parasitologi 6
at, berukuran sekitar 50x25 mikron dan memiliki dua kutub jernih yang
Daur hidup. Telur cacing ini mengalami pematangan dan menjadi infektif di tanah dalam waktu 3-4 minggu lamanya Jika pasien tertelan telur cacing yang infektif, maka di dalam usus halus dinding telur pecah dan larva ke luar menuju sekum lalu berkembang menjadi cacing dewasa. Dalam waktu satu bulan sejak masuknya telur infektif ke dalam mulut, cacing telah menjadi dewasa dan cacing betina sudah mulai mampu bertelur. Trichuris trichiura dewasa dapat hidup beberapa tahun lamanya di dalam usus pasien .
Gambar 130. Daur hidup Trichuris trichiura
Gejala klinis dan diagnosa . sebab Trichuris trichiura dewasa melekatkan diri pada usus dengan cara menembus dinding usus, maka hal ini dapat memicu timbulnya trauma dan kerusakan pada jaringan usus. Cacing dewasa juga dapat menghasilkan toksin yang memicu iritasi dan keradangan usus.
Infeksi ringan trichuriasis dengan beberapa ekor cacing umumnya tidak menimbulkan keluhan bagi pasien . Pada infeksi yang berat, pasien akan mengalami gejala dan keluhan berupa anemia berat dengan hemoglobin yang dapat kurang dari tiga persen, diare yang berdarah, nyeri perut, mual dan muntah dan berat badan yang menurun. Kadang-kadang dapat terjadi prolaps rectum yang dengan melalui pemeriksaan proktoskopi dapat dilihat adanya cacing-cacing dewasa pada kolon atau rektum pasien .
Pada pemeriksaan darah pasien yang mengalami infeksi cacing yang berat, hemoglobin darah dapat berada di bawah 3 g%. Selain itu darah menunjukkan gambaran eosinofilia dengan eosinofil lebih dari 3 %. Pada pemeriksaan tinja pasien dapat ditemukan telur Trichuris trichiura yang khas bentuknya.
diagnosa pasti trikuriasis ditegakkan dengan melakukan pemeriksaan tinja untuk menemukan telur cacing yang khas bentuknya. Pada infeksi yang berat pemeriksaan proktoskopi dapat menunjukkan adanya cacing dewasa yang berbentuk cambuk yang melekat pada rektum pasien .
Pengobatan trikuriasis. sebab cacing dewasa membenamkan kepalanya di dalam dinding usus, maka pengobatan terhadap infeksi cacing ini sukar dilakukan dengan cepat. Untuk memberantas cacing Trichuris trichiura sebaiknya diberikan kombinasi dua obat cacing secara bersama-sama, yaitu kombinasi Pirantel pamoate dan Oksantel pamoat.
Pirantel pamoat diberikan dengan dosis 10 mg/kg berat badan dan oksantel pamoat dengan dosis 10-20 mg/kg berat badan/hari. Kombinasi obat ini diberikan bersama dalam bentuk dosis tunggal.
Jika hanya diberikan satu jenis obat saja, maka obat pilihan yang dapat diberikan yaitu Mebendazol dengan dosis 2x100 mg /hari selama 3 hari berturut-turut atau 500 mg dosis tunggal. Sebagai obat pengganti dapat diberikan Albendazol dengan dosis 400 mg selama 3 hari atau Ivermectin dengan dosis 200 mcg/kg berat badan per hari selama 3 hari. Nitazoxanide dapat juga diberikan sebagai obat pengganti dengan dosis dewasa 500 mg selama 3 hari dan dosis anak 2x 100 mg (umur 1-3 tahun) dan 2x200 mg (umur 4-11 tahun) selama 3 hari. Levamisol dapat diberikan dengan dosis tunggal 2.5 mg/kg berat badan/hari.
pasien yang mengalami anemia diobati dengan preparat besi disertai dengan perbaikan gizi pasien .
Pencegahan. Untuk mencegah penularan trikuriasis selain dengan mengobati pasien juga dilakukan pengobatan masal untuk mencegah terjadinya reinfeksi di daerah endemis. Higiene sanitasi perorangan dan lingkungan harus dilakukan untuk mencegah terjadinya pencemaran lingkungan oleh tinja pasien , misalnya dengan membuat WC atau jamban yang baik di setiap rumah. Makanan dan minuman harus selalu dimasak dengan baik untuk dapat membunuh telur infektif cacing Trichuris trichiura.
CACING TAMBANG
Beberapa jenis cacing tambang dapat menimbulkan penyakit pada pasien . Ancylostoma duodenale dewasa menimbulkan ankilostomiasis, cacing dewasa Necator americanus menimbulkan nekatoriasis, larva Ancylostoma braziliensis dan larva Ancylostoma caninum yang memicu dermatitis (creeping eruption).
Sebaran cacing tambang sangat luas ke seluruh dunia, terutama di daerah tropis dan subtropis yang bersuhu panas dan memiliki kelembaban yang tinggi. Infeksi cacing-cacing ini banyak dijumpai pada pekerja tambang di Eropa, Cina, dan Jepang, sehingga cacing-cacing ini disebut cacing tambang.
Cacing tambang yang menginfeks penduduk Indonesia dipicu oleh Necator americanus yang memicu nekatoriasis dan Ancylostoma duodenale yang menimbulkan ankilostomiasis.
Ancylostoma duodenale dan Necator americanus
Ancylostoma duodenala dan Necator americanus dewasa hidup di dalam usus halus, terutama di jejunum dan duodenum pasien dengan cara mengigit membran mukosa menggunakan giginya, dan mengisap darah yang keluar dari luka gigitan
Anatomi dan morfologi.
Cacing dewasa. Cacing tambang dewasa berbentuk silindris berwarna putih keabuan. Ukuran panjang cacing betina antara 9 sampai 13 mm, sedang cacing jantan berukuran panjang antara 5 dan 11 mm.
Di ujung posterior tubuh cacing jantan ada bursa kopulatriks (bursa copulatrix), suatu alat bantu kopulasi.
Ancylostoma duodenala dan Necator americanus dewasa dapat dibedakan morfologinya berdasar bentuk tubuh, rongga mulut dan bentuk bursa kopulatriksnya. Dengan pemeriksaan mikroskopis atas tinja, bentuk telur berbagai cacing tambang sukar dibedakan. Ancylostoma duodenale. Tubuh cacing Ancylostoma duodenale dewasa mirip huruf C. Rongga mulutnya memiliki dua pasang gigi dan satu pasang tonjolan. Cacing betina memiliki spina kaudal.
Necator americanus. Ukuran tubuh Necator americanus dewasa lebih kecil dan lebih langsing dibanding badan Ancylostoma duodenale. Tubuh bagian anterior cacing melengkung berlawanan dengan lengkungan bagian tubuh lainnya sehingga bentuk tubuh yang mirip huruf S. Di bagian rongga mulut ada 2 pasang alat pemotong (cutting plate). Berbeda dengan Ancylostoma duodenale, di bagian kaudal badan cacing betina tidak ada spina kaudal (caudal spine).
Telur. Pada pemeriksaan tinja di bawah mikroskop sinar, bentuk telur berbagai spesies cacing tambang mirip satu dengan lainnya, sehingga sukar dibedakan. Telur cacing tambang berbentuk lonjong, tidak berwarna, berukuran sekitar 65 x 40 mikron. Telur cacing tambang yang berdinding tipis dan tembus sinar ini mengandung embrio yang memiliki empat blastomer.
Larva cacing tambang. Cacing tambang memiliki dua stadium larva, yaitu larva rhabditiform yang tidak infektif dan larva filariform yang infektif. Kedua jenis larva ini mudah dibedakan sebab larva rabditiform bentuk tubuhnya agak gemuk dengan panjang sekitar 250 mikron, sedang larva filariform yang berbentuk langsing panjang tubuhnya sekitar 600 mikron.
Selain itu bentuk rongga mulut (buccal cavity) larva rabditiform tampak jelas, sedang pada filariform tidak sempurna, sudah mengalami kemunduran. Usofagus larva rabditiform pendek ukurannya dan membesar di bagian posterior sehingga berbentuk bola (bulbus esophagus). Usofagus larva filariform lebih panjang dibanding ukuran panjang larva rabditiform.
Larva filariform cacing Ancylostoma duodenale dapat dibedakan dari larva filariform Necator americanus dengan melihat selubung (sheat) larva.
Di bagian luar tubuh larva filariform cacing tambang ada selubung yang tembus sinar. Selubung larva filariform Necator americanus menunjukkan adanya garis-garis melintang, yang tidak ada pada selubung larva filariform Ancylostoma duodenale.
Daur hidup cacing tambang. Daur hidup Ancylostoma duodenale maupun Necator americanus hanya membutuhkan satu jenis hospes definitif, yaitu pasien . Tidak ada hewan yang bertindak sebagai hospes reservoir.
Sesudah keluar dari usus pasien , telur cacing tambang yang jatuh di tanah dalam waktu dua hari akan tumbuh menjadi larva rabditiform yang tidak infektif sebab larva ini dapat hidup bebas di tanah. Sesudah berganti kulit dua kali, larva rabditiform dalam waktu satu minggu akan berkembang menjadi larva filariform yang infektif yang tidak dapat mencari makan dengan bebas di tanah.
Untuk dapat berkembang lebih lanjut larva filariform harus mencari hospes definitif, yaitu pasien . Larva filariform akan menginfeksi kulit pasien , menembus pembuluh darah dan limfe selanjutnya masuk ke dalam darah dan mengikuti aliran darah menuju jantung dan paru-paru.
Gambar 137 . Daur hidup cacing tambang
Lung migration. Sesudah larva filariform menembus kulit sehat pasien , larva ini akan memasuki pembuluh darah dan limfe, beredar di dalam aliran darah, masuk ke jantung kanan, lalu masuk ke dalam kapiler paru. Kemudian larva filariform menembus dinding kapiler masuk ke dalam alveoli. Sesudah berganti kulit dua kali larva cacing mengadakan migrasi ke bronki, trakea, laring dan faring, akhirnya tertelan masuk ke dalam saluran usofagus. Di dalam lumen usofagus larva berganti kulit untuk yang ketiga kalinya. Migrasi larva berlangsung sekitar sepuluh hari.
Dari usofagus larva masuk ke usus halus, berganti kulit yang keempat kalinya, lalu tumbuh menjadi cacing dewasa jantan dan betina. Dalam waktu satu bulan, cacing betina sudah mampu bertelur untuk melanjutkan keturunannya..
Perubahan patologis dan gejala klinis. Cacing tambang dewasa maupun larva cacing filariform dan larva yang mengadakan lung migration dapat menimbulkan perubahan patologis pada jaringan organ pasien . Cacing dewasa yang berada di dalam usus terus menerus mengisap darah pasien . Seekor cacing dewasa Necator americanus dapat memicu hilangnya darah pasien sampai 0.1 cc per hari, sedang seekor cacing Ancylostoma duodenale dapat menimbulkan kehilangan darah sampai 0.34 cc per hari.
Pada waktu larva filariform menembus kulit pasien larva cacing menimbulkan dermatitis dengan gatal-gatal yang hebat (ground itch). sedang larva cacing tambang yang beredar di dalam darah (lung migration) akan menimbulkan bronkitis dan reaksi alergi yang ringan .
diagnosa cacing tambang. Kelainan patologis yang ditimbulkan oleh cacing tambang dewasa maupun larvanya memicu terjadinya banyak keluhan dan gejala klinis yang tidak khas. Untuk menentukan diagnosa pasti infeksi cacing tambang harus dilakukan pemeriksaan mikroskopis atas tinja untuk menemukan telur cacing.
Keluhan pasien dan gambaran klinis infeksi cacing tambang dapat berupa:
(1) anemia hipokromik mikrositer dan gambaran umum kekurangan darah (pucat, perut buncit, rambut kering dan mudah lepas),
(2) gangguan pencernaan berupa rasa tak enak di epigastrium, sembelit, diare atau steatore,
(3) ground-itch (gatal kulit di tempat masuknya larva filariform), dan
(4) gejala bronkitis akibat adanya larva di dalam paru yang menimbulkan batuk-batuk yang kadang-kadang disertai dahak berdarah.
sebab itu diagnosa banding untuk infeksi cacing tambang yaitu penyakit-penyakit pemicu lain anemia, tuberkulosis dan penyakit-penyakit pemicu gangguan perut lainnya.Pada pemeriksaan darah pasien infeksi cacing tambang menunjukkan gambaran: hemoglobin yang menurun sampai kurang dari 11,5 g/dl pada pasien perempuan dan kurang dari 13,5 g/dl pada pasien laki-laki. Selain itu gambaran darah juga menunjukkan MCHC (Mean Corpuscular Hemoglobin Concentration) yang kurang dari 31-36 g/dl.
Hapusan darah tepi menunjukkan gambaran: hipokromik mikrositer, leukopenia dengan limfositosis relatif, dengan jumlah leukosit kurang dari 4.000/ml, eosinofilia yang dapat mencapai 30% dan anisositosis, atau poikilositosis.
Pada pemeriksaan sumsum tulang ada gambaran yang menunjukkan hiperplasia normoblastik.Pengobatan infeksi cacing tambang. pasien infeksi cacing tambang pada umumnya mengalam anemia yang bisa berat. sebab itu pengobatan pasien selain ditujukan untuk memberantas cacingnya juga dilakukan untuk mengatasi anemianya:
(a). Obat cacing. Obat-obat cacing yang efektif untuk memberantas cacing tambang antara lain yaitu Albendazol, Mebendazol, Levamisol, dan Pirantel pamoat yang dapat diberikan per oral.
Albendazol diberikan sebagai dosis tunggal sebesar 400 mg, diberikan satu kali.
Mebendazol diberikan dengan dosis untuk orang dewasa dan anak berumur di atas dua tahun sebesar 2x 100 mg selama 3 hari. Jika telur masih positif, obat ini bisa diulang 3-4 minggu kemudian. Dosis tunggal 500-600 mg juga efektif untuk mengatasi infeksi cacing tambang.
Pirantel pamoat. Obat yang hanya efektif untuk mengobati Ancylostoma duodenale ini, diberikan dalam bentuk dosis 10-11 mg/kg berat badan (maksimum 1.0 g ) selama 3 hari.
Levamisol. Obat ini diberikan sebanyak 120 mg levamisol base sebagai dosis tunggal untuk orang dewasa. Pada anak levamisol base diberikan dengan dosis 2.5 mg/kg berat badan sebagai dosis tunggal.
(b). Pengobatan anemia. Anemia pasien diobati menggunakan sediaan zat besi (Fe) yang diberikan per oral atau parenteral.
Pencegahan infeksi cacing tambang. Di daerah endemis Ancylostoma duodenale dan Necator americanus penduduk sering mengalami reinfeksi. Infeksi baru maupun reinfeksi dapat dicegah dengan memberikan obat cacing kepada pasien dan sebaiknya juga dilakukan pengobatan masal pada seluruh penduduk di daerah endemis. Pendidikan kesehatan diberikan pada penduduk untuk membuat jamban pembuangan tinja (WC) yang baik untuk mencegah pencemaran tanah, dan jika berjalan di tanah selalu menggunakan alas kaki untuk mencegah terjadinya infeksi pada kulit oleh larva filariform cacing tambang
Strongyloides stercoralis
Strongyloides stercoralis yang juga disebut sebagai cacing benang (threadworm) memicu infeksi strongiloidiasis pada pasien maupun hewan. Cacing ini termasuk cacing zoonosis yang tersebar luas di seluruh dunia terutama di daerah tropis yang tinggi kelembabannya. Tempat hidup cacing betina dewasa yaitu di dalam membrana mukosa usus halus, terutama di daerah duodenum dan jejunum pasien dan beberapa jenis hewan. Strongyloides stercoralis jantan jarang ditemukan di dalam usus hospes definitifnya.
Anatomi dan morfologi
Cacing dewasa. Strongyloides stercoralis betina berbentuk seperti benang halus yang tidak berwarna, tembus sinar dan memiliki kutikel yang bergaris-garis. Cacing betina yang parasitik memiliki ukuran panjang tubuh sekitar 2,2 mm. Rongga mulut cacing pendek, sedang esofagusnya panjang, langsing dan berbentuk silindrik. ada sepasang uterus yang berisi telur.
Cacing jantan hidup bebas, berukuran lebih kecil dibanding cacing betina, memiliki ekor yang melengkung.ang langsing bentuknya, berukuran sekitar 600 mikron x 20 mikron, memiliki esofagus yang lebih panjang dari ukuran esofagus cacing tambang. Ekor larva filariform Strongyloides stercoralis bercabang yang merupakan ciri khas larva filariform cacing ini.
Tabel 11. Diferensiasi Morfologi larva cacing tambang dan Strongyloides stercoralis
(a). Larva rabditiform
Daur hidup. Daur hidup Strongyloides stercoralis tidak memerlukan hospes perantara. Cacing dewasa hidup di dalam usus pasien yang bertindak sebagai hospes definitifnya, sedang beberapa jenis hewan dapat bertindak sebagai reservoir host yang menjadi sumber penularan bagi pasien .
Di dalam mukosa usus telur cacing dikeluarkan oleh induk cacing dan segera menetas menjadi larva rabditiform. Larva ini akan berkembang melalui tiga jalur daur hidup:
Daur hidup Langsung. Bersama tinja pasien larva rabditiform jatuh ke tanah, tumbuh menjadi larva filariform yang infektif. Larva filariform menembus kulit hospes, menjalani lung migration, dan selanjutnya berkembang menjadi cacing dewasa di dalam usus pasien .
Daur hidup Tak Langsung. Larva rabditiform yang bersama tinja pasien jatuh di tanah, berkembang langsung menjadi cacing dewasa yang hidup bebas (free living). Cacing-cacing dewasa lalu melahirkan larvalarva rabditiform yang kemudian berkembang menjadi larva filariform yang infektif. Larva filariform menembus kulit hospes, diikuti terjadinya lung migration, kemudian tumbuh dan berkembang menjadi cacing dewasa di dalam usus pasien .
Autoinfection. Larva rabditiform yang ada di dalam usus berubah menjadi larva filariform, yang kemudian menembus mukosa usus dan berkembang menjadi cacing dewasa.Perubahan patologis dan gejala klinis. Infeksi ringan Strongyloides stercoralis pada umumnya tidak menunjukkan gejala klinis yang jelas. Perubahan patologis yang terjadi dapat dipicu oleh larva cacing maupun oleh cacing dewasa. Pada waktu menembus kulit pasien larva cacing menimbulkan dermatitis disertai urtikaria dan pruritus. Jika larva cacing yang mengadakan migrasi paru banyak jumlahnya, hal ini dapat memicu terjadinya pneumonia (eosinophilic pneumonia atau Lofflers syndrome) dan batuk darah.
Strongyloides stercoralis dewasa yang berada di dalam mukosa usus pasien dapat menimbulkan diare yang berdarah disertai lendir. Jika cacing dewasa melakukan invasi ke mukosa lambung, maka akan terjadi nyeri epigastrium yang berat. Infeksi yang berat dengan Strongyloides stercoralis dapat memicu kematian pasien .
diagnosa strongiloidosis. diagnosa pasti strongiloidosis dapat ditegakkan jika dapat ditemukan larva rhaditiform pada tinja segar pasien . Jika larva rabditiform dibiakkan dalam biakan tinja, maka dalam waktu tiga hari akan terbentuk larva filariform dan juga cacing dewasa yang hidup bebas dalam sediaan yang sama. Baik larva rabditiform maupun larva filariform Strongyloides stercoralis dapat dibedakan dari larva-larva cacing tambang.
Pengobatan. Sebagai obat pilihan untuk memberantas infeksi cacing Strongyloides stercoralis dapat digunakan Albendazol dengan dosis (dewasa dan anak) 2x400 mg selama 2 hari. Tiabendazol sebagai pengganti obat pilihan dapat diberikan per oral sesudah makan dengan dosis 25 mg/kg berat badan per hari, terbagi dalam 3 dosis pemberian, dengan lama pengobatan 3 hari atau lebih.
Sebagai obat pengganti juga dapat menggunakan Ivermectin dengan dosis 200 mcg/ kg per hari yang diberikan selama 2 hari.
Obat-obat lainnya, misalnya levamisol, Mebendazol dan pirantel pamoate dapat juga digunakan, meskipun hasilnya kurang memuaskan.
Pencegahan. Oleh sebab adanya hewan-hewan sebagai hospes reservoir pada daur hidup Strongyloides stercoralis, maka pencegahan strongiloidiasis lebih sulit dilakukan dibanding pencegahan terhadap infeksi cacing tambang. Terjadinya autoinfeksi di usus pasien dan ada nya daur hidup bebas Strongyloides stercoralis di tanah juga makin menyulitkan pemberantasan parasit ini.
Trichinella spiralis
Cacing yang memiliki nama lain ini umumnya disebut sebagai cacing trikina. Trichinella spiralis tersebar luas di seluruh dunia, terutama di negara-negara yang penduduknya banyak mengkonsumsi daging babi yang tidak dimasak dengan sempurna, misalnya di Eropa dan Amerika Utara. Di Asia epidemi infeksi cacing ini (trikinosis) pernah dilaporkan dari Thailand, Siria dan India. Penelitian serologis pada penduduk Bensbach di Papua New Guinea menunjukkan prevalensi trichinosis sebesar 28.9%.
Tempat hidup cacing. Cacing dewasa maupun larva cacing dapat ditemukan bersama-sama di dalam satu tubuh hospes definitif. Cacing dewasa Trichinella spiralis hidup di dalam mukosa duodenum dan jejunum hospes definitif misalnya babi, tikus dan pasien serta anjing, kucing, beruang dan berbagai mamalia lainnya. sedang larva cacing ditemukan dalam bentuk kista di dalam otot-otot bergaris hospes definitif.
Anatomi dan morfologi
Cacing dewasa. Ukuran panjang cacing jantan Trichinella spiralis antara 1.4 mm sampai 1.6 mm, sedang cacing betina berukuran lebih panjang dapat mencapai 4 mm. Ujung anterior cacing berbentuk langsing dengan mulut tanpa papil. Ujung posterior cacing bentuknya bulat tumpul pada cacing betina, sedang pada yang jantan melengkung ke arah ventral. Di bagian posterior cacing jantan ada 2 buah papil yang membedakan bentuknya dari cacing betina. Trichinella spiralis betina memiliki satu ovarium dengan vulva terletak di seperlima anterior dari badan. Cacing betina tidak bertelur melainkan melahirkan larvanya (vivipaar). Alat pencernaan cacing panjang dan sempit
Larva. Panjang larva cacing dapat mencapai 100 mikron, namun di dalam otot hospes definitif umumnya larva ada dalam bentuk kista. Dalam bentuk kista, larva dapat tetap hidup 6 bulan bahkan bisa mencapai 30 tahun. Jaringan hospes yang mengandung larva Trichinella infektif bagi mamalia lain yang memakannya. Daur hidup. Trichinella spiralis dewasa maupun larvanya ada di dalam satu tubuh hospes yang sama, namun untuk dapat melengkapi daur hidupnya cacing ini membutuhkan dua hospes yang satu jenis yang sama atau dari jenis yang berbeda. Sebagai contoh, daur hidup Trichinella spiralis pada tikus hutan misalnya, hanya dibutuhkan satu jenis hospes yaitu tikus oleh sebab adanya sifat kanibalis pada tikus yang memakan sesamanya.
Selain pasien , babi dan tikus yang menjadi hospes definitif cacing ini, cacing Trichinella spiralis juga dapat hidup di dalam tubuh anjing, kucing dan beruang. Di lingkungan alami, daur hidup cacing ini dapat berlangsung diantara kelompok hewan yang bersifat kanibalis, misalnya kelompok tikus. Babi juga bisa terinfeksi cacing in sebab makan sampah yang mengandung daging tikus mati.
Gambar 143. Daur hidup Trichinella spiralis.
pasien umumnya terinfeksi Trichinella spiralis sebab makan daging babi mentah yang mengandung kista larva cacing atau daging dimasak kurang matang. Pada waktu berada di dalam usus halus dinding kista pecah dan larva akan terlepas, lalu segera memasuki mukosa usus. Dalam waktu dua hari larva cacing akan berkembang menjadi cacing dewasa. Seekor Trichinella spiralis betina dapat melahirkan sampai 1500 larva yang dilepaskan di dalam mukosa usus. Kemudian larva memasuki aliran darah dan limfe, menyebar ke berbagai organ dan bagian tubuh lainnya, terutama ke otot-otot gerak misalnya otot lidah, diafragma, mata, laring, otot biseps, otot perut, deltoid dan otot gastroknemius. Larva terutama tersebar memasuki otot-otot yang miskin glikogen, membentuk kista di daerah tersebut dan tetap infektif dalam waktu lama. Antara bulan ke enam sampai bulan ke sembilan mulai terjadi perkapuran kista.
Perubahan patologi jaringan dan organ. Gejala dan keluhan pasien mulai terjadi dua hari sesudah tertelannya kista larva yang infektif. Cacing dewasa yang berasal dari perkembangan larva yang melakukan iinvasi ke dalam mukosa usus dapat memicu terjadinya kelainan patologis pada organ dan jaringan.
Larva yang dilahirkan oleh induk cacing yang menyebar ke dalam otot-otot gerak menimbulkan keradangan endovaskuler dan perivaskuler akut yang memicu terjadinya nyeri otot rematik, diikuti gangguan bernapas, mengunyah dan berbicara. Selain itu dapat terjadi kelumpuhan yang spastik pada otot ekstremitas, diikuti edema sekitar mata, hidung dan tangan. Pembesaran kelenjar limfe juga dapat terjadi.
Migrasi larva dapat memicu terjadinya nekrosis otot jantung yang menimbulkan miokarditis, yang merupakan komplikasi berat pada pederita trikinosis. Komplikasi lainnya yaitu endefalitis, meningitis, tuli, gangguan mata dan diplegia.
Pada masa enkistasi atau masa tahap tiga, terjadi edema toksik atau dehidrasi beratyang merupakan masa krisis dengan terjadinya penurunan tekanan darah pasien yang dapat menimbulkan kolaps. Selain itu tampak juga gejala-gejala neurotoksik dan komplikasi lain misalnya miokarditis, pneumonia, peritonitis, dan nefritis.
Pada infeksi ringan trikinosis penyembuhan terjadi dalam waktu dua minggu, sedang pada infeksi yang berat penyembuhan baru terjadi pada minggu kedelapan.
Gejala klinis. Gejala klinis dan keluhan pasien trikinosis pada pasien tidaklah khas. Masa inkubasi yang lamanya 10 hari sejak masuknya kista cacing bersama daging babi yang infektif, diikuti oleh keluhan gastrointestinal pasien berupa sakit perut, mual, muntah dan diare. pasien kemudian mengalami nyeri hebat pada otot-otot gerak, diikuti gangguan bernapas, gangguan menelan dan sukar berbicara. Kelenjar-kelenjar limfe juga akan membesar disertai edema sekitar mata, hidung dan tangan. Jika terjadi nekrosis otot jantung, pasien akan mengalami miokarditis yang dapat memicu kan kematian pasien .
Selain itu pasien dapat juga mengalami radang otak (ensefalitis) dan radang selaput otak (meningitis), tuli, gangguan mata, gejala neurotoksik misalnya neuritis perifer, halusinasi, delirium, disorientasi atau mengalami komplikasi berupa miokarditis, pnemonia, peritonitis dan nefritis.
diagnosa pasti . Untuk menetapkan diagnosa pasti trikinosis harus dapat ditemukan cacing dewasa atau larva cacing. Cacing dewasa atau larva mungkin dijumpai pada tinja pasien pada waktu mengalami diare. Di dalam darah, cairan otak atau dalam air susu ibu, larva yang beredar sulit ditemukan. Cara yang lebih memungkinkan yaitu menemukan larva cacing melalui biopsi otot atau biopsi organ atau ditemukan larva cacing pada waktu dilakukan otopsi atas pasien yang sudah meninggal dunia.
Pemeriksaan darah tepi, uji serologi dan pemeriksaan radiologi merupakan sarana bantu untuk menegakkan diagnosa trikinosis.
(1). Pemeriksaan darah tepi : menunjukkan adanya gambaran eosinofilia.
(2). Uji serologi: beberapa jenis uji serologi, misalnya Uji Fiksasi Komplemen, Uji Presipitin, Uji Aglutinasi dan Uji Flokulasi Bentonit dapat membantu menegakkan diagnosa trikinosis. Dengan menggunakan antigen pada pengenceran 5000-10,000 kali, hasil positif dapat dibaca dalam waktu 20 menit.
(3). Pemeriksaan radiologi dapat membantu menunjukkan adanya kista pada jaringan atau organ tubuh pasien .
Prognosis. Infeksi yang ringan pada trikinosis memiliki prognosis yang baik, dan pada infeksi berat prognosisnya sangat buruk. Tidak adanya eosinofili atau eosinofili yang ringan menunjukkan prognosis yang buruk.Pengobatan trikinosis. Untuk mengobati trikinosis sebagai obat pilihan dapat diberikan Mebendazol dengan dosis 3x 200-400mg selama 3 hari, lalu diikuti dengan dosis 3x 400-500 mg selama 10 hari. Sebagai obat pengganti dapat diberikan Albendazol dengan dosis 2x400 mg selama 8-14 hari.
Obat cacing lainnya yang dapat diberikan yaitu Tiabendazol selama 1 minggu, dengan dosis 25 mg/kg berat badan/hari yang terbagi dalam 3 dosis pemberian.
Pada pengobatan trikinosis yang berat dan pada pengobatan dengan Tiabendazol harus disertai pemberian kortikosteroid dosis rendah secara bertahap dan hati-hati, untuk mengurangi gejala dan keluhan pasien .
Terhadap nyeri otot dan sakit kepala pasien dapat diberikan analgetika, sedang gejala dan keluhan neurologik dapat diobati dengan penenang.
Pencegahan. Untuk mencegah penularan trikinosis, harus dilakukan pemeriksaan daging babi yang akan dijual.
Memasak daging babi dengan sempurna sebelum dimakan dapat mengurangi penyebaran trikinosis. Membekukan daging babi dan daging lainnya dapat membunuh kista cacing.
Selain itu babi yang diternakkan harus selalu diberi makanan yang dipanasi lebih dahulu . Tikus harus selalu dijauhkan dari lingkungan peternakan babi.
Angiostrongylus cantonensis
Angiostrongylus cantonensis yang dikenal sebaga cacing paru tikus ini tersebar di seluruh dunia dan banyak dilaporkan dari daerah tropis dan subtropis. Hospes definitif cacing ini yaitu berbagai jenis rodensiasia tempat cacing dewasa hidup di dalam arteria pulmonalisnya.
Anatomi dan morfologi. Angiostrongylus cantonensis dewasa berbentuk filiform atau silindris dengan panjang dapat mencapai 25 mm. Ukuran panjang cacing jantan sekitar 7.7 mm, sedang cacing betina panjangnya sekitar 12.8 mm. Badan cacing memiliki kutikula halus dengan penebalan di kedua ujungnya. Kepala cacing memiliki tiga bibir yang berpapil, tetapi tidak memiliki rongga mulut.cacing jantan memiliki bursa kopulatriks yang kecil ukurannya yang mengarah ke ventral. Larva cacing yang infektif untuk pasien , memiliki ukuran 0.5 mm x 0.025 mm.
Gambar 144. Angiostrongylus cantonensis.
cacing betina. B. cacing jantan
(http://www.cdc.gov/dpdx)
Daur hidup. Infeksi Angiostrongylus cantonensis pada pasien terjadi sebab termakan larva infektif yang ada di dalam daging moluska (bekicot, siput) atau makan daging hewan pemakan moluska misalnya ketam, ikan, dan udang yang tidak dimasak dengan sempurna. Infeksi pada moluska terjadi akibat makan larva cacing yang dikeluarkan bersama tinja hewan mengerat yang terinfeksi, yang menjadi hospes definitif parasit ini. pasien juga dapat tercemar
larva infektif cacing melalui jari-jari tangannya pada waktu mengolah daging moluska sebelum dimasak atau melalui buah dan sayur-sayuran yang tercemar lendir moluska yang yang infektif.
Gambar 145. Daur hidup Angiostrongylus cantonensis
Perubahan patologis dan gejala klinis. Angiostrongylus cantonensis dapat ditemukan di dalam otak, sumsum tulang belakang dan di dalam rongga bola mata pasien .
Parasit yang berada di dalam sumsum tulang dapat memicu gangguan sensorik pada ektremitas, sedang yang berada di dalam jaringan otak dapat menimbulkan meningoensefalitis eosinofilik pada pasien .
Satu sampai tiga minggu sesudah masa inkubasi berlangsung sejak tertelannya larva infektif cacing ini, gambaran klinis meningoensefalitis mulai terlihat berupa sakit kepala yang hebat, demam, kaku kuduk, mual dan muntah-muntah. . diagnosa . Selain adanya gejala klinis berupa meningoensefalitis, diagnosa infeksi (angiostrongiliasis) dapat ditetapkan melalui pemeriksaan cairan sumsum tulang dan pemeriksaan darah pasien .
Pemeriksaan cairan sumsum tulang (spinal fluid) menunjukkan adanya peningkatan protein dan pleositosis eosinofilik, tetapi kadar glukosa yaitu normal. Pada pemeriksaan darah gambaran sel darah menunjukkan adanya eosinofilia perifer dengan leukositosis ringan.
Angiostrongylus cantonensis kadang-kadang juga dapat ditemukan di dalam cairan sumsum tulang pasien . Jika cacing dijumpai di dalam rongga mata pasien , hal ini dapat menimbulkan gangguan penglihatan pasien .
Pengobatan angiostrongiliosis. Belum ditemukan obat yang spesifik untuk memberantas Angiostrongylus cantonensis. Obat-obatan Tiabendazol, albendazol, levamisol, Mebendazol atau ivermectin yang biasa digunakan untuk cacing jaringan misalnya trikinosis dan strongiloidosis hasilnya kurang memuaskan.
Untuk menurunkan demam dan rasa sakit dapat diberikan analgetikum, sedang kortikosteroid dapat diberikan untuk membantu mengurangi rasa sakit dan keluhan pasien akibat proses keradangan yang terjadi.
Pencegahan. Untuk mencegah penularan angiostrongiloidosis maka moluska, siput, ketam dan ikan sebelum dimakan harus dimasak dengan sempurna untuk membunuh larva infektif cacing. Buah-buahan dan sayur-sayuran sebelum dimakan juga harus dicuci bersih untuk mengurangi kemungkinan terjadinya kontaminasi tangan oleh lendir moluska yang mengandung larva infektif cacing.
sebab tikus dan hewan mengerat merupakan sumber penularan, pemberantasan rodensia yang berada di sekitar rumah dan pemukiman penduduk harus dilakukan dengan teratur.
Capillaria Capillaria yaitu cacing nematoda yang hidup pada mukosa usus halus, yang dapat menimbulkan kapilariasis pada pasien . pasien dengan infeksi parasit ini pernah dilaporkan dari Jepang, Korea, Taiwan, Mesir dan Indonesia. Capillaria philippinensis dan Capillaria hepatica endemis di Filipina dan Thailand.
Anatomi dan morfologi. Capillaria dewasa berukuran panjang antara 2-4 mm, sedang telurnya berbentuk biji mentimun mirip telur cacing Trichuris.
Gambar 146. Capillaria philippinensis ( URL: http://www.tmu.edu)
Cara penularan. Berbagai jenis hewan misalnya rodensiasia, karnivora, babi dan kera dapat menularkan Capillaria ke pasien , namun hewan-hewan yang dapat bertindak sebagai hospes alami belum jelas jenisnya.
Kapilariasis pada pasien terutama dipicu oleh yang menimbulkan kapilariasis intestinal dan Capillaria hepatica yang menjadi pemicu dari kapilariasis hepatik.
Capillaria hepatica merupakan parasit yang umum didapatkan pada tikus dan hewan pengerat lainnya serta dapat hidup pada berbagai mamalia lainnya. Penularan kapilariasis hepatik terjadi melalui infeksi per oral dengan masuknya telur infektif cacing ini bersama sayuran, buah atau air minum.
Kapilariasis intestinal terjadi melalui infeksi sebab makan ikan air tawar yang mentah atau kurang matang.
Gejala klinis dan diagnosa . Kapilariasis yang berat dapat memicu terjadinya enteropati yaitu hilangnya protein dalam jumlah besar yang disertai sindroma malabsorpsi. pasien juga mengalami asites dan transudasi pleura. Gejala klinis kapilariasis intestinal yang dialami pasien dapat berupa diare berat, malabsorpsi, gangguan cairan tubuh, asites dan kekurangan protein. pasien kapilariasis hepatik dapat mengalami pembesaran hati, asites yang nyata dan anemia. Kapilariasis dapat memicu kematian pasien sampai sebesar 5-10%. Pada pemeriksaan darah gambaran darah menunjukkan adanya eosinofilia dan anemia.
Untuk menetapkan diagnosa pasti kapilariasis hepatik harus ditemukan telur cacing Capillaria hepatica melalui biopsi hati pasien atau pada waktu dilakukan otopsi pada jenasah pasien . sedang diagnosa pasti kapilariasis intestinalis ditetapkan dengan ditemukannya telur cacing Capillaria philippinensis pada tinja pasien .
Pengobatan. Kapilariasis intestinal dapat diobati dengan Mebendazol dengan dosis 2x200 mg/hari yang diberikan selama 20-30 hari. Albendazol dapat diberikan sebagai obat pengganti dengan dosis 400 mg per hari selama 10 hari. Tiabendazol dengan dosis 25 mg/kg berat badan/hari ternyata juga efektif terhadap infeksi cacing ini.
Mebendazol juga merupakan obat pilihan Capillaria hepatica dengan Albendazol sebagai obat pengganti. Steroid dapat diberikan untuk mengurangi proses keradangan pada hati.
Pencegahan. Penularan kapilariasis intestinal dapat dicegah dengan menghindari makan ikan mentah atau hewan air lainnya yang berasal dari daerah endemis kapilariasis. Membuang ekskreta pasien dengan baik pada jamban saniter dan menjaga higiene perorangan harus dilakukan untuk mencegah terjadinya infeksi Capillaria.Pencegahan kapilariasis hepatik dilakukan dengan menjaga kebersihan lingkungan dan perorangan, serta selalu memasak makanan atau minuman dan mencegah pencemaran tinja terhadap tanah dan lingkungan.
NEMATODA JARINGAN
Cacing Filaria
Cacing filaria dari superfamili Filarioidea, yaitu Wuchereria bancrofti, Brugia malayi, Brugia timori, Onchocerca volvulus, Loa loa, Acanthocheilonema (Mansonella) perstans, dan Mansonella ozzardi yaitu cacing-cacing nematoda jaringan yang dapat menimbulkan masalah kesehatan pasien . Cacing-cacing ini dilaporkan dari daerah-daerah tertentu di berbagai tempat di dunia, sesuai dengan ada nya vektor penularnya.
Cacing dewasa lebih sukar ditemukan dibanding bentuk larvanya (microfilaria, mikrofilaria).
Anatomi dan morfologi mikrofilaria. Bentuk anatomi dan morfologi mikrofilaria cacing filaria penting untuk membedakan pemicu filariasis, sebab bentuknya yang khas untuk masing-masing spesies, dengan memperhatikan ukuran panjangnya, adanya selubung (sheath) dan susunan intinya. Selain itu mikroflaria lebih mudah ditemukan di dalam darah dibandingkan dengan cacing dewasanya yang hidup di dalam jaringan. AP= Acanthocheilonema perstans MO=Mansonella ozzardi OV=Onchocerca volvulus
WB= Wuchereria bancrofti LL=Loa loa BM=Brugia malayi
Daur hidup filaria. Pada umumnya hospes definitif filaria yaitu pasien , kecuali Brugia malayi dan Onchocerca volvulus yang merupakan parasit zoonotik. Bertindak sebagai hospes perantara yaitu serangga pengisap darah, yaitu nyamuk atau lalat pengisap darah.
Filaria dewasa hidup di dalam saluran limfe dan pembuluh limfe, sedang larva cacing (mikrofilaria) hidup di dalam darah tepi pasien . Filariasis di Indonesia dapat dipicu oleh tiga spesies cacing filaria, yaitu Wuchereria bancrofti, Brugia malayi dan Brugia timori. Brugia timori belum banyak diketahui morfologinya, sifat biologi maupun epidemiologi penyakitnya.
Daur Periodik. Di Indonesia filariasis dapat ditularkan oleh berbagai spesies nyamuk, yang hidup aktif di siang hari atau di malam hari. Sesuai dengan dtemukannya mikrofilaria di dalam darah tepi, dikenal periodik nokturnal, subperiodik diurnal dan subperiodik nokturnal.
Periodik nokturnal (nocturnal periodic): mikrofilaria hanya ditemukan di dalam darah pada waktu malam hari.
Subperiodik diurnal (diurnal subperiodic): mikrofilaria terutama dijumpai siang hari, malam hari jarang ditemukan.
Subperiodik nokturnal (nocturnal subperiodic): mikrofilaria terutama dijumpai malam hari, jarang ditemukan siang hari.
Wuchereria bancrofti
Infeksi cacing dewasa Wuchereria bancrofti memicu filariasis bancrofti, sedang larva cacing (mikrofilaria) dapat menimbulkan occult filariasis. Wuchereria bancrofti dewasa hidup di dalam saluran limfe dan kelenjar limfe pasien . Filaria ini tersebar luas di daerah tropis dan subtropis di Asia, Afrika, Amerika dan Eropa, sedang di Indonesia ada 26 propinsi yang merupakan daerah endemis filariasis dengan microflarial rate (Mf rate) sebesar 3,1% . Dengan demikian sekitar 6 juta orang Indonesia sudah terinfeksi filariasis. .
Anatomi dan morfologi. Wuchereria bancrofti dewasa berbentuk seperti rambut, berwarna putih susu. Panjang tubuh cacing jantan sekitar 4 cm, memiliki ekor yang melengkung dilengkapi dua spikulum yang tidak sama panjang. Panjang cacing betina sekitar 10 cm, memiliki ekor yang runcing bentuknya.
Mikrofilaria. Stadium infektif cacing ini mudah ditemukan di dalam darah tepi, dengan panjang sampai 300 mikron dan lebar 8 mikron. Mikrofilaria memiliki selubung (sheath) hialin, dengan inti atau sel somatik berbentuk granul yang susunannya tidak mencapai ujung ekor.
Gambar 150. Mikrofilaria Wuchereria bancrofti
(Sumber: CDC)
Daur hidup. Cacing Wuchereria bancrofti tidak termasuk parasit zoonosis dan pasien merupakan satu-satunya hospes definitif cacing ini. Tidak ada hewan yang bertindak sebagai reservoir host cacing ini. Nyamuk genus Culex, Aedes dan Anopheles dapat bertindak sebagai vektor penular filariasis bancrofti.
Daur hidup Wuchereria bancrofti umumnya bersifat periodik nokturna (nocturnal periodic), sehingga mikrofilaria hanya dijumpai di dalam darah tepi pada malam hari. Filaria yang hidup di daerah Pasifik memiliki mikrofilaria lebih banyak dijumpai pada waktu siang hari, meskipun dalam jumlah lebih sedikit dapat juga ditemukan pada malam hari (diurnal subperiodic). Di Thailand mikrofilaria Wuchereria bancrofti bersifat subperiodik nokturna, artinya lebih banyak dijumpai di dalam darah tepi pada waktu malam hari.
Sesudah mikrofilaria yang beredar di dalam darah pasien terhisap oleh nyamuk, di dalam tubuh nyamuk dalam waktu 10 sampai 20 hari larva berkembang menjadi stadium larva stadium tiga yang infektif (L3). Larva stadium tiga panjangnya sekitar 1500 sampai 2000 mikron dan lebar badan antara 18 dan 23 mikron, dapat ditemukan di dalam selubung proboscis nyamuk yang menjadi vektor perantaranya. jika nyamuk ini menggigit pasien lain maka ia akan memindahkan larva L3 yang kemudian secara aktif akan masuk ke saluran limfe lipat paha, skrotum atau saluran limfe perut, dan hidup di tempat tersebut. Sebelum berkembang menjadi cacing dewasa di dalam tubuh pasien , mikrofilaria mengalami pergantian kulit dua kali. Pada umur lima sampai 18 bulan cacing dewasa betina telah matang seksual dan sesudah mengadakan kopulasi dengan cacing jantan dapat mulai melahirkan mikrofilaria, yang segera memasuki sistem sirkulasi darah perifer.
Perubahan patologi dan gejala klinis. Wuchereria bancrofti dewasa maupun mikrofilaria dapat menimbulkan gangguan patologi. Akibat iritasi mekanis dan sekresi toksik yang dikeluarkan cacing betina maka akan memicu timbulnya limfangitis pada pembuluh limfe. Selain itu cacing dewasa yang mati dapat menimbulkan limfangitis dan kadang-kadang terjadi sumbatan atau obstruksi limfatik pada aliran limfe akibat terjadinya fibrosis saluran limfe dan proliferasi endotel saluran limfe. Obstruksi ini memicu terjadinya varises saluran limfe dan elephantiasis serta hidrokel.
jika saluran limfe kandung kemih, varises saluran limfe atau ginjal pecah, cairan limfe dapat masuk ke dalam aliran urin pasien melalui membrane mukosa traktus urinarius. Hal ini memicu urin menjadi berwarna putih susu dan mengandung lemak, albumin dan fibrinogen. Urin yang putih seperti susu ini disebut kiluria, yang kadang-kadang juga mengandung mikrofilaria.
Pada filariasis bancrofti, elefantiasis yang kronis dapat mengenai kedua lengan, tungkai, payudara, buah zakar atau vulva, yang hanya dapat diperbaiki melalui tindakan operasi.
diagnosa filariasis bancrofti. Filariasis bancrofti dimulai dengan terjadinya limfangitis akut dengan gejala-gejala berupa saluran limfe yang dapat diraba, terjadinya pembengkakan saluran limfe, yang selain berwarna merah juga disertai rasa nyeri. Sesudah itu pasien akan mengalami demam disertai menggigil. Selanjutnya pasien akan menunjukkan gejala-gejala dan keluhan limfadenitis, orkitis, funikulitis dan abses.
Gambar 151. Elefantiasis bancrofti pada kaki kiri.
( URL: http://www.tmu.edu)
Obstruksi saluran limfe dapat menimbulkan berbagai akibat klinis berupa varises limfe, hidrokel, kiluria, limfskrotum dan elephantiasis.
diagnosa pasti filariasis bancrofti dapat ditetapkan jika pada pemeriksaan darah (tetes tebal) ditemukan mikrofilaria Wuchereria bancrofti yang khas bentuknya di dalam darah tepi. Kadang-kadang mikrofilaria juga ditemukan di dalam kiluria, eksudat varises limfe dan cairan hidrokel. Pada awal dari timbulnya gejala klinis mikrofilaria tidak dapat ditemukan. Juga mikrofilaria tidak dapat dijumpai sesudah terjadinya limfangitis akibat matinya cacing dewasa dan jika telah terjadi elefantiasis akibat obstruksi limfatik. Pada biopsi kelenjar limfe kadang-kadang dapat ditemukan cacing dewasa.
Pemeriksaan darah pasien menunjukkan adanya eosinofilia antara 5% - 15%.
Pemeriksaan imunologik misalnya Uji Fiksasi Komplemen, Uji Hemaglutinasi Tak langsung, atau Pemeriksaan Imunofluoresensi Tak langsung dapat dilakukan untuk membantu menegakkan diagnosa filariasis.
Pengobatan filariasis bancrofti. Pada saat ini yang paling banyak digunakan untuk mengobati filariasis bancrofti yaitu Dietilkarbamasin sitrat (Diethylcarbamazine citrat, DEC) yang diberikan dengan dosis 6 mg/kg berat badan /hari yang diberikan satu kali. DEC ditujukan untuk memberantas mikrofilaria, mengobati filariasis pada tahap akut, untuk mengobati kiluria, limfedema , dan diberikan pada tahap awal elefantiasis. DEC juga dapat diberikan dalam selama 14 hari dengan pengaturan dosis sebagai berikut: hari-1: 50 mg; hari ke-2: 3x50 mg; hari ke-3: 3x100 mg; hari ke-4 sampai dengan 14: 3x2 mg/kg berat badan/hari (Medical Letter, August 2004).
Pada pengobatan masal (mass treatment) di daerah edemis diberikan DEC 6 mg/ kg berat badan per hari yang diberikan satu kali satu bulan, sebanyak 12 kali.
Jika terjadi alergi atau timbul panas dan rasa sakit, antihistamin, analgetik dan antipiretik dapat diberikan sesuai dengan keperluan.
Jika hidrokel atau elephantiasis yang lanjut telah terjadi, komplikasi filariasis ini hanya dapat diatasi melalui pembedahan.
Pencegahan filariasis bancrofti. Untuk mencegah penularan filariasis tindakan-tindakan yang harus dilakukan yaitu melaksanakan pengobatan masal pada penduduk daerah endemis filariasis, pengobatan pencegahan terhadap pendatang yang berasal dari daerah non endemis filariasis, dan memberantas nyamuk yang menjadi vektor penularnya di daerah tersebut.
Selain itu, lingkungan harus diupayakan agar bebas nyamuk vektor penularnya dan mencegah gigitan nyamuk menggunakan repellent atau kelambu pada waktu tidur.
Brugia
ada dua spesies cacing Brugia yang memicu masalah kesehatan pada pasien , yaitu Brugia malayi dan Brugia timori. Brugia malayi tersebar di Asia, mulai dari India, Asia Tenggara, sampai ke Jepang, sedang Brugia timori hanya dijumpai di Indonesia bagian Timur, yaitu di Nusa Tenggara Timur. Brugia hanya ditemukan di daerah pedesaan (rural).
Di Indonesia ada dua spesies Brugia, yaitu Brugia malayi yang menimbulkan filariasis brugia atau filariasis malayi, dan Brugia timori memicu filariasis timori.
Brugia dewasa hidup di dalam saluran dan pembuluh limfe, sedang mikrofilaria dijumpai di dalam darah tepi hospes definitif.
Anatomi dan morfologi. Bentuk dewasa cacing Brugia mirip dengan bentuk cacing dewasa Wuchereria bancrofti, sehingga sulit dibedakan. Brugia malayi betina panjang badannya dapat mencapai 55 mm, sedang panjang cacing jantan hanya sekitar 23 cm. Panjang badan Brugia timori betina sekitar 39 mm sedang cacing jantan memiliki panjang badan sekitar 23 mm.
Stadium larva Brugia (mikrofilaria) memiliki selubung (sheath) yang panjangnya dapat mencapai 260 mikron pada Brugia malayi dan pada Brugia timori dapat mencapai 310 mikron. Mikrofilaria Brugia malayi memiliki ciri khas Morfologi, yaitu bentuk ekornya yang mengecil dan memiliki dua inti terminal, sehingga mudah dibedakan dari mikrofilaria Wuchereria bancrofti.
Daur hidup Brugia. Cacing Brugia ada yang termasuk parasit zoonotik, tetapi ada juga yang hanya hidup pada pasien . Hospes definitif Brugia yang zoonotik, selain pasien juga berbagai hewan mamalia sehingga dapat berperan selaku reservoir host. Brugiasis malayi memiliki bermacam-macam periodisitas, ada yang nocturnal periodic, nocturnal subperiodic, atau non periodic, sedang Brugia timori bersifat periodik nokturna.
Vektor penular brugiasis yaitu nyamuk Anopheles yang menjadi vektor brugiasis non zoonotik dan Mansonia yang menjadi vektor brugiasis zoonotik.
Gejala klinis dan diagnosa . Limfadenitis pada brugiasis berbeda dengan limfadenitis pada filariasis bancrofti. Pada brugiasis malayi limfadenitis yang terjadi pada satu kelenjar inguinal dapat menjalar ke bawah (limfangitis retrograd) dan dapat membentuk ulkus yang jika sembuh akan meninggalkan jaringan parut yang khas. Pada brugiasis malayi elefantiasis umumnya hanya terjadi pada tungkai bawah yang terletak di bawah lutut dan jarang terjadi di lengan bawah di bawah siku. Infeksi Brugia juga tidak pernah memicu limfangitis dan elephantiasis pada alat kelamin dan payu dara. Juga kiluria belum pernah dilaporkan terjadi pada pasien brugiasis.
diagnosa pasti brugiasis hanya dapat ditetapkan sesudah diperiksa darah tepi pasien untuk menemukan microfilaria Brugia yang khas bentuknya. Uji serologi dan pemeriksaan imunologik yang dilakukan terutama bertujuan untuk
meningkatkan kepekaan dalam menentukan diagnosa dini brugiasis.
Pengobatan dan pencegahan brugiasis. Seperti halnya pengobatan terhadap filariasis bancrofti, DEC merupakan obat pilihan untuk brugiasis. Obat ini dapat diberikan dengan dosis lebih rendah, yaitu 3x 0.3-2 mg/kg berat badan/hari, yang diberikan selama 3 minggu.
Pencegahan penularan brugiasis dilakukan sesuai dengan upaya pencegahan pada filariasis bancrofti, yaitu pengobatan pasien , pengobatan masal penduduk di daerah endemis, pengobatan pencegahan pada pendatang dan pemberantasan vektor penular filariasis malayi.
Occult filariasis
Occult filariasis yaitu filariasis limfatik yang disertai oleh hipersensitif terhadap antigen mikrofilaria, akibat terjadinya penghancuran mikrofilaria oleh antibodi yang dibentuk oleh pasien . Occult filariasis disebut juga tropical pulmonary eosinophilia.
Gejala klinis dan diagnosa . Occult filariasis menunjukkan gejala klinis berupa limfadenitis, kelainan paru disertai batuk dan sesak, demam subfebril, hepatomegali, dan splenomegali. Pada pemeriksaan darah tepi gambaran darah menunjukkan adanya hipereosinofilia dan leukositosis, disertai peningkatan kadar IgE dan zat anti mikrofilaria.
Pada biopsi jaringan kelenjar limfe, paru, limpa dan hati, dapat ditunjukkan adanya infiltrasi sel-sel eosinofil. Untuk menentukan diagnosa pasti occult filariasis harus dapat ditemukan adanya sisa-sisa mikrofilaria di antara infiltrasi sel eosinofil pada jaringan yang dibiopsi.
Pengobatan. Pada stadium awal Occult flariasis pengobatan dengan DEC dengan dosis 6 mg/kg per hari selama 12-21 hari memberikan hasil yang memuaskan, tetapi jika sudah terjadi fibrosis paru, kerusakan tersebut tidak dapat diperbaiki lagi.
Onchocerca volvulus
Onchocerca volvulus dewasa hidup di dalam jaringan subkutan pasien , sedang mikrofilarianya dapat ditemukan di jaringan kulit yang berada di dekat tempat hidupnya.
Mikroflaria jarang ditemukan di dalam darah tepi. Onchocerca volvulus yang disebut juga sebagai Filarial volvulus atau Onchocerca caecutiens ini memicu penyakit onkosersiasis, onkoserkosis, blinding filariasis, atau river blindness. Infeksi dengan Onchocerca volvulus dilaporkan tersebar di Afrika Barat, Afrika Timur, Amerika Tengah dan Selatan (Meksiko, Venezuela, Guatemala) dan pernah juga dilaporkan dari Yaman dan Arabia bagian Selatan.
Anatomi dan morfologi cacing. Onchocerca volvulus dewasa berbentuk seperti benang halus yang berwarna putih susu, dengan tubuh yang memiliki kutikulum yang menebal secara anuler. Ukuran panjang cacing jantan sekitar 4 cm, sedang cacing betina panjangnya dapat mencapai 50 cm.
Mikrofilaria Onchocerca tidak memiliki selubung (sheath), panjangnya dapat mencapai 360 mikron, sedang intinya tidak mencapai ujung ekor..
Daur hidup. pasien yaitu hospes definitif utama cacing Onchocerca volvulus, sedang simpanse dapat menjadi reservoir host. Hospes perantara dan vektor penular cacing ini yaitu Simulium. Di dalam tubuh lalat pengisap darah ini mikrofilaria berkembang menjadi larva infektif dalam waktu enam hari. InfeksiOnchocerca volvulus terjadi jika Simulium yang mengandung larva infektif menggigit pasien baru. Daur hidup filarial ini berlangsung mirip daur hidup Wuchereria bancrofti.
Perubahan patologi dan gejala klinis. Baik cacing dewasa maupun larva cacing Onchocerca dapat memicu kelainan patologis pada jaringan, misalnya pembentukan nodul subkutan dan timbulnya reaksi alergi pada pasien . Nodul subkutan umumnya terbentuk di daerah kulit yang terbuka, yaitu di tempat gigitan serangga.Seringkali terjadi lebih dari tiga benjolan dengan ukuran masing-masing sekitar 6 cm yang berisi cacing dewasa dan mikrofilaria. Akibat penyebaran mikrofilaria yang berasal dari nodul di daerah kepala atau wajah pasien ke dalam bola mata, pasien dapat mengalami konjungtivitis, iridosiklitis, glaukoma, katarak, dan bahkan menjadi buta. pasien juga bisa mengalami reaksi alergi berupa gatal-gatal dan kelainan kulit yang terjadi akibat reaksi tubuh terhadap adanya mikrofilaria cacing ini.
Infeksi Onchocerca volvulus dapat menimbulkan komplikasi misalnya terjadi hidrokel, elephantiasis genital, atau elephantiasis kaki. Dapat juga terbentuk hanging groin yaitu kantong kulit yang berisi kelenjar limfe femoral atau inguinal yang mengalami sclerosis,.
diagnosa . diagnosa pasti onkoserkosis dapat ditetapkan jika dapat ditemukan mikrofilaria atau cacing dewasa pada hasil biopsi kulit atau nodul. Onkoserkosis mata dapat diketahui jika dengan menggunakan lampu terlihat adanya gerakan mikrofilaria yang ada di dalam bola mata.
Pada pemeriksaan darah yang dilakukan untuk membantu menegakkan diagnosa didapatkan gambaran hipereosinofilia, sedang dengan pemeriksaan serologi misalnya dengan teknik antibodi fluoresen dapat diperkuat diagnosa onkosersiasis.
Pengobatan dan pencegahan. Terjadinya penyebaran mikrofilaria yang dapatmenimbulkan komplikasi yang dapat dicegah dengan melakukan enukleasi nodul.
Sebagai obat cacing pilihan yaitu Ivermectin dengan dosis 150 mcg/kg berat badan diberikan satu kali yang diulang tiap 6-12 bulan sampai tidak tampak gejala dan keluhan.
Pengobatan dengan dietilkarbamazin (DEC) dengan dosis 25 mg-200 mg per hari yang diberikan meningkat secara bertahap dapat membunuh mikrofilaria cacing ini, tetapi tidak mampu membunuh cacing dewasanya. Pemberian DEC disertai deksametason 80 mikrogram/kg berat badan per hari harus dilakukan di rumah sakit sebab mikrofilaria yang mati dapat menimbulkan reaksi alergi yang hebat (Mazzotti reaction),.
Memberantas lalat Simulium yang menjadi vektor penular parasit ini merupakan tindakan pencegahan yang terbaik. Gigitan vektor dapat dihindari dengan menggunakan repellen.
Loa loa
Cacing filaria yang juga dikenal sebagai cacing mata Afrika atau filaria oculi ini menimbulkan. penyakit loaiasis, atau Calabar swelling. Daerah sebaran filariasis ini meliputi Afrika Barat dan Afrika Tengah. Cacing dewasa hidup di dalam jaringan subkutan pasien dan bangsa primata. Mikrofilaria Loa loa beredar di dalam darah pada waktu siang hari sedang pada waktu malam hari mikrofilaria dapat ditemukan di dalam kapiler paru.
Anatomi dan morfologi
Cacing dewasa. Loa loa dewasa berbentuk benang halus yang berwarna putih susu. Kepala cacing berbentuk runcing dilengkapi sepasang papil lateral dan dua pasang papil submedian. Panjang cacing betina sekitar 7 cm, sedang cacing jantan memiliki ukuran panjang sekitar 4 cm.
Badan mikrofilaria Loa loa memiliki selubung (sheath) dan panjang badannya sekitar 300 mikron dengan susunan inti yang mencapai ujung ekor.
Daur hidup Loa loa. Sebagai hospes definitif utama cacing ini yaitu pasien , sedang Chrysops bertindak selaku hospes perantara dan juga vektor penular parasit ini. Mikrofilaria memiliki periodisitas diurna, sehingga stadium ini hanya dijumpai di dalam darah tepi pada waktu siang hari.
Mikrofilaria yang berada di dalam darah pasien jika terisap oleh Chrysops, di dalam tubuh lalat ini dalam waktu sekitar sepuluh hari mikrofilaria akan berkembang menjadi larva infektif. Perjalanan daur hidup kemudian berlangsung seperti daur hidup filaria pada umumnya.
Gejala klinis dan diagnosa . Loa loa dewasa yang mengembara di jaringan bawah kulit menimbulkan pembengkakan sebab terjadinya edema jaringan subkutan yang disebut Calabar swelling. Hal ini terjadi sebagai reaksi alergi hospes terhadap cacing ini. Cacing dewasa yang berada di konjungtiva dapat menimbulkan gangguan pada fungsi mata (occuli filariasis).
Untuk menegakkan diagnosa pasti loasis harus dapat ditemukan mikrofilaria di dalam darah atau didapatkan cacing dewasa dalam jaringan subkutan atau di dalam mata. Pada pemeriksaan darah tepi gambaran darah menunjukkan adanya eosinofilia.
Pengobatan dan pencegahan. Pemberian DEC dosis tunggal 6 mg/kg harus dilakukan dengan pengawasan, sebab pemberian obat ini dapat menimbulkan reaksi alergi yang berat pada pasien akibat mikrofilaria yang mati.
Pembedahan bisa dilakukan untuk mengeluarkan cacing dewasa pada waktu berada di permukaan jaringan punggung hidung atau pada waktu cacing tampak berada di konjungtiva mata.
Untuk mencegah penularan Loa loa pasien harus diobati dengan DEC secara teratur sebab pasien merupakan sumber infeksi. Selain itu harus dilakukan pemberantasan vektor dan mencegah gigitan Chrysops dengan menggunakan repellen.
Acanthocheilonema perstans
Filaria yang tersebar di daerah tropis Afrika, Amerika Selatan dan Amerika Tengah yang disebut juga Dipetalonema perstans, Mansonella perstans atau filaria persisten ini menimbulkan akantokeilonemiasis. Cacing dewasa hidup di dalam rongga peritoneum, rongga pleura atau kadang-kadang di dalam perikardium jantung pasien .
Anatomi dan morfologi
Cacing dewasa. Acanthocheilonema perstans dewasa berwarna putih kekuningan ini memiliki tubuh berbentuk silindris dan memiliki kutikulum yang halus. Cacing jantan memiliki ukuran panjang badan sekitar 45 mm, sedang cacing betina berukuran panjang sekitar 80 mm.
Mikrofilaria. Mikrofilaria yang panjangnya sekitar 200 mikron tidak berselubung, dengan susunan inti yang mencapai ujung ekor.
Daur hidup. pasien yaitu hospes definitif parasit ini sedang Culicoides bertindak sebagai hospes perantara.
Mikrofilaria bersifat subperiodik nokturna dengan perjalanan daur hidup cacing yang sesuai dengan filaria lainnya.Gejala klinis dan diagnosa . Stadium infektif Acanthocheilonema perstans masuk ke dalam tubuh pasien melalui gigitan vektor. Parasit ini tidak banyak menimbulkan kelainan patologis pada jaringan tubuh pasien sebab cacing ini mampu dengan baik menyesuaikan hidupnya di dalam tubuh hospes.
Untuk menetapkan diagnosa pasti infeksi Acanthocheilonema perstans harus ditemukan mikrofilaria di dalam darah tepi pasien . Untuk membantu menegakkan diagnosa dapat dilakukan pemeriksaan serologi misalnya uji hemaglutinasi atau uji flokulasi bentonit.
Pengobatan dan pencegahan. Sebagai obat pilihan dapat diberikan Albendazol 2x400 mg selama 10 hari atau Mebendazol dengan dosis 2x100 mg selama 30 hari. Dietilkarbamasin (DEC) dapat digunakan untuk membunuh cacing dewasa, tetapi tidak dapat memberantas mikrofilaria cacing ini. Selain itu pencegahan sulit dilakukan sebab vektor penularnya (Culicoides ) sukar diberantas.
Mansonella ozzardi
Cacing yang juga dikenal sebagai Filaria ozzardi ini menimbulkan filariasis ozzardi, atau mansoneliasis ozzardi yang banyak dilaporkan dari Amerika Tengah dan Amerika Selatan. Mansonella ozzardi dewasa dapat ditemukan hidup di dalam rongga tubuh, di dalam mesenterium atau di dalam jaringan lemak visera, sedang mikrofilaria cacing dapat ditemukan di dalam darah tepi.
Anatomi dan morfologi cacing
Cacing dewasa. Badan cacing dewasa memiliki kutikulum yang halus. Panjang tubuh cacing jantan sekitar 38 mm, sedang cacing betina panjang badannya dapat mencapai 81 mm.
Mikrofilaria. Mikrofilaria yang tidak berselubung memiliki ukuran panjang sekitar 240 mikron dengan inti yang tidak mencapai ujung ekor.
Daur hidup. pasien merupakan hospes definitif cacing ini sedang Culicoides bertindak sebagai hospes perantara.
Gejala klinis dan diagnosa . Mansonella ozzardi jarang menimbulkan kelainan patologis pada jaringan dan organ pasien meskipun pernah dijumpai terjadinya hidrokel dan pembesaran kelenjar limfe. Bentuk mikrofilaria Mansonella ozzardi yang khas yang ditemukan di dalam darah tepi menegakkan diagnosa pasti infeksi cacing ini.
Pengobatan dan pencegahan. Infeksi Mansonella ozzardi dapat diobati dengan Ivermectin dengan dosis tunggal 200 mcg/kg berat badan. Pencegahan penularan parasit ini juga sulit dilakukan sebab vektor penularnya yaitu Culicoides sukar diberantas.
Dracunculus medinensis
Filaria yang termasuk dalam superfamili Dracunculoidea yang disebut juga sebagai cacing medina, cacing naga, atau Filaria medinensis ini memicu drakunkulosis atau drakunkuliasis. Penyakit ini dilaporkan tersebar di India, Myanmar, Arab, Afrika, Amerika Selatan dan Amerika Tengah.
Larva akan ke luar dari tubuh cacing dewasa jika kulit pasien berhubungan dengan air, kemudian masuk dan hidup di dalam air.
Anatomi dan morfologi
Cacing dewasa. Dracunculus medinensis dewasa yang badannya berbentuk silindris, berwarna putih susu. Panjang cacing betina dapat mencapai 120 cm, sedang panjang cacing jantan sekitar 40 mm. Bentuk larva cacing filiform, dengan panjang badan yang dapat mencapai 750 mikron.
Gambar 158. Larva Dracunculus medinensis.
(Sumber: Colorado State University)
Daur hidup. pasien yaitu hospes definitif parasit ini, sedang cyclops bertindak sebagai hospes perantara. Jika larva yang masuk ke dalam air dimakan cyclops, larva kemudian akan tumbuh menjadi stadium infektif di dalam tubuh
cyclops. Pada pasien infeksi terjadi sebab pasien minum air yang tercemar cyclops yang infektif. Di dalam lambung pasien larva akan ke luar dari badan cyclops lalu menembus dinding usus, masuk ke jaringan retroperitoneum dan berkembang menjadi cacing dewasa jantan dan betina yang kemudian mengadakan kopulasi. Cacing betina yang gravid lalu menuju ke permukaan tubuh dan membentuk ulkus pada kulit.
Gambar 159. Daur hidup Dracunculus medinensis
Gejala klinis dan diagnosa . Cacing betina dapat memicu terjadinya ulkus pada kulit. Cacing j