Jumat, 06 Desember 2024

parasitologi 4






















 es.. Cestoda tidak memiliki  sistem pencernaan berupa usus dan tubuhnya juga tidak memiliki  rongga tubuh.

Tubuh cacing Trematoda berbentuk seperti daun, yang tidak tersusun atas segmen-segmen. Sistem reproduksi cacing Trematoda  umumnya bersifat hermafrodit (monoecious) kecuali Schistosoma yang bersifat diecious. Cacing Trematoda juga memiliki  alat isap (sucker), tetapi tidak memiliki  kait. Alat pencernaan makanan sudah ada, namun ususnya tumbuh tidak sempurna dan tidak memiliki  lubang anus untuk mengeluarkan sisa-sisa pencernaan makanan . Rongga tubuh tidak dimiliki oleh golongan cacing ini. 

Tempat hidup cacing. Trematoda dewasa sebagian besar hidup di dalam usus atau jaringan paru hospes, dan beberapa spesies lainnya hidup di dalam pembuluh darah. Untuk melengkapi siklus hidunya trematoda selalu memerlukan siput selaku hospes perantara (intermediate host) yang menjadi tempat perkembang biakan (multiplikasi) stadium aseksual. Pada beberapa spesies trematoda kadang-kadang diperlukan hospes perantara kedua tempat terbentuknya stadium infektif yang dapat menginfeksi pasien . 

Cacing Cestoda dewasa hidup di dalam usus pasien , sedang  bentuk larvanya dapat hidup di dalam berbagai jenis organ dan jaringan hewan vertebrata yang menjadi hospes perantara  cacing tersebut.

Cacing Nematoda yang menginfeksi pasien , tergantung pada spesiesnya, ada yang hidup di dalam usus, di dalam darah, di dalam saluran limfe atau di dalam jaringan subkutan. Beberapa jenis nematoda yang hidup di dalam darah atau saluran limfe atau di dalam jaringan subkutan, memiliki  bentuk larva yang harus hidup dan brkembang di dalam tubuh nyamuk atau invertebrata lainnya sebelum dapat menginfeksi pasien .     

                                                                                      

CESTODA



Cacing Cestoda pada umumnya memiliki  bentuk seperti pita, pipih ke arah dorsoventral, yang tersusun atas banyak ruas (segmen). Cestoda memiliki  ukuran panjang yang sangat besar variasinya, antara beberapa milimeter sampai beberapa meter. 


Cestoda dewasa memiliki  tubuh yang terdiri dari kepala atau skoleks (scolex), leher, dan badan (strobila) yang tersusun dari banyak segmen yang disebut proglotid. Skoleks cacing Cestoda memiliki  alat isap untuk menempel yang seringkali dilengkapi dengan kait-kait yang berfungsi untuk melekatkan diri pada organ tubuh pasien  atau hewan yang menjadi hospes (host) tempatnya hidup. Segmen cacing Cestoda masing-masing memiliki  alat reproduksi yang sudah sempurna. Setiap ekor cacing memiliki  tiga jenis segmen, yaitu segmen imatur, segmen matur dan segmen gravid. Cacing Cestoda telah memiliki sistem saraf dan sistem pembuangan sisa-sisa metabolisme (excretory system). Struktur dan bagian tubuh Cestoda:

Scolex (skoleks): kepala cacing Cestoda yang memiliki  alat isap (sucker).

Leher : bagian tubuh cacing yang ada  di belakang kepala

Strobila: batang tubuh Cestoda yang tersusun dari banyak segmen.

Proglottid: satuan dari segmen atau ruas tubuh yang lengkap dari  Cestoda.

Segmen: satu unit batang tubuh yang lengkap dari Cestoda. 

Segmen imatur: segmen yang mengandung alat reproduksi jantan yang belum bisa dibedakan dari organ betina. 

Segmen matur: segmen yang mengandung alat reproduksi yang sudah dapat dibedakan jantan betinanya.

Segmen gravid: segmen yang mengandung uterus penuh berisi telur cacing, sedang alat reproduksi lainnya mengalami atrofi.

Rostellum: bagian kepala cacing Cestoda yang menonjol dan memiliki  dua deret kait (hooklets). Jika rostellum mengalami invaginasi, maka letaknya tersembunyi di antara alat isap.

Oncosphere (onkosfer): embrio cacing yang memiliki enam buah kait, yang ada  di dalam telur.

Embryophore (embriofor): selubung tipis yang membungkus onkosfer.

Cysticercus (sistiserkus): larva Cestoda yang ada  di dalam tubuh hospes perantara (intermediate host) terdiri dari kantung yang dindingnya mengandung skoleks dan rongga berisi sedikit cairan yang ada  di bagian tengah. 

Cysticercoid (sistiserkoid): larva Cestoda berbentuk kantung kecil berisi skoleks yang mengalami invaginasi di bagian proksimal, sedang  di daerah kaudal ada  bagian padat yang memanjang.

Hydatid cyst (kista hidatid): bentuk kista dari larva Echinococcus.

Coracidium (korasidium): onkosfer telur Diphyllobothrium yang memiliki  silia untuk bergerak.Procercoid (proserkoid): stadium pertama larva Diphyllobothrium yang ada  di dalam tubuh siklops.

Plerocercoid (pleroserkoid ): stadium kedua larva Diphyllobothrium.

Sparganum: pleroserkoid Diphyllobothrium yang menginfeksi pasien  dan menimbulkan sparganosis. 




Diphyllobothrium latum



Cacing pita ikan ( fish tapeworm) yang hidup di dalam usus halus (ileum) pasien , anjing, kucing, serigala dan hewan pemakan ikan ini menimbulkan difilobotriasis pada pasien  dan hewan-hewan pemakan ikan. Infeksi pada pasien  disebut difilobotriasis yang banyak dilaporkan dari berbagai daerah di dunia, antara lain dari  Eropa Tengah, Amerika, Jepang dan Afrika Tengah. Cacing dewasa 


Anatomi dan morfologi. Diphyllobothrium latum dewasa memiliki panjang badan yang dapat mencapai 10 meter. Segmen tubuhnya berwarna kelabu kekuningan, dengan bagian tengah tubuhnya berwarna gelap sebab  adanya uterus yang penuh berisi telur. 



Skoleks (scolex). Skoleks cacing ini berbentuk mirip sendok, dengan panjang antara 2-3 mm dan lebar 1 mm. Di bagian kepala ada  dua lekukan yang berbentuk  celah (bothria), yang pertama terletak di permukaan bagian dorsal dan  celah yang lain terletak  di permukaan tubuh sebelah ventral. Skoleks tidak

memiliki  rostelum maupun kait.


Leher. Cacing memiliki  leher yang kecil yang jauh lebih panjang dari ukuran panjang skoleks dan tidak bersegmen. 


Proglotid (proglottids). Diphyllobothrium latum memiliki  3000 sampai 4000 buah segmen yang bentuknya melebar. 


Segmen matur (mature segments). Segmen yang penuh berisi alat reproduksi jantan dan betina ini ukuran panjangnya  antara 2-4 mm dengan lebar segmen antara 10-20 mm. 


Terminal segment. Segmen yang terletak paling ujung yang mengerut sebab  kosong, sudah tidak lagi berisi telur yang  secara terus menerus dikeluarkan oleh induk cacing melalui uterine pore. Terminal segment akan terlepas secara berantai dan keluar bersama tinja pasien . 


Ovarium. Ovarium tampak melingkar di bagian  tengah segmen, berbentuk roset  dan memiliki  dua lobus yang berukuran besar.


Telur.  Telur yang berukuran sekitar 70x 45 mikron  ini berbentuk lonjong, berwarna coklat, memiliki  operkulum pada salah satu ujungnya dan ada  tonjolan kecil (knob) di ujung lainnya.


Larva. Sesudah telur menetas di air terbentuk tiga stadium larva yaitu korasidium (coracidium) yang merupakan larva stadium pertama, yang kedua yaitu  larva proserkoid (procercoid) dan pleroserkoid (plerocercoid) sebagai stadium yang ketiga.

Daur hidup. Dalam daur hidupnya  Diphyllobothrium latum melibatkan satu hospes definitif dan dua hospes perantara. pasien , anjing atau kucing yaitu  hospes definitif cacing ini. Cacing dewasa dapat hidup sampai 13 tahun lamanya di dalam usus halus pasien .  Hospes perantara pertama dalam daur hidup cacing ini yaitu  siklops (cyclops, diaptomus) yang termasuk golongan crustacea, sedang   ikan bertindak sebagai hospes perantara yang kedua.

Bersama tinja pasien  telur cacing yang berada di dalam usus akan dikeluarkan dari tubuh hospes . Telur yang masuk ke dalam air akan menetas menjadi larva korasidium (coracidium), yang kemudian akan berenang bebas di dalam air. Korasidium yang dimakan oleh siklops, dalam waktu 3 minggu di dalam tubuh siklops korasidium berubah menjadi larva proserkoid (procercoid). Di dalam tubuh ikan (hospes perantara kedua) yang memakan siklops dalam waktu 3 minggu larva proserkoid akan berubah menjadi larva pleroserkoid (plerocercoid) yang infektif untuk hospes definitif (pasien , anjing atau kucing). Pleroserkoid akan berkembang menjadi cacing dewasa di dalam usus hospes definitif. 

diagnosa  dan gejala klinis. Di dalam usus pasien  Diphyllobothrium latum dapat menimbulkan gangguan gastrointestinal yang memicu terjadinya defisiensi vitamin B12 sehingga pasien  mengalami anemia pernisiosa.  

Untuk menegakkan diagnosa  pasti, dilakukan pemeriksaan tinja pasien  untuk menemukan telur cacing dan segmen cacing yang khas bentuknya. Bentuk uterus pada segmen cacing yang khas memudahkan diagnosa  infeksi cacing ini.


Pengobatan dan pencegahan. Prazikuantel, Niklosamid dan Atabrin dapat digunakan untuk memberantas cacingnya, sedang  anemia pernisiosa diobati dengan memberikan vitamin B12 dan asam folat. Prazikuantel yang merupakan obat pilihan diberikan dalam bentuk dosis tunggal sebesar 600 mg (atau 5-10 mg/kg) untuk orang dewasa. Dosis tunggal anak yaitu  5-10 mg per kg berat badan. Dosis niklosamid untuk orang dewasa yaitu  sebesar 2 gram dosis tunggal, sedang dosis anak yaitu  sebesar 50 mg/kg dosis tunggal atau 0,5 gram untuk berat badan kurang dari 10 kg dan 1 gram untuk anak dengan berat badan di bawah 35 kg. 

Infeksi Diphyllobothrium latum dapat dicegah penyebarannya dengan menjaga agar lingkungan perairan tidak tercemar  oleh tinja pasien , misalnya dengan membuat kakus yang tidak berhubungan langsung dengan sungai atau saluran irigasi. Ikan yang akan dimakan harus dimasak dengan baik sebelum dimakan. Anjing dan kucing yang berada di daerah endemis penyakit ini  jangan diberi makan ikan mentah.


Sparganosis


Yang dimaksud dengan sparganosis yaitu  infeksi pada pasien  yang dipicu oleh larva pleroserkoid (sparganum) Diphyllobothrium mansoni dan cacing difilobotrium hewan lainnya. 

Cara penularan. Sparganum dapat menginfeksi pasien  melalui tiga jalan, yaitu minum air mentah yang mengandung siklops yang infektif, makan hewan misalnya katak, tikus atau ular yang masih mengandung pleroserkoid hidup, atau menggunakan cacahan daging binatang  misalnya katak yang infektif untuk mengobati luka terbuka.


Di berbagai jaringan tubuh pasien  pasien  sparganosis sparganum dapat ditemukan, terutama di daerah mata. Jika larva mati dan rusak berada di jaringan organ, sebab  merupakan benda asing bagi pasien , akan menimbulkan reaksi lokal maupun gejala  sistemik misalnya nyeri otot, konjungtivitis, pembengkakan mata, lakrimasi, ptosis, urtikaria, demam dan edema. Gambaran darah tepi menunjukkan adanya hipereosinofilia.


diagnosa  sparganosis. sebab  gejala klinis tidak khas, diagnosa  pasti sparganosis hanya dapat ditegakkan jika ditemukan larva cacing di dalam jaringan yang terinfeksi. Pada inokulasi hewan coba menggunakan larva cacing yang ditemukan di dalam jaringan pasien  sparganosis, akan berkembang menjadi cacing dewasa yang dapat ditentukan spesiesnya.


Pengobatan. Sparganosis hanya dapat diobati dengan mengeluarkan larva cacing dari dalam jaringan yang sakit melalui tindakan pembedahan.

Taenia solium  

Cacing yang dikenal sebagai cacing pita babi ini tersebar luas di seluruh dunia (kosmopolit). Di Indonesia, infeksi cacing ini endemis di beberapa daerah di Irian Jaya, Bali, dan Sumatera Utara. Taenia solium dewasa hidup di dalam usus halus (jejunum bagian atas) pasien  yang menjadi hospes definitifnya, sedang  larvanya ditemukan di dalam jaringan organ tubuh babi yang bertindak sebagai hospes perantara cacng ini.


Anatomi dan morfologi. Taenia solium dewasa memiliki  ukuran panjang badan antara 2 sampai 3 meter. Di dalam usus pasien   cacing ini  dapat hidup sampai 25 tahun lamanya. Tubuh cacing pita babi tersusun dari kepala, leher dan proglotid yang memiliki  ciri-ciri anatomi dan Morfologi yang khas.


Skoleks (scolex). Kepala cacing khas bentuknya, berbentuk bulat, dengan garis tengah 1 mm  dan memiliki  memiliki  alat isap. Kepala juga memiliki rostelum (rostellum) yang dilengkapi oleh 3 deret kait yang tersusun melingkar.

Leher. Cacing ini memiliki  leher di belakang kepala yang pendek ukurannya,

dengan  panjang antara 5 mm sampai 10 mm.

Proglotid (proglottid). Jumlah segmen Tenia solium pada umumnya kurang dari 1000 buah. Segmen matur yang berukuran sekitar 12 mm x 6 mm, memiliki  lubang genital yang terletak di dekat pertengahan segmen. Berbeda dari Taenia saginata yang mempunya lebih dari 10 cabang lateral, cacing pita babi memiliki  uterus gravid yang hanya memiliki 5-10 cabang lateral di tiap sisi segmen. Taenia solium melepaskan segmen gravid dalam bentuk rantai yang terdiri dari 5-6 segmen setiap kali dilepaskan.


Telur. Bentuk telur Taenia solium berbentuk bulat dengan kulit telur yang tebal dan memiliki  garis-garis radialyang tidak dapat  dibedakan dari bentuk telur Taenia saginata.

Daur hidup. Taenia solium termasuk parasit zoonosis, yang dapat ditularkan dari babi ke pasien  dan sebaliknya  pasien   bertindak selaku hospes definitif yang menjadi tempat hidup cacing dewasa, sedang  larva cacing ( cysticercus cellulosae) ada  dalam bentuk kista di dalam jaringan dan organ babi yang bertindak sebagai hospes perantara. 

Cacing dewasa melepaskan segmen-segmen gravid yang paling ujung dalam bentuk rantai, yang pecah di dalam usus sehingga telur cacing dapat dijumpai pada tinja pasien . Telur cacing yang ke luar tubuh pasien  bersama tinja jika dimakan babi, di dalam usus babi dinding telur akan pecah, dan onkosfer akan terlepas. sebab  memiliki  kait, onkosfer dapat menembus dinding usus lalu masuk ke dalam aliran darah.  Onkosfer akan menyebar ke jaringan dan organ-organ tubuh babi, terutama otot lidah, leher, otot jantung, dan otot gerak. Dalam waktu 60-70 hari pasca infeksi, onkosfer akan berubah menjadi larva sistiserkus (cysticercus cellulosae).

Infeksi pada pasien  terjadi sebab  makan daging babi mentah atau kurang masak, yang mengandung  larva sistiserkus. Di dalam usus pasien , skoleks akan mengadakan eksvaginasi dan melekatkan diri dengan alat isapnya pada dinding usus. Skoleks lalu tumbuh menjadi cacing dewasa  dan kemudian membentuk strobila. Dalam waktu 2-3 bulan cacing telah tumbuh menjadi cacing  dewasa yang telah mampu memproduksi telur untuk meneruskan daur hidupnya.


Gejala klinis. Meskipun skoleks cacing memiliki  kait, kait-kait pada skoleks cacing tidak banyak memicu  kerusakan pada dinding usus tempatnya melekat. Keluhan pasien  umumnya ringan, berupa rasa tidak enak di perut, gangguan pencernaan, diare, konstipasi, sakit kepala dan anemia. Komplikasi berupa peritonitis akibat kait yang menembus dinding usus sangat jarang terjadi. Pada pemeriksaan darah tepi pasien  ada  gambaran darah yang menunjukkan adanya eosinofili. 


Prognosis. Pada taeniasis solium, infeksi oleh cacing dewasa, prognosis umumnya baik. Prognosis akan buruk, jika terjadi sistiserkosis akibat infeksi larva cacing ini.


diagnosa  taeniasis solium. Adanya telur cacing Taenia yang ditemukan pada waktu pemeriksaan tinja pasien  tidak dapat menentukan spesies cacing sebab  telur Taenia solium sama bentuknya dengan telur Taenia saginata. diagnosa  pasti taeniasis solium ditegakkan jika ditemukan cacing dewasa (segmen atau skoleks Taenia solium yang khas bentuknya) pada tinja pasien  atau pada waktu dilakukan pemeriksaan daerah perianal. 


Pengobatan. Pengobatan taeniasis dinyatakan berhasil jika ditemukan skoleks cacing. Obat cacing (anthelminthic) yang bisa digunakan untuk mengobati

taeniasis solium  antara lain yaitu : 

Prazikuantel yang merupakan obat pilihan untuk mengobati taeniasis diberikan dengan dosis  5-10 mg/kg berat badan, yang diberikan dalam bentuk dosis tunggal.

Niclosamide merupakan pengganti obat pilihan yang diberikan sebagai dosis tunggal sebesar 2 gram  untuk orang dewasa dan 50 mg/kg berat badan untuk anak.

Mebendazol. Diberikan per oral dengan dosis 2x200 mg/hari selama 4 hari berturut-turut.

Albendazol. Obat ini diberikan pada orang  dewasa dengan takaran 400 mg satu kali per hari, selama 3 hari berturut-turut. Untuk anak berumur 1 sampai 2 tahun, diberikan dosis 200 mg, sebagai dosis tunggal. Albendazol tidak boleh diberikan pada wanita hamil, sebab  itu jika diberikan pada wanita usia 15-40 tahun, sebaiknya diberikan pada masa 7 hari sesudah awal menstruasi.

Atabrin. Obat ini diberikan melalui mulut ( per oral) atau secara transduodenal. 

Pengobatan per oral. Sebaiknya hanya diberikan pada orang dewasa dengan cara pemberian sebagai berikut: 0.2 gram atabrin diberikan setiap 10 menit bersama sedikit air, sampai jumlah seluruhnya 1 gram. Bersama atabrin diberikan juga natrium bikarbonat dengan takaran yang sama. Dua jam kemudian dilakukan purgasi dengan larutan garam faali.

Transduodenal. Sesudah diberi penenang, pipa Ryle dimasukkan hingga mencapai duodenum. Sebanyak 1 gram atabrin yang dilarutkan dengan 100 ml air, dimasukkan ke dalam pipa duodenum dengan bantuan alat suntik. Purgasi dilakukan 30 menit sesudah pemberian obat.


Pencegahan taeniasis solium. Untuk mencegah terjadinya penularan taeniasis solium, harus dilakukan tindakan-tindakan sebagai berikut : 

Pengobatan pasien  untuk menghilangkan sumber infeksi dan mencegah terjadinya autoinfeksi dengan larva cacing. 

Dilakukan pengawasan pada daging babi yang dijual, agar daging babi yang dijual tidak mengandung larva cacing (sistiserkus).Memasak daging babi sampai di atas 500 Celcius selama 30 menit, untuk membunuh kista larva cacing yang ada  di dalam daging.

Menjaga kebersihan lingkungan dan tidak menggunakan tinja pasien   sebagai makanan babi.




Sistiserkosis 


Sistiserkosis yaitu  infeksi larva Taenia solium pada pasien  (larva Taenia solium disebut cysticercus cellulosae).


Cara infeksi. Jika pasien  tertelan telur Taenia solium, misalnya bersama makanan yang tercemar tinja pasien  taeniasis solium atau melalui tangan pasien  yang tercemar tinja cacing. Selain itu, infeksi dapat terjadi akibat tertelan muntahan berasal dari lambung  yang mengandung telur cacing akibat terjadinya gerak peristaltik balik usus.


Kelainan organ dan jaringan. Pada semua jaringan dan organ tubuh dapat terjadi sistiserkosis. Jumlah larva sistiserkus umumnya cukup banyak, bahkan dapat mencapai beberapa ratus larva sistiserkus pada satu orang pasien . Di dalam jaringan otak dan otot bergaris larva sistiserkus paling sering dijumpai. Larva sistiserkus  akan memicu timbulnya reaksi pembentukan jaringan ikat untuk membungkus larva, yang kemudian diikuti dengan pembentukan cairan kista. Larva di dalam kista dapat bertahan hidup sampai 5 tahun lamanya. Jika larva cacing mati, kista kemudian akan mengalami pengapuran (kalsifikasi).

Di dalam otak dan mata larva sistiserkus dapat menimbulkan kerusakan yang dapat membahayakan jiwa pasien , sedang  larva yang ada  di otot dan jaringan subkutan tidak banyak menimbulkan keluhan pasien . Sistiserkosis otak (cerebral cysticercosis) dapat menimbulkan gangguan 


gerakan motorik, kelainan saraf sensorik maupun gangguan mental pasien , tergantung tempat terjadinya kerusakan jaringan di otak pasien . Manifestasi klinis yang terjadi dapat menyerupai gejala-gejala tumor otak, meningitis, ensefalitis, maupun  gangguan saraf pusat lainnya. 

Sistiserkosis yang terjadi di dalam organ mata dapat menimbulkan nyeri bola mata, gangguan penglihatan, dan bahkan kebutaan, sedang  sistiserkosis yang terjadi pada otot jantung dapat menimbulkan takikardi, sesak napas, sinkop dan gangguan irama jantung. 


diagnosa  sistiserkosis. Jika seorang pasien  yang bertempat tinggal di daerah endemis taeniasis solium mengalami epilepsi atau gejala neurologik yang disertai riwayat adanya nodul subkutan, besar kemungkinan pasien  mengalami sistiserkosis serebral. 

diagnosa  sistiserkosis jaringan dapat ditentukan melalui biopsi nodul jaringan, sedang  pemeriksaan radiologi hanya dapat dilakukan jika telah terjadi kalsifikasi kista. Sistiserkosis mata pasien  dapat diperiksa dengan oftalmoskop, sedang  pemeriksaan serologi (fiksasi-komplemen, hemaglutinasi, dan tes intrakutan) dapat digunakan untuk membantu menegakkan diagnosa  sistiserkosis. 

Pengobatan sistiserkosis. Albendazole sebagai obat pilihan pengganti dengan 

dosis dewasa 2x400 mg diberikan selama 8-30 hari, yang bisa diulang. pasien  anak diobati dengan dosis 15 mg/kg berat badan/hari (maksimum 800 mg) terbagi dalam 2 dosis per oral diberikan selama 8-30 hari. 


Prazikuantel dapat juga digunakan dengan dosis dewasa atau anak sebesar 50-100 mg/kg berat badan/hari terbagi dalam 3 dosis per oral diberikan selama 30 hari untuk mengobati sistiserkosis selulosae.. Pada pasien  sistiserkosis otak (neurocysticercosis) yang diobati dengan prazikuantel dosis tersebut di atas harus diberikan selama 15 hari, sedang  albendazole dapat diberikan selama 30 hari.

Reaksi alergi yang timbul akibat penggunaan prazikuantel atau albendazole, dapat  diobati dengan memberkan kortikosteroid (Petunjuk Pemberantasan Taeniasis/ Sistiserkosis di Indonesia). Pengobatan taeniasis menggunakan prazikuantel atau albendazole harus dilakukan dibawah pengawasan petugas kesehatan atau dilakukan di rumah sakit.  

Sistiserkosis mata harus diatasi dengan pembedahan, sedang  sistiserkosis yang ada  di dalam jaringan otak dapat ditangani dengan pembedahan jika hanya ada  satu kista saja di dalam otak yang lokasinya memungkinkan untuk dilakukan pembedahan.


Sistiserkosis jaringan subkutan atau otot memiliki  prognosis baik, sedang  sistiserkosis jantung, otak, mata atau organ penting lainnya prognosisnya buruk.


Pencegahan sistiserkosis. Untuk mencegah terjadinya sistiserkosis selulosae, semua pasien  taeniasis solium harus diobati dengan baik. Kebersihan perorangan maupun kebersihan lingkungan harus selalu dijaga agar tak tercemar dengan tinja pasien  yang mengandung telur Taenia solium.



Taenia saginata



Cacing yang dikenal sebagai cacing pita sapi ini cacing dewasanya  memicu infeksi pada pasien   yang disebut taeniasis saginata. Penyebarannya bersifat kosmopolit dan dilaporkan secara luas di seluruh dunia. Larva cacing (cysticercus bovis) umumnya tidak memicu sistiserkosis bovis pada pasien .

Di dalam tubuh pasien  cacing dewasa hidup di dalam usus halus bagian atas dan dapat bertahan hidup  sampai 10 tahun lamanya.


Anatomi dan morfologi. Taenia saginata dewasa memiliki  tubuh yang berwarna putih, tembus sinar. Panjang badannya dapat mencapai 24 meter dengan segmen yang dapat mencapai 2000 buah.




Gambar 69. Taenia saginata

(a). proglotid  (b). skoleks (c). segmen matur

(URL:  http://www.medicine.mcgill.ca/tropmed) 


Kepala (scolex). Kepala cacing berbentuk segiempat dengan ukuran garis tengah antara 1 sampai 2 milimeter. ada  4 alat isap (sucker) di kepala tetapi tidak memiliki  rostelum maupun kait.

Leher. Leher berbentuk sempit memanjang dengan lebar sekitar 0.5 milimeter.

Segmen. Seekor cacing dewasa memiliki  sejumlah besar segmen yang yang


dapat mencapai 2000 buah. Segmen matur memiliki  berbentuk segi empat panjang dengan ukuran panjang yang 3-4 kali ukuran lebarnya. Segmen gravid yang terletak paling ujung berukuran  sekitar 0.5 cm x 2 cm, memiliki  lubang genital yang terletak di dekat ujung posterior segmen.

Uterus. Uterus yang ada  pada segmen gravid berbentuk batang memanjang, terletak  di pertengahan segmen, memiliki  15-30 cabang di setiap sisi segmen. Berbeda dari Taenia solium, segmen gravid pada Taenia saginata dilepaskan satu demi satu, dan tiap segmen gravid dapat bergerak sendiri di luar anus.

Telur. Mirip dengan telur Taenia solium, dan hanya infektif untuk sapi.


Daur hidup. pasien  merupakan hospes definitif Taenia saginata sedang  yang bertindak selaku hospes perantara yaitu  sapi atau kerbau. Infeksi pada pasien  terjadi jika makan daging sapi atau daging kerbau yang masih mentah atau kurang matang memasaknya sehingga cysticercus bovis yang ada  di dalam daging masih infektif. 


Gambar 70. Daur hidup Taenia saginata


Kelainan jaringan. Kerusakan jaringan usus oleh sistiserkus bovis pada taeniasis 

saginata  pada umumnya sangat ringan, namun pasien  dapat menunjukkan keluhan  berupa rasa tidak enak pada perut, mual, muntah dan diare. Jika jumlah cacing dewasa yang ada  di dalam saluran usus sangat banyak, kadang-kadang terjadi pembuntuan atau obstruksi usus yang dapat menimbulkan gejala-gejala klinis ileus. Pada pemeriksaan darah tepi ada  gambaran  adanya  eosinofilia yang ringan.

diagnosa  pasti taeniasis saginata hanya dapat ditetapkan jika ditemukan cacing dewasa, potongan segmen cacing, atau kepala (skoleks) cacing.  Ditemukannya telur cacing Taenia pada tinja belum dapat memastikan diagnosa  spesies taeniasis. 


Pengobatan dan pencegahan. Obat-obatan untuk taeniasis solium dapat digunakan untuk mengobati taeniasis saginata. 

Tindakan pencegahan taeniasis saginata pada prinsipnya sesuai dengan upaya pencegahan terhadap taeniasis solium, yaitu dengan jalan mengobati pasien , mengawasi  daging sapi yang dikonsumsi atau daging kerbau yang dijual, memasak daging sapi dan daging kerbau sampai matang, serta menjaga kebersihan makanan yang diberikan pada sapi dan kerbau agar tidak tercemar tinja pasien .

Echinococcus granulosus  dan hidatidosis



Cacing yang dikenal sebagai cacing pita anjing ini yaitu  cacing zoonosis yang  banyak dilaporkan dari seluruh dunia, terutama di daerah peternakan sapi dan domba. Echinococcus granulosus  lebih banyak dijumpai di daerah subtropis dibanding daerah tropis. Dalam daur hidup cacing ini ada  hubungan yang erat antara pasien  dengan herbivora dan anjing agar daur hidup cacing menjadi lengkap. Sebagai hospes definitif cacing ini yaitu  anjing dan sejenisnya. Cacing dewasa hidup di dalam usus halus hospes definitif tersebut. sebab  pasien  merupakan hospes perantara, di dalam tubuh pasien  hanya dijumpai larva 

cacing yang ada  dalam bentuk kista (hydatid cyst). 


Anatomi dan morfologi. Echinococcus granulosus termasuk cacing pita yang berukuran kecil.  Cacing dewasa panjang tubuhnya antara 3-6 mm, terdiri dari skoleks, leher dan strobila yang terdiri dari 3 buah segmen. Segmen pertama yaitu  segmen imatur, yang kedua segmen matur dan segmen ketiga yaitu  segmen gravid. Segmen gravid merupakan segmen yang terletak paling ujung dan merupakan segmen yang terpanjang dan terbesar ukurannya, dengan panjang antara  2-3 mm dan lebar sekitar 0,6 mm. 


                            


Gambar 71. Echinococcus granulosus dewasa

(URL:   http://www.emporia.edu/bioscience)

 

Skoleks (scolex). Kepala cacing ini memiliki 4 alat isap (sucker) dengan rostelum yang memiliki  2 deret kait yang tersusun melingkar.

Leher. Bagian leher berukuran pendek dan bentuknya melebar.

Telur. Echinococcus granulosus memiliki   telur yang mirip dengan telur Taenia lainnya, berbentuk ovoid dengan ukuran panjang 32-36 mikron dan lebar 25-32 mikron. Di dalam telur ada  embrio yang memiliki   3 pasang kait (hexacanth embryo). Telur ini hanya infektif untuk herbivora (misalnya domba, kambing, sapi dan kuda)  dan pasien  yang bertindak sebagai hospes perantara. 

Larva. Di dalam tubuh hospes perantara telur cacing yang termakan akan tumbuh menjadi larva hidatid (hydatid larva) tetapi tidak dapat berkembang

Daur hidup. Daur hidup Echinococcus granulosus berlangsung pada dua macam hospes. Sebagai hospes definitif  tempat hidup cacing dewasa yaitu  golongan anjing misalnya serigala, sedang  yang bertindak sebagai hospes perantara yaitu  herbivora, terutama domba. pasien  dapat bertindak sebagai hospes perantara pada daur hidup cacing ini. 

Dari usus anjing yang terinfeksi Echinococcus granulosus telur-telur cacing ke luar bersama tinja Herbivora atau pasien  yang tertelan telur infektif bersama makanannya misalnya rumput yang dimakan herbivora. Infeksi pada pasien  juga terjadi sebab   telur cacing tertelan, misalnya pada anak yang mengisap jarinya yang tercemar tinja anjing yang sakit, atau sebab  adanya kontak erat pasien  dengan anjing peliharaannya. Di dalam duodenum embrio heksakan menetas, lalu menembus dinding usus dan bersama aliran darah akan terbawa masuk ke organ hati, paru-paru, dan organ tubuh lainnya. Paru-paru dan organ hati merupakan organ-organ yang paling sering dapat ditemukan embrio cacing ini. Embrio kemudian akan tumbuh menjadi larva di dalam jaringan organ tubuh hospes perantara, dan lalu berkembang dengan membentuk kista hidatid.

Dari bagian dalam kista hidatid akan terbentuk brood capsule disertai pembentukan sejumlah besar skoleks. Dari satu kista hidatid yang berasal dari satu embrio dapat terbentuk ribuan skoleks baru. 

Cacing dewasa di usus anjing  2. Telur cacing di dalam tinja anjing

3.Telur cacing tertelan domba, berkembang menjadi kista hidatid. Kista 

          hidatid di dalam daging domba termakan anjing, daur hidup selanjutnya 

          berlangsung.  4. Jika pasien  tertelan telur cacing, kista hidatid terjadi pada

          pasien  (hidatidosis).


Jika kista hidatid yang matang (ada  di dalam jaringan organ hospes perantara) termakan anjing, maka dalam waktu 6 minggu di dalam usus anjing larva akan tumbuh dan berkembang menjadi cacing dewasa.

Cacing dewasa Echinococcus granulosus di dalam tubuh anjing hanya dapat hidup selama 6 bulan, sedang  dalam bentuk kista di dalam tubuh hospes perantara, larva parasit ini dapat bertahan hidup selama beberapa tahun.  


Cara infeksi pada pasien . Infeksi hidatidosis pada pasien  terjadi jika telur

cacing infektif yang ada  di dalam tinja anjing tertelan dengan berbagai cara, yaitu melalui makanan yang tercemar tinja anjing, melalui piring makan yang juga digunakan untuk anjing, atau akibat kontak erat dengan anjing pasien  ekinokokosis. 

Adanya larva cacing ini di dalam organ tubuh pasien  akan menimbulkan unilocular hydatid disease yang dapat menimbulkan gangguan pada organ tersebut. Gejala klinis yang terjadi akibat kista hidatid tergantung pada tempat ada nya kista di dalam organ. Kista yang ada  di permukaan organ mungkin dapat dilihat atau dirasakan adanya benjolan. Kista di dalam organ umumnya bisa tidak menimbulkan gangguan atau keluhan selama bertahun-tahun. Tekanan kista terhadap jaringan organ dan jaringan di sekitarnya juga tergantung pada lokasi kista. 

Kista hidatid yang pecah  memicu cairan kista yang berasal dari sel-sel hewan mengadakan kontak dengan jaringan dan sel pasien  yang dapat menimbulkan reaksi anafilaktik. Selain itu, dapat terjadi pembentukan kista sekunder di tempat lain baik yang menimbulkan akibat yang bersifat sistemik atau yang hanya menimbulkan gangguan setempat. 


diagnosa  hidatidosis. Untuk membantu menegakkan diagnosa  hidatidosis akibat adanya kista hidatid, berbagai  pemeriksaan laboratorium dapat dilakukan.

Tes alergi Casoni. Uji imunologis yang spesifik ini mudah dikerjakan. Sebanyak 0,2 ml cairan berasal darii kista hidatid yang sudah disterilkan disuntikkan intradermal pada orang yang diduga menderita hidatidosis. Jika reaksi positif, maka  30 menit sesudah suntikan akan terjadi benjolan sebesar 5 cm yang menunjukkan adanya pseudopodi (kaki semu), yang 1 jam kemudian akan menghilang.


Uji serologi. Berbagai pemeriksaan serologi dapat digunakan,  antara lain yaitu  : Indirect Hemagglutination (IHA), Bentonite Flocculation Test (BFT) dan Complement Fixation Test (CFT).Pemeriksaan darah tepi. Pada hitung jenis sel-sel darah akan dijumpai eosinofilia yang tinggi sampai sebesar 20%-25%.


Pemeriksaan Sinar-X. Pemeriksaan radiologis dikerjakan untuk menentukan secara dini adanya kista hidatid yang berada di dalam organ-organ misalnya di dalam paru-paru atau hati, sebelum pasien  menunjukkan gejala klinis atau keluhan.


Tindakan dan pengobatan. Obat yang secara khusus dapat digunakan untuk mengobati hidatidosis yang telah terjadi pada pasien  belum ditemukan. Beberapa tindakan yang dapat dilakukan yaitu  operasi, terapi biologis , pemberian anti alergi dan obat cacing.

Operasi. Tindakan pembedahan hanya dapat dilakukan terhadap kista tunggal yang ada  di permukaan organ. Cairan kista diambil, lalu diganti dengan larutan formalin 10% sehingga konsentrasi akhir larutan kista menjadi 2%, yang cukup untuk membunuh protoskoleks dan membran germinativum. Kista primer di otak sebaiknya diatasi dengan pembedahan, namun sebaliknya  kista sekunder di organ otak tidak boleh dibedah.


Terapi biologis. Pada pasien  yang memiliki  kista hidatid yang tidak boleh dibedah, atau ada  kista sekunder atau kista multipel, maka kepada pasien  dapat diberikan suntikan dengan cairan hidatid sebagai antigen.

Anti alergi. Bila terjadi anafilaktik atau gejala alergi lainnya, dapat diberikan epinefrin atau antihistamin.


Obat cacing. pasien  hidatidosis diobati dengan albendazol sebagai obat pilihan dengan dosis 10 mg/kilogram berat badan/hari selama beberapa hari dan atau Mebendazol dengan dosis 40 mg/kilogram berat badan/hari selama 1-6 bulan, baik secara sendiri-sendiri maupun dalam bentuk kombinasi. Jika terjadi penekanan kista terhadap organ vital, pengobatan obat cacing dapat dikombinasi dengan pembedahan.


Prognosis. Perjalanan klinis hidatidosis ditentukan oleh sifat kista dan lokasi kista di dalam jaringan dan organ. Kista primer yang masih dapat dioperasi, prognosisnya  umumnya baik. Namun jika terjadi infeksi sekunder, prognosis menjadi kurang baik. 

Prognosis hidatidosis menjadi buruk pada kista sekunder, kista ada  di dalam tulang, atau kista yang ada  di jaringan otak atau organ penting lainnya yang tidak memungkinkan dilakukannya pembedahan.


Pencegahan. Untuk mencegah hidatidosis pada pasien  maka semua anjing pasien   ekinokokosis yang menjadi sumber penularan harus diobati dengan baik. 

Anjing yang dipelihara harus juga dicegah agar tidak tertular pearasit ini. Kebersihan lingkungan dan kebersihan badan anjing harus selalu dijaga. 

Mencegah terjadinya kontak pasien  dengan tinja anjing, baik yang dipelihara di rumah maupun yang digunakan sebagai hewan coba di laboratorium harus dilakukan dengan sebaik-baiknya.. 


Multiceps multiceps

Cestoda zoonosis yang  larvanya dapat menimbulkan infeksi berat pada pasien  ini, banyak dilaporkan dari negara-negara yang memiliki  peternakan domba yang besar. Cacing dewasa hidup di dalam usus karnivora misalnya anjing, sedang  larvan cacing (coenurus) hidup di dalam jaringan atau organ tubuh herbivora misalnya kambing dan domba yang merupakan hospes perantara pada daur hidup Multiceps.


Morfologi. Multiceps  dewasa memiliki  ukuran panjang badan  antara 40 cm dan 60 cm. Kepala (skoleks) berbentuk piriform, memiliki  rostelum yang dilengkapi dengan 22-32 kait yang tersusun dalam dua lingkaran.

Coenurosis. Larva Multiceps multiceps atau coemurus dapat menginfeksi pasien  yang dapat menimbulkan penyakit yang berat dengan prognosis yang buruk. Larva cacing dapat menginfeksi pendereita sebab  tertelan telur cacing yang berasal dari tinja anjing pasien  infeksi Multiceps. 

Di dalam usus embrio akan menetas, memasuki jaringan tubuh dan dapat mencapai jaringan otak, sumsum tulang belakang dan susunan saraf pusat. Larva cacing kemudian akan berkembang menjadi coenurus yang merupakan kista dengan banyak skoleks. Timbulnya gejala klinis coenurosis terjadi akibat meningkatnya tekanan intrakranium, yang memicu hilangnya kesadaran pasien , kejang-kejang, paresis, gangguan penglihatan, kelumpuhan anggota gerak, gangguan pembicaraan (afasi) dan muntah-muntah. Reaksi Romberg positif dan pasien  berjalan terhuyung-huyung. Pemeriksaan laboratorium atas cairan otak menunjukkan terjadinya kenaikan kadar  protein dan jumlah sel.

Untuk menetapkan diagnosa  pasti coenurosis  harus dilakukan biopsi jaringan yang kemudian diperiksa di bawah mikroskop untuk menemukan larva cacing Multiceps. 

Pengobatan dan pencegahan. Mengobati  coenurosis sulit dilakukan. sebab  itu mencegah terjadinya coeurosis harus dilakukan dengan cara memperbaiki sanitasi lingkungan dan menjaga kebersihan perorangan. Makanan atau minuman harus dijaga agar tidak tercemar dengan tinja anjing yang terinfeksi Multiceps.. 


Hymenolepis nana


Cacing pita yang sering disebut sebagai cacing kerdil (dwarf tapeworm) ini tersebar luas di seluruh dunia, terutama di daerah yang  beriklim panas. Cacing dewasa hidup di dalam usus bagian distal ileum pasien  dan berbagai jenis binatang pengerat (rodensiasia) seperti tikus dan mencit yang  bertindak sebagai hospes reservoir. 


Anatomi dan morfologi. Sesuai dengan namanya, Hymenolepis nana merupakan cacing pita pasien  yang terkecil ukurannya. Ukuran panjang tubuhnya antara 2 dan 4 sentimeter, dengan lebar badan antara 0,7 dan 1 milimeter.

Skoleks. Cacing kerdil memiliki  kepala berbentuk bulat, berukuran kecil, memiliki  rostelum yang pendek dan dilengkapi dengan satu baris kait. Pada kepala juga ada  empat buah alat isap yang berbentuk seperti mangkuk.


Leher. Leher cacing yang panjang ukurannya memiliki  permukaan yang halus.

Proglotid. Cacing ini memiliki segmen matur yang berbentuk trapezium, memiliki  3 buah testis dan ovarium yang memiliki 2 lobus. ada  sebuah lubang kelamin (genital pore) yang terletak di bagian sisi kiri dari segmen. Segmen gravid cacing berisi 80-180 butir telur yang berada di dalam kantung telur.

Telur. Telur cacing berbentuk lonjong atau bulat dengan ukuran sekitar 30x45

mikron. Telur ini memiliki  dua  lapis selaput tipis (membran) jernih yang membungkus embrio yang memiliki  6 kait (hexacanth embryo). Di daerah kutub telur ada  penebalan membran yang merupakan tempat keluarnya 4-8 helai filamen yang merupakan ciri khas telur Hymenolepis nana.

Daur hidup. Hospes definitif alami cacing ini yaitu  pasien , tikus dan mencit. Untuk melengkapi daur hidupnya tidak diperlukan hospes perantara. Telur cacing infektif yang tertelan akan menetas di dalam usus halus, kemudian larva akan menembus dinding vilus usus.  Dalam waktu 4 hari larva akan berkembang menjadi sistiserkoid. Sistiserkoid akan menembus ke luar vilus usus, masuk ke dalam lumen usus lalu melekatkan diri pada mukosa usus dan tumbuh berkembang menjadi cacing dewasa dalam waktu 10 sampai 12 hari. 

Telur cacing sudah dapat ditemukan di dalam tinja pasien  dalam waktu 30 hari sejak terjadinya infeksi.  Di dalam usus  pasien  telur yang  berada pada tinja dapat menetas sehingga akan menimbulkan perulangan siklus.  Keadaan ini disebut sebagai autoinfeksi interna. Gejala klinis dan diagnosa . Pada infeksi yang ringan dengan cacing ini

umumnya tidak banyak menimbulkan keluhan maupun gejala klinis pada pasien  berupa gangguan perut yang tidak jelas. Akibat autoinfeksi interna, pasien  dapat mengalami infeksi berat himenolepiasis dengan jumlah cacing di dalam usus yang bisa mencapai 2000 ekor. Infeksi berat cacing ini pada anak dapat menimbulkan asthenia, penurunan berat badan, hilangnya nafsu makan, sukar tidur, nyeri perut, muntah-muntah, pusing dan keluhan neurologik Selain itu dapat terjadi reaksi alergi pada anak-anak yang sensitif. Anak pasien  himenolepiasis nana dapat mengalami anemi sekunder dengan eosinofili antara 4 sampai 16 persen. Diare berdarah dan gejala sistemik berat lainnya dapat juga terjadi. 

diagnosa  pasti infeksi dengan cacing kerdil dapat ditegakkan dengan mengadakan pemeriksaan tinja untuk menemukan telur cacing yang khas bentuknya.

Niklosamid dan kuinakrin (atabrin) dapat digunakan untuk mengobati infeksi cacing ini. Untuk orang dewasa niklosamid diberikan sebanyak 1 gram dosis tunggal, sedang  untuk anak  0,5 gram.


Pencegahan. sebab  penularan dapat terjadi secara langsung, pencegahan sulit dilakukan.meningkatkan kebersihan lingkungan dan higiene pribadi terutama pada anak, dan mengobati pasien , serta membasmi tikus dan hewan mengerat lainnya dapat mencegah penularan parasit ini. 



Hymenolepis diminuta


Infeksi dengan cacing ini dilaporkan dari berbagai daerah di seluruh dunia (kosmopolit). Cacing dewasa hidup di dalam usus halus tikus dan mencit. pasien , terutama anak-anak berumur di bawah tiga tahun, dapat dijumpai terinfeksi cacing ini.

Anatomi dan morfologi. Hymenolepis diminuta dewasa memiliki  ukuran panjang badan antara 10-60 cm dengan lebar badan antara 3-5 mm. Cacing ini memiliki  jumlah segmen tubuh yang berkisar antara 800 dan 1000 buah.


Skoleks. Kepala cacing  berbentuk gada, dengan rostelum yang telah mengalami kemunduran dan tidak memiliki  kait. Kepala memiliki  4  alat isap yang berukuran kecil.

Proglotid. Cacing ini memiliki  segmen matur yang panjangnya sekitar 2,5 mm, yang bentuknya mirip segmen matur Hymenolepis nana, sedang  segmen gravid berisi uterus berbentuk kantung yang penuh berisi telur. 

Telur. Telur cacing bulat bentuknya mirip dengan bentuk telur H.nana. Telur memiliki   ukuran sekitar 58 x 86 mikron, tidak memiliki  filamen. 

Gejala klinis dan diagnosa . pasien  yang terinfeksi cacing ini  umumnya hanya 

mengalami gangguan kesehatan yang ringan dan pendek waktunya sebab  cacing ini hanya hidup antara lima sampai tujuh minggu di dalam usus pasien .

Untuk menetapkan diagnosa  himenolepiasis diminuta dilakukan pemeriksaan tinja untuk menemukan telur cacing ini, 


Pengobatan dan pencegahan. Infeksi cacing dapat diobati dengan kuinakrin (atabrin).Pencegahan dilakukan dengan menjaga kebersihan makanan dan minuman serta memasaknya dengan baik. Pemberantasan tikus di lingkungan hunian harus dilakukan.



Dipylidium caninum  


Dipylidium caninum dilaporkan dari berbagai tempat di di seluruh dunia, sebab  luasnya sebaran anjing. Di dalam usus halus anjing, kucing dan karnivora lainnya cacing dewasa hidup parasitik. Kadang-kadang pasien  terinfeksi cacing ini, terutama anak-anak berumur di bawah umur 8 tahun sebab  sering mengalami kontak erat dengan anjing peliharaan yang ada di rumah.


Anatomi dan morfologi. Panjang cacing dewasa dapat mencapai 70 cm dengan strobila yang terdiri dari  60- 175 proglotid. 

Skoleks. Kepala cacing berbentuk belah ketupat (rhomboidal scolex), memiliki  4 alat isap yang lonjong dan menonjol. ada  rostelum yang bersifat retraktil, memiliki  bentuk seperti kerucut  yang dilengkapi dengan 30-150 kait yang berbentuk duri mawar yang tersusun melengkung transversal.

Proglotid matur. Segmen ini berbentuk tempayan atau vas bunga, yang masing-masing segmen memiliki  dua perangkat organ reproduksi dan satu lubang kelamin yang terletak di tengah-tengah segmen.Proglotid gravid. Segmen gravid yang terletak di bagian ujung penuh berisi telur yang tersimpan di dalam kantung telur (egg ball) yang masing-masing kantung berisi 15-25 butir telur. Seperti halnya Taenia, segmen gravid dapat bergerak aktif dan terlepas satu demi satu atau dalam bentuk rangkaian segmen.

Telur. Telur cacing  bulat bentuknya dengan garis tengah sekitar 35-60 mikron mengandung onkosfer yang memiliki  6 buah kait. Telur cacing terbungkus dalam kantung yang masing-masing kantung berisi 15-25  butir telur.


Daur hidup. Hospes definitif alami cacing ini yaitu  anjing, kucing dan karnivora lainnya. Kadang-kadang pasien  dapat bertindak sebagai hospes definitif. Sebagai hospes perantara dalam daur hidup Dipylidium caninum yaitu  pinjal (flea) anjing, pinjal kucing dan tuma anjing (Trichodectes canis). 


Sesudah telur cacing termakan oleh larva pinjal atau hospes perantara lainnya, onkosfer akan ke luar dari bungkusnya, menembus dinding usus dan tumbuh menjadi larva sistiserkoid yang infektif. Kalau pinjal dewasa  yang berasal dari larva pinjal yang mengandung larva sistiserkoid termakan oleh hospes definitif, dalam waktu sekitar 20 hari sistiserkoid akan tumbuh dan berkembang menjadi cacing dewasa. 

Penularan penyakit. Dipilidiasis caninum banyak dilaporkan menginfeksi anak berumur di bawah 8 tahun, terutama anak-anak yang berumur di bawah 6 bulan. Cara infeksi yaitu   secara per oral, yaitu tertelan pinjal atau tuma anjing dan kucing yang infektif bersama makanan dan minuman atau terinfeksi secara langsung dari tangan yang tercemar tinja anjing dan kucing yang sakit. 


Gejala klinis dan diagnosa . Hewan yang terinfeksi cacing ini tampak gelisah dan  lemah sebab  mengalami gangguan pencernaan. pasien  yang menderita dipilidiasis menunjukkan keluhan maupun gejala yang umumnya sangat ringan. Anak-anak yang menderita infeksi ringan kadang-kadang menunjukkan gejala klinis ringan berupa gangguan perut, nyeri daerah epigastrium, diare atau terjadi reaksi alergi. pasien  juga mengalami penurunan berat badan. Untuk menegakkan diagnosa  pasti, diperlukan pemeriksaan tinja untuk menemukan segmen cacing yang khas bentuknya. Kadang-kadang di daerah perianal atau pada tinja pasien  ditemukan kelompok-kelompok telur cacing ini ( egg ball).



Pengobatan dan pencegahan. Untuk mengobati infeksi cacing ini digunakan niklosamid per oral dengan dosis tunggal 2 gram untuk orang dewasa dan 0,5-1.0 mg untuk anak. Selain itu dapat digunakan kuinakrin (atabrin). Upaya untuk mencegah penularan dan infeksi cacing ini dapat dilakukan dengan menghindari kontak langsung dengan anjing. pasien  dan binatang yang terinfeksi cacing ini harus diobati dengan baik, sedang  pinjal dan tuma anjing dapat diberantas menggunakan insektisida yang sesuai. 







TREMATODA 



Bentuk tubuh cacing Trematoda pipih mirip daun yang tidak bersegmen,. Ukuran panjang tubuh cacing berkisar antara 1 mm dan beberapa sentimeter. Trematoda dewasa memiliki  alat isap mulut (oral sucker) yang ada  di bagian kepala, sedang  di daerah perut ada  alat isap ventral ( ventral sucker atau acetabulum).

Alat reproduksi Trematoda pada umumnya bersifat hermafrodit (berkelamin ganda), kecuali Schistosoma yang bersifat uniseksual (unisexual) yaitu memiliki alat kelamin yang terpisah atas jantan dan betina Cacing-cacing Trematoda tidak memiliki rongga tubuh (body cavity) sedang  alat pencernaan yang sudah dimiliki oleh Trematoda masih belum sempurna sebab  tidak memiliki  anus. 

Ciri khas lain dari cacing Trematoda yaitu  adanya sistem ekskresi (flame cell), yang untuk tiap-tiap spesies khas bentuknya. Sistem reproduksi pada Trematoda telah sempurna pertumbuhannya. Semua cacing Trematoda bertelur (oviparus)  dengan telur yang umumnya memiliki  operkulum (penutup) kecuali telur Schistosoma. Telur cacing hanya dapat berkembang menjadi larva jika berada di dalam air. 


Daur hidup. Berbagai jenis mamalia termasuk pasien  dapat bertindak sebagai hospes definitif cacing Trematoda. Daur hidup cacing Trematoda memerlukan hospes perantara yaitu moluska yang hidup di air tawar misalnya siput dan keong. Beberapa spesies cacing Trematoda membutuhkan hospes perantara yang kedua misalnya ikan, ketam, tumbuhan air atau semut. 

Di dalam tubuh hospes definitif hidup cacing dewasa yang melaksanakan proses  reproduksi. Cacing betina menghasilkan telur yang akan dikeluarkan bersama tinja atau air seni pasien . Jika telur masuk ke dalam air, telur akan menetas menjadi larva mirasidium (miracidium). Untuk dapat melanjutkan daur hidupnya, larva mirasidium harus dapat memasuki tubuh siput, yang selanjutnya akan berkembang menjadi sporokista (sporocyst) yang kemudian akan tumbuh menjadi redia, lalu menjadi larva serkaria (cercaria). Serkaria meninggalkan tubuh siput dan berenang  bebas di dalam air atau tumbuh lebih dahulu menjadi metaserkaria (metacercaria) sebelum memasuki tubuh pasien  atau hospes definitif lainnya dan berkembang menjadi cacing dewasa.

Pirenella  b. Segmentina c. Semisulcospira

(URL: http://www.conchology.be/images/label)


Infeksi parasit. Pada pasien  infeksi Trematoda dapat terjadi melalui berbagai macam jalan. Pada Schistosoma, stadium infektif  cacing ini yaitu  serkaria yang memasuki tubuh hospes definitif secara aktif dengan menembus kulit yang tak terlindung pada waktu berada di dalam air.

Cara infeksi pada Trematoda lainnya terjadi  melalui masuknya metaserkaria ke dalam mulut bersama makanan dalam bentuk tanaman air baik batang, daun ataupun buahnya (misalnya pada infeksi Fasciola hepatica dan Fasciolopsis buski), ikan air tawar ( pada Clonorchis sinensis, Heterophyes heterophyes, dan Metagonimus yokogawai) atau bersama-sama udang atau ketam air tawar, misalnya pada infeksi Paragonimus westermani. 

Tempat hidup cacing. Di dalam tubuh pasien  cacing dewasa Trematoda hidup di dalam berbagai organ dan jaringan. sebab  itu Trematoda dikelompokkan menjadi trematoda usus (intestinal trematodes), trematoda hati (liver flukes atau hepatic trematodes), trematoda paru (lung flukes) dan trematoda darah (blood trematodes atau blood flukes). 

Trematoda Usus. Trematoda yang hidup di dalam usus pasien  atau hoses definitif lainnya yaitu  Fasciolopsis buski, Heterophyes heterophyes dan Metagonimus yokogawai.

Trematoda hati. Termasuk trematoda hati yaitu :  Fasciola hepatica, Clonorchis sinensis, Opistorchis viverrini, Opistorchis felineus. 

Trematoda paru. Cacing daun yang dapat menjadi parasit pada pasien  yaitu  Paragonimus westermani.

Trematoda darah. Cacing Schistosoma japonicum, Schistosoma hematobium dan Schistosoma mansoni yaitu  kelompok trematoda darah yang merupakan pemicu penyakit-penyakit yang menjadi masalah kesehatan di berbagai negara. 


Definisi dan istilah umum Trematoda


Digenetik: ada  2 generasi pada setiap daur hidup lengkap cacing, 

yaitu generasi seksual dan generasi aseksual. 

Monogenetik: ada  hanya satu generasi cacing pada setiap daur hidup yang lengkap.

Distomata: Trematoda yang memiliki  2 alat isap mulut (sucker).

Asetabulum: alat isap yang ada  di bagian ventral tubuh Trematoda yang berfungsi untuk menempel; sering disebut sebagai ventral sucker.

Gynaecophoric canal: bentuk lekukan atau saluran yang ada  pada badan cacing jantan Schistosoma yang menjadi tempat cacing betina berada pada saat terjadi kopulasi.

Mirasidium: larva Trematoda stadium pertama yang menetas dari telur trematoda pada waktu masuk ke dalam air.

Sporokista: larva Trematoda stadium kedua yang terbentuk di dalam tubuh moluska. Di dalam tubuh moluska terjadi multiplikasi aseksual stadium ini yang hanya terjadi pada Schistosoma.

Redia: larva Trematoda stadium ketiga yang terjadi dalam tubuh moluska. Multiplikasi aseksual redia terjadi pada semua trematoda, kecuali Schistosoma.

Serkaria: merupakan stadium terakhir trematoda yang terbentuk di dalam tubuh moluska. Larva berekor ini akan meninggalkan tubuh moluska, hidup bebas di dalam air atau kemudian membentuk kista pada tumbuhan atau hewan lainnya.

Furcocercus cercaria: serkaria yang memiliki  ekor bercabang (pada Schistosoma).

Lophocercus cercaria: serkaria berekor besar (Metagonimus, Clonorchis, Heterophyes).

Microcercus cercaria:  serkaria berekor kecil (pada Paragonimus).

Pleurolophocercus: serkaria berekor panjang (pada Opistorchis).

Metaserkaria atau adolescaria: stadium infektif  Trematoda yang terbentuk dari serkaria yang membentuk kista dan kehilangan ekornya.

Schistosomulum: bentuk muda (imatur) cacing Schistosoma terbentuk di dalam tubuh hospes definitif.


Vitellarium: kelenjar pada Trematoda (kelenjar vitelin)  yang menghasilkan bahan untuk mematangkan telur. 


TREMATODA USUS


Fasciolopsis buski


Trematoda ini merupakan cacing trematoda yang terbesar ukurannya yang menginfeksi pasien  sehingga sering disebut sebagai cacing trematoda usus raksasa (giant intestinal fluke). Cacing dewasa hidup di dalam usus halus, yaitu di duodenum dan jejunum pasien  dan babi. Fasciolopsis buski endemis di Cina, juga banyak dilaporkan  dari  Taiwan, Vietnam, Kamboja, Laos, Thailand dan Indonesia.


Anatomi dan morfologi

Cacing dewasa. Fasciolopsis buski dewasa memiliki  bentuk seperti daun, dengan ukuran panjang badan antara 20 dan 70 mm dan lebar badan antara 8 dan 20 mm. 

Ciri-ciri anatomi dan morfologi cacing ini  yaitu  sebagai berikut: 



Gambar 86. Cacing Fasciolopsis buski

Cacing dewasa (b) telur cacing

( Sumber:  CDC :  http://instruction.cvhs.okstate.edu)


Asetabulum: ukuran organ ini lebih besar daripada ukuran oral sucker.Kepala: bagian kepala tidak memiliki   kerucut kepala (cephalic cone). 

Usus dan alat pencernaan : ada  prefaring pendek, faring yang berbentuk bola dan usofagus yang pendek, diikuti oleh  sepasang sekum yang tidak bercabang.

Alat reproduksi: ada  dua buah testis yang bercabang dan tersusun di separuh badan bagian posterior. 

Ovarium: ovarium tidak bercabang, terletak di pertengahan tubuh. 

Vitelaria:  organ ini terletak di sebelah lateral sekum, tersebar mulai dari ujung anterior setinggi ventral sucker sampai ke ujung posterior tubuh cacing. 

Uterus: bentuk uterus yang melingkar menuju ke arah batas anterior ventral sucker, dan berakhir pada atrium genital.


Telur: Telur memiliki  ukuran panjang 130-140 mikron dan lebar 80-95 mikron, berdinding tipis tembus sinar, dan memiliki  operkulum kecil pada salah satu ujungnya. Telur berbentuk lonjong berwarna kekuningan. Seekor cacing betina dapat memproduksi sekitar 28.000 butir telur setiap harinya.   Daur hidup. Bertindak sebagai hospes definitif cacing ini yaitu  pasien  dan babi. Siput air tawar genus Segmentina, Hippeutis, atau Gyraulus merupakan hospes perantara dalam daur hidup cacing ini. Trematoda dalam daur hidupnya memerlukan hospes perantara yang kedua, yaitu tanaman air yang menjadi tempat berkembangnya larva infektif (metacercaria).

Infeksi pada pasien  terjadi jika pasien  termakan larva yang infektif (metacercaria) yang ada  pada tumbuhan air. Di dalam duodenum larva akan lepas dari jaringan tanaman, melekatkan diri pada mukosa usus halus lalu berkembang menjadi cacing dewasa. Dalam waktu 25 sampai 30 hari, cacing dewasa sudah mampu menghasilkan telur cacing. Cacing dewasa pada umumnya hidup di dalam usus pasien  dalam waktu kurang dari 6 bulan. 

Jika telur cacing yang ke luar bersama tinja pasien  masuk ke dalam air, maka dalam waktu 3 sampai 7 minggu pada suhu air sekitar 300 Celcius,  telur akan menetas menjadi larva mirasidium yang dapat berenang di dalam air. Dalam waktu 2 jam mirasidium harus sudah dapat memasuki tubuh siput yang menjadi hospes perantara pertama. Larva akan mati jika dalam waktu 5 jam sesudah ke luar dari tubuh pasien  tidak dapat memasuki badan siput.Sesudah memasuki tubuh siput air tawar mirasidium akan tumbuh menjadi sporokista. Dari sporokista matang, maka akan terbentuk redia induk yang lalu memproduksi redia anak yang selanjutnya berkembang menjadi serkaria (cercaria). Sesudah itu serkaria akan keluar dari tubuh siput dan berenang untuk mencari tumbuhan air yang sesuai, yang akan bertindak sebagai hospes perantara yang kedua. Dalam waktu 1 sampai 3 jam sesudah mendapatkan tanaman air yang sesuai, serkaria akan berkembang menjadi larva metaserkaria yang infektif


Infeksi dan gejala klinis. Fasciolopsis buski dapat menginfeksi pasien  sebab  makan tumbuhan air mentah dalam keadaan segar yang mengandung metaserkaria yang infektif. Tumbuhan air yang sudah kering tidak berbahaya, sebab  metaserkaria tidak tahan kekeringan.  

Gejala klinis fasiolopsiasis buski terjadi sebab  cacing yang melekatkan diri pada mukosa usus halus dapat menimbulkan keradangan, ulserasi dan abses, sehingga menimbulkan keluhan nyeri epigastrium, mual, dan diare. Keluhan-keluhan ini umumnya dirasakan oleh pasien  pada pagi hari. Jika terjadi infeksi yang berat oleh parasit ini pasien  akan mengalami anemia, edema, asites dan anasarka. Kadang-kadang dapat terjadi obstruksi usus. Pemeriksaan darah tep menunjukkan gambaran eosinofili sampai 35 persen.


diagnosa . Penduduk yang tinggal di daerah endemis Fasciolopsis buski jika menunjukkan gejala klinis berupa mual, diare, nyeri epigastrium, anemia berat, edema atau asites, patut dicurigai telah terinfeksi parasit ini.  Untuk menegakkan diagnosa  pasti harus dilakukan pemeriksaan tinja  untuk menemukan telur cacing. Selain itu mungkin dapat  dijumpai cacing dewasa pada muntahan atau di dalam tinja pasien .


Pengobatan. Obat-obatan baru yang efektif untuk mengobati infeksi Fasciolopsis buski yaitu  prazikuantel (obat pilihan) dan niklosamid yang diberikan per oral  dengan takaran sebagai berikut:

Prazikuantel. Obat diberikan dengan dosis 3x25 mg/kg berat badan per hari, diberikan selama 1 hari (untuk orang dewasa dan anak berumur lebih dari 4 tahun).


Niklosamid. Dosis untuk orang dewasa, 2 gram sebagai dosis tunggal, sedang  dosis anak dengan berat badan 10-35 kg yaitu  1 gram dan untuk anak dengan berat badan kurang dari 10 kg diberikan  0,5 gram obat cacing.

Tetrakloetilen dan heksilresorkinol atau stilbazium iodide yaitu  obat-obatan lama yang digunakan untuk mengobati cacing ini.


Pencegahan. Untuk mencegah penyebaran penyakit, setiap pasien  harus diobati dengan baik. Untuk memutuskan rantai daur hidup cacing harus dilakukan  pemberantasan siput yang menjadi hospes perantara pertamanya. Untuk memberantas siput digunakan larutan sulfat tembaga dengan konsentrasi 1: 50.000. Selain itu,  sayuran atau tanaman air yang akan dimakan sebaiknya dimasak dengan baik, sehingga larva infektif yaitu metaserkaria dapat dibasmi. Untuk membunuh telur, mirasidium dan serkaria yang ada  di dalam air, dapat diberikan larutan kapur sebanyak 100 ppm (part per million) atau larutan sulfat tembaga dengan konsentrasi 20 ppm. 

Dalam daur hidup Fasciolopsis buski babi dapat menjadi sumber penularan, sebab  hewan ini dapat bertindak selaku hospes cadangan (reservoir host). sebab  itu hewan ini harus dijauhkan dari tempat yang banyak ditumbuhi tanaman air. Penggunaan tinja pasien  maupun tinja babi sebagai pupuk harus dilarang.



Heterophyes heterophyes     


Cacing ini hidup di dalam lumen usus atau djumpai melekat pada mukosa usus  di antara vilus-vilus usus pasien  dan hewan pemakan ikan yang menjadi hospes definitifnya.. Infeksi cacing ini (heterofiasis) banyak dilaporkan dari  Asia Timur (Cina dan Asia Tenggara) dan Mesir, yang merupakan daerah endemis cacing ini.


Anatomi dan morfologi. Heterophyes dewasa berukuran sangat kecil dengan panjang badan sekitar 1,3 mm dan lebar badan sekitar 0,5 mm. Cacing berbentuk piriform, berwarna agak kelabu. Cacing dewasa memiliki  kutikulum berduri halus seperti sisik . 

Ventral sucker. Alat isap ini terletak di daerah sepertiga tengah bagian anterior tubuh.

Genital sucker. Alat isap genital yang dapat digerakkan ke luar masuk ini, ada  di bagian posterior dari alat isap ventral.

Alat reproduksi. Ovarium berbentuk bulat, terletak di bagian anterior testis.


Telur. Telur cacing memiliki  penutup (operculum). Telur berdinding tebal dengan ukuran panjang telur sekitar 29 mikron dan  lebar sekitar 16 mikron. Pada waktu dikeluarkan oleh induk cacing, telur telah mengandung mirasidium yang hidup. 

Daur hidup. Hospes definitif cacing ini yaitu  pasien  dan hewan pemakan ikan,  sedang  siput air tawar, misalnya Pirenella dan Cerithidea merupakan hospes perantara pertama. Selaku hospes perantara kedua yaitu  beberapa jenis ikan, misalnya Mugil, Tilapia dan Acanthogobius. 

Telur cacing yang masuk ke dalam air jika dimakan siput, di dalam tubuh siput telur menetas dan larva mirasidium akan tumbuh menjadi sporokista, lalu redia dan kemudian berkembang menjadi serkaria. Serkaria kemudian akan ke luar dari tubuh siput. dan mencari ikan yang bertindak selaku hospes perantara

yang kedua. Di bawah sisik ikan atau di dalam daging ikan serkaria akan tumbuh menjadi kista metaserkaria yang infektif bagi hospes definitif. Infeksi pada pasien  terjadi sebab  makan ikan mentah yang mengandung stadium infektif cacing ini (metacercaria) atau makan ikan yang infektif yang dimasak kurang matang. Dalam waktu 2 minggu sesudah infeksi, larva telah berkembang menjadi cacing dewasa yang sudah mampu bertelur. 


Gambar 91. Daur hidup Heterophyes heterophyes


Penularan parasit. Heterophyes merupakan parasit pada pasien  dan berbagai macam hewan seperti kucing, anjing dan mamalia atau burung pemakan ikan. Nelayan yang menderita heterofiasis merupakan sumber penularan bagi penduduk lainnya, sebab  umumnya mereka buang air besar di daerah perairan tempat mereka mencari nafkah.


Gejala klinis dan diagnosa . Gejala klinis dan  keluhan pasien  umumnya baru terjadi pada infeksi berat. Hal ini dipicu oleh terjadinya iritasi cacing pada mukosa usus yang dapat menimbulkan diare berlendir yang menahun, disertai 

kolik dan nyeri perut. Cacing dewasa yang menembus vili usus memicu telur cacing akan menyebar melalui aliran darah dan limfe, sehingga dapat menimbulkan granuloma di dalam otak dan jantung.

diagnosa  pasti infeksi Heterophyes dapat ditetapkan dengan melakukan pemeriksaan tinja pasien  untuk menemukan telur cacing yang spesifik bentuknya.


Pengobatan dan pencegahan. Sebagai obat pilihan untuk memberantas Heterophyes maupun cacing famili Heterophyiidae lainnya