Jumat, 06 Desember 2024

penyakit unggas 3


 









num 

yang terkontaminasi feses ayam yang mengandung E. coli atau 

debu yang tercemar E. coli. 

Debu didalam kandang diketahu dapat mengandung

5 -10


 E.coli / gram dan bakteri ini dpat bertahan lama, terutama 

dalam keadaan kering. bila  debu ini  terhirup ayam maka 

akan menginfeksi saluran pernafasan ayam, dan berkembang biak 

(multiplikasi). Infeksi biasanya bersifat lokal pada kantong udara 

yang ditandai dengan penebalan dan menjadi keruh.Sedang untuk 

saluran pencernaan baiasanya E. coli akan menyerang usus yang 

telah lukan sebab  cacing, jamu atau koksidia/protozoa. 

 

  Pencegahan 

- Sanitasi kandang (kandang dibersihkan, dicuci, dan disemprot 

dengan antisep, formalain). Membatasi tamu, mencegah hewan 

liar atau hewan piaraan lain masuk lingkungan kandang. 

- Terapkan mmenejemen peternakan yang baik, sehingga yam 

aman dan terlindung dari ancaman penyakit. Atur kapadatqan 

ayam dalam kandang, ventilasi sesuaidn terapkan sistem 

pemeliharaan all in all out. 


- Desinfeksi peralatan (tempat pakan, tempat minum dll) dengan 

antisep. Mundurkan atau majukan jadwal desinfeksi jika 

bertepatan dengan jadwal vaksin. 

- Lakukan cleaning program dengan pemberian antibiotika pada 

umur-umur rawan terjadi kasus calibacillosis. 

- Cek kualitas air minum peternakan secara berkala untuk 

mengetahui cemaran E. coli di dalam air minum ini .  

- Cegah litter menjadi sangaty kering dan berdebu, dengan 

memasang litr cukup 7-12 cm. 

- Ayam yang terserang penyakit saluran pernafasan segera 

diobati agar segera senbuh dan tidak rentan terhadap E.coli. 

 

  Pengobatan 

Colibacillosis merupakan penyakit bakterial, sehingga dapat 

diobati dengan antibiotik. Biasanya diaplikasikan melaui air 

minum, selain itu ada obat yng diberikan secara injeksi/suntik. 

Obat injeksi merupakan piliha kalau kondisi ayam sudah sulit 

minum. Pemberian vitamin juga dianjurkan untuk menpercepat 

kesembuhan. Air minum sebaiknya diendapkan dulu sebelum 

akhirnya untuk melarutkan obat. 

 

 NECROTIC ENTERITIS 

Necrotic Enteritis atau NE merupakan penyakit bakterial 

pada ayam. NE pertama kali diketemukan oleh Bannets pada tahun 

1930, kemudian diuraikan secara rinci oleh Parish E.E. di Inggris 

pada tahun 1961Penyakit ini sudah tersebar luas di seluruh dunia, 

termasuk Indonesia 

Beberapa fektor pemicu kejadian NE yaitu  lingkungan 

yang tidak hieginis, seperti litter lembab/basah, stres, perubahan 

iklim dari kemarau ke penghujan, sanitasi/desinfeksi yang kurang 

memadai, dan  adanya infeksi sekunder (kosidiosis, inclusion body 

/ hepatitis, Gumboro). 

Penyakit NE dapat ditemukan pada ayam umur 2 minggu 

sampai 6 bulan, yang terbanyak  di lapangan yaitu  ayam pedaging 

umur 2-5 minggu yang dipelihara pada kandang postal litter. 

Sedang pada yam petelur umur 3-6 bulan. Mortalitas NE antara 5-

50% dengan rata-rata10%. Selain kematian memicu  

terhambatnya pertumbuhan, penurunan produksi dan tingginya 

biaya pengobatan. 

 

   pemicu  

Necrotic enteritis (NE) sebenarnya disebabkan oleh daya 

ker4ja dari toksin atau biasa disebut enterotoksin sehingga ayam 

yang ter serang NE juga disebut mengalami enterotoxemia, tyang 

berakibat pada terjadinya kematian yang tinggi dan mendadak, 

sehingga disebut juga “acute enterotoximia”. Racun atu tksin yang 

mematikan itu merupajkan hasil dari bakteri Clostridium 

perfringens.  

Bakteri  pemicu k NE terdiri dari Clostridium perfringens 

tipe A dan C Bakteri ini merupakan bakteri Grm (+) berbentuk 

batang lurus bersifat anaerob dan membentuk spora yang tumbuh 

di usus ayam. Spora bakteri ini tahan terhadap kekeringan, panas, 

asam dan kondisi ekstrim lainnya. 

 


 

Ilustrasi 39. Necrotic Enteritis (NE) ayam yang sakit kloaka 

kotor lengket 

 

  Gejala 

Masa inkubasi penyakit NE berkisar antara 3-60 hari. 

Gejala awal ditandai dengan adanya diare dan litter basah “sticky 

pings”,  gejala yang sering terlihat ayam mematuki feses berlendir 

yang pada kloaka. Gejala diare berlanjut depresi malas bergerak, 

nafsu makan turun, bergerombol, ngantuk dan bulu kusut. 

Penurunan pertumbuhan dan naiknya rasio konversi ransum (FCR) 

sering terjadi sesudah  kerusakan pada mukosa usus halus. 

   

Ilustrasi 40. NE, terjadi keruskan pada mukosa usus halus 

Pada ayam pedaging diketemukan dalam bentuk akut dn 

kronis. Bentuk aku ditandai dengan kematian mendadak 1-2 jam 

sesudah  infeksi tanpa didahului gejala klinis. Ayam yang terinfeksi 

bentuk kronis menujukan gejala emasiasi. 

Penyakit ini memicu  gangguan pertmbuhan, tingkat 

keseragaman rendah, dan peningkatan rasio konversi ransum 

(FCR). Selain bentuk akut dan kronis ada 2 bentuk lain NE yaitu 

cholangiohepatitis dan intestinal dysbacteriosis. 

Cholangiohepatitis berhungan denganlesi-lesi (luka) pada hati dan 

saluran empedu, sedang bentuk Intestinal dysbacteriosis 

berhubungan dengan pertumbuhanmikr0flora yang berlebihan pada 

saluran percernaan yang menjadi pemicu infeksi. 

 

  Penularan 

Penularan penyakit NE terjadi secara horizaontal. Ini tidak 

menular secara langsung dari ayam ke ayam, namun  melalui 

perantara seprti ransum, peralatan kandang atau bahan lainnya yang 

tercemar bakteri C. perfringens. Infeksi penyakit paling tinggi 

terjadi pada kelompok ayam dengan tingkat kepadatan tinggi. 

Manajemen litter yang jelek juga menjadifaktor  pemicu  

tingginya infeksi penyakit ini. 

Jika terbukti telah terinfeksi, maka penyakit ini dapat 

menyebar dengan cepat dari satu flock ke flock yang lainnya, 

sebab  jumlah bakteri yang tinggi dan fases ayam yang terinfeksi. 

Penyebaran penyakit berlangsung selama 10-14 hari jiak tidak 

dilkukan pengobatan. 

 


  Pencegahan 

Praktek manajmen pemeliharaan dan biosekuriti dapat 

dilakukan sebagai tindakan mencegah penyakit NE.Adapun 

tindakan yang dapat dilakukan langkash-langkahnya: 

- Perhatikan suhu, kelembaban, sirkalasi udara, kepadatan 

kandang, dan  kualitas litter. Manajemen litter , lakukan 

pembolak-balikan litter untuk mencegah kitter basah.  

- Pada masa brooding pembolak-balikan litter dilakukan secara 

teratur 3-4 hari sekali, mulai umur 4 hari smpai 14 hari. Segera 

ganti litter yang basah dn menggumpal 

- Lakukan sanitasi dan desinfeksi secara ketat. Pada saat kosong 

kandang lakukan pencucian dengan detergent, kemudian bilas 

dengn air bersih kemudian semprot dengan desinfektan 

- Peralatan peternakan (tempat ransum, tempat minum dll) 

dicuci sampai bersih rendam minimal 30 menit dalam antisep 

minimal 4 hari sekali. 

- Berikan ransum dengan kualitas dan kuantitas yang sesuai 

kebutuhan ayam. Pada peternakan ayam petelur jika dilakukan 

self mixing hindari pemakaian  tepung ikan, gandum (wheat 

bran, wheat pollard) atau barley secara berlebihan 

 

  Pengobatan 

Tindakan penananan dan pengobatan yang dapat dilakukan  

jika ayam sdh terinfeksi penyakit NE: 

- Segera pisahkan ayam yang telah terinfeksi untuk mencegah 

penularanpenyakit. 

- Segera buang litter yang basah dan tercampur fese, kemudian 

ganti dengan litter yang baru yang telah disemprot desinfektan 

- Pada kasus NE murni dapat diberikan obat koliridrin, ampicol, 

atau amoxitin pilih salah satu. Pada kasus komplikasi dengan 

koksidiosis dapat diberikan obat anti koksidiosis 

Berikan multivitamin terutama yang mengandung vitamin A 

dan K 

- Desinfeksi kandang isi memakai neo antisep new 

formulauntuk meminimalisir jumlah bakteri dalam kandang. 

- Lakukan rolling pengobatansetiap 3-4 periode pemeliharaan 

untuk mencegah resistensi obat. 

 

 STAPHYLOCOCCOSIS 

Staphylococcosis merupakan penyakit bakterial pada ayam 

dan jenis unggas lainnya yang disebabkan oleh staphylococcosis 

spp. Kejadian penyakitnya dapat acut dan kronis. Kasus 

Staphylococcosis   pertama kali diketemukan pada tahun 1892 yang 

memicu  terjadinya arthritis (peradangan sendi) pada unggas. 

Penyakit Staphylococcosis pada ayam biasanyalebih sering 

menyerang bagian kulit, ditandai dengan terjadintya bumblerfoot 

(plantar abscess)  dan juga menyerang bagian persendian yang 

memicu  terjadinya arthritis. Dismping menyerang bagoan 

kulit penyakit ini juga menyerang bursa sternalis, kuning telur 

(yolk sac) jantung, tendon, kelopak mata, sumsusm tulang dan 

tulang belakang (vertebrae). 

Penyakit Staphylococcosis memicu  kierugian 

ekonomi, sebab  menurunkan pertumbuhan, produksi (daging 

maupun telur) dan peningkatan jumlah karkas yang diafkir dan  

mahal ny pengobatan. Staphylococcosis aureus yang menghasilkan 

toksin (racun).  Siktar 50% S. aureus yang spesifik dan non spesifik 

menghasilkan toksin yang dapat memicu  keracunan makanan 

pada manusia.Angka morbiditas (kesakitan) rendah dan angka 

mortalitasnya (kematian)  0-15%. 

 

   pemicu . 

Staphylococcosis disebabkan oleh bakteri Staphylococcosis 

dari famili Staphylococcoceae yang ada sekitar 45 spesies dan 24 

sub spesies. Secara normal bakteri ini dapat diketemukan pada 

permukaan kulit dan bulu, selaput lensir (saluran pernafasan dan 

usus) dan juga dalam ransum. Bakteri Staphylococcosis berbentuk 

coccus (bulat) dengan diameter kira-kira 0,5-1,5 µm. berpasangan 

atau bergerobol seperti  buah anggur. Bakteri ini  ternasuk 

Gram (+), fakultatif anerob, tidak berspora dan tidak bergerak.  

Dapat dikelompokan menjadi 2, yaitu kelompok patogen 

dan non patogen berdasarkan sofat koogulannya (positif atau 

negatif) dan toksin yang dihasilkan oleh bakteri ini . 

Staphylococcosis yang patogen bersifat koogulasi positif edan 

biasanya menghasilkan 2 jenis toksin yaitu beta hemolisin dan 

plasma koagulase. 

 

   

Ilustrasi 41. Bakteri S. aureus berkolni seperti anggur 

 

Staphylococcosis aureus relatif tahan terhadap beberapa 

jenis desinfektan, namun sensitif terhadap desinfektan golongan 

aldehide (formalin, glutarahdehide) dan halogen (iodine) klorin 

juga dapat dipakai  untuk membunuh bakteri ini. Pasda suhu 60 

°C bakteri S. aureus mati dalam 30 menit 

 

  Gejala. 

Kejadian staphylococcus dimulai dengan masuk bakteri S. 

aureus melaui saluran pernafan atau luka yang ada  pada kulit., 

dengan masa inkubasi penyaki ini 2-3 hari. 

Gejala klinis sangat bervariasi tergantung lokasi bagian 

tubuh yang diserang oleh bakteri S. aureus, dapat menjadi akut atu 

kronis. Pada bentuk akut (septisemik) biasanya ditandai dengan 

adanya depresi lesu,anoreksia, kenaikan suhu tubuh (sekitar 42,8 

°C) dan terlihatkesakitan pada waktu berjalan. Selain itu terlihat 

diare encer, bau busuk dan pembengkakan pada persendian 

 

    

Ilustrasi 42. Staphylococcus aureus persendian kaki bengkak dan 

bublefoot 

 

 

Dilapangan gejala Staphylococcosis yang sering muncul 

yaitu  pembengkakan pada telapak kaki (bumblefoot) maupun 

pada sendi (arthritis/synovtis). Kondisi ini memicu  ayam 

mengalami kelemahan, jika terus berlanjut dapat memicu  

kelumpuhan hingg memicu  kematian pada ayam. 

Anal ayam yang menderita omphalitis (radang pusar) akibat 

serangan staphylococcosis akan mennjukan pusar basahdan 

berwarna kemerahan, jiak infeksi meluas ke yolk sac, maka organ 

ini  akan membesar dengan konsistensi yang lebih encer dan 

berbau busuk. 

 

  Penularan 

Staphylococcosismerupakan penyakit kingkungan yang 

tidak ditularkan secara langsung dari ayam ke ayam. Infeksi 

baiasanya terjadi melalui luka pada kulit atau adanya kerusakan 

membran mukosa. Selainitu infeksi dapat terjadi akibat luka potong 

kuku, potong paruh, dan  luka pada jengger dan jari. Sementara 

DOCdapat terjadi melaui pusar yang belum menutup sempurna. 

Penyakit immunosupresif seperti Gumboro, Mareks disease bentuk 

ringan dan mikotoksikosis dapat menjadi faktor pemicu infeksi 

oleh S. aureus. Kondisi ini staphylococcosis yang muncul bersifat 

septisemik sehingga sering berujung kematian 

 

  Pencegahan 

- Melakukan  sanitasi kandang (dibersihkan, dicuci dan 

disemprot desinfektan. Mencegah tamu, hewan liar dan hewan 

piaraan lain masuk ke lingkungan kandang. 

- Melakukan sanitasi tempat minum dengan cara mencuci 

tempat minum setiap sehari 2 kali. Rendam tempat minum 

yang telah dicuci dengan antisep minimal selama 30 menit, 

setiap 4 hari sekali. Majukan atau mundurkan kalau bertepatan 

dengan jadwwal vaksinasi. 

- Menejemen pengelolaan harus baik, sehingga tercipta suasana 

nyaman bagi ayam, jumlah ayam dalam kandang tidak terlalu 

padat, ventilasi kandang cukup, sedapat mungkin 

dilaksanakana sistem pemeliharaan all in all out. 

 

  Pengobatan. 

Seleksi dilakukan pada ayam yang kondisi sakitnya parah 

sebaiknya diafkir, sebab  cukup sulit untuk sembuh. Adapun cara 

mengatasi infeksi staphylococcosis dapat memakai  antibiotik. 

Guna mempercepat kesembuhan sesudah  pemberian antibiotik dapat 

diberikan multivitamin seperti vita stress 

 

STREPTOCOCCOSIS 

Streptococcosis yaitu  penyakit pada hewan dan manusia 

yang disebabkan oleh bakteri Streptococcus sp.  Streptococcosis 

dapat menyerang ayam dan jenis unggas lain. Penyakit ini bersifat 

akut sampai kronis. Virulensi/ tingkat keganasan dari bakteri 

Streptococcus tergolong rendah rendah, sehingga sejumlah ayam 

dapat mengalami infeksi subklinis (tanpa ditandai gejala klinis). 

Namun demikian Streptococcus sp. dapat memicu  toksin 

yang dapat meningkatkan patogenesitas. 

Infeksi Streptococcus sp biasanya bersifatsekunder, sebab  

bakteri ini  secara normal diketemukan di permukaan kulit, 

selaput lendir hidung dan saluran pencernaan ayam. Streptococcus 

sp  dapat memicu  penurunan produksim telur sebanyka 15% 

dan tingkat kematian yang bervariasi antara 0,5-50%. 

 

   pemicu  

Streptococcosis disebabkan oleh bakteri yang tergolong 

genus Streptococcus. Streptococcus termasuk Gram (+) berbentuk 

bulat atau lonjong, tidak membentuk spora, tidak bergerak, 

berkapsul dan dapat ditemukan dalam bentuk tunggal, berpasangan 

atau rantai pendek. Spesies yang paling banyak diisolasi dari 

unggas S. zooepidermicus yang ditemukan pada ayam dewasa dan 

S. faecalis yang sering dijumpai pada ayam umur 7-35 hari, namun 

diketemukan juga pada semua umur. 

Streptococcus tidak tahan hidup bila berada diluar tubuh 

inang. Akan namun  jika terbungkus dalam benda mati bakteri dapat 

tahan hingga 3 minggu. Bakterini sensitif terhadap dsinfektan jenis 

formaldehide, glutaraldehid, iodine, hidrogen peroksida, alkohol 

70%, sodium hipochlorite dll. Bakteri akan inaktif pada suhu 55 °C 

selama 30 menit atau 121 C selama 15 menit. Pada pemanasan 

kering, misalnya pada pembakaran 160-170 °C selama 1 jam. 

Faktor peredeposisi dari penyakit ini antara lain kondisi 

kandang yang lotor, kepadatan yang tinggi (sehingga 

mempermudah penularan dari ayam yang sakit ke ayam yang 

sehat). Penyekit imuno supresif (CRD, NCD, stres dll) dan  kondisi 

DOC yang kurang baik sehingga ayam mudah terserang penyakit. 

 

  Gejala. 

Masa inkubasi streptococcosis sekitar 1-3 hari dan 

prosespenyakit biasanya berlangsung selama 5 hari hingga 3 

minggu. Infeksi oleh S. zooepidermicus dapat memicu  2 jenis 

bentuk penyakit, yaitu akut dan kronis. Pada bentuk akut, terlihat 

gejala prodomol, kadang-kadang terjadi depresi. Muka dan jengger 

cyanasis dan  keluar eksudat berdarah. Sedang bentuk kronis 

terjadi penurunan konsdisi tubuh muka pucat, jengger dan pial, 

diare berwarna kekuningan dan  terjadu dhidrasui dan kekurusan. 

Infeksi S. faecalis juga dapat menyebabakan penyakit 

bentuk akut maupun kronis. Bentuk aku ditandai dengan depresi, 

demam, kelesuan, kepucatan pada jengger dan pial, bulu berdiri 

diare, tremor/gemetar yang halus pada kepala dan gangguan 

produksi telur. Kadang- kadang ayammati tanpa didahului gejala 

klinis tertentu dan dapat pula memicu  kematian tinggi. 

Bentuk kronis dapat dijumpai gejala dehidrasi, penurunan berat 

badan , kelumpuhan dan termor / gemetar pada kepala. 

 

  Penularan. 

Cara penularan dan sumber penullaran penyakit 

streptococcosis tidak baik diketahui secara pasti, namun  yang jelas 

unggas yang terserang dapat bertindak sebagai carrier dalam jangka 

waktu beberapa bulan. Pada ayam dewas, penularan diperkirakan 

melalui ransum, air minum, peralatan dan petugas yang tercemar. 

Streptococcus sp. yang hidup di dalam usus dapat menular dari 

induk keanak ayam melalui telur. 

 

  Pencegahan, 

- Manajemen pemeliharaan yang optimal untk menekan stres, 

mencegah penyakit imunosupresi dan  memberi  ransum 

dengan kualitas yang baik dan  pemilihan DOC yang 

berkualitas 

- Memperketat sanitasi kandfang (dibersihkan, dicuci dan 

disemprot dengan antisep, formalin), Mencegah tamu, hewan 

lair dan hewan piaraan lain masuk ke lingkungan kandang. 

- Perlatan peternakana (tempat ransum, tempat minum dan 

peralatan lain) dicuci sampai bersih dan direndam minimal 

selama 30 menit dengan antisep setiap 4 hari sekali. Majukan 

atau mundurkan bila bertepatan dengan jadwal vaksinasi. 

- Manajemen peternakan dikelola dengan baik, agar tercipta 

suasana nyamana bagia ayam, kepadatan ayam dalam kandang 

tidak terlalu padat, ventilasi kandang cukup dan system 

pemeligharaan nya all in all out. 

 

  Pengobatan. 

Penyakit Streptococcosis dapat diobati dengan beberapa 

jenis antibiotik sesuai aturan pakai. Berbagai faktor stres, nutrisi 

yang buruk dan sistem per-kandangan yang tidak baik 

mempengaruhi respons ayam terhadap Streptococcus sp. perlu 

dihialngkan untuk mendapatkan hasil pengobatan yang optimal. 

Berikan anti stres 4-5 hari, sesudah  pemberian obat selasai untuk 

membantu penyembuhan. 

 

SALMONELLOSIS 

  FOWL TYPHOID. (Typhoid pada ayam) 

Disebabkan oleh Salmonella yang merupakan kelompok 

besar bakteri, yang bersifat parasit pada hampir semua hewan dan 

manusia. Beberapa spesies yang spesifik yaitu salmonella pullorum 

(lihat berikutnya ), salmonella typhi (pada manusia) dan salmonella 

gallinarum. 

Salmonella gallinarum merupakan  pemicu  typhus pada 

ayam, yang secara biokimia merupakan bakteri gram negatif, 

berbentuk batang, tidak berspora. Bakteri ini dapat tahan sampai 

beberapa bulan pada tubuh ayam, namun  tidak tahan terhadap sinar 

matahari dan desinfektan. 

 

   

Ilkustrasi 43. Fowl typhoid pada ayam petelur 

 

  Tanda-tanda  

- Pada ayam muda: ayam kelihatan lemah kantuk, bulu kusut, 

pucat terjadi diarrahe, material kekuningan (kekeju-kejuan) 

pada daerah caecum. 

- Masa inkubasi 3 –4 hari sesudah  terinfeksi dan terjadi kematian 

yang banyak sesudah  2 minggu. 

- Pada ayam dewasa: umumnya tidak diketemukan. Terjadi 

kebutaan, dan kelemahan persendian pada kalkun dan itik. 

 

  Penularan  

- Melalui carrier, seperti tikus, ungga liar, reptil, sangkar litter, 

alat-alat dan manusia. 

- Kontaminasi lingkungan : Kebanyakan pada peternakan 

lingkungannya tercemar oleh salmonella. Ayam atau anak 

ayam yang ditempatkan di lingkungan ini  akan terinfeksi. 

- Makanan: Pencampuran beberapa produksi makanan dapat 

merupakan sumber infeksi. 

- Inseminasi buatan dilaporkan dapat memicu  infeksi. 

 

  

   

Ilustrasi 44. Fowl Typhoid pada DOC dan broiler remaja 

 

  Pencegahan  

- Usahakan kandang tetap bersih dan kering, sangkar litter dan 

peralatannya harus bersih. 

- bila  memasukkan ayam dari luar harus dibersihkan terlebih 

dahulu. 

- Pelletasi makanan. Makanan berupa pellet hampir semua 

menghilangkan kontaminasi bakteri salmonella. 

 

  Pengobatan  

- Injeksi DOC, dengan antibiotika, khususnya yang bersifat 

retensi jaringan, misalnya Gentamysin. 

- Nitrofurazelidone 11 gram dicampur 100 kg makanan 

diberikan selama 2 minggu, kemudian dosis dikurangi sampai 

dengan 5,5 gram dalam 100 kg makanan diberikan selama 2 

minggu. 

 

  PULLORUM 

Pullorum yaitu  penyakit ayam yang disebabkan oleh 

sejenis bakteri yang disebut dengan ”salmonella pullorum” dan 

salmonella gallinarum. Kedua organisme ini  memicu  

penyakit yang sama dan respon terhadap tindakan-tindakan yang  

sama. Kedua salmonella ini  dapat memicu  kematian 

tinggi pada anak ayam, namun  hanya salmonella gallinarum yang 

secara normal dapat memicu  kematian pada ayam dewasa. 

Kalau yang diserang ayam petelur dewasa produksinya turun, 

bentuk telur abnormal dan daya tetas rendah. 

Pullorum sering juga disebut berak kapur “bacillary white 

diarchea”. Berikut yaitu  gambar salmonella pullorum (ilustrasi 

10a) dan anak ayam yang terserang pullorum kerdil, bulu kusam 

dan bulu bagian kloaka keras dan ada berak berwarna putih 

(Illustrasi 10b) 

  

  Tanda-tanda ayam yang terserang: 

- Ayam muda : kelihatan kusam, depersi, dehydrasi, berat badan 

turun, perut berkapur, faces berkapur dan mati. Kuning telur 

tidak diserap. Dan dapat pula terjadi pembentukan abses pada 

sendi loncat. 

- Ayam dewasa : umumnya gejalanya tidak kelihatan. Ovarium 

sering terkena penyakit sehingga warnanya lebih tua, mengecil 

dan folikel-folikelnya inaktif. Infeksi lewat ovarium berkaitan 

dengan adanya kematian lewat telur. 

 

 

 

 

 

 

 

Ilustrasi 45. a. Salmonella pullorum 

 45. b. Ayam yang terserang pullorum kerdil dan bulu 

pantatnya mengeras

 

 

Ilustrasi 46.  a. Ovarium unggas terserang 46b. Hati unggas 

yang terserang  salmonella pullorum 

 

  Penularan : 

- Ovarium. Hal ini merupakan penularan terbesar. Ovarium 

yang terinfeksi, telurnya dapat mencapai 30% mengandung 

organisme, banyak embrio mati, untuk yang menetas akan 

tetap terinfeksi. 

- Mesin tetas. Kulit telur, anak ayam, fises yang jatuh pada 

saat penetasan mungkin terkontaminasi dan menjadi karie 

untuk seluruh mesin dalam suatu penetasan. 

- Kotoran. Pada ayam muda, organisme ini  terkumpul 

dalam kotorannya, sebelum ayam ini  mati. Pada ayam 

dewasa jarang ada  kuman-kuman dalam kotorannya, 

sehingga penyebarannyajuga lambat. 

- Lain-lain. Ayam yang makan telur yang terinfeksi akan 

tertulari, hal ini yang memicu  ayam dewasa terinfeksi. 

Unggas liar, burung dara dan burung gereja, juga lalat 

merupakan sumber potensiil. 

 

 

  Pencegahan 

- Membersihkan secara total organisme ini  dengan jalan 

mengosongkan kandang selama tiga bulan, mensuci 

hamakan dengan desinfektan (lihat Bab.II). 

- Pengawasan terus menerus terhadap induk-induk ayam 

(breeder farm), bilamana diduga ada penyakit ini, dengan 

uji/tes agglutinasi dengan memakai darah atau serum. 

- bila  ayam di Import dari negara lain harus yang 

memakai sertifikat bebas pollorum. Dmikian juga ayam 

yang dibeli dari breeder farm, harus yang bebas pollorum. 

 

  Pengobatan  

- Dapat dipakai  obat-obat sulfa, seperti sulfa quinozalin 

nitrofura zolidone, dan lain-lain. 

 

  AVIAN PARATYPHOID 

Avian paratyphoid atau sering disebut typhoid yaitu  

penyakit unggas yang disebabkan oleh bakteri salmonella sp. 

Penyakit ini memicu  kerugian yang besar pada peternakan 

pembibit (breeder) akibat kematian embrio beberapa saat sebelum 

menetas atau kematian anak ayam umur kurang dari 3 minggu. 

Kematian sering terjadi pada ayam umur 2 minggu dengan puncak 

kematian pada hari ke -6 sampai ke -10 berkisar antara 10-20% 

kadang mencapai 80%. 

Paratyphoid akan memicu  penyakit yang bersifat 

septisemik akut pada ayam muda dan infeksipencernaan kronis 

pada yam dewasa. Gjala yang khas pada Paratyphoid  yaitu  diare 

dan nkrosis  fokal pada berbagai organ. Infeksi ini lebih sering 

menyerang ayam pedaging umur 2-3 hari dengan gejala tidak nafsu 

makan, ayam mengantuk dengan mata tertutup, kepala selalu 

menunduk dn seringkali feses berwarna putih. 

Paratyphoid menyebabakan terjadinya penurunan produksi 

telur, fertilitas , daya tetas, dan ayam yang bertahan hidup akan 

nampak kerdil, lemah dan lebih peka terhadap penyakit lain. 

 

   pemicu nya 

Paratyphoid disebabkan oleh bermacam-macam bakteri 

salmonella, kecuali salmonella pullorum dan salmonella 

gallinarum. ada  lebih dari 850 serotipe salmonella 

paratyphoid, seperti salmonella typhimurium, salmonella 

enteritidis, salmonella heidelberg, salmonella infortis, salmonella 

thompson, dan masih banyak lagi  serotipe lainya, namun  salmonella 

typhimurium merupakan  pemicu  utama. 

Salmonella typhimurium yaitu  bakteri gram (-) berbentuk 

batang dengan ukuran 0,4 – 0,6 x 2-3 µm,  namun  jkadang kelompok 

bakteri ini  berbentuk filamen panjang tidak berspora dan 

termasuk grup salmonella yang motil. 

   

Ilustrasi 47. Salmonella, kadang membentuk filamen 

 

Salmonella typhimurium tahan hidup diluar tubuh ayam, 

akan namun  akan mati dengan desinfektan. 


  Gejala 

Pasda anak ayam paratyphoid memicu  lemah, lesu, 

sayap terkulai, tdak nafsu makan, berkumpul ditempat yang hangat 

dan diare berwarna putih. Kadang terlihat kujungtivitis, kebutaan 

akibat kekeruhan pada kornea mata dan eksudat kekejuan pada bola 

mata, kadang anak ayam yang menderita paratyphoid menunjukan 

ada pembengkakan pada sendi yang bersi masa kekejuan. 

   

Ilutrasi 48. Paratyphoid ayam mengalami diare dan bengkakan 

mata 

 

  Penularan 

Paratyphoid menular baik secara vertikal maupun 

horizontal. Penulaaran vertikal melalui telur, dari induk ayam yang 

carier paratyphoid menjadi tertular paratyphoid ada  2 

pendapat mengenai penularan pada telur. Pendapat pertama telur 

tertular sejak dari ovarium dan saluran telur ayam penderita.  

Pendapat kedua telur dapat tertular akibat masuknya salmonella 

typhoid melalui kerabang telur. 

Penularan horizontal terjadi secara langsung maupun tidak 

langsung. Anak ayam dari telur tertular yang berhasil menetas 

menjadi sumber penularan anak ayam yang lain didalam mesin 

tetas sehingga seluruh anak ayam akan tertular paratyphoid. 

 

  Pencegahan 

- Melakukan sanitasi kandang (dibersihkan, dicuci dan 

disemprot denganantisep 

- Mencegah tamu, hewan liar, hewan piaraan masuk dalam 

lingkungan kandang. 

- Peralatan peternakan (tempat pakan, tempat minum dll) dicuci 

sampai bersih, rendam dalam antisep selama 30 menit 4 hari 

sekali. Majukan atau mundurkan desinfeksi jika harinya 

bertepatan dengan jadwal vaksinasi. 

- Manajmen dikelola dengan baik, sehingga tercipta suasana 

nyaman bagi ayam. Jumlah ayam dalam kandang tidak terlalu 

padata. Litter tdiak terlalu berdebu dan lembab, ventilasi 

kandang cukup, dan sedapat mungkin dilakukan sitem all in all 

out. 

- memakai  bibit DOC yang bebas salmonella (khusunya 

salmonella typhymurium). 

 

  Pengobatan 

Beri antibiotik therapy, sulfamix atau neo mediteril (pilih 

salah satu dan sesuai aturan pakai). Berikan pula vita stress selama 

4-5 hari sesudah  pemberian obat selesai. 

  PARASIT 

PENYAKIT PARASIT LUAR. 

Penyakit parasit luar yang dimaksud yaitu  parasit yang 

hidupnya menumpang diluar tubuh inang. Ektoparasit pada ayam 

umunya tidak memicu  kematian, namun  mengganggu. Hal ini 

dapat memicu  kerugian pada ternak unggas, sebab  ternak 

yang terganggu nafsu makannya berkurang, dia sibuk mengusir 

serangga ini  sehingga banyak enersi terbuang yang akhirnya 

produktivitas turun. Serangga yang sering memicu  gangguan 

pada ternak ungga antara lain: kutu, tungau, caplak, pijal. 

Gangguan ini  selain menurunkan produktivitas, dapat 

juga merusakkan kulit, merontokkan bulu, dan bahkan ada yang 

membawa bibit penyakit. Macam ektoparasit (Kutu, Tungau, 

Caplak dan Pinjal) 

 

a. KUTU (lice). 

Kutu (Lice) dan tungau unggas (Mite) sering menyerang 

ayam dan kadang-kadang juga kalkun. Kutu menyerang sepanjang 

waktu, namun dapat hidup diluar unggas, pada kondisi yang ideal 

dapat bertahan sampai 2 – 3 minggu. Kutu dewasa memiliki 

opanjang 1-4 mm dan memiliki bagian tubuh kerpala, dada 

(tharaks) dan perut 

Gangguan kutu: berupa gigitan namun  tidak mengisap darah, 

(Chiu, 1983). namun  sebab  gangguannya ayam susah istirahat. 

   

Ilustrasi 49. Kutu pada ayam (Medion, 2017) 

 

  Cara pencegahannya : 

- Menjaga kebersihan kandang dan peralatannya. 

- Menyemprotkan larutan Sevin (carbaryl) 50 % sebanyak 30 oz 

untuk 25 galon air dari sisi bawah kandang ke daerah ekor 

ayam, jangan sampai mencemari makanan dan air minum. 

Ulangi sesudah  4 minggu bila perlu. 

- Menyemprotkan larutan Malathion 0,5 % pada ayam. 

- Menyemprotkan larutan serbuk belerang dengan larutan sabun. 

- Jangan melakukan penyemprotan dalam waktu 7 hari 

menjelang ayam ini  dipotong. 

 

Berikut yaitu  gambar caplak pada unggas seperti disajikan 

pada Ilustrasi 47. 

     

Ilustrasi 50. Kutu (gurem) Unggas 

 

b. TUNGAU (Mite) / Northern fowl mite 

Beberapa jenis tungau yang sering menggangu ternak ayam 

antara lain yaitu  : 

- Tungau yang sering ada  didinding kandang, celah-celah 

srang, tenggeran, pecahan kulit telur dan kotoran ayam. 

Bentuknya pipih kecil berwarna keabu-abuan. Tungau – 

tungau ini banyak diketemukan didekat vent (patat), ekor, 

punggung dan leher. Tungau mengisap darah dan juga 

mengiritasi kulit. Ayam yang terserang kelihatan pucat, nafsu 

makan kurang, kurus sebab  banyak kehilangan darah.  Berikut 

yaitu  gambar Tungau dalam berbagai umur seperti pada 

Ilustrasi 5. 

   

Ilustrasi 51. Tungau ayam  

 

  Pencegahan: 

- Menjaga kebersihan kandang, jangan menumpuk barang 

didalam kandang. 

- Menaburkan serbuk Malathion 4 % disekitar celah-celah dan 

lantai kandang. 

- Tungau yang sering ada  pada pangkal bulu bentuknya 

hampir sama dengan yang ada pada dinding kandang, banyak 

ada  dipangkal bulu sekitar daerah anus, jarang ada  di 

dinding kandang. Ayam yang terserang bulu ekornya akan 

kelihatan kotor. 

- Menyemprotkan atau menaburkan Malthion pada tempat-

tempat disekitar pangkal ekor, sarang, tenggeran, dan lantai 

kandang. 

- Menggosok ayam dengan campuran 1 bagian Naptalene dan 2 

bagian vaselin di sekitar daerah pelepasan (vent). 

- Tungau yang hidup di kaki ayam. Jenis ini disisik kaki bagian 

bawah (cakar), bila ada  dalam jumlah banyak kaki ayam 

akan mengerak sehingga cakar kelihatan besar dan kasar. 

 


  Pengobatan : 

- Merendam cakar ayam yang terserang dalam larutan air 

hangat, sampai mekar sampil digosok-gosok agar mengelupas. 

sesudah  mengelupas, kaki dikeringkan, celupkan dalam larutan 

1 bagian minyak tanah dan 2 bagian minyak kelapa, atau 

minyak nabati lainnya (jark dll ). 

 

c. GUREM. 

Bentuk dari gurem ini kecil sekali, namun  dalam jumlah 

banyak sebab  mengisap darah dapat memicu  kematian pada 

anak ayam, sedang pada ayam dewasa akan memicu  

menurunkan kondisi badannya. Sering diketemukan pada saran, 

ayam induk yang sedang mengeram. 

 

  Pencegahan : 

- Menaburkan serbuk belerang halus pada sarang, dalam 

kandang. 

 

  Pengobatan : 

- Satu bagian seruk belerang dengan 4 bagian vaselin. 

- Larutan 2 bagian belerang dan 1 bagian sabun cuci, dengan 

jalan mencelupkan ayam kedalamnya. 

 

d. CAPLAK PADA AYAM. 

Caplak jenis orgas persicus sering ada  pada celah-celah 

kandang, tenggeran, sarang dan tumpukan barang dalam kandang. 

Caplak menyerang ayam pada malam hari, dengan menggigit dan 

menghisap darah, sesudah  kenyang akan menjatuhkan diri 

bersembunyi dicelah-celah kandang dan berkembang biak.  

   

Ilustrasi 52. Caplak dengan telurnya dan caplak lunak sebelum dan 

sesudah ngisap darah ayam

 

  Pencegahan : 

- Menaburkan serbuk belerang halus pada sarang, dalam 

kandang. 

   

Ilustrasi 53. Bulu ayam yang terserang Caplak 

 

  Pengobatan : 

- Satu bagian seruk belerang dengan 4 bagian vaselin. 

- Larutan 2 bagian belerang dan 1 bagian sabun cuci, dengan 

jalan mencelupkan ayam kedalamnya. 

 

e. PINJAL AYAM. 

Pinjal termasuk dalam ordo Siphonaptera, memiliki kaki 

panjang dan besar untuk meloncat. Jenis pinjal (Echidnolphaga 


gallinaca) menyerang ayam. Pinjal ini melekat di jengger, pial dan 

kulit muka, sambil mengisap darah sampai beberapa hari. 

   

Ilustrasi 54. Pinjal pada ayam dengan kaki panjang 

 

  Pencegahan : 

- Menghalau burung liar, kucing, anjing dan binatang piaraan 

lainnya, sebab  binatang-binatang ini dapat menularkan 

dengan jalan membawa pinjal ini . 

- Membersihkan kandang dan menghapus hamakan (lihat bab II) 

 

  Pengobatan : 

- Menggosok ayam dengan campuran 1 bagian belerang dengan 

2 bagian vaselin. Ilustrasi 7. memperlihatkan pangkal bulu 

ayam yang tesrerang pinjal, bulu rusak dan rontok, sehingga 

unggas akan kehilangan bulu. Selain menjadikan bulu rusak, 

kulit unggas juga menjadi rusak, bahkan pada serangan yang 

hebat dapat terjadi luka pada kulit dan kadang terjadi infeksi 

yang sangat mengganggu unggas. 

 

 

Ilustrasi  55. Bulu Ayam yang Terserang Pinjal 


 

 PENYAKIT PARASIT  DALAM. 

1) Jenis Protozoa 

a. KOKSIDIOSIS 

Koksidiosis atau sering disebut berak darah yaitu  penyakit 

parasit protozoa yang menyerang saluran pencernaan bagian usus 

halus dan sekum. Kasus koksidiosis padas ayam dan unggas 

lainnya pertema kali diidentifikasi oleh Walter j. Watson, seorang 

dokter hewan Amerika pada tahun 1923. 

Di Indonesia koksidiosis dapat menyerang ayam semua 

umur, namun pada ayam pedaging umumnya menyerang pada 

minggu ke-2 dan ke-3 pemeliharaan.  Sedangkan pada ayam petelur 

di umur 0-8 minggu. Akibat penyakit ini yaitu  pertumbuhan 

terhambat, efisiensi pemakaian  ransum dan kematian dapat 

mencapai 80-90%. 

 

 

   pemicu . 

 pemicu nya yaitu  kosidia, yaitu parasit sel tunggal 

(protozoa) yang berasal dari genus Emeria spp yang menyerang 

mukosa usus berbagai ternak unggas dan mamalia. Ada 3 ordo 

coccidia dengan ratusan sampai ribuan spesies, namun  yang 

terpenting pada ayam satu termasuk genus Eimeria a.l. : 

- Eimeria acervulina - Eimeria maximum - Eimeria necatrix 

- Eimeria brunetti - Eimeria mitis - Eimeria praecox 

- Eimeria hagoni - Eimeria mivati - Eimeria tenella 

 

Setiap Eimiria memiliki tempat kesukaan tertentu dalam 

usus ayam, sehingga luka yang ditimbulkan berbeda-beda. Berikut 

gambaran secara rinci: 

  E. tenella menyerang khusus di usus buntu (sekum) hingga 

memicu  pendarahan dibagian usus ini . 

  E. necotrix dan E. maxima menyerang bagian tengah usus 

halus (Jejunum) hingga muncul bintik-bintik putih atau hitam 

disektar permukaan jejunum. Pada kasus yang parah terjadi 

penebalan dan penggelembungan dinding usus ditambah lendir 

bercampur darah.  


 

Ilustrasi 56. Tempat usus yang diserang masing-masing 

Eimieria (Sumber: Medion 2015). 

 

  E. ecervulina dan E. praecox menyerang bagian atas usus halus 

(duodenum) hingga memicu  pendarahan. 

  E. Brunetti menyerang bagian bawah usus halus (ileum) 

rektum, sekum dan kloaka. 

  E. mitis menyerang hampir semua bagian usus halus 

 

Berbicara mengenai koksidiosis tentu tidak lepas dari siklus 

hidupnya Eimiria. Berbeda dengan agensi efeksi lain seperti virus 

dan bakteri yang tahap perkembangannya cukup simple, protozoa 

Eimiria sp. memiliki tahap perkembangan yang cukup beragam, 

sebab  harus melaui stadium ookista (semacam telur), scizont dan 

merazoit (lihat gambar umum siklus hidup koksidia) 

 


 

Ilustrasi 57. Siklus hidup Koksidia (Binatoro, 2009) 

 

  Daur hidup : 

Infeksi terjadi pada saat ayam yang rentan memakan 

ookista. Ooikista bersporasi mengandung 4 sporocyst, yang 

masing-masing sporocyst mengandung 2 sporozoit. 

Sporozoit dilepaskan melalui proses mekanis & biokimia 

dalam saluran pencernaan ayam. Sporozoit yang lepas dibawa ke 

caecus, disitu akan menembus dinding usus dalam-dalam kelamin 

pronia, kese-sel epitel yang mengelilingi kelenjar “lieberkun”. 

Dalam waktu 12-48 jam sesudah  ada dalam sel, spozoit berubah 

dalam tahap makan, yang disebut dengan tropozoit. 

Trozoitnya mulai membesar dan intinya membelah diri, 

melalui proses pembelahan asexual, yang disebut sebagai schizont. 

Bentuk parasit kecil ini dalam schizont disebut Merazoit. Dalam 

waktu 3 hari schizont masak dan pecah, mengeluarkan merazoit. 

Merazoit ini mencari sel inang (epitel), dan mengulangi 

proses perkembangan melalui tahap troposoit dan schizogony. 

Merazoit dari siklus schizogony ke II ini kembali menembus 

dinding sel epitel inangnya. Beberapa diantaranya memasuki proses 

schizogony ke III namun  kebanyakan berkembang menjadi 

gametocyte jantan (microgamet) dan gametocyte betina 

(macrogamet). Gametocyt jantan menjadi dewasa dan pecah, 

melepaskan microgamet-microgamet berflagela dua (biflagellae 

microgamet). Bila macrogametocyt bertemu dengan 

microgametocyte terjadilah pembuahan terbentuk zygote. Zygote 

diselimuti dinding tebal disebut dengan Ookista. 

Bila telah masak ookista memecah sel inang dan terbawa 

kotoran kemudian siklus terulang lagi seperti pada Ilustrasi diatas. 

Farr dan Wehr yang dikutip oleh TC Chiu (1983) melaporkan 

infektifitas tetap berlangsung selama 86 minggu. Ookista juga 

tahan terhadap berbagai zat kimia sebab  ada selubung luarnya. 

 

  Penularan 

Penyakit koksidaia menular secara langsung (horizontal) 

dari ayam yang sakit ke ayam yang sehat. Sesuai siklus hidup 

kosidia, ayam yang menderita koksidia akan mengeluarkan ookista 

bersama dengan fasesnya. Ookista yng keluar masuk ke tubuh 

ayam melalui makanan dan / atau air minum yang terkontaminasi. 

- Penyakit timbul pada hari ke4 sesudah infeksi. Pada hari 5-6 

usus membengkak dan berdarah, sehingga ayam diarrhea 

darah. 

- Pada hari ke-7 Ookista sudah masak dan dikeluarkan bersama 

dengan kotoran. Ayam yang bertahan biasanya dapat sembuh. 

 


   

Ilustrasi 58. Ayam yang terserang koksidiosis dan baguian usus 

yang diserang masing-masing Eimiria. 

 

 

  Pencegahan : 

- Sebelum kandang dipakai sebaiknya disanitasi (dibersihkan, 

dicuci dan didesinfektan) dengabn antisep. 

- Litter harus selalu kering dan tidak menggumpal. 

- Makanan dan minuman harus bersih, baik dan cukup. 

- Beri Coccidiostat yang dicampur dengan air minum/makanan, 

diberikan pada ayam umur 1 – 3 bulan, selama 3 hari berturut-

turut selang tiga hari kemudian diberikan lagi selama tiga hari. 

- Vaksinasi. Hanya efektif untuk ayam yang dipelihara di litter, 

dan dengan manajemen litter yang baik. Selama 12 hari sesudah  

vaksin litter harus disemprot air agar lembabab namun  tidak 

boleh terlalu basah. 

 

  Pengobatan : 

- Obat – obatan yang baik diberikan melalui air minum selama 

2-3 hari, istirahat 2 – 3 hari, ulangi lagi 1 kali ssiklus antara 

lain : 

- Sulfaquinozalin 

- Sulfadimetozin. 

138 

- ESB 3 

- Amaprol (Duocoxine) 

- Bifuran 

- Resiko pemakaian  quinozalin pada ayam layer yaitu  

penurunan produksi telur. yang paling aman untuk leyer yaitu  

Amparol. 

 

b. LEUCOCYTOZOONASIS (Malaria like) 

Leucocytozoonosis atau malaria like yaitu  penyakit parasit 

dalam tubuh (endoparasit) yang disebabkan oleh protozoa. 

Penyakit ini tersebar luas khususnya dibenua Asia termasuk 

Indonesia. Kerugian yang terjadi adalagh kematian, penurunana 

sampai produksi berhenti dan pertumbuhsn ysng terhambat. 

Leucocytozoonosis menginfeksi semua umur ayam, gejala 

klinis yang muncul meningkat pada ayam dewasa dan tua. Pada 

anak ayam Leucocytozoonosis memicu  angka kesakitan 

sebesar 0-40% dan pada ayam dewasa 7-40%. Angka kematian 

pada anak ayam 7-50% dan pada ayam dewasa 2-60%. 

 

Ilustrasi 59. Penyabab dan gejala klinis leucocytozoonosis 

 

  Penebabnya. 

Leucocytozoonosis disebabkan oleh protozoa 

Leucocytozoon sp. Protozoa ini merupakan parasit darah yang 

hidupnya didalam sel darah merah. Leucocytozoon sp yang 

menyerang ayam dainataranya L. caulleryi; L. sabrezi dan L. 

schautedeni. Siklus hidup Leucocytozoon sp terdiri dari 2 siklus, 

yaitu siklus asexual dan siklus sexual. Siklus asexual terjadi pada 

inang seperti ayam atau unggas lainnya. Sedang siklus sexual 

terjadi didalam tubuh vektor yaitu Cullicoides dan Simulium.  

 

Ilustrasi 60. Siklus Leucocytozoon sp (Sumber: Medion 2015) 

 

  Gejala. 

Seranagan Leucocytozoon sp dapat terjadi tanpa ditambah 

gejala klinis. Gejala klinisnya yaitu  feses berwarna hijau, depresi, 

hilang nafsu makan, muntah darah dan kelumpuhan yang diikuati 

dengan kematian. Sedang yang tidak menunjukan gejala klinis 

yang spesifik ditandai dengan penurunan produksi telur dan 

penurunan berat badan. 


 

Ilustrasi 61. Leucocytozoon sp pada preparat apus dara 

 

Perubahan yang ditemukan pada saat bedah bangkai 

diantaranya bintik-bintik atau bercak-bercak perdarahan hampir 

seluruh organ dalam tubuh (hati, paru-paru, limfa, thymus, ginjal, 

pankreas, usus, proventrikulus, bursa fabrisius, otak, otot dada dan 

otot paha). 

 

  Penularan 

Penularan terjadi secara horizontal dari ayam sakit ke ayam 

sehat dengan perantara gigitan lalat hitam dari jenis sp. atau 

nyamuk dari jenis Colicoides sp.  Leucocytozoon caulleryl yang 

memicu  Leucocytozoonoosis pada ayam menyebar melaui 

vektor Cullicoides sp., sedangkan spesies Leucocytozoon lainnya 

melalui vektor Simulium sp. 

 

  Pencegahan 

- Menekan dan mengeleminir vektor biologik, diusahakan 

supaya tidak terlalu banyak lalat (Simulium sp) dan nyamuk 

(Culicoides). Semak-semak ataupun tempat-tempat yang 

menggenang harus dihindari. Air minum hendaknya rutin 

diganti setiap hari agar tidak dijadikan tempat berkembang 

biaknya nyamuk. 

- Melakukan sanitasui kandang (dibersihkan, dicuci dan 

disemprot dengan antisep). Mencegah tamu, hewan liar dan 

hewan piaraan lainnya masuk ke lingkugan kandang. 

- Peralatan peternakan (tempat ransum, tempat minum dall) 

dicuci sampai bersih dan direndam selama minimal 30 menit 

dalam antisep setiap 4 hari sekali. Majukan atau mundurkan 

jadwal desinfeksi jika harinya bertepatan dengan jadwal 

vaksinasi. 

- Manajemen pengelolaan harus baik sehingga tercipta suasana 

nyaman bagi ayam. Kandang tidak terlalu padat, ventilasi 

kandang cukup dan sedapat mungkin sistem pemeliharaan all 

in all out. 

 

  Pengobatan 

Pengobatan derngan obat malaria, antikoksi, Coxy atau 

Duoko (pilih salah satu dan dipakai  sesuai aturn pakai). Berikan 

anti stres selama 4-5 hari sesudah  pengobatan selesai. 

 

c. MALARIA UNGGAS 

Malaria unggas yaitu  penyakit parasit (protozoa) yang 

bersifat akut dan menyerang eritrosit berbagai jenis unggas. 

Penyakit ini ditandai dengan adanya pigmentasi eritrosit, didalam 

darah dan gametrosit didalam eritrosit dewasa. Penyakit ini 

ditularkan oleh nyamuk dengan gejala hampir mirip dengan 

penyakit lain yang disebabkan oleh haemoproteus sp., 

Leicocytozoon sp. maupun malaria dari genus lain yang termasuk 

famili Plasmodiidae. 

Pada daerah tropis seperti Indonesia, penyakit malaria dapat 

ditemukan sepanjang tahun, sebab  serangga vektor dapat 

berkembang biak sepanjang tahun. Malaria unggas dapat 

memicu  anemia dan kelemahan pada unggas, namun tingkat 

kematian yang ditimbulkan tidak tinggi. 

 

   pemicu . 

Penyakit malaria unggas disebabkan oleh protozoa dari 

genus Plasmodium, familia Plasmodiidae, spesies Plasmodium sp. 

yang meninfeksi eritrosit berbagai jenis unggas. Replikasi 

Plasmodium berlangsung pada eritrosit yang bersirkulasi sebab  

plasmodium mengandung pigmen eritrosit.  

Berbeda dengan Haemoproteus dan Leucocytozoon, dimana 

replikasi Haemoproteus terjadi didalam sel endotel dan 

Leucocytozoon didalam sel leukosit. Sifat-sifat khas ini  yang 

membedakan genus Plasmodium dari Leucocytozoon dan 

Haemoproteus. 

Spesies yang berbahaya untuk ayam, kalkun dan itik yaitu  

P. gallinaceum, P. juxtanucleare. Malaria pada ayam biasanya 

disebabkan oleh Plasmodium gallinaceum, namun  malaria pada 

kalkun biasanya disebabkan oleh Plasmodium juxtanucieare, 

Plasmodium durae dan Palsmodium grtaffithsi, sedang malaria 

pada itik disebabkan oleh Plasmodium lophurae. 

   

Ilustrasi 62. Plasmodium sp. a. Jengger dan pial pucat. b.bintik 

merah/darah pada muscle 

  Gejala. 

Gejala penyakit malaria unggas bervariasi, dari tanpa gejala 

adanya penyakit akut yang berlangsung cepat ditambah oleh anemia 

berat dapat memicu  kematian. Gejala ini  tergantung 

Plasmodium yang menginfeksi. 

P. gallinaceum mengakibatkan terjadinya penyumbatan 

kapiler-kapiler otak sehingga memicu  kematian atau 

gangguan pada syaraf pusat. P. durae memicu  kematian yang 

tinggi pada kalkun ditambah dengan adanya kerusakan berupa 

fibrosis pada berbagai jaringan. 

 

Ilustrasi 63. Siklus hidup Plasmodium sp. 

 

  Penularan. 

Penyakit ini dapat ditularkan melalui gigitan nyamuk. 

Plasmodium berkembang biak pada nyamuk Culex spp. Aedes 

degypty dan Amegeres abturbans, jarang pada nyamuk anopheles. 

Siklus hidup Plasmodium sp. melibatkan 2 macam hospes, 

yakni hospes perantara (vertebrata, unggas) dan hospes serangga 

(nyamuk). Perkembangan aseksual dan bentuk seksual muda terjadi 

di dalam eritrosit unggas, sedang fertilisasi dan perkembangan 

bentuk seksual dewasa terjadi di dalam tubuh nyamuk. 

 

  Pencegahan 

- Menekan dan meminimalisir vektor biologik (nyamuk) supaya 

tidak terlalu banyak nyamuk diarea peternakan. Semak-semak 

ataupun tempat-tempat yang menggenang harus dihindari. Air 

minum hendaknya rutin diganti setaip hari agar tidak dijadikan 

tempat berkembang biak nyamuk.  

- Pencegahan dapat dilakukan dengan pemberian insektisida 

golongan organofosfat yang efektif membunuh larva 

nyamukpada bak penampungan air. Penyemprotan dengan 

insektisida pada tempa-tempat yangdiduga sebagai tempat 

vektor juga dapat dilakuakan. 

- Melakukan sanitasi kandang (dibersihkan, dicuci dan 

disemprot dengan antiseptik, formalin atau sporades). 

Mencegah tamu, hewan liar dan hewa piaraan lain masuk ke 

lingkungan kandang. 

- Peralatan peternakan (tempat ransum, tempat minum dall) 

dicuci sampai bersih dan direndam selama minimal 30 menit 

dalam antisep setiap 4 hari sekali. Majukan atau mundurkan 

jadwal desinfeksi jika harinya bertepatan dengan jadwal 

vaksinasi. 

- Manajemen pengelolaan harus baik sehingga tercipta suasana 

nyaman bagi ayam. Kandang tidak terlalu padat, ventilasi 

kandang cukup dan sedapat mungkin sistem pemeliharaan all 

in all out. 

 

  Pengobatan 

Maladex, Antikoksi, Coxy atau Duoko pilih salah satu dan 

gunakan sesuai aturan. Berikan anti setres selama 4-5, sesudah  

pemberian obat. 

 

Tabel 10. Perbedaan Leucocytozoonosis dengan Malaria Unggas 

 Leucocytozoonosis Malaria Unggas 

 pemicu  Leucocytozoon sp Plasmodium sp 

Vektor Nyamuk Colicoides sp dan 

Simulium sp 

Nyamuk Aedes aegypty, 

Culex sp dan Armageres 

obtubans 

Bentuk 

aseksual 

(schizont) 

Diorgan tubuh, limpa, ginjal, 

paru-paru dll 

 Disel darah merah 

Pemeriksaan 

bedah bangkai 

- Pendarahan ptechioe 

atau echymosa pada 

seluruh jaringan dan 

organ tubuh seperti otot 

dada, otot paha, ginjal, 

pancreas, usus, thymus 

dan bursa fabrisius. 

- Perdarahan dirongga 

perut, mulut dan saluran 

pernafasan bagian atas. 

- Fese bercampur darah 

- Karkas berwarna pucat 

- Perdarahan berupa bintik-

bintik pada otot dan organ 

tubuh. 

- Pembuluh darah pecah 

sebab  Plasmodium sp 

menyerang sel darah, sel 

makrofag, limfoit dan sel 

reticuloendotheal 

Pemeriksaan 

mikroskopis 

Sel-sel organ dalam, (hati, 

paru-paru, ginjal, limpa) 

mengalami pembesaran 

sebab  terjadi perbanyak-an 

schizont dalam organ 

ini . 

- Ditemukan adanya Pigmen 

schizont dan bentuk cincin 

dari merazoit Plasmodium 

sp. pada sel darah merah 

- Ukuran gametocyte besar 

tidak beraturan dan 

menggeser kedudukan insel 

darah mearh 


d. BLACK HEAD (Kepala hitam) 

Penyakit ini kebanyakan menyerang Kalkun, namun  dapat 

juga ayam.  pemicu nya yaitu  hewan bersel satu, yakni 

Histomonas xelagridin. 

 

  Tanda – tanda  

- Ayam lesu, sayap tergantung kebawah. 

- Kotoran berwarna kuninh seperti belerang. 

- Tanda-tana khas kepala menjadi kehitam-hitaman. 

 

  Pencegahan dan pemberantasan 

- Kebersihan kandang dan lapangan pelepasan unggas harus 

dijaga. 

- Pemeliharaan ayam harus terpisah dari pemeliharaan unggas 

yang lainnya. 

- Seperti kalkun, itik, angsa dan lain-lain. 

- Berikan dalam makanaan Nithiazida 0,03 % atau Enheptina 

0,015 %. 

 

  Pengobatan 

- Hepzidam Enheptina, Histotat/NF-180 

 

2) Jenis Cacing 

a. CACING KREMI (ascaris). 

Cacing ini berbentuk langsing dan bulat, warna putih keabu-

abuan, panjang berkisar antara 3-11 cm. Hidupnya dalam usus 

halus. Dalam jumlah banyak dapat memicu  usus luka dan 

menebal. 

 

 

 

  Tanda-tanda  

- Pada anak ayam terlihat pucat, kurus, sayapnya 

menggelantung, kotoran encer, nafsu makan berkurang dan 

sering memicu  kematian. 

- Pada ayam dewasa, produksi telur akan turun, kurus. 

- Penularan : Melalui mulut, dengan termakannya telur-telur 

cacing yang ada pada makanan, kotoran. 

 

  Pencegahan  

- Pemeliharaan anak ayam terpisah dari ayam dewasa. 

- Menjaga litter hangan sampai basah, dan lembab. 

- Melepaskan ayam dalam lapangan rumput bila  sudah 

kering. 

- Makanan harus baik kualitasnya, protein dan vitaminnya harus 

cukup. 

 

  Pengobatan  

- Larutan 0,4 % pperacin hexahidrat/citray dalam 

makanan/minuman, dapat diulangi setiap 1 bulan sekali. 

- Serbuk tembakau 2 % dalam makanan selama 3-4 minggu 

terus menerus dan dapat diulangi sesudah  3-4 minggu kemudian 

dan seterusnya. 

- Satu per mil serbuk buah pinang yang dibakar dalam makanan. 

 

b. CACING PITA 

Cacing pita berbentuk pipih, berwarna putih. Tidak 

memiliki mulut/alat pencernaan, makana diserap oleh seluruh 

permukaan tubuh. Panjang antara 15-25 cm. Ilustrasi 8a. 

memperlihatkan cacing pita dewasa dan 8b.sikulus hidup cacing 

pita 

148 

a b. 

Ilustrasi 64. a. Gambar cacing pita dewasa 

 b. Siklus hidup cacing pita Sumber (Sudarmo, 2003) 

 

   Penularan 

- Melalui mulut ternak, yang memakan oocyt. Dalam siklus 

hidupnya memerlukan hospes perantara (tempat tinggal 

sementara) sejenis keong. Caing pita ini hidup diusus halus 

ayam dengan mengaitkan ujung badannya pada dindidng usus 

sehingga dindidng usus rusak. 

 

  Tanda-tanda. 

- Seperti ayam yang terserang ascaris, ayam terlihat pucat, 

lemah nafsu makan menurun. 

 

  Pencegahan  

- Dalam pemeliharaan ayam dewasa dipisah dengan anak ayam. 

- Memberantas lalat, dengan obat-obatan insektisida misalnya 

dengan stomoksin-P 

- Menjaga litter tetap kering dan tidak menggumpal. 


  Pengobatan 

- DBT (Di-n_Butyl Tindilaurate) sebanyak 0,5 % dicampur 

dalam makanan, diberikan satu hari. Ulangi sesudah  1-2 bulan. 

- Satu pil Tenabon untuk ayam dewasa, sedangkan yang muda 

disesuaikan dengan beratnya. 

- Obat-obat Phenothiasin. 

Note : Pada saat pengobatan, ayam dipuasakan dulu beberapa jam 

sebelum obat diberikan. 

 

c. CACING PERNAFASAN. 

Cacing ini sering menyerang anak ayam yang masih dalam 

alat pemanas.  pemicu nya yaitu  cacing syngamus trachealis  

yang berbentuk bundar, dan kecil sekali. Panjangnya berkisar 

antara 0,625-1,25 cm. Berwarna merah. Biasanya ditemukan 

dipermukaan dinding sebelah dalam (mucosa) alat pernafasan 

sebelah atas (trachea) 

 

Ilustrasi 65. Ayam yang terserang cacing pernafasan 

  Tanda-tanda 

Anak ayam kelihatan lesu, bulu kusut tidak mengkilap, 

nafsu makan hilang. Sering memanjangkan leher sambil membuka 

mulut seperti sedang menguap. 

 

  Pencegahan  

- Pemeliharaan anak ayam terpisah dari ayam dewasa. 

- Didalam kandang dan tempat pelepasan anak ayam jangan ada 

tempat-tempat yang lembab. 

- Pelepasan anak ayam dipdang rumput/umbaran/ranch jangan 

terlalu pagi, tunggu sampai rumput kering. 

- Anak ayam yang sakit dimasukkan kedalam kotak, kemudian 

kedalamnya ditaburkan serbuk barium antimonyl terrat. Kotak 

digoncang-goncang agar serbuk ikut berhamburan bersama 

gerakan anal aam, dan terhisap oleh anak ayam. 

 

d. CACING MATA AYAM. 

 pemicu nya yaitu  sejenis cacing kecil berbentuk seperti 

benang berwarna putih, disebut Oxyspirura mansoni. 

 

  Tanda-tanda  

- Ayam sering menggosok-gosokan matanya pada sayap atau 

menggaruk-garuknya dengan jari kaki (cakar). 

- Matanya membengkak dan keluar cairan jernih. Kalau terjadi 

infeksi sekunder akan terlihat “pus” berwarna putih 

kekuningan. 

- Kalau diperiksa akan terlihat bentuk seperti benag berwarna 

putih disudut mata sebelah dalam, dibawah selaput mata yang 

dapat menutup dan membuka (membran nictitan). 

 

  Pencegahan 

- Manajemen litter yang baik,artinya liter harus kering, tidak 

menggumpal (“mawur”). 

- Hindarilah tempat-tempat yang dapat untuk sembunyinya 

lipas, sebab  dapat ditularkan melalui lipas. 

 

Pengobatan  : 

- Teteskan larutan 5 % creolin langsung kecacing dalam mata, 

kemudian ambilah cacing-cacing ini . 

- Bersihkan mata dengan boorwater/aquadest/air hangat. 

 

e. CACING RAMBUT 

   pemicu  

 pemicu nya yaitu  sejenis cacing kecil yang hidup 

didalam usus, panjang 1,5 – 2 cm, tidak berwarna. 

 

  Tanda – tanda  

- Muka pucat, lesu, kotoran encer, bulu kusut. Untuk ayam 

petelur produksi telur akan turun, untuk ayam pedaging 

pertumbuhannya terhambat. 

- Kalau diadakan seksio (pembedahan) dan dilihat ususnya 

terlihat kemerahan dan menebal. 

 

  Pencegahan 

- Seperti halnya penyakit cacing usus yang lainnya. 

 

  Pengobatan 

- Campurkan 0,1 cc minyak chenopodium dengan 5 c minyak 

olive, dimasukkan dalam rectum memakai  pipet karet. 

- Mencampurkan 1 pound seruk phenothiazin dalam 100 pound 

makanan halus. 

 

f. CACING USUS BUNTU 

   pemicu  

 pemicu nya yaitu  sejenis cacing yang hidup dicaeca, 

panjangnya 0,8 – 1,5 cm, warnanya keabu-abuan. 

 

  Tanda- tanda 

- Ayam kelihatan lesu, muka pucat dan lemah. 

- Pertumbuhan terhambat (kerdil). 

- Pada serangan yang hebat (invectasi besar), kalau dibuka 

ususnya akan terlihat caecumnya berwarna merah, merata 

dapat dibedakan dengan Emeria Tenela. 

 

  Pencegahannya dan pengobatan  

- Seperti pada cacing rambut, yaitu dengan Phenothiazin. 

 

3) PENYAKIT JAMUR 

a. ASPERGILOSIS 

Penyakit ini juga disebut Aspergilus fumigatus atau 

Pneumonia indukan, sebab  banyak menyerang anak ayam yang 

abru menetas. 

Habitat normal dari jamur jenis ini yaitu  bahan-bahan 

organis yang membusuk, pakan kedaluawarsa, litter yang basah, 

sangkar yang kotor namun  juga dapat tumbuh pada jaringan hidup. 

Infeksi biasanya pada paru-paru atau hati nampak seperti 

benjolan kecil-kecil berwarna kekuningan sebesar butir padi. 

Sedang pada kantong udara, berwarna kehijauan mirip dengan roti 

yang berjamur. 


  Tanda-tanda  

- Nafsu makan kurang, jengger kehitaman, sayap terkulai, 

kesulitan pernafasan, dan pernafasan cepat dan gasping 

(megap-megap), namun  tidak batuk atau bersin 

- Kandang-kandang dapat terjadi encephalitis, buta. Kebuataan 

biasanya hanya satu sisi (uni internal), terjadinya kebanyakan 

sebab  infeksi kantong udara, dari pada masuknya spora 

langsung kemata. 

 

  Penularan 

- Infeksi terjadi pada saat ayam menarik nafas spora ikut terisap 

oleh ayang sehat, diperlukan spora dalam jumlah besar untuk 

menjadi penyakit. 

- Spora dapat terisap ayam pada : 

- kontaminasi hatchery (penetasan). 

- makanan atau litter yang berjamur. 

- kadang-kadang vaksin terkontaminasi oleh spora 

Aspergilleus fumigatus. 

 

Pencegahan dan pemeberantasan : 

- Jangan meempatkan hatchery (penetasan) dilokasi feed mill 

atau tempat0tempat yang berdebu organic keudara. 

- Menjaga kebersihan kandang sehingga tidak ada tempat yang 

berjamur. 

- Pengolahan litter agar senantiasa kering dan tidak 

menggumpal. 

- Makanan dan minuman yang diberikan jangan ada yang 

berjamur. 

  Pengobatan  

- Belum ada obat yang efektif untuk aspergillosis. Kalau terjadi 

out break (wabah) yang terserang diafkir dan kandang dan  

peralatannya dibersihkan dan keringkan dan didesinfektan. 

 

b. AFLATOXIN 

   pemicu  

 pemicu nya yaitu  suatu jenis hamur yang tumbuh 

terutama pada biji-bijian dan buah-buahan makanan yang digiling. 

      

 

 

 

 

  

 

a b 

Ilustrasi  66. a. Aspergilosis dan b. Saluran Pencernaan yang 

terserang aspergilosis 

 

Gambar 66 aflatoxin dan tembolok yang terserang aflatoxin. 

Jamur ini tumbuh pada kelembaban 13 % atau lebih, sedangkan 

pada kelembaban 12,5 % atau kurang pertumbuhan akan 

terhambatt dan atau tidak ada pertumbuhan. 

 

 

 

 

 

 

a         b                                            

Ilustrasi 67. a. Aflatoxin dan 68. Tembolok yang terserang 

Aflatoxin (T.C. Chiu, 1983) 

 

Ada 4 fraksi aflatoxin yaitu B1, B2, G1 dan G2 yang 

semuanya sangat setabil sedang untuk fungusnya mudah 

dimusanhkan dengan zat-zat kimia. 

- Nafsu makan turun, sehingga ketahanan tubuh menurun, yang 

berakibat rentan terhadap berbagai penyakit. 

- Adanya perubahan jaringan, misalnya pembesaran dan 

pelunakan hati, pembesaran limpa, pancreas dan kantong 

empedu. 

- Kematian mendadak pada keracunan akut. 

 

  Akibat dari afllatoxin 

1. Kematian 

2. Petumbuhan terhambat. 

3. Mutu karkas rendah. 

4. Feed konversi jelek. 

5. Peka terhadap perubahan cuaca, dindin dan panas. 

6. Perapuhan tulang-tulang. 

7. Pigmentasi menurun, kaki, pial dan sunsum tulang pucat. 

156 

8. Peka terhadap sodium sebab  memicu  kerusakan ginjal. 

9. Kadar gula darah menjadi rendah. 

10. Pendarahan local dan penjendalan darah selama pengambilan 

darah, penangkapan dan pemrosesan. 

11. Kegagalan metabolisme lemah. Terjadi akumulasi lemak dihati 

sehingga hati membesar dan berwarna kekuningan. 

12. Kebitihan protein meningkat. 

13. Berpengaruh terhadap penyakit lain terutama penyakit 

bacterial, mempengaruhi immunitas sellulair (lihat Bab. I). 

14. Juga dapat menyebebkan kanker (karsionogenik). 

 

  Pencegahan 

- Menjaga kebersihan kandang, tempat pakan dan minum. 

-  memberi  makanan yang baik dan cukup. 

-  memberi  minuman yang bersih dan baik. 

- Jangan menimbun makanan terlalu lama, apalagi kalau cara 

penyimpanannya tidak baik. 

 

  Pengobatan 

- Seperti pada penyakit aspergillosis. 

 

c. PENYAKIT TRUSH  

   pemicu  

 pemicu nya yaitu  jamur berbentuk bundar, seperti sel 

ragi, menyerang alat pernafasan bagian atas. Kebanyakan 

menyerang ayam muda. 

 

  

Ilustrasi 68. Ayam yang terserang trush Trachea seperti ada keju 

 

  Tanda-tanda  

- Nafsu makan turun. 

- Berat badan turun. 

- Pada bagian mulut berlendir banyak. 

 

  Pencegahan  

- Menjaga kebersihan kandang, bak makanan dan tempat 

minumnya. 

-  memberi  makanan yang baik, bersih dan segar. 

 

  Pengobatan  

- Ayam yang sakit dipisahkan dari kelompoknya. 

- Bak makanan dan tempat minuman dibersihkan dan suci 

hamakan. 

- Diberikan larutan Cupri-sulfat 0,5 per mill dalam air minum 

selama beberapa hari. 

 

 

d. PENYAKIT FAVUS 

Penyakit ini biasanya menyerang kulit bagian kepala, 

terutama jengger, pial, muka. ada  kerak-kerak putih/putih 

kekuningan. 

 

Ilustrasi 69. Ayam Terserang Penyakit Favus 

 

  Penularan 

- Melalui kontak langsung antara ayam yang sakit dan yang 

sehat. 

- Peralatan kandang, sangkar, tempat pakan dan minum. 

 

  Pencegahan  

- Menjaga kebersihan kandang dan peralatannya. 

- Ayam yang terkena penyakit favus dipisahkan dari 

kelompoknya. 

- Mendesinfektan kandang dan peralatannya. 

 

  Pengobatan  

- Memebrsihkan bagian – bagian kepala ayam yan gsakit dengan 

jalan menorah, menyayat atau mengupas kerak-kerak yang 

ada, mencuci dengan air panas atau alcohol. 

- Mengoleskan campuran 1 bagian formalin dengan 20 bagian 

vaselin yang diaduk rata dan diberikan merata pada luka 

(lesion-lesi_ yan gtelah dibersihkan. 

 

PENYAKIT sebab  GANGGUAN LAIN. 

Kanibalisme 

Kanibalisme disebabkan oleh adanya kesalahan dalam 

manajemen, misalnya kekurang zat makanan, jumlah makanan, 

terlalu padat dan pemeliharaan ayam yang tidak sejenis. 

 

Ilustrasi 70. Kanibalisme pada ayam 

 

. Osteodistrophi 

Suatu malformasi atau salah bentuk dimana kerang suatu 

bagian bentuk V (ve) dari tulang rawan tertinggal dibagian sisi 

proximal dekat dengan badan dari tibia dan pada sebagian kecil 

kasus ada  juga pada tulang-tulang lainnya. Pada broiler 

penyakit ini disebut dengan tibial cyschondroplasia. 

Pada osteodystrophi ini, tulang rawan diujung tibia tetap 

tinggal sebagai tulang rawan dan tidak diganti dengan tulang biasa. 

Keadaan ini memicu  kelemhan struktur. 



 PENYAKIT BERDASARKAN KESALAHAN 

MANAJEMEN. 

Keracunan 

Penyakit yang disebabkan oleh keracunan sering terjadi, 

bahkan sering memicu  kematian. Hal ini disebabkan oleh 

sebab  ayam memakan racun atau memakan tanaman yang 

mengandung racun, seperti daun-daunan, biji-bijian, dan bahkan 

makanan yang mengandung racun. Dalam bahan pengawet 

makanan kadang-kadang dipakai  zat kimia, misalnya arsen, 

phospor dan sebagainya yang dapat berakibat racun pada ayam. 

 

. Luka Infeksi. 

sebab  adanya suatu luka atau goresan sehingga bakteri 

dapat masuk kedalamnya memicu  ayam terinfeksi. Bila luka 

ada dikaki maka ayam akan pincang, dan terjadi penimbunan nanah 

pada luka. 

 

  Pengobatan 

Luka dibuka/operasi, semua timbunan nanah (exudat) 

dikeluarkan, dibersihkan dan dicuci dengan alkohol, diberikan 

obat-obat sulfa atau antibiotika 

 

Efek kandang battery. 

a. Kelumpuhan. 

Ditandai dengan kelumpuhan dikaki sehingga ayam tidak 

dapat berdiri dengan baik. Disamping sebab  ayam selalu disekap 

pada tempat yang sempit, kekurangan nutrisi juga merupakan 

 pemicu nya. 

Kelumpuhan ini bila  belum begitu parah, sebaiknya 

ayam dipi