Rabu, 12 Februari 2025

ternak sapi 3





Peternakan sapi perah di negara kita  

sebagian besar dilakukan oleh anggota 

masyarakat di pedesaan secara perorangan yang 

bergabung dalam suatu koperasi. Koperasi 

Serba Usaha (KSU) Tunas Setia Baru berada di 

Kecamatan Tutur Kabupaten Pasuruan, Jawa 

Timur, dengan jumlah populasi sapi perah yang 

dimiliki anggotanya 1.326 ekor induk sapi, per-

September 2018. Permasalahan pada usaha 

ternak sapi perah pada umumnya adalah 

rendahnya efisiensi reproduksi yang disebabkan 

oleh gangguan reproduksi. Data laporan kasus 

gangguan reproduksi sapi perah di KSU Tunas 

Setia Baru yang cukup banyak adalah 

hipofungsi ovarium.  

Data global gangguan reproduksi pada sapi 

dan kerbau tahun 2002-2017, kasus hipofungsi 

ovarium menempati persentase kedua terbanyak 

(12%) setelah sub-estrus (42,1%) (Yániz et al., 

2008). Sedangkan di beberapa wilayah yang 

lain kasus hipofungsi ovarium menempati 

persentase teringgi diantara kasus gangguan 

reproduksi yang lain meskippun dengan angka 

yang berbeda-beda, yaitu di Lithuania 15,87% 

(Juodžentytė dan Žilaitis, 2018), di Sulawesi 

62,1% , dan di Jawa 

Timur sebesar 6,28% ,

Pada kasus hipofungsi ovarium tidak ada 

folikel mapupun korpus luteum, sehingga pada 

pemeriksaan per rektal permukaan ovarium 

licin. Sapi yang mengalami hipofungsi ovarium 

tidak menunjukkan tanda-tanda birahi 

(anestrus) dalam waktu yang lama. Secara 

endokrinoligis kasus hipofungsi terutama terjadi 

akibat kekurangan nutrisi, sehingga kelenjar 

hipofisa anterior tidak mampu mensekresikan 

Follicle Stimulating Hormone (FSH) dalam 

jumlah yang cukup untuk pertumbuhan dan 

pembentukan folikel di ovarium. Penanganan 

pada keadaan hipofungsi ovarium dapat 

dilakukan dengan memperbaiki kualitas pakan 

dan pemberian pengobatan dengan hormon 

antara lain dengan hormon gonadotropin 

Hormon gonadotropin yang banyak 

dipergunakan oleh para praktisi adalah 

Pregnant Mare Serum Gonadotropin (PMSG) 

dan human Chorionic Gonadrotopin (hCG). 

Kedua hormon tersebut merupakan hormon 

glikoprotein, terdiri dari subunit α dan β. Sub 

unit α pada PMSG dan hCG adalah sama, 

namun sub unit β yang menimbulkan perbedaan 

sifat aktivitasnya. Hormon PMSG berfungsi 

seperti   Follicle Stimulating Hormone (FSH) 

yang merangsang pertumbuhan folikel sampai 

matang sehingga menimbulkan gejala birahi, 

dengan sedikit sifat Luteinizing Hormon (LH) 

yang berfungsi menyebabkan ovulasi pada 

folikel yang telah matang , sedangkan 

hormon hCG bekerja seperti Luteinizing 

Hormon (LH)  (Cole, 2009). 

Laporan kasus ini membahas pengobatan 

hipofungsi ovarium menggunakan dosis yang 

sama hormon PMSG dikombinasikan dengan 

hormon hCG dengan dosis yang berbeda. 

 

Koperasi Serba Usaha (KSU) Tunas Setia 

Baru Kecamatan Tutur Kabupaten Pasuruan, 

Jawa Timur, terletak di lereng sebelah barat 

pegunungan Tengger di ketinggian 400-2000 

meter.  Wilayah kerja KSU Tunas Setia Baru 

meliputi 10 desa, yang secara secara geografis 

berada pada  7° 53' 30.51" LS dan 112° 48' 

41.90" BT.  

 

Diagnosis 

Laporan kasus menggunakan 10 ekor 

ternak sapi perah Peranakan Friesian Holstein 

(PFH), dengan kriteria: pernah beranak, tidak 

menunjukkan gejala estrus lebih dari 60 hari 

setelah melahirkan terakhir (Hafez dan Hafez, 

2000a), skor kondisi tubuh (Body Condition 

Score, BCS) 3 atau kurang (skala 1–5). 

Diagnosis dengan pemeriksaan palpasi rektal 

untuk memastikan bahwa kondisi ovarium halus 

tanpa ada folikel maupun korpus luteum.   

 

Terapi Hormon 

Hormon yang digunakan adalah preparat 

hormon PG-600 (Intervet), preparat hormon 

hCG Chorulon (MSD). Sepuluh sapi perah yang 

mengalami hipofungsi ovarium disuntik PG-

600 dengan dosis 300 IU secara intramuskuler 

pada saat diagnosa hipofungsi ovarium 

ditegakkan. Selanjutnya 10 sapi perah hipofungsi 

ovarium tersebut dibagi secara acak menjadi dua 

kelompok sama banyak. Penyuntikan Chorulan 

(hCG) dilakukan secara inramuskuler pada 

waktu birahi bersamaan dengan saat inseminasi, 

yaitu 300 IU pada kelompok pertama,  dan 600 

IU pada kelompok kedua. Respons birahi yang 

diamati berupa persentase birahi, serta rentangan 

dan rerata waktu terjadinya birahi dihitung 

berdasarkan saat penyuntikan PG-600 sampai 

dengan munculnya tanda birahi, diantara spai 

perah yang mengalami hipofungsi ovarium.  

 

Inseminasi Buatan 

Inseminasi buatan dilakukan dengan 

menggunakan semen beku sapi perah PFH yang 

diperoleh dari Balai Besar Inseminasi Buatan 

(BBIB) Singosari. Teknis pelaksanaan 

dilakukan oleh inseminator, sesuai prosedur 

operasional standar, semen beku post-thawing 

dimasukkan pada posisi keempat menggunakan 

laras inseminasi buatan. Respons yang diamati 

adalah persentase kebuntingan diantara sapi-

sapi diberi perlakuan dan diinseminasi. 

Semua sapi perah hipofungsi ovarium 

(100%) mengalami birahi baik pada kelompok 

pertama maupun kelompok kedua. Waktu 

munculnya tanda-tanda birahi dihitung sejak 

penyuntikan PG-600 pada kelompok pertama 

pada rentangan 6 – 8, dengan rerata 6,8 ± 0.84, 

sedangkan pada kelompok kedua pada 

rentangan 6 – 7 dengan rerata 6,2 ± 0.45 hari. 

Diagnosis kebuntingan yang dilakukan 60 hari 

setelah inseminasi buatan menunjukkan bahwa 

semua sapi perah PFH (100%) pada kedua 

kelompok tersebut dinyatakan bunting (Tabel 

1). 

Tabel 1 Persentase birahi, rentangan dan rerata waktu munculnya birahi (hari), serta persentase 

kebuntingan pada sapi perah yang mengalami hipofungsi ovarium setelah diberi pengobatan dengan 

hormon gonadotropin. 

Gonadotropin jumlah 

sapi 

birahi persentase 

bunting PG-600 hCG persentase rentangan waktu rerata waktu 

300 IU  100 IU 5 100 % (5/5) 6 – 8 6,8 ± 0.84 100 % (5/5) 

300 IU 300 IU 5 100 % (5/5) 6 – 7 6,2 ± 0.45 100 % (5/5) 

PG-600 disuntikkan intramuskuler saat sapi terdiagnosis hipofungsi ovarium; hCG disuntikkan 

bersamaan dengan waktu inseminasi buatan; waktu birahi dihitung dari saat penyuntikan sampai 

dengan pertama kali munculnya tanda birahi. 

 

Gangguan reproduksi karena hipofungsi 

ovarium dapat diobati dengan pemberian 

preparat hormonal FSH-LH like dengan 

penyuntikan preparat kombinasi FSH–LH atau 

FSH–LH like seperti, PMSG dan hCG 

(Hermadi, 2015). Pada penanganan kasus 

hipofungsi pada sapi perah di KSU Tunas Setia 

Baru menggunakan kombinasi   PG-600   

300IU   dengan hCG   300IU   atau kombinasi 

PG-600 dan hCG 100IU terbukti dapat 

mengaktifkan kembali ovarium pada 100% 

(10/10), sehingga semuanya menunjukkan 

respons birahi antara 6-8 hari setelah 

penyuntikan PG-600, dan semua bunting pada 

pemeriksaan per rektal 60 hari setelah 

dilakukan inseminasi buatan. Hasil tersebut 

lebih baik dibandingkan laporan-laporan 

sebelumnya. Pengobatan hipofungsi ovarium 

pada kerbau menggunakan PMSG saja 

menghasilkan kebuntingan 58.33 % , Sedangkan pengobatan 

hipofungsi ovarium pada sapi dan kerbau 

dengan 180 IU PG-600 saja menghasilkan 

angka birahi sebesar 90,8%, antara 3 – 9 hari 

atau rata-rata 5 hari setelah penyuntikan PG-

600 ,

Preparat PG-600 mengandung 400 IU 

hormon PMSG dan 200 IU hormon hCG. 

Pregnant  Mare Serum Gonadotropin 

mempunyai aktifitas sebagai FSH dan sedikit 

LH. Fungsi utama FSH adalah stimulasi 

pertumbuhan dan pematangan folikel de graaf 

di dalam ovarium , Pada penanganan kasus ini, 

pemakaian kombinasi PG-600 dengan hCG 

mampu menginduksi aktivasi ovarium sapi 

yang mengalami hipufungsi. Hormon PMSG 

yang terkandung dalam PG-600 berfungsi 

menginisiasi pertumbuhan folikel pada 

ovarium. Sedangkan fungsi Luteinizing 

Hormone (LH) yang terkandung dalam PG-600 

dan hCG berperan pada proses androgenesis 

yang terjadi pada folikel dengan merubah 

cholesterol menjadi testosterone. Testosteron 

yang terbentuk akan berdifusi masuk ke dalam 

sel granulosa untuk diubah oleh FSH menjadi 

estrogen melalui proses aromatisasi yang 

melibatkan enzim aromatase. Adanya estrogen 

menyebabkan pertumbuhan folikel muda 

menjadi matang sampai terjadi birahi yang 

diikuti ovulasi. Hormon estrogen juga 

menyebabkan sapi  menunjukkan  tanda-tanda 

birahi ,

Secara fisiologis fungsi FSH (dalam PG-

600) menstimulir pematangan folikel yang 

menghasilkan hormon estrogen. Hormon 

estrogen tersebut menyebabkan munculnya 

tanda-tanda birahi, yaitu peningkatan 

vaskularisasi ke organ reproduksi betina dan 

menimbulkan perilaku birahi. Ketika folikel 

telah matang, hormon estrogen mencapai kadar 

tertinggi yang kemudian memicu hipofisa 

anterior untuk melepaskan LH yang 

menyebabkan terjadinya ovulasi  Hormon hCG yang disuntikkan 

setelah penyuntikan PG-600 bertujuan untuk 

meningkatkan kapasitas induksi ovulasi. 

Hormon hCG mempunyai aktifitas seperti LH 

yang  dapat  merangsang  sel-sel  granulosa  

dan  sel-sel  teka  pada  folikel  yang matang 

mengalami ovulasi (Siregar et al., 2004).  

Kebuntingan hasil inseminasi buatan tidak 

hanya karena aktivasi kembali ovarium sampai 

dengan terjadinya ovulasi, terdapat beberapa 


faktor lain yaitu kualitas semen, penanganan 

semen, deteksi birahi, ketepatan waktu 

inseminasi  dan 

keterampilan inseminator dalam mendeposisikan 

semen ke dalam organ reproduksi sapi (,). Pada penanganan kasus ini faktor-faktor 

lain tersebut adalah sama diantara semua sapi 

perah objek pada laporan kasus ini. Setelah 

ovulasi, kadar hormon estrogen menurun 

drastic, sel-sel pada jaringan sisa ovulasi 

mengalami luteinasi oleh LH membentuk 

korpus luteum yang menghasilkan hormon 

progesterone. Sekresi LH yang terus menerus 

penting untuk mempertahankan CL dan sekresi 

progesteron untuk kelanjutan   kebuntingan   

pada   sapi   

 

Pemberian kombinasi hormon PMSG 

dengan hCG dapat menimbulkan birahi dan 

kebuntingan pada sapi perah 100% (10/10) 

yang mengalami hipofungsi ovarium di KSU 

Tunas Setia Baru Kecamatan Tutur Kabupaten 

Pasuruan. 

 


8

Sapi merupakan salah satu hewan ternak yang

penting sebagai sumber protein hewani, selain

kambing, domba dan ayam. Sapi menghasilkan sekitar

50% (45-55%) kebutuhan daging di dunia, 95%

kebutuhan susu dan 85% kebutuhan kulit  Sapi berasal dari

famili Bovidae. seperti halnya bison, banteng, kerbau

(Bubalus), kerbau Afrika (Syncherus), dan anoa.

Pemeliharaan sapi secara intensif mulai dilakukan

sekitar 400 tahun SM. Sapi diperkirakan berasal dari

Asia Tengah, kemudian menyebar ke Eropa, Afrika

dan seluruh wilayah Asia. Menjelang akhir abad ke-

19, sapi Ongole dari India dimasukkan ke pulau Sumba

dan sejak saat itu pulau tersebut dijadikan tempat

pembiakan sapi Ongole murni. Pada tahun 1957 telah

dilakukan perbaikan mutu genetik sapi Madura dengan

jalan menyilangkannya dengan sapi Red Deen.

Persilangan lain yaitu antara sapi lokal (peranakan

Ongole) dengan sapi perah Frisian Holstein di Grati

guna diperoleh sapi perah jenis baru yang sesuai

dengan iklim dan kondisi di negara kita  ,

Secara garis besar, bangsa-bangsa sapi (Bos)

yang terdapat di dunia ada dua, yaitu (1) kelompok

yang berasal dari sapi Zebu (Bos indicus) atau jenis

sapi yang berpunuk, yang berasal dan tersebar di

daerah tropis serta (2) kelompok dari Bos primigenius,

yang tersebar di daerah sub tropis atau lebih dikenal

dengan Bos Taurus. Di negara kita , manajemen

pemeliharaan biasanya terbagi atas pemeliharaan sapi

perah dan sapi potong. Jenis sapi perah yang unggul

dan paling banyak dipelihara adalah sapi Shorhorn (dari

Inggris), Friesian Holstein (dari Belanda), Yersey (dari

selat Channel antara Inggris dan Perancis), Brown

Swiss (dari Switzerland), Red Danish (dari Denmark)

dan Droughtmaster (dari Australia). Hasil survei

menunjukkan bahwa jenis sapi perah yang paling cocok

dan menguntungkan untuk dibudidayakan di negara kita 

adalah Frisien Holstein.Pengembangan usaha

peternakan sapi perah di negara kita  (on farm) beserta

industri pengolahannya (off farm) mengalami

kemajuan pesat pada tahun 1980 sampai dengan 1990

namun pada tahun 1990 sampai dengan 1999 produksi

susu segar relatif tetap. Jumlah susu segar yang

diproduksi pertahunnya mencapai kurang lebih 330.000

ton. Produksi tersebut terbagi atas 49% berasal dari

Jawa Timur, 36% dari Jawa Barat dan sisanya 15%

dari Jawa Tengah. (1999). Dari segi perkembangan

populasi sapi perah pada tahun 1970 sekitar 3000 ekor

menjadi 193.000 ekor pada tahun 1985, dan menjadi

369.000 ekor pada tahun 1991. Kenaikan ini terjadi

karena adanya impor sapi perah asal Australia dan

New Zealand ( Achjadi, 2001). Pada tahun 1999

industri persusuan nasional hanya memproduksi ± 20%

terhadap total kebutuhan industri pengolahan, sehingga

sisanya masih sangat bergantung kepada bahan baku

impor. Kondisi ini tidak bisa dibiarkan berlangsung lama

tanpa adanya upaya perbaikan pengelolaan sapi perah.

Untuk memperbaiki keadaan ini dibutuhkan usaha

yang keras dari segala komponen yang terkait, mulai

dari peternak sampai dengan pemerintah.

Sistem peternakan sapi perah yang ada di

negara kita  masih merupakan jenis peternakan rakyat

yang hanya berskala kecil dan masih merujuk pada

sistem

pemeliharaan yang konvensional. Banyak

permasalahan yang timbul seperti permasalahan

pakan, reproduksi dan kasus klinik. Agar permasalahan

tersebut dapat ditangani dengan baik, diperlukan

adanya perubahan pendekatan dari pengobatan

menjadi bentuk pencegahan dan dari pelayanan

individu menjadi bentuk pelayanan kelompok.

Keberhasilan usaha peternakan sapi perah sangat

tergantung dari keterpaduan langkah terutama di

bidang pembibitan (Breeding), pakan, (feeding), dan

tata laksana (management). Ketiga bidang tersebut

kelihatannya belum dapat dilaksanakan dengan baik.

Hal ini disebabkan kurangnya pengetahuan dan

ketrampilan peternak serta masih melekatnya budaya

pola berfikir jangka pendek tanpa memperhatikan

kelangsungan usaha sapi perah jangka panjang. Oleh

karena itu, dibutuhkan peningkatan pengetahuan dan

pemahaman peternak tentang manajemen sapi perah

yang baik sehingga akan berdampak pada peningkatan

produksi dan ekonomi.

Industri susu nasional menghadapi tantangan

pemenuhan permintaan susu dimasa sekarang dan

yang akan datang, yaitu masih mengandalkan import

untuk memenuhi 68 % kebutuhan susu nasional

Perkembangan

populasi ternak sapi perah cenderung stagnan ,

produksi susu cenderung turun 0,6%, dengan demikian

ada kecenderungan nilai tambah yang dinikmati

peternak semakin kecil. Keadaan ini dapat terjadi

sebagai akibat harga susu yang cenderung tetap sejak

tahun 2000 sampai dengan tahun 2005. Hal ini

dikatakan oleh Tawaf (2007) bahwa harga faktor

produksi yang berakibat pada meningkatnya biaya

produksi usaha ternak sapi perah, sedangkan harga

susu tidak mengalami kenaikan. Keadaan ini

mengakibatkan persusuan di Jawa Barat dan Jawa

Timur dalam keadaan stagnan usaha.

Sutanto (2008) dalam disertasinya mengatakan

bahwa selama berdirinya koperasi susu SAE Pujon

sampai dengan tahun 2003 koperasi menggantungkan

penjualannya susu segar ke PT Nestle, akan tetapi

mulai tahun 2004 koperasi mulai merintis pasar-pasar

baru yaitu pada IPS yang lain. Perubahan pasokan

susu ke PT Nestle sebagai konsumen utama terjadi

penurunan pada tahun 2002 sebesar 96,26% dan tahun

2008 hanya sebesar 78,63 %; sedangkan pasokan susu

ke IPS lain meningkat dari 3,71 pada tahun 2002

menjadi 21,17 % pada tahun 2008. Pengalihan

sebagian produksi susu koperasi ke IPS lain selain P.T.

Nestle semata-mata berkaitan dengan tingkat kualitas

susu, grade yang dapat dipenuhi oleh sebagian besar

peternak adalah grade yang paling rendah, dimana

harga pembeliannya sangat kecil. Untuk meningkatkan

grade guna mendapatkan harga jual yang lebih, maka

peternak harus mengeluarkan dana sendiri (IPS tidak

mengeluarkan dana untuk meningkatkan kualitas

susu). Dengan demikian , kenaikan harga yang

ditentukan IPStidak akan dapat menutupi biaya pokok

produksi peternak, bahkan akan merugikan peternak

karena ada tambahan biaya untuk meningkatkan

kualitas susu. Dalam kondisi itulah maka koperasi

secara bertahap mengurangi ketergantungan pada

salah satu IPS saja dan mulai merintis pasarpasar baru

guna mendapatkan posisi tawar yang lebih baik.

Bertambahnya tingkat pengetahuan masyarakat

tentang kesehatan dan kebutuhan terhadap gizi

mengakibatkan terjadinya peningkatan konsumsi susu

, baik susu segar ataupun susu bubuk.. Rendahnya

harga jual susu ke IPS antara lain disebabkan konsumsi

pakan yang rendah kualitasnya, sehingga kadar nutrisi

masih berada dibawah standard yang ditentukan oleh

IPS. Disamping itu karena masih terdapatnya residu

antibiotika pada air susu , industri pengolahan susu

bubuk kini memperketat terhadap penerimaan susu

segar dari peternak. Keberadaan residu antibiotika

pada ternak cukup mudah dideteksi oleh laboratorium

baik dengan Yoghurt test ataupun dengan maupun

Agar Test sehinggga tidak semua susu segar yang

disetor KUD dapat diterima industri pengolahan susu.

Kondisi ini memaksa peternak untuk mencari obat

alternatif yang dapat membunuh bibit penyakit, mampu

meningkatkan sistem pertahanan tubuh serta ,

meningkatkan nafsu makan serta memperlancar

produksi air susu.

Di KUD Pujon semenjak diberlakukannya

peraturan penolakan susu segar yang disetor ke Nestle

karena terdeteksinya kadar antibiotika yang cukup

tinggi pada susu segar , maka peternak berusaha

supaya tidak menyetor susu yang baru diobati terutama

dengan penicillin dan streptomicin . Hal lain yang

dilakukan oleh peternak yaitu dengan memberikan

obat-obatan herbal sekedar yang mereka tahu saja.

Peternak di wilayah pujon masih enggan mencari bibit

atau juga karena ketidak tahuan \mereka terhadap

tanaman-tanaman yang berhasiat untuk kesehatan

sapi.

Yang biasa dilakukan adalah dengan

memberikannya sebagaimana mereka memberikan

pakan rumput bagi mereka yang mengetahui khasiat

tanaman obat (survey ke lokasi peternak di Pujon,

Aisyah 2009). Harga obat-obatan untuk ternak sapi

cukup mahal, tidak sesuai dengan harga susu yang

diproduksi sehingga perlu dicarikan terobosan baru

agar peternak tidak mengalami kerugian.

Aloe Barbadensis Miller adalah tanaman lidah

buaya jenis unggul dari Amerika Serikat, harga bibit

perbatang sekitar Rp 15.000,- . Tanaman ini ,

berdasarkan hasil penelitian, daun lidah buaya beserta

gelnya berfungsi untuk menyembuhkan luka, bisul

bernanah, anemia, antibiotika, fungisida, sembelit,

diabetes, disentri, influenza, cacingan. Tanaman aloe

vera ini mengandung mineral calsium sebanyak 458,00

ppm; fosfor 20,10 ppm, besi (1,18); magnesium 60,80

ppm; mangan 1,04; kalium 797 ppm natrium 84,4 ppm;

tembaga 0,11 ppm, asam aspartat 43,00 ppm,asam

glutamat 52,00 ppm,alanin 28,00,ppm, isoleusin 14,00,

fenilalanin 14,00 ppm,threonin 31,00 ppm; prolin 14,00

ppm; valin 14 ppm; leusin 20,00 ppm, histidin 18,00

ppm, serin 45,00 ppm; glisin 28 ppm; arginin 14 ppm;

tyrosin 14 ppm tryptopan 30 ppm. Pada ayam broiler

untuk imbuhan pakan berfungsi meningkatkan

pertumbuhan dan konversi pakan ,

Pemberian aloe vera pada sapi sapi potong juga

berfungsi meningkatkan nafsu makan, konversi pakan

dan meningkatkan bobot badan ,

, mengatakan bahwa Aloe

barbadensis Miller memiliki konstituen yang bekerja

secara sinergystik. Konstituen dalam aloe vera yaitu

asam amino, antraquinon, enzym, mineral, vitamin,

lygnin, monosacharida, polisacharida, asam salisilat,

saponin dan sterol. Enzym yang ditemukan dalam aloe

vera adalah amylase, yang memutus gula dan tepung,

bradykinase (menstimulasi sistem imun, analgesik, anti

inflamasi, catalase (mencegah akumulasi air dalam

tubuh), selulase (berperan mencerna selulosa), lipase

(mencerna lemak), oxidase, alkalin phospatase,

proteolytase (hydrolisis protein dalam elemen-elemen

konstituen) creatin kinase, carboxypeptidase,

antioksidan vit A, C dan E, mineral, zink dan selenium.

Vitamin B1,B2,B3, B5, B6 dan B12, choline, calsium

(yang berperan dalam pertumbuhan tulang dan gigi.

Sapi perah adalah ternak yang sangat rentan

terhadap berbagai macam penyakit terutama apabila

pemberian pakan tidak terkontrol, yaitu cara

pengaturan pemberian pakan yang salah antara lain

pemberian lemak yang terlalu tinggi, dan rendah

pemberian karbohidrat berakibat terjadinya ketosis

yaitu penyakit metabolisme yang ditandai dengan

penimbunan benda-benda keton yaitu asam aseto

asetat ,betahidroksibutirat dan hasil dekarboksilasinya,

yaitu aseton dan isopropanol didalam cairan tubuh.

. Kondisi ini menggugah kami untuk melakukan

kegiatan penelitian sapi perah masa laktasi dengan

pemberian tanaman obat-obatan Aloe barbadensis

Miller yang diharapkan dapat dipergunakan untuk

mengobati , meningkatkan sistem pertahanan terhadap

serangan penyakit , serta meningkatkan produksi susu.


Penelitian ini akan dilaksanakan awal bulan

Oktober 2009 sampai Mei 2010, di exfarm fapetrik

UMM atau di Kecamatan Pujon di Peternakan sapi

perah milik Bapak Ali Mahmud pada saat masa laktasi.

Alat-alat yang dipergunakan untuk uji kualitas

susu adalah laktometer untuk uji BJ, sohlet henkel

untuk uji kadar lemak, alat-alat titrasi untuk uji kadar

protein dengan titrasi formol, alat-alat gelas, alat ukur

literan untuk produksi susu juga mesin pemerah susu,

CMT kid.

Kemudian untuk alat-alat untuk uji diagnostik

klinik yaitu stetoskop, termometer suhu badan, palu

perkusi untuk pemeriksaan kesehatan paru-paru,

mikroskop untuk pemeriksaan preparat natif adanya

keberadaan cacing pada feses. Alat-alat untuk uji telur

cacing dengan metode endapan dan apung.

 Metoda

Penelitian ini menggunakan metode eksperimen,

analisis ragam yaitu sifat genetis, umur dan bobot sapi

yang dianggap homogen demikian pula lingkungan sapi

pada penelitian ini. Rancangan yang dipergunakan

adalah Rancangan Acak Lengkap dengan 5 perlakuan

dan 3 ulangan . Sapi yang digunakan adalah sapi PFH

masa laktasi pertama sebanyak 15 ekor . Dengan

perlakuan aloe vera (P1, 0kg; P2 1 kg; P3 2 kg; P4 3

kg; P5 4 kg dan masing-masing diulang 3 kali. Variabel

yang diukur :

1)  jumlah produksi beserta kualitas fisik, kadar

lemak dan kadar protein menggunakan titrasi

formol.

2) Pemeriksaan kesehatan sapi dilakukan sesuai

prosedur ambulatoir,yaitu diperiksa mulai

mukosa, kulit, kelenjar (limpoglandula subcutis,

cara berjalan dan berdiri, bulu dan feses, suhu

badan, denyut jantung, kesehatan paru-paru,

gangguan pencernaan serta gannguan pada

saluran urinaria, nafsu makan meningkat/

tidak.


Penelitian ini dilaksanakan di wilayah Kecamatan

Pujon Kabupaten Malang yang terletak 840 meter dari

permukaan laut dengan suhu rata-rata 20 o C dan pada

siang hari mencapai 25 O C, peternakan sapi perah

yang kami gunakan bersuhu 20 sampai 26 o C. Dengan

temperatur tersebut sapi perah Peranakan Frisien

Holstein yang dipergunakan dalam penelitian ini mampu

bereproduksi. Sapi perah merupakan salah satu ternak

yang membutuhkan suhu rendah untuk berproduksi

secara optimal. Secara historis sapi perah yang

dikembangkan di negara kita  merupakan sapi perah

yang berasal dari negara yang memiliki suhu rendah

yaitu Belanda.

Produktifitas sapi perah juga dipengaruhi oleh

kelembaban udara yang sangat berpengaruh terhadap

aktifitas fisiologisnya. Sapi perah Peranakan Frisien

Holstein mampu bertoleransi terhadap kelembaban

udara sampai 65 %. Kelembaban udara dalam kandang

selama penelitian berlangsung berkisar antara 80 –

95 % Kelembaban udara yang terlalu tinggi dapat

mengganggu aktifitas fisiologis optimal ternak sehingga

produktifias ternak menjadi kurang optimal.

Kadar Lemak Susu

Hasil penelitian kadar lemak susu sapi perah PFH

dengan berbagai tingkat pemberian perlakuan Aloe

Barbadensis Miller. tertera pada tabel dibawah ini :


Gambar 1. Hasil penelitian kadar lemak susu sapi perah PFH dengan berbagai tingkat

pemberian perlakuan Aloe Barbadensis Miller


Dari tabel diatas tampak bahwa rataan kadar lemak susu pada perlakuan P0 sebesar 4,496 persen ; P1

sebesar 4,546 persen ; P2 3,91 persen; P3 4,336 persen; P4 4,40 persen. Setelah dilakukan analisis ragam

kadar lemak susu sapi PFH tercantum pada tabel 2 dibawah ini :


 

Keterangan : Pemberian Aloe Barbadensis Miller tidak berpengaruh nyata

terhadap kadar lemak susu Fhit < Ftab1%

Hasil analisis diatas menunjukkan bahwa Aloe

Barbadensis Miller tidak memberikan pengaruh yang

berarti pada kadar lemak susu. Walaupun dalam

analisis ragam ini menunjukkan bahwa Aloe vera tidak

memberikan perbedaan yang nyata, tetapi rata-rata

kadar lemak yang diperoleh berada diatas kodex susu

yang yang berlaku di negara kita , yaitu 2,7% dan

menurut Sudono (1982), sapi FH umumnya memiliki

kadar lemak 3,5 %. Rata-rata kadar lemak pada

semua perlakuan adalah 4,496 % (P0), 4,546 % (P1);

3,91 % (P2); 4,336 % (P3); 4,40 % (P4). Hasil ini

menunjukkan bahwa hasil perlakuan dengan aloe vera


tidak menyebabkan terjadinya penurunan kadar lemak

dan nilai ini juga melebihi nilai kadar lemak untuk

kodeks susu, walaupun tidak terdapat perbedaan antar

perlakuan . Lemak susu merupakan komponen susu

yang penting seperti halnya protein. Dalam susu, lemak

terdapat sebagai globula atau emulsi, yaitu

bulatanbulatan minyak berukuran kecil di dalam serum

susu. Besar kecilnya globula lemak dipengaruhi oleh

berbagai faktor, antara lain jenis sapi, masa laktasi,

jenis dan bentuk pakan. Lemak susu mengandung

berbagai asam lemak, yaitu asam butirat, kaproat,

laurat, kaprilat,kaprat, miristat, palmitat, stearat,oleat,

deoksi stearat. Disamping itu juga mengandung bentuk

lipida pospolipida lesitin dan gol sterol yaitu kholesterol.

mengatakan bahwa Aloe vera

mengandung sterol tanaman atau plant steroid dalam

aloe vera, yang termasuk adalah cholesterol,

Campesterol, Lupeol, dan B sitosterol. Steroid ini

mengandung asam lemak didalamnya yang berperan

sebagai antiseptik yang dapat membunuh bakteri, virus,

fungi, dan parasit; analgesik dan antiinflamatori . 

 bahwa aloe vera mengandung lignin yaitu

selulosa sebagaimana hijauan.

Hijauan merupakan sumber lemak utama pada

ruminansia dapat dihidrolisis secara optimal oleh

mikroba rumen. Mikroba rumen dapat tumbuh optimal

dan berfungsi optimal dengan enzim selulase yang

dihasilkannya. Optimalnya fungsi mikroba dibantu oleh

adanya mineral P serta adanya mineral Cu, Na ,K,

Mg, Mn, serta Co ,Mineral

mineral ini diduga mampu memperbaiki daya cerna

serat kasar serta berperan dalam siistem enzim yang

terlibat dalam metabolisme lemak dan karbohidrat.

Sedangkan komponen pembentuk lemak susu adalah

asam asetat,asam lemak, gliserol,glukosa, dan beta

hidroksbuitirat trigserida pakan . Aloe

vera mengandung semua yang dibutuhkan ternak

perah untuk pembentukan lemak susu  namun

konsentrasi yang kecil, kendati dosis berbeda pada tiap

perlakuan tetapi masih belum mampu mengimbangi

berat tubuh sapi yang 300 kg. Memang saponin

merupakan unsur steroid yang yang dapat membunuh

bakteri, dan protozoa yang ada dalam lambung sapi,

namun komponen-komponen lain yaitu mineral tersebut

diatas mampu mengimbangi metabolisme pembentukan

lemak susu, sehingga yang diperoleh kadar lemak susu

lebih tinggi dari kodex susu yang berlaku di negara kita .

Kadar lemak tanpa perlakuan tampak tidak

berbeda nyata dengan kadar lemak dengan perlakuan

hal ini disebabkan kadar protein rumput gajah yang

diberikan sebagai pakan 10, ,1%, kadar lemak 2,5%;

serat kasat 3,1 %, bahan ekstrak tanpa nitrogen 46,1

5, TDN 59 %, disamping adanya konsentrat yang

diberikan. Jadi dalam hal ini pemberian aloe vera yang

tinggi nutrisi justru ada kemungkinan dapat

meningkatkan kadar lemak diataskodex susu apabila

pemberiannya diberikan pada konsentrasi yang tinggi.

Kadar Protein susu setelah perlakuan

Protein dalam susu terdapat dalam bentuk kasein,

laktalbumin, dan laktoglobulin. Kasein merupakan

jumlah terbanyak dibandingkan laktalbumin dan

laktoglobulin, namun disamping protein tersebut msih

terdapat enzim dan imunoglobulin. Didalam susuprotein

terdispersi sebagai partikel yang berukuran bermacam-

macam, rata-rata diameter 66 mu

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar

protein setelah perlakuan Aloe barbadensis .Miller

sebagaimana tertera pada tabel 4. 2 dibawah ini :



Data rataan kadar protein tanpa perlakuan aloe

vera 3,823 %( P0); P1 3,86; P2 3,083; P3 3,71 dan P4

3,75. Berdasarkan data tersebut setelah dianalisis

ragam didapatkan bahwa F hit < dari F tabel. Hasil ini

menunjukkan bahwa perlakuan Aloe barbadensisi

Miller tidak memberikan pernbedaan yang nyata

dengan P0 (tanpa perlakuan). Tetapi nilai hasil

perlakuan apabila dibandingkan dengan kodex susu

yang berlaku di negara kita  berada diatas kodex susu

yaitu yaitu 3,0 untuk kadar protein kasar dan 2,7 untuk

kadar protein murni. Hal ini menunjukkan bahwa

pemberian aloe barbadensis tidak memberikan

pengaruh buruk dengan menurunkan kadar protein ,

tetapi justru meningkatkan kadar protein walaupun

perbedaan tidak nyata dengan tanpa perlakuan karena

pemberian nutrisi yang memang sudah tinggi kadar

proteinnya,disamping itu kadar protein yang sangat

rendah dalam kondisi aloe vera segar lebih-lebih bila

dibandingkan dengan berat tubuh sapi yang 250-300

kg yang mengakibatkan tidak berbeda nyata diantara

perlakuan .  bahwa Aloe

vera kaya dengan protein enzim lipase, protease,

bradikinase, karboxypeptidase, alkalinphospatase,

oxydase dan kreatinphospokinase.. Protein dan asam-

asam amino esensial inilah yang bergabung

membentuk protein guna meningkatkan kadar protein

susu. Proses pembentukan protein susu ,adalah sebagai berikut : Precursor untuk

sintesis protein adalah asam amino bebas, plasma

protein, dan peptide, Protein susu disintesis oleh

ambing, sedangkan untuk pembentukan dari

penggabungan-penggabungan asam amino. Proses

sintesis air susu terjadi pada sekretoris bagian ribosom

dikontrol oleh gen-gen yang mengandung bahan

genetik (DNA). Sintesis protein meliputi 3 proses yaitu

replikasi DNA< transkripsi DNA menjadi RNA dan

translasi RNA menjadi protein.

Gambar 2. Rataan kadar protein susu setelah perlakuan

Berat Jenis Air susu Setelah Perlakuan

Berat jenis air susu dihitung berdasarkan hukum

archimedes yang menyatakan bahwa tiap benda yang

dimasukkan kedalam zat cair maka pada benda

tersebut akan bekerja tekanan keatas yang besarnya

sama dengan berat cairan yang dipindahkan oleh benda

tersebut. Oleh karenanya semakin encer susu karena

kadar lemak, kadar protein dan nitrisi lainnya

konsentrasinya rendah maka BJ susu juga akan turun.

Rataan BJ susu setelah perlakuan aloe vera tertera

pada tabel dibawah ini :



Rataan Bj susu yang tertera diatas menunjukkan

bahwa nilai semua perlakuan tidak berbeda nyata

setelah dianalisis ragam, tetapi nilai Bj ini berada diatas

kodex susu yang berlaku di negara kita  yaitu 1,028 gram/

cm3. Hal ini menunjukkan bahwa tingginya kadar

lemak, kadar protein susu ternyata memberikan nilai

BJ yang berada diatas kodex walaupun perbedaannya

tidak nyata antar perlakuan diakibatkan kadar aloe

vera yang diberikan cukup kecil sehingga perbedaan

4 kg tidak memberikan perbedaan yang berarti

dibanding berat tubuh sapi yang 300 kg. Konsentrasi

kadar lemak, protein dan karbohidrat yang sangat

rendah pada aloe vera ternyata belum cukup pula untuk

meningkatkan kadar nutrisi melebihi dari kadar

kontrolnya. Gambar BJ susu setelah perlakuan tertera

pada gambar dibawah:

Gambar 3. Bj susu setelah perlakuan tidak berbeda nyata dibanding tanpa perlakuan. Produksi

Susu Setelah Perlakuan

Produksi susu acap kali berubah, berbeda sifat,

komposisi, jumlahnya. Hal ini menurut Hadiwiyoto,

1994, dikatakan bahwa yang berpengaruh terhadap

produksi susu adalah jenis hewan, keturunan,

pertumbuhannya, umur hewan panjang masa laktasi,

kesehatan hewan, jenis dan macam pakan pengaruh

musim dan manajemen pemerahan. Umur sapi

penelitian adalah antara 1,8- 2,5 tahun yang masih

laktasi pertama jenis sapi adalah Peranakan FH. Pakan

yang diberikan adalah konsentrat dan rumput gajah

yang mempunyai komposisi nutrisi cukup tinggi kadar

proteinnya yaitu 10%.

Hasi penelitian ini memperlihatkan bahwa jumlah

produksi susu tidak berbeda nyata antar perlakuan baik

yang diberi aloe vera maupun yang tidak diberi aloe

vera tetapi bila untuk sapi peranakan FH yang masih

laktasi I dianggap bahwa produksi susu ini cukup tinggi

karena pengaruh pakan yang diberikan disamping

adanya aloe vera yang ternyata tidak memberi

pengaruh negatif terhadap produksi susu, dan bahkan

pemberiannya justru diduga dapat meningkatkan

produksi akan tetapi jumlah yang diberikan tidak

memberikan perbedaan yang nyata dibanding berat

badan sapi yang berkisar 300 kg an.

Dibawah ini tampak diagram produksi susu

setelah perlakuan.                        

Gambar 4. diagram produksi susu setelah perlakuan

Pengaruh Perlakuan terhadap Kesehatan

Dari hasil pemeriksaan Klinis didapatkan bahwa

pemeriksaan kulit organ-organ jantung, paru-paru

limphoglandula maxilaris dan mandibulris, pemeriksaan

mukosa gerakan, abdomen memperlihatkan tidak ada

kelainan selama penelitian Pada pemeriksaan

endoparasit didapatkan terdapat cacing Strongilus dan

Fasciola gigantica pada sapi tanpa perlakuan tetapi

setelah perlakuan didapatkan cacing-cacing yang

berupa kerangka hal ini menunjukan terjadi kelainan

pada cacing setelah perlakuan Aloe barbadensis

Miller yang tampak adalah setelah perlakuan 4 kg.

Data pemeriksaan telur cacing setelah 6 hari

perlakuan.


 Dari tabel 7 tampak bahwa terjadi penurunan

yang sangat significan karena dari pada P(1) dengan

derajad infeksi ringan setelah pemberian 12 hari

diperoleh derajad infeksi 0, pada P2 dengan derajad

infeksi ringan dan berat setelah pemberian 12 hari

diperoleh derajad infeksi 0 . Pada P3 dengan derajad

infeksi ringan dan cacing. Hal ini dapat dibuktikan

karena banyaknya kerangka-kerangka cacing setelah

12 hari pemberian aloe vera. Diduga bahwa

pendegradasi cacing dilakukan oleh protease aloe vera,

saponin yang juga berfungsi sebagai anti mikroba.

Selama penelitian tidak ditemukan adanya kesulitan

59Siti Aisyah, tingkat Produksi Susu dan Kesehatan Sapi Perah dengan Pemberian Aloe Barbadensis Miller

buang air besar, yang diduga akibat adanya saponin dapat menghambat pencernaan selulosa akibat terbunuhnya

bakteri dan jamur dalam rumen, dimana pencernaan selulosa dilakukan oleh mikroba selulolitik dan jamur

selulolotik. Komponen aloe vera yang sangat lengkap dan bekerja secara sinergistik (Baldwin,2008) ternyata

mampu menetralisir kondisi ini. Kendati demikian perlu pula menjadi catatan bagi peneliti bahwa sebagaimana

yang disampaikan oleh Kamra (2003), ekosistem bakteri dalam rumen di negara tropis, sebanyak 1010-1011

cells/ml, terdapat lebih dari 50 genus), protozoa gol ciliata (104- 106/ml,dari 25 genus); fungi anaerobic terdiri

dari103-105 zoospores/ml, terdapat 5 genera dan bakteripages 108-109 /ml. Didalam rumen terjadi reaksi yang

synegistik dan antagonisdiantara kelompok-kelompok mikroba ini. Hasil dari reaksi ini adalah biokonversi pakan

yang akan merubahnya menjadi bentuk energi.Walau dalam penelitian ini hingga laporan ini dibuat tidak terjadi

kelainan pada sistem pencernaan yang tampak secara klinis tetapi perlu uji lebih lanjut tentang kelangsungan

hidup mikroba rumen ini setelah pemberian aloe vera yang mempunyai kanungan anti mikroba seperti antraquinon,

saponin dan asam salicilat. sedang setelah pemberian 12 hari diperoleh derajad infeksi ringan dan 0. Pada P4,

derajad infeksi berat setelah pemberian aloe vera 12 hari diperoleh derajad infeksi 0. Tetapi pada P0 tanpa

pemberian aloe vera didapatkan bahwa setelah 12 hari perlakuan tidak terjadi perubahan penurunan jumlah

telur cacing. Hal ini menunjukkan bahwa aloe vera mampu membunuh cacing, dengan cara mendegradasi.


Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa

1)  kadar protein, kadar lemak, BJ, produksi susu serta

status kesehatan tidak berbeda nyata antara sapi

dengan perlakuan Aloe barbadensis Miller dan tanpa

perlakuan (P0). Akan tetapi aloe vera ini tidak

memberikan pengaruh buruk terhadap kadar nutrisis

susu. Pemberian aloe vera ini memberikan pengaruh

yang baik bagi kesehatan sapi perah dengan tidak

diketemukannya sapi sakit seklama penelitian.

Endoparasit cacing yang ditemukan adalah Strongylus

dan Fasciola gigantica Setelah perlakuan 4 kg

didapatkan infeksi ringan dan banyak terdapat

kerangka cacing yang menunjukkan bahwa akibat aloe

vera cacing mengalami kematian katera kandungan

protease dan steroid yang dimiliki aloe vera ini. Tidak

terjadi kelainan dalam sistem pencernaan yang diamati

secara klinis.

Saran

Pemberian aloe vera cukup baik untuk

meningkatkan kualitas dan kesehatan sapi perah. Agar

aloe vera tidak terasa mahal maka sebaiknya peternak

melakukan penanaman aloe vera ini sebagai suplemen

tambahan bagi ternak untuk mengurangi biaya

produksi. Perlu dilakukan penelitian lanjutan pengaruh

pemberian aloe vera dalam bentuk kering atau

diekstraksi untuk meningkatkan konsentrasi nutrisinya.

Pemberian aloe vera tidak perlu terlalu sering atau

perlu ada kombinasi dengan bahan pakan lain untuk

menjaga kemungkinan terganggunya mikroflora

rumen.