Rabu, 12 Februari 2025

ternak kambing 5




 Ternak kambing tersebar di berbagai daerah,mampu 

beradaptasi pada kondisi lingkungan dan sumberdaya yang 

minimum, menghasilkan nilai fungsional sebagai kambing 

pedaging, kambing penghasil susu dan bulu, disamping 

juga multi guna sebagai hewan penghasil daging, susu 

dan jasa (Dinas Kesehatan Hewan, 2010). Investasi yang 

sedikit, dewasa tubuh dan kelamin yang cepat, jumlah anak 

per kelahiran lebih dari satu, kidding interval yang pendek 

serta masa kebuntingan yang relatif cepat menyebabkan 

perputaran modal menjadi relatif lebih cepat jika 

dibandingkan dengan ternak lain. Beberapa keunggulan 

ternak kambing yaitu tidak membutuhkan lahan yang luas, 

tenaga kerja sedikit dan kemampuan adaptasi yang tinggi 

terhadap lingkungan dan pakan yang terbatas. Hal tersebut 

mendukung sebaran ternak tersebut yang hampir merata di 

seluruh Indonesia terutama di wilayah pedesaan di Pulau 

Jawa. Kurangnya pemahaman petani terhadap manfaat 

ternak kambing, berpengaruh terhadap sistem pemeliharaan 

yang subsisten, disamping peranaannya hanya sebagai 

usaha sambilan dan tabungan keluarga untuk memenuhi 

kebutuhan yang mendesak. 

Data Statistik Peternakan dan Kesehatan Hewan 

(2011), menunjukkan bahwa peningkatan terbesar populasi 

kambing terjadi di Provinsi Jawa Tengah, sebagai salah 

satu sentra ternak kambing nasional dengan populasi 

kambing terbesar (3.691.096 ekor pada tahun 2010). Jawa 

Timur merupakan urutan ke dua dengan populasi 2.822.912 

ekor, dikuti oleh Jawa Barat berada pada urutan ketiga 

dengan populasi 1.801.320 ekor.Secara nasional,populasi 

ternak kecil pada tahun 2010 mengalami peningkatan bila 

dibandingkan dengan populasi pada tahun 2009 yaitu: 

kambing 16,62 juta ekor (5,08%), domba 10,72 juta ekor 

(5,16%), dan babi 7,47 juta ekor (7,19%). Menurut BPS 

(2011), rata-rata peningkatan populasi ternak kambing 

setiap tahun adalah sebesar 2,91%/tahun dan merupakan 

salah satu komoditas unggulan di provinsi Jawa Barat dan

berpotensi untuk dikembangkan.

Di Indonesia, hasil perkawinan kambing Etawah 

dengan kambing lokal menghasilkan kambing yang disebut 

Peranakan Etawah (PE). Karakteristik produksi hampir 

sama dengan kambing Etawah yaitu mampu beradaptasi 

terhadap kondisi lokal dan merupakan ternak penghasil 

daging serta susu yang lebih tinggi dari kambing lokal 

(Dinas Peternakan dan Perikanan Wonosobo, 2011). 

Menurut Mastika, (1993), daya adaptasi ternak lokal cukup 

tinggi meliputi anatomis, respon morfologis dan fisiologis, 

tingkah laku makan, metabolisme dan produksi.

Lahan pasca penambangan pasir di Kabupaten 

Sumedang merupakan lahan kritis yang kurang produktif, 

jenis tanah berpasir, kurang subur disertai kondisi 

lingkungan yang gersang dan panas. Keberadaan ternak 

kambing PE di lokasi tersebut merupakan suatu keunikan 

tersendiri karena kondisi tersebut kurang cocok untuk 

produksi dan reproduksi tenak perah secara optimal. 

Namun, daya adaptasi yang tinggi menyebabkan ternak 

ruminansia tersebut mampu beradaptasi terhadap pakan 

terbatas dan manajemen pemeliharaan yang kurang 

memadai. Kambing PE berkontribusi secara signifikan 

terhadap pendapatan kelompok tani dan masyarakat. 

Kambing PE di Sumedang dapat dikembangkan apabila 

didukung oleh manajemen produksi dan reproduksi yang 

baik, SDM terlatih, serta ketersediaan pakan yang memadai. 

Oleh karena itu, evaluasi terhadap karakteristik produksi 

dan reproduksi serta analisis terhadap perkembangan 

populasi ternak kambing PE perlu dilakukan. Selain itu, 

identifikasi faktor faktor yang berpengaruh nyata terhadap 

sukses tidaknya program pengembangan usaha ternak 

kambing PE penting untuk dirumuskan dengan strategi 

pengembangan yang sesuai.

Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi 

karakteristik reproduksi dan menganalisis perkembangan 

populasi kambing PE termasuk identifikasi faktor-faktor 

yang berpengaruh terhadap perkembangan populasi 

kambing PE di lahan pasca tambang pasir di kecamatan 

Cimalaka dan Paseh, Sumedang. Hasil yang diperoleh 

dapat digunakan sebagai rekomendasi oleh institusi 

terkait dalam merumuskan program pengembangan ternak 

kambing PE di wilayak sejenis.

MATERI DAN METODE

Penelitian ini dilaksanakan di desa Cibereum 

Wetan, kecamatan Cimalaka dan Paseh Kaler, kecamatan 

Paseh, kabupaten Sumedang, Jawa Barat yang dilakukan 

pada bulan Juli-Agustus 2011. Penelitian dilakukan 

menggunakan metode survey ke lokasi penelitian, 

wawancara dengan peternak kambing tentang karakteristik 

reproduksi, jumlah kepemilikkan dan manajemen 

pemeliharaan ternak disertai pengamatan ke lokasi 

peternak. Responden yang diwawancara berjumlah 

36 orang; 17 orang dari Kelompok Peternak Simpay 

Tampomas dan19 orang dari Kelompok Ternak Hutan 

Tampomas Sejahtera. Kriteria penetuan responden adalah 

petani ternak yang memiliki ternak kambing lebih dari 3 

ekor.

Data yang dikumpulkan terdiri dari data primer dan 

data sekunder. Data primer didapat dari petani melalui 

wawancara dengan pengisian kuisioner. Data sekunder 

didapat dari UPTD Pusat Pelayanan Peternakan dan 

Perikanan Kabupaten Sumedang serta recording dari ketua 

kelompok. Data primer merupakan data peternak yang 

terdiri dari umur peternak, pendidikan formal dan non 

formal, jumlah anggota keluarga, serta pendapatan beternak 

dan usaha lain/tahun. Data produksi kambing meliputi: 

1) populasi yang terdiri atas jumlah ternak pada awal dan 

perubahan yang terjadi dalam periode satu tahun termasuk 

jumlah ternak yang dijual, didasarkan pada struktur umur 

dan jenis kelamin; 2) karakteristik reproduksi meliputi 

jumlah induk yang bunting, lama bunting, laktasi, kering 

bunting dan tidak bunting, umur pertama birahi, kawin, 

dan beranak, umur sapih, jumlah anak perkelahiran 

dan dalam satu tahun, kidding interval, bobotlahir dan 

rasio jantan betina. Disamping itu, observasi ke lokasi 

peternak dilakukan untuk memperoleh data perkandangan, 

manajemen pemeliharaan , pakan dan data pendukung lain 

dalam usaha ternak kambing perah. Faktor-faktor yang 

mempengaruhi usaha dan perkembangan ternak kambing 

diidentifikasi dan disajikan secara deskriptif

Keadaan Umum Lokasi Penelitian

Berdasarkan kondisi geografis kabupaten Sumedang 

merupakan salah satu kabupaten di Jawa Barat dengan luas

wilayah 152.220 Ha yang terdiri dari 26 kecamatan dengan 

272 desa.Wilayah Sumedang beriklim tropis dengan 

temperatur berkisar antara 27-28 o

C, rata rata kelembaban 

49,56% (BPS Kabupaten Sumedang, 2010), kondisi 

lingkungan tersebut cocok untuk perkembangbiakan ternak 

kambing.

Kecamatan Cimalaka; daerah yang berada di kaki 

Gunung Tampomas tersebut sebelumnya adalah area 

penambangan pasir dan saat inimerupakan daerah sentra 

pertanian dipadukan dengan kambing PE. Tanaman yang 

ditanam oleh petani adalah jenis leguminosa termasuk 

gamal (Gliricidia sepium) dan Caliandra sp., disamping 

untuk menghijaukan lahan bekas galian pasir, berfungsi 

sebagai sumber pakan ternak karena keberadaan Caliandra 

sp. cukup banyak di kaki gunung Tampomas. Ternak 

kambing yang dipelihara adalah jenis Jawarandu, yakni 

ternak penghasil daging. Namun, dengan alasan kurang 

efisien untuk produksi daging karena membutuhkan waktu 

yang lama, petani memilih jenis kambing Peranakan 

Etawah (PE) untuk budidaya. Kambing PE memiliki dua 

fungsi yaitu sebagai penghasil susu dan penghasil daging, 

disamping sebagai sumber bibit.

Kecamatan Paseh; merupakan sentra kambing PE 

kedua setelah kecamatan Cimalaka dengan kondisi yang 

tidak jauh berbeda kecamatan Cimalaka. Penanaman 

gamal, dan keberadaan tanaman semak belukar di daerah 

tersebut merupakan sumber pakan untuk ternak kambing 

Peranakan Etawah (PE) yang dipelihara oleh petani 

dan kelompok tani di daerah tersebut. Sebagian besar 

responden (95%), dari Cimalaka dan Paseh menyelesaikan 

pendidikan dasar (SD), dan sebagian kecil sudah mengikuti 

beberapa pelatihan dalam bidang pertanian/ peternakan. 

Berdasarkan data Tabel 1, diperoleh tingkat pendapatan 

petani bervariasi antara dua kecamatan dengan sumber 

pendapatan tertinggi baik sebagai penghasilkan utama 

maupun sambilan berasal dari ternak.

Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa petani di Ci￾malaka memelihara ternak sebagai usaha utama, sedangkan 

petani di Paseh beternak kambing sebagai usaha sambilan 

karena pendapatan utama berasal dari kegiatan bertani, pen￾grajin furniture dan kuli tambang pasir. Ternak dijadikan 

tabungan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Tenaga kerja 

sebagian besar berasal dari tenaga kerja keluarga, sebagian 

kecil apabila diperlukan diperoleh dari keluarga sekitar.

Penerimaan usahatani ternak dari hasil penjualan ter￾nak, selama satu tahun 1-15 juta, 16-30 juta, dan lebih dari 

30 juta dengan masing-masing kepemilikkan ternak kurang 

dari 10 ekor, 11-20 ekor, dan lebih dari 30 ekor.

Pendapatan beternak/tahun pada petani di kecamatan 

Cimalaka lebih bervariasi dibandingkan dengan hasil 

pendapatan petani di kecamatan Paseh. Hal ini disebabkan 

Kelompok Peternak Simpay Tampomas, kecamatan Cimal￾aka sudah lama terbentuk yaitu ±15 tahun sehingga lebih 

berpengalaman dalam beternak dibandingkan Kelompok 

Ternak Hutan Tampomas Sejahtera, kecamatan Paseh yang 

baru terbentuk ±4 tahun. Selain itu juga, petani di kecamatan 

Cimalaka sudah mendapatkan pendidikan non formal yang 

lebih banyak, sehingga pengetahuan petani di kecamatan 

Cimalaka lebih luas wawasannya dibandingkan petani di 

kecamatan Paseh. 

Pendapatan petani dari usaha lain/tahun pada kedua 

kecamatan bervariasi. Namun petani di kecamatan Cimala￾ka memiliki pendapatan usaha lain lebih rendah dibanding￾kan petani di kecamatan Paseh. Hal ini dikarenakan mata 

pencaharian utama petani di kecamatan Cimalaka adalah 

petani, sedangkan petani di kecamatan Paseh memiliki mata 

pencaharian utama beragam yakni sebagai petani, pengrajin 

furniture dan kuli galian pasir, sedangkan usaha peternakan 

hanya dijadikan sebagai usaha sambilan dan hobi karena 

mereka belum terlalu paham bahwa usaha peternakan ber￾potensi untuk dikembangkan.

Ternak di kecamatan Cimalaka didominasi oleh domba 

dan kambing. Populasi domba sebanyak 5.596 ekor sedang￾kan populasi kambing sebanyak 3.441 ekor. Populasi ternak 

di kecamatan Paseh yang paling banyak adalah domba den￾gan jumlah populasi sebanyak 3.142 ekor dan sapi potong 

peringkat kedua dengan jumlah populasi sebanyak 1.382 

ekor (UPTD Pusat Pelayanan Peternakan dan Perikanan ka￾bupaten Sumedang, 2011).Data jumlah ternak kambing ber￾dasarkan umur dan jenis kelamin di kecamatan Cimalaka 

dan Paseh dapat dilihat pada Tabel 2. 

Dari data pada Tabel 2 terlihat bahwa rataan kepemi￾likan ternak kambing di Kecamatan Cimalaka,40 ekor/pe￾ternak terdiri dari 23 ekor ternak dewasa, 5 ekor ternak 

muda dan 12 ekor anak, kecamatan Paseh, 14 ekor/peternak 

yang meliputi: 6 ekor ternak dewasa, 4 ekor ternak muda 4 

ekor ternak anak.Perbedaan jumlah ternak yang dipelihara 

berbeda antar kedua kecamatan,disebabkan adanya bantuan 

dari pemerintah pada petani di kecamatan Cimalaka berupa 

ternakdan pakan konsentrat. Bantuan tersebut didukung 

dengan program penyuluhan dan pelatihanpetani dalam 

budi daya ternak kambing. Hasil penelitian menunjukkan 

bahwa sesuai dengan jumlah ternak kambing yang berbeda, 

jumlah penjualan dan pendapatan yang diperoleh petani 

di kecamatan Cimalaka lebih tinggi dari petani kecamatan 

Paseh. Hal ini dikarenakan ternak di kecamatan Paseh be￾lum berproduksi banyak. 

Karakteristik Reproduksi Kambing PE

Data reproduksi pada Tabel 3 menunjukkan bahwa ter￾nak kambing di kedua kecamatan cukup prolifik ditandai 

dengan jumlah anak/kelahiran yang cukup baik. Siklus bi￾rahi 22,79 hari, hasil ini lebih tinggi dari kambing Saanen 

yang dilaporkan oleh Atabany (2001), yakni 21, 73 hari.

Dari Tabel 3 terlihat adanya perbedaan antara umur 

pertama kawin dan beranak di dua kecamatan, kemungki￾nan ada kaitannya dengan kurangnya pemahaman peternak

terhadap tanda-tanda birahi pada kambing. Sutama et al. 

(1995) melaporkan bahwa kambing betina PE mencapai 

pubertas pada umur 10-12 bulan pada saat mencapai bobot 

badan sekitar 13,5-22,5 kg (rataan 18,5 kg) yakni sekitar 

55-60% dari berat badan dewasa, dan berahi pertama selalu 

diikuti dengan ovulasi. Menurut Mulyono (1999), pubertas 

(birahi pertama) pada ternak kambing dan domba, terjadi 

pada umur 6-12 bulan, dewasa kelamin pada umur 4-6 bulan 

namun untuk tujuan perkawinan, sebaiknya pejantan digu￾nakan setelah mencapai antara 10-18 bulan (Willamson dan 

Payne, 1993). Peternak di kecamatan Paseh tidak langsung 

mengawinkan ternaknya tetapi menunggu ternaknya sampai 

dewasa tubuh baru dikawinkan tetapi terkadang peternak di 

Kecamatan Paseh membeli ternak yang sudah dewasa tu￾buh sehingga ketika birahi langsung dikawinkan. Sutama 

dan Budiarsana (1997), menyatakan bahwa penundaan 

umur perkawinan pertama perlu dilakukan, untuk mem￾beri kesempatan ternak untuk mencapai kondisi dan berat 

badan yang cukup untuk mempertahankan kebuntingan dan 

kinerja produksi dan reproduksi selanjutnya. 

Sistem perkawinan ternak kambing di kedua kecamatan 

masih secara alamiah, ternak betina yang sedang birahi 

dikeluarkan dari kandang, dan dikawinkan dengan pejantan 

unggul. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seks rasio ter￾nak di kecamatan Cimalaka 1:3 dandi kecamatan Paseh 1:5. 

Hasil ini mengindikasikan bahwa sistem perkawinan ternak 

kambing di kedua kecamatan terlihat kurang efisien, menu￾rut Atabany (2001), perbandingan antara jantan dan betina 

dewasa (induk laktasi, induk kering, dara bunting, dan dara 

siap kawin) pada peternakan kambing PE yang ideal 1:14 

dan pada peternakan kambing Saanen 1:3. Menurut Blakely 

dan Bade (1991), seekor jantan sehat dapat mengawini betina 

sebanyak 30 ekor. Devendra dan Burn (1994) berpendapat 

bahwa seekor kambing jantan dewasa dapat mengawini 25 

ekor betina. Sistem perkawinan pada ternak di kecamatan 

Cimalaka ditentukan oleh peternaknya sendiri dengan pe￾jantan dan induk milik sendiri sedangkan perkawinan pada 

ternak di Kecamatan Paseh diatur oleh kelompok. Peternak 

belum memiliki pejantan sendiri, oleh karena itu ketua ke￾lompok memberi pinjaman pejantannya untuk dikawinkan 

denganternak betina yang sedang birahi. Sistem perkawinan 

adalah mengawinkan satu pejantan dengan lima ekor betina 

yang siap kawin.

Rata-rata umur kambing pertama kali kawin di keca￾matan Cimalaka dan Paseh masing-masing 10,56±1,55 bu￾lan dan 13,26±3,39 bulan. Hasil penelitian ini lebih tinggi 

dibandingkan hasil penelitian Sukendar (2004), bahwa 

umur pertama kali ternak kambing kawin 7,50±2,50 bu￾lan, Atabany (2001), melaporkan umur kawin pertama kali 

kambing betina di Peternakan Barokah dicapai pada 403,32 

hari atau 13,44 bulan. Tujuan mengatur umur kawin ternak 

betina adalah untuk menjaga produktivitas, disarankan pada 

saat dikawinkan ternak sudah mendekati masa dewasa tu￾buh. Manajemen tersebut dilakukan agar segera setelah 

perkawinan tingkat kebuntingan kambing optimum. Menu￾rut Budi (2005), waktu kawin yang kurang tepat dapat ber￾dampak terhadap kegagalan bunting.

Lama bunting ternak kambing dan domba rata rata 148 

hari atau antara 140-159 hari (Mulyono, 1999). Selama masa 

kebuntingan kondisi induk harus dijaga agar perkembangan 

anak dalam kandungan terjadi secara normal (Blakely dan 

Bade, 1991). Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama

kebuntingan ternak kambing PE antara 150-180 hari (5-6 

bulan), hasil ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan hasil 

penelitian Atabany (2001), bahwa rataan lama kebuntingan 

kambing PE di peternakan Barokah yaitu 148,87 hari. Rata￾rata umur pertama kali kambing PE di kecamatan Cimalaka 

dan kecamatan Paseh beranak, masing masing 15,44±1,50 

bulan dan 19,47±0,61 bulan. Perbedaan ini disebabkan 

kambing petani di kecamatan Cimalaka dikawinkan pada 

umur lebih muda dibandingkan dengan kecamatan Paseh. 

Hasil penelitian ini berbeda dengan yang dilaporkan Ata￾bany (2001), yakni umur beranak pertama pada kambing 

PE 643,24 hari (21,44 bulan). Berdasarkan laporan, kamb￾ing PE beranak pertama pada umur 16–18 bulan, dalam 2 

tahun dapat beranak 3 kali dengan masa produktif 5 tahun 

(Dinas Peternakan dan Perikanan Wonosobo, 2011).Selang 

beranak per induk di kedua kecamatan termasuk baik yaitu 

7,75±0,58 dan 7,17±1,11bulan. Berdasarkan laporan pene￾litian Sutama et al. (1997), aktivitas seksual setelah beranak 

pada kambing PE terjadi relatif cepat (semasa ternak masih 

menyusui anaknya), sehingga interval beranak bisa dicapai 

pada umur 7-8 bulan. Oleh karena itu, menurut Mulyono 

(1999), diperlukan suatu pola reproduksi dan perkawinan 

yang efektif dalam rang meningkatkan jumlah bakalan 

kambing.

Data litter size kambing PE di kecamatan Cimalaka 

dan Paseh masing-masing 2,13±0,5 dan 1,75±0,62. Hasil 

ini mengindikasikan bahwa kambing bibit yang digunakan 

di kecamatan Cimalaka relatif lebih produktif dibandingkan 

dengan di kecamatan Paseh, hasil ini juga lebih tinggi dari 

hasil Budiarsana et al. (2003),di desa Panulisan Timur yaitu 

1,75±0,45 dan 1,29±0,46 di desa Cariu.

Rataan bobot lahir anak kambing di kecamatan Ci￾malaka yaitu 3,25 kg, sementara dari kecamatan Paseh tidak 

diperoleh data hasil penimbangan. Keterbatasan fasilitas 

dan alat timbang serta kurangnya pengetahuan peternak 

merupakan kendala pengembangan ternak kambing di ke￾camatan Paseh. Umur sapih anak kambing di kecamatan Ci￾malaka dilakukan lebih dini dari kecamatan Paseh, keadaan 

ini berkaitan dengan manajemen pemeliharaan induk anak 

yang berbeda antar petani. Peternak di kecamatan Cimalaka, 

menerapkan pola pemisahan anak dari induk setelah disapih 

terutama anak kambing yang memiliki kemampuan pertum￾buhan yang cepat. Anak kambing yang memiliki performa 

pertumbuhan yang cepat diberi kesempatan menyususi lebih 

lama dari induknya agar dapat dijadikan sumber bibit.

Tingkat kematian anak kambing di kecamatan Ci￾malaka (17,53%), hasil ini jauh lebih rendah dibandingkan 

ternak di kecamatan Paseh (77,78%). Demikian juga degan 

kematian induk di Cimalaka dan Paseh, masing masing 

3.87% dan %.62%. Menurut Devendra dan Burn (1994), 

empat faktor yang mempengaruhi kematian anak kambing 

meliputi faktor lingkungan yakni cuaca yang sangat dingin, 

kekurangan pakan, penyakit, dan kesulitan saat beranak 

(distokia). Penyakit scabies (kudis) merupakan faktor uta￾ma yang menyebabkan kematian pada ternak di kecamatan 

Paseh. Munculnya penyakit scabies (kudis) disebabkan 

kelembaban yang tinggi, sanitasi (kebersihan) kandang yang 

kurang memadai dan kondisi ternak yang memprihatinkan. 

Berbeda dengan kecamatan Paseh, tingkat kematian anak di 

kecamatan Cimalaka dikarenakan faktor kekurangan pakan 

karena pada musim kemarau dengan kondisi cuaca panas 

dan kelembaban tinggi, berdampak terhadap ketersediaan 

pakan yang terbatas dan rendahnya kualitas pakan yang di￾berikan pada ternak. Anak kambing yang dipisahkan dari 

induk sesaat setelah lahir di kedua kecamatan mengalami 

tingkat kematian sebesar 28,57% dan 57,14%. Umur sapih 

yang lebih lama, mencapai enam minggu setelah melahir￾kan, tidak mengakibatkan kematian yang signifikan pada 

anak kambing.

Dinamika Populasi Kambing PE

Potensi pengembangan kambing lokal dipedesaan per￾lu diketahui untuk mengestimasi pertambahan populasinya 

persatuan waktu, sehingga dapat diperoleh informasi tentang 

nilai perubahan dalam populasi dan program pengembangan 

kambing di waktu yang akan datang (Sukendar et al., 2005). 

Pada Tabel 4 disajikan hasil analisis berupa proyeksi induk 

kambing PE selama enam tahun pengembangan.

Peningkatan populasi ternak kambing PE yang ter￾jadi di kecamatan Cimalaka sebesar 11,43%, sementara di 

kecamatan Paseh terjadi penurunan sebesar 23,37%. Pen￾ingkatan ternak di Kecamatan Cimalaka dipengaruhi oleh 

beberapa faktor antara lain jumlah ternak betina produktif 

yang lebih banyak, litter size yang tinggi, dan manajemen 

perkawinan yang lebih baik. Penurunan populasi ternak di 

kecamatan Paseh dipengaruhi oleh antara lain, tingkat ke￾matian anak yang tinggi yang disebabkan penyakit scabies

dan manejemen pemeliharaan yang kurang memadai. Ber￾dasarkan karakteristik reproduksi dan potensi sumberdaya 

yang tersedia, selama enam tahun periode pengembangan, 

perlu disiapkan 79 ekor betina pengganti di kecamatan Ci￾malaka sebanyak. Dalam upaya pengembangan populasi 

ternak kambing di kecamatan Paseh, sesuai hasil analisis, 

diperlukan 8 ekor betina induk untuk mempertahankan 

populasi kambing yang ada di lokasi tersebut. Jumlah ter￾nak betina yang dihasilkan di kecamatan Cimalaka dalam 

kurun waktu enam tahun, adalah 308 ekor sedangkan di

kecamatan Paseh adalah 41 ekor. Hasil ini menunjukkan 

adanya pola dan praktik manajemen yang berbeda antara 

masing masing wilayah, sehingga dalam rangka pengem￾banganjumlah ternak yang bisa dijual di masing masing 

kecamatanjuga berbeda. Peternak dari Cimalaka dapat 

menjual ternak sejumlah 29 ekor, sedangkan peternak di 

daerah Paseh disarankan untuk sementara tidak menjual 

ternaknya, sehingga populasi yang ada dapat dipertahank￾an dalam rangka peningkatan produktivitas melalui mane￾jemen reproduksi yang lebih baik.



Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas waktu ekuilibrasi sebelum pembekuan 
spermatozoa kambing sapera sesudah  Electric Separating Sperm (ESS) terhadap motilitas, viabilitas, integritas 
membran, normalitas dan abnormalitas spermatozoa. Spermatozoa pada kambing sapera dikumpulkan 
menggunakan vagina buatan kemudian dipisahkan menggunakan metode EES. Penelitian ini menggunakan 
rumus acak lengkap dengan tiga perlakuan yaitu waktu kesetimbangan P1 (1 jam), P2 (3 jam), dan P3 (4 jam), 
dengan enam pengulangan. Analisis dalam penelitian ini meggunakan uji ANOVA dilanjutkan dengan uji 
Duncan untuk mengetahui perbedaan nyata antar perlakuan. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan 
presentase motilitas, viabilitas, integritas membram, normalitas spermatozoa kambing sapera tertinggi pada 
perlakuan 1 jam, untuk persentase kelainan terendah pada perlakuan 1 jam. Hasil yang berbeda nyata (p<0,05) 
pada sisi anoda dan katoda pada semua perlakuan dengan perbedan waktu. 
Kambing Sapera merupakan hasil dari 
persilangan antara kambing Saanen dan kambing 
Peranakan Etawah (PE). Kambing jenis Sapera 
ini yaitu  kambing perah yang memiliki 
produktifitas susu yang tinggi  Persilangan antara kambing Saanen dan 
Peranakan Etawa ini menghasilkan Jenis kambing 
yang mempunyai sifat mudah beradaptasi 
terhadap iklim yang ada di Indonesia, memiliki 
postur tubuh yang cukup besar dan mampu 
memproduksi susu yang tinggi serta mudah untuk 
di budidayakan.
Usaha dalam menunjang peningkatan 
populasi kambing Sapera di Indonesia, diperlukan 
suatu pendekatan bioteknologi reproduksi. Salah 
satu cara pendekatan tersebut melalui teknologi 
inseminasi buatan (IB) 
Inseminasi Buatan penggunaannya bertujuan 
untuk memperbaiki kualitas ternak, 
meningkatkan angka kelahiran, efisiensi biaya, 
mencegah perkawinan sedarah dan mencegah 
penularan penyakit kelamin perkembangan bioteknologi pada 
Inseminasi Buatan sudah mengalami kemajuan 
salah satunya sexing spermatozoa. Sexing 
spermatozoa merupakan salah satu metode yang 
dapat dipilih untuk efisiensi usaha peternakan dan 
pengontrolan jenis kelamin pada ternak . Teknologi sexing pada spermatozoa 
memudahkan peternak dalam usaha peternakan, 
karena jenis kelamin bibit yang diinginkan bisa 
disesuaikan dengan tujuan peternakan tersebut. 
Peternakan yang menghasilkan dan memasarkan 
produk berupa susu, membutuhkan lebih banyak 
bibit berjenis kelamin betina daripada jantan. 
untuk meningkatkan rasio kelahiran anakan 
berjenis kelamin betina, dapat menggunakan 
teknologi inseminasi buatan dengan melakukan 
sexing terhadap spermatozoa,
Teknik-teknik sexing spermatozoa 
kromosom X dan Y yang pernah dikembangkan 
yaitu  elektroforesis, sentrifuse, sedimentasi, 
pemilihan selektif, perbedaan tekanan, viskositas, 
filtrasi, dan pemilihan sel ,
Electric Separating Sperm (ESS) merupakan alat 
metode sexing elektroforesis yang digunakan 
untuk memisahkan spermatozoa kromosom X 
dan Y dengan aliran listrik searah, terdapat dua 
elektroda yang berbeda pada ESS yaitu katoda 
dan anoda. Spermatozoa dengan kromosom X 
akan menuju katoda dan sebaliknya spermatozoa 
dengan kromosom Y akan bergerak menuju 
anoda . Hasil dari sexing 
spermatozoa digunakan untuk inseminasi buatan 
dipengaruhi oleh proses pembekuan spermatozoa, 
masalah yang sering timbul pada proses 
pembekuan yaitu  pengaruh cold shock yang 
dapat merusak membran plasma sel pada saat 
pembekuan serta terjadi pembentukan kristal-
kristal es dan berakibat kematian spermatozoa. 
Penambahan krioprotektan seperti gliserol dapat 
mengatasi rendahnya kualitas spermatozoa 
karena peranan gliserol dapat masuk ke dalam 
spermatozoa menggantikan kristal es yang 
terbentuk ,efisiensi gliserol pada masa pembekuan 
sangat ditentukan oleh proses ekuilibrasi yang 
merupakan periode yang diperlukan spermatozoa 
sebelum pembekuan untuk menyesuaikan diri 
dengan diluter, sebagai upaya dalam waktu 
pembekuan kematian spermatozoa yang 
berlebihan dapat di cegah. 
Sampel Penelitian yang digunakan yaitu 
semen Kambing Sapera yang berasal dari satu 
ekor pejantan unggul yang berusia 2-3 tahun. 
Pengambilan semen dilakukan satu kali dalam 
seminggu dan besar sampel diambil berdasar  
rumus Rancangan Acak Lengkap dengan 3 
perlakuan yang didapatkan 6 kali ulangan. 
 
Alat dan Bahan 
Bahan untuk pemeriksaan hidup dan mati 
spermatozoa yaitu pewarna Eosin-Nigrosin, Nacl 
fisiologis, gelas objek, gelas penutup. Bahan 
diluter semen yaitu Tris Kuning Telur. 
Bahan untuk pemeriksaan membran plasma 
spermatozoa yaitu hyposmotic swelling test (HOS 
Test) dilakukan dengan cara mencampur 0,1 ml 
semen dengan 9,9 ml medium hipoosmotik. 
Medium hipoosmotik dibuat dengan melarutkan 
0,3 gram fruktosa dan 0,7 gram NaCitrat kedalam 
100 ml aquabidestilata. Sediaan yang sudah 
dicampurkan kemudian di inkubasi dalam 
waterbath bersuhu 370C selama 30 menit 
Alat yang digunakan untuk penelitian 
meliputi: vagina buatan kambing lengkap dengan 
tabung penampung berskala iwaki®, air panas 
(40-52oC), thermometer 100oC, gelas ukur 
iwaki®, gelas beker iwaki®, erlenmeyer iwaki®, 
kertas pH indicator universal, micropipet, 
pemanas bunsen, pengaduk, pipet pasteur, 
counter, aluminum foil, kertas saring, mikroskop 
binocular Nicon Eclips E200 LED, microskop, 
timbangan mikro ohaus, pinset, show case dan 
ESS. 
Penampungan semen kambing Sapera 
menggunakan vagina buatan. Vagina buatan 
merupakan alat yang dirancang untuk 
menstimulasikan reproduksi saluran betina 
dengan keunggulan mudah digunakan, semen 
yang dikumpulkan umumnya relatif bersih dan 
Ejakulasi mirip dengan ejakulasi alami  Semen yang 
sudah ditampung harus memiliki kualitas yang 
baik dengan dilakukan pemeriksaan secara 
makroskopis dan mikroskopis. Pemeriksaan 
makroskopis terdiri atas pemeriksaan volume 
semen, warna, bau, dan konsistensi (kekentalan), 
sedangkan pemeriksaan mikroskopik bertujuan 
untuk mengevaluasi motilitas (gerakan individu 
spermatozoa), gerakan massa, konsentrasi, 
viabilitas, abnormalitas, dan membran plasma 
utuh ,
Metode ESS dan Pemeriksaan Spermatozoa 
Proses sexing spermatozoa dengan alat ESS 
dilakukan dengan penyampuran semen dan 
diluter (larutan A) terlebih dahulu.. Larutan A ini 
merupakan larutan yang dimasukan kedalam alat 
ESS, yang nantinya larutan A akan dicampurkan 
oleh larutan B pada proses ekuilibrasi. 
Proses ekuilibrasi dimulai dengan 
penampungan semen kambing Sapera kemudian 
di lihat kualitas makroskopis meliputi volume, 
warna, bau, konsistensi dan mikroskopis meliputi 
viabilitas dan abnormalitas, sesudah  pemeriksaan 
semen selesai dan dinyatakan baik dengan 
presentasi progresif yang layak tidak kurang dari 
70% maka selanjutnya di lakukan penambahan 
diluter dengan tris kuning telur, sesudah  dilakukan 
pencampuran, kemudian dilakukan mekanisme 
sexing spermatozoa dengan menggunakan ESS 
yang selanjutnya dilakukan penambahan gliserol 
6%. Penambahan gliserol dilakukan dengan 
membuat dua diluter yaitu antara larutan A yang 
berisi (diluter dan semen), dan larutan B berisi 
(gliserol dan diluter). Diluter beserta glisrol telah 
dicampur maka masukan ke dalam tabung 
microtube sesuai volume yang sudah di tentukan 
dengan rumus pegenceran, kemudian sesudah  
selesai dimasukan kedalam lemari pendingin 
dengan suhu 50C, sesudah  dimasukan kedalam 
lemari pendingin di tunggu waktu ekuilibrasi 
selam 1 jam, 3 jam , dan 4 jam sedangkan setiap 
jamnya dilakukan pengecekan secara 
makroskopis dan mikroskopis meliputi motilitas, 
viabilitas, membran plasma utuh, dan 
abnormalitas. 
Semen segar kambing Sapera sebelum diberi 
perlakuan terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan 
makroskopis dan mikroskopis untuk mengetahui 
semen layak atau tidak sebelum dilakukan proses 
selanjutnya. Rata- rata volume semen Kambing 
Sapera 1,07 ml ± 0,10. pH rata-rata semen 
kambing Sapera 6,8%. Motilitas spermatozoa 
kambing Sapera rata-rata yaitu  85%±3,16 yang 
artinya spermatozoa kambing Sapera yang 
bergerak progresif 85% dengan kecepatan 3 yang 
menandakan spermatozoa bergerak dengan cepat. 
Viabilitas spermatozoa kambing Sapera berkisar 
89% sampai 95% dengan rata-rata 91%±2,73 
perhitungan spermatozoa dilakukan pada 100 
spermatozoa. Abnormalitas spermatozoa 
kambing Sapera berkisar antara 2 sampai 5% 
dengan rata-rata 3,0%±1,41 perhitungan 
dilakukan pada 100 Spermatozoa (Tabel 1). 
Data persentasi motilitas kambing Sapera 
sesudah  diberi perlakuan waktu ekuilibrasi dengan 
tiga perlakuan menunjukan rata-rata dan standart 
deviasi berturut-turut yaitu (P1) sebesar 
71,50%±3,94, (P2) sebesar 66,00%±2,60, dan 
(P3) sebesar 60,33%±2,42. Data presentasi 
viabilitas spermatozoa Kambing Sapera sesudah  di 
berikan perlakuan waktu ekuilibrasi dengan tiga 
perlakuan yaitu menunjukan rata-rata dan 
standart deviasi berturut-turut yaitu P1 sebesar 
83,00%±6,16, P2 sebesar 75,17%±4,70, dan P3 
sebesar 69,00%±3,40. Data presentasi membran 
plasma utuh spermatozoa kambing Sapera sesudah  
diberi perlakuan waktu ekuilibrasi dengan tiga 
perlakuan menunjukan rata-rata dan standard 

Superskrip berbeda pada kolom yang sama menunjukkan berbeda nyata (p<0,05).  
Perlakuan ekuilibrasi dilakukan selama 1 jam (P1), 3 jam (P2), dan 4 jam (P3). 
 
deviasi berturut-turut yaitu P1 sebesar 
79.50%±8.50, P2 sebesar 72.67%±5,28, dan (P3) 
sebesar 65.67%±3),78. dapat dilihat pada Tabel 1. 
Data presentasi abnormalitas spermatozoa 
Kambing Sapera sesudah  diberi perlakuan waktu 
ekuilibrasi dengan tiga perlakuan yaitu 
menunjukan rata-rata dan standar deviasi 
berturut-turut yaitu (P1) sebesaar 2,50%±0,55, 
(P2) sebesar 3,33%±1,18, dan (P3) sebesar 
6,50%±2,88. 1 jam (P1), 3 jam (P2) dan 4 jam 
(P3).  
Hasil analisis statistik dengan menggunakan 
Anova One Way dan dilanjutkan dengan Uji 
Duncan, menunjukan bahwa terdapat efek 
perbedaan waktu ekeulibrasi memberikan 
perbedaan nyata (p<0,05) terhadap motilitas dan 
viabilitas spermatozoa kambing Sapera. Waktu 
ekuilibrasi 1 jam (P1) menunjukan perbedaan 
nyata dengan waktu ekuilibrasi 3 jam (P2) dan 4 
jam (P3), terhadap membran plasma utuh 
spermatozoa kambing Sapera. Waktu ekuilibrasi 
1 jam (P1) menunjukan perbedaan nyata dengan 
waktu ekuilibrasi 4 jam (P3), waktu ekuilibrasi 3 
jam (P2) menunjukan hasil tidak berbeda 
terhadap waktu ekuilibrasi 1 jam (P1), dan waktu 
4 jam (P3) menunjukan bahwa abnormalitas 
waktu ekuilibrasi 1 jam (P1) menunjukan 
perbedaan nyata dengan waktu 4 jam (P3) waktu 
3 jam (P2) juga menunjukan perbedaan nyata 
pada waktu 4 jam (P3), sedangkan waktu 
ekuilibrasi 3 jam (P2) tidak berbeda nyata dengan 
waktu 1 jam (P1) (Tabel 1). 
Indikator yang bisa digunakan untuk 
mengetahui kromosom penentuan jenis kelamin 
yang terkandung pada kepala spermatozoa yaitu 
ukuran kepala spermatozoa. Ukuran kepala 
spermatozoa pada kambing memiliki rata-rata 
panjang 8,5 µm, lebar 4,2 µm, luas 29 µm, dan  
keliling 17 µm. Spermatozoa mengandung gugus 
yang bermuatan berbeda, Spermatozoa yang 
mengandung DNA lebih dari 4% pada kromosom 
X menyebabkan adanya perbedaan muatan. 
Perbedaan muatan tersebut menyebabkan 
spermatozoa dengan kromosom X akan bergerak 
menuju kutub positif. Muatan yang terdapat pada 
spermatozoa dipengaruhi oleh kandungan ion 
kalium intraseluler. Spermatozoa yang memiliki 
kandungan ion kalium lebih besar, diasumsikan 
memiliki muatan positif sehingga akan berenang 
menuju sisi katoda. Begitu pula sebaliknya, pada 
spermatozoa yang mengandung lebih sedikit ion 
kalium dianggap memiliki muatan negatif 
sehingga akan bergerak menuju sisi anoda 
Mekanisme pendeasaan dan migrasi 
spermatozoa pada epididimis, terjadi rekasi kimia 
dengan asam silikat dan membran 
glikopolipeptida pada CD52. CD52 yaitu  gen 
penyandi protein sekretori yang terekspresi 
spesifik pada cauda epididimis dan regulasinya 
dipengaruhi oleh androgen faktor testikular dan 
perkembangan pasca lahir ,
CD52 yang menyebabkan permukaan 
spermatozoa mengandung muatan negatif. 
Ekpresi yang ditunjukkan oleh CD52 tersebut 
normal terjadi pada morfologi dan kapasitasi 
spermatozoa dan merupakan landasan dari 
metode sexing spermatozoa dengan elektroforesis 
Penentuan jenis kelamin pada sexing 
spermatozoa didasarkan pada kandungan 
kromosom yang terdapat pada kepala 
spermatozoa. Spermatozoa kromosom X yang 
membuahi sel telur akan menghasilkan embrio 
berjenis kelamin betina, sedangkan kromosom Y 
akan menghasilkan embrio jantan. Kromosom X 
dan Y dapat dibedakan berdasar  muatan listrik 
permukaan, ukuran, protein makromolekul, 
perbedaan efek terhadap pH dan efek terhadap 
tekanan udara 
berdasar  muatan listrik yang terdapat 
pada permukaan sel spermatozoa, maka 
pemisahan spermatozoa kromosom X dan Y bisa 
dilakukan dengan memanfaatkan muatan listrik. 
Spermatozoa jika diletakkan pada daerah yang 
mengandung muatan listrik, maka spermatozoa Y 
akan dipindahkan menuju anoda  Pemisahan spermatozoa 
menggunakan arus listrik mampu menyebabkan 
terbentuknya reactive oxygen species (ROS), 
karena tegangan listrik tersebut akan berubah 
menjadi panas. Panas yang terjadi dapat 
menyebabkan kerusakan sel terutama pada lipid, 
protein dan DNA (Priyanto dkk., 2015). Electric 
Separating Sperm (ESS) bekerja pada tegangan 
listrik rendah yaitu 1.5 Volt. Tegangan listrik 
yang rendah ini dapat meminimalisir 
pembentukan ROS. berdasar  penelitian yang 
dilakukan oleh ,alat ini 
mampu memisahkan kromosom X dan Y pada 
spermatozoa dalam waktu yang relatif singkat 
pada domba Merino. 
Hasil temuan kami ekuilibrasi 1 jam pada P1 
menunjukan motilitas yang baik. Waktu 
ekuilibrasi merupakan waktu yang dibutuhkan 
spermatozoa beradaptasi dengan diluter agar saat 
pembekuan kematian spermatozoa dapat dicegah 
. Kerusakan spermatozoa akibat 
pembekuan terjadi karena peningkatan 
konsentrasi elektrolit, dehidrasi, dan terbentuknya 
kristalisasi es intraselular yang dapat 
mempengaruhi permiabilitas dinding sel sehingga 
spermatozoa kehilangan daya motilitasnya 
Waktu ekuilibrasi yang tepat dapat memicu 
gliserol yang berada di dalam diluter Tris kuning 
telur mencapai keseimbangan elektrolit intra dan 
ekstraseluler sehingga dapat melindungi 
terbentuknya kristalisasi pada spermatozoa dan 
kerusakan spermatozoa disaat proses pembekuan 
dapat dicegah ,Penurunan 
motilitas spermatozoa dapat terjadi karena sudah 
terbentuknya asam laktat sehingga menghasilkan 
motilitas progresif yang lebih rendah , Motilitas yang tinggi pada spermatozoa 
juga membutuhkan energi yang tinggi, yang 
dihasilkan dari metabolisme mitokondria 
sehingga menyebabkan tingginya tingkat reactive 
oxygen spesies (ROS) sehingga viabilitas 
spermatozoa akan menurun ,
Pengaruh waktu ekuilibrasi terhadap 
presentasi viabilitas dan membran plasma utuh 
spermatozoa kambing Sapera sesudah  diberi 
perlakuan menunjukan perbedaan nyata (p<0.05) 
antara, waktu ekuilibrasi 1 jam (P1), 3 jam (P2) , 
dan 4 jam (P3). Viabilitas dan membran plasma 
utuh spermatozoa tertinggi terdapat pada 
perlakuan P1 dengan waktu ekuilibrasi 1 jam. 
Waktu ekuilibrasi 1 jam pada temuan kami sudah 
terjadi keseimbangan elektrolit dengan gliserol 
secara baik dan merata di dalam spermatozoa 
sehingga kerusakan selama proses pembekuan 
dapat diminimalisir. Kerusakan pada membran 
plasma spermatozoa yang akan membuat 
viabilitas spermatozoa menjadi rendah dapat 
disebabkan efek waktu ekuilibrasi yang lama 
selain itu penurunan viabilitas 
spermatozoa dikarenakan perubahan biokimia 
karena kerusakan membran, osmotik dan cold 
shock yang berkaitan dengan Penurunan suhu dan 
durasi penyimpanan,
Penurunan persentase viabilitas spermatozoa 
disebakan oleh kondisi membran plasma yang 
telah rusak. Membran plasma spermatozoa 
berfungsi sebagai penjaga organel sel dan 
pengatur keseimbangan elektrolit dalam 
metabolisme , ROS memiliki peran yang 
penting dalam fosforilasi tirosin, oksidasi sterol, 
dan penembusan kolesterol dari membran plasma 
dalam proses kapasitasi spermatozoa dalam 
proses fertilisasi dan lemak dalam membran 
plasma spermatozoa kambing memiliki 
konsentrasi asam lemak tak jenuh yang lebih 
tinggi di bandingkan ruminansia lainya. Karena 
itu, dalam proses pendinginan, lemak dari 
membran plasma dapat rusak, yang 
mengakibatkan peroksidasi lipid. Pengamatan 
membran plasma utuh sangat penting karena 
spermatozoa yang memiliki membran plasma 
utuh akan dapat mempertahankan kehidupannya 
dan berhasil dalam proses pembuahan. Fungsi 
dari membran plasma yaitu  mengatur keluar 
masuknya zat-zat makanan, melindungi organel 
organel intraseluler secara fisik, serta menjaga 
keseimbangan elektrolit intra dan ektraseluler 
Abnormalitas spermatozoa merupakan 
penyimpangan bentuk morfologi dari struktur 
spermatozoa normal. Abnormalitas spermatozoa 
di bagi menjadi dua yaitu abnormalitas primer dan 
abnormalitas skunder. Abnormalitas primer 
merupakan kelainan spermatogenesis sejak 
berada di dalam tubulus seminifirus berupa 
kelainan yang meliputi ukuran kepala 
macrochepalic atau microchepalic, kepala 
pendek melebar, pipih memanjang, piriformis, 
kepala rangkap, ekor ganda, bagian tengah 
melipat, membengkok, membesar, ekor 
melingkar, putus dan terbelah,
Abnormalitas sekunder merupakan kelainan 
yang terjadi sesudah spermatozoa meninggalkan 
tubulus seminifirus selama perjalanan melalui 
epididimis, selama ejakulasi, manipulasi dan 
perlakuan lainyaPerbedaan presentasi 
abnormalitas spermatozoa pada setiap perlakuan 
dikarenakan dalam larutan diluter keseimbangan 
intraseluler dan ekstraseluler dengan spermatozoa 
tidak stabil karena adanya penurunan suhu pada 
saat ekuilibrasi ,perbedaan konsentrasi cairan 
intraseluler dengan ekstraseluler akan 
menimbulkan perubahan tekanan osmotik sel 
selama pembekuan, sehingga akan menyebabkan 
selubung lipoprotein pecah dan membran sel 
mengalami kerusakan. Kondisi tersebut dapat 
menyebabkan spermatozoa menjadi abnormal. 
Hasil temuan kami waktu ekuilibrasi terbaik 
didapat pada (P1) dengan perlakuan waktu 1 jam 
ekuilibrasi di lihat dari hasil kualitas spermatozoa 
berdasar  motilitas, viabilitas, dan membran 
plasma utuh. Abnormalitas spermatozoa kambing 
Sapera menggunakan tris kuning telur dengan 
waktu ekuilibrasi terbaik 1 dan 3 jam.