Rabu, 12 Februari 2025

ternak sapi 7





Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh bangsa, umur, jenis kelaminpada sapi potong 

Peranakan Ongole (PO), Simmental PO (SimPO) dan Limousin PO (LimPO) terhadap kualitas fisik, kimia 

dan profil asam lemak daging.Sebanyak 180 ekor sapi dibagi menjadi 60 ekor PO, 60 ekor SimPO, 60 

ekor LimPO, setiap bangsa dibagi menurut jenis kelamin masing-masing 30 ekor, dan setiap jenis kelamin 

dikelompok lagi sesuai tingkatan umur (1,5-2,0 tahun); (2,5-3,0 tahun); (>4,0 tahun) yang masing-masing 

10 ekor. Variabel yang diambil meliputi bobot potong, bobot karkas, persentase karkas, kualitas fisik dan

kimia otot Longissimus dorsi (LD). Data dianalisa  menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) pola 

faktorial 3x3x2 pada bangsa, umur dan jenis kelamin dan apabila terdapat data yang berbeda nyata diuji 

lanjut menggunakan Duncan’s new multiple range test. Hasil menunjukkan bahwa bangsa dan umur 

berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap bobot potong, bobot karkas dan persentase karkas. Jenis 

kelamin berpengaruh nyata (P<0,05) pada bobot potong dan bobot karkas. Umur dan jenis kelamin 

berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap kadar air dan lemak. Interaksi terjadi antara umur dan jenis kelamin 

terhadap bobot potong, bobot karkas dan kadar air. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa bangsa 

sapi LimPO menghasilkan bobot hidup dan bobot karkas lebih tinggi dibanding PO dan SimPO,

sedangkan sapi PO mempunyai kualitas kimia daging lebih baik dibanding sapi SimPO dan LimPO.

Indonesia memiliki keanekaragaman 

bangsa sapi, antara lain sapi PO, SimPO, 

dan LimPO. Daerah Istimewa Yogyakarta 

(DIY) merupakan daerah terdekat dari pusat 

populasi sapi PO yaitu wilayah Kabupaten 

Kebumen, Provinsi Jawa Tengah. Kedekatan 

antara wilayah ini menyebabkan sapi-sapi 

silangan PO banyak dijumpai di DIY. Daging 

sapi masih menjadi pilihan masyarakat 

karena nilai gizi yang lengkap. Daging sapi 

memiliki kandungan protein 18,8%, air 66%, 

dan lemak 14% , Konsumen saat ini lebih selektif 

memilih daging yang dikonsumsinya. 

Kandungan nutrien daging yaitu protein, 

lemak, asam lemak tak jenuh dan kolesterol 

akan menentukan pilihan konsumen. 

Kandungan nutrient yang bagus diharapkan 

mampu mencegah timbulnya penyakit 

degeneratif seperti penyakit jantung koroner 

dan tekanan darah tinggi (hipertensi).

Perbedaan bangsa ternak akan 

berpengaruh terhadap produksi daging sapi. 

Bangsa dengan tipe besar akan lebih 

berdaging (lean) dan mempunyai banyak 

protein, proporsi tulang lebih tinggi dan 

lemak lebih rendah dari pada ternak tipe kecil 

,Proporsi komponen karkas 

dapat dipengaruhi oleh umur ternak. 

Pertumbuhan ternak paling cepat adalah 

pada waktu pedet sampai umur dua tahun,

kemudian pada umur empat tahun mulai 

berkurang dan setelahnya pertumbuhan 

mulai konstan , 

bahwa kelompok umur ternak yang lebih tua 

mempunyai bobot lemak yang lebih tinggi 

dibandingkan dengan ternak muda.

Komponen lain yang dapat mempengaruhi 

proporsi karkas adalah jenis kelamin. 

Klasifikasi jenis kelamin (sex-class) 

berpengaruh nyata terhadap terhadap bobot 

karkas, luas urat daging mata rusuk, tebal 

lemak punggung rusuk ke-12 dan persentase 

lemak ginjal, pelvis dan jantung (Harapin, 

2006). Sapi jantan akan mempunyai 

pertumbuhan yang lebih cepat dari pada sapi 

betina karena adanya hormon androgen

Komposisi kimia daging secara umum 

dapat diestimasi, antara lain kadar: air, 

protein, lemak, karbohidrat, substansi￾substansi non-protein yang larut, termasuk 

substansi nitrogenous dan substansi 

anorganik berbeda antara bangsa, umur dan 

jenis kelamin, kadar air semakin tua ternak 

relatif menurun sebaliknya kadar lemaknya 

naik semakin bertambah umurnya. Air dalam 

daging segar sebagai komponen kimia 

terbesar mempengaruhi kualitas daging 

terutama jus daging (juiceness), keempukan 

(tenderness), warna dan citarasa ,

Tujuan penelitian ini adalah untuk 

mengetahui pengaruh bangsa, umur, serta 

jenis kelamin terhadap kualitas daging sapi 

potong dan mengetahui interaksi bangsa, 

umur, serta jenis kelamin pada sapi potong.

Manfaat hasil penelitian ini diharapkan dapat 

digunakan untuk menentukan pemilihan

bangsa, jenis kelamin dan umur yang 

memiliki kualitas daging sapi terutama 

mengenai komposisi kimia daging, asam 

lemak, dan kolesterol yang baik pada sapi 

PO, SimPO dan LimPO. 

Materi dan Metode

Materi yang digunakan dalam 

penelitian ini adalah 180 ekor jantan dan 

betina dari sapi PO, SimPO, LimPO, yang 

dikelompokan menjadi 3 kategori yaitu umur 

0,0 – 2,0 tahun; 2,5 – 3,0 tahun; dan lebih 

dari 4,0 tahun. Alat yang digunakan adalah 

timbangan sapi hidup merk FKH berbobot 

maksimal 1.000 kg dengan ketelitian 1 kg.

Data yang amati meliputi Bangsa, Jenis 

kelamin, Umur, Bobot badan dan Bobot 

karkas. Sapi yang memenuhi kriteria diambil 

sampel daging pada bagian Longissimus 

Dorsi (LD) sebanyak 300 g, diikumpulkan 

sampai semua materi variabel perlakuan 

terpenuhi dan disimpan pada suhu –18°

C

baru digunakan untuk uji fisik dan Kimia. 

analisa  data menggunakan rancangan acak 

lengkap pola faktorial 3x3x2 untuk performan 

sapi yaitu bangsa sapi, umur, jenis dan 

kelamin apabila terdapat data yang berbeda 

nyata diuji lanjut menggunakan duncan’s 

new multiple range test. 

Hasil dan Pembahasan

Bobot potong, bobot karkas dan 

persentase karkas

Pada Tabel 1 diketahui bahwa rerata 

bobot potong paling besar dimiliki oleh 

bangsa sapi LimPO dengan: 471,32±65,55 

kg, SIMPO: 458,68±63,12 kg dan PO: 

428,67±61,76 kg. Berdasarkan analisa  

statistik diketahui bahwa variabel bobot 

potong pada faktor bangsa sapi berbeda 

sangat nyata yaitu (P<0,01). rerata bobot potong sapi

SIMPO dan LimPO adalah 540,71 - 541,63 

kg. Hasil penelitian ini sesuai dengan Ilham 

(2012) yang menyatakan bahwa bobot 

potong bangsa sapi PO lebih rendah 

dibanding bangsa sapi silangan SimPO 

maupun Brahman cross ,

rerata bobot potong sapi PO 395,66 - 442,83 

kg sedangkan Soeparno (2005) menyatakan 

bahwa faktor genetik dan lingkungan 

mempengaruhi laju petumbuhan dan 

komposisi tubuh yang meliputi distribusi 

berat, dan komposisi kimia komponen 

karkas. Variasi fenotip yaitu penampilan 

performan suatu individu ternak pedaging 

disebabkan oleh hereditas, lingkungan atau 

interaksi keduanya.

Faktor jenis kelamin pada analisa  

statistik menunjukkan perbedaan yang 

sangat nyata (P<0,01). Perbedaan jenis 

kelamin bangsa sapi potong turut 

memberikan andil pada perbedaan bobot 

potongnya, bobot potong sapi jantan 

487,18±52,93 kg sapi betina 418,60±59,04

kg. Hal ini disebabkan oleh hormon kelamin 

jantan yang memicu  pertumbuhan 

lebih cepat pada ternak jantan dibandingkan 

dengan ternak betina. Perbedaan bobot 

potong antara sapi jantan dan sapi betina 

dikarenakan akumulasi proses pembentukan 

otot yang dipengaruhi oleh kerja hormon

Faktor umur pada analisa  statistik 

menunjukkan hasil yang nyata (P<0,05). 

Umur 0,0-2,0 tahun bobot potong 

458,68±63,12 kg; 2,5 – 3,0 tahun bobot 

potong 457,17±75,60 kg dan umur >4,0 

tahun bobot potong 463,13±42,12 kg. Hasil 

ini sesuai dengan penelitian Hafid dan 

Priyanto (2006) menunjukkan bahwa rerata 

bobot potong sapi BX heifer dan steer

cenderung meningkat seiring dengan 

bertambahnya umur ternak. Perbedaan 

bobot potong ini dikarenakan semakin 

bertambahnya umur, sapi akan mengalami 

pertumbuhan pada organ, depot lemak, 

persentase otot dan tulang.

Berdasarkan uji analisa  statistik 

antara umur dan jenis kelamin terdapat 

interaksi yang nyata (P<0,05). 

rerata bobot potong sapi BX heifer dan steer 

cenderung meningkat seiring bertambahnya 

umur ternak. Hasil ini menunjukkan faktor 

umur akan berpengaruh pada peningkatan 

depot lemak serta peningkatan persentase 

lainya misalnya otot dan tulang. Jenis 

kelamin akan berpengaruh pada peranan 

dari steroid hormon dari perbedaan jenis 

kelamin. Hasil ini sesuai dengan penelitian 

 bahwa interaksi keduanya 

terjadi akibat adanya testoteron atau 

androgen yang dihasilkan oleh testis dan 

menyebabkan pertumbuhan ternak jantan 

lebih cepat dibandingkan ternak betina. 

bahwa kastrasi mengubah sistem hormonal 

ternak jantan sehingga memicu  

perubahan komposisi tubuh dan karkas. 

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada 

interaksi yang terjadi pada umur dan jenis 

kelamin, pada proses pertumbuhan 

kandungan hormone testoteron maupun 

androgen mampu mempengaruhi bobot 

potong.

Bobot karkas

Tabel 2 menunjukkan bobot karkas 

terbesar dimiliki oleh bangsa. Hasil analisa  

statistik menunjukkan bahwa faktor bangsa

dan jenis kelamin sapi berbeda sangat nyata 

(P<0,01) terhadap bobot karkas,. Sedangkan 

faktor umur pada analisa  statistik 

menunjukkan hasil yang nyata (P<0,05).

Umur 0,0 -2,0 tahun, bobot karkas 

219,08±43,55 kg, umur 2,5 – 3,0 tahun, 

bobot karkas 228,90±46,90 kg,dan umur 

>4,0 tahun, bobot karkas 235,27±29,12 kg. 

Budiarto (2010) menyatakan bahwa rerata 

bobot karkas sapi PO 186,15 kg dan sapi 

SimPO 219,10 kg, hasil tersebut tidak jauh 

berbeda dengan data penelitian. Besarnya 

bobot karkas sangat dipengaruhi kondisi 

ternak sebelum dipotong, dan bobot kosong 

tubuh ternak. Bobot karkas sapi PO: 

209,60±34,78 kg, bobot karkas sapi SimPO 

235,10±41,09 kg dan bobot karkas sapi

LimPO: 238,50 ± 40,92 kg. Aberle et al. 

(1975) menyatakan bahwa bangsa sapi 

SimPO maupun LimPO merupakan jenis sapi 

silangan dari Bos Taurus yang termasuk tipe 

besar dan memiliki bobot potong yang lebih 

besar dibanding sapi PO. 

Faktor jenis kelamin juga menunjukkan 

pengaruh terhadap bobot karkas sapi jantan: 

250,86±33,68 kg dan sapi betina 

204,64±33,96 kg, bobot karkas sapi jantan 

lebih berat dari pada sapi betina. Harapin 

(2006) menyebutkan bahwa klasifikasi jenis 

kelamin berpengaruh terhadap rerata bobot 

karkas cow, heifer dan steer pada sapi (BX) 

yaitu 128 kg, 129 kg, dan 119 kg. Soeparno

(2005) menyatakan bahwa faktor lain yang 

mempengaruhi pertumbuhan adalah jenis 

kelamin, hormon, dan genotip. Hafid (2002) 

menyatakan bahwa testosteron atau 

androgen merupakan suatu hormon steroid 

yang dihasilkan oleh testis yang 

menyebabkan pertumbuhan ternak jantan 

lebih cepat dibandingkan betina terutama 

setelah timbulnya pubertas.

Faktor umur menunjukkan semakin tua 

umur sapi semakin berat bobot karkasnya. 

bahwa umur 

sebagai salah satu faktor yang 

mempengaruhi bobot karkas termasuk di

dalamnya adalah rasio daging dan tulang, 

kadar dan distribusi lemak serta kualitas 

dagingnya, berkaitan erat dengan 

pertumbuhan. Pertumbuhan dalam bobot 

persatuan waktu dan perubahan dalam 

bentuk dan komposisi tubuh disebabkan laju 

pertumbuhan yang berbeda.

Berdasarkan uji analisa  statistik antara 

umur dan jenis kelamin terdapat interaksi

yang nyata (P<0,05). 

menyatakan, pertambahan bobot ternak 

muda akan meningkat terus dengan laju 

pertambahan yang tinggi sampai dicapai 

pubertas dan akhirnya tidak terjadi 

peningkatan bobot badan setelah mencapai 

kedewasaan. Jika berat badan masih 

meningkat, itu hanya disebabkan 

penimbunan lemak di bawah kulit (subcutan) 

dan lemak pada perut (abdomen) bukan 

pertumbuhan tulang dan daging. Interaksi 

keduanya diduga dikarenakan peningkatan 

depot lemak serta peningkatan persentase 

pertumbuhan otot pada pertambahan umur 

dan peranan dari steroid hormon dari 

perbedaan jenis kelamin yang menyebabkan 

pertumbuhan sapi jantan lebih cepat 

dibandingkan sapi betina. Usmiati dan 

 

komponen utama karkas terdiri atas jaringan 

otot (daging) dan tulang di mana kecepatan 

pertumbuhan tulang dan daging sapi akan 

terjadi pada umur 1 – 3 tahun dan berhenti 

pada umur 3 tahun. Kecepatan pertumbuhan 

inilah yang akan mempengaruhi berat badan 

sapi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa 

ada interaksi yang terjadi pada umur dan 

jenis kelamin, semakin bertambah umur sapi 

maka bobot hidup dan bobot karkasnya akan 

semakin tinggi. Jenis kelamin akan 

berpengaruh pada produksi lemak di karkas 

setelah terjadi pubertas, daging ternak betina 

akan lebih mengandung lemak dibanding 

dengan jantan. 

Persentase karkas

Tabel 3. menunjukkan persentase 

karkas terbesar dimiliki oleh bangsa sapi 

SimPO. Sedangkan hasil statistik 

menunjukkan bahwa faktor bangsa dan jenis 

kelamin menghasilkan perbedaan yang 

sangat nyata (P<0,01). Hasil penelitian 

persentase karkas sapi PO : 48,81±2,68%, 

SIMPO 51,06±3,50% dan LimPO 

50,42±2,88% lebih tinggi dibanding hasil 

bahwa persentase karkas sapi PO 48,4% 

dan sapi SimPO 49,06%. Data penelitian ini 

menunjukkan bahwa faktor bangsa 

mempunyai pengaruh terhadap persentase 

karkas. Soeparno (2005) menyatakan 

perbedaan komposisi tubuh dan karkas di 

antara bangsa ternak, terutama disebabkan 

oleh perbedaan ukuran tubuh atau 

perbedaan berat badan saat dewasa. Sapi 

SimPO, LimPO termasuk tipe sapi potong 

memiliki kemampuan dalam menghasilkan 

karkas sedangkan sapi PO merupakan sapi 

tipe kerja sehingga kurang bagus untuk 

menghasilkan karkas. Bangsa ternak dapat 

menghasilkan karkas dengan 

karakteristiknya sendiri atau komposisi 

karkas yang berbeda-beda. 

Faktor jenis kelamin berpengaruh 

sangat nyata terhadap persentase karkas

(P<0,01). Persentase karkas sapi jantan 

51,40±3,50%, persentase karkas sapi betina: 

48,79±3,07% Sapi jantan mempunyai 

persentase karkas yang lebih besar

dibanding persentase karkas sapi betina. 

menunjukkan bahwa rerata persentase 

karkas sapi dara 54,65% dan jantan 55,01% 

hasil ini tidak bebeda dengan penelitian yang 

dilakukan yaitu rerata persentase karkas sapi 

jantan adalah 51,40% pada sapi betina

48,79%. 

bahwa bobot potong yang lebih tinggi dapat 

mempengaruhi komposisi karkas. Karkas 

juga dipengaruhi oleh faktor lain nonkarkas 

berupa saluran reproduksi yang berbeda 

antara sapi jantan dan betina. Sapi betina 

memiliki saluran reproduksi sedangkan sapi 

jantan tidak. 

Komposisis kimia daging

Tabel 4 menunjukkan kadar air daging 

sapi tertinggi dimiliki oleh bangsa sapi PO 

dengan 72,28%, sedangkan kadar air pada 

faktor umur menunjukkan semakin tua sapi 

akan menurunkan nilai kadar air daging dan 

pada perbedaan jenis kelamin sapi jantan 

lebih tinggi dibanding sapi betina.

Berdasarkan perhitungan statistik

menunjukkan bahwa terdapat perbedaan 

kadar air yang nyata (P<0,05) pada 

perbedaan jenis kelamin, sedangkan 

perbedaan bangsa dan umur tidak memberi 

perbedaan yang signifikan pada kadar air di 

dalam daging. 

menyatakan rerata kadar air sapi PO adalah 

76,80% sedangkan untuk persilangan 76,85 

hasil ini hampir sama dengan penelitian yang 

dilakukan Suwignyo (2003) bahwa kadar air 

daging ternak relatif sama walaupun 

diberikan perlakukan pakan yang berbeda. 

bahwa kadar 

air dalam daging dipengaruhi oleh jenis 

ternak, umur, kelamin, pakan serta lokasi 

dan fungsi bagian-bagian otot dalam tubuh. 

Pada hasil penelitian ini kadar air daging sapi 

jantan menunjukkan lebih tinggi daripada 

sapi betina. Hal ini disebabkan oleh 

kandungan lemak intramuskular pada sapi 

jantan lebih sedikit dibandingkan sapi 

betina,rendahnya lemak intramuskuler 

tersebut menyebabkan kadar air di dalam 

daging menjadi lebih tinggi. 

() menyebutkan bahwa adanya 

perbedaan kadar air daging dapat 

dipengaruhi oleh lemak intramuscular, bila 

kadar air daging meningkat maka kadar 

lemak akan menurun.

Tabel 5 menunjukkan bangsa sapi 

paling tinggi kadar proteinnya adalah bangsa 

sapi SimPO walaupun selisih perbedaannya 

sangat kecil dengan bagsa sapi lain, kadar 

protein sapi SimPO: 21,46±0,85%, sapi 

LIMPO: 21,37±0,83% dan sapi PO: 

21,33±0,88% sedangkan menurut jenis 

kelamin sapi betina: 21,45±0,95% lebih tinggi 

dibanding sapi jantan: 21,32±0,73% dan 

semakin bertambahnya umur sapi kadar 

proteinnya tidak bertambah umur 0,0-2,0

tahun 21,52±0,59%, umur 2,5-3,0 tahun 

21,37±1,02% dan umur >4,0 tahun 

21,26±0,88%. Hasil analisa  statistik 

menunjukkan hasil bahwa tidak terdapat 

perbedaan yang nyata, pada faktor bangsa, 

jenis kelamin, dan umur ternak.  

bahwa sapi-sapi tropis 

cenderung mempunyai kadar protein yang 

sama. Kadar protein daging tidak 

dipengaruhi oleh umur dan jenis kelamin 

ternak, sedangkan kadar lemak daging 

dipengaruhi oleh umur. Protein daging 

berperan dalam pengikatan air sehingga 

pada daging dengan kadar protein yang 

tinggi memiliki daya ikat air yang tinggi juga 

(Lawrie, 2003). Beberapa faktor yang 

mempengaruhi kadar protein dalam daging 

adalah temperatur dan pakan yang diberikan 

pada ternak. Hasil penelitian yang dilakukan 

menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan 

pada bangsa sapi, umur sapi maupun jenis 

kelamin sapi.

Tabel 6 menunjukkan bahwa bangsa 

sapi LimPO memiliki kadar lemak: 

4,41±1,67% yang paling tinggi dibandingkan 

dengan bangsa sapi SimPO: 4,18±1,25%

maupun PO: 3,95±1,35%. Sapi yang memiliki 

kadar lemak yang tinggi adalah sapi yang 

berjenis kelamin betina: 4,21±1,54% sapi 

jantan: 3,44±0,74%. Lemak sapi tidak 

mengalami banyak perubahan pada 

pertambahan umur. Hasil analisa 

menunjukkan bahwa faktor jenis kelamin dan 

umur memberikan perbedaan yang sangat 

nyata (P<0,01) terhadap kadar lemak daging 

sapi. Penelitian ini menunjukkan, kadar air 

pada daging lebih banyak pada kelompok 

sapi jantan dibandingkan sapi betina. 

semakin tinggi kandungan lemak, maka 

semakin rendah kadar airnya. Faktor yang 

dapat memperngaruhi kadar lemak daging 

adalah bangsa, umur, spesies, lokasi otot, 

dan pangan. 

bahwa perlemakan sapi di daerah tropis 

biasanya hanya pada lemak subkutan, 

omental dan mesenterik sehingga variasi 

lemak di dalam daging relatif sama. Jenis 

kelamin dapat menyebabkan perbedaan laju 

pertumbuhan, ternak jantan biasanya tumbuh 

lebih cepat dibandingkan betina pada umur 

yang sama. Steroid kelamin terlibat dalam 

pengaturan pertumbuhan terutama 

bertanggungjawab atas perbedaan 

komposisi tubuh antar jenis kelamin

Berdasarkan Tabel 7 dan 8 diperoleh 

perbandingan asam lemak tidak jenuh dan 

asam lemak jenuh pada bangsa sapi PO 

63,19 : 19,45; sapi SimPO 66,43 : 25,66;

dan sapi LimPO 62,33 : 18,38. Nilai asam 

lemak jenuh lebih kecil dibanding asam 

lemak tidak jenuh dengan sapi PO 

menempati perbandingan terbaik antara sapi 

SimPO dan LimPO. 

 menyatakan bahwa tiap 

bangsa mempunyai kadar asam lemak yang 

berbeda antara lain karena faktor genetik. 

menyatakan bahwa asam

lemak tidak jenuh seperti asam oleat 

mempunyai pengaruh hipokolesterolemik 

(merendahkan kolesterol), sehingga dalam 

jumlah sedang tidak dianggap sebagai asam 

lemak yang tidak diinginkan.

Asam lemak esensial pada tubuh

digunakan untuk menjaga bagian struktural 

dari membran sel dan untuk membuat 

bahan-bahan seperti hormon yang disebut 

eikosanoid. Eikosanoid membantu mengatur 

tekanan darah, proses pembekuan darah, 

lemak dalam darah dan respon imun 

terhadap luka dan infeksi, dan risiko kanker 

Uji kadar kolesterol daging, terhadap 

bangsa sapi potong adalah PO 19,152 

mg/100g, SimPO 37,289 mg/100g dan 

LimPO 32,724 mg/100g. Hasil ini 

menunjukkan bahwa kadar kolesterol pada 

sapi PO lebih baik dari pada sapi SimPO dan 

sapi LimPO. Sapi yang dilakukan pengujian 

adalah sapi yang berumur 2,5 tahun pada 

jenis kelamin jantan. 

menyatakan bahwa kandungan kolesterol 

daging di antara daging sapi dapat berbeda 

yang dipengaruhi oleh bangsa ternak, umur 

ternak serta kandungan marbling. 

() menyataan bahwa otot yang memiliki 

marbling lebih banyak mempunyai 

kandungan kolesterol yang lebih tinggi pula. 

Kesimpulan

Hasil penelitian ini dapat disimpulkan 

bahwa bangsa dan umur sapi berpengaruh 

terhadap bobot potong, bobot karkas dan 

persentase karkas tetapi tidak berpengaruh 

terhadap komposisi kimia daging. Jenis 

kelamin berpengaruh terhadap bobot potong, 

bobot karkas dan komposisi kimia daging. 

Interaksi hanya terjadi antara jenis kelamin 

dan umur pada bobot potong, bobot karkas.

Berdasarkan komposisi kimia daging, bangsa 

Peranakan Ongole (PO) lebih baik dibanding 

bangsa silangannya (SimPO dan LimPO) 

karena memiliki kadar kolesterol yang lebih 

rendah. Bangsa sapi PO memiliki 

perbandingan asam lemak tidak jenuh : 

asam lemak jenuh tinggi dibanding pada sapi 

SimPO dan LimPO.


Parameter untuk mengetahui kesempurnaan kematian pada sapi sesudah  disembelih yaitu dengan 

melihat refleks kelopak mata dan atau waktu henti darah memancar. kematian 

merupakan suatu keadaan yang ditandai dengan respirasi fisiologis dan sirkulasi darah telah berhenti 

sebagai akibat dari pusat sistem itu  di batang otak secara permanen kehilangan fungsi karena 

kekurangan oksigen dan energi. Waktu henti darah memancar merupakan indikasi bahwa jantung 

sudah tidak dapat memompa darah keluar dari tubuh karena tidak ada lagi asupan oksigen darah dalam 

jantung, sehingga hewan itu  dapat dikatakan mati. Tujuan dari penelitian ini untuk menghitung 

waktu henti darah memancar pada penyembelihan sapi dengan metode pemingsanan dan tanpa 

pemingsanan yang dipotong di rumah potong hewan ruminansia besar (RPHRB), sehingga diperoleh 

data rataan waktu hewan mati sempurna. Tiga puluh ekor sapi Brahman Cross dibagi menjadi 2 kelompok 

perlakuan yaitu, sebanyak 15 ekor yang disembelih dengan pemingsanan (kelompok 1) dan sebanyak 15 

ekor yang disembelih tanpa pemingsanan (kelompok 2). Waktu henti darah memancar dihitung sesaat 

sesudah  hewan disembelih sampai darah berhenti memancar. Hasil dari penelitian diperoleh rataan waktu 

henti darah memancar pada sapi yang dipingsankan sebelum disembelih adalah sebesar 3,02 menit dan 

rataan waktu henti darah memancar pada sapi yang disembelih tanpa pemingsanan adalah sebesar 

2,13 menit. Selang waktu henti darah memancar antara sapi yang dipingsankan dengan sapi yang tidak 

dipingsankan sebelum disembelih adalah 53,4 detik. Waktu henti darah memancar dipengaruhi oleh 

perlakuan hewan sebelum pemotongan, yaitu dengan atau tanpa pemingsanan.


Kebutuhan daging sapi dan kerbau untuk kon-

sumsi dan industri di Indonesia pada tahun 2012 

mencapai 484 ribu ton , 

Setiap tahun permintaan itu  akan terus me-

ningkat seiring dengan bertambahnya populasi pen-

duduk dan tingginya minat warga  terhadap 

konsumsi daging. Tingginya permintaan menye-

babkan intensitas pemotongan juga meningkat, 

sehingga keberadaan rumah potong hewan (RPH) 

sebagai tempat untuk pemotongan hewan sangat 

diperlukan. Dalam pelaksanaannya RPH harus dapat 

menjaga kualitas daging, baik dari tingkat kebersih-

an, kesehatan, ataupun kehalalan dagingnya. 

Di Indonesia ada 2 metode sebelum pemotong-

an, yaitu dengan pemingsanan dan tanpa peming-

sanan. Praktik pemotongan sapi tanpa dipingsan-

kan telah dilakukan sejak lama di Indonesia, sedang-

kan pemotongan dengan pemingsanan bertujuan 

agar sapi mendapatkan perlakuan sesuai dengan 

kesejahteraan hewan, sehingga meminimalkan ke-

jadian stres pada sapi. Hampir sebagian besar RPH 

masih memakai  metode konvensional dalam 

proses penyembelihan, yaitu dengan cara sapi di-

ikat dan ditarik dengan kuat sehingga sapi roboh ke 

lantai baru kemudian disembelih. Perlakuan yang 

kasar dalam penanganan pemotongan hewan akan 

memicu  stres pada hewan dan menghasilkan 

kualitas daging yang rendah. Penanganan hewan 

saat pemotongan harus diatur dengan baik untuk 

mempertahankan standar karena kesejahteraan 

hewan merupakan bagian dari kualitas daging 

(Grandin, 2001). Untuk meminimalkan stres dan rasa 

sakit pada hewan potong, khususnya pada sapi, 

di beberapa RPH dilakukan pemingsanan sebelum 

hewan disembelih.

Daging yang dihasilkan oleh RPH harus memenuhi 

persyaratan aman, sehat, utuh, dan halal (ASUH). 

Halal merupakan syarat penting yang harus di-

penuhi oleh daging yang dihasilkan oleh RPH karena 

sebagian besar warga  Indonesia memeluk 

agama Islam. Titik kritis dari makanan halal ter-

utama daging, terletak pada sumber bahan baku, 

proses penyembelihan, dan proses produksinya. 

Pemingsanan pada sapi harus dilakukan dengan 

benar agar memenuhi aspek kesejahteran hewan 

dan kehalalan pada daging yang dihasilkan. Untuk itu 

diperlukan pengetahuan untuk memastikan agar 

metode pemingsanan tidak memicu  kerusak-

an berat/permanen pada otak dan pengetahuan 

tentang indikator kematian hewan sehingga hewan 

benar-benar telah mati sebelum dilakukan pe-

nanganan lebih lanjut.

Parameter yang dapat digunakan untuk melihat 

hewan mati sempurna adalah dengan melihat re-

fleks kornea dan atau waktu henti darah memancar. 

Waktu henti darah memancar merupakan indikasi 

bahwa jantung sudah tidak dapat memompa darah 

keluar dari tubuh akibat tidak ada lagi asupan 

oksigen darah dalam jantung, sehingga hewan ter-

sebut dapat dikatakan mati. Menurut EFSA (2004) 

kematian merupakan suatu keadaan yang ditandai 

dengan respirasi fisiologis dan sirkulasi darah telah 

berhenti sebagai akibat dari pusat sistem itu  

di batang otak secara permanen kehilangan fungsi 

karena kekurangan oksigen dan energi. Selama ini 

parameter yang digunakan untuk menentukan 

hewan mati sempurna adalah dengan melihat re-

fleks kelopak mata. Tujuan dari penelitian ini, yaitu 

mendapatkan data rataan waktu henti darah me-

mancar pada penyembelihan sapi dengan peming-

sanan dan tanpa pemingsanan. 


Sampel berupa 30 ekor sapi Brahman Cross yang 

dipilih memakai  metode purposive sampling. 

Penelitian ini dilakukan di RPHR wilayah Depok, 

Tangerang, dan Tasikmalaya dari bulan September 

2013 sampai dengan Maret 2014.  Sapi yang diamati 

pada penelitian ini dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu 

sebanyak 15 ekor disembelih dengan dilakukan pe-

mingsanan terlebih dahulu dan 15 ekor disembelih 

tanpa melalui proses pemingsanan. Penyembelih-

an dilakukan pada malam hari sesuai dengan waktu 

penyembelihan dari masing-masing RPH-R 

Waktu henti darah memancar pada sapi yang 

disembelih dengan dan tanpa pemingsanan di-

hitung memakai  stopwatch. Tombol start pada 

stopwatch ditekan sesaat sesudah  sapi disembelih 

dan terlihat darah pertama kali memancar. Ditunggu 

selang beberapa waktu sampai terlihat darah 

sudah tidak lagi memancar lalu tombol stop pada 

stopwatch ditekan dan dilihat waktu (detik) yang 

tertera pada layar stopwatch.

Analisis Data

Data yang diperoleh dianalisis secara kuantitatif. 

Data dianalisis dengan uji t untuk mengetahui per-

bedaan waktu henti darah memancar pada pe-

nyembelihan sapi dengan pemingsanan dan tanpa 

pemingsanan dengan memakai  SPSS 16.


Tabel 1 Waktu henti darah memancar pada sapi yang disembelih dengan dan tanpa pemingsangan 

Perlakuan sebelum penyembelihan

Waktu henti darah memancar (menit)

Rataan Minimun Maksimum

Pemingsanan 3,02a 1,53 4,33

Tanpa pemingsanan 2,13b 1,04 3,14

Huruf superskrip yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan uji berbeda nyata (p<0,05)

Hasil dari penelitian ini menunjukkan adanya per-

bedaan waktu henti darah yang signifikan (p<0,05) 

pada sapi yang disembelih dengan pemingsanan dan 

sapi yang disembelih tanpa pemingsanan terlebih 

dahulu. Rataan waktu henti darah memancar pada 

sapi yang dipingsankan terlebih dahulu sebelum 

disembelih adalah sebesar 3,02 menit dengan waktu 

henti darah maksimum sebesar 4,33 menit dan 

minimum sebesar 1,53 menit. Sedangkan waktu 

yang dibutuhkan untuk darah berhenti memancar 

pada sapi yang disembelih tanpa dipingsankan ter-

lebih dahulu mempunyai nilai rataan sebesar 2,13 

menit dengan waktu henti darah minimum sebesar 

1,04 menit dan maksimum sebesar 3,14 menit. Per-

bedaan waktu henti darah berhenti memancar 

antara sapi yang dipingsankan dengan sapi yang 

tidak dipingsankan sebelum disembelih adalah 53,4 

detik. 




Sapi yang dipingsankan sebelum disembelih 

membutuhkan waktu henti darah lebih lama di-

bandingkan sapi yang tidak dipingsankan. Waktu 

henti darah memancar dipengaruhi oleh perlakuan 

hewan sebelum penyembelihan. Sapi yang diamati 

dengan perlakuan pemingsanan sebelum penyem-

belihan, dipingsankan mengunakan captive bolt stun 

gun non-penetrating. Non-penetrating captive bolt 

stun gun yang digunakan di RPH di Indonesia 

adalah tipe Cash Magnum Knocker caliber 0,25 yang 

menghilangkan rasa sakit pada hewan dan me-

mudahkan manusia dalam melaksanakan penyem-

belihan. Jantung pada sapi dapat memompa darah 

lebih stabil tanpa adanya peningkatan frekuensi 

jantung. Penurunan tekanan jantung terutama ven-

trikel selama pengeluaran darah terjadi karena pe-

nurunan oksigen darah pada miokardium. Respirasi 

pada hewan yang dipingsankan akan menurun 

sehingga distribusi oksigen ke jantung juga me-

nurun. Hal ini mengakibatkan kekuatan frekuensi 

jantung dan tekanan darah menurun (Vemini et al., 

1983). Kondisi itu  membuat waktu henti darah 

memancar pada sapi yang dipingsankan lebih lama 

dibandingkan dengan sapi yang tidak dipingsankan.

Sapi yang disembelih tanpa melalui proses pe-

mingsanan terlebih dahulu, difiksasi memakai  

restraining box mark IV. Menurut Grandin (1991), 

restraining box adalah alat yang digunakan untuk 

mengendalikan sapi sebelum disembelih agar ting-

kat stres pada sapi berkurang. Pada prinsipnya, 

tingkat stres dapat diturunkan karena (1) saat sapi 

masuk ke dalam restraining box sapi tidak merasa 

takut karena terhindar dari pengaruh lingkungan 

area penyembelihan, hal itu  penting terutama 

bagi sapi yang cukup agresif; (2) untuk mengatasi 

terjangan kepala sapi karena pandangan di sekeli-

ling sapi tertutup penuh; (3) memudahkan dalam 

merobohkan sapi tanpa perlakuan kasar; (4) stabili-

tas alat ini membuat sapi menjadi lebih tenang dan 

mengatasi gerakan berontak yang tiba-tiba; dan (5) 

tekanan alat pada sapi tidak menimbulkan kesakitan 

HASIL

Obyek penelitian yang digunakan dalam peneli-

tian ini adalah sapi Brahman Cross jantan. Jumlah 

total sapi yang diamati pada penghitungan waktu 

henti darah memancar adalah sebanyak 30 ekor 

yang dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu sebanyak 15 

ekor disembelih dengan dilakukan pemingsanan ter-

lebih dahulu dan 15 ekor disembelih tanpa melalui 

proses pemingsanan. Hasil penghitungan waktu 

henti darah memancar pada sapi Brahman Cross yang 

dipingsankan dan tanpa pemingsanan sebelum di-

sembelih disajikan dalam Tabel 1.

diproduksi oleh Accles dan Shelvoke. Cash Magnum 

Knocker menembakkan baut (bolt) berukuran 

panjang 121 mm dan diameter 11,91 yang berbentuk 

kepala jamur (mushroom-headed). Cartridge merupa-

kan tenaga pendorong untuk memicu  trauma 

ke korteks otak tanpa penetrasi ke dalam tengkorak 

Tipe non-penetrating 

memicu  ketidaksadaran melalui pelemahan 

sistem syaraf  yang mengakibatkan hilangnya ke-

sadaran tanpa perubahan anatomis di otak. Pe-

mingsanan merupakan salah satu teknik sebelum 

pemotongan pada hewan dengan tujuan untuk 

Penyembelihan Sapi dengan dan tanpa Pemingsanan 

dan berlangsung cepat. Pada prinsipnya, tingkat 

stres dapat diturunkan karena pergerakan alat 

halus, memiliki tingkat kebisingan yang rendah, 

tekanan alat pada sapi tidak menimbulkan kesakit-

an, dan sapi tidak merasa takut karena terhindar 

dari pengaruh lingkungan area penyembelihan. 

Upaya penurunan stres memakai  mark IV masih 

menyisakan sapi dalam keadaan sadar, sehingga 

stres masih berpengaruh pada sapi dibanding-

kan dengan metode pemingsanan. Implikasi dari 

penggunaan metode mark IV tetap mengakibatkan 

terjadinya peningkatan tekanan darah dan frekuensi 

jantung. Peningkatan frekuensi jantung menyebab-

kan darah yang dipompa keluar pada saat disembelih 

menjadi lebih cepat, sehingga darah yang memancar 

pada sapi akan lebih cepat berhenti. Peningkatan 

tekanan darah terjadi akibat adanya penyempitan 

pembuluh darah kapiler pada jaringan. Darah di-

pompakan melalui pembuluh darah oleh jantung. 

Pembuluh-pembuluh darah merupakan sistem yang 

tertutup, yang membawa darah dari jantung ke 

seluruh jaringan tubuh dan kembali ke jantung. Aliran 

darah ke tiap-tiap jaringan diatur oleh mekanisme 

kimia lokal dan mekanisme saraf umum yang 

melebarkan atau menyempitkan pembuluh darah 

jaringan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi dan 

oksigen pada jaringan melalui sistem kemoreseptor 

Mekanisme kimia lokal me-

rupakan mekanisme pengaturan saraf otonom, 

yaitu oleh zat-zat kimia seperti asetilkolin dan 

katekolamin, yang utama adalah norepinefrin dan 

epinefrin. Katekolamin memicu  penyempitan 

buluh-buluh darah sehingga terjadi peningkatan 

tekanan darah. Stres sehubungan dengan peming-

sanan dan pengeluaran darah secara normal menye-

babkan pelepasan katekolamin sehingga terjadi 

penyempitan pembuluh darah jaringan ,

Stunning menjadi sangat penting karena stres 

sebelum penyembelihan memiliki dampak buruk 

terhadap kualitas daging yang dihasilkan. Stres 

sebelum penyembelihan memicu  peningkat-

an kadar katekolamin dan kreatinin kinase dalam 

tubuh. Peningkatan kadar katekolamin dan kre-

atinin kinase memicu  glikolisis secara cepat 

sehingga terjadi penumpukan asam laktat pada 

daging. Stres sebelum penyembelihan juga menye-

babkan penurunan kadar glikogen yang menyebab-

kan tingginya pH daging dan daya ikat air. Selain itu, 

daging yang dihasilkan lebih keras dengan warna 

yang lebih gelap ,

Penyembelihan sapi dengan pemingsanan mau-

pun tanpa pemingsanan harus memenuhi kaidah 

halal diantaranya harus memotong tiga saluran 

pada leher, yaitu esofagus, trakhea, dan pembuluh 

darah (vena jugularis dan arteri karotis). Proses 

penyembelihan mengakibatkan pengeluaran darah 

dari pembuluh darah dalam jumlah yang besar. 

Respon fisiologis dari hewan yang kehilangan darah 

dalam jumlah yang besar secara tiba-tiba disebut 

syok hemoragik. Syok hemoragik merupakan gejala 

klinis akibat berkurangnya curah jantung dan perfusi 

darah ke organ karena penurunan volume darah 

(hipovolemia) yang disebabkan oleh hilangnya 

darah. Hal ini disebabkan ketidakmampuan sistem 

homestasis tubuh dalam mengembalikan jumlah 

normal darah akibat banyaknya darah yang keluar. 

Penurunan volume darah selama perdarahan akut 

memicu  penurunan tekanan vena cava dan 

pengisian darah ke jantung. Hal ini memicu  

penurunan curah jantung dan tekanan arteri. Tubuh 

memiliki sejumlah mekanisme yang menjadi aktif 

dalam upaya untuk mengembalikan tekanan arteri 

kembali normal melalui refleks baroreseptor dan 

refleks kemoreseptor. Namun, karena terhentinya 

asupan oksigen dan nutrisi ke jantung akibat per-

darahan yang sangat parah (hypovolemia) menye-

babkan jantung gagal berkontraksi. Kegagalan 

jantung berkontraksi mengakibatkan tidak ada lagi 

aliran darah dalam tubuh, sehingga perfusi darah 

ke organ tidak terjadi . Proses ini 

dapat berujung pada kematian.

Pengeluaran darah selama penyembelihan he-

wan sangat dipengaruhi oleh curah jantung, walau-

pun jantung bukan merupakan faktor utama dalam 

pengaturan curah jantung. ada  berbagai faktor 

sirkulasi perifer yang mempengaruhi aliran darah ke 

dalam jantung yang berasal dari vena, yang disebut 

aliran balik vena, yang merupakan pengatur utama. 

Alasan utama mengapa faktor-faktor perifer biasa-

nya lebih penting daripada jantung itu sendiri dalam 

mengatur curah jantung adalah karena jantung me-

miliki mekanisme di dalam jantung itu sendiri yang 

biasanya memungkinkan jantung untuk memompa 

secara otomatis berapapun darah yang mengalir ke 

dalam atrium kanan yang berasal dari vena. Tujuan 

dari pengeluaran darah adalah untuk mengeluarkan 

darah dan memastikan hewan mati dengan meng-

hentikan suplai oksigen ke otak , proses kehilangan darah 

(blood loss) membutuhkan waktu tertentu untuk 

mencapai tingkat kritis. Pemotongan yang efektif 

akan memicu  40%-60% volume darah hilang 

dalam pola dan tingkat yang sama pada spesies 

yang berbeda. bahwa 

33% darah akan hilang sesudah  30 detik pemotong-

an, 25% 

darah akan hilang sesudah  17 detik. 

setiap individu hewan membutuhkan waktu 

yang berbeda untuk mengalami perdarahan hingga 

kematian. Waktu kematian tertunda jika hanya 

arteri pada satu sisi leher yang terputus atau ujung 

arteri mengalami penyumbatan sebelum pendarah-

an sempurna. Perdarahan akan memicu  ke-

tidaksadaran yang berlanjut dengan kematian. Ke-

matian terjadi karena kurangnya suplai oksigen ke 

otak yang telah disuplai oleh aliran arteri.

Pengeluaran darah yang baik dapat terjadi pada 

hewan dalam keadaan sehat namun dapat diper-

lambat jika hewan mengalami kondisi demam, 

infeksi pada bagian jantung, paru-paru, dan otot 

. Kerusakan otot dapat 

disebabkan oleh beberapa hal diantaranya karena 

terbanting atau karena penyakit infeksius yang 

memicu  rusaknya pembuluh darah kapiler 

pada jaringan sehingga darah masuk ke otot yang 

memicu  kualitas daging menurun. Kesempur-

naan pengeluaran darah merupakan syarat agar 

kualitas daging yang dihasilkan baik. Kontraksi, 

gravitasi, dan aktifitas jantung merupakan faktor 

yang mempengaruhi pengeluaran darah otot-otot 

hewan ,oleh sebab itu, selama 

penyembelihan hewan harus dibiarkan berkontraksi 

hingga mati sempurna, sesudah  itu baru dilakukan 

penggantungan dan pelepasan kulit.

Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan 

bahwa sapi mati sempurna berdasarkan waktu 

henti darah memancar pada sapi yang disembelih 

dengan metode pemingsanan adalah 3,02 menit 

sedangkan pada sapi yang disembelih dengan me-

tode tanpa pemingsanan adalah 2,13 menit.


Sapi aceh merupakan rumpun sapi asli Indonesia yang mempunyai keseragaman bentuk, fisik, dan 

komposisi genetik serta kemampuan adaptasi dengan baik pada keterbatasan lingkungan, sehingga perlu 

dilindungi, dilestarikan, dan dikembangkan keunggulannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur 

histologis usus besar sapi aceh. Sampel penelitian diambil dari tiga ekor sapi aceh yang telah dewasa kelamin 

dan berjenis kelamin jantan yang dipotong di Rumah Potong Hewan Lambaro, Aceh Besar. Terhadap sampel 

penelitian dilakukan proses mikroteknik untuk selanjutnya dilakukan pewarnaan Hematoksilin-Eosin (HE). 

Pengamatan terhadap struktur histologi menggunakan mikroskop. Hasil penelitian menunjukkan struktur 

histologi sekum, kolon, dan rektum sapi aceh tersusun atas empat lapisan, yaitu tunika mukosa, submukosa, 

muskularis, dan serosa. Tunika mukosa sekum, kolon, dan rektum tersusun oleh epitel silindris selapis, sel 

Goblet, kelenjar Lieberkuhn, limfosit, jaringan ikat longgar, fibroblas, dan otot polos. Ketebalan mukosa sekum 

yaitu (419±12 µm), kolon (749±13 µm), dan rektum (1308±10 µm). Tunika submukosa terdiri dari jaringan ikat 

longgar, fibroblas, sel lemak, pembuluh darah dan nodus limfatikus dengan ketebalan sekum (943±13 µm), 

kolon (744±10 µm), dan rektum (2076±10 µm). Tunika muskularis tersusun oleh otot polos transversal dan 

longitudinal, plexus saraf mientericus, dan jaringan ikat, dengan ketebalan masing masing yaitu sekum (2579±19 

µm), kolon (2380±16 µm), dan rektum (4748±19 µm). Tunika serosa merupakan lapisan paling luar dari usus 

besar yang terdiri dari sel lemak, pembuluh darah, dan jaringan ikat dengan ketebalan sekum (1621±13 µm), 

kolon (331±18 µm), dan rektum (1639±9 µm). Dapat disimpulkan, bahwa struktur histologi sekum, kolon, dan 

rektum sapi aceh memiliki lapisan yang sama, namun memiliki ketebalan yang berbeda pada tiap lapisan, 

ketebalan lapisan berhubungan dengan fungsi dan letak dari usus besar, dimana rektum memiliki ketebalan 

lapisan yang lebih tebal dibandingkan sekum, dan kolon. 

 Ternak plasma nutfah merupakan ternak yang dipelihara turun temurun oleh peternak , Salah satu ternak yang tergolong ternak plasma nutfah 

adalah sapi aceh ,

daya genetik salah satu rumpun sapi lokal yang harus dilindungi, dilestarikan, dan 

dikembangkan keunggulannya . Sapi aceh mempunyai pola warna 

bervariasi yaitu merah bata, kuning langsat, putih hingga berwarna hitam, namun warna 

dominan yang ditemui adalah merah bata ,

Sapi tergolong hewan ruminansia yang mempunyai keistimewaan pada alat 

pencernaannya ,Struktur anatomis sistem pencernaan sapi sangat berbeda 

dengan ternak kecil misalnya unggas, hal ini dikarenakan sapi memiliki lambung ganda yang 

khas yang terdiri dari rumen, retikulum, omasum, dan abomasum . Fungsi dari 

sistem pencernaan adalah menghidrolisis komponen-komponen yang ada  pada makanan 

untuk diubah menjadi produk daging, mengabsorbsi zat-zat nutrisi, dan mengekresikan yang 

tidak diabsorbsi sebagai residu melalui anus , saluran pencernaan terdiri dari suatu saluran 

berongga yang panjang, yang disebut dengan traktus yang berawal dari rongga mulut dan 

berakhir di anus. Sistem ini terdiri dari rongga mulut, esofagus, lambung, usus halus, usus 

besar, dan kanalis analis. organ terpanjang pada saluran 

pencernaan adalah usus, yang dibedakan antara usus halus dan usus besar.  

 Usus merupakan suatu bagian yang berfungsi dalam penyerapan nutrisi pada proses 

pencernaan , Salah satu bagian dari usus yang berfungsi menyerap air, 

fermentasi sisa ingesta, serta pembentukan feses adalah usus besar , Secara 

anatomi usus besar terbagi pada tiga bagian yaitu sekum, kolon, dan rektum  Usus besar terletak diantara anus dan ujung akhir ileum, bagian ini lebih pendek 

dan kurang berkelok kelok dibandingkan usus halus 

 Secara umum struktur histologis usus besar tersusun atas tunika mukosa, submukosa, 

muskularis, dan serosa. Tunika mukosa terdiri dari lamina epitelia, lamina propria, dan lamina 

muskularis mukosa. Tunika submukosa terdiri atas jaringan ikat padat tidak beraturan, 

pembuluh darah, limfe, saraf, dan ditandai dengan adanya kelenjar. Tunika muskularis terdiri 

atas lapisan otot polos yang tersusun memanjang (longitudinal) dan melingkar (transversal), 

sedangkan tunika serosa terdiri dari jaringan ikat longgar, pembuluh darah, dan sel adiposa ,

 Studi histologis usus besar sudah pernah dilaporkan diantaranya pada sapi bali , kambing dan kerbau  

Namun studi histologis usus besar pada sapi aceh belum pernah dilaporkan, oleh karena itu 

penelitian ini sangat perlu dilakukan untuk melengkapi informasi tentang studi histologis usus 

besar sapi aceh.   

 

Rumusan Masalah 

 Bagaimanakah struktur histologis usus besar (sekum, kolon, dan rektum) sapi aceh? 

 

Tujuan Penelitian 

 Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari struktur histologis usus besar (sekum, 

kolon, dan rektum) sapi aceh. 

 

Manfaat Penelitian 

 Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai struktur histologis 

usus besar sapi aceh serta sebagai referensi untuk penelitian-penelitian selanjutnya. 


Tempat dan Waktu Penelitian 

 Penelitian ini telah dilaksanakan di Laboratorium Histologi Fakultas Kedokteran 

Hewan Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. Penelitian ini dimulai pada bulan November 

sampai Desember 2018. 

Alat dan Bahan Penelitian 

 Alat yang digunakan adalah gelas ukur, botol sampel, surgery minor set, tissue 

casset, cetakan blok, wadah untuk pewarnaan (staining jar), oven, embedding processor, 

mikrotom, pisau mikrotom, object glass, cover glass, kertas label, slide warmer 37⁰C, 

waterbath, mikroskop Olympus CX31 yang dipadukan dengan software toupview. 

 Bahan-bahan yang digunakan adalah usus besar (sekum, kolon, dan rektum) sapi 

aceh, larutan NaCl Fisiologis 0,9%, Neutral Buffer Formalin (NBF) 10%, aquadest, silol, 

alkohol dengan konsentrasi bertingkat (70%, 80%, 90%, dan absolut), parafin, Hematoksilin-

Eosin (HE), dan bahan perekat          . 

 

Metode Penelitian  

 Penelitian ini merupakan penelitian dalam bentuk eksploratif yaitu penelitian yang 

bertujuan untuk mengetahui struktur histologi usus besar sapi aceh. Sampel berasal dari tiga 

ekor sapi aceh jantan dewasa yang dipotong di rumah potong hewan Lambaro, Aceh Besar. 

Sampel kemudian dibuat menjadi preparat histologis dengan pewarnaan Hematoksilin-Eosin 

(HE) dan dilakukan pengukuran ketebalan masing-masing lapisannya dengan menggunakan 

mikroskop Olympus CX31 yang dipadukan dengan software toupview. 

 

Prosedur Penelitian 

Pengambilan Sampel 

 Sampel sekum, kolon, dan rektum masing-masing dipotong tiga cm pada bagian 

tengah. Sampel itu  selanjutnya dibilas dengan Nacl fisiologis 0,9% sampai bersih, lalu 

dibentangkan di atas plastik mika dan fiksasi di dalam Neutral Buffer Formalin (NBF) 10% 

selama 48 jam. Sampel dipotong 0,5 cm dan dimasukkan ke dalam tissue cassete, selanjutnya 

dilakukan stoping point dalam alkohol 70%. 

 

Pembuatan Preparat Histologis 

 Pembuatan preparat histologis usus besar mengacu pada metode Kiernan,

Proses itu  dimulai dengan dehidrasi jaringan menggunakan alkohol dengan konsentrasi 

bertingkat (80%, 90%, 95%, absolut I, dan absolut II), penjernihan dengan larutan silol, 

infiltrasi jaringan dalam parafin cair, dan dilanjutkan dengan embedding menggunakan 

parafin cair hingga menjadi blok parafin (blocking). Tahap selanjutnya dilakukan sectioning 

menggunakan mikrotom dengan ketebalan 5 µm, kemudian irisan diletakkan pada tissue bath, 

lalu diambil dengan object glass untuk selanjutnya diinkubasikan ke dalam slide warmer. 

 

Pewarnaan Hematoksilin-Eosin 

 Pewarnaan dimulai dengan proses deparafinisasi menggunakan silol I selama lima 

menit dan dalam silol II selama dua menit. Kemudian dilanjutkan dengan proses rehidrasi 

dengan alkohol menurun dari alkohol absolut I dan II, alkohol 96% I dan II, dan alkohol 90%, 

slide dimasukkan masing-masing selama dua menit, selanjutnya slide jaringan dibilas dengan 

air mengalir. Kemudian slide dimasukkan ke dalam hematoksilin selama lima menit, dan 

dibilas dengan air mengalir sampai bersih. Selanjutnya slide dimasukkan ke dalam eosin 

selama lima menit. Kemudian dilakukan proses dehidrasi kembali dengan menggunakan 

alkohol 96% I dan II, absolut I dan II masing-masing dua kali celup. Setelah itu dilakukan 

proses clearing dengan silol I, II, dan III masing-masing selama tiga menit, lalu dilakukan 

mounting dengan          . Pengamatan dilakukan dengan mikroskop cahaya Olympus dan 

dilanjutkan dengan pengambilan foto mikrograf 

Parameter Penelitian 

Parameter yang diamati pada penelitian ini adalah struktur histologis usus besar yaitu 

tunika mukosa, submukosa, muskularis, dan serosa, serta ketebalan dari setiap lapisannya. 

 

Analisis Data 

 Data yang diperoleh dianalisis secara kuantitatif yang disajikan dalam bentuk 

gambaran histologis dan ditabulasikan dalam bentuk rataan±simpangan baku. 

Ketebalan Lapisan Usus Besar Sapi Aceh 

Hasil pengamatan struktur histologis sekum, kolon, dan rektum sapi aceh, secara 

umum tidak berbeda dengan struktur histologis sekum, kolon, dan rektum pada ruminansia 

umumnya, yang tersusun atas empat lapisan yaitu tunika mukosa, submukosa, muskularis, 

dan serosa. Ketebalan pada masing-masing lapisan itu  dapat dilihat pada Tabel 1.  

      

berdasar  hasil pengolahan data didapatkan bahwa tunika mukosa, submukosa, 

muskularis, dan serosa rektum lebih tebal dibandingkan sekum dan kolon. Hal ini berkaitan 

dengan fungsi dan letak dari rektum, dimana rektum merupakan bagian paling ujung dari usus 

besar yang berfungsi sebagai tempat terjadinya penyerapan air dalam proses pembentukan 

feses dengan konsistensi yang lebih padat. Hal ini sesuai dengan pernyataan  menyatakan bahwa rektum merupakan salah satu 

bagian usus besar yang paling ujung yang berfungsi menyerap air, fermentasi sisa ingesta, dan 

pembentukan feses. Lapisan rektum yang lebih tebal berfungsi agar tidak terjadi kerusakan 

pada dinding usus, dan membantu dalam proses gerakan peristaltik untuk pengeluaran feses. 

Ketebalan di tunika mukosa rektum menandakan jumlah komponen-komponen pada tunika 

mukosa rektum lebih dari sekum dan kolon, salah satu komponen yang ada  pada tunika 

mukosa adalah kelenjar Lieberkuhn.  

Kelenjar Lieberkhun berfungsi menunjang perkembangan sel epitel dan sel Goblet, 

proses pergantian sel epitel itu  berlangsung secara berkesinambungan , Sel Goblet berfungsi memberikan perlindungan pada dinding serta permukaan 

usus, dan sebagai media untuk pertahanan parasit dengan cara mensekresikan mukus 

glikoprotein berbentuk gel ,

Salah satu sel pertahanan yang dijumpai pada tunika mukosa rektum adalah nodus 

limfatikus, merupakan masa jaringan limfe yang tidak memiliki kapsul. Jumlah nodus 

limfatikus sangat banyak di jaringan ikat membran mukosa yang melapisi saluran 

gastrointestinal. Sebagian besar nodus limfatikus berukuran kecil dan soliter, namun ada  

beberapa agregasi. Fungsi nodus limfatikus adalah sebagai filter atau tempat penyaringan 

benda asing, serta sebagai pertahanan seluler dengan menghasilkan limfosit T dan pertahanan 

humoral dengan menghasilkan limfosit B ,

 Tunika submukosa rektum merupakan lapisan paling tebal dibandingkan sekum dan 

kolon. Tunika submukosa rektum yang tebal memungkinkan memiliki komponen sel yang 

lebih banyak dibandingkan sekum dan kolon, salah satu komponen yang ada  pada tunika 

submukosa adalah jaringan ikat. Jaringan ikat berfungsi untuk merekatkan, mengikat, atau 

menghubungkan berbagai sel atau bangunan yang ada di dalam tubuh, sebagai media tempat 

pembuluh darah lewat untuk mendistribusikan berbagai bahan makanan pada organ yang 

bersangkutan dan mengangkut produk sisa metabolisme, serta sebagai barier untuk mencegah 

perjalanan kuman ,Tunika submukosa rektum yang tebal 

membantu fungsi tunika mukosa sebagai perlindungan, serta membatu tunika muskularis 

rektum menjalankan fungsi gerakan peristaltik dalam proses defekasi. 

Tunika muskularis rektum merupakan tunika muskularis yang lebih tebal 

dibandingkan sekum dan kolon, fungsi dari tunika muskularis yang tebal adalah membantu 

kontraksi dan relaksasi dari usus. Hal ini dibutuhkan karena konsistensi feses yang lebih padat 

dibandingkan bagian usus besar sebelumya seperti sekum dan kolon. Tunika serosa rektum 

memiliki ketebalan yang lebih tebal dibandingkan sekum dan kolon. Fungsi tunika serosa 

rektum sama dengan tunika submukosa yaitu memperkuat jaringan dan membantu gerakan 

peristaltik rektum.  

Secara umum ketebalan setiap lapisan sekum, kolon, dan rektum sapi aceh berbeda 

dengan sapi bali,  yang menyatakan bahwa sapi bali 

memiliki ketebalan lapisan usus besar yang lebih tebal dibandingkan sapi aceh. Perbedaan ini 

kemungkinan berkaitan dengan jenis pakan yang dikonsumsi, namun sejauh ini belum 

didapatkan referensi tentang apa sesungguhnya yang menyebabkan perbedaan ketebalan 

lapisan usus antara sapi aceh dan sapi bali. 

 

Struktur Histologis Sekum Sapi Aceh 

Tunika mukosa sekum sapi aceh tersusun dari tiga lapisan utama yaitu lamina epitelia, 

lamina propria, dan lamina muskularis mukosa. Lamina epitelia sekum sapi aceh terdiri dari 

epitel silindris selapis dan sel Goblet, pada lamina propria ditemukan jaringan ikat longgar, 

fibroblas, kelenjar Lieberkuhn, limfosit, dan sel Goblet, serta pada lamina muskularis mukosa 

ditemukan otot polos, yang berada paling ujung dari tunika mukosa. Tunika submukosa 

sekum tersusun dari jaringan ikat longgar, fibroblas, sel lemak, dan pembuluh darah. 

Komponen jaringan yang dijumpai pada tunika mukosa dan submukosa sekum sapi aceh juga 

dijumpai pada sapi bali pada kuda 

dan pada kambing 

Tunika muskularis terdiri dari otot polos yang tersusun transversal dan longitudinal, 

diantara kedua lapisan itu  ada  plexus saraf mienterikus, jaringan ikat, dan pembuluh 

darah. Tunika serosa merupakan lapisan paling luar yang terdiri dari jaringan ikat longgar, 

jaringan lemak, dan pembuluh darah.  pada sapi bali, dan , pada kambing menemukan komponen yang sama pada tunika muskularis dan serosa 

sapi aceh, namun  pada kerbau yang 

menyatakan bahwa pada tunika muskularis sekum kerbau hanya ada  otot polos 

transversal. Struktur histologis tunika mukosa, submukosa, muskularis, dan serosa sekum sapi 

aceh disajikan pada Gambar 1.  

Gambar 1. Struktur histologis sekum sapi aceh. Struktur histologis sekum sapi aceh. A. Tunika mukosa sekum 

sapi aceh. Lamina epitelia (LE), Lamina propria (LP), kelenjar Lieberkuhn (KL), Lamina muskularis mukosa 

(LMM). B. Tunika submukosa sekum sapi aceh. Jaringan ikat (JI), Pembuluh darah (PD), Sel lemak (SL). C. 

Tunika muskularis sekum sapi aceh. Otot polos longitudinal (OPL), Otot polos transversal (OPT). D. Tunika 

serosa sekum sapi aceh. Kapiler (K). Pewarnaan HE, perbesaran 40 dan 100 kali. 

 

Struktur Histologis Kolon Sapi Aceh 

Tunika mukosa kolon tersusun atas lapisan yang sama dengan sekum dan rektum, 

namun pada tunika mukosa kolon memiliki kelenjar Lieberkuhn yang lebih panjang 

dibandingkan sekum dan rektum. Tunika submukosa kolon juga memiliki struktur yang sama 

dengan sekum dan rektum, namun pada kolon dijumpai jaringan ikat yang lebih tebal 

dibandingkan sekum. Struktur tunika mukosa dan submukosa kolon sapi aceh sama dengan 

tunika mukosa dan submukosa pada sapi bali 

pada kuda ,

Tunika muskularis kolon memiliki struktur yang sama dengan sekum, namun pada 

tunika muskularis kolon ditemui serat otot polos longitudinal yang lebih tebal dibandingkan 

sekum, dan pada tunika serosa kolon memiliki komponen yang sama dengan sekum dan 

rektum, namun tunika serosa kolon memiliki sel lemak yang lebih banyak dibandingkan 

sekum.  menemukan komponen yang sama pada tunika muskularis dan 

tunika serosa sapi bali. Struktur histologis tunika muskularis dan serosa  kolon sapi aceh 

disajikan pada Gambar 2. 

Gambar 4. Struktur histologis kolon sapi aceh. A.Tunika mukosa kolon sapi aceh. Lamina epitelia (LE), 

Limfosit (L), Lamina propria (LP), Kelenjar Lieberkuhn (KL), Lamina muskularis mukosa (LMM). B. Tunika 

submukosa kolon sapi aceh. Nodus limfatikus (NL), Jaringan ikat (JI), Pembuluh darah (PD). C.Tunika 

muskularis kolon sapi aceh. Otot polos longitudinal (OPL), Otot polos transversal (OPT). D. Tunika serosa 

kolon sapi aceh. Sel lemak (SL). Pewarnaan HE, perbesaran 100 kali.  

 

Struktur Histologis Rektum Sapi Aceh 

Tunika mukosa rektum memiliki komponen yang sama dengan tunika mukosa sekum 

dan kolon, namun kelenjar yang ada  pada tunika mukosa rektum berbentuk lebih pendek 

dibandingkan sekum dan kolon. Tunika submukosa rektum memiliki komponen yang sama 

dengan sekum dan kolon, namun pada tunika submukosa jaringan ikat dijumpai lebih tebal 

dibandingkan  sekum dan kolon. Komponen yang dijumpai pada tunika mukosa dan 

submukosa rektum pada sapi aceh sama dengan sapi bali,

Rektum memiliki struktur tunika muskularis yang sama dengan kolon, namun 

memiliki struktur yang berbeda dengan sekum, hal ini dikarenakan struktur dari otot polos 

longitudinal yang lebih tebal dibandingkan sekum. Tunika serosa rektum juga memiliki 

komponen yang sama dengan sekum dan kolon, yang terdiri dari jaringan ikat, pembuluh 

darah, dan sel lemak. Struktur tunika muskularis dan serosa rektum sapi aceh sama dengan 

tunika muskularis dan serosa pada sapi bali yang dilaporkan 

pada kuda ,Struktur histologis tunika 

muskularis dan tunika serosa disajikan pada Gambar 3.  

Gambar 5. Struktur histologis rektum sapi aceh. A. Tunika mukosa rektum sapi aceh. Lamina epitelia (LE), 

Limfosit (L), Kelenjar Lieberkuhn (KL), Lamina propria (LP), Lamina muskularis mucosa (LMM). B. Tunika 

submukosa rektum sapi aceh. Nodus limfatikus (NL), Pembuluh darah (PD), Jaringan ikat (JI). C. Tunika 

muskularis rektum sapi aceh. Otot polos longitudinal (OPL), Otot polos transversal (OPT). D. Tunika Serosa 

rektum sapi aceh. Sel lemak (SL). Pewarnaan HE, perbesaran 40 dan 100 kali. 

berdasar  hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa struktur histologis sekum, 

kolon, dan rektum sapi aceh memiliki lapisan yang sama, namun memiliki ketebalan yang 

berbeda pada tiap lapisan. Ketebalan lapisan berhubungan dengan fungsi dan letak dari usus 

besar, dimana rektum memiliki ketebalan lapisan yang lebih tebal dibandingkan sekum, dan 

kolon.