penyakit unggas 1
Pencegahan penyakit dalam budaya dan industri peternakan
unggas merupakan suatu keharusan, sebab bagaimanapun baiknya
manajemen pemeliharaan, kalau ternak unggasnya sakit maka
keuntungan yang sudah didepan mata akan menghilang, bahkan
menjadi menderita kerugian. Sehingga dalam budidaya dan industri
peternakan unggas pencegahan penyakit menjadi faktor utama dan
pertama yang harus dilakukan.
Pencegahan (preventif) akan lebih mudah, murah dan baik,
dibandingkan dengan pengobatan (kuratif), sebab unggas yang
sudah terserang penyakit produksinya tidak akan sama dengan
unggas yang sehat, bahkan akan rendah sekali, walaupun sakitnya
sudah dapat sembuh namun untuk kembali ke produksi normal
sangat sulit dilakukan. Sehingga penekanan pembahasan pada artikel
ini yaitu bagaimana unggas dapat hidup sehat dan berproduksi
optimal melaui pencegahan penyakit.
artikel ini diawali dengan system kekebalan pada ternak
unggas, sebab pembentukan kekebalan (immunity) pada unggas
merupakan suatu usaha untuk menaggulangi penyakit dari dan oleh
unggas itu sendiri, disamping itu ada beberapa penyakit (virus)
yang belum ada obatnya yang hanya dapat dicegah melalui
pembentukan kekebalan dalam tubuh unggas sendiri, yang
merupakan satu-satunya cara agar unggas tetap sehat.
artikel ini juga membahas secara detail tatacara pencegahan
penyakit, dan penyakit-penyakit penting yang sering menyerang
unggas. artikel ini juga dilengkapi dengan beberapa gambar dan
tabel hasil penelitian berkaitan dengan penyakit, untuk lebih
memudahkan pembaca untuk memahami isi artikel melalui gambar-
gambar dan table-tabel yang ada dan dapat menerapkan secara baik
dan benar tata-cara pencegahan penyakit pada ternak unggas.
Beberapa penyakit endemik seperti New castle disease (NCD) dan
avian influenza (AI) dibahas lebih mendetail untuk memberi
pemahaman bagaimana seharusnya menyikapi kedua penyakit yang
sangat merugikan dunia perunggasan.
Arti Kekebalan Pada Unggas
Kekebalan sering juga disebut Immunitas yaitu suatu
kemampuan untuk mempertahankan diri, menahan, mencegah dan
atau menanggulangi agen – agen perusak yang dapat memicu
sakit (yang merugikan).
Unggas seperti halnya mahluk hidup lainnya juga
memiliki sistem kekebalan yang dilakukan oleh sel-sel khusus
dan produk-produknya. Diantara sel – sel yang memegang
peranana penting baik secara langsung maupun tidak langsung
dalam proses kekebalan yaitu sel-sel lymphocyt, dan produk –
produknya atau sel-sel lain yang diturunkan (dibentuk) olehnya.
Kekebalan pada unggas ada dua macam, yaitu yang disebut dengan
antibodi (antibody) dan imunitas sel (sel immunity).
Organ Pembentuk Kekebalan
Organ pembentuk kekebalan pada unggas ada 4 (empat),
yaitu Bursa Fabrisius (B-cell), Kelenjar Thymus (T-cell), GALT
(Gat-associated-lymphoid-tissue) dan Jaringan Lymphoid (sumsum
tulang belakang, limpa, kelenjar Harderian, ceacal tonsil).
Bursa Fabrisius letaknya ada pada pangkal ekor, tepatnya
ada diatas kloaka dari unggas, sedang kelenjar thymus letaknya
memanjang pada bagian depan samping leher unggas. (Gambar 1.)
Kedua organ penting pembentuk kekebalan pada unggas ini
akan dapat berfungsi bila sel pembentuk kekebalan (lymphocyt)
masuk kedalamnya. Lymphocyt dibagi menjadi dua menurut fungsi
dan tipe kekebalan yang ditimbulkannya, atau berdasarkan pada
organ pembentuk kekebalan yang dimasukinya, yaitu:
Bursa Fabrisius (bursa dependen)
Merupakan organ tempat menghasilkan sel-sel yang disebut
dengan B-lymphocyt. Bursa fabrisius ada pada unggas yang sehat
dan masih muda berumur 1 hari sampai 16 minggu. Bentuk dari
Bursa Fabrisius yaitu bulat berwarna putih sedikit mengkilap
seperti buah cermai. sesudah itu bursa akan rudimenter, sesuai
dengan berakhirnya tugas sebagai agen pembentuk kekebalan yang
juga berakhir.
Bursa Fabrisius juga dapat rusak sebab adanya penyakit
yang meneyerang disebut dengan Infectius bursal disease (IBD)
atau disebut Gumboro.
Ilustrasi 1. Organ Pembentuk Kekebalan Unggas.
Modifikasi dari Ayam dan Telur (Mahfudz, 1989)
Akibat penyakit IBD pada unggas masih muda, bursanya
rusak, maka unggas tidak akan dapat membentuk kekebalan dengan
sempurna. Vaksinasi hanya akan efektif bila bursa fabrisiuis
masih sehat (baik) dan dapat memproduksi B-lymphocyt.
1.2.2. Thymus (thymus dependen)
Merupakan organ tempat menghasilkan sel-sel yang disebut
dengan T-lymphocyt. Thymus tidak sama dengan bursa, sebab
thymus masih ada walau unggas sudah dewasa. sebab disamping
sebagai organ pembentuk kekebalan, thymus juga menghasilkan
kelenjar thyroid, sebagai kelenjar pertumbuhan pada unggas.
Namun thymus juga dapat rusak sebab suatu infeksi penyakit atau
sebab kekarangan zat gizi (iodium).
Pada saat unggas pada awal kehidupannya atau masih
muda, akan memproduksi sel-sel lymphocyt muda atau belum
matang, sel-sel ini menerima intruksi dasar mengingat tugasnya
dimasa mendatang (nantinya) melalui 2 organ lymphoid yaitu
Bursa Fabricus dan Thymus.
Sel lymphocyt yang baru dibentuk pada waktu hewan masih
muda, proses pendewasaannya menembus masuk ke bursa fabricus
maupun thymus.
Bursa
a. Thymus b. Bursa fabrisius
Ilustrasi 2. (a) Thymus (Sumber: Herlina Pratiwi, 2011) dan
(b) Bursa Fabrisius (Sumber : Mahfudz, 1989)
Sel lymphocyt yang baru dibentuk (masih muda) dalam
proses pendewasaannya menembus masuk ke bursa fabricus
6
maupun thymus. Sel lymphocyt yang masuk kedalam bursa
fabricus dan keluar dari bursa fabricius disebut dengan sel B-
lymphocyt, sedangkan yang masuk kedalam thymus dan keluar dari
thymus disebut dengan sel T-lymphocyt.
Pada saat lymphocyt – lymphocyt menembus masuk
kedalam bursa maupun thymus melalui lingkungan mikro kimia
yang ada pada bursa maupun thymus. Secara kimiawi (bio-kimia)
sel-sel ini bereaksi dan menjadi dewasa, yang nantinya berperan
aktif dalam memproduksi kekebalan. Sel B-lymphocyt
menghasilkan antibody, sedangkan sel-T-lymphocyt menghasilkan
immunitas seluler. Thymus masih ada walau unggas sudah dewasa,
namun efektifitasnya juga menurun, sehingga vakninasi pada unggas
dewasa tidak sebaik unggas yang masih muda.
B-lymphocyt dan T-lymphocyt sesudah menjadi dewasa
migrasi keseluruh tubuh, termasuk aliran darah, terutama limpa,
secaltonsil, dan lymphoid pathces lainnya, dan akan berfungsi
sebagai pertahanan. Organ-oragan pembentuk kekebalan dari
seekor unggas dan bagian-bagian yang merupakan tempat migrasi
dari sel B-lymphocyt dan sel T-lymphocyt.
Bursa fabricus dan thymus menyelenggarakan pemrosesan,
pembentukan, dan pendewasaan dan penyebaran lymphocyte-
lymphocyt pada awal kehidupan unggas. Pada saat B-lymphocyt
dan T-lymphocyt bermigrasi keseleuruh jaringan, membelah diri
dan menghasilkan lymphocyt-lymphocyt sejenis, yang pada proses
pendewasaanya tidak memerlukan lagi bursa dan thymus.
Sehingga bila unggas diberi waksin pada saat dia masih
muda dan proses vaksinasinya berhasil, maka tubuh unggas mampu
mereproduksi kekebalan. Sebaliknya bila pada masa permulaan
kehidupannya bursa atau thymusnya rusak, misalnya sebab
terserang penyakit infectius bursal disease (gumboro) atau sebab
lain, maka akan berakibat terjadinya penekanan (supresi) kekebalan
yang disebut dengan immunosuppression. Unggas yang sudah
mengalami immonusuppression sulit untuk membentuk kekebalan,
sebab organ pembentuk kekebalannya sudah rusak, sehingga
unggas tidak mampu membentuk kekebalan. Akibatnya proses
vaksinasi tidak akan efektif atau bahkan tidak ada gunanya,
akibatnya unggas akan mudah terserang penyakit
1.3. Proses Terbentuknya Kekebalan
Kekebalan yang terbentuk ada 2 (dua) macam, yaitu
pertama, antibodi (antibody) yang dilakukan oleh B-lymphocyt dan
kedua Kekebalan dalam sel (celluler immunity) yang dilakulkan
oleh T-lymphocyt seperti yang sudah dijelaskan diatas.
1.3.1. Antibodi
B-plymphocyt yang dihasilkan oleh bursa fabricus dan
turunannya memproduksi protein yang dapat larut dalam aliran
darah, yang disebut dengan antibodi, dan akan berperan pada
proses kekebalan. Antibodi spesifik dibentuk akibat stimulasi
vaksin / agen–agen penyakit yang spesifik pula, atau dengan kata
lain antibodi yang dibentuk oleh vaksin penyakit A misalnya, maka
antibodi yang terbentuk khusus untuk menanggulangi penyakit A
saja, demikian juga vaksin B, C dan seterusnya. Sehinga setiap
penyakit yang ingin di bentuk kekbalannya harus divaksin sesuai
dengan jenis penyakitnya.
Antibodi ada yang dilepaskan kedalam plasama darah
(serum) dan menyebar mengikuti aliran darah, disebut dengan
antibodi sirkuler (sirculation antibody). Sedang antibodi yang
berada pada berbagai sekresi tubuh seperti mucus yang dihasilkan
oleh saluran pernafasan dan saluran pencernaan, persendian,
selangkangan kaki dan sayap unggas, disebut dengan antibodi
tetap/local (local antibody).
Antibodi dalam plasma darah atau antibodi dalam serum
disebut juga antibodi bersirkulasi, antibodi ini mengikuti aliran
darah menuju keseluruh sel tubuh. Antibodi ini kadarnya dapat
diperiksa / diukur melalui uji / test darah. Hasil test antibodi (titer)
merupakan indikator atas status kekebalan yang ditimbulkan oleh
berbagai penyakit atau vaksin.
Antibodi lokal yang diketemukan dalam sekresi tubuh
(mucus) sangat penting walau tidak dapat diukur melalui test darah,
sebab mereka merupakan penjaga gerbang masuknya agen–agen
penyakit. bila dalam jumlah yang cukup, antibodi lokal mampu
mengurangi jumlah virus, juga bakteri atau jamur yang infektius
yang masuk dalam tubuh. Sehingga akan mengurangi beban
antibodi sirkuler yang ada pada serum darah untuk melawan virus
dan bakteri.
1.3.2. Immunitas Seluler
T-lymphocyt yang dihasilkan oleh thymus menghasilkan
produk–produk yang disebut lymphokines, jadi tidak membentuk
antibodi. Lymphokines berfungsi melalui proses kimiawi dalam
sel-sel pertahanan yang disebut makrofag. Makrofag ini
memberi kekuatan pada T-lymphocyt untuk melaksanakan
aktivitas pertahanannya. Aspek pertahanan tubuh ini disebut “Cell
mediated immunity” atau “Cellulair immunity” (atau kekebalan
melalui perantaraan sel). Sehingga pertahanan yang dibentuk oleh
T-lymphocyt yaitu pertahanan yang berada dalam sel unggas.
Cell mediated immunity ini merupakan ujung tombak dalam
pertahanan melawan agen–agen penyakit yang ada didalam
sel-sel, yang secara arsitektur tidak dapat dijangkau oleh antibodi
(B-lymphocyt). Cell mediated immunity tugas utamanya yaitu
mengendalikan bakteri–bakteri seperti staphilococcus, colliform,
salmonella, basilus pembentuk tuberkel, brucella dan listeria. Cell
mediated immunity ini juga merupakan pertahanan utama terhadap
virus–virus tertentu khususnya virus yang memicu tumor dan
juga terhadap fungi (jamur).
Kekebalan Aktif dan Pasif
Kekebalan Aktif.
Diatas telah kita bahas terbentuknya kekebalan baik yang
berupa antibodi (oleh B-lymphocyt) ataupun yang berupa
kekebalan melalui perantaraan sel (oleh T-lymphocyt). Kedua
organ pembentuk kekebalan ini bekerja bila ada rangsangan
tertentu terhadap unggas, seperti vaksin ataupun penyakit tertentu.
Rangsangan ini mengaktifkan kedua organ pembentuk
kekebalan, sehingga kekebalan yang dibentuk merupakan
kekebalan hasil kerja dari kedua organ itu sendiri. Kekebalan
ini disebut dengan kekebalan aktif, atau kekebalan yang
dibentuk oleh tubuh unggas itu sendiri. sebab unggas aktif
membentuk kekebalan memakai organ pembentuk kekebalan,
akibat dari rangsangan yang masuk, berupa vaksin atau penyakit.
Kekebalan aktif hanya dibentuk bila bila organ
pembentuk kekebalan pada unggas masih berfungsi. Kekebalan
aktif yang dibentuk hanya untuk penyakit/vaksin tertentu yang
diberikan (yang merangsang terbentuknya kekebalan). Misalnya,
unggas diberi vaksin new castle disease (NCD) maka kekebalan
yang dibentuk hanya kekebalan untuk NCD, tidak untuk semua
penyakit. Unggas yang terserang penyakit cacar dan sembuh maka
unggas ini membentuk antibodi terhadap penyakit cacar, atau
dengan kata lain unggas ini memiliki kekebalan terhadap
penyakit cacar.
Kekebalan pasif.
Kekebalan pasif prosesnya sangat berlainan dengan
kekebalan aktif. sebab pada kekebalan pasif, organ pembentuk
kekebalan tidak bekerja untuk membentuk kekebalan namun unggas
hanya menerima kekebalan (antibodi) dari luar.
Kekebalan pasif dapat berasal dari induknya, sebagai contoh
untuk penyakit–penyakit unggas tertentu yang dapat di tularkan
melalui ovum atau telur, misalnya; penyakit Pullorum, Egg drop
sindrum, yang dapat ditularkan secara vertikal. bila induknya
diberikan vaksin agar terjadi kekebalan, maka kekebalannya
diturunkan kepada anaknya. Kekebalan ini sering disebut dengan
kekebalan maternal atau kekebalan dari ibunya. Pada kasus seperti
ini embrio (anak) nya tidak melakukan proses untuk membentuk
kekebalan, namun hanya menerima dari induk (ibu) nya.
Kekebalan pasif juga dapat diberikan langsung, misal
memasukkan /menyuntikan serum (antibodi) dari suatu penyakit
tertentu kedalam tubuh unggas, maka kekebalan yang diberikan ini
merupakan kekebalan pasif. Serum atau antibodi ini dihasilkan
dari memasukan vaksin/penyakit kedalam tubuh mahluk lain,
misalnya kuda atau mikroba. Maka kuda atau mikroba
menghasilkan antibodi, dan antibodi yang dihasilkan dapat diambil
untuk dipakai sebagai vaksin. sebab antibodi dibuat diluar tubuh
unggas dan unggas hanya pasif menerima antibodi yang sudah jadi,
maka kekebalan yang terjadi pada unggas disebut dengan
kekebalan pasif.
Pencegahan penyakit (preventif) jauh lebih baik, lebih
mudah dan lebih dari pada pengobatan (curative), sebab ternak
unggas yang telah terserang penyakit kondisinya menjadi lemah
dan produksinya turun dan sangat sukar untuk kembali mencapai
produksi normal. Oleh sebab itu sangat penting untuk
mempelajari, menguasaai dan mempraktekan cara pencegahan
penyakit pada ternak unggas. Pada pengelolaan ternak unggas yang
baik, maka pada hakekatnya seluruh aspek dari pengelolaan dapat
dipakai sebagai sarana untuk mencegah penyakit. Adapun yang
termauk dalam manajemen pencegahan penyakit pada peternakan
unggas yaitu bibit, perkandangan, pakan, sanitasi, dan vaksinasi
Bibit.
Bibit yang baik merupakan langkah awal didalam
manajemen pencegahan penyakit pada ternak unggas, sebab bibit
sangat menentukan keberhasilan pengelolaan ternak unggas. Bibit
harus dipilih dari induk yang baik produksi dan daya tahan
hidupnya. bila kita tidak tahu induknya, dengan kata lain kita
beli bibit dari breeder farm, maka sebaiknya kita harus mempelajari
dulu brosur – brosusnya dan memperhatikan bonafiditas breeder
farm itu.
Adapun ciri bibt ayam yang baik yaitu tidak ada cacat
tubuhnya, bulunya tumbuh sempurna, kepala, leher dan tubuhnya
serasi, paruh dan kakinya kuat, dadanya bidang, perutnya halus,
penampilannya lincah dan matanya bersinar.
Perkandangan
Kandang merupakan tempat hidup dan berproduksi unggas
dan tempat pekerja melakukan pekerjaan pengelola ternak unggas,
oleh akrena itu kandang harus mampu menyediakan kondisi yang
nyaman bagi ternak unggas dan pekerja. Perkandangan unggas
yang baik, memenuhi syarat dilihat dari tataletak, kontruksi, bahan
bangunan, fungsi dan dapat menyediakan micro climate yang
sesuai untuk pertumbuhan dna produksi dari ternak unggas.
Perkandangan harus disesuaikan konstruksi dengan sistem produksi
peternakan, iklim, dan peletakannya. Sehingga kandang akan
membuat unggas nyaman dan tidak setress. Unggas dapat
mengkonsumsi pakan dengan baik, tenang dan mendukung
produktifitas dan dapat mencegah timbulnya suatu penyakit
maupun wabah penyakit ( perkandangan ternak unggas dibahas
lebih detail pada artikel Perkandangan Ternak Unggas).
Pakan
Pakan atau makanan atau ransom yaitu istilah untuk
sesuatu yang diberikan unggas, untuk keperluan hidupnya selama
24 jam. Pakan harus mampu menyediakan kebutuhan hidup pokok
dan produksi ternak unggas. Penyakit yang disebabkan oleh pakan
banyak sekali, baik sebab kekurangan zat – zat pakan (gizi)
ataupun sebab kesalahan dan keracunan pakan. Maka pemberian
pakan yang cukup dan memperhatikan nilai gizinya artinya tidak
hanya kualitas namun kuantitasnya perlu diperhatikan, sesuai dengan
tahapan hidup dan tujuan produksi yaitu sangat bijaksana. Untuk
detailnya mengenai pakan dapat dibaca pada artikel mengenai pakan
unggas.
Sanitasi
Sanitasi pada pemeliharaan unggas yaitu sangat penting
dalam rangka menghasilkan produksi yang tinggi dengan kwalitas
yang baik. Unggas tidak hanya perlu sehat saja namun harus bersih
baik tempatnya, pakannya, maupun lingkungannya dan bebas dari
bermacam – macam penyakit yang dihasilkan oleh mikro
organisme.
Desinfektan
Desinfektan yaitu materi atau bahan kimia untuk sanitasi.
Sanitasi akan efektif bila permukaan yang disanitasi bersih, artinya
tidak dihalangi oleh kotoran atau material organik. Kebersihan
bukan hanya pelengkap dalam desinfeksi suatu benda, namun sangat
efektif bila sebelum didesinfeksin keadaan sudah dibersihkan
terlebih dahulu.
Adapun desinfektan yang baik memiliki ciri – ciri antara
lain sebagai berikut
a. memiliki daya bunuh kuman tinggi.
b. Tidak beracun bagi manusia dan ternak.
c. Larut dalam air.
d. Akan bertahan lama.
e. Tidak merusak dan tidak bernoda.
f. Mampu menembus celah – celah bahan.
g. Baunya yang tajan tidak melekat.
Sanitasi pada Hatchery
Pada Penetasan (Hatchery) sanitasi yaitu merupakan suatu
keharusan untuk keberhasilan proses penetasan. Terutama pada
proses penetasan telur, temperature yang diperlukan untuk
perkembangan embrio juga sama dengan tempertaur yang
diperlukan untuk perkembangan mikroorganisme (bakteri, jamur,
virus dan protozoa). Sehingga bila kondisinya tidak higienis
(tidak disanitasi), maka mikroorganisme berkembang pada telur
yang dieramkan sehingga embrio akan mati dan telur membusuk.
Dibawah ini diperlihatkan Tabel 1. Program Sanitasi pada
Unit Hatchery Charoen Pokphand Jaya Farm (CPJF). mulai dari
ruang penerimaan telur, ruang penyimpan telur (holding room),
ruang mesin (setter dan hatcher), ruang pull chick, ruang grading
dan packing, ruang penyimpanan anak ayam dan ruang cuci.
Program Sanitasi Pada Kandang Unggas
Kandang unggas baru apalagi yang sudah dipakai sebelum
dipakai lagi untuk memasukan bibit baru atau untuk memelihara
harus dilakukan pencucian dan dilakukan sanitasi. Dibawah ini
yaitu program sanitasi kandang sebelum penerimaan anak ayam.
Program sanitasi kandang ini diatas yaitu standar
untuk pemeliharaan ayam komersial pada peternakan atau industri
ternak unggas.
Fumigasi
Gas formaldehyde secara komersial dapat dihasilkan dari
larutan formalin 40 % dalam air, sama dengan serbuk para
formaldehyde yang mengandung formaldehyde 90 %. Jika formalin
dan atau paraformaldehyde ini dipanaskan maka akan segera
menghasilkan gas formaldehyde. Gas ini sangat iritatif dan
beracun, kandungan minimal dalam udara yang sehat dibawah 5
ppm, lebih dari itu akan mengganggu pernafasan. Mata dan kulit
sangat sensitif terhadap formalin, oleh sebab nya tidak boleh
kontak langsung.
dengan tempat yang terbuat dari stainless steell, porselin, atau
gerabah tanah yang luas (lebar), sebab reaksinya akan mendidih,
berbusa dan memercik ketika kedua bahan ini di campur.
Jangan memakai tempat yang mudah meleleh atau retak kalau
terkena panas. Letakkan tempayan/mangkok dan kalium
permanganant pada daerah yang akan difumingasi, kemudian baru
dicampur dengan formalin.
Perlu diperhatikan segera sesudah permanganat dicampur
dengan formalin maka panas segera terbentuk dari reaksi kimia
campuran ini , dan gas segera dihasilkan. Hindarilah gas
fumigasi yang keluar dari mata ( gas jangan sampai masuk mata ),
terhirup atau mengenai tubuh.
Rekomendasi Pencampuran Kalium Permanganat dengan
Formalin.
Gas formaldehyde yang sempurna dihasilkan dari
pencampuran kedua bahan ini (KMnO4 + Formalin), maka
campurlah dua bagian (volume) formalin dengan satu bagian
(berat) dari kalium permanganat. bila kedua zat ini
dicampur maka akan terjadi reaksi pembakaran (panas) dan
keluarlah gas formaldehyde. Reaksi ini dikatakan sempurna bila
sisa reaksi kedua zat kimia ini berwarna coklat kehitaman dan
kering. Jika sisanya basah, maka tidak cukup pemakaian kalium
permanganate atau kelebihan formalin. Namun sebaliknya, jika
sisanya berwarna ungu maka kebanyakan penggunaaan kalium
permanganat atau kekurangan formalin..
Variasi konsentrasi dari gas formaldehyde dibutuhkan untuk
kondisi barang yang akan fumigasi yang berbeda. Pada keadaan
normal, konsentrasi satu dosis dapat diperoleh dari mencampur 40
cc ( 1,35 oz ) formalin dengan 20 gram ( 0,71 oz ) kalium
permanganat untuk setiap 100 cu fit (2,83 m
3
) ruangan. Ini sama
dengan satu kali konsentrasi. Konsentrasi lainnya dapat dua kali ( 2
x dari ini diatas ), tiga kali, dan lima kali. Tabel 2 berikut
memperlihatkan bahan kimia yang dipakai untuk menghasilkan
gas formaldehyde yang sempurna dan perbandingan antara
formalin dan para formaldehyde.
. Cara pemakaian Paraformaldehyde
Serbuk paraformaldehyde diletakkan pada wajan/nampan
elektrik dengan thermostat kontrol, temperatur disetel pada 232C
(450F). Satu dosis konsentrasinya 3,5 g paraformaldehyde untuk
setiap 1m
ruangan. Konsentrasi yang lain Lihat tabel 2..
Pemanasan paraformaldehyde dalam nampan elektrik untuk dapat
mengeluarkan gas formaldehyde yang sempurna kira-kira selama
20 menit.
Kelembaban untuk fumigasi.
Effisiensi gas formaldehyde akan meningkat bila panas
dan kandungan air (kelembaban) diruangan yang difumigasi cukup.
Guna mendapatkan hasil yang maksimum, temperatur ruangan
20
fumigasi diatas 24C ( 75F ) dan relatif kelembabannya 75 % atau
lebih. Uap air akan menangkap gas formaldehyde, sehingga terjadi
reaksi gas formaldehyde dengan uap air, yang memicu gas
formaldehyde terperangkap dalam uap air dan akan lama berada
dalam ruangan ini . Akibat gas formaldehyde yang lama
terperangkap dalam ruang yang difumigasi, maka efektivitas
membunuh mikroorganisme meningkat.
Dosis fumigasi
Perbedaan konsentrasi gas formaldehyde disebabkan oleh
kondisi yang berbeda dari bahan yang akan difumigasi dan juga
memicu lamanya waktu untuk fumigasi berbeda. Perbedaan
konsentrasi dan waktu fumigasi ini, dimaksudkan untuk menjaga
jangan sampai fumigasi menjadikan embrio maupun ternak yang
ada mati, namun dapat membunuh semua organisme pathogen yang
ada dengan baik. Tabel 3. memperlihatkan rekomendasi fumigasi
untuk berbagai keperluan, berkaitan dengan pertumbuhan embrio,
maupun kondisi ruang fumigasi, sehingga fumigasi akan effektif.
Artinya fumigasi akan membunuh semua mikroorganisme namun
tidak mengganggu kesehatan ternak unggasnya.
Telur segera sesudah diambil.
Fumigasi dengan 3X dosis selama 20 menit akan
membunuh 97,5 sampai 99,5% mikroorganisme pada kulit telur
warna coklat dan 95 ampai 98,5 % untuk kulit telur warna putih,
perbedaan antara kedua kulit telur ini disebabkan oleh sebab telur
coklat kulit luarnya lebih banyak menyerap gas.
Telur segera sesudah diambil.
Fumigasi dengan 3X dosis selama 20 menit akan
membunuh 97,5 sampai 99,5% mikroorganisme pada kulit telur
warna coklat dan 95 ampai 98,5 % untuk kulit telur warna putih,
perbedaan antara kedua kulit telur ini disebabkan oleh sebab telur
coklat kulit luarnya lebih banyak menyerap gas.
Telur di dalam mesin pengeram (diinkubator)
Telur pada saat dimasukan kedalam inmesin tetas segera
dilakukan fumigasi sebelum 36 jam didalam mesin. tujuan fumigasi
disini untuk membunuh mikroorganisme yang masih ada sebelum
embrio melai berkembang, agar tidak terganggu dengan
perkembangan embrio, sebab temperatur dan kelembaban mesin
tetas sama (sangat sesuai) dengan kebutuhan embrio.
Ayam didalam mesin penetas (Hatcher)
Fumigasi ayam dilakukan sesudah telur-telur tetas dipindah
dari mesin pengeram (setter) ke mesin penetas (Hatcher). Fumigasi
ini dimaksudkan untuk membunuh mikroorganisme yang ada, yang
berasal dari telur yang tidak berkembang atau busuk. Sehingga
tidak mempengaruhi menetasnya anak ayam. Juga ditambahkan
formalin dengan m,enggunakan wadah, agar uap formaldehide
enyebabkan bulu halus anak ayam mengembang dan berwarna
kekuningan, dan bila ada pusar ayam yang basah akan menjadi
kering untuk mencegah ompalitis.
Fumigasi Mesin Pengeram (Incubator).
Telur dalam incubator difumigasi pada hari pertama telur
masuk dan sesudah 96 jam pengeraman, hal untuk mengurangi
kontaminasi mikroorganisme pada saat embrio berkembangan
fumigasi sangat diperlukan. Operator hatchery melakukan fumigasi
ini sebagai pekerjaan rutin pada incubator seminggu sekali. Gas
Formaldehyde sangat beracun bagi embrio, terutama antara umur
24 sampai 96 jam, dan selama anak ayam memcah kulit telur.
Permulaan perkembangan embrio sangat kritis, untuk menjaga
embrio fumigasi mingguan hanya segera sesudah telur dimasukkan
dalam incubator. Setting (pemasukan telur) yang beberapa kali,
hanya pada saat telur didalam mesin selain 24 sampai 96 jam
umurnya. Telur difumigasi 2x dosis selama 20 menit.
Mesin Penetas (Hatcher) sesudah dicuci
Hatcher setalah dicuci dsan mesin dihupkan maka tmperatur
mulai setabil, meskipun kelembaban masih tingg, segara dilakukan
fumigasi, agar gas formaldehyde menampel pada air dimesin
sehingga akan m,e,atikan kuman yang ada didalam inkubator.
Fumigasi ruang ayam.
Fumigasi untuk ruang ayam sesudah dicuci sangat
dianjurkan. Pada saat terjadinya kasus omphalitis didalam hatchery,
fumigasi sangat diperlukan untuk mengontrol penyakit ini.
Formaldehyde pada fumigasi akan membunuh kuman yang ada
diruang ini , sehingga apabikla dipakai utnuk menyusun bok
anak ayam sudah aman.
Fumigasi Mesin Tetas sesudah Dicuci.
sesudah anak ayam diambil dari hatcher dan tempat telurnya
dan peralatannya dikeluarkan, maka mesin hatcher (penetas)
dicuci dan segera dilakukan fumigasi dengan gas formaldehyde
pada konsentrasi 3x dosis selama 30 menit.
Fumigasi Ruang penyimpanan telur dan ruang cuci.
Ruang penyimpanan telur sesudah dicuci juga segera
dilakukan fumigasi, agar bebas dari kuman. Sehingga bila untuk
menyimpan telur sudah aman. Demikian juga ruang untuk mencuci
dan nampan telur (egg tray), sesudah dicuci segera dilakukan
fumigasi, sehingga sewaktu-waktu dipakai sudah bebas hama.
Fumigasi mobil.
Sangat sulit untuk menaikkan temperatur dan kelembaban
pada mobil pada saat di fumigasi, maka konsentrasi dari gas
formaldehyde harus dinaikkan menjadi 5x dosis. Pertama mobil
ayam harus dibersihkan. Disarankan membuat bangunan untuk
dapat menutup rapat mobil ayam, sehingga fumigasi dapat
sempurna didalamnya. Penetralan gas formaldehyde dengan
Ammonium Hydroxide (NH4OH). Dalam kondisi tertentu hal ini
dipakai untuk menghentikan efek dari gas formaldehyde sesudah
waktu fumigasi yang ditentukan selesai. Biasanya ditambah dengan
membuka lobang pembuangan dan pintu ruangan dari areal yang
difumigasi. Larutan 26 sampai 29 % dari ammonium biasanya yang
dipakai . Dengan menyemprotkan kelantai dari areal yang
difumigasi. Setiap 4 cc (0,14 oz) ammonium hydroxide untuk
setiap gram pemakaian paraformaldehyde gas.
2.5. Vaksinasi
Vaksinasi yaitu memasukkan bibit penyakit tertentu yang
telah dilemahkan atau dimatikan kedalam ternak dengan tujuan
untuk agar ternak membentuk kekebalan secara aktif terhadap
penyakit yang divaksinkan (proses terbentuknya kekebalan lihat
Bab. I).
Adapun persyaratan vaksinasi antara lain :
1. Vaksin yang dipakai harus berasal dari sumber yang dapat
dipercaya (telah mendapat license) dan hasilnya baik.
2. Manajemen penyimpanan vaksin harus baik misalnya harus
disimpan pada suhu, kelembaban tertentu, tempat tertentu dll.
3. Ikuti semua petunjuk cara pemakaian nya sesuai dengan
brosur yang dibuat oleh pabriknya.
4. Vaksin dari pabrik tertentu tidak boleh dicampur dengan
pelarut dari pabrik lain, dan sebaliknya.
5. Segera buanglah sisa vaksin bila tidak habis dalam 5 jam,
dengan jalan membakar atau menimbun campuran vaksin
tresebut.
6. Alat yang dipakai harus steril namun dalam sterilisasi tidak
boleh menggunkan desinfektan (rinso, bromosept, iodine,
chlorine dan lain-lain).
7. pemakaian vaksin tidak boleh melebihi dosis yang telah
ditentukan.
8. Pelaksanaan vaksin harus tepat, teliti dan cermat. Jangan ada
vaksin yang tercecer ke lantai.
9. Setiap melaksanakan vaksin harus dicatat, mengenai: Jenis
vaksin, tanggal berlakunya, nomor seri, pabrik pembuat
vaksin, dosis pemberiannya, tanggal vaksin, methode yang
dipakai , flok yang divaksin, keadaan ternaknya dan biaya
perekornya.
10. Berilah anti stress dan atau vitamin sesudah vaksinasi selama 3
hari berturut-turut.
11. Awasi dan kontrol keadaan ternak sesudah divaksin, terutama
vaksinasi invektius laringo Traechealis, NCD dan Coccidiosis.
12. Lakukan test darahnya (darah) seminggu sesudah vaksinasi,
untuk mengetahui keberhasilan atau status kekebalan dari
vaksin ini . (lihat Bab.1.)
Program vaksinasi ini mutlak dilakukan dalam
pemeliharaan ternak unggas, terutama untuk penyakit-penyakit
virus khususnya New Castle Disease. Jenis unggas juga
mempengaruhi program vaksinasi, misalnya ayam petelur sebab
waktu pemeliharaan yang lama, maka perlu berbagai macam
vaksinasi.
Khusus untuk breeder farm yang harus bebas dari penyakit
tertentu seperti pullorum, Eggs drop syndrome, Infectius bursal
disease, salmonelosis dan mycoplasma maka harus dilakukan
vaksinasi, sebab sifat dari penyakit ini yang dapat menular
secara vertical (seperti penyakit EDS, Pullorum dll ), maupun
horizontal (seperti penyakit ND, AI, ILT) (lihat Bab.3).
Tabel 6. Ditampilkan contoh program vaksinasi yang
dilakukan oleh suatu perusahaan breeder farm, untuk program
vaksinasi dalam satu periode pemeliharaan, vaksinasi untuk
beberapa penyakit yang sangat menular dan merupakan endemik
dilakukan secara berulang-ulang.
Program vaksinasi ini yaitu merupakan program
pencegahan penyakit yang sangat efektif pada pemeliharaan
unggas. sebab pelaksanaan vaksin yang benar memberi
perlindungan dari dalam secara maksimum terhadap kesehatan
unggas. Hal ini dimaksudkan agar kekebalan terhadap penyakit
ini tetap tinggi, sehingga ternak mampu mengatasi infeksi dari
bibit penyakit ini . Bahkan khusus penyakit New Castle
Disease (ND) selain dilakukan berulang-ulang juga dilakukan
dobel vaksin, yaitu memakai virus aktif dan inaktif secara
bersamaan.
Hal ini dilakukan dengan tujuan agar kekebalan yang
terbentuk dapat optimal. Hal ini dilakukan sebab penyakit ND
merupakan penyakit yang sudah menyebar luas dan selalu ada di
dalam farm ternak unggas (merupakan endemic), yang sewaktu-
waktu dapat muncul menyerang unggas, dengan tingkat kematian
yang tinggi.
Pelaksanaan vaksin dapat melaui berbagai cara sesuai
dengan jenis vaksin seperti pada Tabel 5. Ada vaksin melaui air
minum, tetes mata, tusuk sayap, injeksi subcutan, injeksi didaging,
semprot (airosol). Ilustrasi 3 adah contoh vaksinasi melaui sub-
kutan (bawah kulit).
Ilustrasi 3. Vaksinasi sub-kutan, pelaksanaan yang Benar dan
Tenang Ayam Sehat ,
Ilustrasi 4. Vaksinasi Melalui suntik (Intra muscullar)
Ilustrasi 5. Vaksinasi melaui mata dan mulut (Intra oculer dan
intra mouth).
Vaksin virus yang ideal terbuat dari suatu virus yang tidak
memicu penyakit, namun virus yang sangat tinggi
imunogenesitasnya. Kombinasi ini agak jarang oleh sebab itu
virus-virus terpilih harus memberi reaksi yang kecil sekali dan
memicu kekebalan yang tinggi. Perusahaan vaksin
memiliki kombinasi faktor-faktor yang terbaik terhadap virus
yang ada sesuai dengan yang diharapkan.
Tidak semua vaksin efektifitasnya sama. Beberapa vaksin
memberi kekebalan yang baik namun memicu reaksi
sesudah diberikan yang lebih berbahaya dari penyakit itu sendiri.
Vaksin yang lain, reaksinya tidak terlihat namun tingkat
perlindungannya sangat rendah. namun , kehebatan reaksi biasanya
tidak berhubungan dengan tingkat kekebalan. Virus yang ideal
untuk vaksin yaitu yang tidak memberi reaksi dan memiliki
kekebalan yang tinggi. Beberapa vaksin untuk infeksi bakteri
tertentu biasanya kurang efektif dari pada kebanyakan vaksin virus,
sebab vaksin virus dapat merangsang bagian-bagian kunci dari
sistem kekebalan dengan lebih baik.
Vaksin bisa dalam bentuk hidup atau mati. Keduanya
memberi reaksi. Vaksin hidup terdiri atas mikroorganisme
hidup. Vaksin ini dapat diberikan pada umur lebih muda daripada
vaksin mati, dan diberikan melalui injeksi, air minum, inhalasi,
atau tetes mata. Kontaminasi vaksin harus dicegah sebab dapat
memicu gangguan yang serius.
Mikroagen yang ada dalam vaksin hidup akan
berkembang di dalam tubuh unggas, dan bila ada infeksi
sekunder pada saat itu, dapat terjadi reaksi yang hebat. Ketika
memakai vaksin hidup, peternak harus menyadari bahwa
peternakannya mengandung agen penyakit yang berasal dari
vaksin.
Semua vaksin mati, yang pemberiannya harus disuntikkan,
dapat juga memicu reaksi yang berasal dari zat pembawanya.
Reaksi yang paling umum yaitu terjadinya pembentukan jendolan
pada tempat penyuntikan (granuloma).
Usia unggas pada saat vaksinasi terhadap penyakit tertentu
dan kapan perlu diulang merupakan faktor penting yang
mempengaruhi tingkat, kualitas dan lamanya kekebalan. Program-
program vaksinasi bervariasi pada ayam broiler, ayam petelur
komersial, ayam bibit, ayam nenek, ayam kalkun, dan burung.
Yang penting diingat yaitu vaksinlah sesuai dengan keperluan.
Sedangkan untuk ternak ruminansia kegiatan vaksinnya
yaitu di seuaikan dengan pola pemeliharaan, jika untuk breeding
biasanya dilakukan satu tahun duakali, untuk penggemukan
biasanya dilakukan sewaktu akan di beli atau baru datang di
kandang.
Biosekuriti
Pengertian Biosecurity
Menurut asal bahasanya biosekurity dari kata bio dan
security, bio artinya hidup dan security artinya perlindungan atau
pengamanan. Jadi kalau di gabungkan biosecurity yaitu sejenis
program yang dirancang untuk melindungi atau mengamankan
suatu kehidupan dalam hal ini ternak. Dalam kegiatan budidaya
biosecurity merupakan suatu kegiatan yang bertujuan untuk
melindungi ternak dari bahaya serangan penyakit atau semua
tindakan yang merupakan pertahanan pertama untuk pengendalian
wabah dan dilakukan untuk mencegah semua kemungkinan
kontak/penularan dengan peternakan tertular, dan mencegah
penyebaran penyakit. arti yang sederhananya yaitu membuat
kuman atau agen penyakit jauh dari tubuh ternak dan atau
melindungi ternak jauh dari kuman atau penyakit. Sehingga dengan
demikian jika ternak yang dipelihara ingin sehat, maka penerapan
biosekuriti menjadisebuah keharusan guna mencapai keuntungan
yang lebih, disamping juga untuk mencegah
terjadinya outbreak penyakit dalam sebuah wilayah.
Biosekuriti merupakan garda terdepan dalam mengamankan
ternak dari penyakit. Peternakan yang menerapkan program
biosekuriti akan bisa menekan biaya kesehatan ternak menjadi
lebih murah dibanding peternakan yang tidak menerapkan
biosekuriti. sebab penanganan penyakit jika sudah
terjadi outbreak dalam sebuah peternakan tentu akan
mengahabiskan banyak biaya. Program ini cukup murah dan efektif
dalam mencegah dan mengendalikan penyakit. Bahkan tidak
satupun program pencegahan penyakit dapat bekerja dengan baik
tanpa ditambah program biosekurity.
Biosekuriti yang baik yaitu untuk membangun dan
mengintegrasikan beberapa usaha perlindungan yang dapat
menjaga ternak unggas supaya tetap sehat. Biosekuriti yang baik
menghasilkan kematian yang lebih sedikit pada unggas,
penghematan yang cukup besar dalam biaya produksi dan
pendapatan yang lebih tinggi bagi penghasil unggas.
Tujuan Biosecuriti
Menurut Dirjen Peternakan (2005) tujuan dari biosekuriti
yaitu mencegah semua kemungkinan penularan dengan
peternakan tertular dan penyebaran penyakit. Penerapan biosekuriti
pada seluruh sektor peternakan, baik di industri perunggasan atau
peternakan lainnya akan mengurangi risiko penyebaran
mikroorganisme pemicu penyakit yang mengancam sektor
ini .
Meskipun demikian biosekuriti bukan satu – satunya upaya
pencegahan terhadap serangan penyakit, akan namun biosekuriti
merupakan garis pertahanan pertama terhadap penyakit (Cardona,
2005). Biosekuriti sangat penting untuk mengendalikan dan
mencegah berbagai penyakit yang mematikan. Biosekuriti dapat
digambarkan sebagai satu set program kerja dan prosedur yang
akan mencegah atau membatasi hidup dan menyebarkanhamadan
jasad renik berbahaya di berbagai tempat seperti peternakan tempat
penampungan hewan dan rumah potong hewan.
Sederhananya tujuan biosecurity yaitu meminimalkan
keberadaan pemicu penyakit, meminimalisir kesempatan agen
penyakit berhubungan dengan induk semang, menekan tingkat
kontaminasi lingkungan oleh agen penyakit. (Zainuddin dan
Wibawan, 2007).
Biosekuriti yaitu semua usaha yang ditujukan untuk
mencegah masuknya penyakit yang belum ada ke dalam suatu
lingkungan peternakan, dan mencegah tersebarnya penyakit yang
sudah ada di dalam peternakan (farm) dari satu kandang ke
kandang lain. Praktik biosekuriti (biosecurity practices) yaitu
semua tindakan untuk mencegah masuk dan menyebarnya agen
penyakit ke populasi hewan rentan di suatu peternakan dan/atau
daerah, misalnya penjaminan kebersihan kandang, peralatan, dan
lingkungannya, dan pemisahan hewan baru dari hewan lama dan
hewan sakit dari hewan sehat.
Ilustrasi 6. Usaha dalam Biosekuriti
Sanitasi yaitu usaha pencegahan penyakit dengan cara
menghilangkan atau mengatur faktor-faktor lingkungan yang
berkaitan dengan rantai perpindahan penyakit ini (PP Nomor
95 Tahun 2012 tentang Kesehatan Masyarakat Veteriner dan
Kesejahteraan Hewan).
Elemen dasar biosekuriti, Menurut Jeffrey (1997) dan
(Segal 2008)., penerapan biosekuriti pada peternakan
petelur dibagi menjadi tiga bagian utama yaitu sebagai
berikut
1) Isolasi
Isolasi bertujuan untuk menjaga agar ternak dipelihara di
dalam suatu lingkungan yang terkendali. Bentuk pengendalian
lingkungan pemeliharaan itu antara lain pemilihan lokasi
peternakan yang tidak berdekatan dengan pemukiman, adanya
pagar yang membatasi lingkungan peternakan untuk mencegah
keluar dan/atau masuknya hewan lain ke dalam lingkungan
peternakan, dan memisahkan kandang ternak berdasarkan
kelompok umur.
2) Pembersihan dan Desinfeksi
Pembersihan dan desinfeksi dilakukan terhadap kandang,
peralatan, dan sarana/prasarana peternakan lainnya yang
dimasukkan ke dalam peternakan, dan termasuk orang yang
memasuki lingkungan peternakan. Selain itu, higiene personal
pekerja di peternakan juga harus diperhatikan. Faktor lain yang
harus diperhatikan yaitu pemusnahan hewan yang mati atau sakit
dan dan kotoran. Hewan yang sakit atau mati dan kotoran
merupakan media yang baik bagi agen penyakit sekaligus dapat
menyebar dan mencemari lingkungan. Semua ini untuk mencegah
masuk dan keluarnya agen penyakit ke lingkungan.
3) Pengendalian Lalu Lintas
Pengendalian lalu lintas bertujuan untuk membatasi akses
orang yang tidak berkepentingan masuk ke lingkungan peternakan,
dan lalu lintas pekerja antarperbagai bagian di dalam lingkungan
peternakan. Hal ini penting untuk membatasi atau menghambat
terjadinya penyebaran agen penyakit sebab lalu lintas. Hal lain
yang harus diperhatikan yaitu pengendalian hama (tikus,
anjing/kucing liar, serangga (kecoa, lalat, dan lain-lain)) yang dapat
berperan sebagai pembawa agen penyakit ke dalam lingkungan
peternakan. Perlu dilakukan upaya pengendalian hewan-hewan ini
secara bijaksana dan mengikuti prinsip kesejahteraan hewan.
Biosekuriti merupakan konsep integral yang mempengaruhi
suksesnya system produksi ternak khususnya dalam mengurangi
resiko dan konsekuensi masuknya penyakit menular dan tidak
menular. Jika kegiatan biosekuriti dilaksanakan secara baik dan
benar maka produktivuitas ternak, efisiensi ekonomi dan produksi
akan tercapai. Sebagai bagian dari sistem manajemen maka
biosekuriti sangat penting khususnya untuk mencegah penyakit.
Seacra garis besar biosecurity terbagi menjadi 3 tingkatan yaitu :
yang pertama yaitu biosecurity konseptual, kemudian yang ke dua
bioseuriti strukutural dan yang ketiga adal biosecurity operasional.
Adapun komponen biosekuriti meliputi : isolasi, sanitasi, fumigasi,
desinfeksi, vaksinasi, kontrol hewan liar dan lain-lain.
Biosekuriti yang baik yaitu mencakup semua operasi
dilakukan oleh peternak mulai dari breeding stoc sampai menjadi
produk yang siap dipakai . Prosedur untuk mencegah introduksi
dan penyebaran penyakit atau kontaminasi harus diletakkan di
tempat untuk produksi pakan, operasional peternakan, penetasan,
pemeliharaan umum dan pegawai.
Manajemen kesehatan ternak dapat diartikan sebagai proses
perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan dan engendalian
faktor-faktor produksi melalui optimalisasi sumberdaya yang
dimilikinya agar produktivitas ternak dapat dimaksimalkan,
Kesehatan ternak dapat dioptimalkan dan kesehatan produk
hasil ternak memiliki kualitas kesehatan sesuai dengan standar
yang diinginkan. Manajemen kesehatan ternak harus melalui suatu
proses yaitu suatu cara yang sistematis untuk menjalankan suatu
pekerjaan. Untuk suatu kegiatan-kegiatan tertentu proses-proses
kegiatan harus berdasarkan prinsip-prinsip efisiensi produksi dan
ekonomis dan pemakaian semua sarana dan prasarana secara
efektif dengan kaidah-kaidah yang lazim berlaku dalam kesehatan
dan kesejahteraan ternak. Untuk mencapai tujuan yang diinginkan
ini di atas diperlukan sifat interaktif dari proses manajemen.
Banyak sekali jenis pangan yang diperdagangkan kurang
memenuhi syarat minimum kesehatan, misalnya sebab tercemar
mikroorganisme, pemakaian bahan tambahan pangan dan bahan
kimia non pangan. Kendala utama kenapa pelaku tata niaga kita
belum dapat mengadopsi teknologi dalam sistem keamanan pangan
yaitu belum dikembangkan dan dipahaminya “manajemen risiko”
dalam sistem keamanan pangan oleh kalangan usahawan kita.
Untuk meningkatkan kinerja manajemen resiko memerlukan skill
(keterampilan), pendidikan dan pelatihan dan komitmen yang kuat
akan produk yang dihasilkannya.
Manajemen risiko tidak harus dilakukan oleh industri
peternakan atau usaha peternakan yang besar-besar saja.
Pengalaman empiris menunjukkan bahwa aplikasi manajemen
resiko yang dilakukan oleh perusahaan kecil mampu meningkatkan
pendapatan sebab pada umumnya konsumen sangat komitmen
terhadap produk yang sehat. Keamanan pangan secara umum,
merupakan hal yang kompleks dan sekaligus merupakan dampak
dari interaksi antara toksisitas mikrobiologik, kimiawi, status gizi
dan ketenteraman batin. Untuk pemenuhan bahan pangan hewani
asal ternak khususnya daging disamping pemenuhan secara
kuantitatif diperlukan juga pemenuhan syarat-syarat kualitatif
(aspek nilai gizi), syarat-syarat higiene (aspek kesehatan), syarat-
syarat dan keadaan yang menjamin ketenteraman bathin
masyarakat yang memakai (aspek kehalalan).
Manajemen kesehatan ternak tidak dapat dipisahkan dengan
masalah biosekuriti. Keduanya merupakan bagian integral dari
sistem keamanan pangan produk peternakan. Biosekuriti
merupakan konsep integral yang mempengaruhi suksesnya system
produksi ternak khususnya dalam mengurangi resiko dan
konsekuensi masuknya penyakit menular dan tidak menular. Jika
kegiatan biosekuriti dilaksanakan secara baik dan benar maka
produktivuitas ternak, efisiensi ekonomi dan produksi akan
tercapai. Sebagai bagian dari sistem manajemen maka biosekuriti
sangat penting khususnya untuk mencegah penyakit. Semua
komponen biosekuriti, system yang diterapkan (vaksinasi,
pengobatan, kontrol hewan liar dan lain-lainnya) dan sarana dan
prasarana yang ada memiliki arti tinggi terhadap keberhasilan
program sekuriti.
Program Biosecurity
Program biosekuriti yaitu program yang berupaya untuk
membebaskan dan mengendalikan pengakit-penyakit tertentu, dan
memberi kondisi lingkungan yang layak bagi kehidupan ternak.
Bagi industri peternakan hal ini sangat diperlukan mengingat
ancaman berbagai macam penyakit baik yang menular maupun
tidak menular. Oleh sebab itu perhatian yang serius sangat
diperlukan dalam pelaksanaannya, dan juga perlakuan terhadap
ternak yang mati, kehadiran lalat, dan bau yang kerap kali
memicu gangguan bagi penduduk sekitarnya.
Pintu gerbang suatu peternakan yaitu tempat pertama bagi
orang yang mau masuk ke areal atau komplek peternakan dan
merupakan titik awal keberhasilan suatu peternakan terbebas dari
wabah atau serangan penyakit, mengkondisikan setiap orang
maupun kendaraan tidak sembarangan keluar masuk Farm, dan
pintu selalu dijaga ketat oleh petugas. Pada breeding farm dan
hatchery selalu dalam keadaan terkunci. Tidak setiap kendaraan
atau orang bisa masuk ke kawasan farm demi terlaksananya
program pencegahan penyakit. Sebelum masuk ke area breeding
farm (di depan pos keamanan), setiap kendaraan dan
pengunjung/staf/karyawan harus melewati area penyemprotan
dengan desinfektan. Sebelum masuk ke area hatchery, setiap
karyawan/staf/pengunjung diwajibkan mengganti pakaian dan
disemprot dengan desinfektan. Desinfektan yang dipakai yaitu
BKC atau long life dengan dosis ringan yaitu 1cc/liter air. Tujuan
pemakaian desinfektan ini yaitu untuk membunuh
mikroorganisme patogen yang mungkin terbawa oleh kendaraan,
karyawan/staf/pengunjung. Biosekuriti yang dilakukan meliputi
penyemprotan kendaraan, karyawan/staf/pengunjung dengan
desinfektan long life dengan dosis 1 cc/liter air di depan pos jaga
keamanan. Berikutnya dilakukan penyemprotan terhadap
karyawan/staf/pengunjung yang akan masuk ke area perkantoran
yaitu di sebelah kantor feed mill dengan desifektan long life dengan
dosis 1cc/liter air. Kemudian, sebelum masuk ke area kandang
yaitu di sebelah kantor departemen produksi, setiap karyawan/staf/
pengunjung disarankan untuk mengganti pakaian rumah dengan
pakaian kerja/pakaian yang bersih sebelum disemprot lagi dengan
desinfektan long life dengan dosis 1cc/liter air. Selain aitu, di
sebagian kandang disediakan untuk mencelup kaki (dipping foot)
dan tangan (dipping hand) sebelum masuk ke dalam kandang dan
menangani ternak. Desinfektan yang dipakai untuk mencelup
kaki dan tangan yaitu long life dengan dosis 1cc/liter air.
Biosekuriti yang sama dilakukan juga .
Program biosekuriti meliputi pengendalian pergerakan
hewan, peralatan, orang – orang dan sarana pengangkutan dari luar
dan ke farm yang satu ke farm yang lain. Pemisahan jenis unggas,
burung liar, binatang pengerat dan binatang yang diasingkan secara
geografis untuk memperkecil penyebaran penyakit. Vaksinasi
untuk meningkatkan sistem imunitas. Pemeriksaan prosedur untuk
mengurangi infeksi /peradangan jasad renik berbahaya dan
pengobatan untuk mencegah atau perlakuan hasil bakteri atau
protozoa penyakit. Pengendalian serangga yang dapat
memicu penyakit. Penerapan disinfeksi dan prosedur yang
higienis untuk mengurangi tingkat infeksi membasmi
mikroorganisme berbahaya dan pengobatan untuk mencegah dan
mengobati penyakit bakteri dan protozoa .
Sejalan dengan peraturan Departemen RI (2008) bahwa
penerapan biosekuriti pada peternakan dapat dilakukan dengan
cara:
a) lokasi peternakan berpagar dengan satu pintu masuk rumah
tempat tinggal, kandang unggas dan kandang hewan lainnya
ditata pada lokasi terpisah
b) pembatasan secara ketat terhadap keluar masuk material
(hewan/unggas, produk unggas, pakan, kotoran unggas, alas
kandang, litter, rak telur) yang dapat membawa agen penyakit
c) pembatasan secara ketat keluar masuk orang/tamu/pekerja dan
kendaraan dari atau ke lokasi peternakan setiap orang yang
masuk atau keluar peternakan harus mencuci tangan dengan
sabun atau desinfektan
d) mencegah keluar masuknya tikus (rodensia), serangga atau
unggas lain seperti burung liar yang dapat berperan sebagai
vektor penyakit ke lokasi peternakan
e) unggas dipisahkan berdasarkan spesiesnya
f) kandang, tempat pakan/minum, sisa alas kandang/litter dan
kotoran kandang dibersihkan secar teratur tidak membawa
unggas sakit atau bangkai unggas keluar dari area peternakan
unggas yang mati harus dibakar atau dikubur
g) kotoran unggas diolah terlebih dahulu sebelum keluar dari area
peternakan
h) air kotor hasil sisa pencucian langsung dialirkan keluar
kandang secara terpisah melalui saluran limbah ke tempat
penampungan limbah (septik tank) sehingga tidak tergenang di
sekitar kandang atau jalan masuk kandang.
Aspek lain dari biosekuritas yaitu mencegah penyakit
melalui vaksinasi. Antibiotika dipakai untuk memberantas
infeksi bakteri. sebab tidak ada obat yang dapat melawan infeksi
virus, maka vaksinasi sebelum infeksi terjadi di dalam kelompok
ternak menjadi pilihan utama untuk melindungi ternak yang
dipelihara.
Tingkatan Biosekuriti
a) Biosekuriti konseptual
Biosekuriti konseptual yang merupakan dasar atau basis
dari seluruh program pengendalian penyakit. Beberapa hal yang
harus dikelola antara lain pemilihan lokasi peternakan khususnya
kandang, pengaturan jenis dan umur ternak.
Biosekuriti konseptual yaitu semua tindakan yang
merupakan pertahanan pertama untuk pengendalian wabah dan
dilakukan untuk mencegah semua kemungkinan kontak/penularan
dengan peternakan tertular,dan mencegah penyebaran penyakit.
Salah satu untuk mencegah penyebaran penyakit di peternakan
yaitu dengan penentuan lokasi yang tepat. Dengan didasari
penentuan lokasi kandang yang tepat maka sangat memungkikan
akan mendukung sukesnya biosecirity selanjutnya. Lokasi kandang
yang baik berdasarkan tingkat keamanan secara biosecrity yaitu
jauh dari perumahan penduduk atau tempat-tempat umum sperti
pasar, sekolah, puskesmas, terminal dll. Di dalam ilmu
epidemiologi ( ilmu yang mempelajari sebaran penyakit), dikenal
istilah segitiga epidemiologi, yang meliputi inang (host),
lingkungan, dan agen penyakit. Keseimbangan tiga hal ini
harus dijaga, salah satu caranya dengan biosekuriti. Tindakan awal
biosecuriti yaitu biosecuirti konseptual yang merupakan pondasi
dari keberhasilan bisecuriti selanjutnya.
Biosecuriti konseptual merupakan dasar atau basis dari
seluruh program pengendalian penyakit. Biosecuriti konseptual
meliputi aspek pemilihan lokasi usaha peternakan di suatu daerah
yang bertujuan untuk memisahkan jenis atau umur unggas yang
sama, sehingga akan menghindari kontak langsung hewan yang
kita pelihara dengan hewan liar/hewan lain. Salah satu cara untuk
menghindari kontak langsung ternak yang kita pelihara kususnya
unggas dengan ternak milik lingkungan sekitar maka pemlihan
lokasi perlu di pertimbangkan dengan baik. Beda dengan pemilihan
lokasi kandang untuk ternak ruminansia dengan populasi yang
tidak terlalu banyak tidak serumit lokasi kandang unggas sebab
pada dasarnya perlakuan biosecuirti pada ternak ruminansia tidak
seketat ternak unggas. Pemlihan lokasi kandang untuk ruminansia
biasanya hanya untuk menghidari polusi udara saja tidak ada
hubungannya dengan kontak atau tidaknya ternak yang kita
pelihara dengan ternak milik lingkungan sekitar.
Secara umum penyebaran penyakit ternak unggas lebih
cepat dari pada ternak ruminansia. Hal ini disebabkan kareir
penyakit ternak unggas lebih banyak dan kebanyakan melibatkan
hewan liar seperti burung yang susah di tangkap kemudian terbang
kemana secara tidak langsung itu mempercepat penyebaran
penyakit. Selain itu adanya ayam kampung yang dipelihara bebas
berkeliaran diamana mana dan tanpa di vaksin. Sedangkan untuk
ternak ruminansia yang menjadi karier jauh lebih sedikit sehingga
penyebarannya cenderung labih lambat. Bahkan untuk lokasi
kandang burung puyuh membutuhkan tempat yang lebih spesifik
yaitu lokasi yang jauh dari keramaian atau kegaduhan dan lalu
lalang orang.
Akan lebih baik lagi jika lokasi kandang unggas dekat
dengan penetasan dan rumah potong ayam hal ini akan sangat
mengurangi bahaya penularan penyakit yang berhubungan dengan
jarak. Lokasi sebaiknya jauh dari danau atau saluran air dan juga
perlintasan migrasi burung-burung liar. Dalam pemilihannya kita
juga harus memikirkan implikasi pemeliharaan hewan yang
umurnya tidak sama. Ini untuk menghindari rolling infection dari
hewan tua ke hewan muda atau sebaliknya.
b) Biosekuriti struktural,
Biosekuriti struktural yaitu hal-hal yang berhubungan
dengan tata letak peternakan, pemisahan batas-batas unit
peternakan, pengaturan saluran limbah peternakan, perangkat
sanitasi dan dekontaminasi, instalasi tempat penyimpanan pakan
dan gudang, dan peralatan kandang dan Pemahaman terhadap
mekanisme penularan penyakit pada peternakan merupakan
langkah awal di dalam upaya pelaksanaan program biosekuriti.
Keberhasilan program biosekuritas juga harus didukung oleh dana
dan komitmen yang konsisten bagi pemilik maupun karyawan,
dan monitoring yang ketat, terjadwal dan berkelanjutan.
Biosekuriti tidak hanya pembersihan dan desinfeksi
lingkungan peternakan, tapi ada 3 (tiga) pondasi utama yang
menjadi penopang keberhasilan biosekuriti, yaitu : isolasi, traffic
control (pengawasan lalu lintas) dan sanitasi . Tanpa adanya ketiga
hal ini , penerapan biosekuriti dalam peternakan tidak akan
berjalan optimal sesuai dengan tujuan.
Dalam dunia peternakan biosekuriti merupakan konsep
integral yang mempengaruhi suksesnya system produksi ternak
khususnya dalam rangka mengurangi resiko sebab masuknya
penyakit menular maupun tidak menular. bila biosekuriti
dilaksanakan secara baik, benar dan disiplin maka target
produktivuitas ternak dan efisiensi ekonomi akan tercapai sebab
kesehatan ternak yang terjaga. Oleh sebab itu sebagai bagian dari
sistem manajemen peternakan biosekuriti yaitu sangat penting.
Biosecurity strutural merupakan perlindungan ternak yang
di pelihara dengan cara mengatur tata letak peternakan. Beberapa
hal yang perlu dilakuakan di antaranya yaitu :
Pemagaran kawasan peternakan dengan tujuan meminimalkan
orang umum atau hewan liar masuk ke areal peternakan.
Pintu masuk keareal kandang ushakan satu pintu saja, hal ini
bertujuan untuk meminimalisir masuknya hewan lain dan
berpindahnya/melintasnya operator ke kandang lain.
Ketersediaan air bersih dan bebas agen patogen, dan adanya
treatment terhadap air yang akan dikonsumsi (dengan klorin,
peroksida atau lainnya)
Adanya fasilitas pelayanan perusahaan yang memadai seperti
kantor, gudang (pakan, obat, dan peralatan), kamar ganti
pakaian dan kamar mandi.
Adanya suplai air dan listrik yang cukup dan tempat yang
representatif untuk desinfeksi kendaraan yang keluar masuk
lokasi farm. (adanya car dip dan sprayer di pintu gerbang
masuk farm).
Adanya jalan yang baik, aman dan dipagari untuk
memudahkan pembersihan dan pencegahan penyebaran
penyakit.
Adanya tempat khusus untuk pemusnahan bangkai (disposal
pit). Lokasi yang aman untuk tempat pakan, peralatan, litter di
tempat
c) Biosekuriti operasional
Biosekuriti operasional, merupakan implementasi prosedur
manajemen untuk pengendalian penyakit di perusahaan terutama
bagaimana mengatasi suatu infeksi panyakit menular. Aspek-aspek
yang sangat perlu diperhatikan dan menjadi tujuan pelaksanaan
program biosekuriti yaitu :
- tidak adanya penyakit tertentu di dalam farm,
- adanya jaminan resiko bagi konsumen terhadap produk yang
dihasilkan,
- adanya jaminan keamanan dalam lingkupan hidup dan
sustainability usaha, dan jaminan terhadap tiadanya resiko
penyakit zoonosis khususnya bagi karyawan.
Dari ketiga tingkatan level ini yang paling fleksibel dan bisa
diubah sewaktu-waktu disesuaikan dengan kondisi pada saat itu.
Pada tingkatan ini harus ada petunjuk operasional yang jelas
tentang:
- Prosedur rutin yang harus dilakukan dan ditambah perencanaan
jika ada hal-hal tak terduga seperti wabah penyakit, dan lain-
lain dan disiapkan untuk setiap jenjang manajemen dari
manajer, supervisor, operator dan tamu.
- Prosedur standar harus diarahkan untuk pelaksnaan
dekontaminasi, desinfeksi sesudah kandang kosong; juga
penyimpanan, pencampuran dan aplikasi pemberian vaksin
dengan berbagai cara pemberian yang berbeda.
- Prosedur khusus yang diterapkan pada saat memasuki dan
meninggalkan farm untuk setiap karyawan dan tamu.
- Pengawasan yang ketat diperlukan untuk mencegah kontak
dengan hewan lain (unggas eksotik, ayam kampung) untuk
farm ayam.
Dengan menerapkan 3 tingkatan biosecurity ini secara
baik dan benar diharapkan akan mencegah dan meinimalisir
masuknya agen patogen dan penyebaran penyakit dari luar lokasi
usaha ke ternak kita.
Bagaimana agen pengakit masuk ke peternakan ?
Berbagai macam cara agen penyakit bisa masuk ke dalam
lingkungan peternakan diantaranya yaitu sebagai berikut:
Terbawa masuk ketika bibit ternak datang
Masuknya ternak sehat yang baru sembuh dari penyakit namun
sekarang berperan sebagai pembawa (carrier),
Masuknya hewan dari luar flok (transmisi horizontal) melalui
telur-telur dari flok-flok pembibit yang terinfeksi. Contoh agen
penyakit yang ditularkan dari induk ke anak ayam yaitu virus
Egg Drop Syndrome dan virus Leukosis, bakteri Samonella
pullorum, S. enteritidis, dan Mycoplasma dan Aspergillus.
Terbawa masuk melalui kaki (sepatu), tangan dan pakaian
pengunjung atau karyawan yang bergerak dari flok ke flok,
misalnya berbagai penyakit virus dan bakteri (Salmonella,
Campylobacter)
Terbawa melalui debu, bulu-bulu atau sayap, dan kotoran
(manure) pada peralatan dan sarana lain seperti truk, kandang
ayam, tempat telur dll.
Terbawa oleh burung-burung liar, predator (kumbang),
rodensia (tikus), lalat, caplak, tungau dan serangga lain.
Burung liar merupakan reservoar bagi penyakit ND, IB,
Psitakosis, influensa unggas dan Pasteurella Kumbang
merupakan reservoar sejumlah besar infeksi termasuk penyakit
Marek, Gumboro, salmonellosis, pasteurellosis dan
koksidiosis. Rodensia dapat menyebarkan berbagai ragam
penyakit termasuk pasteurellosis dan salmonellosis. Lalat
dapat menularkan berbagai bakteri pemicu penyakit
pencernaan ayam dan virus cacar ayam (fowl pox).
Caplak Argas dapat menjadi vektor pembawa spirokhetosis.
Tungau Ornitonyssus bursa dapat memicu gangguan
produksi ayam dan kegatalan bagi karyawan,
sedangkan Culicoides (agas atau mrutu) dapat menjadi vektor
leucocytozoonosis yang cukup merugikan.
Terbawa melalui makanan yang tercemar mikroorganisme di
pabriknya. Kontaminasi bahan baku pakan atau pakan jadi
dengan beberapa jenis patogen seperti Salmonella spp atau
IBD/Gumboro dan paramyxo virus, Egg Drop Syndrom,
Aflatoksin dapat menginfeksi kawanan unggas yang peka
terhadap penyakit ini.
Menular lewat air seperti berbagai jenis bakteri (Salmonella,
Escherichia coli) dan fungi (Aspergillus)
Menular lewat udara seperti virus velogenik ND dan ILT.
Tertular melalui vaksin hidup atau kontaminasi vaksin.
Vaksin unggas terkontaminasi yang dibuat pada telur yang
diperoleh dari peternakan yang tidak bebas patogen spesifik (non-
SPF) dapat mengandung patogen antara lain adenovirus, reovirus,
atau agen lain yang bertanggung jawab terhadap anemia dan
retikuloendoteliosis. Patogen juga dapat ditularkan diantara ternak
akibat peralatan vaksinasi yang dipakai dalam pemberian vaksin
atau petugas yang terkontaminasi.
Banyak mikroorganisme patogen yang akan menetap di luar
tubuh inang ayam seperti Coccidia (berbagai jenis Eimeria),
Salmonella, Histomonas, Aspergilus dan berbagai jenis virus dapat
tahan dalam waktu yang cukup lama, terutama