binatang anjing 2
Kanker merupakan suatu penyakit yang disebabkan oleh per-
tumbuhan sel-sel tubuh secara tidak normal dan tidak ter-
kontrol. Sel-sel tersebut terbentuk karena mutasi gen, induksi
bahan asing pada dalam tubuh seperti zat bahan tambahan
makanan, radioaktif, oksidan, ataupun karsinogen yang
dihasilkan oleh tubuh sendiri secara alamiah. Sel-sel yang
mengalami transformasi terus-menerus berproliferasi dan
menekan pertumbuhan sel normal ,
Fibrosarcoma adalah neoplasma ganas yang berasal dari
sel mesenkim, dimana secara histopatologi sel yang dominan
adalah sel fibroblas yang membelah secara berlebihan dan
tidak terkendali, dapat menyerang jaringan setempat dan
dapat menuju lokasi lain dalam tubuh (bermetastase). Pem-
belahan sel yang tidak terkontrol dapat menginvansi jaringan
lokal serta dapat bermetastase jauh ke bagian tubuh lain
Fibrosarcoma merupakan bentuk
kejadian tumor yang sering terjadi pada anjing ras besar,
berumur muda (<7 tahun), menyerang daerah gingival dan
palatum. Jenis tumor ini dapat bersifat malignant atau be-
nign. Jenis benign dapat terjadi pada anjing berumur <2 ta-
hun. Tulisan ini melaporkan teknik diagnosa dan penanganan
kasus fibrosarcoma pada anjing golden retriever
-- KASUS
Anamnesa dan sinyalemen: Anjing Golden Retriver ber-
nama Agra, jenis kelamin jantan dengan umur 9 tahun
dibawa ke Rumah Sakit Hewan Pendidikan FKH UNAIR Su-
rabaya. Hasil anamnesa pemilik, terdapat benjolan didekat
kaki kanan depan, makan dan minum normal, urinasi dan
defekasi normal, benjolan sudah hampir 1 tahun. Pemerik-
saan fisik: Suhu rektal 38,5 °C, frek. pulsus 96 kali/menit,
frek. nafas 24 kali/menit, berat badan 25 kg, turgor 1 detik,
dan CRT 1 detik. Kondisi umum normal, namun kelenjar
limfa axillaris terdapat benjolan keras. Terapi: Bedah
mengangkat benjolan pada bagian axillaris. Pemeriksaan
penunjang: Pemeriksaan histopatologi jaringan dilakukan di
Lab. Patologi FKH Unair. Diagnosa: Fibrosarcoma pada ba-
gian axilaris.
-- HASIL DAN PEMBAHASAN
Bedah dilakukan untuk mengangkat jaringan tumor pada
axilaris anjing. Jaringan tumor kemudian dibuat preparat
histopatologi untuk identifikasi jenis tumor
- Hasil dari pembacaan dan identifikasi tumor,
disimpulkan bahwa anjing terkena fibrosarcoma. Terapi
ideal yang seharusnya diberikan pada hewan yang didiagnosa
fibrosarcoma adalah bedah dengan diikuti radiasi dan kemot-
erapi. Terapi berupa bedah pengangkatan tumor, tanpa dis-
ertai radiasi maupun kemoterapi pada penanganan sehingga
perlu dilakukan pemantauan teratur terhadap kesehatan
tubuh anjing, seperti pola makan dan tidak makan semba-
rangan, menjaga kebersihan tubuh dan lingkungan serta men-
jauhkan dari hal-hal yang dapat memicu timbulnya tumor
atau kanker.
Fibrosarcoma dapat dikenali sebagai massa berinfiltrasi
besar, lunak, putih, dan kelabu mutiara. Area nekrosis atau
perdarahan sering terdapat yang mencerminkan bahwa
kecepatan tumbuh jaringan diluar kemampuan perbekalan
darah. Secara histopatologi, lesi menunjukkan berbagai
derajat anaplasi. Beberapa fibrosarcoma berdiferensiasi
dengan baik dengan ditandai oleh fibroblas yang tampak
matur dengan beberapa sel mitosis dan beberapa
plemorfiringan (Robbins & Kumar 1995).
Secara makroskopis fibrosarcoma mempunyai ciri-ciri
fenotip dengan pertumbuhan yang berlebih, invasi lokal dan
mempunyai kemampuan penyebaran yang jauh. Sifat-sifat
tersebut ditemukan pada tahap-tahap penampilan suatu
fenomena yang disebut progresif kanker. Secara mikroskopis
fibrosarcoma mempunyai ciri-ciri: susunan sel yang tidak
teratur, selularitas yang padat, terdapat banyak sel dan
ukuran sel yang berbeda (pleomorphism), inti sel membesar,
kromatin menebal, kasar, tidak rata, terjadi hiperkromasi dan
basofilik (Gambar 1). Anak inti tajam dan sering menonjol
dengan ukuran yang bervariasi serta terjadi banyak mitosis.
Bentuk inti bermacam-macam dan kromosomnya aneuploid.
Gambar 1 Histopatologi fibrosarcoma pada subkutan
a; pleomorfism, b. susunan se tidak teratur, c: bentuk
basofilik.
Fibrosarcoma dapat terjadi akibat pengaruh paparan
radiasi dari lingkungan yang mengakibatkan terjadinya
translokasi kromosom pada sekitar 90% kasus. x-radiation
dan gamma radiation paling berpotensi menyebabkan
kerusakan jaringan. Ionisasi radiasi menyebabkan terjadinya
perubahan genetik yang meliputi mutasi gen, mutasi mini-
satellit (perubahan jumlah DNA sequences), formasi
mikronukleus (tanda kehilangan atau kerusakan kromosom),
aberasi kromosomal (struktur dan jumlahnya), perubahan
ploidi (jumlah dan susunan kromosom), DNA stand breaks
dan instabilitas kromosom. Ionisasi radiasi mempengaruhi
semua fase dalam siklus sel, namun fase G2 merupakan yang
paling sensitif ,
Sepanjang hidup sel baik pada sumsum tulang, mukosa
usus, epitelium testikular seminuferus, maupun folikel
ovarium yang selalu mengalami proses mitosis sangat rentan
terhadap trauma. Iradiasi selama proses mitosis
mengakibatkan aberasi kromosomal. Tingkat kerusakan
bergantung pada intensitas, durasi, dan kumulatif dari
radiasi. DNA dapat mengalami kerusakan secara langsung
maupun tidak langsung melalui interaksi dengan reactive
products yang berupa radikal bebas. Pengamatan terhadap
kerusakan DNA diduga sebagai hasil perbaikan DNA atau
sebagai akibat dari replikasi yang salah. Perubahan ekspresi
gen memicu timbulnya suatu tumor. Paparan x-radiation dan
gamma radiation sangat kuat berkorelasi terhadap timbulnya
keganasan atau kanker pada jaringan. Kerusakan DNA yang
dimanifestasikan dalam bentuk translokasi kromosom gene
COL1A1 pada kromosom 17 dan gen platelet-derived
growth factor B pada kromosom 22 mengakibatkan
terjadinya keganasan pada jaringan fibrous. Perubahan
fibrosarcoma dicirikan dengan pertumbuhan pola herring
bone yang nampak pada klasik fibrosarcoma (Wong 2008).
-- SIMPULAN
Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, gejala dan tanda
klinis, dilakukan pembedahan dan identifikasi patologi
jaringan diketahui bahwa anjing golden retriever bernama
Agra di diagnosa fibrosarcoma pada bagian axilaris.
Penyakit pernapasan menular (Kennel cough) atau canine infectious respiratory disease akibat
infeksi virus maupun bakteri dapat menyebabkan reaksi batuk. Faktor predisposisi terjadinya kennel
cough pada anjing yaitu spesies, umur, jenis kelamin, musim, kepadatan anjing pada kennel, dan status
vaksinasi. Anjing kasus belum pernah divaksinasi dan dipelihara dengan cara dibiarkan lepas Anjing
kampung berumur 10 bulan dengan jenis kelamin betina menunjukkan gejala klinis berupa gangguan
pernapasan seperti batuk, bersin, leleran pada mata dan hidung, serta demam. Berdasarkan anamnesis,
pemeriksaan fisik, dan uji laboratorium (X-ray, hematologi rutin, test kit distemper) anjing kasus
didiagnosis menderita penyakit pernapasan menular atau canine infectious respiratory disease (kennel
cough) dengan prognosis fausta. Pemberian terapi dilakukan selama lima hari dengan prednison 1
mg/kg BB, aminopilin 9 mg/kg BB, suplemen Sangobion® 1x1 tablet, dan doksisiklin 8 mg/kg BB.
Terapi ini memberikan hasil yang baik. Anjing kasus menunjukkan tanda kesembuhan setelah
pengobatan.
Penyakit pada saluran respirasi dapat disebabkan oleh mikroorganisme, seperti bakteri,
virus, fungi, dan protozoa yang transmisinya melalui kontak langsung, tidak langsung, aerosol,
air, dan pakan yang terkontaminasi serta hewan pembawa/carrier (Dallas, 2006). Infeksi
saluran pernapasan pada anjing sering disebut dengan kennel cough atau canine infectious
respiratory disease (Edinboro et al., 2004). ada beberapa agen penyebab kennel cough,
yaitu canine respiratory coronavirus (CRCoV), canine herpesvirus (CHV), canine distemper
virus (CDV), canine influenza virus (CIV), canine parainfluenza virus (CPiV), canine
adenovirus type-2 (CAV-2), dan Bordetella bronchieptica (Maboni et al., 2019). Meskipun
kennel cough dianggap infeksi dengan banyak agen penyebab, terdapat dua bentuk utama.
Bentuk pertama lebih ringan dan disebabkan oleh infeksi Bordetella bronchiseptica dan virus
parainfluenza anjing. Bentuk kedua memiliki kombinasi organisme penyebab yang lebih
kompleks dan manifestasi klinisnya lebih parah dibandingkan bentuk pertama, seperti CDV
dan CAV-2 ,
Kennel cough adalah infeksi yang menyerang anjing dari berbagai umur , Virus dan bakteri penyebab kennel cough disebarkan melalui droplet pernapasan yang
dihasilkan dari bersin dan batuk hewan sakit. Agen infeksi ini juga menyebar melalui
kontak dengan permukaan yang terkontaminasi. Penyakit kennel cough biasanya terjadi ketika
sejumlah besar anjing ditempatkan bersama dalam kandang-kandang yang tertutup. Tanda
klinis dimulai setelah masa inkubasi dan sebagian besar kasus dapat sembuh sendiri. Akan
tetapi, pada anak-anak anjing atau hewan dengan sistem imun yang rendah, infeksi campuran
atau sekunder dapat berkembang menjadi infeksi saluran pernapasan bagian bawah seperti
radang paru atau pneumonia ,
Kennel cough memiliki morbiditas yang tinggi dan ditandai dengan batuk kering,
anoreksia, dan depresi serta dapat menyebabkan trakeobronkitis, pneumonia, dan bahkan
kematian pada kasus yang parah. Penyakit ini secara historis dianggap sebagai infeksi
kompleks, karena terjadi infeksi gabungan beberapa virus (canine parainfluenza virus dan
canine adenovirus type-2) dan agen bakteri mengakibatkan peningkatan gejala klinis Adanya koinfeksi dapat meningkatkan keparahan penyakit dibandingkan dengan
patogen tunggal
Hewan kasus merupakan anjing kampung berumur 10 bulan, berwarna putih-kuning
keemasan, berjenis kelamin betina dengan bobot badan 6,9 kg. Anjing kasus diperiksa pada
tanggal 12 Agustus 2020.
Anjing kasus dipelihara sejak umur tiga bulan, belum pernah divaksin dan diberikan
obat cacing. Anjing sekitar tiga bulan lalu pernah diinjeksi antiparasit ivermectin (Intermectin®,
PT. Tekad Mandiri Citra, Bandung, Indonesia) dengan dosis anjuran 0,2-0,4 mL/kg BB secara
subkutan untuk mengatasi infeksi ektoparasit dan antihistamin chlorfeniramin meleat (CTM®,
PT. Ciubros Farma, Semarang, Indonesia) dengan dosis anjuran 2-4 mg/kg BB untuk menekan
gatal. Anjing dipelihara dengan cara dilepas di area sekitar rumah. ada dua ekor anjing
termasuk anjing kasus yang dipelihara dan satu ekor yang telah divaksin lengkap. Pakan yang
sering diberikan yaitu nasi dicampur daging dan kadang-kadang diberikan pakan kering (Bolt®,
PT Central Proteina Prima, Jakarta, Indonesia). Anjing kasus mulai menunjukkan gejala
gangguan pernapasan seperti batuk dan bersin pada tanggal 3 Agustus 2020. Mata dan hidung
mengeluarkan leleran dan nafsu makan masih baik. Gejala gangguan pernapasan berlangsung
selama 10 hari.
Pemeriksaan Fisik dan Tanda Klinis
Berdasarkan pemeriksaan status praesens, diperoleh data hasil anjing kasus yang
disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1. Hasil pemeriksaan status praesens pada anjing kasus
Jenis Pemeriksaan Hasil Nilai Rujukan Keterangan
Temperatur (oC) 40,1 37,7-39,2 Tinggi
Denyut Jantung (/menit) 116 120-130 Rendah
Pulsus (/menit) 88 90-120 Rendah
Respirasi (/menit) 40 10-30 Tinggi
Capillary Refill Time (detik) < 2 detik < 2 detik Normal
Sumber: Lukiswanto dan Yuniarti (2013)
Pemeriksaan fisik menunjukkan anjing kasus memiliki skor kondisi tubuh 3/9,
tergolong kurus (German et al., 2006). ada leleran (discharge) pada kedua mata dan
hidung, demam, terdengar batuk dengan intensitas sedang, diakhir batuk tampak berusaha
mengeluarkan sesuatu dari tenggorokannya (gagging), terkadang diikuti bersin, dan rambut
kusam dan kasar. Saat dilakukan palpasi pada farings dan trakhea terdapat refleks batuk serta
limfonodus normal (tidak mengalami peradangan). Saat dilakukan auskultasi, paru-paru masih
terdengar normal. Namun, pernapasan sedikit terganggu karena adanya batuk yang muncul
dan pernapasan cepat tapi reguler.
Pemeriksaan Laboratorium
Sebagai pemeriksaan penunjang dalam membantu menegakkan diagnosis, dilakukan
pemeriksaan hematologi rutin, complete blood count (iCell-8000Vet Auto Hematology
Analyzer, Shenzhen iCubio Biomedical Technology Co., China), X-ray (X-ray Mobile SF
100BY Blessmed, PT. Agusta Global Mandiri, Indonesia), dan test kit Antigen CDV
(BIONOTE Co., Korea Selatan).
Tabel 2. Hasil pemeriksaan hematologi rutin anjing kasus
Parameter Nilai Rujukan* Hasil Keterangan
WBC(x103/µl) 5,5-19,5 14 Normal
Limfosit (x103/µl) 0,8-5,1 7,2 Tinggi
Monosit (x103/µl) 0,1-8,0 0,5 Normal
Granulosit (x103/µl) 4-12,6 6,3 Normal
Limfosit% 12-30 50,9 Tinggi
Granulosit% 60-80 45,4 Rendah
Monosit% 2-9 3,7 Normal
RBC (x10^6/ul) 6,0-10,0 5,26 Rendah
HGB (g/dl) 9,5-15,0 2,9 Rendah
MCV (fl) 62-72 58,7 Rendah
MCH (pg) 13,3-17,5 5,5 Rendah
MCHC (g/dL) 31-36 9,4 Rendah
HCT (%) 37-55 30,9 Rendah
PLT (x10^3/ul) 200-500 160 Rendah
Keterangan: WBC (White blood cell), RBC (Red blood cell), HGB (Hemoglobin), MCV (Mean cell volume),
MCH (Mean corpuscular hemoglobin), MCHC (Mean corpuscular hemoglobin concentration),
HCT (Hematocrit), PLT (Platelets), *Williams dan Wilkins, 2000
Hasil pemeriksaan hematologi rutin menunjukkan terjadinya limfositosis, anemia
mikrositik hipokromik, dan trombositopenia. Pemeriksaan radiografi (X-ray) regio thoraks
pada posisi rebah kiri (left recumbency) dan ventrodorsal menunjukkan trakhea normal (tidak
mengalami penyempitan ataupun pelebaran). Bronkhus dan paru-paru normal tidak
mengalami peradangan (tidak mengalami bronkhitis, pneumonia, ataupun bronkhopneumonia).
Pada pemeriksaan test kit CDV menunjukkan hasil negatif.
Berdasarkan anamnesis, hasil pemeriksaan fisik dan laboratorium, anjing kasus
didiagnosis menderita penyakit pernapasan menular pada anjing atau canine infectious
respiratory disease. Berdasarkan anamnesis, gejala klinis, dan hasil pemeriksaan laboratorium,
prognosis yang dapat diambil yaitu fausta.
Penanganan
Penanganan yang diberikan pada hewan kasus adalah pemberian antiradang prednison
dengan dosis 1 mg/kg BB PO selama lima hari (2x1 tablet); aminopilin 9 mg/kg BB PO selama
lima hari (3x1/3 tablet) sebagai bronkodilatator; Sangobion® 1x1 tablet selama lima hari
sebagai suplemen untuk menangani anemia dengan merangsang proses hematopoietis; dan
antibiotik doxycycline 8 mg/kg BB PO selama lima hari (1x1/2 kapsul) untuk mencegah infeksi
sekunder .
Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan uji laboratorium, anjing kasus
didiagnosis menderita penyakit pernapasan menular pada anjing atau canine infectious
respiratory disease (kennel cough). Anjing kasus menunjukkan gejala klinis seperti
peningkatan suhu tubuh (demam), gangguan pernapasan (bersin, batuk, discharge/leleran dari
hidung), dan discharge pada mata. Menurut Edinboro et al. (2004) masa inkubasi kennel cough
berkisar antara 1-8 hari dan menunjukkan tanda-tanda klinis selama 1-2 minggu. Pada saat
pemeriksaan, anjing kasus sudah menunjukkan gejala gangguan pernapasan selama 10 hari.
Berdasarkan tanda klinis yang muncul, terdapat beberapa diagnosis tentatif dari agen penyebab
kennel cough seperti CDV, CPiV, CAV-2, dan B. bronchieptica. Dugaan ini didasarkan
pada riwayat anjing yang belum pernah divaksinasi.
Hasil pemeriksaan X-ray pada bagian thoraks terlihat normal pada bagian trakhea,
bronkhus, dan paru-paru (belum menunjukkan tanda pneumonia). Pada umumnya, tanda
pneumonia muncul pada bentuk canine infectious respiratory disease (CIRD) yang parah atau
komplikasi dari gabungan beberapa agen penyebab CIRD. Tanda pneumonia juga muncul
pada pemeriksaan auskultasi paru-paru yang ditunjukkan dengan peningkatan intensitas suara
paru-paru (Buonavoglia dan Martella, 2007). Pada saat pemeriksaan auskultasi pada anjing
kasus, tidak terdengar peningkatan intensitas suara paru-paru dan hal ini diperkuat dengan hasil
X-ray yang normal, namun anjing kasus menunjukkan refleks batuk saat dipalpasi pada bagian
trakhea yang menunjukkan adanya peradangan (trakheitis ringan). Pada hasil X-ray, trakhea
terlihat tidak mengalami pelebaran ataupun penyempitan. Hal ini kemungkinan besar
disebabkan karena anjing kasus tidak terinfeksi oleh agen penyebab kennel cough yang
kompleks, sehingga gejala yang ditimbulkan lebih ringan. Hasil test kit CDV yang negatif
memperkuat dugaan ini .
Hasil pemeriksaan darah lengkap (hematologi rutin) lebih menunjukkan diagnosis ke
arah penyakit virus, karena interpretasi hematologi rutin menunjukkan terjadinya limfositosis,
anemia mikrositik hipokromik, dan trombositopenia. Limfositosis mengindikasikan infeksi
virus , anemia mikrositik hipokromik mengindikasikan radang kronis
dan defisiensi Fe ,dan trombositopenia mengindikasikan terjadinya
penurunan sistem peredaran darah Anemia dapat terjadi karena agen
infeksius sudah menyebar secara viremia dan bertahan di sumsum tulang belakang
menyebabkan erythroid hypoplasia dan juga dapat menyebabkan nonregeneratif anemia
Hal ini juga dapat memengaruhi penyerapan zat besi menjadi kurang
optimal, sehingga zat besi tidak tersedia untuk perkembangan retikulosit dan terjadilah anemia
Agen penyebab kennel cough pada anjing kasus kemungkinan disebabkan oleh CPiV
ataupun CAV-2. Berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium, bentuk kennel
cough pada anjing kasus termasuk ringan. Menurut Schulz et al. (2014), CPiV termasuk dalam
bentuk lebih ringan, sedangkan CAV-2 termasuk bentuk kedua yang memiliki kombinasi
organisme penyebab yang lebih kompleks dan manifestasi klinisnya lebih parah dibandingkan
bentuk pertama. Penyakit CDV disingkirkan dari diagnosis sementara berdasarkan hasil test
kit yang negatif, Bordetella bronchieptica disingkirkan berdasarkan hasil hematologi rutin
yang menunjukkan adanya infeksi virus bukan bakteri, Penyakit CRCoV dan CHV
disingkirkan karena tidak adanya tanda klinis yang spesifik selain gangguan saluran pernapasan.
Pengujian terhadap CPiV ataupun CAV-2 dapat diuji dengan Polymerase Chain Reaction/PCR
Pengujian menggunakan PCR memerlukan biaya yang tinggi,
sehingga pengujian pada tingkat agen tidak dapat dilakukan.
Anjing kasus setelah pengobatan menunjukkan kondisi yang lebih baik. Pemberian
antiradang, bronkhodilatator, suplemen untuk menangani anemia dengan merangsang proses
hemopoitik, dan antibiotik untuk mencegah infeksi sekunder mampu menurunkan frekuensi
batuk, bersin, melancarkan pernafasan, dan anjing mulai terlihat aktif. Akan tetapi, perlu
diperhatikan bila anjing yang terinfeksi dapat melepaskan agen patogen ke lingkungannya
selama 2-3 bulan setelah pemulihan klinis
Gambar 1. Foto sebelah kiri memperlihatkan anjing kasus sebelum pengobatan (terdapat
leleran mukus pada bagian hidung) dan foto sebelah kanan anjing teramati dalam
kondisi lebih baik setelah pengobatan
Penyakit infeksius pada sistem pernapasan anjing/CIRD atau disebut dengan kennel
cough merupakan penyakit pernapasan sangat menular yang dapat menyebar dengan cepat di
antara anjing, terutama jika mereka saling berdekatan. Beberapa faktor predisposisi terjadinya
kennel cough pada anjing yaitu spesies, umur, jenis kelamin, musim, dan kepadatan anjing pada
kandang kennel
Agen-agen yang dapat menyebabkan CIRD antara lain: canine respiratory coronavirus
(CRCoV), canine herpesvirus (CHV), CDV, canine influenza virus (CIV), canine
parainfluenza virus (CPiV), canine adenovirus type-2 (CAV-2). Selain virus, agen bakterial
yang mampu menyebabkan CIRD antara lain Mycoplasma spp, B. bronchieptica,
Streptococcus zooepidemicus, dan Chlamydophila sp., (Maboni et al., 2019). Agen penyebab
kennel cough yang paling umum adalah bakteri B. bronchiseptica (ditemukan pada 78,7%
kasus di Jerman Selatan), diikuti oleh virus parainfluenza anjing (37,7% kasus), dan pada
tingkat lebih kecil, virus korona anjing (9,8% kasus)
prevalensi terbesar kasus gangguan pada sistem
pernapasan akibat bakterial terjadi pada anjing ras pug, kemudian labrador retriever,
doberman pinscher, dachshund, boxer, crossbreed, german shepherd, golden retriever, lalu
pomeranian. Berdasarkan usianya, prevalensi kasus gangguan sistem respirasi terbesar terjadi
pada usia 0-6 bulan, lalu diikuti anjing pada usia 6-48 bulan, kemudian anjing di atas 48 bulan.
Berdasarkan jenis kelamin, prevalensi terbesar terjadi pada hewan betina. Berdasarkan musim,
prevalensi kasus gangguan pernapasan terbesar terjadi pada musim dingin. Tingkat kepadatan
yang tinggi pada kennel dapat meningkatkan prevalensi kasus gangguan sistem pernapasan.
Adanya koinfeksi dapat meningkatkan keparahan penyakit dibandingkan dengan patogen
infeksi tunggal, namun prevalensi dan peran koinfeksi dalam penyebab kennel cough masih
belum jelas (Mitchell et al., 2017).
Gejala paling umum pada penyakit kennel cough pada anjing adalah serangan batuk
kering dan kasar, yang mungkin diikuti dengan bersin, mendengus, tersedak, atau muntah
sebagai respons terhadap tekanan ringan pada trakhea atau setelah beraktivitas , Penyakit ini bisa lebih atau kurang serius tergantung pada usia dan kondisi kesehatan
umum anjing atau anak anjing . Gejala lainnya mungkin juga mencakup:
hidung berair, bersin, dan leleran mata. Kemunculan demam bervariasi dari kasus ke kasus
Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan uji laboratorium, anjing kasus
didiagnosis menderita penyakit menular pada sistem pernapasan anjing (canine infectious
respiratory disease/kennel cough). Pemberian terapi selama lima hari memberikan hasil yang
baik dan anjing kasus menunjukkan tanda kesembuhan setelah pengobatan.
Disarankan kepada seluruh pemilik hewan kesayangan untuk melakukan tindakan
pencegahan penyakit infeksius berupa pemberian vaksinasi lengkap pada anak anjing yang
dipelihara, baik pada usia dini (2,0-2,5 bulan) ataupun vaksin booster (ulangan) tiap tahun.
Apabila hewan kesayangan menunjukkan gejala sakit, segera dibawa ke dokter hewan terdekat
untuk dilakukan pemeriksaan sehingga pengobatan secara dini dapat segera diberikan.
Pyometra merupakan infeksi atau inflamasi pada dinding uterus yang ditandai dengan adanya
akumulasi nanah pada lumen uterus. Faktor predisposisinya berupa umur, ras, infeksi bakteri, dan hormon.
Penyakit lain yang sering berkorelasi akibat ketidakseimbangan hormon reproduksi yaitu tumor mammae.
Anjing ras Pitbull betina belum steril berumur 7 tahun dengan berat badan 27,9 kg memiliki gejala klinis sering
mengeluarkan leleran mukopurulen berwarna coklat kemerahan yang berbau busuk dari vagina. Kelenjar
mammae kiri puting kedua, ketiga dan keempat terdapat benjolan berdiameter sekitar 20 cm, berkonsitensi
padat, berbatas jelas, berwarna sama seperti permukaan kulit dan dapat digerakkan. Diagnosa berdasar
pemeriksaan fisik, hematologi, kimia darah dan sitologi yaitu pyometra dan tumor mammae. Penanganan
dilakukan dengan ovariohisterektomi dan mastektomi unilateral. Terapi pasca operasi yang diberikan yaitu
enrofloxacin 5 mg/kg, ketoprofen 2 mg/kg, phytomenadion 1 mg/kg, dan Biodin® 0,1 ml/kg dan disertai
perawatan intensif luka operasi. Pasien mengalami kesembuhan sesudah 2 bulan perawatan.
Anjing merupakan salah satu hewan
peliharaan yang sering mengidap penyakit
pyometra dan tumor. Pyometra yaitu infeksi dan
inflamasi pada dinding uterus yang bersifat akut
maupun kronis yang ditandai dengan adanya
akumulasi nanah di dalam lumen uterus ,Beberapa faktor seperti umur, ras, infeksi
bakteri, dan hormon menjadi pendukung
terjadinya penyakit ini ,
Penanganan yang dapat dilakukan yaitu
ovariohisterektomi yaitu tindakan operasi untuk
mengambil ovarium, corpus uteri dan cornua
uteri ,
Penyakit lain yang sering berkorelasi akibat
ketidakseimbangan hormon reproduksi pada
anjing betina yaitu tumor mammae. Tumor
mammae merupakan salah satu tipe tumor yang
sering menyerang anjing betina dengan tingkat
insidensi sekitar 52% dan memberi sumbangan
angka kematian tertinggi selain usia tua
. Anjing betina muda berumur di
bawah dua tahun memiliki resiko rendah,
sedangkan anjing betina dewasa yang berumur
diatas enam tahun memiliki resiko yang semakin
meningkat secara substansial , Tumor yang terjadi pada
anjing betina, 60% berasal dari kelenjar mammae
abdomen dan inguinal , Faktor
usia, hormon dan genetik juga berpengaruh dalam
proses terjadinya tumor karena dapat
menyebabkan perubahan struktur dan fungsi
dalam kelenjar mammae ,
Penanganan dilakukan dengan mastektomi yaitu
tindakan pembedahan untuk memotong satu atau
lebih kelenjar mammae
Alat dan Bahan
Satu set instrumen bedah mayor,
acepromazine 1,5%, ketamine HCl 10%, xylazine
2%, NaCl 0,9%, iodine povidone 10%, mesin
anestesi dan isoflurane, enrofloxacin injeksi 10%,
ketoprofen injeksi, pyhtomenadion injeksi,
scalpel, benang monofilament absorbable
(Monosyn®) ukuran 2.0 dan 3.0, benang silk non
absorbable (Onemed®) ukuran 2.0, spuit 1 ml, 3
ml, 5 ml, Diff- quick stain, heater pad, Hemo-
analyzer Rayto 7600® dan Abaxis Vetscan 2®.
Anamnesa dan Pemeriksaan Fisik
Anjing ras Pitbull betina belum steril
berumur 7 tahun dengan berat badan 27,9 kg
memiliki keluhan sering mengeluarkan leleran
mukopurulen berwarna coklat kemerahan berbau
busuk dari vagina (Gambar 1A). Hasil
pemeriksaan fisik diketahui suhu tubuh 38,4 ºC,
frekuensi denyut jantung 120 kali/menit dan
ritmis, frekuensi pernafasan 36 kali/menit dengan
suara vesikuler. Benjolan pada kelenjar mammae
kiri puting kedua, ketiga dan keempat
berdiameter sekitar 20 cm, berkonsitensi padat,
berbatas jelas, berwarna sama seperti permukaan
kulit dan dapat digerakkan (Gambar 1B).
Pemeriksaan Darah Lengkap dan Kimia
Darah
Sampel darah sebanyak 3 ml diambil melalui
vena saphena dan disimpan dalam tabung darah
EDTA. Pemeriksaan darah lengkap
menggunakan mesin Veterinary Hematology
Analyzer Rayto RT-7600® dan pemeriksaan kimia
darah menggunakan mesin Veterinary Blood
Chemistry Analyzer Abaxis Vetscan 2®. Hasil
Tabel 1 menunjukkan adanya leukositosis,
granulositosis (neutrofilia), dan hiperglikemia.
Pemeriksaan Sitologi
Pengambilan sampel sitologi dengan metode
Fine Needle Aspiration (FNA) pada kelenjar
mammae kiri puting ke-2, 3 dan 4. Pewarnaan
menggunakan Diff-quick stain. Hasil evaluasi
mikroskopis, yaitu: (1) tampak adanya infiltrasi
sel radang polimorfonuklear (neutrofil) pada
apusan darah berjumlah >8 sel per lapang
pandang, sel monokuklear monosit dan limfosit
berjumlah 1 – 3 sel per lapang pandang, (2)
tampak bentukan bakteri bacillus dan bakteri
coccus antisipasi terhadap kemungkinan infeksi
baketri Staphylococcus sp. atau Streptococcus sp.,
(3) tampak adanya sel mesenkimal dengan
bentukan anisositosis dan anisokariosis
mengindikasikan sel tumor (Gambar 2).
Tindakan Operasi
Pasien dipuasakan selama 12 jam sebelum
operasi. Terapi cairan menggunakan infus NaCl
0,9% secara intravena melalui vena cephalica.
Premedikasi menggunakan acepromazine 0,02
mg/kg BB diinjeksikan secara intramuskular 15
menit sebelum induksi. Induksi anestesi
menggunakan kombinasi ketamine 10 mg/kg BB
dan xylazine 1 mg/kg BB yang diinjeksikan
secara intramuskular. Pemasangan endotrakeal
tube dilakukan sesudah pasien teranestesi untuk
memberikan isoflurane melalui mesin anestesi
sebagai maintenance dengan dosis 2 – 3%. Pasien
diposisikan rebah dorsal di atas meja operasi yang
telah diberi heater pad dengan keempat kaki
terfiksasi. Area kulit yang telah dicukur
rambutnya dan disteril menggunakan alkohol
70%, kemudian dioles iodine povidone 10% dan
dipasang duk operasi.
Tindakan pertama yaitu ovariohisterektomi
untuk mengangkat uterus yang mengalami
pyometra. Operasi diawali dengan melakukan
sayatan pada bagian midline dinding abdomen
sampai linea alba secara hati-hati untuk
menghindari organ di dalam rongga abdomen.
Tabel 1. Hasil pemeriksaan darah lengkap dan kimia darah
Pemeriksaan Hasil Satuan Kisaran Normal Anjing
Hematologi:
Sel Darah Putih (WBC) 18.2* 103/μL 6.0 - 17.0
Sel Darah Merah (RBC) 7.24 106/μL 5.5 - 8.5
Hemoglobin (Hb) 12.1 g/dL 12.0 - 18.0
Hematokrit (HCT) 52.1 % 37.0 - 55.0
MCV 71.9 fL 60.0 - 77.0
MCH 16.7 pg 19.5 - 24.5
MCHC 23.3 g/dL 32.0 - 36.0
Trombosit (PLT) 352 103/μL 200 – 500
Limfosit 25.3 % 12.0 - 30.0
Monosit 3.7 % 3.0 - 10.0
Granulosit 84.7* % 60.0 - 80.0
Limfosit 2.1 103/μL 1.0 - 4.8
Monosit 0.7 103/μL 0.15 - 1.35
Granulosit 15.4 103/μL 3.5 - 14.0
Kimia Darah:
ALT/SGPT 36 U/L 10-118
Ureum (BUN) 9 mg/dL 7.0-25
Kreatinin 1 mg/dL 0.3-1.4
Total Protein 8.2 g/dL 5.4-8.2
Albumin 3.4 g/dL 2.5-4.4
Globulin 4.8 g/dL 2.3-5.2
Total Bilirubin 0.4 mg/dL 0.1-0.6
Alkalin Phosphatase (ALP) 63 U/L 20-150
Glukosa 112* mg/dL 60-110
Amilase 631 U/L 200-1200
Notasi (*) menunjukkan parameter mengalami kenaikan dibanding kisaran normal ,
Gambar 2. Hasil pemeriksaan sitologi kelenjar mammae. (A) Infiltrasi sel radang
polimorfonuklear (neutrofil) (panah merah). (B) Sel-sel mesenkimal dengan bentukan
anisositosis dan anisokariosis (panah biru). Foam cell ditunjukkan panah warna
kuning. (Diff Quick Stain, lensa objektif 40x).
Corpus dan cornu uteri yang mengalami
pembesaran dan peradangan dikeluarkan dari
rongga abdomen untuk mempermudah
menemukan kedua ovarium (Gambar 3).
Ligamentum suspensory, arteri dan vena ovarica
diligasi menggunakan benang monofilament
absorbable ukuran 3.0 yang selanjutnya
dilakukan pemotongan. Tindakan tersebut
dilakukan pada kedua sisi ovarium. Ligasi
dilanjutkan pada corpus uteri dekat serviks dan
arteri uterina pada kedua sisi sebelum dilakukan
pemotongan. Irigasi pada rongga abdomen
menggunakan cairan NaCl 0,9% sebelum
dilakukan penutupan dinding abdomen. Bagian
muskulus dijahit dengan pola jahitan simple
interrupted dengan benang monofilament
absorbable ukuran 2.0.
Tindakan mastektomi dilakukan dengan
teknik mastektomi unilateral. Jaringan di sekitar
kelenjar mammae sinister dilakukan eksisi sejauh
3-5 cm dari puting. Kulit dipisahkan dari
subkutan dengan cara preparasi tumpul.
Pembuluh darah yang mensuplai kelenjar
mammae sinistra (cranial superficial epigastric
dan caudal superficial epigastric) dilakukan
ligasi menggunakan benang monofilament
absorbable ukuran 3.0 untuk mencegah
perdarahan ketika dilakukan pemotongan.
Kelenjar mammae dieksisi dari area thoraks
sampai inguinal hingga terpisah dengan otot
abdomen. Irigasi area eksisi tumor menggunakan
NaCl 0,9% sebelum dilakukan penjahitan.
Subkutan dijahit dengan pola simple continous
menggunakan benang monofilament absorbable
ukuran 2.0 dan kulit dijahit dengan benang silk
ukuran 2.0 menggunakan pola jahitan simple
interrupted. Luka jahitan dibersihkan dan diberi
iodine povidone 10% sebelum ditutup
menggunakan kassa perban steril (Gambar 4).
Terapi pasca operasi yang diberikan yaitu
antibiotik enrofloxacin injeksi 5 mg/kg BB 1 kali
per hari selama 7 hari dan dilanjutkan secara per
oral untuk 7 hari berikutnya, analgesik ketoprofen
2 mg/kg BB 1 kali per hari selama 5 hari, vitamin
K1 0,5-1 mg/kg BB 1 kali sehari selama 5 hari,
dan Biodin® 0,1 mL/kg BB 1 kali sehari selama 7
hari. Luka jahitan dibersihkan setiap hari
menggunakan NaCl 0,9% dan diberi salep
antibiotik yang kemudian ditutup dengan kasa
perban steril.
Hasil anamnesa, pemeriksaan fisik, darah
dan sitologi mengindikasikan bahwa pasien
menderita pyometra dan tumor mammae.
Identifikasi temuan klinis melalui anamnesis dan
pemeriksaan fisik yang mengindikasikan
keganasan meliputi diameter tumor ≥5 cm,
pertumbuhan yang cepat, inlfiltrasi jaringan di
sekitarnya, erythema dan edema ,
Anjing betina dewasa yang belum steril
memiliki resiko yang besar terhadap kedua
penyakit tersebut. Estrogen yang berfungsi dalam
meningkatkan massa endometrium dan
miometrium serta peningkatan amplitude dan
frekuensi kontraksi dengan pengaruh oksitosin
dan PGF2α akan semakin menurun kadarnya
seiring bertambahnya usia ,
Stimulasi estrogen yang rendah dan tingginya
progesteron menyebabkan hiperplasia
endometrium, tertutupnya serviks uterus,
peningkatan sekresi kelenjar endometrium, dan
penurunan kontraksi miometrium sehingga
uterus tidak dapat mengeluarkan sekresi
cairannya ().
Akumulasi cairan di dalam uterus menjadi media
pertumbuhan bakteri dan menghambat kerja
leukosit sehingga leukosit mati didalam uterus.
Bakteri normal yang berada di dalam uterus
menjadi patogen akibat pengaruh hormonal
().
Leleran mukopurulen yang merupakan
kumpulan dari cairan, leukosit, dan bakteri di
dalam uterus akan keluar melalui vagina pada
kasus pyometra terbuka ,
penyakit ini diklasifikasikan menjadi 2 jenis,
yaitu tertutup yang ditandai dengan tidak adanya
leleran pada vagina dan terbuka ditandai dengan
adanya leleran pada vagina.
Patofisiologi pyometra juga sering terjadi
bersamaan dengan tumor mammae yang
diakibatkan oleh ketidakstabilan hormon pada
hewan dalam masa produktif dan biasanya saat
fase luteal (diestrus) dimana progesteron sedang
mengalami kenaikan ,
Resiko peningkatan sel tumor dapat terjadi
sesudah hewan mengalami siklus estrus. Faktor
endokrin memiliki pengaruh dalam proses
terjadinya tumor karena dapat menyebabkan
perubahan struktur dan fungsi dalam kelenjar
mammae Aktivasi lokal
reseptor progesteron memicu rangkaian molekul
spesifik setiap elemen kelenjar yang merangsang
proliferasi kelenjar susu ,
Pada kondisi abnormal, faktor usia dan genetik
yang disertai dengan adanya peningkatan
sensitivitas reseptor estrogen memicu aktivasi
faktor transkripsi dari growth hormone.
Peningkatan growth hormone oleh rangsangan
progrestin, menyebabkan peningkatan IGF-1 dan
IGF-2 dalam pembuluh darah sehingga
merangsang poliferasi sel mammae. Oleh karena
itu, jaringan mammae terus mengalami
perkembangan ,
Hasil sitolgi menunjukkan adanya infiltasi
sel radang (neutrofil) dan adanya sel tumor yang
mengalami anisositosis dan anisokariosis.
pasien yang
mengalami karsinoma mammae memiliki hasil
pemeriksaan sitologi adanya agregat seluler
dengan fitur neoplastik, seperti sel pleomorfik
dengan inti aneh, yang menunjukkan tingkat
keganasan yang tinggi. Sel tumor tampak berinti
banyak dan menunjukkan anisositosis,
anisokariosis, dan inti multipel prominen,
mengindikasikan tingkat keganasan yang tinggi.
Sel inflamasi, terutama neutrofil dan limfosit
juga banya ditemukan.
Leukositosis dan granulositosis
mengindikasikan adanya pertumbuhan tumor dan
infeksi. Leukosit berfungsi dalam
mempertahankan tubuh dari serangan agen
patogen, racun, dan memfagosit sel rusak atau
abnormal ,
Leukositosis dalam kasus ini dapat terjadi karena
adanya pertumbuhan tumor, sehingga tubuh
meresponnya sebagai antigen atau benda asing,
yang menyebabkan leukosit merespon dengan
meningkatkan produksinya. Granulositosis lebih
mengarah terjadinya neutrofilia. Neutrofilia
umumnya terjadi karena adanya infeksi bakteri,
sistemik mikosis, serta peradangan (neoplasma,
trauma jaringan, dan nekrosis jaringan)
Interpretasi hasil kimia
klinik menunjukkan semua parameter normal
sebagai indikasi fungsi hati dan ginjal yang
normal. Hiperglikemia ringan sebagai indikasi
stress ,
Acepromazine 0,02 mg/kg BB secara
intramuskular dipakai sebagai premedikasi.
Dosis acepromazine yang disarankan pada anjing
berkisar 0,02-0,05 mg/kg BB dan mekanisme
kerjanya memblok post sinapsis dopamine yang
berfungsi menghambat aktivitas otak sehingga
hewan menjadi tenang ,
Ketamine dapat diberikan dengan dosis 10-20
mg/kg BB , Ketamine
yaitu disosiatif anestetikum bersifat anestetik,
analgesik, dan kataleptik yang bekerja dengan
cara menghambat efek membrane dan
neurotransmitter eksitasi asam glutamat pada
reseptor N-metil-D-aspartat (NMDA) , Ketamine dapat menimbulkan kekejangan
dan depresi ringan terhadap saluran respirasi,
sehingga penggunaannya sering dikombinasikan
dengan xylazine ,
Xylazine bekerja dengan mendepresi susunan
syaraf pusat oleh α2-adrenoreseptor yang
menyebabkan penurunan aktivitas saraf simpatis
sehingga mengurangi sekresi saliva, penurunan
tekanan darah dan frekuensi denyut jantung, serta
memiliki pengaruh relaksasi yang baik.
Penggunaan xylazine pada kombinasi ketamine-
xylazine dapat menekan metabolisme dan kerja
jantung sehingga dapat menurunkan frekuensi
respirasi dan denyut jantung , Dosis xylazine yang diberikan pada anjing
yaitu 1-2 mg/kg BB) ,
Endotracheal Tube (ETT) dipasang untuk
memastikan oksigen dan isoflurane tetap
tersuplai sekaligus sebagai penyalur anestesi
inhalasi yang dipakai untuk mempertahankan
anestesi ,Isoflurane yaitu volatile
methyl ethyl ether yang berfungsi menurunkan
aliran darah ginjal, filtrasi glomerulus, dan
produksi urin . Efek ini
memberikan pengaruh terhadap penurunan
tekanan darah, tetapi tidak menunjukkan efek
toksik terhadap ginjal. Konsentrasi isoflurane
yang dipakai untuk anestesi pada
ovariohisterektomi dalam kasus pyometra
dipertahankan dalam konsentrasi 2-3% dan
campuran oksigen 50% dipakai pada aliran
20-40 ml/kg/menit dalam sistem lingkaran
pernapasan ,
Kondisi hipotermia pada pasien dapat
terjadi akibat suhu rendah pada ruang operasi,
cairan infus yang dingin, pemberian inhalasi gas,
kavitas atau luka terbuka pada tubuh, penurunan
aktivitas otot, serta agen obat-obatan yang
dipakai seperti vasodilator ,
Pemasangan alat penghangat sebagai alas operasi
merupakan salah satu bentuk upaya untuk
menurunkan resiko hipotermia. Terapi cairan
yang diberikan bertujuan untuk memulihkan
volume sirkulasi darah pada keadaan
hipovolemia, utamanya pada pasien yang
dioperasi, mengatasi dehidrasi, serta memulihkan
status elektrolit (Na+ dan K+) dalam tubuh.
Larutan isotonik NaCl 0,9% memiliki
osmolalitas yang sama dengan serum darah,
sehingga dapat dipakai sebagai terapi
maintenance dan shock hypovolemic ,
Ovariohisterektomi yaitu penanganan
terbaik pada sebagian besar penyakit uterus,
termasuk pyometra. Tindakan bedah
ovariohisterektomi dapat mengurangi kejadian
tumor mammae yang disebabkan oleh
ketidakseimbangan hormon khususnya esterogen
dan progesterone , Manfaat
ovariohisterektomi yang sekaligus dilakukan
dalam tindakan pengangkatan tumor mammae
dapat memberikan keuntungan menurunkan
resiko pertumbuhan tumor di kelenjar mammae
yang lain , Teknik
mastektomi unilateral yang dilakukan pada
pasien sebagai antisipasi terhadap adanya
metastasis tumor yang berkelanjutan
Selain itu, pemilihan
teknik ini untuk penanganan tumor kelejar
mammae ganda, yaitu tumor muncul di lebih dari
satu kelenjar mammae, terdapat lesi berukuran
>3 cm pada kelenjar kranial abdomen dan ketika
nodul tersebar di sepanjang rantai kelenjar
mammae serta untuk membuat satu luka bedah
tunggal ,
Pertimbangan lainnya bahwa penanganan bedah
tumor mammae harus didasarkan pada faktor
drainase limfatik, jumlah dan ukuran lesi, dan
faktor prognostik yang ditetapkan pada masing-
masing kasus . Insisi pada
mastektomi unilateral dibuat dengan
mengelilingi kelenjar mammae yang akan
diangkat. Margin antara insisi dan massa yaitu 2-
3 cm bertujuan untuk menghilangkan
keseluruhan massa dengan sempurna agar tidak
menimbulkan metastasis atau pertumbuhan
ulang massa . Tepian
dari insisi dikuakkan lalu dilakukan preparasi
tumpul yang bertujuan untuk memisahkan
subkutan dari fascia abdominal dan mencegah
perdarahan dan kerusakan pada jaringan
Benang yang dipakai yaitu
monofilament absorbable (Monosyn®). Benang
sintetik absorbable untuk menjahit jaringan
lunak yang memiliki komposisi kimia Glyconate
yang terbuat dari 72% glikolida, 14% trimetilen
karbonat, serta 14% ɜ-kaprolakto.
Penyerapannya terjadi secara hidrolisis dalam
waktu 60-90 hari dan memiliki retensi kekuatan
tarik simpul sebesar 70% sesudah 7 hari
implantasi, 50% sesudah 14 hari implantasi, dan
20% sesudah 21 hari implantasi ,
Pasien diberikan enrofloxacin yaitu
antibiotik berspektrum luas untuk pengobatan
penyakit akibat infeksi bakteri gram positif dan
bakteri gram negatif (Widiyanti dkk., 2019).
Obat ini bekerja dengan menghambat DNA
gyrase yang diperlukan oleh bakteri untuk
replikasi DNA sehingga mengakibatkan efek
sitotoksik pada sel target (Babaahmady dan
Khosravi, 2011). Dosis yang diberikan pada
anjing yaitu 5 mg/kg BB q24h (Allerton, 2020).
Ketoprofen sebagai analgesik dan antiinflamasi
memiliki mekanisme aksi menghambat COX-1
sehingga menurunkan produksi prostaglandin
dan penghambatan enzim lipoxygenase yang
memiliki efek poten dalam fase peradangan
vaskular dan selular ,
Phytomenadion yaitu bentuk vitamin K1
sintetis larut lemak yang dipakai untuk
mengatasi koagulopati. Vitamin K1 berfungsi
untuk mencegah perdarahan yang lebih parah
dengan cara memberikan agen faktor koagulasi
aktif pasca operasi ,. Kondisi
neoplasia dan inflamasi merupakan salah satu
penyebab dari terjadinya trombositopenia dari
segi faktor penurunan produksi dan destruksi
primer ,Pemberian Biodin®
untuk meningkatkan energi hewan pasca operasi.
Biodin® mengandung Adenosin Triphosphat
(ATP) yang berfungsi sebagai energi cadangan
siap pakai yang berperan dalam proses
metabolisme sel tubuh hewan. Kandungan lain
seperti selenite untuk metabolisme sel, vitamin
B12 untuk pembentukan sel darah merah
sehingga baik untuk pemulihan kondisi hewan
berdasar anamnesa, pemeriksaan fisik,
hematologi, kimia darah dan sitologi, anjing ras
Pitbull didiagnosa pyometra dan tumor mammae.
Penanganan yang dilakukan yaitu
ovariohisterektomi dan mastektomi unilateral
dalam satu waktu untuk menurunkan resiko
metastasis. Terapi pasca operasi diberikan
enrofloxacin, ketoprofen, phytomenadion, dan
Biodin® disertai dengan perawatan intensif luka
operasi. Pasien mengalami kesembuhan sesudah 2
bulan perawatan.