parasitologi 8
urnal periodic.
Anatomi dan morfologi. Nyamuk jantan Anopheles memiliki palpus yang ujungnya membesar (club-shaped). Berbeda dengan Aedes dan Culex, nyamuk ini baik nyamuk jantan maupun nyamuk betinanya memiliki palpus yang sama panjang dengan probosis. Scutellum toraks nyamuk dewasa ujungnya membulat, tidak memiliki lobus. Kaki-kaki Anopheles panjang dan langsing. sedang abdomennya tidak memiliki bercak-bercak sisik.
Gambar 185. Anopheles dewasa
(URL: http://www.files.myopera.com/echa2268)
Larva Anopheles tidak memiliki siphon tetapi memiliki palmate-hair yang khas bentuknya. Selain itu larva juga memiliki pelampung sehingga pada waktu bernapas di permukaan air, posisi larva yaitu mendatar atau sejajar dengan permukaan air. Hal ini berbeda dengan posisi larva Aedes dan Culex yang menungging atau membentuk sudut terhadap garis permukaan air.
Gambar 186. Larva Culicine (Aedes, Culex) dan larva Anopheline
Larva Culicine memiliki siphon, larva Anopheline tidak bersiphon.
(Sumber: R.C.Russel, 2000)
Daur hidup dan biologi. Sarang nyamuk (breeding place) Anopheles sangat bervariasi sesuai dengan spesies dan lingkungan hidupnya. Sebagai contoh, Anopheles sundaicus menyukai genangan air payau di daerah pantai (lagoon), sedang Anopheles aconitus menyukai air tawar yang tergenang di sawah-sawah.
Sesudah diletakkan di air, telur Anopheles dalam waktu 1-2 hari akan menetas menjadi larva yang dalam waktu 8-12 hari kemudian berubah menjadi bentuk pupa. Pupa dalam waktu 2-3 hari akan berkembang menjadi nyamuk dewasa yang dapat bertahan hidup di alam sampai satu bulan lamanya.
Penyakit-penyakit yang ditularkan oleh nyamuk. Banyak mikroorganisme pemicu penyakit yang dapat ditularkan oleh nyamuk, yaitu Plasmodium, cacing filaria, dan arbovirus serta beberapa virus lainnya.
Malaria. Penyakit protozoa ini dipicu oleh Plasmodium vivax, P.falciparum, P.malariae dan P.ovale yang penularnya yaitu nyamuk Anopheles yang spesiesnya berbeda antara satu tempat dengan tempat lainnya. ada sekitar 30 spesies Anopheles dapat menularkan malaria.
Filariasis. Di Indonesia infeksi cacing Wuchereria bancrofti, Brugia malayi dan Brugia timori endemis di berbagai daerah terutama di luar Jawa
Arbovirus. Virus-virus yang ditularkan secara biologis oleh artropoda ada yang ditularkan oleh nyamuk. Semua arbovirus grup A ditularkan oleh nyamuk, yaitu virus Chikungunya, virus Mayaro, virus Onyong-nyong, virus Venezuelan equine encephalitis, virus Sinbis, dan virus Western encephalitis. Sebagian arbovirus grup B juga dapat ditularkan olen nyamuk, yaitu virus Yellow fever, virus dengue, virus St.Louis encephalitis, virus Japanese B encephalitis, virus Murray Valley encephalitis, virus West Nile, dan virus Ilheus. Virus Eastern encephalitis, virus Bunyawera, virus Bwamba, virus Oropouche, dan virus California yang tidak termasuk arbovirus juga dapat ditularkan oleh nyamuk.
Ceratopogonidae
Keluarga Diptera yang dikenal juga sebagai gnats atau punkies ini tersebar luas di daerah tropis dan subtropis. Sarang tempat berkembang biak (breeding places) yang disukainya yaitu genangan air, kolam, aliran sungai tidak deras, dan tanah yang lembab. Induk Ceratopogonidae meletakkan telurnya pada daun busuk yang ada di sungai, luban-lubang yang ada di tanah atau lubang-lubang pohon, tanaman air dan juga kotoran dan sampah lainnya. Larva serangga ini berbentuk mirip cacing yang memiliki toraks yang terdiri dari 3 segmen dan abdomen yang memiliki 9 segmen. Pupa Ceratopogonidae yang lonjong khas bentuknya sebab memiliki corong napas yang terletak di daerah toraks. Dalam famili ini, hanya Culicoides yang penting bagi kesehatan pasien .
Culicoides. Culicoides dewasa bentuknya mirip nyamuk berukuran kecil, memiliki sayap yang berbulu sangat halus, yang kadang-kadang berbintik berwarna-warni. Serangga ini antena yang terdiri dari 14 segmen, sedang palpusnya memiliki 5 segmen. Culicoides menggigit pasien atau mamalia pada waktu sore hari yang tidak berangin, yang gigitannya memicu timbulnya nodul pada kulit yang menjadi radang atau kadang-kadang terjadi vesikel yang mengandung eksudat. Culicoides yaitu vektor penular filariasis yang dipicu oleh Acanthocheilonema perstans dan Mansonella ozzardi.
Gambar 187. Culicoides
( Sumber: Parasitologia Veterinaria-UAB)
Psychodidae
Anggota famili Psychodidae yang penting dalam ilmu kesehatan yaitu genus Phlebotomus, disebut juga sebagai lalat pasir (sand-flies) yang tersebar di daerah tropis belahan bumi bagian Barat yang beriklim panas.
Phlebotomus . Serangga ini sangat kecil ukurannya, sehingga ia dapat menembus kawat kasa nyamuk. Seluruh tubuh lalat, juga kaki dan sayapnya, tertutup bulu-bulu yang panjang. Phlebotomus memiliki sayap pendek yang membentuk sudut di ujung sayapnya, yang tidak memiliki vena sayap melintang (cross-vein).
Gambar 188. Phlebotomus
(URL: http://searo.who.int/i,age/oth-ke1)
Daur hidup. Phlebotomus memiliki metamorfosis yang lengkap, terdiri dari bentuk telur, bentuk larva, bentuk pupa dan bentuk dewasa. Dalam waktu 7-12 hari telur akan menetas menjadi bentuk larva, yang dalam waktu 40 hari akan berubah menjadi bentuk pupa. Sepuluh hari kemudian bentuk pupa akan berubah menjadi bentuk dewasa.
Phlebotomus hidup di bawah batu, di dalam dinding yang rusak, kandang hewan dan bangunan yang gelap dan lembab yang menyediakan cukup bahan organik untuk makanan bagi larvanya.
Gejala klinis dan penyakit. Akibat gigitan Phlebotomus akan terbentuk benjolan keras berwarna putih yang memicu timbulnya rasa nyeri menyengat yang kemudian akan diikuti rasa gatal-gatal yang berlangsung sampai beberapa hari lamanya. pasien yang mengalami banyak gigitan akan menderita demam, mual dan tanda-tanda toksemia lainnya.
Phlebotomus secara biologis dapat menularkan penyakit antara lain yaitu plebotomus fever yang disebut juga sebagai sandfly fever atau Pappataci fever yang dipicu oleh virus, dan bartonellosis (Carrions disease) yang dipicu oleh Bartonella baccilliformis. Lalat pasir juga dapat menularkan leishmaniasis yang dipicu oleh Leishmania donovani, L. tropica dan L. braziliensis.
Untuk memberantas Phlebotomus berbagai macam insektisida residual dapat digunakan, misalnya DDT dalam bentuk larutan yang disemprotkan.
Simuliidae
Pada famili Simuliidae hanya genus Simulium yang penting sebab dapat menularkan Onchocerca volvulus, cacing filaria pemicu kebutaan.
Simulium. Genus Simulium yang disebut juga sebagai black-flies atau buffalo-gnats merupakan salah satu anggota famili yang penting sebab dapat menularkan penyakit dan memiliki penyebaran luas di Afrika dan Amerika Selatan dan Amerika Tengah.
Anatomi dan biologi. Simulium dewasa berukuran kecil antara 1-5 mm, dengan punggung yang memberi kesan bungkuk. Mulut lalat betina dilengkapi dengan 6 buah pisau, sehingga gigitannya menimbulkan perdarahan. Antena lalat pendek ukurannya terdiri dari 10-11 segmen, sedang palpusnya terdiri dari 4 segmen. Simulium memiliki sayap yang jernih tanpa bercak, yang memiliki 2-3 vena besar yang menebal di daerah kostal.
Larva Simulium terdiri atas 12 segmen yang berbentuk piring. Pupa yang terbentuk berada di dalam kantung dalam waktu 2-30 hari akan berubah menjadi lalat dewasa yang mencari mangsa mulai pagi sampai sore hari.
Gambar 189. Simulium dewasa (kiri) dan larva (kanan).
(Sumber: University of Iowa)
Sebagai tempat berkembang biak (breeding-place) Simulium menyukai sungai yang airnya mengalir deras. Oleh induknya telur yang diletakkan pada karang atau tanaman air yang berada di bawah permukaan air, dalam waktu 4-27 hari akan menetas menjadi bentuk larva. Larva lalu melekatkan diri pada benda-benda di bawah air dengan menggunakan alat isap kaudal (caudal sucker) yang ada di bagian ekornya.
Gejala klinis dan penyakit. Akibat gigitan Simulium pasien mula-mula tidak merasa sakit, akan tetapi beberapa waktu kemudian bekas gigitan akan terasa nyeri dan gatal, lalu timbul pembengkakan yang berlangsung beberapa hari lamanya. Simulium dapat menularkan Onchocerca volvulus, cacing filaria yang tersebar di Afrika, Meksiko, Amerika Selatan dan Amerika Tengah, yang dapat menyebabkab kebutaan. Diduga lalat ini juga dapat menularkan penyakit tularemia secara mekanis.
Pemberantasan Simulium. Baik lalat dewasa maupun larva Simulium dapat diberantas menggunakan insektisida organofosfat misalnya temephos, pyretroid misalnya permethrin, dan biopestisida misalnya Bacillus thuringiensis, telah menggantikan chlorinated hydrocarbon misalnya DDT, yang dulu pernah digunakan.
BRACHYCERA
Famili Tabanidae merupakan kelompok subordo ini yang penting dalam bidang kesehatan, sebab dapat menularkan berbagai macam penyakit.
Tabanidae
Hanya lalat betina Tabanidae yang mengisap darah pasien . Untuk tempat berkembang biaknya Tabanidae dapat memanfaatkan berbagai macam breeding places baik yang kering maupun yang lembab dan basah. Lalat betina mengeluarkan telurnya secara berkelompok yang masing-masing kelompok terdiri dari 100-700 telur yang terbungkus bahan tahan air. Dalam waktu 5-7 hari telur akan menetas menjadi larva yang berbentuk silindris yang terdiri dari 11-12 segmen. Untuk berubah bentuk menjadi pupa yang membutuhkan waktu beberapa bulan lamanya, larva harus berganti kulit 4-9 kali. Pupa dalam waktu 5-21 hari akan berkembang menjadi lalat dewasa yang dapat hidup di alam selama 8 minggu. ada dua genus famili Tabanidae yang penting yaitu Tabanus dan Chrysops.
Anatomi dan morfologi. Ukuran tubuh Tabanidae antara 6-25 mm, memiliki kepala berukuran besar dengan antena terdiri dari 3 segmen. Larva dengan badan berbentuk silindris yang terdiri dari 11-12 segmen memiliki kepala amat kecil.
Tabanus yaitu lalat berukuran besar, memiliki antena dengan segmen ke-3 yang bentuknya melengkung, sedang sayapnya tampak bersih tanpa bercak.
Chrysops yang ukuran tubuhnya lebih kecil dari Tabanus, memiliki antena dengan antena segmen ke-3 yang berbentuk lurus. Chrysops memiliki sayap yang khas sebab memiliki bercak yang berbentuk seperti pita (band-form).
Gambar 190. Tabanidae
Tabanus (kiri) dan Chrysops (kanan)
(Sumber: Gayle and Jeanell Strickland Iowa State University
http://www.biology.ualberta.ca/bscejournal)
Tabanidae sebagai pemicu dan penular penyakit. Famili Tabanidae gigitannya terasa sangat nyeri dan menimbulkan perdarahan di tempat gigitan. Tabanus dapat menularkan penyakit anthrax dan tripanosomiasis pada hewan, sedang Chrysops menularkan cacing Loa-loa dan penyakit tularemia.
Pemberantasan Tabanidae. Untuk memberantas famili Tabanidae dapat digunakan insektisida organofosfat misalnya diazinon dan piretroid misalnya permethrin.
CYCLORRPHAPHAxxx
ada enam famili penting yang menjadi anggota subordo Cyclorrhapha, yaitu famili Muscidae, famili Calliphoridae, famili Oestridae, famili Gasterophilidae, famili Chloropidae dan famili Sarcophagidae.
Muscidae
Famili Muscidae merupakan famili terpenting subordo Cyclorrhapha. ada 2 kelompok famili Muscidae, yaitu kelompok lalat pengisap darah ( blood-sucking flies ) dan kelompok lalat yang tidak mengisap darah (non blood sucking flies). Glossina dan Stomoxys termasuk kelompok lalat pengisap darah, sedang Musca, Fannia dan Muscina termasuk famili Muscidae yang tidak mengisap darah.
Lalat pengisap darah
Glossina. Lalat pengisap darah yang dikenal sebagai lalat tsetse ini tersebar di Afrika dan Arab bagian Selatan. Glossina yang hanya mengisap darah pada waktu siang hari ini tidak bertelur, melainkan melahirkan larva (larviparous) yang dalam waktu 1 jam akan berubah menjadi bentuk pupa. Pupa dalam waktu 3 minggu sampai 60 hari akan berubah bentuk menjadi lalat dewasa yang dapat hidup di alam sampai 1 tahun lamanya.
Glossina merupakan vektor penular baik secara biologis maupun secara mekanis dari Trypanosoma gambiense dan Trypanosoma rhodesiense,
Lalat yang ukuran tubuhnya sedikit lebih besar dari ukuran lalat rumah (Musca domestica) ini berwarna kecoklatan. Glossina memiliki mulut yang probosisnya berbentuk sangkur dengan pangkal probosis tampak membesar. Jika sedang tidak digunakan probosis akan mengarah horizontal ke depan.. Pada waktu istirahat sayap Glossina tampak saling menyilang seperti mata gunting.
Gambar 191. Famili Muscidae pengisap darah
a. Glossina b. Stomoxys
(URL: http://cal.vet.upenn.edu/projects/paraav)
Stomoxys. Stomoxys yang dikenal juga sebagai lalat kandang (stable fly), ukuran badannya sebesar lalat rumah ini, tetapi perutnya lebih lebar dibanding lalat rumah. Lalat yang probosisnya berbentuk sangkur berwarna hitam ini tersebar luas di seluruh dunia.
Untuk dapat bertelur, Stomoxys harus lebih dahulu beberapa kali mengisap darah mangsanya. Telur akan menetas menjadi larva dalam waktu 2-5 hari, dan 3 minggu kemudian larva akan berubah bentuk menjadi pupa. Dalam waktu 9-13 hari pupa akan berkembang menjadi lalat dewasa yang dapat hidup di alam sampai 20 hari lamanya. Baik lalat betina maupun lalat jantan mengisap darah pada waktu siang hari. Sebagai tempat untuk berkembang biak Stomoxys membutuhkan tempat-tempat yang lembab dan basah, tanaman air, sampah atau kotoran hewan.
Stomoxys yang gigitannya sangat menyakitkan ini merupakan vektor penting dalam penularan penyakit surra yang dipicu oleh Trypanosoma evansi yang banyak memicu kematian kuda. Lalat ini juga merupakan vektor mekanis pada penularan penyakit anthrax, tetanus, dan yellow fever, serta dapat menimbulkan traumatic myiasis atau enteric pseudo myiasis pada pasien .
Pemberantasan lalat pengisap darah. Insektisida piretroid misalnya deltamethrin digunakan baik untuk lalat yang ada di lapangan, maupun melalui dipping pada hewan ternak.
Lalat tidak mengisap darah
Musca. ada dua spesies Musca yang penting Indonesia, yaitu Musca sorbens dan Musca domestica. Sebagai tempat berkembang biak Musca menyukai lahan yang mengandung sisa-sisa bahan organik dan tinja kuda.
Seekor lalat betina yang dapat hidup di alam sampai 3 bulan lamanya, sejak berumur 2 hari sudah mampu mengeluarkan 120 butir telur setiap kali bertelur. Dalam waktu satu hari, telur akan menetas menjadi larva yang memiliki 12 segmen. Sesudah 3 kali berganti kulit, dalam waktu 1 minggu larva berubah menjadi pupa. Antara 3-6 hari kemudian pupa akan berubah menjadi lalat dewasa.
Lalat dewasa berwarna abu-abu kehitaman, berukuran panjang antara 6 sampai 9 mm, memiliki 4 garis gelap longitudinal di punggungnya. Antena memiliki arista yang berambut. Tubuh lalat terutama kakinya tertutup bulu-bulu yang memudahkan mikroorganisme terbawa oleh lalat. Selain itu, sebelum makan lalat selalu memuntahkan cairan dari mulutnya dan menyukai mata dan daerah sikitar mata.
Penyakit-penyakit pencernaan dapat ditularkan secara mekanis oleh lalat, misalnya bakteria usus (Salmonella, Shigella, dan Escherichia coli), cacing usus dan protozoa (misalnya Ascaris lumbricoides, cacing tambang, Trichuris trichiura, Taenia saginata, Taenia solium, Entamoeba histolytica, Giardia lamblia, dan Balantidium coli), serta poliovirus, enterovirus dan jamur Aspergillus. Larva lalat yang tercemar mikroorganisme misalnya telur cacing, spora anthrax atau spora Clostridium tetani, dapat tetap terbawa pada waktu larva berubah menjadi stadium dewasa. Selain itu Treponema pertenue pemicu framboesia dan Mycobacterium tuberculosis dapat ditularkan oleh lalat. Selain menularkan penyakit,Musca juga dapat memicu miasis.
Fannia. Fannia yang lebih kecil ukurannya dari pada Musca ini memiliki antena arista yang tidak berambut, halter yang berwarna kuning dan kaki yang berwarna hitam. Sayap memiliki vena longitudinal ke-3 dan ke-4 yang berjauhan letaknya.
Lalat ini dapat memicu berbagai macam miasis, misalnya gastric myiasis, intestinal myiasis dan urogenital myiasis. Gastric myiasis memicu mual, muntah, nyeri perut dan vertigo, sedang intestinal myiasis dapat menimbulkan nyeri perut, diare dan perdarahan anus. Disuri, piuri, hematuri dan albuminuri yang terjadi dapat merupakan gejala klinis dari urogenital myiasis.
Gambar 192. Famili Muscidae yang tidak mengisap darah
(a). Musca (b) Fannia
(URL: http://www.ento.csiro.au/aicn/images)
Calliphoridae
Famili Calliphoridae yang disebut juga Blow-flies dan tersebar luas di dunia yaitu lalat berukuran sedang sampai besar dengan tubuh yang berwarna mengkilat. Lalat yang tidak mengisap darah ini larvanya dapat menimbulkan miasis. Blow-flies merupakan vektor mekanis penyakit-penyakit yang ditimbulkan oleh bakteri usus, parasit usus, polio, frambusia, dan tuberkulosis. Lucilia, Chrysomyia dan Calliphora yaitu genus-genus yang penting dalam famili Calliphoridae.
Lucilia. Genus lalat yang dikenal sebagai Green-bottle flies ini berwarna hijau metalik kebiruan, memiliki tubuh berukuran sedang. Induk lalat meletakkan telurnya pada daging busuk atau bangkai hewan, pada luka terbuka atau di dalam lubang-lubang tubuh lain yang berbau busuk. Larva Lucilia dapat memicu miasis kulit, miasis intestinal, dan miasis urogenital.
Chrysomyia. Chrysomyia termasuk lalat berukuran sedang dengan badan berwarna hijau mengkilat dan sayap jernih yang memiliki venasi jelas. Pada abdomen ada garis-garis transversal. Miasis mata, miasis tulang dan berbagai miasis organ lainnya dapat ditimbulkan oleh lalat ini yang menyukai luka terbuka yang basah.
Calliphora. Lalat ini dikenal sebagai blue-bottle flies, berwarna biru metalik, memiliki badan yang berukuran besar. Untuk berkembang biak lalat ini menyukai bangkai hewan dan dapat memicu miasis kulit, miasis intestinal, dan miasis urogenital.
Oestridae
ada 3 genus yang penting dalam famili ini, yaitu genus Oestrus, Dermatobia dan Hypoderma.
Oestrus. Tubuh lalat yang banyak berbulu ini berukuran lebih kecil dari ukuran tubuh tawon madu, berwarna kuning sampai abu-abu kecoklatan. Lalat ini disebut juga sebagai sheep bot-fly sebab larvanya diletakkan di dalam lubang-lubang badan domba. Larva yang diletakkan di dalam rongga mata dapat melakukan migrasi sehingga mencapai hidung, sinus dan faring. Daerah sebaran lalat ini luas di seluruh dunia.
Dermatobia. Dermatobia hominis yang sering disebut sebagai human bot-fly, lalat dewasanya memiliki panjang tubuh sekitar 15 mm. Badan lalat berwarna abu-abu kecoklatan, sedang bagian depan kepalanya berwarna merah jingga, begitu juga warna kakinya. Telur lalat ini dapat melekat pada badan hospes dengan perantaraan serangga lain, misalnya nyamuk, Stomoxys, atau caplak (ticks). Dermatobia hominis dapat menimbulkan miasis kulit sebab larvanya dapat menembus kulit yang sehat.
Hypoderma. Hypoderma yang bentuknya mirip lebah ini merupakan parasit pada sapi sebab meletakkan telurnya pada rambut hewan ini. Larva yang menetas akan menembus kulit, lalu mengadakan migrasi ke dalam jaringan dan dapat mencapai tempat yang jauh dari tempat asal larva, misalnya larva yang berasal dari daerah kulit paha dapat mengadakan migrasi sampai ke kulit kepala.
Gambar 194. Oestridae : (a) Oestrus (b) Dermatobia (c) Hypoderma
(URL: http://insects.ufv.br/entomologia/ent; http://www.bvs.sld.au/restas/san; http://www.nobodyhere.com/just ).
Gasterophilidae
Gasterophilus atau horse bot-fly yaitu anggota famili Gasterophilidae yang sebenarnya secara alami merupakan parasit pada kuda. Larva lalat ini hidup di dalam usus kuda sesudah tertelan melalui mulut atau sesudah larva menembus kulit. Pada pasien larva Gasterophilus dapat dijumpai berada di jaringan subkutan dan menimbulkan miasis yang mirip creeping eruption yang ditimbulkan oleh larva Ancylostoma braziliensis. sebab itu miasis ini disebut creeping cutaneous myiasis.
Gambar 195. Gasterophilus dewasa
(URL: http://www.ento.csiro.au/aien/images)
Chloropidae
Salah satu genus famili ini yaitu Hippelates lalat kecil berwarna hitam yang berukuran sekitar 2 mm dan memiliki kaki berwarna kuning. Hippelates menyukai nanah, darah, lemak dan sekresi mata, dan dapat memicu luka pada membran mukosa sehingga dapat menjadi vektor mekanis pada penularan epidemic conjunctivitis, frambusia, trachoma dan ulcus tropicum.
Gambar 196. Hippelates
(URL: http://www.cedarcreek.umn.edu )
Sarcophagidae
Famili lalat yang sering disebut sebagai lalat daging ini umumnya berwarna abu-abu dengan bintik-bintik kuning yang ada pada abdomen. Pada permukaan dorsal dari toraks ada garis longitudinal, sedang di permukaan dorsal abdomen ada gambaran mirip papan catur. Termasuk dalam famili Sarcophagidae yaitu Sarcophaga dan Wohlfahrtia.
Sarcophaga. Tubuh lalat ini berukuran besar dengan panjang badan yang dapat mencapai 14 mm. Lalat ini menyukai kotoran hewan, tetapi madu dari bunga juga dimakannya. Sarcophaga dapat memicu miasis kulit, miasis hidung dan sinus, miasis pada jaringan, miasis vagina dan miasis usus.
Wohlfahrtia. Wohlfahrtia yaitu lalat yang larviparous artinya melahirkan larva yang dapat menembus kulit yang sehat. Pada abdomen lalat dewasa ada gambaran papan catur yang berbentuk titik-titik hitam. Wohlfahrtia dapat menimbulkan miasis kulit, miasis mata, miasis hidung, miasis telinga, miasis vagina, miasis lidah dan miasis usus.
Gambar 197. (a) Sarcophaga (b) Wohlfahrtia
(URL: http://www.glaucus.org.uk/Fly/-;
http://nathhistoric.bio.uci.edu/diptera)
MIASIS
Infestasi larva lalat pada jaringan atau organ tubuh pasien atau hewan yang masih hidup disebut miasis (myiasis). Adanya larva lalat pada jenasah atau bangkai hewan yang sudah membusuk bukanlah miasis.
Sesuai dengan sifat hidup larva lalat yang menjadi penyebabnya, miasis dikelompokkan menjadi miasis spesifik atau obligatory myiasis, miasis semi spesifik atau facultative myiasis, dan miasis eksidental (accidental myiasis).
Miasis spesifik. Miasis spesifik yaitu miasis yang dipicu oleh larva lalat yang harus hidup pada jaringan atau organ tubuh hewan yang belum mati. Termasuk dalam kelompok ini yaitu larva Gasterophilus, Callitroga, Chrysomyia, Dermatobia, Wohlfarthia dan Hypoderma.
Gambar 198. a. Larva Gasterophilus b. Larva Dermatobia
(URL: http://course.winona.edu/kbates)
Miasis semispesifik. Larva lalat pemicu miasis semispesifik sebenarnya secara alami meletakkan telur atau larvanya pada daging atau tumbuhan yang sudah busuk, namun kadang-kadang telur diletakkan oleh induk lalat pada jaringan hewan atau tanaman yang masih sehat. Larva pemicu miasis semispesifik yaitu Fannia, Musca, Calliphora, Lucilia, Sarcophaga, Phormia dan Phaenicia
Gambar 199. Larva lalat pemicu miasis semispesifik
(URL: http://www.landcareresearch.co.nr/research/biosystematcs
http://www.livingwithbugs.com/images/flylarva )
Miasis eksidental. Pada umumnya secara alami induk lalat meletakkan telurnya pada sampah-sampah organik atau makanan. Jika telur tersebut termakan oleh pasien atau hewan maka di dalam usus telur akan menetas dan larva yang keluar dapat masuk ke dalam jaringan atau organ sehingga memicu terjadinya miasis.
Miasis organ dan jaringan. Sesuai dengan jenis organ atau jaringan tubuh tempat terjadinya miasis, maka miasis digolongkan menjadi miasis usus (intestinal myiasis), miasis saluran kencing (urinary myiasis), miasis kulit (cutaneous myiasis), miasis mata (ophthalmic myiasis), dan miasis hidung (nasal myiasis) dan miasis jaringan lainnya.
Intestinal myiasis. Miasis usus atau enteric myiasis terjadi sebab telur atau larva lalat tertelan bersama makanan atau minuman misalnya daging atau keju dingin. Miasis usus yang dipicu oleh Muscidae dan Calliphoridae, yang tertelan yaitu telur lalat, sedang pada miasis usus oleh Sarcophagidae yang tertelan yaitu larva lalat. Miasis usus juga dapat terjadi jika induk lalat meletakkan telurnya di daerah sekitar anus dan larva yang menetas kemudian akan masuk ke dalam saluran usus.
Urinary myiasis. Akibat tercemar dengan telur atau larva lalat, alat kedokteran yang dimasukkan ke dalam uretra pasien laki-laki dapat menjadi perantara terjadinya miasis. Pada wanita larva lalat dapat langsung masuk ke dalam saluran kencing melalui alat kelamin luar.
Larva pemicu miasis jaringan. Pada satu jenis jaringan atau organ miasis dapat dipicu oleh berbagai jenis larva lalat. Sebaliknya satu jenis larva lalat dapat menimbulkan miasis pada beberapa jenis organ atau jaringan.
Anatomi dan morfologi larva lalat. Larva lalat yang diperiksa diambil dari tempat larva ditemukan pada jaringan atau organ. Pada pemeriksaan anatomi dan morfologi lalat yang harus diperhatikan yaitu bentuk dari spirakel anterior, lempeng stigma dan spirakel posterior, sebab struktur-struktur larva tersebut untuk setiap spesies lalat memiliki bentuk yang berbeda.
Gambar 200. Morfologi luar larva lalat (Sumber: Thyssen,2007. Biological Research)
Top of Form
Gambar. 201. Bentuk-bentuk spirakel posterior
1.Musca 2. Stomoxys 3. Muscina 4. Ophyra 5. Phormia
6. Phaenicia 7. Calliphora
(Sumber:Novartis Animal Health)
ARACHNIDA
Kelas Arachnida penting dalam bidang kesehatan sebab selain ada yang dapat menimbulkan penyakit secara langsung akibat toksin dan iritan yang dihasilkannya, ada juga yang dapat menjadi vektor penular berbagai macam penyakit. Laba-laba, kalajengking (scorpion) dan caplak (ticks) ada yang menghasilkan toksin yang dapat menimbulkan gejala keracunan lokal maupun gejala sistemik, bahkan dapat memicu kematian pasien . Sarcoptes scabiei yaitu tungau (mites) yang dapat memicu penyakit kulit ( skabies, kudis, gudig), sedang Dermatophagoides yaitu tungau debu rumah (house dust mites) yang merupakan pemicu utama asma bronkiale akibat alergi pada pasien yang sensitif. Banyak caplak dan tungau yang dapat menularkan penyakit-penyakit protozoa, riketsia, virus, bakteria, atau spirochaeta.
Anatomi dan morfologi arachnida. Arachnida memiliki tubuh yang terdiri dari dua segmen atau bagian, yaitu segmen cephalothorax dan segmen abdomen. Segmen cephalothorax merupakan fusi antara segmen kepala dan segmen toraks. Arachnida dewasa umumnya memiliki 4 pasang kaki, sedang larva caplak dan sebagian besar larva mites hanya memiliki 3 pasang kaki. Arachnida tidak memiliki sayap dan tidak memiliki antena. Anggota kelas arachnida memiliki mulut yang dilengkapi dengan satu pasang rahang penusuk (chelicera) dan satu pasang pedipalpus yang berfungsi untuk menangkap mangsa atau mempertahankan diri. Caplak dan tungau memiliki hypostome.
Alat pernapasan arachnida mirip sistem respirasi insekta, yaitu sistem tabung hawa (trachea), namun hanya memiliki satu pasang lubang hawa atau spirakel (spiracle). Laba-laba memiliki sistem pernapasan gabungani antara sistem trakea dan sistem paru-paru buku (lung-book). Laba-laba mudah dibedakan jantan betinanya (sexual dimorphisme) sebab yang jantan ukurannya jauh lebih kecil dari pada laba-laba betina.
Pada umumnya anggota ordo dalam kelas Arachnida bertelur, kecuali scorpion dan beberapa spesies mites bersifat viviparous. Umur arachnida dewasa umumnya panjang. Caplak misalnya dapat hidup sampai 14 tahun lamanya, dan dalam keadaan lapar tanpa makanan binatang ini dapat bertahan hidup sampai beberapa tahun lamanya.
Empat ordo penting dalam kelas Arachnida yaitu ordo Scorpionida, ordo Araneida, ordo Acarina dan ordo Pedipalpida.
SCORPIONIDA
Kalajengking (scorpion) yaitu hewan malam yang banyak dijumpai di daerah yang beriklim panas. Pada waktu siang hari hewan ini hidup bersembunyi di bawah batu, kayu, pasir atau di dalam tanah. Scorpion bernapas dengan paru=paru buku (booklungs) dan berkembang biak secara ovovivipar.
Segmentasi abdomen scorpion tampak jelas. Segmen terujung abdomen memiliki perpanjangan yang berbentuk seperti ekor dan berakhir sebagai organ penyengat. Scorpion memiliki pedipalp yang besar dengan 2 segmen terakhir berbentuk seperti alat penjepit. Scorpion yaitu predator berbagai macam hewan kecil antara lain serangga, laba-laba, diplopoda dan rodensia yang kecil ukurannya.
PEDIPALPIDA
Ordo Pedipalpida yang juga disebut whip scorpion ini yaitu binatang yang hidup malam hari yang memangsa cacing dan serangga kecil. Pada waktu siang hari hewan ini menyembunyikan diri di bawah batu atau tempat terlindung lainnya. Hewan ini melindungi dirinya dari pemangsa lainnya dengan mengeluarkan cairan bersifat asam berbau menyengat yang disemprotkan dari pangkal ekornya yang dapat memicu iritasi kulit.
Pedipalpida memiliki tubuh mirip scorpion, namun berbeda bentuk pedipalpnya. Kaki pertamanya mirip antenna sedang di ujung abdomen ada bentuk seperti cambuk yang tidak berfungsi sebagai alat sengat.
Gambar 202 . (a) Scorpion (b) Whip scorpion
(URL:http://www.healthstones.com)
ARANEIDA
Araneida yang dikenal sebagai laba-laba yaitu hewan pemakan daging (carnivora) yang merupakan predator serangga atau hewan kecil lainnya. Laba-laba hidup di dalam lubang-lubang batu, di bawah jembatan, dan tempat gelap lainnya misalnya di bagian gelap kamar mandi dan bersembunyi di lekukan kakus latrin. Araneida ada yang gigitannya beracun, tiga diantaranya yaitu Latrodectus mactans atau Blackwidow spider, Tarantula dan Loxosceles..
Anatomi dan morfologi. Laba-laba memiliki segmen abdomen yang tidak beruas-ruas. Segmen abdomen (opisthosome) dan segmen cephalothorax (prosome) dipisahkan oleh batang sempit (pedicel) yang menghubungkan kedua segmen tersebut. Laba-laba memiliki rahang penusuk (chelicera) yang memiliki kelenjar racun yang terbuka di dekat puncak pada ruas yang kedua. ada 4 pasang kaki yang dimiliki oleh laba-laba dan pedipalp sering dikira yaitu pasangan kaki yang kelima. Pada ujung abdomen ada kelenjar yang menghasilkan benang sutra untuk membuat jaring(spinnerets).
Gambar 203. Diagram Araneida
(URL: http://www.enchantedlearning.com/arachnids)
ACARINA
Anatomi dan morfologi. Abdomen Acarina tidak memiliki segmen. Selain itu segmen cephalothorax dan segmen abdomen telah mengadakan fusi, sehingga badan ordo ini tampak menjadi satu kantung. Ordo Acarina berukuran kecil, kepalanya telah mengalami kemunduran, tidak memiliki antena dan tidak memiliki sayap. Pada ordo Acarina ada dua kelompok besar yaitu golongan caplak (ticks) dan golongan tungau (mites) yang mudah dibedakan sebab berbeda ukuran tubuhnya, panjangnya rambut badan, struktur kulit badannya dan berbeda bentuk mulut dan jenis gigi-giginya.
Caplak (ticks) berukuran besar sehingga dapat dilihat dengan mata, memiliki kulit badan tebal yang tidak tembus sinar, dan umumnya tidak memiliki rambut. Mulut caplak yang mudah dilihat dengan mikroskop memiliki gigi-gigi pemotong dan gigi-gigi untuk melekatkan diri pada tubuh hospes.
Tungau (mites) yang berukuran kecil (mikroskopis) hanya dapat dilihat dengan menggunakan alat pembesar atau mikroskop. Mites memiliki kulit tubuh sangat tipis yang tembus sinar. Mulut mites atau hypostoma tidak bergigi, letaknya tersembunyi sehingga sukar dilihat.
Ticks (caplak)
Anatomi dan morfologi. Caplak biasanya tidak memiliki mata, kadang-kadang hanya memiliki mata sederhana (simple eye). Pada mulut ticks ada gig-gigi pemotong (chelicera) yang terletak di bagian dorsal sedang gigi untuk melekat ada di mulut bagian ventral (hypostome). Caplak juga memiliki palpus yang berfungsi untuk menyangga badannya pada waktu hewan ini menggigit mangsanya.
Dua famili ticks yang penting yaitu famili Ixodidae dan famili Argasidae. Famili Ixodidae yaitu keluarga caplak keras (hard ticks) yang memiliki penebalan kulit tubuh di bagian dorsal, yang disebut sebagai skutum (scutum). Famili Argasidae yaitu keluarga caplak lunak (soft ticks) yang tubuh bagian dorsalnya tidak menebal.
Perbedaan jenis kelamin (sexual dimorphisme) pada famil Ixodidae yaitu nyata sebab ticks jantan mudah dibedakan dari ticks betina. Ixodidae jantan mudah dibedakan dari caplak betina sebab skutumnya menutup seluruh bagian dorsal tubuh, sedang pada caplak betina skutum hanya ada di bagian anterior tubuh bagian dorsal. Sexual dimorphisme pada caplak lunak (famili Argasidae) tidaklah nyata sebab pada caplak lunak tidak memiliki skutum, baik caplak jantan maupun caplak betina.
Kepala atau kapitulum (capitulum) caplak keras terletak di bagian anterior badan sehingga mudah terlihat dari arah dorsal, sedang pada caplak lunak kapitulum terletak di bagian ventral sehingga tidak tampak dari arah dorsal.
Gambar 205. Diferensiasi soft tick dan hard tick
(Sumber: T.V. Wilson: How ticks work )
URL: http://www.static.howatuffwork.com/gif/tick
Daur hidup caplak. Mirip dengan metamorfosis sederhana (simple metamorphosis), daur hidup ticks terdiri dari telur, bentuk larva, nimfa dan bentuk dewasa. Stadium larva, nimfa dan bentuk dewasa mirip bentuknya, hanya berbeda ukuran dan jumlah kaki-kakinya. Bentuk nimfa dan bentuk dewasa caplak memiliki 4 pasang kaki sedang bentuk larva hanya memiliki 3 pasang kaki. Ukuran badan ticks dewasa lebih besar dari pada ukuran nimfa.
Nimfa yang selama daur hidupnya mengalami satu atau beberapa kali pergantian kulit, belum jelas organ seksualnya sehingga sukar dibedakan jantan betinanya. Nimfa Ixodidae hanyamengalami satu kali pergatian kulit nimfa, sedang pada famili Argasidae pergantian kulit nimfa terjadi beberapa kali.
Gambar 206. Daur hidup caplak
(URL: http://www.static.howatuffwork.com/gif/tick)
Hospes caplak. Ticks dapat hidup pada bermacam-macam hospes antara lain mamalia, rodensia, unggas dan pasien . Sesuai dengan jumlah hospes yang diperlukan untuk melengkapi daur hidupnya, dikenal one host ticks, two host ticks, three host ticks dan many host ticks.
One host ticks. Ticks ini hanya memerlukan satu jenis hospes yang dapat menjadi tempat hidup semua jenis stadiumnya, baik stadium larva, nimfa maupun stadium dewasanya. Sebagai contoh yaitu Boophilus annulatus.
Two host ticks. Pada two host ticks, caplak stadium larva dan stadium nimfa hidup pada hospes pertama, sedang caplak dewasa hidup pada hospes kedua yang berbeda jenisnya dari hospes pertama. Rhipicephalus yaitu contoh two host ticks.
Three host ticks. Caplak ini membutuhkan tiga jenis hospes yang berbeda untuk melengkapi daur hidupnya: larva hidup pada hospes pertama, nimfa pada hospes kedua dan stadium dewasa hidup pada hospes ketiga. Contoh three host ticks yaitu Dermacentor andersoni dan Ixodes ricinus.
Many host ticks. Kelompok caplak ini membutuhkan lebih dari tiga jenis hospes untuk melengkapi daur hidupnya. Selain larva dan caplak dewasa yang hidup pada hospes yang berbeda jenisnya, setiap fase nimfa yang mengalami pergantian kulit harus hidup pada hospes yang berbeda jenisnya. Ornithodoros hermsi yaitu caplak yang termasuk many host ticks.
Caplak dan penyakit. Secara langsung caplak dapat menimbulkan dermatosis dan beberapa jenis ticks dapat menghasilkan toksin. Selain itu caplak juga dapat menularkan berbagai macam mikroorganisme pemicu penyakit. Ixovotoxin yang dihasilkan oleh beberapa jenis ticks dapat memicu terjadinya kelumpuhan saraf (ticks paralyse), berbagai gejala sistemik dan bahkan dapat memicu kematian pasien .
Dalam menularkan penyakit, ticks berperan pada transtadial transmission atau transovarial transmission. Dalam transtadial transmission, setiap stadium ticks baik bentuk larva, bentuk nimfa maupun bentuk dewasa mampu menularkan penyakit. sedang pada transovarial transmission, induk ticks yang terinfeksi organisme pemicu penyakit melalui sel-sel telur ovarium yang terinfeksi dapat menularkannya pada generasi ticks yang berikutnya.
Penyakit yang ditularkan caplak. Ixodidae maupun Argasidae dapat menularkan virus, riketsia, bakteria atau protozoa pemicu penyakit.
Virus. Arthropods borne virus (Arbovirus) yang dapat ditularkan oleh ticks yaitu arbovirus grup B yang menjadi pemicu Kyasanur Forest Disease, Russian Spring Summer Encephalitis dan Omsk Hemorrhagic Fever. Kyasanur Forest Disease ditularkan oleh Ixodes dan Haemaphysalis, Russian Spring Summer Encephalitis ditularkan oleh Ixodes, Haemaphysalis dan Dermacentor, dan Omsk Hemorrhagic Fever ditularkan oleh Dermacentor dan Ixodes.
Beberapa jenis virus lain yang termasuk ungrouped viruses dapat juga ditularkan oleh ticks.
Rickettsia. Ticks merupakan sumber utama penularan riketsia (essential reservoir host) sebab riketsia hidup lebih lama di dalam tubuh ticks dari pada di dalam tubuh pasien pasien . Rocky Mountain Spotted Fever yaitu penyakit riketsia yang ditularkan oleh Dermacentor, Epidemic Typhus ditularkan oleh Amblyomma, dan Queensland Tick Typhus ditularkan oleh Ixodes.
Bakteria. Relapsing Fever yang dipicu oleh Borrelia recurrentis ditularkan oleh Ornithodoros, dan tularemia yang dipicu oleh Pasteurella tularensis ditularkan oleh berbagai jenis ticks, misalnya Dermacentor, Rhipicephalus, Amblyomma dan Haemaphysalis.
Protozoa. Caplak dapat menularkan berbagai jenis protozoa yang hidup di dalam darah hewan, misalnya piroplasmosis yang dipicu oleh Babesia dapat ditularkan oleh Boophilus, Haemaphysalis, Rhipicephalus, Dermacentor, Anocentor dan Hyalomma. Selain itu, Eastcoast Fever yang dipicu oleh Theileria parva dapat ditularkan oleh Rhipicephalus dan Haemaphysalis, sedang anaplasmosis yang dipicu oleh Anaplasma marginale dapat ditularkan oleh Boophilus, Rhipicephalus, Ixodes, Hyalomma dan Dermacentor.
Gambar 207. Hard ticks (kiri) dan Soft ticks (kanan)
(URL: http://www.pathmicro.medsc.edu/parasitology)
Mites (tungau)
Anatomi dan morfologi tungau. Bentuk mites mirip ticks, ukurannya sangat kecil (mikroskopis) sehingga harus dilihat dengan kaca pembesar atau mikroskop. Tubuhnya terdiri dari satu segmen yang merupakan fusi segmen antara segmen abdomen dan segmen cephalothorax. Mites dewasa dan nimfa memiliki 4 pasang kaki, sedang larva hanya memiliki 3 pasang kaki. Sebagian besar mites tidak memiliki hypostoma, kecuali Mesostigmata, dan tidak memiliki mata atau hanya memiliki mata sederhana (simple eyes). Sistem respirasi mites menggunakan trakea atau secara langsung menyerap oksigen udara melalui permukaan tubuhnya yang lunak. Mites umumnya bertelur, kecuali
Daur hidup tungau. Mites umumnya bertelur, kecuali Pyemotes ventricosus yang ovovivipar. Daur hidup mites yang umumnya berlangsung lengkap dalam waktu kurang dari 4 minggu terdiri dari telur, bentuk larva, bentuk nimfa dan bentuk dewasa.
Tungau sebagai pemicu penyakit. Sebagian besar mites hidup bebas di alam (free living), dan hanya sedikit yang dapat menimbulkan penyakit secara langsung atau mampu menularkan penyakit pada pasien .
pemicu langsung penyakit.. Mites secara langsung dapat memicu kehilangan darah (blood loss), akariasis, alergi dan dermatitis.
Blood loss. Kehilangan darah atau cairan tubuh umumnya hanya terjadi pada hewan atau anak hewan yang terinfestasi tungau.
Akariasis. Infestasi mites dapat terjadi di dalam rongga telinga tengah dan telinga bagian dalam, di dalam saluran napas dan paru, di dalam jaringan limfe, saluran dan rongga hidung, serta sinus-sinus nasal.
Alergi. Akibat gigitan mites, orang-orang yang peka dapat mengalami alergi. Selain itu akibat menghirup udara yang mengandung tungau debu rumah (house dust mites, misalnya Dermatophagoides) orang-orang yang peka dapat mengalami bersin-bersin atau asma bronkiale.
Dermatitis. Berbagai jenis mites, misalnya Sarcoptidae, Demodicidae, tungau unggas, tungau tikus atau oleh larva Trombicula dapat memicu dermatitis.
Dermatitis. Skabies (gudig, kudis) dipicu oleh Sarcoptes scabiei var.scabiei yang termasuk famili Sarcoptidae banyak dilaporkan dari Indonesia. Semua stadium parasit ini dapat menimbulkan dermatitis pada pasien . Mites dewasa menggali parit di dalam epidermis, menimbulkan rasa gatal yang hebat dan memicu kerusakan kulit. Kulit yang sering mengalami infestasi Sarcoptes yaitu daerah interdigital, axilla, sekitar umbilikus, skrotum, dan daerah areola mammae. Skabies umumnya berasal dari keluarga miskin yang kurang menjaga kebersihan dirinya. Penularan skabies terjadi akibat hubungan erat langsung dengan pasien , misalnya yang terjadi di panti asuhan, asrama dan diantara anggota keluarga. Skabies sering diikuti infeksi sekunder, misalnya dengan Staphyllococcus sehingga terjadi piodermi. Skabies dapat diobati dengan salep belerang, atau benzoas benzylicus emulsion, sedang infeksi sekunder diobati dengan antibiotika yang sesuai.
Demodex folliculorum juga dapat menimbulkan dermatitis. Tungau ini berbentuk seperti cacing, berukuran antara 0.,1 mm dan 0,4 mm, memiliki abdomen yang bergaris-garis transversal. Tungau ini memiliki 4 pasang kaki yang berukuran pendek, semuanya terletak di bagian anterior tubuhnya. Demodex folliculorum hidup di dalam folikel rambut dan kelenjar minyak (cebaceous glands) yang ada di daerah sekitar hidung, kelopak mata dan kadang-kadang di kulit kepala bagian depan dan sekitar papilla mammae. Akibat infestasi parasit ini pada kulit pasien terbentuk nodul, komedo, dan mengalami pembesaran folikel rambut. Dermatitis akibat Demodex folliculorum diobati dengan gamma benzene hexachloride (Kwell ointment).
Keluarga Dermanyssidae, Pyemotidae dan Acaridae yang hidup parasitik pada unggas dan tikus, gigitannya dapat menimbulkan gatal-gatal yang hebat pada pasien pasien . Larva Trombicula (chigger) selain menimbulkan gatal yang hebat (chigger dermatitis), juga sering diikuti terjadinya infeksi sekunder yang menimbulkan pustula.
Gambar 208. Mites pemicu dermatitis.
(URL: http://www.thefoxwebsite.org)
Penyakit yang ditularkan oleh mites. Tungau dapat menularkan beberapa jenis penyakit riketsia ( misalnya Rickettsial pox dan Scrub typhus) dan virus pemicu demam berdarah.
Rickettsial pox. Penyakit yang gejalanya berupa demam dan nyeri otot ini dipicu oleh Rickettsia akari . Penularnya yaitu stadium nimfa dan stadium dewasa Liponyssoides sanguineus yang dalam keadaan alami merupakan parasit dari tikus rumah. Penyebaran penyakit terjadi secara transovarial, sehingga mites menjadi sumber utama infeksi riketsia ini.
Scrub Typhus. Penyakit ini dipicu oleh Rickettsia tsutsugamushi yang pada pasien menimbulkan gejala klinis berupa sakit kepala, apati, lemah badan menyeluruh, demam menggigil, anoreksia, kongesti konjungtiva, bradikardi dan limfadenitis. Di tempat gigitan larva tungau Trombicula (chigger) tampak adanya eschar yaitu lesi primer yang semula berbentuk papul yang tidak nyeri kemudian pelan-pelan akan membesar sehingga mencapai garis tengah 8-12 mm. Eschar lalu mengalami nekrosis sehingga berwarna gelap, kemudian terbentuk ulkus dangkal yang jika sembuh akan meninggalkan bekas luka. Penularan Scrub typhus terjadi secara transovarial dan hanya larva mites yang dapat menjadi vektor penularnya. Trombicula yang larvanya berperan dalam penularan Scrub typhius yaitu Trombicula akamushi, T.deliensis, T.pallida, T.intermedia dan T.scutellaris.
Gambar 209. Trombicula . (a) Tungau dewasa , (b) Larva (chigger)
(Sumber: FEHD, http://www.fehd.gov.hk)
Epidemic Hemorrhagic fever. Demam berdarah yang bersifat epidemik ini penyebabnya yaitu virus ini belum jelas kelompoknya.
Argentine Haemorrhagic fever. Virus pemicu penyakit ini juga belum jelas taksonominya. Penyakit ini ditularkan oleh mites rodensia, yang terjadi melalui bahan-bahan yang tercemar air seni dan tinja rodensia.
CRUSTACEA
Crustacea berperan di bidang kesehatan sebab ada yang dapat bertindak sebagai hospes perantara daur hidup cacing yang parasitik pada pasien . Superkelas yang hidup di dalam air dan bernapas dengan insang ini memiliki 2 pasang antena dan lebih dari 3 pasang rahang. Malacostraca dan Copepoda merupakan anggota kelas Eucrustacea yang penting pada superkelas Crustacea.
Malacostraca
Hewan yang berukuran besar ini (makroskopis) badannya memiliki 5 segmen kepala, 8 segmen toraks, dan 7 segmen abdomen. Ordo Decapoda yaitu anggota Malacostraca yang memiliki perisai (carapace) yang menutupi bagian toraks tempat keluarnya 3 pasang maksilipeds dan 5 pasang kaki. Ketam dan udang air tawar serta kepiting air payau merupakan anggota ordo Decapoda yang menjadi hospes perantara yang kedua dari cacing Paragonimus westermani, sedang udang laut (prawn) berperan dalam penularan cacing Angiostrongylus cantonensis.
Copepoda
Crustacea yang berukuran sangat kecil ini hanya dapat dilihat dengan mikroskop. Organisme ini memiliki 1 pasang maksila, dan 4-5 pasang kaki dan tidak memiliki carapace. Dalam subkelas ini, anggota yang penting yaitu ordo Eucopepoda yang hidup di air tawar atau air asin yang tenang dan memiliki ciri khas, yaitu hewan betina selalu membawa kantung telurnya. Hanya Eucopepoda yang hidup di air tawar dapat menjadi hospes perantara parasit yang infektif pada pasien . Cyclops dan Diaptomus yaitu contoh Copepoda yang penting dalam bidang kesehatan. Cyclops yaitu hospes perantara berbagai jenis cacing misalnya Dracunculus medinensis, Gnathostoma spinigerum, Diphyllobothrium latum dan Sparganum, sedang Diaptomus merupakan hospes perantara cacing pita ikan (Diphyllobothrium latum).
Gambar 210. Crustacea : Eucopepoda (kiri) Decapoda (kanan)
(URL: http://www.cals.ncs.edu/course/ent525)
MYRIAPODA
ada dua ordo yang penting dalam kelas Myriapoda, yaitu ordo Chilopoda dan ordo Diplopoda yang tubuhnya memiliki banyak segmen. Morfologi kedua ordo berbeda dalam hal jumlah kaki setiap segmen, jumlah spirakel pada tiap segmen, ada tidaknya kelenjar racun, dan pada ada tidaknya gigi beracun. Myriapoda menyukai tempat hidup yang lembab dan gelap, antara lain di bawah tumpukan batu atau kayu dan timbunan sampah.
CHILOPODA
Hewan ini memiliki tubuh dengan banyak segmen, yang setiap segmennya memiliki satu pasang kaki dan satu pasang tabung hawa (spirakel). Kaki pertama chilopoda berubah fungsi menjadi kuku beracun, tempat bermuaranya saluran racun yang untuk setiap jenis Chilopoda berbeda kekuatan racunnya. Termasuk Chilopoda yaitu Centipedes (lipan, kelabang) yang bersifat karnivora yang menjadikan serangga dan hewan kecil lainnya sebagai mangsanya.
DIPLOPODA
Ordo ini memiliki tubuh dengan banyak segmen, yang masing-masing segmennya memiliki dua pasang kaki dan dua pasang spirakel. Mulutnya tidak bertaring, tetapi memiliki rahang penggigit. Termasuk Diplopoda yaitu Millipedes (keluwing, kaki seribu) yang tidak memiliki kelenjar racun, tetapi segmen tubuhnya menghasilkan sekresi berupa cairan yang dapat menimbulkan kelainan kulit (dermatitis). Millipedes termasuk herbivora yang makan tumbuhan dan merupakan hospes perantara cacing pita Hymenolepis diminuta.
Gambar 211. (a) Chilopoda (b) Diplopoda
(URL:http:www//biologyjunction.com/-/)
PENTASTOMIDA
Pentastomiasis infeksi oleh Pentastomida terutama dilaporkan dari daerah tropis dan subtropis, antara lain dari Afrika, Timur Tengah, dan Asia Tenggara. Pentastomiasis umumnya tidak menunjukkan gejala klinis (asimtomatis). ada dua genus dari subkelas Pentastomida yang penting, yaitu Linguatula dan Armillifer sebab dapat menimbulkan pentastomiasis viseral pada pasien . Pentastomida yaitu parasit zoonosis yang memiliki bentuk tubuh seperti cacing sebab tidak memiliki tonjolan tubuh, tidak bersegmen, tidak memiliki organ sirkulasi dan tidak memiliki alat respirasi. Organ-organ dalam tubuhnya tidak berkembang, kecuali organ reproduksi yang mengisi sebagian besar rongga tubuhnya.
Parasit dewasa yang tidak memiliki kaki ini hidup di dalam saluran napas hewan karnivora, reptil, unggas dan mamalia. Pentastomida memiliki lima tonjolan tubuh, yaitu satu yang berfungsi sebagai mulut dan dua pasang gigi atau kait yang ada di dekat mulut yang berfungsi untuk melekatkan diri pada jaringan hospes. Larva memiliki dua pasang kaki yang sangat pendek. Daur hidup parasit ini membutuhkan hospes perantara, yaitu herbivora atau pasien .
Jika telur yang dikeluarkan oleh parasit dewasa tertelan hospes perantara bersama makanan atau minuman, di dalam usus telur akan menetas menjadi larva yang kemudian akan mengadakan migrasi menuju ke berbagai organ tubuh, misalnya hati, limpa, paru dan kelenjar limfe, lalu membentuk kapsul di dalam organ-organ tersebut. Setelah berganti kulit beberapa kali, kaki kaki parasit akan menghilang, dan terbentuklah stadium nimfa yang infektif. Jika hospes perantara yang organ tubuhnya mengandung nimfa dimakan oleh hospes definitif, parasit melakukan migrasi ke saluran pernapasan hospes dan tumbuh menjadi parasit dewasa.
Linguatula serrata. Spesies ini dikenal sebagai "cacing lidah" sebab bentuknya mirip lidah. Infeksi parasit ini pada nasofaring pasien disebut linguatuliasis atau halzoun syndrome yang terjadi sesudah makan lambung mentah, paru dan hati mentah kambing, domba atau unta. Parasit yang ada di seluruh dunia ini hidup di dalam rongga hidung dan saluran napas karnivora, misalnya anjing, kucing dan serigala, sedang herbivora misalnya domba dan kambing dan kadang-kadang pasien , bertindak sebagai hospes perantara. Umur parasit dapat mencapai 15 bulan lamanya di dalam tubuh hospes.
Kulit artropoda ini tampak bergaris-garis transversal. Parasit jantan berukuran antara 1.8 cm dan 2 cm, sedang yang betina berukuran lebih besar, dengan panjang antara 8 cm dan 13 cm. Telur berukuran sekitar 70 mikron. Parasit dapat menimbulkan iritasi berat pada rongga hidung sehingga mengganggu pernapasan pasien dan insomnia. Sesudah parasit mati, pasien akan sembuh dengan sendirinya.
Gambar 212. Linguatula serrata
(Sumber: Stanford University)
Armillifer armiillife. Parasit bentuk tubuhnya seperti untaian tasbih dengan larva mirip artropoda dan nimfanya mirip cacing kecil. Hospes definitif Armillifer yaitu ular dan reptil lainnya,sedang bertindak sebagai hospes perantaranya yaitu rodensia, mamalia dan pasien . Larva primer parasit ini sesudah menetas di jaringan usus pasien akan menembus dinding usus, mengadakan migrasi ke berbagai organ dan membentuk kista, lalu berkembang menjadi larva stadium tiga. Kista dapat menimbulkan nyeri perut, muntah, konstipasi, dan diare. Sesudah ekskistasi larva stadium tiga dapat menimbulkan lesi pada hati, dinding usus dan peritoneum.
Pengobatan pentastomiasis. Hanya jika terjadi gejala klinis yang berat dilakukan tindakan operasi untuk mengeluarkan larva parasit dari jaringan. Jika terjadi halzoun syndrome jalan napas yang tersumbat harus di bersihkan dari gangguan parasit.
ARTROPODA BERACUN
Racun atau toksin yang dihasilkan oleh berbagai jenis artropoda dapat menimbulkan iritasi atau gangguan pada pasien , baik yang bersifat lokal maupun sistemik. Gejala yang timbul serta keluhan pasien dipengaruhi oleh kepekaan individu dan jenis racun yang menjadi penyebabnya. Gejala klinis yang yang ditimbulkan oleh toksin kerapkali sukar dibedakan dengan gejala alergi.
Berbagai kelas dan ordo artropoda dapat menghasilkan toksin yaitu ordo Araneida (laba-laba), ordo Acarina (ticks dan mites: caplak dan tungau), ordo Scorpionida (kalajengking atau scorpion), ordo Chilopoda (lipan atau centipedes) dan ordo-ordo Coleoptera, Lepidoptera, Hymenoptera dan famili Reduviidae yang termasuk anggota kelas Insecta.
Berdasar pada akibat yang ditimbulkannya ada empat jenis racun serangga, yaitu toksin hemolitik (hemolytic toxin) yang menimbulkan hemolisis darah pasien , toksin hemoragik (hemorrhagic toxin) yang menimbulkan perdarahan, toksin neurotoksik (neurotoxic toxin) yang menimbulkan gangguan sistem saraf dan vesicating toxin, larutan yang menimbulkan iritasi dan dermatitis pada kulit.
Artropoda beracun memasukkan toksin ke dalam tubuh pasien melalui gigitan serangga (misalnya gigitan laba-laba dan lipan), melalui sengatan (misalnya sengatan kalajengking dan lebah), melalui kontak langsung (misalnya kontak dengan bulu ulat kupu-kupu), dan melalui semprotan cairan racun (misalnya pada whip scorpion).
Laba-laba
Racun laba-laba masuk ke dalam tubuh korban melalui gigitan rahang atau chelicera yang mengandung racun. Tiga jenis laba-laba beracun yaitu Tarantula, Latrodectus mactans (black-widow spider) dan Loxosceles.
Tarantula. Lycosa tarentula yaitu laba-laba yang berbulu panjang dan lebat sehingga tampak besar dan menakutkan. Gigitan Tarantula menimbulkan rasa sakit, tetapi tidak memicu gejala sistemik sebab daya racunnya rendah.
Latrodectus mactans. Laba-laba yang sering disebut sebagai black-widow spider ini tersebar luas di seluruh dunia. Laba-laba ini memiliki abdomen yang bulat, berwarna hitam atau coklat kelabu, yang memiliki gambaran mirip gelas pasir waktu (sand-hour glass) berwarna merah, jingga, kuning atau putih. Nama black-widow spider diberikan sebab sesudah kopulasi, laba-laba jantan segera akan dibunuh dan dimakan oleh laba-laba betina yang racunnya 40 kali lebih kuat dibanding kekuatan racun laba-laba jantan.
Racun black-widow spider disebut toxalbumin, suatu neurotoxin sangat kuat yang kekuatan racunnya 15 kali kekuatan racun ular derik (rattlesnake). Pada pasien gigitan black-widow spider akan menimbulkan arachnidism. Gigitan laba-laba menimbulkan bekas gigitan berupa dua bintik merah kecil yang mula-mula tidak terasa sakit. Sepuluh menit kemudian korban akan mengalami kejang otot perut, otot kaki dan otot dada, diikuti gangguan pernapasan, gangguan pembicaraan, dan keluarnya keringat yang berlebihan (hyperhidrosis). Toksalbumin juga dapat merangsang kambuhnya ulkus peptikum, batu empedu, apendisitis, pankreatitis akut dan kolik ginjal, yang sering menimbulkan kesalahan diagnosa . Akibat gigitan black-widow spider, lima persen pasien arachnidism akan meninggal dunia.
Untuk mengobati arachnidisme sebaiknya pasien dirawat di rumahsakit dan segera diberi glukonas kalsikus atau atropin dan fisostigmin. Hidroterapi dengan kompres panas dapat dilakukan disertai pemberian adrenalin dan kortison. Pemberian antivenin hanya boleh diberikan jika pengobatan lain tidak berhasil, sebab pemberian antivenin memiliki risiko tinggi terjadinya hipersensitif terhadap serum tersebut.
Loxosceles. Gigitan laba-laba ini dapat menimbulkan necrotic arachnidism, yaitu gangren di daerah gigitan yang membutuhkan waktu lama untuk sembuh kembali.
Gambar 213. Laba-laba beracun.
(a). Loxosceles (b). Tarantula (c). Black widow spider
(Sumber: CDC; http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/)
Ticks dan mites
Ticks (caplak). Caplak menghasilkan toksin yang disebut ixovotoxin suatu neurotoxin yang mempengaruhi susunan saraf pusat dan bekerja pada neuromuscular-junction. Toksin ini memicu timbulnya kejang, sakit kepala, dan kelumpuhan yang bersifat flaksid dan bilateral simetris yang disebut tick-paralyse. Paralisis yang berat dapat memicu kelumpuhan saraf pernapasan dan saraf jantung yang fatal, terutama jika korbannya anak-anak. Caplak keras (hard ticks) dari famili Ixodidae maupun caplak lunak (soft ticks) dari famili Argasidae dapat menghasilkan toksin yang masuk ke dalam tubuh korban melalui gigitannya. Umumnya gejala keracunan akibat gigitan soft ticks (misalnya Ornithodoros) lebih ringan dari pada hard ticks, misalnya Dermacentor andersoni.
Tindakan pertama yang harus dilakukan jika terjadi gigitan ticks yaitu mencoba melepaskan ticks dari tempat gigitannya secara hati-hati dengan menetesi badan caplak dengan bahan kimia yang menimbulkan iritasi misalnya chloroform, eter, benzene atau jodium tingtur, lalu ticks dilepaskan pelan-pelan dengan pinset. Jika caplak dengan paksa ditarik dari tempat gigitannya tanpa ditetesi bahan kimia, hal ini akan memicu kepala ticks yang mengandung kelenjar racun dapat putus dan tertinggal di dalam otot korban. sebab terjadi kontraksi otot, kelenjar racun akan terus menerus mengeluarkan toksin yang dapat membahayakan jiwa pasien .
Gambar 214. Dermacentor, Hard ticks
(Sumber: CDC)
Mites (tungau). Gatal-gatal yang hebat, perdarahan lokal atau demam pada pasien yang peka dapat ditimbulkan oleh toksin tungau yang hidup pada unggas (misalnya Dermanyssus gallinae) dan hewan lainnya (misalnya larva Trombicula atau chigger). Gigitan mites dapat dicegah dengan menggunakan repellen yang dioleskan pada kulit atau disemprotkan pada pakaian.
Gambar 215. Mites (tungau)
(a) Dermanyssus gallinae dewasa (b) larva tungau (chigger)
URL: http://www.traveldoctor.co.uk/images
Scorpion
Scorpion yaitu binatang malam yang hidup di daerah tropis yang memiliki sengat beracun yang ada di ujung ekornya. Sifat toksin scorpion yaitu hemolitik dan neurotoksik yang dapat memicu kematian pada anak berusia di bawah lima tahun akibat terjadinya kelumpuhan saraf otot pernapasan. pasien juga mengalami mual, muntah, hipersalivasi, hiperhidrosis, paralisis otot lidah dan tenggorok, kejang otot perut, sianosis dan konvulsi.
Tindakan yag harus dilakukan jika terjadi sengatan scorpion yaitu melakukan ikatan torniquet di atas daerah sengatan untuk menghambat menjalarnya racun. Daerah sengatan lalu dikompres dingin dengan es atau disemprot etil klorida sebagai krioterapi (cryotherapy). Pada gejala keracunan yang berat, jika diperlukan dapat diberikan infus glukosa, suntikan insulin atau dilakukan pernapasan buatan.
Gambar 216. Scorpion
( Sumber: L.Mayorga Desert Animals)
Hymenoptera
Hymenoptera (lebah, tawon, semut, dan sejenisnya) memiliki alat sengat yang sebenarnya yaitu alat untuk mengeluarkan telur serangga betina (ovipositor) yang beralih fungsi. ada dua jenis bahan racun yang dihasilkan oleh kelenjar racun Hymenoptera. Bahan racun pertama bersifat asam dan yang kedua bersifat basa. Masing-masing bahan racun bukanlah racun yang kuat sebab hanya menimbulkan iritasi. Jika kedua bahan racun bercampur, maka larutan bahan campuran yang terjadi akan berubah sifat menjadi racun yang kuat yang menjadi bagian dari racun Hymenoptera yang disebut apitoksin (apitoxin).
Apitoksin. Racun Hymenoptera terdiri dari berbagai macam bahan, yaitu asam formiat, saponin, histamin, melittin yaitu sejenis protein yang bersifat hemolitik, dehydrogenase inhibitor yang lebih kuat dari pada yang dimiliki oleh ular kobra dan hyaluronidase yang mempermudah racun menyebar ke jaringan-jaringan. sebab itu apitoksin memiliki berbagai sifat yaitu sebagai toksin hemolitik yang memicu terjadinya melena dan hemoglobinuria, sifat toksin neurotoksik yang menimbulkan paralisis otot, toksin hemoragik yang menghambat koagulasi darah sehingga mudah terjadi perdarahan, dan bersifat histaminik yang memicu timbulnya gejala alergi pada pasien . sebab itu gejala klinis yang terjadi dapat berupa asma bronkiale, urtikaria, angioedema, sianosis, syok atau kegagalan pernapasan.
Jika terjadi sengatan lebah, tindakan yang harus dilakukan pertama kali yaitu mengambil sengat yang masih menusuk di kulit korban, sebab selama sengat masih berada di dalam otot korban, akibat kontraksi otot jumlah racun yang masuk akan makin meningkat sehingga akibat keracunan menjadi semakin berat. Salep kortikosteroid lokal dan pemberian antihistamin per oral cukup untuk mengatasi akibat sengatan yang ringan. pasien yang mengalami gejala klinis yang berat akibat sengatan, harus segera diberi adrenalin melalui suntikan dan glukonas kalsikus secara intravena. Jika pasien mengalami gangguan pernapasan dapat dilakukan trakeotomi atau pemberian oksigen. Terhadap pekerja peternakan lebah yang berisiko tinggi disengat lebah berulang-ulang dapat dilakukan desensitasi dengan memberikan ekstrak toksin lebah.
Gambar 217 . Ordo Hymenoptera
(URL: http://134.tinypic.com/2rwnqzd)
Larva Lepidoptera
Larva Lepidoptera menghasilkan toksn yang belum dapat ditentukan jenisnya. Toksin ini larut di dalam cairan alkali dan menjadi tidak aktif jika dipanaskan pada suhu 115o Celcius. Toksin yang masuk ke dalam tubuh korban melalui kontak dengan rambut larva Lepidoptera, menimbulkan dermatitis yang memicu rasa terbakar yang menyebar ke luar daerah kontak. Gejala keracunan dan keluhan pasien dapat berlangsung sampai 12 jam lamanya, diikuti rasa gata