Rabu, 12 Februari 2025

peternakan 2


 



7.151 79.708 82.329 

Sumatera 

Selatan 32.458 33.320 27.752 32.031 34.221 

Bengkulu 4.716 5.102 4.947 4.652 4.713 

Lampung 88.647 88.873 89.005 70.936 73.194 

Kep. Bangka 

Belitung 94 115 119 71 73 

Kep. Riau - - - - - 

Dki Jakarta 929 1.450 1.174 2.211 2.322 

Jawa Barat 7.041.437 8.249.844 9.391.590 10.612.726 10.826.494 

Jawa Tengah 2.226.709 2.429.132 2.458.303 2.395.671 2.458.619 

Di Yogyakarta 147.773 151.772 156.860 166.567 176.005 

Jawa Timur 942.915 1.088.602 1.185.472 1.221.758 1.242.526 

Banten 626.114 612.583 637.218 657.674 738.937 

Bali 3 8 38 - - 

Nusa Tenggara 

Barat 37.500 37.876 31.160 24.758 26.303 

Nusa Tenggara 

Timur 62.350 63.109 63.877 64.645 65.378 

Kalimantan 

Barat 314 236 227 109 114 

 

 

 

 

Kalimantan 

Tengah 1.795 1.884 2.341 2.004 2.259 

Kalimantan 

Selatan 3.692 3.755 2.393 2.282 3.054 

Kalimantan 

Timur 379 430 273 239 241 

Kalimantan 

Utara - - - 66 69 

Sulawesi Utara - - - - - 

Sulawesi 

Tengah 8.656 7.354 7.736 8.164 8.740 

Sulawesi 

Selatan 397 468 530 596 623 

Sulawesi 

Tenggara 165 73 22 9 - 

Gorontalo - - - - - 

Sulawesi Barat - - - - - 

Maluku 21.554 23.095 24.747 9.682 10.086 

Maluku Utara - - - - - 

Papua Barat - - 48 187 206 

Papua 28 20 11 14 18 

Indonesia 11.790.612 13.420.440 14.925.898 16.091.838 16.509.331 

 

Kebiasaan Hidup Kambing/Domba 

Kambing umumnya lebih selektif dalam memilih pakan jika dibandingkan dengan 

ternak ruminansia besar (Malechek and Provenza, 1981). Menurut Milne (1991) Saat 

merumput kambing akan beindah pindah sehingga menemukan rumput yang baik,  kegiatan 

mermuput aktif di pagi dan berkurang pada siang hari dan meningkat kembali sore menjelang 

malam hari. Musim mempengaruhi intensitas makan pada kambing, dimana kambing akan 

makan lebih banyak pada musim panas dan musim dingin daripada pada musim semi (Alados 

and Escós, 1987). Ternak menghabiskan waktu istirahat dengan berbaring dan ruminasi 

(memamah biak). Pada musim kemarau ternak muda seringkali mengikuti ternak dewasa 

untuk memperoleh sumber air dan makanan kambing mempunyai sifat ingin tahu dan lebih 

 

 

 

 

mandiri dibandingkan domba yang lebih memilih berkelompok serta lebih menyukai 

leguminosa dibandingkan domba yang lebih menyukai rumput. 

 

Kebutuhan Pakan dan Nutrisi 

Pakan adalah semua bahan yang dapat dikonsumsi oleh ternak, dapat dicerna, dan 

dimanfaatkan serta mengandung nutrisi yang dibutuhkan oleh ternak untuk kebutuhan 

hidupnya, produksi, dan reproduksi (McDonald et al., 2010). Kebutuhan pakan pada ternak 

berbeda-beda tergantung pada berbagai faktor, diantaranya adalah jenis ternak, umur, tahap  

pertumbuhan, kondisi fisiologis, lingkungan serta bobot badan (Tomaszewska et al., 1993). 

Kebutuhan nutrisi Kambing dan domba berdasar  bobot badan terdapat pada tabel 4 dan 

Tabel Kebutuhan nutrisi/Kg produksi susu tercantum pada tabel 6.4 

Tabel 6.4. Kebutuhan nutrisi kambing dan domba 

Bobot badan 

ME (MJ/kg Bahan Kering) Digestible Crude Protein 

Intensif Ekstensif Maintaince Bunting 

10 2,32 3,25 15 30 

20 3,91 5,47 26 50 

30 5,3 7,42 35 67 

40 6,58 9,21 43 83 

50 7,78 10,89 51 99 

60 8,92 12,49 59 113 

Devendra (1982), NRC (1981) 

Tabel 6.5. Kebutuhan nutrisi/Kg produksi susu 

Fat content ME 

DCP (g) Ca (g) P (g) 

of milk (%) (MJ) 

3,5 4,5 47 0,8 0,7 

4,5 5,5 59 0,9 0,7 

5,5 5,7 73 1,1 0,7 

Devendra (1982), NRC (1981) 

 

Pakan Ternak Kambing dan Domba 

 

 

 

 

Kambing dan domba merupakan ternak ruminansia kecil sehingga membutuhkan 

pakan yang terdiri dari pakan sumber serat yaitu hijauan dan pakan penguat berupa 

konsentrat. Hijauan merupakan sumber pakan bulk atau pengenyang sekaligu sumber nutrisi 

untuk ternak ruminansia (Devendra dan Burns, 1983). berdasar  kandungan nutrisinya 

bahan pakan dibedakan menjadi lima yaitu (Jurgens, 1974 dalam Utomo, 2012): 

a. bahan pakan berserat sumber energi (carbonaceous roughages) yang mengandung 

serat kasar >18% dan mengandung protein rendah, seperti rumput, limbah pertanian 

dan perkebunan; Bahan pakan berotein rendah, ber-SK tinggi, kebanyakan berasal dari 

sisa tanaman pertanian pangan (jerami). 

b. Bahan pakan berserat sumber protein (proteinaceous roughages) yang merupakan 

bahan pakan berserat tetapi berotein tinggi, umumnya berasal dari tanaman 

leguminosa, limbah pertanian dan perkebunan. 

c. Bahan pakan konsentrat sumber energi (carbonaceous concentrates) yang merupakan 

bahan pakan sumber energi yang mengandung protein rendah. Bahan pakan ini 

kebanyakan berasal dari biji-bijian dan hasil ikutan industri pertanian. 

d. Bahan pakan konsentrat sumber protein (proteinaceous concentrates) yang merupakan 

bahan pakan berotein tinggi dapat berasal dari tanaman dengan kandungan serat kasar 

<18% dan dapat pula berasal dari hewan dan ikan. 

e. Bahan pakan tambahan (additive materials) yang merupakan nahan ini dapat berupa 

nutrien maupun bukan. 

Menurut Sirait el al. (2010) Terdapat berbagai jenis rumput-rumputan yang disukai 

oleh ternak kambing dan cocok untuk ternak kambing diantaranya rumput Axonopus 

compressus (rumput pahit), Cynodon dactylon (rumput kawat), Ottocloanodusa, Brachiaria 

ruziziensis, Brachiaria humidicola, Paspalum guonearum, Paspalum ateratum dan 

Stenotaphrum secundatum. Sementara untuk jenis leguminosa terdiri dari leguminosa 

merambat dan leguminosa pohon, beberapa jenis yang disukai dan cocok untuk ternak 

kambing diantaranya adalah Stylosanthes guianensi, Gliricidia sepium (sengon), Leucaeca 

leucochepala (lamtoro), Calliandra callothyrsus (Kaliandra) dan Indigofera sp. 

 

Reproduksi Kambing/Domba 

Menurut Dinas Peternakan kambing/ domba telah dewasa kelamin dapat dikawinkan. 

Agar kambing/ domba bisa beranak minimal 3 (tiga) kali dalam dua tahun, Hal-hal yang harus 

 

 

 

 

diperhatikan dalam mengatur perkawinan adalah umur birahi, umur kawin, bobot badan, lama 

birahi dan iklus birahi. Umur birahi, umur kawin dan siklus birahi tercantum pada Tabel 6. 

 

Tabel 6. Umur birahi, umur kawin dan siklus birahi pada kambing/domba 

Kambing/domba Umur (bulan) 

Umur birahi 6 – 10 

umur kawin 10 – 12 

bobot badan 55 – 60 (Kg) 

Lama birahi 24 – 45 jam 

Siklu birahi  17 – 21 hari 

Tanda-tanda birahi pada kambing/domba adalah alat kelamin betina (Vulva) berwanra 

meran (Abang), membengkak (Abu) dan hangat (Anget), ternak gelisah, nafsu makan dan 

minum menurun, ekor sering dikibaskan, sering kencing, dan mau/diam bila dinaiki. Ratio 

perkawinan antara jantan dan betina = 1 : 10 dengan masa bunting 144 - 156 hari (± 5 bulan), 

melahirkan, penyapihan dan istirahat ± 2 bulan. 

 

Tujuan Produksi Ternak Kambing/Domba 

Menurut Devendra, (1983) secara umum ternak kambing dan domba bertujuan untuk 

a. Menghasilkan Protein hewani 

Protein hewani yang dihasilkan dari ternak kambung dan domba berupa daging dan 

susu.  Susu kambing memiliki komposisi yang berbeda-beda bergantung pada jenis 

kambing, kondisi lingkungan, serta kualitas pakan yang diberikan.  Susu kambing 

mengandung lemak 2,64%-7,78% dan protein berkisar 2,79-5,8%. 

b. Produksi kulit dan bulu, selain dimanfaatkan daging dan susunya kulit kambing dan 

domba serta bulu pada domba dapat dimanfaatkan untuk pembuatan sepatu, tas, jaket, 

kaet dll. 

c. Manfaat ekonomi sebagai penghasilan utama warga  

d. Tabungan dimana ternak kambing mudah dipelihara, dan dapat dijual ketika 

dibutuhkan. 

 

Tata Laksana Pemeliharaan 

 

 

 

 

Dalam kegiatan pemeliharaan hal yang penting di perhatikan adalah kandang. 

Kandang berfungsi untuk melindungi ternak dari  cuaca, dari hewan-hewan pemangsa dan 

hewan pengganggu, mempermudah pengawasan serta untuk mempermudah penanganan 

ternak. 

Ukuran kandang ternak kambing dan domba, berbeda-beda berdasar  status 

fisiologisnya, ukuran kandang ternak kambing dan domba tercantum pada tabel 6.7. 

 

Tabel 6.7. Ukuran kandang ternak kambing/domba 

Status Fisiologis Ukuran Kandang (m) 

Kandang induk 1x1,25 

Kandang pejantan 1,1x1,25 

Kandang anak 1x1,25 

Kandang beranak 1,2x1,2 

 

Kandang kambing/domba sering kali dibuat dalam bentuk panggung untuk 

memudahkan penanganan kotorannya serta menjaga kondisi kandang tetap bersih karena 

kotoran yang langsung jatuh melalui sela kandang. Hal yang harus diperhatikan adalah ukuran 

sela pada kandang induk beranak, karena kaki anak kambing dapat teerosok kedalam sela-sela 

kandng sehingga melukai ternak. 

Menurut Kementerian Pertanian Direktorat Jenderal Peternakan Dan Kesehatan 

Hewan Pemeliharaan ternak kambing domba dilakukan ternak dengan kondisi fisiologis 

berbeda yaitu: 

1. Prasapih (umur kurang 12 minggu)  

a. umur < minggu anak harus mendapatkan air susu induk terutama kolostrum serta 

ditempatkan dalam kandang yang diberi alas agar anak kambing/domba merasa 

nyaman dan tidak kedinginan; 

b. diberi susu pengganti apabila tidak mendapatkan susu dari induknya; 

c. mulai di beri pakan halus umur 3 - 8 minggu; dan 

d. pengenalanan hijauan pakan umur  > 8 minggu. 

2. Pascasapih ( > 12 minggu) 

a. penyapihan dilakukan pada umur 12 minggu (3 bulan); 

b. pemberian air minum untuk menghindari stres; dan 

c. pakan yang diberikan berupa hijuan dan sedikit konsentrat. 

3. Kambing dan Domba Muda 

 

 

 

 

a. pengelompokan dan pemisahan berdasar  jenis kelamin, umur, dan/atau sifat-

sifat tertentu; 

b. pakan yang diberikan berupa hijauan dan konsentrat dalam jumlah dan mutu yang 

memenuhi standar; 

c. pemberian air minum yang cukup; 

d. secara rutin dilakukan perawatan bulu, kulit, dan kuku; dan 

e. vaksinasi atau pemberian obat cacing secara rutin. 

4. Kambing dan Domba Dewasa 

a. Induk Kering 

1) Pemberian pakan ekstra dilakukan minimum satu minggu sebelum dan sesudah 

dikawinkan; dan 

2) dilakukan pengaturan perkawinan. 

b. Induk Bunting 

1) pemberian pakan dengan peningkatan mutu minimum sepertiga terakhir 

kebuntingan; 

2) ketersediaan air minum yang cukup; dan 

3) ketersediaan tempat beranak yang nyaman. 

c. Induk Laktasi 

1) kualitas pakan disesuaikan dengan banyaknya anak yang dilahirkan; 

2) pengaturan pemberian air susu apabila beranak lebih dari dua ekor 

3) diberikan minum yang cukup; dan 

4) pemeliharaan induk dan anak dipisah untuk induk yang diperah. 

d. Pejantan 

1) diberikan pakan ekstra pada saat sebelum dan sesudah dikawinkan; dan 

2) pemeliharaan dilakukan secara individu. 

 

6.2. Jenis Dan Karakeristik Ternak Kambing Dan Domba 

Bangsa-bangsa kambing perah sub-tropis (Budi et al. 2006) 

1. 1. Anglo Nubian 

Kambing Anglo Nubian berasal dari Afrika, ciri-ciri Kambing Anglo Nubian: 

a. Ukuran kambing besar, Kaki Panjang dengan kulit yang baik dan bulu mengkilap, 

telinga panjang dan menggantung 

 

 

 

 

b. Bentuk wajah cembung, tidak bertanduk 

c. Warna bulunya sangat bervariasi. kambing Anglo Nubian merupakan kambing dual 

puose (daging dan susu) 

d. Tipe kambing dwiguna (Penghasil susu dan daging) 

 

1. 2. Toggenburg 

Kambing Teggenburg berasal dari lembah Toggenburg. Ciri-cirinya: 

a. Warna bulu coklat muda sampai coklat tua/gelap. 

b. Telinga berwarna putih dengan spot hitam pada bagian tengahnya 

c. Terdapat dua garis putih dari sebelah atas mata sampai pada bagian mulut 

d. Kaki berwarna putih pada bagian dalam, kemudian mulai dari lutut kaki depan dan 

kaki belakang sampai pada bagian bawah kaki (feet) seluruhnya berwarna putih. Pada 

bagian belakang disebelah kiri-kanan pangkal ekor terdapat wama putih berbentuk 

segitiga. Juga warna putih di kedua cuping telinganya atau di areal cuping telinga 

apabila cuping telinganya tidak ada. Tidak dikehendaki adanya warna hitam atau 

bercak putih selain yang spesifik tersebut. Kepala kambing Toggenburg mempunyai 

ukuran sedang (medium size) dan garis profilnya sedikit konkav (cekung). Telinganya 

berdiri dan mengarah ke depan. Kambing ini tampaknya palingtidak berhasil untuk 

diternakkan di daerah tropis. Dibandingkan dengan Saanen, British Alpine dan Anglo-

Nubian kambing ini merupakan yang pertama kali dikeluarkan / tidak dipakai lagi di 

Malaysia Kambing Dewasa jantan dan betina masing-masing mempunyai tinggi 

gumba dan berat badan 33 inchi; 160 Ibs dan 27 inchi; 125 Ibs. 

1. 3. Saanen 

Kambing Saanen asli berasal dari Swiss bagian Barat memiliki persistensi 

produksinya yang baik.ciri-ciri: 

a. Warna kambing Saanen putih atau sedikit cream, tetapi warna putih yang paling 

disenangi. 

b. Tidak boleh ada warna / bercak hitam pada bulunya tetapi boleh ada pada kulitnya 

saja. 

c. Garis profil mukanya lurus atau sedikit cekung, daun telinga berdiri dan mengarah ke 

depan. Ukuran tinggi gumba 

d. kambing jantan 35 inchi dan 185 Ibs sedangkan yang betina 30 inchi dan 135 Ibs.  

 

 

 

 

1.4. Nubian 

Kambing Nubian merupakan satu-satunya kambing Afrika yang khusus dipakai  

sebagai kambing perah. Ciri-ciri kambing nubian: 

a. ambingnya dapat berkembang dengan sangat baik 

b. Kambing Nubian besar, kakinya panjang mempunyai daun telinga panjang dan 

menggantung 

c. profil mukanya Roman nose, terutama pada yang jantan. Tinggi gumba dan bobot 

badan kambing jantan dewasa 35 inchi dan 175 Ibs sedangkan kambing betina dewasa 

30 inchi dan 135 Ibs. Pada beberapa strain baik yang jantan maupun betina kambing 

ini bertanduk tetapi ada juga strain yang tidak bertanduk. Warna bulu pada umumnya 

hitam, coklat dan bulunya panjang. Produksi susu 1 - 2 kg per hari atau 120 - 140 kg 

per tahun dalam dua kali laktasi. 

1. 5. French Alpine 

Kambing French Alpine berasal dari pegunungan Alpine di Perancis (France) ciri-ciri: 

a. Warna kambing putih, coklat, hitam dan kombinasi dari macam-macam warna 

b. Baik kambing jantan maupun betina memiliki bulu-bulu yang pendek, tetapi yang 

jantan mempunyai bulu-bulu yang panjang dan kasar pada bagian punggung 

c. Telinganya berukuran sedang, halus dan berdiri. Kambing betina dewasa mempunyai 

ukuran tinggi gumba 29 - 36 inchi 

d. bobot badan 125 Ibs, sedangkan yang jantan dewasa mempunyai tinggi gumba 34 - 40 

inchi dengan berat badan 170 Ibs. Kambing betina merupakan excellent milker, 

mempunyai ambing yang besar dan bentuknya bagus dengan puting yang ideal. 

 

1. 6. British Alpine 

British Alpine berasal dari Swiss dan pegunungan Alpine Austria. Kambing ini 

mempunyai daya aklimatisasi lebih baik dari pada kambing Saanen. Di India Barat pernah 

tercatat produksi lebih dari 4,5 kg per hari pada laktasi ke dua dan tiga. tetapi di Malaysia dan 

Mauritius pengembangan kambing ini gagal antara lain karena kelembaban yang tinggi. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bangsa-bangsa kambing perah tropis (Budi et al. 2006) 

2. 1. Etawah / Jamnapari 

Jamnapari atau Etawah merupakan kambing perah (susu) di India, Asia Tenggara dan di 

daerah-daerah lain. Jamnapari merupakan kambing perah yang baik (excellent) dan juga 

sering dipakai  sebagai produsen daging. 

a. Telinga terkulai 

b. Warna bulunya bervariasi dengan warna dasar putin, coklat dan hitam 

c. Bobot badan jantan 68-91 kg, sedang yang betina 36 - 63 kg 

d. Tinggi gumba kambing jantan 91 - 127 cm dan yang betina 76 -92 cm 

e. Produksi susu dapat mencapai 235 kg dalam periode laktasi 261 hari. Di India 

produksi susu dapat mencapai 3,8 kg per hari, dan produksi susu tertinggi tercatat 562 

kg. Kadar lemak agak tinggi dengan rata-rata 5,2 %. Karkas kambing jantan dan 

betina umur 12 bulan dapat mencapai 44 - 45 % berat hidup. 

2. 2. Damaskus 

Dari berbagai kambing perah di Timur Tengah berasal dari Damaskus banyak dipelihara di 

Libanon, Syria, Cyprus. Ciri-ciri: 

a. tidak bertanduk 

b. profil muka konveks, daun telinga panjang dan menggantung 

c. Tinggi gumba 70 - 75 cm dan berat badan antara 40 -60 kg 

d. Produksi susu 3-4 liter per hari dapat mencapai 6 liter, dengan jumlah produksi 300 - 

600 liter dalam 8 bulan. Kambing Damaskus lebih subur dibandingkan dengan 

Saanen, dimana tiap kelahiran rata-rata 1,76 cempe. 

2. 3. Beetal 

Beetal adalah bangsa kambing yang juga penting di India dan Pakistan. Ciri-cirinya: 

a. profil mukanya Roman nose 

b. telinga panjang tetapi jauh lebih kecil dibanding telinga kambing Etawah 

c. berwarna merah coklat dengan bercak / belang-belang putih 

d. Tinggi gumba jantan dan betina adalah 89 dan 84 cm kambing betina dewasa 

mencapai berat hidup kira-kira 45 kg. Rata-rata selama laktasi kambing ini dapat 

 

 

 

 

mengbasilkan susu 195 kg susu dalam waktu 224 ban, dan beranak rata-rata seta-bun 

sekali dengan rata-rata anaknya tunggal atau twin (kembar dua). 

2. 4. Barbari 

Kambing ini lebih kecil dibanding Jamnapari dan Beetal Diketemukan di India bagian Utara 

dan Pakistan Barat. Ciri-cirinya: 

a. bulu-bulu yang pendek 

b. warna putih dengan bercak-bercak coklat 

c. Tinggi gumba kambing jantan antara 66 - 76 cm dan betina 60-71 cm 

d. Nonot kambing betina dewasa berat hidupnya antara 27 - 36 kg 

e. Kambing ini biasanya dipakai  untuk produksi susu dan ambingnya pada umumnya 

berkembang dengan baik. Pernah tercatat produksi susu selama dalam periode laktasi 

235 hari mencapai 144 kg.  

Sumber : budi et al., 2006 

 

Jenis Kambing yang banyak terdapat di Indonesia  

1. Kambing Kacang (Kambing Jawa) 

Kambing kacang merupakan kambing asli Indonesia. Kambing ini tersebar hampir di 

seluruh Indonesia. Ciri-ciri kambing kacang:  

a. badan kecil, telinga pendek tegak, leher pendek, punggung meninggi 

b. memiliki tanduk yang pendek baik ternak jantan dan betina 

c. Telinganya tegak, berbulu lurus dan pendek 

d. tinggi badan jantan dewasa rata-rata 60–65 cm, betina rata-rata 56 cm 

e. bobot dewasa untuk betina rata-rata 20 kg dan jantan 25 kg 

f. sebagai penghasil daging 

 

 

 

 

 

Gambar 1. Kambing Kacang 

 

2.  Kambing Etawah 

Kambing etawah berasal dari wilayah Jamnapari (India) memiliki ciri-ciri: 

a. hidung  Melengkung, telinga panjang menggantung, kaki panjang dan bulu kaki 

panjang, ambing besar dan panjang 

b. Tinggi Kambing jantan 100-125 cm dan betina mencapai 80-90 cm 

c. Baik yang jantan maupun yang betina memiliki tanduk, tetapi kadang-kadang 

dijumpai induk yang tidak memiliki tanduk 

d. Dikembangkan sebagai penghasil susu produksi susunya mencapai 3-4 liter per hari 

 

Gambar 2. Kambing Etawah 

 

 

3. Kambing Peranakan Etawah (PE) 

 

 

 

 

Kambing Peranakan Etawah (PE) merupakan hasil persilangan antara kambing 

Etawah dengan kambing Kacang. Kambing ini memiliki penampilannya mirip kambing 

Etawah dengan ukuran lebih kecil, merupakan tipe dwiguna, yaitu sebagai penghasil daging 

dan susu. Ciri-ciri Kambing PE: 

a. telinga panjang dan terkulai, panjang telinga 18–30 cm 

b. warna bulu bervariasi dari coklat muda sampai hitam 

c. Bulu kambing PE jantan bagian atas leher dan pundak lebih tebal dan agak panjang 

Bulu kambing PE betina pada bagian paha panjang 

d. Berat badan kambing PE jantan dewasa 40 kg dan betina 35 kg, tinggi pundak 76-100 

cm. 

                       

Gambar 3. Peranakan Etawah 

 

4. Kambing Gembrong 

Kambing Gembrong banyak terdapat di pulau Bali diduga merupakan keturunan 

kambing Khasmir. Ciri-cirinya: 

a. Memiliki ukuran tubuh yang lebih besar dibandingkan kambing kacang 

b. Memiliki tanduk 

c. Telinga kecil dan pendek 

d. Ekor kecil dan pendek 

e. Rambut menutupi seluruh tubuhnya berukuran panjang dan halus 

f. Pada ternak jantan rambut di bagian leher dan pinggang lebih panjang 

dibandingkan betina 

g. Pada dahi kambing jantan ada jumbai seperti poni yang sering kali menutupi muka 

dan mata 

 

 

 

 

                               

Gambar 4. Kambing Gembrong 

 

5. Kambing Boer 

Kambing boer merupakan keturunan kambing Afrika Selatan. Ciri-cirinya: 

a. pola warna pada kepala dan leher berwarna coklat, badan dan kakinya berwarna putih 

b. bulunya pendek dan mengkilap, bertanduk, kaki pendek 

c.  hidung cembung serta telinga lebar dan menggantung 

d. Kambing ini merupakan tipe pedaging 

e. Bobot badan betina dewasa dapat mencapai berat badan 60-70 kg dan jantan mencapai 

berat 120-150 kg. 

                  

Gambar 5. Kambing Boer 

 

6. Kambing Saanen 

Kambing Saanen berasal dari Saanen, Sulit berkembang di wilayah tropis karena 

kepekaannya terhadap matahari. Sehingga, di Indonesia kambing Saanen di silangkan 

 

 

 

 

lagi dengan jenis kambing lain yang lebih resisten terhadap cuaca tropis, misalnya 

dengan jenis etawa. 

Ciri-cirinya: 

a. kambing jantan maupun betinanya tidak memliki tanduk 

b. ukuran telinga sedang dan tegak mengarah ke depan 

c. Hidung, telinga dan kambingnya berwarna belang hitam 

d. bulu dominan putih sampai krem pucat, kadang-kadang ditemui bercak hitam pada 

hidung, telinga atau ambing 

e. merupakan tipe perah 

f. Produksi susu 740 kg per masa laktasi 

                           

Gambar 6. Kambing Saanen 

 

Jenis-Jenis Domba yang Terdapat di Indonesia  

1. Domba Garut 

Domba Garut merupakan hasil persilangan antara domba lokal, domba Ekor Gemuk 

dan domba Merino. Bentuk tubuh Domba Garut hampir sama dengan domba lokal dan bentuk 

tanduk yang besar melingkar diturunkan dari Domba Merino.Ciri-ciri Domba Garut yaitu: 

a. pangkal ekor sedikit lebar dengan ujung runcing dan pendek 

b. dahi sedikit lebar, kepala pendek dan profil sedikit cembung 

c. ukuran mata kecil 

d. Tanduk besar dan melingkar ke belakang dan betina tidak bertanduk 

e. telinga bervariasi dari yang pendek sampai yang panjang banyak ditemukan memiliki 

daun telinga rumpung 

f. warna bulu yang beraneka ragam Domba Garut Berat badan domba garut dapat mencapai 

40-80 kg 

 

 

 

 

           

Gambar 7. Domba Garut 

 

1. Domba Ekor Tipis 

Domba ekor tipis atau domba gembel merupakan domba asli Indonesia, banyak 

terdapat di Jawa Barat dan Jawa Tengah, bersifat prolifik (dapat melahirkan anak kembar 2-5 

ekor. Ciri-cirinya yaitu: 

a. Domba jantan memiliki tanduk yang kecil dan melingkar, sedangkan domba betina 

tidak bertanduk 

b. Warna bulu dominan putih, dengan warna hitam di seputar mata, hidung, dan 

c. beberapa bagian tubuh lainnya 

d. Merupakan domba potong 

e. Bobot badan domba jantan dapat mencapai 30-35 Kg dan betina mencapai 15-20 Kg. 

 

Gambar 8. Domba Ekor Tipis 

 

2. Domba Ekor Gemuk 

Domba ekor gemuk banyak terdapat di Jawa Timur, Madura, Lombok, dan Sulawesi, 

dibawa ke Indonesia oleh pedagang Arab pada abad XIX. Ciri-cirinya: 

 

 

 

 

a.  adalah bentuk badan besar, bobot domba jantan mencapai 50 kg dan domba betina 

40 kg 

b. Memiliki tanduk pada ternak jantan betina tidak bertanduk 

c. ekor panjang, pada bagian pangkalnya besar untuk menimbun lemak yang banyak 

d. ujung ekornya kecil tak berlemak 

e. warna bulunya sebagian besar putih, beberapa juga yang berwarna hitam atau 

kecoklatan. 

 

 

 

 

Gambar 9. Domba Ekor Gemuk 

3. Domba Merino 

Domba merino merupakan penghasil wool, dengan kualitas terbaik, berasal dari asia 

kecil dan telah menyebar ke berbagai belahan dunia, khususnya bagi negara subtropis, seperti 

Australia, Newzealand, Prancis, Inggris dan Spanyol. Domba ini pernah didatangkan ke 

Indonesia, tetapi tidak dapat berkembang dengan baik karena kelemahannya yang tidak tahan 

dengan iklim panas dan lembab, seperti daerah tropis karena bulu woolnya yang panjang dan 

tebal. Ciri-cirinya: 

a. Domba merino jantan bertanduk, sementara yang betina tidak bertanduk 

b. domba ini termasuk domba ukuran sedang dengan berat badan dewasa mencapai 70 – 80 

kg untuk jantan dan untuk betina 50 -60 kg 

 

 

 

 

 

 

Gambar 10. Domba Merino 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA 

 

Alados, C.L., Escós, J., 1987. Relationships between movement rate, ago-nistic displacements 

and forage availability in Spanish ibexes (Caprapyrenaica).Biol. Behav. 12 (4), 245–

255. 

 

Blakely, J., dan Bade, D. H. 1998. Ilmu Peternakan Edisi ke Empat. Penerjemah: Srigandono, 

B. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Hal: 351-352. 

BPS. 2015. Indonesia Dalam Angka. Jakarta: Badan Pusat Statistik. 

Budi. U. Dkk. 2006. Buku ajar dasar ternak perah. Departemen Peternakan Fakultas Pertanian 

Universitas Sumatera Utara. 

 

Devendra, C. and G.B. McLeroy. 1982. Goat and Sheep Production in the Tropic. Longman, 

New York. 

 

 

 

 

 

Devendra, C. dan M, Burns. 1983. Goat Producton in the Tropics. Dalam : Putra, IDK.H (ed). 

Produksi Kambing di Daerah Tropis.Penerbit ITB dan Penerbit Universitas Udayana. 

 

Dinas Peternakan. http: www.disnak.langkatkab.go.id/download/category/3-

file.html?download=4%3Aisi-buk. Diakses: 20 November 2016. 

 

Kementerian Pertanian (2014). Pedoman Pembibitan Ternak Kambing Dan Domba. 

Direktorat Jenderal Peternakan Dan Kesehatan Hewan Direktorat Perbibitan Ternak. 

Malechek, J.C. and Provenza, F.D., 1981. Feeding behaviour of goats on rangelands. In: P. 

Morand-Fehr, A. Bourbouze and M. Simiane (Eds.), Nutrition and Systems of goat 

Feeding. Vol. I, INRAITOVIC, Tours, France. pp. 411-428. 

 

Milne, J.A., 1991. Diet selection by grazing animals. Proc. Nutr. Soc., 50( I ): 77-85. Arnold, 

G.W., Dudzinski, M.L., 1978. Ethology of Free-Ranging DomesticAnimals. Elsevier 

Science, Amsterdam, pp. 1–125. 

Sirait, J., R. Hutasoit, A. Tarigan, K. Simanihuruk. 2010. Petunjuk Teknis Teknik Budidaya 

Dan Pemanfaatan (Stenotaphrum Secundatum) Untuk Ternak Kambing Dan 

Ruminansia Lainnya. Pusat Penelitian Dan Pengembangan Peternakan Badan 

Penelitian Dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian` 

 

Tomaszewska, M.W., I. M. Mastika, A. Djajanegara, S. Gardiner dan T. R. Wiradarya. 1993. 

Produksi Kambing dan Domba di Indonesia. Sebelas Maret University Press, 

Surakarta. 

Utomo, R. 2012. Evaluasi Pakan dengan Metode Noninvansif. PT. Citra Aji Parama. 

Yogyakarta. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB VII. KOMODITAS TERNAK UNGGAS 

 

7.1. Taksonomi, Morfologi, Sebaran Populasi, Kebiasaan Hidup, Kebutuhan Pakan dan 

nutrisi, Reproduksi, Tujuan Produksi, Tata Laksana Pemeliharaan Ternak Ayam 

dan Itik 

 

Taksonomi Ayam 

Klafikasi ayam menurut Rose (2001) adalah sebagai berikut: 

Kingdom   : Animalia 

Subkingdom : Metazoa 

Phylum   : Chordata 

Subphylum : Vertebrata 

Divisi   : Carinathae 

Kelas  : Aves 

Ordo  : Galliformes 

Family  : Phasianidae 

Genus   : Gallus 

Spesies   : Gallus gallus domestica sp 

Morfologi (Santoso dan Sudaryani, 2009) 

Morfologi ayam terdiri atas: 

1. memiliki paruh, caput (jengger) 

 

 

 

 

2. memiliki dua buah sayap 

3. tubuh dipenuhi bulu, nulu bagian sayap dan ekor lebih panjang 

4. terdapat dua buah kaki yang memiliki cakar (ceker) 

 

Morfologi ayam berdasar  tujuan produksinya dibagi menjadi tiga, yaitu: 

1. Tipe pedaging, ciri-ciri ayam tipe pedaging adalah sebagai berikut: 

a. Bentuk tubuh besar 

b. Pertumbuhan cepat 

c. Bulu merapat ketubuh 

d. Warna bulu putih 

e. Produksi telur rendah 

f. Bersifat tenang 

2. Tipe petelur, ciri-cirinya adalah: 

a. Bentuk tubuh ramping 

b. Cuping telinga putih 

c. Kerabang telur berwarna putih 

d. Mudah terkejut 

e. Tidak memiliki sifat mengeram 

f. Produksi telur mencapai 200 butir/ekor/tahun 

3. Tipe dwiguna, ciri-ciri ayam dwiguna yaitu: 

a. Tubuh sedang 

b. Produksi telur sedang 

c. Pertumbuhan sedang 

d. Kerabang telur berwarna cokelat 

Sifat tenang 

 

Sebaran Populasi Ayam 

Sebaran populasi ayam buras, ayam ras petelur dan ayam ras pedaging di Indonesia 

berdasar  Data Badan Pusat Statistik 2015 tercantum dalam Tabel 7.1, tabel 7.2 dan tabel 

7.3. 

Tabel 7.1. Populasi Ayam Buras di Indonesia 

 

 

 

 

Provinsi 

Populasi Ayam Buras menurut Provinsi (Ekor) 

2011 2012 2013 2014 2015 

Aceh 6.010.575 6.065.665 6.054.553 5.938.919 6.235.865 

Sumatera 

Utara 11.963.682 12.073.428 15.545.153 14.037.817 14.190.165 

Sumatera 

Barat 5.023.666 4.872.190 4.919.283 5.031.885 5.132.522 

Riau 2.848.075 3.377.652 3.163.705 3.327.820 3.600.303 

Provinsi 

Populasi Ayam Buras menurut Provinsi (Ekor) 

2011 2012 2013 2014 2015 

Jambi 11.576.940 11.435.111 11.519.915 12.367.301 12.551.551 

Sumatera 

Selatan 6.265.183 6.605.762 5.275.685 6.688.397 6.974.467 

Bengkulu 3.225.187 3.075.956 2.989.424 2.709.080 2.901.696 

Lampung 9.341.358 10.604.987 10.924.455 10.899.365 10.944.090 

Kep. Bangka 

Belitung 4.321.678 2.978.380 1.680.155 2.122.437 2.334.681 

Kep. Riau 1.032.618 825.715 827.245 500.905 559.344 

Dki Jakarta - - - - - 

Jawa Barat 27.396.416 27.224.219 27.497.344 27.630.194 28.383.241 

Jawa Tengah 38.296.383 40.868.263 39.313.232 40.753.808 42.471.433 

Di 

Yogyakarta 4.019.960 4.060.722 3.993.055 4.242.966 4.435.362 

Jawa Timur 29.310.251 32.143.678 33.806.963 34.539.123 34.828.778 

Banten 10.026.124 9.492.178 9.693.522 9.798.896 9.857.506 

Bali 4.396.174 4.178.725 4.115.218 4.111.438 4.116.543 

Nusa 

Tenggara 

Barat 

4.358.440 4.874.230 5.486.144 6.420.731 7.290.185 

Nusa 

Tenggara 

Timur 

10.528.966 10.604.784 10.681.149 10.766.948 10.839.153 

Kalimantan 5.885.553 5.901.410 6.778.650 4.064.558 4.267.786 

 

 

 

 

Barat 

Kalimantan 

Tengah 2.496.845 3.028.271 3.167.218 2.663.843 2.873.600 

Kalimantan 

Selatan 13.651.778 12.847.604 10.012.412 9.177.935 9.015.332 

Kalimantan 

Timur 5.684.150 6.154.992 7.129.609 4.287.075 4.502.028 

Provinsi 

Populasi Ayam Buras menurut Provinsi (Ekor) 

2011 2012 2013 2014 2015 

Kalimantan 

Utara - - - 1.207.702 1.328.472 

Sulawesi 

Utara 2.169.328 2.228.189 2.266.405 2.357.433 2.401.684 

Sulawesi 

Tengah 3.883.331 4.615.311 4.944.651 5.259.123 5.481.845 

Sulawesi 

Selatan 17.833.769 20.031.121 21.848.901 23.968.786 24.957.386 

Sulawesi 

Tenggara 9.844.728 10.468.237 9.402.349 7.769.316 9.039.139 

Gorontalo 964.004 1.340.961 1.374.185 1.335.806 1.850.163 

Sulawesi 

Barat 5.278.590 5.188.649 4.599.946 4.592.771 4.593.907 

Maluku 3.464.213 3.847.354 3.848.910 2.552.470 2.613.466 

Maluku Utara 488.797 493.346 577.604 631.141 655.279 

Papua Barat 1.021.581 1.176.120 1.397.339 1.607.660 1.906.231 

Papua 1.731.291 1.881.217 1.942.197 1.752.471 1.887.883 

Indonesia 264.339.634 274.564.427 276.776.576 275.116.120 285.021.086 

 

Tabel 7.2. Populasi Ayam Ras Petelur di Indonesia 

Provinsi 

Populasi Ayam Ras Petelur menurut Provinsi (Ekor) 

2011 2012 2013 2014 2015 

Aceh 267.741 266.174 243.270 209.476 219.950 

Sumatera 8.994.445 12.055.592 15.704.311 14.838.083 14.962.637 

 

 

 

 

Utara 

Sumatera 

Barat 7.816.396 8.130.585 8.519.893 8.393.469 8.494.959 

Riau 141.258 134.481 147.467 67.798 68.768 

Jambi 613.872 971.066 654.376 704.612 567.529 

Provinsi 

Populasi Ayam Buras menurut Provinsi (Ekor) 

2011 2012 2013 2014 2015 

Sumatera 

Selatan 5.872.442 5.760.798 6.562.387 6.249.348 6.793.055 

Bengkulu 63.130 67.085 77.493 82.138 93.021 

Lampung 4.526.690 7.699.572 5.121.094 5.061.800 6.085.893 

Kep. Bangka 

Belitung 64.401 70.570 254.121 88.801 97.681 

Kep. Riau 558.890 454.850 418.800 388.750 425.812 

Dki Jakarta - - - - - 

Jawa Barat 11.930.515 12.271.938 12.882.262 13.290.146 13.569.356 

Jawa Tengah 18.395.051 19.881.430 21.630.154 20.293.547 20.565.694 

Di Yogyakarta 3.160.697 3.346.564 3.274.886 3.518.393 3.721.947 

Jawa Timur 37.035.251 40.268.631 43.066.361 41.156.842 41.650.725 

Banten 5.373.215 5.036.716 4.961.958 4.787.304 5.647.627 

Bali 4.357.838 4.282.970 4.355.955 4.357.340 4.400.912 

Nusa 

Tenggara 

Barat 

149.410 173.496 201.127 297.441 419.819 

Nusa 

Tenggara 

Timur 

179.641 179.697 197.202 199.604 179.537 

Kalimantan 

Barat 2.334.026 2.977.850 2.475.690 3.383.306 3.552.471 

Kalimantan 

Tengah 15.574 37.330 40.900 94.912 145.329 

Kalimantan 

Selatan 2.631.075 2.782.845 3.233.048 4.538.185 3.933.015 

 

 

 

 

Kalimantan 

Timur 1.342.572 1.587.496 1.227.205 686.278 720.591 

Kalimantan 

Utara - - - 45.085 45.085 

Provinsi 

Populasi Ayam Buras menurut Provinsi (Ekor) 

2011 2012 2013 2014 2015 

Sulawesi 

Utara 973.395 1.140.211 1.371.730 1.396.291 1.413.011 

Sulawesi 

Tengah 470.416 613.677 888.405 1.040.733 1.228.783 

Sulawesi 

Selatan 6.754.136 7.800.790 8.303.129 10.481.875 11.382.852 

Sulawesi 

Tenggara 182.171 149.506 147.814 158.108 150.376 

Gorontalo 132.950 285.331 323.581 368.194 373.655 

Sulawesi 

Barat 78.727 84.735 102.818 102.242 102.537 

Maluku 33.499 35.707 10.959 20.539 14.500 

Maluku Utara 32.331 17.311 43.160 18.260 16.410 

Papua Barat 64.238 50.583 56.268 62.117 66.862 

Papua 89.801 102.164 123.690 279.398 308.601 

Indonesia 124.635.794 138.717.751 146.621.514 146.660.415 151.419.000 

 

Tabel 7.3. Populasi Ayam Ras Pedaging di Indonesia 

Provinsi 

Populasi Ayam Ras Pedaging menurut Provinsi (Ekor) 

2011 2012 2013 2014 2015 

Aceh 3.085.271 2.959.212 3.041.218 3.324.447 3.490.669 

Sumatera 

Utara 40.167.721 42.813.178 46.064.412 47.179.814 47.659.709 

Sumatera 

Barat 15.117.321 17.439.623 15.357.013 17.921.143 18.458.778 

Riau 38.043.692 38.165.987 36.930.599 39.987.136 40.458.813 

Jambi 11.237.263 11.442.871 10.897.666 11.957.805 13.186.178 

 

 

 

 

Sumatera 

Selatan 20.160.062 20.943.860 23.389.532 23.043.989 25.027.014 

Provinsi 

Populasi Ayam Buras menurut Provinsi (Ekor) 

2011 2012 2013 2014 2015 

Bengkulu 6.189.874 6.195.941 5.949.393 5.363.033 5.883.247 

Lampung 25.788.858 26.782.929 29.931.232 29.344.110 32.771.775 

Kep. Bangka 

Belitung 7.418.210 12.495.825 9.520.823 10.504.222 11.554.644 

Kep. Riau 6.675.518 7.573.940 8.039.400 9.518.800 10.136.140 

Dki Jakarta 136.200 148.700 - - - 

Jawa Barat 583.263.441 610.436.303 645.229.707 

643.321.72

678.326.91

Jawa Tengah 66.239.700 76.906.291 103.964.760 108.195.894 

109.911.64

Di 

Yogyakarta 5.770.832 5.814.935 6.045.705 6.716.730 6.836.175 

Jawa Timur 149.552.720 155.945.927 162.296.157 

179.830.68

181.988.65

Banten 52.272.333 54.151.644 61.230.844 63.324.448 61.523.543 

Bali 6.206.641 5.872.311 7.181.171 8.161.347 8.242.957 

Nusa 

Tenggara 

Barat 

3.279.246 3.538.158 5.020.351 9.440.867 11.854.763 

Nusa 

Tenggara 

Timur 

578.810 584.601 710.680 732.142 724.965 

Kalimantan 

Barat 21.262.386 21.967.877 12.545.991 33.542.658 35.219.791 

Kalimantan 

Tengah 4.921.209 5.225.358 4.892.196 7.274.673 7.539.337 

Kalimantan 

Selatan 43.647.767 40.603.189 51.860.699 57.727.521 51.776.799 

Kalimantan 36.510.354 39.474.540 48.177.509 46.553.307 48.880.973 

 

 

 

 

Timur 

      

Provinsi 

Populasi Ayam Buras menurut Provinsi (Ekor) 

2011 2012 2013 2014 2015 

Kalimantan 

Utara - - - 4.569.394 4.797.864 

Sulawesi 

Utara 1.556.974 2.195.225 2.301.220 5.303.446 5.531.390 

Sulawesi 

Tengah 5.136.202 6.915.137 8.897.535 8.930.817 10.270.439 

Sulawesi 

Selatan 18.497.399 21.791.654 24.050.149 50.144.459 52.651.682 

Sulawesi 

Tenggara 1.045.428 1.104.308 4.946.709 3.924.357 4.330.773 

Gorontalo 240.600 535.200 633.287 1.590.755 1.902.755 

Sulawesi 

Barat 867.008 876.889 1.850.319 1.856.056 1.856.372 

Maluku 145.684 130.490 8.500 12.200 18.000 

Maluku Utara 79.458 251.186 62.319 361.376 297.687 

Papua Barat 648.876 612.509 645.862 1.260.053 1.355.022 

Papua 2.247.811 2.506.219 2.518.146 2.429.707 3.160.195 

Indonesia 1.177.990.869 

1.244.402.01

1.344.191.10

1.443.349.1

17 

1.497.625.6

58 

 

 

Kebiasaan Hidup Ayam 

Kebiasaan hidup ayam dapat berbeda sesuai dengan pemeliharaannya. Kendati 

demikian, setiap ayam tetap akan memunculkan kebiasaan nenek moyangnya yaitu mengais 

pakan (Scratching), (feed seeking) mematuk matuk bulu (feather pecking), reaksi terhadap 

panggilan bahaya dan perilaku temu-kenal (courtship). Kegiatan mengais dilakukan ayam 

dalam menyeleksi dedaunan dan rumputan dan juga partikel-partikel kecil yang ada di tanah 

(Savory et al., 1978). Ayam mampu belajar dari pengalaman bila dilatih secara tetap dan 

berulang kali, seperti suara tertentu, untuk memanggil ayam diwaktu makan(Curtis, 1983). 

 

 

 

 

Terjadi proses rontok bulu. Pada ayam lokal terdapat sifat mengeram. Ayam juga memiliki 

kebiasaan memakan rumput, 7-25% dimanfaatkan ayam untuk beraktifitas dimanfaatkan 

untuk memakan rumput (Appleby et al., 1989). Ayam  mengkomsumsi rumput-rumput liar, 

biji-bijian, dan hama. 

 

Kebutuhan Nutrisi dan Pakan 

Kebutuhan pakan pada ayam berbeda tergantung pada jenis ayam dan tujuan 

produksinya. Kebutuhan nutrisi Ayam Pedaging tahap  stater dan Finisher tercantum pada tabel 

7.4, dan tabel kebutuhan nutrisi ayam layer (petelur) tercantum pada tabel 7.5. 

Tabel 7.4. Kebutuhan Nutrisi Ayam Pedaging 

Zat Nutrisi Starter Finisher 

Protein Kasar (%) 23 20 

Lemak Kasar (%) 4-5 3-4 

Serat Kasar (%) 3-5 3-5 

Kalsium (%) 1 0,9 

Pospor (%) 0,45 0,4 

EM (Kkal/kg) 3200 3200 

Lisin (%) 1,2 1,0 

Metionin (%) 0,5 0,38 

Sumber: (NRC, 1981) 

 

Tabel 7.5. Kebutuhan Ayam Layer (Petelur) 

Nutrisi starter Grower Developer Layer 

Kadar Air (%) 10 10 10 10 

Protein (%) 18 16 15 17 

Lisin (%) 2850 2850 2900 2900 

Metionin (%) 0,85 0,6 0,45 0,52 

Metionin + Sistin(%) 0,3 0,25 0,2 0,22 

Ca (%) 0,62 0,52 0,42 0,47 

Nutrisi starter Grower Developer Layer 

     

P tersedia (%) 0,4 0,35 0,3 0,32 

P total (%) 0,6-1,00 0,6-1,00 0,6-1,00 0,6-1,00 

 

 

 

 

Sumber : (NRC, 1981) 

 

Tata Laksana Pemeliharaan 

Dalam pemeliharaan ternak ayam tata laksana dapat dilakukan secara ekstensif, semi 

ekstensif dan Intensif. Pada ayam kampung sistem pemeliharaan dapat dilakukan secara 

ekstensif dan semi ekstensif. Sementara pada ayam pedaging dan ayam petelur sistem 

pemeliharaan secara Intensif. Sistem pemeliharaan ekstensif merupakan sistem pemeliharaan 

secara umbaran, semi ekstensif dilakukan dengan cara di umbar di sianghari dan 

dikandandangkan pada malam hari, sementara Intensif pemeliharaan dilakukan di kandang. 

Hal yang harus diperhatikan adalah: 

a. Lokasi kandang  jauh dari keramaian/perumahan penduduk 

b. Lokasi kandang mudah dijangkau dari pusat-pusat pemasaran 

c. Lokasi kandang bersifat menetap 

berdasar  kapasitas ayam yang dikandangkan, kandang ayam dibagi menjadi dua 

seperti tercantum pada tabel 7.6.  

Tabel 7.6. Jenis kandang berdasar  jumlah ternaknya 

jenis kandang ayam Keterangan 

Kandang koloni satu kandang untuk ribuan ekor ayam 

Kandang Individu (cage) satu kandang hany untuk satu ekor ayam 

  biasanya dipakai  untuk ayam petelur komersial 

 

 

Jenis kandang berdasar  jenis lantainya dibagi menjadi tigs seperti tercantum pada tabel 

7.7. 

Tabel 7.7. Jenis Kandang Berdasrkan Lantainya 

Jenis lantai 

kandang Keterangan 

Lantai kandang 

dengan liter 

kandang ini dibuat dengan lantai yang dilapisi kulit padi 

pesak/sekam padi dan kandang ini umumnya diterapkan pada 

kandang sistem koloni 

 

 

 

 

lantai berlubang 

lantai untuk sistem ini terdiri dari kayu dengan lubang-lubang 

diantaranya agar kotoran ayam langsung masuk ke 

penampungan 

Kombinasi Liter 

dan berlubang 

kandang dengan lantai campuran liter dengan kolong 

berlubang, dengan perbandingan 40% luas lantai kandang untuk 

alas liter  dan 60% luas lantai dengan kolong berlubang (terdiri 

dari 30% di kanandan 30% di kiri) 

 

 

 

Itik 

 

Itik berasal dari Amerika Utara merupakan itik liar ( Anas moscha) atau Wild mallard. 

Itik ini terus menerus didomestikasi oleh manusia hingga menjadi itik Anas domesticus yang 

kini banyak dipelihara. 

 

Taksonomi Itik  

Kingdom : Animalia  

Phylum : Vertebrata  

Class  : Aves  

Ordo  : Anseriformes  

Familia : Anatidae  

Genus : Anas  

Species : Anas Platyhyncos  

Srigandono (1997) 

 Itik adalah jenis unggas air yang tergolong dalam ordo Anseriformes, family Anatidae, 

genus Anas dan termasuk spesies Anas javanica. Proses domestikasi membentuk beberapa 

variasi dalam besar tubuh, konformasi, dan warna bulu. Perubahan ini diperkirakan akibat 

campur tangan manusia untuk mengembangkan ternak itik dengan tujuan khusus dan juga 

karena jauhnya jarak waktu domestikasi dengan waktu pengembangan (Chaves dan Lasmini, 

1978).  

Sebaran populasi itik 

 

 

 

 

Penyebaran populasi itik  tersebar di berbagai negara diantaranya adalah Amerika 

utara, Amerika Selatan, Asia, Filipina, Malaysia, Inggris, Perancis (negara yang mempunyai 

musim tropis dan subtropis). Penyebaran populasi itik di wilayah indonesia beusatkan di 

daerah pulau Jawa (Tegal, Brebes dan Mojosari), Kalimantan (Kecamatan Alabio, Kabupaten 

Amuntai) dan Bali serta Lombok, terdapat pula didaerah lain di Indonesia dengan populasi 

yang lebih sedikit. 

 

Kebiasaan Hidup 

Itik memiliki kebiasaan berenang karena merupakan salah satu jenis unggas air dan 

untuk menetralisir suhu tubuhnya (Srigandono, 1997). Itik merupakan hewan omnivora mulai 

dari biji–bijian, rumput–rumputan, umbi-umbian dan makanan yang berasal dari hewan 

(Samosir, 1983).  

Kebutuhan Pakan dan nutrisi 

Kebutuhan nutrisi pada itik dipengaruhi oleh faktor internal seperti status fisiologis 

ternak dan faktor internal seperti kondisi iklim dan tujuan peroduksinya. Kebutuhan nutrisi 

itik tipe petelur tercantun pada tabel 7.8.  

 

Tabel 7.8. Kebutuhan Nutrisi Itik Petelur 

Kebutuhan  Anak  

(0-8 mgg)  

Dara  

(8-20 mgg)  

Petelur  

(>20 mgg)  

Energy metabolis 

(kkal/kg)  

Protein kasar  

Ca (%)  

P (%)  

2900  

17-20  

0,6-1,0  

0,6  

2800  

18  

0,6-1,0  

0,6  

2700  

16-18  

2,9-3,25  

0,47  

 

Reproduksi 

Perkawinan pada itik dapat dilakukan dengan perkawinan alami dan Inseminasi 

buatan. Perkawinan alami pada itik dapat terjadi hasil fertilitas yang baik dengan adanya 

kolam kawin maupun tidak. Pada dasarnya ada lima tahapan tingkah laku itik sewaktu kawin 

yaitu taltap perayuan (courtship), tahap naik diatas punggung den mengatur posisi (mounting 

and positioning), perangsangan betina (stimulating), ereksi dan ejakulasi (erection and 

 

 

 

 

ejaculation), dan gerakan setelah kawin (post coital display) (Tan, 980). Sementara 

perkawinan IB dilakukan dengan menyuntikkan sperma itik jantan kedalam kelamin betina. 

 

Tujuan Produksi 

Tujuan Produksi Itik 

1. Untuk menghasilkan protein hewani melalui daging dan telur. 

2. Untuk pembibitan ternak itik. 

3. Untuk usaha ekonomi kerakyatan mandiri. 

4. Limbah bulu itik dapat dimanfaatkan untuk membuat souvenir 

5. Pupuk kandang dari kotoran itik untuk tanaman 

6. Pemeliharaan itik tergolong mudah, dapat menjadi usaha sampingan warga  dan 

mengisi masa tua pasca pensiun. 

 

 

Tata Laksana Pemeliharaan Ternak Ayam dan Itik 

1) Sanitasi dan Tindakan Preventif Sanitasi kandang mutlak diperlukan dalam pemeliharaan 

itik dan tindakan preventif (pencegahan penyakit) perlu diperhatikan sejak dini untuk 

mewaspadai timbulnya penyakit. 

2) Pengontrol Penyakit 

Dilakukan setiap saat dan secara hati-hati serta menyeluruh. Cacat dan tangani secara serius 

bila ada tanda-tanda kurang sehat pada itik. 

3) Pemberian Pakan 

Pemberian pakan itik tersebut dalam tiga tahap , yaitu tahap  stater (umur 0–8 minggu), tahap  

grower (umur 8–18 minggu) dan tahap  layar (umur 18–27 minggu). Pakan ketiga tahap  tersebut 

berupa pakan jadi dari pabrik (secara praktisnya) dengan kode masing-masing tahap . Cara 

memberi pakan tersebut terbagi dalam empat kelompok yaitu: 

a. umur 0-16 hari diberikan pada tempat pakan datar (tray feeder) 

b. umur 16-21 hari diberikan dengan tray feeder dan sebaran dilantai 

c. umur 21 hari samapai 18 minggu disebar dilantai. 

d. umur 18 minggu–72 minggu, ada dua cara yaitu 7 hari pertama secara pakan 

peralihan dengan memperhatikan permulaan produksi bertelur sampai produksi 

mencapai 5%. Setelah itu pemberian pakan itik secara ad libitum (terus menerus). 

 

 

 

 

 

 Dalam hal pakan itik secara ad libitum, untuk menghemat pakan biaya baik tempat 

ransum sendiri yang biasa diranum dari bahan-bahan seperti jagung, bekatul, tepung ikan, 

tepung tulang, bungkil feed suplemen Pemberian minuman itik, berdasar  pada umur itik 

juga yaitu : 

a. umur 0-7 hari, untuk 3 hari pertama iar minum ditambah vitamin dan mineral, 

tempatnya asam seperti untuk anak ayam. 

b. umur 7-28 hari, tempat minum dipinggir kandang dan air minum diberikan 

secara ad libitum (terus menerus) 

c. umur 28 hari-afkir, tempat minum berupa empat persegi panjang dengan 

ukuran 2 m x 15 cm dan tingginya 10 cm untuk 200-300 ekor. Tiap hari 

dibersihkan 

 4) Pemeliharaan Kandang  andang hendaknya selalu dijaga kebersihannya dan daya gunanya 

agar produksi tidak teengaruh dari kondisi kandang 

Lokasi kandang jauh dari keramaian/pemukiman penduduk, mempunyai letak transportasi 

yang mudah dijangkau dari lokasi pemasaran dan kondisi lingkungan kandang mempunyai 

iklim yang kondusif bagi produksi ataupun produktivitas ternak. Itik serta kondisi lokasi tidak 

rawan penggusuran dalam beberapa periode produksi. 

 

Kandang itik dibagi menjadi dua berrdasarkan bentuk atapnya yaitu:  

1. Shed type (tipe satu sisi)  

 Arah kandang bagian depan menghadap ke timur. Separuh dinding bagian depan dan 

belakang, yaitu dinding bagian bawah, tertutup rapat. dinding bagian atas berupa alas yang 

terbuat dari kawat atau bambu. dinding sisi kiri maupun kanan tertutup rapat, kecuali tangga 

dan pintu di salah satu sisi. Tipe ini rnemungkinkan masuknya sinar matahari secara langsung 

sehingga akan mengurangi bau amoniak dalam kandang. Tipe Shade ini cocok untuk daerah 

yang tanah kering.  

2. Gable type (atap dua sisi)  

 Arah kandang vertikal dari utara ke selatan. Bagian bawah dinding kandang dibuat 

rapat, sementara bagian atasnya berupa kisi-kisi. Dua sisi dinding yang lain tertutup rapat, 

 

 

 

 

kecuali pintu yang berada di salah satu sisi. Tipe ini adalah tipe atap yang cocok untuk 

kandang itik di daerah bertanah basah dan kelembaban tinggi. 

 

berdasar  fungsinya kandang di bagi menjadi beberapa tipe sebagai berikut :  

1. Kandang boks (kandang DOD, tahap  starter) untuk anak itik yang berumur 1 hari - 3 

minggu, terbuat dari papan atau bambu dengan lantai dari kawat kasa (ram ayam) atau 

dari anyaman bambu dengan jarak anyaman 1-1,5 cm. Daya tampung 1 m2 kandang boks 

mampu menampung 50 ekor DOD.  

2. Kandang ren untuk pemeliharaan itik dara maupun dewasa hanya diberi atap sebagian 

hanya dibatasi pagar mengelilingi kandang. Kandang diberi pembatas bedasarkan umur. 

Setiap kelompok dapat terdiri dari 100-500 ekor.  

3. Kandang koloni postal kandang koloni ditempati itik dalam kelompok umur yang 

berbeda. Lantai kandang dapat berupa litter, lantai bersemen, atau dari bilah-bilah -

bambu.  

4. Kandang Baterai kandang baterai merupakan kandang yang di buat dengan sekat-sekat 

dan setiap petak hanya berisi satu ekor itik. Ukuran 45 cm x 35 cm dengan tinggi 60 cm. 

Lantai dan dinding petak dapat dibuat dari anyaman bambu atau kawat. Lantai kandang 

dibuat sedikit miring agar telur yang baru keluar dari induk itik dapat langsung 

menggelinding ke tempat penampungan di bagian depan atau belakang.  

5. Kandang itik dengan kolam ikan (mina itik) kandang itik dapat juga dibuat di atas 

kolam. Di Kalimantan Selatan, khususnya di daerah Hulu Sungai Utara, para peternak 

itik intensif sudah biasa membuat kandang di atas perairan, tetapi ikan masih berupa ikan 

liar. Tentu akan Iebih baik bila ikan yang dipelihara di kolam adalah ikan gurame, lele, 

ikan mas, mujair, nila, gabus, patin. 

 

7.2. Jenis dan Karakeristik ternak ayam dan Itik 

Jenis dan Karakteristik Itik 

berdasar  tujuan produksinya itik dibagi menjadi 3, yaitu: 

1. Itik petelur seperti Indian Runner, Khaki Campbell, Buff (Buff Oington) dan CV 

2000-INA; 

2. Itik pedaging seperti Peking, Rouen, Aylesbury, Muscovy, Cayuga; 

 

 

 

 

3. Itik ornamental (itik kesayangan/hobby) seperti East India, Call (Grey Call), 

Mandariun, Blue Swedish, Crested, Wood.  

 

Jenis bibit unggul yang diternakkan, khususnya di Indonesia ialah jenis itik petelur seperti itik 

tegal, itik khaki campbell, itik alabio, itik mojosari, itik bali, itik CV 2000-INA dan itik-itik 

petelur unggul lainnya. 

 

1. Itik Tegal 

Itik tegal, itik ini berasal dari tegal, ciri – cirinya: 

badan berbentuk botol, langsing, postur tubuhnya tegak, tinggi badannya dapat 

mencapai 50 cm , Lehernya dan panjang, proporsi kepala jauh lebih kecil daripada 

badan dan letak mata mengarah sedikit ke atas bagian kepala, Warna bulu 

kecoklatan/tutul2 coklat. 

2. Itik Mojosari 

Itik jenis ini merupakan itik lokal unggul yang mulai diternak di daerah Modupuro, 

Mojosari, Daerah Mojokerto Jawa Timur, oleh karena itu terkenal pula disebut itik 

mojokerto. Kelebihan itik mojosari adalah ukuran telur yang lebih besar dari itik 

lainnya dan warnanya lebih hijau. Ciri-cirinya: 

Ciri-ciri itik mojosari: 

Postur tubuh mirip itik tegal dengan ukuran tubuh lebih kecil, Bulu pada betina 

berwarna cokelat tua kemerahan dengan beberapa variasi, bulu pada jantan, bulu pada 

bagian kepala, leher, dan dada berwama cokelat gelap kehitaman, Bulu dibagian perut 

berwarna keputihan, bagian sayap terdapat bulu suri berwarna hitam mengkilap. 

Bobot badan dewasa mencapai 1,7 Kg 

Bobot telur 65-69 gram 

Prosedur 130-265 telur 

3. Itik Bali (Anas SP) 

Itik bali adalah itik lokal yang banyak dibudidaya di Pulau Bali dan Pulau Lombok. 

Kelebihannya daya tahan tubuh yang sangat bagus membuat itik ini dapat diternak di 

berbagai daerah dengan berbagai suhu yang berbeda-beda.ciri-cirinya: 

Hampir sama dengan itik jawa/ itik tegal dengan ukuran lebih besar dan leher lebih 

pendek, Warna bulu lebih terang 

 

 

 

 

 

4. Itik Alabio (Anas platurynchos) 

Itik ini merupakan jenis itik asli dari Kalimantan. Lahir dari persilangan itik/bebek 

peking dengan itik lokal kalimantan. Ciri-ciri: 

Warna umum bulu itik alabio betina adalah kuning bercampur dengan, warna abu-abu. 

Ujung dada, sayap, kepala ekor ada sembur warna hitam.  

Namun warna itik alabio jantan adalah abu-abu hitam dan ekornya ada bulu yang melengkung 

keluar. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA 

 

 

 

 

Anonim. Kajian Ayam Buras Dengan Pendekatan Rantai Nilai Dan Iklim Usaha Di 

Kabupaten Boven Digoel. Program Pembangunan Berbasis warga  tahap  Ii: 

Implementasi Institusionalisasi Pembangunan Mata Pencaharian Yang Lestari Untuk 

warga  Papua, Ilo – Pcdp2 Undp. Http:Www.Ilo.Org/Wcmsp5/Groups/Public/---

Asia/---Ro.../Wcms_342733.Pdf: (Diakses Pada 27 November 2016) 

Prasetyo, L.H., P. P. Ketaren, A. R. Setioko, A. Suparyanto, E. Juwarini, T. Susanti, S. 

Sopiyana. 2010. Panduan Budidaya Dan Usaha Ternak Itik. Blai Penelitian Ternak 

Ciawi, Bogor. 

Rose, S.P. 2001. Principles Of Poultry Science. Cab International 

Suretno, N. D., A. Prabowo, M. Silalahi. 2008. Teknologi Budidya Itik. Balai Besar 

Pengkajian Teknolgi Pertanian. 

Srigandono, 1997. Ilmu Unggas Air. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. 

Susilorini, E., Sawitri, M. E., Dan Muharlien. 2008. Budidaya 22 Ternak Potensial. Penebar 

Swadaya, Jakarta. 

Santoso,  H.,  &  Sudaryani,  T.  2009. Pembesaran Ayam Pedanging Di  Kandang Panggung 

Terbuka. Cetakan Pertama. Penebar Swadaya, Jakarta. 

Tan, N.S . 1980. The Training Ofdrakes For Semen Collection . Ann Zootech. 29 (2) : Pp. 93 

-103 . 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB VIII. KOMODITAS ANEKA TERNAK 

8.1. Taksonomi, Morfologi, Sebaran Populasi, Kebiasaan Hidup, Kebutuhan Pakan 

dan nutrisi, Reproduksi, Tujuan Produksi, Tata Laksana Pemeliharaan Ternak 

Kuda, Kelinci, Puyuh dan Burung hantu 

 

 

 

 

 

Kelinci 

 

Kelinci adalah mamalia bertelinga panjang family Leporidae. Dulunya, hewan ini 

adalah hewan liar yang hidup di Afrika hingga ke daratan Eropa. Pada perkembangannya, 

tahun 1912 kelinci diklasifikasikan dalam Ordo lagomoha. Ordo ini dibedakan menjadi dua 

famili, yakni Ochtonidae (jenis pika yang pandai bersiul) dan Leporidae (termasuk 

didalamnya jenis kelinci dan terwelu). Di Indonesia banyak terdapat kelinci lokal, yakni 

kelinci jawa (Lepus negicollis) dan kelinci sumatra (Nesolagus netseherischlgel) 

(Kartadisastra, 2011). Kelinci termasuk hewan herbivora non-ruminan yang memiliki sistem 

pencernaan monogastrik dengan perkembangan sekum seperti rumen ruminansia, sehingga 

kelinci disebut pseudo-ruminansia (Cheeke et al., 1982). 

 

Taksonomi Kelinci 

berdasar  Bappenas (2005) kelinci diklasifikasikan sebagai berikut: 

Kingdom  : Animalia 

Phylum : Chordata 

Subphylum  : Vertebrata 

Classis  : Mamalia 

Ordo   : Lagomoha 

Familia  : Leporidae 

Subfamilia  : Leporine 

Genus  : Lepus 

Spesies  : Lepus sp. 

 

 

Morfologi Kelinci 

  

Secara Morfologi tubuh kelinci terdiri dari Caput (kepala), Cervix (leher), Truncus 

(Badan) dan Cauda (Ekor). Kelinci memiliki ukuran tubuh yang kecil dengan panjang 20-50 

cm dengan bobot 0,4 – 2 Kg, telinga panjang yang menghadap kedepan, panjang telinga 

mencapai 10 cm atau lebih, bangun hidung silindris, memiliki rambut halus diseluruh tubuh 

termasuk ekor dan kaki, memiliki ekor pendek atau tidak terlihat, memiliki empat kaki, kaki 

depan lebih pendek daripada kaki belakang, terdapat 5 jari disetiap kaki kelinci, dan memiliki 

gigi seri (Rictche,1983). Awalnya kelinci diklasifikasikan dalam ordo rodensia (binatang 

 

 

 

 

mengerat) yang bergigi seri empat, tetapi akhirnya dimasukkan dalam ordo logomoha karena 

bergigi seri enam (Cheeke et al., 1987). 

 

Tujuan Produksi 

 

Tujuan produksi ternak kelinci terdapat beberapa macam, Menurut Raharjo (2005) 

tujuan produksi kelinci diantaranya adalah: 

a. menghasilkan protein hewani berupa daging, daging kelinci mengandung protein 20,8 

%, lemak 10,2 %, energi metabolis 73 MJ/kg dan rendah kolesterol 0,1 % 

b. untuk diambil kulit-rambut (fur) 

c. sebagai kelinci hias 

d. menghasilkan pupuk organik dari urin dan kotorannya 

e. hewan percobaan (laboratoty animal) 

f. hewan kesayangan 

 

Kebiasaan Hidup 

Kelinci merupakan herwan nocturnal (aktif dimalam hari) tetapi kelinci dapat 

melakukan adaptasi dengan pemeliharaan sehingga aktivitas kelinci dilakukan pada siang hari 

Kelinci dapat dipelihara pada suhu optimum 21°C, sedangkan pada suhu 25-30°C dapat 

memicu  stres pada kelinci (Lebas dkk., 1986).  Kehidupan kelinci memiliki dimensi 

sosial yang kuat sehingga ia akan merasa tertekan manakala teisahkan dari lingkungannya 

yang tadinya nyaman berubah ke lingkungan yang tak nyaman (Manshur dan Fakkih, 2010): 

1. coprophagy yaitu memakan kembali feses yang telah dikeluarkan, sifat coprophagy 

biasanya terjadi pada malam atau pagi hari berikutnya (Blakely dan Bade, 1991). 

2. Grooming yaitu menjilati rambut tubuh untuk menjaga kebersihan. 

3. Stereotypes, yaitu tindakan yang berulang dan tidak memiliki tujuan seperti mengigiti 

pagar kandang, menggigiti kawat, mengunyah semu, menggigiti tempat pakan, menekan 

tempat minum, kepala gemetar, mengais-ngais dan menggosokkan badan pada dinding 

kandang (Fraser dan Broom, 2005). 

4. Menandai wilayah kekuasaan (pada kelinci jantan) dengan melakukan urinasi untuk 

(Cheeke et al., 2000). 

Kebutuhan Nutrisi dan Pakan Kelinci 

 

 

 

 

Kebutuhan nutrisi Kelinci berbeda sesuai dengan kondisi fisiologis ternaknya dapat 

dilihat pada tabel 8.1. 

Tabel 8.1. Kebutuhan Nutrisi Kelinci berdasar  kondisi Fisiologis Ternak 

Nutrient 

Kebutuhan Nutrisi Kelinci 

Pertumbuhan Hidup Pokok Bunting Laktasi 

Digestible Energy 

(kcal/kg) 2500 2100 2500 2500 

TDN (%) 65 55 58 70 

Serat Kasar (%)  14   Protein Kasar (%) 16 12 15 17 

Lemak (%) 2 2 2 2 

Ca (%) 0,45 - 0,4 1,75 

P (%) 0,55 - - 5 

Metionin + Cystine 0,6 - - 0,6 

Lysin 0,65 - - 0,75 

Sumber: NRC (1977) 

 

 

Reproduksi 

 Kondisi reproduksi kelinci dapat dilihat pada tabel 8.2. 

Table.8.2. Umur dewasa kelamin, kawin pertama pada beberapa tipe kelinci 

Reproduksi Umur (bulan) 

Dewasa Kelamin    Tipe Ringan 4 

Tipe Sedang 5-6 

Tipe Berat 7-8 

Umur Kawin pertama  Betina 6 

Jantan 7 

Sumber: Raharjo (2005) 

Menurut Raharjo (2005) lama bunting pada kelinci 28-31 hari dengan jumlah anak/ 

kelahiran 4-10 ekor.  

 

 

 

 

 

Tata Laksana Pemeliharaan kelinci 

Sistem pemeliharaan kelinci dapat menggunakan jenis kandang berbeda sesuai status 

fisiologisnya, Salah satu permasalahan yang dialami oleh ternak yang mendekati masa dewasa 

kelamin adalah sifat agresif yang muncul akibat kepadatan kandang yang tinggi, kepadatan 

kandang dapat mempengaruhi tingkah laku kelinci (Verga et al., 2004). Kepadatan kandang 

diktahui tidak  mempengaruhi performa kelinci tetapi mempengaruhi tingkah lakunya, 

kandang koloni pada kelinci sebaiknya memiliki kepadatan 15 ekor/m2(38 kg/m2) (Morrise 

dan Maurice, 1996). Jenis kandang ranch dilengkapi dengan tempat umbaran dengan 

kapasitas satu jantan satu betina dan anak-anaknya (Gunawan, 2008). Jenis dan ukuran 

kandang kelinci tercantum pada tabel 8.3. 

 

 

 

 

 

Tabel 8.3. Jenis dan ukuran kandang kelinci 

Jenis kandang 

Ukuran 

Kapasitas kandang 

(ekor) Panjang x Lebar x tinggi 

(m) 

Kandang sistem postal  1 x 1 x 0,55 4-6 

Kandang sistem battery 1 x 0,6 x 0,6 1 

Kandang bibit 1 x 0,6 x 0,6 1 

Kandang model ranch 1 x 0,75 x 0,6 1 

(Gunawan, 2008) 

 

 

8.2.Jenis dan Karakteristik kelinci 

1. New Zealand White  

Kelinci New Zealand White yang berasal dari USA termasuk dalam spesies 

Orictolagus Cuniculus dari genus Orictolagus. El-Raffa (2004) merupakan kelinci 

penghasil daging.Ciri-cirinya mempunyai dada penuh, badannya medium namun 

terlihat bundar dan gempal, kaki depan agak pendek, kepala besar dan agak bundar, 

 

 

 

 

telinga agak besar dan tebal dengan ujungnya yang sedikit membulat, serta bulunya 

sangat tebal namun halus. 

 

2. Kelinci Angora 

Kelinci Angora berasal dari Ankara, Turki, yang pertama kali ditemukan dan 

dibawa oleh pelaut Inggris, kemudian dibawa ke Perancis  tahun 1723. Tahun 1777 

Angora menyebar ke Jerman. Tahun 1920 meluas ke negara-negara Eropa Timur, Jepang, 

Kanada, dan Amerika Serikat. Sampai kini Perancis menjadi pusat peternakan kelinci 

Angora terbesar yang menghasilkan wool.  

Di Indonesia kelinci jenis Angora merupakan kelinci hias. Cirinya Warna bulunya 

bervariasi putih, cokelat, hitam, hitam putih, agouti, bintik-bintik putih, abu-abu, oranye, 

dan campuran atau kombinasidari warna-warna tersebut. Kelinci angora memiliki ciri 

bulu yang tebal dan lembut diseluruh bagian permukaan tubuhnya, adanya bulu yang 

tumbuh di ujung telinga dan kaki depan, bersamaan dengan bulu panjang yang terdapat di 

tubuhnya. Kelinci ini memiliki tempramen yang lembut, tetapi tidak cocok untuk orang 

yang tidak suka menyisir binatang peliharaannya. Bobot badan bisa mencapai berat 2,0 – 

4,0 kg baik jantan mau pun  betina. (Djoko, 2012). 

 

3. Kelinci Polish 

Kelinci Polish berasal Belanda, Berat badannya lebih besar dari Netherland Dwarf 

yakni 1,3 kg. Produktivitasnya melahirkan 4 ekor anak. Umrnya bias bertahan antara 5 -7 

tahun dan bisa lebih panjang. Ciri khas kelinci ini bulunya halus dengan berbagai warna, 

mata tajam, dan telinga pendek bulat meruncing (Ahmad, 2010). 

 

4. Kelinci Flemish Giant. 

Flemish giant ciri-cirinya memiliki badan yang besar yang berat badannya 

berkisar antar 6 sampai 10 kilogram, bahkan lebih dari 10 kilogram, berkuping lebih 

besar dan memiliki variasi warna rambut yang bagus. warna rambut pada Flesmish Giant 

yaitu steel gray(abu-abu besi), Sandy(seperti pasir), Lightgray(abu-abu mudah), biru, 

Fawn(cokelat kuning muda) serta hitam dan putih (Karmidi M, 2007:24). 

 

5.  Rex 

 Pada tahun 1924 Kelinci ini diperkenalkan ke publik di Pameran Internasional 

Paris. Jenis kelinci rex ini ada berbagai macam/jenis bergantung dari warna bulunya, 

 

 

 

 

antara lain white rex, dalmatian rex (bertotol), black rex, pappilon rex, ermine rex, 

blue  rex, dsb. Beberapa peternak di Indonesia sendiri memberi nama, misalnya triclor 

rex (tiga warna), dsb. Kelinci rex yang paling terkenal adalah white rex, yang memiliki 

bulu putih mulus dan tebal. Ciri-Ciri Umum Kelinci Rex adalah : Memiliki bulu antara 

1,3 sampai 2,2 cm yang bertekstur padat halus dan lembut seperti beludru, sehingga 

nampak indah. Bobot tubuh dapat mencapai 5 kg jantan, sedangkan betina dapat 

mencapai lebih dari 5 kg.  Memiliki bentuk kepala yang lebih luas dibandingkan jenis 

kelinci lainnya, telinga tegak dan proporsional.  

 

KUDA 

Kuda merupakan salah satu jenis ternak besar yang termasuk hewan herbivora non 

ruminansia. Ternak ini bersifat nomadic, kuat, dan mampu berjalan sejauh 16 km dalam 

sehari untuk mencari makan dan air (Kilgour dan Dalton, 1984). Blakely dan Bade (1991) 

menyatakan bahwa klasifikasi zoologis kuda adalah sebagai berikut:  

Taksonomi Kuda 

Kingdom  : Animalia  

Phylum  : Chordata  

Class  : Mammalia  

Ordo  : Perissodactyla  

Family  : Equidae  

Genus   : Equus  

Spesies  : Equus caballus 

 

Diperkirakan orang-orang Hindu dan Tionghoa membawa kuda ke Indonesia pada 

awal perhitungan tahun Masehi yang disusul oreh orang Timur Tengah. Menurut Stegman 

Von Pritzwald kuda dibagi menjadi beberapa jenis berdasar  daerah asalnya, jenis kuda dan 

asalnya dapat dilihat pada Tabel 8.4. 

 

Tabel 8.4. Jenis kuda dan daerah asalnya 

Jenis kuda Asal 

Equus caballus germanicus Jerman 

Equus caballus occidentalis Eropa Tengah 

Equus caballus gmelini Eropa Timur 

 

 

 

 

Equus caballus orientalis Asia 

Equus caballus mongolicus mongol/ Equus prewalsky 

 

 

Tujuan Pemeliharaan Kuda




Peternakan Metha Jaya merupakan sebuah industri yang bergerak pada 

bidang penggemukan kambing, perikanan dan perdagangan hasil pertanian. Saat 

ini peternakan Metha Jaya memiliki kandang kambing dengn kapasitas ratusan 

ekor. Adapun hasil produksi daging kambing rata-rata 0.5 ton/bulan. 

Peternakan Metha Jaya berlokasi di desa Bendet kecamatan Diwek 

Kabupaten Jombang no. 29. Lokasi ini sangat strategis digunakan untuk 

penggemukan kambing dikarenakan suhu udara dan cuaca yang cocok untuk 

ternak serta berada pada lahan terbuka dan jauh dari pemukiman penduduk. 

Pakan ternak merupakan komponen biaya produksi terbesar dalam suatu 

usaha peternakan, oleh karena itu pengetahuan tentang pakan dan pemberiannya 

perlu mendapat perhatian khusus. Ransum yang diberikan kepada ternak harus 

diformulasikan dengan baik dan semua bahan pakan yang dipergunakan dalam 

menyusun ransum harus mendukung produksi yang optimal dan efisien sehingga 

usaha yang dilakukan dapat menjadi lebih ekonomis (

Ransum merupakan gabungan dari beberapa bahan pakan yang disusun 

sedemikian rupa dengan formulasi tertentu untuk memenuhi kebutuhan ternak 

selama satu hari dan tidak mengganggu kesehatan ternak. Ransum dapat 

dinyatakan berkualitas baik apabila mampu memberikan seluruh kebutuhan 

nutrien secara tepat, baik jenis, jumlah, serta imbangan nutrien tersebut bagi 

ternak. Ransum yang berkualitas baik berpengaruh pada proses metabolisme 

tubuh ternak sehingga ternak dapat menghasilkan daging yang sesuai dengan 

potensinya. Faktor penting yang harus diperhatikan dalam formulasi ransum 

kambing adalah kebutuhan protein, energi, serat kasar, kalsium(Ca) dan 

fhosfor(P). Komponen nutrient tersebut sangat berpengaruh terhadap produksi 

kambing terutama untuk pertumbuhan dan produksi daging 

menyatakan pakan adalah suatu bahan yang 

dimakan hewan yang mengandung energi dan zat-zat gizi (atau keduanya) di 

dalam bahan tersebut. Pakan adalah bahan yang dimakan dan dicerna oleh seekor 

hewan yang mampu menyajikan unsur hara atau nutrien yang penting untuk 

perawatan tubuh, pertumbuhan, penggemukan, reproduksi dan produksi. Bahan 

pakan dapat dibagi menjadi 2 kelompok yaitu konsentrat dan bahan berserat. 

Konsentrat serta bahan berserat merupakan komponen atau penyusun ransum 

(Blakely dan Bade, 1994). Menurut Setiawan dan Arsa (2005), pakan merupakan 

bahan pakan ternak yang berupa bahan kering dan air. Bahan pakan ini harus 

diberikan pada ternak sebagai kebutuhan hidup pokok dan produksi. Dengan 

adanya pakan maka proses pertumbuhan, reproduksi dan produksi akan 

berlangsung dengan baik. Oleh karena itu, pakan harus terdiri dari zat-zat pakan 

yang dibutuhkan ternak berupa protein, lemak, karbohidrat, mineral, vitamin dan 

air. 

Manajemen pemberian pakan yang baik perlu dipelajari karena 

merupakan upaya untuk memperbaiki kualitas pakan yang diberikan. Pemberian 

pakan yang tidak memenuhi kebutuhan ternak akan merugikan. Manajemen 

pemberian pakan harus memperhatikan penyusunan ransum kebutuhan zat-zat 

untuk ternak yang meliputi jenis ternak, berat badan, tingkat pertumbuhan, tingkat 

produksi, dan jenis produksi .

Pakan yang diberikan kepada ternak potong sebaiknya pakan yang masih 

segar. Bila pakan berada di dalam palungan lebih dari 12 jam maka pakan tersebut 

akan menjadi basi, apek dan mudah berjamur. Pakan yang sudah basi akan 

menyebabkan pengambilan (intake) pakan oleh ternak berkurang dan hal ini akan 

berdampak terhadap menurunnya performa ternak. Setiap terjadi penurunan 1,0 % 

akan menyebabkan menurunnya pertambahan bobot badan sebesar 1,5-2,0 %. 

Untuk menjamin pakan di dalam palungan selalu segar, lakukan pemberian pakan 

minimal 2 kali sehari, bila terdapat sisa pakan dari pemberian sebelumnya harus 

dibuang. Idealnya ternak harus sudah diberikan pakan kembali kira -kira setengah 

jam setelah pakan pada pemberian sebelumnya habis. Inilah pentingnya menyusun 

ransum yang sesuai dengan kebutuhan ternak  

Konsumsi pakan adalah banyaknya pakan yang dapat dimakan pada waktu 

tertentu. Produksi ternak hanya dapat terjadi apabila konsumsi energi pakan 

berada diatas kebutuhan hidup pokok. Keragaman konsumsi pakan disebabkan 

oleh aspek individu, species dan bangsa ternak, status fisiologis, kebutuhan 

energi, kualitas pakan dan kondisi lingkungan . Ternak 

ruminansia yang normal (tidak sakit atau sedang bereproduksi) mengkonsumsi 

pakan dalam jumlah yang terbatas sesuai dengan kebutuhannya untuk mencukupi 

hidup pokok ,Tinggi rendah konsumsi pakan pada ternak 

ruminansia sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal yaitu : tempat tinggal 

(kandang) , palatabilitas, konsumsi nutrisi, bentuk pakan dan faktor internal yaitu : 

selera, status fisiologi, bobot tubuh dan produksi ternak itu sendiri konsumsi adalah faktor yang essensial yang 

merupakan dasar untuk hidup pokok dan menentukan produksi. bahwa konsumsi pakan kambing dinyatakan dalam 

bahan kering. 

  Konversi dan Efisiensi Pakan 

Efisiensi pakan dapat dihitung berdasarkan perbandingan pertambahan 

bobot badan (kg) dengan total konsumsi bahan kering (kg) dikalikan 100%. 

Efisiensi pakan sangat penting bagi para peternak agar tidak mengalami kerugian 

akibat terlalu banyak pakan atau kekurangan pakan (Anggorodi, 1984). Konversi 

pakan “Feed Convertion Ratio ” adalah perbandingan atau rasio jumlah pakan 

(kg) yang dikonsumsi oleh ternak dengan produk yang dihasilkan (kg) oleh ternak 

tersebut. Konversi pakan merupakan petunjuk berapa persen konsumsi pakan 

diubah menjadi daging (Blakely dan Bade, 1994). Semakin tinggi nilai konversi 

pakan berarti pakan yang digunakan untuk menaikkan bobot badan persatuan 

berat semakin banyak atau efisiensi pakan rendah  konversi pakan dipengaruhi oleh bangsa ternak, tersedianya zat-zat 

pakan ransum dan kesehatan ternak. 

  Kebutuhan Nutrisi Kambing 

Domba/kambing termasuk dalam golongan ternak ruminansia yang 

dicirikan dengan berlambung  ganda dan adanya aktifitas mikroorganisme dengan 

intensitas yang tinggi pada lambungnya. Hal ini akan mempengaruhi bahan pakan 

yang dibutuhkan dan kebutuhan  akan zat nutrisinya. Dengan adanya aktifitas 

mikroorganisme maka domba/kambing tidak memerlukan protein yang tinggi dan 

bahkan bisa memanfaatkan urea sebagai sumber protein. 

Nutrisi atau zat makanan adalah senyawa kimia yang terdapat dalam 

makanan yang dapat dicerna menjadi senyawa lain yang digunakan untuk 

berfungsinya organ fisiologis dalam rangkaian proses perkembangan, 

pertumbuhan dan produksi ternak. Zat gizi yang penting adalah air, protein, 

lemak, mineral, karbohidrat dan energi. 

 Air 

Air merupakan unsur terpenting dan mutlak dibutuhkan oleh makhluk 

hidup. Lebih dari 50% berat badan ternak adalah air. Unsur air mengisi sel-sel 

tubuh dengan konsentrasi 7 – 90%. Hasil penelitian menunjukkan ternak lebih 

tahan tanpa makan dari pada tanpa air.  

Fungsi air dalam tubuh: 

1. Sebagai pelarut dan media bagi reaksi kimia dalam tubuh 

2. Sebagai media transportasi masuknya zat-zat ke dan dari sel tubuh 

3. Sebagai pengatur temperatur tubuh 

Protein 

Merupakan unsur yang penting dan dibutuhkan dalam jumlah yang relatif 

besar terutama dalam masa pertumbuhan, bunting dan menyusui. Penyusun 

protein adalah asam amino, sehingga protein dicirikan dengan kandungan gugus 

aminanya (-NH2), walaupun banyak macamnya ada yang mengandung S. 

Protein adalah senyawa organik kompleks yang mempunyai berat 

molekul tinggi. Ruminansia mendapatkan protein dari 3 sumber, yaitu protein 

mikrobia rumen, protein pakan yang lolos dari perombakan mikrobia rumen dan 

sebagian kecil dari endogenus (Tillman et al., 1991). Tubuh memerlukan protein 

untuk memperbaiki dan menggantikan sel tubuh yang rusak serta untuk produksi. 

Protein dalam tubuh diubah menjadi energi jika diperlukan. Protein dapat 

diperoleh dari bahan-bahan pakan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan dan yang 

berasal dari biji-bijian ,

Protein didalam tubuh ternak ruminansia, dapat dibedakan menjadi 

protein yang dapat disintesis dan protein tidak dapat disintesis. Protein yang 

dibutuhkan oleh ternak ruminansia yaitu dalam bentuk PK dan Prdd. Protein kasar 

adalah jumlah nitrogen (N) yang terdapat didalam pakan dikalikan dengan 6,25 

(Nx6,25), sedangkan Prdd adalah protein pakan yang dicerna dan diserap dalam 

saluran pencernaan (Siregar, 1994). Menurut Anggorodi (1994) kekurangan 

protein pada kambing dapat menghambat pertumbuhan, sebab fungsi protein 

adalah untuk memperbaiki jaringan, pertumbuhan jaringan baru, metabolisme, 

sumber energi, pembentukan anti bodi, enzim-enzim dan hormon. 

Fungsi protein: 

1. Pembentukan dan mengganti sel-sel yang rusak 

2. Penting dalam proses pertumbuhan 

3. Berperan dalam percepatan reaksi metabolisme dalam tubuh (enzim) 

4. Komponen yang penting dalam otot, kulit, rambut/bulu, hormone, 

immunoglobulin 

 Lemak  

Berfungsi sebagai penghasil asam-asam lemak dan energi, setelah dicerna 

menjadi asam lemak dan gliserol. Pencernaan dan penyerapan lemak pada saluran 

pencernaan ternak ruminansia terjadi pada usus halus dengan bantuan enzim-

enzim dari pangkreas dan empedu. 

 Mineral 

Tubuh hewan memerlukan mineral untuk membentuk jaringan tulang dan 

urat, untuk memproduksi dan mengganti mineral dalam tubuh yang hilang, serta 

untuk memelihara kesehatan (Sugeng, 1998). Mineral berfungsi untuk bahan 

pembentuk tulang dan gigi yang menyebabkan adanya jaringan yang keras dan 

kuat, memelihara keseimbangan asam basa dalam tubuh, sebagai aktivator system 

enzim tertentu, sebagai komponen dari suatu sistem enzim ,

Mineral harus disediakan dalam perbandingan yang tepat dan dalam jumlah yang 

cukup, karena apabila terlalu banyak mineral akan membahayakan tubuh ternak 

Bahan yang berupa abu setelah suatu bahan dipanaskan dalam temperatur 

500 ◦C selama 3 jam. Unsure ini dibedakan atas mineral makro dan mineral 

mikro. Termasuk dalam mineral makro yaitu unsure Ca, Cl, Mg, P, K, Na dan S. 

Sedangkan unsur yang termasuk dalam mineral mikro yaitu Co, Cu, Fe, I, Mn, 

Mo, Se, dan Zn. Mineral dibutuhkan dalam jumlah yang sedikit tetapi sangat 

esensial karena tubuh tidak mampu mensintesanya sendiri. 

 Karbohidrat  

Unsur nutrisi yang sebagian besar (50-80%) merupakan bagian dari 

bahan kering bahan pakan. Strukturnya terdiri dari amilum, selulose, hemiselulose 

dan lignin. Peranannya sebagian besar sebagai seumber energi. 

 Kebutuhan Energi 

Energi dalam pakan umumnya berasal dari karbohidrat dan lemak. 

Pentingnya energi dalam pakan tercermin dari adanya 2 macam metode 

pengukuran yaitu metode pengukuran TDN merupakan sistem ukuran yang paling 

tua yang berdasar pada fraksi-fraksi yang tercerna dari sistem Wende serta 

sumbangan energinya. Sistem yang kedua adalah sistem kalori berdasar pada 

kandungan energi (kalori) pada bahan pakan  Menurut 

TDN adalah jumlah energi dari pakan maupun ransum yang dapat 

dicerna. Zat-zat pakan yang dapat menjadi sumber energi yaitu protein, serat 

kasar, lemak dan BETN. 

Kekurangan energi dapat mengakibatkan terhambatnya pertambahan 

bobot badan, penurunan bobot badan dan berkurangnya semua fungsi produksi 

dan terjadi kematian bila berlangsung lama  ,Menurut 

ternak memanfaatkan energi untuk pertumbuhan dan produksi 

setelah kebutuhan hidup pokoknya terpenuhi. Kebutuhan energi akan meningkat 

seiring dengan pertambahan bobot badan. Tinggi rendahnya TDN dipengaruhi 

oleh beberapa faktor antara lain bobot badan dan konsumsi pakan itu sendiri. 

Kebutuhan energi akan meningkat seiring dengan pertambahan bobot badan. TDN 

atau energi merupakan total dari zat pakan yang paling dibutuhkan. Kelebihan 

energi akan disimpan dalam bentuk lemak badan, tetapi sebaliknya jika pakan 

yang dikonsumsi tidak mencukupi kebutuhan energinya maka lemak tubuh akan 

dirombak untuk mencukupi kebutuhan energi untuk hidup pokok ternak yang 

tidak tercukupi dari pakan. 

 

 Pertambahan Bobot Badan Harian (PBBH) 

bahwa pada ternak potong faktor penentu 

dalam mencapai produksi daging yang optimal adalah bobot badan lahir dan 

pertambahan bobot badan harian. Penampilan dan produksi ternak berupa laju 

pertumbuhan dan pertambahan bobot badan harian merupakan hasil nyata dari 

pengaruh genetik lingkungan . Lebih lanjut dinyatakan bahwa factor 

genetik diperlukan untuk mengekspresikan kemampuannya secara penuh dalam 

produksi sedangkan lingkungan merupakan faktor pendukung yang memberi 

kesempatan untuk berproduksi. 

Berdasarkan hasil penelitian diperoleh pertambahan 

bobot badan harian kambing sebanyak 41,67 g/hari. Pertambahan bobot badan 

ternak adalah peningkatan berat hidup ternak sampai mencapai berat tertentu 

. Faktor-faktor yang mempengaruhi PBBH adalah bobot badan 

ternak dan lama pemeliharaan. Bobot badan ternak senantiasa berbanding lurus 

dengan tingkat konsumsinya. Semakin tinggi bobot badannya, maka makin tinggi 

pula tingkat konsumsi terhadap pakan. 

Kebutuhan Nutrisi Kambing Berdasarkan Bobot Badan dan Pertambahan 

Bobot Badan ,

 


Rumus perhitungan pertambahan berat badan: 

PBBH    = 

bobot akhir - bobot awal 

waktu pengamatan 

 

...................................................(2.1) 

 

 Konsep Subtitusi Biasa 

Dalam matematika, subtitusi adalah metode yang umum digunakan untuk 

memecahkan persamaan linier simultan. Konsep ini memakai  prinsip-prinsip 

umum bahwa setiap sisi persamaan masih sama dengan yang lain ketika kedua 

belah pihak dikalikan (atau dibagi) dengan jumlah yang sama, atau ketika jumlah 

yang sama ditambahkan (atau dikurangkan) dari kedua belah pihak. Sebagai 

persamaan tumbuh sederhana melalui penghapusan beberapa variabel, variabel 

akhirnya akan muncul dalam bentuk sepenuhnya dipecahkan, dan nilai ini 

kemudian dapat menjadi "back-diganti" dalam persamaan yang sebelumnya 

diperoleh dengan cara menghubungkannya nilai ini dalam untuk variabel. 

Biasanya, masing-masing "substitusi balik" kemudian dapat memungkinkan 

variabel lain dalam sistem yang harus dipecahkan.  

Metode perhitungan subtitusi biasa ini digunakan dalam menghitung 

kebutuhan nutrisi yang dibutuhkan kambing untuk mencapai berat badan yang di 

harapkan. 

Rumus perhitungan nutrisi dengan memakai  subtitusi biasa 

Jika berat badan berada tepat pada pembulatan Tabel 2.1 

 

     BBNT + 

( PBBH – PBB ) . ( BBNT – ( BBNT-1)) 

.......................(2.2) 

( PBB )  –  ( PBB-1) 

16 

 

 

 

Jika berat badan berada diantara pembulatan tabel maka di hitung dulu nilai 

pembuatan atas dan nilai pembulatan bawah. 

Rumusnya : 

KNFinal  =  KNAtas  +         BB – BBbawah             + KNAtas – KNbawah ..(2.3) 

           BBAtas – BBbawah  

Keterangan : 

PBBH : Pertambahan Berat Badan Harian 

BBNT : Nilai Terkait dari tabel (PK, BK, TDN, P, Ca) 

BBNT -1 : Nilai Terkait dari tabel (PK, BK, TDN, P, Ca) – 1 

PBB : Pertambahan Berat Badan  

PBB -1 : Pertambahan Berat Badan -1 

KNFinal : Kebutuhan Nutrisi Final 

KNAtas : Kebutuhan Nutrisi Nilai Pembulatan Atas 

KNBawah : Kebutuhan Nutrisi Nilai Pembulatan Bawah 

BBbawah : Berat Badan Pembulatan Bawah 

BBAtas : Berat Badan Pembulatan Atas 

Sebagai contoh: 

Kebutuhan nutrisi terhadap bobot dan pertambahan bobot badan harian, 

misalkan dengan bobot badan 12,1 kg dan pertambahan bobot badan harian 110 g 

(Brilian Indah Kusumaningrum,2009). 


 

Kebutuhan bahan kering (BK) pada bobot badan 10 kg dan PBBH 110 g 

(110-75)/(75-50) = (x-0,35)/(0,35-0,37) 

35/25 = (x-0,35)/-0,02 

25x-8,75 = -0,7 

x = 0,32 kg 

Kebutuhan bahan kering (BK) pada bobot badan 15 kg dan PBBH 110 g 

(110-75)/(75-50) = (x-0,50)/(0,50-0,50) 

35/25 = (x-0,50)/0 

x = 0,50 kg 

Kebutuhan bahan kering (BK) pada bobot badan 12,1 kg dan PBBH 110 g 

= 0,32 + {(12,1-10)/(15-10)} x (0,50-0,32) 

= 0,32 + (0,42)(0,18)  

= 0,4 kg 

Kebutuhan TDN pada bobot badan 10 kg dan PBBH 110 g 

(110-75)/(75-50) = (x-0,30)/(0,30-0,25) 

35/25 = (x-0,30)/0,05 

25x-7,5 = 1,75 x = 0,37 kg 

Kebutuhan TDN pada bobot badan 15 kg dan PBBH 110 g 

(110-75)/(75-50) = (x-0,36)/(0,36-0,31) 

35/25 = (x-0,35)/ 0,05 

25x-9 = 1,75 x = 0,43 kg 

 

 

 

Kebutuhan TDN pada bobot badan 12,1 kg dan PBBH 110 g 

= 0,37+ {(12,1-10)/(15-10)} x (0,43-0,37) 

= 0,32 + (0,42)(0,06)    x = 0,4 kg 

Kebutuhan Protein Kasar (PK) pada bobot badan 10 kg dan PBBH 110 g 

(110-75)/(75-50) = (x-31)/(31-26) 

35/25 = (x-31)/ 5 

25x-775 = 175 

x = 38 g 

Kebutuhan Protein Kasar (PK) pada bobot badan 15 kg dan PBBH 110 g 

(110-75)/(75-50) = (x-37)/(37-33) 

35/25 = (x-37)/4 

25x-925 = 140 

x = 42,6 g 

Kebutuhan Protein Kasar (PK) pada bobot badan 12,1 kg dan PBBH 110 g 

= 38 + {(12,1-10)/(15-10)} x (42,6-38) 

= 38 + (0,42)(4,6) 

 = 39,93 g 

Kebutuhan kalsium (Ca) pada bobot badan 10 kg dan PBBH 110 g 

(110-75)/(75-50) = (x-1,9)/(1,9-1,5) 

35/25 = (x-1,9)/0,4 

25x-47,5 = 14 

x = 2,5 g 

Kebutuhan kalsium (Ca) pada bobot badan 15 kg dan PBBH 110 g 

(110-75)/(75-50) = (x-2,2)/(2,2-1,9) 

19 

 

 

35/25 = (x-2,2)/0,3 

25x-55 = 10,5 

x = 2,6 g 

 

Kebutuhan kalsium (Ca) pada bobot badan 12,1 kg dan PBBH 110 g 

= 2,5 + {(12,1-10)/(15-10)} x (2,6-2,5) 

= 2,5 + (0,42)(0,1)  

= 2,542 g 

Kebutuhan fosfor (P) pada bobot badan 10 kg dan PBBH 110 g 

(110-75)/(75-50) = (x-1,5)/(1,5-1,2) 

35/25 = (x-1,5)/0,3 

25x-37,5 = 10,5 

x = 1,9 g 

Kebutuhan fosfor (P) pada bobot badan 15 kg dan PBBH 110 g 

(110-75)/(75-50) = (x-1,7)/(1,7-1,4) 

35/25 = (x-1,7)/0,3 

25x-42,5 = 10,5 

x = 2,1 g 

Kebutuhan fosfor (P) pada bobot badan 12,1 kg dan PBBH 110 g 

= 1,9 + {(12,1-10)/(15-10)} x (2,1-1,9) 

= 1,9 + (0,42)(0,2) 

= 1,98 g 

Kebutuhan nutrisi terhadap bobot dan pertambahan bobot badan harian, 

dengan bobot badan 12,1 kg dan pertambahan bobot badan harian 110 g dapat 

dilihat pada Tabel 2.3. 

 


 Konsep Simultaneous Equation 

Persamaan simultan adalah seperangkat persamaan yang mengandung 

beberapa variable. Set ini sering disebut sebagai sistem persamaan. Sebuah solusi 

untuk sistem persamaan adalah spesifikasi tertentu dari nilai-nilai dari semua 

variabel yang secara bersamaan memenuhi semua persamaan. Metode dasar untuk 

menyelesaikan sistem persamaan sederhana termasuk metode grafik , dengan 

matriks metode, metode substitusi, atau metode eliminasi. Beberapa buku teks 

mengacu pada metode eliminasi sebagai metode penambahan, karena melibatkan 

penambahan persamaan (atau kelipatan konstan dari persamaan kata) satu sama 

lain.  

Sebuah himpunan berhingga dari persamaan – persamaan linear dalam 

variabel- variabel 

nxxx ,,, 21   dinamakan sebuah sistem persamaan linear atau 

sebuah sistem linear dan ditulis dalam bentuk  

 


 

dengan a  dan b  yang berindeks bawah menyatakan konstanta – konstanta.  

Persamaan (2.1) disebut sebuah sistem linear yang terdiri dari m  

persamaan linear dengan n  bilangan yang tak diketahui. 

 

Berdasarkan definisi di atas sistem linear berikut  

                 

mempunyai dua persamaan linear dengan tiga variabel. 

Persamaan (2.2) mempunyai solusi 1,2,1 321  xxx  karena nilai – 

nilai ini memenuhi kedua – dua persamaan. Akan tetapi, 1,8,1 321  xxx  

bukanlah sebuah solusi karena nilai – nilai ini hanya memenuhi persamaan yang 

pertama dari kedua persamaan di dalam sistem tersebut. Perlu dicatat bahwa tidak 

semua sistem persamaan linear mempunyai solusi misalnya sistem linear berikut  


Sebuah sistem persamaan yang tidak mempunyai solusi dikatakan tak 

konsisten (inconsistent). Sebaliknya sistem yang mempunyai solusi dinamakan 

konsisten (consistent).  

Tinjaulah sebuah sistem umum dari dua persamaan linear dalam 

bilangan-bilangan yang tak diketahui  x  dan y : 

       

Kedua persamaan ini memberikan grafik berbentuk garis lurus. Namakan 

garis–garis tersebut 

1g  dan  2g .  Dari posisi letak kedua garis, ada tiga 

kemungkinan yang dapat dibuat yaitu kedua garis sejajar atau kedua garis 

berhimpit/berpotongan di satu titik atau kedua garis berhimpit/berpotongan di 

banyak titik.  Perhatikan Gambar 2.1. 

 

 


 

Dari Gambar 2.1 dapat dijelaskan sebagai berikut : 

1. Tidak ada satu titikpun yang yang bersinggungan/berpotongan antara garis 

1g  

dan 

2g . Sebagai konsekuensi kondisi ini  tidak ada solusi untuk sistem 

tersebut.  

2. Hanya ada satu titik singgung/potong. Konsekuensi kondisi ini adalah sistem 

tersebut persis mempunyai satu solusi. 

3. Ada banyak titik singgung/potong yang diberikan kedua garis 

1g  dan 2g . Di 

dalam kasus ini maka ada banyak solusi untuk sistem tersebut. 

Dari kemungkinan (b) dan (c),  titik  yx,   dikatakan terletak pada garis 

1g  dan  2g  jika dan hanya jika x  dan y  memenuhi persamaan-persaman garis 

pada persamaan. 

Hasil yang sama berlaku untuk sembarang sistem. Singkatnya, ada tiga 

kemungkinan yang dapat terjadi di dalam mendapatkan solusi sistem persamaan 

linear yaitu sistem mempunyai satu solusi, atau banyak solusi, atau tidak ada 

solusi.  

Kembali kepada sistem persamaan linear (2.1).  Jika semua suku konstan 

 1,2, ,ib i m  sama dengan nol yaitu sistem tersebut mempunyai bentuk 


 

maka sistem persamaan linear (2.4) dikatakan sebagai Sistem Persamaan linear 

Homogen. 

Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya bahwa tiap–tiap sistem 

persamaan linear mempunyai satu solusi, atau banyak solusi, atau tidak ada solusi 

sama sekali.  

Berkenaan dengan konsisten atau tidak konsisten, sistem persamaan (1.4) 

adalah sistem yang konsisten, karena 0,,0,0 21  nxxx selalu 

merupakan sebuah solusi. Solusi tersebut dinamakan solusi trival (trival solution). 

Selanjutnya jika ada solusi lain, maka solusi tersebut dinamakan solusi non-trivial 

(non-trival solution). 

Untuk sebuah sistem persamaan linear homogen salah satu diantara 

pernyataan berikut bernilai benar. 

1. Sistem tersebut hanya mempunyai pemecahan trivial. 

2. Sistem tersebut mempunyai tak terhingga banyaknya pemecahan yang tak 

trivial sebagai tambahan kepada pemecahan trivial tersebut. 

Pada kasus khusus dimana sebuah sistem homogen dipastikan mempunyai 

solusi non-trivial yaitu ketika sistem tersebut memiliki variabel lebih banyak 

daripada persamaan 

Dalam penerapannya sistem perhitungan penyusunan ransum  metode ini 

mempunyai kelebihan yaitu dapat menyusun ransum dengan pemenuhan 2 atau 

lebih zat pakan, dan bahan pakan yang digunakan lebih dari 2 (dua) macam.  


Sebagai contoh kasus : Susun ransum dengan kandungan Protein Kasar 

20% dan Energi sebesar 2,8 Mcal ME/kg ransum.  

Tabel 2.4 Bahan Pakan dan Jumlah Nutrisi 

Bahan pakan  Protein Kasar (%)  ME (Mcal)  Jumlah  

Protein Mix  45  2.59  x  

Jagung  8.5  3.37  Y  

Bekatul  12.5  2.35  z  

Dari data diatas diperoleh 3 persamaan :  

a. Jumlah bahan :  

x + y + z = 100  

b. Kebutuhan PK :  

0.45 x + 0.085 y + 0.125 z = 0.20 x 100  

c. Kebutuhan ME :  

2.59 x + 3.37 y + 2.35 z = 2.8 x 100  

Persamaan-persamaan :  

 1. x + y + z = 100  

 2. 0.45x + 0.085y + 0.125z = 20  

 3. 2.59x 3.37 y + 2.35z = 280  

 

(2) 45 x + 8.5 y + 12.5 z = 2000  

(3) 45 x + 58.55 y + 40.83 z = 4864.86  

(4) - 50.05 y - 28.33 z = - 2864.86  

 

(1) 45 x + 45 y + 45 z = 4500  

(2) 45 x + 8.5 y + 12.5 z = 2000  

(5) 36.5 y + 32.5 z = 2500  

 

 

25 

 

 

(4) – 50.05 y – 28.33 z = - 2864.86  

(5) – 50.05 y – 44.56 z = - 3428.08  

16.23 z = 563.22  

       z = 34.70   

 

(2) 45 x + 8.5 y +12.5 z = 2000  

45 x + 8.5 y     = 2000 –(12.5 x 34.7)  

45 x + 8.5 y      = 1566.25    (6) 

 

(3) 45 x + 58.55 y + 40.83 z  = 4864.86  

45 x + 58.55 y    = 4864.86 – (40.83 x 34.7)  

45 x + 58.55 y   = 3448.06   (7)  

 

(6) 45 x +   8.5 y   = 1566.25  

(7) 45 x + 58.55 y = 3448.06  

  - 50.05 y  = - 1881.81  

    y = 37.60  

(1) x + y + z   = 100  

x + 37.60 + 34.70 = 100  

x   =   27.70  

Jadi ransum tersebut dalam 100 kg tersusun atas :  

Tabel 2.5. Porsi Komposisi Ransum. 

Bahan pakan  Jumlah (kg)  

Protein Mix  27.70  

Jagung  37.60  

Bekatul  34.70  


Konsep Dasar Sistem 

Terdapat dua kelompok pendekatan di dalam mendefinisikan sistem, yaitu 

yang menekankan pada prosedurnya dan yang menekankan pada komponen atau 

elemennya. Pendekatan sistem yang lebih menekankan pada prosedur sistem 

adalah sebagai berikut: “Sistem adalah suatu jaringan kerja dari prosedur-prosedur 

yang saling berhubungan, berkumpul bersama-sama untuk melakukan suatu 

kegiatan atau untuk menyelesaikan suatu sasaran tertentu 

Pendekatan sistem yang merupakan jaringan kerja dari prosedur lebih 

menekankan urutan-urutan operasi di dalam sistem. Prosedur (procedure) 

didefinisikan sebagai berikut: “Prosedur adalah 

suatu urut-urutan operasi klerikal (tulis-menulis), biasanya melibatkan beberapa 

orang di dalam satu atau lebih departemen, yang diterapkan untuk menjamin 

penanganan yang seragam dari transaksi-transaksi bisnis yang terjadi.” 

Pendekatan sistem yang lebih menekankan pada elemen atau komponennya dalam 

mendefinisikan sistem, masih menurut Neuschel, adalah sebagai berikut: “Sistem 

adalah kumpulan dari elemen-elemen yang berinteraksi untuk mencapai suatu 

tujuan tertentu.” 

 

 Konsep Sistem Informasi 

Sistem informasi didefinisikan oleh Robert A. Leitch dan K. Roscoe Davis 

sebagai berikut: 

“Sistem informasi adalah suatu sistem di dalam suatu organisasi yang 

mempertemukan kebutuhan pengolahan transaksi harian, mendukung operasi, 

bersifat manajerial dan kegiatan strategi dari suatu organisasi dan menyediakan 

pihak luar tertentu dengan laporan-laporan yang diperlukan.” 

 Blok Masukan 

Masukan atau input mewakili data yang masuk ke dalam sistem informasi. 

Masukan disini termasuk metode-metode dan media untuk menangkap data yang 

akan dimasukkan, yang dapat berupa dokumen-dokumen dasar. 


 Blok Model 

Blok ini terdiri dari kombinasi prosedur, logika dan model matematik yang 

akan memanipulasi data input dan data yang tersimpan di basis data dengan cara 

yang sudah ditentukan untuk menghasilkan keluaran yang diinginkan. 


 Blok Keluaran 

Produk dari sistem informasi adalah keluaran yang merupakan informasi 

yang berkualitas dan dokumentasi yang berguna untuk semua tingkatan 

manajemen serta semua pemakai sistem. 


 Blok Teknologi 

Teknologi merupakan “kotak alat” (toolbox) dalam sistem informasi. 

Teknologi digunakan untuk menerima input, menjalankan model, menyimpan dan 

mengakses data, menghasilkan dan mengirimkan keluaran dan membantu 

pengendalian dari sistem secara keseluruhan. 


 Blok Basis Data 

Basis data (database) merupakan kumpulan dari data yang saling 

berhubungan satu dengan lainnya, tersimpan di perangkat keras komputer dan 

digunakan perangkat lunak untuk memanipulasinya. Data perlu disimpan di dalam 

basis data untuk keperluan penyediaan informasi lebih lanjut. Data di dalam basis 

data perlu diorganisasikan sedemikian rupa, supaya informasi yang dihasilkan 

berkualitas. Organisasi basis data yang baik juga berguna untuk efisiensi kapasitas 

penyimpannya. Basis data diakses atau dimanipulasi dengan memakai  

perangkat lunak paket yang disebut dengan DBMS (Database Management 

Systems). 

 Blok Kendali 

Banyak hal yang dapat merusak sistem informasi, seperti misalnya 

bencana alam, api, temperatur, air, debu, kecurangan-kecurangan, kegagalan-

kegagalan sistem itu sendiri, kesalahan-kesalahan, ketidak-efisienan, sabotase, dan 

lain sebagainya. Beberapa pengendalian perlu dirancang dan diterapkan untuk 

meyakinkan bahwa hal-hal yang dapat merusak sistem dapat dicegah ataupun bila 

terlanjur terjadi kesalahan-kesalahan dapat langsung diatasi. 

 

 analisa  dan Perancangan Sistem 

analisa  sistem adalah penguraian dari suatu 

sistem informasi yang utuh ke dalam bagian-bagian komponennya dengan 

maksud untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi permasalahan-permasalahan, 

kesempatan-kesempatan, hambatan-hambatan yang terjadi dan kebutuhan-

kebutuhan yang diharapkan sehingga dapat diusulkan perbaikan-perbaikannya. 

Tahap analisa  sistem dilakukan setelah tahap perencanaan sistem (system 

planning) dan sebelum tahap desain sistem (system design). Tahap analisa  

merupakan tahap yang kritis dan sangat penting, karena kesalahan di dalam tahap 

ini juga akan menyebabkan kesalahan di tahap selanjutnya. 


Dalam tahap analisa  sistem terdapat langkah-langkah dasar yang harus 

dilakukan oleh analis sistem sebagai berikut: 

1. Identify, yaitu mengidentifikasi masalah. 

2. Understand, yaitu memahami kerja dari sistem yang ada. 

3. Analyze, yaitu menganalisa  sistem. 

4. Report, yaitu membuat laporan hasil analisa . 

Setelah tahap analisa  sistem selesai dilakukan, maka analis sistem telah 

mendapatkan gambaran dengan jelas apa yang harus dikerjakan. Tiba waktunya 

sekarang bagi analis sistem untuk memikirkan bagaimana membentuk sistem 

tersebut. Tahap ini disebut dengan desain sistem. 

analisa  dan perancangan sistem dipergunakan untuk menganalisa , 

merancang, dan mengimplementasikan peningkatan-peningkatan fungsi bisnis 

yang dapat dicapai melalui penggunaan sistem informasi terkomputerisasi. 

 

 System Flow 

System flow atau bagan alir sistem merupakan bagan yang menunjukkan 

arus pekerjaan secara keseluruhan dari sistem. System flow menunjukkan urutan-

urutan dari prosedur yang ada di dalam sistem dan menunjukkan apa yang 

dikerjakan sistem. Simbol-simbol yang digunakan dalam system flow ditunjukkan 

pada Gambar 2.2. 

 

 

 

1. Simbol Dokumen

2. Simbol Kegiatan Manual

3. Simbol Simpanan Offline

4. Simbol Proses

5. Simbol Database

6. Simbol Garis Alir

7. Simbol Penghubung ke Halaman yang Sama

8. Simbol Penghubung ke Halaman Lain

 

Gambar 2.2   Simbol-Simbol Pada System Flow 

 

1. Simbol dokumen 

Menunjukkan dokumen input dan output baik untuk proses manual atau 

komputer. 

2. Simbol kegiatan manual 

Menunjukkan pekerjaan manual. 

3. Simbol simpanan offline 

Menunjukkan file non-komputer yang diarsip. 

4. Simbol proses 

Menunjukkan kegiatan proses dari operasi program komputer. 

5. Simbol database 

Menunjukkan tempat untuk menyimpan data hasil operasi komputer. 

6. Simbol garis alir 

Menunjukkan arus dari proses. 

7. Simbol penghubung 

Menunjukkan penghubung ke halaman yang masih sama atau ke halaman lain. 


 Data Flow Diagram (DFD) 

DFD sering digunakan untuk menggambarkan suatu sistem yang telah ada 

atau sistem baru yang akan dikembangkan secara logika tanpa 

mempertimbangkan lingkungan fisik dimana data tersebut mengalir. DFD 

merupakan alat yang digunakan pada metodologi pengembangan sistem yang 

terstruktur dan dapat mengembangkan arus data di dalam sistem dengan 

terstruktur dan jelas. 

 Simbol-simbol yang digunakan dalam DFD 

Simbol-simbol yang digunakan dalam DFD adalah : 

1. External Entity atau Boundary. 

External entity atau kesatuan luar merupakan kesatuan di lingkungan luar 

sistem yang dapat berupa orang, organisasi atau sistem lainnya yang 

berada di lingkungan luarnya yang akan memberikan input atau menerima 

output dari sistem. External entity disimbolkan dengan notasi kotak. 

2. Arus Data 

Arus Data (data flow) di DFD diberi simbol panah. Arus data ini mengalir 

di antara proses, simpanan data (data store) dan kesatuan luar (external 

entity). Arus data ini menunjukkan arus data yang dapat berupa masukan 

untuk sistem atau hasil dari proses sistem. 

3. Proses 

Suatu proses adalah kegiatan yang dilakukan oleh orang, mesin, atau 

komputer dari hasil suatu arus data yang masuk ke dalam proses untuk 

menghasilkan arus data yang akan keluar dari proses. Simbol proses 

berupa lingkaran atau persegi panjang bersudut tumpul. 


4. Simpanan Data 

Simpanan data merupakan simpanan dari data yang dapat berupa hal-hal 

sebagai berikut, sebagai gambaran: 

1.  Suatu file atau database di sistem komputer. 

2.  Suatu arsip atau catatan manual. 

3.  Suatu kotak tempat data di meja seseorang. 

4.  Suatu tabel acuan manual. 

Simpanan data di DFD disimbolkan dengan sepasang garis horizontal 

paralel yang tertutup di salah satu ujungnya. 

 Context Diagram 

Context Diagram merupakan langkah pertama dalam pembuatan DFD. 

Pada context diagram dijelaskan sistem apa yang dibuat dan eksternal entity apa 

saja yang terlibat. Dalam context diagram harus ada arus data yang masuk dan 

arus data yang keluar. 

 Data Flow Diagram Level 0 

DFD level 0 adalah langkah selanjutnya setelah context diagram. Pada 

langkah ini, digambarkan proses-proses yang terjadi dalam sistem informasi. 

 Data Flow Diagram Level 1 

DFD Level 1 merupakan penjelasan dari DFD level 0. Pada proses ini 

dijelaskan proses apa saja yang dilakukan pada setiap proses yang terdapat di 

DFD level 0. 

 

Entity Relational Diagram 

Entity Relational Diagram (ERD) merupakan penggambaran hubungan 

antara beberapa entity yang digunakan untuk merancang database yang akan 

diperlukan. 

 

 Konsep Dasar Basis Data 

database merupakan sekumpulan data yang 

berisi informasi yang saling berhubungan. Pengertian ini sangat berbeda antara 

database Relasional dan Non Relasional. Pada database Non Relasional, sebuah 

database hanya merupakan sebuah file. 

database adalah suatu susunan/kumpulan data 

operasional lengkap dari suatu organisasi/perusahaan yang diorganisir/dikelola 

dan disimpan secara terintegrasi dengan memakai  metode tertentu 

memakai  komputer sehingga mampu menyediakan informasi optimal yang 

diperlukan pemakainya. 

Penyusunan satu database digunakan untuk mengatasi masalah-masalah 

pada penyusunan data yaitu redundansi dan inkonsistensi data, kesulitan 

pengaksesan data, isolasi data untuk standarisasi, multiple user (banyak pemakai), 

security (masalah keamanan), masalah integrasi (kesatuan), dan masalah data 

independence (kebebasan data). 

ninda 


  



Pada dasarnya setiap orang yang memiliki dan memelihara ternak bertanggungjawab atas setiap 

kerugian yang ditimbulkan oleh ternaknya, demikian juga terhadap kerugian itu pemilik tenak berkewajiban 

memberikan ganti rugi kepada pihak yang dirugikan. Hal ini sesuai dengan ketentuan yang ada  dalam Pasal 

1368 KUHPerdata. Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk menjelaskan tentang tanggung jawab pemilik 

terhadap perbuatan melawan hukum yang disebabkan oleh hewan ternak, hambatan yang dihadapi dalam 

pelaksanaan ganti rugi dan usaha  yang dilakukan untuk penyelesaiannya. Penelitian ini merupakan penelitian 

hukum yang bersifat yuridis empiris dengan pengambilan sempel menggunakan teknik purposive sempling. 

Untuk memperoleh data dalam penulisan artikel ini dilakukan penelitian kepustakaan dan penelitian lapangan. 

Penelitian kepustakaan dilakukan dengan cara memperlajari serta menganalisis ketentuan-ketentuan perundang-

undangan, buku teks, jurnal dan dokumen lainnya yang berkaitan dengan masalah yang dibahas dalam penulisan 

ini sedangkan penelitian lapangan dilakukan dengan cara mewawancarai responden dan informan yang telah 

ditentukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanggung jawab pemilik ternak terhadap pemilik tanaman 

dilakukan dengan memberikan ganti rugi kepada pemilik tanaman yang dirugikan. Ada dua hambatan yang 

sering ditemui dalam usaha  penyelesaian ganti rugi kepada pemilik tanaman, yaitu sering tidak diketahui secara 

pasti siapa pemilik ternak yang menimbulkan kerugian serta tidak adanya itikad baik dari pemilik ternak. usaha  

yang dilakukan oleh pemilik tanaman untuk mendapatkan ganti rugi atas kerugian ini  adalah dengan cara 

damai meliputi musyawarah antar para pihak serta penyelesaian dengan melibatkan tokoh warga . 

Diharapkan kepada para pemilik ternak lebih bertanggungjawab terhadap kerugian-kerugian yang ditimbulkan 

oleh ternaknya. Kepada perangkat gampong disarankan agar lebih tegas dalam menerapkan aturan hukum yang 

telah ada dan berlaku di dalam warga , melakukan sosialisasi kepada warga  mengenai aturan-aturan 

hukum yang harus dipatuhi serta membuat reusam gampong sebagai dasar hukum dalam menerapkan setiap 

aturan Kata Kunci: Tanggung Jawab, Kerusakan, Hewan Ternak 

Ternak adalah binatang yang dipiara (lembu, kuda, kambing dan sebagainya) yang 

dibiakkan untuk tujuan produksi.1 Pada tingkatan yang lebih kecil, hewan ternak merupakan 

binatang peliharaan yang sengaja dipelihara seseorang agar bisa diambil manfaatnya sebagai 

salah satu sumber penghasilan bagi pemiliknya. Pemilik ternak sebagai orang yang 

menguasai hewan ternak bertanggung jawab terhadap setiap akibat yang ditimbulkan oleh 

hewan ternaknya. Setiap bentuk kerugian yang ditimbulkan oleh hewan ternak, sepenuhnya 

menjadi tanggung jawab pemiliknya. Pemilik ternak tidak boleh membiarkan ternaknya lepas 

tanpa pengawasan karena dapat beresiko menimbulkan kerugian terhadap orang lain. 

Kelalaian pemilik ternak dalam mengawasi ternaknya sehingga menimbulkan kerugian pada 

orang lain dapat digolongkan sebagai suatu perbuatan melawan hukum.  

Pasal 1365 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (selanjutnya disebut KUHPerdata) 

menyebutkan: “Tiap perbuatan melanggar hukum, yang membawa kerugian kepada seorang 

lain, mewajibkan orang yang karena salahnya menerbitkan kerugian itu, mengganti kerugian 

ini .”

berdasar  pada rumusan pasal ini, dapat dipahami bahwa suatu perbuatan dapat 

dinyatakan sebagai perbuatan melawan hukum apabila perbuatan ini  memenuhi empat 

unsur berikut: 

1. Perbuatan itu harus melawan hukum (onrechtmatig); 

2. Perbuatan itu harus menimbulkan kerugian; 

3. Perbuatan itu harus dilakukan dengan kesalahan; dan 

4. Antara perbuatan dan kerugian yang timbul harus ada hubungan kausal 

Terpenuhinya keempat unsur di atas merupakan syarat mutlak agar suatu perbuatan 

dapat digolongkan sebagai perbuatan melawan hukum, salah satu saja dari unsur-unsur ini 

tidak terpenuhi, maka perbuatan itu tidak dapat digolongkan sebagai perbuatan melawan 

hukum.

Jika seorang dapat dibuktikan telah melakukan perbuatan melawan hukum dan 

merugikan orang lain, maka terhadap seorang ini  dapat dimintakan pertanggungjawaban 

atas kerugian yang ditimbulkannya itu. Tanggung jawab yang dimaksudkan di sini adalah 

                                                           

berupa ganti kerugian yang diderita orang lain sebagai akibat terjadinya perbuatan melawan 

hukum. 

Selanjutnya menyangkut dengan perbuatan melawan hukum yang diakibatkan oleh 

hewan ternak, diatur dalam Pasal 1368 KUHPerdata yang menerangkan bahwa: “Pemilik 

seekor binatang, atau siapa yang memakainya, adalah selama binatang itu dipakainya, 

bertanggung jawab tentang kerugian yang diterbitkan oleh binatang ini , baik binatang 

itu berada dibawah pengawasannya, maupun tersesat atau terlepas dari pengawasannya.”

Ketentuan yang termuat didalam Pasal 1368 KUHPerdata menerangkan dengan jelas 

bahwa seseorang tidak hanya bertanggung jawab atas kerugian yang disebabkan oleh 

perbuatan, kelalaian atau kurang hati-hatinya sendiri, tetapi juga harus bertanggung jawab 

atas kerugian yang disebabkan oleh perbuatan orang-orang yang menjadi tanggungannya, 

barang-barang yang berada dibawah pengawasannya dan juga binatang-binatang miliknya.

Dengan demikian, setiap orang yang memiliki hewan ternak bertanggung jawab 

sepenuhnya terhadap kerugian yang ditimbulkan ternaknya. Apabila ternaknya ini  lepas 

dari pengawasan dan melakukan sesuatu yang menyebabkan kerugian bagi orang lain, maka 

pemilik  ternak harus bertanggung jawab untuk mengganti kerugian ini . Selama pihak 

pemilik ternak dirasa memiliki kemampuan untuk mengganti sejumlah kerugian yang 

ditimbulkan, maka pemilik ternak tidak bisa menghindari atau melepaskan diri dari tanggung 

jawabnya.  

Berkaitan dengan pengaturan mengenai Perbuatan Melawan Hukum ini  di atas, 

maka berdasar  penelitian yakni dengan mewawancarai beberapa kepala desa di 

Kecamatan Ingin Jaya Kabupaten Aceh Besar, diperoleh informasi bahwa pada tahun 2015 

ada  2 kasus kerusakan tanaman yang diakibatkan oleh hewan ternak serta pada tahun 

2016 juga ada  6 kasus kerusakan tanaman yang diakibatkan oleh hewan ternak. Satu 

kasus di antaranya telah diselesaikan oleh para pihak, yakni dengan mengganti kerugian yang 

dialami pemilik tanaman. Namun 7 kasus lainnya belum terselesaikan proses ganti ruginya 

disebabkan adanya beberapa hambatan-hambatan yang membuat pemilik tanaman sulit untuk 

mendapatkan pemenuhan haknya dalam hal memperoleh pengganti kerugian dari pemilik 

ternak. 

Kasus-kasus yang terjadi di Kecamatan Ingin Jaya Kabupaten Aceh besar ini  

umumnya terjadi akibat tindakan pemilik ternak yang melepaskan ternaknya ke kawasan 

                                                           

persawahan yang sedang dipakai  untuk menanam tanaman palawija. Ternak-ternak dilepas 

tanpa diikat dan tanpa pengawasan sama sekali oleh pemiliknya, sehingga tanpa 

sepengetahuan pemilik, ternak ini  telah melakukan pengrusakan terhadap tanaman milik 

orang lain. Pemilik tanaman yang merasa dirugikan kemudian memintakan 

pertanggungjawaban dari pemilik ternak atas kerusakan yang timbul akibat ternaknya. 

Bentuk pertanggungjawaban yang dimintakan adalah berupa ganti kerugian yang diderita 

oleh pemilik tanaman. Namun untuk mendapatkan perrtanggungjawaban dari pemilik ternak 

ini tidaklah mudah, banyak kendala yang ditemui oleh pemilik tanaman dalam usaha  

mendapatkan ganti rugi yang diinginkan. Kendala-kendala inilah yang menyebabkan 

beberapa kasus seperti yang ini  di atas sulit untuk diselesaikan proses ganti ruginya. 

Penelitian ini merupakan penelitian hukum yang bersifat yuridis empiris. Penelitian yuridis 

empiris adalah metode penelitian yang dilakukan untuk mendapatkan data primer yang diperoleh dari 

penelitian lapangan berupa dokumen-dokumen dan berkas-berkas yang berkaitan dengan 

permasalahan yang dibahas yakni terkait dengan judul “Tanggung Jawab Pemilik Hewan Ternak 

terhadap Pemilik Tanaman Akibat Adanya Kerusakan oleh Hewan Ternak”. 

Data yang diperoleh dalam penulisan artikel ini didapatkan dengan cara melakukan  

penelitian kepustakaan dan penelitian lapangan. Penelitian kepustakaan dilakukan untuk 

mendapatkan sumber data secara teoritis yaitu dari buku-buku, jurnal hukum, dan peraturan 

undang-undang yang berlaku, sedangkan penelitian lapangan dilakukan untuk mendapatkan 

data primer melalui wawancara dengan responden maupun informan. 

Pengambilan sempel untuk penulisan artikel ini dipakai  teknik purposive sampling, 

yaitu pemilihan sekelompok subjek atas ciri-ciri atau sifat tertentu yang dipandang 

bersangkut paut yang erat dengan ciri-ciri atau sifat-sifat populasi yang sudah diketahui 

sebelumnya yang dianggap dapat memberikan informasi yang jelas tentang apa masalah yang 

dibahas dan diperkirakan mampu mewakili keseluruhan populasi...                                                 

1.  Tanggung  Jawab Pemilik  Ternak terhadap  Perbuatan Melawan Hukum yang 

disebabkan oleh Hewan Ternak 

Hewan ternak merupakan hewan yang dipelihara dengan tujuan untuk produksi dan 

menjadi salah satu sumber penghasilan bagi peternak itu sendiri. Hewan ternak yang umum 

dipelihara oleh kebanyakan warga  di Kabupaten Aceh Besar, terutama di Kecamatan 

Ingin Jaya berupa hewan ternak jenis sapi dan juga kambing. Hewan ternak ini banyak 

dipelihara karena jenis pakannya yang tergolong mudah dicari, yaitu hanya berupa 

rerumputan serta dedaunan yang banyak ditemui di lingkungan sekitar. Salah satu tempat 

yang paling banyak ada  rumput adalah kawasan persawahan.  

Melepaskan ternak ke persawahan merupakan hal yang biasa dilakukan saat musem 

luah blang. Ternak-ternak yang dilepaskan umumnya tidak diikat sama sekali dan dibiarkan 

lepas begitu saja oleh pemiliknya. Meskipun tidak semua peternak membiarkan ternaknya 

bebas mencari makan seperti itu, namun hal ini sudah menjadi suatu kebiasaan yang sangat 

melekat di dalam warga .

Tindakan pemilik ternak yang melepaskan ternaknya dalam keadaan tidak diikat dan 

tanpa pengawasan ini sebenarnya disadari sangat berisiko. Ternak yang dibiarkan bebas tanpa 

pengawasan sedikitpun bisa saja melakukan hal-hal yang merugikan orang lain. Tanpa 

sepengetahuan pemilik, hewan ternak bisa saja masuk ke petak sawah yang ditanami tanaman 

palawija. Jika sudah masuk ke petak sawah yang ada  tanaman, maka besar kemungkinan 

ternak akan menginjak tanaman ini . Akibatnya bisa menyebabkan tanaman mati dan 

pemilik tanaman mengalami kerugian. Ketika kerugian ini terjadi maka peternak sebagai 

pemilik, pada akhirnya harus bertanggung jawab terhadap akibat yang ditimbulkan ternaknya. 

Hal ini sesuai dengan apa yang diatur dalam Pasal 1368 KUHPerdata bahwa pemilik ternak 

harus bertanggung jawab atas kerugian yang ditimbulkan oleh ternaknya, baik ternaknya itu 

berada dalam pengawasan maupun tidak dalam pengawasannya.  

Pasal 1368 KUHPerdata telah mengaturkan secara jelas mengenai tanggung jawab 

pemilik ternak terhadap kerugian-kerugian yang harus ditanggung apabila kerugian ini  

terbukti disebabkan oleh ternaknya. Begitupun jika ternaknya itu melakukan pengrusakan 

terhadap tanaman orang lain, maka pemilik ternak harus membayar ganti rugi kepada pemilik 

tanaman yang mengalami kerugian ini . 

                                                           

Ridwan Yahya menjelaskan bahwa saat musim tanam tiba, semua peternak dilarang 

melepaskan ternaknya ke persawahan. Pemilik ternak diharuskan untuk memasukkan 

ternaknya ke dalam kandang selama masa tanam berlangsung. Jikapun tidak dimasukkan 

dalam kandang, setidaknya harus ada tempat khusus yang dipagari dengan ketinggian 

tertentu, sehingga ternaknya tidak bebas berkeliaran. Jika hal ini tidak dilakukan, maka 

apabila ternak ini  melakukan pengrusakan terhadap tanaman milik orang lain,  pemilik 

ternak harus bertanggung jawab terhadap kerusakan yang ditimbulkan oleh ternaknya itu. Hal 

ini sudah menjadi aturan yang berlaku di dalam warga  sehingga setiap peternak harus 

mematuhi aturan ini .

Peraturan yang menyatakan bahwa pemilik ternak bertanggungjawab sepenuhnya 

terhadap kerugian yang ditimbulkan ternaknya sudah menjadi ketentuan yang berlaku 

menyeluruh di desa-desa yang berada di Kecamatan Ingin Jaya Kabupaten Aceh Besar. 

Ketika ada kasus-kasus yang berkaitan dengan kerugian yang dilakukan oleh hewan ternak, 

maka aturan ini yang akan dipakai  dan menjadi dasar dalam menegaskan beban tanggung 

jawab pemilik ternak. Dengan demikian maka tidak ada alasan bagi pemilik ternak untuk 

tidak mengganti kerugian apabila ternaknya melakukan pengrusakan yang menimbulkan 

kerugian pada orang lain. 

2.  Hambatan yang Dihadapi dalam Pelaksanaan Ganti Rugi 

berdasar  hasil penelitian, masih ditemui adanya beberapa kendala yang 

menghambat terpenuhinya hak dari pihak yang dirugikan. Beberapa hambatan ini  di 

antaranya yaitu: 

a. Tidak diketahui secara pasti Pemilik Ternaknya 

Pada dasarnya untuk mendapatkan ganti rugi, seorang yang merasa dirugikan 

harus meminta ganti rugi kepada pemilik ternak. Oleh karena itu, pemilik tanaman 

yang dirugikan harus mengetahui siapa pemilik ternak yang menimbulkan kerugian 

ini . sesudah  diketahui siapa pemilik ternak ini  barulah pemilik tanaman 

dapat meminta pertanggungjawaban dari pemilik ternak barupa ganti rugi atas 

kerugian yang dialami. 

Fakta di lapangan menunjukkan bahwa pada saat sesudah  panen, pemilik 

ternak secara berbarengan melepaskan ternaknya ke persawahan. Jika sudah 

demikian, ternak-ternak ini  pun bercampur antara pemilik yang satu dengan 

                                                           

pemilik yang lain, sehingga saat terjadi pengrusakan sangat sulit diketahui ternak 

milik siapa yang melakukannya. Jika terjadi seperti itu maka pemilik tanaman akan 

kesulitan dalam menentukan siapa pemilik ternak yang melakukan perbuatan 

melawan hukum. Pemilik tanamanpun akhirnya tidak tahu secara pasti kepada siapa 

tanggungjawab mengganti kerugian itu patut dimintakan. Inilah kesulitan utama 

yang dihadapi pemilik tanaman dalam usaha  mendapatkan ganti kerugian. 

Berkaitan dengan ini Ismanullah, geuchik gampong Ajee Cut menjelaskan 

bahwa pemilik tanaman berhak memintakan ganti rugi pada pemilik ternak yang 

menimbulkan kerugian. Tetapi dengan syarat yaitu orang yang merasa dirugikan 

harus dapat membuktikan bahwa ternak ini  memang milik orang yang 

dimintakan ganti rugi ini  dan bukan milik peternak lain. Hal ini karena tidak 

boleh apabila orang yang merasa dirugikan meminta ganti rugi kepada orang yang 

bukan pemilik ternak yang melakukan pengrusakan. Ini menjadi syarat utama dan 

jika tidak dapat dibuktikan maka orang yang merasa dirugikan tidak diperkenankan 

untuk meminta ganti kerugian atas kerugian yang dialaminya itu.

b. Tidak ada Itikad Baik dari Pemilik Ternak 

Itikad baik dari pemilik ternak bisa menjadi salah satu faktor penghambat 

terhadap pemenuhan hak dari pihak pemilik tanaman yang dirugikan. Adakalanya 

ada pemilik ternak yang mengabaikan tanggung jawabnya atas kerugian yang 

ditimbulkan ternaknya dengan berbagai alasan. 

Seperti yang dikatakan oleh M. Amin, semua pemilik ternak tahu dan 

menyadari kewajibannya untuk mengganti kerugian apabila ada ternaknya yang 

menimbulkan kerusakan pada tanaman orang lain. Tetapi ada beberapa pemilik 

ternak yang tidak melaksanakan ganti rugi ini  karena mungkin berpikir bahwa 

kerusakan yang ditimbulkan tidaklah parah dan kerugiannya hanya sedikit. Padahal 

walaupun kerugian ini  tidak besar namun pemilik ternak harusnya 

menunjukkan rasa tanggung jawab dengan memberikan ganti rugi terhadap pemilik 

tanaman yang dirugikan.

Kesadaran dan itikad baik di dalam menyelesaikan permasalahan 

menyangkut kerugian yang ditimbulkan oleh hewan ternak sangatlah penting. 

Dengan adanya itikad baik dari pemilik ternak dapat memudahkan di dalam proses 

                                                           

penyelesaian ganti rugi kepada pemilik tanaman. Selain itu juga dengan adanya 

itikad baik ini bisa mencegah masalah-masalah antar individu menjadi semakin 

besar. Jika permasalahan ini  tidak dapat terselesaikan dengan cara yang baik 

justru akan menimbulkan permasalahan lain yang bisa lebih merugikan bagi para 

pihak. 

3.  usaha -usaha  yang dilakukan untuk Penyelesaiannya 

berdasar  penelitian di lapangan, ada beberapa cara atau usaha  yang umum  

dilakukan pemilik tanaman dalam mengatasi hambatan ini  untuk mendapatkan ganti 

rugi yang menjadi haknya. Adapun usaha -usaha  dilakukan ini  yaitu: 

1. Musyawarah Antar Para Pihak 

Cara pertama yang umum dilakukan oleh pemilik tanaman untuk 

memperoleh penyelesaian terhadap kerugian yang dialami adalah cara kekeluargaan 

yakni musyawarah antar para pihak. Dengan cara ini pemilik tenaman akan lebih 

mudah dalam menyampaikan dan menjelaskan kepada pemilik ternak mengenai 

kerugian yang ditimbulkan ternaknya, sehingga tidak timbul sikap salah paham di 

antara para pihak. 

Ilyas mengatakan bahwa dalam penyelesaian sengketa perdata, cara yang 

lebih diutamakan dalam penyelesaiannya di dalam warga   adalah dengan 

musyawarah atau perdamaian. Dengan cara ini para pihak dapat saling bertemu dan 

menjelaskan inti permasalahan dengan cara yang baik. Kemudian para pihak dapat 

saling memberikan pandangan serta penjelasan, lalu mencari penyelesaiannya secara 

bersama-sama. Penyelesaian dengan cara ini dinilai akan lebih adil untuk kedua 

belah pihak, baik itu untuk pihak pemilik ternak maupun pihak yang dirugikan, 

yakni pemilik tanaman. 

Musyawarah antar para pihak yang bersengketa merupakan cara yang yang 

paling bijak serta diutamakan dalam penyelesaian setiap permasalahan yang terjadi 

di dalam warga . Dengan musyawarah semua pihak yang terlibat dapat saling 

bertukar pikiran serta mencari solusi terbaik bersama-sama untuk menyelesaikan 

masalah ini . Penyelesaian masalah melalui cara musyawarah dinilai efektif 

dipakai  untuk menyelesaikan masalah di dalam warga  karena di dalam 

warga  rasa kekeluargaan dan kebersamaan masih cukup kental. Oleh sebab itu 

                                                           

penyelesaian permasalan melalui musyawarah terus diutamakan dan dilaksanakan di 

dalam warga . 

Begitupula yang dikatakan oleh Rajidin, menurutnya jika memang ternak 

melakukan pengrusakan terhadap tanaman milik seseorang, maka pemilik tanaman 

harus menyelesaikannya dengan musyawarah. Pemilik ternak pasti akan 

memberikan ganti rugi jika memang benar ternaknya melakukan pengrusakan 

ini . Seperti yang pernah dialaminya, ia bersedia membayar ganti rugi kepada 

pemilik tanaman yang dirugikan oleh ternaknya. Saat itu pemilik tanaman meminta 

ganti rugi sebesar Rp 150.000,- dan ia pun bersedia memberikan ganti rugi berupa 

sejumlah uang ini  karena merasa jumlah ini  memang sesuai dengan total 

kerugiannya.

2. Penyelesaian dengan Melibatkan Tokoh warga . 

Cara yang selanjutnya menjadi alternatif dalam penyelesaian ganti rugi 

terhadap kerugian yang ditimbulkan ternak bisa juga diselesaikan dengan melibatkan 

tokoh warga . Tokoh warga  di dalam sebuah gampong berfungsi sebagai 

pihak yang menengahi dalam setiap permasalahan yang terjadi di dalam warga . 

Geuchik bersama perangkat gampong lainnya akan bermusyawarah untuk 

mencarikan solusi terbaik bagi para pihak. Para pihak tentunya berharap dengan cara 

ini bisa menyelesaikan permasalahan ini  dengan seadil-adilnya.  

. Ridwan Yahya mengatakan bahwa dirinya sebagai geuchik selalu siap 

menerima setiap keluhan dan laporan dari warga  mengenai permasalahan yang 

mereka hadapi, karena itu memang sudah menjadi tugasnya sebagai seorang 

geuchik. Jika ada masalah di dalam warga , tidak terkecuali masalah mengenai 

pengrusakan oleh hewan ternak dirinya siap membantu jika memang sudah 

dibutuhkan, namun dalam menyelesaikan masalah-masalah ini  dirinya  tidak 

sendiri, tokoh warga  lain akan secara bersama-sama ikut membantu, sehingga 

penyelesiannya dari masalah ini  dapat mudah diselesaikan. 

 berdasar  aturan adat yang berlaku di Kecamatan Ingin Jaya Kabupaten Aceh 

Besar, tidak dimungkinkan bagi pemilik ternak untuk melepaskan ternaknya dalam keadaan                                                      

tidak diikat serta tidak diawasi oleh pemiliknya. Jika tindakan melepas ternak tanpa diikat ini 

tetap dilakukan, maka pemilik ternak harus bertanggung jawab apabila ternak melakukan 

pengrusakan atau kerugian terhadap pemilik tanaman. Tanggung jawab ini  adalah 

berupa pemberian ganti rugi kepada pemilik tanaman yang dirugikan. Ganti rugi yang harus 

dibayarkan berdasar  perhitungan jumlah kerugian nyata yang dialami oleh pemilik 

tanaman. 

Pada pelaksanaan pertanggungjawaban ganti rugi kepada pemilik tanaman ditemui 

beberapa hambatan. Hambatan ini  meliputi 2 hal, yaitu: 

1). Tidak Diketahui Secara Pasti Pemilik Ternaknya 

Ketika ternak dari beberapa pemilik dilepaskan secara bersamaan, pemilik 

tanaman kesulitan dalam menentukan ternak mana yang melakukan pengrusakan 

dan juga siapa pemilik ternak ini . Sehingga pemilik tanaman sulit untuk 

siapa tuntutan ganti rugi itu harus ditujukan. Sehingga hak pemilik tanaman 

berupa ganti kerugian atas kerugian yang dialami sulit didapatkan. 

2). Tidak Ada Itikad Baik Dari Pemilik Ternak 

Kesadaran pemilik ternak untuk bertanggungjawab terhadap kerugian yang 

ditimbulkan ternaknya masih kurang. Dengan alasan bahwa kerugian yang 

timbulkan hanya sedikit, pemilik ternak merasa tidak perlu bertanggungjawab atas 

kerugian yang sedikit ini . 

c. Mengenai  cara  penyelesaian  agar pemilik  tanaman  tetap  mendapatkan pemenuhan 

haknya berupa ganti kerugian dari pemilik tanaman yang melakukan perbuatan 

melawan hukum, pemilik tanaman umumnya melakukan usaha -usaha  sebagai 

berikut: 

1). Musyawarah Antar Para Pihak 

Musyawarah antar para pihak menjadi cara yang paling utama dan umum 

dipakai  untuk menyelesaikan sengketa didalam warga . Pemilik tanaman 

biasanya mengusaha kan musyawarah dengan pemilik ternak untuk mendapatkan 

ganti rugi atas kerugian yang diakibatkan oleh hewan ternak.  

2). Penyelesaian Melibatkan Tokoh warga . 

Tokoh warga  di gampong menjadi penengah dan membantu mencarikan 

solusi terbaik untuk para pihak. Cara ini dipakai  apabila cara penyelesaian 

musyawarah antar para pihak gagal menemukan solusi. 

 

d



warga  di Kecamatan Kertosono rata-rata memiliki mata pencaharian bertani dan berdagang. Hampir 

semua dari warga warga  yang berprofesi sebagai petani memiliki hewan ternak yang dipelihara sebagai 

usaha atau mata pencaharian sampingan. Ternak yang dipelihara antara lain sapi potong, kambing, dan domba. 

Permasalahan-permasalahan yang timbul antara lain: warga  belum sepenuhnya memahami bagaimana 

cara memperoleh daging hasil sembelihan hewan qurban dengan kualitas yang baik, warga  belum 

mengetahui penyakit-penyakit yang bersifat zoonosis, serta warga  masih belum banyak yang mengetahui 

bagaimana tata cara proses penyembelihan ternak yang baik. Tujuan utama dalam kegiatan pengabdian kepada 

warga  ini adalah dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan warga warga  mengenai kriteria 

daging ASUH (Aman, Sehat, Utuh, dan Halal) serta handling dan restraint yang sesuai pada ternak.


Kecamatan Baron berbatasan dengan Kecamatan 

Kertosono di sebelah timur, sebelah selatan hingga barat 

berbatasan dengan Kecamatan Tanjunganom, serta sebelah 

utara berbatasan dengan Kecamatan Lengkong. Pusat 

pemerintahan Kecamatan Baron terletak tepat di tepi jalan 

utama Surabaya-Jogja, jalur ini juga dilewati oleh bis antar 

provinsi sehingga letak kecamatan Baron cukup strategis. 

Kelurahan Garu dan Kelurahan Jekek adalah bagian dari 

Kecamatan Baron. Terletak kurang lebih 4 km dari pusat 

pemerintahan kecamatan, sekitar 25 km dari ibukota 

kabupaten, dan sekitar 110 km dari ibukota Provinsi Jawa 

Timur.

Kelurahan Garu memiliki luas wilayah 189,19 Ha, dimana 

tanah sawah dan irigasi teknis yang penggunaannya masih 

tergolong banyak yaitu sekitar 89,22 Ha. Secara geografi s 

Kelurahan Garu merupakan dataran rendah wilayah 

pertanian daerah pengaliran laut atau daerah pengaliran 

sungai, dengan kemiringan 10–20 persen dan suhu rata-rata 

per harinya 30°C. Menurut topografi nya Kelurahan Garu 

termasuk dataran rendah yang berkarakter tanah liat dan 

termasuk tanah gerak, sehingga akses jalan menuju desa 

masih mengalami kesulitan. Namun dengan kondisi lahan 

yang subur menjadikan daerah ini sebagai penghasil lumbung 

pangan padi, tebu, dan bawang yang potensial di Kabupaten 

Nganjuk. Mayoritas mata pencaharian warga adalah petani, 

buruh tani, dan peternak.

Kelurahan Jekek memiliki luas wilayah sekitar 425 Ha, 

dengan batas sebelah utara Kecamatan Baron, batas selatan 

Kelurahan Kemlokolegi, batas timur Kelurahan Kemaduh, 

dan batas barat Kelurahan Katerban. Jarak dari pusat 

pemerintahan kecamatan sekitar 4 km, jarak dari ibukota 

kabupaten sekitar 25 km, dan jarak dari ibukota provinsi 

Jawa Timur sekitar 110 km. mata pencaharian mayoritas 

warga Kelurahan Jekek tidak jauh berbeda dengan warga 

Kelurahan Garu, yaitu sebagai petani, buruh tani, dan 

peternak.

Para warga yang memiliki ternak sebagai sumber 

penghasilan lain selain sector usaha pertanian rata-rata masih 

menerapkan pola pemeliharaan yang konvensional. Ternak 

di tempatkan pada kandang yang sederhana dan diberikan 

pakan rumput atau hijauan seadanya tanpa memperhitungkan 

kebutuhan nutrisi dari masing-masing ternak. Bila dapat 

dipelihara secara lebih professional, hasil ternak itu  

dapat optimal dan bias menjadi mata pencaharian utama 

warga sekitar.

PERMASALAHAN MITRA

 berdasar  hasil diskusi dengan kepala desa dan 

beberapa perwakilan warga  pada bulan Februari 

2017, teridentifi kasi beberapa permasalahan, permasalahan 

itu  mengarah pada manajemen peternakan yang masih 

kurang baik dan kurang optimalnya produksi ternak yang 

dimiliki oleh warga. Manajemen peternakan dalam hal 

ini adalah seluruh aspek-aspek yang berpengaruh pada 

usaha peternakan, seperti: nutrisi pakan ternak, konstruksi 

kandang, sanitasi kandang, cara pemeliharaan, program 

vaksinasi atau pengobatan, pemilihan bibit, hingga faktor 

produksi dan reproduksi ternak.

Rata-rata warga warga  masih minim informasi 

tentang manajemen peternakan yang baik dan benar sehingga 

hasil produksi ternak yang dihasilkan belum optimal. Selain 

itu edukasi mengenai nilai nutrisi yang terkandung dalam 

bahan pangan asal hewan juga sangat diperlukan guna 

membuka wawasan warga  tentang konsumsi gizi yang 

seimbang.


berdasar  analisa  terhadap suatu akar permasalahan 

seperti yang telah diuraikan diatas, maka solusi yang 

ditawarkan untuk dapat meningkatkan informasi warga  

tentang manajemen pemeliharaan ternak dan kesadaran 

warga  akan kebutuhan gizi dari bahan pangan asal 

hewan adalah dengan cara memberikan penyuluhan tentang 

tata cara pemeliharaan ternak sapi, kambing dan domba, serta 

unggas yang baik dan benar meliputi nutrisi pakan ternak, 

konstruksi kandang, sanitasi kandang, cara pemeliharaan, 

program vaksinasi atau pengobatan, pemilihan bibit, hingga 

faktor produksi dan reproduksi ternak; pembagian buku 

modul yang berisi tentang tata cara pemeliharaan ternak 

yang informatif dan mudah dipahami oleh peternak; serta 

melakukan demo pembuatan makanan olahan dari bahan 

pangan asal hewan.

Peternakan adalah kegiatan mengembangbiakkan dan 

membudi dayakan hewan ternak untuk mendapatkan manfaat 

dan hasil dari kegiatan itu . Pengertian peternakan tidak 

terbatas pada pemeliharaan saja, memelihara dan peternakan 

perbedaannya terletak pada tujuan yang ditetapkan. Tujuan 

peternakan adalah mencari keuntungan dengan penerapan 

prinsip-prinsip manajemen pada factor-faktor produksi yang 

telah dikombinasikan secara optimal (Rasyaf, 1994).

berdasar  ukuran hewan ternak, bidang peternakan 

dapat dibagi menjadi dua golongan, yaitu peternakan 

hewan besar seperti sapi, kerbau, kuda, kambing, dan 

domba sedangkan kelompok hewan kecil seperti ayam, 

kelinci, dan lain-lain . Hewan ternak yang 

dimiliki oleh warga Kelurahan Garu dan Kelurahan Jekek 

Kecamatan Baron diantaranya adalah sapi, kambing, domba,

dan ayam.

Produk hewan adalah segala macam bahan yang 

didapatkan dari tubuh hewan, seperti daging, lemak, darah, 

susu, telur, enzim, dan sebagainya ,Dalam 

kegiatan pengabdian warga  ini akan dilakukan praktek 

pengolahan dari bahan pangan asal hewan berupa daging 

sapi dan daging ayam.


Metode pelaksanaan yang akan digunakan dalam 

program pengabdian warga  ini adalah penyuluhan 

dan diskusi. Tujuan dari penyuluhan yang dilakukan kepada 

warga warga  adalah memberikan gambaran umum 

tentang manajemen peternakan yang baik dan selanjutnya 

dilakukan diskusi yang mendalam tentang tata cara beternak 

sapi, kambing, domba, dan ayam. Setelah acara penyuluhan 

dan diskusi selesai, dilanjutkan dengan edukasi pembuatan 

makanan berbahan dasar daging ayam dan daging sapi yang 

diolah menjadi nugget. Dengan demikian pengetahuan para 

warga warga  dapat semakin bertambah dan mendorong 

untuk dapat lebih meningkatkan pemenuhan kebutuhan 

gizi warga  dan kesejahteraan ternak warga . 

Penyuluhan penting dilakukan untuk dapat mengubah 

pola pikir para warga warga  yang rata-rata masih 

konvensional hingga dapat menerima transfer pengetahuan 

dari tim pengabdian warga  dari Fakultas Kedokteran 

Hewan Universitas Airlangga.

Setelah dilakukan penyuluhan dan praktek dilanjutkan 

dengan forum diskusi kembali. Pada forum diskusi dan tanya 

jawab ini warga warga  dapat berbagi pengalaman, 

mengemukakan pendapat, serta mengajukan pertanyaan 

pada tim pengabdian warga  mengenai manajemen 

peternakan dan pengolahan bahan pangan asal hewan. Dari 

forum diskusi dapat disimpulkan tentang masalah nyata 

yang terjadi di warga  dan ditemukan solusi untuk 

permasalahan itu .

Setelah program pengabdian warga  telah selesai 

dilaksanakan, dilakukan evaluasi pelaksanaan program. 

Evaluasi pelaksanaan program dilakukan dengan cara terus 

memantau tingkat kesadaran warga  akan kebutuhan 

gizinya dan manajemen pemeliharaan ternak yang dilakukan 

pada setiap periode KKN BBM yang diterjunkan pada desa 

itu .

Kegiatan pengabdian kepada warga  ini dilakukan 

pada tanggal 3 Agustus 2017. Bertepatan dengan periode 

penerjunan mahasiswa KKN BBM Universitas Airlangga. 

Kegiatan dilaksanakan pada malam hari, yaitu sekitar pukul 

20.00 WIB. Hal ini dikarenakan ketika pagi dan siang hari 

tidak memungkinkan untuk mengumpulkan warga dengan 

berbagai kesibukan. Rata-rata warga warga  masih sibuk 

bekerja di waktu pagi hingga siang hari. Tempat kegiatan 

difasilitasi oleh Kepala Desa, lokasi kegiatan penyuluhan 

bertempat di balai desa.

Pembukaan acara diawali dengan sambutan dari 

Kepala Desa, dilanjutkan sambutan dari Dosen Pembina 

Pembangunan Desa (DP2D), dan sambutan dari ketua 

kelompok KKN BBM Universitas Airlangga. Kepala Desa 

menyampaikan rasa terima kasih kepada tim pengabdian 

kepada warga  Universitas Airlangga karena merasa 

mendapatkan perhatian dari pihak universitas dengan 

diadakannya kegiatan di desanya. Harapannya agar 

hubungan baik dapat terus berlanjut dalam berbagai kegiatan 

yang positif untuk pembangunan desa.

Memasuki acara yang pertama yaitu penyuluhan tentang 

manajemen peternakan yang disampaikan  Penyampaian materi berlangsung sekitar 

45 menit dan di lanjutkan dengan sesi diskusi. Dalam sesi 

diskusi terlihat banyak warga warga  yang antusias 

untuk bertanya guna memperoleh informasi. Pertanyaan 

tidak hanya muncul dari bapak-bapak saja tetapi ibu-ibu 

juga antusias ingin bertanya. Rata-rata kaum ibu warga 

desa berprofesi sebagai ibu rumah tangga. Tidak hanya 

itu, kaum ibu juga banyak yang memiliki ternak di rumah. 

Ketika suami mereka bekerja di luar daerah, ibu-ibu lah 

yang bertugas mengurusi ternak-ternaknya. Hewan yang 

diternakkan bermacam-macam, antara lain bebek, ayam, 

entok, kambing, domba, dan sapi.

Sesi ke dua yaitu pemutaran video cara pengolahan 

bahan pangan asal hewan menjadi berbagai macam olahan 

pangan. Ini bertujuan agar tidak hanya wawasan tentang 

dunia peternakan saja yang di sampaikan ke pada warga 

warga  tetapi tata cara pengolahan bahan pangan asal 

hewan juga diedukasikan. Warga warga  memiliki 

motivasi untuk membuat bahan pangan asal hewan sendiri, 

yang paling diminati adalah pembuatan nugget dari daging 

ayam. warga  baru memahami bahwa membuat nugget 

itu mudah untuk dilakukan.

Kesimpulan dari kegiatan pengabdian kepada warga  

yang telah dilaksanakan adalah sebagai berikut:

1. Masih banyak warga warga  yang belum memahami 

tentang cara pemeliharaan ternak yang baik.

2. Warga warga  rata-rata masih belum mengetahui 

cara mengolah bahan pangan asal hewan menjadi produk 

olahan yang bernilai gizi tinggi.

Saran yang dapat disampaikan dari kegiatan pengabdian 

kepada warga  ini adalah :

1. Perlu dibentuknya kader penyuluh desa mengenai 

kesadaran gizi warga  akan protein hewani

2. Perlu di lakukan pendampingan lebih lanjut, dalam 

hal ini oleh mahasiswa KKN BBM yang diterjunkan 

di lokasi dan oleh Dosen Pembina Pembangunan Desa 

(DP2D) tentang kegiatan manajemen peternakan dan 

pemanfaatan hasil peternakan yang dilakukan oleh 

warga.