Rabu, 12 Februari 2025

ternak kambing 6


  




Peternakan kambing peranakan etawa (PE) saat ini berkembang sangat pesat karena banyak hasil yang dapat 

diperoleh. Beberapa hasil diantaranya berupa penjualan induk, anakkan dan susu. Tambahan lain adalah 

hasil pengolahan kotoran kambing (inthil) menjadi pupuk organik. Penyediaan pakan yang baik dan dalam 

jumlah yang cukup perlu dilakukanuntuk meningkatkan kualitas kambing, susu dan anakan yang dihasilkan. 

Supaya terus tersedianya pakan yang berkualitas maka diperlukan pengetahuan untuk pembuatan pakan 

kambing fermentasi yang berkualitas baik dan dapat bertahan lama. Berbagai macam olahan susu kambing 

dapat dihasilkan seperti susu murni yang dikemas dalam botol maupun susu bubuk beraneka rasa. Limbah 

kotoran kambing, baik berupa limbah padat (inthil) maupun limbah cair (urine) jika dikelola dengan baik akan 

memberikan nilai tambah ekonomi.  Selain itu diperlukan juga pengetehuan tentang manajemen pengelolaan 

dan teknik pemasaran yang baik untuk mendapat  keuntungan yang maksimal. pemakaian  teknologi 

informasi (e-commerce) akan dapat memperluas jangkaun pemasaran produk-produk kambing etawa. 

Kegiatan IbM ini melibatkan dua mitra Kelompok Peternak Kambing Etawa di Banguntapan, Bantul yaitu 

“Kelompok PE Jaya” dan “Kelompok PE Makmur”. Kegiatan yang telah berhasil dilaksanakan untuk 

mengatasi permasalahan yang dialami mitra yaitu (1) penerapan teknologi tepat guna dalam pengolahan 

pakan alternatif/ buatan (fermentasi), (2) penerapan teknologi tepat guna untuk pengolahan limbah padat 

menjadi pupuk organik, (3) proses pengolahan susu aneka rasa, (4) peningkatan pengetahuan dalam 

penanganan anak kambing baru lahir dan (5) perbaikan sistem manajemen usaha dan pemasaran dengan 

memanfaatkan media online. 

Kambing etawa atau di Indonesia lebih dikenal 

sebagai  kembing Peranakan Etawa (PE) memiliki 

tempat tersendiri dikalangan peternak. Perkembangan 

dan minat dari peternak dalam membudidayakan 

kambing etawa meningkat pesat dari tahun ke tahun. 

Menurut produk yang dihasilkan, kambing PE 

dikelompokkan menjadi 4 yaitu penghasil daging (tipe 

pedaging), penghasil susu (tipe perah), penghasil bulu 

(tipe bulu/mohair/cashmere), dan penghasil daging 

dan susu. 

Beberapa karakter penting dari kambing PE 

antara lain, bentuk muka cembung, telinga relatif 

panjang (18-30 cm) dan terkulai. Jantan dan betina 

bertanduk pendek. Warna bulu bervariasi dari kream 

sampai hitam. Bulu pada bagian paha belakang, leher 

dan pundak lebih tebal dan lebih panjang daripada 

bagian lainnya. Warna putih dengan belang hitam atau 

belang coklat cukup dominan. Tinggi badan untuk 

jantan 70-100 cm, dengan berat badan dewasa 

mencapai 40-80 kg untuk jantan dan 30-50 kg untuk 

betina. 

Peternakan kambing peranakan etawa (PE) saat 

ini berkembang sangat pesat karna banyak hasil yang 

dapat diperoleh. Beberapa hasil diantaranya berupa 

penjualan induk, anakkan dan susu. Tambahan lain 

adalah hasil pengolahan kotoran kambing (inthil) 

menjadi pupuk organik. Saat ini yang sedang booming 

dipasaran adalah penjualan susu kambing etawa.  

Beternak kambing etawa perlu juga didukung 

oleh penyediaan pakan yang baik dan dalam jumlah 

yang cukup. Pakan yang baik dan cukup akan 

meningkatkan kualitas kambing, susu dan anakan 

yang dihasilkan. Supaya terus tersedianya pakan yang 

berkualitas maka diperlukan pengetahuan untuk 

pembuatan pakan kambing fermentasi yang 

berkualitas baik dan dapat bertahan lama. Selain itu 

diperlukan juga pengetehuan tentang manajemen 

pengelolaan dan teknik pemasaran yang baik untuk 

mendapat  keuntungan yang maksimal. 

pemakaian  teknologi informasi (e-commerce) akan 

dapat memperluas jangkaun pemasaran produk-

produk kambing etawa. 

Berbagai alasan ini  menjadikan kambing 

jenis peranakan etawa (PE) saat ini menjadi primadona 

yang berkembang di kalangan peternak kambing, 

khususnya di Kabupaten Bantul. Dalam melakukan 

budidaya kambing etawa masyarakat membentuk 

suatu kelompok peternak. Seiring dengan 

digalakkanya usaha pemberdayaan masyarakat untuk 

peningkatan ekonomi, maka kegiatan usaha 

kerakyatan mendapat perhatian serius dari pemeritah 

Kabupaten Bantul.  

Saat ini di Kabupaten Bantul banyak tumbuh 

kelompok-kelompok usaha khususnya bidang 

pertanian dan peternakan. Diantara kelompok 

peternak kambing peranakan etawah (PE) yang berada 

di kabupaten Bantul adalah “Kelompok PE Jaya dusun 

Modalan” dan “Kelompok PE Makmur dusun 

Pringgolayan” yang menjadi mitra dalam kegiatan 

Ipteks ini. Kedua kelompok mitra ini  berada di 

Kecamatan Banguntapan. Jarak Ibukota Kecamatan 

ke pusat pemerintahan Kabupaten Bantul adalah 15 

Km dan berbatasan langsung dengan Kota 

Yogyakarta.  

Kepedulian pemerintah Kabupaten Bantul dalam 

mengembangkan peternakan diwujudkan melalui 

program padat karya produktif dibawah koordinasi 

Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi 

(DISNAKERTRAN). Bantuan yang diberikan berupa 

pembangunan kandang semi permanen. Masing-

masing kelompok menempati kandang seluas 60 M 

persegi 

Motivasi anggota kedua kelompok mitra masih 

rendah, manajemen usaha serta jiwa kewirausahaan 

masih belum terbentuk. Kurangnya pengetahuan 

peternak dalam manajemen pakan dan reproduksi, 

termasuk perawatan anakan (cempe) merupakan 

masalah utama kelompok yang harus menjadi 

perhatian, disamping permasalahan akses terhadap 

modal dan pemasaran. Baik untuk peningkatan 

jumlah populasi, maupun untuk pengadaan alat-alat 

pengolah dan penyimpanan hasil produksi.  

Sampai saat ini, susu hasil perahan kedua 

kelompok sama sekali tanpa pengolahan (raw 

material), sehingga masih belum banyak dijual 

kepada masyarakat, melainkan hanya untuk konsumsi 

sendiri. Pemerahan susu yang dilakukan masih 

memakai  cara sederhana dan memakai  alat 

seadanya. Kualiatas dan kuantitas susu hasil perahan 

belum mendapat perhatian =yang serius dari anggota 

kelompok.  

Jika dikelola dengan baik, susu kambing etawa 

mempunyai banyak kelebihan dibanding susu ternak 

lainnya. Susu kambing memiliki keunggulan 

tersendiri sebab mengandung nilai gizi yang tinggi 

yaitu protein 3.4 %, lemak 4.1 %, karbohidrat 5.2 %, 

kalsium 120 mg/100 gram, fosfor 135 mg/100 gram 

dan berbagai macam vitamin. Susu kambing 

mengandung protein lebih tinggi dibanding susu sapi, 

merupakan sumber kalsium, fosfor dan vitamin yang 

sangat diperlukan untuk pertumbuhan untuk usia 

muda dan mencegah osteoporosis pada manula. Bagi 

sebagian masyarakat, susu kambing dipercaya dapat 

meningkatkan vitalitas dan mengobati berbagai 

macam penyakit karena kandungan gizinya yang 

lengkap terutama asam amino, vitamin dan mineral. 

Hasil beberapa kajian pustaka ditemukan bahwa susu 

kambing dapat menyembuhkan berbagai penyakit 

diantaranya asma, kolesterol tinggi, asam urat dan 

osteoporosis serta dapat menggantikan fungsi ASI.  

Jumlah produksi susu yang diperoleh kedua 

kelompok per ekor umumnya hanya antara 0,7 liter 

sampai 1 liter perhari. pemakaian  metode terapi 

pada kambing dan formula pakan yang tepat dapat 

meningkatkan produksi sampai dengan 3,8 liter 

perhari per ekor kambing. Jika harga rata-rata susu 

kambing adalah Rp 15.000/liter, maka ada  

peningkatan penghasilan peternak yang cukup 

signifikan dari produksi susu. 

Kotoran kambing yang dihasilkan kedua 

kelompok, baik berupa limbah padat (inthil) maupun 

limbah cair (urine) belum diolah dengan baik. Urine 

dibuang ke sungai melalui saluran yang sudah 

disediakan dan belum diolah dan dimanfaatkan 

sebagai pupuk cair. Sedangkan limbah padat (inthil) 

hanya dikumpulkan dan dikemas dalam karung. Jika 

ada petani yang membutuhkan, kelompok mitra akan 

menjual secara borongan dengan harga yang sangat 

murah yaitu hanya 70-100 ribu rupiah per mobil (25-

30 karung). Keadaan kelompok yang demikian 

membawa dampak pada pencemaran lingkungan 

yaitu air dan bau yang mengganggu kesehatan. 

Teknik fermentasi menjadi pupuk cair dan pupuk 

organik padat akan memberikan nilai tambah 

ekonomi.  

Kambing peranakan etawa (PE) cocok hidup di 

daerah tropis, dengan tatalaksana yang baik mampu 

melahirkan sampai 2 kali setahun, atau paling minim 

3 kali dalam 2 tahun. Jumlah anak sekali kelahiran 1-

3 ekor. Produksi setinggi ini akan dapat dicapai secara 

maksimal bila kebutuhan pakannya terpenuhi, 

disamping hijauan juga dibutuhkan pakan konsentrat 

seperti Polar, bungkil, gula Jawa, buah nangka (hijau), 

kulit kedelai, bekatul, ampas tahu, jagung, ketela dan 

singkong. Disamping itu kambing Etawa juga 

memerlukan pakan penyedap dengan menambahkan 

garam dapur dan tepung tulang. 

Tingkat kelahiran ternak dari kedua kelompok 

mitra masih rendah karena pengelolaan 

reproduksinya kurang maksimal. Kelompok ternak 

kambing PE Jaya dan PE Makmur melakukan cara 

yang sama dalam hal pemberian pakan. Pakan utama 

yang dipakai  masih mengandalkan hijauan ramban 

dari tanaman pekarangan/kebun. Pakan yang 

diberikan berupa yaitu daun kaliandra, daun resede, 

daun wilodo, daun kates atau buahnya, daun senu, 

daun sengon laut, daun nangka, daun mindi daun 

jipang atau buahnya bahkan terkadang dari diberikan 

kulit singkong. Daun-daunan dicacah dulu sebelum 

diberikan pada kambing, proses pencacahan dengan 

memakai  parang supaya dapat mencacah 

ranting-ranting pohon. Dengan cara seperti ini masih 

ada  ranting pohon yang tidak tercacah sempuna 

sehingga tidak termakan oleh kambing. Jika musim 

penghujan berbagai macam dedaunan yang 

dipakai  untuk pakan kambing banyak tersedia. 

Pada saat musim kemarau daun-daunan yang 

dibutuhkan untuk pakan kambing sangat terbatas, 

sehingga peternak harus membeli daun-daunan 

untuk pakan kambing. Dengan demikian 

pengeluaran peternak semakin besar dan dapat 

mengganggu produksi susu jika daun-daun pakan 

kambing tidak tersedia.  

Melihat betapa kompleksnya permasalahan 

yang dihadapi mitra dan keterbatasan dari tim 

pelaksana Ipteks, maka prioritas permasalahan yang 

akan diatasi melalui kegiatan Ipteks ini  adalah 1) 

penerapan teknologi tepat guna dalam pengolahan 

pakan alternatif/ buatan (fermentasi),  2) penerapan 

teknologi tepat guna untuk pengolahan limbah padat 

menjadi pupuk organik, 3) pengolahan susu aneka 

rasa, 4) peningkatan pengetahuan dalam penanganan 

anak kambing baru lahir, dan  5) perbaikan sistem 

manajemen usaha dan pemasaran. 


Informasi mengenai beberapa permasalahan 

yang dihadapi oleh Kelompok Peternak Kambing 

Etawa PE Jaya dan Kelompok Peternak Kambing 

Etawa PE Makmur ini  tentunya harus sesegera 

mungkin untuk diatasi sebagai salah satu solusi 

pengembangan usaha kecil dan menengah. Melalui 

program kegiatan Ipteks ini dan berdasar  analisis 

kebutuhan yang telah dilaksanakan, tim pengabdi 

menawarkan solusi terhadap permasalahan ini  

dengan sentuhan Ipteks sebagaimana diuraikan pada 

bagian sebelumnya. Skema pelaksanaan kegiatan 

program Ipteks yang akan dilakukan bersama kedua 

mita difokuskan pada dua bidang, yaitu penerapan 

teknologi tepat guna dan perbaikan manajemen usaha, 

sebagaimana disajikan pada Gambar 1. 

 

Gambar 1. Skema pelaksanaan 

 Rencana penerapan teknologi tepat guna 

meliputi teknik pembuatan pakan alternatif/buatan 

(fermentasi), teknik pembuatan  pupuk organik, teknik 

pengolahan susu aneka rasa serta aplikasi e-commerce. 

Sedangkan kegiatan perbaiakan manajemen usaha 

diwujudkan dalam bentuk pelatihan. Pelatihan yang 

direncanakan adalah pelatihan perawatan anak baru 

lahir (cempe), pelatihan pemerahan susu, pelatihan 

manajemen usaha dan pelatihan penjualan online 

melalui website (e-commerce).  

 

 

Gambar 2. Proses pakan fermentasi 

Kebutuhan dalam pembuatan rumah pakan 

antara lain material bangunan seperti pasir, semen, 

urug, split, batako, rangka baja ringan dan atap 

gavalum. Sedangkan peralatan pendukung adalah 

chooper (mesin  perajang bahan pakan), drum 

bertutup dan obat pemicu fermentasi. 

Proses pengerjaan banguan rumah pakan 

dilakukan secara gotong royong oleh anggota 

kelompok kedua mitra selama kurang lebih 6 hari. 

Setelah rumah pakan siap, selanjutnya adalah 

pembelian mesin pencacah pakan (chooper), drum 

sebagai wadah fermentasi pakan dan bahan pembuat 

pakan termasuk obat fermentasi. Pelatihan pembuatan 

pakan melibatkan tenaga ahli yang berpengalaman 

dalam pembuatan pakan fermentasi selama 2 hari. 

Hari pertama adalah proses pembuatan dan hari ke 

dua dipakai  untuk melihat dan memakai  

(pemberian pakan) hasil fermentasi. 

Teknologi fermentasi pakan bisa menjadi pilihan 

mudah. Alasanya, bahan baku bisa dari berbagai daun 

dan jenis rumput keing atau limba pengolahan kedelai 

(menjadi tahu atau tempe). Bisa juga dari gedebok 

pisang ditambah bekatul. Semua bahan itu dicampur 

lalu difermentasikan selama minimal 3×24 jam. 

Hasilnya adalah makanan ternak fermentasi yang 

lebih awet dengan bau yang khas dan kandungan 

karbohidrat, protein dan vitamin yang cukup stabil. 

Pemberiaan teratur dengan jumlah seimbang antara 

berat pakan dan berat hewan membuat hewan ternak 

menjadi terpelihara secara baik. 

Fermentasi itu sendiri merupakan proses 

pemecahan senyawa organik menjadi sederhana yang 

melibatkan mikroorganisme dengan tujuan 

menghasilkan suatu produk yang mempunyai 

kandungan nutrisi, tkestur yang lebih baik 

memperpanjang masa penyimpanan, mengendalikan 

pertumbuhan mikroba kontaminan. 

Untuk penyiapan pakan ternak ini perlu diberi 

perlakuan secara biologis dengan mengunakan SOC. 

SOC merupakan campuran berbagai mikrooragisme 

yang berguna untuk mempercepat proses pemecahan 

serat pada pakan ternak, sehingga mudah dicerna oleh 

ternak. Selain pemberiaan pakan fermentasi di dalam 

meningkatkan kualitas ternak yang perlu kita lakukan 

adalah dengan pemberian pakan konsentrat. 

Pembuatan pupuk organik 

Pelatihan pembuatan pukuk organik 

memakai  kotoran padat (inthil) teranak yang 

dikumpulkan dari kandang kedua mitra. Untuk 

menampung dan mengumpulkan kotoran ini  di 

buat sebuah tempat permanen, sehingga pengumpulan 

inthil menjadi lebih rapi dan bersih (Gambar 3).  

 

Gambar 3. Pembuatan pupuk kompos 

Proses pembuatan tempat pengumpulan inthil 

dan pelatihan memerlukan waktu pelatihan dila 

manajemen usaha dan pemasaran akan dilakukan 

  


pada tahap kedua setelah pelaporan kemajuan 

kegiatan yang direncanakan selama dua hari. Proses 

pembuatan pupuk dengan memanfaatkan biostarter.  

Biostater yang dapat dipakai  untuk 

pembuatan kompos sudah banyak beredar 

dimasyarakat dengan bermacam-macam merk dagang 

dengan dosis dan bahan yang bermacam-macam 

namun sama dalam hal tujuan yaitu untuk 

mempercepat proses dekomposisi. Kompos yang 

dihasilkan mempunyai kualitas yang baik, dosis 

pemakaian  pada tanaman lebih hemat dibanding 

pupuk kandang tanpa diolah dahulu. Kompos inthil 

yang dihasilkan memberikan nilai tambah 

pengusahaan ternak karena memiliki nilai jual yang 

lebih tinggi dibandingkan tanpa pengomposan.  

Setelah kompos jadi maka selanjutnya bisa dipakai 

untuk memupuk tanaman, namun apabila dijual 

dikemas terlebih dahulu agar kelihatan praktis dan 

lebih rapi. Tiap kemasan berbeda-beda sesuai dengan 

permintaan pasar, biasanya bobot kompos tiap 

kemasan antara lain : 3 kg (plastik), 5 kg (plastic), 10 

kg (karung) dan 25 kg (karung). 

Pengolahan susu aneka rasa 

Susu merupakan minuman yang lazim di 

konsumsi semua orang,karena asupan pertama yang 

di konsumsi oleh umat manusia adalah susu. Tak 

jarang juga masa pertumbuhan di waktu kecil identik 

dengan mengonsumsi susu. bahkan tak sedikit orang 

yang telah mengonsumsi susu seiring pertumbuhanya 

hingga umur yang tak terbatas.  

Selain menyehatkan, susu juga dapat 

membantu menjaga kondisi tubuh supaya tetap fit. 

Untuk saat ini susu di olah menjadi beberapa 

hidangan, seperti aneka susu aneka rasa ,mie kuah 

susu, es krim, puding susu dan masih banyak lagi. 

Olahan susu yang cukup terkenal saat ini 

adalah minuman susu aneka rasa,seperti susu rasa 

strawberry, coklat royal, oreo, tiramisu, milo dan lain-

lain.Untuk membuat minuman susu aneka rasa yang 

enak, maka bahan utama berupa susu harus sangat di 

perhatikan. Sebaikya susu segar yang berasal dari 

ternak susu perah, misalnya kambing etawa, karena 

kemurnian susu perah lebih terjaga.  

Pada kegiatan ini, pelatihan proses pengolahan 

susu aneka rasa (Gambar 4) dilakukan selama 1 hari 

dengan melibatkan anggota kedua kelompok mitra. 

 

Gambar 4. Pembuatan susu anek rasa 

Susu yang diolah didapat dari hasil perahan ternak 

dari kedua mitra. Hasil pelatihan berupa produk susu 

segar aneka rasa 

Pelatihan perawatan anak kambing etawa yang 

baru lahir dan pemerahan susu 

Kegiatan selanjutnya yang telahdilaksanakan 

adalah pelatihan perawatan anak baru lahir dan 

pemerahan susu (Gambar 5). Guna mendapat  

anak kambing dan susu yang berkualitas perlu 

diperhatikan teknik pemeliharaan pasca kambing 

melahirkan. 

 

Gambar 5. Pelatihan perawatan anak kambing   etawa 

yang baru lahir dan pemerahan susu 

Teknik perawatan anak kambing yang perlu 

dilakukan yaitu: (1) peternak perlu memperhatikan 

pertumbuhan anak/cempe agar pertumbuhan sesuai 

dengan harapan, (2) jika indukan beranak 1 maka 

pertumbuhan anak akan lebih maksimal kerena 

susu berlimpah. Jika indukan beranak 2 diperlukan 

pengawasan agar  anakan  tidak  berebut  susu  

sehingga  pertumbuhan  menjadi  tidak seimbang. 

Jika beranak 3 maka salah satu cempe bisa menyusu 

ke induk lain yang beranak 1, (3) jika jumlah susu 

yang dihasilkan dirasakan kurang maka sangat 

dianjurkan untuk ditambah dengan susu sapi. 

Berikan susu dengan dot bayi dengan lubang dot 

sedikit besar. 

Guna memperbanyak susu kambing etawa 

dapat dilakukan terapi khusus. Ketika kambing 

masuk usia kebuntingan 4 bulan message/pemijatan 

mulai dilakukan, hal ini dilakukan untuk 

memperbesar kelenjar dan memperlancar susu.  

Pakan tambahan berupa bungkil kedelai mulai 

diberikan sebanyak 150 gram pagi dan 150 gram 

sore dicampurkan dengan komboran. Massage 

dilakukan tiap hari sampai kambing beranak. Setelah 

beranak bungkil kedelai dinaikkan menjadi 250 

gram pagi dan 250 gram sore yang dicampur dengan 

komboran. Massage tetap dilakukan sampai kira-

kira 3 minggu setalah kambing melahirkan. 

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam 

pemerahan susu antara lain, (1) pemerahan susu 

harus rutin dengan pemerahan yang tetap. Lubang 

tampungan botol yang dipakai  harus yang kecil. 

Susu kambing sangat sensitif terhadap bau sekitar, 

(2) setelah pemerahan botol harus langsung ditutup, 

(3) birahi harus dimonitor dengan baik, biasanya 

kambing birahi setelah 2 bulan beranak dan (4) bila 

indukan positif bunting, susunya akan mengalami 

kering pada saat kebuntingan hari ke-105 (3,5 

bulan). 

Pelatihan manajemen usaha dan penjualan online 

(e-commerce) 

Pemasaran  adalah  sistem  keseluruhan  dari  

kegiatan  usaha  yang  ditujukan untuk merencanakan, 

menentukan harga, mempromosikan dan 

mendistribusikan barang dan jasa yang dapat 

memuaskan kebutuhan pembeli maupun pembeli 

potensial. Konsep-konsep inti pemasaran meluputi: 

kebutuhan, keinginan, permintaan, produksi, utilitas, 

nilai dan kepuasan; pertukaran, transaksi dan 

hubungan pasar, pemasaran dan pasar.  

Manajemen pemasaran berasal dari dua kata 

yaitu manajemen dan pemasaran. Pemasaran adalah 

analisis, perencanaan, implementasi, dan 

pengendalian dari program-program yang dirancang 

untuk menciptakan, membangun, dan memelihara 

pertukaran yang menguntungkan dengan pembeli 

sasaran untuk mencapai tujuan perusahaan. 

Sedangakan manajemen adalah proses perencanaan 

(planning), pengorganisasian (organizing) 

penggerakan (actuating) dan pengawasan.  

Untuk   memperlancar   pemasaran  hasil 

produksi   kelompok mitra, maka diperlukan sebuah 

sistem yang dapat membantu pemasaran. Selain 

penyediaan website (Gambar 6), kelompok mitra 

akan diberikan pelatihan cara penjulan online. 

 

Gambar 6. Aplikasi penjualan online 

Sistem   yang   akan   dibuat   adalah   website 

penjualan (e-commerce) yang mempunyai 

bermanfaat antara lain, (1) menampilkan profil usaha 

kelompok mitra, (2) menampilkan cara budidaya 

kembing etawa, (3) memanpilkan manfaat susu 

kambing etawa, (4) mempromosikan penjualan 

produk kambing etawa, misalnya olahan susu aneka 

rasa dan (5) memproses pemesanan produk oleh 

pembeli. 

Kegiatan pemgembangan aplikasi e-commerce 

sudah dilakukan. Proses pembuatan akan memekan 

waktu kurang lebih 1 bulan. Persiapan yang dilakukan 

selain proses coding aplikasi adalah dengan 

penyediaan hosting sebagai tempat penyimpanan dan 

sewa domain sebagai nama alias untuk dapat 

mengakses aplikasi yang dikembangkan. Sebagai 

alternatif nama yang akan dipakai  adalah 

www.etawabanguntapan.com.  


Beberapa kesimpulan yang dapat diambil 

berdasar  kegiatan yang telah dilaksanakan antara 

lain:  

1. Penerapan teknologi pakan fermentasi 

menghasilkan pakan berkualitas dan kelompok 

mitra tidak lagi kesulitan untuk menyiapakan 

pakan kambing, terutama ketika musim kemarau. 

2. Rumah pakan dan mesin pencacah rumput berguna 

untuk proses fermentasi, sehingga pakan kambing 

dapat disimpan dalam waktu yang lebih lama dan 

memiliki kualitas yang bagus. 

3. Pengolahan limbah  (kotoran) menjadi pupuk 

organik dapat menambah pemasukan dan menjaga 

sanitasi kandang. 

4. Pengolahan susu murni menjadi berbagai produk 

olahan susu aneka rasa menjadikan produk lebih 

bervarisi dan mudah dalam pemasaran. 

5. Penanganan anak kambing baru lahir perlu 

dilakukan untuk mendapat  anakan yang sehat 

dan berkualitas baik. 

6. Pelatihan manajemen usaha diperlukan untuk 

meningkatkan keterampilan dalam manajemen 

usaha dan pencatatan transaksi keuangan. 

7. Pemanfaatan website penjualan (e-commerce) 

sebagai media promosi dapat memeperluas 

jangkauan pemasaran hasil usaha kelompok. 


Kambing Boerawa merupakan hasil 

persilangan antara kambing Boer jantan dan 

Peranakan Etawa (PE) betina melalui grading 

up. Program grading up memerlukan kambing 

Boer jantan karena memiliki potensi genetik 

tinggi pada sifat pertumbuhannya. Performa 

pertumbuhan kambing pada umur 1 tahun 

merupakan ekspresi potensi genetik individu 

sendiri dan sudah tidak dipengaruhi oleh induk 

karena sudah lepas sapih dan tidak dirawat oleh 

induknya  Oleh karena itu,  

pejantan mewarisi potensi genetik dalam ukuran 

tubuh tanpa adanya pengaruh nongenetik. 

Pencatatan perkawinan diperlukan untuk 

menghindari terjadinya inbreeding dan 

pencatatan ukuran tubuh (lingkar dada, panjang 

badan, dan tinggi pundak) untuk mengevaluasi 

pertumbuhan kambing Boerawa. Evaluasi 

terhadap pengaturan perkawinan dan kinerja 

pertumbuhan bertujuan untuk meningkatkan 

produktivitas kambing Boerawa. Produktivitas 

merupakan hasil kerja sama antara potensi 

produksi dan populasi. Populasi kambing 

Boerawa diharapkan meningkat dari tahun ke 

tahun agar mampu menyumbang kebutuhan 

protein hewani asal ternak. populasi kambing di Provinsi Lampung 

pada tahun 2014 sebanyak 1.250.823 ekor atau 

6,71% dari populasi kambing di Indonesia.  

Populasi kambing di Lampung tersebar di 

setiap kabupaten. Salah satu kabupaten  yang 

memiliki populasi cukup banyak yaitu 

Kabupaten Tanggamus sebanyak 174.265 ekor 

. Wilayah Kabupaten 

Tanggamus yang dikenal sebagai tempat 

pengembang-an peternakan kambing Boerawa 

yaitu Kecamatan Sumberejo.  

Kambing Boerawa di Kecamatan 

Sumberejo dikembangkan di tiga kelompok 

ternak yaitu Pelita Karya 3, Mitra Usaha, dan 

Handayani. Namun demikian, performa 

pertumbuhannya yaitu ukuran tubuh pada 

kambing Boerawa Grade 1 (G1) umur 1 tahun di 

ketiga kelompok cukup bervariasi. Hal tersebut 

mencerminkan potensi genetik masing-masing 

pejantan yang diwariskan. Jadi, penelusuran 

pejantan yang menghasilkan anak dengan kisaran 

ukuran tubuh tertentu perlu dilakukan. 

Berdasarkan uraian tersebut perlu diteliti 

tentang performa pertumbuhan kambing 

Boerawa G1 umur 1 tahun untuk mengevaluasi 

perkembangan program grading up ditinjau dari 

segi pertumbuhan dan selanjutnya menelusuri 

tetua pejantan masing-masing Boerawa G1 yang 

diamati. 

 

Penelitian ini dilaksanakan pada 

Agustus—September 2015 pada Kelompok 

Ternak Pelita Karya 3, Mitra Usaha, dan 

Handayani di Kecamatan Sumberejo, Kabupaten 

Tanggamus. 

Materi dan Alat Penelitian 

 

Materi penelitian yang digunakan berupa 

data tentang bobot badan, lingkar dada, panjang 

badan, dan tinggi pundak dari 50 ekor kambing 

Boerawa G1 hasil ke-turunan 5 ekor pejantan 

Kambing Boer yang terdapat di Kelompok 

Ternak Pelita Karya 3, Mitra Usaha, dan 

Handayani. Peralatan yang digunakan oleh 

peternak dalam menimbang dan mengukur yaitu 

timbangan merk Xinekten kapasitas 100 kg 

dengan tingkat ketelitian 0,5 kg dan pita ukur 

merk Butterfly dengan panjang 1,5 m dan tingkat 

ketelitian 1,0 mm. 

 

Metode Penelitian 

 

Metode yang digunakan dalam  penelitian 

ini yaitu metode survei dan penentuan sampel 

dilakukan dengan purposive sampling . Materi yang diamati berupa 50 

ekor kambing Boerawa G1 umur 1 tahun dari 5 

ekor pejantan Boer. Jumlah pejantan yang 

digunakan sebagai sampel dihitung dengan 

rumus: 

𝑥𝑛 =

𝑛𝑛

𝑁

× 5 

Keterangan: 

𝑥𝑛  = jumlah pejantan Boer yang digunakan sebagai  

sampel pada masing-masing 

   kelompok ternak (ekor) 

𝑛𝑛  = jumlah pejantan Boer pada masing-masing 

kelompok ternak (ekor) 

N = jumlah populasi pejantan Boer (ekor) 

5 = jumlah pejantan Boer yang dibutuhkan (ekor)  

 

Penelitian ini menggunakan data sekunder 

yang diperoleh dari rekording perkawinan, 

kelahiran, dan pertumbuhan kambing Boerawa 

G1 di Kelompok Ternak Pelita Karya 3, Mitra 

Usaha, dan Handayani.  

Peubah yang Diamati 

 

Peubah yang diamati sebagai berikut: 

1. bobot umur 1 tahun (BSt). Peternak 

memperoleh BSt (kg) dengan cara me-

nimbang kambing pada umur sekitar 12 

bulan;  

2. lingkar dada (LD). Peternak mengukur LD 

(cm) menggunakan pita ukur dengan cara 

melingkarkan pita ukur pada bagian 

belakang siku tulang rusuk paling depan, 

diukur dari gumba ke gumba; 

3. panjang badan (PB). Peternak mengukur 

PB (cm) menggunakan tongkat ukur dengan 

posisi kambing berdiri tegak dan keempat 

kaki kambing membentuk empat persegi 

panjang. Pengukuran dilakukan dari ujung 

sendi bahu sampai benjolan tulang tapis 

(tulang belakang); 

4. tinggi pundak (TP). Peternak mengukur TP 

(cm) menggunakan tongkat ukur dari 

bagian tertinggi pundak pada tulang rusuk 

ketiga dan keempat tegak lurus ke tanah 

tempat kambing berdiri. 

 

Analisis Data 

 

Bobot badan dan ukuran tubuh kambing 

Boerawa umur 1 tahun terkoreksi dihitung 

dengan rumus sesuai rekomendasi Hardjosubroto 

(1994): 

 

a.  𝐵𝑆𝑡𝑇 =   𝐵𝑆+  

𝐵𝑆𝑡−𝐵𝑆

𝑇𝑊

× 245  (𝐹𝐾𝐽𝐾) 

 

Keterangan:  

BStT = bobot umur 1 tahun terkoreksi (kg) 

BS = bobot sapih (kg) 

BSt = bobot umur 1 tahun (kg) 

TW = tenggang waktu antara umur penimbangan  

 BSt dan BS (hari) 

FKJK = faktor koreksi jenis kelamin 

 

 

b.𝐷𝑆𝑡𝑇 =  𝐿𝐷𝑆 +  

𝐿𝐷𝑆𝑡−𝐿𝐷𝑆

𝑇𝑊

× 245  (𝐹𝐾𝐽𝐾) 

 

Keterangan:  

 LDStT = lingkar dada saat umur 1 tahun terkoreksi 

(cm) 

 LDS = lingkar dada umur sapih (cm) 

 LDSt = lingkar dada saat umur 1 tahun (cm) 

 FKJK = faktor koreksi jenis kelamin 

 

 

c.𝑃𝐵𝑆𝑡𝑇 =  𝑃𝐵𝑆+  

𝑃𝐵𝑆𝑡−𝑃𝐵𝑆

𝑇𝑊

× 245   𝐹𝐾𝐽𝐾  

Jurnal Ilmiah Peternakan Terpadu Vol. 4(1): 82-89, Februari 2016  Ade Irma Suryani et al. 

 

88 

 

SSs 

s-1 

SSw 

n-s 

MSs – MSw 

 

Keterangan:  

PBStT = panjang badan saat umur 1 tahun terkoreksi  

 (cm) 

PBS = panjang badan umur sapih (cm) 

PBSt = panjang badan saat umur 1 tahun (cm) 

FKJK = faktor koreksi jenis kelamin 

d. 𝑇𝑃𝑆𝑡𝑇 =  𝑇𝑃𝑆 +  

𝑇𝑃𝑆𝑡−𝑇𝑃𝑆

𝑇𝑊

× 245  (𝐹𝐾𝐽𝐾) 

 

Keterangan: 

TPStT = tinggi pundak saat umur 1 tahun terkoreksi  

 (cm)  

TPS = tinggi pundak umur sapih (cm) 

TPSt = tinggi pundak saat umur 1 tahun (cm) 

FKJK = faktor koreksi jenis kelamin 

 

Nilai FKJK pada kambing menurut 

Hardjosubroto (1994) terdapat pada Tabel 1.  

 

Tabel 1. Faktor koreksi jenis kelamin untuk 

bobot badan dan ukuran tubuh pada 

umur 1 tahun 

 

No. Peubah 

Jenis 

kelamin 

FKJK 

1 Bobot badan Jantan 1,00 

  

Betina 1,09 

2 Lingkar dada Jantan 1,00 

  

Betina 1,14 

3 Panjang badan Jantan 1,00 

  

Betina 1,11 

4 Tinggi pundak Jantan 1,00 

  

Betina 1,13 

 

Sumber: Sulastri (2014a) 

 

Setelah dilakukan pengoreksian, data hasil 

perhitungan dideskripsikan. 

 

Estimasi heritabilitas 

 

Bobot sapih dan ukuran tubuh kambing 

Boerawa umur 1 tahun terkoreksi di-

kelompokkan berdasarkan kelompok tetua jantan 

untuk melakukan estimasi heritabilitas dengan 

metode one way one out sesuai rekomendasi 

Becker (1992). Analisis keragaman untuk 

estimasi heritabilitas tersebut terdapat pada Tabel 

2. 

 

 

Sumber: Hardjosubroto (1994) 

Keterangan: 

s = jumlah pejantan (ekor) 

n = jumlah induk yang dikawinkan dengan  

pejantan (ekor) 

w = jumlah individu per pejantan (ekor) 

k = jumlah anak per pejantan  

 

Faktor koreksi (FK) = (∑x)2/n  

Jumlah kuadrat total (JKt/SSt) = ∑x2 – FK  

Jumlah kuadrat pejantan (JKs/SSs) = ∑xn

2/k – FK  

Jumlah kuadrat keturunan dalam pejantan (JKw/SSw) 

= JKt – JKs 

 

Kuadrat tengah antarpejantan (MSs) = 

 

Kuadrat tengah dalam pejantan (MSw) =  

 

σ2w = MSw 

 

σ2s= 

 

Estimasi heritabilitas dihitung dengan rumus: 

ℎ𝑠

2 =

4𝜎𝑠

2

𝜎𝑠

2 + 𝜎𝑤

2

 

Keterangan: 

hs

2                    = heritabilitas 

σ2s    = komponen ragam antarpejantan 

σ2w    = komponen ragam dalam pejantan 

 

Sumber : Becker (1992) 

 

Standard error (S.E.) estimasi heritabilitas 

dihitung dengan rumus:  

 

𝑆.𝐸.  ℎ𝑠

2 = 4 

2(1− 𝑡)2(1 +  𝑘 − 1 𝑡)2

𝑘 𝑘 − 1 (𝑠 − 1)

 

 

Keterangan : 

S.E. =simpangan baku/standar error 

t = korelasi dalam kelas 

k =jumlah anak per pejantan 

s = jumlah individu total 

 

Nilai Pemuliaan 

 

Menurut Hardjosubroto (1994), NP pejantan 

pada uji keturunan dapat dihitung dengan rumus: 

𝑁𝑃 =

2𝑛ℎ2

4 +  𝑛 − 1 ℎ2

 𝑝 − 𝑝  + 𝑝  

 

Keterangan: 

NP = nilai pemuliaan pejantan pada uji  

keturunan 

h2 = heritabilitas sifat yang diseleksi 

n = jumlah anak per pejantan (ekor) 

𝑝  = rata – rata bobotbadan anak per pejantan 

(kg) 

 = rata – rata ukuran tubuhanak per  

pejantan (cm) 

𝑝  = rata – rata bobotbadan anak dalam  

Jurnal Ilmiah Peternakan Terpadu Vol. 4(1): 82-89, Februari 2016  Ade Irma Suryani et al. 

 

89 

 

populasi (kg) 

 = rata – rata ukuran tubuhanak dalam  

populasi (cm) 

 

 

HASIL DAN PEMBAHASAN 

 

A. Bobot Badan dan Ukuran Tubuh Kambing 

Boerawa G1 Umur 1 Tahun Terkoreksi 

 

Bobot badan dan ukuran tubuh kambing pada 

umur 1 tahun merupakan ekspresi potensi 

genetik individu sendiri dan sudah tidak 

dipengaruhi oleh induk karena sudah lepas sapih 

dan tidak dirawat oleh induknya (Faruque, et al., 

2010). Bobot badan dan ukuran tubuh umur 1 

tahun terkoreksi kambing Boerawa G1 yang 

diperoleh dari hasil penelitian disajikan pada 

Tabel 2. 


Berdasarkan tabel 3 di atas tampak bahwa 

rata-rata bobot badan terkoreksi kambing 

Boerawa G1 umur 1 tahun sebesar 33,78 ± 1,19 

kg. Ukuran tubuh meliputi lingkar dada, panjang 

badan, dan tinggi pundak berturut-turut sebesar 

68,28 ± 3,20 cm; 63,73 ± 2,17cm; dan 63,72 ± 

2,96 cm. Hasil penelitian ini lebih rendah 

dibandingkan dengan hasil penelitian Sulastri 

(2014b) yang melaporkan bahwa rata-rata bobot 

kambing Boerawa G1 umur 1 tahun seberat 43,49 

± 6,15 kg, lingkar dada 70,13 ± 2,98 cm, panjang 

badan 67,31 ± 2,57 cm, dan tinggi pundak 65,88 ± 

2,37 cm. Hal ini diduga karena adanya perbedaan 

pada tetua, sampel pengamatan, dan lokasi 

pengamatan. Pada penelitian Sulastri (2014b) 

sampel diambil dari Kelompok Ternak Karya 

Makmur III di Desa Dadapan sedangkan pada 

penelitian ini sampel diambil dari Kelompok 

Ternak Pelita Karya 3 di Desa Dadapan, Mitra 

Usaha di Desa Tegal Binangun, dan Handayani di 

Desa Sidokaton. Menurut Gilbert dan Churchill 

(2005), sampel yang berbeda akan menghasilkan 

statistik yang berbeda dan estimasi yang juga 

berbeda dari parameter populasi yang sama. 

Ukuran tubuh hasil penelitian ini lebih 

rendah daripada penelitian 

sehingga bobot badannya juga akan lebih rendah. 

Hal ini diduga karena faktor lingkungan dan 

manajemen pemeliharaan yang tidak jauh berbeda 

antarkelompok ternak. Lingkungan ternak adalah 

keseluruhan dari kondisi eksternal ternak yang 

ber-pengaruh terhadap perkembangan, respon, 

dan pertumbuhan ternak. Pada umum-nya, 

lingkungan memiliki persentase yang lebih tinggi 

dibandingkan dengan  genetik, yaitu lingkungan 

70% dan genetik 30%.  

Faktor lingkungan yang langsung 

berpengaruh pada kehidupan ternak yaitu iklim. 

Iklim merupakan faktor penentu ciri khas dan 

pola hidup dari suatu ternak. Iklim sendiri 

merupakan bagian terpenting dari penentuan kerja 

status faali dari ternak. Pengaruh langsung iklim 

terhadap ternak adalah pada produktivitasnya 

Kelembapan dan suhu 

udara dari suatu lingkungan ke-hidupan ternak 

merupakan salah satu unsur iklim yang 

memengaruhi kesehatan ternak. Kelembapan 

udara yang tinggi disertai suhu udara yang tinggi 

menyebab-kan meningkatnya frekuensi respirasi 

dan akan mempertinggi kejadian penyakit saluran 

pernapasan ,

Ternak dengan sifat genetik baik tidak 

akan mengekspresikan potensi genetiknya tanpa 

didukung oleh lingkungan yang menunjang. 

Bahkan telah diketahui bahwa dalam membentuk 

performan,  lingkungan berpengaruh lebih besar 

daripada sifat genetik ternak. Oleh karena itu, 

ternak yang dipelihara dalam satu wilayah 

cenderung memiliki produktivitas yang sama. 

Berdasarkan hasil kunjungan ke Instalasi 

Pembibitan Kambing dan Unggas (IPKU), 

pejantan kambing Boer yang digunakan pada 

ketiga kelompok penelitian bukan merupakan 

bangsa Boer murni. Hal ini dilihat berdasarkan 

performan kambing Boer jantan pada umur 1 

tahun tidak sebaik kambing Boer murni. Pejantan 

kambing Boer berasal dari Australia yang 

kemudian dibiakkan oleh PT. Santori Agrindo 

Feedlot. Kemudian pejantan kambing Boer dibeli 

pada umur 1 tahun untuk dipinjamkan pada 

kelompok ternak di Kecamatan Sumberejo dan 

mulai dikawinkan pada umur 1,5 tahun. Namun 

dalam hal ini tidak ada rekording tentang 

silsilahnya. 

 

Heritabilitas (h2) merupakan istilah yang 

digunakan untuk menunjukkan bagian dari 

keragaman total suatu sifat yang disebabkan oleh 

pengaruh genetik menyatakan bahwa nilai 

heritabilitas suatu sifat mencerminkan keragaman 

fenotip antarindividu dalam populasi yang 

disebabkan oleh faktor genetik. 

Hasil analisis h2 pejantan kambing Boer 

pada bobot badan, lingkar dada, panjang badan, 

dan tinggi pundak berturut-turut sebesar 0,19 ± 

0,40; 0,15 ± 0,38; 0,20 ± 0,41; dan 0,17 ± 0,39. 

Menurut Dalton (1980), nilai h2 dapat 

dikelompokkan kedalam tiga klasifikasi, yaitu 

0,0—0,1 termasuk dalam klasifikasi rendah, 0,1—

0,3 termasuk dalam klasifikasi sedang, dan 0,3—

1,0 termasuk dalam klasifikasi tinggi. Hasil 

analisis yang diestimasi berdasarkan metode 

korelasi saudara tiri sebapak tersebut 

menunjukkan bahwa nilai h2bobot badan dan 

ukuran tubuh kambing Boerawa G1 umur 1 tahun 

yang dianalisis termasuk dalam kelassedang, 

sehingga efektif apabila peningkatan kinerja 

pertumbuhan dilakukan melalui seleksi. Menurut 

 seleksi individu sangat 

efektif dilakukan pada sifat yang memiliki 

heritabilitas sedang sampai tinggi karena 

kecermatan seleksi ditentukan oleh besarnya 

heritabilitas. 

menunjukkan bahwa heritabilitas pejantan 

kambing Boer pada bobot badan, lingkar dada, 

panjang badan, dan tinggi pundak berturut-turut 

sebesar 0,19 ± 0,07; 0,17 ± 0,01; 0,19 ± 0,06; 0,18 

± 0,02 yang termasuk dalam kelas sedang. 

perbedaan sampel 

pengamatan mengakibatkan perbedaan genetik 

populasi sehingga sifat yang di-amati pada lokasi 

yang berbeda dapat mengakibatkan nilai 

heritabilitas yang berbeda. Namun berdasarkan 

klasifikasinya, heritabilitas pada penelitian ini 

tidak berbeda dengan penelitian 

Hal ini berarti kemampuan pejantan kambing 

Boer dalam mewariskan sifat yang digunakan 

sebagai sampel pada masing-masing penelitian 

tidak jauh berbeda. Berdasarkan perbandingan 

tersebut, diduga potensi dari tetua sama namun 

dalam hal ini tidak ada rekording tentang 

silsilahnya.Akan tetapi, estimasi heritabilitas 

kinerja pertumbuhan pada penelitian ini memiliki 

nilai salah baku yang tinggi. Salah baku 

heritabilitas dinyatakan tinggi apabila nilainya 

lebih besar daripada nilai heritabilitas yang 

diperoleh.  salah 

baku heritabilitas yang tinggi disebabkan tidak 

adanya penyesuaian data, kesalahan pengambilan 

contoh, dan jumlah individu dalam setiap 

kelompok keluarga terlalu bervariasi. Selain itu, 

tinggi rendahnya nilai salah baku dipengaruhi 

oleh jumlah sampel (anak) dan pejantan. Jumlah 

sampel yang diperlukan minimal 500 sampel agar 

diperoleh nilai heritabilitas yang andal . Salah baku yang tinggi dalam 

penelitian ini diduga karena sampel yang 

digunakan terlalu sedikit, yaitu 50 ekor kambing 

Boerawa G1 umur 1 tahun dari 5 ekor pejantan 

kambing Boer, sedang-kan penelitian menggunakan rekording pertumbuhan 

450 ekor kambing Boerawa G1. 

Heritabilitas yang memiliki salah baku 

yang tinggi menunjukkan bahwa nilai heritabilitas 

tersebut tidak cukup andal. Estimasi heritabilitas 

yang andal apabila digunakan dalam 

penghitungan rumus-rumus pemuliaan ternak 

memiliki hasil yang tidak berbeda jauh dengan 

kondisi nyata di lapangan , Oleh karena itu, meskipun nilai 

heritabilitas pada penelitian ini dalam kelas 

sedang, namun tidak cukup andal untuk dijadikan 

sebagai acuan dalam perhitungan rumus-rumus 

pemuliaan ternak. 

 menyatakan estimasi 

heritabilitas kinerja pertumbuhan pada saat lahir, 

sapih, dan umur setahun bukan suatu konstanta 

akibat adanya perubahan frekuensi gen suatu sifat 

dalam populasi. Perubahan frekuensi gen tersebut 

disebabkan oleh adanya seleksi, pengaturan 

perkawinan, serta mutasi masuk dan keluar ternak 

ke dalam dan ke luar dari wilayah populasi. Oleh 

karena itu, parameter genetik harus diestimasi 

secara periodik 

 

C. Nilai Pemuliaan Pejantan Boer 

 

Nilai h2 digunakan untuk menghitung nilai 

pemuliaan (NP) absolut pejantan.NP adalah 

penilaian terhadap mutu genetik ternak untuk 

suatu sifat tertentu yang diberikan secara relatif 

atas dasar kedudukan di dalam populasi. NP 

digunakan sebagai dasar pemilihan induk atau 

pejantan untuk mengambil keputusan bahwa 

ternak akan dipertahankan sebagai tetua untuk 

dikembangbiakan atau disingkirkan dalam 

populasi.  

 

1. Nilai pemuliaan bobot badan 

 

Bobot umur 1 tahun merupakan bobot yang 

diperoleh dengan cara menimbang kambing pada 

umur sekitar 12 bulan. Bobot badan ini 

selanjutnya digunakan untuk menghitung NP 

bobot badan. Hasil perhitungan NP bobot badan 

pada penelitian ini menunjukkan bahwa pejantan 

Boer terbaik adalah pejantan Bursan  karena 

memiliki NP bobot badan tertinggi yaitu sebesar 

34,06 kg (Tabel 4). 

 

Tabel 4. Nilai pemuliaan bobot badan pejantan  

Boer 

Pejantan Bobot badan (kg) 

Bandot 33,75 

Badu 33,33 

Sabes 34,05 

Gendut 33,72 

Bursan 34,06 

Rata-rata 33,78 

 

bahwa rata-rata NP pejantan Boer berdasarkan 

bobot badan  kambing Boerawa G1 umur 1 tahun 

sebesar 47,66  kg. NP bobot badan yang lebih 

rendah pada penelitian ini diduga karena kambing 

Boerawa yang digunakan sebagai sampel  

memiliki bobot badan yang lebih rendah daripada 

pejantan pada penelitian 

meskipun heritabilitasnya tidak jauh berbeda. 

 bahwa 

besarnya NP ditentukan oleh heritabilitas sifat dan 

besarnya performa atau sifat yang diukur untuk 

menentukan NP. NP yang lebih rendah pada 

penelitian ini menunjukkan kemampuan kambing 

sampel untuk mewariskan potensi genetik kepada 

keturunannya lebih rendah daripada kambing 

sampel penelitian

 

2. Nilai pemuliaan lingkar dada 

 

Lingkar dada merupakan salah satu ukuran 

tubuh yang banyak digunakan untuk menaksir 

bobot hidup ternak. Lingkar dada dapat diukur 

dengan menggunakan pita meter melingkari dada 

kambing tepat di belakang siku. Hasil perhitungan 

NP lingkar dada pada penelitian ini dapat dilihat 

pada Tabel 5. 

Dari hasil perhitungan menunjukkan 

bahwa pejantan Boer terbaik adalah pejantan 

Bursan karena memiliki NP lingkar dada tertinggi 

yaitu sebesar 69,10 cm. 

bahwa hubungan antara lingkar dada dan bobot 

badan lebih erat daripada hubungan antara 

panjang badan dan bobot badan, sehingga dalam 

penelitian ini NP lingkar dada dan bobot badan 

yang tertinggi adalah pejantan Bursan. Besarnya 

NP lingkar dada dipengaruhi oleh h2,rata-rata 

lingkar dada per-pejantan, rata-rata lingkar dada 

dalam populasi, dan banyaknya sampel yang 

digunakan dalam penelitian ini. 

 

3. Nilai pemuliaan panjang badan 

 

Panjang badan merupakan salah satu 

ukuran tubuh yang digunakan dalam pendugaan 

bobot tubuh. Pengukuran dilakukan dari ujung 

sendi bahu sampai benjolan tulang tapis (tulang 

belakang) dengan menggunakan tongkat ukur 

dengan posisi kambing berdiri tegak. Hasil 

perhitungan NP panjang badan penelitian ini 

dapat dilihat pada Tabel 6. 

Berdasarkan Tabel 6 dapat dilihat bahwa 

NP panjang badan terbaik dimiliki oleh pejantan 

Bursan, yaitu sebesar 64,02 cm. Pejantan tersebut 

dinyatakan sebagai pejantan terbaik berdasarkan 

tingginya NP panjang badan dibanding-kan 

dengan sampel pejantan lainnya. menyatakan bahwa individu dengan NP 

tinggi menunjukkan kemampuannya yang tinggi 

untuk mewariskan potensi genetiknya kepada 

keturunannya dan mengulang produksi-nya. 

Beberapa faktor yang mempengaruhi NP panjang 

badan yaitu  h2, rata-rata panjang badan 

perpejantan, rata-rata panjang badan dalam 

populasi, dan banyaknya sampel yang digunakan 

dalam penelitian ini. 

 

Tabel 5. Nilai pemuliaan lingkar dada pejantan 

Boer 

Pejantan Lingkar dada (cm) 

Bandot 68,00 

Badu 67,74 

Sabes 67,70 

Gendut 68,85 

Bursan 69,10 

Rata-rata 68,28 

 

Tabel 6. Nilai pemuliaan panjang badan  pejantan  

Boer 

 

Pejantan Panjang badan (cm) 

Bandot 63,92 

Badu 63,44 

Sabes 63,31 

Gendut 63,97 

Bursan 64,02 

Rata-rata 63,73 

 

4. Nilai pemuliaan tinggi pundak 

 

Tinggi pundak juga merupakan salah satu 

ukuran tubuh yang dapat digunakan sebagai data 

pendukung dalam penentuan performan ternak. 

Tinggi pundak dapat diukur dengan menggunakan 

tongkat ukur dari atas tanah tepat kambing berdiri 

sampai dengan titik tertinggi pada gumba, pada 

tulang rusuk ketiga dan keempat . Besarnya NP tinggi pundak 

dipengaruhi oleh h2, rata-rata tinggi pundak 

perpejantan, rata-rata tinggi pundak dalam 

populasi, dan banyaknya sampel yang digunakan 

dalam penelitian ini. NP tinggi pundak terbaik 

dalam penelitian ini dimiliki oleh pejantan 

Bursan, yaitu sebesar 64,42 cm. Hasil perhitungan 

NP tinggi pundak penelitian ini dapat di-lihat 

pada Tabel 7. 

 

Tabel 7. Nilai pemuliaan tinggi pundak Pejantan 

Boer 

Pejantan Tinggi pundak (cm) 

Bandot 63,31 

Badu 63,55 

Sabes 63,48 

Gendut 63,82 

Bursan 64,42 

Rata-rata 63,72 

 

Secara keseluruhan hasil perhitungan NP 

bobot badan dan ukuran tubuh pejantan Boer 

berdasar-kan bobot badan dan ukuran tubuh 

kambing Boerawa G1 umur 1 tahun menyatakan 

bahwa pejantan Boer terbaik yaitu pejantan 

Bursan. Pejantan Bursan dinyatakan sebagai 

pejantan terbaik karena pejantan tersebut 

memiliki NP tertinggi pada semua peubah yang 

diamati dibandingkan dengan pejantan Boer 

lainnya. individu 

dengan NP tinggi menunjukkan kemampuan yang 

tinggi untuk mewariskan potensi genetik kepada 

keturunannya dan mengulang produksinya. 

 menyatakan pejantan 

dengan NP tinggi mewariskan separuh nilai 

pemuliaannya kepada keturunannya dan separuh 

bagian lainnya berasal dari genetik induk. 

 

Berdasarkan hasil penelitian dan 

pembahasan maka dapat disimpulkan bahwarata-

rata bobot badan, lingkar dada, panjang badan, 

dan tinggi pundak Boerawa grade 1 umur satu 

tahun terkoreksi berturut-turut sebesar 33,78 ± 

1,19 kg; 68,28 ± 3,20 cm; 63,73 ± 2,17cm; 63,72 

± 2,96 cm; 

Heritabilitas pejantan kambing Boer pada 

bobot badan, lingkar dada, panjang badan, dan 

tinggi pundak  berturut-turut sebesar 0,19 ± 0,40; 

0,15 ± 0,38; 0,20 ± 0,41; 0,17 ± 0,39 (kelas 

sedang); 

rata-rata NP bobot tubuh, lingkar dada, 

panjang badan, dan tinggi pundak pejantan Boer 

terkoreksi berturut-turut sebesar 33,78 kg; 68,28 

cm; 63,73 cm; 63,72 cm; 

Pejantan dengan NP terbaik yaitu pejantan 

Bursan karena memiliki nilai NP di atas rata-rata 

pada keempat peubah yang diamati. NP pejantan 

Bursan pada bobot badan sebesar 34,06 kg; 

lingkar dada 69,10 cm; panjang badan 64,02 cm; 

dan tinggi pundak 64,42 cm. 

disarankan: peternak Kecamatan Sumberejo 

sebaiknya memprioritaskan pejantan kambing 

Boer terbaik agar dipertahankan guna 

dikembangbiakkan dalam populasi dan 

menyediakan pengganti untuk pejantan Boer yang 

memiliki NP di bawah rata-rata agar produktivitas 

kambing Boerawa di lokasi tersebut dapat 

meningkat; 

Nilai heritabilitas pada penelitian ini dalam 

kelas sedang, namun tidak cukup andal untuk 

dijadikan sebagai acuan dalam perhitungan 

rumus-rumus pemuliaan ternak. Sebaiknya satuan 

percobaan diperbanyak agar diperoleh salah baku 

yang lebih rendah dari nilai heritabilitas; 

Perlu adanya penelitian pada parameter 

genetik yang diestimasi secara periodik guna 

mengetahui kinerja pertumbuhan dan sebagai 

acuan peternak dalam usaha memperbaiki 

manajemen pemeliharaan kambing Boerawa di 

Kecamatan Sumberejo, Kabupaten Tanggamus.