penyakit unggas 3
num
yang terkontaminasi feses ayam yang mengandung E. coli atau
debu yang tercemar E. coli.
Debu didalam kandang diketahu dapat mengandung
5 -10
E.coli / gram dan bakteri ini dpat bertahan lama, terutama
dalam keadaan kering. bila debu ini terhirup ayam maka
akan menginfeksi saluran pernafasan ayam, dan berkembang biak
(multiplikasi). Infeksi biasanya bersifat lokal pada kantong udara
yang ditandai dengan penebalan dan menjadi keruh.Sedang untuk
saluran pencernaan baiasanya E. coli akan menyerang usus yang
telah lukan sebab cacing, jamu atau koksidia/protozoa.
Pencegahan
- Sanitasi kandang (kandang dibersihkan, dicuci, dan disemprot
dengan antisep, formalain). Membatasi tamu, mencegah hewan
liar atau hewan piaraan lain masuk lingkungan kandang.
- Terapkan mmenejemen peternakan yang baik, sehingga yam
aman dan terlindung dari ancaman penyakit. Atur kapadatqan
ayam dalam kandang, ventilasi sesuaidn terapkan sistem
pemeliharaan all in all out.
- Desinfeksi peralatan (tempat pakan, tempat minum dll) dengan
antisep. Mundurkan atau majukan jadwal desinfeksi jika
bertepatan dengan jadwal vaksin.
- Lakukan cleaning program dengan pemberian antibiotika pada
umur-umur rawan terjadi kasus calibacillosis.
- Cek kualitas air minum peternakan secara berkala untuk
mengetahui cemaran E. coli di dalam air minum ini .
- Cegah litter menjadi sangaty kering dan berdebu, dengan
memasang litr cukup 7-12 cm.
- Ayam yang terserang penyakit saluran pernafasan segera
diobati agar segera senbuh dan tidak rentan terhadap E.coli.
Pengobatan
Colibacillosis merupakan penyakit bakterial, sehingga dapat
diobati dengan antibiotik. Biasanya diaplikasikan melaui air
minum, selain itu ada obat yng diberikan secara injeksi/suntik.
Obat injeksi merupakan piliha kalau kondisi ayam sudah sulit
minum. Pemberian vitamin juga dianjurkan untuk menpercepat
kesembuhan. Air minum sebaiknya diendapkan dulu sebelum
akhirnya untuk melarutkan obat.
NECROTIC ENTERITIS
Necrotic Enteritis atau NE merupakan penyakit bakterial
pada ayam. NE pertama kali diketemukan oleh Bannets pada tahun
1930, kemudian diuraikan secara rinci oleh Parish E.E. di Inggris
pada tahun 1961Penyakit ini sudah tersebar luas di seluruh dunia,
termasuk Indonesia
Beberapa fektor pemicu kejadian NE yaitu lingkungan
yang tidak hieginis, seperti litter lembab/basah, stres, perubahan
iklim dari kemarau ke penghujan, sanitasi/desinfeksi yang kurang
memadai, dan adanya infeksi sekunder (kosidiosis, inclusion body
/ hepatitis, Gumboro).
Penyakit NE dapat ditemukan pada ayam umur 2 minggu
sampai 6 bulan, yang terbanyak di lapangan yaitu ayam pedaging
umur 2-5 minggu yang dipelihara pada kandang postal litter.
Sedang pada yam petelur umur 3-6 bulan. Mortalitas NE antara 5-
50% dengan rata-rata10%. Selain kematian memicu
terhambatnya pertumbuhan, penurunan produksi dan tingginya
biaya pengobatan.
pemicu
Necrotic enteritis (NE) sebenarnya disebabkan oleh daya
ker4ja dari toksin atau biasa disebut enterotoksin sehingga ayam
yang ter serang NE juga disebut mengalami enterotoxemia, tyang
berakibat pada terjadinya kematian yang tinggi dan mendadak,
sehingga disebut juga “acute enterotoximia”. Racun atu tksin yang
mematikan itu merupajkan hasil dari bakteri Clostridium
perfringens.
Bakteri pemicu k NE terdiri dari Clostridium perfringens
tipe A dan C Bakteri ini merupakan bakteri Grm (+) berbentuk
batang lurus bersifat anaerob dan membentuk spora yang tumbuh
di usus ayam. Spora bakteri ini tahan terhadap kekeringan, panas,
asam dan kondisi ekstrim lainnya.
Ilustrasi 39. Necrotic Enteritis (NE) ayam yang sakit kloaka
kotor lengket
Gejala
Masa inkubasi penyakit NE berkisar antara 3-60 hari.
Gejala awal ditandai dengan adanya diare dan litter basah “sticky
pings”, gejala yang sering terlihat ayam mematuki feses berlendir
yang pada kloaka. Gejala diare berlanjut depresi malas bergerak,
nafsu makan turun, bergerombol, ngantuk dan bulu kusut.
Penurunan pertumbuhan dan naiknya rasio konversi ransum (FCR)
sering terjadi sesudah kerusakan pada mukosa usus halus.
Ilustrasi 40. NE, terjadi keruskan pada mukosa usus halus
Pada ayam pedaging diketemukan dalam bentuk akut dn
kronis. Bentuk aku ditandai dengan kematian mendadak 1-2 jam
sesudah infeksi tanpa didahului gejala klinis. Ayam yang terinfeksi
bentuk kronis menujukan gejala emasiasi.
Penyakit ini memicu gangguan pertmbuhan, tingkat
keseragaman rendah, dan peningkatan rasio konversi ransum
(FCR). Selain bentuk akut dan kronis ada 2 bentuk lain NE yaitu
cholangiohepatitis dan intestinal dysbacteriosis.
Cholangiohepatitis berhungan denganlesi-lesi (luka) pada hati dan
saluran empedu, sedang bentuk Intestinal dysbacteriosis
berhubungan dengan pertumbuhanmikr0flora yang berlebihan pada
saluran percernaan yang menjadi pemicu infeksi.
Penularan
Penularan penyakit NE terjadi secara horizaontal. Ini tidak
menular secara langsung dari ayam ke ayam, namun melalui
perantara seprti ransum, peralatan kandang atau bahan lainnya yang
tercemar bakteri C. perfringens. Infeksi penyakit paling tinggi
terjadi pada kelompok ayam dengan tingkat kepadatan tinggi.
Manajemen litter yang jelek juga menjadifaktor pemicu
tingginya infeksi penyakit ini.
Jika terbukti telah terinfeksi, maka penyakit ini dapat
menyebar dengan cepat dari satu flock ke flock yang lainnya,
sebab jumlah bakteri yang tinggi dan fases ayam yang terinfeksi.
Penyebaran penyakit berlangsung selama 10-14 hari jiak tidak
dilkukan pengobatan.
Pencegahan
Praktek manajmen pemeliharaan dan biosekuriti dapat
dilakukan sebagai tindakan mencegah penyakit NE.Adapun
tindakan yang dapat dilakukan langkash-langkahnya:
- Perhatikan suhu, kelembaban, sirkalasi udara, kepadatan
kandang, dan kualitas litter. Manajemen litter , lakukan
pembolak-balikan litter untuk mencegah kitter basah.
- Pada masa brooding pembolak-balikan litter dilakukan secara
teratur 3-4 hari sekali, mulai umur 4 hari smpai 14 hari. Segera
ganti litter yang basah dn menggumpal
- Lakukan sanitasi dan desinfeksi secara ketat. Pada saat kosong
kandang lakukan pencucian dengan detergent, kemudian bilas
dengn air bersih kemudian semprot dengan desinfektan
- Peralatan peternakan (tempat ransum, tempat minum dll)
dicuci sampai bersih rendam minimal 30 menit dalam antisep
minimal 4 hari sekali.
- Berikan ransum dengan kualitas dan kuantitas yang sesuai
kebutuhan ayam. Pada peternakan ayam petelur jika dilakukan
self mixing hindari pemakaian tepung ikan, gandum (wheat
bran, wheat pollard) atau barley secara berlebihan
Pengobatan
Tindakan penananan dan pengobatan yang dapat dilakukan
jika ayam sdh terinfeksi penyakit NE:
- Segera pisahkan ayam yang telah terinfeksi untuk mencegah
penularanpenyakit.
- Segera buang litter yang basah dan tercampur fese, kemudian
ganti dengan litter yang baru yang telah disemprot desinfektan
- Pada kasus NE murni dapat diberikan obat koliridrin, ampicol,
atau amoxitin pilih salah satu. Pada kasus komplikasi dengan
koksidiosis dapat diberikan obat anti koksidiosis
Berikan multivitamin terutama yang mengandung vitamin A
dan K
- Desinfeksi kandang isi memakai neo antisep new
formulauntuk meminimalisir jumlah bakteri dalam kandang.
- Lakukan rolling pengobatansetiap 3-4 periode pemeliharaan
untuk mencegah resistensi obat.
STAPHYLOCOCCOSIS
Staphylococcosis merupakan penyakit bakterial pada ayam
dan jenis unggas lainnya yang disebabkan oleh staphylococcosis
spp. Kejadian penyakitnya dapat acut dan kronis. Kasus
Staphylococcosis pertama kali diketemukan pada tahun 1892 yang
memicu terjadinya arthritis (peradangan sendi) pada unggas.
Penyakit Staphylococcosis pada ayam biasanyalebih sering
menyerang bagian kulit, ditandai dengan terjadintya bumblerfoot
(plantar abscess) dan juga menyerang bagian persendian yang
memicu terjadinya arthritis. Dismping menyerang bagoan
kulit penyakit ini juga menyerang bursa sternalis, kuning telur
(yolk sac) jantung, tendon, kelopak mata, sumsusm tulang dan
tulang belakang (vertebrae).
Penyakit Staphylococcosis memicu kierugian
ekonomi, sebab menurunkan pertumbuhan, produksi (daging
maupun telur) dan peningkatan jumlah karkas yang diafkir dan
mahal ny pengobatan. Staphylococcosis aureus yang menghasilkan
toksin (racun). Siktar 50% S. aureus yang spesifik dan non spesifik
menghasilkan toksin yang dapat memicu keracunan makanan
pada manusia.Angka morbiditas (kesakitan) rendah dan angka
mortalitasnya (kematian) 0-15%.
pemicu .
Staphylococcosis disebabkan oleh bakteri Staphylococcosis
dari famili Staphylococcoceae yang ada sekitar 45 spesies dan 24
sub spesies. Secara normal bakteri ini dapat diketemukan pada
permukaan kulit dan bulu, selaput lensir (saluran pernafasan dan
usus) dan juga dalam ransum. Bakteri Staphylococcosis berbentuk
coccus (bulat) dengan diameter kira-kira 0,5-1,5 µm. berpasangan
atau bergerobol seperti buah anggur. Bakteri ini ternasuk
Gram (+), fakultatif anerob, tidak berspora dan tidak bergerak.
Dapat dikelompokan menjadi 2, yaitu kelompok patogen
dan non patogen berdasarkan sofat koogulannya (positif atau
negatif) dan toksin yang dihasilkan oleh bakteri ini .
Staphylococcosis yang patogen bersifat koogulasi positif edan
biasanya menghasilkan 2 jenis toksin yaitu beta hemolisin dan
plasma koagulase.
Ilustrasi 41. Bakteri S. aureus berkolni seperti anggur
Staphylococcosis aureus relatif tahan terhadap beberapa
jenis desinfektan, namun sensitif terhadap desinfektan golongan
aldehide (formalin, glutarahdehide) dan halogen (iodine) klorin
juga dapat dipakai untuk membunuh bakteri ini. Pasda suhu 60
°C bakteri S. aureus mati dalam 30 menit
Gejala.
Kejadian staphylococcus dimulai dengan masuk bakteri S.
aureus melaui saluran pernafan atau luka yang ada pada kulit.,
dengan masa inkubasi penyaki ini 2-3 hari.
Gejala klinis sangat bervariasi tergantung lokasi bagian
tubuh yang diserang oleh bakteri S. aureus, dapat menjadi akut atu
kronis. Pada bentuk akut (septisemik) biasanya ditandai dengan
adanya depresi lesu,anoreksia, kenaikan suhu tubuh (sekitar 42,8
°C) dan terlihatkesakitan pada waktu berjalan. Selain itu terlihat
diare encer, bau busuk dan pembengkakan pada persendian
Ilustrasi 42. Staphylococcus aureus persendian kaki bengkak dan
bublefoot
Dilapangan gejala Staphylococcosis yang sering muncul
yaitu pembengkakan pada telapak kaki (bumblefoot) maupun
pada sendi (arthritis/synovtis). Kondisi ini memicu ayam
mengalami kelemahan, jika terus berlanjut dapat memicu
kelumpuhan hingg memicu kematian pada ayam.
Anal ayam yang menderita omphalitis (radang pusar) akibat
serangan staphylococcosis akan mennjukan pusar basahdan
berwarna kemerahan, jiak infeksi meluas ke yolk sac, maka organ
ini akan membesar dengan konsistensi yang lebih encer dan
berbau busuk.
Penularan
Staphylococcosismerupakan penyakit kingkungan yang
tidak ditularkan secara langsung dari ayam ke ayam. Infeksi
baiasanya terjadi melalui luka pada kulit atau adanya kerusakan
membran mukosa. Selainitu infeksi dapat terjadi akibat luka potong
kuku, potong paruh, dan luka pada jengger dan jari. Sementara
DOCdapat terjadi melaui pusar yang belum menutup sempurna.
Penyakit immunosupresif seperti Gumboro, Mareks disease bentuk
ringan dan mikotoksikosis dapat menjadi faktor pemicu infeksi
oleh S. aureus. Kondisi ini staphylococcosis yang muncul bersifat
septisemik sehingga sering berujung kematian
Pencegahan
- Melakukan sanitasi kandang (dibersihkan, dicuci dan
disemprot desinfektan. Mencegah tamu, hewan liar dan hewan
piaraan lain masuk ke lingkungan kandang.
- Melakukan sanitasi tempat minum dengan cara mencuci
tempat minum setiap sehari 2 kali. Rendam tempat minum
yang telah dicuci dengan antisep minimal selama 30 menit,
setiap 4 hari sekali. Majukan atau mundurkan kalau bertepatan
dengan jadwwal vaksinasi.
- Menejemen pengelolaan harus baik, sehingga tercipta suasana
nyaman bagi ayam, jumlah ayam dalam kandang tidak terlalu
padat, ventilasi kandang cukup, sedapat mungkin
dilaksanakana sistem pemeliharaan all in all out.
Pengobatan.
Seleksi dilakukan pada ayam yang kondisi sakitnya parah
sebaiknya diafkir, sebab cukup sulit untuk sembuh. Adapun cara
mengatasi infeksi staphylococcosis dapat memakai antibiotik.
Guna mempercepat kesembuhan sesudah pemberian antibiotik dapat
diberikan multivitamin seperti vita stress
STREPTOCOCCOSIS
Streptococcosis yaitu penyakit pada hewan dan manusia
yang disebabkan oleh bakteri Streptococcus sp. Streptococcosis
dapat menyerang ayam dan jenis unggas lain. Penyakit ini bersifat
akut sampai kronis. Virulensi/ tingkat keganasan dari bakteri
Streptococcus tergolong rendah rendah, sehingga sejumlah ayam
dapat mengalami infeksi subklinis (tanpa ditandai gejala klinis).
Namun demikian Streptococcus sp. dapat memicu toksin
yang dapat meningkatkan patogenesitas.
Infeksi Streptococcus sp biasanya bersifatsekunder, sebab
bakteri ini secara normal diketemukan di permukaan kulit,
selaput lendir hidung dan saluran pencernaan ayam. Streptococcus
sp dapat memicu penurunan produksim telur sebanyka 15%
dan tingkat kematian yang bervariasi antara 0,5-50%.
pemicu
Streptococcosis disebabkan oleh bakteri yang tergolong
genus Streptococcus. Streptococcus termasuk Gram (+) berbentuk
bulat atau lonjong, tidak membentuk spora, tidak bergerak,
berkapsul dan dapat ditemukan dalam bentuk tunggal, berpasangan
atau rantai pendek. Spesies yang paling banyak diisolasi dari
unggas S. zooepidermicus yang ditemukan pada ayam dewasa dan
S. faecalis yang sering dijumpai pada ayam umur 7-35 hari, namun
diketemukan juga pada semua umur.
Streptococcus tidak tahan hidup bila berada diluar tubuh
inang. Akan namun jika terbungkus dalam benda mati bakteri dapat
tahan hingga 3 minggu. Bakterini sensitif terhadap dsinfektan jenis
formaldehide, glutaraldehid, iodine, hidrogen peroksida, alkohol
70%, sodium hipochlorite dll. Bakteri akan inaktif pada suhu 55 °C
selama 30 menit atau 121 C selama 15 menit. Pada pemanasan
kering, misalnya pada pembakaran 160-170 °C selama 1 jam.
Faktor peredeposisi dari penyakit ini antara lain kondisi
kandang yang lotor, kepadatan yang tinggi (sehingga
mempermudah penularan dari ayam yang sakit ke ayam yang
sehat). Penyekit imuno supresif (CRD, NCD, stres dll) dan kondisi
DOC yang kurang baik sehingga ayam mudah terserang penyakit.
Gejala.
Masa inkubasi streptococcosis sekitar 1-3 hari dan
prosespenyakit biasanya berlangsung selama 5 hari hingga 3
minggu. Infeksi oleh S. zooepidermicus dapat memicu 2 jenis
bentuk penyakit, yaitu akut dan kronis. Pada bentuk akut, terlihat
gejala prodomol, kadang-kadang terjadi depresi. Muka dan jengger
cyanasis dan keluar eksudat berdarah. Sedang bentuk kronis
terjadi penurunan konsdisi tubuh muka pucat, jengger dan pial,
diare berwarna kekuningan dan terjadu dhidrasui dan kekurusan.
Infeksi S. faecalis juga dapat menyebabakan penyakit
bentuk akut maupun kronis. Bentuk aku ditandai dengan depresi,
demam, kelesuan, kepucatan pada jengger dan pial, bulu berdiri
diare, tremor/gemetar yang halus pada kepala dan gangguan
produksi telur. Kadang- kadang ayammati tanpa didahului gejala
klinis tertentu dan dapat pula memicu kematian tinggi.
Bentuk kronis dapat dijumpai gejala dehidrasi, penurunan berat
badan , kelumpuhan dan termor / gemetar pada kepala.
Penularan.
Cara penularan dan sumber penullaran penyakit
streptococcosis tidak baik diketahui secara pasti, namun yang jelas
unggas yang terserang dapat bertindak sebagai carrier dalam jangka
waktu beberapa bulan. Pada ayam dewas, penularan diperkirakan
melalui ransum, air minum, peralatan dan petugas yang tercemar.
Streptococcus sp. yang hidup di dalam usus dapat menular dari
induk keanak ayam melalui telur.
Pencegahan,
- Manajemen pemeliharaan yang optimal untk menekan stres,
mencegah penyakit imunosupresi dan memberi ransum
dengan kualitas yang baik dan pemilihan DOC yang
berkualitas
- Memperketat sanitasi kandfang (dibersihkan, dicuci dan
disemprot dengan antisep, formalin), Mencegah tamu, hewan
lair dan hewan piaraan lain masuk ke lingkungan kandang.
- Perlatan peternakana (tempat ransum, tempat minum dan
peralatan lain) dicuci sampai bersih dan direndam minimal
selama 30 menit dengan antisep setiap 4 hari sekali. Majukan
atau mundurkan bila bertepatan dengan jadwal vaksinasi.
- Manajemen peternakan dikelola dengan baik, agar tercipta
suasana nyamana bagia ayam, kepadatan ayam dalam kandang
tidak terlalu padat, ventilasi kandang cukup dan system
pemeligharaan nya all in all out.
Pengobatan.
Penyakit Streptococcosis dapat diobati dengan beberapa
jenis antibiotik sesuai aturan pakai. Berbagai faktor stres, nutrisi
yang buruk dan sistem per-kandangan yang tidak baik
mempengaruhi respons ayam terhadap Streptococcus sp. perlu
dihialngkan untuk mendapatkan hasil pengobatan yang optimal.
Berikan anti stres 4-5 hari, sesudah pemberian obat selasai untuk
membantu penyembuhan.
SALMONELLOSIS
FOWL TYPHOID. (Typhoid pada ayam)
Disebabkan oleh Salmonella yang merupakan kelompok
besar bakteri, yang bersifat parasit pada hampir semua hewan dan
manusia. Beberapa spesies yang spesifik yaitu salmonella pullorum
(lihat berikutnya ), salmonella typhi (pada manusia) dan salmonella
gallinarum.
Salmonella gallinarum merupakan pemicu typhus pada
ayam, yang secara biokimia merupakan bakteri gram negatif,
berbentuk batang, tidak berspora. Bakteri ini dapat tahan sampai
beberapa bulan pada tubuh ayam, namun tidak tahan terhadap sinar
matahari dan desinfektan.
Ilkustrasi 43. Fowl typhoid pada ayam petelur
Tanda-tanda
- Pada ayam muda: ayam kelihatan lemah kantuk, bulu kusut,
pucat terjadi diarrahe, material kekuningan (kekeju-kejuan)
pada daerah caecum.
- Masa inkubasi 3 –4 hari sesudah terinfeksi dan terjadi kematian
yang banyak sesudah 2 minggu.
- Pada ayam dewasa: umumnya tidak diketemukan. Terjadi
kebutaan, dan kelemahan persendian pada kalkun dan itik.
Penularan
- Melalui carrier, seperti tikus, ungga liar, reptil, sangkar litter,
alat-alat dan manusia.
- Kontaminasi lingkungan : Kebanyakan pada peternakan
lingkungannya tercemar oleh salmonella. Ayam atau anak
ayam yang ditempatkan di lingkungan ini akan terinfeksi.
- Makanan: Pencampuran beberapa produksi makanan dapat
merupakan sumber infeksi.
- Inseminasi buatan dilaporkan dapat memicu infeksi.
Ilustrasi 44. Fowl Typhoid pada DOC dan broiler remaja
Pencegahan
- Usahakan kandang tetap bersih dan kering, sangkar litter dan
peralatannya harus bersih.
- bila memasukkan ayam dari luar harus dibersihkan terlebih
dahulu.
- Pelletasi makanan. Makanan berupa pellet hampir semua
menghilangkan kontaminasi bakteri salmonella.
Pengobatan
- Injeksi DOC, dengan antibiotika, khususnya yang bersifat
retensi jaringan, misalnya Gentamysin.
- Nitrofurazelidone 11 gram dicampur 100 kg makanan
diberikan selama 2 minggu, kemudian dosis dikurangi sampai
dengan 5,5 gram dalam 100 kg makanan diberikan selama 2
minggu.
PULLORUM
Pullorum yaitu penyakit ayam yang disebabkan oleh
sejenis bakteri yang disebut dengan ”salmonella pullorum” dan
salmonella gallinarum. Kedua organisme ini memicu
penyakit yang sama dan respon terhadap tindakan-tindakan yang
sama. Kedua salmonella ini dapat memicu kematian
tinggi pada anak ayam, namun hanya salmonella gallinarum yang
secara normal dapat memicu kematian pada ayam dewasa.
Kalau yang diserang ayam petelur dewasa produksinya turun,
bentuk telur abnormal dan daya tetas rendah.
Pullorum sering juga disebut berak kapur “bacillary white
diarchea”. Berikut yaitu gambar salmonella pullorum (ilustrasi
10a) dan anak ayam yang terserang pullorum kerdil, bulu kusam
dan bulu bagian kloaka keras dan ada berak berwarna putih
(Illustrasi 10b)
Tanda-tanda ayam yang terserang:
- Ayam muda : kelihatan kusam, depersi, dehydrasi, berat badan
turun, perut berkapur, faces berkapur dan mati. Kuning telur
tidak diserap. Dan dapat pula terjadi pembentukan abses pada
sendi loncat.
- Ayam dewasa : umumnya gejalanya tidak kelihatan. Ovarium
sering terkena penyakit sehingga warnanya lebih tua, mengecil
dan folikel-folikelnya inaktif. Infeksi lewat ovarium berkaitan
dengan adanya kematian lewat telur.
Ilustrasi 45. a. Salmonella pullorum
45. b. Ayam yang terserang pullorum kerdil dan bulu
pantatnya mengeras
Ilustrasi 46. a. Ovarium unggas terserang 46b. Hati unggas
yang terserang salmonella pullorum
Penularan :
- Ovarium. Hal ini merupakan penularan terbesar. Ovarium
yang terinfeksi, telurnya dapat mencapai 30% mengandung
organisme, banyak embrio mati, untuk yang menetas akan
tetap terinfeksi.
- Mesin tetas. Kulit telur, anak ayam, fises yang jatuh pada
saat penetasan mungkin terkontaminasi dan menjadi karie
untuk seluruh mesin dalam suatu penetasan.
- Kotoran. Pada ayam muda, organisme ini terkumpul
dalam kotorannya, sebelum ayam ini mati. Pada ayam
dewasa jarang ada kuman-kuman dalam kotorannya,
sehingga penyebarannyajuga lambat.
- Lain-lain. Ayam yang makan telur yang terinfeksi akan
tertulari, hal ini yang memicu ayam dewasa terinfeksi.
Unggas liar, burung dara dan burung gereja, juga lalat
merupakan sumber potensiil.
Pencegahan
- Membersihkan secara total organisme ini dengan jalan
mengosongkan kandang selama tiga bulan, mensuci
hamakan dengan desinfektan (lihat Bab.II).
- Pengawasan terus menerus terhadap induk-induk ayam
(breeder farm), bilamana diduga ada penyakit ini, dengan
uji/tes agglutinasi dengan memakai darah atau serum.
- bila ayam di Import dari negara lain harus yang
memakai sertifikat bebas pollorum. Dmikian juga ayam
yang dibeli dari breeder farm, harus yang bebas pollorum.
Pengobatan
- Dapat dipakai obat-obat sulfa, seperti sulfa quinozalin
nitrofura zolidone, dan lain-lain.
AVIAN PARATYPHOID
Avian paratyphoid atau sering disebut typhoid yaitu
penyakit unggas yang disebabkan oleh bakteri salmonella sp.
Penyakit ini memicu kerugian yang besar pada peternakan
pembibit (breeder) akibat kematian embrio beberapa saat sebelum
menetas atau kematian anak ayam umur kurang dari 3 minggu.
Kematian sering terjadi pada ayam umur 2 minggu dengan puncak
kematian pada hari ke -6 sampai ke -10 berkisar antara 10-20%
kadang mencapai 80%.
Paratyphoid akan memicu penyakit yang bersifat
septisemik akut pada ayam muda dan infeksipencernaan kronis
pada yam dewasa. Gjala yang khas pada Paratyphoid yaitu diare
dan nkrosis fokal pada berbagai organ. Infeksi ini lebih sering
menyerang ayam pedaging umur 2-3 hari dengan gejala tidak nafsu
makan, ayam mengantuk dengan mata tertutup, kepala selalu
menunduk dn seringkali feses berwarna putih.
Paratyphoid menyebabakan terjadinya penurunan produksi
telur, fertilitas , daya tetas, dan ayam yang bertahan hidup akan
nampak kerdil, lemah dan lebih peka terhadap penyakit lain.
pemicu nya
Paratyphoid disebabkan oleh bermacam-macam bakteri
salmonella, kecuali salmonella pullorum dan salmonella
gallinarum. ada lebih dari 850 serotipe salmonella
paratyphoid, seperti salmonella typhimurium, salmonella
enteritidis, salmonella heidelberg, salmonella infortis, salmonella
thompson, dan masih banyak lagi serotipe lainya, namun salmonella
typhimurium merupakan pemicu utama.
Salmonella typhimurium yaitu bakteri gram (-) berbentuk
batang dengan ukuran 0,4 – 0,6 x 2-3 µm, namun jkadang kelompok
bakteri ini berbentuk filamen panjang tidak berspora dan
termasuk grup salmonella yang motil.
Ilustrasi 47. Salmonella, kadang membentuk filamen
Salmonella typhimurium tahan hidup diluar tubuh ayam,
akan namun akan mati dengan desinfektan.
Gejala
Pasda anak ayam paratyphoid memicu lemah, lesu,
sayap terkulai, tdak nafsu makan, berkumpul ditempat yang hangat
dan diare berwarna putih. Kadang terlihat kujungtivitis, kebutaan
akibat kekeruhan pada kornea mata dan eksudat kekejuan pada bola
mata, kadang anak ayam yang menderita paratyphoid menunjukan
ada pembengkakan pada sendi yang bersi masa kekejuan.
Ilutrasi 48. Paratyphoid ayam mengalami diare dan bengkakan
mata
Penularan
Paratyphoid menular baik secara vertikal maupun
horizontal. Penulaaran vertikal melalui telur, dari induk ayam yang
carier paratyphoid menjadi tertular paratyphoid ada 2
pendapat mengenai penularan pada telur. Pendapat pertama telur
tertular sejak dari ovarium dan saluran telur ayam penderita.
Pendapat kedua telur dapat tertular akibat masuknya salmonella
typhoid melalui kerabang telur.
Penularan horizontal terjadi secara langsung maupun tidak
langsung. Anak ayam dari telur tertular yang berhasil menetas
menjadi sumber penularan anak ayam yang lain didalam mesin
tetas sehingga seluruh anak ayam akan tertular paratyphoid.
Pencegahan
- Melakukan sanitasi kandang (dibersihkan, dicuci dan
disemprot denganantisep
- Mencegah tamu, hewan liar, hewan piaraan masuk dalam
lingkungan kandang.
- Peralatan peternakan (tempat pakan, tempat minum dll) dicuci
sampai bersih, rendam dalam antisep selama 30 menit 4 hari
sekali. Majukan atau mundurkan desinfeksi jika harinya
bertepatan dengan jadwal vaksinasi.
- Manajmen dikelola dengan baik, sehingga tercipta suasana
nyaman bagi ayam. Jumlah ayam dalam kandang tidak terlalu
padata. Litter tdiak terlalu berdebu dan lembab, ventilasi
kandang cukup, dan sedapat mungkin dilakukan sitem all in all
out.
- memakai bibit DOC yang bebas salmonella (khusunya
salmonella typhymurium).
Pengobatan
Beri antibiotik therapy, sulfamix atau neo mediteril (pilih
salah satu dan sesuai aturan pakai). Berikan pula vita stress selama
4-5 hari sesudah pemberian obat selesai.
PARASIT
PENYAKIT PARASIT LUAR.
Penyakit parasit luar yang dimaksud yaitu parasit yang
hidupnya menumpang diluar tubuh inang. Ektoparasit pada ayam
umunya tidak memicu kematian, namun mengganggu. Hal ini
dapat memicu kerugian pada ternak unggas, sebab ternak
yang terganggu nafsu makannya berkurang, dia sibuk mengusir
serangga ini sehingga banyak enersi terbuang yang akhirnya
produktivitas turun. Serangga yang sering memicu gangguan
pada ternak ungga antara lain: kutu, tungau, caplak, pijal.
Gangguan ini selain menurunkan produktivitas, dapat
juga merusakkan kulit, merontokkan bulu, dan bahkan ada yang
membawa bibit penyakit. Macam ektoparasit (Kutu, Tungau,
Caplak dan Pinjal)
a. KUTU (lice).
Kutu (Lice) dan tungau unggas (Mite) sering menyerang
ayam dan kadang-kadang juga kalkun. Kutu menyerang sepanjang
waktu, namun dapat hidup diluar unggas, pada kondisi yang ideal
dapat bertahan sampai 2 – 3 minggu. Kutu dewasa memiliki
opanjang 1-4 mm dan memiliki bagian tubuh kerpala, dada
(tharaks) dan perut
Gangguan kutu: berupa gigitan namun tidak mengisap darah,
(Chiu, 1983). namun sebab gangguannya ayam susah istirahat.
Ilustrasi 49. Kutu pada ayam (Medion, 2017)
Cara pencegahannya :
- Menjaga kebersihan kandang dan peralatannya.
- Menyemprotkan larutan Sevin (carbaryl) 50 % sebanyak 30 oz
untuk 25 galon air dari sisi bawah kandang ke daerah ekor
ayam, jangan sampai mencemari makanan dan air minum.
Ulangi sesudah 4 minggu bila perlu.
- Menyemprotkan larutan Malathion 0,5 % pada ayam.
- Menyemprotkan larutan serbuk belerang dengan larutan sabun.
- Jangan melakukan penyemprotan dalam waktu 7 hari
menjelang ayam ini dipotong.
Berikut yaitu gambar caplak pada unggas seperti disajikan
pada Ilustrasi 47.
Ilustrasi 50. Kutu (gurem) Unggas
b. TUNGAU (Mite) / Northern fowl mite
Beberapa jenis tungau yang sering menggangu ternak ayam
antara lain yaitu :
- Tungau yang sering ada didinding kandang, celah-celah
srang, tenggeran, pecahan kulit telur dan kotoran ayam.
Bentuknya pipih kecil berwarna keabu-abuan. Tungau –
tungau ini banyak diketemukan didekat vent (patat), ekor,
punggung dan leher. Tungau mengisap darah dan juga
mengiritasi kulit. Ayam yang terserang kelihatan pucat, nafsu
makan kurang, kurus sebab banyak kehilangan darah. Berikut
yaitu gambar Tungau dalam berbagai umur seperti pada
Ilustrasi 5.
Ilustrasi 51. Tungau ayam
Pencegahan:
- Menjaga kebersihan kandang, jangan menumpuk barang
didalam kandang.
- Menaburkan serbuk Malathion 4 % disekitar celah-celah dan
lantai kandang.
- Tungau yang sering ada pada pangkal bulu bentuknya
hampir sama dengan yang ada pada dinding kandang, banyak
ada dipangkal bulu sekitar daerah anus, jarang ada di
dinding kandang. Ayam yang terserang bulu ekornya akan
kelihatan kotor.
- Menyemprotkan atau menaburkan Malthion pada tempat-
tempat disekitar pangkal ekor, sarang, tenggeran, dan lantai
kandang.
- Menggosok ayam dengan campuran 1 bagian Naptalene dan 2
bagian vaselin di sekitar daerah pelepasan (vent).
- Tungau yang hidup di kaki ayam. Jenis ini disisik kaki bagian
bawah (cakar), bila ada dalam jumlah banyak kaki ayam
akan mengerak sehingga cakar kelihatan besar dan kasar.
Pengobatan :
- Merendam cakar ayam yang terserang dalam larutan air
hangat, sampai mekar sampil digosok-gosok agar mengelupas.
sesudah mengelupas, kaki dikeringkan, celupkan dalam larutan
1 bagian minyak tanah dan 2 bagian minyak kelapa, atau
minyak nabati lainnya (jark dll ).
c. GUREM.
Bentuk dari gurem ini kecil sekali, namun dalam jumlah
banyak sebab mengisap darah dapat memicu kematian pada
anak ayam, sedang pada ayam dewasa akan memicu
menurunkan kondisi badannya. Sering diketemukan pada saran,
ayam induk yang sedang mengeram.
Pencegahan :
- Menaburkan serbuk belerang halus pada sarang, dalam
kandang.
Pengobatan :
- Satu bagian seruk belerang dengan 4 bagian vaselin.
- Larutan 2 bagian belerang dan 1 bagian sabun cuci, dengan
jalan mencelupkan ayam kedalamnya.
d. CAPLAK PADA AYAM.
Caplak jenis orgas persicus sering ada pada celah-celah
kandang, tenggeran, sarang dan tumpukan barang dalam kandang.
Caplak menyerang ayam pada malam hari, dengan menggigit dan
menghisap darah, sesudah kenyang akan menjatuhkan diri
bersembunyi dicelah-celah kandang dan berkembang biak.
Ilustrasi 52. Caplak dengan telurnya dan caplak lunak sebelum dan
sesudah ngisap darah ayam
Pencegahan :
- Menaburkan serbuk belerang halus pada sarang, dalam
kandang.
Ilustrasi 53. Bulu ayam yang terserang Caplak
Pengobatan :
- Satu bagian seruk belerang dengan 4 bagian vaselin.
- Larutan 2 bagian belerang dan 1 bagian sabun cuci, dengan
jalan mencelupkan ayam kedalamnya.
e. PINJAL AYAM.
Pinjal termasuk dalam ordo Siphonaptera, memiliki kaki
panjang dan besar untuk meloncat. Jenis pinjal (Echidnolphaga
gallinaca) menyerang ayam. Pinjal ini melekat di jengger, pial dan
kulit muka, sambil mengisap darah sampai beberapa hari.
Ilustrasi 54. Pinjal pada ayam dengan kaki panjang
Pencegahan :
- Menghalau burung liar, kucing, anjing dan binatang piaraan
lainnya, sebab binatang-binatang ini dapat menularkan
dengan jalan membawa pinjal ini .
- Membersihkan kandang dan menghapus hamakan (lihat bab II)
Pengobatan :
- Menggosok ayam dengan campuran 1 bagian belerang dengan
2 bagian vaselin. Ilustrasi 7. memperlihatkan pangkal bulu
ayam yang tesrerang pinjal, bulu rusak dan rontok, sehingga
unggas akan kehilangan bulu. Selain menjadikan bulu rusak,
kulit unggas juga menjadi rusak, bahkan pada serangan yang
hebat dapat terjadi luka pada kulit dan kadang terjadi infeksi
yang sangat mengganggu unggas.
Ilustrasi 55. Bulu Ayam yang Terserang Pinjal
PENYAKIT PARASIT DALAM.
1) Jenis Protozoa
a. KOKSIDIOSIS
Koksidiosis atau sering disebut berak darah yaitu penyakit
parasit protozoa yang menyerang saluran pencernaan bagian usus
halus dan sekum. Kasus koksidiosis padas ayam dan unggas
lainnya pertema kali diidentifikasi oleh Walter j. Watson, seorang
dokter hewan Amerika pada tahun 1923.
Di Indonesia koksidiosis dapat menyerang ayam semua
umur, namun pada ayam pedaging umumnya menyerang pada
minggu ke-2 dan ke-3 pemeliharaan. Sedangkan pada ayam petelur
di umur 0-8 minggu. Akibat penyakit ini yaitu pertumbuhan
terhambat, efisiensi pemakaian ransum dan kematian dapat
mencapai 80-90%.
pemicu .
pemicu nya yaitu kosidia, yaitu parasit sel tunggal
(protozoa) yang berasal dari genus Emeria spp yang menyerang
mukosa usus berbagai ternak unggas dan mamalia. Ada 3 ordo
coccidia dengan ratusan sampai ribuan spesies, namun yang
terpenting pada ayam satu termasuk genus Eimeria a.l. :
- Eimeria acervulina - Eimeria maximum - Eimeria necatrix
- Eimeria brunetti - Eimeria mitis - Eimeria praecox
- Eimeria hagoni - Eimeria mivati - Eimeria tenella
Setiap Eimiria memiliki tempat kesukaan tertentu dalam
usus ayam, sehingga luka yang ditimbulkan berbeda-beda. Berikut
gambaran secara rinci:
E. tenella menyerang khusus di usus buntu (sekum) hingga
memicu pendarahan dibagian usus ini .
E. necotrix dan E. maxima menyerang bagian tengah usus
halus (Jejunum) hingga muncul bintik-bintik putih atau hitam
disektar permukaan jejunum. Pada kasus yang parah terjadi
penebalan dan penggelembungan dinding usus ditambah lendir
bercampur darah.
Ilustrasi 56. Tempat usus yang diserang masing-masing
Eimieria (Sumber: Medion 2015).
E. ecervulina dan E. praecox menyerang bagian atas usus halus
(duodenum) hingga memicu pendarahan.
E. Brunetti menyerang bagian bawah usus halus (ileum)
rektum, sekum dan kloaka.
E. mitis menyerang hampir semua bagian usus halus
Berbicara mengenai koksidiosis tentu tidak lepas dari siklus
hidupnya Eimiria. Berbeda dengan agensi efeksi lain seperti virus
dan bakteri yang tahap perkembangannya cukup simple, protozoa
Eimiria sp. memiliki tahap perkembangan yang cukup beragam,
sebab harus melaui stadium ookista (semacam telur), scizont dan
merazoit (lihat gambar umum siklus hidup koksidia)
Ilustrasi 57. Siklus hidup Koksidia (Binatoro, 2009)
Daur hidup :
Infeksi terjadi pada saat ayam yang rentan memakan
ookista. Ooikista bersporasi mengandung 4 sporocyst, yang
masing-masing sporocyst mengandung 2 sporozoit.
Sporozoit dilepaskan melalui proses mekanis & biokimia
dalam saluran pencernaan ayam. Sporozoit yang lepas dibawa ke
caecus, disitu akan menembus dinding usus dalam-dalam kelamin
pronia, kese-sel epitel yang mengelilingi kelenjar “lieberkun”.
Dalam waktu 12-48 jam sesudah ada dalam sel, spozoit berubah
dalam tahap makan, yang disebut dengan tropozoit.
Trozoitnya mulai membesar dan intinya membelah diri,
melalui proses pembelahan asexual, yang disebut sebagai schizont.
Bentuk parasit kecil ini dalam schizont disebut Merazoit. Dalam
waktu 3 hari schizont masak dan pecah, mengeluarkan merazoit.
Merazoit ini mencari sel inang (epitel), dan mengulangi
proses perkembangan melalui tahap troposoit dan schizogony.
Merazoit dari siklus schizogony ke II ini kembali menembus
dinding sel epitel inangnya. Beberapa diantaranya memasuki proses
schizogony ke III namun kebanyakan berkembang menjadi
gametocyte jantan (microgamet) dan gametocyte betina
(macrogamet). Gametocyt jantan menjadi dewasa dan pecah,
melepaskan microgamet-microgamet berflagela dua (biflagellae
microgamet). Bila macrogametocyt bertemu dengan
microgametocyte terjadilah pembuahan terbentuk zygote. Zygote
diselimuti dinding tebal disebut dengan Ookista.
Bila telah masak ookista memecah sel inang dan terbawa
kotoran kemudian siklus terulang lagi seperti pada Ilustrasi diatas.
Farr dan Wehr yang dikutip oleh TC Chiu (1983) melaporkan
infektifitas tetap berlangsung selama 86 minggu. Ookista juga
tahan terhadap berbagai zat kimia sebab ada selubung luarnya.
Penularan
Penyakit koksidaia menular secara langsung (horizontal)
dari ayam yang sakit ke ayam yang sehat. Sesuai siklus hidup
kosidia, ayam yang menderita koksidia akan mengeluarkan ookista
bersama dengan fasesnya. Ookista yng keluar masuk ke tubuh
ayam melalui makanan dan / atau air minum yang terkontaminasi.
- Penyakit timbul pada hari ke4 sesudah infeksi. Pada hari 5-6
usus membengkak dan berdarah, sehingga ayam diarrhea
darah.
- Pada hari ke-7 Ookista sudah masak dan dikeluarkan bersama
dengan kotoran. Ayam yang bertahan biasanya dapat sembuh.
Ilustrasi 58. Ayam yang terserang koksidiosis dan baguian usus
yang diserang masing-masing Eimiria.
Pencegahan :
- Sebelum kandang dipakai sebaiknya disanitasi (dibersihkan,
dicuci dan didesinfektan) dengabn antisep.
- Litter harus selalu kering dan tidak menggumpal.
- Makanan dan minuman harus bersih, baik dan cukup.
- Beri Coccidiostat yang dicampur dengan air minum/makanan,
diberikan pada ayam umur 1 – 3 bulan, selama 3 hari berturut-
turut selang tiga hari kemudian diberikan lagi selama tiga hari.
- Vaksinasi. Hanya efektif untuk ayam yang dipelihara di litter,
dan dengan manajemen litter yang baik. Selama 12 hari sesudah
vaksin litter harus disemprot air agar lembabab namun tidak
boleh terlalu basah.
Pengobatan :
- Obat – obatan yang baik diberikan melalui air minum selama
2-3 hari, istirahat 2 – 3 hari, ulangi lagi 1 kali ssiklus antara
lain :
- Sulfaquinozalin
- Sulfadimetozin.
138
- ESB 3
- Amaprol (Duocoxine)
- Bifuran
- Resiko pemakaian quinozalin pada ayam layer yaitu
penurunan produksi telur. yang paling aman untuk leyer yaitu
Amparol.
b. LEUCOCYTOZOONASIS (Malaria like)
Leucocytozoonosis atau malaria like yaitu penyakit parasit
dalam tubuh (endoparasit) yang disebabkan oleh protozoa.
Penyakit ini tersebar luas khususnya dibenua Asia termasuk
Indonesia. Kerugian yang terjadi adalagh kematian, penurunana
sampai produksi berhenti dan pertumbuhsn ysng terhambat.
Leucocytozoonosis menginfeksi semua umur ayam, gejala
klinis yang muncul meningkat pada ayam dewasa dan tua. Pada
anak ayam Leucocytozoonosis memicu angka kesakitan
sebesar 0-40% dan pada ayam dewasa 7-40%. Angka kematian
pada anak ayam 7-50% dan pada ayam dewasa 2-60%.
Ilustrasi 59. Penyabab dan gejala klinis leucocytozoonosis
Penebabnya.
Leucocytozoonosis disebabkan oleh protozoa
Leucocytozoon sp. Protozoa ini merupakan parasit darah yang
hidupnya didalam sel darah merah. Leucocytozoon sp yang
menyerang ayam dainataranya L. caulleryi; L. sabrezi dan L.
schautedeni. Siklus hidup Leucocytozoon sp terdiri dari 2 siklus,
yaitu siklus asexual dan siklus sexual. Siklus asexual terjadi pada
inang seperti ayam atau unggas lainnya. Sedang siklus sexual
terjadi didalam tubuh vektor yaitu Cullicoides dan Simulium.
Ilustrasi 60. Siklus Leucocytozoon sp (Sumber: Medion 2015)
Gejala.
Seranagan Leucocytozoon sp dapat terjadi tanpa ditambah
gejala klinis. Gejala klinisnya yaitu feses berwarna hijau, depresi,
hilang nafsu makan, muntah darah dan kelumpuhan yang diikuati
dengan kematian. Sedang yang tidak menunjukan gejala klinis
yang spesifik ditandai dengan penurunan produksi telur dan
penurunan berat badan.
Ilustrasi 61. Leucocytozoon sp pada preparat apus dara
Perubahan yang ditemukan pada saat bedah bangkai
diantaranya bintik-bintik atau bercak-bercak perdarahan hampir
seluruh organ dalam tubuh (hati, paru-paru, limfa, thymus, ginjal,
pankreas, usus, proventrikulus, bursa fabrisius, otak, otot dada dan
otot paha).
Penularan
Penularan terjadi secara horizontal dari ayam sakit ke ayam
sehat dengan perantara gigitan lalat hitam dari jenis sp. atau
nyamuk dari jenis Colicoides sp. Leucocytozoon caulleryl yang
memicu Leucocytozoonoosis pada ayam menyebar melaui
vektor Cullicoides sp., sedangkan spesies Leucocytozoon lainnya
melalui vektor Simulium sp.
Pencegahan
- Menekan dan mengeleminir vektor biologik, diusahakan
supaya tidak terlalu banyak lalat (Simulium sp) dan nyamuk
(Culicoides). Semak-semak ataupun tempat-tempat yang
menggenang harus dihindari. Air minum hendaknya rutin
diganti setiap hari agar tidak dijadikan tempat berkembang
biaknya nyamuk.
- Melakukan sanitasui kandang (dibersihkan, dicuci dan
disemprot dengan antisep). Mencegah tamu, hewan liar dan
hewan piaraan lainnya masuk ke lingkugan kandang.
- Peralatan peternakan (tempat ransum, tempat minum dall)
dicuci sampai bersih dan direndam selama minimal 30 menit
dalam antisep setiap 4 hari sekali. Majukan atau mundurkan
jadwal desinfeksi jika harinya bertepatan dengan jadwal
vaksinasi.
- Manajemen pengelolaan harus baik sehingga tercipta suasana
nyaman bagi ayam. Kandang tidak terlalu padat, ventilasi
kandang cukup dan sedapat mungkin sistem pemeliharaan all
in all out.
Pengobatan
Pengobatan derngan obat malaria, antikoksi, Coxy atau
Duoko (pilih salah satu dan dipakai sesuai aturn pakai). Berikan
anti stres selama 4-5 hari sesudah pengobatan selesai.
c. MALARIA UNGGAS
Malaria unggas yaitu penyakit parasit (protozoa) yang
bersifat akut dan menyerang eritrosit berbagai jenis unggas.
Penyakit ini ditandai dengan adanya pigmentasi eritrosit, didalam
darah dan gametrosit didalam eritrosit dewasa. Penyakit ini
ditularkan oleh nyamuk dengan gejala hampir mirip dengan
penyakit lain yang disebabkan oleh haemoproteus sp.,
Leicocytozoon sp. maupun malaria dari genus lain yang termasuk
famili Plasmodiidae.
Pada daerah tropis seperti Indonesia, penyakit malaria dapat
ditemukan sepanjang tahun, sebab serangga vektor dapat
berkembang biak sepanjang tahun. Malaria unggas dapat
memicu anemia dan kelemahan pada unggas, namun tingkat
kematian yang ditimbulkan tidak tinggi.
pemicu .
Penyakit malaria unggas disebabkan oleh protozoa dari
genus Plasmodium, familia Plasmodiidae, spesies Plasmodium sp.
yang meninfeksi eritrosit berbagai jenis unggas. Replikasi
Plasmodium berlangsung pada eritrosit yang bersirkulasi sebab
plasmodium mengandung pigmen eritrosit.
Berbeda dengan Haemoproteus dan Leucocytozoon, dimana
replikasi Haemoproteus terjadi didalam sel endotel dan
Leucocytozoon didalam sel leukosit. Sifat-sifat khas ini yang
membedakan genus Plasmodium dari Leucocytozoon dan
Haemoproteus.
Spesies yang berbahaya untuk ayam, kalkun dan itik yaitu
P. gallinaceum, P. juxtanucleare. Malaria pada ayam biasanya
disebabkan oleh Plasmodium gallinaceum, namun malaria pada
kalkun biasanya disebabkan oleh Plasmodium juxtanucieare,
Plasmodium durae dan Palsmodium grtaffithsi, sedang malaria
pada itik disebabkan oleh Plasmodium lophurae.
Ilustrasi 62. Plasmodium sp. a. Jengger dan pial pucat. b.bintik
merah/darah pada muscle
Gejala.
Gejala penyakit malaria unggas bervariasi, dari tanpa gejala
adanya penyakit akut yang berlangsung cepat ditambah oleh anemia
berat dapat memicu kematian. Gejala ini tergantung
Plasmodium yang menginfeksi.
P. gallinaceum mengakibatkan terjadinya penyumbatan
kapiler-kapiler otak sehingga memicu kematian atau
gangguan pada syaraf pusat. P. durae memicu kematian yang
tinggi pada kalkun ditambah dengan adanya kerusakan berupa
fibrosis pada berbagai jaringan.
Ilustrasi 63. Siklus hidup Plasmodium sp.
Penularan.
Penyakit ini dapat ditularkan melalui gigitan nyamuk.
Plasmodium berkembang biak pada nyamuk Culex spp. Aedes
degypty dan Amegeres abturbans, jarang pada nyamuk anopheles.
Siklus hidup Plasmodium sp. melibatkan 2 macam hospes,
yakni hospes perantara (vertebrata, unggas) dan hospes serangga
(nyamuk). Perkembangan aseksual dan bentuk seksual muda terjadi
di dalam eritrosit unggas, sedang fertilisasi dan perkembangan
bentuk seksual dewasa terjadi di dalam tubuh nyamuk.
Pencegahan
- Menekan dan meminimalisir vektor biologik (nyamuk) supaya
tidak terlalu banyak nyamuk diarea peternakan. Semak-semak
ataupun tempat-tempat yang menggenang harus dihindari. Air
minum hendaknya rutin diganti setaip hari agar tidak dijadikan
tempat berkembang biak nyamuk.
- Pencegahan dapat dilakukan dengan pemberian insektisida
golongan organofosfat yang efektif membunuh larva
nyamukpada bak penampungan air. Penyemprotan dengan
insektisida pada tempa-tempat yangdiduga sebagai tempat
vektor juga dapat dilakuakan.
- Melakukan sanitasi kandang (dibersihkan, dicuci dan
disemprot dengan antiseptik, formalin atau sporades).
Mencegah tamu, hewan liar dan hewa piaraan lain masuk ke
lingkungan kandang.
- Peralatan peternakan (tempat ransum, tempat minum dall)
dicuci sampai bersih dan direndam selama minimal 30 menit
dalam antisep setiap 4 hari sekali. Majukan atau mundurkan
jadwal desinfeksi jika harinya bertepatan dengan jadwal
vaksinasi.
- Manajemen pengelolaan harus baik sehingga tercipta suasana
nyaman bagi ayam. Kandang tidak terlalu padat, ventilasi
kandang cukup dan sedapat mungkin sistem pemeliharaan all
in all out.
Pengobatan
Maladex, Antikoksi, Coxy atau Duoko pilih salah satu dan
gunakan sesuai aturan. Berikan anti setres selama 4-5, sesudah
pemberian obat.
Tabel 10. Perbedaan Leucocytozoonosis dengan Malaria Unggas
Leucocytozoonosis Malaria Unggas
pemicu Leucocytozoon sp Plasmodium sp
Vektor Nyamuk Colicoides sp dan
Simulium sp
Nyamuk Aedes aegypty,
Culex sp dan Armageres
obtubans
Bentuk
aseksual
(schizont)
Diorgan tubuh, limpa, ginjal,
paru-paru dll
Disel darah merah
Pemeriksaan
bedah bangkai
- Pendarahan ptechioe
atau echymosa pada
seluruh jaringan dan
organ tubuh seperti otot
dada, otot paha, ginjal,
pancreas, usus, thymus
dan bursa fabrisius.
- Perdarahan dirongga
perut, mulut dan saluran
pernafasan bagian atas.
- Fese bercampur darah
- Karkas berwarna pucat
- Perdarahan berupa bintik-
bintik pada otot dan organ
tubuh.
- Pembuluh darah pecah
sebab Plasmodium sp
menyerang sel darah, sel
makrofag, limfoit dan sel
reticuloendotheal
Pemeriksaan
mikroskopis
Sel-sel organ dalam, (hati,
paru-paru, ginjal, limpa)
mengalami pembesaran
sebab terjadi perbanyak-an
schizont dalam organ
ini .
- Ditemukan adanya Pigmen
schizont dan bentuk cincin
dari merazoit Plasmodium
sp. pada sel darah merah
- Ukuran gametocyte besar
tidak beraturan dan
menggeser kedudukan insel
darah mearh
d. BLACK HEAD (Kepala hitam)
Penyakit ini kebanyakan menyerang Kalkun, namun dapat
juga ayam. pemicu nya yaitu hewan bersel satu, yakni
Histomonas xelagridin.
Tanda – tanda
- Ayam lesu, sayap tergantung kebawah.
- Kotoran berwarna kuninh seperti belerang.
- Tanda-tana khas kepala menjadi kehitam-hitaman.
Pencegahan dan pemberantasan
- Kebersihan kandang dan lapangan pelepasan unggas harus
dijaga.
- Pemeliharaan ayam harus terpisah dari pemeliharaan unggas
yang lainnya.
- Seperti kalkun, itik, angsa dan lain-lain.
- Berikan dalam makanaan Nithiazida 0,03 % atau Enheptina
0,015 %.
Pengobatan
- Hepzidam Enheptina, Histotat/NF-180
2) Jenis Cacing
a. CACING KREMI (ascaris).
Cacing ini berbentuk langsing dan bulat, warna putih keabu-
abuan, panjang berkisar antara 3-11 cm. Hidupnya dalam usus
halus. Dalam jumlah banyak dapat memicu usus luka dan
menebal.
Tanda-tanda
- Pada anak ayam terlihat pucat, kurus, sayapnya
menggelantung, kotoran encer, nafsu makan berkurang dan
sering memicu kematian.
- Pada ayam dewasa, produksi telur akan turun, kurus.
- Penularan : Melalui mulut, dengan termakannya telur-telur
cacing yang ada pada makanan, kotoran.
Pencegahan
- Pemeliharaan anak ayam terpisah dari ayam dewasa.
- Menjaga litter hangan sampai basah, dan lembab.
- Melepaskan ayam dalam lapangan rumput bila sudah
kering.
- Makanan harus baik kualitasnya, protein dan vitaminnya harus
cukup.
Pengobatan
- Larutan 0,4 % pperacin hexahidrat/citray dalam
makanan/minuman, dapat diulangi setiap 1 bulan sekali.
- Serbuk tembakau 2 % dalam makanan selama 3-4 minggu
terus menerus dan dapat diulangi sesudah 3-4 minggu kemudian
dan seterusnya.
- Satu per mil serbuk buah pinang yang dibakar dalam makanan.
b. CACING PITA
Cacing pita berbentuk pipih, berwarna putih. Tidak
memiliki mulut/alat pencernaan, makana diserap oleh seluruh
permukaan tubuh. Panjang antara 15-25 cm. Ilustrasi 8a.
memperlihatkan cacing pita dewasa dan 8b.sikulus hidup cacing
pita
148
a b.
Ilustrasi 64. a. Gambar cacing pita dewasa
b. Siklus hidup cacing pita Sumber (Sudarmo, 2003)
Penularan
- Melalui mulut ternak, yang memakan oocyt. Dalam siklus
hidupnya memerlukan hospes perantara (tempat tinggal
sementara) sejenis keong. Caing pita ini hidup diusus halus
ayam dengan mengaitkan ujung badannya pada dindidng usus
sehingga dindidng usus rusak.
Tanda-tanda.
- Seperti ayam yang terserang ascaris, ayam terlihat pucat,
lemah nafsu makan menurun.
Pencegahan
- Dalam pemeliharaan ayam dewasa dipisah dengan anak ayam.
- Memberantas lalat, dengan obat-obatan insektisida misalnya
dengan stomoksin-P
- Menjaga litter tetap kering dan tidak menggumpal.
Pengobatan
- DBT (Di-n_Butyl Tindilaurate) sebanyak 0,5 % dicampur
dalam makanan, diberikan satu hari. Ulangi sesudah 1-2 bulan.
- Satu pil Tenabon untuk ayam dewasa, sedangkan yang muda
disesuaikan dengan beratnya.
- Obat-obat Phenothiasin.
Note : Pada saat pengobatan, ayam dipuasakan dulu beberapa jam
sebelum obat diberikan.
c. CACING PERNAFASAN.
Cacing ini sering menyerang anak ayam yang masih dalam
alat pemanas. pemicu nya yaitu cacing syngamus trachealis
yang berbentuk bundar, dan kecil sekali. Panjangnya berkisar
antara 0,625-1,25 cm. Berwarna merah. Biasanya ditemukan
dipermukaan dinding sebelah dalam (mucosa) alat pernafasan
sebelah atas (trachea)
Ilustrasi 65. Ayam yang terserang cacing pernafasan
Tanda-tanda
Anak ayam kelihatan lesu, bulu kusut tidak mengkilap,
nafsu makan hilang. Sering memanjangkan leher sambil membuka
mulut seperti sedang menguap.
Pencegahan
- Pemeliharaan anak ayam terpisah dari ayam dewasa.
- Didalam kandang dan tempat pelepasan anak ayam jangan ada
tempat-tempat yang lembab.
- Pelepasan anak ayam dipdang rumput/umbaran/ranch jangan
terlalu pagi, tunggu sampai rumput kering.
- Anak ayam yang sakit dimasukkan kedalam kotak, kemudian
kedalamnya ditaburkan serbuk barium antimonyl terrat. Kotak
digoncang-goncang agar serbuk ikut berhamburan bersama
gerakan anal aam, dan terhisap oleh anak ayam.
d. CACING MATA AYAM.
pemicu nya yaitu sejenis cacing kecil berbentuk seperti
benang berwarna putih, disebut Oxyspirura mansoni.
Tanda-tanda
- Ayam sering menggosok-gosokan matanya pada sayap atau
menggaruk-garuknya dengan jari kaki (cakar).
- Matanya membengkak dan keluar cairan jernih. Kalau terjadi
infeksi sekunder akan terlihat “pus” berwarna putih
kekuningan.
- Kalau diperiksa akan terlihat bentuk seperti benag berwarna
putih disudut mata sebelah dalam, dibawah selaput mata yang
dapat menutup dan membuka (membran nictitan).
Pencegahan
- Manajemen litter yang baik,artinya liter harus kering, tidak
menggumpal (“mawur”).
- Hindarilah tempat-tempat yang dapat untuk sembunyinya
lipas, sebab dapat ditularkan melalui lipas.
Pengobatan :
- Teteskan larutan 5 % creolin langsung kecacing dalam mata,
kemudian ambilah cacing-cacing ini .
- Bersihkan mata dengan boorwater/aquadest/air hangat.
e. CACING RAMBUT
pemicu
pemicu nya yaitu sejenis cacing kecil yang hidup
didalam usus, panjang 1,5 – 2 cm, tidak berwarna.
Tanda – tanda
- Muka pucat, lesu, kotoran encer, bulu kusut. Untuk ayam
petelur produksi telur akan turun, untuk ayam pedaging
pertumbuhannya terhambat.
- Kalau diadakan seksio (pembedahan) dan dilihat ususnya
terlihat kemerahan dan menebal.
Pencegahan
- Seperti halnya penyakit cacing usus yang lainnya.
Pengobatan
- Campurkan 0,1 cc minyak chenopodium dengan 5 c minyak
olive, dimasukkan dalam rectum memakai pipet karet.
- Mencampurkan 1 pound seruk phenothiazin dalam 100 pound
makanan halus.
f. CACING USUS BUNTU
pemicu
pemicu nya yaitu sejenis cacing yang hidup dicaeca,
panjangnya 0,8 – 1,5 cm, warnanya keabu-abuan.
Tanda- tanda
- Ayam kelihatan lesu, muka pucat dan lemah.
- Pertumbuhan terhambat (kerdil).
- Pada serangan yang hebat (invectasi besar), kalau dibuka
ususnya akan terlihat caecumnya berwarna merah, merata
dapat dibedakan dengan Emeria Tenela.
Pencegahannya dan pengobatan
- Seperti pada cacing rambut, yaitu dengan Phenothiazin.
3) PENYAKIT JAMUR
a. ASPERGILOSIS
Penyakit ini juga disebut Aspergilus fumigatus atau
Pneumonia indukan, sebab banyak menyerang anak ayam yang
abru menetas.
Habitat normal dari jamur jenis ini yaitu bahan-bahan
organis yang membusuk, pakan kedaluawarsa, litter yang basah,
sangkar yang kotor namun juga dapat tumbuh pada jaringan hidup.
Infeksi biasanya pada paru-paru atau hati nampak seperti
benjolan kecil-kecil berwarna kekuningan sebesar butir padi.
Sedang pada kantong udara, berwarna kehijauan mirip dengan roti
yang berjamur.
Tanda-tanda
- Nafsu makan kurang, jengger kehitaman, sayap terkulai,
kesulitan pernafasan, dan pernafasan cepat dan gasping
(megap-megap), namun tidak batuk atau bersin
- Kandang-kandang dapat terjadi encephalitis, buta. Kebuataan
biasanya hanya satu sisi (uni internal), terjadinya kebanyakan
sebab infeksi kantong udara, dari pada masuknya spora
langsung kemata.
Penularan
- Infeksi terjadi pada saat ayam menarik nafas spora ikut terisap
oleh ayang sehat, diperlukan spora dalam jumlah besar untuk
menjadi penyakit.
- Spora dapat terisap ayam pada :
- kontaminasi hatchery (penetasan).
- makanan atau litter yang berjamur.
- kadang-kadang vaksin terkontaminasi oleh spora
Aspergilleus fumigatus.
Pencegahan dan pemeberantasan :
- Jangan meempatkan hatchery (penetasan) dilokasi feed mill
atau tempat0tempat yang berdebu organic keudara.
- Menjaga kebersihan kandang sehingga tidak ada tempat yang
berjamur.
- Pengolahan litter agar senantiasa kering dan tidak
menggumpal.
- Makanan dan minuman yang diberikan jangan ada yang
berjamur.
Pengobatan
- Belum ada obat yang efektif untuk aspergillosis. Kalau terjadi
out break (wabah) yang terserang diafkir dan kandang dan
peralatannya dibersihkan dan keringkan dan didesinfektan.
b. AFLATOXIN
pemicu
pemicu nya yaitu suatu jenis hamur yang tumbuh
terutama pada biji-bijian dan buah-buahan makanan yang digiling.
a b
Ilustrasi 66. a. Aspergilosis dan b. Saluran Pencernaan yang
terserang aspergilosis
Gambar 66 aflatoxin dan tembolok yang terserang aflatoxin.
Jamur ini tumbuh pada kelembaban 13 % atau lebih, sedangkan
pada kelembaban 12,5 % atau kurang pertumbuhan akan
terhambatt dan atau tidak ada pertumbuhan.
a b
Ilustrasi 67. a. Aflatoxin dan 68. Tembolok yang terserang
Aflatoxin (T.C. Chiu, 1983)
Ada 4 fraksi aflatoxin yaitu B1, B2, G1 dan G2 yang
semuanya sangat setabil sedang untuk fungusnya mudah
dimusanhkan dengan zat-zat kimia.
- Nafsu makan turun, sehingga ketahanan tubuh menurun, yang
berakibat rentan terhadap berbagai penyakit.
- Adanya perubahan jaringan, misalnya pembesaran dan
pelunakan hati, pembesaran limpa, pancreas dan kantong
empedu.
- Kematian mendadak pada keracunan akut.
Akibat dari afllatoxin
1. Kematian
2. Petumbuhan terhambat.
3. Mutu karkas rendah.
4. Feed konversi jelek.
5. Peka terhadap perubahan cuaca, dindin dan panas.
6. Perapuhan tulang-tulang.
7. Pigmentasi menurun, kaki, pial dan sunsum tulang pucat.
156
8. Peka terhadap sodium sebab memicu kerusakan ginjal.
9. Kadar gula darah menjadi rendah.
10. Pendarahan local dan penjendalan darah selama pengambilan
darah, penangkapan dan pemrosesan.
11. Kegagalan metabolisme lemah. Terjadi akumulasi lemak dihati
sehingga hati membesar dan berwarna kekuningan.
12. Kebitihan protein meningkat.
13. Berpengaruh terhadap penyakit lain terutama penyakit
bacterial, mempengaruhi immunitas sellulair (lihat Bab. I).
14. Juga dapat menyebebkan kanker (karsionogenik).
Pencegahan
- Menjaga kebersihan kandang, tempat pakan dan minum.
- memberi makanan yang baik dan cukup.
- memberi minuman yang bersih dan baik.
- Jangan menimbun makanan terlalu lama, apalagi kalau cara
penyimpanannya tidak baik.
Pengobatan
- Seperti pada penyakit aspergillosis.
c. PENYAKIT TRUSH
pemicu
pemicu nya yaitu jamur berbentuk bundar, seperti sel
ragi, menyerang alat pernafasan bagian atas. Kebanyakan
menyerang ayam muda.
Ilustrasi 68. Ayam yang terserang trush Trachea seperti ada keju
Tanda-tanda
- Nafsu makan turun.
- Berat badan turun.
- Pada bagian mulut berlendir banyak.
Pencegahan
- Menjaga kebersihan kandang, bak makanan dan tempat
minumnya.
- memberi makanan yang baik, bersih dan segar.
Pengobatan
- Ayam yang sakit dipisahkan dari kelompoknya.
- Bak makanan dan tempat minuman dibersihkan dan suci
hamakan.
- Diberikan larutan Cupri-sulfat 0,5 per mill dalam air minum
selama beberapa hari.
d. PENYAKIT FAVUS
Penyakit ini biasanya menyerang kulit bagian kepala,
terutama jengger, pial, muka. ada kerak-kerak putih/putih
kekuningan.
Ilustrasi 69. Ayam Terserang Penyakit Favus
Penularan
- Melalui kontak langsung antara ayam yang sakit dan yang
sehat.
- Peralatan kandang, sangkar, tempat pakan dan minum.
Pencegahan
- Menjaga kebersihan kandang dan peralatannya.
- Ayam yang terkena penyakit favus dipisahkan dari
kelompoknya.
- Mendesinfektan kandang dan peralatannya.
Pengobatan
- Memebrsihkan bagian – bagian kepala ayam yan gsakit dengan
jalan menorah, menyayat atau mengupas kerak-kerak yang
ada, mencuci dengan air panas atau alcohol.
- Mengoleskan campuran 1 bagian formalin dengan 20 bagian
vaselin yang diaduk rata dan diberikan merata pada luka
(lesion-lesi_ yan gtelah dibersihkan.
PENYAKIT sebab GANGGUAN LAIN.
Kanibalisme
Kanibalisme disebabkan oleh adanya kesalahan dalam
manajemen, misalnya kekurang zat makanan, jumlah makanan,
terlalu padat dan pemeliharaan ayam yang tidak sejenis.
Ilustrasi 70. Kanibalisme pada ayam
. Osteodistrophi
Suatu malformasi atau salah bentuk dimana kerang suatu
bagian bentuk V (ve) dari tulang rawan tertinggal dibagian sisi
proximal dekat dengan badan dari tibia dan pada sebagian kecil
kasus ada juga pada tulang-tulang lainnya. Pada broiler
penyakit ini disebut dengan tibial cyschondroplasia.
Pada osteodystrophi ini, tulang rawan diujung tibia tetap
tinggal sebagai tulang rawan dan tidak diganti dengan tulang biasa.
Keadaan ini memicu kelemhan struktur.
PENYAKIT BERDASARKAN KESALAHAN
MANAJEMEN.
Keracunan
Penyakit yang disebabkan oleh keracunan sering terjadi,
bahkan sering memicu kematian. Hal ini disebabkan oleh
sebab ayam memakan racun atau memakan tanaman yang
mengandung racun, seperti daun-daunan, biji-bijian, dan bahkan
makanan yang mengandung racun. Dalam bahan pengawet
makanan kadang-kadang dipakai zat kimia, misalnya arsen,
phospor dan sebagainya yang dapat berakibat racun pada ayam.
. Luka Infeksi.
sebab adanya suatu luka atau goresan sehingga bakteri
dapat masuk kedalamnya memicu ayam terinfeksi. Bila luka
ada dikaki maka ayam akan pincang, dan terjadi penimbunan nanah
pada luka.
Pengobatan
Luka dibuka/operasi, semua timbunan nanah (exudat)
dikeluarkan, dibersihkan dan dicuci dengan alkohol, diberikan
obat-obat sulfa atau antibiotika
Efek kandang battery.
a. Kelumpuhan.
Ditandai dengan kelumpuhan dikaki sehingga ayam tidak
dapat berdiri dengan baik. Disamping sebab ayam selalu disekap
pada tempat yang sempit, kekurangan nutrisi juga merupakan
pemicu nya.
Kelumpuhan ini bila belum begitu parah, sebaiknya
ayam dipi