ternak kambing 2
Proses reproduksi merupakan suatu gerbang untuk menuju ke arah
suatu produksi maupun pelestarian suatu ternak. Keberhasilan dibidang
reproduksi akan meningkatkan pendapatan peternak, mempertahankan jenis
ternak, menjaga ketersediaan makanan bergizi asal ternak, serta menyediakan
bahan industri/kerajinan.
Peningkatan populasi ternak kambing Peranakan Etawa ruminansia di
Indonesia masih sulit dicapai, meskipun sudah banyak jalan yang ditempuh,
apalagi peningkatan kualitas ternak dan kualitas produk ternak ini .
peningkatan kualitas dan kuantitas produk ternak kambing akan mudah
dilakukan kalau ternak ini populasinya banyak, sehingga mudah
dilakukan seleksi atau perlakuan-perlakuan untuk mencari cara yang tepat
untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produk kambing Peranakan Etawa
ini . dalam meningkatkan populasi kambing Peranakan etawa dapat
ditempuh dengan jalan mempelajari manajemen reproduksi yang baik dan
tepat. berdasar hal ini pemilihan kegiatan magang di peternakan
kambing Peranakan Etawa Bumiku Hijau Yogyakarta merupakan salah satu
upaya mempelajari ilmu manajemen reproduksi atau perkawinan kambing
Peranakan Etawa.
Perkawinan dalam suatu pengelolaan peternakan komersial
keberhasilan dalam usaha peternakan. Keberhasilan perkawinan sangat
ditentukan oleh pemilihan bibit yang unggul baik pejantan maupun betina,
manajemen pengelolaan, kontrol organ reproduksi, dan proses perkawinan
ternak kambing Peranakan Etawa ini . faktor-faktor ini merupakan
satu kesatuan yang mempengaruhi keberhasilan dalam peningkatan populasi
kambing Peranakan Etawa.
A. Kambing Peranakan Etawa
Peranakan Etawa merupakan hasil persilangan antara kambing Etawa
(dari India) dengan kambing Kacang, yang penampilannya mirip kambing
Etawa tetapi lebih kecil. Sebagai kambing peliharaan, kambing Peranakan
Etawa memiliki dua kegunaan, yaitu sebagai penghasil susu (perah) dan
pedaging
bahwa, kambing Peranakan Etawa adalah hewan dwi guna, yaitu sebagai
penghasil susu dan sebagai penghasil daging. Ciri-ciri kambing Peranakan
Etawa adalah warna bulu belang hitam putih atau merah dan cokelat putih.,
hidung melengkung, rahang bawah lebih menonjol, telinga panjang terkulai,
memiliki kaki dan bulu yang panjang.
Karakteristik Kambing PE ialah bertubuh besar dengan bobot badan
kambing jantan mencapai 90 kg dan betina 60 kg, bentuk hidung benguk,
kuping, kaki dan bulu yang panjang, serta ambing besar dan produksi susu
tinggi , Keberadaan kambing Peranakan Etawa sudah
beradaptasi dengan kondisi Indonesia. Kambing Peranakan Etawa merupakan
kambing perah harapan daerah tropis Indonesia. Kambing lokal ini sangat
potensial sebagai penghasil susu yang sangat tinggi. Dengan tata cara
pemeliharaan yang baik, kambing Peranakan Etawa mampu beranak tiga kali
dalam dua tahun. Jumlah anak bervariasi, yaitu 1-3 ekor. Produksi susunya
sangat beragam, yaitu antara 1,5-3,7 liter/hari dengan masa laktasi 7 -10 bulan
Cempe adalah anak domba atau kambing dari ;ahir sampai
pada umur enam bulan. Pemeliharaan cempe dimulai sejak masih dalam
kandungan, yakni dimulai dari induk bunting
B. Reproduksi
Reproduksi atau perkembangbiakan merupakan bagian dari ilmu faal
(fisiologi). Reproduksi secara fisiologis tidak vital bagi kehidupan individual
dan meskipun siklus reproduksi suatu hewan berhenti, hewan ini masih
dapat bertahan hidup. Sebagai contoh hewan yang diambilorgan reproduksinya
(testes atau ovarium) hewan ini tidak mati
1. Bibit kambing Peranakan Etawa
Pemeliharaan kambing Peranakan Etawa bagi sebagian masyarakat
terutama sebagai usaha sampingan untuk penghasilan dan tabungan.
Tujuan yang ingin dicapai dalam betrnak kambing Peranakan Etawa yaitu
memperoleh anak dan susu yang baik kualitasnya, maka harus dipilih bibit
yang baik. Persyaratan bibit secara umum yang harus dipenuhi menurut yaitu pertama, sehat dan tidak cacat. Tanda-tandanya
antara lain : mata berbinar dan mengkilat. Cacat fisik yang mudah
diketahui antara lain : tanduk retak dan patah, lumpuh kaki, mata sayu dan
terkadang ada kelainan tulang punggung. Ke dua, alat reproduksi
kambing Peranakan Etawa normal. Ciri-ciri umum alat alat reproduksi
kambing Peranakan Etawa yang normal dapat dilihat dari jumlah dan letak
ambingnya. Ambing yang normal berjumlah 2 buah dan setiap ambing
memilki satu buah puting susu. Ke tiga, alat kelamin jantan tidak cacat.
Alat kelamin kambing Peranakan Etawa yang cacat antara lain : ukuran
testis tidak sama dan tidak simetris. Ke empat, berat dan tinggi badan.
Berat badan kambing Peranakan Etawa betina antara 15-25 kg, dengan
tinggi badan antara 55-60 cm. Berat badan kambing Peranakan Etawa
jantan antara 20-35 kg dengan tinggi badan antara 65-70 cm. Ke lima,
umur bibit kambing Peranakan Etawa antara 8-12 bulan untuk betina dan
12-18 bulan untuk pejantan.
menyatakan bahwa ciri – ciri kambing Peranakan
Etawa postur tubuh tinggi, untuk ternak jantan dewasa gumba/pundak 90 –
110 cm dan betina 70 – 90 cm. Kaki panjang dan bagian paha ditumbuhi
bulu/rambut panjang. Profil (bagian atas hidung) tampak cembung, telinga
panjang (25 – 40 cm) terkulai ke bawah . Warna bulu umumnya putih
dengan belang hitam atau coklat. Tetapi ada juga yang polos putih, hitam
atau coklat.
2. Pubertas
Bertambahnya umur, secara fisiologis akan terjadi perubahan
hormonal dengan mulai berfungsinya organ reproduksi ( ovarium dan
testis ). Hal ini diekspresikan dengan munculnya sifat ketertarikan pada
dan/atau menerima secara seksual kehadiran lawan jenisnya (pubertas).
Kemunculan berahi pertama ini dipakai sebagai tanda tercapainya pubertas
Kambing jantan tidak memiliki siklus birahi, sehingga
kedewasaanya sulit ditentukan. Sebagai penentu kambing jantan sudah
dewasa kelamin adalah jika kambing jantan mulai suka menaiki kambing
lainya. Jika patokan dewasa kelamin didasarkan dengan umur, pada umur
8 bulan kambing sudah bisa dipakai sebagai pejantan
3. Birahi
Siklus birahi adalah sebuah siklus dalam kehidupan kambing betina
yang sudah dewasa dan setiap siklus akan diakhiri dengan proses ovulasi
(keluarnya sel -sel telur untuk dibuahi) . Perkawinan dapat menghasilkan
kebuntingan bila dilakukan pada saat kambing betina dalam keadaan
birahi. Kambing betina birahi pertama pada saat umur 6 – 8 bulan tetapi
belum dapat dikawinkan menunggu dewasa tubuh pada umur 10 – 12.
Sedangkan kambing jantan sebaiknya dikawinkan setelah umur 12 bulan.
Tanda – tanda birahi pada kambing betina antara lain : Gelisah, tidak nafsu
makan, ekor dikibas – kibaskan serta terus – menerus mengembik, Alat
kelamin bengkak, berwarna merah serta mengeluarkan sedikit lendir
bening dan masa birahi berlangsung selama 24 – 45 jam dan akan terulang
dengan siklus 18 – 20 hari (Shodiq dan Abidin, 2008).
4. Perkawinan
Perkawinan alami adalah perkawinan yang terjadi sebab adanya
kontak fisik antara pejantan dengan betina, artinya seluruh proses
perkawinan memakai pejantan dalam membuahi betina yang sudah
dewasa kelamin dan dewasa tubuh serta sudah birahi (keinginan untuk
kawin)
C. Perkandangan
Kandang dibangun untuk melindungi kambing dari hewan-hewan
pemangsa maupun hewan penganggu, kandang harus dapat mempermudah
kambing dalam melakukan aktifitas keseharian kambing seperti makan,
minum, tidur, kencing, atau buang kotoran, mempermudah peternak dalam
melakukan pengawasan dan menjaga kesehatan ternak, dan kandang
dibangun sebagai tindakan preventif agar kambing tidak merusak tanaman
dan fasilitas lain yang berada di sekitar lokasi kandang, serta menghindari
terkonsumsinya pakan yang berbahaya bagi kesehatan kambing
Model kandang ada dua tipe
yang umum dipakai di daerah tropis. Tipe yang pertama adalah kandang pada
tanah, kandang tipe ini seringkali menempel pada bangunan lain. Tipe yang
ke dua adalah kandang panggung, sehingga bagian bawah kandang berkolong
dengan tinggi kurang lebih 1-1,5 m di atas permukaan tanah yang akan
memudahkan dalam membersihkan dan mengumpulkan kotoran. Kandang
yang baik menghadap ke Timur agar mendapat cukup sinar matahari pagi
yang merata dan udara yang segar, terlindung dari hembusan angin langsung,
jarak kandang relatif jauh dari sumur dan pemukiman warga, nyaman dan
cukup tenang ,
D. Bahan Pakan
Pakan yang diberikan untuk ternak kambing Peranakan Etawa harus
dapat memenuhi kebutuhanya untuk hidup dan bereproduksi menyatakan bahwa kambing menyukai
pakan beragam tanaman. Kambing dapat mengkonsumsi jenis pakan yang
sama dengan ruminansia lainnya seperti rumput-rumputan , daun kaliandra,
daun nangka, daun pisang dan serat kasar lainnya. Seekor kambing Peranakan
Etawa membutuhkan 1-1,5 kg daun-daunan setiap bertambah 0,25 kg
konsentrat berkadar protein 16% un tuk setiap liter susu yang dihasilkan. jumlah hijauan diberikan pada ternak setiap harinya
adalah 10 % dari bobot hidup ternak. Pemberian pakan tambahan (protein dan
energi tinggi) pada ternak kambing betina akan mempercepat pencapa ian
umur pubertas, birahi, dan ovulasi, serta mempertahankan kebuntingan
hingga sampai saatnya terjadinya kelahiran
Secara garis besar pakan ternak dikelompokan menjadi 2 jenis, yaitu
hijauan dan konsentrat
menambahkan bahwa bahan pakan adalah suatu bahan yang dapat dimakan
dan dicerna oleh seekor hewan yang mampu menyajikan hara atau nutrien
yang penting untuk perawatan tubuh, pertumbuhan, penggemukan, reproduksi
(birahi, konsepsi, kebuntingan), serta laktasi (produksi susu). bahwa hijauan (“forage”) adalah bagian aerial dari
tanaman terutama rumput dan kacang-kacangan (legume) yang mengandung
18% serat kasar dalam bahan kering yang dipergunakan seba gai bahan ternak,
sedangkan konsentrat merupakan suatu bahan pakan yang dipergunakan
bersama bahan pakan yang lain untuk meningkatkan keserasian gizi dari
keseluruhan pakan dengan tujuan untuk dicampur sebagai bahan pelengkap.
E. Penanganan Kesehatan
Usaha dalam rangka membebaskan kandang dari bibit-bibit penyakit
maupun parasit lainnya dengan mengunakan obat-obatan pengendali seperti
disinfectan pada dosis yang dianjurkan. Tindakan ini harus dilakukan secara
rutin pada kandang yang akan ditempati oleh ternak. Jika ternak mengalami
sakit di kandang, maka harus dipilih jenis disinfectan pada dosis yang lebih
tinggi agar penyakit yang sama tidak menyerang pada penyakit yang lain.
Sanitasi dapat menjamin ternak lebih sehat, sebab lingkungan yang kotor dapat
memancing bibit pentyakit. Sanitasi terhadap kandang harus dilakukan secara
menyeluruh, yakni terhadap lingkungan sekitar dan terhadap peralatan yang
berhubungan dengan ternak. Lingkungan yang kotor dan tidak terurus
merupakan media yang baik bagi berbagai jenis serangga penyebar penyakit.
Kutu dan caplak penghisap darah dapat bersarang dicelah-celah kandang
sehingga merupakan sasaran utama dalam melakukan sanitasi. Usahakan
kandang selalu di bersihkan dua kali sehari, yaitu pada pagi dan sore hari.
Semakin bersih kandang maka kenyamanan kambing juga akan semakin tinggi.
Disisi lain, kalau kandang kambing bersih, maka kandang dan kambing juga
akan nyaman untuk dilihat, tidak kotor dan tidak kumuh. Ingat, untuk
membikin kambing nyaman pasti kita akan memperoleh hasil nyata. minimal
kambing tidak gampang sakit.
Secara umum obat yang dipakai pada pengobatan ternak sakit
memakai cara intra muscular (disuntik pada otot daging), intra vena
(diinfus atau disuntik pada urat nadi), subkutan ( disuntik di bawah kulit
pangkal leher), per oral ( melaluii air minum), spray ( disemprot), intra
uterina (dimasukan melalui vagina), dan intra mamae ( dimasukan melalui
puting)
1. Sejarah Peternakan Bumiku Hijau
Usaha Peternakan kambing Peranakan Etawa Bumiku Hijau di
Yogyakarta mulai dirintis sejak tahun 1998 oleh Seorang pengusaha
supplier bahan bangunan dan tanaman hias yaitu Bondan Danu Kusuma,
SE, sekarang diberi amanah sebagai ketua umum ASPEKPIN (Asosiasi
Peternak Kambing Perah Indonesia) . Usaha peternakan kambing
Peranakan Etawa di Bumiku Hijau diawali dengan membangun kandang
permanen di belakang gudang penyimpanan bahan bangunan, tepatnya di
Jl. Ring Road Utara, Pandean Gandok, Condongcatur, Depok, Sleman,
Yogyakarta.
Usaha yang dijalankan di Peternakan Bumiku Hijau antara lain,
penjualan bibit unggul baik pejantan maupun indukan Kambing
Peranakan Etawa, penjualan hasil produksi susu kambing Peranakan
Etawa, melayani jasa perkawinan dan lain-lain. Pertama memulai usaha
peternakan ini, kambing Peranakan Etawa dipelihara dengan tujuan
pembibitan untuk menghasilkan kambing Peranakan Etawa unggul.
Manajemen pemeliharaan dilakukan dengan baik, sehingga menghasilkan
bibit kambing Peranakan Etawa yang baik.
Penjualan bakalan atau bibit kambing Peranakan Etawa dilakukan
dengan menjalin kerjasama dengan para pedagang bakalan kambing
kaligesing dan para pedagang dan peternak di wilayah Yogyakarta
2. Lokasi Perusahaan
Peternakan Bumiku Hijau terletak pada ketinggian 300 meter dari
permukaan air laut dengan curah hujan rata-rata 1.440 mm/tahun. Rata -
rata suhu di peternakan Bumiku Hijau adalah 25-32 °C. Menurut
Williamson dan Payne (1993), bahwa daerah tropis memiliki suhu yang
konstan, suhu musiman rata-rata bervariasi sekitar 27 0 C. Suhu yang ada
di daerah tropis cukup nyaman untuk kambing Peranakan Etawa. Hal ini
bahwa populasi
kambing di daerah tropis lebih tinggi daripada di daerah lain
mencerminkan bahwa ternak ini dapat diterima dengan baik di beberapa
tempat di daerah tropis. Kambing Peranakan Etawa telah beradaptasi
terhadap kondisi dan habitat Indonesia
Peternakan Bumiku Hijau dibatasi tembok setinggi 2,5 meter di
sebelah timur, selatan dan barat sedangkan di sebelah utara berbatasab
langsung dengan jalan raya yaitu jalan Ring Road Utara. berdasar
administrasi wilayahnya perusahaan ini termasuk ke dalam Dukuh
Pandean Gandok, Kelurahan Condongcatur, Kecamatan Depok,
Kabupaten Sleman, Provinsi Yogyakarta.
3. Pengelolaan Usaha Peternakan
Bumiku Hijau adalah usaha peternakan kambing Peranakan
Etawa, tentunya demi kelangsungan usaha ini diperlukan beberapa
faktor yang sangat berperan salah satunya adalah faktor Sumber Daya
Manusia (SDM). SDM yang dimaksud adalah para pekerja yang
melakukan kegiatan pemeliharaan kambing Peranakan Etawa . Tenaga
kerja atau karyawan di peternakan Bumiku Hijau didapat dari karyawan
dari usaha material yang merupakan usaha lain dari pemilik Peternakan
Bumiku Hijau, mereka ditempatkan di bagian pemasaran dan penanggung
jawab peternakan, sedangkan untuk pemelihara ternak kambing atau anak
kandang yang mengelola peternakan adalah peternak tradisional yang
berasal dari wilayah Yoyakarta dan wilayah lain seperti Kebumen,
1. Populasi Kambing
Kandang di Condongcatur adalah kandang pembibitan. Kambing
yang dipelihara hanya untuk pembibitan saja, pada bulan Februari 2012
jenis kambing yang dipelihara adalah kambing Saanen, kambing
Peranakan Etawa dan kambing Senduro dengan jumlah sebanyak 25 ekor.
Bessarnya populasi dapat dilihat dalam tabel di bawah ini.
Kandang Condongcatur mempunyai 5 pejantan yang terdiri dari
4 ekor kambing Peranakan Etawa dan 1 ekor kambing Senduro. Pejantan
yang dipakai sebagai pemacek adalah pejantan kambing Peranakan
Etawa. Selain pejantan di kandang ini dipelihara 15 kambing betina yang
terdiri dari 12 ekor kambing Peranakan Etawa dan 3 ekor kambing
Saanen. Kambing betina yang dipakai sebagai indukan adalah
kambing Peranakan Etawa, sedangkan kambing Saanen dipelihara untuk
memproduksi susu. Februari 2012 dikandang pembibitan ini ada 5
ekor cempe.
2. Kandang
Tujuan pembangunan kandang adalah untuk menciptakan desain
kandang yang sempurna bagi kambing yang akan dipelihara. Prinsipnya
adalah konstruksi kandang harus dapat membuat kambing merasa
nyaman dan aman. Kondisi ini tentunya akan menjadikan kambing
berproduksi secara normal.
Kandang pembibitan di peternakan Bumiku Hijau berdiri diatas
lahan 1,2 ha, di belakang bangunan gudang dan di sekeliling kandang di
tanam pohon sengon dan tanaman lain sebagai cadangan pakan hijauan
kambing. Kandang pembibitan berbentuk panggung sehingga ada
kolong di bawah kandang tinggi kolong (panjang tiang dari permukaan
tanah sampai lantai kandang) setinggi 75 cm dan dasar kandang miring
terbuat dari beton. Salah satu sisi kandang dibuat selokan untuk
menampung kotoran kambing sementara.
Kandang pembibitan di peternakan Bumiku Hijau terbuat dari
papan kayu dengan atap genting, dinding dan lantai kandang dibuat
bercelah. Celah pada dinding sebesar 25 cm, hal ini dimaksudkan agar
kambing dapat mengambil pakan dan air sedangkan pada lantai berfungsi
agar. Celah lantai sebesar 2 cm, hal ini bertujuan agar air kencing dan
kotoran dapat langsung jatuh ke tanah (dasar kandang) dan kambing tidak
terperosok. Daun pintu dibuat vertikal dan tidak terlalu lebar, daun pintu
mempunyai fungsi sebagai tangga.
Jenis kandang yang dipakai di kandang pembibitan ini ada
dua yaitu kandang tunggal dan kandang koloni. Kandang tunggal
dipakai untuk kambing induk dan pejantan sedangkan kandang koloni
dipakai untuk cempe dan induk yang bunting serta untuk menyeleksi
kambing.
Kandang tunggal berjumlah 20 buah, setiap kandang berisi satu
ekor kambing, kandang tunggal mempunyai 2 ukuran yaitu untuk betina
dan pejantan. Ukuran kandang tunggal untuk kambing betina yaitu
panjang 150 cm, lebar 125cm dan tinggi 125 cm sedangkan ukuran
kandang untuk kambing pejantan yaitu panjang dan lebar 200 cm dengan
tinggi 125 cm. Kandang koloni di kandang pembibitan ada dua ukuran,
ukuran yang pertama panjang 150 cm, lebar 250 cm dan tinggi 125 cm,
kandang ini berjumlah 3 buah dan biasanya dipakai untuk cempe dan
kambing bunting. Ke dua berukuran 8 kali lebar kandang tunggal yaitu
panjang 150 cm, lebar 1000 cm dan tinggi 125 cm.
Denah perkandangan dapat dilihat dari gambar di bawah ini.
Pengadaan bakalan dilaksanakan setelah kandang dan peralatan
siap dipakai untuk pemeliharaan. Bibit atau bakalan didatangkan
langsung dari Kaligesing dan beberapa dari pasar hewan di daerah
Yogyakarta. Pengadaan bakalan ini ditujukan untuk menentukan
kambing Peranakan Etawa pejantan pemacek dan kambing Peranakan
Etawa produksi susu sehingga diterapkan standarisasi kualitas kambing,
hal ini dimasudkan agar keturunan yang dihasilkan benar-benar
memiliki kualitas yang baik dengan produktivitas tinggi.
Peternakan Bumiku Hijau memilih kambing Peranakan Etawa
sebagai pejantan pemacek dengan cara seleksi berdasar uji tilik ternak
atas performa dan informasi mengenai silsilah kambing ini .
Pejantan pemacek diperoleh dari anakan hasil induk unggul yang
mempunyai genetik kuat dengan ciri warna bulu hitam di bagian leher
sampai kepala, agresif dan mempunyai catatan menghasilkan anak 2
dalam satu kali kelahiran, sedangkan untuk memilih kambing Peranakan
Etawa sebagai produksi susu dilakukan dengan cara melihat
penampilanya yang tidak jauh beda dengan pejantan pemacek, selain itu
dilihat dari ambing yang besar, normal dan simetris. Pemilhan bibit
pejantan pemacek bertubuh besar
dan kuat, penis panjang, sifat kejantananya terlihat nyata dan berasal dari
induk btina yang beranak dua agar dapat menurunkan anak kembar.
Kambing betina bentuk ambingya besar, di bawah kulit ambing urat-urat
pembuluh darah, puting menggantung pada ambing dan berbentuk
simetris serta mempunyai sifat keibuan, jinak, mampu melahirkan anak
kembar. Bakalan yang dipilih adalah kambing pejantan unggul dari dan
kambing dara yang siap kawin .
Perlakuan pertama untuk kambing diberikan obat cacing pada
awal pemeliharaan dan dimandikan serta dilakukan pemotongan kuku
pada awal masuk kandang. Kambing dilakukan pembuntingan kembali
apabila produksi turun. Kambing akan dijual atau diafkir jika kemampuan
reproduksinya turun (5 tahun).
4. Pakan dan Air Minum
Pakan yang diberikan pada kambing di kandang pembibitan
adalah hijauan dan konsentrat. Hijauan didapat dari petugas Perusahaan
Listrik Negara (PLN) yang mendapat hijauan rambanan dari menebang di
pohon yang berada di pinggir jalan sehingga hijauan rambanan yang
diberikan ke ternak tidak menentu, pada Februari 2012 hijauan rambanan
yang diberikan berupa daun nangka, daun waru dadan daun mangga.
Konsentrat yang diberikan pada ternak tidak tentu kadang pollard ,
kadang ampas tahu, kadang keduanya, tergantung ketersediaan yang ada.
Pakan untuk cempe diberikan campuran susu sapi dengan pollard dengan
tambahan air, campuran pakan ini diberikan pada cempe yang telah
disapih. Air minum yang diberikan pada kambing di kandang pembibitan
berasal dari air sumur. Pemberian air minum pada ternak terus menerus
dan tidak dibatasi, pemberian dilakukan dengan cara menuang air ke bak
palastik dan digantung di dinding bagian luar kandang.
Pemberian pollard dilakukan pada pukul 14.00 WIB dengan
jumlah 1 kg/ ekor /hari. Sedangkan pakan hijauan diberikan sekali dalam
sehari namun waktu pemberian tidak menentu masih bergantung pada
waktu datangnya petugas PLN mengirim hijauan rambanan ke kandang.
Jumlah pakan hijauan rambanan yang diberikan tidak ada ukuranya. Hal
ini tidak sesuai dangan pernyataan sarwono (2012) bahwa Kebutuhan
kambing akan bahan pakan sangat tergantung dari kondisi fisiologis
kambing ini , secara umum kambing membutuhkan hijauan segar
sebanyak 10% dari berat badan atau berat hidupnya. Misal beratnya 30 kg
maka kambing ini membutuhkan 3 kg hijauan/hr. Perlu diketahui
bahwa tidak semua bagian hijauan disukai oleh kambing.beberapa
penelitian menunjukkan bahwa pemberian hijauana yang dicincang
sekitar 5-10 cm akan lebih efisien dikonsumsi oleh kambing, sebab
bentuknya yang kecil-kecil sehingga dapat dikatakan pemberian pakan di
kandang pembibitan di Bumiku Hijau kurang baik. Berikut gambaran
jumlah pemberian pakan berdasar kondisi pertumbuhan.
Pemberian ampas tahu pada kambing laktasi lebih banyak dari
induk bunting karean kambing laktasi membutuhkan protein lebih
banyak. Induk bunting memerlukan asupan protein, namun jika protein
yang diberikan terlalu banyak maka akan mengakibatkan kegemukan dan
apabila itu terjadi maka akan mengalami kesulitan dalam proses beranak.
Pejantan diberi pakan konsentrat lebih sedikit sebab pakan yang
diberikan untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok dan reproduksi,
sedangkan cempe telah mendapat asupan protein dari susu sehingga
pakan konsentrat hanya sebagai tambahan saja.
5. Penanganan Kesehatan
Biosecurity adalah tindakan perlindungan dari efek yang
merugikan dari organisme seperti agen penyakit dan hama yang
membahayakan bagi manusia, hewan, tanaman dan lingkungan.
Biosecurity didefinisikan sebagai serangkaian usaha untuk mencegah atau
mengurangi peluang masuknya suatu penyakit ke suatu sistem budidaya
dan mencegah penyebarannya dari suatu tempat ke tempat lain yang
masih bebas. Prinsip dasar dalam pengaplikasiannya adalah isolasi dan
desinfeksi ,
Cara pengendalian penyakit dapat dilakukan dengan sanitasi
kandang dan lingkungan serta biosecurity. Sanitasi dilakukan terutama
pada lantai dan kolong kandang yang biasanya ada kotoran yang
bercampur urine sebab dapat menjadi tempat sumber penyakit.
Biosecurity dilaksanakan dengan cara pembersihan perkandangan setiap
hari, memberi desinfektan pada kandang yang berisi ternak yang sakit dan
pembersihan ternak dengan cara memandikanya pada saat masuk dan
keluar perkandangan serta dua minggu sekali dalam perawatannya.
Pemberian vitamin dan obat-obatan diberikan secara
kondisional. Pada awal pemeliharaan diberikan obat cacing untuk
mencegah perkembangan cacing dalam tubuh kambing yang berakibat
pakan yang dikonsumsi terbuang percuma sebab dikonsumsi cacing,
akibatnya produksi susu dan bobot badan turun. Vitamin yang sering
diberikan adalah vitamin B-kompleks, Program pemakaian obat-obatan
diberikan sesuai penyakit yang diderita oleh ternak. Ternak yang
mengalami mencret, diobati dengan cara diberi larutan garam dan gula
masing-masing 10 gram dengan air ± 2,5 liter, atau diberikan larutan
oralit atau tablet karbon aktif (norit) sebanyak 2 tablet . Dapat
memakai daun jambu biji yang sudah ditumbuk.
Kambing yang terserang kudis diobati dengan menyuntikkan
Ivomec ± 2 ml dibawah kulit. Kulit yang terserang digosok dengan
beberapa campuran serbuk belerang, kunyit, dan minyak kelapa yang
dipanaskan. Pengobatan pada kambing yang cacingan dilakukan dengan
beberapa cara antara lain diberi obat cacing jenis Albendazole sebanyak 5
ml secara oral obat cacing verm-O dan yang disuntikan di bawah kulit
atau diberi pelet buah pinang (jambe) tua.
Pengobatan untuk kambing yang terserang kembung dengan cara
memberikan minyak kelapa atau minyak kacang ± 100 ml, menekan perut
yang kembung atau menusuknya antara tulang rusuk dan tulang panggul,
mulut ternak diusahakan tetap terbuka dan ternak dalam posisi berdiri.
Ternak disuntik dengan antibiotika 3 ml dan diberi permethyl 3%, atau
minuman bersoda ± 200 ml. Pengobatan untuk kambing yang terkena
penyakit mata dilakukan dengan cara menetesi mata dengan obat tetes
mata atau dengan disemprotkan air garam ke mata ternak secara rutin,
bila sudah kronis diberi obat mata Sofradex.
1.Manajemen Reproduksi
Perkawinan kambing Peranakan Etawa di peternakan Bumiku
Hijau dilakukan secara alami di kandang Condongcatur, Sleman
Yogyakarta.. Tujuan dilakukan perkawinan adalah untuk menghasilkan
bibit unggul baik untuk pejantan pemacek maupun betina produsen susu.
Untuk mendapatkan bibit anakan Kambing Peranakan Etawa yang baik
maka indukan juga dipilih indukan yang baik.
Kambing Peranakan Etawa yang dijadikan indukan di Bumiku
Hijau memiliki karakteristik sebagai berikut: untuk betina mempunyai
tubuh kompak, dada dalam dan lebar, garis punggung dan pinggang lurus,
tubuh besar, tapi tidak terlalu gemuk, Jinak dan sorot matanya ramah, kaki
lurus dan tumit tinggi, gigi lengkap, mampu merumput dengan baik
(efisien), rahang atas dan bawah rata. dari keturunan kembar atau
dilahirkan tunggal tapi dari induk yang muda dan ambing simetris, tidak
menggantung dan berputing 2 buah. Sedangkan untuk pejantan memiliki
karakteristik seperti tubuh besar dan panjang dengan bagian belakang lebih
besar dan lebih tinggi, dada lebar, tidak terlalu gemuk, gagah, aktif dan
memiliki libido (nafsu kawin) tinggi, Kaki lurus dan kuat, dari keturunan
beranak kembar dua, dan berumur antara 1,5 sampai 3 tahun.
Perkawinan dalam suatu peternakan kambing Peranakan Etawa
sangat penting baik untuk peremajaan maupun untuk menjaga produksi
susu. Keberhasilan perkawinan sangat ditentukan oleh beberapa faktor
antara lain pemilihan bibit sejak awal, baik jantan maupun betina,
manajeman pengelolaan, control organ reproduksi dan aspek yang terkait
dengan organ ini , serta proses perkawinan
Fisiologi Reproduksi erat kaitannya tentang bahasan siklus
reproduksi. Siklus Reproduksi berhubungan dengan beragam fenomena
yang meliputi pubertas, siklus estrus, dan perubahan organ seksual post
partus. Komponen ini dipengaruhi oleh lingkungan, genetik,
mekanisme hormon, tingkah laku, serta faktor-faktor fisik dan psikis
a. Pubertas
Usia pubertas adalah usia siap kawin meliputi dewasa kelamin
dan dewasa tubuh. Kambing Peranakan Etawa di peternakan Bumiku
Hijau dikawinkan pertama kali pada umur 1,8 tahun (pejantan) dan
umur 1 tahun (betina), hal ini bertujuan agar angka kelahiran besar
dan keselamatan anak kambing dapat diperkecil. Mengawinkan
kambing peranakan Etawa pada umur ini kambing betina mulai dewasa pada umur
6-8 tahun . pada umur ini kambing sudah bisa dikawinkan .
namun, untuk kambing Peranakan Etawa perkawinan pada umur
ini harus dihindari sebab alat reproduksinya belum
sempurna.sebaiknya masa perkawinan ditangguhkan hingga mencapai
umur 15-18 bulan.
Umur kambing dapat diketahui dari catatan kelahiran atau
dengan cara menafsirnya. Di kandang pembibitan umur kambing
dewasa pada bulan Februari 2012 tidak dapat ditentukan dengan pasti
sebab catatan perkawinan dan kelahiran tidak dilakukan lagi sejak
tahun 2009, sehingga untuk menetukan umur kambing dengan cara
melihat kondisi gigi kambing ini .,
menyatakan bahwa cara mendeteksi umur pada kambing salah satunya
dengan melihat pertumbuhan gigi seri susu menjadi gigi seri tetap.
Gigi seri tetap dapat dilihat lebih besar dan kokoh dibanding gigi seri
susu yang relatih kecil dan terlihat kusam. Selain itu perbedaannya
dapat dilihat dari tingkat keausan gigi-gigi seri ini . Umur
kambing kurang dari 1 tahun jika gigi seri sudah tumbuh semua
sedangkan kambing Peranakan Etawa yang berumur 1-2 tahun 2 gigi
seri susunya sudah berganti menjadi gigi tetap
b. Siklus Birahi
Siklus birahi sangat penting untuk dipahami agar keberhasilan
perkawinan dapat dicapai. Kambing Peranakan Etawa Bumiku Hijau
tidak mencampur kambing betina dengan kambing jantan atau tidak
dalam satu kandang, namun tetap dalam satu lokasi perkandangan. hal
ini dilakukan agar terjaga kondisi siklus perkawinan kambing dengan
baik.
Kambing Peranakan di Bumiku Hijau akan dikawinkan jika
sudah terlihat tanda-tanda birahi. Deteksi birahi dilakukan oleh
peternak, namun untuk mendeteksi kambing yang birahi dan mau
dikawini dilakukan langsung oleh kambing pejantan. Peternak
mendeteksi kambing birahi dengan melihat tanda-tanda secara kasat
mata yaitu dengan mellihat tingkah laku kambing sedangakan deteksi
birahi yang dilakukan oleh kambing pejantan melalui naluri. Kambing
pejantan akan mengendus-endus atau mencium bau dari alat kelamin
kambing betina selanjutnya kambing pejantan mencoba menaiki
kambing betina jika telah ditemukan kambing betina yang sedang
birahi.
Tanda-tanda birahi pada kambing betina di kandang pembibitan
peternakan Bumiku Hijau
yaitu Kambing Peranakan Etawa yang sudah dewasa dan siap kawin
selalu menunjukan tanda-tanda birahi, yaitu sering mengembiik tanpa
sebab, menggosok-gosokan tubuh pada dinding kandang atau kayu,
gelisah, nafsu makanya berkurang, ekornya dikibas-kibaskan, bibir
kemaluan agak membengkak, selaput kemaluan bagian dalam agak
kemerah-merahan, dan keluar lender yang jernih. Masa birahi
berlangsung selama 16-20 jam dan berulang setiap tiga minggu
c. Perkawinan
Pola perkawinan dalam produksi kambing dapat dilakukan
melalui dua pendekatan yaitu pendekatan perkawian secara individual
dan perkawinan dengan pendekatan kelompok. Di kandang pembibitan
Bumiku Hijau pola perkawinan dilakukan dengan teknik perkawinan
alami secara kelompok artinya pejantan terpilih dicampur dengan
beberapa kambing betina dalam waktu tertentu. Pejantan terpilih akan
menemukan kambing betina yang telah birahi atau siap kawin
kemudian terjadi perkawinan.
menyatakan perkawinan. alami yaitu mempertemukan kambing
pejantan dengan kambing betina tanpa bantuan alat untuk memasukan
sel sperma ke posisi yang tepat pada bagian dalam organ kelamin
kambing betina (vagina) .
Kambing pejantan terpilih dicampur dengan kelompok
kambing betina setelah semua kambing betina dikeluarkan dari
kandang ke halaman perkandangan yang tersedia hijauan atau rumput.
Hal ini dilakukan pada pagi hari pada pukul 07.00 WIB hingga pukul
10.00 WIB setelah itu pejantan dikembalikan ke dalam kandang.
Pencampuran kambing ini dilakukan hingga kambing betina bunting
ditandai dengan kambing betina yang telah dikawini tidak mau
melakukan perkawinan lagi. menyatakan bahwa r asio antara jantan dan
betina dalam perkawinan alami adalah 1:10 sampai 1:50 ekor, bahkan
dengan manajemen perkawinan yang baik, jumlah betina dapat
ditambah. Mencampurkan kambing pejantan terpilih dilakukan setelah
peternak melihat ada tanda-tanda kambing betina birahi. Cara ini
dianggap efektif dan efisien sebab pejantan akan berpetualang
mencari sendiri betina mana yang siap dan mau dikawini atau bisa
dikatakan pejantan akan menemukan betina yang sedang birahi dengan
cara mengendus-endus vagina kambing betina serta mencumbunya.
Kambing betina yang sedang birahi menunjukan tanda yang khas dan
akan menarik perhatian pejantan sehingga memungkinkan perkawinan
pada waktu yang tepat.
Kambing betina yang dikawinkan selain kambing milik sendiri
juga ada kambing betina dari peternak lain yang dikawinkan dengan
pejantan di Bumiku Hijau sebab kambing pejantan ini memiliki
genetik baik dari induk beranak kembar dua juga tergolong bibit
unggul, sehingga jika kambing betina mereka dikawintan dengan
kambing pejantan ini diharapkan hasil anakanya mempunyai
krakteristik yang baik pula..
d. Kebuntingan
Parameter perkawinan kambing yang berhasil adalah ternak
tidak lagi mengalami birahi pada siklus birahi selanjutnya, yang
artinya sel sperma jantan telah berhasil membuahi sel telur (ovum)
yang telah diovulasikan dan hasilnya kebuntingan. Kambing
Peranakan Etawa betina yang sudah dikawinkan tidak akan mengalami
birahi lagi jika kambing ini sudah bunting.
Kambing Peranakan Etawa di Bumiku Hijau yang telah
dikawinkan, dua bulan kemudian dilakukan seleksi kebuntingan.
Tujuannya untuk memisahkan antara kambing Peranakan Etawa yang
bunting dengan yang tidak. Test kebuntingan dilakukan dengan cara
melihat tanda-tanda kebuntingan, menurut Kusuma, (2012) tanda-
tanda kebuntingan antara lain semakin membesarnya perut bagian
kanan, mulai terjadi pembesaran pada ambing, seringnya kambing
menggesek-gesekkan ke dinding kandang dan kambing terlihat lebih
tenang. Saat usia kebuntingan 1-3 bulan, jika ambing di perah secara
pelan-pelan, akan mengeluarkan cairan bening kental dan agak
lengket, dan pada umur kehamilan yang lebih tua berubah menjadi
warna kuning transparan.
Masa kebuntingan kambing berlangsung selama 5 bulan (150
hari). Secara kasat mata kambing akan terlihat bunting pada saat umur
kebuntingan delapan minggu terakhir ditandai dengan perut dan
ambing yang membesar. Kambing Peranakan Etawa di peternakan
Bumiku Hijau yang sedang bunting ditempatkan di kandang yang
terpisah untuk menghindari gangguan dari kambing yang lain atau
menghindari perkelahian antar sesama kambing. Besar kandang
kambing bunting 2 kali lebih besar dari kandang laktasi tujuanya agar
kambing dapat leluasa bergerak supaya kondisi tubuh tetap sehat, segar
dan kuat. Kambing bunting setiap pagi hari dikeluarkan dari kandang
dan dibiarkan berjalan-jalan minimal 1 jam setiap harinya, hal ini
dilakukan agar proses kelahiran dapat berjalan lancar nantinya serta
akan mendapat cukup sinar matahari pagi.
Kambing Peranakan Etawa yang sedang bunting membutuhkan
perawatan dan pakan yang lebih baik agar cempe yang dikandungnya
dapat tumbuh sehat , diberi pakan yang lebih banyak dan berkualitas
untuk mendukung seluruh proses di dalam tubuhnya. Selain hijauan
dan konsentrat pakan yang diberikan kambing yang sedang bunting
adalah kacang hijau dan kedelai yang direbus. Selama proses
kebuntingan, induk mendapatkanh tambahan kalsium, sehinga
kebutuhan kalsium dalam tubuh kambing maupun anak kambing yang
dikandungnya akan tercukupi kalsiumnya.
e. Kelahiran
Anak kambing akan lahir setelah 150 hari berada di dalam
perut induknya (kamb ing bunting) . Proses kelahiran akan berlangsung
baik jika induk kambing dalam kondisi baik (sehat dan tidak terlalu
gemuk). B eberapa hal yang disiapkan apabila hari perkiraan lahir
(HPL) pada kambing sudah dekat, diantaranya, handuk/kain kering,
betadine, dan lampu ( dipakai kalau kelahiran diperkirakan malam
hari). HPL kambing biasanya ditentukan 150 hari setelah kambing itu
dikawinkan.
Sarwono (2011), menyatakan Kambing yang akan beranak,
secara fisik dapat diketahui dari bentuk ambing dan puting susu yang
terisi penuh. Alat kelamin luar ( vulva ) membengkak, berwarna merah,
dan berlendir, kambing terlihat gelisah, dan nafsu makan yang
menurun. Jika kondisi itu telihat, maka kambing akan dipersiapkan
untuk proses kelahiran dengan memberi alas berupa kain atau jerami
(yang dapat menyerap cairan) .
Proses kelahiran di peternakan Bumiku Hijau berlangsung
lancar, hal ini disebabkan sebab selain kondisi induk sehat dan tidak
terlalu gemuk juga posisi anak yang dikandung normal. Posisi normal
anak dalam kandungan ada dua macam, yaitu posisi interior dan
posterior. Posisi interior adalah dimana posisi satu atau dua kaki depan
berada dalam saluran peranakan. Sedangkan posisi posterior adalah
posisi dimana kedua kaki belakang berada dalam saluran peranakan
Anak kambing diangkat dan disisihkan dari induknya setelah,
untuk menghindari cempe terinjak oleh induknya. Cempe yang baru
lahir diseka dengan handuk atau kain kering, terutama pada bagian
muka/hidung. Hal ini menjadi prioritas utama, sebab anak kambing
yang baru saja keluar biasanya hidungnya terganggu/tertutup oleh
lendir, yang apabila tidak segera dihilangkan lendirnya bisa
menganggu atau mempersulit cempe untuk bernafas.
Cempe yang sudah dalam posisi kering, cempe dibantu untuk
mendapatkan susu pertamanya ( colostrum). Cempe dibantu untuk
menyusu ke induknya, sebab cempe kesulitan dalam mencari puting
susu induk pada awal-awal menyusu. Susu adalah makanan utama bagi
cempe. Susu diberikan melalui dot bayi, Cempe tidak diberi susu lagi
(disapih) setelah umur 2 bulan.
Anakan kambing atau cempe yang masih kecil (umur 1 -2
bulan) ditempatkan diruangan khusus (semacam incubator pada bayi
manusia) , kotak yang diberi alas jerami dan diberi lampu 65 watt
supaya anak kambing yang baru lahir hangat. Penempatan kotak ini
tidak terlalu jauh dari induk kambing, agar induk dengan mudah
mengawasi anaknya.
Pemisahan induk dengan cempe akan dapat merangsang induk
untuk menghasilkan susu secara maksimal dan akan lebih cepat
mengalami birahi artinya kambing betina akan cepat dikawinkan lagi.
Cempe dipisah dari induknya pada saat umur 2-3 bulan lebih, namun
di peternakan Bumiku Hijau cempe yang baru lahir lansung terjual
atau sudah pesana, sangat jarang cempe dipelihara kecuali kalau dilihat
cempe ini memiliki postur bagus dan berasal dari indukan yang
unggul.
Pakan yang diberikan ke induk berupa ampas tahu yang sangat
membantu induk dalam pemenuhan protein dalam tubuh induk. sebab
rasanya yang manis. Pemberian ampas tahu juga dapat dikombinasikan
dengan bahan yang lain seperti bekatul atau ampas gandum. Campuran
antara ampas tahu dan konsentrat cepat memulihkan tenaga.
f. Kidding Interval
Kidding Interval merupakan panjang pendek waktu antara satu
kelahiran dengan kelahiran berikutnya yaitu dengan cara menentukan
waktu kawin, lama bunting, waktu beranak, lama laktasi, lama kering
dan waktu dikawinkan kembali. Kidding interval dipengaruhi oleh
cepat lambatnya kambing dikawinkan dan penanganan peternak
didalam mengantisipasi dan memberikan waktu saat perkawinan
terjadi atau yang disebut servicee periode. Untuk dapat melakukan
service periode yang efektif, perkawinan kambing Peranakan Etawa
dilakukan pada waktu yang tepat, birahi yang tepat sehingga akan
terjadi kebuntingan ,
Di peternakan Bumiku Hijau pada kandang Condongcatur
kambing betina bunting selama 150 hari atau 5 bulan, kemudian
kambing betina beranak. Kambing betina akan menghasilkan susu
setelah beranak hingga dua bulan menjelang kelahiran berikutnya,
masa ini disebut dengan masa laktasi, di Bumiku Hijau ditentukan
selama 5 bulan. Induk kambing dikawinkan kembali 3 bulan setelah
kambing betina beranak (3 bulan pertama masa laktasi) , setelah
kambing betina bunting, dua bulan sebelum melahirkan dihentikan
produksi susunya ( masa kering), hal ini bertujuan untuk membantu
proses pemulihan ambing dan organ lain yang mendukung dalam
produksi susu.
Selang waktu perkawinan sangat berpengaruh pada kesehatan
kambing ini . Jika jarak waktu perkawinan terlalu pendek maka
akibatnya kambing betina akan lemas dan menjadi lemah akibatnya
hasil produksi menurun atau rendah, hal ini disebabkan sebab kondisi
alat reproduksi kambing betina belum sepenuhnya pulih. Hal ini sangat
jelas mempengaruhi kesiapan organ reproduksi betina di dalam
merekondisikan ke posisi yang normal. Namun jika jarak waktu
perkawinan terlalu panjang beresiko kering kandang yang lama
(
1. Peternakan Bumiku Hijau memilih kambing Peranakan Etawa sebagai
pejantan pemacek dengan cara seleksi berdasar uji tilik ternak atas
performa dan informasi mengenai silsilah kambing ini . Pejantan
pemacek diperoleh dari anakan hasil induk unggul yang mempunyai
genetik kuat dengan ciri warna bulu hitam di bagian leher sampai kepala,
agresif dan mempunyai catatan menghasilkan anak 2 dalam satu kali
kelahiran, sedangkan untuk memilih kambing Peranakan Etawa sebagai
produksi susu dilakukan dengan cara melihat penampilanya yang tidak
jauh beda dengan pejantan pemacek, selain itu dilihat dari ambing yang
besar, normal dan simetris
2. Kandang pembibitan di peternakan Bumiku Hijau berbentuk panggung,
terbuat dari papan kayu dengan atap genting, dinding dan lantai kandang
dibuat bercelah. Ada dua jenis kandang yaitu kandang tunggal dan
kandang koloni. Kandang tunggal didisi satu ekor kambing, jumlah 20
kandang tunggal berisi 5 kambing jantan dan 12 kambing betina, jadi
ada 3 kandang tunggal yang kosong. Kandang koloni berjumlah tiga
kandang, satu kandang berisi 5 ekor cempe dan 2 kandang lain kosong.
Ukuran. Kandang tunggal mempunyai 2 ukuran yaitu untuk betina dan
pejantan yaitu untuk kambing betina : panjang 150 cm, lebar 125cm dan
tinggi 125 cm dan untuk kambing pejantan : panjang dan lebar 200 cm
dengan tinggi 125 cm. Kandang koloni di kandang pembibitan ada dua
ukuran, ukuran yang pertama panjang 150 cm, lebar 250 cm dan tinggi 125
cm
3. Pakan yang diberikan pada kambing di kandang pembibitan adalah hijauan
dan konsentrat. Pakan hijauan berupa hijauan rambanan, diberikan ke
ternak tidak menentu sebab didapat dari petugas Perusahaan Listrik
Negara (PLN ) yang bertugas menebang ranting pohon yang berada di
pinggir jalan, pada Februari 2012 rambanan yang diberikan berupa daun
nangka, daun waru dadan daun mangga. Konsentrat yang diberikan pada
ternak tidak tentu kadang pollard, kadang ampas tahu dan kadang
keduanya, tergantung ketersediaan yang ada. Pakan untuk cempe diberikan
campuran susu sapi dengan pollard dengan tambahan air. Pakan
konsentrat diberikan sehari sekali yaitu paa pukul 14.00 WIB sebanyak 1
kg/ekor/hari sedangkan pakan hijauan diberikan sec ara terus menerus.
4. Cara pengendalian penyakit dilakukan dengan sanitasi kandang dan
lingkungan serta biosecurity. Sanitasi dilakukan terutama pada lantai dan
kolong kandang yang biasanya ada kotoran yang bercampur urine
sebab dapat menjadi tempat sumber penyakit. Biosecurity dilaksanakan
dengan cara pembersihan perkandangan setiap hari, memberi desinfektan
pada kandang yang berisi ternak yang sakit dan pembersihan ternak
dengan cara memandikanya pada saat masuk dan keluar perkandangan
serta dua minggu sekali dalam perawatannya..
5. Kambing Peranakan Etawa di peternakan Bumiku Hijau di kawinkan
secara alami dengan pendekatan kelompok, dilakukan pada pagi hari dari
jam 07.00 – 10.00 WIB. Umur perkawinan pertama adalah 1,8 tahun pada
kambing jantan dan umur 1 tahun pada kambing betina, masa birahi
kambing betina selama 16-20 jam dengan siklus 3 minggu. Umur
kebuntingan ditentukan selama 150 hari ( 5 bulan). Jarak kelahiran satu
dengan kelahiran berikutnya adalah 9 bulan dan jarak antar perkawinan
adalah 3 bulan.