Rabu, 12 Februari 2025

ternak kambing 7




 Kalimantan Tengah adalah salah satu


provinsi yang dilewati katulistiwa, sehingga


mendapat penyinaran matahari lebih dari 50%sepanjang tahun. Udaranya relatif panas dan


pada siang hari mencapai 32 o


C dan malam hari


23 o


C. Rata-rata curah hujan per tahunnya


relatif tinggi, yaitu mencapai 1900-3100 mm


(Limin, 2002). Wilayah ini memiliki lahan

gambut yang cukup luas. Gambut mengandung


bahan organik tinggi yang diakibatkan


lingkungan anaerob (selalu tergenang air),


sehingga memungkinkan terjadinya


penumpukan bahan organik yang sukar melapuk


(Rismunandar, 2001).


Salah satu kemampuan yang tidak dimiliki


ternak lain (domba, sapi) bahwa kambing dapat


mengkonsumsi daun-daunan, semak belukar,


tanaman ramban dan rumput yang sudah tua


dan berkualitas rendah. Jenis pakan tersebut


dapat dimanfaatkan secara efisien, sehingga


kambing dapat beradaptasi pada lingkungan


yang kurang pakan (Devendra, 1978).


Kemampuan tersebut merupakan suatu potensi


penting untuk terus dikembangkan. Oleh karena


itu, kambing dicoba dipelihara dengan cara


digembalakan di lahan gambut.


Pemeliharaan kambing di lahan gambut


memerlukan manajemen yang baik untuk


mencapai peningkatan produktivitas. Pola dasar


tingkah laku ternak sangat penting untuk


diketahui dalam pengelolaannya. Memahami


pola tingkah laku normalnya dapat


mempermudah dalam peningkatan pengelolaan


ternak.


Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari


tingkah laku makan kambing Lokal Persilangan.


Pola tingkah laku makan kambing tersebut


dapat dijadikan sebagai dasar untuk memper￾baiki manajemen pemeliharaannya yang


digembalakan di lahan gambut.


MATERI DAN METODE


Penelitian ini dilaksanakan di lahan


gambut Desa Kalampangan, Kecamatan


Pahandut, Palangkaraya, Kalimantan Tengah.


Pelaksanaannya berlangsung selama tiga bulan,


dari pertengahan bulan Maret sampai dengan


pertengahan bulan Juni 2003.


Ternak yang digunakan adalah 10 ekor


kambing Lokal Persilangan terdiri atas lima ekor


jantan umur 8-12 bulan yang merupakan anak


kambing dari tujuh ekor yang tersedia dan lima


ekor betina dewasa umur 18-24 bulan yang me

rupakan induk yang sudah beranak. Bobot hidup


jantan rata-rata 15,4 kg dan betina 17,6 kg.


Lahan gambut yang digunakan sebagai


habitat penggembalaan seluas 3 ha, dibagi


menjadi 12 pedok (unit areal penggembalaan)


masing-masing berukuran 50x50 m2


. Ketebalan


lahan gambut yang digunakan berkisar antara


1,5 sampai 3 m.


Vegetasi yang ada di lahan gambut


(Yamada, 2002) terdiri atas ramin (Gonystylus


bancanus), jongkong (Dactylocladus


stenostachys), meranti lop (Shorea scabrida),


meranti lilin (Shorea teysmannina), meranti


buaya (Shorea rugosa var. uliginosa), meranti


paya (Shorea platycarpa), kapur paya


(Dryobalanops rappa), sepetir paya


(Copaifera palustris), semayor (Shorea


inaequilateralis), jelutong (Dyera lowii),


perupok (Lophopetalum multinervium), durian


burong (Durio carinatus), geronggang paya


(Cratoxylon arborescens), geronggang


padang (Cratoxylon glaucum), bintangor


(Calophyllon spp.), terentang (Campnosper￾ma cariacea). Paryadi (2002) menambahkan


lagi sasendok (Plantago mayor), kelakai


(Stenochlaena palustris), pakis (Asplenium


nidus), karamunting (Malastoma candidum),


akasia (Acacia sp.), delingu, lombok-lombokan.


Jenis vegetasi yang biasa dimakan kambing


(Paryadi, 2002) adalah sasendok, kelakai,


lombok-lombokan, pakis, delingu. Jenis vegetasi


yang paling disukai kambing adalah sasendok,


kelakai, lombok-lombokan, delingu.


Variasi vegetasi di tiap pedok


penggembalaan relatif sama. Ternak diberikan


penambahan zat makanan berupa UMB (Urea


Molases Block) yang mengandung Ca dan Mg.


Ternak kambing percobaan dipelihara


dengan sistem penggembalaan rotasi dalam 12


pedok. Masa penggembalaan di setiap pedok


selama 10 hari dan batas pedok pada saat


digembalakan menggunakan pagar listrik


(bertegangan 9 sampai 12 volt).


Kandang yang digunakan berupa


kandang panggung yang ditempatkan di dalam


pedok. Ukurannya, yaitu 200 x150 cm, tinggi

kaki kandang 50 cm. Kandang tersebut dapat


dipindah-pindahkan, berfungsi sebagai tempat


istirahat, dan berteduh dari keadaan cuaca yang


kurang baik (hujan, kedinginan). Tempat minum


diletakkan di dekat kandang yang diisi campuran


air garam dapur dengan kapasitas lima liter.


Peralatan pendukung lainnya terdiri atas:


1) stop watch untuk mengukur durasi/lamanya


aktivitas tingkah laku makan, 2) termometer


dengan satuan celcius digunakan untuk


mengukur suhu lingkungan, 3) timbangan 100


kg digunakan untuk menimbang ternak, 4)


kamera digunakan untuk mendokumentasikan


gambar selama penelitian, 5) daftar isian dan


alat tulis-menulis.


Perlakuan


Masing-masing kambing diberi nomor dari


satu sampai sepuluh. Nomor satu sampai lima


untuk kambing jantan dan enam sampai sepuluh


untuk kambing betina. Dalam pengambilan data,


antara kambing jantan dan betina tidak


dikelompokkan secara terpisah tetapi disatukan.


Kambing dibiarkan bebas merumput dalam


pedok, pintu kandang dibiarkan terbuka selama


24 jam agar kambing dapat bebas keluar￾masuk. Air minum dicampur dengan garam


dapur, diberikan ad libitum dan tidak diberi


pakan tambahan.


Mengetahui pola tingkah laku makan


dibutuhkan pengamatan tingkah laku pada


frekuensi waktu makan siang hari dari pukul


09.00-16.00, berdasarkan hasil penelitian


Paryadi (2002), yang menyatakan bahwa


aktivitas selama 12 jam (06.00-18.00)


menunjukkan antara pukul 09.00-16.00 aktivitas


makan dominan dilakukan. Pengamatan


tersebut dilakukan sebanyak tiga kali dalam


setiap pedok (10 hari penggembalaan) dengan


selang waktu satu sampai tiga hari. Setelah 10


hari digembalakan pada pedok pertama, maka


kambing tersebut dipindahkan ke pedok


selanjutnya. Lamanya penggembalaan


didasarkan pada perkiraan kapasitas tampung


dalam menyediakan hijauan.Pencatatan tingkah laku makan dilakukan


dengan metode One Zero interval 15 menit.


Tahapan tingkah laku diberi nilai satu bila


dilakukan dan nol bila tidak dilakukan, dalam


selang waktu 15 menit. Pengamatan tersebut


dilakukan dalam lima kali ulangan untuk setiap


individu berbeda. Tingkah laku yang diamati


dibedakan dalam aktivitas makan, ruminasi dan


istirahat. Aktivitas makan terdiri atas: 1) aktivitas


mencium hijauan yaitu awal aktivitas mencium


hingga kambing mulai melakukan aktivitas


lainnya, 2) aktivitas merenggut makanan yaitu


awal perenggutan hijauan hingga diangkat untuk


dikunyah , 3) aktivitas mengunyah makanan yaitu


aktivitas yang dimulai dari hasil perenggutan


hijuauan yang telah dikumpulkan di dalam mulut,


hingga melakukan aktivitas menelan , 4) aktivitas


menelan makanan yaitu aktivitas yang dimulai


dari menelan hasil kunyahan hingga aktivitas


lainnya. Aktivitas ruminasi terdiri atas: 1)


aktivitas mengeluarkan bolus yaitu aktivitas yang


dimulai dari dikeluarkan bolus dari rumen


menuju ke mulut hingga kambing melakukan


aktivitas mengunyah bolus, 2) aktivitas


mengunyah bolus, yaitu aktivitas yang dimulai


dengan mengunyah bolus yang telah dikeluarkan


dari rumen ke mulut hingga aktivitas menelan


beberapa bolus, 3) aktivitas menelan bolus yaitu


aktivitas yang dimulai dari bolus yang langsung


ditelan setelah dikeluarkan dari rumen ke mulut


atau menelan bolus yang melalui proses


pengunyahan hingga aktivitas mengeluarkan


bolus kembali.


Hasil pencatatan tingkah laku, dihitung


berdasarkan proporsi frekuensi yang terjadi


selama interval tertentu dengan membagi jumlah


tingkah laku yang teramati dalam interval


dengan jumlah tingkah laku keseluruhan atau


dengan rumus:


Tingkah Laku = X x 100%


 Y


Keterangan:


X = frekuensi suatu tingkah laku tertentu


dalam tujuh jam per individu


Y = frekuensi keseluruhan tingkah laku yang


diamati dalam tujuh jam per individu

Data untuk menguji dua nilai tengah


antara jantan dan betina dengan jumlah yang


sama, dianalisa dengan menggunakan


Comparison of two samples atau Uji t (t


student) pada taraf 5%. Persamaannya adalah


sebagai berikut (Steel & Torrie, 1984):

grafik. Penyajian secara deskriptif untuk


menguraikan tingkah laku umum dan makan.


HASIL DAN PEMBAHASAN


Lokasi Penelitian


Desa Kalampangan, Kecamatan


Pahandut terletak antara 2o


19’-2o


21’ LS dan


114o


00’-114o


03’ BT. Desa ini menempati luas


lahan sekitar 5000 ha yang terdiri atas


pemukiman penduduk, ladang, semak belukar


dan hutan sekunder yang terbentuk akibat


terbakarnya hutan primer.


Desa Kalampangan di dominasi oleh


penduduk hasil transmigrasi yang berasal dari


Jawa. Mata pencahariannya adalah bercocok


tanam sebagai petani, buruh dan pegawai negeri


sipil (Widjaja & Firmansyah, 2002). Kondisi


tersebut oleh sebagian besar masyarakat


digunakan untuk bercocok tanam sayur-mayur,


nanas, buah-buahan, dan jagung. Beternak


merupakan pekerjaan sampingan. Ternak yang


dipelihara adalah kambing, sapi dan ayam.


Kambing dikandangkan dan diberi makan


secara intensif tiap pagi dan sore. Pakan berupa


tanaman semak yang dikenal masyarakat


dengan nama sasendok. Tanaman tersebut


disamping paling disukai juga mudah diperoleh.


Keadaan iklim di lokasi penelitian


memperlihatkan kisaran suhu udara terendah


mencapai 22-25o


C (pukul 05.00-08.00) dan


kisaran suhu tertinggi mencapai 30-34o


C


(11.00-14.00). Berdasarkan data Stasiun


Meteorologi Tjilik Riwut Palangkaraya selama


delapan tahun, curah hujan mencapai antara


1900-3100 mm/tahun.


Vegetasi di lokasi penelitian dapat dibagi


menjadi beberapa bagian yaitu perdu, pakis,


rumput dan pohon. Tingkat palatabilitas pada


kambing yang mengkonsumsi vegetasi tersebut


dikelompokkan menjadi:


1) Vegetasi yang paling disukai adalah:


a) sasendok atau uyah-uyahan (Plantago


mayor), tergolong tanaman perdu,

tingginya bervariasi antara 30-200 cm,


bentuk batang bulat silinder, permukaan


batang agak licin dengan arah tumbuh


batang tegak lurus ke atas, batang


tergolong batang rumput yang tidak


keras dan bergetah putih. Sasendok


mempunyai daun berukuran kecil, tepi


daun rata, warnanya hijau dan terdapat


bintik-bintik putih dengan permukaan


yang licin dan mengkilap. Warna


buahnya yang hijau muda dan setelah


tua menjadi merah;


b) delingu (Dianella ensifolia sp.),


tergolong rumput. Tanaman ini


mempunyai tinggi tidak sampai 50 cm,


daunnya berpelepah dan panjang


seperti daun jagung; dan


c) kelakai (Stenochlaena palustris)


adalah jenis pakis, tinggi hampir satu


meter, percabangan dengan stolon.


Daunnya berbentuk panjang, ujung


daun runcing dengan tepi bergerigi.


Daun berwarna merah saat muda


dengan batang mudah patah dan dapat


digunakan sebagai sayur-sayuran yang


dapat dikonsumsi oleh penduduk.


2) Vegetasi yang hanya dikuliti batangnya


adalah:


a) geronggang (Cratoxylon sp.),


termasuk pohon, ketinggiannya


mencapai tiga meter, batangnya


bergetah, daun berukuran kecil dengan


ujung runcing dan tepi daun rata;


b) lombok-lombokan (Clerodindrum),


tergolong perdu, mempunyai kambiun,


tumbuh tegak, tinggi mencapai dua


meter. Daun berukuran lebar, tepinya


rata, permukaan agak berbulu dan


berkerut seperti daun bayam;


c) karamunting (Malastoma candidum),


tergolong perdu, tinggi dapat mencapai


1,5 m, batang berkayu dengan


permukaannya ditumbuhi bulu halus,


tumbuh tegak dengan tangkai yang


banyak. Daun berukuran kecil, tepinya


rata dengan permukaan berbulu halus.


Bunganya berwarna merah muda; dan


d) asem-aseman (Ploiarium alternifo￾lium), tergolong perdu, batang berkayu


dengan arah tumbuh tegak ke atas.


Daun memanjang dengan ujung


meruncing. Warna daun hijau


kekuningan dengan permukaan hijau


mengkilat.


3) Vegetasi yang kurang disukai adalah:


a) pakis (Asplenium nidus), terdiri atas


beberapa jenis, tinggi dapat mencapai


dua meter, permukaan batang agak


berbulu dengan arah tumbuh tegak


lurus. Daun berwarna hijau dengan


permukaan ditumbuhi bulu halus; dan


b) bajakah, tergolong tanaman perdu, arah


tumbuh batang membelit atau menjalar.


Daun berwarna hijau dengan


permukaan licin mengkilap.


Kondisi Ternak


Kambing diperoleh dari penduduk sekitar


lokasi penelitian dan dipelihara secara intensif


dikandang, sehingga sudah terbiasa dengan


pakan yang disukai dan selalu disediakan.


Ternak tersebut terdiri atas delapan ekor betina


dan satu ekor pejantan dengan umur seragam


yaitu satu tahun pada bulan Desember tahun


2001, sehingga pada pertengahan tahun 2003


berumur sekitar 2,5 tahun (3 pasang gigi seri


dewasa). Tahun 2003, kambing tersebut


berjumlah 15 ekor, terdiri atas tujuh ekor induk,


satu ekor pejantan, dua ekor anak betina dan


lima ekor anak jantan.


Tingkah Laku Makan


Pengamatan tingkah laku makan pada


kambing meliputi aktivitas makan dan ruminasi.


Hasil penelitian Paryadi (2002) pada kambing


di lahan gambut selama 12 jam (06.00-18.00)


menunjukkan, frekuensi tingkah laku makan


yang dominan adalah di siang hari. Gambar 1


menunjukkan adanya berbagai tingkah laku


makan pada pukul 09.00-16.00. Pengamatan


mikro dalam penelitian ini menunjukkan bahwatingkah laku makan selama tujuh jam


pengamatan (09.00-16.00) jantan adalah


66,28% dan betina 60,82%.


Frekuensi aktivitas makan (Gambar 1)


paling tinggi terjadi pada pukul 09.00-10.00,


kemudian dilanjutkan lagi pada pukul 13.00-


16.00. Aktivitas makan paling rendah terdapat


pada pukul 11.00-12.00 yang diikuti aktivitas


ruminasi yang rendah. Hal ini menunjukkan


bahwa aktivitas makan yang paling tinggi


terdapat pada pagi dan sore hari, karena


keadaan tersebut sesuai dengan suhu


lingkungan saat itu. Rata-rata suhu siang hari


mencapai 27-34o


C dan kambing lebih banyak


melakukan istirahat, meskipun ada yang


melakukan aktivitas makan dengan frekuensi


yang rendah (pukul 11.00-12.00). Hal ini diduga


karena apabila dihadapkan pada cekaman


panas, prioritas tingkah laku kambing akan


berubah dari kegiatan merumput atau


mengkonsumsi pakan untuk menghindari kondisi


yang tidak menyenangkan. Konsekuensi yang


cepat adalah mengurangi konsumsi pakan dan


energi metabolis yang tersedia. Gangguan lain


terhadap keseimbangan energi berasal dari


perubahan fisiologi, endokrin dan pencernaan


yang selanjutnya menurunkan energi yang


tersedia. Hal ini sesuai dengan pernyataan


Wodzicka-Tomaszewska et al. (1991) bahwa


pada siang hari dengan suhu yang tinggi,


kambing akan merumput lebih sedikit, waktu


yang digunakan untuk ruminasi lebih singkat


dengan istirahat yang relatif lama.


Pola makan kambing jika dibedakan


berdasarkan jenis kelamin terdapat pada


Gambar 2. Perbedaan frekuensi yang jauh


antara jantan dan betina terjadi pada pukul


12.00-13.00 (jantan 10,24%; betina 15,87%) dan


15.00-16.00 (jantan 14,64%; betina 11,09%).


Hal ini berarti betina lebih tahan melakukan


aktivitas makan di siang hari (pukul 12.00-13.00)


daripada jantan. Jantan lebih aktif melakukan


makan di pagi dan sore hari, meskipun waktu


itu aktivitas makan betina juga meningkat.Betina lebih banyak melakukan aktivitas


makan di siang hari (pukul 12.00-13.00), hal ini


diduga karena faktor umur. Betina dewasa lebih


aktif melakukan aktivitas makan di siang hari


dibanding jantan remaja, karena jantan remaja


lebih aktif melakukan makan di pagi hari,


sehingga di siang hari lebih banyak melakukan


istirahat dan memberikan kesempatan pada


jantan dewasa untuk mencari makan.


Pola Tingkah Laku Makan


Gambar 3 menunjukkan persentase


frekuensi tertinggi terjadi pada aktivitas


merenggut (24,41%) dan terendah pada


aktivitas menelan (6,32%). Hal ini menunjukkan


bahwa hasil renggutan dikumpulkan di mulut


dalam jumlah yang banyak, kemudian


dilanjutkan dengan aktivitas mengunyah


(20,14%) yang tinggi jika dibandingkan dengan


aktivitas menelan (6,32%). Keadaan ini diduga


karena sifat fisik pakan atau banyaknya


kambing dalam melakukan aktivitas merenggut,


sehingga frekuensi pengunyahan lebih banyak.


Menurut Wodzicka-Tomaszewaka et al.


(1993), pengunyahan selama makan dan


ruminasi dapat mengurangi ukuran partikel dan


mengubah bentuk pakan. Tingkat pengurangan


ukuran partikel pakan dicerna atau bahan yang


diruminasi akan ditentukan oleh waktu yang


diperlukan untuk makan, ruminasi dan jumlah


kunyahan per satuan waktu dalam setiap


kegiatan dan oleh tingkat keefektifan


pengunyahan.


Perbedaan aktivitas dalam mengeluarkan


bolus (11,24%), mengunyah bolus (13,21%) dan


menelannya (14,44%) tidak berbeda nyata.


Frekuensi aktivitas menelan bolus yang lebih


tinggi dari aktivitas ruminasi lainnya, diduga


karena penelanan bolus yang sedikit demi


sedikit yang mengakibatkan jumlah bolus yang


ditelan cukup banyak.


Rangkaian tingkah laku makan pada


kambing diawali dengan mencium makanan.


Jika makanan cocok untuknya maka akandimakan. Pada umumnya kambing menyukai


berbagai jenis hijauan, karenanya dapat


membedakan antara rasa pahit, manis, asam


dan asin ,

Tabel 1 menunjukkan bahwa aktivitas


mencium yang paling rendah pada jantan terjadi


pada pukul 12.00-14.00, dan betina pada pukul


09.00-10.00. Hal ini diduga jantan lebih selektif


dalam memilih pakan di pagi hari, terutama


pakan yang disukainya. Betina saat memulai


aktivitas makan pukul 09.00-10.00, jarang sekali


melakukan aktivitas mencium makanan. Diduga


bahwa di pagi hari keadaan hijauan masih cukup


tersedia, sehingga betina langsung memakan


pakan yang ada.


Rangkaian tingkah laku selanjutnya


adalah merenggut pakan. Terhadap pakan yang


disukainya, kambing langsung merenggut pakan


tersebut. Pakan yang direnggut dapat berupa


rumput, daun dan semak belukar. Selain itu


kambing dapat memakan akar kering, ranting,


kulit tumbuh-tumbuhan dan daun-daun yang


sudah kering. Kambing merenggut dengan cara


menarik dan mendorong mulut ke depan-atas


atau belakang-bawah. Jika daun-daunan


terdapat pada tanaman yang tinggi, kambing


mempunyai kemampuan untuk meramban.


Hewan ini meramban dengan cara mengangkat


kedua kaki depan pada batang tumbuhan dan


bertumpu pada kedua kaki belakang. Kepala


dijulurkan ke daun tumbuhan yang dipilihnya.


Menurut Devendra & Burns (1994),


kambing mempunyai kebiasaan makan yang


berbeda dengan ruminansia lainnya. Bila tidak


dikendalikan, kebiasaan makan dapat


mengakibatkan kerusakan. Bibirnya yang tipis


mudah digerakkan dengan lincah untuk


mengambil pakan. Kambing mampu makan


rumput yang pendek, dan merenggut dedaunan.


Disamping itu, kambing merupakan pemakan


yang lahap dari pakan yang berupa berbagai


macam tanaman dan kulit pohon.


Tabel 1 menunjukkan bahwa frekuensi


renggutan yang tinggi pada jantan terjadi padapukul 11.00-12.00 dan 14.00-16.00, sedangkan


betina pada pukul 13.00-14.00 dan 15.00-16.00.


Hal ini berarti pada waktu tersebut, makanan


yang disukainya masih tersedia. Selain itu, setiap


frekuensi kambing dalam merenggut hijauan


dapat langsung dikunyah atau dengan frekuensi


merenggut berkali-kali kemudian dikunyah.


Setelah merenggut makanan ke dalam


mulutnya, kambing akan memulai aktivitas


berikutnya yaitu mengunyah. Fungsi


pengunyahan selama makan yaitu untuk


merusak bagian permukaan pakan sehingga


ukuran partikel menjadi lebih kecil yang


memudahkan pakan untuk dicerna. Frekuensi


paling banyak dilakukan oleh jantan pada pukul


14.00-15.00 (32,84%) dan betina pada pukul


13.00-14.00 (28,41%).


Pukul 09.00-10.00 menunjukkan bahwa


aktivitas mengunyah makanan pada betina


(4,01%) lebih sedikit dibanding jantan (30,47%).


Pada penelitian ini kambing yang digunakan


yaitu kambing jantan remaja (8-12 bulan) yang


merupakan anak dari betina dewasa yang


digunakan dalam penelitian. Hal ini diduga


karena faktor umur berpengaruh besar dalam


aktivitas makan. Umumnya jantan remaja lebih


aktif dalam mengambil hijauan, meskipun harus


lebih selektif dalam mengambil hijauan tapi


jantan remaja lebih mudah dalam mengambil


hijauan yang disukainya. Betina dewasa tidak


perlu lagi selektif dalam memilih pakan, karena


betina dewasa lebih pengalaman dalam


mengenal hijauan yang disukainya dibanding


jantan remaja.


Jika aktivitas makan telah selesai, maka


dilanjutkan dengan aktivitas ruminasi. Aktivitas


ruminasi diawali dengan mengeluarkan bolus


yang disimpan sementara dalam rumen untuk


dikunyah dan ditelan kembali. Frekuensi


aktivitas menelan bolus lebih banyak dilakukan


dibanding aktivitas menelan makanan sebelum


ruminasi, hal ini diduga karena pakan yang telah


dikunyah kemudian di telan dan disimpan lama


di dalam rumen. Menurut Wodzicka￾Tomaszewska et al. (1993), proses


pengunyahan pada saat makan dan ruminasimerupakan aktivitas pelengkap di dalam


pengurangan ukuran partikel. Partikel yang lebih


kecil mungkin mempunyai waktu retensi yang


relatif lebih pendek di dalam rumen, sehingga


tingkat kecernaan tidak hanya ditentukan oleh


tingkat kecernaan ingesta, tetapi juga oleh


waktu tersimpan di dalam rumen.


Setelah kambing melakukan ruminasi,


biasanya dilanjutkan dengan tingkah laku


istirahat. Tingkah laku ini adalah tingkah laku


kambing pada saat tidak melakukan apa-apa.


Posisi yang dilakukannya saat istirahat ada tiga


macam yaitu bersimpuh, berdiri dan berbaring


dengan meletakkan kepala ke atas tanah


dengan mata terpejam atau terbuka. Tingkah


laku istirahat (Gambar 4) yang optimal dilakukan


pada pukul 11.00-13.00 dan 15.00-16.00. Hal


ini didukung suhu yang tinggi pada siang hari


(27-34o


C), kambing akan lebih banyak


melakukan istirahat. Kambing apabila


dihadapkan pada cekaman panas, prioritas


tingkah laku kambing akan berubah dari


kegiatan merumput atau mengkonsumsi pakan


untuk menghindari kondisi yang tidak


menyenangkan. Konsekuensi yang cepat adalah


mengurangi konsumsi pakan dan energi


metabolis yang tersedia. Gangguan lain terhadap


keseimbangan energi berasal dari perubahan


fisiologi, endokrin dan pencernaan yang


selanjutnya menurunkan energi yang tersedia.


Hal ini sesuai dengan pernyataan Wodzicka￾Tomaszewska et al. (1991) bahwa pada siang


hari dengan suhu yang tinggi, kambing akan


merumput lebih sedikit, waktu yang digunakan


untuk ruminasi lebih singkat dengan istirahat


yang relatif lama.


Faktor iklim yang terpenting adalah suhu


dan kelembaban, tetapi angin dan sinar matahari


mempengaruhi kombinasi suhu dan


kelembaban yang dibutuhkan untuk produksi


yang optimum (Wodzicka-Tomaszewska et


al.,1993). Kambing yang dipelihara dengan cara


digembalakan dan biasanya terkena sinar


matahari langsung, dan tampaknya menderita


karena cekaman panas. Kambing mempunyai


bulu yang dapat memberikan perlindungan yang


memadai terhadap pengaruh langsung sinar


matahari, dan dapat memberikan manfaat untukpengaturan panas oleh ternak yang terjemur


sinar matahari. Sebagian energi dipantulkan


sebagai pancaran gelombang pendek.


Pemindahan panas secara paksa segera


menyejukkan permukaan. Pengeluaran keringat


ke permukaan tubuh oleh ternak yang menerima


panas lingkungan dalam jumlah yang besar


adalah cara yang tidak efisien untuk mengurangi


beban panas tubuh, karena kambing sedikit


berkeringat. Bulu memberikan perlindungan


fisik dari pancaran sinar matahari langsung dan


tak langsung serta pengaruh suhu udara efektif


yang tinggi.


Gambar 5 menunjukkan bahwa aktivitas


selama waktu pengamatan (09.00-16.00) antara


kambing jantan dan betina tidak berbeda nyata.


Aktivitas makan pada jantan yaitu 66,28% dan


betina 60,82%. Dari semua aktivitas, aktivitas


makan adalah paling tinggi. Hal ini disebabkan


karena kambing termasuk hewan diurnal, yaitu


aktivitas makan di siang hari dan malam hari


digunakan untuk istirahat. Selain itu, hijauan yang


tersedia bisa memenuhi kebutuhan hidupnya.


Meskipun hijauan yang kurang disukainya


banyak tersedia di pedok, tetapi jika tumbuh


tanaman muda, maka kambing akan


memakannya. Hal ini karena tanaman muda


yang sedang tumbuh mempunyai kandungan


protein yang relatif tinggi. Jantan lebih tinggi


frekuensi makannya di banding betina, hal ini


diduga karena faktor umur berpengaruh besar


dalam aktivitas makan. Umumnya jantan


remaja lebih aktif dalam mengambil hijauan,


meskipun harus lebih selektif dalam mengambil


hijauan tapi jantan remaja lebih mudah dalam


mengambil hijauan yang disukainya.


Aktivitas yang paling rendah selama


waktu pengamatan adalah aktivitas ruminasi.


Hal ini diduga karena aktivitas ruminasi


umumnya dilakukan pada malam hari, namun


aktivitas tersebut dipengaruhi juga oleh pola


merumput (Morand-Fehr, 1981). Aktivitas


istirahat antara jantan (24,91%) dan betina


(27,35%) tidak berbeda nyata. Hal ini diduga


aktivitas istirahat selalu bersamaan antara jantan


dan betina. Setiap ada satu jantan yang berjalan


menuju kandang, maka kambing lainnya


mengikuti ke arah yang sama, meskipun ada


kambing yang masih melakukan aktivitas


makan. Hal ini menunjukkan bahwa padakambing yang ada di lokasi penelitian memiliki


sifat berkelompok. Sifat tersebut didukung


adanya tipe adaptasi fisiologi yaitu kebiasaan,


artinya adaptasi yang melibatkan pengurangan


respon terhadap rangsangan berulang dan


biasanya terkait dengan penurunan persepsi


setelah rangsangan yang berulang. Perubahan


tingkah laku terjadi pada tingkat sensoris. 


 penelitian ini untuk mengetahui struktur histologi dan morfometri usus halus kambing 

Peranakan Etawah. Sebanyak enam belas sampel berupa usus halus kambing Peranakan Etawah jantan 

dan betina umur muda dan dewasa, dibuat sediaan histologi.  Diwarnai dengan metode Harris-

Hematoksilin Eosin (HE). Hasil penelitian menunjukkan, struktur histologi usus halus dibedakan atas 

duodenum, yeyunum dan ileum. Disusun atas empat lapisan, yakni tunika mukosa lapisan yang paling 

tebal, submukosa, muskularis, dan yang paling tipis tunika serosa. Tunika muskularis jejunum lebih 

tebal dari pada tunika submukosa. Pada Tunika mukosa ditemukan: vili, sel absorsi, sel goblet, sel 

paneth, lamina propria, kelenjar usus, dan lamina muskularis mukosa. Pada tunika muskularis 

ditemukan otot polos yang tersusun melingkar pada bagian dalam dan memanjang pada bagian luar, 

sedang  pada tunika serosa ditemukan banyak jaringan ikat longgar. Pada tunika sub mukosa dari 

duodenum ditemukan kelenjar brunner, pada ileum ditemukan peyer patches, sedang   pada jejunum 

ditemukan jaringan ikat longgar dan pembuluh darah. 

Peternakan merupakan sektor yang 

penting dalam kehidupan masyarakat 

karena ternak dapat berfungsi sebagai 

sumber pangan, sumber bahan baku 

industri ataupun membantu manusia dalam 

melakukan pekerjaan.  Salah satu ternak 

yang banyak dipelihara di negara kita  yaitu 

kambing, hal ini dikarenakan ternak 

kambing dapat beradaptasi dengan baik 

terhadap lingkungan subtropis seperti di 

negara kita  ,

Salah satu jenis kambing yang banyak 

dipelihara di negara kita  terutama di Bali 

yaitu kambing Peranakan Etawah (PE). 

Kambing Peranakan Etawah (PE) 

merupakan kambing hasil persilangan 

antara kambing Etawah (Jamnapari) 

dengan kambing Kacang. 

ada  tiga faktor penentu produksi 

dalam beternak kambing yaitu: bibit ternak, 

pakan ternak, dan kesehatan ternak.  

Dengan memperhatikan ketiga faktor diatas 

maka akan didapat ternak dengan kualitas 

produksi yang baik.  Faktor kesehatan 

ternak merupakan faktor yang penting 

diperhatikan karena dengan memastikan 

ternak sehat maka dipastikan produksi 

dagingnya baik.  Salah satu indikator 

pertumbuhan yang baik yaitu ternak dapat 

menyerap makanan yang dikonsumsinya 

dengan optimal, sehingga makanan 

dimanfaatkan secara maksimum untuk 

pertumbuhannya ,

Proses penyerapan makanan 

berlangsung di usus halus.  Usus halus 

merupakan bagian dari sistem pencernaan.  

Usus halus terbagi menjadi tiga bagian 

yaitu duodenum, jejunum dan ileum. 

Ketiga bagian usus ini  mempunyai 

fungsi yang berbeda beda, dan secara 

umum membantu proses pencernaan dan 

penyerapan zat-zat makanan. Fungsi 

ini  dapat dipengaruhi oleh luas 

permukaan epithel usus, jumlah lipatan-

lipatannya, dan panjang villi yang dapat 

memperluas bidang penyerapan 

Proses pencernaan yang bagus sangat 

dipengaruhi oleh berfungsinya dengan baik 

semua organ, yang terkait untuk 

menjalankan fungsi pencernaan. Usus halus 

merupakan organ terpenting, yang dapat 

dijadikan indikator kesehatan ternak. Salah 

satunya dapat dilihat dari struktur histologi 

karena berhubungan dalam proses 

penyerapan makanan.  Oleh karena itu, 

perlu dilakukan penelitian mengenai 

gambaran histologi dan morfometri usus 

halus kambing Peranakan Etawah (PE). 


Sampel yang digunakan berupa usus 

halus kambing Peranakan Etawah, yang 

meliputi duodenum, jejunum dan ileum 

yang diambil di Pemotongan Hewan 

Kampung Jawa Denpasar. Sampel 

dibedakan atas umur muda dan dewasa dari 

kambing Peranakan Etawah jantan dan 

betina masing-masing enam belas sampel. 

Seluruh sampel dimasukkan ke dalam botol 

yang telah diberikan label dan berisi larutan 

formalin 10%. 

Pembuatan Sediaan Histologi 

Proses pembuatan sediaan histologi 

mengikuti metode yang dilakukan 

 dengan cara : sampel di dehidrasi 

dengan aquades, dan  di clearing dengan 

satu sesi larutan formalin 10% I, formalin 

10% II, formalin 10% III, alkohol 70%, 

alkohol 96%, alkohol absolut I, alkohol 

absolut II, alkohol absolut III, xylol I, xylol 

II, xylol III, toluene I, toluene II, toluene III, 

paraffin cair selama ± 23 jam, selanjutnya 

di bloking dengan alat embedding set yang 

sudah dituangi paraffin dan didinginkan 

selama ± 30 menit di dalam lemari es. 

Sampel yang sudah di embedding lalu 

dipotong dengan ukuran ± 3-4 mikron, 

selanjutnya diletakkan pada objek gelas. 

Pewarnaan Harris-Hematoksilin Eosin 

Pewarnaan hematoksilin eosin 

dilakukan dengan metode Harris-

Hematoksilin Eosin ,

dengan cara sebagai berikut: sampel 

direndam dalam xylol I, II, III masing - 

masing selama 5 menit, direndam kembali 

dalam alkohol absolut I dan II masing - 

masing selama 5 menit.  Setelah itu 

direndam dalam aquadest selama 1 menit, 

direndam dalam Harris-Hematoksilin 

selama 15 menit, direndam dalam aquadest 

selama 1 menit dan 15 menit, setelah itu 

direndam dalam eosin selama 2 menit yang 

dilanjutkan dengan direndam dalam 

alkohol 96% I selama 3 menit, alkohol 96% 

II selama 3 menit, dan alkohol absolut III 

dan IV masing- masing selama 3 menit 

kemudian preparat dibilas dengan xylol I 

dan II masing-masing selama 5 menit.  Lalu 

proses yang terakhir yaitu menggunakan 

kanada balsam berisi entellan sebagai 

perekat (mounting) dan didiamkan hingga 

kering. 

 

Hasil pengamatan struktur histologi dan 

morfometri duodenum, jejunum, dan ileum 

kambing Peranakan Etawah jantan dewasa, 

betina dewasa, jantan muda, betina muda 

dengan mikroskop cahaya (40x, 50x, dan 

400x) dianalisis dengan deskriptif 

kualitatif.  

Pengukuran ketebalan tunika mukosa 

diukur dari epitel permukaan sampai 

dengan lamina muskularis mukosa, tunika 

submukosa mulai dari batas bawah lamina 

muskularis mukosa sampai lamina 

muskularis sirkuler, pada tunika mukosa 

diukur dari lamina muskularis sirkuler 

sampai lamina muskularis longitudinal, dan 

tunika serosa mulai dari lamina muskularis 

longitudinal sampai jaringan ikat longgar 

terluar. Data ketebalan (morfometri) 

lapisan tunika mukosa, submukosa, 

muskularis, dan serosa pada duosenum, 

jejunum, dan ileum dianalisis dengan 

menggunakan Uji T. 


Hasil penelitian menunjukkan struktur 

histologi usus halus terdiri dari: tunika 

mukosa, submukosa, muskularis, dan 

serosa yang mempunyai ketebalan dan 

komponen penyusun yang berbeda. Tunika 

mukosa usus halus tersusun dari epitel 

permukaan berbentuk epitel silindris 

sebaris dengan disisipi oleh sel mangkok, 

lamina propria, kelenjar intestinal, dan 

lamina muskularis mukosa yang menjadi 

pembatas antara tunika mukosa dan 

submukosa. Pada bagian bawah dari 

kelenjar intestinal ditemukan sel paneth 


Gambar 2 Struktur histologi usus halus kambing PE betina muda (H.E; 40x). Keterangan: A) 

duodenum, B) jejunum, C) ileum. a. tunika mukosa, a1. Vili, b. tunika submukosa, b1. kelenjar 

brunner, b2. jaringan ikat longgar, b3. peyer patches, c. tunika muskularis, d. tunika serosa. 

Kelenjar intestinal berada di bawah vili 

yang menjulur pada dasar tunika mukosa. 

Vili merupakan penjuluran selaput lendir 

ke dalam lumen usus halus. Vili pada usus 

halus mempunyai panjang dan bentuk yang 

berbeda-beda. Pada duodenum berbentuk 

menyerupai daun, jejunum memiliki vili 

yang lurus dan kecil, sedang  pada ileum 

memiliki vili dengan ukuran yang paling 

besar  (Gambar 1).Tunika submukosa usus 

halus kambing PE memiliki struktur yang 

berbeda-beda pada setiap bagian usus 

halus. Tunika submukosa duodenum 

tersusun atas jaringan ikat longgar dan 

banyak kelenjar duodenalis (kelenjar 

brunner). Kelenjar duodenalis pada 

kambing PE dewasa terliat lebih banyak 

dan padat. Pada kambing PE muda kelenjar 

duodenalis memiliki diameter yang lebih 

besar dibandingkan kambing PE dewasa 

(Gambar 1A dan 2A). Pada tunika 

submukosa jejunum kambing PE terdiri 

dari jaringan ikat longgar dan pembuluh 

darah. Pembuluh darah pada lapisan ini 

memiliki berbagai jenis ukuran serta 

tersebar secara acak. sedang  tunika 

submukosa ileum kambing PE terdiri dari 

jaringan ikat longgar dan peyer patches. 

Nodulus limpatik pada tunika submukosa 

hampir memenuhi seluruh bagian tunika 

submukosa dan dibawahnya dapat 

ditemukan jaringan ikat longgar yang 

berisikan pembuluh darah. Pembuluh darah 

pada lapisan ini memiliki berbagai jenis 

ukuran serta tersebar secara acak. 

Tunika muskularis usus halus kambing 

PE terdiri dari dua lapis otot polos yaitu 

lapisan muskularis sirkuler (bagian dalam) 

dan lapisan muskularis longitudinal (bagian 

luar). Ketebalan tunika muskularis usus 

halus berbeda-beda sesuai dengan bagian 

usus halus, dari yang paling tebal pada 

bagian ileum hingga yang paling tipis pada 

bagian jejunum. 

 

   

 

Gambar 3 Struktur histologi usus halus kambing PE jantan dewasa (H.E; 400x). Keterangan: 

A) duodenum, B) jejunum, C) ileum. a. Sel goblet, b. Sel absorsi, c. Lamina propria. 

 

   

 

Gambar 4 Struktur histologi usus halus kambing PE betina dewasa (H.E; 400x). Keterangan: 

A) duodenum, B) jejunum, C) ileum. a. Sel paneth, b. Kelenjar intestinal, c. Lamina muskularis 

mukosa. 

 


Tunika serosa merupakan lapisan 

terluar dari usus halus. Tunika seorsa terdiri 

dari jaringan ikat longgar dan lemak yang 

sering kali menyatu dengan jaringan ikat 

disekelilingnya 

Histomorfometri Usus Halus Kambing 

PE 

Hasil pengukuran histomorfometri usus 

halus kambing PE disajikan pada Tabel 1, 

2, dan 3. Lapisan tunika mukosa, 

submukosa, muskularis, dan serosa 

duodenum, jejunum, dan ileum kambing 

PE jantan dewasa lebih tebal dari pada 

kambing PE jantan muda, pada tunika 

mukosa dan submukosa memiliki 

perbedaan yang nyata (P<0.05). Kambing 

PE betina dewasa memiliki tunika mukosa, 

submukosa, muskularis, dan serosa 

duodenum, jejunum, dan ileum lebih tebal 

dari pada kambing PE betina muda, pada 

tunika mukosa dan submukosa memiliki 

perbedaan yang nyata (P<0.05).


Tabel 1 Hasil Pengukuran Histomorfometri Duodenum Kambing PE (rataan±sd)  

Lapisan (Duodenum) Jenis Kelamin Dewasa Muda 

T. Mukosa (µm) 

Jantan 359±25,9aa 319,2±25,8ab 

Betina 351,2±34,7aa 320,3±17,6ab 

T. Submukosa (µm) 

Jantan 309,8±28,3cc 249,1±27,7cd 

Betina 304,9±21,4cc 248,7±34,6cd 

T. Muskularis (µm) 

Jantan 121,5±25,5ee 91,2±10,9ee 

Betina 118,2±22,5ee 90,6±12,3ee 

T. Serosa (µm) 

Jantan 54,7±12,7gg 34,2±7,1gg 

Betina 52,9±8,9gg 29±6,5gg 

Total (µm) 

Jantan 845 µm 693,7 µm 

Betina 827,2 µm 688,6 µm 

Keterangan: Huruf pertama yang berbeda pada satu kolom menunjukkan berbeda nyata 

(P<0.05), sedang  huruf pertama yang sama pada satu kolom menunjukkan tidak berbeda 

nyata (P>0.05). Huruf kedua yang berbeda pada satu baris menunjukkan berbeda nyata 

(P<0.05), sedang  huruf kedua yang sama pada satu baris menunjukkan tidak berbeda nyata 

(P>0.05). 

   

 

Gambar 5 Pengukuran histomorfometri usus halus kambing PE betina muda. A) duodenum, 

B) jejunum, C) ileum (H.E; 50x). 

 


 

Tabel 2 Hasil Pengukuran Histomorfometri Jejunum Kambing PE (rataan±sd) 

Lapisan (Jejunum) Jenis Kelamin Dewasa Muda 

T. Mukosa (µm) 

Jantan 403,3±47,7aa 395,4±33ab 

Betina 378±53,9aa 364,3±52,1ab 

T. Submukosa (µm) 

Jantan 64,3,8±8,8cc 48,1±15,4cd 

Betina 62,5±9,7cc 46,3±13,5cd 

T. Muskularis (µm) 

Jantan 62,5±21,6ee 61,9±10ee 

Betina 59,7±12,6ee 58,2±8,5ee 

T. Serosa (µm) 

Jantan 31,8±4,3gg 29,4±5,8gg 

Betina 30,4±11,4gg 25,2±5,5gg 

Total (µm) 

Jantan 561,9 µm 534,8 µm 

Betina 530,6 µm 494 µm


Keterangan: Huruf pertama yang berbeda pada satu kolom menunjukkan berbeda nyata 

(P<0.05), sedang  huruf pertama yang sama pada satu kolom menunjukkan tidak berbeda 

nyata (P>0.05). Huruf kedua yang berbeda pada satu baris menunjukkan berbeda nyata 

(P<0.05), sedang  huruf kedua yang sama pada satu baris menunjukkan tidak berbeda nyata 

(P>0.05). 

 

Tabel 3 Hasil Pengukuran Histomorfometri Ileum Kambing PE (rataan±sd) 

Lapisan (Ileum) Jenis Kelamin Dewasa Muda 

T. Mukosa (µm) 

Jantan 406,8±48,7aa 334,2±31,4ab 

Betina 375,4±69,8aa 345,3±42,8ab 

T. Submukosa (µm) 

Jantan 340,2±64,2cc 325,1±25cd 

Betina 336,6±46,5cc 274,4±56,3cd 

T. Muskularis (µm) 

Jantan 147,2±16,7ee 75±11ee 

Betina 121,8±37ee 72,8±13,7ee 

T. Serosa (µm) 

Jantan 33,2±8,8gg 31,4±6,6gg 

Betina 31,1±11,6gg 27,3±5,5gg 

Total (µm) 

Jantan 927,4 µm 765,7 µm 

Betina 864,9 µm 719,8 µm 


Keterangan: Huruf pertama yang berbeda pada satu kolom menunjukkan berbeda nyata 

(P<0.05), sedang  huruf pertama yang sama pada satu kolom menunjukkan tidak berbeda 

nyata (P>0.05). Huruf kedua yang berbeda pada satu baris menunjukkan berbeda nyata 

(P<0.05), sedang  huruf kedua yang sama pada satu baris menunjukkan tidak berbeda nyata 

(P>0.05). 


 

Kambing PE jantan dewasa tidak 

memiliki perbedaan ketebalan tunika 

mukosa, submukosa, muskularis, dan 

serosa duodenum, jejunum, dan ileum dari 

pada kambing PE betina dewasa (P>0.05). 

Kambing PE jantan muda tidak memiliki 

perbedaan ketebalan tunika mukosa, 

submukosa, muskularis, dan serosa 

duodenum, jejunum, dan ileum dari pada 

kambing PE betina muda (P>0.05). 

Pembahasan 

Usus halus kambing Peranakan Etawah 

terdiri dari 3 bagian yaitu duodenum, 

jejunum, dan ileum. Setiap bagian tersusun 

atas 4 lapisan yaitu tunika mukosa, 

submukosa, muskularis, dan serosa. Setiap 

lapisan mempunyai ukuran yang berbeda 

baik dari sudut pandang jenis kelamin dan 

umur sampel ,

Pada tunika mukosa ada  vili yang 

merupakan penjuluran selaput lendir ke 

dalam lumen usus halus. Vili ditandai 

dengan adanya epitel permukaan yaitu 

epitel kolumner simplek yang disisipi oleh 

sel mangkok. Hal ini sesuai dengan laporan 

dimana pada tunika mukosa usus 

halus kerbau  ada  vili yang dilapisi 

epitel kolumner simplek dan sel mangkok. 

Vili pada duodenum berbentuk menyerupai 

daun dan tiap vili memiliki beberapa unsur 

seperti sel absorsi, sel goblet, sel paneth, sel 

argentafin, lamina propria, kelenjar usus, 

dan lamina muskularis mukosa . Hal ini  juga dapat 

ditemukan pada tunika mukosa jejunum 

dan ileum namun vili pada jejunum 

mempunyai bentuk yang runcing, kecil, dan 

relatif mempunyai bentuk yang lurus dan 

pada ileum vili memiliki kerapatan yang 

lebih rendah dari pada duodenum dan 

jejunum. Hal ini disebabkan fungsi dari 

ileum yaitu untuk menyaring sisa sari 

makanan yang terlewatkan oleh jejunum 

Lamina muskularis 

mukosa pada ileum tidak terlalu terlihat 

jelas, hal ini  disebabkan banyaknya 

jumlah nodul-nodul limpatik yang 

menutupinya. Berbeda dengan di 

duodenum dan jejunum dimana pada 

lamina muskularis mukosanya terlihat jelas 

yang digunakan sebagai tanda pembatas 

antara tunika mukosa dan submukosa 

Hasil penghitungan histomorfometri 

duodenum, jejunum, dan ileum dapat 

dilihat bahwa ada  perbedaan ketebalan 

tunika mukosa antara kambing PE muda 

dan dewasa (P<0.05) namun pada kambing 

PE jantan dan betina ketebalan tunika 

mukosa sama (P>0.05). Usus halus 

kambing PE dewasa memiliki vili yang 

lebih tebal dari pada yang muda. Hal ini 

disebabkan adanya perbedaan berat badan 

antara kambing PE dewasa dan muda 

seperti dijelaskan pada penelitian yang 

dilakukan oleh  dimana 

berat badan hewan berpengaruh terhadap 

panjang dan lebar vili usus halus. Hal 

ini  juga disebabkan proses pencernaan 

yang dilakukan pada daerah ini , umur 

dan jenis hewannya ,

Tunika submukosa terdiri dari jaringan 

ikat longgar yang mengandung serabut 

kolagen dan elastik yang terletak antara 

lamina muskularis mukosa dan tunika 

muskularis. Tunika submukosa usus halus 

kambing PE ada  perbedaan pada 

duodenum, jejunum, dan ileum. Ciri yang 

menonjol pada tunika submukosa 

duodenum yaitu ada  kelenjar 

duodenum (kelenjar brunner). Kelenjar 

brunner dapat mengsekresikan cairan usus 

ke dalam kripta usus yang berfungsi untuk 

melubrikasi permukaan epitelium dan 

melindungi dari asam lambung . Kelenjar ini ada  pada semua 

tunika submukosa duodenum sample yang 

diambil, hanya saja ada  perbedaan 

kerapatan kelenjar duodenum dewasa dan 

muda (Gambar 1A dan 2A). Pada kambing 

PE dewasa kelenjar ini dari pada yang 

muda. Hal ini  disebabkan kambing PE 

dewasa mensekresikan asam lambung yang 

lebih banyak sehingga dibutuhkan sekresi 

cairan usus yang banyak untuk melubrikasi 

permukaan epitelium dan melindungi dari 

asam lambung, hal terebut juga dipengaruhi 

oleh faktor pertumbuhan 

 

Tunika submukosa jejunum tersusun 

oleh jaringan ikat longgar yang 

mengandung pembuluh darah. Tunika 

submukosa jejunum yaitu yang terpendek 

jika dibandingkan dengan duodenum dan 

ileum. Hal ini  disebabkan pada tunika 

suubmukosa jejunum tidak ada  

kelenjar usus ataupun nodul-nodul limpatik 

Tunika submukosa ileum tersusun oleh 

jaringan ikat longgar yang diselipi oleh 

pembuluh darah kecil serta ada  nodul-

nodul limpatik yang bergregasi membentuk 

peyer’s patches ,

Adanya peyer’s patches pada tunika 

submukosa merupakan ciri khas dari ileum. 

Hampir seluruh bagian dari tunika 

submukosa ileum dipenuhi oleh peyer’s 

patches, hal ini  didukung oleh 

pernyataan

Hasil pengukuran histomorfometri tunika 

submukosa ileum menunjukkan bahwa 

tunika submukosa kambing PE dewasa 

lebih tebal dari pada kambing PE muda dan 

mempunyai perbedaan yang nyata 

(P<0.05). Hal ini  disebabkan kambing 

PE dewasa lebih banyak mengkonsumsi 

makanan dari pada kambing PE muda, 

sehingga kemungkinan lumen usus dipapar 

oleh makanan dari luar lebih besar sehingga 

menyebabkan jumlah dan ketebalan peyer’s 

patches pada kambing PE dewasa lebih 

tebal dari kambing PE muda .

Tunika muskularis kambing PE terdiri 

dari otot polos yang tersusun melingkar 

(sirkular) pada bagian dalam dan 

memanjang (longitudinal) pada bagian luar. 

Hal ini sama dengan pernyataan  yang melaporkan bahwa tunika 

muskularis terdiri dari dua lapisan otot, 

yaitu lapisan tebal otot sirkuler pada bagian 

dalam dan lapisan tipis otot longitudinal 

pada bagian luar. Hal tesebut juga 

ditemukan pada tunika muskularis jejunum 

dan ileum. 

Tunika serosa umumnya lebih tipis dari 

pada lapisan yang lain. Tunika serosa 

terdiri dari jaringan ikat longgar dan lemak 

yang sering kali menyatu dengan jaringan 

ikat disekelilingnya, hal ini  . Pada 

penghitungan histomorfometri tunika 

muskularis dan serosa tidak ada perbedaan 

tebal yang nyata antara kambing PE jantan 

dan betina serta kambing PE dewasa dan 

muda (P>0.05). Pengukuran tunika 

muskularis dilakukan dari daerah yang 

terlihat mengandung otot polos sirkuler dan 

longitudinal dan pengukuran ketebalan 

tunika serosa ditandai pada daerah yang 

memiliki lapisan tipis dengan jaringan ikat 

longgar setelah melewati tunika muskularis 

yang tersusun oleh otot polos 


Struktur histologi usus halus kambing 

PE terdiri atas: tunika mukosa, submukosa, 

muskularis, dan serosa. Struktur histologi 

duodenum ditandai dengan adanya kelenjar 

brunner. Jejunum mempunyai vili yang 

mempunyai bentuk yang runcing dan kecil. 

dan pada ileum ditemukan peyer patches. 

Ketebalan usus halus kambing dewasa 

lebih tebal dari yang muda dan ketebalan 

itu ditentukan oleh tunika mukosa dan 

submukosa. Ketebalan usus halus kambing 

betina lebih tebal dibandingkan dengan 

jantan.