Rabu, 12 Februari 2025

binatang anjing 2






Kanker merupakan suatu penyakit yang disebabkan oleh per-

tumbuhan sel-sel tubuh secara tidak normal dan tidak ter-

kontrol. Sel-sel tersebut terbentuk karena mutasi gen, induksi 

bahan asing pada dalam tubuh seperti zat bahan tambahan 

makanan, radioaktif, oksidan, ataupun karsinogen yang 

dihasilkan oleh tubuh sendiri secara alamiah. Sel-sel yang 

mengalami transformasi terus-menerus berproliferasi dan 

menekan pertumbuhan sel normal ,

Fibrosarcoma adalah neoplasma ganas yang berasal dari 

sel mesenkim, dimana secara histopatologi sel yang dominan 

adalah sel fibroblas yang membelah secara berlebihan dan 

tidak terkendali, dapat menyerang jaringan setempat dan 

dapat menuju lokasi lain dalam tubuh (bermetastase). Pem-

belahan sel yang tidak terkontrol dapat menginvansi jaringan 

lokal serta dapat bermetastase jauh ke bagian tubuh lain 

 Fibrosarcoma merupakan bentuk 

kejadian tumor yang sering terjadi pada anjing ras besar, 

berumur muda (<7 tahun), menyerang daerah gingival dan 

palatum. Jenis tumor ini dapat bersifat malignant atau be-

nign. Jenis benign dapat terjadi pada anjing berumur <2 ta-

hun. Tulisan ini melaporkan teknik diagnosa dan penanganan 

kasus fibrosarcoma pada anjing golden retriever 

  -- KASUS 

Anamnesa dan sinyalemen: Anjing Golden Retriver ber-

nama Agra, jenis kelamin jantan dengan umur 9 tahun 

dibawa ke Rumah Sakit Hewan Pendidikan FKH UNAIR Su-

rabaya. Hasil anamnesa pemilik, terdapat benjolan didekat 

kaki kanan depan, makan dan minum normal, urinasi dan 

defekasi normal, benjolan sudah hampir 1 tahun. Pemerik-

saan fisik: Suhu rektal 38,5 °C, frek. pulsus 96 kali/menit, 

frek. nafas 24 kali/menit, berat badan 25 kg, turgor 1 detik, 

dan CRT 1 detik. Kondisi umum normal, namun kelenjar 

limfa axillaris terdapat benjolan keras. Terapi: Bedah 

mengangkat benjolan pada bagian axillaris. Pemeriksaan 

penunjang: Pemeriksaan histopatologi jaringan dilakukan di 

Lab. Patologi FKH Unair. Diagnosa: Fibrosarcoma pada ba-

gian axilaris.  

  --  HASIL DAN PEMBAHASAN 

Bedah dilakukan untuk mengangkat jaringan tumor pada 

axilaris anjing. Jaringan tumor kemudian dibuat preparat 

histopatologi untuk identifikasi jenis tumor 

 

 - Hasil dari pembacaan dan identifikasi tumor, 

disimpulkan bahwa anjing terkena fibrosarcoma. Terapi 

ideal yang seharusnya diberikan pada hewan yang didiagnosa 

fibrosarcoma adalah bedah dengan diikuti radiasi dan kemot-

erapi. Terapi berupa bedah pengangkatan tumor, tanpa dis-

ertai radiasi maupun kemoterapi pada penanganan sehingga 

perlu dilakukan pemantauan teratur terhadap kesehatan 

tubuh anjing, seperti pola makan dan tidak makan semba-

rangan, menjaga kebersihan tubuh dan lingkungan serta men-

jauhkan dari hal-hal yang dapat memicu timbulnya tumor 

atau kanker. 

Fibrosarcoma dapat dikenali sebagai massa berinfiltrasi 

besar, lunak, putih, dan kelabu mutiara. Area nekrosis atau 

perdarahan sering terdapat yang mencerminkan bahwa 

kecepatan tumbuh jaringan diluar kemampuan perbekalan 

darah. Secara histopatologi, lesi menunjukkan berbagai 

derajat anaplasi. Beberapa fibrosarcoma berdiferensiasi 

dengan baik dengan ditandai oleh fibroblas yang tampak 

matur dengan beberapa sel mitosis dan beberapa 

plemorfiringan (Robbins & Kumar 1995). 

Secara makroskopis fibrosarcoma mempunyai ciri-ciri 

fenotip dengan pertumbuhan yang berlebih, invasi lokal dan 

mempunyai kemampuan penyebaran yang jauh. Sifat-sifat 

tersebut ditemukan pada tahap-tahap penampilan suatu 

fenomena yang disebut progresif kanker. Secara mikroskopis 

fibrosarcoma mempunyai ciri-ciri: susunan sel yang tidak 

teratur, selularitas yang padat, terdapat banyak sel dan 

ukuran sel yang berbeda (pleomorphism), inti sel membesar, 

kromatin menebal, kasar, tidak rata, terjadi hiperkromasi dan 

basofilik (Gambar 1). Anak inti tajam dan sering menonjol 

dengan ukuran yang bervariasi serta terjadi banyak mitosis. 

Bentuk inti bermacam-macam dan kromosomnya aneuploid. 

 

Gambar 1 Histopatologi fibrosarcoma pada subkutan 

 a; pleomorfism, b. susunan se tidak teratur, c: bentuk 

basofilik. 

Fibrosarcoma dapat terjadi akibat pengaruh paparan 

radiasi dari lingkungan yang mengakibatkan terjadinya 

translokasi kromosom pada sekitar 90% kasus. x-radiation 

dan gamma radiation paling berpotensi menyebabkan 

kerusakan jaringan. Ionisasi radiasi menyebabkan terjadinya 

perubahan genetik yang meliputi mutasi gen, mutasi mini-

satellit (perubahan jumlah DNA sequences), formasi 

mikronukleus (tanda kehilangan atau kerusakan kromosom), 

aberasi kromosomal (struktur dan jumlahnya), perubahan 

ploidi (jumlah dan susunan kromosom), DNA stand breaks 

dan instabilitas kromosom. Ionisasi radiasi mempengaruhi 

semua fase dalam siklus sel, namun fase G2 merupakan yang 

paling sensitif ,

Sepanjang hidup sel baik pada sumsum tulang, mukosa 

usus, epitelium testikular seminuferus, maupun folikel 

ovarium yang selalu mengalami proses mitosis sangat rentan 

terhadap trauma. Iradiasi selama proses mitosis 

mengakibatkan aberasi kromosomal. Tingkat kerusakan 

bergantung pada intensitas, durasi, dan kumulatif dari 

radiasi. DNA dapat mengalami kerusakan secara langsung 

maupun tidak langsung melalui interaksi dengan reactive 

products yang berupa radikal bebas. Pengamatan terhadap 

kerusakan DNA diduga sebagai hasil perbaikan DNA atau 

sebagai akibat dari replikasi yang salah. Perubahan ekspresi 

gen memicu timbulnya suatu tumor. Paparan x-radiation dan 

gamma radiation sangat kuat berkorelasi terhadap timbulnya 

keganasan atau kanker pada jaringan. Kerusakan DNA yang 

dimanifestasikan dalam bentuk translokasi kromosom gene 

COL1A1 pada kromosom 17 dan gen platelet-derived 

growth factor B pada kromosom 22 mengakibatkan 

terjadinya keganasan pada jaringan fibrous. Perubahan 

fibrosarcoma dicirikan dengan pertumbuhan pola herring 

bone yang nampak pada klasik fibrosarcoma (Wong 2008). 

  --  SIMPULAN 

Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, gejala dan tanda 

klinis, dilakukan pembedahan dan identifikasi patologi 

jaringan diketahui bahwa anjing golden retriever bernama 

Agra di diagnosa fibrosarcoma pada bagian axilaris.  





Penyakit pernapasan menular (Kennel cough) atau canine infectious respiratory disease akibat 

infeksi virus maupun bakteri dapat menyebabkan reaksi batuk.  Faktor predisposisi terjadinya kennel 

cough pada anjing yaitu spesies, umur, jenis kelamin, musim, kepadatan anjing pada kennel, dan status 

vaksinasi.  Anjing kasus belum pernah divaksinasi dan dipelihara dengan cara dibiarkan lepas   Anjing 

kampung berumur 10 bulan dengan jenis kelamin betina menunjukkan gejala klinis berupa gangguan 

pernapasan seperti batuk, bersin, leleran pada mata dan hidung, serta demam.  Berdasarkan anamnesis, 

pemeriksaan fisik, dan uji laboratorium (X-ray, hematologi rutin, test kit distemper) anjing kasus 

didiagnosis menderita penyakit pernapasan menular atau canine infectious respiratory disease (kennel 

cough) dengan prognosis fausta.  Pemberian terapi dilakukan selama lima hari dengan prednison 1 

mg/kg BB, aminopilin 9 mg/kg BB, suplemen Sangobion® 1x1 tablet, dan doksisiklin 8 mg/kg BB.  

Terapi ini  memberikan hasil yang baik.  Anjing kasus menunjukkan tanda kesembuhan setelah 

pengobatan.  

 


Penyakit pada saluran respirasi dapat disebabkan oleh mikroorganisme, seperti bakteri, 

virus, fungi, dan protozoa yang transmisinya melalui kontak langsung, tidak langsung, aerosol, 

air, dan pakan yang terkontaminasi serta hewan pembawa/carrier (Dallas, 2006).  Infeksi 

saluran pernapasan pada anjing sering disebut dengan kennel cough atau canine infectious 

respiratory disease (Edinboro et al., 2004).  ada  beberapa agen penyebab kennel cough, 

yaitu canine respiratory coronavirus (CRCoV), canine herpesvirus (CHV), canine distemper 

virus (CDV), canine influenza virus (CIV), canine parainfluenza virus (CPiV), canine 

adenovirus type-2 (CAV-2), dan Bordetella bronchieptica (Maboni et al., 2019).  Meskipun 

kennel cough dianggap infeksi dengan banyak agen penyebab, terdapat dua bentuk utama.  

Bentuk pertama lebih ringan dan disebabkan oleh infeksi Bordetella bronchiseptica dan virus 

parainfluenza anjing.  Bentuk kedua memiliki kombinasi organisme penyebab yang lebih 

kompleks dan manifestasi klinisnya lebih parah dibandingkan bentuk pertama, seperti CDV 

dan CAV-2 ,

Kennel cough adalah infeksi yang menyerang anjing dari berbagai umur , Virus dan bakteri penyebab kennel cough disebarkan melalui droplet pernapasan yang 

dihasilkan dari bersin dan batuk hewan sakit.  Agen infeksi ini  juga menyebar melalui 

kontak dengan permukaan yang terkontaminasi.  Penyakit kennel cough biasanya terjadi ketika 

sejumlah besar anjing ditempatkan bersama dalam kandang-kandang yang tertutup.  Tanda 

klinis dimulai setelah masa inkubasi dan sebagian besar kasus dapat sembuh sendiri.  Akan 

tetapi, pada anak-anak anjing atau hewan dengan sistem imun yang rendah, infeksi campuran 

atau sekunder dapat berkembang menjadi infeksi saluran pernapasan bagian bawah seperti 

radang paru atau pneumonia ,

Kennel cough memiliki morbiditas yang tinggi dan ditandai dengan batuk kering, 

anoreksia, dan depresi serta dapat menyebabkan trakeobronkitis, pneumonia, dan bahkan 

kematian pada kasus yang parah.  Penyakit ini secara historis dianggap sebagai infeksi 

kompleks, karena terjadi infeksi gabungan beberapa virus (canine parainfluenza virus dan 

canine adenovirus type-2) dan agen bakteri mengakibatkan peningkatan gejala klinis   Adanya koinfeksi dapat meningkatkan keparahan penyakit dibandingkan dengan 

patogen tunggal 

  

Hewan kasus merupakan anjing kampung berumur 10 bulan, berwarna putih-kuning 

keemasan, berjenis kelamin betina dengan bobot badan 6,9 kg. Anjing kasus diperiksa pada 

tanggal 12 Agustus 2020.  

Anjing kasus dipelihara sejak umur tiga bulan, belum pernah divaksin dan diberikan 

obat cacing.  Anjing sekitar tiga bulan lalu pernah diinjeksi antiparasit ivermectin (Intermectin®, 

PT. Tekad Mandiri Citra, Bandung, Indonesia) dengan dosis anjuran 0,2-0,4 mL/kg BB secara 

subkutan untuk mengatasi infeksi ektoparasit dan antihistamin chlorfeniramin meleat (CTM®, 

PT. Ciubros Farma, Semarang, Indonesia) dengan dosis anjuran 2-4 mg/kg BB untuk menekan 

gatal.  Anjing dipelihara dengan cara dilepas di area sekitar rumah.  ada  dua ekor anjing 

termasuk anjing kasus yang dipelihara dan satu ekor yang telah divaksin lengkap.  Pakan yang 

sering diberikan yaitu nasi dicampur daging dan kadang-kadang diberikan pakan  kering (Bolt®, 

PT Central Proteina Prima, Jakarta, Indonesia).  Anjing kasus mulai menunjukkan gejala 

gangguan pernapasan seperti batuk dan bersin pada tanggal 3 Agustus 2020.  Mata dan hidung 

mengeluarkan leleran dan nafsu makan masih baik.  Gejala gangguan pernapasan berlangsung 

selama 10 hari.  

Pemeriksaan Fisik dan Tanda Klinis  

Berdasarkan pemeriksaan status praesens, diperoleh data hasil anjing kasus yang 

disajikan pada Tabel 1.  

Tabel 1.  Hasil pemeriksaan status praesens pada anjing kasus   

Jenis Pemeriksaan Hasil Nilai Rujukan Keterangan 

Temperatur (oC) 40,1 37,7-39,2 Tinggi 

Denyut Jantung (/menit) 116  120-130  Rendah 

Pulsus (/menit) 88  90-120  Rendah 

Respirasi (/menit) 40  10-30  Tinggi 

Capillary Refill Time (detik) < 2 detik < 2 detik Normal 

Sumber: Lukiswanto dan Yuniarti (2013) 

 

Pemeriksaan fisik menunjukkan anjing kasus memiliki skor kondisi tubuh 3/9, 

tergolong kurus (German et al., 2006).  ada  leleran (discharge) pada kedua mata dan 

hidung, demam, terdengar batuk dengan intensitas sedang, diakhir batuk tampak berusaha 

mengeluarkan sesuatu dari tenggorokannya (gagging), terkadang diikuti bersin, dan rambut 

kusam dan kasar.  Saat dilakukan palpasi pada farings dan trakhea terdapat refleks batuk serta 

limfonodus normal (tidak mengalami peradangan).  Saat dilakukan auskultasi, paru-paru masih 

terdengar normal.  Namun, pernapasan sedikit terganggu karena adanya batuk yang muncul 

dan pernapasan cepat tapi reguler.  

Pemeriksaan Laboratorium  

Sebagai pemeriksaan penunjang dalam membantu menegakkan diagnosis, dilakukan 

pemeriksaan hematologi rutin, complete blood count (iCell-8000Vet Auto Hematology 

Analyzer, Shenzhen iCubio Biomedical Technology Co., China), X-ray (X-ray Mobile SF 

100BY Blessmed, PT. Agusta Global Mandiri, Indonesia), dan test kit Antigen CDV 

(BIONOTE Co., Korea Selatan).  

Tabel 2. Hasil pemeriksaan hematologi rutin anjing kasus 

Parameter Nilai Rujukan* Hasil Keterangan 

WBC(x103/µl) 5,5-19,5 14 Normal 

Limfosit (x103/µl) 0,8-5,1 7,2 Tinggi 

Monosit (x103/µl) 0,1-8,0 0,5 Normal 

Granulosit (x103/µl) 4-12,6 6,3 Normal 

Limfosit% 12-30 50,9 Tinggi 

Granulosit% 60-80 45,4 Rendah 

Monosit% 2-9 3,7 Normal 

RBC (x10^6/ul) 6,0-10,0 5,26  Rendah 

HGB (g/dl) 9,5-15,0 2,9  Rendah 

MCV (fl) 62-72 58,7  Rendah 

MCH (pg) 13,3-17,5 5,5  Rendah 

MCHC (g/dL) 31-36 9,4  Rendah 

HCT (%) 37-55 30,9  Rendah 

PLT (x10^3/ul) 200-500 160 Rendah 

Keterangan: WBC (White blood cell), RBC (Red blood cell), HGB (Hemoglobin), MCV (Mean cell volume), 

MCH (Mean corpuscular hemoglobin), MCHC (Mean corpuscular hemoglobin concentration), 

HCT (Hematocrit), PLT (Platelets),  *Williams dan Wilkins, 2000 

 

Hasil pemeriksaan hematologi rutin menunjukkan terjadinya limfositosis, anemia 

mikrositik hipokromik, dan trombositopenia.  Pemeriksaan radiografi (X-ray) regio thoraks 

pada posisi rebah kiri (left recumbency) dan ventrodorsal menunjukkan trakhea normal (tidak 

mengalami penyempitan ataupun pelebaran).  Bronkhus dan paru-paru normal tidak 

mengalami peradangan (tidak mengalami bronkhitis, pneumonia, ataupun bronkhopneumonia).  

Pada pemeriksaan test kit CDV menunjukkan hasil negatif. 

 

 

Berdasarkan anamnesis, hasil pemeriksaan fisik dan laboratorium, anjing kasus 

didiagnosis menderita penyakit pernapasan menular pada anjing atau canine infectious 

respiratory disease.  Berdasarkan anamnesis, gejala klinis, dan hasil pemeriksaan laboratorium, 

prognosis yang dapat diambil yaitu fausta.  

 

Penanganan  

Penanganan yang diberikan pada hewan kasus adalah pemberian antiradang prednison 

dengan dosis 1 mg/kg BB PO selama lima hari (2x1 tablet); aminopilin 9 mg/kg BB PO selama 

lima hari (3x1/3 tablet) sebagai bronkodilatator; Sangobion® 1x1 tablet selama lima hari 

sebagai suplemen untuk menangani anemia dengan merangsang proses hematopoietis; dan 

antibiotik doxycycline 8 mg/kg BB PO selama lima hari (1x1/2 kapsul) untuk mencegah infeksi 

sekunder .


Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan uji laboratorium, anjing kasus 

didiagnosis menderita penyakit pernapasan menular pada anjing atau canine infectious 

respiratory disease (kennel cough).  Anjing kasus menunjukkan gejala klinis seperti 

peningkatan suhu tubuh (demam), gangguan pernapasan (bersin, batuk, discharge/leleran dari 

hidung), dan discharge pada mata.  Menurut Edinboro et al. (2004) masa inkubasi kennel cough 

berkisar antara 1-8 hari dan menunjukkan tanda-tanda klinis selama 1-2 minggu.  Pada saat 

pemeriksaan, anjing kasus sudah menunjukkan gejala gangguan pernapasan selama 10 hari.  


Berdasarkan tanda klinis yang muncul, terdapat beberapa diagnosis tentatif dari agen penyebab 

kennel cough seperti CDV, CPiV, CAV-2, dan B. bronchieptica.  Dugaan ini  didasarkan 

pada riwayat anjing yang belum pernah divaksinasi.  

Hasil pemeriksaan X-ray pada bagian thoraks terlihat normal pada bagian trakhea, 

bronkhus, dan paru-paru (belum menunjukkan tanda pneumonia).  Pada umumnya, tanda 

pneumonia muncul pada bentuk canine infectious respiratory disease (CIRD) yang parah atau 

komplikasi dari gabungan beberapa agen penyebab CIRD.  Tanda pneumonia juga muncul 

pada pemeriksaan auskultasi paru-paru yang ditunjukkan dengan peningkatan intensitas suara 

paru-paru (Buonavoglia dan Martella, 2007).  Pada saat pemeriksaan auskultasi pada anjing 

kasus, tidak terdengar peningkatan intensitas suara paru-paru dan hal ini diperkuat dengan hasil 

X-ray yang normal, namun anjing kasus menunjukkan refleks batuk saat dipalpasi pada bagian 

trakhea yang menunjukkan adanya peradangan (trakheitis ringan).  Pada hasil X-ray, trakhea 

terlihat tidak mengalami pelebaran ataupun penyempitan.  Hal ini kemungkinan besar 

disebabkan karena anjing kasus tidak terinfeksi oleh agen penyebab kennel cough yang 

kompleks, sehingga gejala yang ditimbulkan lebih ringan.  Hasil test kit CDV yang negatif 

memperkuat dugaan ini .  

Hasil pemeriksaan darah lengkap (hematologi rutin) lebih menunjukkan diagnosis ke 

arah penyakit virus, karena interpretasi hematologi rutin menunjukkan terjadinya limfositosis, 

anemia mikrositik hipokromik, dan trombositopenia.  Limfositosis mengindikasikan infeksi 

virus , anemia mikrositik hipokromik mengindikasikan radang kronis 

dan defisiensi Fe ,dan trombositopenia mengindikasikan terjadinya 

penurunan sistem peredaran darah Anemia dapat terjadi karena agen 

infeksius sudah menyebar secara viremia dan bertahan di sumsum tulang belakang 

menyebabkan erythroid hypoplasia dan juga dapat menyebabkan nonregeneratif anemia 

  Hal ini  juga dapat memengaruhi penyerapan zat besi menjadi kurang 

optimal, sehingga zat besi tidak tersedia untuk perkembangan retikulosit dan terjadilah anemia 

 Agen penyebab kennel cough pada anjing kasus kemungkinan disebabkan oleh CPiV 

ataupun CAV-2.  Berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium, bentuk kennel 

cough pada anjing kasus termasuk ringan.  Menurut Schulz et al. (2014), CPiV termasuk dalam 

bentuk lebih ringan, sedangkan CAV-2 termasuk bentuk kedua yang memiliki kombinasi 

organisme penyebab yang lebih kompleks dan manifestasi klinisnya lebih parah dibandingkan 

bentuk pertama.  Penyakit CDV disingkirkan dari diagnosis sementara berdasarkan hasil test 

kit yang negatif, Bordetella bronchieptica disingkirkan berdasarkan hasil hematologi rutin 

yang menunjukkan adanya infeksi virus bukan bakteri, Penyakit CRCoV dan CHV 

disingkirkan karena tidak adanya tanda klinis yang spesifik selain gangguan saluran pernapasan.  

Pengujian terhadap CPiV ataupun CAV-2 dapat diuji dengan Polymerase Chain Reaction/PCR 

Pengujian menggunakan PCR memerlukan biaya yang tinggi, 

sehingga pengujian pada tingkat agen tidak dapat dilakukan.  

Anjing kasus setelah pengobatan menunjukkan kondisi yang lebih baik.  Pemberian 

antiradang, bronkhodilatator, suplemen untuk menangani anemia dengan merangsang proses 

hemopoitik, dan antibiotik untuk mencegah infeksi sekunder mampu menurunkan frekuensi 

batuk, bersin, melancarkan pernafasan, dan anjing mulai terlihat aktif.  Akan tetapi, perlu 

diperhatikan bila anjing yang terinfeksi dapat melepaskan agen patogen ke lingkungannya 

selama 2-3 bulan setelah pemulihan klinis 

Gambar 1.  Foto sebelah kiri memperlihatkan anjing kasus sebelum pengobatan (terdapat   

leleran mukus pada bagian hidung) dan foto sebelah kanan anjing teramati dalam 

kondisi lebih baik setelah pengobatan 

 

 

Penyakit infeksius pada sistem pernapasan anjing/CIRD atau disebut dengan kennel 

cough merupakan penyakit pernapasan sangat menular yang dapat menyebar dengan cepat di 

antara anjing, terutama jika mereka saling berdekatan.  Beberapa faktor predisposisi terjadinya 

kennel cough pada anjing yaitu spesies, umur, jenis kelamin, musim, dan kepadatan anjing pada 

kandang kennel 

Agen-agen yang dapat menyebabkan CIRD antara lain: canine respiratory coronavirus 

(CRCoV), canine herpesvirus (CHV), CDV, canine influenza virus (CIV), canine 

parainfluenza virus (CPiV), canine adenovirus type-2 (CAV-2). Selain virus, agen bakterial 

yang mampu menyebabkan CIRD antara lain Mycoplasma spp, B. bronchieptica, 

Streptococcus zooepidemicus, dan Chlamydophila sp., (Maboni et al., 2019). Agen penyebab 

kennel cough yang paling umum adalah bakteri B. bronchiseptica (ditemukan pada 78,7% 

kasus di Jerman Selatan), diikuti oleh virus parainfluenza anjing (37,7% kasus), dan pada 

tingkat lebih kecil, virus korona anjing (9,8% kasus) 

prevalensi terbesar kasus gangguan pada sistem 

pernapasan akibat bakterial terjadi pada anjing ras pug, kemudian labrador retriever, 

doberman pinscher, dachshund, boxer, crossbreed, german shepherd, golden retriever, lalu 

pomeranian.  Berdasarkan usianya, prevalensi kasus gangguan sistem respirasi terbesar terjadi 

pada usia 0-6 bulan, lalu diikuti anjing pada usia 6-48 bulan, kemudian anjing di atas 48 bulan.  

Berdasarkan jenis kelamin, prevalensi terbesar terjadi pada hewan betina. Berdasarkan musim, 

prevalensi kasus gangguan pernapasan terbesar terjadi pada musim dingin.  Tingkat kepadatan 

yang tinggi pada kennel dapat meningkatkan prevalensi kasus gangguan sistem pernapasan.  

Adanya koinfeksi dapat meningkatkan keparahan penyakit dibandingkan dengan patogen 

infeksi tunggal, namun prevalensi dan peran koinfeksi dalam penyebab kennel cough masih 

belum jelas (Mitchell et al., 2017).  

Gejala paling umum pada penyakit kennel cough pada anjing adalah serangan batuk 

kering dan kasar, yang mungkin diikuti dengan bersin, mendengus, tersedak, atau muntah 

sebagai respons terhadap tekanan ringan pada trakhea atau setelah beraktivitas , Penyakit ini bisa lebih atau kurang serius tergantung pada usia dan kondisi kesehatan 

umum anjing atau anak anjing .  Gejala lainnya mungkin juga mencakup: 

hidung berair, bersin, dan leleran mata.  Kemunculan demam bervariasi dari kasus ke kasus 


Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan uji laboratorium, anjing kasus 

didiagnosis menderita penyakit menular pada sistem pernapasan anjing (canine infectious 

respiratory disease/kennel cough).  Pemberian terapi selama lima hari memberikan hasil yang 

baik dan anjing kasus menunjukkan tanda kesembuhan setelah pengobatan. 

Disarankan kepada seluruh pemilik hewan kesayangan untuk melakukan tindakan 

pencegahan penyakit infeksius berupa pemberian vaksinasi lengkap pada anak anjing yang 

dipelihara, baik pada usia dini (2,0-2,5 bulan) ataupun vaksin booster (ulangan) tiap tahun. 

Apabila hewan kesayangan menunjukkan gejala sakit, segera dibawa ke dokter hewan terdekat 

untuk dilakukan pemeriksaan sehingga pengobatan secara dini dapat segera diberikan.  

 


 


Pyometra merupakan infeksi atau inflamasi pada dinding uterus yang ditandai dengan adanya 

akumulasi nanah pada lumen uterus. Faktor predisposisinya berupa umur, ras, infeksi bakteri, dan hormon. 

Penyakit lain yang sering berkorelasi akibat ketidakseimbangan hormon reproduksi yaitu  tumor mammae. 

Anjing ras Pitbull betina belum steril berumur 7 tahun dengan berat badan 27,9 kg memiliki gejala klinis sering 

mengeluarkan leleran mukopurulen berwarna coklat kemerahan yang berbau busuk dari vagina. Kelenjar 

mammae kiri puting kedua, ketiga dan keempat terdapat benjolan berdiameter sekitar 20 cm, berkonsitensi 

padat, berbatas jelas, berwarna sama seperti permukaan kulit dan dapat digerakkan. Diagnosa berdasar  

pemeriksaan fisik, hematologi, kimia darah dan sitologi yaitu  pyometra dan tumor mammae. Penanganan 

dilakukan dengan ovariohisterektomi dan mastektomi unilateral. Terapi pasca operasi yang diberikan yaitu  

enrofloxacin 5 mg/kg, ketoprofen 2 mg/kg, phytomenadion 1 mg/kg, dan Biodin® 0,1 ml/kg dan disertai 

perawatan intensif luka operasi. Pasien mengalami kesembuhan sesudah  2 bulan perawatan. 

Anjing merupakan salah satu hewan 

peliharaan yang sering mengidap penyakit 

pyometra dan tumor. Pyometra yaitu  infeksi dan 

inflamasi pada dinding uterus yang bersifat akut 

maupun kronis yang ditandai dengan adanya 

akumulasi nanah di dalam lumen uterus ,Beberapa faktor seperti umur, ras, infeksi 

bakteri, dan hormon menjadi pendukung 

terjadinya penyakit ini ,

Penanganan yang dapat dilakukan yaitu  

ovariohisterektomi yaitu tindakan operasi untuk 

mengambil ovarium, corpus uteri dan cornua 

uteri ,

Penyakit lain yang sering berkorelasi akibat 

ketidakseimbangan hormon reproduksi pada 

anjing betina yaitu  tumor mammae. Tumor 

mammae merupakan salah satu tipe tumor yang 

sering menyerang anjing betina dengan tingkat 

insidensi sekitar 52% dan memberi sumbangan 

angka kematian tertinggi selain usia tua 

. Anjing betina muda berumur di 

bawah dua tahun memiliki resiko rendah, 

sedangkan anjing betina dewasa yang berumur 

diatas enam tahun memiliki resiko yang semakin 

meningkat secara substansial , Tumor yang terjadi pada 

anjing betina, 60% berasal dari kelenjar mammae 

abdomen dan inguinal , Faktor 

usia, hormon dan genetik juga berpengaruh dalam 

proses terjadinya tumor karena dapat 

menyebabkan perubahan struktur dan fungsi 

dalam kelenjar mammae ,

Penanganan dilakukan dengan mastektomi yaitu 

tindakan pembedahan untuk memotong satu atau 

lebih kelenjar mammae 

Alat dan Bahan 

Satu set instrumen bedah mayor, 

acepromazine 1,5%, ketamine HCl 10%, xylazine 

2%, NaCl 0,9%, iodine povidone 10%, mesin 

anestesi dan isoflurane, enrofloxacin injeksi 10%, 

ketoprofen injeksi, pyhtomenadion injeksi, 

scalpel, benang monofilament absorbable 

(Monosyn®) ukuran 2.0 dan 3.0, benang silk non 

absorbable (Onemed®) ukuran 2.0, spuit 1 ml, 3 

ml, 5 ml, Diff- quick stain, heater pad, Hemo-

analyzer Rayto 7600® dan Abaxis Vetscan 2®. 

 

Anamnesa dan Pemeriksaan Fisik 

Anjing ras Pitbull betina belum steril 

berumur 7 tahun dengan berat badan 27,9 kg 

memiliki keluhan sering mengeluarkan leleran 

mukopurulen berwarna coklat kemerahan berbau 

busuk dari vagina (Gambar 1A). Hasil 

pemeriksaan fisik diketahui suhu tubuh 38,4 ºC, 

frekuensi denyut jantung 120 kali/menit dan 

ritmis, frekuensi pernafasan 36 kali/menit dengan 

suara vesikuler. Benjolan pada kelenjar mammae 

kiri puting kedua, ketiga dan keempat 

berdiameter sekitar 20 cm, berkonsitensi padat, 

berbatas jelas, berwarna sama seperti permukaan 

kulit dan dapat digerakkan (Gambar 1B). 

 

Pemeriksaan Darah Lengkap dan Kimia 

Darah 

Sampel darah sebanyak 3 ml diambil melalui 

vena saphena dan disimpan dalam tabung darah 

EDTA. Pemeriksaan darah lengkap 

menggunakan mesin Veterinary Hematology 

Analyzer Rayto RT-7600® dan pemeriksaan kimia 

darah menggunakan mesin Veterinary Blood 

Chemistry Analyzer Abaxis Vetscan 2®. Hasil 

Tabel 1 menunjukkan adanya leukositosis, 

granulositosis (neutrofilia), dan hiperglikemia. 

 

Pemeriksaan Sitologi 

Pengambilan sampel sitologi dengan metode 

Fine Needle Aspiration (FNA) pada kelenjar 

mammae kiri puting ke-2, 3 dan 4. Pewarnaan 

menggunakan Diff-quick stain. Hasil evaluasi 

mikroskopis, yaitu: (1) tampak adanya infiltrasi 

sel radang polimorfonuklear (neutrofil) pada 

apusan darah berjumlah >8 sel per lapang 

pandang, sel monokuklear monosit dan limfosit 

berjumlah 1 – 3 sel per lapang pandang, (2) 

tampak bentukan bakteri bacillus dan bakteri 

coccus antisipasi terhadap kemungkinan infeksi 

baketri Staphylococcus sp. atau Streptococcus sp., 

(3) tampak adanya sel mesenkimal dengan 

bentukan anisositosis dan anisokariosis 

mengindikasikan sel tumor (Gambar 2). 

 

Tindakan Operasi 

Pasien dipuasakan selama 12 jam sebelum 

operasi. Terapi cairan menggunakan infus NaCl 

0,9% secara intravena melalui vena cephalica. 

Premedikasi menggunakan acepromazine 0,02 

mg/kg BB diinjeksikan secara intramuskular 15 

menit sebelum induksi. Induksi anestesi 

menggunakan kombinasi ketamine 10 mg/kg BB 

dan xylazine 1 mg/kg BB yang diinjeksikan 

secara intramuskular. Pemasangan endotrakeal 

tube dilakukan sesudah  pasien teranestesi untuk 

memberikan isoflurane melalui mesin anestesi 

sebagai maintenance dengan dosis 2 – 3%. Pasien 

diposisikan rebah dorsal di atas meja operasi yang 

telah diberi heater pad dengan keempat kaki 

terfiksasi. Area kulit yang telah dicukur 

rambutnya dan disteril menggunakan alkohol 

70%, kemudian dioles iodine povidone 10% dan 

dipasang duk operasi. 

Tindakan pertama yaitu  ovariohisterektomi 

untuk mengangkat uterus yang mengalami 

pyometra. Operasi diawali dengan melakukan 

sayatan pada bagian midline dinding abdomen 

sampai linea alba secara hati-hati untuk 

menghindari organ di dalam rongga abdomen.  

 

   

Tabel 1. Hasil pemeriksaan darah lengkap dan kimia darah 

Pemeriksaan Hasil Satuan Kisaran Normal Anjing 

Hematologi:  

Sel Darah Putih (WBC)  18.2* 103/μL 6.0 - 17.0 

Sel Darah Merah (RBC)  7.24 106/μL 5.5 - 8.5 

Hemoglobin (Hb)  12.1 g/dL 12.0 - 18.0 

Hematokrit (HCT)  52.1 % 37.0 - 55.0 

MCV  71.9 fL 60.0 - 77.0 

MCH  16.7 pg 19.5 - 24.5 

MCHC  23.3 g/dL 32.0 - 36.0 

Trombosit (PLT)  352 103/μL 200 – 500 

Limfosit  25.3 % 12.0 - 30.0 

Monosit  3.7 % 3.0 - 10.0 

Granulosit  84.7* % 60.0 - 80.0 

Limfosit  2.1 103/μL 1.0 - 4.8 

Monosit  0.7 103/μL 0.15 - 1.35 

Granulosit  15.4 103/μL 3.5 - 14.0 

Kimia Darah: 

ALT/SGPT  36 U/L 10-118 

Ureum (BUN)  9 mg/dL 7.0-25 

Kreatinin  1 mg/dL 0.3-1.4 

Total Protein  8.2 g/dL 5.4-8.2 

Albumin  3.4 g/dL 2.5-4.4 

Globulin  4.8 g/dL 2.3-5.2 

Total Bilirubin  0.4 mg/dL 0.1-0.6 

Alkalin Phosphatase (ALP)  63 U/L 20-150 

Glukosa  112* mg/dL 60-110 

Amilase  631 U/L 200-1200 

Notasi (*) menunjukkan parameter mengalami kenaikan dibanding kisaran normal ,


 

Gambar 2. Hasil pemeriksaan sitologi kelenjar mammae. (A) Infiltrasi sel radang 

polimorfonuklear (neutrofil) (panah merah). (B) Sel-sel mesenkimal dengan bentukan 

anisositosis dan anisokariosis (panah biru). Foam cell ditunjukkan panah warna 

kuning. (Diff Quick Stain, lensa objektif 40x). 

 


Corpus dan cornu uteri yang mengalami 

pembesaran dan peradangan dikeluarkan dari 

rongga abdomen untuk mempermudah 

menemukan kedua ovarium (Gambar 3). 

Ligamentum suspensory, arteri dan vena ovarica 

diligasi menggunakan benang monofilament 

absorbable ukuran 3.0 yang selanjutnya 

dilakukan pemotongan. Tindakan tersebut 

dilakukan pada kedua sisi ovarium. Ligasi 

dilanjutkan pada corpus uteri dekat serviks dan 

arteri uterina pada kedua sisi sebelum dilakukan 

pemotongan. Irigasi pada rongga abdomen 

menggunakan cairan NaCl 0,9% sebelum 

dilakukan penutupan dinding abdomen. Bagian 

muskulus dijahit dengan pola jahitan simple 

interrupted dengan benang monofilament 

absorbable ukuran 2.0. 

Tindakan mastektomi dilakukan dengan 

teknik mastektomi unilateral. Jaringan di sekitar 

kelenjar mammae sinister dilakukan eksisi sejauh 

3-5 cm dari puting. Kulit dipisahkan dari 

subkutan dengan cara preparasi tumpul. 

Pembuluh darah yang mensuplai kelenjar 

mammae sinistra (cranial superficial epigastric 

dan caudal superficial epigastric) dilakukan 

ligasi menggunakan benang monofilament 

absorbable ukuran 3.0 untuk mencegah 

perdarahan ketika dilakukan pemotongan. 

Kelenjar mammae dieksisi dari area thoraks 

sampai inguinal hingga terpisah dengan otot 


 

abdomen. Irigasi area eksisi tumor menggunakan 

NaCl 0,9% sebelum dilakukan penjahitan. 

Subkutan dijahit dengan pola simple continous 

menggunakan benang monofilament absorbable 

ukuran 2.0 dan kulit dijahit dengan benang silk 

ukuran 2.0 menggunakan pola jahitan simple 

interrupted. Luka jahitan dibersihkan dan diberi 

iodine povidone 10% sebelum ditutup 

menggunakan kassa perban steril (Gambar 4). 

Terapi pasca operasi yang diberikan yaitu  

antibiotik enrofloxacin injeksi 5 mg/kg BB 1 kali 

per hari selama 7 hari dan dilanjutkan secara per 

oral untuk 7 hari berikutnya, analgesik ketoprofen 

2 mg/kg BB 1 kali per hari selama 5 hari, vitamin 

K1 0,5-1 mg/kg BB 1 kali sehari selama 5 hari, 

dan Biodin® 0,1 mL/kg BB 1 kali sehari selama 7 

hari. Luka jahitan dibersihkan setiap hari 

menggunakan NaCl 0,9% dan diberi salep 

antibiotik yang kemudian ditutup dengan kasa 

perban steril. 

 

Hasil anamnesa, pemeriksaan fisik, darah 

dan sitologi mengindikasikan bahwa pasien 

menderita pyometra dan tumor mammae. 

Identifikasi temuan klinis melalui anamnesis dan 

pemeriksaan fisik yang mengindikasikan 

keganasan meliputi diameter tumor ≥5 cm, 

pertumbuhan yang cepat, inlfiltrasi jaringan di 

sekitarnya, erythema dan edema ,

Anjing betina dewasa yang belum steril 

memiliki resiko yang besar terhadap kedua 

penyakit tersebut. Estrogen yang berfungsi dalam 

meningkatkan massa endometrium dan 

miometrium serta peningkatan amplitude dan 

frekuensi kontraksi dengan pengaruh oksitosin 

dan PGF2α akan semakin menurun kadarnya 

seiring bertambahnya usia ,

Stimulasi estrogen yang rendah dan tingginya 

progesteron menyebabkan hiperplasia 

endometrium, tertutupnya serviks uterus, 

peningkatan sekresi kelenjar endometrium, dan 

penurunan kontraksi miometrium sehingga 

uterus tidak dapat mengeluarkan sekresi 

cairannya (). 

Akumulasi cairan di dalam uterus menjadi media 

pertumbuhan bakteri dan menghambat kerja 

leukosit sehingga leukosit mati didalam uterus. 

Bakteri normal yang berada di dalam uterus 

menjadi patogen akibat pengaruh hormonal 

().  

Leleran mukopurulen yang merupakan 

kumpulan dari cairan, leukosit, dan bakteri di 

dalam uterus akan keluar melalui vagina pada 

kasus pyometra terbuka ,

penyakit ini diklasifikasikan menjadi 2 jenis, 

yaitu tertutup yang ditandai dengan tidak adanya 

leleran pada vagina dan terbuka ditandai dengan 

adanya leleran pada vagina. 

Patofisiologi pyometra juga sering terjadi 

bersamaan dengan tumor mammae yang 

diakibatkan oleh ketidakstabilan hormon pada 

hewan dalam masa produktif dan biasanya saat 

fase luteal (diestrus) dimana progesteron sedang 

mengalami kenaikan ,

Resiko peningkatan sel tumor dapat terjadi 

sesudah  hewan mengalami siklus estrus. Faktor 

endokrin memiliki pengaruh dalam proses 

terjadinya tumor karena dapat menyebabkan 

perubahan struktur dan fungsi dalam kelenjar 

mammae  Aktivasi lokal 

reseptor progesteron memicu rangkaian molekul 

spesifik setiap elemen kelenjar yang merangsang 

proliferasi kelenjar susu ,

Pada kondisi abnormal, faktor usia dan genetik 

yang disertai dengan adanya peningkatan 

sensitivitas reseptor estrogen memicu aktivasi 

faktor transkripsi dari growth hormone. 

Peningkatan growth hormone oleh rangsangan 

progrestin, menyebabkan peningkatan IGF-1 dan 

IGF-2 dalam pembuluh darah sehingga 

merangsang poliferasi sel mammae. Oleh karena 

itu, jaringan mammae terus mengalami 

perkembangan ,

Hasil sitolgi menunjukkan adanya infiltasi 

sel radang (neutrofil) dan adanya sel tumor yang 

mengalami anisositosis dan anisokariosis. 

 pasien yang 

mengalami karsinoma mammae memiliki hasil 

pemeriksaan sitologi adanya agregat seluler 

dengan fitur neoplastik, seperti sel pleomorfik 

dengan inti aneh, yang menunjukkan tingkat 

keganasan yang tinggi. Sel tumor tampak berinti 

banyak dan menunjukkan anisositosis, 

anisokariosis, dan inti multipel prominen, 

mengindikasikan tingkat keganasan yang tinggi. 

Sel inflamasi, terutama neutrofil dan limfosit 

juga banya ditemukan. 

Leukositosis dan granulositosis 

mengindikasikan adanya pertumbuhan tumor dan 

infeksi. Leukosit berfungsi dalam 

mempertahankan tubuh dari serangan agen 

patogen, racun, dan memfagosit sel rusak atau 

abnormal ,

Leukositosis dalam kasus ini dapat terjadi karena 

adanya pertumbuhan tumor, sehingga tubuh 

meresponnya sebagai antigen atau benda asing, 

yang menyebabkan leukosit merespon dengan 

meningkatkan produksinya. Granulositosis lebih 

mengarah terjadinya neutrofilia. Neutrofilia 

umumnya terjadi karena adanya infeksi bakteri, 

sistemik mikosis, serta peradangan (neoplasma, 

trauma jaringan, dan nekrosis jaringan) 

Interpretasi hasil kimia 

klinik menunjukkan semua parameter normal 

sebagai indikasi fungsi hati dan ginjal yang 

normal. Hiperglikemia ringan sebagai indikasi 

stress ,

Acepromazine 0,02 mg/kg BB secara 

intramuskular dipakai  sebagai premedikasi. 

Dosis acepromazine yang disarankan pada anjing 

berkisar 0,02-0,05 mg/kg BB dan mekanisme 

kerjanya memblok post sinapsis dopamine yang 

berfungsi menghambat aktivitas otak sehingga 

hewan menjadi tenang ,

Ketamine dapat diberikan dengan dosis 10-20 

mg/kg BB , Ketamine 

yaitu  disosiatif anestetikum bersifat anestetik, 

analgesik, dan kataleptik yang bekerja dengan 

cara menghambat efek membrane dan 

neurotransmitter eksitasi asam glutamat pada 

reseptor N-metil-D-aspartat (NMDA) , Ketamine dapat menimbulkan kekejangan 

dan depresi ringan terhadap saluran respirasi, 

sehingga penggunaannya sering dikombinasikan 

dengan xylazine ,

Xylazine bekerja dengan mendepresi susunan 

syaraf pusat oleh α2-adrenoreseptor yang 

menyebabkan penurunan aktivitas saraf simpatis 

sehingga mengurangi sekresi saliva, penurunan 

tekanan darah dan frekuensi denyut jantung, serta 

memiliki pengaruh relaksasi yang baik. 

Penggunaan xylazine pada kombinasi ketamine-

xylazine dapat menekan metabolisme dan kerja 

jantung sehingga dapat menurunkan frekuensi 

respirasi dan denyut jantung , Dosis xylazine yang diberikan pada anjing 

yaitu 1-2 mg/kg BB) ,

Endotracheal Tube (ETT) dipasang untuk 

memastikan oksigen dan isoflurane tetap 

tersuplai sekaligus sebagai penyalur anestesi 

inhalasi yang dipakai  untuk mempertahankan 

anestesi  ,Isoflurane yaitu  volatile 

methyl ethyl ether yang berfungsi menurunkan 

aliran darah ginjal, filtrasi glomerulus, dan 

produksi urin . Efek ini 

memberikan pengaruh terhadap penurunan 

tekanan darah, tetapi tidak menunjukkan efek 

toksik terhadap ginjal. Konsentrasi isoflurane 

yang dipakai  untuk anestesi pada 

ovariohisterektomi dalam kasus pyometra 

dipertahankan dalam konsentrasi 2-3% dan 

campuran oksigen 50% dipakai  pada aliran 

20-40 ml/kg/menit dalam sistem lingkaran 

pernapasan ,

Kondisi hipotermia pada pasien dapat 

terjadi akibat suhu rendah pada ruang operasi, 

cairan infus yang dingin, pemberian inhalasi gas, 

kavitas atau luka terbuka pada tubuh, penurunan 

aktivitas otot, serta agen obat-obatan yang 

dipakai seperti vasodilator ,

Pemasangan alat penghangat sebagai alas operasi 

merupakan salah satu bentuk upaya untuk 

menurunkan resiko hipotermia. Terapi cairan 

yang diberikan bertujuan untuk memulihkan 

volume sirkulasi darah pada keadaan 

hipovolemia, utamanya pada pasien yang 

dioperasi, mengatasi dehidrasi, serta memulihkan 

status elektrolit (Na+ dan K+) dalam tubuh. 

Larutan isotonik NaCl 0,9% memiliki 

osmolalitas yang sama dengan serum darah, 

sehingga dapat dipakai  sebagai terapi 

maintenance dan shock hypovolemic ,

Ovariohisterektomi yaitu  penanganan 

terbaik pada sebagian besar penyakit uterus, 

termasuk pyometra. Tindakan bedah 

ovariohisterektomi dapat mengurangi kejadian 

tumor mammae yang disebabkan oleh 

ketidakseimbangan hormon khususnya esterogen 

dan progesterone , Manfaat 

ovariohisterektomi yang sekaligus dilakukan 

dalam tindakan pengangkatan tumor mammae 

dapat memberikan keuntungan menurunkan 

resiko pertumbuhan tumor di kelenjar mammae 

yang lain , Teknik 

mastektomi unilateral yang dilakukan pada 

pasien sebagai antisipasi terhadap adanya 

metastasis tumor yang berkelanjutan 

Selain itu, pemilihan 

teknik ini untuk penanganan tumor kelejar 

mammae ganda, yaitu tumor muncul di lebih dari 

satu kelenjar mammae, terdapat lesi berukuran 

>3 cm pada kelenjar kranial abdomen dan ketika 

nodul tersebar di sepanjang rantai kelenjar 

mammae serta untuk membuat satu luka bedah 

tunggal ,

Pertimbangan lainnya bahwa penanganan bedah 

tumor mammae harus didasarkan pada faktor 

drainase limfatik, jumlah dan ukuran lesi, dan 

faktor prognostik yang ditetapkan pada masing-

masing kasus . Insisi pada 

mastektomi unilateral dibuat dengan 

mengelilingi kelenjar mammae yang akan 

diangkat. Margin antara insisi dan massa yaitu 2-

3 cm bertujuan untuk menghilangkan 

keseluruhan massa dengan sempurna agar tidak 

menimbulkan metastasis atau pertumbuhan 

ulang massa . Tepian 

dari insisi dikuakkan lalu dilakukan preparasi 

tumpul yang bertujuan untuk memisahkan 

subkutan dari fascia abdominal dan mencegah 

perdarahan dan kerusakan pada jaringan 

 Benang yang dipakai  yaitu  

monofilament absorbable (Monosyn®). Benang 

sintetik absorbable untuk menjahit jaringan 

lunak yang memiliki komposisi kimia Glyconate 

yang terbuat dari 72% glikolida, 14% trimetilen 

karbonat, serta 14% ɜ-kaprolakto. 

Penyerapannya terjadi secara hidrolisis dalam 

waktu 60-90 hari dan memiliki retensi kekuatan 

tarik simpul sebesar 70% sesudah  7 hari 

implantasi, 50% sesudah  14 hari implantasi, dan 

20% sesudah  21 hari implantasi ,

Pasien diberikan enrofloxacin yaitu 

antibiotik berspektrum luas untuk pengobatan 

penyakit akibat infeksi bakteri gram positif dan 

bakteri gram negatif (Widiyanti dkk., 2019). 

Obat ini bekerja dengan menghambat DNA 

gyrase yang diperlukan oleh bakteri untuk 

replikasi DNA sehingga mengakibatkan efek 

sitotoksik pada sel target (Babaahmady dan 

Khosravi, 2011). Dosis yang diberikan pada 

anjing yaitu 5 mg/kg BB q24h (Allerton, 2020). 

Ketoprofen sebagai analgesik dan antiinflamasi 

memiliki mekanisme aksi menghambat COX-1 

sehingga menurunkan produksi prostaglandin 

dan penghambatan enzim lipoxygenase yang 

memiliki efek poten dalam fase peradangan 

vaskular dan selular ,

Phytomenadion yaitu  bentuk vitamin K1 

sintetis larut lemak yang dipakai  untuk 

mengatasi koagulopati. Vitamin K1 berfungsi 

untuk mencegah perdarahan yang lebih parah 

dengan cara memberikan agen faktor koagulasi 

aktif pasca operasi ,. Kondisi 

neoplasia dan inflamasi merupakan salah satu 

penyebab dari terjadinya trombositopenia dari 

segi faktor penurunan produksi dan destruksi 

primer ,Pemberian Biodin® 

untuk meningkatkan energi hewan pasca operasi. 

Biodin® mengandung Adenosin Triphosphat 

(ATP) yang berfungsi sebagai energi cadangan 

siap pakai yang berperan dalam proses 

metabolisme sel tubuh hewan. Kandungan lain 

seperti selenite untuk metabolisme sel, vitamin 

B12 untuk pembentukan sel darah merah 

sehingga baik untuk pemulihan kondisi hewan 

berdasar  anamnesa, pemeriksaan fisik, 

hematologi, kimia darah dan sitologi, anjing ras 

Pitbull didiagnosa pyometra dan tumor mammae. 

Penanganan yang dilakukan yaitu  

ovariohisterektomi dan mastektomi unilateral 

dalam satu waktu untuk menurunkan resiko 

metastasis. Terapi pasca operasi diberikan 

enrofloxacin, ketoprofen, phytomenadion, dan 

Biodin® disertai dengan perawatan intensif luka 

operasi. Pasien mengalami kesembuhan sesudah  2 

bulan perawatan.