ternak sapi 6
warga Desa Pelemrejo, Kecamatan Andong, Kabupaten Boyolali mayoritas yaitu petani yang
memiliki usaha ternak sapi potong. Produksi ternak sapi sering kali terkendala masalah kesehatan
ternak yang dapat menurunkan kualitas serta kuantitas daging sapi. Pengetahuan mengenai
manajemen kesehatan sapi potong perlu diberikan kepada peternak untuk membantu meminimalisir
kerugian yang terjadi akibat masalah kesehatan. Kegiatan ini bertujuan untuk memberi
pengetahuan kepada peternak mengenai manajemen kesehatan sapi potong. Metode kegiatan terdiri
dari survei ke peternakan sapi potong, penyuluhan dan diskusi massal, serta pemberian bantuan obat-
obatan dan desinfektan ke peternak. Kunjungan ke peternakan di desa ini menunjukkan bahwa
terdapat sapi yang menunjukkan kekurusan, kondisi kandang kotor dengan area penyimpanan pakan
yang tidak sesuai standar. Penyuluhan dan diskusi massal dengan cara penyampaian materi secara
langsung mengenai identifikasi kondisi kesehatan sapi, program sanitasi kandang, program
pemberian obat cacing teratur, penyakit yang sering ditemukan pada sapi potong, serta pengobatan
yang dapat dilakukan oleh peternak. Obat-obatan dan desinfektan diberikan kepada peternak untuk
membantu dalam mengaplikasikan manajemen kesehatan ternak yang telah dijelaskan melalui
penyuluhan. Secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa peternak dapat mengikuti materi
penyuluhan yang diberikan dan berperan serta aktif dalam proses diskusi yang dilakukan.
Kesehatan ternak merupakan salah satu
faktor yang berpengaruh terhadap keberhasilan
usaha peternakan sapi potong. Penyakit yang
menyerang ternak diketahui dapat menurunkan
pembentukan daging serta produktivitas ternak
karena gangguan penyerapan nutrisi , bahwa gangguan kesehatan hewan
dapat merugikan peternak yang disebabkan oleh
kematian ternak, biaya yang dikeluarkan untuk
pengobatan, penurunan produksi, serta turunnya
efisiensi pakan. Kerugian ini menunjukkan
bahwa tata laksana kesehatan ternak penting
diterapkan dalam usaha peternakan.
Desa Pelemrejo, Kecamatan Andong,
Kabupaten Boyolali merupakan daerah
pertanian yang juga menjadi lokasi peternakan
sapi potong. Sapi potong dimanfaatkan sebagai
sumber daging serta sumber pupuk bagi
pertanian di daerah ini . Mayoritas ternak
sapi potong di desa ini digunakan sebagai
pendapatan cadangan sehingga aspek
manajemen pemeliharaan secara keseluruhan
belum memadai. Usaha peternakan di desa ini
dijalankan menggunakan metode intensif
dimana kandang sapi milik perorangan terletak
di area rumah peternak. Salah satu permasalahan
yang terjadi yaitu belum adanya pelaksanaan
manajemen kesehatan ternak yang baik oleh
peternak. Rendahnya pelaksanaan manajemen
kesehatan hewan berimbas kepada kerugian
akibat adanya gangguan kesehatan ternak
termasuk kerugian untuk pengobatan ternak oleh
mantri atau dokter hewan, penurunan produksi,
serta kematian ternak. Oleh karena itu, peternak
memerlukan pemahaman mengenai tata laksana
manajemen kesehatan ternak di Desa Pelemrejo.
berhubungan erat dengan usaha pencegahan
infeksi dari agen-agen infeksi melalui upaya
menjaga biosekuriti dengan menjaga higienitas
dan sanitasi kandang, manajemen pakan yang
baik, dan peningkatan daya tahan tubuh ternak
melalui pemberian obat cacing dan multivitamin
mengungkapkan bahwa biosekuriti
melalui pelaksanaan higienitas dan sanitasi
merupakan aspek penting untuk dijalankan di
peternakan ada atau tidak adanya penyakit.
bahwa secara
umum terdapat dua jenis peternak dalam hal
penerapan manajemen kesehatan ternak, yaitu
peternak yang tidak menerapkan biosekuriti
tanpa keinginan untuk menerapkan biosekuriti di
masa depan, serta peternak yang hanya
menjalankan dalam waktu singkat. Peternak di
Desa Pelemrejo merupakan peternak yang belum
menjalankan biosekuriti serta belum memiliki
keinginan di masa depan yang disebabkan
karena rendahnya pengetahuan mengenai hal
ini sehingga sering ditemukan ternak yang
mengalami gangguan kesehatan. Tujuan
pengabdian ini yaitu untuk memberi
pengetahuan kepada peternak dalam mengenati
manajemen kesehatan ternak di Desa Pelemrejo,
Kecamatan Andong, Kabupaten Boyolali
sehingga dapat meminimalisir kerugian akibat
gangguan kesehatan ternak.
Pengabdian warga ini dilakukan
selama bulan Februari – Maret 2020, dengan
target peserta yaitu peternak sapi potong di
Desa Pelemrejo, Kecamatan Andong,
Kabupaten Boyolali. Peserta terdiri dari 29 orang
peternak yang telah melakukan aktivitas
beternak sapi selama minimal 2 tahun.
Informasi awal dan materi penyuluhan
Untuk mendapatkan informasi materi
penyuluhan, maka dilakukan survei dilakukan
dua minggu sebelum melaksanakan penyuluhan
dengan tujuan mengetahui tata laksana
manajemen kesehatan ternak di peternakan sapi
potong di Desa Pelemrejo, Kecamatan Andong,
Kabupaten Boyolali. Kegiatan survei dilakukan
dengan pengamatan langsung kondisi kandang
dan hewan serta wawancara kepada peternak
untuk mengetahui gejala penyakit yang sering
muncul. Hasil survei menjadi dasar penyiapan
materi penyuluhan serta penyiapan obat-obatan
yang akan diberikan. Pemberian penyuluhan ini
dilakukan satu kali melalui tatap muka secara
langsung. Materi yang diberikan berdasar dari
informasi yang sebelumnya telah diberikan oleh
tim survei atau peternak, sehingga materi yang
dipilihkan paling tidak mewakili kebutuhan
peternakan. Ukuran evaluasinya yaitu
kesadaran peternak untuk dapat memahami
materi dan selanjutnya mampu untuk
menggunakannya melalui contoh yang
diberikan.
dilaksanakan dalam pelaksanaan kegiatan
pengabdian ini. Penyuluhan dilaksanakan
dengan mengumpulkan seluruh peternak yang
berjumlah 29 orang. Materi disampaikan secara
langsung melalui ceramah dengan topik ciri-ciri
hewan sehat dan sakit, faktor-faktor yang
mempengaruhi kesehatan ternak, cara mencegah
penyakit, faktor-faktor yang mempengaruhi
kesehatan ternak (kualitas pakan, higienitas dan
sanitasi kandang, daya tahan tubuh ternak),
jenis-jenis penyakit serta penanganan, dan tata
cara pemberian obat topikal dan obat cacing.
Setelah penyampaian materi dilakukan diskusi
bersama mengenai manajemen kesehatan ternak
di desa ini . Selanjutnya peternak diberikan
kebebasan untuk menentukan penggunaan
metode terbaik sesuai dengan kondisinya
masing-masing. Jadi pada intinya, penyuluhan
ini yaitu untuk menggugah kesadaran peternak
akan Kesehatan ternak dan cara penanganannya.
Pemberian obat-obatan dan desinfektan
Pemberian obat-obatan disesuaikan
dengan gejala penyakit yang sering terjadi di
peternakan di Desa Pelemrejo. Adapun jenis
obat-obatan yang diberikan yaitu antiseptik
spray (Gusanex dan Limoxin LA), salep luka
tetracycline (Ikacyline), obat cacing bolus
(Albendazole), serta desinfektan (Benzaklin).
Obat-obatan ini merupakan obat luar yang
dapat digunakan tanpa pengawasan dokter
hewan pada kasus-kasus penyakit ringan
sehingga dapat digunakan oleh peternak secara
langsung pada saat terjadi kasus-kasus tertentu
untuk mencegah kondisi yang semakin parah.
Sapi potong di Desa Pelemrejo,
Kecamatan Andong, Kabupaten Boyolali
berjumlah 30 ekor dengan tujuan pemeliharaan
untuk penggemukan. Pemeliharaan dilakukan
secara intensif dimana sapi dikandangkan
sepanjang waktu dengan pemberian pakan
sebanyak dua kali, pada pagi dan sore hari. Hasil
survei menunjukkan bahwa terdapat
permasalahan berupa tata letak kandang yang
kurang baik, penyimpanan pakan yang terbuka
dan berdekatan dengan area kotor, rendahnya
pelaksanaan higiene dan sanitasi, tidak ada
program pencegahan penyakit parasiter, dan sapi
kurus. Kondisi kandang yang kurang baik
terlihat pada seluruh kandang yang dimiliki oleh
peternak. Kandang sapi potong di Desa
Pelemrejo berlokasi di masing-masing rumah
dari peternak ini . Kondisi kandang terlihat
kotor dan belum ada saluran pembuangan
limbah yang terpadu sehingga banyak kotoran
yang menumpuk di sekitar kandang seperti yang
terlihat pada Gambar 1.
Kotoran sapi seringkali dijadikan tempat
perkembangbiakan lalat serta pertumbuhan
parasit. Selain itu, penumpukan kotoran juga
meningkatkan kemungkinan terjadinya
kontaminasi feses pada pakan. Melalui siklus
hidupnya, parasit akan melepaskan telur atau
larvanya melaui feses, sehingga penumpukan
feses di kandang meningkatkan kemungkinan
terjadinya penyebaran parasit ,
Penanganan feses yang kurang baik diketahui
dapat menjadi media hidup untuk telur cacing
pathogen seperti Strongylus sp, Fasciola sp.,
Paramphistomum, Moniezia sp, Toxocara
vitulorum, dan Strongyloides spp.
Mayoritas kandang tidak memiliki gudang
pakan untuk penyimpanan pakan yang
menyebabkan tingginya kontaminasi. Pakan
diletakkan di area terbuka di sekitar kandang
yang tertutup atap, namun alas pakan tidak dibeli
lapisan khusus dan berdekatan dengan area
aliran air (Gambar 2). Pakan merupakan faktor
penting dalam produksi ternak karena
merupakan sumber nutrisi yang berperan dalam
pertumbuhan, reproduksi, dan pemeliharaan
tubuh ,Kondisi penyimpanan
pakan yang kurang baik menyebabkan pakan
ini rawan cemaran mikrobia seperti kapang
dari famili Fusarium sp., Aspergilus sp., Mucor
sp., dan Penicillium sp.,. Kapang
ini dapat ditemukan pada berbagai jenis
pakan sapi seperti jagung, konsentrat, rumput,
daun jagung, dedak padi, serta jerami padi ,
Selain kapang, pakan yang tidak
disimpan dengan baik juga rentang terhadap
cemaran bakteri maupun telur atau larva cacing
yang terbawa dari aliran air kotor sehingga dapat
meningkatkan resiko terjadinya penyakit pada
ternak.
Penyakit yang berhubungan dengan
kontaminasi pakan dari kotoran yaitu cacingan.
Kasus cacingan dapat dicegah melalui
pemberian obat cacing yang teratur, namun di
Desa Pelemrejo, tidak ada program pemberian
obat cacing yang teratur oleh peternak. Penyakit
cacingan dapat menyebabkan kerusakan vili-vili
usus yang berimbas ke penurunan penyerapan
nutrisi makanan . Pemberian obat cacing
merupakan salah satu upaya yang penting untuk
memutus siklus hidup parasit ,
Pemberian obat cacing untuk pencegahan umum
diberikan secara berkala setiap 3-6 bulan sekali
meskipun hewan tidak menunjukan gejala
cacingan . Hewan yang telah
terinvestasi cacing, maka pengobatan diulang
dalam waktu kurang dari satu bulan. Salah satu
ciri-ciri adanya cacingan yaitu kekurusan yang
terlihat pada beberapa sapi di Desa Pelemrejo
(Gambar 3). Rendahnya pengetahuan peternak
mengenai gejala cacingan, penularan parasit
cacing, pengendalian dan pengobatan
merupakan salah satu permasalahan pada usaha
peternakan sapi potong di Desa Pelemrejo.
Survey yang dilakukan menemukan
beberapa gejala penyakit yang sering muncul
pada sapi di Desa Pelemrejo. Gejala-gejala yang
sering terlihat yaitu kelukaan pada kaki, adanya
belatung pada luka, sapi kurus, lesu, lemah,
diare, kembung, dan nafsu makan turun.
Berdasarkan wawancara diketahui bahwa
peternak masih belum memahami membedakan
sapi sakit dan sehat pada gejala awal sehingga
biasanya penanganan dilakukan jika gejala
sudah mulai parah. Gejala-gejala yang
diutarakan di atas mengarah ke beberapa
penyakit seperti miasis atau adanya belatung
pada luka terbuka karena kontaminasi telur lalat,
cacingan dengan gejala kekurusan, lemah, lesu,
tidak nafsu makan, diare dan mata berair serta
bloat yang merupakan penyakit metabolik akibat
kandungan pakan yang tidak seimbang
Penyakit-penyakit ini dapat dihindari
dengan cara menjaga higienitas serta sanitasi
kandang. Berdasarkan hasil survei ini ,
dapat diketahui bahwa permasalahan utama
dalam manajemen kesehatan sapi potong di Desa
Pelemrejo, Kecamatan Andong, Kabupaten
Boyolali yaitu kondisi kandang yang kotor
dikarenakan rendahnya penerapan higientias dan
sanitasi kandang, penyimpanan pakan yang tidak
sesuai, tidak adanya program pengendalian
parasit yang sesuai, dan kurangnya pemahaman
peternak dalam mendeteksi sapi sakit sedini
mungkin,. Permasalahan ini dirangkum dan
digunakan sebagai materi dalam penyampaian
penyuluhan manajemen tatalaksana kesehatan
sapi potong.
Penyuluhan massal secara langsung
dilakukan di Kantor Kepala Desa Pelemrejo,
Kecamatan Andong, Kabupaten Boyolali
(Gambar 4). Sebanyak 29 peserta yang
merupakan peternak dan perangkat desa
mengikuti kegiatan ini. Materi yang
disampaikan melalui ceramah yaitu ciri sapi
sehat dan sakit yang dapat dilihat melalui
tingkah laku abnormal seperti mata sayu,
penurunan nafsu makan, kenaikan frekuensi
nafas, suara nafas keras, lemas, lesu, dan adanya
leleran berlebihan di hidung. Materi ini
disampaikan untuk memberi wawasan
kepada peternak dalam mengetahui kondisi
kesehatan sapi berdasarkan pengamatan.
Identifikasi adanya gangguan kesehatan hewan
sedini mungkin memiliki segi positif dalam
mengurangi biaya penanganan penyakit,
meningkatkan angka kesembuhan, dan
mengurangi kematian sehingga mengurangi
kerugian peternak ,
Materi selanjutnya yaitu faktor-faktor
yang mempengaruhi kesehatan ternak yaitu
kualitas pakan, ketahanan imunitas hewan, serta
kondisi dan kebersihan lingkungan kandang.
Kualitas pakan terdiri dari kandungan nutrisi
yang seimbang, jumlah cukup, dan bebas dari zat
kimia berbahaya dengan penekanan untuk
mencegah pencemaran melalui penyimpanan
yang baik. Peternak diberikan wawasan untuk
mengenai pakan yang baik bagi sapi serta
penyimpanan yang sesuai untuk mengurangi
terjadinya kontaminasi dengan cara menyimpan
pakan di dalam gudang pakan tersendiri yang
jauh dari aliran kotoran.
Penerapan higienitas dan sanitasi kandang
terdiri dari: pembersihan kandang teratur
menggunakan desinfektan minimal 2 minggu
sekali, menjaga kebersihan peternak baik saat
akan masuk maupun keluar kandang, serta
menjaga kebersihan hewan ternak dengan
mencegah adanya lalat ataupun kotoran yang
menumpuk di sekitarnya. Peningkatan daya
tahan tubuh hewan dapat ditingkatkan melalui
pemberian obat cacing yang teratur serta
pemberian multivitamin. Dalam penyuluhan ini
turut disampaikan cara-cara pencegahan
penyakit cacing melalui pemberian obat cacing
yang sesuai setiap 3-6 bulan untuk upaya
pencegahan penularan dan pemutusan siklus
hidup cacing. Obat cacing diberikan secara per-
oral atau melalui mulut dan dapat menggunakan
obat berspektrum luas seperti Albendazole.
Selain itu, peternak diberi pemahaman mengenai
pentingnya multivitamin dalam menjaga
kesehatan ternak. Multivitamin umumnya dapat
diberikan secara berkala melalui suntikan atau
peroral namun harus di bawah pengawasan
dokter hewan maupun mantri hewan.
Materi selanjutnya yaitu penyakit-
penyakit yang sering ditemukan pada sapi
potong. Penyakit-penyakit ini terdiri dari
pink eye, anthraks, cacingan, bloat, septichaemia
epizootica, brucellosis, dan scabies. Setelah
penyampaian materi, dilakukan diskusi. Dalam
diskusi, peternak aktif memberi pertanyaan
serta tanggapan dari materi yang telah
disampaikan atau mengenai pertanyaan yang
disampaikan oleh peternak lain. Berdasarkan
diskusi diketahui, peternak banyak yang
menanyakan mengenai pengobatan yang dapat
dilakukan pada ternak yang mengalami
gangguan kesehatan seperti kelukaan, sapi
lemas, dan pencegahan cacingan. Berdasarkan
pertanyaan ini , dijelaskan pengobatan yang
dapat diberikan oleh peternak seperti pemberian
obat-obatan topikal untuk luka berupa antiseptik
spray dan salep, pemberian tambahan vitamin
bagi sapi-sapi yang lemas, dan pemberian obat
cacing berkala untuk mencegah kasus cacingan.
Rangkaian selanjutnya dalam kegiatan
pengabdian ini yaitu pemberian bantuan berupa
obat-obatan kepada peternak (Gambar 5). Obat-
obatan yang diberikan berupa obat-obatan luar
yang dapat digunakan oleh peternak tanpa
pengawasan dokter hewan. Obat-obatan ini
diberikan berdasarkan dari hasil survei mengenai
kebutuhan peternak di daerah ini. Obat-obatan
ini terdiri dari antiseptik spray Gusanex dan
Limoxin LA, salep luka Ikacycline, serta obat
cacing Albendazole bolus. Obat-obatan yang
diberikan dijelaskan lebih lanjut mengenai
aplikasi penggunaannya. Antiseptik spray
berfungsi untuk mengurangi infeksi serta
mencegah miasis pada luka yang ada di tubuh
maupun ekstremitas sapi dengan cara
membunuh larva lalat. Obat ini diaplikasikan
langsung ke daerah kulit yang luka dengan cara
disemprot sehingga peternak dapat melakukan
pengobatan dengan mudah. Antiseptik spray
ini tidak dapat digunakan di aera sensitif
yang dekat dengan mukosa, seperti sekitar mata,
dubur, maupun vulva. Pengobatan kelukaan
untuk area ini dapat menggunakan salep
luka yang juga diberikan pada kegiatan ini. Obat
cacing yang diberikan yaitu Albendazole yang
memiliki efektivitas yang tinggi dalam
mengeleminasi berbagai macam cacing patogen
pada sapi. Selain obat-obatan, untuk mendukung
penerapan higienitas dan sanitasi kandang,
desinfektan (Benziklin) juga diberikan pada
pengabdian ini. Desinfektan ini memiliki tingkat
efektivitas yang tinggi untuk membunuh
mikrobia yang sering mengkontaminasi
kandang. Diharapkan dari kegiatan ini,
pengetahuan peternak mengenai tata laksana
manajemen kesehatan ternak meningkat serta
adanya penerapan manajemen kesehatan ternak
di Desa Pelemrejo.
Kegiatan pengabdian ini berjalan dengan
lancar dengan partisipasi aktif peternak dalam
proses survei hingga diskusi massal. Kegiatan ini
diharapkan dapat memberi pengetahuan
mengenai manajemen kesehatan dan sekaligus
menggugah kesadaran peternak tentang arti
kesehatan di peternakan sapi potong.
Harapannya yaitu apabila peternak
melaksanakan manajemen kesehatan seperti
yang disampaikan maka peternak dapat
mengurangi kerugian akibat gangguan kesehatan
ternak. Sapi bali (Bibossondaicus) merupakan sumber daya genetik asli Indonesia yang
merupakan hasil domestikasi banteng (Bibosbanteng) yang terjadi pada 3500 tahun SM. Sapi
bali mempunyai ciri rambut yang khas. Pada usia pedet, sapi bali mempunyai warna merah bata baik pedet jantan maupun pedet betina, sedangkan setelah dewasa sapi jantan berubah
warna menjadi hitam. Tanda-tanda sapi murni, yaitu kaki di bawah persendian tarsal dan
karpal, bagian pantat dan pada paha bagian dalam berwarna putih , Pulau Bali
merupakan pusat perkembangan sekaligus pusat pembibitan sapi bali, dan hingga kini sapi
bali telah tersebar di berbagai daerah di Indonesia seperti Lampung, Bengkulu, Kalimantan,
Sulawesi, NTB dan NTT.
Sapi bali memiliki beberapa keunggulan daya adaptasi tinggi pada daerah dataran tinggi,
berbukit dan dataran rendah dapat memanfaatkan pakan berkualitas rendah
dan memiliki daya adaptasi pada lingkungan yang kurang baik
menunjukkan bahwa sapi bali berpotensi dan cocok untuk dikembangkan
pada kondisi lapang di Indonesia pada umumnya ,
Sapi bali memiliki beberapa keunggulan di antaranya dari segi kemampuan bertahan di
lingkungan karena sapi bali dari segi reproduksi mempunyai fertilitas dan conception rate
(CR) yang sangat baik ,Upaya peningkatan mutu genetik ternak
sapi bali melalui persilangan telah dilakukan di Indonesia sejak lama, tetapi secara umum
kurang berhasil ,
Sapi bali dara merupakan sapi bali betina yang berusia 6-18 bulan. Sapi dara umumnya
dipilih untuk dijadikan calon induk dalam pengembangbiakan sapi bali. Dari banyaknya
keunggulan yang dimiliki sapi bali perlu dilestarikan. Salah satu upaya untuk melestarikan
sapi bali adalah dengan menjaga kesehatan melalui pencegahan atau penanggulangan
penyakit. Untuk menyimpulkan suatu hasil pemeriksaan klinis, hasil yang diperoleh harus
dibandingkan dengan nilai standar normal. Hingga saat ini laporan penelitian yang khusus
membahas standar normal sapi bali belum banyak dilaporkan, khususnya pada sapi bali dara
(umur 6-18 bulan). Penelitian iniakan menginvetarisasi profil status praesen sapi bali dara.
Materi
Sasaran populasi dalam penelitian ini adalah sapi bali dara sehat secara klinis. Jumlah
sampel adalah sebanyak 20 ekor. Sapi yang dipakai sebagai sampel adalah sapi bali dara (6-
18 bulan) yang dipelihara di sentra pembibitan sapi bali di Desa Sobangan, Kecamatan
Mengwi, Kabupaten Badung.
MetodePengumpulan data dilakukan dengan cara melakukan inspeksi, palpasi, auskultasi dan
pengukuran terhadap sapi bali dara. Sampel yang akan dipakai berjumlah 20 ekor, dengan
kisaran umur 6-12 bulan terdiri dari 10 ekor dan 12-18 bulan terdiri dari 10ekor. Pengambilan
sampel dilakukan pada pagi (06.00-08.00), siang (12.00-14.00), dan sore hari (16.00-18.00).
Data yang akan diambil berupa temperatur tubuh ditentukan dengan menggunakan
termometer melalui rectum sapi bali dara. Pengukuran suhu dilakukan dengan memasukkan
termometer ke dalam rectum sapi. Pengukuran dilakukan selama tiga menit. Penghitungan
diulang sebanyak tiga kali.
Frekuensi pulsus ditentukan dengan melakukan palpasi pada arteri coccygeal yang
berlokasi di daerah ventral pangkal ekor. Pulsus dihitung selama satu menit untuk
menentukan frekuensi pulsus per menit. Penghitungan diulang sebanyak tiga kali.
Penentuan frekuensi nafas dihitung dengan merasakan aliran udara nafas masuk dan
keluar hidung. Pemeriksaan dilakukan dengan merasakan hembusan nafas sapi, dengan cara
meletakkan punggung tangan di depan lubang hidung sapi selama satu menit. Jumlah
hembusan dalam satu menit dihitung untuk menentukan frekuensi respirasi per menit.
Penentuan frekuensi respirasi diusahakan pada saat hewan dalam keadaan tenang.
Penghitungan diulang sebanyak tiga kali.
Pengukuran frekuensi detak jantung dilakukan dengan mendengarkan jumlah detak
jantung pada daerah intercostae 2-5 sinister dengan menggunakan stetoskop. Penghitungan
diulang sebanyak tiga kali.
Hasil pengamatan dan pemeriksaan status praesen sapi bali dara di sentra pembibitan
sapi bali Desa Sobangan, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung pada usia 6–18 bulan
disajikan dalam Tabel 1.
Keterangan: SB : Simpangan Baku ; Huruf yang berbeda antar baris pada setiap umur menunjukkan
berbeda nyata dengan selang kepercayaan 95%
Hasil pengukuran temperatur tubuh sapi bali dara pada pagi, siang, dan sore hari.
Temperatur tubuh sapi bali dara mengalami peningkatan setelah pukul 08.00 wita dan
temperatur tubuh tertinggi ada pada pukul 12.00-14.00 wita, serta mengalami penurunan pada
pukul 16.00-18.00 wita. Peningkatan temperatur tubuh sapi dara 1,05°C terjadi karena adanya
aktivitas fisik yang terjadi setelah pukul 08.00 wita. Hal ini bahwa secara fisiologis, suhu tubuh akan meningkat hingga 1,5°C
pada saat setelah makan, terpapar suhu lingkungan yang tinggi, dan ketika hewan banyak
beraktivitas fisik.Selain itu, peningkatan temperatur tubuh juga disebabkan oleh suhu
lingkungan , bahwa perubahan
suhu rektal itu sejalan dengan perubahan suhu udara yang semakin meningkat. temperatur tubuh hewan domestikasi dipengaruhi oleh kondisi
lingkungan. Peningkatan temperatur tubuh dapat juga terjadi karena adanya peningkatan
aktivitas metabolisme dalam tubuh yang terjadi pada siang dan sore hari
Temperatur tubuh (Gambar 1) pada kelompok sapi bali dara usia 6-12 bulan tidak
berbeda nyata (P>0,05) dengan temperature tubuh kelompok sapi bali dara usia 12-18 bulan
pada pemeriksaan pagi, siang, dan sore hari.
Frekuensi pulsus sapi bali dara mengalami peningkatan setelah pukul 08.00 wita dan
frekuensi pulsus tertinggi ada pada pukul 12.00-14.00 wita, serta mengalami penurunan pada
pukul 16.00-18.00 wita.
Berdasarkan pembagian umur, frekuensi pulsus sapi bali dara usia 6-12 bulan nyata lebih
besar (P<0,05) dibandingkan dengan frekuensi pulsus sapi bali dara usia 12-18 bulan pada
pemeriksaan pagi, siang dan sore hari (Gambar 2). Peningkatan frekuensi pulsus pada sapi
bali dara disebabkan karena adanya aktivitas fisik. Variasi pulsus dipengaruhi oleh faktor
umur, ukuran tubuh,kondisi lingkungan, waktu pengukuran, aktifitas makan, dan terkejut.
Frekuensi respirasi sapi bali dara mengalami peningkatan setelah pukul 08.00 wita dan
frekuensi respirasi tertinggi ada pada pukul 12.00-14.00 wita, serta mengalami penurunan
pada pukul 16.00-18.00 wita. Berdasarkan pembagian umur, frekuensi respirasi sapi bali dara
usia 6-12 bulan menunjukkan tidak ada perbedaan nyata (P>0,05) dengan frekuensi respirasi
sapi bali dara usia 12-18 bulan pada pemeriksaan pagi, siang, dan sore hari (Gambar 3).
Peningkatan frekuensi respirasi terjadi karena adanya mekanisme pembuangan
panastubuh untuk menjaga suhu tubuh dan adanya peningkatan aktivitas metabolisme. Hal ini
bahwa perubahan frekuensi
pernafasan sejalan dengan peningkatan suhu udara, hal itu menyebabkan ternak
meningkatkan frekuensi pernafasan untuk melepaskan panas. bahwa peningkatan frekuensi respirasi dapat terjadi pada ternak untuk
menjaga keseimbangan panas tubuh saat mengalami cekaman panas tubuh dari hasil
metabolism pakan dan cuaca lingkungan.
Frekuensi detak jantung sapi bali dara mengalami peningkatan setelah pukul 08.00 wita
dan frekuensi detak jantung tertinggi ada pada pukul 12.00-14.00 wita, serta mengalami
penurunan pada pukul 16.00-18.00 wita.
Peningkatan frekuensi detak jantung pada sapi bali dara terjadi pada siang hari karena
adanya akfivitas fisik dan kondisi lingkungan. Peningkatan detak jantung itu merupakan
upaya peningkatan fungsi jantung untuk mendistribusikan hasil metabolism pakan yang
dikonsumsi maupun karena aktivitas makan itu sendiri . bahwa faktor yang memengaruhi frekuensi detak
jantung antara lain ukuran tubuh, umur, aktivitas tubuh, stres, lingkungan, dan kesehatan.
meningkatnya frekuensi detak jantung adalah untuk
mempercepat pengaliran darah yang berfungsi sebagai transportasioksigen dan panas.
Status praesen yang meliputi temperature tubuh, frekuen sipulsus, frekuensi respirasi,
dan frekuensi detak jantung mengalami peningkatan yang nyata pada siang hari. Hal ini
terjadi karena adanya aktivitas sapi bali dara setelah pemeriksaan pagi pukul 08.00 wita.
Peningkatan suhu lingkungan menyebabkan peningkatan temperature tubuh. Untuk
menguragi panas tubuh, sapi bali meningkatkan pembuangan panas tubuh melalui evaporasi
sehingga menyebabkan peningkatan frekuensi respirasi. Peningkatan laju respirasi dilakukan
ternak agar suhu tubuhnya tidak terus menerus naik .Peningkatan
temperature tubuh juga dapat mempengaruhi peningkatan frekuensi detak jantung untuk
mempercepat pelepasan panas hasil metabolism tubuh melalui sirkulasi perifer . Penurunan yang nyata status praesenter jadi pada sore hari karena mengikuti
penurunan suhu lingkungan. Temperatur tubuh sapi bali dara tidak mengalami penurunan
pada pemeriksaan sore. Hal ini terjadi karena pada sore hari masih ada aktivitas metabolisme
yang terjadi di dalam tubuh ternak