ternak kambing 6
Peternakan kambing peranakan etawa (PE) saat ini berkembang sangat pesat karena banyak hasil yang dapat
diperoleh. Beberapa hasil diantaranya berupa penjualan induk, anakkan dan susu. Tambahan lain adalah
hasil pengolahan kotoran kambing (inthil) menjadi pupuk organik. Penyediaan pakan yang baik dan dalam
jumlah yang cukup perlu dilakukanuntuk meningkatkan kualitas kambing, susu dan anakan yang dihasilkan.
Supaya terus tersedianya pakan yang berkualitas maka diperlukan pengetahuan untuk pembuatan pakan
kambing fermentasi yang berkualitas baik dan dapat bertahan lama. Berbagai macam olahan susu kambing
dapat dihasilkan seperti susu murni yang dikemas dalam botol maupun susu bubuk beraneka rasa. Limbah
kotoran kambing, baik berupa limbah padat (inthil) maupun limbah cair (urine) jika dikelola dengan baik akan
memberikan nilai tambah ekonomi. Selain itu diperlukan juga pengetehuan tentang manajemen pengelolaan
dan teknik pemasaran yang baik untuk mendapat keuntungan yang maksimal. pemakaian teknologi
informasi (e-commerce) akan dapat memperluas jangkaun pemasaran produk-produk kambing etawa.
Kegiatan IbM ini melibatkan dua mitra Kelompok Peternak Kambing Etawa di Banguntapan, Bantul yaitu
“Kelompok PE Jaya” dan “Kelompok PE Makmur”. Kegiatan yang telah berhasil dilaksanakan untuk
mengatasi permasalahan yang dialami mitra yaitu (1) penerapan teknologi tepat guna dalam pengolahan
pakan alternatif/ buatan (fermentasi), (2) penerapan teknologi tepat guna untuk pengolahan limbah padat
menjadi pupuk organik, (3) proses pengolahan susu aneka rasa, (4) peningkatan pengetahuan dalam
penanganan anak kambing baru lahir dan (5) perbaikan sistem manajemen usaha dan pemasaran dengan
memanfaatkan media online.
Kambing etawa atau di Indonesia lebih dikenal
sebagai kembing Peranakan Etawa (PE) memiliki
tempat tersendiri dikalangan peternak. Perkembangan
dan minat dari peternak dalam membudidayakan
kambing etawa meningkat pesat dari tahun ke tahun.
Menurut produk yang dihasilkan, kambing PE
dikelompokkan menjadi 4 yaitu penghasil daging (tipe
pedaging), penghasil susu (tipe perah), penghasil bulu
(tipe bulu/mohair/cashmere), dan penghasil daging
dan susu.
Beberapa karakter penting dari kambing PE
antara lain, bentuk muka cembung, telinga relatif
panjang (18-30 cm) dan terkulai. Jantan dan betina
bertanduk pendek. Warna bulu bervariasi dari kream
sampai hitam. Bulu pada bagian paha belakang, leher
dan pundak lebih tebal dan lebih panjang daripada
bagian lainnya. Warna putih dengan belang hitam atau
belang coklat cukup dominan. Tinggi badan untuk
jantan 70-100 cm, dengan berat badan dewasa
mencapai 40-80 kg untuk jantan dan 30-50 kg untuk
betina.
Peternakan kambing peranakan etawa (PE) saat
ini berkembang sangat pesat karna banyak hasil yang
dapat diperoleh. Beberapa hasil diantaranya berupa
penjualan induk, anakkan dan susu. Tambahan lain
adalah hasil pengolahan kotoran kambing (inthil)
menjadi pupuk organik. Saat ini yang sedang booming
dipasaran adalah penjualan susu kambing etawa.
Beternak kambing etawa perlu juga didukung
oleh penyediaan pakan yang baik dan dalam jumlah
yang cukup. Pakan yang baik dan cukup akan
meningkatkan kualitas kambing, susu dan anakan
yang dihasilkan. Supaya terus tersedianya pakan yang
berkualitas maka diperlukan pengetahuan untuk
pembuatan pakan kambing fermentasi yang
berkualitas baik dan dapat bertahan lama. Selain itu
diperlukan juga pengetehuan tentang manajemen
pengelolaan dan teknik pemasaran yang baik untuk
mendapat keuntungan yang maksimal.
pemakaian teknologi informasi (e-commerce) akan
dapat memperluas jangkaun pemasaran produk-
produk kambing etawa.
Berbagai alasan ini menjadikan kambing
jenis peranakan etawa (PE) saat ini menjadi primadona
yang berkembang di kalangan peternak kambing,
khususnya di Kabupaten Bantul. Dalam melakukan
budidaya kambing etawa masyarakat membentuk
suatu kelompok peternak. Seiring dengan
digalakkanya usaha pemberdayaan masyarakat untuk
peningkatan ekonomi, maka kegiatan usaha
kerakyatan mendapat perhatian serius dari pemeritah
Kabupaten Bantul.
Saat ini di Kabupaten Bantul banyak tumbuh
kelompok-kelompok usaha khususnya bidang
pertanian dan peternakan. Diantara kelompok
peternak kambing peranakan etawah (PE) yang berada
di kabupaten Bantul adalah “Kelompok PE Jaya dusun
Modalan” dan “Kelompok PE Makmur dusun
Pringgolayan” yang menjadi mitra dalam kegiatan
Ipteks ini. Kedua kelompok mitra ini berada di
Kecamatan Banguntapan. Jarak Ibukota Kecamatan
ke pusat pemerintahan Kabupaten Bantul adalah 15
Km dan berbatasan langsung dengan Kota
Yogyakarta.
Kepedulian pemerintah Kabupaten Bantul dalam
mengembangkan peternakan diwujudkan melalui
program padat karya produktif dibawah koordinasi
Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi
(DISNAKERTRAN). Bantuan yang diberikan berupa
pembangunan kandang semi permanen. Masing-
masing kelompok menempati kandang seluas 60 M
persegi
Motivasi anggota kedua kelompok mitra masih
rendah, manajemen usaha serta jiwa kewirausahaan
masih belum terbentuk. Kurangnya pengetahuan
peternak dalam manajemen pakan dan reproduksi,
termasuk perawatan anakan (cempe) merupakan
masalah utama kelompok yang harus menjadi
perhatian, disamping permasalahan akses terhadap
modal dan pemasaran. Baik untuk peningkatan
jumlah populasi, maupun untuk pengadaan alat-alat
pengolah dan penyimpanan hasil produksi.
Sampai saat ini, susu hasil perahan kedua
kelompok sama sekali tanpa pengolahan (raw
material), sehingga masih belum banyak dijual
kepada masyarakat, melainkan hanya untuk konsumsi
sendiri. Pemerahan susu yang dilakukan masih
memakai cara sederhana dan memakai alat
seadanya. Kualiatas dan kuantitas susu hasil perahan
belum mendapat perhatian =yang serius dari anggota
kelompok.
Jika dikelola dengan baik, susu kambing etawa
mempunyai banyak kelebihan dibanding susu ternak
lainnya. Susu kambing memiliki keunggulan
tersendiri sebab mengandung nilai gizi yang tinggi
yaitu protein 3.4 %, lemak 4.1 %, karbohidrat 5.2 %,
kalsium 120 mg/100 gram, fosfor 135 mg/100 gram
dan berbagai macam vitamin. Susu kambing
mengandung protein lebih tinggi dibanding susu sapi,
merupakan sumber kalsium, fosfor dan vitamin yang
sangat diperlukan untuk pertumbuhan untuk usia
muda dan mencegah osteoporosis pada manula. Bagi
sebagian masyarakat, susu kambing dipercaya dapat
meningkatkan vitalitas dan mengobati berbagai
macam penyakit karena kandungan gizinya yang
lengkap terutama asam amino, vitamin dan mineral.
Hasil beberapa kajian pustaka ditemukan bahwa susu
kambing dapat menyembuhkan berbagai penyakit
diantaranya asma, kolesterol tinggi, asam urat dan
osteoporosis serta dapat menggantikan fungsi ASI.
Jumlah produksi susu yang diperoleh kedua
kelompok per ekor umumnya hanya antara 0,7 liter
sampai 1 liter perhari. pemakaian metode terapi
pada kambing dan formula pakan yang tepat dapat
meningkatkan produksi sampai dengan 3,8 liter
perhari per ekor kambing. Jika harga rata-rata susu
kambing adalah Rp 15.000/liter, maka ada
peningkatan penghasilan peternak yang cukup
signifikan dari produksi susu.
Kotoran kambing yang dihasilkan kedua
kelompok, baik berupa limbah padat (inthil) maupun
limbah cair (urine) belum diolah dengan baik. Urine
dibuang ke sungai melalui saluran yang sudah
disediakan dan belum diolah dan dimanfaatkan
sebagai pupuk cair. Sedangkan limbah padat (inthil)
hanya dikumpulkan dan dikemas dalam karung. Jika
ada petani yang membutuhkan, kelompok mitra akan
menjual secara borongan dengan harga yang sangat
murah yaitu hanya 70-100 ribu rupiah per mobil (25-
30 karung). Keadaan kelompok yang demikian
membawa dampak pada pencemaran lingkungan
yaitu air dan bau yang mengganggu kesehatan.
Teknik fermentasi menjadi pupuk cair dan pupuk
organik padat akan memberikan nilai tambah
ekonomi.
Kambing peranakan etawa (PE) cocok hidup di
daerah tropis, dengan tatalaksana yang baik mampu
melahirkan sampai 2 kali setahun, atau paling minim
3 kali dalam 2 tahun. Jumlah anak sekali kelahiran 1-
3 ekor. Produksi setinggi ini akan dapat dicapai secara
maksimal bila kebutuhan pakannya terpenuhi,
disamping hijauan juga dibutuhkan pakan konsentrat
seperti Polar, bungkil, gula Jawa, buah nangka (hijau),
kulit kedelai, bekatul, ampas tahu, jagung, ketela dan
singkong. Disamping itu kambing Etawa juga
memerlukan pakan penyedap dengan menambahkan
garam dapur dan tepung tulang.
Tingkat kelahiran ternak dari kedua kelompok
mitra masih rendah karena pengelolaan
reproduksinya kurang maksimal. Kelompok ternak
kambing PE Jaya dan PE Makmur melakukan cara
yang sama dalam hal pemberian pakan. Pakan utama
yang dipakai masih mengandalkan hijauan ramban
dari tanaman pekarangan/kebun. Pakan yang
diberikan berupa yaitu daun kaliandra, daun resede,
daun wilodo, daun kates atau buahnya, daun senu,
daun sengon laut, daun nangka, daun mindi daun
jipang atau buahnya bahkan terkadang dari diberikan
kulit singkong. Daun-daunan dicacah dulu sebelum
diberikan pada kambing, proses pencacahan dengan
memakai parang supaya dapat mencacah
ranting-ranting pohon. Dengan cara seperti ini masih
ada ranting pohon yang tidak tercacah sempuna
sehingga tidak termakan oleh kambing. Jika musim
penghujan berbagai macam dedaunan yang
dipakai untuk pakan kambing banyak tersedia.
Pada saat musim kemarau daun-daunan yang
dibutuhkan untuk pakan kambing sangat terbatas,
sehingga peternak harus membeli daun-daunan
untuk pakan kambing. Dengan demikian
pengeluaran peternak semakin besar dan dapat
mengganggu produksi susu jika daun-daun pakan
kambing tidak tersedia.
Melihat betapa kompleksnya permasalahan
yang dihadapi mitra dan keterbatasan dari tim
pelaksana Ipteks, maka prioritas permasalahan yang
akan diatasi melalui kegiatan Ipteks ini adalah 1)
penerapan teknologi tepat guna dalam pengolahan
pakan alternatif/ buatan (fermentasi), 2) penerapan
teknologi tepat guna untuk pengolahan limbah padat
menjadi pupuk organik, 3) pengolahan susu aneka
rasa, 4) peningkatan pengetahuan dalam penanganan
anak kambing baru lahir, dan 5) perbaikan sistem
manajemen usaha dan pemasaran.
Informasi mengenai beberapa permasalahan
yang dihadapi oleh Kelompok Peternak Kambing
Etawa PE Jaya dan Kelompok Peternak Kambing
Etawa PE Makmur ini tentunya harus sesegera
mungkin untuk diatasi sebagai salah satu solusi
pengembangan usaha kecil dan menengah. Melalui
program kegiatan Ipteks ini dan berdasar analisis
kebutuhan yang telah dilaksanakan, tim pengabdi
menawarkan solusi terhadap permasalahan ini
dengan sentuhan Ipteks sebagaimana diuraikan pada
bagian sebelumnya. Skema pelaksanaan kegiatan
program Ipteks yang akan dilakukan bersama kedua
mita difokuskan pada dua bidang, yaitu penerapan
teknologi tepat guna dan perbaikan manajemen usaha,
sebagaimana disajikan pada Gambar 1.
Gambar 1. Skema pelaksanaan
Rencana penerapan teknologi tepat guna
meliputi teknik pembuatan pakan alternatif/buatan
(fermentasi), teknik pembuatan pupuk organik, teknik
pengolahan susu aneka rasa serta aplikasi e-commerce.
Sedangkan kegiatan perbaiakan manajemen usaha
diwujudkan dalam bentuk pelatihan. Pelatihan yang
direncanakan adalah pelatihan perawatan anak baru
lahir (cempe), pelatihan pemerahan susu, pelatihan
manajemen usaha dan pelatihan penjualan online
melalui website (e-commerce).
Gambar 2. Proses pakan fermentasi
Kebutuhan dalam pembuatan rumah pakan
antara lain material bangunan seperti pasir, semen,
urug, split, batako, rangka baja ringan dan atap
gavalum. Sedangkan peralatan pendukung adalah
chooper (mesin perajang bahan pakan), drum
bertutup dan obat pemicu fermentasi.
Proses pengerjaan banguan rumah pakan
dilakukan secara gotong royong oleh anggota
kelompok kedua mitra selama kurang lebih 6 hari.
Setelah rumah pakan siap, selanjutnya adalah
pembelian mesin pencacah pakan (chooper), drum
sebagai wadah fermentasi pakan dan bahan pembuat
pakan termasuk obat fermentasi. Pelatihan pembuatan
pakan melibatkan tenaga ahli yang berpengalaman
dalam pembuatan pakan fermentasi selama 2 hari.
Hari pertama adalah proses pembuatan dan hari ke
dua dipakai untuk melihat dan memakai
(pemberian pakan) hasil fermentasi.
Teknologi fermentasi pakan bisa menjadi pilihan
mudah. Alasanya, bahan baku bisa dari berbagai daun
dan jenis rumput keing atau limba pengolahan kedelai
(menjadi tahu atau tempe). Bisa juga dari gedebok
pisang ditambah bekatul. Semua bahan itu dicampur
lalu difermentasikan selama minimal 3×24 jam.
Hasilnya adalah makanan ternak fermentasi yang
lebih awet dengan bau yang khas dan kandungan
karbohidrat, protein dan vitamin yang cukup stabil.
Pemberiaan teratur dengan jumlah seimbang antara
berat pakan dan berat hewan membuat hewan ternak
menjadi terpelihara secara baik.
Fermentasi itu sendiri merupakan proses
pemecahan senyawa organik menjadi sederhana yang
melibatkan mikroorganisme dengan tujuan
menghasilkan suatu produk yang mempunyai
kandungan nutrisi, tkestur yang lebih baik
memperpanjang masa penyimpanan, mengendalikan
pertumbuhan mikroba kontaminan.
Untuk penyiapan pakan ternak ini perlu diberi
perlakuan secara biologis dengan mengunakan SOC.
SOC merupakan campuran berbagai mikrooragisme
yang berguna untuk mempercepat proses pemecahan
serat pada pakan ternak, sehingga mudah dicerna oleh
ternak. Selain pemberiaan pakan fermentasi di dalam
meningkatkan kualitas ternak yang perlu kita lakukan
adalah dengan pemberian pakan konsentrat.
Pembuatan pupuk organik
Pelatihan pembuatan pukuk organik
memakai kotoran padat (inthil) teranak yang
dikumpulkan dari kandang kedua mitra. Untuk
menampung dan mengumpulkan kotoran ini di
buat sebuah tempat permanen, sehingga pengumpulan
inthil menjadi lebih rapi dan bersih (Gambar 3).
Gambar 3. Pembuatan pupuk kompos
Proses pembuatan tempat pengumpulan inthil
dan pelatihan memerlukan waktu pelatihan dila
manajemen usaha dan pemasaran akan dilakukan
pada tahap kedua setelah pelaporan kemajuan
kegiatan yang direncanakan selama dua hari. Proses
pembuatan pupuk dengan memanfaatkan biostarter.
Biostater yang dapat dipakai untuk
pembuatan kompos sudah banyak beredar
dimasyarakat dengan bermacam-macam merk dagang
dengan dosis dan bahan yang bermacam-macam
namun sama dalam hal tujuan yaitu untuk
mempercepat proses dekomposisi. Kompos yang
dihasilkan mempunyai kualitas yang baik, dosis
pemakaian pada tanaman lebih hemat dibanding
pupuk kandang tanpa diolah dahulu. Kompos inthil
yang dihasilkan memberikan nilai tambah
pengusahaan ternak karena memiliki nilai jual yang
lebih tinggi dibandingkan tanpa pengomposan.
Setelah kompos jadi maka selanjutnya bisa dipakai
untuk memupuk tanaman, namun apabila dijual
dikemas terlebih dahulu agar kelihatan praktis dan
lebih rapi. Tiap kemasan berbeda-beda sesuai dengan
permintaan pasar, biasanya bobot kompos tiap
kemasan antara lain : 3 kg (plastik), 5 kg (plastic), 10
kg (karung) dan 25 kg (karung).
Pengolahan susu aneka rasa
Susu merupakan minuman yang lazim di
konsumsi semua orang,karena asupan pertama yang
di konsumsi oleh umat manusia adalah susu. Tak
jarang juga masa pertumbuhan di waktu kecil identik
dengan mengonsumsi susu. bahkan tak sedikit orang
yang telah mengonsumsi susu seiring pertumbuhanya
hingga umur yang tak terbatas.
Selain menyehatkan, susu juga dapat
membantu menjaga kondisi tubuh supaya tetap fit.
Untuk saat ini susu di olah menjadi beberapa
hidangan, seperti aneka susu aneka rasa ,mie kuah
susu, es krim, puding susu dan masih banyak lagi.
Olahan susu yang cukup terkenal saat ini
adalah minuman susu aneka rasa,seperti susu rasa
strawberry, coklat royal, oreo, tiramisu, milo dan lain-
lain.Untuk membuat minuman susu aneka rasa yang
enak, maka bahan utama berupa susu harus sangat di
perhatikan. Sebaikya susu segar yang berasal dari
ternak susu perah, misalnya kambing etawa, karena
kemurnian susu perah lebih terjaga.
Pada kegiatan ini, pelatihan proses pengolahan
susu aneka rasa (Gambar 4) dilakukan selama 1 hari
dengan melibatkan anggota kedua kelompok mitra.
Gambar 4. Pembuatan susu anek rasa
Susu yang diolah didapat dari hasil perahan ternak
dari kedua mitra. Hasil pelatihan berupa produk susu
segar aneka rasa
Pelatihan perawatan anak kambing etawa yang
baru lahir dan pemerahan susu
Kegiatan selanjutnya yang telahdilaksanakan
adalah pelatihan perawatan anak baru lahir dan
pemerahan susu (Gambar 5). Guna mendapat
anak kambing dan susu yang berkualitas perlu
diperhatikan teknik pemeliharaan pasca kambing
melahirkan.
Gambar 5. Pelatihan perawatan anak kambing etawa
yang baru lahir dan pemerahan susu
Teknik perawatan anak kambing yang perlu
dilakukan yaitu: (1) peternak perlu memperhatikan
pertumbuhan anak/cempe agar pertumbuhan sesuai
dengan harapan, (2) jika indukan beranak 1 maka
pertumbuhan anak akan lebih maksimal kerena
susu berlimpah. Jika indukan beranak 2 diperlukan
pengawasan agar anakan tidak berebut susu
sehingga pertumbuhan menjadi tidak seimbang.
Jika beranak 3 maka salah satu cempe bisa menyusu
ke induk lain yang beranak 1, (3) jika jumlah susu
yang dihasilkan dirasakan kurang maka sangat
dianjurkan untuk ditambah dengan susu sapi.
Berikan susu dengan dot bayi dengan lubang dot
sedikit besar.
Guna memperbanyak susu kambing etawa
dapat dilakukan terapi khusus. Ketika kambing
masuk usia kebuntingan 4 bulan message/pemijatan
mulai dilakukan, hal ini dilakukan untuk
memperbesar kelenjar dan memperlancar susu.
Pakan tambahan berupa bungkil kedelai mulai
diberikan sebanyak 150 gram pagi dan 150 gram
sore dicampurkan dengan komboran. Massage
dilakukan tiap hari sampai kambing beranak. Setelah
beranak bungkil kedelai dinaikkan menjadi 250
gram pagi dan 250 gram sore yang dicampur dengan
komboran. Massage tetap dilakukan sampai kira-
kira 3 minggu setalah kambing melahirkan.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam
pemerahan susu antara lain, (1) pemerahan susu
harus rutin dengan pemerahan yang tetap. Lubang
tampungan botol yang dipakai harus yang kecil.
Susu kambing sangat sensitif terhadap bau sekitar,
(2) setelah pemerahan botol harus langsung ditutup,
(3) birahi harus dimonitor dengan baik, biasanya
kambing birahi setelah 2 bulan beranak dan (4) bila
indukan positif bunting, susunya akan mengalami
kering pada saat kebuntingan hari ke-105 (3,5
bulan).
Pelatihan manajemen usaha dan penjualan online
(e-commerce)
Pemasaran adalah sistem keseluruhan dari
kegiatan usaha yang ditujukan untuk merencanakan,
menentukan harga, mempromosikan dan
mendistribusikan barang dan jasa yang dapat
memuaskan kebutuhan pembeli maupun pembeli
potensial. Konsep-konsep inti pemasaran meluputi:
kebutuhan, keinginan, permintaan, produksi, utilitas,
nilai dan kepuasan; pertukaran, transaksi dan
hubungan pasar, pemasaran dan pasar.
Manajemen pemasaran berasal dari dua kata
yaitu manajemen dan pemasaran. Pemasaran adalah
analisis, perencanaan, implementasi, dan
pengendalian dari program-program yang dirancang
untuk menciptakan, membangun, dan memelihara
pertukaran yang menguntungkan dengan pembeli
sasaran untuk mencapai tujuan perusahaan.
Sedangakan manajemen adalah proses perencanaan
(planning), pengorganisasian (organizing)
penggerakan (actuating) dan pengawasan.
Untuk memperlancar pemasaran hasil
produksi kelompok mitra, maka diperlukan sebuah
sistem yang dapat membantu pemasaran. Selain
penyediaan website (Gambar 6), kelompok mitra
akan diberikan pelatihan cara penjulan online.
Gambar 6. Aplikasi penjualan online
Sistem yang akan dibuat adalah website
penjualan (e-commerce) yang mempunyai
bermanfaat antara lain, (1) menampilkan profil usaha
kelompok mitra, (2) menampilkan cara budidaya
kembing etawa, (3) memanpilkan manfaat susu
kambing etawa, (4) mempromosikan penjualan
produk kambing etawa, misalnya olahan susu aneka
rasa dan (5) memproses pemesanan produk oleh
pembeli.
Kegiatan pemgembangan aplikasi e-commerce
sudah dilakukan. Proses pembuatan akan memekan
waktu kurang lebih 1 bulan. Persiapan yang dilakukan
selain proses coding aplikasi adalah dengan
penyediaan hosting sebagai tempat penyimpanan dan
sewa domain sebagai nama alias untuk dapat
mengakses aplikasi yang dikembangkan. Sebagai
alternatif nama yang akan dipakai adalah
www.etawabanguntapan.com.
Beberapa kesimpulan yang dapat diambil
berdasar kegiatan yang telah dilaksanakan antara
lain:
1. Penerapan teknologi pakan fermentasi
menghasilkan pakan berkualitas dan kelompok
mitra tidak lagi kesulitan untuk menyiapakan
pakan kambing, terutama ketika musim kemarau.
2. Rumah pakan dan mesin pencacah rumput berguna
untuk proses fermentasi, sehingga pakan kambing
dapat disimpan dalam waktu yang lebih lama dan
memiliki kualitas yang bagus.
3. Pengolahan limbah (kotoran) menjadi pupuk
organik dapat menambah pemasukan dan menjaga
sanitasi kandang.
4. Pengolahan susu murni menjadi berbagai produk
olahan susu aneka rasa menjadikan produk lebih
bervarisi dan mudah dalam pemasaran.
5. Penanganan anak kambing baru lahir perlu
dilakukan untuk mendapat anakan yang sehat
dan berkualitas baik.
6. Pelatihan manajemen usaha diperlukan untuk
meningkatkan keterampilan dalam manajemen
usaha dan pencatatan transaksi keuangan.
7. Pemanfaatan website penjualan (e-commerce)
sebagai media promosi dapat memeperluas
jangkauan pemasaran hasil usaha kelompok.
Kambing Boerawa merupakan hasil
persilangan antara kambing Boer jantan dan
Peranakan Etawa (PE) betina melalui grading
up. Program grading up memerlukan kambing
Boer jantan karena memiliki potensi genetik
tinggi pada sifat pertumbuhannya. Performa
pertumbuhan kambing pada umur 1 tahun
merupakan ekspresi potensi genetik individu
sendiri dan sudah tidak dipengaruhi oleh induk
karena sudah lepas sapih dan tidak dirawat oleh
induknya Oleh karena itu,
pejantan mewarisi potensi genetik dalam ukuran
tubuh tanpa adanya pengaruh nongenetik.
Pencatatan perkawinan diperlukan untuk
menghindari terjadinya inbreeding dan
pencatatan ukuran tubuh (lingkar dada, panjang
badan, dan tinggi pundak) untuk mengevaluasi
pertumbuhan kambing Boerawa. Evaluasi
terhadap pengaturan perkawinan dan kinerja
pertumbuhan bertujuan untuk meningkatkan
produktivitas kambing Boerawa. Produktivitas
merupakan hasil kerja sama antara potensi
produksi dan populasi. Populasi kambing
Boerawa diharapkan meningkat dari tahun ke
tahun agar mampu menyumbang kebutuhan
protein hewani asal ternak. populasi kambing di Provinsi Lampung
pada tahun 2014 sebanyak 1.250.823 ekor atau
6,71% dari populasi kambing di Indonesia.
Populasi kambing di Lampung tersebar di
setiap kabupaten. Salah satu kabupaten yang
memiliki populasi cukup banyak yaitu
Kabupaten Tanggamus sebanyak 174.265 ekor
. Wilayah Kabupaten
Tanggamus yang dikenal sebagai tempat
pengembang-an peternakan kambing Boerawa
yaitu Kecamatan Sumberejo.
Kambing Boerawa di Kecamatan
Sumberejo dikembangkan di tiga kelompok
ternak yaitu Pelita Karya 3, Mitra Usaha, dan
Handayani. Namun demikian, performa
pertumbuhannya yaitu ukuran tubuh pada
kambing Boerawa Grade 1 (G1) umur 1 tahun di
ketiga kelompok cukup bervariasi. Hal tersebut
mencerminkan potensi genetik masing-masing
pejantan yang diwariskan. Jadi, penelusuran
pejantan yang menghasilkan anak dengan kisaran
ukuran tubuh tertentu perlu dilakukan.
Berdasarkan uraian tersebut perlu diteliti
tentang performa pertumbuhan kambing
Boerawa G1 umur 1 tahun untuk mengevaluasi
perkembangan program grading up ditinjau dari
segi pertumbuhan dan selanjutnya menelusuri
tetua pejantan masing-masing Boerawa G1 yang
diamati.
Penelitian ini dilaksanakan pada
Agustus—September 2015 pada Kelompok
Ternak Pelita Karya 3, Mitra Usaha, dan
Handayani di Kecamatan Sumberejo, Kabupaten
Tanggamus.
Materi dan Alat Penelitian
Materi penelitian yang digunakan berupa
data tentang bobot badan, lingkar dada, panjang
badan, dan tinggi pundak dari 50 ekor kambing
Boerawa G1 hasil ke-turunan 5 ekor pejantan
Kambing Boer yang terdapat di Kelompok
Ternak Pelita Karya 3, Mitra Usaha, dan
Handayani. Peralatan yang digunakan oleh
peternak dalam menimbang dan mengukur yaitu
timbangan merk Xinekten kapasitas 100 kg
dengan tingkat ketelitian 0,5 kg dan pita ukur
merk Butterfly dengan panjang 1,5 m dan tingkat
ketelitian 1,0 mm.
Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian
ini yaitu metode survei dan penentuan sampel
dilakukan dengan purposive sampling . Materi yang diamati berupa 50
ekor kambing Boerawa G1 umur 1 tahun dari 5
ekor pejantan Boer. Jumlah pejantan yang
digunakan sebagai sampel dihitung dengan
rumus:
𝑥𝑛 =
𝑛𝑛
𝑁
× 5
Keterangan:
𝑥𝑛 = jumlah pejantan Boer yang digunakan sebagai
sampel pada masing-masing
kelompok ternak (ekor)
𝑛𝑛 = jumlah pejantan Boer pada masing-masing
kelompok ternak (ekor)
N = jumlah populasi pejantan Boer (ekor)
5 = jumlah pejantan Boer yang dibutuhkan (ekor)
Penelitian ini menggunakan data sekunder
yang diperoleh dari rekording perkawinan,
kelahiran, dan pertumbuhan kambing Boerawa
G1 di Kelompok Ternak Pelita Karya 3, Mitra
Usaha, dan Handayani.
Peubah yang Diamati
Peubah yang diamati sebagai berikut:
1. bobot umur 1 tahun (BSt). Peternak
memperoleh BSt (kg) dengan cara me-
nimbang kambing pada umur sekitar 12
bulan;
2. lingkar dada (LD). Peternak mengukur LD
(cm) menggunakan pita ukur dengan cara
melingkarkan pita ukur pada bagian
belakang siku tulang rusuk paling depan,
diukur dari gumba ke gumba;
3. panjang badan (PB). Peternak mengukur
PB (cm) menggunakan tongkat ukur dengan
posisi kambing berdiri tegak dan keempat
kaki kambing membentuk empat persegi
panjang. Pengukuran dilakukan dari ujung
sendi bahu sampai benjolan tulang tapis
(tulang belakang);
4. tinggi pundak (TP). Peternak mengukur TP
(cm) menggunakan tongkat ukur dari
bagian tertinggi pundak pada tulang rusuk
ketiga dan keempat tegak lurus ke tanah
tempat kambing berdiri.
Analisis Data
Bobot badan dan ukuran tubuh kambing
Boerawa umur 1 tahun terkoreksi dihitung
dengan rumus sesuai rekomendasi Hardjosubroto
(1994):
a. 𝐵𝑆𝑡𝑇 = 𝐵𝑆+
𝐵𝑆𝑡−𝐵𝑆
𝑇𝑊
× 245 (𝐹𝐾𝐽𝐾)
Keterangan:
BStT = bobot umur 1 tahun terkoreksi (kg)
BS = bobot sapih (kg)
BSt = bobot umur 1 tahun (kg)
TW = tenggang waktu antara umur penimbangan
BSt dan BS (hari)
FKJK = faktor koreksi jenis kelamin
b.𝐷𝑆𝑡𝑇 = 𝐿𝐷𝑆 +
𝐿𝐷𝑆𝑡−𝐿𝐷𝑆
𝑇𝑊
× 245 (𝐹𝐾𝐽𝐾)
Keterangan:
LDStT = lingkar dada saat umur 1 tahun terkoreksi
(cm)
LDS = lingkar dada umur sapih (cm)
LDSt = lingkar dada saat umur 1 tahun (cm)
FKJK = faktor koreksi jenis kelamin
c.𝑃𝐵𝑆𝑡𝑇 = 𝑃𝐵𝑆+
𝑃𝐵𝑆𝑡−𝑃𝐵𝑆
𝑇𝑊
× 245 𝐹𝐾𝐽𝐾
Jurnal Ilmiah Peternakan Terpadu Vol. 4(1): 82-89, Februari 2016 Ade Irma Suryani et al.
88
SSs
s-1
SSw
n-s
MSs – MSw
k
Keterangan:
PBStT = panjang badan saat umur 1 tahun terkoreksi
(cm)
PBS = panjang badan umur sapih (cm)
PBSt = panjang badan saat umur 1 tahun (cm)
FKJK = faktor koreksi jenis kelamin
d. 𝑇𝑃𝑆𝑡𝑇 = 𝑇𝑃𝑆 +
𝑇𝑃𝑆𝑡−𝑇𝑃𝑆
𝑇𝑊
× 245 (𝐹𝐾𝐽𝐾)
Keterangan:
TPStT = tinggi pundak saat umur 1 tahun terkoreksi
(cm)
TPS = tinggi pundak umur sapih (cm)
TPSt = tinggi pundak saat umur 1 tahun (cm)
FKJK = faktor koreksi jenis kelamin
Nilai FKJK pada kambing menurut
Hardjosubroto (1994) terdapat pada Tabel 1.
Tabel 1. Faktor koreksi jenis kelamin untuk
bobot badan dan ukuran tubuh pada
umur 1 tahun
No. Peubah
Jenis
kelamin
FKJK
1 Bobot badan Jantan 1,00
Betina 1,09
2 Lingkar dada Jantan 1,00
Betina 1,14
3 Panjang badan Jantan 1,00
Betina 1,11
4 Tinggi pundak Jantan 1,00
Betina 1,13
Sumber: Sulastri (2014a)
Setelah dilakukan pengoreksian, data hasil
perhitungan dideskripsikan.
Estimasi heritabilitas
Bobot sapih dan ukuran tubuh kambing
Boerawa umur 1 tahun terkoreksi di-
kelompokkan berdasarkan kelompok tetua jantan
untuk melakukan estimasi heritabilitas dengan
metode one way one out sesuai rekomendasi
Becker (1992). Analisis keragaman untuk
estimasi heritabilitas tersebut terdapat pada Tabel
2.
Sumber: Hardjosubroto (1994)
Keterangan:
s = jumlah pejantan (ekor)
n = jumlah induk yang dikawinkan dengan
pejantan (ekor)
w = jumlah individu per pejantan (ekor)
k = jumlah anak per pejantan
Faktor koreksi (FK) = (∑x)2/n
Jumlah kuadrat total (JKt/SSt) = ∑x2 – FK
Jumlah kuadrat pejantan (JKs/SSs) = ∑xn
2/k – FK
Jumlah kuadrat keturunan dalam pejantan (JKw/SSw)
= JKt – JKs
Kuadrat tengah antarpejantan (MSs) =
Kuadrat tengah dalam pejantan (MSw) =
σ2w = MSw
σ2s=
Estimasi heritabilitas dihitung dengan rumus:
ℎ𝑠
2 =
4𝜎𝑠
2
𝜎𝑠
2 + 𝜎𝑤
2
Keterangan:
hs
2 = heritabilitas
σ2s = komponen ragam antarpejantan
σ2w = komponen ragam dalam pejantan
Sumber : Becker (1992)
Standard error (S.E.) estimasi heritabilitas
dihitung dengan rumus:
𝑆.𝐸. ℎ𝑠
2 = 4
2(1− 𝑡)2(1 + 𝑘 − 1 𝑡)2
𝑘 𝑘 − 1 (𝑠 − 1)
Keterangan :
S.E. =simpangan baku/standar error
t = korelasi dalam kelas
k =jumlah anak per pejantan
s = jumlah individu total
Nilai Pemuliaan
Menurut Hardjosubroto (1994), NP pejantan
pada uji keturunan dapat dihitung dengan rumus:
𝑁𝑃 =
2𝑛ℎ2
4 + 𝑛 − 1 ℎ2
𝑝 − 𝑝 + 𝑝
Keterangan:
NP = nilai pemuliaan pejantan pada uji
keturunan
h2 = heritabilitas sifat yang diseleksi
n = jumlah anak per pejantan (ekor)
𝑝 = rata – rata bobotbadan anak per pejantan
(kg)
= rata – rata ukuran tubuhanak per
pejantan (cm)
𝑝 = rata – rata bobotbadan anak dalam
Jurnal Ilmiah Peternakan Terpadu Vol. 4(1): 82-89, Februari 2016 Ade Irma Suryani et al.
89
populasi (kg)
= rata – rata ukuran tubuhanak dalam
populasi (cm)
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Bobot Badan dan Ukuran Tubuh Kambing
Boerawa G1 Umur 1 Tahun Terkoreksi
Bobot badan dan ukuran tubuh kambing pada
umur 1 tahun merupakan ekspresi potensi
genetik individu sendiri dan sudah tidak
dipengaruhi oleh induk karena sudah lepas sapih
dan tidak dirawat oleh induknya (Faruque, et al.,
2010). Bobot badan dan ukuran tubuh umur 1
tahun terkoreksi kambing Boerawa G1 yang
diperoleh dari hasil penelitian disajikan pada
Tabel 2.
Berdasarkan tabel 3 di atas tampak bahwa
rata-rata bobot badan terkoreksi kambing
Boerawa G1 umur 1 tahun sebesar 33,78 ± 1,19
kg. Ukuran tubuh meliputi lingkar dada, panjang
badan, dan tinggi pundak berturut-turut sebesar
68,28 ± 3,20 cm; 63,73 ± 2,17cm; dan 63,72 ±
2,96 cm. Hasil penelitian ini lebih rendah
dibandingkan dengan hasil penelitian Sulastri
(2014b) yang melaporkan bahwa rata-rata bobot
kambing Boerawa G1 umur 1 tahun seberat 43,49
± 6,15 kg, lingkar dada 70,13 ± 2,98 cm, panjang
badan 67,31 ± 2,57 cm, dan tinggi pundak 65,88 ±
2,37 cm. Hal ini diduga karena adanya perbedaan
pada tetua, sampel pengamatan, dan lokasi
pengamatan. Pada penelitian Sulastri (2014b)
sampel diambil dari Kelompok Ternak Karya
Makmur III di Desa Dadapan sedangkan pada
penelitian ini sampel diambil dari Kelompok
Ternak Pelita Karya 3 di Desa Dadapan, Mitra
Usaha di Desa Tegal Binangun, dan Handayani di
Desa Sidokaton. Menurut Gilbert dan Churchill
(2005), sampel yang berbeda akan menghasilkan
statistik yang berbeda dan estimasi yang juga
berbeda dari parameter populasi yang sama.
Ukuran tubuh hasil penelitian ini lebih
rendah daripada penelitian
sehingga bobot badannya juga akan lebih rendah.
Hal ini diduga karena faktor lingkungan dan
manajemen pemeliharaan yang tidak jauh berbeda
antarkelompok ternak. Lingkungan ternak adalah
keseluruhan dari kondisi eksternal ternak yang
ber-pengaruh terhadap perkembangan, respon,
dan pertumbuhan ternak. Pada umum-nya,
lingkungan memiliki persentase yang lebih tinggi
dibandingkan dengan genetik, yaitu lingkungan
70% dan genetik 30%.
Faktor lingkungan yang langsung
berpengaruh pada kehidupan ternak yaitu iklim.
Iklim merupakan faktor penentu ciri khas dan
pola hidup dari suatu ternak. Iklim sendiri
merupakan bagian terpenting dari penentuan kerja
status faali dari ternak. Pengaruh langsung iklim
terhadap ternak adalah pada produktivitasnya
Kelembapan dan suhu
udara dari suatu lingkungan ke-hidupan ternak
merupakan salah satu unsur iklim yang
memengaruhi kesehatan ternak. Kelembapan
udara yang tinggi disertai suhu udara yang tinggi
menyebab-kan meningkatnya frekuensi respirasi
dan akan mempertinggi kejadian penyakit saluran
pernapasan ,
Ternak dengan sifat genetik baik tidak
akan mengekspresikan potensi genetiknya tanpa
didukung oleh lingkungan yang menunjang.
Bahkan telah diketahui bahwa dalam membentuk
performan, lingkungan berpengaruh lebih besar
daripada sifat genetik ternak. Oleh karena itu,
ternak yang dipelihara dalam satu wilayah
cenderung memiliki produktivitas yang sama.
Berdasarkan hasil kunjungan ke Instalasi
Pembibitan Kambing dan Unggas (IPKU),
pejantan kambing Boer yang digunakan pada
ketiga kelompok penelitian bukan merupakan
bangsa Boer murni. Hal ini dilihat berdasarkan
performan kambing Boer jantan pada umur 1
tahun tidak sebaik kambing Boer murni. Pejantan
kambing Boer berasal dari Australia yang
kemudian dibiakkan oleh PT. Santori Agrindo
Feedlot. Kemudian pejantan kambing Boer dibeli
pada umur 1 tahun untuk dipinjamkan pada
kelompok ternak di Kecamatan Sumberejo dan
mulai dikawinkan pada umur 1,5 tahun. Namun
dalam hal ini tidak ada rekording tentang
silsilahnya.
Heritabilitas (h2) merupakan istilah yang
digunakan untuk menunjukkan bagian dari
keragaman total suatu sifat yang disebabkan oleh
pengaruh genetik menyatakan bahwa nilai
heritabilitas suatu sifat mencerminkan keragaman
fenotip antarindividu dalam populasi yang
disebabkan oleh faktor genetik.
Hasil analisis h2 pejantan kambing Boer
pada bobot badan, lingkar dada, panjang badan,
dan tinggi pundak berturut-turut sebesar 0,19 ±
0,40; 0,15 ± 0,38; 0,20 ± 0,41; dan 0,17 ± 0,39.
Menurut Dalton (1980), nilai h2 dapat
dikelompokkan kedalam tiga klasifikasi, yaitu
0,0—0,1 termasuk dalam klasifikasi rendah, 0,1—
0,3 termasuk dalam klasifikasi sedang, dan 0,3—
1,0 termasuk dalam klasifikasi tinggi. Hasil
analisis yang diestimasi berdasarkan metode
korelasi saudara tiri sebapak tersebut
menunjukkan bahwa nilai h2bobot badan dan
ukuran tubuh kambing Boerawa G1 umur 1 tahun
yang dianalisis termasuk dalam kelassedang,
sehingga efektif apabila peningkatan kinerja
pertumbuhan dilakukan melalui seleksi. Menurut
seleksi individu sangat
efektif dilakukan pada sifat yang memiliki
heritabilitas sedang sampai tinggi karena
kecermatan seleksi ditentukan oleh besarnya
heritabilitas.
menunjukkan bahwa heritabilitas pejantan
kambing Boer pada bobot badan, lingkar dada,
panjang badan, dan tinggi pundak berturut-turut
sebesar 0,19 ± 0,07; 0,17 ± 0,01; 0,19 ± 0,06; 0,18
± 0,02 yang termasuk dalam kelas sedang.
perbedaan sampel
pengamatan mengakibatkan perbedaan genetik
populasi sehingga sifat yang di-amati pada lokasi
yang berbeda dapat mengakibatkan nilai
heritabilitas yang berbeda. Namun berdasarkan
klasifikasinya, heritabilitas pada penelitian ini
tidak berbeda dengan penelitian
Hal ini berarti kemampuan pejantan kambing
Boer dalam mewariskan sifat yang digunakan
sebagai sampel pada masing-masing penelitian
tidak jauh berbeda. Berdasarkan perbandingan
tersebut, diduga potensi dari tetua sama namun
dalam hal ini tidak ada rekording tentang
silsilahnya.Akan tetapi, estimasi heritabilitas
kinerja pertumbuhan pada penelitian ini memiliki
nilai salah baku yang tinggi. Salah baku
heritabilitas dinyatakan tinggi apabila nilainya
lebih besar daripada nilai heritabilitas yang
diperoleh. salah
baku heritabilitas yang tinggi disebabkan tidak
adanya penyesuaian data, kesalahan pengambilan
contoh, dan jumlah individu dalam setiap
kelompok keluarga terlalu bervariasi. Selain itu,
tinggi rendahnya nilai salah baku dipengaruhi
oleh jumlah sampel (anak) dan pejantan. Jumlah
sampel yang diperlukan minimal 500 sampel agar
diperoleh nilai heritabilitas yang andal . Salah baku yang tinggi dalam
penelitian ini diduga karena sampel yang
digunakan terlalu sedikit, yaitu 50 ekor kambing
Boerawa G1 umur 1 tahun dari 5 ekor pejantan
kambing Boer, sedang-kan penelitian menggunakan rekording pertumbuhan
450 ekor kambing Boerawa G1.
Heritabilitas yang memiliki salah baku
yang tinggi menunjukkan bahwa nilai heritabilitas
tersebut tidak cukup andal. Estimasi heritabilitas
yang andal apabila digunakan dalam
penghitungan rumus-rumus pemuliaan ternak
memiliki hasil yang tidak berbeda jauh dengan
kondisi nyata di lapangan , Oleh karena itu, meskipun nilai
heritabilitas pada penelitian ini dalam kelas
sedang, namun tidak cukup andal untuk dijadikan
sebagai acuan dalam perhitungan rumus-rumus
pemuliaan ternak.
menyatakan estimasi
heritabilitas kinerja pertumbuhan pada saat lahir,
sapih, dan umur setahun bukan suatu konstanta
akibat adanya perubahan frekuensi gen suatu sifat
dalam populasi. Perubahan frekuensi gen tersebut
disebabkan oleh adanya seleksi, pengaturan
perkawinan, serta mutasi masuk dan keluar ternak
ke dalam dan ke luar dari wilayah populasi. Oleh
karena itu, parameter genetik harus diestimasi
secara periodik
C. Nilai Pemuliaan Pejantan Boer
Nilai h2 digunakan untuk menghitung nilai
pemuliaan (NP) absolut pejantan.NP adalah
penilaian terhadap mutu genetik ternak untuk
suatu sifat tertentu yang diberikan secara relatif
atas dasar kedudukan di dalam populasi. NP
digunakan sebagai dasar pemilihan induk atau
pejantan untuk mengambil keputusan bahwa
ternak akan dipertahankan sebagai tetua untuk
dikembangbiakan atau disingkirkan dalam
populasi.
1. Nilai pemuliaan bobot badan
Bobot umur 1 tahun merupakan bobot yang
diperoleh dengan cara menimbang kambing pada
umur sekitar 12 bulan. Bobot badan ini
selanjutnya digunakan untuk menghitung NP
bobot badan. Hasil perhitungan NP bobot badan
pada penelitian ini menunjukkan bahwa pejantan
Boer terbaik adalah pejantan Bursan karena
memiliki NP bobot badan tertinggi yaitu sebesar
34,06 kg (Tabel 4).
Tabel 4. Nilai pemuliaan bobot badan pejantan
Boer
Pejantan Bobot badan (kg)
Bandot 33,75
Badu 33,33
Sabes 34,05
Gendut 33,72
Bursan 34,06
Rata-rata 33,78
bahwa rata-rata NP pejantan Boer berdasarkan
bobot badan kambing Boerawa G1 umur 1 tahun
sebesar 47,66 kg. NP bobot badan yang lebih
rendah pada penelitian ini diduga karena kambing
Boerawa yang digunakan sebagai sampel
memiliki bobot badan yang lebih rendah daripada
pejantan pada penelitian
meskipun heritabilitasnya tidak jauh berbeda.
bahwa
besarnya NP ditentukan oleh heritabilitas sifat dan
besarnya performa atau sifat yang diukur untuk
menentukan NP. NP yang lebih rendah pada
penelitian ini menunjukkan kemampuan kambing
sampel untuk mewariskan potensi genetik kepada
keturunannya lebih rendah daripada kambing
sampel penelitian
2. Nilai pemuliaan lingkar dada
Lingkar dada merupakan salah satu ukuran
tubuh yang banyak digunakan untuk menaksir
bobot hidup ternak. Lingkar dada dapat diukur
dengan menggunakan pita meter melingkari dada
kambing tepat di belakang siku. Hasil perhitungan
NP lingkar dada pada penelitian ini dapat dilihat
pada Tabel 5.
Dari hasil perhitungan menunjukkan
bahwa pejantan Boer terbaik adalah pejantan
Bursan karena memiliki NP lingkar dada tertinggi
yaitu sebesar 69,10 cm.
bahwa hubungan antara lingkar dada dan bobot
badan lebih erat daripada hubungan antara
panjang badan dan bobot badan, sehingga dalam
penelitian ini NP lingkar dada dan bobot badan
yang tertinggi adalah pejantan Bursan. Besarnya
NP lingkar dada dipengaruhi oleh h2,rata-rata
lingkar dada per-pejantan, rata-rata lingkar dada
dalam populasi, dan banyaknya sampel yang
digunakan dalam penelitian ini.
3. Nilai pemuliaan panjang badan
Panjang badan merupakan salah satu
ukuran tubuh yang digunakan dalam pendugaan
bobot tubuh. Pengukuran dilakukan dari ujung
sendi bahu sampai benjolan tulang tapis (tulang
belakang) dengan menggunakan tongkat ukur
dengan posisi kambing berdiri tegak. Hasil
perhitungan NP panjang badan penelitian ini
dapat dilihat pada Tabel 6.
Berdasarkan Tabel 6 dapat dilihat bahwa
NP panjang badan terbaik dimiliki oleh pejantan
Bursan, yaitu sebesar 64,02 cm. Pejantan tersebut
dinyatakan sebagai pejantan terbaik berdasarkan
tingginya NP panjang badan dibanding-kan
dengan sampel pejantan lainnya. menyatakan bahwa individu dengan NP
tinggi menunjukkan kemampuannya yang tinggi
untuk mewariskan potensi genetiknya kepada
keturunannya dan mengulang produksi-nya.
Beberapa faktor yang mempengaruhi NP panjang
badan yaitu h2, rata-rata panjang badan
perpejantan, rata-rata panjang badan dalam
populasi, dan banyaknya sampel yang digunakan
dalam penelitian ini.
Tabel 5. Nilai pemuliaan lingkar dada pejantan
Boer
Pejantan Lingkar dada (cm)
Bandot 68,00
Badu 67,74
Sabes 67,70
Gendut 68,85
Bursan 69,10
Rata-rata 68,28
Tabel 6. Nilai pemuliaan panjang badan pejantan
Boer
Pejantan Panjang badan (cm)
Bandot 63,92
Badu 63,44
Sabes 63,31
Gendut 63,97
Bursan 64,02
Rata-rata 63,73
4. Nilai pemuliaan tinggi pundak
Tinggi pundak juga merupakan salah satu
ukuran tubuh yang dapat digunakan sebagai data
pendukung dalam penentuan performan ternak.
Tinggi pundak dapat diukur dengan menggunakan
tongkat ukur dari atas tanah tepat kambing berdiri
sampai dengan titik tertinggi pada gumba, pada
tulang rusuk ketiga dan keempat . Besarnya NP tinggi pundak
dipengaruhi oleh h2, rata-rata tinggi pundak
perpejantan, rata-rata tinggi pundak dalam
populasi, dan banyaknya sampel yang digunakan
dalam penelitian ini. NP tinggi pundak terbaik
dalam penelitian ini dimiliki oleh pejantan
Bursan, yaitu sebesar 64,42 cm. Hasil perhitungan
NP tinggi pundak penelitian ini dapat di-lihat
pada Tabel 7.
Tabel 7. Nilai pemuliaan tinggi pundak Pejantan
Boer
Pejantan Tinggi pundak (cm)
Bandot 63,31
Badu 63,55
Sabes 63,48
Gendut 63,82
Bursan 64,42
Rata-rata 63,72
Secara keseluruhan hasil perhitungan NP
bobot badan dan ukuran tubuh pejantan Boer
berdasar-kan bobot badan dan ukuran tubuh
kambing Boerawa G1 umur 1 tahun menyatakan
bahwa pejantan Boer terbaik yaitu pejantan
Bursan. Pejantan Bursan dinyatakan sebagai
pejantan terbaik karena pejantan tersebut
memiliki NP tertinggi pada semua peubah yang
diamati dibandingkan dengan pejantan Boer
lainnya. individu
dengan NP tinggi menunjukkan kemampuan yang
tinggi untuk mewariskan potensi genetik kepada
keturunannya dan mengulang produksinya.
menyatakan pejantan
dengan NP tinggi mewariskan separuh nilai
pemuliaannya kepada keturunannya dan separuh
bagian lainnya berasal dari genetik induk.
Berdasarkan hasil penelitian dan
pembahasan maka dapat disimpulkan bahwarata-
rata bobot badan, lingkar dada, panjang badan,
dan tinggi pundak Boerawa grade 1 umur satu
tahun terkoreksi berturut-turut sebesar 33,78 ±
1,19 kg; 68,28 ± 3,20 cm; 63,73 ± 2,17cm; 63,72
± 2,96 cm;
Heritabilitas pejantan kambing Boer pada
bobot badan, lingkar dada, panjang badan, dan
tinggi pundak berturut-turut sebesar 0,19 ± 0,40;
0,15 ± 0,38; 0,20 ± 0,41; 0,17 ± 0,39 (kelas
sedang);
rata-rata NP bobot tubuh, lingkar dada,
panjang badan, dan tinggi pundak pejantan Boer
terkoreksi berturut-turut sebesar 33,78 kg; 68,28
cm; 63,73 cm; 63,72 cm;
Pejantan dengan NP terbaik yaitu pejantan
Bursan karena memiliki nilai NP di atas rata-rata
pada keempat peubah yang diamati. NP pejantan
Bursan pada bobot badan sebesar 34,06 kg;
lingkar dada 69,10 cm; panjang badan 64,02 cm;
dan tinggi pundak 64,42 cm.
disarankan: peternak Kecamatan Sumberejo
sebaiknya memprioritaskan pejantan kambing
Boer terbaik agar dipertahankan guna
dikembangbiakkan dalam populasi dan
menyediakan pengganti untuk pejantan Boer yang
memiliki NP di bawah rata-rata agar produktivitas
kambing Boerawa di lokasi tersebut dapat
meningkat;
Nilai heritabilitas pada penelitian ini dalam
kelas sedang, namun tidak cukup andal untuk
dijadikan sebagai acuan dalam perhitungan
rumus-rumus pemuliaan ternak. Sebaiknya satuan
percobaan diperbanyak agar diperoleh salah baku
yang lebih rendah dari nilai heritabilitas;
Perlu adanya penelitian pada parameter
genetik yang diestimasi secara periodik guna
mengetahui kinerja pertumbuhan dan sebagai
acuan peternak dalam usaha memperbaiki
manajemen pemeliharaan kambing Boerawa di
Kecamatan Sumberejo, Kabupaten Tanggamus.