Jumat, 06 Desember 2024

parasitologi 5


 






















yaitu  Prazikuantel. Obat ini diberikan dengan takaran 3x 25 mg/kg berat badan per hari (dosis dewasa dan dosis anak) .

Obat-obat lain yang bisa digunakan yaitu  tetrakloretilen, befenium hidroksinaftoat dan heksilresorkinol.

Untuk mencegah penularan parasit ini ikan yang dimakan harus dimasak dengan sempurna dan tidak makan ikan mentah. 


Metagonimus  yokogawai    


Infeksi dengan cacing ini (metagonimiasis) dilaporkan dari Asia Timur, Asia Tenggara, Siberia dan Balkan. Cacing dewasa hidup di bagian atas dan tengah jejunum hospes definitif, yaitu anjing, kucing, babi, burung pelikan, dan pasien .


Anatomi dan morfologi

Cacing dewasa. Metagonimus dewasa memiliki  ukuran panjang  sekitar 2 mm dan lebar badan 0,5 mm. Bagian anterior ujung badan memiliki  kutikulum yang bersisik.

Acetabulum (asetabulum). Organ yang juga disebut ventral sucker ini terletak di bagian kanan dari garis tengah tubuh.

Genital pore. Lubang genital ini terletak di tepi tubuh bagian anterior, berdekatan dengan asetabulum.ukurannya, sehingga sulit dibedakan.


Daur hidup

Hospes perantara pertama  daur hidup cacing ini yaitu  siput air tawar Semisulcospira libertina, sedang  hospes perantara yang kedua yaitu  ikan air tawar yang sering dimakan pasien , yaitu Plectoglossus dan Salmoperryi.


Gambar 93. Daur hidup Metagonimus yokogawai


Penularan cacing. Infeksi Metagonimus yokogawai pada pasien  terjadi sebab  makan ikan mentah yang mengandung stadium infektif cacing ini. Sumber infeksi (hospes reservoir) yaitu  hewan mamalia pemakan ikan dan burung pelikan.


Gejala klinis dan diagnosa . Metagonimus yang melekat pada permukaan usus menimbulkan iritasi sehingga memicu terjadinya keradangan dan erosi sel. Selain itu pembentukan jaringan granuloma dapat terjadi di jantung, otak dan organ lainnya.

diagnosa  pasti metagonimiasis ditetapkan jika ditemukan telur cacing pada pemeriksaan tinja. Pasca pengobatan akan ditemukan cacing dewasa di dalam tinja.

Pengobatan dan pencegahan. Untuk mengobati metagonimiasis dapat digunakan Prazikuantel sebagai obat pilihan  dengan takaran  3x25 mg/kg berat badan per hari (dosis dewasa maupun dosis 9anak) yang diberikan dalam waktu 1 hari. 

Penularan metagonimiasis dapat dicegah dengan selalu memasak dengan baik ikan yang akan dimakan.



Echinostoma 


Infeksi Echinostoma (ekinostomiasis) dilaporkan dari beberapa daerah di Asia, antara lain dari Cina, Asia Tenggara dan India. Parasit dewasa hidup di dalam usus halus pasien  dan beberapa jenis hewan.


Anatomi dan morfologi. Echinostoma dewasa berukuran  15x 3,5 mm dengan kutikulum yang  memiliki  sisik-sisik halus. Di sekitar oral sucker ada  banyak duri, yang merupakan ciri khas anatomi cacing ini. 

Beberapa ciri khas lain dari cacing ini yaitu :

Testis. Bentuk testis yang ada  di bagian posterior tubuh cacing 

bentuknya bulat atau memiliki  lobus-lobus yang tersusun satu di belakang lainnya.

Ovarium.  Organ reproduksi ini berbentuk bulat, terletak di sebelah anterior dari testis.


Telur. Telur yang berbentuk lonjong ini  berukuran 82 x 116 mikron, memiliki  operkulum. Waktu telur dikeluarkan oleh induknya, mirasidium yang ada  di dalam telur belum infektif. 



Gambar 94. Cacing Echinostoma 

Cacing dewasa dan bagian anterior cacing .

(Sumber: Stanford University)


Daur hidup. Telur cacing yang jatuh ke dalam air dalam waktu beberapa minggu akan  menetas. Larva mirasidium akan ke luar, masuk ke dalam air lalu berenang mencari siput kecil yang menjadi hospes perantara pertamanya, misalnya Gyraulus dan Anisus. Di dalam tubuh siput, mirasidium akan segera berkembang menjadi redia induk, redia dan kemudian serkaria. Larva serkaria segera meninggalkan tubuh siput yang menjadi hospes perantara pertama, lalu masuk 

ke dalam air mencari hospes perantara yang kedua, yaitu siput berukuran besar, yaitu Pila dan Corbicula.  

`Di dalam tubuh hospes perantara yang kedua, serkaria akan berkembang menjadi  metaserkaria yang merupakan stadium yang infektif bagi hospes definitif. Ikan air tawar dan tumbuhan air mungkin juga dapat bertindak sebagai hospes perantara kedua.  

                                                                                                   



Gambar  95. Daur hidup cacing Echinostoma.


Gejala klinis dan diagnosa . Infeksi Echinostoma  menimbulkan kerusakan ringan pada mukosa usus, disertai dengan terjadinya iritasi jaringan dinding usus. Pada infeksi yang berat dapat terjadi pembentukan ulkus yang memicu pasien  mengalami diare, nyeri perut, anemia, dan atau  edema. 

diagnosa  ekinostomiasis ditentukan dengan melakukan pemeriksaan tinja untuk menemukan telur cacing yang khas bentuknya. Pengobatan dan pencegahan. Prazikuantel dapat diberikan untuk mengobati ekinostomiasis dengan dosis 25 mg/kg berat badan dalam bentuk dosis tunggal. Selain itu infeksi cacing ini dapat diobati dengan  tetrakloretilen .

Untuk mencegah infeksi parasit ini siput sawah ukuran besar (Pila, Corbicula), ikan atau tumbuhan air yang hendak dimakan harus dimasak dengan baik. 


TREMATODA HATI



Infeksi Trematoda hati terutama dipicu oleh Clonorchis sinensis, Opistorchis felineus, Opistorchis viverrini, Fasciola hepatica dan Dicrocoelium dendriticum. Cacing-cacing ini hidup di dalam jaringan hati, saluran empedu, kandung empedu, atau di dalam ductus pancreaticus. 

pasien , mamalia dan unggas dapat bertindak sebagai hospes definitif Trematoda hati. Diperlukan dua jenis hospes perantara, yaitu siput sebagai hospes perantara pertama, dan ikan, siput atau semut sebagai hospes perantara yang kedua.



Clonorchis sinensis    


Infeksi cacing yang disebut juga sebagai Chinese liver fluke  atau Oriental liver fluke  ini dilaporkan pasien nya dari  Jepang, Korea, Cina, Taiwan dan Vietnam. Clonorchis sinensis dewasa hidup di dalam cabang distal saluran empedu pasien , anjing, kucing, babi , dan kadang-kadang juga angsa.


Anatomi dan morfologi

Cacing dewasa. Clonorchis sinensis dewasa berbentuk ppih seperti daun, memiliki  ukuran panjang sekitar 12- 20 mm, dan lebar badan sekitar 3-5 mm. 

Sucker. Ukuran ventral sucker cacing ini yang lebih kecil dari pada oral sucker.

Caecum. Cacing ini memiliki  usus yang panjang sehingga mencapai bagian posterior badan cacing.

Testis. Clonorchis sinensis memiliki  dua buah testis yang memiliki lobus yang dalam dan tersusun satu di belakang lainnya (tandem). Testis terletak di bagian posterior tubuh cacing.

Ovarium. Ovarium yang berukuran kecil ini terletak di garis tengah tubuh, di  bagian anterior dari testis..


Telur. Bentuk telur yang khas berwarna kekuningan, berukuran sekitar 29x16 mikron, memiliki  operkulum di salah satu ujungnya.  Di ujung telur yang menebal, ada  tonjolan kecil. Pada waktu keluar dari tubuh induknya telur Clonorchis telah mengandung larva mirasidium. 


Daur hidup. Jika telur yang keluar bersama tinja pasien  masuk ke dalam air, di dalam air telur akan menetas menjadi larva mirasidium. Di dalam tubuh siput air (Bulinus, Semisulcospira, atau Hua) yang memakannya larva mirasidium lalu berkembang menjadi sporokista, yang kemudian berkembang menjadi  redia dan akhirnya terbentuk serkaria. Sesudah itu serkaria meninggalkan tubuh siput yang menjadi hospes perantara pertama, kemudian mencari hospes perantara kedua, yaitu ikan air tawar (Cyprinidae). Serkaria menembus bagian bawah sisik ikan dan tumbuh menjadi metaserkaria, lalu berkembang menjadi kista metaserkaria yang infektif bagi hospes definitif. 

Gejala klinis. Di dalam saluran empedu cacing menimbulkan iritasi mekanis. Selain itu cacing ini juga menghasilkan toksin. Pada infeksi yang ringan cacing  tidak menimbulkan keluhan dan gejala pada pasien . Infeksi berat Clonorchis sinensis dapat menimbulkan kelemahan badan, penurunan berat badan, anemia, edema, asites, hepatomegali dan diare.

diagnosa . Jika di daerah endemis klonorkiasis yang penduduknya memiliki  kebiasaan makan ikan mentah ditemukan hepatomegali pada seorang penduduk, terjadinya infeksi dengan parasit ini harus dipertimbangkan. 

Untuk menetapkan diagnosa  pasti klonorkiasis sinensis harus dilakukan pemeriksaan tinja atau cairan duodenum pasien  untuk menemukan telur cacing yang khas bentuknya.  Pengobatan. Obat pilihan untuk mengobati pasien  klonorkiasis yaitu  Prazikuantel. Dengan takaran 25 mg/kg berat badan  3 kali sehari selama 1-2 hari atau  40 mg/kg berat badan obat ini diberikan dalam bentuk dosis tunggal. Selain itu dapat diberikan Albendazol dengan dosis 10 mg/kg berat badan, diberikan selama 7 hari.  


Pencegahan. Untuk mencegah terjadinya infeksi dengan Clonorchis sinensis ikan yang akan dimakan harus dimasak dengan baik. Pencemaran perairan dengan tinja pasien  harus dicegah dengan cara  membuat WC yang memenuhi prinsip kesehatan lingkungan.



Opistorchis 


Opistorkiasis (infeksi yang dipicu oleh  cacing Opistorchis) menimbulkan penyakit yang gejala dan keluhannya mirip klonorkiasis. Opistorchis viverrini endemis di Thailand, Kamboja dan Laos, sedang  Opistorchis felineus tersebar di Rusia, Eropa Timur  dan Asia (Vietnam dan India).

Opistorchis dewasa hidup di dalam saluran empedu hospes definitif, yaitu pasien  dan mamalia pemakan ikan .


Anatomi dan morfologi

Cacing dewasa. Opistorchis dewasa berbentuk  seperti pisau bedah (lanset), dengan panjang badan antara  7-12 mm, dan lebar badan antara 2-3 mm. 

Sucker. Cacing ini memiliki   dua jenis alat isap, yaitu alat isap mulut (oral sucker) dan alat isap ventral (ventral sucker) yang sama besar ukurannya.

Alat reproduksi. Opistorchis memiliki  uterus yang berlobus dan berbentuk melingkar terletak di pertengahan tubuh.  Cacing ini juga memiliki   dua buah testis yang juga berlobus.Vitellaria. Kelenjar vitellin ini terletak di sepertiga tubuh bagian tengah.


Telur. Telur Opistorchis bentuknya mirip telur Clonorchis sinensis, berukuran sekitar  30 mikron x 12-16 mikron (O.felineus) dan 26x13 mikron (O.viverrini). Telur ini telah mengandung embrio di dalamnya.



Gambar 99.  Opistorchis  dan  Clonorchis sinensis. 

Opistorchis viverrini B. O. felineus C. Clonorchis sinensis

(Sumber: http://www.impe-qn.org.vn/upload) 


Daur hidup. Selain pasien , anjing, kucing dan mamalia pemakan ikan lainnya merupakan hospes definitif cacing ini. Sebagai hospes perantara pertama dalam daur hidup Opistorchis yaitu  siput (Bulimus). Di dalam tubuh siput, telur yang tertelan akan menetas menjadi larva mirasidium, yang kemudian berkembang menjadi larva serkaria.  Larva ini kemudian meninggalkan tubuh siput, mencari hospes perantara yang kedua, yaitu ikan dari keluarga Cyprinidae. Di dalam tubuh ikan  serkaria akan berkembang menjadi metaserkaria yang infektif. Infeksi 


cacing terjadi sebab  makan ikan mentah yang mengandung larva metaserkaria.    


Gambar 100. Daur hidup Opistorchis viverrini


Gejala klinis dan diagnosa . Opistorchis memicu terjadinya kerusakan hati dan pembesaran hati (hepatomegali), diikuti dengan terjadinya perubahan sifat jaringan menjadi adenoma dan karsinoma papiler. Gejala klinis yang dialami pasien  berupa hilangnya nafsu makan, dispepsi, kembung, nyeri epigastrium, demam, hepatomegali, ikterus, diare dan anemia. Jika terjadi urtikaria, gambaran darah tepi akan menunjukkan gambaran leukositosis yang tidak disertai eosinofilia. diagnosa  pasti opistorkiasis ditetapkan jika pada pemeriksaan tinja atau cairan duodenum pasien  dapat ditemukan telur cacing yang spesifik bentuknya.  


Pengobatan dan pencegahan. Untuk mengobati infeksi cacing ini digunakan Prazikuantel sebagai obat pilihan dengan dosis tunggal 40 mg/kg berat badan atau diberikan 3x 25 mg/kg berat badan per hari diberikan selama 1 hari. 

Gentian violet dapat juga digunakan untuk mengobati opistorkiasis.

Untuk mencegah infeksi opistorkiasis, dianjurkan untuk selalu memasak ikan dengan baik serta menjaga kebersihan lingkungan dan  mengobati pasien .

Fasciola hepatica merupakan trematoda hati yang sering menginfeksi domba,  sebab  itu cacing ini disebut sebagai sheep liver fluke. Cacing dewasa hidup di dalam saluran empedu bagian proksimal dan di dalam kantung empedu hospes definitif (pasien , herbivora). Infeksi dengan Fasciola hepatica disebut fasioliasis yang tersebar luas di berbagai daerah di seluruh dunia.


Anatomi dan morfologi

Cacing dewasa. Fasciola hepatica dewasa memiliki  ukuran panjang tubuh antara 20 dan 30 mm dan lebar badan antara 8 dan 13 mm. Bentuk cacing dewasa pipih seperti daun yang memiliki  tonjolan khas di daerah anterior (cephalic cone), sehingga memberi gambaran seperti bahu (shoulder). 

Sucker. ada  dua jenis alat isap, yaitu oral sucker dan ventral sucker yang sama ukuran besarnya.  

Usus. Fasciola hepatica memiliki  usus yang memiliki   cabang-cabang lateral yang mencapai ujung distal dari sekum.


Alat reproduksi. Ovarium dan testis cacing ini bercabang, sedang  uterusnya melingkar.

Vitellaria. Vitellaria cacing ini memiliki  percabangan yang intensif dan tersebar luas ke seluruh jaringan parenkim cacing.


Telur. Bentuk telur cacing lonjong, memiliki  operkulum. Ukuran panjang telur antara 130-150 mikron dan lebar 63-90 mikron. Waktu telur keluar dari tubuh hospes definitif, telur belum berembrio dan tidak infektif. 

                     



Gambar 102 . Struktur Fasciola hepatica

(a). cacing dewasa. 1. oral sucker  2. faring  3.cephalic cone 4. sekum  

      5. ventral sucker  6. uterus 7. ovarium  8. testis  9..vitellaria.10. ekor

(b). telur cacing   (c). serkaria


Daur hidup. Hospes definitif cacing ini yaitu  pasien  dan herbivora, sedang  siput air tawar Lymnea bertindak sebagai hospes perantara utama. Hospes perantara yang kedua yaitu  tanaman air atau rumput, yang menjadi tempat 

berkembangnya kista metaserkaria (metacercarial cyst) yang merupakan stadium infektif cacing ini. Jika telur cacing yang ke luar bersama tinja pasien  masuk ke dalam air, dalam waktu 9 sampai 15 hari di dalam telur akan terjadi pertumbuhan mirasidium. Setelah menetas  mirasidium akan berenang mencari siput yang menjadi hospes perantara pertama. 

Di dalam tubuh siput mirasidium tumbuh menjadi sporokista, redia,  dan selanjutnya berkembang menjadi serkaria (cercaria). Serkaria akan keluar dari tubuh siput dan berenang untuk mencari tumbuhan air atau rumput dan berubah menjadi kista metaserkaria yang infektif.


Gambar  103. Daur hidup Fasciola  hepatica


Jika pasien  termakan stadium infektif (kista metaserkaria) yang ada  pada tumbuhan air, di dalam duodenum metaserkaria akan lepas dari jaringan tanaman air, melakukan migrasi melalui dinding usus dan mencapai hati melalui aliran darah. Sebagian besar metaserkaria akan mencapai saluran empedu dan kandung empedu, kemudian akan  berkembang menjadi cacing dewasa.Gejala klinis. Fasciola hepatica dewasa dapat memicu keradangan pada saluran empedu, menimbulkan atrofi pada parenkim hati dan kemudian dapat terjadi sirosis periportal. Dari usus cacing muda mengadakan migrasi ke hati yang dapat menimbulkan lesi ektopik di dinding usus, jantung, bola mata, paru, dan jaringan di bawah kulit. Terjadinya penyakit halzoun (laringofaringitis) pada penduduk Afrika Utara dan Timur Tengah dipicu adanya kebiasaan penduduk daerah tersebut makan organ hati dalam keadaan mentah yang mengandung cacing Fasciola hepatica muda yang kemudian melekat di mukosa faring.   


diagnosa . Pada pasien  fasioliasis terjadi hepatomegali disertai sindrom demam eosinofilik. Untuk menegakkan diagnosa  pasti terjadinya infeksi dengan Fasciola hepatica harus dilakukan pemeriksaan tinja dan empedu pasien  untuk menemukan telur cacing yang khas bentuknya

Pemeriksaan serologi misalnya uji fiksasi komplemen atau tes intradermal dapat dilakukan  untuk membantu menegakkan diagnosa  fasioliasis hepatica. 


Pengobatan. Sebagai obat pilihan terhadap fasioliasis hepatica yaitu  Triclabendazol dengan dosis (dewasa dan anak) 10 mg/kg yang diberikan satu atau dua kali pemberian. Obat pilihan pengganti yang bisa diberikan yaitu  Bithionol dengan dosis (dewasa dan anak) 30-50 mg/kg dua hari sekali selama 10-15 dosis atau Nitazoxanide 2x500 mg selama 3 hari untuk orang dewasa. Dosis anak Nitazoxanide: umur 1-3 tahun 2x100 mg dan umur 4-.11 tahun 2x200 mg, yang diberikan selama 3 hari. 

Prazikuantel juga bisa diberikan dengan dosis 25 mg/kg berat badan 3x sehari atau diberikan sebagai dosis tunggal sebesar 40 g/kg berat badan selama satu atau dua hari. Selain itu Emetinhidroklorida sebanyak 30 mg setiap hari selama 18 hari melalui suntikan intramuskuler dapat digunakan untuk mengobati infeksi cacing ini.  Diklorofenol juga dapat digunakan untuk mengobati infeksi Fasciola hepatica. 

Pencegahan. Penularan fasioliasis dapat dicegah dengan mengobati setiap pasien  dengan baik. Daur hidup parasit dapat diputuskan dengan memberantas siput yang menjadi hospes perantara pertama. Larva infektif yaitu metaserkaria dapat dibasmi dengan memasak dengan baik  sayuran yang akan dimakan. 

Penyakit halzoun dapat dicegah dengan tidak makan organ hati dalam keadaan mentah, tetapi harus dimasak lebih dahulu.

Dicrocoelium dendriticum   


Dicrocoelium dendriticum yang disebut juga sebagai lancet fluke dan tersebar di seluruh dunia ini hidup di dalam saluran empedu dan jaringan hati hospes definitif, yaitu biri-biri dan kadang-kadang pasien .


Anatomi dan morfologi

Cacing dewasa. Bentuk cacing dewasa seperti pisau bedah (lanset). Ukuran  panjang badan cacing sekitar  5 mm -15 mm, sedang   lebar badan antara .1,5 mm - 2,5 mm.

Sucker. Cacing ini memiliki  oral sucker maupun ventral sucker yang sama besar ukurannya.

Alat pencernaan. Usus cacing memiliki  sekum yang tidak bercabang.

Alat reproduksi. Cacing memiliki uterus yang bentuknya  melingkar, yang ada  di bagian posterior tubuh cacing. Selain itu ada  dua buah testis yang besar ukurannya  dengan lobus yang tidak nyata. Testis terletak di sebelah anterior ovarium yang berukuran kecil dan bulat bentuknya. 

Vitellaria. Kelenjar ini terletak di sepertiga tubuh bagian tengah.


Telur. Warna telur coklat tua, berdinding tebal dan memiliki  operkulum. Telur cacing yang berukuran 38-45 mikron x 22-30 mikron mengandung mirasidium 

yang sempurna di dalamnya. 


Daur hidup. Sebagai hospes definitif utama Dicrocoelium dendriticum yaitu  domba, sedang  pasien  jarang terinfeksi cacing ini. Hospes perantara pertama cacing ini yaitu  siput darat misalnya Cochlicella dan Abida sedang  yang bertindak sebagai  hospes perantara yang kedua yaitu  semut Formica fusca.  

Jika telur yang keluar bersama tinja pasien  dimakan siput darat, telur akan  menetas menjadi larva mirasidium di dalam tubuh siput. Larva mirasidium kemudian  berubah menjadi sporokista, lalu berkembang menjadi serkaria.


Gambar 104. Daur hidup Dicrocoelium dendriticum


Serkaria yang keluar dari tubuh siput jika dimakan semut akan tumbuh menjadi metaserkaria yang infektif. Bila semut termakan hospes definitif, metaserkaria akan ke luar dari kista, menembus dinding usus hospes definitif lalu menuju ke hati dan saluran empedu melewati sistem portal.


Gejala klinis dan diagnosa . sebab  kerusakan mekanis dan toksik yang terjadi pada hospes sangat kecil, maka keluhan pasien  dan gejala klinis sangat ringan, berupa gangguan pencernaan, kembung, muntah, kolik empedu, diare atau konstipasi kronis. 

Untuk menetapkan diagnosa , harus dilakukan pemeriksaan tinja untuk menemukan  telur cacing yang khas bentuknya.


Pengobatan dan pencegahan. Prazikuantel diberikan dengan dosis 25 mg/kg berat badan yang diberikan tiga kali sehari selama dua hari, atau diberikan dalam bentuk dosis tunggal sebesar 40 mg/kg berat badan. Klorokuin atau gentian violet dapat diberikan, sesuai dengan beratnya infeksi. 

Pencegahan sulit dilakukan sebab  hospes perantara sulit ditemukan.



TREMATODA PARU


Paragonimus  westermani  


Paragonimus westermani yaitu  parasit zoonosis yang dikenal sebagai cacing paru yang memicu penyakit paragonimiasis. Cacing dewasa hidup dalam bentuk kista di jaringan paru hospes definitifnya, yaitu hewan pemakan ketam dan kadang-kadang pasien .

Cacing ini tersebar di berbagai daerah di Asia, misalnya Cina, Taiwan, Korea, Jepang, Filipina, Thailand, Vietnam, Malaysia, India, Afrika, Amerika Utara dan Amerika Selatan.


Anatomi dan morfologi

Cacing dewasa. Paragonimus westermani dewasa berwarna coklat kemerahan, dengan panjang badan sekitar 16 mm x 8 mm dan ketebalan 5 mm. Pada waktu hidup cacing paru berbentuk seperti sendok, sedang   jika telah mati bentuknya menjadi bulat lonjong mirip biji kopi. Kutikula cacing ini memiliki kutikula berspina yang merupakan ciri khas morfologinya.

Gambar 105. Paragonimus westermani. (a) cacing dewasa (b) telur

(URL:  http://www.wadworth.org/parasitology) 

Sucker. Cacing paru memiliki  dua jenis alat isap yaitu oral sucker dan ventral sucker yang  sama besar.

Alat reproduksi. ada  dua buah testis berlobus yang tidak teratur bentuknya, yang terletak berdampingan pada sepertiga tubuh bagian posterior. Terletak di bagian anterior dari testis dan berada di bagian posterior dari ventral sucker ada  ovarium yang juga memiliki  lobus-lobus. 

Vitellaria. Kelenjar vitelin ini memiliki  banyak cabang,  memenuhi seluruh bagian tepi badan parasit.


Telur. Telur Paragonimus berwarna kuning kecoklatan, berbentuk lonjong dengan ukuran sekitar 95x55 mikron. Telur cacing ini memiliki  operkulum yang menebal tepinya. Ketika baru ke luar dari tubuh induknya, telur belum berisi mirasidium.

Gambar 106.   Bagan struktur Paragonimus westermani 

(a) dewasa (b) telur (c) serkaria. 

              1.alat isap mulut  2. spina  3. faring  4. sekum  5. vitelaria  6. ovarium

              7. alat isap ventral  8. uterus  9. testis  


Daur hidup. Bertindak sebagai hospes definitif Paragonimus  yaitu  hewan pemakan ketam dan pasien . Sebagai hospes perantara pertama dalam daur hidup cacing ini yaitu  siput genus Hua, Semisulcospira dan Thiara,  sedang ketam atau udang batu merupakan hospes perantara yang kedua.  Bersama dahak atau tinja pasien , telur cacing keluar dari tubuh hospes definitif.  Di dalam air telur akan berkembang dan kemudian menetas menjadi larva mirasidium dalam waktu 3 minggu. Mirasidium kemudian akan memasuki tubuh siput dan tumbuh menjadi sporokista, lalu menjadi redia dan akhirnya berkembang menjadi serkaria. Larva serkaria kemudian meninggalkan tubuh siput, memasuki badan ketam atau udang batu, dan berkembang menjadi metaserkaria yang infektif.


Cara infeksi. Paragonimiasis terjadi jika orang makan ketam atau udang mentah yang mengandung metaserkaria yang merupakan stadium infektif. Metaserkaria kemudian berkembang menjadi cacing muda di dalam duodenum, lalu menembus dinding usus dan masuk ke dalam rongga perut. Kemudian cacing muda akan menembus diafragma, memasuki rongga pleura dan akhirnya mencapai jaringan paru. Cacing muda tumbuh menjadi cacing dewasa di dalam rongga kista yang terbentuk di dekat bronkus. 


Gejala klinis. Akibat adanya  cacing dewasa di dalam jaringan paru menimbulkan batuk kering yang  terjadi pagi hari yang kadang-kadang disertai dahak berdarah (hemoptisis). Nyeri dada yang timbul disertai demam ringan menyulitkan membedakannya dari TBC paru, pnemonia atau bronkiektasi. Cacing yang mengadakan migrasi pada organ-organ  menimbulkan reaksi berbeda, tergantung pada organ yang terserang. Infeksi ringan cacing ini dapat menyembuh dengan sendirinya, sedang  pada infeksi yang berat atau jika parasit ada  di otak akan memicu buruknya prognosis..


diagnosa . pasien  paragonimiasis menunjukkan gejala klinis yang sulit dibedakan dari penyakit-penyakit paru lainnya. Pada pemeriksaan darah ada  gambaran eosinofilia sedang  pada foto paru dapat ditunjukkan adanya kista cacing yang dapat membantu menegakkan diagnosa  paragonimiasis. Selain itu pemeriksaan imunologik misalnya uji fiksasi komplemen atau tes intradermal dapat juga membantu menegakkan diagnosa . 


Untuk menegakkan diagnosa  pasti paragonimiasis harus ditemukan telur cacing dalam dahak atau tinja pasien . Mungkin telur cacing  juga dapat ditemukan pada hasil aspirasi pleura.

Pengobatan dan pencegahan. Sebagai obat pilihan untuk mengobati paragonimiasis yaitu  Prazikuantel dan sebagai obat pilihan pengganti dapat digunakan Bithionol.

Prazikuantel dengan dosis 25 mg/kg berat badan diberikan 3 kali sehari selama dua hari atau 40 mg/kg berat badan sebagai dosis tunggal. 

Bithionol diberikan dengan dosis  30-50 mg/kg dua hari sekali sebanyak 10-15 dosis.


Untuk mencegah penyebaran parasit ini, ketam dan udang yang dimakan harus dimasak dengan baik.


TREMATODA DARAH

Schistosoma



Tiga spesies Schistosoma yang menimbulkan masalah kesehatan  pada pasien  yaitu  Schistosoma japonicum, Schistosoma haematobium dan Schistosoma mansoni. Schistosoma yaitu  trematoda yang sistem reproduksinya tidak hermafrodit. 

Ukuran cacing jantannya lebih besar tetapi lebih pendek dari pada ukuran cacing betina. Cacing jantan memiliki canalis gynaecophorus, saluran  tempat cacing betina berada selama cacing jantan dan betina mengadakan hubungan kelamin.




Gambar 108. Schistosoma jantan dan betina

( URL: http://vet.kku.ac.th)


Sebaran geografis. Daerah sebaran skistosomiasis sesuai dengan sebaran populasi siput yang menjadi hospes perantara masing-masing spesies cacing. Schistosoma haematobium dilaporkan dari Afrika dan negara-negara Timur

Tengah, sedang  Schistosoma japonicum endemis di Asia Timur dan Asia Tenggara termasuk Indonesia. Schistosoma mansoni banyak dijumpai di Afrika, Amerika Tengah dan Amerika Selatan. 

Schistosomiasis japonicum di Indonesia dilaporkan endemis di  Sulawesi Tengah dengan prevalensi antara 12% sampai dengan 74%. Sesudah dilakukan pemberantasan sejak tahun 1995 melalui pengobatan pasien  dan pemberantasan siput penularnya, prevalensi schistosomiasis menurun pada tahun 2004 menjadi kurang dari 1%.


Tempat hidup. Cacing Schistosoma memiliki  tempat hidup di dalam vena-vena yang  berbeda, sehingga dalam pemeriksaan parasitologis telur cacing dapat ditemukan di dalam urine, atau pada  tinja pasien .   

Tempat hidup cacing Schistosoma japonicum yaitu  di dalam vena porta intrahepatik, vena mesenterika ileosekal dan didalam pleksus vena hemoroidalis, sehingga telurnya ditemukan di dalam tinja atau ditemukan dengan melakukan biopsi hati dan biopsi rektum. Cacing Schistosoma haematobium hidup di dalam vena-vena panggul, kandung kemih, prostat dan uterus sehingga telurnya dapat ditemukan di dalam urine pasien  atau dari bahan biopsi mukosa kandung kemih. Schistosoma mansoni telurnya dapat ditemukan di dalam tinja pasien  atau dari biopsi rektum sebab  cacing dewasa hidup di dalam vena mesenterika rektosigmoid dan di cabang intrahepatik vena porta.


Anatomi dan morfologi

Cacing dewasa. Saluran pencernaan cacing ini mula-mula bercabang menjadi dua sekum, kemudian di daerah posterior tubuh,  kedua cabang sekum akan kembali menjadi satu saluran buntu.

Sistem ekskresi. Cacing Schistosoma memiliki  sistem ekskresi berupa  sel api (flame cell) beserta dengan saluran-salurannya.  

Sistem reproduksi. Cacing jantan memiliki  testis berjumlah antara 4 sampai 9 buah yang terletak  di bagian dorsal di belakang ventral sucker. Cacing jantan tidak memiliki alat kopulasi. Di dalam uterus cacing betina

tampak berisi beberapa buah telur yang memiliki  spina atau duri yang khas bentuknya. 





Gambar 109. Morfologi Schistosoma

(a) jantan  (b) betina

1. oral sucker 2. ventral sucker  3. genital pore 4. testis  5. uterus  6. tuberkel 

 7. gynaecophoric canal  8. shell glands  9. ovarium  10.vitelline duct 11. vitelaria


Telur. Schistosoma berbeda dengan cacing Trematoda lainnya, telurnya tidak memiliki  operkulum, tetapi memiliki spina yang khas bentuknya untuk masing-masing spesies. Telur cacing pada waktu dikeluarkan dari tubuh induknya sudah berisi embrio yang sempurna berupa larva stadium pertama (mirasidium) yang berambut getar (cilia).Gambar 110. Diferensiasi telur Schistosoma

1. S. haematobium  (spina terminal) 2. S. mansoni  (spina lateral)

3. S. japonicum (lateral knob )


Serkaria. Larva cacing Schistosoma  memiliki   ekor  yang bercabang dua, merupakan stadium infektif yang mampu menembus kulit hospes definitif.

Spesies cacing Schistosoma dapat dibedakan morfologinya dengan memperhatikan ukuran cacing, gambaran tuberkel kulit, letak serta  jumlah testis dan ovarium, serta bentuk dan lokasi spina telur cacing. Lihat tabel di bawah ini.

Daur hidup. Untuk dapat melanjutkan daur hidupnya telur Schistosoma yang keluar dari tubuh hospes definitif bersama tinja atau urine harus masuk ke dalam air agar dapat menetas menjadi larva mirasidium. Mirasidium lalu berenang mencari hospes perantara, yaitu siput yang menjadi tempat  mirasidium berkembang menjadi sporokista, dan akhirnya tumbuh menjadi serkaria yang infektif.

pasien  terinfeksi cacing ini dengan masuknya serkaria secara aktif 

menembus kulit yang tak terlindung. Dengan melalui aliran darah aferen, serkaria mencapai jantung dan paru, lalu kembali ke jantung kiri, masuk ke sistem sirkulasi sistemik dan ke cabang-cabang vena porta, akhirnya sampai di hati. Parasit tumbuh menjadi cacing dewasa di dalam jaringan hati. Setelah cacing menjadi dewasa, cacing kembali ke vena porta, vena usus, atau vena kandung kemih sesuai dengan  tempat hidup masing-masing spesies cacing.

Masa prepaten dalam pertumbuhan cacing Schistosoma berbeda waktunya. Periode prepaten pada Schistosoma haematobium lamanya yaitu  10-12 minggu, Schistosoma mansoni 7-8 minggu, dan pada Schistosoma japonicum yaitu  5-6 minggu. 

Cacing Schistosoma yang hidup pada pasien  dapat mencapai unur 30 tahun. Pada daur hidup Schistosoma pasien  yaitu  hospes definitif utama, sedang  berbagai hewan mamalia yang juga dapat bertindak sebagai hospes definitif merupakan reservoir host.

Hospes definitif.  Schistosoma termasuk parasit zoonosis, sebab  selain pasien  berbagai jenis hewan juga dapat bertindak selaku hospes definitif. Primata, yaitu kera dan baboon dapat menjadi  hospes definitif Schistosoma haematobium, sedang  kera, baboon, opossum dan rodensia merupakan hospes definitif Schistosoma mansoni.  Hewan-hewan domestik  lain banyak yang dapat bertindak selaku hospes definitif Schistosoma japonicum , antara lain yaitu  anjing, kucing, sapi, kerbau, kuda, babi, rusa dan tikus.

Hospes perantara. Banyak genus siput yang dapat menjadi hospes perantara cacing Schistosoma, yaitu  Bulinus  dan Physopsis (hospes perantara Schistosoma haematobium), siput Oncomelania hupensis merupakan hospes perantara Schistosoma  japonicum, sedang   siput Biomphalaria dan Australorbis merupakan hospes perantara Schistosoma mansoni.



Gambar 115. Siput hospes perantara cacing Schistosoma.

       (a). Biomphalaria (b). Oncomelania   

(URL: http://www.ashbreure.nt/snailblog.png)



Gejala klinis dan diagnosa . Semua stadium cacing Schistosoma baik cacing dewasa, serkaria maupun telur cacing dapat memicu perubahan patologik pada jaringan tubuh pasien .ada  tiga tahapan klinis pada skistosomiasis, yaitu masa inkubasi biologis, tahap stadium akut, dan tahap stadiun kronis. 

Masa inkubasi biologis. Waktu antara saat masuknya serkaria menembus kulit sampai saat terjadinya cacing dewasa terjadi kelainan kulit dan gatal-gatal, disertai keradangan akut pada hati.Tahap stadium akut. Pada tahapan yang terjadi akibat terbentuknya telur cacing, terjadi  kerusakan jaringan dan perdarahan, pembentukan pseudoabses, pseudotuberkel dan pembentukan jaringan ikat.

Tahap stadium kronik.  Pada tahap stadium kronik terjadi proses-proses penyembuhan jaringan dan pembentukan jaringan fibrosis disertai pengecilan hati akibat telah terjadinya sirosis, terjadi pembesaran limpa, asites dan ikterus. Dapat juga terjadi hipertensi portal. 


diagnosa  pasti skistosomiasis ditentukan jika ditemukan telur Schistosoma yang spesifik bentuknya bagi masing-masing spesies pada tinja atau urine pasien , pada hasil biopsi kandung kemih atau biopsi rektum. Telur Schistosoma hematobium dapat ditemukan di dalam urine pasien  atau pasa hasil biopsi kandung kamih sedang  telur Schistosoma japonicum dan telur Schistosoma mansoni dapat ditemukan di dalam tinja atau pada hasil biopsi rektum. Telur Schistosoma japonicum dapat juga ditemukan melalui biopsi jaringan hati pasien . 


Pengobatan dan pencegahan. Obat pilihan untuk mengobati skistosomiasis yaitu  Prazikuantel. Pada pengobatan skistosomiasis mansoni dan haematobium, prazikuantel diberikan dengan takaran 40 mg per kg berat badan dalam 2 kali pemberian selama 1 hari. Sebagai obat pengganti untuk S.mansoni dapat diberikan Oxamniquin dengan dosis 15 mg/kg dengan satu kali pemberian (dewasa), sedang  pada anak diberikan dengan dosis 20 mg/kg/hari terbagi dalam 2 dosis , selama 1 hari. Untuk mengobati skistosomiasis japonicum Prazikuantel diberikan dengan takaran 60 mg per kg berat badan dalam 3 kali pemberian selama 1 hari.


Pengobatan skistosomiasis dapat juga dilakukan dengan memberikan Niridazole. Obat-obat lain, misalnya tartar emetik, antimon, dimerkaptosuksinat, ambilhar dan fuadin, hasilnya tidak sebaik pengobatan menggunakan prazikuantel dan niridazole. .


Untuk mencegah terjadinya penyebaran skistosomiasis harus dilakukan pengobatan masal pada seluruh penduduk daerah endemis. Selain itu harus dilakukan juga  perbaikan lingkungan hidup untuk mencegah pencemaran perairan oleh tinja, serta pemberantasan siput yang menjadi hospes perantara cacing Schistosoma.




Dermatitis serkarial


Cercarial dermatitis (Dermatitis  serkarial) yaitu  infeksi kulit yang dipicu oleh serkaria cacing Schistosoma yang secara alami hidup pada unggas atau mamalia. Sekresi kimia yang dihasilkan oleh kulit pasien  menarik perhatian serkaria Schistosoma  untuk menembus kulit pasien . Serkaria hewan dapat menimbulkan dermatitis yang berat pada kulit pasien , tetapi tidak dapat berkembang menjadi cacing dewasa dalam tubuh pasien  serkaria. Serkaria hewan yang hidup di air tawar atau yang hidup di air payau dapat menimbulkan dermatitis serkarial. sebab  itu dermatitis serkarial harus dibedakan dari erupsi kulit yang dipicu oleh larva ubur-ubur (yelly fish). 

Austrobilharzia variglandis yang hidup pada bebek (ducks) yaitu  salah satu schistosoma penyebabnya. Pada daur hidup cacing ini siput Nassarius obsoletus yang hidup di pantai laut daerah subtropis bertindak sebagai hospes perantara. 

Daur hidup. Sesudah masuk ke dalam air, telur Schistosoma unggas air misalnya bebek dan angsa  akan menetas menjadi larva mirasidium. Larva mirasidium memasuki tubuh siput tertentu yang bertindak sebagai hospes perantaranya, lalu

berkembang menjadi serkaria. Sesudah itu serkaria berenang bebas di air untuk mencari hospes definitif. Hanya serkaria yang menginfeksi kulit unggas akan terus berkembang menjadi cacing dewasa, sedang  serkaria  yang menembus kulit pasien  tidak dapat berkembang lebih lanjut menjadi Schistosoma dewasa.  

diagnosa . Dermatitis serkarial menimbulkan kelainan pada kulit berupa timbulnya kemerahan kulit sesudah  terjadinya kontak dengan air. Untuk membantu menegakkan diagnosa  dapat dilakukan pemeriksaan serologi dan melakukan uji kulit. 



Gambar 116. Infeksi  dermatitis serkarial

Pengobatan. sebab  dermatitis serkarial termasuk penyakit alergi, maka gejala-gejala  alergi yang dialami pasien  dapat diobati dengan obat-obat antihistamin, dan jika terjadi infeksi sekunder pasien  dapat diberi obat-obat antibiotika yang sesuai. Pencegahan. Untuk mencegah terjadinya dermatitis serkarial sebaiknya menghindari mandi di air yang diketahui banyak siput dan unggas yang hidup di daerah perairan tersebut. Kontak antara kulit dengan air yang diduga infektif tersebut  harus selalu dicegah terjadinya misalnya dengan memakai sepatu laras panjang pada waktu memancing atau melakukan kegiatan pada proyek perairan, pertanian, tambak ikan dan proyek irigasi lainnya.



NEMATODA



Bentuk tubuh cacing Nematoda yaitu  bulat panjang, silindris, filariform, tidak bersegmen, dan bilateral simetris dengan ukuran panjang tubuh yang sangat bervariasi, antara 2 mm sampai 1 meter. Nematoda yang tubuhnya tertutup oleh kutikulum ini sudah memiliki rongga tubuh (body cavity).. Sistem pencernaannya telah lengkap, tetapi sistem saraf dan organ ekskresinya belum sempurna. Sistem reproduksi. Sistem reproduksi Nematoda sudah terpisah antara jenis kelamin jantan dan betina sehingga cacing ini termasuk cacing yang diecious atau uniseksual. Organ reproduksi jantan terdiri dari testis, vas deferens, vesikula seminalis, dan duktus ejakulatorius sedang organ reproduksi betina terdiri dari ovarium, oviduk, seminal reseptakel, uterus, vagina dan vulva.

Sifat reproduksi cacing betina dapat vivipar (melahirkan larva), ovipar (bertelur), atau ovovivipar. Termasuk cacing yang vivipar antara lain yaitu  Dracunculus medinensis, Wuchereria bancrofti, Brugia malayi dan Trichinella spiralis. Telur Nematoda yang ovipar ada yang dikeluarkan dalam bentuk belum bersegmen misalnya pada cacing Ascaris lumbricoides dan Trichuris trichiura, ada yang sudah bersegmen misalnya pada cacing tambang atau telur sudah mengandung larva, misalnya pada cacing Enterobius vermicularis. Pada reproduksi ovovivipar telur cacing telah berisi larva yang  segera akan menetas sesudah ke luar dari badan induknya. Contoh cacing ovovivipar yaitu  Strongyloides stercoralis. 


Daur hidup. Untuk semua jenis Nematoda yang parasitik pada pasien  yang menjadi hospes definitif utama yaitu  pasien . Untuk melengkapi daur hidupnya Nematoda  pada umumnya tidak merlukan hospes perantara pada kecuali pada daur hidup Filaroidea dan Dracunculoidea. Jika cacing tidak memerlukan hospes perantara, telur cacing yang keluar dari tubuh pasien  harus berkembang lebih infektif lebih dahulu sebelum dapat menginfeksi pasien  atau hospes definitif lainnya. Cacing Trichinella spiralis yang definitif utamanya secara alami yaitu  babi dan pasien  merupakan hospes definitif alternatif, baik cacing dewasa maupun larvanya hidup pada satu jenis hospes definitif yang sama. 


Cara infeksi. Stadium infektif Nematoda dapat masuk ke dalam tubuh pasien  melalui enam jalan, yaitu:  

Telur infektif tertelan bersama makanan atau minuman yang tercemar misalnya pada Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura, dan Enterobius

vermicularis;

 Stadium infektif cacing yang ada di dalam tubuh hospes perantara tertelan bersama minuman, misalnya pada  Dracunculus medinensis;

Kista embrio cacing yang ada  dalam daging tertelan sebagai makanan, misalnya pada  Trichinella spiralis;

Larva infektif menembus kulit, misalnya pada infeksi cacing tambang dan Strongyloides stercoralis;

Stadium infektif cacing masuk ke dalam tubuh bersama gigitan serangga yang bertindak sebagai hospes perantara, misalnya pada infeksi Wuchereria bancrofti dan Brugia malayi;

Stadium infektif cacing terhirup melalui udara (per inhalasi),misalnya pada infeksi Enterobius vermicularis, dan kadang-kadang terjadi juga pada Ascaris lumbricoides.


Pengelompokan Nematoda. Cacing Nematoda berdasar pada tempat hidup cacing dewasanya  di dalam tubuh pasien  dikelompokkan menjadi :

Nematoda usus (Intestinal nematodes) yang  hidup di dalam usus: yang hidup di usus halus (small intestine) yaitu  Ascaris lumbricoides, Ancylostomum duodenale, Necator americanus, Strongylus stercoralis, dan Trichinella spiralis sedang  yang hidup di dalam sekum dan apendiks misalnya yaitu  Enterobius vermicularis dan Trichuris trichiura.


Nematoda somatik (Somatic Nematodes). Cacing ini hidup di dalam jaringan atau di dalam organ tubuh:

di dalam sistem limfatik, misalnya Wuchereria bancrofti dan Brugia malayi; 

 di jaringan subkutan misalnya Loa loa, Onchocerca volvulus dan Dracucnculus medinensis; 

di dalam mesenterium misalnya Acanthocheilonema perstans dan Mansonella ozzardi; 

 di konjungtiva mata, misalnya Loa loa; 

 di paru-paru misalnya Strongyloides stercoralis;

  di jaringan/organ hati, misalnya Capillaria hepatica.


Nematoda zoonosis. Beberapa jenis cacing Nematoda hewan larvanya hidup di dalam tubuh pasien  dan dapat menimbulkan penyakit yang disebut larva migrans. Dikenal  dua jenis larva migrans, yaitu cutaneous larva migrans yang ditimbulkan oleh larva Ancylostoma braziliensis, Ancylostoma caninum dan Gnathostoma spinigerum dan visceral larva migrans yang dipicu oleh larva Toxocara canis dan Toxocara cati.

Angiostrongylus cantonensis, cacing Nematoda yang hospes definitifnya yaitu  tikus,  larvanya dapat menimbulkan gangguan sistem saraf pusat pasien , misalnya  berupa meningitis atau ensefalitis.

Cacing Trichostrongylus yang hidup alami  di dalam tubuh hewan herbivora dapat ditemukan menginfeksi pasien  dan menimbulkan gejala klinis berupa gangguan yang ringan pada pencernaan atau  tidak menimbulkan gejala atau keluhan  (asimtomatis).


NEMATODA USUS


Ascaris lumbricoides  



Ascaris lumbricoides yang secara umum dikenal sebagai cacing gelang ini tersebar luas di seluruh dunia, terutama di daerah tropis dan subtropis yang kelembaban udaranya tinggi. Di Indonesia infeksi  cacing ini endemis di banyak daerah dengan jumlah pasien   lebih dari  60%. Tempat hidup cacing dewasa yaitu  di dalam usus halus pasien , tetapi kadang-kadang cacing ini dijumpai mengembara di bagian usus lainnya.   

Anatomi dan morfologi

Cacing dewasa. Cacing nematoda ini yaitu  cacing berukuran besar, berwarna putih kecoklatan atau kuning pucat. Cacing  jantan berukuran panjang antara 10-31cm, sedang  cacing betina panjang badannya antara 22-35 cm. Kutikula yang halus bergaris-garis tipis menutupi seluruh permukaan badan cacing. . Ascaris lumbricoides memiliki   mulut  dengan tiga buah bibir, yang terletak sebuah di bagian dorsal dan dua bibir lainnya terletak subventral.


Selain ukurannya lebih kecil daripada cacing betina, cacing jantan memiliki  ujung posterior yang runcing, dengan ekor melengkung kearah ventral. Di bagian posterior ini ada   2 buah spikulum yang ukuran panjangnya sekitar 2 mm, sedang  di bagian ujung posterior cacing ada  juga  banyak papil-papil yang berukuran kecil. 

Bentuk tubuh cacing betina membulat (conical) dengan ukuran badan yang lebih besar dan lebih panjang dari pada cacing jantan dan bagian ekor yang lurus, tidak melengkung.




Gambar 118. Ascaris lumbricoides. (a) cacing dewasa (b) telur cacing

(URL: http://missinglink.ucsf.edu)


Telur. Ascaris lumbricoides memiliki  dua jenis telur, yaitu telur yang sudah dibuahi (fertilized eggs) dan telur yang belum dibuahi (unfertilized eggs). Fertilized eggs berbentuk lonjong, berukuran 45-70 mikron x 35-50 mikron, 

memiliki  kulit telur yang tak berwarna. Kulit telur bagian luar tertutup oleh lapisan albumin yang permukaannya bergerigi (mamillation), dan berwarna coklat sebab  menyerap zat warna empedu. sedang  di bagian dalam kulit telur ada  selubung vitelin yang tipis, tetapi kuat sehingga telur cacing Ascaris dapat bertahan sampai satu tahun di dalam tanah. 


Fertilized eggs mengandung sel telur (ovum) yang tidak bersegmen,  sedang  di kedua kutub telur ada  rongga udara yang tampak sebagai daerah yang terang berbentuk bulan sabit. 

Unfertilized egg (telur yang tak dibuahi) dapat ditemukan jika  di dalam usus pasien  hanya ada  cacing betina saja. Telur yang tak dibuahi ini bentuknya lebih lonjong dan lebih panjang dari ukuran fertilized eggs dengan ukuran sekitar 80x 55 mikron; telur ini  tidak memiliki  rongga udara di kedua kutubnya. 


Dalam tinja pasien  kadang-kadang di ditemukan telur Ascaris yang telah hilang lapisan albuminnya, sehingga sulit dibedakan dari telur cacing lainnya. ada nya telur yang berukuran besar menunjukkan ciri khas telur cacing Ascaris.

                Daur hidup. Keluar  bersama tinja  pasien ,  telur cacing yang telah dibuahi jka jatuh di tanah yang  lembab  dan  suhu yang optimal telur akan  berkembang menjadi telur  infektif,  yang mengandung larva cacing. 

Pada pasien  infeksi  terjadi  dengan  masuknya  telur  cacing   yang infektif  bersama makanan  atau  minuman yang  tercemar  tanah yang  mengandung  tinja  pasien  ascariasis. Di dalam  usus halus bagian atas  dinding  telur akan   pecah   kemudian larva    keluar,  menembus  dinding usus halus  dan  memasuki vena porta hati. Dengan  aliran darah vena, larva beredar menuju jantung, paru-paru, lalu  menembus  dinding kapiler masuk ke dalam alveoli. Masa migrasi larva ini berlangsung sekitar 15 hari lamanya.

Sesudah itu larva cacing merambat ke bronki, trakea dan laring, untuk selanjutnya masuk  ke  faring, usofagus, lalu turun ke  lambung  dan akhirnya sampai ke usus halus. Selanjutnya larva berganti kulit dan tumbuh menjadi cacing dewasa. Migrasi  larva cacing dalam darah yang mencapai organ paru tersebut disebut lung migration”. Dua bulan sejak masuknya telur infektif melalui mulut, cacing betina mulai mampu bertelur. Seekor cacing Ascaris lumbricoides dewasa mampu bertelur dengan jumlah produksi telurnya dapat mencapai 200.000 butir per hari. 


Penularan askariasis. Infeksi askariasis dapat terjadi melalui beberapa jalan, yaitu telur infektif masuk mulut bersama makanan dan minuman yang tercemar, melalui tangan yang kotor sebab  tercemar tanah yang mengandung telur infektif, atau telur infektif terhirup melalui udara bersama debu. Jika telur infektif masuk melalui saluran pernapasan, telur akan menetas di mukosa jalan napas bagian atas, larva langsung menembus pembuluh darah dan beredar bersama aliran darah.


Perubahan patologi. Akibat beradanya cacing dewasa di dalam usus dan beredarnya larva cacing di dalam darah, akan terjadi perubahan patologis pada jaringan dan organ pasien . Larva cacing yang berada di paru-paru dapat menimbulkan pneumonia pada pasien  dengan gejala klinis berupa demam, batuk, sesak dan dahak yang berdarah. Selain itu pasien  juga mengalami urtikaria disertai terjadinya eosinofili sampai 20 persen pada gambaran darah tepi. Terdinya pneumonia yang disertai dengan gejala alergi ini disebut sebagai Sindrom Loeffler atau Ascaris pneumonia. 

Jika terjadi infeksi askariasis yang berat (hiperinfeksi), terutama pada anak-anak dapat terjadi  gangguan pencernaan dan penyerapan protein sehingga pasien   akan mengalami gangguan  pertumbuhan dan anemia akibat kurang gizi. Cacing Ascaris juga dapat mengeluarkan cairan  toksik yang dapat menimbulkan gejala klinis mirip demam tifoid disertai tanda-tanda alergi misalnya urtikaria, edema pada wajah, konjungtivitis dan iritasi pernapasan bagian atas. Sejumlah besar cacing Ascaris dewasa yang ada  di dalam lumen usus juga dapat menimbulkan berbagai akibat mekanis, yaitu terjadinya sumbatan atau obstruksi usus dan intususepsi. Cacing dewasa juga dapat menimbulkan  perforasi ulkus yang ada di usus. 

Pada pasien  yang mengalami demam tinggi, Ascaris lumbricoides dewasa dapat melakukan migrasi ke organ-organ di luar usus (askariasis ektopik), misalnya ke lambung, usofagus, mulut, hidung, rima glottis atau bronkus, sehingga menyumbat pernapasan pasien . Selain itu dapat juga dapat terjadi sumbatan saluran empedu, apendisitis, abses hati, dan pankreatitis akut.


diagnosa  askariasis. Untuk menetapkan diagnosa  pasti askariasis harus dilakukan pemeriksaan makroskopis  terhadap tinja atau muntahan pasien  untuk menemukan cacing dewasa.  Pada pemeriksaan  mikroskopis atas tinja pasien  dapat  ditemukan telur  cacing  yang khas bentuknya di dalam   tinja atau cairan empedu pasien .

Adanya cacing Ascaris pada organ atau usus dapat dipastikan jika dilakukan pemeriksaan radiografi dengan barium. Untuk membantu menegakkan diagnosa  askariasis, pemeriksaan darah tepi akan menunjukkan  terjadinya eosinofilia pada awal infeksi, sedang  scratch test pada kulit akan menunjukkan hasil positif.


Pengobatan askariasis. Berbagai obat cacing  efektif untuk mengobati askariasis dan hanya menimbulkan  sedikit efek samping, antara lain yaitu   Mebendazol, Ivermectin, Nitazoxanide, Pirantel pamoat, Albendazol dan Levamisol. Obat-obat cacing ini diberikan dengan takaran sebagai berikut:

Albendazol , 400 mg dosis tunggal (dosis dewasa dan anak);

Mebendazol, 500 mg dosis tunggal.atau 2x100 mg  selama 3 hari (dewasa dan anak);

Ivermectin: 150-200 mcg/kg dosis tunggal (dewasa dan anak);

Nitazoxanid: dosis dewasa 2x500 mg diberikan selama 3 hari; 

Dosis anak: Umur 1-3 tahun: 2x100 mg diberikan selama 3 hari, umur  4-11 tahun:  2x200 mg, diberikan selama 3 hari.

Pirantel pamoat:  dosis tunggal 10 mg/kg berat badan (base) maksimum 1.0 g . 

Levamisol: 120 mg dosis tunggal (dewasa), 2,5 mg/kg berat badan dosis (anak).

Selain itu piperasin masih dapat digunakan untuk mengobati  pasien   askariasis.


Pencegahan askariasis. Upaya pencegahan askariasis dapat dilakukan dengan melaksanakan  prinsip-prinsip kesehatan lingkungan  yang baik.  Membuat kakus untuk menghindari pencemaran tanah dengan tinja pasien , mencegah  telur  cacing mencemari makanan atau minuman, selalu memasak makanan dan  minuman sebelum dimakan atau diminum, serta menjaga kebersihan perorangan akan mencegah terjadinya infeksi cacing Ascaris.

Dengan mengobati  pasien  melalui pengobatan masal pada penduduk menggunakan obat cacing bersepektrum lebar di daerah endemis dapat memutuskan rantai daur hidup cacing Ascaris dan nematoda usus lainnya. Pendidikan kesehatan pada penduduk perlu   dilakukan  untuk  menunjang   upaya   pemberantasan dan pencegahan askariasis.



Enterobius vermicularis 


Nama lain cacing ini yaitu  Oxyuris vermicularis, dan dikenal secara umum sebagai  cacing keremi,  cacing jarum (pinworm), atau  seatworm. Infeksi cacing ini (oksiuriasis atau enterobiosis) tersebar luas di seluruh dunia, baik di daerah tropis maupun subtropis. Infeksi Enterobius lebih banyak dijumpai di daerah beriklim dingin  sebab  orang jarang mandi dan tidak sering berganti pakaian dalam.

Oxyuris dewasa hidup  di dalam sekum dan sekitar apendiks usus pasien , yang merupakan satu-satunya hospes definitif cacing ini. Cacing betina akan mengadakan migrasi ke daerah sekitar anus (perianal) untuk meletakkan telurnya di daerah tersebut.


Anatomi dan morfologi

Cacing dewasa. Enterobius vermicularis merupakan cacing Nematoda yang  berukuran kecil. Panjang badan cacing betina sekitar 13 mm, sedang  cacing jantan hanya sekitar 5 mm Cacing dewasa berwarna putih, dengan bagian leher yang melebar seperti sayap sebab  adanya pelebaran kutikula (disebut cervical alae). Cacing ini memiliki  usofagus yang khas bentuknya sebab  adanya pembesaran ganda (double-bulb oesophagus). Enterobius tidak memiliki  rongga mulut, tetapi memiliki tiga buah bibir. Cacing jantan memiliki  ekor yang melingkar, sedang  ekor cacing betina lurus dan runcing.  Di ujung posterior cacing jantan ada  spikulum dan papil-papil.

Gambar 122. Enterobius vermicularis. Cacing dewasa (kiri) Telur (kanan)

(Sumber:  CDC, http://www.perfecthealthlifestyle.com/images002)

Telur. Telur Enterobius bentuknya asimetris, tidak berwarna,  memiliki  dinding telur yang tipis dan tembus sinar. Telur berukuran sekitar 50-60 mikron x 30 mikron. Dalam waktu sekitar 6 jam sesudah dikeluarkan di daerah perianal oleh induknya, di dalam telur cacing sudah terbentuk larva yang hidup. Seekor cacing betina Enterobius mampu memproduksi telur sebanyak 11.000 butir per hari. 




Gambar 123. Bagan Enterobius vermicularis 

                  a. Cacing jantan  b. Cacing betina  c. Telur


Daur hidup. Hospes definitif satu-satunya cacing ini yaitu  pasien . Untuk melengkapi daur hidup Enterobius tidak diperlukan hospes perantara. Di daerah sekitar  perianal dan perineal pasien , telur yang diletakkan oleh cacing betina dalam waktu 6 jam sudah tumbuh menjadi telur infektif sebab  telah mengandung larva cacing.

Infeksi enterobiosis dapat terjadi melalui 3 jalan, yaitu penularan melalui mulut, penularan melalui pernapasan dan terjadinya retrofeksi. Penularan  terjadi melalui mulut jika telur yang infektif terbawa dari tangan ke mulut pasien  sendiri (autoinfection) atau  terjadi sebab   memegang benda yang tercemar telur infektif, misalnya alas tidur, bantal atau pakaian dalam pasien . Penularan 

melalui pernapasan, terjadi sebab  telur infektif yang beterbangan di udara terhirup oleh pasien . 

Penularan secara retrofeksi yaitu  penularan yang terjadi sebab  larva cacing yang menetas di daerah perianal masuk kembali ke dalam usus pasien , lalu berkembang menjadi cacing dewasa. Mudahnya terjadi penularan, memicu enterobiosis merupakan penyakit infeksi yang sering menjangkiti seluruh anggota keluarga, penghuni-penghuni panti asuhan atau panti jompo, di asrama-asrama, dan di tempat-tempat berkumpulnya banyak orang dalam waktu yang lama.




Gambar 124. Daur hidup Enterobius vermicularis.


Sesudah masuk ke dalam mulut atau melalui jalan napas sebab  menghirup udara yang tercemar,  telur cacing akan masuk ke dalam usus dan di dalam duodenum telur akan menetas. Larva rabditiform yang terbentuk akan tumbuh menjadi cacing dewasa di jejunum dan di bagian atas dari ileum. Dibutuhkan waktu 2 sampai 8 minggu lamanya agar daur hidup  cacing ini dapat berlangsung secara lengkap.

Perubahan patologi dan gejala klinis. Enterobius dewasa jarang menimbulkan kerusakan jaringan organ pasien . Migrasi induk cacing untuk bertelur di daerah perianal dan perineal menimbulkan gatal-gatal (pruritus ani) yang dapat mengganggu tidur pasien , dan bila digaruk dapat menimbulkan infeksi sekunder. Cacing betina yang mengadakan migrasi ke vagina dan tuba falopii dapat menimbulkan radang ringan di daerah tersebut.

Cacing Enterobius sering dijumpai di dalam apendiks, namun infeksi apendiks jarang terjadi. Jika terjadi migrasi cacing ke usus halus bagian atas, lambung atau usofagus, hal ini dapat menimbulkan gangguan ringan di daerah tersebut. jika pasien  tidak mengalami reinfeksi, enterobiasis dapat sembuh dengan sendirinya, sebab  cacing betina akan mati 2-3 minggu sesudah bertelur.


diagnosa  enterobiosis. Anak-anak yang mengalami gatal-gatal malam hari menjelang pagi di sekitar anus, apalagi jika disertai enuresis, mungkin  ia menderita enterobiasis. Untuk menetapkan diagnosa  pasti, telur cacing atau cacing dewasa harus dapat ditemukan.    

Anal swab. Hapusan anus ini yaitu menempelkan selotape transparan di daerah sekitar anus pasien  memudahkan ditemukannya telur cacing. Anal swab dilakukan segera sesudah bangun tidur pagi hari, sebelum mandi dan sebelum buang air besar. Dengan memeriksa selotape yang ditetesi toluen di bawah mikroskop akan memudahkan ditemukannya telur cacing.


Pengobatan enterobiosis. sebab  penularan enterobiasis sangat mudah terjadi pada seluruh anggota keluarga yang hidup dalam satu rumah, maka pengobatan infeksi cacing ini harus ditujukan terhadap seluruh anggota keluarga dalam waktu yang  bersamaan, dan sebaiknya sering diulang.  Obat-obat cacing pilihan untuk mengobati enterobiosis yaitu  Pirantel pamoat, Mebendazol dan Albendazol. Obat cacing yang juga dapat digunakan yaitu  Piperazin sitrat.   

Pemberian dan dosis obat-obat cacing tersebut yaitu  sebagai berikut:   

Pirantel pamoate. Obat cacing untuk dewasa maupun anak ini diberikan

dalam bentuk dosis tunggal dengan takaran 10 mg/kg berat badan (base), dengan pemberian maksimum 1.0 g. Pengobatan harus diulang 2 minggu kemudian terhadap seluruh keluarga serumah pasien .

Mebendazol. Diberikan sebanyak 100 mg (dewasa dan anak) dalam bentuk dosis tunggal, dan diulang 2 minggu kemudian.

Albendazol. Obat ini diberikan sebanyak 400 mg (dewasa dan anak) dalam bentuk dosis tunggal, dan diulang sesudah 2 minggu.

Piperazin sitrat. Dengan takaran 50 mg/kg berat badan/hari obat ini diberikan selama 7 hari, kemudian diulang sesudah 2-4 minggu. Pengobatan sebaiknya diberikan pada seluruh keluarga pasien  atau yang serumah.


Pencegahan enterobiosis. Dengan mengobati pasien  dan keluarganya atau orang yang hidup di dalam satu rumah, berarti memberantas sumber infeksi. Untuk mencegah penularan, kebersihan perorangan dan lingkungan harus dijaga terutama di lingkungan kamar tidur, dan diupayakan agar sinar matahari dapat masuk secara langsung ke dalam kamar tidur. Sinar matahari langsung  akan mengurangi jumlah telur cacing yang infektif, baik yang ada di perlengkapan kamar tidur maupun yang beterbangan di udara.  



Trichostrongylus 


Infeksi  parasit zoonosis  yang dipicu  oleh  cacing   genus Trichostrongylus,  (trichostrongiliasis) tersebar di seluruh  dunia  dan secara alami merupakan   parasit  pada   kuda, rodensiat, dan berbagai   hewan herbivora, serta pernah dilaporkan juga menginfeksi pasien . Derajat  infeksi pada pasien   umumnya  rendah. Penularan dari  pasien   ke pasien  umumnya  terjadi  pada  cacing Trichostrongylus orientalis  yang jarang  terjadi  pada hewan golongan ruminansia. 

Anatomi dan morfologi

Cacing dewasa. Bentuk cacing dewasa Trichostrongylus mirip cacing tambang oleh  sebab  memiliki   bursa  kopulatriks. Bentuk selubung mulutnya  tidak jelas, namun  bentuknya telurnya  mirip  telur cacing tambang.


Larva. Larva rabditiform memiliki  rongga mulut yang lebih pendek dibanding rongga mulut cacing tambang dan di ujung ekornya ada  pembesaran berbentuk bola. 

Daur hidup dan penularan. Jika telur Trichostrongylus yang  dikeluarkan  bersama  tinja jatuh di  tanah, telur akan menetas menjadi larva yang dapat menginfeksi hospes yang baru  melalui  kulit. Selain itu jika larva cacing menempel  pada daun tanaman, telur akan membentuk kista, sehingga dapat masuk melalui mulut bersama daun yang dimakan oleh herbivora. 

Penularan  trikostrongiliasis dari  hewan ke pasien  dapat terjadi akibat  penggunaan  tinja hewan untuk pupuk tanaman, sehingga sayuran yang dimakan tercemar  telur  cacing atau larva cacing  tersebut.  Selain itu penggunaan kotoran hewan untuk  bahan bakar  juga  mempermudah  terjadinya  penularan  infeksi cacing zoonosis ini.

     Gejala klinis dan diagnosa . Trichostrongiliasis pada  pasien  umumnya terjadi tanpa gejala (asimtomatik). pasien  kadang-kadang mengeluh adanya gangguan  pencernaan  berupa diare, nyeri lambung dan menurunnya berat badan.

Untuk menentukan diagnosa   terjadinya infeksi cacing ini terutama didasarkan atas  ditemukannya  telur cacing   pada  sediaan  tinja pasien  yang diperiksa  secara langsung, maupun melalui  metoda konsentrasi. Pada pemeriksaan  darah tepi tampak   gambaran adanya eosinofilia yang bersifat sementara.


Pengobatan dan pencegahan. Untuk mengobati trichostrongiliasis berbagai jenis obat  cacing dapat digunakan antara lain Pirantel pamoate (obat pilihan), Mebendazole, dan Albendazol. Obat Tiabendazol, Levamisol dan Befenium hidroksinaftoa dapat juga digunakan.


Dosis Pirantel pamoate yaitu  11 mg/kg base )maksimum 1 gram) dosis tunggal.

Sebagai obat pengganti dapat digunakan Mebendazol dengan dosis dewasa/anak  2x100 mg selama 3 hari dan Albendazol  dengan dosis tunggal 400 mg. 

Untuk mencegah penularan Trichostrongylus dari hewan ke pasien  dilakukan dengan menghindari  pemakaian  kotoran hewan untuk  pupuk  atau bahan bakar.   Selain  itu  semua  sayuran  yang  akan   dimakan hendaknya   dimasak  lebih  dahulu.   



Trichuris trichiura  


Trichuris trichiura memiliki   bentuk badan mirip cambuk, sehingga cacing ini sering disebut sebagai cacing cambuk (whip worm). Infeksi dengan Trichuris disebut trikuriasis. Cacing cambuk tersebar luas di daerah tropis yang berhawa panas dan lembab dan hanya dapat ditularkan dari pasien  ke pasien . Meskipun banyak cacing Trichuris yang menginfeksi hewan,  Trichuris trichiura  bukanlah  parasit zoonosis. 


Tempat hidup. Trichuris trichiura dewasa melekatkan diri pada mukosa  usus pasien , terutama di daerah sekum dan kolon, dengan membenamkan kepalanya di dalam dinding usus. Meskipun demikian cacing ini dapat ditemukan hidup di apendiks dan ileum bagian distal.


Anatomi dan morfologi. Bentuk tubuh cacing dewasa sangat khas, mirip cambuk, dengan tiga per lima panjang tubuh bagian anterior berbentuk langsing seperti tali cambuk, sedang  dua per lima bagian tubuh posterior lebih tebal mirip pegangan cambuk. Panjang cacing jantan sekitar 4 cm sedang  panjang cacing betina sekitar 5 cm. Ekor cacing jantan melengkung ke arah ventral, memiliki  satu spikulum retraktil yang berselubung. Badan bagian kaudal cacing betina membulat, tumpul berbentuk seperti seperti koma. 

Bentuk telur Trichuris trichiura khas bentuknya, mirip biji melon yang berwarna cokl