Rabu, 12 Februari 2025

ternak sapi 5


 



Daging merupakan salah satu bahan pangan yang memiliki nilai gizi berupa protein yang 

tinggi dan mengandung susunan asam amino yang lengkap dan seimbang. Bahan pangan ini juga 

mengandung vitamin B kompleks (niasin, riboflavin dan tiamin), mineral kalsium, fosfor dan besi 

Daging yang layak dikonsumsi dapat dinilai dari keempukan atau 

kelunakan daging. Keempukan daging merupakan faktor yang mempengaruhi tingkat ketertarikan 

konsumen terhadap daging yang ditentukan oleh adanya jaringan ikat dan jaringan lemak 

intramuskuler yang terdapat di dalam daging ,

Proses pematangan daging dengan panas (pemasakan) sangat bermanfaat untuk membunuh 

mikroba dan meningkatkan cita rasa. Daging yang akan diolah terkadang membutuhkan waktu 

yang cukup lama sampai menjadi empuk. Bahan-bahan alami banyak digunakan sebagai 

pengempuk daging yang dapat mempercepat proses pengempukan seperti kulit nanas, getah 

pepaya, daun pepaya, buah papaya dan jahe ,Jahe (Zingiber 

Officinale Roscoe) merupakan tanaman rempah yang dimanfaatkan sebagai minuman atau 

campuran pada bahan pangan ,Pada tahun 1973,

menemukan adanya enzim proteolitik pada jahe yang kemudian disebut dengan  zingibain. Enzim 

proteolitik atau protease adalah enzim yang dapat menguraikan protein menjadi asam amino 

sehingga bisa melunakkan daging ,

 

Penelitian tentang enzim protease pada jahe telah banyak dilakukan. 

() dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa penambahan jahe hingga 8% pada daging sapi 

akan meningkatkan keempukan daging. juga melakukan penelitian tentang efek 

ekstrak jahe dan asam sitrat terhadap keempukan otot dada pada bebek. Hasil penelitiannya  

menunjukkan bahwa ekstrak jahe memiliki efek mengempukkan otot dada pada bebek.  

Analisis profil protein daging dilakukan dengan pemisahan protein menjadi molekul yang 

lebih sederhana dengan menggunakan teknik elektroforesis SDS-PAGE, selanjutnya dilakukan 

pengukuran jarak perpindahan (Rf) untuk mengidentifikasi profil protein pada masing-masing 

sampel , Tujuan penelitian yaitu menganalisis profil protein pada daging 

kambing, kerbau dan sapi sebelum dan sesudah direndam dengan larutan jahe konsentrasi 4% v/v, 

6% v/v, 8% v/v dan 10% v/v selama 30 menit dengan metode SDS-PAGE. 

   

Daging didefinisikan sebagai urat daging (otot) yang melekat pada kerangka, kecuali urat 

daging bagian bibir, hidung, dan telinga yang berasal dari hewan yang sehat sewaktu dipotong. 

Daging merupakan salah satu bahan pangan yang memiliki nilai gizi berupa protein yang 

mengandung susunan asam amino yang lengkap , Daging 

mengandung sekitar 75% air, protein sekitar 19%, substansi–substansi non-protein yang larut 3,5% 

dan lemak sekitar 2,5% Daging kambing, kerbau dan sapi memiliki ciri masing-

masing yang diketahui dari warna daging, rasa, aroma dan tekstur daging. Kriteria daging yang 

berkualitas ditentukan dari keempukan atau kelunakan, kandungan lemak (marbling), warna, rasa, 

aroma dan kelembaban ,  Jalur distribusi perdagangan daging pasca 

sembelih yang terlalu panjang akan berdampak pada pencapaian fase kekakuan atau fase 

rigormortis. Pada fase ini terjadi perubahan tekstur daging, jaringan otot menjadi keras, kaku dan 

tidak mudah digerakkan. Daging pada fase ini jika dilakukan pengolahan akan menghasilkan 

daging olahan yang keras dan alot. Pada fase rigormortis akan menyebabkan penurunan nilai daya 

terima pada daging ,

Protein merupakan suatu makromolekul karena memiliki berat molekul yang besar. Protein 

secara umum terdiri dari 20 macam asam amino yang  berikatan secara kovalen satu sama lain yang 

membentuk suatu rantai polipeptida. Struktur protein tidak stabil terhadap beberapa faktor antara 

lain pH, radiasi, temperatur dan pelarut organik. Berdasarkan sumbernya protein digolongkan 

menjadi dua jenis yaitu protein hewani dan protein nabati. Protein hewani merupakan protein yang 

berasal dari hewan seperti susu dan daging. Sedangkan protein nabati adalah protein yang 

dihasilkan oleh tumbuh-tumbuhan baik secara langsung maupun hasil olahan dari tumbuh-

tumbuhan seperti sereal dan tepung ,

Struktur protein terdiri atas struktur primer, sekunder, tersier dan kuartener. Protein 

berdasarkan strukturnya digolongkan menjadi protein sederhana dan protein gabungan. Protein 

sederhana adalah protein yang hanya terdiri atas molekul-molekul asam amino sedangkan protein 

gabungan adalah protein yang berkaitan dengan senyawa bukan protein. Jenis protein gabungan 

antara lain mukoprotein, lipoprotein dan nukleoprotein ,

Protein daging diklasifikasikan dalam tiga kelompok besar yaitu miofibril, stroma dan 

sarkoplasma. Komponen protein miofibril yang terpenting dalam struktur serabut otot adalah aktin 

dan miosin. Protein miofibril merupakan protein yang berlimpah dalam otot dan penting dalam 

proses kontraksi (mengejang) dan relaksasi (istirahat) otot. Kondisi saat hewan akan dipotong dan 

penanganan setelah pemotongan adalah saat yang penting dalam mengontrol kondisi kontraksi 

(kejang) otot yang akan menentukan keempukan daging. 

Protein stroma terdiri dari kolagen, elastin dan retikulin. Pada daging, kolagen merupakan 

faktor utama yang mempengaruhi keempukan daging setelah proses pemasakan. Pemanasan 

dengan suhu tertentu akan mengubah kolagen yang keras menjadi gelatin yang sifatnya empuk. 

Protein daging lainnya adalah sarkoplasma yang terdiri dari pigmen hemoglobin yaitu protein sel ,

darah merah, mioglobin yaitu cairan yang terdapat dalam sel otot dan bermacam-macam enzim. 

Pigmen hemoglobin dan mioglobin berkontribusi pada warna merah pada daging ,

Jahe (Zingiber Officinale Roscoe) merupakan salah satu jenis tanaman obat yang 

berpotensi besar untuk dikembangkan sebagai bumbu, bahan obat tradisional dan bahan baku 

minuman serta makanan  Klasifikikasi ilmiah jahe 

yaitu Kingdom : Plantae; Divisi : Spermatophyta; Subdivisi : 

Angiospermae; Kelas : Monocotyledonae; Ordo : Zingiberale; Famili : Zingiberaceae; Sub famili: 

Zingiberoidae; Genus : Zingiber; Spesies : Zingiber officinale. 

Jahe putih kecil biasa disebut jahe emprit yang berwarna putih, berbentuk agak pipih, 

berserat lembut dan aromanya kurang tajam dibandingkan dengan jahe merah. Jahe emprit ini 

memiliki ruas rimpang berukuran lebih kecil dan agak rata sampai agak sedikit menggembung. 

Rimpangnya lebih kecil daripada jahe gajah, tetapi lebih besar dari jahe merah. Jahe emprit biasa 

dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan jamu segar maupun kering, bahan pembuat minuman, 

penyedap makanan, rempah-rempah, serta cocok untuk ramuan obat-obatan. Kadar minyak atsiri 

jahe putih  sebesar 1,7-3,8% dan kadar oleoresin 2,39-8,87% (Hesti Dwi Setyaningrum, 2015). 

Rimpang jahe memiliki kandungan vitamin A, B, C, lemak, protein, minyak atsiri, pati, 

dammar, asam organik, oleoresin (gingerin), zingeron, zingerol, zingeberol, zingiberin, borneol, 

sineol dan felaudren (Heri Warsito, Rindiani 2015). Jahe juga mengandung enzim zingibain, 

bisabolena, kurkumen, gingerol, filandrena dan resin pahit Enzim Zingibain 

merupakan enzim protease yang dapat menghidrolisis protein dalam daging sehingga daging dapat 

menjadi lebih lunak. Profil protein daging dapat dianalisa menggunakan metode SDS-PAGE.  

SDS-PAGE (Sodium Dodecyl Sulphate Polyacrylamid Gel Electrophoresis) adalah suatu 

metode elektroforesis yang digunakan untuk analisa pita protein secara kualitatif. Metode ini sering 

digunakan untuk menentukan berat molekul suatu protein disamping untuk memonitor pemurnian 

protein. Protein dalam gel dapat  ditampakkan oleh pewarnaan Coomasie Brilliant Blue 


Metode penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Penelitian dilakukan di laboratorium 

Biologi Molekuler Universitas Muhammadiyah Semarang dan laboratorium Bioteknologi 

Universitas Gajah Mada pada tanggal 5 s/d 13 Juni 2017. 

Variabel penelitian ini yaitu daging, jahe dan profil protein daging. Daging merupakan 

bagian dari tubuh hewan yang tidak memiliki tulang dan diperoleh dari pasar. Jahe adalah tanaman 

yang digunakan sebagai bumbu, obat dan bahan baku minuman dan makanan. Profil protein daging 

merupakan sub-sub unit protein pada daging yang diperoleh dengan menggunakan metode SDS-

PAGE. 

Objek penelitian ini adalah daging kambing dan sapi yang dibeli di pasar Pedurungan 

Semarang dan daging kerbau dari pasar Bintoro Demak kemudian direndam dengan larutan jahe 

dengan konsentrasi 4% v/v, 6% v/v, 8% v/v dan 10% v/v selama 30 menit. 

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data primer dan 

data yang diperoleh ditabulasikan kemudian disajikan dalam bentuk narasi deskriptif. 

Alat yang digunakan dalam penelitian ini yaitu blender, kertas saring, labu ukur, pipet 

volume, beaker glass, timbangan analitik, pot, cawan mortir, vortex, centrifuge, microtube, 

mikropipet, spektrofotometer, chamber elektroforesis, power supply, waterbath, rotator, box 

plastik, plastik press dan kaca press. 

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah daging (kambing, kerbau dan sapi) 

bagian has dalam (tenderloin), jahe emprit dibuat dalam bentuk larutan, H2O steril, polyakrilamid 

30%, TEMED, APS 10%,  SDS 10%, 1,5 M Tris pH 8,8 dan 6,8, staining 0,1% Coomasie Brilliant 

Blue (CBB) R-250, destaining, asam asetat glasial 10%, butanol, alkohol 70%, running buffer 1x, 

biorad assay, PBS pH 7,4, sampel buffer, dan marker protein

Prosedur penelitian yaitu jahe dibersihkan kemudian diblender dan disaring untuk 

mendapatkan larutan jahe 100%. Larutan jahe 100% kemudian dibuat ke dalam konsentrasi 4% 

v/v, 6% v/v, 8% v/v dan 10% v/v. Daging ditimbang sebanyak 10 g dan direndam selama 30 menit 

dalam masing-masing konsentrasi. Daging ditiriskan dan dihaluskan dengan menambahkan PBS 1x 

dan divortex. Sampel dimasukkan ke dalam kulkas selama 1 jam dan dicentrifuge sehingga 

didapatkan supernatan (protein) dan kemudian dibaca total protein secara spektrofotometri.  

Separating gel dibuat, ditambahkan butanol untuk menutupi permukaan dan dibiarkan 

sampai terjadi polimerisasi kemudian dibersihkan dengan aquades dan ditambahkan stacking gel. 

Sisir dimasukkan dan dibiarkan sampai terjadi polimerisasi. Sisir diangkat maka akan terbentuk 

sumuran (well). Dimasukkan sampel ke well dengan perbandingan 4:1 (16 µl sampel : 4 µl sampel 

buffer). Tambahkan running buffer pada alat dan power supply dihidupkan. Ditunggu hingga 

proses running selesai yang ditandai dengan turunnya Bromo Phenol Blue sampai ke dasar. 

Kemudian gel diwarnai dengan Commasie Brilliant Blue R-250 selama 120 menit hingga pita 

protein terwarnai. Destaining gel 3–4 kali hingga gel tampak bersih, dimasukkan gel ke dalam 

larutan asam asetat glasial 10%, kemudian dipress dan dikeringkan selama 48 jam di ruangan 

gelap. Untuk menentukan berat molekul protein, dihitung menggunakan Rf dan diplotkan pada 

grafik logaritma dari Rf marker protein yang berat molekulnya telah diketahui .


Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah daging kambing, daging kerbau dan 

daging sapi bagian has dalam (tenderloin) yang direndam larutan jahe dengan konsentrasi 4% v/v, 

6% v/v, 8% v/v dan 10% v/v selama 30 menit. Daging kambing dan sapi dibeli di Pasar 

Pedurungan  Semarang, sedangkan daging kerbau dibeli di pasar Bintoro Demak, Jawa Tengah. 

Total protein daging kambing, kerbau dan sapi dianalisa dengan menggunakan 

spektrofotometri. Hasil analisa total protein tersebut tertera pada tabel di bawah ini. 

 


Dari hasil spektrofotometri daging kontrol memiliki total protein yang lebih besar 

dibandingkan dengan daging yang direndam larutan jahe. Total protein daging yang tertinggi ialah 

daging sapi sebesar 29,22 µg/µl dan terendah adalah daging kerbau sebesar 18,64 µg/µl. 

Sedangkan daging yang telah direndam larutan jahe memiliki total protein yang lebih rendah 

dibandingkan daging kontrol.  

Penambahan larutan jahe pada sampel kambing dan kerbau sangat mempengaruhi total 

protein sedangkan pada daging kerbau tidak terlalu mempengaruhi besarnya penurunan total 

protein.  

Analisis profil protein dilakukan dengan metode SDS-PAGE terhadap daging yang 

direndam dengan larutan jahe selama 30 menit menunjukkan hasil yang tertera pada gambar 1, 2, 3 

dan 4. 

 


 


Keterangan : 

BM = Berat Molekul (kDa), M = Marker, C. Km = Kontrol Kambing, Km 4% = Kambing 

direndam larutan jahe 4%, Km 6% = Kambing direndam larutan jahe 6%, Km 8% = Kambing 

direndam larutan jahe 8%, Km 10% = Kambing direndam larutan jahe 10%, C. Kr = Kontrol 

Kerbau, Kr 4% = Kerbau direndam larutan jahe 4%, Kr 6% = Kerbau direndam larutan jahe 6%, Kr 

8% = Kerbau direndam larutan jahe 8%, Kr 10% = Kerbau direndam larutan jahe 10%, C. Sp = 

Kontrol Sapi, Sp 4% = Sapi direndam larutan jahe 4%, Sp 6% = Sapi direndam larutan jahe 6%, Sp 

8% = Sapi direndam larutan jahe 8%, Sp 10% = Sapi direndam larutan jahe 10%


 

 Berdasarkan gambar 1, 2, 3 dan 4 didapatkan jumlah pita mayor dan pita minor 

yang tertera pada tabel 2. 

 


 

Daging yang sudah direndam larutan jahe diisolasi protein,  kemudian diseparasi 

dengan metode Laemmli (1970) dan diwarnai dengan 0,1% Coomasie Brilliant Blue (CBB) 

R-250 selama 120 menit pada suhu ruangan hingga pita protein terwarnai. penentuan berat molekul (BM) protein dilakukan dengan 

menghitung Rf (Retardation Factor) dari masing-masing pita (band) protein dengan rumus 

sebagai berikut :  

 

Rf   = 

                                      

                                       

 

Berat molekul (BM) dan nilai Retardation Factor (Rf) marker diplotkan pada kertas 

logaritma sehingga didapatkan BM sampel yang tertera pada tabel 3, 4 dan 5. 


 

Jahe mengandung enzim protease yaitu zingibain yang dapat memecah ikatan 

peptida menjadi molekul-molekul protein yang lebih sederhana (asam amino) sehingga dapat 

melunakkan daging (Kurniawan, 2014). Hasil pemecahan protein tersebut akan membentuk 

ikatan yang mengkaitkan dua molekul asam amino yang disebut dipeptida. Dipeptida 

mempunyai gugus –COOH dan –NH2 yang akan membentuk oligopeptida seperti carnosine, 

balenine dan anserine yang memiliki kemampuan sebagai antioksidan yang dapat 

menghambat reaksi oksidatif daging 

Enzim zingibain yang terdapat dalam jahe dapat menghidrolisa protein yang 

ditandai dengan berkurangnya pita protein mayor dan bertambahnya pita protein 

minor. Semakin tinggi konsentrasi larutan jahe, maka semakin banyak kandungan 

enzim zingibain sehingga kemampuan untuk menghidrolisa protein semakin tinggi. 

 

Enzim zingibain yang terdapat dalam jahe dapat memecah ikatan peptida pada 

protein daging sehingga protein membentuk mikromolekul (pita minor) yang dapat 

mengempukkan daging. Larutan jahe paling baik untuk merendam daging kambing, kerbau 

dan sapi selama 30 menit yaitu pada konsentrasi 4% karena masih banyak terdapat protein 

pada daging tersebut.  

Disarankan untuk melakukan penelitian lanjutan dengan menggunakan enzim 

zingibain yang berasal dari jahe gajah (jahe besar) dan jahe merah dengan variasi lama 

perendaman yang berbeda serta dapat menggunakan pengolahan sampel yang berbeda yaitu 

menggunakan serbuk jahe. 

Bagi masyarakat yang ingin mempercepat proses pengempukan daging sebanyak 

250 g, dapat menggunakan 40 ml sari jahe yang setara dengan 2 sdm sari jahe dan 

ditambahkan 625 ml air yang setara dengan dua gelas air minum, kemudian direndam selama 

30 menit. 


Dalam menjalankan perekonomian 

negara, banyak aspek yang berperan dalam 

meningkatkan komoditas negara. Aspek-

aspek tersebut antara lain dalam bidang 

Perkebunan, Pertanian, Perikanan, 

Perdagangan, dan yang tidak kalah 

pentingnya adalah di bidang Peternakan. 

banyak hewan yang dapat diternakkan 

salah satunya adalah sapi. Sapi memiliki 

manfaat yang cukup banyak untuk 

kehidupan manusia seperti bisa digunakan 

untuk bahan makanan, diperah susunya, 

dan kulitnya bisa digunakan untuk 

kerajinan. Tetapi, sapi rentan pada 

penyakit, hal itu membuat kerugian yang 

cukup besar bagi para peternak sapi.  

Dalam memelihara sapi, penyakit 

merupakan salah satu resiko yang harus 

dihadapi. Misalnya, seekor sapi yang 

mengidap penyakit tertentu yang dapat 

merusak produksi susu sapi. Ada pula 

penyakit sapi yang dapat mengakibatkan 

keguguran pada kehamilan bahkan sampai 

ada yang menyebabkan kematian pada 

sapi, apalagi jika penyakit tersebut sangat 

menular. Tentu saja hal ini tidak dapat 

dibiarkan dan harus diambil tindakan-

tindakan untuk pengendalian, baik itu 

berupa tindakan pencegahan maupun 

pengobatan. Menurut laporan tahuanan 

Dinas Peternakan Jawa Timur tahun 2010 

tercatat 3,905 kasus penyakit BEF (Bovine 

Emerald Fever) terjadi di daerah Jawa 

Timur. BEF adalah suatu penyakit viral 

pada sapi dan kerbau yang ditandai dengan 

terjadinya demam tinggi, rasa sakit otot, 

dan kepincangan. Data tersebut didapat 

dari beberapa rumah sakit hewan yang ada 

di wilayah Jawa Timur yang kemudian 

dikumpulkan oleh Dinas Peternakan Jawa 

Timur. Oleh karena itu, agar kasus 

penyakit BEF dan jenis-jenis penyakit 

yang lain tidak bertambah kasusnya, perlu 

dilakukan tindakan yang cepat dalam 

penanganannya. 

Teknologi komputer yang sudah 

semakin canggih merambah ke segala 

bidang, dan semuanya itu ditujukan bagi 

kemudahan dalam beraktifitas. Saat ini 

jenis pemanfaatannya semakin 

berkembang dari hanya sekedar mesin 

ketik dan alat hitung biasa, saat ini 

dimanfaatkan untuk membantu dalam 

pekerjaan di beberapa bidang lain selain 

berbasis komputer. Salah satu contohnya 

adalah mendiagnosa penyakit dengan 

menggunakan Sistem Pakar. Sistem Pakar 

itu mampu meniru kerja seorang pakar 

dalam melakukan diagnosa penyakit 

khususnya pada hewan sapi. Karena 

sifatnya hanya meniru kecerdasan seorang 

dokter hewan, maka kemampuan Sistem 

Pakar ini tidak dapat menyamai dokter 

hewan yang sebenarnya. Oleh karena itu 

dengan penggunaan  Sistem Pakar 

Penentuan Jenis Penyakit Pada Hewan 

Sapi dapat membantu dokter hewan untuk 

mengetahui penyakit sapi secara cepat dan 

tepat. 

sistem pakar adalah suatu program 

komputer cerdas yang menggunakan 

knowledge (pengetahuan) dan prosedur 

inferensi untuk menyelesaikan masalah 

yang cukup sulit sehingga membutuhkan 

seorang yang ahli untuk 

menyelesaikannya. Selain itu sistem pakar 

juga merupakan suatu sistem komputer 

yang menyamai (emulates) kemampuan 

pengambilan keputusan dari seorang 

pakar. Istilah emulates berarti bahwa 

sistem pakar diharapkan dapat bekerja 

dalam semua hal seperti seorang pakar. 

Forward chaining adalah suatu 

metode dari mesin inferensi untuk 

memulai penalaran atau pelacakan suatu 

data dari fakta-fakta yang ada menuju 

suatu kesimpulan (Arhami, 2005). Dalam 

metode ini, data yang digunakan untuk 

menentukan aturan mana yang akan 

dijalankan, kemudian aturan tersebut 

dijalankan. Untuk lebih jelasnya dapat 

dilihat alur dari metode  forward chaining 

seperti pada gambar 1

 Dependency diagram di dalam 

sistem pakar berfungsi untuk menunjukan 

hubungan atau ketergantungan antara 

inputan pertanyaan, rules, nilai dan 

rekomendasi yang dibuat oleh prototype 

sistem berbasis pengetahuan (Dologite, 

1993). Contoh dari dependency diagram 

dapat di lihat pada gambar 

HEWAN SAPI 

 Sapi adalah hewan ternak 

terpenting sebagai sumber daging, susu, 

tenaga kerja dan kebutuhan lainnya. Sapi 

menghasilkan sekitar 50% (45%-55%) 

kebutuhan daging didunia, 95% kebutuhan 

susu dan 85% kebutuhan kulit. Sapi 

berasal dari famili Bovidae. Seperti halnya 

bison, banteng, kerbau (Buballus), kerbau 

afrika (syncherus), dan anoa.  

Tubuh sapi tersusun dari sel-sel 

yaitu bagian tubuh terkecil yang hidup dan 

berkembang secara dinamis dengan cara 

pembelahan. Sel-sel ini melalui proses 

pembelahan yang berkelanjutan berangsur-

angsur berkembang dan  mengelompok 

menjadi kumpulan sel dengan fungsi yang 

khusus.  


PENYAKIT SAPI 

 Penyakit pada sapi biasanya dipicu 

eleh beberapa penyebab diantaranya 

bakteri, virus, parasit dan jamur. Selain itu 

kelainan pada saat lahir juga merupakan 

penyakit yang tidak bisa dihindari. Contoh 

penyakit yang disebabkan oleh bakteri : 

1. Aktinobasilosis   

Aktinobasilosis  adalah penyakit 

bakterial pada sapi, babi, kuda, dan 

domba yang sering menyerang 

jaringan lunak dan kelenjar getah 

bening. Jaringan utama yang terserang 

pada sapi adalah lidah dengan 

pembentukan nanah dan radang 

granuloma (jenis peradangan yang 

membentuk benjolan akibat adanya 

reaksi selular makrofag terhadap 

infeksi yang tejadi). 

2. Antraks 

Penyakit Antraks bersifat menular 

akut dan perakut. Penyakit ini dapat 

menyerang semua jenis hewan 

berdarah panas bahkan manusia. 

Penyakit ini dapat menyebabkan 

angka kematian tinggi. 

3. Dermatofilosis 

Dermatofilosis atau Kutaneus 

Streptotrikosis adalah radang kulit 

(dermatitis) yang ditandai dengan 

pembentukan kudis yang tebal. 

Penyakit ini banyak dijumpai di 

negara-negara tropis, terutama di saat 

musim hujan dan merupakan penyakit 

zoonosis. 

 

FLOWCHART 

Pada gambar 3. dapat dijelaskan 

bahwa diagram alir sistem untuk proses 

inference engine menggambarkan proses 

penelusuran untuk menentukan kesimpulan 

yang tepat. Inference engine akan menerima 

respon data yang berasal dari jawaban user 

umum, kemudian melakukan proses terhadap 

basis pengetahuan yang sesuai. Metode yang 

digunakan adalah runut maju (forward 

chaining). 

DEPENDENCY DIAGRAM 

   Dependency diagram digunakan 

untuk menentukan hubungan antara faktor-

faktor penting yang mempengaruhi dalam 

pemberian suatu rekomendasi minat dan 

bakat. Dependency diagram juga berisi 

aturan-aturan dan jawaban yang digunakan 

untuk memudahkan pada saat proses 

verifikasi. Dependency diagram dapat 

dilihat pada Gambar 4. 

Kesimpulan yang dapat diambil 

dari hasil implementasi dan Evaluasi pada 

bab sebelumnya adalah sebagai berikut: 

1. Aplikasi Sistem Pakar Dalam 

Penentuan Jenis Penyakit Pada Hewan 

Sapi dapat memberikan informasi 

mengenai penyakit sapi tersebut dan 

cara pengobatan maupun 

penanggulangannya. 

2. Penerapan sistem ini juga 

menghasilkan informasi berupa 

laporan tentang jenis-jenis penyakit 

sapi apa saja yang menyerang sapi 

dalam kurun waktu tertentu. 

3. Sistem ini dapat mendiagnosa 

penyakit sapi dengan menggunakan 

metode forward chaining, dimana 

metode ini melakukan pelacakan atau 

penalaran suatu data dari fakta-fakta 

yang ada sehingga mendapatkan 

sebuah kesimpulan. 

Dalam pengembangan aplikasi 

sistem pakar dalam penentuan jenis 

penyakit pada hewan sapi dapat diajukan 

saran, yaitu penambahan jenis sapi yang 

ada di seluruh dunia, agar aplikasi ini 

dapat digunakan pada semua jenis sapi 

yang ada. 


Desa Susut  merupakan daerah dataran tinggi, terletak 4km arah selatan dari kota kecamatan 

susut dan 10 km arah barat kota Kabupaten Bangli, dengan luas wilayah 4,83 km2, dengan 

sebagian besar lahan digunakan untuk kegiatan pertanian, yakni seluas 216 Ha (0,45%). Desa Susut 

Bangli yang meliputi 9 Banjar/Pekraman. Kesembilan banjar ini  adalah Banjar Pukuh, Banjar 

Penatahn, Banjar Penglumbaran, Banjar lebah, Banjar Juwuk Bali, Banjar Manuk, Banjar Tangkas, 

Banjar Susut Kaja dan Banjar Susut Kelod. Masyrakat Desa Susut menggantungkan hidup dari 

sktor pertanian, selain itu dari sektor peternakan dengan jenis ternak peliharaan seperti; sapi, babi, 

unggas dan lain-lain. Sistema berusaha ternak yang dilakukan masyrakat masih bersifat tradicional, 

karena usaha ini diposisikan sebagai usaha sambilan (http:/desasusut.wordpress.com).  

 Salah satu kebijakan pemerintah dalam pembangunan peternakan di negara kita  adalah upaya 

dalam pencukupan kebutuhan protein hewani, yang pada gilirannya hal ini akan berpengaruh pada 

kecerdasan bangsa. Salah satu produk protein hewani adalah daging, yang dapat dihasilkan dari 

berbagai komoditas ternak, baik dari ternak besar, ternak kecil, dan unggas. Ternak besar, terutama 

sapi, berperan yang sangat besar dalam penyediaan daging. Daging sapi pada umumnya 

dihasilkan dari sapi potong, seperti sapi bali, sapi madura, dan sapi peranakan ongole. Sapi potong 

asli negara kita  salah satunya adalah sapi Bali ,

Sapi Bali sudah dipelihara secara turun menurun oleh warga  petani Bali sejak zaman 

dahulu. Petani memeliharanya untuk membajak sawah dan tegalan, untuk menghasilkan pupuk 

kandang yang berguna untuk mengembalikan kesuburan tanah pertanian. Sapi Bali juga dapat 

dijadikan sumber pendapatan dengan mengembangbiakan ternak sapinya. Namun, Peternak sapi 

bali di Desa Susut, Kecamatan Susut, Kabupaten Bangli baik itu kelompok ternak maupun peternak 

individu masih banyak mengalami kendala dalam mengembangkan ternak sapi bali. Kendala yang 

dihadapi antara lain dari aspek penyakit disamping karena managemen yang masih kurang 

memadai. Masyarakat belum begitu menguasai masalah kesehatan dan pengetahuan tentang 

beternak sapi yang baik sehingga terjadi penurunan produksi yang tentunya dapat mengakibatkan 

terjadinya kerugian ekonomi yang cukup besar. Usaha-usaha untuk menjaga kesehatan hewan 

ternak sangat diperlukan dan bahkan merupakan suatu keharusan karena dapat meningkatkan 

perekonomian rakyat. Usaha menjaga kesehatan hewan ternak secara terpadu dapat dilakukan 

dengan menerapkan manajemen kesehatan kelompok ternak ,

Tujuan kegiatan pengabdian ini yaitu memberikan informasi tentang kesehatan hewan 

ternak terutama sapi bali, manajemen pemeliharaan ternak serta penanggulangan penyakit pada 

hewan ternak sehingga dapat meningkatkan dan menekan angka kerugian ekonomi peternak sapi 

Bali di Desa Susut, Kecamatan Susut, Kabupaten Bangli. 

Realisasi Pemecahan Masalah  

Untuk mengatasi permasalahan yang terjadi di Simantri 268, Gapoktan Merta Shanti Desa Susut, 

Kecamatan Susut, Kabupaten Bangli, salah satu cara pemecahan masalah yang dapat dilakukan 

yaitu dengan meningkatkan penerapan manajemen pemeliharaan ternak sapi dan meningkatkan 

kesehatan ternak sapi sehingga warga  di desa ini  tidak mengalami kerugian. Peningkatan 

manajemen pemeliharaan ternak sapi dan kesehatan ternak sapi dapat dilakukan dengan melakukan  

pelayanan kesehatan.  

Khalayak Sasaran Strategis  

Sasaran kegiatan pengabdian yaitu ternak sapi yang berada di Simantri 268, Gapoktan Merta Shanti 

Desa Susut, Kecamatan Susut, Kabupaten Bangli dengan pemberianberupa pelayanan kesehatan 

berupa pemberian vitamin, obat cacing, spraying (Butox) dan penanganan luka terhadap sapi yang 

sakit.  

Metode dan Lokasi Kegiatan  

Kegiatan pengabdian ini dilakukan dalam bentuk pelayanan kesehatan ternak sapi di Simantri 268, 

Gapoktan Merta Shanti Desa Susut, Kecamatan Susut, Kabupaten Bangli berupa pemberian obat 

cacing dan vitamin, spraying terhadap ternak yang sehat dan melakukan pengobatan terhadap 

ternak yang sakit, serta diskusi dengan peternak tentang arti penting memelihara kesehatan ternak. 

Pelaksanaan kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pelayanan dan sosialisasi tentang 

kesehatan hewan ternak, manajemen pemeliharaan ternak serta penanggulangan penyakit pada 

hewan ternak sehingga dapat meningkatkan produksi ternak dan menekan angka kerugian ekonomi 

peternak sapi Bali. Jumlah hewan sapi yang dilayani pada pelaksanaan ini sebanyak 24 ekor sapi. 

Pelayanan kesehatan hewan ternak berupa pemberian vitamin (24 ekor), obat cacing (20 ekor), 

spraying butox (24 ekor) serta pemberian  injeksi ivomec (2 ekor) bagi hewan yang mengalami 

gatal-gatal pada kulit. Pemberian vitamin pada hewan ternak sangat penting mengingat kesehatan 

dan kelangsungan hidup ternak bahkan pada kebanyakan mahluk hidup tidak lepas dari keberadaan 

vitamin di dalam tubuh. Beberapa fungsi vitamin pada ternak antara lain yaitu untuk 

mempertahankan serta meningkatkan kekuatan tubuh serta berperan untuk meningkatkan kesehatan 

ternak terutama saat berproduksi. Vitamin yang diberikan pada pelayanan kesehatan ini yaitu 

vitamin neurotropin. Selain pemberian vitamin, hewan juga diberikan obat cacing piperazine. 

Piperazine merupakan jenis obat cacing sapi yang paling banyak digunakan oleh para peternak. 

Penggunaannya adalah dengan cara dilarutkan pada air minum atau pada ransum yang akan 

diberikan dan dosisnya disesuaikan dengan berat badan sapi. Tujuan dari pemberian obat cacing ini 

adalah untuk membasmi cacing yang ada  dalam saluran cerna. Pemberian spraying butox 

dilakukan untuk membasmi ektoparasit seperti kutu atau lalat yang menghinggapi tubuh sapi. 

Butox merupakan insektisida dengan kandungan zat aktifnya adalah Deltametrin. Konsentrasi yang 

digunakan adalah 1 permil, diperoleh dengan mengencerkan 1 ml butox ke dalam 1 liter air 

kemudian disemprotkan ke seluruh tubuh sapi. Seperti yang kita ketahui bahwa gigitan kutu yang 

ada  pada tubuh sapi dapat menyebabkan terjadinya gatal-gatal dan luka. Lalat yang 

menghinggapi tubuh sapi akan memperparah luka yg disebabkan oleh kutu ini  dan dapat 

menyebabkan terjadinya miasis atau adanya belatung pada daerah luka. Miasi adalah infestasi larva 

lalat ke dalam jaringan hidup hewanbmaupun manusia. Beberapa jenis lalat telah diidentifikasi 

sebagai penyebab penyakit ini, namun yang  bersifat obligat parasite adalah Chrysomya bezziana. 

Awal infestasi larva terjadi pada derah kulit yang luka, selanjutnya larva bergerak lebih dalam 

menuju jaringan otot sehingga menyebabkan daerah luka semakin lebar. Kondisi ini  

menyebabkan tubuh ternak menjadi lemah, nafsu makan menurun, demam serta diikuti penuruan 

bobot badan dan bahkan terjadi anemia (Wardhana dan Muharsini, 2005). Keberhasilan kegiatan 

pengabdian ini dievaluasi melalui respon warga  yang sangat baik. Para peternak sangat 

antusias mengikuti kegiatan pengabdian ini dan mereka berharap kegiatan pengabdian ini dapat 

dilakukan kembali di desa Susut dengan rutin. Hal hal yang mendorong kegiatan ini adalah adanya 

respon dan antusias warga  yang tinggi dalam mengikuti kegiatan ini karena mereka belum 

memahami bagaimana cara memelihara kesehatan ternak mereka dengan baik sehingga mereka 

sangat berharap kegiatan ini dapat dilakukan dengan  rutin di daerah  mereka.  

Beberapa kendala yang kami hadapi selama pelaksanaan kegiatan pengabdian ini adalah 

kurangnya pemahaman warga  tentang cara memelihara kesehatan hewan dan ada beberapa 

peternak yang tidak bisa hadir karena ada kegiatan upacara adat di desa ini  namun 

memberikan kepercayaan kepada ketua kelompok ternak, sehingga sebagian obat kami berikan ke 

dokter hewan yang berada di UPT agar tidak terjadi penyalahgunaan obat yang dilakukan oleh 

peternak. Dan pada saat diskusi kami juga menyarankan kepada peternak agar menghubungi dokter 

hewan terdekat atau dokter hewan yang bertanggung jawab terhadap simantri ini  bila  

ada  ternak yang sakit dan tidak mencoba menjadi dokter sendiri untuk ternaknya terutama 

dalam pemberian obat injeksi. Selain itu juga kami jelaskan kepada petani untuk memberikan 

pakan yang lebih banyak dan kualitas pakan ditingkatkan. Penambahan dedak/konsentrat pada 

pakan, serta memberikan/menyediakan air secara ad libitum. Tapi sejauh ini kegiatan pengabdian 

yang kami lakukan berjalan lancar dan sesuai rencana. 

Pelayanan Kesehatan Hewan Pada Sapi Bali Di Desa Susut, Kecamatan Susut, Kabupaten Bangli 

Jumlah hewan sapi yang dilayani pada pelaksanaan ini sebanyak 24 ekor sapi. Pelayanan kesehatan hewan 

ternak berupa pemberian vitamin (24 ekor), obat cacing (20 ekor), spraying butox (24 ekor) serta pemberian  

injeksi ivomec (2 ekor) bagi hewan yang mengalami gatal-gatal pada kulit.