Jumat, 06 Desember 2024

parasitologi 1



























 Parasit yaitu  organisme yang termasuk dalam kerajaan binatang (animal kingdom) yang untuk dapat mempertahankan hidupnya membutuhkan makhluk hidup lain sebagai sumber sumber kehidupannya termasuk sebagai sumber makanannya. Oleh sebab  itu parasit sangat merugikan hidup dan bahkan dapat membunuh inang (hospes) tempatnya menumpang hidup. 

Parasitologi kedokteran yaitu  ilmu kedokteran yang mempelajari  tentang parasit yang hidup pada atau di dalam tubuh pasien  atau hewan, baik yang hidup untuk sementara waktu maupun yang hidup parasitik sepanjang umurnya di dalam tubuh atau pada permukaan tubuh inang tempatnya mencari makan untuk mempertahankan hidupnya.


Simbiosis. Di alam, selalu terjadi simbiosis, yaitu hubungan timbal balik antara dua organisme atau makhluk hidup. Simbiosis dapat berlangsung untuk sementara waktu, namun juga dapat berlangsung terus-menerus atau permanen. Pada simbiosis mutualisme dua organisme mendapatkan keuntungan dari simbiosis tersebut sedang  pada simbiosis komensalisme salah satu organisme mendapatkan keuntungan dari hubungan tersebut sedang  organisme lainnya tidak mendapatkan keuntungan ataupun  kerugian.


Parasitisme. Parasitisme yaitu  hubungan timbal balik yang bersifat sementara atau permanen antara dua organisme hidup di mana salah satu organisme (disebut parasit) tergantung sepenuh hidupnya pada organisme lainnya (disebut inang atau hospes). 

Berdasar  pada  tempatnya hidup, parasit dapat digolongkan menjadi ektoparasit (ectoparasite) jika hidup di permukaan tubuh hospes (menimbulkan infestasi) dan yang hidup di dalam tubuh hospes (memicu infeksi) disebut endoparasit (endoparasite).

Sesuai dengan cara hidupnya dikenal parasit fakultatif jika parasit selain hidup parasitik pada tubuh hospes, mampu hidup bebas di luar tubuh hospes, dan disebut parasit obligat jika parasit ini harus selalu hidup parasitik pada hospes sebab  selama hidupnya sangat tergantung pada makanan yang didapatnya dari hospes. Parasit yang hidup parasitik pada hospes yang sebenarnya bukan hospes alaminya, disebut parasit insidental. 

Berdasar waktunya dikenal parasit temporer jika organisme ini hanya hidup parasitik pada tubuh hospes pada waktu ia membutuhkan makanan, dan hidup bebas (free-living) di luar tubuh hospes jika sedang tidak membutuhkan makanan dari hospes. Pada parasit permanen, seluruh masa hidup parasit berada di dalam tubuh hospes yang menyediakan  makanan selama hidupnya. Di luar tubuh hospes parasit akan mati.

Berdasar sifat hidupnya, parasit disebut patogenik jika parasit yang hidup pada tubuh hospes menimbulkan kerusakan pada organ atau jaringan tubuh hospes baik secara mekanis, traumatik, maupun sebab  racun atau toksin yang dihasilkannya. Pseudoparasit yaitu  benda asing yang pada pemeriksaan bentuknya mirip seperti parasit, sedang  parasit koprosoik atau spurious parasite yaitu  spesies asing yang berada di dalam usus hospes lalu melewati saluran pencernaan tanpa menimbulkan gejala infeksi pada hospes.p


Sebaran  geografis parasit. Keberadaan  dan penyebaran suatu parasit di suatu daerah tergantung pada berbagai hal, yaitu adanya hospes yang peka, dan ada nya kondisi lingkungan yang sesuai bagi kehidupan  parasit.  Parasit yang memiliki daur hidup yang sederhana, penyebarannya akan lebih luas dibanding parasit yang daurnya sangat kompleks, misalnya memerlukan hospes perantara. Faktor  sosial ekonomi  hospes, terutama pasien , sangat memengaruhi penyebaran parasit. Daerah pertanian, peternakan, kebiasaan menggunakan tinja untuk pupuk, kebersihan lingkungan, higiene perorangan yang buruk, dan kemiskinan merupakan faktor-faktor yang meningkatkan penyebaran penyakit parasit. Migrasi penduduk dari satu daerah ke daerah lain, agama dan kepercayaan tertentu, juga mempengaruhi penyebaran penyakit parasit.

Daerah-daerah  tropis yang basah dan temperaturnya optimal bagi kehidupan parasit  merupakan tempat ideal bagi kehidupan parasit baik yang hidup pada pasien  maupun yang hidup di dalam tubuh hewan. Daerah subtropis yang pendek musim panasnya, dan  tempat-tempat yang  beriklim sangat dingin, serta daerah-daerah yang beriklim sangat panas menghambat perkembangan, kehidupan dan penyebaran parasit.  

Banyak  penyakit parasit pasien  dan hewan dijumpai di Indonesia, sebab  lingkungan hidup di kawasan ini memungkinkan parasit dapat hidup dan berkembang biak dengan sempurna. Penelitian-penelitian epidemio-parasitologis yang banyak dilakukan menunjukkan bahwa dalam waktu limapuluh tahun, frekuensi penyakit-penyakit parasit penduduk Indonesia tidak banyak mengalami penurunan yang berarti. Survai Kesehatan Rumah Tangga tahun 1986 menunjukkan bahwa penyakit infeksi dan parasit merupakan pemicu kematian paling utama di Indonesia. Prevalensi infeksi cacing usus di Indonesia berkisar antara 2,2% sampai 96,3% menunjukkan perbedaan yang bermakna antara satu daerah dengan daerah lainnya di Indonesia yang luas wilayahnya dan berbeda sifat geografisnya serta berbeda sifat sosio ekonomi dan kultural penduduknya. Penelitian-penelitian di Indonesia menunjukkan penyakit-penyakit parasit yang terkait erat hubungannya dengan lingkungan hidup, masih menunjukkan frekuensi yang sangat tinggi di berbagai  daerah. Salah satu di antaranya yaitu  penyakit-penyakit cacing yang ditularkan melalui tanah (soil transmitted helminths) seperti askariasis, trichuriasis dan infeksi cacing tambang. Penelitian-penelitian di Indonesia, misalnya dengan melakukan pemeriksaan tinja pada penduduk, baik di daerah pedesaan maupun di daerah perkotaan, baik di Pulau Jawa maupun di luar Jawa menunjukkan angka-angka yang tidak banyak berubah. Penelitian di Jakarta pada anak sekolah SD menunjukkan  bahwa frekwensi penyakit cacing sekitar 49,5% sedang  penelitian di pada anak sekolah SD di Kabupaten Bengkayang, Sulawesi, menunjukkan angka prevalensi cacing usus sekitar 52,0%. Kurangnya sarana air bersih, sempitnya lahan tempat tinggal keluarga, kebiasaan makan dengan tangan yang tidak dicuci lebih dahulu, pemakaian ulang daun-daun dan pembungkus makanan yang sudah dibuang ke tempat sampah, sayur-sayuran yang dimakan mentah, penggunaan air sungai untuk berbagai kebutuhan hidup (mandi, mencuci bahan makanan, mencuci pakaian, berkumur, gosok gigi, dan juga digunakan sebagai kakus), dan penggunaan tinja untuk pupuk sayuran, meningkatkan penyebaran penyakit parasit terutama penyakit cacing yang ditularkan melalui tanah.

Selain faktor-faktor tersebut di atas, faktor pekerjaan juga sangat memengaruhi frekuensi penyakit parasitik. Pekerja-pekerja perkebunan yang sarana kakusnya tidak memadai jumlahnya, pekerja-pekerja bidang pengairan dan irigasi, pekerja tambang dan kehutanan, petani dan peternak termasuk dalam kelompok yang memiliki  risiko tinggi terinfeksi penyakit parasit. 

Parasit-parasit lain yang memerlukan penanganan yang berwawasan jangka panjang yaitu  Filaria, yaitu cacing-cacing pemicu penyakit kaki gajah. Menurut laporan pada tahun 2000, ada  231 kabupaten di 26 propinsi di Indonesia merupakan daerah endemis filariasis.Di Indonesia ada  3 jenis cacing filaria yaitu Wuchereria bancrofti, Brugia malayi dan Brugia timori.  Ketiga parasit cacing ini dapat menimbulkan kelainan-kelainan limfatik dengan manifestasi akhir berupa elefantiasis yang tidak dapat diobati atau direhabilitasi dengan baik. Vektor penular parasit ini yaitu  berbagai jenis nyamuk yang  memiliki  kebiasaan hidup yang berbeda-beda dengan jenis sarang yang tidak sama. Ada yang memerlukan air jernih untuk tempat berkembang biaknya, ada yang membutuhkan air payau, air rawa-rawa, sarang yang terlindung dari sinar matahari atau sebaliknya ada yang justru membutuhkan kehangatan sinar matahari. 

Selain filariasis dan soil transmitted helminths, parasit yang daur hidupnya sangat terkait dengan lingkungan hidup yaitu  cacing pita babi (Taenia solium) dan cacing pita sapi (Taenia saginata). Beberapa daerah di luar Jawa merupakan fokus-fokus  endemis schistosomiasis, suatu penyakit cacing darah yang dapat menimbulkan manifestasi klinis yang berat yang  dapat menimbulkan kematian pasien . Di Indonesia, pemicu schistosomiasis yaitu   cacing daun yang hidup di dalam pembuluh darah pasien  yaitu Schistosoma japonicum. Cacing  ini merupakan parasit zoonotik yang dapat ditularkan dari hewan ke pasien  dan sebaliknya, memerlukan air tawar sebagai tempat perkembangan stadium infektifnya.  

Banyak penyakit protozoa juga endemis di Indonesia. Protozoa usus yang sering dilaporkan ditemukan pada penelitian-penelitian di Indonesia yaitu   Entamoeba histolytica, Giardia lamblia dan Balantidium coli sedang  protozoa darah yang menjadi masalah kesehatan di Indonesia yaitu  malaria . Pada tahun 2008 sebanyak lebih dari 1,6 juta kasus malaria dilaporkan di Indonesia, terutama dari Papua, Maluku, Nusa Tenggara dan Sumatera Utara. 

Penyakit protozoa yang harus diperhatikan sebab  dapat menimbulkan masalah kesehatan yaitu  toksoplasmosis yang dapat menimbulkan abortus pada janin dan kecacatan pada bayi yang dilahirkan oleh ibu hamil yang menderita toksoplasmosis.


Daur hidup parasit. Parasit beradaptasi terhadap lingkungan hidupnya termasuk di dalam tubuh hospes tempatnya hidup,  memicu terjadinya perbedaan daur hidup pada berbagai jenis parasit. 

Hospes definitif (definitive host) atau final host  yaitu  hospes yang menjadi tempat hidup parasit dewasa atau parasit matang seksual (sexually mature). pasien  dapat bertindak sebagai satu-satunya hospes definitif, sehingga merupakan satu-satunya sumber penularan penyakit parasit, atau merupakan salah satu hospes definitive selain hewan lain yang juga  bertindak sebagai hospes definitif,  atau hanya menjadi hospes insidental dari parasit yang secara alami hidup pada hewan. Hewan yang dapat bertindak sebagai hospes definitif bagi parasit yang hidup pada pasien  disebut hospes cadangan (reservoir host ).  

Untuk melengkapi daur hidupnya, kadang-kadang parasit membutuhkan hewan lain yang bertindak selaku hospes perantara (intermediate host) tempat berkembangnya stadium muda parasit, misalnya bentuk larvanya. Beberapa jenis cacing trematoda dan cestoda membutuhkan dua hospes perantara, yaitu hospes perantara primer dan sekunder. Sebaliknya pasien  dapat bertindak selaku hospes perantara bagi parasit yang hospes definitifnya yaitu  hewan. Akibat yang ditimbulkan oleh larva cacing pita babi misalnya, dapat menimbulkan gangguan kesehatan yang membahayakan jiwa pasien  pasien .


Penularan penyakit  parasitik. Penularan penyakit parasitik dipengaruhi tiga faktor, yaitu  adanya sumber infeksi, cara penularan parasit, dan adanya hospes yang peka  atau sensitif. Kombinasi faktor-faktor tersebut menentukan tingginya penyebaran dan prevalensi parasit di suatu daerah pada tempat dan waktu tertentu. Selain itu adaptasi alami parasit terhadap pasien  selaku hospes, kebiasaan hidup dan hubungan dalam populasi pasien  serta tingginya daya tahan tubuh individu pasien , mempengaruhi cepatnya  kejadian penularan penyakit parasitik. 

Umumnya penyakit parasit akan berkembang menjadi penyakit yang menahun atau kronis yang dapat menunjukkan gejala atau keluhan yang ringan. sebab  itu pasien  yang masih terinfeksi parasit tertentu dapat tidak menunjukkan gejala atau keluhan ( disebut carrier), sehingga merupakan sumber penularan potensial penyakit parasitik bagi orang lain yang sehat. Carrier terjadi sebab  antara hospes dan parasit ada  keseimbangan dalam kehidupan masing-masing. Penyebaran parasit dari satu individu pasien  ke individu yang peka dapat terjadi secara kontak langsung (direct contact) atau melalui penularan tidak langsung.  Pada penularan tidak langsung, untuk dapat menginfeksi hospes yang peka parasit harus melewati beberapa stadium perkembangan  dalam bentuk stadium free-living atau harus hidup di dalam tubuh hospes perantara lebih dahulu -  sebelum menjadi stadium parasit yang infektif. Penularan stadium infektif dapat terjadi secara kontak langsung atau tidak langsung,  bersama makanan, minuman, tanah, hewan vertebrata dan vector serangga, atau dari ibu ke bayi melalui plasenta pada waktu proses persalinan.

Sebagai sumber infeksi pada penularan penyakit parasitik, pasien  dapat berlaku sebagai satu-satunya hospes, sebagai hospes utama selain hewan lainnya, atau hanya menjadi hospes insidental, sebab  beberapa hewan bertindak sebagai hospes utama.   


Infeksi dan infestasi. Perjalanan  penyakit parasit dibedakan antara infeksi (infection) yaitu invasi yang dipicu oleh endoparasit dan infestasi (infestation) yang dipicu oleh ektoparasit atau external parasitism, misalnya yang ditimbulkan oleh artropoda atau parasit-parasit yang berasal dari tanah atau tanaman. Gejala klinis infeksi parasit dipengaruhi oleh berbagai hal, yaitu jumlah parasit yang masuk ke dalam tubuh, perubahan-perugahan patologis yang timbul, kerusakan mekanis dan akibat iritasi parasit, toksin yang dihasilkan parasit dan organ dan jaringan yang mengalami gangguan. Jika terjadi keseimbangan antara parasit dengan hospes, maka hospes yang menjadi pembawa (carrier) ini tidak menunjukkan gejala klinis yang nyata. 

Daya tahan tubuh atau imunitas hospes dapat berupa imunitas alami sesuai dengan spesiesnya, ras, atau imunitas individual terhadap parasit pada umumnya atau spesies parasit tertentu. Imunitas dapat bersifat mutlak (absolut) namun lebih sering bersifat tidak mutlak (parsial). Sebagai contoh imunitas terkait dengan ras, orang berkulit hitam (negro) lebih kebal atau resisten terhadap infeksi cacing tambang dan malaria vivax dibanding orang kulit putih. 

Kelompok umur anak-anak dan orang berusia lanjut merupakan kelompok yang paling sering menderita infeksi parasit. Infeksi pertama dapat terjadi pada usia yang sangat muda, misalnya askariasis misalnya pernah dilaporkan terjadi pada bayi berusia 4 bulan sedang  pada trichuriasis umur termuda yaitu  5 bulan. Pada cacing tambang dapat terjadi pada usia 6 bulan dan hal ini dapat terjadi bila anak diletakkan begitu saja di tanah tanpa alas, sehingga larva infektif cacing tambang dapat menginfeksi melalui kulitnya. 


diagnosa  penyakit parasitik. Perjalanan klinik penyakit parasit seringkali bersifat umum sebab  gejala dan keluhan yang ditimbulkannya mirip satu dengan lainnya, sehingga hanya dengan gejala klinis saja sukar dijadikan pegangan menentukan jenis parasit yang menjadi pemicu penyakit parasitik. Sebagai contoh, berbagai infeksi cacing usus menunjukkan gejala-gejala yang tidak jelas dan tidak khas sehingga sulit dikenali. Dalam hal ini diperlukan pemeriksaan laboratorium untuk menetapkan diagnosa  pasti jenis parasit pemicu  infeksi parasitik tersebut.  

Akibat penyakit parasit umumnya bersifat menahun dan jarang menimbulkan kematian yang mendadak, sehingga sering tidak diperhatikan dan  diabaikan akibatnya. Anemia dan kekurangan gizi merupakan akibat yang paling sering dialami oleh penduduk terutama di daerah yang sudah rawan gizi sebelumnya, sehingga menimbulkan manifestasi malnutrition dalam berbagai tingkatan dari yang ringan hingga yang berat. Keadaan ini akan menjadi lebih berat lagi oleh sebab  banyak penyakit parasit juga dapat menimbulkan diare. Infeksi oleh cacing tambang yang berat dapat menimbulkan menurunnya kondisi kesehatan orang dewasa dan anak remaja, sehingga produktivitas kerjanya juga menurun. Perempuan yang sedang hamil akan mengalami berbagai gangguan pada proses kehamilan dan persalinannya, misalnya terjadinya abortus yang berulang, keracunan kehamilan dan kematian janin sebelum cukup umur kandungannya. Selain itu dapat terjadi kelahiran  bayi-bayi prematur dengan berat badan di bawah ukuran normal. Anak-anak dapat mengalami gangguan perkembangan baik fisik maupun mentalnya.


Pengobatan penyakit parasitik. Penanganan penyakit parasitik harus dilakukan dengan baik melalui tindakan yang tepat dengan  memberikan obat-obatan anti parasit yang sesuai dengan penyebabnya, tindakan operatif jika diperlukan, dan pemberian suplemen nutrisi yang cukup untuk meningkatkan daya tahan tubuh pasien . Mengingat bahwa obat anti parasitik dapat menimbulkan efek samping bagi pasien , maka dosis yang diberikan haruslah tepat sehingga  tidak menimbulkan efek samping terhadap kesehatan tubuh pasien , namun memberikan efek lethal terhadap parasit pemicu penyakit. 


Mencegah penularan penyakit parasitik. Pencegahan penularan penyakit parasit pada umumnya dilakukan dengan cara memutuskan rantai daur hidup parasit, yaitu dengan jalan mengobati pasien  sebab  merupakan sumber infeksi, melakukan penyuluhan kesehatan untuk mencegah penyebaran penyakit dan menghindari kontak dengan parasit.  Selain itu kebersihan  lingkungan hidup dan lingkungan kerja harus selalu dijaga dengan mengadakan sistem pembuangan limbah yang baik. Rantai daur hidup parasit dapat diputuskan dengan mengawasi hospes cadangan (reservoir host ) dan memberantas vektor penular parasit. Daya tahan tubuh harus selalu ditingkatkan dan selalu menjaga higiene perorangan. 

Ascaris lumbricoides dan Trichuris trichiura dapat ditularkan melalui makanan atau minuman yang tercemar oleh telur infektif cacing yang ada  di tanah yang tercemar tinja pasien . Penularan penyakit cacing tambang terjadi sebab  larva cacing tambang yang infektif menginfeksi kulit pasien  yang mengalami kontak dengan tanah yang tercemar dengan  tinja pasien  yang terinfeksi infeksi cacing tambang. 

Tanah akan tercemar dengan tinja pasien  bila pasien  buang air besar di tanah dan tidak di kakus yang memenuhi persyaratan yang benar. sebab  itu pengadaan kakus yang baik harus dilakukan untuk memberantas penyebaran penyakit cacing usus. 

Tindakan pencegahan penularan penyakit parasit pada umumnya dilakukan melalui beberapa cara secara bersama-sama agar usaha tersebut tercapai dengan memuaskan baik untuk  pencegahan dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang. Upaya pencegahan penyebaran penyakit parasitik juga harus dilakukan dengan memperhatikan pelaksanaannya agar tidak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan  hidup maupun kesehatan anggota masyarakat lainnya. 

Penyebaran penyakit HIV/AIDS telah menimbulkan masalah sangat besar bagi dunia kesehatan dan kedokteran di seluruh dunia. Mikroorganisme termasuk parasit yang pada mulanya tidak menimbulkan gangguan kesehatan atau menimbulkan masalah kesehatan yang ringan dapat berkembang menjadi pemicu kematian yang utama bagi banyak pengidap HIV/AIDS. Salah satu contoh yaitu  Cryptosporidium dan Pneumocystis carinii yang sebelumnya belum pernah menjadi masalah kesehatan,  dilaporkan menyebar menjadi penyakit epidemi yang mematikan di berbagai negara.


Protozoa, Cacing dan Artropoda. Pada garis besarnya parasit pada pasien  dan hewan dapat dikelompokkan menjadi tiga golongan besar, yaitu protozoa, cacing dan artropoda (serangga).


Protozoa

 Protozoa yaitu  parasit yang tubuhnya terdiri atas satu sel yang sudah memiliki fungsi lengkap makhluk hidup, yaitu memiliki  alat reproduksi, alat pencernaan makanan, system pernapasan, organ ekskresi dan organ untuk hidup lainnya.

Berdasar tingkat pergerakannya protozoa dikelompokkan menjadi:

Rhizopoda,  yang bergerak menggunakan kaki semu atau psedopodi ( misalnya  Entamoeba histolytica);

Mastigophora, yang bergerak dengan flagel ( misalnya Giardia lamblia);

Ciliata, bergerak menggunakan cilia ( misalnya Balantidium coli);

Sporozoa, yang tidak memiliki  alat gerak ( misalnya Plasmodium vivax).


Cacing

Cacing memiliki  tubuh yang simetrik bilateral dan tersusun dari banyak sel (multiseluler). Parasit Cacing yang penting bagi pasien  terdiri dari dua golongan besar yaitu filum Platyhelminthes dan filum Nemathelminthes. Platyhelminthes terdiri dari 2 kelas yang penting, yaitu kelas Cestoidea ( atau Cestoda) dan kelas Trematoda, sedang kelas Nematoda merupakan kelas yang penting dalam filum Nemathelminthes. 

Platyhelminthes memiliki  bentuk tubuh yang pipih seperti daun (Trematoda) atau berbentuk pita dengan banyak segmen (Cestoda). sedang  filum Nemathelminthes memiliki  bentuk tubuh yang  silindris memanjang, tidak  terbagi dalam segmen-segmen. 

Cestoda termasuk cacing hermafrodit, maka alat kelamin jantan maupun betina ada  bersama-sama dalam tubuh seekor cacing dewasa. Setiap segmen tubuh cacing memiliki alat reproduksi yang sempurna. Trematoda umumnya juga bersifat hermafrodit (biseksual), kecuali Schistosoma, yang terpisah atas jantan dan betina (uniseksual). Nematoda memiliki  sistem reproduksi uniseksual (diecious). Cacing nematoda ada yang vivipaar (melahirkan larva) ada yang ovipar (bertelur) atau ovovivipaar (larva keluar dari telur segera sesudah berada di luar tubuh induknya).

Daur hidup Trematoda selalu membutuhkan 2 hospes, yaitu hospes definitif (pasien  atau mamalia), dan hospes perantara yang dapat berupa moluska (siput), ikan, ketam, atau tumbuhan. Infeksi cacing Trematoda dapat terjadi dengan masuknya stadium infektif yang dapat berupa metaserkaria (infeksi per oral) atau larva serkaria ( menembus kulit). 

Pada daur hidup nematoda yang parasitik untuk pasien , pasien  merupakan  hospes definitif utama. Pada umumnya tidak dibutuhkan hospes perantara untuk melengkapi daur hidupnya, kecuali pada daur hidup cacing filaria dan Dracunculus medinensis. Infeksi nematoda pada pasien  dapat melalui beberapa stadium infektif, yaitu menelan telur infektif (telah berisi embrio cacing) atau menelan larva infektif yang ada  di dalam badan atau daging hospes,  melalui kulit yang ditembus oleh larva filariform, atau melalui gigitan serangga yang memasukkan stadium infektif cacing (misalnya filariasis).  Selain itu penularan dapat terjadi secara inhalasi, dengan masuknya stadium infektif  melalui udara (misalnya cacing Enterobius vermicularis).


Artropoda 

Entomologi Kedokteran mempelajari serangga atau artropoda yang berperan dalam mempengaruhi kesehatan pasien  atau hewan. Dalam hal ini artropoda dapat bertindak sebagai penular penyakit atau secara langsung dapat menimbulkan penyakit. Sebagai penular berbagai macam penyakit artropoda dapat menularkan berbagai macam mikroorganisme pemicu penyakit yaitu  protozoa, cacing, bakteri, virus,  rickettsia, maupun jamur.

Artropoda sendiri dapat memicu penyakit atau gangguan kesehatan pasien  atau hewan, yaitu menimbulkan Entomofobi (rasa takut yang berlebihan terhadap serangga), Annoyance (gangguan hidup sehari-hari), Blood loss (kehilangan darah), Trauma (kerusakan indera mata,telinga), Intoksikasi (menimbulkan keracunan oleh toksin yang dihasilkannya), Dermatosis (kerusakan kulit, misalnya pada penyakit skabies), Alergi (misalnya asma bronkiale dan sesak napas sebab  menghirup debu yang mengandung tungau debu rumah) dan Myiasis (miasis), infestasi   lava lalat pada jaringan atau organ yang terjadi pada orang atau hewan yang masih hidup.




PROTOZOA


Filum Protozoa memiliki  tubuh yang hanya terdiri dari satu sel namun sudah memiliki fungsi lengkap makhluk hidup.  Protozoa memiliki  alat reproduksi, alat pencernaan makanan, sistem pernapasan, organ ekskresi dan organ-organ untuk keperluan hidup lainnya.


Struktur sel protozoa. Sel protozoa memiliki  struktur yang terdiri dari sitoplasma dan inti. Struktur sitoplasma terdiri dari ektoplasma yang ada  di bagian luar dan endoplasma yang merupakan bagian dalam sitoplasma. Ektoplasma merupakan jaringan hialin yang berfungsi untuk mempertahankan diri (protektif), sebagai organ untuk bergerak (lokomotif) dan sebagai organ yang berfungsi untuk mengenal lingkungannya (sensoris). Alat gerak protozoa yang berasal dari ektoplasma  dapat berbentuk sebagai flagel, silia atau pseudopodi. Sisa-sisa metabolisme dibuang melalui vakuol kontraktil yang  terbentuk dari bagian ektoplasma. Organ pencernaan makanan misalnya mulut, sitostom dan sitofaring juga terbentuk dari stuktur ektoplasma. Demikian juga halnya dinding pembungkus parasit (kista) yang berfungsi untuk melindungi diri berasal dari ektoplasma.

Bagian dalam sitoplasma yaitu  endoplasma yang  bersifat granuler merupakan bagian sitoplasma yang   memiliki  peran  sebagai sistem pencernaan makanan dan fungsi nutritif lainnya. Selain itu endoplasma berperan sebagai sistem  reproduksi sel. Di dalam endoplasma ada  inti protozoa yang merupakan struktur yang sangat penting untuk mengatur fungsi hidup parasit dan reproduksi sel. ada  beberapa struktur  inti  yaitu selaput inti (nuclear membrane), butir kromatin (chromatin granule), serabut linin, dan kariosom atau plastin. Umumnya protozoa hanya memiliki  satu inti. Ciliata yang memiliki  dua buah inti, yaitu mikronukleus yang berukuran kecil dan makronukleus yang berukuran besar. Kinetoplas merupakan inti pelengkap yang ada pada beberapa jenis protozoa dan ada  dalam bentuk blefaroplas atau benda parabasal.

Daur hidup protozoa umumnya memiliki  dua bentuk atau stadium, yaitu stadium trofozoit yang merupakan bentuk aktif dan stadium kista yang merupakan bentuk pasif. Bentuk kista protozoa yaitu  bentuk  parasit yang terbungkus di dalam dinding tebal sehingga parasit tidak aktif bergerak, tidak dapat tumbuh atau berkembang dan tidak dapat memperbanyak diri. Protozoa dalam bentuk kista yang berdinding tebal  memicu parasit mampu bertahan terhadap pengaruh lingkungan hidupnya, misalnya terhadap suhu yang tinggi, kekeringan dan kelembaban yang tinggi. Selain itu parasit juga  tahan terhadap pengaruh bahan-bahan kimia, misalnya desinfektans dan lain sebagainya. Dengan demikian meskipun kista yaitu  bentuk pasif, tetapi kista yaitu  stadium infektif protozoa yang dapat ditularkan dari satu pasien  ke individu lainnya. 

Dalam melengkapi daur hidupnya protozoa ada yang membutuhkan tuan rumah perantara (intermediate host) ada yang tidak membutuhkannya. Reproduksi protozoa dapat berlangsung secara aseksual yang kemudian diikuti oleh reproduksi tahap seksual.. Umumnya reproduksi seksual terjadi pada hospes yang berbeda dengan hospes tempat berlangsungnya reproduksi aseksual. 

Kelas-kelas protozoa yang umumnya tidak membutuhkan hospes perantara untuk melengkapi daur hidupnya misalnya yaitu  Rhizopoda, Flagellata, dan Ciliata, kecuali  Trypanosom dan  Leishmania serta Plasmodium yang memerlukan hospes perantara untuk melengkapi daur hidupnya.

Proses reproduksi protozoa dapat dilakukan dengan cara seksual atau aseksual (membelah diri). Reproduksi aseksual pada protozoa dapat terjadi dengan cara membelah diri secara sederhana (simple binary fission), yaitu dimulai dengan menggandakan semua struktur organ-organnya. Reproduksi aseksual juga dapat berlangsung secara multiple fission (schizogony), dimana dari satu individu protozoa akan terbentuk lebih dari dua individu baru, misalnya yang terjadi pada reproduksi Plasmodium. 

Bentuk reproduksi seksual  protozoa dapat terjadi dengan memperbanyak diri secara konjugasi atau secara syngami. Reproduksi konjugasi terjadi jika dua individu protozoa mula-mula menyatukan diri untuk sementara agar terjadi pertukaran material inti masing-masing protozoa, kemudian  diikuti pemisahan diri lagi dalam bentuk individu yang lebih muda. Reproduksi secara syngami yaitu  reproduksi dimana  dua sel gamet yang berbeda jenis kelaminnya menyatukan diri secara tetap, kemudian diikuti fusi material inti masing-masing. Dari fusi dua sel gamet yang berbeda jenis kelaminnya akan terbentuk zigot. 


Pengelompokan  protozoa. Protozoa dapat dikelompokkan berdasar atas perbedaan alat geraknya menjadi Rhizopoda, Mastigophora, Ciliata dan Sporozoa. Rhizopoda yaitu  protozoa yang bergerak dengan pseudopodi,  Mastigophora bergerak menggunakan flagel, sedang  Ciliata aktif bergerak dengan  menggunakan  cilia. Sporozoa yaitu  kelompok protozoa yang tidak memiliki  alat gerak.

Klasifikasi sistemik protozoa digambarkan pada bagan berikut ini, sesuai dengan filum, subfilum, kelas, ordo dan beberapa genus yang penting dalam bidang kesehatan pasien  maupun veteriner (Chatterjee, 1969).                        

Protozoa ada yang dapat memicu penyakit pada pasien  (patogen ) dan ada kelompok non patogen yang tidak menimbulkan penyakit pada pasien . 


RHIZOPODA


Kelas Rhizopoda yaitu  golongan protozoa yang pergerakannya menggunakan kaki semu (pseudopodi) sebagai alat gerak. Spesies-spesies anggota kelas Rhizopoda yang penting (baik yang patogen maupun yang tidak patogen) yaitu  Entamoeba histolytica, Entamoeba coli, Entamoeba gingivalis, Endolimax nana, Iodamoeba butschlii dan  spesies Dientamoeba fragilis.

Untuk membedakan genus-genus dari ordo Amoebida struktur inti masing-masing genus harus diperhatikan. Genus Entamoeba memiliki  selaput inti yang dibatasi butir kromatin, sedang  anak inti atau kariosom yang padat terletak di tengah atau di tepi inti. Endolimax memiliki  kariosom yang bentuknya tidak teratur dan terletak di tepi inti. Iodamoeba memiliki kariosom 

yang khas bentuknya dan besar ukurannya, dikelilingi oleh butiran-butiran bulat. Genus Dientamoeba memiliki dua inti dengan kariosom yang terdiri dari enam butir kromatin. 




Entamoeba histolytica


Entamoeba histolytica yaitu  pemicu penyakit amubiasis pada pasien  yang dapat menyerang usus (intestinal amoebiasis) dan organ-organ selain usus (extra-intestinal amoebiasis).


Sebaran geografis. Amubiasis banyak dilaporkan dari berbagai daerah di seluruh dunia, terutama daerah tropis dan subtropis yang lingkungan kebersihannya buruk. Penyakit ini endemis di Indonesia, baik di luar Jawa maupun di pulau Jawa terutama di daerah pedesaan (rural).. Di Kalimantan Selatan  12% dari tinja yang diperiksa menunjukkan adanya Entamoeba histolytica sedang  di Medan 6,25% dari pasien  diare yaitu   disenteri amubawi. Di daerah Kepulauan Seribu, Jakarta, 5% dari tinja anak sekolah dasar yang diperiksa menunjukkan adanya protozoa usus ini.


Tempat hidup. Stadium trofozoit Entamoeba histolytica ditemukan hidup di dalam jaringan mukosa dan submukosa usus besar pasien , sedang  bentuk kista parasit ini hanya ditemukan di dalam lumen usus. 

Entamoeba histolytica termasuk golongan parasit zoonosis sebab  selain menyerang pasien  parasit ini juga dapat menimbulkan penyakit pada kera dan primata lainnya. Beberapa jenis hewan lain yang juga dapat bertindak sebagai hospes definitif, jadi bertindak sebagai reservoir host, yaitu  kucing, anjing, tikus, hamster dan marmot (guinea pig). Entamoeba histolytica pemicu amubiasis usus dalam keadaan tertentu dapat menyebar ke organ-organ lainnya (ekstraintestinal), misalnya ke hati.


Anatomi dan morfologi. Protozoa usus ini termasuk kelas Rhizopoda yang bergerak menggunakan pseudopodi atau kaki semu. ada  tiga bentuk Entamoeba histolytica, yaitu bentuk  trofozoit , bentuk kista dan bentuk prakista. 

Bentuk trofozoit yaitu  bentuk parasit yang aktif bergerak, dapat tumbuh dan berkembang biak, aktif mencari makanan, dan  bersifat invasif sebab  mampu memasuki organ dan jaringan tubuh lainnya. Entamoeba histolytica selalu bergerak menggunakan pseudopodi, sehingga pada waktu hidup bentuk trofozoit selalu berubah-ubah. Bentuk trofozoit Entamoeba histolytica memiliki  ukuran sekitar 18 mikron  sampai 40 mikron. Sitoplasma trofozoit terdiri dari ektoplasma yang jernih, sedang  endoplasmanya berbutir-butir (granuler). Sel darah merah, sel leukosit dan sisa-sisa jaringan sering ditemukan berada di dalam endoplasma. Trofozoit memiliki  inti yang berbentuk bulat, berukuran antara 4 - 6 mikron. Pemeriksaan mikroskopis pada sediaan tinja segar tanpa warna sukar menemukan  inti parasit. Entamoeba histolytica memiliki  kariosom yang tampak seperti titik kecil yang terletak sentral dan dikelilingi daerah terang (halo) yang jelas. Inti  parasit ini memiliki  selaput tipis yang dibatasi oleh butir-butir kromatin yang halus dan rata.

Kista berbentuk bulat, memiliki  dinding dari hialin,  dan tidak aktif bergerak. Berdasar ukurannya ada  dua jenis kista amuba, yaitu kista minutaform yang kecil ukurannya (antara 6-9 mikron), dan kista magnaform yang berukuran lebih besar (antara 10-15 mikron). Jika kista amuba  berukuran kurang dari 10 mikron ditemukan di dalam tinja, kemungkinan kista amuba tersebut yaitu  Entamoeba hartmani yang  tidak patogen bagi pasien . Di dalam sitoplasma kista pada stadium awal ada  1-4 badan kromatoid (chromatoid body). Juga ada  masa glikogen yang pada pewarnaan dengan iodin akan berwarna coklat tua. Jika kista sudah matang akan ditemukan 4 buah inti (quadrinucleate cyst) namun tidak dijumpai badan kromatoid maupun masa glikogen. 

Prakista  merupakan bentuk peralihan antara stadium kista dan stadium trofozoit. Bentuk stadium prakista agak lonjong atau bulat, berukuran antara 10-20 mikron,  dan memiliki  pseudopodi yang  tumpul. Di dalam endoplasma prakista tidak ditemukan eritrosit maupun sisa-sisa makanan, sedang  inti dan struktur inti prakista sesuai dengan inti dan struktur inti trofozoit.

Pada pemeriksaan di bawah mikroskop menggunakan garam faali untuk pengencer tinja,  Entamoeba histolytica masih dalam keadaan hidup. Tampak trofozoit  bergerak aktif dengan gerakan-gerakan pseudopodi yang cepat. Inti parasit sukar dilihat, tetapi di dalam sitoplasma tampak eritrosit yang berwarna hijau kekuningan. Kista terlihat bulat dengan dinding yang tipis dan halus, sedang  badan kromatoid yang berbentuk batang mudah dikenal. Di dalam sitoplasma masa glikogen sukar dilihat.

Pada pewarnaan tinja menggunakan  lugol  parasit tampak berwarna kuning sampai coklat muda.  Inti terlihat dengan jelas dengan kariosom terletak di tengah-tengah inti. Sitoplasma Entamoeba histolytica tampak halus dengan badan kromatoid yang tidak berwarna dan masa glikogen yang berwarna coklat tua. Dengan pewarnaan iron-hematoxylin, inti parasit dan badan kromatoid tampak berwarna hitam, dengan  sitoplasma yang berwarna kebiru-biruan atau kelabu, sedang  masa glikogen tidak berwarna.


   

Gambar 3.  Entamoeba histolytica  (a) trofozoit (b) kista



Daur hidup. Di dalam tubuh pasien  yang merupakan hospes definitif utamanya, daur hidup parasit ini dapat terjadi dengan lengkap. Bentuk infektif yang dapat ditularkan yaitu  bentuk kista berinti empat yang tahan terhadap asam lambung. Infeksi terjadi secara per oral, dengan masuknya kista infektif bersama makanan atau minuman yang tercemar tinja pasien  atau tinja karier amubiasis. 

Oleh pengaruh enzim tripsin  yang ada di dalam usus dinding kista akan pecah. Proses ekskistasi terjadi di dalam sekum atau ileum bagian bawah. Mula-mula dari satu kista akan terbentuk satu amuba berinti empat (tetranucleate amoeba), lalu tumbuh menjadi delapan amubula (amoebulae atau metacystic trophozoite). Bentuk amubula   akan menuju ke jaringan submukosa usus besar,  kemudian akan tumbuh dan berkembang menjadi trofozoit. Jika terjadi toleransi oleh hospes, sebagian trofozoit masuk ke dalam lumen usus, berubah menjadi prakista, lalu menjadi kista. Pada carrie amoebiasis, bentuk trofozoit, prakista maupun kista, dapat dijumpai dalam waktu yang  bersamaan.Proses reproduksi. Proses reproduksi Entamoeba histolytica berlangsung melalui tiga tahap yaitu ekskistasi, enkistasi dan multiplikasi. Pada proses ekskistasi terjadi  transformasi dari bentuk kista ke bentuk trofozoit yang  dimulai pada saat kista berada di dalam usus. Pada proses ekskistasi, satu kista infektif yang berinti empat tumbuh menjadi 8 amubula, lalu berkembang menjadi 8 trofozoit. 

Proses enkistasi yang berlangsung beberapa jam terjadi di dalam lumen usus. Pada proses ini bentuk trofozoit berubah menjadi bentuk kista. Pada proses multiplikasi yang hanya terjadi pada bentuk trofozoit, reproduksi terjadi dengan cara belah diri sederhana (simple binary fission). Inti sel mula-mula membelah diri, diikuti pembelahan diri struktur sitoplasma lainnya. 


Penularan. Infeksi terjadi dengan masuknya kista infektif melalui mulut, bersama makanan atau minuman tercemar tinja pasien  atau karier amubiasis. Di laboratorium penularan dapat terjadi sebab  tertelan kista infektif amuba yang berasal dari hewan coba primata. Serangga misalnya lalat dan lipas (famili Blattidae) yang membawa tinja pasien  atau karier yang mengandung kista infektif amuba juga dapat mencemari makanan atau minuman.

Berdasar pada asal pasien nya, karier amubiasis dapat dibedakan menjadi  contact carrier dan convalescent carrier. Pada contact carrier pasien  berasal dari orang yang sebelumnya tidak pernah menderita amubiasis, sedang  convalescent carrier yaitu  karier yang terjadi sesudah seseorang menderita amubiasis.


Amubiasis

Pada pasien  amubiasis dipicu oleh Entamoeba histolytica yang dapat menyerang usus (intestinal amoebiasis) maupun organ-organ di luar usus (extra-intestinal amoebiasis) misalnya hati, paru, otak dan kulit. 


Perubahan patologi amubiasis. Amubiasis pada pasien  dapat dibedakan atas  amubiasis primer yang terjadi pada usus dan amubiasis sekunder yang terjadi pada organ di luar usus (extra-intestinal atau metastatic amoebiasis). Jaringan usus yang terserang amubiasis terutama yaitu  usus besar  yaitu jaringan sekum dan daerah rektosigmoid. Dari usus trofozoit Entamoeba histolytica dapat mengadakan migrasi ke organ-organ lain terutama ke jaringan hati, paru dan otak.

Beratnya kerusakan organ-organ pasien  akibat Entamoeba histolytica dipengaruhi oleh tingginya daya tahan tubuh pasien , keadaan usus pasien   dan virulensi strain Entamoeba histolytica pemicu amubiasis.   


Amubiasis usus. Bakteri pendamping (associate bacteria) yang ada  di dalam usus pasien  bisa memicu terbentuknya lingkungan hidup  yang dapat merangsang meningkatnya sifat invasif amuba. Jika terjadi amubiasis usus akut, di sepanjang usus besar atau di daerah ileosekal dan rektosigmoid dapat terjadi pembentukan ulkus-ulkus. Ulkus bervariasi ukurannya, dari sebesar ujung jarum sampai lebih dari 3 cm. bentuk Ulkus umumnya memiliki  bentuk bulat atau lonjong dengan tepi ulkus yang tidak teratur bentuknya dan curam (undermined) dindingnya. Jika dilakukan pemotongan melintang, ulkus menunjukkan gambaran seperti botol (flask-shaped ulcer). Ulkus berisi cairan berasal dari bahan nekrotik yang berwarna kekuningan atau kehitaman.

Masa inkubasi amubiasis yang berlangsung antara 4-5 hari diikuti gejala klinis berupa diare atau bila sudah kronik dapat terjadi sembelit. Gejala klinis pasien  amubiasis usus yang akut (disenteri amoeba) berupa gejala-gejala disenteri yang disertai nyeri perut hebat sebelum buang air besar (tenesmus). pasien  buang air dengan frekwensi defikasi sekitar 6-8 kali sehari. Tinja pasien  berbau asam yang menyengat, disertai dengan darah atau lendir yang tercampur bersama tinja. Konsistensi tinja dapat berbentuk cair (diareic), setengah cair (semidiareic), atau berbentuk padat (formed). 

pasien  amubiasis usus kronis selain mengalami pembentukan ulkus-ulkus di usus juga ditemukan proses regenerasi jaringan. sebab  itu  ulkus yang terjadi hanya terbatas pada mukosa usus, tidak mencapai jaringan otot di bawahnya. Akibat terjadi pembentukan jaringan parut, usus pasien  menipis dindingnya. Pelekatan-pelekatan usus dengan jaringan visera di sekitarnya dapat terjadi yang memicu dinding usus menebal yang mudah diraba dari luar dan lumen usus menjadi sempit.  Akibat terjadinya reaksi granulomatosis pada amubiasis usus kronis dapat memicu pembentukan amuboma (amoebic granuloma) yang bentuknya mirip tumor usus.


Amubiasis hati.  Penyebaran ekstra intestinal Entamoeba histolytica yang berasal dari amubiasis usus terjadi melalui aliran darah atau akibat terjadinya abses usus yang pecah. Terjadinya kontak bahan infektif dengan jaringan hati memicu terjadinya amubiasis hati. Pada pasien  amubiasis hati abses hati sering dijumpai di bagian posterosuperior lobus kanan hati. Pada umumnya pada jaringan hati hanya terbentuk satu abses yang besar ukurannya. Abses yang masih kecil ukurannya bentuknya bulat atau lonjong , berisi cairan abses yang berwarna abu-abu kecoklatan. Pada abses yang besar ukurannya dinding abses tebal dan berisi cairan abses yang berwarna kuning atau kemerahan. 

Pemeriksaan mikroskopis atas irisan abses hati, menunjukkan adanya bahan granuler di bagian sentral. Di bagian sentral ini tidak ditemukan parasit  amuba. Irisan jaringan hati  di bagian tengah (intermediate) menunjukkan adanya  sel-sel hati yang mengalami degenerasi, leukosit, sel-sel jaringan ikat dan eritrosit. Di daerah tengah irisan jaringan hati ini kadang-kadang ditemukan trofozoit amuba. Pada bagian tepi abses hati dapat dijumpai sel-sel hati yang mengalami nekrosis dan tampak adanya bendungan kapiler-kapiler. Pada sel-sel hati yang masih sehat dapat ditemukan trofozoit amuba.

pasien  amubiasis hati menunjukkan gejala klinis berupa  nyeri daerah hipokondrium kanan, demam, ikterus dan hepatomegali. Selain itu pasien  cepat menjadi kurus, namun umumnya tidak mengalami disenteri atau gangguan pencernaan.


Komplikasi abses hati. Jika pasien  tidak diobati dengan baik, komplikasi dapat terjadi berupa berlanjutnya proses lisis jaringan hati sehingga memicu  abses pecah dan menyebar ke organ-organ di sekitar hati. 

Abses hati di bagian kanan yang pecah akan menimbulkan kerusakan pada jaringan paru, rongga pleura kanan, diafragma dan rongga peritoneum serta kerusakan jaringan kulit (granuloma kutis). sedang  abses hati yang pecah ke daerah paru memicu dahak berwarna coklat merah tua yang mengandung trofozoit. Pecahnya abses  ke dalam rongga pleura dapat menimbulkan empiema toraks, sedang  abses yang pecah ke daerah diafragma menimbulkan abses subfrenik. Abses  yang pecah ke daerah peritoneum menimbulkan peritonitis umum.

Pecahnya abses di daerah hati sebelah kiri memicu terjadinya  kelainan di daerah lambung yang memicu terjadinya  hematemesis. Selain itu terjadi kerusakan jaringan kulit, rongga pleura kiri dan perikardium. Jika terjadi perikarditis purulenta hal ini dapat memicu kematian pasien . Pecahnya abses hati  ke arah bawah (inferior) akan memicu terjadinya kelainan di jaringan usus atau di rongga peritoneum yang dapat menimbulkan peritonitis.


Amubiasis organ lain. Organ-organ lain yang dapat terserang amubiasis yaitu  jaringan paru, otak, kulit dan limpa.Pada amubiasis paru (pulmonary amoebiasis) infeksi dapat terjadi secara primer atau sekunder. Infeksi primer terjadi akibat trofozoit amuba mencapai paru melalui sirkulasi darah portal sehingga mencapai kapiler-kapiler paru, sedang  pada amubiasis paru sekunder trofozoit berasal dari abses hati bagian kanan yang pecah.

Abses pada amubiasis otak (cerebral amoebiasis) umumnya merupakan abses tunggal yang berukuran kecil,  yang terjadi akibat komplikasi abses hati atau abses paru.

Pada amubiasis kulit, umumnya yang terserang yaitu  kulit di dekat tempat keluarnya cairan abses hati, abses apendiks atau pada waktu dilakukan operasi usus. Kulit yang terserang mengalami nekrosis yang dipicu oleh trofozoit yang ada  di daerah tersebut.

Terjadinya amubiasis limpa terutama akibat komplikasi amubiasis hati, atau secara langsung dipicu oleh penyebaran trofozoit Entamoeba histolytica dari daerah kolon.


diagnosa  amubiasis. Untuk menegakkan diagnosa  pasti amubiasis harus dapat ditemukan trofozoit atau kista Entamoeba histolytica dan didapatkan kristal Charcot-Leyden yang spesifik.

Pemeriksaan tinja secara makroskopis pada amubiasis usus akut, menunjukkan tinja yang berwarna merah tua berbau menyengat sebab  bersifat asam. Pada pemeriksaan mikroskopis dapat ditemukan trofozoit amuba dan kristal Charcot-Leyden. Pada  pemeriksaan darah gambaran darah menunjukkan adanya leukositosis, sedang   uji serologis menunjukkan hasil yang negatif. pasien  dengan amubiasis usus kronis umumnya tidak menunjukkan gejala atau keluhan (asimtomatis) sedang  pada  karier amubiasis, bentuk makroskopis tinja yaitu  normal. Pada pemeriksaan mikroskopis atas tinja ditemukan kista amuba, sedang  pemeriksaan darah tidak menunjukkan kelainan. Pada pemeriksaan serologi karier amubiasis yang asimtomatis hasilnya negatif, sedang  uji serologi pada karier konvalesen menunjukkan  hasil yang  positif.

diagnosa  pasti amubiasis hati dapat ditetapkan jika dapat ditemukan parasit amuba (trofozoit) pada jaringan hasil biopsi atau  cairan abses. Selain itu pada  pemeriksaan tinja ditemukan kista amuba yang menentukan adanya sumber infeksi kronis di usus. 

Pada pemeriksaan darah ada   gambaran leukositosis dan granulosit neutrofil sebesar 70-75%. Berbagai pemeriksaan serologi dapat membantu menegakkan diagnosa  amubiasis hati, misalnya melalui uji fiksasi komplemen, uji imunohemaglutinasi dan tes presipitin.

Untuk menetapkan diagnosa  pasti amubiasis paru harus ditemukan trofozoit Entamoeba histolytica pada dahak pasien . Uji intradermal, pemeriksaan serologi dan pemeriksaan radiologi dapat membantu menegakkan diagnosa  amubiasis paru dan amubiasis ekstraintestinal lainnya.


Pengobatan amubiasis. Obat-obat amubisida yang dapat digunakan secara per oral baik untuk mengobati amubiasis usus maupun amubiasis ekstraintestinal antara lain yaitu   metronidazole (merupakan obat pilihan), nimorazole, ornidazole, tinidazole, seknidazole dan clefamid.  Emetin yang hanya dapat diberikan melalui suntikan tidak dianjurkan untuk mengobati amubiasis.

jika  pasien  amubiasis juga mengalami  infeksi sekunder, maka  antibiotika dapat diberikan. Pada pasien  dengan abses  amubiasis hati, aspirasi abses dapat dilakukan jika lokasi abses berada di dekat permukaan tubuh (kulit).


Dosis dan pemberian amubisida. Amubisida yang dapat digunakan umtuk mengobati amubiasis antara lain yaitu  Metronidazol, Tinidazol, Nimorazol, Ornidazol Seknidazol dan Clefamid. 

Metronidazol. Amubisida ini merupakan obat pilihan untuk mengobati amubiasis usus maupun amubiasis hati. Untuk amubiasis usus ringan atau sedang dosis  dewasa yang diberikan yaitu   3x 500-750 mg per hari selama 7-10 hari, sedang  pasien  anak diberikan metronidazol dengan dosis 35-50 mg per kilogram berat badan per hari terbagi dalam 3 dosis, yang  diberikan selama  7-10 hari.

Untuk mengobati amubiasis hati dan amubiasis usus berat, selain dengan dosis di atas metronidazol diberikan dengan dosis dewasa  3x750 mg/hari diberikan selama 7-10 hari., sedang pada anak diberikan metronidazol dengan dosis 35-50 mg per kilogram berat badan per hari terbagi dalam 3 dosis, yang  diberikan selama  7-10 hari.

Tinidazol (Fasigyn). Tinidazol diberikan sebagai dosis tunggal 2 gram  per hari selama 3 hari untuk mengobati amubiasis usus, dan diberikan 5 hari untuk mengobati amubiasis hati maupun amubiasis ekstraintestinal lainnya. Untuk orang dewasa diberikan dengan dosis  2 gram per hari, sedang  dosis untuk anak yaitu  50-60mg per kilogram berat badan (maksimum 2 gram) per hari., selama 3 hari. 

Nimorazol (Naxogin). Untuk mengobati amubiasis usus nimorazol diberikan selama 5 hari. Dosis untuk orang dewasa yaitu  2 gram per hari, sedang  dosis untuk anak yaitu  30-40 mg per kilogram berat badan per hari. Untuk mengobati amubiasis hati,  nimorazol diberikan dengan dosis yang sama untuk amubiasis usus yang diberikan selama 10 hari.

Ornidazol (Tiberal). Ornidazol dapat  digunakan untuk mengobati amubiasis usus maupun amubiasis hati. Untuk orang dewasa obat ini diberikan dengan dosis  2x1 gram per hari, diberikan selama 3 hari. sedang  dosis untuk anak yaitu  50 mg per kilogram berat badan per hari yang diberikan selama 3 hari.

Seknidazol (Flagentyl). Obat ini ditujukan untuk mengobati amubiasis usus maupun amubiasis hati. Untuk mengobati amubiasis usus obat diberikan dengan dosis untuk orang dewasa 3x500 mg selama 3 hari, sedang   dosis anak yaitu  25 mg per kilogram berat badan per hari yang diberikan selama 3 hari. Untuk mengobati amubiasis hati, dosis yang sama diberikan selama 5 sampai 10 hari.

Clefamid (Mebinol). Clefamid  hanya digunakan untuk mengobati  amubiasis usus, dengan dosis untuk orang dewasa 3x500 mg selama 10 sampai 20 hari pengobatan.


Pencegahan amubiasis. Penularan amubiasis umumnya terjadi per oral. sebab  itu  upaya pencegahan amubiasis ditujukan dengan cara memasak makanan dan minuman dengan baik.  Selain itu kebersihan lingkungan harus dijaga agar terbebas dari lalat dan lipas serta tikus, dan diupayakan agar sistem pembuangan tinja dan limbah rumah tidak mencemari sumber air minum atau sumur. Pada waktu bekerja menangani hewan coba (terutama primata) di laboratorium hendaknya selalu berhati-hati agar tidak tertular bahan infektif yang berasal dari hewan coba.

Karier amubiasis harus dapat ditemukan agar dapat sumber penularan ini dapat diobati sampai sembuh, sehingga tidak menjadi sumber infeksi amubiasis bagi masyarakat di sekitarnya.


Entamoeba coli


Amuba yang bentuknya mirip Entamoeba histolytica ini tidak patogen bagi pasien .  sebab  sering dijumpai di dalam usus pasien , parasit ini harus dibedakan Morfologinya dari E.histolytica yang patogen.


Anatomi dan morfologi parasit. Bentuk trofozoit Entamoeba coli berukuran 20-40 mikron (lebih besar dari E.histolytica), memiliki  sitoplasma kasar dengan endoplasma yang tidak mengandung eritrosit. Pemeriksaan mikroskopis atas tinja menunjukkan bentuk inti yang memiliki kariosom yang besar, terletak di pinggir sel, dan dikelilingi halo yang lebar. Kromatin yang ada  di sekitar selaput inti tampak kasar. Trofozoit E.coli bergerak lambat dengan tonjolan pseudopodi yang tidak seaktif gerakan pseudopodi E.histolytica.

Kista E.coli berukuran  garis tengah antara 15 dan 20 mikron dengan kista matang yang memiliki  delapan inti.  Masa glikogen maupun badan kromatoid tidak ada  pada kista parasit ini. 




Gambar 5. Entamoeba coli

Kista (kiri) dan trofozoit (kanan)

(Sumber: Oregon State Public Health Laboratory;

Kansas State University)



Amuba meningoensefalitis


Radang selaput otak (meningoensefalitis) oleh amuba banyak dilaporkan dari berbagai tempat di seluruh dunia. pasien  mengalami infeksi sesudah berenang di kolam renang yang ada di rumah, atau berenang di air tawar yang panas airnya. Amuba yang menjadi pemicu utamanya yaitu  Naegleria fowleri, sedang  amuba lainnya yaitu  Acanthamoeba dan Entamoeba histolytica. Meningoensefalitis amubawi ini  pada umumnya berjalan kronis sehingga sukar didiagnosa  secara dini.


Naegleria fowleri merupakan organisme termofilik golongan ameboflagelata yang hidup bebas di air tawar yang panas, sedang  Acanthamoeba  hidup bebas di tanah dan air tawar atau air payau yang hangat. Parasit ini memiliki  trofozoit berukuran antara 15-40(  sedang  kistanya memiliki  ukuran garis tengah antara 10-25(.  


Gambar 6. (a) Acanthamoeba (b) Naegleria fowleri 

.(Sumber: Alex Alkim, The biology Departmen Davidson College) http://www.le.ac.uk/ii/staff/sk46/simonacan3.jpg

http://www.CDC,USA.gov/DPDx/Images 


Cara infeksi.. Meningoensefalitis diduga dapat terjadi melalui berbagai jalan masuk sebab  amuba yang menjadi penyebabnya yaitu  parasit yang dapat hidup bebas di alam. Kemungkinan besar infeksi terjadi sebab  amuba dapat masuk tubuh melalui saluran pernapasan pada waktu pasien  berenang di air yang bertemperatur hangat.


Gejala klinis dan diagnosa . Umumnya keluhan awal yang disampaikan oleh pasien  yaitu  gejala-gejala yang  terkait dengan radang hidung dan sakit tenggorokan,  yang kemudian diikuti oleh demam dan sakit kepala. Gejala meningitis tampak secara klinis berupa muntah, kaku kuduk dan gangguan kesadaran yang kemudian dapat diikuti oleh kematian pasien   dalam waktu satu minggu sesudah timbulnya gejala meningitis.

Cairan serebrospinal yang diperiksa secara mikroskopik  mungkin menunjukkan adanya trofozoit amuba. Dengan melakukan biakan cairan serebrospinal atau inokulasi pada hewan dapat ditingkatkan kemungkinan ditemukannya parasit ini. 

Pengobatan dan pencegahan. Untuk mengobati meningoensefalitis yang dipicu oleh amuba dapat diberikan  amfoterisin B secara intravena, intrateka atau intraventrikula.   Obat ini dapat menurunkan angka kematian akibat infeksi Naegleria fowleri, tetapi tidak berhasil mengobati meningoensefalitis yang dipicu oleh amoeba lainnya.

Dosis Amfoterisin B untuk Naegleria yaitu  1.5 mg/kg berat badan per hari selama 3 hari lalu dilanjutkan dengan dosis 1 mg/kg berat badan per hari selama 6 hari. Untuk anak, obat diberikan terbagi dalam 2 dosis. 

Pada meningitis acanthamoeba pengobatan kombinasi trimetoprim/ sulfametoksazol, rifampin dan ketokonazol memberikan hasil memuaskan. . 

sebab  amuba pemicu meningoensefalitis hidup di dalam air maka untuk mencegah infeksinya, parasit dalam air kolam renang dapat dimusnahkan dengan memberikan kaporit secara teratur. Dengan menghindari berenang pada kolam air tawar atau perairan yang memiliki  temperatur di atas 250 Celsius dapat dicegah terjadinya kontak dengan spesies amuba pemicu penyakit ini.

Rhizopoda yang tidak patogen



Beberapa spesies amuba tidak patogen yang morfologinya harus dibedakan dari Entamoeba histolytica  yaitu  Entamoeba gingivalis, Endolimax nana,  Iodamoeba butschlii dan  Dientamoeba fragilis.


Entamoeba gingivalis hidup di dalam rongga mulut di sekitar gigi. Parasit ini hanya memiliki  stadium trofozoit yang aktif bergerak dan berukuran 10-20 mikron. Inti parasit ini mirip inti E.histolytica, sedang  sitoplasmanya tidak mengandung eritrosit.

Endolimax nana hidup di dalam usus besar. Parasit yang memiliki  bentuk trofozoit maupun bentuk kista ini sering dijumpai di dalam tinja yang diareik atau di dalam tinja pasien  disenteri. Trofozoit Endolimax nana yang berukuran sekitar 8 mikron ini lambat pergerakannya. Didalam sitoplasma parasit tidak ada  eritrosit. Parasit memiliki  memiliki  kariosom yang besar yang tidak teratur bentuknya, dan terletak di bagian tepi inti yang menempel pada selaput inti. Kista berbentuk lonjong, berukuran sekitar 8 mikron, memiliki  1-4 inti, dan tidak mengandung glikogen maupun badan kromatoid.

Iodamoeba butschlii hidup di dalam usus di daerah kolon dalam bentuk trofozoit dan kista, namun jarang ditemukan dalam tinja. Bentuk trofozoit yang lambat pergerakannya memiliki  ukuran antara 8 sampai 12 mikron. Bentuk kista parasit yang berukuran 8 sampai 12 mikron ini tidak mengandung badan kromatoid. Kista khas bentuknya sebab  memiliki  masa glikogen (iodophylic body) yang besar, yang tampak jelas pada pewarnaan dengan lugol. 

Dientamoeba fragilis hanya memiliki  bentuk trofozoit dengan dua inti, berukuran antara 5 sampai 8 mikron sehingga merupakan amuba usus yang terkecil. Sitoplasmanya  tidak mengandung eritrosit, tetapi memiliki  enam butir kromatin berukuran besar yang tersusun mirip bintang.





Gambar 8.  (a) Iodamoeba butchlii dan (b) Dientamoeba fragilis

                                        ( URL: http://www.cmpt.ca/images/-)

  

Diferensiasi protozoa usus. sebab  di dalam usus orang normal juga sering dijumpai protozoa usus yang tidak patogen, maka Morfologi protozoa-protozoa usus ini harus dibedakan dari protozoa yang patogen agar tidak terjadi salah diagnosa  dan pengobatan dapat dilakukan dengan tepat. Perbedaan bentuk morfologi protozoa usus, baik yang ada  dalam bentuk stadium kista maupun stadium trofozoit dapat dijabarkan pada gambar di bawah ini. 

CILIATA


Balantidium coli



Balantidium coli yaitu  parasit zoonosis yang memicu balantidiosis atau ciliate dysenteri yang memicu infeksi usus dan disenteri pada pasien . Parasit ini hidup  di dalam usus pasien , babi, anjing dan primata. Infeksi ciliata ini dilaporkan dari berbagai negara, terutama yang penduduknya banyak memelihara babi.


Morfologi parasit. Balantidium coli memiliki  2 bentuk stadium, yaitu stadium trofozoit dan stadium kista. Stadium trofozoitnya berukuran panjang 60-70 mikron dan  lebar 40-50 mikron, memiliki  cekungan di bagian anterior tubuhnya yang disebut peristom di mana ada  mulut (sitostom). Ciliata ini tidak memiliki  usus, tetapi memiliki  anus (cytopyge) yang ada  di bagian posterior tubuh.





Gambar  10  Balantidium coli . A. bentuk kista , B. trofozoit  Makronukleus  mirip ginjal dan cilia tampak di permukaan trofozoit.

(Sumber: CDC,USA Oregon Public Health Laboratory)


Balantidium coli memiliki  2 buah inti, yaitu makronukleus yang berukuran besar dan berbentuk ginjal dan mikronukleus yang berbentuk seperti  bintik kecil yang ada  di bagian cekungan dari makronukleus. Trofozoit memiliki  dua buah vakuol kontraktil dan beberapa buah vakuol makanan yang berisi sisa-sia makanan, leukosit dan eritrosit. 

Bentuk kista parasit yang bulat, berukuran garis tengah antara 50 sampai 60 mikron, memiliki  dua lapis dinding kista. Kista memiliki  sitoplasma yang  berbentuk granuler, mengandung makronukleus, mikronukleus dan sebuah badan retraktil. Vakuol kontraktil kadang-kadang masih dapat ditemukan.


Daur hidup. Pada daur hidup Balantidium coli stadium kista maupun stadium trofozoit dapat berlangsung pada satu jenis hospes. Sebagai sumber utama penularan balantidiosis bagi pasien  yaitu  babi sebab  hewan ini merupakan hospes definitif alami dan juga bertindak selaku hospes reservoir bagi pasien  yang  sebenarnya hanyalah hospes insidental bagi parasit ini. 

pasien  terinfeksi Balantidium coli akibat tertelan air atau makanan mentah yang tercemar tinja babi yang mengandung kista infektif parasit ini. Di dalam usus besar kista berubah menjadi bentuk trofozoit yang kemudian akan tumbuh dan berkembang memperbanyak diri  dengan cara pembelahan sel (binary transverse fission) atau secara konjugasi di dalam lumen usus atau di dalam submukosa usus. 

Reproduksi konjugasi terjadi dengan cara dua trofozoit membentuk kista bersama, lalu bertukar material inti, akhirnya berpisah kembali menjadi dua trofozoit baru. Jika  lingkungan di dalam usus kurang sesuai bagi hidup parasit, maka trofozoit akan berubah menjadi bentuk kista. 


Perubahan patologi. Parasit dapat memicu terjadinya ulserasi pada  usus besar, yang menimbulkan perdarahan dan pembentukan lendir. Tinja pasien  akan berdarah dan berlendir. Gejala klinis dan diagnosa  balantidiosis. pasien  yang menderita mengalami infeksi akut akan menunjukkan  gejala klinis dan keluhan berupa disenteri berat yang berdarah dan berlendir disertai  nyeri perut dan kolik yang  intermiten. pasien  balantidiosis tidak mengalami demam. Balantidiosis kronis umumnya bersifat asimtomatis, meskipun kadang-kadang dijumpai diare berulang yang diselingi terjadinya konstipasi .

Untuk menegakkan diagnosa  pasti balantidiosis harus dilakukan pemeriksaan parasitologis atas tinja untuk menemukan kista dan atau trofozoit Balantidium coli.


Pengobatan dan pencegahan. Obat anti parasit pilihan yang dapat diberikan untuk mengobati balantidiosis yaitu  Oksietrasiklin  dengan dosis dewasa  4x 500 mg per hari (dosis anak 40 mg/kg berat badan, maksimum 2 gram) per hari selama 10 hari . Metronidazol dapat diberikan dengan dosis  3x750 mg per hari (dosis anak 35-50 mg/kg berat badan/hari terbagi dalam 3 dosis) selama 5 hari atau iodoquinol yang diberikan dengan dosis 3x650 mg / hari (dosis anak 40 mg/kg/hari terbagi dalam 3 dosis) selama 20 hari.  

Balantidiosis coli dapat dicegah penularannya dengan selalu menjaga higiene perorangan dan kebersihan lingkungan agar tidak tercemar dengan tinja babi. Memasak makanan dan minuman akan mencegah penularan parasit ini pada pasien . Selain itu peternakan babi harus ditempatkan jauh dari pemukiman penduduk dan tidak mencemari saluran air yang digunakan untuk mememenuhi kebutuhan penduduk.. 

MASTIGOPORA

(Flagellata)


Protozoa yang termasuk dalam kelas Mastigophora  memiliki  flagel sebagai  alat untuk bergeraknya. Berdasar atas tempat hidupnya, ada  dua kelompok flagellata yaitu hemoflagellata yang hidup di dalam sistem peredaran darah dan jaringan, dan kelompok flagellata usus, flagellata mulut dan flagellata genital. Anggota golongan hemoflagellata yaitu  Typanosoma dan Leishmania, dan yang termasuk golongan flagellata usus yaitu  Chilomastix mesnili, Trichomonas hominis, Enteromonas hominis, Embadomonas intestinalis dan Giardia lamblia. Trichomonas vaginalis termasuk flagellata genital sedang  Trichomonas tenax termasuk flagellata yang hidup mulut.


Flagellata Usus, Mulut dan Genital


Flagellata pada umumnya memiliki  dua bentuk, yaitu bentuk trofozoit dan bentuk kista, kecuali Trichomonas yang hanya memiliki  bentuk trofozoit. Dari blefaroplas pada trofozoit keluar lebih dari satu flagel dan tidak semua flagellata memiliki  undulating membrane. Setiap spesies flagellata memiliki