ternak sapi 5
Daging merupakan salah satu bahan pangan yang memiliki nilai gizi berupa protein yang
tinggi dan mengandung susunan asam amino yang lengkap dan seimbang. Bahan pangan ini juga
mengandung vitamin B kompleks (niasin, riboflavin dan tiamin), mineral kalsium, fosfor dan besi
Daging yang layak dikonsumsi dapat dinilai dari keempukan atau
kelunakan daging. Keempukan daging merupakan faktor yang mempengaruhi tingkat ketertarikan
konsumen terhadap daging yang ditentukan oleh adanya jaringan ikat dan jaringan lemak
intramuskuler yang terdapat di dalam daging ,
Proses pematangan daging dengan panas (pemasakan) sangat bermanfaat untuk membunuh
mikroba dan meningkatkan cita rasa. Daging yang akan diolah terkadang membutuhkan waktu
yang cukup lama sampai menjadi empuk. Bahan-bahan alami banyak digunakan sebagai
pengempuk daging yang dapat mempercepat proses pengempukan seperti kulit nanas, getah
pepaya, daun pepaya, buah papaya dan jahe ,Jahe (Zingiber
Officinale Roscoe) merupakan tanaman rempah yang dimanfaatkan sebagai minuman atau
campuran pada bahan pangan ,Pada tahun 1973,
menemukan adanya enzim proteolitik pada jahe yang kemudian disebut dengan zingibain. Enzim
proteolitik atau protease adalah enzim yang dapat menguraikan protein menjadi asam amino
sehingga bisa melunakkan daging ,
Penelitian tentang enzim protease pada jahe telah banyak dilakukan.
() dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa penambahan jahe hingga 8% pada daging sapi
akan meningkatkan keempukan daging. juga melakukan penelitian tentang efek
ekstrak jahe dan asam sitrat terhadap keempukan otot dada pada bebek. Hasil penelitiannya
menunjukkan bahwa ekstrak jahe memiliki efek mengempukkan otot dada pada bebek.
Analisis profil protein daging dilakukan dengan pemisahan protein menjadi molekul yang
lebih sederhana dengan menggunakan teknik elektroforesis SDS-PAGE, selanjutnya dilakukan
pengukuran jarak perpindahan (Rf) untuk mengidentifikasi profil protein pada masing-masing
sampel , Tujuan penelitian yaitu menganalisis profil protein pada daging
kambing, kerbau dan sapi sebelum dan sesudah direndam dengan larutan jahe konsentrasi 4% v/v,
6% v/v, 8% v/v dan 10% v/v selama 30 menit dengan metode SDS-PAGE.
Daging didefinisikan sebagai urat daging (otot) yang melekat pada kerangka, kecuali urat
daging bagian bibir, hidung, dan telinga yang berasal dari hewan yang sehat sewaktu dipotong.
Daging merupakan salah satu bahan pangan yang memiliki nilai gizi berupa protein yang
mengandung susunan asam amino yang lengkap , Daging
mengandung sekitar 75% air, protein sekitar 19%, substansi–substansi non-protein yang larut 3,5%
dan lemak sekitar 2,5% Daging kambing, kerbau dan sapi memiliki ciri masing-
masing yang diketahui dari warna daging, rasa, aroma dan tekstur daging. Kriteria daging yang
berkualitas ditentukan dari keempukan atau kelunakan, kandungan lemak (marbling), warna, rasa,
aroma dan kelembaban , Jalur distribusi perdagangan daging pasca
sembelih yang terlalu panjang akan berdampak pada pencapaian fase kekakuan atau fase
rigormortis. Pada fase ini terjadi perubahan tekstur daging, jaringan otot menjadi keras, kaku dan
tidak mudah digerakkan. Daging pada fase ini jika dilakukan pengolahan akan menghasilkan
daging olahan yang keras dan alot. Pada fase rigormortis akan menyebabkan penurunan nilai daya
terima pada daging ,
Protein merupakan suatu makromolekul karena memiliki berat molekul yang besar. Protein
secara umum terdiri dari 20 macam asam amino yang berikatan secara kovalen satu sama lain yang
membentuk suatu rantai polipeptida. Struktur protein tidak stabil terhadap beberapa faktor antara
lain pH, radiasi, temperatur dan pelarut organik. Berdasarkan sumbernya protein digolongkan
menjadi dua jenis yaitu protein hewani dan protein nabati. Protein hewani merupakan protein yang
berasal dari hewan seperti susu dan daging. Sedangkan protein nabati adalah protein yang
dihasilkan oleh tumbuh-tumbuhan baik secara langsung maupun hasil olahan dari tumbuh-
tumbuhan seperti sereal dan tepung ,
Struktur protein terdiri atas struktur primer, sekunder, tersier dan kuartener. Protein
berdasarkan strukturnya digolongkan menjadi protein sederhana dan protein gabungan. Protein
sederhana adalah protein yang hanya terdiri atas molekul-molekul asam amino sedangkan protein
gabungan adalah protein yang berkaitan dengan senyawa bukan protein. Jenis protein gabungan
antara lain mukoprotein, lipoprotein dan nukleoprotein ,
Protein daging diklasifikasikan dalam tiga kelompok besar yaitu miofibril, stroma dan
sarkoplasma. Komponen protein miofibril yang terpenting dalam struktur serabut otot adalah aktin
dan miosin. Protein miofibril merupakan protein yang berlimpah dalam otot dan penting dalam
proses kontraksi (mengejang) dan relaksasi (istirahat) otot. Kondisi saat hewan akan dipotong dan
penanganan setelah pemotongan adalah saat yang penting dalam mengontrol kondisi kontraksi
(kejang) otot yang akan menentukan keempukan daging.
Protein stroma terdiri dari kolagen, elastin dan retikulin. Pada daging, kolagen merupakan
faktor utama yang mempengaruhi keempukan daging setelah proses pemasakan. Pemanasan
dengan suhu tertentu akan mengubah kolagen yang keras menjadi gelatin yang sifatnya empuk.
Protein daging lainnya adalah sarkoplasma yang terdiri dari pigmen hemoglobin yaitu protein sel ,
darah merah, mioglobin yaitu cairan yang terdapat dalam sel otot dan bermacam-macam enzim.
Pigmen hemoglobin dan mioglobin berkontribusi pada warna merah pada daging ,
Jahe (Zingiber Officinale Roscoe) merupakan salah satu jenis tanaman obat yang
berpotensi besar untuk dikembangkan sebagai bumbu, bahan obat tradisional dan bahan baku
minuman serta makanan Klasifikikasi ilmiah jahe
yaitu Kingdom : Plantae; Divisi : Spermatophyta; Subdivisi :
Angiospermae; Kelas : Monocotyledonae; Ordo : Zingiberale; Famili : Zingiberaceae; Sub famili:
Zingiberoidae; Genus : Zingiber; Spesies : Zingiber officinale.
Jahe putih kecil biasa disebut jahe emprit yang berwarna putih, berbentuk agak pipih,
berserat lembut dan aromanya kurang tajam dibandingkan dengan jahe merah. Jahe emprit ini
memiliki ruas rimpang berukuran lebih kecil dan agak rata sampai agak sedikit menggembung.
Rimpangnya lebih kecil daripada jahe gajah, tetapi lebih besar dari jahe merah. Jahe emprit biasa
dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan jamu segar maupun kering, bahan pembuat minuman,
penyedap makanan, rempah-rempah, serta cocok untuk ramuan obat-obatan. Kadar minyak atsiri
jahe putih sebesar 1,7-3,8% dan kadar oleoresin 2,39-8,87% (Hesti Dwi Setyaningrum, 2015).
Rimpang jahe memiliki kandungan vitamin A, B, C, lemak, protein, minyak atsiri, pati,
dammar, asam organik, oleoresin (gingerin), zingeron, zingerol, zingeberol, zingiberin, borneol,
sineol dan felaudren (Heri Warsito, Rindiani 2015). Jahe juga mengandung enzim zingibain,
bisabolena, kurkumen, gingerol, filandrena dan resin pahit Enzim Zingibain
merupakan enzim protease yang dapat menghidrolisis protein dalam daging sehingga daging dapat
menjadi lebih lunak. Profil protein daging dapat dianalisa menggunakan metode SDS-PAGE.
SDS-PAGE (Sodium Dodecyl Sulphate Polyacrylamid Gel Electrophoresis) adalah suatu
metode elektroforesis yang digunakan untuk analisa pita protein secara kualitatif. Metode ini sering
digunakan untuk menentukan berat molekul suatu protein disamping untuk memonitor pemurnian
protein. Protein dalam gel dapat ditampakkan oleh pewarnaan Coomasie Brilliant Blue
Metode penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Penelitian dilakukan di laboratorium
Biologi Molekuler Universitas Muhammadiyah Semarang dan laboratorium Bioteknologi
Universitas Gajah Mada pada tanggal 5 s/d 13 Juni 2017.
Variabel penelitian ini yaitu daging, jahe dan profil protein daging. Daging merupakan
bagian dari tubuh hewan yang tidak memiliki tulang dan diperoleh dari pasar. Jahe adalah tanaman
yang digunakan sebagai bumbu, obat dan bahan baku minuman dan makanan. Profil protein daging
merupakan sub-sub unit protein pada daging yang diperoleh dengan menggunakan metode SDS-
PAGE.
Objek penelitian ini adalah daging kambing dan sapi yang dibeli di pasar Pedurungan
Semarang dan daging kerbau dari pasar Bintoro Demak kemudian direndam dengan larutan jahe
dengan konsentrasi 4% v/v, 6% v/v, 8% v/v dan 10% v/v selama 30 menit.
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data primer dan
data yang diperoleh ditabulasikan kemudian disajikan dalam bentuk narasi deskriptif.
Alat yang digunakan dalam penelitian ini yaitu blender, kertas saring, labu ukur, pipet
volume, beaker glass, timbangan analitik, pot, cawan mortir, vortex, centrifuge, microtube,
mikropipet, spektrofotometer, chamber elektroforesis, power supply, waterbath, rotator, box
plastik, plastik press dan kaca press.
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah daging (kambing, kerbau dan sapi)
bagian has dalam (tenderloin), jahe emprit dibuat dalam bentuk larutan, H2O steril, polyakrilamid
30%, TEMED, APS 10%, SDS 10%, 1,5 M Tris pH 8,8 dan 6,8, staining 0,1% Coomasie Brilliant
Blue (CBB) R-250, destaining, asam asetat glasial 10%, butanol, alkohol 70%, running buffer 1x,
biorad assay, PBS pH 7,4, sampel buffer, dan marker protein
Prosedur penelitian yaitu jahe dibersihkan kemudian diblender dan disaring untuk
mendapatkan larutan jahe 100%. Larutan jahe 100% kemudian dibuat ke dalam konsentrasi 4%
v/v, 6% v/v, 8% v/v dan 10% v/v. Daging ditimbang sebanyak 10 g dan direndam selama 30 menit
dalam masing-masing konsentrasi. Daging ditiriskan dan dihaluskan dengan menambahkan PBS 1x
dan divortex. Sampel dimasukkan ke dalam kulkas selama 1 jam dan dicentrifuge sehingga
didapatkan supernatan (protein) dan kemudian dibaca total protein secara spektrofotometri.
Separating gel dibuat, ditambahkan butanol untuk menutupi permukaan dan dibiarkan
sampai terjadi polimerisasi kemudian dibersihkan dengan aquades dan ditambahkan stacking gel.
Sisir dimasukkan dan dibiarkan sampai terjadi polimerisasi. Sisir diangkat maka akan terbentuk
sumuran (well). Dimasukkan sampel ke well dengan perbandingan 4:1 (16 µl sampel : 4 µl sampel
buffer). Tambahkan running buffer pada alat dan power supply dihidupkan. Ditunggu hingga
proses running selesai yang ditandai dengan turunnya Bromo Phenol Blue sampai ke dasar.
Kemudian gel diwarnai dengan Commasie Brilliant Blue R-250 selama 120 menit hingga pita
protein terwarnai. Destaining gel 3–4 kali hingga gel tampak bersih, dimasukkan gel ke dalam
larutan asam asetat glasial 10%, kemudian dipress dan dikeringkan selama 48 jam di ruangan
gelap. Untuk menentukan berat molekul protein, dihitung menggunakan Rf dan diplotkan pada
grafik logaritma dari Rf marker protein yang berat molekulnya telah diketahui .
Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah daging kambing, daging kerbau dan
daging sapi bagian has dalam (tenderloin) yang direndam larutan jahe dengan konsentrasi 4% v/v,
6% v/v, 8% v/v dan 10% v/v selama 30 menit. Daging kambing dan sapi dibeli di Pasar
Pedurungan Semarang, sedangkan daging kerbau dibeli di pasar Bintoro Demak, Jawa Tengah.
Total protein daging kambing, kerbau dan sapi dianalisa dengan menggunakan
spektrofotometri. Hasil analisa total protein tersebut tertera pada tabel di bawah ini.
Dari hasil spektrofotometri daging kontrol memiliki total protein yang lebih besar
dibandingkan dengan daging yang direndam larutan jahe. Total protein daging yang tertinggi ialah
daging sapi sebesar 29,22 µg/µl dan terendah adalah daging kerbau sebesar 18,64 µg/µl.
Sedangkan daging yang telah direndam larutan jahe memiliki total protein yang lebih rendah
dibandingkan daging kontrol.
Penambahan larutan jahe pada sampel kambing dan kerbau sangat mempengaruhi total
protein sedangkan pada daging kerbau tidak terlalu mempengaruhi besarnya penurunan total
protein.
Analisis profil protein dilakukan dengan metode SDS-PAGE terhadap daging yang
direndam dengan larutan jahe selama 30 menit menunjukkan hasil yang tertera pada gambar 1, 2, 3
dan 4.
Keterangan :
BM = Berat Molekul (kDa), M = Marker, C. Km = Kontrol Kambing, Km 4% = Kambing
direndam larutan jahe 4%, Km 6% = Kambing direndam larutan jahe 6%, Km 8% = Kambing
direndam larutan jahe 8%, Km 10% = Kambing direndam larutan jahe 10%, C. Kr = Kontrol
Kerbau, Kr 4% = Kerbau direndam larutan jahe 4%, Kr 6% = Kerbau direndam larutan jahe 6%, Kr
8% = Kerbau direndam larutan jahe 8%, Kr 10% = Kerbau direndam larutan jahe 10%, C. Sp =
Kontrol Sapi, Sp 4% = Sapi direndam larutan jahe 4%, Sp 6% = Sapi direndam larutan jahe 6%, Sp
8% = Sapi direndam larutan jahe 8%, Sp 10% = Sapi direndam larutan jahe 10%
Berdasarkan gambar 1, 2, 3 dan 4 didapatkan jumlah pita mayor dan pita minor
yang tertera pada tabel 2.
Daging yang sudah direndam larutan jahe diisolasi protein, kemudian diseparasi
dengan metode Laemmli (1970) dan diwarnai dengan 0,1% Coomasie Brilliant Blue (CBB)
R-250 selama 120 menit pada suhu ruangan hingga pita protein terwarnai. penentuan berat molekul (BM) protein dilakukan dengan
menghitung Rf (Retardation Factor) dari masing-masing pita (band) protein dengan rumus
sebagai berikut :
Rf =
Berat molekul (BM) dan nilai Retardation Factor (Rf) marker diplotkan pada kertas
logaritma sehingga didapatkan BM sampel yang tertera pada tabel 3, 4 dan 5.
Jahe mengandung enzim protease yaitu zingibain yang dapat memecah ikatan
peptida menjadi molekul-molekul protein yang lebih sederhana (asam amino) sehingga dapat
melunakkan daging (Kurniawan, 2014). Hasil pemecahan protein tersebut akan membentuk
ikatan yang mengkaitkan dua molekul asam amino yang disebut dipeptida. Dipeptida
mempunyai gugus –COOH dan –NH2 yang akan membentuk oligopeptida seperti carnosine,
balenine dan anserine yang memiliki kemampuan sebagai antioksidan yang dapat
menghambat reaksi oksidatif daging
Enzim zingibain yang terdapat dalam jahe dapat menghidrolisa protein yang
ditandai dengan berkurangnya pita protein mayor dan bertambahnya pita protein
minor. Semakin tinggi konsentrasi larutan jahe, maka semakin banyak kandungan
enzim zingibain sehingga kemampuan untuk menghidrolisa protein semakin tinggi.
Enzim zingibain yang terdapat dalam jahe dapat memecah ikatan peptida pada
protein daging sehingga protein membentuk mikromolekul (pita minor) yang dapat
mengempukkan daging. Larutan jahe paling baik untuk merendam daging kambing, kerbau
dan sapi selama 30 menit yaitu pada konsentrasi 4% karena masih banyak terdapat protein
pada daging tersebut.
Disarankan untuk melakukan penelitian lanjutan dengan menggunakan enzim
zingibain yang berasal dari jahe gajah (jahe besar) dan jahe merah dengan variasi lama
perendaman yang berbeda serta dapat menggunakan pengolahan sampel yang berbeda yaitu
menggunakan serbuk jahe.
Bagi masyarakat yang ingin mempercepat proses pengempukan daging sebanyak
250 g, dapat menggunakan 40 ml sari jahe yang setara dengan 2 sdm sari jahe dan
ditambahkan 625 ml air yang setara dengan dua gelas air minum, kemudian direndam selama
30 menit.
Dalam menjalankan perekonomian
negara, banyak aspek yang berperan dalam
meningkatkan komoditas negara. Aspek-
aspek tersebut antara lain dalam bidang
Perkebunan, Pertanian, Perikanan,
Perdagangan, dan yang tidak kalah
pentingnya adalah di bidang Peternakan.
banyak hewan yang dapat diternakkan
salah satunya adalah sapi. Sapi memiliki
manfaat yang cukup banyak untuk
kehidupan manusia seperti bisa digunakan
untuk bahan makanan, diperah susunya,
dan kulitnya bisa digunakan untuk
kerajinan. Tetapi, sapi rentan pada
penyakit, hal itu membuat kerugian yang
cukup besar bagi para peternak sapi.
Dalam memelihara sapi, penyakit
merupakan salah satu resiko yang harus
dihadapi. Misalnya, seekor sapi yang
mengidap penyakit tertentu yang dapat
merusak produksi susu sapi. Ada pula
penyakit sapi yang dapat mengakibatkan
keguguran pada kehamilan bahkan sampai
ada yang menyebabkan kematian pada
sapi, apalagi jika penyakit tersebut sangat
menular. Tentu saja hal ini tidak dapat
dibiarkan dan harus diambil tindakan-
tindakan untuk pengendalian, baik itu
berupa tindakan pencegahan maupun
pengobatan. Menurut laporan tahuanan
Dinas Peternakan Jawa Timur tahun 2010
tercatat 3,905 kasus penyakit BEF (Bovine
Emerald Fever) terjadi di daerah Jawa
Timur. BEF adalah suatu penyakit viral
pada sapi dan kerbau yang ditandai dengan
terjadinya demam tinggi, rasa sakit otot,
dan kepincangan. Data tersebut didapat
dari beberapa rumah sakit hewan yang ada
di wilayah Jawa Timur yang kemudian
dikumpulkan oleh Dinas Peternakan Jawa
Timur. Oleh karena itu, agar kasus
penyakit BEF dan jenis-jenis penyakit
yang lain tidak bertambah kasusnya, perlu
dilakukan tindakan yang cepat dalam
penanganannya.
Teknologi komputer yang sudah
semakin canggih merambah ke segala
bidang, dan semuanya itu ditujukan bagi
kemudahan dalam beraktifitas. Saat ini
jenis pemanfaatannya semakin
berkembang dari hanya sekedar mesin
ketik dan alat hitung biasa, saat ini
dimanfaatkan untuk membantu dalam
pekerjaan di beberapa bidang lain selain
berbasis komputer. Salah satu contohnya
adalah mendiagnosa penyakit dengan
menggunakan Sistem Pakar. Sistem Pakar
itu mampu meniru kerja seorang pakar
dalam melakukan diagnosa penyakit
khususnya pada hewan sapi. Karena
sifatnya hanya meniru kecerdasan seorang
dokter hewan, maka kemampuan Sistem
Pakar ini tidak dapat menyamai dokter
hewan yang sebenarnya. Oleh karena itu
dengan penggunaan Sistem Pakar
Penentuan Jenis Penyakit Pada Hewan
Sapi dapat membantu dokter hewan untuk
mengetahui penyakit sapi secara cepat dan
tepat.
sistem pakar adalah suatu program
komputer cerdas yang menggunakan
knowledge (pengetahuan) dan prosedur
inferensi untuk menyelesaikan masalah
yang cukup sulit sehingga membutuhkan
seorang yang ahli untuk
menyelesaikannya. Selain itu sistem pakar
juga merupakan suatu sistem komputer
yang menyamai (emulates) kemampuan
pengambilan keputusan dari seorang
pakar. Istilah emulates berarti bahwa
sistem pakar diharapkan dapat bekerja
dalam semua hal seperti seorang pakar.
Forward chaining adalah suatu
metode dari mesin inferensi untuk
memulai penalaran atau pelacakan suatu
data dari fakta-fakta yang ada menuju
suatu kesimpulan (Arhami, 2005). Dalam
metode ini, data yang digunakan untuk
menentukan aturan mana yang akan
dijalankan, kemudian aturan tersebut
dijalankan. Untuk lebih jelasnya dapat
dilihat alur dari metode forward chaining
seperti pada gambar 1
Dependency diagram di dalam
sistem pakar berfungsi untuk menunjukan
hubungan atau ketergantungan antara
inputan pertanyaan, rules, nilai dan
rekomendasi yang dibuat oleh prototype
sistem berbasis pengetahuan (Dologite,
1993). Contoh dari dependency diagram
dapat di lihat pada gambar
HEWAN SAPI
Sapi adalah hewan ternak
terpenting sebagai sumber daging, susu,
tenaga kerja dan kebutuhan lainnya. Sapi
menghasilkan sekitar 50% (45%-55%)
kebutuhan daging didunia, 95% kebutuhan
susu dan 85% kebutuhan kulit. Sapi
berasal dari famili Bovidae. Seperti halnya
bison, banteng, kerbau (Buballus), kerbau
afrika (syncherus), dan anoa.
Tubuh sapi tersusun dari sel-sel
yaitu bagian tubuh terkecil yang hidup dan
berkembang secara dinamis dengan cara
pembelahan. Sel-sel ini melalui proses
pembelahan yang berkelanjutan berangsur-
angsur berkembang dan mengelompok
menjadi kumpulan sel dengan fungsi yang
khusus.
PENYAKIT SAPI
Penyakit pada sapi biasanya dipicu
eleh beberapa penyebab diantaranya
bakteri, virus, parasit dan jamur. Selain itu
kelainan pada saat lahir juga merupakan
penyakit yang tidak bisa dihindari. Contoh
penyakit yang disebabkan oleh bakteri :
1. Aktinobasilosis
Aktinobasilosis adalah penyakit
bakterial pada sapi, babi, kuda, dan
domba yang sering menyerang
jaringan lunak dan kelenjar getah
bening. Jaringan utama yang terserang
pada sapi adalah lidah dengan
pembentukan nanah dan radang
granuloma (jenis peradangan yang
membentuk benjolan akibat adanya
reaksi selular makrofag terhadap
infeksi yang tejadi).
2. Antraks
Penyakit Antraks bersifat menular
akut dan perakut. Penyakit ini dapat
menyerang semua jenis hewan
berdarah panas bahkan manusia.
Penyakit ini dapat menyebabkan
angka kematian tinggi.
3. Dermatofilosis
Dermatofilosis atau Kutaneus
Streptotrikosis adalah radang kulit
(dermatitis) yang ditandai dengan
pembentukan kudis yang tebal.
Penyakit ini banyak dijumpai di
negara-negara tropis, terutama di saat
musim hujan dan merupakan penyakit
zoonosis.
FLOWCHART
Pada gambar 3. dapat dijelaskan
bahwa diagram alir sistem untuk proses
inference engine menggambarkan proses
penelusuran untuk menentukan kesimpulan
yang tepat. Inference engine akan menerima
respon data yang berasal dari jawaban user
umum, kemudian melakukan proses terhadap
basis pengetahuan yang sesuai. Metode yang
digunakan adalah runut maju (forward
chaining).
DEPENDENCY DIAGRAM
Dependency diagram digunakan
untuk menentukan hubungan antara faktor-
faktor penting yang mempengaruhi dalam
pemberian suatu rekomendasi minat dan
bakat. Dependency diagram juga berisi
aturan-aturan dan jawaban yang digunakan
untuk memudahkan pada saat proses
verifikasi. Dependency diagram dapat
dilihat pada Gambar 4.
Kesimpulan yang dapat diambil
dari hasil implementasi dan Evaluasi pada
bab sebelumnya adalah sebagai berikut:
1. Aplikasi Sistem Pakar Dalam
Penentuan Jenis Penyakit Pada Hewan
Sapi dapat memberikan informasi
mengenai penyakit sapi tersebut dan
cara pengobatan maupun
penanggulangannya.
2. Penerapan sistem ini juga
menghasilkan informasi berupa
laporan tentang jenis-jenis penyakit
sapi apa saja yang menyerang sapi
dalam kurun waktu tertentu.
3. Sistem ini dapat mendiagnosa
penyakit sapi dengan menggunakan
metode forward chaining, dimana
metode ini melakukan pelacakan atau
penalaran suatu data dari fakta-fakta
yang ada sehingga mendapatkan
sebuah kesimpulan.
Dalam pengembangan aplikasi
sistem pakar dalam penentuan jenis
penyakit pada hewan sapi dapat diajukan
saran, yaitu penambahan jenis sapi yang
ada di seluruh dunia, agar aplikasi ini
dapat digunakan pada semua jenis sapi
yang ada.
Desa Susut merupakan daerah dataran tinggi, terletak 4km arah selatan dari kota kecamatan
susut dan 10 km arah barat kota Kabupaten Bangli, dengan luas wilayah 4,83 km2, dengan
sebagian besar lahan digunakan untuk kegiatan pertanian, yakni seluas 216 Ha (0,45%). Desa Susut
Bangli yang meliputi 9 Banjar/Pekraman. Kesembilan banjar ini adalah Banjar Pukuh, Banjar
Penatahn, Banjar Penglumbaran, Banjar lebah, Banjar Juwuk Bali, Banjar Manuk, Banjar Tangkas,
Banjar Susut Kaja dan Banjar Susut Kelod. Masyrakat Desa Susut menggantungkan hidup dari
sktor pertanian, selain itu dari sektor peternakan dengan jenis ternak peliharaan seperti; sapi, babi,
unggas dan lain-lain. Sistema berusaha ternak yang dilakukan masyrakat masih bersifat tradicional,
karena usaha ini diposisikan sebagai usaha sambilan (http:/desasusut.wordpress.com).
Salah satu kebijakan pemerintah dalam pembangunan peternakan di negara kita adalah upaya
dalam pencukupan kebutuhan protein hewani, yang pada gilirannya hal ini akan berpengaruh pada
kecerdasan bangsa. Salah satu produk protein hewani adalah daging, yang dapat dihasilkan dari
berbagai komoditas ternak, baik dari ternak besar, ternak kecil, dan unggas. Ternak besar, terutama
sapi, berperan yang sangat besar dalam penyediaan daging. Daging sapi pada umumnya
dihasilkan dari sapi potong, seperti sapi bali, sapi madura, dan sapi peranakan ongole. Sapi potong
asli negara kita salah satunya adalah sapi Bali ,
Sapi Bali sudah dipelihara secara turun menurun oleh warga petani Bali sejak zaman
dahulu. Petani memeliharanya untuk membajak sawah dan tegalan, untuk menghasilkan pupuk
kandang yang berguna untuk mengembalikan kesuburan tanah pertanian. Sapi Bali juga dapat
dijadikan sumber pendapatan dengan mengembangbiakan ternak sapinya. Namun, Peternak sapi
bali di Desa Susut, Kecamatan Susut, Kabupaten Bangli baik itu kelompok ternak maupun peternak
individu masih banyak mengalami kendala dalam mengembangkan ternak sapi bali. Kendala yang
dihadapi antara lain dari aspek penyakit disamping karena managemen yang masih kurang
memadai. Masyarakat belum begitu menguasai masalah kesehatan dan pengetahuan tentang
beternak sapi yang baik sehingga terjadi penurunan produksi yang tentunya dapat mengakibatkan
terjadinya kerugian ekonomi yang cukup besar. Usaha-usaha untuk menjaga kesehatan hewan
ternak sangat diperlukan dan bahkan merupakan suatu keharusan karena dapat meningkatkan
perekonomian rakyat. Usaha menjaga kesehatan hewan ternak secara terpadu dapat dilakukan
dengan menerapkan manajemen kesehatan kelompok ternak ,
Tujuan kegiatan pengabdian ini yaitu memberikan informasi tentang kesehatan hewan
ternak terutama sapi bali, manajemen pemeliharaan ternak serta penanggulangan penyakit pada
hewan ternak sehingga dapat meningkatkan dan menekan angka kerugian ekonomi peternak sapi
Bali di Desa Susut, Kecamatan Susut, Kabupaten Bangli.
Realisasi Pemecahan Masalah
Untuk mengatasi permasalahan yang terjadi di Simantri 268, Gapoktan Merta Shanti Desa Susut,
Kecamatan Susut, Kabupaten Bangli, salah satu cara pemecahan masalah yang dapat dilakukan
yaitu dengan meningkatkan penerapan manajemen pemeliharaan ternak sapi dan meningkatkan
kesehatan ternak sapi sehingga warga di desa ini tidak mengalami kerugian. Peningkatan
manajemen pemeliharaan ternak sapi dan kesehatan ternak sapi dapat dilakukan dengan melakukan
pelayanan kesehatan.
Khalayak Sasaran Strategis
Sasaran kegiatan pengabdian yaitu ternak sapi yang berada di Simantri 268, Gapoktan Merta Shanti
Desa Susut, Kecamatan Susut, Kabupaten Bangli dengan pemberianberupa pelayanan kesehatan
berupa pemberian vitamin, obat cacing, spraying (Butox) dan penanganan luka terhadap sapi yang
sakit.
Metode dan Lokasi Kegiatan
Kegiatan pengabdian ini dilakukan dalam bentuk pelayanan kesehatan ternak sapi di Simantri 268,
Gapoktan Merta Shanti Desa Susut, Kecamatan Susut, Kabupaten Bangli berupa pemberian obat
cacing dan vitamin, spraying terhadap ternak yang sehat dan melakukan pengobatan terhadap
ternak yang sakit, serta diskusi dengan peternak tentang arti penting memelihara kesehatan ternak.
Pelaksanaan kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pelayanan dan sosialisasi tentang
kesehatan hewan ternak, manajemen pemeliharaan ternak serta penanggulangan penyakit pada
hewan ternak sehingga dapat meningkatkan produksi ternak dan menekan angka kerugian ekonomi
peternak sapi Bali. Jumlah hewan sapi yang dilayani pada pelaksanaan ini sebanyak 24 ekor sapi.
Pelayanan kesehatan hewan ternak berupa pemberian vitamin (24 ekor), obat cacing (20 ekor),
spraying butox (24 ekor) serta pemberian injeksi ivomec (2 ekor) bagi hewan yang mengalami
gatal-gatal pada kulit. Pemberian vitamin pada hewan ternak sangat penting mengingat kesehatan
dan kelangsungan hidup ternak bahkan pada kebanyakan mahluk hidup tidak lepas dari keberadaan
vitamin di dalam tubuh. Beberapa fungsi vitamin pada ternak antara lain yaitu untuk
mempertahankan serta meningkatkan kekuatan tubuh serta berperan untuk meningkatkan kesehatan
ternak terutama saat berproduksi. Vitamin yang diberikan pada pelayanan kesehatan ini yaitu
vitamin neurotropin. Selain pemberian vitamin, hewan juga diberikan obat cacing piperazine.
Piperazine merupakan jenis obat cacing sapi yang paling banyak digunakan oleh para peternak.
Penggunaannya adalah dengan cara dilarutkan pada air minum atau pada ransum yang akan
diberikan dan dosisnya disesuaikan dengan berat badan sapi. Tujuan dari pemberian obat cacing ini
adalah untuk membasmi cacing yang ada dalam saluran cerna. Pemberian spraying butox
dilakukan untuk membasmi ektoparasit seperti kutu atau lalat yang menghinggapi tubuh sapi.
Butox merupakan insektisida dengan kandungan zat aktifnya adalah Deltametrin. Konsentrasi yang
digunakan adalah 1 permil, diperoleh dengan mengencerkan 1 ml butox ke dalam 1 liter air
kemudian disemprotkan ke seluruh tubuh sapi. Seperti yang kita ketahui bahwa gigitan kutu yang
ada pada tubuh sapi dapat menyebabkan terjadinya gatal-gatal dan luka. Lalat yang
menghinggapi tubuh sapi akan memperparah luka yg disebabkan oleh kutu ini dan dapat
menyebabkan terjadinya miasis atau adanya belatung pada daerah luka. Miasi adalah infestasi larva
lalat ke dalam jaringan hidup hewanbmaupun manusia. Beberapa jenis lalat telah diidentifikasi
sebagai penyebab penyakit ini, namun yang bersifat obligat parasite adalah Chrysomya bezziana.
Awal infestasi larva terjadi pada derah kulit yang luka, selanjutnya larva bergerak lebih dalam
menuju jaringan otot sehingga menyebabkan daerah luka semakin lebar. Kondisi ini
menyebabkan tubuh ternak menjadi lemah, nafsu makan menurun, demam serta diikuti penuruan
bobot badan dan bahkan terjadi anemia (Wardhana dan Muharsini, 2005). Keberhasilan kegiatan
pengabdian ini dievaluasi melalui respon warga yang sangat baik. Para peternak sangat
antusias mengikuti kegiatan pengabdian ini dan mereka berharap kegiatan pengabdian ini dapat
dilakukan kembali di desa Susut dengan rutin. Hal hal yang mendorong kegiatan ini adalah adanya
respon dan antusias warga yang tinggi dalam mengikuti kegiatan ini karena mereka belum
memahami bagaimana cara memelihara kesehatan ternak mereka dengan baik sehingga mereka
sangat berharap kegiatan ini dapat dilakukan dengan rutin di daerah mereka.
Beberapa kendala yang kami hadapi selama pelaksanaan kegiatan pengabdian ini adalah
kurangnya pemahaman warga tentang cara memelihara kesehatan hewan dan ada beberapa
peternak yang tidak bisa hadir karena ada kegiatan upacara adat di desa ini namun
memberikan kepercayaan kepada ketua kelompok ternak, sehingga sebagian obat kami berikan ke
dokter hewan yang berada di UPT agar tidak terjadi penyalahgunaan obat yang dilakukan oleh
peternak. Dan pada saat diskusi kami juga menyarankan kepada peternak agar menghubungi dokter
hewan terdekat atau dokter hewan yang bertanggung jawab terhadap simantri ini bila
ada ternak yang sakit dan tidak mencoba menjadi dokter sendiri untuk ternaknya terutama
dalam pemberian obat injeksi. Selain itu juga kami jelaskan kepada petani untuk memberikan
pakan yang lebih banyak dan kualitas pakan ditingkatkan. Penambahan dedak/konsentrat pada
pakan, serta memberikan/menyediakan air secara ad libitum. Tapi sejauh ini kegiatan pengabdian
yang kami lakukan berjalan lancar dan sesuai rencana.
Pelayanan Kesehatan Hewan Pada Sapi Bali Di Desa Susut, Kecamatan Susut, Kabupaten Bangli
Jumlah hewan sapi yang dilayani pada pelaksanaan ini sebanyak 24 ekor sapi. Pelayanan kesehatan hewan
ternak berupa pemberian vitamin (24 ekor), obat cacing (20 ekor), spraying butox (24 ekor) serta pemberian
injeksi ivomec (2 ekor) bagi hewan yang mengalami gatal-gatal pada kulit.