parasitologi 7
uga dapat memicu toksemia yang menimbulkan gejala-gejala klinis berupa eritema, urtikaria, pruritus, mual, muntah, diare, dispepsi yang berat dan sinkop. Komplikasi dapat terjadi pada ulkus berupa kista bernanah, abses kronik, artritis, sinovitis, ankilosis dan kontraktur. Gejala-gejala klinis toksemia yang disertai pembentukan ulkus kulit mengarahkan diagnosa drakunkulosis.
diagnosa pasti drakunkulosis dapat ditegakkan jika ditemukan cacing
dewasa pada ulkus atau ditemukan larva cacing pada cairan ulkus. Sebagai upaya untuk membantu menegakkan diagnosa dapat dilakukan uji intradermal menggunakan antigen cacing, pemeriksaan radiologi untuk menemukan cacing yang sudah mengapur, dan memeriksa darah pasien yang menunjukkan adanya eosinofilia.
Pengobatan dan pencegahan. Drakunkulosis dapat diobati dengan Mebendazol dengan dosis 400-800 mg per hari selama 6 hari. Pemberian DEC dalam dosis besar dapat membunuh cacing dewasa maupun larvanya. Jika terjadi gejala sistemik yang timbul akibat alergi dapat diobati dengan memberikan antihistamin. Akibat toksemia dapat dikurangi dengan mengeluarkan cacing dewasa dari jaringan melalui pembedahan.
Untuk menghambat penyebaran drakunkulosis dilakukan dengan mencegah terjadinya pencemaran air minum oleh bahan infektif yang berasal dari pasien yang sakit, memasak air sebelum diminum, dan melakukan disinfeksi air dengan klorida.
Larva migrans
Larva migrans yaitu larva cacing nematoda hewan yang melakukan migrasi di dalam tubuh pasien tetapi tidak berkembang lebih lanjut menjadi bentuk dewasa. Dua jenis larva migrans yang terjadi pada pasien yaitu cutaneous larva migrans dan visceral larva migrans.
Cutaneous larva migrans atau creeping eruptions terjadi sebab larva cacing masuk ke dalam tubuh pasien melalui kulit atau mulut lalu larva mengadakan migrasi hanya di dalam jaringan kulit. Pada visceral larva migrans telur cacing masuk melalui mulut pasien dan larva cacing yang menetas melakukan migrasi di dalam organ-organ atau jaringan viseral pasien .Baik larva cacing-cacing pemicu larva migrans kutan maupun larva migrans viseral menimbulkan kelainan jaringan atau organ yang terinfeksi
pemicu larva migrans. Cacing nematoda hewan yang larvanya dapat memicu cutaneous larva migrans yaitu Ancylostoma braziliensis, Ancylostoma caninum dan Gnathostoma spinigerum yang hidup pada kucing, anjing dan sejenisnya, sedang pemicu visceral larva migrans yaitu larva Toxocara canis, cacing askaris yang hidup pada anjing, dan Toxocara cati, cacing askaris yang hidup pada kucing.
Cutaneous larva migrans
Larva migrans kutan dipicu oleh larva cacing Ancylostoma braziliensis atau Ancylostoma caninum yang masuk ke dalam tubuh pasien melalui kulit dan menimbulkan gatal-gatal pada kulit tempatnya masuk. Dua hari kemudian larva sudah membentuk lorong berliku-liku di dalam stratum germinativum. Akibat migrasi larva di dalam kulit akan terjadi rasa gatal yang memicu terjadinya infeksi sekunder sebab garukan pasien . Migrasi larva dapat berlangsung sampai beberapa bulan dan menimbulkan gambaran khas yang disebut creeping eruption.
Cutaneous larva migrans yang dipicu oleh Gnathostoma spinigerum terjadi sesudah pasien makan ikan mentah yang mengandung larva stadium III cacing ini.
Ancylostoma braziliensis dan Ancylostoma caninum
Larva kedua spesies cacing tambang yang tersebar luas di daerah tropis dan subtropis ini menimbulkan kelainan kulit yang disebut creeping eruption ataucutaneous larva migrans. Tempat hidup cacing dewasa kedua spesies yaitu di dalam usus kucing dan anjing.
Cacing tambang pemicu larva migran kutan dapat dibedakan spesiesnya dengan memperhatikan bentuk mulut dan gigi serta bursa kopulatriks yang khas bentuknya.
Ancylostoma braziliensis. Ukuran panjang cacing jantan yaitu 4,7- 8,5 mm dan cacing betina berukuran panjang 6,1-10,5 mm. Cacing ini memiliki rongga mulut dengan dua pasang gigi yang tidak sama ukurannya. Bursa kopulatriks cacing jantan berukuran kecil dengan rays yang pendek.
Ancylostoma caninum. Ukuran panjang cacing jantan yaitu sekitar 10 mm, sedang cacing betina berukuran panjang sekitar 14 mm. Di dalam rongga mulut cacing ini ada tiga pasang gigi. Bursa kopulatriks cacing jantan memiliki ukuran yang besar
dengan rays yang panjang dan langsing.
Kelainan patologis dan gejala klinis. Sesudah menembus kulit pasien , larva flariform cacing mengadakan migrasi intrakutan serta membentuk terowongan di dalam kulit yang khas bentuknya. Larva filariform Ancylostoma braziliensis dan Ancylostoma caninum tidak dapat berkembang menjadi cacing dewasa di dalam tubuh pasien . Creeping eruption yang merupakan dermatitis intrakutan sepanjang terowongan yang digali oleh larva cacing berbentuk garis berkelok-kelok mirip ular yang khas bentuknya. Garukan kulit yang berulang-ulang oleh pasien dapat menimbulkan infeksi sekunder.
Gnathostoma spinigerum
Cacing dewasa. Gnathostoma spinigerum dewasa panjang badannya sekitar 31 mm. Cacing ini memiliki bibir besar dan berlobus tiga dengan permukaan medialnya bergerigi. Bulbus kepala cacing memiliki 4 rongga submedian yang dilengkapi dengan 6-11 baris kait-kait yang melintang. Dua pertiga tubuh bagian anterior cacing memiliki spina-spina kutikula yang besar dan pipih dengan tepi posterior yang bergerigi. Di bagian kaudal cacing jantan ada spina-spina kecil dan 4 pasang papil besar yang bertangkai.cacing jantan memiliki spikulum yang tidak sama panjang. Vulva cacing betina membuka 4-8 mm dari ujung posterior badan cacing.
Telur. Telur Gnathostoma spinigerum lonjong seperti telur Ascaris dan memiliki sumbat di salah satu kutubnya.
diagnosa . Secara klinis diagnosa creeping eruption oleh cacing tambang mudah ditentukan.. Terjadinya creeping eruption yang khas disertai leukositosis dan eosinofilia menunjukkan diagnosa cutaneous larva migrans. Uji intradermal menggunakan antigen berasal dari larva atau cacing Gnathostoma spinigerum menegakkan diagnosa cutaneous larva migrans oleh cacing ini. diagnosa pasti cutaneous larva migrans dapat ditetapkan melalui biopsi kulit dengan ditemukannya larva cacing tambang yang menjadi penyebabnya.
Pengobatan larva migran kutan. Creeping eruption pada cutaneous larva migrans yang menunjukkan adanya larva cacing. Pada ujung terowongan dimana ada larva cacing tambang kloretil disemprotkan untuk membunuh larva cacing melalui proses pendinginan. Untuk terapi lokal dapat juga diberikan Tiabendazol topikal.
Larva migran kutan dapat diobati dengan Albendazol, Ivermectin atau Tiabendazol untuk memberantas larva yang mengadakan migrasi intrakutan dan beredar di bawah kulit..
Albendazol diberikan dengan dosis 400 mg/hari selama 3 hari, atau diobati dengan Ivermectin dengan dosis 200 mcg/kg berat badan/hari selama 1- 2 hari. Tiabendazol per oral dengan dosis 25 mg/kg berat badan/hari yang diberikan selama 3 hari atau lebih.
Terhadap cutaneous larva migrans oleh Gnathostoma spinigerum belum ada obat yang efektif untuk mengatasinya sehingga harus dilakukan tindakan operatif untuk mengeluarkan cacing ini.
Pencegahan larva migran kutan. Kontak dengan larva cacing Ancylostoma braziliensis dan Ancylostoma caninum harus dihindari untuk mencegah terjadinya cutaneous larva migrans dengan cara mencegah terjadinya kontak antara kulit dengan tanah yang tercemar tinja anjing dan kucing.
Untuk mencegah terjadinya cutaneous larva migrans yang dipicu oleh Gnathostoma spinigerum makanan dan minuman harus dimasak dengan baik.
Anjing dan kucing yang menderita ankilostomiasis harus diobati sebab merupakan sumber infeksi.
Visceral larva migrans
Larva migran viseral terjadi sesudah tertelan telur infektif cacing Toxocara melalui makanan atau minuman. Telur menetas di dalam usus halus, kemudian larva menembus dinding usus lalu masuk ke dalam aliran darah dan mencapai organ-organ tubuh. Larva yang berada di dalam organ terutama hati akan memicu terbentuknya granuloma. Gejala klinis yang terjadi berupa hepatomegali, demam, disertai gejala alergi, misalnya asma bronkiale
Toxocara
Cacing dewasa. Cacing Toxocara dewasa panjangnya dapat mencapai 10 cm pada Toxocara cati dan 18 cm pada Toxocara canis. Cacing ini memiliki sayap leher yang berukuran besar yang bentuknya sempit memanjang pada Toxocara canis dan pendek melebar pada Toxocara cati. Ekor cacing jantan memiliki tonjolan terminal dan sayap kaudal. Spikulum cacing jantan panjangnya dapat mencapai 2 cm pada Toxocara cati, dan 1 mm pada Toxocara canis.
Telur. Telur Toxocara mirip telur Ascaris dengan gerigi pada kult telur yang lebih kecil
diagnosa larva migran viseral. Adanya gejala klinis berupa hepatomegali, asma dan demam yang diperkuat dengan pemeriksaan darah tepi yang menunjukkan adanya hipereosinofilia persisten yang berkisar antara 15% dan 80% serta leukositosis antara 15.000 dan 80.000 mengarahkan diagnosa ke visceral larva migrans.
Pengobatan larva migran viseral. Larva pemicu visceral larva migrans juga belum berhasil diobati dengan obat-obat anti larva cacing.
Pencegahan larva migran viseral. Larva migran dapat dicegah penularannya dengan cara mengobati dengan baik anjing dan kucing terinfeksi Toxocara yang menjadi sumber penularan. Makanan dan minuman harus dimasak dengan baik.
Bab 4
ARTROPODA
Kata artropoda (arthropoda) berarti ”kaki yang memiliki sendi-sendi”. Hewan yang sering disebut sebagai serangga ini yaitu metazoa yang memiliki tubuh yang bersegmen-segmen atau beruas-ruas.
Anatomi artropoda. Artropoda memiliki tonjolan tubuh (appendages) yang berpasangan, misalnya antena, kaki dan sayap, sehingga tubuhnya bilateral simetri. Berbeda dengan metazoa lain, artropoda memiliki rangka luar (exoskeleton). Alat pencernaannya sudah memiliki mulut dan anus dengan sistem ekskresinya terbuka ke dalam saluran pencernaan. Sistem sirkulasi darahnya terbuka (open circulatory system) ada di bagian dorsal tubuhnya. Rongga tubuh artropoda juga bertindak sebagai rongga darah (haemocele). Sistem saraf ada di bagian ventral, sedang sistem respirasi berupa sistem tabung hawa (trakea) yang memiliki muara di seluruh permukaan tubuh berupa lubang-lubang hawa (spirakel). Artropoda yang hidup di dalam air
bernapas menggunakan insang.
Gambar 167 . Bagan anatomi Artropoda
1.Antena 2. Mata 3. mulut 4. kaki 5. segmen abdomen 6. sayap 7. kepala 8. toraks
(URL: http://www.feenixx.com/arthropods/images/anatomy)
Entomologi Kedokteran. Ilmu kedokteran yang mempelajari tentang peran artropoda dalam ilmu kesehatan yang dapat menjadi pemicu penyakit atau sebagai penular penyakit-penyakit pasien , disebut Entomologi Kedokteran (Medical Entomology). Sebagai contoh, penyakit kudis (skabies) suatu radang kulit pada pasien dipicu secara langsung oleh Sarcoptes scabiei sedang penyakit pes dapat ditularkan oleh pinjal Xenopsylla cheopis.
Pada penularan penyakit, artropoda dapat bertindak sebagai vektor yang menularkan bibit penyakit atau berperan sebagai tuan rumah perantara (hospes perantara, intermediate host). Beberapa jenis udang-udangan rendah berperan sebagai hospes perantara cacing Cestoda atau Trematoda, sedang nyamuk Anopheles yaitu vektor penular Plasmodium yang menjadi pemicu malaria.
Artropoda sebagai pemicu penyakit
Secara langsung artropoda sendiri dapat menimbulkan kelainan jaringan atau organ pasien dan hewan, gangguan jiwa (entomofobi) atau menimbulkan gangguan dan ketenangan hidup (annoyance). Alat indera misalnya mata atau gendang telinga dapat mengalami kerusakan (trauma) akibat duri serangga yang tajam dan kerusakan kulit dapat terjadi akibat infeksi serangga (dermatosis), misalnya oleh tungau Sarcoptes pemicu kudis. Beberapa artropoda mengisap darah tuan rumah tempatnya hidup sehingga menimbulkan kehilangan darah (blood loss). Larva lalat dapat menginvasi luka terbuka jaringan atau organ tubuh hospes yang masih hidup menimbulkan miasis. Artropoda ada yang menghasilkan racun (toxin) atau bahan alergen yang merangsang terjadinya alergi pada hospes.
Entomofobi. Tidak sedikit orang perempuan, anak-anak dan beberapa individu lainnya memiliki rasa takut yang berlebihan terhadap serangga. Meskipun lipas (kecoa) dan banyak laba-laba tidak berbahaya, tetapi rasa takut ini dapat menimbulkan gangguan jiwa dan kadang-kadang memicu halusinasi sensoris. Keadaan ini sering dijumpai pada wanita dan anak-anak.
Annoyance. Banyaknya lalat, nyamuk, lipas, atau serangga pengganggu lainnya di dalam rumah tinggal memicu kenyamanan hidup penghuni rumah akan terganggu . Hal ini bisa memicu kurang tidur, hilangnya nafsu makan atau akibat lainnya, yang dapat mengganggu kesehatan penghuni rumah. Hewan-hewan yang terganggu hidupnya oleh serangga dapat mengalami penurunan produksi daging, susu atau telurnya, dan bahkan dapat mati sebab nya.
Blood Loss (Kehilangan darah). Gigitan serangga penghisap darah, misalnya nyamuk, kutu busuk atau caplak jarang menimbulkan kekurangan darah pada pasien secara langsung, sebab jumlah darah yang dihisap serangga relatif sangat kecil jumlahnya. Pada hewan, terutama bayi hewan yang masih tidak mampu mengusir serangga penghisap darah misalnya caplak (ticks), dapat mengalami kehilangan darah dalam jumlah besar akibat banyaknya serangga parasitik yang mengisap darah. Sering terjadi bayi anjing misalnya yang mati akibat tingginya infestasi caplak pada suatu saat, sehingga terjadi anemia akut yang berat.
Kerusakan mata dan alat indera. Pengemudi kendaraan di malam hari sering mengalami kejadian masuknya serangga ke dalam mata. Gosokan berulang-ulang pada mata dapat memicu kerusakan mata yang tergores oleh bagian keras tubuh serangga atau bagian yang tajam, misalnya kaki-kaki serangga yang berduri. Komplikasi luka, misalnya infeksi sekunder dapat memicu gangguan penglihatan atau bahkan kebutaan. Masuknya serangga ke dalam lubang telinga dapat merusak alat pendengaran, mialnya gendang telinga, dan komplikasi yang berat akibat infeksi di rongga telinga tengah dapat menimbulkan tuli atau kematian akibat penyebaran infeksi ke otak.
Toksin (racun) serangga. Beberapa jenis serangga yang dapat menghasilkan racun yang dapat menimbulkan gangguan setempat atau sistemik, yang ringan sampai berat, bahkan dapat memicu kematian pasien . Lebah, kalajengking (scorpion), lipan (centipede), laba-laba dan caplak dan berbagai serangga lainnya, dapat menghasilkan racun yang dapat membunuh pasien terutama anak-anak. Racun serangga dapat masuk ke dalam tubuh pasien melalui gigitan atau sengatan.
Dermatosis. Berbagai gangguan kulit dapat terjadi akibat gigitan atau infestasi serangga. Gigitan nyamuk, kutu badan (Pediculus) dan kutu busuk (Cimex) dapat menimbulkan iritasi kulit pasien yang memicu nyeri atau gatal-gatal. Berbagai jenis tungau (mites) yang menggali jaringan di bawah kulit dapat menimbulkan iritasi yang berat yang disebut akariasis, misalnya pada penyakit gudig (scabies).
Alergi. Banyak orang yang peka terhadap protein berupa tubuh serangga atau ekskreta yang dikeluarkan oleh serangga tertentu dapat menimbulkan reaksi alergi misalnya berupa gatal-gatal atau sesak napas. Asma bronkiale sering dipicu oleh tungau (mites) yang ada dalam debu rumah (house- dust mites ).
Miasis (myiasis). Yang dimaksud dengan miasis yaitu infestasi larva serangga terutama dari ordo Diptera di dalam organ atau jaringan tubuh pasien atau hewan yang masih hidup.. Jika luka terbuka tidak dirawat dengan baik sehingga mengalami infeksi sekunder maka akan menimbulkan bau busuk yang menarik lalat untuk bertelur pada jaringan yang rusak. Larva yang kemudian menetas akan hidup pada organ atau jaringan rusak tersebut sehingga mengganggu proses penyembuhan luka. Makanan kotor yang tercemar telur lalat jika tertelan dapat juga menimbulkan miasis pada usus, sebab larva lalat menetas di dalam usus pasien .
Artropoda sebagai penular penyakit
Banyak serangga yang dapat menularkan penyakit-penyakit yang merupakan masalah kesehatan dunia. Filariasis, malaria, demam berdarah, pes, demam tifoid, dan berbagai penyakit lainnya ditularkan oleh serangga. Artropoda dapat menjadi vektor penular yang aktif menyebarkan penyakit, atau sebagai hospes perantara (intermediate host ) yang bertindak secara pasif menularkan penyakit.
a. Vektor penular penyakit
Artropoda yang bertindak sebagai vektor penular penyakit secara aktif akan memindahkan mikroorganisme pemicu penyakit dari pasien pada orang lain yang sehat. Cara penularan penyakit dapat terjadi secara mekanis atau secara biologis. Jika penularan terjadi secara mekanis, artropoda disebut sebagai vektor mekanis. Mikroorganisme yang ditularkan secara mekanis selama berada di dalam tubuh vektor tidak bertambah jumlahnya dan tidak berubah bentuk Morfologinya. sedang pada penularan penyakit secara biologis oleh artropoda yang bertindak selaku vektor biologis, di dalam tubuh artropoda mikroorganisme yang ditularkan berubah bentuknya atau bertambah jumlahnya (sebab berkembang biak dalam tubuh artropoda), atau mengalami perubahan bentuk maupun jumlahnya.
Vektor mekanis. Selaku vektor mekanis (mechanical vector), serangga hanya membawa mikroorganisme pemicu penyakit yang berasal dari pasien (berupa muntahan, tinja, atau bahan lain yang berasal dari pasien ) lalu bahan infektif tersebut mencemari makanan atau minuman yang ditelan oleh orang sehat. Di dalam tubuh artropoda, kuman pemicu penyakit tidak mengalami perubahan bentuk maupun jumlahnya. Lalat rumah (Musca domestica) yaitu vektor mekanis dalam penularan amubiasis sebab kista amuba (stadium infektif) selama melekat pada badan lalat tetap berbentuk kista (tidak berubah menjadi trofozoit) dan kista tidak bertambah jumlahnya.
Vektor biologis. Di dalam tubuh artropoda yang bertindak sebagai vektor biologis (biological vector), kuman pemicu penyakit mengalami perubahan. Penularan yang terjadi disebut sebagai penularan biologis (biological transmission).
Penularan biologis. Penularan biologis dapat terjadi dalam tiga bentuk yaitu :
Propagative transmission. Di dalam tubuh artropoda kuman bertambah jumlahnya, tetapi bentuk Morfologinya tidak berubah. Penularan ini disebut penularan propagatif, misalnya penyakit pes (plague) yang ditularkan oleh pinjal tikus (flea) sebagai vektornya.
Cyclo-propagative transmission. Pada bentuk penularan ini di dalam tubuh vektor kuman pemicu penyakit berubah bentuknya (siklikal), dan bertambah jumlahnya sebab berkembang biak (multiplikasi). Sebagai contoh yaitu penularan penyakit malaria yang penyebabnya yaitu Plasmodium dan nyamuk Anopheles bertindak sebagai vektor penularanya .
Cyclo-developmental transmission. Pada bentuk penularan ini kuman pemicu penyakit hanya mengalami perubahan bentuk saja, tidak berkembang biak sehingga tetap jumlahnya. Sebagai contoh yaitu penularan penyakit kaki gajah (filariasis) yang dipicu oleh Wuchereria bancrofti dan nyamuk Culex fatigans menjadi vektor penularnya..
Penularan transovarial (Transovarial transmission). Penularan ini terjadi dari induk serangga ke generasi berikutnya melalui ovarium dan sel telur. Mikroorganisme pemicu penyakit yang menginfeksi induk serangga berkembang biak di dalam tubuh serangga induk, lalu menyebar ke jaringan dan organ serangga antara lain ke ovarium dan sel-sel telur di dalamnya. Keturunan serangga dari induk yang terinfeksi akan lahir dalam keadaan sudah terinfeksi mikroorganisme. Contoh penyakit yang ditularkan secara transovarial yaitu penyakit Scrub typhus yang penyebabnya yaitu Rickettsia tsutsugamushi dan tungau Trombicula akamushi yang menjadi vektor penularnya.
b. Hospes perantara. Serangga yang bertindak sebagai hospes perantara menularkan mikroorganisme pemicu penyakit secara pasif, sedang yang memasukkan mikroorganisme ke dalam tubuh pasien atau tuan rumah yaitu hospes sendiri, misalnya melalui makanan atau minuman yang tercemar.
Larva cacing Diphyllobothrium latum di dalam tubuh cyclops (termasuk artropoda) berkembang menjadi larva yang mampu menembus badan ikan dan tumbuh menjadi stadium infektif yang dapat menginfeksi pasien yang makan ikan mentah. Cyclops dalam hal ini merupakan hospes perantara pertama sedang ikan merupakan hospes perantara kedua dari daur hidup cacing Diphyllobothrium latum.
Paragonimus westermani dapat menginfeksi pasien jika orang makan ketam air tawar mentah yang mengandung larva infektif cacing tersebut. Dalam hal ini ketam (kelas Eucrustacea) merupakan hospes perantara dalam daur hidup Paragonimus westermani.
Penyakit-penyakit yang ditularkan oleh artropoda. Pada umumnya artropoda penular penyakit hidup berdekatan dengan pasien , hidup parasitik pada vertebrata yang dipelihara pasien , dan hidupnya sangat tergantung pada pasien atau hewan yang menjadi hospesnya tersebut. Berbagai mikroorganisme yang dapat ditularkan oleh artropoda antara lain yaitu protozoa, cacing, jamur, bakteria, riketsia, dan virus. Contoh-contoh dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
INSECTA
Insekta merupakan kelas dari artropoda yang paling penting, sebab banyak jenis serangga dalam kelas ini yang menjadi vektor penular berbagai macam penyakit yang menjadi masalah kesehatan dunia, misalnya penyakit malaria, demam berdarah dengue, yellow fever, pes, dan filariasis. sebab serangga ini memiliki 6 buah kaki maka kelas insecta juga disebut sebagai kelas Hexapoda.
Anatomi dan morfologi. Bentuk anatomi dan morfologi kelas Insekta mirip dengan morfologi filum Arthropoda pada umumnya yang terdiri dari tiga bagian utama, yaitu kepala, toraks, dan abdomen yang dipisahkan oleh batas yang jelas.
Kepala. Insekta memiliki kepala yang dilengkapi dengan satu pasang antena yang berfungsi sebagai alat peraba yang sangat peka. Mata insekta merupakan mata majemuk (compund eyes) yang merupakan sekumpulan lensa tunggal yang masing-masing lensa menangkap sebagian obyek yang dilihat. Ada beberapa spesies insekta yang masih memiliki ocelli, yaitu bintik hitam yang merupakan sisa mata yang tidak lagi berfungsi. Bentuk mulut insekta memiliki susunan yang sesuai dengan kebiasaan makan, yaitu mulut untuk menusuk (piercing) atau bentuk non piercing mulut yang tidak untuk menusuk tubuh mangsanya.
Toraks. Dada serangga terdiri dari tiga bagian, yaitu prothorax di bagian anterior, mesothorax di bagian tengah dan metathorax di bagian posterior. Dari bagian mesothorax dan metathorax masing-masing keluar satu pasang sayap, sehingga insekta umumnya memiliki empat helai sayap. Ordo Diptera hanya memiliki dua helai sayap sebab sayap yang keluar dari bagian metathorax telah mengalami perubahan bentuk dan fungsi menjadi alat keseimbangan yang disebut halter. Insekta memiliki enam buah kaki (hexapoda) yang dari masing-masing bagian thorax keluar satu pasang kaki.
Abdomen. Segmen abdomen tampak nyata dan tembus sinar dan tidak memiliki tonjolan-tonjolan tubuh. Berbagai struktur organ ada di dalam segmen abdomen, misalnya alat kopulasi, ovipositor dan genetalia eksterna.
Sistem sirkulasi. Sebuah jantung yang dimiliki insekta ada di bagian dorsal tubuh. Sistem sirkulasi dilengkapi oleh adanya aorta dan haemocele yang sebenarnya yaitu rongga tubuh yang berfungsi sebagai sistem sirkulasi. Sel darah insekta yang tidak berwarna merah (haemolymph) berfungsi untuk membawa makanan dan tidak berperan dalam pergantian gas, sedang leukosit berfungsi untuk melindungi diri dari benda asing yang memasuki tubuh insekta. Di bagian anterior ada aorta yang berperan membawa darah ke daerah kepala, lalu menyebar ke seluruh haemocele dan organ-organ tubuh lainnya.
Sistem respirasi. Untuk bernapas Insekta menggunakan tabung-tabung hawa atau trachea yang berakhir di permukaan tubuh dalam bentuk lubang hawa yang disebut spirakel atau stigmata. Larva insekta atau insekta belum dewasa yang hidup di dalam air menggunakan insang sebagai alat untuk bernapas.
Sistem pencernaan makanan. Usus insekta terdiri dari tiga bagian, yaitu stomodeum atau foregut, mesenteron atau midgut dan proctodeum atau hindgut. Stomodeum terdiri dari rongga mulut, kelenjar ludah, epifaring, hipofaring, faring, proventrikulus dan divertikel usofagus (crop), mesenteron terdiri dari lambung yang bagian posteriornya ada Malpighian tubules yang berperan sebagai alat ekskresi dan proctodeum merupakan usus sebenarnya yang terdiri dari ileum, kolon, rektum dan anus. Malpighian tubules yang merupakan organ ekskresi sisa metabolisme bermuara di daerah ileum.
Sistem reproduksi. Organ reproduksi Insekta janta memiliki dua buah testis dan sebuah penis, sedang insekta betina memiliki dua ovarium, ovarium tubules yang merupakan saluran utama yang berhunungan dengan receptaculum seminis dan berakhir di ovipositor. Sifat reproduksi insekta dapat berupa oviparus, viviparus, larviparus atau pupiparus, namun beberapa jenis insekta dapat bersifat partenogenetik.
Gambar 168. Bagan anatomi Insecta
(URL: http://www.dkimages.com/discover/-/829)
Antena 2. mata 3. ganglion saraf 4. rangka luar 5. kaki
6. spirakel 7. ganglion saraf abdomen 8. tabung malpighi
9. usus 10. sistem sirkulasi 11. sayap
Metamorfosis. Selama perkembangan dan pertumbuhan insekta, dapat terjadi perubahan baik berupa perubahan bentuk luar maupun perubahan struktur dalam tubuh. Proses perubahan perkembangan ini disebut metamorfosis. Metamorfosis ada dalam tiga bentuk, yaitu ametamorfosis, metamorfosis sederhana (simple metamorphosis) dan metamorfosis lengkap (complete metamorphosis).
Ametamorphosis yaitu perubahan tubuh selama daur hidup insekta yang tidak jelas metamorfosisnya. Perubahan-perubahan tubuh meliputi perubahan dari telur menjadi nimfa kemudian dari nimfa berkembang menjadi bentuk dewasa. Bentuk nimfa mirip serangga dewasa, hanya ukurannya yang lebih kecil. Bentuk perubahan ametamorfosis disebut juga ametabola atau direct development.
Incomplete metamorphosis atau metamorfosis sederhana (simple metamorphosis, atau heterometabola) yaitu bentuk metamorfosis yang sesudah fase telur ada lebih dari satu tahap bentuk nimfa ( telur-nimfaI-nimfa II-dewasa). Bentuk nimfa mudah dibedakan dari bentuk dewasa sebab bentuk dewasa memiliki sayap.
Gambar 169. Incomplete metamorphosis
(Sumber: Textbook of Medical Parasitology, 2009;
URL: http://pkc.sysu.edu.cn/-)
Complete metamorphosis. Bentuk metamorfosis ini juga disebut sebagai metamorphosis lengkap (holometabola, atau complex metamorphosis) yaitu metamorfosis yang semua fase daur hidupnya memiliki bentuk Morfologi yang tidak sama, dan berbeda sifat dan cara hidupnya. .
Sebagai contoh serangga yang memiliki metamorfosis lengkap yaitu lalat. Stadium-stadium hidup lalat terdiri dari bentuk telur, bentuk larva, bentuk pupa dan bentuk dewasa. Stadium telur lalat hidup di tempat lembab, tidak bergerak (pasif) dan tidak membutuhkan makanan dari luar. Bentuk larva hidup di tempat lembab yang basah, aktif bergerak mencari makanan, sedang bentuk pupa harus hidup di darat yang kering, tidak aktif bergerak (stadium istirahat) sebab tidak membutuhkan makanan. Lalat dewasa yang bersayap hidup di udara, aktif terbang untuk mencari makanan.
Gambar 170. Complete metamorphosis lalat.
(Sumber: Textbook of Medical Parasitology, 2009)
Klasifikasi. Dasar klasifikasi Insekta dilakukan atas ada tidaknya sayap, pertumbuhan sayap, jenis metamorfosis, susunan mulut, dan ciri-ciri khas lainnya. Berdasar pada ada tidaknya sayap, insekta digolongkan menjadi apterygota yang artinya tidak bersayap dan pterygota yang artinya bersayap. Anatomi sayap, dan susunan venasi sayap (vena yaitu tabung hawa yang ada pada sayap insekta) juga digunakan untuk melakukan klasifikasi insekta.
Berdasar atas fungsinya, mulut insekta dapat digolongkan menjadi beberapa tipe, yaitu sucking mouth yang berfungsi untuk mengisap, chewing mouth untuk mengunyah, biting mouth untuk menggigit dan piercing mouth yang berfungsi untuk menusuk sumber makanan.
Insekta ada yang memiliki struktur mulut yang memiliki lebih dari satu fungsi, misalnya bentuk mulut yang berfungsi untuk menusuk dan mengisap (piercing and sucking) seperti yang dimiliki oleh nyamuk.
Gambar 171. Struktur mulut penghisap pada lalat rumah (suckng mouth, kiri) dan mulut penusuk-penghisap pada nyamuk ( piercing and sucking, kanan)
(Sumber: University of Sidney : http://www.bebite.com/mos2.jpg)
PHTHIRAPTERA (ANOPLURA)
Dari ordo ini yang hidup parasitik pada pasien yaitu famili Pediculidae, dengan tiga spesies penting yang hanya hidup parasitik pada pasien yaitu Pediculus humanus capitis, P.humanus corporis dan Phthirus pubis. Anoplura merupakan ektoparasit yang tersebar luas di seluruh dunia, terutama di daerah beriklim dingin yang penduduknya sering berpakaian tebal, jarang mandi dan kurang menjaga kebersihan badannya. Infestasi Pediculus dan Phthirus pubis atau pedikulosis mudah ditularkan melalui hubungan langsung antar individu, atau melalui benda-benda pribadi yang digunakan bersama-sama, misalnya topi, pakaian dalam, dan sisir. Phthirus pubis juga sering ditularkan melalui hubungan kelamin. Pada suhu 5o Celcius Phthirus pubis mampu hidup dua hari tanpa makan, sedang Pediculus humanus dapat bertahan hidup tanpa makan sampai sepuluh hari lamanya. Pada suhu 40o Celcius, semua ektoparasit dewasa spesies tersebut akan mati, tetapi telurnya masih dapat hidup selama 15 menit pada suhu 600 Celcius.
Anatomi dan morfologi. Phthiraptera memiliki 3 pasang kaki yang ujungnya memiliki kait untuk melekatkan diri pada rambut hospes. Antena terdiri dari 5 segmen dan ada satu pasang mata yang kecil yang ada di belakang antena. Ektoparasit ini memiliki telur berwarna putih yang lonjong bentuknya dan memiliki penutup telur (operkulum). Telur dapat melekat erat pada rambut hospes sebab berperekat. Seekor kutu betina bertelur sebanyak 6 sampai 9 butir dalam satu hari,.
Pediculus humanus. Bentuk tubuh spesies ini memanjang dengan ujung posterior meruncing, memiliki batas ruas yang jelas. Bentuk tubuh Pediculus humanus capitis sangat mirip dengan P.humanus corporis sehingga sukar dibedakan, kecuali dari ukuran panjang badannya. Pediculus humanus corporis memiliki panjang badan antara 2-4 mm sedang P.humanus capitis panjang badannya antara 1-2 mm. Kepala Pediculus humanus berbentuk ovoid yang bersudut, sedang semua kakinya berukuran sama besar.
Phthirus pubis. Parasit ini memiliki bentuk tubuh yang bulat seperti kura-kura, dengan ukuran panjang tubuh antara 0,8 sampai 1,2 mm. Kepalanya yang berbentuk segi empat berbeda bentuk dengan kepala Pediculus humanus yang berbentuk ovoid. Batas ruas-ruas abdomen parasit ini tidak jelas. Kaki-kaki Phthirus pubis khas bentuknya dimana pasangan kaki pertama lebih kecil ukurannya dibanding ukuran pasangan kaki kedua dan ketiga.
Gambar 172. Ordo Pthiraptera
(URL: http://www.bergen.edu/faculty)
Daur hidup. Anoplura memiliki metamorfosis yang tidak lengkap (incomplete metamorphosis). Telur parasit dalam waktu lima hari akan menetas menjadi bentuk nimfa yang sesudah mengalami pergantian kulit tiga kali, dalam waktu 7-14 hari akan berubah menjadi bentuk dewasa. Parasit dewasa dapat hidup sampai 40 hari lamanya pada badan hospes.
Gejala klinis pedikulosis. Pedikulosis yaitu infestasi parasit ini pada pasien . Akibat gigitan parasit air liur yang dikeluarkan pada waktu mengisap darah mangsanya akan memicu terjadinya iritasi kulit pasien yang dapat berlangsung selama beberapa hari. Gigitan parasit juga memicu terbentuknya papul berwarna merah yang terasa sangat gatal, disertai pembengkakan kulit yang berair. Infestasi pedikulosis yang berulang-ulang memicu terjadinya pengerasan kulit yang disertai pigmentasi yang disebut morbus errorum atau vagabonds disease. Garukan kulit dapat menimbulkan infeksi sekunder yang memicu timbulnya pustula, krusta atau terjadi proses pernanahan. Akibat gangguan tidur yang berlangsung lama pasien dapat mengalami depresi mental.
Pedikulosis menunjukkan gejala klinis yang khas berupa gatal-gatal yang disertai adanya bekas garukan. diagnosa pasti dapat ditegakkan jika dapat ditemukan parasit dewasa atau telurnya.
Pengobatan pedikulosis. Tujuan pengobatan pedikulosis yaitu untuk mengobati gatalnya dan memberantas parasitnya.
Untuk memberantas parasitnya dapat diberikan insektisida atau benzoas benzylicus emulsion dan dilakukan tindakan sebagai berikut:
Pediculus humanus corporis: Untuk badan pasien dapat diberikan DDT bedak 10% dalam pyrophyllite, atau Benzena Hexa Chloride (BHC) bentuk debu 1% (dust) yang diberikan 2 minggu satu kali atau diberikan bubuk Malathion 1%..
Untuk memberantas parasit yang melekat pada pakaian, dilakukan desinfeksi pakaian dengan merebusnya atau memasukkannya ke dalam otoklaf dengan suhu 60o Celcius selama 15 menit. Fumigasi menggunakan gas metil bromida dapat juga memberantas parasit yang ada di pakaian.
Pediculus hominis capitis. Parasit yang hidup di daerah kepala dapat diobati dengan insektisida, yaitu salep Lindane (BHC) 1%, atau bedak DDT (10%), atau bedak BHC 1% dalam prophyllite, atau diobati dengan Benzoas Benzylicus Emulsion.
Phthirus pubis. Parasit yang berada di rambut pubis diobati dengan salep lindane atau bedak DDT 10%, sedang parasit yang ada pada bulu mata dapat diobati dengan oksida kuning air raksa.
Anoplura sebagai penular penyakit. Spesies Phthiraptera yang dapat menularkan penyakit hanyalah Pediculus humanus corporis. Penyakit-penyakit yang dapat ditularkan yaitu :
Epidemic typhus (typhus fever). Rickettsia prowazekii pemicu penyakit ini ditularkan melalui kulit yang luka akibat gigitan ektoparasit yang tercemar dengan tinja atau koyakan badan ektoparasit yang infektif. Sumber penularan epidemic typhus pada pasien yaitu pasien yang berstatus sebagai asymptomatic carrier.
Epidemic relapsing fever. Borrelia recurrentis yang merupakan pemicu penyakit ini dapat menular dengan cara seperti penularan typhus fever. Ektoparasit yang terinfeksi Borrelia akan tetap infektif selama hidupnya sehingga menyulitkan pemberantasan penyakit ini.
Trench fever. Rickettsia quintana pemicu penyakit ini ditularkan melalui gigitan ektoparasit yang infektif atau melalui luka lecet yang tercemar tinja ektoparasit yang infektif. Anoplura yang terinfeksi riketsia akan tetap infektif untuk seumur hidupnya.
HEMIPTERA
Hanya ada beberapa spesies anggota ordo Hemiptera yang penting bagi kesehatan pasien . Ordo ini memiliki bentuk mulut yang berfungsi untuk menusuk dan mengisap dengan alat penusuk (proboscis) yang beruas-ruas yang ada di bagian depan kepala. Jika tidak sedang digunakan probosis berada dalam keadaan terlipat di daerah toraks. Famili Reduviidae dan famili Cimicidae merupakan dua famili yang penting pada ordo Hemiptera yang dapat memicu penyakit dan menularkan penyakit pada pasien .
Gambar 173. Ordo Hemiptera
(URL: http://www.cals.nscu.edu
http://www.//cnr.berkeley.edu/citybugs/research)
Cimicidae
Cimicidae dewasa memiliki badan yang berbentuk lonjong dan pipih dorsoventral, dengan tubuh yang tertutup oleh rambut-rambut pendek. Ukuran panjang badan lebih kurang 5,5 mm dengan parasit betina berukuran lebih besar dari yang jantan. Cimicidae tidak bersayap, yang ada hanyalah sisa-sisa sayap depan, memiliki mata majemuk (compound eyes) tetapi tidak memiliki ocelli. Serangga yang mengeluarkan bau khas yang tidak enak ini memiliki probosis yang terdiri atas 3 segmen dan antena yang terdiri dari 4 segmen. Spesies-spesies yang penting dari famili Cimicidae yaitu Cimex lectularius yang banyak dijumpai di daerah subtropis dan Cimex hemipterus yang ada di daerah tropis.
Cimex. Serangga ini aktif mencari makanan pada malam hari, mengisap darah pasien atau mamalia yang dibutuhkannya untuk memproduksi telur. Pada waktu siang hari hewan ini bersembunyi di celah-celah kayu, lubang-lubang kecil yang ada di tempat tidur atau di dinding. Cimex menyebar dengan mudah dari rumah ke rumah terjadi dengan mudah melalui pakaian atau barang-barang lainnya.
Daur hidup Cimex termasuk metamorfosis yang tidak lengkap (incomplete metamorphosis), yaitu terdiri dari bentuk telur, bentuk nimfa dan bentuk dewasa. Daur hidup yang lengkap dari bentuk telur sampai menjadi bentuk dewasa memerlukan waktu sekitar satu minggu sesudah mengalami 5-6 kali pergantian kulit. Dalam keadaan tidak makan Cimex mampu bertahan hidup selama lebih dari satu tahun.
Akibat gigitan Cimex akan meninggalkan bekas gigitan yang berwarna merah disertai rasa gatal di daerah gigitan. Anak yang peka terhadap air ludah Cimex jika digigit serangga ini dapat mengalami urtikaria sistemik atau asma bronkiale. Dalam uji coba di laboratorium hewan ini dapat menularkan Coxiella burnetti, Yersinia pestis, Leishmania donovani dan Trypanosoma cruzi.
Reduviidae
Reduviidae yang disebut juga assasin bug atau kissing bug yaitu serangga yang memiliki kepala kecil, memiliki sepasang mata majemuk dan dua buah ocelli. Probosisnya memiliki 3 segmen, sedang antenanya terdiri dari 4 segmen. Badan Reduviidae berwarna coklat dengan bercak-bercak yang berwarna merah dan kuning, terutama pada bagian toraks, sayap dan tepi abdomen. Serangga ini memiliki sayap yang sempurna sehingga dapat terbang dengan baik.
Beberapa spesies Reduviidae ada yang menghasilkan toksin sehingga gigitannya menimbulkan rasa nyeri dan rasa gatal yang disertai pembengkakan di tempat gigitan, diikuti terjadinya selulitis, limfangitis dan limfadenitis. Reduviidae dapat menjadi vektor penular Trypanosoma cruzi yang memicu Chagas disease yang infeksinya terjadi melalui luka gigitan yang tercemar tinja serangga yang infektif. Triatoma, Panstrongylus, Rhodnius, Eutriatoma, Eratyrus dan Psammolestes yaitu genus-genus Reduviidae yang dapat menjadi vektor penular Chagas disease.
Untuk memberantas famili Cimicidae maupun Reduviidae dapat digunakan larutan DDT 5% dalam minyak tanah atau Gammexane dalam bentuk residual spray.
ORTHOPTERA
Famili Blattidae
Dari ordo Orthoptera hanya famili Blattidae yang penting dalam bidang kesehatan pasien . Famili Blattidae yang sering disebut sebagai kecoa, coro atau lipas yaitu hewan malam yang hidup secara berkelompok, yang makan segala jenis makanan (omnivora), termasuk dahak dan tinja pasien . Lipas memiliki daur hidup dengan metamorfosis yang sederhana terdiri dari bentuk telur, bentuk nimfa dan bentuk dewasa. Pada waktu keluar dari tubuh induknya telur lipas terbungkus di dalam kapsul kulit (ootheca) yang masing-masing ootheca berisi 8-16 butir telur. Bentuk nimfa mirip bentuk dewasa, namun tidak memiliki sayap. Lipas dewasa dapat hidup sampai 3 tahun lamanya.
Anatomi dan morfologi. Tubuh lipas berbentuk pipih dorsoventral dengan permukaan badan yang halus berwarna coklat muda, merah atau hitam. Antena berbentuk filiform, panjang, langsing dan bersegmen. ada dua pasang sayap yang pada Blatta orientalis jantan ukurannya lebih panjang dari pada sayap betinanya. Sayap bagian luar sempit, tebal seperti kulit, sedang sayap bagian dalam yang lebar tipis seperti membran.
Blattidae yang hidup berdekatan dengan pasien yaitu Periplaneta americana, Blatta orientalis, Blatella germanica dan Supella supellectilium. Spesies-spesies tersebut mudah dibedakan bentuk luarnya.
Periplaneta americana yaitu lipas berukuran besar, sekitar 3,8 cm, berwarna coklat kemerahan sedang Blatta orientalis berwarna hitam kecoklatan, berukuran panjang sekitar 2,5 cm. Blatella germanica lipas yang berukuran kecil dengan panjang 1,3 cm berwarna coklat muda, dan memiliki 2 garis longitudinal pada toraksnya mudah dibedakan dari Supella supellectilium yang berukuran 1,3 cm dan berwarna coklat muda, namun tidak memiliki garis pada toraks.
Gambar 174. Famili Blattidae
(URL: http://www.homeopathyandmore.com/-/images)
Lipas sebagai penular penyakit. Cara hidup lipas yang kotor, bersifat omnivora yang makan segala jenis bahan termasuk tinja dan dahak pasien , pergerakannya yang cepat dan sebab hidup berdekatan dengan pasien , lipas mudah menularkan berbagai macam penyakit. Melalui penularan secara mekanis, Blattidae dapat menularkan berbagai jenis bakteria usus antara lain Vibrio cholerae dan Salmonella typhosa, Enterovirus, virus polio, parasit usus misalnya Entamoeba histolytica dan Giardia lamblia, cacing usus misalnya Ascaris lumbricoides dan Trichuris trichiura dan jamur Aspergillus.
Pemberantasan lipas. Untuk memberantas lipas berbagai jenis insektisida dapat digunakan misalnya bubuk chlordane 5%, larutan chlordane 2% dan larutan 3% malathion.
SIPHONAPTERA
Ordo Siphonaptera yang disebut juga sebagai ordo Aphaniptera memiliki banyak anggota spesies atau subspesies. Serangga ini dikenal secara umum sebagai pinjal atau flea. Pinjal umumnya tidak memiliki hospes yang spesifik sehingga mudah berpindah hospes, baik yang sama maupun yang berbeda spesiesnya. sebab tidak adanya hospes yang spesifik ini meningkatkan kemampuan pinjal dalam menularkan penyakit. Hanya Pulex irritans dan Tunga penetrans yang menjadikan pasien sebagai hospes utamanya. Pinjal yang lain menjadikan pasien hanya sebagai hospes insidental.
Daur hidup. Daur hidup pinjal termasuk metamorfosis lengkap (complete metamorphosis), yaitu terdiri dari bentuk telur, bentuk larva, bentuk pupa dan bentuk dewasa. Daur hidup lengkap pinjal berlangsung antara 14 sampai 27 hari, dan pinjal dewasa dapat bertahan hidup sampai 1 tahun lamanya.
Gambar 175. Daur hidup pinjal
(Sumber: CDC)
Anatomi dan morfologi pinjal. Ordo Siphonaptera merupakan hewan kecil yang berukuran panjang antara 1,5 mm sampai 4 mm, dengan tubuh yang berbentuk pipih, berwarna coklat dan terbungkus lapisan chitin dan tidak memiliki sayap. Bentuk mulutnya yang berfungsi untuk menusuk dan mengisap (piercing-sucking) terletak tersembunyi pada suatu celah.
Ocular bristle. Serangga ini memiliki mata yang dilengkapi rambut mata (ocular bristle) yang letaknya dapat digunakan untuk membedakan spesies-spesies pinjal.
Comb. Bentukan seperti sisir yang ada pada sebagian spesies pinjal, disebut juga sebagai ctenidium. Genal comb atau oral comb yaitu comb yang terletak di atas mulut, sedang yang ada di toraks segmen pertama disebut thoracal comb atau pronotal comb. Xenopsylla cheopis, Pulex irritans dan Tunga penetrans tidak memiliki comb, sedang Nosopsyllus fasciatus hanya memiliki thoracal comb. Ctenocephalides felis dan Ctenocephalides canis memiliki oral comb dan thoracal comb.
Gambar 176. Bentuk anatomi pinjal.
1. antena 2.thoracal comb 3. oral comb 4. coxa 5. femur 6. tibia 7. tarsus 8. sternit
(URL: http://www.ento.csro.au/educaton/Assorts/csiro)
Spermatheca. Spermatheca yaitu kantung yang ada pada pinjal betina yang berfungsi menampung sperma pinjal jantan sesudah terjadi kopulasi. Organ ini terletak pada segmen abdomen yang ke-8 dan ke-9. Untuk setiap spesies pinjal spermatheca berbeda bentuknya sehingga dapat digunakan untuk membantu mengadakan diferensiasi spesies pinjal. Penis pinjal ada pada segmen ke-5 atau ke-6 abdomen pinjal jantan.
Anatomi khas pinjal. Anatomi yang khas pada spesies pinjal selain dengan memperhatikan bentuk spermatheca, juga dengan melihat letak ocular bristle, adanya comb dan struktur comb tersebut.
Xenopsylla cheopis. Tidak memiliki comb, dan ocular bristle terletak di depan mata.
Pulex irritans. Tidak memiliki comb, ocular bristle terletak di bawah mata.
Tunga penetrans. Tidak memiliki comb, memiliki ciri khas berupa bentuk kepala yang besar ukurannya.
Nosopsyllus fasciatus. Hanya memiliki pronotal comb, dan memiliki lebih dari satu pasang ocular bristle.
Ctenocephalides. Memiliki thoracal comb dan genal comb.
Ctenocephalides canis: panjang kepala kurang dari dua kali ukuran tinggi kepala,
sehingga kepala tampak tumpul. Thoracal comb memiliki 18 buah spina (gigi sisir), dengan spina pertama lebih pendek dari pada spina ke-2.
Ctenocephalides felis: ukuran panjang kepala pinjal betina lebih dari dua kali ukuran tingginya, sehingga kepala tampak berbentuk runcing. Spina pertama oral comb berukuran sama panjang dengan spina ke-2, dan thoracal comb memiliki 16 buah gigi sisir.
Penyakit yang dipicu pinjal. Gigitan pinjal dapat menimbulkan alergi dan dermatitis yang pada anak-anak reaksinya dapat berlangsung berat. Ctenocephalides dan Pulex irritans yaitu spesies pinjal yang sering menggigit hospes. Pinjal betina Tunga penetrans yang ada di daerah tropis Afrika sering menimbulkan dermatitis sebab menggali kulit kaki pasien yang ada di bawah kuku dan kemudian mengisap darah pasien . Selain menimbulkan rasa gatal hebat juga terjadi radang yang sering diikuti infeksi sekunder.
Penyakit yang ditularkan pinjal. Pinjal dapat menularkan penyakit baik dengan bertindak sebagai vektor penular penyakit atau sebagai hospes perantara.
Xenopsylla cheopis. Pinjal ini merupakan vektor utama dalam penularan penyakit pes yang dipicu oleh kuman Yersinia pestis. Jika terjadi wabah pes pada tikus, pinjal menjadi infektif untuk waktu lama. Akibat wabah populasi tikus punah sehingga pinjal harus mencari hospes baru antara lain pasien dan menimbulkan epidemi pes pada pasien . Epidemi pes pada pasien biasanya didahului oleh epidemi pes pada tikus, sehingga kita harus waspada dan melakukan pencegahan terhadap kemungkinan terjadinya epidemi pes pada pasien . Pulex irritans merupakan vektor kedua dalam penularan pes. Xenopsylla cheopis juga dapat bertindak sebagai vektor penular endemic typhus yang secara alami merupakan penyakit pada tikus yang dipicu oleh Rickettsia mooseri. pasien tertular mikroorganisme ini melalui luka gigitan atau luka lecet yang tercemar tinja atau jaringan rusak pinjal yang infektif. Penularan dapat juga terjadi melalui konjungtiva atau membrana mukosa pasien yang terpapar tinja infektif. Pinjal yang terinfeksi Rickettsia akan tetap infektif untuk seumur hidupnya. Nosopsyllus fasciatus juga dapat menularkan Endemic typhus.
Pinjal sebagai hospes perantara. Pinjal dapat menjadi hospes perantara pada daur hidup cacing-cacing Dipylidium caninum dan Hymenolepis diminuta. Pinjal-pinjal Ctenocephalides canis, C. felis dan Pulex irritans yaitu hospes perantara D. caninum, sedang pada daur hidup Hymenolepis diminuta yang bertindak sebagai hospes perantara yaitu Xenopsylla cheopis, Ctenocephalides canis, Ctenocephalides felis, Pulex irritans atau Nosopsyllus fasciatus.
Memberantas pinjal. Penularan penyakit pes, endemic typhus, maupun infeksi cacing pita anjing dapat dicegah dengan memberantas tikus dan pinjal yang hidup pada tikus maupun pinjal yang hidup pada hewan yang dipelihara misalnya anjing dan kucing. Pinjal tikus diberantas di lingkungan hidup tikus menggunakan insektisida agar pinjal tikus tidak berpindah tempat ke lingkungan hidup pasien .
Berbagai insektisida dapat digunakan untuk memberantas pinjal antara lain DDT 5%, Diazinon 1% atau Lindane 1% dalam larutan minyak tanah. Insektisida dalam bentuk bubuk atau inert dust dari DDT 10% atau Triklorfon 1% juga dapat digunakan Hewan-hewan peliharaan misalnya anjing dan kucing dapat diberi bedak Malathion 4%, DDT 10% atau Rotenon 10%.
DIPTERA
ada lebih dari 80 ribu spesies serangga berasal dari sekitar 140 famili yang termasuk dalam ordo Diptera. Artropoda ini memiliki dua sayap, sebab sepasang sayap posterior telah berubah bentuk dan fungsinya menjadi alat keseimbangan (halter). Ordo Diptera memiliki mata majemuk dan umumnya memiliki tiga buah ocelli. Diptera merupakan golongan serangga yang paling banyak menjadi penular penyakit.
Dalam daur hidupnya, ordo ini memiliki metamorfosis lengkap yang terdiri dari bentuk telur, bentuk larva, bentuk pupa dan bentuk dewasa. Sebagian besar spesies lalat bertelur (oviparus), ada yang melahirkan larva (larviparus) atau diantara kedua sifat tersebut (ovoviviparus) dan ada yang pupiparus ( melahirkan pupa).
Diptera memiliki mulut yang berfungsi untuk mengisap (sucking-mouth) dengan berbagai modifikasi antara lain juga berfungsi untuk menusuk (piercing-mouth) misalnya untuk mengisap darah.
Diptera yang berderajat tinggi, larvanya sering mampu menembus jaringan dan organ tubuh pasien atau hewan hidup, sehingga menimbulkan miasis (myiasis).
Anatomi dan klasifikasi Diptera. Tiga subordo yang penting dalam ordo Diptera yaitu subordo Nematocera, Brachycera dan Cyclorrhapha. Diferensiasi ordo Diptera dilakukan berdasarkan ciri-ciri anatomi dan morfologi serta sifat-sifat khusus subordo, antara lain bentuk venasi sayap dan bentuk antena.
Subordo Nematocera memiliki antena yang berbentuk filiform (panjang antena lebih dari ukuran panjang kepala dan toraks) memiliki lebih dari 8 segmen dan tidak memiliki rambut bercabang (arista). Subordo ini memiliki palpus maksilaris yang terdiri dari 4 atau 5 segmen.
Subordo Brachycera memiliki antena yang berbentuk aristaform (memiliki arista), panjang antena kurang dari ukuran panjang kepala dan toraks, dengan jumlah segmen antena kurang dari enam ruas. Palpus subordo ini terdiri dari 2 atau 3 segmen.
Subordo Cyclorrhapha memiliki antena aristaform yang terdiri dari 3 segmen, sedang palpusnya hanya terdiri dari satu segmen.
Gambar 178. Bentuk mulut dan kepala Diptera.
Cyclorrapha (kiri) dan Nematocera (kanan)
(Sumber: Sidney University)
Tabel 18. Klasifikasi ordo Diptera
NEMATOCERA
\ada empat famili yang penting dalam subordo Nematocera, yaitu famili Culicidae (keluarga nyamuk), famili Psychodidae (misalnya Phlebotomus), famili Simuliidae (misalnya Simulium) dan famili Ceratopogonidae (misalnya Culicoides)..
Culicidae
Famili Culicidae memiliki bentuk tubuh, sayap dan probosis yang langsing. Keluarga nyamuk merupakan serangga yang penyebarannya sangat luas, mulai dari daerah kutub yang dingin sampai daerah tropis yang panas. Nyamuk juga mampu hidup di daerah dengan ketinggian 5000 meter di atas permukaan laut, sampai di dalam tambang yang letaknya 1500 meter di bawah permukaan tanah. Tiga subfamili nyamuk yang penting dalam bidang kesehatan yaitu subfamili Culicinae, subfamili Anopheline dan subfamili Toxorrhynchitinae.
Daur hidup nyamuk. Nyamuk memiliki metamorfosis yang sempurna (holometabola) dengan larva dan pupa yang memerlukan air untuk hidupnya, sedang telur nyamuk pada umumnya diletakkan di air (pada beberapa spesies nyamuk telurnya dapat hidup tanpa air dalam waktu yang lama).
Telur nyamuk Anopheles diletakkan satu demi satu di permukaan air, telur Culex berderet-deret seperti rakit, dan telur Aedes ditempatkan di sepanjang tepian air. Beberapa hari sesudah berada di dalam air telur nyamuk akan menetas menjadi larva, yang sesudah 4 kali berganti kulit larva akan berubah menjadi bentuk pupa. Pupa nyamuk merupakan bentuk aktif yang sangat sensitif terhadap pergerakan air tetapi bentuk ini tidak memerlukan makanan. Stadium pupa berlangsung selama 2-3 hari sebelum pupa berubah bentuk menjadi nyamuk dewasa.
Biologi nyamuk. Nyamuk jantan di alam dapat hidup selama satu minggu, sedang nyamuk betina mampu hidup sampai dua minggu lamanya. Nyamuk yang dipelihara di laboratorium pada kelembaban tinggi dengan makanan yang cukup mengandung karbohidrat dapat hidup sampai beberapa bulan lamanya.
Untuk hidupnya, nyamuk jantan tidak mengisap darah tetapi menghisap cairan tumbuhan atau madu, sedang nyamuk betina mengisap darah, kecuali Toxorhynchitinae yang makan cairan tumbuhan. Nyamuk betina pada umumnya menyukai darah hewan (zoophilus), yang diperlukan untuk perkembangan telurnya agar proses reproduksi dapat berlangsung.
Hanya nyamuk-nyamuk pengisap darah yang dapat menularkan penyakit pada pasien , yaitu nyamuk Anopheles, Aedes, Culex dan Mansonia. Anatomi dan morfologi nyamuk. Tubuh nyamuk, sayap, antena, maupun probosisnya berbentuk langsing. Nyamuk memiliki sayap yang memiliki pipa-pipa udara (vena) yang tersebar ke seluruh bagian sayap sampai mencapai ujung sayap. Alat penusuk (probosis) yang ada di kepala dapat digerakkan ke depan maupun ke bawah. Antena nyamuk yang berbentuk filiform yang terdiri dari 15 segmen. Antena nyamuk jantan banyak memiliki bulu panjang (plumose), sedang pada nyamuk betina bulu antena sedikit dan pendek (pilose). Nyamuk memiliki sepasang mata majemuk tetapi tidak memiliki ocelli.
Culicinae memiliki toraks yang bagian posteriornya (scutellum) memiliki tiga lobus (trilobi), sedang pada Anopheline skutelum tidak berlobus. Di segmen abdomen bagian posterior nyamuk betina memiliki 2 caudal cerci yang berukuran kecil sedang pada nyamuk jantan ada organ seksual yang disebut hypopygium.
Gambar 180 . Bagan morfologi nyamuk
Toxorrhynchitinae
Subfamili Toxorhynchitinae tersebar luas di daerah tropis dan subtropis. Nyamuk yang hidup siang hari ini baik yang jantan maupun yang betina tidak mengisap darah melainkan hanya makan cairan tumbuhan atau bunga. Nyamuk pada subfamili ini hanya ada satu genus, yaitu Toxorhynchites yang memiliki tubuh yang berwarna-warna.
Nyamuk meletakkan telurnya satu demi satu di lubang pohon, potongan bambu atau lekukan daun yang berisi air. Larva Toxorhynchites besar ukurannya ini bersifat kanibalis sebab memakan larva jenisnya yang berukuran lebih kecil. Selain itu larva Toxorhynchites juga merupakan pemangsa (predator) bagi larva nyamuk jenis lainnya, misalnya Aedes dan Culex yang hidup di dalam satu wadah atau tempat perkembang biakan di alam. Seekor larva nyamuk Toxorhynchites dalam waktu satu hari dapat memangsa 16 ekor larva nyamuk Aedes.
Culicinae
Dua genus yang penting dalam subfamili ini yaitu genus Aedes dan genus Culex sebab dapat menularkan berbagai penyakit yang menjadi masalah kesehatan dunia, misalnya demam berdarah dengue, yellow fever, filariasis dan ensefalitis.
Anatomi dan morfologi. Subfamili Culicinae memiliki bentuk scutellum yang trilobi sedang abdomennya tertutup oleh sisik-sisik lebar yang mendatar. Kepala nyamuk Culicinae betina memiliki palpus yang lebih pendek dari pada probosis dan palpus yang panjang pada nyamuk jantan. Di tempat berkembang biaknya telur nyamuk Culicinae tidak memiliki pelampung diletakkan berderet-deret seperti rakit atau diletakkan satu demi satu di permukaan air atau dilekatkan pada dinding bejana (container) sedikit di atas batas antara permukaan air dan kontiner.
Larva nyamuk memiliki siphon dengan pekten berbentuk sempurna, dan umumnya memiliki lebih dari satu kelompok hair tufts.
Gambar 182. Subfamili Culicinae
(URL: http://www.nd.edu/lumen)
Nyamuk Aedes
Aedes betina mengisap darah waktu siang hari, terutama pada waktu sore hari. Nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus merupakan vektor penular demam dengue atau demam berdarah dengue dan demam chikungunya di Indonesia dan di berbagai negara lainnya.
Selain merupakan vektor utama penular demam dengue, nyamuk Aedes aegypti juga yaitu vektor utama penular demam kuning (yellow fever) sehingga juga disebut sebagai yellow fever mosquito. Spesies ini tersebar luas di dunia di daerah yang terletak antara 40oLintang Utara dan 40o Lintang Selatan, dan hanya hidup pada suhu antara 8o 37o Celcius. Telur nyamuk ini dalam keadaan kering mampu tetap hidup selama bertahun-tahun. Berbagai tempat berair bersih dapat menjadi sarang tempat kembang biak (breeding-place) nyamuk ini, misalnya yang ada di bak mandi, tempayan penyimpan air minum, kaleng kosong, plastik air minum, ban bekas dan kontener atau wadah buatan lainnya. Nyamuk Aedes aegypti dewasa terutama hidup dan mencari mangsa di dalam rumah atau bangunan beratap lainnya.
Aedes albopictus lebih menyukai wadah alami ( potongan bambu pagar, lipatan daun, pelepah pohon pisang atau kelapa, dan lubang-lubang pohon) yang ada di luar rumah sebagai tempat kembang biaknya. Nyamuk dewasa hidup dan mencari mangsa di luar rumah atau bangunan, yaitu di kebun yang teduh dan rimbun dengan pepohonan.
Anatomi dan morfologi. Abdomen nyamuk Aedes betina memiliki ujung yang lancip dan ada cercus yang panjang. Telur diletakkan satu-satu pada permukaan air atau pada perbatasan air dan container. Larva Aedes memiliki siphon yang gemuk, yang memiliki satu pasang hair tuft dan pecten yang tumbuh tidak sempurna.
Aedes aegypti dewasa tubuhnya berwarna hitam memiliki bercak putih keperakan atau putih kekuningan. Pada toraks bagian dorsal ada bercak putih yang khas bentuknya, berupa 2 garis sejajar di bagian tengah toraks dan 2 garis lengkung di tepi toraks.
Aedes albopictus dewasa mudah dibedakan dari Aedes aegypti sebab garis yang ada pada toraks dorsal hanya berupa 2 garis lurus yang ada di tengah toraks.
Gambar 183. Ciri khas garis toraks (a) Aedes albopictus dan (b) Aedes aegypti
(URL: http://www.mosquito-va.org/- http://www.mosquitaire.com)
Nyamuk Culex
Nyamuk Culex dapat menjadi vektor penular berbagai mikroorganisme, misalnya arbovirus, filariasis dan malaria pada unggas. Culex pipiens quinquefasciatus atau sering disebut Culex fatigans merupakan vektor penular filariasis pada pasien , sedang Culex pipiens yaitu penular penyakit St.Louis encephalitis. Culex tarsalis yaitu vektor penular penyakit Western encephalitis dan St.Louis encephalitis. Culex tritaeniorhynchus merupakan vektor utama penularan Japanese B encephalitis, banyak dijumpai di Asia Tenggara dan Asia Timur
Anatomi dan biologi. Nyamuk Culex betina memiliki abdomen yang berujung tumpul dan memiliki pulvili. Nyamuk ini meletakkan telurnya di permukaan air yang menjadi tempat berkembang biaknya (breeding place) secara berderet-deret sehingga berbentuk seperti rakit. Larva Culex memiliki sifon yang panjang dan langsing yang memiliki beberapa kelompok hair tufts.
Nyamuk Culex pipiens complex menyukai breeding place berupa genangan air hujan atau air yang memiliki kadar tinggi bahan organik, sedang Culex tarsalis lebih menyukai genangan air yang terkena sinar matahari sebagai tempat berkembang biaknya. Culex tritaeniorhynchus yang banyak dijumpai di Asia Tenggara dan Asia Timur menyukai air tanah dan rawa-rawa sebagai breeding-placenya.
Nyamuk Mansonia
Nyamuk Mansonia merupakan vektor utama penular Brugia malayi pada pasien sedang kera dan kucing dapat bertindak sebagai hospes reservoir. Nyamuk ini dapat menularkan brugiasis malayi yang periodik nokturnal maupun yang subperiodik nokturnal.
Anatomi dan biologi. Ciri khas nyamuk Mansonia dewasa yaitu badan, kaki, palpus dan sayapnya tertutup sisik-sisik berwarna coklat dan putih. Sisik-sisik pada sayap membentuk bercak-bercak lebar yang tidak simetris. Nyamuk ini hidup di rawa-rawa, telurnya yang berwarna coklat kehitaman secara berkelompok diletakkan oleh induknya di bawah daun tumbuhan air yang mengapung di permukaan air. Dalam beberapa hari telur menetas menjadi larva. Larva Mansonia selalu berada di dalam air, melekat pada akar tumbuhan air dengan cara menusukkan siphonnya yang runcing ke dalam akar tumbuhan untuk mengisap udara. Nyamuk ini merupakan vektor filariasis di daerah yang berawa-rawa di luar Jawa.
Untuk memberantas larva nyamuk Mansonia dilakukan pemberantasan tanaman air dengan herbisida misalnya pentachlorophenol (PCP) atau menggunakan larvisida bentuk granul yang dapat melayang di dalam air sehingga dapat membunuh larva yang melekat pada akar tumbuhan air.
Gambar 184. Nyamuk Mansonia (a) dewasa dan (b) larva.
Perhatikan larva melekat pada akar tumbuhan air dengan
siphon yang runcing (Dept.Medical Entomology, ICPMR)
Anopheline
Anopheles yaitu genus nyamuk yang terpenting dalam subfamili ini sebab merupakan satu-satunya vektor penular malaria pada pasien . ada sekitar 30 spesies Anopheles yang dapat menjadi vektor penular malaria. Penular malaria pada pasien yaitu nyamuk Anopheles yang spesiesnya berbeda antara satu tempat dengan tempat lainnya. Anopheles penular malaria di Indonesia antara lain yaitu Anopheles sundaicus, An.aconitus, An. barbirostris, dan An.subpictus. Selain menularkan malaria, Anopheles juga dapat menularkan filariasis pada pasien . Cacing filaria pasien yang dapat ditularkan oleh nyamuk Anopheles yaitu Wuchereria bancrofti yang noct