ternak kambing 4
Potensi ternak lokal yang sangat berpeluang untuk membantu penyediaan susu dalam negeri
selain sapi perah dengan berbagai keunggulannya yang saat ini sedang dikembangkan oleh masyarakat
adalah kambing peranakan etawah. Susu kambing memiliki keunggulan tersendiri sebab mengandung
nilai gizi yang tinggi yaitu protein 3.4 %, lemak 4.1 %, karbohidrat 5.2 %, kalsium 120 mg/100
gram, fosfor 135 mg/100 gram dan berbagai macam vitamin. Susu kambing mengandung protein
lebih tinggi dibanding susu sapi, merupakan sumber kalsium, fosfor dan vitamin yang sangat diperlukan
untuk pertumbuhan usia muda dan mencegah osteoporosis.
Tujuan program pendampingan Kelompok Peternak Kambing Perah Desa Beji adalah : Perbaikan
sistem budidaya ternak kambing perah; Peningkatan pengetahuan dan pengalaman bagi peternak
dalam penyusunan pakan; Peningkatan kualitas kesehatan kambing; Meningkatkan nilai jual susu
melalui penjualan kepada hotel-hotel di Kota Batu dan Peternak mampu melaksanakan recording
dalam setiap kegiatan pengelolaan usaha dan pembukuan keuangan secara teliti dan berkesinambungan.
Metode pendampingan ini adalah : 1. Ceramah dan Diskusi, 2. Metode Demonstrasi, untuk
kegiatan-kegiatan yang bersifat aplikatif yang secara langsung dapat disaksikan dan dicobakan oleh
seluruh anggota kelompok peternak kambing perah pada suatu tempat yang telah ditentukan dan 3.
Metode pendampingan berkelanjutan.
sesudah dilaksanakan pendampingan maka telah dihasilkan beberapa perubahan antara lain; 1)
Kelompok Peternak telah meningkatkan efisiensi usaha melalui perbaikan manajemen, 2) Penyajian
pakan meningkat, untuk hijauan 5 kg/ekor induk, konsentrat 1 s.d. 1.5 kg/ekor induk; 3) telah
mampu menyusun pakan sendiri dengan gizi seimbang; 3) produksi susu rata-rata telah mencapai
1,5 s.d. 2.0 liter/ekor/hari, tingkat kejadian mastitis menurun hanya tinggal 20 % dari total induk
laktasi; 4) peternak telah mulai melaksanakan recording dan pembukuan sederhana, dan 5) pemasaran
dilakukan pada hotel-hotel sekitar Kota Batu dengan harga penjualan mencapai Rp. 20.000,-/liter.
Penyuluhan, pelatihan dan pendampingan dalam usaha kambing perah di Kelompok Peternak
Kambing Perah Desa Beji mampu meningkatkan produksi susu, meningkatkan pendapatan dan berharap
untuk dilaksanakan secara berkelanjutan.
Kebutuhan protein hewani masyarakat Indonesia
dari tahun ke tahun terus meningkat seiring dengan
bertambahnya jumlah penduduk dan tingkat kesadaran
kebutuhan gizi masyarakat yang didukung oleh ilmu
pengetahuan dan teknologi. Susu sebagai salah satu
hasil komoditi peternakan, adalah bahan makanan yang
menjadi sumber gizi atau zat protein hewani. Hal ini
dapat ditunjukkan dengan meningkatnya konsumsi
susu dari 6.8 liter/kapita/tahun pada tahun 2005 menjadi
7.7 liter/kapita/tahun pada tahun 2008 (setara dengan
25 g/kapita/hari) yang merupakan angka tertinggi sejak
terjadinya krisis moneter pada tahun 1997
Pembangunan sub sektor petemakan, khususnya
pengembangan usaha ternak sapi perah, merupakan
salah satu alternatif upaya peningkatan penyediaan
sumber kebutuhan protein.
Permintaan terhadap komoditi susu dari tahun
ke tahun terus mengalami peningkatan, tetapi produksi
susu nasional belum mampu mencukupi kebutuhan
konsumsi masyarakat Indonesia dimana produksi susu
sapi dalam negeri sampai saat ini baru mencapai sekitar
679 ribu ton pertahun dan hanya mampu memenuhi
26 persen kebutuhan konsumsi susu nasional.
Ketergantungan yang tinggi terhadap susu sapi impor
dalam jangka waktu panjang dapat menimbulkan
kerawanan terhadap ketahanan pangan produk asal
hewan. Oleh karena itu pemerintah mengeluarkan
kebijakan untuk melakukan impor susu dari luar negeri
yang mencapai 80 %. Permintaan susu baru dapat
terpenuhi ± 64,35%, yaitu 99,81% nya berasal dari
susu sapi dan 0,19% lainnya berasal dari susu kambing.
Hal tersebut menunjukkan bahwa pemenuhan
kebutuhan nasional lebih mengandalkan impor. Oleh
karena itu, hal ini perlu mendapat perhatian bersama
untuk mengupayakan peningkatan produksi susu dalam
negeri baik melalui peningkatan produktivitas dan
populasi sapi perah, maupun pengembangan industri
pengolahan susu dalam negeri maupun
mengoptimalkan ternak lokal yang berpotensi untuk
produksi susu.
Potensi ternak lokal yang sangat berpeluang
untuk membantu penyediaan susu dalam negeri selain
sapi perah dengan berbagai keunggulannya yang saat
ini sedang dikembangkan oleh masyarakat adalah
kambing peranakan etawah. Susu kambing memiliki
keunggulan tersendiri sebab mengandung nilai gizi yang
tinggi yaitu protein 3.4 %, lemak 4.1 %, karbohidrat
5.2 %, kalsium 120 mg/100 gram, fosfor 135 mg/100
gram dan berbagai macam vitamin. Susu kambing
mengandung protein lebih tinggi dibanding susu sapi,
merupakan sumber kalsium, fosfor dan vitamin yang
sangat diperlukan untuk pertumbuhan usia muda dan
mencegah osteoporosis pada manula. Bagi sebagian
masyarakat, susu kambing dipercaya dapat
meningkatkan vitalitas dan mengobati berbagai macam
penyakit karena kandungan gizinya yang lengkap
terutama asam amino, vitamin dan mineral.
Disamping keunggulan di atas, usaha kambing
perah sangat cocok sebagai alternatif bagi peternak
bermodal kecil dengan harga calon induk hanya sekitar
Rp. 1.750.000.- /ekor dengan produksi susu per ekor/
hari mencapai 1 sampai 1.5 liter dengan sistem
pemeliliharaan yang masih tradisional. Kelebihan lain
ternak kambing etawah adalah harga susu kambing
mencapai Rp. 15.000.-/liter sedangkan harga susu sapi
sebesar Rp. 3.500.-/liter. Sumber hijauan kambing
cukup dari daun-daunan dan sedikit konsentrat
sedangkan sapi perah memerlukan rumput dan
konsentrat dalam jumlah banyak. Disamping itu
peternak dapat menciptakan peluang ekonomi untuk
meningkatkan pendapatan, menciptakan lapangan
kerja di bidang agribisnis peternakan serta melestarikan
dan memanfaatkan sumberdaya alam pendukung
peternakan secara optimal dengan memanfaatkan
kotoran ternak sebagai pupuk organik.
Usaha budidaya kambing perah di wilayah
Malang Raya saat ini, masih dilakukan secara
tradisional yaitu mengandalkan hijauan ramban dengan
berbagai kendala antara lain ketersediaan hijauan yang
tidak kontinyu, jumlah yang disajikan bervariasi sesuai
kehendak peternak, kualitas pakan yang disajikan tidak
terjamin karena tidak didasarkan atas kebutuhan
ternak sesuai dengan kondisi fisiologisnya, dan
pengaruh musim terutama pada saat musim kemarau
terjadi kesulitan hijauan yang berdampak pada
rendahnya produksi susu.
Permasalahan yang terjadi di tingkat peternak
adalah produktivitas kambing perah rata-rata masih
rendah. Hal ini disebabkan kualitas pakan, bibit dan
tatalaksana pemeliharaan yang belum optimal. Guna
mengatasi permasalahan pakan yang berdampak
terhadap rendahnya prodiuktivitas kambing perah maka
salah satu upaya pemecahan masalah rendahnya
produksi susu adalah dengan meningkatkan kualitas
pakan pada saat laktasi. Peningkatan kualitas pakan
terutama kandungan Protein Kasar (PK) dan Total
Digestible Nutrients (TDN) yang diperlukan pada saat
laktasi. Hal ini berkaitan dengan meningkatnya proses
metabolisme tubuh untuk memenuhi kebutuhan hidup
pokok dan produksi susunya. Pakan yang biasanya
diberikan pada kambing di tingkat peternak pada
umumnya memiliki kandungan protein kasar antara 9
– 12% Dengan kisaran tersebut akan
menimbulkan permasalahan yaitu kebutuhan dasar
protein untuk ternak serta perkembangan mikroba
rumen kurang, karena mikroba rumen akan dapat
berkembang dengan baik pada saat kadar protein
kasar pakan yang diberikan pada ternak sebesar 13,4%
Untuk memenuhi kebutuhan
terhadap kualitas pakan tersebut maka salah satu
alternatif adalah membuat pakan kering campuran
konsentrat dan hijauan kering dengan kandungan gizi
sesuai dengan kebutuhan ternak dan disajikan dalam
jumlah yang seimbang sehingga potensi produksi
kambing perah dapat dicapai sesuai genetiknya.
Berdasarkan uraian di atas maka perlu dilakukan
pendampingan kelompok peternak kambing perah di
Desa Beji Kecamatan Junrejo Kota Batu guna
mendukung Kota Batu sebagai sentra ternak perah.
Idenifikasi dan Perumusan Masalah
Berdasarkan analasis situasi di atas dapat
dirumuskan permasalahan sebagai berikut :
1. Rendahnya produksi susu yaitu kurang dari 1.5
liter/ekor/hari, akibat budidaya pemeliharaan
yang masih konvensional terutama pakan kurang
sesuai dengan kebutuhan ternak.
2. Kurangnya pengetahuan dalam penyusunan
pakan penguat dan teknik pemberian pakan,
pakan hijauan yang disajikan kurang dari 4 kg/
ekor/hari dan konsentrat jarang
diberikan.sehingga gizi yang disajikan kurang
seimbang.
3. Kesehatan dari kambing perah yang kurang
diperhatikan, hal ini diketahui melalui indikator
kejadian mastitis lebih dari 60 % demikian juga
halnya dengan penyakit yang lainnya.
4. Susu masih dijual di sekitar kampung/desa
sehingga nilai jualnya rendah sekitar Rp.15.000/
liter.
5. Belum dilaksanakan recording dengan baik
(recording produksi susu, perkawinan, kelahiran
dan kesehatan ternak).
Tujuan Kegiatan
Berdasarkan masalah di atas maka capaian yang
menjadi tujuan/target program pengabdian ini adalah
melalui model pendampingan di kelompok peternak
kambing perah Kelompok Peternak Kambing Perah
Desa Beji adalah :
1. Perbaikan sistem budidaya ternak kambing perah
terutama perbaikan pakan untuk meningkatkan
produksi susu lebih dari 1.5 liter/ekor/hari dengan
kualitas yang tinggi.
2. Peningkatan pengetahuan dan pengalaman bagi
peternak dalam penyusunan pakan sehingga
pakan hijauan yang disajikan lebih dari 5 kg/
ekor/hari dan konsentrat lebih dari 1 kg/ekor/hari
dengan nilai gizi yang seimbang.
3. Peningkatan kualitas kesehatan dari kambing
perah melalui indikator turunnya kejadian mastitis
menjadi tinggal 20 % demikian juga halnya
dengan penyakit yang lainnya.
4. Meningkatkan nilai jual susu melalui penjualan
kepada hotel-hotel di Kota Batu.
5. Peternak dapat melaksanakan recording dalam
setiap kegiatan pengelolaan usaha dan
pembukuan keuangan secara teliti dan
berkesinambungan.
Manfaat Kegiatan
Manfaat yang diharapkan dari kegiatan
pendampingan ini bagi kelompok peternak kambing
perah yaitu :
1. Perbaikan sistem budidaya kambing perah pada
kelompok peternak kambing perah Desa Beji
sehingga produksi susu dapat mencapai lebih dari
1.5 liter/ekor/hari dengan kualitas yang tinggi.
2. Meningkatnya keterampilan peternak dalam
menyusun pakan sehingga tercukupi sesuai
kebutuhan yaitu untuk hijauan 5 kg/ekor/hari dan
konsentrat lebih dari 1 kg/ekor/hari dengan nilai
gizi pakan yang seimbang.
3. Kejadian mastitis menurun dengan tingkat
kejadian tidak lebih dari 20 % demikian juga
dengan penyakit yang lainnya.
4. Penjualan susu segar dengan harga mencapai
Rp. 20.000.-/liter karena dijual langsung ke
konsumen di hotel-hotel Kota Batu..
5. Peternakan terbiasa melaksanakan recording
dan pembukuan keuangan yang teratur dan
berkesinambungan.
Kerangka Pemecahan Masalah
Permasalahan utama yang dihadapi oleh
kelompok peternak Kambing Perah Desa Beji Kota
Batu adalah produksi susu yang rendah kurang dari
1.5 liter, kurangnya pengetahuan dan keterampilan
dalam penyusunan pakan serta teknik pemberian
pakan, kesehatan ternak kurang diperhatikan, harga
susu yang rendah kurang dari Rp. 15.000/liter dan
belum dilaksanakannya recording dengan baik. Oleh
karena itu usulan pemecahan masalah sebagai berikut:
1. Memberikan pendampingan tentang pentingnya
penguatan kelompok usaha ternak perah dalam
hal teknik penyusunan pakan, pemanfaatan
limbah pertanian untuk pakan ternak, penanganan
kesehatan, pemasaran produksi.
2. Melakukan pendampingan kepada kelompok
peternak kambing perah dalam usaha untuk
memudahkan mendapatkan akses permodalan
dan kegiatan-kegiatan pendampingan lain untuk
meningkatakan produksi dan kualitas susu.
3. Memberikan informasi terbaru tentang
perkembangan kelompok dan usaha ternak
kambing perah yang telah maju baik pada aspek
budidaya, pemasaran maupun penanganan pasca
panen susu sebagai tempat untuk magang dalam
upaya penguatan kelompok peternak kambing
perah Desa Beji.
Sasaran Kegiatan
Adapun kelompok sasaran Program
Pendampingan yaitu 8 orang peternak yang tergabung
dalam kelompok peternak kambing perah dengan
kepemilikan sekitar 30 ekor induk yang berlokasi di
Desa Beji Kecamatan Kecamatan Junrejo yang
merupakan wilayah Kota Agropolitan Batu.
Metode Kegiatan
Untuk mencapai tujuan yang telah direncanakan,
maka menggunakan metode sebagai berikut:
1. Metode Ceramah dan Diskusi :
Metode inii dipilih untuk menyampaikan hal-
hal yang meliputi: pakan hijauan, konsentrat,
perkandangan, biosecurity, produksi susu dan
pemasaran susu, potensi dan permasalahan
dalam usaha kambing perah dan kegiatan untuk
mengatasi permasalahan dalam upaya
meningkatkan potensi kelompok ternak dan
produksi susu kambing perah.di Kelompok
Peternak Kambing Perah Desa Beji.
2. Metode Demonstrasi
Demonstrasi digunakan untuk kegiatan-kegiatan
yang bersifat aplikatif yang secara langsung dapat
disaksikan dan dicobakan oleh seluruh anggota
kelompok peternak kambing perah pada suatu
tempat yang telah ditentukan. Misalnya: cara
memilih pakan, cara mencampur pakan,
pengemasan sampai penyajian pakan.
3. Metode Pendampingan
Metode ini digunakan sesudah peternak menjalani
dua tahap diatas dan diyakini memahami dan
menguasai topik yang telah dibekali, maka
selanjutnya dilakukan pendampingan terhadap
kelompok peternak kambing perah dengan
mendatangi langsung peternak pada saat mereka
melakukan kegiatan mulai dari aspek pakan,
perkandangan, pemerahan sampai penanganan
pemasaran susu.
Rancangan Evaluasi
Rancangan evaluasi terhadap keberhasilan
kegiatan pendampingan pada kelompok peternak
kambing perah Desa Beji secara umum dilakukan
dengan berpedoman pada :
1. Keselarasan topik yang dikerjakan dengan
keadaan kelompok peternak kambing perah
Desa Beji.
2. Tingkat partisipasi, sikap dan tanggapan dari
peternak kambing perah Desa Beji terhadap
kegiatan yang dilaksanakan dan berusaha
menerapkan pengetahuan dan keterampilan
yang diperolehnya untuk pengembangan
usaha kambing perah.
3. Terjadi peningkatan pendapatan peternak
kambing perah sesudah menerapkan
pengetahuan dan keterampilan yang
diperolehnya kemudian dilakukan evaluasi
langsung terhadap tingkat pendapatan
sebelum dan sesudah adanya pendampingan.
Tahapan Persiapan dan Perencanaan
Sebelum pelaksanaan pendampingan pada
kelompok peternak kambing perah dilakukan, maka
dilaksanakan survey lokasi terlebih dahulu, untuk
mendapatkan lokasi yang tepat dan menjalin
komunikasi awal dengan anggota kelompok yang
bergabung di kelompok peternak kambing perah Desa
Beji Kecamatan Junrejo Kota Batu. Hasil pertemuan
awal dan survey oleh tim pendampingan, maka terdapat
beberapa hal yang harus disiapkan terlebih dahulu
sebelum pelaksanaan di lapangan dilakukan.
Adapun hal-hal yang harus dipersiapkan oleh Tim
pendampingan antara lain:
1. Materi penyuluhan dan pendampingan yang
meliputi : a) kontribusi pakan dalam usaha
peternakan dan manajemen pakan kambing
perah, b) peningkatan nutrisi jerami padi untuk
pakan ternak kambing perah, c). penanganan
penyakit pada kambing perah d) persiapan
pemerahan, penanganan susu dan kebersihan
susu, e) pelatihan pengolahan jerami padi “silase
jerami padi”, f) pelatihan penyusunan dan
pencampuran konsentrat. g) bahan pengolahan
jerami dan bahan pelatihan penyusunan dan
pencampuran konsentrat.
2. Bahan : untuk pengolahan jerami berupa urea,
starbio dan plastik penutup disediakan oleh tim
pendampingan, sedangkan jerami disediakan
peternak. Untuk pelatihan pencampuran
konsentrat, bahan juga disediakan oleh
pendamping, lalu memberikan petunjuk tentang
cara memilih bahan, cara pencampuran dan cara
penyajian yang efektif dan efisien.
3. Merancang pertemuan rutin kelompok dan
pertemuan lapang. Isi kegiatan meliputi acara
diskusi kelompok secara rutin sesudah penyuluhan
dan pelatihan dilaksanakan. Pertemuan lapang
diisi dengan kegiatan praktek pengolahan jerami
dan praktek pencampuran konsentrat.
Pengadaan Bibit Kambing Perah dan Bibit HMT
Unggul
Kegiatan pengadaan bibit kambing perah
dilaksanakan oleh Tim Pengabdian PPMI dengan
tujuan untuk memberi bantuan tambahan populasi
kambing perah pada kelompok peternak Desa Beji
agar memberikan harapan pada kelompok untuk lebih
serius dalam usaha kambing perah. Bibit kambing
berupa calon induk dalam kondisi bunting 2 – 3 bulan
dengan harapan dalam 2 – 3 bulan kedepan telah
mendapatkan tambahan populasi sebanyak 5 ekor.
Bibibt calon induk yang dibantu telah melalui tahapan
seleksi oleh Tim Pengabdian terutama dari potensi
genetik kemampuan produksi susu dan penampilan
eksteriornya.
Menurut Devendra (1983), pengaturan
perkembangbiakan melalui seleksi dan culling yang
ketat baik pada calon induk dan pejantan merupakan
salah satu metode dalam peningkatan potensi genetik
ternak kambing perah. Walaupun pada masa lalu para
penangkar peternakan kambing perah memperoleh
perbaikan mutu genetik melalui seleksi penampilan luar
atau kinerja individu misalnya menyeleksi betina yang
menghasilkan susu paling tinggi dan anak-anak
jantannya, pelaksanaan metode ini sangat tidak
menentu dan lambat. Maka metode yang paling cepat
untuk perbaikan genetik terutama dalam peningkatan
produksi susu adalah melalui Inseminasi Buatan.
Calon induk yang dibantukan pada pelaksanaan
pengabdian kepada kelompok peternak Desa Beji
sebanyak 5 ekor bersumber dari peternak kambing
perah Desa Sidodadi Kecamatan Ngantang Kabupaten
Malang, yang merupakan peternak yang khusus
menyediakan bibit-bibit unggul kambing perah.
Pendampingan peternak dalam kegiatan seleksi
dan culling dilakukan selama dua (2) minggu.
Pengetahuan dan keterampilan seleksi dan culling
(mengafkir) ternak kambing wajib dimiliki oleh
peternak. Hal tersebut dimaksudkan agar dalam
membeli ternak kambing peternak dapat memilih
(menyeleksi) ternak yang berpotensi bagus untuk
dipelihara. Umumnya seleksi dilakukan dengan
mengamati ciri-ciri fisik yang tampak dari luar seperti
kondisi umum tubuh, postur tubuh, cara berdiri, bentuk
dan ukuran kelenjar susu dan lain-lain. Adapun
pengetahuan dan ketrampilan culling diperlukan
peternak agar tidak memelihara ternak yang tidak
produktif. Ternak yang tidak produktif harus di culling
agar peternak tidak merugi. Salah satu indikator ternak
harus di culling yaitu bila produk susu yang
dihasilkan lebih sedikit dibandingkan jumlah pakan yang
dihabiskan oleh ternak.
Disisi lain untuk mendukung penyediaan pakan
yang berkualitas, maka Tim Pengabdian membeli bibit
unggul hijauan Kaliandra dan bibit Rumput gajah unggul
sebanyak 2 pick up yang disumbangkan dan ditanam
pada lahan milik kelompok peternak kambing perah
Desa Beji. Kegiatan ini bertujuan untuk menyediakan
HMT unggul guna memenuhi kebutuhan gizi asal
hijauan yang berkualitas sehingga pemberian
konsentrat dapat ditekan, namun kebutuhan gizi ternak
kambing perah tetap terpenuhi sesuai kebutuhannya.
Materi penyuluhan ini disampaikan secara praktis
oleh Tim Pengabdian sekitar 1 jam, lalu dilanjutkan
dengan diskusi. Anggota kelompok Peternak Desa Beji
umumnya menyajikan pakan per-ekor dewasa kurang
dari 4 kg dan jarang memberikan konsentrat, dengan
produksi susu rata-rata kurang dari 1.5 liter/ekor/hari.
Pemateri menyampaikan bahwa jumlah dan kualitas
pakan sangat menentukan jumlah dan kualitas susu
yang dihasilkan. Patokan/ standar yang paling
sederhana dalam menyajikan pakan kambing perah
yaitu Hijauan disajikan sekitar 5 kg per ekor induk
dan konsentrat sekitar 3% dari bobot badan. Peteranak
kambing perah sangat menyadari bahwa kebutuhan
akan pakan (hijauan+konsentrat) sangat menentukan
kualitas dan kuantitas susu, namun yang menjadi
halangan adalah ketersediaan akan lahan yang terbatas
dan konsentrat yang terus meningkat harganya.
Pendampingan Pembuatan Kandang
Materi yang disajikan antata lain : konstruksi
bangunan kandang, bahan kandang, lokasi kandang,
ketersediaan air untuk kandang, lokasi lahan hijauan
untuk kebutuhan ternak dan sarana transportasi bila
produk-produk hasil panen dijual dan pengadaan
hijauan dan pakan dilaksanakan. Kegiatan ini diikuti
oleh 10 orang peternak dan mereka sangat antusias
mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai, hal ini
dibuktikan dengan banyak pertanyaan yang terkait
dengan lokasi kandang mereka yang berdekatan
dengan pemukiman yang berdampak terhadap
kebersihan dan kesehatan lingkungan baik manusia
maupun ternak serta air tanah sekitar lokasi kandang.
Disisi lain ketidakberdayaan peternak dalam
menyediakan pakan karena keterbatasan lahan yang
ada.
Penyakit Pada Kambing Perah dan Cara
Penanganannya
Kegiatan penyuluhan ini dilaksanakan dengan
metode ceramah dan diskusi. Metode ini dipilih untuk
menyampaikan pengenalan tentang berbagai penyakit
pada kambing seperti mastitis, perut kembung, ketosis,
kelumpuhan dan lain-lain yang dapat menyebabkan
produksi susu menurun dan tidak dapat dijual. sesudah
ceramah selesai dilanjutkan dengan diskusi.
Pelaksanaan diskusi pada hari pertama
penyuluhan berlangsung dengan penuh antusis oleh
peternak. Permasalahan yang sering muncul
ditanyakan adalah sekitar mastitis dan kembung yang
kemudian dengan cermat dijawab oleh pemateri Tim
Pelaksana. Kejadian masititis lebih diakibatkan oleh
manajemen perkandangan yang kurang baik, sanitasi
yang buruk dan sistem pemerahan yang tidak
profesional. Hal tersebut dapat diatasi dengan
penanganan manajemen usaha peternakan yang
mengedepankan sanitasi yang baik. Selain itu pemateri
menjelaskan bahwa bila ternak terkena penyakit
kembung, maka dapat diberikan obat tradisional berupa:
1) Daun sembukan, 2) Campuran daun sembung,
minyak kayu putih dan air hangat, 3) campuran minyak
kelapa, minyak kayu putih, garam, dan air hangat.
Peserta sangat antusias mengikuti penyuluhan
ini dengan jumlah yang hadir 10 orang anggota
kelompok. Diakhir acara, penyuluh/pemateri
menjanjikan untuk melaksanakan penyuluhan lebih
lanjut tentang gangguan reproduksi sapi perah dan cara
penanganannya, sesudah pendampingan peternak
menyatakan bahwa hasil penyuluhan telah diterapkan
dan kejadian penyakit pada ternaknya dapat menekan
kematian dan kejadian penyakit hanya tinggal 20%.
Pemerahan dan Penanganan Susu Kambing
Materi ini diberikan dengan metode ceramah
kemudian dilanjutkan diskusi. Materi ini perlu
disampaikan mengingat tingkat kerusakan susu akibat
dari proses pemerahan dan penanganan pasca
pemerahan yang kurang baik mencapai 20% sehingga
menyebabkan kerugian yang cukup besar.
Penyuluhan ini diharapkan dapat merubah
paradigma peternak bahwa kualitas susu yang tinggi
sangat menentukan harga susu. Salah satu indikator
kenaikan susu yaitu jumlah bakteri per-mililiter susu
dianggap berkualitas baik bila jumlah bakteri per-
mililiter tidak lebih dari 1 juta.
Pemateri menyampaikan hal-hal yang meliputi:
a. Persiapan pemerahan
b. Pemerahan
c.. Penanganan susu
d. Kebersihan susu
e. Kesehatan/ Kebersihan petugas/pemerah
sesudah materi dan diskusi berlangsung peternak
sangat menyadari pentingnya proses pemerahan dan
penanganan susu yang keluar untuk menjamin kualitas
susu kambing lebih baik. Namun dilain pihak masih
ada sebagian peternak yang melakukan kecurangan
dengan memalsukan susu untuk menambah volume.
Pelatihan Pembuatan Silase dan Pakan Siap Saji
Pelatihan pembuatan silase dilakukan di Dusun
Karang Jambe, karena kalau musim hujan hijauan
ternak di dusun tersebut cukup berlimpah sedangkan
waktu musim kemarau kekurangan. Hijauan makanan
ternak (HMT) dan jerami dapat difermentasi dengan
tujuan untuk mengawetkan pakan tersebut sampai
berbulan-bulan lamanya (bisa disimpan selama 6
bulan). Fermentasi pakan juga bertujuan meningkatkan
nutrisi pakan ternak karena terjadi pemecahan
senyawa kompleks yang susah dicerna ternak menjadi
senyawa-senyawa yang lebih sederhana yang mudah
diserap oleh usus halus. Sehingga terjadi peningkatan
nutrisi yang dapat diserap tubuh dan diedarkan ke
seluruh tubuh yang pada akhirnya meningkatkan
produktivitas ternak.
sesudah materi dan diskusi berlangsung,
peternak sangat menyadari pentingnya pembuatan
silase limbah pertanian guna mengatasi kesulitan pakan
sepanjang waktu dengan memanfaatkan secara
maksimal potensi limbah pertanian yang melimpah.
Keterbatasan lahan akan terjawab dengan penerapan
TTG silase baik rumput segar maupun limbah
pertanian. Namun dilain pihak masih ada sebagian
peternak yang menganggap bahwa pembuatan silase
sangat merepotkan karena memerlukan bahan-bahan
lain yang harus disiapkan dan dibeli.
Pendampingan pembukuan sederhana
bertujuan agar peternak dapat membukukan semua
transaksi yang terjadi dalam pengeloaan
peternakannya. Selama ini peternak umumnya tidak
terbiasa mencatat semua transaksi yang terjadi dan
setiap kegiatan usaha rumah tangga termasuk usaha
kambing perah sehingga tidak diketahui apakah
usahanya itu masih menguntungkan atau telah merugi
dan bila perlu dihentikan bila tidak menjanjikan
keuntungan. Oleh karena itu Tim Pengabdian
memotivasi para peternak kambing Desa Beji agar
mau membukukan transaksinya secara sederhana.
Tim Pengabdian dalam pelaksanaan
pendampingan ini memberikan buku akuntansi kepada
para peternak dan memberikan contoh cara mencatat
di buku tersebut. Pelatihan dilakukan secara
berkelompok di rumah salah satu anggota kelompok
peternak kambing perah agar lebih efektif. Kegiatan
tersebut dilaksanakan di Dusun Karang Jambe Desa
Beji.
Pada kesempatan lain Tim Pengabdian
memberikan penyuluhan tentang pentingnya promosi
dalam pemasaran susu segar hasil produksi kelompok.
Tim bersama anggota kelompok menyusun rencana
pembuatan brosur tentang keunggulan susu kambing
dibandingkan susu sapi, cara pemerahan susu yang
hygienis, lokasi usaha kambing perah, susu segar siap
diantar ke konsumen. Brosur-brosur tersebut
disebarkan pada hotel-hotel sekitar Kota Batu dan
warung-warung STMJ dengan harga penjualan Rp.
20.000.-/liter. sesudah berjalan 3 minggu pola ini telah
banyak membantu pemasaran dan peningkatan harga
jual susu yang berdampak pada perbaikan penghasilan
peternak dan semangat peternak kambing perah untuk
menekuni dengan serius usahanya
1. Kelompok Peternak Kambing Perah memiliki
potensi yang besar untuk dikembangkan dan
diberdayakan, karena walaupun peternak sudah
memahami seluk beluk usaha peternakan
kambing perah, masih ditemukan beberapa hal
yang perlu untuk dibenahi lebih lanjut guna
meningkatkan efisiensi usaha.
2. Peternak mampu mengadopsi dan melaksanakan
hasil-hasil pendampingan yaitu : a) penyajian
pakan hijauan 5 kg/ekor induk, konsentrat 1 s.d.
1.5 kg/ekor induk; b) telah mampu menyusun
pakan sendiri dengan gizi seimbang; c) produksi
susu rata-rata telah mencapai 1,5 s.d. 2.0 liter/
ekor/hari, tingkat kejadian mastitis dan penyakit
yang lain telah menurun hanya tinggal 20 % dari
total induk laktasi; d) peternak telah mulai
melaksanakan recording dan pembukuan
sederhana usahanya, dan c) pemasaran dilakukan
pada hotel-hotel sekitar Kota Batu dengan harga
penjualan mencapai Rp. 20.000,-/liter.
3. Penyuluhan, pelatihan dan pendampingan dalam
usaha kambing perah di Kelompok Peternak
Kambing Perah Desa Beji sangat membantu
meningkatkan keberlanjutan dan pengelolaan
kambing perah yang benar.
Secara ekonomi ternak kambing dapat memberi arti tersendiri bagi peternak sebagai
usaha pokok maupunn saha sampingan. Tujuan tulisan ini untuk mengemukakan
prospek pengembangan usaha ternak kambing dan memacu peningkatan ekonomi
peternak, yang diperkaya dengan review dari berbagai tulisan terkait lainnnya. Fokus
bahasan ini menjadi bagian yang perlu ditangani dalam menjawab, juga sebagai dasar
pengembangan untuk usaha ternak kambing selanjutya. Keuntungan pada usaha
ternak kambing Etawah skala 10 ekor sebesar Rp.4.368.833,-/4 bulan B/C ratio 1,3,
keuntungan pada usaha ternak kambing Kacang skala 30 ekor sebesar Rp.1.058.602
B/C 1,2 dan keuntungan pada usaha ternak kambing Kosta dengan skala 2 ekor sebesar
Rp.1.810.950/tahun B/C ratio 1,2. Harga ternak kambing dipengaruhi oleh kondisi tubuh,
umur, dan jenis ternak. Apabila usaha ternak kambing, dipelihara sebanyak 5-30 ekor/
peternak, maka peternak akan mendapat keuntungan secara riil 100%/tahun dari
pendapatan anak yang dibesarkan secara optimal. Prospek kedepan kambing dapat
dikembangkan, dan secara tidak langsung dapat menyumbangkan pendapatan bagi
peternak.
negara kita merupakan negara tropis,
memiliki tipe iklim yang sesuai bagi
pengembangan ternak kambing. Dukungan
lahan yang cukup luas dan masih belum
banyak dimanfaatkan sebagai lahan usaha
pertanian maupun usaha ternak. Produksi
hijauan yang jauh dari cukup untuk usaha
ternak kambing sekitar 100 juta ekor atau
10 kali dari jumlah populasi kambing yang
ada sekarang . Ditinjau
dari aspek pengembangannya usaha
ternak kambing sangat potensial, mudah
diusahakan, baik secara harian maupun
komersial. Untuk tahun-tahun berikutnya
populasi ternak kambing terus meningkat
sehingga dapat menyumbangkan daging
sapi. Ternak kambing dapat diusahakan
dengan cara pemeliharaanya dari skala
2-5 ekor/peterrnak, dapat ditingkatkan
menjadi 5-10 ekor/peternak , Ternak kambing memiliki beberapa
kelebihan dan potensi ekonomi, tubuhnya
relatif kecil, cepat mencapai kelamin
dewasa, mudah cara pemeliharaannya.
Usaha ternak kambing sangat mudah,
tidak membutuhkan lahan yang luas,
investasi modal usaha relatif kecil, mudah
dipasarkan dan modal usaha cepat
berputar.
Pada sisi lain pemasaran ternak
kambing di dalam negeri mencapai titik
jenuh jumlah suplai daging kambing lebih
besar dari jumlah permintaan. menyatakan bahwa, peranan ternak
kambing sampai saat ini belum banyak
berarti, baik sebagai sumber daging
maupun sumber air susu. Prospek ekspor
kambing dan domba sangat terbuka lebar
untuk negara tetangga seperti Malaysia,
Brunei Darusalam dan Timur Tengah Prospek pasar
lokal dan pasar domestikg cukup baik,
di dalam negeri saja diperlukan sekitar
5,6 juta ekor/tahun , menyatakan bahwa, untuk
itu peternak segera didorong ke arah
usaha yang bersipat komersial. menyatakan bahwa, ternak
kambing memiliki peluang yang tinggi
sebagai komoditas ekspor, sampai saat ini
negara kita belum mampu mengisi peluang
ekspor kambing secara kontinyu, sebab
populasinya masih sangat sedikit, juga
persyaran eksporbobot badan rata-rata
antara 50-60 kg/ekor. Ternak kambing
memiliki potensi yang cukup besar dan
mampu berkembang biak baik lebih dari >1
(satu) kali melahirkan, dan memiliki banyak
keunggulan serta banyak manfaatnya
Ketersediaan hijauan pakan ternak
sangat penting untuk pengembagan
terbak kambing, selain itu juga untuk
mempercepat petumbuhan ternak
menyatakan bahwa, penyebaran
ternak kambing, berhubungan dengan
penyebaran penduduk, di Pulau Jawa dan
di luar Pulau Jawa. Jumlah penduduk dan
populasi ternak tinggi, sementara lahan
yang tersedia semakin terbatas. Selain
itu juga yang harus di tangani yaitu
pengendalian penyakit, pemilikan lahan,
keterampilan atau sumberdaya manusia
itu sendiri. Pengembangan ternak kambing
dapat meningkatan ekonomi peternak,
Megingat basarnya peran ternak kambing
dalam peningkatan ekonomi peternak,
sehingga perlu dilakukan upaya untuk
memacu peternak dalam usahanya. Fokus
bahasan ini menjadi bagian terpeting
yang perlu ditangani dalam menjawab,
juga sebagai dasar pengembangan
ternak kambing untuk selanjutya. Tujuan
tulisan yaitu untuk mengetahui prospek
pengembangan usaha ternak kambing dan
memacu peningkatan ekonomi peternak.
PROSPEK PENGEMBANGAN USAHA
TERNAK KAMBING DI negara kita
Prospek kedepan pengembangan usaha
ternak kambing dapat dilakukan dengan
cara budidaya perbanyakan bibit. Usaha
ternak kambing dan domba secara nasional
telah banyak dilakukan oleh peternak
kecil dipedesaan ,
Untuk meningkatkan pendapatan dan
kesejahteraan peterak, perlu dukungan
kelembagaan, baik Pemerintah, swuasta
dan pemodal. Selain itu juga usaha ternak
ruminansia kecil seperti kambing dan
domba dapat disuahakan dengan cara
diversifikasi , Keuntungan peternak yang
diperoleh akan berlipat ganda dan secara
ekonomi dapat meningkatkan pendapatan
dan kesejahteraan peternak. Kualitas
dan produktivitas sumberdaya peternak,
salah satu langkah awal yang dapat
mewujudkan peningkatan populasi ternak
kambing di negara kita . Kegiatan
pengembangan usaha ternak kambing
melalui beberapa tahapan diantarnya:
(1) Peningkatan produksi ternak kambing
melalui perbanyakan bibit atau induk dan
jantan produktif. (2) Penerapan bioteknologi
pakan dan reproduksi untuk mendukung
sentra pembibitan ternak kambing. (3)
Usaha pengembangan ternak kambing, di
area perkebunan yang memiliki jalinan
kerjasama usaha. (4) Kerjasama dapat
dilakukan dengan perusahaan swasta,
perkebunan, investor, lembaga penelitian
dan instansi-instansi lintas lembaga dan
lintas intansi lainnya.
Pengembangan usaha
ternak kambing sebagai alat pemacu
pembangunan peternakan, agar dapat
menghasilkan bibit, perbanyakan anak
betina calon idnuk produktif. menyataan bahwa,
dengan perbanyakan bibit betina dan
pejantan, dengan penyediaan hijauan
pakan yang berkualitas baik, selian
meningatnya harg jual, juga produksi
ternak meningkat. Pengembangan usaha
ternak kambing tujuannya untuk dapat
memenuhi kebutuhan rumah tangga
peternak juga kebutuhan konsumen ternak.
Memperhatikan kelestarian lingkungan
hidup yang dapat dimanfaatkan sebagai
lingkungan wahana peternakan. Secara
umum agroindistri merupakan suatu
proses industrialisasi yang memanfaatkan
sumber bahan baku dari hasil-hasil
pertanian maupun dari hasil peternakan.
Sasaran pengembangan agri industri
dapat menciptakan nilai tambah dari
bahan baku dan dapat diolah dengan
baik. Agro industri peternakana yaitu
kegiatan pascapanen, produk yang
dihasilkan dari ternak kambing berupa,
daging, susu, kulit tulang darah serta By
Product lainnya
Pasca panen hasil peternakan sebagai
produk produk akhir yang siap dikonsumsi
sampai akhir prdouk ke konsumen. Untuk
keberhasilan usaha ternak harus didukung
oleh faktor manajemen yang baik, modal,
ketersediaan pakan ternak yang cukup
dan pengendalian yang tepat.
Pasar ternak kambing dan domba
memiliki siklus reguler yang tetap, sehingga
mudah dijadikan bahan pertimbangan
bagi kebijaan Pemerintah Daerah untuk
mengembangkan ternak kambing.
Sektor peternakan memiliki peran yang
sangat strategis, dalam upaya untuk
kecukupan pangan, menyerap tenaga
kerja, meningkatkan pendapatan peternak
Peluang pasar dan
permintaan ternak dakmbing maupun
domba cukup besar, secara reguler
biasanya konsumen datang langsung
untuk membeli. Ternak kambing dn domba
memiliki segmentasi pasar global yang
sangat menjanjikan di Asia, Afrika, dan
Pasifik ,
Pasar ternak kambing dan domba masih
cukup terbuka untuk negara di lingkungan
Asia Tenggara sendiri, seperti Brunai
Darussalam, Malaysia, dan Singapura
Ternak
kambing dan domba dapat dijadikan
prioritas utama untuk dikembangkan.
Dukungan lalu lintas produk dan jasa
antar daerah dan negara di era globalisasi
yang sangat kuat untuk bersaing. Sebagai
invensi dan juga dapat mendorong lahirnya
produk baru, dapat memperbaiki mutu
produk untuk ditingkatkan melalui pasar
internasional (ekspor) ,
Peningkatan Populasi Kambing
Ternak kambing perlu dikembangkan,
karena ternak kambing memiliki peluang
komoditas ekspor. Ternak kambing juga
merupakan salah satu faktor produksi yang
menentukan, dan memiliki nilai ekonomi
yang startegis. Pemeliharaan ternak
138 | ----
kambing pada beberapa tahun terakhir
menunjukkan perkembangan yang cukup
menggembirakan (Rusdiana dan Hutasoit
2014). Perkembangan ini senantiasa
didorong oleh Pemerintah dalam upaya
tercapainya swasembada pangan asal
daging. Pada tahun 2017 populasi kambing
di negara kita sebanyak 17.847.197 ekor,.
Populasi ternak kambing terus-menerus
mengalami peningkatan hingga mencapai
sebanyak 18.410.379 ekor, menunjukan
trend yang positif (Statistik Peternakan dan
Kesehatan Hewan 2017). Menurut Saptana
(2012) bahwa, salah satu teknologi yang
dipandang dapat mengatasi persoalan
pakan ternak ruminansia, yaitu dengan
integrasi penggabungan dua jenis usaha
komoditi dalam suatu area tertentu. Usaha
ternak kambing yang diintergrasikan
dengan tanaman pangan, perkebunan
dan lainnya merupakan suatu ikatan yang
dapat menghasilkan keuntungan secara
bersama-sama.
Hal ini dapat dibuktikan dengan
keberadaan populasi ternak ruminansia
kecil kambing dan domba, yang
meningkat rata-rata sebesar 4,75%/
tahun. Kambing yang sangat strategis itu
dapat dikembangkan oleh peternak kecil
dan besar terutama di wilayah-wilayah
di pedesaan. Penduduk di negara kita
kebutuhan daging masih dipenuhi oleh
ternak ruminansia besar, keberadaan
ternak kambing menjadi sangat strategis
dalam kehidupan manusia Rusdiana dkk.,
(2015) menyataakan bahwa, keunggulan
ternak kambing selain penghasil daging
namun juga susu dan kulit. Ternak kambing
berkemampuan untuk berkembangbiak
lebih cepat dan hampir disemua kondisi
agroekosistem di negara kita . Kambing
dapat beradaptasi dengan baik, disamping
itu juga cara pemeliharaannya sangat
mudah dan tidak memerlukan tempat yang
luas Ginting (2010). Jenis ternak kambing
dapat dijumpai di berbagai lingkungan,
dari lingkungan iklim kering sampai basah
maupun tropis, pada lingkungan ekstrem.
Ternak kambing mampu bertahan hidup,
karena tingginya daya adaptasi serta
karakteristik anatomi fisiologi cukup tinggi
(Silanikove dkk., 2010).
Peran ternak kambing sebagai
penghasil susu sekitar 60% lebih banyak
dibandingkan sebagai penghasil daging
(Malau dkk., 2001). Setiap jenis kambing
memiliki keragaman performa produksi
cukup baik sebagai penghasil susu
maupun daging, seperti yang dilaporkan
oleh (Zhang dkk., 2008) dan (Ginting
2010). Menurut Syamsu dkk., (2003);
Rusdiana dan Saptati (2009); Yoyo dkk.,
(2013) bahwa, ternak kambing mampu
beradaptasi, pada kondisi daerah yang
memiliki sumber pakan hijauan yang
kurang baik, dan merupakan komponen
peternakan rakyat. Populasi kambing di
negara kita mencapai sekitar 17.862.203
ekor, di propinsi Jawa Tengah sekitar
3.836.150 ekor, di Jawa Timur sekitar
2.907.845 ekor dan di Jawa Barat sekitar
1.086.584 ekor Statistik Peternakan dan
Kesehatan Hewan (2017), populasi ternak
ruminansia terlihat pada Tabel 1.
kambing terhadap kebutuhan daging,
dengan demikian untuk meningkatkan
kemampuan ternak kambing dalam
memproduksi susu dan daging, agar
mampu memenuhi kebutuhan konsumen.
Sesuai dengan pendapat Ilham, (2006),
selain kebutuhan hasil produksi susu juga
akan kebutuhan daging yang semakin
meningkat setiap tahunnya, diharapkan
dengan program swasembada daging
sapid an kerbau dapat terpenuhi.
Peningkatan Kebutuhan Ternak
Kambing di negara kita
Dalam jangka panjang, diperkirakan 10
tahun kedepan peningkatan permintaan
akan produk asal daging kambing akan
semain meningkat, sesuai dengan
kebutuhan daging sapi. kebutuhan
konsumen akan daging merupakan
akibat dari peningkatan pendapatan
per kapita penduduk di negara kita .
Permintaan ini sejalan perubahan
pasar global yang secara langsung akan
bersaing dengan negara-negara ASEAN.
Pergolakan dalam globalisasi pasar dunia
akan bersaing ketat dengan pergolakan
pasar domestik. Dari kemajuan pasar
terbuka, maka kebutuhan asal pangan
ternak kambing semakin meningkat.
Salah satu produk yang akan ikut andil
dan bersaing sebagai pemasukan
devisa negara yaitu ternak kambing.
Prosentase kebutuhan daging kambing
dan domba masih jauh di bawah sub sektor
usaha peternakan lainnya, seperti ayam/
unggas sekitar 56%, sapi sekitar 23%,
serta babi sekitar 13%. Konsumsi daging
domba dan kambing di masyarakat masih
sangat rendah yaitu sebesar 5%( Statistik
Peternakan dan Kesehatan Hewan (2017).
Kebutuhan untuk kurban aqiqah, industri
restoran sampai dengan warung sate kaki
lima diperkirakan antara 2-3 ekor/hari
belum dapat terpebuhi.
Leo (2004), menyatakan kebutuhan
akan ternak kambing dan domba sangat
besar bila menjelang hari-hari besar.
Artinya sangat berpeluang besar utuk
pengembangan usaha ternak kambing,
peternak dapat melakukan usahanya
antara 5-10 ekor/peternak. Permintaan lain
yang diduga akan sangat menarik investor
yaitu untuk memenuhi kebutuhan ternak
qurban dan akikah. Bukan mustahil suatu
saat akan terjadi kelangkaan produksi
daging kambing dan domba, sehingga
pelaksanaan sehinggakebutuhan qurban
dan akikah impor dari luar Thalib dkk.,
(2011) menyatakan bahwa, dewasa ini
peningkatan akan kebutuhan daging terus
meningkat, dimana peningkatannya untuk
kebutuhan protein hewan. Ternak kambing
sebagai penghasil daging masih belum
dapat memenuhi kebutuhan masyarakat,
sehingga masih harus mengimpor daging
dari luar negeri (Sodiq dan Abidin 2009).
Padahal dengan sumber daya alam yang
masih ada, dapat diperbaharui untuk
pengembangan usaha ternak kambing,
seheingga kebutuhan protein asal daging
tidak harus dimpor dari luar negeri.
Sejalan dengan pernyataan Lukas (2011)
, bahwa hampir sebesar 50% masyarakat
pedesaan, mata pencaharainnya selain
bertani juga beternak. Untuk keperluan
pasar domestik maupun pasar ekspor
yang sangat menjanjikan dapat terpenuhi
dan diperkirakan dalam 10 tahun ke depan
sedikitnya ada tambahan permintaan
sekitar 5 juta ekor ternak kambinng dan
domba untuk berbagai keperluan (Yusdja,
2004).
JENIS-JENIS TERNAK KAMBING
Ternak Kambing
Di negara kita ternak kambing lokal
banyak dipelihara oleh peternak kecil
dipedesaan. Kambing Kacang berukuran
kecil sudah ada di negara kita sejak tahun
1900-an. Namun cara pemeliharannya
tergantung pada kemampuan peternak
dalam usahanya. Jenis-jenis ternak
kambing yang dipelihara oleh peternak
yaitu kambing Marica, Samosir, Muara,
Kosta, Gembrong, Peranakan Ettawah
dan Kacang (Aji dkk., 2009). Beberapa
bangsa ternak kambing ini telah
berkembang biak dengan baik, pada
berbagai kondisi wilayah di negara kita .
Pada umumya komoditas ternak kambing
minimum penyebarannya di 11 provinsi di
140 | ----
seluruh negara kita . Penyebaran populasi
komoditas ternak kambing dapat dinuktikan
bahwa, berbagai wilayah negara kita
memiliki tingkat kecocokan yang baik
untuk pengembangan ternak kambing.
Kecocokan dari segi vegetasi, topografi,
klimat, bahkan dari sisi sosial-budaya
daerah setempat. Sejalan dengan program
pembangunan peternakan nasional
tujuannya untuk mewujudkan ketahanan
pangan asal ternak berbasis sumber daya
lokal secara konsisten terus diupayakan
Pemerintah (Muzayyanah dkk., 2017).
Inovasi teknologi tepat guna sangat
dibutuhkan oleh setiap peternak, tujuannya
untuk meningkatkan produk peternakan,
dalam mendukung perkembangan
ekonomi masyarakat. Sumber daya
alam yang masih sangat perlu digali
dan dimanfaatkan, sebagai pemenuhan
kebutuhan hidup manusia, disamping
untuk kebutuhan pakan ternak (Ilham dkk.,
2008). Program pengembangan usaha
ternak kambing melalui informasi, dapat
diakses oleh semua pihak. Informasi sangat
erat kaitannya dengan aspek kognitif dan
budaya, termasuk tentang pengaruh pada
akibat sosial ekonomi dari teknologi (Soni
2017). Teknologi untuk menghasilkan
produksi sampai pemasaran, rekayasa
kelembagaan dan penciptaan IPTEK oleh
akademisi dan peneliti sebagai inkubator
sebagai Penyedia teknologi solutif. Fungsi
teknologi antara lain sebagai tempat
pengembangan dan penerapan inovasi
yang berwawasan usaha atau agribisnis.
Lembaga usaha dapat dilakukan
sebagai tempat pelatihan, kemitraan
usaha, pusat diseminasi teknologi dan
advokasi bisnis. Sejak terbentuknya
instansi pemerintah yang menangani
sub sektor peternakan, tidak sedikit
berbagai informasi dan teknologi yang
direkomendasikan untuk dapat ditiru dan
diterapkan pada peternak. Perkembangan
teknologi dan inovasi dapat dipengaruhi
oleh perkembangan teknologi atau
dunia, yang sesuai dengan kemampuan
masyarakat atau peternak. Peternak di
pedesaan sebagian besar menempati
keluarga berpenghasilan rendah, sebagian
kecil dan berpenghasilan menengah
(Adawiyah dan Rusdiana 2016). Berbagai
upaya pemerintah, lembaga swadaya
masyarakat untuk meningkatkan
pendapatan dan kesejahteraan peternak
telah dilakukan. inovasi dan teknologi
melalui berbagai pendekatan budidaya
ternak kambing. Dinamika perkembangan
industri peternakan, tentunya tidak sedikit
upaya-upaya yang perlu dimodifikasi
dengan sistem budidaya itu sendiri.
Secara dinamis usaha ternak kambing
harus dikembangkan dengan mengikuti
perkembangan secara nasional (Ilham
dkk., 2008).
Tentunya pakan ternak sebagai
inti persolan yang perlu dilakukan dalam
penyediaanya sepanjang waktu. Dengan
menggunakan media sosial di masyarakat,
pada saat ini sangatlah penting untuk
mengetahui informasi yang akurat. Data
ini dapat digunakan sebaggai simbol
pada keilmiahan suatu bentuk obyek yang
berkesinambungan pada subyek. Pakta
dilapangan bahwa, informasi mengenai
beberapa jenis ternak dapat diakses
melalui interet dan media masa. Teknologi
inovasi sangat cepat diterima dan cepat
digunakan oleh pengguna. Pengembangan
teknologi informasi lainnya yang sesuai
dengan kebutuhan industri. Salah satu
penomena yang sering terjadi, pada usaha
ternak kambing, dan sering dilakukan oleh
peternak dipedesaan, yaitu sebatas
wawasan usaha kemampuan sendiri.
Peternak jarang sekali mendalami makna
usaha yang sebenarnya, hanya sebagai
usaha sampingan. Usaha peterak belum
banyak mengarah pada usaha, untuk
mendapat keuntugan yang layak.
Penydiaan informasi dapat berpengaruh
nyata pada pengguna, sosial, budya,
ekonomi di masyarakat. Disadari bersama
bahwa, setiap masalah sosial budaya,
ekonomi di masyarakat yang bersifat
kompleks dan hanya dapat mendekati
secara kritis dan interdisipliner.
Keluaran untuk sektor peternakan
yaitu pusat pembibitan ternak kambing
yang bersertifikat. Sejalan dengan
pertumbuhan ekonomi yang terus
Agriekonomika, 7(2) 2018: 135-148 | 141
diupayakan agar perekonomian peternak
meningka. Usaha peternakan domba
maupun kambing dapat dijadikan alternatif
sebagai pengungkit pertumbuhan
ekonomi baru bagi peternak (Rusdiana
dan Sutedi 2016). Perlu dikenal dan
mengenal dari beberapa jenis ternak
kambing lokal yang berada diwilayah
Indoensia melalui informasi dari data.
Namun kronologis jenis-jenis kambing
ini tidak dijelaskan secara detail,
hanya sebagian kecil saja. Saat ini sudah
ada 7 (tujuh) bangsa kambing yang sudah
dikarakterisasi, karakteristik penotipenya
yaitu kambing Benggala dari Propinsi
Nusa Tenggara Timur, Kambing Wetar
dari Propinsi Maluku, Kambing Marica
dari Provinsi Sulawesi Selatan, kambing
Samosir dari Kabupaten Samosir, Provinsi
Sumatera Utara. Memahami jalan pikiran
para ahli dari bidang ilmu pengetahuan
lain dan dapat berkomunikasi dengan
pengguna dalam rangka penanggulangan
masalah sosial ekonomi yang timbul dalam
peternak. Menurut Dhanda dkk., (2003)
dalam Ginting dan Fera (2008); Ginting
(2010) bahwa, diperkirakan jumlah bangsa
kambing yang menyebar diseluruh dunia
sekitar 102 jenis bangsa kambing dengan
bobot hidup yang sanget beragam dari
yang terkecil antara 9-12 kg/ekor sampai
terbesar melebihi sekitar 100 kg/ekor.
Paling tidak dilaporkan ada 13 jenis
kambing di seluruh kepulauan. Sentra
populasi utama yaitu Jawa sekitar 37%,
Sumatera sekitar 25%, Sulawesi sekitar
7,4% dan kepulauan Nusa Tenggera NTT
dan NTB sekitar 6,1%, (Marka 2004).
Peningkatan Ekonomi pada Peternak
Peternak dapat ditingkatkan asalkan
semua peternak dipacu untuk usahanya
dengan baik. Usaha pengembangan
ternak kambing, yang seharunya didukung
dengan kelembagaan pasar ternak.
Dukungan ini dapat dirasakan
oleh petenak, nilai jual dan beli ternak
mersa terlindungi. Harga ternak kambing
yang relatif dapat diikuti dengan nilai jual
pasar, namun harga kambing tidak dapat
diprediksi oleh peternak, namun dapat
dilihat dari jumlah pembeli dan jumlah
penjual. Nilai dan harga jual ternak tinggi
akan mendapat keuntungan yang lebih
optimal, ekonomi peterak akan meningkat.
Demikian peternak dapat mengendalikan
harga pasar, bila dibandingkan dengan
peternak komoditas lain, yang hanya
sebagai penerima harga (price taker).
Perdagangan ternak kambing akan terlihat
dari persamaan harga yang disepakati
bersama. Peningkatan populasi ternak
kambing dan nilai jual akan memacu
peternak untuk mempertahankan
usahanya. Harga ternak kambing jantan
baik di pasar maupun di tengkulak
harganya hampir sama, untuk ternak
kambing jantan sebesar Rp.2-3,5juta/
ekor dan betina sebebsar Rp.1-1,7 juta
tergantung bobot badan dan umur ternak
kambing (Rusdiana dan Hutasoit 2014).
Krisna dan Harry (2014)
menyatakan bahwa, tingkat kepemilikan
ternak kambing berpenggaruh pada tingkat
keuntungan yang diperoleh peternak
selama satu tahun. Diibutuhkan untuk
biaya per ekor ternak kambing baik jantan
maupun betina sekitar Rp.75.000/ekor,
dan tergantung nilai jual ternak kambing.
Demikian peluang pasar komoditas
ternak kambing sangat cerah bagi petani
(Rusdiana et al., 2014b). Disisi yang
berlawanan, negara importir menerapkan
tarif berupa pajak impor ternak yang tinggi.
Untuk melindungi produk domestiknya,
dibutuhkan penghapusan segala bentuk
hambatan yang dapat diminimalisir oleh
lembaga pasar ternak impor. Kebutuhan
akan daging dapat diseimbangkan dengan
kondisi peternak kecil, sedang dan besar.
Saat ini permintaan di dalam negeri
masih dapat dicukupi oleh penduduk
lokal. Kondisi ini harus diantisipasi
dengan mendorong investasi agar usaha
peternakan ternak kambing lebih produktif
dan efisien sehingga mampu memenuhi
pasar domestik. Hal ini menjadi tantangan
negara kita untuk bergerak terus dalam
mempertahankan keberadaan ternak
kambing. Bila ditinjau dari kemungkinan
pengembangan ternak kambing,
pemeliharaan tradisional di pedesaan
142 | ----
masih cukup baik, karena dari beberapa
data diperoleh tidak berbeda jauh dengan
penelitian secara intensif. Namun ada
kecenderungan yang nyata, bahwa
peningkatan pendapatan peternak dan
tingginya urbanisasi akan berpengaruh
terhadap peningkatan kebutuhan daging,
cenderung terus meningkat.
Kelayakan pada Usaha Ternak Kambing
Peningkatan usaha ternak kambing
merupakan program khusus untuk
mensejahterakan peternak. Ternak
kambing sangat potensial untuk
dikernbangkan, sehingga perlu perhatian
dalam budidayanya. Dimana hasil produksi
sepenuhnya dapat di arahkan ke pasar, dan
jarang sekali ditemui peternak langsung
mengkonsumsi sendiri hasil ternak sendiri
(Winarso, 2010). Bila dilhat dari produk
utama yang dihasilkan yaitu berupa
daging, maka untuk menghadapi pasar
peran ternak sebagai supplier. Diharapkan
dengan produk ternak lainnya sebagai
pesaing seperti daging sapi, kerbau,
kambing, dan domba. Kesemuanya itu
merupakan komoditas yang sejenis yang
utamanya dibutuhkan yaitu dagingnya
untuk dikonsumi. Skala usaha yang
menguntungkan pada dasarnya yaitu
semakin banyak ternak yang dipelihara
akan semakin efiien, efektif dan
ekonomis. Rusdiana dan Saptati (2009),
usaha pemeliharaan ternak kambing di
pedesaan dengan kontribusi tanaman ubi
kayu, peternak mendapat keuntungan
yang optimal. Ternak kambing dapat
memberi sumbangan nyata pada
peternak, juga sebagai penentu dalam
pembangunan sub sektor peternakan di
negara kita (Yoyo dkk., 2013).
Kambing Etawa
Ternak kambing Etawa berasal dari negera
India, pertama kambing ini disebut
kambing Jamnapari (Pratama 2017).
Kambing ini berbadan besar, tinggi
gumba. untuk ternak jantan berukuran
sekitar 127 cm. Sedangkan untuk kambing
betina sekitar 92 cm. Bobot badan kambing
kambing jantan sekitar 91 kg, dan betina
sekitar 63 kg. ukuran tilga, panjang dan
terkulai ke bawah, dahi dan hidungnya
cembung, baik jantan maupun betina dan
bertanduk pendek. Kambing Etawa mampu
menghasilkan produksi susu sebanak
2-3 liter/hari Budiyanto (2013). Sesuai
dengan hasil penelitian Sutama (2011),
produksi susu kambing etawa antara 2,5-
3 lieter/hari. Kambing Peranakan Ettawa
(PE) (Nurmediansyah dan Heriyadi
(2007). Hail keturunan silangan (hibrida)
kambing etawa dengan kambing lokal
dikenal sebagai kambing peranakan etawa
(PE). Kambing Peranakan etawah (PE)
berukuran hampir sama dengan Etawa,
namun lebih adaptif terhadap lingkungan
lokal negara kita (Waluyo 2009). Kelayakan
usaha pada ternak kambing Etawa selain
utuk produksi dagig juga untuk produksi
susu. Hasil penelitian Rusdiana dan
Praharani (2014) pada usaha ternak
kabing Etawa terlihat pada Tabel 2.
Tabel 2, menunjukkan bahwa
usaha ternak kambing perah Etawa selain
untuk menghasilkan daging juga produksi
susu. Dimana produksi susu kambing yang
dihasilkan oleh setiap induk sebanyak 1,9
liter/hari. Namun produksi susu kambing
perah ada masa kering, menjelang
induk bunting akan melahirkan. Biaya
produksi yang dikeluarkan pada usaha
ternak kambing perah Etawa sebesar
Rp.11.839.167,-/tahun, keuntunag bersih
sebesar Rp. 4.368.833,-/tahun dengan
B/C ratio 1,3. Artinya usaha kambing
perah Etawa selain untuk produksi daging
juga susu secara ekonomi layak untuk
diussahan kembali
Kambing Kacang
Ternak kambing kacang yaitu ras
unggul kambing yang pertama kali
dikembangkan di negara kita , kemudian
banyak dikembangkan diseluruh wilayah
pedesaan ,Kambing
kacang merupakan kambing lokal
negara kita dan memiliki daya adaptasi
yang tinggi terhadap kondisi lingkungan
alam setempat. Kambig kacang memiliki
daya reproduksi yang sangat tinggi, dan
merupakan tipe kambing pedaging , Ukuran badan kaming kaacang
Agriekonomika, 7(2) 2018: 135-148 | 143
kecil, tnggi gumba pada yang jantan antara
60-65 cm, untuk betina sekitar 56 cm.
Bobot badan pada kambing jantan kacang
bisa mencapai 25-30 kg/ekor. untuk betina
bisa mencapai 20-24 kg/ekor Ternak
kambing kacang memiliki dua tanduk yang
pendek. Ukuran-ukurran kondisi pada
kambing kacang jantan dan betina yaitu
telinganya tegak, berbulu lurus dan pendek.
Kelayakan usaha dapat
dihitung berdasar nilai pendapatan dan
nilai biaya., kemudian dihitung berdasar
B/C ratio ,Analisa B/C ratio
gunanya untuk melihat kelayakan usaha,
apakah usaha ini untug atau rugi.
Bila nilai B/C ratio >1 maka, usaha
ini layak, dan bila B/C ratio <1 maka,
usaha ini tidak layak, sehingga perlu
dipertimbangkan kembali . Namun hal ini hampir
semua peternak tidak pernah menghitung
untung untung dan rugi. Peternak pada
umumnya usaha ternak kambing sebagai
usaha sampingan dan belum banyak
mengarah pada usaha pokok.
Perhitungan untung dan rugi
biasanya dilakukan pada usaha
peggemukkan atau pembesaran. Peluang
pasar ternak kambing baik dalam maupun
di luar negeri masih terbuka luas, harga
ternak kambing setiap tahunnya selau
meningkat. Analisa ekonomi usaha
pemeliharaan ternak kambing pada
dasarnya merupakan kegiatan utama bagi
peternak. Pendapatan merupakan selisih
antara total penerimaan dengan biaya-
biaya yang telah dikeluaran selama. Ternak
kambing kacang banyak diusahakan oleh
peternak kecil di Propinsi Sumatera Utara.
Pada usaha ternak kembing kambing
yang dilakukan oleh peternak dengan
pemeliharaan 30 ekor jantan dan betina
dimasing-masing kelompok. Ukuran
umur dan bobot badan kambing Kacang
dianggap rata. Rataan umur antara 6-8
bulan dan rataan bobot badan antara 10-
15kg/ekor. Asumsi harga ternak kambing
Kacang jantan dan betina dengan bobot
badan hidup sebesar Rp.42.310,-/kg.
, pada usaha ternak kambing Kacang
terlihat pada Tabel.3.
Tabel 3, menunjukkan bahwa,
biaya pakan diasumsikan kedalam
tenaga kerja peternak, karena sebagian
pakan hasil budidya rumput Brachiaria
riziziensis dan Stylosanthes guianenis
yang ditanam dibwah naungan kelapa
sawit yang berumur antara 5-10 tahun.
hasil perhitungan R1 kambang Kacang
dikandangkan secara terus menerus,
R2 kambing Kacang digembalakan dan
di kandangkan atau keduanya dan R3
kambig kacang digembalakan terus
menerus. R1 keuntungan yang diperoleh
sebesar Rp.1.058.602,- R2 keuntungan
yang diperoleh sebesar Rp.984.145,- dan
R3 keuntungan yang diperoleh sebesar
666.268 masih-masing B/C ratio 1,2,
1,2 dan 1,1. Usaha ternak kambing
kacang dengan usaha dikandangkan dan
digemalakan secara ekonomi layak untuk
diusahakan kembali.
Kambing Kosta
Ternak kambing Kosta penyebaran
disekitar lokasi Jakarta dan Propinsi
Banten. Kambing Kosta memiliki bentuk
tubuh sedang, hidung rata dan kadang-
kadang ada yang melengkung, tanduk
pendek, bulu pendek. Kambing Kosta
diduga terbentuk berasal dari persilangan
kambing Kacang dan kambing Khasmir
(kambing impor. Pola warna tubuh kambing
Kosta pada umumnya ada dua warna, yaitu
bagian yang belang didominasi oleh warna
putih . Salah satu ciri
motif garis yang sejajar pada bagian kiri
dan kanan muka. Selain itu juga ada
pula ciri khas yang dimiliki oleh kambing
Kosta bulu rewos di bagian kaki belakang
mirip bulu rewos pada Kambing Kosta
tidak sepanjang bulu rewos pada kambing
PE dengan tekstur bulu yang agak tebal
dan halus. Di Ternak kambing Kosta pada
2000-2010 masih banyak diusahakan
oleh penduduk di Propisi Banten. Namun
pada tahun 2014, kambing ini sudah
hampir punah, sehingga kambing kosta
perlu pelestarian
Analisa ekonomi usaha ternak
kambing Kosta, berdasar perhitungan
dengan skala 3 ekor, terdiri dari 2 ekor
betina induk dan 1 ekor jantan. Kandang
terbuat dari kayu, bambu dan genteng,
diperkirakan nilai pembuatan kandang
sekitar Rp.800.000/unit dengan kapasitas
tampung sekitar 6-10 ekor, dewasa, muda
maupun anak, dengan ukuran kandang
sekitar 1,5 m2 x 3 m2 , Analisa ekonomi usaha ternak
kambing Kosta terlihat pada Tabel.4.
Tabel 4, terlihat bahwa, usaha
pemeliharaan ternak kambing Kosta
dengan skala 2,1 ekor/peternak mendapat
keuntugan bersih sebesar Rp.1.810.950/
tahun, atau sebesar Rp.248.550/bulan
B/C ratio 1,2. pada usaha ternak
kambing skala 2 ekor betina induk dan 1
ekor jantan peternak mendapat keuntungan
bersih sebesar Rp.1.665.594,-/tahun,
B/C 1,2. usaha ternk kambing
dengan skala pemeliharaan 8 ekor betina
dan 1 ekor jantan peternak mendapat
keuntungan sebesar Rp.3.770.000,-/tahun
dan B/C ratioa 1,9 .Harga ternak kambing
dipengaruhi oleh kondisi tubuh ternak,
untuk betina dilihat dari keturunan iduk
yang baik. Apabila usaha ternak kambing,
dipelihara sebanyak 5-10 ekor/peternak,
maka peternak akan mendapat
keuntungan secara riil 100%/tahun dari
pendapatan anak yang dibesarkan secara
optimal.
Pengembangan usaha ternak kambing
dipedesaan cukup tinggi, bila dilihat
dari agroekosistem wilayah negara kita
sangat mendukung untuk perkembangan
usaha ternak. Kesempatan peternak
untuk merebut pasar ekspor ternak
kambing sangat terbuka lebar. Peternak
memiliki peran yang sangat penting dalm
mengelola lahan pertanian khususnya
usaha ternak kambing. Secara sosial,
ekonomi dan budaya usaha pemilikan
ternak kambing dapat memberi arti
tersediri bagi peternak. Keuntungan pada
usaha ternak kambing Etwah skala 10
ekor sebesar Rp. 4.368.833,-/4 bulan B/C
ratio 1,3, keuntungan pada usaha ternak
kambing Kacang skala 30 ekor sebesar
Rp.1.058.602 B/C 1,2. Keuntungan pada
usaha ternak kambing Kosta skala 2 ekor
sebesar Rp.1.810.950/tahun B/C ratio
1,2. Harga ternak kambing dipengaruhi
oleh kondisi tubuh, umur, dan jenis ternak.
Apabila usaha ternak kambing, dipelihara
sebanyak 5-30 ekor/peternak, maka
peternak akan mendapat keuntungan
secara riil 100%/tahun dari pendapatan
anak yang dibesarkan secara optimal.
Selain untuk meningkatkan pendapatan
dan kesejahteraan peternak, juga dapat
meningkatkan populasi ternak kambing.
Prospek kedepan kambing dapat
dikembangkan, dan secara tidak langsung
dapat menyumbangkan pendapatan bagi
peternak.