ternak sapi 3
Peternakan sapi perah di negara kita
sebagian besar dilakukan oleh anggota
masyarakat di pedesaan secara perorangan yang
bergabung dalam suatu koperasi. Koperasi
Serba Usaha (KSU) Tunas Setia Baru berada di
Kecamatan Tutur Kabupaten Pasuruan, Jawa
Timur, dengan jumlah populasi sapi perah yang
dimiliki anggotanya 1.326 ekor induk sapi, per-
September 2018. Permasalahan pada usaha
ternak sapi perah pada umumnya adalah
rendahnya efisiensi reproduksi yang disebabkan
oleh gangguan reproduksi. Data laporan kasus
gangguan reproduksi sapi perah di KSU Tunas
Setia Baru yang cukup banyak adalah
hipofungsi ovarium.
Data global gangguan reproduksi pada sapi
dan kerbau tahun 2002-2017, kasus hipofungsi
ovarium menempati persentase kedua terbanyak
(12%) setelah sub-estrus (42,1%) (Yániz et al.,
2008). Sedangkan di beberapa wilayah yang
lain kasus hipofungsi ovarium menempati
persentase teringgi diantara kasus gangguan
reproduksi yang lain meskippun dengan angka
yang berbeda-beda, yaitu di Lithuania 15,87%
(Juodžentytė dan Žilaitis, 2018), di Sulawesi
62,1% , dan di Jawa
Timur sebesar 6,28% ,
Pada kasus hipofungsi ovarium tidak ada
folikel mapupun korpus luteum, sehingga pada
pemeriksaan per rektal permukaan ovarium
licin. Sapi yang mengalami hipofungsi ovarium
tidak menunjukkan tanda-tanda birahi
(anestrus) dalam waktu yang lama. Secara
endokrinoligis kasus hipofungsi terutama terjadi
akibat kekurangan nutrisi, sehingga kelenjar
hipofisa anterior tidak mampu mensekresikan
Follicle Stimulating Hormone (FSH) dalam
jumlah yang cukup untuk pertumbuhan dan
pembentukan folikel di ovarium. Penanganan
pada keadaan hipofungsi ovarium dapat
dilakukan dengan memperbaiki kualitas pakan
dan pemberian pengobatan dengan hormon
antara lain dengan hormon gonadotropin
Hormon gonadotropin yang banyak
dipergunakan oleh para praktisi adalah
Pregnant Mare Serum Gonadotropin (PMSG)
dan human Chorionic Gonadrotopin (hCG).
Kedua hormon tersebut merupakan hormon
glikoprotein, terdiri dari subunit α dan β. Sub
unit α pada PMSG dan hCG adalah sama,
namun sub unit β yang menimbulkan perbedaan
sifat aktivitasnya. Hormon PMSG berfungsi
seperti Follicle Stimulating Hormone (FSH)
yang merangsang pertumbuhan folikel sampai
matang sehingga menimbulkan gejala birahi,
dengan sedikit sifat Luteinizing Hormon (LH)
yang berfungsi menyebabkan ovulasi pada
folikel yang telah matang , sedangkan
hormon hCG bekerja seperti Luteinizing
Hormon (LH) (Cole, 2009).
Laporan kasus ini membahas pengobatan
hipofungsi ovarium menggunakan dosis yang
sama hormon PMSG dikombinasikan dengan
hormon hCG dengan dosis yang berbeda.
Koperasi Serba Usaha (KSU) Tunas Setia
Baru Kecamatan Tutur Kabupaten Pasuruan,
Jawa Timur, terletak di lereng sebelah barat
pegunungan Tengger di ketinggian 400-2000
meter. Wilayah kerja KSU Tunas Setia Baru
meliputi 10 desa, yang secara secara geografis
berada pada 7° 53' 30.51" LS dan 112° 48'
41.90" BT.
Diagnosis
Laporan kasus menggunakan 10 ekor
ternak sapi perah Peranakan Friesian Holstein
(PFH), dengan kriteria: pernah beranak, tidak
menunjukkan gejala estrus lebih dari 60 hari
setelah melahirkan terakhir (Hafez dan Hafez,
2000a), skor kondisi tubuh (Body Condition
Score, BCS) 3 atau kurang (skala 1–5).
Diagnosis dengan pemeriksaan palpasi rektal
untuk memastikan bahwa kondisi ovarium halus
tanpa ada folikel maupun korpus luteum.
Terapi Hormon
Hormon yang digunakan adalah preparat
hormon PG-600 (Intervet), preparat hormon
hCG Chorulon (MSD). Sepuluh sapi perah yang
mengalami hipofungsi ovarium disuntik PG-
600 dengan dosis 300 IU secara intramuskuler
pada saat diagnosa hipofungsi ovarium
ditegakkan. Selanjutnya 10 sapi perah hipofungsi
ovarium tersebut dibagi secara acak menjadi dua
kelompok sama banyak. Penyuntikan Chorulan
(hCG) dilakukan secara inramuskuler pada
waktu birahi bersamaan dengan saat inseminasi,
yaitu 300 IU pada kelompok pertama, dan 600
IU pada kelompok kedua. Respons birahi yang
diamati berupa persentase birahi, serta rentangan
dan rerata waktu terjadinya birahi dihitung
berdasarkan saat penyuntikan PG-600 sampai
dengan munculnya tanda birahi, diantara spai
perah yang mengalami hipofungsi ovarium.
Inseminasi Buatan
Inseminasi buatan dilakukan dengan
menggunakan semen beku sapi perah PFH yang
diperoleh dari Balai Besar Inseminasi Buatan
(BBIB) Singosari. Teknis pelaksanaan
dilakukan oleh inseminator, sesuai prosedur
operasional standar, semen beku post-thawing
dimasukkan pada posisi keempat menggunakan
laras inseminasi buatan. Respons yang diamati
adalah persentase kebuntingan diantara sapi-
sapi diberi perlakuan dan diinseminasi.
Semua sapi perah hipofungsi ovarium
(100%) mengalami birahi baik pada kelompok
pertama maupun kelompok kedua. Waktu
munculnya tanda-tanda birahi dihitung sejak
penyuntikan PG-600 pada kelompok pertama
pada rentangan 6 – 8, dengan rerata 6,8 ± 0.84,
sedangkan pada kelompok kedua pada
rentangan 6 – 7 dengan rerata 6,2 ± 0.45 hari.
Diagnosis kebuntingan yang dilakukan 60 hari
setelah inseminasi buatan menunjukkan bahwa
semua sapi perah PFH (100%) pada kedua
kelompok tersebut dinyatakan bunting (Tabel
1).
Tabel 1 Persentase birahi, rentangan dan rerata waktu munculnya birahi (hari), serta persentase
kebuntingan pada sapi perah yang mengalami hipofungsi ovarium setelah diberi pengobatan dengan
hormon gonadotropin.
Gonadotropin jumlah
sapi
birahi persentase
bunting PG-600 hCG persentase rentangan waktu rerata waktu
300 IU 100 IU 5 100 % (5/5) 6 – 8 6,8 ± 0.84 100 % (5/5)
300 IU 300 IU 5 100 % (5/5) 6 – 7 6,2 ± 0.45 100 % (5/5)
PG-600 disuntikkan intramuskuler saat sapi terdiagnosis hipofungsi ovarium; hCG disuntikkan
bersamaan dengan waktu inseminasi buatan; waktu birahi dihitung dari saat penyuntikan sampai
dengan pertama kali munculnya tanda birahi.
Gangguan reproduksi karena hipofungsi
ovarium dapat diobati dengan pemberian
preparat hormonal FSH-LH like dengan
penyuntikan preparat kombinasi FSH–LH atau
FSH–LH like seperti, PMSG dan hCG
(Hermadi, 2015). Pada penanganan kasus
hipofungsi pada sapi perah di KSU Tunas Setia
Baru menggunakan kombinasi PG-600
300IU dengan hCG 300IU atau kombinasi
PG-600 dan hCG 100IU terbukti dapat
mengaktifkan kembali ovarium pada 100%
(10/10), sehingga semuanya menunjukkan
respons birahi antara 6-8 hari setelah
penyuntikan PG-600, dan semua bunting pada
pemeriksaan per rektal 60 hari setelah
dilakukan inseminasi buatan. Hasil tersebut
lebih baik dibandingkan laporan-laporan
sebelumnya. Pengobatan hipofungsi ovarium
pada kerbau menggunakan PMSG saja
menghasilkan kebuntingan 58.33 % , Sedangkan pengobatan
hipofungsi ovarium pada sapi dan kerbau
dengan 180 IU PG-600 saja menghasilkan
angka birahi sebesar 90,8%, antara 3 – 9 hari
atau rata-rata 5 hari setelah penyuntikan PG-
600 ,
Preparat PG-600 mengandung 400 IU
hormon PMSG dan 200 IU hormon hCG.
Pregnant Mare Serum Gonadotropin
mempunyai aktifitas sebagai FSH dan sedikit
LH. Fungsi utama FSH adalah stimulasi
pertumbuhan dan pematangan folikel de graaf
di dalam ovarium , Pada penanganan kasus ini,
pemakaian kombinasi PG-600 dengan hCG
mampu menginduksi aktivasi ovarium sapi
yang mengalami hipufungsi. Hormon PMSG
yang terkandung dalam PG-600 berfungsi
menginisiasi pertumbuhan folikel pada
ovarium. Sedangkan fungsi Luteinizing
Hormone (LH) yang terkandung dalam PG-600
dan hCG berperan pada proses androgenesis
yang terjadi pada folikel dengan merubah
cholesterol menjadi testosterone. Testosteron
yang terbentuk akan berdifusi masuk ke dalam
sel granulosa untuk diubah oleh FSH menjadi
estrogen melalui proses aromatisasi yang
melibatkan enzim aromatase. Adanya estrogen
menyebabkan pertumbuhan folikel muda
menjadi matang sampai terjadi birahi yang
diikuti ovulasi. Hormon estrogen juga
menyebabkan sapi menunjukkan tanda-tanda
birahi ,
Secara fisiologis fungsi FSH (dalam PG-
600) menstimulir pematangan folikel yang
menghasilkan hormon estrogen. Hormon
estrogen tersebut menyebabkan munculnya
tanda-tanda birahi, yaitu peningkatan
vaskularisasi ke organ reproduksi betina dan
menimbulkan perilaku birahi. Ketika folikel
telah matang, hormon estrogen mencapai kadar
tertinggi yang kemudian memicu hipofisa
anterior untuk melepaskan LH yang
menyebabkan terjadinya ovulasi Hormon hCG yang disuntikkan
setelah penyuntikan PG-600 bertujuan untuk
meningkatkan kapasitas induksi ovulasi.
Hormon hCG mempunyai aktifitas seperti LH
yang dapat merangsang sel-sel granulosa
dan sel-sel teka pada folikel yang matang
mengalami ovulasi (Siregar et al., 2004).
Kebuntingan hasil inseminasi buatan tidak
hanya karena aktivasi kembali ovarium sampai
dengan terjadinya ovulasi, terdapat beberapa
faktor lain yaitu kualitas semen, penanganan
semen, deteksi birahi, ketepatan waktu
inseminasi dan
keterampilan inseminator dalam mendeposisikan
semen ke dalam organ reproduksi sapi (,). Pada penanganan kasus ini faktor-faktor
lain tersebut adalah sama diantara semua sapi
perah objek pada laporan kasus ini. Setelah
ovulasi, kadar hormon estrogen menurun
drastic, sel-sel pada jaringan sisa ovulasi
mengalami luteinasi oleh LH membentuk
korpus luteum yang menghasilkan hormon
progesterone. Sekresi LH yang terus menerus
penting untuk mempertahankan CL dan sekresi
progesteron untuk kelanjutan kebuntingan
pada sapi
Pemberian kombinasi hormon PMSG
dengan hCG dapat menimbulkan birahi dan
kebuntingan pada sapi perah 100% (10/10)
yang mengalami hipofungsi ovarium di KSU
Tunas Setia Baru Kecamatan Tutur Kabupaten
Pasuruan.
8
Sapi merupakan salah satu hewan ternak yang
penting sebagai sumber protein hewani, selain
kambing, domba dan ayam. Sapi menghasilkan sekitar
50% (45-55%) kebutuhan daging di dunia, 95%
kebutuhan susu dan 85% kebutuhan kulit Sapi berasal dari
famili Bovidae. seperti halnya bison, banteng, kerbau
(Bubalus), kerbau Afrika (Syncherus), dan anoa.
Pemeliharaan sapi secara intensif mulai dilakukan
sekitar 400 tahun SM. Sapi diperkirakan berasal dari
Asia Tengah, kemudian menyebar ke Eropa, Afrika
dan seluruh wilayah Asia. Menjelang akhir abad ke-
19, sapi Ongole dari India dimasukkan ke pulau Sumba
dan sejak saat itu pulau tersebut dijadikan tempat
pembiakan sapi Ongole murni. Pada tahun 1957 telah
dilakukan perbaikan mutu genetik sapi Madura dengan
jalan menyilangkannya dengan sapi Red Deen.
Persilangan lain yaitu antara sapi lokal (peranakan
Ongole) dengan sapi perah Frisian Holstein di Grati
guna diperoleh sapi perah jenis baru yang sesuai
dengan iklim dan kondisi di negara kita ,
Secara garis besar, bangsa-bangsa sapi (Bos)
yang terdapat di dunia ada dua, yaitu (1) kelompok
yang berasal dari sapi Zebu (Bos indicus) atau jenis
sapi yang berpunuk, yang berasal dan tersebar di
daerah tropis serta (2) kelompok dari Bos primigenius,
yang tersebar di daerah sub tropis atau lebih dikenal
dengan Bos Taurus. Di negara kita , manajemen
pemeliharaan biasanya terbagi atas pemeliharaan sapi
perah dan sapi potong. Jenis sapi perah yang unggul
dan paling banyak dipelihara adalah sapi Shorhorn (dari
Inggris), Friesian Holstein (dari Belanda), Yersey (dari
selat Channel antara Inggris dan Perancis), Brown
Swiss (dari Switzerland), Red Danish (dari Denmark)
dan Droughtmaster (dari Australia). Hasil survei
menunjukkan bahwa jenis sapi perah yang paling cocok
dan menguntungkan untuk dibudidayakan di negara kita
adalah Frisien Holstein.Pengembangan usaha
peternakan sapi perah di negara kita (on farm) beserta
industri pengolahannya (off farm) mengalami
kemajuan pesat pada tahun 1980 sampai dengan 1990
namun pada tahun 1990 sampai dengan 1999 produksi
susu segar relatif tetap. Jumlah susu segar yang
diproduksi pertahunnya mencapai kurang lebih 330.000
ton. Produksi tersebut terbagi atas 49% berasal dari
Jawa Timur, 36% dari Jawa Barat dan sisanya 15%
dari Jawa Tengah. (1999). Dari segi perkembangan
populasi sapi perah pada tahun 1970 sekitar 3000 ekor
menjadi 193.000 ekor pada tahun 1985, dan menjadi
369.000 ekor pada tahun 1991. Kenaikan ini terjadi
karena adanya impor sapi perah asal Australia dan
New Zealand ( Achjadi, 2001). Pada tahun 1999
industri persusuan nasional hanya memproduksi ± 20%
terhadap total kebutuhan industri pengolahan, sehingga
sisanya masih sangat bergantung kepada bahan baku
impor. Kondisi ini tidak bisa dibiarkan berlangsung lama
tanpa adanya upaya perbaikan pengelolaan sapi perah.
Untuk memperbaiki keadaan ini dibutuhkan usaha
yang keras dari segala komponen yang terkait, mulai
dari peternak sampai dengan pemerintah.
Sistem peternakan sapi perah yang ada di
negara kita masih merupakan jenis peternakan rakyat
yang hanya berskala kecil dan masih merujuk pada
sistem
pemeliharaan yang konvensional. Banyak
permasalahan yang timbul seperti permasalahan
pakan, reproduksi dan kasus klinik. Agar permasalahan
tersebut dapat ditangani dengan baik, diperlukan
adanya perubahan pendekatan dari pengobatan
menjadi bentuk pencegahan dan dari pelayanan
individu menjadi bentuk pelayanan kelompok.
Keberhasilan usaha peternakan sapi perah sangat
tergantung dari keterpaduan langkah terutama di
bidang pembibitan (Breeding), pakan, (feeding), dan
tata laksana (management). Ketiga bidang tersebut
kelihatannya belum dapat dilaksanakan dengan baik.
Hal ini disebabkan kurangnya pengetahuan dan
ketrampilan peternak serta masih melekatnya budaya
pola berfikir jangka pendek tanpa memperhatikan
kelangsungan usaha sapi perah jangka panjang. Oleh
karena itu, dibutuhkan peningkatan pengetahuan dan
pemahaman peternak tentang manajemen sapi perah
yang baik sehingga akan berdampak pada peningkatan
produksi dan ekonomi.
Industri susu nasional menghadapi tantangan
pemenuhan permintaan susu dimasa sekarang dan
yang akan datang, yaitu masih mengandalkan import
untuk memenuhi 68 % kebutuhan susu nasional
Perkembangan
populasi ternak sapi perah cenderung stagnan ,
produksi susu cenderung turun 0,6%, dengan demikian
ada kecenderungan nilai tambah yang dinikmati
peternak semakin kecil. Keadaan ini dapat terjadi
sebagai akibat harga susu yang cenderung tetap sejak
tahun 2000 sampai dengan tahun 2005. Hal ini
dikatakan oleh Tawaf (2007) bahwa harga faktor
produksi yang berakibat pada meningkatnya biaya
produksi usaha ternak sapi perah, sedangkan harga
susu tidak mengalami kenaikan. Keadaan ini
mengakibatkan persusuan di Jawa Barat dan Jawa
Timur dalam keadaan stagnan usaha.
Sutanto (2008) dalam disertasinya mengatakan
bahwa selama berdirinya koperasi susu SAE Pujon
sampai dengan tahun 2003 koperasi menggantungkan
penjualannya susu segar ke PT Nestle, akan tetapi
mulai tahun 2004 koperasi mulai merintis pasar-pasar
baru yaitu pada IPS yang lain. Perubahan pasokan
susu ke PT Nestle sebagai konsumen utama terjadi
penurunan pada tahun 2002 sebesar 96,26% dan tahun
2008 hanya sebesar 78,63 %; sedangkan pasokan susu
ke IPS lain meningkat dari 3,71 pada tahun 2002
menjadi 21,17 % pada tahun 2008. Pengalihan
sebagian produksi susu koperasi ke IPS lain selain P.T.
Nestle semata-mata berkaitan dengan tingkat kualitas
susu, grade yang dapat dipenuhi oleh sebagian besar
peternak adalah grade yang paling rendah, dimana
harga pembeliannya sangat kecil. Untuk meningkatkan
grade guna mendapatkan harga jual yang lebih, maka
peternak harus mengeluarkan dana sendiri (IPS tidak
mengeluarkan dana untuk meningkatkan kualitas
susu). Dengan demikian , kenaikan harga yang
ditentukan IPStidak akan dapat menutupi biaya pokok
produksi peternak, bahkan akan merugikan peternak
karena ada tambahan biaya untuk meningkatkan
kualitas susu. Dalam kondisi itulah maka koperasi
secara bertahap mengurangi ketergantungan pada
salah satu IPS saja dan mulai merintis pasarpasar baru
guna mendapatkan posisi tawar yang lebih baik.
Bertambahnya tingkat pengetahuan masyarakat
tentang kesehatan dan kebutuhan terhadap gizi
mengakibatkan terjadinya peningkatan konsumsi susu
, baik susu segar ataupun susu bubuk.. Rendahnya
harga jual susu ke IPS antara lain disebabkan konsumsi
pakan yang rendah kualitasnya, sehingga kadar nutrisi
masih berada dibawah standard yang ditentukan oleh
IPS. Disamping itu karena masih terdapatnya residu
antibiotika pada air susu , industri pengolahan susu
bubuk kini memperketat terhadap penerimaan susu
segar dari peternak. Keberadaan residu antibiotika
pada ternak cukup mudah dideteksi oleh laboratorium
baik dengan Yoghurt test ataupun dengan maupun
Agar Test sehinggga tidak semua susu segar yang
disetor KUD dapat diterima industri pengolahan susu.
Kondisi ini memaksa peternak untuk mencari obat
alternatif yang dapat membunuh bibit penyakit, mampu
meningkatkan sistem pertahanan tubuh serta ,
meningkatkan nafsu makan serta memperlancar
produksi air susu.
Di KUD Pujon semenjak diberlakukannya
peraturan penolakan susu segar yang disetor ke Nestle
karena terdeteksinya kadar antibiotika yang cukup
tinggi pada susu segar , maka peternak berusaha
supaya tidak menyetor susu yang baru diobati terutama
dengan penicillin dan streptomicin . Hal lain yang
dilakukan oleh peternak yaitu dengan memberikan
obat-obatan herbal sekedar yang mereka tahu saja.
Peternak di wilayah pujon masih enggan mencari bibit
atau juga karena ketidak tahuan \mereka terhadap
tanaman-tanaman yang berhasiat untuk kesehatan
sapi.
Yang biasa dilakukan adalah dengan
memberikannya sebagaimana mereka memberikan
pakan rumput bagi mereka yang mengetahui khasiat
tanaman obat (survey ke lokasi peternak di Pujon,
Aisyah 2009). Harga obat-obatan untuk ternak sapi
cukup mahal, tidak sesuai dengan harga susu yang
diproduksi sehingga perlu dicarikan terobosan baru
agar peternak tidak mengalami kerugian.
Aloe Barbadensis Miller adalah tanaman lidah
buaya jenis unggul dari Amerika Serikat, harga bibit
perbatang sekitar Rp 15.000,- . Tanaman ini ,
berdasarkan hasil penelitian, daun lidah buaya beserta
gelnya berfungsi untuk menyembuhkan luka, bisul
bernanah, anemia, antibiotika, fungisida, sembelit,
diabetes, disentri, influenza, cacingan. Tanaman aloe
vera ini mengandung mineral calsium sebanyak 458,00
ppm; fosfor 20,10 ppm, besi (1,18); magnesium 60,80
ppm; mangan 1,04; kalium 797 ppm natrium 84,4 ppm;
tembaga 0,11 ppm, asam aspartat 43,00 ppm,asam
glutamat 52,00 ppm,alanin 28,00,ppm, isoleusin 14,00,
fenilalanin 14,00 ppm,threonin 31,00 ppm; prolin 14,00
ppm; valin 14 ppm; leusin 20,00 ppm, histidin 18,00
ppm, serin 45,00 ppm; glisin 28 ppm; arginin 14 ppm;
tyrosin 14 ppm tryptopan 30 ppm. Pada ayam broiler
untuk imbuhan pakan berfungsi meningkatkan
pertumbuhan dan konversi pakan ,
Pemberian aloe vera pada sapi sapi potong juga
berfungsi meningkatkan nafsu makan, konversi pakan
dan meningkatkan bobot badan ,
, mengatakan bahwa Aloe
barbadensis Miller memiliki konstituen yang bekerja
secara sinergystik. Konstituen dalam aloe vera yaitu
asam amino, antraquinon, enzym, mineral, vitamin,
lygnin, monosacharida, polisacharida, asam salisilat,
saponin dan sterol. Enzym yang ditemukan dalam aloe
vera adalah amylase, yang memutus gula dan tepung,
bradykinase (menstimulasi sistem imun, analgesik, anti
inflamasi, catalase (mencegah akumulasi air dalam
tubuh), selulase (berperan mencerna selulosa), lipase
(mencerna lemak), oxidase, alkalin phospatase,
proteolytase (hydrolisis protein dalam elemen-elemen
konstituen) creatin kinase, carboxypeptidase,
antioksidan vit A, C dan E, mineral, zink dan selenium.
Vitamin B1,B2,B3, B5, B6 dan B12, choline, calsium
(yang berperan dalam pertumbuhan tulang dan gigi.
Sapi perah adalah ternak yang sangat rentan
terhadap berbagai macam penyakit terutama apabila
pemberian pakan tidak terkontrol, yaitu cara
pengaturan pemberian pakan yang salah antara lain
pemberian lemak yang terlalu tinggi, dan rendah
pemberian karbohidrat berakibat terjadinya ketosis
yaitu penyakit metabolisme yang ditandai dengan
penimbunan benda-benda keton yaitu asam aseto
asetat ,betahidroksibutirat dan hasil dekarboksilasinya,
yaitu aseton dan isopropanol didalam cairan tubuh.
. Kondisi ini menggugah kami untuk melakukan
kegiatan penelitian sapi perah masa laktasi dengan
pemberian tanaman obat-obatan Aloe barbadensis
Miller yang diharapkan dapat dipergunakan untuk
mengobati , meningkatkan sistem pertahanan terhadap
serangan penyakit , serta meningkatkan produksi susu.
Penelitian ini akan dilaksanakan awal bulan
Oktober 2009 sampai Mei 2010, di exfarm fapetrik
UMM atau di Kecamatan Pujon di Peternakan sapi
perah milik Bapak Ali Mahmud pada saat masa laktasi.
Alat-alat yang dipergunakan untuk uji kualitas
susu adalah laktometer untuk uji BJ, sohlet henkel
untuk uji kadar lemak, alat-alat titrasi untuk uji kadar
protein dengan titrasi formol, alat-alat gelas, alat ukur
literan untuk produksi susu juga mesin pemerah susu,
CMT kid.
Kemudian untuk alat-alat untuk uji diagnostik
klinik yaitu stetoskop, termometer suhu badan, palu
perkusi untuk pemeriksaan kesehatan paru-paru,
mikroskop untuk pemeriksaan preparat natif adanya
keberadaan cacing pada feses. Alat-alat untuk uji telur
cacing dengan metode endapan dan apung.
Metoda
Penelitian ini menggunakan metode eksperimen,
analisis ragam yaitu sifat genetis, umur dan bobot sapi
yang dianggap homogen demikian pula lingkungan sapi
pada penelitian ini. Rancangan yang dipergunakan
adalah Rancangan Acak Lengkap dengan 5 perlakuan
dan 3 ulangan . Sapi yang digunakan adalah sapi PFH
masa laktasi pertama sebanyak 15 ekor . Dengan
perlakuan aloe vera (P1, 0kg; P2 1 kg; P3 2 kg; P4 3
kg; P5 4 kg dan masing-masing diulang 3 kali. Variabel
yang diukur :
1) jumlah produksi beserta kualitas fisik, kadar
lemak dan kadar protein menggunakan titrasi
formol.
2) Pemeriksaan kesehatan sapi dilakukan sesuai
prosedur ambulatoir,yaitu diperiksa mulai
mukosa, kulit, kelenjar (limpoglandula subcutis,
cara berjalan dan berdiri, bulu dan feses, suhu
badan, denyut jantung, kesehatan paru-paru,
gangguan pencernaan serta gannguan pada
saluran urinaria, nafsu makan meningkat/
tidak.
Penelitian ini dilaksanakan di wilayah Kecamatan
Pujon Kabupaten Malang yang terletak 840 meter dari
permukaan laut dengan suhu rata-rata 20 o C dan pada
siang hari mencapai 25 O C, peternakan sapi perah
yang kami gunakan bersuhu 20 sampai 26 o C. Dengan
temperatur tersebut sapi perah Peranakan Frisien
Holstein yang dipergunakan dalam penelitian ini mampu
bereproduksi. Sapi perah merupakan salah satu ternak
yang membutuhkan suhu rendah untuk berproduksi
secara optimal. Secara historis sapi perah yang
dikembangkan di negara kita merupakan sapi perah
yang berasal dari negara yang memiliki suhu rendah
yaitu Belanda.
Produktifitas sapi perah juga dipengaruhi oleh
kelembaban udara yang sangat berpengaruh terhadap
aktifitas fisiologisnya. Sapi perah Peranakan Frisien
Holstein mampu bertoleransi terhadap kelembaban
udara sampai 65 %. Kelembaban udara dalam kandang
selama penelitian berlangsung berkisar antara 80 –
95 % Kelembaban udara yang terlalu tinggi dapat
mengganggu aktifitas fisiologis optimal ternak sehingga
produktifias ternak menjadi kurang optimal.
Kadar Lemak Susu
Hasil penelitian kadar lemak susu sapi perah PFH
dengan berbagai tingkat pemberian perlakuan Aloe
Barbadensis Miller. tertera pada tabel dibawah ini :
Gambar 1. Hasil penelitian kadar lemak susu sapi perah PFH dengan berbagai tingkat
pemberian perlakuan Aloe Barbadensis Miller
Dari tabel diatas tampak bahwa rataan kadar lemak susu pada perlakuan P0 sebesar 4,496 persen ; P1
sebesar 4,546 persen ; P2 3,91 persen; P3 4,336 persen; P4 4,40 persen. Setelah dilakukan analisis ragam
kadar lemak susu sapi PFH tercantum pada tabel 2 dibawah ini :
Keterangan : Pemberian Aloe Barbadensis Miller tidak berpengaruh nyata
terhadap kadar lemak susu Fhit < Ftab1%
Hasil analisis diatas menunjukkan bahwa Aloe
Barbadensis Miller tidak memberikan pengaruh yang
berarti pada kadar lemak susu. Walaupun dalam
analisis ragam ini menunjukkan bahwa Aloe vera tidak
memberikan perbedaan yang nyata, tetapi rata-rata
kadar lemak yang diperoleh berada diatas kodex susu
yang yang berlaku di negara kita , yaitu 2,7% dan
menurut Sudono (1982), sapi FH umumnya memiliki
kadar lemak 3,5 %. Rata-rata kadar lemak pada
semua perlakuan adalah 4,496 % (P0), 4,546 % (P1);
3,91 % (P2); 4,336 % (P3); 4,40 % (P4). Hasil ini
menunjukkan bahwa hasil perlakuan dengan aloe vera
tidak menyebabkan terjadinya penurunan kadar lemak
dan nilai ini juga melebihi nilai kadar lemak untuk
kodeks susu, walaupun tidak terdapat perbedaan antar
perlakuan . Lemak susu merupakan komponen susu
yang penting seperti halnya protein. Dalam susu, lemak
terdapat sebagai globula atau emulsi, yaitu
bulatanbulatan minyak berukuran kecil di dalam serum
susu. Besar kecilnya globula lemak dipengaruhi oleh
berbagai faktor, antara lain jenis sapi, masa laktasi,
jenis dan bentuk pakan. Lemak susu mengandung
berbagai asam lemak, yaitu asam butirat, kaproat,
laurat, kaprilat,kaprat, miristat, palmitat, stearat,oleat,
deoksi stearat. Disamping itu juga mengandung bentuk
lipida pospolipida lesitin dan gol sterol yaitu kholesterol.
mengatakan bahwa Aloe vera
mengandung sterol tanaman atau plant steroid dalam
aloe vera, yang termasuk adalah cholesterol,
Campesterol, Lupeol, dan B sitosterol. Steroid ini
mengandung asam lemak didalamnya yang berperan
sebagai antiseptik yang dapat membunuh bakteri, virus,
fungi, dan parasit; analgesik dan antiinflamatori .
bahwa aloe vera mengandung lignin yaitu
selulosa sebagaimana hijauan.
Hijauan merupakan sumber lemak utama pada
ruminansia dapat dihidrolisis secara optimal oleh
mikroba rumen. Mikroba rumen dapat tumbuh optimal
dan berfungsi optimal dengan enzim selulase yang
dihasilkannya. Optimalnya fungsi mikroba dibantu oleh
adanya mineral P serta adanya mineral Cu, Na ,K,
Mg, Mn, serta Co ,Mineral
mineral ini diduga mampu memperbaiki daya cerna
serat kasar serta berperan dalam siistem enzim yang
terlibat dalam metabolisme lemak dan karbohidrat.
Sedangkan komponen pembentuk lemak susu adalah
asam asetat,asam lemak, gliserol,glukosa, dan beta
hidroksbuitirat trigserida pakan . Aloe
vera mengandung semua yang dibutuhkan ternak
perah untuk pembentukan lemak susu namun
konsentrasi yang kecil, kendati dosis berbeda pada tiap
perlakuan tetapi masih belum mampu mengimbangi
berat tubuh sapi yang 300 kg. Memang saponin
merupakan unsur steroid yang yang dapat membunuh
bakteri, dan protozoa yang ada dalam lambung sapi,
namun komponen-komponen lain yaitu mineral tersebut
diatas mampu mengimbangi metabolisme pembentukan
lemak susu, sehingga yang diperoleh kadar lemak susu
lebih tinggi dari kodex susu yang berlaku di negara kita .
Kadar lemak tanpa perlakuan tampak tidak
berbeda nyata dengan kadar lemak dengan perlakuan
hal ini disebabkan kadar protein rumput gajah yang
diberikan sebagai pakan 10, ,1%, kadar lemak 2,5%;
serat kasat 3,1 %, bahan ekstrak tanpa nitrogen 46,1
5, TDN 59 %, disamping adanya konsentrat yang
diberikan. Jadi dalam hal ini pemberian aloe vera yang
tinggi nutrisi justru ada kemungkinan dapat
meningkatkan kadar lemak diataskodex susu apabila
pemberiannya diberikan pada konsentrasi yang tinggi.
Kadar Protein susu setelah perlakuan
Protein dalam susu terdapat dalam bentuk kasein,
laktalbumin, dan laktoglobulin. Kasein merupakan
jumlah terbanyak dibandingkan laktalbumin dan
laktoglobulin, namun disamping protein tersebut msih
terdapat enzim dan imunoglobulin. Didalam susuprotein
terdispersi sebagai partikel yang berukuran bermacam-
macam, rata-rata diameter 66 mu
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar
protein setelah perlakuan Aloe barbadensis .Miller
sebagaimana tertera pada tabel 4. 2 dibawah ini :
Data rataan kadar protein tanpa perlakuan aloe
vera 3,823 %( P0); P1 3,86; P2 3,083; P3 3,71 dan P4
3,75. Berdasarkan data tersebut setelah dianalisis
ragam didapatkan bahwa F hit < dari F tabel. Hasil ini
menunjukkan bahwa perlakuan Aloe barbadensisi
Miller tidak memberikan pernbedaan yang nyata
dengan P0 (tanpa perlakuan). Tetapi nilai hasil
perlakuan apabila dibandingkan dengan kodex susu
yang berlaku di negara kita berada diatas kodex susu
yaitu yaitu 3,0 untuk kadar protein kasar dan 2,7 untuk
kadar protein murni. Hal ini menunjukkan bahwa
pemberian aloe barbadensis tidak memberikan
pengaruh buruk dengan menurunkan kadar protein ,
tetapi justru meningkatkan kadar protein walaupun
perbedaan tidak nyata dengan tanpa perlakuan karena
pemberian nutrisi yang memang sudah tinggi kadar
proteinnya,disamping itu kadar protein yang sangat
rendah dalam kondisi aloe vera segar lebih-lebih bila
dibandingkan dengan berat tubuh sapi yang 250-300
kg yang mengakibatkan tidak berbeda nyata diantara
perlakuan . bahwa Aloe
vera kaya dengan protein enzim lipase, protease,
bradikinase, karboxypeptidase, alkalinphospatase,
oxydase dan kreatinphospokinase.. Protein dan asam-
asam amino esensial inilah yang bergabung
membentuk protein guna meningkatkan kadar protein
susu. Proses pembentukan protein susu ,adalah sebagai berikut : Precursor untuk
sintesis protein adalah asam amino bebas, plasma
protein, dan peptide, Protein susu disintesis oleh
ambing, sedangkan untuk pembentukan dari
penggabungan-penggabungan asam amino. Proses
sintesis air susu terjadi pada sekretoris bagian ribosom
dikontrol oleh gen-gen yang mengandung bahan
genetik (DNA). Sintesis protein meliputi 3 proses yaitu
replikasi DNA< transkripsi DNA menjadi RNA dan
translasi RNA menjadi protein.
Gambar 2. Rataan kadar protein susu setelah perlakuan
Berat Jenis Air susu Setelah Perlakuan
Berat jenis air susu dihitung berdasarkan hukum
archimedes yang menyatakan bahwa tiap benda yang
dimasukkan kedalam zat cair maka pada benda
tersebut akan bekerja tekanan keatas yang besarnya
sama dengan berat cairan yang dipindahkan oleh benda
tersebut. Oleh karenanya semakin encer susu karena
kadar lemak, kadar protein dan nitrisi lainnya
konsentrasinya rendah maka BJ susu juga akan turun.
Rataan BJ susu setelah perlakuan aloe vera tertera
pada tabel dibawah ini :
Rataan Bj susu yang tertera diatas menunjukkan
bahwa nilai semua perlakuan tidak berbeda nyata
setelah dianalisis ragam, tetapi nilai Bj ini berada diatas
kodex susu yang berlaku di negara kita yaitu 1,028 gram/
cm3. Hal ini menunjukkan bahwa tingginya kadar
lemak, kadar protein susu ternyata memberikan nilai
BJ yang berada diatas kodex walaupun perbedaannya
tidak nyata antar perlakuan diakibatkan kadar aloe
vera yang diberikan cukup kecil sehingga perbedaan
4 kg tidak memberikan perbedaan yang berarti
dibanding berat tubuh sapi yang 300 kg. Konsentrasi
kadar lemak, protein dan karbohidrat yang sangat
rendah pada aloe vera ternyata belum cukup pula untuk
meningkatkan kadar nutrisi melebihi dari kadar
kontrolnya. Gambar BJ susu setelah perlakuan tertera
pada gambar dibawah:
Gambar 3. Bj susu setelah perlakuan tidak berbeda nyata dibanding tanpa perlakuan. Produksi
Susu Setelah Perlakuan
Produksi susu acap kali berubah, berbeda sifat,
komposisi, jumlahnya. Hal ini menurut Hadiwiyoto,
1994, dikatakan bahwa yang berpengaruh terhadap
produksi susu adalah jenis hewan, keturunan,
pertumbuhannya, umur hewan panjang masa laktasi,
kesehatan hewan, jenis dan macam pakan pengaruh
musim dan manajemen pemerahan. Umur sapi
penelitian adalah antara 1,8- 2,5 tahun yang masih
laktasi pertama jenis sapi adalah Peranakan FH. Pakan
yang diberikan adalah konsentrat dan rumput gajah
yang mempunyai komposisi nutrisi cukup tinggi kadar
proteinnya yaitu 10%.
Hasi penelitian ini memperlihatkan bahwa jumlah
produksi susu tidak berbeda nyata antar perlakuan baik
yang diberi aloe vera maupun yang tidak diberi aloe
vera tetapi bila untuk sapi peranakan FH yang masih
laktasi I dianggap bahwa produksi susu ini cukup tinggi
karena pengaruh pakan yang diberikan disamping
adanya aloe vera yang ternyata tidak memberi
pengaruh negatif terhadap produksi susu, dan bahkan
pemberiannya justru diduga dapat meningkatkan
produksi akan tetapi jumlah yang diberikan tidak
memberikan perbedaan yang nyata dibanding berat
badan sapi yang berkisar 300 kg an.
Dibawah ini tampak diagram produksi susu
setelah perlakuan.
Gambar 4. diagram produksi susu setelah perlakuan
Pengaruh Perlakuan terhadap Kesehatan
Dari hasil pemeriksaan Klinis didapatkan bahwa
pemeriksaan kulit organ-organ jantung, paru-paru
limphoglandula maxilaris dan mandibulris, pemeriksaan
mukosa gerakan, abdomen memperlihatkan tidak ada
kelainan selama penelitian Pada pemeriksaan
endoparasit didapatkan terdapat cacing Strongilus dan
Fasciola gigantica pada sapi tanpa perlakuan tetapi
setelah perlakuan didapatkan cacing-cacing yang
berupa kerangka hal ini menunjukan terjadi kelainan
pada cacing setelah perlakuan Aloe barbadensis
Miller yang tampak adalah setelah perlakuan 4 kg.
Data pemeriksaan telur cacing setelah 6 hari
perlakuan.
Dari tabel 7 tampak bahwa terjadi penurunan
yang sangat significan karena dari pada P(1) dengan
derajad infeksi ringan setelah pemberian 12 hari
diperoleh derajad infeksi 0, pada P2 dengan derajad
infeksi ringan dan berat setelah pemberian 12 hari
diperoleh derajad infeksi 0 . Pada P3 dengan derajad
infeksi ringan dan cacing. Hal ini dapat dibuktikan
karena banyaknya kerangka-kerangka cacing setelah
12 hari pemberian aloe vera. Diduga bahwa
pendegradasi cacing dilakukan oleh protease aloe vera,
saponin yang juga berfungsi sebagai anti mikroba.
Selama penelitian tidak ditemukan adanya kesulitan
59Siti Aisyah, tingkat Produksi Susu dan Kesehatan Sapi Perah dengan Pemberian Aloe Barbadensis Miller
buang air besar, yang diduga akibat adanya saponin dapat menghambat pencernaan selulosa akibat terbunuhnya
bakteri dan jamur dalam rumen, dimana pencernaan selulosa dilakukan oleh mikroba selulolitik dan jamur
selulolotik. Komponen aloe vera yang sangat lengkap dan bekerja secara sinergistik (Baldwin,2008) ternyata
mampu menetralisir kondisi ini. Kendati demikian perlu pula menjadi catatan bagi peneliti bahwa sebagaimana
yang disampaikan oleh Kamra (2003), ekosistem bakteri dalam rumen di negara tropis, sebanyak 1010-1011
cells/ml, terdapat lebih dari 50 genus), protozoa gol ciliata (104- 106/ml,dari 25 genus); fungi anaerobic terdiri
dari103-105 zoospores/ml, terdapat 5 genera dan bakteripages 108-109 /ml. Didalam rumen terjadi reaksi yang
synegistik dan antagonisdiantara kelompok-kelompok mikroba ini. Hasil dari reaksi ini adalah biokonversi pakan
yang akan merubahnya menjadi bentuk energi.Walau dalam penelitian ini hingga laporan ini dibuat tidak terjadi
kelainan pada sistem pencernaan yang tampak secara klinis tetapi perlu uji lebih lanjut tentang kelangsungan
hidup mikroba rumen ini setelah pemberian aloe vera yang mempunyai kanungan anti mikroba seperti antraquinon,
saponin dan asam salicilat. sedang setelah pemberian 12 hari diperoleh derajad infeksi ringan dan 0. Pada P4,
derajad infeksi berat setelah pemberian aloe vera 12 hari diperoleh derajad infeksi 0. Tetapi pada P0 tanpa
pemberian aloe vera didapatkan bahwa setelah 12 hari perlakuan tidak terjadi perubahan penurunan jumlah
telur cacing. Hal ini menunjukkan bahwa aloe vera mampu membunuh cacing, dengan cara mendegradasi.
Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa
1) kadar protein, kadar lemak, BJ, produksi susu serta
status kesehatan tidak berbeda nyata antara sapi
dengan perlakuan Aloe barbadensis Miller dan tanpa
perlakuan (P0). Akan tetapi aloe vera ini tidak
memberikan pengaruh buruk terhadap kadar nutrisis
susu. Pemberian aloe vera ini memberikan pengaruh
yang baik bagi kesehatan sapi perah dengan tidak
diketemukannya sapi sakit seklama penelitian.
Endoparasit cacing yang ditemukan adalah Strongylus
dan Fasciola gigantica Setelah perlakuan 4 kg
didapatkan infeksi ringan dan banyak terdapat
kerangka cacing yang menunjukkan bahwa akibat aloe
vera cacing mengalami kematian katera kandungan
protease dan steroid yang dimiliki aloe vera ini. Tidak
terjadi kelainan dalam sistem pencernaan yang diamati
secara klinis.
Saran
Pemberian aloe vera cukup baik untuk
meningkatkan kualitas dan kesehatan sapi perah. Agar
aloe vera tidak terasa mahal maka sebaiknya peternak
melakukan penanaman aloe vera ini sebagai suplemen
tambahan bagi ternak untuk mengurangi biaya
produksi. Perlu dilakukan penelitian lanjutan pengaruh
pemberian aloe vera dalam bentuk kering atau
diekstraksi untuk meningkatkan konsentrasi nutrisinya.
Pemberian aloe vera tidak perlu terlalu sering atau
perlu ada kombinasi dengan bahan pakan lain untuk
menjaga kemungkinan terganggunya mikroflora
rumen.