Jumat, 06 Desember 2024

parasitologi 6






















 at, berukuran sekitar 50x25 mikron dan memiliki  dua kutub jernih yang 

Daur hidup. Telur cacing ini mengalami pematangan dan menjadi infektif  di tanah dalam waktu 3-4 minggu lamanya Jika pasien  tertelan telur cacing yang infektif, maka di dalam usus halus dinding telur pecah dan larva ke luar menuju sekum lalu berkembang menjadi cacing dewasa. Dalam waktu satu bulan sejak masuknya telur infektif ke dalam mulut, cacing telah menjadi dewasa dan cacing betina sudah mulai mampu bertelur. Trichuris trichiura dewasa dapat hidup beberapa tahun lamanya di dalam usus pasien .



Gambar 130. Daur hidup Trichuris trichiura

Gejala klinis dan diagnosa . sebab  Trichuris trichiura dewasa melekatkan diri pada usus dengan cara menembus dinding usus, maka hal ini dapat memicu timbulnya trauma dan kerusakan pada jaringan usus. Cacing dewasa juga dapat menghasilkan toksin yang memicu iritasi dan keradangan usus.

Infeksi ringan trichuriasis dengan beberapa ekor cacing umumnya tidak menimbulkan keluhan bagi pasien . Pada infeksi yang berat, pasien  akan mengalami gejala dan keluhan berupa  anemia berat dengan hemoglobin yang dapat  kurang dari tiga persen, diare yang berdarah, nyeri perut, mual dan muntah dan berat badan yang menurun. Kadang-kadang dapat terjadi prolaps rectum yang dengan melalui pemeriksaan proktoskopi dapat dilihat adanya cacing-cacing dewasa pada kolon atau rektum pasien .

Pada pemeriksaan darah pasien  yang mengalami infeksi cacing yang berat, hemoglobin darah dapat berada di bawah 3 g%. Selain itu darah menunjukkan gambaran eosinofilia  dengan eosinofil lebih dari  3 %. Pada pemeriksaan tinja  pasien  dapat ditemukan telur Trichuris trichiura  yang khas bentuknya.

diagnosa  pasti trikuriasis ditegakkan dengan  melakukan pemeriksaan tinja untuk menemukan telur cacing yang khas bentuknya. Pada infeksi yang berat pemeriksaan proktoskopi dapat menunjukkan adanya cacing dewasa yang berbentuk cambuk yang melekat pada rektum pasien .


Pengobatan trikuriasis. sebab  cacing dewasa membenamkan kepalanya di dalam dinding usus, maka pengobatan terhadap infeksi cacing ini sukar dilakukan dengan cepat. Untuk memberantas cacing Trichuris trichiura sebaiknya diberikan kombinasi  dua obat cacing  secara bersama-sama, yaitu kombinasi Pirantel pamoate dan Oksantel pamoat.

Pirantel pamoat  diberikan dengan dosis 10 mg/kg berat badan dan oksantel pamoat  dengan dosis 10-20 mg/kg berat badan/hari. Kombinasi obat ini diberikan bersama dalam bentuk  dosis tunggal.

Jika hanya diberikan satu jenis obat saja, maka obat pilihan yang dapat  diberikan yaitu  Mebendazol  dengan dosis 2x100 mg /hari selama 3 hari berturut-turut atau  500 mg dosis tunggal. Sebagai  obat pengganti dapat diberikan  Albendazol dengan dosis 400 mg selama 3 hari atau Ivermectin dengan dosis 200 mcg/kg berat badan per hari selama 3 hari. Nitazoxanide dapat juga diberikan sebagai obat pengganti dengan dosis dewasa 500 mg selama 3 hari dan dosis anak 2x 100 mg (umur 1-3 tahun) dan 2x200 mg (umur 4-11 tahun) selama 3 hari. Levamisol  dapat diberikan dengan dosis tunggal 2.5 mg/kg berat badan/hari.

pasien  yang mengalami anemia diobati dengan preparat besi disertai dengan  perbaikan gizi pasien .


Pencegahan. Untuk mencegah penularan trikuriasis selain dengan mengobati pasien  juga dilakukan pengobatan masal untuk mencegah terjadinya  reinfeksi di daerah endemis. Higiene sanitasi perorangan dan lingkungan harus dilakukan untuk mencegah terjadinya pencemaran lingkungan oleh tinja pasien , misalnya dengan  membuat WC atau jamban yang baik di setiap rumah. Makanan dan minuman harus selalu dimasak dengan baik untuk dapat membunuh telur infektif cacing Trichuris trichiura.

CACING TAMBANG 


 Beberapa jenis cacing tambang dapat menimbulkan penyakit pada pasien .  Ancylostoma duodenale dewasa menimbulkan ankilostomiasis, cacing dewasa Necator americanus menimbulkan nekatoriasis, larva Ancylostoma braziliensis dan larva Ancylostoma caninum yang memicu dermatitis (creeping eruption).

Sebaran cacing tambang sangat luas ke seluruh dunia, terutama di daerah tropis dan subtropis yang bersuhu panas dan memiliki  kelembaban yang tinggi. Infeksi cacing-cacing ini banyak dijumpai pada pekerja tambang di Eropa, Cina, dan Jepang, sehingga cacing-cacing ini disebut cacing tambang. 

Cacing tambang yang menginfeks penduduk Indonesia dipicu oleh Necator americanus  yang memicu nekatoriasis dan Ancylostoma duodenale yang menimbulkan ankilostomiasis.


Ancylostoma duodenale  dan Necator americanus  


Ancylostoma duodenala dan Necator americanus dewasa hidup di dalam usus halus, terutama di jejunum dan duodenum pasien  dengan cara mengigit membran mukosa menggunakan giginya, dan mengisap darah yang keluar dari luka gigitan


Anatomi dan morfologi. 

Cacing dewasa. Cacing tambang dewasa berbentuk silindris berwarna putih keabuan. Ukuran panjang cacing betina antara 9 sampai 13 mm, sedang cacing jantan berukuran panjang antara 5 dan 11 mm. 

Di ujung posterior tubuh cacing jantan ada  bursa kopulatriks (bursa copulatrix), suatu alat bantu kopulasi. 

Ancylostoma duodenala dan Necator americanus dewasa dapat dibedakan morfologinya berdasar bentuk tubuh, rongga mulut dan bentuk bursa kopulatriksnya. Dengan pemeriksaan mikroskopis atas tinja, bentuk telur berbagai cacing tambang sukar dibedakan. Ancylostoma duodenale. Tubuh cacing Ancylostoma duodenale dewasa  mirip huruf C. Rongga mulutnya memiliki dua pasang gigi dan satu pasang tonjolan. Cacing betina memiliki  spina kaudal.


Necator americanus. Ukuran tubuh Necator americanus dewasa lebih kecil dan lebih langsing dibanding badan Ancylostoma duodenale. Tubuh bagian anterior cacing melengkung berlawanan dengan lengkungan bagian tubuh lainnya  sehingga bentuk tubuh yang mirip huruf S. Di bagian rongga mulut ada  2 pasang alat pemotong (cutting plate). Berbeda dengan Ancylostoma duodenale, di bagian kaudal badan cacing betina tidak ada  spina kaudal (caudal spine).


Telur. Pada pemeriksaan tinja di bawah mikroskop sinar, bentuk telur berbagai spesies cacing tambang mirip satu dengan lainnya, sehingga  sukar dibedakan. Telur cacing tambang berbentuk lonjong, tidak berwarna, berukuran sekitar 65 x 40 mikron. Telur cacing tambang yang berdinding tipis dan tembus sinar ini mengandung embrio yang memiliki  empat blastomer.


Larva cacing tambang. Cacing tambang memiliki  dua stadium larva, yaitu larva rhabditiform yang tidak infektif dan larva filariform yang infektif. Kedua jenis larva ini mudah dibedakan sebab  larva rabditiform bentuk tubuhnya agak gemuk dengan panjang sekitar 250 mikron, sedang  larva filariform yang berbentuk langsing panjang tubuhnya sekitar 600 mikron. 

Selain itu bentuk rongga mulut (buccal cavity) larva rabditiform tampak jelas, sedang  pada filariform tidak sempurna, sudah mengalami kemunduran. Usofagus larva rabditiform pendek ukurannya dan membesar di bagian posterior sehingga berbentuk bola (bulbus esophagus). Usofagus larva filariform lebih panjang dibanding ukuran panjang larva rabditiform. 

Larva filariform cacing Ancylostoma duodenale dapat dibedakan dari larva filariform Necator americanus dengan melihat selubung (sheat) larva.

Di  bagian luar tubuh larva filariform cacing tambang ada  selubung yang tembus sinar. Selubung larva filariform Necator americanus menunjukkan adanya garis-garis melintang, yang tidak ada  pada selubung larva filariform Ancylostoma duodenale.

Daur hidup cacing tambang. Daur hidup Ancylostoma duodenale maupun Necator americanus hanya membutuhkan satu jenis hospes definitif, yaitu pasien . Tidak ada hewan yang bertindak sebagai hospes reservoir.

Sesudah keluar dari usus pasien , telur cacing tambang yang jatuh di tanah  dalam waktu dua hari akan tumbuh menjadi larva rabditiform yang tidak infektif sebab  larva ini dapat hidup bebas di tanah. Sesudah berganti kulit dua kali, larva rabditiform dalam waktu satu minggu akan berkembang menjadi larva filariform yang infektif yang tidak dapat mencari makan dengan bebas di tanah. 

Untuk dapat berkembang lebih lanjut  larva filariform harus mencari hospes definitif, yaitu pasien . Larva filariform akan menginfeksi kulit pasien , menembus pembuluh darah dan limfe selanjutnya masuk ke dalam darah dan mengikuti aliran darah menuju jantung dan paru-paru. 


Gambar 137 . Daur hidup cacing tambang


Lung migration. Sesudah larva filariform menembus kulit sehat pasien , larva ini akan memasuki pembuluh darah dan limfe,  beredar di dalam aliran darah, masuk ke jantung kanan, lalu masuk ke dalam kapiler paru. Kemudian larva filariform menembus dinding kapiler masuk ke dalam alveoli. Sesudah berganti kulit dua kali larva cacing mengadakan migrasi ke bronki, trakea, laring dan faring, akhirnya tertelan masuk ke dalam saluran usofagus. Di dalam lumen usofagus larva berganti kulit untuk yang ketiga kalinya. Migrasi larva berlangsung sekitar sepuluh hari. 

Dari usofagus larva masuk ke usus halus, berganti kulit yang keempat kalinya, lalu tumbuh menjadi cacing dewasa jantan dan betina. Dalam waktu satu bulan, cacing betina sudah mampu bertelur untuk melanjutkan keturunannya..


Perubahan patologis dan gejala klinis. Cacing tambang dewasa maupun larva cacing filariform dan larva yang mengadakan lung migration dapat menimbulkan perubahan patologis pada jaringan organ pasien . Cacing dewasa yang berada di dalam usus terus menerus mengisap darah pasien . Seekor cacing dewasa Necator americanus dapat memicu hilangnya darah pasien  sampai 0.1 cc per hari, sedang  seekor cacing Ancylostoma duodenale dapat menimbulkan kehilangan darah sampai 0.34 cc per hari. 

Pada waktu larva filariform menembus kulit pasien  larva cacing menimbulkan dermatitis dengan gatal-gatal yang hebat (ground itch). sedang  larva cacing tambang yang beredar di dalam darah (lung migration) akan menimbulkan bronkitis dan reaksi alergi yang ringan .


diagnosa  cacing tambang. Kelainan patologis yang ditimbulkan oleh cacing tambang dewasa maupun larvanya memicu terjadinya banyak keluhan dan gejala klinis yang tidak khas. Untuk menentukan diagnosa  pasti infeksi cacing tambang harus dilakukan pemeriksaan mikroskopis atas tinja untuk menemukan telur cacing.

Keluhan pasien  dan gambaran klinis infeksi cacing tambang dapat berupa:

(1) anemia hipokromik  mikrositer dan  gambaran umum kekurangan darah (pucat, perut buncit, rambut kering dan mudah lepas),  

(2) gangguan pencernaan berupa rasa tak enak di epigastrium, sembelit, diare atau steatore, 

(3) ground-itch (gatal kulit di tempat masuknya larva filariform), dan 

(4) gejala bronkitis akibat adanya larva di dalam paru yang menimbulkan batuk-batuk yang  kadang-kadang disertai dahak berdarah. 


sebab  itu diagnosa  banding untuk infeksi cacing tambang yaitu  penyakit-penyakit pemicu lain anemia, tuberkulosis dan penyakit-penyakit pemicu gangguan perut lainnya.Pada pemeriksaan darah pasien  infeksi cacing tambang menunjukkan gambaran: hemoglobin yang menurun  sampai kurang dari  11,5 g/dl  pada pasien  perempuan dan kurang dari  13,5 g/dl  pada pasien  laki-laki. Selain itu gambaran darah juga menunjukkan MCHC (Mean Corpuscular Hemoglobin Concentration) yang kurang dari  31-36 g/dl. 

Hapusan darah tepi menunjukkan gambaran: hipokromik mikrositer, leukopenia dengan limfositosis relatif, dengan jumlah leukosit  kurang dari  4.000/ml, eosinofilia yang dapat mencapai 30% dan anisositosis, atau  poikilositosis. 

Pada pemeriksaan sumsum tulang ada  gambaran yang menunjukkan  hiperplasia  normoblastik.Pengobatan infeksi cacing tambang. pasien  infeksi cacing tambang pada umumnya mengalam anemia yang bisa berat. sebab  itu pengobatan pasien  selain ditujukan untuk memberantas cacingnya juga dilakukan untuk mengatasi anemianya: 

(a). Obat cacing. Obat-obat cacing yang efektif untuk memberantas cacing tambang antara lain yaitu  Albendazol, Mebendazol, Levamisol, dan Pirantel pamoat yang dapat diberikan per oral. 

Albendazol diberikan sebagai dosis tunggal sebesar 400 mg, diberikan satu kali.

 Mebendazol diberikan dengan dosis untuk orang dewasa dan  anak berumur di atas dua tahun sebesar  2x 100 mg selama 3 hari.  Jika telur masih positif, obat ini bisa diulang 3-4 minggu kemudian. Dosis tunggal 500-600 mg juga efektif untuk mengatasi infeksi cacing tambang. 

Pirantel pamoat. Obat yang hanya efektif untuk mengobati Ancylostoma duodenale ini, diberikan dalam bentuk dosis 10-11 mg/kg berat badan (maksimum 1.0 g )  selama 3 hari. 

Levamisol. Obat ini diberikan sebanyak 120 mg levamisol base sebagai dosis tunggal untuk orang dewasa. Pada anak levamisol base diberikan dengan dosis 2.5 mg/kg berat badan sebagai dosis tunggal.

(b). Pengobatan anemia. Anemia pasien  diobati menggunakan sediaan zat besi (Fe) yang diberikan per oral atau parenteral. 


Pencegahan infeksi cacing tambang. Di daerah endemis Ancylostoma duodenale dan Necator americanus penduduk sering mengalami reinfeksi. Infeksi baru maupun reinfeksi dapat dicegah dengan  memberikan obat cacing  kepada pasien  dan sebaiknya juga dilakukan pengobatan masal pada seluruh penduduk di daerah endemis. Pendidikan kesehatan diberikan pada penduduk untuk membuat  jamban pembuangan tinja (WC)  yang baik untuk mencegah pencemaran tanah, dan jika berjalan di tanah selalu menggunakan alas kaki untuk mencegah terjadinya infeksi pada kulit oleh larva filariform cacing tambang 

Strongyloides stercoralis


Strongyloides stercoralis yang juga disebut sebagai cacing benang (threadworm) memicu infeksi strongiloidiasis pada pasien  maupun hewan. Cacing ini termasuk  cacing zoonosis  yang tersebar luas di seluruh dunia terutama di daerah tropis yang tinggi kelembabannya. Tempat hidup cacing betina dewasa yaitu  di dalam membrana mukosa usus halus, terutama di daerah duodenum dan jejunum pasien  dan beberapa jenis hewan. Strongyloides stercoralis jantan jarang ditemukan di dalam usus hospes definitifnya.


Anatomi dan morfologi

Cacing dewasa. Strongyloides stercoralis betina berbentuk seperti benang halus yang tidak berwarna, tembus sinar dan memiliki  kutikel yang bergaris-garis. Cacing betina yang parasitik memiliki  ukuran panjang tubuh sekitar 2,2 mm. Rongga mulut cacing pendek, sedang  esofagusnya panjang, langsing dan berbentuk silindrik. ada  sepasang uterus yang berisi telur.

Cacing jantan hidup bebas, berukuran lebih kecil dibanding cacing betina, memiliki  ekor yang melengkung.ang langsing bentuknya, berukuran sekitar 600 mikron x 20 mikron, memiliki  esofagus yang lebih panjang dari ukuran esofagus cacing tambang. Ekor larva filariform Strongyloides stercoralis bercabang yang merupakan ciri khas larva filariform cacing ini. 


Tabel 11. Diferensiasi Morfologi larva cacing tambang dan Strongyloides stercoralis


(a). Larva rabditiform

Daur hidup. Daur hidup Strongyloides stercoralis tidak memerlukan hospes perantara. Cacing dewasa hidup di dalam usus pasien  yang bertindak sebagai hospes definitifnya, sedang  beberapa jenis hewan dapat bertindak sebagai  reservoir host yang menjadi sumber penularan bagi pasien . 

Di dalam mukosa usus telur cacing dikeluarkan oleh induk cacing dan segera menetas menjadi larva rabditiform. Larva ini akan berkembang melalui tiga jalur daur hidup:

Daur hidup Langsung. Bersama tinja pasien  larva rabditiform jatuh ke tanah, tumbuh menjadi larva filariform yang infektif. Larva filariform menembus kulit hospes, menjalani lung migration, dan selanjutnya berkembang menjadi cacing dewasa di dalam usus pasien .

Daur hidup Tak Langsung. Larva rabditiform yang bersama tinja pasien  jatuh di tanah, berkembang langsung menjadi cacing dewasa yang hidup bebas (free living). Cacing-cacing dewasa lalu melahirkan larvalarva rabditiform yang kemudian berkembang menjadi larva filariform yang infektif. Larva filariform menembus kulit hospes, diikuti terjadinya lung migration, kemudian tumbuh dan berkembang menjadi cacing dewasa di dalam usus pasien . 

Autoinfection. Larva rabditiform yang ada  di dalam usus berubah menjadi larva filariform, yang kemudian menembus mukosa usus dan berkembang menjadi cacing dewasa.Perubahan patologis dan gejala klinis. Infeksi ringan Strongyloides stercoralis pada umumnya tidak menunjukkan gejala klinis yang jelas. Perubahan patologis yang terjadi dapat dipicu oleh larva cacing maupun oleh cacing dewasa. Pada waktu menembus kulit pasien  larva cacing menimbulkan dermatitis disertai urtikaria dan pruritus. Jika larva cacing yang mengadakan migrasi paru banyak jumlahnya, hal ini dapat memicu terjadinya pneumonia (eosinophilic pneumonia atau Lofflers syndrome) dan batuk darah.

Strongyloides stercoralis dewasa yang berada di dalam mukosa usus pasien  dapat menimbulkan diare yang berdarah disertai lendir. Jika cacing dewasa melakukan invasi ke mukosa lambung, maka akan  terjadi nyeri epigastrium yang berat. Infeksi yang berat dengan Strongyloides stercoralis dapat memicu kematian pasien .


diagnosa  strongiloidosis. diagnosa  pasti strongiloidosis dapat ditegakkan jika  dapat ditemukan larva rhaditiform pada tinja segar pasien . Jika larva rabditiform dibiakkan dalam biakan tinja, maka dalam waktu tiga hari akan terbentuk larva filariform dan juga cacing dewasa yang hidup bebas dalam sediaan yang sama. Baik larva rabditiform maupun larva filariform Strongyloides stercoralis dapat dibedakan dari larva-larva cacing tambang.


Pengobatan. Sebagai obat pilihan untuk memberantas infeksi cacing  Strongyloides stercoralis dapat digunakan Albendazol dengan dosis (dewasa dan anak)  2x400 mg selama 2 hari. Tiabendazol sebagai pengganti obat pilihan dapat diberikan per oral sesudah makan dengan dosis 25 mg/kg berat badan per hari, terbagi dalam 3 dosis pemberian, dengan lama pengobatan 3 hari atau lebih. 

Sebagai obat pengganti juga dapat menggunakan Ivermectin dengan dosis 200 mcg/ kg per hari yang diberikan selama 2 hari. 

Obat-obat lainnya, misalnya levamisol, Mebendazol dan pirantel pamoate dapat juga digunakan, meskipun hasilnya kurang memuaskan.


Pencegahan. Oleh sebab  adanya hewan-hewan sebagai hospes reservoir pada daur hidup Strongyloides stercoralis, maka pencegahan strongiloidiasis lebih sulit dilakukan dibanding pencegahan terhadap infeksi cacing tambang. Terjadinya autoinfeksi di usus pasien  dan ada nya daur hidup bebas Strongyloides stercoralis di tanah juga makin menyulitkan pemberantasan  parasit ini.


Trichinella spiralis 


Cacing yang memiliki  nama lain ini umumnya  disebut sebagai cacing trikina. Trichinella spiralis tersebar luas di seluruh dunia, terutama di  negara-negara  yang  penduduknya banyak mengkonsumsi daging babi  yang  tidak dimasak dengan sempurna, misalnya di Eropa dan Amerika Utara. Di Asia epidemi infeksi cacing ini (trikinosis) pernah dilaporkan dari Thailand, Siria dan India. Penelitian serologis pada penduduk Bensbach di Papua New Guinea menunjukkan prevalensi trichinosis sebesar 28.9%.


Tempat hidup cacing. Cacing  dewasa maupun  larva cacing dapat ditemukan bersama-sama di dalam satu tubuh  hospes definitif. Cacing  dewasa  Trichinella spiralis hidup di  dalam  mukosa duodenum dan jejunum hospes definitif misalnya babi, tikus dan pasien  serta anjing, kucing, beruang dan berbagai mamalia lainnya.  sedang  larva cacing ditemukan dalam bentuk  kista  di dalam otot-otot bergaris hospes definitif.


Anatomi dan morfologi

Cacing dewasa. Ukuran panjang cacing  jantan Trichinella spiralis antara 1.4  mm  sampai 1.6 mm, sedang  cacing betina berukuran lebih panjang dapat  mencapai  4  mm. Ujung anterior cacing berbentuk langsing dengan mulut tanpa papil. Ujung  posterior  cacing  bentuknya bulat tumpul pada cacing betina,  sedang pada yang jantan melengkung ke arah ventral. Di bagian posterior cacing jantan ada   2  buah papil yang membedakan  bentuknya  dari cacing  betina. Trichinella spiralis betina memiliki  satu ovarium dengan vulva terletak di seperlima anterior dari badan. Cacing betina tidak  bertelur  melainkan melahirkan  larvanya (vivipaar). Alat pencernaan cacing panjang dan sempit


Larva. Panjang larva  cacing  dapat mencapai 100 mikron, namun di dalam otot hospes definitif umumnya larva ada  dalam bentuk kista. Dalam bentuk kista, larva dapat tetap hidup 6 bulan  bahkan bisa mencapai 30 tahun. Jaringan hospes yang mengandung larva Trichinella infektif bagi mamalia lain yang memakannya. Daur hidup. Trichinella spiralis dewasa maupun larvanya ada  di dalam satu tubuh hospes yang sama, namun untuk dapat melengkapi daur hidupnya cacing ini membutuhkan dua hospes yang satu jenis yang sama atau dari jenis yang berbeda. Sebagai contoh, daur hidup Trichinella spiralis pada tikus hutan misalnya, hanya dibutuhkan satu jenis hospes yaitu tikus oleh sebab  adanya sifat kanibalis pada tikus yang memakan sesamanya.

Selain pasien ,  babi  dan  tikus  yang menjadi hospes  definitif cacing ini, cacing Trichinella spiralis juga dapat  hidup di dalam  tubuh  anjing, kucing dan  beruang. Di lingkungan  alami,   daur hidup  cacing  ini  dapat   berlangsung diantara   kelompok  hewan yang bersifat kanibalis, misalnya kelompok tikus. Babi juga bisa terinfeksi  cacing in sebab  makan sampah yang  mengandung  daging tikus  mati. 



Gambar 143. Daur hidup Trichinella spiralis. 

pasien  umumnya terinfeksi Trichinella spiralis sebab   makan daging babi  mentah yang  mengandung  kista   larva   cacing atau daging dimasak kurang matang. Pada waktu berada di dalam usus halus dinding kista pecah dan larva akan terlepas, lalu segera memasuki mukosa usus. Dalam waktu dua hari larva cacing akan berkembang menjadi cacing dewasa. Seekor Trichinella spiralis betina  dapat melahirkan sampai 1500 larva yang dilepaskan di dalam mukosa usus. Kemudian larva memasuki aliran darah dan limfe, menyebar ke berbagai organ dan bagian tubuh lainnya, terutama ke otot-otot gerak misalnya otot lidah, diafragma, mata, laring, otot biseps, otot perut, deltoid dan otot gastroknemius. Larva terutama tersebar memasuki otot-otot yang miskin glikogen, membentuk kista di daerah tersebut dan tetap infektif dalam waktu lama. Antara bulan ke enam sampai bulan ke sembilan mulai terjadi perkapuran kista.


Perubahan patologi jaringan dan organ. Gejala dan keluhan pasien  mulai terjadi dua hari sesudah tertelannya kista larva yang infektif. Cacing dewasa yang berasal dari perkembangan  larva  yang melakukan iinvasi ke dalam mukosa usus dapat memicu terjadinya kelainan patologis pada organ dan jaringan. 

Larva yang dilahirkan oleh induk cacing yang menyebar ke dalam otot-otot gerak menimbulkan keradangan endovaskuler dan perivaskuler akut yang memicu  terjadinya nyeri otot rematik, diikuti gangguan bernapas, mengunyah dan berbicara. Selain itu dapat terjadi kelumpuhan yang spastik pada otot ekstremitas, diikuti edema sekitar mata, hidung dan tangan. Pembesaran kelenjar limfe juga dapat terjadi. 

Migrasi larva dapat memicu terjadinya nekrosis otot jantung yang menimbulkan miokarditis, yang merupakan komplikasi berat pada pederita trikinosis. Komplikasi lainnya yaitu  endefalitis, meningitis, tuli, gangguan mata dan diplegia.

Pada masa enkistasi  atau masa tahap tiga,  terjadi edema toksik atau dehidrasi beratyang merupakan masa krisis dengan terjadinya penurunan tekanan darah pasien   yang dapat menimbulkan kolaps. Selain itu tampak juga gejala-gejala  neurotoksik dan komplikasi lain misalnya miokarditis, pneumonia, peritonitis, dan nefritis.

Pada infeksi ringan trikinosis penyembuhan terjadi dalam waktu dua minggu, sedang   pada infeksi yang berat penyembuhan baru terjadi pada minggu kedelapan.


Gejala klinis. Gejala klinis dan keluhan pasien  trikinosis pada pasien  tidaklah khas. Masa inkubasi yang lamanya  10 hari sejak  masuknya kista cacing bersama daging babi yang infektif, diikuti oleh keluhan gastrointestinal pasien  berupa  sakit perut,   mual,  muntah  dan   diare. pasien  kemudian mengalami  nyeri  hebat pada  otot-otot  gerak,  diikuti gangguan    bernapas, gangguan   menelan  dan sukar berbicara. Kelenjar-kelenjar limfe  juga akan  membesar disertai edema  sekitar  mata, hidung  dan  tangan.  Jika terjadi nekrosis otot jantung, pasien  akan mengalami miokarditis yang dapat memicu kan kematian pasien . 

Selain itu pasien  dapat juga mengalami radang otak (ensefalitis) dan  radang  selaput otak (meningitis), tuli, gangguan mata, gejala neurotoksik misalnya neuritis perifer, halusinasi, delirium, disorientasi atau mengalami komplikasi berupa miokarditis, pnemonia, peritonitis dan nefritis. 


diagnosa   pasti . Untuk menetapkan diagnosa   pasti trikinosis  harus dapat ditemukan cacing dewasa atau larva cacing. Cacing dewasa atau larva mungkin dijumpai pada tinja  pasien  pada waktu mengalami diare. Di dalam darah, cairan otak atau dalam air susu ibu, larva yang beredar sulit ditemukan. Cara yang lebih  memungkinkan yaitu   menemukan larva cacing melalui biopsi otot  atau biopsi organ  atau ditemukan larva cacing  pada waktu dilakukan otopsi  atas  pasien  yang sudah meninggal dunia.

Pemeriksaan darah tepi, uji serologi dan pemeriksaan radiologi merupakan sarana bantu untuk menegakkan diagnosa  trikinosis.

(1). Pemeriksaan darah tepi : menunjukkan adanya gambaran eosinofilia.

(2). Uji serologi: beberapa jenis uji serologi, misalnya Uji Fiksasi  Komplemen, Uji Presipitin, Uji  Aglutinasi dan Uji Flokulasi Bentonit  dapat membantu menegakkan diagnosa  trikinosis.  Dengan menggunakan antigen pada pengenceran 5000-10,000 kali, hasil positif dapat dibaca dalam waktu 20 menit.

(3). Pemeriksaan  radiologi dapat membantu  menunjukkan adanya kista pada jaringan atau organ tubuh pasien .

Prognosis. Infeksi yang  ringan pada trikinosis memiliki   prognosis yang baik, dan pada infeksi berat prognosisnya sangat buruk. Tidak adanya eosinofili atau eosinofili yang ringan menunjukkan prognosis yang buruk.Pengobatan trikinosis. Untuk mengobati trikinosis sebagai obat pilihan dapat diberikan Mebendazol dengan dosis 3x 200-400mg selama 3 hari, lalu diikuti dengan dosis 3x 400-500 mg selama 10 hari. Sebagai obat pengganti dapat diberikan Albendazol dengan dosis 2x400 mg selama 8-14 hari. 

Obat cacing lainnya yang dapat diberikan yaitu  Tiabendazol selama  1 minggu,  dengan dosis 25 mg/kg berat badan/hari yang terbagi dalam 3 dosis pemberian. 

Pada pengobatan trikinosis yang berat dan pada pengobatan dengan Tiabendazol harus disertai pemberian  kortikosteroid dosis rendah secara bertahap dan  hati-hati,  untuk  mengurangi gejala dan  keluhan  pasien . 

Terhadap nyeri otot dan sakit kepala pasien   dapat  diberikan  analgetika,  sedang   gejala   dan keluhan   neurologik  dapat  diobati   dengan  penenang.


Pencegahan. Untuk mencegah penularan trikinosis, harus dilakukan pemeriksaan daging babi  yang  akan dijual. 

Memasak  daging  babi  dengan  sempurna   sebelum dimakan dapat mengurangi penyebaran trikinosis. Membekukan daging  babi  dan daging lainnya  dapat  membunuh  kista cacing.   

Selain   itu  babi  yang diternakkan  harus selalu diberi makanan yang  dipanasi  lebih dahulu . Tikus harus selalu dijauhkan dari lingkungan  peternakan babi.

Angiostrongylus cantonensis


Angiostrongylus cantonensis yang dikenal sebaga cacing paru tikus ini tersebar  di seluruh  dunia dan banyak dilaporkan dari  daerah tropis dan subtropis.  Hospes definitif cacing ini  yaitu  berbagai jenis rodensiasia  tempat cacing dewasa hidup di dalam arteria pulmonalisnya.

Anatomi dan morfologi.  Angiostrongylus cantonensis dewasa berbentuk filiform atau silindris dengan panjang dapat mencapai 25 mm. Ukuran panjang cacing  jantan sekitar 7.7 mm, sedang   cacing betina panjangnya sekitar 12.8 mm. Badan cacing memiliki  kutikula halus dengan penebalan di kedua ujungnya. Kepala cacing memiliki  tiga bibir yang berpapil, tetapi tidak memiliki  rongga mulut.cacing jantan memiliki  bursa kopulatriks yang kecil ukurannya yang mengarah ke ventral. Larva cacing yang infektif untuk pasien ,  memiliki  ukuran 0.5 mm x 0.025 mm.


                              


Gambar 144.   Angiostrongylus cantonensis.

cacing betina. B. cacing jantan 

(http://www.cdc.gov/dpdx) 

Daur hidup. Infeksi Angiostrongylus cantonensis pada pasien   terjadi sebab  termakan   larva infektif  yang  ada   di dalam daging moluska (bekicot, siput) atau makan daging hewan pemakan  moluska misalnya ketam, ikan, dan udang yang  tidak   dimasak dengan sempurna. Infeksi pada moluska terjadi  akibat  makan  larva  cacing yang   dikeluarkan bersama  tinja  hewan  mengerat  yang  terinfeksi,  yang menjadi hospes definitif parasit ini. pasien  juga dapat tercemar 

larva infektif cacing melalui jari-jari tangannya pada waktu   mengolah   daging moluska  sebelum   dimasak atau melalui buah dan sayur-sayuran  yang tercemar  lendir  moluska yang yang infektif.




Gambar 145. Daur hidup Angiostrongylus cantonensis


Perubahan patologis dan gejala klinis. Angiostrongylus cantonensis dapat ditemukan di dalam otak, sumsum  tulang  belakang dan di dalam rongga bola mata pasien . 

Parasit  yang berada di dalam sumsum  tulang  dapat  memicu gangguan sensorik pada ektremitas, sedang  yang berada di dalam jaringan otak dapat menimbulkan meningoensefalitis eosinofilik pada  pasien . 

Satu sampai tiga  minggu  sesudah masa  inkubasi berlangsung sejak tertelannya   larva  infektif cacing ini, gambaran   klinis meningoensefalitis mulai terlihat berupa sakit kepala yang hebat, demam, kaku kuduk, mual  dan  muntah-muntah.  . diagnosa . Selain adanya gejala klinis berupa meningoensefalitis, diagnosa   infeksi (angiostrongiliasis) dapat ditetapkan melalui pemeriksaan cairan sumsum tulang dan pemeriksaan darah pasien .

Pemeriksaan cairan  sumsum tulang (spinal fluid)  menunjukkan adanya peningkatan  protein dan pleositosis eosinofilik, tetapi kadar glukosa  yaitu  normal. Pada pemeriksaan darah gambaran sel darah menunjukkan adanya eosinofilia  perifer dengan leukositosis ringan. 

Angiostrongylus cantonensis kadang-kadang  juga dapat ditemukan  di dalam  cairan   sumsum tulang pasien . Jika cacing  dijumpai di dalam rongga  mata pasien ,  hal ini dapat menimbulkan gangguan penglihatan pasien . 


Pengobatan angiostrongiliosis. Belum ditemukan obat yang spesifik untuk memberantas Angiostrongylus cantonensis. Obat-obatan Tiabendazol, albendazol, levamisol, Mebendazol atau ivermectin yang biasa digunakan untuk cacing jaringan misalnya trikinosis dan strongiloidosis hasilnya kurang memuaskan. 

Untuk menurunkan  demam dan rasa sakit dapat diberikan analgetikum, sedang  kortikosteroid dapat diberikan untuk membantu mengurangi rasa sakit  dan keluhan pasien  akibat proses keradangan yang terjadi.     


Pencegahan. Untuk mencegah penularan angiostrongiloidosis maka moluska, siput, ketam dan ikan sebelum dimakan harus dimasak dengan sempurna untuk  membunuh larva infektif cacing.  Buah-buahan dan  sayur-sayuran  sebelum  dimakan juga harus dicuci bersih untuk mengurangi kemungkinan terjadinya  kontaminasi tangan oleh lendir moluska yang mengandung larva infektif cacing.

sebab  tikus dan hewan mengerat merupakan sumber penularan, pemberantasan rodensia yang berada di sekitar rumah dan pemukiman penduduk harus dilakukan dengan teratur. 

Capillaria     Capillaria yaitu  cacing nematoda yang hidup pada mukosa usus halus, yang dapat menimbulkan kapilariasis pada pasien . pasien  dengan infeksi parasit ini pernah dilaporkan dari Jepang, Korea, Taiwan, Mesir dan Indonesia. Capillaria philippinensis dan Capillaria hepatica endemis di Filipina dan Thailand. 

Anatomi dan morfologi. Capillaria dewasa berukuran panjang antara 2-4 mm, sedang  telurnya berbentuk biji mentimun mirip telur cacing Trichuris. 


Gambar 146. Capillaria philippinensis                                                                                    ( URL: http://www.tmu.edu)

Cara penularan. Berbagai jenis hewan misalnya  rodensiasia, karnivora, babi dan kera dapat menularkan Capillaria ke pasien , namun hewan-hewan yang dapat bertindak sebagai hospes alami belum jelas jenisnya. 

Kapilariasis pada pasien  terutama dipicu oleh yang menimbulkan kapilariasis intestinal dan Capillaria hepatica yang menjadi pemicu dari kapilariasis hepatik. 

Capillaria hepatica merupakan parasit yang umum didapatkan pada tikus dan hewan pengerat lainnya serta dapat hidup pada berbagai mamalia lainnya. Penularan kapilariasis hepatik terjadi melalui infeksi per oral dengan masuknya telur infektif cacing ini bersama sayuran, buah atau air minum. 

Kapilariasis intestinal  terjadi melalui infeksi sebab  makan ikan air tawar yang mentah atau kurang matang.


Gejala klinis dan diagnosa . Kapilariasis yang berat dapat memicu terjadinya enteropati yaitu hilangnya protein dalam jumlah besar yang disertai sindroma malabsorpsi. pasien  juga mengalami asites dan transudasi pleura. Gejala klinis kapilariasis intestinal yang dialami pasien  dapat berupa diare berat, malabsorpsi, gangguan cairan tubuh, asites dan  kekurangan protein. pasien  kapilariasis hepatik dapat mengalami pembesaran hati, asites yang nyata dan anemia. Kapilariasis dapat memicu kematian pasien  sampai sebesar 5-10%. Pada pemeriksaan darah gambaran darah menunjukkan adanya eosinofilia dan anemia.

Untuk menetapkan diagnosa  pasti kapilariasis hepatik harus ditemukan telur cacing Capillaria hepatica melalui biopsi hati pasien  atau pada waktu dilakukan otopsi pada jenasah pasien . sedang  diagnosa  pasti  kapilariasis intestinalis ditetapkan dengan ditemukannya  telur cacing Capillaria philippinensis pada tinja pasien .


Pengobatan. Kapilariasis intestinal dapat diobati dengan Mebendazol dengan dosis 2x200 mg/hari yang diberikan selama 20-30 hari. Albendazol dapat diberikan sebagai obat pengganti dengan dosis 400 mg per hari selama 10 hari. Tiabendazol dengan dosis 25 mg/kg berat badan/hari ternyata juga efektif terhadap infeksi cacing ini.

Mebendazol juga merupakan obat pilihan Capillaria hepatica dengan Albendazol sebagai obat pengganti. Steroid dapat diberikan untuk mengurangi proses keradangan pada hati. 


Pencegahan. Penularan kapilariasis intestinal dapat dicegah dengan menghindari makan ikan mentah atau hewan air lainnya yang berasal dari daerah endemis kapilariasis.   Membuang ekskreta pasien  dengan baik pada jamban saniter dan menjaga higiene perorangan harus dilakukan untuk mencegah terjadinya infeksi Capillaria.Pencegahan kapilariasis hepatik dilakukan dengan menjaga kebersihan lingkungan dan perorangan, serta selalu memasak makanan atau minuman dan mencegah pencemaran tinja terhadap tanah dan lingkungan.

NEMATODA JARINGAN 


Cacing Filaria


Cacing filaria dari superfamili Filarioidea, yaitu Wuchereria bancrofti, Brugia malayi, Brugia timori, Onchocerca volvulus, Loa loa, Acanthocheilonema (Mansonella) perstans, dan Mansonella ozzardi yaitu  cacing-cacing nematoda jaringan yang dapat  menimbulkan masalah  kesehatan pasien . Cacing-cacing ini dilaporkan dari daerah-daerah tertentu di berbagai tempat di dunia, sesuai dengan ada nya vektor penularnya.

Cacing dewasa lebih sukar ditemukan dibanding bentuk larvanya (microfilaria, mikrofilaria).


Anatomi dan morfologi mikrofilaria. Bentuk anatomi dan morfologi mikrofilaria cacing filaria penting untuk membedakan pemicu filariasis, sebab  bentuknya yang khas untuk masing-masing spesies, dengan memperhatikan ukuran panjangnya, adanya selubung (sheath) dan susunan intinya. Selain itu mikroflaria lebih mudah ditemukan di dalam darah dibandingkan dengan cacing dewasanya yang hidup di dalam jaringan. AP= Acanthocheilonema perstans   MO=Mansonella ozzardi   OV=Onchocerca volvulus

WB= Wuchereria bancrofti    LL=Loa loa    BM=Brugia malayi 


Daur hidup filaria. Pada umumnya hospes definitif filaria yaitu  pasien , kecuali Brugia malayi dan Onchocerca volvulus yang merupakan parasit zoonotik. Bertindak sebagai hospes perantara yaitu  serangga pengisap darah, yaitu nyamuk atau lalat pengisap darah.

Filaria dewasa hidup di dalam saluran limfe dan pembuluh limfe, sedang  larva cacing (mikrofilaria) hidup di dalam darah tepi pasien . Filariasis di Indonesia dapat dipicu oleh tiga spesies cacing filaria, yaitu Wuchereria bancrofti, Brugia malayi dan Brugia timori. Brugia timori belum banyak diketahui morfologinya, sifat biologi maupun epidemiologi penyakitnya. 

Daur Periodik. Di Indonesia filariasis dapat ditularkan oleh berbagai spesies nyamuk, yang hidup aktif di siang hari atau di malam hari. Sesuai dengan dtemukannya mikrofilaria di dalam darah tepi, dikenal periodik nokturnal, subperiodik diurnal  dan subperiodik nokturnal.

Periodik nokturnal (nocturnal periodic): mikrofilaria hanya ditemukan di dalam darah pada waktu malam hari.

Subperiodik diurnal  (diurnal subperiodic): mikrofilaria terutama dijumpai siang hari, malam hari jarang ditemukan.

Subperiodik nokturnal (nocturnal subperiodic): mikrofilaria terutama dijumpai malam hari, jarang ditemukan siang hari. 


Wuchereria bancrofti     

Infeksi cacing dewasa Wuchereria bancrofti memicu filariasis bancrofti, sedang  larva cacing (mikrofilaria) dapat menimbulkan occult filariasis. Wuchereria bancrofti dewasa hidup di dalam saluran limfe dan kelenjar limfe pasien .  Filaria ini tersebar luas di daerah tropis dan subtropis di Asia, Afrika, Amerika dan Eropa, sedang  di Indonesia ada 26 propinsi yang merupakan daerah endemis filariasis dengan microflarial rate (Mf rate) sebesar 3,1% . Dengan demikian  sekitar 6 juta orang Indonesia sudah terinfeksi filariasis.  .

Anatomi dan morfologi. Wuchereria bancrofti dewasa berbentuk seperti rambut, berwarna putih susu. Panjang tubuh cacing jantan  sekitar 4 cm, memiliki  ekor yang melengkung dilengkapi dua spikulum yang tidak sama panjang. Panjang cacing betina  sekitar 10 cm, memiliki  ekor yang runcing bentuknya.

Mikrofilaria. Stadium infektif cacing ini mudah ditemukan di dalam darah tepi, dengan panjang sampai 300 mikron dan lebar 8 mikron. Mikrofilaria memiliki  selubung (sheath) hialin, dengan inti atau sel somatik berbentuk granul yang susunannya tidak mencapai ujung ekor. 



Gambar 150. Mikrofilaria Wuchereria bancrofti

 (Sumber:  CDC)


Daur hidup. Cacing Wuchereria bancrofti tidak termasuk parasit zoonosis dan pasien  merupakan satu-satunya hospes definitif cacing ini. Tidak ada hewan yang bertindak sebagai reservoir host cacing ini. Nyamuk genus Culex, Aedes dan Anopheles dapat bertindak sebagai vektor penular filariasis bancrofti. 

Daur hidup Wuchereria bancrofti umumnya bersifat periodik nokturna (nocturnal periodic), sehingga mikrofilaria hanya dijumpai di dalam darah tepi pada malam hari. Filaria yang hidup di daerah Pasifik memiliki  mikrofilaria lebih banyak dijumpai pada waktu siang hari, meskipun dalam jumlah lebih sedikit dapat juga ditemukan pada malam hari (diurnal subperiodic). Di Thailand mikrofilaria Wuchereria bancrofti bersifat subperiodik nokturna, artinya lebih banyak dijumpai di dalam darah tepi pada waktu malam hari. 

Sesudah mikrofilaria yang beredar di dalam darah pasien  terhisap oleh nyamuk, di dalam tubuh nyamuk dalam waktu 10 sampai 20 hari larva berkembang menjadi stadium larva stadium tiga yang infektif (L3). Larva stadium tiga panjangnya sekitar 1500 sampai 2000 mikron dan lebar badan antara 18 dan 23 mikron, dapat ditemukan di dalam selubung proboscis nyamuk yang menjadi vektor perantaranya. jika nyamuk ini menggigit pasien  lain maka ia akan memindahkan larva L3 yang kemudian secara aktif akan masuk ke saluran limfe lipat paha, skrotum atau saluran limfe perut, dan hidup di tempat tersebut. Sebelum berkembang menjadi cacing dewasa di dalam tubuh pasien , mikrofilaria mengalami pergantian kulit dua kali. Pada umur lima sampai 18 bulan cacing dewasa betina telah matang seksual dan sesudah mengadakan kopulasi dengan cacing jantan dapat mulai melahirkan mikrofilaria, yang segera memasuki sistem sirkulasi darah perifer.


Perubahan patologi dan gejala klinis. Wuchereria bancrofti dewasa maupun mikrofilaria dapat menimbulkan gangguan patologi. Akibat iritasi mekanis dan sekresi toksik yang dikeluarkan cacing betina maka akan memicu timbulnya limfangitis pada pembuluh limfe. Selain itu cacing dewasa yang mati dapat menimbulkan limfangitis dan kadang-kadang terjadi sumbatan atau obstruksi limfatik pada aliran limfe akibat terjadinya fibrosis saluran limfe dan proliferasi endotel saluran limfe. Obstruksi ini memicu terjadinya varises saluran limfe dan elephantiasis serta hidrokel.

jika saluran limfe kandung kemih, varises saluran limfe atau ginjal pecah, cairan limfe dapat masuk ke dalam aliran urin pasien  melalui membrane mukosa traktus urinarius. Hal ini memicu urin menjadi berwarna putih susu dan mengandung lemak, albumin dan fibrinogen. Urin yang putih seperti susu ini disebut kiluria, yang kadang-kadang juga mengandung mikrofilaria.

Pada filariasis bancrofti,  elefantiasis yang kronis dapat mengenai kedua lengan, tungkai, payudara, buah zakar atau vulva, yang hanya dapat diperbaiki melalui tindakan operasi.

diagnosa  filariasis bancrofti. Filariasis bancrofti dimulai dengan terjadinya limfangitis akut dengan gejala-gejala berupa saluran limfe yang dapat diraba, terjadinya pembengkakan saluran limfe, yang selain berwarna merah juga  disertai rasa nyeri. Sesudah itu pasien  akan mengalami demam disertai menggigil. Selanjutnya pasien  akan menunjukkan gejala-gejala dan keluhan limfadenitis, orkitis, funikulitis dan abses.



Gambar 151. Elefantiasis bancrofti pada kaki kiri.

( URL: http://www.tmu.edu)


Obstruksi saluran limfe dapat menimbulkan berbagai akibat klinis berupa varises limfe, hidrokel, kiluria, limfskrotum dan elephantiasis.

diagnosa  pasti filariasis bancrofti dapat ditetapkan  jika pada pemeriksaan darah (tetes tebal) ditemukan mikrofilaria Wuchereria bancrofti yang khas bentuknya di dalam darah tepi. Kadang-kadang mikrofilaria juga ditemukan di dalam  kiluria, eksudat varises limfe dan cairan hidrokel. Pada awal dari timbulnya gejala  klinis mikrofilaria tidak dapat ditemukan. Juga mikrofilaria tidak dapat  dijumpai sesudah terjadinya limfangitis akibat matinya cacing dewasa dan jika telah terjadi elefantiasis akibat obstruksi limfatik. Pada biopsi kelenjar limfe  kadang-kadang dapat ditemukan cacing dewasa.

Pemeriksaan darah  pasien   menunjukkan adanya eosinofilia antara 5% - 15%.

Pemeriksaan imunologik misalnya Uji Fiksasi Komplemen, Uji Hemaglutinasi Tak langsung, atau Pemeriksaan Imunofluoresensi Tak langsung dapat dilakukan untuk membantu menegakkan diagnosa  filariasis.


Pengobatan filariasis bancrofti. Pada saat ini yang paling banyak digunakan untuk mengobati filariasis bancrofti yaitu  Dietilkarbamasin sitrat (Diethylcarbamazine citrat, DEC) yang diberikan dengan dosis 6 mg/kg berat badan /hari yang diberikan satu kali. DEC ditujukan untuk memberantas  mikrofilaria, mengobati filariasis pada tahap akut, untuk mengobati kiluria, limfedema , dan diberikan pada tahap awal elefantiasis. DEC juga dapat diberikan dalam selama 14 hari dengan pengaturan dosis sebagai berikut: hari-1: 50 mg; hari ke-2:  3x50 mg; hari ke-3:  3x100 mg; hari ke-4 sampai dengan 14: 3x2 mg/kg berat badan/hari (Medical Letter, August 2004).

Pada pengobatan masal (mass treatment) di daerah edemis diberikan DEC 6 mg/ kg berat badan per hari yang diberikan satu kali satu bulan, sebanyak 12 kali. 

Jika terjadi alergi  atau timbul panas dan rasa sakit, antihistamin, analgetik dan antipiretik dapat diberikan sesuai dengan keperluan.

Jika hidrokel atau elephantiasis yang lanjut telah terjadi, komplikasi filariasis ini hanya dapat diatasi melalui pembedahan.


Pencegahan filariasis bancrofti. Untuk mencegah penularan filariasis tindakan-tindakan yang harus dilakukan yaitu  melaksanakan pengobatan masal pada penduduk daerah endemis filariasis, pengobatan pencegahan terhadap pendatang yang berasal dari daerah non endemis filariasis, dan memberantas nyamuk yang menjadi vektor penularnya di daerah tersebut.

Selain itu, lingkungan harus diupayakan agar bebas nyamuk vektor penularnya  dan mencegah gigitan nyamuk menggunakan repellent atau kelambu pada waktu tidur. 

Brugia 

ada  dua spesies cacing Brugia yang memicu masalah kesehatan pada pasien , yaitu Brugia malayi dan Brugia timori. Brugia malayi  tersebar di Asia, mulai dari India, Asia Tenggara,   sampai ke Jepang, sedang  Brugia timori hanya dijumpai di Indonesia bagian Timur, yaitu di Nusa Tenggara Timur. Brugia hanya ditemukan di daerah pedesaan (rural). 

Di Indonesia ada  dua spesies Brugia, yaitu Brugia malayi yang menimbulkan filariasis brugia atau filariasis malayi, dan Brugia timori memicu filariasis timori. 

Brugia dewasa hidup di dalam saluran dan pembuluh limfe, sedang  mikrofilaria dijumpai di dalam darah tepi hospes definitif. 


Anatomi dan morfologi. Bentuk dewasa cacing Brugia mirip dengan bentuk cacing dewasa Wuchereria bancrofti, sehingga sulit dibedakan. Brugia malayi betina panjang badannya dapat mencapai 55 mm, sedang  panjang cacing jantan hanya sekitar 23 cm. Panjang badan Brugia timori betina sekitar 39 mm sedang  cacing jantan memiliki  panjang badan sekitar 23 mm. 


Stadium larva Brugia (mikrofilaria) memiliki  selubung (sheath) yang  panjangnya dapat mencapai 260 mikron pada Brugia malayi dan pada Brugia timori dapat mencapai 310 mikron. Mikrofilaria Brugia malayi  memiliki ciri khas Morfologi, yaitu bentuk ekornya yang mengecil dan memiliki  dua inti terminal, sehingga mudah dibedakan dari mikrofilaria  Wuchereria bancrofti. 

Daur hidup Brugia. Cacing Brugia ada yang termasuk parasit zoonotik, tetapi ada juga yang hanya hidup pada pasien . Hospes definitif Brugia yang zoonotik, selain pasien  juga berbagai hewan mamalia sehingga dapat berperan selaku reservoir host. Brugiasis malayi memiliki  bermacam-macam periodisitas, ada yang nocturnal periodic, nocturnal subperiodic, atau non periodic, sedang  Brugia timori bersifat periodik nokturna.


Vektor penular brugiasis yaitu  nyamuk Anopheles  yang menjadi vektor brugiasis non zoonotik dan  Mansonia yang menjadi  vektor brugiasis zoonotik.

Gejala klinis dan diagnosa . Limfadenitis pada brugiasis berbeda  dengan limfadenitis pada filariasis bancrofti. Pada brugiasis malayi limfadenitis yang terjadi pada satu kelenjar inguinal dapat menjalar ke bawah (limfangitis retrograd) dan dapat membentuk  ulkus yang jika sembuh akan meninggalkan jaringan parut yang khas. Pada brugiasis malayi elefantiasis umumnya hanya terjadi pada tungkai bawah yang terletak di bawah lutut dan  jarang terjadi di lengan bawah di bawah siku. Infeksi  Brugia  juga tidak pernah memicu  limfangitis dan  elephantiasis pada alat kelamin dan payu dara. Juga  kiluria belum pernah dilaporkan terjadi pada pasien  brugiasis.


diagnosa  pasti brugiasis hanya dapat ditetapkan sesudah diperiksa darah tepi pasien  untuk menemukan microfilaria Brugia yang khas bentuknya. Uji serologi dan pemeriksaan imunologik yang dilakukan terutama bertujuan untuk 

meningkatkan kepekaan dalam menentukan diagnosa  dini brugiasis.


Pengobatan dan pencegahan brugiasis. Seperti halnya pengobatan terhadap filariasis bancrofti, DEC  merupakan obat pilihan untuk brugiasis. Obat ini dapat diberikan dengan dosis lebih rendah, yaitu  3x 0.3-2 mg/kg berat badan/hari, yang diberikan selama 3 minggu. 


Pencegahan penularan brugiasis dilakukan sesuai dengan upaya pencegahan pada filariasis bancrofti, yaitu pengobatan pasien , pengobatan masal penduduk di daerah endemis,  pengobatan pencegahan pada pendatang dan pemberantasan vektor penular filariasis malayi.


Occult filariasis


Occult filariasis yaitu  filariasis limfatik yang disertai oleh hipersensitif terhadap antigen mikrofilaria, akibat terjadinya penghancuran mikrofilaria oleh antibodi yang dibentuk oleh pasien . Occult filariasis disebut juga tropical pulmonary eosinophilia.


Gejala klinis dan diagnosa . Occult filariasis menunjukkan gejala klinis berupa limfadenitis, kelainan paru disertai batuk dan sesak, demam subfebril, hepatomegali, dan splenomegali. Pada pemeriksaan darah tepi gambaran darah menunjukkan adanya hipereosinofilia dan leukositosis, disertai peningkatan kadar IgE dan zat anti mikrofilaria.  

Pada biopsi jaringan kelenjar limfe, paru, limpa dan hati, dapat ditunjukkan adanya infiltrasi sel-sel eosinofil. Untuk menentukan diagnosa  pasti occult filariasis harus dapat ditemukan adanya sisa-sisa mikrofilaria di antara infiltrasi sel eosinofil pada jaringan yang dibiopsi.


Pengobatan. Pada stadium awal Occult flariasis  pengobatan dengan DEC dengan dosis 6 mg/kg per hari selama 12-21 hari memberikan hasil yang memuaskan, tetapi jika sudah terjadi fibrosis paru, kerusakan tersebut tidak dapat diperbaiki lagi. 

Onchocerca volvulus


Onchocerca volvulus dewasa hidup di dalam jaringan subkutan pasien , sedang  mikrofilarianya dapat ditemukan di jaringan kulit yang berada di dekat tempat hidupnya. 

Mikroflaria jarang ditemukan di dalam darah tepi. Onchocerca volvulus yang disebut juga sebagai Filarial volvulus atau Onchocerca caecutiens ini memicu penyakit onkosersiasis, onkoserkosis, blinding filariasis, atau river blindness. Infeksi dengan Onchocerca volvulus dilaporkan tersebar di Afrika Barat, Afrika Timur, Amerika Tengah dan Selatan (Meksiko, Venezuela, Guatemala) dan pernah juga dilaporkan dari Yaman dan Arabia bagian Selatan.


Anatomi dan morfologi cacing. Onchocerca volvulus dewasa berbentuk seperti benang halus yang berwarna putih susu, dengan tubuh yang memiliki  kutikulum yang menebal secara anuler.  Ukuran panjang cacing jantan sekitar 4 cm, sedang  cacing betina  panjangnya  dapat mencapai 50 cm.

Mikrofilaria Onchocerca tidak memiliki  selubung (sheath), panjangnya  dapat mencapai 360 mikron, sedang  intinya  tidak mencapai ujung ekor..


Daur hidup. pasien  yaitu  hospes definitif utama cacing Onchocerca volvulus,  sedang  simpanse dapat menjadi reservoir host. Hospes perantara dan vektor penular cacing ini yaitu  Simulium. Di dalam tubuh lalat pengisap darah ini mikrofilaria berkembang menjadi larva infektif dalam waktu enam hari. InfeksiOnchocerca volvulus terjadi jika Simulium yang mengandung larva infektif menggigit pasien  baru. Daur hidup filarial ini berlangsung mirip daur hidup Wuchereria bancrofti.


Perubahan patologi dan gejala klinis. Baik cacing dewasa maupun larva cacing Onchocerca dapat memicu kelainan patologis pada jaringan, misalnya pembentukan nodul subkutan dan timbulnya reaksi alergi pada pasien . Nodul subkutan umumnya terbentuk di daerah kulit yang terbuka, yaitu di tempat gigitan serangga.Seringkali terjadi lebih dari tiga benjolan dengan ukuran masing-masing sekitar 6 cm yang berisi cacing dewasa dan mikrofilaria. Akibat penyebaran mikrofilaria yang berasal dari nodul di daerah kepala atau wajah pasien  ke dalam bola mata,  pasien  dapat mengalami konjungtivitis, iridosiklitis, glaukoma, katarak, dan bahkan menjadi buta. pasien  juga bisa mengalami reaksi alergi berupa gatal-gatal dan kelainan kulit yang  terjadi akibat reaksi tubuh terhadap adanya mikrofilaria cacing ini.


Infeksi Onchocerca volvulus dapat menimbulkan komplikasi misalnya terjadi hidrokel, elephantiasis genital, atau elephantiasis kaki. Dapat juga terbentuk hanging groin yaitu kantong kulit yang berisi kelenjar  limfe femoral atau inguinal yang mengalami sclerosis,.


diagnosa . diagnosa  pasti onkoserkosis dapat ditetapkan jika dapat ditemukan mikrofilaria atau cacing dewasa pada hasil biopsi kulit atau nodul. Onkoserkosis mata dapat diketahui jika dengan menggunakan lampu terlihat adanya gerakan mikrofilaria yang ada di dalam bola mata.

Pada pemeriksaan darah yang dilakukan untuk membantu menegakkan diagnosa  didapatkan gambaran hipereosinofilia, sedang  dengan pemeriksaan serologi misalnya  dengan teknik antibodi fluoresen  dapat diperkuat diagnosa  onkosersiasis.


Pengobatan dan pencegahan. Terjadinya penyebaran mikrofilaria  yang dapatmenimbulkan komplikasi yang dapat dicegah dengan melakukan enukleasi nodul. 


Sebagai obat cacing pilihan yaitu  Ivermectin dengan dosis 150 mcg/kg berat badan diberikan satu kali yang diulang tiap  6-12 bulan  sampai tidak tampak gejala dan keluhan. 

Pengobatan dengan dietilkarbamazin (DEC) dengan dosis 25 mg-200 mg per hari yang diberikan meningkat secara bertahap dapat membunuh mikrofilaria cacing ini, tetapi tidak mampu membunuh cacing dewasanya. Pemberian DEC disertai deksametason 80 mikrogram/kg berat badan per hari harus dilakukan di rumah sakit sebab  mikrofilaria yang mati dapat menimbulkan reaksi alergi yang hebat (Mazzotti reaction),.

Memberantas lalat Simulium yang menjadi vektor penular parasit ini merupakan tindakan pencegahan yang terbaik. Gigitan vektor dapat dihindari dengan menggunakan repellen.

Loa loa


Cacing filaria yang juga dikenal sebagai cacing mata Afrika atau filaria oculi ini menimbulkan. penyakit loaiasis, atau Calabar swelling.  Daerah sebaran filariasis ini meliputi Afrika Barat dan Afrika Tengah. Cacing dewasa hidup di dalam jaringan subkutan pasien  dan bangsa primata. Mikrofilaria Loa loa beredar di dalam darah pada waktu siang hari sedang  pada waktu malam hari mikrofilaria dapat ditemukan di dalam kapiler paru.


Anatomi dan morfologi

Cacing dewasa. Loa loa dewasa berbentuk benang halus yang berwarna putih susu. Kepala cacing berbentuk runcing dilengkapi sepasang papil lateral dan dua pasang papil submedian. Panjang cacing betina  sekitar 7 cm, sedang  cacing jantan memiliki  ukuran panjang sekitar 4 cm.

Badan mikrofilaria Loa loa memiliki  selubung (sheath) dan panjang badannya  sekitar 300 mikron dengan susunan inti yang mencapai ujung ekor. 


Daur hidup Loa loa. Sebagai hospes definitif utama cacing ini yaitu  pasien , sedang  Chrysops bertindak selaku hospes perantara dan juga vektor penular parasit ini. Mikrofilaria memiliki  periodisitas diurna, sehingga stadium ini hanya dijumpai di dalam darah tepi pada waktu siang hari.


Mikrofilaria yang berada di dalam darah pasien  jika terisap oleh Chrysops, di dalam tubuh lalat ini dalam waktu sekitar sepuluh hari mikrofilaria akan berkembang menjadi larva infektif. Perjalanan daur hidup kemudian berlangsung seperti daur hidup filaria pada umumnya.

Gejala klinis dan diagnosa . Loa loa dewasa yang mengembara di jaringan bawah kulit menimbulkan pembengkakan sebab  terjadinya edema jaringan subkutan yang disebut Calabar swelling. Hal ini terjadi sebagai reaksi alergi hospes terhadap cacing ini. Cacing dewasa yang berada di konjungtiva dapat menimbulkan gangguan pada fungsi mata (occuli filariasis).

Untuk menegakkan diagnosa  pasti loasis  harus dapat ditemukan mikrofilaria di dalam darah atau didapatkan cacing dewasa dalam jaringan subkutan atau di dalam mata. Pada pemeriksaan darah tepi gambaran darah menunjukkan adanya eosinofilia.


Pengobatan dan pencegahan. Pemberian DEC dosis tunggal 6 mg/kg harus dilakukan dengan pengawasan, sebab  pemberian obat ini dapat menimbulkan reaksi alergi yang berat pada pasien  akibat mikrofilaria yang mati. 

Pembedahan bisa dilakukan untuk mengeluarkan cacing dewasa pada waktu berada di permukaan jaringan punggung hidung atau pada waktu cacing tampak berada di konjungtiva mata. 

Untuk mencegah penularan Loa loa pasien  harus diobati dengan DEC secara teratur sebab  pasien  merupakan sumber infeksi. Selain itu harus dilakukan  pemberantasan  vektor dan mencegah gigitan Chrysops dengan menggunakan repellen. 


Acanthocheilonema perstans


Filaria yang tersebar di daerah tropis Afrika, Amerika Selatan dan Amerika Tengah yang disebut juga Dipetalonema perstans, Mansonella perstans  atau  filaria persisten ini menimbulkan  akantokeilonemiasis.  Cacing dewasa hidup di dalam rongga peritoneum, rongga pleura atau kadang-kadang di dalam perikardium jantung pasien .


Anatomi dan morfologi

Cacing dewasa. Acanthocheilonema perstans dewasa berwarna putih kekuningan ini  memiliki  tubuh berbentuk silindris dan memiliki  kutikulum yang halus.  Cacing jantan memiliki  ukuran panjang badan sekitar 45 mm, sedang   cacing betina berukuran panjang sekitar 80 mm.  

Mikrofilaria. Mikrofilaria yang panjangnya sekitar 200 mikron tidak berselubung, dengan susunan inti yang mencapai ujung ekor.


Daur hidup. pasien  yaitu  hospes definitif parasit ini  sedang  Culicoides bertindak sebagai hospes perantara. 

Mikrofilaria bersifat subperiodik nokturna dengan perjalanan daur hidup cacing yang sesuai dengan filaria lainnya.Gejala klinis dan diagnosa . Stadium infektif Acanthocheilonema perstans  masuk ke dalam tubuh pasien  melalui gigitan vektor. Parasit ini tidak banyak menimbulkan kelainan patologis pada jaringan tubuh pasien  sebab  cacing ini mampu dengan baik menyesuaikan hidupnya di dalam tubuh hospes.

Untuk menetapkan diagnosa  pasti infeksi Acanthocheilonema perstans  harus ditemukan mikrofilaria di dalam darah tepi pasien . Untuk membantu menegakkan diagnosa  dapat dilakukan pemeriksaan serologi misalnya uji hemaglutinasi atau uji flokulasi bentonit.


Pengobatan dan pencegahan. Sebagai obat pilihan dapat diberikan Albendazol 2x400 mg selama 10 hari atau Mebendazol dengan dosis 2x100 mg selama 30 hari. Dietilkarbamasin (DEC) dapat digunakan untuk membunuh cacing dewasa, tetapi tidak dapat memberantas mikrofilaria cacing ini. Selain itu pencegahan  sulit dilakukan sebab  vektor penularnya (Culicoides ) sukar diberantas. 

Mansonella ozzardi



Cacing yang juga dikenal sebagai Filaria ozzardi ini menimbulkan filariasis ozzardi, atau mansoneliasis ozzardi yang banyak dilaporkan dari Amerika Tengah dan Amerika Selatan. Mansonella ozzardi dewasa dapat ditemukan hidup di dalam rongga tubuh, di dalam mesenterium atau di dalam jaringan lemak visera, sedang  mikrofilaria cacing dapat ditemukan di dalam darah tepi. 

Anatomi dan morfologi cacing

Cacing dewasa. Badan cacing dewasa memiliki  kutikulum yang halus. Panjang tubuh cacing jantan sekitar 38 mm, sedang   cacing betina panjang badannya dapat mencapai 81 mm. 

Mikrofilaria. Mikrofilaria yang tidak berselubung memiliki  ukuran panjang sekitar 240 mikron dengan inti yang tidak mencapai ujung ekor.

Daur hidup. pasien  merupakan hospes definitif cacing ini sedang  Culicoides bertindak sebagai hospes perantara.


Gejala klinis dan diagnosa . Mansonella ozzardi jarang menimbulkan kelainan patologis pada jaringan dan organ pasien  meskipun pernah dijumpai terjadinya hidrokel dan pembesaran kelenjar limfe. Bentuk mikrofilaria Mansonella ozzardi yang khas  yang ditemukan di dalam darah tepi menegakkan diagnosa  pasti infeksi cacing ini. 

Pengobatan dan pencegahan. Infeksi Mansonella ozzardi  dapat  diobati dengan Ivermectin dengan dosis tunggal 200 mcg/kg berat badan.  Pencegahan penularan parasit ini juga sulit dilakukan sebab  vektor penularnya yaitu Culicoides sukar diberantas. 

Dracunculus medinensis


Filaria yang termasuk dalam superfamili Dracunculoidea yang disebut juga sebagai cacing medina, cacing naga, atau Filaria medinensis ini memicu  drakunkulosis atau drakunkuliasis. Penyakit ini dilaporkan tersebar di India, Myanmar, Arab, Afrika, Amerika Selatan dan Amerika Tengah.

Larva akan ke luar dari tubuh cacing dewasa jika kulit pasien  berhubungan dengan air, kemudian masuk dan hidup di dalam air.


Anatomi dan morfologi

Cacing dewasa. Dracunculus medinensis dewasa yang badannya berbentuk silindris, berwarna putih susu. Panjang cacing betina dapat mencapai 120 cm, sedang  panjang cacing jantan sekitar 40 mm. Bentuk larva cacing filiform, dengan panjang badan yang dapat mencapai 750 mikron.



                   

Gambar 158. Larva Dracunculus medinensis.

(Sumber: Colorado State University) 


Daur hidup. pasien  yaitu  hospes definitif parasit ini, sedang  cyclops  bertindak sebagai hospes perantara. Jika larva yang masuk ke dalam air dimakan cyclops, larva kemudian  akan tumbuh menjadi stadium infektif di dalam tubuh

cyclops. Pada pasien  infeksi terjadi sebab  pasien  minum air yang tercemar cyclops yang infektif. Di dalam lambung pasien  larva akan ke luar dari badan cyclops lalu menembus dinding usus, masuk ke jaringan retroperitoneum dan berkembang menjadi cacing dewasa jantan dan betina yang kemudian mengadakan kopulasi. Cacing betina yang gravid lalu menuju ke permukaan tubuh dan membentuk ulkus pada kulit.


Gambar 159. Daur hidup Dracunculus medinensis 


Gejala klinis dan diagnosa . Cacing betina dapat memicu terjadinya ulkus pada kulit. Cacing j