peternakan 2
7.151 79.708 82.329
Sumatera
Selatan 32.458 33.320 27.752 32.031 34.221
Bengkulu 4.716 5.102 4.947 4.652 4.713
Lampung 88.647 88.873 89.005 70.936 73.194
Kep. Bangka
Belitung 94 115 119 71 73
Kep. Riau - - - - -
Dki Jakarta 929 1.450 1.174 2.211 2.322
Jawa Barat 7.041.437 8.249.844 9.391.590 10.612.726 10.826.494
Jawa Tengah 2.226.709 2.429.132 2.458.303 2.395.671 2.458.619
Di Yogyakarta 147.773 151.772 156.860 166.567 176.005
Jawa Timur 942.915 1.088.602 1.185.472 1.221.758 1.242.526
Banten 626.114 612.583 637.218 657.674 738.937
Bali 3 8 38 - -
Nusa Tenggara
Barat 37.500 37.876 31.160 24.758 26.303
Nusa Tenggara
Timur 62.350 63.109 63.877 64.645 65.378
Kalimantan
Barat 314 236 227 109 114
Kalimantan
Tengah 1.795 1.884 2.341 2.004 2.259
Kalimantan
Selatan 3.692 3.755 2.393 2.282 3.054
Kalimantan
Timur 379 430 273 239 241
Kalimantan
Utara - - - 66 69
Sulawesi Utara - - - - -
Sulawesi
Tengah 8.656 7.354 7.736 8.164 8.740
Sulawesi
Selatan 397 468 530 596 623
Sulawesi
Tenggara 165 73 22 9 -
Gorontalo - - - - -
Sulawesi Barat - - - - -
Maluku 21.554 23.095 24.747 9.682 10.086
Maluku Utara - - - - -
Papua Barat - - 48 187 206
Papua 28 20 11 14 18
Indonesia 11.790.612 13.420.440 14.925.898 16.091.838 16.509.331
Kebiasaan Hidup Kambing/Domba
Kambing umumnya lebih selektif dalam memilih pakan jika dibandingkan dengan
ternak ruminansia besar (Malechek and Provenza, 1981). Menurut Milne (1991) Saat
merumput kambing akan beindah pindah sehingga menemukan rumput yang baik, kegiatan
mermuput aktif di pagi dan berkurang pada siang hari dan meningkat kembali sore menjelang
malam hari. Musim mempengaruhi intensitas makan pada kambing, dimana kambing akan
makan lebih banyak pada musim panas dan musim dingin daripada pada musim semi (Alados
and Escós, 1987). Ternak menghabiskan waktu istirahat dengan berbaring dan ruminasi
(memamah biak). Pada musim kemarau ternak muda seringkali mengikuti ternak dewasa
untuk memperoleh sumber air dan makanan kambing mempunyai sifat ingin tahu dan lebih
mandiri dibandingkan domba yang lebih memilih berkelompok serta lebih menyukai
leguminosa dibandingkan domba yang lebih menyukai rumput.
Kebutuhan Pakan dan Nutrisi
Pakan adalah semua bahan yang dapat dikonsumsi oleh ternak, dapat dicerna, dan
dimanfaatkan serta mengandung nutrisi yang dibutuhkan oleh ternak untuk kebutuhan
hidupnya, produksi, dan reproduksi (McDonald et al., 2010). Kebutuhan pakan pada ternak
berbeda-beda tergantung pada berbagai faktor, diantaranya adalah jenis ternak, umur, tahap
pertumbuhan, kondisi fisiologis, lingkungan serta bobot badan (Tomaszewska et al., 1993).
Kebutuhan nutrisi Kambing dan domba berdasar bobot badan terdapat pada tabel 4 dan
Tabel Kebutuhan nutrisi/Kg produksi susu tercantum pada tabel 6.4
Tabel 6.4. Kebutuhan nutrisi kambing dan domba
Bobot badan
ME (MJ/kg Bahan Kering) Digestible Crude Protein
Intensif Ekstensif Maintaince Bunting
10 2,32 3,25 15 30
20 3,91 5,47 26 50
30 5,3 7,42 35 67
40 6,58 9,21 43 83
50 7,78 10,89 51 99
60 8,92 12,49 59 113
Devendra (1982), NRC (1981)
Tabel 6.5. Kebutuhan nutrisi/Kg produksi susu
Fat content ME
DCP (g) Ca (g) P (g)
of milk (%) (MJ)
3,5 4,5 47 0,8 0,7
4,5 5,5 59 0,9 0,7
5,5 5,7 73 1,1 0,7
Devendra (1982), NRC (1981)
Pakan Ternak Kambing dan Domba
Kambing dan domba merupakan ternak ruminansia kecil sehingga membutuhkan
pakan yang terdiri dari pakan sumber serat yaitu hijauan dan pakan penguat berupa
konsentrat. Hijauan merupakan sumber pakan bulk atau pengenyang sekaligu sumber nutrisi
untuk ternak ruminansia (Devendra dan Burns, 1983). berdasar kandungan nutrisinya
bahan pakan dibedakan menjadi lima yaitu (Jurgens, 1974 dalam Utomo, 2012):
a. bahan pakan berserat sumber energi (carbonaceous roughages) yang mengandung
serat kasar >18% dan mengandung protein rendah, seperti rumput, limbah pertanian
dan perkebunan; Bahan pakan berotein rendah, ber-SK tinggi, kebanyakan berasal dari
sisa tanaman pertanian pangan (jerami).
b. Bahan pakan berserat sumber protein (proteinaceous roughages) yang merupakan
bahan pakan berserat tetapi berotein tinggi, umumnya berasal dari tanaman
leguminosa, limbah pertanian dan perkebunan.
c. Bahan pakan konsentrat sumber energi (carbonaceous concentrates) yang merupakan
bahan pakan sumber energi yang mengandung protein rendah. Bahan pakan ini
kebanyakan berasal dari biji-bijian dan hasil ikutan industri pertanian.
d. Bahan pakan konsentrat sumber protein (proteinaceous concentrates) yang merupakan
bahan pakan berotein tinggi dapat berasal dari tanaman dengan kandungan serat kasar
<18% dan dapat pula berasal dari hewan dan ikan.
e. Bahan pakan tambahan (additive materials) yang merupakan nahan ini dapat berupa
nutrien maupun bukan.
Menurut Sirait el al. (2010) Terdapat berbagai jenis rumput-rumputan yang disukai
oleh ternak kambing dan cocok untuk ternak kambing diantaranya rumput Axonopus
compressus (rumput pahit), Cynodon dactylon (rumput kawat), Ottocloanodusa, Brachiaria
ruziziensis, Brachiaria humidicola, Paspalum guonearum, Paspalum ateratum dan
Stenotaphrum secundatum. Sementara untuk jenis leguminosa terdiri dari leguminosa
merambat dan leguminosa pohon, beberapa jenis yang disukai dan cocok untuk ternak
kambing diantaranya adalah Stylosanthes guianensi, Gliricidia sepium (sengon), Leucaeca
leucochepala (lamtoro), Calliandra callothyrsus (Kaliandra) dan Indigofera sp.
Reproduksi Kambing/Domba
Menurut Dinas Peternakan kambing/ domba telah dewasa kelamin dapat dikawinkan.
Agar kambing/ domba bisa beranak minimal 3 (tiga) kali dalam dua tahun, Hal-hal yang harus
diperhatikan dalam mengatur perkawinan adalah umur birahi, umur kawin, bobot badan, lama
birahi dan iklus birahi. Umur birahi, umur kawin dan siklus birahi tercantum pada Tabel 6.
Tabel 6. Umur birahi, umur kawin dan siklus birahi pada kambing/domba
Kambing/domba Umur (bulan)
Umur birahi 6 – 10
umur kawin 10 – 12
bobot badan 55 – 60 (Kg)
Lama birahi 24 – 45 jam
Siklu birahi 17 – 21 hari
Tanda-tanda birahi pada kambing/domba adalah alat kelamin betina (Vulva) berwanra
meran (Abang), membengkak (Abu) dan hangat (Anget), ternak gelisah, nafsu makan dan
minum menurun, ekor sering dikibaskan, sering kencing, dan mau/diam bila dinaiki. Ratio
perkawinan antara jantan dan betina = 1 : 10 dengan masa bunting 144 - 156 hari (± 5 bulan),
melahirkan, penyapihan dan istirahat ± 2 bulan.
Tujuan Produksi Ternak Kambing/Domba
Menurut Devendra, (1983) secara umum ternak kambing dan domba bertujuan untuk
a. Menghasilkan Protein hewani
Protein hewani yang dihasilkan dari ternak kambung dan domba berupa daging dan
susu. Susu kambing memiliki komposisi yang berbeda-beda bergantung pada jenis
kambing, kondisi lingkungan, serta kualitas pakan yang diberikan. Susu kambing
mengandung lemak 2,64%-7,78% dan protein berkisar 2,79-5,8%.
b. Produksi kulit dan bulu, selain dimanfaatkan daging dan susunya kulit kambing dan
domba serta bulu pada domba dapat dimanfaatkan untuk pembuatan sepatu, tas, jaket,
kaet dll.
c. Manfaat ekonomi sebagai penghasilan utama warga
d. Tabungan dimana ternak kambing mudah dipelihara, dan dapat dijual ketika
dibutuhkan.
Tata Laksana Pemeliharaan
Dalam kegiatan pemeliharaan hal yang penting di perhatikan adalah kandang.
Kandang berfungsi untuk melindungi ternak dari cuaca, dari hewan-hewan pemangsa dan
hewan pengganggu, mempermudah pengawasan serta untuk mempermudah penanganan
ternak.
Ukuran kandang ternak kambing dan domba, berbeda-beda berdasar status
fisiologisnya, ukuran kandang ternak kambing dan domba tercantum pada tabel 6.7.
Tabel 6.7. Ukuran kandang ternak kambing/domba
Status Fisiologis Ukuran Kandang (m)
Kandang induk 1x1,25
Kandang pejantan 1,1x1,25
Kandang anak 1x1,25
Kandang beranak 1,2x1,2
Kandang kambing/domba sering kali dibuat dalam bentuk panggung untuk
memudahkan penanganan kotorannya serta menjaga kondisi kandang tetap bersih karena
kotoran yang langsung jatuh melalui sela kandang. Hal yang harus diperhatikan adalah ukuran
sela pada kandang induk beranak, karena kaki anak kambing dapat teerosok kedalam sela-sela
kandng sehingga melukai ternak.
Menurut Kementerian Pertanian Direktorat Jenderal Peternakan Dan Kesehatan
Hewan Pemeliharaan ternak kambing domba dilakukan ternak dengan kondisi fisiologis
berbeda yaitu:
1. Prasapih (umur kurang 12 minggu)
a. umur < minggu anak harus mendapatkan air susu induk terutama kolostrum serta
ditempatkan dalam kandang yang diberi alas agar anak kambing/domba merasa
nyaman dan tidak kedinginan;
b. diberi susu pengganti apabila tidak mendapatkan susu dari induknya;
c. mulai di beri pakan halus umur 3 - 8 minggu; dan
d. pengenalanan hijauan pakan umur > 8 minggu.
2. Pascasapih ( > 12 minggu)
a. penyapihan dilakukan pada umur 12 minggu (3 bulan);
b. pemberian air minum untuk menghindari stres; dan
c. pakan yang diberikan berupa hijuan dan sedikit konsentrat.
3. Kambing dan Domba Muda
a. pengelompokan dan pemisahan berdasar jenis kelamin, umur, dan/atau sifat-
sifat tertentu;
b. pakan yang diberikan berupa hijauan dan konsentrat dalam jumlah dan mutu yang
memenuhi standar;
c. pemberian air minum yang cukup;
d. secara rutin dilakukan perawatan bulu, kulit, dan kuku; dan
e. vaksinasi atau pemberian obat cacing secara rutin.
4. Kambing dan Domba Dewasa
a. Induk Kering
1) Pemberian pakan ekstra dilakukan minimum satu minggu sebelum dan sesudah
dikawinkan; dan
2) dilakukan pengaturan perkawinan.
b. Induk Bunting
1) pemberian pakan dengan peningkatan mutu minimum sepertiga terakhir
kebuntingan;
2) ketersediaan air minum yang cukup; dan
3) ketersediaan tempat beranak yang nyaman.
c. Induk Laktasi
1) kualitas pakan disesuaikan dengan banyaknya anak yang dilahirkan;
2) pengaturan pemberian air susu apabila beranak lebih dari dua ekor
3) diberikan minum yang cukup; dan
4) pemeliharaan induk dan anak dipisah untuk induk yang diperah.
d. Pejantan
1) diberikan pakan ekstra pada saat sebelum dan sesudah dikawinkan; dan
2) pemeliharaan dilakukan secara individu.
6.2. Jenis Dan Karakeristik Ternak Kambing Dan Domba
Bangsa-bangsa kambing perah sub-tropis (Budi et al. 2006)
1. 1. Anglo Nubian
Kambing Anglo Nubian berasal dari Afrika, ciri-ciri Kambing Anglo Nubian:
a. Ukuran kambing besar, Kaki Panjang dengan kulit yang baik dan bulu mengkilap,
telinga panjang dan menggantung
b. Bentuk wajah cembung, tidak bertanduk
c. Warna bulunya sangat bervariasi. kambing Anglo Nubian merupakan kambing dual
puose (daging dan susu)
d. Tipe kambing dwiguna (Penghasil susu dan daging)
1. 2. Toggenburg
Kambing Teggenburg berasal dari lembah Toggenburg. Ciri-cirinya:
a. Warna bulu coklat muda sampai coklat tua/gelap.
b. Telinga berwarna putih dengan spot hitam pada bagian tengahnya
c. Terdapat dua garis putih dari sebelah atas mata sampai pada bagian mulut
d. Kaki berwarna putih pada bagian dalam, kemudian mulai dari lutut kaki depan dan
kaki belakang sampai pada bagian bawah kaki (feet) seluruhnya berwarna putih. Pada
bagian belakang disebelah kiri-kanan pangkal ekor terdapat wama putih berbentuk
segitiga. Juga warna putih di kedua cuping telinganya atau di areal cuping telinga
apabila cuping telinganya tidak ada. Tidak dikehendaki adanya warna hitam atau
bercak putih selain yang spesifik tersebut. Kepala kambing Toggenburg mempunyai
ukuran sedang (medium size) dan garis profilnya sedikit konkav (cekung). Telinganya
berdiri dan mengarah ke depan. Kambing ini tampaknya palingtidak berhasil untuk
diternakkan di daerah tropis. Dibandingkan dengan Saanen, British Alpine dan Anglo-
Nubian kambing ini merupakan yang pertama kali dikeluarkan / tidak dipakai lagi di
Malaysia Kambing Dewasa jantan dan betina masing-masing mempunyai tinggi
gumba dan berat badan 33 inchi; 160 Ibs dan 27 inchi; 125 Ibs.
1. 3. Saanen
Kambing Saanen asli berasal dari Swiss bagian Barat memiliki persistensi
produksinya yang baik.ciri-ciri:
a. Warna kambing Saanen putih atau sedikit cream, tetapi warna putih yang paling
disenangi.
b. Tidak boleh ada warna / bercak hitam pada bulunya tetapi boleh ada pada kulitnya
saja.
c. Garis profil mukanya lurus atau sedikit cekung, daun telinga berdiri dan mengarah ke
depan. Ukuran tinggi gumba
d. kambing jantan 35 inchi dan 185 Ibs sedangkan yang betina 30 inchi dan 135 Ibs.
1.4. Nubian
Kambing Nubian merupakan satu-satunya kambing Afrika yang khusus dipakai
sebagai kambing perah. Ciri-ciri kambing nubian:
a. ambingnya dapat berkembang dengan sangat baik
b. Kambing Nubian besar, kakinya panjang mempunyai daun telinga panjang dan
menggantung
c. profil mukanya Roman nose, terutama pada yang jantan. Tinggi gumba dan bobot
badan kambing jantan dewasa 35 inchi dan 175 Ibs sedangkan kambing betina dewasa
30 inchi dan 135 Ibs. Pada beberapa strain baik yang jantan maupun betina kambing
ini bertanduk tetapi ada juga strain yang tidak bertanduk. Warna bulu pada umumnya
hitam, coklat dan bulunya panjang. Produksi susu 1 - 2 kg per hari atau 120 - 140 kg
per tahun dalam dua kali laktasi.
1. 5. French Alpine
Kambing French Alpine berasal dari pegunungan Alpine di Perancis (France) ciri-ciri:
a. Warna kambing putih, coklat, hitam dan kombinasi dari macam-macam warna
b. Baik kambing jantan maupun betina memiliki bulu-bulu yang pendek, tetapi yang
jantan mempunyai bulu-bulu yang panjang dan kasar pada bagian punggung
c. Telinganya berukuran sedang, halus dan berdiri. Kambing betina dewasa mempunyai
ukuran tinggi gumba 29 - 36 inchi
d. bobot badan 125 Ibs, sedangkan yang jantan dewasa mempunyai tinggi gumba 34 - 40
inchi dengan berat badan 170 Ibs. Kambing betina merupakan excellent milker,
mempunyai ambing yang besar dan bentuknya bagus dengan puting yang ideal.
1. 6. British Alpine
British Alpine berasal dari Swiss dan pegunungan Alpine Austria. Kambing ini
mempunyai daya aklimatisasi lebih baik dari pada kambing Saanen. Di India Barat pernah
tercatat produksi lebih dari 4,5 kg per hari pada laktasi ke dua dan tiga. tetapi di Malaysia dan
Mauritius pengembangan kambing ini gagal antara lain karena kelembaban yang tinggi.
Bangsa-bangsa kambing perah tropis (Budi et al. 2006)
2. 1. Etawah / Jamnapari
Jamnapari atau Etawah merupakan kambing perah (susu) di India, Asia Tenggara dan di
daerah-daerah lain. Jamnapari merupakan kambing perah yang baik (excellent) dan juga
sering dipakai sebagai produsen daging.
a. Telinga terkulai
b. Warna bulunya bervariasi dengan warna dasar putin, coklat dan hitam
c. Bobot badan jantan 68-91 kg, sedang yang betina 36 - 63 kg
d. Tinggi gumba kambing jantan 91 - 127 cm dan yang betina 76 -92 cm
e. Produksi susu dapat mencapai 235 kg dalam periode laktasi 261 hari. Di India
produksi susu dapat mencapai 3,8 kg per hari, dan produksi susu tertinggi tercatat 562
kg. Kadar lemak agak tinggi dengan rata-rata 5,2 %. Karkas kambing jantan dan
betina umur 12 bulan dapat mencapai 44 - 45 % berat hidup.
2. 2. Damaskus
Dari berbagai kambing perah di Timur Tengah berasal dari Damaskus banyak dipelihara di
Libanon, Syria, Cyprus. Ciri-ciri:
a. tidak bertanduk
b. profil muka konveks, daun telinga panjang dan menggantung
c. Tinggi gumba 70 - 75 cm dan berat badan antara 40 -60 kg
d. Produksi susu 3-4 liter per hari dapat mencapai 6 liter, dengan jumlah produksi 300 -
600 liter dalam 8 bulan. Kambing Damaskus lebih subur dibandingkan dengan
Saanen, dimana tiap kelahiran rata-rata 1,76 cempe.
2. 3. Beetal
Beetal adalah bangsa kambing yang juga penting di India dan Pakistan. Ciri-cirinya:
a. profil mukanya Roman nose
b. telinga panjang tetapi jauh lebih kecil dibanding telinga kambing Etawah
c. berwarna merah coklat dengan bercak / belang-belang putih
d. Tinggi gumba jantan dan betina adalah 89 dan 84 cm kambing betina dewasa
mencapai berat hidup kira-kira 45 kg. Rata-rata selama laktasi kambing ini dapat
mengbasilkan susu 195 kg susu dalam waktu 224 ban, dan beranak rata-rata seta-bun
sekali dengan rata-rata anaknya tunggal atau twin (kembar dua).
2. 4. Barbari
Kambing ini lebih kecil dibanding Jamnapari dan Beetal Diketemukan di India bagian Utara
dan Pakistan Barat. Ciri-cirinya:
a. bulu-bulu yang pendek
b. warna putih dengan bercak-bercak coklat
c. Tinggi gumba kambing jantan antara 66 - 76 cm dan betina 60-71 cm
d. Nonot kambing betina dewasa berat hidupnya antara 27 - 36 kg
e. Kambing ini biasanya dipakai untuk produksi susu dan ambingnya pada umumnya
berkembang dengan baik. Pernah tercatat produksi susu selama dalam periode laktasi
235 hari mencapai 144 kg.
Sumber : budi et al., 2006
Jenis Kambing yang banyak terdapat di Indonesia
1. Kambing Kacang (Kambing Jawa)
Kambing kacang merupakan kambing asli Indonesia. Kambing ini tersebar hampir di
seluruh Indonesia. Ciri-ciri kambing kacang:
a. badan kecil, telinga pendek tegak, leher pendek, punggung meninggi
b. memiliki tanduk yang pendek baik ternak jantan dan betina
c. Telinganya tegak, berbulu lurus dan pendek
d. tinggi badan jantan dewasa rata-rata 60–65 cm, betina rata-rata 56 cm
e. bobot dewasa untuk betina rata-rata 20 kg dan jantan 25 kg
f. sebagai penghasil daging
Gambar 1. Kambing Kacang
2. Kambing Etawah
Kambing etawah berasal dari wilayah Jamnapari (India) memiliki ciri-ciri:
a. hidung Melengkung, telinga panjang menggantung, kaki panjang dan bulu kaki
panjang, ambing besar dan panjang
b. Tinggi Kambing jantan 100-125 cm dan betina mencapai 80-90 cm
c. Baik yang jantan maupun yang betina memiliki tanduk, tetapi kadang-kadang
dijumpai induk yang tidak memiliki tanduk
d. Dikembangkan sebagai penghasil susu produksi susunya mencapai 3-4 liter per hari
Gambar 2. Kambing Etawah
3. Kambing Peranakan Etawah (PE)
Kambing Peranakan Etawah (PE) merupakan hasil persilangan antara kambing
Etawah dengan kambing Kacang. Kambing ini memiliki penampilannya mirip kambing
Etawah dengan ukuran lebih kecil, merupakan tipe dwiguna, yaitu sebagai penghasil daging
dan susu. Ciri-ciri Kambing PE:
a. telinga panjang dan terkulai, panjang telinga 18–30 cm
b. warna bulu bervariasi dari coklat muda sampai hitam
c. Bulu kambing PE jantan bagian atas leher dan pundak lebih tebal dan agak panjang
Bulu kambing PE betina pada bagian paha panjang
d. Berat badan kambing PE jantan dewasa 40 kg dan betina 35 kg, tinggi pundak 76-100
cm.
Gambar 3. Peranakan Etawah
4. Kambing Gembrong
Kambing Gembrong banyak terdapat di pulau Bali diduga merupakan keturunan
kambing Khasmir. Ciri-cirinya:
a. Memiliki ukuran tubuh yang lebih besar dibandingkan kambing kacang
b. Memiliki tanduk
c. Telinga kecil dan pendek
d. Ekor kecil dan pendek
e. Rambut menutupi seluruh tubuhnya berukuran panjang dan halus
f. Pada ternak jantan rambut di bagian leher dan pinggang lebih panjang
dibandingkan betina
g. Pada dahi kambing jantan ada jumbai seperti poni yang sering kali menutupi muka
dan mata
Gambar 4. Kambing Gembrong
5. Kambing Boer
Kambing boer merupakan keturunan kambing Afrika Selatan. Ciri-cirinya:
a. pola warna pada kepala dan leher berwarna coklat, badan dan kakinya berwarna putih
b. bulunya pendek dan mengkilap, bertanduk, kaki pendek
c. hidung cembung serta telinga lebar dan menggantung
d. Kambing ini merupakan tipe pedaging
e. Bobot badan betina dewasa dapat mencapai berat badan 60-70 kg dan jantan mencapai
berat 120-150 kg.
Gambar 5. Kambing Boer
6. Kambing Saanen
Kambing Saanen berasal dari Saanen, Sulit berkembang di wilayah tropis karena
kepekaannya terhadap matahari. Sehingga, di Indonesia kambing Saanen di silangkan
lagi dengan jenis kambing lain yang lebih resisten terhadap cuaca tropis, misalnya
dengan jenis etawa.
Ciri-cirinya:
a. kambing jantan maupun betinanya tidak memliki tanduk
b. ukuran telinga sedang dan tegak mengarah ke depan
c. Hidung, telinga dan kambingnya berwarna belang hitam
d. bulu dominan putih sampai krem pucat, kadang-kadang ditemui bercak hitam pada
hidung, telinga atau ambing
e. merupakan tipe perah
f. Produksi susu 740 kg per masa laktasi
Gambar 6. Kambing Saanen
Jenis-Jenis Domba yang Terdapat di Indonesia
1. Domba Garut
Domba Garut merupakan hasil persilangan antara domba lokal, domba Ekor Gemuk
dan domba Merino. Bentuk tubuh Domba Garut hampir sama dengan domba lokal dan bentuk
tanduk yang besar melingkar diturunkan dari Domba Merino.Ciri-ciri Domba Garut yaitu:
a. pangkal ekor sedikit lebar dengan ujung runcing dan pendek
b. dahi sedikit lebar, kepala pendek dan profil sedikit cembung
c. ukuran mata kecil
d. Tanduk besar dan melingkar ke belakang dan betina tidak bertanduk
e. telinga bervariasi dari yang pendek sampai yang panjang banyak ditemukan memiliki
daun telinga rumpung
f. warna bulu yang beraneka ragam Domba Garut Berat badan domba garut dapat mencapai
40-80 kg
Gambar 7. Domba Garut
1. Domba Ekor Tipis
Domba ekor tipis atau domba gembel merupakan domba asli Indonesia, banyak
terdapat di Jawa Barat dan Jawa Tengah, bersifat prolifik (dapat melahirkan anak kembar 2-5
ekor. Ciri-cirinya yaitu:
a. Domba jantan memiliki tanduk yang kecil dan melingkar, sedangkan domba betina
tidak bertanduk
b. Warna bulu dominan putih, dengan warna hitam di seputar mata, hidung, dan
c. beberapa bagian tubuh lainnya
d. Merupakan domba potong
e. Bobot badan domba jantan dapat mencapai 30-35 Kg dan betina mencapai 15-20 Kg.
Gambar 8. Domba Ekor Tipis
2. Domba Ekor Gemuk
Domba ekor gemuk banyak terdapat di Jawa Timur, Madura, Lombok, dan Sulawesi,
dibawa ke Indonesia oleh pedagang Arab pada abad XIX. Ciri-cirinya:
a. adalah bentuk badan besar, bobot domba jantan mencapai 50 kg dan domba betina
40 kg
b. Memiliki tanduk pada ternak jantan betina tidak bertanduk
c. ekor panjang, pada bagian pangkalnya besar untuk menimbun lemak yang banyak
d. ujung ekornya kecil tak berlemak
e. warna bulunya sebagian besar putih, beberapa juga yang berwarna hitam atau
kecoklatan.
Gambar 9. Domba Ekor Gemuk
3. Domba Merino
Domba merino merupakan penghasil wool, dengan kualitas terbaik, berasal dari asia
kecil dan telah menyebar ke berbagai belahan dunia, khususnya bagi negara subtropis, seperti
Australia, Newzealand, Prancis, Inggris dan Spanyol. Domba ini pernah didatangkan ke
Indonesia, tetapi tidak dapat berkembang dengan baik karena kelemahannya yang tidak tahan
dengan iklim panas dan lembab, seperti daerah tropis karena bulu woolnya yang panjang dan
tebal. Ciri-cirinya:
a. Domba merino jantan bertanduk, sementara yang betina tidak bertanduk
b. domba ini termasuk domba ukuran sedang dengan berat badan dewasa mencapai 70 – 80
kg untuk jantan dan untuk betina 50 -60 kg
Gambar 10. Domba Merino
DAFTAR PUSTAKA
Alados, C.L., Escós, J., 1987. Relationships between movement rate, ago-nistic displacements
and forage availability in Spanish ibexes (Caprapyrenaica).Biol. Behav. 12 (4), 245–
255.
Blakely, J., dan Bade, D. H. 1998. Ilmu Peternakan Edisi ke Empat. Penerjemah: Srigandono,
B. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Hal: 351-352.
BPS. 2015. Indonesia Dalam Angka. Jakarta: Badan Pusat Statistik.
Budi. U. Dkk. 2006. Buku ajar dasar ternak perah. Departemen Peternakan Fakultas Pertanian
Universitas Sumatera Utara.
Devendra, C. and G.B. McLeroy. 1982. Goat and Sheep Production in the Tropic. Longman,
New York.
Devendra, C. dan M, Burns. 1983. Goat Producton in the Tropics. Dalam : Putra, IDK.H (ed).
Produksi Kambing di Daerah Tropis.Penerbit ITB dan Penerbit Universitas Udayana.
Dinas Peternakan. http: www.disnak.langkatkab.go.id/download/category/3-
file.html?download=4%3Aisi-buk. Diakses: 20 November 2016.
Kementerian Pertanian (2014). Pedoman Pembibitan Ternak Kambing Dan Domba.
Direktorat Jenderal Peternakan Dan Kesehatan Hewan Direktorat Perbibitan Ternak.
Malechek, J.C. and Provenza, F.D., 1981. Feeding behaviour of goats on rangelands. In: P.
Morand-Fehr, A. Bourbouze and M. Simiane (Eds.), Nutrition and Systems of goat
Feeding. Vol. I, INRAITOVIC, Tours, France. pp. 411-428.
Milne, J.A., 1991. Diet selection by grazing animals. Proc. Nutr. Soc., 50( I ): 77-85. Arnold,
G.W., Dudzinski, M.L., 1978. Ethology of Free-Ranging DomesticAnimals. Elsevier
Science, Amsterdam, pp. 1–125.
Sirait, J., R. Hutasoit, A. Tarigan, K. Simanihuruk. 2010. Petunjuk Teknis Teknik Budidaya
Dan Pemanfaatan (Stenotaphrum Secundatum) Untuk Ternak Kambing Dan
Ruminansia Lainnya. Pusat Penelitian Dan Pengembangan Peternakan Badan
Penelitian Dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian`
Tomaszewska, M.W., I. M. Mastika, A. Djajanegara, S. Gardiner dan T. R. Wiradarya. 1993.
Produksi Kambing dan Domba di Indonesia. Sebelas Maret University Press,
Surakarta.
Utomo, R. 2012. Evaluasi Pakan dengan Metode Noninvansif. PT. Citra Aji Parama.
Yogyakarta.
BAB VII. KOMODITAS TERNAK UNGGAS
7.1. Taksonomi, Morfologi, Sebaran Populasi, Kebiasaan Hidup, Kebutuhan Pakan dan
nutrisi, Reproduksi, Tujuan Produksi, Tata Laksana Pemeliharaan Ternak Ayam
dan Itik
Taksonomi Ayam
Klafikasi ayam menurut Rose (2001) adalah sebagai berikut:
Kingdom : Animalia
Subkingdom : Metazoa
Phylum : Chordata
Subphylum : Vertebrata
Divisi : Carinathae
Kelas : Aves
Ordo : Galliformes
Family : Phasianidae
Genus : Gallus
Spesies : Gallus gallus domestica sp
Morfologi (Santoso dan Sudaryani, 2009)
Morfologi ayam terdiri atas:
1. memiliki paruh, caput (jengger)
2. memiliki dua buah sayap
3. tubuh dipenuhi bulu, nulu bagian sayap dan ekor lebih panjang
4. terdapat dua buah kaki yang memiliki cakar (ceker)
Morfologi ayam berdasar tujuan produksinya dibagi menjadi tiga, yaitu:
1. Tipe pedaging, ciri-ciri ayam tipe pedaging adalah sebagai berikut:
a. Bentuk tubuh besar
b. Pertumbuhan cepat
c. Bulu merapat ketubuh
d. Warna bulu putih
e. Produksi telur rendah
f. Bersifat tenang
2. Tipe petelur, ciri-cirinya adalah:
a. Bentuk tubuh ramping
b. Cuping telinga putih
c. Kerabang telur berwarna putih
d. Mudah terkejut
e. Tidak memiliki sifat mengeram
f. Produksi telur mencapai 200 butir/ekor/tahun
3. Tipe dwiguna, ciri-ciri ayam dwiguna yaitu:
a. Tubuh sedang
b. Produksi telur sedang
c. Pertumbuhan sedang
d. Kerabang telur berwarna cokelat
Sifat tenang
Sebaran Populasi Ayam
Sebaran populasi ayam buras, ayam ras petelur dan ayam ras pedaging di Indonesia
berdasar Data Badan Pusat Statistik 2015 tercantum dalam Tabel 7.1, tabel 7.2 dan tabel
7.3.
Tabel 7.1. Populasi Ayam Buras di Indonesia
Provinsi
Populasi Ayam Buras menurut Provinsi (Ekor)
2011 2012 2013 2014 2015
Aceh 6.010.575 6.065.665 6.054.553 5.938.919 6.235.865
Sumatera
Utara 11.963.682 12.073.428 15.545.153 14.037.817 14.190.165
Sumatera
Barat 5.023.666 4.872.190 4.919.283 5.031.885 5.132.522
Riau 2.848.075 3.377.652 3.163.705 3.327.820 3.600.303
Provinsi
Populasi Ayam Buras menurut Provinsi (Ekor)
2011 2012 2013 2014 2015
Jambi 11.576.940 11.435.111 11.519.915 12.367.301 12.551.551
Sumatera
Selatan 6.265.183 6.605.762 5.275.685 6.688.397 6.974.467
Bengkulu 3.225.187 3.075.956 2.989.424 2.709.080 2.901.696
Lampung 9.341.358 10.604.987 10.924.455 10.899.365 10.944.090
Kep. Bangka
Belitung 4.321.678 2.978.380 1.680.155 2.122.437 2.334.681
Kep. Riau 1.032.618 825.715 827.245 500.905 559.344
Dki Jakarta - - - - -
Jawa Barat 27.396.416 27.224.219 27.497.344 27.630.194 28.383.241
Jawa Tengah 38.296.383 40.868.263 39.313.232 40.753.808 42.471.433
Di
Yogyakarta 4.019.960 4.060.722 3.993.055 4.242.966 4.435.362
Jawa Timur 29.310.251 32.143.678 33.806.963 34.539.123 34.828.778
Banten 10.026.124 9.492.178 9.693.522 9.798.896 9.857.506
Bali 4.396.174 4.178.725 4.115.218 4.111.438 4.116.543
Nusa
Tenggara
Barat
4.358.440 4.874.230 5.486.144 6.420.731 7.290.185
Nusa
Tenggara
Timur
10.528.966 10.604.784 10.681.149 10.766.948 10.839.153
Kalimantan 5.885.553 5.901.410 6.778.650 4.064.558 4.267.786
Barat
Kalimantan
Tengah 2.496.845 3.028.271 3.167.218 2.663.843 2.873.600
Kalimantan
Selatan 13.651.778 12.847.604 10.012.412 9.177.935 9.015.332
Kalimantan
Timur 5.684.150 6.154.992 7.129.609 4.287.075 4.502.028
Provinsi
Populasi Ayam Buras menurut Provinsi (Ekor)
2011 2012 2013 2014 2015
Kalimantan
Utara - - - 1.207.702 1.328.472
Sulawesi
Utara 2.169.328 2.228.189 2.266.405 2.357.433 2.401.684
Sulawesi
Tengah 3.883.331 4.615.311 4.944.651 5.259.123 5.481.845
Sulawesi
Selatan 17.833.769 20.031.121 21.848.901 23.968.786 24.957.386
Sulawesi
Tenggara 9.844.728 10.468.237 9.402.349 7.769.316 9.039.139
Gorontalo 964.004 1.340.961 1.374.185 1.335.806 1.850.163
Sulawesi
Barat 5.278.590 5.188.649 4.599.946 4.592.771 4.593.907
Maluku 3.464.213 3.847.354 3.848.910 2.552.470 2.613.466
Maluku Utara 488.797 493.346 577.604 631.141 655.279
Papua Barat 1.021.581 1.176.120 1.397.339 1.607.660 1.906.231
Papua 1.731.291 1.881.217 1.942.197 1.752.471 1.887.883
Indonesia 264.339.634 274.564.427 276.776.576 275.116.120 285.021.086
Tabel 7.2. Populasi Ayam Ras Petelur di Indonesia
Provinsi
Populasi Ayam Ras Petelur menurut Provinsi (Ekor)
2011 2012 2013 2014 2015
Aceh 267.741 266.174 243.270 209.476 219.950
Sumatera 8.994.445 12.055.592 15.704.311 14.838.083 14.962.637
Utara
Sumatera
Barat 7.816.396 8.130.585 8.519.893 8.393.469 8.494.959
Riau 141.258 134.481 147.467 67.798 68.768
Jambi 613.872 971.066 654.376 704.612 567.529
Provinsi
Populasi Ayam Buras menurut Provinsi (Ekor)
2011 2012 2013 2014 2015
Sumatera
Selatan 5.872.442 5.760.798 6.562.387 6.249.348 6.793.055
Bengkulu 63.130 67.085 77.493 82.138 93.021
Lampung 4.526.690 7.699.572 5.121.094 5.061.800 6.085.893
Kep. Bangka
Belitung 64.401 70.570 254.121 88.801 97.681
Kep. Riau 558.890 454.850 418.800 388.750 425.812
Dki Jakarta - - - - -
Jawa Barat 11.930.515 12.271.938 12.882.262 13.290.146 13.569.356
Jawa Tengah 18.395.051 19.881.430 21.630.154 20.293.547 20.565.694
Di Yogyakarta 3.160.697 3.346.564 3.274.886 3.518.393 3.721.947
Jawa Timur 37.035.251 40.268.631 43.066.361 41.156.842 41.650.725
Banten 5.373.215 5.036.716 4.961.958 4.787.304 5.647.627
Bali 4.357.838 4.282.970 4.355.955 4.357.340 4.400.912
Nusa
Tenggara
Barat
149.410 173.496 201.127 297.441 419.819
Nusa
Tenggara
Timur
179.641 179.697 197.202 199.604 179.537
Kalimantan
Barat 2.334.026 2.977.850 2.475.690 3.383.306 3.552.471
Kalimantan
Tengah 15.574 37.330 40.900 94.912 145.329
Kalimantan
Selatan 2.631.075 2.782.845 3.233.048 4.538.185 3.933.015
Kalimantan
Timur 1.342.572 1.587.496 1.227.205 686.278 720.591
Kalimantan
Utara - - - 45.085 45.085
Provinsi
Populasi Ayam Buras menurut Provinsi (Ekor)
2011 2012 2013 2014 2015
Sulawesi
Utara 973.395 1.140.211 1.371.730 1.396.291 1.413.011
Sulawesi
Tengah 470.416 613.677 888.405 1.040.733 1.228.783
Sulawesi
Selatan 6.754.136 7.800.790 8.303.129 10.481.875 11.382.852
Sulawesi
Tenggara 182.171 149.506 147.814 158.108 150.376
Gorontalo 132.950 285.331 323.581 368.194 373.655
Sulawesi
Barat 78.727 84.735 102.818 102.242 102.537
Maluku 33.499 35.707 10.959 20.539 14.500
Maluku Utara 32.331 17.311 43.160 18.260 16.410
Papua Barat 64.238 50.583 56.268 62.117 66.862
Papua 89.801 102.164 123.690 279.398 308.601
Indonesia 124.635.794 138.717.751 146.621.514 146.660.415 151.419.000
Tabel 7.3. Populasi Ayam Ras Pedaging di Indonesia
Provinsi
Populasi Ayam Ras Pedaging menurut Provinsi (Ekor)
2011 2012 2013 2014 2015
Aceh 3.085.271 2.959.212 3.041.218 3.324.447 3.490.669
Sumatera
Utara 40.167.721 42.813.178 46.064.412 47.179.814 47.659.709
Sumatera
Barat 15.117.321 17.439.623 15.357.013 17.921.143 18.458.778
Riau 38.043.692 38.165.987 36.930.599 39.987.136 40.458.813
Jambi 11.237.263 11.442.871 10.897.666 11.957.805 13.186.178
Sumatera
Selatan 20.160.062 20.943.860 23.389.532 23.043.989 25.027.014
Provinsi
Populasi Ayam Buras menurut Provinsi (Ekor)
2011 2012 2013 2014 2015
Bengkulu 6.189.874 6.195.941 5.949.393 5.363.033 5.883.247
Lampung 25.788.858 26.782.929 29.931.232 29.344.110 32.771.775
Kep. Bangka
Belitung 7.418.210 12.495.825 9.520.823 10.504.222 11.554.644
Kep. Riau 6.675.518 7.573.940 8.039.400 9.518.800 10.136.140
Dki Jakarta 136.200 148.700 - - -
Jawa Barat 583.263.441 610.436.303 645.229.707
643.321.72
9
678.326.91
7
Jawa Tengah 66.239.700 76.906.291 103.964.760 108.195.894
109.911.64
1
Di
Yogyakarta 5.770.832 5.814.935 6.045.705 6.716.730 6.836.175
Jawa Timur 149.552.720 155.945.927 162.296.157
179.830.68
2
181.988.65
1
Banten 52.272.333 54.151.644 61.230.844 63.324.448 61.523.543
Bali 6.206.641 5.872.311 7.181.171 8.161.347 8.242.957
Nusa
Tenggara
Barat
3.279.246 3.538.158 5.020.351 9.440.867 11.854.763
Nusa
Tenggara
Timur
578.810 584.601 710.680 732.142 724.965
Kalimantan
Barat 21.262.386 21.967.877 12.545.991 33.542.658 35.219.791
Kalimantan
Tengah 4.921.209 5.225.358 4.892.196 7.274.673 7.539.337
Kalimantan
Selatan 43.647.767 40.603.189 51.860.699 57.727.521 51.776.799
Kalimantan 36.510.354 39.474.540 48.177.509 46.553.307 48.880.973
Timur
Provinsi
Populasi Ayam Buras menurut Provinsi (Ekor)
2011 2012 2013 2014 2015
Kalimantan
Utara - - - 4.569.394 4.797.864
Sulawesi
Utara 1.556.974 2.195.225 2.301.220 5.303.446 5.531.390
Sulawesi
Tengah 5.136.202 6.915.137 8.897.535 8.930.817 10.270.439
Sulawesi
Selatan 18.497.399 21.791.654 24.050.149 50.144.459 52.651.682
Sulawesi
Tenggara 1.045.428 1.104.308 4.946.709 3.924.357 4.330.773
Gorontalo 240.600 535.200 633.287 1.590.755 1.902.755
Sulawesi
Barat 867.008 876.889 1.850.319 1.856.056 1.856.372
Maluku 145.684 130.490 8.500 12.200 18.000
Maluku Utara 79.458 251.186 62.319 361.376 297.687
Papua Barat 648.876 612.509 645.862 1.260.053 1.355.022
Papua 2.247.811 2.506.219 2.518.146 2.429.707 3.160.195
Indonesia 1.177.990.869
1.244.402.01
7
1.344.191.10
4
1.443.349.1
17
1.497.625.6
58
Kebiasaan Hidup Ayam
Kebiasaan hidup ayam dapat berbeda sesuai dengan pemeliharaannya. Kendati
demikian, setiap ayam tetap akan memunculkan kebiasaan nenek moyangnya yaitu mengais
pakan (Scratching), (feed seeking) mematuk matuk bulu (feather pecking), reaksi terhadap
panggilan bahaya dan perilaku temu-kenal (courtship). Kegiatan mengais dilakukan ayam
dalam menyeleksi dedaunan dan rumputan dan juga partikel-partikel kecil yang ada di tanah
(Savory et al., 1978). Ayam mampu belajar dari pengalaman bila dilatih secara tetap dan
berulang kali, seperti suara tertentu, untuk memanggil ayam diwaktu makan(Curtis, 1983).
Terjadi proses rontok bulu. Pada ayam lokal terdapat sifat mengeram. Ayam juga memiliki
kebiasaan memakan rumput, 7-25% dimanfaatkan ayam untuk beraktifitas dimanfaatkan
untuk memakan rumput (Appleby et al., 1989). Ayam mengkomsumsi rumput-rumput liar,
biji-bijian, dan hama.
Kebutuhan Nutrisi dan Pakan
Kebutuhan pakan pada ayam berbeda tergantung pada jenis ayam dan tujuan
produksinya. Kebutuhan nutrisi Ayam Pedaging tahap stater dan Finisher tercantum pada tabel
7.4, dan tabel kebutuhan nutrisi ayam layer (petelur) tercantum pada tabel 7.5.
Tabel 7.4. Kebutuhan Nutrisi Ayam Pedaging
Zat Nutrisi Starter Finisher
Protein Kasar (%) 23 20
Lemak Kasar (%) 4-5 3-4
Serat Kasar (%) 3-5 3-5
Kalsium (%) 1 0,9
Pospor (%) 0,45 0,4
EM (Kkal/kg) 3200 3200
Lisin (%) 1,2 1,0
Metionin (%) 0,5 0,38
Sumber: (NRC, 1981)
Tabel 7.5. Kebutuhan Ayam Layer (Petelur)
Nutrisi starter Grower Developer Layer
Kadar Air (%) 10 10 10 10
Protein (%) 18 16 15 17
Lisin (%) 2850 2850 2900 2900
Metionin (%) 0,85 0,6 0,45 0,52
Metionin + Sistin(%) 0,3 0,25 0,2 0,22
Ca (%) 0,62 0,52 0,42 0,47
Nutrisi starter Grower Developer Layer
P tersedia (%) 0,4 0,35 0,3 0,32
P total (%) 0,6-1,00 0,6-1,00 0,6-1,00 0,6-1,00
Sumber : (NRC, 1981)
Tata Laksana Pemeliharaan
Dalam pemeliharaan ternak ayam tata laksana dapat dilakukan secara ekstensif, semi
ekstensif dan Intensif. Pada ayam kampung sistem pemeliharaan dapat dilakukan secara
ekstensif dan semi ekstensif. Sementara pada ayam pedaging dan ayam petelur sistem
pemeliharaan secara Intensif. Sistem pemeliharaan ekstensif merupakan sistem pemeliharaan
secara umbaran, semi ekstensif dilakukan dengan cara di umbar di sianghari dan
dikandandangkan pada malam hari, sementara Intensif pemeliharaan dilakukan di kandang.
Hal yang harus diperhatikan adalah:
a. Lokasi kandang jauh dari keramaian/perumahan penduduk
b. Lokasi kandang mudah dijangkau dari pusat-pusat pemasaran
c. Lokasi kandang bersifat menetap
berdasar kapasitas ayam yang dikandangkan, kandang ayam dibagi menjadi dua
seperti tercantum pada tabel 7.6.
Tabel 7.6. Jenis kandang berdasar jumlah ternaknya
jenis kandang ayam Keterangan
Kandang koloni satu kandang untuk ribuan ekor ayam
Kandang Individu (cage) satu kandang hany untuk satu ekor ayam
biasanya dipakai untuk ayam petelur komersial
Jenis kandang berdasar jenis lantainya dibagi menjadi tigs seperti tercantum pada tabel
7.7.
Tabel 7.7. Jenis Kandang Berdasrkan Lantainya
Jenis lantai
kandang Keterangan
Lantai kandang
dengan liter
kandang ini dibuat dengan lantai yang dilapisi kulit padi
pesak/sekam padi dan kandang ini umumnya diterapkan pada
kandang sistem koloni
lantai berlubang
lantai untuk sistem ini terdiri dari kayu dengan lubang-lubang
diantaranya agar kotoran ayam langsung masuk ke
penampungan
Kombinasi Liter
dan berlubang
kandang dengan lantai campuran liter dengan kolong
berlubang, dengan perbandingan 40% luas lantai kandang untuk
alas liter dan 60% luas lantai dengan kolong berlubang (terdiri
dari 30% di kanandan 30% di kiri)
Itik
Itik berasal dari Amerika Utara merupakan itik liar ( Anas moscha) atau Wild mallard.
Itik ini terus menerus didomestikasi oleh manusia hingga menjadi itik Anas domesticus yang
kini banyak dipelihara.
Taksonomi Itik
Kingdom : Animalia
Phylum : Vertebrata
Class : Aves
Ordo : Anseriformes
Familia : Anatidae
Genus : Anas
Species : Anas Platyhyncos
Srigandono (1997)
Itik adalah jenis unggas air yang tergolong dalam ordo Anseriformes, family Anatidae,
genus Anas dan termasuk spesies Anas javanica. Proses domestikasi membentuk beberapa
variasi dalam besar tubuh, konformasi, dan warna bulu. Perubahan ini diperkirakan akibat
campur tangan manusia untuk mengembangkan ternak itik dengan tujuan khusus dan juga
karena jauhnya jarak waktu domestikasi dengan waktu pengembangan (Chaves dan Lasmini,
1978).
Sebaran populasi itik
Penyebaran populasi itik tersebar di berbagai negara diantaranya adalah Amerika
utara, Amerika Selatan, Asia, Filipina, Malaysia, Inggris, Perancis (negara yang mempunyai
musim tropis dan subtropis). Penyebaran populasi itik di wilayah indonesia beusatkan di
daerah pulau Jawa (Tegal, Brebes dan Mojosari), Kalimantan (Kecamatan Alabio, Kabupaten
Amuntai) dan Bali serta Lombok, terdapat pula didaerah lain di Indonesia dengan populasi
yang lebih sedikit.
Kebiasaan Hidup
Itik memiliki kebiasaan berenang karena merupakan salah satu jenis unggas air dan
untuk menetralisir suhu tubuhnya (Srigandono, 1997). Itik merupakan hewan omnivora mulai
dari biji–bijian, rumput–rumputan, umbi-umbian dan makanan yang berasal dari hewan
(Samosir, 1983).
Kebutuhan Pakan dan nutrisi
Kebutuhan nutrisi pada itik dipengaruhi oleh faktor internal seperti status fisiologis
ternak dan faktor internal seperti kondisi iklim dan tujuan peroduksinya. Kebutuhan nutrisi
itik tipe petelur tercantun pada tabel 7.8.
Tabel 7.8. Kebutuhan Nutrisi Itik Petelur
Kebutuhan Anak
(0-8 mgg)
Dara
(8-20 mgg)
Petelur
(>20 mgg)
Energy metabolis
(kkal/kg)
Protein kasar
Ca (%)
P (%)
2900
17-20
0,6-1,0
0,6
2800
18
0,6-1,0
0,6
2700
16-18
2,9-3,25
0,47
Reproduksi
Perkawinan pada itik dapat dilakukan dengan perkawinan alami dan Inseminasi
buatan. Perkawinan alami pada itik dapat terjadi hasil fertilitas yang baik dengan adanya
kolam kawin maupun tidak. Pada dasarnya ada lima tahapan tingkah laku itik sewaktu kawin
yaitu taltap perayuan (courtship), tahap naik diatas punggung den mengatur posisi (mounting
and positioning), perangsangan betina (stimulating), ereksi dan ejakulasi (erection and
ejaculation), dan gerakan setelah kawin (post coital display) (Tan, 980). Sementara
perkawinan IB dilakukan dengan menyuntikkan sperma itik jantan kedalam kelamin betina.
Tujuan Produksi
Tujuan Produksi Itik
1. Untuk menghasilkan protein hewani melalui daging dan telur.
2. Untuk pembibitan ternak itik.
3. Untuk usaha ekonomi kerakyatan mandiri.
4. Limbah bulu itik dapat dimanfaatkan untuk membuat souvenir
5. Pupuk kandang dari kotoran itik untuk tanaman
6. Pemeliharaan itik tergolong mudah, dapat menjadi usaha sampingan warga dan
mengisi masa tua pasca pensiun.
Tata Laksana Pemeliharaan Ternak Ayam dan Itik
1) Sanitasi dan Tindakan Preventif Sanitasi kandang mutlak diperlukan dalam pemeliharaan
itik dan tindakan preventif (pencegahan penyakit) perlu diperhatikan sejak dini untuk
mewaspadai timbulnya penyakit.
2) Pengontrol Penyakit
Dilakukan setiap saat dan secara hati-hati serta menyeluruh. Cacat dan tangani secara serius
bila ada tanda-tanda kurang sehat pada itik.
3) Pemberian Pakan
Pemberian pakan itik tersebut dalam tiga tahap , yaitu tahap stater (umur 0–8 minggu), tahap
grower (umur 8–18 minggu) dan tahap layar (umur 18–27 minggu). Pakan ketiga tahap tersebut
berupa pakan jadi dari pabrik (secara praktisnya) dengan kode masing-masing tahap . Cara
memberi pakan tersebut terbagi dalam empat kelompok yaitu:
a. umur 0-16 hari diberikan pada tempat pakan datar (tray feeder)
b. umur 16-21 hari diberikan dengan tray feeder dan sebaran dilantai
c. umur 21 hari samapai 18 minggu disebar dilantai.
d. umur 18 minggu–72 minggu, ada dua cara yaitu 7 hari pertama secara pakan
peralihan dengan memperhatikan permulaan produksi bertelur sampai produksi
mencapai 5%. Setelah itu pemberian pakan itik secara ad libitum (terus menerus).
Dalam hal pakan itik secara ad libitum, untuk menghemat pakan biaya baik tempat
ransum sendiri yang biasa diranum dari bahan-bahan seperti jagung, bekatul, tepung ikan,
tepung tulang, bungkil feed suplemen Pemberian minuman itik, berdasar pada umur itik
juga yaitu :
a. umur 0-7 hari, untuk 3 hari pertama iar minum ditambah vitamin dan mineral,
tempatnya asam seperti untuk anak ayam.
b. umur 7-28 hari, tempat minum dipinggir kandang dan air minum diberikan
secara ad libitum (terus menerus)
c. umur 28 hari-afkir, tempat minum berupa empat persegi panjang dengan
ukuran 2 m x 15 cm dan tingginya 10 cm untuk 200-300 ekor. Tiap hari
dibersihkan
4) Pemeliharaan Kandang andang hendaknya selalu dijaga kebersihannya dan daya gunanya
agar produksi tidak teengaruh dari kondisi kandang
Lokasi kandang jauh dari keramaian/pemukiman penduduk, mempunyai letak transportasi
yang mudah dijangkau dari lokasi pemasaran dan kondisi lingkungan kandang mempunyai
iklim yang kondusif bagi produksi ataupun produktivitas ternak. Itik serta kondisi lokasi tidak
rawan penggusuran dalam beberapa periode produksi.
Kandang itik dibagi menjadi dua berrdasarkan bentuk atapnya yaitu:
1. Shed type (tipe satu sisi)
Arah kandang bagian depan menghadap ke timur. Separuh dinding bagian depan dan
belakang, yaitu dinding bagian bawah, tertutup rapat. dinding bagian atas berupa alas yang
terbuat dari kawat atau bambu. dinding sisi kiri maupun kanan tertutup rapat, kecuali tangga
dan pintu di salah satu sisi. Tipe ini rnemungkinkan masuknya sinar matahari secara langsung
sehingga akan mengurangi bau amoniak dalam kandang. Tipe Shade ini cocok untuk daerah
yang tanah kering.
2. Gable type (atap dua sisi)
Arah kandang vertikal dari utara ke selatan. Bagian bawah dinding kandang dibuat
rapat, sementara bagian atasnya berupa kisi-kisi. Dua sisi dinding yang lain tertutup rapat,
kecuali pintu yang berada di salah satu sisi. Tipe ini adalah tipe atap yang cocok untuk
kandang itik di daerah bertanah basah dan kelembaban tinggi.
berdasar fungsinya kandang di bagi menjadi beberapa tipe sebagai berikut :
1. Kandang boks (kandang DOD, tahap starter) untuk anak itik yang berumur 1 hari - 3
minggu, terbuat dari papan atau bambu dengan lantai dari kawat kasa (ram ayam) atau
dari anyaman bambu dengan jarak anyaman 1-1,5 cm. Daya tampung 1 m2 kandang boks
mampu menampung 50 ekor DOD.
2. Kandang ren untuk pemeliharaan itik dara maupun dewasa hanya diberi atap sebagian
hanya dibatasi pagar mengelilingi kandang. Kandang diberi pembatas bedasarkan umur.
Setiap kelompok dapat terdiri dari 100-500 ekor.
3. Kandang koloni postal kandang koloni ditempati itik dalam kelompok umur yang
berbeda. Lantai kandang dapat berupa litter, lantai bersemen, atau dari bilah-bilah -
bambu.
4. Kandang Baterai kandang baterai merupakan kandang yang di buat dengan sekat-sekat
dan setiap petak hanya berisi satu ekor itik. Ukuran 45 cm x 35 cm dengan tinggi 60 cm.
Lantai dan dinding petak dapat dibuat dari anyaman bambu atau kawat. Lantai kandang
dibuat sedikit miring agar telur yang baru keluar dari induk itik dapat langsung
menggelinding ke tempat penampungan di bagian depan atau belakang.
5. Kandang itik dengan kolam ikan (mina itik) kandang itik dapat juga dibuat di atas
kolam. Di Kalimantan Selatan, khususnya di daerah Hulu Sungai Utara, para peternak
itik intensif sudah biasa membuat kandang di atas perairan, tetapi ikan masih berupa ikan
liar. Tentu akan Iebih baik bila ikan yang dipelihara di kolam adalah ikan gurame, lele,
ikan mas, mujair, nila, gabus, patin.
7.2. Jenis dan Karakeristik ternak ayam dan Itik
Jenis dan Karakteristik Itik
berdasar tujuan produksinya itik dibagi menjadi 3, yaitu:
1. Itik petelur seperti Indian Runner, Khaki Campbell, Buff (Buff Oington) dan CV
2000-INA;
2. Itik pedaging seperti Peking, Rouen, Aylesbury, Muscovy, Cayuga;
3. Itik ornamental (itik kesayangan/hobby) seperti East India, Call (Grey Call),
Mandariun, Blue Swedish, Crested, Wood.
Jenis bibit unggul yang diternakkan, khususnya di Indonesia ialah jenis itik petelur seperti itik
tegal, itik khaki campbell, itik alabio, itik mojosari, itik bali, itik CV 2000-INA dan itik-itik
petelur unggul lainnya.
1. Itik Tegal
Itik tegal, itik ini berasal dari tegal, ciri – cirinya:
badan berbentuk botol, langsing, postur tubuhnya tegak, tinggi badannya dapat
mencapai 50 cm , Lehernya dan panjang, proporsi kepala jauh lebih kecil daripada
badan dan letak mata mengarah sedikit ke atas bagian kepala, Warna bulu
kecoklatan/tutul2 coklat.
2. Itik Mojosari
Itik jenis ini merupakan itik lokal unggul yang mulai diternak di daerah Modupuro,
Mojosari, Daerah Mojokerto Jawa Timur, oleh karena itu terkenal pula disebut itik
mojokerto. Kelebihan itik mojosari adalah ukuran telur yang lebih besar dari itik
lainnya dan warnanya lebih hijau. Ciri-cirinya:
Ciri-ciri itik mojosari:
Postur tubuh mirip itik tegal dengan ukuran tubuh lebih kecil, Bulu pada betina
berwarna cokelat tua kemerahan dengan beberapa variasi, bulu pada jantan, bulu pada
bagian kepala, leher, dan dada berwama cokelat gelap kehitaman, Bulu dibagian perut
berwarna keputihan, bagian sayap terdapat bulu suri berwarna hitam mengkilap.
Bobot badan dewasa mencapai 1,7 Kg
Bobot telur 65-69 gram
Prosedur 130-265 telur
3. Itik Bali (Anas SP)
Itik bali adalah itik lokal yang banyak dibudidaya di Pulau Bali dan Pulau Lombok.
Kelebihannya daya tahan tubuh yang sangat bagus membuat itik ini dapat diternak di
berbagai daerah dengan berbagai suhu yang berbeda-beda.ciri-cirinya:
Hampir sama dengan itik jawa/ itik tegal dengan ukuran lebih besar dan leher lebih
pendek, Warna bulu lebih terang
4. Itik Alabio (Anas platurynchos)
Itik ini merupakan jenis itik asli dari Kalimantan. Lahir dari persilangan itik/bebek
peking dengan itik lokal kalimantan. Ciri-ciri:
Warna umum bulu itik alabio betina adalah kuning bercampur dengan, warna abu-abu.
Ujung dada, sayap, kepala ekor ada sembur warna hitam.
Namun warna itik alabio jantan adalah abu-abu hitam dan ekornya ada bulu yang melengkung
keluar.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. Kajian Ayam Buras Dengan Pendekatan Rantai Nilai Dan Iklim Usaha Di
Kabupaten Boven Digoel. Program Pembangunan Berbasis warga tahap Ii:
Implementasi Institusionalisasi Pembangunan Mata Pencaharian Yang Lestari Untuk
warga Papua, Ilo – Pcdp2 Undp. Http:Www.Ilo.Org/Wcmsp5/Groups/Public/---
Asia/---Ro.../Wcms_342733.Pdf: (Diakses Pada 27 November 2016)
Prasetyo, L.H., P. P. Ketaren, A. R. Setioko, A. Suparyanto, E. Juwarini, T. Susanti, S.
Sopiyana. 2010. Panduan Budidaya Dan Usaha Ternak Itik. Blai Penelitian Ternak
Ciawi, Bogor.
Rose, S.P. 2001. Principles Of Poultry Science. Cab International
Suretno, N. D., A. Prabowo, M. Silalahi. 2008. Teknologi Budidya Itik. Balai Besar
Pengkajian Teknolgi Pertanian.
Srigandono, 1997. Ilmu Unggas Air. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Susilorini, E., Sawitri, M. E., Dan Muharlien. 2008. Budidaya 22 Ternak Potensial. Penebar
Swadaya, Jakarta.
Santoso, H., & Sudaryani, T. 2009. Pembesaran Ayam Pedanging Di Kandang Panggung
Terbuka. Cetakan Pertama. Penebar Swadaya, Jakarta.
Tan, N.S . 1980. The Training Ofdrakes For Semen Collection . Ann Zootech. 29 (2) : Pp. 93
-103 .
BAB VIII. KOMODITAS ANEKA TERNAK
8.1. Taksonomi, Morfologi, Sebaran Populasi, Kebiasaan Hidup, Kebutuhan Pakan
dan nutrisi, Reproduksi, Tujuan Produksi, Tata Laksana Pemeliharaan Ternak
Kuda, Kelinci, Puyuh dan Burung hantu
Kelinci
Kelinci adalah mamalia bertelinga panjang family Leporidae. Dulunya, hewan ini
adalah hewan liar yang hidup di Afrika hingga ke daratan Eropa. Pada perkembangannya,
tahun 1912 kelinci diklasifikasikan dalam Ordo lagomoha. Ordo ini dibedakan menjadi dua
famili, yakni Ochtonidae (jenis pika yang pandai bersiul) dan Leporidae (termasuk
didalamnya jenis kelinci dan terwelu). Di Indonesia banyak terdapat kelinci lokal, yakni
kelinci jawa (Lepus negicollis) dan kelinci sumatra (Nesolagus netseherischlgel)
(Kartadisastra, 2011). Kelinci termasuk hewan herbivora non-ruminan yang memiliki sistem
pencernaan monogastrik dengan perkembangan sekum seperti rumen ruminansia, sehingga
kelinci disebut pseudo-ruminansia (Cheeke et al., 1982).
Taksonomi Kelinci
berdasar Bappenas (2005) kelinci diklasifikasikan sebagai berikut:
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Subphylum : Vertebrata
Classis : Mamalia
Ordo : Lagomoha
Familia : Leporidae
Subfamilia : Leporine
Genus : Lepus
Spesies : Lepus sp.
Morfologi Kelinci
Secara Morfologi tubuh kelinci terdiri dari Caput (kepala), Cervix (leher), Truncus
(Badan) dan Cauda (Ekor). Kelinci memiliki ukuran tubuh yang kecil dengan panjang 20-50
cm dengan bobot 0,4 – 2 Kg, telinga panjang yang menghadap kedepan, panjang telinga
mencapai 10 cm atau lebih, bangun hidung silindris, memiliki rambut halus diseluruh tubuh
termasuk ekor dan kaki, memiliki ekor pendek atau tidak terlihat, memiliki empat kaki, kaki
depan lebih pendek daripada kaki belakang, terdapat 5 jari disetiap kaki kelinci, dan memiliki
gigi seri (Rictche,1983). Awalnya kelinci diklasifikasikan dalam ordo rodensia (binatang
mengerat) yang bergigi seri empat, tetapi akhirnya dimasukkan dalam ordo logomoha karena
bergigi seri enam (Cheeke et al., 1987).
Tujuan Produksi
Tujuan produksi ternak kelinci terdapat beberapa macam, Menurut Raharjo (2005)
tujuan produksi kelinci diantaranya adalah:
a. menghasilkan protein hewani berupa daging, daging kelinci mengandung protein 20,8
%, lemak 10,2 %, energi metabolis 73 MJ/kg dan rendah kolesterol 0,1 %
b. untuk diambil kulit-rambut (fur)
c. sebagai kelinci hias
d. menghasilkan pupuk organik dari urin dan kotorannya
e. hewan percobaan (laboratoty animal)
f. hewan kesayangan
Kebiasaan Hidup
Kelinci merupakan herwan nocturnal (aktif dimalam hari) tetapi kelinci dapat
melakukan adaptasi dengan pemeliharaan sehingga aktivitas kelinci dilakukan pada siang hari
Kelinci dapat dipelihara pada suhu optimum 21°C, sedangkan pada suhu 25-30°C dapat
memicu stres pada kelinci (Lebas dkk., 1986). Kehidupan kelinci memiliki dimensi
sosial yang kuat sehingga ia akan merasa tertekan manakala teisahkan dari lingkungannya
yang tadinya nyaman berubah ke lingkungan yang tak nyaman (Manshur dan Fakkih, 2010):
1. coprophagy yaitu memakan kembali feses yang telah dikeluarkan, sifat coprophagy
biasanya terjadi pada malam atau pagi hari berikutnya (Blakely dan Bade, 1991).
2. Grooming yaitu menjilati rambut tubuh untuk menjaga kebersihan.
3. Stereotypes, yaitu tindakan yang berulang dan tidak memiliki tujuan seperti mengigiti
pagar kandang, menggigiti kawat, mengunyah semu, menggigiti tempat pakan, menekan
tempat minum, kepala gemetar, mengais-ngais dan menggosokkan badan pada dinding
kandang (Fraser dan Broom, 2005).
4. Menandai wilayah kekuasaan (pada kelinci jantan) dengan melakukan urinasi untuk
(Cheeke et al., 2000).
Kebutuhan Nutrisi dan Pakan Kelinci
Kebutuhan nutrisi Kelinci berbeda sesuai dengan kondisi fisiologis ternaknya dapat
dilihat pada tabel 8.1.
Tabel 8.1. Kebutuhan Nutrisi Kelinci berdasar kondisi Fisiologis Ternak
Nutrient
Kebutuhan Nutrisi Kelinci
Pertumbuhan Hidup Pokok Bunting Laktasi
Digestible Energy
(kcal/kg) 2500 2100 2500 2500
TDN (%) 65 55 58 70
Serat Kasar (%) 14 Protein Kasar (%) 16 12 15 17
Lemak (%) 2 2 2 2
Ca (%) 0,45 - 0,4 1,75
P (%) 0,55 - - 5
Metionin + Cystine 0,6 - - 0,6
Lysin 0,65 - - 0,75
Sumber: NRC (1977)
Reproduksi
Kondisi reproduksi kelinci dapat dilihat pada tabel 8.2.
Table.8.2. Umur dewasa kelamin, kawin pertama pada beberapa tipe kelinci
Reproduksi Umur (bulan)
Dewasa Kelamin Tipe Ringan 4
Tipe Sedang 5-6
Tipe Berat 7-8
Umur Kawin pertama Betina 6
Jantan 7
Sumber: Raharjo (2005)
Menurut Raharjo (2005) lama bunting pada kelinci 28-31 hari dengan jumlah anak/
kelahiran 4-10 ekor.
Tata Laksana Pemeliharaan kelinci
Sistem pemeliharaan kelinci dapat menggunakan jenis kandang berbeda sesuai status
fisiologisnya, Salah satu permasalahan yang dialami oleh ternak yang mendekati masa dewasa
kelamin adalah sifat agresif yang muncul akibat kepadatan kandang yang tinggi, kepadatan
kandang dapat mempengaruhi tingkah laku kelinci (Verga et al., 2004). Kepadatan kandang
diktahui tidak mempengaruhi performa kelinci tetapi mempengaruhi tingkah lakunya,
kandang koloni pada kelinci sebaiknya memiliki kepadatan 15 ekor/m2(38 kg/m2) (Morrise
dan Maurice, 1996). Jenis kandang ranch dilengkapi dengan tempat umbaran dengan
kapasitas satu jantan satu betina dan anak-anaknya (Gunawan, 2008). Jenis dan ukuran
kandang kelinci tercantum pada tabel 8.3.
Tabel 8.3. Jenis dan ukuran kandang kelinci
Jenis kandang
Ukuran
Kapasitas kandang
(ekor) Panjang x Lebar x tinggi
(m)
Kandang sistem postal 1 x 1 x 0,55 4-6
Kandang sistem battery 1 x 0,6 x 0,6 1
Kandang bibit 1 x 0,6 x 0,6 1
Kandang model ranch 1 x 0,75 x 0,6 1
(Gunawan, 2008)
8.2.Jenis dan Karakteristik kelinci
1. New Zealand White
Kelinci New Zealand White yang berasal dari USA termasuk dalam spesies
Orictolagus Cuniculus dari genus Orictolagus. El-Raffa (2004) merupakan kelinci
penghasil daging.Ciri-cirinya mempunyai dada penuh, badannya medium namun
terlihat bundar dan gempal, kaki depan agak pendek, kepala besar dan agak bundar,
telinga agak besar dan tebal dengan ujungnya yang sedikit membulat, serta bulunya
sangat tebal namun halus.
2. Kelinci Angora
Kelinci Angora berasal dari Ankara, Turki, yang pertama kali ditemukan dan
dibawa oleh pelaut Inggris, kemudian dibawa ke Perancis tahun 1723. Tahun 1777
Angora menyebar ke Jerman. Tahun 1920 meluas ke negara-negara Eropa Timur, Jepang,
Kanada, dan Amerika Serikat. Sampai kini Perancis menjadi pusat peternakan kelinci
Angora terbesar yang menghasilkan wool.
Di Indonesia kelinci jenis Angora merupakan kelinci hias. Cirinya Warna bulunya
bervariasi putih, cokelat, hitam, hitam putih, agouti, bintik-bintik putih, abu-abu, oranye,
dan campuran atau kombinasidari warna-warna tersebut. Kelinci angora memiliki ciri
bulu yang tebal dan lembut diseluruh bagian permukaan tubuhnya, adanya bulu yang
tumbuh di ujung telinga dan kaki depan, bersamaan dengan bulu panjang yang terdapat di
tubuhnya. Kelinci ini memiliki tempramen yang lembut, tetapi tidak cocok untuk orang
yang tidak suka menyisir binatang peliharaannya. Bobot badan bisa mencapai berat 2,0 –
4,0 kg baik jantan mau pun betina. (Djoko, 2012).
3. Kelinci Polish
Kelinci Polish berasal Belanda, Berat badannya lebih besar dari Netherland Dwarf
yakni 1,3 kg. Produktivitasnya melahirkan 4 ekor anak. Umrnya bias bertahan antara 5 -7
tahun dan bisa lebih panjang. Ciri khas kelinci ini bulunya halus dengan berbagai warna,
mata tajam, dan telinga pendek bulat meruncing (Ahmad, 2010).
4. Kelinci Flemish Giant.
Flemish giant ciri-cirinya memiliki badan yang besar yang berat badannya
berkisar antar 6 sampai 10 kilogram, bahkan lebih dari 10 kilogram, berkuping lebih
besar dan memiliki variasi warna rambut yang bagus. warna rambut pada Flesmish Giant
yaitu steel gray(abu-abu besi), Sandy(seperti pasir), Lightgray(abu-abu mudah), biru,
Fawn(cokelat kuning muda) serta hitam dan putih (Karmidi M, 2007:24).
5. Rex
Pada tahun 1924 Kelinci ini diperkenalkan ke publik di Pameran Internasional
Paris. Jenis kelinci rex ini ada berbagai macam/jenis bergantung dari warna bulunya,
antara lain white rex, dalmatian rex (bertotol), black rex, pappilon rex, ermine rex,
blue rex, dsb. Beberapa peternak di Indonesia sendiri memberi nama, misalnya triclor
rex (tiga warna), dsb. Kelinci rex yang paling terkenal adalah white rex, yang memiliki
bulu putih mulus dan tebal. Ciri-Ciri Umum Kelinci Rex adalah : Memiliki bulu antara
1,3 sampai 2,2 cm yang bertekstur padat halus dan lembut seperti beludru, sehingga
nampak indah. Bobot tubuh dapat mencapai 5 kg jantan, sedangkan betina dapat
mencapai lebih dari 5 kg. Memiliki bentuk kepala yang lebih luas dibandingkan jenis
kelinci lainnya, telinga tegak dan proporsional.
KUDA
Kuda merupakan salah satu jenis ternak besar yang termasuk hewan herbivora non
ruminansia. Ternak ini bersifat nomadic, kuat, dan mampu berjalan sejauh 16 km dalam
sehari untuk mencari makan dan air (Kilgour dan Dalton, 1984). Blakely dan Bade (1991)
menyatakan bahwa klasifikasi zoologis kuda adalah sebagai berikut:
Taksonomi Kuda
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Class : Mammalia
Ordo : Perissodactyla
Family : Equidae
Genus : Equus
Spesies : Equus caballus
Diperkirakan orang-orang Hindu dan Tionghoa membawa kuda ke Indonesia pada
awal perhitungan tahun Masehi yang disusul oreh orang Timur Tengah. Menurut Stegman
Von Pritzwald kuda dibagi menjadi beberapa jenis berdasar daerah asalnya, jenis kuda dan
asalnya dapat dilihat pada Tabel 8.4.
Tabel 8.4. Jenis kuda dan daerah asalnya
Jenis kuda Asal
Equus caballus germanicus Jerman
Equus caballus occidentalis Eropa Tengah
Equus caballus gmelini Eropa Timur
Equus caballus orientalis Asia
Equus caballus mongolicus mongol/ Equus prewalsky
Tujuan Pemeliharaan Kuda
Peternakan Metha Jaya merupakan sebuah industri yang bergerak pada
bidang penggemukan kambing, perikanan dan perdagangan hasil pertanian. Saat
ini peternakan Metha Jaya memiliki kandang kambing dengn kapasitas ratusan
ekor. Adapun hasil produksi daging kambing rata-rata 0.5 ton/bulan.
Peternakan Metha Jaya berlokasi di desa Bendet kecamatan Diwek
Kabupaten Jombang no. 29. Lokasi ini sangat strategis digunakan untuk
penggemukan kambing dikarenakan suhu udara dan cuaca yang cocok untuk
ternak serta berada pada lahan terbuka dan jauh dari pemukiman penduduk.
Pakan ternak merupakan komponen biaya produksi terbesar dalam suatu
usaha peternakan, oleh karena itu pengetahuan tentang pakan dan pemberiannya
perlu mendapat perhatian khusus. Ransum yang diberikan kepada ternak harus
diformulasikan dengan baik dan semua bahan pakan yang dipergunakan dalam
menyusun ransum harus mendukung produksi yang optimal dan efisien sehingga
usaha yang dilakukan dapat menjadi lebih ekonomis (
Ransum merupakan gabungan dari beberapa bahan pakan yang disusun
sedemikian rupa dengan formulasi tertentu untuk memenuhi kebutuhan ternak
selama satu hari dan tidak mengganggu kesehatan ternak. Ransum dapat
dinyatakan berkualitas baik apabila mampu memberikan seluruh kebutuhan
nutrien secara tepat, baik jenis, jumlah, serta imbangan nutrien tersebut bagi
ternak. Ransum yang berkualitas baik berpengaruh pada proses metabolisme
tubuh ternak sehingga ternak dapat menghasilkan daging yang sesuai dengan
potensinya. Faktor penting yang harus diperhatikan dalam formulasi ransum
kambing adalah kebutuhan protein, energi, serat kasar, kalsium(Ca) dan
fhosfor(P). Komponen nutrient tersebut sangat berpengaruh terhadap produksi
kambing terutama untuk pertumbuhan dan produksi daging
menyatakan pakan adalah suatu bahan yang
dimakan hewan yang mengandung energi dan zat-zat gizi (atau keduanya) di
dalam bahan tersebut. Pakan adalah bahan yang dimakan dan dicerna oleh seekor
hewan yang mampu menyajikan unsur hara atau nutrien yang penting untuk
perawatan tubuh, pertumbuhan, penggemukan, reproduksi dan produksi. Bahan
pakan dapat dibagi menjadi 2 kelompok yaitu konsentrat dan bahan berserat.
Konsentrat serta bahan berserat merupakan komponen atau penyusun ransum
(Blakely dan Bade, 1994). Menurut Setiawan dan Arsa (2005), pakan merupakan
bahan pakan ternak yang berupa bahan kering dan air. Bahan pakan ini harus
diberikan pada ternak sebagai kebutuhan hidup pokok dan produksi. Dengan
adanya pakan maka proses pertumbuhan, reproduksi dan produksi akan
berlangsung dengan baik. Oleh karena itu, pakan harus terdiri dari zat-zat pakan
yang dibutuhkan ternak berupa protein, lemak, karbohidrat, mineral, vitamin dan
air.
Manajemen pemberian pakan yang baik perlu dipelajari karena
merupakan upaya untuk memperbaiki kualitas pakan yang diberikan. Pemberian
pakan yang tidak memenuhi kebutuhan ternak akan merugikan. Manajemen
pemberian pakan harus memperhatikan penyusunan ransum kebutuhan zat-zat
untuk ternak yang meliputi jenis ternak, berat badan, tingkat pertumbuhan, tingkat
produksi, dan jenis produksi .
Pakan yang diberikan kepada ternak potong sebaiknya pakan yang masih
segar. Bila pakan berada di dalam palungan lebih dari 12 jam maka pakan tersebut
akan menjadi basi, apek dan mudah berjamur. Pakan yang sudah basi akan
menyebabkan pengambilan (intake) pakan oleh ternak berkurang dan hal ini akan
berdampak terhadap menurunnya performa ternak. Setiap terjadi penurunan 1,0 %
akan menyebabkan menurunnya pertambahan bobot badan sebesar 1,5-2,0 %.
Untuk menjamin pakan di dalam palungan selalu segar, lakukan pemberian pakan
minimal 2 kali sehari, bila terdapat sisa pakan dari pemberian sebelumnya harus
dibuang. Idealnya ternak harus sudah diberikan pakan kembali kira -kira setengah
jam setelah pakan pada pemberian sebelumnya habis. Inilah pentingnya menyusun
ransum yang sesuai dengan kebutuhan ternak
Konsumsi pakan adalah banyaknya pakan yang dapat dimakan pada waktu
tertentu. Produksi ternak hanya dapat terjadi apabila konsumsi energi pakan
berada diatas kebutuhan hidup pokok. Keragaman konsumsi pakan disebabkan
oleh aspek individu, species dan bangsa ternak, status fisiologis, kebutuhan
energi, kualitas pakan dan kondisi lingkungan . Ternak
ruminansia yang normal (tidak sakit atau sedang bereproduksi) mengkonsumsi
pakan dalam jumlah yang terbatas sesuai dengan kebutuhannya untuk mencukupi
hidup pokok ,Tinggi rendah konsumsi pakan pada ternak
ruminansia sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal yaitu : tempat tinggal
(kandang) , palatabilitas, konsumsi nutrisi, bentuk pakan dan faktor internal yaitu :
selera, status fisiologi, bobot tubuh dan produksi ternak itu sendiri konsumsi adalah faktor yang essensial yang
merupakan dasar untuk hidup pokok dan menentukan produksi. bahwa konsumsi pakan kambing dinyatakan dalam
bahan kering.
Konversi dan Efisiensi Pakan
Efisiensi pakan dapat dihitung berdasarkan perbandingan pertambahan
bobot badan (kg) dengan total konsumsi bahan kering (kg) dikalikan 100%.
Efisiensi pakan sangat penting bagi para peternak agar tidak mengalami kerugian
akibat terlalu banyak pakan atau kekurangan pakan (Anggorodi, 1984). Konversi
pakan “Feed Convertion Ratio ” adalah perbandingan atau rasio jumlah pakan
(kg) yang dikonsumsi oleh ternak dengan produk yang dihasilkan (kg) oleh ternak
tersebut. Konversi pakan merupakan petunjuk berapa persen konsumsi pakan
diubah menjadi daging (Blakely dan Bade, 1994). Semakin tinggi nilai konversi
pakan berarti pakan yang digunakan untuk menaikkan bobot badan persatuan
berat semakin banyak atau efisiensi pakan rendah konversi pakan dipengaruhi oleh bangsa ternak, tersedianya zat-zat
pakan ransum dan kesehatan ternak.
Kebutuhan Nutrisi Kambing
Domba/kambing termasuk dalam golongan ternak ruminansia yang
dicirikan dengan berlambung ganda dan adanya aktifitas mikroorganisme dengan
intensitas yang tinggi pada lambungnya. Hal ini akan mempengaruhi bahan pakan
yang dibutuhkan dan kebutuhan akan zat nutrisinya. Dengan adanya aktifitas
mikroorganisme maka domba/kambing tidak memerlukan protein yang tinggi dan
bahkan bisa memanfaatkan urea sebagai sumber protein.
Nutrisi atau zat makanan adalah senyawa kimia yang terdapat dalam
makanan yang dapat dicerna menjadi senyawa lain yang digunakan untuk
berfungsinya organ fisiologis dalam rangkaian proses perkembangan,
pertumbuhan dan produksi ternak. Zat gizi yang penting adalah air, protein,
lemak, mineral, karbohidrat dan energi.
Air
Air merupakan unsur terpenting dan mutlak dibutuhkan oleh makhluk
hidup. Lebih dari 50% berat badan ternak adalah air. Unsur air mengisi sel-sel
tubuh dengan konsentrasi 7 – 90%. Hasil penelitian menunjukkan ternak lebih
tahan tanpa makan dari pada tanpa air.
Fungsi air dalam tubuh:
1. Sebagai pelarut dan media bagi reaksi kimia dalam tubuh
2. Sebagai media transportasi masuknya zat-zat ke dan dari sel tubuh
3. Sebagai pengatur temperatur tubuh
Protein
Merupakan unsur yang penting dan dibutuhkan dalam jumlah yang relatif
besar terutama dalam masa pertumbuhan, bunting dan menyusui. Penyusun
protein adalah asam amino, sehingga protein dicirikan dengan kandungan gugus
aminanya (-NH2), walaupun banyak macamnya ada yang mengandung S.
Protein adalah senyawa organik kompleks yang mempunyai berat
molekul tinggi. Ruminansia mendapatkan protein dari 3 sumber, yaitu protein
mikrobia rumen, protein pakan yang lolos dari perombakan mikrobia rumen dan
sebagian kecil dari endogenus (Tillman et al., 1991). Tubuh memerlukan protein
untuk memperbaiki dan menggantikan sel tubuh yang rusak serta untuk produksi.
Protein dalam tubuh diubah menjadi energi jika diperlukan. Protein dapat
diperoleh dari bahan-bahan pakan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan dan yang
berasal dari biji-bijian ,
Protein didalam tubuh ternak ruminansia, dapat dibedakan menjadi
protein yang dapat disintesis dan protein tidak dapat disintesis. Protein yang
dibutuhkan oleh ternak ruminansia yaitu dalam bentuk PK dan Prdd. Protein kasar
adalah jumlah nitrogen (N) yang terdapat didalam pakan dikalikan dengan 6,25
(Nx6,25), sedangkan Prdd adalah protein pakan yang dicerna dan diserap dalam
saluran pencernaan (Siregar, 1994). Menurut Anggorodi (1994) kekurangan
protein pada kambing dapat menghambat pertumbuhan, sebab fungsi protein
adalah untuk memperbaiki jaringan, pertumbuhan jaringan baru, metabolisme,
sumber energi, pembentukan anti bodi, enzim-enzim dan hormon.
Fungsi protein:
1. Pembentukan dan mengganti sel-sel yang rusak
2. Penting dalam proses pertumbuhan
3. Berperan dalam percepatan reaksi metabolisme dalam tubuh (enzim)
4. Komponen yang penting dalam otot, kulit, rambut/bulu, hormone,
immunoglobulin
Lemak
Berfungsi sebagai penghasil asam-asam lemak dan energi, setelah dicerna
menjadi asam lemak dan gliserol. Pencernaan dan penyerapan lemak pada saluran
pencernaan ternak ruminansia terjadi pada usus halus dengan bantuan enzim-
enzim dari pangkreas dan empedu.
Mineral
Tubuh hewan memerlukan mineral untuk membentuk jaringan tulang dan
urat, untuk memproduksi dan mengganti mineral dalam tubuh yang hilang, serta
untuk memelihara kesehatan (Sugeng, 1998). Mineral berfungsi untuk bahan
pembentuk tulang dan gigi yang menyebabkan adanya jaringan yang keras dan
kuat, memelihara keseimbangan asam basa dalam tubuh, sebagai aktivator system
enzim tertentu, sebagai komponen dari suatu sistem enzim ,
Mineral harus disediakan dalam perbandingan yang tepat dan dalam jumlah yang
cukup, karena apabila terlalu banyak mineral akan membahayakan tubuh ternak
Bahan yang berupa abu setelah suatu bahan dipanaskan dalam temperatur
500 ◦C selama 3 jam. Unsure ini dibedakan atas mineral makro dan mineral
mikro. Termasuk dalam mineral makro yaitu unsure Ca, Cl, Mg, P, K, Na dan S.
Sedangkan unsur yang termasuk dalam mineral mikro yaitu Co, Cu, Fe, I, Mn,
Mo, Se, dan Zn. Mineral dibutuhkan dalam jumlah yang sedikit tetapi sangat
esensial karena tubuh tidak mampu mensintesanya sendiri.
Karbohidrat
Unsur nutrisi yang sebagian besar (50-80%) merupakan bagian dari
bahan kering bahan pakan. Strukturnya terdiri dari amilum, selulose, hemiselulose
dan lignin. Peranannya sebagian besar sebagai seumber energi.
Kebutuhan Energi
Energi dalam pakan umumnya berasal dari karbohidrat dan lemak.
Pentingnya energi dalam pakan tercermin dari adanya 2 macam metode
pengukuran yaitu metode pengukuran TDN merupakan sistem ukuran yang paling
tua yang berdasar pada fraksi-fraksi yang tercerna dari sistem Wende serta
sumbangan energinya. Sistem yang kedua adalah sistem kalori berdasar pada
kandungan energi (kalori) pada bahan pakan Menurut
TDN adalah jumlah energi dari pakan maupun ransum yang dapat
dicerna. Zat-zat pakan yang dapat menjadi sumber energi yaitu protein, serat
kasar, lemak dan BETN.
Kekurangan energi dapat mengakibatkan terhambatnya pertambahan
bobot badan, penurunan bobot badan dan berkurangnya semua fungsi produksi
dan terjadi kematian bila berlangsung lama ,Menurut
ternak memanfaatkan energi untuk pertumbuhan dan produksi
setelah kebutuhan hidup pokoknya terpenuhi. Kebutuhan energi akan meningkat
seiring dengan pertambahan bobot badan. Tinggi rendahnya TDN dipengaruhi
oleh beberapa faktor antara lain bobot badan dan konsumsi pakan itu sendiri.
Kebutuhan energi akan meningkat seiring dengan pertambahan bobot badan. TDN
atau energi merupakan total dari zat pakan yang paling dibutuhkan. Kelebihan
energi akan disimpan dalam bentuk lemak badan, tetapi sebaliknya jika pakan
yang dikonsumsi tidak mencukupi kebutuhan energinya maka lemak tubuh akan
dirombak untuk mencukupi kebutuhan energi untuk hidup pokok ternak yang
tidak tercukupi dari pakan.
Pertambahan Bobot Badan Harian (PBBH)
bahwa pada ternak potong faktor penentu
dalam mencapai produksi daging yang optimal adalah bobot badan lahir dan
pertambahan bobot badan harian. Penampilan dan produksi ternak berupa laju
pertumbuhan dan pertambahan bobot badan harian merupakan hasil nyata dari
pengaruh genetik lingkungan . Lebih lanjut dinyatakan bahwa factor
genetik diperlukan untuk mengekspresikan kemampuannya secara penuh dalam
produksi sedangkan lingkungan merupakan faktor pendukung yang memberi
kesempatan untuk berproduksi.
Berdasarkan hasil penelitian diperoleh pertambahan
bobot badan harian kambing sebanyak 41,67 g/hari. Pertambahan bobot badan
ternak adalah peningkatan berat hidup ternak sampai mencapai berat tertentu
. Faktor-faktor yang mempengaruhi PBBH adalah bobot badan
ternak dan lama pemeliharaan. Bobot badan ternak senantiasa berbanding lurus
dengan tingkat konsumsinya. Semakin tinggi bobot badannya, maka makin tinggi
pula tingkat konsumsi terhadap pakan.
Kebutuhan Nutrisi Kambing Berdasarkan Bobot Badan dan Pertambahan
Bobot Badan ,
Rumus perhitungan pertambahan berat badan:
PBBH =
bobot akhir - bobot awal
waktu pengamatan
...................................................(2.1)
Konsep Subtitusi Biasa
Dalam matematika, subtitusi adalah metode yang umum digunakan untuk
memecahkan persamaan linier simultan. Konsep ini memakai prinsip-prinsip
umum bahwa setiap sisi persamaan masih sama dengan yang lain ketika kedua
belah pihak dikalikan (atau dibagi) dengan jumlah yang sama, atau ketika jumlah
yang sama ditambahkan (atau dikurangkan) dari kedua belah pihak. Sebagai
persamaan tumbuh sederhana melalui penghapusan beberapa variabel, variabel
akhirnya akan muncul dalam bentuk sepenuhnya dipecahkan, dan nilai ini
kemudian dapat menjadi "back-diganti" dalam persamaan yang sebelumnya
diperoleh dengan cara menghubungkannya nilai ini dalam untuk variabel.
Biasanya, masing-masing "substitusi balik" kemudian dapat memungkinkan
variabel lain dalam sistem yang harus dipecahkan.
Metode perhitungan subtitusi biasa ini digunakan dalam menghitung
kebutuhan nutrisi yang dibutuhkan kambing untuk mencapai berat badan yang di
harapkan.
Rumus perhitungan nutrisi dengan memakai subtitusi biasa
Jika berat badan berada tepat pada pembulatan Tabel 2.1
BBNT +
( PBBH – PBB ) . ( BBNT – ( BBNT-1))
.......................(2.2)
( PBB ) – ( PBB-1)
16
Jika berat badan berada diantara pembulatan tabel maka di hitung dulu nilai
pembuatan atas dan nilai pembulatan bawah.
Rumusnya :
KNFinal = KNAtas + BB – BBbawah + KNAtas – KNbawah ..(2.3)
BBAtas – BBbawah
Keterangan :
PBBH : Pertambahan Berat Badan Harian
BBNT : Nilai Terkait dari tabel (PK, BK, TDN, P, Ca)
BBNT -1 : Nilai Terkait dari tabel (PK, BK, TDN, P, Ca) – 1
PBB : Pertambahan Berat Badan
PBB -1 : Pertambahan Berat Badan -1
KNFinal : Kebutuhan Nutrisi Final
KNAtas : Kebutuhan Nutrisi Nilai Pembulatan Atas
KNBawah : Kebutuhan Nutrisi Nilai Pembulatan Bawah
BBbawah : Berat Badan Pembulatan Bawah
BBAtas : Berat Badan Pembulatan Atas
Sebagai contoh:
Kebutuhan nutrisi terhadap bobot dan pertambahan bobot badan harian,
misalkan dengan bobot badan 12,1 kg dan pertambahan bobot badan harian 110 g
(Brilian Indah Kusumaningrum,2009).
Kebutuhan bahan kering (BK) pada bobot badan 10 kg dan PBBH 110 g
(110-75)/(75-50) = (x-0,35)/(0,35-0,37)
35/25 = (x-0,35)/-0,02
25x-8,75 = -0,7
x = 0,32 kg
Kebutuhan bahan kering (BK) pada bobot badan 15 kg dan PBBH 110 g
(110-75)/(75-50) = (x-0,50)/(0,50-0,50)
35/25 = (x-0,50)/0
x = 0,50 kg
Kebutuhan bahan kering (BK) pada bobot badan 12,1 kg dan PBBH 110 g
= 0,32 + {(12,1-10)/(15-10)} x (0,50-0,32)
= 0,32 + (0,42)(0,18)
= 0,4 kg
Kebutuhan TDN pada bobot badan 10 kg dan PBBH 110 g
(110-75)/(75-50) = (x-0,30)/(0,30-0,25)
35/25 = (x-0,30)/0,05
25x-7,5 = 1,75 x = 0,37 kg
Kebutuhan TDN pada bobot badan 15 kg dan PBBH 110 g
(110-75)/(75-50) = (x-0,36)/(0,36-0,31)
35/25 = (x-0,35)/ 0,05
25x-9 = 1,75 x = 0,43 kg
Kebutuhan TDN pada bobot badan 12,1 kg dan PBBH 110 g
= 0,37+ {(12,1-10)/(15-10)} x (0,43-0,37)
= 0,32 + (0,42)(0,06) x = 0,4 kg
Kebutuhan Protein Kasar (PK) pada bobot badan 10 kg dan PBBH 110 g
(110-75)/(75-50) = (x-31)/(31-26)
35/25 = (x-31)/ 5
25x-775 = 175
x = 38 g
Kebutuhan Protein Kasar (PK) pada bobot badan 15 kg dan PBBH 110 g
(110-75)/(75-50) = (x-37)/(37-33)
35/25 = (x-37)/4
25x-925 = 140
x = 42,6 g
Kebutuhan Protein Kasar (PK) pada bobot badan 12,1 kg dan PBBH 110 g
= 38 + {(12,1-10)/(15-10)} x (42,6-38)
= 38 + (0,42)(4,6)
= 39,93 g
Kebutuhan kalsium (Ca) pada bobot badan 10 kg dan PBBH 110 g
(110-75)/(75-50) = (x-1,9)/(1,9-1,5)
35/25 = (x-1,9)/0,4
25x-47,5 = 14
x = 2,5 g
Kebutuhan kalsium (Ca) pada bobot badan 15 kg dan PBBH 110 g
(110-75)/(75-50) = (x-2,2)/(2,2-1,9)
19
35/25 = (x-2,2)/0,3
25x-55 = 10,5
x = 2,6 g
Kebutuhan kalsium (Ca) pada bobot badan 12,1 kg dan PBBH 110 g
= 2,5 + {(12,1-10)/(15-10)} x (2,6-2,5)
= 2,5 + (0,42)(0,1)
= 2,542 g
Kebutuhan fosfor (P) pada bobot badan 10 kg dan PBBH 110 g
(110-75)/(75-50) = (x-1,5)/(1,5-1,2)
35/25 = (x-1,5)/0,3
25x-37,5 = 10,5
x = 1,9 g
Kebutuhan fosfor (P) pada bobot badan 15 kg dan PBBH 110 g
(110-75)/(75-50) = (x-1,7)/(1,7-1,4)
35/25 = (x-1,7)/0,3
25x-42,5 = 10,5
x = 2,1 g
Kebutuhan fosfor (P) pada bobot badan 12,1 kg dan PBBH 110 g
= 1,9 + {(12,1-10)/(15-10)} x (2,1-1,9)
= 1,9 + (0,42)(0,2)
= 1,98 g
Kebutuhan nutrisi terhadap bobot dan pertambahan bobot badan harian,
dengan bobot badan 12,1 kg dan pertambahan bobot badan harian 110 g dapat
dilihat pada Tabel 2.3.
Konsep Simultaneous Equation
Persamaan simultan adalah seperangkat persamaan yang mengandung
beberapa variable. Set ini sering disebut sebagai sistem persamaan. Sebuah solusi
untuk sistem persamaan adalah spesifikasi tertentu dari nilai-nilai dari semua
variabel yang secara bersamaan memenuhi semua persamaan. Metode dasar untuk
menyelesaikan sistem persamaan sederhana termasuk metode grafik , dengan
matriks metode, metode substitusi, atau metode eliminasi. Beberapa buku teks
mengacu pada metode eliminasi sebagai metode penambahan, karena melibatkan
penambahan persamaan (atau kelipatan konstan dari persamaan kata) satu sama
lain.
Sebuah himpunan berhingga dari persamaan – persamaan linear dalam
variabel- variabel
nxxx ,,, 21 dinamakan sebuah sistem persamaan linear atau
sebuah sistem linear dan ditulis dalam bentuk
dengan a dan b yang berindeks bawah menyatakan konstanta – konstanta.
Persamaan (2.1) disebut sebuah sistem linear yang terdiri dari m
persamaan linear dengan n bilangan yang tak diketahui.
Berdasarkan definisi di atas sistem linear berikut
mempunyai dua persamaan linear dengan tiga variabel.
Persamaan (2.2) mempunyai solusi 1,2,1 321 xxx karena nilai –
nilai ini memenuhi kedua – dua persamaan. Akan tetapi, 1,8,1 321 xxx
bukanlah sebuah solusi karena nilai – nilai ini hanya memenuhi persamaan yang
pertama dari kedua persamaan di dalam sistem tersebut. Perlu dicatat bahwa tidak
semua sistem persamaan linear mempunyai solusi misalnya sistem linear berikut
Sebuah sistem persamaan yang tidak mempunyai solusi dikatakan tak
konsisten (inconsistent). Sebaliknya sistem yang mempunyai solusi dinamakan
konsisten (consistent).
Tinjaulah sebuah sistem umum dari dua persamaan linear dalam
bilangan-bilangan yang tak diketahui x dan y :
Kedua persamaan ini memberikan grafik berbentuk garis lurus. Namakan
garis–garis tersebut
1g dan 2g . Dari posisi letak kedua garis, ada tiga
kemungkinan yang dapat dibuat yaitu kedua garis sejajar atau kedua garis
berhimpit/berpotongan di satu titik atau kedua garis berhimpit/berpotongan di
banyak titik. Perhatikan Gambar 2.1.
Dari Gambar 2.1 dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Tidak ada satu titikpun yang yang bersinggungan/berpotongan antara garis
1g
dan
2g . Sebagai konsekuensi kondisi ini tidak ada solusi untuk sistem
tersebut.
2. Hanya ada satu titik singgung/potong. Konsekuensi kondisi ini adalah sistem
tersebut persis mempunyai satu solusi.
3. Ada banyak titik singgung/potong yang diberikan kedua garis
1g dan 2g . Di
dalam kasus ini maka ada banyak solusi untuk sistem tersebut.
Dari kemungkinan (b) dan (c), titik yx, dikatakan terletak pada garis
1g dan 2g jika dan hanya jika x dan y memenuhi persamaan-persaman garis
pada persamaan.
Hasil yang sama berlaku untuk sembarang sistem. Singkatnya, ada tiga
kemungkinan yang dapat terjadi di dalam mendapatkan solusi sistem persamaan
linear yaitu sistem mempunyai satu solusi, atau banyak solusi, atau tidak ada
solusi.
Kembali kepada sistem persamaan linear (2.1). Jika semua suku konstan
1,2, ,ib i m sama dengan nol yaitu sistem tersebut mempunyai bentuk
maka sistem persamaan linear (2.4) dikatakan sebagai Sistem Persamaan linear
Homogen.
Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya bahwa tiap–tiap sistem
persamaan linear mempunyai satu solusi, atau banyak solusi, atau tidak ada solusi
sama sekali.
Berkenaan dengan konsisten atau tidak konsisten, sistem persamaan (1.4)
adalah sistem yang konsisten, karena 0,,0,0 21 nxxx selalu
merupakan sebuah solusi. Solusi tersebut dinamakan solusi trival (trival solution).
Selanjutnya jika ada solusi lain, maka solusi tersebut dinamakan solusi non-trivial
(non-trival solution).
Untuk sebuah sistem persamaan linear homogen salah satu diantara
pernyataan berikut bernilai benar.
1. Sistem tersebut hanya mempunyai pemecahan trivial.
2. Sistem tersebut mempunyai tak terhingga banyaknya pemecahan yang tak
trivial sebagai tambahan kepada pemecahan trivial tersebut.
Pada kasus khusus dimana sebuah sistem homogen dipastikan mempunyai
solusi non-trivial yaitu ketika sistem tersebut memiliki variabel lebih banyak
daripada persamaan
Dalam penerapannya sistem perhitungan penyusunan ransum metode ini
mempunyai kelebihan yaitu dapat menyusun ransum dengan pemenuhan 2 atau
lebih zat pakan, dan bahan pakan yang digunakan lebih dari 2 (dua) macam.
Sebagai contoh kasus : Susun ransum dengan kandungan Protein Kasar
20% dan Energi sebesar 2,8 Mcal ME/kg ransum.
Tabel 2.4 Bahan Pakan dan Jumlah Nutrisi
Bahan pakan Protein Kasar (%) ME (Mcal) Jumlah
Protein Mix 45 2.59 x
Jagung 8.5 3.37 Y
Bekatul 12.5 2.35 z
Dari data diatas diperoleh 3 persamaan :
a. Jumlah bahan :
x + y + z = 100
b. Kebutuhan PK :
0.45 x + 0.085 y + 0.125 z = 0.20 x 100
c. Kebutuhan ME :
2.59 x + 3.37 y + 2.35 z = 2.8 x 100
Persamaan-persamaan :
1. x + y + z = 100
2. 0.45x + 0.085y + 0.125z = 20
3. 2.59x 3.37 y + 2.35z = 280
(2) 45 x + 8.5 y + 12.5 z = 2000
(3) 45 x + 58.55 y + 40.83 z = 4864.86
(4) - 50.05 y - 28.33 z = - 2864.86
(1) 45 x + 45 y + 45 z = 4500
(2) 45 x + 8.5 y + 12.5 z = 2000
(5) 36.5 y + 32.5 z = 2500
25
(4) – 50.05 y – 28.33 z = - 2864.86
(5) – 50.05 y – 44.56 z = - 3428.08
16.23 z = 563.22
z = 34.70
(2) 45 x + 8.5 y +12.5 z = 2000
45 x + 8.5 y = 2000 –(12.5 x 34.7)
45 x + 8.5 y = 1566.25 (6)
(3) 45 x + 58.55 y + 40.83 z = 4864.86
45 x + 58.55 y = 4864.86 – (40.83 x 34.7)
45 x + 58.55 y = 3448.06 (7)
(6) 45 x + 8.5 y = 1566.25
(7) 45 x + 58.55 y = 3448.06
- 50.05 y = - 1881.81
y = 37.60
(1) x + y + z = 100
x + 37.60 + 34.70 = 100
x = 27.70
Jadi ransum tersebut dalam 100 kg tersusun atas :
Tabel 2.5. Porsi Komposisi Ransum.
Bahan pakan Jumlah (kg)
Protein Mix 27.70
Jagung 37.60
Bekatul 34.70
Konsep Dasar Sistem
Terdapat dua kelompok pendekatan di dalam mendefinisikan sistem, yaitu
yang menekankan pada prosedurnya dan yang menekankan pada komponen atau
elemennya. Pendekatan sistem yang lebih menekankan pada prosedur sistem
adalah sebagai berikut: “Sistem adalah suatu jaringan kerja dari prosedur-prosedur
yang saling berhubungan, berkumpul bersama-sama untuk melakukan suatu
kegiatan atau untuk menyelesaikan suatu sasaran tertentu
Pendekatan sistem yang merupakan jaringan kerja dari prosedur lebih
menekankan urutan-urutan operasi di dalam sistem. Prosedur (procedure)
didefinisikan sebagai berikut: “Prosedur adalah
suatu urut-urutan operasi klerikal (tulis-menulis), biasanya melibatkan beberapa
orang di dalam satu atau lebih departemen, yang diterapkan untuk menjamin
penanganan yang seragam dari transaksi-transaksi bisnis yang terjadi.”
Pendekatan sistem yang lebih menekankan pada elemen atau komponennya dalam
mendefinisikan sistem, masih menurut Neuschel, adalah sebagai berikut: “Sistem
adalah kumpulan dari elemen-elemen yang berinteraksi untuk mencapai suatu
tujuan tertentu.”
Konsep Sistem Informasi
Sistem informasi didefinisikan oleh Robert A. Leitch dan K. Roscoe Davis
sebagai berikut:
“Sistem informasi adalah suatu sistem di dalam suatu organisasi yang
mempertemukan kebutuhan pengolahan transaksi harian, mendukung operasi,
bersifat manajerial dan kegiatan strategi dari suatu organisasi dan menyediakan
pihak luar tertentu dengan laporan-laporan yang diperlukan.”
Blok Masukan
Masukan atau input mewakili data yang masuk ke dalam sistem informasi.
Masukan disini termasuk metode-metode dan media untuk menangkap data yang
akan dimasukkan, yang dapat berupa dokumen-dokumen dasar.
Blok Model
Blok ini terdiri dari kombinasi prosedur, logika dan model matematik yang
akan memanipulasi data input dan data yang tersimpan di basis data dengan cara
yang sudah ditentukan untuk menghasilkan keluaran yang diinginkan.
Blok Keluaran
Produk dari sistem informasi adalah keluaran yang merupakan informasi
yang berkualitas dan dokumentasi yang berguna untuk semua tingkatan
manajemen serta semua pemakai sistem.
Blok Teknologi
Teknologi merupakan “kotak alat” (toolbox) dalam sistem informasi.
Teknologi digunakan untuk menerima input, menjalankan model, menyimpan dan
mengakses data, menghasilkan dan mengirimkan keluaran dan membantu
pengendalian dari sistem secara keseluruhan.
Blok Basis Data
Basis data (database) merupakan kumpulan dari data yang saling
berhubungan satu dengan lainnya, tersimpan di perangkat keras komputer dan
digunakan perangkat lunak untuk memanipulasinya. Data perlu disimpan di dalam
basis data untuk keperluan penyediaan informasi lebih lanjut. Data di dalam basis
data perlu diorganisasikan sedemikian rupa, supaya informasi yang dihasilkan
berkualitas. Organisasi basis data yang baik juga berguna untuk efisiensi kapasitas
penyimpannya. Basis data diakses atau dimanipulasi dengan memakai
perangkat lunak paket yang disebut dengan DBMS (Database Management
Systems).
Blok Kendali
Banyak hal yang dapat merusak sistem informasi, seperti misalnya
bencana alam, api, temperatur, air, debu, kecurangan-kecurangan, kegagalan-
kegagalan sistem itu sendiri, kesalahan-kesalahan, ketidak-efisienan, sabotase, dan
lain sebagainya. Beberapa pengendalian perlu dirancang dan diterapkan untuk
meyakinkan bahwa hal-hal yang dapat merusak sistem dapat dicegah ataupun bila
terlanjur terjadi kesalahan-kesalahan dapat langsung diatasi.
analisa dan Perancangan Sistem
analisa sistem adalah penguraian dari suatu
sistem informasi yang utuh ke dalam bagian-bagian komponennya dengan
maksud untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi permasalahan-permasalahan,
kesempatan-kesempatan, hambatan-hambatan yang terjadi dan kebutuhan-
kebutuhan yang diharapkan sehingga dapat diusulkan perbaikan-perbaikannya.
Tahap analisa sistem dilakukan setelah tahap perencanaan sistem (system
planning) dan sebelum tahap desain sistem (system design). Tahap analisa
merupakan tahap yang kritis dan sangat penting, karena kesalahan di dalam tahap
ini juga akan menyebabkan kesalahan di tahap selanjutnya.
Dalam tahap analisa sistem terdapat langkah-langkah dasar yang harus
dilakukan oleh analis sistem sebagai berikut:
1. Identify, yaitu mengidentifikasi masalah.
2. Understand, yaitu memahami kerja dari sistem yang ada.
3. Analyze, yaitu menganalisa sistem.
4. Report, yaitu membuat laporan hasil analisa .
Setelah tahap analisa sistem selesai dilakukan, maka analis sistem telah
mendapatkan gambaran dengan jelas apa yang harus dikerjakan. Tiba waktunya
sekarang bagi analis sistem untuk memikirkan bagaimana membentuk sistem
tersebut. Tahap ini disebut dengan desain sistem.
analisa dan perancangan sistem dipergunakan untuk menganalisa ,
merancang, dan mengimplementasikan peningkatan-peningkatan fungsi bisnis
yang dapat dicapai melalui penggunaan sistem informasi terkomputerisasi.
System Flow
System flow atau bagan alir sistem merupakan bagan yang menunjukkan
arus pekerjaan secara keseluruhan dari sistem. System flow menunjukkan urutan-
urutan dari prosedur yang ada di dalam sistem dan menunjukkan apa yang
dikerjakan sistem. Simbol-simbol yang digunakan dalam system flow ditunjukkan
pada Gambar 2.2.
1. Simbol Dokumen
2. Simbol Kegiatan Manual
3. Simbol Simpanan Offline
4. Simbol Proses
5. Simbol Database
6. Simbol Garis Alir
7. Simbol Penghubung ke Halaman yang Sama
8. Simbol Penghubung ke Halaman Lain
Gambar 2.2 Simbol-Simbol Pada System Flow
1. Simbol dokumen
Menunjukkan dokumen input dan output baik untuk proses manual atau
komputer.
2. Simbol kegiatan manual
Menunjukkan pekerjaan manual.
3. Simbol simpanan offline
Menunjukkan file non-komputer yang diarsip.
4. Simbol proses
Menunjukkan kegiatan proses dari operasi program komputer.
5. Simbol database
Menunjukkan tempat untuk menyimpan data hasil operasi komputer.
6. Simbol garis alir
Menunjukkan arus dari proses.
7. Simbol penghubung
Menunjukkan penghubung ke halaman yang masih sama atau ke halaman lain.
Data Flow Diagram (DFD)
DFD sering digunakan untuk menggambarkan suatu sistem yang telah ada
atau sistem baru yang akan dikembangkan secara logika tanpa
mempertimbangkan lingkungan fisik dimana data tersebut mengalir. DFD
merupakan alat yang digunakan pada metodologi pengembangan sistem yang
terstruktur dan dapat mengembangkan arus data di dalam sistem dengan
terstruktur dan jelas.
Simbol-simbol yang digunakan dalam DFD
Simbol-simbol yang digunakan dalam DFD adalah :
1. External Entity atau Boundary.
External entity atau kesatuan luar merupakan kesatuan di lingkungan luar
sistem yang dapat berupa orang, organisasi atau sistem lainnya yang
berada di lingkungan luarnya yang akan memberikan input atau menerima
output dari sistem. External entity disimbolkan dengan notasi kotak.
2. Arus Data
Arus Data (data flow) di DFD diberi simbol panah. Arus data ini mengalir
di antara proses, simpanan data (data store) dan kesatuan luar (external
entity). Arus data ini menunjukkan arus data yang dapat berupa masukan
untuk sistem atau hasil dari proses sistem.
3. Proses
Suatu proses adalah kegiatan yang dilakukan oleh orang, mesin, atau
komputer dari hasil suatu arus data yang masuk ke dalam proses untuk
menghasilkan arus data yang akan keluar dari proses. Simbol proses
berupa lingkaran atau persegi panjang bersudut tumpul.
4. Simpanan Data
Simpanan data merupakan simpanan dari data yang dapat berupa hal-hal
sebagai berikut, sebagai gambaran:
1. Suatu file atau database di sistem komputer.
2. Suatu arsip atau catatan manual.
3. Suatu kotak tempat data di meja seseorang.
4. Suatu tabel acuan manual.
Simpanan data di DFD disimbolkan dengan sepasang garis horizontal
paralel yang tertutup di salah satu ujungnya.
Context Diagram
Context Diagram merupakan langkah pertama dalam pembuatan DFD.
Pada context diagram dijelaskan sistem apa yang dibuat dan eksternal entity apa
saja yang terlibat. Dalam context diagram harus ada arus data yang masuk dan
arus data yang keluar.
Data Flow Diagram Level 0
DFD level 0 adalah langkah selanjutnya setelah context diagram. Pada
langkah ini, digambarkan proses-proses yang terjadi dalam sistem informasi.
Data Flow Diagram Level 1
DFD Level 1 merupakan penjelasan dari DFD level 0. Pada proses ini
dijelaskan proses apa saja yang dilakukan pada setiap proses yang terdapat di
DFD level 0.
Entity Relational Diagram
Entity Relational Diagram (ERD) merupakan penggambaran hubungan
antara beberapa entity yang digunakan untuk merancang database yang akan
diperlukan.
Konsep Dasar Basis Data
database merupakan sekumpulan data yang
berisi informasi yang saling berhubungan. Pengertian ini sangat berbeda antara
database Relasional dan Non Relasional. Pada database Non Relasional, sebuah
database hanya merupakan sebuah file.
database adalah suatu susunan/kumpulan data
operasional lengkap dari suatu organisasi/perusahaan yang diorganisir/dikelola
dan disimpan secara terintegrasi dengan memakai metode tertentu
memakai komputer sehingga mampu menyediakan informasi optimal yang
diperlukan pemakainya.
Penyusunan satu database digunakan untuk mengatasi masalah-masalah
pada penyusunan data yaitu redundansi dan inkonsistensi data, kesulitan
pengaksesan data, isolasi data untuk standarisasi, multiple user (banyak pemakai),
security (masalah keamanan), masalah integrasi (kesatuan), dan masalah data
independence (kebebasan data).
ninda
Pada dasarnya setiap orang yang memiliki dan memelihara ternak bertanggungjawab atas setiap
kerugian yang ditimbulkan oleh ternaknya, demikian juga terhadap kerugian itu pemilik tenak berkewajiban
memberikan ganti rugi kepada pihak yang dirugikan. Hal ini sesuai dengan ketentuan yang ada dalam Pasal
1368 KUHPerdata. Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk menjelaskan tentang tanggung jawab pemilik
terhadap perbuatan melawan hukum yang disebabkan oleh hewan ternak, hambatan yang dihadapi dalam
pelaksanaan ganti rugi dan usaha yang dilakukan untuk penyelesaiannya. Penelitian ini merupakan penelitian
hukum yang bersifat yuridis empiris dengan pengambilan sempel menggunakan teknik purposive sempling.
Untuk memperoleh data dalam penulisan artikel ini dilakukan penelitian kepustakaan dan penelitian lapangan.
Penelitian kepustakaan dilakukan dengan cara memperlajari serta menganalisis ketentuan-ketentuan perundang-
undangan, buku teks, jurnal dan dokumen lainnya yang berkaitan dengan masalah yang dibahas dalam penulisan
ini sedangkan penelitian lapangan dilakukan dengan cara mewawancarai responden dan informan yang telah
ditentukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanggung jawab pemilik ternak terhadap pemilik tanaman
dilakukan dengan memberikan ganti rugi kepada pemilik tanaman yang dirugikan. Ada dua hambatan yang
sering ditemui dalam usaha penyelesaian ganti rugi kepada pemilik tanaman, yaitu sering tidak diketahui secara
pasti siapa pemilik ternak yang menimbulkan kerugian serta tidak adanya itikad baik dari pemilik ternak. usaha
yang dilakukan oleh pemilik tanaman untuk mendapatkan ganti rugi atas kerugian ini adalah dengan cara
damai meliputi musyawarah antar para pihak serta penyelesaian dengan melibatkan tokoh warga .
Diharapkan kepada para pemilik ternak lebih bertanggungjawab terhadap kerugian-kerugian yang ditimbulkan
oleh ternaknya. Kepada perangkat gampong disarankan agar lebih tegas dalam menerapkan aturan hukum yang
telah ada dan berlaku di dalam warga , melakukan sosialisasi kepada warga mengenai aturan-aturan
hukum yang harus dipatuhi serta membuat reusam gampong sebagai dasar hukum dalam menerapkan setiap
aturan Kata Kunci: Tanggung Jawab, Kerusakan, Hewan Ternak
Ternak adalah binatang yang dipiara (lembu, kuda, kambing dan sebagainya) yang
dibiakkan untuk tujuan produksi.1 Pada tingkatan yang lebih kecil, hewan ternak merupakan
binatang peliharaan yang sengaja dipelihara seseorang agar bisa diambil manfaatnya sebagai
salah satu sumber penghasilan bagi pemiliknya. Pemilik ternak sebagai orang yang
menguasai hewan ternak bertanggung jawab terhadap setiap akibat yang ditimbulkan oleh
hewan ternaknya. Setiap bentuk kerugian yang ditimbulkan oleh hewan ternak, sepenuhnya
menjadi tanggung jawab pemiliknya. Pemilik ternak tidak boleh membiarkan ternaknya lepas
tanpa pengawasan karena dapat beresiko menimbulkan kerugian terhadap orang lain.
Kelalaian pemilik ternak dalam mengawasi ternaknya sehingga menimbulkan kerugian pada
orang lain dapat digolongkan sebagai suatu perbuatan melawan hukum.
Pasal 1365 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (selanjutnya disebut KUHPerdata)
menyebutkan: “Tiap perbuatan melanggar hukum, yang membawa kerugian kepada seorang
lain, mewajibkan orang yang karena salahnya menerbitkan kerugian itu, mengganti kerugian
ini .”
berdasar pada rumusan pasal ini, dapat dipahami bahwa suatu perbuatan dapat
dinyatakan sebagai perbuatan melawan hukum apabila perbuatan ini memenuhi empat
unsur berikut:
1. Perbuatan itu harus melawan hukum (onrechtmatig);
2. Perbuatan itu harus menimbulkan kerugian;
3. Perbuatan itu harus dilakukan dengan kesalahan; dan
4. Antara perbuatan dan kerugian yang timbul harus ada hubungan kausal
Terpenuhinya keempat unsur di atas merupakan syarat mutlak agar suatu perbuatan
dapat digolongkan sebagai perbuatan melawan hukum, salah satu saja dari unsur-unsur ini
tidak terpenuhi, maka perbuatan itu tidak dapat digolongkan sebagai perbuatan melawan
hukum.
Jika seorang dapat dibuktikan telah melakukan perbuatan melawan hukum dan
merugikan orang lain, maka terhadap seorang ini dapat dimintakan pertanggungjawaban
atas kerugian yang ditimbulkannya itu. Tanggung jawab yang dimaksudkan di sini adalah
berupa ganti kerugian yang diderita orang lain sebagai akibat terjadinya perbuatan melawan
hukum.
Selanjutnya menyangkut dengan perbuatan melawan hukum yang diakibatkan oleh
hewan ternak, diatur dalam Pasal 1368 KUHPerdata yang menerangkan bahwa: “Pemilik
seekor binatang, atau siapa yang memakainya, adalah selama binatang itu dipakainya,
bertanggung jawab tentang kerugian yang diterbitkan oleh binatang ini , baik binatang
itu berada dibawah pengawasannya, maupun tersesat atau terlepas dari pengawasannya.”
Ketentuan yang termuat didalam Pasal 1368 KUHPerdata menerangkan dengan jelas
bahwa seseorang tidak hanya bertanggung jawab atas kerugian yang disebabkan oleh
perbuatan, kelalaian atau kurang hati-hatinya sendiri, tetapi juga harus bertanggung jawab
atas kerugian yang disebabkan oleh perbuatan orang-orang yang menjadi tanggungannya,
barang-barang yang berada dibawah pengawasannya dan juga binatang-binatang miliknya.
Dengan demikian, setiap orang yang memiliki hewan ternak bertanggung jawab
sepenuhnya terhadap kerugian yang ditimbulkan ternaknya. Apabila ternaknya ini lepas
dari pengawasan dan melakukan sesuatu yang menyebabkan kerugian bagi orang lain, maka
pemilik ternak harus bertanggung jawab untuk mengganti kerugian ini . Selama pihak
pemilik ternak dirasa memiliki kemampuan untuk mengganti sejumlah kerugian yang
ditimbulkan, maka pemilik ternak tidak bisa menghindari atau melepaskan diri dari tanggung
jawabnya.
Berkaitan dengan pengaturan mengenai Perbuatan Melawan Hukum ini di atas,
maka berdasar penelitian yakni dengan mewawancarai beberapa kepala desa di
Kecamatan Ingin Jaya Kabupaten Aceh Besar, diperoleh informasi bahwa pada tahun 2015
ada 2 kasus kerusakan tanaman yang diakibatkan oleh hewan ternak serta pada tahun
2016 juga ada 6 kasus kerusakan tanaman yang diakibatkan oleh hewan ternak. Satu
kasus di antaranya telah diselesaikan oleh para pihak, yakni dengan mengganti kerugian yang
dialami pemilik tanaman. Namun 7 kasus lainnya belum terselesaikan proses ganti ruginya
disebabkan adanya beberapa hambatan-hambatan yang membuat pemilik tanaman sulit untuk
mendapatkan pemenuhan haknya dalam hal memperoleh pengganti kerugian dari pemilik
ternak.
Kasus-kasus yang terjadi di Kecamatan Ingin Jaya Kabupaten Aceh besar ini
umumnya terjadi akibat tindakan pemilik ternak yang melepaskan ternaknya ke kawasan
persawahan yang sedang dipakai untuk menanam tanaman palawija. Ternak-ternak dilepas
tanpa diikat dan tanpa pengawasan sama sekali oleh pemiliknya, sehingga tanpa
sepengetahuan pemilik, ternak ini telah melakukan pengrusakan terhadap tanaman milik
orang lain. Pemilik tanaman yang merasa dirugikan kemudian memintakan
pertanggungjawaban dari pemilik ternak atas kerusakan yang timbul akibat ternaknya.
Bentuk pertanggungjawaban yang dimintakan adalah berupa ganti kerugian yang diderita
oleh pemilik tanaman. Namun untuk mendapatkan perrtanggungjawaban dari pemilik ternak
ini tidaklah mudah, banyak kendala yang ditemui oleh pemilik tanaman dalam usaha
mendapatkan ganti rugi yang diinginkan. Kendala-kendala inilah yang menyebabkan
beberapa kasus seperti yang ini di atas sulit untuk diselesaikan proses ganti ruginya.
Penelitian ini merupakan penelitian hukum yang bersifat yuridis empiris. Penelitian yuridis
empiris adalah metode penelitian yang dilakukan untuk mendapatkan data primer yang diperoleh dari
penelitian lapangan berupa dokumen-dokumen dan berkas-berkas yang berkaitan dengan
permasalahan yang dibahas yakni terkait dengan judul “Tanggung Jawab Pemilik Hewan Ternak
terhadap Pemilik Tanaman Akibat Adanya Kerusakan oleh Hewan Ternak”.
Data yang diperoleh dalam penulisan artikel ini didapatkan dengan cara melakukan
penelitian kepustakaan dan penelitian lapangan. Penelitian kepustakaan dilakukan untuk
mendapatkan sumber data secara teoritis yaitu dari buku-buku, jurnal hukum, dan peraturan
undang-undang yang berlaku, sedangkan penelitian lapangan dilakukan untuk mendapatkan
data primer melalui wawancara dengan responden maupun informan.
Pengambilan sempel untuk penulisan artikel ini dipakai teknik purposive sampling,
yaitu pemilihan sekelompok subjek atas ciri-ciri atau sifat tertentu yang dipandang
bersangkut paut yang erat dengan ciri-ciri atau sifat-sifat populasi yang sudah diketahui
sebelumnya yang dianggap dapat memberikan informasi yang jelas tentang apa masalah yang
dibahas dan diperkirakan mampu mewakili keseluruhan populasi...
1. Tanggung Jawab Pemilik Ternak terhadap Perbuatan Melawan Hukum yang
disebabkan oleh Hewan Ternak
Hewan ternak merupakan hewan yang dipelihara dengan tujuan untuk produksi dan
menjadi salah satu sumber penghasilan bagi peternak itu sendiri. Hewan ternak yang umum
dipelihara oleh kebanyakan warga di Kabupaten Aceh Besar, terutama di Kecamatan
Ingin Jaya berupa hewan ternak jenis sapi dan juga kambing. Hewan ternak ini banyak
dipelihara karena jenis pakannya yang tergolong mudah dicari, yaitu hanya berupa
rerumputan serta dedaunan yang banyak ditemui di lingkungan sekitar. Salah satu tempat
yang paling banyak ada rumput adalah kawasan persawahan.
Melepaskan ternak ke persawahan merupakan hal yang biasa dilakukan saat musem
luah blang. Ternak-ternak yang dilepaskan umumnya tidak diikat sama sekali dan dibiarkan
lepas begitu saja oleh pemiliknya. Meskipun tidak semua peternak membiarkan ternaknya
bebas mencari makan seperti itu, namun hal ini sudah menjadi suatu kebiasaan yang sangat
melekat di dalam warga .
Tindakan pemilik ternak yang melepaskan ternaknya dalam keadaan tidak diikat dan
tanpa pengawasan ini sebenarnya disadari sangat berisiko. Ternak yang dibiarkan bebas tanpa
pengawasan sedikitpun bisa saja melakukan hal-hal yang merugikan orang lain. Tanpa
sepengetahuan pemilik, hewan ternak bisa saja masuk ke petak sawah yang ditanami tanaman
palawija. Jika sudah masuk ke petak sawah yang ada tanaman, maka besar kemungkinan
ternak akan menginjak tanaman ini . Akibatnya bisa menyebabkan tanaman mati dan
pemilik tanaman mengalami kerugian. Ketika kerugian ini terjadi maka peternak sebagai
pemilik, pada akhirnya harus bertanggung jawab terhadap akibat yang ditimbulkan ternaknya.
Hal ini sesuai dengan apa yang diatur dalam Pasal 1368 KUHPerdata bahwa pemilik ternak
harus bertanggung jawab atas kerugian yang ditimbulkan oleh ternaknya, baik ternaknya itu
berada dalam pengawasan maupun tidak dalam pengawasannya.
Pasal 1368 KUHPerdata telah mengaturkan secara jelas mengenai tanggung jawab
pemilik ternak terhadap kerugian-kerugian yang harus ditanggung apabila kerugian ini
terbukti disebabkan oleh ternaknya. Begitupun jika ternaknya itu melakukan pengrusakan
terhadap tanaman orang lain, maka pemilik ternak harus membayar ganti rugi kepada pemilik
tanaman yang mengalami kerugian ini .
Ridwan Yahya menjelaskan bahwa saat musim tanam tiba, semua peternak dilarang
melepaskan ternaknya ke persawahan. Pemilik ternak diharuskan untuk memasukkan
ternaknya ke dalam kandang selama masa tanam berlangsung. Jikapun tidak dimasukkan
dalam kandang, setidaknya harus ada tempat khusus yang dipagari dengan ketinggian
tertentu, sehingga ternaknya tidak bebas berkeliaran. Jika hal ini tidak dilakukan, maka
apabila ternak ini melakukan pengrusakan terhadap tanaman milik orang lain, pemilik
ternak harus bertanggung jawab terhadap kerusakan yang ditimbulkan oleh ternaknya itu. Hal
ini sudah menjadi aturan yang berlaku di dalam warga sehingga setiap peternak harus
mematuhi aturan ini .
Peraturan yang menyatakan bahwa pemilik ternak bertanggungjawab sepenuhnya
terhadap kerugian yang ditimbulkan ternaknya sudah menjadi ketentuan yang berlaku
menyeluruh di desa-desa yang berada di Kecamatan Ingin Jaya Kabupaten Aceh Besar.
Ketika ada kasus-kasus yang berkaitan dengan kerugian yang dilakukan oleh hewan ternak,
maka aturan ini yang akan dipakai dan menjadi dasar dalam menegaskan beban tanggung
jawab pemilik ternak. Dengan demikian maka tidak ada alasan bagi pemilik ternak untuk
tidak mengganti kerugian apabila ternaknya melakukan pengrusakan yang menimbulkan
kerugian pada orang lain.
2. Hambatan yang Dihadapi dalam Pelaksanaan Ganti Rugi
berdasar hasil penelitian, masih ditemui adanya beberapa kendala yang
menghambat terpenuhinya hak dari pihak yang dirugikan. Beberapa hambatan ini di
antaranya yaitu:
a. Tidak diketahui secara pasti Pemilik Ternaknya
Pada dasarnya untuk mendapatkan ganti rugi, seorang yang merasa dirugikan
harus meminta ganti rugi kepada pemilik ternak. Oleh karena itu, pemilik tanaman
yang dirugikan harus mengetahui siapa pemilik ternak yang menimbulkan kerugian
ini . sesudah diketahui siapa pemilik ternak ini barulah pemilik tanaman
dapat meminta pertanggungjawaban dari pemilik ternak barupa ganti rugi atas
kerugian yang dialami.
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa pada saat sesudah panen, pemilik
ternak secara berbarengan melepaskan ternaknya ke persawahan. Jika sudah
demikian, ternak-ternak ini pun bercampur antara pemilik yang satu dengan
pemilik yang lain, sehingga saat terjadi pengrusakan sangat sulit diketahui ternak
milik siapa yang melakukannya. Jika terjadi seperti itu maka pemilik tanaman akan
kesulitan dalam menentukan siapa pemilik ternak yang melakukan perbuatan
melawan hukum. Pemilik tanamanpun akhirnya tidak tahu secara pasti kepada siapa
tanggungjawab mengganti kerugian itu patut dimintakan. Inilah kesulitan utama
yang dihadapi pemilik tanaman dalam usaha mendapatkan ganti kerugian.
Berkaitan dengan ini Ismanullah, geuchik gampong Ajee Cut menjelaskan
bahwa pemilik tanaman berhak memintakan ganti rugi pada pemilik ternak yang
menimbulkan kerugian. Tetapi dengan syarat yaitu orang yang merasa dirugikan
harus dapat membuktikan bahwa ternak ini memang milik orang yang
dimintakan ganti rugi ini dan bukan milik peternak lain. Hal ini karena tidak
boleh apabila orang yang merasa dirugikan meminta ganti rugi kepada orang yang
bukan pemilik ternak yang melakukan pengrusakan. Ini menjadi syarat utama dan
jika tidak dapat dibuktikan maka orang yang merasa dirugikan tidak diperkenankan
untuk meminta ganti kerugian atas kerugian yang dialaminya itu.
b. Tidak ada Itikad Baik dari Pemilik Ternak
Itikad baik dari pemilik ternak bisa menjadi salah satu faktor penghambat
terhadap pemenuhan hak dari pihak pemilik tanaman yang dirugikan. Adakalanya
ada pemilik ternak yang mengabaikan tanggung jawabnya atas kerugian yang
ditimbulkan ternaknya dengan berbagai alasan.
Seperti yang dikatakan oleh M. Amin, semua pemilik ternak tahu dan
menyadari kewajibannya untuk mengganti kerugian apabila ada ternaknya yang
menimbulkan kerusakan pada tanaman orang lain. Tetapi ada beberapa pemilik
ternak yang tidak melaksanakan ganti rugi ini karena mungkin berpikir bahwa
kerusakan yang ditimbulkan tidaklah parah dan kerugiannya hanya sedikit. Padahal
walaupun kerugian ini tidak besar namun pemilik ternak harusnya
menunjukkan rasa tanggung jawab dengan memberikan ganti rugi terhadap pemilik
tanaman yang dirugikan.
Kesadaran dan itikad baik di dalam menyelesaikan permasalahan
menyangkut kerugian yang ditimbulkan oleh hewan ternak sangatlah penting.
Dengan adanya itikad baik dari pemilik ternak dapat memudahkan di dalam proses
penyelesaian ganti rugi kepada pemilik tanaman. Selain itu juga dengan adanya
itikad baik ini bisa mencegah masalah-masalah antar individu menjadi semakin
besar. Jika permasalahan ini tidak dapat terselesaikan dengan cara yang baik
justru akan menimbulkan permasalahan lain yang bisa lebih merugikan bagi para
pihak.
3. usaha -usaha yang dilakukan untuk Penyelesaiannya
berdasar penelitian di lapangan, ada beberapa cara atau usaha yang umum
dilakukan pemilik tanaman dalam mengatasi hambatan ini untuk mendapatkan ganti
rugi yang menjadi haknya. Adapun usaha -usaha dilakukan ini yaitu:
1. Musyawarah Antar Para Pihak
Cara pertama yang umum dilakukan oleh pemilik tanaman untuk
memperoleh penyelesaian terhadap kerugian yang dialami adalah cara kekeluargaan
yakni musyawarah antar para pihak. Dengan cara ini pemilik tenaman akan lebih
mudah dalam menyampaikan dan menjelaskan kepada pemilik ternak mengenai
kerugian yang ditimbulkan ternaknya, sehingga tidak timbul sikap salah paham di
antara para pihak.
Ilyas mengatakan bahwa dalam penyelesaian sengketa perdata, cara yang
lebih diutamakan dalam penyelesaiannya di dalam warga adalah dengan
musyawarah atau perdamaian. Dengan cara ini para pihak dapat saling bertemu dan
menjelaskan inti permasalahan dengan cara yang baik. Kemudian para pihak dapat
saling memberikan pandangan serta penjelasan, lalu mencari penyelesaiannya secara
bersama-sama. Penyelesaian dengan cara ini dinilai akan lebih adil untuk kedua
belah pihak, baik itu untuk pihak pemilik ternak maupun pihak yang dirugikan,
yakni pemilik tanaman.
Musyawarah antar para pihak yang bersengketa merupakan cara yang yang
paling bijak serta diutamakan dalam penyelesaian setiap permasalahan yang terjadi
di dalam warga . Dengan musyawarah semua pihak yang terlibat dapat saling
bertukar pikiran serta mencari solusi terbaik bersama-sama untuk menyelesaikan
masalah ini . Penyelesaian masalah melalui cara musyawarah dinilai efektif
dipakai untuk menyelesaikan masalah di dalam warga karena di dalam
warga rasa kekeluargaan dan kebersamaan masih cukup kental. Oleh sebab itu
penyelesaian permasalan melalui musyawarah terus diutamakan dan dilaksanakan di
dalam warga .
Begitupula yang dikatakan oleh Rajidin, menurutnya jika memang ternak
melakukan pengrusakan terhadap tanaman milik seseorang, maka pemilik tanaman
harus menyelesaikannya dengan musyawarah. Pemilik ternak pasti akan
memberikan ganti rugi jika memang benar ternaknya melakukan pengrusakan
ini . Seperti yang pernah dialaminya, ia bersedia membayar ganti rugi kepada
pemilik tanaman yang dirugikan oleh ternaknya. Saat itu pemilik tanaman meminta
ganti rugi sebesar Rp 150.000,- dan ia pun bersedia memberikan ganti rugi berupa
sejumlah uang ini karena merasa jumlah ini memang sesuai dengan total
kerugiannya.
2. Penyelesaian dengan Melibatkan Tokoh warga .
Cara yang selanjutnya menjadi alternatif dalam penyelesaian ganti rugi
terhadap kerugian yang ditimbulkan ternak bisa juga diselesaikan dengan melibatkan
tokoh warga . Tokoh warga di dalam sebuah gampong berfungsi sebagai
pihak yang menengahi dalam setiap permasalahan yang terjadi di dalam warga .
Geuchik bersama perangkat gampong lainnya akan bermusyawarah untuk
mencarikan solusi terbaik bagi para pihak. Para pihak tentunya berharap dengan cara
ini bisa menyelesaikan permasalahan ini dengan seadil-adilnya.
. Ridwan Yahya mengatakan bahwa dirinya sebagai geuchik selalu siap
menerima setiap keluhan dan laporan dari warga mengenai permasalahan yang
mereka hadapi, karena itu memang sudah menjadi tugasnya sebagai seorang
geuchik. Jika ada masalah di dalam warga , tidak terkecuali masalah mengenai
pengrusakan oleh hewan ternak dirinya siap membantu jika memang sudah
dibutuhkan, namun dalam menyelesaikan masalah-masalah ini dirinya tidak
sendiri, tokoh warga lain akan secara bersama-sama ikut membantu, sehingga
penyelesiannya dari masalah ini dapat mudah diselesaikan.
berdasar aturan adat yang berlaku di Kecamatan Ingin Jaya Kabupaten Aceh
Besar, tidak dimungkinkan bagi pemilik ternak untuk melepaskan ternaknya dalam keadaan
tidak diikat serta tidak diawasi oleh pemiliknya. Jika tindakan melepas ternak tanpa diikat ini
tetap dilakukan, maka pemilik ternak harus bertanggung jawab apabila ternak melakukan
pengrusakan atau kerugian terhadap pemilik tanaman. Tanggung jawab ini adalah
berupa pemberian ganti rugi kepada pemilik tanaman yang dirugikan. Ganti rugi yang harus
dibayarkan berdasar perhitungan jumlah kerugian nyata yang dialami oleh pemilik
tanaman.
Pada pelaksanaan pertanggungjawaban ganti rugi kepada pemilik tanaman ditemui
beberapa hambatan. Hambatan ini meliputi 2 hal, yaitu:
1). Tidak Diketahui Secara Pasti Pemilik Ternaknya
Ketika ternak dari beberapa pemilik dilepaskan secara bersamaan, pemilik
tanaman kesulitan dalam menentukan ternak mana yang melakukan pengrusakan
dan juga siapa pemilik ternak ini . Sehingga pemilik tanaman sulit untuk
siapa tuntutan ganti rugi itu harus ditujukan. Sehingga hak pemilik tanaman
berupa ganti kerugian atas kerugian yang dialami sulit didapatkan.
2). Tidak Ada Itikad Baik Dari Pemilik Ternak
Kesadaran pemilik ternak untuk bertanggungjawab terhadap kerugian yang
ditimbulkan ternaknya masih kurang. Dengan alasan bahwa kerugian yang
timbulkan hanya sedikit, pemilik ternak merasa tidak perlu bertanggungjawab atas
kerugian yang sedikit ini .
c. Mengenai cara penyelesaian agar pemilik tanaman tetap mendapatkan pemenuhan
haknya berupa ganti kerugian dari pemilik tanaman yang melakukan perbuatan
melawan hukum, pemilik tanaman umumnya melakukan usaha -usaha sebagai
berikut:
1). Musyawarah Antar Para Pihak
Musyawarah antar para pihak menjadi cara yang paling utama dan umum
dipakai untuk menyelesaikan sengketa didalam warga . Pemilik tanaman
biasanya mengusaha kan musyawarah dengan pemilik ternak untuk mendapatkan
ganti rugi atas kerugian yang diakibatkan oleh hewan ternak.
2). Penyelesaian Melibatkan Tokoh warga .
Tokoh warga di gampong menjadi penengah dan membantu mencarikan
solusi terbaik untuk para pihak. Cara ini dipakai apabila cara penyelesaian
musyawarah antar para pihak gagal menemukan solusi.
d
warga di Kecamatan Kertosono rata-rata memiliki mata pencaharian bertani dan berdagang. Hampir
semua dari warga warga yang berprofesi sebagai petani memiliki hewan ternak yang dipelihara sebagai
usaha atau mata pencaharian sampingan. Ternak yang dipelihara antara lain sapi potong, kambing, dan domba.
Permasalahan-permasalahan yang timbul antara lain: warga belum sepenuhnya memahami bagaimana
cara memperoleh daging hasil sembelihan hewan qurban dengan kualitas yang baik, warga belum
mengetahui penyakit-penyakit yang bersifat zoonosis, serta warga masih belum banyak yang mengetahui
bagaimana tata cara proses penyembelihan ternak yang baik. Tujuan utama dalam kegiatan pengabdian kepada
warga ini adalah dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan warga warga mengenai kriteria
daging ASUH (Aman, Sehat, Utuh, dan Halal) serta handling dan restraint yang sesuai pada ternak.
Kecamatan Baron berbatasan dengan Kecamatan
Kertosono di sebelah timur, sebelah selatan hingga barat
berbatasan dengan Kecamatan Tanjunganom, serta sebelah
utara berbatasan dengan Kecamatan Lengkong. Pusat
pemerintahan Kecamatan Baron terletak tepat di tepi jalan
utama Surabaya-Jogja, jalur ini juga dilewati oleh bis antar
provinsi sehingga letak kecamatan Baron cukup strategis.
Kelurahan Garu dan Kelurahan Jekek adalah bagian dari
Kecamatan Baron. Terletak kurang lebih 4 km dari pusat
pemerintahan kecamatan, sekitar 25 km dari ibukota
kabupaten, dan sekitar 110 km dari ibukota Provinsi Jawa
Timur.
Kelurahan Garu memiliki luas wilayah 189,19 Ha, dimana
tanah sawah dan irigasi teknis yang penggunaannya masih
tergolong banyak yaitu sekitar 89,22 Ha. Secara geografi s
Kelurahan Garu merupakan dataran rendah wilayah
pertanian daerah pengaliran laut atau daerah pengaliran
sungai, dengan kemiringan 10–20 persen dan suhu rata-rata
per harinya 30°C. Menurut topografi nya Kelurahan Garu
termasuk dataran rendah yang berkarakter tanah liat dan
termasuk tanah gerak, sehingga akses jalan menuju desa
masih mengalami kesulitan. Namun dengan kondisi lahan
yang subur menjadikan daerah ini sebagai penghasil lumbung
pangan padi, tebu, dan bawang yang potensial di Kabupaten
Nganjuk. Mayoritas mata pencaharian warga adalah petani,
buruh tani, dan peternak.
Kelurahan Jekek memiliki luas wilayah sekitar 425 Ha,
dengan batas sebelah utara Kecamatan Baron, batas selatan
Kelurahan Kemlokolegi, batas timur Kelurahan Kemaduh,
dan batas barat Kelurahan Katerban. Jarak dari pusat
pemerintahan kecamatan sekitar 4 km, jarak dari ibukota
kabupaten sekitar 25 km, dan jarak dari ibukota provinsi
Jawa Timur sekitar 110 km. mata pencaharian mayoritas
warga Kelurahan Jekek tidak jauh berbeda dengan warga
Kelurahan Garu, yaitu sebagai petani, buruh tani, dan
peternak.
Para warga yang memiliki ternak sebagai sumber
penghasilan lain selain sector usaha pertanian rata-rata masih
menerapkan pola pemeliharaan yang konvensional. Ternak
di tempatkan pada kandang yang sederhana dan diberikan
pakan rumput atau hijauan seadanya tanpa memperhitungkan
kebutuhan nutrisi dari masing-masing ternak. Bila dapat
dipelihara secara lebih professional, hasil ternak itu
dapat optimal dan bias menjadi mata pencaharian utama
warga sekitar.
PERMASALAHAN MITRA
berdasar hasil diskusi dengan kepala desa dan
beberapa perwakilan warga pada bulan Februari
2017, teridentifi kasi beberapa permasalahan, permasalahan
itu mengarah pada manajemen peternakan yang masih
kurang baik dan kurang optimalnya produksi ternak yang
dimiliki oleh warga. Manajemen peternakan dalam hal
ini adalah seluruh aspek-aspek yang berpengaruh pada
usaha peternakan, seperti: nutrisi pakan ternak, konstruksi
kandang, sanitasi kandang, cara pemeliharaan, program
vaksinasi atau pengobatan, pemilihan bibit, hingga faktor
produksi dan reproduksi ternak.
Rata-rata warga warga masih minim informasi
tentang manajemen peternakan yang baik dan benar sehingga
hasil produksi ternak yang dihasilkan belum optimal. Selain
itu edukasi mengenai nilai nutrisi yang terkandung dalam
bahan pangan asal hewan juga sangat diperlukan guna
membuka wawasan warga tentang konsumsi gizi yang
seimbang.
berdasar analisa terhadap suatu akar permasalahan
seperti yang telah diuraikan diatas, maka solusi yang
ditawarkan untuk dapat meningkatkan informasi warga
tentang manajemen pemeliharaan ternak dan kesadaran
warga akan kebutuhan gizi dari bahan pangan asal
hewan adalah dengan cara memberikan penyuluhan tentang
tata cara pemeliharaan ternak sapi, kambing dan domba, serta
unggas yang baik dan benar meliputi nutrisi pakan ternak,
konstruksi kandang, sanitasi kandang, cara pemeliharaan,
program vaksinasi atau pengobatan, pemilihan bibit, hingga
faktor produksi dan reproduksi ternak; pembagian buku
modul yang berisi tentang tata cara pemeliharaan ternak
yang informatif dan mudah dipahami oleh peternak; serta
melakukan demo pembuatan makanan olahan dari bahan
pangan asal hewan.
Peternakan adalah kegiatan mengembangbiakkan dan
membudi dayakan hewan ternak untuk mendapatkan manfaat
dan hasil dari kegiatan itu . Pengertian peternakan tidak
terbatas pada pemeliharaan saja, memelihara dan peternakan
perbedaannya terletak pada tujuan yang ditetapkan. Tujuan
peternakan adalah mencari keuntungan dengan penerapan
prinsip-prinsip manajemen pada factor-faktor produksi yang
telah dikombinasikan secara optimal (Rasyaf, 1994).
berdasar ukuran hewan ternak, bidang peternakan
dapat dibagi menjadi dua golongan, yaitu peternakan
hewan besar seperti sapi, kerbau, kuda, kambing, dan
domba sedangkan kelompok hewan kecil seperti ayam,
kelinci, dan lain-lain . Hewan ternak yang
dimiliki oleh warga Kelurahan Garu dan Kelurahan Jekek
Kecamatan Baron diantaranya adalah sapi, kambing, domba,
dan ayam.
Produk hewan adalah segala macam bahan yang
didapatkan dari tubuh hewan, seperti daging, lemak, darah,
susu, telur, enzim, dan sebagainya ,Dalam
kegiatan pengabdian warga ini akan dilakukan praktek
pengolahan dari bahan pangan asal hewan berupa daging
sapi dan daging ayam.
Metode pelaksanaan yang akan digunakan dalam
program pengabdian warga ini adalah penyuluhan
dan diskusi. Tujuan dari penyuluhan yang dilakukan kepada
warga warga adalah memberikan gambaran umum
tentang manajemen peternakan yang baik dan selanjutnya
dilakukan diskusi yang mendalam tentang tata cara beternak
sapi, kambing, domba, dan ayam. Setelah acara penyuluhan
dan diskusi selesai, dilanjutkan dengan edukasi pembuatan
makanan berbahan dasar daging ayam dan daging sapi yang
diolah menjadi nugget. Dengan demikian pengetahuan para
warga warga dapat semakin bertambah dan mendorong
untuk dapat lebih meningkatkan pemenuhan kebutuhan
gizi warga dan kesejahteraan ternak warga .
Penyuluhan penting dilakukan untuk dapat mengubah
pola pikir para warga warga yang rata-rata masih
konvensional hingga dapat menerima transfer pengetahuan
dari tim pengabdian warga dari Fakultas Kedokteran
Hewan Universitas Airlangga.
Setelah dilakukan penyuluhan dan praktek dilanjutkan
dengan forum diskusi kembali. Pada forum diskusi dan tanya
jawab ini warga warga dapat berbagi pengalaman,
mengemukakan pendapat, serta mengajukan pertanyaan
pada tim pengabdian warga mengenai manajemen
peternakan dan pengolahan bahan pangan asal hewan. Dari
forum diskusi dapat disimpulkan tentang masalah nyata
yang terjadi di warga dan ditemukan solusi untuk
permasalahan itu .
Setelah program pengabdian warga telah selesai
dilaksanakan, dilakukan evaluasi pelaksanaan program.
Evaluasi pelaksanaan program dilakukan dengan cara terus
memantau tingkat kesadaran warga akan kebutuhan
gizinya dan manajemen pemeliharaan ternak yang dilakukan
pada setiap periode KKN BBM yang diterjunkan pada desa
itu .
Kegiatan pengabdian kepada warga ini dilakukan
pada tanggal 3 Agustus 2017. Bertepatan dengan periode
penerjunan mahasiswa KKN BBM Universitas Airlangga.
Kegiatan dilaksanakan pada malam hari, yaitu sekitar pukul
20.00 WIB. Hal ini dikarenakan ketika pagi dan siang hari
tidak memungkinkan untuk mengumpulkan warga dengan
berbagai kesibukan. Rata-rata warga warga masih sibuk
bekerja di waktu pagi hingga siang hari. Tempat kegiatan
difasilitasi oleh Kepala Desa, lokasi kegiatan penyuluhan
bertempat di balai desa.
Pembukaan acara diawali dengan sambutan dari
Kepala Desa, dilanjutkan sambutan dari Dosen Pembina
Pembangunan Desa (DP2D), dan sambutan dari ketua
kelompok KKN BBM Universitas Airlangga. Kepala Desa
menyampaikan rasa terima kasih kepada tim pengabdian
kepada warga Universitas Airlangga karena merasa
mendapatkan perhatian dari pihak universitas dengan
diadakannya kegiatan di desanya. Harapannya agar
hubungan baik dapat terus berlanjut dalam berbagai kegiatan
yang positif untuk pembangunan desa.
Memasuki acara yang pertama yaitu penyuluhan tentang
manajemen peternakan yang disampaikan Penyampaian materi berlangsung sekitar
45 menit dan di lanjutkan dengan sesi diskusi. Dalam sesi
diskusi terlihat banyak warga warga yang antusias
untuk bertanya guna memperoleh informasi. Pertanyaan
tidak hanya muncul dari bapak-bapak saja tetapi ibu-ibu
juga antusias ingin bertanya. Rata-rata kaum ibu warga
desa berprofesi sebagai ibu rumah tangga. Tidak hanya
itu, kaum ibu juga banyak yang memiliki ternak di rumah.
Ketika suami mereka bekerja di luar daerah, ibu-ibu lah
yang bertugas mengurusi ternak-ternaknya. Hewan yang
diternakkan bermacam-macam, antara lain bebek, ayam,
entok, kambing, domba, dan sapi.
Sesi ke dua yaitu pemutaran video cara pengolahan
bahan pangan asal hewan menjadi berbagai macam olahan
pangan. Ini bertujuan agar tidak hanya wawasan tentang
dunia peternakan saja yang di sampaikan ke pada warga
warga tetapi tata cara pengolahan bahan pangan asal
hewan juga diedukasikan. Warga warga memiliki
motivasi untuk membuat bahan pangan asal hewan sendiri,
yang paling diminati adalah pembuatan nugget dari daging
ayam. warga baru memahami bahwa membuat nugget
itu mudah untuk dilakukan.
Kesimpulan dari kegiatan pengabdian kepada warga
yang telah dilaksanakan adalah sebagai berikut:
1. Masih banyak warga warga yang belum memahami
tentang cara pemeliharaan ternak yang baik.
2. Warga warga rata-rata masih belum mengetahui
cara mengolah bahan pangan asal hewan menjadi produk
olahan yang bernilai gizi tinggi.
Saran yang dapat disampaikan dari kegiatan pengabdian
kepada warga ini adalah :
1. Perlu dibentuknya kader penyuluh desa mengenai
kesadaran gizi warga akan protein hewani
2. Perlu di lakukan pendampingan lebih lanjut, dalam
hal ini oleh mahasiswa KKN BBM yang diterjunkan
di lokasi dan oleh Dosen Pembina Pembangunan Desa
(DP2D) tentang kegiatan manajemen peternakan dan
pemanfaatan hasil peternakan yang dilakukan oleh
warga.