ternak sapi 4
Perkembangan dunia peternakan dewasa ini sudah sangat pesat seiring
dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Usaha peternakan sebagai
salah satu bidang pertanian mampu menopang kegiatan perekonomian
masyarakat. Setiap tahunnya kebutuhan masyarakat akan produk-produk hasil
peternakan selalu meningkat, hal ini dikarenakan semakin meningkatnya
kesadaran masyarakat akan pentingnya nilai gizi bagi kesehatan khususnya
protein hewani. Usaha peternakan sapi potong merupakan salah satu usaha yang
sangat potensial dalam menghasilkan daging sebagai sumber protein yang relatif
lebih tinggi. Kebutuhan daging sapi saat ini di pasok dari peternakan rakyat yang
menjadi tumpuan utama, sehinga dibutuhkan usaha-usaha untuk meningkatkan
populasi dan produktivitas sapi potong ,
Salah satu daerah di Sulawesi Selatan yang menjadi pusat pengembangan
peternakan sapi potong adalah di Kelurahan Bangkala Kecamatan Maiwa,
beternak sapi potong daerah ini merupakan kegiatan yang sudah tidak asing lagi
bagi masyarakat. usaha ternak sapi potong sudah dilakukan sejak lama secara
turun-temurun, namun masih sebagaian masyarakat menganggap usaha sapi
potong sebagai sampingan yang dikelolah secara tradisional. Potensi
pengembangan ternak sapi di daerah ini masih cukup besar, topografi yang
mendukung, juga lahan kosong masih tersedia cukup luas.
Peningkatan produktivitas dan pengembangan peternakan, saat ini di
Kelurahan Bangkala Kecamatan Maiwa telah mulai mendapat perhatian yang
sangat besar oleh berbagai pihak. Dari pemerintah kabupaten telah menetapkan
berbagai kebijakan-kebijakan contohnya menjadikan Kelurahan Bangkala
Kecamatann Maiwa sebagai pusat pengembangan sapi potong. Kemudian dari
pihak Unhas khususnya Fakultas Peternakan juga menaruh perhatian di daerah
itu dengan menjadikannya pusat pembibitan ternak sapi bali berbasis ipteks
yang juga membina kelompok tani ternak yang ada di daerah itu .
Suksesnya pembangunan peternakan di Kelurahan Bangkala tidak hanya di
tentukan oleh dukungan berbagai pihak, tersedianya fasilitas atau sarana dan
prasarana, modal dan alat bantu lainnya, tetapi juga tergantung seberapa besar
motivasi yang dimiliki oleh peternak itu . Berikut merupakan data jumlah
populasi ternak yang ada di masing-masing kelompak yang menjadi binaan
Unhas.
Pada tabel 1 dapat dilihat bahwa populasi ternak dari 3 kelompok tani ini
berbeda-beda atau fluktuatif ada yang mempunyai populasi yang tinggi ada juga
yang rendah padahal yang diharapkan adalah semua kelompok tani ini memiliki
populasi yang tinggi. Salah satu hal yang menyebabkan hal ini terjadi karena
tingkat motivasi untuk berusaha sapi potong dari peternak yang berbeda.
Motivasi merupakan salah satu aspek penentu keberhasilan usaha ternak
sebagai kegiatan ekonomi dalam meningkatkan pendapatan dan pemenuhan
kebutuhan keluarga. Tinggi atau rendahnya motivasi seseorang akan berdampak
pada kecil atau besarnya skala usaha yang dilakukannya. Peternak yang memiliki
motivasi tinggi akan berusaha keras untuk mengembangkan usahanya melalui
perubahan tingkah laku, misalnya berupaya mengadopsi ilmu dan teknologi guna
meningkatkan produktivitas usahanya. Peternak yang memiliki motivasi rendah
akan lamban dalam mengubah tingkah laku sehingga lamban pula dalam
mengadopsi ilmu seperti ketidakseriusan dan kurang terarahnya kegiatan yang
berpengaruh terhadap produktivitas usaha, kurang tanggap serta kurang
menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, kreativitas yang rendah, sehingga
pada akhirnya usaha yang dilakukan secara ekonomis tidak menguntungkan ,
bahwa ada tiga
variabel penting yang dapat mempengaruhi motivasi seseorang yaitu karakteristik
individu, karakteristik pekerjaan dan karakteristik situasi kerja. Salah satu yang
memotivasi peternak adalah karakteristik individu. Karakteristik individu yang di
maksud ini adalah seperti umur, tingkat pendidikan, pengalaman beternak, jumlah
tanggungan keluarga, jumlah kepemilikan ternak. Peternak yang usianya muda
biasanya lebih cenderung memiliki motivasi yang tinggi, dan juga seperti halnya
jumlah tanggungan keluarga, semakin banyak jumlah tangungan keluaraga
seseorang dapat menambah motivasi seseorang untuk berusah ternak sapi potong
guna memenuhi kebutuhannya, Bertolak dari latar belakang itu maka
dilakukanlah penelitian dengan judul ”Pengaruh Karakteristik Peternak Terhadap
Motivasi Beternak Sapi Potong Di Kelurahan Bangkala Kecamatan Maiwa
Kabupaten Enrekang”.
Rumusan Masalah
berdasar latar belakang yang telah dikemukakan, maka dapat dirumuskan
masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana tingkat motivasi beternak sapi potong yang ada di Kelurahan
Bangkala, Kecamatan Maiwa?
2. Apakah karakteristik peternak (umur, tingkat pendidikan, Pengalaman
Beternak, jumlah tanggungan keluarga dan jumlah kepemilikan ternak)
berpengaruh secara simultan terhadap motivasi beternak sapi potong di
Kelurahan Bangkala Kecamatan Maiwa?
3. Apakah karakteristik peternak (umur, tingkat pendidikan, Pengalaman
Beternak, jumlah tanggungan keluarga dan jumlah kepemilikan ternak)
berpengaruh secara parsial terhadap motivasi beternak sapi potong di
Kelurahan Bangkala Kecamatan Maiwa?
Tujuan dari penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui tingkat motivasi beternak sapi potong yang ada di
Kelurahan Bangkala, Kecamatan Maiwa.
2. Untuk mengetahui pengaruh karakteristik peternak (umur, tingkat pendidikan,
Pengalaman Beternak, jumlah tanggungan keluarga dan jumlah kepemilikan
ternak) secara simultan terhadap motivasi beternak sapi potong di Kelurahan
Bangkala, Kecamatan Maiwa.
3. Untuk mengetahui pengaruh karakteristik peternak (umur, tingkat pendidikan,
Pengalaman Beternak, jumlah tanggungan keluarga dan jumlah kepemilikan
ternak) secara parsial terhadap motivasi peternak dalam berusaha sapi potong
di Kelurahan Bangkala Kecamatan Maiwa.
Kegunaan Penelitian
Kegunaan penelitian ini adalah:
1. Sebagai sumber informasi atau sumbangan pikiran bagi mahasiswa yang
melakukan penelitian yang sejenis atau bagi pihak yang membutuhkan.
2. Sebagai bahan pertimbangan bagi pemerintah dalam mengambil kebijakan
untuk menyusun program peternakan di masa mendatang dan dengan
diketahuinya pengaruh karakteristik peternak terhadap kecepatan adopsi
inovasi, maka pemerintah, penyuluh dan masyarakat dapat mendesain
penyuluhan yang baik.
Transformasi sektor pertanian ke sektor industri bagi negara sedang
berkembang seperti Indonesia ini, tidaklah dapat dihindarkan. Karena Indonesia
beranjak dari negara agraris menuju negara industri yang maju, maka peranan
sektor pertanian masih tetap mewarnai kemajuan sektor industri, karena itulah
diperlukan suatu kondisi struktur ekonomi yang seimbang antara bidang industri
yang kuat dengan dukungan pertanian yang tangguh (Soekartawi, 2003).
Peternakan sapi potong merupakan suatu industri di bidang agribisnis dengan
rantai kegiatannya tidak hanya terbatas pada kegiatan on farm , tetapi juga meluas
hingga kegiatan di hulu dan hilir sebagai unit bisnis pendukungnya. Di hulu,
produksi bibit, pakan, sapronak merupakan kegiatan besar yang sangat
mendukung tercapainya produktivitas sapi potong yang hebat, sementara di hilir,
penanganan pascapanen memegang peranan yang sangat kuat untuk
meningkatkan kualitas dan nilai tambah (value added) bagi daging sapi. Kegiatan-
kegiatan itu perlu dilakukan secara integritas agar terbentuk sistem industri
peternakan sapi potong yang kuat , ada beberapa pertimbangan perlunya
mengembangkan usaha ternak sapi potong, yaitu sebagai berikut:
1. Relatif tidak tergantung pada ketersediaan lahan dan tenaga kerja yang
berkualitas tinggi.
2. Memiliki kelenturan bisnis serta teknologi yang luas dan luwes.
3. Produk sapi potong memiliki nilai elastisitas terhadap perubahan pendapatan
yang tinggi.
Ditambahkan pula oleh Rianto dan Purbowati (2009), bahwa ternak sapi
memiliki manfaat lebih luas didalam masyarakat, sehingga keberadaannya dalam
peningkatan perkembangannya pun lebih mantap. Sebaliknya, apabila ternak sapi
itu tidak memberikan manfaat yang luas, perkembangannya pun akan mundur.
Hal ini terbukti di Indonesia dimana ternak sapi berkembang lebih pesat
dibandingkan ternak lainnya seperti kambing, domba, babi, kuda dan lain
sebagainya. Sebab ternak sapi di kalangan masyarakat indonesia mempunyai
manfaat yang sangat luas, antara lain:
1. Daging dan kulitnya memiliki kualitas yang lebih tinggi dari pada daging kulit
ternak lain seperti kambing, domba dan kerbau.
2. Tenaganya sangat berguna bagi petani untuk mengelola sawah ataupun
angkutan.
3. Dalam budaya masyarakat tertentu, sapi disamping di manfaatkan dagingnya,
kulit dan tenaganya juga diperguanakan untuk sesaji, ukuran kekayaan,
karapan dan lain sebagainya.
4. Sebagai tabungan dimusim panen para petani membeli sapi yang kurus untuk
digemukkan, kemudian pada saat paceklik sapi-sapi itu dijual lagi.
Sapi merupakan hewan ternak yang dapat menopang kebutuhan konsumsi
daging. Hal ini karena sapi dapat diternakkan secara sederhana dan mudah,
disukai berbagai masyarakat, dan tubuhnya cukup besar bila dibanding dengan
ternak lain. Sementara ini masih banyak kebutuhan daging dalam negeri yang
dipasok dari sapi yang tidak secara khusus di siapkan untuk dipotong. Artinya,
sapi itu dipelihara secara asal-asalan atau sebelumnya sapi itu
digunakan untuk bekerja keras dan berumur tua. Daging yang dihasilkan tentu
tidak sebaik sapi yang di ternakkan untuk dipersiapkan sebagai sapi potong. Bila
usaha ternak sapi potong di kelola secara professional dengan sasaran
menghasilkan daging yang optimal, di harapkan dapat menghasilkan daging yang
banyak dan berkualitas baik. Dengan demikian, daging berkualitas itu
memiliki harga yang cukuo tinggi di pasaran. Bahkan, bila memungkinkan daging
itu dapat menjadi komoditas ekspor ,
Teori – Teori Motivasi
Motivasi berasal dari kata moveree yang berarti dorongan atas daya
penggerak ,Motivasi mempersoalkan bagaimana caranya
mendorong gairah kerja seseorang, agar mau bekerja keras dengan memberikan
semua keterampilan dan kemampuannya untuk mewujudkan suatu tujuan tertentu.
Motivasi menjadi penting karena karena dengan motivasi ini di harapkan
seseorang mau bekerja keras dan antusias untuk mencaoai produktivitas yang
tinggi. bahwa motivasi
merupakan proses sosiopsikologis yang mencerminkan interaksi anatara sikap,
kebutuhan, persepsi, dan keputusan yang terjadi dalam diri seseorang. Motivasi
sebagai proses sosiopsikologis timbul di akibatkan oleh faktor dari dalam
seseorang itu sendiri yang disebut instrinsik atau faktor diluar diri yang disebut
ektrinsik.
motivasi seseorang tergantung dari kekuatan orang
itu sendiri. Dorongan ini yang menyebabkan sesorang itu mencapai tujuan-tujuan,
baik sadar atau tidak sadar. Dorongan ini pula yang menyebabkan seseorang
berprilaku, yamg dapat mengendalikan dan memelihara kegiatan kegiatan, dan
yang menetapkan arah umum yang harus ditempuh oleh seseorang itu .
Seseorang yang sangat termotivasi, yaitu orang yang melakukan usaha
substansial, guna mendukung tujuan-tujuan produksikesatuan kerjanya. Dan
tempat ia bekerja. Seseorang yang tidak termotivasi, hanya memberikan upaya
minimum dalam hal bekerja. Konsep motivasi merupakan suatu konsep penting
dalam studi tentang kinerja individual ,bahwa ada kebutuhan kebutuhan yang bersifat
hierarkis yang meemotivasi individu dalam berupaya memenuhi atau
memuuaskan kebutuhan itu . Seseorang akan termotivasi selama kebutuhan-
kebutuhan itu belum terpenuhi. 5 kelompok kebutuhan yang disusun dalam
tangga hierarkis dari kebutuhan fisologis sampai kebutuhan pemenuhan diri
(gambar 2). Kebutuhan-kebutuhan itu adalah: fisiologis, rasa aman, social
atau affiliasi, prestasi, rasa di hargai dan aktualisasi diri.
Teori Herzberg
Teory Herzberg dikenal dengan “model dua faktor” dari motivasi, yaitu faktor
motivasional dan faktor higienee atau “pemeliharaan”, faktor motivasional
merupakan hal-hal pendorong berprestasi yang sifatnya instrinsik, yang berarti
bersumber dari dalam diri seseorang. Faktor higienee atau pemeliharaan adalah
faktor yang sifatnya ekstrinsik yang berarti bersumber dari luar diri seseorang,
misalnya dari organisasi, tetapi turut menentukan perilaku seseorang dalam
kehidupan kekaryaannya. ,
Menurut Hazberg, yang tergolong dalam faktor motivasional antara lain ialah
pekerjaan seseorang, keberhasian yang diraih, kesempatan bertumbuh, kemajuan
dalm berkarier, dan pengakuan dari orang lain. Sedangkan faktor-faktor hygiene
Kebutuhan Fisiologi
Kebutuhan Akan Rasa Aman
Kebutuhan Sosial
Kebutuhan Akan Harga Diri
Kebutuhan Akan
Aktualisasi Diri
atau pemeliharaan mencakup antara lain status seseorang dalam organisasi,
hubungan seseorang dengan karayawan dan atasannya, hubungan seseorang
dengan rekan-rekan sekerjanya, teknik penyeliaan yang dilakukan oleh para
penyelia, kebijakan organisasi, sistem administrasi dalam organisasi, kondisi kerja
dan sistem imbalan yang berlaku. Selanjutnya dijelaskan bahwa salah satu
tantangan dalam memahami dan menerapkan teori Harzberg ialah
memperhitungkan dengan tepat faktor mana yang lebih berpengaruh kuat dalam
kehidupan kekaryaan seseorang, apakah yang bersifat intrinsik ataukah yang
bersifat ekstrinsik ,
Teori Harapan
motivasi seseirang ke arah tindakan pada suatu waktu tertentu di tentukan oleh
antisipasinya terhadap nilai dari hasil tindakan itu (baik itu negatif maupun positf)
yang di gandakan oleh harapan orang yang bersangkutan bahwa hasil itu
akan mewujudkan tujuan yang diinginkan ,
Daya adalah kekuatan motivasi seseorang, valensi adalah kekuatan preferensi
seseorang akan suatu hasil, dan dan ekspenntansi adalah tingkat kemungkinan
bahwa tindakan tertentu akan mengarah pada hasil yang diinginkan. Valensi nihil
terjadi apabila seseorang tidak peduli akan pencapaian tujuan tertentu, dan
ada suatu valenci negatif apabila orang yang bersangkutan lebih suka tidak
mencapai tujuan itu (tidak ada motivasi). Demikian juag halnya, seseorang
akann tidak memiliki mitivasi untuk mencapai tujuan apabila ekspektansinya
adalah nihil atau negatif.
Vroom menyebutkan, produktivitas atau hasil yang akan dicapai merupakan
alat pemuasaan bagi seseorangg. Produktivitas adalah alat untuk mencapai tujuan
yang diinginkan. Keinginan seseorang untuk menghasikkan (berproduksi) sangat
tergantung pada tujuan khusus yang ingin mencapainya dan persepsinya atas
tindakan-tindakan untuk mencapai tujuan itu .
Teori ERG
Teori motivasi ERG dimunculkan oleh Clayton Alderfer. Kepanjangan dari
teori ERG adalah Exictence, Relatedness, dan Growth need. Menurut Alderfer,
sama halnya dengan teori Maslow, kebutuhan manusia tersusun dalam suatu
hirarki berjenjang. Perbedaannya adalah jenjang itu tidak bersifat kaku
sehingga unsur keterkaitan akan selalu dominan dalam menggerakkan individu
untuk selalu memenuhi kebutuhannya, baik yang sudah terpenuhi maupun yang
terlambat pemenuhannya. Kebutuhan-kebutuhan menurut Clayton Aldelfer adalah
kebutuhan akan keberadaan (exictence), kebutuhan berhubungan (relatedness),
dan kebutuhan untuk berkembang (growth need) ,Tiga kebutuhan itu dikenal dengan teori ERG.
Jenjang kebutuhan menurut Alferder adalah sebagai berikut:
1. Eksistensi, merupakan bentuk kebutuhan manusia yang terpuaskan oleh
ketersediaan kebutuhann dasar, seperti makanan, air, upah, dan kondisi kerja.
2. Hubungan, merupakan bentuk kebuutuhan manusia yang terpuaskan oleh
hubungan antara individu dan lingkungan sosial yang bermanfaat.
3. Pertumbuhan, adalaah bentuk kebutuhan manusia yang terpuaskan dengan
cara melakukan peran atau kontribusi yang kreatif dan produktif.
Teori McClelland
David c. McClelland memberikan kontribusi bagi pemahaman motivasi
dengan mengidentifikasikan tiga jenis kebutuhan dasar, yaitu kebutuhan untuk
berkuasa, kebutuhan untuk berafiliasi, dan kebutuhan untuk berprestasi . Ketiga kebutuhan dasar itu dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Kebutuhan akan kekuasaan. Orang-orang yang memiliki kebutuhan yang
tinggi untuk berkuasa menaruh perhatian besar untuk dapat mempengaruhi
dan mengendalikan. Orang-orang seperti ini umumnya berusaha mencari
posisi pimpinan; mereka penuh daya, keras kepala, dan sangat menuntut;
serta senang mengajar dan berbicara didepan umum.
2. Kebutuhan berafiliasi. Orang-orang yang memiliki kebutuhan yang tinggi
untuk berafiliasi biasanya memperoleh kesenanagan dari kasih saying dan
cenderung menghindari kekecewaan karena ditolak oleh suatu kelompok
sosial.
3. Kebutuhan berprestasi. Orang-orang dengan kebutuhan tinggi untuk
berprestasi memiliki keinginan besar untuk berhasil dan juga memiliki rasa
khawatir akan kegagalan. Mereka ingin ditantang, menetapkan tujuan yang
cukup sulit, tetapi masih masih mungkin dicapai bagi diri mereka sendiri,
melakukan pendekatan yang realistis terhadap resiko (menganalisis dan
menilai masalah), mempunyai umpan balik yang spesifik dan segera atas
prestasi mereka, cenderung gelisah, suka bekerja hingga larut malam, sama
sekali tidak khawatir gagal, dan cenderung melakukan semuanya seorang diri.
Berbagai kebutuhan, keinginan, dan harapan yang ada dalam diri
seseorang yang dapat membentuk motivasi intrinsik. Sedangkan pembentuk
motivasi ekstrinsik dapat beruoa intensif, perolehan keuntungan dari suatu
program/kegiatan, pembagian hasil, tersedianya barang dan jasa yang ingin di
beli, dan penghargaan masyarakat terhadap prestasi dapat mendorong bagi
petani/peternak untuk meningkatkan produksi dan produktivitasnya
Motivasi Beternak Sapi potong
ada sejumlah kebutuhan yang mendorong peternak untuk beternak sapi
potong. Kebutuhan-kebutuhan itu menurut Clayton Aldelfer adalah (1)
Kebutuhan akan keberadaan (exictence), (2). kebutuhan berhubungan
(relatedness), dan (3) kebutuhan untuk berkembang (growth need) Tiga kebutuhan itu dikenal dengan teori ERG.
1. Kebutuhan akan keberadaan (exictence), yaitu kebuthan peternak untuk
memperoleh pendapatan dari beternak sapi potong.
2. Kebutuhan berhubungan (relatedness), yaitu kebutuhan peternak untuk di
terima dalam pergaulan lingkungan masyarakat tempat tinggal.
3. Kebutuhan untuk berkembang (growth need), yaitu kebutuhan peternak untuk
meningkatkan skala usaha ternak, memperoleh penghargaan dan pengakuan
dari masyarakat terhadap keberhasilannya.
Masing-masing kebutuhan itu tidak sama kekuatan tuntutan-tuntutan
pemenuhannya. Tumbuhnya kekuatan itu satu sama lain juga berbeda-beda
waktunya. Seluruh kebutuhan tidak tumbuh dalam waktu yang bersamaan.
Walaupun kadang-kadang beberapa kebutuhan dapat muncul sekaligus, sehingga
seseorang peternak harus menentukan pilihannya yang mana harus di penuhinya
terlebih dahulu.
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Motivasi Beternak Sapi Potong
Porter dan Miles berpendapat ada tiga variable penting yang dapat
mempengaruhi motivasi seseorang, yaitu (1) karakteristik individu (individual),
(2) karakteristik pekerjaan (job characteristics), (3) karakteristik situasi kerja
(work situasion characteristics)
berdasar teori yang di kemukakan oleh porter dan miles karakteristik individu
adalah yang paling cocok untuk di teliti. Sedangkan karakteristik pekerjaan dan
karakteristik situasi kerja dapat dikatakan homogen atau data yang di dapatkan
relatif sama yaitu peternak.
Salah satu faktor yang memotivasi peternak adalah karakteristik individu.
Sebagai seorang individu, setiap peternak memliki hal-hal khusus mengenai sikap,
tabiat, dan kebiasaan-kebiasaan yang dibentuk oleh lingkungan dan pengalaman
yang khusus pula. Hal ini akan menyebabka peternak itu memiliki motivasi
kerja yang berbeda beda anatara satu dengan yang lainnya. Mereka membawa
harapan, kepercayaan, keinginan dan kebutuhan personalnya kedalam lingkungan
kerja mereka sehingga memungkinkan mereka untuk berupaya memenuhinya
melalui berusaha ternak sapi potong.
Karakteristik individu adalah sifat atau ciri-ciri yang dimiliki seseorang.
Karakteristik terbentuk oleh faktor-faktor biologis dan faktor sosiopsikologis
(Suprayitno, 2004). Faktor biologis mencakup genetik, sistem syaraf dan sitem
hormonal. Sedangkan faktor sosiopsikologis terdiri dari komponen-komponen
koognitif (intelektual), konatif yang berhubungan dengan kebiasaan dan afektif
(faktor emosional).
Beberapa penelitian sebelumnya telah menyimmpulkan bahwa ada
keterkaitan antara karakteristik individu dengan motivasi.
mengatakan bahwa ada sejumlah varibel penting dan menarik yang digunakan
orang untuk menerangkan perbedaan-perbedaan motivasi, anatara lain: umur,
pendidikan dan latar belakang keluarga. yang meneliti tingkat
tingkat motivasi kerja anggota Prokersa UPPKS di kota madya bogor,
memberikan hasil bahwa karakteristik individu mempengaruhi motivasi kerja
seseorang. Prihatini menyimpulkan bahwa umur, pendidikan, jumlah tanggungan
keluarga mempunyai kolerasi yang positif dan siignifikan terhadap motivasi kerja.
meneliti tentang motivasi peternak dalam berusaha ternak
domba di Desa Siganten Cianjur, Jawa Barat. Dalam kesimpulannya, Dwijayanti
menyebutkan menyebutkan bahwa variabel umur, pendidikan, jenis kelamin, dan
pekerjaan pokok peternak berhubungan dengan motivasi.
Karakteristik individu yang akan dilihat dalam penelitian ini adalah (1) umur,
(2) tingkat pendidikan, (3) Pengalaman Beternak, (4) jumlah tanggungan keluarga
dan (5) jumlah kepemilikan ternak.
1. Umur
Umur merupakan salah satu karakteristik individu yang ikut memepngaruhi
fungsi biologis dan fisiologis seseorang. Umur akan mempengaruhi seseorang
dalam belajar, memahami dan menerima pembaharuan umur juga berpengaruuh
terhadap peningkatan produkstivitas kerja yang dilakukan seseorang. Menurut
pada umumnya responden yang berusia produktif memiliki
semangat yang tinggi, termasuk semangat untuk mengembangkan usaha taninya. tingkat produktivitas seseorang yaitu antara 15 -55
tahun sedangkan umur yang tidak produktif berada di bawah 15 dan diatas 55
tahun. Pada usia sanagt produktif di harapkan mampu mencapai produktivitas
untuk mengembangkan potensi yang dimiliki oleh setiap peternak dalam
melakukan usaha khususnya beternak sapi.
2. Tingkat pendidikan
Orang yang berpendidikan tinggi identik dengan orang yang berilmu
pengetahuan, dan orang yang berilmu memiliki pola pikir dan wawasan yang
tinggi dan luas. Ilmu pengetahuan, keterampilan daya fikir serta produktivitas
seseorang dipengaruhi oleh tingkat pendidikan yang dilalui, karena tingkat
pendidikan yang rendah merupakan faktor penghambat kemajuan seseorang,
semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang tentunya akan semakin tinggi pula
daya serap teknologi dan semakin cepat seseoraang untuk menerima inovasi yang
datang dari luar. bahwa hubungan
pendidikan dengan produktivitas kerja akan tercermin dari tingkat pendidikan dan
penghasilan yang tinggi, menyebabkan produktivitas kerja yang lebih baik pula
dan penghasilan yang diperoleh juga tinggi. Secara umum tingkat pendidikan
tinggi, produktivitasnya juga akan tinggi karena rasional dalam berfikir dibanding
dengan yang tingkat pendidikan rendah sulit untuk mengadopsi inovasi baru dan
relatif bimbang dalam mangambil keputusan.
3. Pengalaman Beternak
Pengalaman beternak merupakan suatu hal yang sangat mendasari
seseorang dalam mengembangkan usahanya dan sangat berpengaruh terhadap
keberhasilan usaha. Peternak yang telah Pengalaman Beternak akan lebih terampil
dan cenderung menghasilkan suatu hasil yang lebih baik daripada peternak yang
belum berpengalaman. Peternak yang lebih berpengalaman akan lebih cepat
menyerap inovasi teknologi dibandingkan dengan peternak yang belum atau
kurang berpengalaman,
4. Jumlah tanggungan keluarga
Jumlah anggota keluarga akan mempengaruhi petani dalam mengambil
keputusan. Karena semakin banyak jumlah tanggungan keluarga maka semakin
banyak pula beban hidup yang harus dipikul oleh seorang petani. Jumlah
tanggungan keluarga adalah salah satu faktor ekonomi yang perlu diperhatikan
dalam menentukan pendapatan dalam memenuhi kebutuhannya ,
5. Jumlah kepemilikan ternak
Peternak yang memiliki ternak lebih banyak akan memiliki motivasi yang
lebih di bandingkan dengan peternak yang memiliki ternak lebih sedikit. Hal ini di
karenakan peternak yang memiliki ternak lebih sedikit masih sulit untuk
menerima suatu inovasi.
bahawa semakin luas usaha tani biasanya semakin cepat mengadopsi, karena
memiliki kemampuan ekonomi yang lebih baik.
Kerangka fikir
Motivasi merupakan kunci pendorong moral, kedisiplinan dan prestasi kerja
dalam berusaha sapi potong. Tingkat motivasi diantara peternak berbeda-beda.
Peternak yang memiliki motivasi tinggi cenderung mengutamakan pekerjaannya
dan melaksanakannya dengan sungguh-sungguh dan bertanggung jawab. Untuk
menerangkan motivasi berusaha ternak sapi potong akan di gunnakan teori ERG.
Kebutuhan-kebutuhan itu adalah : (1) kebutuhan akan keberadaan (2)
kebutuhan berhubungan (3) kebutuhan untuk berkembang. Seorang peternak akan
termotivasi memenuhi kebutuhan mana saja yang bersifat propeten atau yang
paling kuat pada saat tertentu. Potensi suatu kebutuhan tergantung pada situasi
individual yang berlaku serta pengalaman-pengalaman yang baru saja dialami.
Kebutuhan kebutuhan itu dapat dianggap sebagai alat untuk mengenergi,
atau pemicu-pemicu yang menyebabkan timbulnya reaksi-reaksi perilaku.
Faktor yang mempengaruhi motivasi berusaha ternak sapi potong (variabel
independen) dalam penelitian ini adalah karakteritk individual yang terdiri dari :
umur, tingkat pendidikan, Pengalaman Beternak, jumlah tanggungan keluarga,
jumlah kepemilikan ternak. Adapun variabel dependen (bebas) adalah motivasi
berusaha ternak sapi potong. Keterkaitan antara variabel independen dan variabel
dependen di sajikan dalam kerangka pemikiran berikut :
peternak yang dimiliki peternak di Kelurahan Bangkala kec. Maiwa Kab.
Enrekang. Data kuantitatif ini nantinya di kualitatifkan dengan pengukuran
skala likert menjadi sebuah data yang dapat di ukur.
Sumber data yang akan digunakan pada penelitian ini adalah:
1. Data primer yaitu data yang diperoleh langsung dari responden, dimana
responden disini adalah peternak sapi potong di di Kelurahan Bangkala Kec.
Maiwa.
2. Data sekunder yaitu data yang diperoleh dari instansi-instansi terkait, Biro
Pusat Satatistik, pemerintah setempat, dan lain-lain yang telah tersedia yang
berupa keadaan umum lokasi yang meliputi gambaran lokasi, sejarah singkat
dan lain-lain
Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh anggota kelompok tani/ternak
binaan Unhas di di Kelurahan Bangkala kec. Maiwa Kab. Enrekang, yang terdiri
atas 3 kelompok dengan masing-masing anggota setiap kelompok berjumlah 25
orang, jadi jumlah populasi sebanyak 75 orang.
Untuk menentukan besarnya sampel yang digunakan pada penelitian ini,
digunakan rumus Slovin (Umar, 2001) sebagai berikut:
Dimana:
n = jumlah sampel
N = jumlah populasi
e2= presisi (tingkat kelonggaran yang ditetapkan sebesar (15 %)
Jadi dari jumlah populasi yang ada dimasukkan dalam rumus slovin adalah
sebagai berikut: ( teknik pengambilan sampe yang lain)
Proporsional random sampling.
N =
N =
N =
N =
N = 27,98 = 28
Untuk pengambilan sampel digunakan sampling acak sederhana (simple
random sampling) karena populasinya homogen. Sampling acak sederhana bisa
dilakukan dengan cara undian, tabel bilangan random atau menggunakan
kalkulator (Sarmanu, 2009).
Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1. Observasi, yaitu melakukan pengamatan langsung terhadap lokasi penelitian.
2. Wawancara, yaitu melakukan interaksi dan komunikasi dengan melakukan
tanya jawab langsung kepada responden.
3. Kuisioner, peneliti mengumpulkan data yang dibutuhkan dengan
menggunakan daftar pertanyaan yang telah disediakan kemudian akan
dijawab oleh peternak.
Analisa data yang digunakan untuk mengetahui sejauh mana pengaruh
karakteristik peternak terhadap motivasi berusaha ternak sapi potong digunakan
uji F dan uji T pada Analisis Regresi Linear Berganda, yang diolah dengan
bantuan program SPSS. Secara sederhana rumus matematis regresi linier berganda
adalah sebagai berikut:
Y= α + β1 X1 + β2 X2 + β3 X3 + β4 X4 + β5 X5 + E
Keterangan:
Y = Tingkat motivasi berusaha sapi potong
α = Konstanta
β1, β2,........, β5 = Koefisien Regresi Variabel X1, X2, X3, X4, X5
X1 = Umur Responden (tahun)
X2 = Tingkat Pendidikan Responden (Tahun)
X3 = Pengalaman Beternak (Tahun)
X4 = Jumlah Tanggungan Keluarga (orang)
X5 = Jumlah Kepemilikan Ternak (Ekor)
E = Standart Kesalahan (Error)
Adapun variabel penelitian pengaruh karakteristik peternak terhadap motivasi
beternak sapi potong di Kelurahan Bangkala Kecamatan Maiwa dapat dilihat pada
tabel 2.
Untuk mengukur tingkat motivasi peternak yang ada di Kelurahan
Bangkala Kecamatan Maiwa digunakan pengukuran skala likert. Menurut
Riduwan (2008) dalam Anwar (2012) skala likert digunakan untuk mengukur
sikap, pendapatan dan persepsi seseorang atau sekelompok kejadian atau
kejala sosial. Dengan menggunakan skala likert, maka variable yang akan
diukur dijabarkan menjadi indikatir-indikator yang dapat dikur. Indikator
yang terukur ini dapat dijadikan titik tolak untuk membuat item instrument
yang berupa pernyataan atau pertanyaan yang perlu dijawab oleh responden.
Jawaban berupa pemberian skor/pembobotan sebagai berikut:
a. sangat setuju = 4
b. setuju = 3
c. kurang setuju = 2
d. tidak setuju = 1
Untuk mengetahui tingkat motivasi peternak berdasar teori ERG dengan
asumsi dasar dan interval kelas adalah sebagai berikut:
Nilai tertinggi = skor tertinggi x jumlah pertanyaan
(4) (15)
= 60
Nilai terendah = skor terendah x jumlah pertanyaan
(1) (15)
= 15
Interval kelas = angka tertinggi – angka terendah
Jumlah kelas
= 60 – 15
4
= 11,25
Dari nilai itu dapat dibuat kategori sebagai berikut:
Sangat Setuju = 60 – 51
Setuju = 50 – 39
Kurang Setuju = 38 - 27
Tidak Setuju = 26 - 15
Konsep Operasional
Adapun konsep operasional pada penelitian ini adalah:
1. Berusaha ternak sapi potong adalah kegiatan yang dilakukan seseorang
berupa pengembangbiakan ternak, pemeliharaan ternak sapi dari awal,
ataupun pemeliharaan sapi bakalan hingga menjadi sapi yang layak dijual
untuk memperoleh pendapatan.
2. Karakteristik peternak adalah suatu karakteristik yang melekat dalam diri
seorang peternak (umur, tingkat pendidikan, jumlah tanggungan keluarga,
Pengalaman Beternak, jumlah kepemilikan ternak).
3. Umur peternak adalah satuan waktu yang mengukur waktu keberadaan
peternak yang diukur sejak dia lahir hingga waktu umur itu dihitung, diukur
dalam satuan tahun.
4. Tingkat pendidikan formal peternak adalah tingkat pendidikan yang telah
dilalui oleh peternak, misalnya SD, SMP/sederajat, SMA/sederajat, dan
sarjana, yang diukur dengan tahun.
5. Pengalaman Beternak adalah lamanya responden melakukan kegiatan
beternak yang diukur berdasar skala oridinal dengan satuan tahun.
6. Jumlah tanggungan keluarga adalah jumlah anggota keluarga yang menjadi
tangungan responden, yang di ukur dalam jumlah orang.
7. Jumlah kepemilikan ternak adalah jumlah ternak (sapi potong) yang dimiliki
responden yang di ukur dalam jumlah ekor.
8. Motivasi peternak adalah sejumlah kekuatan yang ada pada diri peternak
untuk beternak sapi potong. Kekuatan itu berupa keinginan untuk
memenuhi kebutuhan (1) kebutuhan akan keberadaan (existence), (2)
kebutuhan berhubungan (relatedness), dan (3) kebutuhan untuk berkembang
(growth need). Motivasi beternak sapi potong di ukur dengan memberikan
pertanyaan yang terkait dengan tiga kebutuhan di atas.
9. Kebutuhan keberadaan (existence) yaitu kebutuhan peternak untuk
memperoleh pendapatan dari berusaha ternak sapi potong.
10. Kebutuhan berhubungan (relatednees) yaitu kebutuhan peternak untuk
diterima dalam pergaulan di lingkungan masyarakat tempat tinggal.
11. Kebutuhan untuk berkembang (growth need) yaitu kebutuhan peternak untuk
meningkatkan skala usaha ternak, memperoleh penghargaan dan pengakuan
dari masyarakat terhadap keberhaslilan usaha ternaknya.
KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN
Letak dan Keadaan Geografis
Kelurahan Bangkala merupakan satu-satunya kelurahan yang ada di
wilayah Kecamatan Maiwa, Kab Enrekang. Kelurahan Bangkala memiliki batas-
batas wilayah sebagai berikut:
a. Sebelah utara berbatasan dengan Desa Botto Mallangga;
b. Sebelah selatan berbatasan dengan Desa Pattondong Salu;
c. Seblah timur berbatan dengan Desa Ongko;
d. Sebelah barat berbatasan dengan Desa Botto Mallangga.
Adapun lingkungan-lingkungan yang ada di Kelurahan Bangkala adalah
sebagai berikut;
a. Lingkungan Maroangin terletak dibagian utara Kelurahan Bangkala;
b. Lingkungan Langsagaga yang terletak dibagian barat Kelurahan Bangkala;
c. Lingkungan Lapaci yang terletak dibagian timur Kelurahan Bangkala;
d. Lingkungan Pakkodi yang terletak dibagian barat Kelurahan Bangkala;
e. Lingkungan Ongko yang terletak dibagian timur Kelurahan Bangkala;
f. Lingkungan Jembatan III yang terletak dibagian selatan Kelurahan
Bangkala;
Dari 6 lingkungan yang ada di di Kelurahan Bangkala hanya lingkungan pakkodi
dan lingkungan jembatan III yang menjadi mayoritas bermukimnya anggota
kelompok Maiwa Breeding Center (MBC).
Luas Wilayah dan Penggunaan Lahan
Luas wilayah Kelurahan Bangkala adalah 36 km2 yang pemanfaatannya
sebagian besar untuk pertanian dan perkebunan. Adapun luas lahan yang dikelola
oleh semua anggota kelompok binaan Maiwa Breeding Center (MBC) adalah
sebanyak 52,23 Ha dimana ada 3 komoditi yang banyak di kembangkan yaitu
jagung, padi dan ubi kayu, akan tetapi yang paling banyak dikelola oleh anggota
kelompok adalah jagung dimana dalam setahun anggota kelompok tani ternak
dapat melakukan 2-3 kali panen. Sedangkan untuk pemanfaatan limbah
perkebunan yang ada sejauh ini hanya limbah jagung yang di manfaatkan sebagi
pakan ternak itupun masih belum maksimal sedangkan sisanya hanya dibakar. Hal
ini menunjukkan bahwa potensi sektor-sektor pertanian dan perkebunan dan
peternakan dapat dikembangkan dalam rangka memacu pertumbuhan ekonomi
masyarakat.
Selain tanaman perkebunan, ada pula tanaman rumput gajah yang di
kelola oleh anggota kelompok yang tersebar di lahan-lahan yang dimiliki oleh
anggota kelompok. Tanaman rumput gajah yang di kelola oleh anggota kelompok
luasnya adalah 14,4 Ha. Rumput gajah ini nantinya akan dijadi pakan sapi yang
dimiliki oleh masing-masing anggota kelompok. Adapun total ternak sapi potong
yang ada adalah sebanyak 197 ekor.
Keadaan Penduduk
Keadaan penduduk merupakan suatu gambar tentang kependudukan pada
suatu wilayah baik secara kuantitatif maupun kualitatif yang dapat dijadikan
sebagai dasar pengembangan wilayah dalam konteks pembangunan agar tepat
sasaran. Keadaan penduduk digambarkn dengan banyaknya jumlah penduduk
berdasar jenis kelamin di suatu wilayah.jumah penduduk yang ada di
Kelurahan Bangkala, Kecamatan Maiwa berdasar jenis kelamin dapat di lihat
pada tabel 3:
Tabel 3. Jumlah penduduk berdasar jenis kelamin di Kelurahan
Bangkala, Kecamatan Maiwa.
No. Jenis Kelamin Frekuensi Persentase
1 Laki-laki 1959 49,4
2 Perempuan 2003 50,6
Jumalah 3962 100
Sumber: Data Sekunder Kelurahan Bangkala, 2016
Dari Tabel 3. diketahui bahwa jumlah penduduk di Kelurahan Bangkala,
Kecamatan Maiwa berdasar jenis kelamin yaitu berjumlah 3.962 jiwa, yang
terdiri dari 1959 jiwa laki-laki dengan frekuensi 49,4% dan jenis kelamin
perempuan 2.510 jiwa dengan frekuensi 50,6%. Hal ini menunjukkan bahwa di
Kelurahan Bangkala, Kecamatan Maiwa memiliki jumlah penduduk berjenis
kelamin perempuan yang lebih banyak dibandingkan dengan jumlah penduduk
berjenis kelamin laki-laki. Jumlah penduduk yang ada itu merupakan salah
satu sumber tenaga kerja dalam usaha peternakan dan dalam menciptakan usaha
peternakan.
Sarana dan Prasarana
Dalam upaya memperlancar kegiatan dan aktifitas keseharian masyarakat,
maka ketersediaan sarana dan prasarana umum bagi masyarakat sangatlah
diperlukan baik dalam hal kuantitas maupun kualitas. Perbandingan antara jumlah
ketersediaan sarana dan prasarana dengan jumlah penduduk suatu wilayah penting
untuk diperhatikan. Hal ini agar setiap anggota masyarakat dapat melakukan
berbagai aktifitas atau kegiatan sehari-hari. Sarana dan prasarana itu antara
lain berupa sarana pendidikan, sarana kesehatan, sarana peribadatan, perdagangan
dan olahraga.
a. Sarana pendidikan
Dalam upaya memajukan masyarakat, dan mewujudkan kecerdasan
masyarakat dan meningkatkan tingkat pendidikan, maka ketersediaan maka
ketersediaan sarana pendidikan sangatlah penting untuk diperhatikan. Dengan
tersedianya sarana pendidikan yang memadai tentunya akan mempermudah
masyarakat dalam menuntut pendidikan.
Adapun sarana pendidikan yang ada di Kelurahan Bangkala, Kecamatan
Maiwa dapat dilihat pada Tabel 4 :
Pada Tabel 4. menunjukkan bahwa sarana pendidikan yang ada di
Kelurahan Bangkala, Kecamatan Maiwa cukup tersedia yaitu mulai dari tingkat
sekolah dasar sampai dengan sekolah menengah umum sederajat. Adapun jumlah
terbanyak adalah Sekolah dasar/sederajat yaitu sebanyak 4 unit atau 50% dan
yang paling sedikit yaitu sekolah menengah umum/sederajat yaitu Sekolah
Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Umum Sederajat yang masing-masing
2 Unit atau 20% melihat jumlah ketersediaan sarana pendidikan di Kelurahan
Bangla, Kecamatan Maiwa dapat dikatakan bahwa sarana pendidikan cukup
tersedia bagi masyarakat dalam melanjutkan pendidikan mereka.
b. Sarana dan prasarana kesehatan
Pembangunan dibidang kesehatan bertujun agar semua lapisan masyarakat
mendapatkan akses pelayanan yang murah, mudah dan merata untuk pencapaian
derajat kesehatan masyarakat yang lebih baik dengan tersedianya jumlah sarana
dan prasarana kesehatan. Sarana dan prasarana kesehatan bertujuan untuk
memberikan pengobatan serta penyuluhan bagi masyarakat dalam peningkatan
derajat kesehatan masyarakat. Adapun sarana kesehatan yang ada di Kelurahan
Bangkala yaitu 3 unit posyandu. Jumlah sarana kesehatan ini bisa dikatan kurang
karena masyarakat masih perlu ke desa tetangga hingga ibu kota kabupaten untuk
mendapatkan perawatan medis jika mengalami gangguan kesehatan yang cukup
serius.
Umur Responden
Umur responden merupakan usia responden pada saat dilakukan penelitian
yang di hitung dalam satuan tahun. Umur merupakan salah satu faktor yang dapat
mempengaruhi produktifitas seseorang dalam melakukan aktivitas. Tingkat umur
seseorang akan berpengaruh terhadap kemampuannya dalam mengerjakan
pekerjaan yang berat, karena terjadi peningkatan kemampuan fisik seiring dengan
meningkatnya umur dan pada umur tertentu akan terjadi penurunan produktivitas.
Menurut badan pusat statistik (BPS), berdasar komposisi penduduk, usia
penduduk dikelompokkan menjadi 3 yaitu:
a. Usia 0-14 tahun dinamakan usia muda/usia belum produktif.
b. Usia 15-63 tahun dinamakan usia dewasa/usia kerja/usia produktif.
c. Usia +64 tahun dinamakan usia tua/usia tidak produktif/usia jompo.
Adapun klasifikasi responden berdasar umur di Kelurahan Bangkala,
Kecamatan Maiwa dapat dilihat pada Tabel 5:
Tabel 5. Klasifikasi responden berdasar umur di Kelurahan Bangkala,
Kecamatan Maiwa.
No. Umur (tahun) Jumlah(orang) Persentase (%)
1. 15-63 30 93,75
2. +64 2 6,25
Jumlah 32 100
Sumber : Data primer yang telah diolah 2016.
berdasar Tabel 5. maka dapat diketahui bahwa sebagian besar
responden berumur 15-64 tahun, sebanyak 30 orang (93,75%). Hal ini berarti
bahwa mayoritas responden di Kelurahan Bangkala, Kecamatan Maiwa masih
berada pada kelompok usia produktif. Hal ini sesuai dengan pendapat Kasim dan
Sirajuddin (2008), usia non produktif berada pada rentan umur 0 - 14 tahun, usia
produktif 15 – 56 tahun dan usia lanjut 57 tahun keatas. Semakin tinggi umur
seseorang maka ia lebih cenderung untuk berpikir lebih matang dan bertindak
lebih bijaksana. Secara fisik akan mempengaruhi produktifitas usaha ternak,
dimana semakin tinggi umur peternak maka kemampuan kerjanya relatif
menurun.
Tingkat Pendidikan
Dalam usaha peternakan faktor pendidikan tentunya sangat di harapkan
dapat membantu masyarakat dalam upaya peningkatan produksi ternak yang
dipelihara. Tingkat pendidikan yang memadai tentunya akan berdampak pada
manajemen usaha peternakan yang digeluti. Adapun tingkat pendidikan peternak
yang ada di Kelurahan Bangkala, Kecamatan Maiwa dapat dilihat pada Tabel 6:
berdasar Tabel 6. dapat dilihat bahwa sebagian besar peternak
memiliki tingkat pendidikan formal setingkat SD dan SMP yaitu sebanyak 27
orang dengan persentase sebesar 84,38 % dimana tingkat pendidikan SD dan SMP
ini merupakan tingkat penndidikan yang masih rendah. dan tingkat pendidikan
tinggi/sarjana tidak ada sama sekali. berdasar data itu maka dapat dilihat
tingkat pendidikan responden sebagian besar memiliki tingkat pendidikan yang
rendah dan relatif sama. Rendahnya tingkat pendidikan yang dimiliki oleh
responden berpengaruh terhadap tingkat kemampuan dan cara berfikir yang
mereka miliki hal ini sesuai dengan pendapat
yang menyatakan bahwa, tingkat pendidikan berpengaruh terhadap kemampuan
peternak dalam penerapan teknologi, disamping itu tingkat pendidikan dapat
digunakan sebagai tolak ukur terhadap kemapuan berfikir seorang wanita dalam
menghadapi masalah dalam keluarga dapat segera diatasi. Apabila pendidikan
rendah maka daya pikirnya sempit maka kemampuan menalarkan suatu inovasi
baru akan terbatas, sehingga wawasan untuk maju lebih rendah dibanding dengan
peternak yang berpendidikan tinggi. Peternak yang mempunyai daya pikir lebih
tinggi dan fleksibel dalam menanggapi suatu masalah, mereka akan selalu
berusaha untuk memperbaiki tingkat kehidupan yang lebih baik.
Pengalaman Beternak
Pengalaman merupakan guru yang paling baik, Semakin banyak
pengalaman yang dimiliki oleh peternak maka akan semakin terampil dalam
mengelola suatu usaha peternakan. Pengalaman beternak akan diperoleh
seseorang berdasar lama mereka bergelut dalam suatu usaha peternakan.
Pengalamann beternak merupakan faktor yang paling penting yang harus dimiliki
oleh seseorang peternak dalam meningkatkan produktifitas dan kemampuan
kerjanya dalam usaha peternakan. lamanya beternak responden di Kelurahan
Bangkala Kecamatan Maiwa dapat dilihat pada Tabel 7 berikut :
berdasar Tabel 7. dapat dilihat bahwa pengalaman beternak yang
dimiliki masyarakat di Kelurahan Bangkala, kecamatan maiwa bisa di katakan
rendah. Hal ini ditunjukkan oleh jumlah peternak yang memiliki pengalaman
beternak 1-7 tahun adalah yang terbanyak yaitu 24 dengan persentase 75%. Hal
ini menujukkan bahwa mayoritas responden yang ada itu belum memiliki
cukup pengalaman dan pengetahuan yang ditunjukkan dengan lamanya mereka
menjadi peternak, menurut Mastuti dan Hidayat (2008) menyatakan bahwa,
semakin Pengalaman Beternak diharapkan pengetahuan yang didapat semakin
banyak sehingga ketrampilan dalam menjalankan usaha peternakan semakin
meningkat.
Jumlah Tanggungan Keluarga
Jumlah tanggungan keluarga merupakan banyaknya anggota keluarga
yang dimiliki oleh responden. Jumlah anggota keluarga dapat mempengaruh
motivasi beternak sapi potong. Adapun Klasifikasi responnden berdasar
jumlah tanggungan keluarga di Kelurahan Bangkala, kecamatan Maiwa dapat
dilihat pada Tabel 8 berikut
38
Tabel 8. Klasifikasi responden berdasar jumlah tanggungan keluarga di
Kelurahan Bangkala, Kecamatan Maiwa.
No. Tanggungan keluarga
(orang)
Jumlah Responden
(Orang)
Persentse (%)
1. 1-3 15 46,9
2. 4-6 14 43,7
3. 7-9 3 9,4
Jumlah 32 100
Sumber: Data primer yang telah diolah, 2016
Pada Tabel 8. menunjukkan bahwa jumlah tanggungan keluarga yang di
miliki oleh responden di Kelurahan Bangkala, Kecamatan Maiwa terbanyak
adalah pada jumlah tanggungan keluarga antara 1-3 sebanayak 15 dengan
persentase 46,9% dan kemudian responden yang memeliki tanggungan keluarga
4-6 juga memiliki angka yang hampir sama dengan responden yang memiliki
tanggungan keluarga 1-3 orang yaitu 14 dengan persentase 43,7%. Sedangkan
untuk responden yang memliki tanggungan keluarga 7-9 adalah yang paling
sedikit dengan jumlah 3 orang dengan persentase 9,4%. berdasar data
itu dapat diketahui bahwa mayoritas para responden telah berkeluarga dan
jumlah tanggungan keluarga yang berbeda-beda. Banyaknya jumlah tanggungan
keluarga dapat mempengaruhi peternak dalam menjalani usaha peternakannya.
Menurut Sumbayak (2006) mengatakan bahwa jumlah anggota keluarga akan
mempengaruhi petani dalam mengambil keputusan. Karena semakin banyak
jumlah tanggungan keluarga maka akan semakin banyak pula beban hidup harus
dipikul oleh petani. Jumlah tanggungan keluarga adalah salah satu faktor ekonomi
yang perlu diperhatikan dalam menentukan pendapatan dalam memenuhi
kebutuhan.
39
Jumlah Kepemilikan Ternak
Jumlah kepemilikan ternak menunjukkan banyaknya ternak sapi yang
dimiliki oleh responden. Jumlah kepemilikan ternak pada tiap responden berbeda-
beda tergantung kondisi usaha. Adapun klasifikasi responden berdasar
kepemilikan ternak yang ada di Kelurahan Bangkala, Kecamatan Maiwa dapat
dilihat pada Tabel 9 berikut :
Tabel 9. Klasifikasi responden berdasar jumlah kepemilikan ternak di
Kelurahan Bangkala, Kecamatan Maiwa.
No
Rentang Jumlah Kepemilikan
Ternak (Ekor)
Jumlah Responden
(Orang)
Persentase
(%)
1 1-4 18 56,2
2 5-8 9 28,2
3 9-13 5 15,6
Jumlah 32 100
Sumber: data primer yang telah diolah, 2016
Pada Tabel 9. menunjukkan bahwa jumlah kepemilikan ternak responden
di Kelurahan Bangkala adalah peternakan rakyat. Hal ini terlihat dari jumlah
kepemilikan ternak terbanyak adalah responden memiliki 1-4 ekor ternak sapi
sebanyak 18 orang (56,2%). Rendahnya jumlah kepemilikan ternak di Kelurahan
Bangkala, Kecamatan Maiwa disebabkan karena sebagian besar peternak juga
memiliki usaha pertanian sehingga peternak memilih untuk memilihara ternak
sapi lebih sedikit sehingga mereka memiliki waktu untuk pertanian mereka. Hal
ini sesuai dengan pendapat Prawirokusumo (1990) yang menyatakan bahwa
Ketersediaan waktu yang banyak serta di dukung oleh produktivitas kerja yang
tinggi akan berpengaruh terhadap skala kepemilikan ternak yang dimiliki oleh
peternak.
40
HASIL DAN PEMBAHASAN
Tingkat Motivasi
Motivasi merupakan suatu dorongan yang timbul dari diri seseorang,
motivasi mempersoalkan bagaimana mendorong gairah kerja seseorang, agar mau
bekerja keras dengan memberikan semua keterampilan dan kemampuannya untuk
mewujudkan suatu tujuan tertentu, motivasi ini menjadi penting karena dengan
motivasi ini diharapkan seseorang mau bekerja keras dan antusias untuk mencapai
produktifitas yang tinggi.
Adapun tingkat motivasi peternak yang ada di Keluarahan Bangkala,
Kecamatan Maiwa khususnya anggota maiwa breeding center (MBC) dapat
dilihat sebagai berikut :
1. Indikator Kebutuhan keberadaan (existence)
Tingkat motivasi yang di dorong oleh kebutuhan keberadaan (existence)
dapat dilihat pada tabel 10:
Tabel 10. Tingkat Kebutuhan Keberadaan (existence)
Pernyataan
Kebutuhan Keberadaan (existence)
Bobot
Persentase
(%) SS S KS TS
1 4 18 3 7 83 19
2 9 17 3 3 96 21
3 1 15 6 10 71 16
4 1 20 8 3 83 19
5 21 6 3 2 110 25
Jumlah Bobot 443 100
Sumber : Data primer yang telah diolah, 2017
berdasar Tabel 10. dapat dilihat bahwa tingkat motivasi pada
indikator kebutuhan keberadaan adalah 433. bobot ini di jelaskan pada gambar
berikut:
41
160 280 400 443 520 640
TT KT T ST
Gambar 4. Tingkat motivasi pada indikator kebutuhan keberadaan
(relatedness)
Pada Gambar 4. terlihat bahwa total skor untuk tingkat motivasi pada
indikator kebutuhan keberadaan adalah 443 dimana bobot ini masuk pada tingkat
kategori termotivasi.
berdasar Tabel 10 dapat di lihat bahwa dari 5 pernyataan yang
berhubungan dengan kebutuhan keberaadaan pernyataan 5 yaitu dengan beternak
sapi potong peternak memiliki tabungan untuk masa depan adalah pernyataan
yang memilki skor yang paling tinggi yaitu 110 atau dengan persentase 25% ,
artinya pernyataan ini adalah pernyataan yang paling banyak di setujui oleh
peternak untuk dijadikan alasan melakukan usaha ternak sapi potong.
2. Indikator kebutuhan berhubungan (relatedness)
Adapun tingkat motivasi berdasar indikator kebutuhan berhubungan
dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 11. Tingkat kebutuhan Berhubungan (Relatedness)
Pernyataan
Kebutuhan Keberadaan(existence)
Bobot Persentase(%)
SS S KS TS
1 1 22 5 4 84 18
2 11 16 4 1 101 22
3 13 4 15 0 94 20
4 8 21 2 1 100 22
5 0 21 8 3 82 18
Total Bobot 461 100
Sumber : Data primer yang telah diolah, 2017
42
berdasar Tabel 11. dapat dilihat bahwa total bobot yang didapatkan
pada tingkat motivasi untuk indikator kebutuhan berhubungan adalah 461. Bobot
ini akan di jelasan pada gambar berikut:
160 280 400 461 520 640
TT KT T ST
Gambar 5. Tingkat motivasi pada indikator kebutuhan berhubungan
(relatedness)
berdasar Gambar 5. dapat dilihat bahwa total bobot pada indikator
kebutuhan berhubungan yaitu 461 dimana total bobot ini masuk dalam tingkat
kategari termotivasi.
Pada Tabel 11. dapat dilihat pula bahwa dari 5 pernyatan yang
behubungan dengan indikator kebutuhan berubungan (relatedness) pernyataan 2
dan 4 yaitu dengan beternak sapi potong peternak memiliki hubungan dengan baik
dengan sesama masyarakat dan beternak sapi potong karena adanya dukungan
yang besar dari keluarga yang memiliki bobot paling tinggi di antara pernyataan
yang lainnya yaitu masing-masing 101 dan 100 dengan persentase 30% , artinya
bahwa penyataan ini adalah pernyataan yang paling banyak disetujui oleh
peternak menjadi alasan melakukan usaha ternak sapi potong.
3. Indikator kebutuhan untuk berkembang (growth need)
Adapun tingkat motivasi berdasar indikator kebutuhan untuk
berkembang (growth need) dapat dilihat pada tabel berikut :
43
Tabel 12. Tingkat Kebutuhan Untuk Berkembang (Growth need)
Pernyataan
Kebutuhan Keberadaan (existence)
Skor
Persentase
(%) SS S KS TS
1 3 24 3 2 94 20
2 5 21 6 0 104 22
3 3 4 24 1 73 15
4 26 5 1 0 122 26
5 3 11 8 10 82 17
Total bobot 475 100
Sumber : Data primer yang telah diolah, 2017
berdasar Tabel 12. dapat dilihat bahwa total bobot yang didapatkan
pada tingkat motivasi untuk indikator kebutuhan berhungan adalah 475. Bobot ini
akan di jelasan pada gambar berikut:
160 280 400 475 520 640
TT KT T ST
Gambar 6. Tingkat motivasi pada indikator kebutuhan untuk berkembang
(growth need)
berdasar gambar 6. dapat dilihat bahwa total bobot pada indikator
kebutuhan untuk berkembang yaitu 475, dimana total bobot ini masuk dalam
tingkat kategari termotivasi.
Pada Tabel 12. dapat dilihat pula bahwa dari 5 pernyatan yang
behubungan dengan indikator kebutuhan untuk berkembang(growth need)
pernyataan 4 yaitu ingin memperoleh kesuksesan dalam berusah ternak sapi
potong yang memiliki bobot paling tinggi di antara pernyataan yang lainnya yaitu
122 dengan persentase 26%, artinya bahwa penyataan ini adalah pernyataan yang
paling banyak disetujui oleh peternak menjadi alasan melakukan usaha ternak sapi
potong.
44
Analisis Pengaruh Karakteristik Peternak Terhadap Motivasi Beternak Sapi
Potong Di Kelurahan Bangkala, kecamatan maiwa.
Uji Multikolineritas
Uji Multikolineritas bertujuan untuk mengetahui apakah hubungan
diantara variabel bebas memiliki masalah multikorelasi (gejala multikolineritas)
atau tidak. Multikorelasi adalah korelasi yang sangat tinggi atau sangat rendah
yang terjadi pada hubungan diantara variabel bebas. Uji multikorelasi perlu
dilakukan jika jumlah variabel independen (variabel bebas) lebih dari satu
(Sarjono dan Julianita, 2011). Prasyarat yang harus terpenuhi dalam model regresi
adalah tidak adanya multikolinearitas. Ada beberapa metode pengujian yang bisa
digunakan diantaranya yaitu dengan melihat nilai variance inflation factor (VIF)
pada model regresi, dengan membandingkan nilai koefisien determinasi
individual (r2) dengan nilai determinasi secara serentak (R2), dan dengan melihat
nilai eigenvalue dan condition index.
Menurut Santoso (2001), pada umumnya jika VIF lebih besar dari 10,
maka variabel itu mempunyai persoalan multikolinearitas dengan variabel
bebas lainnya.
Tabel 13, Uji Multikorelasi
Model
Collinearity Statistics
Tolerance VIF
1 (Constant)
Umur .562 1.780
T. Pendidikan .754 1.327
Tanggungan Keluarga .963 1.039
Pengalaman Beternak .685 1.460
Jumlah Ternak .830 1.205
Sumber : Data Primer yang telah diolah, 2016
45
berdasar n Tabel 13. dapat diketahui bahwa nilai VIF umur 1.780,
tingkat pendidikan 1.327 tanggungan keluarga 1.039, pengalamanbeternak 1.460,
dan kepemilikan ternak 1.205. dari 5 nilai VIF itu nilai VIF yang
menunjukkan gejala multikolerasi adalah variabel umur karena variabel umur ini
memiliki nilai VIF yang mendekati angka dua, Dimana nilai VIF yang medekati
angka dua ini Artinya variabel itu memeliki gejala multikorelasi. Dengan
adanya gejala multikorelasi yang dimiliki oleh variabel umur maka variabel umur
dianggap tidak layak untuk dibahas lebih lanjut lagi. Maka dari itu untuk
pengujian dan pembahasan selanjutnya hanya ada 4 variabel yang akan dibahas
yaitu tingkat pendidikan,tanggungan keluarga, pengalaman beternak dan jumlah
kepemilikan ternak. Hal itu sesuai dengan pendapat Priyatno (2011)
menyatakan bahwa uji multikolinearitas digunakan untuk menguji apakah model
regresi ditemukan adanya korelasi antara variabel indevenden.
Uji Normalitas
Uji normalitas dimaksudkan untuk menguji apakah variabel dependen,
variabel independen atau keduanya dari suatu model regresi memiliki distribusi
data normal atau mendekati normal. Model regresi yang baik adalah yang
memiliki distribusi normal atau mendekati normal.
Uji normalitas perlu dilakukan untuk mengetahui normal tidaknya
distribusi data karena data yang berdistribusi normal merupakan syarat
dilakukannya parametric-test. Data yang normal berarti mempunyai sebaran yang
normal pula. Dengan demikian, data itu dianggap dapat mewakili populasi
normal. Hal ini sesuai dengan pendapat Santoso (2001) yang menyatakan bahwa
pada histogram, jika data memiliki bentuk seperti lonceng dan pada normal
probability plot ada penyebaran titik-titik disekitar garis diagonal dan
penyebarannya mengikuti arah garis diagonal, hal ini berarti data tersebar
berdistribusi normal.
Uji Liniearitas
Uji linearitas bertujuan untuk mengetahui apakah dua variabel mempunyai
hubungan yang linear atau tidak secara signifikan. Uji ini biasanya digunakan
sebagai prasyarat dalam analisis korelasi atau regresi linear. Pengujian pada SPSS
dengan menggunakan Test for Linearity dengan pada taraf signifikansi 0,05. Dua
variabel dikatakan mempunyai hubungan yang linear bila signifikansi (Linearity)
kurang dari 0,05.
Dari Tabel 14. dapat diketahui bahwa nilai signifikansi pada Linearity
sebesar 0,006. Karena signifikansi kurang dari 0,05 (0,006 < 0,05) maka dapat
disimpulkan bahwa antara variabel motivasi dan karakteristik peternak ada
hubungan yang linear.
Uji Kelayakan Model
Layak tidaknya model digunakan, dapat dilihat pada nilai signifikannya.
kolom signifikan (sig.) adalah angka yang menunjukkan taraf signifikansi model
Pada Tabel 14, dapat dilihat bahwa nilai sig.adalah “0.006” yang artinya
signifikan karena memenuhi syarat α < 0,05 artinya variabel independen yaitu
tingkat pendidikan (X1), jumlah tanggungan keluarga (X2), pengalaman beternak
(X3), jumlah kepemilikan ternak (X4) berpengaruh nyata terhadap variabel
dependen yaitu motivasi berusaha ternak sapi potong (Y) sehingga model yang
digunakan sangat signifikan dan bisa dilanjutkan. Model yang dibangun pada
sampel layak atau mampu mempredikisi sifat populasi.
Uji pengaruh simultan (Uji F) karakteristik peternak (tingkat pendidikan,
tanggungan keluarga, pengalaman beternak, dan jumlah kepemilikan ternak)
terhadap motivasi beternak di Kelurahan Bangkala, Kecamatan Maiwa
Uji pengaruh simultan (Uji F) karakteristik peternak (tingkat pendidikan,
tanggungan keluarga, pengalaman beternak, dan jumlah kepemilikan ternak)
terhadap motivasi beternak sapi potong di Kelurahan Bangkala, Kecamatan
Maiwa
Nilai R menunjukkan korelasi berganda, yaitu korelasi antara variabel
independen terhadap variabel dependen. Nilai R berkisar antara 0 – 1, jika
mendekati 1, maka hubungan semakin erat. Sebaliknya jika mendekati 0, maka
hubungannya semakin lemah. Menurut Sugiyono (2007) pedoman untuk
memberikan interpretasi koefisien korelasi sebagai berikut:
0,00 - 0,199 = sangat rendah
0,20 - 0,399 = rendah
0,40 - 0,599 = sedang
0,60 - 0,799 = kuat
0,80 - 1,000 = sangat kuat.
Angka R yang didapatkan 0, 635, artinya korelasi antara variabel
independen Tingkat pendidikan (X1), Jumlah tanggungan keluarga (X2),
Pengalaman Beternak (X3), dan Jumlah kepemilikan ternak(X4) terhadap variabel
dependen Motivasi beternak sapi potong(Y) sebesar 0, 635. Hal ini berarti terjadi
hubungan kuat antara variabel itu .
Nilai Adjusted R Square memberikan gambaran besarnya kontribusi
pengaruh variabel independen Tingkat pendidikan (X1), Jumlah tanggungan
keluarga (X2), Pengalaman Beternak (X3), dan Jumlah kepemilikan ternak(X4)
terhadap variabel dependen Motivasi beternak sapi potong(Y) yaitu sebesar
0,315. Angka ini akan diubah ke bentuk persen, artinya persentase sumbangan
pengaruh variabel independen (umur, tingkat pendidikan, jumlah tanggungan
keluarga, pengalaman beternak, serta jumlah kepemilikan ternak) terhadap
variabel dependen(motivasi berternak sapi potong) sebesar 31,5%, sedangkan
sisanya sebesar 68,5% artinya masih ada faktor lain yang mempengaruhi motivasi
beternak sapi potong yang tidak dimasukkan ke dalam model ini.
Adapun hasil analisis dengan menggunakan regresi linear berganda
pengaruh variabel independen (tingkat pendidikan, jumlah tanggungan keluarga,
pengalaman beternak, jumlah kepemilikan ternak) terhadap variabel dependen
motivasi beternak sapi potong di Kelurahan Bangkala, Kecamatan Maiwa
Pada Tabel 16, persamaan regresi linier berganda dapat dibentuk sebagai
berikut :
Y = 3,345 - 0,062 X1 - 0,325 X2 - 0,530 X3 + 0,227 X4 + e
Dari persamaan regresi linier berganda diperoleh nilai koefisien regresi
variabel tingkat pendidikan (X1) yaitu -0,062, variabel jumlah tanggungan
keluarga (X2) yaitu -0,325, variabel pengalaman beternak (X3) yaitu -0,530 yang
memiliki korelasi negatif, sedangkan untuk variabel jumlah kepemilikann ternak
yaitu 0,227 memiliki korelasi positif. Hal ini menunjukkan bahwa dari 4 variabel
dengan variabel motivasi beternak sapi potong (Y) 3 diantaranya memiliki
pengaruh yang tidak searah, artinya setiap kenaikan variabel tingkat
pendidikan(X1), jumlah tanggungan keluarga (X2), dan pengalaman beternak
(X3) menyebabkan penurunan pada motivasi beternak sapi potong.(Y). sedangkan
untuk keniakan variabel jumlah kepemilikan ternak(X4) maka akan menyebabkan
kenaikan pada motivasi beternak sapi potong (Y). Adapun nilai konstanta sebesar
3,345 menunjukkan bahwa pada saat variabel bebas yaitu tingkat pendidikan(X1),
jumlah tanggungan keluarga(X2), pengalaman beternak (X3), dan jumlah
kepemilikan ternak (X4) sama dengan nol, maka motivasi beternak sapi potong
(Y) akan bernilai 3,345. Hal ini berarti bahwa masih ada faktor lain yang
mempengaruhi motivasi beternak sapi potong. sementara nilai koefisien regresi
masing masing variabel bebas yang berpengaruh terhadap motivasi beternak sapi
potong adalah sebagai berikut :
a. Koefisien regresi tingkat pendidikan atau X1 sebesar -0,062 artinya bahwa
setiap kenaikan tingkat pendidikan maka akan menyebabkan penurunan
motivasi beternak sapi potong sebanyak 6,2 %. Dengan asumsi variabel
independen lainnya konstan.
b. Koefisien regresi jumlah tanggungan keluarga atau X2 sebesar -0,325
artinya jika jumlah tanggungan keluarga meningkat maka motivasi
beternak sapi potong akan mengalami penurunan sebesar 32,5 %. Dengan
asumsi variabel independen lainya konstan.
c. Koefisien regresi pengalaman beternak atau X3 sebesar -0,530 artinya
bahwa jika pengalaman beternak meningkat maka motivasi beternak sapi
potong akan mengalami penurunan sebanyak 53 %. Dengan asumsi
variabel independen lainnya konstan.
d. Koefisien regresi jumlah kepemilikan ternak atau X4 sebesar 0,227 artinya
bahwa setiap kenaikan jumlah kepemilikan ternak, maka motivasi beternak
sapi potong akan meningkat sebesar 22 %. Dengan asumsi variabel lainya
konstan.
Uji pengaruh parsial (Uji T) karakteristik peternak (tingkat pendidikan,
tanggungan keluarga, pengalaman beternak, dan jumlah kepemilikan ternak)
terhadap motivasi beternak di Kelurahan Bangkala, Kecamatan Maiwa
Uji pengaruh Parsial (Uji T) karakteristik peternak (tingkat pendidikan,
tanggungan keluarga, pengalaman beternak, dan jumlah kepemilikan ternak)
terhadap motivasi beternak di Kelurahan Bangkala, Kecamatan Maiwa dapat
dilihat pada Tabel 16. Pada Tabel 16. kolom signifikan (sig) adalah angka yang
menunjukkan taraf signifikasi pengujian secara sendiri-sendiri. berdasar
kolom signifikan itu akan di bahas sebagai berikut :
1. Variabel tingkat pendidikan (X2) mempunyai nilai sig. sebesar “0,483”. Jika
di bandingkan dengan α = 0,05, nilai sig. lebih besar dari pada nilai α (0,483
> 0,05), berarti bahwa variabel tingkat pendidikan tidak berpengaruh
signifikan terhadap variabel motivasi beternak sapi potong dan besarnya beta
variabel X2 terhadap Y adalah -0,062 yang artinya terjadi korelasi negatif
antara variabel tingkat pendidikan dengan motivasi beternak sapi potong.
Dengan meningkatnya tingkat pendidikan maka akan menyebabkan
penurunan pada tingkat motivasi beternak sapi potonng sebesar 6, 2%.
Tingkat pendidikan peternak tidak memiliki pengaruh terhadap motivasi
peternak dalam beternak sapi potong. Hal ini dapat terjadi karena tingkat
pendidikan masyarakat di Kelurahan Bangkala khususnya yang menjadi
anggota Maiwa Breeding Center (MBC) berada pada tingkat pendidikan yang
rendah dan relatif seragam dilihat pada Tabel 6. Dengan tingkat pendidikan
yang relatif seragam maka tidak berpengaruh pada tingkat motivasi beternak
sapi potong.
2. Variabel jumlah tanggungan keluarga (X3) mempunyai nilai sig. sebesar
“0,039” jika dibandingkan dengann α = 0,05, nilai sig. lebih kecil dari pada
nilai α (0,039) < 0,05) artinya variabel jumlah tanggungan keluarga
berpengaruh signifikan terhadap variabel motivasi beternak sapi potong dan
besarnya beta X3 terhadap Y adalah -0,325 yang artinya terjadi korelasi
negatif antara variabel jumlah tanggungan keluarga dengan motivasi beternak
sapi potong. Jika terjadi peningkatan pada jumlah kepemilikan ternak maka
akan menurunkan tingkat motivasi beternak sapi potong sebesar 32%. Jumlah
tanggungan keluarga berpengaruh terhadap motivasi beternak sapi potong
dapat terjadi karena dengan jumlah tanggungan keluarga seseorang yang
semakin banyak maka beban untuk memenuhi kebutuhan keluarganya juga
akan meningkat sehingga motivasi untuk beternak sapi potong menurun
karena pola pikir masyarakat yang menginkan suatu pekerjaan yang cepat
memberikan penghasilkan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya
sedangkan dalam beternak sapi potong mereka tidak mendapatkan suatu
pendapatannya. Hal ini sesuai dengan pendapat Sumbayak (2006) yang
menyatakan bahwa jumlah tanggungan keluarga adalah salah satu faktor
ekonomi yang perlu diperhatikan dalam menentukan pendapatan guna
memenuhi kebutuhannya.
3. Variabel pengalaman beternak (X4) mempunyai nilai sig. sebesar “ 0,002”
jika dibandingkan dengan α = 0,05, nilai sig. lebbih kecil dari pada nilai α
(0,002 < 0,05) artinya variabel pengalaman beternak berpengaruh signifikan
terhadap variabel motivasi beternak sapi potong dan besarnya beta X4
terhadap Y adalah -0,530 yang artinya terjadi korelasi yang negatif antara
variabel pengalaman beternak dengan motivasi beternak sapi potong. Jika
pengalaman beternak meningkat maka terjadi penurunan pada tingkat
motivasi beternak sapi potong sebesar 53 %. Pengalaman beternak
berpengaruh terhadap motivasi beternak sapi potong dapat terjadi karena
keadaan peternak yang ada di Kelurahan Bangkala, Kecamatan Maiwa
khususnya yang menjadi anggota Maiwa Breeding Center (MBC) merupakan
peternak yang memiliki pengalaman beternak yang rendah dan merupakan
peternak yang baru sehingga mereka termotivasi untuk beternak sapi potong
apalagi dengan adanya Maiwa Breeding Center (MBC) yang memberikan
pendampingan, dan juga melakukan kerja sama pola bagi hasil membuat
mereka semakin termotivasi. Sedangkan para peternak yang sudah
mempunyai banyak pengalaman artinya mereka sudah Pengalaman Beternak
mereka jenuh dengan beternak sapi potong ini, dimana mereka sudah
Pengalaman Beternak akan tetapi penghasilan yang mereka dapatkan dari
beternak sapi potong tidak dapat memenuhi kebutuhan. Tidak terpenuhinya
kebutuhan apabila mereka beternak sapi potong terjadi karena mereka
menjadikan beternak sebagai usaha sampingan bukan sebuah usaha pokok
yang mereka serius dalam mengembangkannya. menyatakan bahwa kepuasan kerja adalah
suatu sikap yang dimiliki oleh seseorang mengenai pekerjaan yang dihasilkan
dari persepsi mereka terhadap pekerjaannya.
4. Variabel jumlah kepemilikan ternak X5 mempunyai nilai sig. sebesar
“0,150” jika dibandingkan dengan α = 0,05, nilai sig. lebih besar dari pada
nilai α (0,150 > 0,05) artinya variabel jumlah kepemilikan ternak tidak
berpengaruh terhadap variabel motivasi beternak sapi potong dan besarnya
beta X4 terhadap Y adalah 0,227 yang artinya terjadi korelasi yang positif
antara variabel jumlah kepemilikan ternak dengan motivasi beternak sapi
potong. Jika jumlah kepemilikan ternak meningkat maka motivasi beternak
sapi potong akan meningkat pula sebesar 22%. Jumlah kepemilikan ternak
tidak berpengaruh terhadap motivasi beternak sapi potong karena keadaan
peternak yang ada di Kelurahan Bangkala, Kecamatan Maiwa khususnya
anggota kelompok MBC menjadikan beternak sebagai pekerjaan sampingan
dan hanya sebagai tabungan sehingga jumlah ternak banyak maupun sedikit
tetap sebagai tabungan atau simpanan yang sewaktu waktu dapat digunakan
untuk memenuhi kebutuhan. Pola pikir, persepsi mereka yang sejak awal
menjadikan beternak hanya sebagai sampingan ini yang menjadi penyebab
sehingga variabel ini tidak menjadi faktor yang dapat memotivasi peternak
dalam beternak sapi potong. Hal ini sesuai dengan pendapat Wahdjosumidjo
dalam Hambali (2005) yang menyatakan bahwa keinginan seseorang untuk
menghasilkan (produksi) sangat tergantung pada tujuan khusus yang ingin
dicapainya dan persepsi atas tindakan-tindakan untuk mencapapai suatu
tujuan.
berdasar hasil dan pembahasan penelitian dapat di tarik kesimpulan
bahwa :
1. Motivasi beternak sapi potong berada pada kategori termotivasi.
2. Tingkat pendidikan (X1), jumlah tanggungan keluarga(X2), pengalaman
beternak(X4), jumlah kepemilikan ternak (X4) berpengaruh secara
simultan terhadap motivasi beternak sapi potong.
3. Tingkat pendidikan dan jumlah kepemilikan ternak berpengaruuh
signifikan terhadap motivasi beternak sapi potong, tingkat pendidikan
tidak berpengaruh karena tingkat pendidikan yang ada di lokasi penelitian
relatif seragam sehingga tidak berpengaruh, kemudian jumlah kepemilikan
ternak tidak berpengaruh karana mereka menganggap betenak sapi potong
hanya sebagai usaha sampingan sehingga sedikit atau banyaknya jumlah
ternak yang dimiliki mereka menganggapnya hanya sebagai sampingan
sehingga tidak berpengaruh pada motivasi beternak sapi potong.
Sedangkan jumlah tanggungan keluarga dan pengalaman beternak
berpengaruh pada motivasi beternak sapi potong.
Sebaiknya peternak yang ada di lokasi penelitian khususnya yang menjadi
anggota Maiwa Breeding Center (MBC) Menjadikan peternakan sebagai suatu
usaha pokok yang dikerjakan dengan sebaik-baiknya tidak menjadikannya hanya
sebagai usaha sampingan dan melakukan suatu inovasi-inovasi baru sehingga
hasil yang di dapatkan lebih maksimal untuk memenuhi kebutuhan.