Rabu, 12 Februari 2025

ternak kambing 4





Potensi ternak lokal yang sangat berpeluang untuk membantu penyediaan susu dalam negeri

selain sapi perah dengan berbagai keunggulannya yang saat ini sedang dikembangkan oleh masyarakat

adalah kambing peranakan etawah. Susu kambing memiliki keunggulan tersendiri sebab mengandung

nilai gizi yang tinggi yaitu protein 3.4 %, lemak 4.1 %, karbohidrat 5.2 %, kalsium 120 mg/100

gram, fosfor 135 mg/100 gram dan berbagai macam vitamin. Susu kambing mengandung protein

lebih tinggi dibanding susu sapi, merupakan sumber kalsium, fosfor dan vitamin yang sangat diperlukan

untuk pertumbuhan  usia muda dan mencegah osteoporosis.

Tujuan program pendampingan Kelompok Peternak Kambing Perah Desa Beji adalah : Perbaikan

sistem budidaya ternak kambing perah; Peningkatan pengetahuan dan pengalaman bagi peternak

dalam penyusunan pakan; Peningkatan kualitas kesehatan kambing; Meningkatkan nilai jual susu

melalui penjualan kepada hotel-hotel di Kota Batu dan Peternak mampu melaksanakan recording

dalam setiap kegiatan pengelolaan usaha dan pembukuan keuangan secara teliti dan berkesinambungan.

Metode pendampingan ini adalah : 1. Ceramah dan Diskusi, 2. Metode Demonstrasi, untuk

kegiatan-kegiatan yang bersifat aplikatif yang secara langsung dapat disaksikan dan dicobakan oleh

seluruh anggota kelompok peternak  kambing perah pada suatu tempat yang telah ditentukan dan 3.

Metode pendampingan berkelanjutan.

 sesudah  dilaksanakan pendampingan maka telah dihasilkan beberapa perubahan antara lain; 1)

Kelompok Peternak telah meningkatkan efisiensi usaha melalui perbaikan manajemen, 2) Penyajian

pakan meningkat, untuk  hijauan 5 kg/ekor induk, konsentrat 1 s.d. 1.5 kg/ekor induk; 3)  telah

mampu menyusun pakan sendiri dengan gizi seimbang; 3) produksi susu rata-rata telah mencapai

1,5 s.d. 2.0 liter/ekor/hari, tingkat kejadian mastitis menurun hanya tinggal 20 % dari total induk

laktasi; 4) peternak telah mulai melaksanakan recording dan pembukuan sederhana, dan 5) pemasaran

dilakukan pada hotel-hotel sekitar Kota Batu dengan harga penjualan mencapai Rp. 20.000,-/liter.

Penyuluhan, pelatihan dan pendampingan dalam usaha kambing perah di Kelompok Peternak

Kambing Perah Desa Beji mampu meningkatkan produksi susu, meningkatkan pendapatan dan berharap

untuk dilaksanakan secara berkelanjutan.


Kebutuhan protein hewani masyarakat Indonesia

dari tahun ke tahun terus meningkat seiring dengan

bertambahnya jumlah penduduk dan tingkat kesadaran

kebutuhan gizi masyarakat yang didukung oleh ilmu

pengetahuan dan teknologi. Susu sebagai salah satu

hasil komoditi peternakan, adalah bahan makanan yang

menjadi sumber gizi atau zat protein hewani. Hal ini

dapat ditunjukkan dengan meningkatnya konsumsi

susu dari 6.8 liter/kapita/tahun pada tahun 2005 menjadi

7.7 liter/kapita/tahun pada tahun 2008 (setara dengan

25 g/kapita/hari) yang merupakan angka tertinggi sejak

terjadinya krisis moneter pada tahun 1997 

Pembangunan sub sektor petemakan, khususnya

pengembangan usaha ternak sapi perah, merupakan

salah satu alternatif upaya peningkatan penyediaan

sumber kebutuhan protein.

Permintaan terhadap komoditi susu dari tahun

ke tahun terus mengalami peningkatan, tetapi produksi

susu nasional belum mampu mencukupi kebutuhan

konsumsi masyarakat Indonesia dimana produksi susu

sapi dalam negeri sampai saat ini baru mencapai sekitar

679 ribu ton pertahun dan hanya mampu memenuhi

26 persen kebutuhan konsumsi susu nasional.

Ketergantungan yang tinggi terhadap susu sapi  impor

dalam jangka waktu panjang dapat menimbulkan

kerawanan terhadap ketahanan pangan produk asal

hewan. Oleh karena itu pemerintah mengeluarkan

kebijakan untuk melakukan impor susu dari luar negeri

yang mencapai 80 %. Permintaan susu baru dapat

terpenuhi ± 64,35%, yaitu 99,81% nya berasal dari

susu sapi dan 0,19% lainnya berasal dari susu kambing.

Hal tersebut menunjukkan bahwa pemenuhan

kebutuhan nasional lebih mengandalkan impor.  Oleh

karena itu, hal ini perlu mendapat perhatian  bersama

untuk mengupayakan peningkatan produksi susu dalam

negeri baik melalui peningkatan produktivitas dan

populasi sapi perah, maupun pengembangan industri

pengolahan susu dalam negeri maupun

mengoptimalkan ternak lokal yang berpotensi untuk

produksi susu.

Potensi ternak lokal yang sangat berpeluang

untuk membantu penyediaan susu dalam negeri selain

sapi perah dengan berbagai keunggulannya yang saat

ini sedang dikembangkan oleh masyarakat adalah

kambing peranakan etawah. Susu kambing memiliki

keunggulan tersendiri sebab mengandung nilai gizi yang

tinggi yaitu protein 3.4 %, lemak 4.1 %, karbohidrat

5.2 %, kalsium 120 mg/100 gram, fosfor 135 mg/100

gram dan berbagai macam vitamin. Susu kambing

mengandung protein lebih tinggi dibanding susu sapi,

merupakan sumber kalsium, fosfor dan vitamin yang

sangat diperlukan untuk pertumbuhan usia muda dan

mencegah osteoporosis pada manula. Bagi sebagian

masyarakat, susu kambing dipercaya dapat

meningkatkan vitalitas dan mengobati berbagai macam

penyakit karena kandungan gizinya yang lengkap

terutama asam amino, vitamin dan mineral.

Disamping keunggulan di atas,  usaha kambing

perah sangat cocok sebagai alternatif bagi peternak

bermodal kecil dengan harga  calon induk hanya sekitar

Rp. 1.750.000.- /ekor dengan produksi susu per ekor/

hari mencapai 1 sampai 1.5 liter dengan sistem

pemeliliharaan yang masih tradisional. Kelebihan lain

ternak kambing etawah adalah harga susu kambing

mencapai Rp. 15.000.-/liter sedangkan harga susu sapi

sebesar Rp. 3.500.-/liter. Sumber hijauan kambing

cukup dari daun-daunan dan sedikit konsentrat

sedangkan sapi perah memerlukan rumput dan

konsentrat dalam jumlah banyak. Disamping itu

peternak dapat menciptakan peluang ekonomi untuk

meningkatkan pendapatan, menciptakan lapangan

kerja di bidang agribisnis peternakan serta melestarikan

dan memanfaatkan sumberdaya alam pendukung

peternakan secara optimal dengan memanfaatkan

kotoran ternak sebagai pupuk organik.

Usaha budidaya kambing perah di wilayah

Malang Raya saat ini, masih dilakukan secara

tradisional yaitu mengandalkan hijauan ramban dengan

berbagai kendala antara lain ketersediaan hijauan yang

tidak kontinyu, jumlah yang disajikan bervariasi sesuai

kehendak peternak, kualitas pakan yang disajikan tidak

terjamin karena tidak didasarkan atas kebutuhan

ternak sesuai dengan kondisi fisiologisnya, dan

pengaruh musim terutama pada saat musim kemarau

terjadi kesulitan hijauan yang berdampak pada

rendahnya produksi susu.

Permasalahan yang terjadi di tingkat peternak

adalah produktivitas kambing perah rata-rata masih

rendah. Hal ini disebabkan kualitas pakan, bibit dan

tatalaksana pemeliharaan yang belum optimal. Guna

mengatasi permasalahan pakan yang berdampak

terhadap rendahnya prodiuktivitas kambing perah maka

salah satu upaya pemecahan masalah rendahnya

produksi susu adalah dengan meningkatkan kualitas

pakan pada saat laktasi. Peningkatan kualitas pakan

terutama kandungan Protein Kasar (PK) dan Total

Digestible Nutrients (TDN) yang diperlukan pada saat

laktasi. Hal ini berkaitan dengan meningkatnya proses

metabolisme tubuh untuk memenuhi kebutuhan hidup

pokok dan produksi susunya. Pakan yang biasanya

diberikan pada kambing di tingkat peternak pada

umumnya memiliki kandungan protein kasar antara 9

– 12% Dengan kisaran tersebut akan

menimbulkan permasalahan yaitu kebutuhan dasar

protein untuk ternak serta perkembangan mikroba

rumen kurang, karena mikroba rumen akan dapat

berkembang dengan baik pada saat kadar protein

kasar pakan yang diberikan pada ternak sebesar 13,4%

Untuk memenuhi kebutuhan

terhadap kualitas pakan tersebut maka salah satu

alternatif adalah membuat pakan kering campuran

konsentrat dan hijauan kering dengan kandungan gizi

sesuai dengan kebutuhan ternak dan disajikan dalam

jumlah yang seimbang sehingga potensi produksi

kambing perah dapat dicapai sesuai genetiknya.

Berdasarkan uraian di atas maka perlu dilakukan

pendampingan kelompok peternak kambing perah di

Desa Beji Kecamatan Junrejo Kota Batu guna

mendukung Kota Batu sebagai sentra ternak perah.

Idenifikasi dan Perumusan Masalah

Berdasarkan analasis  situasi di atas dapat

dirumuskan permasalahan sebagai berikut :

1. Rendahnya produksi susu yaitu kurang dari 1.5

liter/ekor/hari, akibat budidaya pemeliharaan

yang masih konvensional terutama pakan kurang

sesuai dengan kebutuhan ternak.

2. Kurangnya pengetahuan dalam penyusunan

pakan penguat dan teknik pemberian pakan,

pakan hijauan yang disajikan kurang dari 4 kg/

ekor/hari dan konsentrat jarang

diberikan.sehingga gizi yang disajikan kurang

seimbang.

3. Kesehatan dari kambing perah yang kurang

diperhatikan, hal ini diketahui melalui indikator

kejadian mastitis lebih dari 60 % demikian juga

halnya dengan penyakit yang lainnya.

4. Susu masih dijual di sekitar kampung/desa

sehingga nilai jualnya rendah sekitar  Rp.15.000/

liter.

5. Belum dilaksanakan recording dengan baik

(recording produksi susu, perkawinan, kelahiran

dan kesehatan ternak).

Tujuan Kegiatan

Berdasarkan  masalah di atas maka capaian yang

menjadi tujuan/target program pengabdian ini adalah

melalui model pendampingan di kelompok peternak

kambing perah Kelompok Peternak Kambing Perah

Desa Beji adalah :

1. Perbaikan sistem budidaya ternak kambing perah

terutama perbaikan pakan untuk meningkatkan

produksi susu lebih dari 1.5 liter/ekor/hari dengan

kualitas yang tinggi.

2. Peningkatan pengetahuan dan pengalaman bagi

peternak dalam penyusunan pakan sehingga

pakan  hijauan yang disajikan lebih dari 5 kg/

ekor/hari dan konsentrat lebih dari 1 kg/ekor/hari

dengan nilai gizi yang seimbang.

3. Peningkatan kualitas kesehatan dari kambing

perah melalui indikator turunnya kejadian mastitis

menjadi tinggal 20 % demikian juga halnya

dengan penyakit yang lainnya.

4. Meningkatkan nilai jual susu melalui penjualan

kepada hotel-hotel di Kota Batu.

5. Peternak dapat melaksanakan recording dalam

setiap kegiatan pengelolaan usaha dan

pembukuan keuangan secara teliti dan

berkesinambungan.

Manfaat Kegiatan

Manfaat yang diharapkan  dari kegiatan

pendampingan ini bagi kelompok peternak kambing

perah yaitu  :

1. Perbaikan sistem budidaya kambing perah pada

kelompok peternak kambing perah Desa Beji

sehingga produksi susu dapat mencapai lebih dari

1.5 liter/ekor/hari dengan kualitas yang tinggi.

2. Meningkatnya keterampilan peternak dalam

menyusun pakan sehingga tercukupi sesuai

kebutuhan yaitu untuk hijauan 5 kg/ekor/hari dan

konsentrat lebih dari 1 kg/ekor/hari dengan nilai

gizi pakan yang seimbang.

3. Kejadian mastitis menurun dengan tingkat

kejadian tidak lebih dari 20 % demikian juga

dengan penyakit yang lainnya.

4. Penjualan susu segar dengan harga mencapai

Rp. 20.000.-/liter karena dijual langsung ke

konsumen di hotel-hotel Kota Batu..

5. Peternakan terbiasa melaksanakan recording

dan pembukuan keuangan yang teratur  dan

berkesinambungan.


Kerangka Pemecahan Masalah

Permasalahan utama yang dihadapi oleh

kelompok peternak Kambing  Perah Desa Beji Kota

Batu adalah produksi susu yang rendah kurang dari

1.5 liter, kurangnya pengetahuan dan keterampilan

dalam penyusunan pakan serta teknik pemberian

pakan, kesehatan ternak kurang diperhatikan, harga

susu yang rendah kurang dari Rp. 15.000/liter dan

belum dilaksanakannya recording dengan baik. Oleh

karena itu usulan pemecahan masalah sebagai berikut:

1. Memberikan pendampingan tentang pentingnya

penguatan kelompok usaha ternak perah dalam

hal teknik penyusunan pakan, pemanfaatan

limbah pertanian untuk pakan ternak, penanganan

kesehatan, pemasaran produksi.

2. Melakukan pendampingan kepada kelompok

peternak kambing perah dalam usaha  untuk

memudahkan mendapatkan akses permodalan

dan kegiatan-kegiatan pendampingan lain untuk

meningkatakan produksi dan kualitas susu.

3. Memberikan informasi terbaru tentang

perkembangan kelompok dan usaha ternak

kambing perah yang telah maju baik pada aspek

budidaya, pemasaran maupun penanganan pasca

panen susu sebagai tempat untuk magang dalam

upaya penguatan kelompok peternak kambing

perah Desa Beji.

Sasaran Kegiatan

Adapun kelompok sasaran Program

Pendampingan yaitu 8 orang peternak yang tergabung

dalam kelompok peternak kambing perah dengan

kepemilikan sekitar 30 ekor induk yang berlokasi di

Desa Beji  Kecamatan Kecamatan Junrejo yang

merupakan wilayah Kota Agropolitan Batu.

Metode Kegiatan

Untuk mencapai tujuan yang telah direncanakan,

maka menggunakan metode sebagai berikut:

1.      Metode Ceramah dan Diskusi :

           Metode inii dipilih untuk menyampaikan hal-

hal yang meliputi: pakan hijauan, konsentrat,

perkandangan, biosecurity, produksi susu dan

pemasaran susu, potensi dan permasalahan

dalam usaha kambing perah dan kegiatan untuk

mengatasi permasalahan dalam upaya

meningkatkan potensi kelompok ternak dan

produksi susu kambing  perah.di Kelompok

Peternak Kambing Perah Desa Beji.

2.     Metode Demonstrasi

         Demonstrasi digunakan untuk kegiatan-kegiatan

yang bersifat aplikatif yang secara langsung dapat

disaksikan dan dicobakan oleh seluruh anggota

kelompok peternak  kambing perah pada suatu

tempat yang telah ditentukan. Misalnya: cara

memilih pakan, cara mencampur pakan,

pengemasan sampai penyajian pakan.

3.      Metode Pendampingan

         Metode ini digunakan sesudah  peternak menjalani

dua tahap diatas dan diyakini memahami dan

menguasai topik yang telah dibekali, maka

selanjutnya dilakukan pendampingan terhadap

kelompok peternak kambing perah dengan

mendatangi langsung peternak pada saat mereka

melakukan kegiatan mulai dari aspek pakan,

perkandangan, pemerahan sampai penanganan

pemasaran susu.

Rancangan Evaluasi

Rancangan evaluasi terhadap keberhasilan

kegiatan pendampingan pada kelompok peternak

kambing perah Desa Beji secara umum dilakukan

dengan berpedoman pada :

1.    Keselarasan topik yang dikerjakan dengan

keadaan kelompok peternak kambing  perah

Desa Beji.

2.  Tingkat partisipasi, sikap dan tanggapan dari

peternak kambing perah Desa Beji terhadap

kegiatan yang dilaksanakan dan  berusaha

menerapkan pengetahuan dan keterampilan

yang diperolehnya untuk pengembangan

usaha kambing perah.

3.      Terjadi peningkatan pendapatan peternak

kambing perah sesudah  menerapkan

pengetahuan dan keterampilan yang

diperolehnya kemudian dilakukan evaluasi

langsung terhadap tingkat pendapatan

sebelum dan sesudah adanya pendampingan.

Tahapan Persiapan dan Perencanaan

Sebelum pelaksanaan pendampingan pada

kelompok peternak kambing perah dilakukan, maka

dilaksanakan survey lokasi terlebih dahulu, untuk

mendapatkan lokasi yang tepat dan menjalin

komunikasi awal dengan anggota kelompok yang

bergabung di kelompok peternak kambing perah Desa

Beji Kecamatan Junrejo Kota Batu. Hasil pertemuan

awal dan survey oleh tim pendampingan, maka terdapat

beberapa hal yang harus disiapkan terlebih dahulu

sebelum pelaksanaan di lapangan dilakukan.

Adapun hal-hal yang harus dipersiapkan oleh Tim

pendampingan antara lain:

1. Materi penyuluhan dan pendampingan yang

meliputi : a) kontribusi pakan dalam usaha

peternakan dan manajemen pakan kambing

perah, b) peningkatan nutrisi jerami padi untuk

pakan ternak kambing perah, c). penanganan

penyakit pada kambing perah d) persiapan

pemerahan, penanganan susu dan kebersihan

susu, e) pelatihan pengolahan jerami padi “silase

jerami padi”, f) pelatihan penyusunan dan

pencampuran konsentrat. g) bahan pengolahan

jerami dan bahan pelatihan penyusunan dan

pencampuran konsentrat.

2. Bahan : untuk pengolahan jerami berupa urea,

starbio dan plastik penutup disediakan oleh tim

pendampingan, sedangkan jerami disediakan

peternak. Untuk pelatihan pencampuran

konsentrat, bahan juga disediakan oleh

pendamping, lalu memberikan petunjuk tentang

cara memilih bahan, cara pencampuran dan cara

penyajian yang efektif dan efisien.

3. Merancang pertemuan rutin kelompok dan

pertemuan lapang. Isi kegiatan meliputi acara

diskusi kelompok secara rutin sesudah  penyuluhan

dan pelatihan dilaksanakan. Pertemuan lapang

diisi dengan kegiatan praktek pengolahan jerami

dan praktek pencampuran konsentrat.

Pengadaan Bibit Kambing Perah dan Bibit HMT

Unggul

Kegiatan pengadaan bibit kambing perah

dilaksanakan oleh Tim Pengabdian PPMI dengan

tujuan untuk memberi bantuan tambahan populasi

kambing perah pada kelompok peternak Desa Beji

agar memberikan harapan pada kelompok untuk lebih

serius dalam usaha kambing perah. Bibit kambing

berupa calon induk dalam kondisi bunting 2 – 3 bulan

dengan harapan dalam 2 – 3 bulan kedepan telah

mendapatkan tambahan populasi sebanyak 5 ekor.

Bibibt calon induk yang dibantu telah melalui tahapan

seleksi oleh Tim Pengabdian terutama dari potensi

genetik kemampuan produksi susu dan penampilan

eksteriornya.

Menurut Devendra (1983), pengaturan

perkembangbiakan melalui seleksi dan culling yang

ketat baik pada calon induk dan pejantan merupakan

salah satu metode dalam peningkatan potensi genetik

ternak kambing perah. Walaupun pada masa lalu para

penangkar peternakan kambing perah memperoleh

perbaikan mutu genetik melalui seleksi penampilan luar

atau kinerja individu misalnya menyeleksi betina yang

menghasilkan susu paling tinggi dan anak-anak

jantannya, pelaksanaan metode ini sangat tidak

menentu dan lambat. Maka metode yang paling cepat

untuk perbaikan genetik terutama dalam peningkatan

produksi susu adalah melalui Inseminasi Buatan.

Calon induk yang dibantukan pada pelaksanaan

pengabdian kepada kelompok peternak Desa Beji

sebanyak 5 ekor bersumber dari peternak kambing

perah Desa Sidodadi Kecamatan Ngantang Kabupaten

Malang, yang merupakan peternak yang khusus

menyediakan bibit-bibit unggul kambing perah.

Pendampingan peternak dalam kegiatan seleksi

dan culling dilakukan selama  dua (2) minggu.

Pengetahuan dan keterampilan seleksi dan culling

(mengafkir) ternak kambing wajib dimiliki oleh

peternak. Hal tersebut dimaksudkan agar dalam

membeli ternak kambing peternak dapat memilih

(menyeleksi) ternak yang berpotensi bagus untuk

dipelihara. Umumnya seleksi dilakukan dengan

mengamati ciri-ciri fisik yang tampak dari luar seperti

kondisi umum tubuh, postur tubuh, cara berdiri, bentuk

dan ukuran kelenjar susu dan lain-lain. Adapun

pengetahuan dan ketrampilan culling diperlukan

peternak agar tidak memelihara ternak yang tidak

produktif. Ternak yang tidak produktif harus di culling

agar peternak tidak merugi. Salah satu indikator ternak

harus di culling yaitu bila  produk susu yang

dihasilkan lebih sedikit dibandingkan jumlah pakan yang

dihabiskan oleh ternak.

Disisi lain untuk mendukung penyediaan pakan

yang berkualitas, maka Tim Pengabdian membeli bibit

unggul hijauan Kaliandra dan bibit Rumput gajah unggul

sebanyak 2 pick up yang disumbangkan dan ditanam

pada lahan milik kelompok peternak kambing perah

Desa Beji. Kegiatan ini bertujuan untuk menyediakan

HMT unggul guna memenuhi kebutuhan gizi asal

hijauan yang berkualitas sehingga pemberian

konsentrat dapat ditekan, namun kebutuhan gizi ternak

kambing perah tetap terpenuhi sesuai kebutuhannya.

 

Materi penyuluhan ini disampaikan secara praktis

oleh Tim Pengabdian  sekitar 1 jam, lalu dilanjutkan

dengan diskusi. Anggota kelompok Peternak Desa Beji

umumnya menyajikan pakan per-ekor dewasa kurang

dari 4  kg dan jarang memberikan konsentrat, dengan

produksi susu rata-rata kurang dari 1.5 liter/ekor/hari.

Pemateri menyampaikan bahwa jumlah dan kualitas

pakan sangat menentukan jumlah dan kualitas susu

yang dihasilkan. Patokan/ standar yang paling

sederhana dalam menyajikan pakan kambing  perah

yaitu Hijauan disajikan sekitar 5 kg per ekor induk

dan konsentrat sekitar 3% dari bobot badan. Peteranak

kambing perah sangat menyadari bahwa kebutuhan

akan pakan (hijauan+konsentrat) sangat menentukan

kualitas dan kuantitas susu, namun yang menjadi

halangan adalah ketersediaan akan lahan yang terbatas

dan konsentrat yang terus meningkat harganya.

Pendampingan Pembuatan Kandang

Materi yang disajikan antata lain : konstruksi

bangunan kandang, bahan kandang, lokasi kandang,

ketersediaan air untuk kandang, lokasi lahan hijauan

untuk kebutuhan ternak dan sarana transportasi bila 

produk-produk hasil panen dijual dan pengadaan

hijauan dan pakan dilaksanakan. Kegiatan ini diikuti

oleh 10 orang peternak dan mereka sangat antusias

mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai, hal ini

dibuktikan dengan banyak pertanyaan yang terkait

dengan lokasi kandang mereka yang berdekatan

dengan pemukiman yang berdampak terhadap

kebersihan dan kesehatan lingkungan baik manusia

maupun ternak serta air tanah sekitar lokasi kandang.

Disisi lain ketidakberdayaan peternak dalam

menyediakan pakan karena keterbatasan lahan yang

ada.

Penyakit Pada Kambing Perah dan Cara

Penanganannya

Kegiatan penyuluhan ini dilaksanakan dengan

metode ceramah dan diskusi. Metode ini dipilih untuk

menyampaikan pengenalan tentang berbagai penyakit

pada kambing seperti mastitis, perut kembung, ketosis,

kelumpuhan dan lain-lain yang dapat menyebabkan

produksi susu menurun dan tidak dapat dijual. sesudah 

ceramah selesai dilanjutkan dengan diskusi.

Pelaksanaan diskusi pada hari pertama

penyuluhan berlangsung dengan penuh antusis oleh

peternak. Permasalahan yang sering muncul

ditanyakan adalah sekitar mastitis dan kembung yang

kemudian dengan cermat dijawab oleh pemateri Tim

Pelaksana. Kejadian masititis lebih diakibatkan oleh

manajemen perkandangan yang kurang baik, sanitasi

yang buruk dan sistem pemerahan yang tidak

profesional. Hal tersebut dapat diatasi dengan

penanganan manajemen usaha peternakan yang

mengedepankan sanitasi yang baik. Selain itu pemateri

menjelaskan bahwa bila  ternak terkena penyakit

kembung, maka dapat diberikan obat tradisional berupa:

1) Daun sembukan, 2) Campuran daun sembung,

minyak kayu putih dan air hangat, 3) campuran minyak

kelapa, minyak kayu putih, garam, dan air hangat.

Peserta sangat antusias mengikuti penyuluhan

ini dengan jumlah yang hadir 10 orang anggota

kelompok. Diakhir acara, penyuluh/pemateri

menjanjikan untuk melaksanakan penyuluhan lebih

lanjut tentang gangguan reproduksi sapi perah dan cara

penanganannya, sesudah  pendampingan peternak

menyatakan bahwa hasil penyuluhan telah diterapkan

dan kejadian penyakit pada ternaknya dapat menekan

kematian dan kejadian penyakit hanya tinggal 20%.

Pemerahan dan Penanganan Susu Kambing

Materi ini diberikan dengan metode ceramah

kemudian dilanjutkan diskusi. Materi ini perlu

disampaikan mengingat tingkat kerusakan susu akibat

dari proses pemerahan dan penanganan pasca

pemerahan yang kurang baik mencapai 20% sehingga

menyebabkan kerugian yang cukup besar.

Penyuluhan ini diharapkan dapat merubah

paradigma peternak bahwa kualitas susu yang tinggi

sangat menentukan harga susu. Salah satu indikator

kenaikan susu yaitu jumlah bakteri per-mililiter susu

dianggap berkualitas baik bila  jumlah bakteri per-

mililiter tidak lebih dari 1 juta.

Pemateri menyampaikan hal-hal yang meliputi:

a. Persiapan pemerahan

b. Pemerahan

c.. Penanganan susu

d. Kebersihan susu

e. Kesehatan/ Kebersihan petugas/pemerah

sesudah  materi dan diskusi berlangsung peternak

sangat menyadari pentingnya proses pemerahan dan

penanganan susu yang keluar untuk menjamin kualitas

susu kambing lebih baik. Namun dilain pihak masih

ada sebagian peternak yang melakukan kecurangan

dengan memalsukan susu untuk menambah volume.

Pelatihan Pembuatan Silase dan Pakan Siap Saji

Pelatihan pembuatan silase dilakukan di Dusun

Karang Jambe, karena kalau musim hujan  hijauan

ternak di dusun tersebut cukup berlimpah sedangkan

waktu musim kemarau kekurangan. Hijauan makanan

ternak (HMT) dan jerami dapat difermentasi dengan

tujuan  untuk mengawetkan pakan tersebut sampai

berbulan-bulan lamanya (bisa disimpan selama 6

bulan). Fermentasi pakan  juga bertujuan meningkatkan

nutrisi pakan ternak karena terjadi  pemecahan

senyawa kompleks yang susah dicerna ternak menjadi

senyawa-senyawa yang lebih sederhana yang mudah

diserap oleh usus halus. Sehingga terjadi peningkatan

nutrisi yang dapat diserap tubuh dan diedarkan ke

seluruh tubuh yang pada akhirnya meningkatkan

produktivitas ternak.

sesudah  materi dan diskusi berlangsung,

peternak  sangat menyadari pentingnya pembuatan

silase limbah pertanian guna mengatasi kesulitan pakan

sepanjang waktu dengan memanfaatkan secara

maksimal potensi limbah pertanian yang melimpah.

Keterbatasan lahan akan terjawab dengan penerapan

TTG silase baik rumput segar maupun limbah

pertanian. Namun dilain pihak masih ada sebagian

peternak yang menganggap bahwa pembuatan silase

sangat merepotkan karena memerlukan bahan-bahan

lain yang harus disiapkan dan dibeli.

Pendampingan pembukuan sederhana

bertujuan agar peternak dapat membukukan  semua

transaksi yang terjadi dalam pengeloaan

peternakannya. Selama ini peternak umumnya tidak

terbiasa mencatat semua transaksi yang terjadi dan

setiap kegiatan usaha rumah tangga termasuk usaha

kambing perah sehingga tidak diketahui apakah

usahanya itu masih menguntungkan atau telah merugi

dan bila perlu dihentikan bila tidak menjanjikan

keuntungan. Oleh karena itu Tim Pengabdian

memotivasi para peternak kambing Desa Beji agar

mau membukukan transaksinya secara sederhana.

Tim Pengabdian dalam pelaksanaan

pendampingan ini memberikan buku  akuntansi  kepada

para peternak dan memberikan contoh cara mencatat

di buku tersebut. Pelatihan dilakukan secara

berkelompok di rumah salah satu anggota kelompok

peternak kambing perah agar lebih efektif. Kegiatan

tersebut dilaksanakan di Dusun Karang Jambe Desa

Beji.

Pada kesempatan lain Tim Pengabdian

memberikan penyuluhan tentang pentingnya promosi

dalam pemasaran susu segar hasil produksi kelompok.

Tim bersama anggota kelompok menyusun rencana

pembuatan brosur tentang keunggulan susu kambing

dibandingkan susu sapi, cara pemerahan susu yang

hygienis, lokasi usaha kambing perah, susu segar siap

diantar ke konsumen. Brosur-brosur tersebut

disebarkan pada hotel-hotel sekitar Kota Batu dan

warung-warung STMJ dengan harga penjualan Rp.

20.000.-/liter. sesudah  berjalan 3 minggu pola ini telah

banyak membantu pemasaran dan peningkatan harga

jual susu yang berdampak pada perbaikan penghasilan

peternak dan semangat peternak kambing perah untuk

menekuni dengan serius usahanya


1. Kelompok Peternak Kambing Perah memiliki

potensi yang besar untuk dikembangkan dan

diberdayakan, karena walaupun peternak sudah

memahami seluk beluk usaha peternakan

kambing perah, masih ditemukan beberapa hal

yang perlu untuk dibenahi lebih lanjut guna

meningkatkan efisiensi usaha.

2. Peternak mampu mengadopsi dan melaksanakan

hasil-hasil pendampingan yaitu : a) penyajian

pakan hijauan 5 kg/ekor induk, konsentrat 1 s.d.

1.5 kg/ekor induk; b)  telah mampu menyusun

pakan sendiri dengan gizi seimbang; c) produksi

susu rata-rata telah mencapai 1,5 s.d. 2.0 liter/

ekor/hari, tingkat kejadian mastitis dan penyakit

yang lain telah menurun hanya tinggal 20 % dari

total induk laktasi; d) peternak telah mulai

melaksanakan recording dan pembukuan

sederhana usahanya, dan c) pemasaran dilakukan

pada hotel-hotel sekitar Kota Batu dengan harga

penjualan mencapai Rp. 20.000,-/liter.

3. Penyuluhan, pelatihan dan pendampingan dalam

usaha kambing perah di Kelompok Peternak

Kambing Perah Desa Beji sangat membantu

meningkatkan keberlanjutan dan pengelolaan

kambing perah yang benar.




Secara ekonomi ternak kambing dapat memberi  arti tersendiri bagi peternak sebagai 

usaha pokok maupunn saha sampingan. Tujuan tulisan ini untuk mengemukakan  

prospek  pengembangan usaha ternak kambing dan memacu peningkatan ekonomi 

peternak, yang diperkaya dengan review dari berbagai tulisan terkait lainnnya. Fokus 

bahasan ini menjadi bagian yang perlu ditangani dalam menjawab, juga sebagai dasar 

pengembangan untuk usaha ternak kambing selanjutya. Keuntungan pada usaha 

ternak kambing Etawah skala 10 ekor sebesar Rp.4.368.833,-/4 bulan B/C ratio 1,3, 

keuntungan pada usaha ternak kambing Kacang skala 30 ekor sebesar Rp.1.058.602 

B/C 1,2  dan keuntungan pada usaha ternak kambing Kosta dengan skala 2 ekor sebesar  

Rp.1.810.950/tahun B/C ratio 1,2. Harga ternak kambing dipengaruhi oleh kondisi tubuh, 

umur, dan jenis  ternak. Apabila usaha ternak kambing, dipelihara sebanyak 5-30 ekor/

peternak, maka peternak akan mendapat  keuntungan secara riil 100%/tahun dari 

pendapatan anak yang dibesarkan secara optimal.  Prospek kedepan kambing dapat 

dikembangkan, dan secara tidak langsung dapat menyumbangkan pendapatan bagi 

peternak.

negara kita  merupakan negara tropis, 

memiliki tipe iklim yang sesuai bagi 

pengembangan ternak kambing. Dukungan 

lahan yang cukup luas dan masih belum 

banyak dimanfaatkan sebagai lahan usaha 

pertanian maupun usaha ternak. Produksi 

hijauan yang jauh dari cukup untuk usaha 

ternak kambing sekitar 100 juta ekor atau 

10 kali dari jumlah populasi kambing yang 

ada sekarang . Ditinjau 

dari aspek pengembangannya usaha 

ternak kambing sangat potensial, mudah 

diusahakan, baik secara harian maupun 

komersial. Untuk tahun-tahun berikutnya 

populasi ternak kambing terus meningkat 

sehingga dapat menyumbangkan daging 

sapi. Ternak kambing dapat diusahakan 

dengan cara pemeliharaanya dari skala 

2-5 ekor/peterrnak, dapat ditingkatkan 

menjadi 5-10 ekor/peternak , Ternak kambing memiliki beberapa 

kelebihan dan potensi ekonomi, tubuhnya 

relatif kecil, cepat mencapai kelamin 

dewasa, mudah cara pemeliharaannya. 

Usaha ternak kambing sangat mudah, 

tidak membutuhkan lahan yang luas, 

investasi modal usaha relatif kecil, mudah 

dipasarkan dan modal usaha cepat 

berputar. 

 Pada sisi lain pemasaran ternak 

kambing di dalam negeri mencapai titik 

jenuh jumlah suplai daging kambing lebih 

besar dari jumlah permintaan.  menyatakan bahwa, peranan ternak 

kambing sampai saat ini belum banyak 

berarti, baik sebagai sumber daging 

maupun sumber air susu. Prospek ekspor 

kambing dan domba sangat terbuka lebar 

untuk negara tetangga seperti Malaysia, 

Brunei Darusalam dan Timur Tengah  Prospek pasar 

lokal dan pasar domestikg cukup baik, 

di dalam negeri saja diperlukan sekitar 

5,6 juta ekor/tahun , menyatakan bahwa, untuk 

itu peternak segera didorong ke arah 

usaha yang bersipat komersial.  menyatakan bahwa, ternak 

kambing memiliki peluang yang tinggi 

sebagai komoditas ekspor, sampai saat ini 

negara kita  belum mampu mengisi peluang 

ekspor kambing secara kontinyu, sebab 

populasinya masih sangat sedikit, juga 

persyaran eksporbobot badan rata-rata 

antara 50-60 kg/ekor. Ternak kambing 

memiliki   potensi yang cukup besar dan 

mampu berkembang biak baik lebih dari >1 

(satu) kali melahirkan, dan memiliki banyak 

keunggulan serta banyak manfaatnya 

 Ketersediaan hijauan pakan ternak 

sangat penting untuk pengembagan 

terbak kambing, selain itu juga untuk 

mempercepat petumbuhan ternak 

menyatakan bahwa, penyebaran 

ternak kambing, berhubungan dengan 

penyebaran penduduk, di Pulau Jawa dan 

di luar Pulau Jawa. Jumlah penduduk dan 

populasi ternak tinggi, sementara lahan 

yang tersedia semakin terbatas. Selain 

itu juga yang harus di tangani yaitu  

pengendalian penyakit, pemilikan lahan, 

keterampilan atau sumberdaya manusia 

itu sendiri. Pengembangan ternak kambing 

dapat meningkatan ekonomi peternak, 

Megingat basarnya peran ternak kambing 

dalam peningkatan ekonomi peternak,  

sehingga perlu dilakukan upaya untuk 

memacu peternak dalam usahanya. Fokus 

bahasan ini menjadi bagian terpeting 

yang perlu ditangani dalam menjawab, 

juga sebagai dasar pengembangan 

ternak kambing untuk selanjutya. Tujuan 

tulisan yaitu  untuk mengetahui prospek 

pengembangan usaha ternak kambing dan 

memacu peningkatan ekonomi peternak.


PROSPEK PENGEMBANGAN USAHA 

TERNAK KAMBING DI negara kita 

Prospek kedepan pengembangan usaha 

ternak kambing dapat dilakukan dengan 

cara budidaya perbanyakan bibit. Usaha 

ternak kambing dan domba secara nasional 

telah banyak dilakukan oleh peternak 

kecil dipedesaan ,

Untuk meningkatkan pendapatan dan 

kesejahteraan peterak, perlu dukungan 

kelembagaan, baik Pemerintah, swuasta 

dan pemodal. Selain itu juga usaha ternak 

ruminansia kecil seperti kambing dan 

domba dapat disuahakan dengan cara 

diversifikasi , Keuntungan peternak yang 

diperoleh akan berlipat ganda dan secara 

ekonomi dapat meningkatkan pendapatan 

dan kesejahteraan peternak. Kualitas 

dan produktivitas sumberdaya peternak, 

salah satu langkah awal yang dapat 

mewujudkan peningkatan populasi ternak 

kambing di negara kita  . Kegiatan 

pengembangan usaha ternak kambing 

melalui beberapa tahapan diantarnya: 

(1) Peningkatan produksi ternak kambing 

melalui perbanyakan bibit atau induk dan 

jantan produktif. (2) Penerapan bioteknologi 

pakan dan reproduksi untuk mendukung 

sentra pembibitan  ternak kambing. (3) 

Usaha pengembangan ternak kambing, di 

area perkebunan yang memiliki  jalinan 

kerjasama usaha. (4) Kerjasama dapat 

dilakukan dengan perusahaan swasta, 

perkebunan, investor, lembaga penelitian 

dan instansi-instansi lintas lembaga dan 

lintas intansi lainnya. 

 Pengembangan usaha 

ternak kambing sebagai alat pemacu 

pembangunan peternakan, agar dapat 

menghasilkan bibit, perbanyakan anak 

betina calon idnuk produktif.  menyataan bahwa, 

dengan perbanyakan bibit betina dan 

pejantan, dengan penyediaan hijauan 

pakan yang berkualitas baik, selian 

meningatnya harg jual, juga produksi 

ternak meningkat. Pengembangan usaha 

ternak kambing tujuannya untuk dapat 

memenuhi kebutuhan rumah tangga 

peternak juga kebutuhan konsumen ternak. 

Memperhatikan kelestarian lingkungan 

hidup yang dapat dimanfaatkan sebagai 

lingkungan wahana peternakan. Secara 

umum agroindistri merupakan suatu 

proses industrialisasi yang memanfaatkan 

sumber bahan baku dari hasil-hasil 

pertanian maupun dari hasil peternakan. 

Sasaran pengembangan agri industri 

dapat menciptakan nilai tambah dari 

bahan baku dan dapat diolah dengan 

baik. Agro industri peternakana yaitu  

kegiatan pascapanen, produk yang 

dihasilkan dari ternak kambing berupa, 

daging, susu, kulit tulang darah serta By 

Product lainnya  

Pasca panen hasil peternakan sebagai 

produk produk akhir yang siap dikonsumsi 

sampai akhir prdouk ke konsumen. Untuk 

keberhasilan usaha ternak harus didukung 

oleh faktor manajemen yang baik, modal, 

ketersediaan pakan ternak yang cukup 

dan pengendalian yang tepat. 

 Pasar ternak kambing dan domba 

memiliki siklus reguler yang tetap, sehingga 

mudah dijadikan bahan pertimbangan 

bagi kebijaan Pemerintah Daerah untuk 

mengembangkan ternak kambing. 

Sektor peternakan memiliki peran yang 

sangat strategis, dalam upaya untuk 

kecukupan pangan, menyerap tenaga 

kerja, meningkatkan pendapatan peternak 

 Peluang pasar dan 

permintaan ternak dakmbing maupun 

domba cukup besar, secara reguler 

biasanya konsumen datang langsung 

untuk membeli. Ternak kambing dn domba 

memiliki  segmentasi pasar global yang 

sangat menjanjikan di Asia, Afrika, dan 

Pasifik ,

Pasar ternak kambing dan domba masih 

cukup terbuka untuk negara di lingkungan 

Asia Tenggara sendiri, seperti Brunai 

Darussalam, Malaysia, dan Singapura  

 Ternak 

kambing dan domba dapat dijadikan 

prioritas utama untuk dikembangkan. 

Dukungan lalu lintas produk dan jasa 

antar daerah dan negara di era globalisasi 

yang sangat kuat untuk bersaing. Sebagai 

invensi dan juga dapat mendorong lahirnya 

produk baru, dapat memperbaiki mutu 

produk untuk ditingkatkan melalui pasar 

internasional (ekspor) ,

Peningkatan Populasi Kambing 

Ternak kambing perlu dikembangkan, 

karena ternak kambing memiliki peluang 

komoditas ekspor. Ternak kambing juga 

merupakan salah satu faktor produksi yang 

menentukan, dan memiliki  nilai ekonomi 

yang startegis. Pemeliharaan ternak 

138 |  ---- 

kambing pada beberapa tahun terakhir 

menunjukkan perkembangan yang cukup 

menggembirakan (Rusdiana dan Hutasoit 

2014). Perkembangan ini senantiasa 

didorong oleh Pemerintah dalam upaya 

tercapainya swasembada pangan asal 

daging.  Pada tahun 2017 populasi kambing 

di negara kita  sebanyak 17.847.197 ekor,. 

Populasi ternak kambing terus-menerus 

mengalami peningkatan hingga mencapai 

sebanyak 18.410.379 ekor, menunjukan 

trend yang positif (Statistik Peternakan dan 

Kesehatan Hewan 2017). Menurut Saptana 

(2012) bahwa, salah satu teknologi yang 

dipandang dapat mengatasi persoalan 

pakan ternak ruminansia, yaitu  dengan 

integrasi penggabungan dua jenis usaha 

komoditi dalam suatu area tertentu. Usaha 

ternak kambing yang diintergrasikan 

dengan tanaman pangan, perkebunan 

dan lainnya merupakan suatu ikatan yang 

dapat menghasilkan keuntungan secara 

bersama-sama. 

 Hal ini dapat dibuktikan dengan 

keberadaan populasi ternak ruminansia 

kecil kambing dan domba, yang 

meningkat rata-rata sebesar 4,75%/

tahun. Kambing yang sangat strategis itu 

dapat dikembangkan oleh peternak kecil 

dan besar terutama di wilayah-wilayah 

di pedesaan. Penduduk di negara kita  

kebutuhan daging masih dipenuhi oleh 

ternak ruminansia besar, keberadaan 

ternak kambing menjadi sangat strategis 

dalam kehidupan manusia Rusdiana dkk., 

(2015) menyataakan bahwa, keunggulan 

ternak kambing selain  penghasil daging 

namun juga susu dan kulit. Ternak kambing 

berkemampuan untuk berkembangbiak 

lebih cepat dan hampir disemua kondisi 

agroekosistem di negara kita . Kambing 

dapat beradaptasi dengan baik, disamping 

itu juga cara pemeliharaannya sangat 

mudah dan tidak memerlukan tempat yang 

luas Ginting (2010). Jenis ternak kambing 

dapat dijumpai di berbagai lingkungan, 

dari lingkungan iklim kering sampai basah 

maupun tropis, pada lingkungan ekstrem. 

Ternak kambing mampu bertahan hidup, 

karena tingginya daya adaptasi serta 

karakteristik anatomi fisiologi cukup tinggi 

(Silanikove dkk., 2010). 

 Peran ternak kambing sebagai 

penghasil susu sekitar 60% lebih banyak 

dibandingkan sebagai penghasil daging 

(Malau dkk., 2001). Setiap jenis kambing 

memiliki keragaman performa produksi 

cukup baik sebagai penghasil susu 

maupun daging, seperti yang dilaporkan 

oleh (Zhang dkk., 2008) dan (Ginting 

2010). Menurut Syamsu dkk., (2003); 

Rusdiana dan Saptati (2009); Yoyo dkk., 

(2013) bahwa, ternak kambing mampu 

beradaptasi, pada kondisi daerah yang 

memiliki sumber pakan hijauan yang 

kurang baik, dan merupakan komponen 

peternakan rakyat. Populasi kambing di 

negara kita  mencapai sekitar 17.862.203 

ekor, di propinsi Jawa Tengah sekitar 

3.836.150 ekor, di Jawa Timur sekitar 

2.907.845 ekor dan di Jawa Barat sekitar 

1.086.584 ekor Statistik Peternakan dan 

Kesehatan Hewan (2017), populasi ternak 

ruminansia terlihat pada Tabel 1.

 

kambing terhadap kebutuhan daging, 

dengan demikian untuk meningkatkan 

kemampuan ternak kambing dalam 

memproduksi susu dan daging, agar 

mampu memenuhi kebutuhan konsumen. 

Sesuai dengan pendapat Ilham, (2006), 

selain kebutuhan hasil produksi susu juga 

akan kebutuhan daging yang semakin 

meningkat setiap tahunnya, diharapkan 

dengan program swasembada daging 

sapid an kerbau dapat terpenuhi.

Peningkatan Kebutuhan Ternak 

Kambing di negara kita 

Dalam jangka panjang, diperkirakan 10 

tahun kedepan peningkatan permintaan 

akan produk asal daging kambing akan 

semain meningkat, sesuai dengan 

kebutuhan daging sapi. kebutuhan 

konsumen akan daging merupakan 

akibat dari peningkatan pendapatan 

per kapita penduduk di negara kita . 

Permintaan ini  sejalan perubahan 

pasar global yang secara langsung akan 

bersaing dengan negara-negara ASEAN. 

Pergolakan dalam globalisasi pasar dunia 

akan bersaing ketat dengan pergolakan 

pasar domestik. Dari kemajuan pasar 

terbuka, maka kebutuhan asal pangan 

ternak kambing semakin meningkat. 

Salah satu produk yang akan ikut andil 

dan bersaing sebagai pemasukan 

devisa negara yaitu  ternak kambing. 

Prosentase kebutuhan daging kambing 

dan domba masih jauh di bawah sub sektor 

usaha peternakan lainnya, seperti ayam/

unggas sekitar 56%, sapi sekitar 23%, 

serta babi sekitar 13%. Konsumsi daging 

domba dan kambing di masyarakat masih 

sangat rendah yaitu sebesar 5%( Statistik 

Peternakan dan Kesehatan Hewan (2017). 

Kebutuhan  untuk kurban aqiqah, industri 

restoran sampai dengan warung sate kaki 

lima diperkirakan antara 2-3 ekor/hari 

belum dapat terpebuhi. 

 Leo (2004), menyatakan kebutuhan 

akan ternak kambing dan domba sangat 

besar bila menjelang hari-hari besar. 

Artinya sangat berpeluang besar utuk 

pengembangan usaha ternak kambing, 

peternak dapat melakukan usahanya 

antara  5-10 ekor/peternak. Permintaan lain 

yang diduga akan sangat menarik investor 

yaitu  untuk memenuhi kebutuhan ternak 

qurban dan akikah. Bukan mustahil suatu 

saat akan terjadi kelangkaan produksi 

daging kambing dan domba, sehingga 

pelaksanaan sehinggakebutuhan qurban 

dan akikah impor dari luar Thalib dkk., 

(2011) menyatakan bahwa, dewasa ini 

peningkatan akan kebutuhan daging terus 

meningkat, dimana peningkatannya untuk 

kebutuhan protein hewan. Ternak kambing 

sebagai penghasil daging masih belum 

dapat memenuhi kebutuhan masyarakat, 

sehingga masih harus mengimpor daging 

dari luar negeri  (Sodiq dan Abidin 2009). 

Padahal dengan sumber daya alam yang 

masih ada, dapat diperbaharui untuk 

pengembangan usaha ternak kambing, 

seheingga kebutuhan protein asal daging 

tidak harus dimpor dari luar negeri. 

Sejalan dengan pernyataan Lukas (2011) 

, bahwa hampir sebesar 50% masyarakat 

pedesaan, mata pencaharainnya selain 

bertani juga beternak. Untuk keperluan 

pasar domestik maupun pasar ekspor 

yang sangat menjanjikan dapat terpenuhi 

dan  diperkirakan dalam 10 tahun ke depan 

sedikitnya ada tambahan permintaan 

sekitar 5 juta ekor ternak kambinng dan 

domba untuk berbagai keperluan (Yusdja, 

2004).

JENIS-JENIS TERNAK KAMBING 

Ternak Kambing 

Di negara kita  ternak kambing lokal 

banyak dipelihara oleh peternak kecil 

dipedesaan. Kambing Kacang berukuran 

kecil sudah ada di negara kita  sejak tahun 

1900-an. Namun cara pemeliharannya 

tergantung pada kemampuan peternak 

dalam usahanya. Jenis-jenis ternak 

kambing yang dipelihara oleh peternak 

yaitu  kambing Marica, Samosir, Muara, 

Kosta, Gembrong, Peranakan Ettawah 

dan  Kacang (Aji dkk., 2009). Beberapa 

bangsa ternak kambing ini  telah 

berkembang biak dengan baik, pada 

berbagai kondisi wilayah di negara kita . 

Pada umumya komoditas  ternak kambing 

minimum penyebarannya di 11 provinsi di 

140 |  ---- 

seluruh negara kita . Penyebaran populasi 

komoditas ternak kambing dapat dinuktikan 

bahwa, berbagai wilayah negara kita  

memiliki tingkat kecocokan yang baik 

untuk pengembangan ternak kambing. 

Kecocokan dari segi vegetasi, topografi, 

klimat, bahkan dari sisi sosial-budaya 

daerah setempat. Sejalan dengan program 

pembangunan peternakan nasional 

tujuannya untuk mewujudkan ketahanan 

pangan asal ternak berbasis sumber daya 

lokal secara konsisten terus diupayakan 

Pemerintah (Muzayyanah dkk., 2017). 

 Inovasi teknologi tepat guna sangat 

dibutuhkan oleh setiap peternak, tujuannya 

untuk meningkatkan produk peternakan, 

dalam mendukung perkembangan 

ekonomi masyarakat. Sumber daya 

alam yang masih sangat perlu digali 

dan dimanfaatkan, sebagai pemenuhan 

kebutuhan hidup manusia, disamping 

untuk kebutuhan pakan ternak  (Ilham dkk., 

2008). Program pengembangan usaha 

ternak kambing melalui informasi, dapat 

diakses oleh semua pihak. Informasi sangat 

erat kaitannya dengan aspek kognitif dan 

budaya, termasuk tentang pengaruh pada 

akibat sosial ekonomi dari teknologi (Soni 

2017). Teknologi untuk menghasilkan 

produksi sampai pemasaran, rekayasa 

kelembagaan dan penciptaan IPTEK oleh 

akademisi dan peneliti sebagai inkubator 

sebagai Penyedia teknologi solutif. Fungsi 

teknologi antara lain sebagai tempat 

pengembangan dan penerapan inovasi 

yang  berwawasan usaha atau agribisnis. 

 Lembaga usaha dapat dilakukan 

sebagai tempat pelatihan, kemitraan 

usaha, pusat diseminasi teknologi dan 

advokasi bisnis. Sejak terbentuknya 

instansi pemerintah yang menangani 

sub sektor peternakan, tidak sedikit 

berbagai informasi dan teknologi yang 

direkomendasikan untuk dapat ditiru dan 

diterapkan pada peternak. Perkembangan 

teknologi dan inovasi dapat dipengaruhi 

oleh perkembangan teknologi atau 

dunia, yang sesuai dengan kemampuan 

masyarakat atau peternak. Peternak di 

pedesaan sebagian besar menempati 

keluarga berpenghasilan rendah, sebagian 

kecil dan berpenghasilan menengah 

(Adawiyah dan Rusdiana 2016). Berbagai 

upaya pemerintah, lembaga swadaya 

masyarakat untuk meningkatkan 

pendapatan dan kesejahteraan peternak 

telah dilakukan. inovasi dan teknologi 

melalui berbagai pendekatan budidaya 

ternak kambing. Dinamika perkembangan 

industri peternakan, tentunya tidak sedikit 

upaya-upaya yang perlu dimodifikasi 

dengan sistem budidaya itu sendiri. 

Secara dinamis usaha ternak kambing 

harus dikembangkan dengan mengikuti 

perkembangan secara nasional (Ilham 

dkk., 2008). 

 Tentunya pakan ternak sebagai 

inti persolan yang perlu dilakukan dalam 

penyediaanya sepanjang waktu. Dengan 

menggunakan media sosial di masyarakat, 

pada saat ini sangatlah penting untuk 

mengetahui informasi yang akurat. Data 

ini  dapat digunakan sebaggai simbol 

pada keilmiahan suatu bentuk obyek yang 

berkesinambungan pada subyek. Pakta 

dilapangan bahwa, informasi mengenai 

beberapa jenis ternak dapat diakses 

melalui interet dan media masa. Teknologi 

inovasi sangat cepat diterima dan cepat 

digunakan oleh pengguna. Pengembangan 

teknologi informasi lainnya yang sesuai 

dengan kebutuhan industri. Salah satu 

penomena yang sering terjadi, pada usaha 

ternak kambing, dan sering dilakukan oleh 

peternak dipedesaan, yaitu  sebatas 

wawasan usaha kemampuan sendiri. 

Peternak jarang sekali mendalami makna 

usaha yang sebenarnya, hanya sebagai 

usaha sampingan. Usaha peterak belum 

banyak mengarah pada usaha, untuk 

mendapat  keuntugan yang layak. 

Penydiaan informasi dapat berpengaruh 

nyata pada pengguna, sosial, budya, 

ekonomi di masyarakat. Disadari bersama 

bahwa, setiap masalah sosial budaya, 

ekonomi di masyarakat yang bersifat 

kompleks dan hanya dapat mendekati 

secara kritis dan interdisipliner. 

 Keluaran untuk sektor peternakan 

yaitu  pusat pembibitan ternak kambing 

yang bersertifikat. Sejalan dengan 

pertumbuhan ekonomi yang terus 

Agriekonomika, 7(2) 2018: 135-148 | 141

diupayakan agar perekonomian peternak 

meningka. Usaha peternakan domba 

maupun kambing dapat dijadikan alternatif 

sebagai pengungkit pertumbuhan 

ekonomi baru bagi peternak (Rusdiana 

dan Sutedi 2016). Perlu dikenal dan 

mengenal dari beberapa jenis ternak 

kambing lokal yang berada diwilayah 

Indoensia melalui informasi dari data. 

Namun kronologis jenis-jenis kambing 

ini  tidak dijelaskan secara detail, 

hanya sebagian kecil saja. Saat ini sudah 

ada 7 (tujuh) bangsa kambing yang sudah 

dikarakterisasi, karakteristik penotipenya 

yaitu   kambing Benggala dari Propinsi 

Nusa Tenggara Timur, Kambing Wetar 

dari Propinsi Maluku, Kambing Marica 

dari Provinsi Sulawesi Selatan, kambing 

Samosir dari Kabupaten Samosir, Provinsi 

Sumatera Utara. Memahami jalan pikiran 

para ahli dari bidang ilmu pengetahuan 

lain dan dapat berkomunikasi dengan 

pengguna dalam rangka penanggulangan 

masalah sosial ekonomi yang timbul dalam 

peternak. Menurut Dhanda dkk., (2003) 

dalam Ginting dan Fera (2008); Ginting 

(2010) bahwa, diperkirakan jumlah bangsa 

kambing yang menyebar diseluruh dunia 

sekitar 102 jenis bangsa kambing dengan 

bobot hidup yang sanget beragam dari 

yang terkecil antara 9-12 kg/ekor sampai 

terbesar melebihi sekitar 100 kg/ekor. 

Paling tidak dilaporkan ada  13 jenis 

kambing di seluruh kepulauan. Sentra 

populasi utama yaitu  Jawa sekitar 37%, 

Sumatera sekitar 25%, Sulawesi sekitar 

7,4% dan kepulauan Nusa Tenggera NTT 

dan NTB sekitar 6,1%, (Marka 2004). 

Peningkatan Ekonomi pada Peternak 

Peternak dapat ditingkatkan asalkan 

semua peternak dipacu untuk usahanya 

dengan baik. Usaha pengembangan 

ternak kambing, yang seharunya didukung 

dengan kelembagaan pasar ternak. 

Dukungan ini  dapat dirasakan 

oleh petenak, nilai jual dan beli ternak 

mersa terlindungi. Harga ternak kambing 

yang relatif dapat diikuti dengan nilai jual 

pasar, namun harga kambing tidak dapat 

diprediksi oleh peternak, namun dapat 

dilihat dari jumlah pembeli dan jumlah 

penjual. Nilai dan harga jual ternak tinggi 

akan mendapat  keuntungan yang lebih 

optimal, ekonomi peterak akan meningkat. 

Demikian peternak dapat mengendalikan 

harga pasar, bila dibandingkan dengan 

peternak komoditas lain, yang hanya 

sebagai penerima harga (price taker). 

Perdagangan ternak kambing akan terlihat 

dari persamaan harga yang disepakati 

bersama. Peningkatan populasi ternak 

kambing dan nilai jual akan memacu 

peternak untuk mempertahankan 

usahanya. Harga ternak kambing jantan 

baik di pasar maupun di tengkulak 

harganya hampir sama, untuk ternak 

kambing jantan sebesar Rp.2-3,5juta/

ekor dan betina sebebsar Rp.1-1,7 juta 

tergantung bobot badan dan umur ternak 

kambing (Rusdiana dan Hutasoit 2014). 

 Krisna dan Harry (2014) 

menyatakan bahwa, tingkat kepemilikan 

ternak kambing berpenggaruh pada tingkat 

keuntungan yang diperoleh peternak 

selama satu tahun. Diibutuhkan untuk 

biaya per ekor ternak kambing baik jantan 

maupun betina sekitar Rp.75.000/ekor, 

dan tergantung nilai jual ternak kambing. 

Demikian peluang pasar komoditas 

ternak kambing sangat cerah bagi petani 

(Rusdiana et al., 2014b). Disisi yang 

berlawanan, negara importir menerapkan 

tarif berupa pajak impor ternak yang tinggi. 

Untuk melindungi produk domestiknya, 

dibutuhkan penghapusan segala bentuk 

hambatan yang dapat diminimalisir oleh 

lembaga pasar ternak impor. Kebutuhan 

akan daging dapat diseimbangkan dengan 

kondisi peternak kecil, sedang dan besar. 

Saat ini permintaan di dalam negeri 

masih dapat dicukupi oleh penduduk 

lokal. Kondisi ini harus diantisipasi 

dengan mendorong investasi agar usaha 

peternakan ternak kambing lebih produktif 

dan efisien sehingga mampu memenuhi 

pasar domestik. Hal ini menjadi tantangan 

negara kita  untuk bergerak terus dalam 

mempertahankan keberadaan ternak 

kambing. Bila ditinjau dari kemungkinan 

pengembangan ternak kambing, 

pemeliharaan tradisional di pedesaan 

142 |  ---- 

masih cukup baik, karena dari beberapa 

data diperoleh tidak berbeda jauh dengan 

penelitian secara intensif. Namun ada  

kecenderungan yang nyata, bahwa 

peningkatan pendapatan peternak dan 

tingginya urbanisasi akan berpengaruh 

terhadap peningkatan kebutuhan daging, 

cenderung terus meningkat.

Kelayakan pada Usaha Ternak Kambing 

Peningkatan usaha ternak kambing 

merupakan program khusus untuk 

mensejahterakan peternak. Ternak 

kambing sangat potensial untuk 

dikernbangkan, sehingga perlu perhatian 

dalam budidayanya. Dimana hasil produksi 

sepenuhnya dapat di arahkan ke pasar, dan 

jarang sekali ditemui peternak langsung 

mengkonsumsi sendiri hasil ternak sendiri 

(Winarso, 2010). Bila dilhat dari produk 

utama yang dihasilkan yaitu  berupa 

daging, maka untuk menghadapi pasar 

peran ternak sebagai supplier. Diharapkan 

dengan produk ternak lainnya sebagai 

pesaing seperti daging sapi, kerbau, 

kambing, dan domba. Kesemuanya itu 

merupakan komoditas yang sejenis yang 

utamanya dibutuhkan yaitu  dagingnya 

untuk dikonsumi. Skala usaha yang 

menguntungkan pada dasarnya yaitu  

semakin banyak ternak yang dipelihara 

akan semakin efiien, efektif dan 

ekonomis. Rusdiana dan Saptati (2009), 

usaha pemeliharaan ternak kambing di 

pedesaan dengan kontribusi tanaman ubi 

kayu, peternak mendapat  keuntungan 

yang optimal. Ternak kambing dapat 

memberi  sumbangan nyata pada 

peternak, juga sebagai penentu dalam 

pembangunan sub sektor peternakan di 

negara kita  (Yoyo dkk., 2013). 

Kambing Etawa

Ternak kambing Etawa berasal dari negera 

India, pertama kambing ini  disebut 

kambing Jamnapari (Pratama 2017). 

Kambing ini  berbadan besar, tinggi 

gumba. untuk ternak jantan berukuran 

sekitar 127 cm. Sedangkan untuk kambing 

betina sekitar  92 cm. Bobot badan kambing 

kambing jantan sekitar 91 kg,  dan  betina 

sekitar 63 kg. ukuran tilga, panjang dan 

terkulai ke bawah, dahi dan hidungnya 

cembung, baik jantan maupun betina dan 

bertanduk pendek. Kambing Etawa mampu 

menghasilkan produksi susu sebanak 

2-3 liter/hari Budiyanto (2013). Sesuai 

dengan hasil penelitian Sutama (2011), 

produksi susu kambing etawa antara 2,5-

3 lieter/hari. Kambing Peranakan Ettawa 

(PE) (Nurmediansyah dan Heriyadi 

(2007). Hail keturunan silangan (hibrida) 

kambing etawa dengan kambing lokal 

dikenal sebagai kambing peranakan etawa 

(PE). Kambing Peranakan etawah (PE) 

berukuran hampir sama dengan Etawa, 

namun lebih adaptif terhadap lingkungan 

lokal negara kita  (Waluyo 2009). Kelayakan 

usaha pada ternak kambing Etawa selain 

utuk produksi dagig juga untuk produksi 

susu. Hasil penelitian Rusdiana dan 

Praharani (2014) pada usaha ternak 

kabing Etawa terlihat pada Tabel 2.

 Tabel 2, menunjukkan bahwa 

usaha ternak kambing perah Etawa selain 

untuk menghasilkan daging juga produksi 

susu. Dimana produksi susu kambing yang 

dihasilkan oleh setiap induk sebanyak 1,9 

liter/hari. Namun produksi susu kambing 

perah ada masa kering, menjelang 

induk bunting akan melahirkan. Biaya 

produksi yang dikeluarkan pada usaha 

ternak kambing perah Etawa sebesar 

Rp.11.839.167,-/tahun, keuntunag bersih 

sebesar Rp. 4.368.833,-/tahun dengan 

B/C ratio 1,3. Artinya usaha kambing 

perah Etawa selain untuk produksi daging 

juga susu secara ekonomi layak untuk 

diussahan kembali

Kambing Kacang

Ternak kambing kacang yaitu  ras 

unggul kambing yang pertama kali 

dikembangkan di negara kita , kemudian 

banyak dikembangkan diseluruh wilayah 

pedesaan ,Kambing 

kacang merupakan kambing lokal 

negara kita  dan memiliki daya adaptasi 

yang tinggi terhadap kondisi lingkungan 

alam setempat. Kambig kacang memiliki 

daya reproduksi yang sangat tinggi, dan 

merupakan tipe kambing pedaging , Ukuran badan kaming kaacang  

Agriekonomika, 7(2) 2018: 135-148 | 143

kecil, tnggi gumba pada yang jantan antara 

60-65 cm, untuk betina sekitar 56 cm. 

Bobot badan pada kambing jantan kacang 

bisa mencapai 25-30 kg/ekor. untuk betina 

bisa mencapai 20-24 kg/ekor Ternak 

kambing kacang memiliki dua tanduk yang 

pendek. Ukuran-ukurran kondisi pada 

kambing kacang jantan dan betina yaitu  

telinganya tegak, berbulu lurus dan pendek. 

 Kelayakan usaha dapat 

dihitung berdasar  nilai pendapatan dan 

nilai biaya., kemudian dihitung berdasar  

B/C ratio  ,Analisa  B/C ratio 

gunanya untuk melihat kelayakan usaha, 

apakah usaha ini  untug atau rugi. 

Bila nilai B/C ratio >1 maka, usaha 

ini  layak, dan bila B/C ratio <1 maka, 

usaha ini  tidak layak, sehingga perlu 

dipertimbangkan kembali . Namun hal ini  hampir 

semua peternak tidak pernah menghitung 

untung untung dan rugi. Peternak pada 

umumnya usaha ternak kambing sebagai 

usaha sampingan dan belum banyak 

mengarah pada usaha pokok. 

 Perhitungan untung dan rugi 

biasanya dilakukan pada usaha 

peggemukkan atau pembesaran. Peluang 

pasar ternak kambing baik dalam maupun 

di luar negeri masih terbuka luas, harga 

ternak kambing setiap tahunnya selau 

meningkat. Analisa  ekonomi usaha 

pemeliharaan ternak kambing pada 

dasarnya merupakan kegiatan utama bagi 

peternak. Pendapatan merupakan selisih 

antara total penerimaan dengan biaya-

biaya yang telah dikeluaran selama. Ternak 

kambing kacang banyak diusahakan oleh 

peternak kecil  di Propinsi Sumatera Utara. 

Pada usaha ternak kembing kambing 

yang dilakukan oleh peternak dengan 

pemeliharaan 30 ekor  jantan dan betina 

dimasing-masing kelompok. Ukuran 

umur dan bobot badan kambing Kacang 

dianggap rata. Rataan umur antara 6-8 

bulan dan rataan bobot badan antara 10-

15kg/ekor. Asumsi harga ternak kambing 

Kacang jantan dan betina dengan bobot 

badan hidup sebesar Rp.42.310,-/kg. 

, pada usaha ternak kambing Kacang 

terlihat pada Tabel.3.

 Tabel 3, menunjukkan bahwa, 

biaya pakan diasumsikan kedalam 

tenaga kerja peternak, karena sebagian 

pakan hasil budidya rumput Brachiaria 

riziziensis dan Stylosanthes guianenis 

yang ditanam dibwah naungan kelapa 

sawit yang berumur antara 5-10 tahun. 

hasil perhitungan R1 kambang Kacang 

dikandangkan secara terus menerus, 

R2 kambing Kacang digembalakan dan 

di kandangkan atau keduanya dan R3 

kambig kacang digembalakan terus 

menerus. R1 keuntungan yang diperoleh 

sebesar Rp.1.058.602,- R2 keuntungan 

yang diperoleh sebesar Rp.984.145,- dan 

R3 keuntungan yang diperoleh sebesar 

666.268 masih-masing B/C ratio 1,2, 

1,2 dan 1,1. Usaha ternak kambing 

kacang dengan usaha dikandangkan dan 

digemalakan secara ekonomi layak untuk 

diusahakan kembali.

Kambing Kosta

Ternak kambing Kosta penyebaran 

disekitar lokasi Jakarta dan Propinsi 

Banten. Kambing Kosta memiliki  bentuk 

tubuh sedang, hidung rata dan kadang-

kadang ada yang melengkung, tanduk 

pendek, bulu pendek. Kambing Kosta 

diduga terbentuk berasal dari persilangan 

kambing Kacang dan kambing Khasmir 

(kambing impor. Pola warna tubuh kambing 

Kosta pada umumnya ada dua warna, yaitu 

bagian yang belang didominasi oleh warna 

putih .  Salah satu ciri 

motif garis yang sejajar pada bagian kiri 

dan kanan muka. Selain itu juga ada  

pula ciri khas yang dimiliki oleh kambing 

Kosta bulu rewos di bagian kaki belakang 

mirip bulu rewos pada Kambing Kosta 

tidak sepanjang bulu rewos pada kambing 

PE dengan tekstur bulu yang agak tebal 

dan halus. Di Ternak kambing Kosta pada 

2000-2010 masih banyak diusahakan 

oleh penduduk di Propisi Banten. Namun 

pada tahun 2014, kambing ini  sudah 

hampir punah, sehingga kambing kosta 

perlu pelestarian 

 Analisa  ekonomi  usaha ternak 

kambing Kosta, berdasar  perhitungan 

dengan skala 3 ekor, terdiri dari 2 ekor 

betina induk dan 1 ekor jantan. Kandang  

terbuat dari kayu, bambu dan genteng, 

diperkirakan nilai pembuatan kandang 

sekitar Rp.800.000/unit dengan kapasitas 

tampung sekitar 6-10 ekor, dewasa, muda 

maupun anak, dengan ukuran kandang 

sekitar 1,5 m2 x 3 m2 , Analisa  ekonomi usaha ternak 

kambing Kosta terlihat pada Tabel.4. 

 Tabel 4, terlihat bahwa, usaha 

pemeliharaan ternak kambing Kosta 

dengan skala 2,1 ekor/peternak mendapat 

keuntugan bersih sebesar Rp.1.810.950/

tahun, atau sebesar Rp.248.550/bulan 

B/C ratio 1,2. pada usaha ternak 

kambing skala 2 ekor betina induk dan 1 

ekor jantan peternak mendapat keuntungan 

bersih sebesar Rp.1.665.594,-/tahun, 

B/C 1,2. usaha ternk kambing 

dengan skala pemeliharaan 8 ekor betina 

dan 1 ekor jantan peternak mendapat 

keuntungan sebesar Rp.3.770.000,-/tahun 

dan B/C ratioa 1,9 .Harga ternak kambing 

dipengaruhi oleh kondisi tubuh ternak, 

untuk betina dilihat dari keturunan iduk 

yang baik. Apabila usaha ternak kambing, 

dipelihara sebanyak 5-10 ekor/peternak, 

maka peternak akan mendapat  

keuntungan secara riil 100%/tahun dari 

pendapatan anak yang dibesarkan secara 

optimal.


Pengembangan usaha ternak kambing 

dipedesaan cukup tinggi, bila dilihat 

dari agroekosistem wilayah negara kita  

sangat mendukung untuk perkembangan 

usaha ternak. Kesempatan peternak 

untuk merebut pasar ekspor ternak 

kambing sangat terbuka lebar. Peternak  

memiliki peran yang sangat penting dalm 

mengelola lahan pertanian khususnya 

usaha ternak kambing. Secara sosial, 

ekonomi dan budaya usaha pemilikan 

ternak kambing dapat memberi  arti 

tersediri bagi peternak. Keuntungan pada 

usaha ternak kambing Etwah skala 10 

ekor sebesar Rp. 4.368.833,-/4 bulan B/C 

ratio 1,3, keuntungan pada usaha ternak 

kambing Kacang skala 30 ekor sebesar 

Rp.1.058.602 B/C 1,2. Keuntungan pada 

usaha ternak kambing Kosta skala 2 ekor 

sebesar  Rp.1.810.950/tahun B/C ratio 

1,2. Harga ternak kambing dipengaruhi 

oleh kondisi tubuh, umur, dan jenis  ternak. 

Apabila usaha ternak kambing, dipelihara 

sebanyak 5-30 ekor/peternak, maka 

peternak akan mendapat  keuntungan 

secara riil 100%/tahun dari pendapatan 

anak yang dibesarkan secara optimal. 

Selain untuk meningkatkan pendapatan 

dan kesejahteraan peternak, juga dapat 

meningkatkan populasi ternak kambing. 

Prospek kedepan kambing dapat 

dikembangkan, dan secara tidak langsung 

dapat menyumbangkan pendapatan bagi 

peternak.