parasitologi 4
es.. Cestoda tidak memiliki sistem pencernaan berupa usus dan tubuhnya juga tidak memiliki rongga tubuh.
Tubuh cacing Trematoda berbentuk seperti daun, yang tidak tersusun atas segmen-segmen. Sistem reproduksi cacing Trematoda umumnya bersifat hermafrodit (monoecious) kecuali Schistosoma yang bersifat diecious. Cacing Trematoda juga memiliki alat isap (sucker), tetapi tidak memiliki kait. Alat pencernaan makanan sudah ada, namun ususnya tumbuh tidak sempurna dan tidak memiliki lubang anus untuk mengeluarkan sisa-sisa pencernaan makanan . Rongga tubuh tidak dimiliki oleh golongan cacing ini.
Tempat hidup cacing. Trematoda dewasa sebagian besar hidup di dalam usus atau jaringan paru hospes, dan beberapa spesies lainnya hidup di dalam pembuluh darah. Untuk melengkapi siklus hidunya trematoda selalu memerlukan siput selaku hospes perantara (intermediate host) yang menjadi tempat perkembang biakan (multiplikasi) stadium aseksual. Pada beberapa spesies trematoda kadang-kadang diperlukan hospes perantara kedua tempat terbentuknya stadium infektif yang dapat menginfeksi pasien .
Cacing Cestoda dewasa hidup di dalam usus pasien , sedang bentuk larvanya dapat hidup di dalam berbagai jenis organ dan jaringan hewan vertebrata yang menjadi hospes perantara cacing tersebut.
Cacing Nematoda yang menginfeksi pasien , tergantung pada spesiesnya, ada yang hidup di dalam usus, di dalam darah, di dalam saluran limfe atau di dalam jaringan subkutan. Beberapa jenis nematoda yang hidup di dalam darah atau saluran limfe atau di dalam jaringan subkutan, memiliki bentuk larva yang harus hidup dan brkembang di dalam tubuh nyamuk atau invertebrata lainnya sebelum dapat menginfeksi pasien .
CESTODA
Cacing Cestoda pada umumnya memiliki bentuk seperti pita, pipih ke arah dorsoventral, yang tersusun atas banyak ruas (segmen). Cestoda memiliki ukuran panjang yang sangat besar variasinya, antara beberapa milimeter sampai beberapa meter.
Cestoda dewasa memiliki tubuh yang terdiri dari kepala atau skoleks (scolex), leher, dan badan (strobila) yang tersusun dari banyak segmen yang disebut proglotid. Skoleks cacing Cestoda memiliki alat isap untuk menempel yang seringkali dilengkapi dengan kait-kait yang berfungsi untuk melekatkan diri pada organ tubuh pasien atau hewan yang menjadi hospes (host) tempatnya hidup. Segmen cacing Cestoda masing-masing memiliki alat reproduksi yang sudah sempurna. Setiap ekor cacing memiliki tiga jenis segmen, yaitu segmen imatur, segmen matur dan segmen gravid. Cacing Cestoda telah memiliki sistem saraf dan sistem pembuangan sisa-sisa metabolisme (excretory system). Struktur dan bagian tubuh Cestoda:
Scolex (skoleks): kepala cacing Cestoda yang memiliki alat isap (sucker).
Leher : bagian tubuh cacing yang ada di belakang kepala
Strobila: batang tubuh Cestoda yang tersusun dari banyak segmen.
Proglottid: satuan dari segmen atau ruas tubuh yang lengkap dari Cestoda.
Segmen: satu unit batang tubuh yang lengkap dari Cestoda.
Segmen imatur: segmen yang mengandung alat reproduksi jantan yang belum bisa dibedakan dari organ betina.
Segmen matur: segmen yang mengandung alat reproduksi yang sudah dapat dibedakan jantan betinanya.
Segmen gravid: segmen yang mengandung uterus penuh berisi telur cacing, sedang alat reproduksi lainnya mengalami atrofi.
Rostellum: bagian kepala cacing Cestoda yang menonjol dan memiliki dua deret kait (hooklets). Jika rostellum mengalami invaginasi, maka letaknya tersembunyi di antara alat isap.
Oncosphere (onkosfer): embrio cacing yang memiliki enam buah kait, yang ada di dalam telur.
Embryophore (embriofor): selubung tipis yang membungkus onkosfer.
Cysticercus (sistiserkus): larva Cestoda yang ada di dalam tubuh hospes perantara (intermediate host) terdiri dari kantung yang dindingnya mengandung skoleks dan rongga berisi sedikit cairan yang ada di bagian tengah.
Cysticercoid (sistiserkoid): larva Cestoda berbentuk kantung kecil berisi skoleks yang mengalami invaginasi di bagian proksimal, sedang di daerah kaudal ada bagian padat yang memanjang.
Hydatid cyst (kista hidatid): bentuk kista dari larva Echinococcus.
Coracidium (korasidium): onkosfer telur Diphyllobothrium yang memiliki silia untuk bergerak.Procercoid (proserkoid): stadium pertama larva Diphyllobothrium yang ada di dalam tubuh siklops.
Plerocercoid (pleroserkoid ): stadium kedua larva Diphyllobothrium.
Sparganum: pleroserkoid Diphyllobothrium yang menginfeksi pasien dan menimbulkan sparganosis.
Diphyllobothrium latum
Cacing pita ikan ( fish tapeworm) yang hidup di dalam usus halus (ileum) pasien , anjing, kucing, serigala dan hewan pemakan ikan ini menimbulkan difilobotriasis pada pasien dan hewan-hewan pemakan ikan. Infeksi pada pasien disebut difilobotriasis yang banyak dilaporkan dari berbagai daerah di dunia, antara lain dari Eropa Tengah, Amerika, Jepang dan Afrika Tengah. Cacing dewasa
Anatomi dan morfologi. Diphyllobothrium latum dewasa memiliki panjang badan yang dapat mencapai 10 meter. Segmen tubuhnya berwarna kelabu kekuningan, dengan bagian tengah tubuhnya berwarna gelap sebab adanya uterus yang penuh berisi telur.
Skoleks (scolex). Skoleks cacing ini berbentuk mirip sendok, dengan panjang antara 2-3 mm dan lebar 1 mm. Di bagian kepala ada dua lekukan yang berbentuk celah (bothria), yang pertama terletak di permukaan bagian dorsal dan celah yang lain terletak di permukaan tubuh sebelah ventral. Skoleks tidak
memiliki rostelum maupun kait.
Leher. Cacing memiliki leher yang kecil yang jauh lebih panjang dari ukuran panjang skoleks dan tidak bersegmen.
Proglotid (proglottids). Diphyllobothrium latum memiliki 3000 sampai 4000 buah segmen yang bentuknya melebar.
Segmen matur (mature segments). Segmen yang penuh berisi alat reproduksi jantan dan betina ini ukuran panjangnya antara 2-4 mm dengan lebar segmen antara 10-20 mm.
Terminal segment. Segmen yang terletak paling ujung yang mengerut sebab kosong, sudah tidak lagi berisi telur yang secara terus menerus dikeluarkan oleh induk cacing melalui uterine pore. Terminal segment akan terlepas secara berantai dan keluar bersama tinja pasien .
Ovarium. Ovarium tampak melingkar di bagian tengah segmen, berbentuk roset dan memiliki dua lobus yang berukuran besar.
Telur. Telur yang berukuran sekitar 70x 45 mikron ini berbentuk lonjong, berwarna coklat, memiliki operkulum pada salah satu ujungnya dan ada tonjolan kecil (knob) di ujung lainnya.
Larva. Sesudah telur menetas di air terbentuk tiga stadium larva yaitu korasidium (coracidium) yang merupakan larva stadium pertama, yang kedua yaitu larva proserkoid (procercoid) dan pleroserkoid (plerocercoid) sebagai stadium yang ketiga.
Daur hidup. Dalam daur hidupnya Diphyllobothrium latum melibatkan satu hospes definitif dan dua hospes perantara. pasien , anjing atau kucing yaitu hospes definitif cacing ini. Cacing dewasa dapat hidup sampai 13 tahun lamanya di dalam usus halus pasien . Hospes perantara pertama dalam daur hidup cacing ini yaitu siklops (cyclops, diaptomus) yang termasuk golongan crustacea, sedang ikan bertindak sebagai hospes perantara yang kedua.
Bersama tinja pasien telur cacing yang berada di dalam usus akan dikeluarkan dari tubuh hospes . Telur yang masuk ke dalam air akan menetas menjadi larva korasidium (coracidium), yang kemudian akan berenang bebas di dalam air. Korasidium yang dimakan oleh siklops, dalam waktu 3 minggu di dalam tubuh siklops korasidium berubah menjadi larva proserkoid (procercoid). Di dalam tubuh ikan (hospes perantara kedua) yang memakan siklops dalam waktu 3 minggu larva proserkoid akan berubah menjadi larva pleroserkoid (plerocercoid) yang infektif untuk hospes definitif (pasien , anjing atau kucing). Pleroserkoid akan berkembang menjadi cacing dewasa di dalam usus hospes definitif.
diagnosa dan gejala klinis. Di dalam usus pasien Diphyllobothrium latum dapat menimbulkan gangguan gastrointestinal yang memicu terjadinya defisiensi vitamin B12 sehingga pasien mengalami anemia pernisiosa.
Untuk menegakkan diagnosa pasti, dilakukan pemeriksaan tinja pasien untuk menemukan telur cacing dan segmen cacing yang khas bentuknya. Bentuk uterus pada segmen cacing yang khas memudahkan diagnosa infeksi cacing ini.
Pengobatan dan pencegahan. Prazikuantel, Niklosamid dan Atabrin dapat digunakan untuk memberantas cacingnya, sedang anemia pernisiosa diobati dengan memberikan vitamin B12 dan asam folat. Prazikuantel yang merupakan obat pilihan diberikan dalam bentuk dosis tunggal sebesar 600 mg (atau 5-10 mg/kg) untuk orang dewasa. Dosis tunggal anak yaitu 5-10 mg per kg berat badan. Dosis niklosamid untuk orang dewasa yaitu sebesar 2 gram dosis tunggal, sedang dosis anak yaitu sebesar 50 mg/kg dosis tunggal atau 0,5 gram untuk berat badan kurang dari 10 kg dan 1 gram untuk anak dengan berat badan di bawah 35 kg.
Infeksi Diphyllobothrium latum dapat dicegah penyebarannya dengan menjaga agar lingkungan perairan tidak tercemar oleh tinja pasien , misalnya dengan membuat kakus yang tidak berhubungan langsung dengan sungai atau saluran irigasi. Ikan yang akan dimakan harus dimasak dengan baik sebelum dimakan. Anjing dan kucing yang berada di daerah endemis penyakit ini jangan diberi makan ikan mentah.
Sparganosis
Yang dimaksud dengan sparganosis yaitu infeksi pada pasien yang dipicu oleh larva pleroserkoid (sparganum) Diphyllobothrium mansoni dan cacing difilobotrium hewan lainnya.
Cara penularan. Sparganum dapat menginfeksi pasien melalui tiga jalan, yaitu minum air mentah yang mengandung siklops yang infektif, makan hewan misalnya katak, tikus atau ular yang masih mengandung pleroserkoid hidup, atau menggunakan cacahan daging binatang misalnya katak yang infektif untuk mengobati luka terbuka.
Di berbagai jaringan tubuh pasien pasien sparganosis sparganum dapat ditemukan, terutama di daerah mata. Jika larva mati dan rusak berada di jaringan organ, sebab merupakan benda asing bagi pasien , akan menimbulkan reaksi lokal maupun gejala sistemik misalnya nyeri otot, konjungtivitis, pembengkakan mata, lakrimasi, ptosis, urtikaria, demam dan edema. Gambaran darah tepi menunjukkan adanya hipereosinofilia.
diagnosa sparganosis. sebab gejala klinis tidak khas, diagnosa pasti sparganosis hanya dapat ditegakkan jika ditemukan larva cacing di dalam jaringan yang terinfeksi. Pada inokulasi hewan coba menggunakan larva cacing yang ditemukan di dalam jaringan pasien sparganosis, akan berkembang menjadi cacing dewasa yang dapat ditentukan spesiesnya.
Pengobatan. Sparganosis hanya dapat diobati dengan mengeluarkan larva cacing dari dalam jaringan yang sakit melalui tindakan pembedahan.
Taenia solium
Cacing yang dikenal sebagai cacing pita babi ini tersebar luas di seluruh dunia (kosmopolit). Di Indonesia, infeksi cacing ini endemis di beberapa daerah di Irian Jaya, Bali, dan Sumatera Utara. Taenia solium dewasa hidup di dalam usus halus (jejunum bagian atas) pasien yang menjadi hospes definitifnya, sedang larvanya ditemukan di dalam jaringan organ tubuh babi yang bertindak sebagai hospes perantara cacng ini.
Anatomi dan morfologi. Taenia solium dewasa memiliki ukuran panjang badan antara 2 sampai 3 meter. Di dalam usus pasien cacing ini dapat hidup sampai 25 tahun lamanya. Tubuh cacing pita babi tersusun dari kepala, leher dan proglotid yang memiliki ciri-ciri anatomi dan Morfologi yang khas.
Skoleks (scolex). Kepala cacing khas bentuknya, berbentuk bulat, dengan garis tengah 1 mm dan memiliki memiliki alat isap. Kepala juga memiliki rostelum (rostellum) yang dilengkapi oleh 3 deret kait yang tersusun melingkar.
Leher. Cacing ini memiliki leher di belakang kepala yang pendek ukurannya,
dengan panjang antara 5 mm sampai 10 mm.
Proglotid (proglottid). Jumlah segmen Tenia solium pada umumnya kurang dari 1000 buah. Segmen matur yang berukuran sekitar 12 mm x 6 mm, memiliki lubang genital yang terletak di dekat pertengahan segmen. Berbeda dari Taenia saginata yang mempunya lebih dari 10 cabang lateral, cacing pita babi memiliki uterus gravid yang hanya memiliki 5-10 cabang lateral di tiap sisi segmen. Taenia solium melepaskan segmen gravid dalam bentuk rantai yang terdiri dari 5-6 segmen setiap kali dilepaskan.
Telur. Bentuk telur Taenia solium berbentuk bulat dengan kulit telur yang tebal dan memiliki garis-garis radialyang tidak dapat dibedakan dari bentuk telur Taenia saginata.
Daur hidup. Taenia solium termasuk parasit zoonosis, yang dapat ditularkan dari babi ke pasien dan sebaliknya pasien bertindak selaku hospes definitif yang menjadi tempat hidup cacing dewasa, sedang larva cacing ( cysticercus cellulosae) ada dalam bentuk kista di dalam jaringan dan organ babi yang bertindak sebagai hospes perantara.
Cacing dewasa melepaskan segmen-segmen gravid yang paling ujung dalam bentuk rantai, yang pecah di dalam usus sehingga telur cacing dapat dijumpai pada tinja pasien . Telur cacing yang ke luar tubuh pasien bersama tinja jika dimakan babi, di dalam usus babi dinding telur akan pecah, dan onkosfer akan terlepas. sebab memiliki kait, onkosfer dapat menembus dinding usus lalu masuk ke dalam aliran darah. Onkosfer akan menyebar ke jaringan dan organ-organ tubuh babi, terutama otot lidah, leher, otot jantung, dan otot gerak. Dalam waktu 60-70 hari pasca infeksi, onkosfer akan berubah menjadi larva sistiserkus (cysticercus cellulosae).
Infeksi pada pasien terjadi sebab makan daging babi mentah atau kurang masak, yang mengandung larva sistiserkus. Di dalam usus pasien , skoleks akan mengadakan eksvaginasi dan melekatkan diri dengan alat isapnya pada dinding usus. Skoleks lalu tumbuh menjadi cacing dewasa dan kemudian membentuk strobila. Dalam waktu 2-3 bulan cacing telah tumbuh menjadi cacing dewasa yang telah mampu memproduksi telur untuk meneruskan daur hidupnya.
Gejala klinis. Meskipun skoleks cacing memiliki kait, kait-kait pada skoleks cacing tidak banyak memicu kerusakan pada dinding usus tempatnya melekat. Keluhan pasien umumnya ringan, berupa rasa tidak enak di perut, gangguan pencernaan, diare, konstipasi, sakit kepala dan anemia. Komplikasi berupa peritonitis akibat kait yang menembus dinding usus sangat jarang terjadi. Pada pemeriksaan darah tepi pasien ada gambaran darah yang menunjukkan adanya eosinofili.
Prognosis. Pada taeniasis solium, infeksi oleh cacing dewasa, prognosis umumnya baik. Prognosis akan buruk, jika terjadi sistiserkosis akibat infeksi larva cacing ini.
diagnosa taeniasis solium. Adanya telur cacing Taenia yang ditemukan pada waktu pemeriksaan tinja pasien tidak dapat menentukan spesies cacing sebab telur Taenia solium sama bentuknya dengan telur Taenia saginata. diagnosa pasti taeniasis solium ditegakkan jika ditemukan cacing dewasa (segmen atau skoleks Taenia solium yang khas bentuknya) pada tinja pasien atau pada waktu dilakukan pemeriksaan daerah perianal.
Pengobatan. Pengobatan taeniasis dinyatakan berhasil jika ditemukan skoleks cacing. Obat cacing (anthelminthic) yang bisa digunakan untuk mengobati
taeniasis solium antara lain yaitu :
Prazikuantel yang merupakan obat pilihan untuk mengobati taeniasis diberikan dengan dosis 5-10 mg/kg berat badan, yang diberikan dalam bentuk dosis tunggal.
Niclosamide merupakan pengganti obat pilihan yang diberikan sebagai dosis tunggal sebesar 2 gram untuk orang dewasa dan 50 mg/kg berat badan untuk anak.
Mebendazol. Diberikan per oral dengan dosis 2x200 mg/hari selama 4 hari berturut-turut.
Albendazol. Obat ini diberikan pada orang dewasa dengan takaran 400 mg satu kali per hari, selama 3 hari berturut-turut. Untuk anak berumur 1 sampai 2 tahun, diberikan dosis 200 mg, sebagai dosis tunggal. Albendazol tidak boleh diberikan pada wanita hamil, sebab itu jika diberikan pada wanita usia 15-40 tahun, sebaiknya diberikan pada masa 7 hari sesudah awal menstruasi.
Atabrin. Obat ini diberikan melalui mulut ( per oral) atau secara transduodenal.
Pengobatan per oral. Sebaiknya hanya diberikan pada orang dewasa dengan cara pemberian sebagai berikut: 0.2 gram atabrin diberikan setiap 10 menit bersama sedikit air, sampai jumlah seluruhnya 1 gram. Bersama atabrin diberikan juga natrium bikarbonat dengan takaran yang sama. Dua jam kemudian dilakukan purgasi dengan larutan garam faali.
Transduodenal. Sesudah diberi penenang, pipa Ryle dimasukkan hingga mencapai duodenum. Sebanyak 1 gram atabrin yang dilarutkan dengan 100 ml air, dimasukkan ke dalam pipa duodenum dengan bantuan alat suntik. Purgasi dilakukan 30 menit sesudah pemberian obat.
Pencegahan taeniasis solium. Untuk mencegah terjadinya penularan taeniasis solium, harus dilakukan tindakan-tindakan sebagai berikut :
Pengobatan pasien untuk menghilangkan sumber infeksi dan mencegah terjadinya autoinfeksi dengan larva cacing.
Dilakukan pengawasan pada daging babi yang dijual, agar daging babi yang dijual tidak mengandung larva cacing (sistiserkus).Memasak daging babi sampai di atas 500 Celcius selama 30 menit, untuk membunuh kista larva cacing yang ada di dalam daging.
Menjaga kebersihan lingkungan dan tidak menggunakan tinja pasien sebagai makanan babi.
Sistiserkosis
Sistiserkosis yaitu infeksi larva Taenia solium pada pasien (larva Taenia solium disebut cysticercus cellulosae).
Cara infeksi. Jika pasien tertelan telur Taenia solium, misalnya bersama makanan yang tercemar tinja pasien taeniasis solium atau melalui tangan pasien yang tercemar tinja cacing. Selain itu, infeksi dapat terjadi akibat tertelan muntahan berasal dari lambung yang mengandung telur cacing akibat terjadinya gerak peristaltik balik usus.
Kelainan organ dan jaringan. Pada semua jaringan dan organ tubuh dapat terjadi sistiserkosis. Jumlah larva sistiserkus umumnya cukup banyak, bahkan dapat mencapai beberapa ratus larva sistiserkus pada satu orang pasien . Di dalam jaringan otak dan otot bergaris larva sistiserkus paling sering dijumpai. Larva sistiserkus akan memicu timbulnya reaksi pembentukan jaringan ikat untuk membungkus larva, yang kemudian diikuti dengan pembentukan cairan kista. Larva di dalam kista dapat bertahan hidup sampai 5 tahun lamanya. Jika larva cacing mati, kista kemudian akan mengalami pengapuran (kalsifikasi).
Di dalam otak dan mata larva sistiserkus dapat menimbulkan kerusakan yang dapat membahayakan jiwa pasien , sedang larva yang ada di otot dan jaringan subkutan tidak banyak menimbulkan keluhan pasien . Sistiserkosis otak (cerebral cysticercosis) dapat menimbulkan gangguan
gerakan motorik, kelainan saraf sensorik maupun gangguan mental pasien , tergantung tempat terjadinya kerusakan jaringan di otak pasien . Manifestasi klinis yang terjadi dapat menyerupai gejala-gejala tumor otak, meningitis, ensefalitis, maupun gangguan saraf pusat lainnya.
Sistiserkosis yang terjadi di dalam organ mata dapat menimbulkan nyeri bola mata, gangguan penglihatan, dan bahkan kebutaan, sedang sistiserkosis yang terjadi pada otot jantung dapat menimbulkan takikardi, sesak napas, sinkop dan gangguan irama jantung.
diagnosa sistiserkosis. Jika seorang pasien yang bertempat tinggal di daerah endemis taeniasis solium mengalami epilepsi atau gejala neurologik yang disertai riwayat adanya nodul subkutan, besar kemungkinan pasien mengalami sistiserkosis serebral.
diagnosa sistiserkosis jaringan dapat ditentukan melalui biopsi nodul jaringan, sedang pemeriksaan radiologi hanya dapat dilakukan jika telah terjadi kalsifikasi kista. Sistiserkosis mata pasien dapat diperiksa dengan oftalmoskop, sedang pemeriksaan serologi (fiksasi-komplemen, hemaglutinasi, dan tes intrakutan) dapat digunakan untuk membantu menegakkan diagnosa sistiserkosis.
Pengobatan sistiserkosis. Albendazole sebagai obat pilihan pengganti dengan
dosis dewasa 2x400 mg diberikan selama 8-30 hari, yang bisa diulang. pasien anak diobati dengan dosis 15 mg/kg berat badan/hari (maksimum 800 mg) terbagi dalam 2 dosis per oral diberikan selama 8-30 hari.
Prazikuantel dapat juga digunakan dengan dosis dewasa atau anak sebesar 50-100 mg/kg berat badan/hari terbagi dalam 3 dosis per oral diberikan selama 30 hari untuk mengobati sistiserkosis selulosae.. Pada pasien sistiserkosis otak (neurocysticercosis) yang diobati dengan prazikuantel dosis tersebut di atas harus diberikan selama 15 hari, sedang albendazole dapat diberikan selama 30 hari.
Reaksi alergi yang timbul akibat penggunaan prazikuantel atau albendazole, dapat diobati dengan memberkan kortikosteroid (Petunjuk Pemberantasan Taeniasis/ Sistiserkosis di Indonesia). Pengobatan taeniasis menggunakan prazikuantel atau albendazole harus dilakukan dibawah pengawasan petugas kesehatan atau dilakukan di rumah sakit.
Sistiserkosis mata harus diatasi dengan pembedahan, sedang sistiserkosis yang ada di dalam jaringan otak dapat ditangani dengan pembedahan jika hanya ada satu kista saja di dalam otak yang lokasinya memungkinkan untuk dilakukan pembedahan.
Sistiserkosis jaringan subkutan atau otot memiliki prognosis baik, sedang sistiserkosis jantung, otak, mata atau organ penting lainnya prognosisnya buruk.
Pencegahan sistiserkosis. Untuk mencegah terjadinya sistiserkosis selulosae, semua pasien taeniasis solium harus diobati dengan baik. Kebersihan perorangan maupun kebersihan lingkungan harus selalu dijaga agar tak tercemar dengan tinja pasien yang mengandung telur Taenia solium.
Taenia saginata
Cacing yang dikenal sebagai cacing pita sapi ini cacing dewasanya memicu infeksi pada pasien yang disebut taeniasis saginata. Penyebarannya bersifat kosmopolit dan dilaporkan secara luas di seluruh dunia. Larva cacing (cysticercus bovis) umumnya tidak memicu sistiserkosis bovis pada pasien .
Di dalam tubuh pasien cacing dewasa hidup di dalam usus halus bagian atas dan dapat bertahan hidup sampai 10 tahun lamanya.
Anatomi dan morfologi. Taenia saginata dewasa memiliki tubuh yang berwarna putih, tembus sinar. Panjang badannya dapat mencapai 24 meter dengan segmen yang dapat mencapai 2000 buah.
Gambar 69. Taenia saginata
(a). proglotid (b). skoleks (c). segmen matur
(URL: http://www.medicine.mcgill.ca/tropmed)
Kepala (scolex). Kepala cacing berbentuk segiempat dengan ukuran garis tengah antara 1 sampai 2 milimeter. ada 4 alat isap (sucker) di kepala tetapi tidak memiliki rostelum maupun kait.
Leher. Leher berbentuk sempit memanjang dengan lebar sekitar 0.5 milimeter.
Segmen. Seekor cacing dewasa memiliki sejumlah besar segmen yang yang
dapat mencapai 2000 buah. Segmen matur memiliki berbentuk segi empat panjang dengan ukuran panjang yang 3-4 kali ukuran lebarnya. Segmen gravid yang terletak paling ujung berukuran sekitar 0.5 cm x 2 cm, memiliki lubang genital yang terletak di dekat ujung posterior segmen.
Uterus. Uterus yang ada pada segmen gravid berbentuk batang memanjang, terletak di pertengahan segmen, memiliki 15-30 cabang di setiap sisi segmen. Berbeda dari Taenia solium, segmen gravid pada Taenia saginata dilepaskan satu demi satu, dan tiap segmen gravid dapat bergerak sendiri di luar anus.
Telur. Mirip dengan telur Taenia solium, dan hanya infektif untuk sapi.
Daur hidup. pasien merupakan hospes definitif Taenia saginata sedang yang bertindak selaku hospes perantara yaitu sapi atau kerbau. Infeksi pada pasien terjadi jika makan daging sapi atau daging kerbau yang masih mentah atau kurang matang memasaknya sehingga cysticercus bovis yang ada di dalam daging masih infektif.
Gambar 70. Daur hidup Taenia saginata
Kelainan jaringan. Kerusakan jaringan usus oleh sistiserkus bovis pada taeniasis
saginata pada umumnya sangat ringan, namun pasien dapat menunjukkan keluhan berupa rasa tidak enak pada perut, mual, muntah dan diare. Jika jumlah cacing dewasa yang ada di dalam saluran usus sangat banyak, kadang-kadang terjadi pembuntuan atau obstruksi usus yang dapat menimbulkan gejala-gejala klinis ileus. Pada pemeriksaan darah tepi ada gambaran adanya eosinofilia yang ringan.
diagnosa pasti taeniasis saginata hanya dapat ditetapkan jika ditemukan cacing dewasa, potongan segmen cacing, atau kepala (skoleks) cacing. Ditemukannya telur cacing Taenia pada tinja belum dapat memastikan diagnosa spesies taeniasis.
Pengobatan dan pencegahan. Obat-obatan untuk taeniasis solium dapat digunakan untuk mengobati taeniasis saginata.
Tindakan pencegahan taeniasis saginata pada prinsipnya sesuai dengan upaya pencegahan terhadap taeniasis solium, yaitu dengan jalan mengobati pasien , mengawasi daging sapi yang dikonsumsi atau daging kerbau yang dijual, memasak daging sapi dan daging kerbau sampai matang, serta menjaga kebersihan makanan yang diberikan pada sapi dan kerbau agar tidak tercemar tinja pasien .
Echinococcus granulosus dan hidatidosis
Cacing yang dikenal sebagai cacing pita anjing ini yaitu cacing zoonosis yang banyak dilaporkan dari seluruh dunia, terutama di daerah peternakan sapi dan domba. Echinococcus granulosus lebih banyak dijumpai di daerah subtropis dibanding daerah tropis. Dalam daur hidup cacing ini ada hubungan yang erat antara pasien dengan herbivora dan anjing agar daur hidup cacing menjadi lengkap. Sebagai hospes definitif cacing ini yaitu anjing dan sejenisnya. Cacing dewasa hidup di dalam usus halus hospes definitif tersebut. sebab pasien merupakan hospes perantara, di dalam tubuh pasien hanya dijumpai larva
cacing yang ada dalam bentuk kista (hydatid cyst).
Anatomi dan morfologi. Echinococcus granulosus termasuk cacing pita yang berukuran kecil. Cacing dewasa panjang tubuhnya antara 3-6 mm, terdiri dari skoleks, leher dan strobila yang terdiri dari 3 buah segmen. Segmen pertama yaitu segmen imatur, yang kedua segmen matur dan segmen ketiga yaitu segmen gravid. Segmen gravid merupakan segmen yang terletak paling ujung dan merupakan segmen yang terpanjang dan terbesar ukurannya, dengan panjang antara 2-3 mm dan lebar sekitar 0,6 mm.
Gambar 71. Echinococcus granulosus dewasa
(URL: http://www.emporia.edu/bioscience)
Skoleks (scolex). Kepala cacing ini memiliki 4 alat isap (sucker) dengan rostelum yang memiliki 2 deret kait yang tersusun melingkar.
Leher. Bagian leher berukuran pendek dan bentuknya melebar.
Telur. Echinococcus granulosus memiliki telur yang mirip dengan telur Taenia lainnya, berbentuk ovoid dengan ukuran panjang 32-36 mikron dan lebar 25-32 mikron. Di dalam telur ada embrio yang memiliki 3 pasang kait (hexacanth embryo). Telur ini hanya infektif untuk herbivora (misalnya domba, kambing, sapi dan kuda) dan pasien yang bertindak sebagai hospes perantara.
Larva. Di dalam tubuh hospes perantara telur cacing yang termakan akan tumbuh menjadi larva hidatid (hydatid larva) tetapi tidak dapat berkembang
Daur hidup. Daur hidup Echinococcus granulosus berlangsung pada dua macam hospes. Sebagai hospes definitif tempat hidup cacing dewasa yaitu golongan anjing misalnya serigala, sedang yang bertindak sebagai hospes perantara yaitu herbivora, terutama domba. pasien dapat bertindak sebagai hospes perantara pada daur hidup cacing ini.
Dari usus anjing yang terinfeksi Echinococcus granulosus telur-telur cacing ke luar bersama tinja Herbivora atau pasien yang tertelan telur infektif bersama makanannya misalnya rumput yang dimakan herbivora. Infeksi pada pasien juga terjadi sebab telur cacing tertelan, misalnya pada anak yang mengisap jarinya yang tercemar tinja anjing yang sakit, atau sebab adanya kontak erat pasien dengan anjing peliharaannya. Di dalam duodenum embrio heksakan menetas, lalu menembus dinding usus dan bersama aliran darah akan terbawa masuk ke organ hati, paru-paru, dan organ tubuh lainnya. Paru-paru dan organ hati merupakan organ-organ yang paling sering dapat ditemukan embrio cacing ini. Embrio kemudian akan tumbuh menjadi larva di dalam jaringan organ tubuh hospes perantara, dan lalu berkembang dengan membentuk kista hidatid.
Dari bagian dalam kista hidatid akan terbentuk brood capsule disertai pembentukan sejumlah besar skoleks. Dari satu kista hidatid yang berasal dari satu embrio dapat terbentuk ribuan skoleks baru.
Cacing dewasa di usus anjing 2. Telur cacing di dalam tinja anjing
3.Telur cacing tertelan domba, berkembang menjadi kista hidatid. Kista
hidatid di dalam daging domba termakan anjing, daur hidup selanjutnya
berlangsung. 4. Jika pasien tertelan telur cacing, kista hidatid terjadi pada
pasien (hidatidosis).
Jika kista hidatid yang matang (ada di dalam jaringan organ hospes perantara) termakan anjing, maka dalam waktu 6 minggu di dalam usus anjing larva akan tumbuh dan berkembang menjadi cacing dewasa.
Cacing dewasa Echinococcus granulosus di dalam tubuh anjing hanya dapat hidup selama 6 bulan, sedang dalam bentuk kista di dalam tubuh hospes perantara, larva parasit ini dapat bertahan hidup selama beberapa tahun.
Cara infeksi pada pasien . Infeksi hidatidosis pada pasien terjadi jika telur
cacing infektif yang ada di dalam tinja anjing tertelan dengan berbagai cara, yaitu melalui makanan yang tercemar tinja anjing, melalui piring makan yang juga digunakan untuk anjing, atau akibat kontak erat dengan anjing pasien ekinokokosis.
Adanya larva cacing ini di dalam organ tubuh pasien akan menimbulkan unilocular hydatid disease yang dapat menimbulkan gangguan pada organ tersebut. Gejala klinis yang terjadi akibat kista hidatid tergantung pada tempat ada nya kista di dalam organ. Kista yang ada di permukaan organ mungkin dapat dilihat atau dirasakan adanya benjolan. Kista di dalam organ umumnya bisa tidak menimbulkan gangguan atau keluhan selama bertahun-tahun. Tekanan kista terhadap jaringan organ dan jaringan di sekitarnya juga tergantung pada lokasi kista.
Kista hidatid yang pecah memicu cairan kista yang berasal dari sel-sel hewan mengadakan kontak dengan jaringan dan sel pasien yang dapat menimbulkan reaksi anafilaktik. Selain itu, dapat terjadi pembentukan kista sekunder di tempat lain baik yang menimbulkan akibat yang bersifat sistemik atau yang hanya menimbulkan gangguan setempat.
diagnosa hidatidosis. Untuk membantu menegakkan diagnosa hidatidosis akibat adanya kista hidatid, berbagai pemeriksaan laboratorium dapat dilakukan.
Tes alergi Casoni. Uji imunologis yang spesifik ini mudah dikerjakan. Sebanyak 0,2 ml cairan berasal darii kista hidatid yang sudah disterilkan disuntikkan intradermal pada orang yang diduga menderita hidatidosis. Jika reaksi positif, maka 30 menit sesudah suntikan akan terjadi benjolan sebesar 5 cm yang menunjukkan adanya pseudopodi (kaki semu), yang 1 jam kemudian akan menghilang.
Uji serologi. Berbagai pemeriksaan serologi dapat digunakan, antara lain yaitu : Indirect Hemagglutination (IHA), Bentonite Flocculation Test (BFT) dan Complement Fixation Test (CFT).Pemeriksaan darah tepi. Pada hitung jenis sel-sel darah akan dijumpai eosinofilia yang tinggi sampai sebesar 20%-25%.
Pemeriksaan Sinar-X. Pemeriksaan radiologis dikerjakan untuk menentukan secara dini adanya kista hidatid yang berada di dalam organ-organ misalnya di dalam paru-paru atau hati, sebelum pasien menunjukkan gejala klinis atau keluhan.
Tindakan dan pengobatan. Obat yang secara khusus dapat digunakan untuk mengobati hidatidosis yang telah terjadi pada pasien belum ditemukan. Beberapa tindakan yang dapat dilakukan yaitu operasi, terapi biologis , pemberian anti alergi dan obat cacing.
Operasi. Tindakan pembedahan hanya dapat dilakukan terhadap kista tunggal yang ada di permukaan organ. Cairan kista diambil, lalu diganti dengan larutan formalin 10% sehingga konsentrasi akhir larutan kista menjadi 2%, yang cukup untuk membunuh protoskoleks dan membran germinativum. Kista primer di otak sebaiknya diatasi dengan pembedahan, namun sebaliknya kista sekunder di organ otak tidak boleh dibedah.
Terapi biologis. Pada pasien yang memiliki kista hidatid yang tidak boleh dibedah, atau ada kista sekunder atau kista multipel, maka kepada pasien dapat diberikan suntikan dengan cairan hidatid sebagai antigen.
Anti alergi. Bila terjadi anafilaktik atau gejala alergi lainnya, dapat diberikan epinefrin atau antihistamin.
Obat cacing. pasien hidatidosis diobati dengan albendazol sebagai obat pilihan dengan dosis 10 mg/kilogram berat badan/hari selama beberapa hari dan atau Mebendazol dengan dosis 40 mg/kilogram berat badan/hari selama 1-6 bulan, baik secara sendiri-sendiri maupun dalam bentuk kombinasi. Jika terjadi penekanan kista terhadap organ vital, pengobatan obat cacing dapat dikombinasi dengan pembedahan.
Prognosis. Perjalanan klinis hidatidosis ditentukan oleh sifat kista dan lokasi kista di dalam jaringan dan organ. Kista primer yang masih dapat dioperasi, prognosisnya umumnya baik. Namun jika terjadi infeksi sekunder, prognosis menjadi kurang baik.
Prognosis hidatidosis menjadi buruk pada kista sekunder, kista ada di dalam tulang, atau kista yang ada di jaringan otak atau organ penting lainnya yang tidak memungkinkan dilakukannya pembedahan.
Pencegahan. Untuk mencegah hidatidosis pada pasien maka semua anjing pasien ekinokokosis yang menjadi sumber penularan harus diobati dengan baik.
Anjing yang dipelihara harus juga dicegah agar tidak tertular pearasit ini. Kebersihan lingkungan dan kebersihan badan anjing harus selalu dijaga.
Mencegah terjadinya kontak pasien dengan tinja anjing, baik yang dipelihara di rumah maupun yang digunakan sebagai hewan coba di laboratorium harus dilakukan dengan sebaik-baiknya..
Multiceps multiceps
Cestoda zoonosis yang larvanya dapat menimbulkan infeksi berat pada pasien ini, banyak dilaporkan dari negara-negara yang memiliki peternakan domba yang besar. Cacing dewasa hidup di dalam usus karnivora misalnya anjing, sedang larvan cacing (coenurus) hidup di dalam jaringan atau organ tubuh herbivora misalnya kambing dan domba yang merupakan hospes perantara pada daur hidup Multiceps.
Morfologi. Multiceps dewasa memiliki ukuran panjang badan antara 40 cm dan 60 cm. Kepala (skoleks) berbentuk piriform, memiliki rostelum yang dilengkapi dengan 22-32 kait yang tersusun dalam dua lingkaran.
Coenurosis. Larva Multiceps multiceps atau coemurus dapat menginfeksi pasien yang dapat menimbulkan penyakit yang berat dengan prognosis yang buruk. Larva cacing dapat menginfeksi pendereita sebab tertelan telur cacing yang berasal dari tinja anjing pasien infeksi Multiceps.
Di dalam usus embrio akan menetas, memasuki jaringan tubuh dan dapat mencapai jaringan otak, sumsum tulang belakang dan susunan saraf pusat. Larva cacing kemudian akan berkembang menjadi coenurus yang merupakan kista dengan banyak skoleks. Timbulnya gejala klinis coenurosis terjadi akibat meningkatnya tekanan intrakranium, yang memicu hilangnya kesadaran pasien , kejang-kejang, paresis, gangguan penglihatan, kelumpuhan anggota gerak, gangguan pembicaraan (afasi) dan muntah-muntah. Reaksi Romberg positif dan pasien berjalan terhuyung-huyung. Pemeriksaan laboratorium atas cairan otak menunjukkan terjadinya kenaikan kadar protein dan jumlah sel.
Untuk menetapkan diagnosa pasti coenurosis harus dilakukan biopsi jaringan yang kemudian diperiksa di bawah mikroskop untuk menemukan larva cacing Multiceps.
Pengobatan dan pencegahan. Mengobati coenurosis sulit dilakukan. sebab itu mencegah terjadinya coeurosis harus dilakukan dengan cara memperbaiki sanitasi lingkungan dan menjaga kebersihan perorangan. Makanan atau minuman harus dijaga agar tidak tercemar dengan tinja anjing yang terinfeksi Multiceps..
Hymenolepis nana
Cacing pita yang sering disebut sebagai cacing kerdil (dwarf tapeworm) ini tersebar luas di seluruh dunia, terutama di daerah yang beriklim panas. Cacing dewasa hidup di dalam usus bagian distal ileum pasien dan berbagai jenis binatang pengerat (rodensiasia) seperti tikus dan mencit yang bertindak sebagai hospes reservoir.
Anatomi dan morfologi. Sesuai dengan namanya, Hymenolepis nana merupakan cacing pita pasien yang terkecil ukurannya. Ukuran panjang tubuhnya antara 2 dan 4 sentimeter, dengan lebar badan antara 0,7 dan 1 milimeter.
Skoleks. Cacing kerdil memiliki kepala berbentuk bulat, berukuran kecil, memiliki rostelum yang pendek dan dilengkapi dengan satu baris kait. Pada kepala juga ada empat buah alat isap yang berbentuk seperti mangkuk.
Leher. Leher cacing yang panjang ukurannya memiliki permukaan yang halus.
Proglotid. Cacing ini memiliki segmen matur yang berbentuk trapezium, memiliki 3 buah testis dan ovarium yang memiliki 2 lobus. ada sebuah lubang kelamin (genital pore) yang terletak di bagian sisi kiri dari segmen. Segmen gravid cacing berisi 80-180 butir telur yang berada di dalam kantung telur.
Telur. Telur cacing berbentuk lonjong atau bulat dengan ukuran sekitar 30x45
mikron. Telur ini memiliki dua lapis selaput tipis (membran) jernih yang membungkus embrio yang memiliki 6 kait (hexacanth embryo). Di daerah kutub telur ada penebalan membran yang merupakan tempat keluarnya 4-8 helai filamen yang merupakan ciri khas telur Hymenolepis nana.
Daur hidup. Hospes definitif alami cacing ini yaitu pasien , tikus dan mencit. Untuk melengkapi daur hidupnya tidak diperlukan hospes perantara. Telur cacing infektif yang tertelan akan menetas di dalam usus halus, kemudian larva akan menembus dinding vilus usus. Dalam waktu 4 hari larva akan berkembang menjadi sistiserkoid. Sistiserkoid akan menembus ke luar vilus usus, masuk ke dalam lumen usus lalu melekatkan diri pada mukosa usus dan tumbuh berkembang menjadi cacing dewasa dalam waktu 10 sampai 12 hari.
Telur cacing sudah dapat ditemukan di dalam tinja pasien dalam waktu 30 hari sejak terjadinya infeksi. Di dalam usus pasien telur yang berada pada tinja dapat menetas sehingga akan menimbulkan perulangan siklus. Keadaan ini disebut sebagai autoinfeksi interna. Gejala klinis dan diagnosa . Pada infeksi yang ringan dengan cacing ini
umumnya tidak banyak menimbulkan keluhan maupun gejala klinis pada pasien berupa gangguan perut yang tidak jelas. Akibat autoinfeksi interna, pasien dapat mengalami infeksi berat himenolepiasis dengan jumlah cacing di dalam usus yang bisa mencapai 2000 ekor. Infeksi berat cacing ini pada anak dapat menimbulkan asthenia, penurunan berat badan, hilangnya nafsu makan, sukar tidur, nyeri perut, muntah-muntah, pusing dan keluhan neurologik Selain itu dapat terjadi reaksi alergi pada anak-anak yang sensitif. Anak pasien himenolepiasis nana dapat mengalami anemi sekunder dengan eosinofili antara 4 sampai 16 persen. Diare berdarah dan gejala sistemik berat lainnya dapat juga terjadi.
diagnosa pasti infeksi dengan cacing kerdil dapat ditegakkan dengan mengadakan pemeriksaan tinja untuk menemukan telur cacing yang khas bentuknya.
Niklosamid dan kuinakrin (atabrin) dapat digunakan untuk mengobati infeksi cacing ini. Untuk orang dewasa niklosamid diberikan sebanyak 1 gram dosis tunggal, sedang untuk anak 0,5 gram.
Pencegahan. sebab penularan dapat terjadi secara langsung, pencegahan sulit dilakukan.meningkatkan kebersihan lingkungan dan higiene pribadi terutama pada anak, dan mengobati pasien , serta membasmi tikus dan hewan mengerat lainnya dapat mencegah penularan parasit ini.
Hymenolepis diminuta
Infeksi dengan cacing ini dilaporkan dari berbagai daerah di seluruh dunia (kosmopolit). Cacing dewasa hidup di dalam usus halus tikus dan mencit. pasien , terutama anak-anak berumur di bawah tiga tahun, dapat dijumpai terinfeksi cacing ini.
Anatomi dan morfologi. Hymenolepis diminuta dewasa memiliki ukuran panjang badan antara 10-60 cm dengan lebar badan antara 3-5 mm. Cacing ini memiliki jumlah segmen tubuh yang berkisar antara 800 dan 1000 buah.
Skoleks. Kepala cacing berbentuk gada, dengan rostelum yang telah mengalami kemunduran dan tidak memiliki kait. Kepala memiliki 4 alat isap yang berukuran kecil.
Proglotid. Cacing ini memiliki segmen matur yang panjangnya sekitar 2,5 mm, yang bentuknya mirip segmen matur Hymenolepis nana, sedang segmen gravid berisi uterus berbentuk kantung yang penuh berisi telur.
Telur. Telur cacing bulat bentuknya mirip dengan bentuk telur H.nana. Telur memiliki ukuran sekitar 58 x 86 mikron, tidak memiliki filamen.
Gejala klinis dan diagnosa . pasien yang terinfeksi cacing ini umumnya hanya
mengalami gangguan kesehatan yang ringan dan pendek waktunya sebab cacing ini hanya hidup antara lima sampai tujuh minggu di dalam usus pasien .
Untuk menetapkan diagnosa himenolepiasis diminuta dilakukan pemeriksaan tinja untuk menemukan telur cacing ini,
Pengobatan dan pencegahan. Infeksi cacing dapat diobati dengan kuinakrin (atabrin).Pencegahan dilakukan dengan menjaga kebersihan makanan dan minuman serta memasaknya dengan baik. Pemberantasan tikus di lingkungan hunian harus dilakukan.
Dipylidium caninum
Dipylidium caninum dilaporkan dari berbagai tempat di di seluruh dunia, sebab luasnya sebaran anjing. Di dalam usus halus anjing, kucing dan karnivora lainnya cacing dewasa hidup parasitik. Kadang-kadang pasien terinfeksi cacing ini, terutama anak-anak berumur di bawah umur 8 tahun sebab sering mengalami kontak erat dengan anjing peliharaan yang ada di rumah.
Anatomi dan morfologi. Panjang cacing dewasa dapat mencapai 70 cm dengan strobila yang terdiri dari 60- 175 proglotid.
Skoleks. Kepala cacing berbentuk belah ketupat (rhomboidal scolex), memiliki 4 alat isap yang lonjong dan menonjol. ada rostelum yang bersifat retraktil, memiliki bentuk seperti kerucut yang dilengkapi dengan 30-150 kait yang berbentuk duri mawar yang tersusun melengkung transversal.
Proglotid matur. Segmen ini berbentuk tempayan atau vas bunga, yang masing-masing segmen memiliki dua perangkat organ reproduksi dan satu lubang kelamin yang terletak di tengah-tengah segmen.Proglotid gravid. Segmen gravid yang terletak di bagian ujung penuh berisi telur yang tersimpan di dalam kantung telur (egg ball) yang masing-masing kantung berisi 15-25 butir telur. Seperti halnya Taenia, segmen gravid dapat bergerak aktif dan terlepas satu demi satu atau dalam bentuk rangkaian segmen.
Telur. Telur cacing bulat bentuknya dengan garis tengah sekitar 35-60 mikron mengandung onkosfer yang memiliki 6 buah kait. Telur cacing terbungkus dalam kantung yang masing-masing kantung berisi 15-25 butir telur.
Daur hidup. Hospes definitif alami cacing ini yaitu anjing, kucing dan karnivora lainnya. Kadang-kadang pasien dapat bertindak sebagai hospes definitif. Sebagai hospes perantara dalam daur hidup Dipylidium caninum yaitu pinjal (flea) anjing, pinjal kucing dan tuma anjing (Trichodectes canis).
Sesudah telur cacing termakan oleh larva pinjal atau hospes perantara lainnya, onkosfer akan ke luar dari bungkusnya, menembus dinding usus dan tumbuh menjadi larva sistiserkoid yang infektif. Kalau pinjal dewasa yang berasal dari larva pinjal yang mengandung larva sistiserkoid termakan oleh hospes definitif, dalam waktu sekitar 20 hari sistiserkoid akan tumbuh dan berkembang menjadi cacing dewasa.
Penularan penyakit. Dipilidiasis caninum banyak dilaporkan menginfeksi anak berumur di bawah 8 tahun, terutama anak-anak yang berumur di bawah 6 bulan. Cara infeksi yaitu secara per oral, yaitu tertelan pinjal atau tuma anjing dan kucing yang infektif bersama makanan dan minuman atau terinfeksi secara langsung dari tangan yang tercemar tinja anjing dan kucing yang sakit.
Gejala klinis dan diagnosa . Hewan yang terinfeksi cacing ini tampak gelisah dan lemah sebab mengalami gangguan pencernaan. pasien yang menderita dipilidiasis menunjukkan keluhan maupun gejala yang umumnya sangat ringan. Anak-anak yang menderita infeksi ringan kadang-kadang menunjukkan gejala klinis ringan berupa gangguan perut, nyeri daerah epigastrium, diare atau terjadi reaksi alergi. pasien juga mengalami penurunan berat badan. Untuk menegakkan diagnosa pasti, diperlukan pemeriksaan tinja untuk menemukan segmen cacing yang khas bentuknya. Kadang-kadang di daerah perianal atau pada tinja pasien ditemukan kelompok-kelompok telur cacing ini ( egg ball).
Pengobatan dan pencegahan. Untuk mengobati infeksi cacing ini digunakan niklosamid per oral dengan dosis tunggal 2 gram untuk orang dewasa dan 0,5-1.0 mg untuk anak. Selain itu dapat digunakan kuinakrin (atabrin). Upaya untuk mencegah penularan dan infeksi cacing ini dapat dilakukan dengan menghindari kontak langsung dengan anjing. pasien dan binatang yang terinfeksi cacing ini harus diobati dengan baik, sedang pinjal dan tuma anjing dapat diberantas menggunakan insektisida yang sesuai.
TREMATODA
Bentuk tubuh cacing Trematoda pipih mirip daun yang tidak bersegmen,. Ukuran panjang tubuh cacing berkisar antara 1 mm dan beberapa sentimeter. Trematoda dewasa memiliki alat isap mulut (oral sucker) yang ada di bagian kepala, sedang di daerah perut ada alat isap ventral ( ventral sucker atau acetabulum).
Alat reproduksi Trematoda pada umumnya bersifat hermafrodit (berkelamin ganda), kecuali Schistosoma yang bersifat uniseksual (unisexual) yaitu memiliki alat kelamin yang terpisah atas jantan dan betina Cacing-cacing Trematoda tidak memiliki rongga tubuh (body cavity) sedang alat pencernaan yang sudah dimiliki oleh Trematoda masih belum sempurna sebab tidak memiliki anus.
Ciri khas lain dari cacing Trematoda yaitu adanya sistem ekskresi (flame cell), yang untuk tiap-tiap spesies khas bentuknya. Sistem reproduksi pada Trematoda telah sempurna pertumbuhannya. Semua cacing Trematoda bertelur (oviparus) dengan telur yang umumnya memiliki operkulum (penutup) kecuali telur Schistosoma. Telur cacing hanya dapat berkembang menjadi larva jika berada di dalam air.
Daur hidup. Berbagai jenis mamalia termasuk pasien dapat bertindak sebagai hospes definitif cacing Trematoda. Daur hidup cacing Trematoda memerlukan hospes perantara yaitu moluska yang hidup di air tawar misalnya siput dan keong. Beberapa spesies cacing Trematoda membutuhkan hospes perantara yang kedua misalnya ikan, ketam, tumbuhan air atau semut.
Di dalam tubuh hospes definitif hidup cacing dewasa yang melaksanakan proses reproduksi. Cacing betina menghasilkan telur yang akan dikeluarkan bersama tinja atau air seni pasien . Jika telur masuk ke dalam air, telur akan menetas menjadi larva mirasidium (miracidium). Untuk dapat melanjutkan daur hidupnya, larva mirasidium harus dapat memasuki tubuh siput, yang selanjutnya akan berkembang menjadi sporokista (sporocyst) yang kemudian akan tumbuh menjadi redia, lalu menjadi larva serkaria (cercaria). Serkaria meninggalkan tubuh siput dan berenang bebas di dalam air atau tumbuh lebih dahulu menjadi metaserkaria (metacercaria) sebelum memasuki tubuh pasien atau hospes definitif lainnya dan berkembang menjadi cacing dewasa.
Pirenella b. Segmentina c. Semisulcospira
(URL: http://www.conchology.be/images/label)
Infeksi parasit. Pada pasien infeksi Trematoda dapat terjadi melalui berbagai macam jalan. Pada Schistosoma, stadium infektif cacing ini yaitu serkaria yang memasuki tubuh hospes definitif secara aktif dengan menembus kulit yang tak terlindung pada waktu berada di dalam air.
Cara infeksi pada Trematoda lainnya terjadi melalui masuknya metaserkaria ke dalam mulut bersama makanan dalam bentuk tanaman air baik batang, daun ataupun buahnya (misalnya pada infeksi Fasciola hepatica dan Fasciolopsis buski), ikan air tawar ( pada Clonorchis sinensis, Heterophyes heterophyes, dan Metagonimus yokogawai) atau bersama-sama udang atau ketam air tawar, misalnya pada infeksi Paragonimus westermani.
Tempat hidup cacing. Di dalam tubuh pasien cacing dewasa Trematoda hidup di dalam berbagai organ dan jaringan. sebab itu Trematoda dikelompokkan menjadi trematoda usus (intestinal trematodes), trematoda hati (liver flukes atau hepatic trematodes), trematoda paru (lung flukes) dan trematoda darah (blood trematodes atau blood flukes).
Trematoda Usus. Trematoda yang hidup di dalam usus pasien atau hoses definitif lainnya yaitu Fasciolopsis buski, Heterophyes heterophyes dan Metagonimus yokogawai.
Trematoda hati. Termasuk trematoda hati yaitu : Fasciola hepatica, Clonorchis sinensis, Opistorchis viverrini, Opistorchis felineus.
Trematoda paru. Cacing daun yang dapat menjadi parasit pada pasien yaitu Paragonimus westermani.
Trematoda darah. Cacing Schistosoma japonicum, Schistosoma hematobium dan Schistosoma mansoni yaitu kelompok trematoda darah yang merupakan pemicu penyakit-penyakit yang menjadi masalah kesehatan di berbagai negara.
Definisi dan istilah umum Trematoda
Digenetik: ada 2 generasi pada setiap daur hidup lengkap cacing,
yaitu generasi seksual dan generasi aseksual.
Monogenetik: ada hanya satu generasi cacing pada setiap daur hidup yang lengkap.
Distomata: Trematoda yang memiliki 2 alat isap mulut (sucker).
Asetabulum: alat isap yang ada di bagian ventral tubuh Trematoda yang berfungsi untuk menempel; sering disebut sebagai ventral sucker.
Gynaecophoric canal: bentuk lekukan atau saluran yang ada pada badan cacing jantan Schistosoma yang menjadi tempat cacing betina berada pada saat terjadi kopulasi.
Mirasidium: larva Trematoda stadium pertama yang menetas dari telur trematoda pada waktu masuk ke dalam air.
Sporokista: larva Trematoda stadium kedua yang terbentuk di dalam tubuh moluska. Di dalam tubuh moluska terjadi multiplikasi aseksual stadium ini yang hanya terjadi pada Schistosoma.
Redia: larva Trematoda stadium ketiga yang terjadi dalam tubuh moluska. Multiplikasi aseksual redia terjadi pada semua trematoda, kecuali Schistosoma.
Serkaria: merupakan stadium terakhir trematoda yang terbentuk di dalam tubuh moluska. Larva berekor ini akan meninggalkan tubuh moluska, hidup bebas di dalam air atau kemudian membentuk kista pada tumbuhan atau hewan lainnya.
Furcocercus cercaria: serkaria yang memiliki ekor bercabang (pada Schistosoma).
Lophocercus cercaria: serkaria berekor besar (Metagonimus, Clonorchis, Heterophyes).
Microcercus cercaria: serkaria berekor kecil (pada Paragonimus).
Pleurolophocercus: serkaria berekor panjang (pada Opistorchis).
Metaserkaria atau adolescaria: stadium infektif Trematoda yang terbentuk dari serkaria yang membentuk kista dan kehilangan ekornya.
Schistosomulum: bentuk muda (imatur) cacing Schistosoma terbentuk di dalam tubuh hospes definitif.
Vitellarium: kelenjar pada Trematoda (kelenjar vitelin) yang menghasilkan bahan untuk mematangkan telur.
TREMATODA USUS
Fasciolopsis buski
Trematoda ini merupakan cacing trematoda yang terbesar ukurannya yang menginfeksi pasien sehingga sering disebut sebagai cacing trematoda usus raksasa (giant intestinal fluke). Cacing dewasa hidup di dalam usus halus, yaitu di duodenum dan jejunum pasien dan babi. Fasciolopsis buski endemis di Cina, juga banyak dilaporkan dari Taiwan, Vietnam, Kamboja, Laos, Thailand dan Indonesia.
Anatomi dan morfologi
Cacing dewasa. Fasciolopsis buski dewasa memiliki bentuk seperti daun, dengan ukuran panjang badan antara 20 dan 70 mm dan lebar badan antara 8 dan 20 mm.
Ciri-ciri anatomi dan morfologi cacing ini yaitu sebagai berikut:
Gambar 86. Cacing Fasciolopsis buski
Cacing dewasa (b) telur cacing
( Sumber: CDC : http://instruction.cvhs.okstate.edu)
Asetabulum: ukuran organ ini lebih besar daripada ukuran oral sucker.Kepala: bagian kepala tidak memiliki kerucut kepala (cephalic cone).
Usus dan alat pencernaan : ada prefaring pendek, faring yang berbentuk bola dan usofagus yang pendek, diikuti oleh sepasang sekum yang tidak bercabang.
Alat reproduksi: ada dua buah testis yang bercabang dan tersusun di separuh badan bagian posterior.
Ovarium: ovarium tidak bercabang, terletak di pertengahan tubuh.
Vitelaria: organ ini terletak di sebelah lateral sekum, tersebar mulai dari ujung anterior setinggi ventral sucker sampai ke ujung posterior tubuh cacing.
Uterus: bentuk uterus yang melingkar menuju ke arah batas anterior ventral sucker, dan berakhir pada atrium genital.
Telur: Telur memiliki ukuran panjang 130-140 mikron dan lebar 80-95 mikron, berdinding tipis tembus sinar, dan memiliki operkulum kecil pada salah satu ujungnya. Telur berbentuk lonjong berwarna kekuningan. Seekor cacing betina dapat memproduksi sekitar 28.000 butir telur setiap harinya. Daur hidup. Bertindak sebagai hospes definitif cacing ini yaitu pasien dan babi. Siput air tawar genus Segmentina, Hippeutis, atau Gyraulus merupakan hospes perantara dalam daur hidup cacing ini. Trematoda dalam daur hidupnya memerlukan hospes perantara yang kedua, yaitu tanaman air yang menjadi tempat berkembangnya larva infektif (metacercaria).
Infeksi pada pasien terjadi jika pasien termakan larva yang infektif (metacercaria) yang ada pada tumbuhan air. Di dalam duodenum larva akan lepas dari jaringan tanaman, melekatkan diri pada mukosa usus halus lalu berkembang menjadi cacing dewasa. Dalam waktu 25 sampai 30 hari, cacing dewasa sudah mampu menghasilkan telur cacing. Cacing dewasa pada umumnya hidup di dalam usus pasien dalam waktu kurang dari 6 bulan.
Jika telur cacing yang ke luar bersama tinja pasien masuk ke dalam air, maka dalam waktu 3 sampai 7 minggu pada suhu air sekitar 300 Celcius, telur akan menetas menjadi larva mirasidium yang dapat berenang di dalam air. Dalam waktu 2 jam mirasidium harus sudah dapat memasuki tubuh siput yang menjadi hospes perantara pertama. Larva akan mati jika dalam waktu 5 jam sesudah ke luar dari tubuh pasien tidak dapat memasuki badan siput.Sesudah memasuki tubuh siput air tawar mirasidium akan tumbuh menjadi sporokista. Dari sporokista matang, maka akan terbentuk redia induk yang lalu memproduksi redia anak yang selanjutnya berkembang menjadi serkaria (cercaria). Sesudah itu serkaria akan keluar dari tubuh siput dan berenang untuk mencari tumbuhan air yang sesuai, yang akan bertindak sebagai hospes perantara yang kedua. Dalam waktu 1 sampai 3 jam sesudah mendapatkan tanaman air yang sesuai, serkaria akan berkembang menjadi larva metaserkaria yang infektif
Infeksi dan gejala klinis. Fasciolopsis buski dapat menginfeksi pasien sebab makan tumbuhan air mentah dalam keadaan segar yang mengandung metaserkaria yang infektif. Tumbuhan air yang sudah kering tidak berbahaya, sebab metaserkaria tidak tahan kekeringan.
Gejala klinis fasiolopsiasis buski terjadi sebab cacing yang melekatkan diri pada mukosa usus halus dapat menimbulkan keradangan, ulserasi dan abses, sehingga menimbulkan keluhan nyeri epigastrium, mual, dan diare. Keluhan-keluhan ini umumnya dirasakan oleh pasien pada pagi hari. Jika terjadi infeksi yang berat oleh parasit ini pasien akan mengalami anemia, edema, asites dan anasarka. Kadang-kadang dapat terjadi obstruksi usus. Pemeriksaan darah tep menunjukkan gambaran eosinofili sampai 35 persen.
diagnosa . Penduduk yang tinggal di daerah endemis Fasciolopsis buski jika menunjukkan gejala klinis berupa mual, diare, nyeri epigastrium, anemia berat, edema atau asites, patut dicurigai telah terinfeksi parasit ini. Untuk menegakkan diagnosa pasti harus dilakukan pemeriksaan tinja untuk menemukan telur cacing. Selain itu mungkin dapat dijumpai cacing dewasa pada muntahan atau di dalam tinja pasien .
Pengobatan. Obat-obatan baru yang efektif untuk mengobati infeksi Fasciolopsis buski yaitu prazikuantel (obat pilihan) dan niklosamid yang diberikan per oral dengan takaran sebagai berikut:
Prazikuantel. Obat diberikan dengan dosis 3x25 mg/kg berat badan per hari, diberikan selama 1 hari (untuk orang dewasa dan anak berumur lebih dari 4 tahun).
Niklosamid. Dosis untuk orang dewasa, 2 gram sebagai dosis tunggal, sedang dosis anak dengan berat badan 10-35 kg yaitu 1 gram dan untuk anak dengan berat badan kurang dari 10 kg diberikan 0,5 gram obat cacing.
Tetrakloetilen dan heksilresorkinol atau stilbazium iodide yaitu obat-obatan lama yang digunakan untuk mengobati cacing ini.
Pencegahan. Untuk mencegah penyebaran penyakit, setiap pasien harus diobati dengan baik. Untuk memutuskan rantai daur hidup cacing harus dilakukan pemberantasan siput yang menjadi hospes perantara pertamanya. Untuk memberantas siput digunakan larutan sulfat tembaga dengan konsentrasi 1: 50.000. Selain itu, sayuran atau tanaman air yang akan dimakan sebaiknya dimasak dengan baik, sehingga larva infektif yaitu metaserkaria dapat dibasmi. Untuk membunuh telur, mirasidium dan serkaria yang ada di dalam air, dapat diberikan larutan kapur sebanyak 100 ppm (part per million) atau larutan sulfat tembaga dengan konsentrasi 20 ppm.
Dalam daur hidup Fasciolopsis buski babi dapat menjadi sumber penularan, sebab hewan ini dapat bertindak selaku hospes cadangan (reservoir host). sebab itu hewan ini harus dijauhkan dari tempat yang banyak ditumbuhi tanaman air. Penggunaan tinja pasien maupun tinja babi sebagai pupuk harus dilarang.
Heterophyes heterophyes
Cacing ini hidup di dalam lumen usus atau djumpai melekat pada mukosa usus di antara vilus-vilus usus pasien dan hewan pemakan ikan yang menjadi hospes definitifnya.. Infeksi cacing ini (heterofiasis) banyak dilaporkan dari Asia Timur (Cina dan Asia Tenggara) dan Mesir, yang merupakan daerah endemis cacing ini.
Anatomi dan morfologi. Heterophyes dewasa berukuran sangat kecil dengan panjang badan sekitar 1,3 mm dan lebar badan sekitar 0,5 mm. Cacing berbentuk piriform, berwarna agak kelabu. Cacing dewasa memiliki kutikulum berduri halus seperti sisik .
Ventral sucker. Alat isap ini terletak di daerah sepertiga tengah bagian anterior tubuh.
Genital sucker. Alat isap genital yang dapat digerakkan ke luar masuk ini, ada di bagian posterior dari alat isap ventral.
Alat reproduksi. Ovarium berbentuk bulat, terletak di bagian anterior testis.
Telur. Telur cacing memiliki penutup (operculum). Telur berdinding tebal dengan ukuran panjang telur sekitar 29 mikron dan lebar sekitar 16 mikron. Pada waktu dikeluarkan oleh induk cacing, telur telah mengandung mirasidium yang hidup.
Daur hidup. Hospes definitif cacing ini yaitu pasien dan hewan pemakan ikan, sedang siput air tawar, misalnya Pirenella dan Cerithidea merupakan hospes perantara pertama. Selaku hospes perantara kedua yaitu beberapa jenis ikan, misalnya Mugil, Tilapia dan Acanthogobius.
Telur cacing yang masuk ke dalam air jika dimakan siput, di dalam tubuh siput telur menetas dan larva mirasidium akan tumbuh menjadi sporokista, lalu redia dan kemudian berkembang menjadi serkaria. Serkaria kemudian akan ke luar dari tubuh siput. dan mencari ikan yang bertindak selaku hospes perantara
yang kedua. Di bawah sisik ikan atau di dalam daging ikan serkaria akan tumbuh menjadi kista metaserkaria yang infektif bagi hospes definitif. Infeksi pada pasien terjadi sebab makan ikan mentah yang mengandung stadium infektif cacing ini (metacercaria) atau makan ikan yang infektif yang dimasak kurang matang. Dalam waktu 2 minggu sesudah infeksi, larva telah berkembang menjadi cacing dewasa yang sudah mampu bertelur.
Gambar 91. Daur hidup Heterophyes heterophyes
Penularan parasit. Heterophyes merupakan parasit pada pasien dan berbagai macam hewan seperti kucing, anjing dan mamalia atau burung pemakan ikan. Nelayan yang menderita heterofiasis merupakan sumber penularan bagi penduduk lainnya, sebab umumnya mereka buang air besar di daerah perairan tempat mereka mencari nafkah.
Gejala klinis dan diagnosa . Gejala klinis dan keluhan pasien umumnya baru terjadi pada infeksi berat. Hal ini dipicu oleh terjadinya iritasi cacing pada mukosa usus yang dapat menimbulkan diare berlendir yang menahun, disertai
kolik dan nyeri perut. Cacing dewasa yang menembus vili usus memicu telur cacing akan menyebar melalui aliran darah dan limfe, sehingga dapat menimbulkan granuloma di dalam otak dan jantung.
diagnosa pasti infeksi Heterophyes dapat ditetapkan dengan melakukan pemeriksaan tinja pasien untuk menemukan telur cacing yang spesifik bentuknya.
Pengobatan dan pencegahan. Sebagai obat pilihan untuk memberantas Heterophyes maupun cacing famili Heterophyiidae lainnya