Rabu, 12 Februari 2025

ternak sapi 1






Air susu ibu (ASI) merupakan makanan terbaik bagi bayi. Namun pada 

kondisi tertentu karena indikasi medis bayi tidak dapat memperoleh ASI 

sehingga diperlukan susu formula. Pada beberapa tahun terakhir ini terdapat 

peningkatan insidens alergi susu sapi pada bayi dan anak dengan manifestasi 

klinis yang bervariasi dari ringan sampai berat. Di lain pihak produk-produk 

susu formula semakin banyak di pasaran. 

Melihat kondisi itu  maka Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) 

bermaksud untuk memberi penjelasan tentang pendekatan diagnosis serta 

pengobatan  alergi susu sapi dengan membuat suatu rekomendasi yang didasari 

bukti terbaru yang ada saat ini dan akan direvisi sesuai dengan literatur yang 

terbaru. Rekomendasi ini adalah hasil diskusi dan kesepakatan antara Ukk 

Alergi Imunologi, Ukk Gastrohepatologi, dan Ukk Nutrisi dan Penyakit 

Metabolik dan telah dilakukan revisi sesuai dengan perkembangan dan 

bukti-bukti terkini. 

Dengan adanya revisi rekomendasi ini, diharapkan para dokter anak 

dapat melakukan diagnosis dan  pengobatan  alergi susu sapi  dengan benar 

dan seragam.

Ukk Alergi Imunologi

Ukk Gastrohepatologi

Ukk Nutrisi dan Penyakit Metabolik


Alergi susu sapi (ASS) adalah suatu reaksi yang tidak diinginkan yang 

diperantarai secara imunologis terhadap protein susu sapi. Alergi susu sapi 

biasanya dikaitkan dengan reaksi hipersensitivitas tipe 1 yang diperantai oleh 

IgE. Namun demikian ASS dapat diakibatkan oleh reaksi imunologis yang 

tidak diperantarai oleh IgE ataupun proses gabungan antara keduanya. 

Angka Kejadian

Insidens alergi susu sapi sekitar 2-7.5% dan reaksi alergi terhadap susu sapi 

masih mungkin terjadi pada 0.5% pada bayi yang mendapat ASI eksklusif.  

Sebagian besar reaksi alergi susu sapi diperantarai oleh IgE dengan insidens 

1.5%, sedang  sisanya adalah tipe non-IgE. Gejala yang timbul sebagian 

besar adalah gejala klinis yang ringan sampai sedang, hanya sedikit (0.1-1%) 

yang  bermanifestasi klinis berat. 

Klasifikasi

Alergi susu sapi dapat dibagi menjadi:

1. IgE mediated, yaitu alergi susu sapi yang diperantarai oleh IgE. Gejala 

klinis timbul dalam waktu 30 menit sampai 1 jam sesudah  mengonsumsi 

protein susu sapi. Manifestasi klinis yang dapat timbul adalah urtikaria, 

angioedema, ruam kulit, dermatitis atopik, muntah, nyeri perut, diare, 

rinokonjungtivitis, bronkospasme, dan anafilaksis. Alergi susu sapi tipe 

2


ini dapat didukung dengan kadar IgE susu sapi yang positif (uji tusuk 

kulit atau pemeriksaan IgE spesifik/IgE RAST).

2.  Non-IgE mediated, yaitu alergi susu sapi yang tidak diperantarai oleh 

IgE, tetapi diperantarai oleh IgG. Gejala klinis timbul lebih lambat (> 

1 jam) sesudah  mengonsumsi protein susu sapi. Manifestasi klinis yang 

dapat timbul antara lain adalah allergic eosinophilic gastroenteropathy, 

kolik, enterokolitis, proktokolitis, anemia, dan gagal tumbuh. 

Diagnosis dan diagnosis banding 

Tidak ada gejala yang patognomonik untuk alergi susu sapi. Gejala akibat 

alergi susu sapi  antara lain pada gastrointestinal (50-60%), kulit (50-

60%) dan sistem pernapasan (20-30%). Gejala alergi susu sapi biasanya 

timbul sebelum usia satu bulan dan muncul dalam satu minggu sesudah  

mengkomsumsi protein susu sapi.  Gejala klinis akan muncul dalam satu jam 

(reaksi cepat) atau sesudah  satu jam (reaksi lambat) sesudah  mengkomsumsi 

protein susu sapi.

Pendekatan diagnosis untuk alergi susu sapi tipe IgE–mediated adalah dengan 

melihat gejala klinis dan dilakukan uji  IgE spesifik (uji tusuk kulit atau uji 

RAST).

Jika hasil positif maka dilakukan eliminasi (penghindaran) makanan 

yang mengandung protein susu sapi 

Jika hasil negatif maka dapat diberikan kembali makanan yang 

mengandung protein susu sapi. 

3


Untuk diagnosis pasti dapat dilakukan uji eliminasi dan provokasi. 

Pendekatan diagnosis untuk alergi susu sapi yang diperantarai non IgE–

mediated adalah dengan adanya riwayat alergi terhadap protein susu sapi, 

diet eliminasi, uji provokasi makanan, dan kadang-kadang dibutuhkan 

pemeriksaan tambahan seperti endoskopi dan biopsi.  

Beberapa diagnosis banding yang perlu disingkirkan adalah kelainan 

metabolism bawaan, kelainan anatomi, coeliac disease, insufisiensi enzim 

pankreas (cystic fibrosis), intoleransi laktosa, keganasan dan infeksi. Keadaan 

yang menyulitkan adalah bila terdapat 2 keadaan/penyakit yang terjadi 

bersamaan. Anak dengan penyakit refluks gastroesofageal juga alergi terhadap 

susu sapi sebesar 15-20%. 

Pemeriksaan Penunjang 

1. IgE spesifik 

1.1. Uji tusuk kulit (Skin prick test )

Uji tusuk kulit dilakukan di volar lengan bawah atau bagian 

punggung (jika didapatkan lesi kulit luas di lengan bawah atau 

lengan terlalu kecil).

Batasan usia terendah untuk uji tusuk kulit  adalah 4 bulan. 

Batasan usia terendah untuk uji tusuk kulit  adalah 4 bulan. 

Hasil uji tusuk kulit biasanya lebih kecil pada anak < 2 tahun 

sehingga perlu interpretasi yang hati-hati

Bila uji kulit positif, kemungkinan alergi susu sapi sebesar 

< 50% (nilai duga positif < 50%), sedang  bila uji kulit 

negatif berarti alergi susu sapi yang diperantarai IgE dapat 

disingkirkan karena nilai duga negatif  sebesar > 95%.

1.2. IgE RAST (Radio Allergo Sorbent Test)

Uji IgE RAST positif memiliki  korelasi yang baik dengan 

uji kulit, tidak didapatkan perbedaan bermakna sensitivitas 

dan spesifitas antara uji tusuk kulit dengan uji IgE RAST   

Uji ini dilakukan bila  uji tusuk kulit tidak dapat dilakukan 

karena adanya lesi kulit yang luas di daerah pemeriksaan dan 

bila penderita tidak bisa lepas minum obat antihistamin. 

kadar serum IgE spesifik antibodi untuk susu sapi dinyatakan 

positif jika > 5 kIU/L pada anak usia ≤ 2 tahun dan  >15 

kIU/L pada anak usia > 2 tahun. Hasil uji ini memiliki  nilai 

duga positif <53%  dan nilai duga negatif 95%,  sensitivitas  

57% dan spesifitas 94%. 

2.  Uji eliminasi dan provokasi 

 Double Blind Placebo Controlled Food Challenge (DBPFC) merupakan 

uji baku emas untuk menegakkan diagnosis alergi makanan. Uji ini 

memerlukan waktu dan biaya. Untuk itu dapat dilakukan uji eliminasi 

dan provokasi terbuka.  Uji eliminasi dan provokasi masih merupakan 

baku standar untuk diagnosis alergi susu sapi. Selama eliminasi, bayi 

dengan gejala alergi ringan sampai sedang diberikan susu formula 

terhidrolisat ekstensif, sedang  bayi dengan gejala alergi berat 

diberikan susu formula berbasis asam amino. Diet eliminasi selama 

2-4 minggu tergantung berat ringannya gejala. Diet eliminasi sampai 4 

minggu bila terdapat gejala AD berat disertai gejala saluran cerna kolitis 

alergi. Pada pasien dengan riwayat alergi berat, uji provokasi dilakukan 

di bawah pengawasan dokter dan dilakukan di rumah sakit atau di 

klinik.  Anak dengan  uji tusuk kulit dan uji RAST negatif memiliki  

risiko rendah mengalami reaksi akut berat pada saat uji provokasi.

 Uji provokasi dinyatakan positif jika gejala alergi susu sapi muncul 

kembali, maka diagnosis alergi susu sapi bisa ditegakkan. Uji provokasi 

dinyatakan negatif bila tidak timbul gejala alergi susu sapi pada saat uji 

provokasi sampai 3 hari pasca provokasi (untuk menyingkirkan reaksi 

hipersensitivitas tipe lambat). bila  uji provokasi negatif, maka bayi 

itu  diperbolehkan minum formula susu sapi.

3.   Pemeriksaan darah pada tinja 

 Pada keadaan buang air besar dengan darah yang tidak nyata kadang 

sulit untuk dinilai secara klinis, sehingga perlu pemeriksaan penunjang. 

Pemeriksaan seperti chromiun-51 labelled erythrocites pada feses dan 

reaksi orthotolidin  memiliki  sensitivitas dan spesifitas yang lebih 



baik dibanding uji guaiac/benzidin. Uji guaiac hasilnya dipengaruhi oleh 

berbagai substrat non-hemoglobin sehingga memberikan sensitivitas 

yang rendah (30-70%), spesivitas (88-98%) dengan nilai duga  positif 

palsu yang tinggi. 

pengobatan  

.  Nutrisi

. Prinsip utama terapi untuk alergi susu sapi adalah menghindari 

(complete avoidance) segala bentuk produk susu sapi tetapi harus 

memberikan nutrisi yang seimbang dan sesuai untuk tumbuh 

kembang bayi/anak. 

1.2. Bayi dengan ASI eksklusif yang alergi susu sapi, ibu dapat 

melanjutkan pemberian ASI dengan menghindari protein susu 

sapi dan produk turunannya pada makanan sehari-hari. ASI tetap 

merupakan pilihan terbaik pada bayi dengan alergi susu sapi. 

Suplementasi kalsium perlu dipertimbangkan pada ibu menyusui 

yang membatasi protein susu sapi dan produk turunannya

. Bayi yang mengonsumsi susu formula:

. Pilihan utama susu formula pada bayi dengan alergi susu 

sapi adalah susu hipoalergenik. Susu hipoalergenik adalah 

susu yang tidak menimbulkan reaksi alergi pada 90% bayi/

anak dengan diagnosis alergi susu sapi bila dilakukan uji 

klinis tersamar ganda dengan interval kepercayaan 95%. 

Susu itu  memiliki  peptida dengan berat molekul  

< 1500 kDa. Susu yang memenuhi kriteria itu  ialah 

susu terhidrolisat ekstensif dan susu formula asam amino. 

sedang  susu terhidrolisat parsial tidak termasuk dalam 

kelompok ini dan bukan merupakan pilihan untuk terapi 

alergi susu sapi.

. Formula susu terhidrolisat ekstensif merupakan susu yang 

dianjurkan pada alergi susu sapi dengan gejala klinis 

ringan atau sedang. bila  anak dengan alergi susu sapi 

dengan gejala klinis ringan atau sedang tidak mengalami 

perbaikan dengan susu terhidrolisat ekstensif, maka dapat 

diganti menjadi formula asam amino. Pada anak dengan 

alergi susu sapi dengan gejala klinis berat dianjurkan untuk 

mengonsum formula asam amino. 

. Eliminasi diet menggunakan formula susu terhidrolisat 

ekstensif atau formula asam amino diberikan sampai usia 

bayi 9 atau 12 bulan, atau paling tidak selama 6 bulan. 

sesudah  itu uji provokasi diulang kembali, bila gejala tidak 

timbul kembali berarti anak sudah toleran dan susu sapi 

dapat dicoba diberikan kembali. Bila gejala timbul kembali 

maka eliminasi diet dilanjutkan kembali selama 6 bulan 

dan seterusnya. 

.  bila  susu formula terhidrolisat ekstensif tidak tersedia atau 

terdapat kendala biaya, maka sebagai alternatif bayi dapat diberikan 

susu formula yang mengandung isolat protein kedelai dengan 

penjelasan kepada orang tua kemungkinan adanya reaksi silang 

alergi terhadap protein kedelai pada bayi. Secara keseluruhan angka 

kejadian alergi protein kedelai pada bayi berkisar 10-20% dengan 

proporsi 25% pada bayi dibawah 6 bulan dan 5% pada bayi diatas 

6 bulan. Mengenai efek samping, dari beberapa kajian ilmiah 

terkini menyatakan bahwa tidak terdapat bukti yang kuat bahwa 

susu formula dengan isolate protein kedelai memberikan dampak 

negatif terhadap pertumbuhan dan perkembangan, metabolisme 

tulang, sistem reproduksi, sistem imun, maupun fungsi neurologi 

pada anak 

. Pada bayi dengan alergi susu sapi, pemberian makanan padat perlu 

menghindari  adanya protein susu sapi dalam bubur susu atau 

biskuit bayi. 

Susu mamalia lain selain sapi bukan merupakan alternatif karena 

berisiko terjadinya reaksi silang. Selain itu, susu kambing, susu 

domba dan sebagainya tidak boleh diberikan pada bayi di bawah 

usia 1 tahun kecuali telah dibuat menjadi susu formula bayi. Saat 

ini belum tersedia susu formula berbahan dasar susu mamalia 

selain sapi  di Indonesia. Selain itu perlu diingat pula adanya risiko 

terjadinya reaksi silang. 

Medikamentosa 

1. Gejala yang ditimbulkan alergi susu sapi diobati sesuai gejala yang 

terjadi.

2. Antagonis reseptor H1 (antihistamin) generasi satu dan generasi kedua 

dapat digunakan dalam penanganan alergi. 

3. Jika didapatkan riwayat reaksi alergi cepat, anafilaksis, asma, atau 

dengan alergi makanan yang berhubungan dengan reaksi alergi yang 

berat, epinefrin harus dipersiapkan. 

Prognosis 

Prognosis bayi dengan alergi susu sapi umumnya baik, dengan angka 

remisi 45-55% pada tahun pertama, 60-75% pada tahun kedua dan 90% 

pada tahun ketiga. Namun, terjadinya alergi terhadap makanan lain juga 

meningkat hingga 50% terutama pada jenis: telur, kedelai, kacang, sitrus, 

ikan dan sereal dan alergi inhalan meningkat 50-80% sebelum pubertas. 

Rekomendasi diagnosis dan pengobatan  alergi susu 

sapi

1. Untuk bayi dengan ASI eksklusif: 

1.1. Diagnosis ditegakkan dengan cara eliminasi protein susu sapi pada 

diet ibu selama 2-4 minggu. Lama eliminasi bergantung pada berat 

ringannya reaksi alergi.



1.2. Bila gejala menghilang sesudah  eliminasi, ibu dapat konsumsi kembali 

nutrisi yang mengandung protein susu sapi. Bila gejala muncul 

kembali, maka dapat ditegakkan diagnosis susu sapi. Bila gejala 

tidak menghilang sesudah  eliminasi, maka perlu dipertimbangkan 

diagnosis lain.

1.3. pengobatan  alergi susu sapi pada kelompok ini adalah pemberian 

ASI dapat diteruskan dan Ibu harus menghindari susu sapi dan 

produk turunannya pada makanan sehari-harinya sampai usia 

bayi 9-12 bulan atau minimal selama 6 bulan. sesudah  kurun 

waktu itu , uji provokasi dapat diulang kembali, bila gejala 

tidak timbul kembali berarti anak sudah toleran dan susu sapi 

dapat dicoba diberikan kembali. Bila gejala timbul kembali maka 

eliminasi dilanjutkan kembali selama 6 bulan dan seterusnya. 

2. Untuk bayi yang mengkonsumsi susu formula:

2.1. Diagnosis ditegakkan dengan cara eliminasi protein susu sapi yaitu 

dengan mengganti susu formula berbahan dasar susu sapi dengan 

susu formula hidrolisat ekstensif (untuk kelompok dengan gejala 

klinis ringan atau sedang) atau susu formula asam amino (untuk 

kelompok dengan gejala klinis berat). Eliminasi dilakukan selama 

2-4 minggu.


. Bila gejala menghilang sesudah  eliminasi, perkenalkan kembali 

dengan protein susu sapi. Bila gejala muncul kembali, maka dapat 

ditegakkan diagnosis susu sapi. Bila gejala tidak menghilang sesudah  

eliminasi, maka perlu dipertimbangkan diagnosis lain.


. pengobatan  alergi susu sapi pada kelompok ini adalah pemberian 

susu formula berbahan dasar susu sapi dengan susu formula 

terhidrolisat ekstensif (untuk kelompok dengan gejala klinis 

ringan atau sedang) atau susu formula asam amino (untuk 

kelompok dengan gejala klinis berat). Penggunaan formula khusus 

ini dilakukan sampai usia bayi 9-12 bulan atau minimal 6 bulan. 

sesudah  kurun waktu itu , uji provokasi dapat diulang kembali, 



bila gejala tidak timbul kembali berarti anak sudah toleran dan 

susu sapi dapat diberikan kembali. Bila gejala timbul kembali maka 

eliminasi dilanjutkan kembali selama 6 bulan dan seterusnya. 

2.4. Pada bayi yang sudah mendapat  makanan padat, maka perlu 

penghindaran protein susu sapi dalam bubur atau biskuit bayi.

3. bila  susu formula terhidrolisat ekstensif tidak tersedia atau terdapat 

kendala biaya, maka sebagai alternatif bayi dapat diberikan susu formula 

yang mengandung isolat protein kedelai dengan penjelesan kepada 

orang tua kemungkinan adanya reaksi silang alergi terhadap protein 

kedelai pada bayi. Formula kedelai yang dapat digunakan adalah 

formula kedelai yang sudah diformulasikan untuk anak dan tidak boleh 

menggunakan susu kedelai segar/murni atau yang dibuat untuk dewasa 

karena kandungan nutrisinya tidak sesuai untuk anak. 

4. Pemeriksaan IgE spesifik (uji tusuk kulit/IgE RAST) untuk mendukung 

penegakan diagnosis dapat dilakukan pada alergi susu sapi yang 

diperantarai IgE. 

Isu penting terkait formula yang digunakan untuk 

penanganan alergi susu sapi

1.  Formula Isolat Protein Kedelai

1.1. Kecukupan nutrisi dari formula isolat protein kedelai

 Formula kedelai yang beredar saat ini terbuat dari isolat protein 

kedelai dan memiliki kandungan protein 2,2 sampai 2,6 g/100 

kkal, lebih tinggi dari formula berbasis susu sapi, walaupun 

demikian bayi yang mengonsumsi formula kedelai menunjukkan 

pertumbuhan yang setara dengan bayi yang mengonsumsi formula 

berbasis susu sapi.

.  Aluminium

 kandungan aluminium pada formula kedelai jauh lebih tinggi 

dibandingkan formula berbasis susu sapi dan ASI. Walaupun 

demikian, asupan aluminium sehari pada bayi yang mendapat 

formula kedelai sampai dengan 200 mL/kg/hari hanya <0,5 mg/

kg/hari. Jumlah ini jauh lebih rendah dari tolerable intake untuk 

aluminium menurut FAO/WHO, yaitu 1 mg/kg/hari. konse-

kuensi jangka panjang dari kandungan aluminium yang tinggi pada 

formula kedelai masih belum diketahui karena belum terdapat bukti 

ilmiah yang cukup. Pada tahun 2008 American Academic Pediatric 

(AAP) menyimpulkan bahwa  formula kedelai bukan merupakan 

masalah keamanan bagi bayi kecuali pada bayi prematur atau bayi 

dengan gagal ginjal. 


 Fitoestrogen

 Formula kedelai mengandung fitoestrogen berupa isoflavon dalam 

bentuk genistein,  daidzein dan glycitein. Isoflavon dapat berikatan 

dengan reseptor estrogen, dan menimbulkan efek estrogenik. 

Formula isolat protein kedelai mengandung isoflavon dalam 

jumlah relatif tinggi. Penelitian pada hewan menunjukkan bahwa 

fitoestrogen dalam jumlah tinggi yang terkandung dalam formula 

kedelai dapat menimbulkan dampak terhadap perkembangan 

seksual, fungsi reproduksi, neuroendokrin, perkembangan 

neurobehaviour, fungsi imun dan fungsi tyroid. Pada kajian ilmiah 

lainnya dikatakan bahwa fitoestrogen dalam kedelai memiliki  

efek estrogen yang lemah. 


 Walaupun demikian para peneliti belum mendapat  bukti klinis 

kuat mengenai efek negatif terhadap sistem reproduktif dan fungsi 

endokrin. sedang  fungsi imun dan parameter neurokognitif 

memperlihatkan hasil sama dengan bayi yang mendapat susu 

formula.  kajian sistematis dengan metaanalis terhadap keamanan 

formula berbasis kedelai untuk anak menyimpulkan bahwa anak 

yang mendapat susu formula isolat protein kedelai memiliki  

pola pertumbuhan, metabolisme dan kesehatan tulang, reproduksi, 

endokrin, sistem imun, dan fungsi neurologi yang sama dengan 

anak yang mendapat susu formula sapi. Susu formula isolat protein 

kedelai merupakan alternatif untuk anak. 

 

 Pada kajian ilmiah terbaru memperlihatkan kadar genistein dan 

daidezein lebih tinggi pada anak yang mengonsumsi formula kedelai. 

Dalam formula isolat protein kedelai, isoflavon genistein dan 

daidzein terdapat dalam bentuk konjugasi dan tidak berpengaruh 

pada efek hormonal. Pada kajian ilmiah terbaru itu  

disimpulkan bahwa formula kedelai aman, namun sementara ini 

berbagai organisasi anak dunia belum memberikan pernyataan 

mengenai keamanan soya pada anak di bawah 6 bulan.


1.4. Fitat 

 Isolat protein kedelai mengandung fitat sebesar 1-2%, yang 

dapat mengganggu absorpsi mineral dan trace elements. Reduksi 

kandungan fitat telah dilakukan pada semua produk formula 


dengan isolat protein kedelai sehingga meningkatkan absorpsi dan 

availabilitas zink, tembaga, dan mineral lain.

 

    

2.   Formula hidrolisat ekstensif dan asam amino

 Masalah akseptabilitas, penelitian menunjukkan bahwa pajanan terha-

dap rasa dan bau spesifik pada awal kehidupan akan memengaruhi pe-

nerimaan terhadap formula tertentu. Oleh karena itu, bayi yang telah 

terpajan ASI atau formula standar pada bulan-bulan pertama kehidupan 

lebih sulit menerima formula hidrolisat ekstensif atau formula asam 

amino karena aroma dan rasanya yang khas. Namun demikian, variasi 

waktu (timing) terjadinya pajanan yang berpengaruh bermakna terhadap 

penerimaan masih perlu diteliti lebih lanjut.

Umumnya bayi sebelum 4 bulan lebih mudah menerima pemberian formula 

ektensif terhidrolisat atau formula asam amino


1. Pada pasien alergi, pilihan pertama adalah formula ekstensif terhidrolisat 

atau formula asam amino tergatung dari tingkat keparahan alergi.

2. Bila ada masalah dana/ketersediaan susu formula asam amino, dapat 

dicoba susu terhidrolisat ekstensif 

3. Bukti kajian ilmiah terhadap efek samping pada manusia tidak cukup 

kuat sehingga formula isolat protein kedelai dapat diberikan pada anak

4. Bila ada masalah dana dan ketersediaan susu terhidrolisat ekstensif, 

sebagai alternatif dapat diberikan formula isolat protein kedelai dengan 

pemberian edukasi.



Lanjutkan pemberian ASI•

Ibu dapat diet normal atau•

Pertimbangkan diagnosis alergi  makanan lain (telur, seafood, kacang, dll) atau alergi susu •

sapi bersamaan dengan alergi makanan lain

Pertimbangkan diagnosis lain•

pengobatan   Alergi Susu Sapi 

pada Bayi dengan  ASI Eksklusif

Tata  Laksana  Alergi Susu Sapi pada 

Bayi dengan Susu Formula