesar 3,02 menit dengan waktu
henti darah maksimum sebesar 4,33 menit dan
minimum sebesar 1,53 menit. Sedangkan waktu
yang dibutuhkan untuk darah berhenti memancar
pada sapi yang disembelih tanpa dipingsankan ter-
lebih dahulu mempunyai nilai rataan sebesar 2,13
menit dengan waktu henti darah minimum sebesar
1,04 menit dan maksimum sebesar 3,14 menit. Per-
bedaan waktu henti darah berhenti memancar
antara sapi yang dipingsankan dengan sapi yang
tidak dipingsankan sebelum disembelih adalah 53,4
detik.
Sapi yang dipingsankan sebelum disembelih
membutuhkan waktu henti darah lebih lama di-
bandingkan sapi yang tidak dipingsankan. Waktu
henti darah memancar dipengaruhi oleh perlakuan
hewan sebelum penyembelihan. Sapi yang diamati
dengan perlakuan pemingsanan sebelum penyem-
belihan, dipingsankan mengunakan captive bolt stun
gun non-penetrating. Non-penetrating captive bolt
stun gun yang digunakan di RPH di Indonesia
adalah tipe Cash Magnum Knocker caliber 0,25 yang
menghilangkan rasa sakit pada hewan dan me-
mudahkan manusia dalam melaksanakan penyem-
belihan. Jantung pada sapi dapat memompa darah
lebih stabil tanpa adanya peningkatan frekuensi
jantung. Penurunan tekanan jantung terutama ven-
trikel selama pengeluaran darah terjadi karena pe-
nurunan oksigen darah pada miokardium. Respirasi
pada hewan yang dipingsankan akan menurun
sehingga distribusi oksigen ke jantung juga me-
nurun. Hal ini mengakibatkan kekuatan frekuensi
jantung dan tekanan darah menurun (Vemini et al.,
1983). Kondisi itu membuat waktu henti darah
memancar pada sapi yang dipingsankan lebih lama
dibandingkan dengan sapi yang tidak dipingsankan.
Sapi yang disembelih tanpa melalui proses pe-
mingsanan terlebih dahulu, difiksasi memakai
restraining box mark IV. Menurut Grandin (1991),
restraining box adalah alat yang digunakan untuk
mengendalikan sapi sebelum disembelih agar ting-
kat stres pada sapi berkurang. Pada prinsipnya,
tingkat stres dapat diturunkan karena (1) saat sapi
masuk ke dalam restraining box sapi tidak merasa
takut karena terhindar dari pengaruh lingkungan
area penyembelihan, hal itu penting terutama
bagi sapi yang cukup agresif; (2) untuk mengatasi
terjangan kepala sapi karena pandangan di sekeli-
ling sapi tertutup penuh; (3) memudahkan dalam
merobohkan sapi tanpa perlakuan kasar; (4) stabili-
tas alat ini membuat sapi menjadi lebih tenang dan
mengatasi gerakan berontak yang tiba-tiba; dan (5)
tekanan alat pada sapi tidak menimbulkan kesakitan
HASIL
Obyek penelitian yang digunakan dalam peneli-
tian ini adalah sapi Brahman Cross jantan. Jumlah
total sapi yang diamati pada penghitungan waktu
henti darah memancar adalah sebanyak 30 ekor
yang dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu sebanyak 15
ekor disembelih dengan dilakukan pemingsanan ter-
lebih dahulu dan 15 ekor disembelih tanpa melalui
proses pemingsanan. Hasil penghitungan waktu
henti darah memancar pada sapi Brahman Cross yang
dipingsankan dan tanpa pemingsanan sebelum di-
sembelih disajikan dalam Tabel 1.
diproduksi oleh Accles dan Shelvoke. Cash Magnum
Knocker menembakkan baut (bolt) berukuran
panjang 121 mm dan diameter 11,91 yang berbentuk
kepala jamur (mushroom-headed). Cartridge merupa-
kan tenaga pendorong untuk memicu trauma
ke korteks otak tanpa penetrasi ke dalam tengkorak
Tipe non-penetrating
memicu ketidaksadaran melalui pelemahan
sistem syaraf yang mengakibatkan hilangnya ke-
sadaran tanpa perubahan anatomis di otak. Pe-
mingsanan merupakan salah satu teknik sebelum
pemotongan pada hewan dengan tujuan untuk
Penyembelihan Sapi dengan dan tanpa Pemingsanan
dan berlangsung cepat. Pada prinsipnya, tingkat
stres dapat diturunkan karena pergerakan alat
halus, memiliki tingkat kebisingan yang rendah,
tekanan alat pada sapi tidak menimbulkan kesakit-
an, dan sapi tidak merasa takut karena terhindar
dari pengaruh lingkungan area penyembelihan.
Upaya penurunan stres memakai mark IV masih
menyisakan sapi dalam keadaan sadar, sehingga
stres masih berpengaruh pada sapi dibanding-
kan dengan metode pemingsanan. Implikasi dari
penggunaan metode mark IV tetap mengakibatkan
terjadinya peningkatan tekanan darah dan frekuensi
jantung. Peningkatan frekuensi jantung menyebab-
kan darah yang dipompa keluar pada saat disembelih
menjadi lebih cepat, sehingga darah yang memancar
pada sapi akan lebih cepat berhenti. Peningkatan
tekanan darah terjadi akibat adanya penyempitan
pembuluh darah kapiler pada jaringan. Darah di-
pompakan melalui pembuluh darah oleh jantung.
Pembuluh-pembuluh darah merupakan sistem yang
tertutup, yang membawa darah dari jantung ke
seluruh jaringan tubuh dan kembali ke jantung. Aliran
darah ke tiap-tiap jaringan diatur oleh mekanisme
kimia lokal dan mekanisme saraf umum yang
melebarkan atau menyempitkan pembuluh darah
jaringan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi dan
oksigen pada jaringan melalui sistem kemoreseptor
Mekanisme kimia lokal me-
rupakan mekanisme pengaturan saraf otonom,
yaitu oleh zat-zat kimia seperti asetilkolin dan
katekolamin, yang utama adalah norepinefrin dan
epinefrin. Katekolamin memicu penyempitan
buluh-buluh darah sehingga terjadi peningkatan
tekanan darah. Stres sehubungan dengan peming-
sanan dan pengeluaran darah secara normal menye-
babkan pelepasan katekolamin sehingga terjadi
penyempitan pembuluh darah jaringan ,
Stunning menjadi sangat penting karena stres
sebelum penyembelihan memiliki dampak buruk
terhadap kualitas daging yang dihasilkan. Stres
sebelum penyembelihan memicu peningkat-
an kadar katekolamin dan kreatinin kinase dalam
tubuh. Peningkatan kadar katekolamin dan kre-
atinin kinase memicu glikolisis secara cepat
sehingga terjadi penumpukan asam laktat pada
daging. Stres sebelum penyembelihan juga menye-
babkan penurunan kadar glikogen yang menyebab-
kan tingginya pH daging dan daya ikat air. Selain itu,
daging yang dihasilkan lebih keras dengan warna
yang lebih gelap ,
Penyembelihan sapi dengan pemingsanan mau-
pun tanpa pemingsanan harus memenuhi kaidah
halal diantaranya harus memotong tiga saluran
pada leher, yaitu esofagus, trakhea, dan pembuluh
darah (vena jugularis dan arteri karotis). Proses
penyembelihan mengakibatkan pengeluaran darah
dari pembuluh darah dalam jumlah yang besar.
Respon fisiologis dari hewan yang kehilangan darah
dalam jumlah yang besar secara tiba-tiba disebut
syok hemoragik. Syok hemoragik merupakan gejala
klinis akibat berkurangnya curah jantung dan perfusi
darah ke organ karena penurunan volume darah
(hipovolemia) yang disebabkan oleh hilangnya
darah. Hal ini disebabkan ketidakmampuan sistem
homestasis tubuh dalam mengembalikan jumlah
normal darah akibat banyaknya darah yang keluar.
Penurunan volume darah selama perdarahan akut
memicu penurunan tekanan vena cava dan
pengisian darah ke jantung. Hal ini memicu
penurunan curah jantung dan tekanan arteri. Tubuh
memiliki sejumlah mekanisme yang menjadi aktif
dalam upaya untuk mengembalikan tekanan arteri
kembali normal melalui refleks baroreseptor dan
refleks kemoreseptor. Namun, karena terhentinya
asupan oksigen dan nutrisi ke jantung akibat per-
darahan yang sangat parah (hypovolemia) menye-
babkan jantung gagal berkontraksi. Kegagalan
jantung berkontraksi mengakibatkan tidak ada lagi
aliran darah dalam tubuh, sehingga perfusi darah
ke organ tidak terjadi . Proses ini
dapat berujung pada kematian.
Pengeluaran darah selama penyembelihan he-
wan sangat dipengaruhi oleh curah jantung, walau-
pun jantung bukan merupakan faktor utama dalam
pengaturan curah jantung. ada berbagai faktor
sirkulasi perifer yang mempengaruhi aliran darah ke
dalam jantung yang berasal dari vena, yang disebut
aliran balik vena, yang merupakan pengatur utama.
Alasan utama mengapa faktor-faktor perifer biasa-
nya lebih penting daripada jantung itu sendiri dalam
mengatur curah jantung adalah karena jantung me-
miliki mekanisme di dalam jantung itu sendiri yang
biasanya memungkinkan jantung untuk memompa
secara otomatis berapapun darah yang mengalir ke
dalam atrium kanan yang berasal dari vena. Tujuan
dari pengeluaran darah adalah untuk mengeluarkan
darah dan memastikan hewan mati dengan meng-
hentikan suplai oksigen ke otak , proses kehilangan darah
(blood loss) membutuhkan waktu tertentu untuk
mencapai tingkat kritis. Pemotongan yang efektif
akan memicu 40%-60% volume darah hilang
dalam pola dan tingkat yang sama pada spesies
yang berbeda. bahwa
33% darah akan hilang sesudah 30 detik pemotong-
an, 25%
darah akan hilang sesudah 17 detik.
setiap individu hewan membutuhkan waktu
yang berbeda untuk mengalami perdarahan hingga
kematian. Waktu kematian tertunda jika hanya
arteri pada satu sisi leher yang terputus atau ujung
arteri mengalami penyumbatan sebelum pendarah-
an sempurna. Perdarahan akan memicu ke-
tidaksadaran yang berlanjut dengan kematian. Ke-
matian terjadi karena kurangnya suplai oksigen ke
otak yang telah disuplai oleh aliran arteri.
Pengeluaran darah yang baik dapat terjadi pada
hewan dalam keadaan sehat namun dapat diper-
lambat jika hewan mengalami kondisi demam,
infeksi pada bagian jantung, paru-paru, dan otot
. Kerusakan otot dapat
disebabkan oleh beberapa hal diantaranya karena
terbanting atau karena penyakit infeksius yang
memicu rusaknya pembuluh darah kapiler
pada jaringan sehingga darah masuk ke otot yang
memicu kualitas daging menurun. Kesempur-
naan pengeluaran darah merupakan syarat agar
kualitas daging yang dihasilkan baik. Kontraksi,
gravitasi, dan aktifitas jantung merupakan faktor
yang mempengaruhi pengeluaran darah otot-otot
hewan ,oleh sebab itu, selama
penyembelihan hewan harus dibiarkan berkontraksi
hingga mati sempurna, sesudah itu baru dilakukan
penggantungan dan pelepasan kulit.
Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan
bahwa sapi mati sempurna berdasarkan waktu
henti darah memancar pada sapi yang disembelih
dengan metode pemingsanan adalah 3,02 menit
sedangkan pada sapi yang disembelih dengan me-
tode tanpa pemingsanan adalah 2,13 menit.
Sapi aceh merupakan rumpun sapi asli Indonesia yang mempunyai keseragaman bentuk, fisik, dan
komposisi genetik serta kemampuan adaptasi dengan baik pada keterbatasan lingkungan, sehingga perlu
dilindungi, dilestarikan, dan dikembangkan keunggulannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur
histologis usus besar sapi aceh. Sampel penelitian diambil dari tiga ekor sapi aceh yang telah dewasa kelamin
dan berjenis kelamin jantan yang dipotong di Rumah Potong Hewan Lambaro, Aceh Besar. Terhadap sampel
penelitian dilakukan proses mikroteknik untuk selanjutnya dilakukan pewarnaan Hematoksilin-Eosin (HE).
Pengamatan terhadap struktur histologi menggunakan mikroskop. Hasil penelitian menunjukkan struktur
histologi sekum, kolon, dan rektum sapi aceh tersusun atas empat lapisan, yaitu tunika mukosa, submukosa,
muskularis, dan serosa. Tunika mukosa sekum, kolon, dan rektum tersusun oleh epitel silindris selapis, sel
Goblet, kelenjar Lieberkuhn, limfosit, jaringan ikat longgar, fibroblas, dan otot polos. Ketebalan mukosa sekum
yaitu (419±12 µm), kolon (749±13 µm), dan rektum (1308±10 µm). Tunika submukosa terdiri dari jaringan ikat
longgar, fibroblas, sel lemak, pembuluh darah dan nodus limfatikus dengan ketebalan sekum (943±13 µm),
kolon (744±10 µm), dan rektum (2076±10 µm). Tunika muskularis tersusun oleh otot polos transversal dan
longitudinal, plexus saraf mientericus, dan jaringan ikat, dengan ketebalan masing masing yaitu sekum (2579±19
µm), kolon (2380±16 µm), dan rektum (4748±19 µm). Tunika serosa merupakan lapisan paling luar dari usus
besar yang terdiri dari sel lemak, pembuluh darah, dan jaringan ikat dengan ketebalan sekum (1621±13 µm),
kolon (331±18 µm), dan rektum (1639±9 µm). Dapat disimpulkan, bahwa struktur histologi sekum, kolon, dan
rektum sapi aceh memiliki lapisan yang sama, namun memiliki ketebalan yang berbeda pada tiap lapisan,
ketebalan lapisan berhubungan dengan fungsi dan letak dari usus besar, dimana rektum memiliki ketebalan
lapisan yang lebih tebal dibandingkan sekum, dan kolon.
Ternak plasma nutfah merupakan ternak yang dipelihara turun temurun oleh peternak , Salah satu ternak yang tergolong ternak plasma nutfah
adalah sapi aceh ,
daya genetik salah satu rumpun sapi lokal yang harus dilindungi, dilestarikan, dan
dikembangkan keunggulannya . Sapi aceh mempunyai pola warna
bervariasi yaitu merah bata, kuning langsat, putih hingga berwarna hitam, namun warna
dominan yang ditemui adalah merah bata ,
Sapi tergolong hewan ruminansia yang mempunyai keistimewaan pada alat
pencernaannya ,Struktur anatomis sistem pencernaan sapi sangat berbeda
dengan ternak kecil misalnya unggas, hal ini dikarenakan sapi memiliki lambung ganda yang
khas yang terdiri dari rumen, retikulum, omasum, dan abomasum . Fungsi dari
sistem pencernaan adalah menghidrolisis komponen-komponen yang ada pada makanan
untuk diubah menjadi produk daging, mengabsorbsi zat-zat nutrisi, dan mengekresikan yang
tidak diabsorbsi sebagai residu melalui anus , saluran pencernaan terdiri dari suatu saluran
berongga yang panjang, yang disebut dengan traktus yang berawal dari rongga mulut dan
berakhir di anus. Sistem ini terdiri dari rongga mulut, esofagus, lambung, usus halus, usus
besar, dan kanalis analis. organ terpanjang pada saluran
pencernaan adalah usus, yang dibedakan antara usus halus dan usus besar.
Usus merupakan suatu bagian yang berfungsi dalam penyerapan nutrisi pada proses
pencernaan , Salah satu bagian dari usus yang berfungsi menyerap air,
fermentasi sisa ingesta, serta pembentukan feses adalah usus besar , Secara
anatomi usus besar terbagi pada tiga bagian yaitu sekum, kolon, dan rektum Usus besar terletak diantara anus dan ujung akhir ileum, bagian ini lebih pendek
dan kurang berkelok kelok dibandingkan usus halus
Secara umum struktur histologis usus besar tersusun atas tunika mukosa, submukosa,
muskularis, dan serosa. Tunika mukosa terdiri dari lamina epitelia, lamina propria, dan lamina
muskularis mukosa. Tunika submukosa terdiri atas jaringan ikat padat tidak beraturan,
pembuluh darah, limfe, saraf, dan ditandai dengan adanya kelenjar. Tunika muskularis terdiri
atas lapisan otot polos yang tersusun memanjang (longitudinal) dan melingkar (transversal),
sedangkan tunika serosa terdiri dari jaringan ikat longgar, pembuluh darah, dan sel adiposa ,
Studi histologis usus besar sudah pernah dilaporkan diantaranya pada sapi bali , kambing dan kerbau
Namun studi histologis usus besar pada sapi aceh belum pernah dilaporkan, oleh karena itu
penelitian ini sangat perlu dilakukan untuk melengkapi informasi tentang studi histologis usus
besar sapi aceh.
Rumusan Masalah
Bagaimanakah struktur histologis usus besar (sekum, kolon, dan rektum) sapi aceh?
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari struktur histologis usus besar (sekum,
kolon, dan rektum) sapi aceh.
Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai struktur histologis
usus besar sapi aceh serta sebagai referensi untuk penelitian-penelitian selanjutnya.
Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini telah dilaksanakan di Laboratorium Histologi Fakultas Kedokteran
Hewan Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. Penelitian ini dimulai pada bulan November
sampai Desember 2018.
Alat dan Bahan Penelitian
Alat yang digunakan adalah gelas ukur, botol sampel, surgery minor set, tissue
casset, cetakan blok, wadah untuk pewarnaan (staining jar), oven, embedding processor,
mikrotom, pisau mikrotom, object glass, cover glass, kertas label, slide warmer 37⁰C,
waterbath, mikroskop Olympus CX31 yang dipadukan dengan software toupview.
Bahan-bahan yang digunakan adalah usus besar (sekum, kolon, dan rektum) sapi
aceh, larutan NaCl Fisiologis 0,9%, Neutral Buffer Formalin (NBF) 10%, aquadest, silol,
alkohol dengan konsentrasi bertingkat (70%, 80%, 90%, dan absolut), parafin, Hematoksilin-
Eosin (HE), dan bahan perekat .
Metode Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian dalam bentuk eksploratif yaitu penelitian yang
bertujuan untuk mengetahui struktur histologi usus besar sapi aceh. Sampel berasal dari tiga
ekor sapi aceh jantan dewasa yang dipotong di rumah potong hewan Lambaro, Aceh Besar.
Sampel kemudian dibuat menjadi preparat histologis dengan pewarnaan Hematoksilin-Eosin
(HE) dan dilakukan pengukuran ketebalan masing-masing lapisannya dengan menggunakan
mikroskop Olympus CX31 yang dipadukan dengan software toupview.
Prosedur Penelitian
Pengambilan Sampel
Sampel sekum, kolon, dan rektum masing-masing dipotong tiga cm pada bagian
tengah. Sampel itu selanjutnya dibilas dengan Nacl fisiologis 0,9% sampai bersih, lalu
dibentangkan di atas plastik mika dan fiksasi di dalam Neutral Buffer Formalin (NBF) 10%
selama 48 jam. Sampel dipotong 0,5 cm dan dimasukkan ke dalam tissue cassete, selanjutnya
dilakukan stoping point dalam alkohol 70%.
Pembuatan Preparat Histologis
Pembuatan preparat histologis usus besar mengacu pada metode Kiernan,
Proses itu dimulai dengan dehidrasi jaringan menggunakan alkohol dengan konsentrasi
bertingkat (80%, 90%, 95%, absolut I, dan absolut II), penjernihan dengan larutan silol,
infiltrasi jaringan dalam parafin cair, dan dilanjutkan dengan embedding menggunakan
parafin cair hingga menjadi blok parafin (blocking). Tahap selanjutnya dilakukan sectioning
menggunakan mikrotom dengan ketebalan 5 µm, kemudian irisan diletakkan pada tissue bath,
lalu diambil dengan object glass untuk selanjutnya diinkubasikan ke dalam slide warmer.
Pewarnaan Hematoksilin-Eosin
Pewarnaan dimulai dengan proses deparafinisasi menggunakan silol I selama lima
menit dan dalam silol II selama dua menit. Kemudian dilanjutkan dengan proses rehidrasi
dengan alkohol menurun dari alkohol absolut I dan II, alkohol 96% I dan II, dan alkohol 90%,
slide dimasukkan masing-masing selama dua menit, selanjutnya slide jaringan dibilas dengan
air mengalir. Kemudian slide dimasukkan ke dalam hematoksilin selama lima menit, dan
dibilas dengan air mengalir sampai bersih. Selanjutnya slide dimasukkan ke dalam eosin
selama lima menit. Kemudian dilakukan proses dehidrasi kembali dengan menggunakan
alkohol 96% I dan II, absolut I dan II masing-masing dua kali celup. Setelah itu dilakukan
proses clearing dengan silol I, II, dan III masing-masing selama tiga menit, lalu dilakukan
mounting dengan . Pengamatan dilakukan dengan mikroskop cahaya Olympus dan
dilanjutkan dengan pengambilan foto mikrograf
Parameter Penelitian
Parameter yang diamati pada penelitian ini adalah struktur histologis usus besar yaitu
tunika mukosa, submukosa, muskularis, dan serosa, serta ketebalan dari setiap lapisannya.
Analisis Data
Data yang diperoleh dianalisis secara kuantitatif yang disajikan dalam bentuk
gambaran histologis dan ditabulasikan dalam bentuk rataan±simpangan baku.
Ketebalan Lapisan Usus Besar Sapi Aceh
Hasil pengamatan struktur histologis sekum, kolon, dan rektum sapi aceh, secara
umum tidak berbeda dengan struktur histologis sekum, kolon, dan rektum pada ruminansia
umumnya, yang tersusun atas empat lapisan yaitu tunika mukosa, submukosa, muskularis,
dan serosa. Ketebalan pada masing-masing lapisan itu dapat dilihat pada Tabel 1.
berdasar hasil pengolahan data didapatkan bahwa tunika mukosa, submukosa,
muskularis, dan serosa rektum lebih tebal dibandingkan sekum dan kolon. Hal ini berkaitan
dengan fungsi dan letak dari rektum, dimana rektum merupakan bagian paling ujung dari usus
besar yang berfungsi sebagai tempat terjadinya penyerapan air dalam proses pembentukan
feses dengan konsistensi yang lebih padat. Hal ini sesuai dengan pernyataan menyatakan bahwa rektum merupakan salah satu
bagian usus besar yang paling ujung yang berfungsi menyerap air, fermentasi sisa ingesta, dan
pembentukan feses. Lapisan rektum yang lebih tebal berfungsi agar tidak terjadi kerusakan
pada dinding usus, dan membantu dalam proses gerakan peristaltik untuk pengeluaran feses.
Ketebalan di tunika mukosa rektum menandakan jumlah komponen-komponen pada tunika
mukosa rektum lebih dari sekum dan kolon, salah satu komponen yang ada pada tunika
mukosa adalah kelenjar Lieberkuhn.
Kelenjar Lieberkhun berfungsi menunjang perkembangan sel epitel dan sel Goblet,
proses pergantian sel epitel itu berlangsung secara berkesinambungan , Sel Goblet berfungsi memberikan perlindungan pada dinding serta permukaan
usus, dan sebagai media untuk pertahanan parasit dengan cara mensekresikan mukus
glikoprotein berbentuk gel ,
Salah satu sel pertahanan yang dijumpai pada tunika mukosa rektum adalah nodus
limfatikus, merupakan masa jaringan limfe yang tidak memiliki kapsul. Jumlah nodus
limfatikus sangat banyak di jaringan ikat membran mukosa yang melapisi saluran
gastrointestinal. Sebagian besar nodus limfatikus berukuran kecil dan soliter, namun ada
beberapa agregasi. Fungsi nodus limfatikus adalah sebagai filter atau tempat penyaringan
benda asing, serta sebagai pertahanan seluler dengan menghasilkan limfosit T dan pertahanan
humoral dengan menghasilkan limfosit B ,
Tunika submukosa rektum merupakan lapisan paling tebal dibandingkan sekum dan
kolon. Tunika submukosa rektum yang tebal memungkinkan memiliki komponen sel yang
lebih banyak dibandingkan sekum dan kolon, salah satu komponen yang ada pada tunika
submukosa adalah jaringan ikat. Jaringan ikat berfungsi untuk merekatkan, mengikat, atau
menghubungkan berbagai sel atau bangunan yang ada di dalam tubuh, sebagai media tempat
pembuluh darah lewat untuk mendistribusikan berbagai bahan makanan pada organ yang
bersangkutan dan mengangkut produk sisa metabolisme, serta sebagai barier untuk mencegah
perjalanan kuman ,Tunika submukosa rektum yang tebal
membantu fungsi tunika mukosa sebagai perlindungan, serta membatu tunika muskularis
rektum menjalankan fungsi gerakan peristaltik dalam proses defekasi.
Tunika muskularis rektum merupakan tunika muskularis yang lebih tebal
dibandingkan sekum dan kolon, fungsi dari tunika muskularis yang tebal adalah membantu
kontraksi dan relaksasi dari usus. Hal ini dibutuhkan karena konsistensi feses yang lebih padat
dibandingkan bagian usus besar sebelumya seperti sekum dan kolon. Tunika serosa rektum
memiliki ketebalan yang lebih tebal dibandingkan sekum dan kolon. Fungsi tunika serosa
rektum sama dengan tunika submukosa yaitu memperkuat jaringan dan membantu gerakan
peristaltik rektum.
Secara umum ketebalan setiap lapisan sekum, kolon, dan rektum sapi aceh berbeda
dengan sapi bali, yang menyatakan bahwa sapi bali
memiliki ketebalan lapisan usus besar yang lebih tebal dibandingkan sapi aceh. Perbedaan ini
kemungkinan berkaitan dengan jenis pakan yang dikonsumsi, namun sejauh ini belum
didapatkan referensi tentang apa sesungguhnya yang menyebabkan perbedaan ketebalan
lapisan usus antara sapi aceh dan sapi bali.
Struktur Histologis Sekum Sapi Aceh
Tunika mukosa sekum sapi aceh tersusun dari tiga lapisan utama yaitu lamina epitelia,
lamina propria, dan lamina muskularis mukosa. Lamina epitelia sekum sapi aceh terdiri dari
epitel silindris selapis dan sel Goblet, pada lamina propria ditemukan jaringan ikat longgar,
fibroblas, kelenjar Lieberkuhn, limfosit, dan sel Goblet, serta pada lamina muskularis mukosa
ditemukan otot polos, yang berada paling ujung dari tunika mukosa. Tunika submukosa
sekum tersusun dari jaringan ikat longgar, fibroblas, sel lemak, dan pembuluh darah.
Komponen jaringan yang dijumpai pada tunika mukosa dan submukosa sekum sapi aceh juga
dijumpai pada sapi bali pada kuda
dan pada kambing
Tunika muskularis terdiri dari otot polos yang tersusun transversal dan longitudinal,
diantara kedua lapisan itu ada plexus saraf mienterikus, jaringan ikat, dan pembuluh
darah. Tunika serosa merupakan lapisan paling luar yang terdiri dari jaringan ikat longgar,
jaringan lemak, dan pembuluh darah. pada sapi bali, dan , pada kambing menemukan komponen yang sama pada tunika muskularis dan serosa
sapi aceh, namun pada kerbau yang
menyatakan bahwa pada tunika muskularis sekum kerbau hanya ada otot polos
transversal. Struktur histologis tunika mukosa, submukosa, muskularis, dan serosa sekum sapi
aceh disajikan pada Gambar 1.
Gambar 1. Struktur histologis sekum sapi aceh. Struktur histologis sekum sapi aceh. A. Tunika mukosa sekum
sapi aceh. Lamina epitelia (LE), Lamina propria (LP), kelenjar Lieberkuhn (KL), Lamina muskularis mukosa
(LMM). B. Tunika submukosa sekum sapi aceh. Jaringan ikat (JI), Pembuluh darah (PD), Sel lemak (SL). C.
Tunika muskularis sekum sapi aceh. Otot polos longitudinal (OPL), Otot polos transversal (OPT). D. Tunika
serosa sekum sapi aceh. Kapiler (K). Pewarnaan HE, perbesaran 40 dan 100 kali.
Struktur Histologis Kolon Sapi Aceh
Tunika mukosa kolon tersusun atas lapisan yang sama dengan sekum dan rektum,
namun pada tunika mukosa kolon memiliki kelenjar Lieberkuhn yang lebih panjang
dibandingkan sekum dan rektum. Tunika submukosa kolon juga memiliki struktur yang sama
dengan sekum dan rektum, namun pada kolon dijumpai jaringan ikat yang lebih tebal
dibandingkan sekum. Struktur tunika mukosa dan submukosa kolon sapi aceh sama dengan
tunika mukosa dan submukosa pada sapi bali
pada kuda ,
Tunika muskularis kolon memiliki struktur yang sama dengan sekum, namun pada
tunika muskularis kolon ditemui serat otot polos longitudinal yang lebih tebal dibandingkan
sekum, dan pada tunika serosa kolon memiliki komponen yang sama dengan sekum dan
rektum, namun tunika serosa kolon memiliki sel lemak yang lebih banyak dibandingkan
sekum. menemukan komponen yang sama pada tunika muskularis dan
tunika serosa sapi bali. Struktur histologis tunika muskularis dan serosa kolon sapi aceh
disajikan pada Gambar 2.
Gambar 4. Struktur histologis kolon sapi aceh. A.Tunika mukosa kolon sapi aceh. Lamina epitelia (LE),
Limfosit (L), Lamina propria (LP), Kelenjar Lieberkuhn (KL), Lamina muskularis mukosa (LMM). B. Tunika
submukosa kolon sapi aceh. Nodus limfatikus (NL), Jaringan ikat (JI), Pembuluh darah (PD). C.Tunika
muskularis kolon sapi aceh. Otot polos longitudinal (OPL), Otot polos transversal (OPT). D. Tunika serosa
kolon sapi aceh. Sel lemak (SL). Pewarnaan HE, perbesaran 100 kali.
Struktur Histologis Rektum Sapi Aceh
Tunika mukosa rektum memiliki komponen yang sama dengan tunika mukosa sekum
dan kolon, namun kelenjar yang ada pada tunika mukosa rektum berbentuk lebih pendek
dibandingkan sekum dan kolon. Tunika submukosa rektum memiliki komponen yang sama
dengan sekum dan kolon, namun pada tunika submukosa jaringan ikat dijumpai lebih tebal
dibandingkan sekum dan kolon. Komponen yang dijumpai pada tunika mukosa dan
submukosa rektum pada sapi aceh sama dengan sapi bali,
Rektum memiliki struktur tunika muskularis yang sama dengan kolon, namun
memiliki struktur yang berbeda dengan sekum, hal ini dikarenakan struktur dari otot polos
longitudinal yang lebih tebal dibandingkan sekum. Tunika serosa rektum juga memiliki
komponen yang sama dengan sekum dan kolon, yang terdiri dari jaringan ikat, pembuluh
darah, dan sel lemak. Struktur tunika muskularis dan serosa rektum sapi aceh sama dengan
tunika muskularis dan serosa pada sapi bali yang dilaporkan
pada kuda ,Struktur histologis tunika
muskularis dan tunika serosa disajikan pada Gambar 3.
Gambar 5. Struktur histologis rektum sapi aceh. A. Tunika mukosa rektum sapi aceh. Lamina epitelia (LE),
Limfosit (L), Kelenjar Lieberkuhn (KL), Lamina propria (LP), Lamina muskularis mucosa (LMM). B. Tunika
submukosa rektum sapi aceh. Nodus limfatikus (NL), Pembuluh darah (PD), Jaringan ikat (JI). C. Tunika
muskularis rektum sapi aceh. Otot polos longitudinal (OPL), Otot polos transversal (OPT). D. Tunika Serosa
rektum sapi aceh. Sel lemak (SL). Pewarnaan HE, perbesaran 40 dan 100 kali.
berdasar hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa struktur histologis sekum,
kolon, dan rektum sapi aceh memiliki lapisan yang sama, namun memiliki ketebalan yang
berbeda pada tiap lapisan. Ketebalan lapisan berhubungan dengan fungsi dan letak dari usus
besar, dimana rektum memiliki ketebalan lapisan yang lebih tebal dibandingkan sekum, dan
kolon.