Jumat, 06 Desember 2024

penyakit unggas 1











Pencegahan penyakit dalam budaya dan industri peternakan 

unggas merupakan suatu keharusan, sebab  bagaimanapun baiknya 

manajemen pemeliharaan, kalau ternak unggasnya sakit maka 

keuntungan yang sudah didepan mata akan menghilang, bahkan 

menjadi menderita kerugian. Sehingga dalam budidaya dan industri 

peternakan unggas pencegahan penyakit menjadi faktor utama dan 

pertama yang harus dilakukan. 

Pencegahan (preventif) akan lebih mudah, murah dan baik, 

dibandingkan dengan pengobatan (kuratif), sebab  unggas yang 

sudah terserang penyakit produksinya tidak akan sama dengan 

unggas yang sehat, bahkan akan rendah sekali, walaupun sakitnya 

sudah dapat sembuh namun  untuk kembali ke produksi normal 

sangat sulit dilakukan. Sehingga penekanan pembahasan pada artikel  

ini yaitu  bagaimana unggas dapat hidup sehat dan berproduksi 

optimal melaui pencegahan penyakit. 

artikel  ini diawali dengan system kekebalan pada ternak 

unggas, sebab  pembentukan kekebalan (immunity) pada unggas 

merupakan suatu usaha untuk menaggulangi penyakit dari dan oleh 

unggas itu sendiri, disamping itu ada beberapa penyakit (virus) 

yang belum ada obatnya yang hanya dapat dicegah melalui 

pembentukan kekebalan dalam tubuh unggas sendiri, yang 

merupakan satu-satunya cara agar unggas tetap sehat. 

artikel  ini juga membahas secara detail tatacara pencegahan 

penyakit, dan  penyakit-penyakit penting yang sering menyerang 

unggas. artikel  ini juga dilengkapi dengan beberapa gambar dan 

tabel hasil penelitian berkaitan dengan penyakit, untuk lebih 

memudahkan pembaca untuk memahami isi artikel  melalui gambar-

gambar dan table-tabel yang ada dan dapat menerapkan secara baik 

dan benar tata-cara pencegahan penyakit pada ternak unggas. 

Beberapa penyakit endemik seperti New castle disease (NCD) dan 

avian influenza (AI) dibahas lebih mendetail untuk  memberi  

pemahaman bagaimana seharusnya menyikapi kedua penyakit yang 

sangat merugikan dunia perunggasan. 

 


 

Arti Kekebalan Pada Unggas 

Kekebalan sering juga disebut Immunitas yaitu  suatu 

kemampuan untuk mempertahankan diri, menahan, mencegah dan 

atau menanggulangi agen – agen perusak yang dapat memicu  

sakit (yang merugikan). 

Unggas seperti halnya mahluk hidup lainnya juga 

memiliki sistem kekebalan yang dilakukan oleh sel-sel khusus 

dan produk-produknya.  Diantara sel – sel yang memegang 

peranana penting baik secara langsung maupun tidak langsung 

dalam proses kekebalan yaitu  sel-sel lymphocyt, dan produk – 

produknya atau sel-sel lain yang diturunkan (dibentuk) olehnya.  

Kekebalan pada unggas ada dua macam, yaitu yang disebut dengan 

antibodi (antibody) dan imunitas sel (sel immunity). 

 

Organ Pembentuk Kekebalan 

Organ pembentuk kekebalan pada unggas ada 4 (empat), 

yaitu Bursa Fabrisius  (B-cell), Kelenjar Thymus (T-cell), GALT 

(Gat-associated-lymphoid-tissue) dan Jaringan Lymphoid (sumsum 

tulang belakang, limpa, kelenjar Harderian, ceacal tonsil).   

Bursa Fabrisius  letaknya ada pada pangkal ekor, tepatnya 

ada diatas kloaka dari unggas, sedang kelenjar thymus letaknya 

memanjang pada bagian depan samping leher unggas. (Gambar 1.) 

Kedua organ penting pembentuk kekebalan pada unggas ini 

akan dapat berfungsi bila  sel pembentuk kekebalan (lymphocyt) 

masuk kedalamnya. Lymphocyt dibagi menjadi dua menurut fungsi 

dan tipe kekebalan yang ditimbulkannya, atau berdasarkan pada 

organ pembentuk kekebalan yang dimasukinya, yaitu: 


Bursa Fabrisius (bursa dependen) 

 

Merupakan organ tempat menghasilkan sel-sel yang disebut 

dengan B-lymphocyt.  Bursa  fabrisius ada pada unggas yang sehat 

dan masih muda berumur 1 hari sampai 16 minggu.  Bentuk dari 

Bursa Fabrisius  yaitu  bulat berwarna putih sedikit mengkilap 

seperti buah cermai.  sesudah  itu bursa akan rudimenter, sesuai 

dengan berakhirnya tugas sebagai agen pembentuk kekebalan yang 

juga berakhir. 

Bursa Fabrisius  juga dapat rusak sebab  adanya penyakit 

yang meneyerang disebut dengan Infectius bursal disease (IBD) 

atau disebut Gumboro. 

Ilustrasi 1. Organ Pembentuk Kekebalan Unggas. 

Modifikasi dari Ayam dan Telur (Mahfudz, 1989) 

 

Akibat penyakit IBD pada unggas masih muda, bursanya 

rusak, maka unggas tidak akan dapat membentuk kekebalan dengan 

sempurna.  Vaksinasi hanya akan efektif bila  bursa fabrisiuis 

masih sehat (baik) dan dapat memproduksi B-lymphocyt. 

1.2.2. Thymus (thymus dependen)  

 

Merupakan organ tempat menghasilkan sel-sel yang disebut 

dengan T-lymphocyt.  Thymus tidak sama dengan bursa, sebab  

thymus masih ada walau unggas sudah dewasa.  sebab  disamping 

sebagai organ pembentuk kekebalan, thymus juga menghasilkan 

kelenjar thyroid, sebagai kelenjar pertumbuhan pada unggas.  

Namun thymus juga dapat rusak sebab  suatu infeksi penyakit atau 

sebab  kekarangan zat gizi (iodium). 

Pada saat unggas pada awal kehidupannya atau masih 

muda, akan memproduksi sel-sel lymphocyt muda atau belum 

matang, sel-sel ini menerima intruksi dasar mengingat tugasnya 

dimasa mendatang (nantinya) melalui 2 organ lymphoid yaitu 

Bursa Fabricus dan Thymus.   

Sel lymphocyt yang baru dibentuk pada waktu hewan masih 

muda, proses pendewasaannya menembus masuk ke bursa fabricus 

maupun thymus. 

Bursa 

  

a. Thymus b. Bursa fabrisius 

Ilustrasi 2. (a) Thymus (Sumber: Herlina Pratiwi, 2011) dan 

 (b) Bursa Fabrisius (Sumber : Mahfudz, 1989) 

                   

Sel lymphocyt yang baru dibentuk (masih muda) dalam 

proses pendewasaannya menembus masuk ke bursa fabricus 

maupun thymus.  Sel lymphocyt yang masuk kedalam bursa 

fabricus dan keluar dari bursa fabricius disebut dengan sel B-

lymphocyt, sedangkan yang masuk kedalam thymus dan keluar dari 

thymus disebut dengan sel T-lymphocyt. 

Pada saat lymphocyt – lymphocyt menembus masuk 

kedalam bursa maupun thymus melalui lingkungan mikro kimia 

yang ada pada bursa maupun thymus. Secara kimiawi (bio-kimia) 

sel-sel ini bereaksi dan menjadi dewasa, yang nantinya berperan 

aktif dalam memproduksi kekebalan. Sel B-lymphocyt 

menghasilkan antibody, sedangkan sel-T-lymphocyt menghasilkan 

immunitas seluler. Thymus masih ada walau unggas sudah dewasa, 

namun  efektifitasnya juga menurun, sehingga vakninasi pada unggas 

dewasa tidak sebaik unggas yang masih muda. 

B-lymphocyt dan T-lymphocyt sesudah  menjadi dewasa 

migrasi keseluruh tubuh, termasuk aliran darah, terutama limpa, 

secaltonsil, dan lymphoid pathces lainnya, dan akan berfungsi 

sebagai pertahanan.  Organ-oragan pembentuk kekebalan dari 

seekor unggas dan bagian-bagian yang merupakan tempat migrasi 

dari sel B-lymphocyt dan sel T-lymphocyt. 

Bursa fabricus dan thymus menyelenggarakan pemrosesan, 

pembentukan, dan pendewasaan dan  penyebaran lymphocyte-

lymphocyt pada awal kehidupan unggas. Pada saat B-lymphocyt 

dan T-lymphocyt bermigrasi keseleuruh jaringan, membelah diri 

dan menghasilkan lymphocyt-lymphocyt sejenis, yang pada proses 

pendewasaanya tidak memerlukan lagi bursa dan thymus.   

Sehingga bila  unggas diberi waksin pada saat dia masih 

muda dan proses vaksinasinya berhasil, maka tubuh unggas mampu 

mereproduksi kekebalan.  Sebaliknya bila  pada masa permulaan 

kehidupannya bursa atau thymusnya rusak, misalnya sebab  

terserang penyakit infectius bursal disease (gumboro) atau sebab 

lain, maka akan berakibat terjadinya penekanan (supresi) kekebalan 

yang disebut dengan immunosuppression. Unggas yang sudah 

mengalami immonusuppression sulit untuk membentuk kekebalan, 

sebab  organ pembentuk kekebalannya sudah rusak, sehingga 

unggas tidak mampu membentuk kekebalan.  Akibatnya proses 

vaksinasi tidak akan efektif atau bahkan tidak ada gunanya, 

akibatnya unggas akan mudah terserang penyakit 

 

1.3. Proses Terbentuknya Kekebalan 

Kekebalan yang terbentuk ada 2 (dua) macam, yaitu 

pertama, antibodi (antibody) yang dilakukan oleh B-lymphocyt dan 

kedua Kekebalan dalam sel (celluler immunity) yang dilakulkan 

oleh T-lymphocyt seperti yang sudah dijelaskan diatas. 

 

1.3.1. Antibodi 

B-plymphocyt yang dihasilkan oleh bursa fabricus dan 

turunannya memproduksi protein yang dapat larut dalam aliran 

darah, yang disebut dengan antibodi, dan akan berperan pada 

proses kekebalan. Antibodi spesifik dibentuk akibat stimulasi 

vaksin / agen–agen penyakit yang spesifik pula, atau dengan kata 

lain antibodi yang dibentuk oleh vaksin penyakit A misalnya, maka 

antibodi yang terbentuk khusus untuk menanggulangi penyakit A 

saja, demikian juga vaksin B, C dan seterusnya. Sehinga setiap 

penyakit yang ingin di bentuk kekbalannya harus divaksin sesuai 

dengan jenis penyakitnya.  

Antibodi ada yang dilepaskan kedalam plasama darah 

(serum) dan menyebar mengikuti aliran darah, disebut dengan 

antibodi sirkuler (sirculation antibody). Sedang antibodi yang 

berada pada berbagai sekresi tubuh seperti mucus yang dihasilkan 

oleh saluran pernafasan dan saluran pencernaan, persendian, 

selangkangan kaki dan sayap unggas, disebut dengan antibodi 

tetap/local (local antibody). 

Antibodi dalam plasma darah atau antibodi dalam serum 

disebut juga antibodi bersirkulasi, antibodi ini mengikuti aliran 

darah menuju keseluruh sel tubuh. Antibodi ini kadarnya dapat 

diperiksa / diukur melalui uji / test darah. Hasil test antibodi (titer) 

merupakan indikator atas status kekebalan yang ditimbulkan oleh 

berbagai penyakit atau vaksin. 

Antibodi lokal yang diketemukan dalam sekresi tubuh 

(mucus) sangat penting walau tidak dapat diukur melalui test darah, 

sebab  mereka merupakan penjaga gerbang masuknya agen–agen 

penyakit. bila  dalam jumlah yang cukup, antibodi lokal mampu 

mengurangi jumlah virus, juga bakteri atau jamur yang infektius 

yang masuk dalam tubuh. Sehingga akan mengurangi beban 

antibodi sirkuler yang ada pada serum darah untuk melawan virus 

dan bakteri.  

 

1.3.2. Immunitas Seluler 

T-lymphocyt yang dihasilkan oleh thymus menghasilkan 

produk–produk yang disebut lymphokines, jadi tidak membentuk 

antibodi. Lymphokines berfungsi melalui proses kimiawi dalam 

sel-sel pertahanan yang disebut makrofag. Makrofag ini 

 memberi  kekuatan pada T-lymphocyt untuk melaksanakan 

aktivitas pertahanannya. Aspek pertahanan tubuh ini disebut “Cell 

mediated immunity” atau “Cellulair immunity” (atau kekebalan 

melalui perantaraan sel). Sehingga pertahanan yang dibentuk oleh 

T-lymphocyt yaitu  pertahanan yang berada dalam sel unggas. 

Cell mediated immunity ini merupakan ujung tombak dalam 

pertahanan melawan agen–agen penyakit yang ada  didalam 

sel-sel, yang secara arsitektur tidak dapat dijangkau oleh antibodi 

(B-lymphocyt).  Cell mediated immunity tugas utamanya yaitu  

mengendalikan bakteri–bakteri seperti staphilococcus, colliform, 

salmonella, basilus pembentuk tuberkel, brucella dan listeria. Cell 

mediated immunity ini juga merupakan pertahanan utama terhadap 

virus–virus tertentu khususnya virus yang memicu  tumor dan 

juga terhadap fungi (jamur). 

 

Kekebalan Aktif dan Pasif 

Kekebalan Aktif. 

Diatas telah kita bahas terbentuknya kekebalan baik yang 

berupa antibodi (oleh B-lymphocyt) ataupun yang berupa 

kekebalan melalui perantaraan sel (oleh T-lymphocyt).   Kedua 

organ pembentuk kekebalan ini bekerja bila  ada rangsangan 

tertentu terhadap unggas, seperti vaksin ataupun penyakit tertentu. 

Rangsangan ini  mengaktifkan kedua organ pembentuk 

kekebalan, sehingga kekebalan yang dibentuk merupakan 

kekebalan hasil kerja dari kedua organ itu sendiri. Kekebalan 

ini  disebut dengan kekebalan aktif, atau kekebalan yang 

dibentuk oleh tubuh unggas itu sendiri.   sebab  unggas aktif 

membentuk kekebalan memakai  organ pembentuk kekebalan, 

akibat dari rangsangan yang masuk, berupa vaksin atau penyakit. 

Kekebalan aktif hanya dibentuk bila  bila  organ 

pembentuk kekebalan pada unggas masih berfungsi.  Kekebalan 

aktif yang dibentuk hanya untuk penyakit/vaksin tertentu yang 

diberikan (yang merangsang terbentuknya kekebalan).  Misalnya, 

unggas diberi vaksin new castle disease (NCD) maka kekebalan 

yang dibentuk hanya kekebalan untuk NCD, tidak untuk semua 

penyakit.  Unggas yang terserang penyakit cacar dan sembuh maka 

unggas ini  membentuk antibodi terhadap penyakit cacar, atau 

dengan kata lain unggas ini  memiliki kekebalan terhadap 

penyakit cacar. 

 

 Kekebalan pasif. 

Kekebalan pasif prosesnya sangat berlainan dengan 

kekebalan aktif. sebab  pada kekebalan pasif, organ pembentuk 

kekebalan tidak bekerja untuk membentuk kekebalan namun  unggas 

hanya menerima kekebalan (antibodi) dari luar.  

Kekebalan pasif dapat berasal dari induknya, sebagai contoh 

untuk penyakit–penyakit unggas tertentu yang dapat di tularkan 

melalui ovum atau telur, misalnya; penyakit Pullorum, Egg drop 

sindrum, yang dapat ditularkan secara vertikal.  bila  induknya 

diberikan vaksin agar terjadi kekebalan, maka kekebalannya 

diturunkan kepada anaknya. Kekebalan ini sering disebut dengan 

kekebalan maternal atau kekebalan dari ibunya. Pada kasus seperti 

ini embrio (anak) nya tidak melakukan proses untuk membentuk 

kekebalan, namun  hanya menerima dari induk (ibu) nya. 

Kekebalan pasif juga dapat diberikan langsung, misal 

memasukkan /menyuntikan serum (antibodi) dari suatu penyakit 

tertentu kedalam tubuh unggas, maka kekebalan yang diberikan ini 

merupakan kekebalan pasif.  Serum atau antibodi ini dihasilkan 

dari memasukan vaksin/penyakit kedalam tubuh mahluk lain, 

misalnya kuda atau mikroba. Maka kuda atau mikroba 

menghasilkan antibodi, dan antibodi yang dihasilkan dapat diambil 

untuk dipakai sebagai vaksin. sebab  antibodi dibuat diluar tubuh 

unggas dan unggas hanya pasif menerima antibodi yang sudah jadi, 

maka kekebalan yang terjadi pada unggas disebut dengan 

kekebalan pasif. 

 

Pencegahan penyakit (preventif) jauh lebih baik, lebih 

mudah dan lebih  dari pada pengobatan (curative), sebab  ternak 

unggas yang telah terserang penyakit kondisinya menjadi lemah 

dan produksinya turun dan  sangat sukar untuk kembali mencapai 

produksi normal. Oleh sebab  itu sangat penting untuk 

mempelajari, menguasaai dan mempraktekan cara pencegahan 

penyakit pada ternak unggas. Pada pengelolaan ternak unggas yang 

baik, maka pada hakekatnya seluruh aspek dari pengelolaan dapat 

dipakai sebagai sarana untuk mencegah penyakit. Adapun yang 

termauk dalam manajemen pencegahan penyakit pada peternakan 

unggas yaitu  bibit, perkandangan, pakan, sanitasi, dan vaksinasi 

 

Bibit. 

Bibit yang baik merupakan langkah awal didalam 

manajemen pencegahan penyakit pada ternak unggas, sebab  bibit 

sangat menentukan keberhasilan pengelolaan ternak unggas. Bibit 

harus dipilih dari induk yang baik produksi dan daya tahan 

hidupnya. bila  kita tidak tahu induknya, dengan kata lain kita 

beli bibit dari breeder farm, maka sebaiknya kita harus mempelajari 

dulu brosur – brosusnya dan  memperhatikan bonafiditas breeder 

farm itu.  

Adapun ciri bibt ayam yang baik yaitu  tidak ada cacat 

tubuhnya, bulunya tumbuh sempurna, kepala, leher dan tubuhnya 

serasi, paruh dan kakinya kuat, dadanya bidang, perutnya halus, 

penampilannya lincah dan matanya bersinar. 

 


Perkandangan 

Kandang merupakan tempat hidup dan berproduksi unggas 

dan  tempat pekerja melakukan pekerjaan pengelola ternak unggas, 

oleh akrena itu kandang harus mampu menyediakan kondisi yang 

nyaman bagi ternak unggas dan pekerja. Perkandangan unggas 

yang baik, memenuhi syarat dilihat dari tataletak, kontruksi, bahan 

bangunan, fungsi dan dapat menyediakan micro climate yang 

sesuai untuk pertumbuhan dna produksi dari ternak unggas. 

Perkandangan harus disesuaikan konstruksi dengan sistem produksi 

peternakan, iklim, dan  peletakannya. Sehingga kandang akan 

membuat unggas nyaman dan tidak setress. Unggas dapat 

mengkonsumsi pakan dengan baik, tenang dan mendukung 

produktifitas dan  dapat mencegah timbulnya suatu penyakit 

maupun wabah penyakit ( perkandangan ternak unggas dibahas 

lebih detail pada artikel  Perkandangan Ternak Unggas). 

 

Pakan 

Pakan atau makanan atau ransom yaitu  istilah untuk 

sesuatu yang diberikan unggas, untuk keperluan hidupnya selama 

24 jam. Pakan harus mampu menyediakan kebutuhan hidup pokok 

dan produksi ternak unggas. Penyakit yang disebabkan oleh pakan 

banyak sekali, baik sebab  kekurangan zat – zat pakan (gizi) 

ataupun sebab  kesalahan dan  keracunan pakan. Maka pemberian 

pakan yang cukup dan  memperhatikan nilai gizinya artinya tidak 

hanya kualitas namun  kuantitasnya perlu diperhatikan, sesuai dengan 

tahapan hidup dan tujuan produksi yaitu  sangat bijaksana. Untuk 

detailnya mengenai pakan dapat dibaca pada artikel  mengenai pakan 

unggas. 

 


Sanitasi 

Sanitasi pada pemeliharaan unggas yaitu  sangat penting 

dalam rangka menghasilkan produksi yang tinggi dengan kwalitas 

yang baik. Unggas tidak hanya perlu sehat saja namun  harus bersih 

baik tempatnya, pakannya, maupun lingkungannya dan bebas dari 

bermacam – macam penyakit yang dihasilkan oleh mikro 

organisme. 

 

 Desinfektan 

Desinfektan yaitu  materi atau bahan kimia untuk sanitasi.  

Sanitasi akan efektif bila permukaan yang disanitasi bersih, artinya 

tidak dihalangi oleh kotoran atau material organik.  Kebersihan 

bukan hanya pelengkap dalam desinfeksi suatu benda, namun  sangat 

efektif bila sebelum didesinfeksin keadaan sudah dibersihkan 

terlebih dahulu. 

Adapun desinfektan yang baik memiliki ciri – ciri antara 

lain sebagai berikut  

a. memiliki daya bunuh kuman tinggi. 

b. Tidak beracun bagi manusia dan ternak. 

c. Larut dalam air. 

d. Akan bertahan lama. 

e. Tidak merusak dan tidak bernoda. 

f. Mampu menembus celah – celah bahan. 

g. Baunya yang tajan tidak melekat. 

 

Sanitasi pada Hatchery 

Pada Penetasan (Hatchery) sanitasi yaitu  merupakan suatu 

keharusan untuk keberhasilan proses penetasan. Terutama pada 

proses penetasan telur, temperature yang diperlukan untuk 

perkembangan embrio juga sama dengan tempertaur yang 

diperlukan untuk perkembangan mikroorganisme (bakteri, jamur, 

virus dan protozoa). Sehingga bila  kondisinya tidak higienis 

(tidak disanitasi), maka mikroorganisme berkembang pada telur 

yang dieramkan sehingga embrio akan mati dan telur membusuk. 

Dibawah ini diperlihatkan Tabel 1. Program Sanitasi pada 

Unit Hatchery Charoen Pokphand Jaya Farm (CPJF). mulai dari 

ruang penerimaan telur, ruang penyimpan telur (holding room), 

ruang mesin (setter dan hatcher), ruang pull chick, ruang grading 

dan packing, ruang penyimpanan anak ayam dan ruang cuci. 

 


 Program Sanitasi Pada Kandang Unggas   

Kandang unggas baru apalagi yang sudah dipakai sebelum 

dipakai lagi untuk memasukan bibit baru atau untuk memelihara 

harus dilakukan pencucian dan dilakukan sanitasi. Dibawah ini 

yaitu  program sanitasi kandang sebelum penerimaan anak ayam. 

Program sanitasi kandang ini  diatas yaitu  standar 

untuk pemeliharaan ayam komersial pada peternakan atau industri 

ternak unggas. 

 

Fumigasi 

Gas formaldehyde secara komersial dapat dihasilkan dari 

larutan formalin 40 % dalam air, sama dengan serbuk para 

formaldehyde yang mengandung formaldehyde 90 %. Jika formalin 

dan atau paraformaldehyde  ini dipanaskan maka akan segera 

menghasilkan gas formaldehyde. Gas ini sangat iritatif dan 

beracun, kandungan minimal dalam udara yang sehat dibawah 5 

ppm, lebih dari itu akan mengganggu pernafasan. Mata dan kulit 

sangat sensitif terhadap formalin, oleh sebab nya tidak boleh 

kontak langsung. 

 


dengan tempat yang terbuat dari stainless steell, porselin, atau 

gerabah tanah yang luas (lebar), sebab  reaksinya akan mendidih, 

berbusa dan memercik ketika kedua bahan ini  di campur. 

Jangan memakai  tempat yang mudah meleleh atau retak kalau 

terkena panas. Letakkan tempayan/mangkok dan kalium 

permanganant pada daerah yang akan difumingasi, kemudian baru 

dicampur dengan formalin. 

Perlu diperhatikan  segera sesudah  permanganat dicampur 

dengan formalin maka panas segera terbentuk dari reaksi kimia 

campuran ini , dan gas segera dihasilkan. Hindarilah gas 

fumigasi yang keluar dari mata ( gas jangan sampai masuk mata ), 

terhirup atau mengenai tubuh. 

 


 Rekomendasi Pencampuran Kalium Permanganat dengan 

Formalin. 

Gas formaldehyde yang sempurna dihasilkan dari 

pencampuran kedua bahan ini (KMnO4 + Formalin), maka 

campurlah  dua bagian (volume) formalin dengan satu bagian 

(berat) dari kalium permanganat. bila  kedua zat ini  

dicampur maka akan terjadi reaksi pembakaran (panas) dan 

keluarlah gas formaldehyde. Reaksi ini dikatakan sempurna bila 

sisa reaksi kedua zat kimia ini  berwarna coklat kehitaman dan  

kering.  Jika sisanya basah, maka tidak cukup pemakaian  kalium 

permanganate atau kelebihan formalin. Namun sebaliknya, jika 

sisanya berwarna ungu maka kebanyakan penggunaaan kalium 

permanganat atau kekurangan formalin..  

Variasi konsentrasi dari gas formaldehyde dibutuhkan untuk 

kondisi barang yang akan fumigasi yang berbeda. Pada keadaan 

normal, konsentrasi satu dosis dapat diperoleh dari mencampur 40 

cc ( 1,35 oz ) formalin dengan 20 gram ( 0,71 oz ) kalium 



permanganat untuk setiap 100 cu fit (2,83 m

3

) ruangan. Ini sama 

dengan satu kali konsentrasi. Konsentrasi lainnya dapat dua kali ( 2 

x dari ini  diatas ), tiga kali, dan lima kali. Tabel 2 berikut 

memperlihatkan bahan kimia yang dipakai  untuk menghasilkan 

gas formaldehyde yang sempurna dan perbandingan antara 

formalin dan para formaldehyde. 

 


. Cara pemakaian  Paraformaldehyde 

Serbuk paraformaldehyde diletakkan pada wajan/nampan  

elektrik dengan thermostat kontrol, temperatur disetel pada 232C 

(450F). Satu dosis konsentrasinya 3,5 g paraformaldehyde untuk 

setiap 1m

 ruangan. Konsentrasi yang lain Lihat tabel 2.. 

Pemanasan paraformaldehyde dalam nampan elektrik untuk dapat 

mengeluarkan gas formaldehyde yang sempurna kira-kira selama 

20 menit. 

 

Kelembaban untuk fumigasi. 

Effisiensi gas formaldehyde akan meningkat bila  panas 

dan kandungan air (kelembaban) diruangan yang difumigasi cukup. 

Guna mendapatkan hasil yang maksimum, temperatur ruangan 

20 

fumigasi diatas  24C ( 75F ) dan relatif kelembabannya 75 % atau 

lebih. Uap air akan menangkap gas formaldehyde, sehingga terjadi 

reaksi gas formaldehyde dengan uap air, yang memicu  gas 

formaldehyde terperangkap dalam uap air dan akan lama berada 

dalam ruangan ini . Akibat gas formaldehyde yang lama 

terperangkap dalam ruang yang difumigasi, maka efektivitas 

membunuh mikroorganisme meningkat. 

 

 Dosis fumigasi 

Perbedaan konsentrasi gas formaldehyde disebabkan oleh 

kondisi yang berbeda dari bahan yang akan difumigasi dan juga 

memicu  lamanya waktu untuk fumigasi berbeda. Perbedaan 

konsentrasi dan waktu fumigasi ini, dimaksudkan untuk menjaga 

jangan sampai fumigasi menjadikan embrio maupun ternak yang 

ada mati, namun  dapat membunuh semua organisme pathogen yang 

ada dengan baik. Tabel 3. memperlihatkan rekomendasi fumigasi 

untuk berbagai keperluan, berkaitan dengan pertumbuhan embrio, 

maupun kondisi ruang fumigasi, sehingga fumigasi akan effektif. 

Artinya fumigasi akan membunuh semua mikroorganisme namun  

tidak mengganggu kesehatan ternak unggasnya. 

 

Telur segera sesudah  diambil. 

Fumigasi dengan 3X dosis selama 20 menit akan 

membunuh 97,5 sampai 99,5% mikroorganisme pada kulit telur 

warna coklat dan 95 ampai 98,5 % untuk kulit telur warna putih, 

perbedaan antara kedua kulit telur ini disebabkan oleh sebab  telur 

coklat kulit luarnya lebih banyak menyerap gas. 

 

Telur segera sesudah  diambil. 

Fumigasi dengan 3X dosis selama 20 menit akan 

membunuh 97,5 sampai 99,5% mikroorganisme pada kulit telur 

warna coklat dan 95 ampai 98,5 % untuk kulit telur warna putih, 

perbedaan antara kedua kulit telur ini disebabkan oleh sebab  telur 

coklat kulit luarnya lebih banyak menyerap gas. 



Telur di dalam mesin  pengeram (diinkubator) 

Telur pada saat dimasukan kedalam inmesin tetas segera 

dilakukan fumigasi sebelum 36 jam didalam mesin. tujuan fumigasi 

disini untuk membunuh mikroorganisme yang masih ada sebelum 

embrio melai berkembang, agar tidak terganggu dengan 

perkembangan embrio, sebab  temperatur dan kelembaban mesin 

tetas sama (sangat sesuai) dengan kebutuhan embrio. 

 

Ayam didalam mesin penetas (Hatcher) 

Fumigasi ayam dilakukan sesudah  telur-telur tetas dipindah 

dari mesin pengeram (setter) ke mesin penetas (Hatcher). Fumigasi 

ini dimaksudkan untuk membunuh mikroorganisme yang ada, yang 

berasal dari telur yang tidak berkembang atau busuk. Sehingga 

tidak mempengaruhi menetasnya anak ayam. Juga ditambahkan 

formalin dengan m,enggunakan wadah, agar uap formaldehide 

enyebabkan bulu halus anak ayam mengembang dan berwarna 

kekuningan, dan bila  ada pusar ayam yang basah akan menjadi 

kering untuk mencegah ompalitis. 

 

Fumigasi Mesin Pengeram (Incubator). 

Telur dalam incubator difumigasi pada hari pertama telur 

masuk dan sesudah  96 jam pengeraman, hal untuk mengurangi 

kontaminasi mikroorganisme pada saat embrio berkembangan 

fumigasi sangat diperlukan. Operator hatchery melakukan fumigasi 

ini sebagai pekerjaan rutin pada incubator seminggu sekali. Gas 

Formaldehyde sangat beracun bagi embrio, terutama antara umur 

24 sampai 96 jam, dan selama anak ayam memcah kulit telur. 

Permulaan perkembangan embrio sangat kritis, untuk menjaga 

embrio fumigasi mingguan hanya segera sesudah  telur dimasukkan 

dalam incubator. Setting (pemasukan telur) yang beberapa kali, 

hanya pada saat telur didalam mesin selain 24 sampai 96 jam 

umurnya.  Telur difumigasi 2x dosis selama 20 menit. 

 

Mesin Penetas (Hatcher) sesudah  dicuci 

Hatcher setalah dicuci dsan mesin dihupkan maka tmperatur 

mulai setabil, meskipun kelembaban masih tingg, segara dilakukan 

fumigasi, agar gas formaldehyde menampel pada air dimesin 

sehingga akan m,e,atikan kuman yang ada didalam inkubator. 

 

Fumigasi ruang ayam. 

Fumigasi untuk ruang ayam sesudah  dicuci sangat 

dianjurkan. Pada saat terjadinya kasus omphalitis didalam hatchery, 

fumigasi sangat diperlukan untuk mengontrol penyakit ini. 

Formaldehyde pada fumigasi akan membunuh kuman yang ada 

diruang ini , sehingga apabikla dipakai utnuk menyusun bok 

anak ayam sudah aman. 

 


Fumigasi Mesin Tetas sesudah  Dicuci. 

sesudah  anak ayam diambil dari hatcher dan tempat telurnya 

dan  peralatannya dikeluarkan, maka mesin hatcher (penetas) 

dicuci dan segera dilakukan fumigasi dengan gas formaldehyde 

pada konsentrasi 3x dosis selama 30 menit.  

 

Fumigasi Ruang penyimpanan telur dan ruang cuci. 

Ruang penyimpanan telur sesudah  dicuci juga segera 

dilakukan fumigasi, agar bebas dari kuman. Sehingga bila  untuk 

menyimpan telur sudah aman. Demikian juga ruang untuk mencuci 

dan nampan telur (egg tray), sesudah  dicuci segera dilakukan 

fumigasi, sehingga sewaktu-waktu dipakai  sudah bebas hama. 

 

Fumigasi mobil. 

Sangat sulit untuk menaikkan temperatur dan kelembaban 

pada mobil pada saat di fumigasi, maka konsentrasi dari gas 

formaldehyde harus dinaikkan menjadi 5x dosis. Pertama mobil  

ayam harus dibersihkan. Disarankan membuat bangunan untuk 

dapat menutup rapat mobil ayam, sehingga fumigasi dapat 

sempurna didalamnya. Penetralan gas formaldehyde dengan 

Ammonium Hydroxide (NH4OH). Dalam kondisi tertentu hal ini 

dipakai  untuk menghentikan efek dari gas formaldehyde sesudah  

waktu fumigasi yang ditentukan selesai. Biasanya ditambah dengan 

membuka lobang pembuangan dan pintu ruangan dari areal yang 

difumigasi. Larutan 26 sampai 29 % dari ammonium biasanya yang 

dipakai . Dengan menyemprotkan kelantai dari areal yang 

difumigasi. Setiap 4 cc (0,14 oz) ammonium hydroxide untuk 

setiap gram pemakaian  paraformaldehyde gas. 

 

2.5. Vaksinasi 

Vaksinasi yaitu  memasukkan bibit penyakit tertentu yang 

telah dilemahkan atau dimatikan kedalam ternak dengan tujuan 

untuk agar ternak membentuk kekebalan secara aktif terhadap 

penyakit yang divaksinkan  (proses terbentuknya kekebalan lihat 

Bab. I). 

Adapun persyaratan vaksinasi antara lain :  

1. Vaksin yang dipakai harus berasal dari sumber yang dapat 

dipercaya (telah mendapat license) dan hasilnya baik. 

2. Manajemen penyimpanan vaksin harus baik misalnya harus 

disimpan pada suhu, kelembaban tertentu, tempat tertentu dll. 

3. Ikuti semua petunjuk cara pemakaian nya sesuai dengan 

brosur yang dibuat oleh pabriknya. 

4. Vaksin dari pabrik tertentu tidak boleh dicampur dengan 

pelarut dari pabrik lain, dan sebaliknya. 

5. Segera buanglah sisa vaksin bila  tidak habis dalam 5 jam, 

dengan jalan membakar atau menimbun campuran vaksin 

tresebut. 

6. Alat yang dipakai  harus steril namun  dalam sterilisasi tidak 

boleh menggunkan desinfektan (rinso, bromosept, iodine, 

chlorine dan lain-lain). 

7. pemakaian  vaksin tidak boleh melebihi dosis yang telah 

ditentukan. 

8. Pelaksanaan vaksin harus tepat, teliti dan cermat. Jangan ada 

vaksin yang tercecer ke lantai. 

9. Setiap melaksanakan vaksin harus dicatat, mengenai: Jenis 

vaksin, tanggal berlakunya, nomor seri, pabrik pembuat 

vaksin, dosis pemberiannya, tanggal vaksin, methode yang 

dipakai , flok yang divaksin, keadaan ternaknya dan  biaya 

perekornya. 

10. Berilah anti stress dan atau vitamin sesudah vaksinasi selama 3 

hari berturut-turut. 

11. Awasi dan kontrol keadaan ternak sesudah  divaksin, terutama 

vaksinasi invektius laringo Traechealis, NCD dan Coccidiosis. 

12. Lakukan test darahnya (darah) seminggu sesudah  vaksinasi, 

untuk mengetahui keberhasilan atau status kekebalan dari 

vaksin ini . (lihat Bab.1.) 

 

Program vaksinasi ini mutlak dilakukan dalam 

pemeliharaan ternak unggas, terutama untuk penyakit-penyakit 

virus khususnya New Castle Disease.  Jenis unggas juga 

mempengaruhi program vaksinasi, misalnya ayam petelur sebab  

waktu pemeliharaan yang lama, maka perlu berbagai macam 

vaksinasi. 

Khusus untuk breeder farm yang harus bebas dari penyakit 

tertentu seperti pullorum, Eggs drop syndrome, Infectius bursal 

disease, salmonelosis dan mycoplasma maka harus dilakukan 

vaksinasi, sebab  sifat dari penyakit ini  yang dapat menular 

secara vertical (seperti penyakit EDS, Pullorum dll ), maupun 

horizontal (seperti penyakit ND, AI, ILT) (lihat Bab.3). 

Tabel 6. Ditampilkan contoh program vaksinasi yang 

dilakukan oleh suatu perusahaan breeder farm, untuk program 

vaksinasi dalam satu periode pemeliharaan, vaksinasi untuk 

beberapa penyakit yang sangat menular dan merupakan endemik 

dilakukan secara berulang-ulang.  

Program vaksinasi ini yaitu  merupakan program 

pencegahan penyakit yang sangat efektif pada pemeliharaan 

unggas. sebab  pelaksanaan vaksin yang benar  memberi  

perlindungan dari dalam secara maksimum terhadap kesehatan 

unggas.  Hal ini dimaksudkan agar kekebalan terhadap penyakit 

ini  tetap tinggi, sehingga ternak mampu mengatasi infeksi dari 

bibit penyakit ini .   Bahkan khusus penyakit New Castle 

Disease (ND) selain dilakukan berulang-ulang juga dilakukan 

dobel vaksin, yaitu memakai  virus aktif dan inaktif secara 

bersamaan. 

Hal ini  dilakukan dengan tujuan agar kekebalan yang 

terbentuk dapat optimal. Hal ini dilakukan sebab  penyakit ND 

merupakan penyakit yang sudah menyebar luas dan selalu ada di 

dalam farm ternak unggas (merupakan endemic), yang sewaktu-

waktu dapat muncul menyerang unggas, dengan tingkat kematian 

yang tinggi. 

Pelaksanaan vaksin dapat melaui berbagai cara sesuai 

dengan jenis vaksin seperti pada Tabel 5. Ada vaksin melaui air 

minum, tetes mata, tusuk sayap, injeksi subcutan, injeksi didaging, 

semprot (airosol). Ilustrasi 3 adah contoh vaksinasi melaui sub-

kutan (bawah kulit). 

 

Ilustrasi 3. Vaksinasi sub-kutan, pelaksanaan yang Benar dan 

 Tenang Ayam Sehat ,

 

  

Ilustrasi 4. Vaksinasi Melalui suntik (Intra muscullar) 

   

Ilustrasi 5. Vaksinasi melaui mata dan mulut  (Intra oculer dan 

intra mouth). 

Vaksin virus yang ideal terbuat dari suatu virus yang tidak 

memicu  penyakit, namun  virus yang sangat tinggi 

imunogenesitasnya. Kombinasi ini agak jarang oleh sebab  itu 

virus-virus terpilih harus  memberi  reaksi yang kecil sekali dan 

memicu  kekebalan yang tinggi. Perusahaan vaksin 

memiliki kombinasi faktor-faktor yang terbaik terhadap virus 

yang ada sesuai dengan yang diharapkan. 

Tidak semua vaksin efektifitasnya sama. Beberapa vaksin 

 memberi  kekebalan yang baik namun  memicu  reaksi 

sesudah  diberikan yang lebih berbahaya dari penyakit itu sendiri. 

Vaksin yang lain, reaksinya tidak terlihat namun  tingkat 

perlindungannya sangat rendah. namun , kehebatan reaksi biasanya 

tidak berhubungan dengan tingkat kekebalan. Virus yang ideal 

untuk vaksin yaitu  yang tidak  memberi  reaksi dan memiliki 

kekebalan yang tinggi. Beberapa vaksin untuk infeksi bakteri 

tertentu biasanya kurang efektif dari pada kebanyakan vaksin virus, 

sebab  vaksin virus dapat merangsang bagian-bagian kunci dari 

sistem kekebalan dengan lebih baik. 

Vaksin bisa dalam bentuk hidup atau mati. Keduanya 

 memberi  reaksi. Vaksin hidup terdiri atas mikroorganisme 

hidup. Vaksin ini dapat diberikan pada umur lebih muda daripada 

vaksin mati, dan diberikan melalui injeksi, air minum, inhalasi, 

atau tetes mata. Kontaminasi vaksin harus dicegah sebab  dapat 

memicu  gangguan yang serius. 

Mikroagen yang ada  dalam vaksin hidup akan 

berkembang di dalam tubuh unggas, dan bila ada  infeksi 

sekunder pada saat itu, dapat terjadi reaksi yang hebat. Ketika 

memakai  vaksin hidup, peternak harus menyadari bahwa 

peternakannya mengandung agen penyakit yang berasal dari 

vaksin. 

Semua vaksin mati, yang pemberiannya harus disuntikkan, 

dapat juga memicu  reaksi yang berasal dari zat pembawanya. 

Reaksi yang paling umum yaitu  terjadinya pembentukan jendolan 

pada tempat penyuntikan (granuloma). 

Usia unggas pada saat vaksinasi terhadap penyakit tertentu 

dan kapan perlu diulang merupakan faktor penting yang 

mempengaruhi tingkat, kualitas dan lamanya kekebalan. Program-

program vaksinasi bervariasi pada ayam broiler, ayam petelur 

komersial, ayam bibit, ayam nenek, ayam kalkun, dan burung. 

Yang penting diingat yaitu  vaksinlah sesuai dengan keperluan. 

Sedangkan untuk ternak ruminansia kegiatan vaksinnya 

yaitu  di seuaikan dengan pola pemeliharaan, jika untuk breeding 

biasanya dilakukan satu tahun duakali, untuk penggemukan 

biasanya dilakukan sewaktu akan di beli atau baru datang di 

kandang. 

 

Biosekuriti 

Pengertian Biosecurity 

Menurut asal bahasanya biosekurity dari kata bio dan 

security, bio artinya hidup dan security artinya perlindungan atau 

pengamanan. Jadi kalau di gabungkan biosecurity yaitu  sejenis 

program yang dirancang untuk melindungi atau mengamankan 

suatu kehidupan dalam hal ini ternak. Dalam kegiatan budidaya 

biosecurity merupakan suatu kegiatan yang bertujuan untuk 

melindungi ternak dari bahaya serangan penyakit atau semua 

tindakan yang merupakan pertahanan pertama untuk pengendalian 

wabah dan dilakukan untuk mencegah semua kemungkinan 

kontak/penularan dengan peternakan tertular, dan mencegah 

penyebaran penyakit. arti yang sederhananya yaitu  membuat 

kuman atau agen penyakit jauh dari tubuh ternak dan atau 

melindungi ternak jauh dari kuman atau penyakit. Sehingga dengan 

demikian jika ternak yang dipelihara ingin sehat, maka penerapan 

biosekuriti menjadisebuah keharusan guna mencapai keuntungan 

yang lebih, disamping juga untuk mencegah 

terjadinya outbreak penyakit dalam sebuah wilayah. 

Biosekuriti merupakan garda terdepan dalam mengamankan 

ternak dari penyakit. Peternakan yang menerapkan program 

biosekuriti akan bisa menekan biaya kesehatan ternak menjadi 

lebih murah dibanding peternakan yang tidak menerapkan 

biosekuriti. sebab  penanganan penyakit jika sudah 

terjadi outbreak dalam sebuah peternakan tentu akan 

mengahabiskan banyak biaya. Program ini cukup murah dan efektif 

dalam mencegah dan mengendalikan penyakit. Bahkan tidak 

satupun program pencegahan penyakit dapat bekerja dengan baik 

tanpa ditambah program biosekurity. 

Biosekuriti yang baik yaitu  untuk membangun dan 

mengintegrasikan beberapa usaha perlindungan yang dapat 

menjaga ternak unggas supaya tetap sehat. Biosekuriti yang baik 

menghasilkan kematian yang lebih sedikit pada unggas, 

penghematan yang cukup besar dalam biaya produksi dan  

pendapatan yang lebih tinggi bagi penghasil unggas. 

 

Tujuan Biosecuriti 

Menurut Dirjen Peternakan (2005) tujuan dari biosekuriti 

yaitu  mencegah semua kemungkinan penularan dengan 

peternakan tertular dan penyebaran penyakit. Penerapan biosekuriti 

pada seluruh sektor peternakan, baik di industri perunggasan atau 

peternakan lainnya akan mengurangi risiko penyebaran 

mikroorganisme  pemicu  penyakit yang mengancam sektor 

ini . 

Meskipun demikian biosekuriti bukan satu – satunya upaya 

pencegahan terhadap serangan penyakit, akan namun  biosekuriti 

merupakan garis pertahanan pertama terhadap penyakit (Cardona, 

2005). Biosekuriti sangat penting untuk mengendalikan dan 

mencegah berbagai penyakit yang mematikan. Biosekuriti dapat 

digambarkan sebagai satu set program kerja dan prosedur yang 

akan mencegah atau membatasi hidup dan menyebarkanhamadan 

jasad renik berbahaya di berbagai tempat seperti peternakan tempat 

penampungan hewan dan rumah potong hewan. 

Sederhananya tujuan biosecurity yaitu  meminimalkan 

keberadaan  pemicu  penyakit, meminimalisir kesempatan agen 

penyakit berhubungan dengan induk semang, menekan tingkat 

kontaminasi lingkungan oleh agen penyakit. (Zainuddin dan 

Wibawan, 2007). 

Biosekuriti yaitu  semua usaha yang ditujukan untuk 

mencegah masuknya penyakit yang belum ada ke dalam suatu 

lingkungan peternakan, dan  mencegah tersebarnya penyakit yang 

sudah ada  di dalam peternakan (farm) dari satu kandang ke 

kandang lain. Praktik biosekuriti (biosecurity practices) yaitu  

semua tindakan untuk mencegah masuk dan menyebarnya agen 

penyakit ke populasi hewan rentan di suatu peternakan dan/atau 

daerah, misalnya penjaminan kebersihan kandang, peralatan, dan 

lingkungannya, dan  pemisahan hewan baru dari hewan lama dan 

hewan sakit dari hewan sehat. 

 

 

Ilustrasi 6. Usaha dalam Biosekuriti 

 

Sanitasi yaitu  usaha pencegahan penyakit dengan cara 

menghilangkan atau mengatur faktor-faktor lingkungan yang 

berkaitan dengan rantai perpindahan penyakit ini  (PP Nomor 

95 Tahun 2012 tentang Kesehatan Masyarakat Veteriner dan 

Kesejahteraan Hewan). 

 

Elemen dasar biosekuriti, Menurut Jeffrey (1997) dan 

(Segal 2008)., penerapan biosekuriti pada peternakan 

petelur dibagi menjadi tiga bagian utama yaitu sebagai 

berikut 

 

1) Isolasi 

Isolasi bertujuan untuk menjaga agar ternak dipelihara di 

dalam suatu lingkungan yang terkendali. Bentuk pengendalian 

lingkungan pemeliharaan itu antara lain pemilihan lokasi 

peternakan yang tidak berdekatan dengan pemukiman, adanya 

pagar yang membatasi lingkungan peternakan untuk mencegah 

keluar dan/atau masuknya hewan lain ke dalam lingkungan 

peternakan, dan  memisahkan kandang ternak berdasarkan 

kelompok umur. 

 

2) Pembersihan dan Desinfeksi 

Pembersihan dan desinfeksi dilakukan terhadap kandang, 

peralatan, dan sarana/prasarana peternakan lainnya yang 

dimasukkan ke dalam peternakan, dan  termasuk orang yang 

memasuki lingkungan peternakan. Selain itu, higiene personal 

pekerja di peternakan juga harus diperhatikan. Faktor lain yang 

harus diperhatikan yaitu  pemusnahan hewan yang mati atau sakit 

dan dan  kotoran. Hewan yang sakit atau mati dan kotoran 

merupakan media yang baik bagi agen penyakit sekaligus dapat 

menyebar dan mencemari lingkungan. Semua ini untuk mencegah  

masuk dan keluarnya agen penyakit ke lingkungan. 

 

3) Pengendalian Lalu Lintas 

Pengendalian lalu lintas bertujuan untuk membatasi akses 

orang yang tidak berkepentingan masuk ke lingkungan peternakan, 

dan  lalu lintas pekerja antarperbagai bagian di dalam lingkungan 

peternakan. Hal ini penting untuk membatasi atau menghambat 

terjadinya  penyebaran agen penyakit sebab  lalu lintas. Hal lain 

yang harus diperhatikan yaitu  pengendalian hama (tikus, 

anjing/kucing liar, serangga (kecoa, lalat, dan lain-lain)) yang dapat 

berperan sebagai pembawa agen penyakit ke dalam lingkungan 

peternakan. Perlu dilakukan upaya pengendalian hewan-hewan ini 

secara bijaksana dan mengikuti prinsip kesejahteraan hewan. 

Biosekuriti merupakan konsep integral yang mempengaruhi 

suksesnya system produksi ternak khususnya dalam mengurangi 

resiko dan konsekuensi masuknya penyakit menular dan tidak 

menular. Jika kegiatan biosekuriti dilaksanakan secara baik dan 

benar maka produktivuitas ternak, efisiensi ekonomi dan produksi 

akan tercapai. Sebagai bagian dari sistem manajemen maka 

biosekuriti sangat penting khususnya untuk mencegah penyakit. 

Seacra garis besar biosecurity terbagi menjadi 3 tingkatan yaitu : 

yang pertama yaitu  biosecurity konseptual, kemudian yang ke dua 

bioseuriti strukutural dan yang ketiga adal biosecurity operasional. 

Adapun komponen biosekuriti meliputi : isolasi, sanitasi, fumigasi, 

desinfeksi, vaksinasi, kontrol hewan liar dan lain-lain. 

Biosekuriti yang baik yaitu  mencakup semua operasi 

dilakukan oleh peternak mulai dari breeding stoc sampai menjadi 

produk yang siap dipakai . Prosedur untuk mencegah introduksi 

dan penyebaran penyakit atau kontaminasi harus diletakkan di 

tempat untuk produksi pakan, operasional peternakan, penetasan, 

pemeliharaan umum dan pegawai. 

Manajemen kesehatan ternak dapat diartikan sebagai proses 

perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan dan engendalian 

faktor-faktor produksi melalui optimalisasi sumberdaya yang 

dimilikinya agar produktivitas ternak dapat dimaksimalkan, 

Kesehatan ternak dapat dioptimalkan dan kesehatan produk 

hasil ternak memiliki kualitas kesehatan sesuai dengan standar 

yang diinginkan. Manajemen kesehatan ternak harus melalui suatu 

proses yaitu suatu cara yang sistematis untuk menjalankan suatu 

pekerjaan. Untuk suatu kegiatan-kegiatan tertentu proses-proses 

kegiatan harus berdasarkan prinsip-prinsip efisiensi produksi dan 

ekonomis dan  pemakaian  semua sarana dan prasarana secara 

efektif dengan kaidah-kaidah yang lazim berlaku dalam kesehatan 

dan kesejahteraan ternak. Untuk mencapai tujuan yang diinginkan 

ini  di atas diperlukan sifat interaktif dari proses manajemen. 

Banyak sekali jenis pangan yang diperdagangkan kurang 

memenuhi syarat minimum kesehatan, misalnya sebab  tercemar 

mikroorganisme, pemakaian  bahan tambahan pangan dan bahan 

kimia non pangan. Kendala utama kenapa pelaku tata niaga kita 

belum dapat mengadopsi teknologi dalam sistem keamanan pangan 

yaitu  belum dikembangkan dan dipahaminya “manajemen risiko” 

dalam sistem keamanan pangan oleh kalangan usahawan kita. 

Untuk meningkatkan kinerja manajemen resiko memerlukan skill 

(keterampilan), pendidikan dan pelatihan dan  komitmen yang kuat 

akan produk yang dihasilkannya. 

Manajemen risiko tidak harus dilakukan oleh industri 

peternakan atau usaha peternakan yang besar-besar saja. 

Pengalaman empiris menunjukkan bahwa aplikasi manajemen 

resiko yang dilakukan oleh perusahaan kecil mampu meningkatkan 

pendapatan sebab  pada umumnya konsumen sangat komitmen 

terhadap produk yang sehat. Keamanan pangan secara umum, 

merupakan hal yang kompleks dan sekaligus merupakan dampak 

dari interaksi antara toksisitas mikrobiologik, kimiawi, status gizi 

dan ketenteraman batin. Untuk pemenuhan bahan pangan hewani 

asal ternak khususnya daging disamping pemenuhan secara 

kuantitatif diperlukan juga pemenuhan syarat-syarat kualitatif 

(aspek nilai gizi), syarat-syarat higiene (aspek kesehatan), syarat-

syarat dan keadaan yang menjamin ketenteraman bathin 

masyarakat yang memakai  (aspek kehalalan). 

Manajemen kesehatan ternak tidak dapat dipisahkan dengan 

masalah biosekuriti. Keduanya merupakan bagian integral dari 

sistem keamanan pangan produk peternakan. Biosekuriti 

merupakan konsep integral yang mempengaruhi suksesnya system 

produksi ternak khususnya dalam mengurangi resiko dan 

konsekuensi masuknya penyakit menular dan tidak menular. Jika 

kegiatan biosekuriti dilaksanakan secara baik dan benar maka 

produktivuitas ternak, efisiensi ekonomi dan produksi akan 

tercapai. Sebagai bagian dari sistem manajemen maka biosekuriti 

sangat penting khususnya untuk mencegah penyakit. Semua 

komponen biosekuriti, system yang diterapkan (vaksinasi, 

pengobatan, kontrol hewan liar dan lain-lainnya) dan sarana dan  

prasarana yang ada memiliki arti tinggi terhadap keberhasilan 

program sekuriti. 

 

 Program Biosecurity 

Program biosekuriti yaitu  program yang berupaya untuk 

membebaskan dan mengendalikan pengakit-penyakit tertentu, dan  

 memberi  kondisi lingkungan yang layak bagi kehidupan ternak. 

Bagi industri peternakan hal ini sangat diperlukan mengingat 

ancaman berbagai macam penyakit baik yang menular maupun 

tidak menular. Oleh sebab  itu perhatian yang serius sangat 

diperlukan dalam pelaksanaannya, dan juga perlakuan terhadap 

ternak yang mati, kehadiran lalat, dan bau yang kerap kali 

memicu  gangguan bagi penduduk sekitarnya. 

Pintu gerbang suatu peternakan yaitu  tempat pertama bagi 

orang yang mau masuk ke areal atau komplek peternakan dan 

merupakan titik awal keberhasilan suatu peternakan terbebas dari 

wabah atau serangan penyakit, mengkondisikan setiap orang 

maupun kendaraan tidak sembarangan keluar masuk Farm, dan 

pintu selalu dijaga ketat oleh petugas. Pada breeding farm dan 

hatchery selalu dalam keadaan terkunci. Tidak setiap kendaraan 

atau orang bisa masuk ke kawasan farm demi terlaksananya 

program pencegahan penyakit. Sebelum masuk ke area breeding 

farm (di depan pos keamanan), setiap kendaraan dan 

pengunjung/staf/karyawan harus melewati area penyemprotan 

dengan desinfektan. Sebelum masuk ke area hatchery, setiap 

karyawan/staf/pengunjung diwajibkan mengganti pakaian dan 

disemprot dengan desinfektan. Desinfektan yang dipakai  yaitu  

BKC atau long life dengan dosis ringan yaitu 1cc/liter air. Tujuan 

pemakaian  desinfektan ini yaitu  untuk membunuh 

mikroorganisme patogen yang mungkin terbawa oleh kendaraan, 

karyawan/staf/pengunjung. Biosekuriti yang dilakukan meliputi 

penyemprotan kendaraan, karyawan/staf/pengunjung dengan 

desinfektan long life dengan dosis 1 cc/liter air di depan pos jaga 

keamanan. Berikutnya dilakukan penyemprotan terhadap 

karyawan/staf/pengunjung yang akan masuk ke area perkantoran 

yaitu di sebelah kantor feed mill dengan desifektan long life dengan 

dosis 1cc/liter air. Kemudian, sebelum masuk ke area kandang 

yaitu di sebelah kantor departemen produksi, setiap karyawan/staf/ 

pengunjung disarankan untuk mengganti pakaian rumah dengan 

pakaian kerja/pakaian yang bersih sebelum disemprot lagi dengan 

desinfektan long life dengan dosis 1cc/liter air. Selain aitu, di 

sebagian kandang disediakan untuk mencelup kaki (dipping foot) 

dan tangan (dipping hand) sebelum masuk ke dalam kandang dan 

menangani ternak. Desinfektan yang dipakai  untuk mencelup 

kaki dan tangan yaitu  long life dengan dosis 1cc/liter air. 

Biosekuriti yang sama dilakukan juga . 

Program biosekuriti meliputi pengendalian pergerakan 

hewan, peralatan, orang – orang dan sarana pengangkutan dari luar 

dan ke farm yang satu ke farm yang lain. Pemisahan jenis unggas, 

burung liar, binatang pengerat dan binatang yang diasingkan secara 

geografis untuk memperkecil penyebaran penyakit. Vaksinasi 

untuk meningkatkan sistem imunitas. Pemeriksaan prosedur untuk 

mengurangi infeksi /peradangan jasad renik berbahaya dan 

pengobatan untuk mencegah atau perlakuan hasil bakteri atau 

protozoa penyakit. Pengendalian serangga yang dapat 

memicu  penyakit. Penerapan disinfeksi dan prosedur yang 

higienis untuk mengurangi tingkat infeksi membasmi 

mikroorganisme berbahaya dan pengobatan untuk mencegah dan 

mengobati penyakit bakteri dan protozoa .

Sejalan dengan peraturan Departemen RI (2008) bahwa 

penerapan biosekuriti pada peternakan dapat dilakukan dengan 

cara: 

a) lokasi peternakan berpagar dengan satu pintu masuk rumah 

tempat tinggal, kandang unggas dan  kandang hewan lainnya 

ditata pada lokasi terpisah 

b) pembatasan secara ketat terhadap keluar masuk material 

(hewan/unggas, produk unggas, pakan, kotoran unggas, alas 

kandang, litter, rak telur) yang dapat membawa agen penyakit 

c) pembatasan secara ketat keluar masuk orang/tamu/pekerja dan 

kendaraan dari atau ke lokasi peternakan setiap orang yang 

masuk atau keluar peternakan harus mencuci tangan dengan 

sabun atau desinfektan 

d) mencegah keluar masuknya tikus (rodensia), serangga atau 

unggas lain seperti burung liar yang dapat berperan sebagai 

vektor penyakit ke lokasi peternakan 

e) unggas dipisahkan berdasarkan spesiesnya 

f) kandang, tempat pakan/minum, sisa alas kandang/litter dan 

kotoran kandang dibersihkan secar teratur tidak membawa 

unggas sakit atau bangkai unggas keluar dari area peternakan 

unggas yang mati harus dibakar atau dikubur 

g) kotoran unggas diolah terlebih dahulu sebelum keluar dari area 

peternakan 

h) air kotor hasil sisa pencucian langsung dialirkan keluar 

kandang secara terpisah melalui saluran limbah ke tempat 

penampungan limbah (septik tank) sehingga tidak tergenang di 

sekitar kandang atau jalan masuk kandang. 

 

Aspek lain dari biosekuritas yaitu  mencegah penyakit 

melalui vaksinasi. Antibiotika dipakai  untuk memberantas 

infeksi bakteri. sebab  tidak ada obat yang dapat melawan infeksi 

virus, maka vaksinasi sebelum infeksi terjadi di dalam kelompok 

ternak menjadi pilihan utama untuk melindungi ternak yang 

dipelihara. 

 

Tingkatan Biosekuriti 

a) Biosekuriti konseptual 

Biosekuriti konseptual yang merupakan dasar atau basis 

dari seluruh program pengendalian penyakit. Beberapa hal yang 

harus dikelola antara lain pemilihan lokasi peternakan khususnya 

kandang, pengaturan jenis dan umur ternak.  

Biosekuriti konseptual yaitu  semua tindakan yang 

merupakan pertahanan pertama untuk pengendalian wabah dan 

dilakukan untuk mencegah semua kemungkinan kontak/penularan 

dengan peternakan tertular,dan mencegah penyebaran penyakit. 

Salah satu untuk mencegah penyebaran penyakit di peternakan 

yaitu  dengan penentuan lokasi yang tepat. Dengan didasari 

penentuan lokasi kandang yang tepat maka sangat memungkikan 

akan mendukung sukesnya biosecirity selanjutnya. Lokasi kandang 

yang baik berdasarkan tingkat keamanan secara biosecrity yaitu  

jauh dari perumahan penduduk atau tempat-tempat umum sperti 

pasar, sekolah, puskesmas, terminal dll. Di dalam ilmu 

epidemiologi ( ilmu yang mempelajari sebaran penyakit), dikenal 

istilah segitiga epidemiologi, yang meliputi inang (host), 

lingkungan, dan agen penyakit. Keseimbangan tiga hal ini  

harus dijaga, salah satu caranya dengan biosekuriti. Tindakan awal 

biosecuriti yaitu  biosecuirti konseptual yang merupakan pondasi 

dari keberhasilan bisecuriti selanjutnya. 

Biosecuriti konseptual merupakan dasar atau basis dari 

seluruh program pengendalian penyakit. Biosecuriti konseptual 

meliputi aspek pemilihan lokasi usaha peternakan di suatu daerah 

yang bertujuan untuk memisahkan jenis atau umur unggas yang 

sama, sehingga akan menghindari kontak langsung hewan yang 

kita pelihara dengan hewan liar/hewan lain. Salah satu cara untuk 

menghindari kontak langsung ternak yang kita pelihara kususnya 

unggas dengan ternak milik lingkungan sekitar maka pemlihan 

lokasi perlu di pertimbangkan dengan baik. Beda dengan pemilihan 

lokasi kandang untuk ternak ruminansia dengan populasi yang 

tidak terlalu banyak tidak serumit lokasi kandang unggas sebab  

pada dasarnya perlakuan biosecuirti pada ternak ruminansia tidak 

seketat ternak unggas. Pemlihan lokasi kandang untuk ruminansia 

biasanya hanya untuk menghidari polusi udara saja tidak ada 

hubungannya dengan kontak atau tidaknya ternak yang kita 

pelihara dengan ternak milik lingkungan sekitar. 

Secara umum penyebaran penyakit ternak unggas lebih 

cepat dari pada ternak ruminansia. Hal ini disebabkan kareir 

penyakit ternak unggas lebih banyak dan kebanyakan melibatkan 

hewan liar seperti burung yang susah di tangkap kemudian terbang 

kemana secara tidak langsung itu mempercepat penyebaran 

penyakit. Selain itu adanya ayam kampung yang dipelihara bebas 

berkeliaran diamana mana dan tanpa di vaksin. Sedangkan untuk 

ternak ruminansia yang menjadi karier jauh lebih sedikit sehingga 

penyebarannya cenderung labih lambat. Bahkan untuk lokasi 

kandang burung puyuh membutuhkan tempat yang lebih spesifik 

yaitu lokasi yang jauh dari keramaian atau kegaduhan dan lalu 

lalang orang. 

Akan lebih baik lagi jika lokasi kandang unggas dekat 

dengan penetasan dan rumah potong ayam hal ini akan sangat 

mengurangi bahaya penularan penyakit yang berhubungan dengan 

jarak. Lokasi sebaiknya jauh dari danau atau saluran air dan juga 

perlintasan migrasi burung-burung liar. Dalam pemilihannya kita 

juga harus memikirkan implikasi pemeliharaan hewan yang 

umurnya tidak sama. Ini untuk menghindari rolling infection dari 

hewan tua ke hewan muda atau sebaliknya. 

 

b) Biosekuriti struktural,  

Biosekuriti struktural yaitu hal-hal yang berhubungan 

dengan tata letak peternakan, pemisahan batas-batas unit 

peternakan, pengaturan saluran limbah peternakan, perangkat 

sanitasi dan dekontaminasi, instalasi tempat penyimpanan pakan 

dan gudang, dan  peralatan kandang dan Pemahaman terhadap 

mekanisme penularan penyakit pada peternakan merupakan 

langkah awal di dalam upaya pelaksanaan program biosekuriti. 

Keberhasilan program biosekuritas juga harus didukung oleh dana 

dan komitmen yang konsisten bagi pemilik maupun karyawan, 

dan  monitoring yang ketat, terjadwal dan berkelanjutan. 

Biosekuriti tidak hanya pembersihan dan desinfeksi 

lingkungan peternakan, tapi ada 3 (tiga) pondasi utama yang 

menjadi penopang keberhasilan biosekuriti, yaitu : isolasi, traffic 

control (pengawasan lalu lintas) dan sanitasi . Tanpa adanya ketiga 

hal ini , penerapan biosekuriti dalam peternakan tidak akan 

berjalan optimal sesuai dengan tujuan. 

Dalam dunia peternakan biosekuriti merupakan konsep 

integral yang mempengaruhi suksesnya system produksi ternak 

khususnya dalam rangka mengurangi resiko sebab  masuknya 

penyakit menular maupun tidak menular. bila  biosekuriti 

dilaksanakan secara baik, benar dan disiplin maka target 

produktivuitas ternak dan efisiensi ekonomi akan tercapai sebab  

kesehatan ternak yang terjaga. Oleh sebab  itu sebagai bagian dari 

sistem manajemen peternakan biosekuriti yaitu  sangat penting. 

Biosecurity strutural merupakan perlindungan ternak yang 

di pelihara dengan cara mengatur tata letak peternakan. Beberapa 

hal yang perlu dilakuakan di antaranya yaitu  : 

  Pemagaran kawasan peternakan dengan tujuan meminimalkan 

orang umum atau hewan liar masuk ke areal peternakan. 

  Pintu masuk keareal kandang ushakan satu pintu saja, hal ini 

bertujuan untuk meminimalisir masuknya hewan lain dan 

berpindahnya/melintasnya operator ke kandang lain. 

  Ketersediaan air bersih dan bebas agen patogen, dan adanya 

treatment terhadap air yang akan dikonsumsi (dengan klorin, 

peroksida atau lainnya) 

  Adanya fasilitas pelayanan perusahaan yang memadai seperti 

kantor, gudang (pakan, obat, dan peralatan), kamar ganti 

pakaian dan kamar mandi. 

  Adanya suplai air dan listrik yang cukup dan tempat yang 

representatif untuk desinfeksi kendaraan yang keluar masuk 

lokasi farm. (adanya car dip dan sprayer di pintu gerbang 

masuk farm). 

  Adanya jalan yang baik, aman dan dipagari untuk 

memudahkan pembersihan dan pencegahan penyebaran 

penyakit. 

  Adanya tempat khusus untuk pemusnahan bangkai (disposal 

pit). Lokasi yang aman untuk tempat pakan, peralatan, litter di 

tempat 

 

c) Biosekuriti operasional 

Biosekuriti operasional, merupakan implementasi prosedur 

manajemen untuk pengendalian penyakit di perusahaan terutama 

bagaimana mengatasi suatu infeksi panyakit menular. Aspek-aspek 

yang sangat perlu diperhatikan dan menjadi tujuan pelaksanaan 

program biosekuriti yaitu : 

- tidak adanya penyakit tertentu di dalam farm, 

- adanya jaminan resiko bagi konsumen terhadap produk yang 

dihasilkan, 

- adanya jaminan keamanan dalam lingkupan hidup dan 

sustainability usaha, dan jaminan terhadap tiadanya resiko 

penyakit zoonosis khususnya bagi karyawan. 

 

Dari ketiga tingkatan level ini yang paling fleksibel dan bisa 

diubah sewaktu-waktu disesuaikan dengan kondisi pada saat itu. 

Pada tingkatan ini harus ada petunjuk operasional yang jelas 

tentang: 

- Prosedur rutin yang harus dilakukan dan ditambah perencanaan 

jika ada hal-hal tak terduga seperti wabah penyakit, dan lain-

lain dan disiapkan untuk setiap jenjang manajemen dari 

manajer, supervisor, operator dan tamu. 

- Prosedur standar harus diarahkan untuk pelaksnaan 

dekontaminasi, desinfeksi sesudah  kandang kosong; juga 

penyimpanan, pencampuran dan aplikasi pemberian vaksin 

dengan berbagai cara pemberian yang berbeda. 

- Prosedur khusus yang diterapkan pada saat memasuki dan 

meninggalkan farm untuk setiap karyawan dan tamu. 

- Pengawasan yang ketat diperlukan untuk mencegah kontak 

dengan hewan lain (unggas eksotik, ayam kampung) untuk 

farm ayam. 

Dengan menerapkan 3 tingkatan biosecurity ini  secara 

baik dan benar diharapkan akan mencegah dan meinimalisir 

masuknya agen patogen dan penyebaran penyakit dari luar lokasi 

usaha ke ternak kita. 

 

Bagaimana agen pengakit masuk ke peternakan ? 

Berbagai macam cara agen penyakit bisa masuk ke dalam 

lingkungan peternakan diantaranya yaitu  sebagai berikut: 

  Terbawa masuk ketika bibit ternak datang 

  Masuknya ternak sehat yang baru sembuh dari penyakit namun  

sekarang berperan sebagai pembawa (carrier), 

  Masuknya hewan dari luar flok (transmisi horizontal) melalui 

telur-telur dari flok-flok pembibit yang terinfeksi. Contoh agen 

penyakit yang ditularkan dari induk ke anak ayam yaitu  virus 

Egg Drop Syndrome dan virus Leukosis, bakteri Samonella 

pullorum, S. enteritidis, dan Mycoplasma dan  Aspergillus. 

  Terbawa masuk melalui kaki (sepatu), tangan dan pakaian 

pengunjung atau karyawan yang bergerak dari flok ke flok, 

misalnya berbagai penyakit virus dan bakteri (Salmonella, 

Campylobacter) 

  Terbawa melalui debu, bulu-bulu atau sayap, dan kotoran 

(manure) pada peralatan dan sarana lain seperti truk, kandang 

ayam, tempat telur dll. 

  Terbawa oleh burung-burung liar, predator (kumbang), 

rodensia (tikus), lalat, caplak, tungau dan serangga lain. 

Burung liar merupakan reservoar bagi penyakit ND, IB, 

Psitakosis, influensa unggas dan Pasteurella Kumbang 

merupakan reservoar sejumlah besar infeksi termasuk penyakit 

Marek, Gumboro, salmonellosis, pasteurellosis dan 

koksidiosis. Rodensia dapat menyebarkan berbagai ragam 

penyakit termasuk pasteurellosis dan salmonellosis. Lalat 

dapat menularkan berbagai bakteri  pemicu  penyakit 

pencernaan ayam dan virus cacar ayam (fowl pox). 

Caplak Argas dapat menjadi vektor pembawa spirokhetosis. 

Tungau Ornitonyssus bursa dapat memicu  gangguan 

produksi ayam dan kegatalan bagi karyawan, 

sedangkan Culicoides (agas atau mrutu) dapat menjadi vektor 

leucocytozoonosis yang cukup merugikan. 

  Terbawa melalui makanan yang tercemar mikroorganisme di 

pabriknya. Kontaminasi bahan baku pakan atau pakan jadi 

dengan beberapa jenis patogen seperti Salmonella spp atau 

IBD/Gumboro dan paramyxo virus, Egg Drop Syndrom, 

Aflatoksin dapat menginfeksi kawanan unggas yang peka 

terhadap penyakit ini. 

  Menular lewat air seperti berbagai jenis bakteri (Salmonella, 

Escherichia coli) dan fungi (Aspergillus) 

  Menular lewat udara seperti virus velogenik ND dan ILT. 

  Tertular melalui vaksin hidup atau kontaminasi vaksin. 

 

Vaksin unggas terkontaminasi yang dibuat pada telur yang 

diperoleh dari peternakan yang tidak bebas patogen spesifik (non-

SPF) dapat mengandung patogen antara lain adenovirus, reovirus, 

atau agen lain yang bertanggung jawab terhadap anemia dan 

retikuloendoteliosis. Patogen juga dapat ditularkan diantara ternak 

akibat peralatan vaksinasi yang dipakai  dalam pemberian vaksin 

atau petugas yang terkontaminasi. 

Banyak mikroorganisme patogen yang akan menetap di luar 

tubuh inang ayam seperti Coccidia (berbagai jenis Eimeria), 

Salmonella, Histomonas, Aspergilus dan berbagai jenis virus dapat 

tahan dalam waktu yang cukup lama, terutama